Archive for the ‘Sejarah’ Category

Fakta Kejahatan Perang Belanda di RAWAGEDE 9Des1947

KomNasPan : Fakta Kejahatan Perang Belanda di
RAWAGEDE 9Des1947

Surat Jenderal Spoor kepada Jaksa Agung Belanda masa itu yang meminta agar
tidak dilakukan penuntutan secara hukum atas Pembantaian di Rawagede.

Surat Jaksa Agung Belanda masa itu yang mendepoonering penuntutan thdp
pelaku pembantaian di Rawagede atas permintaan Jend. Spoor.

Lembar 1 Tim Observasi DK PBB masa itu tentang penyelidikan pembantaian di
Rawagede. Laporan tim ini discan lembar pertama dan terakhir saja mengingat
jumlah lembar laporan tersebut banyak. Lembar Terakhir menunjukkan bahwa
dari hasil penemuan Tim pencari fakta ini disimpulkan bahwa tentara Belanda
dikategorikan “deliberate and ruthless” dimana kategori ini adalah kategori
kejahatan perang tertinggi dalam kaidah-kaidah hukum perang internasional
masa itu dalam konteks ukuran tingkat kejahatan perang, sehingga pembantaian
di Rawagede sungguh sangat mencengangkan dan mengguncangkan hati nurani
bangsa-bangsa lain di dunia pada masa itu.

Oleh karena itulah, kepada warga Indonesia di Eropa khususnya diharapkan
perhatian, kehadirannya dan kepeduliannya dalam mendukung upaya hukum
INDONESIA Menggugat BELANDA di Pengadilan Negeri Den Haag 20 Juni 2011

Pandji R Hadinoto / Komite Nasionalis Pancasila (KomNasPan)

Romantisme Era Pak Harto: Cinta Lama Bersemi Kembali


http://sejarah.kompasiana.com/2011/06/10/romantisme-era-pak-harto-cinta-lama-bersemi-kembali/
HL | 10 June 2011 | 14:00 461 32 2 dari 3 Kompasianer menilai menarik

 

 

13076921981263267095 In Memoriam Mantan Presiden Soeharto-FILE HM Soeharto (kiri) saat menjadi Presiden RI mengikuti peringatan HUT ABRI pada 5 Oktober 1993/Admin (Kompas/Julian Sihombing)

Kemarin pagi, mendadak saya merasa dihadirkan pada masa-masa kecil saya. Pada saat dimana Pak harto berkuasa. Melihat semua media berlomba-lomba memberitakan satu tokoh yang sangat penting dan seperti menjadi wajib untuk membicarakannya. Namun, yang diceritakan kali ini adalah sesuatu yang lain, sebuah lembaran yang tak pernah terbukukan, dan kini dibukukan menjadi “Soeharto The untold stories”.

Tidak tanggung-tanggung, buku itu terdiri dari 600  halaman, berisi wawancara sebanyak 113 tokoh nasional dan bahkan internasional yang pernah bersinggungan baik langsung maupun tidak langsung dengan Pak Harto. Lantas kemudian publik pun dibuat penasaran, diaduklah perasaan mereka dan jadilah merindukan tokoh Pak harto bahkan sampai pada titik “merindukan kepemimpinan beliau”.

Cerita-cerita apik yang tertuang dalam buku itu menjadi manis dengan bahasa-bahasa yang terkadang “sederhana”, hiperbolik bahkan superlatif sampai pada menggambarkan Pak Harto seperti Sayyidina Umar bin Khatthab menjadi kian menarik diceritakan oleh para nara sumbernya. Mereka yang dekat dengan Pak Harto pada masa itu kemudian berlomba-lomba berbicara tentang suatu hal kepada halayak : ’kebaikan Pak Harto”.

Mereka yang selama kurun waktu 13 tahun sejak reformasi tidak berani muncul ke publik, sebab kita tahu bahwa tuntutan reformasi adalah “Adili Soeharto dan kroni-kroninya”, tiba-tiba saja menjadi nara sumber di berbagai media masa. Dan sontak saja masyarakat yang menyaksikan mereka mengahru biru dengan satu rasa, “rasa rindu” akan pribadi Pak Harto, rindu kepemimpinan beliau, bahkan rindu dengan ORDE BARU.

Kita dudukan dulu masalah ini secara arif pada fakta-fakta yang ada, sembari saya ingin bertanya kepada diri kita semua. Rindukah kita pada kepemimpinan Pak Harto? Rindukah pada segenap sistem yang diberlakukannya?

Nanti dulu, saya ingin mengulang lagi pertanyaan ini pada beberapa kelompok di antara kita. Wahai saudara-saudaraku para aktivis muslim, rindukah kalian dengan masa itu? dimana setiap apa yang kalian kerjakan dicurigai, dimata-matai bahkan kalian harus mengalami penculikan demi penculikan? Dan masih ingatkah, shalat jum’at yang menjadi kewajiban kita sebagai muslim harus disertai ijin kepada aparat setempat?

Wahai saudara-saudaraku etnis China yang kami cintai karena kita ini setara, rindukah kalian pada masa-masa itu? Dimana kalian hidup bagaikan di pengasingan? Kalian tidak bisa sekedar menjadi bagian terpenting dalam sebuah kontribusi di pemerintahan, bahkan  yang paling tragis, barong sai yang menjadi kebanggan kalian pun menjadi sesuatu yang haram di negeri ini. Negeri yang telah melahirkan kalian dan nenek moyang kalian.

Wahai saudara-saudaraku para wartawan, di manapun tugas kalian. Yang bekerja di media pertelevisian, yang bekerja di  penerbitan koran. rindukah kalian pada masa itu? Saat kalian harus menghentikan acara televisi kalian hanya karena ada instruksi wajib menyiarkan “Laporan Khusus” yang berisi kunjungan presiden, atau bahkan saat media kalian harus dibredel hanya karena tulisan kalian agak berasa pedas sedikit saja.

Wahai kawan-kawanku para mahasiswa, di manapun kampus kalian. Yang bergerak dengan segenap cap aktivis di dahi dan lengan kalian, dari aktivis kiri maupun kanan. Rindukah kalian dengan jaman itu? saat kalian harus selalu berhadapan dengan senapan, bukan lagi di jalanan tetapi di kampus kalian? Dimana setiap aktivitas kalian senantiasa diawasi, dicurigai dan dikekang dengan sistem yang sangat kejam, NKK/BKK.

Kita perlu mendudukkan masalah ini pada pikiran yang jernih. Sadarkah kita bahwa secara tidak langsung kita saat ini telah berada dalam sebuah “pengkondisian”. Saat di mana permasalahan besar menimpa partai penguasa rezim saat ini. Saat bermunculan ketidakpercayaan publik terhadap penegakkan hukum yang tidak “garang” dengan penguasa beserta kroninya. Saat supremasi politik mengalahkan supremasi hukum dan melanggar berbagai sisi-sisi kemanusiaan.

Saat yang sama kita dihadirkan pada buaian angan-angan masa lalu. Tiba-tiba saja ada sebuah pintu masuk bagi kerinduan-kerinduan yang menjerat. Survey indobarometer yang memunculkan bahwa Soeharto sebagai presiden yang paling “disukai publik” dan kemudian menjadi momentum yang sangat pas dengan diluncurkannya buku tebal untold stories itu. Masyarakat pun dibuai dengan romantisme masa lalu, yang kadang asli dan kadang palsu.

Mereka bicara bahwa jaman sekarang kemiskinan ada di mana-mana, tidak seperti jaman dulu jaman Pak Harto. Apakah benar bahwa di jaman Pak Harto kemiskinan tidak ada di mana-mana? tanyalah pada para penduduk di sana yang saat itu tidak terkspose media. Sebab, jurnalisme masa itu tidak mungkinlah bercerita secara “jujur” tentang kemiskinan. Karena jurnalisme yang ada saat itu adalah “jurnalisme Pembangunan”. Sekali saja ada yang nyleneh, bukan tidak mungkin akan mendapatkan pembredelan.

Mereka bicara tentang kemakmuran dan harga-harga barang kebutuhan dimana kata mereka harga barang lebih murah pada masa Pak Harto. Tidak seperti saat sekarang semua harga kebutuhan terasa menjulang. Ketahuilah, hutang di masa itu begitu besar, bahkan sebagai konsekwensinya kita benar-benar tunduk dengan apa yang di katakan oleh IMF. Hutang itu yang sekerang akan menjadi warisan kita, bahkan anak cucu kita. Kitalah yang tergadaikan.

Begitu banyak cerita manis, yang tertulis di buku itu menjadikan masyarakat rindu dan membiru. Mereka tidak lagi berpikir kritis terhadap siapa penulisnya? apa yang menjadi latar belakangnya? siapa penyandang dananya? menuliskan buku setebal itu, membutuhkan nara sumber sebanyak 113 orang yang tidak hanya ada di Indonesia tentu membutuhkan dana yang besar. Tetapi kita sudahilah pembahasan tentang dana ini. Kita bahas, obyektifkah tulisan di buku itu? “untold stories” mengapa kemudian menjadi “positive stories”? Seolah tidak ada satupun bintik hitam di dalam “untold stories”.

Saya lebih suka terhadap buku tentang serial tetralogi Pak Beye yang di tulis oleh Wisnu Nugroho. Untold stories yang diistilahkan “cerita tidak penting” yang ditulis oleh Mas Wisnu ini tidak kemudian menjadi bahan pencitraan dengan kisah-kisah manis yang “menipu” atau manipulatif. Tetapi menjadi resume yang tetap kritis dan analitis terhadap kejanggalan-kejanggalan yang mengelilingi kehidupan SBY. Obyektif, membuka istana yang selama ini terlalu terkunci tanpa memprovokasi pada caci maki.
Kerinduan pada sosok pemimpin itu bukanlah menjadi sesuatu yang terlarang, tetapi akan menyedihkan apabila membawa kita pada arus romantisme masa lalu. Romantisme yang hanya menggambarkan kita pada keindahan-keindahan yang semu. Janganlah kita hanya terbuai pada romantisme, kerena itulah penghambat kemajuan kita.

Terimalah realita saat ini dan perjuangkan apa yang belum tercapai. Siapapun pemimpinnya, mereka harus memenuhi amanah untuk mensejahterakan rakyat negeri ini. Pemimpin saat ini yang berkuasa, adalah gambaran dari sebagian besar masyarakat kita. Pemimpin yang korup dilahirkan oleh masyarakat yang korup. Pemimpin maling dilahirkan oleh kelompok maling. Jadi, tugas kita adalah membenahi masyarakat, menanamkan karakter agar mereka tidak terjebak keuntungan sesaat dalam menentukan pemimpinnya.

Demokrasi mengajarkan pada kita bahwa suara seorang tukang becak itu sama nilainya dengan seorang profesor yang punya tujuh titel dibelakngnya. Bahwa suara seorang penjahat paling jahatpun akan sama nilainya dengan suara pendeta, kyai, biksu dan para pegiat agama. Maka celah itulah yang harus kita benahi, agar mereka tidak mudah dibelokkan hatinya dengan iming-iming “lima puluh ribu perak” yang mungkin akan habis dalam sehari. Sebab angka itu tidaklah akan bisa membayar penderitaan yang akan dialami minimal lima tahun ke depan.

Buku itu sudah beredar, semua ingin memilikinya semua ingin membacanya, tidak terkecuali saya. Tetapi, sikap arif kita adalah cukup menjadikan itu sebagai inspirasi, sebagai energi positif untuk membangkitkan optimisme kita untuk tetap “bekerja”. Jangan sampai kita terbuai dengan romantisme dan angan-angan indah masa lalu dan lupa akan begitu banyak realita dan menjadi seorang yang benar-benar ”pelupa berat”. Tetaplah bekerja, sesuai dengan profesi kita dan memberikan semaksimal mungkin kontribusi kita untuk perbaikan Indonesia.


Soekarno, Sjahrir, dan Kemeja Arrow

Soekarno, Sjahrir, dan Kemeja Arrow 
Tuesday, 07 June 2011
Soekarno lahir di Surabaya (bukan di Blitar) 6 Juni 1901.Peringatan 110
tahun kelahirannya bisa dilakukan dengan mengenang jasajasanya bagi
bangsa dan negara. Namun, dapat pula diulas persepsi yang mungkin keliru
tentang sang Proklamator.

Mengingat penyebarannya yang luas,novel sejarah pun perlu dikritisi agar
tidak muncul kesan meremehkan terutama di kalangan anak muda. Di dalam
novel Akmal Nasery Basral, Presiden Prawiranegara (2011) terdapat dua
adegan tentang hubungan Soekarno dan Sjahrir yang buruk semasa ditawan
Belanda 1948/1949.

Ketika Soekarno menyanyi di kamar mandi, Sjahrir yang terganggu
membentak, “Houd je mond (tutup mulutmu).” Soekarno kemudian menggerutu
soal teriakan Sjahrir ini kepada Haji Agus Salim. Adegan lainnya tentang
Soekarno yang meminta kemeja Arrow kepada penjaga rumah tawanan Belanda.
Sjahrir berkali-kali mengejek Soekarno.“ Kamu ini kan Presiden. Kenapa
minta-minta seperti itu ? Jaga martabat,Bung.

” “Bung Sjahrir tadi lihat, saya minta izin untuk beli sendiri, tetapi
tidak diperbolehkan,” dalih Bung Karno.“Tentu saja tak diizinkan, karena
kita sedang diasingkan, orang buangan.Dasar pandir!” Bung Sjahrir
tampaknya masih belum cukup mengeluarkan kejengkelannya atas sikap Bung
Karno. “Apa yang Bung lakukan tadi namanya suap! Bagaimana mungkin
seorang Presiden malah meminta dirinya disuap musuh!” “Jangan
dilebih-lebihkan Bung Sjahrir, saya hanya butuh sehelai baju,” jawab
Bung Karno.

“Itu yang namanya suap. Dasar goblok.” Wajah Bung Karno mengeras tampak
kesal, tapi dia memilih tak melanjutkan bertengkar. “Tolong jaga
kata-kata Bung.Saya ini Kepala Negara.” “Iya, Kepala Negara yang
tolol,”sembur Sjahrir. Setelah beberapa paragraf berikutnya masih
terlontar makian Sjahrir,“Engkau memang bodoh.”

Berlebihan

Adegan pertama, tentang bentakan di kamar mandi itu memang disebutkan
dalam beberapa sumber. Bagi saya “insiden kecil” itu penting untuk
diungkapkan guna memperlihatkan watak dan hubungan manusiawi antara
Soekarno dan Sjahrir. Ketika saya berkunjung ke rumah tahanan Bung
Karno, Sjahrir dan Agus Salim di Parapat,26 Mei lalu,memang kamar mandi
Soekarno hanya terpisah dengan dinding tripleks dari ranjang Sjahrir,
sehingga masuk akal bila Sjahrir terganggu.

Pertanyaan provokatif dari saya apakah hanya karena satu frase “Houd je
mond (tutup mulutmu)” itu sebuah partai dan sebuah ideologi yakni
sosialisme menjadi terlarang di Indonesia? Adegan imajiner tentang
kemeja Arrow di atas sebetulnya tidak didaktis bagi generasi muda.

Soal kemeja Arrow saya kira bermula dari anekdot yang disampaikan
Mangunwijaya tentang Soekarno,Hatta,dan Sjahrir. Ketika ditanya penjaga
rumah tahanan mereka membutuhkan apa,Hatta menjawab dia perlu buku,
Sjahrir meminta koran berbahasa Belanda, sedangkan Soekarno sebuah
kemeja Arrow.Anekdot ini ternyata dalam buku Presiden Prawiranegara
dikembangkan penulisnya dengan sarkasme.

Maulwi Saelan sebagai Ajudan Presiden Soekarno mencatat ketika Soekarno
keluar Istana dia meninggalkan banyak buku dan benda-benda lainnya
seperti arloji dan kemeja Arrow. Karena itu, saya percaya bahwa kemeja
Arrow sudah ada sejak 1965-an. Pertanyaannya, apakah kemeja Arrow itu
sudah diproduksi pada 1949, kalau belum ada, tentu dialog itu hanya
isapan jempol belaka.

Ternyata Arrow itu dibuat sejak 1851. Selama tahun 1905-1930 di AS,
kemeja ini diiklankan besar-besaran (Arrow Collar Man). Kemeja berkerah
berbeda dengan kemeja Eropa menyebabkan produk ini menjadi salah satu
ikon Amerika awal abad ke-20.

Fakta Historis

Debat sejarah yang masih berkaitan dengan busana ini adalah menyangkut
ketidakhadiran Soekarno dalam Sumpah Pemuda 1928. Memang Soekarno selaku
Ketua PNI mengirim surat berisi ucapan selamat yang dibacakan dalam
pembukaan Kongres Pemuda II bersama surat Tan Malaka dan Perhimpunan
Indonesia di Belanda. Namun, dia tidak hadir untuk berpidato. Ada
beberapa alasan. Pertama, yang dikemukakan Abu Hanifah sebagaimana
dikutip oleh Lambert Giebels (Soekarno, Biografi 1901-1950).

Menurut Hanifah, Soekarno pernah diundang untuk berbicara di depan
anggota Perhimpunan Pelajar- Pelajar Indonesia (PPPI) yang antara lain
dipimpin Soegondo Djojopoespito. Ketika itu para mahasiswa sedang
gandrung pemikiran Gandhi yang memboikot kain tenun buatan Barat dan
menganjurkan pakaian sederhana buatan dalam negeri.

Dalam pertemuan di sebuah gedung di Jalan Kenari, Batavia, terkesan
Soekarno seakan baru datang dari “suatu peragaan busana atau resepsi
orang elite” sehingga dicemooh mahasiswa. Informasi di atas perlu
dipertanyakan karena buku Giebels menampilkan banyak kekeliruan fakta
historis. Lagi pula dia mengutip Abu Hanifah yang baru menerbitkan
tulisan pada 1972 (Tales of a Revolution).

Abu Hanifah yang pernah tinggal di Asrama Kramat Raya 106 itu kemudian
menjadi tokoh Masyumi yang berseberangan dengan Bung Karno. Kedua,
alasan yang lebih masuk akal adalah kesibukan Soekarno dalam
mengembangkan partainya, Perserikatan Nasional Indonesia (PNI),yang
didirikan Juli 1927 di Bandung. Secara serius Soekarno mendidik belasan
kadernya yang pada gilirannya menatar calon aktivis lainnya.

Bulan Oktober 1928 misalnya PNI cabang Bandung melakukan kursus kader
seperti diceritakan Maskoen Soemadiredja. Sebelumnya, Desember 1927,
Soekarno berhasil merealisasikan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan
Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang semula terdiri atas tujuh
organisasi (PNI, Partai Sarekat Islam, Boedi Oetomo,Pasundan,Sarekat
Sumatra,Kaum Betawi,dan Indonesische Studieclub). Soekarno tampil di
manamana.

Rakyat terpesona dengan berpidatonya yang penuh retorika.“Matahari tidak
terbit karena ayam berkokok.Tetapi, ayam jantan berkokok karena matahari
terbit,” ujar Soekarno.“ Penjajahan ialah upaya mengolah tanah, mengolah
harta-harta di dalam tanah, mengolah tanam-tanaman, mengolah
hewan-hewan, dan terutama mengolah penduduk untuk keuntungan keperluan
ekonomi dari bangsa yang menjajah.

” Kalimat Bung Karno yang terakhir itu masih relevan sampai sekarang
meskipun “penjajahan ekonomi” itu dilakukan secara tidak langsung.● ASVI
WARMAN ADAM Sejarawan LIPI

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/404128

Yo Sanak, Yo Kadang, Malah Yen Mati Aku Sing Kelangan

Yo Sanak, Yo Kadang, Malah Yen

Mati Aku Sing Kelangan

Pidato Bung Karno Pada Penutupan Kongres VI PKI

Oleh : Bung Karno

Catatan: Pidato “Yo Sanak, Yo Kadang, Malah Yen Mati Aku Sing Kelangan” ini adalah pidato sambutan Bung Karno yang diucapkan di dalam resepsi penutupan kongres nasional VI PKI pada malam tanggal 16 September 1959 di Gedung Pertemuan Umum, Jakarta.

_ _ _ ______

      Saudara-saudara sekalian,

 

      Merdeka !(sambutan gemuruh “Merdeka!”, tepuk tangan lama).

 

    Saudara-saudara sekalian,

Pada permulaan bulan Juli yang lalu, sdr. Aidit di ruangan Istana Negara menanya kepada saya : “Bung Karno, sekarang ini sedang berjalan pelarangan kegiatan politik. Apakah kiranya Partai Komunis Indonesia dalam waktu yang singkat boleh mengadakan Kongres di Jakarta ?”

Pada waktu itu saya berkata kepada saudara Aidit: “Adakan kongres itu” (tepuk tangan dan sorak lama, terdengar pekik : “Hidup Bung Karno !”). “Adakan Kongres itu lewat tanggal 1 Agustus yang akan datang”. Dan didalam pada akhir bulan Juli sebelum tanggal 1 Agustus, pada satu pagi saya memanggil KMKB Jakarta Raya, Overste Umar, minum kopi dengan saya pagi-pagi (tawa). Dan saya berkata kepada Overste Umar :” Overste Umar, nanti lewat tanggal 1 Agustus Partai Komunis Indonesia akan mengadakan Kongres, jagalah agar supaya Kongres itu berjalan baik, sebab Republik Indonesia adalah Republik Demokrasi. (tepuk tangan lama).

Saudara-saudara, maka sekarang telah terang langsunglah Kongres itu. Dan sedianya saya diminta oleh sdr. Aidit untuk menghadiri salah satu sidang resepsi daripada Kongres ini pada tanggal 15 September atau sebelum 15 September. Tetapi pada waktu itu saya berkata kepada sdr. Aidit : Sayang, maaf, sebelum tanggal 15 September tak mungkin saya dapat menghadiri suatu resepasi oleh karena saya hendak mengadakan perjalanan ke Aceh, ke Riau, ke Kalimantan, tetapi insya Allah, lewat 15 September saya akan dapat menghadiri resepsi penutupan daripada Kongres PKI “. Dan oleh sdr ; Aidit dijadikan resepsi penutupan Kongres itu terjadi pada tanggal 16 September. Dan, saudara-saudara, syukur alhamdulmlilah pada ini malam saya hadir dikalangan saudara-saudara. (tepuk tangan). Hadir dikalangan saudara-saudara, diterima oleh saudara-saudara dengan rasa kawan, dengan rasa cinta, yang atasnya saya mengiucapkan banyak-banyak terimakasih. Diterima oleh saudara-saudara didalam ruangan, yang … saya kira ini orang-orang Komunis membuat ruangan ini menjadi indah (tepuk tangan lama). Di dalam ruangan yang indah dengan hiasan-hiasan yang indah dan dinamis.

Maka teringatlah kepada saya salah satu Kongres PKI … hampir 40 tahun yang lalu, yaitu di Bandung kira-kira tahun 1922 atau 23. Saya tidak ingat lagi Kongres PKI yang nomor berapa, tapi yang jauh daripada yang indah ini. Pada waktu itu Kongres diadakan disatu sekolah, namanya sekolah partikulir, di jalan Pungkur, Bandung. Sangat sederhana. Jumlah Kongres itu jauh lebih kurang daripada yang sekarang dan saya ingat dibagian pimpinan, yang pada waktu itu dinamakan ” Hoofdbestuur ” ada berderet 15 kursi tetapi 9 daripada kursi itu kosong oleh karena mereka yang harus duduk di situ meringkuk di dalam penjara. Kongres itu, dus, hanya dipimpin oleh 6 orang pemimpin saja. Jauh berbeda dengan keadaan yang sekarang yang kita melihat sdr. Aidit gagah perwira, (tepuk tangan lama) sdr.Lukman, sdr. Nyoto, sdr.Sudisman, sdr.Sakirman, disampingnya ada kandidat Politbiro sdr.Nyono, dan kita melihat disana ada dua orang wanita, disana satu orang wanita, dan disana lagi dua orang wanita, berbedaan dengan keadaan hampir 40 tahun yang lalu itu, saudara-saudara. Dan pada waktu itu saya duduk nonton ikut serta dalam Kongres di Bandung itu yang setengah sebagai ” penyelundup “, pemuda. (tawa dan tepuk tangan). Berbeda dengan sekarang yang saya hadir didalam Kongres ini sebagai Presiden Republik Indonesia. (tepuk tangan lama). Ya, saudara-saudara, barangkali sayalah satu-satunya presiden suatu negara di dunia ini, negara yang bukan dinamakan Sosialis, yang menghadiri satu Kongres Partai Komunis (tepuk tangan lama). Nah betapa tidak saudara-saudara ! Betapa tidak hendak saya hadiri, kan saudara-saudara orang Indonesia, warga negara Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia, pejuang-pejuang menentang imperialisme yang membela kemerdekaaan Indonesia ini. (tepuk tangan gemuruh). Saudara-saudara adalah utusan daripaka sebagian Rakyat Indonesia, saudara-saudara adalah sama-sama orang-orang bangsa Indonesia. Malah saya akan berkata dalam bahasa Jawa, saudara-saudara itu, –” yo kadang, yo sanak, malah yen mati aku sing kélangan ” (tepuk tangan gemuruh lama).

Yah, saudara-saudara, demikianlah keadaannya maka oleh karena itu pun saya merasa bergembira sekali tatkala saya hendak datang di ruangan gedung ini, dari muka Istana mula telah melewati barisan, barangkali pemuda-pemuda komunis, (tepuk tangan) semua menyerukan satu yel : “ Gotong-royong, gotong-royong .. Ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, gotong-royong .. Ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris … (semua hadirin bersama-sama menyerukan ” Ho lopis kuntul baris “). Saya amat gembira oleh karena, ya memang saudara-saudara jikalau kita hendak menyelesaikan revolusi nasional kita ini, tidak ada jalan lain melainkan gotong-royong dan ho lopis kuntul baris.(tepuk tangan).

Dibelakang ada ditulis, ” Kongres Nasional ke-VI PKI Untuk Demokrasi dan Kabinet Gotong-Royong “. (tepuk tanggan). Saya dengan tegas berkata kepada saudara-saudara, Kabinet Gotong-Royong tetap menjadi cita-cita Bung Karno! (tepuk tangan lama). Sebab sebagai tadi saya katakan, menyelesaikan revolusi nasional kita, apalagi revolusi kita setelah memasuki fase sosial-ekonominya untuk menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur sebagai amanat penderitaan Rakyat, tidak ada jalan lain melainkan dengan gotong-royong dan ho lopis kuntul baris. Maka oleh karena itu, saudara-saudara saya tadi berkata, tetap saja bercita-cita Kabinet Gotong Royong dan disamping itu, saudara-dsaudara melihat bahwa saya telah membentuk Dewan Pertimbangan Agung atas dasar gotong-royong, dan insya Allah s.w.t., akan membentuk MPR – Majelis Permusyawaratan Rakyat atas dasar gotong-royong pula. (tepuk tangan lama).

Saya bergembira terhadap PKI, terutama sekali diwaktu yang akhir-akhir ini, — dan kata “akhir-akhir ini” bukan hanya beberapa hari tapi telah beberapa tahun PKI dengan tegas menyatakan mutlak perlunya persatuan nasional sebagaimana tadi diutarakan buat kesekian kalinya lagi oleh sdr. D.N. Aidit. Cocok benar dengan yang saya katakan, masih di jaman Jogja pun, kemudian beberapa kali saya ulangi di Jakarta ini, bahwa meskipun sepanjang sejarah selalu ada perjuangan klas, selalu ada pertentangan klas, vide Manifesto Komunis, jadi pertentangan klas, perjuangan klas itu selalu ada, tetapi di dalam sesuatu revolusi nasional maka kita tidak meruncing-runcingkan pertentangan klas dan perjuangan klas diantara bangsa sendiri (tepuk tangan). Sebaliknya, kita semua menggalang persatuan revolusioner, semua tenaga revolusioner menjadi satu gelombang maha sakti yang menghantam remuk redam terhadap kepada musuh kita yang utama, yaitu imperialisme-politik dan imperialisme-ekonomi (tepuk tangan lama). Saudara-saudara, hal ini saya ucapkan dengan jelas didalam Manifesto Politik saya pada tanggal 17 Agustus 1959 yang lalu. Dan tatkala saya mengadakan perjalanan beberapa hari yang lalu ke Aceh, diikuti oleh beberapa duta besar Polandia yang duduk disana pakai dasi merah, duta besar Uni-Sovyet yang duduk disana dengan dasi kupu-kupu, dutabesar India yang duduk disana dengan dasi putih kalau tidak salah, dan dutabesar-dutabesar lain, dengan gembira saya melihat bahwa dimana-mana tempat, baik daerah Aceh maupun daerah Riau, maupun di daerah Kalimantan, PKI-lah salah-satu tenaga yang menyambut dengan baik (tepuk tangan lama), menyambut dengan baik dan konsekwen kembali kita kepada Undang-Undang Dasar 45, dan menyambut dengan baik Persatuan nasional, menyelenggarakan persatuan nasional itu dengan sehebat-hebatnya (tepuk tangan gemuruh). Oleh karena itu saudara-saudara, pantas saya mengucapkan penghargaan saya kepada Partai Komunis Indonesia di dalam hal ini.

Di Kutaraja, tatkala saya membuka Fakultas Ekonomi, Fakultas Ekonomi yang terdiri dari usaha gotong-royong daripada Rakyat Aceh, dan saya melihat duta besar-duta besar dari negara-negara asing yang mengikuti perjalanan saya itu, antara lain duta besar India, saya mensitir ucapan daripada pemimpin India, Sri Jawaharlal Nehru. Sri Jawaharlal Nehru, kata saya pada waktu itu, jumlah total jendral pernah masuk penjara 11 kali, ada yang lama ada yang sebentar. Sebelas kali beliau masuk-keluar penjara, masuk-keluar, masuk-keluar, masuk-keluar .., sehingga pada satu ketika beliau berkata merasa dirinya itu sebagai satu “ shuttle-cock” didalam permainan badminton. In, out, in, out, .. in, out penjara. Beliau berkata: “What a shuttle-cock I have become“. ” Saya ini kok menjadi shuttle-cock begini?”. Tatkala saya ingat akan ucapan Sri Jawaharlal Nehru itu, saya ingat pada diri saya sendiri. Nehru merasa dirinya sebagai “shuttle-cock“, lha saya ini merasa diri saya sebagai apa ? Saya berkata di hadapan khalayak ramai di Kutaraja itu, saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam satu gundukan kayu api-unggun, sepotong dari ratusan atau ribuan potong kayu didalam api unggun besar yang sedang menyala-nyala. Saya menyumbang sedikit kepada nyalanya api unggun itu, tetapi sebaliknyapun saya dimakan oleh api-unggun itu, saudara-saudara. Menyumbang kepada api-unggun, tetapi juga dimakan oleh api-ungggun. Tidakkah sebenarnya kita semua berasa demikian saudara-saudara ?

Saudara-saudara, terutama sekali hai saudara saudara dari PKI, saudara-saudara masing-masing menyumbang kepada api revolusi, tetapi saudara pun dimakan oleh api revolusi itu. Dimakan dalam arti bahwa saudara ikut serta dalam dinamikanya revolusi ini habis- habisan, bahwa saudara merasa diri saudara mendapat impetus, mendapat kekuatan tenaga, mendapat penggerak jiwa daripada revolusi yang apinya sekarang sedang berkobar-kobar dan menyala-nyala itu. Kita semuanya harus merasa demikinan tanpa kecuali, baik saudara Asmara Hadi yang duduk disitu, maupun Overste Umar yang duduk disana, maupun Zus Ruslan Abdulgani yang duduk disana, maupun sdr. Suwiryo yang duduk disana, maupun sdr Sudiro yang duduk disana, maupun Pak Aruji Kartasasmita yang duduk disini, maupun sdr Sukarni yang duduk disitu, maupun sdr Ruslan Abndulgani yang duduk disitu, maupun saudara Aidit yang duduk disitu, maupun saya sendiri yang berdiri dimuka mikrofon ini, harus merasa diri kita ini sebagai penyumbang kepada revolusi dan dimakan oleh api-revolusi. Hanya dengan jalan demikianlah saudara-saudara maka impetus menyelesaikan revolusi nasional dengan cara ho lopis kuntul baris dan gotong royong dapat terlaksana Jangan diantara kita itu ada yang merasa diri kita sebagai … hanya pemberi, penyumbang kepada revolusi saja jangan diantara kita itu ada yang merasa sebagai almarhum maharaja diraja Hamurabi yang berkata : “Aku titisan daripada Aburamasda, aku telah membuat air sungai mengalir di ladang-ladang dan memberi kesuburan kepada ladang-ladang”. Sewaktu air sungai pergi ke ladang dan memberi kesuburan ke ladang-ladang itu dianggapnya sebagai perbuatannya sendiri, menurut titahnya sendiri. Tidak boleh kita, meskipun kita menjadi pemimpin besar bagaimanapun saudara-saudara, mempunyai rasa yang demikian itu. Tetapi kita semua harus merasa diri kita satu bagian daripada satu massa yang besar, bangsa Indonesia yang 88 juta jumlahnya bahkan sebagian daripada umat manusia didunia ini. Menyumbang kepada revolusi, bukan saja revolusi nasional, tapi juga revolusi besar didunia ini, tetapi sebaliknya pun dimakan oleh revolusi itu. (Bersambung)

Ya, sebagai yang saya katakan di dalam pidato saya 17 Agustus 59, kita sekarang ini mengalami revolusi yang besar sekali, bukan saja di Indonesia, tetapi juga diluar Indonesia. Saya berkata bahwa ¾ daripada umat manusia ini sekarang didalam revolusi. Revolusi umat manusia untuk mengejar kemerdekaan. Revolusi umat manusia yang dijalankan oleh lebih daripada 2000 juta manusia mengejar kebebasan, mengejar persaudaraan dunia, mengejar hidup yang wajar, mengejar masyarakat adil dan makmur dan lain sebagainya. Kita sebagai bagian daripada revolusi besar itu saudara-saudara, mempunyai tugas menyelesaikan revolusi di bumi Indonesia menurut kepribadian Indonesia sendiri.

Saudara-saudara, tadi saudara Aidit habis-habisan memuji pada saya. Sebentar-sebentar Bung Karno, Bung Karno, Bung Karno. Lho, sdr. Aidit jangan lupa, saya ini hanya satu bagian daripada gelombang besar ini. Saya bukan Hamurabi yang berkata : –” Saya adalah titisan daripada Aburamasda “, saya bukan pembuat revolusi ini. Tidak ! Saya hanya sekedar bagian daripada revolusi ini, saya sekedar satu potong kayu didalam api-unggun yang besar ini dan saya dimakan malahan oleh nyalanya api-unggun itu (tepuk tangan)

Saudara-saudara, nah, yang berdiri dihadapan saudara-saudara ini memang satu manusia yang dipandang beberapa manusia adalah aneh. Saya sendiri telah mengakui, saya ini ” campuran “, saudara-saudara, campuran dari 3 sifat, ya nasionalis, ya sosialis, ya muslimin. Tiga sifat ini tercampur dalam diri saya. Malahan saudara-saudara, ada yang heran, bagaimana bisa saudara Sukarno ini muslimin padahal beliau berkata, pernah berkata, bahwa beliau adalah seorang historis materialis ? Yah, saudara-saudara, buat sekian kalinya saya ulangi : Saya memang seorang historis materialis.

Lha kok bisa saya menjadi orang muslimin? Yang percaya kepada Tuhan? Yang sembahyang? Yang berpuasa ? Dan lain-lain sebagainya.

Saudara-saudara, saya adalah seorang historis materialis, tetapi saya bukan seorang wijsgerig materialis, bukan seorang filosofis materialis. Saya terangkan kepada Saudara-saudara bedanya. Seorang filosofis materialis atau wijsgerig materialis berkata, fikiran itu adalah keluar daripada proses otak. Kalau tidak ada otak, tidak ada fikiran. Maka seorang wijsgerig materialis berkata: “gedachte is phosphor“. Fikiran itu adalah phosphor. Oleh karena otak terbuat sebagian besar daripada phosphor, maka dia berkata “fikiran adalah phosphor”, “gedachte is phosphor“. Ada juga dia berkata, “rasa adalah jantung”, oleh karena tanpa jantung tiada rasa. Dicari terus .. roch, jiwa, sebenarnya tidak ada sebab yang dinamakan roch dan jiwa itu adalah badan sebagaimana gedachte adalah phosphor, rasa adalah jantung, jiwa atau roch adalah badan, molekul. Dan saya bukan yang demikian itu saudara-saudara. Saya bukan filosofis materialis, –terus terang saja supaya kita mengenal satu sama lain! (tepuk tangan). Saya bukan wijsgerig materialis. Tidak! Saya adalah seorang historis materialis! Historis materialis adalah satu ilmu, satu metode untuk mengerti sejarah. Satu metode analisa sejarah yang mengatakan bahwa segenap alam-alam fikiran, ideologi dan lain sebagainya didalam periode daripada sejarah ditentukan oleh perbandingan-perbandingan sosial-ekonomi pada waktu itu. Sosial-ekonominya pada waktu itu demikian, ideologinya demikian, sosial-ekonominya pada satu waktu hijau, ideologinya hijau, sosial-ekonominya pada satu waktu hitam, ideologinya hitam, sosial-ekonominya pada satu waktu merah, ideologinya merah. Ini adalah ilmu yang dinamakan historis materialisme dan saya termasuk pengikut daripada teori ini, maka oleh karena itu saya adalah seorang historis materialis. Yah, jikalau saudara mendengar dari saya bahwa saya itu ya nasionalis, ya sosialis, ya muslimin maka untuk mengerti diri saya yang kompleks itu saudara-saudara, ingatlah kepada historis materialisme ini. Saya ini hasil daripada sejarah. Sebab saya nasionalis, betapa tidak saudara-saudara! Saya patriot, betapa tidak! Oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun dijajah orang, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun kehilangan kemerdekaan, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun dibelenggu, dihina, ditindas, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun bahkan lebih lama, bangsa yang menyebut namanya sendiri tidak boleh. Bangsa yang demikian itu saudara-saudara, tidak boleh tidak tentu menghasilkan rasa patriotisme dan rasa nasionalisme (tepuk tangan lama). Dan saya lahir didalam bangsa yang demikian itu. Jadi nasionalisme saya boleh saudara artikan dan bisa saudara artikan sebagai hasil daripada proses sejarah dikalangan bangsa kita.

Sosialisme saya bagaimana ? (tawa). Ya, saya ini putera, anak daripada bangsa yang terutama sekali ekonomi dihisap, ditindas oleh imperialisme. Satu bangsa yang menurut perkataan Dr.Huender, ini beratus-ratus kali saya katakan telah menjadi satu bangsa ” natie van koelies en koelies onder de naties “nation of coolis and coolis among nations“, satu bangsa yang hidup daripada dua setengah sen satu orang satu hari, satu bangsa yang makan sekarang tidak tahu bagaimana besok akan makan, satu bangsa yang pakaiannya compang-camping, satu bangsa yang gubugnya doyong, satu bangsa yang anaknya selalu menangis oleh karena kelaparan, satu bangsa.. pendek kata yang hidup didalam kalangan kemiskinan dan kemelaratan. Bangsa yang demikian itu mesti mempunya cita-cita sosialisme. Dan saya adalah putera daripada bangsa yang demikian itu. Bangsa yang demikian itu gandrung pada satu masyaratkat yang adil dan makmur, gandrung pada satu masyarakat yang tiap-tiap orang bisa bahagia, gandrung pada satu masyarakat yang tiap-tiap orang mempunyai prumahan yang layak, gandrung kepada sandang dan pangan, gandrung kepada satu masyarakat adil dan makmur, toto-raharjo, bangsa yang demikian itu saudara-saudara, adalah semestinya, historis semestinya, menjadi satu bangsa yang bercita-citakan sosialis dan bangsa yang semacam kita ini saudara-saudara tadinya banyak sekali diluar Indonesia. Maka oleh karena itu sayapun tidak heran, bahwa didalam abad duapuluh dimana-mana timbul negara-negara Sosialis (tepuk tangan). Wakil dari Polandia (yang dimaksudkan wakil Bulgaria – Red.) berkata bahwa jumlah Rakyat negara Sosialis itu 900 juta. Saya kira salah hitung saudara, bukan 900 juta, tetapi menurut perhitungan saya lebih dari 1000 juta manusia (tepuktangan lama). Malah seperti saya katakan, inilah phenomen daripada abad ke-20. Salah satu phenomen, phenomen yaitu, gejala, lebih dari gejala, satu pertandaan daripada abad ke-20. Pertandaan yang pertama, phenomen yang pertama yalah didalam abad ke-20 ini terjadi negara-negara merdeka di Asia dan Afrika. Phenomen yang kedua didalam abad ke 20 ini yalah terjadinya negara-negara Sosialis, kalau tidak salah jumlahnya sudah 15 buah sekarang ini dan rakyatnya telah lebih daripada 1000 juta. Phenomen ini terjadi sebagaimana tadi saya katakan saudara-saudara, oleh karena bukan saja di Indonesia Rakyatnya hidup didalam kemiskinan dan papa-sengsara, tetapi, tetapi dinegeri-negeri lainpun demikian juga, sehingga akhirnya timbullah gerakan-gerakan yang sekarang melahirkan negara-negara sosialis 15 buah dengan Rakyat lebih daripada 1000 juta.

Saudara lantas bertanya kepada saya :–” Lha musliminnya itu dimana? ” Ditinjau dari sudut kemasyarakatan, ditinjau dari histori, bangsa kita ini adalah didalam tingkat yang dinamakan tingkat agraris, atau lebih tepat yang sekarang sedang meninggalkan tingkat agraris tetapi beratus-ratus tahun, mungkin beribu-ribu tahun, berada di tingkat argraris, tingkat terutama sekali bercocok-tanam, dan historis, maka bangsa yang demikian itu tidak boleh tidak saudara adalah bangsa yang religius, bangsa yang percaya pada hal-hal yang gaib. Kaum buruh, saudara-saudara yang hidup didalam pabrik-pabrik, mengetahui bahwa tenunan dihasilkan oleh mesin ini. Kaum buruh di pabrik listrik dengan exact bisa mengetahui kalau generator berjalan, tidak boleh tidak mesti keluar aliran listrik. Pasti keluar kain daripada mesin tenun ini. Tapi seorang tani, si-petani saudara-saudara, ia tanamkan ia punya bibit padi, sesudah tanamkan ia punya bibit padi tinggal memohon, memohon agar supaya hujan turun menyuburkan tanaman padi ini, memohon kepada yang gaib agar supaya tidak kering terik sehingga padinya nanti akan mati; memohon kepada suatu zat yang dia tidak lihat agar supaya tanamannya ini menjadi subur dan berhasil nantinya. Ini ditinjau dari sudut masyarakat dan sudut historis. Bangsa yang demikian itu saudara-saudara tak bisa lain daripada satu bangsa yang religius, ditinjau dari sudut masyarakat dan histori itu. Meskipun ada juga peninjauan yang lebih dalam daripada itu. Saudara lepaskan saja, misalnya, dari masyarakat dan histori lantas saudara tinjau saja lebih dalam, kenapa Bung Karno percaya pada Tuhan? Kanapa Bung Karno itu muslimin ? Hal ini bolehlah bicara lain waktu. Tetapi engkau saudara-saudaraku -maaf saya memakai perkataan “engkau” — sebagai kaum historis materialis tentu mengerti bahwa rasa nasionalisme, apalagi rasa sosialisme, rasa keigamaan adalah juga, saya katakan juga, hasil daripada keadaan historis dan masyarakat. Oleh karena itu rasa nasinalisme dan rasa keigamaan adalah hal-hal yang obyektif didalam masyarakat kita sekarang ini. Maka saya berkata, siapa diantara saudara-saudara, siapa yang ada diantara engkau – maaf perkataan “engkau ” karena kawan sama kawan (tawa semua) -siapa diantara saudara-saudara tidak mau menerima adanya nasionalisme di Indonesia, adanya rasa keigamaan di Indonresia, saya berkata saudara bukan historis materialis, saudara bukan Komunis ! Oleh karena rasa nasionalisme, rasa keigamaan adalah hal-hal yang obyektif, maka oleh karena itulah saya gembira bahwa PKI diwaktu yang akhir-akhir ini, atau beberapa tahun, berdiri diatas dasar ini, bahwa ini adalah kenyataan-kenyataan yang riil, obyektif riil, bahkan bahwa tenaga-tenaga ini bisa membangunkan juga alat-alat, tenaga-tenaga yang progresif revolusioner dan didalam fase revolusi nasional maka nasionalisme adalah satu faktor progresif-revolusioner.

Bahwa ini rasa keigamaanpun didalam fase kita sekarang ini adalah satu faktor yang mungkin, yang bisa, bahkan yang pasti progresif-revolusioner. Dan bahwa tenaga-tenaga ini, faktor-faktor obyektif itu digabungkan didalam suatu gabungan besar, satu gelombang besar dalam perkataan saya, gabungan daripada segenap tenaga revolusioner, adanya didalam tubuh bangsa Indonesia. PKI sesuai dengan kami pemimpin-pemimpin yang lain berdiri diatas dasar itu. Oleh karena itu semboyan PKI yalah tetap persatuan nasional dan Sdr.Aidit tadi berkata, berulang-ulang berkata, kita tetap berdiri diatas usaha persatuan nasional (tepuk tanghan). Memang hanya dengan persatuan nasional kita bisa menyelesaikan revolusi nasional kita ini, mencapai masyarakat adil dan makmur. Saya tadi berkata, didalam revolusi nasional meskipun pertentangan klas, perjuangan klas laten, selalu ada sepanjang sejarah, bahkan saya berkata vide Manifesto Komunis, kita tidak boleh meruncing-runcingkan pertentangan klas diantara bangsa kita sendiri. Meskipun kita berkata demikian itu tidak berarti kita tidak boleh membuat kaum buruh atau kaum tani sedar akan klasnya, itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust. (tepuk tangan). Tidak, samasekali tidak ! Kita harus malahan membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust, sadar akan klasnya (tepuk tangan). Oleh karena justru didalam penyelenggaraan masyarakat yang adil dan makmur kaum buruh dan kaum tanilah yang harus menjadi motor (tepuk tangan). Kaum buruh dan kaum tani soko-guru, saudara-saudara, kaum buruh dan kaum tani didalam masyarakat adil dan makmur, kaum buruh dan kaum tani yang jumlahnya lebih daripada 90% daripada Rakyat Indonesia. Mereka ini soko-guru daripada masyarakat adil dan makmur. Mereka ini soko-goro masyarakat sosialis a la Indonesia. Maka oleh karena itu kita wajib membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust. Supaya mereka itu merasa, tiap mereka punya tugas historis, supaya mereka itu sedar akan mereka punya historische taak, supaya mereka itu merasa bahwa mereka adalah, sebagai tadi saya katakan, soko-guru daripada penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur, dan soko-guru daripada masyarakat sosialisme Indonesia.

Saudara-saudara, maka jikalau saudara ingat uraian saya ini, saudara mengerti. Oo, Bung Karno itu sekalipun dia seorang “campur-aduk”, –nasionalisme, sosialisme, muslimin, meskipun dia campur-aduk dari tiga sifat, Bung Karno selalu berdiri diatas dasar Gotong-Royong, diatas dasar ho lopis kiuntul baris (tepuk tangan lama). Dan sebagai tadi saya katakan saudara-saudara, DPA, Dewan Pertimbangan Agung, telah, alhamdullilah, saya bentuk atas dasar gotong-royong, Bapenas, Dewan Perancang nasional, telah saya bentuk atas dasar gotong-royong, insya Allah kataku tadi, MPR akan saya bentuk diatas dasar gotong-royong dan Kabinet Gotong-Royong tetap menjadi cita-cita saya (tepuk tangan lama). Maka, maka, apa yang sudah kita capai sekarang ini, saudara-saudara sudah tentu belum memuaskan saya, tetapi kita berjalan terus dan kita terus berjalan, meskipun kaum imperialis geger. Itulah saya katakan, mari berjalan terus saudara-saudara menggalang kekuatan nasional menjadi gelombang maha hebat. Maka oleh karena itupun didalam pidato saya 17 Agustus 1959, saya berkata, insya Allah nanti akan dibentuk satu Front Nasional, (tepuk tangan) beda dengan Front Nasional Pembebasan Irian Barat yang sudah saya jewer telinganya (tawa riuh, termasuk Bung Karno), satu Front Nasional baru penggalang dari semua, segenap tenaga daripada bangsa Indonedsaia, penggalang daripada persatuan revolusioner Indonesia, penggalang dari ho lopis kuntul baris Indonesia (tepuk tangan lama dan terdengar satu yel: ” ho lopis kuntul baris “). Dewan Pertimbangan Agung sekarang ini sudah mempunyai Panitia-Kecil, yang Panitia Kecil Dewan Pertimbangan Agung ini saya beri tugas : –coba pelajari soal pembentukan Front Nasional dan nanti kalau sudah mempelajarinya buatlah satu rumusan dan bawalah rumusan itu kepada Sudang Pleno Dewan Pertimbangan Agung. Maka akan saya bicarakan didalam sidang Pleno, didalam Sidang Pleno Dewan Pertimbangan Agung ini, rumusan atau isi rumusan daripada Panitia Kecil yang saya beri tugas untuk meninjau tentang pembentukan Front Nasional ini. Dan saudara-saudara, siapa yang saya jadikan ketua daripada Panitia Kecil Front Nasional ini ? Beliau duduk dihadapan saya dan memandang lurus kepada saya, Sdr. Arudji Kartawinata (tepuk tangan).

Jadi, kalau saudara mempunyai ide-ide tentang Front-Nasional, kasih pada Pak Arudji, cekokkan kepada Pak Arudji Kartawinata. Nanti Pak Arudji mengolahnya didalam Panitia Kecil, Pak Arudji membawanya kepada Dewan Pleno Dewan Pertimbangan Agung. Digodog didalam Sidang Pleno Dewan Pertimbangan Agung itu saudara-saudara, dan bulatlah nanti menjadi pendirian daripada Dewan Pertimbangan Agung dan insya Allah s.w.t; akan saya, sebagai Presiden/Panglima Tertinggi/Perdana Menteri, laksanakan apa yang diputuskan oleh Dewan Pertimbangan Agung itu (tepuk tangan lama).

Saudara saudara, baik Dewan Pertimbangan Agung, maupun Depernas, maupun MPR yang akan datang, semuanya, seperti tadi saya katakan, berdiri diatas dasar gotong-royong, ho lopis kuntul baris. Tinggal saya minta kepada PKI, sebagaimana saya minta juga kepada PNI dan Nahdhatul Ulama dll, supaya didalam Dewan Pertimbangan Agung, supaya didalam Depernas, supaya didalam MPR, bekerjasama satu sama lainnya, se-erat-eratnya, bekerjasama diatas dasar dinamis revolusioner, menyelesaikan revolusi nasional kita, menentang imperialis habis-habisan. (tepuk tangan).

Jaman perpecah-belahan saudara-saudara, jaman liberalisme sudah lalu, sejak 5 Juli kita telah kembali kepada UUD 45. Marilah kita sekarang dengan jiwa baru, dengan tenaga baru, dengan tekad baru, dengan roch baru, dengan elan baru menyelenggarakan persatuan nasuional yang ber-holopis kuntul baris-lah dapat menyelesaikan revolusi nasional dan mendirikan masyarakat yang adil dan makmur.

Sekian saudara-saurata, amanat saya kepada saudara-saudara. (tepuk tangan riuh lama semua berdiri)

 

Kehancuran PKI dan Dikhianatinya Bung Karno Adalah Kerugian Besar Rakyat Indonesia

Memperingati Ulang tahun  PKI  23 Mei

 

Kehancuran PKI dan Dikhianatinya Bung Karno

Adalah Kerugian Besar Rakyat Indonesia

 

 

Mungkin ada orang-orang yang setelah membaca judul tulisan kali ini geleng-geleng kepala dan bertanya-tanya mengapakah masih ada saja sekarang ini ( !)  orang yang menulis tentang ulangtahun PKI 23 Mei dan menyatakan juga bahwa  kehancuran PKI dan pengkhianatan terhadap Bung Karno adalah kerugian yang besar sekali bagi rakyat Indonesia. Bukankah sampai sekarang ini masih berlaku TAP (Ketetapan)  MPRS /66 nomor 25, yang melarang kegiatan PKI dan disebarluaskannya marxisme  dan leninisme atau komunisme oleh rejim militer Suharto ?

 

Memang ! Tulisan ini dibuat dengan berbagai maksud atau tujuan. Antara lain untuk menunjukkan bahwa TAP MPRS/66 nomor 25 itu, dalam kenyataannya  sehari-hari,  sekarang ini sebenarnya sudah kedaluwarsa, tidak ada gunanya sama sekali bagi dan negara kita, karena sudah tidak diindahkan atau tidak ditakuti seperti halnya di masa pemerintahan Orde Baru.

 

Sudah sama-sama kita ketahui, bahwa (resminya saja)  PKI memang sudah tidak ada lagi sebagai organisasi terbuka. Tetapi siapakah bisa mencegah atau melarang jika ada kalangan atau golongan di Indonesia yang melakukan berbagai kegiatan yang jiwanya, semangatnya, atau cita-citanya sebenarnya mengandung marxisme, komunisme atau sosialisme, walaupun tidak terang-terangan memakai nama PKI atau komunis ?

 

« Generasi baru PKI » sudah bangkit lagi

 

Kiranya sudah bisalah diduga, atau diperkirakan,  bahwa sejak lama sebenarnya sudah ada banyak orang dari berbagai kalangan di Indonesia yang menempuh jalan  ini dalam macam-macam bentuk dan cara. Ini dapat dirasakan di sana-sini, atau « dicium baunya » dalam berbagai hal dan peristiwa, Sehingga kaum reaksioner dari berbagai kalangan menyuarakan  « Awas PKI gaya baru », atau « Generasi baru PKI sudah bangkit ». Dan ini adalah hal yang wajar,

 

Sebab, seperti yang sudah ditunjukkan oleh sejarah berbagai bangsa di dunia, lahirnya marxisme atau komunisme adalah karena adanya penindasan, penghisapan, ketidak adilan yang dilakukan satu golongan masyarakat (atau kelas) atas golongan (kelas)  lainnya. Lahirnya marxisme atau komunisme di dunia adalah untuk memberikan senjata atau alat bagi mereka yang tertindas, guna mengadakan perlawanan.

 

Demikian jugalah halnya  di Indonesia, baik yang terjadi disekitar tahun 1920  ketika PKI muncul secara terbuka untuk pertama kalinya, maupun sekarang dan juga di masa datang. Sebab ;  selama ada penindasan, penghisapan dan ketidak-adilan terhadap rakyat banyak di Indonesia, selama itu pula marxisme atau komunisme, yang dimanifestasikan dengan nama PKI  (atau dengan nama-nama yang lain) dan dalam macam-macam cara dan bentuk  akan tetap ada !  

 

Itulah sebabnya, mengapa meskipun Suharto beserta konco-konconya  (di dalam negeri dan luar negeri ) sudah berusaha menghancur-luluhkan PKI dan membunuhi, menyiksa, mempersekusi dan menyengsarakan jutaan anggota, dan  simpatisan atau pendukung PKI dengan cara-cara yang luar biasa biadabnya, namun jiwa, semangat, dan cita-citanya masih tetap dipelihara di sana-sini oleh banyak orang. Sampai sekarang 

 

Situasi bangsa membutuhkan senjata untuk perlawanan

 

Hal yang begini inilah yang  sulit dicegah oleh TAP MPRS/66 nomor 25, atau oleh simpatisan rejim militer Suharto, atau oleh pendukung Golkar, atau oleh FPI dan macam-macam kalangan Islam sejenisnya. Sebab, situasi negara dan bangsa yang menimbulkan penindasan, penghisapan dan ketidakadilan bagi rakyat banyak di Indonesia  justru membutuhkan adanya perlawanan dan pembelaan, untuk terjadinya  perubahan-perubahan dan perbaikan. Dan di antara berbagai  kekuatan dalam masyarakat yang bersedia untuk berjuang mengadakan perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan ini adalah golongan kiri yang dipelopori oleh PKI.

 

Sikap perlawanan untuk menentang penindasan, penghisapan dan ketidak-adilan yang demikian inilah yang telah ditunjukkan oleh orang-orang komunis anggota dan simpatisan PKI, sejak lahirnya di tahun 1920. PKI dengan anggota dan simpatisannya telah merupakan kekuatan utama dalam melawan kolonialisme Belanda. dengan adanya pembrontakan di Jawa  (1926) dan Samatera  (Silungkang, tahun 1927), sehingga belasan ribu orang ditangkapi secara besar-besaran , dan ribuan di antaranya dibuang ke Digul.

 

Setelah pembrontakan melawan kolonialisme Belanda ini ditumpas, maka PKI dinyatakan dilarang oleh pemerintahan kolonial dan terpaksa bergerak di bawah tanah. Perjuangan di bawah tanah ini diteruskan selama pendudukan militerisme fasis Jepang, dan  baru muncul lagi secara terbuka sejak proklamasi 17 Agustus 1945

 

Sesudah proklamasi kemerdekaan, perjuangan PKI bersama golongan-golongan lainnya diteruskan melawan  kolonialisme Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, dan juga melawan imperialisme negara-negara Barat yang dikepalai Amerika Serikat setelah selesainya Perang Dunia ke-II. Hanya beberapa tahun saja setelah terjadinya  peristiwa Madiun dalam tahun 1948 yang menggegerkan itu PKI dapat bangkit kembali untuk meneruskan perjuangannya.

 

PKI sudah sejak lama diincer oleh kekuatan reaksioner

 

Sejarah bangsa kita menunjukkan bahwa  perjuangan PKI ternyata mendapat dukungan dari rakyat banyak. Hal yang demikian ini  kelihatan dari  kenyataan bahwa dari jumlah anggota dan simpatisan  yang hanya beberapa puluhan ribu orang saja dalam tahun 1950, menjadi ratusan ribu dalam beberapa tahun saja. Puncak dukungan atau simpati rakyat banyak ini kemudian termanifestasikan dalam hasil pemilu demokratis yang diselenggarakan secara baik sekali dalam tahun 1955.

 

Membesarnya PKI sejak 1950 sudah menarik perhatian kekuatan imperialis Barat (terutama AS), yang mulai mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh pimpinan Angkatan Darat dengan kedok « training » (latihan militer) dll. Melalui berbagai saluran dalam negeri, dan dengan menggunakan persoalan-persoalan yang timbul waktu itu, kalangan Barat telah mendukung (secara terang-terangan dan juga sembunyi-sembunyi) gerakan-gerakan separatis yang dilancarkan oleh sebagian dari Angkatan Darat waktu itu di berbagai daerah.

 

Sejarah telah mencatat adanya Peristiwa Tiga Selatan (Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan), dan juga lahirnya Dewan Garuda, Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Manguni, Permesta, yang kemudian memuncak dengan diproklamasikannya PRRI di Bukittinggi pada tanggal 15 Februari tahun 1958. Lahirnya gerakan-gerakan daerah yang dicetuskan oleh unsur-unsur Angkatan Darat ini sebenarnya, atau pada hakekatnya, adalah gerakan anti Bung Karno dan anti-PKI.

 

Dalam berbagai peristiwa yang ditimbulkan oleh sejumlah pimpinan Angkatan Darat di berbagai daerah waktu itu PKI (sejak 1953) sudah selalu dijadikan sasaran penangkapan dan pembunuhan. Pembunuhan besar-besaran adalah  yang dilakukan oleh   PRRI di kamp maut Situjuh (1958). Baik PRRI maupun Permesta telah mendapat bantuan secara rahasia dari Barat, terutama oleh Amerika Serikat (ingat peristiwa pendropan senjata di Pakanbaru dan penembakan pilot CIA, Allen Pope, di Morotai dalam tahun 1958)

 

Kekuatiran terhadap PKI menanjak sesudah pemilu 1955

 

Kekuatiran imperialisme Barat (terutama AS) terhadap makin membesarnya PKI menjadi lebih-lebih lagi dengan juga makin luasnya  dukungan rakyat terhadap Bung Karno. Dengan diselenggarakannya Konferensi Bandung dalam tahun 1955 popularitas Bung Karno menanjak sekali, bukan saja di dalam negeri, bahkan juga di luar negeri, sebagai pejuang anti imperialisme  dan anti-kolonialisme.

 

 Di luar dugaan banyak orang (termasuk di luar negeri) dalam pemilu 1955 itu PKI mendapat suara yang banyak sekali, dan menduduki nomor ke 4 (16,34 % suara, 6 juta lebih pemilih), sesudah PNI (22,32% suara, 8 juta pemilih), Masyumi 20,92 % suara, 7,9 juta pemilih).Nahdatul Ulama (18,47 % suara, 6,9 juta pemilih)

 

Sejak itu, dukungan kepada PKI makin membesar, dan menjadi kekuatan politik dan sosial yang makin membikin kuatir kekuatan reaksioner dalam negeri (Angkatan Darat, Masyumi, PSI dan berbagai kalangan anti Bung Karno dan anti-PKI lainnya) dan juga di luar negeri. Kemudian, karena AS makin terlibat dengan perang di Indo-Cina, maka kedekatan sikap politik PKI dengan politik anti-imperialismenya Bung Karno menjadi bahaya yang makin besar bagi kepentingan AS.

 

Kekuatiran fihak Barat (terutama AS) terhadap sikap Bung Karno dan PKI  lebih membesar lagi disebabkan karena makin besarnya persekutuan (atau persahabatan) antara Indonesia yang diwakili Bung Karno (dengan dukungan PKI) dan RRT, Vietnam, Kamboja, Korea Utara waktu itu. Garis persahabatan  ini dikenal dengan nama « poros Jakarta – Pnompenh – Hanoi – Peking – Pyongyang ».  Amerika Serikat berusaha dengan segala jalan dan cara untuk mencegah terjadinya   « effek domino » sebagai akibat dari perkembangan di Vietnam.

 

PKI dan Bung Karno adalah musuh yang harus dimusnahkan

 

Dengan makin besarnya pengaruh politik anti-imperialis Bung Karno di kalangan internasional (terutama di Asia-Afrika dan Amerika Latin) maka Bung Karno menjadi musuh besar dan utama bagi imperialisme AS. Dan di belakang politik Bung Karno yang pernah menggegerkan dunia internasional waktu itu (ingat : Konferensi Bandung, Indonesia keluar dari PBB, dukungan Indonesia kepada Tiongkok, persoalan Vietnam, sikap Bung Karno « Go to hell with your aid » dll dll) berdiri kekuatan PKI, yang pernah merupakan partai komunis yang terbesar di dunia sesudah Tiongkok dan Uni Soviet.

 

Dalam berbagai bahan dapat dibaca  bahwa PKI pernah mempunyai anggota 3,5 juta, ditambah dengan 3 juta dari gerakan pemudanya, dari kalangan serikat buruh 3,5 juta, dari kalangan tani 9 juta. Kalau digabungkan dengan  anggota dan simpatisan dari golongan wanita, seniman, sastrawan, sarjana dan lain-lainnya,  maka diperkirakan bahwa PKI mempunyai pendukung sekitar  20 juta orang, atau kurang lebih seperlima penduduk Indonesia pada waktu itu.

 

Terlepas dari apakah angka-angka itu semuanya mendekati kebenaran atau tidak, namun bisalah  dikatakan dengan pasti bahwa PKI memang pernah menjadi partai yang mempunyai pendukung yang besar sekali. Karenanya,  ada yang meramalkan bahwa seandainya jadi dilaksanakan pemilu waktu itu maka PKI pastilah akan mendapat suara  yang terbesar. Dan perkembangan yang demikian ini adalah hasil dari berbagai politik Bung Karno yang mendapat dukungan PKI. Karena, dalam banyak hal visi Bung Karno adalah sama atau sejiwa dengan visi PKI.

 

Di bidang dalam negeri politik Bung Karno yang didukung PKI adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Manipol, USDEK, Berdikari, NASAKOM, dan berbagai ajaran-ajaran revolusioner lainnya. Sedangkan di bidang luar negeri atau internasional politik Bung Karno yang didukung PKI adalah :  Konferensi Bandung, berbagai gerakan solidaritas Asia-Afrika (antara lain : Persatuan Wartawan Asia-Afrika, Konferensi Pengarang Asia-Afrika, Konferensi Juris Asia-Afrika)  GANEFO, Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing, pidato di PBB « To build the world anew ».

 

Jelaslah bahwa gejala atau perkembangan yang demikian itu tentu saja membikin makin kuatirnya kekuatan reaksioner dalam negeri dan luar negeri. Karena itu, Bung Karno dan PKI menjadilah satu musuh yang perlu dimusnahkan atau dihancurkan. Dan untuk bisa menghancurkan Bung Karno perlu lebih dulu menghancurkan PKI, yang merupakan kekuatan utama yang mendukungnya. Dengan kalimat lain, penghancuran PKI akan memungkinkan penghancuran Bung Karno.

 

Tindakan Angkatan Darat terhadap PKI dan Bung Karno :

lembaran hitam sejarah bangsa

 

Dengan terjadinya peristiwa G30S – yang masih mengandung berbagai persoalan dan banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang – maka kekuatan reaksioner dalam negeri (Angkatan Darat dengan  dibantu oleh kekuatan-kekuatan  lainnya yang anti Bung Karno dan anti-PKI), dan kekuatan imperialis mendapat dalih untuk menghancurkan PKI.

 

Tindakan pimpinan Angkatan Darat (waktu itu) dalam usaha menghancurkan kekuatan PKI merupakan lembaran hitam sejarah bangsa kita, yang perlu dicatat oleh generasi yang sekarang dan harus diketahui dengan jelas oleh generasi-generasi yang akan datang. Karena, untuk menghancurkan kekuatan PKI telah dibunuh jutaan anggota dan simpatisan atau pendukungnya, dengan cara-cara yang biadab dan betul-betul tidak manusiawi sama sekali. Ratusan ribu keluarga kehilangan sang-bapak atau sang-ibu, dan jutaan orang  juga ditahan atau dipenjarakan tanpa diadili (contohnya :di pulau Buru dan Nusakambangan).

 

Mengingat itu semua, maka sekarang makin jelaslah bagi banyak orang bahwa hancurnya kekuatan PKI dan bisanya Bung Karno digulingkan secara khianat oleh pimpinan Angkatan Darat  adalah sebenarnya sudah dipersiapkan (atau bahkan dimulai) oleh kekuatan-kekuatan reaksioner dalam negeri sejak lama (ingat :  peristiwa tiga Selatan dll) dengan kerjasama kekuatan asing ( ingat : PRRI, Permesta)

 

Dari sudut ini kita bisa melihat juga bahwa kehancuran PKI dan tergulingnya Bung Karno adalah karena akibat pengkhianatan besar-besaran pimpinan  Angkatan Darat (waktu itu) terhadap cita-cita para perintis kemerdekaan bangsa, terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika

 

Situasi negara dan bangsa di segala bidang yang serba busuk atau rusak yang kita saksikan dewasa ini adalah bukti yang jelas bahwa itu semua adalah akibat karena  dihilangkannya kedudukan  Bung Karno dari  kepemimpinan negara dan bangsa dan dihancurkannya PKI sebagai pendukung utama berbagai politik revolusionernya.

 

Dengan adanya kepemimpinan Bung Karno (dan dengan PKI sebagai pendukung utamanya) maka di masa-masa lalu  patriotisme dan nasionalisme kerakyatan bisa senantiasa dikobarkan, dan dihidupkan  terus-menerus semangat untuk menjalankan revolusi, serta digelorakan rasa cinta kepada rakyat dan gotong-royong, sebagai usaha dalam nation and character building. Justru itu semualah yang sekarang ini tidak ada ( !!!, tanda seru tiga kali) , dan karenanya negara dan bangsa kita menghadapi  kekosongan kepemimpinan nasional yang betul-betul berwibawa.

 

Mengingat itu semuanya, dan melihat pula kebejatan moral yang melanda seluruh kehidupan negara dan bangsa dewasa ini maka terasa sekali bahwa kehancuran PKI dan pengkhianatan terhadap Bung Karno adalah kerugian yang amat besar sekali bagi Republik Indonesia dan rakyat kita.

 

Perkembangan  situasi selanjutnya di kemudian hari akan membuktikannya lebih jelas lagi !!!

 

Paris, 23 Mei 2011     

A.Umar Said

    Peristiwa G30S 1965: mengapa dan bagaimana

    Diangkat dari Bulletin Problem Filsafat, berkala Komunitas Marx STF Driyarkara; No.9/Tahun I/Mei 2011, hlm. 43-49.

     

    Peristiwa G30S 1965:

    mengapa dan bagaimana

     

    (renungan pribadi)

     

    Peristiwa ’65 juga dikenal sebagai Peristiwa G30S. Ketika peristiwa yang sama ini disebut sebagai ‘Peristiwa G30S/PKI’, dengan embel-embel ‘PKI’, atau lebih seram lagi sebagai ‘Gestapu PKI’,  ia seketika telah berubah – lebih tepat sengaja diubah – menjadi sekeping azimat sakti bersisi dua bagi rezim Orde Baru.

    Pada satu sisi Peristiwa ‘Gestapu PKI’ ini merupakan sebuah mitos keramat bangsa Indonesia, yang sengaja dibangun untuk menopang berdirinya Orde Baru, dan sekaligus memberi keabsahan terhadap rezim itu. Karena itu mitos ini tidak bisa dan tidak boleh ditawar-tawar, dikutak-katik dan ditafsir ulang oleh barangsiapa pun. Sebaliknya, dari saat ke saat, sepanjang satu generasi lebih, terus-menerus dijejalkan dan dimamah-biak.

    Pada sisi lain Peristiwa G30S ini menjadi trauma bangsa. Maka tidak aneh jika ketika itu – bahkan sampai sekarang – ada sementara orang dan sejarawan / ilmuwan yang masih takut ‘bersuara’ perihal Peristiwa itu. Justru itulah maka rezim ini bisa berdiri selama 32 tahun tanpa gangguan. Karena mitos rezim dan trauma bangsa yang ibarat dua sisi dari matauang yang satu dan sama itulah, maka peristiwa tumbangnya rezim Orba tidak sekaligus berarti rakyat Indonesia terbebas dari budaya politik yang telah ditanamkan dan diwariskan Orba.

     

    Trauma bangsa warisan rezim $uharto

    Sehubungan dengan hal tersebut di atas dengan pasti berani kukatakan, bahwa Peristiwa G30S itulah salah satu akar pokok permasalahan bangsa Indonesia sampai sekarang: dari masalah kebangkitan kembali budaya feodal, korupsi, KKN, ketidak-adilan, mafia hukum, kemiskinan, kerusuhan bermotif SARA, sampai masalah bobrok dan bejatnya moral masyarakat.

    Kejahatan HAM model G30S terus berlanjut di sana-sini dan terus-menerus dalam skala yang lebih kecil. Apa yang terjadi pada akhir tahun 1965 dan tahun 1966 di Jateng, Jatim, Bali, Pontianak, Lampung dan lain-lain itu, kemudian terjadi di Dili (Timor Leste), Tanjung Priok, Lampung, Aceh, ‘Peristiwa Trisakti’, ‘Peristiwa Semanggi’, dan terus berlanjut ke Ambon, Maluku, Poso, Papua dan dalam skala yang lebih kecil lagi, sebutlah misalnya, di Bekasi, Bogor, Banyuwangi dst dst masih sangat banyak lagi! Fiil dan tingkah-laku militer yang merasa diri di atas hukum dan kebal hukum itu bersumber dari pembunuhan massal sejak akhir 1965 yang berencana dan sistematis.

    Selain sisi historis dari Peristiwa G30S itu, yang tidak kalah penting diperhatikan ialah, timbulnya suasana takut di tengah masyarakat pasca-65, sebagai akibat trauma tersebut. Peristiwa ‘65 menjadi semacam hantu, dan di beberapa kampung, antara lain Kampung Tukangan, di kota Yogya[1], memang dipercaya menjelma dalam berbagai rupa hantu yang sebenarnya, yang terus membayangi kehidupan bahkan sampai sekarang pun! Sementara itu rezim Orba Jilid I dan Orba Jilid II – yaitu Orba pasca-Reformasi – melakukan berbagai cara untuk memelihara ‘hantu kominis’ itu. Dalam hubungan ini bisa dipakai sebagai contoh ucapan Ruhut Sitompul baru-baru ini yang mengatakan, bahwa orang yang menolak Suharto diberi gelar pahlawan adalah anak PKI; begitu juga kata-kata seorang cendekiawan bernama Ichlasul Amal yang menyebut unjuk-rasa rakyat Yogya dalam mendukung keberadaan DIY, sama seperti unjuk-rasanya orang-orang PKI!

    Sekarang ini fobia komunis yang sudah diperangi oleh Bung Karno sejak dasawarsa kedua abad lalu (baca ‘Di Bawah Bendera Revolusi’, passim), bersamaan dengan kerusuhan sosial di mana-mana terkait dengan kegagalan pemerintah di segala bidang kembali ditiup-tiupkan. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutanto, yang juga mantan Kepala Kepolisian RI, pada 20-11-di gedung DPR, Senayan, Jakarta, menengarai ancaman terhadap negara hanyalah paham komunisme dan turunannya.  Mendukung paradigma BIN, Direktur Pusat Studi Intelijen dan Keamanan Nasional Dynno Chressbon, mengatakan bahwa ideologi komunis dan terorisme kelompok radikal memang masih menjadi bahaya laten yang setiap saat bisa muncul ke permukaan.

    Sekitar medio Januari 2011 yang lalu tidak kurang dari Ketua DPR RI Marzuki Alie – di tengah-tengah ‘angin kencang’ sekitar kasus Gayus dan kebohongan negara – malah menyerukan kepada rakyat, agar waspada terhadap kebangkitan kembali komunisme! Itu suara Marzuki Alie, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Ia adalah ketua dari dewan perwakilan  rakyat yang berjumlah 560 orang, sebagai wakil-wakil dari dua juta tigaratus ribu orang penduduk! Sadarkah ia, bahwa suaranya mewakili suara duaratus juta lebih manusia? Entah dalam konteks apa, dan apa pula alasannya, ia tidak menyebutkannya. Maka kita hanya bisa menduga-duga. Barangkali ia sekedar bertindak sebagai corong ‘his master’s voice’, yang ingin membelokkan perhatian masyarakat dari masalah mafia hukum dan mafia pajak, atau karena fobia terhadap ‘hantu gombinis’ itulah! (dua patah kata sindiran yang dipakai Bung Karno, Di bawah Bendera Revolusi tsb di atas).

    Wawasan baru  diperlukan untuk meneliti dan selanjutnya memahami Peristiwa ‘65 dengan lebih tepat, bukan sekedar untuk memahami masa lalu saja, tetapi terutama untuk memberi bekal berharga bagi generasi pasca-65. Khususnya supaya generasi sekarang dan generasi mendatang tidak mengulang kesalahan generasi pendahulunya.

     

    “Kedahsyatan, kekejaman, dan kengerian Tragedi 1965 menyisakan luka kemanusiaan yang masih berdarah, yang kini menuntut untuk disembuhkan. Memoar-memoar survivor yang mengumandangkan tangisan pilu yang menyayat hati dan menusuk perasaan membangkitkan kesadaran kaum muda akan pentingnya melakukan metanoia, sebuah reformasi hati nurani sebagai sebuah gerakan terapi nasional untuk menyembuhkan luka sejarah itu secara ksatria.” (Agustinus Patrick Sephira Taum, Tragedi 1965 dan Metanoia Indonesia’, 2011[2]).

     

    Mistifikasi harus diakhiri

    Mistifikasi atau pembohongan tentang Peristiwa ’65 tidak boleh dibiarkan terus meracuni sejarah bangsa, dan harus segera diakhiri demi masadepan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Bukan lagi rahasia umum bahwa rezim Orba memutlakkan versi sejarahnya tentang Peristiwa ’65, dengan cara menggelapkan dan membelokkan fakta. Generasi pasca-65 dipaksa menelan mentah-mentah tanpa tanya!

    Karena itu kajian dan penulisan ulang tentang Peristiwa ’65 itu sangat penting, demi pelurusan sejarah dan demi membebaskan generasi muda Indonesia dari kebohongan sejarah.  Kebohongan sejarah yang berpangkal pada kebohongan negara selama ini harus diakhiri, dan kegiatan pelurusan sejarah harus terus-menerus dicermati dan dilakukan. Ataukah kebohongan negara di Indonesia sekarang ini sudah membudaya? Kalau begitu harus diwaspadai dan dilawan habis-habisan oleh barangsiapa saja yang masih menginginkan Tanahair dan Rakyat negeri ini menjadi merdeka, bebas dan sejahtera.

    Sementara itu perlu ditegaskan juga, bahwa pelurusan sejarah tidak boleh diartikan sebagai pembenaran atau pembersihan diri terhadap dan oleh semua pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang kalah atau dikalahkan, oleh korban atau yang mendaku sebagai korban, yang dituding oleh pihak pemenang sebagai pihak yang bersalah.

    Pendek kata, sejarah yang telah ‘dibengkokkan ke kanan’ tidak boleh ‘dibengkokkan ke kiri’ dengan mengatas-namakan ‘pelurusan sejarah’. Yang dibutuhkan untuk masa depan adalah suatu pemahaman sejarah secara utuh, agar bisa menjadi dasar berpijak dan bertindak bersama dalam konteks hidup berbangsa, untuk membuka wawasan berkehidupan sosial di masadepan yang lebih demokratis dan beradab.

     

    Tidak sesimpel Perang Dingin!

    Peristiwa G30S aku dengar pertama kali melalui pengumuman RRI Jakarta pada jam 07.00 pagi tanggal 1 Oktober 1965. Aku bingung. Sama seperti banyak orang lainnya! Tapi selagi orang masih dalam kebingungan bertanya-tanya, apa sejatinya yang telah dan sedang terjadi pada pagi hari itu, Kolonel Yoga Sugama (ketika itu Asisten I Kostrad/Intelijen) datang di markas Kostrad sudah dengan membawa berita pasti. Menurut Yoga (Memori Jenderal Yoga, [Jakarta: Rena Pariwara, 1999], hal. 148) pada pagi 1 Oktober 1965 itu, dirinyalah yang pertama-tama tiba di Kostrad. Setelah Ali  Murtopo datang, kepada Ali Murtopo ia berkata memastikan, bahwa yang  melancarkan gerakan penculikan dini hari itu adalah anasir PKI. Ali Murtopo tidak serta-merta mau memercayai kata-kata Yoga begitu saja.

    Setelah siaran RRI jam 07.20 pagi, yang memberitakan bahwa Dewan Revolusi telah terbentuk dan diketuai oleh Letkol Untung Samsuri[3], Yoga Sugama menegaskan kebenaran kesimpulannya di atas. Sebab, dikatakannya, ia kenal Untung sebagai perwira TNI-AD yang berhaluan kiri. Untung pernah menjadi anak-buahnya ketika RTP II (Resimen Team Pertempuran II) Diponegoro bertugas menumpas PRRI di Sumatera Barat.

    Jenderal Suharto yang datang di Kostrad belakangan dari Yoga, lalu bertanya kepadanya: “Apa kira-kira Presiden Sukarno terlibat dalam gerakan ini?” Yoga Sugama dengan tegas menjawab: ” Ya!” Kesimpulan Yoga Sugama bahwa anasir PKI di belakang gerakan ini, dan bahwa  Presiden Soekarno terlibat di dalamnya, tampaknya menjadi pegangan Suharto.

    Dari sudut politik gerakan G30S dipimpin oleh sebuah Dewan Militer yang diketuai D.N. Aidit dan Syam Kamaruzzaman selaku wakil; Kolonel A. Latief sebagai pimpinan operasi militer, dan Letkol Untung Samsuri sebagai pimpinan gerakan. Gerakan bermarkas di rumah Sersan (U) Suyatno, di komplek perumahan AURI di Pangkalan Udara Halim. Dengan perhitungan aksi militer itu akan dilaksanakan oleh para perwira militer sendiri, terlepas dari partai, pada sidang Politbiro dalam bulan Agustus 1965 sepakat untuk memberikan ‘dukungan politis.

    Untuk itu Aidit lalu membentuk satu tim khusus yang dipilih dari anggota-anggota Politbiro, untuk membahas dengan cara-cara apa partai akan mendukung para perwira itu. Sejak gerakan dimulai semua wewenang Politbiro diambil-alih oleh Dewan Militer tersebut di atas. Semua instruksi politik yang dianggap sah, hanyalah yang bersumber dari Dewan Militer. Tapi karena cara-kerja pengorganisasiannya tidak berjalan sesuai dengan rencana, maka tanda-tanda kegagalan gerakan segera menampak, maka Dewan ini pun tidak lagi berfungsi. Dalam keadaan demikian agaknya Aidit ‘mundur’, kembali teringat pada kejayaan partainya ketika dipimpin trio: Aidit-Lukman-Njoto. Ia lalu membagi tugas: Aidit memimpin perjuta di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Lukman memimpin gerakan bawah-tanah di ibukota, dan Njoto — dimanfaatkan hubungan baiknya dengan Soekarno – ditugasi untuk memelihara legalitas partai dengan tetap menjalankan fungsi kenegaraan sebagai menteri.[4]

    Dewan Militer tidak lagi berfungsi. Pasukan pendukung gerakan G30S dan Dewan Revolusi tercerai-berai ibarat sapulidi tanpa simpai. Untung Samsuri sendiri tertangkap di Tegal, dalam pelariannya dengan naik kendaraan umum bis. Semua tidak tahu apa yang harus dikerjakan kecuali mencari jalan sendiri-sendiri menyelamatkan diri. Juga DN Aidit, atas perintah Syam, segera terbang ke Yogya dengan bantuan pesawat AURI. Syam sendiri segera menghilang tanpa meninggalkan sepatah instruksi apa pun kepada kawan-kawannya, dan tidak seorang kawan pun tahu di mana dia berada – sampai ia ditangkap di daerah Jawa Barat tahun 1967.

    ***

    Belum lama ini seorang eks-tapol Tan Swieling, yang aku kenal (sangat) baik, meluncurkan bukunya tentang hal-hal seputar G30S/65. Tidak kurang bergengsi pembicara utama pada kesempatan ini mas Beno alias Ben Anderson, sahabat baik Bung Swieling, dan sejarawan muda Hilmar Farid.

    Seperti kebanyakan penulis terdahulu tentang G30S, Tan Swieling juga bersibuk-sibuk mencari data dan menyusun argumen, bahwa sumber sebab-musabab Peristiwa G30S adalah Perang Dingin. Dengan kata lain, sumber sebab-musabab G30S yang berakibat tamatnya sejarah gemilang PKI, dan lenyapnya karisma serta kepemimpinan Bung Karno, adalah konflik Barat vs Timur – yaitu Amerika Serikat dan sekutunya di satu pihak berhadapan dengan Uni Soviet dan kawan-kawannya pada pihak yang lain. Peristiwa G30S hanyalah imbas dari ‘kontradiksi pokok’ dunia saat itu. Walaupun Tan Swieling membuat sedikit varian, yaitu dengan memberi tambahan penjelasan: Perang Dingin itu mengakibatkan timbulnya dua kepentingan, yaitu kepentingan pemodal dari luar yang bertemu dengan kepentingan orang-dalam yang mau bekerja dengannya. Mereka menimbulkan ledakan Peristiwa 1965, jika boleh kuteruskan penalaran Tan Swieling, ketika dua kekuatan yang saling membutuhkan tersebut berhadapan dengan kepentingan kaum nasionalis patriotik yang membawa tiga Azimat Revolusi: politik berdaulat, ekonomi berdikari, dan kebudayaan berkepribadian!

    Tanpa hendak mengingkari sumber kebenaran alasan Tan Swieling, yaitu kepentingan ekonomi, tetapi bagaimanapun perbenturan antara dua pihak yang berlawanan itu, dalam fakta sejarah, menggejala sebagai benturannya antara berbagai-bagai kekuatan politik.

    Maka dengan jitu Bung Karno, dalam sidang Kabinet Dwikora di Istana Bogor 6 Oktober 1965, yang dihadiri juga oleh Nyoto, Wakil Ketua II CC-PKI yang menjabat Menteri Negara diperbantukan pada Sekretariat Negara, mengatakan bahwa G30S terjadi karena bertemunya tiga faktor (kepentingan). Penilaiannya ini diulanginya lagi dalam pidato Pelengkap Nawaksara di depan Sidang MPRS pada 19 Januari 1967. Ketiga faktor dimaksud ialah:

    1. Keblingernya beberapa pemimpin PKI.
    2. Lihainya Nekolim.
    3. Adanya oknum yang tidak beres dalam tubuh kita sendiri.

    Coen J.G. Holtzappel, mantan gurubesar Universitas Utrecht, di depan ‘Sarasehan Leuven Belgia’[5], mengemukakan hipotesis, bahwa peristiwa 30 September 1965 adalah operasi militer intel MI6 dari Inggris dan CIA dari Amerika Serikat, yang melibatkan intelijen militer Indonesia – inilah penjelasan butir kedua konstatasi Bung Karno tersebut di atas: ‘lihainya nekolim’, selain pemilihan momentum mereka yang tepat untuk melancarkan gerakan tersebut [kursif penegas HS].

    Lebih lanjut Coen Holtzappel menegaskan: Tujuan utama persekongkolan ini untuk menjatuhkan Presiden Sukarno, yang didukung PKI, yang pada saat itu banyak membuat konflik anti-Barat (kursif penegas HS). Ini jelas dalam konfrontasi dengan Malaysia, yang disebut sebagai proyek nekolim Inggris, dan manuver politiknya yang anti-kolonialisme Barat. Di samping itu pihak Barat mengetahui, bahwa Presiden Sukarno memiliki konflik internal dengan beberapa pimpinan TNI/Angkatan Darat (perhatikan butir ketiga: adanya oknum yang tidak beres dalam tubuh kita sendiri; HS). Selanjutnya Holtzappel juga menjelaskan, bahwa semula Suharto bukan merupakan faktor yang diperhitungkan Barat. Tetapi pada akhirnya Barat harus mendukung Suharto, sebab mereka menilai Suharto anti-komunis.

    Apa yang dinyatakan Coen Holtzappel tersebut, ternyata baru-baru ini dibenarkan oleh Bradley Simpson, Doktor Sejarah Princeton University, AS, dalam diskusi ‘Indonesia and the World’ di Goethe Haus, Jakarta Pusat, 19-1-2011. Simpson meneliti tragedi 1965 itu selama sepuluh tahun, melalui dokumen resmi pemerintah di Perpustakaan Negara dan Kepresidenan AS. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa “AS tidak tahu apa-apa tentang operasi penculikan yang dipimpin Letkol Untung Sjamsuri itu”. Tetapi Simpson mengakui,  Amerika tahu, bahwa kejadian besar akan terjadi pada masa itu: “AS ingin militer kontrol Indonesia,” katanya. Jika Inggris hanya mengingini Indonesia kacau, lanjut Simpson, sehingga tidak bisa melancarkan serangan ke Malaysia, AS lebih dari Inggris, karena takut negara dengan 100 juta penduduk itu akan jatuh ke tangan komunis. Tapi intelijen AS tidak memilih opsi menggulingkan Soekarno, mengingat dukungan massa terhadapnya yang kuat, kecuali jika ada kawan di dalam negeri yang juga berusaha untuk menjatuhkannya (ingat istilah ‘our local army friends’ yang muncul dalam beberapa sidang Mahmillub, antara lain dalam sidang Mayor Rudhito [SUAD; Staf Umum Angkatan Darat; I]; HS).

    Tujuan AS ialah menumpas PKI ‘sampai akar-akarnya’ (kata-kata ini harfiah diucapkan juga oleh AH Nasution, dalam pidato pemakaman para jenderal di TMP Kalibata pada 5 Oktober 1965), sebagai sasaran antara untuk – mengikuti hasil penelitian Simpson — menggulingkan Soekarno dan mengatur militer ke puncak kekuasaan’. Tetapi ketika Angkatan Darat mulai memimpin penumpasan PKI, Duta Besar AS Marshall Green segera mengirim kawat ke Washington. “Angkatan Darat tidak akan menghabisi PKI,” kata Simpson. Mengapa tidak? Barangkali agar tangan ‘our local friends’ dan ‘tangannya sendiri’ tidak tampak mencolok terkena lumuran darah pembantaian. Mereka, ‘kepentingan luar dan konco-konconya dari dalam’ itu lalu bertindak ‘lempar batu sembunyi tangan’, dengan cara menyebar propaganda untuk membangkitkan amok massa. Berbagai isu dihembuskan mulai dari temuan alat pencungkil mata dan paluarit, kursi listrik dan senjata semi-otomatis Chung di rumah-rumah pimpinan dan kader-kader PKI, yang digunakan untuk membunuh korban, konon bahkan lubang-lubang kuburan massal juga sudah disiapkan!

    Pada 1967 Jenderal Soeharto berhasil merebut sepenuhnya kepemimpinan Soekarno sebagai Presiden RI. Trisakti Azimat Revolusi Indonesia, hasil pemikiran Soekarno, berhasil disapu bersih olehnya, dan jalan untuk masuknya kepentingan modal dari luar dibikin lapang selapang-lapangnya. Maka berkatalah akhirnya Simpson: “Setelah itu mereka membantu teknokrat mengamankan investasi Barat di Indonesia.”

    ***

    Mencermati kata-kata Bung Karno, Coen Holtzappel dan Bradley Simpson di atas, aku merasa lebih diyakinkan lagi pada pendapatku sejak lama: bahwa Perang Dingin tidak merupakan penyebab tunggal dari terjadinya peristiwa Tragedi 1965. Perang Dingin, menurutku, bukan lagi penyebab utama ‘Tragedi 65’, melainkan sudah menjadi semacam ‘latar-peristiwa’ atau ‘hamparan medan’ tempat terjadinya peristiwa ‘saja’.

    Antara 1957–1965 setidak-tidaknya tercatat tujuh kali dilakukan upaya untuk menggulingkan pemerintah Soekarno, dan lebih dari itu bahkan melenyapkannya secara fisik. Semuanya gagal. Menanggapi ‘Peristiwa Makasar’ awal Januari 1962[6], Kolonel M. Jusuf, Pangdam XIV / Hasanuddin, menyatakan, bahwa usaha pembunuhan terhadap Presiden Soekarno itu ‘untuk mematahkan perjuangan rakyat yang sudah menggelora di tanah-air … dalam rangka menghapuskan imperialisme dan kolonialisme …’ [kursif penegas HS]. Selanjutnya inilah kata-kata Soekarno: “Mereka mencoba hendak membunuh Soekarno, Yani, dan Subandrio. Mereka akan melakukan serangan terbatas terhadap Indonesia, dan mereka mempunyai teman-teman di sini”. (Bung Karno di depan rapat Panglima TNI-AD, 28 Mei 1965; kursif penegas HS).

    Belajar dari kegagalan ke kegagalan itu ‘nekolim menjadi lihai’. Oleh karena itu Peristiwa G30S 1965  justru meletus (lebih tepat katakanlah ‘diletuskan’) pada saat ketika Perang Dingin mulai surut. Yaitu ketika masalah pokok dunia bukan lagi masalah Perang Dingin, atau bukan lagi konflik antara ‘Blok Barat’ vs ‘Blok Timur’, tapi  sudah ‘bergeser’ antara  ‘kekuatan Nefo vs Oldefo’[7] pada satu pihak, dan antara kekuatan ‘Blok Remo’ vs ‘Blok Marxis-Leninis’ pada pihak yang lain.

    Remo, akronim dari Revisionisme Modern, sebutan atau stigma yang umumnya diberikan kepada PKUS (Partai Komunis Uni Soviet) sejak Kongres ke-20 (1956), dan Nikita Krusychev tampil menggantikan Stalin. PKUS dituduh oleh lawan-lawannya yang mendaku diri sebagai Marxis-Leninis (di bawah pimpinan PKT, Partai Komunis Tiongkok) sebagai telah mengkhianati Marxisme-Leninisme dan hendak merestorasi kapitalisme. Konflik yang berkisar masalah ‘peaceful co-existence’ vs ‘perang pembebasan nasional’ antara PKUS vs PKT ini menjadi terbuka dalam tahun 1961. Dalam tempo relatif singkat, sejalan dengan semakin maraknya perjuangan kemerdekaan di banyak negeri Asia-Afrika, pertentangan antara ‘Remo’ vs ‘Marxis-Leninis’ ini semakin meruncing, sehingga pada medio tahun 1964 kedudukan AS sebagai ‘musuh nomor satu dunia’, di mata RRT dkk, telah digeser oleh ‘imperialisme sosial kaum Remo’. Pendek kata, paling lambat sejak tahun 1964 itu, keutuhan GKI (Gerakan Komunis Internasional) sudah mulai rapuh!

    Di tengah pertentangan dunia yang demikian itu Indonesia jelas tidak berada pada garis ‘ko-eksistensi damai PKUS’[8]. Sebaliknyalah! Dengan gigih Indonesia mendukung gerakan kemerdekaan nasional di negeri-negeri Asia-Afrika, yang kemudian meluas sampai Amerika Latin, dan bahkan meluas lagi ke seluruh wilayah  ‘the New Emerging Forces’.[9]

    Dampak perpecahan dalam GKI berimbas di seluruh negeri di mana ada Partai Komunis. Pada umumnya partai menjadi terpecah dua: di satu pihak, yang mendaku diri sebagai Marxis-Leninis, sambil mencap pihak yang lain sebagai Remo atau Trotskis. Partai komunis di Srilangka, misalnya, bahkan pecah menjadi 3: yang ‘Marxis Leninis’ (dipimpin Premalal Kumarasiri), yang dicap ‘Revisionis’ (dipimpin Pieter Keuneman), dan yang dicap kubu Premalal sebagai ‘Trotskis’ tapi mendaku sebagai ‘Maois’ (dipimpin N. Sanmugathasan).

    PKI kendati mempropagandakan sebagai tetap ‘monolit’, utuh dan kuat, tapi dalam waktu-waktu dekat menjelang Peristiwa 1965, ada ketidak-serasian antara CC PKI dengan CDB (Comite Daerah Besar) Jabar dan CDB Jatim. Ketidak-utuhan ini juga tertangkap ketika partai menghadapi dokumen KOK (Kritik Oto Kritik) 1966[10]. CDB Jabar, dengan mengingat situasi yang sedang genting, bersedia ‘menerima untuk sementara’ dokumen tersebut. Tidak pernah terbetik, butir apa yang menyebabkan ‘penerimaan sementara’ tersebut, tapi barangkali menyangkut butir-butir Tripanji Partai[11] dari masa pra- dan pasca-G30S.

    Fakta lain lagi berita tentang pemecatan Njoto sebagai anggota Politbiro CC-PKI dan pimpinan redaksi ‘Harian Rakjat’, yang antara lain disampaikan oleh Sumaun Utomo[12], tentu bukan sekedar isapan-jempol. Sementara itu di atas juga sudah disebutkan tentang sebuah tim yang dibentuk Aidit, dalam bulan Agustus 1965, untuk membahas cara-cara bagaimana partai akan memberi ‘dukungan politis’ pada gerakan para perwira maju di bawah pimpinan Letkol Untung Samsuri itu.

    Menurut ingatan Iskandar Subekti, Sekretaris Politbiro CC PKI, tim tersebut terdiri dari Aidit, Sudisman, Oloan Hutapea, Lukman, dan Rewang. Dari akhir Agustus sampai akhir September tim ini sering bertemu dengan tiga anggota inti Biro Chusus, Sjam, Pono, dan Bono. Sementara itu Politbiro sendiri tidak pernah satu kali pun bertemu selama bulan September. Dengan demikian Aidit tidak melibatkan Politbiro beserta seluruh Dewan Hariannya dalam proses pengambilan keputusan, paling tidak selama tigapuluh hari sebelum G30S dimulai. Beberapa anggota badan-badan ini dibiarkan dalam kegelapan. Khususnya Njoto disisihkan dari lingkaran ini. John Roosa mengutip dari catatan Iskandar Subekti sbb.:  “Dalam semua diskusi ini kawan Mansur (Njoto) oleh DN Aidit dengan sadar tidak diikutsertakan karena pertimbangan ideologis. Bagi Nyoto tidak dipercaya, karena berdasarkan pengalaman lebih dianggap Sukarnois daripada Komunis.”[13]

    Pendek kata Tragedi 1965 telah ‘menguak cerita di balik berita’, bahwa tiga-sekawan pimpinan CC PKI yang dari luar tampak guyub itu sejatinya dari dalam tidak lagi satu. Aidit dan Njoto juga berbeda, misalnya, dalam masalah teori revolusi. Aidit percaya kup yang didukung sedikitnya 30 persen tentara bisa bermutasi menjadi revolusi. Sebaliknya Njoto justru mempertanyakan kebenaran teori itu. Dalam wawancaranya dengan wartawan ‘Asahi Shimbun’ di Jakarta, 2 Desember 1965 (kira-kira dua minggu sebelum Njoto dinyatakan ‘hilang’), ia bahkan menyatakan tidak yakin jika G30S bisa dikategorikan sebagai kudeta yang ‘bisa menjadi revolusi’. “Revolusi siapa melawan siapa?” Tanya Njoto. Ia bahkan juga menyangsikan premis Letkol Untung soal Dewan Jenderal.

    Dalam buku memoir Oey Tjoe Tat terdapat sebuah berita besar, yang tertulis dalam tidak lebih dari lima patah kalimat. Ketika menteri-menteri sedang menanti sidang kabinet di istana Bogor, selang beberapa hari saja sesudah Peristiwa G30S terjadi. Di salah satu penjuru tampak Menteri Oey Tjoe Tat berdiri berdua bersama Menteri Njoto.

    “Kok jadi begini, Bung?” Tanya Oey Tjoe Tat.

    “Ya! Saya juga tidak tahu …” Jawab Njoto.

     

    Tentang pemikiran strategis Aidit terkait dengan gerakan G30S, juga terbaca di dalam buku Manai Sophiaan[14], seorang Sukarnois dan mantan Duta Besar RI untuk Uni Soviet. Menurut Manai, Aidit dalam mendukung aksi militer melawan jenderal-jenderal sayap kanan itu diilhami oleh kup militer di Aljazair pada Juni 1965, ketika Kolonel Houari Boumedienne mengambil-alih kekuasaan dari tangan Presiden Ben Bella. Manai mendasarkan pendapatnya itu pada wawancaranya  dengan mantan-Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), A. Karim D.P., yang sempat berbicara dengan Aidit tidak lama sesudah kup Aljazair terjadi. Karim DP tidak sempat mengumumkan informasi ini, karena ia sendiri meringkuk di RTC Salemba dan menjadi eks-tapol selama tahun-tahun rezim Suharto. Tidak jauh dari informasi Manai ini, Darmini, mantan Sekretaris DPP Gerwani,[15] dalam salah satu kesempatan percakapannya denganku,  juga teringat kata-kata DN Aidit, ketika menanggapi kup militer di Aljazair tersebut: “Kalau Kolonel Boumedienne di Aljazair bisa, kenapa saya tidak bisa?”

    Tentang faktor pertama penyebab terjadinya G30S, yaitu ‘keblingernya beberapa pemimpin PKI’, Bung Karno tidak pernah memberi penjelasan secara terbuka. Tapi uraian dalam tiga alinea tersebut di atas, kiranya cukup untuk memberi penjelasan tentang ‘keblingernya beberapa pemimpin PKI’ itu. Di samping itu juga adanya badan yang bernama Biro Chusus (BC), yang ‘diumumkan’ adanya oleh DN Aidit, selaku Ketua CC PKI di depan sidang Politbiro yang diperluas pada 1964 — walaupun pada kenyataannya badan ini sudah ada dan bekerja sejak 1955 , dan merupakan lembaga klandestin di dalam tubuh partai di bawah Departemen Organisasi. BC bersifat tertutup, kecuali untuk ketua partai.[16]

     

    Penutup

    Tahun 1965 agaknya merupakan tahun memuncaknya serangan balik nekolim, dengan Indonesia sebagai sasaran utama dan terakhir. Karena Indonesia ketika itu merupakan ujung-tombak ‘the new emerging forces’. Sesudah Bandung mendapat julukan ‘Ibukota Asia-Afrika’, Bung Karno memimpikan Jakarta menjadi ‘Ibukota Nefo’. Gedung konperensi Nefo sudah dibangun, dan ‘Mercusuar Nefo’ akan dibangun di kawasan Ancol.

     

    Pagi 1 Oktober ’65 itu juga (alm) Prof. WF Wertheim mendengar melalui siaran radio tentang formasi Dewan Revolusi di Jakarta. Sahabat beliau, Prof. De Haas menelpon dan mengatakan:

    “Itu tentu revolusi kiri!”

    Wertheim menjawab:

    “Awas! Menurut saya lebih masuk akal provokasi!”

     Pada tanggal 12 Oktober kabar sampai di Belanda, bahwa Jendral Suharto, yang belum terkenal namanya, telah berhasil merebut kekuasaan. De Haas telepon lagi, dan mengatakan: “Saya takut mungkin kemarin Anda benar!”

    Sementara itu sudah sejak seruan Jendral AH Nasution di TMP Kalibata pada 5 Oktober 1965 pogrom, pengejaran dan pemenjaraan terhadap orang-orang komunis, orang-orang kiri, dan Sukarnois terus bergulung-gulung dahsyat bagaikan gelombang tsunami yang datang susul-menyusul. Rakyat yang tidak tahu-menahu, jauh dari Lubang Buaya di Jakarta dibunuh dengan sewenang-wenang, ditangkap, dipenjarakan dan bahkan di-Buru-kan. Ada dua anak berumur 17 dan 18 tahun, misalnya, menjadi temanku satu barak (Bogel) dan satu unit (Purwadji) di Unit XIV Bantalareja. Demikian juga halnya seorang anak gelandangan dari Pasar Senen Jakarta (Kirno) menjadi sahabatku satu sel sejak kami di RTC Salemba Jakarta.

              Jika ada tikus di dalam rumah jangan bakar rumahnya, tapi tangkap tikus itu! Itu kata-kata Bung Karno dalam salah satu pidatonya di depan sidang kabinet bulan Oktober 1965. Tapi karisma Soekarno sudah redup dan kekuatannya pun sudah surut. ‘Suharto-Nasution’ tidak mau menggubris suara kearifan itu, melainkan malah ditingkatkan amok ‘pembakaran republik’. Karena strategi mereka, yang sejalan dengan strategi nekolim, memang hendak membakar habis Republik berikut semua pilar-pilar penyangganya, untuk dibangun kembali sebagai ‘republik semu’ yang tiang-tiang penyangganya bukanlah publica (popolus; rakyat), tetapi tentara yang berlindung di balik istilah ‘golongan karya’ dalam kolaborasi dengan kaum kapitalis birokrat dan didukung penuh oleh nekolim.

              Soekarno dan seluruh ide-ide kenegaraannya itulah yang hendak samasekali mereka lenyapkan. Tetapi karena Presiden Soekarno alias Bung Karno yang ‘Penyambung Lidah Rakyat’ itu akar kekuatannya ada pada ‘Rakyat’, maka ‘Suharto-Nasution’ pun harus menggunakan taktik menumpas habis kekuatan Bung Karno sampai ke akar-akarnya. Itu berarti PKI dan semua ormasnya harus ‘dibereskan’ samasekali, karena sampai pada saat itu tidak ada organisasi sosial-politik yang ‘meluas dan mendalam’ wilayah dan pengaruhnya seperti halnya PKI.

              Karena itu PKI memang menjadi sasaran pertama, tapi PKI bukan sasaran utama. Sasaran utama ialah, pertama: gerakan rakyat anti nekolim di Indonesia, yang menjadi inspirasi gerakan-gerakan rakyat di Asia-Afrika – dan belakangan bahkan meluas ke Amerika Latin; dan kedua, Soekarno sebagai tokoh pemimpin gerakan revolusioner Dunia Ketiga yang bagi mata nekolim – Amerika Serikat utamanya — pasti lebih berbahaya daripada Nikita Krusjchov, Tito atau bahkan Mao Zedong sekalipun!

    Berikut ini cuplikan dari satu artikel dalam Wikipedia, antara lain:

    “… meskipun seorang mantan Direktur CIA, William Colby, terus-menerus membantah keterlibatan Amerika dalam aksi-aksi teror dan pembunuhan ratusan ribu rakyat Indonesia (setelah G30S), namun kesaksian McGehee[17] lebih patut dijadikan acuan dan rujukan yang layak untuk dipercaya. McGehee sendiri telah membongkar aktivitas CIA sekitar masa itu, terutama ketika mereka ‘berpesta’ atas keberhasilan operasi-operasi mereka di Indonesia: “Pihak-pihak CIA malah menganjurkan agar cara-cara yang telah ditempuh di Indonesia, kelak akan dijadikan model bagi keberhasilan operasi-operasi mereka di masa yang akan datang….” (The CIA, McGehee, hal. 424)

    Pengakuan McGehee tersebut diperkuat oleh pernyataan Nixon, ketika ia diwawancarai Duta Besar Green tahun 1967:

    “Pengalaman Indonesia adalah pengalaman dahsyat yang paling istimewa, karena seluruh operasi telah berjalan dengan sebaik-baiknya. Contoh semacam itulah yang harus ditempuh di kemudian hari, agar kita bisa menjangkau wilayah yang lebih luas lagi, terutama seluruh wilayah Asia Tenggara, dan boleh jadi nanti bahkan akan sanggup menjangkau seluruh dunia …” (The Illusion of Peace, Tad Szulc, hal. 16).

    Pernyataan Nixon tersebut di atas memberi kesimpulan yang sulit dibantah, bahwa pola-pola yang mereka terapkan untuk meluluh-lantakkan Indonesia (1965), telah dijadikan model dan acuan Jenderal Lon Nol menggulingkan Sihanouk di Kamboja (1970), Jenderal Zia-ul-Haq menggulingkan Zulfikar Ali Bhutto (1977), dan bagaimana pemerintah Allende di Chili digulingkan dengan melalui ‘Operasi Jakarta’ (1973).

    Perhatikanlah, bahwa tidak ada di sana disebut-sebut tentang ‘Perang Dingin’, karena dengan pecahnya GKI (Gerakan Komunis Internasional) ‘perang dunia’ yang bernama Perang Dingin itu sejatinya telah berakhir dengan kemenangan Blok Barat. Juga tidak ada di sana disebut-sebut tentang PKI, ‘partai terbesar di dunia di luar kubu sosialis’, karena kebesarannya sudah menjadi tidak berarti sebagai akibat faktor ekstern dan intern – faktor ekstern: GKI yang sudah berantakan, dan faktor intern: tubuh PKI sendiri yang tidak lagi utuh.

     

    Abstraksi

    Sejak tahun 1959 (dan terbuka sejak 1962), dengan timbulnya pertentangan PKUS vs PKT, maka timbul aspek baru kontradiksi dunia yang sekaligus merupakan aspek pokok, yaitu kontradiksi PKUS vs PKT, di samping aspek lama kontradiksi, yaitu kontradiksi Blok Timur vs Blok Barat (‘Perang Dingin’) yang surut menjadi aspek tidak pokok.

    Indonesia tidak berada pada garis ‘koeksistensi damai PKUS’, tapi gigih mendukung gerakan kemerdekaan nasional di AA (bahkan meluas ke Amerika Latin – AA menjadi AAA – dan bahkan meluas lagi menjadi ‘the New Emerging Forces’ (Nefo).

    Dampak perpecahan GKI (Gerakan Komunisme Internasional) berimbas ke seluruh negeri di mana ada Partai Komunis. Umumnya PK menjadi terpecah dua, yang mengklaim diri sebagai Marxis-Leninis dan yang mendapat sebagai Revisionis dan Trotskis.

    PKI keluar dipropagandakan sebagai monolit; tapi kedalam timbul ketidak-serasian antara Pusat dan Daerah (Jatim dan Jabar), di samping perpecahan di dalam Politbiro – khususnya antara DN Aidit dan Njoto.

    Ofensif ‘Nefo’ melawan ‘Oldefo’ yang dipelopori oleh Indonesia (Bung Karno) terus ditingkatkan; tampak, antara lain, dengan terbentuknya organisasi-organisasi setiakawan AA ‘non-pemerintah’ (rakyat, wartawan, pengarang, yuris, buruh, Islam), dan terselenggaranya konperensi-konperensi internasional anti-nekolim, dll. Dalam forum kenegaraan perhatikan pidato Presiden Soekarno di depan SU PBB, To build the world anew, 1960; yang segera diikuti dengan terbentuknya Gerakan Non Blok sedunia 1961.

     

    Kesimpulan

    1. Peristiwa G30S adalah hasil rekayasa nekolim AS-UK untuk mengakhiri kekuasaan dan pengaruh Soekarno di dunia – karena PKI adalah ‘backbone’ kekuatan Soekarno (baca: gerakan kiri Indonesia), maka PKI itulah yang pertama dan utama dihancurkannya samasekali. Di mata AS-UK ketika itu Soekarno sudah pasti lebih berbahaya dibanding Krusjtjov.

    2. Tumbangnya Soekarno, berarti hancurnya gerakan kiri Indonesia, lonceng kematian gerakan kiri Asia-Afrika dan di seluruh dunia.

     

    Dasar argumen :

    1. ketika itu GKI sudah hancur;

    2. PKI sudah pecah dari dalam;

    3. dukungan pada Soekarno justru semakin kuat dan luas.

     

    _____________________

    hersri setiawan

    Tangerang 2 Februari 2011

     

     

     


    [1] Fajar Kresno Murti dkk., IVAA (Indonesian Visual Art Archive), Yogyakarta, 2009.

    [2] Salah satu esai pemenang dalam Kompetisi Esai ‘Menyembuhkan Luka Sejarah: Refleksi Kaum Muda atas Tragedi 1965’; Goethe-Institut, Jakarta, 21 Januari 2011.

    [3] Letkol Untung Samsuri, Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa; resimen ini terdiri dari para prajurit TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian RI, yang bertugas khusus menjaga keamanan Presiden RI semasa pemerintahan Presiden Soekarno; Komandan Resimen ketika itu Brigjen Moh. Sabur. Pada masa Suharto nama resimen diubah menjadi Paspampres, Pasukan Pengamanan Presiden.

    [4] Salah seorang yang dekat Njoto bertanya tentang pembagian tugas tersebut: ‘Apakah ini bukan sekedar cara untuk melikuidasi Bung? Lewat tangan lain?’ Jawab: ‘Apapun alasannya, itu keputusan Partai. Kewajiban saya untuk menjalankan keputusan itu dengan sebaik-baiknya’.

    [5] Sarasehan ini diadakan dalam rangka Forum Diskusi Sejarah Indonesia, dengan tema ‘Peristiwa September 1965 dalam tinjauan ulang’; diselenggarakan pada 23 September 2000, di Universitas Katolik Leuven (Kastil Arenberg) Belgia, oleh para mahasiswa pasca-sarjana Belgia, Perancis dan Spanyol.

    [6] Ini merupakan usaha pembunuhan terhadap Bung Karno yang ke-4, sejak usaha pembunuhan pertama tahun 1957 dalam ‘Peristiwa Cikini’.

    [7] Nefo akronim dari New Emerging Forces (Kekuatan Baru yang Sedang Tumbuh); Oldefo, Old Established Forces (Kekuatan Tua yang Sudah Mapan) – kedua akronim itu ciptaan Bung Karno.

    [8] Salah satu semboyan penting di Indonesia, yang sejak tahun-tahun pertama perang kemerdekaan banyak diucapkan dan dituliskan di mana-mana, ialah “Kami cinta damai, tapi kami lebih cinta kemerdekaan!”

    [9] Gedung DPR-RI di Jakarta sekarang ini dibangun dengan maksud sebagai tempat ‘Conference of the New Emerging Forces’, yang direncanakan akan berlangsung dalam bulan Desember 1965, tapi batal oleh terjadinya Peristiwa G30S 1965. Karenanya, bagi orang yang menghormati sejarah, seyogyanya gedung itu tidak dibongkar dan digantikan dengan gedung baru apa pun alasannya.

    [10] Dokumen K.O.K. yaitu Kritik Oto Kritik Politbiro CC-PKI; karena itu juga disebut Oto Kritik Polit Biro (OKPB) CC-PKI, September 1966, di bawah pimpinan Sudisman. Isi pokok KOK, setelah mengevaluasi kepemimpinan Politbiro terdahulu, yang dipimpin trio DN Aidit, MH Lukman dan Njoto, mengajukan program baru perjuangan Partai, yang dipadatkan dalam rumusan ‘Tri Panji Partai’. KOK disusun oleh Soedisman, bersama Rewang, Oloan Hutapea, dan Sukatno. (Hersri Setiawan, Memoar Pulau Buru, 2004:545)

    [11] Yang dimaksud dengan Tripanji Partai atau Tri Panji PKI, yaitu program kerja PKI pasca-G30S 1965. Tiga butir program ini dikemukakan dalam KOK Politbiro CC-PKI yang disiarkan dalam bulan September 1966. Tri Panji ini ialah, pertama: Panji Pembangunan Partai Marxis-Leninis, yang bebas dari oportunisme dan revisionisme; kedua: Panji Revolusi Agraria Bersenjata kaum tani di bawah pimpinan kelas buruh; ketiga: Panji Front Persatuan Nasional berpangkal pada persekutuan kaum tani dan kelas buruh.

    Tripanji Partai pasca-G30S ini merupakan bagian dari kritik-oto-kritk, dalam hubungan ini terhadap Tri Panji Partai hasil rumusan Kongres Luar Biasa PKI 1962. Tri Panji Partai lama itu ialah: (1) menggalang front persatuan nasional anti imperialisme dan feodalisme; (2) meneruskan pembangunan organisasi ke seluruh negeri; (3) menyelesaikan tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke akarnya. (Hersri Setiawan, Kamus Gestok, 2003:295-296.

    [12] Sumaun Utomo Ketua Umum DPP LP-KROB (Lembaga Pembela Korban Otrde Baru); mantan wakil ketua Departemen Sejarah CC PKI (ketua departemen ini Ir. Sakirman, sekretaris Drs. Busyari Latif).

    [13] John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, Jakarta 2008:212.

    [14] ‘Inspirasi dari Aljazair’, Bab 2 Kehormatan bagi yang berhak, Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, I: 1999; II:2008. John Roosa, op. cit.:226-232.

    [15] Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Saskia Eleonora Wieringa, 1999:299.

    [16] Biro Chusus (BC), baik keberadaannya maupun pembentukannya tidak tertera di dalam Konstitusi PKI; dikembangkan sebagai bagian klandestin dalam Dep. Organisasi CC PKI, berdasar salah satu butir keputusan Kongres Nasional PKI 1954, yaitu tentang MKTBP (Metode Kerja [lazim juga disebut Kombinasi] Tiga Bentuk Perjuangan), yang pada 1955 terbit sebagai brosur. Adapun tiga bentuk perjuangan itu ialah: (1) perjuangan gerilya buruh-tani dan tani miskin  di desa; (2) perjuangan revolusioner kaum buruh di kota, terutama buruh transportasi; dan (3) bekerja intensif di kalangan musuh, terutama kalangan angkatan bersenjata. Lebih lanjut John Roosa, op. cit., Bab 4:169-198. Tentang kedudukan BC di dalam partai dan hubungan Syam Kamaruzzaman dengan DN Aidit, John Roosa, op. cit.: 346.

    [17] Ralph Walter McGeehe, The CIA in Indonesia 1965-1967, tulisan kritis tentang pengalamannya selama menjadi pejabat CIA (1952-1977).

    TIGA ZAMAN TIGA TOKOH

    Jurnal Toddoppuli

    Cerita Buat Andriani S.Kusni Dan anak-Anakku

    TIGA ZAMAN TIGA TOKOH

     

    Tiga tokoh yang saya maksudkan di sini adalah Hausmann Baboe, Tjilik Riwut dan Agustin Teras Narang, SH.

    Mengapa tiga tokoh ini yang dibicarakan? Alasan utama saya:Karena tiga tokoh ini mewakili tiga zaman berbeda, masing-masing dengan karakteristik sendiri dalam visi dan misi mereka, tapi di samping itu ketiganya mempunyai kesinambungan. Dengan membicarakan tiga tokoh ini, barangkali bisa dilihat ulang bagaimana Kalteng sebagai wacana dilaksanakan dari waktu ke waktu, apa dan di mana peran dan tempat tiga tokoh ini dalam melaksanakan Wacana Kalteng. Dari sini kemudian, bisa dilihat  apakah Kalteng sebagai Wacana masih relevan untuk hari ini? Apa bagaimana peran angkatan muda serta ancaman-ancaman apa  yang menghadang Kalteng baik sebagai Wacana maupun sebagai wujud geografis sebuah provinsi. Dengan demikian, tema ini bukan hanya bersifat tema akademis, lebih jauh lagi dari keinginan sekedar melakukan ‘’sport otak’’, tetapi ia juga mempunyai arti praktis. Terlebih-lebih lagi mengapa mesti memisahkan persoalan akademi dari relevansi praktisnya? Menyatukan kegiatan akademis dengan kepentingan praktis, barangkali merupakan sesuatu yang masih langka di negeri ini.

    Tema besar inimengalami beberapa kesulitan untuk dibicarakan dalam sebuah tulisan maksimal hanya 7000 huruf. Sadar akan syarat,demikian, tulisan ini jadinya lebih bersifat sebuh pertanyaan hipotetis daripada sebuah kesimpulan. Kesulitan kedua, tokoh A.Teras Narang peran dan kegiatannya belum berakhir. Segala rupa perkembangan masih mungkin terjadi dalam waktu-waktu yang terus berlangsung dan menguji ‘’ketahanan.sertakualitas kuda’’ jika menggunakan ungkapan Tiongkok Kuno. Di hadapan masalah terakhir ini, saya membatasi diri pada tokoh A. Teras Narang sebagai Gubernur Kalteng sampai tahun 2011—kendatipun tahun 2011 masih.belum berakhir. Diduga hingga akhir masa jabatan kedua sebagai Gubernur pada 2015 nanti, visi-misi Teras tidak akan banyak berobah. Berbeda dengan A. Teras Narng, tokoh-tokoh Hausmann Baboe dan Tjilik Riwut bisa disebut pasti karena pekerjaan, pikiran serta keadaan yang melatari mereka tidak akan berobah, tinggal dikaji.

    Ketiga tokoh pada dasarnya mempunyai kesamaan pijakan dalam pikiran dan kebijakan pilihan. Ketiga-tiganya bekerja untuk Kaltengdan menjadikan Kalteng sebagai wacana. Dilihat dari segi sejarahnya, Provinsi Kalteng sekarang tidak lain dari kabupaten Kapuas, Barito dan Kotawaringin, tiga kabupaten yang tadinya merupakan kabupaten-kabupaten dari Keresidenan Kalimantan Selatan pada masa kolonial Belanda sebelum Perang Dunia II. Mayoritas penduduknya adalah Suku Dayak.Maka seperti dikatakan oleh TT.Suan, ‘ tidaklah heran yang menghendaki terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku Dayak. Pejuang pendiri Kalimantan Tengah semua orang Dayak. Sedangkan tokoh non-Dayak tak satupun berjuang dan mendukung berdirinya Provinsi KalimantanTengah , malah segelintir dari mereka anti terbentuknya Kalimantan Tengah itu ‘ (TT. Suan, 2011). Oleh kenyataan demikian maka Prof. Dr.Mubyarto dan Revrisond Baswir dari Universitas Gadjah Mada menyebut Kalteng sebagai ‘’The Dayak Heartland’’.

    Untuk apa Provinsi Kalteng didirikan? Ia didirikan agar Orang Dayak yang selama berada di satu Keresidenan dengan Kalimantan Selatan berada dalam keadaan sangat terpuruk (lihat: Statistik TT. Suan tentang Aset Awal Kalteng, 2011) bisa ‘’hidup berharkat dan bermartabat’’ (lihat: Ikrar Bersama Kongres Rakyat Kalimantan Tengah, di Banjarmsin 2-5 Desember 1956.).Tujuan ‘’hidup berharkat dan bermartabat’’ ini sebelumnya telah dicanangkan pada tahun1919 oleh Sarikat Dajak pimpinan M.Sahabu dan ditegaskan oleh Pakat  Dajak  pimpinan Hausmann Baboee pada 1926. Ide begini pulalah yang menjadi sari visi-misi A.Teras Narang begitu terpilih menjadi Gubernur pada 2005.

    Dari data-data di atas, nampak bahwa sari Kalteng sebagai wacana tidak lain dari Dayak yng berharkat dan bermartabat. Artinya apabila dalam Kalteng sebagai Provinsi Suku Dayak belum berharkat dan bermartarbat maka ide Kalteng belum terwujud. Apabila terdapat kebijakan-kebijakan yang membuat Dayak terpuruk maka kebijakan dan ide-ide demikian, dari segi sejarah dan esensi, bertentangan dengan Kalteng sebagai wacana.Dan Suku Dayak patut melawannya dengan tegas. Tidak terwujudnya Wacana Kalteng demikian akan menjadikan Orang Dayak menjadi budak dan terhina di kampung halaman sendiri seperti keadaan ketika merek menjadi kabupaten-kabupaten Keresidenan Kalimantan Selatan.

    Lahir dan berkembangnya Wacana Kalteng demikian, Hausmann Baboe, Tjilik Riwut dan A. Teras Narang mempunyai peran masing-masing berbeda sesuai zaman masing-masing.

    Dalam hal ini, Hausmann Baboe yang tampil memimpin Pakat Dajak pad 1926 melanjutkan dan mengembangkan ide-ide M.Sahabu. Sehingga wacana ‘’Dayak berharkat dan bermartabat’’ pencapaiannya dilakukan dengan sarana,ide-ide dan cara-cara atau bentuk-bentuk perjuangan yang digunakan jauh lebih lengkap serta menyeluruh dibandingkan dengan masa manapun sebelumnya. Dasar perjuangan Dayak pada waktu itu adalah Kebangsaan Indonesia. Men-dayak-kan Indonesia dan mengindonesiakan dan mengglobalkan Dayak.Dari segi ini, Hausmann Baboe bisa disebut sebagai konseptor dan organisator sekaligus. Dimililinya wacana lus begini oleh Hausmann Baboe tidak lepas dari pengalamannya di Jawa yang membuatnya dekat dengan HOS.Tjokroaminoto dengan konsep ‘’Sosialisme Islam’’-nya, sebuah ide kiri (seberapa jauh pengaruh ide-ide kiri HOS Tjokroaminoto dan tokoh-tokoh nasional lain pada waktu itu  mempengaruhi Hausmann, perlu dikaji lebih dalam tanpa tabu dan terganggu stigma jika mau mendapatkan gambaran relatif obyektif), yang juga mempengaruhi Bung Karno, adanya kesempatan Hausmann mencicipi Sekolah Radja di Bogor. Hausmann Baboe tidak mempunyai kesempatan mewujudkan mimpinya tentang Dayak karena pada  20 Desember 1943 ia bersama 250 orang lainnya dibunuh oleh Jepang dituduh melakukan ‘’subversi’’. Hausmann memang seorang pejuang anti-militerisme Jepang. Sekalipun demikian, ide-ide sang konseptor dan organisator kebangkitan Dayak tidak turut  dan tidak bisa dibunuh. Ide-ide dan wacananya dilanjutkan oleh kader-kader Pakat Dajak berikutnya antara lain Tjilik Riwut dan Angkatannya.

    Tjilik Riwut dan Angkatannyalah yang kemudian berhasil mendirikan Kalteng sesuai wacana dasar apresiatif dan tanggap zaman yang dicetuskan oleh Hausmann Baboe dan Angkatannya sebagai konseptor terdahulu,melalui perjuangan mandi darah dan airmata. Berdirinya Kalteng menandai mulainya kebangkitan, renaisans Dayak atau take-off nya Dayak jika meminjam istilah A.Teras Narang. Jasa besar dan utama Tjilik Riwut  dan Angkatannya terletak pada berhasilnya mereka mewujudkan Kalteng sebagai Wacana. Hanya saja, malangnya kebangkitan Dayak ini terpotong dengan naik panggungnya Orde Baru Soeharto. Tjilik Riwut didepak ke atas , ke Kementerian Dalam Negeri pada tahun 1967. Sejak itu segala-galanya ditentukan dari Jakarta. Kalteng menjadi sapi perahan. R.Sylvanus dan W.A.Gara selaku Gubernur, sekalipun putera-putera Dayak yng mencintai kampung-halamannya, sama sekali tidak berdaya apa-apa di hadapan Orba. Kalteng kembali terpuruk hingga tahun 2005, akhir dari masa jabatan Asmawi Agani selaku Gubernur yang membawa Kalteng lebih jadi orbit dan embel-embel krembli dari Kalimantan Selatan. Palangka Raya disinonimkan sebagai ‘’palang terbuka” dan  dijadikan hanya sebagai daerah usaha bukan sebagai daerah yang patut dibangun. Menggunakan kata-kata Hakim Agung Prof.Dr.Adurahman: ‘’Eksistensi Orang Dayak diakui, tapi hak-hak mereka tidak diakui’’ (Paparan di Unpar, 2011). Panji Besar ‘’Dayak berharkat dan bermartabat’’ koyak –koyak dan dicampakkan begitu saja. Selama 37 tahun itu alam, ,manusia dan kebudayaan Dayak mengalami kerusakan berat. Adat dan Masyarakat Adat sangat diperlemah. Panji Besar yang koyak-koyak inilah kemudian yang kembali dipungut oleh  A.Teras Narang sejak ia terpilih menjadi Gubernur di tahun 2005. Kalau M.Sahabu dan Hausmann Baboe mempunyai Sarikat Dajak dan Pakat Dajak sebagai laskar inti, Tjilik Riwut dan Angkatannya mempunyai MN-1001, ada Gerakan Mandau Talawang Pancasila sebagai grup penekan, dan Masyarakat Adat yang relatif masih diperhitungkan oleh siapapun.Tapi A.Teras Narang bisa dilukiskan sebagai jendral tanpa prajurit dengan jajaran perwira ‘’pangreh praja’yang jauh dari akar rumput, Masyarakat Adat antara ada dan tiada karena terkontaminasi racun uang dan kekuasaan. MADN belum bisa disebut sebagai lasykar pelaga yang solid dan sadar seperti angkatan-angkatan terdahulu.. Membangun lasykar dengan prajurit dan perwira sandaran yang solid adalah keniscayaan bagi A.Teras Narang jika ingin membawa Panji Besar Sarikat Dajak dan Pakat Dajak itu ke puncak tertinggi.Tapi apakah ia cukup waktu? Di sinilah maka Pasca Teras menjadi keadaan genting dengan tanda tanya besar: Apa yang akan terjadi? Konflik besar-awur-awuran tanpa ujung, lenyapnya Kalteng sebagai wacana sebagaimana telah diisyaratkan oleh pemilukada Gubernur-Wakil Gubernur Juni lalu? Dayak sinonim bagi kosakata budak?Pertanyaan begini betapapun menyakitkan tidak boleh dihindari,patut diketengahkan, kalau mau tetap menjunjung Panji Berharkat dan Bermartabat..

    KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

    T.T.SUAN, WARTAWAN SENIOR KALTENG, ORANG DEKAT TJILIK RIWUT

     T.T.SUAN

     

    Timotheus Tenggel Suan, dikenal masyarakat Kalteng dengan nama TT.Suan dilahirkan di Tumbang Manjai, Rangan Tangku, Kabupaten Katingan, tanggal 23 Agustus 1933. Sekarang tinggal bersama istri, Saniah Imat Suan, di Jalan Gajah Mada No.25 Palangka Raya 73112. Telp. 0536-322 11 71.Beragama Kristen Protestan. Mereka mempunyai empat orang anak yang kesemuanya perempuan. Sekalipun sekarang hidup sebagai pensiunan PNS Pusat, pemegang Kartu Pers Seumur Hidup ini, ia tetap aktif sebagai wartawan.

    Pada tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan formalnya di Sekolah Rendah, tepatnya  Sekolah Rakyat Negeri  6 tahun lalu pada tahun 1956 menyelesaikan Sekolah Juru Rawat 4 tahun. Dari Januari hingga Juni 1958, ia meyelesaikan Kursus Wartawan Tertulis ‘’Pro Patria” Yogyakarta. Untuk lebih jauh mendalami dunia jurnalistik dan bidang-bidang yag berdekatan dengan dunia kewartawanan ini, dari bulan November hingga  Desember 1976 ia mengikuti pelatihan sebagai kameramen dan Asisten Sutradara PFN Departemen¨Penerangan Republik Indonesia Jakarta. kemudian pada bulan Juli 1976 mengikuti Kursus Orientasi Wartawan PWI Banjarmasin.

    Dengan berbekalkan latar pendidikan demikian, kemudian TT. Suan melakukan berbagai pekerjaan sesuai yang dituntut oleh Republik, daerah dan zaman. Pada tahun1950-1952 ia bekerja sebagai pegawai negeri di Rumah Sakit Umum Sampit.Lalu dari tahun 1956-1962 sebagai PNS Pusat ia diperbntukan pada Rumah Sakit Universitas Gajah Mada Yogyakarta sambil mengemban tugas-tugas yang dipercayakan oleh Tjilik Riwut kepadanya, terutama dalam membimbing pemuda-pemudi Kalteng yang sedang belajar di kota pelajar itu.

    Ketika Pemerintah Otonom Provinsi Kalimantan Tengah sudah berkedudukan di ibukota Palangka Raya,TT. Suan selaku PNS Pusat diperbantukan pada Pemda Kalimantan Tengah mulai dari tahun 1962 sampai dengan masa pensiunnya tiba. Di Provinsi Kalteng ini, dari tahun 1968 sampai dengan 1985 ia menjabat sebagai Kepala HUMAS Pemda. Dari tahun 1985 hingga 1985 sd 1989, ia bekerja di Kantor Bappeda Provinsi Kalteng, di Palangka Raya, kemudian dari 1985 sd 1989 menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Bappeda Kalteng.

    Di samping pekerjan-pekerjaan di PNS, TT. Suan menjalani tugas rangkap yaitu sebagai salah seorang anggota Tim Pendiri RRI Stasiun Palangka Raya. Dari Juli 1964 sd Maret 1967 ia merangkap kerja sebagai Kepala Bagian Pemberitaan Kantor Gubernur Kalteng.

    Sebagai manusia yang penuh élan dan enerjik, TT Suan tidak membatasi kegiatan-kegiatannya di lingkup pekerjaan resmi PNS. Dengan semangat penuh dedikasi membangun Kalteng yang masih sangat muda, waktunya ia gunakan untuk turut dalam seminar, lokakarya, jumpa ilmiah seperti yang ditunjukkan oleh keikut-sertaannya sebagai pemateri dalam Pendidikan Jurnalistik Tingkat Dasar Mahasiswa Fakultas Tariyah IAIN Antasari yang berlangsung dari tanggal 23 sd 25 April 1993. Turut serta dalam seminar dan lokakarya (Semiloka) Kebudayaan Dayak dan Hukum Adat yang bermangsung dari tanggal 9 sd 11 Desember 1996 di Palangka Raya. Atas dasar rekomendasi semiloka ini, Pemda Kalteng kemudian menerbitkan sebuah Perda tentang lembga kedamangan. Ia juga berpartisipasi sebagai pemakalah utama dalam kegiatan Kanwil Pendidikan dan  Kebudayaan  Provinsi Kalteng bertajuk ‘’Kegiatan Penyuluhan Dan Pembinaan Kebudayaan Daerah Kalimantan Tengah 1998”. Makalah yang dibawakan oleh TT. Suan dalam Kegiatan Penyuluhan dan Pembinaan yang berlagsung di Bukit Rawi 29 Oktober 1998 ini, berjudul ‘’Peranan Media Massa Dalam Pengembangan Budaya Daerah”. Pada 8 Oktober 2002, TT Suan memberikan ceramah bertemakan ‘’Kesejarahan dan Kebudayaan Daerah Kalteng Tahun 2002’’.

    Sejalan dengan perhatiannya yang luas, karya-karya tulis TY. Suan juga mencakup banyak bidang yang bisa dipilah ke dalam kategori-kategori berikut:

    A.Kebahasaan Dan Kebudayaan Dayak:

    *“Sebagai Bahasa Pengantar di Kalimantan Tengah:Bahasa Dayak Ngaju’’. Diterbitkan dalam Harian Pelita Pembangunan, sekarang Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, Edisi April 1971, terdiri dari 12 serie.

     

    *‘’Penyusunan Kamus Dayak Ngaju-Indonesia’’,diterbitkn oleh Harian Utama, Banjarmasin, Edisi Maret 1973, terdiri dari empat serie.

    *’’Ihwal Perkamusan Bahasa Dayak Ngaju’’,diterbitkan oleh Harian Palangka Post, Palangka Raya, edisi Maret2006, terdiri dari dua serie.

     

    B. Kesusasteraan:

     

    *‘’Sansana Bandar: Sastra Lisan Suku Dayak Ngaju’’, diterbitkan  oleh Surat KabarUmum Dinamika Pembangunan,Palangka Raya, Edisi Mret 1998, terdiri dari tiga serie.

     

    *‘’TetekTatumDan Sansana Bandar DalamKesusasteraan Suku Dayak Ot Danum dan Suku Dayak Ngaju’’. Makalah disampaikan dalam ceramah dan diskusi ‘’Kesejarahan dan Kebudayaan , 2003’’, yang berlangsung pada tanggal 18Mret2003 di Palangka Raya.

     

    C. Artikel Informatif:

     

    ‘’Kehidupan Suku Dayak:Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan’’, diterbitkan di Majalah Tengah Bulanan ‘’Sketsma’’ , Surabaya,Nomor 19, Thun V, Edisi 15 Juli 1962

     

    D.Artikel TentangPendidikan Kesehatan:

    *.‘’Pendidikan Tenaga Bidan Dalam Rangka Pembangunan Nasional Semesta BerencanaTahap Pertama’’, diterbitkan dalam Harian Nasional, Yogyakarta, edisi 8,9 dan 10 Agustus 1962.Terdiri dari tiga serie.

    *. ‘’Masalah Usaha Pemeliharaan Kesehatan Murid Sekolah’’, diterbitkan dalam Majalah Berkala Kalimantan Tengah, Palangka Rya, No. 7/8/9 Tahun  1963.

    Sebagai insan pers, TT Suan turut menangani Majalah Bulanan Kalimantan Bhakti, Palangka Raya, sebagai Pemimpin Redaksi dari tahun 1967 sd 1969; sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Tengah Bulanan Pelita Nusantara , Palangka Raya dari tahun 1969 sd 1971; Anggota Badan Pengurus dan Anggota Dewan Redaksi Harian Pelita Pembangunan, Palangka Raya,  dari tahun 1971sd 1973; Ketua Yayasan Badan Pendiri Palangka Press dan Pemimpin Perusahaan Harian Palangka Post, Palangka Raya dari thu 1972 sd 1980; sebagai Redaktur Pelaksana Surat Kabar Umum (SKU) Dinamika Pembangunan, Palangka Raya dari November 1992 sd 2000.

    Dalam perjalanannya sebagai wartawan,TT.Suan pernah menjadi wartawan koresponden Lembaga Kantor Berita Nasional Antara untuk pemberitaan Daerah Kalteng, kemudian memimpin Biro LKBN Antara Palangka Raya yang pertama mulai dari 14Maret1963 sd 1966. Tidak berhenti di sini,Pada 20Juni 1964,TT. Suan mengambil prakarsa mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Palangka Raya, kemudian berkembang menadi PWI Cabang Kalteng. TT. Suan mengetuai PWI Cabang Kalteng yang baru didirikannya ini mulai dari tahun 1964 sd 1973.

    Jerih-payah TT. Suan yang tidak pernah surut dan redup sampai detik ini, telah dihargai oleh Dewan Harian Nasional Angkatan ’45 dengan Piagam Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan ’45. Piagam dan Medali Penghargaan ini dianugerahkan bertepatan dengan perigatan 45 tahun NKRI, diterbitkan di Jakarta pada 10 November 1990.

    Piagam serupa juga telah dianugerahkan kepada sahabat dekat dan pembantu terpercaya Tjilik Riwut ini ketika memperingati Hari Jadi NKRI yang Ke-50. Keputusan memberikan PiagamPenghargaan da Medali Perjuangan Angkatan ’45 yang kedua kali ini ditetapkan dan ini diterbitkan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1995,ditandatangani oleh Ketua Umum Dewan Harian Nasional Angkatan ’45.

    Di Kalteng , wartawan pemegang Kartu Pers Seumur Hidup bersama B.M.Diah,Herawati Diah ini diberi julukan kehormatan sebagai ‘’Ensiklopedia Hidup Sejarah Kalteng’’.***

    54 TAHUN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

    54 TAHUN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

     

    Oleh  TT.Suan

    Hari Senin tanggal 23 Mei 2011 ini Provinsi Kalimantan Tengah berusia 54 tahun (Kemis 23Mei 1957-Minggu 23 Mei 2011). Empat tahun yang lalu (Rabu, 23 Mei 2007) warga masyarakat Kalimantan Tengah memperingati Hari Jadi Provinsinya yang ke-50 dan 10 tahun sebelumnya , yakni, Jumat , 23 Mei  1997 kita warga penduduk ‘’Bumi Tambun Bungai’’ telah memperingati Hari Jadi Provinsi Otonomi Kalimantan Tengah yang ke-40.

    Pada Hari Jadi Kalimantan Tengah yang Ke-54 tahun 2011 ini dilaksanakan pemungutan suara Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Barito Selatan (Barsel) – artinya tahun 2011 ini merupakan tahun penting bagi warga Masyarakat Kalimantan Tengah  di Barsel berdemokrasi dalam mengatur urusan rumah tangganya.

    Tulisan ini menguraikan secara sepintas ‘’ikhwal’’ terbentuknya Kalimantan Tengah guna mengurus dan mengatur urusan rumah tangganya dalam bingkai NRI selama 54 tahun ini.

    KALIMATAN TENGAH PADA INTERREGNUM BELANDA

     

    Setelah Jepang menyerah  kepada Sekutu pada bulan Agustus 1945, maka pada tanggl 17 September 1945 Tentara Sekutu, cq. Angkatan Darat Australia tiba di Banjarmasin. Belanda dengan pasukan NICA (Nederlands Indie Civiel Administratie)-nya memboncengi kedatangan pasukan Sekutu ini.

    Tanggal 24 Oktober 1945, Tentara Sekutu yang diwakili oleh Australia, mengembalikan kekuasaan di Kalimantan kepada Belanda dan Pasukan NICA-nya. Belanda lalu menyusun kembali administrasi pemerinthanya di Kalimantan.

    Wilayah Kalimantan yang dikuasai kembali itu tidak lagi sebuah Gubernemen, tetpi kembali seperti keadaan sebelum tahun 1938. Kalimantan  terbagi ke dalam tiga keresidenan, yakni Keresidenan Borneo Barat, Keresidenan Borneo Timur dan Keresidenan Borneo.Selatan.

    Di lingkup Keresidena Borneo Selatan, Afdeling Kapoeas-Barito ‘’dibangkitkan kembali’’, terdiri dari enam onderafdeling.

    Belanda tidak menggunakan ‘’Pemerinthan NICA, tetapi kembali menerapkan strutktur dan sistem yang digunakan pada masa Hindia Belanda. Singkatnya menerapkan  kembali sistem Pemerintah Hindia Belanda.

    Untuk Keresidenan Borneo Selatan (Residentie Zud-Borneo) dibentuk empat ‘’daerah tegak sendiri’,  semacam daerah semi otonom. Sedangkan untuk eks Afdeling Kapoeas-Barito dibentuk dua ‘’daerah tegak sendiri’’, yakni:

    1.Swapraja Kotawaringin, adalah eks Onderafdeling Pangkalan Bun (Zelfbestuur).

    2.Dewan Dajak Besar (Groot Dajak Raad) Neo-Zelfbestuur.

    3.Federasi Borneo Tenggara.

    4.Daerah Banjar.

    Kekusaan Peralihan (interregnum) Belanda di Kalimantan  ini berlangsung sejak akhir gustus  1945 hingga kekuasaan kolonialnya dilibas dan harus angkat kaki dari Bumi Kalimantan pda tahun 1949.

    Sesudah Pengakuan Kedaulatan pada 27 Desember 1949, maka semua daerah otonom (‘’daerah tegak sendiri’’) bentukan  Belanda dibubarkan, lalu keluar dari Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk bergabug dengan Negara Republik Indonesia (NRI)Prokalamsi t yang  beribukotakan Yogyakarta. Seperti diketahui pada waktu itu, NRI Proklamasi pun meripakan slah satu negara bagian saja dari RIS.

    Lalu Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 1950 untuk menata ulang pemerintahan di daerah dengan membagi wilayah ke dalam sepuluh Provinsi Administrtif. Kalimantan sebagai salah satu provinsi terdiri dari tiga keresidenan yaitu Keresidenan  Kalimntan Brat, Kalimantan Timur dan Keresidenan Kalimantan Selatan.

    Keresidenan Kalimantan Selatan terdiri dari tujuh kabupaten/kota, yakni Kota Banjarmasin, Kabupten Banjar,, Kabupaten Hulu Sungai, Kabupaten Kota Baru, Kabupaten Brito, Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Kotawaringin.

    LEBIH DARI SATU PROVINSI

    Diperlkukannya Kalimantan  hanya sebagai satu provinsi telah membangkitkan suara-suara ketidakpuasaan di kalangan masyarakat Kalimantan. Mereka menghendaki pulau raya mereka dibagi ke dalam beberapa provinsi, bukan dijadikan hanya satu provinsi. Suara yang lebih tegas dank keras  terutama datang dari warga-warga Kabupaten Kapuas, Brito, Kotawringin . Kabupaten-kabupaten ini menghendaki agar daerah mereka dibentuk menjadi satu provisi yaitu Provinsi Kalimantan Tengah

    Keinginan agar tiga kabupaten itu yaitu Kabupaten Kapuas, Barito dan Kotawaringin digabungkan jadi satu provinsi, pertama kali dicetuskan melalui organisasi Ikatan Keluarga Dayak  (IKAD) Banjarmasin pada awal tahun  1952.

    Lebih jauh IKAD  sebagai pelopor memprakarsai  pembentukan Panitia Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah (PPHRKT) di Banjarmasin.

    Prakarsa dan tuntutan IKAD dan PPHKRT ini ditunjang oleh hasil Kongres Serikat Kaharingan Dayak Indonesia (SKDI) yang berlangsung di Bahu Palawa dari tanggal 21-23 Juli 1953. Resolusi Kongres SKDI di Bahu Palawa ini menuntut Pemerintah Pusat segera membentuk provinsi otonom Kalimantan Tengah.

    Sementra itu di pihak PPHRKT dari tiga kabupaten  pada tnggal 17 April 1954 mengelurkan resolusi yang juga berisi tuntutan agar Pemerintah Pusat segera membentuk provinsi keempat yakni Provinsi Otonom Kalimantan Tengah.

    Resolusi PPHKRT ini dikeluarkan sehubungan dengan keputusan Kabinet dalam Rapat Ke-37 tanggal 3 Februari 1954 yang secara prinsip memutuskan untuk memecah Provinsi Kalimantan menjadi tiga Provinsi.

    Desakan  dan tuntutan semakin gencar sewaktu Menteri Dalam Negeri Prof.Dr. Mr. Hazairin menerima Pengurus PPHKRT dalam pertemuan yang berlangsung di Gubernuran Banjarmasin pada tanggal 25 Juni 1954. PPHKRT menyampaikan tuntutan terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah yang berotonom penuh, demi perubahan  dn jaminan perbaikan kehidupan mereka..

    Tuntutan dan desakan agar Provinsi Kalimantan Tengah segera dibentuk terus-menerus mengalir dan disuarakan dari dan oleh berbagai lapisan masyarakat. Kesemuanya disakurkan  melalui PPHKRT yang kemudian menyampaikannya kepda parlemen menggunakan cara-cara demokratis kepada Pemerintah Pusat , Pemerintah Daerah Kalimantan/Gubernur Kalimantan serta kepada Parlementer di Jakarta.  Namun desakan dan tuntutan yang sangat gencar dan makin keras tersebut ternyata diabaikan oleh Parlemen dan Pemerintah Pusat. Pengabaian ini ditunjukkan oleh kenyataan, ketika Sidang Parlemen (DPR-RI hasil Pemilu 1955) di Jakarta, Sidang menyetujui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 yang berlaku terhitung 1 Januari 1957 bahwa Kalimantan dibagi menjadi tiga provinsi. Penjelasan Undang-Undang tersebut hanya meyatakan bahwa Kalimantan Tengah akan dibentuk menjadi provinsi otonom selambat-lambatnya dalam jangka waktu tiga tahun, melalui tahap dibentuk menjadi Keresidenan lebih dahulu.

     

     

    KONGRES RAKYAT

     

    Pengabain Pemerintah Pusat dn Parlemen dengan menetapkan Kalimantan dipecah menjadi tiga provinsi, samasekali tidak menyurutkan semangat perjuangan rakyat  tiga kabupaten dalam daerah Keresidenan Kalimantan Selatan, sebaliknya makin menggelora dan tidak terbendungkan lagi.Lalu memuncak dalam bentuk diselenggarakannya Kongres Rakyat Kalimantan Tengah di Banjarmasin yang berlangsung dari tanggal 2-5 Desember 1956. Resolusi Kongres dengan tegas menuntut Pemerintah Pusat supaya segera membentuk Provinsi Otonom Kalimantan Tengah.

    Agar bisa mendapatkan gambaran lebih rinci, perlu diketahui bahwa pada masa Pemerintahan kolonial Belanda sebelum Perang Dunia II, diantara tiga kabupaten yang termasuk wilayah Keresidenan Kalimantan Selatan, yaitu Afdeling Kapoeas-Barito terdiri dari enam Onderafdeling, berpenduduk mayoritas Suku Bangsa Dayak: Ot Danum (yang terdiri dari tiga sub-etnik yaitu Siang, Murung dan Duhoi), Ngaju, Ma’anyan, Dusun dan Lawangan.

    Menanggapi Resolusi Kongres Rkyat Kalimantan Tengah itu, Gubernur Kepala Daerah Provinsi Kalimantan R.T.A. Milono, selaku Koordinator Keamanan Provinsi Kalimantan, pada tanggal 10 Desember 1956 mengeluarkan Pengumuman penegasan, bahwa terhitung 1 Januari 1957, didirikan Kantor Persiapan Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. Ditegaskan juga bahwa Pemerintah berdaya-upaya agar terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah dapat dilaksanakan dalam tahun 1957 juga.

    Apa cita-cita awal perjuangan mendirikan Provinsi Kalimantan Tengah? Pertanyaan ini dengan gamblang ditunjukkan pada butir kedua Ikrar Bersama Perserta Kongres Rakyat Kalimantan Tengah yang berbunyi:

    (2). Bersatu tekad tidak terpisahkan untuk mengangkat derajat hidup yang layak bagi segala lapisan Rakyat dalam Daerah Kalimantan Tengah khususnya dan Indonesia umumnya’’.

    Dengan kata lain cita-cita awal perjuangan pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah lain daripada tekad untuk mengangkat harkat dan martabat Rakyat Kalimantan Tengah.

    KETERBELAKANGAN MENYEDIHKAN

    Tekad tersebut didasarkan pada kenyataan sangat nyata yang dialami oleh Rakyat  tiga Kabupaten yang selama ini tidak mengalami perubahan dan perbaikan apapun, selain dihimpit dan ditekan oleh kesesakan hidup dalam keadaan terbelakang, terpencil dan jauh dari segala corak kemajuan. Lebih-lebih di daerah pedalaman.

    Di daerah pedalaman, jual-beli dilakukan dengan sistem barter. Barang-barang hasil bumi dan lain-lain ditukar dengan barang-barang keperluan sehari-hari seperti tekstil, pakaian, garam, gula dan sebagainya. Keadaan menjadi lebih parah dan menyedihkan karena dalam barter ini, para pedagang menjual barang-barangnya dengan harga cukup tinggi, sebaliknya barang hasil bumi Rakyat pedalaman seperti rotan, karet, getah jeluntung, damar, sirap, madu, dan lain-lain dihargai dengan sangat rendah Keterpurukan ini. makin diperparah lagi oleh keadaan transpor yang sepenuhnya bersandar pada sungai dan laut dengan sarana dan prasarana yang sangat langka. Kehidupan dan kegiatan ekonomi Rakyat, lalu lintas barang sangat tergantung pada ‘’distribusi’’ dari Kota Banjarmasin, sebagai kota pelabuhan dan ibukota Provinsi  Kalimantan . Keadaan pendidikan dan kesehatan tak usah dikatakan lagi. Apalagi yang disebut pembangunan. Sangat menyedihkan adalah arti dari gambaran Kalimantan Tengah pada waktu itu.

    DARI TIADA MENJADI ADA

     

    Dengan Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957 tnggl 23 Mei 1957 kemudian disahkan dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958 tnggl 17 Juni 1958 sebagai dasar hukum maka secara resmi Provinsi Otonom Kalimantan Tengah berdiri.

    Bersamaan dengan terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah 54 silam, Pemerintah Derh dn warga masyarakat mulai membangun dalam keadaan serba kekurangan dn serba terbatas baik dari segi infra-struktur , sumber daya manusia maupun dana. Lebih unik lagi, Provinsi Kalimantan Tengah yang dilahirkan oleh Kabinet Karya, kabinet yang Ke-17, sama sekali belum mempunyai ibukota sebagai tempat Pemerintah Daerah berkedudukan. Berbeda halnya dengan provinsi-provinsi tetangga Kalimantan Selatan , Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat yang telah mempunyai ibukota masing-masing yaitu Banjarmasin, Samarinda dan Pontianak dengan fasilitas serta berbagai kemudahan yang telah memadai. Karena belum mempunyai Ibukota Provinsi, maka untuk sementara Pemerintah Provinsi Otonom Kalimantan Tengah berkedudukan di Banjarmasin. Sementara itu bidang hutan belatanra di sekitar Desa Pahandut diintensifkan pembangunannya sebagai Ibu Kota yang kemudian dinamai Palangka Raya. Penancapan tiang pertama kota baru ini dilakukan pada 17 Juli 1957.

    Setelah kurang lebih selama tiga tahun berkedudukan sementara di Banjarmasin, sejalan dengan proses pembanguanan Palangka Raya sebagai ibukota, maka pada akhir 1959 Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah meninggalkan Banjarmasin untuk selanjutnya berkedudukan tetap di ibukota sendiri: Palangka Raya.

    Ketika memulai perjalanan hidupnya sebagai Provinsi Otonom, Kalimantan Tengah sedikitpun tidak mendapatkan warisan inventaris dalam bentuk apapun juga dari Provinsi induk yaitu Provinsi Kalimantan. Dalam membangun Kalimantan Tengah sebagai provinsi , Pemerintah Daerah melaksanakan ikhitiar ‘’menggulirkan’’ roda pemerintahan dan pelayanan masyarakat , baik dalam artian figuratif maupun dalam pengertian harafiah, memulainya  dari yang tiada menjadi ada.

     

    Sejak berdiri, Provinsi Kalimantan Tengah sebagai daerah otonom, diberi hak untuk mengatur urusan rumah tangga daerahnya sendiri. Melakukan pekerjaan ini sangatlah tidak mudah. Kesulitan jadi berlipat ganda oleh luasnya wilayah yang 153.564 kilometer persegi, alam yang ganas, jumlah penduduk yang sangat tipis, infra-struktur sangat minim, kekurangan anggaran, kekurangan tenaga terampil.

    Menghadapi kendala-kendaa berat demikian, Bapak Pembangunan Kalimantan Tengah Tjilik Riwut, demi ‘’membajakan tekad’’ seluruh Rakyat guna membangun Provinsinya, selalu berujar: ‘’Berlayar dengan biduk yang ada, pakailah kayuh tersedia dan harus dapat tiba di tepi pantai dengan selamat’’.  Beliau juga berkata: ‘’Tidak ada rotan, kijil pun berguna’’ yang dalam Bahasa Dayak Ngaju: ‘’Jatun uéi, bajakah mahi baguna’’.

    Sangar disadari oleh para pelopor dan pendiri Provinsi Kalimantan Tengah, bahwa apabila harus memenuhi kriteria normatif untuk dapat terbentuknya sebuh daerah otonom, Kalimantan Tengah tentu saja belum dapat dikatakan telah memenuhi persyaratan. Hanya di pihak lain, Kalimantan Tengah mempunyai “deposit”  kekayaan alam dengan potensi yang menjanjikan suatu perkembangan maju. Janji ini dibenarkan oleh perkembangan Kalimantan Tengah sejak berdiri sebagai Provinsi Otonom dengan ‘’menampakkan keberadaannya’’ dan …kini telah mencapai usia 54 tahun . Juga dibenarkan oleh capaian-capaiannya yang berarti dan bermakna.

     

    ASET AWAL

    Sebagai gambaran umum , berikut diketengahkan beberapa data  acak ‘’aset awal’’ yang dimiliki oleh Provinsi Kalimantan Tengah ketika didirikan pada tahun 1957.

    * Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari tiga Kabupaten Otonom meliputi 46 kecamatan dan 859 kampung/Desa.

     

    * Pendidikan, kedaan pendidikan di tiga kabupaten ‘’baru menginjak’’ tingkat Sekolah Dasar dan beranjak ke tingkat menyelenggarakan Sekolah Lanjutn Tingkat Pertama (SLTP-SMP) . Jumlah SD sebanyak 412 buah, jumlah murid 35.000 ornag, SMP Negeri sebanyak 4 buah, SMP Swasta 9 buah dengan jumlah siswa (Negeri & Swasta sebanyak 996 orang). Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA-SMA) baik Negeri maupun Swasta belum ada.

     

    * Kesehatan,  Rumah Sakit Umum ada dua buah, yaitu RSU Sampit milik Pemeritah dn RSU Kuala Kapuas, milik Swasta. Untuk melayani kesehatan penduduk Kalimantan Tengah yang berjumlah kurang lebih 400.000 jiwa hanya ada tiga orang dokter, tenaga bidan, jumlahnya sampai hitungan jumlah jari sebelah tangan, tenaga perawat pun kurang sekali.

     

    * Perhubungan. Jalan darat merupakan lanjutan jalan Banjarmasin-Hulu Sungai sampai Ampah sepanjang 40 km. Yang berupa jalan tanah perkerasan terdapat di Pangkalan Bun-Kumai sepanjang kurang lebih 15 Km.

    Pelabuhan yang ada hanya pelabuhan antar pulau (inter insuler) dan Pelabuhan Pantai. Yang agak besar dan ‘’sibuk” adalah Pelabuhan Sampit.Pelabuhan-pelabuhan pantai yang ada yaitu Kumai, Kuala Pembuang, Kuala Jelai dan Pegatan.

     

    Pelabuhan Udara atau Lapangan Terbang hanya terdapat dua buah, yaitu Sabah Uyah yang kemudian bernama Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, dan ‘’Pelabuhan Air” di Sampit hanya disinggahi pesawat terbang “amfibi” jenis Catalina dan Twin Otter.

    Jembatan (itupun dari kayu) hanya terdapat satu buah, melintasi Sungai Karau di Ampah.

    Pertanian /Perkebunan yang agak berarti daah kebun karet milik rakyat. Demikian juga saah dan ladang rakyat, luas seluruhnya sekitar 36.726 hektare.

    Perikanan (Sungai dan Laut), menurut data 1957/1958, jumlah produksinya mencapai 36.023 ton.

    Pada awalnya, Kalimantan Tengah ‘’memiliki » Dinas Perikanan yang terdiri dari Dinas Perikanan Darat (Sungai dan Danau) dan Dinas Perikanan Laut.

     

     

    LIMA PULUH EMPAT TAHUN KEMUDIAN

    Di atas telah dikemukakan dalam kiprah mengisi Provinsinya, melalui upaya pembangunan, Pemerintah  Daerah bersama seluruh jajarannya berserta warga masyarakat Kalimantan Tengah telah menggulirkan roda pemeriintaha, memberikan pelayanan kepada masyarakat dan melakukan pembangunan di segala bidang dengan syrat-syarat penuh kekurangan dan keterbatasan. Tapi ‘’di sebelah’’ kekurangan dan keterbatasan ini kemudian tidak dapat disangkal bahwa Pemerintah Daerah dan msyarakat Kalimantan Tengah dapat meraih keberhasilan dan mencapai emajuan-kemajuan yang cukup membesarkan hati. Keberhasilan dan kemajuan-kemjuan yang telah diraih itu, telah dirasakan serta dinikmati oleh warga masyarakat Kalimantan Tengah.

    Hasil-hasil ini bisa dilihat dengan jelas apabila menyandingkan data acak ‘’aset awal’’ dengan capaian dalam kurun waktu 54 tahun. Data bandingan yang digunakan di sini adalah apa yang terdapat dalam buku ‘’Kalimantan Tengah Dalam Angka Tahun 2009’’, diterbitkn oleh Kerjasama BAPPEDA Kalimantan Tengah dengan Biro Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah.

    Buku tersebut antara lain mengetengahkan angka-angka sebagai berikut:

     

    *Pemerintah.

    Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari 13 kabupaten dan 1 kota, 120 kecamatan, 67 kadamangan, 124 kelurahan dan 1.356 desa.

                                                     

    *Pendidikan:

    Jumlah SD Negeri 2.359 Unit, SD Swasta 288 buah, jumlah murid (Negeri dan Swasta) sebanyk 282.377 orang. SLTP (Negeri dan Swasta) 494 buah dengan jumlah siswa sebanyak  84.059 orang, SLTA (Negeri dan Swasta) 208 buah dengan jumlah siswa 41.023 orang. Dan Perguruan Tinggi/Universitas sebanyak 10 buah.

    *Kesehatan:

    Untuk tigabelas Kabupaten dan satu Kota, semua telah memiliki Rumah Sakit Umum (RSU), seluruhnya terdapat 14 RSU. Puskesmas 141 buah Puskesmas Pembantu (Pustu) sebanyak 714 buah, Polindes 581 buah, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) 1.993 unit. Tenaga Dokter 132 orang, terdiri dari dokter spesialis 46 orang, dokter , dokter umum 29 orang, dokter gigi 57 orang, Perawat sebanyak 1.936 orang, Bidan 1.079, dan Apoteker sebanyak 36 orang.

    *Infrastruktur:

    Jalan Darat  Menurut ‘’kelasnya’’ adalah: Jalan Negara yang melintasi Kalimantan Tengah sepanjang 1.714.,67 km, Jalan Provinsi 1.776.15 km, Jalan Kabupaten sepanjang 8.710,67 km dan Jalan Kota 826,43 km.

     

    Bandara/Lapangan Terbang ada 9 buah (yang terbesar adalah Bandar Udara Tjilik Riwut Palangka Raya sekaligus ‘’pintu gerbang” memasuki Kalimantan Tengah).

    Pelabuhan (Samudera, Antar Pulau dan Pantai) sebanyak 10 buah.

    Jembatan konstruksi baja bentangan panjang 200-500 meter lebih melintasi sungai-sugi besar yang telh ada dan sedang  dan (mulai) dibangun  lebih dari 15 buah.

     

    *Pertanian:

    Luas sawah dan ladang 203.595 hektare(Sawah 108.956 ha dan ladang 94.639 ha).

     

    *Perkebunan;

    Pada tahun 2007 luas perkebunan 557.932 ha meliputi areal perkebunan karet, kelapa, kopi, cengkeh, lada dan lain-lain, sedangkan luas kebun kelapa sawit adalah 564.018 ha (milik Perkebunan Besar Swasta –PBS).

    *Perikanan

    Produksi perikanan pada tahun 2007 mecapai 92.780,21 ton (produksi perikanan tangkap 86.336,5 ton dan produksi periknan budidaya 6.413,71 ton).

    Kemajuan dan raihan hasil yang telah dicapai dalam kurun waktu 54 tahun itu lebih banyak lagi, misalnya dalam pembangunan-pembangunan : kelistrikan,air bersih/ir minum,  jaringan telekomunikasi (kantor pos, telepon), pasar, per-bankan, dan lain-ain pada tataran pembangunan fisik, sementara adanya kemajuan pembngunan dan pengembangan  seni-budaya, Sumber Daya Manusia (SDM) dn seterusnya.

    Pada usia Provinsi Kalimantan Tengah yang Ke-54 tahun 2011 ini berkat kerja keras semua pihak, seluruh jajaran Pemerintah Daerah , seluruh Aparatur Negara di Kalimantan Tengah, seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Tengah telah meraih kemajuan-kemajuan tertentu. Kemjuan dan keberhasilan pembangunan dari segi kesejahteraan dan peningkatan derajat hidup yang layak seperti yang telah diikrarkan dalam Kongres Rakyat Kalimantan Tengah di Banjarmasin 54 tahun yang lalu.

    Ke depan, upaya-upaya pembangunan berkelanjutan ini niscaya ditingkatkan. Sebab seperti diketahui, di antara 1.356 desa yang ada sekarang masih terdapat ratusan desa-desa tertinggal. Untuk mengobah desa-desa tertinggal ini menjadi desa-desa yang maju (baca:sejahtera) maka Pemerintah Daerah melancarkan program yang disebut Program Mangun Tuntang Mahaga Lewu (PM2L), yang mulai direalisasikan sejak tahun 2008, dua tahun lalu.

    Karena PM2L ini merupakan salah satu program pembangunan yang meyentuh kehidupan rakyat yang hidup di daerahpedalaman atau pesisir yang terpencil seniscayanya program ini digalakkan terus dan disokong. PM2L  sesuai dengan cita-cita awal dibentuknya Provinsi Kalimantan Tengah , cita-cita yang ditegaskan ulang oleh para peserta Konferensi Dinas Pembangunan Kalimantan Tengah di Palangka Raya yang dituangkan dalam PIAGAM PALANGKA RAYA tanggal 30 November 1958.

     

    PICU WACANA PEMEKARAN

    Di atas telah dikemukakan bahwa tiga kabupaten yakni Kapuas, Barito dan Kotawaringin tadinya merupkan bagian dari wilayah Keresidenan Kalimantan Selatan. Sejak tahun 1957, ketiga kabupaten itu menjelma menjadi Provinsi Kalimantan Tengah. Pada masa penjajahan Belanda, sebelum Perang Dunia II, ketiga kabupaten itu adalah eks Afdeling Kapoeas-Barito yang mencakup 6 Onderafdeling, dengan penduduk mayoritas Suku Bangsa Dayak.

    Dengan latarbelakang demografis demikian, maka tidaklah menghernkan jika kalangan yang paling menghendaki terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah adalah Suku Dayak. Sedangkan tokoh non-Dayak tidak seorangpun yang turut mendukung apalagi turut berjuang untuk berdirinya Provinsi Kalimantan Tengah. Malah segelintir dari mereka anti terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah[1]

     

    Menjawab segala tantangan dan sinisme dalam pembentukan Provinsi Otonom Kalimantan Tengah maka diselenggarakan Kongres Rakyat Kalimantan Tengah yang kemudian mengeluarkan keputusan, dan juga mencetuskan Ikrar Bersama.

    Butir pertama Ikrar Bersama itu berbunyi:

     

     

    “1. Bersatu tekad, tidak terpisahkan dan konsekwen menyelesaikan perjuangn Pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah selekas-lekasnya”.

    Dengan demikian sangat jelas bahwa Masyarakat Dayak tidak bisa dipisahkan dari kesatuan Provinsi Kalimantan Tengah.

    Pada tahun-tahun terakhir ini, lebih-lebih pada tahun 2011 ketika diselenggarakan pemilihan umul Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Barito Selatan masih ada bayangan wacana mendirikan ‘’Provinsi Barito Raya” dan “Provinsi Kotawaringin Raya” yang ambisius untuk memecah-belah Kalimantan Tengah ditiup-tiupkan oleh oknum ‘’elitis’’ tertentu.

    Apabila wacana pemekran provinsi adalah untuk meningkatkan pelayanan umum dan pemerataan pembangunan, maka yang harus dilakukan adalah meningkatkan pembangunan di kabupaten-kabupaten pemekaran. Sedangkan kenyataannya sampai sekarang kabupaten-kabupaten pemekaran  masih terseok-seok sebagaimana dibeberkan oleh Pak Dehen Binti dalam artikelnya di Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, edisi Jumat 22 Desember 2006 ( halaman 9).***

    TT.Suan, Wartawan Senior Kalteng, pembantu terdekat Tjilik Riwut


    [1] .Segelintir orang-orang yang anti didirikannnya Kalteng sebagai provinsi secara sinis menyebut Kalimantan Tengah sebagai  ‘’Kalimantan Tengah’’ (bahasa Banjar) artinya Kalimantan Tengah Jatuh Telentang. Orang orang ini sebagian tinggal di Kalteng.Setelah  54 tahun Kalteng berdiri, keinginan melihat Kalteng Mantangah dan ide membuat Kalteng Mantangah tidak berarti telah pupus. Kalau Kalteng Mantangah maka kekayaan Kalteng akan gampang diraup.(Ed.)

    HAUSMANN BABOE PERINTIS PERS DARI KALIMANTAN TENGAH

    HAUSMANN BABOE

    PERINTIS PERS DARI KALIMANTAN TENGAH *)

     

    Oleh TT. SUAN

     

    Mengawali sajian singkat tentang Tokoh Perintis Pers (di) Kalimantan  Tengah HAUSMANN BABOE, terlebih dahulu, perlu dikemukakan ihwal media massa cetak yang terdapat di Banjarmasin.

    Memasuki Abad Ke-20 di Banjarmsin sudah terdapat media massa cetak berupa surtkabr  harian, baik yang diterbitkan oleh ‘’Anak Hindia’’ putera-puteri Kalimantan sendiri, maupun oleh kalangan warga Cina (Tionghoa) dan oleh pihak kaum penjajah Belanda.

    Perkembangan media massa cetak di Banjarmasin pada masa tersebut, secara kronologis adalah sebagai berikut:

    Tahun 1903  terbit Suratkabar Harian Sinar Borneo dipimpin oleh Mozes Ness, seorang Indo-Belanda.

    Kemudian, secara berturut-turut terbit Suratkabar-Suratkabar Harian Bintang Borneo dan Borneo Post  yang masing-masing dipimpin oleh Andi Bur’ie dan Mr. J. Smith.

    Orentasi Harian Borneo Post  berlawanan dengan Suratkabar-Suratkabar  Harian yang beraliran nasionalis.  Suratkabar-suratkabar  yang diterbitkan  oleh orang-orang Belnda kolonialis tentu saja pijakan dan orientasinya membela kepentingan-kepetingn kaum penjajah

    Pada tahun 1907,di Banjarmasin pula diterbitkan Suratkabar Harian Pengharapan pimpinan Tie Ie Sui dan Oei Tek Hong.

    Hsusmann Baboe, ’Orang  Kalteng’’ asal etnik Dayak Ngaju kelahiran Kuala Kapuas , bersama-sama dengan puter-putera Kalimantan lainnya seperti A.Atjil, Amir Hassan Bondan dan Mohammad Horman, yang kesemuanya pada waktu itu berada di Banjarmasin, merupakan anak-anak pribumi yang terjun dan berkecimpung dalam profesi jurnalistik.

    Hausmann Baboe  sejak tahun 1905  menjadi wartawan Harian Sinar Borneo. Selanjutnya pada tahun 1914 menjadi wartawan Harian Pengharapan. Di samping sebagi Harian-harian tersebut tadi, Hausmann Baboe pun sejak tahun 1915 membantu Majalah Bulanan  Barita Bahalap (BB) yang diterbitkan di Kuala Kurun sejak awal tahun 1912.  Majalah BB merupakn majalah pertama , penerbitan Kalimantan Tengah  (di masa kekuasaan Belanda di Kalimantan  disebut Afdeling Kapoeas –Barito).

    Pada thun 1926, Hausmann Baboe sempat menerbitkan Suratkabar Harian Soeara Borneo di Banjarmasin bersma-sama Mohamad Horman, Saleh Ba’ala dan Amir Hassan Bondan (H.Arsyd Manan, 1972:4).

     

     

    KANTOR BERITA BORPENA

    Di Banjarmasin pula pda tahun 1926, Hausmann Baboe mendirikan Kantor Berita – yang menurut H.Arsyad Manan , adalah kantorberita pertama di Indonesia /Hindia Belanda, waktu itu –bernama BORPENA (Borneosche Pers en Nieuws Agentschap).

    Sebagai  catatan, Kantor Berita Nasional Antara didirikan di Jakarta pada tanggal 13 Desember 1937, 11 tahun setelah Kantor Berita BORPENA didirikan (H. Arsyad Manan, BORPENA, 1972: 4).

    Pad tahun 1928, BORPENA berganti nama menjadi KALPENA (Kalimansche Pers en Nieuws Agentschap) . Jalan hidup Kantor Berita KALPENA  terhenti pada akhir 1930 karena kalah bersaing dengan Kantor Berita Belanda ANETA (Algemeen Nieuws en Telegraf Agentschap)..

    Sebelum KALPENA  berhenti terbit, pada tahun 1929, di Kuala Kapuas, Hausmann Baboe dan kawan-kannya menerbitka Majalah Bulanan Soeara Pakat (SP). Majalah Bulanan SP ini merupakan organ resmi Sarikat Dajak (SD) , sebuah organisasi orang-orang Dayak  yang didirikan pada tanggal 18 Juli 1919 di Kuala Kapuas. Sarikat Dajak (SD) waktu didirikan diketuai oleh M.Sababoe (Spener Sandan, in: Barita Bahalap, Nomor 19 Bulan September 1919).

     

    Pada tahun 1926 SD berobah nama menjadi Pakat Dajak (PD), ketua kepengurusan beralih  dari M.Sababoe ke Hausmann Baboe.

    Majalah SP yang semula berkedudukan di Kuala Kapuas, pada tahun 1934 dipindahkan ke Banjarmasin. Di kota ini selanjutnya Majalah SP dipimpin oleh E.S.Handuran bersama-sama Badan Pengasuh dan para wartawan generasi muda Suku Dayak terkemuka, yaitu M.Mahar; C.Luran, Chr. Nyunting, Nona Bahara Nyangkal dan Tjilik Riwut. Majalah SP nampak kian  bergairah menyuarakan semangat dan cita-cita kebngsaan yang  menjadi dasar perjuangan Pakat Dajak.

    PERINTIS PERS

    Perkecimpungan dan penekunan  Hausmann Baboe atas  dunia jurnalistik sejak tahun  1905  ,tak ayal kemudian diikuti  oleh angkatan muda termasuk para pemuda asal etnik Dayak. Tokoh Hausmann Baboe selain dikenal  sebagai wartawan, ia juga dikenal sebagai salah seorang tokoh pergerakan nasional. Ia adalah slah seorang teman akrab tokoh nasional H.O.S. Tjokroaminoto. Sebgai seorang wartawan  yang sangat ktif,  sampai thu 1937 Hausmann Baboe melakukan profesi wartawan ini tanpa bersandar pada imbalan yang sekarang dikenal dengan sebutan honorarium.

    Dengan demikian dapat dikatakan bha Hausmann Baboe adalah perintis pers di Kalimantan  pda umumnya dan Kalimantan Tengah secara lebih khusus.

    Pada bulan Agustus 1943, Hausmann Baboe ditangkap oleh Keibitai (pasukan Polisi Militer Jepang) di Kuala Kapuas. Disiksa secara kejam bersama-sama para tawanan  antara lain Dr.B.J.Haga, Gubernur Borneo, dr. Visser berkebngsaan Swiss dokter Zending dan Kepala Rumah Sakit Umum Gereja Dayak Evangelis (RSU-GDE) Kuala Kapuas.  Kemudian pada tanggal 20 Desember 1943, Hausmann Baboe  bersam-sama dengan 250 orng lainnya , termasuk B.J.Haga dan dr Visser, dibunuh oleh Keibitai Jepang dengan tuduhan melakukan subversi (Marko Mahin, 2006:78-81 dan Lampiran artikel Gerry van Klinen, hlm-hlm 30-31).

    Berdasarkan jasa-jasa Hausmann Baboe baik sebagai wartawan, maupun sebagai penerbit suratkabar dan pendiri Kantor Berita Pertama di negeri ini, pihak PWI Kalimantan Selatan dan Kanil Deppen Kalimantan Selatan pernah mengajukan usul kepada Pemerintah ¨Pusat Republik  Indonesia agar kepada Hausmann Baboe dan tokoh-tokoh pers Kalimantan Selatan seperti wrtawan Kesuma Wiro Negoro, A.A. Hmidhan, Amir Hassan Bondan dan Mohamad Horman diberikan gelar PERINTIS PERS KEMERDEKAAN (Artum Artha Wartawan-Wartawan Kalimantan Raya, 1981:55-59).***

    Catatan:

     

    1.Hausmann Bboe lahir pad tahun 1881, putera dari pasangan suami-isteri Joesoef Baboe-Soemboel Bhar, kedu-duanya asal etnik Dayak Ngaju, termasuk yang disebut Utus Gantong (bangsawan/otokrasi). Tinggal di Lewu Sungei Pasah dan Hampatong, Kuala Kapuas. Hausmann Baboe adalah cucu dari Tamanggung Ambo Nikodemos.

     

    2. Hausmann Baboe, baik karena kecerdasanya , semangat juangnya maupun keturunan bangsawn/Utus Gantong dari Suku Dayak , juga karena tingkat pendidikannya, diangkat menjadi pegawai birokrasi Pemerintah Hindia Belanda dijajaran Ambetenaar Inlandsch Bestuur (AIB), Pejabat Pangreh Praja memegang jabatan Kepala Pemerintahan Distrik (Districthoofd) yang dinamai Kiai.

    Hausmann Baboe pernah bertugas di kawasan Keresidenan Timur dan Selatan Pulau Kalimantan : Pasir (Kalimantan Timur), Kuala Kurun, Kuala Kapuas dan Banjarmasin. Karena kesibukannya dalam perjuangan pergerakan kebangsaan, maka bulan Februari 1922, ia berhenti bekerja pada Dinas Pemerintaha Belanda (Marko Mahin, 2006, 22:26).

     

    3. Pada Peringtan Hri Pers/HUT PWI Ke-50 , tanggal 9 Februari 1996, Ketua PWI Cabang  Kalteng menganugerahkan Piagam Penghargan kepada tokoh Perintis Pers Kalimantan Tengah HAUSMANN BABOE. Piagam Penghargaan diserahkankepada yang mewakili kelurga Almarhum  dalam sebuah upacara yng berlgsung di Balau PWI Kalimantan Tengah , Jalan R.T.A.Milono, Palangka Rya. ***

     

    TT. Suan, wartawan senior Kalteng, pembantu terdekat Tjilik Riwut,

    Catatan Editor:

    *). Artikel TT. Suan ini aslinya berjudul ‘’Hausmann Baboe Tokoh Perintis Pers di Kalimantan Tengah’’.Oleh karena sifat keperintisan yang dilakukan oleh Hausmann Baboe tidak hanya berskala local mka tajuk kta depan DI kami robah menjadi DARI.

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 54 other followers