Archive for the ‘Sastra’ Tag
Berthold Damshäuser: Sastra Indonesia Kurang Dikenal
Jum’at, 27 Maret 2009 | 10:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Ia menjepit rokok dengan telunjuk dan jempol tangan kanan. Di sela-sela kalimat-kalimat Indonesianya yang lancar, ia mengisap kretek A Mild itu dalam-dalam. Berthold Damshäuser, 52 tahun, adalah salah satu ahli sastra Indonesia di Jerman yang tersisa. Sejak 1986, dia menerjemahkan sastra Indonesia ke bahasa Jerman dan sebaliknya.
Ia datang lagi ke Jakarta sebagai pendiri Komisi Indonesia-Jerman dalam bidang bahasa dan sastra. Pada Oktober 1996, Kanselir Helmut Kohl berkunjung ke Indonesia. Saat itu disepakati dibentuk komisi bilateral Indonesia-Jerman dalam bidang bahasa dan sastra. Sayangnya, komisi itu bertepuk sebelah tangan. Hingga kini hanya pihak Jerman yang aktif.
Senin sore lalu, wartawan Tempo, Seno Joko Suyono dan Ibnu Rusydi, serta fotografer Panca Syurkani menemui Damshäuser. Ia bercerita mengenai betapa sastra Indonesia sesungguhnya marginal di dunia.
Bisa Anda ceritakan Komisi Indonesia-Jerman ini?
Komisi ini dibentuk oleh mantan Kanselir Helmut Kohl dan mantan Presiden Soeharto. Komisi ini bertujuan menyebarkan sastra Jerman di Indonesia dan sastra Indonesia di Jerman. Tapi cuma pihak Jerman yang berupaya mewujudkan cita-cita komisi itu. Indonesia masih pasif. Saya harapkan pihak Indonesia mau bergerak.
Apa produknya?
Saya telah menerjemahkan puisi Paul Celan, Bertold Brecht, dan Goethe. Kini saya sedang menerjemahkan puisi-puisi Nietzche, Zarathustra. Saya kini juga menyiapkan antologi puisi penyair Indonesia periode 1980 hingga 2005. Ada 10 penyair dalam antologi itu. Ini bakal diterbitkan oleh Pusat Bahasa Indonesia.
Tahun depan saya berencana akan membawa delegasi penyair Indonesia ke Jerman. Mungkin ini pertama kali delegasi penyair diutus negara. Perkenalan kebudayaan jangan dengan tarian melulu, tapi dengan aksara. Sudah saatnya Indonesia membuktikan kepada dunia mempunyai budaya modern, khususnya budaya aksara. Saya harap Pusat Bahasa bisa mencarikan sponsor.
Sudah berapa novel Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa Jerman?
Mungkin (total) sekitar 25. Sekitar 6-7 karya Pram (Pramoedya Ananta Toer), Umar Kayam, Ayu Utami, dan Oka Rusmini.
Bagaimana tanggapan masyarakat Jerman atas novel Indonesia?
Harus diketahui bahwa sastra Indonesia di Jerman terbit di penerbit kecil. Buku-bukunya tak muncul di toko-toko. Tirasnya hanya 1.000-2.000, jelas tidak laris dan jarang dibicarakan kritikus terkenal di harian nasional Jerman ternama, seperti Frankfurt Allgemeine Zeitung. Terjemahan novel Ayu Utami, misalnya, belum banyak tanggapan. Bahkan karya Pram tidak diresensi dari segi sastra, tapi lebih kepada dia sebagai korban politik Orde Baru.
Bukankah Pram saat bertemu Gunter Grass mendapat perhatian besar media di sana?
Oh tidak, sama sekali tidak.
Dibanding novelis Afrika atau Asia lain, Indonesia bagaimana?
Cina dan Jepang agresif memperkenalkan sastranya. Juga India dan Korea. Turki dengan sendirinya dilirik karena Orhan Pamuk meraih Nobel. Sastra Amerika Latin bahkan best seller. Dengan Vietnam saja, Indonesia masih kalah.
Bagaimana kajian sastra Indonesia di universitas di Jerman?
Ada perkembangan yang merisaukan. Jurusan-jurusan itu digeser program studi baru, yaitu studi kawasan. Akibatnya, pengkaji sastra Indonesia berkurang, diganti oleh ahli etnologi, antropologi, dan ekonomi. Bahasa dan sastra hanya jadi pelengkap pengetahuan para ahli kawasan, misalnya kawasan Asia Tenggara.
Di Bonn dulu, misalnya, ada program studi penerjemahan yang saya pimpin selama 20 tahun. Namun, sekarang tak ada lagi. Bahkan kini saya jadi abdi untuk (studi) kawasan itu. Dulu masih ada mahasiswa saya yang menulis skripsi tentang sastra Indonesia, sekarang tak ada lagi.
Di Jerman, sekarang Anda sendirian menekuni sastra Indonesia?
Di Bonn, ya. Di Koln dan Hamburg mungkin masih ada (penggiat lain).
Bagaimana Anda melihat fenomena meledaknya novel populer Indonesia?
Saya baca Ayat-ayat Cinta tahun lalu. Saya tergiur membaca novel ini. Sebab, ada yang menyebut novel ini layak dinominasikan Nobel karena mengembangkan sastra Islami. Pada 10-20 halaman pertama, novel ini mengalir tanpa kerikil, tapi gaya bahasanya sangat pop.
Yang mengganggu saya adalah penggambaran hitam-putih si tokoh pemuda Indonesia di Mesir, seperti insanulkamil. Sempurna betul. Dia berpoligami untuk menyelamatkan perempuan Koptik yang mencintainya. Saya terganggu pesan utama novel itu bahwa yang bisa masuk surga cuma orang Islam. Saat si perempuan Koptik itu sakit, ia bermimpi melihat sebuah gedung indah. Banyak orang berpakaian putih masuk, tapi dia dihalangi.
Itu merupakan sikap eksklusif yang agak berlebihan, sama sekali tak sesuai dengan jiwa rakyat Indonesia. Saya sempat ceritakan novel ini kepada seorang teman di Jerman. Dia katakan ini pelecehan terhadap Tuhan. Mengapa? Sebab, novel ini membayangkan Tuhan menerima makhluknya berdasarkan semacam KTP.
Bagaimana Anda membandingkan penyair mutakhir Indonesia dengan penyair Jerman?
Sastra Jerman berkembang sangat gemilang sejak ratusan tahun lalu. Puisi Jerman sudah mencapai puncak luar biasa pada Goethe dan Nietzche. Di sekolah-sekolah juga diajarkan penulisan esai. Setiap penulis muda ada dalam tradisi yang sangat kaya itu. Para penulis di Jerman juga memiliki kemampuan beberapa bahasa. Saya melihat sastrawan (Indonesia) kurang menguasai bahasa-bahasa lain. Sastrawan Indonesia berkembang otodidak. Kalau boleh kritis, ini tak enak, mutu sastra Jerman rata-rata di atas mutu di sini.
Anda lihat peran negara penting untuk penyebaran sastra?
Ya. Di Jerman, misalnya, Departemen Luar Negeri wajib (memperkenalkan karya Jerman). Makanya didirikanlah Goethe Institute. Tugasnya menyebarkan kebudayaan Jerman.
Saya usulkan agar Indonesia membentuk Pusat Budaya Indonesia di Eropa. Pemimpinnya adalah budayawan, bukan birokrat atau diplomat biasa. Cina, misalnya, sudah mulai mendirikan pusat-pusat Konfusius. Indonesia sudah menganggap diri kebudayaannya penting, tapi tak menyadari bahwa sesungguhnya marginal. Wah!
Legenda Bukit Batu KAMELUH TAMBUSU (BIDADARI BUNGSU)
I
Angin bergerak pelan. Menggoyang daun-daun pohon kehidupan yang bening dan berkilau warna-warni. Daun-daun itu berwarna merah, kuning, oranye, hijau, biru, lila dan ungu. Seperti selendang yang gemulai, tersangkut, terjuntai di dahan lalu meliuk-liuk terkena belaian angin, daun-daun pohon kehidupan bergerak kesana-kemari. Melambai-lambai genit dan luwes. Di atas permukaan air, angin bermain bersama riak-riak. Mereka bergulung-gulung hingga riak-riak terhempas berguling-guling di pantai berpasir emas. Angin tertawa. Desaunya jernih seperti nyanyian diiringi seruling balawung*. Berpadu dengan bunyi seperti kecapi yang berasal dari denting-denting dedaunan di pohon kehidupan. Mendayu, merayu, meresap dan terpantul-pantul dalam jiwa. Matahari berwarna putih. Berkilau, berpendar, menyinari bukit, sungai, pohon kehidupan, laut berpasir emas, dan semua benda dibawahnya. Saat cahaya matahari menerpa kulit, rasanya sejuk dan warna kuning emas lembut akan terpantul dari kulit kami. Di dunia kami, suhu udara tidaklah panas, tidak juga dingin. Angin dan matahari adalah sahabat.
Bukit-bukit dunia kami seperti bongkahan intan besar. Berwarna putih susu, dikelilingi laut berlangit emas dan samudra berpagar intan. Bukit-bukit ini akan berpendar, mengeluarkan cahaya putih yang hangat saat disentuh. Kami juga punya lumut. Lumut ini berwarna hijau jamrud. Lunak, lembut dan lembab. Mereka menempel di batang pohon kehidupan. Kami bisa menariknya dari tempat mereka menempel seperti menarik kain dari gulungannya dan membuat penutup tubuh yang eksotis. Lumut-lumut itu senang dapat berguna bagi kami. Setelah kami puas memakainya sebagai hiasan, kami akan kembalikan lumut-lumut yang lunak dan lembab itu ke tempat dimana mereka menempel sebelumnya. Tentu saja setelah kami mengucapkan terima kasih.
Jika siang hari selalu sejuk maka malam hari selalu hangat. Matahari menutup mata dan beristirahat setelah mengingatkan bintang-bintang agar keluar pada waktunya. Cahaya kuning emas yang diberikan matahari kepada bintang akan berubah menjadi biru berkilau saat dipancarkan kembali oleh bintang-bintang diwaktu malam. Tak berapa lama setelah bintang-bintang membuka pertunjukan malam, bulan muncul dengan cahaya kuning lembut menghiasi langit malam. Bintang-bintang berwarna biru berkilau seperti batu safir yang sudah diasah, bekerjap-kerjap. Mereka tenang dan tanpa suara. Hanya mempermainkan kilau biru mereka kesana-kemari untuk menemani bulan yang feminin, sensitif dan lembut. Matahari dan bulan. Siang dan malam. Maskulin dan feminin. Ranying Hatalla menciptakan keseimbangan sempurna bagi dunia kami.
II
Hatue Pangaji bersiap-siap. Ia akan berjalan jauh. Membuka lahan perladangan di dekat sungai berair merah. Peralatan berladang telah lengkap. Ambang*, beliung*, kapak*, mata tombak dan tamparang* telah masuk dalam keba*. Begitu juga senjata yang kira-kira diperlukan. Kemarin ia telah membuat sipet* baru dari tamiang* yang keras dan beracun. Licin, bentuknya bulat, bergaris tengah selebar satu ruas buku telunjuknya. Sumpitan itu hampir sama panjang dengan panjang tangannya. Ditengah-tengah, dibuatnya lubang selebar sepertiga lebar ruas buku telunjuk yang paling atas. Dalam telep*, Hatue Pangaji juga telah menyiapkan 100 batang damek* dari pohon Bendang. Beberapa ujung damek itu berkerat, berwarna hitam dan sangat beracun. Ia telah mencelupnya ke dalam bubur getah kayu tuba yang sudah dimasak dan dicampur dengan bisa ular hanjaliwan. Damek-damek lain, tanpa racun, disiapkan untuk berburu saja.
Ayam-ayam mulai berkokok. Saatnya berangkat. Hatue Pangaji membuat lapak laminak* pada dawen sawang* dan menggantungnya di depan rumah. Berjalan diatas rumput hutan dan lumut yang dingin dan basah dibawah telapak kakinya, Hatue Pangaji bersenandung. Matahari tak kelihatan. Cahaya putih hanya samar-samar berkedip diantara sela dedaunan yang jauh tinggi diatas kepalanya. Batang-batang ulin, erau, siren, nyamu, tengang, lonok, tamberan, kala, beringin, rumpun rotan, tampang, berangbungkan, rasak, seperti tiang-tiang hidup. Pakis hutan ditempeli embun, bulat berkilat-kilat dipermukaan daun seperti permata. Udara hutan terasa lembab dan basah. Ada sepasang tingang bertengger di dahan tapurau dan mengeluarkan bunyi nyaring wongggg…..wongggg….wonggggggg…..Angin yang lewat disela-sela dahan dan dedaunan mengeluarkan bunyi ssssssshhhhhhh………bunyi itu berayun-ayun bersama bunyi jangkrik yang mengerik bergantian. Krik….krik….krikkkkk…..ssssssshhhhhh……ssssshhhhhh……krikkk….krikkkkkk…..sssshhhh….
Hingga sekarang, Hatue Pangaji selalu bekerja sendiri. Begitu juga kali ini. Ia telah tiba di satu tempat di salah satu sisi sungai yang berair merah karena penuh saheb* yang mengendap di dasarnya. Dari tempatnya berhenti, tak jauh, ada telaga bundar. “Cukup bagus”, Hatue Pangaji berseru dalam hati. Ia tak akan kekurangan air meski agak jauh dari sungai. Setelah membabat hutan, ia akan membuat parak* untuk tempat beristirahat saat berladang. Di Parak*, ia juga akan menyimpan beberapa peralatan berladang dan berburu jika sewaktu-waktu diperlukan. Sebelumnya, ia telah memohon ijin kepada segala makhluk tak terlihat yang mendiami daerah itu. Ia juga telah berdoa kepada Ranying Hatalla melalui Raja Tunggal Sangumang, roh baik yang membawa rejeki.
Matahari telah tinggi. Hutan tempat ia akan berladang, telah dibabat dan dibersihkan. Saat beristirahat tiba. Hatue Pangaji ingin meluruskan badan dan berbaring sejenak sebelum mulai membangun parak*. Dipilihnya sebuah tempat berumput dekat telaga di bawah pohon ulin. Pohon itu kokoh, tinggi dan rindang. Lambang keteguhan jiwa manusia Dayak. Garis tengahnya kurang-lebih selebar dua pemeluk. “Pasti telah ratusan tahun umurnya,” kata Hatue Pangaji dalam hati. Angin menyentuh kulitnya yang basah oleh keringat. Rambutnya yang terjuntai hingga ke bahu, basah dan melekat satu sama lain. Butir-butir keringat jatuh dari wajahnya yang kuning. Mata Hatue berkedip lebih cepat. Kantuk datang.
Berbantal tangan, Hatue Pangaji berbaring menatap ke atas, ke pucuk-pucuk pohon tinggi yang menyaring cahaya matahari dan menyisakan kerlap-kerlip cahaya, bergoyang diantara dedaunan. Matahari terik dan hujan rintik-rintik. “Pasti ada Liu*,” Hatue Pangaji bergumam.
Ia nyaris tertidur.
III
Kakak-kakak memanggilku Kameluh Tambusu. Aku adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Kami diciptakan Ranying Hatalla dari penyatuan cahaya matahari dan bulan. Penyatuan itu menghasilkan tujuh sinar suci dan menjelma menjadi diri kami sekarang. Kami tinggal di batang danum* yang bermuara di laut berlangit emas samudra berpagar intan. Kami dikenal dengan nama Bawin Kameluh Sintung Uju.
“Kameluh Tambusu….ayo cepat. Liu* sudah terbentuk. Kita berangkat sekarang. Kau mau ikut mandi-mandi kan?” Kakak sulung pertama bergegas-gegas menuju ujung Liu* yang berwarna-warni. Jika selendang kami bertujuh digabung dan diimpitkan satu sama lain, ia akan tampak seperti Liu*.
“Tunggu, kak! Aku ikut,” aku berlari sambil mengencangkan selendang di pinggang.
“Kau memang selalu terlambat,” Kakak kedua menarik tanganku.
Keenam kakak sulung, berlari-lari sambil tertawa. Kami berpegangan tangan. Kami akan turun ke bumi. Matahari dan hujan telah menghadirkan Liu*, jembatan kami menuju bumi. Kemarin kakak sulung kedua yang suka mengamat-amati bumi dari bukit emas Kagantung Gandang Kereng Rabia Hapalangka Langit, tempat tinggal paman Raja Mise Andau yang diserahi tugas oleh Ranying Hatalla untuk mengatur waktu siang dan malam di bumi, memberitahu, ada telaga bundar dekat sungai yang airnya berwarna merah. Telaga bundar itu berada ditengah hutan, dikelilingi semak bumi yang hijau dan berbunga kecil-kecil warna-warni. Beberapa kapupu* terbang dekat semak-semak liar itu. Ada kapupu* besar berwarna biru keperakan seperti warna selendang kakak sulung kelima. Tepi-tepi sayapnya berwarna hitam dengan bintik bulat warna oranye dan putih. Kami ingin melihat kapupu itu dan merasakan air telaga bening yang memantulkan cahaya matahari seperti cermin.
“Pelan-pelan. Telaganya tak akan lari,” Liu berkata
“Tentu saja telaganya tak lari. Hanya saja kau yang selalu muncul cuma sebentar. Begitu hujan berhenti, beberapa saat kemudian kau juga pergi. Lalu bagaimana kami kembali ke atas?” kakak sulung kedua protes.
“Aku hanya menjalankan perintah Ranying Hatalla,” Liu melotot.
“Ah, Liu….tenanglah. Kami tak marah padamu. Kami tahu kau menjalankan tugas dari Ranying Hatalla dengan baik,” kakak sulung pertama tersenyum pada Liu.
Liu sangat indah. Dan ia selalu tepat waktu.
“Jangan lama-lama,” Liu mengingatkan saat kami telah tiba di ujungnya yang menyentuh bumi.
“Tenang saja, Liu,” Kami menjawab serempak
“Cepat, Kameluh Tambusu. Waktu kita pendek. Liu tak menunggu,” kakak-kakak berteriak.
Kami membuka pakaian. Telanjang. Angin bumi sedikit lebih kencang. Kami terjun, berenang, tertawa-tawa meriah dan berkecipak-kecipak dalam air yang seperti cermin.
Telaga itu sungguh bundar. Airnya jernih. Sejuk. Tak ada manusia. Kapupu* kecil kuning, coklat dan biru hinggap di bunga-bunga putih-mungil semak liar di tepi telaga.
Liu menunggu dengan tenang. Selepas mandi, kami naik ke tepi telaga dan berpakaian. Melompat ke ujung Liu yang menjadi titian kami menuju langit. Bumi sungguh berbeda. Hijau, berangin, lebih dingin dan sedikit lebih kasar permukaannya. Banyak bunyi-bunyian di hutan yang kami tak tahu asalnya darimana. Mungkin suara hewan-hewan yang tak ada di dunia kami.
IV
Hatue Pangaji masih terpana. Tak berkedip dari balik semak-semak liar berbunga warna-warni yang tadi dihinggapi kapupu. Ia sudah terperanjat sejak tadi. Jantungnya berdetak cepat. Ia terpaku. Pemandangan yang baru selesai dilihatnya seperti mimpi. Sejak ia terbangun kaget karena mendengar paduan suara tawa yang bening dan jernih, kantuk dan lelah yang dirasakan langsung hilang.
Sekarang ia merasa sangat sepi dan kehilangan, begitu paduan tawa itu lenyap dan hanya menyisakan bunyi daun-daunan, angin dan jangkrik. Perempuan berselendang ungu, berambut panjang hitam terurai hingga tumit, berkulit kuning seperti emas muda, pipinya licin kemerahan, jari-jemarinya lancip, rupa tubuhnya empuk seperti kasur, yang dipanggil Kameluh Tambusu, meninggalkan rasa rindu dan keinginan memiliki di hati Hatue Pangaji.
Hatue Pangaji gelisah. Resah dan susah. Hatinya terasa kosong. Seperti ada lubang besar di dadanya. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Ikan nila yang dipancingnya dari sungai berair merah serasa gabus. Persediaan beras muda yang manis dan harum yang dibawanya dari rumah, terasa hambar. Tulang-tulang tubuhnya terasa mengkerut dan lemah, menolak kebaikan madu hutan yang diminumnya kemarin. Semestinya ia merasa segar dan kuat karena madu itu tapi tak terasa apa-apa. Pikirannya dipenuhi kabut. Mengutuk diri karena lambat bertindak. Ia bisa saja memeluk Kameluh Tambusu saat sedang berpakaian. Jarak mereka dekat. Sesal memenuhi hati, pikiran, dan rongga-rongga dalam tubuhnya.
“Aku tak akan berpayah-payah dalam sesal terlalu lama.”
Hatue Pangaji berketetapan dalam hati. Esok, ia akan menunda pulang ke kampung setelah menyelesaikan parak*. Esok, saat matahari dan hujan rintik-rintik tiba bersamaan, saat Liu muncul, Kameluh Tambusu dan saudara-saudaranya akan datang lagi. Ia yakin. Dan akan menunggu mereka. Kali ini dengan rencana dan kebulatan hati.
Hatue Pangaji menenangkan pikiran. Ia menunggu.
V
Hari ini cerah sekaligus basah. Matahari dan hujan rintik-rintik.
“Cepat…cepat….Liu sudah muncul,” kakak-kakak bersahutan.
Aku berlari menuju Liu. Aku bersemangat. Air telaga itu menyenangkan. Dingin. Basah. Seperti lumut lembab yang menempel di pohon kehidupan. Hanya saja bentuknya cair. Kemarin mereka bercerita bolak-balik mengenai pengalaman mandi di telaga dekat sungai berair merah. Hari ini mereka akan mencobanya lagi.
“Bersikaplah tenang dan anggun. Telaga itu tak akan lari,” Liu berkata
“Tentu saja telaga itu tak lari,” kakak sulung kedua protes. Sebelum ia melanjutkan kalimat, kakak sulung pertama berkata,
“Kau memang sangat perhatian Liu. Selain juga indah.”
Liu tersenyum. Ia senang dipuji dan sangat bangga akan keindahannya.
Mereka bergegas-gegas meniti Liu yang sudah tenang hatinya karena mendapat pujian dari kakak sulung pertama. Aku tersenyum.
“Kenapa senyum sendiri, Kameluh Tambusu?” kakak keempat bertanya sambil melirik.
“Liu sungguh lucu, kak. Mudah sekali baik kembali.”
“Ia memang diciptakan begitu. Kalau tidak, mana mau ia muncul berkali-kali tiap hujan dan matahari tiba bersamaan. Kita sudah sampai. Cepat buka pakaian dan terjun!” Kakak ketiga menimpali.
Selendang warna-warni dan kain-kain penutup tubuh kami, segera saja bertebaran di tepi telaga. Tertawa-tawa, kami terjun, berenang berputar, berendam hingga kepala kami lenyap ke dalam air telaga yang dingin. Bunyi-bunyi hutan tak aneh lagi. Terdengar seperti nyanyian yang menderu, bersemangat, masuk ke dalam telinga dan dipantulkan kembali oleh gendang telinga. Kapupu* biru keperakan dengan tepi-tepi sayap berwarna hitam dan berbintik oranye-putih, terbang berputar-putar diatas telaga.
Hatue Pangaji masih menunggu. Kali ini di semak-semak dekat tempat kain dan selendang ungu Kameluh Tambusu tergeletak. Ia sudah berada disana sebelum tujuh bersaudara datang. Saat dilihatnya matahari dan hujan tiba bersamaan, Hatue Pangaji telah bergegas. Sekarang ia mengamati telaga. Jantungnya berdetak. Dekat sekali. Ia menarik nafas panjang, menenangkan diri. Menatap Kameluh Tambusu yang elok, suci dan telanjang. Sungguh-sungguh ciptaan Ranying Hatalla yang tak terkira! Keindahan yang melumpuhkan syaraf dan membuat kesadaran hilang.
VI
Air dingin telaga meresap. Tubuh ku terasa ringan dan hilang. Seperti spons berlubang besar. Dingin air itu menentramkan sekaligus menggairahkan. Merangsang dari ujung kaki hingga ujung rambut. Waktu terasa lambat dan berhenti. Pohon-pohon, bunga, suara- suara hewan yang bersahut-sahutan, cahaya matahari yang samar-samar menembus pucuk-pucuk daun, pelan-pelan pudar meninggalkan bayangan kabur. Kakak-kakak ku pun tak nampak dalam penglihatan lagi. Air telaga yang dingin seperti menyedotku masuk ke dalam lingkaran tanpa dasar dan membuatku rasuk. Aku melupakan segala. Lupa bahwa Liu menunggu. Lupa bahwa waktu hanya sedikit. Lupa bahwa duniaku bukan disini.
“Aku menyukai air ini. Sungguh-sungguh hidup.” aku berbisik pada kupu-kupu biru besar keperakan yang terbang di dekat telinga kananku. Kepala kusandarkan di tepi telaga. Wajahku menghadap ke atas, terasa dingin sekaligus hangat diterpa bulatan-bulatan kecil bias cahaya matahari yang berhasil menembus kerapatan pucuk-pucuk daun pepohonan hutan. Kupejamkan mata. Aku kerasukan. Kerasukan nikmat air telaga yang dingin, segar dan menggairahkan.
“Cepat berpakaian. Hujan berhenti. Liu akan berangkat sebentar lagi,” samar-samar suara kakak-kakak ku menerobos masuk ke dalam lubang telinga.
“Kameluh Tambusu, cepat!” suara kakak kedua menarik kesadaranku yang mulai hilang.
Kakak-kakakku sedang berpakaian saat aku baru keluar dari air dalam keadaan setengah sadar. Saat mereka sudah berada diujung Liu, aku masih mengikat selendang.
“Tolong, jangan pergi!”
Dari semak-semak di depanku, seorang laki-laki melompat, menyergap dan memelukku hingga kehabisan nafas.
“Kakakkkkk…..,” aku menjerit. Meronta, menatap kakak-kakakku yang panik dan pucat. Liu langsung berangkat dan membawa mereka yang hanya sempat menoleh sebentar. Hujan telah berhenti sama sekali.
Seorang manusia! Seorang manusia telah menyentuhku! Laki-laki! Aku mendorongnya ke belakang. Berusaha melepaskan diri.
“Tolong, jangan pergi! Aku memerlukanmu. Tolong….,” laki-laki itu masih memelukku. Badannya hangat. Matanya hitam tajam. Kulitnya kuning dengan rambut basah jatuh ke pundak. Sungguh erat pelukannya. Aku bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat.
Aku ingat ucapan Liu dalam perjalanan menuju telaga tadi, “Bersikaplah tenang dan anggun.” Aku berhenti meronta. Laki-laki itu mempererat pelukannya. Aku bisa merasakan nafasnya. Hangat dan beruap. Aku ketakutan dalam pelukan erat laki-laki itu.
“Mengapa kau sekap aku? Apa salahku? Longgarkan pelukanmu. Aku tak akan melawan.”
“Aku mencintaimu. Aku memerlukanmu. Aku melihatmu pertama kali kemarin dan aku ingin memilikimu. Maukah kau tinggal denganku? Aku ingin kau jadi istriku. Jadilah istri Hatue Pangaji.”
Aku diam. Jadi namanya Hatue Pangaji. Seorang laki-laki manusia yang menginginkan aku jadi istrinya. Liu sudah pergi, juga kakak-kakakku. Tubuhku sudah disentuh laki-laki manusia. Apakah ada pilihan lain?
“Tolong jawab aku,” Hatue Pangaji mendesak. Memohon. “Jadilah istriku.” Ia masih memelukku erat-erat.
“Longgarkan pelukanmu baru kujawab,” aku mengangkat kepala.
“Baik.” Hatuei Pangaji melepas pelukannya dan mundur selangkah.
Aku, Kameluh Tambusu, bungsu dari tujuh bersaudara, ditinggalkan, sendirian di dunia manusia. Dalam pelukan laki-laki. Aku tak bisa berlambat-lambat kali ini.
“Aku bersedia menjadi istrimu.”
Mata Hatuei Pangaji berbinar.
“Selamat tinggal, kakak-kakakku sayang. Sampai bertemu lagi,” aku berkata dalam hati sambil memandang ke langit yang nampak sepotong-sepotong di antara sela dedaunan di pucuk-pucuk pohon.
VII
Seluruh keluarga laki-laki bersiap. Gong telah dipukul. Pemberitahuan pernikahan telah disebar. Hatuei Pangaji mengatur persiapan-persiapan pernikahan, termasuk menyembunyikan selendang dan kain Kameluh Tambusu. “Aku tak mau Kameluh Tambusu sedih termenung-menung karena rindu pada dunianya dan saudari-saudarinya jika melihat pakaian itu,” kata Hatuei Pangaji pada dirinya sendiri. Sebenarnya bukan hal tersebut jua yang paling meresahkan hati. Hatuei Pangaji takut, Kameluh Tambusu akan pergi dan meninggalkannya apabila selendang dan kain itu dipakai istrinya. “Mestinya itu bukan selendang dan kain biasa. Tak ada yang biasa dari dunia langit.”
Kameluh Tambusu berdandan. Pakaian kulit kayu pemberian Hatuei Pangaji dengan hiasan kepala bulu burung Tingang. Pernikahan sederhana saja. Cicak Kacang * diselenggarakan sejak pagi hari. Seekor ayam dipotong. Darahnya ditempatkan dalam kendarah*. Mereka didudukkan bersanding diatas garantung* menghadap arah matahari terbit. Kedua tangan mereka, bersama-sama memegang ureh bunu* dan dawen sawang*. Dahi mereka lalu dioles darah ayam yang diambil dari kendarah*. Palas* dilakukan oleh orang-orang tua. Kemudian, pergelangan tangan mereka diikat dengan lamiang lilis*. Setelah upacara selesai, saat matahari digantikan bulan dan bintang, mereka bersantap malam secara sederhana.
VIII
Hatuei Pangaji memberitahuku bahwa dirinya telah membuang kehormatan sebagai laki-laki dengan memeluknya sebelum menikah. Karena itu, kami harus dipalas.
“Untuk membuang kutukan dan sial,” kata Hatuei Pangaji. “Membersihkan diri lahir batin agar lebih peka dan mampu menerima karunia dan anugerah dari Ranying Hatalla.”
Kehidupan pernikahan kami seperti siang dan malam. Seperti matahari dan bulan. Hangat bersemangat dan lembut sensitif. Seperti angin dan air. Penuh kegembiraan yang mencerahkan dan keramahan yang menenangkan. Berganti-ganti. Dan bulan demi bulan berlalu. Sekarang, nafas kehidupan baru menghiasi waktu yang berjalan maju.
Tahun pertama usai. Nafas kehidupan baru itu, seorang anak laki-laki, telah lahir. Sehat dan kuat. Perpaduan nafas dan darah dua dunia. “Ia layak disambut sebagaimana raja,” kata Hatuei Pangaji. “Ia penerus yang melanggengkan kehidupan kita, Kameluh Tambusu.”
IX
Seorang laki-laki memasuki kampung. Hitam. Badannya tinggi besar. Tampak gagah berani. Kepada orang-orang kampung, ia menanyakan dimana rumah seorang perempuan yang baru saja melahirkan anak laki-laki. Kepada penduduk kampung tempat ia bertanya, laki-laki itu berkata,”Ibu bayi itu adalah saudaraku. Aku ingin tahu keadaannya.”
“Mari saya antarkan. Saya tahu rumah mereka. Benar, mereka baru saja memiliki anak laki-laki yang sehat dan kuat.” Seorang pria menawarkan diri.
Waktu itu masih pagi benar. Ayam-ayam baru saja berhenti berkokok. Laki-laki hitam, tinggi, besar telah berada di ambang pintu diantarkan oleh seorang penduduk kampung. Mendapatkan tamu tak disangka, aku girang. Saudara jauhku datang menengok. Pantas saja, kemarin seekor kapupu* datang, masuk rumah dan hinggap dikepala dan tanganku saat sedang menimang-nimang bayi kami. Suamiku tak di rumah. Aku bergegas-gegas ke ladang di belakang rumah kami sebelum menyambut tamu tak disangka.
“Suamiku….suamiku…..,” aku berteriak sambil berlari ke ladang di belakang rumah. Hatuei Pangaji sedang menyiangi ladang.
“Ada apa? Kenapa sangat bergegas?”
“Cepatlah masuk rumah dahulu. Ada saudara jauhku datang menengok kita. Mari menyambutnya segera,” aku mendesak.
“Ada apa gerangan? Siapakah yang berkunjung ini?”
“Saudara jauhku. Ia ingin menengok kita,” aku mengulangi.
Ramah-tamah dan hangat perjumpaan ini. Suamiku menerima tamu kami dengan baik.
“Menginaplah disini sesuka dan selama yang kau inginkan. Agar rindu antar saudara berganti dengan kehangatan dan kegembiraan.” Suamiku berkata kepada saudaraku.
X
Hatuei Pangaji merenung. Ia bukan curiga pada Kameluh Tambusu. Namun, tindakan-tindakan Kameluh Tambusu dan saudara jauhnya, mulai mengganggu. Beberapa hari sudah saudara jauh istrinya menginap di rumah mereka. Setiap pagi dan petang, Kameluh Tambusu dan saudara jauhnya, pergi berduaan ke telaga dekat sungai berair merah. Hatuei Pangaji mengamati diam-diam. Selalu berdua. Berenang ceria. Dan hanya berdua. Bayi mereka, ditinggal begitu saja di rumah.
“Kameluh Tambusu memang yang paling muda dari saudari-saudarinya, aku memahami jika ia agak kekanak-kanakan. Tapi ia sudah bersuami. Ia istri orang. Tindakannya tak pantas dilakukan oleh seorag perempuan yang telah bersuami.” Hatuei Pangaji berbicara dengan pikirannya sendiri. “Aku suami yang sedang cemburu.”
Saat matahari bersinar merah jingga di suatu petang. Sekembali Kameluh Tambusu dan saudara jauhnya dari telaga.
“Kameluh Tambusu, siapakah laki-laki itu?” Hatuei Pangaji mendesak
“Ia saudara jauhku. Mengapa?”
“Aku cemburu padanya. Kau pergi mandi berduaan tiap hari dengannya, pagi dan petang. Anak kita kau tinggalkan sendiri.”
“Ia saudaraku. Mengapa kau mesti cemburu?”
“Tidakkah kau berpikir bahwa tindakanmu tidak pantas? Seorang perempuan bersuami dengan anak yang masih menyusui, pergi mandi berduaan dengan laki-laki, berenang, tertawa-tawa. Tidakkah kau berpikir bahwa hal itu menggangguku?”
“Tapi ia saudaraku. Kau tak perlu cemburu.”
“Kameluh Tambusu…Kita hidup di bumi manusia. Kau istriku. Beradaptasilah barang sedikit mengenai hal ini. Aku tak akan protes jika aku berada di duniamu dan melihatmu melakukan hal ini tiap hari. Peraturan-peraturan dan kebiasaan-kebiasaan manusia dan makhluk atas pastilah berbeda. Hanya saja, aku sebagai suamimu, sekali lagi ingin mengingatkan bahwa kita hidup di bumi manusia. Pikirkanlah perasaanku juga sebagai suamimu.”
“Kau tak perlu cemburu. Ia benar saudara jauhku.”
Keras kepala yang mendidihkan cemburu. Seperti api dalam sekam. Panas menyiksa lahir-batin. Hatuei Pangaji telah mengingatkan Kameluh Tambusu berkali-kali. Tak digubris. Kesenangan-kesenangan Kameluh Tambusu dan saudara jauhnya tetap berlanjut. Cemburu ini mulai membakar gosong hatinya. Gosong yang mulai menyimpan bara api kemarahan. Sungguh egois Kameluh Tambusu. Tidak memikirkan perasaannya sebagai suami dan kurang beradaptasi dengan tata cara dan penilaian-penilaian di bumi manusia.
“Tindakan harus diambil. Aku harus membela kehormatan keluarga kami.” Hatuei Pangaji mengambil keputusan. Rencana disusun. Tombak disiapkan. Dan disuatu waktu yang tepat, tombak itu telah berpindah tempat. Ditancapkan tepat di jantung saudara jauh istrinya. Tubuh laki-laki itu lenyap seketika nyawanya lepas. Hatuei Pangaji menyembunyikan tombak pembunuh. Penuh hati-hati dan cermat. Sebagaimana ia menyembunyikan kain dan selendang ungu istrinya. Disembunyikannya benda-benda itu di tengah hutan.
XI
Tidak biasanya Kameluh Tambusu berdiri di hejan* sambil menggendong bayi mereka. Hatuei Pangaji baru pulang mengecek ladang. Berdiri dibawah hejan*, mata Hatuei Pangaji melekat pada istri dan anaknya. Menatap ke atas, ke mata Kameluh Tambusu yang redup cahayanya, Hatuei Pangaji diam. Ia menunggu istrinya bicara.
“Aku kecewa padamu. Kau membunuh saudaraku. Kau tak percaya padaku. Aku sudah menemukan tombak yang kau pakai membunuh saudaraku.” Suara Kameluh Tambusu penuh duka.
“Aku membela kehormatan keluarga kita.”
“Kau tak membiarkan aku bersuka cita barang sebentar dengan kehadirannya. Setelah merenggutku secara tidak adil dari kehidupan langit, menempatkanku dalam kehidupan manusia sekian lama, kau tak membiarkanku bergembira-ria sejenak dengan saudaraku sendiri.”
“Kau istriku, Kameluh Tambusu. Aku suamimu. Aku cemburu.”
“Aku akan pergi sekarang. Kembali ke langit. Anak kita kubawa serta. Kurawat ia hingga dewasa. Kelak, jika ada anak turunan kita memelukan bantuan, anak semata wayang kita akan selalu siap membantu. Bersabarlah menunggu ia dewasa. Ia akan kuturunkan ke bumi jika waktunya telah tiba. Kembali ke bumi manusia tempat ayahnya berasal.”
Dalam pandangan Hatuei Pangaji, tubuh Kameluh Tambusu yang menggendong bayi mereka, pelan-pelan pudar. Menipis. Berongga. Menyisakan asap putih keperakan, berpendar, berputar-putar. Sekarang ia hanya bisa menunggu. Menunggu sebuah janji ditepati. Dalam kekosongan, penyesalan, harapan. Waktu akan menjadi temannya. Hingga janji itu tunai.***
Palangka Raya, 31 Juli 2009
Andriani S. Kusni (Nominasi IV Lomba Cerita Rakyat 2009, Dinas Kebudayaan & Pariwisata Propinsi Kal-Teng)
Saduran dari Legenda Bukit Batu, tempat pertapaan pahlawan nasional Kal-Teng, Tjilik Riwut
Kosa Kata
Ambang:Sejenis mandau. Dipakai untuk berladang
Balawung: Suling dari bambu kecil berlubang lima. Biasanya digunakan oleh wanita
Beliung: Sejenis kapak yang gunanya untuk menebang pohon
Batang Danum: Sungai Utama
Bawin Kameluh Sintung Uju: Tujuh Perempuan Cantik
Cicak Kacang: Kawin kecil. Upacara pernikahan sederhana dimana kedua mempelai dipalas darah ayam dilanjutkan makan malam sederhana
Damek: Anak sumpitan, biasanya diberi racun
Dawen Sawang: Daun Sawang, Daun panjang berwarna kemerahan. Dianggap sakral oleh suku Dayak dan selalu disertakan dalam ritual adat
Garantung: Gong
Hejan: Kayu bulat yang dibuat jadi tangga rumah
Kapak: Alat menebang pohon atau memotong kayu
Keba: keranjang rotan yang dijinjing dipunggung
Kendarah: Semacam piring atau mangkuk
Kapupu: Kupu-Kupu
Lapak Laminak: Atau cacak burung adalah tanda silang yang diyakini sebagai penolak bala. Biasanya digambar pada sebilah bambu atau pada daun sawang dan digantung di depan rumah
Lamiang Lilis:Sejenis manik-manik kuno tang warnanya abadi, tak akan luntur oleh waktu
Liu: Pelangi
Palas: Mengoleskan darah segar dianggota tubuh manusia. Baik darah hewan maupun darah manusia
Parak: Pondok ditengah ladang tempat beristirahat atau menyimpan peralatan
Sipet: Sumpit, Senjata utama suku Dayak. Dari bambu bulat panjang kira-kira 1,5-2,5 meter. Dipakai untuk perang atau berburu
Saheb: Daun-daun kering yang gugur dan mengendap di dasar sungai
Tamparang: Alat untuk membuat lekuk atau lubang pada kayu
Tamiang: Bambu kecil beruas panjang. Biasanya keras dan beracun
Telep: Tempat menyimpan anak sumpit/damek. Diletakkan dipingagang
Ureh bunu: Bahasa Dayak Sangen, artinya…..?
BANDARA
Indonesia. Bandara kecil di propinsi terbesar sekaligus tertinggal. Hanya tiga maskapai yang bersedia membuka jalur penerbangan di bandara ini. Penumpang-penumpang berjalan gagah sejak turun dari mobil yang berhenti di depan teras sebelum masuk melewati check point untuk check in. Mudah mengenali orang di bandara sekecil ini. Juga mudah menangkap kegagahan manipulatif dan keangkuhan. Pesawat adalah transportasi mewah. Akses ke kemewahan terbatas ditengah ketertinggalan cenderung mudah membuat orang mengangkat dagu.
“Dengar lagu apa?”
“Macam-macam…”
“Dengar mbah Surip, ya?”
Suara tawa ditahan.
“Bete banget. Jam 2 masih lama.”
“Mau cepat?
“Gimana?”
“Carter pesawat saja.”
Suara tawa ditahan.
“Bisa juga muter-muter.”
“Dimana?”
“Disini.Di dalam banyak souvenir.”
“Sendiri?”
“Emang takut?”
“Hhhh…bete….”
“Atau keliling kota saja. Masih ada waktu sebelum take off. Mau saya temani?”
“Emang kamu bawa mobil?”
“Siapa juga yang mau panas-panas? Mau?”
“Ayo…”
Kursi-kursi tunggu di teras bandara. Diatur saling membelakangi formasi 3-3. Aku duduk membelakangi mereka menghadap parkiran mobil. Aku menguping. Baik…baik! Memang tidak sopan. Tapi naluriku yang liar dan tidak beradab mau tahu meskipun saat menguping itu, aku sambil membaca buku Teori Fiksi Robert Stanton. Lagipula, siapa suruh mereka tidak berbisik-bisik saja. Dan kami hanya dipisahkan oleh sandaran belakang kursi tunggu.
Laki-laki dan perempuan itu lalu berjalan menuju parkir mobil. Yang laki-laki,30-an tahun, memakai blue jean, T-shirt putih berkerah dan menggenggam Black Berry. Yang perempuan, 20-an tahun, blue jean, kemeja coklat, rambut tebal sepundak diikat ekor kuda memperlihatkan tengkuk yang putih. 10 menit perbincangan. Itu lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan untuk……buang air besar? Aku ingat anak perempuan kecilku. Juga adik laki-lakiku di Rusia yang sedang menuntut ilmu. Hah…! Jakarta, Paris, Kualalumpur, Moskow, Frankfurt, Palangka Raya. Apa bedanya? Bandara memang tempat singgah datang-pergi. 10 menit perbincangan singkat antara laki-laki-perempuan baru kenal yang sedang bosan lalu pergi bersama-sama menikmati kota menunggu saat pesawat berangkat. 10 menit. Ini hanya soal relativitas waktu. Aku tak perlu pusing. Yang penting, anak perempuanku tak berperilaku begitu saat dewasa nanti. Juga adik laki-lakiku yang sekarang sudah jauh dari akil-baliq.
“Mereka pasti akan bermesraan. Kan pakai mobil.” Suamiku, penganut materialisme dialektika historis, bentukan lingkungan akademik yang ketat dan pendukung kelompok ‘hormati privasi orang lain”, buka mulut juga. Kupikir ia tak akan tertarik dengan bahasan kasus macam ini.
“Ha…ha…ha….” aku tertawa dalam hati seperti mbah Surip. Naluri tetap naluri. Berlaku sama dimana saja kapan saja pada siapa saja.
Palangka Raya, 7 Agustus 2009
CONQUEROR
Short Story
Once a time, we only have Rp 1000 in our wallet. At the same time, my husband got invitation to be a speaker for a cultural dialogue in TV program. We got there by walk. Walked down the street to TV station building with enjoyfull feeling, not knowing that we are going to have honorarium after the show. Thanks to God. They gave us Rp 140.000,-. Not much but really helpfull.
Three days before I write down this, we argued each other. Whether had meals or not that day. Concerning that honorarium for our work will arrived the day after tomorrow, too risky if we spent the last Rp 50.000,- we only had. If we had meals, went and saw the theater show by taxi using the last and only Rp 50.000,-, we will had a totally empty pocket. After made a deal that life is about taking risk, that life is about work and labour, we decided to have meals so that we can work properly. We decided to saw the show in Taman Budaya so that we can finished our journalism reports about the event. We carried along with us, books, cassettes, CD’s, belong to our sister in Yogya. We’ll sell those things as long as the show go on. Thanks to God again….we sold 1 book, 2 cassettes, 3 CD. We can continue our live at least 5 days ahead with our income that night.
We often work like a mad man. Work because we like and enjoy to work. We buy books with our honorarium. Then read and write….write….and write. I admire my husband in matter of zest he has. In matter, he pursuing knowledge for knowledge itself. Not for money. Not for name. I admire him for that.
That night, after our effort to continue our live by selling books, cassette and CD’s, we went home, handing hands each other. We walked to main street to get taxi. I told him,
“I really appreciate what you did.”
He said,”I did it for you.”
It happens that several nights, while we are lying on bed, holding hands, and staring each other. Sometimes without money. Sometimes without having meals. Sometimes without knowing what will happen tomorrow. My husband ask,” Do you love me?”
“Yes, I do. I love you and I admire you.”
He said then,” You are my wife and my sparing partner. The only one. Never in my life, I found someone like you”
I said,” We are the conqueror. We have to be free. I want to be free from fear. I want you to be free from fear. I want us to be free from fear.”
Then I gave him my favourite sentence, “Our aim in life is to achieve the heights of excellence.”
Palangka Raya, August 17, 2009
TERSINA SEPASANG PENGANTIN
[Dari JJ. Kusni untuk Istriku: Ny. Andriani S. Kusni]
1. KISAH SEEKOR CAMAR LAUT
aku memang jatuh ke pelukanmu sejak hari itu sudah takluk
lalu seperti camar laut hinggap di hatimu membangun sarang
darimana kemudian berdua menaklukkan laut segala badai
2008
2. KARANG ASEM
dua februari tanggal itu tanggal sakral
sebuah peta perjalanan kita gambar
kukatakan karang asem hanya satu titik awal
2008
3. AKU GEMETAR SENDIRI DIBANGKU SUBUH
aku tak tahu di mana mencarimu semuanya membisu
aku gemetar sendiri di bangku subuh tempat bertemu
menebak peristiwa yang datang tiba-tiba selalu
2008
4. DARI BALIK JERUJI TAHANAN
terpasung kaki tanganmu, terbelenggu
dari jeruji tahanan kau mencari cahaya
menyeru-nyerukan sebuah nama: namaku
2008
5. BEDANYA MALAM INI
eperti biasa sekian sajak dan surat kutulis saban waktu
bedanya malam ini mereka tak bisa kulayangkan mengucapkan rindu
seperti juga aku pun tak bisa menderingkan hape di tas tangan coklatmu
2008
6. PUTERA KARAENG
terbilang bahwa lelaki itu anak karaeng, kaya, baik hati dan pemurah
putera karaeng itu mengatakan kau miliknya sambil menahanmu di rumah hutang
kebangsawanan hatikah memenjarakan perempuan menetap sendiri buah hati?
2008
7. SERINGAI GIGI SERIGALA LAPAR
berucap lagi anak karaeng mulia itu dengan seringai gigi serigala lapar “
aku mau tubuhmu ranum manis, nona, atau tumpukkan 250 juta di hadapanku”
“lalu kemudian kulihat mayatmu berkafan hutang”. Indonesia, manusia di sini kian langka
2008
8. DI BAWAH BANGKU PERTEMUAN YANG BIASA
subuh kali ini aku hanya bisa mengulang-ulang menyebut namamu
sambil merasakan tikaman sunyi yang bertubi di ulu hati
aku hanya tergeletak sendiri di bawah bangku pertemuan yang biasa
2008
9. YANG TAK SEDERHANA
jauh memang angkasa tak pernah terjangkau tangan
karena memang suatu penyederhanaan lukisan orang bumi
yang tak sederhana adalah cintaku masih menebak-nebak hatimu ke mana?
2008
10. PENGHARGAAN
bukanlah karena tidak bersikeras tekad jika akhirnya aku pun pergi melaut lagi
kenyataan patut kuterima sebagai dasar penyusunan rencana tanggap
dengan cinta aku memang tak mau berbagi maka menghargai pilihan
2008
11. YANG KUTERTAWAI ADALAH DIRIKU
aku tak mencucurkan airmata apabila kemudian kita menjadi dua ekor ikan
memilih arah masing-masing: satu ke utara satu ke selatan
yang kutertawai adalah diriku mengapa masih mempercayai janji permainan
2008
12. MATAKU SAJA YANG TAK TAJAM
kalau kemudian kau pun bersanding dengan putera karaeng diam-diam
tak kukatakan ini kekalahanku dalam perlombaan
mataku saja masih tak setajam elang membaca muslihat meja perjudian
2008
13. YANG JATUH HARUS BANGKIT SENDIRI
ya, aku memang terbanting sepi saat pilihan kau tetapkan
bergandengan berdua kalian berlalu tanpa melirikkan sebelah mata
yang jatuh memang harus bangkit sendiri menghapuskan darah luka
2008
14. KETIKA SADAR DIRI DUNGU
sebenarnya pilihan bukan ketakutan yang membuatmu diam dan menjauh
mungkin juga perhitungan satu tambah satu jadi berapa
di mana kejujuran tak lagi patut dibela–merasa dunguku aku ngakak tertawa
2008
15. TENTANG BAYANGAN
sebenarnya akhir tahun ini aku bertekad sudah ke Bali di Denpasar
kubayangkan ada yang janji menanti
tapi siapa yang mengatakan bayangan itu kenyataan?
2008
16. BUNGA TANJUNG BERSERAKAN
gagal jadi pengantin di Karang Asem
mimpiku wangi bunga tanjung berserakan
di telapak sepatumu dan tuan putera karaeng
2008
17. BUKAN MATEMATIKA
tuan-tuan dan puan-puan, khianat itu tidak punya jenis kelamin
lebih terus-terang dan sederhana para homo dan lesbian
tapi benar juga bahwa mimpi, cinta apalagi hidup bukanlah matematika
2008
18. SUARA LANGKAH DI TROTOAR
ada kudengar suara langkah di trotoar di bawah jendela
lalu mengetuk pintuku: kaukah itu duka sahabat lama
ketika membuka pintu yang terbayang adalah wajahmu juga
2008
19. MEMBAYANGKAN MAKASSAR
matahari musim panas sudah di atas Seine dan Paris plage bulan juli
gelombang buritan kapal silang-menyilang dengan camar
terbayang dari sini betapa kau di Makassar bersilang duka siang-malam
2008
20. TANUR
musim panas dan matahari kembali menggairahkan Paris
para perempuan membiarkan tubuh mereka dipanggang terik tanpa tabu
sementara darah nadiku mendidih di tanur rindu
2008
21. KETIKA RINAI RINTIK MEMBASUH KOTA
semalam rinai rintik membasuh kota dari debu terik 30°
musim panas yang tak terbasuh selalu melekat menumpu di kalbu masih rindu dan tekad pada sepakat
sementara terbayang jauh di timur kau digalau duka serta resah diusik ancaman
2008
22. SENYUM KEPASTIAN SEORANG ISTRI
ah, cemburu ini sangat nakal, ann, sesekali masih mengusik di tengah kesibukan
“biarkan saja” ujarmu tersenyum bangga tahu diri dicintai suami seutuh diri
“aku kan istrimu setia bersama jatuh bangun di segala liku selalu mencari dadamu bersandar”
2008
23. SAPUTANGAN PENGUSAP DUKA
kau basahi bajuku dengan airmata lalu kau lepaskan ditumpuk di ember cucian
“besok kucuci sayang, biarkan sekarang aku membasahinya bagai saputangan pengusap duka”
lembut kuusap mata-mata luka tikaman bertubi di tubuhmu penuh parutan
2008
24. DI NGURAH RAI
berjanji sudah kita berjumpa di Ngurah Rai menjelang ken prita tiba
anak perempuan pertama yang lahir dari rahim prahara
dewasa kemudian menaklukkan dunia segala kepahitan
2008
25. RUMAH MUNGIL ASRI DI PUNCAK BUKIT
kuterima ketaklukan ini kali. ketaklukan pertama manis pergulatan mati-matian
sehingga menambatkan temali kapal kembara mendasawarsa di dermaga Toddopuli
mendarat, lalu di puncak bukit kasihmu bercahya membangun rumah mungil asri
2008
26. PRASASTI KEBEBASAN
sebenarnya adakah takluk-menakluk di kasih sayang disusun jadi istana berdua
sedangkan masing-masing tak berhitung saling memberi yang terindah
sebagai prasasti tahan zaman dan gerowotan duka. prasasti kebebasan
2008
27. DARI PARIS MELALUI DENPASAR
ann, ann, ann, cinta ini cahaya seribu matahari seribu bulan di angkasa hidup
cinta kita adalah galaksi mimpi dan harapan di terang dan redup
dari Paris melalui Denpasar kutabur di rahimmu menarung duka dan maut
2008
28. NYANYIAN RINDU SEORANG ISTRI UNTUK SUAMINYA
barangkali aku memang dikutuk langit dan bumi mencintaimu, o lelakiku
maka udara yang kuhirup udara rindu
cahaya yang dibawa fajar seusai subuh adalah nyala rinduku juga
2008
29. SEPASTI FAJAR
aku memang istrimu sepanjang jantung berdetak sepasti fajar tiba
merah darah nadiku oleh harapan dan mimpi kita sulut bersama
kobarnya, kobarnya membuat waktu senantiasa bercahaya menghanguskan segala duka
2008
30. LAHAR
di tatap mata satu kerdipan
dan sentuhan sederhana
ann, ann, tenaga lahar kau limpahkan
2008
31. KETIKA KOTA MASIH BERKABUT
berkabut masih kota bergegas seorang perempuan muda
ke warnet mengirimkan suami hangat cinta
– misteri yang tetap rahasia tak usai diurai
2008
32. L’AMOUR FOU
l’amour fou cinta gila untukmu, ann, ann
l’amour fou untukmu hidup
cinta tak berbagi anak penakluk
2008
33. BASTION BATU KARANG
sebuah bastion bertahan dan menyerang
kita bangun dari batu karang
ann, ann, keluarga adalah peta dan alamat pulang
2008
34. SETIA KE NGURAH RAI
aku tahu ruang paris-makassar memang menggelombangkan rindu
lalu ada yang berkata: “ann, ann, jarak akan menumbangkan mimpimu”
“apakah kau tahu bahwa setia itu ada untuk sampai ke ngurah rai?
2008
35. KALIMAT TAK PUNYA TITIK
kalimat tak punya titik adalah rasa yang ingin kutuliskan untukmu
gunung tak berpuncak adalah ketinggian ke mana kau kuajak
sumber bening mengalir mengisi samudera mimpi menggelombang tanpa jeda
200
36. MASIH SAJA LAUT RAHASIA
kujelajah benua demi benua
kukenal, ann, kukenal duka lukanya
seperti kau cinta pun masih saja laut rahasia
2008
37. MEMBAYANGKAN PENDARATAN DI NGURAH RAI
pada jam dinding selalu kuhitung detik demi detik
pada bulan, matahari dan musim datang pergi
terbayang pendaratan di ngurah rai mengakhiri gelisah menanti
2008
38. SEPULUH DETIK
sepuluh detik terasa terlalu lama bagi yang menanti
sepuluh detik menghamburkan ribuan damak siksa
o, kesungguhan dan kadarnya oleh waktu memang diuji
2008
39. YANG SEMPURNA
melihat wajahku di kaca penuh parut-parut duka
gelisah, cemburu, ketakutan, duka dan cahaya gaib serta rindu
campur-baur sempurna kudapatkan dalam mencintaimu
2008
40. PERMAINAN SAAT JEDA
Omong kosong dan sia-sia membuang cemburu yang garang ketika mencintai
tak obah satu penipuan diri kecuali jika tak ada hitungan esok dan mimpi
dan memandangnya tak lebih dari permainan murid sekolah saat jeda yang bukan diriku
2008
Paris, JJ KUSNI
“SEPULUH JAM UNTUK SASTRA INDONESIA DI PARIS”
“SEPULUH JAM UNTUK SASTRA INDONESIA DI PARIS”
[Cerita perjalanan untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]
Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia, “Pasar Malam” pada tanggal 07 Desember 2008 mendatang kembali akan menyelenggarakan kegiatan budayanya. Kali ini dengan menggelarkan acara yang dijuduli “Dix Heures Pour La Littérature Indonésienne” [Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia]. Kegiatan tentang sastra Indonesia ini akan berlangsung di ruangan La Maison des Cultures du Monde,101 Boulevard Raspail, 75006 Paris.
Dalam acara “Dix Heures Pour La Littérature Indonésienne” ini akan berbicara Sitor Situmorang, Laksmi Pamuncak dan Richard Oh, dengan tema “Dari Lingkup Pribadi Ke Ruang Publik . Otofiksi atau Meninjau Ulang Citra Diri .Otobiografi Dalam Karya Sastra”[" De la sphère privée à l'espace public : . autofiction ou image de soi revisitée ? La part autobiographique dans l’œuvre littéraire"]. Tema lain yang akan dibicarakan adalah “Aku dan Orang Lain” [Je et L'Autre].
Melihat komposisi para pembicara utama dalam jumpa sastra tersebut yang berasal dari berbagai latar etnik dan sosial, maka ketika berjumpa dengan Johanna Lederer, Ketua Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia “Pasar Malam” di Koperasi Restoran Indonesia, aku jajagi pendapatnya tanyakan: “Apakah tidak sebaiknya juga para pembicara disarankan atau diarahkan untuk menyinggung masalah sastra lokal dan pengaruhnya terhadap diri mereka sebagai penulis. Bagaimana hubungan sastra lokal dan nilai-nilai universal?” Secara prinsip Johanna yang sarjana sastra Amerika lulusan Universitas Sorbonne itu, menyatakan setuju. Ia pun melihat arti penting pengangkatan sastra lokal di Indonesia dalam konteks sastra Indonesia sebagai suatu bangsa dan negeri. Pengangkatan sastra lokal, tidak berarti mempertentangkannya dengan sastra nasional yang berbahasa Indonesia. Read more »
Leave a Comment