Archive for the ‘Dayak’ Tag

“JANGAN PESTA SEKARANG, MENDERITA NANTI”

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
“Jangan Pesta Sekarang, Menderita Nanti”
Peringatan Wapres Boediono Untuk Masyarakat Dayak

Pekan Budaya Dayak yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, dari 27 sd 30 April 2013 telah berakhir. Gubernur Kalimantan Tengah, DR (HC) A.Teras Narang, SH mengatakan, penyelenggaraan Pekan Budaya Dayak 2013 ini merupakan “sarana promosi dan publikasi bagi Kalimantan. Terutama potensi pariwisata, hasil industri, perdagangan, peluang investasi serta ragam budaya tradisional masyarakat suku Dayak”. Ditegaskan oleh Teras bahwa “pembangunan dan investasi di Kalimantan harus mampu menyejahterakan masyarakat Dayak”.

Apakah keinginan Teras agar “pembangunan dan investasi di Kalimantan harus mampu menyejahterakan masyarakat Dayak”? Jawaban pertanyaan ini diisiratkan oleh peringatan Wakil Presiden (Wapres) Boediono ketika membuka Pekan Budaya Dayak tanggal 27 April 2013 lalu. Dalam sambutan pembukaannya, Boediono antara lain menekankan benar agar “warga Kalimantan memanfaatkan kekayaan alam yang terkandung di pulau. Hunakan sumber alam yang berharga itu sebagai pemicu atau leverage (pengungkit) dengan tujuan sebesar-besarnya menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan, bukan sekadar dijual sebagai komoditas untuk pendapatan sekarang”. Dipesankan oleh Boediono, bahwa tambahan pendapatan dari hasil sumber daya alam jangan dikonsumsi untuk masa sekarang, tetapi untuk kepentingan masa depan. “Gunakan itu untuk meningkatkan kapasitas produktif daerah. Jangan pesta sekarang dan menderita nanti”. Pendapatan dari sumber daya alam, menurut Boediono, harus dimanfaatkan terutama untuk membangun dua kapasitas produktif daerah, yaitu kualitas sumber daya manusia dan kapasitas infrastruktur. “Sejarah menunjukkan bahwa penentu utama kemajuan suatu bangsa, suatu komunitas, adalah kualitas sumber daya manusia, segala daya kreasinya, bukan sumber daya alam yang akan habis”, ujar Boediono yang selanjutnya mengatakan, “agar potensi itu menjadi aktual, perlu dikelola dan dipadukan dengan unsur produktif lain yang diperlukan, yaitu manusia terampil, teknologi dan modal”.

Kebetulankah Boediono menyampaikan pesan yang bersifat peringatan ini di hadapan Pekan Budaya Dayak yang memakan biaya miliaran? Bahwa pesan ini mempunyai nilai umum, dalam artian berlaku untuk siapa saja, tentu tidak disanggah. Tapi bahwa pesan itu diucapkan di pembukaan Pekan Budaya Dayak dari seluruh provinsi Kalimantan, kitanya bukan pula tidak makna. Boleh jadi pesan peringatan demikian disampaikan kepada orang Dayak sebagai penilaian terhadap keadaan yang berlangsung di Kalimantan. Bukankah yang berlangsung sampai sekarang, yang dilakukan oleh penyelenggara Negara di Kalimantan lebih banyak menjual sumber daya alam in natura, tanpa pengembangan industri hilir. Industri sama sekali tidak berkembang. Sehingga sampai kepada bawang merah, garam dan banyak keperluan sehari-hari masih tergantung pada daerah luar. Kondisi yang terdapat di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah tidak beda dari kondisi daerah jajahan, yaitu penyedia bahan mentah, tempat penanaman kapital (daerah dikapling-kapling), penyedia buruh murah, menjadi pasar bagi produk luar, budaya dominan adalah budaya yang asing dari diri Dayak, politik yang dilaksanakan tidak lain dari neo-liberalisme dengan label ekonomi kesejahteraan. Berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, bermartabat atau berkepribadian secara budaya, dalam keadaan terjajah demikian sangat jauh dari kenyataan. Sumber daya alam yang dimiliki pulau tidak berdampak menyejahterakan rakyat sekali pun dalam pidato selalu diulang-ulang untuk kesejahteraan rakyat. Berbicara tentang sumber daya manusia, khususnya di Kalimantan Tengah, keadaannya sama sekali tidak membanggakan. Perguruan tinggi lebih mendekati sejenis pabrik ijazah bukan pusat pemikir dan peneliti yang bisa menjadi tunjung nyahu, cahaya kilat kehidupan seperti yang diharapkan oleh para pendiri provinsi Kalimantan Tengah dahulu. Nilai dan ijazah menjadi komoditas. Dengan keadaan demikian Kalimantan Tengah tidak mempunyai syarat membangun dua kapasitas produktif daerah, yaitu kualitas sumber daya manusia dan kapasitas infrastruktur. Justru dua hal inilah yang menjadi sari utama pesan peringatan Wapres Boediono. Oleh karena itu pesan peringatan Boediono “Jangan pesta sekarang dan menderita nanti” sangat patut mendapat perhatian serius dari penyelenggara Negara berbagai tingkat, serta para pemuka masyarakat. Apalagi keadaan masyarakat Dayak hari ini sesungguhnya seperti yang sejak lama diingatkan oleh para pendahulu, “tempun petak batana sare, tempun uyah batawah belai, tempun kajang bisa puat” (punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan). Boleh jadi pula, Pekan Budaya Dayak memang dimaksudkan sebagai “sarana promosi dan publikasi bagi Kalimantan”, tapi secara psikologis pekan budaya kolosal ini secara tersirat menyimpan suatu kompleks oleh pengakuan diam-diam bahwa Dayak masih tertinggal dalam upaya mengembangkan kapasitas produktif daerah di bandingkan dengan provinsi-provinsi di Jawa dan Sumutra bahkan Sulawesi. Karena ikan busuk dari kepalanya, jika ingin keluar dari keadaan begini dan jika ingin maju melesat maka pertama “kepala-kepala ikan” itulah yang patut disehatkan.

Bahasa Dayak Ngaju

Asuhan Kusni Sulang
AWALAN HA
Awalan HA mempunyai kemiripan dengan awalan BER
Arti awalan HA (HA + kata kerja atau kata sifat) = saling
Suntue (contohnya):
• patei = bunuh, mati. Hapatei - saling bunuh hingga mati
• karaen = ganggu. Ha +karaen  hakaraen = saling ganggu. Mangaraen, mengganggu (hanya sepihak).
• kayau = potong kepala. Ha + kayau - hakayau= saling memotong kepala satu dan yang lain.
• mandui= mandi. Ha+ mandui  hapandui = saling memandikan
Catatan: Awalan HA di depan kata dasar yang dimulai dengan huruf M, huruf pertama kata dasar itu berubah menjadi P.
UNGKAPAN (SEWUT) IBARAT (TANDING) PERIBAHASA PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK NGAJU
• Batang haim edae hai. Pokok pohon besar, dahannya pun besar. Tinggi kedudukan, tinggi pula tanggungjawabnya.
• Batiruh penda enyuh pinang. Tidur di bawah nyiur pinang. Hendaklah bertindak menuruti adat negeri atau daerah yang ditempati atau ditumpangi.
• Danum handalem, batu bakiwak. Air dalam batu pun pecah. Kalau terjadi perselisihan sesaudara, keluarga itu akan terpecah-belah.
• Ela kuman manyanselu batu . Jangan makan mendahului batu. Sesuai tatakrama maka janganlah makan lebih dahulu dari orang tua. Bertindaklah sesuai urut-urutannya.

PEMANFAATAN “TANAH”, UNTUK MENINGKATKAN MARTABAT MANUSIA

Pemanfaatan “Tanah”, untuk meningkatkan Martabat Manusia
(Dalam konteks Kalimantan Tengah)
Oleh: DR. A.M. Sutrisnaatmaka MSF.
Pengertian umum
Di Kalimantan Tengah ini ada sekian luas tanah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Lahan tidur, menjadi istilah yang lazim untuk menunjukkan bahwa areal di wilayah Bumi Tambun Bungai ini masih perlu dibangunkan, dihidupkan dalam arti diolah untuk menghasilkan manfaat yang berguna untuk kehidupan kita bersama. Usaha-usaha sudah cukup banyak dilakukan, namun kiranya masih perlu ditingkatkan agar kemakmuran dan kesejahteraan dapat dinikmati oleh orang yang mengolah tanah. Dalam tulisan singkat ini akan dipaparkan tentang pengertian umum tentang tanah, lalu diperdalam dengan pencerahan dari pengalaman hidup orang beriman yang terekam dalam Kitab Suci. Pemanfaatan tanah untuk memperoleh kesejahteraan yang meningkatkan martabat manusia menjadi bahan permenungan tulisan ini.
Menarik untuk menyimak arti tanah seperti dijelaskan dalam Ensiklopedi Umum. “Tanah” merupakan bagian permukaan bumi, tempat kebanyakan tumbuh-tumbuhan hidup. Bagian ini terbentuk dari batu-batu yang hancur di dalam bentuk pasir dan bahan organik (utamanya vegetasi) yang membusuk (bdk. Ensiklopedi Umum, Kanisius, Yogyakarta 1991, cet. ke-9, hlm. 1077). Dari arti yang umum dan bersifat dan material itu, selanjutnya muncul macam-macam ungkapan ganda terkait dengan tanah seperti halnya tanah air, tanah tumpah darah, yang berarti negara atau tempat berasalnya seseorang; tanah leluhur: tempat nenek moyang hidup, dll.
Sejak awalnya, tanah bisa menjadi modal usaha untuk pertanian, perkebunan, peternakan, dan dipadu dengan unsur air menjadi lahan perikanan. Pengolahan tanah menjadi sarana untuk menghasilkan banyak bahan yang diperlukan untuk hidup. Pemanfaatan tanah menjadi semakin berdaya guna, apabila di atasnya dibangun macam-macam sarana untuk usaha selanjutnya. Ada sekian banyak usaha yang ditumpukan pada tanah, yang apabila “ditumbuhi” dengan bangunan-bangunan, maka makin menjadi berhargalah tanah itu. Tak jarang investasi berupa tanah bisa membawa keuntungan berlipat-lipat. Apabila tanah berada di pinggir jalan raya yang ramai, maka harga tanah akan cepat membumbung tinggi dibanding dengan tanah yang masih berada di tengah hutan.
Begitulah sepintas kesan terhadap arti dan manfaat tanah yang diperlukan untuk menunjang kehidupan manusia. Kajian dan permenungan mengenai tanah ini akan menjadi semakin dalam dan lengkap apabila kita melongok pengalaman orang beriman dalam kaitan dengan arti tanah dan manfaatnya untuk kehidupan. Berikut dipaparkan pandangan tentang tanah dari iman seperti diungkapkan dalam Kitab Suci Kristiani.

Pandangan keagamaan (Kitab Suci Kristiani) tentang Tanah
Diyakini oleh penulis Kitab Kejadian bahwa tanah selayaknya menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi. Apa yang dikehendaki oleh Tuhan itu memang terjadi demikian, dan Tuhan melihat bahwa semuanya itu baik adanya. (bdk Kej 1:11-12) Begitulah fungsi, peranan dan manfaat tanah sudah dicantumkan sejak awal dunia. Dan apa yang sudah ada sejak awal penciptaan itu kiranya terus berlangsung sampai sekarang ini. Pemanfaatan lahan untuk pertanian dan perkebunan memang berkembang dari waktu ke waktu. Usaha yang tadinya hanya bersifat perorangan dan pengolahan tanah secara manual, berkembang menjadi perusahaan pertanian yang melihatkan sekian banyak pekerja dengan peralatan mesin yang semakin canggih. Hasilnya juga menjadi semakin banyak dengan usaha yang bersifat intensif dan ekstensif, sehingga kebutuhan akan pangan dan hasil-hasil olahan lain untuk kebutuhan industri semakin tercukupi.
Apakah semuanya menjadi baik dan bermanfaat untuk semua orang dan segala makhluk seperti yang dilihat Tuhan pada awal kejadian dunia? Rupanya perkembangan menunjukkan arah yang kurang menentu. Ada yang berhasil baik dan bermanfaat untuk banyak orang, namun ada pula karena keserakahan dan egoisme manusia, tanah dan tumbuhan di atasnya bisa menjadi malapetaka.
Apa yang pernah diungkapkan dalam Kitab Kejadian rupanya juga menjadi kenyataan di kemudian hari. Di antara pohon yang tumbuh di atas tanah itu ada satu pohon yang buahnya tidak boleh dimakan oleh manusia. Allah sendiri memberikan larangan itu untuk ditaati apabila manusia ingin kebahagiaan. Manusia, dengan kesombongan dan ketidaktaatannya kepada Allah melanggar larangan itu. “Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu“ (Kej 3:17-18). Manusia harus mengolah tanah, namun hasilnya belum tentu bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Yang lebih memprihatinkan lagi: karena kesewenang-wenangan, kerakusan dan egoisme seseorang, maka apa yang dihasilkan dari tanah yang digarapnya justru bukan untuk yang mengolah, melainkan untuk kesejahteraan orang yang mempekerjakannya. Tanah menjadi fasilitas untuk menyejahterakan segelintir orang, sekaligus menjadi wahana untuk penderitaan banyak orang. Orang yang bekerja keras mengolah tanah, diperas tenaganya dan diberi imbalan yang tak layak, sehingga seluruh keluarga juga ikut menderita.

Tanah sebagai lambang kemanusiaan
Kalau kita cermati cerita Kitab Kejadian yang ada hubungannya antara tanah dan manusia, maka kita menemukan cerita yang mengisahkan bahwa manusia itu berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. „Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup“ (Kej 2:7). Kisah yang sederhana ini memperlihatkan asal-usul manusia yang justru menekankan di satu pihak, wujudnya yang hina, rendah dan tak berarti; di lain pihak berasal dari bahan yang vital, yang tak mungkin bahan dasar itu terpisah dari keberadaan manusia.
Tanah dan debu merepresentasikan hal yang berada di bawah, diinjak orang, mengotori dan harus disingkirkan, sungguh tak ada artinya bahkan cenderung mengganggu kenyamanan. Namun tanah sekaligus menopang eksistensi manusia. Tanpa tanah, manusia dan juga sekian banyak mahkluk tak bisa hidup. Bahkan di dunia modern ini, ada penilaian: siapa menguasai tanah seluas-luasnya, dialah yang berkuasa atas apa yang ada di atasnya. Yang tak memiliki tanah, merasa tak berarti di dunia yang dipijaknhya ini.
Sesudah disebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan debu, dan ia tidak taat pada perintah Allah, maka manusia harus bekerja keras untuk menghasilkan sesuatu dari tanah yang digarapnya. Membanting tulang, berpeluh dan berkeringat di bawah terik matahari, ia mengolah tanah sepanjang hidupnya. Dan akhir yang tragis menunggu kesudahan hdiup manusia: “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kej. 3:19) Manusia memang sudah diusir dari tempatnya yang membahagiakan dan harus mengusahakan kelangsungan hidupnya dengan mengusahakan tanah dengan kerja keras. “Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil“. (Kej 3:23).
Hakekat dan martabat kemanusiaan ternyata berkaitan erat dengan makna, arti dan pemanfaatan tanah. Karena itu apabila tanah tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan hidup manusia, maka manusia mengkhianati martabatnya sendiri. Merusak lingkungan, termasuk di dalamnya: mengaduk-aduk, menelantarkan dan mencemari dengan pelbagai bahan kimia yang tak mudah dihilangkan atau dinetralisir, justru hal itu merupakan tindakan yang merendahkan martabat manusia itu sendiri.

Tanah, manusia dan ciptaan lainnya

Dengan mencermati makna dan manfaat tanah dalam hubungan dengan manusia tak bisa dilepaskan dari hubungannya dengan makhluk lain. Memang benar kebersamaan manusia yang hidup di atas tanah bersama-sama dengan makhluk ciptaan lainnya saling mempengaruhi dan memberikan dampak satu sama lain. Tak bisa dibayangkan bahwa makhluk yang hidup di atas tanah yang sama bisa hidup sendiri-sendiri tanpa secara aktif mempengaruhi. Tanah tidak hanya berarti pasif, tak ikut ambil bagian kebersamaan hidup itu, melainkan aktif menumbuhkan apa yang ada di atasnya sesuai dengan kodrat alam dari tanaman tersebut.
Tanaman yang tumbuh di atas tanah akan dapat berkembang subur apabila ada pupuk yang berupa humus yang berasal dari daun-daun yang jatuh dari pohon yang tumbuh di atasnya. Cacing-cacing tanah juga mempunyai peranannya tersendiri dalam menggemburkan tanah sehingga bisa menyerap zat-zat yang diperlukan untuk berkembangnya tanaman itu. Udara akan lebih banyak mengandung oksigen apabila pohon-pohon itu tumbuh dan berkembang subur di atasnya. Oksigen itu jugalah yang diperlukan oleh satwa dan tentunya manusia yang ada di sekitar pohon-pohon itu. Kotoran-kotoran satwa juga bisa menjadi pupuk yang bermanfaat untuk pohon-pohon yang mendapatkannya.
Kita bisa membayangkan alangkah harmonisnya alam ini apabila keselarasan semua ciptaan yang hidup di atas tanah yang sama bisa terjaga dengan baik. Siapa lalu menjadi key-creation/person dalam menjaga keselarasan itu? Tak pelak lagi, Tuhan pasti memberikan tanggungjawab yang luhur ini kepada manusia. Bukankah manusia diciptakan hampir setinggi Allah? Manusia adalah makhluk yang paling tinggi martabatnya di antara ciptaan-ciptaan lain. Kutipan Maz 8:5-6 memberikan pencerahan tentang martabat manusia di antara ciptaan-ciptaan lain: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat”.
Namun kenyataan yang kita hadapi sekarang ini tidak se-harmonis yang diharapkan. Justru ulah manusia semakin tak bisa dipertanggungjawabkan bila dikaitkan dengan lingkungan hidup. Pemanasan global yang semakin mengancam merupakan salah satu indikasi, bahkan menjadi bukti bagaimana ulah manusia sekian lama menjadikan bumi menderita kekacauan musim. Tentu hal ini mengakibatkan tumbuh-tumbuhan yang berada di atas tanah tak menghasilkan buah seperti yang terjadi sebelumnya. Apabila manusia mengingkari tanggungjawabnya atas kelestarian lingkungan atau kurang peduli dengan masalah ini, maka dapat dinantikan bahwa tanah, sebagai salah satu unsur penting dari lingkungan, akan semakin rusak dan menjadi kontra produktif untuk kesejahteraan manusia.
Lalu bagaimana caranya menjadi manusia yang bertanggung jawab atas tanah yang diserahkan oleh Tuhan untuk diolah dan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan martabatnya? Sulit untuk mendapatkan resep mengenai hal itu, namun ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengusahakan hidup secara harmonis antara manusia, satwa dan ciptaan lainnya di atas tanah dengan tidak merusakkannya, malahan sebaliknya membangun kembali yang telah rusak. Mental dan usaha untuk memelihara lingkungan dengan sebaik-baiknya merupakan wujud tanggungjawab atas kelestarian tanah yang akan bisa diwariskan kepada generasi mendatang.

Tanah terjanji, bagaimana memaknai dan merealisasikannya?
Kiranya sudah kerap kita dengar bahwa bangsa Israel ketika dalam pembuangan di tanah Mesir, mendambakan untuk kembali ke tanah terjanji. Apa yang menarik dengan tanah yang dijanjikan itu? Kutipan dari Kitab Keluaran memberi gambaran yang jelas dan kongkrit:
„Apabila TUHAN telah membawa engkau ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Hewi dan orang Yebus, negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, maka engkau harus melakukan ibadah ini dalam bulan ini juga“ (Kel 13:5). Tanah yang dijanjikan itu berupa suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya. Dari segi unsur makanan, ketika pengalaman iman ini diungkapkan, maka susu dan madu melambangkan kelezatan, kesehatan dan bahkan kemewahan.
Rupanya tanah terjanji itu merupakan tanah yang subur yang tidak hanya membawa hasil-hasil pertanian dari tanaman-tanaman yang diusahakan, melainkan lebih dari itu, hasil dari ternak yang memberi kontribusi untuk kesejahteraan secara mewah dan menyehatkan. Susu merupakan hasil dari peternakan sapi atau kambing yang dipelihara, sedangkan madu adalah hasil dari tawon atau lebah, satwa yang pada dasarnya liar, namun bisa diperoleh hasilnya secara berkelimpahan untuk menjadikan kualitas hidup meningkat. Adanya lebah yang masih berada di tanah terjanji itu mengindikasikan keadaan lingkungan yang masih baik, lebah dengan bebas mencari bunga dan menyerap sari-sarinya, dikumpulkan di sarangnya untuk menjadi madu.
Di satu pihak, tanah terjanji merupakan anugerah Allah yang memberi kelimpahan kepada umat-Nya. Anugerah ini diberikan karena semata-mata kemurahan dan kebaikan kasih-Nya. Tanpa ada jasa dan kebaikan dari manusia, apalagi dari manusia yang mengandalkan kekuatan dan kehebatannya. Allah ingin agar manusia dapat hidup sesuai dengan martabatnya, hidup dalam damai dan kesejahteraan, bahkan hidup dalam kelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Di lain pihak, dengan anugerah tanah terjanji itu manusia mengusahakan dengan segala kemampuannya: tenaga, pikiran, daya kreatif dan kerja kerasnya mewujudkan tanah terjanji sebagai tanah yang menjadi modal dan sumber kehidupannya. Allah telah memberikan kepada manusia kemampuan untuk berpikir dan itulah kelebihan dari semua ciptaan yang lain. Tentu dimaksudkan agar manusia bisa mempertimbangkan apa yang baik dan perlu dibuat, bagaimana semua itu direncanakan dan diperhitungkan, dan akhirnya dilaksanakan dengan kekuatan yang dimiliki. Bahkan dengan pikiran dan dipadu dengan perasaannya, manusia bisa memakai kekuatan yang bukan hanya sekedar fisik, tetapi memanfaatkan tehnologi dan menjadikan tanah bisa dioleh dengan hasil yang maksimal.
Dengan lain kata, tanah terjanji sebenarnya diberikan kepada kita semua, di mana pun kita berada. Memang dibutuhkan untuk menangkap peluang, mengusahakannya dan memanfaatkan secara tepat guna. Di Kalimantan Tengah mungkin saja tantangan lebih besar dari tempat-tempat lainnya, karena tanahnya relatif harus diolah dengan lebih cerdas dan dengan usaha yang lebih keras. Namun kita yakin bahwa anugerah Allah kiranya akan mencukupi untuk menjawab tantangan itu.

“Lahan tidur” memerlukan sentuhan untuk menjadi tanah terjanji
Lahan tidur di Kalimantan Tengah rupanya masih cukup luas. Penduduk yang relatif sedikit menjadi salah satu kendalanya. Bila dibanding dengan P. Jawa, memang prosentase penduduk di Kalimatan memang sangat kecil. Kalteng yang luasnya hampir satu setengah P. Jawa, penduduknya mungkin hanya sekitar seperlimapuluhnya. Jadi masalah SDM merupakan masalah yang cukup signifikan. Ada sejumlah peralatan dan tehnologi yang bisa membantu mengolah tanah, namun apabila SDM terlalu minim, maka tidak bisa diharapkan hasilnya seperti yang diharapkan.
Terkait dengan SDM, selain jumlah yang memadai, dibutuhkan juga kualitas yang mencukupi untuk mengolah tanah secara tepat. Kualitas itu bisa meliputi segi pengetahuan yang bisa dipelajari di fakultas-fakultas Perguruan Tinggi yang bersentuhan dengan geologi, perkebunan, kehutanan, perikanan, dll. Bisa juga menyangkut mental dan moralitas yang kadang sulit diukur dan dideteksi. Ketekunan, keuletan, kesabaran dan kerja keras yang berkesinambungan rupanya dituntut untuk menggarap tanah yang ada. Budaya dan mentalitas kadang juga ada kaitan erat. Dari kebiasaan meramu, mengumpulkan dari hutan, sungai, dll., di jaman nenek moyang sampai budidaya berkebun, bercocok tanam, peternakan, perikanan dan usaha-usaha lain yang sejenis menjadi tantangan tersendiri untuk menjadi bahan pembelajaran. Namun kita yakin bahwa semua itu bisa dihadapi dengan sungguh-sungguh demi mengubah lahan tidur menjadi „tanah terjanji“.
Diperlukan usaha yang lebih untuk „membangunkan“ lahan tidur secara tepat. Penelitian terhadap jenis tanah, zat-zat dan kandungan yang ada, lalu mencocokkan dengan jenis tanaman yang sesuai, kiranya itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam menyentuh dan mengolah tanah yang ada. Tidak dapat dilupakan juga, bahwa untuk itu semua diperlukan dana yang tidak sedikit. Tanpa dukungan dana yang memadai, maka usaha-usaha kiranya belum bisa direalisasikan.
Dana bisa saja mengalir dan pelbagai macam investasi didatangkan atau bahkan datang sendiri untuk memanfaatkan lahan tidur itu. Barangkali perlu diseleksi secara lebih cermat usaha-usaha mana yang layak diterima dan ditindaklanjuti dan mana yang perlu ditolak dengan kriteria salah satunya: bagaimana dengan nasib tanah yang akan dimanfaatkan oleh investor itu. Dalam jangka panjang apakah bisa dijamin bahwa tanah dan lingkungan tidak hancur, rusak dan tak terselamatkan, sehingga lebih banyak merugikan dalam jangka panjang, dan hanya mendapatkan keuntungan sesaat.

Hasil akhir: untuk meningkatkan martabat manusia
Dengan mengusahakan pemanfaatan tanah semaksimal mungkin, maka perlulah dipertegas tujuan akhir dari segala usaha itu. Kesejahteraan menjadi tujuan antara, tujuan sementara yang menjadikan manusia dapat mengembangkan segi-segi kehidupannya secara maksimal. Untuk memajukan pelbagai bidang: kesehatan, pendidikan, kedamian, kententraman, keamanan, dll., kesejahteraan menjadi syarat mutlaknya. Keadaan manusia dan masyarakat yang tidak sejahtera akan menimbulkan pelbagai kerawanan dan bahkan tindak kriminalitas. Kemiskinan kerap disebut sebagai “ibu” dari segala kejahatan, sementara kesejahteraan menjadi “bunda” dari semua kebaikan.
Namun apabila kesejahteraan telah diperoleh, maka masih ada tujuan lebih jauh yang bisa dijangkau. Kesejahteraan bisa menjadi dasar untuk meningkatkan martabat manusia. Pengelolaan tanah yang memperhatikan lingkungan hidup, yang memikirkan jauh ke depan untuk generasi mendatang merupakan indikasi bahwa manusia bertanggung jawab atas apa yang diserahkan oleh Sang Pencipta, sekaligus menunjukkan nilai martabat manusia. Nilai martabat manusia itulah yang disangga oleh pemenuhan dasar kehidupan manusia dan dari kesejahteraan itu bisa diharapkan adanya pertumbuhan yang berbasis pada kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan.
Meningkatkan martabat manusia dengan mewujudnyatakan melalui pengelolaan tanah yang memperhatikan kelestarian lingkungan menunjukkan bahwa tujuan pengelolaan tanah itu sungguh dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks Kalimantan Tengah memanfaatkan lahan tidur, entah itu tanah adat atau pun tanah-tanah lain yang belum dikelola dapat menunjang pembangunan yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan martabat manusia.

DR. A.M. Sutrisnaatmaka MSF., Uskup Palangka Raya.

Tulisan ini akan diterbitkan dalam buku Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah :”Masalah Konflik Agraria di Kalimantan Tengah”.

ALIH NILAI

SAHEWAN PANARUNG, RUANG KEBUDAYAAN HARIAN RADAR SAMPIT
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

Betang Hapakat, Jln. RTA Milono 163, Palangka Raya, tempat pengambilan keputusan-keputusan mengenai masyarakat adat Dayak diambil. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Okt.  2014)

Betang Hapakat, Jln. RTA Milono 163, Palangka Raya, tempat pengambilan keputusan-keputusan mengenai masyarakat adat Dayak diambil. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Okt. 2014)

Tajuk Panarung
ALIH NILAI
Oleh Andriani S. Kusni

Dengan mengutip Karl Marx, Bung Karno pernah mengatakan bahwa “Kebudayaan dominan pada suatu adalah kebudayaan pihak-pihak yang berkuasa”. Contoh dari tesis ini diperlihatkan oleh kenyataan bahwa segala apa yang diupayakan oleh Bung Karno seperti Trisakti (Berdaulat dibidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan), begitu Orde Baru mengendalikan pemerintahan di Indonesia, Trisakti pun dikepinggirkan. Hasilnya adalah satu generasi yang menerima alih nilai dari Orde Baru yang tanda-tandanya sangat jelas nampak dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini.
Salah satu cara melakukan alih nilai dari generasi satu ke generasi lain adalah melalui pendidikan. Khususnya muatan lokal yang di Kalimantan Tengah sudah ditetapkan penyelenggaraannya melalui Peraturan Gubernur, walau pun pelaksanaannya tidak efektif karena ketiadaan materi tulis ajar-mengajar. Sehingga muatan lokal lebih bersifat wacana daripada praktik. Sementara Sekda Provinsi, DR. Siun Jarias, SH, MH, dalam Pumpung Haï di Palangka Raya mengatakan bahwa “kami bukan hanya berteori-teori tapi langsung praktik”, “tidak lagi top-down tapi sudah bottom up”.
Salah satu keputusan acara Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894 di desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas (3-4 Oktober 2014) lalu, adalah memasukkan sejarah Pertemuan Tumbang Anoi salah satu isi mulok di Kalteng. Memasukkan sejarah ke dalam matapelajaran mulok memang baik dan sudah seharusnya. Dengan tahu sejarah lokal, sejarah dirinya, maka Uluh Itah (Dayak) dan Uluh Kalteng (Orang Kalteng) menjadi tidak lepas akar dari daerah di mana mereka hidup. Sejarah dalam kenyataannya tetap aktual, bukan masa lalu yang tak punya arti untuk hari ini. Masalahnya terletak pada akurasi relatif sejarah yang mau dialih nilaikan itu. Di sinilah pentingnya penelitian serius sehingga apa yang hendak dialihnilaikan kepada generasi berikut tidak justru berakibat mengacaukan. Sebab apabila yang dialihnilaikan itu secara faktual berikut penafsirannya salah, maka kita hanya memperluas skala kesalahan. Sejarah Tumbang Anoi versi kekuasaan yang dominan sampai hari ini, justru versi yang meragukan ketepatannya. Akurasi relatif (karena akurasi 100 persen tidak mungkin didapat), baik data mau pun penafsiran, niscayanya dipungut dari kenyataan. Jangan sampai kebenaran yang dipungut dari kenyataan digantikan oleh kemauan dan tafsiran subyektif pihak dominan sebagai hasil dari pendekatan yang keliru. Jika data dan tafsiran yang dialihnilaikan maka generasi pengalih nilai, terutama pihak dominan akan melakukan generative moral crime (kejahatan moral bersifat generatif). Hanya saja seperti umumnya terjadi di mana pun, pihak dominani jarang yang mempunyai kemampuan mendengar. Sementara counter culture dari counter elite di Kalteng masih lemah sekali. Masih jauh dari daerah pinggiran sekali pun. Universitas belum menjadi tempat tumbuh counter culture dan counter elite.
Dalam keadaan demikian, untuk mencoba menahan dilakukannya alih nilai yang salah, barangkali harapan tersisa bisa digantungkan pada media massa cetak atau pun elektronik yang masih setia pada misi pendidikan dan pengawasannya. Alih nilai anarkhis dan subyektif seperti juga terjadi pada bahasa Dayak patut dicegah. Alih nilai yang salah, anarkhis dan subyektif merupakan salah satu wujud bunuh diri kolektif secara budaya. Pencegahan tragedi ini bisa sngat terbantu apabila pos pendidikan dan kebudayaan duduk orang-orang tepat di tempat yang tepat. Kalau pun tidak, paling tidak mereka adalah kategori orang yang mampu mendengar, melihat dan membaca. Kekuasaan sungguh tidak identik dengan kebenaran. []

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding).
~ Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~ Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. (Lihat edisi terdahulu).
~ Télu pain tungku. Tiga kaki tungku. (Lihat edisi terdahulu)
~ Panutung bulan matanandau pambélum. Menyulut (cahaya) pada bulan dan matahari kehidupan. Ungkapan filosofis ini parallel dengan ungkapan “kandil kehidupan” atau “garam kehidupan” dalam Christianisme, dan bertalian dengan konsep “réngan tingang nyanak jata” sebagai konsep hidup-mati manusia Dayak. Dari segi konsep intelektualitas, ungkapan ini menunjukkan peran kaum cerdik-pandai tidak lain memberikan cahaya bagi kehidupan.
Oleh paralelisme dengan konsep Kristiani menjadi pertanyaan: Apakah konsep ini merupakan pengaruh Christianisme dalam budaya Dayak? Kalau ia memang terdapat pada budaya Dayak seperti pada upacara manawur béhas, maka ia berarti bahwa budaya Dayak, khususnya pandangan filosofisnya tedapat universalisme. Hanya bentuk universalisme ini mengambil wujud lokal.
Berdasarkan konsep “panutung bulan matanandau pambélum” ini, maka hidup itu niscayanya mempunyai kegunaan bagi orang lain dan sekitar. Hidup itu niscayanya memberikan terang bagi sekitar. Dalam budaya Tionghoa Kuno terdapat ungkapan “lebih baik menyalakan kandil daripada mengutuk kegelapan”.
UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Bapander haga jéla. Berbicara peliharalah lidah. Ungkapan ini menyarankan agar dalam berbicara niscaya hati-hati, jangan tanpa dipikirkan, baik isi maupun kata-kata yang digunakan. Sebab sekali kata diucapkan sekali pun si pengucap sudah meminta maaf misalnya, akibatnya tetap tidak terhapuskan. Karena itu Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa “pena lebih tajam dari bayonet”. Orang Banjar mengatakan bahwa “luka tangan kawa dibabat, luka di hati hancur sekali”. Dalam budaya Dayak peringatan akan keniscayaan “menjaga lidah” ini juga tertuang dalam ungkapan “bahadat-babasa”. (beradat dan berbahasa).
~ Manempé into lisung, barapi intu rinjing. Menumbuk di dalam lesung, bertanak di dalam kuali. Pepatah ini menasehatkan agar dalam melakukan sesuatu niscayanya sesuai peruntukan dan aturan. Jangan bertindak semau sendiri. Hendaknya tidak hantam kromo, jika meminjam istilah Orang Jawa.
~ Amun masi paréi, maka uru imbawau Kalau sayang padi maka rumput (hendaknya) dibuang atau dibersihkan. Nasehat tentang keniscayaan merawat sesuatu yang dikasihi. Misal kalau sayang anak-isteri janganlah bermain-main dengan orang lain. Jangan mempunyai lelaki atau perempuan idaman lain.

PERISTIWA TELAGA BERACUN
Cukilan dari cerita Mahabarata.
Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.
Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Ada seekor bangau (baka) yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan darinya. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang bangau untuk bertanya. Sang bangau lalu berubah wujud menjadi Yaksa. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Inilah sebagian pertanyaan yang diajukan Yaksa pada Yudistira:
Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?
Yudhishthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.
Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?
Yudhishthira: Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.
Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?
Yudhishthira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.
Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?
Yudhishthira: Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.
Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?
Yudhishthira: Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun yang masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu (dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.
Akhirnya, Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putra yang lahir dari Madri, yaitu Nakula. Yaksa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.[]

Tafsiran Roeslan Tentang Peristiwa Telaga Beracun
Rezim Neoliberal SBY hasil pemilu 2004 dan 2009 sudah siap akan meninggalkan warisan telaga beracun di bumi Indonesia untuk selama-lamanya.
Tambang di Grasberg Papua Indonesia adalah merupakan tambang emas yang terbesar di dunia, kini telah di keduk oleh Freeport-McMoRan atas izin rezim klik militer fasis Indonesia pimpinan Jendral TNI AD Soeharto, yang kini dilanjutkan oleh rezim neoliberal pimpinan jendral TNI AD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hasil pemilu langsung 2004 dan 2009. Penggalian emas di Grasberg telah menghasilkan suatu warisan Telaga Beracun untuk selama-lamanya di Papua . Di Grasberg bakal menjadi Berkeley Pit II, telaga beracun selama-lamanya. Klik link http://en.wikipedia.org/wiki/Berkeley_Pit) dan http://en.wikipedia.org/wiki/Butte,_Montana.
Rupanya rezim Neoliberal SBY-Boedi masih kurang puas dengan keberadaan telaga beracun yang kini telah terjadi di Papua, oleh karena itulah rezim neoliberal SBY-Boedi mengizinkan Freeport untuk menggali Bumi Kalimantan. Jadi sekarang akan tambah lagi terjadinya telaga beracun di Bumi Indonesia. Inilah warisan rezim SBY-Boedi yang akan ditinggalkan pada kita semua dan generasi bangsa yang akan datang. []

SAJAK-SAJAK ESUN SAHUN
SEBUAH PULAU

sebuah pulau
sebuah negeri
membatu
tenggelam dalam banjir bandang
diciptakan para penguasa pedagang
yang menjajakan segala

sebuah pulau
sebuah negeri
bersungai airmata
perahu bocor
adalah esok
yang berlayar di atasnya
walau sajak menjadi sipongang gunung
ia masih kutuliskan
menyimpan kejadian demi kejadian
menolak putus harapan
tanda aku masih mau jadi manusia []
2013.

DARI SIANTAN

dari siantan seberang sungai bohang
aku melihat ketika kembali datang
langkang pulang betunas
punggur balik bedaun *)
kejatuhan membangkitkan manusia
menjadi dirinya kembali

• Ungkapan Dayak Jelai: ‘’yang mati tumbuh kembali, pohon yang jatuh di lubuk berdaun lagi’’.

TERRA IN COGNITA
orang-orang lalulalang di kampungku sambil memungut segala yang bisa dipungut kemudian
pulang meninggalkan tepian rusak di sungai
gubuk roboh di hutan dan gunung berantakan
orang-orang berlomba masuk-keluar kampung
dan hutanku seakan-akan pulau ini kosong
kami tidak ada dilirikpun tidak apalagi bertutursapa
lalu siapakah lagi yang bicara
tentang dayak jika bukan dayak
jakarta seperti bukan ibukota kami
hanya namanya ibukota republik dan negeri
maka kami tak boleh tergantung padanya
pulau ini kembali dianggap terra in cognita []

PERTEMUAN TUMBANG ANOI 1894, TITIK HITAM DALAM SEJARAH DAYAK

Halaman MASYARAKAT ADAT HARIAN RADAR SAMPIT
Memperkuat Masyarakat Adat Dayak, Dasar Kalteng Bahadat
Alamat: Radar Sampit atau meldiwa@yahoo.com.sg

Pertemuan Tumbang Anoi 1894 Titik Hitam dalam Sejarah Dayak
Oleh: Kusni Sulang

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Gezicht_vanaf_de_Kahajan_rivier_op_de_Dajak_kampong_Toembanganoi_Midden-Borneo._TMnr_60010390Collectie Tropen Museum. GEziicht vanaf de Kahajan Rivier op de Daja Borneo via id.wikipedia.org

Penilaian memuji setinggi langit tanpa kritik terhadap Pertemuan Tumbang Anoi 1894 kembali diteriakkan dalam Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 2-5 Oktober 2014 lalu. Pertemuan Tumbang Anoi 1894 dinilai antara lain sebagai “fajar peradaban” (istilah ini pertama kali digunakan oleh seorang wartawan Belanda yang sangat tidak suka pada Dayak) bagi orang Dayak dan “Berakhirnya ‘Hukum Rimba’ di Kalimantan”.

Alasan utama dari penilaian ini adalah karena Pertemuan Tumbang Anoi 1894 yang dihadiri oleh pemuka-pemuka adat dan masyarakat Dayak seluruh Pulau Borneo, telah berhasil “menghentikan kebiasaan perang antar suku dan antar desa”, “menghentikan kebiasaan balas dendam antar keluarga”, “menghentikan kebiasaan adat mengayau”. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dipandang sebagai tindakan tidak beradab dan “hukum rimba”. Dengan kata lain kebiasaan-kebiasaan primitif. Penilaian tersebut, mengabaikan atau tidak menyorot poin pertama “Hasil Rapat Damai Tumbang Anoi 1894” yaitu “1. Menghentikan permusuhan dengan pihak Pemerintah Hindia Belanda”, padahal poin pertama ini merupakan Titik Kunci yang ingin dicapai oleh Belanda melalui Pertemuan Tumbang Anoi 1894 yang ia sokong kuat melalui tangan Damang Batu itu, dalam upaya mengembangkan dan memperkokoh cengkeramannya tehadap Pulau Borneo. Sedangkan poin-poin lain seperti “menghentikan kebiasaan adat mengayau”, juga menjadi tujuan Belanda karena seperti yang ditulis oleh Arham Said “Tradisi ini pula yang membuat Belanda tak bisas sepenuhnya menguasai Kalimantan” (Radar Sampit, 12 Oktober 2014). Dr. Anton W. Nieuwenhuis yang ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk melakukan misi penelitian tentang Dayak (lihat: Nieuwenhuis, “Di Pedalaman Borneo. Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1894) seperti halnya misi yang diserahkan kepada Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) oleh Jenderal JB van Heutz (1851-1924) di Aceh yang waktu itu melakukan perang perlawanan (1873-1904), terpaksa mengalami beberapa kali kegagalan menunaikan tugas kolonialnya. Paut dicatat bahwa sebelum Pertemuan Tumbang Anoi 1894, di berbagai tempat di Kalimantan berlangsung perang perlawanan yang sengit terhadap Belanda sepertk Perang Banjar (1859-1863), Perang Téwah (1885); Perang Hulu Katingan di bawah pimpinan Tamangung Singam (1893-1895); Perang Barito (1865-1905). (Lihat: Prof.Dr. Ahim S. Rusan, et.al, “Sejarah Kalimantan Tengah”, 2006: 43-50).

Dilihat dari latar belakang dan hasil Pertemuan Tumbang Anoi 1894, pertemuan dan hasil Pertemuan tersebut, terutama dan pertama-tama adalah untuk kepentingan perluasan ekspansi dan pengokohan cengkeraman kolonial. Dengan menerima poin pertama (tentu bukan kebetulan poin ini dijadikan poin pertama) “Menghentikan permusuhan dengan pihak Pemerintah Hindia Belanda”, maka pemuka-pemuka Dayak seluruh Borneo waktu itu menerima kekuasaan kolonial Belanda dan kekuasaan Belanda sebagai “Negara”nya sendiri. Pemuka-pemuka Dayak mempunyai ilusi pada kekuasaan kolonial. Ahim S. Rusan, et. Al. dalam buku “Sejarah Kalimantan Tengah” dengan mengutip pendapat Tjilik Riwut, antara lain menulis: “Dengan usainya Rapat Damai Tumbang Anoi (Mei-Juli 1894) ternyata nasib Suku Dayak bukannya menjadi bertambah maju, malahan membuat mereka menjadi semakin terbelakang. Belanda telah dapat menancapkan cengkeraman penjajahannya di seluruh Kalimantan kaasan Hindia Belanda, sementara keadaan orang-orang Dayak tidak diperhatikan, semua keluh-kesah mereka sama sekali tidak diperhatikan. Hampir dalam semua hal mereka tidak mendapat /tidak diberikan hak-hak yang telah diakui oleh hukum Negara” (Ahim S. Rusan, et.al., 2006: 73).

Rapat Tumbang Anoi 1894 merupakan bentuk politik devide et impera (memecah-belah dan menguasai) yang diterapkan di Kalimantan dilakukan menjelang diresmikannya politik etis Belanda dan sesuai pula dengan nasihat Snouck Hurgronje: “Ketika seseorang ingin menguasai suatu Negara, untuk agar dihargai di Negara itu, maka orang harus membangun diri di negara itu”. Menurut pendekatan ini, penghargaan ini dapat diperoleh dengan memisahkan pejuang Aceh dari basis mereka di daerah pedesaan dan dengan memperkuat kekuasaan para bangsawan Aceh” (Adrian Vickers, Edisi Indonesia, 2005: 19).

Dengan pendekatan demikian, maka Pertemuan Tumbang Anoi 1894 diselenggarakan dengan hasil sangat memuaskan untuk Belanda, sedangkan ilusi para pemuka Dayak menjadikan Pertemuan ini sebagai titik hitam dalam sejarah Dayak. Akibat dari penerimaan hasil Pertemuan Tumbang Anoi, Belanda leluasa melakukan politik kebudayaan desivilisasi yaitu politik “ragi usang” dampaknya berlangsung sampai sekarang.

Mungkinkah Pertemuan Tumbang Anoi 1894 berlangsung tanpa sokongan kuat dari Belanda? Pemuka-pemuka Dayak waktu itu mau aktif menjadi penyelenggara karena seperti diungkapkan oleh Tjilik Riwut di atas, mereka menaruh ilusi pada kolonial Belanda, tidak mengenal watak sesungguhnya kolonialisme, memandang pemerintahan (Negara) Belanda sebagai pemerintahan sendiri.

Jagau Yanedi dari Borneo Institut dalam pembicaraannya dengan saya mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan pandangan orientalis (meminjam istilah Edward Said) yang memandang bahwa Pertemuan Tumbang Anoi sebagai “fajar peradaban”, tetapi juga tidak sepakat pada pandangan yang disebutnya ekstrim, menilai Pertemuan Tumbang Anoi sebagai “penaklukan”. “Sebab di pantai Dayak sudah kalah”, tapi Jagau tidak melihat di pedalaman luas berlangsung perang perlawanan yang sengit. Kalah di satu pertempuran tidak berarti kalah dalam peperangan. Tapi dengan Pertemuan Tumbang Anoi 1894, Dayak bukan hanya kalah dalam pertempuran, tapi kalah dalam perang. Pertemuan Tumbang Anoi 1894, menurut Jagau merupakan pertemuan damai agar bisa melakukan perdagangan. Barangkali lebih tepat jika melihat hasil yang dikemukakan oleh Tjilik Riwut dan Ahim S. Rusan, et.al, setelah Pertemuan adalah perampokan oleh kekuasaan pendudukan.

Membanggakan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 sebagai “fajar peradaban” dan “Berakhirnya ‘Hukum Rimba’ di Kalimantan” tidak lain dari pandangan anakronis dalam sejarah. Masih membanggakan diri sebagai anak jajahan. Karena itu Pertemuan Tumbang Anoi 1894 tidak sepantasnya diperingati saban tahun. Yang merupakan awal kebangkitan Dayak dan sekaligus mengkoreksi kesalahan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 adalah berdirinya Sarikat Dajak tahun 1919, berubah nama jadi Pakat Dajak pada 1926. Sarikat Dajak mempunyai visi-misi dan program pembangkitan serta pemberdayaan yang jelas. Sarikat Dajak dan Pakat Dajak ingin mengindonesiakan dan menginternasionalkan Dayak serta mendayakkan yang nasional dan internasional. Sedangkan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 membanggakan diri sebagai anak jajahan. Atas dasar alasan-alasan demikian, maka lebih-lebih tidak dan bukan bahwa Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 3-4 Oktober 2014 sebagai hari “Kebangkitan Dayak”. Lebih tidak rasuk lagi apabila “Kebangkitan Dayak” sekarang ditandingkan dengan kenyataan yang oleh Panitia Pakat Dayak Kalteng dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi “masih belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat lokal, khususnya kepada masyarakat Dayak. Masyarakat Dayak terutama di daerah pedesaan, cenderung hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan sumber daya alam di Kalimantan Tengah.”

Menjadi pertanyaan besar, mengapa terlalu sulit mengakui jasa Sarikat Dajak (1919) dan Pakat Dajak (1926) yang visi-misi dan program serta prakteknya jelas nasionalistik, anti penjajahan dan membebaskan manusia, cq manusia Dayak? Barangkali kesulitan ini merupakan bentuk dari sulitnya menjadi manusia merdeka dan bermartabat. Sebab lain, barangkali diterapkannya pendekatan etnosentrisme dan pandangan yang sesungguhnya bersifat rendah diri, tapi tidak disadari, karena berada di kawasan bawah sadar. Rendah diri adalah sisi lain dari satu mata uang kepongahan semu yang gemar pada pencitraan.

Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894, 2-4 Oktober 2014 lalu meninggalkan banyak pertanyaan dan membuka polemik secara konsepsional, sejarah, budaya dan teoritis. Debat ide atau debat akademi serta penelitian serius merupakan cara penanganan terbaik. Jika sungguh-sungguh ingin maju, kita perlu menggugat diri sendiri. Mengapa tidak?! []

Perjanjian Antar Generasi

Salah satu hasil dari Napak Tilas Rapat Tumbang Anoi 1894 yang berlangsung di Desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, adalah terbitnya Perjanjian Antar Generasi. Dalam Pumpung Haï yang diselenggarakan di Bétang Hapakat, milik Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Jln. RTA. Milono 163, Palangka Raya.

DR. Siun Jarias, SH, MH. antara lain mengatakan bahwa Perjanjian Antar Generasi ini dibuat untuk memberitahukan kepada generasi-generasi Dayak berikut bahwa Dayak angkatan hari ini telah melakukan sesuatu untuk kepentingan Dayak bermartabat. Dengan kata lain agar dikenang.

Perjanjian Antar Generasi ini ditandatangani oleh wakil tiga generasi. Generasi Masa Lalu diwakili oleh Sabran Ahmad, Talinting Tupak, Lewis KDR. (Orang yang masih hidup, pantaskah disebut “generasi masa lalu? Ya, jika mereka menjadi zombie). Sementara Generasi Masa Kini diwakili oleh Siun Jarias, Zulhaidir, dan Perdie. Sedangkan Generasi Masa Depan diwakili oleh Nomi Adilia, Eteria, dan Teresia (Dua penandatangan dokumen yang terakhir tanpa disertai nama keluarga. Ada yang disembunyikan? –Red.) Para penandatangan Perjanjian Antar Generasi ini bertindak atas nama masyarakat adat Dayak Kalimantan.

Perjanjian Antar Generasi yang dibacakan Sabtu, 4 Oktober 2014 malam adalah sbb:

Pertama, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk menghargai satu sama lain dalam hal keyakinan dan atau agama yang dianut masing-masing, selanjutnya perbedaan agama tidak boleh memecah-belah dan tidak boleh karena memeluk suatu agama berakibat bukan lagi sebagai Suku Dayak, sebab Suku Dayak bukanlah agama.
Kedua, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk menjaga nilai-nilai keadilan, keberadaban, kemanusiaan, harkat dan martabat suku Dayak di tengah-tengah pergaulan antar anak bangsa Indonesia, bahkan di tengah-tengah pergaulan internasional.
Ketiga, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk memperoleh posisi bukan sebagai penonton tetapi berperan aktif dalam struktur pemerintah demi membangun NKRI di tingkat nasional dan menjadi pemain utama dalam struktur pemerintahan daerah di tanah Dayak Kalimantan.
Keempat, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk memperoleh posisi dalam kancah politik nasional dan memperoleh posisi utama dan aktif dalam kancah politik daerah di tanah Dayak Kalimantan.
Kelima, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan sebagai bagian Bhinneka Tunggal Ika, ahli waris sumber daya alam, warisan leluhur di Kalimantan berjanji unuk memperoleh keadilan dalam hal menguasai wilayah, melestarikan hutan, dan menikmati hasil sumber daya alam myang berlimpah demi mewujudkan kesejahteraan , harkat dan martabat dalam tingkat NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Perjanjian ini dibuat ditandatangani di Tumbang Anoi 4 Oktober 2014 oleh wakil tiga generasi. Perjanjian diketahui oleh Presiden MADN Agustin Teras Narang. ask-5-10-14

 

Periode Pra Tumbang Anoi
Oleh: Kusni Sulang

Periode Pra Tumbang Anoi bisa disebut juga Periode Kayau-Asang karena periode ini kayau-asang berlangsung marak. Sengit dan berbahayanya (dari segi keamanan) pada masa kayau-asang ini, antara lain dilukiskan oleh contoh-contoh berikut: 1) Mayor Georg Muller, seorang perwira zeni dari tentara Napoleon I, sesudah Waterloo masuk dalam pamongpraja Hindia Belanda. Mewakili pemerintah colonial, ia membuka hubungan resmi dengan sultan-sultan di pesisir timur Borneo. Pada tahun 1825, kendatipun Sultan Kutai enggan membiarkan tentara Belanda memasuki wilayahnya, Muller memudiki Sungai Mahakam dengan belasan serdadu Jawa. Hanya satu serdadu Jawa yang dapat mencapai pesisir barat. Muller sendiri, diperkirakan dibunuh sekitar pertengahan November 1825 di Sungai Bungan, mungkin di jeram Bakang, tempat ia harus membuat sampan guna menghilir Sungai Kapuas. Diduga Muller dibunuh dibunuh oleh suku Aoheng (Bernard Sellato, in: Dr.Anton W. Nieuwenhuis, “Di Pedalaman Borneo. Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1984’, Gramedia Jakarta, 1994” :xiv-xv).Nasib serupa juga telah menimpa Schwaner di Barito. 2) Ekspedisi pertama Pontianak-Samarinda Dr.A.W.Nieuwenhuis pada 1893-94 harus kembali ke Putussibau pada 22 Juli 1894 karena ‘suku-suku di Mahakam sedang mengadakan berbagai persiapan yang bersifat bermusuhan untuk menyambut mereka” . Padahal ekspedisi pertama ini dikawal oleh 19 serdadu Hindia Belanda (Buku yang sama hlm xvi). 3) Tahun 1885 suku Iban melakukan serangan besar-besaran terhadap Mahakam Hulu dan menghancurkan semua desa Aoheng dan kampung besar Koeng Irang (ibid). 4) Ekspedisi Pontianak-Samarinda Nieuwenhuis baru tuntas pada tahun 1900.Dalam ekspedisi ketiga (1898-1900) Nieuwenhuis,  ‘dengan tujuan meneliti cara sarana untuk memperluas pemerintahan Belanda sampai ke wilayah Mahakam Hulu dan Kayan Hulu agar membentuk kedamaian dan keamanan’. Artinya suatu ekspedisi dengan tujuan politik. Ekspedisi Nieuwenhuis hanya bisa berhasil setelah ia dibantu oleh orang-orang Dayak sendiri seperti Suku Kayan dari Mendalam dan kepala mereka, Akam Igau. Diseberang perbatasan dibantu oleh Kwing (atau Koeng) Iran, kepala suku Kayan-Mahakam. ‘Nieuwenhuis tidak akan pernah berhasil dengan ekspedisinya jika tidak dibantu oleh orang Dayak yang tidak menyadari tujuan ekonomi dan politik ekspedisi Nieuwenhuis.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pemerintah kolonial Belanda untuk kepentingan politik kolonialnya dan penguasaan teritorial sangat berkepentingan dengan berhentinya asang-kayau-bunu antar suku yang kronis. Penelitian multidisipliner Nieuwenhuis paralel dengan yang dilakukan oleh Dr. C. Snouck Hurgronje di Aceh pada masa Perang Aceh 1873-1904. Nieuwenhuis bahkan menyampaikan terima kasih khusus kepada Hurgronje yang telah ‘memeriksa naskah’ laporannya. (Nieuwenhuis, Mei 1898).
Bersamaan dengan agresi fisik berupa serangan militer, melalui para antropolog dan ilmuwan sosialnya, pemerintah Hindia Belanda juga melaksanakan politik desivilisasi. Smythies misalnya suku-suku di Borneo Tengah dicatatnya sebagai suku-suku kafir dan tidak manusiawi karena membunuh budak-budak (hlm.xx). Politik desivilisasi ini disebut politik “ragi usang”, yang memandang bahwa semua budaya Dayak dan yang berbau Dayak harus dimusnahkan sebagaimana halnya perlakuan terhadap ragi usang, ragi yang sudah rusak.

Menurut Bernard Sellato, antropolog Perancis yang melakukan studi tentang Dayak Kalimantan Timur, ‘pendekatan teoritis Nieuwenhuis jelas berbau periode awal antropologi, ketika lingkungan ilmiah masih didominasi oleh evolusionisme. ‘Animisme’ dipandang sebagai tahap primitive pada suatu skala peradaban yang mempunyaiu universal. Baik pendekatan yang didukung oleh aliran sosiologis Durkheim maupun aliran fungsionalis berikutnya tidak begitu dipertimbangkan dalam karya Nieuwenhuis’ (hlm. xxi).

Tentu saja pendekatan teoritis Nieuwenhuis menggunakan pendekatan kolonial yang memandang Tanah Dayak sebagai terra in cognita, dan tugas orang penjajah dibungkus dengan teori misi suci (la mission sacree) , tugas membudayakan orang yang disebut primitif, karena seperti ditunjukkan oleh tugas utama ekpesdisi ketiganya (1898-1900) adalah misi politik. Agaknya para penginjil awal yang datang ke Borneo pun menganut pandangan yang dianut oleh para antropolog awal. Oleh karena itu Orang Dayak memandang mereka ‘sebagai kaki tangan penjajah’ (Prof. Dr. Ahim S. Rusan, et.al, 2006:65). Empat pendeta Eropa yaitu Hofmeisiter dan isteri, Rott, Kind dan Wigand meninggal karena menjadi sasaran mata Mandau dan anak sumpitan. Sedangkan Klamer luput dari pembunuhan karena ditolong oleh Suta Uno Sitinegara (Prof. Dr. Ahim S. Rusan, et.al. 2006: 65).

Kebencian pada penjajah Belanda berkembang menjadi perang. Mei 1859 di Pulau Petak, Kapuas meletus pertempuran dengan Belanda. Kapal perang Belanda Tjipanas tidak bisa digunakan lagi, anak buah kapal terbunuh semuanya. Tahun Perang Tewah meletus 1855 disusul oleh perang di kawasan hulu Katingan, Mentaya , Kahayan dan Barito yang menimbulkan kerugian besar pada serdadu Belanda baik kapal perang mau pun nyawa. Saat itu Belanda baru saja mengakhir Perang Paderi (1821-1839), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1904) masih berlangsung.

Dalam keadaan demikian, Belanda mencari akal bagaimana memadamkan api perlawanan dan asang kayau-bunu selekas mungkin dan memperluas penguasaan teritorial sekaligus. Di pihak lain berada di tengah api perang yang berkobar demikian, hasrat bersatu di kalangan Orang Dayak seluruh Borneo makin dirasakan keniscayaannya.

Dari tuturan di atas, nampak bahwa Periode Pra Tumbang Anoi ini ditandai oleh 1) Asang-kayau bunuh antar suku; 2) Perang melawan Belanda; 3) Tapi bersamaan dengan itu, oleh keperluan perang besar yang disertai dengan agresi kdebudayaan berbentuk politik desivilisasi Belanda itu, di kalangan Orang Dayak mulai tumbuh kesadaran untuk bersatu.

Dengan latar belakang demikian, Pertemuan Tumbang Anoi tahun 1894 diselenggarakan, dengan Damang Ribu yang lebih dikenal dengan sebutan Damang Batu sebagai organisator pelaksana. Periode Tumbang Anoi dimulai. Latar belakang musabab penyelenggaraan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 dalam buku ‘Sejarah Kalimantan Tengah’ yang ditulis oleh Prof. Ahim S. Rusan, et.al. disebutkan sebagai berikut:
“Untuk mengurusi pemerintahan ( kekuasaannya) di Kalimantan, Belanda mengalami kesulitan karena adanya perlawanan Rakyat Dayak atas kekuasaannya yang dikenal dengan Perang Barito (membela para pengungsi Pegustian Banjar dan berada di tengah masyarakat Dayak pedalaman), Perang Pangkoh Perang Bukit Rawi, Perang Tewah, Perang Mandoun, Perang Kasintu dan Perang Bukit Panya. Di samping adanya perang perlawanan terhadap kekuasaan Belanda, di antara Suku Dayak sendiri pada abad XIX sering timbul perang antar suku, Asang-Kayau-Bunu.”(2006:71).

*Cuplikan dari buku “Refleksi Kritis Untuk Hari Esok: Perlindungan Masyarakat Adat”. Buku ini diterbitkan oleh AMAN Kalteng & Yayaasan TIFA, 2013.

PATUNG LELAKI DAYAK & BATAMAD

Patung lelaki Dayak dan beberapa anggota para militer MADN, Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad) di depan Betang Hapakat Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andrlani S. Kusni, Okt.2014)

Patung lelaki Dayak dan beberapa anggota para militer MADN, Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad) di depan Betang Hapakat Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andrlani S. Kusni, Okt.2014)

PESERTA PUMPUNG HAI

P eserta  acara Pumpung Hai di Betang Hapakat milik MADN, Palangka Raya, 02 Okt.2014 (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2014)

P eserta acara Pumpung Hai di Betang Hapakat milik MADN, Palangka Raya, 02 Okt.2014 (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2014)

DARUNG BAWAN DAN KAMELUH BUANG PENYANG

DARUNG BAWAN DAN KAMELUH BUANG PENYANG

Cerita Rakyat Sungai Katingan, Kalteng

Kutat, Burut Ules dan Tayung cucu Peren Tacim Bahu berangkat meninggalkan Lewu Dahian Undang yang saban hari dirusuhi oleh perkelahian, saling bunuh mabuk-mabuk, perampokan, perzinahan, perjudian dan rupa-rupa kejahatan. Mereka membuka sebuah hutan dan membangunnya menjadi Lewu baru bernama Talian Kereng.
Saat sudah agak mapan Tayung teringat akan cucu perempuannya yang yatim piatu dan masih tinggal di Dahian Undang. Ia mendapat firasat bahwa cucunya ini sedang mengalami kesulitan. Mendapatkan firasat tidak baik demikian, tanpa mengulur-ngulurkan waktu lagi, malam itu Tayung pun berangkat mencari dan mengambil cucunya itu serta kembali ke Talian Kereng paca malam itu juga. Sejak itu Tayung hidup berdua bersama cucunya yang bernama Kameluh Buang Penyang. Keduanya saling-menyayangi dan saling memperhatikan. Bagi Kameluh yang yatim piatu, kakeknya adalah ayahnya sekaligus.Kakek Tayunglah yang merawat dirinya sejak balita.
Diceritakan bahwa Kameluh Buang Penyang tumbuh dewasa menjadi seorang gadis cantik jelita. Kecantikannya terkenal di seantero Katingan, hingga sampai ke puncak Bukit Raya di hulu di mana tinggal Darung Bawan.
Darung Bawan seorang lelaki tinggi besar, sakti perkasa hampir tiada tertanding. Mendengar kabar kecantikan Kameluh, Darung Bawanmu segera turun Bukit mencari Kameluh. Setelah mengatasi segala kesulitan, Darung Bawan akhirnya sampai ke tanah tinggi Kereng Tehang, Talian Kereng di mana Kameluh berdiam. Walau pun dikatakan oleh orang-orang kampung bahwa tidak mudah menjumpai Kameluh. Karena Tayung, kakeknya melindungi Kameluh dengan salatutup (penutup). Orang yang mempunyai niat jahat, tidak bakal mungkin melihat si jelita Kameluh. Hanya orang-orang berniat baik saja yang bisa melihat Kameluh.
Setiba di depan puduk (gubuk) Darung Bawan lalu menyapa : ‘’Ada orangkah ?’’. Dari dalam puduk itu terdengar suara perempuan menjawab. ‘’Pasti suara Kameluh Buang Penyang’’, ujar Darung Bawan dalam hati. ‘’Karena di sini tak ada perempuan lain kecuali Kameluh’’.
‘’Masuklah’’, ujar perempuan muda jelita yang tak lain dari Kameluh Buang Penyang. Tapi Darung Bawan sejenak ragu mengingat tubuhnya tinggi besar dan penuh kekuatan. Kalau ia melangkah saja bumi sudah bergetar dibuatnya. Ia takut kalau ia naik, gubuk itu jadi roboh. Tapi akhirnya oleh dorongan hati ingin mempersuntingkan Kameluh jadi istrinya, Darung Bawan naik juga. Begitu masuk ke gubuk, Darung Bawan menjadi terheran-heran karena gubuk yang Darung Bawan, nampak reot kecil itu ternyata sebuah huma hai yang kokoh, besar dan indah. Semuanya terbuat dari tabalien (kayu besi) Penuh isi.
Tak lama kemudian, kakek Kameluh,Tayung, keluar menjumpai Darung Bawan. Sang Kakek mempersilahkan Darung Bawan duduk. Keduanya pun duduk berhadapan-hadapan. Sedangkan Kameluh segera pula menyediakan hidangan kepada Sang Tamu. Tanpa berpanjang-panjang, Tayung menanyai maksud kedatangan Darung Bawan sampai turun dari puncak Bukit Raya. Tanpa belat-belit pula Darung Bawan mengemukakan niatnya untuk memperisterikan Kameluh Buang Penyang.
‘’Saya tidak bisa menggantikan cucu saya untuk menjawabnya. Tanyailah orangnya langsung’’, jawab Sang Kakek. Mendengar hal demikian, Darung Bawan lalu mengarahkan pertanyaan kepada Kameluh :
‘’Bagaimana jawaban, Adik ?’’. Kameluh memandang Darung Bawan dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Dari rambut ke kaki, dari kaku ke rambut.
Kameluh merasa secara fisik Darung Bawan tidak seimbang dengan dirinya yang kecil , tidak tinggi. Tapi setelah berpikir, kemudian Kameluh menjawab mengiyakan. Menerima pinangan Darung Bawan tapi dengan syarat.
‘’Apa syarat-syarat Adik ?’’
Kameluh memandang Kakeknya. Sang Kakek menggangguk lalu berkata : ‘’Kau sudah mendengar sendiri jawaban cucuku’’.
“Apakah permintaan itu, Dik?”
‘’Saya menghendaki Kakak membangun riam batu di tengah Sungai Katingan. Riam itu nanti untuk saya gunakan sebagai tempat mandi yang aman. Bukan cuma itu. Kak. Riam batu itu harus dibangun begitu malam tiba dan pada kokok pertama ayam jantan subuh, riam sudah selesai’’.Ujar Kameluh dengan tenang.
‘’Nah, kau sudah mendengarnya’’, ujar Kakek Tayung.
Darung Bawan yang merasa syarat tersebut sangat ringan baginya, ia pun dengan tegas menjawab.
‘’Baik, Dik, saya akan penuhi semua permintaan itu malam ini juga. Sekarang saya mohon diri. Sampai berjumpa lagi’’. Darung Bawan segera berlalu dan kembali ke Bukit Raya.
Dengan dibantu oleh anak-buahnya, Darung Bawan mulai mengangkut batu-batu dari Bukit Raya danb menumpukkannya di pinggir di tebing Talian Kereng Sungai Katingan. Setelah batu-batu itu diperkirakannya cukup untuk membuat riam buatan yang dipersyaratkan oleh Kameluh, Darung Bawah mulai menyusun batu-batu tersebut, mulai dari tengah lalu mengembang ke kiri dan ke kanan. Masih jauh dari selesai pekerjaannya, ketika tiba-tiba ia merasa lelah dan ingin sejenak beristirahat. Darung Bawan tertidur. Bangun-bangun hari sudah siang. Ia menyesali kelalaian dirinya. Dengan putus asa tapi juga dengan kejujuran pada diri sendiri, ia mendatangi Kameluh Buang Penyang dan Kakek Tayung.
‘’Saya gagal memenuhi syarat adingkuh Kameluh sehingga saya tidak bisa memperistrikannya. Tidak ada pilihan lain bagi saya kecuali kembali ke Puncak Bukit Raya. Hanya saja sebelum pergi saya ingin mengatakan bahwa Adingkuh Kameluh tidak akan nikah dengan lelaki mana pun yang kemampuannya kurang dari diri saya. Kemudian untuk menjamin kesejahteraan Adingku Kameluh saya tinggal sebalanga emas. Untuk Keselamatannya saya tinggalkan tirok (sejenis tombak) ini. Apabila Ading dan Kakek Tayung memerlukan bantuan apa pun, panggil saja saya dengan menabur beras kuning dan menyebut nama saya. Saya pasti datang’’. Darung Bawan pun berlalu meninggalkan Kereng Tehang dilepaskan oleh Kameluh Buang Penyang dan Tayung, kakeknya.
Karena ternyata tak ada lelaki yang lebih hebat dari Darung Bawan, Kameluh selamanya menjadi seorang gadis dengan kecantikan abadi, lambang kecantikan perempuan Dayak.Keadaan membujang pun tidak disesali oleh Kameluh Buang Penyang, karena kemudian ternyata memang jatuh hati pada Darung Bawan. Dengan membujang, Kameluh diam-diam menjaga setia cintanya. Apakah Darung Bawan tahu. Tragedi pun lahir.
Terlelapnya Darung Bawan sehingga pekerjaannya tidak tunai, tidak lepas dari pekerjaan Kakek Tayung yang ingin mencoba kehebatan dan kesaktian Darung Bawan.
Ternyata kehebatan sehebat apa pun mempunyai batas. Kehebatan yang dirasakan luar biasa itu sering membuat orang lengah dan terkebur. Kesadaran datang menyusul kegagalan dan selalu datang belakjangan. Inilah yang dialami Darung Bawan dan cintanya yang tak sampai.***

(Ikhtisar dari kisah-kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau alm, dututur ulang oleh Andriani S. Kusni).

PUNAHNYA KAHARINGAN KARENA PEMAKSAAN AGAMA

Punahnya Kaharingan Karena Pemaksaan Agama

http://www.shnews.co/detile-23302-punahnya-kaharingan-karena-pemaksaan-agama.html

Aju | Senin, 12 Agustus 2013 – 17:58:32 WIB
(Dok/BBC)
Warga Dayak melakukan ritual agama Kahuringan.
Agama asli diberangus dengan dalih menyejahterakan pemeluknya.

Agama Kaharingan yang sekarang dianut sekitar 330.000 warga Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, merupakan salah satu agama suku di dunia yang masih bisa bertahan di tengah-tengah pembangunan dan globalisasi. Martin Georg Baier, teolog berkebangsaan Jerman, dalam bukunya Dari Agama Politeisme ke Agama Ketuhanan Yang Maha Esa, Teologi Sistematika Agama Hindu Kaharingan: Pembahasan Kemajuan Iman dan Kehidupan Agamawi Agama Hindu Kaharingan (2008) setidaknya menegaskan hal itu.

Berbagai istilah akidah agama Kaharingan sebagian besar diambil dari perbendaharaan kata keseharian Dayak Ngaju. Kaharingan adalah religi suku atau kepercayaan tradisional suku Dayak. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun-temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah.

Di Kalimantan Barat, agama Kaharingan pernah dianut sebagian besar masyarakat suku Dayak Uud Danum di Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, serta di Kecamatan Menukung dan Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi.

Pengagamaan Dayak
Akan tetapi, keberadaan agama Kaharingan di Kalimantan Barat sudah punah akibat intervensi pemerintah pasca-operasi penumpasan pemberontakan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/Persatuan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/PARAKU) di sepanjang perbatasan dengan Malaysia, 1967 – 1977.
Ketika itu, agama Kaharingan di Kalimantan Barat dianggap bukan agama resmi oleh pemerintah sebagaimana agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha. Masyarakat suku Dayak Uud Danum yang masih menganut agama Kaharingan, diinstruksikan untuk mengubah keyakinan sesuai yang direkomengasikan pemerintah agar tidak dicap komunis gaya baru yang identik dengan PGRS/PARAKU.

“Jadi program pengagamaan Suku Dayak pasca-operasi penumpasan PGRS/PARAKU telah menyebabkan punahnya agama Kaharingan di Kalimantan Barat periode 1967– 1977,” kata Zainuddin Isman, antropolog Universitas Muhammadyah, Pontianak.

Punahnya agama Kaharingan di Kalimantan Barat, ujar Zainuddin Isman, bermula dari adanya kesadaran kolektif pemerintah untuk menerapkan program nyata di dalam memajukan taraf hidup masyarakat suku Dayak sebagai salah satu penduduk asli di Kalimantan Barat. Melalui aksi brutal berupa pengusiran dan pembunuhan belasan ribu warga Tionghoa dari pedalaman dan perbatasan tahun 1967, warga Dayak di Kalimantan Barat dinilai paling berjasa membantu pemerintah penumpas pemberontakan PGRS/PARAKU.

Dalam interaksi budaya, kebijakan yang ditempuh pemerintah adalah dengan mewajibkan masyarakat asal pedalaman dan perbatasan memeluk salah satu agama yang diakui resmi oleh pemerintah pada masa itu. Pertimbangannya jika masyarakat asal pedalaman dan perbatasan tetap bertahan dengan keyakinan leluhur, maka akan mudah terhasut oleh pengaruh komunis gaya baru.

Namun dalam perjalanannya, pengagamaan suku Dayak tidak berjalan sesuai harapan. Pangdam XII/Tanjungpura Brigjen TNI Seno Hartono, (pengganti Brigjen TNI Soemadi), di hadapan wartawan yang berkunjung ke Kalimantan Barat, Juni 1975, mengeluhkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kurang maksimal dalam membantu pemerintah mengagamakan orang Dayak.

Hanya kelembagaan gereja Katolik dan gereja Kristen Protestan saja yang sangat merespons ajakan pemerintah. “Sementara situasi di lapangan, karena faktor budaya, ternyata kalangan masyarakat suku Dayak di pedalaman dan perbatasan lebih memilih memeluk agama Katolik maupun agama Protestan,” kata Zainuddin Isman.

Semenjak itulah, kata Zainuddin Isman, program pembangunan di bidang pendidikan disinkronkan dengan upayapengagamaan masyarakat asal pedalaman dan perbatasan yang identik dengan suku Dayak. Sinkronisasi program didasarkan kenyataan, sebagian besar guru pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak memiliki latar belakang budaya yang sama dengan masyarakat di pedalaman dan perbatasan, selalu merasa tidak betah selama menjalankan tugas di lingkungan masyarakat pedalaman dan perbatasan.

Guru NTT
Melihat kenyataan ini, dalam rangka menyukseskan program Wajib Belajar, pada rapat
internal di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, 17 September 1976, Gubernur Kalimantan Barat Brigjen TNI Kadarusno, memutuskan mendatangkan 3.000 tenaga guru PNS dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Langkah Kadarusno mendapat dukungan penuh dari Gubernur NTT, El Tari. Kedatangan 3.000 guru PNS yang sebagian besar beragama Katolik dan Protestan dari Provinsi NTT mulai diwujudkan pada 1978 dan berakhir pada 1982. Di samping mengajar di sekolah, guru-guru itu diinstruksikan mengagamakan Suku Dayak di pedalaman dan perbatasan, sesuai dengan agama yang dianut mereka sebelum datang ke Kalimantan Barat.

“Mesti diakui kedatangan 3.000 guru PNS dari NTT periode 1978 – 1982 merupakan bagian dari program kristenisasi di kalangan suku Dayak di Kalimantan Barat yang difasilitasi resmi oleh pemerintah,” kata Zainuddin Isman. Menurut Zainuddin, kendatipun sudah tidak lagi sebagai agama resmi, tapi tradisi Kaharingan di kalangan Suku Dayak Uud Danum di Kalimantan Barat, tetap dianggap bagian yang tidak terpisahkan dari budayanya.

Di antaranya, dalam upacara kematian, masyarakat Dayak Uud Danum masih menggelar upacara membakar jenazah bagi keluarganya yang meninggal dunia, untuk selanjutnya abunya disimpan di dalam pondok kecil yang disebut sandung atau kodiring.

Zainuddin menuturkan, tradisi Kaharingan merupakan wujud dari penghargaan terhadap kearifan lokal. Agama Kaharingan tidak dimulai sejak zaman tertentu. Kaharingan sudah ada sejak zaman penciptaan bagi masyarakat suku Dayak, yaitu sejak Ranying Hatalla (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan manusia.

Oleh karena itu, Kaharingan tidak memiliki buku pedoman (kitab suci) atau tokoh panutan sebagai pendiri yang merupakan utusan Ranying Hatalla. Agama Kaharingan diturunkan dan diatur secara langsung oleh Ranying Hatalla. Agama Kaharingan sampai saat ini dianut dan ditaati oleh pemeluknya secara turun-temurun.

Agama Kaharingan, kata Zainuddin Isman, lahir dari tradisi yang tumbuh dan berkembang di kalangan budaya suku Dayak. Di dalam derap hidup keseharian suku Dayak, mulai dari melakukan aktivitas keseharian, kelahiran, perkawinan, dan kematian, selalu diliputi
proses ritualisasi yang dipegang teguh secara turun-temurun.

Kearifan budaya berupa penghormatan terhadap lingkungan dan alam sekitar,merupakan salah satu nilai budaya yang mampu dipertahankan masyarakat Dayak di Kalimantan hingga saat ini. Dengan mempertahankan tradisi Kaharingan, dapat dijadikan modal utama dalam pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Sumber : Sinar Harapan

PUMPUNG HAI, BUKAN OMONG HAI

Halaman MASYARAKAT ADAT HARIAN RADAR SAMPIT
Memperkuat Masyarakat Adat Dayak, Dasar Kalteng Bahadat
Alamat: Radar Sampit atau meldiwa@yahoo.com.sg

 

Pumpung Haï, Bukan Omong Haï
Oleh: Kusni Sulang

DR (HC) A. Teras Narang, SH, sebagai Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) tanggal 2 Oktober 2014 di Bétang MADN, Hapakat, yang terletak di Jalan RTA Milono, telah membuka Pumpung Haï (Rapat Besar) yang dilanjutkan dengan Napak Tilas dari 3-4 Oktober 2014 di desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas, tempat pertemuan besar Dayak se-Pulau Borneo tahun 1894 berlangsung.

Pelaksanaan kegiatan ini tertunda oleh ditangkapnya Bupati Gunung Mas, Hambit Bintih, dalam kasus korupsi oleh KPK. Pembiayaan kegiatan besar yang dihadiri oleh para damang dan Dewan Adat se-Kalimantan, termasuk yang berada di pulau-pulau lain di luar Kalimantan, pemuka-pemuka, organisasi-organisasi Dayak, tokoh politik dan pemangku kepentingan lainnya, antara lain menggunakan dana dari APBD Kabupaten Gunung Mas, selain APBD Provinsi Kalimantan Tengah dan APBD Kabupaten/Kota se-Kalimantan Tengah serta bantuan pihak ketika yan tidak mengikat.

Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi diselenggarakan dengan latar belakang seperti dikatakan oleh Sipet Hermanto selaku ketua panitia dalam pidato ‘laporan’nya, dan edaran yang dibagi-bagikan kepada hadirin, “bahwa pembangunan yang selama ini berlangsung di Kalimantan Tengah masih belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat lokal, khususnya kepada masyarakat Dayak sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri Provinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak di daerah pedesaan, cenderung hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam di Kalimantan Tengah. Konflik antara masyarakat dengan para pengusaha di bidang perkebunan dan pertambangan semakin sering muncul ke permukaan”. Berangkat dari latarbelakang demikian, maka kegiatan ini mengangkat tema, “terutama yang menyangkut: 1). Peran serta masyarakat Dayak dalam pemanfaatan sumber daya alam (SDA); 2). Otonomi daerah dilihat dari perspektif Hukum Adat Dayak; 3). Refleksi kembali semangat pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah serta eksistensi masyarakat Dayak dalam kepemimpinan daerah dan nasional di masa depan”. Ketiga masalah tersebut dirumuskan ke dalam tema besar umum “Penguatan Nilai-nilai Budaya Bétang untuk Memperkokoh Eksistensi Utus Dayak dalam Menyukseskan Pembangunan”.

Penyelenggaraan Pumpung Haï dan Napak Tilas dengan latar belakang utama seperti tersebut di atas secara sederhana mengatakan pengakuan bahwa di tengah hingar-bingar pernyataan bahwa Kalteng maju pesat dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, pengentasan kemiskinan, kemajuan ekonomi, pangan, kesehatan, infrastruktur fisik dan listrik, dan lain-lain kehebatan serta kemajuan, pada saat pimpinan politik utama daerah mulai dari provinsi hingga kabupaten berada di tangan orang Dayak (Putera Daerah), pada saat itulah justru terjadi “pembangunan yang selama ini berlangsung di Kalimantan Tengah masih belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat lokal, khususnya kepada masyarakat Dayak sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri Provinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak di daerah pedesaan, cenderung hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam di Kalimantan Tengah. Mayoritas petinggi utama di Kalteng adalah orang Dayak mengatakan bahwa secara politik sebenarnya orang Dayak sudah menjadi tuan di rumah sendiri.

Kalau politik merupakan pernyataan terpusat segala kepentingan, terutama kepentingan ekonomi, maka apabila pada saat orang Dayak menjadi tuan di rumah sendiri secara politik, tapi justru pada saat itu, terjadi marjinalisasi masyarakat Dayak, bahkan menjadi penonton belaka, apakah keadaan begini tidak menjadi pembuktian sederhana dan kuat bahwa ada yang salah dalam pilihan politik dan politik yang diterapkan? Menggunakan kata-kata dramaturg Inggris Shakespeare, dalam karyanya Hamlet, “there is something rotten in the State of Denmark” (ada sesuatu yang busuk dalam Negara Denmark). Dan Denmark itu di sini adalah Tanah Dayak, Kalteng! Sehingga latar belakang utama penyelenggaraan Pumpung Haï dan Napak Tilas Pumpung akhirnya menjadi kritik langsung pada pilihan politik dan praktek politik penyelenggara Negara di Kalteng yang notabene adalah orang Dayak sendiri. Selain itu, latar belakang utama tersebut juga secara tidak langsung menjelaskan bahwa yang memarjinalkan dan membuat Dayak menjadi penonton tidak lain dari orang Dayak sendiri, terutama pilihan politik dan politik terapan mereka.

Jika benar musabab utamanya atau yang bersifat kunci, maka yang dirubah adalah pilihan politik, politik terapan. Pilihan politik dan politik terapan baru, jika mau melakukan perubahan, niscayanya dilakukan denga penuh keberpihakan merakyat, bukan sekedar berakhir di sebuah slogan, masyarakat akar rumput, termasuk lembaga keadatan Dayak patut diperkuat dan ditata ulang sesuai fungsi dan perannya dalam sejarah budaya Dayak yang direvitalisasi dan diaktualisasikan. Koreksi besar patut dilangsungkan. Jika penguatan dan pemberdayaan masyarakat akar rumput dilakukan mereka bisa menjadi aktor pemberdayaan diri mereka sendiri, mereka bisa menjadi pengawas sosial dan patner sosial yang kuat. Juru selamat Dayak adalah orang Dayak sendiri, bukan pihak luar mana pun. Mereka harus jadi subyek bukan obyek dan komoditas. Karena itu pendekatan pemberdayaan niscayanya bottom-up bukan top-down yang menggantikan kenyataan dengan kemauan subyektif. Pembangunan tanpa pemberdayaan demikian tidak bakal kuat dan minim artinya. Kunci pemberdayaan adalah pendidikan berbarengan dengan penanggulangan darurat keperluan-keperluan praktis sehari-hari.

Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894, dengan latar belakang utama di atas serta rekomandasi-rekomendasi yang sudah dirancangkan, saya pahami pertama-tama sebagai jeritan keras masyarakat Dayak yang sadar dirinya terpinggirkan, dan mencoba mencari jalan keluar. Apakah melalui Pumpung Haï dan Napak Tilas jalan keluar yang praktis sekaligus strategis dan dipraktekkan akan didapat serta dilakukan? “Apabila Kalteng bisa mendapatkan jalan keluar yang rasuk untuk dirinya, Kalteng akan melesat maju. Kalau tidak, ia akan seperti orang tidur, bangun-bangun, ia masih di tempat semula”, ujar Cornelis Ley dalam percakapan kami di Hotel Aquarius, Palangka Raya, lima tahun silam. Mudah-mudahan!

Semoga juga rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894, tidak terhenti di lembaran-lembaran kertas seperti banyak rekomendasi dan resolusi yang dilakukan sebelumnya. Kalau terhenti di kata-kata kertas resolusi dan rekomendasi maka Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894 bisa-bisa menjadi Omong Haï [].

 

DENYUT SAWIT DI JANTUNG BORNEO

Denyut Sawit di Jantung Borneo
Inilah pembangunan menurut ORBA dan Penerusnya SBY yang senantiasa merugikan warga kecil disamping merusak lingkungan .

http://www.shnews.co/detile-21492-denyut-sawit-di-jantung-borneo.html

Aju | Selasa, 02 Juli 2013 – 14:25:04 WIB

LAHAN SAWIT – Seorang pengendara motor melintas di areal perkebunan sawit di Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Jumat (21/6). Sebagai kabupaten konservasi, keberadaan sawit
Pembukaan areal perekbunan semakin mempersempit mata pencaharian masyarakat adat Dayak.

Pengantar Redaksi
Masyarakat adat Dayak menggantungkan hidupnya pada hutan. Saat perkebunan datang dan penebangan liar marak, banyak hal yang harus mereka kompromikan. Akankah adat mereka bertahan? Selama bulan Juni, tim Jelajah Adat Nusantara Sinar Harapan mengunjungi kampung-kampung masyarakat adat Dayak dari kelompok Ibanik di Kabupaten Kapuas Hulu untuk melihat kehidupan mereka. Tulisan tentang perjalanan tersebut turun berseri di harian ini mulai Selasa (2/7) hingga Kamis (4/7).
Menyusuri wilayah Kecamatan Empanang, Kecamatan Puring Kencana dan Kecamatan Badau yang merupakan kawasan perbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, kita akan disuguhi pemandangan perkebunan kelapa sawit seluas mata memandang milik Sinar Mas Group.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Kantuk dan Empanang, terutama di areal perhuluan sebagai sumber resapan yang dulunya hutan belantara, sumber pangan masyarakat Dayak Iban dan Dayak Kantuk secara tradisional, telah berubah menjadi tegakan pohon kelapa sawit.
Saat SH menyusuri kawasan tersebut pertengahan Juni lalu, sebagian hutan baru saja digunduli karena areal baru perkebunan sawit hendak dibuka. Pembukaan areal ini meluas hingga ke pinggir sungai yang sebetulnya dilarang sesuai ketentuan resmi pemerintah.
Akibatnya, kawasan resapan DAS Empanang dan Kantuk menjadi keruh. Airnya yang dulu jernih dan bening, sekarang berubah menjadi keruh dan berwarna kecokelatan.
Ikan enggan hidup, masyarakat kehilangan pasokan air bersih, dan banyak warga yang mengeluhkan gatal di tubuh akibat mandi air sungai. Tim SH yang ikut menggunakan air sungai untuk mandi, merasakan gatal di sekujur tubuh selama lebih dari sepekan.
“Dampak lain, warga kesulitan mendapat pasokan pangan secara tradisional, karena hutan yang dulunya dijadikan tempat berburu, meramu dan mencari ikan, sudah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit,” kata Antonius Suring (60), Ketua Dewan Adat Dayak Kantuk Kecamatan Empanang.
Suring mengenang, sebelum perkebunan sawit masuk, sekali ia menebar pukat ke sungai, berkilo-kilo ikan bisa ia tangkap dalam setengah hari. Kini, seharian penuh ia menebar pukat, hanya dua ikan yang bisa ia bawa pulang.
Sementara itu, areal hutan tempat mereka biasa membuka ladang, makin hari makin menyempit karena tergusur lahan sawit. Beberapa warga di Desa Nanga Kantuk, satu-satunya desa di Kecamatan Empanang yang masih mempertahankan wilayahnya dari pembukaan areal perkebunan, akhirnya satu demi satu menyerahkan ladang miliknya dijadikan areal perkebunan karena merasa tak punya pilihan lain.
Kondisi ini ironis jika melihat Kecamatan Empanang, Kecamatan Badau dan Kecamatan Puring Kencana terletak di Kabupaten Kapuas Hulu yang sejak 2005 ditetapkan sebagai kabupaten konservasi dan masuk dalam areal the Heart of Borneo (HoB).
HoB merupakan program konservasi dan pembangunan berkelanjutan di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, yang juga mencakup sebagian wilayah Brunei Darussalam.
Koordinator World Wildlife Fun (WWF) Indonesia Program Kalimantan Barat Hermayani Putera, mengatakan, konsekuensi masuknya Kapuas Hulu dalam HoB adalah seluruh pembangunan ekonomi di kawasan tersebut harus bersumber kepada kearifan dan kebudayaan lokal, dalam rangka mengeliminasi dampak negatif pemanasan global atau global warning.
Dengan demikian, kegiatan ekonomi berbasis padat modal, mesti konsisten terhadap tata ruang. Artinya, komoditas perkebunan yang dikembangkan, mesti ada jaminan jenisnya masuk di dalam kategori tanaman kehutanan, seperti karet, kopi, cokelat, petai, nangka, dan tanaman kehutanan lain yang bernilai ekonomi tinggi.
“Tapi, di Kecamatan Empanang, Kecamatan Puring Kencana dan Kecamatan Badau yang selama ini dikenal sebagai sumber resapan air Sungai Kapuas dan Taman Nasional Danau Sentarum, ternyata telah disulap menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Ini permasalahan serius,” kata Soenarno, pengamat kehutanan di Pontianak.
Menurut Soenarno, perkebunan kelapa sawit di areal yang sudah ditetapkan menjadi HoB merupakan pelanggaran serius terhadap tata ruang. Komoditas kelapa sawit bukan jenis tanaman kehutanan, sehingga pada dasarnya perkebunan kelapa sawit tidak boleh dibangun di Kabupaten Kapuas Hulu yang sudah ditetapkan menjadi kawasan konservasi dan HoB.
“Ini bentuk inkonsistensi tata ruang yang berpotensi kepada pelanggaran tindak pidana, baik oleh pemerintahan otonom sebagai pemberi izin maupun oleh investor,” kata pensiunan pejabat struktural Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat ini.
Komitmen Tiga Negara

Program HoB yang merupakan kesepakatan Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam dideklarasikan di Denpasar, Bali pada 12 Februari 2007. Total areal pelestarian HoB mencapai 23.309.278 hektare, dengan cakupan wilayah Indonesia 56,54 persen atau 12.624.380 hektare; Malaysia 41,87 persen atau 9.341.000 hektare yang meliputi Sabah 3.968.000 hektare dan Sarawak 5.373.000 hektare; serta Brunei Darussalam sebanyak 1,59 persen atau 355.278 hektare.
HoB wilayah Indonesia membentang seluas 12.624.380 hektare di areal Pegunungan Muller dan Pegunungan Schwaner. Ini merupakan gugus pegunungan berhadap-hadapan di jantung Borneo yang mencakup Provinsi Kalimantan Tengah 2.466.000 hektare (11,13 persen), Provinsi Kalimantan Timur 6.137.000 hektare (27,7 persen), dan Provinsi Kalimantan Barat 4.021.300 hektare (18,10 persen).
Dari lanskap yang terbentuk, kawasan Pegunungan Muller – Pegunungan Schwaner tidak dapat dipisahkan secara ekologis dengan kawasan Taman Nasional Kayaan Mentarang (Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara) dan Taman Nasional Danau Sentarum (Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat).
Kedua pegunungan ini merupakan koridor ekologis yang menghubungkan berbagai jenis hidupan liar (flora fauna) beserta ekosistemnya di kelima kawasan konservasi tersebut, termasuk Kabupaten Kapuas Hulu.
Permasalahan yang terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu sekarang ini merupakan tantangan terbesar di dalam menjabarkan program HoB.
Kerusakan ekologi di Indonesia mencapai 1,8 juta hektare per tahun. Itu berarti deforestasi di Indonesia berada di nomor urut kedua terparah di dunia, setelah Brasil yang mencapai 3,1 juta hektare per tahun. Khusus di Kalimantan, kerusakan areal hutan lindung sudah mencapai 12,6 juta hektare. Sementara itu, alih fungsi hutan di Kalimantan yang tidak sesuai peruntukan mencapai 14,6 juta hektare.
Komitmen pemerintah Indonesia memang ditunggu. Namun, kesadaran komunitas adat untuk menjaga hutan dan keberlanjutan ekologi juga menjadi poin penting.
“Uang bisa habis dalam sekejap, sementara sungai kami tercemar dan tidak ada lagi hutan tempat berladang. Kami kehilangan tanah selamanya. Makan apa anak cucu nanti?” tutur Clemens Junjung (54), warga Nanga Kantuk yang menolak menyerahkan lahannya untuk perkebunan sawit. Baginya, tanah dan sungai adalah sumber pangan yang tak akan habis digali, selama dikelola dengan adat yang baik.
Sumber : Sinar Harapan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers