Archive for the ‘Sejarah’ Category

Sejarah Zaman Jepang

Sejarah Zaman Jepang

http://forum.viva.co.id/sejarah/1538706-terowongan-neyama-saksi-kekejaman-jepang-terhadap-romusha.html

Terowongan Neyama Saksi Kekejaman Jepang Terhadap Romusha
________________________________________
PADA 17 November 1942, Sungai Brantas meluap, merendam 150 desa dan 9.000 rumah di Kabupaten Tulungagung. Luapan air juga menghancurkan areal pertanian. Genangan air di daerah hilir membentuk tanah berawa yang luas, yang oleh penduduk setempat disebut “campur darat.”
Quote:

Untuk mengatasinya, pemerintah Karesidenan Kediri membangun sebuah terowongan melalui wilayah perbukitan untuk menguras air yang masih menggenangi rawa-rawa ke Samudra Hindia. Selain itu, diharapkan terowongan itu bisa menjaga tanaman padi, yang sedang diintensifkan Jepang untuk menyuplai pasokan makanan tentaranya di medan perang.

Menurut sejarawan Universitas Keio Jepang, Aiko Kurasawa, pemrakarsa pembangunan terowongan tersebut adalah Residen Enji Kihara, lulusan Akademi Militer Jepang dan pernah menjabat kepala Departemen Pembangunan Kantor Gubernur Jenderal di Taiwan. Pembangunan dimulai pada Februari 1943.

Sebagai pelaksana proyek, sebuah koperasi irigasi diorganisasikan di bawah pangreh praja yang bertanggung jawab atas pencarian buruh dan pengamanan dana pembangunan. Proyek terowongan ini membutuhkan 20 ribu romusha dengan dana f.750 ribu; sebanyak f.300 ribu disediakan karesidenan dan sisanya pemerintah militer.

“Karena tidak ada buldoser dan jarang terdapat dinamit, seluruh pekerjaan dilakukan dengan tenaga manusia,” tulis Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol.

Beberapa bulan pertama pekerjaan berjalan lancar, dengan mempekerjakan lebih dari 10 ribu romusha per hari. Mereka mengeruk tanah dengan alat sederhana yang dibawa dari desa masing-masing. Setiap romusha mendapat upah sebesar f.0.14 per hari, sudah dipotong pajak dan makanan. Sedangkan mandor menerima upah f.0.38, sudah dipotong pajak.

Shigaru Sato dalam War, Nationalism, and Peasants menerangkan, untuk mengerjakan terowongan itu, dibuatlah saluran terbuka dengan meratakan punggung bukit. Batu-batu kapur di dasar punggung bukit harus dihancurkan namun tak tersedia cukup bubuk peledak. Permintaan bantuan kepada Departemen Transportasi Jepang di Jakarta ditolak. Bantuan datang dari kepala Departemen Industri, Tennichi Koichi. Dia berminat pada proyek terowongan itu yang dia anggap memiliki potensi meningkatkan produksi pertanian.

“Atas persetujuan atasannya, Yamamoto Moichiro, Tennichi setuju mengalihkan beberapa bubuk peledak yang telah disisihkan dari program pertambangan batu bara di Bayah (Banten Selatan),” tulis Sato.

Sebelum meledakkan bukit, staf Residen Kediri menerima informasi dari warga bahwa rawa-rawa itu sebelumnya menjadi landasan bagi korps penerbangan Angkatan Laut Belanda; dan ketika Belanda mundur mereka membenamkan beberapa bom. Ketika melakukan penyisiran, ditemukan 23 bom. Sebuah dealer bahan peledak milik seorang Tionghoa mengambil 10-20 ton bubuk peledak kuning dari bom-bom itu.

Selain menggunakan peledak, karesidenan juga meminjam mesin pengebor dan kompresor dari Ishihara Sangyo Co. Ltd. Departemen Administrator Militer di Jakarta mengirim seorang kapten Angkatan Darat, seorang insinyur sipil yang berpengalaman dalam pembangunan terowongan. Pembangunan terowongan pun dimulai pada Oktober 1943.

“Residen Kihara antusias. Dia sering bekerja di lokasi konstruksi, menggunakan bor dan mengatur dinamit sendiri. Sampai pada satu kesempatan dia keracunan gas yang dihasilkan oleh ledakan di dalam terowongan dan harus dibawa keluar dari terowongan,” tulis Sato.

Pembangunan menghadapi kendala. Masalah dana bisa diatasi tapi mobilisasi romusha tersendat, bahkan berkurang. Selain karena berlokasi di daerah tertutup rawa dan hutan penuh binatang buas, bahkan diyakini banyak hantu dan roh jahat, dan malaria merebak. Penduduk juga mendapatkan kabar bahwa pekerjaan itu sangat berat. Beberapa romusha tinggal tulang terbungkus kulit. Banyak yang sakit, bahkan meninggal dunia.

Pangreh praja dan pejabat desa dikerahkan dan diberi kuota untuk merekrut romusha. Untuk memenuhi kuota itu, mereka melakukan “bujukan” yang bersifat memaksa. Seorang kepada desa Gurah di Tulungagung mengirim sekitar 500 orang dari desanya.

Target awal pembangunan terowongan rampung awal Juni tapi meleset jadi Juli 1944. Terowongan itu, yang dalam bahasa Jawa disebut Tumpak Oyot (Akar Gunung), diterjemahkan Nishida, penterjemah yang bekerja di Karesidenan Kediri, menjadi Neyama: ne artinya akar dan yama berarti gunung. “Di antara penduduk lokal dan para buruh yang dimobilisasi membangun terowongan itu menyebutnya Neyama romusha,” tulis Sato.

Terowongan Neyama, tulis Aiko Kurasawa, membuat petani di wilayah tetangganya terbebas dari banjir. Tapi terowongan itu membawa akibat yang tak diperhitungkan sebelumnya. Nganjuk, wilayah Kediri utara, kekurangan air.

Terowongan tersebut masih bekerja baik hingga Jepang angkat kaki dari Indonesia. Kerusakan perlahan menghampiri antara lain oleh banjir bandang pada 1955. Empat tahun kemudian, terowongan dibangun kembali sebagai bagian dari Proyek Pembangunan Umum Sungai Brantas dengan biaya dari dana pampasan perang Jepang sebesar US$1.972.000. Proyek ini digarap dua perusahaan konstruksi Jepang, Nippon Koei dan Kashima Kensetsu, di bawah pengawasan Departemen Pekerjaan Umum. Pekerjaan selesai pada April 1961.

Karena Terowongan Neyama dianggap belum cukup menangani banjir di Tulungagung, terutama banjir windon setiap delapan tahun sekali, pemerintah Orde Baru membangun Neyama II yang diresmikan pada 1986.

Neyama kini menjadi objek wisata karena pemandangan dan terowongan drainase besarnya yang melewati gunung. Namun, di balik keindahan itu, ratusan bahkan mungkin ribuan romusha menjadi korbannya.

Peran “Sakura” Dalam Konflik dan Prahara Tahun1965

Peran “Sakura” Dalam Konflik dan Prahara Tahun1965

Sumber:http://forum.viva.co.id/sejarah/1562855-%5Bsejarah%5Dperan-sakura-dalam-konflik-dan-prahara-tahun1965.html

Sejarawan Aiko Kurasawa ungkap peranan Jepang dalam pusaran peristiwa G30S 1965. Membuka kotak pandora.

PADA 30 September 1965, Duta Besar Shizuo Saito berada di Cilacap seusai menghadiri peresmian sebuah proyek perusahaan Jepang. Saito diangkat menjadi duta besar pada 1964. Pilihan ini tepat karena dia pernah memiliki kedudukan penting dalam Gunseikanbu Somubu (Departemen Urusan Umum) pada masa pendudukan Jepang, dan sejak itu dekat dengan Sukarno. Dia bisa bertemu Sukarno tanpa protokol.

Tanpa mengetahui apa yang terjadi di Jakarta, rombongan duta besar berangkat menuju Bandung. Setelah check in di Hotel Savoy Homann, seorang warga negara Jepang yang tinggal di Bandung memberitahu Saito bahwa telah terjadi kudeta di Jakarta. Saito segera berangkat ke Jakarta. Tengah malam dia sampai di Jakarta dan baru mendapat informasi lengkap dari stafnya.

Menurut Aiko Kurasawa, profesor emeritus Universitas Keio, Jepang, pada waktu itu, sudah lewat 24 jam setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Cukup mengherankan seorang duta besar tidak mengetahui kejadian yang begitu penting dalam waktu cukup lama. “Tetapi melihat perkembangan yang begitu cepat dan sebelumnya informasi yang beredar simpang siur, maka dapat dimaklumi tindakan sang duta besar,” kata Aiko dalam seminar di Pusat Penelitian Politik LIPI, Jakarta (17/9).

Selama peristiwa itu, walaupun Kedutaan Jepang tanpa duta besar, mereka tetap mengirim telegram ke Departemen Luar Negeri di Tokyo. Dalam telegram 1 Oktober 1965pukul 12.00 siang tanggal disebut bahwa Letnan Kolonel Untung, komandan batalion Tjakrabirawa, mengambil tindakan untuk mencegah rencana kudeta oleh Angkatan Darat.

Tetapi, dalam telegram yang dikirim pada jam 20.50, disebutkan bahwa peristiwa ini sebenarnya direncanakan Partai Komunis Indonesia dan penjelasan pihak Dewan Revolusi bahwa mereka mengambil tindakan untuk mencegah kudeta oleh jenderal-jenderal itu hanya dalih belaka. Laporan ini berdasarkan informasi “sumber khusus” kedutaan. Laporan ini juga menambahkan analisis bahwa “tidak mungkin presiden bisa merebut kembali kekuasaan sebelumnya” dan “ada kemungkinan terjadi civil war.”
Quote:
Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato dalam catatan hariannya tanggal 2 Oktober 1965 menulis: “Sejak kemarin tidak ada lagi informasi tentang kudeta, dan kita tidak bisa menangkap situasinya. Tentu ini adalah clash antara kiri dan kanan, tetapi tidak begitu jelas pihak yang mana yang menyerang dulu.”
Pada masa awal peristiwa G30S, kebanyakan politisi dalam pemerintahan Jepang bersimpati kepada Sukarno dan berharap dia dapat mengendalikan keadaan. Perdana Menteri Sato mengirim pesan kepada Sukarno mengucupkan “rasa syukur atas keselamatan Presiden”, mengikuti pesan yang telah disampaikan sebelumnya oleh Tiongkok, Pakistan, dan Filipina.

Pesan itu langsung disampaikan oleh Duta Besar Saito pada 12 Oktober 1965. Kalimat pesannya: “Di Jepang ada pribahasa ‘sesudah hujan tanah menjadi lebih keras lagi.’ Seperti itu kami mengharapkan agar Bapak Presiden mengatasi kesulitan yang dihadapi sekarang dan basis negara RI akan menjadi lebih kuat lagi.”

“Sementara negara-negara barat tidak ada yang menyampaikan pernyataan demikian,” ujar Aiko.

Pada saat itu, pemerintah Jepang merasa perlu membantu ekonomi Indonesia dan memikirkan kemungkinan memberi bantuan pangan dan sandang senilai 2 miliar yen. Tetapi, tidak jelas bantuan tersebut ditujukan kepada Sukarno atau kepada Angkatan Darat. Bantuan sebesar itu pasti memperkuat salah satu pihak yang terlibat dalam perimbangan kekuatan. Karena sandang dan pangan kebutuhan rakyat dan tidak bersifat politik atau militer, pemerintah Jepang agak naïf dan tidak memikirkan hal itu. “Hal itu sangat berbeda dengan Amerika Serikat yang selalu berhati-hati agar bantuan mereka tidak jatuh ke tangan Sukarno,” kata Aiko.

Duta Besar Saito bertemu Sukarno pada 11 November dan terkejut mendengar ucapan Sukarno yang menghina CIA dengan mengatakan CIA membiayai propaganda pro-Amerika dengan memakai dana Rp150 juta. “Saito kecewa sikap Sukarno yang tidak mau memahami kenyataan dan memutuskan dia tidak bisa membela Sukarno lagi,” kata Aiko.

Saito menilai Sukarno terlalu dini membuat kesimpulan kepada Amerika Serikat. Cara pandang Sukarno terhadap Amerika Serikat secara tak langsung berpengaruh kepada sikap politik Jepang terhadap Sukarno. Terlebih karena Jepang kongsi Amerika Serikat.

Sejalan dengan keputusan Saito, pemerintah Jepang juga mulai mengambil sikap demikian. Padahal, Perdana Menteri Sato pernah menyatakan kepada Menteri Listrik Setiadi Reksoprodjo ketika bertugas ke Jepang, tentang kemungkinan Jepang memberikan suaka kepada Sukarno.

Menurut Saito, Adam Malik juga pernah meminta kepadanya agar jangan memberi bantuan sebelum ada perubahan pemerintahan. Karena itu, kemungkinan besar Jepang tidak memberi bantuan apa-apa sebelum Maret 1966.

Pada awal Desember 1965, Adam Malik sendiri menerima dana sebesar Rp50 juta dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, melalui Shigetada Nishijima. Pada masa pendudukan Jepang, Nishijima menjadi staf di kantor Angkatan Laut Jepang di bawah pimpinan Laksamana Maeda dan mempunyai hubungan erat dengan para pemuda termasuk Adam Malik. Adam Malik menyerahkan dana tersebut kepada Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP-Gestapu) yang didirikannya bersama Soeharto dan Hamengku Buwono IX. Cerita ini baru dibongkar oleh McAvoy, mantan diplomat Kedutaan Besar Amerika Serikat yang menyerahkan dana tersebut kepada Nishijima. Nishijima sendiri belum pernah mengakuinya, namun dugaan tersebut telah beredar di kalangan komunitas Jepang di Jakarta. KAP-Gestapu diketuai oleh Subchan ZE dan Harry Tjan Silalahi.
Quote:

Selain dana dari Nishijima, menurut pengakuan Dewi Sukarno kepada Aiko Kurasawa, juga ada uang yang diberikan kepada Sofyan Wanandi (Liem Bian Koen) atas keputusan pribadi Perdana Menteri Sato. Dana ini untuk mendukung Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI). KAP-Gestapu dan KAMI adalah gerakan anti-komunis yang menuntut pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan kabinet Dwikora, dan turunkan harga sandang-pangan.
Quote:
Pada 23 Desember 1965, Duta Besar Saito bertemu dengan Sukarno dan memberikan kredit sebesar $6 juta untuk membeli kain untuk hari raya Idulfitri. Nishijima menyampaikan keberatan kepada duta besar. “Dan Duta Besar mengakui bahwa dia telah merelakan ini karena terbawa perasaan kasihan (simpati) kepada Sukarno yang terkait dengan hubungan pribadi,” kata Aiko.
Pemerintah Jepang, yang semula bersimpati kepada Sukarno, kemudian realistis dan mengharapkan adanya rezim baru yang lebih memihak barat dan berorientasi kepada pembangunan ekonomi dengan menerima modal asing. Begitu kebijakan dasar pembangunan di Indonesia berubah, pemerintah Jepang segera mengambil prakarsa membantu Soeharto membangun Orde Baru dan akhirnya menjadi donatur terbesar rezim Soeharto. Di belakang itu, terdapat keinginan kalangan bisnis Jepang yang dari dulu sudah berminat menanamkan modal di Indonesia. Sejak itu, politik luar negeri Jepang terhadap Indonesia lebih cenderung mengutamakan dagang ketimbang politik.[]

Sejarah Soekarno Membubarkan Fremasonry di Indonesia

Sejarah Soekarno Membubarkan Fremasonry di Indonesia

Sumber:http://forum.viva.co.id/sejarah/1582673-sejarah-soekarno-membubarkan-fremasonry-di-indonesia.html

Bercerita soal Rotary Club, Freemason masuk ke Indonesia ada banyak cerita. Banyak sisi dan banyak hal yang belum terungkap. Pada Februari 1961, lewat Lembaran Negara nomor 18/1961, Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivatnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Club, dan Bahaisme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.

Apa sebenarnya Freemason atau Freemasonry itu? CEO Lippo Group James Riady dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Rotary Club of Jakarta Menteng (RCJM) di Jakarta, Jumat (6/12) malam, mengatakan masyarakat alami hedonisme materialisme. James pimpin Rotary Club di sini.

Dalam kaitan ini, cerita Freemason menarik untuk disimak. Organisasi ini adalah merupakan organisasi Yahudi Internasional, organisasi ini merupakan gerakan rahasia paling besar dan paling berpengaruh di seluruh dunia sejak ratusan tahun lalu. Bagaimana terbentuknya dan kapan mulai dibentuknya organisasi sekuler ini, pihak Freemasonry sendiri masih belum bisa menentukan. Banyak dugaan gerakan kebebasan berpikir dan anti dogma (terutama terhadap agama) ini sudah ada sejak sebelum abad pertengahan.

Tujuan Freemasonry sebenarnya mudah diketahui meskipun struktur organisasinya sangat teratur dan rahasia. Secara umum tujuan-tujuan pokok Freemasonry antara lain adalah Menghapus semua agama, Menghapus sistem keluarga, Mengacaukan sistem politik dunia, Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).

Quote:
Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan Goyim (bukan keturunan Yahudi), tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme).

Organisasi Freemason sendiri sudah ada di Indonesia sejak tahun 1736, saat itu seorang Belanda yang bernama Jacobus Cornelis Mattheus datang ke Indonesia bersama VOC untuk berdagang di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia. Setelah beberapa lama tinggal di Batavia Jacobus Cornelis mendirikan pusat aktivitas para anggota Freemanson (logi). Waktu itu organisasi hanya menerima anggota yang berasal dari warga Belanda yang beranggotakan enam orang. Di mana mereka adalah dari kalangan petinggi militer dan sebagian lagi para pengusaha Yahudi.

Di Tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels pun akhirnya berhasil membekukan organisasi tersebut. Namun sayang di masa kepemimpinan Daendels berakhir organisasi ini pun akhirnya muncul kembali dengan membentuk anggota baru dari pedagang Tiongkok dan warga pribumi terutama para ningrat Nusantara. Perkembangan organisasi ini pun sangat pesat, beberapa tokoh-tokoh Nasional pun dikabarkan pernah terlibat sebagai anggota Freemanson yang di antaranya adalah Raden Adipati Tirto Koesoemo, R.M. Adipati Ario Poerbo Hadiningrat dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Di Tahun 1767 pada umumnya dianggap sebagai awal kehadiran Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di Jawa. Selain melakukan pertemuan di logi-logi, mereka juga kerap melakukan pertemuan rahasia di kawasan Molenvliet yang kini menjadi Jalan. Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk membahas mengenai pendirian loji tersebut. Di tahun 1945-1950-an, loji-loji Freemasonry mulai banyak berkembang di Indonesia, beberapa orang pribumi juga ikut bergabung dalam kelompok ini. Mungkin pada masa itu, keikutsertaan mereka pada kelompok ini hanya untuk mencari sesuap nasi, atau mencari aman atau bisa pula hanya karena masalah politik.

Quote:
Setelah berdirinya loji-loji Freemasonry yang mulai banyak berkembang di Indonesia, banyak rakyat yang mulai resah akan adanya gedung tersebut, bahkan oleh kaum pribumi gedung itu disebut pula sebagai Rumah Setan dimana mereka selalu melakukan ritual kaum Freemason yang disebut sebagai pemanggilan arwah orang mati.

Lama-kelamaan hal ini mengusik istana, sehingga pada Maret 1950, Presiden Soekarno memanggil tokoh-tokoh Freemasonry Tertinggi Hindia Belanda yang berada di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut. Di depan Soekarno, tokoh-tokoh Freemasonry ini mengelak dan menyatakan jika istilah Setan mungkin berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap Sin Jan (Saint Jean) yang merupakan salah satu tokoh suci kaum Freemasonry. Walau mereka berkelit, namun Soekarno tidak percaya begitu saja.

Akhirnya, Februari 1961, lewat Lembaran Negara nomor 18/1961, Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivatnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Club, dan Bahaisme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.

Sejarah Operasi Militer Amerika di Melayu Berlangsung Berabad Lalu

Sejarah Operasi Militer Amerika di Melayu Berlangsung Berabad Lalu
http://forum.viva.co.id/sejarah/1510319-sejarah-operasi-militer-amerika-di-melayu-berlangsung-berabad-lalu.html

________________________________________

Pada tanggal, 7 Februari 1831, sebuah kapal milik Amerika Serikat berlabuh di pelabuhan Kuala Batee, Aceh Barat Daya. Kapal bernama Friendship itu dinakhodai oleh Charles Moore Endicot. Kapal ini datang ke Kuala Batee untuk membeli lada hitam, yang ketika itu menjadi salah satu pusat perdagangan lada hitam yang terkenal Aceh.

Ketika kapal itu tiba di pelabuhan tersebut, kapal tersebut diserang oleh sekelompok penduduk Kuala Batee yang datang dengan tiga buah perahu. Tiga awak kapal Amerika tewas dalam serangan tersebut. Kerugian yang dialami diperkirakan mencapai US $ 50 ribu. Namun demikian Kapal tersebut berhasil diselamatkan dari rampasan warga sekitar dengan bantuan dari seorang pembelot dari kalangan orang Aceh sendiri bernama Po Adam. Setiap tahun jumlah lada hitam yang diangkut sekitar 3 ribu ton dari Aceh untuk dijual ke benua lain, termasuk ke Amerika hingga Eropa.

Perampokan atau serangan terhadap Kapal Amerika tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi mereka. Sebab, itulah kali pertama kapal Amerika diserang di perairan Kepulauan Melayu.
Quote:
Peristiwa itu berasal dari kemarahan orang Aceh karena merasa selalu ditipu oleh para pedagang Amerika dalam perdagangan lada. Pernah terjadi satu kejadian, ketika terjadi jual beli antara pedagang Amerika dengan Orang Aceh, berat sebenarnya ladanya adalah 3.986 pikul, tetapi ketika dijual kembali oleh pedagang Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul.
Warga akhirnya tahu bahwa rupanya, pedagang Amerika berlaku tidak adil dengan memalsukan takaran timbangan. Mereka memalsukan timbangan dengan cara menggunakan sebuah alat timbangan yang telah dimodifikasi dan dapat ditambahkan atau dikurangi jumlah timbangannya sesuai kesukaan mereka. Dengan kata lain jika timbangan sebenarnya lada orang Aceh adalah 30 kati maka mereka akan mempertimbangkan kembali dengan timbangan yang dimodifikasi tersebut dan ditemukan timbangan tersebut berkurang menjadi 20 atau 10 kati saja, maka tingkat pembayaran yang diterima orang Aceh akan berkurang.

Itu hanya salah satu faktornya. Penyebab lain, ialah Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, karena Belanda ingin merusak nama baik Pemerintah Aceh supaya terlihat bahwa pemerintah Aceh tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di perairannya. Kondisi ini mampu melemahkan kekuatan ekonomi pemerintah Aceh ketika berkurangnya kapal yang akan berlabuh di sana.

Selain itu diketahui juga bahwa, pihak Belanda telah membayar dan memberikan pasokan senjata ke kapal Aceh yang dinakhodai oleh Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh. Hal ini tentu saja akan memperburuk nama pemerintah Acheh di persada internasional karena Aceh ketika itu memang sebuah kerajaan yang kuat dan terkenal di seluruh dunia. Setelah peristiwa penyerangan tersebut, Kapal Friendship telah terus kembali ke Amerika. Berita tentang peristiwa penyerangan para penduduk Aceh terhadap Kapal tersebut akhirnya tersiar di dada-dada koran utama di Amerika dan Eropa sehingga sebagian besar pihak pemerintah di Amerika merasa geram dan malu akan kejadian tersebut karena mereka adalah diantara kekuatan besar dunia pada saat itu.

Ditambah lagi saat salah seorang pemilik kapal itu adalah Senator Nathanian Silsbee. Silsbee kemudian mengirim surat kepada Presiden Jackson dan meminta Amerika menuntut ganti rugi atas kerugian yang dialami, dan mengirim kapal perang ke perairan Aceh. Surat yang sama juga dikirim oleh Robert Stones, pemilik kapal yang lain, mendesak Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury agar mengirim kapal perang ke Aceh. Diringkas cerita, Presiden Jackson telah setuju dengan tuntutan tersebut. Maka pihak pemerintah Amerika Serikat telah mengirim kapal perang Potomac ke Aceh. Ini adalah kapal perang terbaik yang dimiliki Amerika pada zaman itu. Kapal tersebut telah berangkat dari New York dan tiba di Aceh pada 29 Agustus dengan membawa 260 pasukan Marines.

Pada 5 Februari 1832 kapal perang Amerika Potomac tiba di perairan Kuala Batee. Commodore John Downes berikutnya telah berhubungan dengan si pembelot Po Adam untuk mengetahui situasi di Kuala Batee. Menurut informasi yang diberikan Po Adam bahwa Raja yang menjadi wakil Aceh sebagai administrator Kuala Batee sama sekali tidak akan membayar ganti rugi yang dituntut Amerika. Commodore John Downes kemudian memutuskan untuk menyamarkan kapal dan krunya sebagai kapal dari Denmark untuk memasuki area pelabuhan Kuala Batee.

Penyamaran yang dibuat berhasil ketika orang-orang Aceh yang berpatroli di pantai tidak mencurigai kapal perang tersebut. Dia kemudian mengirim pengintai untuk ke darat untuk mengetahui posisi dan kekuatan militer Kuala Batee. Namun demikian kehadiran mereka akhirnya berhasil dilacak tim Aceh.

Sebelum meninggalkan Kuala Batee, Kapal Potomac telah membombardir pelabuhan dengan meriam-meriamnya. Pelabuhan yang disebut Amerika dengan Kuallah Battoo itu akhirnya hangus terbakar tinggal puing-puingnya saja. Dalam pembedilan tersebut dikatakan lebih dari 300 orang penduduk lokal telah maut. Sebelum kapal Potomac berlabuh pulang beberapa orang Raja dari protektorat Acheh yang sebelum ini turut sama berjuang di medan perang menyerah dan merayu agar negeri mereka tidak diserang seperti Kuala Batee. Downes kemudian berjanji tidak akan menyerang negara-negara yang bertetangga dengan Kuala Batee asalkan penduduk lokal tidak menyerang lagi kapal-kapal Amerika.

Sebenarnya tidak semua orang Amerika yang setuju dengan penyerangan itu. Media bisnis di Amerika, Nile s Weekly Register mengecam habis-habisan penyerangan tersebut. Namun, Presiden Jackson, berusaha untuk menutup peristiwa tersebut dari publik.

Dalam peristiwa ini kita bisa lihat bahwa kebiadapan Amerika dan sikap suka mengganggu ketentraman negara lain adalah suatu yang tidak asing dan telah dipraktekkan mereka sejak dulu. Terlepas dari wanita atau kanan-anak tentara Amerika dengan kejam membunuh seluruh penduduk kampong di Kuala Batee. Semoga kisah ini menjadi peringatan kepada kita bahwa Amerika dan konco-konconya sanggup melakukan apa saja untuk menguasai ekenomi, politik dan sosial negara lain untuk mencapai tujuan New World Order mereka. Jadi waspadalah anak Melayu sekalian. Jika mereka mampu mengirim tentara ke Alam Melayu hampir dua abad yang lalu apalagi di masa sekarang.
__._,_.___

Sejarah Bung Karno dan Politik Minyak Indonesia

Sejarah Bung Karno dan Politik Minyak Indonesia

http://forum.viva.co.id/sejarah/1678738-sejarah-bung-karno-dan-politik-minyak-indonesia.html
________________________________________
Quote:
“Jangan Dengarkan Asing..!!”
Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Quote:

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. “Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya” kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia “Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang” teriak Bung Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

“Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang” Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee….joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak…inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri”.

Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tampa Moskow, tampa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”. Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia” mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!” waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.
________________________________________
Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia.

Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”. Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : “Generaal Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik” begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya. Andai Indonesia berdaulat energinya, Pertamina menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia dan menjadi perusahaan modal yang mengakusisi banyak perusahaan di dunia maka minyak Indonesia tak akan semahal sekarang, rakyat yang dicekik terus menerus.

Pada Bung Karno, hendaknya jalannya sejarah Indonesia harus dikembalikan.

Tijel Djelau: Tokoh Pejuang Kemerdekaan

Tijel Djelau:
Tokoh Pejuang Kemerdekaan

Tijel Djelau pada Kegiatan Kongres Rakyat Kalimantan Tengah II tahun 1998 di Palangka Raya. (Dok. Kusni Sulang, Repro. Andriani S. Kusni)

Tercatatlah sosok tokoh Tijel Djelau, seorang di antara tokoh pejuang kemerdekaan yang memberikan darma bakti pengabdian baik dalam perjuangan mempertahankan proklamasi kemerdekaan maupun dalam ikut mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, termasuk upaya membangun Kalimantan Tengah.

Pejuang
Bagi Tijel Djelau, kata-kata revolusi, penjajah, dan merdeka sangatlah bermakna, lebih diakrabi dan dihayati, karena beliau adalah salah seorang pejuang kemerdekaan, turut berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di bumi Kalimantan dan turut pula mengisi kemerdekaan. Dengan demikian Tijel Djelau adalah tokoh pejuang sekaligus veteran pejuang kemerdekaan RI.

Sebagai pejuang sampai wafatnya, 6 September 2010, adalah ketua/ anggota Pengurus Markas Daerah LVRI (Legiun Veteran RI) Kalimantan Tengah dan anggota pengurus DHD (Dewan Harian Daerah) Angkatan ‘45 Kalimantan Tengah. Pria kelahiran Kasongan, 10 Agustus 1927 itu mengenyam pendidikan mulai dari Zending Vervolgschool di Kasongan (1936-1941), Kioin Joseijo (sekolah guru 2 tahun) zaman Jepang di Sampit (1942-1944) dan pendidikan/ kursus Kader Kementerian Penerangan RI (KEMPEN) di Yogyakarta (1949).

Sesuai pendidikannya, pemuda Tijel Djelau, diangkat menjadi guru Sekolah Rendah/ Sekolah Dasar, mula pertama ditempatkan di Rantau Pulut, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan sekarang, dari tahun 1944-1947, kemudian dipindahkan dan ditempatkan di Samba Bakumpai, Tumbang Samba, ibukota kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan (1948-1949). Sang guru muda, Tijel Djelau, atas panggilan jiwanya melakukan gerakan perjuangan menentang penjajah NICA/ Belanda dan bergabung dengan pasukan MN 1001/ MTKI (Mohammad Noor 1001/ Mandau Talawang Kalimantan Indonesia) untuk Kawasan Sungai Seruyan.

Dalam pada itu, sewaktu melaksanakan tugas sebagai guru di Tumbang Samba awal 1948, oleh ALRI Divisi IV dari Banjarmasin (tentu saja secara rahasia), Tijel Djelau ditunjuk sebagai perwakilan ALRI Divisi IV untuk daerah Katingan berkedudukan di Tumbang Samba.

Sebagai angoota pasukan MN 1001, Tijel Djelau dengan pangkat Kapten, melaksanakan tugas mempersiapkan pembentukan Markas Pedalaman di Sepan Biha, hulu Sungai Manjul, anak Sungai Seruyan. Pada suatu hari pertengahan tahun1946, ada seorang lelaki datang menemui Tijel Djelau seraya memperkenalkan diri bernama “Tjilik Riwut”. Tjilik Riwut adalah sepupu sekali Tijel Djelau dan sangat dikenal oleh Tijel Djelau. Maka saat menerima “perkenalan” itu, membuat Tijel Djelau tersenyum dikulum, dan orang yang menyebut diri “Tjilik Riwut” itu buka kartu bahwa ia adalah Kapten Mulyono, PMC (Penyelidik Militer Chusus) MBT/ TNI dan mendapat tugas dari Tjilik Riwut untuk menemui Tijel Djelau. Rombongan Kapten Mulyono datang dari Jawa terdiri atas 11 orang, di antaranya Opsir Muda AURI Marconi R. Mangkin, yang asal muasalnya warga domestik etnik Dayak juga dari Suku Dayak Ngaju. Pasukan itu meneruskan perjalanan ke Tumbang Manjul, selanjutnya menuju Sepan Biha, tempat latihan militer MN 1001.

Tak pelak (sekalipun NICA/ Belanda tak memperoleh bukti) maka Tijel Djelau dalam kurun waktu 1945-1949 menjadi langganan penangkapan/ penyiksaan, ditahan/ dihukum, dan mengalami penderitaan akibat tindakan pasukan NICA/ KNIL Belanda. Penguasa NICA/ KNIL Belanda memang cukup repot dan pusing atas gerakan “ekstremis” pemuda Tijel Djelau itu.

Betapa tidak, pada Oktober 1945, ketika rombongan PETA/ BPRI dari Surabaya tiba di Kuala Pembuang lalu membentuk Pemerintahan RI dimana Tijel Djelau menjadi anggota sekaligus juga melatih para pemuda mengikuti PBB (latihan Pelajaran Baris-Berbaris) dengan senjata berupa antara lain bambu runcing. Pada bulan Desember 1945, datang pasukan NICA/ KNIL menggempur dan Tijel Djelau ditangkap lalu dibawa ke Sampit dengan mendapat pemeriksaan dan siksaan.

Awal September 1946, Belanda dari Sampit mengirim pasukan dan ditempatkan di Tumbang Manjul. Pasukan patroli itu tidak tanggung-tanggung terdiri dari unsur KNIL (Konongklijke Nederland Indische Leger atauTentara Kerajaan (di) Hindia Belanda) dan KL (Tentara Kerajaan) yang intinya adalah KLM (Koningklijke Lands Macht atau Pasukan Angkatan Darat Kerajaan Belanda), yang terakhir semuanya “bule”, yang siap menggempur pasukan MN 1001 pimpinan Kapten Mulyono yang bermarkas di Sepan Biha itu (KNIL/ KL masih belum mengetahui dimana tempat markas Kapten Mulyono). Kapten Mulyono akhirnya memutuskan lebih baik menyerang lebih dahulu daripada diserang oleh Belanda KNIL/ KL itu.

Demikianlah, pada 17 September 1946, pasukan MN 1001/ TKR, dipimpin oleh Kapten Mulyono dengan persenjataan senapan dan mandau, lewat tengah malam menyergap pasukan KNIL/ KL yang bercokol di Sanggrahan Tumbang Manjul itu. Di pihak KNIL/ Kl banyak yang gugur dan pihak MN 1001 pun jatuh korban. Setelah pertempuran, Kapten Mulyono kembali ke Jawa untuk melaporkan perkembangan perjuangan di Kalimantan, sementara pasukannya diperintahkan kembali ke markas di pedalaman serta siap sedia mempertahankan daerah Seruyan dari serangan NICA/ Belanda.

Dari Rantau Pulut, Kapten Mulyono menulis surat kepada Kapten F. J. Hips, wakil kontrolir (controleur) Onderafdeling Sampit di Sampit. Dan surat itu diminta Tijel Djelau mengantarnya ke Sampit. Isi surat itu antara lain menyatakan pertempuran di Tumbang Manjul, yang bertanggung-Jawab adalah Kapten Mulyono/ pasukan MN 1001/ TKR. Agar Hips jangan menyakiti rakyat yang tidak berdosa. Setelah surat itu disampaikan setangan/ langsung ke alamatnya, tak ayal Tijel Djelau pun ditangkap oleh Sang kapten KNIL, si Hips. Tijel Djelau menjadi bulan-bulanan penyiksaan. Rakyat dan pasukan MN 1001 di Seruyan banyak terbunuh akibat operasi militer KNIL/ KL yang berlangsung sampai tahun 1947.

Pahit Getir
Pahit getir dan derita nestapa yang dialami pejuang muda dalam turut menegakkan dan mempertahankan serta membela proklamasi kemerdekaan di bumi Kalimantan yang menjadi “sarang” pendudukan NICA/ Belanda dengan pasukan kolonial KNIL/ KL-nya menjadi kenangan yang mendalam antara lain:
1. Bahwa para pejabat NICA/ Belanda yang memeriksa/ mengintrogasinya, bila sang pemeriksa kulitnya bule tulen dan mata biru, cara memeriksa/ mengintrogasinya adalah sopan, tidak menyiksa malahan disuguhi minum susu atau jenis minuman lainnya. Namun apabila sang pemeriksa NICA/ Belanda berkulit sawo matang atau hitam lebam atau kehitam-hitaman, begitu kejam, senang menyiksa disertai omong kasar.
2. Pengalaman Tijel Djelau lainnya, pada suatu ketika ia ditangkap di Kuala Kuayan lalu dibawa ke Sampit dengan kapal. Dengan kedua tangan diborgol ke belakang lalu diikat di tiang kapal itu. Di tengah perjalanan, keluarlah dua orang bule berlainan jenis kelamin lalu mereka duduk dekat sang “ekstremis” dan dengan sangat asyik-masyuk bercumbu-cumbuan dengan sesekali melirik ke arah tawanan dengan sikap mengejek dan menghina. “Rupanya memandang saya barangkali bukan sebagai manusia,” gumam Tijel dalam hati.

Di Keresidenan Kalimantan Selatan, atas permintaan Belanda terhitung tanggal 2 September 1949, mulai dilakukan gencatan senjata antara pasukan Belanda (KNIL/ KL) dengan pasukan RI. Menjelang akhir 1949, Tijel telah menerima berita adanya gencatan senjata. Sewaktu pergi dan tiba di Kasongan, ia ditangkap oleh serdadu Belanda, lalu diikat di tiang bendera di muka kantor HPB (Hoofd van Plaatselijk Bestuur) Kasongan selama dua hari dua malam. Namun, pada malam ketiga, datanglah kapal dari Sampit menjemput pasukan KNIL di Katingan. Bersamaan dengan itu, diterima surat dari Kapten Mulyono di Sampit ditujukan kepada Tijel Djelau. Surat itu memberitahukan, Sampit telah menjadi daerah kekuasaan RI dan agar Tijel Djelau segera mengatur roda pemerintahan RI di Kasongan (Katingan). Maka segera pimpinan HPB membebaskan Tijel Djelau, sekaligus HPB menyerahkan persoalan dimaksud oleh Kapten Mulyono. Tindakan mengatur kelancaran pemerintahan, oleh Tijel Djelau diserahkan sepenuhnya kepada HPB (Kiai Kepala), dan Tijel Djelau segera melaksanakan tugas lain di daerah Katingan.

Atas jasa-jasanya kepada negara dan bangsa, Tijel Djelau telah dianugrahi tanda jasa dan penghargaan dari pemerintah/ negara antara lain berupa Bintang Gerilya, Bintang Sewindu, Satya Lencana PPK (Peristiwa Perang Kemerdekaan) I dan II, Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun, Bintang Legiun Veteran RI, serta Satya Lencana Legiun Veteran RI.

Keikutsertaan Membangun Daerah
Sesudah pemulihan kedaulatan, Tijel Djelau ditempatkan di Sampit dengan tugas mempersiapkan pembentukan Jawatan Penerangan (Japen) RI di Sampit dalam rangka mempersiapkan Kabupaten Kotawaringin dimana Tjilik Riwut diangkat sebagai bupati.

Sesudah terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah, bersama-sama dengan teman seperjuangannya, Tijel Djelau membentuk Markas Daerah Legiun Veteran RI untuk Kalimantan Tengah, sementara berkedudukan di Banjarmasin (1958) dan mulai Desember 1959 Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah berpindah dari Banjarmasin ke Palangka Raya, maka kedudukan Mada LVRI Kalimantan Tengah pun pindah pula ke Palangka Raya.

Dari 1960-1967, Tijel Djelau menjadi anggota DPRD-GR (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong) Provinsi Kalimantan Tengah. Di samping sebagai anggota DPRD-GR itu, sejak 1960 pula, Tijel Djelau dipercayakan sebagai Direktur Perumahan Daerah, antara lain membangun perumahan di Palangka Raya mulai Kompleks PCPR I dan PCPR II yang dibangun Pemda Kalimantan Tengah, dananya berasal dari usaha Yayasan Kas Pembangunan Kalimantan Tengah (YKP-KT)

Setelah semenjak 1952 berhenti dari pegawai negeri, tokoh pejuang nan enerjik itu menekuni kegiatan kewiraswastaan. Antara lain mulai 1968 bergerak di bidang usaha perkayuan dengan mempelopori realisasi eksport kayu gelondongan melalui pelabuhan Pulang Pisau dan perkapalan/ ekspor kayu itu melalui pelabuhan alam Teluk Sebangau.

Demikianlah mengenang sejenak salah seorang tokoh Kalimantan Tengah, Tijel Djelau, yang oleh keluarga dan kemenakannya dipanggil mama Dengek dan oleh teman-teman selingkungannya dipanggil bapa Dino, sesuai kebiasaan orang Dayak memanggil dengan sebutan nama anak tertua. Tijel Djelau wafat pada hari Senin, 6 September 2010, di usia 83 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sanaman Lampang, Jalan Tjilik Riwut kilometer 2,5 Palangka Raya. Selamat jalan Tijel …

Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, 15-16 November 2010. in: Kumpulan Tulisan TT. Suan Jld.I, Penerbit: Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah.

Mahir Mahar-George Obus-Tjilik Riwut: Trio Pendiri Kalimantan Tengah

Mahir Mahar-George Obus-Tjilik Riwut:
Trio Pendiri Kalimantan Tengah
Oleh TT. Suan

Peristiwa langka adalah pada Peringatan Pemancangan Tiang Pertama Pembangunan Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, 17 Juli 1970. Jumat malam diselenggarakan malam resepsi bertempat di Gedung Pertemuan Umum Sapta Marga Jl. A. Yani, Palangka Raya. Selain dimeriahkan oleh artis dari ibukota Jakarta yang tergabung dalam Trio Erosa (Erni Erawaty Djohan, Oslan Husein, Alwi), namun lebih dari sekedar meriah tapi memberikan nilai “bobot”, resepsi yang diselenggarakan oleh Walikota Palangka Raya W. Sandy adalah karena berkenan hadir bareng 3 tokoh, Mahir Mahar, George Obus, dan Tjilik Riwut.

Mereka bertiga bukan tokoh sembarang tokoh. Mereka bertiga selain tokoh nasional, pejuang kemerdekaan “ikon” asal etnis Dayak, yang jadi tokoh panutan dan yang tak kalah pentingnya, mereka bertiga adalah tokoh pendiri Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka adalah lebih tinggi dari Trio Erosa tapi trio pendiri Provinsi Kalimantan Tengah, bersama-sama para tokoh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah lainnya.

Dikatakan Trio Bapak pendiri Provinsi Kalimantan Tengah karena kenyataan peran mereka masing-masing sangat menentukan bagi terwujudnya suatu provinsi otonom yang tak terpisahkan dari NKRI. Provinsi Kalimantan Tengah lahir pada 23 Mei 1957 dikokohkan dengan Undang-Undang Darurat (UUDrt) Nomor 10 tahun 1957.

Mahir Mahar perannya besar sekali mendorong terselenggaranya Kongres Rakyat Kalimantan Tengah di Banjarmasin pada 2-5 Desember 1956. Sebagai ketua panitia kongres, Mahir Mahar terpilih sebagai Ketua Presidium Kongres dan terpilih pula sebagai Ketua Badan Pekerja Dewan Rakyat Kalimantan Tengah. Adalah Mahir Mahar pula yang ditunjuk sebagai ketua panitia guna merumuskan dan mencari dimana daerah atau tempat yang pantas atau wajar untuk dijadikan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Panitia tersebut seterusnya melaksanakan tugas untuk memberi nama bagi ibukota provinsi. Hasil kerja panitia rampung akhir Maret 1957, diserahkan kepada Gubernur Pembentuk Kalimantan Tengah R. T. A. Milono dan diterima baik oleh pemerintah pusat pada awal April 1957.

Bupati Kapuas George Obus, selain diangkat sebagai pimpinan (kepala) Kantor Persiapan Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah, juga diangkat sebagai anggota panitia yang diketuai Mahir Mahar itu. Dan Tjilik Riwut, perannya yang besar mendorong PPHRKT (Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah) untuk berjuang terus menuju terwujudnya provinsi otonom Kalimantan Tengah. Tjilik Riwut yang residen, diperbantukan pada Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah, juga adalah anggota panitia pimpinan Mahir Mahar yang dikemukakan di atas.

Ihwal Gedung Sapta Marga yang disebutkan di awal tulisan ini, terletak di Jl. A. Yani, di muara jalan yang sekarang Jl. Tambun Bungai, sebelumnya bernama Jl. Pemuda. Sebagaimana warga kota Palangka Raya sekarang menyaksikannya, di lokasi itu tampak berdiri berderet ruko. Sementara Gedung Pertemuan Umum milik KODAM XI (Tambun Bungai), sudah tiada.

Ditandatangani Bersama
Kehadiran Trio Tokoh secara berbarengan, yang tidak pernah terjadi sebelum maupun sesudahnya, jadi merupakan peristiwa yang terjadi hanya satu kali saja (“een malig”) dan tidak terulang lagi.

Inti acara pada resepsi itu adalah penyampaian sejarah singkat ihwal pembentukan Provinsi Otonom Kalimantan Tengah dan ihwal penetapan serta pemancangan tiang pertama pembangunan Kota Palangka Raya sebagai ibukota Kalimantan Tengah. Istimewa pula, naskah pidato dengan judul Sejarah Singkat Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemancangan Tiang Pertama Kota Palangka Raya, tersebut ditandatangani oleh mereka bertiga serta dibacakan langsung oleh Tjilik Riwut selaku juru bicara Trio Tokoh Pendiri Provinsi Kalimantan Tengah itu.

Dalam “mengantar” pembacaan sejarah singkat itu, dimulai dengan kata-kata mengawali kalimat: “Bersyukur kepada Yang Maha Besar Tuhan bahwa pada malam ini, kami dapat menghadiri perayaan HUT XIII Kota Palangka Raya di Kota Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah yang kita cintai.”

Menjelang warga Kalimantan Tengah merayakan hari jadi ke-50 Provinsi Kalimantan Tengah dan hari jadi Kota Palangka Raya, ibukota Kalimantan Tengah tahun 2007, Trio Tokoh besar menurut urutan tahun kelahirannya, yang tertua adalah George Obus, kemudian Mahir Mahar, lalu “bungsu” Tjilik Riwut, semuanya telah dipanggil oleh Tuhan Sang Pemilik meninggalkan kita semua. George Obus 24 Desember 1902-19 April 1982, Mahir Mahar 9 Agustus 1914-29 September 1994, dan Tjilik Riwut 2 Februari 1918-17 Agustus 1987.

Dalam Kenangan
“Petikan” dari peranan penting mereka bertiga sebagai pendiri provinsi otonom Kalimantan Tengah yang dikemukakan di atas merupakan bagian dari perjuangan dan pengabdian mereka kepada nusa, bangsa, dan negara. Perjuangan, pengabdian, dan jasa-jasa mereka kepada daerah pantas dikenang, lebih-lebih oleh angkatan penerus generasi muda terutama generasi penerus daerah Kalimantan Tengah.

Mahir Mahar, salah seorang tokoh pergerakan nasional, mengenyam pendidikan berturut-turut di Makssar dan Surabaya. Sejak sekolah ikut aktif dalam pergerakan pemuda. Sewaktu di Makassar menjadi anggota IM (Indonesia Muda), anggota KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Mahar muda berteman dengan Manai Sophian dan A. M. Sangadji, sama halnya dengan Mahir Mahar, semuanya telah almarhum. Dua orang disebutkan terakhir adalah di antara para tokoh pergerakan nasional dan pejuang besar kemerdekaan.

Di Bandung dan Surabaya aktif dalam kegiatan pergerakan partai politik, karena itu Mahir Mahar muda “merasakan palu godam tangan besi” penjajah Belanda ketika ditahan di Penjara Sukamiskin di Bandung.

Kembali ke Kalimantan tahun 1937, Mahir Mahar muda bekerja pada BB (Binnelands Bestuur) berturut-turut menjabat Kepala Onder Distrik dan Kepala Distrik (Onderdistricthoofd Districthoofd) antara lain di Plaihari, Pulang Pinang. Di zaman Jepang, Fuku Guncho dan Guncho di Puruk Cahu.

Sejak 1938, menerima “estafet” kepemimpinan PD (Pakat Dayak) bersama-sama teman sejawatnya di antaranya Tjilik Riwut, C. Luran, E. S. Handuran, Chr. Nyunting, Nona Bahara Nyangkal.

Awal Desember 1945, bersama-sama teman seperjuangannya, A. M. Sangadji, di Puruk Cahu, menaikkan bendera merah-putih dengan pernyataan, Tanah Dayak masuk wilayah Negara RI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. DDB (Dewan Dayak Besar) yang didirikan akhir 1946, Mahir Mahar diangkat sebagai sekretaris dan pada tahun 1949 menjadi Kepala Daerah Dayak Besar.

Dalam perjuangan rakyat Kalimantan Tengah menuntut terbentuknya provinsi otonom, dengan melangsungkan Kongres Rakyat Kalimantan Tengah di Banjarmasin dari 2-5 Desember 1956. Mahir Mahar terpilih menjadi presidium kongres dan sekaligus pula dipilih menjadi Ketua Dewan Rakyat Kalimantan Tengah.

Sekalipun tidak lagi duduk di jajaran pemerintahan, tokoh nasional pejuang tanpa tanda jasa Mahir Mahar tetap aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan Antara lain di tahun 1954 sebagai salah seorang pendiri Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Tahun 1967-1972 menjadi anggota DPR-RI sebagai wakil dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia).

Dari tahun 1974-1986, Mahir Mahar adalah Ketua MPI (Masyarakat Perhutanan Indonesia) Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah. Tahun 1987 diangkat Penasihat Gubernur Kalimantan Tengah. Sejak tahun 1960 sampai 1981, aktif di bidang keagamaan, menjadi bendaharawan Majelis Synode Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) di Banjarmasin.

Ihwal George Obus dan Tjilik Riwut, kedua-duanya kelahiran Kasongan (baca, Kasungan), mereka berdua adalah di antara para putra bangsa penyandang nama besar pejuang perintis kemerdekaan RI dan pejuang kemerdekaan pahlawan nasional.

Dua orang putra Kasongan itu di dalam perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negara dan dalam meniti karier mereka adalah seperti dua orang bersaudara kakak-beradik antara lain diketahui riwayat hidup masing-masing terutama semenjak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

George Obus terpilih sebagai ketua BPCG (Badan Pembantu Oesaha Goeboernur Borneo), Tjilik Riwut ditunjuk memimpin Rombongan II Oetoesan Pemerintah Repoeblik Indonesia (ROPRI II) ke Kalimantan untuk menegakkan kekuasaan dan kedaulatan NRI di kawasan itu yang diduduki Pasukan MN-1001 Mobiele Brigade Markas Besar Tentara (MBT TRI/ TNI) di Yogyakarta.

George Obus dengan pangkat Letnan Kolonel Angkatan Laut RI (ALRI) ditugaskan sebagai Staf I ALRI Divisi IV bagian intelejen merangkap pula sebagai Staf IV/Intelejen Markas Besar TNI-AL. George Obus dan Tjilik Riwut menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), sama dengan Parlemen RI Proklamasi) di Yogyakarta.

Selanjutnya “kakak-beradik” itu sesudah pemulihan kedaulatan ditugaskan kembali ke Kalimantan dan diangkat, mula-mula sebagai Kepala Pemerintah Negeri (wedana) kemudian menjadi Bupati Kepala Daerah pada tahun 1950, Tjilik Riwut untuk Kabupaten Kotawaringin dan George Obus untuk Kabupaten Barito.

Tjilik Riwut awal 1957 dinaikkan pangkatnya menjadi residen dan pada tahun 1958, George Obus dinaikkan pangkatnya menjadi residen. Tjilik Riwut sebagai pejabat gubernur Kalimantan Tengah menggantikan R. T. A. Milono seterusnya menjadi Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Tengah periode 1958-1967.

George Obus diangkat menjadi anggota MPRS (1960-1967) sedangkan Tjilik Riwut dari tahun 1957-1963 menjadi anggota Dewan Nasional/ DENAS dan Dewan Pertimbangan Agung RI, tahun 1964-1966 diangkat menjadi anggota MPRS RI.

Demikianlah sekelumit sajian perjuangan dan pengabdian Trio Tokoh besar Kalimantan Tengah. Pada peringatan Hari Jadi Kalimantan Tengah yang ke-50 tahun 2007, seluruh warga masyarakat Kalimantan Tengah sejenak tepekur untuk mengenang jasa-jasa mereka yang sangat besar, baik terhadap nusa, bangsa, dan daerah Kalimantan Tengah.

Harian Dayak Pos, Palangka Raya, 26-28 Mei 2007
Kumpulan Tulisan TT.Suan, Jld. I Penerbit: Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah.
Tulisan ini sekaligus membantah sementara orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai pendiri Kalteng.ketika banyak pelaku sejarah Kalteng sudah tiada.

Roeslan Baboe: Putra Dayak Pertama sebagai Duta Besar RI

Roeslan Baboe:
Putra Dayak Pertama sebagai Duta Besar RI

 

Oleh TT.Suan

Menarik keterangan Ketua Umum Partai Damai Sejahtera (PDS) Ruyandi Hutasoit bertajuk PDS Usulkan Dubes RI Orang Dayak di Harian Kalteng Pos terbitan 17 April 2007. Ketua Umum PDS itu mengatakan, ”Hingga kini orang Dayak tak satu pun belum pernah menjadi duta besar. Oleh karena itu, PDS dalam kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono ini berkeinginan untuk mengusulkan orang Dayak menjadi Dubes RI.”

Lebih menarik lagi, Flederyck yang anggota Komisi D DPRD Kalimantan Tengah yang mendampingi Ketua Umum PDS, mengaku bangga jika keinginan PDS untuk mencari orang Dayak menjadi duta besar dapat tercapai. Kata Flederyck, “Sebab selama ini orang Dayak belum ada yang pernah menjadi duta besar, untuk itu pihaknya selaku kader PDS mengharapkan sekali ada orang Dayak yang bisa menjadi duta besar.”

Nampaknya, Ketua Umum PDS itu memperhatikan betul atas adanya wakil/ duta bangsa (duta besar) diusung dan diusulkan oleh PDS dengan mengatakan, “Kita sudah menyiapkan sepuluh calon duta besar dari PDS yang berasal dari Papua, Sulut, Ambon, NTT, Dayak, dan Jawa. Yang pasti, dimana PDS memiliki dukungan mayoritas, untuk itu saya meminta dukungannya kepada seluruh partisan di seluruh Indonesia.”

Sekiranya ditafsirkan apa yang dikatakan oleh Ruyandi Hutasoit adalah pernyataan politis dalam kerangka PDS menghadapi pelaksanaan pesta demokrasi pada tahun 2009 untuk mendapat suara, dan yang pasti, menurut yang tersurat, PDS merasa berkepentingan atas adanya wakil bangsa “pangsa” duta besar tersebut.

Dubes RI Putra Dayak
Bila Ketua Umum PDS, Ruyandi Hutasoit, mengatakan, “Hingga kini orang Dayak tak satu pun belum ada yang pernah menjadi duta besar”, dapat dipahami karena umumnya orang di luar Kalimantan kalau berbicara tentang orang Dayak, terbayang di pelupuk mata mereka gambaran orang Dayak itu terbelakang disertai anggapan yang bukan-bukan. Dan cukup menyedihkan bila Flederyck, yang anggota DPRD Kalimantan Tengah dari Komisi D, dan warga Kalimantan Tengah dari komunitas Dayak, ternyata latah bila juga mengatakan, “… selama ini orang Dayak belum ada yang pernah menjadi duta besar …”

Padahal adalah sebaliknya. Orang Dayak telah ada yang menjadi Duta Besar RI. Putra Dayak pertama yang menjadi Duta Besar RI itu adalah Roeslan Baboe. Kenyataan pula menunjukkan, sejak terbentuknya Republik Indonesia (NRI), telah ada orang Dayak yang menjadi diplomat. Jabatan duta besar atau ambassador telah dimaklumi sebagai jabatan tertinggi dalam “dunia diplomatik.”

Roeslan Baboe, yang merupakan orang Dayak pertama menjabat Duta Besar RI, antara lain bertugas di Kerajaan Thailand (Kingdom of Thailand) dan di Republik Hongaria (Republic of Hungary). Sebelum itu, Roeslan Baboe, sebagai diplomat ditugaskan pada kedutaan besar RI di Amerika Serikat dengan menjadi Konsul Indonesia di San Fransisco.

Diplomat Roeslan Baboe memulai karirnya dengan jabatan Sekretaris I pada kedutaan besar RI di New Delhi, Republik India, pada awal tahun 1948. Roeslan Baboe adalah di antara aktivis mahasiswa Yogyakarta dan pernah menjabat (terpilih) sebagai ketua PPMI (Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia. Lihat buku Pergerakan Mahasiswa Indonesia terbitan DJawatan Pendidikan Masjarakat, Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, 1951, hal. 53).

Diplomat II
Orang Dayak yang kedua pegawai negeri sipil yang bekerja dan memberikan darma baktinya di Departemen Luar Negeri RI adalah Imanuel Kenan Sandan. Selama meniti karier diplomat itu, berturut-turut ditempatkan dan bertugas di Kedutaan Besar RI di Ankara, Turki dan Kedutaan Besar RI di Berlin, Jerman, serta pada Kedutaan Besar RI di Hanoi, Vietnam, yang terakhir menjabat sebagai Kepala Bidang Politik dengan gelar Diplomatic Minister Counselor. Kembali melaksanakan tugas di Departemen Luar Negeri RI di Jakarta menduduki jabatan sebagai sekretaris pada Sekretariat Jenderal Bidang Politik.

Kedua diplomat putra Dayak tersebut, masing-masing, Roeslan Baboe, memasuki masa purna bakti kembali ke instansi induknya, Departemen Luar Negeri di Jakarta dan dipanggil tuhan, demikian juga dengan Imanuel Kenan Sandan, masih dalam dinas aktif, tanggal 10 Juli, wafat pada usia 57 tahun.

Putra Dayak warga Kalimantan Tengah, sebagai pegawai negeri sipil membaktikan diri bekerja di Departemen Luar Negeri di Jakarta, sekalipun sebatas hitungan jari pada sebelah tangan pada saat ini.

Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, 12 Juli 2007
Kumpulan Tulisan TT.Suan Jld I, Penerbit Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah.

Hausmann Baboe: Perintis Pers dari Kalimantan Tengah

Hausmann Baboe:
Perintis Pers dari Kalimantan Tengah

Hausmann Baboe (Repro. Kusni Sulang dari Buku Biografi Hausmann Baboe, ditulis oleh Marko Mahin)
Mengawali sajian singkat tentang tokoh perintis pers (di) Kalimantan Tengah, Hausmann Baboe, terlebih dahulu, perlu dikemukakan ihwal media massa cetak yang terdapat di Banjarmasin.

Memasuki abad ke-20, di Banjarmasin sudah terdapat media massa cetak berupa surat kabar harian baik yang diterbitkan oleh anak Hindia putera-puteri Kalimantan sendiri maupun oleh kalangan warga Cina (Tionghoa) dan oleh pihak kaum penjajah Belanda.

Perkembangan media massa cetak di Banjarmasin pada masa tersebut, secara kronologis adalah sebagai berikut:
1. Tahun 1903, terbit surat kabar Harian Sinar Borneo dipimpin oleh Mozes Ness, seorang Indo-Belanda.
2. Kemudian, secara berturut-turut terbit surat kabar-surat kabar Harian Bintang Borneo dan Borneo Post yang masing-masing dipimpin oleh Andi Bur’ie dan Mr. J. Smith. Orientasi Harian Borneo Post berlawanan dengan surat kabar-surat kabar harian yang beraliran nasionalis. Surat kabar-surat kabar yang diterbitkan oleh orang-orang Belanda kolonialis yang tentu saja pijakan dan orientasinya membela kepentingan-kepetingan kaum penjajah.
3. Pada tahun 1907, di Banjarmasin pula diterbitkan Surat kabar Harian Pengharapan pimpinan Tie Ie Sui dan Oei Tek Hong.

Hausmann Baboe, orang Kalimantan Tengah asal etnik Dayak Ngaju kelahiran Kuala Kapuas, bersama-sama dengan putera-putera Kalimantan lainnya seperti A. Atjil, Amir Hassan Bondan dan Mohammad Horman, yang semuanya pada waktu itu berada di Banjarmasin, merupakan anak-anak pribumi yang terjun dan berkecimpung dalam profesi jurnalistik.

Hausmann Baboe sejak tahun 1905 menjadi wartawan Harian Sinar Borneo. Selanjutnya pada tahun 1914, menjadi wartawan Harian Pengharapan. Di samping harian-harian tersebut tadi, Hausmann Baboe pun sejak tahun 1915 membantu Majalah Bulanan Barita Bahalap (BB) yang diterbitkan di Kuala Kurun sejak awal tahun 1912. Majalah BB merupakan majalah pertama terbitan Kalimantan Tengah (di masa kekuasaan Belanda di Kalimantan disebut Afdeling Kapoeas-Barito). Pada tahun 1926, Hausmann Baboe sempat menerbitkan surat kabar Harian Soeara Borneo di Banjarmasin bersama-sama Mohamad Horman, Saleh Ba’ala dan Amir Hassan Bondan (H. Arsyd Manan, 1972:4).

Kantor Berita Borpena
Di Banjarmasin pula pada tahun 1926, Hausmann Baboe mendirikan kantor berita – yang menurut H. Arsyad Manan – adalah kantor berita pertama di Indonesia/ Hindia Belanda, waktu itu bernama Borpena (Borneosche Pers en Nieuws Agentschap). Sebagai catatan, Kantor Berita Nasional Antara didirikan di Jakarta pada tanggal 13 Desember 1937, 11 tahun setelah Kantor Berita Borpena didirikan (H. Arsyad Manan, Borpena, 1972: 4).

Pada tahun 1928, Borpena berganti nama menjadi Kalpena (Kalimansche Pers en Nieuws Agentschap). Jalan hidup Kantor Berita Kalpena terhenti pada akhir 1930 karena kalah bersaing dengan Kantor Berita Belanda ANETA (Algemeen Nieuws en Telegraf Agentschap). Sebelum Kalpena berhenti terbit, pada tahun 1929, di Kuala Kapuas, Hausmann Baboe dan kawan-kawannya menerbitkan Majalah Bulanan Soeara Pakat (SP). Majalah Bulanan SP ini merupakan organ resmi Sarikat Dajak (SD), sebuah organisasi orang-orang Dayak yang didirikan pada tanggal 18 Juli 1919 di Kuala Kapuas. Sarikat Dajak (SD) waktu didirikan diketuai oleh M. Sababoe (Spener Sandan, in: Barita Bahalap, Nomor 19 Bulan September 1919). Pada tahun 1926, SD berubah nama menjadi Pakat Dajak (PD), ketua kepengurusan beralih dari M. Sababoe ke Hausmann Baboe.

Majalah SP yang semula berkedudukan di Kuala Kapuas, pada tahun 1934 dipindahkan ke Banjarmasin. Di kota ini selanjutnya Majalah SP dipimpin oleh E. S. Handuran bersama-sama badan pengasuh dan para wartawan generasi muda Suku Dayak terkemuka yaitu Mahir Mahar, C. Luran, Chr. Nyunting, Nona Bahara Nyangkal, dan Tjilik Riwut. Majalah SP nampak kian bergairah menyuarakan semangat dan cita-cita kebangsaan yang menjadi dasar perjuangan Pakat Dajak.

Perintis Pers
Perkecimpungan dan penekunan Hausmann Baboe atas dunia jurnalistik sejak tahun 1905, tak ayal kemudian diikuti oleh angkatan muda termasuk para pemuda asal etnik Dayak. Tokoh Hausmann Baboe selain dikenal sebagai wartawan, ia juga dikenal sebagai salah seorang tokoh pergerakan nasional. Ia adalah salah seorang teman akrab tokoh nasional, H. O. S. Tjokroaminoto. Sebagai seorang wartawan yang sangat aktif, sampai tahun 1937, Hausmann Baboe melakukan profesi wartawan ini tanpa bersandar pada imbalan yang sekarang dikenal dengan sebutan honorarium. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Hausmann Baboe adalah perintis pers di Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Tengah secara lebih khusus.

Pada bulan Agustus 1943, Hausmann Baboe ditangkap oleh Keibitai (pasukan Polisi Militer Jepang) di Kuala Kapuas. Disiksa secara kejam bersama-sama para tawanan Antara lain Dr. B. J. Haga, Gubernur Borneo, dr. Visser berkebangsaan Swiss, dokter Zending dan Kepala Rumah Sakit Umum Gereja Dayak Evangelis (RSU-GDE) Kuala Kapuas. Kemudian pada tanggal 20 Desember 1943, Hausmann Baboe bersama-sama dengan 250 orang lainnya, termasuk B. J. Haga dan dr. Visser, dibunuh oleh Keibitai Jepang dengan tuduhan melakukan subversi (Marko Mahin, 2006: 78-81 dan Lampiran artikel Gerry van Klinken, hlm. 30-31).

Berdasarkan jasa-jasa Hausmann Baboe baik sebagai wartawan, maupun sebagai penerbit surat kabar dan pendiri kantor berita pertama di negeri ini, pihak PWI Kalimantan Selatan dan Kanwil Deppen Kalimantan Selatan pernah mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat Republik Indonesia agar kepada Hausmann Baboe dan tokoh-tokoh pers Kalimantan Selatan seperti wartawan Kesuma Wiro Negoro, A. A. Hamidhan, Amir Hassan Bondan dan Mohamad Horman diberikan gelar Perintis Pers Kemerdekaan (Artum Artha, Wartawan-Wartawan Kalimantan Raya, 1981: 55-59).

Catatan Penulis
Hausmann Baboe lahir pada tahun 1881, putera dari pasangan suami-isteri Joesoef Baboe-Soemboel Bahar, kedua-duanya asal etnik Dayak Ngaju, termasuk yang disebut utus gantong (bangsawan/otokrasi). Tinggal di Lewu Sungei Pasah dan Hampatong, Kuala Kapuas. Hausmann Baboe adalah cucu dari Tamanggung Ambo Nikodemos.

Tulkisan ini juga bisa dibaca dalam Kumpulan Tulisan TT.Suan Jld I yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah.

 

George Obus: Pemuda Dayak Peserta Kongres Pemuda Indonesia 1928

George Obus:
Pemuda Dayak Peserta Kongres Pemuda Indonesia 1928
Oleh TT. Suan

Musyawarah Nasional Majelis Adat Dayak Nasional tahun 2010 diselenggarakan di Palangka Raya, 28-31 Oktober 2010. Kegiatan Munas diawali dengan melaksanakan pawai budaya yang menampilkan busana Dayak, dirangkai dengan pameran menampilkan karya usaha (produk) unggulan dan kebudayaan Dayak dari masing-masing peserta Munas selama 3 hari di hotel Luwansa.

Upacara pembukaan Munas MADN III di Gedung Pertemuan Tambun Bungai Palangka Raya, Kamis, 28 Oktober 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke 82. Kongres Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928, mengeluarkan tekad ikrar yang sangat bersejarah yang menentukan bentuk Indonesia ke depan, yakni Pemuda Indonesia hanya:
1. Berbangsa satu: Bangsa Indonesia
2. Bertanah air satu: Tanah Air Indonesia
3. Berbahasa satu: Bahasa Indonesia

Kebulatan tekad Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, 82 tahun silam, dimana hadir peserta Kongres Pemuda Indonesia adalah seorang pemuda Dayak bernama George Obus, sebagai salah seorang di antara pemuda Indonesia pejuang kemerdekaan yang setelah Indonesia merdeka oleh pemerintah diberi anugerah penghargaan sebagai Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tulisan berikut sekilas menyajikan sosok dan ihwal pemuda Dayak, George Obus, bersama-sama dengan pemuda Indonesia dari berbagai suku bangsa Nusantara berjuang menentang penjajah Belanda untuk mencapai kemerdekaan tanah airnya.

Kelahiran Kasongan
Sejak 19 April 2002, warga masyarakat Kalimantan Tengah khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, berpisah selama-lamanya dengan seorang putra bangsa yang menyandang nama besar pejuang dan perintis kemerdekaan RI, George Obus. Dilahirkan di Kasongan (baca Kasungan), pada lembah aliran Sungai Katingan. Sebagaimana ayahandanya Heini Umar, serta keluarga yang penganut agama Kristen Protestan, demikian jugalah putranya George Obus itu, penganut agama yang taat dan iman yang teguh. George Obus lahir tanggal 24 Desember 1902.

Dan dari Kasongan itu, antara lain lahir dua orang pejuang besar ikut merintis, menegakkan, dan memperkokoh berdirinya Negara RI yakni George Obus dan Tjilik Riwut. Dua orang putra Kasongan tersebut di dalam perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negara, dan dalam meniti karir adalah seperti dua bersaudara laiknya kakak beradik, bila menelusuri riwayat hidup masing-masing.

Misalnya, pada September 1945, George Obus terpilih sebagai ketua Badan Pembantoe Oesaha Goebernoer Borneo (BPOG), tahun 1946 Tjilik Riwut ditunjuk memimpin Rombongan II Oetoesan Pemerintah RI (ROPRI II) oleh Goeboernoer Borneo ke Borneo alias Kalimantan untuk menegakkan kekuasaan dan kedaulatan RI di kawasan itu dan sekaligus Mayor Tjilik Riwut ditunjuk sebagai Komandan Pasukan MN-1001 Mobile Brigade Markas Besar Tentara (MBT) Tentara Nasional Indonesia (TNI). George Obus dengan pangkat Letnan Kolonel ALRI ditempatkan sebagai Staf I Divisi IV ALRI (bagian intelejen) merangkap Staf V/ intelejen pada Markas Besar TNI Angkatan Darat.

Kedua-duanya duduk sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) parlemen NRI di Yogyakarta. “Kakak-adik” itu sesudah pemulihan kedaulatan, ditugaskan kembali ke Kalimantan dan diangkat menjadi bupati kepala daerah (1951), Tjilik Riwut untuk Kabupaten Kotawaringin dan George Obus untuk Kabupaten Barito. Awal 1957, Tjilik Riwut naik pangkat sebagai residen diperbantukan pada Gubernur Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. George Obus pun menjadi residen (1958) diperbantukan pada kantor Gubernur KDH tingkat I Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Tahun 1960-1967, George Obus adalah anggota MPRS. Tjilik Riwut dari 1959-1963 adalah anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA-S) RI dan 1964-966, Tjilik Riwut diangkat menjadi anggota MPRS.

Namun sebagai “kakak” dari Tjilik Riwut, George Obus lebih dahulu terjun dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Antara lain melalui partai politik dan pergerakan kepemudaan, antara lain George Obus hadir dan ikut aktif dalam Kongres Pemuda/ Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta. Ikut aktifnya dalam kongres tersebut adalah sebagai utusan dari Persatuan Pemuda Borneo (Kalimantan) yang berkedudukan di Surabaya.

Tokoh Pergerakan
Peranan dan pengabdian George Obus dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan sebelum proklamasi kemerdekaan, pengabdiannya dalam ikut mempertahankan, menegakkan, dan memperkokoh tegaknya negara serta upaya mengisi kemerdekaan negara dan bangsa khususnya tentang peranannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka Kalimantan Tengah dalam membina dan mengatur kehidupan rumah tangga daerah sekaligus adalah salah seorang tokoh pendahulu dan pendiri Kalimantan Tengah dengan ibukota Palangka Raya.

George Obus muda di zaman penjajahan adalah lulusan Zeevaartschool (Sekolah Pelayaran) di Surabaya pada tahun 1926. Ia juga lulusan Sekolah Tinggi Bahasa Jepang (Koto Nipponggo Gakko) di Surabaya pada masa pendudukan militerisme Jepang.

Sesuai keadaan yang berlaku pada waktu itu, organisasi kepemudaan masih berorientasi daerah se-daerah seperti adanya Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, dan lain-lain. Maka di Jawa, para pemuda Borneo (Kalimantan) timbul juga ide untuk membentuk suatu organisasi Pemuda Kalimantan dan pembentukannya terjadi pada 21 Mei 1926. Organisasi Pemuda Borneo yang ada di Jawa khususnya Surabaya. Pemuda George Obus terpilih sebagai komisaris untuk Borneo Selatan.

Di Surabaya pada 8 Juni 1929, berdiri partai politik dengan nama Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) diketuai oleh Dokter Soetomo. Dalam susunan kepengurusan PBI itu, George Obus duduk sebagai salah satu anggota pengurus inti. Lebih kurang 6 tahun kemudian, di Surakarta dilangsungkan musyawarah bersama antara pengurus besar Budi Oetomo dan pengurus besar Persatuan Bangsa Indonesia dimana mereka sepakat untuk bergabung, kemudian mendirikan partai politik dengan nama Partai Indonesia Raya (Perindra). Dalam kepengurusan Perindra itu, duduk pula George Obus.

Setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda Kalimantan di Jawa Timur berhasil membentuk organisasi dengan nama Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (PRIK) di Kota Surabaya. Pendiri PRIK itu dengan seizin dan sepengetahuan Ketua BPOG yang adalah George Obus itu sendiri.

Di dalam penyerangan terhadap gedung Kenpetai dan markas besar tentara Jepang di Surabaya, para pemuda PRIK dan BPOG ikut aktif antara lain berhasil merampas senjata Jepang. Menjelang akhir Desember 1945, pada suatu rapat, BPOG dibubarkan kemudian dibentuklah Ikatan Perjuangan Kalimantan (IPK).

Untuk menampung Pemuda-Pemuda Kalimantan (PRIK) dan IPK, diadakan perundingan oleh Gubernur Borneo Ir. P. M. Noor, bersama pengurus IPK dengan Panglima ALRI Jawa Timur, Laksamana Moh. Nazir, bertempat di Lawang untuk mendirikan ALRI Divisi IV Kalimantan dengan komandan Zakaria. Dalam pada itu, George Obus diangkat dalam jajaran Angkatan laut dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel ditempatkan pada Staf I ALRI Divisi IV.

Pembentukan NKRI
Berdirinya RIS (Republik Indonesia Serikat) pada 27 Desember 1949, sebagai hasil Konferensi Meja Bundar, bukanlah cita-cita rakyat Indonesia yang pada 17 Agustus 1945 memproklamasikan berdirinya Negara Republik Indonesia (NRI) yakni sebuah negara kesatuan (unitarisme), sedangkan RIS yang terpaksa diterima demi mencapai tujuan semula itu. RIS adalah paham federalisme (negara federasi) dimana negara-negara bagian dan daerah-daerah (semi-otonom) di luar NRI, yang sementara juga adalah “negara bagian” dari RIS hasil KMB ciptaan Belanda. Karena itu, rakyat di daerah-daerah di luar NRI, menuntut pembubaran semua negara bagian dan daerah bagian tegak sendiri/ semi otonom RIS kemudian dimasukkan ke dalam (bergabung) dengan NRI-Proklamasi yang beribukota di Yogyakarta.

Berdasarkan keputusan sidang KNIP Yogyakarta yang menugaskan anggotanya George Obus ke Kalimantan untuk menemui para ketua dewan/ pimpinan pemerintahan daaerah bagian dari RIS yakni Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Federasi Kalimantan Tenggara, Federasi Kalimantan Timur, dan Daerah Istimewa Kalimantan Barat, mengajak mereka supaya masuk dan bergabung kembali dengan NRI-Proklamasi Yogyakarta.

Para ketua/ kepala Pemerintahan Daerah RIS Se-Kalimantan kecuali Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) menerima baik ajakan dan anjuran dari utusan KNIP Yogyakarta karena berdasarkan kenyataan memang adanya kehendak dan aspirasi rakyat dalam daerah itu masing-masing, kecuali DIKB, untuk bergabung dengan NRI-Yogyakarta. Dan utusan KNIP, George Obus, diberi mandat untuk menyampaikan persetujuan dewan-dewan daerah di Kalimantan untuk bergabung dengan NRI-Proklamasi Yogyakarta.

Adanya persetujuan dewan-dewan/ pimpinan pemerintahan daerah di Kalimantan tersebut, disampaikan ke forum sidang KNIP (parlemen) NRI dan diterima baik hasrat penggabungan itu. Proses selanjutnya adalah rekomendasi dari acting (pemangku-istilah waktu itu) Presiden RI Mr. Asaat.

Selanjutnya anggota KNIP, George Obus, diutus pula oleh KNIP ke parlemen RIS di Jakarta berkenaan dengan pernyataan persetujuan semua dewan-dewan daerah otonom/ pimpinan pemerintahan (daerah bawahan RIS) di Kalimantan untuk bergabung dengan NRI Yogyakarta. Presiden RIS Ir. Soekarno pun sangat menyetujui keinginan rakyat di Kalimantan tersebut. Usai menemui parlemen RIS, utusan KNIP itu kemudian menemui para pejabat Uni Indonesia-Belanda (sepanjang berhadapan dengan pejabat Belanda, seraya mengemukakan tentang keinginan rakyat Kalimantan untuk bergabung dengan NRI Yogyakarta dimana telah mendapat persetujuan baik dari KNIP, parlemen RIS, dan Presiden RIS).

Perkembangannya, Presiden RIS dengan Surat Keputusan Nomor 12/ tanggal 24 Maret 1950 dan Surat Keputusan Presiden RIS Nomor 137, 138, 139, dan Nomor 140 tertanggal 4 April 1950 dan tanggal 1 Mei 1950 tentang Penghapusan Federasi Kalimantan Timur, Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Federasi Kalimantan Tenggara, dan Swapraja Kotawaringin sebagai daerah bagian RIS dan dengan surat keputusan yang sama, daerah-daerah tersebut dimasukkan ke dalam NRI Yogyakarta.

Menjelang terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka RIS itu tinggal dan hanya terdiri (yang masih bergabung dengan RIS itu) yakni Negara bagian NRI-Proklamasi Yogyakarta, Negara Indonesia Timur (NIT), Sumatera Timur saja dan pada tanggal 15 Agustus 1950, terbentuklah kembali negara kesatuan yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950.

Proses kembali ke Negara Kesatuan RI itu, George Obus berperan ikut mendorongnya. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya terhadap negara dan bangsa itu, maka dengan Surat Keputusan Menteri Sosial RI Nomor pol. 17-II/PK tanggal 30 Juni 1960, George Obus diakui dan ditetapkan sebagai Perintis Kemerdekaan RI. Dan almarhum George Obus telah memperoleh tanda jasa dan penghargaan dari negara/ pemerintah, di antaranya Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana G. O. M. I, II, dan IV serta penghargaan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Golongan A berdasarkan Surat Keputusan Menteri Urusan Veteran RI Nomor 035/ L/ KPTS/ MUV/ 1962 tanggal 15 Oktober 1962.

Dan jasa-jasanya terhadap negara, nusa, dan bangsa mencapai kemerdekaan maupun jasa-jasanya terhadap rakyat dan daerah Kalimantan Tengah, namanya telah dipatrikan sebagai nama salah satu jalan protokol di Kota Palangka Raya, yang seharusnya dan yang betul adalah Jalan George Obus bukan Jalan George Obos!

Kalteng Pos, Palangka Raya, 10-11 November 2010

Juga terdapat dalam Kumpulan Tulisan TT. Suan Jld.I, diterbitkan oleh Lembaga  KebudayaanDayak Kalimantan Tengah

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers