Jejak Licin Saudagar Minyak

Jejak Licin Saudagar Minyak

in:mediacre, Wednesday, 9 May 2012, 12:09

JUMAT, 7 Maret. “Pak Schiller lagi libur. Kembali Senin saja,” kata seorang petugas satpam di gerbang masuk sebuah kantor di Jalan Buncit Raya 49, Jakarta.

Senin, 10 Maret. “Oh, Pak Schiller baru saja keluar. Sebaiknya buat janji dulu dengan Ibu Dina, sekretarisnya,” ujar resepsionis di lobi kantor, sembari mencatatkan nomor telepon Dina di secarik kertas.

Selasa, 11 Maret…. “Tidak ada yang namanya Schiller di sini,” ujar seorang anggota staf personalia di gedung itu kepada Tempo.

SCHILLER Marganda Napitupulu kini terbilang sosok penting. Dialah Direktur Gold Manor International Limited, yang memasok 600 ribu barel minyak mentah Zatapi untuk Pertamina, Februari lalu. Komisi Energi DPR curiga perusahaan ini “main mata” dengan Pertamina dalam proses tender. Untuk mengkonfirmasi simpang-siur berita, Tempo mencari Schiller.

 

Tapi Gold Manor dan Schiller sama saja misteriusnya. Upaya sia-sia di Buncit Raya itu bukanlah yang pertama. Mencari di Internet, sudah. Bertanya ke para pedagang minyak mentah di Jakarta, sudah pula. Hingga-karena tetap tak ada jejak yang jelas-Tempo memutuskan berburu informasi ke Singapura.

 

Setelah menitipkan koper di Hotel Fragrance, Geylang, Singapura, Rabu siang awal Maret lalu, Tempo segera menuju badan registrasi perusahaan (ACRA) di gedung International Plaza, Anson Road. Dari situ, misteri ini mulai terkuak.

 

Gold Manor tercatat di Singapura pada 10 Juli 2006 dengan nama Gold Manor Singapore Pte. Ltd. Direkturnya Schiller, sekretarisnya Tang Peng Chin, warga negara Singapura.

Bisnis perusahaan ini jual-beli minyak mentah serta bahan kimia berbasis minyak. Pemiliknya adalah Gold Manor International Ltd., perusahaan yang beralamatkan sebuah PO box di British Virgin Islands.

 

Di Singapura, menurut data ACRA, Gold Manor berkantor di 30 Raffles Place, #11-00 Caltex House. Ketika Tempo tiba di gedung yang sudah bersalin nama menjadi Chevron House itu, sore itu juga, tak ada orang Gold Manor. Rupanya itu kepunyaan Tan Peng Chin, yang ternyata lawyer. “Di sini cuma register office,” ujar resepsionis, seorang perempuan setengah baya. “Anda bicara saja dengan Janet Soh. Dia yang menangani Gold Manor.” Dia bilang Mr Chin sibuk dan membantah bosnya itu pemimpin Gold Manor.

“Orang Gold Manor tak mau menemui Anda,” kata Janet ketika ditemui dua hari kemudian. Dia enggan mempertemukan Tempo dengan Chin dan menolak memberitahukan siapa yang dia maksud dengan “orang Gold Manor”.

 

Bersamaan dengan itu, mencari alamat Schiller di Jakarta pun gagal. Rumah di Jalan Tulodong Bawah II/4, Kebayoran Baru, sebagaimana tercatat di ACRA, sudah rata tanah. Tampak puluhan tukang sedang menggarap bangunan baru. “Rumah ini dijual empat atau lima tahun lalu,” kata seorang warga di sana.

 

Hampir putus asa, Tempo kembali ke ACRA. Eh, sekeping informasi penting kembali terkuak. Alamat Gold Manor International: PO Box 957, Offshore Incorporation Centre, Road Town, Tortola, British Virgin Islands, ternyata sama dengan Orion Oil Limited, pemilik Global Energy Resources Pte. Ltd.

 

Global Energy pertama kali tercatat di Singapura pada 10 Mei 2002. Perusahaan itu berkantor di 1 Kim Seng Road, #15-01, East Tower, Great World City. Salah satu direkturnya, Irawan Prakoso, beralamat di Jalan Mampang Prapatan Raya Nomor 49-atawa Buncit Raya 49.

 

Setelah itulah Tempo mulai bertandang ke Buncit. Kantor itu sebuah bangunan kotak bertingkat, cokelat, dekat jalan. Tak ada papan nama. Angka 49 seukuran meja tulis menempel tinggi di atas dinding depan. Lobi didesain minimalis, cuma satu deret kursi tamu, meja kecil, dan sebuah lukisan gajah besar menggantung di dinding.

 

Irawan memang berkantor di sana. Bukan cuma dia, Schiller juga. Bahkan ada nama lain: Mohamad Riza Chalid dan Johnny Gerard Plate, yang sudah cukup lama dikenal di dunia jual-beli minyak. Keempatnya bersaling-silang memimpin dan memiliki saham di beberapa perusahaan yang berbasis di Buncit 49. Di antaranya PT Aryan Indonesia, pemilik tempat bermain anak-anak Kidzania, PT Pradita Parahita Utama, dan PT Mitra Integra Solusindo.

Kalangan pedagang minyak bercerita, di bawah bendera Global Energy, Mohamad Riza telah lama berbisnis dengan Pertamina. Itu juga yang tergambar dalam Laporan Kajian Restrukturisasi Pertamina 16 Juli 2007. Misalnya, pada 2005, Global Energy merupakan pemasok terbesar (33,3 persen) minyak mentah ke Pertamina Energy Services Ltd.

 

Pada 2006, Global menghilang dari Pertamina. Sumber Tempo mengatakan, itu berkaitan dengan pengetatan aturan tender yang dibuat Widya Purnama, Direktur Utama Pertamina 2004-2006. Sebab lainnya: permintaan dewan komisaris melalui ketuanya, Martiono Hadianto, agar Pertamina menghindari kerja sama dengan special purpose company (SPC) yang didirikan di wilayah tertentu, semacam British Virgin Islands. Surat Martiono tanggal 31 Maret 2005 itu telak memukul Global, yang dimiliki oleh Orion Oil Limited, diduga sebuah SPC di British Virgin Islands.

 

Sayang, Mohamad Riza tak bisa ditemui. Dia menjanjikan waktu khusus untuk wawancara di Kidzania pada Ahad sore, 9 Maret lalu. Namun, hingga pukul 18.30, dia tak muncul. Belakangan, orang di rumahnya mengatakan sore itu Riza mendadak ke Singapura, lalu ke Hong Kong untuk tinggal selama tiga bulan. Sejak itu, telepon selulernya tak bisa lagi dihubungi.

 

Bersamaan dengan “hilangnya” bisnis Global di Pertamina, Gold Manor mendaftar di Singapura. Irawan Prakoso dan Schiller, yang akhirnya bersedia diwawancarai Kamis malam dua pekan lalu, mengakui Gold Manor sebagai saudara kandung Global Energy.

Tapi Irawan membantah Global yang dia pimpin punya kaitan dengan Mohamad Riza. Mula-mula dia malah mengaku tak mengenal Riza dan membantah mereka sama-sama berkantor di Buncit 49. Jawabannya berubah setelah Tempo menyebut PT Pradita Parahita Utama. “Ya… mungkinlah,” ujarnya.

 

Irawan juga mengatakan Global tidak pernah memasok minyak mentah untuk Pertamina. Ketika Tempo menunjukkan Laporan Kajian Restrukturisasi Pertamina, dia kelabakan. “Itu benar atau enggak, tidak tahu saya,” katanya berkelit.

 

Toh, pertemuan di Plaza Indonesia itu tak membuat terang profil Gold Manor. Apalagi cuma Irawan yang bicara. Schiller memilih diam. Soal modal, misalnya, Irawan hanya mengatakan “billions of dollars”, tanpa mau merinci. “Sudahlah, Anda ke kantor kami di Singapura, nanti saya kasih.” Katanya, Global punya satu kantor lagi di East Tower, gedung Great World City, yakni di lantai 10, berbagi dengan Gold Manor.

 

Berbekal janji Irawan dan Schiller, yang mengaku tinggal di Singapura, empat hari kemudian Tempo kembali ke Singapura. Benar di Lantai 10-01 ada lagi kantor Global. Di bawah papan nama Global, tertulis Gold Manor International Pte. Ltd. dengan huruf sebesar kelingking orang dewasa. Namun profil perusahaan Gold Manor tetap tak diberikan. “Bos saya keluar kantor. Lain kali saja,” kata Lena Lee, public affairs executive yang menjadi tuan rumah siang itu.

 

Untung, Pertamina akhirnya memberikan dokumen yang dicari-cari itu. Profil perusahaan Gold Manor ternyata sangat sederhana, jauh dari lengkap. Soal kantor, hanya disebutkan mereka punya kantor pusat di Singapura dan perwakilan di Jakarta. Tak ada alamat atau nomor telepon.

 

Laporan keuangan yang diaudit Foo Kon Tan Grant Thornton Singapura menunjukkan bahwa per 31 Desember 2005 aset Gold Manor US$ 21,5 juta-di laporan itu terdapat kekeliruan pencatatan, ditulis hanya US$ 1,7 juta-atau sekitar Rp 198 miliar. Sedangkan modalnya cuma US$ 3,5 juta (Rp 32,2 miliar). Ini jauh lebih kecil dari harga Zatapi, sekitar US$ 58,6 juta (Rp 545,9 miliar).

 

Lalu di mana jejak klaim Irawan bahwa Gold Manor adalah perusahaan “billions of dollars”? Sayang, baik Irawan maupun Schiller tak lagi bisa dihubungi. Yang pasti, kalau laporan keuangan itu yang dijadikan pedoman, Gold Manor jelas tidak layak berdagang minyak dengan Pertamina. Soalnya, kepada Tempo, Direktur Utama Pertamina Ari H. Soemarno pernah membuat pernyataan tegas: untuk bisa menjadi trader Pertamina, sebuah perusahaan harus punya modal minimal US$ 50 juta atau sekitar Rp 450 miliar.

 


Empat Serangkai Jawara Minyak

 

MENCARI Gold Manor International di Singapura, penelusuran Tempo berujung pada sebuah bangunan bertingkat tanpa papan nama di Jalan Warung Buncit Raya 49, Jakarta Selatan. Di situlah empat serangkai pedagang minyak “kawakan” Indonesia dengan omzet triliunan rupiah dipersatukan lewat sejumlah perusahaan.

 

Lokasi Irawan Prakoso Schiller M. Napitupulu Johnny G. Plate Mohamad Riza Chalid
JakartaJalan Warung Buncit Raya 49Mampang Prapatan PT Pradita Parahita Utama (Direktur dan pemegang saham) PT Mitra Integra Solusindo (Direktur) PT Aryan Indonesia (Direktur) PT Mandosawu Putratama Sakti (Direktur)***PT Mitra Integra Solusindo (pemegang saham) PT Anugerah Investindo Prima (Direktur)* PT Gajendra Adhi Sakti (Komisaris)**PT Aryan Indonesia (Komisaris)
SingapuraKim Seng Road#10-01 East Tower, Great World City Global Energy Resources Pte. Ltd. Gold Manor Singapore Pte. Ltd.    
British Virgin IslandsPO Box 957Offshore Incorporations CentreRoad Town, Tortola Orion Oil Limited Gold Manor International Ltd.    
*) Pemegang saham utama PT Pradita Parahita Utama**) Pemegang saham utama PT Mitra Integra Solusindo***) Salah satu pemegang saham PT Pradita Parahita Utama
Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: