George Obus: Pemuda Dayak Peserta Kongres Pemuda Indonesia 1928

George Obus:
Pemuda Dayak Peserta Kongres Pemuda Indonesia 1928
Oleh TT. Suan

Musyawarah Nasional Majelis Adat Dayak Nasional tahun 2010 diselenggarakan di Palangka Raya, 28-31 Oktober 2010. Kegiatan Munas diawali dengan melaksanakan pawai budaya yang menampilkan busana Dayak, dirangkai dengan pameran menampilkan karya usaha (produk) unggulan dan kebudayaan Dayak dari masing-masing peserta Munas selama 3 hari di hotel Luwansa.

Upacara pembukaan Munas MADN III di Gedung Pertemuan Tambun Bungai Palangka Raya, Kamis, 28 Oktober 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke 82. Kongres Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928, mengeluarkan tekad ikrar yang sangat bersejarah yang menentukan bentuk Indonesia ke depan, yakni Pemuda Indonesia hanya:
1. Berbangsa satu: Bangsa Indonesia
2. Bertanah air satu: Tanah Air Indonesia
3. Berbahasa satu: Bahasa Indonesia

Kebulatan tekad Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, 82 tahun silam, dimana hadir peserta Kongres Pemuda Indonesia adalah seorang pemuda Dayak bernama George Obus, sebagai salah seorang di antara pemuda Indonesia pejuang kemerdekaan yang setelah Indonesia merdeka oleh pemerintah diberi anugerah penghargaan sebagai Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tulisan berikut sekilas menyajikan sosok dan ihwal pemuda Dayak, George Obus, bersama-sama dengan pemuda Indonesia dari berbagai suku bangsa Nusantara berjuang menentang penjajah Belanda untuk mencapai kemerdekaan tanah airnya.

Kelahiran Kasongan
Sejak 19 April 2002, warga masyarakat Kalimantan Tengah khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, berpisah selama-lamanya dengan seorang putra bangsa yang menyandang nama besar pejuang dan perintis kemerdekaan RI, George Obus. Dilahirkan di Kasongan (baca Kasungan), pada lembah aliran Sungai Katingan. Sebagaimana ayahandanya Heini Umar, serta keluarga yang penganut agama Kristen Protestan, demikian jugalah putranya George Obus itu, penganut agama yang taat dan iman yang teguh. George Obus lahir tanggal 24 Desember 1902.

Dan dari Kasongan itu, antara lain lahir dua orang pejuang besar ikut merintis, menegakkan, dan memperkokoh berdirinya Negara RI yakni George Obus dan Tjilik Riwut. Dua orang putra Kasongan tersebut di dalam perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negara, dan dalam meniti karir adalah seperti dua bersaudara laiknya kakak beradik, bila menelusuri riwayat hidup masing-masing.

Misalnya, pada September 1945, George Obus terpilih sebagai ketua Badan Pembantoe Oesaha Goebernoer Borneo (BPOG), tahun 1946 Tjilik Riwut ditunjuk memimpin Rombongan II Oetoesan Pemerintah RI (ROPRI II) oleh Goeboernoer Borneo ke Borneo alias Kalimantan untuk menegakkan kekuasaan dan kedaulatan RI di kawasan itu dan sekaligus Mayor Tjilik Riwut ditunjuk sebagai Komandan Pasukan MN-1001 Mobile Brigade Markas Besar Tentara (MBT) Tentara Nasional Indonesia (TNI). George Obus dengan pangkat Letnan Kolonel ALRI ditempatkan sebagai Staf I Divisi IV ALRI (bagian intelejen) merangkap Staf V/ intelejen pada Markas Besar TNI Angkatan Darat.

Kedua-duanya duduk sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) parlemen NRI di Yogyakarta. “Kakak-adik” itu sesudah pemulihan kedaulatan, ditugaskan kembali ke Kalimantan dan diangkat menjadi bupati kepala daerah (1951), Tjilik Riwut untuk Kabupaten Kotawaringin dan George Obus untuk Kabupaten Barito. Awal 1957, Tjilik Riwut naik pangkat sebagai residen diperbantukan pada Gubernur Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. George Obus pun menjadi residen (1958) diperbantukan pada kantor Gubernur KDH tingkat I Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Tahun 1960-1967, George Obus adalah anggota MPRS. Tjilik Riwut dari 1959-1963 adalah anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA-S) RI dan 1964-966, Tjilik Riwut diangkat menjadi anggota MPRS.

Namun sebagai “kakak” dari Tjilik Riwut, George Obus lebih dahulu terjun dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Antara lain melalui partai politik dan pergerakan kepemudaan, antara lain George Obus hadir dan ikut aktif dalam Kongres Pemuda/ Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta. Ikut aktifnya dalam kongres tersebut adalah sebagai utusan dari Persatuan Pemuda Borneo (Kalimantan) yang berkedudukan di Surabaya.

Tokoh Pergerakan
Peranan dan pengabdian George Obus dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan sebelum proklamasi kemerdekaan, pengabdiannya dalam ikut mempertahankan, menegakkan, dan memperkokoh tegaknya negara serta upaya mengisi kemerdekaan negara dan bangsa khususnya tentang peranannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka Kalimantan Tengah dalam membina dan mengatur kehidupan rumah tangga daerah sekaligus adalah salah seorang tokoh pendahulu dan pendiri Kalimantan Tengah dengan ibukota Palangka Raya.

George Obus muda di zaman penjajahan adalah lulusan Zeevaartschool (Sekolah Pelayaran) di Surabaya pada tahun 1926. Ia juga lulusan Sekolah Tinggi Bahasa Jepang (Koto Nipponggo Gakko) di Surabaya pada masa pendudukan militerisme Jepang.

Sesuai keadaan yang berlaku pada waktu itu, organisasi kepemudaan masih berorientasi daerah se-daerah seperti adanya Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, dan lain-lain. Maka di Jawa, para pemuda Borneo (Kalimantan) timbul juga ide untuk membentuk suatu organisasi Pemuda Kalimantan dan pembentukannya terjadi pada 21 Mei 1926. Organisasi Pemuda Borneo yang ada di Jawa khususnya Surabaya. Pemuda George Obus terpilih sebagai komisaris untuk Borneo Selatan.

Di Surabaya pada 8 Juni 1929, berdiri partai politik dengan nama Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) diketuai oleh Dokter Soetomo. Dalam susunan kepengurusan PBI itu, George Obus duduk sebagai salah satu anggota pengurus inti. Lebih kurang 6 tahun kemudian, di Surakarta dilangsungkan musyawarah bersama antara pengurus besar Budi Oetomo dan pengurus besar Persatuan Bangsa Indonesia dimana mereka sepakat untuk bergabung, kemudian mendirikan partai politik dengan nama Partai Indonesia Raya (Perindra). Dalam kepengurusan Perindra itu, duduk pula George Obus.

Setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda Kalimantan di Jawa Timur berhasil membentuk organisasi dengan nama Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (PRIK) di Kota Surabaya. Pendiri PRIK itu dengan seizin dan sepengetahuan Ketua BPOG yang adalah George Obus itu sendiri.

Di dalam penyerangan terhadap gedung Kenpetai dan markas besar tentara Jepang di Surabaya, para pemuda PRIK dan BPOG ikut aktif antara lain berhasil merampas senjata Jepang. Menjelang akhir Desember 1945, pada suatu rapat, BPOG dibubarkan kemudian dibentuklah Ikatan Perjuangan Kalimantan (IPK).

Untuk menampung Pemuda-Pemuda Kalimantan (PRIK) dan IPK, diadakan perundingan oleh Gubernur Borneo Ir. P. M. Noor, bersama pengurus IPK dengan Panglima ALRI Jawa Timur, Laksamana Moh. Nazir, bertempat di Lawang untuk mendirikan ALRI Divisi IV Kalimantan dengan komandan Zakaria. Dalam pada itu, George Obus diangkat dalam jajaran Angkatan laut dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel ditempatkan pada Staf I ALRI Divisi IV.

Pembentukan NKRI
Berdirinya RIS (Republik Indonesia Serikat) pada 27 Desember 1949, sebagai hasil Konferensi Meja Bundar, bukanlah cita-cita rakyat Indonesia yang pada 17 Agustus 1945 memproklamasikan berdirinya Negara Republik Indonesia (NRI) yakni sebuah negara kesatuan (unitarisme), sedangkan RIS yang terpaksa diterima demi mencapai tujuan semula itu. RIS adalah paham federalisme (negara federasi) dimana negara-negara bagian dan daerah-daerah (semi-otonom) di luar NRI, yang sementara juga adalah “negara bagian” dari RIS hasil KMB ciptaan Belanda. Karena itu, rakyat di daerah-daerah di luar NRI, menuntut pembubaran semua negara bagian dan daerah bagian tegak sendiri/ semi otonom RIS kemudian dimasukkan ke dalam (bergabung) dengan NRI-Proklamasi yang beribukota di Yogyakarta.

Berdasarkan keputusan sidang KNIP Yogyakarta yang menugaskan anggotanya George Obus ke Kalimantan untuk menemui para ketua dewan/ pimpinan pemerintahan daaerah bagian dari RIS yakni Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Federasi Kalimantan Tenggara, Federasi Kalimantan Timur, dan Daerah Istimewa Kalimantan Barat, mengajak mereka supaya masuk dan bergabung kembali dengan NRI-Proklamasi Yogyakarta.

Para ketua/ kepala Pemerintahan Daerah RIS Se-Kalimantan kecuali Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) menerima baik ajakan dan anjuran dari utusan KNIP Yogyakarta karena berdasarkan kenyataan memang adanya kehendak dan aspirasi rakyat dalam daerah itu masing-masing, kecuali DIKB, untuk bergabung dengan NRI-Yogyakarta. Dan utusan KNIP, George Obus, diberi mandat untuk menyampaikan persetujuan dewan-dewan daerah di Kalimantan untuk bergabung dengan NRI-Proklamasi Yogyakarta.

Adanya persetujuan dewan-dewan/ pimpinan pemerintahan daerah di Kalimantan tersebut, disampaikan ke forum sidang KNIP (parlemen) NRI dan diterima baik hasrat penggabungan itu. Proses selanjutnya adalah rekomendasi dari acting (pemangku-istilah waktu itu) Presiden RI Mr. Asaat.

Selanjutnya anggota KNIP, George Obus, diutus pula oleh KNIP ke parlemen RIS di Jakarta berkenaan dengan pernyataan persetujuan semua dewan-dewan daerah otonom/ pimpinan pemerintahan (daerah bawahan RIS) di Kalimantan untuk bergabung dengan NRI Yogyakarta. Presiden RIS Ir. Soekarno pun sangat menyetujui keinginan rakyat di Kalimantan tersebut. Usai menemui parlemen RIS, utusan KNIP itu kemudian menemui para pejabat Uni Indonesia-Belanda (sepanjang berhadapan dengan pejabat Belanda, seraya mengemukakan tentang keinginan rakyat Kalimantan untuk bergabung dengan NRI Yogyakarta dimana telah mendapat persetujuan baik dari KNIP, parlemen RIS, dan Presiden RIS).

Perkembangannya, Presiden RIS dengan Surat Keputusan Nomor 12/ tanggal 24 Maret 1950 dan Surat Keputusan Presiden RIS Nomor 137, 138, 139, dan Nomor 140 tertanggal 4 April 1950 dan tanggal 1 Mei 1950 tentang Penghapusan Federasi Kalimantan Timur, Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Federasi Kalimantan Tenggara, dan Swapraja Kotawaringin sebagai daerah bagian RIS dan dengan surat keputusan yang sama, daerah-daerah tersebut dimasukkan ke dalam NRI Yogyakarta.

Menjelang terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka RIS itu tinggal dan hanya terdiri (yang masih bergabung dengan RIS itu) yakni Negara bagian NRI-Proklamasi Yogyakarta, Negara Indonesia Timur (NIT), Sumatera Timur saja dan pada tanggal 15 Agustus 1950, terbentuklah kembali negara kesatuan yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950.

Proses kembali ke Negara Kesatuan RI itu, George Obus berperan ikut mendorongnya. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya terhadap negara dan bangsa itu, maka dengan Surat Keputusan Menteri Sosial RI Nomor pol. 17-II/PK tanggal 30 Juni 1960, George Obus diakui dan ditetapkan sebagai Perintis Kemerdekaan RI. Dan almarhum George Obus telah memperoleh tanda jasa dan penghargaan dari negara/ pemerintah, di antaranya Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana G. O. M. I, II, dan IV serta penghargaan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Golongan A berdasarkan Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran RI Nomor 035/ L/ KPTS/ MUV/ 1962 tanggal 15 Oktober 1962.

Dan jasa-jasanya terhadap negara, nusa, dan bangsa mencapai kemerdekaan maupun jasa-jasanya terhadap rakyat dan daerah Kalimantan Tengah, namanya telah dipatrikan sebagai nama salah satu jalan protokol di Kota Palangka Raya, yang seharusnya dan yang betul adalah Jalan George Obus bukan Jalan George Obos!

Kalteng Pos, Palangka Raya, 10-11 November 2010

Juga terdapat dalam Kumpulan Tulisan TT. Suan Jld.I, diterbitkan oleh Lembaga  KebudayaanDayak Kalimantan Tengah

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: