Archive for the ‘Sejarah’ Category

Rahasia di Balik Perang Surabaya


Rahasia di Balik Perang Surabaya

in:news2 <news-transtv@yahoogroups.com>;Thursday, 10 November 2011 10:52 PM

Perang Surabaya November 1945, bisa dikatakan merupakan pertemuan antara : Keberanian rakyat Indonesia, kegagalan Intel Inggris, cerobohnya Belanda dan naifnya pemimpin Republik di Jakarta dalam memahami keadaan.

Perang ini amat massif sifatnya dan merupakan perang pertama di dunia setelah Hitler dikalahkan pada Mei 1945. Perang ini juga merupakan sebuah kejuta…n besar bagi Inggris dan menjadi inspirasi bagi negara Asia lainnya untuk mengobarkan perlawanan anti kolonial. Bisa dikatakan “Perang Surabaya adalah titik balik terpenting bagi negara-negara jajahan di Asia untuk memulai revolusinya”.

Di tahun 1942, ketika Jepang berhasil menginvasi Jawa dan mendaratkan banyak pasukan di Pulau paling kaya di Asia, pasukan Belanda mundur ke belakang. Beberapa pasukan Belanda di garis terdepan ditangkap dan diinternir, namun para penggede militer Belanda terutama bagian intelnya berhasil mengungsi ke tepi-tepi pantai atau di bandara kecil kota diterbangkan ke Australia dengan terburu-buru. Disana para penggede militer Belanda terus menjalin hubungan dengan Inggris, dan memeloti setiap berita yang masuk tentang Hindia Belanda. Dikabarkan pula Belanda telah menanam ribuan senjata ringan dan beberapa senjata berat yang siap digunakan sebagai perlawanan bawah tanah terhadap Jepang bila kemudian hari Jepang sudah melemah daya tempurnya maka pasukan bawah tanah bersenjata siap mengepung Jepang. Sampai detik ini belum bisa dibuktikan adanya penemuan senjata-senjata baru, tapi dari banyak kesaksian di masa perang Revolusi 1945 banyak dari pasukan laskar bersenjata memiliki alat persenjataan yang amat baik dan bukan peninggalan Jepang.

Sementara di Eropa, Churchill dan Franklin Delano Roosevelt terus melakukan koordinasi, mereka berdua memanfaatkan Stalin untuk menghadapi Hitler di front timur dan juga memutuskan sebuah persetujuan baru untuk bersiap bila sekutu kalah oleh Hitler di Eropa maka pertempuran akan dilanjutkan di Asia. Churchill dan Roosevelt pun menuliskan perjanjian Atlantic Charter 1940 yang isinya antara lain : “Hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri” isi perjanjian ini jika dilihat kemudian waktu adalah hanya sebagai bom waktu agar bangsa Asia bisa dimanfaatkan oleh Inggris dan Amerika Serikat dalam melawan Hitler. Bukti bahwa Inggris-Amerika akan menjadikan semua dunia adalah wilayah jajahan mereka terjadi tahun 1945, dalam perjanjian Yalta, Inggris-Amerika Serikat dan Sovjet Uni sepakat bahwa geopolitik akan dibelah menjadi blok barat dan blok timur. Setelah Stalin tertawa-tawa menandatangani perjanjian ini di depan Roosevelt dan Churchill, lalu Roosevelt dan Churchill bertemu di ruangan lain dan membicarakan tentang nasib jajahan Asia. Churchill bersikeras “Biarlah jajahan di Asia akan tetap seperti masa sebelum Jepang mengobrak-abrik Asia” ini artinya : Inggris, Perancis dan Belanda akan menerima keuntungan besar. Roosevelt diam saja karena mau-nya Churchill ini jelas merugikan Amerika Serikat. Roosevelt melihat keadaan dan kemudian pelan-pelan menarik diri dari agresifitas Inggris di Asia. Bagi Roosevelt belum waktunya Amerika masuk ke Asia, sebuah wilayah yang belum begitu dikenalnya kecuali Filipina.
Ketika kemenangan sekutu mulai terasa di Asia, setelah MacArthur secara lompat kodok berhasil satu persatu mencaplok pulau-pulau di Asia, berawal dari kemenangannya menguasai pulau-pulau kecil di Pasifik selatan, kemudian menguasai Biak dan membunuhi ribuan serdadu Jepang. Lalu menerbangkan pesawat-pesawatnya ke Filipina, disana MacArthur memenuhi janjinya kepada rakyat Filipina “I shall return”. Sampai pada titik ini, MacArthur dan Amerika Serikat masih bercitra menjadi pembebas negeri, apalagi di Asia, Jepang amat kalap demi kemenangan perang ia memperbudak penduduk negeri-negeri jajahan.

Namun dibalik kemenangan MacArthur ini, Belanda dengan licik memanfaatkan Amerika Serikat, seperti kebiasaan orang Belanda yang selalu ambil manfaat sebanyak-banyaknya dan berjuang sekecil-kecilnya, maka Belanda mulai mendompleng kemenangan MacArthur demi menguasai kepulauan paling kaya di dunia : Hindia Belanda. Pada tahun 1943, ketika Filipina sudah dikuasai MacArthur, Belanda langsung menerbangkan Van Mook dari Australia untuk ikut menandatangani perjanjian di Tacloban, Filipina tentang wilayah perang. Saat itu wilayah perang dibagi dua : Wilayah Tenggara (South East) dan South West (Pasifik Barat Daya) kebanyakan wilayah Indonesia masuk ke dalam South West. Baik wilayah perang Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya semuanya dibawah komando MacArthur sebagai Supreme Commander. Setelah Jepang menyerah kalah, dengan gentleman Amerika Serikat menyerahkan wilayah perang itu kepada Inggris. Inggris saat itu menunjuk Lord Louis Mountbatten, Raja Muda India untuk menjadi penguasa di Asia eks jajahan Jepang. Mountbatten sendiri berkedudukan di Saigon.

Van Mook, Van Der Plas dan Spoor adalah tiga serangkai dari Belanda yang paling banyak melobi pihak Inggris untuk mengembalikan Hindia Belanda ke tangan Belanda. Van Der Plas menganggap remeh situasi di Hindia Belanda. Inilah kesalahan terpenting intel-intel Belanda di Indonesia yang masih melihat pergerakan pemuda di Jawa atau Sumatera adalah pergerakan anak bawang. Karena sikap meremehkan Van Der Plas ini membuat Van Mook bersama Spoor hanya merekrut 5000 serdadu Belanda dari Suriname dan Curicao untuk disiapkan mengamankan kedatangan mereka di Jawa.

Saat sarapan pagi di markasnya Australia, Van Mook kaget mendengar berita Proklamasi dari Jakarta. Van Mook mulai memiliki insting akan ada situasi berat, tapi ketika Van Mook menyampaikan ini ke Van Der Plas, Van Der Plas hanya tersenyum kecil dan berkata singkat “Apa bisa sekelompok manusia penakut melawan Brigade tempur veteran perang dunia?”

Sekelompok orang pengecut ternyata sudah berubah. Van Mook mati-matian mempertahankan pendapat bahwa Belanda harus mengirimkan banyak pasukan. Van Der Plas menolak, karena dengan mengirimkan banyak pasukan akan membuat kecurigaan Inggris tentang begitu menggebunya Belanda mencaplok Hindia Belanda “Santai saja jangan membuat Inggris atau Amerika memperhatikan kita” . Gagal meyakinkan Van Der Plas, akhirnya Van Mook menghubungi jaringannya di London agar segera melobi Perdana Menteri Inggris. Utusan Van Mook mengejar PM Inggris ke Downing Street, tapi ternyata Churchill sedang beristirahat di Chequers, pinggiran kota London disana diadakan pertemuan dadakan. Churchill akhirnya menyarankan agar dibentuk sebuah tentara pengambil alihan sipil, pihak Belanda setuju lantas disana dibentuklah NICA (Nederlaands India Civil Affair), NICA ini akan jadi semacam pengawal pemerintahan peralihan untuk kemudian menegakkan kekuasaan Belanda di Inggris, dalam nota Chequers yang tertanggal 24 Agustus 1945 ini pula termuat komitmen Inggris untuk siap membantu apabila NICA mengalami kesulitan dalam menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia.

Nota Chequers ini amat rahasia, bahkan Van Mook sendiri sampai beberapa saat merahasiakannya di depan teman-temannya, karena apabila ini bocor maka pendaratan Inggris sebagai pasukan pembuka akan gagal. Inggris kemudian membentuk RAPWI, sebuah organ pembebasan tawanan perang sekutu oleh Jepang dan pasukan Inggris mendarat di Jawa atas nama AFNEI. Barulah beberapa hari kemudian setelah berpikir panjang Van Mook menunjukkan surat nota Chequers ke Van Der Plas, sambil marah-marah Van der Plas bilang ke Van Mook, kenapa tidak langsung diberikan kepada dirinya info itu, karena Van Der Plas bisa tau posisi Inggris saat ini. Van Der Plas langsung memutuskan untuk membawa Van Mook ke Kandy, Srilanka untuk menemui Lord Louis Mountbatten.

Disini kemudian Van Mook dan Van Der Plas ditemui di teras belakang dengan santai di rumah dinas Mountbatten. “Kita akan melanjutkan hasil pertemuan di Yalta 1945 dan melanjutkan keputusan tuan Perdana Menteri tentang ini” kata Van Mook sambil menyerahkan surat nota Chequers kepada Mountbatten. Raja Muda India itu membaca dengan seksama surat itu, lalu mengonfirmasi dengan ajudannya atas keabsahan surat itu lewat jalur rahasia, setengah jam kemudian ada pesan dari London bahwa surat itu absah. Tanpa pikir panjang Mountbatten berkata “Akan saya perintah ke seluruh divisi pasukan saya untuk membantu pasukan Belanda. Tapi ini jangan terlalu berlebihan biarlah Inggris membereskan seluruh persoalan sipil dengan baik”

“Kami tak ingin kedahuluan Komunis” kata Van Mook menakut-nakuti Inggris. Mountbatten tersenyum “Saya tau watak Stalin, ia sudah terikat dengan perjanjian Yalta 1945. Stalin tidak akan masuk ke wilayah yang dikuasai sekutu, asal kita jangan pancing dia”. Mountbatten langsung melanjutkan “Saya punya intelijen disana namanya Kolonel Van Der Post, biarlah dia jadi perwira penghubung nanti kita akan terima banyak laporan dari dia”.

Van Mook setuju, begitu juga dengan Van Der Plas mereka bersalaman dengan Mountbatten lalu balik ke Australia dan menyiapkan pasukan serta para perwira stafnya. Di Australia pemimpin pasukan diputuskan perwira KNIL orang Jawa bernama Abdulkadir Wijoyoatmodjo dan Mayor KNIL Santoso.Abdulkadir dan Santoso diperintahkan Van Mook untuk ke Djakarta untuk mengadakan pengembangan kontak-kontak jaringan dengan eks perwira KNIL yang masih memiliki pasukan. Abdulkadir dan Santoso langsung berangkat ke Jakarta dan menemui beberapa perwira KNIL di Jakarta untuk bersiap melakukan perang dengan pihak Indonesia apabila pasukan NICA nanti mendarat dan menerima perlawanan.

Setelah Abdulkadir bertemu dengan pasukannya, lalu Van Mook dan Van Der Plas datang ke Jakarta disana ia berjumpa dengan Kolonel Van Der Post, kontak terpenting Van Der Post dengan banyak pemimpin-pemimpin baru Republik. Van Mook agak nggak suka dengan Van Der Post yang secara eksplisit mendukung kemerdekaan Indonesia. Van Der Post sempat menertawai Belanda ketika pasukan Belanda akan datang kembali. “Kamu akan berhadapan dengan banyak orang nekat” kata Van Der Post di satu sore depan stadion Vios, Menteng.

Karena sudah memegang Nota Chequers itu Van Mook amat yakin bisa menguasai kembali Republik.

Sementara di Djakarta sendiri, kedatangan sekutu disambut baik. Sukarno amat takut apabila dirinya akan ditangkap karena tuduhan kolaborator, sementara Hatta dan Sjahrir sudah berhitung untuk menghindari perang terhadap sekutu. Kelemahan Sukarno yang kadang-kadang menyebalkan adalah “Ia tidak memperhitungkan kekuatannya sendiri” padahal seluruh bangsa ini mau merdeka secara sukarela karena mereka melihat figur Sukarno.

Hatta dan Sjahrir amat bergantung dengan figur Sukarno. Sementara kekuatan lain belum bermunculan, Tan Malaka masih bersembunyi di rumah Achmad Subardjo dan masih bingung harus kontak siapa lagi yang bisa dipercaya, karena Sukarni menghilang setelah Tan Malaka bertemu dengan Sukarni di rumahnya. Sukarni, Maruto Nitimihardjo, Chaerul Saleh, dan banyak tokoh pemuda berkali-kali meyakinkan Sukarno akan perang total dengan sekutu. Sukarno marah-marah karena perbuatan amat gila berperang dengan pasukan sekutu.

Para pemuda tidak tau akan nota Chequers 24 Agustus 1945, tapi para pemuda liwat insting politiknya yakin Belanda bermain di belakang sekutu, kejadian ini seperti 120 tahun yang lampau saat pasukan Inggris menyerahkan Jawa ke tangan Belanda setelah kekalahan Napoleon.

Sukarno, Hatta dan Sjahrir tidak mau berspekulasi dan memutuskan untuk menganut garis “menghindarkan perang dan menyelamatkan nyawa orang banyak dari peperangan”.

Lalu sekutu datang ke Tanjung Priok. Kedatangan sekutu disana mendapatkan banyak perhatian dari orang-orang Priok termasuk Hadji Tjitra (mertuanya Lagoa, jagoan Priok) dan Hadji Tjitra melaporkan kedatangan sekutu yang bersenjata lengkap juga beberapa orang berbicara bahasa Belanda kepada pemimpin pemuda Maruto Nitimihardjo. Kedatangan orang Belanda ini menjadi alasan bagi Pemuda untuk menembaki sekutu di Jalan-Jalan Djakarta, lalu Sukarno marah-marah dan membentak Maruto juga Pandu Kartawiguna “Hentikan Perang, Tolol!!”…………

Maruto marah begitu juga dengan Pandu. Tapi di tempat lain sudah mulai muncul tokoh baru Tan Malaka, yang ternyata mereka kenal sebagai Ilyas Hussein seorang utusan pemuda dari Bayah, Banten.

Di Tanjung Mas, Surabaya Pasukan sekutu mendarat dan membebaskan banyak interniran perang Belanda. Banyak eks orang kaya Belanda langsung lupa diri, mereka kemudian berpesta. Di Hotel Yamato, para orang kaya Belanda menyiapkan pesta untuk mengganti nama Hotel Yamato ke nama semula yaitu : Hotel Oranje. Proses penggantian nama ini kemudian diikuti oleh pengerekan Bendera Belanda di atas hotal Yamato. Perintah pengerekan ini dilakukan oleh Ploegman salah seorang advokat Surabaya di jaman sebelum Jepang. Pengibaran itu dilakukan jam 9 malam.

Paginya pengibaran bendera Belanda bikin perhatian banyak orang yang sedang berjalan kaki. Pemuda-pemuda yang dilapori rakyat bahwa Belanda mengibarkan bendera langsung ngasah bambu runcing, beberapa pemuda melapor ke Residen Surabaya : Sudirman. “Lha, kan sudah ada perintah dari Jakarta untuk mengibarkan bendera merah putih” Sudirman memegang surat perintah 1 September 1945 tentang bendera merah putih lalu membawanya ke Hotel Yamato. Disana Sudirman dikawal Sidik dan Haryono. Sampai di depan kerumunan massa, Sudirman ditemui beberapa orang pemuda yang kalap “Kita bakar saja hotel ini” Sudirman menahan ide pemuda itu, lalu ia segera masuk ke ruang lobi Hotel. Disana Sudirman disoraki orang-orang Belanda yang sedang menyiapkan acara dansa.

“Mana Pemimpin Belanda disini..!!” kata Sudirman sambil kedua tangannya memegang pinggang. “Saya kamu mau apa?” kata Ploegman dengan pandangan menghina. Lalu Sudirman menunjukkan surat perintah Djakarta tentang pengibaran bendera “Kamu bisa baca ini?”

Ploegman mengibaskan tangannya dan mengenai surat itu langsung terjatuh ke lantai. Sidik yang melihat kelakuan kurang ajar Ploegman langsung memegangi leher Ploegman, lalu Ploegman mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke Sudirman. Tak lama kemudian dari belakang pistol meletus dan mengenai punggung Sidik. Sidik langsung jatuh dan mati, lalu beberapa orang Belanda mau mengeroyok Sudirman dan Haryono. Para pemuda menerobos masuk dan terjadilah perkelahian seperti di bar-bar, beberapa orang Belanda digebuki sampai mati.

Di luar keadaan semakin memanas, beberapa orang pemuda naik ke atas dan merobek warna biru Belanda, lalu mengibarkan sisa bendera robekan itu : Merah Putih, sekejap rakyat Surabaya terdiam lalu menangis, beberapa diantara dengan semangat menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara gemetar. Hari itu rakyat Surabaya memiliki keIndonesiaannya.

Sejak Insiden Yamato itu kemudian pemuda menyerang pos-pos militer sekutu. Perang kecil-kecilan terjadi, barulah pada akhir Oktober 1945 terjadi perang besar. Inggris mengirimkan Hawthorn untuk melobi Sukarno di Djakarta. Sukarno langsung berangkat ke Surabaya, ditengah tembakan mendesing Sukarno menemui beberapa pemuda dan memerintahkan menghentikan tembakan “Musuh kita bukan sekutu, mereka hanya membebaskan tawanan perang..” kata Sukarno. Para pemuda menuruti apa kata Sukarno.

Lalu gencatan senjata terjadi.
Van Mook menganjurkan pada Mountbatten agar mengirimkan Jenderal administrasi saja, semacam Jenderal Salon yang tak pernah pegang pasukan. Bagi para Jenderal amat senang dan merupakan reputasi menarik apabila diperintahkan memegang pasukan. Begitu juga yang terjadi pada Mallaby, selama perang dunia kedua Mallaby hanya duduk di belakang meja merapihkan administrasi markas dan mengatur alat-alat peraga Atlas untuk presentasi para Jenderal yang mengatur pasukan di lapangan.

Mallaby yang saat itu berpangkat Mayor Jenderal dengan senang hati menerima perintah memimpin pasukan Brigade 49 yang terkenal nekat dan berhasil menghajar Jepang pada perang Burma 1944. Pangkat Mayor Jenderal pun diturunkan menjadi Brigadir Jenderal, karena pangkat seorang komandan Brigade Inggris adalah Brigjen.

Mallaby yang saat itu menjadi saksi atas gencatan senjata memerintahkan pasukannya untuk menarik diri dari semua pertempuran. Keputusan itu ditandatangani 29 Oktober 1945. Namun informasi gencatan senjata ternyata tidak sampai ke seluruh pasukan. Ada pasukan kecil India (Gurkha) yang membangun benteng pasir di bawah Jembatan Merah Surabaya. Mereka menembaki segerombolan pemuda. Para Pemuda membalas berondongan senjata dengan serbuan bambu runcing, naas bagi Mallaby yang dikiranya kota sudah aman dia berjalan-jalan malam untuk mencari restoran yang masih buka, ia lapar. Dengan naik mobil Buick ia bersama pengawalnya berkeliling Surabaya, di dekat jembatan merah ia malah masuk ke wilayah Republik, kemudian ada pistol menyalak ke dada Mallaby. Seketika Mallaby mati kemudian ada granat masuk ke dalam mobil Mallaby, mobil Mallaby meledak hebat. Mayatnya terpanggang di dalam.

Sampai sekarang siapa yang nembak Mallaby, siapa yang melempar granat tidak diketahui, apakah ini mainan intelijen Belanda, NEFIS atau memang sebuah aksi spontan pemuda. Namun yang jelas dari sinilah Perang Surabaya bermula.

Dalam perang lima tahun dengan NAZI, Inggris tidak pernah kehilangan satu Jenderal pun. Tapi di Surabaya baru lima hari mendarat seorang Jenderal terbunuh. Inilah yang membuat marah Inggris. Lalu dengan cepat Mountbatten menunjuk Mayor Jenderal Mansergh sebagai kepala pasukan Inggris di Surabaya untuk membereskan kota Surabaya. Mayjen Mansergh yang jago perang dunia itu langsung mengambil keputusan untuk melucuti semua orang Surabaya.

“Hak apa orang Inggris memerintahkan orang Surabaya sebuah bagian dari negara berdaulat” teriak Bung Tomo sambil menggebrak meja setelah mendapatkan laporan bahwa ada ultimatum bahwa orang Surabaya harus menyerahkan senjata sampai tanggal 10 November 1945.

“Wah perang ini” kata Bung Tomo di depan banyak temannya. Beberapa jam kemudian Bung Tomo memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil lalu pergi ke Tebu Ireng, Jombang. Disana ia berjumpa dengan Hadratus Sjaikh Hasjim As’ary (kakek Gus Dur) untuk meminta pertimbangan. “Perang ini akan jadi perang sahid, perang suci karena membela tanah air, tapi sebelum saya putuskan bantu kamu baiknya kamu dzikir dulu, saya menunggu seorang Kyai dari Cirebon”
Esoknya Hadratus Sjaikh berkata lagi pada Bung Tomo “Kamu perang saja, ulama membantu, santri-santri membantu”.

Mendapat jaminan dan restu dari tokoh ulama, Bung Tomo langsung ke Surabaya dan meneriakkan di corong “Radio Pemberontak” …Saudara-saudara Allahu Akbar!!… Semboyan kita tetap: MERDEKA ATAU MATI.

Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara,
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar…!! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!!!
MERDEKA!!!

Mendengar pidato Bung Tomo, orang Surabaya paham itu isyarat perang. Mayjen Mansergh juga ambil kesimpulan bakal ada perang beneran. Akhirnya tanggal 10 November tiba, sirene pagi berbunyi keras dan tak satupun rakyat Surabaya yang datang ke pos militer sekutu untuk menyerahkan senjata.

Para pemuda membangun benteng-benteng pasir, menjalin kawat berduri, bersembunyi di jendela-jendela toko sudah perseneleng siap tempur.

Pagi hari Gubernur Surjo mendatangi beberapa tokoh pemuda. Gubernur Soerjo bilang “ini sudah keterlaluan Inggris, sudah tidak menganggap Pemerintahan Djakarta itu ada, tidak ada Republik Indonesia” lalu Gubernur Soerjo dengan blangkonnya berpidato “kita tidak mau dijajah kembali, Merdeka….!!”

Jam 6 pagi dari arah pelabuhan di Surabaya Utara, kanon-kanon kapal perang Inggris sudah mengarah ke kota. Tembakan pertama meletus jam 6.10 dari sebuah kapal kemudian meletus lagi dari semua kapal berikutnya seluruh wilayah kota yang dekat dengan pelabuhan jadi korbannya.

Wilayah Surabaya Utara dihuni oleh banyak orang-orang Cina, Arab, India dan beberapa pedagang dari Bugis. Rata-rata dari mereka adalah pedagang. Rumah-rumah mereka hancur dengan tanah, tembakan kanon terus menerus menghancurkan Pasar Turi, Kramat Gantung dan Pasar Besar. Beberapa tempat sudah tak berbekas. Jam 7 pagi pasukan Inggris mulai masuk ke Surabaya.

Mereka masuk ke kampung-kampung dan menembaki rakyat dengan membabi buta, ada orang tembak, ada pemuda tembak mati. Sekutu menendangi rumah penduduk dan mencari senjata, bila ada yang melawan tembak mati.

Rakyat Surabaya belum melawan, mereka masih siaga di posisinya masing-masing, belum ada perintah tembak dari Djakarta. Para penggede militer TKR di Djakarta dilapori situasi Surabaya terutama penembakan kanon di Surabaya Utara. Amir Sjafruddin yang saat itu mengurusi pertahanan langsung memerintahkan “Lawan!!” lalu datanglah perintah dari Djakarta agar rakyat Surabaya melawan.

Jam 9.15 milisi Surabaya sudah dapat kabar bahwa Jakarta menyetujui perang, lalu tembakan pertama kali terjadi di Pasar Turi dari pihak Republik. Di batas-batas kota rakyat mulai berdatangan memasuki kota, ratusan ribu orang memasuki kota Surabaya mempertahankan kedaulatan bangsanya yang sedang dihina Inggris dan Belanda.

Pasukan resmi tentara juga mulai mengoordinasi, semuanya ikut dalam barisan milisi, pertahanan Republik langsung dibangun dari arah barat ke Timur, wilayah Asem Jajar dijadikan wilayah perang pertama antara sekutu dan Republik. Di wilayah ini pasukan sekutu berhasil dipukul mundur, beberapa dari mereka tewas ketika pasukan bambu runcing nekat maju dan masuk ke lobang pasir dimana mitraliyur ditaruh. Di selatan Pasar Turi pasukan Inggris menerobos masuk tapi ditembaki dari gedung-gedung oleh pasukan rakyat.

Jam 10.12 di langit Surabaya suara pesawat menderu-deru kencang. Rupanya Inggris mengerahkan pasukan Royal Air Force (RAF) langsung dari pangkalan militernya di Burma. Pasukan RAF yang dikerahkan ini adalah veteran perang dari Perang Dunia kedua yang mengebom Berlin.

Tapi sekarang bukan Berlin yang dibom tapi Kota Surabaya, mereka mengebom kantor-kantor pemerintahan, gedung-gedung sekolah. Bila tahun 1940 Inggris dibombardir Jerman, maka Inggris mengulangi kejahatan Jerman dengan memborbardir kota Surabaya, banyak orang tertembak mati kena runtuh gedung, dan orang yang tertembak mitraliyur pesawat, Inggris seperti pasukan gila yang mengamuk habis-habisan.

Tapi Inggris belum kenal watak orang Surabaya yang panas. Pasukan rakyat kemudian mengambil beberapa mitralyur anti pesawat buatan Jepang dan menembaki skuadron pasukan RAF. Dua pesawat kena tembak salah satunya adalah seorang jenderal yang bernama Brigjen Robert Guy Loder Symonds seorang komandan pasukan Artileri yang sedang melakukan survey udara. Jenderal ini kemudian dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di Kramat Pulo, Menteng.

Pertempuran makin meluas, sampai ke Kali Mas. Di pinggir Kali Mas pasukan sekutu langsung menggempur pasukan rakyat. Jam 12 siang hari pertama, pasukan infanteri mulai mendarat sekitar 20.000 orang, inilah pasukan terbesar Inggris setelah perang dunia selesai, dan merupakan perang paling brutal sepanjang sejarah pertempuran pasukan Inggris.

Dari Radio hampir seluruh rakyat Indonesia menunggu laporan-laporan dari perkembangan perang, mereka menunggu pidato Bung Tomo. Semua mendekatkan telinga mereka di radio. Pada hari itu juga banyak dari orang-orang Indonesia di tempat lainnya menyiapkan diri untuk perang ke Surabaya. Sekitar 20.000 orang Bali sudah siap masuk ke Surabaya, beberapa bisa menyusup dan langsung menggempur sekutu. Dari Aceh sudah disiapkan ribuan orang pengiriman, di Medan ribuan orang berkumpul untuk bersiap diberangkatkan ke Surabaya, di Lombok Mataram di depan para Ulama, rakyat Lombok siap mati dan akan berangkat ke Surabaya. Di Yogyakarta sudah mulai ada pengiriman pasukan, Malang sudah kirim pasukan sementara Djakarta masih menunggu perkembangan, penggede-penggede Djakarta masih berharap perang bisa diselesaikan dengan cepat.

Di wilayah lain di luar Surabaya, Jenderal Sudirman dan para staf-nya memutuskan untuk memotong rantai logistik sekutu. Jadi 20 ribu pasukan infanteri bakalan terlokalisir dan digebuki rakyat Surabaya. Taktik ini berhasil, laskar-laskar rakyat di Jawa Barat menghadang pasukan logistik sekutu yang mau masuk dari arah barat, di Malang gudang logistik pasukan sekutu dihancurkan, otomatis selama 5 hari pasukan sekutu terkunci dari semua pintu masuk kota, sementara ribuan orang Indonesia terus mengalir memasuki kota dengan senjata apa adanya berperang melawan sekutu.

Pasukan sekutu mulai stress, karena logistik tidak ada, bantuan tempur logistik yang diterjunkan dari pesawat kemakan orang-orang Republik, bahkan nyaris tidak ada logistik yang berhasil didapatkan pasukan Inggris. Mereka sudah terkunci dan terkepung oleh seluruh orang Indonesia yang mengitari mereka, keberadaan pasukan Inggris dari Brigade 49 tinggal menghitung waktu.

Tempat-tempat dimana pos pasukan Inggris berada di blokade total, tak ada listrik, tak ada makanan, mereka harus berjaga 24 jam agar jangan sampai ditembaki Republik yang terus menerus nggan berhenti. Di hari kelima pertempuran mulai jarang tembakan dari pasukan sekutu, pasukan Inggris mulai kehabisan amunisi, beberapa orang Surabaya nekat masuk ke pos-pos Inggris dan meledakkan granat, inilah yang mereka takutkan. Dalam kondisi rusak mental inilah, pasukan Brigade 49 mulai teriak-teriak ke markas mereka di Djakarta bahwa mereka sudah terdesak.

Rahasia kekalahan Inggris ini disimpan rapi-rapi, jangan sampai Penggede Republik Indonesia tau, mereka berlagak ja’im dan masih mencitrakan diri sebagai pemenang perang di Surabaya. Begitu juga dengan pemimpin di Jakarta yang tidak begitu mengetahui perkembangan perang di Surabaya, mereka sudah ‘underestimate’ bahwa perang akan dimenangkan oleh Inggris.

Di Singapura para panglima Inggris berkumpul. “Kita sudah kalah di Surabaya” kata seorang Panglima. “Pasukan kita sudah kelaparan, tidak ada lagi pasokan” memang saat itu pasukan sekutu sudah amat kelaparan. Mereka tidak dapat pasokan logistik, sementara para pejuang Republik dapat pasokan terus menerus nasi bungkus, pisang, dan banyak bahan makanan dari rakyat yang sukarela membuatkan masakan di dapur umum. Bahkan beberapa pasukan Inggris seperti anjing kelaparan saat melihat sisa nasi bungkus bahkan yang udah basi, mereka ambil dan makan.

“Keadaan ini harus dirahasiakan” Bagaimanapun pasukan Brigade 49 dari Divisi V adalah pasukan kebanggaan Inggris, mereka dijuluki “Fighting Cock” pada Perang Burma 1944, merekalah yang merebut satu persatu wilayah Burma dengan sistem gerilya hutan, kini Brigade itu perlahan-lahan mati kelaparan, digebukin dan ditembakin.

Lalu para Panglima itu mengutus Admiral Heifrich menemui Presiden Sukarno. Heifrich mengakui sendiri dalam buku biografinya, ‘Keputusan untuk menghentikan perang, satu-satunya hanya pada Presiden Sukarno” apa yang dilakukan Heifrich ini bila diperhatikan sangat aneh untuk watak Inggris yang amat ksatria. Karena saat ultimatum, Inggris sempat menganggap Pemerintahan Republik Indonesia tidak ada, lantas setelah pasukan Brigade 49 sudah kalah dan terjepit ia minta tolong pada Sukarno.

Disinilah kesalahan Sukarno paling fatal, ia masih termakan halusinasi bahwa sekutu adalah pihak yang menang perang dan merupakan alat yang baik untuk berdiplomasi dengan Belanda. Sukarno nggak paham kekuatan bangsa sendiri, ia tidak langsung melihat pertempuran, jalan diplomatiknya yang dipilih merupakan blunder besar dalam perang Kemerdekaan 1945-1949.

Perang Surabaya yang berlangsung selama tiga minggu, di minggu pertama dimenangkan oleh pihak Republikein, tapi karena keputusan Sukarno yang memerintahkan penghentian perang, sehingga Jenderal Sudirman membuka blokade lalu pasukan Divisi V yang awalnya sudah diputuskan tidak akan masuk Surabaya karena takut dihabisi, jadi masuk. Logistik yang tadinya terputus mengalir kembali.

Dan kemudian Inggris mampu menghajar pasukan Republik. Lalu nggak berapa lama Inggris menguasai kota Surabaya, karena sudah dapat suplai logistik dari Jakarta.

Apakah yang terjadi bila Sukarno tau kebohongan Inggris, mulai dari Nota Chequers 24 Agustus 1945 sampai pada rahasia pasukan Brigade 49 yang kocar-kacir. Sukarno saat itu berada pada persimpangan politik yang amat tragis. Di satu sisi hanya dia-lah yang dipercaya rakyatnya, di sisi lain dia tidak mau perang dengan sekutu, karena nama Sukarno sudah tercatat sebagai kolaborator. Bila Sukarno diambil pihak sekutu, Sukarno kuatir Indonesia akan kehilangan pemimpin.

Kesalahan besar Sukarno yang menghentikan perang ini juga sama fatalnya dengan perintah Sukarno agar melarang pasukan KKO pimpinan Mayjen Hartono masuk ke Djakarta di tahun 1966 untuk memberikan pelajaran bagi Suharto. Sukarno memang pribadi yang menarik tapi ketika ia harus masuk ke dalam situasi perang nampaknya ia lebih memilih menghindar.

Padahal perang Surabaya adalah sebuah drama besar yang bisa dijadikan landasan untuk merdeka sepenuhnya, Perang Surabaya juga dikabarkan lewat radio-radio dan didengarkan oleh para pejuang di banyak negara terjajah seperti Vietnam dan Burma, dari perang inilah kemudian membangkitkan semangat mereka melawan Kolonialisme.

Pelajaran dari sejarah ini adalah ketika kita sudah pada situasi perang, janganlah kita hentikan dengan diplomasi, janganlah kita memberikan tempat pada lawan. Reformasi 1998 terlalu memberikan tempat pada orang Orde Baru sehingga perjalanan demokrasi menjadi rusak, begitu juga dengan sikap lemah kita pada IMF atau Bank Dunia. Kita harus percaya atas kemampuan diri sendiri.

Di Surabaya 1945 menjadi pengetahuan bagi kita bahwa kita bangsa berani………………See More

(Dikutip dari posting Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto di Facebook)

Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Division Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 – 14 A, Jakarta 12790
Telp: 7917-7000 ext: 3542;   Fax: 021-79184558

HP: 0819 0819 9163

http://satrioarismunandar8.blogspot.com

http://facebook.com/satrio.arismunandar

“Courage is not the absence of fear, but rather the judgment that something else is more important than fear.”
(James Hollingsworth)

Di Bali, Mereka Mengenang Soekarno dan Sutedja

10.11.2011 13:31

Di Bali, Mereka Mengenang Soekarno dan Sutedja

Penulis : Aju

(foto:dok/antaranews.com)

Hari ini, 10 November 2011, masyarakat agama Hindu di Bali menggelar upacara adat Nilapati Yadnya untuk mengenang kematian Presiden Soekarno pada 21 Juni 1970. Upacara adat Nilapati Yadnya yang digelar bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan ini dilakukan di Istana Tampaksiring, Batu Empul, Bali.

Upacara Nilapati Yadnya, dalam kepercayaan Hindu, merupakan upacara penyucian atma yang diadakan hanya kepada leluhur yang mengalami kematian secara tragis atau tidak wajar. Nilapati Yadnya yang digelar di Bali diprakarsai Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dan keluarga besar Puri Mahendradatta Tegeh Kori.

Sebelum kematiannya, Soekarno ditahan dan dipenjara sejak 1967 di Wisma Yaso. Ia menjadi tahanan rumah berkaitan dengan insiden pembunuhan enam jenderal dan satu letnan TNI AD di Jakarta pada subuh 1 Oktober 1965.

Peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama Gerakan 30 September (G30S) ini, oleh rezim Soeharto dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang.

Sukmawati, salah satu putri Presiden Soekarno, dalam suatu kesempatan mengatakan, selama bertahun-tahun menjadi tahanan rumah, Soekarno yang berhasil memerdekakan bangsa Indonesia mendapatkan tekanan politik yang sangat keji.

Tak aneh, sejumlah kalangan – baik politikus maupun sejarawan – menilai Soekarno sesungguhnya telah dikudeta secara merangkak dan dibunuh dengan konspirasi internasional.

Insiden G30S 1965 ini juga telah membuat nasib gubernur pertama Bali, Anak Agung Bagus Sutedja, sampai sekarang masih misterius.

Operasi CIA

Banyak kalangan mensinyalir penggulingan Soekarno merupakan bagian dari skenario intelijen asing. Di dalam buku Konspirasi Soeharto–CIA: Penggulingan Soekarno 1965-1967, Prof Peter Dale Scott menyebutkan, jatuhnya Soekarno akibat G30S 1965, buah permainan kotor Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto, agan intelijen AS CIA dan agen intelijen Inggris M-16.

Soebandrio dalam bukunya berjudul Yang Saya Alami Peristiwa G30S (Sebelum, Saat Meletus dan Sesudahnya), 2006, menyebutkan Soekarno tidak terlibat PKI.

Tapi, Amerika Serikat tidak pernah menyukai Soekarno karena sebagai pemimpin negara yang relatif baru lahir, ia berani menetapkan kebijakan “Berdiri di Kaki Sendiri”.

Kerja keras dan nasionalisme tinggi, kata Soekarno, adalah kunci utama kemajuan suatu bangsa.

Soekarno sangat tidak suka langkah negara-negara Barat yang dimotori AS yang ingin menguasai sumber daya alam negara berkembang, termasuk di Indonesia, melalui berbagai cara yang kotor, seperti terlalu jauh mencampuri urusan politik di dalam negeri. Cara-cara AS dan sekutunya, diilustrasikan Soekarno sebagai bentuk kesombongan “imperialisme gaya baru”.

John Roosa (1998) menulis, tahun 1963-1965, Soekarno masuk daftar musuh nomor satu AS di dunia, dalam kategori kepala negara.

Peter Dale Scott dalam buku berjudul asli The United States and the Overhrow of Soekarno, 1965-1967, menyebut ada tiga tahapan penggulingan Presiden Soekarno dalam upaya melumpuhkan kekuatan PKI di Indonesia. Pertama, pengondisian G30S 1965 yang dimotori Mayjen TNI Soeharto dengan menuding PKI sebagai otaknya.

Kedua, pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI, termasuk pembantaian sadis di Bali periode 1965-1969. Ketiga, mengikis habis pendukung Soekarno secara masif, termasuk melarang ajaran Soekarno.

Tindakan mengkriminalkan Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja adalah bagian dari itu. Sutedja ditunjuk Soekarno menjadi gubernur pertama Bali pada tahun 1950, di usia 27 tahun. Ia menjabat untuk dua periode.

Sutedja dikenal sangat dekat dengan Soekarno. Demikian pula, anak-anak Sutedja memiliki hubungan pertemanan yang sangat baik dengan anak-anak Soekarno, terutama dengan Megawati Soekarnoputri.

Ida Ayu Nyoman Rai, ibu kandung Soekarno, asli Bali. Ayah kandung Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, mempersunting Ida Ayu Nyoman Rai sebagai istri, seorang keturunan bangsawan Bali, ketika mengajar di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Provinsi Bali.

Setelah insiden G30S 1965 di Jakarta, Sutedja berusaha bersikap netral, karena ingin merangkul semua pihak. Namun justru sikap ini membuat nasib Sutedja tidak jelas sampai sekarang.

Salah satu anak kandungnya berkisah, pada 3 Desember 1965, Sutedja dipanggil Soekarno ke Jakarta karena Puri Negara, tempat tinggal Sutedja dirusak sejumlah orang tidak dikenal. Selama di Jakarta, Sutedja menginap di Kompleks Senayan No 261/262.

Pada 29 Juli 1966, pukul 09.00 WIB, Sutedja dijemput empat anggota TNI AD dan dibawa ke Markas Staf Komando Garnizun di Merdeka Barat, Jakarta, dengan menggunakan mobil Nissan. Semenjak itulah nasib Sutedja tidak diketahui.

Upaya pencarian Sutedja oleh pihak keluarga akhirnya dihentikan setelah 40 tahun dengan acara adat Bali, upacara pelebon, pada 23 Juli 2006. Upacara pelebon, artinya seseorang yang terus-menerus dicari, tapi tetap saja tidak ditemukan, sehingga dianggap betul-betul sudah meninggal dunia.

 

Kasimo Pahlawan Nasional

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/kasimo-pahlawan-nasional/

07.11.2011 14:39

Kasimo Pahlawan Nasional

Penulis : Aju

Jakarta –  Kementerian Sosial pada tahun 2011 ini tidak mengusulkan nama Soeharto (mantan presiden) sebagai pahlawan nasional, karena sebelumnya, tahun 2010 Soeharto sudah diusulkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional meskipun tidak disetujui.

Total nama yang diusulkan menerima gelar pahlawan nasional sebanyak 12 orang. Namun hingga berita ini diturunkan, kepastian nama yang akhirnya terpilih masih menunggu dari Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan. Penganugerahan akan diberikan Selasa (8/11) esok.

Demikian penjelasan Direktur Keperintisan Kepahlawanan dan Kesetiakawanan Sosial, Kementerian Sosial, Hartati Solehah, kepada SH, Senin (7/11). Ia belum bersedia menyebutkan 12 nama itu, dengan alasan Kemensos hanya mengajukan usulan kepada presiden yang kemudian dibahas oleh Dewan Gelar dan Tanda Kehormatan.

Sementara menurut informasi yang diterima SH, Ignatius Joseph (IJ) Kasimo Hendrowahyono termasuk yang terpilih sebagai pahlawan nasional. Selain itu, ada nama Buya Hamka dan Syarifudin Prawira. Namun tidak terdapat nama mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Penghargaan kepada IJ Kasimo diberikan mengingat jada Kasimo bagi Indonesia, termasuk ketika ikut berjuang merebut Irian Barat. Bahkan Senin (7/11) siang ini keluarga Kasimo sedang mengikuti gladi bersih di Istana Kepresidenan dalam rangka penerimaan gelar pahlawan nasional tersebut pada Selasa (8/11) esok.

Hermawi Taslim, tim sosialisasi IJ Kasimo menjadi pahlawan nasional, menjelaskan hal itu kepada SH, setelah ia mendapat kabar tersebut dari Sekretariat Negara. “IJ Kasimo memang layak jadi pahlawan nasional karena komitmen nasionalismenya tak diragukan dan berada di barisan terdepan ketika melawan PKI pada saat Indonesia berada di masa sulit menjelang tahun 1965,” ungkapnya.

Kasimo adalah salah seorang pelopor kemerdekaan Indonesia dan merupakan salah seorang pendiri Partai Katolik Indonesia. Selain itu, ia pernah menjadi beberapa menteri setelah Indonesia merdeka.

Kasimo juga memberi teladan bahwa berpolitik itu adalah pengorbanan tanpa pamrih dan memakai  prinsip yang harus dipegang teguh.

Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa Kasimo merupakan salah satu pendiri Partai Katholiek Djawi yang lalu berubah nama menjadi Perkoempoelan Politiek Katholiek di Djawa, lalu menjadi Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI). Pada tahun 1949 Kasimo menjadi Ketua Umum PPKI. Ia juga ikut menandatangani petisi Soetardjo yang menginginkan kemerdekaan Hindia-Belanda.

Pada masa kemerdekaan awal, PPKI yang dilarang oleh Jepang dihidupkan kembali atas gagasan Kasimo dan berubah nama menjadi Partai Katolik Republik Indonesia. Antara tahun 1947-1949 ia menjadi Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II.

Kemudian dalam kabinet peralihan atau Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia menjabat sebagai menteri. Kasimo pun pernah menjadi anggota Delegasi Perundingan Republik Indonesia.

Pada masa Agresi Militer II (Politionele Actie) ia bersama menteri lainnya yang tidak dikurung Belanda, bergerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lalu ketika kembali ke Yogyakarta Kasimo memprakarsai kerja sama seluruh partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi Partai Katolik.

Selain ikut berjuang merebut Irian Barat, Kasimo juga menyatakan pendiriannya untuk menolak gagasan Nasakom yang ditawarkan Bung Karno.

Kasimo pun menolak Kabinet yang diprakarsai Soekarno yang terdiri dari empat partai pemenang pemilu 1955 yaitu PNI, Masyumi, NU dan PKI. Kala itu Masyumi dan Partai Katolik Indonesia menolak bekerja sama dengan PKI di kabinet. Kemudian pada masa Orde Baru, Kasimo diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Kasimo lahir di Yogyakarta tahun 1900 dan meninggal 1 Agustus 1986, dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Merupakan anak kedua dari sebelas bersaudara. Orangtuanya adalah prajurit Keraton Yogyakarta dan tokoh yang memperjuangkan hak-hak anak jajahan, sehingga Kasimo dididik sesuai dengan tradisi keraton. (Wahyu Dramastuti)

Keputusan Prambanan

Keputusan Prambanan

HAM Nusantara <hamnusantara@telkom.net>, Tuesday, 8 November 2011 7:33 PM

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bulan November merupakan bulan bersejarah bagi Rakyat Indonesia. Antara lain pemberontakan yang dilakukan oleh Rakyat Indonesia pada tahun 1926 melawan  Pemerintah Kolonial Belanda. Untuk memperingati hari bersejarah tersebut, akan saya hadirkan beberapa tulisan yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Tuliusan-tulisan ini dikutip dari buku “Gelora Api 26”.
Salam: Chalik Hamid.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

 

 

Kata Pengantar:

 

 

Keputusan Prambanan

Pengantar buku kumpulan cerpen dan puisi Gelora Api 26  karya Chalik Hamid (ed.)
Oleh Asep Sambodja
Pada 25 Desember 1925, bertepatan dengan hari Natal, para petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pertemuan kilat di Prambanan, Yogyakarta. Dalam pertemuan yang dipimpin Sardjono itu dihasilkan sebuah keputusan yang dikenal sebagai Keputusan Prambanan. Bunyi dari keputusan itu adalah, “Perlunya mengadakan aksi bersama, mulai dengan pemogokan-pemogokan dan disambung dengan aksi senjata. Kaum tani supaya dipersenjatai dan serdadu-serdadu harus ditarik dalam pemberontakan ini.” (Soe Hok Gie, 2005).
            Sardjono yang mantan pimpinan Sarekat Islam (SI) Sukabumi ini berhasil menelurkan suatu keputusan yang maha penting di saat petinggi-petinggi PKI seperti Semaoen, Tan Malaka, Darsono, Ali Archam, Alimin Prawirodirdjo, Musso, Haji Misbach, dan Mas Marco Kartodikromo berada di daerah pembuangan dan atau berada dalam posisi yang sewaktu-waktu bisa diciduk dan dipenjara oleh kolonial Belanda. Intinya, keputusan rapat gelap di Prambanan itu adalah mengadakan suatu pemberontakan terhadap Belanda yang dijadwalkan pada 18 Juni 1926. Namun, karena berbagai alasan, pemberontakan itu baru meledak pada 12 November 1926 (Williams, 2003).
            Pemberontakan terjadi secara sporadis di beberapa kota, seperti Jakarta, Solo, Boyolali, Tasikmalaya, Kediri, Pekalongan, Ciamis, Banyumas, Sawahlunto, Padang Panjang, Padang Sibusuk, Silungkang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan yang paling dahsyat terjadi di Banten. Yang menjadi target utama pemberontakan tersebut adalah para priyayi yang menjadi kaki tangan Belanda dalam menindas rakyat. Menurut Michael C. Williams (2003), Banten merupakan salah satu pusat utama pemberontakan. Dari 13.000 tahanan yang ditangkap pascaperistiwa 1926 itu, sebanyak 1.300 orang (10%) di antaranya berasal dari Banten.
            Kenapa Banten begitu bergolak, padahal PKI Banten merupakan cabang ke-37 (terakhir) yang baru dibentuk Comite Central PKI? Kenapa pula banyak warga Banten yang berbondong-bondong masuk PKI? Gubernur Jawa Barat W.P. Hillen melaporkan bahwa jumlah anggota PKI Banten telah mengalami kemajuan yang dramatis hanya dalam tempo tiga bulan. Dari yang semula 1.200 orang pada November 1925 menjadi 12.000 orang (termasuk 500 perempuan) pada Februari 1926 (Williams, 2003: 40).
            Dalam merekrut anggotanya, PKI Banten terlebih dahulu merekrut ulama aktivis SI yang pro-PKI dan jawara (bandit lokal) yang selalu tidak menaati peraturan yang dikeluarkan pemerintah kolonial. Dengan melibatkan ulama yang dihormati warga dan jawara yang ditakuti warga itulah jumlah anggota PKI Banten meningkat tajam. Selain itu, aktivis PKI di lapangan juga menjanjikan pembebasan pajak kepada para buruh dan petani jika mereka berhasil mengenyahkan imperialis Belanda. Residen De Vries (dalam Williams, 2003) sendiri mengakui bahwa pajak merupakan persoalan utama yang sangat menggelisahkan rakyat banyak, termasuk warga Banten.
            Banten begitu antusias menyambut Keputusan Prambanan karena petani-petani Banten sudah memiliki pengalaman memberontak pada 1888 yang dipimpin Haji Wasid. Hanya saja, alasan pemberontakannya berbeda. Pemberontakan 1926 didorong oleh cita-cita ingin merdeka (meskipun belum terumuskan dengan baik), sementara pemberontakan 1888 disebabkan pejabat-pejabat pemerintah kolonial di Cilegon mengeluarkan sirkuler (surat edaran) kepada bawahannya untuk melarang pembacaan shalawat Nabi dan doa-doa lainnya secara keras-keras di masjid. Pemerintah kolonial juga menghancurkan menara masjid Cilegon dengan alasan telah terlalu tua. Hal-hal yang dianggap sebagai penghinaan ini dijawab oleh rakyat banyak dalam bentuk pemberontakan yang bertujuan lebih luas lagi, yaitu mengenyahkan kekuasaan Belanda dari daerah itu (Noer, 1996: 25).
            Dalam pemberontakan PKI Banten yang terjadi pada 12 November 1926 hingga beberapa hari kemudian itu, hanya satu orang Belanda yang dibunuh, yakni Benjamin, seorang pegawai kereta api di Menes, Banten. Yang lainnya adalah para Wedana, Asisten Wedana, dan polisi. Sedangkan di pihak pejuang Banten yang ditangkap sebanyak 1.300 orang (Williams, 2003). Ricklefs mencatat bahwa secara keseluruhan, akibat pemberontakan 1926-1927 yang terjadi di berbagai kota di Indonesia itu adalah 13.000 orang ditangkap, beberapa orang ditembak, 4.500 orang dijebloskan ke penjara, dan sebanyak 1.308 orang dikirim ke kamp penjara yang terkenal mengerikan di Boven Digul, Irian (Ricklefs, 2005). Di Banten sendiri, 4 orang divonis mati, 9 orang divonis seumur hidup, dan 99 orang dibuang ke Boven Digul, termasuk para ulama PKI Banten, seperti Tubagus K.H. Achmad Chatib, Tubagus H. Abdulhamid, K.H. Mohammad Gozali, Tubagus K.H. Abdul Hadi, Puradisastra (kakak Sukaesih), Alirachman (Aliarcham), dan Tubagus Hilman.
            Kenapa pemberontakan itu gagal? Ada beberapa alasan yang menyebabkan gagalnya pemberontakan di Jawa pada 1926 dan Sumatera Barat pada awal 1927. Pertama, tidak ada kesepakatan bulat di antara pimpinan PKI mengenai Keputusan Prambanan itu. Tan Malaka adalah salah satu pimpinan PKI yang menolak keputusan itu, karena menurutnya pemberontakan itu masih sangat prematur (Zara, 2007). Lebih lanjut, Tan Malaka yang juga menjadi Wakil Komunis Internasional (Komintern) untuk Asia Tenggara memberikan alasan penolakannya; yakni a. Situasi revolusioner belum ada, b. PKI belum cukup berdisiplin, c. Seluruh rakyat belum berada di bawah PKI, d. Tuntutan atau semboyan konkret belum dipikirkan, e. Imperialisme internasional bersekutu melawan komunisme (Soe Hok Gie, 2005). Penolakan Tan Malaka ini didukung oleh Jamaludin Tamin, Subakat, dan Suprodjo. Grup Tan Malaka ini dicap oleh anggota komunis lainnya sebagai kaum Trotsky, yakni kaum yang suka memecah belah partai.
            Kedua, banyaknya resersir (detektif/mata-mata Belanda) atau pengkhianat. Orang-orang yang dicap sebagai pengkhianat bisa berasal dari lingkungan partai (PKI) sendiri maupun orang-orang dari kelompok Sarekat Hijau atau Sarekat Idjo. Dalam peristiwa Banten, orang yang paling dikenal sebagai pengkhianat adalah R. Oesadiningrat, mantan pegawai Stasiun Kereta Api Tanah Abang yang juga kerabat Bupati Serang, Achmad Djajadiningrat. Oesadiningrat inilah yang pada mulanya memprovokasi para ulama dan petani untuk bergabung ke dalam PKI. Tapi, menjelang pemberontakan 1926 meletus, Oesadiningratlah yang menunjukkan kepada Belanda ulama-ulama yang terlibat dalam pemberontakan itu. Bahkan sebelum pemberontakan terjadi, penangkapan terhadap ulama-ulama PKI sudah dilakukan secara intensif. Ini pula yang menjadi titik kelemahan pemberontakan Banten 1926. Ketika para pimpinan PKI dan ulama pro-PKI ditangkap, yang memimpin pemberontakan adalah para jawara. Sementara orang-orang Sarekat Hijau memang antek-antek Belanda tulen. Yang dirugikan dengan kehadirannya tidak saja pejuang-pejuang PKI, melainkan juga pejuang-pejuang SI nasionalis. Organisasi Sarekat Hijau ini kelihatannya bersifat Islam, kostumnya sangat islami, tetapi sebenarnya didirikan oleh pihak Belanda dengan maksud mengacaukan kalangan Islam sendiri (Noer, 1996).
            Ketiga, sebelum pemberontakan terjadi, para pimpinan PKI yang juga ulama-ulama terkenal di Banten, seperti Kyai Achmad Chatib, Kyai Alipan, dan Tubagus Hilman sudah ditangkap Belanda. Senjata-senjata yang mereka beli dengan cara swadaya masyarakat juga berhasil disita Belanda. Dengan demikian, rakyat Banten berjuang dengan persenjataan yang minim dan tanpa komando. Sementara musuh yang dihadapi memiliki persenjataan modern dan sangat terlatih.
            Meskipun demikian, semangat perjuangan yang dikobarkan PKI pada 1925-1926 itu merupakan turning point dalam sejarah bangsa Indonesia. Semangat revolusioner ini baru mendapatkan hasilnya yang konkret 20 tahun kemudian, yakni pada 17 Agustus 1945.
            Dalam buku Gelora Api 26 ini para sastrawan Lekra merekam peristiwa pemberontakan 1926 itu dalam karya berupa cerpen dan puisi. Agam Wispi dan S. Anantaguna yang kita kenal sebagai penyair kuat Lekra, dalam buku ini menulis cerpen. Demikian pula dengan Sugiarti Siswadi, T. Iskandar A.S., dan Zubir A.A. yang dikenal sebagai cerpenis papan atas Lekra. Mereka pun menyumbangkan cerpen-cerpen mereka. Sementara penyair Chalik Hamid dan Nurdiana menyumbangkan puisi. Selain nama-nama yang telah disebut, sastrawan lain yang cerpennya dimuat dalam buku ini adalah A. Kembara (yang juga menulis puisi) dan A. Awiyadi. Dan penyair yang puisinya dimuat dalam buku ini adalah Alifdal, Anantya, Mahyuddin, Mawie Anta Jonie dan M.D. Ani.
            Kalau kita lihat dari perspektif sekarang, akan timbul sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: kekuatan apakah yang diberikan para sastrawan itu melalui antologi cerpen dan puisi Gelora Api 26 itu? Saya melihatnya sebagai sumbangsih sastrawan Lekra bagi sejarah bangsa dan negaranya. Dalam arti, sastrawan membaca peristiwa bersejarah itu dengan perspektif yang unik, yang otomatis memperkaya sejarah kebangsaan yang sudah ada. Kalau kita baca buku teks sejarah, maka yang kita dapatkan adalah data-data yang diperoleh dari arsip, artefak, dan berbagai peninggalan sejarah lainnya. Sementara sastrawan memberikan roh atau jiwa pada setiap peristiwa sejarah yang diangkat dalam karya sastra. Dalam hal ini, sastrawan mencoba masuk, merasuk, dan memerankan salah satu tokoh atau pelaku sejarah dan mencoba menghidupkannya dengan perasaan dan pikiran imajinatif pengarangnya. Ia pun dituntut untuk menghidupkan tokoh-tokoh lain sezamannya demi membangun struktur cerita. Namun, sastrawan postmodern biasanya tidak mau takluk dengan konteks zaman seperti itu. Ia bisa mencipta secara arbitrer.
            Saya sependapat dengan Bakri Siregar yang mengkritik cerpen “Rapat yang Penghabisan” karya Agam Wispi. Salah satu keunggulan Agam Wispi dalam cerpen ini adalah dimunculkannya tokoh seorang perempuan cantik bernama Upik Bisu. Ia cantik, tapi bisu. Dengan demikian Agam Wispi tidak saja menceritakan peristiwa pemberontakan yang terjadi di Sumatera pada awal 1927 saja, melainkan dalam proses kreatifnya ia menciptakan lahan penggarapan baru, tantangan baru, dengan menciptakan tokoh bisu dalam cerpennya. Apakah tokoh bisu itu benar-benar ada dalam kenyataan saat itu atau tidak, saya rasa pembaca tidak akan mempersoalkannya. Yang menarik adalah kemampuan Agam Wispi memainkan tokoh perempuan bisu itu dalam situasi yang penuh rahasia, menjelang rapat gelap yang hanya dihadiri oleh empat pentolan pergerakan. Dialog antara Udin, sang tokoh utama, dengan Upik Bisu dilakukan dengan isyarat-isyarat yang bisa dipahami dengan bahasa kemanusiaan. Saya sangat mengagumi kelihaian Agam Wispi sebagai seorang cerpenis sebagaimana saya mengagumi puisi-puisinya. Hanya saja, Bakri Siregar mengkritik kenapa tokoh Upik Bisu itu hanya diberi porsi yang sangat minim (Yuliantri, 2008). Ini bisa berarti bahwa Agam Wispi telah memikat hati pembacanya melalui tokoh perempuan bisu itu, sehingga membuat penasaran pembacanya.
            Cerpen lainnya yang menarik adalah “Sel D” karya S. Anantaguna. Sel D adalah sel terakhir bagi “inlander” yang memberontak sebelum dibuang ke Boven Digul yang sarat dengan berbagai sumber penyakit. Ratmono, tokoh utama dalam cerpen itu, yang bekerja di lembaga “Drukkerij de Boer” di bawah pimpinan De Vries, melakukan pergerakan bawah tanah melawan kompeni. Informasi-informasi penting seperti hasil rapat gelap di Prambanan yang dikenal sebagai Keputusan Prambanan disampaikan kepada rekan-rekan sesama aktivis.
“Yah, meskipun semula kita belum menyetujui pemberontakan, tetapi Keputusan Prambanan, kata Pak Abdul Mutalib,  bahwa rakyat sudah marah, karena pemerintah Belanda makin menggila. Penderitaan, tekanan, dan kekangan sudah tidak tertahankan lagi, sehingga meletus juga pemberontakan. Dalam keadaan seperti ini, jika partai komunis benar-benar mengabdi kepada rakyat, harus tampil ke depan. Partai kita adalah partainya kaum buruh dan kaum tani. Jika massa menghendaki merah, tetapi kita menginginkan kuning, berarti partai kita mengkhianati massa. Partai kita berdiri karena dikehendaki oleh massa, oleh kaum proletar dan kaum tani. Partai kita hidup dan matinya pun tergantung mereka. Apapun kesulitannya, risikonya, yang berontak harus dipimpin. Kita harus bersama-sama mereka, mati atau hidup’’. (“Sel D”).
            Aksi yang dilakukan Ratmono itu diketahui oleh resersir (mata-mata Belanda). Ia pun ditangkap dan disiksa. Dan, karena ia tetap melawan saat diinterogasi, ia dimasukkan ke sel D. Cerpen ini sangat bagus dalam menggambarkan keteguhan seorang komunis. Ketetapan hatinya begitu kuat, dan keyakinannya begitu tinggi, sehingga seberat apapun siksaan yang dialaminya, dijalaninya dengan penuh ketabahan. Tokoh Abdul Mutalib, yang namanya sama seperti nama kakek Nabi Muhammad, yang ada dalam cerpen tersebut merepresentasikan kalangan Islam kiri. Kekuatan cerpen S. Anantaguna ini mengilhami A. Awiyadi yang mengangkat cerita yang sama dengan judul “Kesetiaan Seorang Komunis”.
            Suasana perjuangan benar-benar tampak dan tampil dalam cerpen-cerpen karya sastrawan Lekra ini. Adanya rapat gelap, kekhawatiran dikuntit resersir atau mata-mata atau intel, pengkhianatan yang dilakukan teman maupun bangsa sendiri, sampai keteguhan menghadapi hukuman yang disertai siksaan terdapat dalam cerpen “Sabotase” karya Zubir A.A., “Sukaesih” karya Sugiarti Siswadi, “Dari Daerah Pembuangan” karya T. Iskandar A.S., dan “Kakek” karya A. Kembara. Perspektif yang digunakan para cerpenis itu adalah perspektif para pejuang yang berada di garis depan, bukan perspektif para priyayi yang duduk di kursi kekuasaan sembari menikmati kesengsaraan bangsanya. Bukan pula dari perspekif para pengkhianat seperti orang-orang Sarekat Hijau yang dibentuk Belanda. Tidak juga dari perspektif kolonial Belanda. Dengan demikian, atmosfir perjuangan sangat terasa dalam cerpen-cerpen tersebut. Perasaan geregetan karena ingin membunuh tentara Belanda, perasaan sakit karena dikhianati oleh teman sendiri, dan perasaan tak menentu saat melakukan rapat gelap dan hidup nomaden, semuanya hadir dan mengalir dalam karya-karya tersebut.
            Bagaimana dengan puisi? Genre ini menuntut kepekaan dan kelihaian penyair dalam membaca suatu peristiwa. Yang ditangkap penyair dari sebuah peristiwa adalah sesuatu yang inti dan hakiki. Karena itu, kekuatan penyair terletak pada pilihan kata yang mewakili sebuah peristiwa. Jika cerpenis mencoba mengangkat suatu peristiwa dengan mendeskripsikan sebuah konflik yang menjadi pusat narasi, maka penyair ditantang untuk memilih diksi yang tepat, sehingga sebisa mungkin sebuah kata bisa mewakili sebuah peristiwa. Atau, dalam satu kata terdapat seribu makna. Dalam hal ini, penyair Chalik Hamid membidik seorang tokoh PKI ternama saat itu, Ali Archam. Sebagai tokoh PKI, dia ditangkap Belanda dan dibuang ke Boven Digul dengan tuduhan menghasut pemogokan-pemogokan yang dilakukan para buruh. Yang membuat kawan-kawannya kagum adalah Ali Archam sama sekali tidak menyebutkan satu pun nama kawan seperjuangannya, meskipun untuk itu dia harus mendapatkan siksaan yang luar biasa beratnya. Ali Archam pun akhirnya mati di tanah pembuangan. Tapi, ia mati dengan rasa bangga. Berikut ini saya kutip puisi Chalik Hamid yang berjudul “Kepada Aliarcham” untuk memperlihatkan bahwa perjuangan yang dilakukan Ali Archam tidaklah sia-sia. Dan, penyair merekam dengan baik biografi pejuang kemerdekaan itu.
Kepada Aliarcham
1
di bawah kabut kemelaratan di kabupaten Pati
lahir seorang putra jantan di desa Asemlegi.
si putra jadi dewasa dipapah kasih bunda
lalu pemberontakan petani Rembang menggugah hatinya
internasionalisme membuka matanya
dan dimana-mana api menyala
pemberontakan tani melawan Belanda.
dan dia ucapkan selamat tinggal pada pesantren lama
pada saminisme yang menyedat dada.
2
hati meronta dan berlawan
karena beban berat tak tertahankan.
oih, betapa indahnya sorga kehidupan dalam perjuangan
di mana-mana rakyat bangkit berlawan
dengan senjata di tangan
tak takut pada tiang gantungan
tak peduli pada pembuangan
tak gentar maut mengancam.
alangkah teladan putra perkasa
dibusungkannya dada, ditegakkannya kepala
ditantangnya pemerintah kolonial Belanda.
3
Tanah Tinggi berpagarkan hutan belantara
pandangan tersuruk pada pohon-pohon raksasa
hidup terancam oleh binatang buas mencari mangsa.
dan kala malam menelan senja
udara dingin mendekap tubuh tersiksa
terasa dendam makin menyesak dada
terasa dendam makin menyala.
dalam pergulatan hidup dan derita
ia tunjukkan keteguhan jiwa:
“Suatu pemberontakan yang kalah
adalah tetap benar dan sah.
Kita terima pembuangan ini
sebagai risiko perjuangan yang kalah.
Tidak ada di antara kita yang salah,
karena kita berjuang melawan penjajah”. *)
dari pembaringan ditatapnya bintang
menahan perih tubuh telentang
betapa terasa nyeri oleh paru-paru yang berlobang.
Sungai Digul mengalir ke hilir
berpadu deru kapal dan air mendesir
di sini seorang patriot menghembuskan napas terakhir
namun ia adalah karang di tengah lautan
yang pantang tunduk kepada topan.
4
badai bisa mengamuk dan melanda
menerjang dan merusak segala
namun pahlawan tak bisa musnah
gugur dan jatuh bangkit kembali
setelah terpukul bangun kembali
karena ia adalah keharusan
yang lahir bersama zaman.
obor yang kau serahkan
terus kami nyalakan
dan akan kami persembahkan pada generasi kemudian
dari tangan ke tangan
dari hati ke hati
dan obor itu tak pernah mati.
*). Kata-kata Aliarcham yang diucapkan di hadapan kawan-kawan di pembuangan Tanah Tinggi, Papua.
            Puisi di atas merupakan balada seorang Ali Archam. Penyair mengutip kata-kata kunci yang diungkapkan Ali Archam sebelum kematiannya. Semangat yang melekat pada pernyataan Ali Archam itulah yang tengah diabadikan oleh seorang penyair Chalik Hamid. Penyair lainnya yang telah memiliki gaya yang khas adalah Nurdiana, nama pena Suar Suroso. Puisi-puisinya dalam Jelita Senandung Hidup memperlihatkan pengendapan peristiwa-peristiwa bersejarah yang telah dilaluinya. Gaya ucapnya yang khas itu pula yang digunakan Nurdiana dalam merefleksikan peristiwa pemberontakan PKI Banten pada 1926, suatu peristiwa yang sangat heroik. Berikut ini saya kutip puisi “November Bulan Historis” karya Nurdiana selengkapnya.

November Bulan Historis

12 November tahun dua enam,
memancar sinar dalam kelam,
khatulistiwa gempita meronta,
berlambang Palu Arit rakyat bangkit,
angkat senjata melawan Belanda,
yang telah menjajah tiga abad,
penguasa kalap bermata gelap,
membantai pejuang anti penjajah.
Korban pahlawan di medan juang,
dari Banten hingga Silungkang,
di ujung senapan dan tiang gantungan,
gugur Egom, Dirdja, dan Hasan,
serta Si Patai dan Si Manggulung,
berpencaran makam pahlawan,
di Digul Ali Archam terpendam dalam,
bersama banyak kawan seperjuangan,
ribuan lagi dipenjarakan,
sekeluarga bersama bocah,
dibuang ke Digul, Tanah Merah,
Ternate dan Nusa Kambangan.
Tak kunjung usai kisah sejarah,
tahanan Digul Tanah Merah,
disiksa malaria, ular, buaya,
banyak penyakit, kencing berdarah,
duka nestapa ciptaan penjajah,
Digul menjadi neraka dunia,
pejuang tertempa bagai baja,
teguh tak luntur cita-cita.
Pejuang tangguh tak tertundukkan,
jasmani disiksa rohani perkasa,
seperlima abad hidup didera,
tetap setia untuk merdeka,
yang sempat pulang kampung tercinta,
jadi saksi kekejaman penjajah.
Betapa banyak pejuang tumbang,
pemberontakan tahun dua enam,
bagaikan obor nyala cemerlang,
bak mercusuar di alam kelam.
 
Pemberontakan tahun dua enam,
Sangkakala revolusi Indonesia!
Sastra sejarah semacam ini sangat penting artinya bagi para sejarawan. Kalau ditanyakan apakah karya sastra bisa menjadi sumber sejarah, maka jawabannya sudah pasti: bisa. Sastrawan yang berpaham realisme sosialis pasti sangat paham apa arti karya sastra bagi manusia dan kemanusiaan, karena sastrawan yang tergabung dalam Lekra sangat menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari suatu gerakan penyadaran rakyat, gerakan pencerdasan rakyat (Setiawan, 2003).
Karya sastra yang mereka ciptakan bukanlah hasil dari igauan atau lamunan semata, bukan pula hasil dari rekayasa angan-angan. Dalam proses kreatifnya, mereka sangat meyakini bahwa mencipta karya sastra itu yang penting adalah isinya. Jangan sampai mencipta karya sastra hanya unggul dalam bentuk, namun isinya hanya pepesan kosong. Rendra mengistilahkan penyair-penyair salon untuk mereka yang berkarya semata-mata demi keindahan kata-kata hampa. Apa yang dirasakan rakyat, apa yang dipikirkan rakyat, bahkan apa yang digelisahkan rakyat seyogyanya tertangkap dengan baik oleh para sastrawan. Dan segala perasaan, pikiran, dan kegelisahan itu kemudian dituangkan dalam karya sastra, baik prosa maupun puisi, setelah mengalami internalisasi atau pengolahan dan pengendapan dalam diri masing-masing sastrawan. Dengan demikian, bentuk artistik karya sastra akan melekat dan muncul dengan sendirinya pada kekhasan masing-masing sastrawan dalam berekspresi. Isi yang terdapat dalam karya sastra yang diekspresikan secara jujur oleh para sastrawan itulah yang dapat menjadi pintu masuk bagi para sejarawan menguak sejarah di masa silam.
Citayam, 3 Januari 2010
Bibliografi
Hamid, Chalik. 2008. Mawar Merah. Bandung: Ultimus.
Noer, Deliar. 1996. Gerakan Modern Islam di Indonesia: 1900-1942. Jakarta: LP3ES.
Nurdiana. 2008. Jelita Senandung Hidup. Bandung: Ultimus.
Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.
Setiawan, Hersri. 2003. Aku Eks Tapol. Yogyakarta: Galang Press.
Soe Hok Gie. 2005. Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta: Bentang.
Williams, Michael C. 2003. Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di
Banten. Yogyakarta: Syarikat.
Yuliantri, Rhoma Dwi Aria dan Muhidin M. Dahlan. 2008. Lekra Tak Membakar Buku.
Yogyakarta: Merakesumba.
Zara, M. Yuanda. 2007. Kematian Misterius Para Pembaru Indonesia: Orang-orang
Cerdas yang Mati di Tangan Bangsanya Sendiri. Yogyakarta: Pinus.

Mengenang Peristiwa 1965: Kebiadaban Rezim Suharto di Sumbar dan Riau

Mengenang Peristiwa 1965:

Kebiadaban Rezim Suharto di Sumbar dan Riau


YT.Taher

寄件者: Y.T.Taher
傳送日期: 2011年10月25日 6:41
主旨: Re: Mengenang Peristiwa 1965  

PROPAGANDA bohong, fitnah dan rekayasa yang dilakukan oleh orang-orangnya Suharto melalui media massa, mulai 1 Oktober 1965, segera memicu kemarahan dan kebencian massa organisasi-organisasi yang sebelumnya memilih politik yang berseberangan dengan PKI dan ormas-ormas kiri pada umumnya. Terutama mereka yang mempunyai kepentingan yang berbeda, seperti dalam pelaksanaan land reform pada awal tahun 60-an. PKI mendukung land reform tapi banyak kekuatan politik yang menentang reformasi pertanahan pada waktu itu. Ini masih ditambah dengan penyebaran isu-isu bohong bahwa PKI sudah lama berencana mengambil alih pemerintahan yang sah dan membuat daftar nama ulama dan tokoh masyarakat yang akan dibunuh setelah mereka menang. Situasi panas ini dimanfatkan sebaik-baiknya oleh golongan keagamaan, terutama NU, Muhammadiyah, dan Partai Katolik untuk membentuk Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu), di bawah pimpinan Subchan Z.E. (NU) dan Harry
Tjan Silalahi (Katolik), yang melalui Adam Malik mendapat curahan Rp50 juta (sekitar US$ 1,2 juta, menurut tukaran saat itu-pen) dari Kedubes AS di Jakarta untuk mengganyang PKI. Partai-partai lain, berikut ormas-ormas yang selama ini bersaing dengan PKI untuk memperoleh dukungan massa, seperti PSII, Partai Kristen Indonesia, bahkan PNI yang menjadi tumpuan Soekarno, bergabung dalam aksi pengganyangan ini, secara langsung maupun tidak. KAP Gestapu mengadakan demonstrasi-demonstrasi panas menghujat dan menuntut pembubaran PKI.Tidak banyak orang  yang tahu bahwa organisasi utama penggalang aksi-aksi ini, termasuk KAMI  (Komando Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI dll. sebenarnya dibentuk oleh tentara melalui tangan Menteri Pendidikan Brigjen. Sjarif Thajeb. Para demonstran menghancurkan Universitas Res Publica (sekarang Universitas Trisakti) dan rumah-rumah para pimpinan PKI di Jakarta, menuntut pembersihan kabinet, parlemen, MPRS, dan semua
lembaga-lembaga negara dari unsur-unsur komunis dan simpatisannya. NU juga mengeluarkan tuntutan pembubaran PKI pada tanggal 5 Oktober 65. Mereka seperti kerasukan dan seperti kehilangan keseimbangannya, dan menulis, menempelkan slogan-slogan di tembok, memekik dan meneriakkan yel-yel kemarahan.

Dapat juga diceritakan bahwa 500 demonstran membakar Universitas Res Publika pada 14 Oktober 65, dan menganiaya 100 mahasiswa yang menjaga gedung yang ditutup itu, di mana 40 mahasiswa yang menjaga Res Publika kemudian ditangkap oleh para demonstran.
Kedutaan RRT tidak luput dari amukan demonstran. Hubungan negara tirai bambu dengan RI yang tadinya begitu mesra, berubah menjadi musuh mengerikan. Para demonstran menjarah harta milik etnis Tionghoa, membakar rumah dan gedung-gedung mereka, memerkosa perempuan dan membunuh orang-orang Tionghoa dengan tuduhan komunis. Hubungan diplomatik diputuskan, suatu hal yang sangat didambakan AS untuk membendung pengaruh RRT. (MASHI-hal. 87)

DALAM situasi yang demikian, Marshall Green, Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta pada tanggal 5 Oktober 1965, mengirim telegram Nomor 868 yang ditujukan kepada Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, menyatakan:
“Inilah saat yang tepat untuk mengenyahkan komunisme dari Indonesia. Namun bantuan harus secara diam-diam”- “Army now has opportunity to move against PKI if it act quickly……Momentum is now at peak with discovery of bodies of murdered army leaders. In short, it’s now or never…”
Selanjutnya, Green memberikan beberapa panduan tentang sikap AS/ CIA : *Hindari keterlibatan yang terang-terangan karena seiring berkembangnya perebutan kekuasaan. *Secara sembunyi, sampaikan dengan jelas kepada tokoh-tokoh kunci di ABRI seperti Nasution dan Soeharto tentang keinginan kita membantu apa yang kita bisa, sementara di saat bersamaan sampaikan kepada mereka asumsi kita bahwa kita sebaiknya menjaga agar setiap bentuk keterlibatan atau campur tangan kita tidak terlihat. Pertahankan dan jika mungkin perluas kontak kita dengan militer. *Sebarkan berita mengenai kesalahan PKI , pengkhianatan dan kebrutalannya (prioritas ini mungkin paling membutuhkan bantuan kita segera, yang dapat kita berikan kepada ABRI jika kita menemukan jalan untuk melakukannya tanpa diketahui bahwa hal itu merupakan usaha AS)… Spread the story of PKI’s guilt, treachery dan brutality (this priority effort is perhaps most—needed immediate assistance we can give army if
we can find way to do it without identifying it as solely or largely US effort).”
Rita Uli Hutapea, Misteri CIA di Seputar G30S, detik.com, 08/8/2001.

Ternyata, “panduan” Duta Besar AS/ CIA , Marshall Green itu, terutama perihal menyebarluaskan “kesalahan PKI , pengkhianatan dan kebrutalannya”, serta penghancurannya, menjadi garis utama para perwira Angkatan Darat, yang kemudian menjadi panutan dan policy Angkatan Darat dan pemerintahan militer. Hal ini terbukti, sebagaimana yang dikatakan Duta Besar Green dalam telegramnya “prioritas ini membutuhkan bantuan kita segera … tanpa diketahui bahwa hal itu merupakan usaha AS … secara sembunyi sampaikan dengan jelas kepada tokoh-tokoh kunci di ABRI seperti Nasution dan Soeharto tentang keinginan kita … seiring dengan berkembangnya perebutan kekuasa-an….”
Pada tanggal 5 Oktober itu juga, Phoenix Park Singapore (Kedutaan Inggris) mengirim telegram ke Departemen Luar Negeri di London, yang berbunyi: “….we should have no hesitation in doing what we can surreptitiously to blacken the PKI in the eyes of the people of Indonesia.”
Dengan nada dan irama yang sama, hal tersebut diperjelas dalam rapat para jenderal militer di Kostrad pada tanggal 5 Oktober 1965 yang dipimpin oleh Jenderal Suharto dan Jenderal A.H. Nasution, yang menghasilkan panduan perihal pelaksanaan dari rencana penghancuran PKI. (Robinson, p.283, n.25). Tanggung jawab atas rencana dan segala cara-cara pelaksanaan operasi militer ini diakui dengan bangga oleh Jenderal Suharto, melalui pernyataan yang tertulis dalam bukunya Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 1989, halaman 136, yang berbunyi:“Sejak menyaksikan … apa yang didapat di Lubang Buaya, kegiatan saya yang utama adalah menghancurkan PKI , menumpas perlawanan mereka di mana-mana, di ibukota, di daerah-daerah, dan di pegunungan tempat pelarian mereka….”
Semenjak “ucapan” Suharto, Pangkostrad yang mengangkat dirinya menjadi Pangad, dan bertekad untuk menghancurkan dan menumpas PKI , yang menjadi panutan dan policy militer (penguasa/pemerintah), maka pasukan-pasukan Angkatan Darat, terutama pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, menggalang milisi-milisi terutama dari organisasi-organisasi keagamaan seperti Banser NU, Pemuda Muhammadiyah, untuk memusnahkan anggota, simpatisan, bahkan anggota keluarga yang dianggap berafiliasi dengan PKI . Para pemuda dipersenjatai, dilengkapi dengan alat komunikasi dan transportasi, dan didorong untuk melakukan tindakan-tindakan keji dan brutal terhadap orang-orang yang masih belum jelas apa salahnya, dan tidak tahu apa yang terjadi di Jakarta. Banyak korban jatuh justru setelah mereka diwajibkan melapor dan ‘diamankan’ di kantor-kantor polisi, militer atau institusi-institusi negara lainnya, seperti
kecamatan atau kelurahan dan kemudian, tanpa diadili, dengan berbagai cara, dibunuh begitu saja. (MASHI-hal 88/89)

Jenderal Soemitro, Pangdam Brawijaya mengatakan bahwa “1 orang nyawa jenderal harus ditebus 100 ribu nyawa PKI.” Ia pun mengiringi pembantaian massal di berbagai wilayah di Indonesia. Dia pulalah yang memimpin penangkapan, penggorokan, penembakan ratusan massa sekaligus dan membuang mayat mereka ke dalam lubang yang digali oleh para korban itu sendiri. Diperkirakan 250.000 korban mati atau hilang di Jawa Timur. [Indymedia-jakarta] Mass Grave in Indonesia.

Bahkan pada akhir 1965, Jenderal Nasution dalam satu pidatonya mengatakan bahwa “nyawa seorang jenderal yang dibunuh, sama dengan nilai sejuta rakyat Indonesia”. (Ucapannya ini didengar oleh para tapol yang mengikuti siaran radio yang dipasang dengan speaker di gardu penjagaan RTM yang dikhususkan buat menahan 600-700 orang tapol semenjak Nopember 1965). Tidakkah ucapan Nasution ini adalah “perintah terselubung” kepada para pengikutnya untuk melakukan balas dendam? Kenyataannya, memang demikianlah yang terjadi!

Di Sumbar   “Kota Salido – Painan, dua kota kecil dari Kabupaten Pesisir Selatan, di Sumatra-Barat, yang mungkin sukar ditemukan di dalam peta. Ketika Rakyat Indonesia dikejutkan oleh Peristiwa 30 September`65 yang terjadi di Jakarta, tidak ada bentrokan, tidak ada pergaduhan dalam msyarakat Salido dan Painan, tidak ada apa yang dinamakan konflik horizontal. Semua hidup tenang rukun dan damai dan pemerintahan Kabupaten Pesisir Selatan juga berjalan dengan baik dan normal. Penduduk yang tertanya-tanya ingin tahu, menunggu berita Radio dari “Pusat” – demikian kebiasaan penduduk untuk menamakan Jakarta.

Penduduk menunggu Pidato Presiden Soekarno, menunggu kabar berita tentang apa sesungguhnya yang terjadi. Banyak rakyat, para ninik mamak dan orangtua duduk bersama di warung-warung kopi, bersenda, berkelakar, dengan rasa gembira dan persaudaraan tanpa ada rasa curiga antara satu dengan yang lain. Radio-radio di warung kopi mendendangkan lagu-lagu Minang Populer yang menjadi kesukaan penduduk, yang menggambarkan kerukunan dan keharmonisan penduduk Minangkabau. Memang sesungunyalah, keadaan Ranah Minang, persis seperti apa yang dilagukan itu! Rakyat Minangkabau merupakan penduduk yang elok, yang suka bergotong royong. Jika sakit sama-sama dirasa dan ditanggungkan. Begitu adat dan kebudayaan Minangkabau turun-temurun, dari generasi ke generasi. Pepatah Minangkabau mengatakan:  “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan” (tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan).

Namun, keadaan itu menjadi berobah, menjadi bertolak belakang dan berlawanan! Langit yang semula cerah dan indah, kini berobah menjadi gelap, diiringi awan hitam tebal serta badai dan petir yang mengharu-birukan “kampuang jo nagari” di Ranah Minang. Adat dan kebudayaan yang semula menjadi pegangan utama, menjadi terabaikan, ditolak kebelakang, dan digantikan dengan politik dan kekuasaan, yang dibarengi dengan kekejaman, kebrutalan dan kebiadaban yang merajalela.

Dalam menanti dan menunggu berita dari pusat, menunggu pidato dari Presiden mereka Bung Karno, rakyatyang dalam ketidak-tahuan, tiba-tiba saja dikejutkan oleh kehadiran Komandan Kodim Painan, Letkol. Purnomo Sipur, yang menteror masyarakat di kota Painan dan sekitarnya. Pasukan Kodim itu dengan kejam dan brutal melakukan penangkapan atas beratus-ratus pemuka masyarakat, rakyat dan ninik mamak di Pesisir Selatan Kerinci.

Beliau-beliau yang ditangkap itu, digiring seperti menggiring hewan ternak, dimasukkan ke dalam penjara-penjara dan digunduli. Sebagian disuntik oleh dokter, yang adalah seorang Wamilda (Wajib Militer Darurat) dan dimuat ke sebuah dump truk yang biasa digunakan buat mengangkut sampah, tanah atau pecahan batu, dan dibawa ke Bukit Pulai, sekitar 10 KM di luarkota Painan. Di sana, para pemuka rakyat yang dijubelkan dalam dump truk itu, dituangkan dari dump truk seperti menuangkan sampah. Dan manusia-manusia yang berjatuhan di belakang truk yang bak bagian depannya dinaikkan itu, atas perintah dan komando Letkol. Purnomo Sipur, diberondong dengan tembakan senjata api.

Jerit, pekik dan lolong manusia-manusia tak berdosa, menyebut Allah, menggema di Bukit Pulai pada tanggal 9 Nopember 1965 itu. Tubuh-tubuh korban yang secara paksa dihabisi nyawanya itu, bergelimpangan bermandi darah, diiringi dengan sorak-sorai dan tawa-ria serdadu-serdadu brutal dan biadab pengikut Jenderal Suharto, di bawah komando Letkol. Purnomo Sipur.

Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, tahun 1958, dikala pemberontakan PRRI yang ingin melepaskan daerah Sumbar dari NKRI dengan dukungan dan bantuan Imperialis AS, ribuan para tahanan dibunuh, diberondong dengan senapan mesin dan mayat-mayat yang bergelimpangan ditolak dengan bulldozer ke lobang yang telah dipersiapkan, disiram bensin dan dibakar kemudian ditimbun dan tanah diratakan dengan bulldozer seperti yang terjadi di Situjuh, Simun, Atar dan Gunung Sago dan tempat-tempat lain di Sumbar.

Setelah peristiwa itu, Ranah Minang yang baru saja beberapa tahun sembuh dari luka akibat peristiwa PRRI, terutama Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci, sekali lagi berobah warna! Penduduknya tidak lagi elok, tiada lagi persamaan dan persaudaraan. Tidak ada gotong-royong dan sakit sama dirasa. Semua punah! Yang ada hanya rasa curiga-mencurigai. Pihak-pihak yang seperti “anak harimau” yang dibesarkan oleh militer rezim Suharto, menjelajah “kampuang jo nagari” mencari orang-orang yang dituduh “ada indikasi”, terlibat langsung maupun tidak langsung dengan G30S yang terjadi jauh nun di Jakarta!

Rezim fasis Jenderal Suharto membangun semangat permusuhan di antara sesama penduduk suku Minangkabau. Antek-antek Jenderal Suharto, ABRI/Golkar dan segala bentuk Komando Aksi yang menjadi kekuatan dan sokoguru Orde Baru, memburu dan menghabisi orang-orang yang dituduh PKI atau yang di PKI-kan. Sakit hati dan dendam pribadi dengan mudah mengarah kepada pembunuhan! Manusia-manusia rezim Jenderal Suharto telah berobah menjadi serigala-serigala yang haus darah. Mereka tidak peduli dengan hukum agama, adat dan kemanusiaan. Bagi mereka, ikut apa yang difatwakan, bahwa darah komunis adalah halal hukumnya. Mereka mengingkari kemanusiaan orang komunis. Mereka mengingkari hukum, bahwa orang komunis itu adalah juga manusia-darah dan daging-yang juga diciptakan oleh Tuhan! Rezim Jenderal Suharto, melakukan cara-cara biadab dan brutal dan kebinatangan dalam melenyapkan lawan-lawannya yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa. Ninik mamak dan ulama-ulama yang dianggap
condong dan toleran kepada komunis, juga mereka habisi!

Syamsudin, seorang bekas anggota Mobrig, ditangkap oleh militer rezim Suharto. Tangan dan kakinya diikat pada dua buah pedati yang kemudian ditarik oleh dua ekor kerbau dengan arah yang berlawanan. Tubuh Syamsudin hancur berkecai. Potongan tubuh bertebaran dengan darah yang berserakan membasah bumi Minangkabau! “Pesta” ABRI yang brutal dan biadab ini mereka lakukan di depan anak dan istri Syamsudin, yang dipaksa untuk menyaksikan “kebudayaan ABRI/Orde Baru Jenderal Suharto”!

Nurhayani, seorang gadis remaja yang baru saja tamat SMP, ditangkap, karena dia menghalang-halangi Letkol. Purnomo Sipur yang akan menangkap ayah si gadis. Perwira ABRI/Jenderal Suharto yang gagah perkasa ini, memasukkan Nurhayani ke dalam karung dan mengikatnya, dan melemparkannya ke Batang (Sungai) Nilam di Air Hadji. Para militer yang hebat dan perkasa itu, tertawa terbahak-bahak, sambil minum air kelapa muda, melihat karung yang berisi tubuh Nurhayani menggelepar-gelapar dibawa arus air. Setelah pahlawan-pahlawan rezim Suharto itu berlalu, keluarga dan sanak saudara Nurhayani, dengan raung dan tangis, mengambil karung yang berisi Nurhanyani yang telah menjadi mayat, dari Sungai Nilam dan mengebumikannya sesuai dengan adat istiadat Minangkabau.

Manusia militer biadab yang berbaju ABRI, yang bergembira bersorak-sorai menyiksa dan melenyapkan nyawa seorang umat Tuhan, seorang gadis remaja yang tidak tahu apa-apa, tiada berdaya dan tiada berdosa, sungguh memperlihatkan kebiadaban dan kebinatangannya. Perlakuan mereka terhadap Nurhayani, merupakan manifestasi bahwa mereka sesungguhnya “tidak punya perikemanusiaan”

Kekejaman, kebrutalan, kebiadaban dan kebinatangan rezim Orde Baru/Suharto menjadi-jadi! Selama puluhan tahun, selama kekuasaan zalim dan brutal Jenderal Soeharto, rakyat Minangkabau hidup dalam terror! Di setiap pelosok, di setiap sudut kampung dan negeri, berkeliaran kaki tangan dan antek-antek Orba/Soeharto, yang sewaktu-waktu, dengan melancarkan tuduhan “diduga ada indikasi”, “terlibat langsung maupun tidak langsung”, bisa menghancur-luluhkan kehidupan seseorang. Dengan tuduhan yang tanpa perlu dibuktikan kebenarannya, bisa ditangkap dan ditahan bertrahun-tahun tanpa proses bahkan sampai mati atau sengaja dibunuh di dalam tahanan!

Tidak ada lagi rasa persaudaraan di antara suku Minang, tidak ada lagi “sakik samo diraso” tidak ada lagi adat “suka bergotong-royong” karena Orde Baru telah membagi manusia ke dalam klas dan kasta, golongan yang “bersih” dan yamg “tak bersih dan dicurigai”! Orde Baru telah merusak tatanan hidup bangsa Indonesia umumnya dan suku Minangkabau khususnya. Mamak mencurigai kemenakan, dan kemenakan mencurigai mamak. Hidup rakyat menjadi porak-poranda karena saling curiga-mencurigai disebabkan kebusukan dan kebiadaban Orde Baru/ Suharto yang menjalankan fitnah dan adu domba. Bermacam hukum dan peraturan Orde Baru dijalankan. Anak kemenakan takut mengakui ayah atau mamaknya, yang diduga “ada indikasi” apalagi yang jelas-jemelas menjadi tapolnya Orba. Bahkan anak atau kemenakan yang mempunyai kedudukan tinggi, takut dan tidak mau mengakui ayah atau mamaknya yang dikategorikan oleh Orde Baru sebagai “tidak bersih”, karena takut akan kehilangan jabatan, kedudukan
atau suami atau istri, disebabkan peraturan Mendagri Orba Letjen Amir Mahmud No. 32/1981 yang sangat diskriminatif yang diberlakukan dan tidak pernah dicabut, atau belum pernah dengar dicabut atau dibatalkan sampai hari ini.

Puluhan tahun rakyat dibungkam, diintimidasi, diteror, diancam untuk dipenjarakan, dan senantiasa hidup dalam ketakutan. Penduduk melihat perlakuan ABRI-Jendral Suharto yang biadab tersebut tidak berbeda seperti kekejaman tentara pedudukan kolonial Belanda dan fasisme Jepang. Penduduk menggerutu, dan bergumam bahwa”tentara Orde Baru dari Jawa datang ke kampung kita hanya untuk membunuh keluarga, sanak dan saudara kita”.

Untuk memberi bukti atas kekejaman, kebrutalan dan kebiadaban rezim fasis Ordebaru/Suharto di daerah Pesisir Selatan Kerinci, dan untuk mengenang pada korban kebiadaban rezim Suharto, yang jumlah keseluruhannya tidak kurang dari 300 orang, inilah sebagian dari nama-nama para korban:
1.          Ilyas Radjo Bungsu – Perintis Kemerdekaan R.I., Veteran Pejuang R.I. (ikutserta aktif mendirikan TNI dari BKR, TKR, TP, dll. dalam proses perjuangan kemerdekaan R.I., dan pengisikemerdekaan R.I.;
2.          Muhammad Yunus – Veteran Pejuang R.I dan Pegawai Departemen Penerangan;
3.          Hanif Yunus – Pelajar SMEA; – aktivis Pemuda di bidang Sastra dan Kesenian Rakyat;
4.          Alimuddin – Guru Sekolah Rakyat
5.          Rabaini – Veteran Pejuang R.I. dan Tua Kampung;
6.          Rajab – Veteran Pejuang R.I. Tua Kampung -aktivis masyarakat untuk pembangunan dalam bentuk gotong-royong;
7.          Yunus Djamil – Pengusaha /Koperasi Rakyat;
8.          Syofyan – Pengusaha/Koperasi Perikanan;
9.          Mali – Pengusaha/Pedagang hasil pertanian.
10.       Ismail – Pengusaha/Perternakan;
11.       Zubir – Pedagang hasil-hasil hutan;
12.       Zaininar – Guru Sekolah Rakyat;
13.       Maas – Petani;
14.       Djamirus – Barisan Tani;
15.       Saidinia Abbas – Pegawai departemen Penerangan,
16.       Idris – Veteran pejuang R.I, Sekretaris Subsekom PKI;
17.       Rusli – Aktivis Buruh,
18.       Ali Basril – Camat – Kecamatan Batangkas;
19.       Mansyah – Pegawai Pajak;
20.       Darusat – Urusan Kehutanan
21.       Usman Latif – Aktivis urusan Pertanian
22.       Syamsir Alam – Veteran Pejuang R.I.
23.       Anas Hamid – Guru sekolah
24.       Indra – Pegawai Camat-Tarusan;
25.       Bachtiar – Pagawai Camat-Tarusan;
26.       Imam Daralat – BTI
27.       Wali Kadir – Wali Negeri/Lurah – Surantih
28.       Jamirus – Pekerja/Buruh
29.       Mansarudin – Aktivis Masyarakat kecamatan Kambang;
30.       Sidi Salim – Aktivis Masyarakat kecamatan Kambang;
31.       Nurdin – Aktivis masarakat dibidang pertanian daerah Kambang
32.       Rahman – Pedagang
33.       Agus Labak – pemuka masyarakat daerah Surantih,
34.       Debok –
35.       Cupu – Veteran Pejuang R.I., daerah kecamatan Air hadji
36.       Ridwan Ber – kecamatan Indrapura,
37.       Mansur K. – Kecamatan daerah Tapan
38.       Rifai – daerah Lumpo
39.       Lamid – daerah kecamatan Sungai Tunu;
40.       Wali Gafar – Wali Negeri/Lurah kecamatan Sungai Tunu;
41.       Nukman Jao – Pekerja kenegerian Sungai Tunu;
42.       Aliudin – Pemuda Balai Selasa,
43.       Palim – Pemuda Balaiselasa,
44.       Ajis Jamin- Sekretaris Secom PKI Balaiselasa,
45.       Nudar – dari BTI
46.       Jirin – dari BTI
47.       Halil Pasya – Anggota DPRD Painan

Beliau-beliau tersebut disiksa, digunduli, disuntik oleh seorang Dokter Wamilda, dan dibawa dengan Dump Truck ke Bukit Pulai, sekitar 10 KM dari Kantor Kodim di Painan. Dan di bawah Komando Letkol. Purnomo Sipur, pada Tanggal 9 November 1965, mereka dihabisi nyawanya.

Tahanan Politik yang mati dalam pemeriksaan/penyiksaan di KODIM-Painan, adalah:
1.          Abbas Datuk Sati – Veteran Pejuang R.I., Penghulu Adat, dari kelurahan Tambang,
2.          Kasiran – Veteran Pejuang R.I., Wali Negeri/Lurah negeri Salido,
3.          Hamzah – Perintis Kemerdekaan, Veteran Pejuang R.I. PengisiKemerdekaan R.I., Pemuka Masyarakat Salido,
4.          Buyung Tabing – Veteran Pejuang R.I., Pegawai Perhutanan,
5.          Kiram- Pegawai Departmen Penerangan – Balaiselasa,
6.          Baharudin – Balaiselasa
7.          Djulis – Balaiselasa
8.          Darmansyah – Balaiselasa
9.          Idris – Guru Sekolah Rakyat/Anggota DPRD-Tarusan
10.       Alam Samad – Veteran Pejuang R.I:, Pegawai Negeri, daerah Api-Api,
11.       Mat Asin – dari Barisan Tani
12.       Ali Asam – Putra Mat Asin
13.       Mansur – Serikat Buruh,

Yang dibunuh dengan cara penyuntikan di Kantor KODIM adalah:
1.          Hadji Sunar – Veteran Pejuang R.I. – Aktivis Organisasi Veteran,
2.          Sabirudin – Guru Sekolah Rakyat, Aktivis Pemuda,
3.          Djamaan – Pengusaha,
4.          Mak Usir – Pengusaha Perikanan,

Suharto telah lama mati. Matinya diperingati dan dirayakan dengan segala macam upacara yang sangat besar dan super mewah seperti seorang firaun. Suharto mati meninggalkan najis-najis yang belum sempat disapu, belum sempat dicuci, belum sempat dibersihkan! Borok-borok bernanah belum sempat diobati. Diseluruh persada tanah air, korban-korban Rezim Suharto berserakan di mana-mana tanpa batu nisan!

Daftar di atas hanya sebagian kecil dari para korban di Kabupaten Pesisir Selatan, Salido-Painan dan sekitanya. Bagaimana di Kabupaten lainnya, dimana Rezim Suharto membangun neraka-neraka untuk melampiaskan nafsu kebiadabannya, kebrutalannya dengan membunuhi para korban dan mengingkari kemanusiaan orang-orang yang dituduh komunis? Bagaimana di Kabupaten Padang-Pariaman, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Pasaman, dan lain-lain? Berapa ratus ribu korban kebiadaban dan kebrutalan Rezim Jenderal Suharto di Ranah Minang?
Untuk menjadi catatan, semua korban diatas dibunuh oleh Militer, atas komando Letkol Purnomo Sipur, Komandan Kodim Painan! (Silahkan baca juga: Google: http://www.progind.net/modules/smartsection/item.php?Published by Genyon 14/Feb/2008 dan Penelitian Korban 65 di Sumatera Barat oleh Bedjo Untung, Tuesday, October 25, 2011/
http://www.facebook.com/home.php?clk_loc=5#!/notes/bedjo-untung/penelitian-korban-65-di-sumatera-barat/2160363808550

Riau.

“SEORANG staf Kedutaan Besar Amerika di Jakarta melaporkan tentang teror militer-muslim yang langsung ditujukan melawan kaum buruh dalam perusahaan minyak vital Caltex: “Muslim dengan sepengetahuan dan pesetujuan pihak militer menjarah rumah-rumah komunis di dalam kota dan menutup gedung-gedungnya di daerah-daerah. Pihak militer menggerebek rumah-rumah pimpinan PKI dan memberitahukan pihak pimpinan perusahaan minyak Caltex pada 29 Oktober 65, akan rencana militer, yang bakal menangkapi anggota-anggota dan pimpinan buruh komunis Perbum, yang menjadi tulang punggung dan kekuatan PKI di Provinsi Riau.” (Mike Head/Marian Wilkinson: Sydney Morning Herald, 20 Juli 1999)

Pada tanggal 18 November 1965 (20 hari setelah pemberitahuan pihak militer kepada Manajer Caltex), maka pihak militer, dengan dibantu oleh organisasi-organisasi buruh muslim dan lokal, melakukan operasi penangkapan atas anggota dan pimpinan organisasi buruh minyak Perbum (Persatuan Buruh Minyak), di seluruh daerah perusahaan Caltex. Ratusan buruh, baik staf maupun non staf, ditangkap dan dikumpulkan dalam satu tempat tahanan yang bernama RTM, Rumah Tahanan Militer, di ibukota provinsi, Pekanbaru. Di seluruh pelosok daerah, pihak militer menangkapi orang-orang yang yang diduga PKI , dan menjadi anggota atau simpatisan organisasi Pemuda Rakyat, Gerwani, Sobsi, BTI , Lekra, dan sebagainya. Rumah Tahanan Militer menjadi penuh sesak, namun penangkapan terus berlangsung.

Di RTM yang dikelilingi tembok beton tebal berukuran 50X50x5 meter, dimana di dalamnya ada 11 barak kayu dan sel-sel tembok, setiap baraknya dijejali dengan 50-70 orang tahanan. yang jumlah keseluruhannya tidak kurang dari 700 orang.

Para tahanan yang yang jumlahnya tidak kurang dari 700 orang itu, yang tidak tahu apa sebabnya mereka ditangkap umumnya terdiri dari anggota-anggota organisasi dan partai berhaluan kiri seperti Sobsi, Perbum, BTI, Lekra, SBKB, SBPP, Sarbupri, CGMI, IPPI, Pemuda Rakyat, Gerwani dan PKI bahkan juga PNI dan GMNI, Partindo dan Perti dan Baperki.

Penyiksaan dan Pelenyapan Tapol
Semenjak mereka ditangkap dan ditahan, setiap harinya, mereka diambil dan diperiksa satu persatu di kantor Teperda—Team Pemeriksaan Daerah—Riau. Setiap yang dikembalikan ke dalam Kamp Tahanan sehabis pemeriksaan, jarang yang dapat berjalan baik. Semua tubuh mereka babak belur dan bengkak. Dari pintu gerbang RTM untuk mencapai baraknya, beberapa teman terpaksa memapahnya. Dari orang-orang yang diperiksa Teperda/CPM, diketahui bahwa pemeriksaan-pemeriksaan itu semua diluar perikemanusiaan. Bermacam siksa dan aniaya yang mereka lakukan atas para tahanan yang tak bersalah.
Di samping tinju, tampar, pukul dan tendangan yang adalah merupakan “makanan” bagi tahanan yang diperiksa yang istilah gagahnya di “interogasi”, tidak jarang yang di stroom dengan baterai mobil dan jempol kaki ditekan dengan kursi yang diduduki. Sangat menyedihkan sekali dan sangat diluar batas perikemanusiaan adalah peristiwa di mana si tahanan yang di ikat batang kemaluannya, dan digantung ke loteng sehingga sitahanan menjerit meraung-raung karena kemaluannya serasa putus, menanggung beban berat tubuhnya. Ini sungguh terjadi atas diri saudara M, seorang  pimpinan Perbum dari daerah Caltex. Ketika M dikembalikan ke dalam tahanan, teman-teman dari Baperki berusaha mencoba memberikan bantuan dengan segala obat ramuan Tionghoa yang bisa diperoleh,  serta memberi pengurutan, namun sayang, tidak bisa berhasil! Tidak tertolong lagi! Kemaluannya tidak bisa ereksi lagi buat selama-lamanya!  Lebih sedih lagi, beberapa minggu setelah itu, dia diambil
lagi, di “bon” malam hari untuk “interogasi” dan hilang lenyap tiada kembali…….
Para tahanan setiap malam berdebar dan hatinya ketar ketir dan saling bertanya “giliran siapa malam ini?” Karena setiap tahanan yang diambil dan “diperiksa”, tidak pernah lagi dikembalikan ke Kamp Tahanan. Hilang lenyap begitu saja. Kepanikan dalam kamp tahanan, namun apa yang bisa diperbuat? Nasib mereka tak ubahnya seperti ayam di dalam kandang, hanya menunggu saat untuk diambil dan disembelih……

Setelah aksi penguasa militer yang mengambil dan melenyapkan (membunuh) para tapol itu terhenti, diketahuilah jumlah mereka yang hilang dilenyapkan, dibunuh oleh rezim Suharto, yaitu:

1.    Zainuddin-  Caltex, Ketua Sobsi Riau (ex. Tahanan  PRRI/1958 )
2.    Muslihun- Ketua Cabang Perbum Caltex Rumbai
3.    A.Aziz Siregar-fungsionaris Cabang Perbum  Rumbai
4.    Misdar-pimpinan Perbum pada Caltex Dumai
5.    Misbach-pimpinan Perbum pada Caltex Duri
6.    Rusli Danur B.A.-Ketua PGRI  Pekanbaru Riau
7.    Subekti. Pimpinan Lekra daerah Riau
8.    M.Yusuf B.A.-anggota Badan Pemerintah Harian Kota Pekanbaru
9.    Kambasli-Ketua CGMI Pekanbaru Riau (ex, tahanan PRRI/1958)
10.Hamdah-pimpinan PKI Sungai Pakning Riau (ex. Tahanan PRRI/1958)
11.11  Zubir Achmad – Ketua IPPI Pekanbaru
12.Muhktar Bagindo Marajo-pimpinan BTI Pekanbaru
13.A. Kusumitro-anggota pimpinan PKI Pekanbaru
14.Nurdin.O.-anggota Pemuda Rakyat Pekanbaru
15.Sujitno Hadi-anggota pimpinan PKI Kota Pekanbaru,
16.Sutan Malano, pimpinan SBPP Pekanbaru
17.Sudibyo, BTI Riau, Pekanbaru.
18.Sugimin,SSKDN, Kantor Balaikota Pekanbaru
19.Malanton Simanjuntak, SBKB Pekanbaru
20.Kamaluddin Sjamsuddin,anggota pimpinan Perbum Caltex Rumbai
21.Ardan A.N -Ketua Pemuda Rakyat Riau, Pekanbaru. (ex. Tahanan PRRI/1958).
22.Abunandar, Perbum Caltex Rumbai
23.Darajat Lubis, Sobsi Riau
24.Nasution, BTI Sei Rangau
25.Ibu Nasution, Sei Rangau
26.Jasni, anggota pimpinan CGMI
27.M. Lubis, Sobsi Pekanbaru
28.Hamlet Nasution, Pemuda Rakyat Pekanbaru
29.Tampubolon, Sungai Rangau, PKI
30.Syahrudin Jalal, Caltex, Perbum Rumbai
31.Aliusir, BTI Riau
32.Ngadimin, Caltex, Perbum Duri
33.Darwis, SBPU Pekanbaru (ex. Tahanan PRRI/1958)
34.Abas Mandor , Pekanbaru.
35.Syarif, Caltex Duri, Perbum.
36.M.Saleh, pelajar, IPPI
37.Sidi Barabanso ( Pimpinan BTI Riau/eks. Tawanan PRRI 1958)
38.Bachtiar (Pimpinan SBKB Riau/eks. Tawanan PRRI 1958)
39.Lukman ( Karyawan Bea dan Cukai)
40.Ngadibi (anggota Pimpinan Pemuda Rakyat Riau)
Disamping itu, karena kondisi makan yang sangat minim selama dalam tahanan, ditambah dengan sakit yang tidak mendapat perawatan, beberapa tahanan mengalami busung, disentri dan macam-macam penyakit, dan meninggal tanpa diadili, yaitu:

1.    Anwar Datuk CS PKI Padang Panjang, meninggal di RTM Pekanbaru
2.    Diun Sei Rangau BTI Sei Rangau
3.    Kartopawiro Sidinginan BTI Sidinginan
4.    Muljono Bangkinang TNI AD Bangkinang (Yon 444 mutasi dari Jateng)
5.    Nurdin Kanan Rumbai PT Caltex Pacific Indonesia Rumbai
6.    Radjab Siregar Minas SOBSI Minas
7.    Sudirman Pekanbaru PT Caltex Pacific Indonesia Rumbai
8.    Taufik A.Nopel Pekanbaru IPPI Pekanbaru

Selain yang diambil malam dari kamp tahanan dan dibunuh, yang kurang makan dan meninggal dalam tahanan, juga ada yang dipaksakan menerima “jatah” hukuman yang telah disediakan oleh Ordebaru/rezim Suharto, yaitu:

1.    Abdullah Alihamy, Ketua CDB- PKI Riau. Ditangkap oleh Militer dan dihadapkan ke pengadilan rezim Orba di Pekanbaru dan dijatuhi hukuman mati. Dia dipindahkan ke Padang dan dieksekusi oleh regu tembak di Padang.
2.    Mohammad Amin Zein, anggota MPRS-RI, Pimpinan BTI/CDB PKI Riau. Ditangkap dan dihadapkan  ke pengadilan Orba di Pekanbaru, dan dijatuhi hukuman seumur hidup. Pada tahun 1999 dibebaskan dan dalam keadaan sangat tua meninggal di kota Medan.
3.    Sri Suharjo, CDB-PKI Riau ditahan sementara di Teperda/TPU/RTM Pekanbaru. Setelah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan Orba di Pekanbaru, dia dipindahkan ke Padang dan menjalani hukumannya di RTM Padang. Atas tuntutan Lembaga Amnesti Internasional, dia dibebaskan oleh Presiden B.J. Habibie. Dia keluar dari penjara RTM Padang dalam keadaan sangat tua dan sakit, dan masih sempat bertemu dengan keluarganya beberapa saat sebelum ia meninggal dunia .

Di samping ketiga tokoh pimpinan PKI Riau di atas, masih ada yang diseret ke ”pengadilan” Orde Baru di  Pengadilan Negeri Pekanbaru, yaitu beberapa orang pemuda dan pemudi yang dipaksa harus menerima ”jatah” hukuman antara 10-17 tahun,  dipenjara, kemudian beberapa orang meninggal dalam karena sakit dan kurang makan. Menarik sekali, seorang pemuda di siswa SMA Kelas II, dihukum 10 tahun penjara, hanya karena berjumpa di jalan dan berbicara dengan seorang yang bertanyakan arah jalan di Bagan Siapi-api, tanpa kenal dan tahu bahwa orang yang bertanya itu adalah anggota Pemuda Rakyat.

Dari daerah-daerah kabupaten atau kecamatan, penangkapan berjalan terus, dan para tahanan tersebut, dikatakan, dikirim ke Pekanbaru, ke Rumah Tahanan Militer, namun kenyataannya tidak pernah sampai, hilang lenyap dalam perjalanan, tak tahu kabar beritanya.

²  Dari Bengkalis: Saudara Murad yang adalah Anggota DPRD Bengkalis dan menjabat sebagai anggota CS-PKI Bengkalis, dibawa dengan kapal dalam rombongan sekitar 50 orang. Hilang lenyap dan sampai hari ini tiada kabar beritanya!

²  Dari Bagan Siapi-api: Saudara Syofyan (PKI), Sdr. Syahrudin (PKI), Sdr. Anis (PKI), Sdr. Syamsul Bahri (PKI) beserta istrinya, Ny. Syamsul Bahri (Gerwani), dalam satu rombongan sekitar 40 orang dibawa dengan kapal motor ke Pekanbaru, namun yang samnpai di TPU Pekanbaru hanya saudara Judo Pramono. (nomor 55 dalam daftar lampiran).

²  Dari Selat Panjang: Saudara Dahlan (PKI) beserta menantunya yaitu Bakar Ibrahim (Pemuda Rakyat), dibawa dengan kapal menuju Bengkalis dalam rombongan 30 orang, namun sampai kini tiada kabar beritanya.

²  Dari Rengat: Saudara Agus Alihamy (PKI), adik dari saudara Abdullah Alihamy, Ketua CDB-PKI Riau, Saudara Raja Abas (PKI), Saudari Rubinem (Gerwani Rengat), dibawa dengan truk dalam satu rombongan sekitar 50 orang. Hilang lenyap, tiada diketahui keberadaannya sampai sekarang!

²  Dari Tembilahan: Saudara Assaat dan Marsono (PKI), beserta 30 orang rombongan dibawa dalam satu truk dan hilang, tiada kabar setelah itu!

²  Dari Tanjung Pinang, tidak diketahui berapa jumlah yang pasti yang dilenyapkan atau dibenamkan dilautan, namun diantaranya adalah Saudara Sudomo (PKI) dan saudara Tajul Arifin (PKI). Sedang seorang dari Tanjung Pinang yaitu S.A. Soetarno, guru SMA Negeri (PGRI) yang dimutasikan dari Pekanbaru, dikembalikan ke Pekanbaru dan menghuni RTM/TPU Pekanbaru.

²  Dari Pasir Pengaraian, korban yang dibunuh aparat militer adalah:
1.    Saudara Aladdin Nasution, 2.     Rahman,
3.    Kattudin Nasution (CS-PKI), 4.    Metmet,
5.    Ilyas, 6.    Yahya (mantan imam mesjid),
7.    Siddik, 8.    Sotar,
9.    Nurdin, 10.Agus,
11.Pakso, 12.Sulung,
13.Amirhamsyah, 14.Usman,
15.Aliamron, 16.Malim,
17.Amirhasyim, 18.Masir,
19.Bacok, 20.Sinaga,
21.Buyung Saridin, 22.Mhd. Pi’i,
23.Zakaria, 24.Datuk Patih,
25.Abd. Hasan, 26.Mhd. Nur,
27.Marhanda, 28.Aminudin,
29.Karia, 30.Amat,
31.Laham, 32.Mhd. Nasution,
33.Kasim, 34.Yunus,
35.Tengku Pangeran, 36.Kapas,
37.Tengku Saleh, 38.Agus Salim,
39.Dohim, 40.Mhd. Talib,
41.Daib, 42.Kasud,
43.Ibrahim, 44.Dullah,
45.Muis, 46.Abd. Aziz,
47.Alikamis, 48.Mhd. Zen,
Isi pesan ini telah dipenggalTampilkan Pesan Lengkap
Hapus BalasBalas TeruskanSpamPindahkanCetak Tindakan BerikutnyaSebelumnya

Sang Pemersatu Tionghoa Semarang Tutup Usia

Hoo Liong Tiauw

Sang Pemersatu Tionghoa Semarang Tutup Usia

image

Foto: Hoo Liong Tiauw (SM CyberNews/ Repro Ranin Agung)

Semarang, CyberNews. Suasan duka menyelimuti rumah di Jalan Menteri Supeno 21, Semarang sejak Selasa (11/10) sore. Sang pemersatu warga minoritas yang berani dan tegas, Hoo Liong Tiauw (84) meninggal dunia pada pukul 16.00 WIB di kediamannya Jalan Bromo.

Tokoh yang juga dikenal sebagai Ketua Perserikatan Organisasi Indonesia Tionghoa (Porinti) yang lahir pada 11 Agustus 1927 itu meninggal setelah satu setengah tahun mengalami stroke dan sempat dirawat di RS Singapura selama lima bulan.

Anak pertama Hoo, Budi Purnomo mengatakan, jenazah akan dimakamkan di Makam Soropadan, Kabupaten Temanggung, Sabtu (15/10). Sebagai ayah, kata Budi, Hoo merupakan sosok yang handal dan memiliki pengetahuan yang luas dalam masalah sosial. Pada masa Presiden Soekarno, komunitas Tionghoa mengalami diskriminasi terkait beberapa kebijakan politik yang diskriminatif yang melarang WNA Tionghoa untuk berdagang eceran di daerah di luar ibukota provinsi dan kabupaten.

“Bapak, saat itu mampu menjembatani komunikasi antara Pemerintah Indonesia dan Cina. Ketika ada kunjungan delegasi dari RRC berkunjung ke Indonesia, bapak mampu mengkomunikasikan segala persoalan secara damai,” tuturnya di sela-sela ibadah persekutuan, malam ini, Selasa (11/10).

Teman akrab Hoo, David Herman Jaya (60) juga menceritakan Hoo yang  dikenal mampu menyelesaikan sengketa yang terjadi di kalangan warga Tionghoa. Kabar meninggalnya Hoo pun sontak mengagetkan dirinya, keluarga dan teman-temannya.

“Sengketa apa saja, baik di kalangan internal komunitas maupun eksternal, Pak Hoo lah yang bisa menyelesaikan. Ketegaran dan ketegasan yang selama ini perlu dicontoh. Saya sangat merasa kehilangan,” ujar David, warga Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang yang juga Presiden Direktur PT Mekar Armada Jaya Magelang itu.

Ketua Perkumpulan Sosial Rasa Dharma Harjanto Halim mengatakan, di kalangan komunitas Tionghoa, sosok Hoo dikenal sebagai tauladan yang baik. Pasar Semawis yang rutin digelar tiap tahun di Kota Semarang itupun, Hoo selalu hadir lebih awal. Kehadirannya pun selalu memberi semangat bagi generasi muda komunitas.

( Muhammad Syukron /CN27 / JBSM )

Menyusuri Jejak Nenek Moyang Kita

http://sains.kompas.com/read/2011/10/12/04195089/Menyusuri.Jejak.Nenek.Moyang.Kita

Menyusuri Jejak Nenek Moyang Kita

| Jimmy Hitipeuw | Rabu, 12 Oktober 2011 | 04:19 WIB

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Rekonstruksi Homo erectus dipajang di Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat, Minggu (27/9). Rekonstruksi wajah tersebut berdasarkan spesimen tengkorak P VIII oleh Yoichi Yazawa, dengan supervisi Dr Fachroel Aziz dari Museum Geologi dan Hisao Baba dari Jepang, untuk pameran tentang Pithecanthropus di Jepang, tahun 1996.

AGNES ARISTIARINI

KOMPAS.com – Nenek moyang manusia modern, Homo sapiens, mulai muncul dan tinggal di kawasan Afrika 150.000-200.000 tahun lalu. Mereka mulai bermigrasi ke luar Afrika 70.000 tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia. Pada periode yang lebih kurang sama, 74.000 tahun lalu, terjadi letusan dahsyat Gunung Toba di Sumatera. Mungkinkah kedua peristiwa ini saling memengaruhi?

Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Kejadian yang sudah berlangsung ribuan tahun itu hanya bisa dibuktikan lewat jejak peninggalan mereka. Ironisnya, semua bukti tampaknya terkubur material yang dimuntahkan Gunung Toba.

Paling tidak begitulah kesimpulan Craig Chesner, geolog dari Eastern Illinois University. Letusan terakhir Toba menimbun nyaris seluruh daratan Sumatera mulai dari Samudra Hindia di sebelah barat hingga Selat Malaka di sebelah timur. Ketebalan material rata-rata 100 meter dan di beberapa area bahkan mencapai 400 meter.

Sebagai bandingan, jejak arkeologi yang terkubur letusan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (1815), ditemukan pada kedalaman 3 meter di bawah lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung. Berdasarkan Volcanic Explosivity Index, kekuatan letusan Tambora adalah pada skala 7 dari 8, hanya kalah dari letusan Gunung Toba ribuan tahun sebelumnya.

Untunglah ilmu pengetahuan terus berkembang. Kini, upaya memahami asal-usul manusia modern bisa dilakukan dengan membaca urutan sekuen DNA (deoxyribonucleic acid) atau rantai panjang polimer nukleotida yang mengandung informasi genetik untuk diturunkan.

Selain informasi genetik, DNA juga bisa menginformasikan riwayat kehidupan nenek moyang kita. Di sinilah perubahan dalam tubuh terekam—seiring dengan perubahan pola makan, lingkungan, ataupun aktivitasnya—dan memberikan gambaran bagaimana sebenarnya pola kehidupan yang mereka jalani. Hasil perbandingannya dengan DNA populasi di berbagai tempat lain menggambarkan proses berlangsungnya migrasi dan bagaimana hubungan kekerabatannya.

”Keragaman genetik manusia adalah arsip evolusi manusia selama ribuan tahun yang dapat dieksplorasi dari berbagai disiplin ilmu,” kata Prof dr Sangkot Marzuki, MSc, PhD, DSc, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Maka, ketika digagas studi besar untuk memetakan genetik populasi bangsa Asia tahun 2004, Lembaga Eijkman antusias ikut serta. Dalam penelitian yang berlangsung lima tahun, 93 peneliti dari 40 institusi bergabung dalam penelitian ini. Mereka berasal dari Jepang, Korea, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, China, Nepal, India, dan tentu saja Indonesia.

Disebut Konsorsium Pan-Asian SNP (Single Nucleotide Polymorphism), tujuan proyek memang untuk memahami asal-usul keragaman genetik di Asia. Di bawah payung Human Genome Organisation, studi meneliti DNA pada 73 populasi di Asia Tenggara dan Asia Timur dengan sekitar 2.000 sampel darah untuk mendapatkan 50.000 marka (titik data) per sampel.

Marka tersebut adalah single nucleotide polymorphisms (SNPs), suatu tempat pada kromosom yang membedakan individu satu dengan lainnya. Jumlah variasinya, disebut haplotype, mengindikasikan kedekatan dua individu secara genetik. Maka, distribusi haplotype secara geografis akan menunjukkan jejak migrasi, termasuk yang berlangsung pada zaman prasejarah.

Rute selatan

Penelitian sebelumnya—dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (1999)—menyimpulkan bahwa Homo sapiens dari Afrika yang menjadi nenek moyang manusia modern bermigrasi lewat tiga rute: Oseania, Asia yang sebagian lagi berlanjut ke Amerika, dan Eropa. Temuan pada mitokondria DNA yang diwariskan dari kromosom ibu dikonfirmasi dengan filogeni kromosom Y yang hanya ada pada pria.

Selanjutnya studi genetik Konsorsium Pan-Asian SNP yang selesai tahun 2009 menemukan, jalur utama migrasi manusia modern ke Asia adalah melalui Sunda Besar yang sekarang dikenal sebagai kawasan Asia Tenggara. ”Temuan ini melawan arus besar teori migrasi yang menyebutkan bahwa nenek moyang kita berasal dari Asia bagian utara,” kata Sangkot.

Selama ini, migrasi Homo sapiens ke Asia dipercaya berasal dari tempat singgah mereka di kawasan Timur Tengah dan berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang terbesar berjalan melintasi stepa Eurasia dan kemudian berbelok ke selatan melalui daratan Asia. Gelombang kedua yang dianggap tidak berperan penting bergerak melewati pesisir selatan memutari India menuju Indonesia, Malaysia, Filipina, sebelum ke Pasifik.

Namun, studi terakhir membuktikan keragaman genetik justru makin berkurang dari selatan ke utara. Sebagian besar kode genetik yang ditemukan di Asia Timur ternyata lebih banyak lagi ditemukan di selatan. Artinya, Homo sapiens bermigrasi ke Asia hanya dalam satu gelombang melalui rute pesisir selatan (Science, 2009).

Tempat persinggahan utama mereka adalah Sunda Besar. ”Dengan demikian, Asia Tenggara-lah sumber geografis utama populasi Asia Timur dan Asia Utara,” ujar Sangkot.

Apabila dikaitkan dengan letusan Toba, temuan itu juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita ternyata mampu bertahan dari bencana dahsyat yang berpotensi memusnahkan kehidupan.

”Skenario survival tersebut didukung bukti dari rekam jejak DNA pada populasi di kawasan Wallacea yang menunjukkan campuran gen dengan populasi dari kawasan Sunda Besar. Selain itu, ada temuan fosil dan peninggalan manusia purba di Gua Niah, Sarawak. Dari umurnya, temuan Niah mengindikasikan bahwa mereka tidak musnah karena letusan Toba,” papar dr Herawati Sudoyo, MS, PhD, Deputi Direktur Lembaga Eijkman.

Sumber : Kompas Cetak

Negara Belanda Berbalik Meragukan RMS

John Wattilete

Avatar tanjung
Den Haag, Belanda
Den Haag, Belanda

Negara Belanda Berbalik Meragukan RMS

Diterbitkan : 10 Oktober 2011 – 11:01am | Oleh Eka Tanjung (RNW)

Diarsip dalam:

10 Oktober 2011 ini di Den Haag berlangsung proses pengadilan yang unik terkait masa silam Belanda di Hindia Belanda. Dalam kaitannya dengan RMS (Republik Maluku Selatan.)

Senin ini jam 13:30 waktu Belanda, atau 18:30 WIB, pengacara Negara Belanda akan meminta Hakim Banding di Den Haag:

  •         Meninjau keabsahan Republik Maluku Selatan sebagai negara.
  •         Melihat legitimasi Pemerintahan RMS di pengasingan sebagai perwakilan RMS.

Kasus ini menarik, karena proses banding ini merupakan kepanjangan dari kasus sidang cepat (Kort Geding) Oktober tahun 2010. Ketika itu John Wattilete atas nama pemerintahan RMS di pengasingan menuntut negara Belanda agar menangkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berrencana berkunjung ke Belanda. SBY akhirnya membatalkan kunjungan.

Pelanggaran HAM
RMS menggunakan alasan pelanggaran HAM di Maluku. Atas dasar yang sama pada bulan November, RMS meminta penangkapan mantan Menlu Hasan Wirajuda juga dengan dalih kejahatan berat HAM tahun 2003 dan 2007.

RMS menyebutkan di penjara Indonesia terdapat hampir seratus simpatisan dan aktivis kemerdekaan Republik Maluku Selatan yang dikurung dan dianiaya.

Keputusan
Hakim menolak permohonan penangkapan SBY karena dia sebagai pemimpin negara memiliki imunitas. Dan permintaan penangkapan mantan Menlu Hasan Wirajuda yang berkunjung ke Belanda November juga ditolak dengan alasan lain.

Belanda vs RMS
Nah, Senin ini posisi berbalik. Sekarang giliran RMS yang berada di posisi bertahan. Negara Belanda mempertanyaan status RMS. Mengapa baru sekarang? Kalau menurut RMS karena Belanda mendapat tekanan dari Indonesia.

Lewat websitenya RMS menyatakan pemerintah Indonesia bermain di belakang layar “… untuk mematikan perjuangan RMS dan Pemerintah RMS – dan atas dorongan keras dari Pemerintah Indonesia dibelakan layar – maka Pemerintah Belanda Hari senen tanggal 10 oktober yang akan datang naik banding di Hakim di kota Den Haag.” “Pemerintah Belanda dan RI Berusaha Lumpuhkan RMS..”

Dokumen Rahasia
Dalam terbitan lain disebutkan bahwa pemerintah Belanda tidak menghargai prinsip Hukum Internasional dan hak menentukan nasib sendiri bangsa Maluku Selatan. Pemerintah SMS di pengasingan mengklaim mendapatkan dokumen rahasia Kemenlu Belanda. “Di sini terbukti bahwa pemerintah Belanda mengembangkan strategi yang bertujuan mencegah supaya para pejabat tinggi yang melanggar HAM, tidak bisa seret ke pengadilan.”

Favorit/Cari dengan:

Diskusi

elex manuputty 10 Oktober 2011 – 5:51pm

memang sebaik baiknya RMS dibubarkan

cartau 10 Oktober 2011 – 4:40pm / Belanda

janter malimbo mengadu domba itu benar karena orangnya tidak megerti politik

Anonymous 10 Oktober 2011 – 2:09pm

RMS benar-benar sedang “cari perkara”. sudah untung mendapat tumpangan gratis, eeeh malah menggugat pemilik rumah. Dasar pemberontak…!!!

Janter maliombo 10 Oktober 2011 – 12:58pm

Kasihan Mr. John Watilette.
Disaat dia menjabat sebagai Presiden RMS, justru Belanda tidak mengakui eksistensi kelompok yang dipimpinnya.
Mungkin arwah Tuanku Thomas Matulessy (Pattimura), Tuanku Sultan Ternate dan Tuanku Sultan Ba’abullah marah melihat tingkah laku Mr. John Watilette yang mengadu domba masyarakat Maluku….

Mengenang Peristiwa 1965: “Gestapu”

Mengenang Peristiwa 1965: “Gestapu”

Salim Said <bungsalim@yahoo.com>,in: “GELORA45@yahoogroups.com” <GELORA45@yahoogroups.com>
Saturday, 8 October 2011 9:16 AM

Pak Chan Yth,
Sebaiknya memang seperti yang Anda harapkan  itu. Tapi waktu itu  bukan “zaman normal.” Harus kita akui bahwa “perang” sudah berlangsung lama sebelum memuncak berdarah-darah pada 30 September malam dan  satu Oktober 1965 itu. Setiap perubahan/revolusi mengandung dua sisi, kesinambungan dan perubahan. Biasanya diperlukan waktu lama untuk mengatasi kesinambungan.Bahkan tidak jarang kesinambungan itulah yang kemudian yang paling dominan. Perubahyan dari rezim Orde Lama ke Orde Baru, misalnya. Kalau kita perhatikan dengan  saksama maka yang berubah secara esensial adalah  dari kiri menjadi kanan. Sifat otoriter Orde Lama terpelihara dengan baik dalam masa Orde Baru. Tidak berlebihan untuk menyimpulkan, Orde Baru lebih kurang adalah Orde Lama minus PKI dan partisipasi massa.
Dalam sejarah Rusia hal demikian juga terjadi. Rezim Tsar pra revolusi digulingkan oleh kaum Bolshevik, tapi Tsarisme ternyata bertahan. Stalin , Kruschev sampai Brezhnev dan para penggantinya pada dasarnya adalah Tsar-Tsar dalam jubah Politbiro. Apakah Mao bisa pula dilihat sebagai Kaisar Tiongkok dalam baju dan nama lain? Saya cenderung melihatnya demikian. Saya lalu teringat Karl Marx yang mengatakan , lebih kurang, bahwa suatu sistim sosial baru akan lahir dari kandungan sistim sosial lama. Tapi kalau belum siap lahir lalu dipaksakan, maka yang terjadi sistim baru akan cacat dan umumnya akan terus didominasi oleh sistim lama.
Indonesia sekarang berada di masa pasca Orde Baru setelah Orde Baru digulingkan. Kalau ternyata nanti era reformasi ini juga tidak sukses, maka saya cenderung melihat sumbernya pada kenyataan (sekarang mungkin belum disadari) bahwa sebenarnya belum ada perubahan signifikan dalam masyarakat Indonesia. Akibatnya kesinambungan lebih dominan dari perubahan. Korupsi di masa Orde Baru luar biasa, tapi terpusat pada sekelompok kecil orang di seputar kekuasaan. Sekarang , di masa keterbukaan ini, korupsi tetap terjadi dengan hebat, cuma pesertanya amat banyak sebagai akibat keterbukaan sistim. Jadi akibat langsung dari perubahan/reformasi adalah “kesinambungan penyakit lama” dalam bentuk lain.
Mengapu Gestapu dan bukan Gestok? Pertama, Letkol Untung menyebut gerakannya sebagai Gerakan 30 September,  bukan Gerakan Satu Oktober. Kedua, Gestok diperkenalkan oleh Presiden Sukarno yang waktu itu dipersepsikan sebagai suatu usaha menyalahkan Suharto dan membela PKI.
Salam hormat,
Bung Salim
From: ChanCT <SADAR@netvigator.com>
To: GELORA45@yahoogroups.com
Sent: Friday, October 7, 2011 9:58 PM
Subject: Re: [GELORA45] Re: Mengenang Peristiwa 1965: “Gestapu”

Tapi bung Salim, bukankah sikap seorang yang bijaksana dan menunjukkan kedewasaannya, kita tidak berbuat pada orang lain seandainya itu tidak hendak menimpa dirinya? Artinya seandainya kita menentang cara-cara itu dilakukan orang lain terhadap diri kita, kita juga jangan melakukan apa yang ditentang itu terhadap orang lain. Jangan lakukan balas-berbalas yang tiada akhirnya begitu. Pada saat mengutuk G30S yang membunuh 7 jenderal tanpa proses pengadilan, kenapapula rakyat bisa membiarkan jenderal Soeharto membalas dengan membunuhi ratusan ribu bahkan jutaan orang tidak berdosa? Mengapa tidak merasa cukup dengan menangkap tokoh-tokoh utama yang dianggap harus bertanggungjawab saja untuk diajukan kedepan pengadilan dan menjatuhi HUKUMAN sesuai dengan dosa-dosa yang dilakukan?
Begitu juga dengan masalah sebutan, kalau dulu Lekra mengejek dengan sebutan MANIKEBU dianggap salah, kenapapula kemudian dibalas dengan sebutan GESTAPU. Apakah harus begitu? Padahal singkatan GESTAPU tidak sesuai dengan kebiasaan gramatika bhs. Indonesia, yang biasa Gerakan 30 September dan bukan Gerakan September 30. Bukankah itu lebih menunjukkan orang CIA yang mencetuskan G30S dengan menyebutnya GESTAPU sesuai dengan gramatika bhs. Amerika, yang menyebut bulannya dulu baru tanggal?
Saya pun sampai sekarang bertanya-tanya, kenapa akhirnya digunakan sebutan G30S, dan bukan GESTOK sebagaimana diajukan bung Karno. Bukankah operasi militer menciduk ke-7 jenderal itu dilancarkan sudah subuh tgl. 1 Oktober 1965? Kenapa masih saja bertahan di tgl. 30 September, apa alasannya?
Salam,
ChanCT
—– 原始郵件—–
寄件者: Salim Said
傳送日期: 2011年10月7日 21:26
主旨: Re: [GELORA45] Re: Mengenang Peristiwa 1965: “Gestapu”
Saya sangat mengerti kemarahan dan kekesalan Pak Taher. Tapi saya juga ingin mengingatkan kita semua bahwa apa yang dilakukan Brigjen R. Sugandhi (Bukan Kolonel) sebenarnya sama saja dengan yang sebelumnya dilakukan oleh PKI dan teman-temannya yang “mengubah” nama Konprensi Karyawan Pengarang Se Indonesia (KKPI) menjadi KKPSI, dengan maksud menuduh KKPI sebagai pekerjaan orang PSI, partai terlarang waktu itu. Demikian juga Manifes Kebudayaan, yang oleh PKI dan teman-temannya disingkat menjadi Manikebu, dengan tujuan menciptakan asosiasi dengan mani kerbau (maaf).
Kalau kita mau jujur, banyak yang dilakukan oleh kekuatan anti komunis setelah Gestapu (atau G 30 S) sebenarnya adalah mengulangi dan meniru apa yang dulu dipraktekkan PKI dan teman-temannya terhadap mereka. Jadi semacam balas dendam. Melarang buku lawan-lawan politiknya yang dilakukan oleh PKI dan teman-temannya dengan menggunakan tangan Departemen P dan K( di bawah Menteri Prof.Dr. Priyono yang amat kiri), misalnya, juga kemudian dilakukan terhadap buku orang-orang PKI (Lekra) tidak lama setelah Gestapu (G 30 S). Kaum anti PKI,  juga menggunakan tangan Dep. P dan K, persis seperti PKI dan teman-temannya  sebelumnya.
From: Y.T.Taher <ariyanto@bigpond.com>
To: GELORA45@yahoogroups.com; temu_eropa@yahoogroups.com
Sent: Friday, October 7, 2011 7:42 PM
Subject: [GELORA45] Re: Mengenang Peristiwa 1965: “Gestapu”

Mengenang Peristiwa 1965:
“Gestapu”
Untuk lebih memberi penekanan “betapa kejam dan biadabnya” G30S seperti yang dipidatokan  Soeharto, maka Kolonel Haji Sugandi, Pemimpin Harian Angkatan Bersenjata, tanpa mengikuti hukum dan peraturan bahasa Indonesia, memutar balik sebutan Gerakan Tiga Puluh September, menjadi Gerakan September Tiga Puluh, yang disingkatnya menjadi Gestapu. Ini dimaksudkan untuk lebih membakar kebencian rakyat terhadap G30S yang disamakannya dengan Gestapo, Polisi Rahasia Jerman, yang menjadi pembunuh kejam waktu Perang Dunia II. Di setiap kesempatan dan acara, nama G30S yang diembel-embeli dengan PKI di belakangnya, mereka sebut dan populerkan sebagai Gestapu—PKI.
Dr. Asvi Warman Adam mengatakan, “Kita tahu, gerakan ini menyebut diri sebagai Gerakan Tiga Puluh September. Karena itu, lebih objektif bila peristiwa itu disebut sebagai G30S, bukan Gestapu dan bukan pula Gestok.” (silahkan baca MASHI/Ultimus-hal. 76)
Catatan: Pada awal July 1967 kami (para tapol orba) di bawa ke suatu gedung pertemuan dan diberi indoktrinasi, dijejali “pengetahuan” tentang Etika dan Ahklak, tentang Panca Sila, UUD 1945 dan UU dari segi pandangan agama. Juga tentang MPRS dan MPR serta Operasi Militer tentang penangkapan DN Aidit
Setelah selesai indoktrinasi yang makan waktu beberapa hari itu, masing-masing para tapol diuji, lisan dan tulisan, sampai dimana “pengetahuan” kami tentang hal-hal yang sudah di indoktrinasikan. Aku masih ingat, salah satu pertanyaan adalah: “apa itu Gestapu?” Dengan jengkel, aku menulis dalam kertas jawabanku: “Gestapu adalah kata ciptaan Kolonel Haji Sugandi Pemimpin Redaksi Harian
Angkatan Bersenjata di Jakarta, untuk nama yang diputarbalikkan bagi gerakan militer G30S”. Aku tahu, mereka tidak mengajarkan jawabanku yang serupa itu,  namun aku yakin mereka juga tidak tahu darimana kata itu berasal. Mungkin mereka menduga aku akan memberi jawaban bahwa gestapu itu adalah “G30S/PKI”. Bahhhhhhh………!!! Aku merasa lebih baik pengajaran yang kuterima dari guru-guruku semasa di SMA, daripada indoktrinasi yang mereka jejalkan itu!  (Untuk menjadi perhatian, itu adalah jawabanku pada indoktrinasi tahun 1967. Silahkan lihat dan baca buku Riau Berdarah/Hasta Mitra-halaman 148. Setelah itu, sebagian para tahanan di “bon”, diambil malam hari dan dihilangkan/dibunuh oleh penguasa-pen)).

Stigma Korban G30S, Kurikulum Sejarah Diminta Diperbaiki

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/stigma-korban-g30s-kurikulum-sejarah-diminta-diperbaiki/

08.10.2011 10:00

Stigma Korban G30S, Kurikulum Sejarah Diminta Diperbaiki

Penulis : Dina Damayanti

(foto:dok/ist)

JAKARTA - Semakin banyaknya literatur dan hasil penelitian yang mengungkapkan fakta dan sejarah di balik tragedi G30S, memunculkan keinginan agar kurikulum sejarah diperbaiki.

“Pada seminar nasional Asosiasi Guru Sejarah Indonesia tahun 2010 yang dihadiri Wamendiknas (Wakil Menteri Pendidikan Nasional) Fasli Jalal, kami sudah meminta agar kurikulum sejarah ditinjau kembali dengan makin banyaknya fakta (tentang tragedi G30S),” ungkap Ketua Asosiasi Guru Sejarah se-Indonesia Ratna Hapsari saat acara diskusi buku Memecah Pembisuan, di Goethe Institut, Jakarta, Jumat (7/10) malam.

Buku ini mengisahkan tentang pengalaman pahit 14 korban dan satu pelaku tragedi G30S yang tersebar di seluruh Indonesia. Permintaan untuk meninjau ulang kurikulum sejarah diapresiasi oleh Wamendiknas.

“Kami diminta ikut berbicara pada saat merancang kurikulum, karena saya dengar rencananya kurikulum akan diubah pada 2014,” ujar Ratna, sambil mengatakan bahwa kurikulum yang berlaku selama ini merupakan peninggalan mantan Mendiknas Nugroho Notosusanto yang lebih banyak menitikberatkan pada versi militer dan pemerintah saja, sementara PKI digambarkan sebagai pihak yang melancarkan kudeta berdarah.

Parahnya lagi, pemerintah Orde Baru berhasil menanamkan ingatan kolektif yang begitu kuat seputar tragedi G30S melalui pembuatan buku, film dan monumen sesuai versi mereka, sehingga ketakutan masyarakat luas terhadap PKI masih melekat hingga sekarang.

Ratna pun mengimbau agar para sejarawan membantu upaya perbaikan kurikulum sejarah ini dengan memberi fakta sebenarnya seputar tragedi berdarah yang terjadi 46 tahun lalu itu.

“Karena guru itu seperti koki, hanya menyajikan, tapi isi kurikulum adalah (tugas) sejarawan dan pakar-pakar pendidikan,” tutur Ratna yang mengaku sering mendapat pertanyaan dari murid-muridnya seputar tragedi G30S ini.

Ia berharap semakin banyak buku semacam Memecah Pembisuan ini diterbitkan supaya generasi muda bisa mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Cara ini akan mengajarkan bahwa masa lalu memang ada yang gelap sehingga jangan sampai terulang kembali.

Rekonsiliasi Nasional

Keinginan agar makin banyak fakta dan buku seputar tragedi G30S ini diterbitkan, juga didukung Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Imam Aziz.

Menurutnya, cara ini akan memberikan pencerahan bagi by stander atau orang yang selama ini bertanya-tanya atau tidak punya kaitan dengan masa lalu, tapi tidak berani mengajukan pertanyaan, termasuk generasi muda.

Menurut Imam, orang-orang semacam ini sangat potensial dalam upaya mengungkapkan fakta sejarah dan menggerakkan rekonsiliasi nasional. Ia menegaskan, gerakan rekonsiliasi memaknai masa lalu harus dilakukan bersama-sama agar lebih efektif. “Tanpa keterlibatan masyarakat luas tidak akan bisa simultan,” katanya.

Pemerintah era reformasi sudah memperlihatkan keinginan meluruskan tragedi ini. Wakil Ketua II Komnas HAM Joseph Adi Prasetyo mengungkapkan, April lalu Komnas HAM sudah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat itu SBY mengatakan dirinya tidak mau terbebani oleh masa lalu dan meminta Komnas HAM membantu mencari jalan apa yang bisa dilakukannya.

Oleh karena itu, Menko Polhukam dan Komnas HAM membentuk sebuah tim. “Bulan depan mau ketemu, mudah-mudahan bisa mengajukan konsep ke Presiden,” kata Joseph yang akrab disapa Stanley itu.

Ia banyak menemukan fakta kekejaman dan kekerasan pada tragedi 1965, tetapi negara justru membiarkan. Ia mengungkapkan, saat itu ada jutaan orang ditangkap, ditahan bahkan disiksa di gedung-gedung milik underbouw PKI, termasuk di sekolah dan gedung milik warga keturunan China.

Bahkan, penyiksaan itu dilakukan dengan berpindah-pindah tempat sehingga menyulitkan penyidik untuk melakukan pembuktian. Ini karena menurut UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, dalam sebuah kejahatan HAM harus dijelaskan locus (tempat) dan tempus (waktu)-nya secara rinci.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers