Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Libya: three steps to fight chaos

Al-Ahram Weekly Online   21 – 27 June 2012
Issue No. 1103    Published in Cairo by AL-AHRAM established in 1875

Libya: three steps to fight chaos

Action has to be taken if Libya is to step back from the brink and not collapse entirely, becoming another Somalia, writes Hassan Fathi Al-Qashawi

Libya continues to reel several months since the Gaddafi regime fell. The National Transitional Council has so far failed to reconstruct the institutions of the state and it looks like the country is sliding towards becoming another Somalia, although here it will be Somalia plus oil.

Numerous factors impede the re-establishment of central government, but the most dangerous is rampant tribalism. Libya is being torn by a chain of tribal/regional conflicts in which the warring parties are using heavy artillery and even mustard gas according to some reports, although most reports deny this.

Jabal Al-Zintan is the area most gripped by disturbances. Located in the vicinity of Tripoli, one would have presumed that it would have fallen under the control of the capital. However, the reverse appears to be the case: the rebels of Al-Zintan are encroaching upon the capital and have taken control of Tripoli airport. They have simultaneously been engaged in numerous skirmishes with the revolutionaries of Misrata.

If the Arab Spring brought the refreshing breezes of freedom and hope, it is being eclipsed by the summer gales of chaos, lawlessness and violence. For five decades, the Arab state used the whip rather than the rule of law to keep people in line and to intimidate thieves and the opposition alike. With the collapse of that despotism, there was no orderly alternative ready to take its place. The culture of the rule of law had not been given an opportunity to take root, civil society was weak, if it existed at all, and freedom became confused in the minds of some with anarchy.

In Libya, the situation was aggravated by the collapse of the Libyan army that, like in other Arab countries, was the last pillar of the state. With its collapse, militias mushroomed. Most of these emerged around tribal affiliations, are strongly imbued with localised Islamist outlooks, and are led by gangs of youth with no affiliation to a larger or higher authority. Therefore, there is no organised front or unified leadership that anyone can negotiate with. The upshot is youthful revolutionary zeal, tribal chauvinism, religious fanaticism and anarchic militancy have combined to produce a maelstrom that threatens to spiral out of control.

Several measures could be taken to halt the deterioration and fragmentation. The National Transitional Council could have launched a campaign to dismantle the militias by recruiting youth into a newly reconstructed national army and by offering militia members attractive rewards for turning in their guns. Unfortunately, the council did nothing of this sort. Its president, Mustafa Abdel-Jalil, who is clever and astute, is proving to be rather weak. The Libyan people who had long submitted to Gaddafi’s impetuous sword may be fond of this new statesman, but they do not fear him. It is a dilemma not uncommon in other Arab countries where people had grown accustomed to bowing to the whims of the despotic ruler and had never been given the opportunity to voluntarily accept the authority of the institutions of the state. The dilemma may be aggravated by the violent repression that was meted out against some Arab revolutions, giving rise to sensitivity towards resolve in the re-imposition of law and order. Yet, in the Libyan case, considerable resolve seems to be just what is required in order to put an end to the chaos. This resolve also needs to be backed by an element of convincing strength, but the council lacks this as well.

If Libya is to pull itself back from the brink, it must undertake three courses of action. One is to hold parliamentary elections on 7 July in order to select a national convention whose purpose will be to draw up the foundations of a new system government to replace that of the Gaddafi regime.

The second, and more urgent, is to rebuild the Libyan army and revive the authority of the state. Here it will be important to take advantage of Libya’s oil wealth in order to purchase heavy weaponry, such as tanks, and to rebuild the air force in order to ensure that the army has the upper hand over the militias. Simultaneously, there must be a concerted drive to dismantle the militias and incorporate their members into the army. This should proceed in tandem with a strictly enforced disarmament programme that sets a deadline for turning in arms and stiff penalties for all who violate it.

Other Arab nations can help. Egypt, in particular, can contribute to the training of officers and soldiers of the new Libyan army. The field should not be left to Western nations to shape the creed of the Libyan armed forces.

The third course of action is to implement an urgent developmental drive. Particular attention should be given to the marginalised areas that have come to form trouble spots and centres for weapons smuggling, and that are currently instrumental in the “Somalisation” of Libya.

Din: Tanah dan Air Dijual ke Asing

Din: Tanah dan Air Dijual ke Asing

 

http://berita.liputan6.com/read/408840/din-tanah-dan-air-dijual-ke-asing

Rochmanuddin

06/06/2012 16:41
Liputan6.com, Jakarta: Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, pemerintah pada dasarnya menjual tanah dan air kepada pihak asing. Lantaran itulah, Muhammadiyah menggunggat sejumlah undang-undang bidang ekonomi dan energi.

“Kita pada dasarnya menjual tanah dan air kita pada asing. Ini yang nggak bisa dibiarkan. Maka Muhammadiyah berketetapan hati menggugat sejumlah UU dalam bidang ekonomi dan energi,” ujar Din saat menghadiri sidang permohonan uji materi UU Minyak dan Gas Bumi (Migas) di Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (6/6).

Menanggapi soal kelemahan kebijakan pemerintah, Din berpendapat, sejak reformasi legislasi negara ini sudah mengandung tiga masalah. Pertama kesiapan DPR. Kedua, ada kepentingan yang terlalu kuat. Dan yang ketiga kita membuka diri terhadap intervensi asing. “Sehingga dalam bidang ekonomi, khususnya adalah undang-undang yang justru menguntungkan asing,” ujarnya.

Lebih lanjut menanggapi soal pemerintah yang belakangan ini kerap kalah dalam persidangan di MK, Din enggan menanggapi lebih jauh. Menurut dia, dalam hal gugatan sebuah undang-undang yang terpenting adalah benar dan salah, bukan kalah menang.

“Saya nggak tahu. Kalah menang itu bukan soal pemerintah atau bukan pemerintah, tapi soal kebenaran hukum. Di situlah kita menghargai MK untuk menegakkan konstitusi itu sendiri, bahwa ada yang menang kalah itu sudah biasa. Korelasinya bukan kalah menang, tapi benar apa tidak,” paparnya.

Din menambahkan, soal gugatan Pasal 10 UU No. 39 Tahun 2008 yang mengatur mengenai wakil menteri, Din sependapat dengan keputusan MK, kemarin. “Saya sudah berpikir demikian. Alhamdulillah diputus demikian,” imbuhnya.(ANS)

Presiden: ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan

Presiden: ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan

Rabu, 16 Mei 2012 21:04 WIB | 526 Views

Jakarta (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua pihak untuk mengisi kehidupan berbangsa tanpa kekerasan dan kebencian, sehingga Indonesia bisa mencapai cita-cita kesejahteraan bersama.

“Kita isi kehidupan berbangsa tanpa kekerasan dan kebencian. Kehidupan berbangsa yang berlandaskan pada pengembangan sikap welas asih yang menyuburkan keharmonisan, keselarasan,dan toleransi,antar warga bangsa,” kata Yudhoyono dalam sambutan Perayaan Dharmasanti Waisak Nasional Umat Budha Indonesia 2556 BE/2012 di Jakarta, Rabu malam.

Tema perayaan Dharmasanti Waisak Nasional itu adalah Meningkatkan Cinta dan Belas Kasih. Menurut Yudhoyono, tema itu sangat cocok dengan cita-cita kehidupan berbangsa yang penuh kedamaian.

Yudhoyono menegaskan, semua warga negara Indonesia harus mengedepankan semangat kebangsaan. Semangat itu harus menjadi inspirasi yang mendorong semua orang untuk selalu mengedepankan kerjasama dan saling melengkapi antar seluruh komponen bangsa, sehingga bisa mengatasi beragam tantangan zaman dan peradaban yang tidak ringan.

“Mari kita senantiasa suburkan sikap toleransi, guna menjamin terpeliharanya kondisi kehidupan berbangsa yang damai dan harmonis,” katanya.

Yudhoyono meminta semua pemuka agama untuk terus mengedepankan kearifan, pandangan positif, dan kemuliaan, dalam mengajak umatnya ketika menyikapi beragam tantangan pembangunan.

“Berikan pencerahan yang bijak dan mencerdaskan, seraya terus menunjukkan keteladanan di lingkungan umat saudara masing-masing,” kata Yudhoyono.
(F008)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Indonesian Government Refuses to Send Kalimantan More Subsidized Fuel

Ref.  Sunny <ambon@tele2.se>: Kalimantan menghasilkan batu bara dan minyak. Kemana saja pendapatan hasil bumi ini untuk tidak bisa mendapat subsidi?

Indonesian Government Refuses to Send Kalimantan More

Subsidized Fuel


Arientha Primanita & Tunggadewa Mattangkilang | May 18, 2012

Despite threats by the governors of the four provinces on Kalimantan and a boat blockade mooted by a private group, the government says it will not send additional subsidized fuel.

Energy and Mineral Resources Minister Jero Wacik, who had earlier this month said the government will send additional supplies of fuel, said on Wednesday that the additional fuel would not be of the subsidized variety.

“We will add about 300,000 kiloliters for Kalimantan. What we are sending is non-subsidized fuel because there, the fuel is used by industries, mining and plantations,” Jero said.

He said that since no subsidized fuel was involved, it would not affect the 40-million kiloliter quota for subsidized fuel that has been set in the revised 2012 state budget.

Jero claimed that he had spoken with all four governors regarding the additional fuel and said that all parties were in agreement.

The minister did say, however, that there was still a possibility that the 40-million kiloliter ceiling might be exceeded if more was absolutely necessary. In that case, the government would need approval from the House of Representatives to raise the quota.

“We will see, in May how much [is consumed], in June how much excess [consumption] there is. If we need additions, then we will apply for more,” Jero said.

The governors threatened to stop all mining products from leaving the island if the government did not respond to their demand for more fuel by the end of the month.

A group of activists and residents in South Kalimantan has even threatened to conduct a blockade of the main river, using as many as 250 boats to assist.

Long queues at fuel stations across Kalimantan have become common in recent weeks. Low-octane subsidized fuel usually sells at a fixed price of Rp 4,500 (50 cents) per liter, but at one point a bottle containing about a liter of gasoline sold for Rp 10,000 in the remote district of Tanjung Redeb, East Kalimantan.

In East Kalimantan on Thursday, representatives of the Dayaks, the indigenous ethnic group of Borneo, said they were ready to boycott sending coal and other mineral resources outside the province.

“We are ready to close down coal shipments on the Mahakam River in Samarinda and other towns in East Kalimantan. We will fight for the rights of the people of Kalimantan,” Dayak Customary Council legal division chief Yulianu Henock said.

Pancasila Versus Liberalisme

Senin

23 April 2012

Pancasila Versus Liberalisme

JITET

KIKI SYAHNAKRI

Pembicaraan tentang liberalisme (tepatnya kelemahan dan keruntuhan liberalisme) tambah hari tambah ramai dan meluas, terutama setelah keruntuhan ekonomi Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Kritik, bahkan cercaan, terhadap liberalisme dan kapitalisme sebagai anak kandungnya pun kian santer dan menjagat karena dilambungkan oleh peristiwa pendudukan Wall Street, simbol kedigdayaan kapitalisme, di AS yang notabene merupa- kan sarang utama liberalisme.

Sejak Revolusi Perancis, liberalisme-kapitalisme telah menguasai dunia selama beberapa abad. Ideologi ini menjadi penguasa tunggal dunia menyusul keruntuh- an komunisme pada awal 1980-an. Virus liberalisme kian perkasa dan merambah ke mana-mana, termasuk Indonesia.

Pascareformasi 1998, kehidupan berbangsa-bernegara di Indonesia praktis dikuasai oleh liberalisme. Liberalisme berhasil mengerdilkan dan mengalienasikan Pancasila. Roh Pancasila pun kian lama ki- an pupus dalam dada anak-anak bangsa, terlebih setelah pelajaran tentang Pancasila menghilang atau dihilangkan dari kurikulum pendidikan. Konon, mata kuliah Sosiologi pun telah dihilangkan dari kurikulum fakultas ekonomi se-Indonesia. Jelas ini merupakan upaya kaum liberal untuk tak mengaitkan liberalisme dengan masalah sosial.

Kini tampaknya keadaan sedang berba- lik arah: liberalisme sedang meredup, kapitalisme dalam proses kejatuhan, terma- suk di negara sumbernya, AS. Ternyata vi- rus liberalisme-kapitalisme telah bergerak tanpa terkendali dan menggerogoti tuan- nya sendiri sehingga terjadi kejatuhan ekonomi global. Mengapa? Ekonom senior AS, Joseph Stiglitz, dalam buku terlarisnya, Globalization and Its Discontents, secara telak menyalahkan teori ekonomi liberal sebagai penyebabnya.

Liberalisme

Karakteristik liberalisme adalah: kompetisi, kebebasan, mekanisme pasar, yang terkuat (baca: ”kepentingan” yang terku- at) sebagai pemenang, sangat mengagungkan hak individu (individualisme) sehingga voting mutlak sebagai cara pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, sistem ini memerlukan aturan main atau hukum yang lengkap dan jelas, penegakan hukum yang kuat, disiplin, serta sportivitas yang tinggi.

Apabila syarat atau sebagian dari syarat itu tak terpenuhi, yang akan muncul adalah distorsi sosial yang kerap diwarnai anarkisme, mencederai rasa kemanusiaan, dan memakan banyak korban jiwa. Pengalaman pahit tersebut terjadi di banyak negara, terutama di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia, seperti yang sedang kita alami sekarang ini.

Beberapa pakar politik mengatakan bahwa penyimpangan dan kekacauan itu merupakan hal wajar dalam demokratisasi. Ada yang mengatakan diperlukan setidaknya tujuh kali pemilu untuk sampai pada tingkat kematangan berdemokrasi. Pertanyaannya, dapatkah dijamin eksistensi negara dan bangsa ini masih tetap bertahan selama periode pematangan yang cukup panjang itu? Sulit dapat dijamin! Kebalikannya, kegagalan negara memenuhi hak dasar warga negaranya (seperti hak mendapat sandang pangan papan yang memadai, hak mendapat pendidikan dan kesehatan dengan mudah dan murah, serta hak melaksanakan ibadah) dapat menimbulkan turbulensi sosial yang potensial bermuara pada perpecahan.

Pancasila

Kebalikan dari liberalisme yang berbi- cara tentang kompetisi adalah Pancasila yang berbicara tentang kooperasi, kerja sama, jiwa kekeluargaan, dan kolektivisme. Pengambilan keputusan dilakukan dengan mengutamakan musyawarah mufakat, mengedepankan kualitas ide, mengapresiasi hikmah kebijaksanaan dalam musyawarah. ”Rasionalitas”-lah pemenang.

Prinsip demokrasi Pancasila adalah ”keterwakilan” dengan mengedepankan egalitarianisme, bukan ”keterpilihan”. Semua terwakili: berbagai kelompok etnis, termasuk minoritas, seperti suku-suku di Papua, Dayak, Badui, Anak Dalam; serta berbagai golongan dan kelompok profesi harus terwakili di parlemen agar kepentingan mereka dapat diperjuangkan. Maka, diperlu- kan sistem penunjukan agar berbagai kelompok minoritas sampai pada masyarakat tradisional pun terwakili. Tidak mungkin mereka terwakili dengan cara pemilihan langsung melalui sistem kompetisi bebas. Keterwakilan juga merupakan perekat bagi masyarakat/bangsa yang serba majemuk seperti Indonesia.

Basis kulturalis bangsa Indonesia adalah kekeluargaan, kolektivisme. Karena itu, liberalisme tidak cocok diterapkan di Indonesia. Di samping itu, tingkat pendidikan dan kesejahteraan mayoritas rakyat juga masih berada di bawah sehingga, seperti dikatakan Prof Daoed Joesoef, ”rakyat pemilih kita adalah rakyat yang pikirannya belum bebas untuk menentukan pendapat atau pilihan masih harus tanya kiri-kanan atau akan terbuka jalannya oleh uang.”

Sebenarnya keadaan jauh lebih buruk karena latar uang dalam menentukan pilihan politik tak hanya menghinggapi masyarakat bawah, tetapi juga sudah merambah luas di kalangan yang maju dalam pendidikan serta mapan secara ekonomi. Maka, pemaksaan sistem liberalisme di Indonesia niscaya akan membuahkan kekacauan berkepanjangan dan dapat berujung pada disintegrasi.

Kini, liberalisme-kapitalisme sedang limbung. Saatnya bangsa Indonesia melaksanakan perubahan, meluruskan kembali jalannya reformasi. Pemimpin MPR, presiden, dan elite politik sudah saatnya menginisiasi perubahan tanpa ragu-ragu. Kembali pada jiwa Pancasila, roh Pembukaan UUD 1945. Tak hanya bicara  sloganistik, menyosialisasikan Pancasila lewat ceramah tanpa perubahan sistemik.

KIKI SYAHNAKRI Ketua Dewan Pengkajian Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD )

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/04/23/02092868/pancasila.versus.liberalisme

MEMAHAMI BUDAYA BETANG DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI SOSIAL

 

MEMAHAMI BUDAYA BETANG DALAM PERSPEKTIF

INTEGRASI SOSIAL

 

Refleksi atas Pemikiran Dr. Muhammad, Abubakar, H.M tentang Huma Betang dalam

Membangun Kerukunan Hidup Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah

 

Oleh : Sidik R. Usop 

Pembantu Dekan 1 Universitas Palangka Raya

Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Dayak

Yayasan Pandohop Tabela

 

Kebudayaan sebagai produk masyarakat dengan peran aktor sebagai pelaku yang mempengaruhi proses perubahan pada sistem kehidupan masyarakat, termasuk memberikan respon terhadap faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kehidupan mereka. Dalam pemikiran Berger dan Luckman (1990), hubungan aktor dengan kebudayaan disebutkannya sebagai mahluk yang dinamik dan kreatif, sehingga masyarakat adalah produk dari manusia  (society is a human product), sebaliknya lingkungan kehidupan masyarakat (struktur) akan mengontrol kehidupan manusia sebagai individu. Dengan kata lain manusia adalah produk dari suatu masyarakat (human is social  product). Konteks pemikiran ini menggambarkan terjadinya dinamika dalam kehidupan masyarakat, karena dalam realitas sosial selalu terjadi proses sosialisasi, internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai budaya, sehingga konflik dan integrasi dapat dipahami sebagai dinamika yang mendorong terjadi proses transformasi sosial. Sejalan dengan pemikiran Berger dan Lucman, Gidden (dalam Delanty, 1999) menyebutnya dengan reflexivity, bahwa manusia mempunyai ide mengenai dunia sosial dan tentang dirinya, terutama masa depannya. Ide tersebut tidak begitu saja lepas dalam dirinya tetapi masuk ke dalam dunia sosial sambil mendorong untuk mempengaruhi dan mengubahnya. Realitas sosial tersebut, dipahami sebagai dinamika struktur yang dibangun oleh aktor melalui kreativitas dan pengetahuannya untuk melakukan perubahan terhadap struktur. Gagasan pemikiran ini sangat terkait dengan upaya untuk membahas  intergasi sosial dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang pluralis dan dinamika permasalahan pembangunan yang semakin kompleks. Dalam hal ini, kebudayaan lokal, khususnya budaya Betang perlu di rekonstruksi agar dapat dipahami  oleh komunitas lain, sehingga menjadi bagian dari komunitas Betang.

 

Key words : Integrasi, betang, masyarakat dan refleksivitas

 

Pemikiran  Transformasi  Sosial

Pembangunan sebagai sebuah proses perubahan selalu dihadapkan pada perubahan nilai, dalam wujud integrasi nilai  moderen dengan nilai tradisional sebagai bentuk penyesuaian  terhadap perubahan tersebut. Dapat pula terjadi  pemaksaan  nilai-nilai baru dalam kehidupan masyarakat sehingga menimbulkan respon dan perlawanan dari masyarakat. Dinamika kehidupan masyarakat tersebut merupakan proses  dialektika hubungan antara individu sebagai aktor dan masyarakat yang mendorong terjadinya transformasi sosial dalam kehidupan masyarakat. Harus diakui pula bahwa dalam dinamika masyarakat tersebut selalu muncul konflik sebagai konsekuensi adanya perbedaan kepentingan. Namun dapat pula dipahami bahwa konflik merupakan fungsi perubahan yang mempercepat perkembangan sekaligus reintegrasi masyarakat.

Dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang pluralis, maka interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat tidak harus menyamakan nilai budaya yang berbeda, seperti nilai belom bahadat yang menghargai adat orang lain di mana pun mereka berada, tetapi dibutuhkan konformitas dari kelompok etnis yang berbeda tersebut untuk memelihara  keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Konformitas tersebut merupakan bentuk kesadaran sebagai masyarakat multikultur yang harus pula menghargai masyarakat lokal sebagai host bagi kelompok migran yang memilki latarbelakang dan budaya yang berbeda-beda. Dalam konteks inilah, nilai budaya Betang akan dipahami sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat yang pluralis. Melalui  pendekatan refleksi dengan menyelami kehidupan historis masyarakat Dayak dan  konstruksi pemikiran dalam dinamika pembangunan dan interaksi sosial yang semakin kompleks,  akan  memperlihatkan  budaya Betang sebagai fungsi integrasi.

Dalam konteks masa kini, hubungan aktor dan komunitas budaya harus dipahami sebagai sebuah kepentingan yang dibangun berdasarkan kesadaran bersama sehingga menghasilkan kesepakatan  yang mengikat semua pihak yag terlibat. Harapannya adalah terjadi suatu wujud tindakan (fraxis)  yang secara terus menerus ditanamkan ke dalam sebuah komunitas sehingga merupakan bagian praktek kehidupan sehari-hari.(habitus). Dengan demikian sebuah komunitas budaya merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat yang yang secara terus menerus membangun ide/gagasan dan nilai-nilai budaya yang adaptif terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong percepatan perubahan suatu komunitas budaya. Sikaf adaptif tersebut akan muncul dalam bentuk sosial kapital yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pembangungan.

Konteks Historis

Bagi orang Dayak Kalimantan Tengah, Budaya Betang memiliki nilai hitoris yang sangat besar pengaruhnya dalam merespons berbagai persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Konteks pemikiran ini dipahami dari peristiwa Rapat Damai Tumbang Anoi Tahun 1894 di Betang Tumbang Anoi yang dipimpin oleh Damang Batu. Peristiwa ini merupakan tonggak peradaban masyarakat Dayak  dalam interaksi antar sesama orang Dayak maupun dengan kamunitas lainnya. Kondisi ini dijelaskan  oleh Usop, KMA (1994) sebagai kebangkitan Budaya Dayak, karena inspirasi Rapat Damai Tumbang Anoi telah melahirkan perjuangan masyarakat Dayak mengangangakat Utus Dayak (harkat dan martabat orang Dayak).  Sejarah kebangkitan budaya Dayak dipahami sebagai berikut ini.

 

 

Sejarah Kebangkitan Budaya Dayak

Tahun

 Gerakan Sosial Politik

Pakat Dayak

1894

1920

1950 –

1957

1994

1995

1996

2001

2002

Rapat Damai Tumbang Anoi

 

 

 

Pakat Dayak

 

 

 

Gerakan organisasi masyarakat untuk memperjuangkan berdirinya propinsi Kalimantan Tengah.

 

Peringatan 100 tahun Rapat Damai Tumbang Anoi

 

 

Kongres Rakyat Kalimantan Tengah II

 

 

 

LMMDD-KT

 

 

Kongres Rakyat Kalimantan  III  khusus membahas konflik Etnik   Dayak dan Madura di Sampit

 

 

Musyawaarh besar Damang

Kepala Adat se Kalteng

Menghentikan Habunu (saling bunuh), Hakayau (saling potong kepala), dan Hajipen (saling merperbudak) antar sesama orang Dayak serta berlakunya hukum adat.

 

Persatuan seluruh suku Dayak, memperjuangkan ketertinggalan,  kebodohan dan mempertahankan adat leluhur orang Dayak

 

Perjuangan mendirikan propinsi Kalimantan Tengah, terlepas dari Kalimantan Selatan.

 

 

 

Merekomendasikan berdirinya LMMDD- KT untuk memperjuangkan nasib orang Dayak

 

 

-          Memperjuangkan Gubernur Putra Dayak

-          Otonami daerah

-          Hak-hak adat masyarakat Dayak

-

 

Menggagalkan droping Gubernur dari pusat

 

 

-          Penerimaan  bersyarat pengungsi Madura asal Sampit

-          Pemberdayaan masyarakat Dayak

 

 

 

Mengaktifkan peran Damang dalam menyelesaikan  konflik, hak – hak Adat dan ikut mengawasi kelestarian lingkungan alam

                    Sumber : Sidik R. Usop (2004)

                   

Rapat damai Tumbang Anoi yang berlangsung sejak 22 Mei – 25 Juli 1894, di hadiri oleh kepala suku dan kepala adat dari seluruh Kalimantan Tengah, Mahakam Kalimantan Timur, Sintang, Membaloh dari Kalimantan Barat; serta dari hulu Serawak, telah menghasilkan keepakatan  untuk menghentikan  Hakayau, Habunu dan Hajipen (Usop, 1994). Sehungnan  dengan kesepakatan tersebut Abdurarahman (1994)  yang merujuk pada buku Sejarah Kabupaten Kapuas, menyebutkan 9 prinsip yang disepakati, yaitu : (1) menghentikan permusuhan dengan pihak Belanda (2) menghentikan perang antar suku (3)  menhentikan balas dendam antar keluarga (4) menhhentikan kebiasaan adat mengayau (5) menghentikan kebiasaan adat perbudakan (6) ketentuan batas berlakunya hukum adat disamping hukum pidana perdata pemerintah (7) penyeragaman hukum adat antar suku (8) menghentikan kebiasaan hidup berpindah-pindah  dan agar menetap disuatu pemukiman tertentu (9) penyelesaian sengketa antar pribumi maupun antar kelompok oleh Rapat Adat Besar yang khusus diselenggrakan  selama pertemuan adat ini berlaku

Rapat Damai Tumbang Anoi tersebut di dipahamai Usop, (1994) sebagai  Kebijakan terobosan yang berani, karena prakarsa pihak Belanda telah mendapat respons dari tokoh adat Damang Batu untuk menyelenggarakan peristiwa tersebut. Kemudian nilai hapakat yang lahir sebagai perwujudan semangat gotong royong dan kebersamaan yang tinggi demi perdamaian. Hasilnya adalah sebuah bukti sejarah yang menunjukan  bahwa rapat damai Tumbang Anoi sebagai tonggak peradaban masyarakar Dayak Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, dampak dari Rapat Damai Tumbang Anaoi tersebut telah menumbuhkan semangat perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Dayak dengan memperkuat adat dan  mengejar ketertinggalan dan kebodohan serta  keterasingan.

Reflleksi dari Rapat Damai Tumbang Anoi tersebut menurut Usop S.R (2010) adalah : pertama,  tumbuhnya organisasi kemasyarakatan yang berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat orang Dayak dari ketertinggalan , kebodohan dan keterasingan dari komunitas lainnya. Kedua, menguatnya pemahaman betang tempat penyelenggraan peristiwa tersebut sebagai simbol masyarakat multikultur yang sangat menghormati perbedaaan-perbedaan yang secara nyata ada dalam kehidupan mereka. Ketiga, nilai belom bahadat sebagai pedoman bagi kehidupan bersama, yaitu menghormati adat istiadat yang berlaku dalam wilayah adat yang bersangkutan. Keempat, lahirnya lembaga adat yang berfungsi sebagai lembaga perdamaian adat yang berfungsi menyelesaikan perkara yang terjadi antar masyarakat. Kelima,  Berbagai kelembagaan kedayakan yang muncul pada masa Orde baru antara lain Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah; Institute Dayakology di Kalimantan Barat; Persekutuan Dayak Kalimantan Timur  dan Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan serta  Borneo Research Council (BRC)  yang melakukan kajian budaya Kalimantan.

Pada era otonomi sekarang ini, telah muncul pula beberapa kelembagaan yang terfokus pada kebijakan pembangunan Forum Gubernur Se Kalimantan; Kaukus Kalimantan yang mengembangkan pemikiran pembangunan Kawasan Kalimantan Terpadu; Dewan Adat Dayak Nasional yang merupakan perwujudan dari organisasi Dewan Adat Dayak Se Kalimantan dan Konferensi Antar University Se Borneo Kalimanatan sebagai lembaga Kajian dan seminasi hasil kajian-kajian  Kalimantan.

Inspirasi yang dapat ditarik dari perspektif historis tersebut adalah : (1) konflik dapat diphami sebagai dinamika struktur yang digerakan olek aktor untk melakukan perubahan struktur yang telah membelenggu kehidupan masarakat (2) muncul sebuah kesadaran kolektif untuk memperkuat identitas sebagai perwujudan  dari upaya untuk memerangi marginalisasi dan  tekanan politik yang mereka alami selama masa Orde Baru (3) Kesadaran kolektif tersebut pada masa otonomi daerah perlu dikembangkan dan diwujudkan dalam suatu tindakan bersama dalam sebuah jaringan kerjasama bagi percepatan pembangunan Kawasan Regional Kalimantan.

       

Perspektif  Integratif dan Konflik

Secara umum, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah adalah kelompok masyarakat yang dinamis dalam merespon masalah-masalah yang dihadapinya. Dinamika ini dapat di pahami dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Dayak yang memiliki dua sisi yang bertolak belakang, yaitu sisi konflik dan sisi integratif. Keduanya sangat dipengaruhi oleh  intensitas masalah yang dihadapi dan  peranan tokoh masyarakat  yang terlibat dalam  membantu penyelesaian masalah yang dihadapi maysarakat tersebut. Pertama, sisi konflik  yang terlihat dari masyarakat Dayak ini adalah sebelum peristiwa Rapat Damai Tumbang Anoi, yaitu pertikaian antar orang Dayak yang dikenal dengan hakayau (saling potong kepala), habunu (saling bunuh) dan hajipen (saling memperbudak).

Peristiwa di atas bisa dirujuk dari mitologi Dayak yang percaya bahwa dalam upacara tiwah diperlukan kepala manusia sebagai pengorbanan dan  korban tersebut  dapat  mengabdi  sebagai budak di lewo tatau (surga). Kepercayaan ini merupakan salah satu  sumber pertikaian antar masyarakat Dayak sehingga belakangan muncul istilah mambaleh bunu (membalas kematian) yang berarti ada pembenaran untuk melakukan tindakan pembalasan  jika salah satu warga atau keluarga ada yang mati terbunuh.  Beberapa istilah yang terkait dengan semangat konflik yang berkembang dalam masyarakat Dayak antara adalah Ela buli manggetu  hinting bunu panjang, isen mulang manetes tali kamara ambu (pantang mundur, berjuang terus, tidak akan kembali pulang sebelum mengalahkan musuh); beberapa istilah perang seperti manakir petak (perang), lahap (pekik perang), jalan bahandang (tindakan yang harus dilakukan dengan perang) dan lawung bahandang (ikat kepala merah) yang menggambarkan kesiapan untuk berperang.

Kedua, sisi integratif   terlihat dari nilai persatuan   dan     upaya   menghindari perpecahan dalam kehidupan masyarakat seperti pada ajaran berikut ini :

  • Hatangku manggeto bunu, kangkalu penang manguin betang (bersatu memenangkan perperangan, bersatu membangun kembali kehidupan).
  • Penyang ketun hinje simpei, paturung humba tamburak. Te ketun belom   panju- panjung, tau sanag-ureh ngalawan kilau bulan matan andau, tanggeren lewu mandereh danum (Bersatulah kamu dengan seluruh kekuatan, dengan satu pedoman; kamu akan hidup bahagia sejahtera seperti bulan matahari dan bitang di langit sebagai contoh teladan).
  • Amun keton penyang pangarak simpei, te ketun akan gandang tatah lewu mandereh  danum, amun paturung bakuhas tamburak, akan gandang rundung hapamantai tambun (kalau terjadi perpecahan, engkau akan diejek dan dihina oleh orang laian. Supaya dunia ini damai sejahtera hidup di dunia dan dunia lain/lewu tatau, manusia harus memilki jalan belom/pedoman hidup, yaitu haring hatungku tungket langit (ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan)

Dari legenda Dayak, dikenal Sansana Bandar yang menceritakan  seorang pimpinan spiritual Dayak  bernama Bandar yang digambarkan sebagai orang yang arif, bijaksana, cerdik, pandai serta memiliki paras yang tampan dan budi pekerti yang baik.  Beberapa ungkapan dalam bahasa sangiang (bahasa dewa-dewa) yang menganjurkan sikap integrasi yaitu  Penyang hinje simpei, paturung humba tamburak (bersatulah kamu dalam satu keyakinan, harapan dan kasih sayang);  Manjadi tanggeren lewu mandereh danum, pananggak rundung hapamantai tambun (menjadi contoh dan tauladan, kebanggaan dan pelindung bagi semua orang); Hatamuei lingu nalatai, hapangaja karendem malempang (sebelum memutuskan sesuatu keputusan hendaknya melalui komunikasi, musyawarah dan mufakat); Belum pajajewung kilau pisang tanggan tarung, raja manggigi tingkah lawang baun andau (hidup teratur bahagia, sejahtera, perkasa bagaikan awan berbaris diangkasa).

Dinamika masyarakat ini digerakkan oleh tiga kekuatan penyangga dalam kehidupan masyarakat yang dikenal dengan Garing Hatungku Tungket Langit, yaitu Pampang Saribu (kasum cerdik pandai), Pampang Erang (kaum adat) dan Gamalan Nyaho (kaum Agama). Ketiga kekuatan ini merupakan satu kesatuan yang disebut dengan Penyang huinje simpei dalam  menggerakan kekuatan masyakat untuk merespon permasalahan yang sedang dihadapai. Pada tahun 1920, muncul gerakan Pakat Dayak  yang lahir dari kesadaran bahwa  orang-orang Dayak tertinggal  dan ditinggalkan  oleh kelompok etnis  lainya karena terkait dengan pandangan yang rendah terhadap orang Dayak. Cita-cita yang ingin diperjuangkan oleh Pakat Dayak adalah kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dalam meningkatkan martabat  hidup  dan dipertahankannya adat istiadat sebagai identitas masyarakat Dayak. Perjuangan ini pun terus berlanjut untuk memisahkan diri dengan provinsi Kalimantan Selatan akibat ketertinggalan yang dirasakan komunitas Dayak, hingga  pada tahun 1957  secara resmi berdirinya provinsi Kalimantan Tengah.

 

Konsep dan Tantangan Pembangunan  Kalimantan Tengah

Realitas sosial di Kalimantan Tengah, terbentuk dari pengalaman sejarah dan pengalaman masyarakat dalam merespon masalah-masalah yang dihadapi, sehingga membentuk kesadaran bersama untuk melakukan sebuah tindakan yang mendorong suatu proses transformasi dalam kehidupan masyarakat.

Konsep pembangunan Kalimantan Tengah merupakan rumusan dari rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dalam memeberikan respons terhadap pengaruh luar yang membelenggu kehidupan mereka, sehingga terjadi interaksi dan integrasi yang memperkuat identitas Dayak  dalam menghadapai tantangan pembangunan pada masa kini. Konsep pembangunan yang  ingin mewujudkan cita-cita menjadikan warga Betang sebagai tuan di negeri sendiri, merupakan bagian dari upaya maneser panatau Tatu Hiang yang direfleksikan sebagai Manyalamat Petak Danum (menyelamat tanah air) yang meliputi :

(1) pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang arif terhadap lingkungan dan menjamin keangsungan hidup manusia. Konsep ini telah dicetuskan  dalam Musyawarah besar Damang Kepala Adat Se Kalimantan Tengah Tahun 2002 yang menghasilkan deklerasi bahwa Kalimantan Tegah sebagai Daerah Ekologi. Konteks pemikiran ini, bersumber dari simbol Batang Garing yang bermakna keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan keseimbangan hubungan antar sesama manusia. Selain itu, di Kalimantan Tengah, banyak terdapat Pahewan yang tersebar di daerah kabupaten sebagai kawasan konservasi yang dikeramatkan dan dilindungi secara adat oleh masyarakat, di samping hak-hak adat seperti Kaleka dan situs-situs budaya yang terkait dengan ritual kepercayaan kaharingan. Eksistensi adat merupakan bagian dari identitas etnik yang terus dipertahankan, termasuk upaya melawan arus globasisasi ekonomi yang akan menyngkirkan mereka dalam kehidupan ekonomi.

Kondisi ini terkait pula dengan hadirnya perkebunan kelapa sawit yang merupakan andalan dalam memberikan kontribusi pendapatan daerah , menggantikn sektor perkayuan yang sudah mulai menurun. Lebih khsus lagi kalau kebijakan pemerintah yang ingn menjadikan Pembangunan kelapa sawit sebagai Pilar ekonomi Nasional (seminar, Desember 2006 di Bali) dan  minyak sawit akan menggantikan sumber bahan bakar pengganti minyak (biofuel). Hadirnya kekuatan-kekuatan ekonomi Nsional dan Internasional di Kalimantan Tengah ini dikhawatirkan akan memarginalisasikan orang-orang Dayak dari kegiatan ekonomi dan disisi lain kelangsungan sumberdaya alam akan menggangu kehidupan mereka pada masa yang akan datang seperti  pesesan leleuhur berikut ini “Ingat peteh Tatu hiang, Petak danum akan kalunen harian andau”. Konsep ini sesuai dengan konsep lingkungan hidup yang dikenal dengan sustainable livelihood.

(2). Pemanfataan sumber daya alam bagi kesejahteraan masyarakat, dalam implimentasi kebijakan yang cenderung menepatkan masyarakat dalam posisi yang lemah, jauh dari akses informasi dan akses terhadap politik sehingga mereka tidak memiliki kemampuan  tawar yang berimbang dengan pemerintah dan pengusaha. Kondisi ini yang sering menimbulkan konflik antara masyarakat dengan pihak perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Kondisi ini tentu saja harus dicari dan digali cara-cara pengelolaan yang menempat masyarakat sebagai pelaku atau subjek pembangunan, sehingga terjadi kesimbangan yang proporsional dalam pemanfaat sumberdaya alam dan bukan orang dirugikan dalam prosees pembangunan  tersebut. Konteks ini memberi peluang bagi pemekaran kabupaten dan provinsi dalam rangka mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mempercepat proses pembangunan dan mengatasi kesenjangan pembangunan.

(3). Integrasi sosial yang menempat nilai budaya belom bahadat sebagai standar dalam hubungan antar sesame manusia dan hubungan dengan alam. Kondisi ini terkait dengan Pali (pantangan) yang tidak boleh dilanggar menurut adat orang Dayak. Nilai belom bahadat yang merupakan identitas masyarakat Dayak ini bersifat cair dan terus menerus  dikonstruksikan ke dalam kehidupan masyarakat sehingga memberikan makna penting  bukan hanya bagi orang Dayak tetapi juga dalam pergaulan yang sifatnya lebih luas. Konteks ini juga akan memberikan pemahaman bahwa, adat dan hukum adat yang ada di Kalimantan Tengah perlu direvitalisasi agar sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat pada masa kini dan menjangkau kehidupan yang akan datang. Kondisi lainnya yang perlu diantsipasi adalah adanya kebijakan landreform  yang akan menghancurkan tatanan adat dan hukum adat di Kalimantan Tengah.

(4). Penguatan institusi Kadamangan dan mengoptimalkan peran Damang Kepala Adat dalam membantu menyelesaikan konflik dan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakkat.

Eksistensi Kadamangan ini ternyata sangat membantu menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dapat mengurangi tumpukan berkas-berkas yang terlambat ditangani oleh kejaksaan. Selain itu, dimungkinkan pula terjdinya integrasi antara hukum adat dengan hukum formal sehingga dapat menjembatani kesenjangan (gap) antara hukum adat dan hukum formal.

(5). Menembus keterasingan masyarakat Dayak yang berada di bagian hulu –hulu  daerah aliran sungai di Kalimantan Tengah, sehingga mengurangi kesenjangan sosial antar masyarakat yang bermukim di perkotaan dan bagian hilir daerah aliran sungai. Kesenjangan akan berdampak terhadap pendidikan, kesehatan dan pendapatan masyarakat, sehingga  terjadi proses pembodohan dalam kehidupan masyarakat.

Pengalaman historis dari masyarakat Dayak terhadap dinamika politik dan ekonomi ini merupakan gambaran masyarakat dalam merespons permasalahan yang dihadapi dengan memahami budaya Betang sebagai sebagai perjuangan membangun rumah sendiri dan mewujudkan cita-cita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri berdasarkan konsep Betang yang meliputi : (1) kesadaran dari semua tokoh masyarakat dan elite politik bahwa masyarakat Kalimantan Tengah adalah masyarakat yang pluralis, dengan menghargai perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kebersamaan dalam proses pembangunan. (2) belom bahadat, sebagai nilai budaya yang yang mengatur kehidupan bersama dengan pemahaman di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung, yaitu menghargai adat yang berlaku dalam wilayah komunitas adat yang bersangkutan. (3) handep, yaitu gotong royong yang bersifat timbal balik (reciprocal)  dalam kebersamaan dalam proses pembangunan yang berkelanjutan, tetapi tetap mempertahankan otonomi dalam penyelenggaraan rumah tangga. (4) menyelenggarakan musyawarah dalam setiap kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama (5) menghargai orang luar atau tamu dengan berusaha memberikan kepuasan kepada tamu tersebut, walaupun kondisi mereka dalam keadaan keterbatasan. (6) warga Betang memilki hubungan kekeluargaan yang luas, karena berasal dari karak Betang, karak lewu dan masih dipertahankan sebagai kekerabatan serta keterbukaannya terhadap pendatang dari luar komunitas mereka. Bahkan warga Betang dapat menjadi lebih luas lagi dengan perkawinan lintas etnis, agama dan budaya.

 

Modernisasi dan Revitalisasi Kebudayaan

Dalam realitas kehidupan masyarakat moderen, masalah-masalah yang berkaitan dengan politik dan perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, bahkan terhadap suku asli yang tidak tersentuh dalam belahan dunia ini. Kemajuan ekonomi dan teknologi di dunia Barat telah membuktikan keunggulan ekonomi kapitalis dan pasar bebas. Dalam perdagangan internasional, negara-negara Dunia Ketiga yang telah terseret ke dalam kapitalisme dunia dan pasar bebas ternyata telah menghasilkan polarisasi yang tajam antara kaum miskin yang semakin banyak jumlahnya dengan lapisan orang-orang kaya. Salah satu faktor penyebabnya adalah akibat eksploitasi sumber daya alam untuk memperbesar pertumbuhan ekonomi  daerah dan nasional, tetapi manfaatnya belum dirasakan oleh masyarakat, bahkan kondisi ini telah menghancurkan tatanan budaya lokal dan kerusakan lingkungan. Kondisi ini merupakan penghisapan surplus ekonomi yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat dan semakain meluasnya tingkat kerusakan lingkungan.

Terhadap kondisi di atas, kalangan akademisi yang berpikir kritis dan kelompok

aliran humanis menyebutkan sebagai suatu kesadaran dalam melihat realitas kehidupan moderen sebagai kekecewaan dunia (disenchantment of the world) terhadap modernisasi yang kurang peka terhadap penderitaan kaum miskin dan kerusakan ekosistem alam.

Kebudayaan lokal dalam hal ini etnik Dayak sebagai produk masyarakat, memiliki daya tahan (sustainable) dan daya penyesuaian (adaptable) terhadap intervensi dari luar. Dalam menghadapi tantangan global kebudayaan Dayak telah mengalami transformasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat maupun sebagai penangkal bagi intervensi luar yang ingin merusak tatanan sosial dan upaya-upaya  memperbesar kerusakan lingkungan alam.

Bagi masyarakat Dayak, modernisasi yang dipahami sebagai impor dari dunia Barat dengan ideologi kapitalisme yang memiliki kecenderungan materialisme, telah menghancurkan sistem mata pencaharian masyarakat lokal dan hancurnya tatanan adat dan penghisapan atas surplus ekonomi yang seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat lokal. Mereka mengibaratkan seperti speed boat yang sedang melaju di pinggir sungai yang tidak mempedulikan ombaknya yang besar yang dapat menenggelamkan perahu-perahu kecil, mengganggu nelayan yang sedang memancing dan membasahi orang- orang yang sedang berada di batang (dermaga masyarakat). Kondisi ini telah terjadi akibat eksploitasi sumberdaya hutan secara besar- besaran oleh pengusaha HPH dan perkebunan untuk memenuhi permintaan pasaran dunia dan politik utang yang menyeret bangsa Indoneisa ke dalam ekonomi kapitalis dan pasar bebas yang merugikan masyarakat lokal tanpa melakukan kebijakan proteksi untuk mengamankan industri dalam negeri yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Kebudayaan Dayak sebagai produk masyarakat, oleh pelaku budaya lokal telah mengalami revitalisasi sejalan dengan berkembangnya pengetahuan dan nilai- nilai yang hidup dalam masyarakat sehingga menjadi pengetahuan publik dalam mengatasi atau memberi respon terhadap realitas kehidupan yang dialami pada masa kini.

Beberapa contoh sumber pengetahuan dan nilai- nilai dari kebudayaan Dayak yang telah mengalami transformasi dalam menanggapi realitas kehidupan tersebut terlihat pada tabel berikut ini :

 

Revitalisasi Kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah

Kebudayaan

Dayak

Pengetahuan atau

Nilai- nilai

Makna Refleksi
Budaya Betang

 

 

 

 

 

Pakat Dayak

 

 

 

 

Utus

 

 

 

Pahewan

 

 

 

Manakir petak

 

 

 

Budaya Pantan

 

 

 

Isen Mulang

Masyarakat multikultur yang menghargai perbedaan.

Integrasi dalam kehidupan pluralis

 

Kerjasama toleransi dan partisipasi

 

 

 

Jati diri/ Harga diri

 

 

 

Kelestarian lingkungan alam

 

 

Berjuang untuk mencapai keberhasilan

 

 

Keterbukaan terhadap pendatang dari luar

 

 

Pantang mundur

Inspirasi perjuangan masyarakat Dayak

 

 

 

 

Identitas komunal

 

 

 

 

Batas- batas budaya (cultural boundaries) yang tidak bisa di ganggu

Perlindungan atau pencegahan kerusakan alam

 

Perang melawan ketidakadilan

 

 

Semangat egaliter dan tetap mempertahankan jati diri

 

Keuletan, ketangguhan dan orientasi pada prestasi

 

Perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat warga Betang agar menjadi tuan dinegeri sendiri

 

 

Kebangkitan warga Dayak menghadapi tantangan hidup yang selama ini menghimpit mereka

 

Kesejajaran Harkat dan martabat orang Dayak dengan  komunitas lainnya.

 

Eksploitasi sumber daya hutan yang merugikan masyarakat

 

 

Perubahan terhadap struktur yang telah lama membelenggu warga Dayak

 

Konsekuensi dalam pergaulan dalam masyarakat multikultur

 

 

Tantangan dalam menghadapi globalisasi

 

 

Berdasarkan pemahaman di atas, maka budaya Betang merupakan inspirasi dan motivasi dalam merespon secara dinamis dan kritis terhadap intervensi politik dan ekonomi dari luar. Konstruksi budaya Betang ini  merupakan dinamika masyarakat lokal yang dipahami sebagai proses transformasi dalam bingkai kesadaran yang menjunjung tinggi nilai- nilai intergrasi dalam kehidupan masyarakat yang pluralis.

REFERENSI

Berger, Peter L dan Luckmann,Thomas (1990).  Tafsir Sosial atas Kenyataan Sosial. Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (terj.Hasan Basari). Jakarta: LP3 ES

Castells,Manuel (1997), The Power of Identity.  Massachusetts : Blackwell Publishers Inc.

Chaniago,Andrinof(2001). Gagalnya Pembangunan. Kajian Ekonomi Politik terhadap krisis Indonesia. Jakarta : LP3 ES

Cohen, Anthony (2000). Signifying Identities. Anthropological Perspektif on Boundaries and Contested Values. London and Newyork : Roudledge.

Delanty, Gerard (1999). Social Theory in a Change of Modernity. Cambridge : Polity Press.

Grillo, Ralph (1998), Pluralism and the Political of Difference. New York : Oxford University Press Inc.

Usop, KMA (1994). Pakat Dayak. Sejarah Integrasi dan JatidiriMasyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah, Yayasan Pendidikan Kebudayaan Batang Garing.

Usop, SR (2002). Kajian Refleksif Terhadap Pandangan Orang Dayak. Jurnal     Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Univ. Jember, Vol.3 No.3

————–(2004) Kebudayaan Dayak Dalam Tatanan Lokal, Nasional dan Global. Sosialisasi Kongres Kebudayaan V Bukit Tinggi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah

————–(2008).  Pemahaman Kebudayaan Dayak dalam Masyarakat Multikultur. Diskusi Tentang Semangat Kebangsaan dan Semangat Multikulturalisme. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah.

Dik ,Jangan Dik

http://news.detik.com/read/2012/04/01/152740/1882243/10/dik-jangan-dik-kisah-polisi-dalam-kepungan-massa-jl-diponegoro?9911012

E Mei Amelia R – detikNews

Minggu, 01/04/2012 15:27 WI

Mobil Resmob dibakar (Antara)

Jakarta Kamis (29/3) malam lalu, suasana di depan kampus UPI-YAI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat tampak mencekam. Ratusan mahasiswa melakukan aksi bakar ban dalam demo menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) itu.

Saat itu, aksi unjuk rasa berubah menjadi liar tidak terkendali. Para pendemo tidak hanya membakar ban, namun Pospol yang terletak di antara kampus UKI dan UPI-YAI juga ikut dirusak massa yang mengamuk. Setelah merusak Pospol dengan batu, massa juga membakar motor milik anggota Polsek Senen yang diparkir di Pospol tersebut.

Massa juga memblokade Jalan Diponegoro mulai dari depan kantor LBH Jakarta hingga ke arah Salemba. Massa juga melakukan sweeping terhadap pengendara yang melintas. Bahkan, massa juga mengeroyok Kapolsek Senen Kompol Iman Zebua yang saat itu bertugas di lokasi. Kompol Iman pingsan dan dilarikan ke UGD RSCM setelah dihajar massa.

Ratusan aparat polisi dari Polres Jakarta Pusat tidak dapat menahan amukan massa yang sudah brutal itu. Untuk mengendalikan massa yang sudah brutal itu, Kepolisian Daerah Metro Jaya mengirimkan pasukan tambahan.

Termasuk salah satunya tim dari Subdit Resmob Polda Metro Jaya diperintahkan untuk ikut mengendalikan massa. Kepala Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Herry Heryawan saat itu memimpin langsung 7 anggotanya.

“Setelah menerima informasi Kapolsek Senen dikeroyok, saya bersama anggota saya menuju ke TKP sekitar pukul 20.15 WIB,” kata Herry.

Saat itu, Herry dan 7 anggotanya berangkat beriringan dari Mapolda Metro Jaya dengan menggunakan tiga unit mobil. Herry saat itu menumpang mobil Kijang LX tahun 2001 yang bertanda khusus, tulisan ‘RESMOB’ pada body samping kiri-kanan dan belakangnya.

“Saat itu, mobil Resmob yang saya dan dua anggota saya tumpangi berada paling depan, untuk membuka jalan karena saat itu jalanan macet,” katanya.

Dalam situasi seperti itu, petugas memang harus cepat berada di lokasi. Untuk membuka jalur, Herry menyalakan rotator dan sirine pun menyalak. Melalui pengeras suara, anggotanya menghalau pengendara untuk meminggirkan kendaraannya.

“Sesampainya di lokasi, di depan LBH ternyata jalanan sudah terblokir,” ujarnya.

Saat itu, mobil Resmob yang ditumpangi Herry dan anggotanya terhalang Kopaja. Saat itu pula, puluhan orang berlarian ke arah mobil Resmob yang ditumpangi Herry dan dua anak buahnya.

“Kami saat itu tidak mengira kalau massa akan memburu kami. Tetapi rupanya mereka semakin mendekati mobil kami,” katanya.

Karena jumlah anggota yang sedikit tidak seimbang dengan massa yang banyak, Herry kemudian memutuskan untuk memerintahkan anggotanya yang berada dalam dua unit mobil di belakangnya agar putar balik, menghindar massa. Dua mobil yang ditumpangi anggotanya berhasil memutar balik kendaraannya. Namun nahas, mobil Resmob yang ditumpangi Herry dan dua anak buahnya tidak sempat memutar balik karena terhadang Kopaja.

Massa yang beringas merusak mobil Resmob yang sedang ditumpangi Herry dan dua anggotanya itu. Massa kemudian mengguncang-guncangkan mobil Resmob tersebut. Di tengah situasi seperti itu, Herry mencoba menenangkan massa untuk tidak berbuat anarki.

“Saya sudah bilang ke mereka, Dik jangan Dik. Kita ke sini untuk memberikan pengamanan. Kita bukan musuh kalian,” ujarnya kala itu.

Namun massa tidak mempedulikan imbauan Herry kala itu. Massa terus menghancurkan mobil Resmob. Dalam situasi seperti itu, Herry pun memerintahkan dua anak buahnya yang ikut bersamanya untuk turun dari mobil. Herry saat itu sempat tergencet, hampir tidak dapat meloloskan diri dari amukan massa.

Dengan sekuat tenaga, Herry mencoba mendorong pintu mobil yang sudag dikepung massa. Ia kemudian menyelamatkan diri bersama dua anggotanya, menuju ke Mteropole yang letaknya berjarak sekitar 10 meter dari lokasi kejadian. Massa kemudian mengejar Herry dan anak buahnya.

“Kami dikeroyok oleh mahasiswa. Kami bergumul dengan tangan kosong,” katanya.

Mobil Dibakar

Setelah berhasil meloloskan diri dari amukan, massa kemudian membakar mobil Resmob. Seketika, Jalan Diponegoro berubah mencekam. Api memerah keluar dari mobil Resmob. Herry saat itu hanya bisa menatap mobil dinas anggota yang hanya satu-satunya itu.

Beberapa saat setelah aksi pembakaran mobil Resmob, petugas gabungan dari Polda Metro Jaya datang ke lokasi membubarkan massa. Menjelang Jumat (30/3) dini hari, massa baru terkendali. Pasca kejadian itu, petugas kemudian melakukan sweeping ke kantor LBH Jakarta.

“Kami mendapat informasi kalau massa bersembunyi ke kantor LBH Jakarta,” ujar Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Nico Afinta.

Petugas kemudian menggeledah tiap lantai kantor LBH. Di lantai satu, petugas menemukan ratusan tas milik mahasiswa. Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan spanduk, bendera bergambar lambang Nazi, tiga bilah bambu, pecahan kaca, pecahan bemper mobil, batu dan dua buah ketapel.

Di lokasi, petugas juga mengamankan 53 mahasiswa yang saat itu bersembunyi di lantai 2 kantor LBH. Kepala Subdit Keamanan Negara (Kamneg) Polda Metro Jaya, AKBP Daniel Bolly Tifaona menyatakan, seluruhnya ditetapkan sebagai tersangka karena telah melakukan perusakan, pembakaran dan pengeroyokan.

Daniel mengatakan, kelimapuluh tiga mahasiswa tersebut dijerat dengan pasal 187 KUHP tentang pembakaran jo 170 KUHP tentang pengeroyokan terhadap orang dan benda jo pasal 164 KUHP tentang pemufakatan melakukan kejahatan.

“Mereka telah melakukan perusakan terhadap benda seperti mobil Resmob, motor dan pembakaran pospol,” kata Bolly.

Bolly melanjutkan pihaknya memiliki bukti kuat bahwa para pelaku melakukan aksi anarki di lokasi saat melakukan aksi demo menolak kenaikan harga BBM di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat pada Kamis (28/3) sore lalu.

“Ada bukti, kita tidak akan menahan kalau tidak ada alat bukti dong,” ujarnya.

Salah satu alat bukti yang dimiliki polisi yakni sebuah rekaman video saat aksi tersebut terjadi. “Salah satunya itu (rekaman video),” imbuhnya.

Perekonomian Ditaksir Mandek Enam Bulan

 

RENCANA KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK
 Perekonomian Ditaksir Mandek Enam Bulan
JAKARTA ­

Namun inflasi tak akan berpengaruh besar.

Kepala Ekonom Danareksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan, enam bulan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak, pertumbuhan ekonomi akan stagnan. “Ini melihat pengalaman sebelumnya ketika harga BBM juga sempat naik pada sekitar Mei 2005 dan Oktober 2008,” katanya kepada Tempo kemarin.

Stagnasi ekonomi itu terjadi karena berkurangnya daya beli masyarakat akibat lonjakan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok. Sebab lain adalah sikap pengusaha yang menunda ekspansi bisnis karena takut merugi. Untuk mengantisipasi hal itu, Purbaya menyarankan agar pemerintah dan Bank Indonesia mampu mengambil kebijakan yang tepat.

“Bila tidak, ekonomi akan mengalami kemunduran dan pertumbuhan melambat di bawah 6 persen.” Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Kebijakan Publik, Fiskal, dan Moneter, Hariyadi Sukamdani, tidak sependapat dengan analisis tersebut. Ia memperkirakan perlambatan ekonomi hanya berlangsung tiga bulan saja. “Sebab, dalam rentang waktu itu, industri masih menyesuaikan dengan penurunan daya beli masyarakat,”kata dia.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Aviliani, juga menilai langkah pemerintah menaikkan harga BBM tak akan membebani pertumbuhan ekonomi. Syaratnya, proyek infrastruktur bisa berjalan baik. Dia yakin konsumsi masyarakat kelas menengah sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi tidak akan terpengaruh kenaikan harga BBM.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Ikhsan Modjo menilai munculnya inflasi akibat kenaikan harga BBM tidak bisa dihindari. Namun ia yakin inflasi itu tidak akan mempengaruhi ekonomi Indonesia.

“Sebab, per Februari lalu, laju inflasi Indonesia sangat rendah,”katanya.

Sementara itu, politikus dari PDI Perjuangan, Arief Budimanta, mengimbau pemerintah memperbaiki sistem pendistribusian BBM di berbagai daerah agar kelangkaan dan lonjakan harga BBM tidak lagi terjadi. Dia menengarai maraknya penimbunan BBM menjelang kenaikan harga sudah sering terjadi, tapi tidak pernah diantisipasi pemerintah. Pengamat perminyakan dari Center for Petroleum Economic Studies, Kurtubi, menilai keraguan pemerintah dalam mengambil keputusan memicu spekulasi dan berujung pada penimbunan BBM.

Belum lama ini Tim Koordinasi Pengendalian BBM Bersubsidi berhasil mencegah penyelewengan 100 ribu

liter solar di Long Bangun, Kalimantan Timur. Kapal berjenis landing craft tank yang diduga mengangkut solar bersubsidi ini telah ditahan pada 7 Maret lalu. Nakhoda kapal tak bisa menunjukkan surat pengantar dan delivery order yang jelas.

Di Kalimantan Timur, jumlah kasus penimbunan dan penyelewengan BBM bersubsidi meningkat pesat pada kuartal pertama tahun ini dibanding periode serupa tahun lalu. Sejauh ini sudah terungkap 54 kasus dengan 60 orang ditetapkan sebagai tersangka. Polisi juga menyita barang bukti berupa 147 ribu liter solar, 24.812 liter Premium, dan 600 liter minyak tanah.

Birahi di Balik Jubah Habib

Avatar KBR 68H
Jakarta , Indonesia

Birahi di Balik Jubah Habib

Diterbitkan : 14 Maret 2012 – 11:31am | Oleh KBR 68H (Foto: KBR68H)

Berkedok agama, Hasan bin Jafar Assegaf yang mengklaim gelar Habib mencabuli anggota jemaahnya sejak sembilan tahun lalu. Hasan adalah pemimpin sebuah majelis pengajian. Reporter KBR68H Nur Azizah menemui sejumlah korban dan keluarga mereka yang terus mengupayakan keadilan. Beberapa nama dalam cerita ini kami samarkan.

November lalu, Kadar, Sanwani, Somad dan sejumlah anak lainnya memberanikan diri melapor ke polisi lantaran ulah cabul guru agamanya itu. Langkah ini ditempuh setelah penyelesaian kekeluargaan urung membawa hasil.

Korban berkisah
“Dulu saya masih menganggap dia guru. Dia maksa sampe meluk-meluk saya. Trus ngomong gini, anggap saja Habib ini perempuan,” cerita Sanwani, remaja bekas anggota majelis pengajian Nurul Musthofa. Ia salah satu korban aksi cabul Hasan bin Jafar Assegaf, pemimpin majelis itu.

“Dia juga sering minta kirimin foto kelamin saya. Sering banget. Tapi saya ngirimnya cuma sekali. Dia nyuruh datang, cuma saya lagi di luar kota. Gantinya dia minta kirimin foto. Saya lagi di sekolah, dia nyuruh saya maksa ke kamar mandi sampai nelpon-nelpon gitu. Saya gak mau, sampai akhirnya ngambek.”

Perlakuan serupa dialami Kadar. “Saya disuruh oral. Saya bilang ama dia, Bib bau, nggak kuat. Ya udah. Selesai. Saya mikir langsung, nggak deh. Gua sama cewek gua enggak sampe gini-gini amat. Dia bukan cewek gua, bukan apa gua, dia laki, gua harus ngelakuin kaya gitu, enggak banget. Nah saya langsung mikir. Apa sih guru sampah kaya gini.”

Obyek seksual
Sudah enam tahun Kadar menjadi obyek seksual Hasan bin Jafar Assegaf. Habib cabul itu sudah mengenal keluarga Kadar sejak ia masih kelas 2 SD. Kadar bergabung dengan majelis pengajian Nurul Musthofa sejak duduk di kelas 2 SMP, tujuh tahun lalu.

Tahun-tahun berikutnya menjadi kenangan buruk baginya.

Aksi bejat habib cabul itu juga menimpa Somad. “Bulan puasa setelah sholat Subuh. Waktu pertama sih cuma cium, dia pegang kemaluan saya. Saya nggak mau gitu, saya alasan, ya halus lah. Bilangnya saya itu mau dicariin orangtua. Dalam hati kok kayak gini ajarannya.”

Somad berani menceritakan pengalaman buruk ini setelah berkomunikasi dengan korban lainnya. Bersama Kadar, Sanwani dan belasan korban lainnya, mereka sering berkumpul untuk saling menguatkan.

Pengaduan dibuat
Orangtua Kadar sudah mengenal Hasan bin Jafar Assegaf sejak ia baru datang dari Bogor, Jawa Barat. Hasan menumpang di rumah orangtua Kadar selama bertahun-tahun. Ida, sang ibu, tak pernah berburuk sangka. Hingga ia sendiri menyaksikan ulah cabul Hasan di kota Mekkah.

“Bersama keluarga saya, berlima, saya bertiga. Nah setelah itu pulang umroh, karena di sana saya ngelihat dia si Kadar sama si Hasan lagi dipangku-pangku di kamar. Nah dari situ deh saya mulai kurang nggak percaya sama dia.”

Ida meneruskan, suatu hari Kadar mengaku tertekan karena ulah Hasan.

“Padahal curhatnya nggak banyak, cuman begini doang. Ma, apa bener Sayidina Ali sama Rosululloh begituan. Saya kan nggak paham. Begituan apaan sih, Dar? Itu, Sayidina Ali sama Rosululloh katanya begini-begini. Saya paham. Ya kagak mungkin lah itu kan Nabi. Iya mah, dibilang begitu ama Hasan kemarin. Kata dia jangan diomongin sama mama, kalau diomongin sama mama, nggak dapat syafaat. Itu baru omongan itu, tapi belum pelecehan.”

Ida menanyakan hal ini ke Hasan.

“Apa bener Habib nyampein, Rasululloh sama Sayidina Ali itu seperti begini-begini. Ah nggak bu Haji saya mah ngomong begituan buat becandaan sama Haidar. Itu rahatnya saya. Rahatnya saya begitu. Lha nggak bisa begitu Bib, itu Sayidina Ali sama Rasululloh nggak bisa dibecandai kayak begitu, apalagi sama anak kecil. Saya langsung diusir sama dia. Udah bu Haji ke dalam, emang di dalam nggak ada urusan lain.”

FPI
Tak puas, Ida pun berkunjung menemui petinggi Front Pembela Islam, mencari solusi. Organisasi ini memiliki hubungan dekat dengan majelis Nurul Musthofa.

“Habib Rizieq paling pertama yang saya kasih aduan. Waktu itu saya datang ke sana sama semua korban, sama saksi semua. Itu saya diterima di sana. Kata Habib Rizieq, ya udah itu gampang nanti saya yang ngomongin lagi ke Hasannya. Dari pihak dia, dia dipanggil lebih dulu. Habis dia, baru saya. Tapi nggak ada tanggapan apa-apa.”

Ida bersama keluarga korban lainnya mengadu ke sidang Habib. Hasilnya serupa, nihil. Saban malam tak lelap tidur, memaksa Ida melapor ke polisi. Siapa sebenarnya Hasan bin Jafar Assegaf? Bagaimana proses hukum kasus pencabulan belasan santri Nurul Musthofa?

Habib itu tak tersentuh
Empat petugas keamanan tak mengizinkan KBR68H menemui Hasan bin Jafar Assegaf di rumahnya. Anggota majelis pengajian biasa menyebut rumah Hasan sebagai istana. Istana Hasan menjadi pusat kegiatan majelis. Terletak di Kampung Sila Ciganjur Jakarta Selatan. Saban harinya belasan remaja laki-laki tinggal di sana.

Di istana itu pula laki-laki berusia 35 tahun itu mencabuli jemaah laki-lakinya.

Hasan bin Jafar Assegaf adalah pemimpin majelis taklim berbendera Nurul Musthofa. Acaranya rutin digelar tiap Sabtu malam dan Senin malam. Saat taklim digelar di Utan Kayu Jakarta Timur, ribuan jemaahnya menutup jalan utama.

Koordinator Majelis Nurul Musthofa Abdurrahman mengaku, majelis itu kerap didekati pejabat. Bahkan Presiden Yudhoyono pernah hadir di acara majelis ini, lanjut Abdurahman, orang dekat Hasan.

“Nah pada waktu itu dia mau bikin event besar, salah satunya di Masjid Istiqlal. Kebetulan orang-orangnya Syeih Kabbani ini orang-orang elit. Kru mereka mengundang SBY, bukan kita yang ngundang, bukan pula Habib Hasan dekat dengan SBY. Bukan. Sampailah mereka ketemu di situ, bukan dekat, cuma hanya silaturahim.”

Memohon dukungan
Pada taklim yang digelar dua pekan lalu di Cipayung Jakarta Selatan, hadir Ketua Umum DPD Partai Demokrat Jakarta Nachrowi Ramli, sosok yang maju dalam Pilkada DKI 2012. Sebelum mengakhiri ceramahnya, Habib Hasan memohon dukungan jemaahnya.

“Oleh karena itu walaupun Nurul Mushtofa dihadang kanan dihadang kiri, dicaci kanan, dicaci kiri, saya tidak akan mundur dan semua yang hadir mau mundur atau tidak? Tidak. Ucapkan yang kenceng, mau mundur atau tidak? Tidak.”

Hingga lepas tiga bulan belum ada kabar baik dari hasil penyelidikan polisi. Penyidik belum juga menyerahkan Surat Pengembangan Penyidikan. Juru Kepolisian Jakarta Rikwanto mengklaim, polisi sedang menunggu ahli kejiwaan untuk memeriksa korban.

“Kita lagi menunggu dari Departemen Sosial untuk menyampaikan waktu kapan diadakan pemeriksaan psikologis. Kita sudah menyurati mereka, kita minta tenaga ahlinya bidang psikologi agar supaya waktu ditentukan kemudian ahli diberikan dan kita panggil para korban untuk diperiksa secara psikologis. Ini tahap kita yang sedang kita laksanakan tahap ini.”

Pengertian sesama ibu
Ida, ibu Kadar, menyiapkan sepucuk surat untuk istri Hasan. Memohon pengertian sesama ibu. Sementara Kadar, Sanwani dan Somad ingin terus menuntut keadilan. “Saya tu pengennya dia dipenjara trus dia mengakui di depan umum, di depan murid-muridnya biar muridnya tahu, yang salah itu siapa, yang benar itu siapa,” kata Sanwani.

“Kalau misalnya dipenjara otomatis orang-orang pada tahulah. Mana yang bener. Ngaku aja deh. Ngaku aja udah sukur. Kalau minta maaf ya udah, urusan dia,” sambung Kadar.

“Kalau bisa dihukum yang setimpal. Bukan cuma setimpal, ya. Ini kan bukan buat diri saya doang, ini kan juga masih, kasihan juga teman-teman yang masih di sana,” tutup Somad.

SUKMAWATI SUKARNO MENGUNGKAP . . . . . SUHARTO SEORANG BRUTUS!!

Kolom IBRAHIM ISA
Selasa, 13 Maret 2012
——————–

in: <nasional-list@yahoogroups.com> , Tuesday, 13 March 2012, 22:54

SUKMAWATI SUKARNO MENGUNGKAP . . . . . SUHARTO SEORANG BRUTUS!!

Sukmawati Sukarno menulis buku ——

Masih dalam rangka mengingatkan kita semua tentang perlunya mengungkap
sampai ke-akar-akarnya komplotan Jendral Suharto merebut kekuasaan
negara dan pemerintahan dari Presiden Sukarno, dengan memanipulasi
SUPERSEMAR, kiranya perlu dicatat bahwa,

*”MISTERI” SEKITAR SUPERSEMAR, TAK LAIN ADALAH SUATU REKAYASA KAMPUNGAN
UNTUK MEMBIKIN PUBLIK JADI BINGUNG. REKAYASA SEKITAR SUPERSEMAR,
DALANGNYA ADALAH SUHARTO CS UNTUK MENGALIHKAN PERHATIAN DARI MASALAH
YANG HAKIKI SEKITAR SUPERSEMAR.

TANYAKAN KASUS SEKITAR SUPERSEMAR KEPADA MABES TNI ANGKATAN DARAT.
KARENA MEREKALAH YANG PALING TAHU “MISTERI” SEKITAR SUPERSEMAR.

“MISTERI” SUPERSEMAR ADALAH SUATU KOMPLOTAN. *

*SILAKAN BACA DUA JILID BUKU “REVOLUSI BELUM SELESAI”,
BERISI PIDATO-PIDATO PRESIDEN SUKARNO SETELAH 1 OKTOBER 1965
YANG DI-BLACK OUT OLEH SUHARTO CS.

DI SITU BUNG KARNO MENJELASKAN APA ITU SUPERSEMAR.
SAMASEKALI BUKAN MISTERI!!*

** * **

Di bawah ini dimuat sebuah ulasan yang bisa dibaca di situs — ROSO
DARAS — 6 Maret, 2012.
/*http://rosodaras.wordpress.com/2012/03/06/creeping-coup-detat-kesaksian-sukma/*/

* * *

*KESAKSIAN SUKMAWATI SUKARNO*

“*CREEPING COUP D’ETAT MAYJEN SUHARTO”*

Akhirnya, salah satu putri Bung Karno, Sukmawati Sukarno menulis buku.
Judulnya “Creeping Coup d”Etat Mayjen Suharto”. Ini adalah buku
kesaksian seorang Sukmawati. Di cover dalam ia menambakan sub judul
“Kesaksian Hari-hari Terakhir Bersama Bapak…”. Secara tema, topik
“kudeta merangkak” Suharto terhadap Sukarno, bukanlah topik baru. Akan
tetapi, embel-embel kesaksian pribadi putri Putra Sang Fajar, menjadikan
buku ini tetap menarik dikoleksi.

Sejarawan Asvi Marwan Adam berkenan memberi kata pengantar di halaman
depan. Judulnya, “Kudeta Merangkak Suharto dan Kudeta Merangkak MPRS”.
Asvi mencoba mempertegas situasi politik yang mengiringi jatuhnya Bung
Karno. Bahwa bukan saja kudeta merangkak oleh Suharto semata, tetapi di
sisi lain, MPRS pun melakukan upaya kudeta yang sama dalam upaya
mengukuhkan Suharto menjadi Presiden.

Saat peristiwa Gestok terjadi, Sukma menulis, “Saya adala saksi sejarah
yang masih remaja, yang merasakan suasana dan dampak dari peristiwa yang
sangat mengejutkan itu. Suatu peristiwa yang masih merupakan misteri
penuh teka-teki dalam hidup saya….”

Suka juga mengisahkan, “Baru kali ini aku melihat ekspresi wajah Bapk
seperti saat itu. Terlihat suatu ‘shock’ dan kesedihan dalam jiwanya.
‘Kasihan Bapk, ada apa ya?’ batinku bertanya-tanya.”

Sukma lantas melukiskan ingatannya ke hari-hari mencekam di bulan
Oktober tahun 1965. Ia menulis, pada tahun 1965, masih hangat dalam
benakku, cerita film Hollywood berjudul ‘Cleopatra” yang diperankan oleh
aktris cantik Elizabeth Taylor. Dari cerita sejarah itu, aku belajar
tentang nilai kesetiaan dan pengkhianatan. Bahwa seorang Kaisar Romawi
Julius Caesar dikhianati oleh seorang Brutus, merupakan suatu tragedi
yang mengerikan dan bisa terjadi… Pada kenyataanya, bahwa tragedi
pengkhianatan terjadi juga pada abad ke-20, tanggal 1 Oktober 1965, di
Indonesia”.

Ya, Suharo adalah seorang Brutus, dan Sukarno ibarat Julius Caesar.

Point dari “kudeta merangkak” atau “kudeta bertahap” yang hendak diusung
dalam kesaksian Sukmawati tak lain adalah empat tahap upaya penggulingan
Sukarno.

*Tahap I,* pada tanggal 1 Oktober 1965. Saat itulah terjadi tragedi
penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal TNI-AD oleh kelompok G-30-S
yang dipmpin Letkol Untung dengan pasukan AD (berseragam
Tjakrabirawa/pasukan pengawal presiden). Pada hari itu, juga melalui
RRI, Letkol Untung mengumumkan tentang dibentuknya Dewan Revolusi, dan
juga tentang Kabinet Dwikora demisioner. Padahal, hanya presidenlah yang
berwenang mendemisionerkan kabinetnya.

*Tahap II*, *tanggal 12 Maret 1966. Letjen Suharto sebagai Pengemban
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) membubarkan PKI. Padahal,
presiden dan pimpinan parpollah yang berwenang membubarkan partai politik.*

*Tahap III*, tanggal 18 Maret 1966. Letjen Suharto meerintahkan
penangkapan 16 Menteri Kabinet Dwikora, yang merupakan kelanjutan aksi
mendemisionerkan Kabinet.

*Tahap IV*, tanggal 7 Maret 1967. Pencabutan kekuasaan Presiden RI,
Mandataris MPRS, Pangti ABRI, PBR, Dr Ir Sukarno oleh MPRS dengan Tap
MPRS XXXIII/1967yang diketuai oleh Jenderal A.H. Nasution. Sedangkan Tap
MPRS XXXIII/1967 tersebut jelas inkonstitusional karena hanya MPR hasil
Pemilu yang berwenang memberhentikan Presiden. /(roso daras) /

/*http://rosodaras.files.wordpress.com/2012/03/buku-sukmawati.jpg*/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers