Archive for the ‘Dayak’ Tag

PAPARAN AKIBAT TAMBANG TAK TERKONTROL

Paparan Akibat Tambang Tak Terkontrol
JAKARTA, KOMPAS — Pertambangan emas skala kecil di beberapa wilayah Indonesia menempatkan warga pada kondisi rentan terpapar logam berat merkuri. Itu karena petambang menempatkan alat produksi di sekitar permukiman penduduk.
”Intoksikasi merkuri tidak ubahnya bom waktu,” kata Stephan Bose-O’Reilly, spesialis kedokteran lingkungan pada University for Health Sciences, Medical Informatics, and Technology (UMIT) Austria, dalam pelatihan pengenalan merkuri dan dampaknya pada kesehatan masyarakat, Selasa (21/10), di Jakarta. Penelitiannya di Kalimantan dan Sulawesi menemukan sejumlah indikasi.
Menurut O’Reilly, penelitiannya di sebuah permukiman di Galangan, Kalimantan Tengah, menunjukkan, golongan paling rentan keracunan merkuri adalah pembakar amalgam (partikel emas). Di sana, dari 69 pembakar amalgam, sebanyak 41 orang di antaranya menunjukkan tanda keracunan. ”Dari hasil tes kandungan merkuri di darah, urine, dan rambut pembakar amalgam menunjukkan hasil lebih tinggi dibandingkan kelompok lain.”
Indikasi keracunan merkuri di antaranya tingginya kandungan dalam tubuh serta gejala seperti tremor, kesulitan mengoordinasikan tubuh, gangguan tidur, dan mengeluarkan liur dalam jumlah banyak. Meski demikian, orang dengan gejala seperti itu tetap harus menjalani pemeriksaan medis untuk memastikan memang akibat keracunan merkuri.
Tanda-tanda keracunan merkuri juga ditemukan pada kelompok mantan petambang dan pekerja anak serta penduduk bukan petambang yang bermukim di sekitar penambangan. Sejumlah warga bahkan memiliki alat pemroses di rumah mereka.
Hasil serupa ditemui di permukiman di Tatelu, Sulawesi Utara. Dari 61 pembakar amalgam, sebanyak 33 orang di antaranya (54,1 persen) menunjukkan tanda keracunan merkuri.
”Di daerah ini, tingginya konsumsi ikan memengaruhi tingkat keracunan,” ujar O’Reilly. Di daerah itu ada sungai yang mengalir menuju Teluk Bunaken. Zat merkuri di udara bebas itu menempel ke air dan udara.
Anak terpapar
Selain pada orang dewasa, efek buruk merkuri juga dirasakan anak-anak. Apalagi di dua daerah yang dijadikan sampel cukup banyak anak-anak yang bekerja di penambangan emas. Dua dari delapan pekerja anak-anak di Kalimantan Tengah menunjukkan tanda keracunan merkuri, sedangkan di Tatelu sembilan dari 51 anak menunjukkan tanda itu.
Yuyun Ismawati, Senior Advisor Bali Fokus, mengatakan, ada beberapa pemicu besarnya penggunaan merkuri untuk pengolahan emas di Indonesia. Salah satunya ketiadaan aturan yang melarang penggunaan merkuri.
”Ada aturan yang membolehkan penggunaan merkuri secara terbatas. Namun, tidak ada pengawasan,” kata Yuyun. Impor merkuri ilegal juga masih terjadi. (A01)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000009658427

TOKOH DAYAK: USUT TUNTAS PENEMBAKAN WARGA ADAT

Tokoh Dayak: Usut Tuntas Penembakan Warga Adat  

SENIN, 27 OKTOBER 2014

BANJARMASIN, KOMPAS — Para tokoh adat Dayak meminta kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepolisian terhadap warga masyarakat adat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan. Polri juga harus berkomitmen tidak melakukan tindakan serupa di kemudian hari.
Kekerasan yang dilakukan aparat dalam operasi penertiban pembalakan liar di Kecamatan Mentewi, Tanah Bumbu, Selasa pekan lalu, menyebabkan Inus (35), warga masyarakat adat Dayak Meratus, tewas. Selain itu, tiga warga adat lainnya juga terluka. Mereka diduga terkena tembakan aparat kepolisian.
”Desakan untuk mengusut tuntas kasus penembakan warga masyarakat adat Dayak Meratus disampaikan para tokoh adat Dayak dalam pertemuan di Desa Malinau, Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Sabtu malam,” kata Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel Yasir Al Fatah, di Banjarmasin, Minggu (26/10).
Yasir mengatakan, pertemuan tersebut tidak hanya dihadiri para tokoh adat dari Kalsel, tetapi juga dari Kalimantan Tengah. Para tokoh pun akan menyampaikan beberapa tuntutan masyarakat adat dalam pertemuan dengan aparat kepolisian yang difasilitasi oleh Bupati Tanah Bumbu Mardani H Maming, Senin ini, di Batulicin.
Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional Haspan Hamdan, kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap warga adat tidak boleh ditutupi. Pengusutan tuntas jauh lebih penting daripada penyelesaian dengan membayar adat kematian. ”Kami menghendaki rekonsiliasi antara masyarakat adat dan aparat kepolisian tidak hanya sebatas membayar tuntutan adat,” katanya.
Menurut Hamdan, kepolisian daerah Kalsel tidak hanya harus meminta maaf, tetapi juga harus menindak oknum yang diduga melepas tembakan kepada warga adat.
Kepala Bidang Humas Polda Kalsel Ajun Komisaris Besar Sunyipto mengatakan, tim investigasi yang dipimpin Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Kalsel masih melakukan penyelidikan. Jika anggota terbukti salah, akan ditindak tegas.
Menurut Kepala Polda Kalsel Brigadir Jenderal (Pol) Machfud Arifin, di Banjarmasin, Jumat lalu, kasus penembakan terhadap warga adat itu sudah selesai. (JUM)
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000009735669

KOMUNITAS SEBAGAI SUBJEK

Menempatkan komunitas sebagai subjek pembangunan dan membiarkan mereka berdaulat mengakses SDA melalui inisiatif kearifan lokal penting dipertimbangkan.

Oleh Hendrikus Adam*

Ada kisah pilu yang saya ingat tentang kegelisahan tiga warga kampung dari Bengkayang, Landak dan Sintang.
Di Bengkayang, Masyarakat Adat Semunying Jaya pernah mendekam dalam bui dan harus berjuang ekstra atas penyerobotan hutan adat oleh perusahaan perkebunan yang mengabaikan rasa keadilan.
Negara dalam kasus ini tak sungguh memihak, apalagi memberi solusi. Persetujuan bebas tanpa paksaan (prinsip FPIC) pun turut diabaikan.
Jamaludin, pria asal kampung Pareh di Semunying Jaya karena kesal berujuar; “Pihak perusahaan kami anggap melakukan penindasan, perampasan dan pemerasan terhadap warga Semunying Jaya.
Pihak perusahaan bukan malah menguntungkan, penjajah bagi kami. Masalah perizinan mereka itu tidak jelas, siapa yang memberi izin. Katanya dari bupati, kenapa tidak izin pada masyarakat?”
Sedang di Sintang, L. Edar, 49, pria asal kampung Sungai Garuk di kecamatan Serawai dicopot sebagai kepala dusun dengan tak hormat, sejak 1 April 2011. Dia dianggap tak mendukung kebijakan pemerintah soal perkebunan kelapa sawit dan terlibat dalam organisasi GEMAS.
Edar warga Masyarakat Adat Melahui di kampung Sungai Garuk sadar bahwa wilayah mereka tidak untuk dieksploitasi apalagi diambil paksa.
“Manusia bisa beranak, tanah tidak. Tanah juga tidak bisa bertambah. Tetapi bila tanah diambil perusahaan, di mana masyarakat akan hidup?”begitu dia berujar soal hutan dan sumberdaya alam sekelilingnya.

Keteguhan Sikap

Lain lagi kisah Akbertus, seniman ukir dari Kampokng Sahapm di kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Dia adalah Albertus. Pria berusia 45 tahun ini konsisten dalam menjaga alam dan mempertahankan warisan leluhur dengan caranya.
Menurut dia, sekitar tahun 1990an hutan adat kampung Sahapm diincar investor yang berniat membuka perkebunan kelapa sawit. Orang-orang suruhan menakut-nakuti warga kerap dengan mengatakan bahwa tanah yang berada di wilayah adat mereka adalah tanah atau hutan (milik) negara.
Abertus saat itu menjabat ketua RT 03 bersama warga lain yang didukung para tetua yang kini sebagian telah meninggal konsisten melawan. Kendati menuai ancaman dan teror, mereka memetik hasilnya.
Komunitas dengan kekhasan budayanya berikut kawasan hutan sekitar dapat terjaga keberadaannya. Hingga kini masih saja ada pihak yang berharap wilayah itu dapat digarap untuk investasi perkebunan.
”Saat itu, kita (saya) diancam pihak perusahaan karena dianggap sebagai provokator. Pernah diundang pihak aparat (Polisi dan Koramil) untuk diminta keterangan. Dengan berbagai macam teror, mungkin dirasakan tidak mempan, kemudian secara halus mereka mendatangi kita. Manager perusahaan saat itu datang membawakan uang dalam kantong plastik hitam sebanyak ratusan juta rupiah,” tutur Albertus pada penulis.
Bagi dia, apa yang dilakukan perusahaan bukan cara untuk menghargai mereka secara baik. Dia pun menolak uang itu secara halus.
Diakhir kisahnya, Albertus bertutur dalam bahasa daerah Dayak Kanayatn,
”Kade’ diri nana’ bapikir, nana’ paduli ka’ urakng lain, mungkin udah samuanya baralih ka’ perusahan. Kami bapikir demi kepentingan generasi, gali’ uga’ akibatnya walau nana’ ditele’ urakng rami”
(Kalau tidak berpikir, tidak peduli kepada warga lainnya, mungkin semuanya sudah beralih ke perusahaan. Kami berpikir demi kepentingan generasi, takut juga akibatnya walau tidak dilihat orang ramai)”.
Ini mengambarkan keteguhan sikap warga kampung yang ingin alam wilayah sekitar tetap terjaga dan terhindar dari eksploitasi. Mencerminkan kedekatan dengan sumber daya alamnya.
Ada kesamaan pesan ketiga warga dari kampung yang berbeda itu.
Masyarakat Adat cenderung rentan menjadi korban kebijakan pembangunan yang tak mereka inginkan. Ungkapan mereka memiriskan karena bertutur soal penyerobotan lahan, riak dan konflik, intimidasi, pembungkaman secara halus (menghalalkan cara dengan menyuap warga) dan berbagai potensi destruktif lain.
Sisi positif darinya adalah kesadaran bahwa SDA perlu dilestarikan, sikap kritis, semangat rela berkorban, keinginan kuat mempertahankan budaya, jati diri dan ruang hidup komunitas, kejujuran, keberpihakan pada kebenaran dan seterusnya.

Keutuhan SDA

Kisah dan kesaksian Jamaludin, Edar dan Albertus hanya bagian kecil ’cerita pilu’ di negara republik ini. Upaya mereka bersama komunitasnya boleh jadi mewakili ”kegelisahaan” komunitas (Masyarakat Adat/lokal) pada umumnya. Perjuangan komunitas Masyarakat Adat bagi keutuhan dan keberlanjutan SDA patut jadi refleksi.
Hemat penulis, tidak perlu lagi ada tuduhan dini bernada sinis dan sepihak yang kerap dialamatkan pada komunitas. Cukup sudah selama ini komunitas menjadi korban. Negara melalui aparatur seharusnya tertantang untuk menyuguhkan perlakuan humanis yang beradab dan sanggup memanusiakan warganya.
Hutan, tanah dan sungai (air) sebagai bagian penting dan mendesak bagi kelangsungan hidup maupun kehidupan komunitas tidak seharusnya jadi objek eksploitasi semaunya oleh ”Si Kaya” – ”Si Kuasa”. Pejabat pemerintah tak perlu merasa mumpung punya kewenangan lantas bertindak melebihi batas ideal hingga melukai perasaan warga.
Seharusnya mereka menempatkan setiap individu dan komunitas Masyarakat Adat sebagai subjek dalam setiap (kebijakan) pembangunan berbasis sumber daya alam. Keutuhan SDA dengan keberpihakan negara terhadap masa depan warganya, termasuk komunitas Masyarakat Adat yang tersebar se Nusantara, mesti segera diwujudkan.
Bukan Hutan Negara
Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi (Judicial Review) atas UU 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang diajukan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Masyarakat Adat Kenegerian Kuntu dan Masyarakat Adat Kesepuhan Cisitu, pastilah menggembirakan.
Putusan yang disampaikan dalam sidang pleno MK pada Kamis, 16 Mei 2013 tersebut mengakui dan menegaskan bahwa ”Hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat”.
Dengan kata lain, putusan bernomor 35/PUU-X/2012 sederhananya dapat dipahami bahwa; ”hutan adat bukan (lagi) hutan negara.
Putusan MK itu mungkin kemenangan Masyarakat Adat, tentu perjuangan selanjutnya jauh lebih penting. Tantangannya adalah bagaimana memastikan agar putusan tersebut menjadi rujukan, dilaksanakan dan memiliki kekuatan (eksekusi) mengikat. Dengan demikian dia dapat ”memaksa” untuk pencapaian situasi komunitas yang diidamkan; berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya.
Bagaimanapun, harus disadari bahwa kedekatan hubungan komunitas terhadap hutan adat berikut wilayah kelola dan sumber daya alam sekitarnya adalah satu kesatuan utuh. Ini perlu diapresiasi dan menjadi kesadaran kolektif segenap pemangku kepentingan.
Menempatkan komunitas sebagai subjek pembangunan dan membiarkan mereka berdaulat mengakses SDA melalui inisiatif kearifan lokal penting dipertimbangkan. Ini adalah pilihan strategis aparatur negara.
Putusan bahwa ”hutan adat bukan hutan negara” sedianya tidak malah menambah jeritan hati dan kegelisahan komunitas seperti halnya testimoni kegelisahan ketiga warga di atas. Sebaliknya, putusan tersebut kiranya menjadi sumber inspirasi yang dapat memperkuat kesadaran, tindakan maupun keyakinan kolektif komunitas Masyarakat Adat dalam menjawab kegelisahan dan tantangan yang dihadapi.
Suara kegelisahan Masyarakat Adat hendaknya membangkitkan hati nurani pemimpin negeri untuk memberi pelayanan prima bagi warganya. Semoga***

*) Penulis warga Kalimantan Barat, aktifis Walhi dan peminat isu demokrasi dan HAM.
Sumber: http://www.aruemonitor.co/suara-kegelisahan-masyarakat-adat/

MENEROPONG DAYAK IBAN MENATA LINGKUNGAN

Meneropong Dayak Iban Menata Lingkungan

http://www.shnews.co/detile-4674-meneropong-dayak-iban-menata-lingkungan—.html

Septiawan | Jumat, 13 Juli 2012 – 15:25:30 WIB
(SH/Septiawan)Suku Dayak Iban diberi hidup di Taman Nasional Danau Sentarum karena mampu menjaga konservasi.
Tato bergambar Pancasila itu sudah hampir luntur. Mungkin karena terlalu lama “bertengger” di lengan kanannya atau kualitasnya yang kurang bagus. Tapi, tato di lengan kirinya masih tampak jelas dan tebal, bergambar jangkar dan di bawahnya tertera kata “Brunei”.
Akwang adalah sang empunya tato. Umurnya sekitar 65 tahun. Dialah Kepala Dusun Sungai Pengerak, Desa Jongkong Kiri Hilir, Dusun Kenasau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Akwang merupakan keeturunan Suku Dayak Iban yang menetap di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).
Tato “Brunei” menjadi pertanda bahwa Akwang pernah merantau ke Brunei. Ini terjadi sekitar 10 tahun lalu saat dia mengadu nasib sebagai pekerja bangunan. Ternyata hasil yang dia petik sebagai pekerja kasar di negeri orang tidak sesuai harapan. Hingga akhirnya dia kembali pulang ke perkampungan Dayak Iban di Lembah Bukit Kenasau.
Kepulangannya dilakukan pada saat Hari Gawai, hari perayaan panen yang biasanya dilakukan di kota dan lamin (rumah panjang). Upacara ini dimaksudkan untuk memberi persembahan kepada dewa padi atas hasil panen yang melimpah. Kegiatan secara besar-besaran dilakukan sejak 25 September 1964.
Setelah acara Gawai selesai, ada yang memilih menetap selamanya di dusun itu, namun ada juga yang kembali ke perantauan di negeri seberang, kebanyakan di Malaysia dan Brunei. Bagi yang pindah ke negara lain biasanya juga pindah menjadi warga negara tersebut.
Akwang termasuk yang memilih kembali menjadi penduduk Dusun Kenasau bersama istri dan keempat anaknya.
Dia merasa hidup makmur berkat hasil karet dari perkebunannya seluas 5 hektare di atas tanah adat. Hasil sadapan karet itu dijual ke pengepul, yang nyatanya mampu mengebulkan asap dapurnya. Dia juga memiliki beberapa keramba ikan untuk kemudian hasilnya dimakan sendiri bersama keluarganya dan untuk dijual ke pasar tradisional.
Mendapatkan ikan di dalam keramba itu membutuhkan energi ekstra, tidak instan. Ini karena Akwang menghindari penggunaan setrum, menuba (menebarkan racun dari akar tanaman), menggunakan jermal warin atau perangkap ikan dengan jaring/net ukuran kecil.
Dia hanya menggunakan mata kail dengan umpan ikan kecil. Cara untuk melestarikan alam ini diketahuinya setelah memperoleh bimbingan dari Yayasan Riak Bumi dan Dinas Perikanan Kabupaten Kapuas Hulu sejak 2000.
Lelaki ini menjelaskan, yang membuat ikan cepat habis adalah akibat budi daya ikan toman (channa micropeltes) dalam keramba. Ini karena pakan ikan toman adalah ikan segar berukuran kecil, di mana untuk satu hari bisa menghabiskan sekitar 30 kilogram ikan segar untuk keramba berukuran 2x3x1 meter. Sementara itu, panen ikan toman berlangsung setiap 16 bulan. Kalau dijual, harganya Rp 20.000-40.000 per kilogram.
Tidak hanya Akwang, ternyata seluruh masyarakat Dusun Kenasau tidak ada yang menggunakan keramba ikan untuk budi daya ikan toman. Namun nyatanya sepanjang tahun selalu saja ada ikan yang dapat ditangkap oleh masyarakat untuk dijual kepada pengumpul, seperti ikan toman, baung, belidak, tengalan, tapah, kalay, rinjau, jelawat, dan kelara.
Koordinator Yayasan Riak Bumi, Jim Sami yang mengikuti Ekspedisi Sentarum Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) di seluruh kawasan TNDS mengemukakan, Dusun Kenasau boleh dijadikan model pengelolaan sumber daya alam secara lestari yang berbasis hukum adat. Warganya tidak tergiur untuk mendapat tangkapan ikan yang banyak.
Mereka mencari ikan hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Seandainya masih ada yang tersisa, hasil penjualannya dipakai guna membeli kebutuhan bersama semisal genset untuk penerangan lampu yang kemudian dipasang di rumah betang. Rumah betang adalah rumah panjang khas Dayak. Di satu rumah betang terdapat sekitar tujuh keluarga. Di Kenasau ada 19 keluarga, tetapi 12 keluarga lainnya mendirikan rumah masing-masing.
Harmoni antara manusia dan alam tercipta di Kenasau, karena rakyatnya percaya bahwa alam yang menghidupi mereka harus “dihidupi” juga. SH ketika berkunjung ke sana menyaksikan jernihnya air sungai yang mengalir persis di depan rumah betang.
Suku Dayak Iban memang berbeda. Mereka diperbolehkan hidup di kawasan TNDS karena terbukti mampu menjaga kelestarian. Lain halnya yang terjadi di Dusun Vega, di mana ikan belidak sampai habis karena banyak orang menangkap ikan dengan cara memakai pukat yang disurang ke dalam air.
Lebah Enggan Datang
Sayangnya, area TNDS saat ini sudah dikepung oleh perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, produksi madu pun berhenti sejak sekitar dua tahun lalu. Lebah madu enggan datang lagi akibat perambahan perkebunan sawit. “Sekarang sulit mencari lebah untuk madu,” kata Akwang sambil menunjukkan sarang lebah di pohon-pohon sekitar dusunnya.
Padahal, madu juga menghidupi masyarakat karena bisa dijual ke Pasar Jongkong yang terletak di perbatasan Indonesia–Malaysia dan Indonesia–Brunei. Akwang memang lebih memilih mata pencarian menangkap ikan, menyadap karet daripada mencari madu, karena sungai di depan rumahnya sudah menyediakan ikan berbagai jenis yang bisa dimakan setiap hari.
“Kami menjaga jangan sampai ikan itu nanti habis, karena orang luar sekarang mulai mencari ikan di dalam Danau Sentarum. Mereka memang menggunakan alat pancing dan jaring, tetapi ikan yang dipancing sebanyak mungkin untuk kemudian dijual ke Pontianak,” kata Akwang dengan nada prihatin. Dia juga menyesalkan jumlah jagawana atau penjaga hutan di TNDS yang sedikit sehingga tidak mampu mengawasi area TNDS dengan saksama.
Menurut survei yang pernah dilakukan Cifor dan Yayasan Riak Bumi, aparat pemerintah kabupaten, kecamatan, desa serta TNDS sangat jarang mengunjungi kampung. Staf desa belum tentu satu bulan sekali mendatangi kampung, kecuali menjelang pemilihan umum (pemilu) atau pemilihan kepala daerah (pilkada).
Bahkan, bantuan guru kampung tak jelas sehingga warga berinisiatif menggaji guru kampung. Yang dekat dengan rakyat hanya pihak gereja, pembeli ikan asin dan ikan toman, dan Yayasan Riak Bumi.
Terdapat tiga keluarga yang tinggal di atas lanting, yaitu rumah apung yang dibangun di atas sungai. Pada umumnya rumah adalah rumah panggung di sepanjang bantaran sungai yang dihubungkan oleh jalan kampung dari kayu yang dibangun secara swadaya. Di beberapa bagian jalan sudah miring.
Rumah-rumah tersebut memperlihatkan adanya adaptasi terhadap ekologi danau yang pasang-surut. Normalnya, danau terendam air 8-10 bulan di setiap tahunnya. Tetapi untuk tahun ini, sudah lebih enam bulan hujan tak turun sehingga permukaan Sungai Belitung surut.
Untuk hutan lindung, ada aturan yang merupakan kesepakatan antara Dayak Iban dengan Melayu. Aturan ini membolehkan memanfaatkan kayu hutan, dengan syarat untuk membangun rumah sendiri dan dilarang diperjualbelikan. Apabila aturan ini dilanggar, ada sanksi adat yang diberlakukan bagi pelakunya. Kontribusi masyarakat Dayak Iban yang besar terhadap konservasi layak diapresiasi semua pihak. (Sinar Harapan)

FLAMBOYAN BAWAH, PALANGKA RAYA, KAMPUNG KUMUH DI TEPI KAHAYAN

Perumahan penduduk Palanrakgka Raya di kampung kumuh, Flamboyan, tepi Sungai Kahayan. Di sini bersarang rupa-rupa kejahatan. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2009).

Perumahan penduduk Palanrakgka Raya di kampung kumuh, Flamboyan, tepi Sungai Kahayan. Di sini bersarang rupa-rupa kejahatan. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2009).

Perkampungan penduduk  di Flamboyan Bawah, Palangka Raya, tepi Sungai Kahayan. Ironinya, air bersih didapat dengan pompa air. Sungai penuh merkuri (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni. 2009)

Perkampungan penduduk di Flamboyan Bawah, Palangka Raya, tepi Sungai Kahayan. Ironinya, air bersih didapat dengan pompa air. Sungai penuh merkuri (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni. 2009)

Berkunjung ke Flamboyan Bawah [Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2009)

Berkunjung ke Flamboyan Bawah [Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2009)

Sampah perumahan kampung kumuh Palangka Raya dan Sungai Kahayan.  Di Kalteng, sungai adalah nama lain dari tong sampah besar. (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah /Andriani S. Kusni, 2009]

Sampah perumahan kampung kumuh Palangka Raya dan Sungai Kahayan. Di Kalteng, sungai adalah nama lain dari tong sampah besar. (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah /Andriani S. Kusni, 2009]

ACARA TAHUNAN: FESTIVAL SENI-BUDAYA ISEN MULANG

Tari Menumpas Kejahatan dalam pawai pembukaan Festival Seni Budaya Isen Mulang yang diselenggarakan saban tahun dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, Mei 2013)

Tari Menumpas Kejahatan dalam pawai pembukaan Festival Seni Budaya Isen Mulang yang diselenggarakan saban tahun dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, Mei 2013)

Dalam pawai pembukaan Festival selain disertai oleh delegasi dari 14 kabupaten/kota, juga diikuti oleh komunitas-komunitas dari berbagai suku non Dayak yang ada di Kalteng (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriankai S. Kusni, Mei 2013)

Dalam pawai pembukaan Festival selain disertai oleh delegasi dari 14 kabupaten/kota, juga diikuti oleh komunitas-komunitas dari berbagai suku non Dayak yang ada di Kalteng (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriankai S. Kusni, Mei 2013)

Menjadi tradisi Dayak bahwa perempuan pun turut berperang. Dalam Perang Kemerdekaan 1945, di Kalteng terdapat  Lasykar Perempuan yang cukup banyak jumlah anggotanya di samping lasykar-lasykar Dayak yang lain .  (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Mei 2013).

Menjadi tradisi Dayak bahwa perempuan pun turut berperang. Dalam Perang Kemerdekaan 1945, di Kalteng terdapat Lasykar Perempuan yang cukup banyak jumlah anggotanya di samping lasykar-lasykar Dayak yang lain . (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Mei 2013).

BERKATA DAN BERBAHASA

Sahewan PANARUNG HARIAN RADAR SAMPIT
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

Tajuk Panarung
BERKATA DAN BERBAHASA

Oleh Andriani S. Kusni

Saya membedakan antara berkata dan berbahasa. Berkata atau berkata-kata bisa dilakukan tanpa memikirkan arti kata yang diucapkan. Dengan kata lain “asal bicara”, “asal berkata”.Sedangkan dalam berbahasa, kata-kata yang diucapkan berada dalam suatu struktur logika. Oleh karena itu dari tanda baca hingga diksi sangat diperhatikan agar pikiran dan perasaan yang telah tersusun rapi dalam diri pengguna bahasa bisa diterjemahkan dengan relatif tepat oleh bahasa. Yang sering saya hadapi adalah kekacauan dalam berbahasa seaingga komunikasi jadi terganggu. Yang diterima intelokutor berbeda dengan yang dimaksudkan oleh komunikator. Jadinya, berbahasa memerlukan tingkat kemampuan berpikir sedikit lebih tinggi dari berkata-kata, terutama dalam struktur dan keruntunan nalar. Orang yang bisa berkata-kata belum tentu bisa berbahasa seperti halnya orang yang tidak buta aksara belum tentu bisa membaca. Karena membaca memerlukan tingkat penyerapan dan analisa serta menyimpulkan.
Salah satu contoh mutakhir dari keadaan bisa berkata-kata tapi tidak bisa berbahasa adalah kalimat dari dokumen resmi yang bertajuk “Perjanjian Antar Generasi”. Saya kutip:
“Perjanjian Antar Generasi ini ditandatangani oleh wakil tiga generasi. Generasi Masa Lalu diwakili oleh Sabran Ahmad, Talinting Tupak, Lewis KDR. Sementara Generasi Masa Kini diwakili oleh Siun Jarias, Zulhaidir, dan Perdie. Sedangkan Generasi Masa Depan diwakili oleh Nomi Adilia, Eteria, dan Teresia Para penandatangan Perjanjian Antar Generasi ini bertindak atas nama masyarakat adat Dayak Kalimantan.”
Pengertian umum memahami “masa lalu” sebagai sudah lewat, tidak zamani lagi dan hanya pantas jadi isi museum, tanda bahwa hal-ihkwal atau generasi tersebut pernah ada tapi sudah tidak fungsional lagi. Dalam tata bahasa bahasa yang lebih rapi, disebut “past tense”.Sedangkan dalam percakapan sehari-hari saat kita mengatakan “sudah masa lalu”, kita bermaksud “sudahlah tidak usah dibicarakan lagi. Lupakan saja”.
Apakah orang-orang dari angkatan tua yang masih hidup, masih aktif menyertai rupa-rupa kegiatan, masih giat menulis jika mereka penulis atau jurnalis, bahkan jauh lebih aktif oyang tak lagi berfungsi untuk hari ini dan esok? Sementara tidak sedikit orang-orang yang lebih muda dari mereka sebenarnya dari segi visi, wawasan dan kegiatan bisa disebut sudah mati selagi hidup—keadaan yang lebih buruk daripada masa lalu.
Inti masalah yang saya angkat di sini adalah soal logika dalam berbahasa. Barangkali soal nalar dalam bahasa inilah sari pesan yang terkandung dalam pesan DR.Badudu di tahun 90-an silam melalui rubriknya di Majalah Intisari agar kita “Berbahasa Indonesia yang baik dan benar”. Kenyataan di negeri ini, termasuk di Kalteng, pesan ini kurang mendapat perhatian. Istilah “generasi masa lalu” yang digunakan oleh Perjanjian Antar Generasi MADN hanyalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah tidak bisa membedakan antara “pilar” dan “dasar” seperti “empat pilar bernegara. Padahal kemajuan intelektualitas dan kemampuan berbahasa mempunyai kaitan sangat erat.
Apabila bahasa merupakan lumbung nilai, merosotnya nasionalisme seperti yang sering diungkapkan para pejabat sipil dan militer negeri, kemerosotan tersebut tercermin juga dalam kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sama sebangun dengan yang terjadi terhadap Bahasa Dayak yang dihancurkan oleh orang Dayak sendiri. Apakah budaya Dayak suatu masa lalu (past- tense) bagi sejumlah orang Dayak? Jika demikian, bukan ajaib jika suatu saat, bamba (gong kematian) akan terdengar.[]

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding).
~ Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~ Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. (Lihat edisi terdahulu).
~ Télu pain tungku. Tiga kaki tungku. (Lihat edisi terdahulu)
~ Panutung bulan matanandau pambélum. Menyulut (cahaya) pada bulan dan matahari kehidupan. (Lihat edisi terdahulu)
~ Tunjung Nyahu, cahaya kilat petir. Suatu konsep intelektualitas Dayak yang memandang bahwa cendekiawan sebagai orang-orang pilihan alami ibarat cahaya kilat petir menerangi kegelapan. Sesuai pandangan ini maka para pendiri Provinsi Kalimantan Tengah sejak dini mengutamakan pendidikan dan mendirikan Universitas Palangka Raya (Unpar) dengan harapan bisa menjadi otak Kalimantan, cq Dayak. Otak Kalimantan tidak ditandai dengan ijazah tapi dengan tingkat intelektualitas. Yang berijazah universitas belum tentu cendekiawan. Konsep ini juga secara otomatis memandang bahwa ilmu pengetahuan yang membawa terang bagi sekitar dan kehidupan, komitmen social yang kuat merupakan satu kesatuan dan keniscayaan.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Lalau séhéi, tépa bakéhu. Terlalu dipanggang (dipanggang berkelebihan) akhirnya terbakar (tepatnya: gosong –bhs. Jawa) Pepatah mengingatkan seseorang agar jangan mengangkat-angkat diri berkelebihan, sebab akhirnya oleh cara itu akan membuat seseorang jatuh dari tempat tinggi. Dalam konteks politik hari ini, perbuatan ini menampakan diri dalam bentuk politik pencitraan:Politik yang membagus-baguskan diri tidak sesuai kenyataan. Yang diingatkan oleh pepatah lalau séhéi, tépa bakéhu, oleh orang Inggris dikatakan “you can bluff people once, but not all the time” (kau bisa menipu orang lain sekali, tetapi tidak untuk selamanya)
~ Éla manjakah pisi dia baumpan. Jangan melempar pancing tanpa umpan. Pepatah ini menasehatkan agar kalau mau melakukan sesuatu secara berhasil, syarat-syarat penopang hendaknya disiapkan benar-benar. Kelanjutan dari pandangan atau nasehat ini adalah pepatah “manémpé into lisung, barapi intu rinjing”. Menumbuk di dalam lesung, bertanak di dalam kuali. Pepatah ini menasehatkan agar dalam melakukan sesuatu niscayanya sesuai peruntukan dan aturan. Jangan bertindak semau sendiri. Hendaknya tidak hantam kromo, jika meminjam istilah Orang Jawa.

Jenggot Warisan
Oleh Izzah Yusuf *
Hah! Hah! Sudah lama aku tidak bermimpi kakek berjenggot itu. Semenjak aku lulus SD. Sekarang aku bermimpi lagi di saat aku duduk dikelas dua SMA. Kakek yang menggenggam tanganku saat aku terjatuh di dalam mimpi. Tapi kali ini berbeda. Kakek itu merenggangkan gengggamannya, seakan mau pergi.
Baru pukul tiga pagi, sedang konser Endang Sukamti baru usai dua jam yang lalu. Angin malam menggerakkan rambut ikalku. Sudah tidak terhitung aku kabur dari pondok dan tidur di emperan toko seperti ini. Aku juga tidak tahu, mungkin karena hasutan dan loyalitas persahabatan yang aku jalin bersama Rio, Ahmad, Ivan dan Mario ini sudah berlangsung sekitar satu tahun, aku tidak dapat mencegah diriku untuk tidak mengikuti mereka.
Selama itu juga kenakalan kita masih tahap normal –menurutku-. Hanya kabur dari pondok untuk menonton konser, atau kabur sekedar keliling kota. Sesekali kita kabur satu hari penuh. Pernah ketangkap basah dengan pembimbing pondok pernah juga tidak. Prinsip kita satu, tidak merugikan orang lain hanya merugikan diri sendiri.
Kita pun pulang pukul tiga pagi. Dengan keahlian kita, kita dapat masuk ke asrama tanpa ketahuan. Tapi entah kenapa, paginya kita dipanggil Mas Ikhsan, pembimbing pondok yang setia menghukumi kita berlima. Akhirnya kita dihukum membersihkan kamar mandi, dan menyapu asrama setiap hari selama satu bulan. Baru berlangsung seminggu, Rio memberitahu bahwa ada konser regae. Malam itu juga, lagi-lagi kita kabur dari pondok.
Konser telah usai, beberapa orang masih tinggal termasuk kita berlima. Sampai tiga orang yang tadinya duduk di sebuah bangku pergi, dan tanpa tanpa disadari salah satu dompet dari mereka tertinggal. Belum sempat aku berteriak memanggil tiga orang itu.
“Ada rezeki nih!” kata Rio semangat. Sontak aku menatap ke arahnya.
Kita berempat mengikuti langkah Rio, menuju bangku yang diduduki tiga orang tadi. Rio membuka dompet tersebut dan menemukan beberapa uang yang semuanya berjumlah seratus lima puluh ribu rupiah. Dia pun mengambil dan menaruh uang tersebut ke dalam sakunya. Tanpa merasa bersalah, Rio membuang dompet tersebut dan berpaling. Reflek aku mencegat tangan Rio.
“Rio, bukannya kita tidak membuat rugi orang lain?” peringat ku.
“Lho, bukannya ini tertinggal bukan aku sengaja mencopet atau bagaimana kan? Lagian kalau pun ini merugikan orang lain, kan aku yang berbuat.”
“Tapi kan. Kita harus kompak. Kalau kamu mengawali berbuat seperti itu, nanti yang lain bisa ikut-ikutan terus bisa jadi kebiasaan buruk,” protesku
“Memangnya kita kabur bukan kebiasaan buruk? Sama saja kan? Lagian kalau yang lain mau ikut-ikutan ya sok aja atuh. Kalau kamu nggak mau, ya sudah. Kita nggak maksa kok Muh kalau masalah seperti ini”
“Tapi aku tetap tidak setuju. Ri,”
“Ya sudah, kalau begitu sana pulang dan jadi anak alim di pondok!” teriak Rio di telingaku.
“Bukan begitu maksudku”
“Diam Muh! Kita bakal kabur sampai besok, kita perlu uang untuk makan sama jalan-jalan. Jadi jangan protes lagi.”
Waktu berlalu. Sudah seminggu kita tidak pulang ke pondok. Kita hidup dari hasil mencuri Rio. Aku juga tidak tahu dari mana dia belajar, sehingga begitu ahli dalam mencuri. Aku merasa sangat berantakan, jarang mandi, makan apa adanya, dan merasa kehidupanku berubah. Iya, bebas. Tapi tidak dapat menikmatinya. Aku mendengar langkah kaki yang berlari menuju ke arah dimana aku dan tiga orang temanku duduk. Ternyata itu Rio. Dengan raut wajah ketakutan dia berbicara dengan terburu-buru.
“Ayo! Kita harus bersembunyi! Aku ketahuan! Aku mencuri dompetnya Mas Ikhsan pembimbing!” jelasnya cepat.
“Mas Ikhsan! Gila kamu, Ri!”
“Mana aku tau kalau itu Mas Ikhsan!”
“Kok bisa ketahuan!”
“Kalian tahu kan? Mas Ikhsan tuh seperti apa! Mendingan kita sembunyi sekarang juga sebelum Mas Ikhsan mencium bau kita.” Kita pun berlari dan bersembunyi di tumpukan sampah.
Sudah setengah jam kita menunggu. Sepertinya sudah tidak ada tanda-tanda Mas Ikhsan berada. Rio pun mengecek keadaan. Akhirnya kita menunggu Rio. Rio tak kunjung datang, padahal sudah satu jam kita menunggu. Ingat pesannya kalau kita tidak boleh meninggalkan tempat itu, akhirnya tidak ada pilihan lain selain menunggu. Hingga kita tertidur di tumpukan sampah.
Terdengar suara membangunkan. Bukan suara Rio, tapi suara asing. Ternyata itu suara seorang pemulung, yang membangunkan kita bertiga. Matahari sudang mulai meninggi. Berarti Rio belum juga datang dari tadi malam. Hingga akhirnya sampai sore kita tidak makan. Dan Mario berniat untuk mencuri untuk membeli makan dan minum kita berempat.
Aneh! Tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan, sedang teman-temanku berjalan meninggalkanku. Tidak lama, seseorang menabrakku. BRUK! Aku terjatuh, orang itu membantuku untuk berdiri. Orang itu menatapku lekat-lekat. Ternyata itu Mas Ikhsan. Mas Ikhsan memaksaku untuk memberitahu keberadaan teman-teman yang lain. Belum sempat aku menjawab, teman-temanku yang menyadari bahwa aku tertinggal, kembali dan mencariku sehingga bertemu dengan Mas Ikhsan yang sedang menangkapku. Akhirnya kita kembali ke pondok.
Kita berlima disidang di depan banyak pembimbing pondok dan akhirnya di depan pak kyai. Kita berlima diberi kesempatan untuk berubah. Aku kira kita berlima akan langsung dikeluarkan dari ponok, karena sudah terlampau sering kita melanggar aturan pondok dan yang terakhir kabur lebih dari seminggu ditambah lagi mencuri. Akhirnya kita dihukum setoran surat-surat khusus dan juz satu.
Aku selesai lebih awal dari pada yang lainnya. Sebenarnya aku sudah menghafal sampai jus sembilan waktu aku SMP di pondok yang dulu. Sekarang aku tidak menghafal lagi dan berubah menjadi anak yang tidak taat aturan. Aku bingung. Teman-teman ku selain Mario, Rio, Ivan dan Ahmad sudah tidak berminat lagi berteman denganku. Aku merasa sendiri. Sedang kita berlima sibuk dengan hukuman dan dipaksa untuk tidak saling bertemu sampai kita sadar.
Waktu istirahat pun tiba, aku duduk melamun sendiri di dalam kelas. Entah dari mana, Rio masuk mendatangi mejaku.
“Kenapa kamu keliatan frustasi, bro?” tanyanya santai tanpa beban.
“Bukannya kau juga merasakan beban yang sama. Kenapa kau bisa tetap bahagia begitu, Ri?”
“Jangan dibawa beratlah, bro” jawabnya santai “Oh ya, aku punya obat nih. Obat penenang. Nanti kalau mau tidur diminum, Muh”
“Obat apa ini? Jangan-jangan…”
“Apaan sih! Memangnya aku setega itu. Itu hanya obat penenang biasa, semacam obat tidur makanya minumnya kalau mau tidur aja. Lumayan nih aku, agak ngeringanin beban” jelasnya sambil megusap-usap lehernya “Aku balik ke kelas dulu ya. Kita kan belum boleh ngumpul kan? Kalau begitu sampai jumpa”
Malamnya aku memandang cermin yang ada di dalam lemariku. Semua teman-temanku sudah terlelap. Aku menyediakan segelas air. Aku ingin mencoba obat yang diberi Rio tadi pagi di kelas. Sebenarnya aku agak ragu, tapi mana mungkin dia tega memberi narkoba. Kemudian, baru saja aku memasukkan obat itu ke mulut, tiba-tiba pintu terbuka. Mengagetkan beberapa temanku yang sedang tertidur dan juga diriku yang mematung memegang kantong berisi obat itu. Mas Ikhsan dan pembimbing lain sudah menangkap Rio, Ahmad, Mario dan Ivan. Kata Mas Ikhsan obat itu adalah sejenis narkoba, dan kita berempat telah dibohongi oleh Rio.
Besoknya kita berlima dibawa ke rumah sakit untuk cek darah. Hasilnya positif. Rio, Ahmad, Mario dan Ivan memakai zat adiktif narkoba. Sedangkan hasilku menyatakan bahwa darahku tidak pernah terkena barang haram itu. Ternyata mereka telah memakan barang haram itu selama seminggu. Itu berarti aku adalah orang terakhir yang diberi obat oleh Rio. Padahal tadi malam aku mencoba satu, tapi kenapa hasilnya nihil?
Sidang pun diselenggarakan. Mereka berempat dikeluarkan dari pondok dan sekolah, sedang aku mendapat skorsing tiga hari dan disuruh membantu di dalemnya Pak Kyai. Setelah pulang dari menjalani sidang, aku tertidur di Mushola Sakan. Aku bermimpi bertemu kakek berjenggot itu lagi. Kakek itu melepaskan tanganku dari gengggamannya dan pergi dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Matanya mengatakan bahwa kakek itu percaya kepadaku. Kakek itu pun menjauh dan menjauh hingga hilang ditelan cahaya.
Aku terjaga. Tenggorokanku sakit, sakit sekali. Rasanya ada sesuatu di dalam tenggorokanku yang mencekikku. Perutku seperti dipukul-pukul sehingga rasanya ingin memuntahkan segala yang ada di perut. Sakitnya pun terus bertambah, sampai-sampai aku berteriak mengadu kesakitan. Seseorang lari dari arah luar menuju Mushola Sakan. Sepertinya pembimbing pondok yang sedang berkeliling. Dia sepertinya panik dan keluar lagi. Dan kembali bersama Pak Zaki. Beberapa kali punggungku ditepuk keras oleh Pak Zaki. Kemudian darah keluar dari mulutku dan samar-samar aku melihat sebutir pil keluar bersama darah tersebut. Aku merasa kejadian muntah darah itu berlangsung lama hingga aku tidak sadarkan diri.
Aku terbangun di kamar pembimbing. Setelah aku mandi dan sholat shubuh berjama’ah, aku langsung disuruh menemui Pak Zaki di dalemnya. Aku ditanyai banyak hal. Apa saja yang aku lakukan saat kabur dari pondok, memakan apa saja, sampai aku meminum obat yang diberi Rio dan hasil negatif pada waktu cek darah, semuanya aku ceritakan. Pak Zaki pun manggut-manggut.
“Itu tandanya kamu masih diberi kesempatan sama Allah, Muh” ucap Pak Zaki
“Oh ya, saya jadi ingat. Dulu saya pernah bertemu sama teman saya. Kata beliau punya anak di sini. Dulunya menghafal Al-Qur’an, mungkin masih sekitar juz lima atau tujuh. Namanya Muhammad. Ya, yang namanya Muhammad kan banyak, yang ditahfidz juga banyak. Saya kira salah satunya mungkin ada di situ” tambah Pak Zaki
“Kamu dulu tahfidz tho? Sudah sampai juz berapa, Le?” tanya Pak Zaki
“Juz sembilan, Pak”
“Sudah banyak. Mulai hari ini dilanjutkan ya, Le? Panggilanmu sopo?
“Simuh, Pak”
“Mau pindah ke tahfidz, Muh?”
“Nggih, Pak.”
“Masih diskorsing kan?”
“Nggih.”
“Sesuk setoran karo aku yo” ucap Pak Zaki sambil tersenyum dan menepuk pundakku.
Aku merasa, malam ini sangat berbeda. Setelah perbincangan di waktu subuh itu. Aku merasa seperti mendapatkan oksigen yang bertubi-tubi, sehingga jiwaku dapat menghembuskan nafas kelegaan. Aku menatap cermin yang menempel di pintu lemariku, terlihat bayangan seseorang yang sangat berantakan. Aku mengambil gunting di atas lemariku dan merapikan rambutku ikalku yang mulai menyentuh leher.
Juga merapikan kumis dan jenggot. Jenggot? Aku jadi teringat dengan kakek tua itu. Aku ingin tahu dari mana asal kakek berjenggot itu, sehingga mewariskanku beberapa helai jenggot yang sekarang mulai tumbuh di daguku. []

* Izzah Yusuf, Siswi kelas X MA Ali Maksum, Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, aktif di komunitas Sastra Menjangan, Ekskul Unggulan MA Ali Maksum Krapyak.

TENTANG BAPAK PELOPOR KEBANGKITAN DAYAK

Halaman MASYARAKAT ADAT HARIAN RADAR SAMPIT (EDISI DAYAK MERATUS)
Memperkuat Masyarakat Adat Dayak, Dasar Kalteng Bahadat
Alamat: Radar Sampit atau meldiwa@yahoo.com.sg
Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak
Oleh Kusni Sulang

Pertemuan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894 di desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas (4 Oktober 2014) , telah memberikan gelar baru kepada Agustin A. Teras Narang, SH yang selain Gubernur Kalteng juga Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN). Gelar baru itu adalah Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak. Sebelumnya Teras diberikan gelar Pangeran Dayak dan Antang Bajéla Bulau (Elang Berlidah Emas). Menurut DR. Siun Jarias, SH, MH, petinggi MADN dan Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng, pemberian gelar baru ini merupakan keputusan rapat para Damang yang hadir.
Lepas dari benar tidaknya ada rapat para damang khusus membicarakan persoalan tersebut, ataukah hanya ditawarkan kepada para damang setelah diputuskan oleh kalangan terbatas, semacam pendekatan top-down, yang menjadi persoalan adalah gelar “Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak”.
Apakah yang disebut “pelopor”? Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskan yang disebut pelopor itu adalah “1. yang berjalan terdahulu; 2. perintis jalan; pembuka jalan; pionir; 3. Pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami” (Cetakan Kesepuluh, 1999: 745).
Pemberian gelar “Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak” kepada Teras sama dengan menyebut Agustin Narang, SH sebagai “yang berjalan terdahulu; . perintis jalan; pembuka jalan; pionir; . pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami”.
Pertanyaannya: Apakah dalam kenyataannya penerima gelar adalah “yang berjalan terdahulu; perintis jalan; pembuka jalan; pionir; pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami”. Jika benar maka sebelum Teras, tidak ada seorang pun yang telah melakukan hal demikian. Apa yang dilakukan oleh para pejuang pendahulu asal Dayak bukanlah hal-hal bersifat “yang berjalan terdahulu; . perintis jalan; pembuka jalan; pionir; . pasukan perintis (yang terdepan) gerak pembaharuan (tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami”, tapi tidak lebih dari hal-hal biasa layaknya dilakukan oleh siapapun, sekali pun apa yang para pejuang pendahulu itu lakukan penuh risiko, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa dan kepala, mandi darah dan airmata. Sekalipun tiap langkah mereka dibayangi oleh ajal seperti yang dialami oleh angkatan Tjilik Riwut, Hausmann Baboe dan angkatannya. Hausmann Baboe bahkan benar-benar telah membela mimpinya untuk Dayak dengan nyawa. Bersama tiga anak kandungnya, ia dibunuh oleh pemerintah pendudukan militeris Jepang. Bahaya apa yang dihadapi dan apa yang dilakukan oleh penerima gelar di atas yang dilakukan “tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin dialami” sehingga berisifat “pionir”?
Berdirinya Kalteng sebagai provinsi tersendiri adalah hasil perjuangan mandi darah para pejuang pendahulu, dan merupakan perjuangan serta hasil yang belum ada presedennya, bersifat pionir dan berdampak jauh. Berdirinya Kalteng sebagai provinsi tersendiri, merupakan lanjutan dan fase baru dari perjuangan Sarikat Dajak (1919) dan Pakat Dajak (1926) dengan Hausmann Baboe dan angkatannya sebagai tokoh menonjol. Arti Kalteng sebagai provinsi tersendiri bagi orang Dayak dinyatakan oleh Prof.Dr. Mubyarto alm dalam kata-kata: “Kalteng, the heartland of Dayak”. Dengan pemberian “gelar Bapak Kebangkitan Dayak” kepada Teras yang pada waktu itu belum lahir. dan atau bocah, perjuangan bersifat pionir dan bersifat visioner luas para pejuang pendahulu dipandang tidak berarti apa-apa.
Panitia Pumpung Haï Dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi dalam Kerangka Acuannya menulis antara lain: “bahwa pembangunan yang selama ini berlangsung di Kalimantan Tengah masih belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat lokal, khususnya kepada masyarakat Dayak sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri Provinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat Dayak terutama di daerah pedesaan cenderung hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam di Kalimantan Tengah”. Tidakkah apa yang dilukiskan oleh Panitia itu sebenarnya menuturkan hasil pekerjaan Teras selaku Gubernur selama hampir 10 tahun. Apakah lukisan di atas merupakan sesuatu yang bersifat pelopor? Memelopori kemunduran bukanlah kepioniran yang membanggakan.
Menegasi jasa para pejuang pendahulu yang berjuang tanpa pamrih kecuali terwujudnya cita-cita “Dayak Berharkat dan Bermartabat” bukanlah sikap mulia, bukan pula sikap beradat. Dari segi sejarah, pandangan yang mendasari pemberian gelar tersebut sangat anakronis. Dari segi pola piker dan mentalitas, ia merupakan wujud dari sistem patron-client. Dari segi budaya, pemberian gelar tersebut bukanlah bentuk dari budaya kritis yang memang tidak berkembang di Kalteng. Dari segi kedewasaan berpikir, ia merupakan perbuatan gegabah yang merendahkan nalar. Teras barangkali tidak salah. Yang salah terutama pada pengusul dan menerima usul. Kesalahan Teras barangkali terletak pada: Mengapa ia menyetujui pemberian gelar tersebut. Sejarah dan kebenaran bukanlah permainan geng.
Terakhir, mengapa para petinggi MADN, DAD Kalteng dan Bapak Pelopor Kebangkitan Dayak tidak bersuara ketika polisi menembaki Dayak Meratus?. Di Meratus , orang Dayak tengah bertarung membela hak mereka. []

Unjuk rasa masyarakat Dayak Palangka Raya memprotes ucapan Prof.Dr.Thamrin Tomagola, 2011. Dalam menghadapi kesewenang-wenangan dan kepongahan aparat, warga tidak boleh diam. (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2011)

POLISI MENEMBAKI MASYARAKAT ADAT MERATUS
Satu Orang Meninggal, Tiga Luka-luka, Enam Ditahan

Batu Raya, 25 Oktober 2914. Radar Sampit. Penembakan anggota warga masyarakat adat oleh Brimob kembali terjadi. Pada 21 Oktober sekitar jam 22.00 (Wita) warga masuyarakat adat Malinau telah ditembaki bagian kepala dan perutnya oleh Brimob dan Kepolisian Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan yang bertugas membekingi Perusahaan PT.Kodeco Timber dan PT. Jolin Bratama. Demikian disebutkan oleh Pimpinan Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan dalam laporannya kepada Pimpinan Pusat AMAN di Jakarta (22/10) tentang kasus penembakan Masyarakat Adat Dayak Meratus oleh aparat kepolisian di Desa Mentewe, Km. 58, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Pak Inus yang Pak INUS 35 tahun, warga Dayak Meratus, yang sedang mengambil Kayu dihutan wilayah adat ditembaki oleh pihak kepolisian pada bagian kepala dan perutnya sehingga meninggal dunia.
Laporan menyebutkan bahwa setelah penembakan tersebut, sekitar 400-an warga Dayak Meratus dari Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan sudah bergerak menuju Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) karena merasa tidak terima warganya terbunuh. Sekalipun mengalami kesulitan menghubungi penduduk yang sedang bergerak itu, PW AMAN Kalsel segera menurunkan Tim Advokasi AMAN Kalsel untuk berupaya melakukan investigasi ke TKP.
Laporan Trisno, Staf PD AMAN Tanah Bumbu, tentang kasus penembakan MA Dayak Meratus oleh aparat kepolisian di Desa Mentewe km 58 Kab. Tanah Bumbu menuturkan bahwa aparat kepolisian yang melakukan penembakan adalah dari satuan Reskrim dan Sabhara Polres Tanah Bumbu (bukan dari satuan Brimob seperti informasi sebelumnya). Personil kepolisian yang datang ke lokasi berjumlah 35 orang dan dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim dan Kasat Sabhara Polres Tanah Bumbu dengan tujuan melakukan razia illegal logging.
Dalam peristiwa penembakan tersebut, korban yang meninggal satu orang, warga desa Malinau Kabupaten Hulu Sungai Selatan (bukan 2 orang seperti informasi sebelumnya) karena ditembak di kepala dan badan, 3 orang luka-luka dan 6 orang ditahan. Menurut informasi terakhir enam orang warga masyarakat yang ditahan sudah diperbolehkan pulang.
Ketika di rumah korban dilakukan persiapan pemakaman, dilaporkan bahwa sudah perdamaian antara pihak keluarga dengan pihak Polres Tanah Bumbu sudah tercapai.
Sampai pada 22 Oktober 2014 tidak ada satu pun media cetak baik lokal atau pun nasional yang memberitakan kasus penembakan ini. “Kami menduga bahwa kalangan media sudah ditutup informasinya oleh kalangan aparat atau pihak lain”, demikian YSR dari AMAN Kalsel dalam laporannya.(ask-7-10-14).
Pepatah “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” disebut sebagai bagian dari isi yang disebut “budaya betang”. Untuk konteks sekarang, dengan berubahnya komposisi demografis di Kalteng, pepatah sudah kadaluwarsa. Yang relevan adalah “di mana langit dijunjung, di situ bumi dibangun”
.
14 Warga Masyarakat Adat Dayak Meratus Dikriminalisasi
Batu Raya, 25 Oktober 2014. Radar Sampit. — Berdasarkan sumber AMAN Kalsel, harian Kompas (23/10) menulis bahwa sebanyak 14 warga masyarakat adat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan dikriminalisasi dengan berbagai alasan oleh perusahaan dan cukong. Mereka ditangkap dan diseret ke pengadilan karena dianggap melakukan aktivitas ilegal di wilayah adat yang masuk areal konsesi perusahaan.
”Kriminalisasi terhadap 14 warga masyarakat adat Dayak Meratus itu terjadi dalam kurun 2013-2014. Masyarakat adat yang dikriminalisasi bermukim di Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Balangan,” kata Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel, Yasir Al Fatah, di Banjarbaru, Rabu (22/10).
Yasir mengatakan, warga masyarakat adat ditangkap dan diseret ke pengadilan dengan berbagai dalil. ”Ada yang dilaporkan karena mencuri sarang burung walet, ada yang karena merambah kawasan hutan, dan ada pula yang dilaporkan karena membabat kelapa sawit milik perusahaan. Padahal, berbagai aktivitas yang disebut ilegal itu dilakukan di wilayah adat mereka sendiri,” katanya. Namun, karena sebagian wilayah adat itu telah dikuasai cukong dan perusahaan, warga masyarakat adat tidak bisa lagi leluasa menggarap dan mengambil hasil alam di wilayah adat tersebut. ”Celakanya, sebagian besar wilayah adat itu masuk wilayah industri perkebunan, pertambangan, dan HPH (hak pengusahaan hutan),” ujar Yasir.
Hingga saat ini, kata Yasir, kasus hukum yang menjerat 14 warga masyarakat adat masih bergulir di kepolisian dan pengadilan. Ia berharap masyarakat adat bisa memperoleh keadilan dan tidak terus dikorbankan.
Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional Haspan Hamdan mengatakan, kehadiran perusahaan perkebunan dan pertambangan di wilayah masyarakat adat selama ini belum menyejahterakan warga. ”Masyarakat adat justru makin tersisih karena tanah sudah dikuasai perusahaan. Mereka tak bisa lagi mengusahakan tanah mereka dan hanya menjadi buruh,” katanya.
Menurut Hamdan, masyarakat adat berharap kehadiran perusahaan bisa memberikan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, masyarakat adat justru menderita karena hutan dan sungai sebagai tempat menggantungkan hidup rusak dan tercemar.
Yasir berharap pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla bisa mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat (RUU PPHMA) untuk menjamin hak masyarakat adat. (JUM)
MINTA SK BUPATI UNTUK LINDUNGI MASYARAKAT ADAT MERATUS

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, mendesak Pemkab HST agar segera membuat SK Bupati tentang pengakuan perlindungan masyarakat hukum adat. Desakan itu disampaikan, saat pemaparan tentang memungkinkannya dibentuk desa adat, Selasa (21/10) di ruang sidang utama DPRD HST.
Pemaparan sekaligus penyampaian aspirasi oleh Ketua Aman Kalsel, Yasir Al Fatah itu dihadiri Ketua DPRD HST Saban Effendi, dan wakil ketua Tirjuddin, unsur TNI dan Polri serta para tokoh masyarakat adat Dai’ak Meratus Hantakan dan Batangalai Timur.
Yasir menjelaskan, sejumIah regulasi pemerintah pusat terhadap hak masyarakat adat telah diterbitkan. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35 tahun 2012 tentang Hutan Adat, menegaskan adanya hutan adat yang bukan hutan negara. Hal itu dipertegas dalam UndangUndang nomor 6 tentang Desa, yang salah satu pasalnya kan melalui SK Bupati,” jeias Yasir.Adapun dasar dari pembuatan SK, jelas dia telah diterbitkan pula Permendagri Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat.
Pengakuan, sekalipun untuk sementara melalui SK, jelas dia penting guna melindungi masyarakat adat dari dekriminalisasi. Dicontohkan, ketika warga merambah hutan untuk kebutuhan mereka, polisi bias memidanakan mereka.
Demikian pula jika ada konflik dengan perusahaan, baik terkait pertambangan maupun perkebunan.
“Kami menilai, Hulu Sungai Timur dan Hulu Sungai Selatan masih memungkinkan segera dibuat Perda Pengakuan dan Perlindungan masyarakat adat ini, karena pemerintahnya yang tak melakukan penambangan. Berbeda dengan daerah Kotabaru dan Tanahbumbu dimana hutan adatnya sudah dirambah industri pertambangan maupun perkebunan,” jelas alumni Faktultas Hukum Unlam ini.
Di Hulu Sungai Timur, ada dua kecamatan yang wilayahnya terdapat masyarakat adat Meratus, yaitu Hantakan dan Batangali Timur. Di dua kecamatan tersebut, terdapat 47 balai adat yang masing-masing balai dipimpin kepala balai. Selain itu ada kepala adat yang memimpin masyarakat adat di iingkungan balai-balai.
Ketua DPRD Sa’ban Effendi, pada kesempatan itu berkomitmen dan sepakat untuk sementara perlindungan dan pengakuan agar dilakukan pemerintah kabupaten melalui SK Bupati, baru kemudian ditegaskan lagi dengan pembuatan perda. (han)

UNJUK RASA DAYAK DI PALANGKA RAYA

Salah satu spanduk dalam unjuk rasa Dayak tahun 2013 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Salah satu spanduk dalam unjuk rasa Dayak tahun 2013, isyarat bahwa Dayak menolak kolonialisme internal sesuai dengan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai. Jangan perosotkan  Republik dan Indonesia! (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Ustad Ganefo sedang menyampaikan orasi dalam sebuah unjuk rasa Dayak tahun 2013 di Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Ustad Ganefo sedang menyampaikan orasi dalam sebuah unjuk rasa Dayak tahun 2013 di Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Peserta unjuk rasa Dayak di Palangka Raya, memprotes  pernyataan Dr. Thamrin Amal Tomagola dari UI, yang dianggap melecehkan orang Dayak.(Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, 2011)

Peserta unjuk rasa Dayak di Palangka Raya, memprotes pernyataan Dr. Thamrin Amal Tomagola dari UI, yang dianggap melecehkan orang Dayak.(Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, 2011)

PATUNG DARI GETAH NYATU

Patung dari getah nyatu, salah satu karya rakyat Dayak Kalteng (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2011)

Patung dari getah nyatu, salah satu karya rakyat Dayak Kalteng (Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2011)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers