MENGENANG KAN JOESOEF ISAK

Kolom IBRAHIM ISA

Kamis, 20 Agustus 2009

——————————-

IN MEMORIAM JOSOEF ISHAK:

Dia itu Sukarnois Dalam Ucapan dan Tindakan

(2)

Tulisan untuk ´MENGENANGKAN SAHABATKU TERCINTA, JOESOEF ISAK, Bg 2, dimulai dengan sedikit cerita bagaimana pengenalanku terhadap Ucup – sapaan akrab. Ternyata beliau ini adalah seorang Sukarnois. Sulit dicari samanya. Tadinya banyak orang, termasuk penulis ini, mengira Joesoef adalah seorang PSI. Rosihan Anwar yang ´dekat sekali´ dengan PSI, meskipun tidak terang-terangan mau menyatakannya, juga punya pendapat seperti itu.

Nyatanya Joesoef Isak bukanlah orang PSI. Meskipun habitatnya – meminjam istilah Rosihan – adalah PSI.. Joesoef Isak sendiri dalam wawancaranya dengan wartawan Belanda, de Volkskrant, untuk Jakarta, Michel Maas,menyatakan, bahwa orang umumnya menyangka Joesoef Isak itu orang PSI. Orang tambah terkejut karena Joesoef mengatakan kepada Michel Maas bahwa orang-orang PSI itu adalah ´salon-sosialis´. Tetapi Joesoef Isak juga menyatakan bahwa dia bukan anggota PKI. Tidak mudah jadi anggota PKI, kata Joesoef.

Joesoef Isak memang benar adalah seorang Sukarnois tulen! Antara lain bisa dibaca dalam perdebatannya di s.k. De Volkskrant, dengan Rudy Kausebroek, wartawan kawakan Belanda. Mereka berkonfrontasi dalam perdebatan mengenai pelbagai topik. Tetapi yang paling seru adalah mengenai Bung Karno, bagaimana sikap Bung Karno ketika periode pendudukan Jepang, dan mengenai Demokrasi Terpimpin konsep Bung Karno. Rudy Kousebroek yang melancarkan serangan. Joesoef yang membela Bung Karno dan konsepnya..

Memang dimana saja Joesoef menulis berkaitan dengan Bung Karno, maka Joesoef akan tampil dengan argumentasinya yang keras dan beralasan membela Bung Karno, sejarahnya, visinya dan misinya. Dari tulisan-tulisan Joesoef mengenai Bung Karno dan konsepsinya, orang akan tiba pada kesimpulan, bahwa Joesoef Isak benar-benar memahami, menguasai dan membela ide-ide dan ajaran Bung Karno.

* * *

Aku selamanya menganggap cukup mengenal Bung Karno sebagai konseptor, inspirator dan aktivis ulung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ternyata pengenalan dan pemahamanku itu, tidak semendalam apa yang difahami dan dihayati oleh Joesoef Isak. Harus kuakui, bahwa sesudah lebih dekat dengan Joesoef Isak, pemahaman dan pengenalanku terhadap ajaran-ajaran Bung Karno bertambah. Baik dalam keluasannya maupun kedalamannya.

Joesoef Isak, bukan dalam omongannya saja seorang SUKARNOIS.Tetapi terutama dalam tindakan dan tulisan-tulisannya. Justru pandangan Sukarnois ini yang membikin Joesoef Isak, bisa berdialog dengan siapa saja, yang beda pandangan dengan dia. Joesoef juga memahami langgam Bung Karno berkomunikasi dengan orang lain yang punya pandangan lain.

Kalau dikemukakan di sini, bahwa tak ada kujumpai orang lain yang begitu gairah dan yakin mengenai ajaran-ajaran Bung Karno, yang begitu mengkhayati aj

Aku kenal sejak dulu, seorang tokoh dan pemimpin politik, salah seorang intelektual dan budayawan Indonesia. Dia itu Komunis, — Nyoto, namanya. Beliaulah yang beberapa kali menjadi ´gostwriter´nya Presiden Sukarno. Yang menyiapkan pidato-pidato Presiden untuk peringatan hari 17 Agustus. Ada juga lainnya yang mengajukan konsep pidato 17 Agustus kepada Presiden Sukanro. Tetapi Sukarno memilih konsep yang dibuat Nyoto. Sehingga, dari satu jurusan tertentu, ada yang mengkomentari bahwa Nyoto itu, lebih Sukarnois dari Sukarno sendiri. Yang tambah menarik ialah bahwa ´Sukarnois´ Nyoto itu, — juga dekat dengan Sukarnois Joesoef Isak. Tidak kebetulan bahwa ketika Nyoto dikejar-kejar aparat sesudah G30S, dengan tuduhan terlibat – tanpa bukti dan tanpa diadili – tempat Nyoto bermalam adalah di rumah Joesoef Isak. Suatu risisko besar sekali bagi Joesoef Isak menjadikan rumahnya tempat Nyoto menyelamatkan diri. Aku fikir, yang membuat mereka dekat satu sama lainnya, ialah kesamaan pandangan Joesoef dan Nyoto mengenai Bung Karno dan ajaran-ajarannya. Makanya bisa dimengerti mengapa Tempo yang mempersiapkan penerbitan mengenai Nyoto, mengundang Joesoef Isak pada tanggal 14 Agustus malam yang lalu, berdiskusi bersama lainnya yang dianggap sedikit banyak kenal siapa Nyoto.

* * *

Sesuai dengan ajaran Bung Karno, Joesoef selalu menekankan, mutlak perlunya dibangun pesatuan bangsa Indonesia. Bukan sebarang persatuan, tetapi suatu PERSATUAN YANG PROGRESIF REVOLUSIONER. Inilah satu-satunya jalan menyelamatkan bangsa dan Republik Indonesia. Jalan menuju keadilan dan kemakmuran.

Oleh karena itu ketika Subadio Sastrosatomo, embahnya PSI, sesudah meninggalnya Sutan Sjahrir, menyatakan perlunya para pendukung Bung Karno, pendukung Bung Syahrir dan pendukung Bung Hatta bersatu demi menyelamatkan tanah air dan bangsa, pernyataan ini segera disambut oleh Joesoef Isak. Ia aktif pula mensosialisasikan ide tsb.

Dimana saja Joesoef Isak sempat bicara dengan kaum muda, ia selalu mengajukan ide tentang perlunya belajar dari sejarah bangsa. Joesoef setiap kali mengulang-ulang kata-kata Bung Karno — SEKALI-KALI JANGAN MELUPAKAN SEJARAH BANGSA.

* * *

Ketika mengajukan ide-idenya berkenaan dengan SERATUS TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL, Joesoef mengajukan kepadaku a.l. Sbb.

´Apakah moral dan message paling inti dan paling hakekat dari peristiwa Kebangkitan Nasionlal 100 tahuh yang lalu itu???

This is it : PERSATUAN NASIONAL ! ! Karena Persatuan Nasional kita merdeka, karena Persatuan Nasional kita Kuat dan Mandiri, karena Persatuan Nasional amburadul negeri terimbas amburadul, akibatnya negeri serba tergantung, rakyat sengsara, cuma segelintir elit yang tetap senang.

Kata Joesoef — Setelah menjalani100 Tahun, sudah waktunya bikin satu moment-opname tentang situasi dan kondisi Indonesia hari ini. Dengan berat dan sedih inilah kesimpulannya : Indonesia dengan bumi kaya-raya melimpah-ruah, memiliki rakyat yang sangat miskin di dunia; dan rakyat yang miskin ini memiliki paling banyak elit yang milyuner dollar. Opo ora sedih setelah 100 tahun bangkit dan 60 tahun lebih merdeka?

Seperti diamanatkan Bung Karno, sejarah jangan sekali-kali dilupakan. Sejarah harus dikuasai dan dipelajari betul bukan hanya untuk bernostalgi pada prestasi masa lalu, akan tetapi terpenting justru untuk menarik pelajaran guna dengan lebih baik lagi menangani dan memasuki masa-depan.

Sejarah memiliki kandungan moral, bagaimana secara benar dan tepat memaknainya???
Sejarah menuntut dari kita semua, kesediaan dan kemampuan untuk self-koreksi, mawas-diri. Meaning? Semua pihak, semua institusi birokrasi, orpol, ormas, perorangan, tanpa kecuali, mau dan berani membedah dan membenahi diri untuk tidak mengulangi, untuk mencegah semua bentuk kebodohan dan kesalahan yang mubasir di masa lalu ! ! ! Kemubasiran yang telah dan
masih terus harus dibayar dengan peringkat kemajuan negeri yang terpuruk dan rakyat yang berkelanjutan hidup miskin sampai hari ini.

Apa kandungan amanat yang built-in dalam manifestasi Kebangkitan Nasional. Ini : menegakkan kemerdekaan, kesejahteraan adil-makmur dan kemandirian dengan agenda permanen berlawan terhadap kekuatan yang menghambat dan mau mentiadakan kemerdekaan dan kemandirian tersebut – di mana, kapan dan oleh siapa pun. Tragis sekali kalau ada segmen masyarakat — karena ketidak-matangan dan ignorance politik, malah membantu dan berjalan seiring-sejalan dengan kekuatan yang agendanya justru menggerogoti kemerdekaan, kemandirian dan

What to do, how and where to begin now?
Kita sudah cukupan menikmati demokrasi, tetapi defisit sekali nasionalisme. Demokrasi mutlak diperlukan, tetapi hanya demokrasi yang berisi nasionalisme modern yang cinta tanah-air, cinta rakyat — dengan sendirinya watak nasionalisme yang selalu mementingkan rakyat di atas segala-galanyanya, jijik pada korupsi, konsiten menolak ketergantungan dalam segala bentuk. Untuk itu perlu dimulai dengan membenahi kerangka-berpikir (mind-set) rancu yang digendong-gendong selama ini.

Diperlukan mind-set revolusioner yang membangun nasionalisme modern, membangun kebiasaan (habit) cinta rakyat, habit memelihara persatuan yang positif, benar dan produktif bagi rakyat dan negeri, bukan persatuan asal persatuan sekalipun dengan unsur-unsur negatif yang justru
meredusir kemerdekaan dan kemandirian.

Demikian Joesoef Isak dalam salah satu pesannya kepadaku untuk MEMPERINGATI SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL

* * *

Siapa menduga bahwa hal-hal yang dikemukakan diatas — adalah ide yang muncul dari Joesoef Isak?

Cobalah analisis teliti, semua yang dikatakan Joesoef Isak itu, – – – konsepsionil, seratus persen adalah SUKARNOISME yang ditrapkan dalam situasi kongkrit Indonesia dewasa ini!

*) Ibrahim Isa adalah publisis. Sekretaris The Wertheim Foundation, Amsterdam

Advertisements

1 comment so far

  1. […] Award 2005 IN MEMORIAM JOSOEF ISHAK (1) : Peraih WERTHEIM AWARD 2005 – Ibrahim Isa IN MEMORIAM JOSOEF ISHAK (2) : Dia itu Sukarnois DalamUcapan dan Tindakan – Ibrahim Isa Hormat setinggi-tingginya kepada Joesoef Isak – A Umar Said Selamat Ulang Tahun, Selamat Tidur […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: