Membaca adalah Belajar?

Membaca adalah Belajar?: The Man Who Loved Books Too Much (3)


Oleh Hernowo

in: dikbud@yahoogroups.com , Sunday, 13 May 2012, 6:07

Alif Danya Munsyi
“Sebab, penulis adalah ibarat cempiang yang menguasai segala senjata, jawara yang menguasai semua gaman, serta pendekar yang menguasai semua jurus silat.”
—Alif Danya Munsyi
 
Kata-kata Alif Danya Munsyi di atas saya peroleh dari halaman 10, tepatnya di paragraf 47 dalam buku Jadi Penulis? Siapa Takut! Kenapa saya mencantumkan nomor paragraf? Karena buku Alif Danya Munsyi ditulis dengan cara memberi nomor di setiap paragraf yang terdapat di setiap bab bukunya. Saya tidak tahu secara persis maksud dari penulisan nomor di paragraf tersebut. Ada kemungkinan, apabila ada kata-kata yang hendak kita rujuk kembali dari buku itu, dengan mudah kita akan menemukannya secara tepat.
 
Jadi, apabila saya ingin merujuk kembali kata-kata yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini, saya langsung dapat membuka halaman 10 dan langsung pula menuju ke paragraf bernomor 47. Gaya menulis dengan poin-poin seperti ini juga memudahkan saya untuk berhenti dan merenungkan sejenak apa yang telah saya peroleh. Kata, kalimat, lantas kelompok-kelompok gagasan menjadi tidak terlalu tampak panjang dan mudah saya identifikasi. Sepertinya, kita dinyamankan untuk menandai setiap kelompok gagasan yang memang penting dan perlu kita cermati di setiap halaman.
 
Selain keunikan cara menyajikan gagasan yang menomori setiap paragraf, satu kelebihan lain dari penulis Alif Danya Munsyi ini adalah keluasan wawasannya. Keluasan wawasan itu bisa saja terkait dengan pengetahuan tentang segala hal atau tentang sejarah asal-usul kata atau buku. Satu contoh menarik adalah ketika Alif menunjukkan kepada kita bahwa para penulis di zaman dulu, seperti Homerus, sesungguhnya tidak membaca buku untuk belajar (menjadi penulis). Pada zaman ratusan dan ribuan tahun sebelum Masehi, belum ada percetakan dan penerbitan yang membuat buku-buku.
 
 
Untuk mengetahui hal itu lebih jauh, lihatlah di halaman 3 paragraf 9 buku Alif. Di situ, Alif menulis. “Coba saja, dari mana para empu belajar, padahal pada zaman ratusan dan ribuan tahun sebelum Masehi belum ada percetakan dan penerbitan yang membuat buku-buku, majalah-majalah, suratkabar-suratkabar. Coba saja bayangkan, bagaimana pada 900 tahun sebelum Masehi di Yunani sudah ada Homerus yang melahirkan karya Iliad dan Odyssey.
 
“Atau mundur 1500-1000 tahun sebelum Masehi di India sudah ada Upanishad; atau bahkan mundur lagi 2000-1500 tahun sebelum Masehi di Mesir sudah muncul bentuk novel dengan aksara 24 tanda berjudul Sinuhe; serta pada 3000-2000 tahun sebelum Masehi di Sumeria, Babilonia, sudah muncul puisi epik yang mengisahkan tentang kematian dewa gembala Tammuz.”
 
Menurut Alif lebih jauh, semua karya tulis yang disebutkan di atas berasal dari zaman bukanmodern sebagaimana saat ini. Karya-karya tersebut lahir bukan disebabkan oleh kegiatan membacatetapi bakat! Meski dengan sangat jelas menegaskan ihwal bakat, Alif menambahkan bahwa bakat—bakat menulis—tetap sesuatu yang misterius. Untuk itu, sebaiknya, pada zaman sekarang, jangan mengandalkan bakat. Bukan bakat yang akan menentukan seseorang dapat sukses atau tidak menjadi penulis, melainkan kemauan. Kemauan dalam hal apa? “Kemauan untuk membaca,” tegas Alif. Kemauan untuk membaca inilah yang dibahas dengan sangat menarik dalam bab “Membaca adalah Belajar”.
 
Dan kenapa kemauan untuk membaca menjadi syarat penting agar seseorang bisa menjadi penulis di zaman modern? Bacalah, sekali lagi, paragraf paling awal tulisan saya ini. Jika Anda belum terlalu akrab dengan kata “cempiang”, maka kata ini berarti jagoan; dan jika Anda belum akrab dengan kata ”gaman”, maka kata tersebut berarti ”senjata” . Jangan kaget, ketika Anda memiliki kesempatan untuk membaca karya Alif, Jadi Penulis? Siapa Takut!, Anda akan bertemu dengan kata-kata yang tidak biasa digunakan oleh para penulis—misalnya cogah, mubtadi, driya, dibya, dan masih banyak yang lain. Asyik ’kan?[]


Buku tentang Perubahan?

Buku tentang Perubahan?: The Man Who Loved Books Too Much (4)
Oleh Hernowo

in: dikbud@yahoogroups.com , Monday, 14 May 2012, 5:46

Rhenald Kasali
“Buku ini adalah buku perubahan, yaitu kisah inspiratif dari orang-orang yang berjuang membangun kemandirian.”
—Rhenald Kasali
 
Kata-kata di atas ditulis oleh Rhenald Kasali di baris paling awal ketika mengantarkan bukunya, Cracking Entrepreneurs: Inilah Para Crackers Lokal yang Tak Ada Matinya! Rhenald memang punya lembaga bernama ”Rumah Perubahan”. Namun, bukan karena itu dia kemudian mengawali bukunya dengan kata-kata yang mengandung perubahan. Saya bisa merasakan apa yang Rhenald katakan ketika membaca kisah seorang tukang becak di daerah Cirebon yang kemudian memiliki industri garam yang sukses.
 
Nama tukang becak itu Sanin. ”Seperti rakyat jelata lainnya, selama bertahun-tahun dia begitu pasrah menjalani kehidupan dengan mengayuh becak di pesisir yang panas itu,” tulis Rhenald. ”Namun, berbeda dengan tukang becak lainnya, suatu ketika Sanin bertekad bahwa kehidupannya akan semakin buruk kalau dia tidak berubah. Dia pun membuka pikirannya, melihat dan mendengarkan suara alam dengan cara yang berbeda.”
 
Menurut Rhenald, ketika memarkir becaknya di pesisir yang terik, dengan kadar garam yang tinggi, Sanin merasakan bahwa para pengusaha garam tak jauh berbeda dengan dirinya. Mereka dulunya juga rakyat jelata, tak bersekolah tinggi, tapi rela bekerja keras. ”Lantas kalau mereka bisa, mengapa saya tidak,” demikian mungkin pikir Sanin ketika ingin mengubah hidupnya dari tukang becak menjadi pengusaha garam. Akhirnya, Sanin berhenti menjadi tukang becak dan mulai membuat garam.
 
Buku terbaru karya Rhenald
 
Sanin merintis usaha pembuatan garamnya dengan membuat sendiri, kemudian mencetak, lalau memasarkannya dengan mengendarai sepeda dari pasar ke pasar. Kini, mantan tukang becak tersebut telah memiliki sepasukan petani hingga pencetak garam di pabriknya. Wilayah pemasarannya pun sudah jauh meluas, tak lagi hanya sebatas pasar di daerahnya. Kini, Sanin juga tak lagi menggunakan sepeda, tetapi menggunakan truk-truk besar dengan omzet ratusan juta rupiah!
 
Sanin kini tak hanya membuat garam dapur. Dia melebarkan usahanya dengan membuat pupuk. CV Sanutra Utama yang didirikan Sanin pada tahun 1985 dengan modal awal Rp 1 juta dan dikerjakan sendiri, kini telah memiliki 50 pekerja dan omzet Rp 200 juta per bulan. Memang mengubah diri dari tukang becak menjadi pengusaha garam yang sukses bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, kalau sejak dulu dia mudah berputus asa, mungkin bukan seperti ini hidup yang sekarang digenggam Sanin.
 
Kisah Sanin merupakan satu dari banyak kisah inspiratif yang ada di buku Cracking Entrepreneurs. Sebanyak19 pengusaha kecil sukses direkam oleh buku tersebut. Ada pengusaha bengkel yang menjadi ”Raja Bengkel” di kawasan Pelabuhan Ratu bernama H. Darjat. Ada tiga perempuan gigih—Sania Sari, Tri Asayani, dan Ranityarani—yang sukses menyeimbangkan bisnis dan seni batik. Dan ada perempuan muda, Atik Jumaeli, yang berhasil mengibarkan bordir Tasik hingga ke Rusia. Membaca kisah-kisah perjuangan mereka, saya bagaikan menemukan obor kehidupan.
 
”Mereka yang akan Anda baca kisahnya di dalam buku ini, pantas disebut crackers-nya usaha kecil. Ya, tak usah selalu membandingkan dengan yang besar-besar, yang modalnya sudah berkelimpahan, memakai teknologi tinggi yang terhubung secara virtual, atau memiliki profesional-profesional andal…. Crackers adalah perubahan sekaligus pahlawan ekonomi kerakyatan yang membuat hidup kita lebih bermakna,” tulis Rhenald Kasali.[]


Tak Mudah Temukan Black Box Sukhoi

Tak Mudah Temukan Black Box Sukhoi

 

Ref Sunny <ambon@tele2.se> :Mungkin Marskal ini kurang mengetahui tentang flight recorder atau yang disebut black box, sekalipun warnanya merah. Black box ini mempunyai pemacar sendiri yang memberikan signal tentang posisinya dimana dia letaknya. Jadi seperti orang berteriak : “saya ada disini”!. Mungkin Black box yang lebih modern bisa memberikan signal sekaligus dengan koordinatnya. Jadi tidak sulit di daratan untuk untuk memperolehnya, signal ini yang bisa ditangkap oleh alatnya atau melalui satelit.

Black box bisa memberikan signal selama 30 hari, sekalipun berada dibawa permukaan laut sedalam 6000 m. Maka oleh karena itu bisa diperoleh black box pesawat Air France yang jatuh di lautan Atlantik dalam penerbangan dari Brasilia menuju Perancis (Paris) dua atau tiga tahun lalu.
Berita tadi siang dikatakan Black Box telah ditemukan.
SENIN, 14 Mei 2012 | 234 Hits
Marsekal Madya Daryatmo Kepala Basarnas
Tak Mudah Temukan Black Box Sukhoi
Tim evakuasi di bawah koordinasi Badan SAR Nasional (Basarnas) belum menemukan kotak hitam (black box) pesawat Sukhoi Superjet 100 yang mengalami kecelakaan di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/5) lalu. Kendati demikian, pencarian black box merupakan salah satu prioritas.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Daryatmo, mengatakan bahwa hari ini sebelum pencarian dihentikan, tim sudah mendekati puing-puing SSJ 100 yang lebih besar. Menurut Daryatmo, tim evakuasi meyakini kotak hitam masih berada di ekor pesawat naas buatan Rusia itu.

Namun, menurutnya, tidak mudah bagi tim untuk mencapai ekor pesawat itu. “Soal black box, saya memiliki keyakinan ada di ekor pesawat itu,” kata Daryatmo kepada wartawan di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Minggu (13/5).

Ditegaskannya, kemarin sebenarnya tim sudah berada dekat dengan puing-puing pesawat dalam potongan yang lebih besar. Namun sayangnya, tim harus kembali lagi karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

“Kita untuk mencapai ke ekor pesawat itu tidak mudah. Hari ini saya tunggu sampai sore, tapi (tim) tidak sampai. Tim belum berhasil (menemukan black box),” tambah perwita TNI Au dengan tiga bintang di pundak itu. (boy/jpn

Politik Rivalitas Jenderal dan Sekitar Tragedi Mei 98

Politik Rivalitas Jenderal dan Sekitar Tragedi Mei 98
Al Faqir Ilmi <alfaqirilmi@yahoo.com>,in:gelora45@yahoogroups.com, Monday, 14 May 2012, 17:59

cerita ttg politik rivalitas jenderal dan sekitar kerusahan pada Mei98 agar kita tdk lupa sejarah

Rivalitas Prabowo & Wiranto mewarnai politik internal ABRI jelang kerusuhan Mei 98. Persaingan sampai ke puncaknya paska kerusuhan Mei98. Indikasi ketidaksukaan Wiranto, terlihat dari absennya dia sbg Pangab dlm serah terima Pangkostrad Letjen Soegiono kepada Prabowo
,
Prabowo memang mengakui ketidakcocokan dengan Wiranto, tapi dia tidak menganggapnya sebagai lawan

Situasi politik berpihak Prabowo, priviliges menantu Soeharto tentu saja. Wiranto tak banyak pengaruhnya walau dia sebagai Pangab. Politik sipil dipegang Tutut & Hartono lewat Golkar ( bisik bisik ada hubungan khusus diantara mereka berdua ), Habibie memegang ICMI, lalu Prabowo di ABRI, Banyak teman Prabowo mengisi seperti KSAD, Pangdam Jaya, Danjen Kopassus sampai Dankomarinir.

Ketika Habibie jadi Wapres, Posisi Prabowo tambah kuat, hubungan mereka yg dekat. Sejak lama Prabowo kagum thd Habibie. Berulang kali Habibie bilang kepada Prabowo dalam bahasa Inggris. “ Prabowo, jika saya jadi presiden, kau akan menjadi pangab

Tutut & Hartono yg tdk suka Habibie , membuat jarak dg Prabowo. Apalagi Hartono pernah usulkan Prabowo jadi Pangdam di Irian. Sementara Prabowo enggan karena sedang mengembangkan Kopassus dan merasa terbuang, jauh dari Jakarta

Dengan adanya kasus penculikan. Posisi Wiranto diatas angin, dengan mengajukan team Kopassus ke pengadilan, ia dapat simpati publik. DKP yg menyelidiki kasus penculikan ini, tidak pernah mengungkap hasil hasil pemeriksaan. Prabowo tdk pernah diberi tahu hasil DKP, Sepertinya Wiranto tdk ingin Prabowo buka siapa yang memerintahkan atau rahasia dibalik itu. Prabowo bersikeras tdk pernah perintahkan, Hanya saja Prabowo mengambil alih tanggung jawab anak buahnya. “ Saya ambil alih tanggung jawabnya “.

Dalam penembakan Mahasiswa Trisakti. Wiranto juga sengaja mengulur waktu, buying time dengan tidak mengusut kasus ini secara cepat. Tuduhan kembali ke Prabowo jadi bulan bulanan massa, dicurigai sebagai orang dibalik penembakan itu. Dan Puspom ABRI tidak bisa memaksa Dibyo searhkan anggota & senjata. Wiranto didesak Samsu menekan Dibyo krn Kapolri dibawah Pangab

17 hari setelah Insiden itu, Kapolri Dibyo Widodo baru dipanggil Wiranto . “ Lu serahin anggota “. Dibyo menjawab ‘ Siap”, Itupun anggota diserahkan ke Polda bukan ke Pom ABRI. Sementara senjata baru diserahkan tanggal 11 Juni 98

Tuduhan mengarahkan Prabowo di balik penembakan, dg konspirasi anggota kopasus memakai seragam Polri sebagai pelaku penembakan sniper. Teori konspirasi ini tak pernah terbukti, krn peluru snipper diatas 7 mm & projectile peluru tertanam di korban caliber 5,56mm. Sementara korban dipilih secara random, kalau snipper akan memilih misalnya pemimpin demo atau target pilihan

Lima hari setelah insiden Trisakti. Prabowo datang ke rumah Herry Hartanto, salah satu korban. Dia mengambil Al Qur’an, Dia bersumpah di depan, Syahrir Mulyo Utomo, orang tua korban. “ demi Allah saya tdk pernah memerintahkan pembantaian mahasiswa “ Kelak sampai uji balistik di Belfast, Irlandia Feb 2000 akhirnya membuktikan peluru berasal dari anggota polri dari unit Gegana

Kerusuhan Mei pecah. Ada yang aneh tgl 14 Mei 98, di tengah kerusuhan. Pangab Wiranto memboyong petinggi dan Jenderal menuju Malang  Ditengah kerusuhan, justru ABRI menggelar lacara pasukan Pasukan Reaksi Cepat di Malang. Menurut Prabowo dia berusaha mencegah  Menurut Prabowo, sehari sebelumnya ia hubungi berkali kali ke Wiranto utk membatalkan acara ini karena keadaan ibu kota yg genting Wiranto tdk akui ada telpon masuk dari Prabowo. Wiranto : permintaan pembatalan tdk ada dalam catatan sekretaris pribadi / ajudan Menurut sespri Prabowo, Letkol Fuad Basya, ia sendiri yg menghubungi sespri Pangab, Letkol Muktianto. Krn Prabowo tdk bisa hubungi Letkol Muktianto hanya menyampaikan perintah Wiranto agar Prabowo tetap ikut pergi ke Malang

Hasil rekomendasi TGPF pimpinan Marzuki Darusman, tgl 3 Nov 1998 sebutkan, perlu selidiki pertemuan Makostrad tgl 14 Mei 1998. TGPF ingin mengungkapkan dan memastikan peranan Letjend Prabowo S dan pihak lainnya dalam proses yg menimbulkan terjadinya kerusuhan Beberapa yg hadir dlm pertemuan itu spt Buyung Nasution, WS Rendra, Setiawan Djody dan Fahmi Idris membantah pertemuan itu rahasia Buyung mengingat itu ada Din Samsudin, Bambang Widjoyanto, dll. Ini inistiatif Djody menelpon sespri Prabowo minta waktu bertemu Prabowo datang. Lalu ditanya apakah dalang kerusuhan “ Demi Allah saya tdk terlibat. Saya di set up “ Menurut Buyung, terlihat jujur Ini berbeda dg KPP Mei 1998 ( Komisi Penyelidik Pelanggaran berat HAM Mei 1998 ) yg dibentuk tahun 2003 dgn dipimpin Solahudin Wahid ,Menurutnya Pangdam Djaya Safrie Syamsudin dan Kapolda Hamami Nata yang bertanggung jawab karena ada pembiaran , crime by omission

Kembali pada tgl 15 Mei jam 01.00 malam. Prabowo menemui Gus Dur di rumahnya. Saat itu GD sedang sakit dan sudah tidur Ia memasuki kamar , memijit kakinya GD hingga bangun. Prabowo menangis & meminta GD menenangkan massa sehingga kerusuhan stop. Tgl 16 Mei, Tutut bilang Prabowo dan Muchdi bahwa ia mundur sbg Menteri sosial agar redakan resistensi masyarakat terhadap Pemerintah, Tutut bertanya ke Prabowo, apa yg akan dilakukan jika mahasiswa terus menduduki DPR. Prabowo menjawab, mereka tak mungkin ditembak

Malam harinya Brigjen Robby Mukav bacakan berita dari Mardeka Barat bahwa Kapuspen ABRI Brigjend Wahab Mokodongan berbicara empat hal Ia bicara 4 hal yakni 1) permintaan maaf 2 ) ABRI mendukung PBNU 3) Jumlah korban 500 orang 4) Ibu kota aman, Ternyata yang dimaksud dukungan ke PB NU adalah pernyataan PBNU sebelumnya utk mendukung Presiden Soeharto lengser keprabon. Pernyataan aneh krn tidak ada kop surat / tak ditandatangani. Karena Wiranto tak hadir, maka yg beri konferensi pers adalah Kapuspen

Prabowo, Muchdi, KSAD Soebagyo HS, Yusril menemui Soeharto di Cendana mengatakan mereka tidak tahu mengenai siaran pers Mabes ABRI Prabowo kembali bertemu Tutut yg bertambah sebal, krn siang sebelumnya ia bilang ke Tutut, solusinya adalah Pak Harto mundur. Untuk keputusan sepenting ini masak KSAD tidak diajak bicara, kata Soebagyo..Soeharto meminta usut dari mana datangnya siaran per itu. Coba tanya pada kasum atau Kasospol “ kata Soeharto. KSAD Soebagyo tambah kebingungan, karena secara struktural dia tdk dilibatkan , Menurut Wiranto. Tuduhan itu bermula dari pertemuan dirinya dan Gus Dur utk membicarakan situasi yang berkembang , Hasilnya positif, lalu Wiranto memerintahkan Assiten Kasospol Mayjend Mardiyanto menyiapkan pernyataan pers agar masyarakat memahami , Wiranto heran, pernyataan yang masih konsep & belum disetujui, beredar di pers dan oleh Prabowo langsung disampaikan ke Presiden, Wiranto menuduh Prabowo telah melaporkan , bahwa dirinya berkhianat kepada Presiden, Wiranto menegur Mardiyanto karena kasus ini, dan Mardiyanto menyesali dan meminta maaf ke Wiranto. Menurut Mokodongan. Pernyataan pers dukungan PBNU itu dibuat Kasospol SBY dan Mardiyanto. Cuma tidak jelas siapa yang menyebarkan. Sebelumnya Mokodongan diperintahkan oleh Wiranto utk membuat pernyataan pers, ditandatangi sendiri dg cap Puspen ABRI, Ketika diserahkan ke Wiranto., lalu ia minta Mokodongan membacakan didepan wartawan. Saat itu beredarlah konsep SBY dan Mardiyanto, Malam itu juga Wiranto membangunkan seluruh perwira untuk menarik konsep siaran pers versi SBY dan Mardiyanto, Pemimpin media dihubungi, utk tidak memuat berita itu. Kepala intelejen Zacky Makarim dan Kapuspen kontrol berita dari koran/ TV

Hubungan Wiranto dan Prabowo terus memburuk. Pangab terus dilapori aktivitas Prabowo Kata Wiranto “ Seharusnya Pangkostrad berorientasi pada wilayah tugas dan tanggung jawabnya sebagai Pangkostrad “ Wiranto lanjutkan : yang menggerakan pasukan atas perintah pangab. Bukan kesana kemari ngurusin masalah politik dan kenegaraan

20 Mei 1998. Mayjen Kivlan Zen bersiap siap untuk mencegah demo 1 juta rakyat yag rencananya akan digelar Amien Rais di Monas, Kivlan Zen sudah menyiapkan Pam Swakarsa ( kelak melebur jadi FPI ) sebagai bagian dari skenario utk hadapi demo rakyat, Perintah menggalang massa diberikan oleh Wiranto. Dia panggil Kivlan Zen utk meminta dana dari Setiawan Jody, Pertemuan ini diatur oleh Jimmly Assidique, dan dalam pertemuan ini Wiranto mengatakan ini perintah Habibie. Entah benar atau tidak, Kivlan Zen meminta Prabowo agar Amien membatalkan niat demo sejuta umat, dengan konsekuensi dirinya akan ditangkap, Kivlan juga mengatur tank & panser. “ Lindas saja mereka yang memaksa masuk Monas “ instruksinya. Namun aksi sejuta orang batal

Selepas magrib. Prabowo menemui Habibie.“ Pak, kemungkinan besar Pak tua turun “. Lalu Habibie nyatakan kesiapannya gantikan Soeharto Prabowo lalu kembali ke Cendana. Dia mengira akan mendapat pujian, karena menggagalkan aksi demo sejuta orang, Nyatanya ia mendapatkan kejutan. Wiranto sedang duduk di ruang keluarga bersama putra puteri Cendana Kata Prabowo. Mamiek menuding jarinya seinci dari hidung saya. “ Kamu pengkhianat , jangan injak kakimu di rumah saya lagi” Prabowo keluar dan menunggu. Dia bilang, Saya butuh penjelasan. Tatiek istrinya hanya bisa menangis. Lalu Prabowo pulang Ia menelpon ayahnya, Prof Soemitro. “ Papi nggak percaya kalau saya bilang. Saya dikhianati oleh Mertua Jadi sebelumnya Wiranto mengeluh pergerakan Prabowo & mengindikasikan dia runtang runtung dg Habibie serta para aktivis

Soeharto bilang ke Wiranto “ singkirkan saja Prabowo dari pasukan “. Wiranto bertanya lagi, Ditaruh di Irian saja Pak ” Tidak usah, kasih saja pendidikan. Khan keluarganya intelektual ” Kata Soeharto. Saat itu Wiranto sudah memenangkan pertempuran Soeharto lebih percaya Wiranto. Ia memberikan surat Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional pd Wiranto. Ini semacam surat pelimpahan kekuasaan yang memberikan kekuasaan tanpa batas, kepada Wiranto. Just In case, Soeharto mewanti wanti Wiranto. “ Mbok menowo mengko ono gunane – siapa tahu kelak ada gunanya. Menjelang tengah malam, Soeharto duduk, wajahnya pias. “ Saya sudah berbicara dengan anak anak. Saya akan mundur besok” Wiranto kemudian menjamin bahwa ABRI akan melindungi seluruh mantan Presiden beserta keluarganya Tatiek Prabowo menitikan air mata. Ia menangis dg suara tertahan. Hadir juga disana Mayjend Endriartono Sutarto, Komandan Paspampres

21 Mei 98. Soeharto mengundurkan diri dan diganti oleh Habibie. Jam 23 malam, Prabowo dan Muhdi bertemu dengan Habibie di kediamannya Pertemuan ini utk dukungan Presiden baru. Prabowo & Muhdi sebelumnya dilepas dg doa dari Din Syamsudin agar hati Habibie dibukakan, Ini menjadi antiklimaks ketika esok harinya tgl 22 Mei, Prabowo justru dicopot dari jabatannya sebagai Pangkostrad Versi Habibie : Prabowo desak menemuinya. Ia jengah nerima Prabowo. krn sepakat dg Wiranto, ABRI yg ingin menemui harus izin pangab, Menurut Habibie . Ketika Prabowo masuk & melihatnya tanpa membawa senjata. Habbibie puas, artinya Prabowo tidak mendapat ekslusivitas Prabowo : Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Dia berkata ke Habibie Habibie menjelaskan kalau ia mendapat laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan dan Istana Saya bermaksud mengamankan Presiden , Kata Prabowo. “ Ini tugas Pampapres yg tanggung jawab pd Pangab bukan tugas anda, ujar Habibie Prabowo minta setidaknya 3 bln di Kostrad. Habibie menolak. “ Tidak, sampai matahari terbenam, anda harus menyerahkan semua pasukan, Ketika perdebatan berlangsung. Sinton Panjaitan masuk. “ Jenderal, bapak Presiden tdk punya waktu dan segera meninggalkan ruangan, Versi lain menceritakan, Prabowo menolak melepaskan pistol dan kopelnya sehingga dilarang bertemu Presidenoleh Paspampres, Prabowo marah & membuat paspampres keder. Paspampres hubungi Wiranto. Walhasil Wiranto meminta paspampres mengamankan Prabowo, Wiranto menelpon Mayjen Marinir Suharto apa berani mengusir Kopasus dari Istana. “ Berani “. Suharto & Prabowo sebenarnya teman lama, Keduanya pernah tinggal satu kamar di Seskogab Bandung. Marinir akhirnya bergerak ke Istana dan pasukan Kopassus megundurkan diri Forum Editor Asia – Jerman tgl 15 Feb 1999. Habibie bilang, Pasukan di bawah Prabowo konsentrasikan di bbrp tempat, trmsk rumah saya Versi Prabowo : Saya ingat perkataan Habibie. “ Prabowo kapan kamu ragu, temui saya setiap waktu dan jangan berpikir protokoler Setelah bertemu. Prabowo bertanya ke Habibie “ Sir , do you know I was going to be replaced today “ Jawab Habibie “ Yes yes, your father in law asked me to replace you. Its best. II’ll make you ambassador to the United states Habibie menunjuk Wiranto tetap sbg Menhankam/ Pangab. Padahal calon kuat Pangab sebelum pengumuman Kabinet adalah Jend Hendropriyono

Saat Prabowo pamit hendak pergi ke Yordania. Wiranto bilang ketus “ Sudah pergi sana, daripada di Mahkamah Militer “  8 tahun kemudian. Wiranto baru bicara. Menurutnya ada kemungkinan Habibie salah paham dg informasi yg diberikan ttg pasukan liar

  • 13-15 Mei 1998. korban tewas di Jakarta dari sumber : 1. Tim Relawan : 1190 2. Polda : 451 3. Kodam : 463 4. Pemda DKI : 288 TGF
  • 13-15 Mei 1998 Korban Tewas di Kota2 lain di seluruh Indonesia dari sumber : 1. Tim Relawan : 33 2. Polda : 30 TGPF
  • 13-15 Mei 1998 Korban Pemerkosaan 52 orang yang didengar kesaksiannya dari berbagai sumber ( korban, dokter, org tua, rohaniawan) TGPF
  • 13-15 Mei 1998 korban pemerkosaan seksual dengan penganiayaan 14 orang. Sumber dari korban, keluarga dan konselor. TGPF
  • 13-15 Mei 1998 Korban penculikan yang hilang sampai saat ini : 4 orang. TGPF
  • Pola kejadian 13-15 Mei di Jakarta 1. Tahap persiapan 2. Tahap perusakan 3. Tahapan Penjarahan 4. Tahap Pembakaran TGPF
  • 13-15 Mei 1998 aspek Prtggjwbn : 1. kelemahan komando dan pengendalian dari pucuk tertinggi ABRI alias Pangab Wiranto TGPF
  • 13-15 Mei 1998 aspek Prtggjwbn : 2. Strategi yang keliru terkait penempatan pasukan dan prioritas pengamanan TGPF
  • 13-15 Mei 1998 aspek prtggjwban : 3. Komunikasi antara komandan pasukan pengamanan yang terhambat/tidak lancar. TGPF
  • 13-15 Mei 1998 aspek pertggjwban : 4. Hambatan psikologis doktrin ABRI dan adanya pasukan gelap yg berbaur bersama rakyat TGPF
  • 13-15 Mei 1998 aspek pertggjwaban: 5. Perbedaan perintah/ pola tindakan dlm menghadapi kerusuhan& tekanan massa yang sgt besar TGPF
  • 13-15 Mei 1998 Pertanyaan BESAR : Kenapa Pangab Wiranto perintahkan semua panglima dan jenderal ikut berangkat ke Malang? TGPF

Massa Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) rusak Panggung Acara Waisak

 

Massa Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) rusak Panggung Acara Waisak

TEMANGGUNG – Insiden mewarnai kedatangan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab pada acara Milad Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Jawa Tengah di Dusun Kauman, Desa/Kecamatan Kaloran,Temanggung, kemarin.

Satu mobil milik anggota TNI di Kecamatan Tempuran,Magelang dirusak oleh massa GPK. Sebelumnya sekitar 50 orang massa GPK dari Kemuning, Sumowono, Kabupaten Semarang juga membuat ulah saat menuju ke tempat milad. Ketika melintas di depan Vihara Satya Dharma Wirya milik Sekte Kasogatan di Dusun Lamuk, Desa Kalimanggis, Kaloran, mereka menaiki panggung untuk perayaan Waisak yang ada di depan vihara.

Ulahnya membuat karpet yang sudah digelar di panggung menjadi berantakan.Di atas panggung terlihat salah satu di antaranya membawa pedang samurai dan rantai. Kondisi ini membuat warga sekitar yang tengah mempersiapkan panggung menjadi ketakutan dan memilih bersembunyi. ‘’Karena massanya banyak kami takut.Saya bersama lima teman bersembunyi di dalam vihara dan ada juga yang bersembunyi di belakang panggung. Beberapa orang yang dipanggung juga langsung lari sambil membawa sound system dan spanduk,’’ kata Yudi dan Sunarto,dua orang warga yang saat itu sedang mempersiapan panggung.

Insiden itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB sebelum kedatangan Habib Rizieq yang baru datang di acara milad pukul 15.00 WIB.Insiden dapat diatasi setelah rombongan GPK dari Kaloran meminta mereka turun dari panggung dan berlaku tertib. Warga lainnya mengatakan, massa juga sempat merusak kaca mobil Avanza warna hitam berpelat R yang kebetulan melintas. Perusakan mobil dan insiden naik ke panggung acara Waisak ini diakui oleh kepolisian.

Namun polisi membantah ada massa yang membawa samurai karena sudah ada kesepakatan tak membawa senjata tajam dengan GPK. ‘’Tidak ada perusakan tempat ibadah, itu hanya upaya saja. Kalau perusakan mobil memang benar, tapi kami masih belum mendapat laporan dari pemilik mobil,’’ ucap Kapolres Temanggung AKBP Susilo Wardhono. Yang patut menjadi perhatian adalah kebijakan kepolisian yang mengamankan kedatangan Ketua FPI ini layaknya siaga satu dengan menyiagakan sebanyak 1.045 personil.

Bahkan 300 personel di antaranya merupakan anggota Brimob yang didatangkan dari Polda Jateng. Lainnya polisi dari daerah Polres Magelang, Polresta Magelang, dan Polres Wonosobo serta prajurit TNI dari Kodim. Sedangkan insiden perusakan mobil milik anggota TNI terjadi saat massa GPK konvoi dalam perjalanan pulang ke Kecamatan Tempuran, Magelang.

Sebuah mobil Suzuki Sidekick AA 7120 LK milik Sudirman dirusak saat tengah melaju di Jalan Raya Tempuran– Purwworejo sekitar pukul 18.30 WIB. Mobil tersebut rusak pada bagian kaca, bagian kap mesin penyok, dan lampu sein kiri depan rusak. Warga melihat insiden perusakan mobil itu dilakukan oleh rombongan massa yang memakai atribut kaos warna hitam bertuliskan GPK yang melaju dengan sepeda motor dari arah Temanggung.

‘’Mobil itu mau belok kanan ke arah Ngalarangan, massa menyuruh mobil itu minggir, tapi supir mobil itu malah memaki. Terus massa berhenti dan terjadilah perusakan itu,’’ kata Angga,saksi mata. Sementara itu,saat mengisi acara Milad GPK Jateng,Habib Rizieq kembali menegaskan menolak liberalisme yang dianggap akan menghancurkan Islam di Indonesia. Dia juga kembali mengancam akan membubarkan konser Lady Gaga di Jakarta jika polisi memberikan izin penyelenggaraan konser tersebut.

Seperti diketahui,sebelumnya sekelompok anggota ormas pada 6 Mei lalu membubarkan paksa diskusi buku Irshad Manji di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (Lkis) di Pendopo LKis Jalan Pura I/01,Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul. m abduh/ridho hidayat

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/494413/

Panggung Acara Waisak Dirusak Massa

TEMANGGUNG–MICOM: Puluhan orang merusak panggung yang sedianya untuk tempat perayaan Waisak di Dusun Lamuk, Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Sabtu (12/5). Mereka juga mengancam warga di sekitar lokasi itu menggunakan celurit.

Sumber Media Indonesia yang enggan disebut namanya mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Jumlah orang yang datang sekitar 20 orang.

“Waktu itu massa dimungkinkan dari arah Kemuning, Sumowono. Ketika lewat, mereka berhenti dan memainkan gas sepeda motor. Mereka lalu naik ke panggung untuk acara Waisak, mereka lalu joget-joget sambil ngacung-ngacungkan celurit  dan rantai besar,” kata sumber tersebut.

Setelah itu, lanjut sumber lainnya, massa menggebrak-gebrak sejumlah kendaraan bermotor milih warga sipil. Sumber lainnya mengatakan, kaca sebuah mobil avanza yang kebetulan melintas di daerah itu juga dipecahkan oleh massa.

Tak berapa lama sejumlah anggota polisi datang untuk mengamankan lokasi dan berjaga di sekitar tempat itu. “Ya kondisi aman, sekarang sudah dijaga aparat untuk mengantisipasi sepulang mereka,” tutur Romo Yamto, seorang Pandhita Agama Buddha.

Kapolres Temanggung AKB Susilo Wardhono menyatakan, pihaknya masih melakukan pengecekan. “Masih kita cek,” ujar Kapolres.(TS/OL-2)

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/05/319279/289/101/Panggung-Acara-Waisak-Dirusak-Massa

Habib Rizieq: FPI Siap Bubarkan Konser Lady Gaga

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com – Rencana kedatangan Lady Gaga yang akan menggelar konser di Jakarta pada tanggal 3 Juni mendatang mendapat tentangan kuat dari Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab. Hal itu disampaikannya saat memberi tausyiah pada Milad Gerakan Pemuda Kabah (GPK) Jateng ke 30 di, Kaloran Temanggung, Sabtu (12/5).

Menurut Habib Rizieq, Lady Gaga tidak layak untuk datang ke Indonesia, sebab dia adalah penganut aliran sesat, jadi harus ditolak dengan tegas. Dikatakannya, penyanyi yang tengah populer di dunia ini merupakan penyembah Lusiver, yaitu iblis yang tercantum dalam Bibel.

“Kalau Lady Gaga, jadi pentas di Jakarta saya akan mengerahkan umat Islam untuk membubarkan konser itu. Saya juga meminta pemerintah untuk tidak memberikan izin, daripada FPI yang membubarkan, “katanya disambut gema takbir ribuan simpatisan GPK yang hadir.

Lebih jauh dia menjelaskan, di konsernya yang terakhir, Lady Gaga sempat menyatakan akan membangun kerajaan iblis Lusiver di Indoensia. Kendati demikian, ujar Habib, umat Islam jelas menyatakan perang terhadap pengikut iblis.

Pada kesempatan itu Habib Rizieq juga sempat mengecam penulis buku Allah, Liberty and Love, asal Kanada, Irsyad Manji. Menurutnya, Irsyad Manji sebenarnya tengah berkampanye lesbianisme dengan berkedok peluncuran buku.

Dia juga mengingatkan umat Islam akan ancaman liberalisme, sebab di dalamnya terkandung virus pemikiran relativisme yang bisa menggerogoti iman, akidah, syariat, serta ahlak umat Islam.

“Di dalam liberliasme itu terkandung virus relativisme yaitu satu pemikiran yang bisa meracuni pengertian, bahwasanya tidak ada kebenaran mutlak termasuk agama. Dari sini akan lahir pula penyakit pluralisme, yang mengatakan semua agama benar, padahal agama di sisi Allah hanya Islam,” jelasnya.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/05/13/118282/Habib-Rizieq-FPI-Siap-Bubarkan-Konser-Lady-Gaga

__._,_.___

Kongkalingkong SUKHOI menuai Duka

Kongkalingkong SUKHOI menuai Duka

by Kusuma_Putri99

in:t-net, Monday, 14 May 2012, 17:27

Musibah kecelakaan pesawat Sukhoi seri Superjet 100 di Gunung Salak, mengingatkan kembali adanya mark up pembelian Sukhoi.

Sebelumnya
Indonesia telah memiliki 10 pesawat Sukhoi yang terdiri dari 2 unit
jenis SU-27SK, 3 unit jenis SU-27SKM yang diperkirakan menelan biaya Rp
149,78 trilyun dengan perincian th 2010 dialokasikan sebesar Rp 23,10
trilyun

Th 2011 dialokasikan Rp 32,29 trilyun, th 2012 Rp 29,66
trilyun, th 2013 Rp 32,58 trilyun dan th 2014 sebesar Rp 32,15 trilyun.
Desember 2011 yang lalu DPR RI menyetujui APBN Kementrian Pertahanan
termasuk di dalamnya pembelian 6 pesawat Sukhoi jenis SU-30 MK2.

Pembelian
melalui G to G ini senilai US$ 470 juta ke JSC Rosobron disepakati
antara pemerintah RI dengan Rusia. Pemerintah Rusia menyediakan state
loan sebesar US$ 1 milyar kepada Pemerintah RI untuk pengadaan alutsista

Termasuk
diantarannya pembelian Helikopter Mi-17v-5, Helikopter Mi-35P dan
pendukungnya, Diesel listrik untuk kapal selam, Kendaraan BMP-3F, dan
Sukhoi Su 27 serta Su-30MK2 termasuk Avionic.

Kenapa Pemerintah RI malah menggunakan sumber dana pinjaman luar negri/kredit komersial padahal ada state loan dr Rusia?

Siapa yang diuntungkan dengan adanya pinjaman luar negri/kredit komersial ini?

Dari
perjanjian itu, jelas bahwa seharusnya pengadaan Sukhoi bersumber dari
kredit pemerintah Rusia. Surat B/1390-03/05/01/Srenaau, tanggal 8
Desember 2010 tentang revisi rencana pengadaan alutsista TNI AU TA
2010-2014  dari Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf AU kepada
Panglima TNI yang menyebutkan bahwa  untuk pengadaan 6 unit  Sukhoi dan
pengadaan 2 unit pesawat jet Tanker yang semula anggarannya didukung
dari  sumber PHLN/KE, dialihkan menggunakan State Credit dari Pemerintah
Rusia, dalam perkembangannya  Kemhan justru mengajukan sumber pendanaan
pembelian 6 unit Sukhoi bersumber dari PHLN/KE seperti yang tertuang
dalam surat nomor R/96/M/III/2011 yang ditujukan kepada Ka Bappenas.

Dalam
lampiran surat tersebut, tambahan PHLN/KE untuk pengadaan alutsista TNI
Tahun Anggaran 2011-2014 adalah sebesar US$695 juta dimana US$470 juta
diantaranya untuk pengadaan Shukoi SU-30 MK-2 beserta dukungannya.

Keanehan
kedua adalah ternyata pembelian G to G ini melalui broker PT. Trimarga
Rekatama, perusahaan milik Eng Djin Tjong alias Sujito Ng yang kerabat
dari Hero grup ini disinyalir memiliki hubungan khusus dengan Cikeas.

Nama
Trimarga mulai terkuat ke publik ketika ada surat dari internal
manajemen Trimarga yg tengah bermasalah yg dikirim ke Menhan. Trimarga
bukan pemain baru dalam bisnis kendaraan tempur, para pebisnis senjata
dan kalangan tentara mengenalnya sbg perusahaan pemasok produk senjata
dari Rusia dan Eropa Timur, makelar alat tempur sejak jaman Orde Baru
Sukhoi. Kalau pengadaan helikopter tentara dan Polri makelarnya adalah
Nyo Man Samirin, salah satu proyeknya adalah pengadaan pesawat latih
supersonik T-50 Golden Eagle yang menggantikan pesawat Hawk MK 53.

Biasanya
usul pembelian datang dari tiap angkatan yang akan menjadi pemakai
senjata yang diteruskan ke Mabes TNI yang Kemudian akan dinilai ulang
oleh Tim Evaluasi Pengadaan di Kementrian Pertahanan, yg diketuai oleh
Sekjen Kementrian.

Broker/makelar akan memberikan servis termasuk
pelesir ke Negara produsen. Biaya lobi dan komisi akan dimasukkan di
harga jual Sukhoi. Makelar ini akan berusaha mati2an agar penawarannya
disetujui, pdhal spesifikasi senjata belum tentu sesuai dg yang
dibutuhkan.

Skema pembelian pesawat Sukhoi yang G to G tapi
ternyata melalui broker ini menyebabkan mark up harga yang fantastis.
Faktor yang menyebabkan praktik penggelembungan anggaran sulit dihapus
karena setiap pengadaan alutsista yang menggunakan fasilitas pembiayaan
kredit ekspor dari negara lain melibatkan sejumlah instansi Negara
seperti Kementerian Keuangan, Badan Perencanaan Nasional, dan Bank
Indonesia. Setiap departemen meminta persenan, persenan juga ke ditebar
ke para petinggi di Kementerian Pertahanan, Markas Besar TNI, hingga
tiga matra angkatan, penggunaan anggaran pertahanan tidak efisien karena
terlalu banyak “meja birokrasi” yang harus dilewati. Jika kementerian
lain ‘hanya’ melalui empat meja, di Kementerian Pertahanan bisa 17
‘meja’.

Yang paling penting, pemain lama masih memegang kendali
dalam jalur pengadaan alutsista di Indonesia. Pembelian 6 pesawat Sukhoi
senilai US$ 470 juta artinya untuk 1 pesawat Sukhoi seharga US$ 78,3
juta tanpa persenjataan, Sedangkan Vietnam membeli dengan harga US$ 53
juta lengkap dengan persenjataan…gilaaaa.

Harga resmi dari
Pemerintah Rusia untuk 6 unit Sukhoi seri SU-30 MK2 adalah US$ 328 juta,
sedangkan pemerintah mengeluarkan US$ 470 jt, Sehingga kerugian Negara
diduga sebesar US$ 142 juta atau sekitar Rp 1,3 trilyun … gilaaaa !!.

Mark up pembelian pesawat Sukhoi ini sudah dilaporkan ke KPK RI, mana tindak lanjutnya? Kenapa adem ayem? Ditekan?

Mana yang katanya BPK akan mengaudit pembelian pesawat Sukhoi ini? Kok ga ada kabar? Sudah dapat suapkah?

Anggaran yang dikeluarkan sebesar US$ 470 juta terdiri dari: 6 pesawat @ US$ 5,8 juta total US$ 328,8 juta.

Sepak
terjang Trimarga tdk berhenti pada pembelian jet temput Sukhoi
SU-30MK2, Trimarga juga punya keterlibatan dalam pengadaan 37 tank
amfibi BMP3F, yang kini digunakan sebagai armada perang di jajaran TNI
AL, ada mark-up lagi? Kita lihat ntar.

Trimarga disebut-sebut berpartner dg salah satu mentri senior bidang ekonomi, bos MNC dan Cikeas jg dekat dg perusahaan ini.

Kita
juga tau track record Mentri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yg menjadi
broker penjualan blok Cepu, Purnomo dapat fee juga atas pembelian
pesawat Sukhoi ini? Kepala Logistik TNI terlibat? Dapat fee berapa?
Broker/makelar pengadaan alutsista ini yang menyebabkan anggaran uang
rakyat dihambur-hamburkan harus diputus.

Sekian sekilas tentang dugaan mark-up pembelian Sukhoi SU-30MK2, kita dorong KPK RI untuk usut tuntas…terima kasih

FPI DAN NAHY MUNKAR YANG MUNKAR

 

FPI DAN NAHY MUNKAR YANG MUNKAR

 

Akhmad Sahal
Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Kanada
(Dimuat di Majalah Tempo edisi 14/5/2012)

Saat menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab suatu kali berjalan-jalan menyusuri Madinah. Begitu sampai di suatu sudut kota, Khalifah Umar mendapati suatu rumah yang beliau curigai sedang dipakai untuk bermaksiat. Sang Khalifah ingin mengecek untuk memastikannya, tapi rumah itu tertutup rapat. Ahirnya beliau memaksa masuk melalui atap. Dan benar saja, tuan rumah sedang asik bermaksiat di rumahnya. Langsung saja Khalifah Umar menghentikankannya, dan hendak menangkapnya. Anehnya, pemilik rumah justru tidak terima. Ia mengakui memang telah berbuat dosa. Tapi menurutnya dosanya cuma satu. Sedangkan perbuatan Umar yang masuk rumahnya lewat atap justru melanggar tiga perintah Allah sekaligus. Yakni, mematai-matai (tajassus) yang jelas dilarang dalam AlQur’an (Q49:12); masuk rumah orang lain tidak melalui pintu seperti yang diserukan Qur’an (Q2: 189); dan tanpa mengucapkan salam, padahal Allah memerintahkannya (Q24: 27). Menyadari kesalahan tindakannya, Khalifah Umar akhirnya melepaskan orang tersebut dan hanya menyuruhnya bertobat.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari cerita yang dikutip Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din (II: 320) tersebut? Umar, dalam kapasitasnya sebagai kepala negara saat itu, mestinya punya otoritas yang sah untuk mencegah kemunkaran yang dilakukan salah seorang rakyatnya. Namun berhubung cara nahi munkar beliau terbukti melanggar aturan Tuhan, pelaku maksiat tersebut akhirnya lolos. Moral story: mencegah kemungkaran haruslah dijalankan dengan cara yang tidak munkar.

Kisah di atas kiranya relevan sekali untuk bahan rujukan manakala kita berbicara tentang Front Pembela Islam (FPI) yang senantiasa menempuh jalan kekerasan dalam aksi-aksinya. Dalam berbagai kesempatan , Rizieq Shiha, pimpinan FPI, membenarkan vigilantisme kelompoknya dengan dalih bahwa negara dan aparat peneguk hukum yang ada dianggap gagal atau lembek dalam memberantas kemaksiatan. Akibatnya, kemaksiatan semakin merajalela. Karena itulah ia dan organisasinya merasa sah untuk turun tangan.

Begitulah, dengan alasan menjalankan misi nahi munkar, ormas Islam radikal ini merazia dan merusak kafe, hotel, dan kantong kebudayaan yang mereka tengarai menjadi tempat kemaksiatan. Dengan alasan yang sama, mereka juga menyerang kelompok keagamaan yang mereka tuduh sesat dan kafir. Yang terakhir terjadi adalah penggerudukan FPI ke Salihara untuk membubarkan diskusi pemikiran Irshad Manji, yang mereka tuduh menghalalkan lesbianisme.

Di mata FPI, tindak kekerasan mereka justru Islami karena didasarkan pada hadits Nabi yang cukup populer tentang nahi munkar: “Sesiapa melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu, maka dengan lesan. Jika tidak mampu juga, maka dalam hati. Yang terakhir itulah selemah-lemahnya iman.” Bagi FPI, jalan kekerasan merupakan manifestasi dari pengamalan perintah Nabi untuk “mengubah kemunkaran dengan tangan (falyughayyirhu biyadih),” yang mencerminkan keimanan yang paling kuat dan tegas. Makanya tidak heran kalau dukungan terhadap FPI juga muncul dari sejumlah kalangan Islam di luar FPI, dari ustadz sampai orang awam.

Tapi seberapa jauh alasan FPI bisa diterima dari sudut pandang Islam? Apakah kemunkaran niscaya identik dengan kemaksiatan seperti digambarkan FPI? Apakah cara main hakim sendiri dengan dalih nahi munkar bisa dibenarkan? Dan di atas semua itu, apakah klaim FPI sebagai agen penegak nahy munkar bisa dibenarkan dari perspektif doktrin dan sejarah Islam?

FPI mengartikan kemunkaran sebagai identik dengan kemaksiatan. Tapi benarkah demikian? Dari kisah Umar bin Khattab di awal tulisan, kita bisa menyimpulkan bahwa kalau ada orang bermaksiat di rumah sendiri secara tertutup dan tersembunyi dari mata publik, maka perbuatannya sama sekali bukan menjadi urusan publik. Negara, masyarakat, ataupun individu lain tidak punya hak untuk mengintervensi rumah seseorang. Bahkan memata-matai, mengintai, atau menelisiknya saja tidak dibenarkan. Dengan kata lain, kemaksiatan yang tidak kelihatan oleh tatapan publik tetaplah kemaksiatan, tapi tidak bisa diinvasi orang lain dengan dalih nahy munkar. Apa yang terjadi di dalam ruang privat yang tertutup sepenuhnya menjadi urusan si pelaku dengan Tuhan. Kalaupun ia bermaksiat, ia sendiri yang menanggung dosanya.

Hal itu karena apa yang disebut munkar bertaut erat dengan kepublikan. Di sini saya sepakat dengan pendapat Dr. Moch Nur Ichwan dalam artikelnya tentang amar ma’ruf dan nahy munkar yang dimuat dalam Dinamika Kebudayaan dan Problem Kebangsaan: Kado 60 Tahun Musa Asy’arie (2011). Di situ dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memaknai amar ma’ruf dan nahy munkar sebagai etika sosial atau etika publik. Ia menjelaskan, term ma’ruf dan munkar sebenarnya sudah ada sebelum Islam, dan erat kaitannya dengan urf (adat kebiasaan yang baik) yang terbentuk berdasarkan kearifan budaya setempat (local wisdom). Ketika diserap oleh Islam, kedua term tersebut mengalami transformasi menjadi etika Islami yang spiritnya dibimbing oleh wahyu, dan pada pada saat yang sama mengacu pada kebaikan dan keburukan yang diketahui melalui akal sehat dan kearifan kemanusiaan pada suatu masa dan waktu tertentu.

Singkatnya, amar ma’ruf nahy munkar dalam pandangan Nur Ichwan berporos pada perjuangan nilai-nilai bersama demi kemaslahatan bersama, sedangkan nahy munkar adalah eliminasi dosa-dosa sosial yang mengancam kemaslahatan publik. Dimensi kemaslahatan publik inilah yang dalam kenyataannya diabaikan oleh FPI dalam aksi-aksinye memberantas kemunkaran.

Seberapa jauh ormas partikelir seperti FPI punya lisensi untuk mengangkat diri sendiri sebagai eksekutor nahy munkar? Hadits yang saya kutip di atas memang memberi kesan bahwa mengubah kemunkaran adalah kewajiban setiap muslim. Dari sinilah barangkali FPI merasa bahwa kekerasan adalah bagian dari upaya menjalankan misi mengubah kemunkaran “dengan tangan”.

Tapi masalahnya, kalau setiap orang merasa punya wewenang untuk mengubah kemunkaran “dengan tangan,” maka yang kemudian terjadi adalah menjamurnya ormas Islam, semua dengan bendera nahi munkar, tapi masing-masing punya agendanya sendiri, dengan disokong laskarnya sendiri. Situasi seperti ini pada gilirannya bisa mengancam ketertiban umum dan memicu kekacauan politik dan anarki dalam masyarakat, suatu situasi yang justru dianggap momok paling mengerikan sepanjang sejarah politik masyarakat muslim. Kita ingat ungkapan terkenal Al-Mawardi, pemikir politik Islam klasik: “seribu tahun di bawah tirani lebih baik dari sehari dalam anarki.”

Atas dasar itulah maka penegakan nahy munkar sepanjang sejarah dinasti-dinasti Islam tidak dipercayakan pada orang perorang atau kelompok swasta, melainkan menjadi wilayah kekuasaan negara. Dengan kata lain, lembaga nahy munkar adalah lembaga publik. Asumsinya, karena amar ma’ruf nahy munkar berporos pada kemaslahatan publik, maka aneh kalau penanganannya diserahkan kepada pihak swasta. Lembaga publik ini lazim dikenal wilayatul hisbah.

Di sini saya perlu buru-buru menambahkan bahwa saya bukannya menyetujui keberadaan wilayatul hisbah dihidupkan lagi. Saya berpendapat bahwa pembentukan wilayatul hisbah sebagai polisi syari’ah seperti yang terjadi di Aceh adalah sebentuk salah kaprah dalam penerapan syari’ah. Perlu diketahui, wilayatul hisbah bukanlah institusi yang secara otentik lahir dari rahim Islam. Lembaga tersebut baru terbentuk pada masa dinasti Abbasiyah, sebagai hasil dari adopsi lembaga pengontrol pasar yang sudah berkembang lebih dulu di Yunani Kuna, yang bernama agoranomos. Dan memang wilayatul hisbah pada awalnya bukanlah polisi syari’ah dalam artinya yang kita kenal sekarang. Tugas utamanya pada mulanya lebih untuk mengontrol pasar agar transaksi ekonomi di situ berlangsung secara fair dan adil. Tapi lama-lama tugas lembaga ini meluas, mencakup kontrol atas perilaku dan moralitas di tempat publik. Pada masa dinasti-dinasti Islam, keberadaan wilayatul hisbah sebagai agen nahy munkar boleh jadi merefleksikan aspirasi publiknya, yang memang homogen. Tapi untuk diterapkan dalam konteks saat ini, wilayatul hisbah malah mencederai aspirasi publiknya, yang cenderung heterogen.

Tapi lepas dari itu, poin yang ingin saya tekankan adalah bahwa lembaga nahy munkar adalah lembaga publik, yang dibentuk dan diresmikan oleh negara. Ini berarti, pengertian mengubah dengan “tangan” mestinya diartikan sebagai “kekuasaan.” Dengan demikian, klaim FPI sebagai lembaga nahy munkar sebenarnya tidak punya dasar yang kukuh ditinjau dari perspektif sejarah Islam. dalam konteks Indonesia, saya malah cenderung menganggap bahwa lembaga nahy munkar yang sah bukanlah FPI melainkan lembaga semacam KPK.

Hal lain yang juga bermasalah pada FPI adalah kecenderungannya untuk selalu menghalalkan kekerasan dalam aksi-aksi mereka. Ditinjau dari sudut pandang hukum Islam, tindakan semacam itu sama sekali tak bisa dibenarkan. Dalam al-qawa’id a-fiqhiyah (legal maxims), terdapat kaidah yang menyatakan: al-dlararu yuzalu (kemudaratan mesti dihilangkan). Tapi ada juga kaidah lain yang berbunyi: al-dlarar la yuzal bi al-darar (kemudaratan tak boleh dihilangkan dengan kemudaratan yang lain). Dan patut diingat, dua kaidah tersebut mesti dipahami sebagai satu kesatuan.

Dengan bersandar pada dalil di atas, kita bisa mengatakan bahwa kemunkaran mesti dihilangkan karena kemunkaran adalah bagian dari kemudaratan. Tapi pada saat yang sama, kemunkaran tidak boleh dihilangkan dengan kemunkaran yang lain. Artinya bisa bercabang dua: kemunkaran tidak bisa dihilangkan dengan cara yang munkar; dan juga, kemunkaran tidak bisa dihilangkan dengan cara yang justru melahirkan kemungkaran baru.

Dengan menghalalkan kekerasan, FPI sejatinya mengidap dua jenis kemungkaran sekaligus: memakai cara yang mungkar, yakni kekerasan dan main hakim sendiri; yang kedua: memunculkan kemungkaran baru, yang bisa jadi lebih parah (keresahan dan
anarki sosial). Jadi, kalau kita punya komitmen serius untuk menegakkan nahy munkar di negeri ini, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memberantas kemungkaran FPI.

Kelangkaan BBM, Indikasi Skenario Mafia

Kelangkaan BBM, Indikasi Skenario Mafia
by @TrioMacan2000
Al Faqir Ilmi <alfaqirilmi@yahoo.com>,in:gelora45@yahoogroups.com, Tuesday, 15 May 2012, 10:58

Mayday…mayday…SOS…SOS… kelangkaan BBM makin parah. Rakyat luar jawa sdh menjerit. SBY dan dahlan iskan sibuk ke Bali !

Pertamina jual minyak bersubsidi ke pabrik2 dan penyelundup, sebabkan MenESDM ajukan usukan tambahan kuota BBM subidi 3 jt kilo liter. 3 juta kiloliter permintaan tambahan BBM bersubsidi akibatkan negara dirugikan 9 triliun hanya utk tambahan subsidi !!

SOS..SOS : Di Lampung SPBU ngantri !! ” kelangkaan BBM parah. Rakyat luar jawa sdh menjerit. SBY dan dahlan iskan sibuk ke Bali !”

ayo donk pak dahlan fikirkan rakyat Sum-sel udah dari minggu2 kemaren ngantri nya..

Apakah ada kaitanya antara permintaan kuota tambahan MenESDM 3 juta kiloliter pd situasi langka BBM skrg? Ulah mafia? 9 triliun mau dirampok

Kondisi langka BBM di luar Jawa “dikondisikan” para mafia utk naikan kuota BBm bersubsidi. Skenario kelangkaan BBM bersubsidi ini hasilkan keuntungan ganda bagi mafia BBM : 1. BBM subsidi diselundupkan/jual ke pabrik2 2. Impor naik

Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Maluku & Papua sdh langka BBM akibat mafia minyak pertamina. Jero Wacik minta tambahan kuota. Sudah semua kota2 dan daerah di luar Jawa sdh langka BBM. SBY dan kabinetnya sibuk reuni akmil, golf dan rapat kabinet di Bali

Polewali, papua, balik papan, banjarmasin, palembang, jambi, Lampung, baturaja, manado, gorontalo dst..sdh lapor langka BBM. Ini ulah Petral

Pertamina diuntungkan dgn jual/selundupkan ke pabrik2 dgn harga nonsubsidi. petral diuntungkan dgn impor harga mark up. Mereka perampok !

Cikeas ngebut kumpulkan logistik 2014 dgn operasi pelangkaan BBM. Jual ke pabrik2, selundupkan, impor naik dst..Pertamina & Petral anteknya

Kondisi Langka BBM diakibatkan oleh musuh bersama rakyat : SBY, Menko, MenESDM, Pertamina dan Petral. Rakyat harus sadar bhw kelangkaan minyak ini adalah skenario pertamina/petral/mafia/cikeas. Rakyat dan negara RUGI !

Pertamina dan Petral skrg siap2 impor minyak besar2 dgn harga mark up & minyak oplosan. APBN terkuras habis. petral/mafia/cikeas makin kaya

Cikeas, SBY, PD kelihatan habis2an mau kumpulkan uang puluhan triliun utk kepentingan pemilu/pilpres dan pribadi? Rakyat jd korban

6 dari 9 direksi Pertamina skrg adalah antek Riza Chalid mafia minyak. Cikeas sdh disumpal oleh Riza. Negara dia kuasai/disetir Mafia. Petral sepenuhnya dikendalikan Riza Chalid cs. Dirutnya bambang irianto dan direksi yg lain budak sahaya Riza Chalid cs. APBN dirampok. Sutanto yg kepala BIN saja dapat dicopot atas desakan riza Chalid karena dia halangi hanung dan krisna cs jadi direksi Pertamina. Penempatan Hanung dan Krisna yg status tsk kasus Zatapi di Pertamina agar mudahkan penempatan antek2 MRC jd direksi Petral. 54 Triliun uang negara/APBN/Rakyat dirampok oleh Petral/pertamina/MRC/Cikeas. DPR diam, rakyat diam diperdaya mereka

Pembajakan MT SMYRNI oleh perompak Somalia buktikan bhw Crude yg dibeli Petral via PTT thailand dimark up US$ 40/ barel. crude ex azerbaijan itu hny seharga US$ 90/ barrel tapi dibeli Petral via Trader PTT Thailand yg jg teman kolusi Petral seharga US$ 130. Selisih harga pembelian/mark up dialirkan PTT thailand ke rek2 gelap di luar negeri. Setiap saat bs ditarik petral/riza cs & setor ke cikeas. Setoran paling akhir dari mafia minyak itu sebesar US$ 231 juta mengalir kemana2..itu uang rakyat !!!

Langka BBM, akan jadi senjata pemerintah minta kenaikan impor dan tambahan subsidi. 9 triliun uang apbn akan dirampok petral bulan depan !

2 Bulan setelah Ka BIN dicopot dan seminggu setelah Direksi Pertamina diganti (hanung/krisna cs), Pertamina langsung tunjuk direksi Petral

BBM di Republik Indonesia ini diatur dan dikendalikan oleh M. Riza Chalid. Cikeas juga sudah dikendalikan. Rakyat diam saja? Rampok uang rakyat di Pertamina : 1. Mark up impor Crude/produk via Petral 2. Mark up sewa tanker 3. Tilep BBM bersubsidi

1. Mark up/oplos crude/product -> Petral -> Petramina -> Cikeas 2. penggelapan BBM bersubsidi -> Petramina -> Cikeas
3. sewa tanker -> Karen cs

Mama Aleta di Gunung Batu

Mama Aleta di Gunung Batu

MENGENAKAN celana pendek dan jaket abu-abu gombrong, Piter Oematan berdiri tegap di depan rumah adat di Kampung Nausus, Mollo Utara. Pada Senin siang itu dua pekan lalu guyuran hujan lebat baru reda. Aroma pohon kasuari dan rerumputan basah menyergap perkampungan. Mata Piter menatap tajam ke arah dua gunung batu marmer yang menjulang di sana. Ada kenangan pahit yang tersisa dari kedua gunung itu.

Terletak di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, bentuk gunung itu sudah tidak utuh. Sebagian bopeng-bopeng dipotong penambang marmer pada 1990-an. Beberapa batu hasil tambang dibiarkan teronggok di tengah hutan karena tak sempat diangkut ke luar kampung.

Itulah sisa penambangan yang pada dua dekade silam ditentang keras oleh sebagian besar masyarakat adat dari lima desa di sekitar wilayah tambang. Dimotori Aleta Baun atau Mama Aleta, begitu dia biasa disebut mereka menolak masuknya penambang marmer karena telah merusak lingkungan. “Di sekitar situlah lokasi peternakan masyarakat adat dulu berada,” kata Piter, 56 tahun, salah satu tetua adat di sana.

Mereka percaya leluhur mereka berasal dari batu, kayu, dan air di sekitar desa. “Batu, hutan, dan air merupakan simbol marga dan martabat bagi masyarakat adat di sana,” kata Aleta kepada Tempo. Marga Baun yang disandang Aleta diambil dari unsur air. Di bawah gunung batu terdapat sumber mata air. Maka, tatkala kawasan itu terancam akibat penambangan, urat saraf Piter dan Aleta pun bergolak.

Ancaman terhadap alam di Mollo dimulai ketika pemerintah mengizinkan PT So’e Indah Marmer melakukan penambangan di daerah itu pada 1994. Satu tahun kemudian, giliran PT Karya Asta Alam, perusahaan Thailand, memperoleh lampu hijau. Selain menambang, perusahaan tersebut membuka jalan menuju gunung batu dengan membabat hutan. Walhasil, wilayah yang dikelilingi hutan kasuari jadi kering-kerontang. Air bersih sulit ditemukan.

Padahal, sebelum perusahaan masuk ke sana, masyarakat adat mudah memperoleh air untuk ternak mereka. Rumput yang tumbuh di sekitar kampung adalah sumber pakan ternak buat sapi, kerbau, dan kuda yang banyak terdapat di Mollo. Aleta dan Piter lantas mendatangi kampung demi kampung untuk menggalang penolakan. Dimulailah kisah perlawanan dari Desa Fatukoto, Lelobatan, Leloboko, Ajobaki, dan Bijaepunu, yang terbentang di sekitar gunung batu itu.

Awalnya, tidak semua warga serta-merta mendukung gerakan itu apalagi warga desa yang bekerja di perusahaan tambang. Posisi Aleta juga terjepit karena dia bekerja di Sanggar Suara Perempuan yang dikelola istri bupati. Atasannya melarang dia berdemo.

Strategi lain ditempuh. Sekitar 1999, Aleta diam-diam bertemu dengan para tokoh adat pada malam hari. Menurut Piter, gerakan ini berhasil mendapat dukungan dari masyarakat adat dari suku Amanuban, Amanatun, dan Mollo. Dukungan ini tak mengendurkan tekanan aparat keamanan di lokasi tambang. Mereka malah makin ringan tangan melakukan tindak kekerasan. “Kami kadang dipukul,” Piter mengenang. Masyarakat yang menolak tambang diancam akan dijebloskan ke penjara.

Pemerintah setempat juga mengeluarkan sayembara. Aleta dicap antipembangunan. Nyawanya dihargai Rp 750 ribu-Rp 1 juta bagi mereka yang berhasil membunuhnya. Rumahnya hampir setiap malam dilempari batu. Ibu tiga anak ini pernah dikejar 14 orang sampai ke hutan. Tebasan parang dari para pemburunya menyisakan bekas luka di kakinya. Semula Aleta diungsikan ke Kupang. Tapi dia kemudian kembali ke Mollo. Ia hidup dalam hutan selama enam bulan untuk menghindari kejaran aparat desa.

Dalam pelarian itu, Ainina Sanam, si bungsu yang ketika itu berusia enam tahun, ikut menemani ibunya di hutan. Untunglah, ada Lifsus Sanam, 50 tahun, suami Aleta, yang penuh pengertian. “Saya mendukung perjuangan dia mencari keadilan,” kata Lifsus.

Menurut Piter, intimidasi dan ancaman aparat tidak mengendurkan ikhtiar masyarakat Mollo. Mereka berkukuh menolak perusahaan tambang. Mama Aleta menemukan taktik protes baru yang amat “beraroma lokal”. Dia ke luar hutan dan disertai tiga mama sebutan untuk kaum ibu di Pulau Timor lain, Aleta menenun di celah-celah gunung batu yang hendak ditambang. Sejak pagi buta hingga pukul empat sore para ibu rumah tangga suku Mollo menenun be­ramai-ramai di tempat itu.

Taktik ini dipilih untuk menggambarkan pentingnya kelestarian hutan di sekitar lokasi tambang bagi masyarakat adat di sana. “Seluruh kapas, pewarna, dan alat-alat tenun berasal dari hutan,” ujarnya. Kondisi sebagian hutan Mollo ketika itu telah gundul dibabat perusahaan tambang.

Motif kain tenun yang dihasilkan beragam. Kebanyakan bercerita tentang hubungan manusia dengan alam. Dalam kain tenun itu ada simbol hutan, panglima masyarakat adat, hingga wilayah kepemilikan hak ulayat di sekitar kawasan hutan.

Aksi ini lambat-laun memperoleh simpati. Jumlah penenun bertambah jadi sekitar 60. “Semua ibu rumah tangga dari tiga suku ikut menenun,” kata Aleta. Mereka bermalam di lokasi tambang bersama keluarga. Satu tahun berlangsung, strategi ini ampuh untuk menghadang para pekerja tambang yang hendak bekerja.

Piter mengatakan, karena jumlahnya kian banyak, masyarakat lalu mendirikan perumahan di sekitar lokasi tambang. “Kami juga menggelar ritual adat untuk memohon bantuan leluhur,” ujarnya. Aleta percaya, roh suku Mollo telah menolong perjuangan mereka. Ikhtiar panjang ini membuahkan hasil. Dua perusahaan itu akhirnya angkat kaki dari sana pada akhir 2001.

Setelah berhasil mengusir para penambang, masyarakat adat tiga suku mulai membangun lopo, sebutan untuk rumah adat, di sekitar lokasi tambang. Upaya ini, ujar Piter, dilakukan agar tidak ada lagi penambangan di daerah itu.

Perumahan tadi menjadi cikal bakal Kampung Nausus, yang berjarak 60 kilometer dari Kota So’e, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sekitar sepuluh rumah dan satu balai pertemuan kini berdiri di sana. Sedikitnya 20 keluarga menghuni perkampungan itu, tempat Piter menjadi salah satu tetua adat.

Aleta dan Piter juga menggerakkan penduduk setempat untuk menghijaukan kembali kawasan hutan. Mereka menanam pohon kasuari di sekitar bekas lokasi tambang. Masyarakat desa berkebun dengan menanam tanaman berumur pendek, umpama jagung, pisang, ubi-ubian, dan kacang-kacangan. Hasil bercocok tanam ini tidak dijual. “Tapi untuk dikonsumsi dan dibagikan kepada masyarakat adat,” kata Piter.

Kegiatan menenun juga semakin digiatkan oleh ibu-ibu di wilayah Mollo. Hasilnya dijual ke seluruh Indonesia. Untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan, masyarakat adat Mollo menggelar Festival Ningkam Haumeni atau Lilin, Madu, dan Cendana. Dilangsungkan pada setiap Mei setelah panen, festival yang dimulai sejak dua tahun lalu ini mempertontonkan kain-kain tenun para mama dan hasil-hasil kebun.

Itu semua, kata Aleta, adalah cara mereka menunjukkan bahwa masyarakat adat di sana mampu hidup mandiri, berdampingan dengan alam.

Yandhrie Arvian, Yohanes Seo (Timor Tengah Selatan)

Sumber : Majalah Tempo (Senin, 07 Mei 2012)

 

Para Penjaga Hutan Kita

Para Penjaga Hutan Kita

AIR Sungai Kapuas yang mengalir melewati Kampung Sungai Utik, sebuah dusun terpencil di pedalaman Kabupaten Kapuas Hulu, di sisi timur laut Provinsi Kalimantan Barat, mendadak keruh. Padahal aliran sungai itu biasanya sebening kristal. Sepekan lewat, keruhnya tak kunjung hilang.

“Kami bertanya-tanya, ada apa di hulu sungai,” tutur Rengga, salah seorang pemuda Kampung Sungai Utik, saat ditemui di Tobelo, Halmahera Utara, dua pekan lalu. Rengga di sana untuk menghadiri Kongres Masyarakat Adat Nusantara.

Beberapa tetua adat memutuskan memeriksa kondisi rimba di hulu sungai. Bandi alias Apai Janggut, pemangku adat Dayak Iban di kampung itu, ditunjuk untuk memimpin belasan pria lain, pergi masuk hutan.

Butuh lebih dari dua hari untuk mencapai hulu Sungai Kapuas, mendekati wilayah Taman Nasional Betung Kerihun, satu dari dua taman nasional di Kalimantan Barat. Lokasinya tak jauh dari perbatasan dengan Malaysia.

Di sana mereka menemukan pemandangan yang membikin miris. Kayu bertumbangan, gergaji mesin menderu-deru. Ada pembalakan besar-besaran di ujung hutan adat mereka.

Rengga sesekali memejamkan mata ketika menceritakan kembali peristiwa pada pertengahan 1984 itu. Kisah Apai Janggut mengusir gerombolan penebang hutan sudah berkali-kali dia dengar dari ayah dan kakeknya. Waktu itu, usianya masih belum akil balig.

“Tua-tua adat kami langsung mencari pimpinan penebang pohon itu dan menyampaikan satu pesan,” kata Rengga. Begitu mendengar pesan Apai Janggut, tak sampai satu jam, kelompok pembalak liar itu mengemasi barang-barangnya dan pergi.

Apa pesannya? “Mau lari atau mati,” kata Rengga. “Tanpa bentrok, tanpa kekerasan, mereka pergi,” katanya lagi sambil tertawa keras. Di sebelahnya, Inam, anak kandung Apai Janggut, tersenyum lebar.

Wilayah adat suku Dayak Iban di Kampung Sungai Utik mencapai 9.000 hektare lebih. Hampir semuanya berupa rimba belantara. Secara administratif, dusun mereka masuk wilayah Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kapuas Hulu, 12 jam perjalanan dari Pontianak.

Meski menguasai hutan ribuan hektare, total jumlah warga suku ini hanya 240 orang. Hampir semuanya tinggal di sebuah rumah panjang di Dusun Sungai Utik. Dalam bahasa lokal, rumah itu disebut rumah betang atau rumah panjai.

Tempo sempat tidur di rumah besar itu ketika berkunjung ke sana pekan lalu. Panjangnya 180 meter dan bertingkat tiga. Dibangun pada 1970, perlu waktu lima tahun lebih untuk menyelesaikan bangunan itu.

Dibuat sepenuhnya dari kayu, rumah itu ditunjang oleh tiang-tiang dari kayu ulin yang kukuh menjulang. Meski sudah berusia lebih dari 40 tahun, tak tampak tanda-tanda kerapuhan sama sekali.

Sayangnya, dusun itu sampai kini masih belum tersentuh listrik. Pemerintah hanya membangun gedung sekolah dasar dan puskesmas pembantu di sana.

Apai Janggut adalah “Tuai Rumah Panjai” atau Kepala Kampung Sungai Utik. Sebagai kepala kampung, dia berperan sebagai pemangku adat. Umurnya sudah 80 tahun lebih. Apai Janggut yang menentukan kapan warga mulai bercocok tanam, kapan sebaiknya masuk ke hutan, dan jadwal ritual adat lainnya. Apai adalah sebutan lokal untuk “Bapak”.

Sayang, pekan lalu, ketika Tempo mampir di sana, Apai tidak ada di kampung. Sudah sepekan dia masuk hutan, menjelajahi setiap jengkal tanah yang dia cintai. Secara berkala, tetua suku Dayak Iban itu mengelilingi hutan; memeriksa pohon demi pohon; serta menjenguk beruang, harimau dahan, dan satwa lain yang hidup di sana.

“Sekarang sudah banyak orang utan, padahal dulu tidak ada,” kata Rengga. Dia curiga kawanan orang utan di hutan lain terdesak ke Sungai Utik karena maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Untunglah, ada Apai Kudi. Dia juga salah satu tetua adat Sungai Utik. Perawakannya kecil dan ringkih, tapi sorot matanya tajam. Leher bagian depannya habis ditato dengan berbagai motif tradisional. Lengan dan kakinya dari pangkal paha sampai betis juga ditato. Umurnya 70 tahun lebih.

Apai Kudi menjelaskan filosofi hidup suku Dayak Iban. “Bagi kami, hutan adalah ibu,” katanya. “Sedangkan sungai adalah susu.” Karena itu, menurut Kudi, tanpa hutan, orang Dayak akan punah. Dia lalu menyitir satu pepatah lokal, “Hutan darah ngau seput kitae.” Artinya kurang-lebih: hutan adalah darah dan napas warga Sungai Utik.

Hubungan orang Sungai Utik dengan alam juga sudah diatur secara turun-temurun. Satu contoh aturan sederhana yang berlaku: satu keluarga hanya boleh memanfaatkan 30 batang kayu dalam satu tahun. Jika lebih, hukum adat bicara. Bisa denda, bisa hukuman lain.

Apai Kudi lalu bercerita tentang aturan adat lain. Sepanjang yang dia ingat, hutan Sungai Utik sudah dibagi menjadi sejumlah zona dengan peruntukan berbeda-beda.

Wilayah hutan yang disebut kampong taroh adalah kawasan yang wajib dilindungi. Tidak boleh ada kegiatan berkebun dan berladang di sana, apalagi mengambil dan menebang kayu. Wilayah ini berfungsi melindungi mata air dan perkembangbiakan satwa. Karena itu, kampong taroh biasanya ada di hulu sungai.

Zona kedua disebut kampong galao. Wilayah ini adalah kawasan hutan cadangan. Di sini warga hanya boleh mengambil ta­naman obat dan kayu api. Hutan di kawasan ini mulai bisa dimanfaatkan, meski secara terbatas dengan pengawasan ketat.

Kampong endor kerja adalah kawasan hutan produksi. Di sini, warga bebas mengambil kayu selama diameter batangnya di atas 30 sentimeter. Pohon yang batangnya masih kecil tak boleh ditebang, karena biasanya dipakai sebagai bibit untuk ditanam di kawasan lain.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, warga menanam padi, buah, dan sayur-mayur di bagian hutan ini. “Ada juga yang tinggal petik dan tangkap, seperti daun pakis, sawi hutan, dan ikan,” kata Kudi.

Untuk minyak goreng, mereka tak perlu kelapa sawit. Warga Sungai Utik memetik sendiri buah-buah tengkawang dari hutan. Buah itu diperam lalu dimasak dalam bambu. Minyak yang keluar dari bambu itu dipakai untuk menggoreng dan memasak aneka penganan. “Dicampur nasi juga enak,” Rengga berseloroh.

Pendeknya, orang Sungai Utik benar-benar hidup dari apa yang disediakan alam untuk mereka. Bagaimana dengan garam, gula, dan kopi? “Kami punya karet di dalam hutan,” kata Kudi.

Setiap hari, warga di sana menderas getah karet dari ribuan pohon di tengah rimba. Setelah sepekan, getah karet yang terkumpul disetorkan ke tengkulak untuk ditukar dengan barang kebutuhan sehari-hari. “Sekarang harganya Rp 11 ribu per kilogram,” kata Rengga.

Bisa dibilang karet adalah hasil alam primadona warga Sungai Utik. Belasan anak muda dari kampung itu sudah jadi sarjana berkat panen karet. Dua orang bahkan sekarang tengah bersiap melanjutkan studi master ke kampus terkemuka di Pontianak.

Untuk berterima kasih kepada alam, orang Dayak Iban di Sungai Utik punya ritual menarik. Pada awal musim tanam, mereka akan mengadakan upacara mangol.

Di ladang yang belum ditanami, warga membuat boneka-boneka dari kayu, melambangkan roh leluhur dan penguasa hutan. Di hadapan simbol-simbol itu, seekor babi disembelih lalu diambil hatinya. “Jika hati babi itu bagus, artinya panen kami bakal berlimpah,” kata Rengga.


ANCAMAN atas hutan adat Dayak Iban tak hanya terjadi sekali. Dua tahun setelah insiden di hulu Sungai Kapuas pada 1984, muncul lagi gangguan lain. Kali ini di hilir sungai.

“Ada perusahaan yang punya hak pengusahaan hutan dan memotong habis kayu di wilayah adat kami,” ujar Rengga. Akibat aktivitas pembalakan, jalan satu-satunya yang menghubungkan Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, dengan Dusun Sungai Utik rusak parah.

Kali ini pesan bernada ancaman tidak mempan untuk mengusir perusahaan itu. “Kami terpaksa tangkap anak buah mereka yang sedang bekerja, kami sandera,” kata Rengga dengan nada datar.

Mendengar karyawannya ditahan warga setempat, manajer lapangan perusahaan kayu itu tergopoh-gopoh datang. “Kami ajak bicara baik-baik: kami jelaskan bahwa ini wilayah kami,” kata Rengga tenang. “Tolong, jangan ganggu kami.” Tak lama, perusahaan itu pergi.

Setelah dua insiden itu, hutan Sungai Utik relatif tak tercemar selama belasan tahun. Tak ada perusahaan sawit atau hutan tanaman industri yang berani mengutak-atik wilayah itu. Baru ketika gelombang pembalakan liar marak menimpa hutan-hutan di Kalimantan Barat pada 1999, ancaman kembali muncul.

Apeng, salah satu cukong kayu kakap, ketika itu secara terbuka menawarkan pembangunan fasilitas publik, seperti jalan raya, listrik, air bersih, dan pasar, kepada dusun-dusun warga Dayak. Syaratnya sederhana: operasi kilang penggergajian kayu ilegal miliknya tidak diganggu.

“Banyak warga di sini menyambut tawaran Apeng dan para pembalak liar lain dari Malaysia dengan tangan terbuka,” kata Sunarji Aloy, Ketua Badan Pelaksana Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Kapuas Hulu. “Hanya warga Sungai Utik yang menolak.”

Rengga membenarkan cerita Aloy. “Kami diejek, disebut bodoh tidak mau terima duit,” katanya pelan. Mereka menelan semua caci maki itu. “Tapi sekarang kami yang tertawa. Hutan di dusun-dusun tetangga kami sudah habis, uang mereka juga habis,” katanya.

Sudah tak terhitung berapa kali pemerintah memberikan penghargaan pelestari alam kepada Apai Janggut dan warga Sungai Utik. Tahun lalu Kementerian Kehutanan memberikan bantuan ribuan bibit gaharu dan petai cina untuk ditanam di hutan.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada pengakuan resmi atas wilayah adat warga Dayak Iban di sana. “Bupati Kapuas Hulu mengaku sedang mempelajari permintaan kami,” kata Rengga. Entah sampai kapan.

Wahyu Dhyatmika (Tobelo), Aseanty Pahlevi (Kapuas Hulu)

Sumber : http://majalah.tempo.co/konten/2012/05/07/SEL/139551/Para-Penjaga-Hutan-Kita&#8221; rel=”nofollow” target=”_blank”>Majalah Tempo (7 Mei 2012)
Senin, 07 Mei 2012

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers