MENJADI IBUKOTA RI TIDAK PENTING

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku

“Palangka Raya menjadi ibukota Republik Indonesia (RI)”, merupakan salah satu topik terhangat yang menjadi buah pembicaraan banyak orang, baik di KalTeng maupun di luar KalTeng.  Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Maluku sudah menyatakan kesiapan mereka sebagai pengganti apabila ibukota RI dipindahkan dari Jakarta, ibukota sekarang yang sudah dinilai tidak layak lagi menjadi ibukota negara. Banyak artikel sudah ditulis di media massa cetak KalTeng mengetengahkan tentang pantasnya Palangka Raya sebagai ibukota RI. Semua tulisan-tulisan memperlihatkan kegembiaraan mereka tentang wacana tersebut. Pemerintah dan DPRD Kalimantan Barat, Selatan, dan Timur sudah menyatakan dukungan mereka apabila Palangka Raya menjadi ibukota RI. Tentu saja DPRD Provinsi KalTeng sendiri.

Bagi Uluh KalTeng yang membaca sejarah provinsi dan masih baik ingatannnya, wacana Palangka Raya sebagai ibukota RI sebenarnya bukanlah hal baru. Ia ada dan sudah digaungkan ketika Presiden Soekarno tiba di KalTeng meresmikan berdirinya KalTeng dan Palangka Raya. Kedatangan Presiden Soekarno menempuh kesulitan transportasi disusul oleh PM Djuanda yang menggarisbawahi wacana pemindahan ibukota RI. Wacana ini selama Orba melenyap dan mencuat kembali ke permukaan ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) datang ke Palangka Raya untuk membuka pertemuan para gubernur se-Indonesia pada tahun silam. Dilihat dari segi sejarahnya, wacana ini tidak perlu diminta tapi sebaliknya, Pemerintah Pusat yang berwacana dan memilih. Paling tidak telah mencantumkan Palangka Raya pada urutan ke-7 sebagai salah satu kota  alternatif dari tujuh kota yang disebutkan. Walaupun Palangka Raya baru (atau justru karena baru) dibangun sebagai kota. Buku ‘’Palangka Raya Ibu Kota Indonesia Masa Depan’’ yang diterbitkan oleh KNPI Kota Palangka Raya  pada tahun 2007 (228 hlm.) merupakan salah satu dokumen berharga untuk masalah ini.

Kegairahan menyambut wacana Palangka Raya Ibukota RI nampak juga dari telah dibentuknya oleh Pemerintah Kota Palangka Raya pada tanggal 11 Agustus 2010,  sebuah Tim yang disebut Tim Pengkaji dan Persiapan Menghadapi Wacana Pemindahan Ibukota Negara  RI dengan Drs. Lukas Tingkes sebagai Ketua Pelaksana (Kalteng Pos, 12 Agustus 2010). Sedangkan DPRD Provinsi Kalteng juga telah menyepakati pembentukan Panitia Kerja (Panja) Penyiapan Palangka Raya Sebagai Ibukota RI (Harian Tabengan,Palangka Raya, 10 Agustus 2010).

Pemindahan ibukota negara ke sebuah kota manapun tidaklah terlalu menjadi perhatian saya. Tidak juga membuat kegembiraan istimewa jika Palangka Raya akhirnya menjadi ibukota RI. Yang pasti apabila pemindahan ibukota ke tempat baru, maka pemindahan tersebut akan menimbulkan dampak besar menyeluruh terhadap daerah tersebut, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan bahkan militer, dan lain-lain. (hal yang terakhir ini sama sekali tidak pernah disentuh oleh para penyokong pemindahan ibukota). Dampak pemindahan inilah, terutama dampaknya pada Uluh Itah,  yang kiranya patut menjadi perhatian. Tapi justru segi ini pula di tengah kegembiraan menyambut wacana pemindahan ibukota RI kemungkinan ke Palangka Raya, tidak disinggung. Atau sedikit disinggung.

Barangkali dalam kegembiraan menyambut kemungkinan demikian, yang pertama terbayang adalah mengucurnya dana pembangunan ibukota dan hal begini merupakan satu peluang.Walaupun saya cemaskan peluang tersebut, lebih bersifat peluang egoistik daripada bersifat publik. Tidak usah menunggu Palangka Raya menjadi ibukota RI, ketika menjadi ibukota Provinsi KalTeng saja, Pahandut, ibukota lama, sudah tidak lagi menjadi kota Uluh Itah. Uluh Itah dari Pahandut tersisih. Yang tersisa adalah pelabuhan Rambang yang tua dan sepi, itu saja. Pahandut adalah contoh di depan mata dari keadaan bagaimana Uluh Itah yang punya tanah berladang di tepi , punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan (témpun petak batana saré, témpun uyah batawah bélai, témpun kajang bisa puat). Jika ketika Palangka Raya menjadi ibukota provinsi saja sudah demikian,  apa yang terjadi apabila kelak benar Palangka Raya menjadi ibukota RI? Barangkali bisa lebih parah lagi dari nasib Pahandut, Uluh Itah akan menjadi minoritas tersingkir yang bodoh, terbelakang dan miskin papa di tanah kelahiran sendiri. Palangka Raya sebagai ibukota RI akan mempercepat proses pem-‘’Pahandutan’’ Uluh Itah.

Pemberdayaan Uluh Itah, peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM)  Uluh Itah, akses Uluh Itah ke sumber-sumber daya alam dan ekonomi  untuk menjadi Uluh Itah menjadi Dayak Bermutu dan Kekinian agar tidak terhindar dari Proses Pem-Pahandut-an lebih buruk, merupakan upaya sangat mendesak hari ini. Renaisans Kalteng tidak akan mungkin terwujud tanpa Renaisans Uluh Itah. Pemindahan ibukota RI ke Palangka Raya bukanlah kunci dan tidak berarti positif apapun jika Uluh Itah tetap senasib Pahandut. Pemindahan ibukota RI ke Palangka Raya justru akan mempercepat proses pem-Pahandut-an Uluh Itah.

Karena itu pindahnya ibukota RI atau tidak bukanlah soal penting dan apalagi mendesak dibandingkan dengan upaya nyata membuat Uluh Itah Bermutu dan Modern. Bagaimana mewujudkan hal inilah yang patut pertama-tama dikaji dan dipersiapkan serta  dilaksanakan secara urgen. Kesadaran begini perlu dimiliki terutama oleh pemangku kekuasaan berbagai tingkat, terutama oleh pengambil kebijakan, pindah atau tidaknya ibukota RI ke Palangka Raya. Jika soal ini tidak tertangani segera, cepat atau lambat akan terjadi di Tanah Dayak ini suatu etnosida budaya mendahului etnosida fisik, paling tidak penyingkiran fisik. Pahandut kota tua itu, ada di depan mata kita.***

KUSNI SULANG, anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR)

Dimuat di Harian Tabengan, Kamis 19 Agustus 2010

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: