Program Simantri Salah Sasaran dan Politis

03 April 2012 | BP
Program Simantri Salah Sasaran dan Politis
Simantri yang menjadi program unggulan Gubernur Bali Mangku Pastika disoroti tokoh masyarakat. Ketika digelar simakrana Gubernur di Karangasem, pekan lalu, tokoh Desa Pakraman Nongan, Pande Gede Sudasta mengkritisi keberadaan Simantri. Program ini dinilai hanya bagus dari segi teori, namun pelaksanaannya perlu diperbaiki.
Apa yang disampaikan Sudasta rupanya menjadi realita di Desa Panji Anom Buleleng (BP 2/4). Gopoktan Bina Sejahtera yang mengelola proyek Simantri terpaksa mengontrak tenaga kerja untuk memelihara sapi bantuan Pemprov Bali. Alasanya karena anggota Gopoktan tidak tertarik memelihara sapi Simantri. Selain itu alasannya, kandang keloni juga jauh dari rumah. Jadi kalau dipaksanakan petani akan mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi.
Apa yang menjadi keluhan Sudasta dan realita yang ada di Desa Panji Anom, juga menjadi sorotan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa Nyoman Kaca dan Staf Dosen Peneliti Simantri Made Kawan Senin (2/4) kemarin.
Nyoman Kaca mengatakan ada kecenderungan simantri tidak tepat sasaran karena ditunggangi kepentingan politik. Selain itu pendampingan dan manajemen kelompok juga masih lemah sehingga banyak simantri yang gagal.
Nyoman Kaca mengakui, ide simantri memang bagus namun dalam implementasinya kerap tidak sesuai dengan konsep awal. Menurutnya sejumlah simantri kerap salah sasaran karena hanya melirik kelompok-kelompok tertentu yang didasarkan pada kedekatan atau kepentingan politik bukan pada ketepatsasarannya.
Seharusnya dalam memilih kelompok, pemerintah harus hati-hati dan objektif sehingga terpilih kelompok yang benar-benar mau mengembangkan pertanian dalam arti luas baik dari segi ternak, pupuk dan pengembangan komoditas pertanian sesuai kemampuan dan potensi daerah.
Pemilihan kelompok harus tepat sehingga program ini tidak mubazir. Karena ada istilahnya kelompok ”DARA”. Artinya baru ada bantuan baru buat kelompok. Adanya kejadian pemeliharaan sapi simantri diserahkan pada orang ketiga seperti simantri di Buleleng membuktikan program ini kurang tetap sasaran.
Selain itu pemerintah diharapkkan mampu merancang kebijakan yang mempu memberi jaminan produk-produk simantri ini bisa terserap dengan baik di pasaran. Karena selama ini kerap kelompok simantri kalang kabut dalam pemasaran produknya. Staf Dosen Peneliti Simantri Ir. Made Kawan MP mengatakan pendampingan dari pemprov Bali selama ini masih lemah. Menurutnya agar program ini benar-benar berjalan, petani tidak boleh dilepas begitu saja. Harus ada pendampingan yang intensif dari segi teknis produksi baik itu budidaya sapi, tanaman dan lainnya. ”Seharusnya ada pendampingan yang intensif dan berkelanjutan,”ujar dosen yang ikut menjadi tim monev simantri ini.
Menurutnya kalau ada pendampingan secara intensif maka tidak akan ada kegagalan seperti beberapa program simantri yang sudah berjalan.
Pada simakrama di Karangasem, Gubernur Bali mengatakan, kini seolah-olah ada ada kesan bahwa subak diabaikan terkait pemberian proyek Simantri. Padahal, Simantri itu ada di wilayah subak. Baginya, tidak penting apakah Simantri itu lewat lembaga subak atau gabungan kelompok tani, yang penting pemanfaatan anggaran Rp 200 juta lebih untuk Simantri sesuai dengan proposal yang diajukan. Proposal Simantri itu terlebih dahulu harus disahkan Bupati setempat. (kmb 29)
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: