Archive for the ‘Dayak’ Tag

ACARA TAHUNAN: FESTIVAL SENI-BUDAYA ISEN MULANG

Tari Menumpas Kejahatan dalam pawai pembukaan Festival Seni Budaya Isen Mulang yang diselenggarakan saban tahun dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, Mei 2013)

Tari Menumpas Kejahatan dalam pawai pembukaan Festival Seni Budaya Isen Mulang yang diselenggarakan saban tahun dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, Mei 2013)

Dalam pawai pembukaan Festival selain disertai oleh delegasi dari 14 kabupaten/kota, juga diikuti oleh komunitas-komunitas dari berbagai suku non Dayak yang ada di Kalteng (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriankai S. Kusni, Mei 2013)

Dalam pawai pembukaan Festival selain disertai oleh delegasi dari 14 kabupaten/kota, juga diikuti oleh komunitas-komunitas dari berbagai suku non Dayak yang ada di Kalteng (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriankai S. Kusni, Mei 2013)

Menjadi tradisi Dayak bahwa perempuan pun turut berperang. Dalam Perang Kemerdekaan 1945, di Kalteng terdapat  Lasykar Perempuan yang cukup banyak jumlah anggotanya di samping lasykar-lasykar Dayak yang lain .  (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Mei 2013).

Menjadi tradisi Dayak bahwa perempuan pun turut berperang. Dalam Perang Kemerdekaan 1945, di Kalteng terdapat Lasykar Perempuan yang cukup banyak jumlah anggotanya di samping lasykar-lasykar Dayak yang lain . (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Mei 2013).

BERKATA DAN BERBAHASA

Sahewan PANARUNG HARIAN RADAR SAMPIT
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

Tajuk Panarung
BERKATA DAN BERBAHASA

Oleh Andriani S. Kusni

Saya membedakan antara berkata dan berbahasa. Berkata atau berkata-kata bisa dilakukan tanpa memikirkan arti kata yang diucapkan. Dengan kata lain “asal bicara”, “asal berkata”.Sedangkan dalam berbahasa, kata-kata yang diucapkan berada dalam suatu struktur logika. Oleh karena itu dari tanda baca hingga diksi sangat diperhatikan agar pikiran dan perasaan yang telah tersusun rapi dalam diri pengguna bahasa bisa diterjemahkan dengan relatif tepat oleh bahasa. Yang sering saya hadapi adalah kekacauan dalam berbahasa seaingga komunikasi jadi terganggu. Yang diterima intelokutor berbeda dengan yang dimaksudkan oleh komunikator. Jadinya, berbahasa memerlukan tingkat kemampuan berpikir sedikit lebih tinggi dari berkata-kata, terutama dalam struktur dan keruntunan nalar. Orang yang bisa berkata-kata belum tentu bisa berbahasa seperti halnya orang yang tidak buta aksara belum tentu bisa membaca. Karena membaca memerlukan tingkat penyerapan dan analisa serta menyimpulkan.
Salah satu contoh mutakhir dari keadaan bisa berkata-kata tapi tidak bisa berbahasa adalah kalimat dari dokumen resmi yang bertajuk “Perjanjian Antar Generasi”. Saya kutip:
“Perjanjian Antar Generasi ini ditandatangani oleh wakil tiga generasi. Generasi Masa Lalu diwakili oleh Sabran Ahmad, Talinting Tupak, Lewis KDR. Sementara Generasi Masa Kini diwakili oleh Siun Jarias, Zulhaidir, dan Perdie. Sedangkan Generasi Masa Depan diwakili oleh Nomi Adilia, Eteria, dan Teresia Para penandatangan Perjanjian Antar Generasi ini bertindak atas nama masyarakat adat Dayak Kalimantan.”
Pengertian umum memahami “masa lalu” sebagai sudah lewat, tidak zamani lagi dan hanya pantas jadi isi museum, tanda bahwa hal-ihkwal atau generasi tersebut pernah ada tapi sudah tidak fungsional lagi. Dalam tata bahasa bahasa yang lebih rapi, disebut “past tense”.Sedangkan dalam percakapan sehari-hari saat kita mengatakan “sudah masa lalu”, kita bermaksud “sudahlah tidak usah dibicarakan lagi. Lupakan saja”.
Apakah orang-orang dari angkatan tua yang masih hidup, masih aktif menyertai rupa-rupa kegiatan, masih giat menulis jika mereka penulis atau jurnalis, bahkan jauh lebih aktif oyang tak lagi berfungsi untuk hari ini dan esok? Sementara tidak sedikit orang-orang yang lebih muda dari mereka sebenarnya dari segi visi, wawasan dan kegiatan bisa disebut sudah mati selagi hidup—keadaan yang lebih buruk daripada masa lalu.
Inti masalah yang saya angkat di sini adalah soal logika dalam berbahasa. Barangkali soal nalar dalam bahasa inilah sari pesan yang terkandung dalam pesan DR.Badudu di tahun 90-an silam melalui rubriknya di Majalah Intisari agar kita “Berbahasa Indonesia yang baik dan benar”. Kenyataan di negeri ini, termasuk di Kalteng, pesan ini kurang mendapat perhatian. Istilah “generasi masa lalu” yang digunakan oleh Perjanjian Antar Generasi MADN hanyalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah tidak bisa membedakan antara “pilar” dan “dasar” seperti “empat pilar bernegara. Padahal kemajuan intelektualitas dan kemampuan berbahasa mempunyai kaitan sangat erat.
Apabila bahasa merupakan lumbung nilai, merosotnya nasionalisme seperti yang sering diungkapkan para pejabat sipil dan militer negeri, kemerosotan tersebut tercermin juga dalam kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sama sebangun dengan yang terjadi terhadap Bahasa Dayak yang dihancurkan oleh orang Dayak sendiri. Apakah budaya Dayak suatu masa lalu (past- tense) bagi sejumlah orang Dayak? Jika demikian, bukan ajaib jika suatu saat, bamba (gong kematian) akan terdengar.[]

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding).
~ Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~ Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. (Lihat edisi terdahulu).
~ Télu pain tungku. Tiga kaki tungku. (Lihat edisi terdahulu)
~ Panutung bulan matanandau pambélum. Menyulut (cahaya) pada bulan dan matahari kehidupan. (Lihat edisi terdahulu)
~ Tunjung Nyahu, cahaya kilat petir. Suatu konsep intelektualitas Dayak yang memandang bahwa cendekiawan sebagai orang-orang pilihan alami ibarat cahaya kilat petir menerangi kegelapan. Sesuai pandangan ini maka para pendiri Provinsi Kalimantan Tengah sejak dini mengutamakan pendidikan dan mendirikan Universitas Palangka Raya (Unpar) dengan harapan bisa menjadi otak Kalimantan, cq Dayak. Otak Kalimantan tidak ditandai dengan ijazah tapi dengan tingkat intelektualitas. Yang berijazah universitas belum tentu cendekiawan. Konsep ini juga secara otomatis memandang bahwa ilmu pengetahuan yang membawa terang bagi sekitar dan kehidupan, komitmen social yang kuat merupakan satu kesatuan dan keniscayaan.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Lalau séhéi, tépa bakéhu. Terlalu dipanggang (dipanggang berkelebihan) akhirnya terbakar (tepatnya: gosong –bhs. Jawa) Pepatah mengingatkan seseorang agar jangan mengangkat-angkat diri berkelebihan, sebab akhirnya oleh cara itu akan membuat seseorang jatuh dari tempat tinggi. Dalam konteks politik hari ini, perbuatan ini menampakan diri dalam bentuk politik pencitraan:Politik yang membagus-baguskan diri tidak sesuai kenyataan. Yang diingatkan oleh pepatah lalau séhéi, tépa bakéhu, oleh orang Inggris dikatakan “you can bluff people once, but not all the time” (kau bisa menipu orang lain sekali, tetapi tidak untuk selamanya)
~ Éla manjakah pisi dia baumpan. Jangan melempar pancing tanpa umpan. Pepatah ini menasehatkan agar kalau mau melakukan sesuatu secara berhasil, syarat-syarat penopang hendaknya disiapkan benar-benar. Kelanjutan dari pandangan atau nasehat ini adalah pepatah “manémpé into lisung, barapi intu rinjing”. Menumbuk di dalam lesung, bertanak di dalam kuali. Pepatah ini menasehatkan agar dalam melakukan sesuatu niscayanya sesuai peruntukan dan aturan. Jangan bertindak semau sendiri. Hendaknya tidak hantam kromo, jika meminjam istilah Orang Jawa.

Jenggot Warisan
Oleh Izzah Yusuf *
Hah! Hah! Sudah lama aku tidak bermimpi kakek berjenggot itu. Semenjak aku lulus SD. Sekarang aku bermimpi lagi di saat aku duduk dikelas dua SMA. Kakek yang menggenggam tanganku saat aku terjatuh di dalam mimpi. Tapi kali ini berbeda. Kakek itu merenggangkan gengggamannya, seakan mau pergi.
Baru pukul tiga pagi, sedang konser Endang Sukamti baru usai dua jam yang lalu. Angin malam menggerakkan rambut ikalku. Sudah tidak terhitung aku kabur dari pondok dan tidur di emperan toko seperti ini. Aku juga tidak tahu, mungkin karena hasutan dan loyalitas persahabatan yang aku jalin bersama Rio, Ahmad, Ivan dan Mario ini sudah berlangsung sekitar satu tahun, aku tidak dapat mencegah diriku untuk tidak mengikuti mereka.
Selama itu juga kenakalan kita masih tahap normal –menurutku-. Hanya kabur dari pondok untuk menonton konser, atau kabur sekedar keliling kota. Sesekali kita kabur satu hari penuh. Pernah ketangkap basah dengan pembimbing pondok pernah juga tidak. Prinsip kita satu, tidak merugikan orang lain hanya merugikan diri sendiri.
Kita pun pulang pukul tiga pagi. Dengan keahlian kita, kita dapat masuk ke asrama tanpa ketahuan. Tapi entah kenapa, paginya kita dipanggil Mas Ikhsan, pembimbing pondok yang setia menghukumi kita berlima. Akhirnya kita dihukum membersihkan kamar mandi, dan menyapu asrama setiap hari selama satu bulan. Baru berlangsung seminggu, Rio memberitahu bahwa ada konser regae. Malam itu juga, lagi-lagi kita kabur dari pondok.
Konser telah usai, beberapa orang masih tinggal termasuk kita berlima. Sampai tiga orang yang tadinya duduk di sebuah bangku pergi, dan tanpa tanpa disadari salah satu dompet dari mereka tertinggal. Belum sempat aku berteriak memanggil tiga orang itu.
“Ada rezeki nih!” kata Rio semangat. Sontak aku menatap ke arahnya.
Kita berempat mengikuti langkah Rio, menuju bangku yang diduduki tiga orang tadi. Rio membuka dompet tersebut dan menemukan beberapa uang yang semuanya berjumlah seratus lima puluh ribu rupiah. Dia pun mengambil dan menaruh uang tersebut ke dalam sakunya. Tanpa merasa bersalah, Rio membuang dompet tersebut dan berpaling. Reflek aku mencegat tangan Rio.
“Rio, bukannya kita tidak membuat rugi orang lain?” peringat ku.
“Lho, bukannya ini tertinggal bukan aku sengaja mencopet atau bagaimana kan? Lagian kalau pun ini merugikan orang lain, kan aku yang berbuat.”
“Tapi kan. Kita harus kompak. Kalau kamu mengawali berbuat seperti itu, nanti yang lain bisa ikut-ikutan terus bisa jadi kebiasaan buruk,” protesku
“Memangnya kita kabur bukan kebiasaan buruk? Sama saja kan? Lagian kalau yang lain mau ikut-ikutan ya sok aja atuh. Kalau kamu nggak mau, ya sudah. Kita nggak maksa kok Muh kalau masalah seperti ini”
“Tapi aku tetap tidak setuju. Ri,”
“Ya sudah, kalau begitu sana pulang dan jadi anak alim di pondok!” teriak Rio di telingaku.
“Bukan begitu maksudku”
“Diam Muh! Kita bakal kabur sampai besok, kita perlu uang untuk makan sama jalan-jalan. Jadi jangan protes lagi.”
Waktu berlalu. Sudah seminggu kita tidak pulang ke pondok. Kita hidup dari hasil mencuri Rio. Aku juga tidak tahu dari mana dia belajar, sehingga begitu ahli dalam mencuri. Aku merasa sangat berantakan, jarang mandi, makan apa adanya, dan merasa kehidupanku berubah. Iya, bebas. Tapi tidak dapat menikmatinya. Aku mendengar langkah kaki yang berlari menuju ke arah dimana aku dan tiga orang temanku duduk. Ternyata itu Rio. Dengan raut wajah ketakutan dia berbicara dengan terburu-buru.
“Ayo! Kita harus bersembunyi! Aku ketahuan! Aku mencuri dompetnya Mas Ikhsan pembimbing!” jelasnya cepat.
“Mas Ikhsan! Gila kamu, Ri!”
“Mana aku tau kalau itu Mas Ikhsan!”
“Kok bisa ketahuan!”
“Kalian tahu kan? Mas Ikhsan tuh seperti apa! Mendingan kita sembunyi sekarang juga sebelum Mas Ikhsan mencium bau kita.” Kita pun berlari dan bersembunyi di tumpukan sampah.
Sudah setengah jam kita menunggu. Sepertinya sudah tidak ada tanda-tanda Mas Ikhsan berada. Rio pun mengecek keadaan. Akhirnya kita menunggu Rio. Rio tak kunjung datang, padahal sudah satu jam kita menunggu. Ingat pesannya kalau kita tidak boleh meninggalkan tempat itu, akhirnya tidak ada pilihan lain selain menunggu. Hingga kita tertidur di tumpukan sampah.
Terdengar suara membangunkan. Bukan suara Rio, tapi suara asing. Ternyata itu suara seorang pemulung, yang membangunkan kita bertiga. Matahari sudang mulai meninggi. Berarti Rio belum juga datang dari tadi malam. Hingga akhirnya sampai sore kita tidak makan. Dan Mario berniat untuk mencuri untuk membeli makan dan minum kita berempat.
Aneh! Tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan, sedang teman-temanku berjalan meninggalkanku. Tidak lama, seseorang menabrakku. BRUK! Aku terjatuh, orang itu membantuku untuk berdiri. Orang itu menatapku lekat-lekat. Ternyata itu Mas Ikhsan. Mas Ikhsan memaksaku untuk memberitahu keberadaan teman-teman yang lain. Belum sempat aku menjawab, teman-temanku yang menyadari bahwa aku tertinggal, kembali dan mencariku sehingga bertemu dengan Mas Ikhsan yang sedang menangkapku. Akhirnya kita kembali ke pondok.
Kita berlima disidang di depan banyak pembimbing pondok dan akhirnya di depan pak kyai. Kita berlima diberi kesempatan untuk berubah. Aku kira kita berlima akan langsung dikeluarkan dari ponok, karena sudah terlampau sering kita melanggar aturan pondok dan yang terakhir kabur lebih dari seminggu ditambah lagi mencuri. Akhirnya kita dihukum setoran surat-surat khusus dan juz satu.
Aku selesai lebih awal dari pada yang lainnya. Sebenarnya aku sudah menghafal sampai jus sembilan waktu aku SMP di pondok yang dulu. Sekarang aku tidak menghafal lagi dan berubah menjadi anak yang tidak taat aturan. Aku bingung. Teman-teman ku selain Mario, Rio, Ivan dan Ahmad sudah tidak berminat lagi berteman denganku. Aku merasa sendiri. Sedang kita berlima sibuk dengan hukuman dan dipaksa untuk tidak saling bertemu sampai kita sadar.
Waktu istirahat pun tiba, aku duduk melamun sendiri di dalam kelas. Entah dari mana, Rio masuk mendatangi mejaku.
“Kenapa kamu keliatan frustasi, bro?” tanyanya santai tanpa beban.
“Bukannya kau juga merasakan beban yang sama. Kenapa kau bisa tetap bahagia begitu, Ri?”
“Jangan dibawa beratlah, bro” jawabnya santai “Oh ya, aku punya obat nih. Obat penenang. Nanti kalau mau tidur diminum, Muh”
“Obat apa ini? Jangan-jangan…”
“Apaan sih! Memangnya aku setega itu. Itu hanya obat penenang biasa, semacam obat tidur makanya minumnya kalau mau tidur aja. Lumayan nih aku, agak ngeringanin beban” jelasnya sambil megusap-usap lehernya “Aku balik ke kelas dulu ya. Kita kan belum boleh ngumpul kan? Kalau begitu sampai jumpa”
Malamnya aku memandang cermin yang ada di dalam lemariku. Semua teman-temanku sudah terlelap. Aku menyediakan segelas air. Aku ingin mencoba obat yang diberi Rio tadi pagi di kelas. Sebenarnya aku agak ragu, tapi mana mungkin dia tega memberi narkoba. Kemudian, baru saja aku memasukkan obat itu ke mulut, tiba-tiba pintu terbuka. Mengagetkan beberapa temanku yang sedang tertidur dan juga diriku yang mematung memegang kantong berisi obat itu. Mas Ikhsan dan pembimbing lain sudah menangkap Rio, Ahmad, Mario dan Ivan. Kata Mas Ikhsan obat itu adalah sejenis narkoba, dan kita berempat telah dibohongi oleh Rio.
Besoknya kita berlima dibawa ke rumah sakit untuk cek darah. Hasilnya positif. Rio, Ahmad, Mario dan Ivan memakai zat adiktif narkoba. Sedangkan hasilku menyatakan bahwa darahku tidak pernah terkena barang haram itu. Ternyata mereka telah memakan barang haram itu selama seminggu. Itu berarti aku adalah orang terakhir yang diberi obat oleh Rio. Padahal tadi malam aku mencoba satu, tapi kenapa hasilnya nihil?
Sidang pun diselenggarakan. Mereka berempat dikeluarkan dari pondok dan sekolah, sedang aku mendapat skorsing tiga hari dan disuruh membantu di dalemnya Pak Kyai. Setelah pulang dari menjalani sidang, aku tertidur di Mushola Sakan. Aku bermimpi bertemu kakek berjenggot itu lagi. Kakek itu melepaskan tanganku dari gengggamannya dan pergi dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Matanya mengatakan bahwa kakek itu percaya kepadaku. Kakek itu pun menjauh dan menjauh hingga hilang ditelan cahaya.
Aku terjaga. Tenggorokanku sakit, sakit sekali. Rasanya ada sesuatu di dalam tenggorokanku yang mencekikku. Perutku seperti dipukul-pukul sehingga rasanya ingin memuntahkan segala yang ada di perut. Sakitnya pun terus bertambah, sampai-sampai aku berteriak mengadu kesakitan. Seseorang lari dari arah luar menuju Mushola Sakan. Sepertinya pembimbing pondok yang sedang berkeliling. Dia sepertinya panik dan keluar lagi. Dan kembali bersama Pak Zaki. Beberapa kali punggungku ditepuk keras oleh Pak Zaki. Kemudian darah keluar dari mulutku dan samar-samar aku melihat sebutir pil keluar bersama darah tersebut. Aku merasa kejadian muntah darah itu berlangsung lama hingga aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun di kamar pembimbing. Setelah aku mandi dan sholat shubuh berjama’ah, aku langsung disuruh menemui Pak Zaki di dalemnya. Aku ditanyai banyak hal. Apa saja yang aku lakukan saat kabur dari pondok, memakan apa saja, sampai aku meminum obat yang diberi Rio dan hasil negatif pada waktu cek darah, semuanya aku ceritakan. Pak Zaki pun manggut-manggut.
“Itu tandanya kamu masih diberi kesempatan sama Allah, Muh” ucap Pak Zaki
“Oh ya, saya jadi ingat. Dulu saya pernah bertemu sama teman saya. Kata beliau punya anak di sini. Dulunya menghafal Al-Qur’an, mungkin masih sekitar juz lima atau tujuh. Namanya Muhammad. Ya, yang namanya Muhammad kan banyak, yang ditahfidz juga banyak. Saya kira salah satunya mungkin ada di situ” tambah Pak Zaki
“Kamu dulu tahfidz tho? Sudah sampai juz berapa, Le?” tanya Pak Zaki
“Juz sembilan, Pak”
“Sudah banyak. Mulai hari ini dilanjutkan ya, Le? Panggilanmu sopo?
“Simuh, Pak”
“Mau pindah ke tahfidz, Muh?”
“Nggih, Pak.”
“Masih diskorsing kan?”
“Nggih.”
“Sesuk setoran karo aku yo” ucap Pak Zaki sambil tersenyum dan menepuk pundakku.
Aku merasa, malam ini sangat berbeda. Setelah perbincangan di waktu subuh itu. Aku merasa seperti mendapatkan oksigen yang bertubi-tubi, sehingga jiwaku dapat menghembuskan nafas kelegaan. Aku menatap cermin yang menempel di pintu lemariku, terlihat bayangan seseorang yang sangat berantakan. Aku mengambil gunting di atas lemariku dan merapikan rambutku ikalku yang mulai menyentuh leher.
Juga merapikan kumis dan jenggot. Jenggot? Aku jadi teringat dengan kakek tua itu. Aku ingin tahu dari mana asal kakek berjenggot itu, sehingga mewariskanku beberapa helai jenggot yang sekarang mulai tumbuh di daguku. []

* Izzah Yusuf, Siswi kelas X MA Ali Maksum, Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, aktif di komunitas Sastra Menjangan, Ekskul Unggulan MA Ali Maksum Krapyak.

TENTANG BAPAK PELOPOR KEBANGKITAN DAYAK

Halaman MASYARAKAT ADAT HARIAN RADAR SAMPIT (EDISI DAYAK MERATUS)
Memperkuat Masyarakat Adat Dayak, Dasar Kalteng Bahadat
Alamat: Radar Sampit atau meldiwa@yahoo.com.sg
Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak
Oleh Kusni Sulang

Pertemuan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894 di desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas (4 Oktober 2014) , telah memberikan gelar baru kepada Agustin A. Teras Narang, SH yang selain Gubernur Kalteng juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN). Gelar baru itu adalah Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak. Sebelumnya Teras diberikan gelar Pangeran Dayak dan Antang Bajéla Bulau (Elang Berlidah Emas). Menurut DR. Siun Jarias, SH, MH, petinggi MADN dan Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng, pemberian gelar baru ini merupakan keputusan rapat para Damang yang hadir.
Lepas dari benar tidaknya ada rapat para damang khusus membicarakan persoalan tersebut, ataukah hanya ditawarkan kepada para damang setelah diputuskan oleh kalangan terbatas, semacam pendekatan top-down, yang menjadi persoalan adalah gelar “Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak”.
Apakah yang disebut “pelopor”? Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskan yang disebut pelopor itu adalah “1. yang berjalan terdahulu; 2. perintis jalan; pembuka jalan; pionir; 3. Pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami” (Cetakan Kesepuluh, 1999: 745).
Pemberian gelar “Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak” kepada Teras sama dengan menyebut Agustin Narang, SH sebagai “yang berjalan terdahulu; . perintis jalan; pembuka jalan; pionir; . pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami”.
Pertanyaannya: Apakah dalam kenyataannya penerima gelar adalah “yang berjalan terdahulu; perintis jalan; pembuka jalan; pionir; pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami”. Jika benar maka sebelum Teras, tidak ada seorang pun yang telah melakukan hal demikian. Apa yang dilakukan oleh para pejuang pendahulu asal Dayak bukanlah hal-hal bersifat “yang berjalan terdahulu; . perintis jalan; pembuka jalan; pionir; . pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami”, tapi tidak lebih dari hal-hal biasa layaknya dilakukan oleh siapapun, sekali pun apa yang para pejuang pendahulu itu lakukan penuh risiko, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa dan kepala, mandi darah dan airmata. Sekalipun tiap langkah mereka dibayangi oleh ajal seperti yang dialami oleh angkatan Tjilik Riwut, Hausmann Baboe dan angkatannya. Hausmann Baboe bahkan benar-benar telah membela mimpinya untuk Dayak dengan nyawa. Bersama tiga anak kandungnya, ia dibunuh oleh pemerintah pendudukan militeris Jepang. Bahaya apa yang dihadapi dan apa yang dilakukan oleh penerima gelar di atas yang dilakukan “tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami” sehingga berisifat “pionir”?
Berdirinya Kalteng sebagai provinsi tersendiri adalah hasil perjuangan mandi darah para pejuang pendahulu, dan merupakan perjuangan serta hasil yang belum ada presedennya, bersifat pionir dan berdampak jauh. Berdirinya Kalteng sebagai provinsi tersendiri, merupakan lanjutan dan fase baru dari perjuangan Sarikat Dajak (1919) dan Pakat Dajak (1926) dengan Hausmann Baboe dan angkatannya sebagai tokoh menonjol. Arti Kalteng sebagai provinsi tersendiri bagi orang Dayak dinyatakan oleh Prof.Dr. Mubyarto alm dalam kata-kata: “Kalteng, the heartland of Dayak”. Dengan pemberian “gelar Bapak Kebangkitan Dayak” kepada Teras yang pada waktu itu belum lahir. dan atau bocah, perjuangan bersifat pionir dan bersifat visioner luas para pejuang pendahulu dipandang tidak berarti apa-apa.
Panitia Pumpung Haï Dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi dalam Kerangka Acuannya menulis antara lain: “bahwa pembangunan yang selama ini berlangsung di Kalimantan Tengah masih belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat lokal, khususnya kepada masyarakat Dayak sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri Provinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak terutama di daerah pedesaan cenderung hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam di Kalimantan Tengah”. Tidakkah apa yang dilukiskan oleh Panitia itu sebenarnya menuturkan hasil pekerjaan Teras selaku Gubernur selama hampir 10 tahun. Apakah lukisan di atas merupakan sesuatu yang bersifat pelopor? Memelopori kemunduran bukanlah kepioniran yang membanggakan.
Menegasi jasa para pejuang pendahulu yang berjuang tanpa pamrih kecuali terwujudnya cita-cita “Dayak Berharkat dan Bermartabat” bukanlah sikap mulia, bukan pula sikap beradat. Dari segi sejarah, pandangan yang mendasari pemberian gelar tersebut sangat anakronis. Dari segi pola piker dan mentalitas, ia merupakan wujud dari sistem patron-client. Dari segi budaya, pemberian gelar tersebut bukanlah bentuk dari budaya kritis yang memang tidak berkembang di Kalteng. Dari segi kedewasaan berpikir, ia merupakan perbuatan gegabah yang merendahkan nalar. Teras barangkali tidak salah. Yang salah terutama pada pengusul dan menerima usul. Kesalahan Teras barangkali terletak pada: Mengapa ia menyetujui pemberian gelar tersebut. Sejarah dan kebenaran bukanlah permainan geng.
Terakhir, mengapa para petinggi MADN, DAD Kalteng dan Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak tidak bersuara ketika polisi menembaki Dayak Meratus?. Di Meratus , orang Dayak tengah bertarung membela hak mereka. []

Unjuk rasa masyarakat Dayak Palangka Raya memprotes ucapan Prof.Dr.Thamrin Tomagola, 2011. Dalam menghadapi kesewenang-wenangan dan kepongahan aparat, warga tidak boleh diam. (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2011)

POLISI MENEMBAKI MASYARAKAT ADAT MERATUS
Satu Orang Meninggal, Tiga Luka-luka, Enam Ditahan

Batu Raya, 25 Oktober 2914. Radar Sampit. Penembakan anggota warga masyarakat adat oleh Brimob kembali terjadi. Pada 21 Oktober sekitar jam 22.00 (Wita) warga masuyarakat adat Malinau telah ditembaki bagian kepala dan perutnya oleh Brimob dan Kepolisian Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan yang bertugas membekingi Perusahaan PT.Kodeco Timber dan PT. Jolin Bratama. Demikian disebutkan oleh Pimpinan Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dalam laporannya kepada Pimpinan Pusat AMAN di Jakarta (22/10) tentang kasus penembakan Masyarakat Adat Dayak Meratus oleh aparat kepolisian di Desa Mentewe, Km. 58, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Pak Inus yang Pak INUS 35 tahun, warga Dayak Meratus, yang sedang mengambil Kayu dihutan wilayah adat ditembaki oleh pihak kepolisian pada bagian kepala dan perutnya sehingga meninggal dunia.
Laporan menyebutkan bahwa setelah penembakan tersebut, sekitar 400-an warga Dayak Meratus dari Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan sudah bergerak menuju Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) karena merasa tidak terima warganya terbunuh. Sekalipun mengalami kesulitan menghubungi penduduk yang sedang bergerak itu, PW AMAN Kalsel segera menurunkan Tim Advokasi AMAN Kalsel untuk berupaya melakukan investigasi ke TKP.
Laporan Trisno, Staf PD AMAN Tanah Bumbu, tentang kasus penembakan MA Dayak Meratus oleh aparat kepolisian di Desa Mentewe km 58 Kab. Tanah Bumbu menuturkan bahwa aparat kepolisian yang melakukan penembakan adalah dari satuan Reskrim dan Sabhara Polres Tanah Bumbu (bukan dari satuan Brimob seperti informasi sebelumnya). Personil kepolisian yang datang ke lokasi berjumlah 35 orang dan dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim dan Kasat Sabhara Polres Tanah Bumbu dengan tujuan melakukan razia illegal logging.
Dalam peristiwa penembakan tersebut, korban yang meninggal satu orang, warga desa Malinau Kabupaten Hulu Sungai Selatan (bukan 2 orang seperti informasi sebelumnya) karena ditembak di kepala dan badan, 3 orang luka-luka dan 6 orang ditahan. Menurut informasi terakhir enam orang warga masyarakat yang ditahan sudah diperbolehkan pulang.
Ketika di rumah korban dilakukan persiapan pemakaman, dilaporkan bahwa sudah perdamaian antara pihak keluarga dengan pihak Polres Tanah Bumbu sudah tercapai.
Sampai pada 22 Oktober 2014 tidak ada satu pun media cetak baik lokal atau pun nasional yang memberitakan kasus penembakan ini. “Kami menduga bahwa kalangan media sudah ditutup informasinya oleh kalangan aparat atau pihak lain”, demikian YSR dari AMAN Kalsel dalam laporannya.(ask-7-10-14).
Pepatah “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” disebut sebagai bagian dari isi yang disebut “budaya betang”. Untuk konteks sekarang, dengan berubahnya komposisi demografis di Kalteng, pepatah sudah kadaluwarsa. Yang relevan adalah “di mana langit dijunjung, di situ bumi dibangun”
.
14 Warga Masyarakat Adat Dayak Meratus Dikriminalisasi
Batu Raya, 25 Oktober 2014. Radar Sampit. — Berdasarkan sumber AMAN Kalsel, harian Kompas (23/10) menulis bahwa sebanyak 14 warga masyarakat adat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan dikriminalisasi dengan berbagai alasan oleh perusahaan dan cukong. Mereka ditangkap dan diseret ke pengadilan karena dianggap melakukan aktivitas ilegal di wilayah adat yang masuk areal konsesi perusahaan.
”Kriminalisasi terhadap 14 warga masyarakat adat Dayak Meratus itu terjadi dalam kurun 2013-2014. Masyarakat adat yang dikriminalisasi bermukim di Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Balangan,” kata Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel, Yasir Al Fatah, di Banjarbaru, Rabu (22/10).
Yasir mengatakan, warga masyarakat adat ditangkap dan diseret ke pengadilan dengan berbagai dalil. ”Ada yang dilaporkan karena mencuri sarang burung walet, ada yang karena merambah kawasan hutan, dan ada pula yang dilaporkan karena membabat kelapa sawit milik perusahaan. Padahal, berbagai aktivitas yang disebut ilegal itu dilakukan di wilayah adat mereka sendiri,” katanya. Namun, karena sebagian wilayah adat itu telah dikuasai cukong dan perusahaan, warga masyarakat adat tidak bisa lagi leluasa menggarap dan mengambil hasil alam di wilayah adat tersebut. ”Celakanya, sebagian besar wilayah adat itu masuk wilayah industri perkebunan, pertambangan, dan HPH (hak pengusahaan hutan),” ujar Yasir.
Hingga saat ini, kata Yasir, kasus hukum yang menjerat 14 warga masyarakat adat masih bergulir di kepolisian dan pengadilan. Ia berharap masyarakat adat bisa memperoleh keadilan dan tidak terus dikorbankan.
Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional Haspan Hamdan mengatakan, kehadiran perusahaan perkebunan dan pertambangan di wilayah masyarakat adat selama ini belum menyejahterakan warga. ”Masyarakat adat justru makin tersisih karena tanah sudah dikuasai perusahaan. Mereka tak bisa lagi mengusahakan tanah mereka dan hanya menjadi buruh,” katanya.
Menurut Hamdan, masyarakat adat berharap kehadiran perusahaan bisa memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, masyarakat adat justru menderita karena hutan dan sungai sebagai tempat menggantungkan hidup rusak dan tercemar.
Yasir berharap pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla bisa mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU PPHMA) untuk menjamin hak masyarakat adat. (JUM)
MINTA SK BUPATI UNTUK LINDUNGI MASYARAKAT ADAT MERATUS

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, mendesak Pemkab HST agar segera membuat SK Bupati tentang pengakuan perlindungan masyarakat hukum adat. Desakan itu disampaikan, saat pemaparan tentang memungkinkannya dibentuk desa adat, Selasa (21/10) di ruang sidang utama DPRD HST.
Pemaparan sekaligus penyampaian aspirasi oleh Ketua Aman Kalsel, Yasir Al Fatah itu dihadiri Ketua DPRD HST Saban Effendi, dan wakil ketua Tirjuddin, unsur TNI dan Polri serta para tokoh masyarakat adat Dai’ak Meratus Hantakan dan Batangalai Timur.
Yasir menjelaskan, sejumIah regulasi pemerintah pusat terhadap hak masyarakat adat telah diterbitkan. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35 tahun 2012 tentang Hutan Adat, menegaskan adanya hutan adat yang bukan hutan negara. Hal itu dipertegas dalam UndangUndang nomor 6 tentang Desa, yang salah satu pasalnya kan melalui SK Bupati,” jeias Yasir.Adapun dasar dari pembuatan SK, jelas dia telah diterbitkan pula Permendagri Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat.
Pengakuan, sekalipun untuk sementara melalui SK, jelas dia penting guna melindungi masyarakat adat dari dekriminalisasi. Dicontohkan, ketika warga merambah hutan untuk kebutuhan mereka, polisi bias memidanakan mereka.
Demikian pula jika ada konflik dengan perusahaan, baik terkait pertambangan maupun perkebunan.
“Kami menilai, Hulu Sungai Timur dan Hulu Sungai Selatan masih memungkinkan segera dibuat Perda Pengakuan dan Perlindungan masyarakat adat ini, karena pemerintahnya yang tak melakukan penambangan. Berbeda dengan daerah Kotabaru dan Tanahbumbu dimana hutan adatnya sudah dirambah industri pertambangan maupun perkebunan,” jelas alumni Faktultas Hukum Unlam ini.
Di Hulu Sungai Timur, ada dua kecamatan yang wilayahnya terdapat masyarakat adat Meratus, yaitu Hantakan dan Batangali Timur. Di dua kecamatan tersebut, terdapat 47 balai adat yang masing-masing balai dipimpin kepala balai. Selain itu ada kepala adat yang memimpin masyarakat adat di iingkungan balai-balai.
Ketua DPRD Sa’ban Effendi, pada kesempatan itu berkomitmen dan sepakat untuk sementara perlindungan dan pengakuan agar dilakukan pemerintah kabupaten melalui SK Bupati, baru kemudian ditegaskan lagi dengan pembuatan perda. (han)

UNJUK RASA DAYAK DI PALANGKA RAYA

Salah satu spanduk dalam unjuk rasa Dayak tahun 2013 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Salah satu spanduk dalam unjuk rasa Dayak tahun 2013, isyarat bahwa Dayak menolak kolonialisme internal sesuai dengan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai. Jangan perosotkan  Republik dan Indonesia! (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Ustad Ganefo sedang menyampaikan orasi dalam sebuah unjuk rasa Dayak tahun 2013 di Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Ustad Ganefo sedang menyampaikan orasi dalam sebuah unjuk rasa Dayak tahun 2013 di Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Peserta unjuk rasa Dayak di Palangka Raya, memprotes  pernyataan Dr. Thamrin Amal Tomagola dari UI, yang dianggap melecehkan orang Dayak.(Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, 2011)

Peserta unjuk rasa Dayak di Palangka Raya, memprotes pernyataan Dr. Thamrin Amal Tomagola dari UI, yang dianggap melecehkan orang Dayak.(Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, 2011)

PATUNG DARI GETAH NYATU

Patung dari getah nyatu, salah satu karya rakyat Dayak Kalteng (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2011)

Patung dari getah nyatu, salah satu karya rakyat Dayak Kalteng (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2011)

14 WARGA MASYARAKAT ADAT DAYAK DIKRIMINALISASI

PENEMBAKAN OLEH BRIMOB

KAMIS, 23 OKTOBER 2014
KONFLIK WILAYAH
14 Warga Masyarakat Adat Dikriminalisasi

BANJARBARU, KOMPAS — Sebanyak 14 warga masyarakat adat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan dikriminalisasi dengan berbagai alasan oleh perusahaan dan cukong. Mereka ditangkap dan diseret ke pengadilan karena dianggap melakukan aktivitas ilegal di wilayah adat yang masuk areal konsesi perusahaan.
”Kriminalisasi terhadap 14 warga masyarakat adat Dayak Meratus itu terjadi dalam kurun 2013-2014. Masyarakat adat yang dikriminalisasi bermukim di Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Balangan,” kata Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel, Yasir Al Fatah, di Banjarbaru, Rabu (22/10).
Yasir mengatakan, warga masyarakat adat ditangkap dan diseret ke pengadilan dengan berbagai dalil. ”Ada yang dilaporkan karena mencuri sarang burung walet, ada yang karena merambah kawasan hutan, dan ada pula yang dilaporkan karena membabat kelapa sawit milik perusahaan. Padahal, berbagai aktivitas yang disebut ilegal itu dilakukan di wilayah adat mereka sendiri,” katanya.
Namun, karena sebagian wilayah adat itu telah dikuasai cukong dan perusahaan, warga masyarakat adat tidak bisa lagi leluasa menggarap dan mengambil hasil alam di wilayah adat tersebut. ”Celakanya, sebagian besar wilayah adat itu masuk wilayah industri perkebunan, pertambangan, dan HPH (hak pengusahaan hutan),” ujar Yasir.
Hingga saat ini, kata Yasir, kasus hukum yang menjerat 14 warga masyarakat adat masih bergulir di kepolisian dan pengadilan. Ia berharap masyarakat adat bisa memperoleh keadilan dan tidak terus dikorbankan.
Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional Haspan Hamdan mengatakan, kehadiran perusahaan perkebunan dan pertambangan di wilayah masyarakat adat selama ini belum menyejahterakan warga. ”Masyarakat adat justru makin tersisih karena tanah sudah dikuasai perusahaan. Mereka tak bisa lagi mengusahakan tanah mereka dan hanya menjadi buruh,” katanya.
Menurut Hamdan, masyarakat adat berharap kehadiran perusahaan bisa memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, masyarakat adat justru menderita karena hutan dan sungai sebagai tempat menggantungkan hidup rusak dan tercemar.
Yasir berharap pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla bisa mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU PPHMA) untuk menjamin hak masyarakat adat. (JUM)
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000009672863

On Thursday, 23 October 2014, 10:22, “AMAN KALSEL pw.amankalsel@yahoo.co.id [adatlist]” <adatlist@yahoogroups.com> wrote:

Pak Sekjen, dkk
Berdasarkan laporan sdr. Trisno (Staff PD AMAN Tanah Bumbu) tentang kasus penembakan MA Dayak Meratus oleh aparat kepolisian di Desa Mentewe km 58 Kab. Tanah Bumbu sbb :
1. Aparat kepolisian yg melakukan penembakan adalah dari satuan Reskrim dan Sabhara Polres Tanah Bumbu (bukan dari satuan Brimob seperti informasi sebelumnya). Personil kepolisian yang datang ke lokasi berjumlah 35 orang dan dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim dan Kasat Sabhara Polres Tanah Bumbu dengan tujuan melakukan razia illegal logging.

2. Korban yang meninggal 1 orang, warga desa Malinau Kab. Hulu Sungai Selatan (bukan 2 orang seperti infformasi sebelumnya) karena ditembak di kepala dan badan, 3 orang luka-luka dan 6 orang ditahan dan informasi nya masyarakat yg ditahan sudah diperbolehkan pulang.

3 Informasi tambahan juga bahwa di rumah korban saat ini persiapan pemakaman, dan kawan2 dari PW AMAN Kalsel dan PD AMAN Kab. Hulu Sungai Selatan akan melakukan komunikasi langsung dengan pihak keluarga korban, karena ada informasi bahwa sudah terjadi perdamaian antara pihak keluarga dengan pihak Polres Tanah Bumbu.

4. Informasi tambahan bahwa hari ini tidak ada media satu pun yang memutat kasus penembakan ini (baik media lokal maupun nasional). Kami menduga bahwa kalangan media sudah ditutup informasinya oleh kalangan aparat atau pihak lain.

Demiiian informasi nya dan kami akan informasikan lagi apabila ada tambahan

salam,

ysr
Dari: “AMAN KALSEL pw.amankalsel@yahoo.co.id [adatlist]” <adatlist@yahoogroups.com>
Tanggal: 22/10/2014 19:32 (GMT+08:00)
Ke: adatlist@yahoogroups.com
Subjek: Bls: Bls: Bls: [AMAN] PENIMBAKAN OLEH BRIMOB

Kawan2 semua,

Tadi sekitar jam 4 sore (wita) saya sudah berkomunikasi dengan sdr. O. Lubis (Ketua PD AMAN Tanah Bumbu) di mana lokasi TKP penembakan berada di wilayah Tanah Bumbu.

Saya telah menginstruksikan kepada Ketua PD AMAN tanah Bumbu untuk segera mengumpulkan data-data dan informasi yg valid berkaitan dengan kasus penembakan MA ini. Termasuk informasi kedatangan ratusan orang MA Dayak Meratus di Loksado ke Batulicin (Ibukota Kab. tanah Bumbu) untuk meminta penjelasan dari Kapolres Tanah Bumbu mengenai penembakan ini.

Sampai saat ini saya masih menunggu laporan Sdr. O. Lubis mengenai informasi ini dan secepatnya membuat kronologis kasus beserta korban.

salam,

ysr

Pada Rabu, 22 Oktober 2014 16:23, “Hadi Irawan hadiirawan@aman.or.id [adatlist]” <adatlist@yahoogroups.com> menulis:
DIBERITAKAN : telah terjadi Penimbakan terhadap Warga MHA Malinau sekitar Jam 10.00 wita tadi malam 21 Oktober 2014,, oleh Brimob serta Anggota Kepolisian Kapolres Tanah Bumbu,Kalimantan Selatan. yang bertugas membekingi Perusahaan PT Kodeco Timber dan PT Jonlin Bratama ( JB), terhadap Pak INUS 35 tahun Warga Dayak Meratus, yang sedang mengambil Kayu dihutan, karena ditembakan dibagian Kepala dan Perut sehingga Korban Meninggal Dunia.
Tempat Kejadian Perkara (TKP) Batu Raya, Kecamatan Mentewi,Kabupaten Tanah Bumbu, Propinsi Kalimantan Selatan. Yang diduga memasuki wilayah Perusahaan Padahal wilah Adat,

Informasi yang baru kami terima dari TKP 400 an Warga Dayak Meratus dari Kec Loksado, Kab.HSS sudh bergerak menuju TKP karena Merasa tidak terima warganya terbunuh. sampai saat ini kami masih kesulitan menghubungi warga lainya disana sehingga perkembangan di TKP blm bisa diketahui dikarenakan tidak ada sinyal namun Tim Advokasi AMAN Kalsel sedang berupaya melakukan investigasi ke TKP.

Salam,
Kambar.

MAHARAJA PANDURAN

Maharaja Panduran

Konon, seorang Tamanggung Sungai Kahayan sedang berperahu ke arah kuala. Sebagaimana biasanya orang Dayak, dalam perjalanan jauh senantiasa melengkapi diri dengan senjata-senjata seperti mandau badek, tombak atau sumpitan.Tanpa kecuali dengan Tamanggung Kahayan yang sedang menghilir.
Malang tak bisa dielak untung tak bisa diraih, ketika sampai di muara, badai petir hujan deras turun dari langit. Ombak setinggi rumah menggulung melanda perahu. Dalam sekejap, perahu kecil Tamanggung Kahayan tenggelam, tinggal badek yang terselip dipinggangnya yang tidak tenggelam ke lubuk laut.
Agar tidak turut tenggelam ke dasar lubuk, Tamanggung menggunakan perahunya yang terbalik sebagai pelampung. Dengan badan perahunya itu ia diombang-ambingkan oleh gelombang laut yang berang selama berhari-hari.
Suatu fajar, tiba-tiba Tamanggung yang sudah sangat lelah, mendengar suara kokok ayam jantan. Mendengar adanya kokok ayam jantan itu, Tamanggung sadar bahwa ia berada tidak jauh dari daratan. Harapan untuk hidup selamat pun terbentang di hadapannya. Oleh kegembiraannya, tanpa sadar Tamanggung pun menjawab kokok ayam jantan itu dengan berteriak sekuat tenaga meniru kokok ayam jantan yang didengarnya. Kokok dibalas kokok. Demikian berkali-kali kokok demi kokok bersahut-sahutan. Sampai tiba-tiba di kejauhan ia melihat sebuah perahu besar melaju mendekatinya.
Para awak perahu besar itu mengangkat Tamanggung ke atas perahu.
‘’Terimakasih sudah menolong saya’’, ujar Tamanggung sesudah berada di perahu besar.
‘’Andakah yang berkokok tadi ?’’ tanya seseorang lelaki tinggi besar, berkulit hitam, berkumis dan nampaknya disegani oleh para awak perahu besar itu lainnya.
‘’Ya’’, jawab Tamanggung Kahayan tegas.
‘’Mengapa ?’’, tanya Tamanggung.
‘’Nanti Anda akan tahu’’.
Lelaki tinggi besar itu kemudian memerintahkan kepada para awak perahu untuk mengambil dan memberikan pakaian kering untuk Tamanggung Kahayan.
Sepanjang pelayaran menuju pantai, Tamanggung Kahayan dan lelaki tinggi besar itu sertga para awak perahu bercakap-cakap dengan akrab untuk saling mengenal. Sebelum perahu besar merapat, di daratan sudah nampak kerumunan orang menunggu, seakan-akan kedatangan perahu besar itu merupakan suatu peristiwa penting.
Begitu mendarat, Tamanggung Kahayan di bawa ke suatu rumah besar dikawal oleh banyak orang bersenjata tombak dan kelewang di pinggang.
‘’Ini istana Raja Madura. Tamanggung sedang berada di Negeri Madura’’, jelas lelaki tinggi besar hitam itu.
‘’Jadi saya dibawa menghadp Raja Madura ?’’, tanya Tamanggung yang dijawab oleh lelaki tinggi besar itu dengan anggukan.

Setiba di hadapan Raja, lelaki tinggi besar itu menyembah. Tamanggung Kahayan mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh lelaki tinggi besar itu. Kedua lelaki itu kemudian duduk. Lelaki tinggi besar itu yang ternyata panglima pasukan Raja memperkenalkan Tamanggung dan segala apa yang menimpanya kepada Raja. Raja mendengar semua lapooran Panglimanya dengan penuh perhatian.
‘’Baik, Panglima’’.
‘’Tamanggung Kahayan. Anda berada di Negeri Madura.Selamat datang cdi negeri kami. Perlu saya beritahukan kepada Tamanggung, bahwa menurut adat kami, siapa yang menjawab kokok ayam jantan tadi berarti menantang pahlawan-pahlawan kami yang terhebat. Pahlawan kami yang terhebat sekarang Panglima, orang yang menjemput Tamanggung tadi’’. Tamanggung melirik ke lelaki tinggi besar di sampingnya, demikian juga sang Panglima. Keduanya bertatapan.Bertukar senyum.
Sang Raja melanjutkan : ‘’Karena itu sesuai adat kami, Tamanggung dan Panglima harus bertempur sampai salah satu mati dalam sebuah lobang yang kemudian sekaligus akan menjadi kuburan bagi yang kalah. Khusus untuk pertempuran kali ini, pemenang akan saya nikahkan dengan puteri bungsu saya. Jadi Panglima dan Tamanggung besok akan bertarung sampai salah satu meninggal. Bagaimana , adakah pertanyaan, Tamanggung ? ’’.
‘’Tidak ada Paduka. Sangat jelas. Hanya saja hamba merasa di luar kelayakan hamba harus bertarung dengan penolong jiwa hamba’’.
‘’Saya tidak bisa merobah ketentuan adat negeri kami begitu saja’.
‘’Kita tidak punya pilihan lain Tamanggung’, bisik Panglima kepada Tamanggung.
‘’Baik, Paduka’’, ujar Tamanggung sambil merendahkan kepala memberi hormat kepada Sang Raja.
***
Lobang pertempuran sudah digali. Penduduk berjejal di pinggir-pinggir lapangan besar. Sedangkan Raja dan puteri bungsunya duduk dikursi kebesaran di balkon menyaksikan laga sampai mati Panglima dan TamanggungKahayan yang berdiri di pinggir ujung lobang laga. Setelah Sang Raja mdembunyikan gong tanda laga dimulai, Panglima dan Tamanggung memberi hormat ke pada Sang Raja dengan membongkokkan badan. Lalu keduanya bertatapan.
‘’Saya tidak mau melaga Panglima’’, ujar Tamanggung.
‘’Saya juga tidak mau melaga Tamanggung. Kita tak mampu mengalahkan ketentuan ini Tamanggung. Meloncatlah sekarang ke dalam lobang’’.
Panglima segera meloncat. Tapi Tamanggung masih di atas.
‘’Meloncatlah, Tamanggung’’.
‘’Saya tidak mau melaga orang yang menyelamatkan nyawa saya’’.
Panglima menarik kaki Tamanggung sehingga Tamanggung jatuh ke lobang laga.
‘’Salah satu dari kita harus mati, Tamanggung’’.
‘’Biar saya yang mati’’, ujar Tamanggung. ‘’Saya tidak mau membunuh orang yang telah menyelamatkan jiwa saya’’. Sambil berkata begitu Tamanggung menarik badek di pinggangnya dengan maksud menusuk perutnya sendiri. Tapi Panglima dengan sigap menahannya. Keduanya rebutan mengenai arah mata badek. Panglima berhasil mengarahkan mata badek ke hulu hatinya sambil menarik badan Tamanggung. Tamanggung jatuh ke tubuh Panglima, membuat seluruh batang badek tertancap ke hulu hati Panglima. Melihat keadaan demikian, Tamanggung menjerit sekuat tenaga. Tidak bisa menerima kematian Panglima. Tamanggung memeluk Panglima dengan bercucuran airmata dan basah darah.
‘’Tamanggung, tolong kau jaga Puteri baik-baik. Ia menolak cintaku dan Raja pun tak mau aku jadi anak menantunya’’. Panglima meregang dan menutup kedua matanya dengan senyum di bibir.
Tamanggung mengangkat tubuh Panglima ke atas. Baru kemudian ia meloncat ke atas. Mengangkat jenazah :Panglima dengan kedua tangannya.
‘’Panglima ini adalah saudaraku sejati, Dia Panglima sejati dan pemenang !’’. Hanya Tamanggung lah yang mengetahui rahasia :Panglima penyelamat hidupnya untuk kedua kali.
Dengan upacara besar selama beberapa hari dan malam, perkawinan Tamanggung dan Putri Bungsu Raja dilangsungkan. Dari perkawinan ini lahirlah turunan Dayak-Madura. Tamanggung yang kemudian juga dikenal dengan nama Maharaja Panduran membawa anak-istrinya kembali pulang ke Kahayan, dan tinggal di kampung yang dikenal dengan nama Manen Panduran. ***

(Cerita Ikhtisar tuturan Andriani S. Kusni berdasarkan kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau).

PUMPUNG HAΪ TUMBANG ANOI: MAU MENCAPAI APA?

Tajuk Panarung

PUMPUNG HAΪ TUMBANG ANOI: MAU MENCAPAI APA?
0leh Kusni Sulang

Akhir bulan November 2013 mendatang di Desa Tumbang Anoi akan diselenggarakan acara Pumpung Haї (Rapat Besar) orang Dayak sepulau Borneo. Ada yang mengatakan bahwa Pumpung Haї itu sebagai Napak Tilas Rapat Besar Tumbang Anoi 1894.Napak Tilas, barangkali suatu istilah salah kaprah yang kurang dicernai maknanya walaupun kedengaran “hebat”. Dilihat dan dipandang “hebat” merupakan suatu bentuk dari politik pencitaan dan bukan politik gagasan.
Dilihat dari segi politik gagasan, apa gerangan arti efektif dan yang mau dicapai baik jangka panjang maupun jangka pendek atau menengah oleh Pumpung Haї? Suatu evaluasi jujur dan obyektif tentang Rapat Besar Tumbang Anoi yang disebut “fajar peradaban” bagi manusia Dayak –walaupun sesungguhnya tidak lain suatu jebakan politik devide et impera Belanda model yang dilakukannya di Poso misalnya.Oleh jebakan poltik kolonialias tersebut maka melalui Pertemuan Besar Tumbang Anoi 1894 orang Dayak dengan bangga menerima diri sebagai anak jajahan. Daripada menyelenggarakan Pumpung Haї dengan tujuan yang masih tandatanya manfaat praktisnya, apakah tidak akan lebih punya makna jika memperingati kelahiran Sarikat Dajak dan Pakat Dajak yang merupakan awal kebangkitan Dayak yang terorganisasi,terprogram dan bersistem jaringan –tapi justru diabaikan sampai sekarang. Bahkan nampak gejala pemelintiran sejarah. Pertemuan Tumbang Anoi 1894 adalah suatu peristiwa politik dan budaya sekaligus. Setelah Rapat besar 1894 itu, agresi kebudayaan dan politik desivilisasi “ragi usang” diintensifkan oleh Belanda. Dampaknya berlanjut hingga hari ini. Seandainya masalah pertahanan budaya dan pemajuan budaya, termasuk masalah bahasa (standarisasi bahasa Dayak Ngaju dan masalah-masalah budaya lainnya, disamping mengevaluasi Rapat Besar Tumbang Anoi 1894) dilakukan antara lain menggunakan kesempatan Pumpung Haї atau peringatan Sarikat Dajak dan Pakat Dajak, barangkali manfaat praktisnya untuk hari ini dan esok. Akan kurang praktis kegunaannya jika melalui
Pumpung Haї dijadikan kesempatan membuai dan menyanjung kehebatan diri yang sekarang terpuruk walaupun mayoritas orang pertama dari 14 kabupaten/kota Kalteng orang Dayak. Mayoritas yang tidak menunjukkan kehebatan.Sebab hebat itu adalah apabila mampu membuat Kalteng dan Dayak maju melesat, bukan “kemajuan” semu, bukan hanya menjual sumber daya alam Kalteng dengan ulah penyelenggara Negara pedagang primer atau melaksanakan politik neo-kolonialisasi Kalteng.
Catatan ini dimaksudkan sebagai saran acara bagi Pumpung Haї yang dalam waktu kurang-lebih sebulan lagi diselenggarakan agar pertemuan besar demikian efektif hasilnya, hasil yang hendaknya tidak menjadi klasik, terhenti di kertas-kertas rekomendasi ataupun resolusi. Jika demikian maka ia menjadi nampak berbuat banyak tapi tidak untuk apa-apa – kecuali politik pencitraan, sutera pembalut kenyataan yang buruk –bentuk dari pola pikir dan mentalitas usang yang tentu saja tidak zamani. Barangkali ketika Dayak sudah menjadi minoritas di tanah lahir mereka sendiri seperti sekarang, gerakan penyadaran menjadi Dayak minoritas kreatif sesuai manusia ideal Dayak dahulu “mamut-ménténg pintar-harat, mameh-ureh, andal dia batimpal” agar menjadi subyek pemberdayaan diri-sendiri, patut diutamakan. Dayak demikian adalah Dayak yang berani dan pandai berjuang, tapi juga berani dan pandai menang, ciri dari Utus Panarung turunan Maharaja Bunu ketika menghuni Saran Danum Kalunen yaitu bumi ini. []

Catatan: Pumpung Hai telah berlangsung di Desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas dari 3-4 Oktober 2014. Hasilnya bisa disebut NOL BESAR sekalipun menggunakan dana APBD 14 kabupaten/Kota se-Kalteng, sebesar kurang lebih dari 2 miliar Rupiah. Hasil utamanya adalah melanjutkan politik pencitraan personal petinggi provinsi dengan mengabaikan peran para pendahulu yang mandi darah untuk harkat dan martabat Dayak sebagai manusia merdeka..

MANUK BABUTE (AYAM BUTA)

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

MANUK BABUTĖ
(Ayam Buta)

Semua orang mempunyai pancaindera. Mempunyai telinga dan mata. Telinga untuk mendengar, mata untuk untuk melihat. Masalahnya apakah kita sudah memaksimalkan manfaat dari mata dan telinga serta indera-indera lain untuk apa yang dalam filosofi Dayak disebut “hatamuei lingu nalata” (saling mengembarai pikiran dan perasaan sesama sehingga terjalin saling pemahaman kemudian untuk berlomba-lomba menjadi anak manusia yang manusiawi (hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit)? Dalam bahasa sekarang: terjalin adanya komunikasi yang efektif sehingga pekerjaan untuk pemanusiawian manusia pun menjadi efektif.
“Komunikasi tidak hanya memberikan sebuah informasi. Komunikasi juga melibatkan elemen penting yang sering diabaikan, bagaimana menerima informasi, dan memahami apa yang disampaikan“ tulis Abdul Latief, M.Si dalam Harian Tempo, Jakarta, 13 Oktober 2013. Untuk adanya komunikasi demikian, kemauan dan kemampuan mendengar, melihat (termasuk membaca) serta kecerdasan emosional sangat diperlukan. Kemampuan boleh jadi terbatas, tapi asal dan jika ada kemauan yang merupakan wujud dari komitmen manusiawsi, kemampuan terbatas bisa di atasi. Sebab dengan mendengar, melihat dan mengasah kecerdasan emosional oleh adanya komitmen manusiawi, bisa teratasi. Melalui mendengar, melihat dan kecerdasan emosional, kemampuan terbatas bisa diperkaya dan diperkuat oleh kearifan massa.
Steven R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 7 habits of Highly Effective People, membagi kualitas mendengar menjadi lima tingkatan. Pertama adalah ignorant, pendengar yang tidak peduli. Ini merupakan tingkatan terendah. Pendengar sama sekali tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh lawan bicara, bahkan tatapan mata dan postur tubuh menunjukkan sikap acuh, tidak mau mendengarkan.
Tingkat kedua, pretending atau pura-pura mendengarkan. Pendengar menunjukkan sikap yang terlihat seperti mendengarkan, tetapi sebenarnya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh lawan bicara.
Tingkat ketiga, selective atau hanya mendengar apa yang mau didengar. Pendengar hanya mendengarkan hal-hal yang dianggap penting dan menarik baginya, selebihnya dianggap tidak memiliki makna.
Tingkat keempat, attentive, yaitu mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba mendengar semua kata-kata yang diucapkan dan memahami setiap pesan yang disampaikan.
Tingkat kelima, emphatic, yang menempati tingkatan tertinggi dalam nendengar. Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Dengan empati, kita senantiasa mengerti terlebih dulu sebelum dimengerti oleh orang lain. Hal ini yang disebut sebagai mendengar dengan hati. (in: Abdul Latief, M. Sim 2013).
Namun yang sering terjadi adalah keadaan yang dalam bahasa Inggeris dikatakan: “You hear me, but you don’t listen to me” (kau mendengarkan saya, tapi senyatanya tidak mendengar saya). Sehingga apa yang dikatakan oleh lawan bicara dipandang seperti suara angin lalu. Masuk dari telinga kiri keluar dari telinga kanan.
Yang banyak didapat di negeri ini, termasuk di Kalimantan Tengah adalah kualitas pendengar yang ignorant, pretending dan selective. Lebih-lebih jika lawan bicara itu adalah orang rendahan atau warga biasa tanpa kedudukan, tidak kaya dan tidak “terpandang”. Kualitas attentive dan emphatic sangat langka didapat. Lebih langka lagi di kalangan penyelenggara Negara. Pihak yang terakhir ini memandang kekuasaan berbagai kadar dan jumlah yang ada di tangan mereka, identik dengan kebenaran dan peraturan. Dengan sikap ini, seorang Ketua DPRD Kotim misalnya dengan sewenang-wenang memperlakukan janji yang ia buat sendiri. Dan kesewenang-wenangan ini dipandang benar karena ia memegang kekuasaan. Kekuasaan membenarkan segala tindakan apa saja yang ia lakukan. Padahal tidak sedikit di antara mereka yang sebenarnya bukanlah orang tepat di tempat yang tepat, karena selain latar belakang formasi formal mereka sama sekali tidak ada kait-mengaitnya dengan bidang yang mereka tangani, juga mereka tidak mempunyai minat terhadap bidang tersebut. Ambil sebagai contoh orang yang bertanggungjawab terhadap bidang kebudayaan, sering berlatar belakang insinyur pertambangan, insinyur sipil, ekonomi, dan lain-lain yang jauh dari bidang kebudayaan. Kualitas dan tuntutan tanggungjawab tidak imbang. Kesenjangan besar dikarenakan segalanya diukur dengan kekuatan uang.
Andaikan saja mereka ini dengan rendah hati mengakui bahwa mereka orang awam di dunia kebudayaan, kekurangan ini bisa diatasi apabila mereka mau dan mampu mendengar, lalu menyerap dan melaksanakan ide-ide baik dari para interlokutornya. Kemauan mendengar ini adalah pertanda bahwa mereka mempunyai keberpihakan manusiawi, menjunjung nilai-nlai republikan dan berkeindonesiaan. Hanya saja nampaknya kemauan mendengarpun, prakarsa dan kemampuan mengorganisasi pun tidak ada sehingga dengan birokrat kebudayaan tipe ini, langkah terobosan maju di bidang kebudayaan tidak bisa diharapkan. Kualitas mendengar yang ignorant, pretending dan selective tidak lain dari cerminan keberpihakan manusiawi seseorang, cerminan dari langkanya negarawan sebagai penyelenggara Negara. Seorang negarawan akan mempunyai kualitas mendengar yang attentive dan emphatic, kemampuan menjadi murid dahulu sebelum jadi guru, bukan seperti ujar pepatah Dayak “bajuju kilau manuk babuté”
Acara “Launching Sekolah Pendamping Hukum Rakyat Indonesia” dalam Konferensi Tingkat Tinggi Hukum Rakyat dihadiri oleh berbagai utusan daerah dari seluruh Indonesia, para hakim, Gubernur DKI Jokowi, para akademisi dan tokoh-tokoh masyarakat (Foto.Dok. Fr.Sani Lake, 2013).

(berjalan terus seperti ayam buta) dengan niat dan rencana yang tidak tanggap keadaan. Munculnya “ayam buta” menjadi penyelenggara Negara, tidak lepas dari kesalahan dan tanggungjawab para warganegara yang memilihnya. Warganegara yang hanya memandang uang satu dua ratus dari si kandidat tapi tidak berpikir jauh akan akibatnya. Kalau demikian patutkah warganegara mengeluh setelah berhadapan dengan kebijakan-kebijakan kandidat terpilih yang tidak menguntungkan rakyat dan pemilih? Kalau belum ada yang ideal, seniscayanya memilih yang baik dari yang buruk. Sikap ini cukup bertanggungjawab, kemudian tiada henti melakukan pengawasan. Untuk itu riwayat kandidat patut dicermati.
Kualitas pendengar jadinya tidak lain dari petunjuk tentang ada tidaknya komunikasi dua arah, petunjuk tentang kualitas manusia itu sendiri. Kemauan dan kemampuan ini sangat minim, terutama di kalangan penyelenggara Negara, yang hanya mau didengar. Mendingan jika yang diucapkan dan harus didengar itu mempunyai kualitas di luar sesuatu yang standar formal belaka. Dengan kualitas mendengar yang sangat rendah, Kalteng tidak akan jadi maju dalam artian beradab. Kalteng tetap akan menjadi Kalteng tunabudaya.

Pelapukan Kalteng

Oleh Kusni Sulang

“Kebudayaan dalam artian kerja tersingkir, upaya menjadi bangsa yang beradab hanya omong kosong. Segala diusahakan, termasuk membenarkan cara tidak etis. Korupsi memperkaya diri, memperkokoh kekuasaan berikut segala cara yang dibenarkan, tanpa menyadarinya sebagai penggerogotan upaya bangsa yang beradab.”
“Kegiatan tunabudaya melahirkan dan menyuburkan banyaknya pejabat dalam birokrasi (eksekutif), DPR (legislatif), dan penegak hukum (yudikatif) yang terjerat kasus korupsi”.
“Korupsi yang semakin “jorok”, masif dan bikin kaget ibarat pawai perusakan kemanusiaan kita. Kondisi ini perlu diatasi dengan tegas, pelakunya dikenai penegakan hukum yang tegas, pemiskinan, bahkan penerapan kerja fisik”.
“Menggali dan menyampaikan kepada publik nilai peradaban bangsa sebagai ideologi merupakan salah satu cara mencegah kita menjauhi bibir jurang kehancuran”, demikian antara lain dikatakan oleh Tajuk Harian Kompas, Jakarta 12 Oktober 2013 ketika mengomentari hasil Kongres Kebudayaan di Yogyakarta baru-baru ini.
Keadaan nasional yang disampaikan oleh Kompas sesungguhnya juga merupakan lukisan keadaan di Kalimantan Tengah dengan 14 kabupaten.kota-nya. Apabila keadaan ini tidak dihentikan melalui kebangkitan gerakan sosial, bisa dipastikan bahwa Kalteng yang lapuk akan terus melapuk dan tidak bisa dicegah oleh retorika para penyelenggara Negara tentang keberhasilan Kalteng. Gerakan sosial yang didasarkan pada budaya kritis, yang mempunyai semangat “berani menyeret kaisar turun dari kudanya”, dan kata-katanya mempunyai daya paksa, akan menjadi salah satu sarana pencegahan kelapukan berlanjut. Berkembangnya budaya kritis sebagai dasar gerakan sosial akan menjadi ribuan kandil di atas bukit kegelapan nurani yang terlelap. Adanya cahaya kandil di mana-mana ini mengurangi tempat kejahatan bersembunyi. Dewasa ini “birokrasi (eksekutif), DPR (legislatif), dan penegak hukum (yudikatif)” merupakan tempat-tempat gelap di mana rupa-rupa kejahatan bersarang dan dari sarang ini dimulai pelapukan Kalteng. Akar keresahan sosial pun terdapat dan bermula di/dari sarang ini.Kandil itu adalah kebudayaan. Di bawah cahaya terang kandil kebudayaan, kita menata kembali Kalimantan Tengah menjadi Kalteng yang beradab. []

ALIH NILAI

Tajuk Panarung
ALIH NILAI
Oleh Andriani S. Kusni

Dengan mengutip Karl Marx, Bung Karno pernah mengatakan bahwa “Kebudayaan dominan pada suatu adalah kebudayaan pihak-pihak yang berkuasa”. Contoh dari tesis ini diperlihatkan oleh kenyataan bahwa segala apa yang diupayakan oleh Bung Karno seperti Trisakti (Berdaulat dibidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan), begitu Orde Baru mengendalikan pemerintahan di Indonesia, Trisakti pun dikepinggirkan. Hasilnya adalah satu generasi yang menerima alih nilai dari Orde Baru yang tanda-tandanya sangat jelas nampak dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini.
Salah satu cara melakukan alih nilai dari generasi satu ke generasi lain adalah melalui pendidikan. Khususnya muatan lokal yang di Kalimantan Tengah sudah ditetapkan penyelenggaraannya melalui Peraturan Gubernur, walau pun pelaksanaannya tidak efektif karena ketiadaan materi tulis ajar-mengajar. Sehingga muatan lokal lebih bersifat wacana daripada praktik. Sementara Sekda Provinsi, DR. Siun Jarias, SH, MH, dalam Pumpung Haï di Palangka Raya mengatakan bahwa “kami bukan hanya berteori-teori tapi langsung praktik”, “tidak lagi top-down tapi sudah bottom up”.
Salah satu keputusan acara Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894 di desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas (3-4 Oktober 2014) lalu, adalah memasukkan sejarah Pertemuan Tumbang Anoi salah satu isi mulok di Kalteng. Memasukkan sejarah ke dalam matapelajaran mulok memang baik dan sudah seharusnya. Dengan tahu sejarah lokal, sejarah dirinya, maka Uluh Itah (Dayak) dan Uluh Kalteng (Orang Kalteng) menjadi tidak lepas akar dari daerah di mana mereka hidup. Sejarah dalam kenyataannya tetap aktual, bukan masa lalu yang tak punya arti untuk hari ini. Masalahnya terletak pada akurasi relatif sejarah yang mau dialih nilaikan itu. Di sinilah pentingnya penelitian serius sehingga apa yang hendak dialihnilaikan kepada generasi berikut tidak justru berakibat mengacaukan. Sebab apabila yang dialihnilaikan itu secara faktual berikut penafsirannya salah, maka kita hanya memperluas skala kesalahan. Sejarah Tumbang Anoi versi kekuasaan yang dominan sampai hari ini, justru versi yang meragukan ketepatannya. Akurasi relatif (karena akurasi 100 persen tidak mungkin didapat), baik data mau pun penafsiran, niscayanya dipungut dari kenyataan. Jangan sampai kebenaran yang dipungut dari kenyataan digantikan oleh kemauan dan tafsiran subyektif pihak dominan sebagai hasil dari pendekatan yang keliru. Jika data dan tafsiran yang dialihnilaikan maka generasi pengalih nilai, terutama pihak dominan akan melakukan generative moral crime (kejahatan moral bersifat generatif). Hanya saja seperti umumnya terjadi di mana pun, pihak dominani jarang yang mempunyai kemampuan mendengar. Sementara counter culture dari counter elite di Kalteng masih lemah sekali. Masih jauh dari daerah pinggiran sekali pun. Universitas belum menjadi tempat tumbuh counter culture dan counter elite.
Dalam keadaan demikian, untuk mencoba menahan dilakukannya alih nilai yang salah, barangkali harapan tersisa bisa digantungkan pada media massa cetak atau pun elektronik yang masih setia pada misi pendidikan dan pengawasannya. Alih nilai anarkhis dan subyektif seperti juga terjadi pada bahasa Dayak patut dicegah. Alih nilai yang salah, anarkhis dan subyektif merupakan salah satu wujud bunuh diri kolektif secara budaya. Pencegahan tragedi ini bisa sngat terbantu apabila pos pendidikan dan kebudayaan duduk orang-orang tepat di tempat yang tepat. Kalau pun tidak, paling tidak mereka adalah kategori orang yang mampu mendengar, melihat dan membaca. Kekuasaan sungguh tidak identik dengan kebenaran. []

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding).
~ Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~ Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. (Lihat edisi terdahulu).
~ Télu pain tungku. Tiga kaki tungku. (Lihat edisi terdahulu)
~ Panutung bulan matanandau pambélum. Menyulut (cahaya) pada bulan dan matahari kehidupan. Ungkapan filosofis ini parallel dengan ungkapan “kandil kehidupan” atau “garam kehidupan” dalam Christianisme, dan bertalian dengan konsep “réngan tingang nyanak jata” sebagai konsep hidup-mati manusia Dayak. Dari segi konsep intelektualitas, ungkapan ini menunjukkan peran kaum cerdik-pandai tidak lain memberikan cahaya bagi kehidupan.
Oleh paralelisme dengan konsep Kristiani menjadi pertanyaan: Apakah konsep ini merupakan pengaruh Christianisme dalam budaya Dayak? Kalau ia memang terdapat pada budaya Dayak seperti pada upacara manawur béhas, maka ia berarti bahwa budaya Dayak, khususnya pandangan filosofisnya tedapat universalisme. Hanya bentuk universalisme ini mengambil wujud lokal.
Berdasarkan konsep “panutung bulan matanandau pambélum” ini, maka hidup itu niscayanya mempunyai kegunaan bagi orang lain dan sekitar. Hidup itu niscayanya memberikan terang bagi sekitar. Dalam budaya Tionghoa Kuno terdapat ungkapan “lebih baik menyalakan kandil daripada mengutuk kegelapan”.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Bapander haga jéla. Berbicara peliharalah lidah. Ungkapan ini menyarankan agar dalam berbicara niscaya hati-hati, jangan tanpa dipikirkan, baik isi maupun kata-kata yang digunakan. Sebab sekali kata diucapkan sekali pun si pengucap sudah meminta maaf misalnya, akibatnya tetap tidak terhapuskan. Karena itu Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa “pena lebih tajam dari bayonet”. Orang Banjar mengatakan bahwa “luka tangan kawa dibabat, luka di hati hancur sekali”. Dalam budaya Dayak peringatan akan keniscayaan “menjaga lidah” ini juga tertuang dalam ungkapan “bahadat-babasa”. (beradat dan berbahasa).
~ Manempé into lisung, barapi intu rinjing. Menumbuk di dalam lesung, bertanak di dalam kuali. Pepatah ini menasehatkan agar dalam melakukan sesuatu niscayanya sesuai peruntukan dan aturan. Jangan bertindak semau sendiri. Hendaknya tidak hantam kromo, jika meminjam istilah Orang Jawa.
~ Amun masi paréi, maka uru imbawau Kalau sayang padi maka rumput (hendaknya) dibuang atau dibersihkan. Nasehat tentang keniscayaan merawat sesuatu yang dikasihi. Misal kalau sayang anak-isteri janganlah bermain-main dengan orang lain. Jangan mempunyai lelaki atau perempuan idaman lain.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers