KE-TIONGHOA-AN ANTARA JAYA SUPRANA DAN BASOEKI TJAHAJA POERNAMA

KE-TIONGHOA-AN ANTARA JAYA SUPRANA DAN BASOEKI TJAHAJA POERNAMA

Oleh Agustinus Wahyono

Kompasiana . Com, OPINI | 02 April 2015 | 03:31

Surat terbuka dari Jaya Suprana (JS) alias Phoa Kok Tjiang untuk Basoeki Tjahaja Poernama (BTP) alias Zhōng Wànxué alias Ahok berjudul “Surat Terbuka Kepada Ahok” yang dimuat di Harian Sinar Harapan, Jakarta, edisi Rabu, 25 Maret 2015, yang ditanggapi BTP sebagai memprovokasi orang lain (http://www.jpnn.com/read/2015/03/30/295286/Pernyataan-Jaya-Suprana-di-Media-Dinilai-Ahok-Merasiskan-Diri-Sendiri). Tak pelak sebagian orang berpikir, “Tionghoa melawan Tionghoa.”

Lumrah saja pikiran sebagian orang itu, mengingat JS dan BTP beretnis Tionghoa. Namun, soal JS dan BTP, sebaiknya juga dilihat dari latar belakang mereka masing-masing. Anggap saja seperti ibarat dua pohon kopi sejenis ditanam di pulau yang berbeda akan menghasilkan cita rasa yang berbeda pula meskipun masih satu jenis.

Secuil Tentang JS

Dalam id.wikipedia.org/wiki/Jaya_Suprana, JS lahir di Kota Denpasar, Bali, 27 Januari 1949, yang pada usia usia 10 bulan pindah ke Kota Semarang, Jawa Tengah, dan dibesarkan dalam kultur kebudayaan Jawa. JS seorang seniman lulusan luar negeri, dan pengusaha dalam negeri. JS beragama Kristen Katolik.

Secuil Tentang BTP

Dalam situs id.wikipedia.org/wiki/Basuki_Tjahaja_Purnama, BTP lahir di Manggar, Belitung Timur, Babel, 29 Juni 1966, yang hingga masa puber berada di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur. Keluarganya adalah keturunan Tionghoa- Indonesia dari suku Hakka (Kejia), dan di lingkungan berbudaya Melayu dan Tionghoa Babel. BTP yang Sarjana Geologi produk dalam negeri ini seorang pengusaha, mantan anggota legislatif, dan kini seorang eksekutif. BTP beragama Kristen Protestan.

Secuil Kehidupan Etnis Tionghoa di Jawa

Sebelum berdirinya Majapahit, Kerajaan Singosari yang terkenal kuat di Jawa sudah ‘dilawat’ oleh seorang beretnis Tionghoa bernama Meng Ci sebagai utusan Kubilai Khan dari Dinasti Yuan, Kerajaan Mongol. Demikian pula ketika Kerajaan Majapahit berdiri, orang Tionghoa sudah ‘terlibat’ di dalamnya. Penyebaran agama Islam pun melibatkan orang Tionghoa.

Pada zaman Hindia-Belanda, orang Tionghoa pun ‘terlibat’ dalam masa kemerdekaan. Pada zaman kolonial Belanda di Jawa, orang Tionghoa mendapat kelas kewarganegaraan, yakni kelas II. Oleh Kolonial Belanda, orang Tionghoa ‘dimanfaatkan’ untuk kepentingan Belanda, khususnya dalam bidang ekonomi (perdagangan).

Sampai pada zaman Indonesia merdeka, orang Tionghoa masih ‘dimanfaatkan’ oleh oknum pemerintah Indonesia untuk ‘kepentingan’ mereka. Berita tentang orang Tionghoa ‘menguasai’ sektor ekonomi (perdagangan), toko-toko orang Tionghoa dibakar, ‘tekanan’ dan ‘kecurigaan’ (prasangka negatif) terhadap etnis Tionghoa, merupakan berita yang biasa.

Yang tidak kalah ‘ngeri’-nya, kultur Tionghoa ‘diberangus’. Bahasa, tradisi, dan hari raya umumnya, yaitu Imlek, tidak boleh dipagelarkan sebelum Gus Dur jadi Presiden RI. Luar biasa upaya ‘pembungkaman’ terhadap etnis Tionghoa di Jawa.

Secuil Kehidupan Etnis Tionghoa di Babel

Keberadaan orang Tionghoa di Babel terjadi pada zaman Kerajaan Sriwijaya, dimana orang-orang dari Tiongkok datang ke sana untuk belajar-mengajar agama Budha. Pada perjalanan datang-pulang, ada beberapa orang Tiongkok, khususnya masih muda-lajang, ‘tertinggal’ di Babel. Kemudian mereka menikah dengan orang Babel.

Pada zaman Hindia-Belanda, Belanda membuka penambangan timah, dan perkebunan lada putih. Selain mempekerjakan orang lokal sebagai buruh, Belanda juga mendatangkan buruh-buruh dari Tiongkok karena penambangan timah di Tiongkok juga ada, termasuk buruh-buruh untuk perkebunan lada putih.

Generasi pertama yang didatangkan oleh Belanda adalah orang-orang muda dan lajang, lalu mereka menikah dengan gadis-gadis lokal dan memeluk agama penduduk lokal. Demikian pula dengan dua-tiga generasi berikutnya. Tentu saja generasi-generasi itu kemudian menjadikan Babel sebagai tanah air baru, dan tidak lagi kembali ke Tiongkok (moda transportasi yang sangat sulit). Selanjutnya, barulah generasi dari kalangan pedagang.

Rasa senasib dan asimilasi antara orang Tionghoa-orang Babel justru menyatukan rasa persatuan-kesatuan sebagai ‘bangsa tertindas’. Lantas, terjadilah beberapa kali pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa di Babel terhadap Belanda. Juga pemberontakan orang Babel dan Tionghoa terhadap Belanda.

Sampai saat ini orang Tionghoa di Babel sudah menganggap Babel adalah tanah air mereka. Tiap-tiap rumah orang Tionghoa, khususnya yang masih beragama Kong Hucu, masih lestari dengan tepekong (tempat pemujaan satu keluarga) dan pernak-pernik agamanya. Ada juga tepekong besar, yang biasa dipakai untuk beberapa keluarga di suatu kampung. Orang Melayu Babel tidak pernah mengganggu keberadaan tempat pemujaan itu.

Sedangkan kerjasama dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan serta pernikahan antaretnis merupakan hal yang lumrah-jamak. Orang Melayu Babel tidak pernah menganggap orang Tionghoa sebagai warga pendatang. Ya, rasa senasib-sepenanggungan sangat kuat terjadi pada zaman Kolonial Belanda. Tidak perlu heran, orang Tionghoa di Babel tidak pernah dideskreditkan dengan sebutan “minoritas”.

Juga, upacara-upacara tradisi Tionghoa tetap dipagelarkan sejak zaman Kolonial Belanda hingga saat ini. Imlek bukanlah hari raya yang baru disahkan melalui Presiden RI ke-4 Gus Dur. Tidak ada persoalan dengan bahasa Tionghoa, tradisi, dan nama orang Tionghoa yang masih asli.

Selain itu, mantan Gubernur Babel Periode 2007-2012 Eko Maulana Ali merupakan anak angkat dari sebuah keluarga Tionghoa karena orangtua Eko adalah orang kepercayaan keluarga tersebut. Keluarga Tionghoa tersebut yang membiayai sekolah Eko. Orang-orang Babel tidak pernah menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh bin janggal, apalagi layak dipersoalkan.

Antara JS dan BTP

Secuil-secuil latar belakang keberadaan orang Tionghoa di Jawa dan Babel, paling tidak, cukup memberi sedikit gambaran mengenai perbedaan ke-Tionghoa-an antara JS dan BTP di Indonesia. Ditambah dengan kultur (budaya) Jawa yang dilakoni oleh JS, dan kultur Melayu-Tionghoa yang dilakoni BTP.

Surat terbuka yang dibuat JS, tentu saja, sangat kental dengan kultur Jawa, baik dari awal hingga diakhiri dengan “Bukan sesuatu yang mustahil bahwa kata-kata tidak sopan Anda menyulut sumbu kebencian sehingga meledak menjadi tragedi huru-hara yang tentu saja tidak ada yang mengharapkannya. Maka dengan penuh kerendahan hati, saya memberanikan diri untuk memohon Anda berkenan lebih menahan diri dalam mengucapkan kata-kata yang mungkin apalagi pasti menyinggung perasaan bangsa Indonesia. Terima kasih dari seorang warga Indonesia yang tidak sepemberani Anda”.

Ibarat sebilah keris yang terselip di belakang orang Jawa Tradisional, keris tetaplah senjata tajam-mematikan meski bentuk serta ukirannya sangat seni adiluhung. Senjata tajam terbaca pada “tidak sopan”, “kebencian”, “meledak”, “huru-hara”, “tidak ada yang mengharapkannya”, “menyinggung perasaan”, “memberanikan diri”, dan “lebih menahan diri”. Unsur seni adilihungnya terbaca pada “kerendahan hati”, “memohon”, “berkenan”, dan “tidak sepemberani Anda”.

Sementara BTP tidak ‘mengenal’ keris. Adanya parang, sebagaimana senjata yang biasa dipakai orang tradisional Babel. Letaknya pun tidak di belakang. Artinya, apa adanya, dan tidak perlu disembunyikan apalagi dengan diukir sedemian estetis-mistis-magis.

Dan, yang tak kalah apa adanya, di daratan Sumatera sampai Babel masyarakat mengenal seorang tokoh bernama Pahit Lidah. Hal tersebut terungkap, “Kalau ada risiko saya sendiri dan keluarga yang menanggung kok. Ngapain Anda (Jaya Suprana) repot-repot? Dia itu otaknya status quo. Saya tidak pernah merasa minoritas. Memangnya saya mau lahir kayak gini? Kalau boleh milih hidup, saya akan pilih jadi anak Pangeran Charles saja. Kalau dia baik hati, ngapain dia provokasi lewat koran, itu justru provokasi orang-orang lho.”

Jadi, ke-Tionghoa-an antara JS dan BTP sangatlah berbeda. Tetapi, meski berbeda-beda, tetaplah satu jua (Bhinneka Tunggal Ika). Hidup Indonesia!

*******

Panggung Renung, 2015

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: