MEMBACA LAGI SURAT JAYA SUPRANA

MEMBACA LAGI SURAT JAYA SUPRANA
 
Kompasiana.Com,  | 02 April 2015 | 09:14 

Oleh S. Aji
14279509741472184271

Jaya Suprana (Warta Kota)

Surat terbuka Jaya Suprana untuk Ahok sudah ditanggapi beberapa Kompasianer. Gubernur Ahok, yang menjadi tujuan surat juga sudah menanggapi. ““Dia merasa masih kayak otak warga negara kelas dua, dia melatih merasis diri,” tuturnya kepada wartawan, Senin (30/3/2015). [link beritanya .]

Beberapa dari kita yang bergiat di Kompasiana barangkali menanggapi surat terbuka tadi dengan cara pandang yang senafas dengan Gubernur Ahok : melawan korupsi tidak usah takut dan terlalu banyak tetek bengek sopan santun. Dalam urusan perang melawan korupsi, tidak ada urusan minoritas atau mayoritas. Atau, yang kedua, barangkali kita juga melihat surat terbuka tersebut sebagai ekspresi cara pandang rasis yang—anehnya—datang dari kesadaran seorang korban rasisme.

Untuk bagian kedua, tentang rasisme itu, Jaya Suprana sudah membalasnya pada tulisan Saya Makin Mengagumi Ahok [link tulisan .]. Jaya Suprana tidak hendak menggelorakan rasisme dan tegas ia mengatakan dirinya antirasisme. Jadi soal rasisme tidak rasisme dalam surat Jaya Suprana, kita tanggalkan.

Surat Terbuka Jaya Suprana dan Pesan Traumatik Hidup Berbangsa

Dalam keterbatasan saya, ada satu sisi pada surat terbuka Jaya Suprana yang hendak saya soroti. Yakni pesan kebangsaan dari pengalaman traumatik akan kerusuhan dan kekerasan rasial di Indonesia. Saya kutipkan disini, apa yang bisa kita tangkap sebagai pengalaman traumatik dari seorang Jaya Suprana.

Bukan rahasia lagi, bahkan fakta sejarah, bahwa telah berulang kali terjadi malapetaka huru-hara rasialis di persada Nusantara. Akibat memang beberapa insan bersikap dan berperilaku layak dibenci maka beberapa titik nila merusak susu sebelanga. Akibat beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka seluruh warga keturunan Tionghoa di Indonesia dipukul-rata untuk dianggap layak dibenci.

Pada paragraf ini, Jaya Suprana sedang menghadirkan konteks besar/makro dari pengalaman traumatik berbangsa. Bahwa dalam sejarah Nusantara, ada huruhara rasialis yang menjadikan warga keturunan sebagai korban. Negeri ini memiliki riwayat kekerasan yang turut serta menyertai perjalanan hidup berbangsa dan ada stigma (sikap pukul rata) yang terlanjur terbentuk.

Peristiwa huruhara rasial–menggunakan istilah Jaya Suprana–mungkin sudah pergi, tapi stigmanya tetap melekat, entah sampai kapan. Selanjutnya, peletak “ilmu kelirumologi” ini mengatakan :

Cukup banyak warga keturunan Tionghoa jatuh sebagai korban nyawa termasuk ayah kandung dan beberapa sanak-keluarga saya sendiri di masa kemelut tragedi G-30-S. Nyawa saya pribadi memang selamat, namun sekolah saya dibakar dan ditutup hanya akibat sekolah digolongkan sebagai sekolah kaum keturunan Tionghoa, padahal saya pribadi tidak pernah setuju komunisme.

Ketika huru-hara rasialis 1980-an di Semarang, kantor saya dilempari batu. Mobil saya dibakar dan rumah saya nyaris dibumi-hanguskan para huruharawan apabila tidak diselamatkan oleh TNI, kepolisian, dan tetangga saya yang justru bukan keturunan Tionghoa.

Sesudah memberi konteks makro sejarah Nusantara, Jaya Suprana lalu masuk pada pengalaman traumatisnya sendiri. Ia harus kehilangan ayah kandung dan sanak keluarga akibat peristiwa G-30-S. Dalam pengalaman yang lebih kontemporer, tahun 1980-an, ia juga mengalami perisitiwa huruhara rasialis lagi pada sebuah kota yang justru dibangun dari warga keturunan. Tapi ia masih selamat. Dengan kata lain, ia masih hidup untuk berjuang melawan ingatan traumatis tersebut.

Tapi kalimat pamungkasnya barangkali ada pada paragraf ini :

Pada kenyataan sebenarnya kebencian terhadap kaum Tionghoa di Indonesia  belum lenyap. Kebencian masih hadir sebagai api dalam sekam yang setiap saat rawan membara, bahkan meledak jadi huru-hara apabila ada alasan.

Di sinilah, Jaya Suprana terbaca suram dan getir. Pengalaman traumatisnya atas huruhara rasial menjadi tilikan paling kuat untuk mengingatkan Gubernur Ahok. Walau kemudian surat terbukanya justru ditanggapi sebagai ‘provokasi yang rasistik’, kita tidak bisa mengabaikan pengalaman traumatis ini.

Terhadap pengalaman atau ingatan traumatis dimana kita sebagai korban yang tidak mengerti urusan, kita bukan saja dibuat tidak bisa lupa. Tapi juga, yang kiranya sungguh berat adalah, berjuang untuk memaafkan.

Sebagai korban, selain tidak faham urusan, kita juga dipaksa untuk tumbuh dalam ketakutan. Hidup dalam ketakutan adalah pertanda dari tidak merdeka. Selama ketakutan itu tumbuh, apalagi kita dirawat oleh stigma dan kebencian yang latency lalu dikonstruk oleh kuasa mayor-minor, maka trauma-trauma sebagai anak bangsa itu akan selalu bertahta mengisi ruang batin kolektif.

Saya menangkap pesan Jaya Suprana dalam surat terbukanya itu disini. Pada konteks pengalaman traumatis sebagai warga keturunan. Istilah warga keturunan sendiri sudah seharusnya dibuang dari kosa kata berbangsa dan bernegara. Yang jelas, surat terbukanya adalah sebuah pesan getir yang masih nyaring bersuara dalam ruang-ruang senyap ketika hidup berbeda secara etnik dan keyakinan dipermasalahkan bahkan mendapat ancaman.

Saya tidak setuju Jaya Suprana mengkhawatirkan sikap miskin kesantuan Ahok dapat memicu kebencian yang lebih luas dan aksi huruhara rasial. Karena dengan logika seperti ini, seorang Jaya Suprana yang ceria itu seolah menghidupkan pesimisme dan memberi oksigen kemenangan pada koruptor. Jaya Suprana juga terkesan meremehkan fakta bahwa tidak semua manusia Indonesia mudah dilarutkan oleh massa yang terprovokasi.

Oleh karena itu, kesan pesimisme surat terbuka Jaya Suprana tadi harus kita balik, kita inversi, menjadi optimisme.

Menghalau Pesimisme

Sebagai bangsa, kita sudah harus bergerak dari kondisi pesimisme demikian. Bahwa yang menjadi kekhawatiran Jaya Suprana memang masih terus hidup dalam bawah sadar bangsa ini, tidak bisa kita pungkiri. Pengalaman traumatik itu masih seringkali dijadikan bensin psikologi untuk menulis ulang sejarah huruhara rasial. Tapi justru kita harus menghidupkan optimisme bahwa bangsa ini memiliki kapasitas belajar dari narasi getir sejarahnya.

Dalam pengalaman kontemporer, kita memang tidak lagi mengalami Gus Dur atau Romo Mangunwijaya secara langsung. Saya menyebut dua tokoh ini bukan berarti tidak ada lagi orang lain yang bekerja membangun persaudaran sebagai bangsa. Tapi, dari mereka yang pernah bekerja membangun persaudaraan sebangsa, kita bisa mengambil pelajaran buat generasi hari ini dan masa depan.

Termasuk juga mengambil pelajaran dari pengalaman keseharian kita dalam hidup yang plural. Indonesia yang berkepulauan ini terlalu kaya dengan kearifan hidup berbangsa, barangkali kita saja yang kekurangan sensitivitas untuk menginternalisasinya; memasukkan pengetahuan kearifan itu ke dalam kesadaran subyektif kita.

Dan, yang tak kalah pentingnya, mengawasi pemerintah/negara untuk menegakkan hukum dan melindungi seluruh warga negara dari meluasnya prasangka subyektif yang rasistik dan kemungkinan-kemungkinan huruhara rasial. Sebab, tak sedikit penelitian yang menunjukan kalau kerusuhan dan kekerasan itu memiliki konteks pembangunan yang memelihara ketimpangan dan diskriminasi. Pada titik inilah, negara yang bertanggungjawab.

Demikian sedikit catatan saya terhadap surat terbuka Jaya Suprana. Semoga bermanfaat.

Salam

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: