Archive for the ‘Belajar dari Orang Lain’ Tag


Source :Insight Sabah, 30 October 2013
Sabah Writer’s Month
Musa: Language and literature are no less important

Deputy Chief Minister Datuk Seri Panglima Yahya Hussin (second from left front row) mingling with writers Faridah Abdul Hamid and Dr Mastura Ismail while browsing through one of the 17 books launched on the first day of Writer’s Month 2013. He is accompanied by DBP Board Member and Membakut State Legislative Assemblyman Datuk Mohd Arifin Mohd Arif (far left) and Yang Di Pertua of BAHASA Jasni Matlani (middle back row)
By Shalina R
Pictures by Victor Lo and Oliver Majaham

Musa Aman
Chief Minister Datuk Seri Panglima Musa Aman said a nation’s culture, language and literary heritage are of great values to balance the physical advancements that characterise a developed society.
The Chief Minister said this in his speech, read by Deputy Chief Minister Datuk Seri Panglima Yahya Hussin at the launch of the state’s 2013 Writers Month held at Dewan Bahasa dan Pustaka Sabah in Kota Kinabalu on April 5th.
Held for the first time in 2012, the Writers Month Celebration Program was conceived by the President of BAHASA (Badan Bahasa dan Sastera Sabah) Jasni Matlani in recognition of the writers of Sabah.
Besides highlighting the language and literature activities, the annual program also aims to heighten BAHASA’s role to make it more effective in strengthening and preserving our language and literature, especially at the grassroots level,” said the Chief Minister.
“In my opinion, the efforts of government bodies like DBP and ITBM, along with NGOs like Badan Bahasa dan Sastera Sabah (BAHASA), GAPENA and PENA should continue and increase further in the years to come. If we work together and stand united, this program can be implemented successfully throughout the state.”

Yahya Hussin
“As a state leader, I support the idea of having Sabah Writer’s Month To promote our language and literature.”
Sabah’s International Short Story Symposium as well as 17 ITBM (Malaysian Institute of Translation and Books) published books authored by Sabahans were also launched at the function.
In addition, Yahya also handed out the letter of appointment of the members of the Sabah Language and Literature Council. – Insight Sabah

Posted on April 6, 2013


China and Confucianism

China hails Confucianism without excluding other cultures
(Xinhua) Updated: 2014-09-25 20:36
BEIJING – There was a period in the Han dynasty more than 2,000 years ago when Chinese authorities established Confucianism as a state doctrine while rejecting any other schools of thoughts.

At that time, Confucianism had supreme position in the system of state governance as rulers needed to promote an idea helpful for safeguarding unification and autarchy.

But when Chinese President Xi Jinping voiced his respect for Confucius while attending a commemoration of the ancient philosopher’s birth, he did not mean to follow the ancient way.

As a major symbol of traditional Chinese culture, Confucianism has experienced a sharp rise and fall in Chinese history.

From the early 20th century, the philosophical system came under attack for being imperial, feudal and a hindrance to the modernization of China. Yet today Confucian ideas are back in favor and Confucianism is engaging closely with contemporary society on issues ranging from human relationships to state governance and morality.

Behind the promotion of Confucius is a hunger for deeper traditions as the nation enters a new era of increased wealth. In the eyes of many Chinese, prosperity has created a moral void.

Confucianism, along with other philosophies and cultures taking shape and growing within China, is a record of spiritual experience and the rational thinking of the nation. These cultures are believed to help modern people find spiritual roots and continue to nourish China.

However, during its formation and development, traditional culture including Confucianism had its shortcomings as ancient people’s knowledge was limited by the times and social systems.

Some ideas have become outdated or even deemed as dross. The feudal hierarchical order Confucianism advocated has been replaced by equality, and the feudal rule of propriety has been replaced by rule of law.

It is dangerous to blindly copy old ideas in today’s society.

Like other parts of the world, China is facing problems including a widening income gap, boundless pursuit of luxuries, expansion of individualism, declining honesty as well as tension between human activities and nature.

Solutions to these problems lie in wisdom and strength that need to be pooled from both traditional culture and that developed in the modern world. [ That is why China encourages creative shifts and innovative development of traditional culture in keeping with the progress of the times. While China stresses Confucianism, it is not judging its culture superior to others.

Openness to other cultures and willingness for cultural exchanges is an important precondition to building self-respect and self-confidence.

History shows that only through exchanges and mutual learning can a civilization have vitality.

President Xi has never hidden his admiration for foreign civilizations during his overseas trips. His choice of reading ranges from Russia’s Alexander Pushkin to France’s Victor Hugo. He has also quoted from African poets and showed interest in American movies.

As he said during his recent visit to UNESCO headquarters, Chinese culture, together with the rich and colorful cultures created by the people of other countries, will provide mankind with cultural guidance and strong motivation.

There is no perfect civilization in the world, nor is there a civilization that is devoid of any merit.

China will inherit and promote Confucianism, which is embedded in the genes of Chinese people. The country will also take an inclusive attitude to other excellent cultures to form new wisdom that can answer today’s questions and contribute to global civilization.[]

Indonesia di Jalan Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh

Indonesia di Jalan Restorasi karya Willy Aditya. Repro: Andriani S. Kusni

Indonesia di Jalan Restorasi karya Willy Aditya. Repro: Andriani S. Kusni


Membaca buku Willy Aditya

“Indonesia di Jalan Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh”, Populis Institut, 2013, xxx + 188 hlm.

Oleh: Kusni Sulang


Terimakasih telah mengundang dan mengajak saya dalam acara bedah buku ini. Suatu kehormatan, apalagi buku yang dibicarakan adalah Gagasan dari seorang tokoh nasional: Surya Paloh.

Pada masa “jayanya” Orde Baru, saya berterimakasih kepada Surya Paloh yang memberikan kemungkinan saya bekerja  sebagai pembantu luar negeri cq. Eropa Barat untuk Harian Media Indonesia yang dimiliki oleh Surya Paloh, walaupun menggunakan nama lain. Sebagai tanda terimakasih, kemudian saya memberikan kesempatan kepada salah seorang wartawannya untuk belajar jurnalistik di Perancis. Melalui Willy Aditya sebagai kenangan dan salam hangat kepada Bung Surya Paloh, saya serahkan buku tentang Dayak yang kami dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah terbitkan (LKD-KT). Dalam tahun 2013 ini kami telah dan akan menerbitkan 10 judul buku tentang kebudayaan Dayak. LKD-KT fokus bekerja dalam soal penelitian dan penerbitan mengenai kebudayaan dan sejarah Kalteng, khususnya  Dayak – hal yang terbengkalai sampai sekarang.

Beberapa Catatan

(1) Politisi Pemikir

Saya hidup di Eropa Barat lebih dari 30 tahun, 28 tahun tinggal di Paris. Di Perancis orang-orang politik terdapat dua macam: (1) Politisi dan (2) Politiciennes. Politiciennes adalah mereka yang berpolitik dengan motif sempit dan karena itu sering menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sedangkan politisi adalah mereka yang menjadikan dunia politik sebagai sarana menegakkan keadilan. Sehingga mereka bisa disebut sebagai politisi negarawan.

Dua jenis politisi ini sama-sama aktif menulis dan rajin berpikir. Hanya dari segi kuantitas,  politisi negarawan jauh lebih aktif menulis esai, roman, novel, puisi, lagu, drama dan lain genre kesenian dan atau filosof. F. Mitterrand misalnya dikenal sebagai seorang presiden yang berbahasa Perancis sangat bagus dan penulis esais terkemuka. Presiden George Pompidou adalah seorang penyair yang dikenal dengan antologi puisi Perancisnya. André Malraux seorang Menteri Kebudayaan yang novelis terkemuka.Yang mau saya katakan dengan sedikit contoh ini adalah bahwa politisi Perancis bisa dikatakan politisi berbudaya, bahkan ada yang budayawan politisi. Sehingga pendekatan politik mereka berbasiskan kebudayaan.

Di Indonesia, politisi-budayawan begini, barangkali terdapat pada masa Pemerintahan Soekarno. Sedangkan sejak Orde Baru hingga sekarang, politisi-budayawan ini langka sekali didapat. Umumnya pendekatan politisi Indonesia, yang adanya lebih banyak adalah les politiciennes, lebih menjurus ke pendekatan kekuasaan – pendekatan gampang dan memintas atau instan – pola pikir umum dominan di negeri ini. Pendekatan pintas ini menimbulkan pandangan bahwa kekuasaan sama dengan kebenaran, sehingga kritik dipandang sebagai meludahi muka yang dikritik.

Setelah membaca buku Willy Aditya ini, di depan saya muncul seorang yang lain dari les politiciennes yang mendominasi dunia perpolitikan Indonesia. Seorang lain itu bernama Surya Paloh yang politisi tetapi juga seorang pemikir. Berapa banyak gerangan politisi-pemikir di Indonesia sekarang? Buku Willy Aditya memperlihatkan bahwa Surya Paloh ingin menjadi politisi-negarawan dengan konsep yang jelas. Tentu akan lebih pepak lagi apabila berkembang menjadi politisi-negarawan-budayawan. Di negeri-negeri Konfusionis seperti RRT, Viet Nam, ada tradisi bahwa seorang politisi ideal adalah  yang negarawan, menguasai ilmu militer dan kebudayaan (sastra-seni). Mereka ini bukanlah orang-orang lulusan “tiga pintu” (pintu keluarga, pintu sekolah dan pintu kantor) tapi juga lulus dari ujian badai topan perjuangan massa, sehingga tertempa. Berapa banyak politisi di negeri ini yang demikian? Tuturan Willy Aditya, melukiskan Surya Paloh adalah figur yang demikian, walaupun begitu saya tetap ingin mencatat bahwa “daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh”. Kadar sesungguhnya seorang manusia baru bisa ditetapkan ketika nafas terakhir telah dihela. Sebab bisa saja sekarang seseorang itu berada “out of the box”, esok-lusa kita saksikan menjadi “man in the box”.

Tokoh politisi-negarawan-budayawan sangat diperlukan oleh negeri kita di mana tidak sedikit politis sebenarnya tidak lebih dari “jiwa-jiwa mati” (the death soul) jika  meminjam istilah N. Gogol.

(2) “Indonesia di Jalan Restorasi”

“Indonesia di Jalan Restorasi” adalah hasil renungan orisinal – paling tidak secara formulasi — Surya Paloh untuk menyelamatkan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai dan wujud nilai. Surya Paloh tidak menginginkan revolusi dan melihat reformasi gagal lalu menawarkan “restorasi” sebagai jalan keluar penyelamatan. “Restorasi Indonesia adalah upaya mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” (hlm. 87).

Alasan mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” barangkali tidak terlalu orisinal sebab Orde Baru ketika naik ke panggung kekuasaan juga menggunakan alasan serupa. Bedanya Orde Baru membidik Soekarnoisme, sedang Surya Paloh mengangkat kembali Soekarnoisme. Karena itu Rachmawati Soekarnoputri menyebut Surya Paloh sebagai “seorang Soekarnois” (endorsement hlm. belakang). Kalau Bung Karno sering mengatakan “revolusi belum selesai”,  suatu pertanyaan: Apakah setelah “mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” maka segalanya sudah selesai? Willy Aditya tidak menguraikan hal ini. Seperti halnya Willy juga tidak menjelaskan perspektif dan menuju ke mana “restorasi Indonesia”, sementara Soekarno jelas-jelas menunjuk arah ke Sosialisme ala Indonesia.

Dengan menunjuk jalan “restorasi Indonesia”, Surya Paloh melalui Willy Aditya melukiskan keadaan negera dan bangsa yang runyam. Kerunyaman yang dilawan oleh Surya Paloh.

Yang menjadi pertanyaan saya: Bagaimana sikap Bung Paloh dengan yang disebut “kesaktian Pancasila?” Kemudian Pancasila yang mana yang mau dikembalikan? Benarkah pemahaman saya bahwa yang dimaksudkan dengan Pancasila adalah yang diutarakan oleh Bung Karno dalam Pidato Lahirnya Pancasila (1 Juni 1045). Apakah setelah kembali ke Pancasila (sekali lagi yang mana?)  segalanya relatif akan terestorasi, seperti arah sosialisme ala Indonesia, politik front persatuan nasional Nasakom, dan lain-lain (yang tak disinggung oleh Willy Aditya)? Sehubungan dengan pertanyaan ini, pertanyaan lain saya adalah: Jika demikian apakah tidak lebih kena menggunakan istilah rekonstruksi atau membangun kembali, sesuai dengan ajaran Bung Karno tentang menjebol dan membangun. Bagaimana mencampakkan kerunyaman jika tidak dijebol? Boleh jadi Paloh menggunakan istilah “restorasi Indonesia” untuk keperluan taktis melalui bahasa.

 (3) Soekarnoisme

Rachmawati Soekarnoputri menyebut Surya Paloh sebagai “seorang Soekarnois” artinya Surya Paloh menganut Soekarnoisme yang tidak jelas dikatakan oleh Willy Aditya dalam bukunya yang banyak menguraikan pandangan-pandangan Soekarno di berbagai bidang dengan yang dianut oleh Surya Paloh.

Nasional-demokrasi yang digunakan oleh Surya Paloh dan teman-teman sebagai nama ormas dan kemudian juga nama partai, oleh Soekarno dilihat sebagai tahap perkembangan masyarakat Indonesia pada zaman Soekarno. Nasional artinya anti imperialis, sedangkan demokrasi merupakan perjuangan melawan feodalisme. Tentang tahap nasional-demokrasi sebagai tingkat perkembangan dan bentuk kontradiksi pokok masyarakat  Indonesia hari ini tidak saya dapatkan dalam uraian Willy. Masalah ini menjadi penting kalau kita bicara tentang kekuatan pokok, sahabat atau sekutu dan siapa lawan. Atau perjuangan tanpa lawan? Kalau mengatakan “Tak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner” (hlm. 86), maka masalah kawan, lawan, dan kontradiksi pokok adalah salah satu dari masalah-masalah teoritis.

Demikian juga tentang front nasional Nasakom juga tidak tersentuh. Sebagaimana halnya dengan sosialisme ala Indonesia. Yang disinggung oleh Willy hanya tentang sifat kolektif masyarakat yang patut dikembalikan – sebab sekarang barangkali individualisme telah menggerus kolektivisme.

Uraian  Willy Aditya menyebutkan bahwa “Partai Nasdem bukan sebagai wadah individu atau kelompok semata. Partai ini, membuka tangan selebar-lebarnya bagi organisasi non-politik yang ingin bergerak bersama dalam aktivitas pe4gerakan. Melting pot, begitu Bung Surya membahasakan wadah perjuangan bagi kaum pergerakan dari mana pun asal, warna, dan organisasinya” (hlm. 57). Apakah Nasdem sebagai partai politik jadinya sama dengan ormas front persatuan?

Lalu tentang partai pelopor yang oleh Bung Karno sangat dipandang penting. Willy tidak menuturkan banyak tentang soal partai pelopor.

Saya khawatir Soekarnoisme Surya Paloh menjadi Soekarnoisme  terfilter yang dalam ilmu komunikasi disebut kualitas terpilih, memilih yang cocok dan disukai, membuang yang tidak disukai.

Sekalipun misalnya Soekarnoisme Surya Paloh adalah Soekarnoismje terfilter, apabila terlaksana tetap akan lebih baik daripada neo-liberalisme pada politik pedagang primer.

(4) Zaman Selalu Menagih Kreativitas

Dengan segala hormat kepada para pendahulu, barangkali memang zaman ini menghadapkan kita pada keadaan baru yang menagih kreativitas tanpa lepas akar, kejelian mata elang membaca keadaan untuk mewujudkan rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan. Republik dan Indonesia yang bagaimanapun bersifat dinamis. Barangkali buku Willy Aditya berikutnya akan menjawab soal-soal di atas.

Palangka Raya, 28 Oktober 2013

Disampaikan pada acara bedah buku Indonesia di Jalan Menuju Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh, Hotel Swiss Bell Danum, Palangka Raya, 28 Oktober 2013

Pepatah Tiongkok Kuno

Lukisan China 1Ban men nong fu. Memamerkan ketrampilan menggunakan kapak di depan tukang kayu ahli. Memamerkan ketrampilan yang sedikit di depan seorang ahli.

Ban ping cu-luan huang dang. Botol yang berisi separuh cenderung akan bergoyang. Orang yang pandai tidak akan sombong dan selalu terus ingin belajar, sedangkan yang sedikit ilmu banyak bicara dan malas belajar.

Cang ying bu ding wu feng dan. Lalat tak pernah hinggap pada telur yang tak retak. Seseorang yang tak baik cenderung mengundang teman-teman yang tak baik pula.

Cang long wo hu. Naga tersembunyi, harimau mendekam. Jangan anggap enteng sesuatu yang tampak mudah dan tidak menantang.

Chi shui bu wang jue jing ren. Ketika minum air sumur, jangan lupa penggalinya. Jangan lupakan orang-orang yang pernah membantu kita meraih keberhasilan.

Dang ju zhe mi. Seorang penonton melihat lebih cermat daripada pemain di lapangan. Pihak ketiga biasanya punya perspektif lebih baik daripada orang yang terlibat karena melihat soal secara berjarak.

Fen lin er tian, jie ze er yu. Membakar hutan untuk bertanam dan menguras kolam untuk mengail. Melakukan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa memperdulikan akibatnya.

Feng jian ning ke yu sui, qi zheng bu qiu wa quan. Saat melawan keburukan, lebih baik jadi permata yang hancur daripada jadi bata yang utuh. Lebih baik mati daripada menyerah ketika melawan kejahatan/keburukan.

Gou zui li tu bu chu xiang ya. Bagaimana mungkin berharap menemukan gading dalam mulut anjing? Jangan berharap orang jahat mengucapkan kata-kata baik.

Hua xiang bu yi ding mei li, neng shuo bu yi ding hui zuo. Bunga yang harum belum tentu bunga yang indah, seorang orator belum tentu seorang pekerja. Tindakan lebih baik dari ucapan.

Jian le zhi ma, diu le xi gua. Mencari bijih wijen, kehilangan buah semangka. Berkonsentrasi pada masalah-masalah kecil, masalah besar yang lebih penting diabaikan.

Jin zhu zhe chi, jin mo zhe hei. Yang dekat tinta merah akan kena noda merah, yang dekat tinta hitam akan kena noda hitam. Orang dipengaruhi oleh sifat temannya.

Jiu ji bu jiu qiong. Bantulah orang yang membutuhkan, bukan orang miskin. Orang-orang yang sedang membutuhkanlah yang paling perlu dibantu.

Ma wu ye cao bu fei, ren wu wai kuai bu fu. Seekor kuda tidak bisa bertambah berat badannya jika tak diberi makan malam hari. Seseorang tidak dapat menjadi kaya tanpa pendapatan lain selain pendapatan rutin.

Min bu wei si, nai he yi si ju zhi. Ketika orang tak lagi takut pada kematian, tidak ada gunanya mengancam mereka dengan kematian. Tidak ada gunanya mengancam seseorang dengan sesuatu yang tidak ditakutinya.

Ni ren pa yu, huang yan pa li. Patung lempung takut kena hujan, pembohong takut kebenaran. Kebenaran pasti lebih unggul.

Ren bu ke mao xiang, hai shui bu ke dou liang. Orang tidak dapat dinilai dari penampilan, sebagaimana laut tak dapat diukur dengan ember. Penampilan bisa menyesatkan. Kita tak tahu kecakapan atau kekuatan seseorang dari penampilan saja.

Ren e ren pa tian bu pa, ren shan ren qi tian bu qi. Orang jahat ditakuti manusia, tapi tidak oleh surga. Orang baik dikhianati manusia, tapi tidak oleh tuhan.

Ren xin ge du pi. Hati manusia terletak dalam dada. Ketulusan tampak dari tindakan. Bukan dari kata-kata atau penampilan.

Shou yi shi huo bao, tian xia e bu dao. Ketrampilan adalah harta yang tak akan habis, menjaga seseorang tidak kelaparan kemanapun ia pergi.

Xue hao san nian, xue huai san tian. Perlu waktu tiga tahun menjadi orang berintegritas, hanya perlu tiga hari untuk merusaknya. Jauh lebih mudah menjadi rusak daripada menjadi baik.

Yan lei jiu bu liao huo. Air mata tak dapat memadamkan api. Keluh-kesah dan menangis tidak akan menyelesaikan soal.

Zhi zu zhe chang le. Siapa yang tahu batas, tahu kebahagiaan sejati. Kerakusan adalah sumber ketidakbahagiaan karena sifat manusia tidak pernah puas.

AIRMAKS 2013 Moskow: Pameran Dirgantara dan Angkasa Internasional


Foto dan dokumentasi: M. Taufik Salam, 2013

AIRMAKS 2013 Moskow:

Pameran Dirgantara dan Angkasa Internasional

Koresponden: M. Taufiq Salam*

Dikenal dengan julukan kota militer dan pusat penelitian aviasi, kota Zhukovsky kembali menghelat pameran akbar kedigdayaan teknologi dirgantara dan angkasa Rusia. Sejak dimulai tahun 1993, ajang pameran ini selalu ramai dipenuhi pengunjung. Lebih dari ratusan perusahaan industri dalam dan luar negeri Rusia memamerkan aneka produk unggulan mereka. Militer dan sipil. Sebut saja industri mesin roket, mesin jet, peluru kendali, sistem pertahanan udara, alat-alat pengukuran besaran fisik aviasi, pesawat tempur, satelit, sistem komunikasi radio, helikopter, perangkat perang elektronik, radar, dan pesawat angkut sipil.

Kota rahasia Zhukovsky terletak di pinggiran kota Moskow 20 km ke arah selatan. Tidak sembarang orang boleh melintas di dalam kota. Semuanya dikontrol di titik-titik pemeriksaan. Polisi tersebar di setiap sudut-sudut kota, di perempatan jalan besar, di lampu merah, dan pusat-pusat penelitian. Pengendara mobil wajib menunjukan kartu ID, paspor, dan surat izin melintas. Jangan harap bisa melanjutkan perjalanan jika tidak memiliki dokumen tersebut.

Tempat pameran berlangsung di pangkalan militer Ramenskoe. Panjang lintasannya 4985 m. Terpanjang kedua di dunia setelah Cina. Pameran berlangsung dari tanggal 27 Agustus hingga 1 September. Pameran berlangsung sangat meriah. Pengunjung disuguhkan atraksi berbagai jenis pesawat. Yang paling meriah tentunya penampilan jet tempur Sukhoi. Penonton bergemuruh tatkala pilot melakukan manuver kobra. Pesawat terbang tegak dengan kecepatan 30 km/jam membentuk kemiringan hampir 90 derajat! Persis seperti ular kobra siap mematuk mangsanya. Rahasia dibalik manuver ini adalah perhitungan matematis rumit yang berhasil dilakukan oleh desainer biro konstruksi Sukhoi pada era Soviet. Mereka berhasil menempatkan pusat gaya massa pesawat F di belakang pusat gaya gravitasi pesawat G. Tak ketinggalan juara dunia 2 kali, Svetlana Kapanina, 25 tahun, ibu dari seorang anak perempuan kecil. Ia berakrobat dengan pesawat baling-baling berukuran kecil dan menunjukkan kebolehan di langit dengan beragam manuver indah. Ribuan pasang mata menyaksikan dengan seksama tatkala pesawat berliuk-liuk indah. Pesawat dibuat oleng ke kiri 45 derajat, oleng ke kanan 45 derajat, dibanting tegak lurus, di balik 180 derajat, menukik menembus mega membentuk kurva eksponensial dan yang paling menarik ketika pesawat dibiarkan jatuh bebas dari ketinggian setelah terlebih dahulu menukik 90 derajat jauh  ke angkasa. Penonton bertepuk tangan riuh memberikan penghormatan ketika pilot mendarat di lintasan.

Yang paling ditunggu tentunya jet tempur generasi ke-5 AU Rusia. T-50 PakFak. Pesawat yang masih dalam tahap percobaan ini sempat nongol beberapa menit. Dua contoh jet ditampilkan ke khalayak umum. Berdasarkan sumber berita lokal, konon jet ini bisa terbang otomatis seandainya pilot kehilangan kesadaran tak bisa mengendalikan pesawat. Dari benua biru, Eropa juga tak mau ketinggalan. AirBus A-380 menjadi andalan di sektor bisnis penerbangan sipil. Pesawat tambun dua tingkat bermesin ganda di tiap-tiap sayapnya  ini unjuk gigi dengan lepas landas dari ujung bandara. Sempat beberapa kali manuver singkat di angkasa, pilot pesawat kemudian segera mendaratkan pesawat. Penduduk Rusia mungkin tidak mengetahui kalau ada orang jenius Indonesia di balik pengembangannya. Struktur rangka pesawat yang kuat dan tubuh pesawat yang terbuat dari serat karbon memungkinkan ukuran pesawat menjadi jumbo. Pesawat angkut versi militer CN-295 yang diproduksi oleh hasil kerjasama PT DI dan AirBus Corp juga dipamerkan disamping A-380. Pemerintah Rusia hanya bisa berbangga dengan Sukhoi Super Jet dalam urusan pesawat komersil di dunia. Sebuah pesawat angkut modern versi sipil dengan logo Sky Aviation dan lambang bendera Republik Indonesia diletakkan tidak jauh dari A-380. Meskipun ukuran dan teknologi pesawat tersebut setara dengan Boeing 737 namun ditengarai sudah banyak peminatnya. Indonesia dan Armenia adalah konsumer awal yang tertarik menjajal teknologi pesawat tersebut. Masih mengingat pesawat super sonik Concorde yang pengembangannya dihentikan oleh konsorsium Eropa? Rusia juga memiliki tipe pesawat tersebut. Entah siapa yang duluan mengembangkannya. Perusahaan konstruksi pesawat Tupolev memamerkan sebuah SHU-144 versi sipil. Ukurannya terbilang gede. Badannya ramping. Panjangnya 55 meter dan tingginya 13 meter. Terjadi antrian panjang di pintu masuk  pesawat. Ratusan warga Rusia berumur sekitar 40-an dan 50-an rela antri berjam-jam hanya untuk masuk ke dalam pesawat sekedar bernostalgia dengan kejayaan teknologi kedirgantaraan Soviet.

Teknologi sistem pertahanan udara Rusia juga tak mau kalah gengsi. Diletakkan berjejer BUK-M23, Antey-2500, S-300, Radar 55ZHE6UME, TOR-M1 dan TUNGUSKA M1 tampil garang dan menakutkan. Yang unik dan menarik dibahas adalah sistem roket pertahanan udara BUK-M23 dan TOR-M1. BUK-M23 dan TOR-M1 adalah sebuah kendaraan militer lapis baja yang dilengkapi dengan radar dan peluru kendali di atasnya. Ukurannya tidak begitu besar. Seukuran tank kelas berat. Roket BUK-M23 memiliki daya jangkau 25 km dengan kemampuan membawa amunisi 6-12 biji. Didesain khusus agar bisa bergerak bebas di segala jenis medan dan kemampuan mendeteksi, mengunci, dan menembak jatuh objek musuh secara otomatis. BUK-M23 didesain untuk menghabisi objek musuh pada jarak menengah. Setali tiga uang. Roket TOR-M1 memiliki kemampuan unik bergerak acak menghindar dari serangan lawan. Roket TOR-M1 hanya bisa menembak jatuh objek asing tidak melebihi 3 km. Biasanya ditempatkan di sekitar objek vital seperti stadion dan gudang arsenal. Yunani sempat terlihat menggunakannya pada saat olimpiade. Antey-2500 dan S-300 memiliki fungsi sama dengan kedua jenis sistem pertahanan di atas. Namun, jangkauannya meningkat hingga 200 km sampai 300 km.

Di lanud Zhukosky/Ramenskoe yang luas, panitia menyiapkan banyak hall berukuran besar diperuntukkan untuk ratusan industri militer yang biasanya sebagai pendukung industri aviasi dan sistem pertahanan udara. Ada ISS Reshetnev mewakili industri satelit yang mendesain satelit Telkom-3. Irbiz, industri radar. Kuznetsov dari Rusia dan Vega engine dari Ukraina, industri mesin roket. Energia, desainer konstruksi wahana angkasa beserta sistem pendukung energinya. Ryazan Zavod, industri perangkat komunikasi radio di darat, laut, dan udara. Kazan helikopter, pembuat heli termpur Mi-30. Biro desain Tula, perusahaan pembuat senapan serbu infantri dan pelontar roket anti-tank. Izhevsky zavod, industri kamera-video. Vympel, biro desain peluru kendali di darat, laut, dan udara. T8, industri sistem komunikasi kabel beserta perangkat keras pendukungnya. Pribor, kumpulan industri teknologi penerima, registrasi, dan penyalinan sinyal aviasi. Kompozit, industri metalurgi untuk alat-alat pengukuran. Strela, industri penelitian-pengembangan-manufaktur senjata komando radio-elektronik. Konstanta Dizain, industri perangkat lunak virtualisasi pusat pelatihan militer dan sipil. Tupolev, industri pesawat angkut eksekutif supersonik.

Panitia juga menyiapkan beberapa hall yang dilengkapi balkon dan restoran untuk para tamu undangan. Deal-deal bisnis tentunya enak dibicarakan pada saat berdiri di balkon menyaksikan atraksi pesawat diselingi makan siang di restoran. Sekutu dekat Rusia juga hadir. Angkatan militer Cina dan Iran diberikan stan khusus sebagai kawan dekat Rusia di dunia internasioanal. Untuk urusan administrasi bisnis, Rosobroneksport ditunjuk sebagai perwakilan resmi untuk mengekspor teknologi dirgantara dan angkasa Rusia. Ada juga beberapa bank lokal dan internasional hadir untuk memberikan solusi masalah pendanaan. Sebagai malaikat penjaganya, beberapa jasa asuransi militer juga hadir menawarkan solusi masalah kegagalan teknologi di masa datang yang tidak bisa diprediksi.

Setelah 6 hari berturut-turut memanjakan mata pengunjung, acara ditutup pada tanggal 1 September. AIRMAKS berikutnya baru bisa dinikmati 2 tahun kemudian. Berharap, tentunya Indonesia juga bisa turut hadir memamerkan teknologinya pada tahun 2015. Menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah salah satu pemain besar yang harus diperhitungkan. Tentunya sangat membanggakan dan meningkatkan prestise jika masyarakat internasional mengetahui Indonesia memiliki ilmuwan dan enjiner hebat yang bisa menciptakan teknologi dirgantara dan angkasa. Sampai jumpa lagi di AIRMAKS 2015!

AIM 12




*Penulis adalah mahasiswa jurusan teknik radio di Ryazan, Rusia

Belajar Dari Daerah Lain

Menampilkan entri terbaru dengan label esei. Tampilkan entri lawas
Menampilkan entri terbaru dengan label esei. Tampilkan entri lawas

Selasa, 14 April 2009

Esei Greenhill G. Weol: “Mari Gabung (R)evolusi Linux!”

Membuat Linux Lebih Baik…

Saya kader Linux, seandainya ada partai Linux pasti sudah saya contreng, tetapi maaf, pada tulisan ini saya malah akan berusaha mengungkap kelemahan-kelemahan dari Linux. Tulisan-tulisan tentang Linux biasanya hanya mengungkap kelebihan-kelebihan, memuji habis-habisan, atau paling-tidak bersikukuh bahwa Linux adalah OS yang paling simpatik. Sering saya menemukan tulisan-tulisan di web yang isinya melulu sentimen yang tidak sehat terhadap Windows. Ini menurut saya justru kontra-produktif. Tulisan ini saya buat di Linux, memakai OpenOffice, jadi saya bukan pro-Windows, maniak Windows, apalagi hooligan Windows. Tulisan ini juga bukan untuk mengajak pembaca memandang masalah ini secara objektif, malah menginginkan kita, pengguna Linux, menjadi sangat subjektif. Saya akan memprovokasi anda dengan beberapa pengibaratan: Jika sebuah OS bisa diibaratkan oksigen, maka hampir semua kita harus mengakui bahwa sewaktu kita pertama mengenal komputer, kita menghirup udara yang bernama Windows (atau DOS yang adalah setali tiga uang). Atau, jika sebuah OS itu layaknya bahasa, agak sulit menepis fakta bahwa mother tongue kita adalah Windows. Bahkan, walau mungkin mengada-ada, bisa jadi Windows adalah cinta pada pandangan pertama kita! Saya sendiri sulit untuk berkata I hate Windows keras-keras, padahal saya tahu bahwa Windows itu “tidak fair”, “kapitalis”, atau malah “jahat”. Namun, susah disangkal bahwa kita semua terlibat hate-love affair dengan Windows, setidaknya kita berhutang sesuatu kepada Bill Gates. Saya sendiri, sejujurnya, satu tahun terakhir ini ber-dual boot Ubuntu – Vista. Namun akhir-akhir ini saya dipusingkan oleh sebuah pertanyaan yang saya pertanyakan kepada diri sendiri: sebenarnya apa yang kurang dari Linux sehingga saya seolah tak mampu melupakan Windows? Pikiran ini begitu membebani sehingga akhirnya menjadi titik berangkat menulis tulisan ini, anggaplah sebagai sebuah sesi confession dalam sebuah kelompok rehabilitasi.
Saya baru memiliki komputer sendiri sekitar lima tahun lalu. Oleh toko, komputer rakitan saya diinstali Windows XP ilegal. Saya ingat betul, RAM yang terinstal hanya 128 mb, berhubung komputer paket hemat. Pakai prosesor apapun, running Windows XP dengan RAM seperti itu pasti terasa lambat, kecuali hanya untuk putar musik dan mengolah kata. Opsi upgrade memori masih terhalang mahalnya modul RAM pada saat itu untuk ukuran kantong seorang mahasiswa. Belum lagi keluar dari kesulitan memori terbatas, tantangan berikut adalah mendapatkan software tambahan untuk keperluan-keperluan khusus semisal edit video, olah gambar, dan lain-lain. Alkisah, saya mulai berburu software ke teman-teman yang lebih dulu punya komputer pribadi. Saya pinjam CD-CD mereka, dan dengan modal CD kosong di-kopilah setumpukan software ilegal tersebut. Begitulah, tahun-tahun pertama berkomputer saya habiskan dengan cara yang ‘pra-sejarah': berburu dan meramu! Sebenarnya ini tidak terlalu menarik untuk diceritakan karena anda mengalami hal yang sama, bukan? Tetapi, tunggu. Ada sebuah ‘penemuan’ yang kelak membawa saya memiliki kesempatan menuliskan kisah ini untuk anda. Setelah kurang-lebih tiga tahun menjadi ‘manusia purba’, suatu ketika, di antara tumpukan CD pinjaman yang diambil sekenanya dari seorang teman, saya temukan terselip sebuah CD yang setelah dieksplor ternyata tidak berisi satupun software. Sebuah CD merah dengan tulisan enigmatik: Ubuntu. Pendek cerita, saya kemudian mencoba banyak distro Linux. Beberapa diantaranya sangat bagus, sementara yang lain, bukan jelek, mungkin hanya tidak cocok untuk saya saja. Karena memiliki kecenderungan untuk ‘cinta pada pandangan pertama’, saya jadi lebih nyaman dengan Ubuntu (walaupun sebenarnya amat tertarik pada kecantikan Mandriva). Varian-varian Linux mini macam DSL dan Slax sebenarnya juga amat menarik karena tidak boros resource. Untuk Linux live USB saya pilih Slax. Ironis memang, justru setelah telah punya laptop berprosesor high-end dengan RAM 4 giga, saya menggunakan OS yang seharusnya saya gunakan empat-lima tahun lalu, andai saja saya kenal Linux lebih awal. Tetapi toh, kembali pada kejujuran, saya masih saja ‘menyimpan’ kekasih lama: CD installer Windows.
Tak bisa disangkal, dunia hari ini adalah dunia yang cenderung menilai segalanya dari tampilan. GUI dalam OS bisa menjadi daya tarik yang luarbiasa, baik dari segi kemudahan maupun keindahan. Untunglah, Linux yang text-based sudah menjadi sejarah. Tidak perlu lagi menjadi seorang ‘kutu kode’ untuk mengoperasikan Linux. Sekarang fungsi terminal dan sejenisnya telah banyak tergantikan oleh interface yang lebih user-friendly. Malah, tampilan Linux sekarang tidak bisa dikatakan jelek. Kita punya Compiz yang menyimpan banyak ‘sihir’ untuk membelalakkan mata bahkan untuk seorang pengguna OS Mac sekalipun. Tetapi Linux punya masalah klasik tentang dukungan driver, salah satunya terhadap driver graphics, yang menyebabkan tidak di semua komputer bisa tercipta keindahan ala Linux (atau perlu proses panjang dan rumit, malah bisa gagal instal, seperti pada kasus chipset SIS). Lebih jauh, game yang adalah salah satu daya tarik dunia komputer yang terbesar harus menjadi warga negara kelas dua di Linux karena masalah di atas. Wine, PlayOnLinux, dan emulator Windows API lainnya masih dalam penyempurnaan, sementara saya sedang ketagihan main CS. Untunglah masih ada dual-boot…
Ubuntu punya repository software yang melimpah, semua orang tau itu. Varian-varian Linux yang lain sebenarnya juga tidak kalah. Macam software yang tersedia juga lengkap, mulai dari pengelola resep makanan sampai meng-hack paswor WPA. Hampir semua software populer Windows memiliki match-nya di Linux, dengan kwalitas yang cukup baik. Penciptaan softwarenya pun terus berlangsung, mulai dari sumber resmi sampai yang community-maintained, dari seluruh dunia pula. Pokoknya semua tersedia gratis on-line. Tunggu! On-line? Aduh, jika anda punya koneksi internet yang tidak lelet, atau punya DVD Repo, pasti semuanya semudah satu-dua-tiga. Tetapi jika tidak? Ubuntu 8.10 out-of-the-box saja perlu codec multimedia yang harus diunduh dulu, untuk dapat memainkan file mp3 anda. Anda bisa saja berkunjung ke warnet terdekat dan menggoogle software yang anda butuhkan, tetapi kemudian jika yang anda temukan adalah sorce code atau paket yang perlu di-compile lagi sebelum bisa digunakan, pekerjaan bisa jadi panjang, untuk seorang advanced user sekalipun. Memang Linux punya ‘exe’nya sendiri macam paket deb di Ubuntu yang memangkas keribetan, tetapi masih ada benturan jika dependensinya ternyata belum komplit. Eksekutabel Windows saya telah menumpuk puluhan CD. Perlu sebuah fungsi, tinggal cari, instal, dan kerja. Rupa-rupanya faktor ketersediaan software masih sangat berpengaruh karena lagi-lagi saya mesti berpaling pada Microsoft…
Linux is Freedom, begitu bunyi slogan yang sangat sering kita dengar. Kehadiran Linux adalah untuk memberikan kebebasan kepada pengguna PC untuk memilih dan juga mencipta apa yang mereka inginkan. Tidak salah, memang kebebasan memang layak diperjuangkan oleh, untuk, dan bagi siapa saja di dunia ini. Namun, kebebasan hanya akan benar-benar berarti serta berguna buat seseorang yang telah tau akan berbuat apa dengan kebebasannya itu, serta siap menerima konsekuensi-konsekuensinya. Perkaranya jadi lain buat orang yang tidak tau. Kebebasan, malah, bisa berarti chaos. Eksistensi Linux yang serba beragam semestinya menjadikan kebebasan jadi sebuah nilai lebih bagi Linux. Tetapi kebebasan disini dapat menjadi kelemahan. Bagaimana bisa? Begini: Windows saja, dengan varian-variannya yang bisa dihitung dengan jari, GUI yang cenderung tak banyak perubahan (kecuali tambahan transparansi dan animasi) dan punya life-cycle bertahun-tahun itupun oleh pengguna PC umum sudah dibilang rumit. Nah, Linux dengan naturenya memberi kebebasan pilihan, yang hadir dengan beragam opsi, dari ragam distro sampai ragam desktop environment, menjadi kelihatan lebih rumit bagi banyak orang. Anda mungkin kemudian mengatakan bahwa Linux memang adalah sebuah media pembelajaran, agar yang tidak tau menjadi lebih tau. Linux seharusnya menjadi sarana memperkaya pengetahuan, menjadi batu gerinda otak. Itu benar dan saya juga berpikir demikian. Tetapi marilah kita jujur melihat kondisi mayoritas pengguna PC hari ini. Setelah membeli sebuah komputer, kebanyakan orang menginginkan sebuah PC itu bekerja untuk mereka, bukan sebaliknya. Komputer diinginkan sebagai sesuatu yang intuatif dan mudah dioperasikan, bukan sesuatu yang membuat mereka mengkerutkan alis mata. Komputer bagi kebanyakan pengguna adalah sebuah alat untuk membuat hidup menjadi lebih mudah, bukan malah sebaliknya. Harus diakui, dalam memberikan kemudahan bagi penguna umum, Linux masih ketinggalan dibanding Windows. Kita jangan melupakan fakta bahwa pada produk teknologi kemudahan penggunaan adalah salah satu hal yang menentukan dan menjadi pertimbangan konsumen. Konsumen rela membayar mahal asalkan mereka mendapatkan kemudahan dan kenyamanan. Itulah penyebab mayoritas pengguna PC di dunia tetap menginstal Windows, walau bajakan, ketimbang Linux yang sudah legal, gratis lagi, dengan performa setara, bahkan lebih dari Windows dalam banyak hal. Namun, kelebihan Linux dibanding Windows sayangnya amat berhubungan dengan kemampuan pengguna (atau teknisi) untuk mengidentifikasi apa yang dibutuhkan, dari mana yang dibutuhkan itu bisa diperoleh, serta kemampuan mengetikkan jawaban-jawaban berupa beberapa baris bahasa biner dalam terminal. Rupanya, lebih banyak orang merasa lebih baik melanggar hukum atau merogoh kantongnya dalam-dalam asalkan tetap bisa point and click. Begitulah, sangat natural bagi manusia untuk menginginkan kemudahan. Teknologi memang diciptakan untuk memberikan kemudahan-kemudahan. Ada sebuah kisah tentang kemudahan yang saya alami belum lama berselang ini. Beberapa waktu lalu, seorang sahabat meminta saya membantunya untuk membangun sebuah warnet kecil-kecilan di rumahnya. Saya setuju membantu, asalkan hanya pada bagian merakit CPU dan menginstal OS, karena sejujurnya hanya itu yang saya bisa. Karena saya tidak bisa membangun jaringan, saya rekomendasikan seorang teman yang lulusan TI. Dalam sehari saja seluruh pekerjaan yang menjadi bagian saya telah selesai. Unit-unit telah terakit lengkap dengan OS yang super lengkap, hasil remaster dari Ubuntu. Tinggal menunggu ‘orang jaringan’ itu untuk datang menyambung-nyambung kabel dan jreng! Saya menyangka semua teknisi yang terdidik secara formal dan mampu membangun jaringan berbasis Windows akan mampu pula membangun jaringan berbasis Linux. Ternyata ia ‘buta’ Linux, jadi kelanjutannya mudah ditebak. Karena pemilik menginginkan kemudahan, sebagai konsekuensi warnetnya itu harus buru-buru tutup jika terdengar akan ada razia Windows. CD kopian Windows XP saya telah kembali menunaikan tugasnya…
Begitulah kenyataan-kenyataan Linux yang saya hadapi. Silahkan anda menambahkan bagian anda. Namun, seharusnya kita tidak berhenti sampai di sini. Semua hal yang saya tulis di atas bukanlah untuk mereduksi Linux, justru sebaliknya, mengajak kita berpartisipasi bersama untuk membuat Linux menjadi lebih baik. Sebuah sesi kelompok terapi tak lengkap tanpa memberi ruang untuk prasaran, tentu saja menurut ideal masing-masing. Saya bukan pakar komputer, apalagi pakar Linux, saya hanya seorang sastrawan yang menggunakan Linux dalam berkarya. Mudah-mudahan sumbang saran saya berikut ini bisa diterima:
Hari lepas hari Linux sudah semakin populer, terima kasih kepada Graphical User Interface yang semakin intuitif. Penggunaan Linux sebenarnya cukup sederhana untuk dipahami, asalkan dibiasakan. Alangkah baiknya jika pengunaan Linux bisa semakin luas dalam dunia pendidikan formal seperti SMP dan SMA (kalau memungkinkan Pre-School dan SD). Selain bisa mengajarkan tentang ‘taat hukum’ dengan tidak menggunakan produk bajakan, itu akan memperkenalkan Linux lebih dini kepada anak-anak usia sekolah yang masih punya daya ingat kuat. Sederhananya, mereka jadi tau bahwa selain Windows ada juga Linux, dan kemudian belajar mengoperasikannya, dan terlahirlah sebuah generasi yang selain melek huruf, juga melek Linux! Tidak heran jika di depan hari banyak yang akan menjadi operator, bahkan teknisi Linux yang handal. Linux memang bagian dari masa depan. Tinggal bagaimana para pengambil keputusan dalam Dunia Pendidikan Formal untuk menempatkannya dalam blue print bahan pembelajaran. Akan sangat menolong jika Linux dimasukkan kedalam Kurikulum Nasional, namun jika hal ini masih perlu perjuangan panjang, guru-guru mata pelajaran Komputer dapat memperpendek jalur dengan menyelipkan pembelajaran Linux. Secara informal pun sosialisasi Linux bisa dilaksanakan. Seminar-seminar tentang Linux sebaiknya lebih banyak diselenggarakan. Pelatihan-pelatihan Linux lebih gencar dilaksanakan. Linux User Group lebih banyak lagi dibentuk dan berperan. Forum-forum Linux di internet diperbanyak, yang telah vakum dihidupkan kembali. Tulisan-tulisan berupa artikel, esei, atau opini tentang Linux diperbanyak. Jika memungkinkan, karya sastra – puisi, prosa, dan drama, dapat ditulis dengan menyelipkan penggambaran Linux. Lebih beragam media yang digunakan, akan lebih luas pengaruhnya.
Fokus lanjut adalah kepada ketersediaan software. Saya tau ini tidak mudah, software-software Linux kebanyakan merupakan ‘peghabis waktu senggang’ dan ‘proyek rumahan’ dari para programer. Walau demikian, saya yang hanyalah pengguna Linux, selalu merasa bahwa orang-orang ini, para programer dan pengembang Linux, adalah tidak kurang dari para saint dan tidak lebih dari malaikat. Untuk karya yang dihasilkannya, kebanyakan dari mereka tidak menerima bayaran. Banyak proyek-proyek software Linux mengumpulkan dukungan dana lewat donasi dan dari berjualan kaos. Proyek-proyek software libre – open source sebenarnya mendapatkan bahan bakar hanya dari satu faktor: semangat. Tinggal bagaimana kita membantu mengobarkan semangat mereka. Ada beberapa cara yang menurut saya dapat kita lakukan. Pertama, dengan mendownload hasil karya mereka, bahkan yang masih dalam versi beta sekalipun. Rating download bisa membuat pengembang merasa diperhatikan dan dihargai, serta versi-versi beta yang kita coba dapat membantu penyempurnaan sebuah proyek melalui feedback laporan bug dan saran-saran. Kedua, dengan membeli merchandise. Ada sebuah ungkapan: “if you really love a project, then for goodness sake, buy a T-shirt!”. Ini agak rumit bagi yang berada di belahan berbada dari dunia, namun mereka yang punya kartu kredit sebenarnya tidak sulit. Nah, jika para pengembang sudah merasa didukung, saya pikir tidak akan menunggu lama untuk munculnya software-software baru yang berkwalitas. Mungkin juga, jika keadaan semakin membaik, para pengembang dapat duduk bersama dan menyatukan kepala mereka untuk memikirkan kemungkinan pengembangan software dengan cross-platform independent installer. Alangkah mudahnya jika semua eksekutabel Linux akan langsung terinstal tanpa perlu memusingkan dependensi, juga dapat langsung diinstal pada distro manapun, tanpa proses converting lagi. Jika standar universal dapat diadakan, tentunya tanpa mengganggu independensi antar-distro, sebuah (r)evolusi akan terjadi dalam dunia Linux, yang menurut saya akan membuatnya lebih baik.
Di Windows saja kita sudah cukup kerepotan mengenai driver pada saat migrasi dari XP ke Vista. Paling-tidak nanti pada tahun kedua semenjak Vista RC mempublik barulah development driver dari manufaktur berhasil mengejar, padahal Vista adalah produk Microsoft, raksasa dengan kapital besar dan mengantongi perjanjian kerjasama dengan ratusan, malah mungkin ribuan, pengembang software dan manufaktur perangkat keras. Sebenarnya, permasalahan kompatibilitas perangkat keras di Linux membawa kita lebih jauh kepada permasalahan yang sangat fundamental. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dibalik ini semua? Saya bukan ahli ekonomi, ahli hukum, apa lagi ahli politik, namun saya cukup mampu melihat bahwa fakta Microsoft sebagai penguasa sebagian besar dari pasar OS di seluruh dunia adalah yang menciptakan ‘stagnasi’ dalam pengembangan yang intensif dalam soal dukungan software dan hardware terhadap Linux. Para pengembang software dan manufaktur perangkat keras tentu memilih mengembangkan dukungan terhadap OS yang paling populer, paling banyak market share, sebab akan lebih menguntungkan. Di lain pihak, Microsoft telah mengikat banyak dari pengembang software serta manufaktur hardware dalam kontrak-kontrak yang tentu saja berpihak kepadanya. Kemudian Microsoft ‘menyerang’ eksistensi dari proyek-proyek open source secara legal-formal dengan berbagai tuduhan pelanggaran hak paten. Selanjutnya, Microsoft ‘membelah’ dunia Linux dengan keberhasilannya ‘menggandeng’ SUSE Linux. Tak heran, dalam menghadapi pihak-pihak yang dianggapnya mengancam eksistensinya, Microsoft memang menerapkan kebijakan Embrace, Extend, and Extinguish, sebuah skenario tua kolonialisme/kapitalisme. Sebuah perusahaan dengan kapital tak terbatas memiliki kekuasaan atas pasar yang dominan dan ingin mengkekalkan diri dengan cara apapun. Kekuasaan selalu dominatif, dominasi berarti ekspansi, ekspansi memaksa perpecahan, perpecahan berujung pada penaklukan. Menurut hemat saya, sebagai sebuah firma yang mengejar profit, Microsoft tidak dapat begitu saja kita salahkan. Mempertahankan penguasaan pasar adalah hal yang lumrah bagi sebuah perusahaan yang berdagang produk, selama itu dilakukan dengan cara-cara terhormat. Jika pertarungan Linux vs Windows dapat digolongkan kepada perang produk, apakah karena Microsoft adalah sebuah korporat raksasa maka dengan mudahnya Linux akan kalah? Saya yakin tidak. Dalam sebuah peperangan, selama ada yang tetap bergerilya, perlawanan masih akan terus berlangsung dan kemenangan tinggal menunggu waktu. Bentuk ‘gerilya’ untuk konteks ini adalah dengan memperkuat komunitas-komunitas yang tetap berkarya serta mendukung Linux. Bentuk perlawanan berikut adalah dengan menciptakan produk-produk Linux yang lebih user-oriented. Permasalahan driver memang cukup kompleks dan serius,. tetapi jika masalah driver ini terpecahkan, misalnya, saya dapat mengkonek semua periferal (termasuk gadgets) dan bisa langsung operasional, atau main game tanpa diskriminasi FPS, dengan akselerasi video yang baik pula, atau teman-teman saya yang menggunakan laptop dengan chipset yang tidak disupport Linux tidak terhalang hang diawal instalasi, saya kira Linux bisa membuat tersenyum beberapa bibir lagi.
Pada 25 Agustus 1991, Linus Torvalds, seorang mahasiswa Universitas Helsinki, mengumumkan untuk pertama kali kepada dunia tentang yang secara jujur diakuinya sebagai sesuatu yang ‘dilakukan layaknya sebuah hobi’ dan ‘mungkin tidak akan besar’. Namun nyatanya Linux tidak hanya seumur jagung. Hari ini, Linux digunakan sebagai OS mulai dari perangkat genggam sampai superkomputer. Ini berarti bahwa dunia membutuhkan Linux, tidak hanya Windows. Memang, panji-panji perseteruan telah dikibarkan dan tak mungkin diturunkan lagi. Saya tau, banyak pendukung Linux yang ‘militan’, yang melakukan apa saja untuk mengkonfrontasi Windows, mulai dari memaki-maki di forum, sampai membuat artworks yang melecehkan pihak Windows. Namun, marilah kita menempatkan perseteruan ini menjadi sebuah perlombaan yang terhormat antara dua ‘bangsa’ yang berdaulat. Perlombaan yang seharusnya berakhir dengan pengakuan eksistensi dari masing-masing pihak. Saya harus katakan: Linux tidak bisa mengalahkan Windows. Linux memang tidak untuk mengalahkan Windows. Sebaliknya, Windows tidak akan menghancurkan Linux, selagi semangat kita masih berkobar untuk mempertahankan kebebasan kita untuk memilih. Linux harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Windows. Linux adalah alternatif yang dibutuhkan oleh dunia. Linux hadir untuk mengatakan bahwa pilihan telah kembali ke tangan kita. Karena semuanya telah di tangan kita, mari membuat Linux menjadi lebih baik. Mari gabung (r)evolusi Linux!

Minggu, 05 April 2009


Salah satu masalah mendasar yang kerap kali menghantui kaum muda minahasa adalah masalah kepercayaan diri. Masalah kepercayaan diri ini, menurutku terkait sekali dengan politik pencitraan yang dilakukan oleh para penguasa dari setiap zaman di sepanjang lintasan sejarah orang Minahasa.
Pada zaman kompeni-hindia belanda misalnya, kita disebut sebagai orang-orang alifuru yang berarti orang-orang yang tidak beradab. Usaha pembentukan citra kita sebagai orang yang tidak beradab terutama dilakukan dengan mengeksploitasi leluri-leluri atau kisah-kisah masa lalu kita terutama yang terkait dengan soal asal usul yaitu kisah Lumimuut dan Toar. Kisah Lumimuut dan Toar sebagai persetubuhan antara ibu dan anak yang semula hanya merupakan salah satu versi dari sekian versi yang ada di dalam leluri-leluri para walian di seluruh wilayah Malesung kemudian ditetapkan oleh para ahli dari eropa sebagai versi yang dominan. Hal ini jelas tidak bisa dilepaskan dari politik kebudayaan kaum orientalis yang senantiasa menetapkan bahwa barat beradab dan timur tidak beradab, barat paling maju dan timur paling terbelakang. Politik kebudayaan yang senantiasa menempatkan segala hal pada posisi oposisi biner. Wacana yang memang menjadi landasan dari politik imperialisme.
Pada zaman awal kemerdekaan, orang minahasa disebut sebagai antek-antek atau kaki tangan penjajah. Orang-orang yang makan roti belanda. Citra ini dibangun dengan landasan pemikiran bahwa selama masa penjajahan Belanda, orang minahasa menikmati status lebih dibandingkan bangsa-bangsa lain di masa itu. Hal ini dibuktikan dengan melihat banyaknya orang minahasa yang terpelajar dan kemudian menjadi pegawai di kantor-kantor milik pemerintah atau menjadi tentara. Kedudukan-kedudukan ini menempatkan orang minahasa secara ekonomi lebih mampu.
Pada era pemerintahan orde lama dan orde baru, orang minahasa juga mendapat status baru sebagai kaum pengkhianat. Ini terkait dengan peristiwa piagam Permesta yang telah mengakibatkan peperangan dan korban baik manusia maupun materi. Politik pencitraan dimasa ini sangat terkait dengan usaha sistematis untuk membatasi peran orang minahasa di bidang sipil dan militer.
Pertanyaan kemudian yang bisa dimunculkan adalah mengapa harus ada usaha-usaha pembunuhan karakter terhadap orang minahasa dan bagaimana sebenarnya perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman ?
Menurutku, adanya usaha-usaha pembunuhan karakter ini justru sangat terkait dengan kehadiran kaum muda. Munculnya generasi baru di setiap zaman berarti munculnya motor penggerak perubahan dari sebuah zaman yang baru. Munculnya generasi baru sangat menentukan kemajuan dan masa depan Minahasa, untuk itulah maka generasi baru ini harus dibuat kehilangan jati dirinya. Kehilangan identitasnya. Kehilangan rasa percaya dirinya. Sebab generasi yang telah kehilangan rasa percaya dirinya akan senantiasa hidup dalam kebimbangan dan tidak bisa lagi menentukan sikap. Ia akan selalu ikut arus tidak perduli arus itu akan membawanya ke dalam jeram kehancuran.
Adapun perkembangan kaum muda maesa di setiap zaman adalah sebagai berikut:
Pada zaman colonial, kaum muda minahasa banyak yang menjadi guru dan sangat berperan dalam proses pendidikan di seluruh wilayah nusantara. Dalam perkembangan kemudian, kaum intelektual yang dengan sadar mengambil kelebihan dari pengetahuan barat ini menjadi pelopor ideologis maupun praktis bagi perjuangan melawan penjajahan colonial belanda. Kita bisa menyebut antara lain, Ward Kalengkongan, ahli budaya yang kemudian menjadi sahabat dekat dan guru ideology dari Douwes Dekker Tokoh Nasionalis pendiri Indische Partij yang menuntut Hindia diperintah oleh Orang Hindia – Indie voor de Indier. F.D.J Pangemanann, pengarang dan pelopor pers, J.H. Pangemanan, pelopor pers dan pendiri Rukun Minahasa di Semarang. Sam Ratulangi, pelopor pers, futurolog. Ketua indische vereniging (Perhimpunan Indonesia). Arnold Mononutu, wakil Perhimpunan Indonesia di Prancis.
Pada zaman kemerdekaan,kita bisa menyebut antara lain J.F Malonda, sastrawan dan filsuf, penulis buku Membuka Tudung Filsafat Purba Minahasa. Giroth Wuntu, penulis roman Perang Tondano, H.M Taulu, penulis sejarah Minahasa dan Kisah pingkan Matindas (Bintang Minahasa), Jappy Tambayong (Remi Silado) Seniman serba bisa
Pelopor puisi Mbeling. Benni Matindas, penulis karya filsafat setebal seribuan halaman berjudul Negara Sebenarnya. Harry Kawilarang, wartawan dan penulis buku tentang terorisme internasional.
Pada penghujung era Orde Baru juga muncul gerakan budaya melalui kegiatan sastra,teater dan musik melalui Teater Kronis Manado, KONTRA, dan Teater Ungu. Gerakan budaya ini kemudian bermuara pada apa yang sekarang dikenal sebagai Mawale Movement : Gerakan Membangun Tempat Tinggal. Gerakan yang bertolak dari penulisan karya sastra berbahasa Melayu-Manado dan juga bahasa minahasa, eksperimentasi teater dan musikalisasi puisi serta pembangunan basis dan jaringan kebudayaan di seluruh Sulawesi Utara lebih khusus lagi Minahasa, Minahasa Selatan Minahasa Utara, Tomohon dan Minahasa Tenggara.
Apa yang bisa dijadikan permenungan dari kisah kaum muda Minahasa dari zaman dahulu sampai zaman sekarang adalah semangat untuk senantiasa menuntut pengetahuan yang lebih maju dan sikap kritis serta semangat kepeloporan untuk melakukan perubahan. Si Tou Timou Tumou Tou.

Minggu, 22 Maret 2009

Esei Denni Pinontoan: “Melampaui Demokrasi”.

Demokrasi sebagai Pengganti Monarkhi?
Praktek awal sistem demokrasi dalam usaha menata kehidupan bersama sebuah masyarakat terutama dalam kehidupan negara-kota telah dimulai di Yunani, kira-kira pada abad 6 SM. Kebanyakan kita sudah tahu bahwa kata demokrasi ini berasal dari dua kata Yunani, yaitu demos dan kratein. Demos berarti orang banyak dan kratein berarti memerintah. Dalam pengertian umum, demokrasi adalah sistem pemerintahan yang mengedepankan aspirasi orang banyak atau rakyat kebanyakan.

Namun, dalam dalam tampilannya yang modern, sistem pemerintahan demokrasi disebut-sebut sebagai kritik terhadap kekuasaan absolut monarkhi. Demokrasi yang kita kenal sekarang, sejatinya adalah produk dunia modern. Reformasi Luther di abad 16, antara lain telah melahirkan semangat kritik, kemajuan dan subjektifitas. Semangat inilah yang kemudian melahirkan beragam pendekatan keilmuan, antara lain rasionalisme, empirisme dan positivisme. Berikut berbagai ideologi, seperti kapitalisme, sosialisme, komunisme dan nasionalisme, adalah juga produk dari modernisasi dalam hal berpikir tersebut. Hasil dari modernisasi berpikir ini antara lain munculnya Revolusi Amerika 1775-1783, Revolusi Perancis pada tahun 1789 serta Revolusi Industri di Inggris.

Demokrasi yang dikampanye-kampanyekan dan digalak-galakan di Dunia Ketiga, seperti di Indonesia dewasa ini, pada dasanya adalah untuk melanjutkan idealisme pemikiran modern Eropa itu. Negara bangsa di Dunia Ketiga, pada proses kelahirannya kebanyakan terinspirasi dari ide-ide demokrasi yang berkembang sejak Revolusi Amerika, Perancis dan Industri Inggris tersebut. Oswaldo de Rivero dalam bukunya The Myth Of Development (2008), bahkan dengan tegas mengatakan, Revolusi Industri di Eropa dan Amerika itulah yang telah memberi sentuhan terakhir kepada bentuk Negara bangsa yang dikenal sekarang ini.

Gagasan-gagasan dasar demokrasi yang dihasilkan oleh pemikiran modern Barat itu berkisar pada kebebasan, keadilan, perdamaian, dan persamaan hak. Bandingkan dengan apa yang kemudian terkenal dari Revolusi Perancis itu: persaudaraan, persamaan dan kebebasan. Yang mendahului revolusi-revolusi itu adalah sejumlah pemikiran-pemikiran kritis di kalangan filsuf, seperti Thomas Hobbes, John Locke, Montesquieu, Rosseau dan lain sebagainya. Tapi, apakah benar, idealisme demokrasi itu benar-benar nyata dalam prakteknya?

Demokrasi dan Proyek Hegemoni Negara
Pada banyak hal, pemikiran-pemikiran yang rasionalistik sejumlah pemikir Eropa ini juga telah ikut membidani lahirnya Revolusi Industri yang ikut melembagakan kapitalisme di bidang ekonomi. Globalisasi di bidang ekonomi yang masih merupakan persoalan di sejumlah negara bangsa di Dunia Ketiga hingga dewasa ini, antara lain juga adalah warisan dari sistem ekonomi yang lahir di masa-masa menguatnya rasionalisme abad 18-19 itu. Bahkan, bisa kita duga bahwa sistem pemerintahan demokrasi sepertinya adalah cara yang sengaja untuk dikampanyekan dan digalakkan di Dunia Ketiga pada masa-masa kelahirannya di awal abad 20 adalah untuk memuluskan penguasaan di bidang ekonomi oleh Negara-negara Eropa dan Amerika khusunya hingga hari ini. Kapitalisme, rupanya menemukan ruangan yang nyaman untuk berkembang ketika begara-negara bangsa melakukan eksprimen untuk menerapkan sistem demokrasi. Mudah-mudahan logika saya ini tidak keliru.

Sebab, menariknya kekuasaan absolut negara yang disebut Hobbes dengan Leviathan, akhirnya kini berubah wajah dalam negara bangsa atas nama nasionalisme. Ketika suatu negara bangsa berhasil berdiri, dan mengalami euphoria yang luar biasa karena kebanggaan berhasil mengusir pihak penjajah asing dari tanahnya, maka demokrasi dipilih sebagai sistem alternatif untuk mengurus negara bangsa baru itu. Pemilu dilaksanakan, yang antara lain untuk memilih penguasa baru, di legislatife dan eksekutif khusunya. Kepala negara baru (presiden atau perdana menteri), yang dipilih berdasarkan suara terbanyak, diterima sebagai cara yang paling tepat untuk mengganti raja dalam sistem yang monarkhi. Dalam kampanye-kampanye, dan pewacanaanya, baik oleh negara maupun lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, demokrasi akhirnya dibedakan secara radikal dengan sistem monarkhi apalagi teokrasi. Bahwa, dalam sebuah negara bangsa baru yang majemuk, mestinya pemimpin negaranya bukan karena berdasar pada geneologis, atau wangsit dari langit, tapi harus dipilih berdasarkan suara terbanyak dalam sebuah Pemilihan Umum (Pemilu) yang melibatkan rakyat. Itulah kehendak orang banyak orang yang terlembaga. Wakil-wakil rakyat juga harus dipilih oleh rakyat sebacara langsung, dan mereka yang mendapat suara terbanyaklah yang pantas menjadi media perjuangan aspirasi rakyat. Setidaknya begitu wacana-wacana demokrasi sampai hari ini.

Tapi, cerita berulang. Apa yang dipotret oleh Machiavelli di akhir abad 15 dan awal abad 16 tentang kejahatan politik seorang Cesare Borgia, dan apa yang menjadi ajaran Hobbes di Inggris pada abad ke 17 tentang kelahiran negara, yang pada dasarnya negara itu akhirnya menjadi lembaga hegemoni kebebasan individu, kini menjadi fenomena menyeramkan di negara-negara bangsa yang mempraktekkan sistem demokrasi modern. Leviathan tetap ada, dan menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat. Dalam negara bangsa, dia tak lagi seorang raja, melainkan negara.

Pemilu untuk Menghasilkan Tirani Mayoritas
Demokrasi, pada prakteknya, hanyalah bentuk lain dari sistem monarkhi. Bahwa, demokrasi bagaimanapun tetap mengandung kekuasaan. Dan, negara bangsa, yang telah memindahkan kekuasaan absolut itu dari diri seorang raja ke lembaga pemerintahan/rezim atau lebih tepatnya lembaga negara itu, pada akhirnya harus menggunakan kekuasaan untuk menundukkan kebebasan individu. Leviathannya Hobbes, ternyata tak berhasil dihancurkan oleh demokrasi. Ini terjadi, ketika rakyat hanya diposisikan dan ditempatkan sebagai individu-individu pemilih, bukan pengontrol atau yang ikut bersama-sama dalam proses pemerintahan. Rakyat, dengan segala taktik rezim yang terpilih berdasar suara terbanyak itu, selalu diusahakan untuk terasing dari proses bernegara/berpolitik.

Pemilihan Umum (Pemilu), yang dipercayai sebagai satu-satunya cara ideal untuk memilih pemimpin negara dan wakil-wakil rakyat, dalam sejarahnya hanyalah kemudian untuk mengesahkan penguasaan mayoritas (elit yang memegang kendali kekuasaan/kuat secara kuantitas politik) terhadap minoritas (rakyat yang terasing dari kekuasaan/lemah secara politik). Suara terbanyak sebagai penentu kemenangan dalam sebuah kompetisi dan suksesi dalam sistem demokrasi akhirnya rawan menciptakan penguasa yang lalim dan otoriter (tirani mayoritas). Sejumlah penguasa tiran di era negara bangsa, adalah produk dari Pemilu dalam sistem demokrasi, di mana rakyat diminta harus datang ke tempat-tempat pemungutan suara, apapun bentuk partisipasinya untuk memilih calon-calon penguasa. Karena itulah sehingga Golput dianggap rezim sebagai sikap yang tidak bertanggungjawab untuk pembangunan negara.

Menariknya, sampai saat ini, apa yang disebut Samuel Huntington partisipasi aktif sebagai yang ideal untuk sebuah demokratisasi, belum terbukti, atau memang keliru. Dan era ini yang lebih gila ternyata. Kalau dulu, menjadi raja tiran karena berdasar mitos pemilihan dewa/ilah, tapi di era demokrasi ini menjadi penguasa tiran justru karena dilegitimasi oleh rakyat melalui Pemilu, dan tampilannya seolah-olah logis dan rasionalistik.

Kampanye, seperti yang sedang ramai-ramainya di negara bangsa Indonesia sekarang ini, katanya sebagai sebagai salah satu tahapan Pemilu untuk mensosialisasikan visi, misi dan program-program partai politik. Sementara partai politik, pada kenyataannya adalah alat atau media negara untuk usaha penundukkan secara terselubung. Dan para caleg, adalah mereka-mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pengkhotbah segala mitos kesejahteraan dari negara. Sebab, segala janji itu, akhirnya hanya akan menjadi mitos, dan barangkali tepatnya takhyul bagi rakyat. Partai politik atas nama demokrasi hanyalah candu bagi kebanyakan rakyat kita.

Bukit inspirasi Tomohon, 22 Maret 2009

Kamis, 12 Maret 2009

Esei Andreas Harsono: “Jurnalisme Warga (Gereja)”.

Seri Pendidikan Media, Komunikasi dan Kebudayaan
Yakoma PGI

HASUDUNGAN Sirait mudah dikenali dengan kumis baplang ala Joseph Stalin. Namun nada bicaranya lembut. Celananya, warna krem model pendaki gunung dengan banyak kantong. Kesannya, bergaya anak muda.

Suatu siang September lalu, saya menemui Sirait di kedai kopi Starbucks di Plasa Semanggi, sebuah mal Jakarta, untuk bicara soal kegiatannya dua tahun terakhir ini. Sirait beberapa kali membantu Yayasan Komunikasi Massa PGI (Yakoma PGI) melatih para pekerja media gereja. PGI singkatan dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Ia adalah organisasi payung 86 gereja-gereja Protestan di Indonesia sejak berdiri Mei 1950. Saya ingin tahu bagaimana Sirait memandang media komunitas gereja-gereja ini?

Dia memesan kopi. Saya mengambil teh hijau.

“Aku latar belakang HKBP,” katanya.

Huria Kristen Batak Protestan, atau HKBP, adalah gereja dengan sekitar 3 juta anggota. Ini menjadikan HKBP sebagai gereja terbesar, bukan saja di Indonesia, namun juga di Asia Tenggara. Mayoritas anggotanya, tentu saja, orang Batak. Pusatnya ada di Pearaja, sebuah desa di Kabupaten Tapanuli Utara.

Sirait menambahkan dia juga pernah memberi pelatihan berbagai media pesantren di Pulau Jawa. Institut Studi Arus Informasi, sebuah organisasi nirlaba Jakarta, pernah minta Sirait membantu pelatihan media pesantren. “Aku (dulu) lebih akrab dengan pesantren daripada gereja.”

Ketika Yakoma PGI minta dia ikut melatih media gereja, Sirait minta waktu untuk mempelajari beberapa penerbitan gereja. “Setelah Tobelo dan Batam, baru pemahaman aku lebih komprehensif,” katanya.

Tobelo, sebuah kota di Pulau Halmahera, didatangi Sirait ketika Yakoma PGI mengadakan lokakarya media gereja 24-28 April 2007. Dia juga bicara dalam acara pelatihan 25-29 Juni 2007, yang diadakan Gereja Batak Kristen Protestan, di Pulau Batam. Agustus lalu, Sirait ikut jadi instruktur semiloka “media rakyat” di Manado.

Saya mulai mengenal Hasudungan Sirait ketika rezim Presiden Soeharto membredel mingguan Detik, Editor dan Tempo pada Juni 1994. Kami sama-sama protes pembredelan tersebut. Kami juga sama-sama ikut menandatangani Deklarasi Sirnagalih, pada 7 Agustus 1994, guna mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebuah serikat wartawan untuk melawan sensor media.

Waktu itu ada peraturan bahwa satu-satunya organisasi wartawan yang diakui pemerintah Indonesia adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ikut meneken Deklarasi Sirnagalih berarti melanggar hukum. Departemen Penerangan dan PWI minta polisi menindak anggota-anggota AJI. Ada empat kawan kami masuk penjara: Ahmad Taufik, Danang K. Wardoyo, Eko Maryadi dan Tri Agus Siswowiharjo. Sirait dipecat dari PWI. Dia juga kehilangan pekerjaan dari Bisnis Indonesia. Dia lantas bekerja untuk mingguan D&R selama tiga tahun, secara anonim. AJI baru bisa bergerak di atas tanah sesudah Presiden Soeharto mundur dari tahta pada Mei 1998. Empatbelas tahun berlalu, Sirait kini lebih sering jadi instruktur wartawan. Dia tinggal di Bogor, sudah menikah dengan dua anak, serta belakangan merintis majalah bulanan etnik Batak bernama Tatap.

Sirait seorang trainer yang baik. “Wartawan berkualitas,” kata Jufri Simorangkir dari Suara GKPI, bulanan milik Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang berpusat di Pematang Siantar. Pendeta Simorangkir mengenal Sirait ketika ikut program di Batam.

Menurut Hasudungan Sirait, persoalan utama media gereja-gereja Protestan di Indonesia, baik di sebelah barat (Jawa dan Sumatera) maupun timur (Sulawesi, Sangir, Talaud, Halmahera, Ambon, Sumba dan sebagainya) adalah kekurangan perhatian dari para pemimpin sinode.

“Pengurus media pesantren hebat, sumber daya manusia berlapis-lapis, training lebih sering diadakan di kalangan pesantren. Yang bisa menyamai teman-teman Muslim hanya media Katholik,” kata Sirait.

“Kecenderungan sinode (gereja Protestan) gagah-gagahan bikin media.”

Namun alokasi biaya sedikit, tidak ada tim khusus, tidak ada guidance. “Kalau terbit ya sekali setahun atau dua kali.”

Isi media gereja-gereja Protestan, cenderung masih hanya khotbah, peletakan batu pertama atau seremoni gereja. Dari segi tata letak, umumnya tidak menarik. Kebanyakan media gereja sangat tergantung hanya pada kerajinan dan ketekunan pengurus media itu sendiri. “Kalau yang ngurus rajin, ya sering terbit, kalau tidak, ya ngacak.” Banyak pengelola media gereja mengharapkan ada kebijakan khusus dari gereja agar media dikelola sungguh-sungguh. Namun ketika pengurus media bikin terobosan sendiri, mereka sering diveto oleh sinode.

Saya menelepon Greenhill Weol di Tomohon untuk minta masukannya soal media gereja di Minahasa. Weol redaktur budaya radio Suara Minahasa. Tomohon adalah ibukota intelektual Minahasa. Markas besar Gereja Masehi Injili Minahasa, gereja terbesar di Pulau Sulawesi, juga terletak di Tomohon. Radio Suara Minahasa dikelola oleh Yayasan Suara Nurani pimpinan Bert A. Supit, seorang cendekiawan Minahasa, yang dulu juga mengurus GMIM. Weol mengatakan di Minahasa, GMIM juga punya beberapa penerbitan namun kadang-kadang terbit, kadang-kadang tidak. “Dana ada kalau ada proyek politik,” kata Weol. Maksudnya, bila ada politikus Minahasa lagi kampanye, dia bisa memberikan dana kepada penerbitan gereja. “Asal ada tiga atau lima fotonya dimuat,” kata Weol. Politisi Minahasa, tentu saja, suka berdekatan dengan GMIM mengingat gereja ini paling besar di Sulawesi Utara.

Pendeta Jufri Simorangkir cerita pada Februari 2006, dia ditunjuk sinode Gereja Kristen Protestan Indonesia menyunting Suara GKPI. “Dua tahun saya mengelola majalah ini sendirian. Saya yang mengetik. Saya yang ambil foto. Saya yang antar ke percetakan. Saya yang distribusi.” Tebal majalah antara 90 hingga 112 halaman.

Setiap bulan, Simorangkir mengambil hasil cetakan majalah di Medan. Dalam perjalanan pulang Medan-Pematang Siantar, biasa ditempuh tiga jam, Simorangkir dan seorang sopir mengantar 1,200 dari 3,000 Suara GKPI ke berbagai jemaat GKPI.

Menariknya, ketika ditunjuk untuk mengelola Suara GKPI, Simorangkir bahkan belum kenal komputer. “Modal kosong semua!” katanya. Dia harus belajar mengetik. Pelatihan Yakoma PGI, yang diikutinya di Batam, dinilainya sangat berguna. Dia belajar bahwa ruang redaksi dan usaha harus dipisah. Kini Suara GKPI sudah mendapat tambahan seorang karyawan. Simorangkir juga tidak menambah materi khotbah di Suara GKPI. Bahkan majalahnya kini sudah ada cerita pendek, humor dan banyak berita.

Simorangkir memuji majalah milik Gereja Batak Karo Protestan dan Gereja Kristen Protestan Simalungun. “Mereka sudah lebih terbuka. Iklan-iklan sudah masuk.”

Saya tanya Sirait, dari pengalamannya melatih media gereja, media mana saja yang tergolong baik?

“Yang paling baik GKJW Malang,” jawabnya.

“Rapi sekali mereka.”

Gereja Kristen Jawi Wetan, atau GKJW, adalah gereja Jawa timuran dengan pusat kota Malang. Mayoritas anggotanya, tentu saja, orang Jawa. Sinode gereja ini didirikan pada Desember 1931. Kini anggotanya sekitar 150,000 orang. Jumlah ini sangat kecil bila diingat Jawa Timur adalah basis Nahdlatul Ulama. Total populasi Provinsi Jawa Timur sekitar 34.5 juta dan sekitar 96 persen warga Muslim.

Sirait mengatakan ketika membaca Warta GKJW, dia merasa pengelola Warta GKJW terlihat upayanya serius melibatkan umat. Ada lembaran remaja, ada lembar orang tua, ada berita perkembangan di kitaran warga. Jufri Simorangkir juga setuju dengan kesimpulan Sirait. Simorangkir menyebut Warta GKJW mirip “majalah sekuler” … walau 80 persen isinya “soal rohani.”

Di kalangan HKBP sendiri, menurut Sirait, ada majalah Immanuel yang sudah berumur 120 tahun dan terbit dari Peuraja. Majalah bulanan ini terbit terus-menerus, tidak terganggu, dulu format kecil, kini format majalah. “Cuma isinya sabda pendeta semua.”


“Pengasuhnya pendeta semua.”

Saya mengalami kesulitan menghubungi Siman P. Hutahean, pendeta yang merangkap pemimpin redaksi Immanuel. Saya hubungi lebih dari 10 kali lewat telepon HKBP Peuraja, namun tak berhasil. Hutahean termasuk pendeta yang ikut acara Yakoma PGI di Batam.

Kalau format Immanuel tidak bisa ditawar, Sirait usul HKBP bikin outlet yang lebih interaktif, untuk remaja, anak-anak dan dewasa. Dunia media sudah berubah. Kini sudah ada televisi, internet, radio komunitas, blog, You Tube, Facebook dan macam-macam. Namun mayoritas media gereja masih bergulat dengan majalah. Media gereja kurang dalam banyak hal. “Cari duit nggak susah, cari orang yang susah. (Media) Katolik jauh lebih baik,” katanya.

Media gereja Protestan, juga kurang berkembang karena ada kekuatiran di kalangan sinode, media bisa jadi bumerang. “Takut disasar. Padahal tidak juga,” kata Sirait.

Dampaknya, ada kesenjangan informasi antara gereja dan umat. Umat sangat dinamis, dapat informasi dari mana-mana. “Itu tidak bisa diimbangi gereja. Paradigma gereja tidak berubah. Mereka cenderung menapis, semacam pakai kacamata kuda.”

Kalau informasi umum juga ada di media gereja, maka gereja bisa memberitahu soal, misalnya, mengapa harga-harga bahan pangan naik atau mengapa banyak korupsi. “Gereja nggak hanya isinya khotbah soal keselamatan,” kata Sirait.

Dia berpendapat media gereja seharusnya jadi media komunitas, “Dari kita, untuk kita. Bagaimana antara jemaat gereja bisa sharing pengalaman? Itu tidak mereka dapatkan dari Kompas atau Suara Pembaruan atau Suara Merdeka.”

Pukul dua siang, Hasudungan Sirait bilang mau pulang agar bisa tepat waktu untuk “memandikan anak.” Saya tersenyum. Si kumis baplang ini bahagia sekali bisa memandikan anak-anaknya setiap sore. Kami meninggalkan Plasa Semanggi.

PADA awal Juli 2008, selama empat hari saya jadi trainer dalam sebuah pelatihan situs web di Makassar. Kata “panyingkul” dalam bahasa Makassar artinya persikuan atau pertigaan. Panyingkul sebuah media nirlaba, yang mengusung citizen journalism atau “jurnalisme orang biasa.”

Pesertanya ada 11 orang. Pelatihan diadakan di Biblioholic, sebuah perpustakaan publik, di Jl. Perintis Kemerdekaan Km 9. Perpustakaan ini terletak dalam sebuah rumah besar yang disewa oleh Matsui Kazuhisa, seorang konsultan Japan International Cooperation Agency. Matsui meminjamkan ruang tamu serta lantai dua rumah ini untuk kegiatan anak-anak muda. Siang malam, selalu ada anak muda berkumpul. menyebut para wartawannya sebagai “citizen reporter.” Sengaja dalam bahasa Inggris, sesuai terminologi aslinya dari Oh My News, sebuah situs web dari Korea Selatan, agar tak timbul salah paham. Lily Yulianti, redaktur Panyingkul, mengatakan rekan-rekannya dari Oh My News International di Norwegia, Israel maupun Brazil, juga tak menterjemahkan “citizen reporter” ke bahasa masing-masing. Mereka tetap pakai istilah “citizen reporter.” Lily kini bekerja sebagai wartawan radio NHK di Tokyo. Dia dulu juga pernah bekerja untuk harian Kompas dari Makassar.

Panyingkul adalah sebuah fenomena penting dalam jurnalisme di Makassar. Tujuan mereka melawan dominasi media mainstream yang meletakkan loyalitas terhadap warga lebih rendah daripada loyalitas kepada pemilik media, penguasa maupun pemasang iklan. Lily rajin melancarkan kritik terhadap media Makassar macam harian Fajar maupun Tribun Timur.

Selama empat hari, kami belajar dengan macam-macam contoh. Saya mengajak peserta diskusi soal-soal dasar dalam jurnalisme. Bagaimana bikin wawancara? Bagaimana merekam dan menulis deskripsi? Bagaimana menggunakan monolog dan dialog? Kami juga membaca beberapa naskah, termasuk “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah, maupun “Hiroshima” karya John Hersey. Kami juga menonton dokumentasi pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Para peserta punya background macam-macam. Ada arkeolog, ada pelaut, ada peneliti. Beberapa mahasiswa juga ikutan. Ketika memeriksa pekerjaan rumah mereka, saya senang melihat kecepatan mereka menangkap materi latihan.

Saya bertanya-tanya mengapa media gereja tak mencoba mengarah pada citizen journalism macam maupun Warta GKJW sama-sama merupakan media komunitas. Satu melayani komunitas Makassar. Satunya melayani komunitas gereja Jawa Timur. Mereka dipersatukan oleh semangat melayani warga masing-masing lewat jurnalisme.

Singkat kata, kebanyakan media, dari Immanuel hingga Suara Pembaruan, dari BBC World Service hingga Al Jazeera, melayani komunitas sesuai khayalan mereka masing-masing. Internet membuat batas khayalan menjadi lebih terbuka. Internet membuat semua orang, yang mengerti bahasa media terkait, secara teoritis bisa membaca apa isi media tersebut. Media gereja teoritis bisa mengembangkan diri lewat citizen journalism dengan melibatkan warga-warga gereja ikut mengisi media mereka.

Namun Pendeta Jufri Simorangkir memberi tanggapan. “Kelemahan majalah gereja adalah dia jadi corong pimpinan.”

Saya kira pernyataan Simorangkir, maupun kritik Sirait, mengingatkan saya bahwa media gereja kebanyakan belum menjalankan jurnalisme. Ia lebih tepat dikategorikan sebagai public relation atau propaganda. Boro-boro bicara soal citizen journalism. Jurnalisme biasa pun belum berjalan.

Propaganda adalah suatu peliputan serta penyajian informasi dimana fakta-fakta disajikan, termasuk ditekan dan diperkuat pada bagian tertentu, agar selaras dengan kepentingan kekuasaan, yang menguasai media komunikasi tersebut. Jarak propaganda dan jurnalisme bisa lebar, tapi juga bisa sangat tipis.

Jurnalisme adalah bagian dari komunikasi. Namun tak semua bentuk komunikasi adalah jurnalisme. Menyamakan propaganda dengan jurnalisme, atau menyamakan pengabaran injil dengan jurnalisme, saya kira akan menciptakan kebingungan yang serius, dengan daya rusak besar. Saya kira masalah ini perlu didiskusikan dengan jernih di kalangan gereja-gereja Protestan.

Media gereja seharusnya bekerja berdasar prinsip-prinsip jurnalisme umum. Bukan berdasarkan pada theologi Kristen. Bukan berdasar pula pada pendekatan gothak-gathok “jurnalisme Kristiani.” Saya harus menyebut isu ini karena belakangan ada saja orang yang mencoba menawarkan apa yang disebut sebagai “jurnalisme Islami.” Jargon-jargon ini akan menciptakan kekaburan. Kalau jurnalisme dikaitkan dengan pemahaman lain, entah itu fasisme, komunisme, kapitalisme atau agama apapun, definisi yang lebih tepat, saya kira, adalah propaganda.

Media gereja seyogyanya dipikirkan lebih luas untuk kepentingan umat. Ia lebih baik diletakkan secara independen dari struktur sinode. Para redakturnya tidak ikut duduk dalam kepengurusan sinode.

Namun saya juga sadar bahwa tidak semua orang, termasuk pengelola media gereja, bisa punya pemahaman yang serius terhadap suatu isu, apalagi banyak isu. Ini juga terjadi dalam dunia wartawan mainstream. Namun inilah tantangan rutin bagi setiap wartawan, profesional maupun amatir, dalam memahami suatu isu dan menuliskannya. Para pemimpin sinode sudah selayaknya mulai belajar memahami jurnalisme dan mengubah cara pandang mereka terhadap media gereja. Propaganda sebaiknya diubah jadi jurnalisme.

Lantas apakah jurnalisme itu?

Pada April 2001, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua wartawan Washington D.C., menerbitkan buku The Elements of Journalism. Mereka menyajikan sembilan elemen jurnalisme sesudah bikin diskusi dan wawancara dengan 1.200 wartawan selama tiga tahun. Buku itu segera dianggap sebagai referensi penting para wartawan. Ia diterjemahkan ke puluhan bahasa lain, termasuk Bahasa Indonesia, dan dijadikan pegangan banyak ruang redaksi. Di Jakarta, ia dipakai oleh Kompas, The Jakarta Post, Tempo, Republika, Jawa Pos dan sebagainya. Pada 2007, Kovach dan Rosenstiel menerbitkan edisi revisi dimana mereka menambahkan elemen kesepuluh khusus soal hak dan tanggungjawab warga.

Saya kira sepuluh elemen ini menerangkan dengan jernih apa jurnalisme itu.

• Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran;
• Loyalitas utama jurnalisme kepada warga;
• Esensi jurnalisme adalah verifikasi;
• Para praktisi jurnalisme harus menjaga independensi mereka dari sumber-sumber mereka;
• Jurnalisme harus berlaku sebagia pemantau kekuasaan;
• Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga;
• Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting jadi menarik dan relevan;
• Jurnalisme harus menjaga agar berita menjadi komprehensif dan proporsional;
• Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka;
• Warga punya hak dan kewajiban dalam jurnalisme.

Elemen kesepuluh muncul karena apa yang disebut Lily Yulianti sebagai citizen journalism. Intinya, warga punya hak dan kewajiban ikut berpartisipasi dalam mencari, melaporkan, menganalisis dan menyebarluaskan informasi. Elemen kesepuluh muncul, tentu saja, disebabkan oleh teknologi internet: blog, kamera telepon, You Tube, Facebook dan sebagainya. Ia membuat warga bisa berperan secara lebih luas dalam jurnalisme. membuktikan bahwa warga biasa, kebanyakan non-wartawan, bisa mengelola situs web, yang hendak menandingi media mainstream di Makassar.

Saya kira media gereja sulit menghindar dari trend ini. Cepat atau lambat, bila gereja mau tetap relevan, mereka harus membuka pintu terhadap “citizen reporter.” Blog akan jadi ujung tombak perubahan. Saya mulai memperhatikan banyak sekali anak-anak muda Kristen bicara soal Tuhan lewat blog. Media gereja bisa berkembang dengan melakukan kolaborasi lewat blogger.

Priambodo RH dari Lembaga Pers Dr. Soetomo mengatakan Agustus lalu ada sekitar 650 ribu blog di Indonesia. Jumlahnya akan meningkat seiring meningkatnya penggunaan internet. “Perkembangan jurnalisme warga saat ini baru seumur kepompong, belum menjadi kupu-kupu. Karena itu untuk melahirkan jurnalisme warga yang indah dibutuhkan pembelajaran.”

Namun banyak wartawan ragu apakah orang yang kurang terlatih dalam jurnalisme bisa menulis berita secara bertanggungjawab? Ada yang menyebut kehadiran internet menciptakan “tsunami informasi.” Isinya, kebanyakan copy-paste dan sampah. Kekuatiran ini bukan tanpa dasar. Mei lalu, Roy Thaniago, seorang mahasiswa Jakarta, menulis berita dalam blog miliknya “Pastor Kemalingan, Karyawan Paroki Dipukul Polisi.”

Thaniago mempertanyakan mengapa seorang karyawan Paroki Bunda Hati Kudus, dicurigai dan dilaporkan ke polisi oleh satu pemuka gereja gara-gara pastor kehilangan uang tunai Rp 15 juta dan dua kamera. Dia menulis tanpa melakukan verifikasi pada pastor maupun si pemuka gereja. Dia sempat bikin repot gereja. Cukup ramailah!

Citizen journalism bukannya tanpa masalah. Priambodo membuat 10 panduan bagi “citizen reporter.” Mereka tidak boleh melakukan plagiat; harus cek dan ricek fakta; jangan menggunakan sumber anonim; perhatikan dan peduli hukum; utarakan rahasia secara hati-hati; hati-hati dengan opini narasumber; pelajari batas daya ingatan orang; hindari konflik kepentingan; dilarang lakukan pelecehan; serta pertimbangkan setiap pendapat.

Saya percaya makin bermutu jurnalisme dalam suatu komunitas, maka makin bermutu pula informasi dalam komunitas itu. Maka makin bermutu pula komunitas tersebut. Saya juga percaya senantiasa ada orang macam Hasudungan Sirait, yang tulus membantu para “citizen reporter” maupun media gereja untuk belajar jurnalisme dengan teratur.

“Benar sekali kritik Pak Hasudungan itu. Kalau GKPI punya orang macam Pak Hasudungan Sirait, pasti kami pakai orang berkualitas itu,” kata pendeta Simorangkir.

Andreas Harsono wartawan, pernah bekerja untuk harian The Nation (Bangkok), Associated Press Television (Hong Kong), The Star (Kuala Lumpur) dan Yayasan Pantau (Jakarta). Ia mendapatkan Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard 1999-2000. Kini sedang menulis buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.

Selasa, 03 Februari 2009

Esei Denni Pinontoan: “Neoliberalisme dan Gerakan Kultural Tou Minahasa”

Wajah Lain Kolonialisme dan Imprealisme dalam Neoliberalisme Awal dari kolonialisme Bangsa Barat (Spanyol, Portugis, dan menyusul Inggris serta Belanda) terjadi sekitar akhir abad 15, yaitu antara lain ditandai dengan ditemukannya benua Amerika oleh Colombus. Kolonialisme kemudian semakin gencar dilakukan bangsa Barat kira-kira mulai awal abad 16. Sejak itu perlahan tapi pasti dunia mulai berporos pada satu peradaban, yaitu Bunia Barat. Sementara Dunia Timur dianggap kafir, bodoh dan terkebelakang. Padahal, di dunia Timur ini jauh sebelum kelahiran peradaban Barat itu, telah lebih dulu lahir beragam kebudayaan dan agama, misalnya Hindu dan Budha di India dan Tao dan Kong Hu Cu di Cina. Kelahiran agama-agama itu sekaligus juga menandai adanya peradaban maju di Dunia Timur sejak berapa abad SM. Di Dunia Timur inilah terdapat beragam sumber daya alam yang kemudian diincar oleh bangsa Barat.

Kolonialisme dan Imprealisme Bangsa Barat kepada Bangsa Timur berjalan bersamaan dengan Misi Kristen (lihat David J. Bosch, Tranformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah. Jakarta: BPK, 1999, hlm. 353-357). Pemahaman teologis gereja Barat, bahwa agama Kristen sebagai satu-satunya wadah keselamatan dunia seolah-olah melegitimasi bangsa Barat untuk menjajah dan mengeksploitasi Bangsa Timur sampai kira-kira pertengahan abad 20. Penjajahan oleh Bangsa Barat ini kemudian berjalan bersamaan dengan kapitalisme, yang antara lain dimungkinkan dengan menguatnya rasionalisme, dan pola pikir subjek-objek di abad Pencerahan. Bangsa Timur akhirnya menjadi objek selama berabad-abad untuk dieksploitasi tenaga manusia dan sumber daya alamnya. Selama ini, misi Kristen terus menjadi semangat bagi usaha penaklukan itu. Soal korelasi antara pemahaman teologis Kristen, khusus aliran teologi Calvin telah dikaji oleh Max Weber dalam bukunya Die protestantische Ethik und der ‘Geist’ des Kapitalismus. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Etika Kristen Protestan dan Kapitalisme yang diterjemahan dari terjemahan bahasa Inggris The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika etika Protestan (terutama Calvinis) mempengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain, etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Pemikiran ini juga dikenal sebagai “Thesis Weber”.

Soal kaitan misi Kristen di beberapa abad lampau itu dengan kolonialisme dan imprealisme Bosch berkata: “Dengan datangnya puncak era imprealisme, setelah 1880, tidak dapat lagi keraguan mengenai persekongkolan lembaga-lembaga misi dan usaha kolonial. Kesejajaran antara perkembangan-perkembangan puncal imprealisme dan puncak misi menjadi semakin jelas tampak (Bosch: 1999, 473).

Berabad-abad dalam suasana terjajah, ternyata telah melahirkan semangat bagi bangsa-bangsa jajahan di dunia Timur untuk memerdekakan diri. Sampai di jelang pertengahan abad 20, sejumlah negara jajahan di Asia, misalnya Indonesia, berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme dan imprealisme Barat. Sejumlah nation state kemudian lahir di Asia. Bahkan R.A.D Siwu juga menjelaskan bahwa sejak itu negara-negara bangsa baru bekas jajahan itu kemudian giat melakukan pembangunan yang antara lain dengan cara modernisasi dan industrialisasi (Siwu dalam Exouds No. 16, Tahun XII, 2005. Tomohon: Fakultas Teologi UKIT, 2005, hlm. 34). Tapi itu ternyata belum akhir cerita penaklukan Barat terhadap sebagian bangsa yang baru lahir di Asia.

Kolonialisme dan imprealisme kemudian tampil dalam wajah lain, yaitu kapitalisme dan neoliberalisme. Dari sekian masalah di negara bekas jajahan di Asia, yang masih ada hingga sekarang adalah kemiskinan. Ini menjadi sangat kontras dengan sumber daya alam melimpah yang dimiliki oleh sebagian besar bangsa bekas jajahan itu. Meski berkorelasi langsung dengan masalah jumlah penduduk yang tinggi, serta urbanisasi, tapi kapitalisme dan neoliberalisme yang antara lain dimungkinkan oleh globalisasi yang digalakkan oleh Amerika juga harus dipertimbangkan sebagai faktor penting penyebab persoalan tersebut. Mansour Fakih (dalam Jurnal Wacana, Yogyakarta: Insist, 2000) sangat fasih mengulas “monster” kapitalisme dan neoliberalisme sebagai faktor penting penyebab sejumlah persoalan di masyarakat Dunia Ketiga.

Fakih menjelaskan, globalisasi sebagai pengganti pembangunan yang bercorak kapitalis (yang telah gagal itu), ditandai lewat mendunianya sistem pasar, investasi dan produksi perusahaan-perusahaan transnasional (TNCs). Ketiga aktor utama globalisasi menurut Fakih adalah World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan global, IMF (International Monetary Fund) atau Dana Moneter Internasional, dan World Bank atau Bank Dunia. Dua lembaga keuangan terakhir tersebut adalah lembaga-lembaga pemberi utang di Dunia Ketiga, yang sangat dipengaruhi oleh Amerika.

Mengenai istilah Dunia Ketiga ini, mengutip Peter Worsley, Noer Fauzi, dalam bukunya Memahami Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga (Yogyakarta: Insist, 2005), menjelaskan: “Istilah ‘Dunia Ketiga’ pertama kali diperkenalkan pada Agustus 1952 oleh Alfred Sauvy, seorang ahli demografi Perancsi untuk menggambarkan negara bangsa yang baru bermunculan di akhir Perang Dunia ke-2 terutama Asia dan Afrika. Istilah “Dunia Ketiga” kian popular setelah konsolidasi Negara-negara anti kolonialisme dan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, yang kemudian dalam golongan ini kemudian masuk pula Negara-negara Amerika Latin.

Soal istilah kapitalisme, Samir Amin (dalam Jurnal Wacana, Yogyakarta: Insist, 2000) mengatakan: “Revolusi Industri, 1800-1920 merupakan tahap panjang pertama kapitalisme, sekaligus merupakan periode mekanisasi industri. Mengenai istilah “Neoliberalisme” oleh sejumlah pakar mengkaitkannya dengan fenomena kebangkitan kembali liberalisme lama di masa yang baru. Menurut Fakih, “Para penganut faham ekonomi neo-liberal percaya bahwa pertumbuhan ekonomi dicapai sebagai hasil wajar dari adanya ‘persaiangan bebas’.” Sementara Globalisasi dalam bidang ekonomi di abad 21 lebih dipahami sebagai proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara.



Pentingnya Gerakan Rakyat Berbasis Kultural Bagi Tou Minahasa

Pegelaran kuasa-kuasa Neoliberalisme yang tampak dalam sejumlah perubahan pengaturan politik dan ekonomi global telah memberikan dampak bagi Indonesia. Indonesia bahkan menjadi negara yang mempraktekan sistem kapitalisme atau menjadi kaki tangan dari negara-negara kapitalis. Henk Schulte Nordhot dan Gerry van Klinken dalam buku yang disunting mereka, Politik Lokal di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: KITLV, 2007) mengulas pengaruh kapitalisme dan neoliberalisme bagi tata politik dan ekonomi Indonesia. Nordhot dan Klinken dalam buku itu bahkan mengatakan, kondisi ini membuka ruang yang lebar untuk terjadinya korupsi. Selama 30 tahun rezim Orde Baru berkuasa, 30 % dari bantuan asing yang mencapai 30 miliar dolar AS dikorupsi oleh penguasa dan kroni-kroninya.

Selama berkuasa, rezim Orde Baru yang tunduk pada pola dan sistem neoliberalisme secara sistematis melakukan upaya penyeragaman kultur, pemusatan kekuasaan, dan eksploitasi atas kekayaan alam masyarakat daerah. Pola manajemen pemerintahan yang kapitalistik bisa dikatakan sebagai faktor penting penyebab terberangus dan terpinggirnya nilai-nilai masyarakat adat. Kearifan local sebagai modal social masyarakat adat perlahan-lahan terkikis oleh terjangan kapitalisme. Negarapun akhirnya dengan sengaja lebih memilih pola kapitalisme dalam melaksanakan usaha pembangunannya. Tapi kita lihat sendiri, selama 30 tahun Soeharto dengan pola manajemen pemerintahan yang seperti itu tidak berhasil membawa rakyat Indonesia ke era tinggal landas, malahan yang didapat kandas di tengah jalan. Negarapun akhirnya mengorbankan keragaman kulturnya termasuk mengeksploitasi secara besar-besaran sumber daya alam demi capaian pembangunan yang kuantitas itu.

Atas nama modernisasi, pemerintahpun membuat kebijakan yang kebanyakan di antaranya tidak berpihak pada keragaman kultur dan rakyat. Tarikan modernisasi ternyata lebih kuat dari pada usaha menjaga dan melestarikan identitas bangsa. Industrialisasi yang tampil bersamaan dengan modernisasi, dan itu yang dulunya Soeharto bilang sebagai pembangunan Indonesia, pada akhirnya hanya meminggirkan rakyat kecil. Akhirnya, ketika globalisasi yang memakai perangkat modernitas telah menjadi keniscayaan, maka tersentaklah kita. Apa kekuatan kita menghadapinya?

Fakih mengatakan: “…sesungguhnya globalisasi tidak ada sangkut paut dengan slogan kesejahteraan rakyat atau keadilan social di Negara-negara Dunia Ketiga, melainkan lebih didorong oleh kepentingan modal berskala global milik Negara-negara kaya dan perusahaan raksasa.”

Bahkan menurut Fauzi, neoliberalisme di Dunia Ketiga merupakan babak kelanjutan dari pembangunisme. Namun, menurut Fauzi, neoliberalisme yang menggelar kuasa-kuasanya dengan cara yang berbeda dengan pembangunanisme, telah menjadi konteks baru dari gerakan-gerakan rakyat berbasis kultural di Dunia Ketiga. Maksudnya, kuasa-kuasa neoliberalisme yang hanya mengeksploitasi dan memiskinkan itu mendapat tantangan dengan lahirnya suatu kesadaran baru yang berwujud dalam gerakan-gerakan rakyat.

Agaknya, meski kondisi kita, rakyat dan masyarakat adat ibarat anak manusia yang kondisi tubuhnya lemah akibat perang, tapi, revolusi, kebangkitan peradaban dan pembebasan selalu datang dalam kondisi yang hampir rusak seperti ini. Kondisi yang menyengserakan seolah-olah mendorong kita untuk memaksimalkan semua potensi dalam melakukan gerakan perlawanan. Maka, sebuah gerakan rakyat berbasis kultural bagi Tou Minahasa adalah harga mati untuk sebuah perjuangan membebaskan diri dari cengkeraman totaliterianisme negara dan neoliberalisme global.

Gerakan rakyat berbasis kultural mari kita pahami sebagai cara untuk menemukan makna sebenarnya menjadi manusia dengan maryarakatnya yang merdeka. Gerakan rakyat berbasis kultural adalah gerakan pembaruan pemikiran dan aksi dalam merespon atau bahkan melawan kuasa-kuasa yang menindas, termasuk kuasa penyeragaman oleh negara yang masih berlanjut dan kuasa neoliberalisme yang telah menghancurkan kearifan lokal Tou Minahasa.

Apa yang harus kita buat dalam konteks gerakan rakyat berbasis kultural itu? Pertama, menurut saya adalah dengan cara memaknai kembali budaya kita Minahasa. Ini terkait dengan usaha pembaruan pemikiran kebudayaan kita. Interpretasi baru terhadap sejumlah sistem nilai peninggalan leluhur, seperti mapalus, prinsip “Si Tou Timou Tumou Tou”, semangat egaliter dan demokratis yang khas Minahasa perlu dilakukan. Kedua, semua elemen masyarakat Minahasa mestinya memiliki kesadaran bersama yang berwawasan nasional dan global yang berpijak dari perspektif lokal untuk memahami fenomena-fenomena yang sedang berlangsung. Misalnya, kita barangkali perlu bertanya, kenapa kita tiba-tiba menjadi konsumtif dan hedonis dengan gemar menikmati produk-produk kapitalis yang sebenarnya hanya mengeyangkan perut kita sesaat, tapi memiskinkan kaum kita? Kenapa kita kemudian berkelahi dengan kehadiran perusahaan-perusahaan milik asing seperti PT. MSM di Likupang? Tidak bisa kah kita sepahaman untuk menolak kuasa-kuasa ekonomi yang berbahaya bagi keselamatan Tanah ini? Kita juga perlu bertanya, apakah desentralisasi yang kita maknai antara lain dengan melakukan pemekaran di sana-sini, memang adalah kebutuhan kita? Berikut kita juga perlu mencermati fenomena korupsi yang dilakukan oleh kepala-kepala daerah atau pejabat-pejabat di daerah kita. Apakah mereka itu (yang diduga atau telah terbukti melakukan korupsi) memang rakus adanya, atau jangan-jangan otonomi daerah ini adalah perangkap yang sengaja dirancang oleh rezim untuk menghancurkan persatuan dan kesadaran kultural kita?

Ketiga, gereja-gereja atau agama-agama lain di Tanah Minahasa perlu melakukan evaluasi terhadap model berteologi yang sedang dijalankan sekarang. Sebab, pendahulu kita, telah cukup melakukan beberapa pencitraan negatif terhadap Tanah Minahasa dengan mengkafirkan sejumlah kearifan lokalnya. Berteologi dengan memperhatikan kekhasan dan kesakralan Tanah Minahasa adalah upaya teologis gereja atau agama-agama dalam ikut serta pembaharuan kehidupan peradaban Tanah Minahasa. Keempat, perguruan-perguruan tinggi, negeri atau swasta mestinya menjadi basis bagi (calon) pemikir-pemikir Minahasa untuk usaha kebangkitan Minahasa bersama. Di UKIT (YPTK), khususnya Fakultas Teologi, saya tahu memiliki kepedulian yang tinggi bagi usaha kemajuan Tanah Minahasa. Sejumlah hasil penelitian dosen maupun mahasiswa, menunjukkan semangatnya untuk memaknai Injil dalam konteks Tanah Minahasa. Usaha ini positif karena dengan begitu kita kemudian tidak mensubordinasi kebudayaan Minahasa di atas Injil. Pengalaman lalu, dengan masih kuatnya dominasi teologi Barat gereja tak lebih dari sebuah lembaga “sakral” yang kerjanya hanya medikte kebudayaan.

Kita memang akhirnya tak lagi harus berharap banyak dari negara untuk kemajuan tanah kita. Sebab, negarapun ada dalam penderitaannya sendiri akibat dikoyak-koyak oleh kuasa neoliberalisme sebagai bentuk kolonialisme dan imprealisme yang baru.


Inilah tantangan Tou Minahasa di abad globalisasi dan postmodern ini.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di

Harian Komentar Edisi 28 dan 29 November

Jumat, 16 Januari 2009

Esei Chandra Dengah Rooroh: ”Batu Lisung & Batu Nona, Batu Siouw Kurur, dan Tenget Watu! Pembawa Pesan yang mulai hilang Tujuan”

Secuil catatan 2 dari Ekspedisi Tonsea, Makalisung, kema, Sagerat dan Treman
02 – 05 November 2008

“(Manusia) menjadi bebas terhadap ikatan- ikatan yang berasal dari luar. Yang mencegahnya bertindak dan berpikir menurut apa yang mereka anggap cocok. Ia akan bertindak dengan bebas jika ia tau apa yang hendak di inginkan, dipikirkan, dan dirasakan. Tapi masalanya ialah bahwa ia tidak tahu, dan karena ia akan menyesuaikan diri dngan penguasa- penguasa yang tidak dikenal dan ia akan mengiyakan hal- hal yang tidak disetujuinya. Semakin ia bertindak demikian, semakin ia tidak berdaya untuk merasa dan semakin ia ditekan untuk menurut! Manusia modern, meskipun dipulas dengan optimisme dan inisiatif, dikuasai oleh perasaan amat tidak berdaya bagaikan orang lumpuh yang hanya mampu menatap malapetaka sebagai tak terhindarkan.- Erich Fromm, Escape from freedom”.

Ada perasaan yang lucu campur malu secara pribadi bagi saya terasa ketika perjalanan kami dimulai di wilayah Tonsea, maklum disinilah saya berasal yaitu di wanua (kampung) kecil yang bernama Treman (bukan Preman ok) diwilayah minawerot, daerah antara Airmadidi dan Bitung dibawah kaki gunung Klabat, 28kilometer dari titik nol kota Manado. Langkah kami (Mawale Movement), Saya, Greenhill weol, Fredy Wowor, Frisky Tandaju dan Bodewyn Talumewo dan Kent Oroh berayun ke desa yang paling jauh diwilayah Minahasa Utara bernama Makalisung langsung disambut dengan hujan dan petir begitu kami sampai disana otomatis basah kuyub yang kami terima, permulaan yang menyenangkan pikir saya dongkol. Untunglah ada sebuah keluarga yang sangat baik hati dapat meluangkan tempat untuk kami berteduh sementara sekalian memberikan informasi tentang keadaan sekitarnya termasuk keberadaan situs Batu Lisung itu. Tanpa ba-bi-bu lagi begitu langit memperlihatkan senyumnya kepada alam untuk membuka jalannya, kami bergegas mencari tempat itu. Di perjalanan yang sedikit menguras tenaga karena pendakian kami sedikit dibingungkan oleh beberapa buah objek yang sering kami anggap bahwa itulah tempatnya (maklum itu pertama kali kami mencarinya), sehingga kami sudah terdampar jauh hampir 1200 meter melewati lokasi itu, kamipun kembali dan berhubung salah satu teman saya (Bode) mempunyai perasaan yang kuat dengan tempat- tempat seperti itu akhiranya bukit yang disebalah timur itu diklaim sebagai tempat situs itu.
Ternyata memang benar inilah tempatnya, tapi selain sulit untuk menaikinya dan Greenhill harus berjuang beberapa melewati barisan tentara alam dan akhirnya harus terjungkal juga karena tagate di tali pohong (semak pohon), sampailah kami dipuncaknya. Ada sekitar lebih dari 20-an batu yang berbentuk lisung ditempat itu. Heran bercampur takjub kami terus mencari lagi sisa batu itu dengan menyisir sebagian timur bukit itu dan tak disangka saya dikagetkan oleh kepakan sayap burung yang lembut namun lebar itu terbang kelangit.”Titikak!” (sejenis Burung Hantu), temanku berkata. Dalam hati saya membenarkan saja karena saya telah melihatnya sendiri, dengan alis yang menyembul keluar dan muka seperti perangai yang marah, mungkin itulah jenis burung Hantu yang dipakai sebagai lambang Minahasa. Yang lebih menarik lagi, burung tadi telah meniggalkan seekor bayi burung tergeletak dengan sayap terbuka. Secara refleks kami menjauhi tempat itu dengan perasaan yang sangat bersalah tapi memang bukan itu tujuan kami, mengganggu keberadaannya. Di sisi jurang bagian utara kami menemukan sebuah batu yang sangat besar lubangnya serta ada guratan- guratan dibagian pinggir batu itu. Hati saya senang sekali, berpikir bahwa tidak banyak orang- orang khususnya orang Minahasa yang mampu melihat benda seperti ini yang konon telah melewati perjalanan waktu ini dan mungkin menitipkan pesan bahwa sebelum kami sudah pernah ada orang (Leluhur) yang telah hidup disini.
“Sebuah konsep latar pertahanan yang kuno namun sangat efektif untuk tempat ini dimana orang- orang dulu bisa berlindung”. Lamunan kami dikagetkan oleh perkataan fredy. Memang benar setelah dianalisa, tempat ini adalah sebuah bukit kecil, dngan bebatuan disekelilingnya, mampu menjangkau penglihatan sampai ke daerah yang sangat jauh kedalam tanah minahasa maupun luar minahasa, dapat mengintai setiap pergerakan disekitar wilayah itu baik teman maupun lawan! “ah, lihat bentuk tempat ini seperti altar pemujaan pada jaman dahulu” Greenhill kemudian menimpali… Ada benarnya juga. Semoga tetap menjadi pembawa saksi untuk generasi selanjunya, kalaupun saja ada orang- orang yang mau peduli dengan tempat yang seperti ini. Setelah puas dan sedikit mengabadikan tempat itu, kamipun turun, dan kembali ke kampong untuk bersiap- siap melanjutkan perjalanan ke desa kema.
Sesudah berpamitan kepada saudara yang telah menerima kami dengan sangat baik tadi kamipun segera meluncur ke Kema dengan menempuh sekitar 20 menit perjalanan. Desa Kema adalah sebuah desa diwilayah bagian tenggara Tonsea- Minahasa yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 45menit dari titik nol kilometer kota Manado. Dengan sebagian besar lanskape wilayah perairan itu pada umumnya masyarakat disini bergantung hidupnya pada mata pencaharian dilaut. Aaah.. cukup penjelasannya, toh saya sudah melihatnya sendiri. Sampai diperempatan desa kema kami berbelok kea rah kanan dan mulai memasuki daerah wisata Batu Nona. Perasaan saya mendadak jadi aneh, demikian juga ketika melihat sebagian teman- teman yang hanya tersenyum- senyum kecut pada saya! Saya menjelaskan bahwa wilayah daerah wisata itu berada dibalik bukit sebelah sana, kataku menyimpulkan!
Namun apa mau dikata, terkejut, terhina, malu, marah, frustasi, hancur, dan hamper menangis, semua semua perasaan bercampur jadi satu keluar saja dari pikiranku begitu melihat tempat itu. Batu Nona, kenapa wajahmu terlihat buruk? kenapa terlihat sendu? Tempat yang dulu sangat asri, sejuk dengan pantai yang jernih kini menjadi keruh, 2 bukit yang hijau disebelah sana yang dulu begitu hijau kini terasa panas dan gersang, perahu- perahu berserakan dimana- mana, rumah- rumah yang entah mempunai ijin atau tidak berdiri dimana- mana, coret- coretan dimana- mana, galian- galian lubang harta karun dari orang- orang yang tidak bertanggung jawab terlihat disana- sini, ada juga segerombolan orang- orang sedang mennggak minuman keras disekitar situ, dan yang lebih mengejutkan saya lagi ada sebuah bangunan permanent bertuliskan “pabrik es mini”. Pikiranku langsung menegaskan bahwa ini bukan daerah wisata batu Nona dulu itu, ini bukan tempat berkunjung/ berwisata dan tempat memperlihatkan betapa cantiknya daerah malesung yang sebenarnya itu, ini PELABUHAN!! Bukan, pelabuhanpun tidak seberantakan ini… tapi yang pasti ini bukan lagi proyek pemerintah pariwisata dan budaya yang dulu telah menghabiskan miliaran rupiah demi pembangunan dan pemeliharaan tempat ini. Apakah orang- orang disekitar sini telah melupakannya?? Dimana canda tawa anak- anak rombongan wisata itu, dimana pedagang gorengan yang selalu mangkal di pinggir Los rumah sebelah sana? Dengan linangan airmata saya berlari sekuat tenaga mencari batu itu, sesampai didepannya, tatapan nanar seakan menatapku didepan mataku sendiri, mungkin hendak mengatakan, “kamana ngana selama ini, kyapa baru datang lia pa qta skarang? (kemanakah engkau selama ini, kenapa baru menemuiku sekarang?”. seluruh tenaga saya keluarkan untuk berteriak sekuat- kuatnya ditempat itu.
Apa dayaku? mungkin tak berdaya saat itu… tidak ada lagi tempat untuk menyombongkan diri dihadapan teman- temanku, tidak ada lagi sebuah tempat diwilayahku yang akan kuberitahu pada dunia bahwa disini ada sebuah fenomena alam yang sangat menarik. pikiranku hancur saat itu, apakah mungkin Waruga yang ada di dalam air itu sudah tidak ada lagi?? Mari kita pikirkan kembali dan kalo siapa saja yang ingin atau pernah ketmpat ini pasti sudah pernah mengenal tempat ini dan saya jamin 100% kalau kalian datang lagi sekarang pasti akan salah jalan. Semua ingatan langsung terhapus menyaksikan kegilaan ini… dengan langkah gontai dan dendam yang sudah tersulut demikian besarnya. saya mengajak teman- teman untuk meneruskan perjalanan ke Sagerat, dengan perasaan kurang semangat saya memimpin rombongan yang harus eberapa kali tersesat karena belum tau pasti dimana lokais situ situ berada, tapi satu semangat yang masih membara memaksakan kami yang pada akhirnya sampai di tujuan.
Sebuah tempat yang bkata orang bernama Erpak adalah suatu tempat yang mungkin buat saya adalah tempat yang fenomenal, lihat saja sepanjang perjalanan tadi, tak satupun ada bebatuan yang saya lihat tapi didepan saya sudah berdiri megah sebuah batu yang diameternya mungkin lebih dari 15meter itu membuat saya terheran- heran sekaligus melupakan kejadian tadi. Itulah Batu siouw kurur. Situs ini berada di geo-strategy 4km dari titik nol kota Bitung. dinamakan seperti itu karena diangkat dari sosok urban legendnya orang Minahasa Opo Siouw Kurur, Dia adalah salah satu dari 3 penasihat Opo Muntu Untu jaman pertamanya hidup orang Minahasa, mengemban tugas sebagai penasihat, Kurir sampai tukang Raghes (algojo pemotong kepala). Dan batu ini adalah salah satu pos persinggahannya diwilayah Tonsea bagian timur, sebelumnya juga dikatakan warga masyarakat bahwa ada juga batu seperti ini dibeberapa wilayah di Tonsea seperti Toka Tawalan & tokaimarang desa Treman dan Bukit Makawembeng! Sedikit berlepas lelah dan bertukar pikiran, sambil menukar persepsi dan data hingga diskusi Grenhill sampai ke pojok Permesta, bersenda gurau kami lakukan disitu sehingga tak terasa perut kami keroncongan dan memaksa kami untuk pulang. Lucunya, saya tidak melihat juru kunci disitu sama seperti tempat- tempat yang lain. Tapi tetap pernyataan saya bahwa tana’ orang Minahasa sampai jauh ke utara tangkai Celebes ini dan sudah ada buktinya! tapi apakah orang minahasa telah menyadarinya? Apakah mereka tau akan kehadiran batu itu?
Sampai di Treman kami langsung dihadiakan kopi pahit panas oleh orang tua saya, kontan saja kami langsung tangingi- ngingi sanang ( tersenyum lebar) karena tadi harus bergulat dengan dinginnya alam. Setelah selesai makan kami berencana untuk istirahat tapi Greenhill sangat bersih keras untuk segera melihat tenget Watu (batu Lisung), sebuah situs yang ada di Treman yang berlokasi di wilayah perkebunan Eris. Dengan langkah gontai tapi masih diikat dengan semangat, tim yang tinggal saya, Freddy dan Greenhill itu mengarah ke selatan desa Treman. Jujur saja, cukup sulit untuk menemukan Tenget Watu karena selama hidup saya baru 2 kali saya melihat keberadaannya disitu. Satu hal yang membuat saya sangat kecewa sesampainya disana setelah beberapa kali bertanya, keadaannya tidak lagi terurus, jalan masuknya saja sulit diketahui orang, bagaimana orang lain akan mengetahuinya, mungkin saja saya menjamin bahwa generasi sekarang orang kampung Treman pun sudah tidak tau lagi tempat ini, tempat yang pernah menjadi Puser in tana’ nya orang- orang Tareuman ( artinya ; yang pertama, atau pembaharuan dari nama desa Treman sekarang), saksi perjalanan yang hebat dari Malesung Besar mencari dunia baru, mungkin saja orang- orang Treman sekarang sudah tidak mengerti lagi bahwa Dotu Tua pembawa leluhur- leluhur Treman adalah orang kuat yang Bergelar Lengkong Waya… mungkin saja disini dimulainya peradaban orang Tonsea kalawat pertama sehingga menjadi rumpun Tonsea yang besar ketika memulai perjalanan yang eksotis dari kelewer dan keraris termasuk eris sampai ke minawanua dan berakhir di Tareuman jaya.. apakah kita sudah mengetahuinya?? Saat ini kita sudah kabur dan sudah tidak tau- menau akan sebenarnya darimana tempat kita berasal, dan mungkin saja sebentar kita akan kehilangan tempat dimana kita berasal… mungkin saja…
Dan mungkin saya harus mengakhiri catatan ini dengan Satu pertanyaan yang melingkar dikepala sampai saat ini, apakah sebagian wilayah di ujung utara Malesung ini masih Tana’ adatnya orang Minahasa Tonsea lagi atau bukan??? Impian saya, mengembalikan harkat dan martabat tanah & masyarakat yang saya cintai ini… (Qta lapas napas panjag lia samua ini, nda sadar minahasa so jaga baganti kuli, dalang hati kita Cuma rasa manages deng batahang diri. Cuma satu yang tatap tabakar dihati, mo ambe ulang qta pe tana deng I jajat U santi!!!, kutipan dari buku puisi bahasa manado JONGEN SPOKEN, Ch. D. Rooroh).

Senin, 20 Oktober 2008

Esei Chandra Dengah Rooroh: “Bukit kasih, Bukit Miste”Religius”

Bagian kecil catatan dari ekspedisi Pinawetengan, Tonsewer, Kinali dan kanonang
28-29 September 2008

Masyarakat yang mengalami “masifikasi” adalah masyarakat yang sudah memasuki proses sejarah, tetapi kemudian dimanipulasi oleh golongan elit untuk dijadikan kelompok yang tidak berpikir dan mudah dikendalikan. Proses ini disebut “masifikasi”, lawannya adalah “konsientisasi”, yakni proses untuk mencapai kesadaran kritis. (look on Karl Popper, The Open Society and its Enemies)

Sekali lagi saya terhenyak ketika menginjakkan kaki di tempat ini Perasaan heran bercampur sakithati berbaur tak karuan dalam pikiranku. Apakah aku berada ditempat yang benar seperti kata teman- temanku ataukah aku sudah berada di tampat lain yang mirip dengan tempat ini?? Ternyata memang benar saya memang berada di tempat yang bernama bukit kasih. Sebuah lokasi wisata alam yang terletak desa Kanonang- kawangkoan, kurang lebih 60 km jarak dari kota manado dan ditempuh dengan waktu 1 jam 30 menit ini sudah berada dihadapanku kembali, yang di jaga kokoh oleh sebuah menara raksasa yang bernama menara kasih.. bersama- sama dengan teman- teman dari ekspedisi mawale movement ( online, diantaranya Greenhill Weol, freddy Wowor, Bodewyn Talumewo, juga teman- teman dari Pinawetengan Muda Frisky Tandaju, Roy Najoan, Frits Singal dan Jolen Kawulur, sampailah kami di tempat ini setelah menempuh perjalanan dari desa Pinawetengan, Kinali dan Tonsewer.
Pijakan kaki kananku jatuh setelah turun dari motor Thunder kesayangan Green dan langsung membuat pikiran menerawang ini ke masa yang lalu, 16 juni 2003 adalah tanggal pertama kali saya datang ketempat ini dengan rombongan yang berbeda dan kapasitas yang berbeda pula. Decakan kagum terus keluar dari mulutku pada waktu itu. Bagaimana tidak berdiri dihadapan saya sebuah bukit yang sangat indah, dilengkapi dengan sekitar 12000an anak tangga yang memadai untuk mengadakan perjalanan religius (via do lorosa), patung- patung leluhur minahasa berdiri begitu gagah yang meninggalkan kesan betapa kentalnya adat dan budaya dan persatuan kita sebagai orang Minahasa, bangunan- bangunan ibadah dari berbagai golongan berdiri berjejeran di lereng bukit yang seakan- akan memperlihatkan hubungan kerjasama antar umat beragama di daerah ini sangat kuat plus sambutan yang ramah dari masyarakat sekitar menandakan bahwa orang daerah sini sudah siap menemui pengunjung dari mana saja, yang artinya akan menyukseskan program WOC (world ocean confrencce) 2009. belum lagi bangunan- bangunan rekreasi berdiri megah disepanjang pandangan bukit itu… begitu saya menginjakkan kaki di anak tangga yang ke 100an lebih terciumlah bau yang menyengat. Ya, itu tidak lain adalah bau belerang yang memang keluar dari tempat ini karena memang tempat ini salah satu lokasi gas alam yang tersebar di beberapa daerah di minahasa.
Yang lebih mengejutkan saya lagi ketika samar- samar saya mendengar suara nyanyian rohani, dengan tergesa- gesa saya langsung naik terus menuju asal suara itu dan benar juga, saya sudah terhenti di jarak 7 meter dari lokasi itu karena didepan saya jelas sekali ada sebuah bangunan besar pertama saya temui yang bernama Gereja Masehi Injili di Minahasa. Yang lebih menyentuh hati saya yaitu sebuah tulisan berbahasa daerah yang tertera dibawah tulisan tadi, (Wale ni Amang Kasuruan Wangko). Dalam hati perasaan senang dan takjub kembali mengelilingi tubuhku, betapa tidak sebagai orang yang dibaptis dari ajaran ini sangat bangga melihat tempat ibadahnya dibangun ditempat seperti ini. Sangatlah sulit untuk mengutarakan ini namun menurut pemikiran saya bahwa agama Kristen sangat lekat sekali dengan budaya serta tradisi orang minahasa. Apa pasal nya, mungkin karena cara penyembahan leluhur kita sama dengan pandangan beribadahnya orang Kristen yang selalu mmenyebut Tuhan Allah yang maha besar (Opo Wailan Kasuruan Wangko), itu saya belum tau pasti. lagi Perasaan yang sulit digambarkan juga adalah ketika saya sampai di patung yang berbentuk leluhur minahasa (Toar Lumimuut) dari gesturnya terlihat sepasang orang minahasa pertama itu seakan- akan sedang menunjuk seluruh tempat didaerah ini. Memang benar kalo kita coba menghadap kearah seperti yang di tunjukkan oleh patung itu maka kita akan melihat hampir seluruh daerah minahasa. Pantas saja kalo tempat itu bernama bukit Kekeretan (tempat meneriakkan sesuatu jika ingin menyampaikan berita kepada seluruh sub-etnis diminahasa dalam hal ini Tontemboan, tolour, tombulu, tonsea, tonsawang, pasan, ponosakan, bantik dan babontehu). secara harafiah juga dipercaya tempat ini seseorang tidak boleh sembarangan membuat keributan karena akan menimbulkan gejala alam seperti hujan dan lain- lain. Banyak masyarakat minahasa juga menyebut tempat ini dengan nama bukit Toar Lumimuut. Sebelum melanjutkan perjalanan melingkari bukit itu Tak sengaja saya menengok kearah kanan bawah dan melihat sebuah setapak kecil kearah hutan bukit seberang dan menghilang, kemudian saya bertanya kepada penduduk disekitar situ, katanya itu adalah jalan ke Watu Pinawetengan. Tapi kenapa tidak diperbaiki dalam hati saya berkata?? Apakah pembangun tempat ini tidak mau memperlihatkan tempat berkumpulnya orang- orang tua minahasa dulu yang merupakn tempat musyawarah, tempat yang notabene melahirkan pikiran- pikiran terbesar sepanjang masa? Apakah ada ketakutan tersendiri dari pembangun tempat ini supay tetap terjaga kesan religius dari objek wisata ini? Lalu kenapa ada patung- patun leluhur berdiri megah disini? kenapa tempat ini dipercaya sebagai tempat pengiriman pesan lisan jaman dahulu? Ataukah ada masalah- maslah daerah kepolisian sehingga menghambat pembangunan daerah wisata ini menjadi lebih besar?
Lamunan saya hancur ketika salah seorang teman saya menepuk pundak saya untuk melanjutkan perjalanan ke atas, ternyata sebagian teman- teman ekspedisi kami sudah meninggalkan kami jauh di atas. Dan kali ini setelah kurun waktu 5 tahun saya kembali kesini. persaan terkejut, decakan kagum, heran bercampur sakithati itu tetap sama diraut muka saya! Bukit kasih yang dulu tak seperti bukit kasih yang sekarang, sampah bertebaran dimana- mana, objek- objek situs- situs yang ada disitu sudah penuh dengan coret- coretan akibat perbuatan tangan jahil, bangunan- bangunan tempat ibadah yang sudah rusak ada dimana- mana, juga pendopo- pendopo tempat peristirahatan yang sudah tidak mempunyai pengaman lagi dan berbahaya bagi para pengunjung karena lokasi wisata ini terletak di lereng gunung ini. Seperti sudah tidak ada yang tidak memperdulikannya lagi. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah tampat ini milik seseorang ataukah milik orang Minahasa! Furious mind saya mulai berkecamuk dikepala ini, secara sosiolog apabila seseorang itu mempunyai sesuatu untuk dipelihara maka dia akan menjaganya sampai akhir hayatnya, tapi setelah dia meninggal, siapa yang akan menjaganya apabila anak cucunya tidak ingin menjaganya. Sebaliknya apabila suatu generasi itu mempunyai sesuatu untuk dijaga maka mereka akan menjaganya dan walaupun satu generasi itu hilang masih ada beberapa orang di antara generasi yang baru itu akan tetap menjaganya karena mungkin dari generasi yang lama sudah ada pengkaderisasi untuk sesuatu tersebut. Mungkin benar kata orang- orang bijaksana bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati, lebih mudah membuat daripada memelihara.
Kesan religius saya sontak berputar 180derajat ketika saya melihat kembali kedua patung leluhur itu masih berdiri tegak di atas sana dan masih dengan gaya yang sama namun ada perbedaan lain dari kedua wajah itu, dulu dengan bangganya menunjuk dan memperlihatkan seluruh daerah dan generasinya kepada setiap pengunjung yang datang ketempat itu, kini terlihat lusuh, lelah, rusak, kotor, kebanggan mereka berdua seakan- akan perlahan sirna, mulai tidak ada lagi semangat diwajah itu seperti yang dulu, tidak ada lagi jiwa persatuan yang melekat seperti orang minahasa di kedua tubuh itu,serasa ingin mengucapkan bahwa semangat orang minahasa mulai pudar, seperti mewakili tempat itu dan ingin meneriakkan sesuatu (kekeret) kepada kita semua bahwa mungkin ada hal- hal yang perlu di perbaiki, ada hal- hal yang harus kita jaga, ada hal- hal yang harus kita hindari, ada hal- hal yang harus kita korbankan, ada waktu kita bergerak, ada waktu kita melakukan sesuatu sebelum terlambat dan mungkin memang sudah waktunya. karena siapa lagi yang akan membangun sekaligus memelihara daerah minahasa kita kalau bukan kita orang minahasa sendiri. Mngkin saya akan menutup catatan saya ini dengan falsafah yang pernah dikatakan oleh seorang presiden amerika “jangan bertanya apa yang telah Negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang telah kau berikan kepada negara”.

I Jajat U Santi!!!

Minggu, 05 Oktober 2008

Esei Benni E. Matindas* : “Negara Gagal”

Menyusul peristiwa rusuh massa yang menimpa para mahasiswa sebuah sekolah tinggi theologi di Jakarta Timur belum lama ini, sebuah stasiun televisi memasukkan warta itu dalam rubrik tetapnya berupa interaksi dengan pemirsa yang memilih sendiri berita yang ingin ditayangkan ulang. Telepon berdering. Dan suara seorang perempuan terdengar memberi salam. Ia seorang ibu, tinggal di Bogor.

Menanggapi peristiwa di STT Setia Arastamar itu, dan peristiwa-peristiwa sejenis yang nyaris rutin, misalnya seorang Camat yang ikut dengan massa yang menuntut penutupan sebuah gereja, si ibu menyimpulkan: “Negara ini sudah gagal!”

Tak ada yang lebih telak, tepat, utama, dan penting, daripada simpulan demikian dalam menanggapi fakta menjadi rutinnya perlakuan tak adil atas kaum minoritas.

Kita sama tahu raison d’etre atau that’s why adanya Negara yang dijelaskan Hobbes dan kemudian disempurnakan oleh banyak pemikir lain termasuk Sumual: Setiap manusia dilahirkan dengan hak asasi; termasuk hak mempertahankan hidupnya dan miliknya dari serangan orang lain. Tapi usaha pertahanan diri itu tak boleh sepenuhnya diserahkan kepada warga, karena demi menjamin keberhasilan pertahanan tersebut setiap orang akan saling curiga, menyerang lebih dulu, membangun kekuasaan sendiri-sendiri tanpa batas, atau mengusahakan bala bantuan sebanyaknya dari luar. Dan itu niscaya menjurus pada bellum omnium contra omnes — perang semua melawan semua. Maka, semua warga itu mengadakan kontrak untuk membentuk satu badan pemegang kekuasaan bersama — yakni Negara — dan memilih pemerintah serta organ lain buat menyelenggarakan negara itu. Fungsi negara yang utama dan minimal adalah menjaga keamanan warga beserta hak-hak mereka, dan harus adil agar kekuasaan itu tak dimanfaatkan kelompok warga lainnya untuk hanya menguntungkan keamanan pihak mereka. Karenanya, negara harus dinilai gagal bila fungsi minimal — keamanan dan keadilan — itu kenyataannya tak tertangani.

Sampai di situ, di tataran konsep, siapapun (termasuk ibu penelepon tadi) setujuan. Tetapi praktiknya yang selalu jadi lain itu semestinya menyadarkan siapapun bahwasanya ada tataran konseptual yang lain lagi, yang selama ini mengarahkan praktikal aktual.

Lain? Ya, misalnya, di tataran “iman”. Di sini ada “perintah agama” yang, walau bertentangan dengan keharusan menjaga keamanan dan keadilan, dinilai “harus ditunaikan”. Amanat agama melampaui harkat hukum negara maupun negara itu sendiri. Dan penghayatan iman serta pengamalannya yang seperti ini bukan saja dalam satu agama tertentu di wilayah negara tertentu. Juga tak hanya di masa tertentu, seperti penyalahgunaan kekuasaan gereja untuk menebar teror dan ketidakadilan di sepanjang Zaman Pertengahan, atau Afghanistan di masa rezim Taliban. Para penganut Budhisme di Thailand dan Srilanka menyesak kaum minoritas Islam dan Hindu. Para penganut Yudaisme di Israel, pada hari Sabath, memukuli orang-orang di jalan yang tidak pergi ke sinagoge. Sejumlah orang Hindu di India berlomba membunuh warga Muslim dan membakar masjid.

Masalah ini hanya dapat selesai secara tuntas bila masyarakat telah mencapai taraf kecerdasan memadai. Lebih cerdas dalam beragama. Lebih tahu mana wujud takwa yang utama di mata Allah, yakni meneladani sifat-sifatNya yang rahmani dan rahimi. Bukan mengutamakan lain-lain berdasar bermacam tafsir manusia. Rahmani dan rahimi, pengasih dan penyayang. Jauh dari laku kekerasan dan ketidakadilan.

Untuk mencapai taraf kecerdasan memadai itu pun adalah fungsi negara. Bukan fungsi minimal, melainkan fungsi ideal — yang seharusnya sudah beres, mengingat kebudayaan homo sapiens ini sudah menggauli negara dan agama selama beribu tahun. Fungsi ideal ini — yang dirumuskan lewat bermacam kata-kata oleh Plato, Al-Farabi, Martin Luther dan Rousseau — masih gagal diperankan negara. Tepatnya: bangsa. Bangsa-bangsa.

Warga bangsa belum pernah berhasil mengajukan konsep negara yang sebenarnya — yang antaranya mengenai fungsi minimal sampai fungsi ideal Negara — sehingga tak pernah bisa mencapai kondisi ideal itu. Yang kendati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa — melalui International Covenan on Economic, Social and Culture Rights (ICESCR) — sebetulnya sudah pula diabsahkan sebagai kewajiban minimal suatu negara.

Negara harus menjadi lokomotif dari apa yang oleh UUD 45 dirumus “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Termasuk di dalamnya: kehidupan beragama yang cerdas. Lebih mampu mensistematisir ajaran agama — jelas mana inti dan mana implementasi berdasar kondisi situasional, kultural, historis — sehingga lebih ajeg, konsisten, menumbuhkan takwa. Dengan demikian, sebagai inti dan dasar, agama tetap bisa diposisikan pada harkat lebih tinggi di atas hukum dan negara, dan secara ajeg serta konsisten. Dengan kecerdasan pun maka setiap insan dapat mencapai kemajuan puncak tanpa harus meluncur ke sekularisme dan hambar imannya.

Beragama secara lebih cerdas, dan seterusnya membina agama yang mencerdaskan generasi-generasi selanjutnya.

*) Benni E.Matindas,
Filsuf Minahasa, penulis buku “Negara Sebenarnya”.

Jumat, 05 September 2008

Esei Greenhill Galnvon Weol: “Gereja vs Seni: Sebuah Perang AntiTuhan”

Sebuah apresiasi terhadap PSR dan FSP GMIM

lewat eksistensi Sanggar Remiks, Minahasa Utara


The Church of our days in general does not recognize Her cultural mission.

She should be here to give meaning and support for all genuine efforts to enlarge our knowledge of reality and deepen our perception of the mystery of life.

We have to cultivate our personal life, to integrate our faith with contemporary thinking,

to integrate our devotion and adoration with a certain sensitivity towards contemporary arts.

(Daniel Pastircˇak, Artistic Creativity and Christian Spirituality)




Pelaksanaan PSR (Pesta Seni Remaja) GMIM yang beberapa hari lagi akan mengambil tempat di Tomohon, kemudian dilanjutkan dengan FSPG (Festival Seni Pemuda GMIM) yang direncanakan akan dilaksanakan di Tondano akan menjadi event kesenian dan kebudayaan Minahasa yang terbesar tahun ini. Setidaknya, pelaksanaan kedua perhelatan ini akan menjadi semacam “penawar” dari ketidakberhasilan lembaga kerohanian menampakkan prophetic mission-nya akhir-akhir ini. Setelah GMIM, yang adalah denominasi terbesar sekaligus sebagai sebuah ikon utama kekristenan di Tanah Minahasa, terlarut dalam konflik interen yang memang berlarut-larut itu (ini adalah sebuah ‘rahasia umum’, jadi tolong jangan diceritakan kesiapa-siapa), akhirnya, seni kembali menjadi “juru selamat yang hidup!”.

Mengapa saya berkata demikian? Pertama, karena saya ingin berkata demikian. Jika anda mempunyai pendapat berbeda, silahkan. Kedua, sebab, meminjam sebuah kalimat bijak (yang telah saya sedikit sesuaikan), “saat politik deadlock, seni harus mampu memberi alternative”. Politik? Bukankah kita sedang membahas lembaga keagamaan? Mengapa kita jadi melenceng ke politik? Begitu mungkin anda merespon. Jangan tanya saya tamang, enter kita le heran. Menurut saya, yang paling mampu menjawab ini adalah para politisi kita yang ramai-ramai menggunakan predikat-predikat jabat-gereja dalam memperpanjang nama mereka, dalam upaya menggalang suara.

Baru-baru ini saya diundang seorang teman jaring budaya Mawale Movement dari Tonsea, Chandra Dengah Rooroh, untuk turut hadir dalam latihan yang dilanjutkan semacam sebuah ibadah pengutusan dari Sanggar Remiks yang bernaung dibawah Jemaat GMIM Efrata, Kolongan Tetempangan, Kalawat. Jemaat ini masih berusia muda, sekitar satu tahunan mekar dari induk. Peribadatan pun masih menempati sebuah bangunan sederhana dari papan. Bangunan permanent sedang dibangun, dan telah kelar sekitar 30 persen. Tetapi, semua itu tidak menyita perhatian saya, sungguh, cukuplah sudah mengukur pencapaian keberhasilan ‘pembangunan kerohanian’ lewat segala sesuatu yang berbentuk bangunan fisik. Yang menarik justru adalah keberadaan puluhan pemuda-remaja yang giat berkesenian. Remiks berniat turun (atau naik?) dalam lomba teater dan grup vokal pada PSR ini. Namanya juga remaja, seserius-seriusnya mereka, tetap gelak-tawa dan canda-ria bergema. Tetapi, terlihat kesungguhan hati dimata mereka, dan, ini yang penting, terbersit sebuah cahaya di mata mereka. Cahaya semacam ini sering terlihat di mata paramuda kala mereka sedang berusaha membuktikan eksistensi mereka lewat kegiatan-kegiatan yang ‘kurang rohani’ semisal mabo, dola orang, bapajak, bakalae, antar motor rupa gila, pake narkoba, seks bebas, dan sejenisnya. Pendeta Donny Simbar Sth., ketua gereja, berkata bahwa dengan adanya venue penyaluran kreativitas yang disediakan gereja, energi-energi berlebih yang sudah secara alamiah dimiliki oleh paramuda bisa disalurkan kearah yang lebih benar, sebab, biar bagaimanapun mereka harus melepaskan itu. “Tinggal bagaimana mengarahkan emosi-emosi ini di tempat yang seharusnya”, simpul Simbar. Memang benar, secara teoritik, seni memang menawarkan sarana ‘pelampiasan’ emosi, baik dari yang menjadi performans, maupun para apresian. Demikian dikatakan Theory of Literature:

The function of literature, some say, is to relieve us, either writers or readers, from the pressure of emotions. To express emotions is to be free of them (Wellek dan Warren, 1956:36).

Lebih jauh, paling-tidak gereja bisa (kembali) menyangkal Marx yang berkata “agama adalah candu” dengan menunjukkan bahwa, hei sob! gereja tidak hanya mengajarkan umatnya untuk duduk-diam dan meredam gejolak emosi (gejolak seperti ini bisa disebabkan apasaja, dari represi/depresi politik, sampai naiknya hormone seksual) dengan doa dan ibadah saja dan berkata bahwa so ini tu salib yang torang musti pikul, tetapi juga menyediakan ruang penyaluran! Aaahh…

Sanggar Remiks, abreviasi keren dari “Remaja Milik Kristus”, saat ini mewadahi setidaknya belasan pemuda-remaja dalam sayap teaternya, begitu kata Carlos Manatar yang dipercayakan sebagai koordinator teater. Jika anda lebih akrab dengan kata ‘drama’, secara teknis drama menunjuk pada ‘teks atau naskah’. Drama yang dipentaskan disebut ‘teater’. Gereja dan Teater adalah dua kata yang sebenarnya tidak terlalu jauh terpisah. Menurut banyak literatur, seni performans ini pada awalnya memang sangat religius. Teater adalah bagian penting dari ritual-ritual dimana terjadi pemujaan kepada unsur-unsur “metafisis”. Pada zaman pertengahan, kekristenan mulai mengadopsi teater dalam ibadah. “Nativity Play” digunakan untuk menampilkan gambaran peristiwa kelahiran Yesus. “Moral Play” menjadi popular sebagai sebuah metode untuk mengajarkan akhlak kepada konstituen gereja. Syahdan, Zending, yang “membawa berita keselamatan” ke Tanah Minahasa, juga menggunakan teater sebagai media pelayanan, yang menyebabkan sampai saat ini ibadah-ibadah Natal kita seolah tak lengkap jika tanpa lakon “Maria-Yusuf” dan prosesi Pawai Paskah kita lengkap dengan serdadu-serdadu Romawi yang dengan kejam mencambuki seseorang berambut gondrong yang sedang memanggul balak. Jadi, memang sudah seharusnya, tradisi peribadatan kita memberi ruang sebesar-besarnya pada teater.

Benni Matindas, filsuf Minahasa, senantiasa berpesan bahwa peradaban Minahasa, yang adalah merupakan ‘suluh’ kekristenan di Indonesia, hanya dapat dibangun dengan mengembangkan “kesenian kreatif”, yakni bentuk-bentuk kesenian yang memberi ruang sebesar-besarnya kepada kreatifitas, kepada pencarian-pencarian ranah-ranah baru dalam dunia ide dan filsafat. Kesenian kreatif adalah satu-satunya cara untuk mendidik, membentuk moralitas yang runtuh, mengingatkan identitas, serta membangun peradaban. Mohon maaf kepada bentuk kesenian lain, kesenian yang hanya bersifat repetitive, hanya mengulang-ulang (tarik suara sebagai misal), bahwa hanya Sastra- prosa, puisi dan drama, yang memiliki kriteria ‘kesenian kreatif’.

Seingat saya, setelah absen puluhan tahun, GMIM baru kembali mengadakan lomba teater dua tahun lalu. Walau demikian, kesenian secara umum masih sering mendapatkan resistansi dari dalam gereja sendiri. Saya sering menjadi tempat curhat dari remaja-remaja yang merasa ditolak untuk berkesenian di gereja. Alasan yang sering diberikan adalah bahwa gereja adalah sebuah tempat yang sakral, yang khusus, sehingga yang dapat dilakukan di dalamnya juga tidak sembarangan. Saya tidak menyangkal bahwa gereja adalah sesuatu yang bernilai religius, tapi, waduh!, rupa-rupanya sebuah bentuk Gnostisisma masih saja mencengkram erat kristenitas di Minahasa. Saya juga bangga berkata bahwa ‘saya anak Allah’, no karna itu kita nimau jadi anak yang biongo. Arthur F. Holmes, dalam bukunya “The Idea of a Christian College” menuliskan sebuah amaran:

This kind of Gnosticism keeps the Christian from cultural involvement, from artistic appreciation and creativity, from political and social action, and it generates a misdirected fear of science and philosophy and human learning. It produces needless tensions between faith and culture, a defensive attitude and sometimes even outright anti−intellectualism.

Teater, sebagai sebuah bentuk kesenian kreatif, selalu bertendensi memiliki daya kritis. Sebuah naskah drama yang baik akan menggambarkan pencarian-pencarian akan nilai-nilai kebenaran, menghantam ketidak adilan, dan memperjuangkan kebaikan. Nah! Nilai-nilai inilah yang kerap membuat banyak jemaat (atau para pimpinan jemaat) gagawang, merasa ditelanjangi keburukannya. Penolakan terhadap teater dari gereja menjadi pasti, mengatasnamakan kesantunan dan kesenonohan. Padahal, jika kesenian menyuarakan keadilan dan kebenaran, bukankah itu adalah nilai-nilai Ketuhanan? Menurut amatan saya, ada tiga kriteria yang sering digunakan ‘orang kristen’ untuk menilai sastra. Pertama, ada-tidaknya unsur-unsur yang dinilai eksplisit, yakni kekerasan, seksualitas dan profanitas. Kedua, ada-tidaknya pemujaan atau penghujatan terhadap nilai-nilai non-kristen. Ketiga, ada-tidaknya penampilan pemikiran, tindakan serta prilaku yang dianggap ‘berdosa’. Padahal, sebuah kajian terhadap sastra akan menyangkut unsur-unsur wacana, struktur penarasian, pemilihan kata, metafora, idiom, alegori dan sebagainya. Sastra yang baik adalah sastra yang berhasil memadu-padankan unsur-unsur diatas dengan sempurna. Pemaknaan paripurna terhadap sastra, pada gilirannya, akan muncul jika kita berhasil menggabungkan unsur-unsur diatas secara holistik. Pemahaman sastra harus senantiasa a posteriori, bukan a priori. Oh ya, tidak tahukah anda bahwa Alkitab adalah sebuah mahakarya sastra? (baca tulisan saya: “Alkitab: Karya Sastra Teragung” di

Allah, kreator alam semesta, pencipta diatas segala pencipta, telah melakukan semuanya dengan sempurna. Kejadian 1:31 menuliskan “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”. Kebenaran juga adalah manunggal dengan-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” Yohanes 14:6. Maka, “All beauty, is God’s beauty, wherever it may be. All truth, is God’s truth, wherever it be found.”. Seni-budaya dan Gereja tidak untuk dipertentangkan. Mereka yang coba-coba mempertentangkannya silahkan berurusan langsung dengan Tuhan!

Sekarang teater dilombakan baik pada rang remaja juga pemuda. PSR yang segera dilaksanakan di Tomohon, menurut kabar terakhir, telah terdaftar 30-an jemaat, untuk lomba teater saja. FSPG juga mencatat puluhan peserta. Semenjak tahun lalu KGPM juga telah membentuk wing teater dalam kepemudaannya yakni Congregational Theater Center (CTC) yang ditujukan untuk membentuk serta membina teater-teater di seluruh jemaat. Tinggal menunggu denominasi-denominasi lain bergabung. Sebuah awal baru orientasi seni-budaya harus dimulai oleh gereja di Minahasa. Salah satu fungsi utama dari kesenian adalah sebagai sebuah ‘cermin’. Kita, Orang Kristen, seharusnya senantiasa mencerminkan imago Dei a capite ad calcem, imej Khalik Langit dan Bumi. Juga, ini jangan dilupakan, kita harus senantiasa bercermin melihat diri kita sendiri, melihat kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita dapat menemukan cara untuk memperbaikinya. Jadi, para pembaca yang budiman, rasanya saya harus menutup tulisan yang sangat serius maknanya ini dengan bakusedu: Ora et Labora deng Bakaca! Hehehe…


Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers