Archive for the ‘Sahewan Panarung’ Tag
Edisi 25: ORGANISATOR KEBUDAYAAN, BUKAN BIROKRAT APALAGI MAKELAR KEBUDAYAAN!
SAHEWAN PANARUNG
Untuk Kebangkitan Kebudayaan Dayak dan Yang Majemuk di Kalimantan Tengah
Catatan Panarung Andriani S. Kusni
Masalah kebudayaan di Kalteng, sejak akhir tahun lalu makin mendapat perhatian berbagai kalangan, mulai dari kalangan birokrasi, dan tentu saja dari kalangan seniman-budayawan sendiri. Persoalan kebudayaan di provinsi ini makin mencuat ke permukaan, secara kebetulan berbarengan dengan lahirnya Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR), yang menggerakkan berbagai komunitas, sanggar dan seniman-budayawan individual untuk bekerja bersama-sama tanpa kehilangan independensi mereka, guna menggalakkan kegiatan kebudayaan di Palangka Raya dan bahkan lebih jauh memimpikan Palangka Raya Kota Budaya. Guna mewujudkan mimpi tersebut, sejak berdiri pada 1 November 2009 lalu, bermodalkan semangat mandiri, KSB-PR terus-menerus melakukan kegiatan-kegiatan terprogram. Dalam waktu beberapa bulan, KSB-PR sudah mencakup 12 Divisi yang mengkoordinir kegiatan-kegiatan di divisi masing-masing. ‘’Makin mendapat perhatian dan makin mencuat’’, artinya sebelum ini, kegiatan kebudayaan tidak atau kurang mendapat perhatian. Adem-adem saja. Tidak dipikirkan untuk dikembangkan menjadi suatu gerakan. Dari pihak seniman-budayawan, musababnya terletak pada egoisme seniman-budayawan yang asyik dengan diri mereka sendiri. Kurang memahami arti dan kekuatan kebersamaan. Kegiatan-kegiatan kesenian-kebudayaan dilakukan secara instingtif, belum dilakukan secara sadar dan konseptual. Kurang diresapi. Dari pihak birokrasi disebabkan karena ada ruang besar menganga antara birokrat dan pekerja kesenian-kebudayaan. Yang di birokrat bukanlah “the right man in the right place”(yang duduk di suatu tempat bukan orang seniscayanya) dan tidak punya wacana budaya. Insting egoistik hanyalah salah satu bentuk pengungkapan dari hampa wacana juga adanya.Pertemuan antara insting dan salah duduk menghasilkan kemandegan dan kekosongan makin besar.
Sejarah kebudayaan sejak sebelum dan sesudah republik berdiri, menunjukkan bahwa gerakan kebudayaan, seperti yang menelorkan Sumpah Pemuda 1928, Polemik Kebudayaan 1930, gerakan kebudayaan rakyat tahun 1950-1965, menggelora karena ada dua faktor minimum utama yakni: wawasan kebudayaan dan organisator kebudayaan yang berwacana kebudayaan. Wacana budaya holistik berperan sebagai bagan besar masyarakat (society grand design) yang dituju yang menggunakan basis kebudayaan. Peta yang membimbing perjalanan mencapai tujuan. Perjalanan agar berhasil perlu diorganisasi. Organisasi untuk mewujudkan bagan besar yang disusun. Mengorganisasi adalah suatu seni tersendiri. Sehingga bisa disebut sebagai seni berorganisasi dan mengorganisasi. Sumpah Pemuda 1928 sebagai suatu konsep tidak akan terwujud tanpa pengorganisasian, tanpa organisator. Tanpa organisator dan pengorganisasian tidak akan pernah ada usaha-usaha raksasa. Demikian pula mimpi membangun kebudayaan Uluh Kalteng sebagai basis budaya solid bagi Kalteng, betang bersama Uluh Kalteng beridentitas Kalteng, tidak mungkin terwujud tanpa organisator kebudayaan berwacana holistik. Organisator kebudayaan inilah yang diperlukan Kalteng sekarang secara mendesak. Organisator kebudayaan tentu bukanlah birokrat kebudayaan yang menduga pengorganisasian hanya mendelegasikan kuasa tanpa memberi teladan.. Tentu saja bukan juga makelar kesenian yang memproyekkan kegiatan untuk pertama-tama mengisi koceknya yang pasti akan selalu dirasa tidak mencukupi. Organisator kebudayaan adalah seorang pemimpi sejenis avant-gardist (pembidas) yang tidak pernah memikirkan nama kecuali pengejawantahan mimpinya. Jenialitas barangkali langka, tapi kebersamaan mempunyai jenialitas tersendiri yang luar biasa. Organisator kebudayaan, bukan birokrat kebudayaan apalagi makelar kebudayaan.***
PERJALANAN JAUH MENGUJI DAYA TAHAN SEEKOR KUDA
Catatan Kusni Sulang

Akapela Pemuda Katingan dalam Pentas Parade Musik Dayakustik KSB-PR bekerjasama dengan DisBudPar Prov. KalTeng, Maret 2010 (Foto & Dok. Kusni Sulang, 2010)
“Akapela Pemuda Katingan” (APK), demikian nama sebuah grup dari Kabupaten Katinggan terdiri dari lelaki-perempuan muda rata-rata berusia 20 tahun, yang turut tampil di Pentas Parade Musik Dayakustik, 27 Maret 2010 lalu. Pentas Parade Musik yang diselenggarakan oleh Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR), bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Provinsi Palangka Raya berlangsung di Taman Budaya. Dalam Parade ini, APK tampil membawakan seni lisan khas Katingan berupa Sansana Kayau.
Apakah Sansana Kayau? Sansana Kayau tidak lain dari puisi lisan, diciptakan dan dinyanyikan langsung pada saat ia digelarkan. Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, terutama di Katingan Hilir dan Hulu. Sansana Kayau sampai sekarang masih hidup dan dinyanyikan pada saat berbagai macam pesta, pada ucapara-upacara adat seperti menerima tamu di depan pantan, pesta perkawinan, atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Puisi yang dinyanyikan, diciptakan oleh penyair individual, kemudian disambut secara bersama-ramai oleh seluruh hadirin. Para penyanyi puisi, bisa secara akapela, bisa juga dengan iringan suling balawung dan kecapi, disebut pansansana. Para pansansana berdialog dalam puisi (Sansana Kayau). Paduan antara kolektivitas dan individu dalam seni Sansana Kayau menggambarkan hubungan serasi antara individu dan kolektif dalam masyarakat periode bétang, hubungan yang juga dicerminkan pada tari pergaulan Manasai. Karena ia diciptakan dan dinyanyikan langsung tanpa teks pada saat pementasannya, maka dari pansansana dituntut penguasaan bahasa Katingan yang baik, keterampilan dan pengetahuan tentang filsafat Kaharingan yang padan. Dari pengetahuan, penguasaan dan keterampilan demikian bisa diharapkan lahir karya Sansana Kayau yang bermutu tinggi. Antara bentuk dan isinya selaras. Sansana Kayau menggambarkan hubungan Uluh Katingan dengan alam, kekuasaan yang lain, hubungan antara sesama anak manusia. Artinya Sansana Kayau dilahirkan oleh masyarakat Katingan, alam dan kehidupan manusia dengan segala persoalannya.
Secara teknis bentuk (form), Sansana Kayau terdiri dari tiga bagian yaitu Prolog (P), Tubuh Sansana (TS) dan Epilog (E). P dan E dinyanyikan bersama-sama dalam irama tertentu, dengan kata-kata: Oi, nanai, nanai, nanai, nanananai, nanai, oiiii nanai. Setelah itu pansasana tunggal (solist) menyanyikan puisinya, dan pada akhirnya ditutup untuk kemudian dilanjutkan lagi dengan prolog. Lirik P dan E sama persis yaitu: Oi, nanai, nanai, nanai, nanananai, nanai, oiiii nanai. Substansi, pesan, isi puisi, terdapat pada TS. Puitisitas TS terdapat pada seluruh TS. Baik di awal (aliterasi), di tengah ataupun di akhir (sajak akhir). Dengan ciri-ciri khasnya, jika Sansana Kayau dengan gampang berkembang menjadi cerita drama, novel atau roman. Hal ini sudah dibuktikan oleh epik Sansana Bandar dan Sansana Kayau Pulang, karya Sansana warisan para pansansana terdahulu.
Bersamaan dengan penindasan sistematik yang dialami oleh Orang Dayak (Uluh Itah) sejak berabad-abad, banyak khazanah budaya Dayak yang hilang. Lebih-lebih pada masa Orde Baru dengan politik SARA-nya yang dalam praktek justru bersifat SARA. Penindasan etnik yang sistematik dilakukan oleh Orde Baru, membuat lusuk (lumbung) melenyap, lembaga adat melalui politik golkarisasi mengalami kerusakan berat, keterampilan pandai besi, membuat sumpitan, membuat perahu dan kapal, kian menyusut. Demikian juga minat angkatan muda pada kebudayaan mereka sendiri seperti Sansana Kayau. Berdirinya APK yang tampil di Pentas Parade Musik Dayakustik 27 Maret 2010, mengisyaratkan bahwa Sansana Kayau, seni puisi-nyanyi khas Katingan mulai mendapat penyangga baru. Dibawa ke alam luas dengan harapan berperspektif baru.Karena APK bukan tidak mungkin akan bergulir dan membesar seperti bola salju. Seperti angin yang bertiup menyusup ke seluruh penjuru Katingan. Perspektif demikian memang ada. Tapi adalah pasti bahwa daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh. ***
Edisi ini telah disiarkan di HU Palangka Post, Halaman Budaya Sahewan Panarung Asuhan Andriani S. Kusni , Sabtu, 24 April 2010
Edisi 24: ULUH KALTENG DI TAMAN BUDAYA
SAHEWAN PANARUNG
UNTUK KEBANGKITAN KEBUDAYAAN DAYAK & YANG MAJEMUK DI KALIMANTAN TENGAH
Catatan Panarung Andriani S. Kusni
Dari raut wajah dan kulit, jelas mereka bukan orang Dayak. Apalagi jika mereka berbicara berbahasa Indonesia, lidah medok mereka jelas juga mengatakan bahwa mereka Uluh Kalteng asal etnik Jawa. Apa dan bagaimana mereka tampil di Pentas Parade Musik Dayakustik yang diselenggarakan oleh Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR) bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, tanggal 27 Maret 2010 di Taman Budaya Palangka Raya lalu? Mereka mengenakan pakaian adat Dayak, memainkan karya-karya terbaru dalam bahasa Dayak tentang kehidupan di Kalimantan Tengah umumnya, Palangka Raya khususnya.
Dalam karya seni, seniman tidak berbohong pada dirinya. Karya adalah dirinya yang utuh. Jika demikian maka seniman-seniman KSB-PR asal etnik Jawa atau Betawi, merasakan dirinya sudah menjadi Uluh Kalteng dan sedang mencari identitas Kaltengnya dengan segala upaya. Dalam upaya yang tidak sederhana ini, kekurangan menjadi nomor tiga. Upaya menjadi Uluh Kalteng beridentitas Kalteng dengan ciri utama warna Dayak yang dilakukan oleh seniman-seniman asal non-Dayak memperlihatkan bahwa bagi seniman-seniman ini sekat-sekat etnik dan agama sudah menjadi kadaluwarsa. Perempuan berjilbab dan tidak berjilbab bercampur akrab di panggung dan kehidupan sehari-hari.
Pentas Parade Musik Dayakustik tanggal 27 Maret 2010 benar-benar merupakan pagelaran budaya manusia berbudaya, pertunjukan Uluh Kalteng yang masih jauh dari nilai dominan sekarang, terutama di kalangan para elit politik. Nampak kecenderungan politik merobek Kalteng sebagai betang bersama semua etnik. Pembangunan dan pengembangan budaya Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng masih asing bagi mereka tapi justru inilah yang mau dan sedang diupayakan oleh para seniman dan budayawan. Penggunaan pakaian adat Dayak dan penggarapan tema-tema Kalteng dalam bahasa Dayak Ngaju yang patah-patah dengan ucapan yang “khas” oleh para musisi di malam itu seakan mengatakan secara terbuka kepada siapa saja bahwa “Kami Uluh Kalteng. Kalteng adalah betangku”, betang bersama. Betapa pun sangat jauh ujung jalan, jika memang punya ujung tapi yang terpenting para seniman-budayawan Kalteng sudah mengayunkan langkah pertama mereka. Ayunan langkah adalah tanda ada gerak maju, sebab statis dilihat dari hukum gerak bisa sinonim dari kemunduran. Sejarah tidak mundur ke belakang, walaupun tidak melupakan silam. ***
EKSPERIMEN REVITALISASI BOBBY TARUNG
Catatan Kusni Sulang dari Pentas Parade Musik Dayakustik

Bobby Tarung & Band Utus Dayak Di Pentas Parade Musik Dayakustik KSB-PR bekerja sama dengan DisBudPar Prov. KalTeng (Foto & Dok. Kusni Sulang, 2010)
Dua belas grup tampil dalam Pentas Parade Musik Dayakustik yang deselenggarakan di Gedung Olah Seni Taman Budaya Palangka Raya tanggal 27 Maret 2010 lalu. Grup-grup pengisi acara itu datang dari Sampit, Katingan, Kapuas, Barito dan tentu saja grup-grup serta sanggar dari Palangka Raya sendiri. Jumlah pengisi acara pergelaran terpaksa dibatasi oleh Komunitas Seninman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR) sebagai penyelenggara, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, setelah menghitung panjangnya pertunjukkan. Salah satu grup dari Palangka Raya yang turut jadi pengisi acara adalah Grup Musik Utus Dayak, pimpinan Bobby Tarung, seorang musisi yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan TVRI Kalteng. Sebenarnya, banyak hal menarik yang patut dicatat dari ‘’Parade Musik’’ ini, dilihat dari upaya para seniman musik Palangka Raya dalam melahirkan budaya hibrida beridentitas Kalteng sebagai dasar budaya perekat Uluh Kalteng. Sekalipun demikian, catatan ini memfokuskan diri pada Grup Musik Utus Dayak, pimpinan Bobby Tarung yang pada malam Parade ini menampilkan karya barunya Utus Itah Dayak.
Seperti diketahui Bobby dan Grupnya dalam Festival Nasional Pesparawi yang diikuti oleh 33 provinsi di seluruh Indonesia di Samarinda pada tahun 2009 lalu, telah keluar sebagai pemenang pertama, terutama oleh karena orisinalitas karya eksperimennya. Eksperimen merupakan salah satu ciri kreativitas. Karya Bobby, Utus Itah Dayak yang digelarkan di Parade 27 Maret 2010 lalu merupakan karya eksperimen baru lagi. Percobaan apa dan bagaimana yang dilakukan oleh Bobby? Dalam karya Utus Itah Dayak, Bobby meramu unsur-unsur musik Dayak, dengan musik pop kontemporer. Untuk mendukung karyanya, Bobby menyertakan tiga orang penari latar sesuai dengan jiwa dan irama musiknya yang dilakukan oleh peralatan band. Bobby mengawali dan mengakhiri karya eksperimennya ini dengan lahap (pekikan pertarungan) yang gagah membuat darah mendidih. Apalagi gerak tari latar memang diserasikan dengan semangat lahap Dayak ini. Sementara bunyi drum yang terletak di bagian belakang panggung, mengingatkan orang akan gandang Dayak menambah gelegak pada darah. Sedangkan Bobby sendiri sebagai penyanyi mengekspresikan semangat tarung ini dengan hidup. Karya Utus Itah Dayak, terasa seperti melukiskan keadaan terpuruk Utus, gelisah orang-orang luka sehingga akhirnya sampai pada kesimpulan jalan satu-satunya yang terbaik untuk keluar dari keterpurukan Utus adalah berlawan. Dan kesimpulan sekaligus pesan yang disampaikan oleh Bobby diungkapkan melalui lahap berkali-kali menutup pertunjukan. Mengapa demikian? “Siapa lagi yang membela manggatang (mengangkat) Utus Dayak jika bukan Utus Itah Dayak sendiri. Kita tidak bisa berharap pada orang lain untuk melakukannya. Berharap demikian, sama dengan sikap menggantang asap”, ujar Bobby.
Digunakannya unsur-unsur band oleh Bobby dan kawan-kawannya, dalam eksperimen ini memang dilakukan secara sadar. Bobby dkk ingin menunjukkan kepada angkatan muda Kalteng, khususnya Dayak, bahwa musik Dayak mempunyai harapan yang besar ke depan apabila kita mampu meramu segala unsur yang terdapat dalam masyarakat Kalteng khususnya, Indonesia secara lebih luas. Keragaman ini merupakan bahan mentah untuk melahirkan karya-karya baru. Untuk itu, seperti yang dikatakan oleh Eka Noviana, koreograf Dayak dari Sanggar Balanga Tingang yang turut tampil di malam Parade, “seniman harus berani memberontak”. Memberontak merupakan salah satu bentuk kebebasan berpikir dan bertindak seniman. Tanpa pemberontakan tidak akan ada pembaharuan.Jika menggunakan istilah Jacques Derrida, pemikir Perancis, pemberontakan ini tidak lain dari suatu dekonstruksi untuk melakukan rekonstruksi. Dilihat dari segi penokohan, melalui karya eksperimennya, nampak bahwa Bobby dkk, ingin menampilkan tokoh manusia baru yang harapkan dari Manusia Dayak dan Uluh Kalteng. Tokoh adalah salah satu sarana bagi seniman untuk menyampaikan pesan. Dari segi penokohan, Bobby nampak berdiri sedikit di depan keadaan. Sehingga karyanya selain merupakan revitalisasi kebudayaan Dayak, karya eksperimen Bobby juga mempunyai cirri avant-gardist dengan ciri khas Bobby yang bukan epigonis. Dari Bobby dkk seperti juga dari Eka Noviana, bisa diharapkan karya-karya baru yang beridentitas Kalteng. Mereka sedang melakukan revitalisasi terhadap kebudayaan Dayak. Sayangnya malam Parade 27 Maret 2010 tidak punya kesempatan menampilkan karungut dalam bentuk blues. Ketiadaan ini diisi oleh tampilnya Sansana Kayau dari Katingan dibawakan oleh pansansana-pansansana muda usia. Tampilnya pansasana-pansansana muda ini seperti mengatakan bahwa sansana kayau, musikalisasi puisi Katingan tidak akan punah. Dalam rangkaian kegiatan terprogramnya untuk menjadikan “Palangka Raya Kota Budaya”, KSB-PR dan DisBudPar Provinsi seusai bulan-bulan sibuk Apri – Juni akan menyelenggarakan pentas tari khusus Dayak, baik yang tradisional maupun yang eksperimental. Topi untuk Bobby, Novy dan semua seniman-budayawan Palangka Raya dan aktor-aktor budaya lainnya. ***
Kusni Sulang, anggota Kordinator Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR)
*Telah dimuat di halaman budaya Sahewan Panarung HU Palangka Post edisi 16 April 2010
Edisi 23: Wawancara Andriani S. Kusni dengan Nila Riwut
Sahewan Panarung
Untuk Kebangkitan Kebudayaan Dayak & Yang Majemuk di Kalimantan Tengah
Perempuan dalam Kerja Budaya
Nila Riwut adalah putri ketiga Tjilik Riwut, Gubernur pertama Kalimantan Tengah dan Pahlawan Nasional Indonesia. Sejak kecil ia telah diarahkan untuk mengemban misi jangka panjang ayahnya, memelihara dan menjaga keberlanjutan kerja budaya yang dirintis Tjilik Riwut. Di saat-saat terakhir hidup Tjilik Riwut, sesaat sebelum Tjilik Riwut kehilangan kesadaran, Nila Riwut yang sedang menunggui ayahandanya, diajak menyanyikan Mohing Asang, nyanyian perang berbahasa Ot Danum dengan dialek Siang-Murung. Nyanyian ini sekaligus komando panglima perang berisi perintah maju dan menyerang, lagu kesukaan Tjilik Riwut.
Mohing Asang
mohing bolah ta a mohing
mohing na ing manok leuweung
boso boko hang boso
boso na ing aping tingang
neng neng neng neng neng neng neng
neng neng neng neng neng
hawoi homat tak hawoi
hawoi ne ko kolo hambong
ngindo kooman dau sipet
tlawang damek neko tuntang telep
tejep pono pangkih
sipet neng neng neng
Barangkali, seperti kata Kusni Sulang, yang juga ponakan Tjilik Riwut, ”Nilai manusia ditentukan oleh sikap seseorang saat nafas terakhirnya lepas.” Wawancara ini dilakukan via surat listrik karena Nila Riwut menetap di Yogyakarta pada 11 November 2009.
Mengapa anda tertarik pada kebudayaan Dayak?
Bisa jadi sudah panggilan hidup saya. Yang jelas sejak remaja oleh almarhum ayah saya, saya digiring kearah itu dan pada akhirnya saya jatuh cinta pada tugas tersebut. Semua saya lakukan dengan tulus dan penuh syukur.
Apa perlunya berbicara tentang kebudayaan untuk Kalimantan Tengah?
Demi Jati diri Utus. Tahu dan mengenal dengan baik asal usul, menjadikan setiap orang akan mampu menerima keadaan diri sendiri apa adanya dan meningkatkan rasa percaya diri, yang pada akhirnya jati diri sejati akan muncul. Seorang yang memiliki jati diri kuat, berarti prinsip hidupnya kuat, tegar membaja kilau sanaman, hingga tak mudah terombang ambing. Untuk itu, benteng pertahanan perlu disiapkan sebagai mekanisme kontrol diri dan prilaku individu dalam masyarakat. Demi Mahaga Petak Danom. Pemahaman Mahaga Petak Danom adalah demi eksistensii Utus Dayak, bukan etnosentris atau rasa kesukuan yang berlebihan. Maksudnya sebagai referensi dan rambu-rambu yang perlu dimiliki oleh Utus Dayak baik sebagai tuan rumah maupun informasi sendiri demi pemahaman yang benar pada budaya Itah. Berbicara budaya diperlukan karena selayaknyalah para pendatang mengenal dan memahami budaya tuan rumah. Idealnya kepada para pejabat yang berkarya dan mengemban tugas di Kalteng, mencoba untuk memahami budaya penduduk setempat agar tidak terjadi kesalahpahaman dan segalanya menjadi lancar.
Sistem nilai apa yang anda dapatkan setelah mempelajari kebudayaan Dayak?
Sistem nilai yang saya peroleh bahwa pada kenyataannya kehidupan orang Dayak ditopang oleh 3 pilar yang keharmonisannya benar-benar harus dijaga, yaitu :Hubungan manusia dengan Ranying Hatalla. Hubungan manusia dengan manusia lainnya baik secara kelompok, maupun individu. Hubungan manusia dengan alam semesta. Demi kesejahteraan bersama, keharmonisan ketiga pilar penyangga tersebut harus benar-benar dijaga.dan diperhatikan.
Apakah sistem nilai itu masih aktual dan tanggap jaman dalam arti masih bisa diterapkan sekarang?
Bisa.
Jika masih, bagaimana bentuk tanggap jaman dari sistem nilai budaya Dayak?
Dengan kesadaran bahwa sebagai anak eson Tambun Bungai, kita punya hak dan kewajiban untuk mahaga Petak Danom dan Belom Bahadat.
Bagaimana angkatan sekarang memperlakukan sistem nilai budaya Dayak jika benar sistem nilai itu masih aktual dalam pandangan anda?
Kurang peduli karena uang dan jabatan telah menjadi lebih dominan.
Apa persoalan paling mendesak dalam kebudayaan Dayak sekarang?
Kharisma budaya pelahan-lahan mulai pudar. Demikian pula sikap egalitarian dan rasa kebersamaan.
Bagaimana menangani persoalan aktual mendesak tersebut?
Sekali lagi dengan penyadaran ( sejak usia dini ) bahwa sebagai anak eson Tambun Bungai, kita punya hak dan kewajiban untuk mahaga Petak Danom dan Belom Bahadat. Lainnya, pendampingan personal – dengan proses
Anda menulis lagu-lagu berbahasa Dayak dalam album Manggatang Utus. Apa yang ingin anda ‘gatang’?
Yang ingin saya gatang ya jelas Utus Dayak. Membangkitkan kembali kepribadian milik Utus Dayak. Sesungguhnya segalanya tersebut telah terpatri dialam bawah sadar Utus. Apabila tidak dibangkitkan kembali akan menguap begitu saja. Misalnya: makna janji, sikap gagah perkasa namun konsekwen, berani berbuat, berani bertanggung jawab.dsb. Bukankah “UTUS DAYAK BELOM BAHADAT” yang dimasa lalu identik dengan taat Hukum Adat dan Hukum Pali. Untuk masa kini, BELOM BAHADAT berarti TAAT ATURAN DAN UNDANG-UNDANG.
Dari segi budaya, apa yang anda tangkap sebagai sari dari Tjilik Riwut, ayahanda anda?
Semangat juang dan sikap pantang menyerah yang beliau miliki. Kita tidak punya hak berteriak minta budaya kita dihargai sebelum kita sendiri mampu menghargai budaya sendiri. Tunjukan bukti nyata dalam sikap dan perbuatan. Jangan hanya berteriak karena merasa bahwa budaya kita tidak/ kurang dihargai. Untuk mempertegas, saya kutip surat bara bapak Enon dari catatan harian beliau.
Surat bara bapak Enon..
Toh surat ije karabit
Saritan oloh ije sekehapit
Awang mambasa ela balait
Awang harun hakasene ela sangit
Toh itah manaharep pembangunan Kalimantan Tengah
Paham memerlu kabulat kapakat
Saling marega kulae
Saling hormat menghormat
Ela hakahiri
Ela mado mangotok kulae bewei
Tapi wayah itah bagawi
Sinde tinai bagawi.
Tjilik Riwut
Bagaimana nasib sari tersebut dewasa ini?
Porak poranda.
Anda seorang perempuan Dayak dalam keluarga kesultanan Yogya melalui hubungan perkawinan dengan saudara sepupu Sultan Hamengkubuwono X. Ada benturan budaya? Bagaimana menanganinya?
Kalau pengalaman saya pribadi, ya benturan tentu saja ada. Dimasa awal saya kurus kering untuk adaptasi. Lalu pelan tapi pasti saya berusaha menampilkan jati diri saya sebagai perempuan Dayak dan saya diterima dengan baik. Mereka memahami dan menghormati saya apa adanya.
Saya membaca tulisan anda ‘Apa & Siapa perempuan Dayak’. Dikatakan perempuan Dayak terbiasa dengan kemandirian sejak jaman dulu. Bagaimana kemandirian perempuan diukur dalam kebudayaan Dayak?
Berani berkata tidak apabila tidak sesuai dengan hati nurani. Punya prinsip, namun harus konsekuen.
Apakah anda melihat gejala paternalisme, feodalisme dan neo-feodalisme dalam kebudayaan Dayak sekarang?
Ya, sedemikian jelas terlihat bahkan terang benderang.
Apa yang mendorong timbulnya paternalisme, feodalisme dan neo-feodalisme dalam kebudayaan Dayak sekarang? Mengapa bisa ada?
Berhubung saya tidak berdomisili di kampung halaman, bolehkan untuk pertanyaan ini, jawabannya untuk sementara saya simpan sendiri dihati. Saya tidak ingin terjadi salah paham.
MADN dalam Rapim terakhirnya tahun 2009, mengusulkan agar Perjanjian Damai Tumbang Anoi diperingati tiap tahun. Komentar anda?
Ya, saya setuju-setuju saya karena menurut saya saat ini yang sangat kita butuhkan adalah menyatukan hati dalam kebersamaan. Kita perlu saling mendukung dan menghargai. Jangan menghabiskan waktu hanya untuk saling cela, dan mengasihani diri. Kita perlu melangkah dan lakukan tindakan.
Apa mimpi anda untuk Kalimantan Tengah dari segi budaya?
Impian saya, semoga anak eson Tambun Bungai selalu terbentuk menjadi manusia yang berkarakter, baik kini maupun dimasa mendatang. Harapan tersebut telah saya ungkapkan pada tiga lagu Album Manggatang Utus yaitu: Mars Balinga, Utus Dayak, Maneser Panatau Tatu Hiang.
Bagaimana anda mewujudkan mimpi itu?
Berusaha menjalin relasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja keras untuk selalu siap menjadi kotak sampah bahkan siap terluka. Sekalipun jatuh bangun, saya akan berusaha menjaga hati saya untuk tetap setia pada impian tersebut. (ASK)***
Telah disiarkan HU Palangka Post, Halaman Budaya, Kamis, 1 April 2010
POKOK-POKOK PIKIRAN MASALAH KEBUDAYAAN KALTENG
Palangka Post, 4 September 2009
Halaman Budaya Andriani S. Kusni, Edisi 5
SAHEWAN PANARUNG
Untuk Kebangkitan Kebudayaan Dayak & Yang Majemuk Di Kalimantan Tengah
Catatan Andriani S. Kusni
MEMAHAMI AKAR MASALAH KEBUDAYAAN KALTENG
1 November 2009. Segelintir orang, pekerja seni-budaya, penulis dan pekerja media, menghadiri pertemuan di Betang Mandala Wisata. Mereka bertemu untuk menggagas masalah-masalah mendasar kebudayaan di Kalimantan Tengah, Palangka Raya khususnya. Tidak ada seremoni panjang-lebar formal. Pertemuan itu berlangsung tidak lebih sejam dan dilakukan sambil duduk lesehan di panggung dalam betang. Hasilnya: berdirinya Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya.
Pembagian kerja segera dilakukan. Tanpa banyak omong dan oper sana-sini. Seorang penulis naskah teater bertugas melobi pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Kalimantan Tengah agar Betang Mandala Wisata dapat menjadi tempat pertunjukan rutin karya-karya dan kreasi seni seluruh seniman-budayawan di Palangka Raya. Seorang sutradara teater bertugas mempersiapkan pertunjukan perdana yang rencananya akan dilaksanakan pada 5 November 2009. Penulis dan pekerja media yang hadir bertugas agar secara aktif mendorong dan memperluas peran media dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan di Palangka Raya. Dalam waktu dekat, menunggu hasil lobi dengan pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi, segelintir orang ini akan kembali mengadakan pertemuan untuk mempertajam rencana kerja.
Dalam pertemuan tersebut, dirumuskan identifikasi masalah di bidang kebudayaan di Kalimantan Tengah. Masalah-masalah penting itu antara lain adalah kurangnya keseimbangan antara produktivitas karya dan ruang berkarya, komunikasi dan kerjasama antar sub bidang dan kelompok-kelompok kesenian. Saya juga mencatat soal yang diajukan oleh seorang pekerja teater yang masih terbilang muda. Pekerja teater ini, yang juga bekerja di salah satu media lokal mengatakan bahwa partisipasi generasi muda Dayak dalam kegiatan-kegiatan kesenian sangat kurang. Meski ia tak menyalahkan tumbuh suburnya kesenian-kesenian yang dikoordinir oleh kebanyakan orang dari luar (pendatang), saya salut bahwa ia mengangkat persoalan ini di depan rekan-rekannya yang kebanyakan berasal dari luar Kalimantan. Identifikasi masalah-masalah diatas memicu munculnya beberapa gagasan seperti sesering mungkin mengadakan tatap muka intern dan antar komunitas, menggelar hasil-hasil kerja seni-budaya meski kecil tapi rutin, dan memperkuat data, dokumentasi dan kalender kegiatan acara seni-budaya.
Edisi Sahewan Panarung kali ini akan menyajikan secara lengkap pokok-pokok pikiran tentang masalah kebudayaan di Kalimantan Tengah yang disusun oleh Kusni Sulang, sosiolog-antropolog asal Dayak yang lama bermukim di Perancis. Pokok-pokok pikiran ini disampaikan dalam Temu Seniman-Budayawan Palangka Raya di Betang Mandala Wisata, Minggu (1/12). Tujuan penyiaran ini adalah untuk melihat kembali dan menyediakan satu rujukan berpikir dalam memahami akar masalah budaya di Kalimantan Tengah. Dengan menyediakan rujukan berpikir ini, diharapkan agar pemahaman tentang apa dan bagaimana masalah kebudayaan menjadi lebih lengkap, tidak sepotong-sepotong. Memahami masalah sepotong-sepotong hanya akan menjerumuskan seseorang ke dalam tindakan praktis semata tanpa menyelesaikan masalah utama yang dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan kebudayaan Kalimantan Tengah di masa depan. Mengutip Alvin Toffler, penulis dan futurolog Amerika Serikat, “Buta huruf tentang masa depan, bukan bagi mereka yang tidak bisa membaca dan menulis. Tapi mereka yang tidak bisa belajar, meninggalkan belajar dan mengulangnya.”
Catatan Kebudayaan Kusni Sulang
POKOK-POKOK PIKIRAN MASALAH KEBUDAYAAN KALTENG, 14/11/09
I. Arti Pertemuan
Apa arti pertemuan yang di dalam undangan disebut Temu Kangen Seniman Palangka Raya? Pertemuan ini mengatakan sekali lagi kepada saya bahwa:
- Di Ibukota Kalteng ini terdapat seniman dan budayawan yang berkegiatan dan melanjutkan kegiatan mandiri. Mandiri artinya perhatian dan bantuan pihak resmi sangat minim.
- Pertemuan ini juga menyebut ulang keinginan para seniman Palangka Raya untuk melakukan kegiatan bersama-sama.
- Seniman-budayawan Palangka Raya ingin melihat bahwa kota mereka bisa disemaraki oleh kegiatan kebudayaan seperti halnya dengan kota-kota lain di Indonesia.
- Ingin menjadikan Palangka Raya sebagai Kota Kebudayaan.
II. Tujuan Pertemuan
Dari arti pertemuan seperti di atas itu, saya memahami melalui pertemuan ini kalangan seniman dan budayawan Palangka Raya bermaksud menjajagi kemungkinan berkegiatan bersama-sama. Mempertanyakan bagaimana cara mengembangkan kegiatan kebudayaan secara lebih berarti baik dalam skala kuantitas maupun dalam kualitas. Apa yang harus dilakukan.
III. Peta Keadaan
- Dewan Kesenian dan Taman Budaya tidak berfungsi.
- Bantuan dan apresiasi dari pihak resmi dan banyak kalangan, termasuk media massa sangat minim.
- Penduduk ibukota provinsi haus akan kegiatan kebudayaan, hiburan dan tempat & kegiatan akhir pekan.
- Seniman-budayawan, sanggar-sanggar dan komunitas-komunitas sastra-seni berkegiatan sendiri-sendiri dan asyik dengan diri sendiri. Tidak nampak kerjasama.
- Minimnya prakarsa untuk membangkitkan kerjasama
- Tidak ada mesin kebudayaan untuk menggerakkan kegiatan bersama.
- Kegiatan bersifat sporadik dan terpencar tanpa rencana.
- Tidak ada gedung teater/kesenian yang memenuhi syarat.
- Minim atau nol perhatian dan apresiasi terhadap kebudayaan dari pemilik kapital.
- Karya-karya sastra-seni sulit memperoleh penerbit.
- Walaupun masih terbatas, penggarapan ulang ke tingkat mutu lebih baru, mulai dilakukan terhadap sastra-seni kebudayaan seperti dalam bidang tari (oleh Toseng dan Ravien), nyanyi dan lukis (seperti yang dilakukan oleh Lampang).
- Perhatian terhadap muatan local masih jauh dari memuaskan.
- Organisasi-organisasi kebudayaan Dayak lebih menjurus ke politik bukan pada pengembangan kebudayaan.
- Tidak terdapat sentra kebudayaan, apalagi desa budaya.
- Pihak terkait yang menangani soal kebudayaan, tidak mengerti permasalahan kebudayaan.
- Pos-pos kunci umumnya dikuasai oleh orang dari luar masyarakat Dayak sehingga tidak memahami masalah Kalteng , khususnya masalah Dayak dan hubungannya dengan etnik lain.
- Ada soal dalam politik pemberdayaan dan pembangunan Kelteng, termasuk politik kebudayaan.
IV. Peta Kekuatan
- Terdapat sanggar-sanggar tari, lukis, komunitas-komunitas sastra, teater, fotografi, grup-grup musik mulai dari paduan suara dan band-band mulai dari rock, pop sampai ke dangdut, grup-grup musik tradisional (penyuling, pen-sansana, pendeder, pengarungut yang tersebar dari ibukota provinsi sampai ibukota-ibukota kabupaten.
- Terdapat koreograf terdididik, komponis, pelukis terdidik, penulis-penulis dari berbagai kalangan.
- Terdapat banyak gedung-gedung mubazir, padahal bisa dijadikan tempat latihan.
- Terdapat TVRI, RRI, radio-radio FM.
- Ada harian baru bernama Harian Umum Tabengan yang menaruh perhatian pada pengembangan kehidupan sastra-seni di Kalteng dengan memberikan apresiasi nyata serta mulai menerbitkan cerita bersambung. Direncanakan akan ada lembar kebudayaan periodik.
- Ada Museum Balanga dengan lahan luas di sekitarnya.
V. Evaluasi
Di Kalteng terdapat potensi sangat besar untuk mengembangkan kehidupan kebudayaan yang memenuhi harapan. Dengan potensi kebudayaan dan “bahan mentah” demikian, Palangka Raya dan ibukota-ibukota kabupaten bisa berkembang menjadi pusat kebudayaan di daerah. Palangka Raya bisa menjadi kota kebudayaan. Bisa menjadi pusat kebudayaan untuk provinsi.
VI. Usul Jalan Keluar
- Potensi kebudayaan sangat besar di Palangka Raya perlu dihimpun dalam satu wadah bersama. Dengan demikian, kekuatan-kekuatan terpencar itu dihimpun dan bergerak bersama.
- Himpunan ini sebaiknya tidak dipimpin oleh birokrat tapi oleh para seniman-budayawan sendiri.
- Apabila Dewan Kesenian Daerah, atau Kota tidak bisa diaktifkan, para seniman-budayawan tidak usah memperdulikannya. Tapi niscaya berkegiatan menggunakan lembaga baru yang mereka bentuk sendiri bersama-sama. Adapun, aktifpun Dewan Kesenian, lembaga baru ini tetap berkegiatan bersama-sama dengan Dewan Kesenian. Lembaga Baru ini beserta sanggar-sanggar yang ada menjadi ujung tombak kegiatan. Ini adalah semangat mandiri seniman-budayawan. Membangun dan mengembangkan kebudayaan dari bawah.
- Perlu adanya sentra kegiatan kebudayaan di Palangka Raya dan kota-kota kabupaten.
- Tidak menjadikan kegiatan kebudayaan sebagai “proyek” pemerintah.
- Dinas-dinas terkait perlu dipimpin oleh mereka yang mengerti kebudayaan dan pendidikan.
- Pemerintah perlu sungguh-sungguh memperhatikan masalah kebudayaan. Perlu ada Peraturan Gubernur (Pergub) khusus tentang soal kebudayaan. Di dalam Pergub itu terdapat politik kebudayaan tentang kebudayaan Uluh Kalteng dan Uluh Itah.
- Ada keniscayaan dari pihak pemerintah dan lembaga-lembaga pemerintah seperti Dinas-Dinas terkait, RRI dan TVRI mengapresiasi kegiatan kebudayaan dan para penggiatnya, bukan mengeksploatasi mereka.
- Berharap pertemuan hari ini bisa menelorkan kesimpulan-kesimpulan kongkret untuk mencoba membangun mesin kebudayaan untuk Palangka Raya, lalu menghidupkan dan menjalankan mesin itu.
- MADN perlu mewujudkan Badan Keseniannya untuk menghidupkan dan mengaktualisasi kebudayaan Dayak, dalam rangka pembangunan kebudayaan Uluh Kalteng.
- Uluh Itah niscaya belajar dari Uluh Kalteng lainnya guna menjadikan diri Uluh Itah bermutu.***
Pokok-pokok pikiran ini disampaikan pada Temu Seniman-Budayawan Palangka Raya, Betang Manggala Wisata, Palangka Raya, 1 November 2009
Comments (2)