MEMBACA BUKU MAY SWAN *MONTMARTRE IN BONDOWOSO“

IBRAHIM ISA:

APRESIASI DAN KESAN

MEMBACA BUKU MAY SWAN

*MONTMARTRE IN BONDOWOSO“


in: nasional-list@yahoogroups.com; Sunday, 29 January 2012, 17:40

“Montmartre In Bondowoso” bukan karya pertama MAY SWAN, yang ditulis
dengan latar belakang peristiwa-sejarah di Indonesia dan Tiongkok. Ini
salah satu ciri May Swan. Sekaligus menunjukkan identitas penulisnya.
Kepedulian dan keterlibatannya dengan Indonesia dan Tiongkok serta
pengetahuannya mengenai sejarah Indonesia dan Tiongkok.

Semua itu menjadikannya insan-budaya, seorang sastrawan, yang jarang di
dunia ini: Tidak menceburkan diri dalam kegiatan praktis politik. Tetapi
menganggap bahwa politik dan kegiatan politik adalah bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan masyarakat manusia. Baik dalanm kehidupan
sehari-hari maupun kehidupan dunia sastra secara umum. Penulis May Swan
tidak a-politis, bahkan punya pandangannya sendiri yang ‘independen’ .
May Swan juga tidak “fobi-politik”.

Ini menjadikan karya sastranya a.l. *“Monmartre Di Bondowoso” *sebuah
novelette yang menarik dan segar. Karena bersumber pada
kejadian-kejadian yang merupakan kenyataan dalam kehidupan bermasyarkat.

* * *

Hal ini juga tercermin dalam a.l novelnya *“Fragrand Deception”*, dan
*“Hidayat”.* Dua-duanya dalam dalam bahasa Inggris

Di sinilah kita menyaksikan kekuatan dan keunggulan karya-karya sastra
May Swan. Mencerminkan identitasnya sebagai sasterawan Singapore, etnis
Tionghoa berasal Indonesia.

* * *

“Montmartre di Bondowoso” mengangkat angan-angan ilusioner seorang
pemuda Indonesia, Soerono. Ia beristrikan Lee Lin, seorang gadis
Indonesia turunan Tionghoa. Suatu ketika Soerono menjadi ‘bosan’ dengan
“kehidupan Bohemian”, sebagai migran di Montmartre, Perancis. Soerono
rindu masa lampaunya. Percobannnya juga gagal menemukan “kembali”
identitasnya sebagai orang Jawa Indonesia yang ‘pulang kampung’. Karena
kenang-kenangan kehidupan ‘masa lampau’ telah tiada. Perubahan besar
melanda kehidupan nyaman dan damai di Bondosowo. Termasuk suasana
‘trauma’ diman masih gentayangan syaitan-iblis sekitar kekejaman dan
kebiadaban periode “Tragedi Nasional 1965”.

Problim sosial yang dihadapi Soerono bertambah rumit karena ulah
‘pribadi’ -nya. Soerono terlibat dan tenggelam dalam berpacaran dengan
seorang gadis temannya dulu di Indonesia.

Tidak ada satupun ‘soal-soal’ yang dihadapinya yang bisa ia temukan
solusinya. Kembali lagi ke Montmartre untuk bergabung dengan isrinya dan
memboyongnya ‘pulang kampung’, juga gagal. Karena Lee Lin, akhirnya
mengetahui bahwa, — ketika ke Indonesia, suaminya melakukan hubungan
rahasia dengan gadis Indonesia.

Demikianlah masalah-masalah yang dihadapi Surono yang tak bisa
dipecahkannya. Dan, Lee Lin sudah tidak mau lagi.

Barangkali inti masalahnya, adalah ini: —

Soerono gagal mempertahankan identitasnya sebagai manusia Indonesia,
yang mampu berintegrasi dengan masyrakat-bangsa setempat, Ia juga gagal
dalam mengabadikan perkawinannya dengan Lee Lin. Karena tenggelam dalam
pandangan dan teori-teorinya sendiri sekitar lembaga tertua di dunia
ini: PERKAWINAN dan CINTA.

* * *

Singkat kata, karya May Swan: “Monmartre Di Bondowoso, smenarik dan
lancar, tidak ngambang atau melayang-layang, lagipula bukan fiksi semata.

Ini, menjadikan May Swan seorang sastrawan Singapura berlatar belakang
Tionghoa dan Indonesia, —– YANG UNIK!. Mungkin May Swan adalah
satu-satunya penulis Singapura yang beridentitas demikian itu.

Lain dari yang lain, – —- tetapi juga suatu keunggulan yang barangkali
tak ada duanya di Singapura.

Di karya manapun, dalam bahasa Inggris atau Indonesia, — cerita yang
lahir dari buah tangan May Swan, . . . . . selalu lancar, silih berganti
secara harmonis antara suasana sekitar yang rinci dengan dialog yang
tidak menjemukan.

Menarik karena kelancaannya itu, disebabkan oleh penguasaannya mengenai
tema dan latar belakang kejadian.

* * *

NB:

Ibrahim Isa, publisis, mantan editor majalah “AFRO-ASIAN MAGAZINE”,
yang terbit berbahasa Inggris, Perancis dan Arab, tahun 1960-an,
di Cairo

*

Sejak pasca Suharto, telah mengadakan berkali-kali interview,
bicara dalam ceramah dan seminar, serta menulis sekitar 2000 essay
dan komentar mengenai situasi Indonesia dan mancanegara.

*

Menerbitkan dua buah buku di Jakarta: “SUARA SEORANG EKSIL (2001)
dan ”BUI TANPA JERUJI BESI” (2011).

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: