Archive for the ‘Sejarah’ Category

Belanda Tutup Babak Hitam di Rawagede

janda Rawagede

Avatar Michel Maas
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Belanda Tutup Babak Hitam di Rawagede

Diterbitkan : 9 Desember 2011 – 1:27pm | Oleh Michel Maas (Foto: Michel Maas)

Diarsip dalam:

Enam perempuan tua duduk di baris depan. Merekalah janda-janda korban pembantaian yang dilakukan tentara Belanda di Rawagede 9 Desember 1947. Mereka berupaya menangkap kata-kata Duta Besar Belanda, Tjeerd de Zwaan. Dengan pidatonya, sang dubes berupaya menutup babak hitam sejarah Belanda.

Tahun 1990 masih ada 51 orang korban, 10 tahun kemudian jumlah ini tinggal separuh. Ketika negara Belanda digugat, masih tersisa 10 orang janda yang membubuhkan tanda tangan di bawah gugatan. Dan hari ini mereka tinggal berenam saja.

Para janda mendengarkan sebuah pidato yang pendek dan jelas. Setelah 64 tahun mereka dengar permintaan maaf. “Dalam hal ini saya minta maaf atas nama pemerintah Belanda bagi tragedi yang berlangsung di Rawagede 9 Desember 1947,” kata Duta Besar Tjeerd de Zwaan.

Minta maaf atau menyesal
Kata-katanya sangat jelas. Tidak perlu lagi didiskusikan apakah ini permintaan maaf atau ungkapan “penyesalan”. Kini itu sudah masa lalu. Selain permintaan maaf, Belanda juga memberi santunan ganti rugi: keenam janda yang masih hidup, masing-masing menerima 20.000 euro.

Bisa dipertanyakan mengapa Belanda perlu 64 tahun untuk minta maaf, bisa dipertanyakan apakah 20.000 euro itu cukup. Tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tak terdengar di Rawagede Jumat ini.

Sebuah babak ditutup di Rawagede. Terutama bagi para janda. Mereka hanya sibuk dengan kasus di pengadilan selama lima tahun terakhir. Mereka diterbangkan ke Belanda, dibawa ke Jakarta, berbicara dengan anggota parlemen dan bersaksi di depan pengadilan.

Wanti, salah satu janda, “Saya bersyukur ini sudah selesai.”

Tak terlambat
“Tidak pernah terlambat kalau mau minta maaf,” kata pengacara Liesbeth Zegveld. Tapi bagi beberapa janda momentum ini terlambat sudah. Saih, misalnya. Ialah satu-satu korban selamat pembantaian 1947, ketika tentara Belanda mengeksekusi semua warga pria Rawagede, baik anak-anak maupun dewasa.

Saih selamat karena pura-pura mati, sementara tubuhnya berlumuran darah orang lain. Dia tampak tegar bahkan masih bisa terbang ke Belanda untuk mengikuti proses gugatan tahun lalu.

Tiba-tiba dia meninggal karena serangan jantung enam bulan lalu. Ia dikuburkan di belakang rumahnya. Saih tidak pernah mendengar permintaan maaf dan tidak menerima santunan. Karena siapa yang mati, dicoret dari daftar penerima santunan.

Putusan hakim, beberapa bulan lalu, mewajibkan pemerintah Belanda hanya membayar kompensasi kepada para janda dan korban yang selamat. Bukan kepada keluarga atau anak-anak.

Jelas
“Saya rasa pemerintah Belanda senang dengan putusan hakim. Enam sanak saudara korban adalah kelompok yang tidak banyak,” kata Zegveld, “tapi saya tidak mau menggunakan istilah ‘murah’. Kurang cocok untuk konteks ini. Sudah bagus pemerintah menuntaskan kasus Rawagede secepat ini, dan tidak naik banding atau mulai macam-macam prosedur lain, tapi langsung membayar santunan itu. Tidak ada yang menyangka ini akan terjadi. Sehari sebelum vonis pengadilan saya bilang kami punya kans satu persen.”

Walau demikian ada pihak yang tidak puas. Batara Hutagalung, salah satu warga Indonesia yang menggelindingkan kasus Rawagede, mengatakan Belanda masih belum resmi menerima 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia.

Hutagalung juga mengatakan bahwa Rawagede merupakan satu dari puluhan kejahatan perang dan semua kasus itu juga harus dituntaskan. Jika orang-orang seperti Hutagalung dapat menentukannya, maka Belanda bakal menerima banyak tuntutan ganti rugi.

Favorit/Cari dengan:
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Facebook
  • Google
  • Technorati

Diskusi

Anonymous 9 Desember 2011 – 11:56pm / indonesia

Mengharap pemerintahan SBY bersikap sama terhadap korban kekerasan negara pada para akrtifis mei 1998 seperti berharap seekor belut akan tumbuh bulu ..

Anonymous 10 Desember 2011 – 12:05am / indonesia

Jangan terlalu berharap pada hal yang mustahil dilakukan oleh pemimpin yang di sandera oleh para MAFIA Bung,..dia sudah tak punya nyali lagi,..

Ibrahim Isa 9 Desember 2011 – 5:53pm / Nederland

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 05 Desember 2011
———————–

LANGKAH BESAR DAN SIGNIFIKAN DLM PERBAIKAN HUBUNGAN INDONESIA-BELANDA

Hari ini kita baca di situs BBC, 05 Desember 2011, bahwa pemerintah
Belanda akan secara resmi menyampaikan permintaan maaf atas pembantaian
ratusan warga Indonesia di Rawagede pada masa agresi ke-2 Belanda atas
Republik Indonesia, 1947. Hal ini dinyatakan kepada pers oleh jubir
Kemlu Belanda, Aad Meijer, ( AFP, 5-12-2011). Dikatakan oleh Aad Meijer,
bahwa,

“Duta Besar Belanda untuk Indonesia pada Jumat 9 Desember akan meminta
maaf atasnama pemerintah Belanda atas apa yang telah terjadi” .

Menurut fihak kita, Indonesia, jumlah yang dibantai oleh tentara
Belanda, berjumlah 431 orang. Belanda menyebut angka kurang dari
separuhnya. Pebedaan angka ini dengan sendirinya setelah fihak Indnesia
bisa menunjukkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat, akan bisa
terselesaikan.

Yang teramat penting dari sikap pemerintah Belanda tsb yang akan minta
maaf dan memberikan ganti rugi atas korban yang ditimbulkannya dari
agresi militernya terhadap Republik Indonesia, ialah:

Di satu fihak sikap Belanda ini merupakan langkah besar dan signifikan
dalam normalisasi dan perbaikan hubungan Indonesia-Belanda, sejak
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Selanjutnya yang kita nantikan adalah PENGAKUAN RESMI PEMERINTAH
BELANDA, bahwa Republik Indonesia, dengan siapa pemerintah Belanda
mengadakan hubungan diplomatik, adalah sebuah NEGARA MERDEKA YANG
BERDIRI SEJAK Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Dengan
sendirinya, fihak Belanda juga harus mengakui bahwa dua kali agresi
Belanda terhadap Republik Indonesia, yang mereka namakan ´aksi
kepolisian´ itu, setelah tercapainya Persetujuan Linggarjati antara
Republik Indonesia dengan Kerajaan belanda, tahun1946, dan tahun 1947,
setelah tercapainya Persetujuan Renville, 1947, antara Republik
Indonesia dan Kerajaan Belanda.— *adalah suatu perang agresi yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam Piagam PBB.

Dengan demikian, ´hutang Hindia Belanda´ kepada Den Haag yang harus
dibayar oleh Indonesia setelah Persetujuan Konferensi Meja Bundar, harus
dikembalikan kepada Republik Indonesia. Bersamaan dengan itu pemerintah
Belanda, harus siap-siap membayar PAMPASAN PERANG kepada Republik
Indonesia, sebagai akibat perang agresi yang dilancarkannya terhadap
Republik Indonesia. Bila ini terlaksana, baru bisa dikatakan sengketa
Indonesia-Belanda sekitar kemerdekaan Indonesia bisa diakhiri.

Demikianlah bila keadilan dan kebenaran hendak benar- benar ditegakkan
dan dikembangkan dalam hubungan Indonesia — Belanda.

* * *

Disampaikan pula bahwa Duta Besar Belanda untuk Indonesia akan berpidato
pada acara peringatan pembantaian pada 9 Desember di Rawagede yang kini
dikenal sebagai Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat. Pemerintah
Belanda sebelumnya pernah menyampaikan penyesalan atas pembunuhan warga
di Rawagede tetapi belum pernah menyampaikan permintaan maaf secara resmi.

Liesbeth Zegveld, pengacara keluarga korban pembantaian mengatakan
pihaknya menyambut permintaan maaf pemerintah Belanda. Ditambahkannya,
bahwa, pemerintah Belanda juga akan memberikan ganti rugi sebesar 20.000
euro atau sekitar Rp243 juta per keluarga korban yang mengajukan
gugatan. Liesbeth Zegveld menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa,

“Peristiwa yang terjadi 64 tahun lalu dan terdapat putusan tegas dari
pengadilan. Keluarga korban sangat senang karena pemerintah Belanda
tidak akan mengajukan banding dan akan meminta maaf,” kata Zegveld.

* * *

Apa yang dikemukakan diatas tentang kewajiban pemerintah Belanda yang
dengan resmi harus mengakui HARI KEMERDEKAAN INDONESIA, dan dengan itu;
mengakui dua kali agresi Belanda terhadap Republik Indonesia; serta
mengembalikan uang pembayaran Indonesia kepada Belanda (Sejumlah
1.130.000.000, dolar AS, yang sudah dilunasi Indonesia pada Belanda)
menyusul Persetujuan KMB; serta PEMBAYARAN PAMPASAN PERANG BELANDA
kepada Indonesia, — *adalah serentetan masalah antara Indonesia dan
Belanda yang masih menggantung. YANG BELUM SELESAI.

Namun, kita tidak menutup mata atas kemauan baik pemerintah Belanda
dengan sikapnya belakangan ini yang , DENGAN RESMI HENDAK MINTA MAAF
SEKITAR KASUS RAWAGEDEk dan kesediaannya untuk membayar ganti rugi atas
tindakannya di Rawagede. Sikap pemerintah Belanda itu betapapun HARUS
DISAMBUT.

Bahkan, fihak pemerintah Indonesia patut menarik pelajaran dari sikap
Belanda tsb. Bahwa pemerintah Rutte/Verhage yang sekarang ini, meskipun
tak ada keterlibatan langsung dengan PERISTIWA PEMBANTAIAN RAWAGEDE —
namun, telah mengambil oper tanggungjawab pemerintah yang lalu, yang
telah melakukan pelanggaran kemanusiaan terhadap rakyat Indonesia.

/Pemerintah Presiden SBY, juga seyogianya berteladan dari sikap
pemerintah Belanda sehubungan dengan tindakan pelanggaran HAM yang
dilakukan pemerintah Belanda lebih 60 tahun yang lalu. Yaitu mengakui
pelanggaran tsb, minta maaf, dan membayar ganti rugi.

Pemerintah SBY juga bisa dan harus berani mengambil oper tanggungjawab
atas pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah Orba, yaitu melakukan
kesalahan pelanggaran HAM terbesar, dengan pembantaian masal,
pemenjaraan, penghilangan dan pembuangan ke P, Buru. Pemerintah SBY
harus berani turun tangan menangani kasus pembantaian dan pelanggaran
HAM lainnya sejak berdirinya rezim Orba, serta merehabilitasi jutaan ara
korban dan memberikan pembayaran ganti rugi yang layak.

ITULAH PELAYARAN YANG HARUS DAN BISA DITARIK OLEH PEMERINTAH SBY DARI
SIKAP BELANDA MENGENAI KASUS RAWAGEDE!

* * *

Setelah Kematian, Kembali ke Pearl Harbor

PERANG DUNIA II
Setelah Kematian, Kembali ke Pearl Harbor
| Egidius Patnistik | Kamis, 8 Desember 2011 | 07:34 WIB
navsource.org Suasana serangan Jepang ke Pearl Harbor, 7 Desember 1941

LEE SOUCY memutuskan lima tahun lalu bahwa kala dia meninggal dia ingin bergabung kembali dengan rekan-rekan kapalnya yang tewas dalam serangan ke Pearl Harbor.

Soucy hidup sampai usia 90 tahun, meninggal dunia tahun lalu. Hari Selasa, tujuh dekade setelah puluhan rekan pelautnya tewas ketika USS Utah tenggelam pada 7 Desember 1941, seorang penyelam angkatan laut membawa sebuah kendi kecil berisi abunya dan meletakkannya di sebuah tingkap di sisi kapal itu.

Upacara tersebut adalah satu dari lima upacara peringatan yang diselenggarakan pekan ini bagi anggota angkatan bersenjata yang selamat melewati serangan itu dan ingin abu mereka ditempatkan di Pearl Harbor karena rasa bangga dan kedekatan dengan mereka yang tewas di sana.

”Mereka ingin kembali dan bersama dengan rekan-rekan kapal mereka yang tewas dalam serangan itu,” kata Jim Taylor, seorang pensiunan pelaut yang mengoordinasikan upacara-upacara itu.

Upacara peringatan tersebut terjadi pada pekan yang sama saat AS memperingati 70 tahun serangan bom udara Jepang yang menewaskan 2.390 orang Amerika dan membawa AS ke Perang Dunia II. Sebuah upacara yang lebih besar untuk memperingati semua yang tewas akan dilaksanakan hari Rabu sebelum pukul 08.00 waktu Hawaii— waktu yang sama serangan itu dimulai.

Sebagian besar dari 12 kapal yang tenggelam atau terdampar ke pantai hari itu telah dipindahkan dari pelabuhan. Hanya USS Utah dan USS Arizona yang masih tergeletak di air biru gelap. Hanya mereka yang selamat dari kapal-kapal itu yang bisa kembali ke kapal mereka setelah meninggal.

Abu dari Vernon Olsen, yang bertugas di kapal Arizona, akan diletakkan di kapalnya dalam sebuah upacara senja hari Rabu. Abu dari tiga pelaut yang selamat lainnya ditebar di pelabuhan.

Soucy masuk AL begitu lulus dari SMA. Tahun 1941, dia adalah kelasi yang terlatih mengurus orang yang sakit dan cedera.

Ketika dia melihat pesawat-pesawat menjatuhkan bom di hanggar, dia berlari ke pos tempurnya, namun mendengar perintah untuk meninggalkan kapal yang mulai tenggelam. Dia berenang ke pantai, di mana dia membuat tempat pengobatan darurat.

Utah kehilangan hampir 60 orang pada 7 Desember dan sekitar 50 lainnya masih terkubur di dalam kapal perang itu.

Di bawah langit mendung, seorang penyelam AL membawa kendi itu, yang dilindungi dengan sebuah tas jala, dan memegangnya di atas permukaan air saat berenang menuju Utah. Penyelam itu, yang didampingi tiga penyelam lain, menyelam ke tingkap sisi kapal begitu mencapai Utah.

Sebuah kendi berisi abu Vernon Olsen, salah satu dari 334 orang di kapal Arizona yang selamat, akan diletakkan di kapal perang itu hari Rabu. Sebagian besar dari 1.177 kelasi dan marinir yang tewas pada serangan udara di Jepang tanggal 7 Desember 1941 itu masih terkubur di kapal tersebut. (AP/DI)

 

G30S-SUHARTO 1965,PANGKAL/SUMBER KEKACAUAN HINGGA DEWASA INI

G30S-SUHARTO 1965,PANGKAL/SUMBER KEKACAUAN HINGGA DEWASA INI
S. Utomo

in:Ex Libris <exlibris1965@gmail.com>; sastra pembebasan <sastra-pembebasan@yahoogroups.com> , Sunday, 27 November 2011, 0:04

27 September 2011

Peristiwa sejarah yang dasyat yang pernah terjadi di negeri kita -Indonesia
pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 jam 04.00 pagi, yaitu diculik dan
dibunuhnya 6 perwira tinggi AD dan 1 perwira pertama (Jendral A. Yani, Panglima
AD dan teman-temannya dari Markas Besar AD di Jakarta) adalah tindak awal kup
merangkak jendral Suharto yang direkayasa AS-CIA dan Inggris-MI6 terhadap
Presiden RI pertama Ir. Soekarno, salah seorang tokoh – pimpinan perjuangan
kemerdekaan, proklamator Indonesia merdeka penuh yang anti kolonial-imperialis
untuk membangun sosialisme di Indonesia.

Almarhum Jendral Suharto, pendukung dan pembelanya sampai hari ini
masih menyatakan bahwa peristiwa itu adalah usaha kup G30S/PKI. Sudah puluhan
buku, tulisan yang ditulis oleh tokoh pelaku sejarah, ahli, pemerhati sejarah baik
dalam bahasa Indonesia di Indonesia maupun dalam bahasa asing, Belanda, Inggris,
Perancis, dan lainnya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia
membuktikan bahwa peristiwa itu adalah rekayasa AS, Inggris yang didukung
negara imperialis lain.

Fitnah, pembohongan, pemutarbalikan itu dilakukan sejak 2 Oktober 1965,
yaitu sejak dilarangnya terbit semua surat kabar, kecuali Berita Yuda dan Angkatan
Bersenjata milik AD yang memuat berita dan tulisan pembohongan menghasut
rakyat melawan PKI sebagai kambing hitam peristiwa September ‘65 untuk
dijadikan sasaran utama dihancurkan.

Sejak tanggal 5 Oktober 1965, hari Angkatan Bersenjata, kantor PKI, organisasi
massa buruh, tani, perempuan, pemuda, pelajar, mahasiswa, sarjana, dan lain-lain
baik di Jakarta maupun di daerah-daerah diobrak abrik, dibakar oleh massa yang
dihasut oleh AD Suharto. Demikian juga kegiatan menangkapi, menahan, menyiksa,
membunuh tokoh-tokoh, kader, baik anggota PKI, ormas atau orang-orang yang
mereka curigai, baik laki-laki, perempuan, anak-anak, ibu mengandung temasuk
orang lanjut usia, tanpa diketahui dari mana mereka dan tanpa surat penangkapan
serta alasannya.

Pembunuhan secara besar-besaran terjadi, dilakukan di Jawa Tengah, Jawa
Timur, Bali, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Tengah, Selatan, Lampung,
Kalimantan Barat, Sulawesi, dan lainnya. Menurut almarhum Jendral Sarwo Edi
Wibowo, bekas komandan RPKAD (kemudian menjadi Kopasus) menyatakan pada
Permadi, S.H sewaktu beliau mengunjungi Sarwo Edi sakit, yang dibunuh 3 juta
orang, yang ditahan (baca: dipenjara) tanpa proses hukum menurut Jendral Tri
Sutrisno, mantan Komkamtip, ada 1.900.000 orang. Ini yang tercatat, bila dimasukan
yang tidak tercatat semuanya tidak kurang dari 2 juta orang selama 14 tahun, bahkan
ada yang sampai tahun 1998. Tidak kurang dari 20 juta orang yang dicabut hak-hak
kewarganegaraannya termasuk mereka yang sedang tugas belajar dari pemerintah di
luar negeri dicabut passpornya.

Jendral Suharto mengangkat diri sendiri menjadi panglima AD/Kasad pada
tanggal 2 Oktober 1965, dan kemudian dengan menggunakan sidang MPRS memecat
Presiden Sukarno dan mengangkat dirinya menjadi Presiden. Setelah menjadi
presiden, Suharto mengunakan kedudukan untuk mengabdi kapitalis global seperti
kepada AS memberi konsesi mendirikan Freepot di Papua Barat untuk mengeruk
tembaga, emas, perak, uranium; New Mont mengeduk emas di dasar laut pantai
Sulawesi, Lombok; Esson untuk mengebor minyak tanah di laut dan menguasai
ladang minyak di Cepu, perusahaan mengeduk timah di Bangka; memberi
keleluasan Jepang manguasai transportasi -otomotif, elektronik dan barang kosumtif
lainnya. Demikian bank-bank asing yang juga diberi keleluasaan beroperasi di
Indonesia menguasai peredaran uang melalui investasinya.

Suharto mendapatkan upah dan jasa menumpas gerakan rakyat anti
kolonialisnme, imperalis yang berarti mengamankan investasi modal asing di
Indonesia. Pinjaman dari Bank-bank internasional, seperti dari IMF, Bank Dunia,
ADB dan persekutuan kaum kapitalis dunia untuk membangun infrastruktur -jalan-
jalan guna memudahkan angkutan barang dagangan negeri kapitalis ke konsumen;
membangun pertanian “revolusi hijau” agar desa bisa menjadi pasar barang impor
dari negeri kapitalis untuk membuktikan timbulnya kemakmuran ini karena
digantikannya kekuasaan presiden Soekarno dan dibunuhnya, dihancurkannya PKI
dan kekuatan anti kolonialis, anti imperialisme serta tegaknya kembali kolonialisme,
imperialisme di Indonesia dan perlu mutlaknya menegakkan kekuasaan militeris
Suharto.

Undang-undang, keputusan presiden, peraturan, instruksi presiden yang
tujuannya untuk menegakkan dominasi kekuasaan, kekuatan neo-kolonialis dibuat.
Suharto berkoar-koar ke semua negara imperialis agar menginvestasikan kapitalnya
di Indonesia karena Indonesia kaya sumber daya alamnya, cukup melimpah tenaga
murah, dan terjaminnya keamanan dan kepastian hukum bagi negeri-negeri
imperialis.

Dengan jaminan yang ditawarkan, diberikan Suharto ini mengalirkan
“bantuan” (baca: pinjaman) ke Indonesia, dan dengan demikian timbulah
kemungkinan kekayaan, modal untuk di korup kroni Suharto. Selama Jendral
Suharto berkuasa – 32 tahun, telah menghimpun kekayaan yang menggunung pada
diri dan keluarganya dengan mengorup 35 milyar dollar dari pinjaman hutang yang
150 milyar dollar. Hal ini diakui dan dinyatakan oleh Prof. DR Sumitro, mantan
besannya, dan Bank dunia, bukan rahasia lagi.

Kejahatan Jendral Suharto mulai mengkup, menahan sampai meninggal
presiden Soekarno, menganiaya, membunuh 3 juta orang, menahan selama 14 tahun
2 juta orang, mencabut hak kewarganegaraan 20 juta orang, sampai dia meninggal
belum pernah dijamah oleh hukum, karena perundang-undangan, pengadilan,
kepolisian, kejaksaan semuanya diatur untuk melindungi dia, keluarga dan kroni-
kroninya.

Budaya politik, ekonomi, sosial yang sudah disusun dan didoktrinkan dalam
masyarakat terutama pada pengikut dan pembelanya, walaupun Jendral Suharto
sudah digulingkan dan diganti dengan sistem reformasi, masih tetap menancap
dalam benak mereka. Reformasi pada hakekatnya dan isinya bukannya
menjungkirbalikan tatanan yang lama tetapi hanya mengganti bentuk dan cara
dengan yang baru, dengan isi yang lama, yaitu tetap melanjutkan, mempertahankan
posisi negeri ini sebagai negeri neo-kolonial dari negara neo-imperalisme -kapitalis
global dengan sistem neo-liberalisme.

Ketergantungan dalam politik dari neo-imperalis, global kapitalis masih tetap
kokoh, demikian juga dalam ekonomi, hukum, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan,
termasuk dalam pertahanan. Dasar inilah yang ditegakkan Suharto pada anak didik
angkatan berikutnya sampai dewasa ini, walaupun bentuk dan caranya berubah
sesuai dengan kata reformasi.

Korupsi, menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, kelompok,
partai adalah sudah menjadikebudayaan berjamaah, bukan hanya di tingkat bawah,
tetapi yang utama di tingkat atas, puncaknya. Perbuatan seperti ini sudah diajarkan,
diberi contoh oleh Jendral Suharto dan kini penggantinya tinggal menggunakannya
dengan disesuaikan pada kondisi, situasi yang baru. Kini semua prinsip, dasar yang
telah dibangun Suharto, dengan landasan reformasi, penggantian bentuk dan cara
telah dijalankan oleh presiden Sby sehingga hasilnya menimbulkan kesemrawutan,
kekacauan yang tidak dapat dihindari.

Dewasa ini, hari-hari inii negeri induk kapitalis global, AS, Eropa sedang dalam taraf
memasuki krisis keuangan, pembayaran yang pasti akan berkembang menjadi krisis
ekonomi, dan memuncaknya krisis politik. Sudah pasti Indonesia yang sedang
semrawut akibat melanjutkan pemerintahan Suharto akan terseret dalam krisis ini
yang lebih dalam daripada krisis tahun 1988. Krisis bukan hanya menyangkut
perusahaan swasta, tetapi juga negara. Jalan memperbaikinya, mengubahnya
menjadi yang baru sesuai dengan tuntutan jamannya bukan lagi reformasi -tetapi
tidak lain adalah revolusi. Revolusi adalah perubahan suatu kualitas lama menjadi
kualitas baru secara mendadak dalam seluruh tatanan kehidupan, termasuk pikiran,
kesadaran masyarakat. Inilah keharusan, kenistaan dialektika sejarah alam termasuk
manusia dan masyarakatnya pasti akan terjadi, bukan karena kemauan segelintir
atau sekelompok orang tetapi kemauan mayoritas rakyat dalam masyarakat negeri3
neo-kolonial dan neo-liberal Indonesia dewasa ini. Ini berarti keniscayaan alami
yang tidak dapat dihindari. Tinggal waktu, momen, situasi yang akan menetapkan
kapan hal itu akan terjadi.

TAN MALAKA TROTSKIS

TAN MALAKA TROTSKIS

Dian Su:

in:gelora45@yahoogroups.com ,Monday, 28 November 2011, 9:52

 

  Saya menyambut disiarkannya tulisan Bung MH Lukman tentang Tan Malaka oleh Bung Lusi. Di kala kapitalisme dunia dilanda krisis moneter yang dahsyat, tak ayal lagi mata dan fikiran orang berpaling pada sosialisme. Maka muncul tulisan Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto mengenai membangun sosialisme Indonesia. Secara menyolok, dia menampilkan peranan penting Tan Malaka.

 

Akhir-akhir ini cukup menonjol kegiatan mempopulerkan Tan Malaka, mulai dari penerbitan karya-karyanya, sampai-sampai mengusahakan pencarian makamnya. Bagi generasi muda sangat penting mengenal secara tepat peranan dan kedudukan Tan Malaka di masa lampau untuk bisa memahami sejarah Indonesia.

 

    Tulisan Bung MH Lukman secara tajam memperkenalkan Tan Malaka. Secara tegas diungkapkan alasan-alasan yang menyebabkan Tan Malaka dinilai sebagai seorang Trotskis. Saya mendukung dan memperkuat tulisan Bung MH Lukman ini. Di samping itu, dapat saya tambahkan keterangan berikut ini berkenaan dengan Tan Malaka yang Trotskis itu:

Tahun 1926, untuk mendapatkan pertimbangan dari Komintern, mengenai rencana pemberontakan, oleh Hoofdbestuur PKI diutus Alimin menemui wakil Komite Eksekutif Komintern di Timur Jauh, kemudian disusul lagi oleh Moesso. Karena agak lama belum ada berita dari utusan itu, dikirim lagi Sardjono dan Boedisoetjitro ke Singapura untuk menemui Tan Malaka yang pada waktu itu menjadi salah seorang anggota sekretariat Komite Eksekutif Komintern untuk Timur Jauh. Tan Malaka yang sedang berada di Filipina menyatakan menentang putusan Konferensi Prambanan. Tan Malaka meninggalkan PKI. Dan selanjutnya, bersama Soebakat dan Djamaloeddin Tamin di ibukota Thailand, 22 Juni 1927 memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI), menjauhkan diri dari Komintern. Tahun 1948 mendirikan Partai Murba di Jogjakarta. Bersama Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin Soetan Sjahrir jadi kekuatan pendukung Pemerintah Hatta membasmi PKI dalam Peristiwa Madiun.

Tindak-tanduk Tan Malaka menentang putusan Konferensi Prambanan mengenai rencana pemberontakan nasional, sikapnya mencampakkan PKI dan mendirikan partai sendiri Partai Republik Indonesia (PARI) tahun 1927; tahun 1928 menghadiri Kongres ke-VI Komintern, Tan Malaka mengkritik pimpinan Komintern, hingga Bukharin menyatakan Tan Malaka adalah Trotskis. Tan Malaka menjauhi Komintern dan berkolaborasi dengan fasisme Jepang, yang berarti menentang putusan Komintern untuk melawan fasisme; berhubungan erat dengan Partai Revolutionnaire Communistische Partij Nederlandsch, Seksi  dari Internationale Ke-IV (Internasionale Trotskis).  Tan Malaka berhubungan erat dengan Internasionale ke-IV, Internasionale Trotskis. Anggota Internasionale ke-IV di Belanda, De Revolutionnaire Communistische Partij Nederlandsche Sectie van de Vierde Internationale, menerbitkan tulisan Tan Malaka dalam publikasinya DE TRIBUNE.

Dalam kenyataannya, Tan Malaka memang berhubungan dengan Internasionale ke-IV, Internasionale Trotskis. Anggota Internasionale ke-IV di Belanda De Revolutionnaire Communistische Partij Nederlandse Sectie van de Vierde Internationale, menerbitkan tulisan Tan Malaka dalam publikasinya DE TRIBUNE, 5 Maret 1949. Dan tahun 1948 Tan Malaka mendirikan Partai Murba, yang selanjutnya menempuh jalan anti-PKI, menentang politik NASAKOM Bung Karno. Akhirnya tahun 1965, Partai Murba dinyatakan bubar oleh Bung Karno.

Tulisan Bung MH Lukman itu membuka mata generasi muda untuk memahami peranan negatif dan berbahaya dari para pengikut Trotskis di Indonesia. Dalam perkembangannya, para pengikut Tan Malaka jadi penyangga rezim orba Suharto menggulingkan Bung Karno dan membasmi PKI serta seluruh kekuatan kiri di Indonesia.

Perlu diperhatikan, bahwa dalam tulisannya Bung MH Lukman berkali-kali menekankan pentingnya mempelajari dan memahami Marxisme-Leninisme, sebagai satu senjata untuk dengan tepat bisa mengenal Trotskisme. Tan Malaka banyak menulis mengenai teori revolusioner. Sebagaimana halnya Trotski yang menentang Leninisme, Tan Malaka juga tidak mempropagandakan Leninisme, tidak mempropagandakan ajaran tentang diktatur proletariat, walaupun sering menyebut-nyebut Marxisme. Leninisme mengajarkan, bahwa hanyalah mereka yang mengakui diktatur proletariat adalah seorang Marxis.

Itulah akar kesamaan kaum sosial-demokrat dan Trotskis di bidang teori. Yaitu sama-sama tidak menerima ajaran tentang diktatur proletariat. Baik di Indonesia, maupun secara internasional, kaum Trotskis bisa bekerjasama dengan kaum sosial demokrat dalam hal menentang diktatur proletariat. Maka dalam gelombang Perang Dingin yang digalakkan Amerika Serikat, kaum Trotskis bekerjasama dengan kaum sosial demokrat menentang Uni Sovyet, berusaha menggulingkan Uni Sovyet.

Bagi generasi muda Indonesia perlu dicamkan  dalam-dalam, bahwa kaum Trotskis dan kaum sosial-demokrat (kaum soska) telah jadi penyangga rezim orba Suharto yang menggulingkan Bung Karno dan membasmi kaum Komunis dan kaum kiri.

*****

28-11-2011.

— On Sun, 11/27/11, Lusi D. <lusi_d@rantar.de> wrote:
From: Lusi D. <lusi_d@rantar.de>
Subject: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Indonesia, sosialisme ekonomi dan Islam
To: sastra-pembebasan@yahoogroups.com, nasional-list@yahoogroups.com, GELORA45@yahoogroups.com
Cc: satrioarismunandar@yahoo.com, “ISMES” <ismes@yahoogroups.com>, “syiar islam” <syiar-islam@yahoogroups.com>, “Pers” <persindonesia@yahoogroups.com>, “technomedia” <technomedia@yahoogroups.com>, “AJI Ajindo” <ajisaja@yahoogroups.com>
Date: Sunday, November 27, 2011, 4:45 AM

Para Sahabat yb.

Banyak tokoh-tokoh yang dideretkan dalam artikel Anton Dwisunu Hanung
Nugrahanto ini. Tulisan ini mendorong saya untuk mempertanyakan
teka-teki yang terselip di dalamnya; sejak kapan Uni Soviet menjadi
imperialisme dan kemudian kok ada tafsiran, bahwa “Tan Malaka yang
pertama kali dalam sejarah komunis Sovjet Uni melepaskan diri dari
Imperialisme Sovjet”? Sepanjang pengetahuan catatan sejarah nyata yang
ada, sebelum Perang Dunia Kedua, Uni Soviet sedang sibuk mempertahankan
wilayah negerinya yang dikepung oleh negeri-negeri imperialis Eropa,
sambil membangun dan memperkokoh hasil Revolusi Oktober 1917 secara
berdikari. Uni Soviet baru mulai punya urusan ke luarnegeri setelah
menjadi salah satu negara Pemenang Perang Dunia Kedua dan termasuk
negara yang pertamakali mengakui Proklamasi RI.

Ketika membanding-bandingkan tulisan-tulisan lama saya jumpai artikel
MH Lukman ttg Tan Malaka di majalah Bintang Merah tahun ke-VI No.7, 15
November 1950 hlm. 206-208. Tulisan tsb saya kutip spt dibawah ini
dengan perubahan sesuai EYD., yang menganalisa salah satu nama
yang termasuk ditonjol-tonjolkan dalam ulasannya ADHN ini. Penyajian
artikel ini untuk melengkapi pengetahuan kita ttg aktiviteit politik Tan
Malaka.

Selamat belajar di hari Minggu.
Salam.
Lusi.-

M. H. L U K M A N : TAN MALAKA PENGKHIANAT MARXISME–LENINISME

TAN MALAKA adalah Trotskis. Tetapi selama ini belum pernah
diberikan alasan yang terang secara teori untuk menghukum Tan
Malaka sebagai Trotskis. Kita hanya sering mendengar keterangan
yang kurang lengkap mengenai pengkhianatan Tan Malaka di
sekitar pemberontakan 12 November 1926. Alasan yang samar-samar
ini menjadi lebih bureng lagi karena umumnya di kalangan kita
belum mengerti betul siapa sebenarnya Trotzki itu, atau apa
Trotskisme itu. Dengan alasan yang masih samar-samar tentang
pengkhianatan Tan Malaka itu, akibatnya masih selalu terjadi
tuduh-menuduh dengan alasan yang tidak terang dan tidak
prinsipiil, antara orang-orang dari dalam barisan PKI dengan
pengikut-pengikut dan pembela-pembela Tan Malaka yang hanya
karena tidak mengertinya saja. Apalagi Tan Malaka sendiri tidak
terang-terang mengaku sebagai Trotskis dan ia suka memakai nama
Marx, Engels, Lenin, di dalam ucapan dan tulisan-tulisannya.
Kecuali itu yang menambah ruwetnya lagi, yalah di dalam badan
Partai sendiri masih harus dilakukan pendidikan dan pembersihan
terhadap elemen-elemen anarkis dan sosial demokrat.

Jadi, selama keadaan masih demikian, kita tidak akan dapat
menghancurkan samasekali ideologi Tan Malaka dan menelanjangi
pembela-pembelanya yang yakin, sehingga kita tidak akan bisa
menarik ke dalam barisan kita orang-orang yang menjadi
pengikutnya hanya karena tidak mengertinya saja. Oleh karena
itu, masing-masing kita sendiri mesti terang berdiri atas dasar
Marxisme-Leninisme sehingga bisa memberikan alasan yang terang
dan prinsipiil tentang pengkhianatan Tan Malaka itu. Sebab Tan
Malaka, seperti juga kaum Trotskis umumnya, adalah musuh klas
buruh yang paling berbahaya dan paling licin. Kaum Trotskis
pada umumnya pernah menjadi anggota Partai Komunis, sehingga
mereka mengetahui juga cara bekerjanya kaum Komunis. Disini
letak bahaya dan kelicinannya, sehingga bagi orang yang belum
terang pengertiannya tentang Marxisme-Leninisme, belum cukup
mempunyai kewaspadaan politik, tidak bisa dengan gampang
melihat garis penyelewengan dan pengkhianatan-pengkhianatannya.

Dari cerita-cerita orang tentang pemberontakan tahun ’26, kita
belum mendapat keterangan yang cukup banyak untuk menghukum Tan
Malaka sebagai Trotskis Jadi dari manakah kita mendapat bukti
yang nyata dan sah tentang pengkhianatan Tan Malaka itu? Bagi
kita generasi baru tidak bisa lain daripada melihat bukti hitam
diatas putih yang dibuat oleh Tan Malaka sendiri, yaitu melihat
tulisan-tulisan Tan Malaka sendiri. Oleh karena itu
pengkhianatan mengenai Tan Malaka mengenai putusan
pemberontakan tahun ’26, tidak kita jadikan pokok pembicaraan
disini. Pengkhianatan Tan Malaka itu hendak kita tunjukkan dari
tindakan dan pandangan-dunianya sesudah selesainya
pemberontakan tahun ’26 itu.

Lebih dulu kita periksa alasan Tan Malaka mendirikan PARI
(Partai Republik Indonesia). Dalam bukunya, “Thesis“, Tan
Malaka memberikan 4 macam alasan. Kita ambil saja
kalimat-kalimatnya yang pokok sbb:

1.Hampir semua pemimpin PKI yang bertanggungjawab sudah
dimasukkan ke bui atau dibuang ke Digul.
2.Habisnya anggota PKI yang kami (Tan Malaka cs? – MHL) kenal
dari luarnegeri dan putusnya perhubungan, memberi kemungkinan
kelak ada mereka yang akan meneruskan pekerjaan PKI lama dengan
tersembunyi dan dengan hati curang.
3.Komunisme dan PKI karena populernya sudah sampai ke tingkat
menimbulkan fanatisme di antara Rakyat, terutama yang
butahuruf.
4.Kekuasaan yang diberikan KOMINTERN pada saya (tahun 1922) di
daerah yang meliputi beberapa negara, yang praktisnya boleh
dinamakan ASLIA memberi suggestion, petunjuk kepada diri saya,
bahwa semua negara ini memangnya mesti digabung menjadi satu.

Dengan alasan yang pertama, Tan Malaka hendak membenarkan
pendiriannya tidak meneruskan PKI, sebab katanya, “memakai
terus nama PKI yang tiada mengemukakan kesalahan di masa
lampau, tidak akan menambah perbaikan jalannya pergerakan
revolusi Indonesia“. Sedangkan kata Tan Malaka, “untuk membikin
perhitungan tepat atau tidaknya tindakan yang sudah diambil
pada tahun 1926 itu tidak bisa dijalankan“ (karena
orang-orangnya sudah dimasukkan ke bui atau dibuang ke Digul).
Tetapi kita tahu Kawan-kawan Musso, Alimin dan Semaun masih ada
di luarnegeri juga. Dan lagi pada waktu itu KOMINTERN belum
dibubarkan, jadi soal-soal PKI dengan sendirinya masih bisa dan
semestinya dibicarakan di KOMINTERN.

Dari alasan yang kedua kita bisa pastikan, bahwa memang Tan
Malaka sudah tidak bersedia lagi untuk mempertahankan terus
hidupnya PKI secara di bawahtanah (karena di Indonesia pada
waktu itu tidak ada kemerdekaan politik). Tan Malaka sudah
tidak bersedia lagi untuk memimpin PKI menurut jalan yang
benar, jika seandainya dia tahu jalan yang benar itu, untuk
menentang dan menggagalkan usaha mereka yang kata Tan Malaka
akan meneruskan PKI dengan hati yang curang. Keterangan
selanjutnya mengenai alasan yang kedua ini, seakan-akan
menunjukkan Tan Malaka itu cinta pada PKI, cinta dan
bertanggungjawab pada proletariat Indonesia, pada proletariat
internasional dan pada dasar-dasar Komunisme, tetapi
kenyataannya Tan Malaka terang-terangan menghentikan pekerjaan
PKI sebagai salah satu partai proletar yang menjadi cabang
daripada organisasi proletar sedunia, yalah KOMINTERN. Tan
Malaka mengatakan sudah kehabisan anggota PKI yang dia kenal
dan putus hubungan, maksudnya tentu putus hubungan dengan
orang-orang di Indonesia. Tetapi anggota PKI dan hubungan ini
bisa dicari yang baru; dan buktinya Tan Malaka juga bisa
mencari anggota dan hubungan baru, tetapi untuk PARI-nya.

Dengan alasan yang ketiga, Tan Malaka mengakui bahwa Komunisme
dan PKI sudah betul-betul mendapat kepercayaan dari Rakyat.
Juga di dalam keterangan mengenai alasannya yang ketiga ini,
Tan Malaka mengakui bahwa kepercayaan Rakyat pada Rusia sudah
bisa menggantikan kepercayaan mereka pada Turki. Tan Malaka
dalam keterangannya hendak menyamakan bahayanya Rakyat yang
fanatik terhadap Islam dan Turki dengan fanatik terhadap
Komunisme dan Rusia. Padahal bagi kita tentu mengetahui, bahwa
dasar dan alasan fanatiknya Rakyat terhadap Komunisme dan Rusia
karena keterangan yang meyakinkan dengan fanatiknya terhadap
Islam dan Turki. Rakyat menjadi fanatik terhadap Komunisme dan
Rusia karena keterangan yang meyakinkan Rakyat, bahwa dalam
Komunisme hapuslah kemiskinan dan penghinaan, hapuslah
penindasan atas manusia oleh manusia dan diganti oleh
kesejahteraan, persaudaraan dan kebebasan; dan justru Rusialah
satu-satunya negeri yang pertama-tama memberikan bukti
pelaksanaan daripada cita-cita dan harapan Rakyat ini. Rakyat
fanatik terhadap PKI, karena memang PKI-lah satu-satunya Partai
yang menunjukkan keberanian, kejujuran dan kesetiaannya dalam
memimpin perjuangan Rakyat. Jadi, fanatisme Rakyat pada
Komunisme,pada Rusia (Soviet Uni) dan pada PKI itu bukanlah
barang yang merusak dan merugikan Rakyat, tetapi semestinya
malahan menjadi dorongan yang lebih keras dan lebih nyata bahwa
kita mesti meneruskan PKI dan bekerja keras supaya fanatisme
itu menjadi kesedaran, dan supaya betul-betul PKI berjalan
atas dasar Marxisme-Leninisme. Dibalik semua keterangan Tan
Malaka mengenai alasan yang ketiga ini, kita bisa mengerti apa
sebabnya Tan Malaka tidak berani terang-terangan bersikap
anti-Komunisme, anti-PKI dan anti-Soviet Uni; karena kalau ia,
sebagai Trotskis, berbuat demikian berarti ia harus langsung
menentang perasaan dan kepercayaan Rakyat. Sekalipun demikian,
bersangkutan dengan ini, sepanjang pengetahuan kita, diantara
bekas pemimpin PKI, Tan Malaka adalah orang pertama (yag kedua:
Darsono) yang mengatakan bahwa Stalin adalah orang yang bodoh
dan curang. Didalam suatu percakapan dengan 4 orang pemuda, di
suatu rumah di Langenastran, Jogya, ketika membicarakan soal
ekonomi hingga menyangkut pada Rencana Ekonomi Lima Tahun yang
pertama dari Soviet Uni, Ran Malaka berkata: „Sebenarnya
Rencana Lima Tahun itu yang membikin yalah Trotski, tetapi
dicuri dari lacinya oleh Stalin. Sesudah itu baru Trotski
disikut dan ditendang keluar. Memang Stalin adalah orang yang
bodoh dan curang“. Jadi dengan PARI-nya Tan Malaka memang
sengaja berusaha merusak dan menghilangkan kepercayaan Rakyat
kepada PKI dan kepada Soviet Uni.

Alasan yang keempat adalah alasan yang terpenting yang menjadi
dasar pengkhianatan Tan Malaka terhadap Marxisme-Leninisme. Tan
Malaka sebagai anggota pimpinan PKI sesudah boleh dikatakan
hancur samasekali dipukul reaksi. Tetapi Tan Malaka telah
mendirikan partai baru yalah PARI atas dasar „teori“ baru,
yang kemudian dinamakannya „teori“ ASLIA. Meskipun Tan Malaka
menghubungkan „teori“ ASLIA ini dengan kekuasaan yang katanya
diberikan kepadanya oleh KOMINTERN, tetapi teranglah bahwa
„teori“ ASLIA itu bertentangan dengan teori Marxisme-Leninisme,
terutama mengenai ekonomi politik dan masalah nasional.

Kesimpulan daripada semua alasan diatas ini tidak lain hanya
menunjukkan, bahwa dengan tidak diakui secara terang-terangan
Tan Malaka telah membubarkan, melikwidasi PKI. Tan Malaka
adalah seorang likwidator yang licik. Dan disinilah, sikap
likwidator Tan Malaka menyerupai sikap Trotski dengan Blok
Agustusnya. Sesudah menjadi likwidator perbuatan Tan Malaka
tidak lain daripada: dengan mempergunakan semboyan-semboyan
kiri ia memukul kaum kiri sendiri. Jadi Tan Malaka telah
mengkhianati Marxisme-Leninisme tidak saja di lapangan
organisasi dengan melikwidasi PKI, tetapi pokoknya yalah
pengkhianatan terhadap Marxisme-Leninisme di lapangan teori.
Mengenai pengkhianatan di lapangan teori ini, yang berupa
„teori“ ASLIA, akan kita bicarakan lagi nanti.

*******

Am Thu, 24 Nov 2011 02:25:00 -0800 (PST)
schrieb Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@yahoo.com>:

>
>
>
> Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto
>
> Tujuan
> didirikannya Negara Indonesia itu adalah membentuk Negara Sosialis.
> Sosialisme ini bukan dalam pengertian dibawah satelit Sovjet Uni
> seperti yang dituduhkan oleh Intel Inggris, AS dan Agen-agen rahasia
> Van Mook di Australia dalam laporannya kepadanya komandan sekutu Sir
> Mountbatten di Kolombo awal Agustus 1945, tetapi sebuah kenyataan
> sejarah bahwa Sosialisme Indonesia itu sosialisme yang lahir otentik
> dari pemikir-pemikir sejarah Indonesia seperti : Sukarno, Tan Malaka,
> Hatta ataupun Sjahrir. Mereka itu adalah intelektual yang terlepas
> dalam sejarah komprador, baik komprador Amerika Serikat maupun
> Komprador Sovjet Uni.
>
> Adalah Tan Malaka yang pertama kali
> dalam sejarah komunis Sovjet Uni melepaskan diri dari Imperialisme
> Sovjet Uni dan membentuk Partai Rahasia bersama Soebakat dan Tamim
> dengan nama PARI (Partai Rakjat Indonesia) dengan doktrin massa MURBA
> (berasal dari kata sanskrit yang artinya : Rakyat). Tan Malaka
> mengenalkan ide bersatunya dunia Islam dan Sosialisme yang di Moskow
> pada awal tahun 1920-an yang ditolak oleh banyak faksi di Sovjet Uni
> termasuk penolakan dari Stalin. Dan ketika penolakan itu terjadi,
> malamnya Tan Malaka mendapatkan pencerahan bahwa Stalinis hanya akan
> menghasilkan bentuk Imperialisme baru, sementara ia berhadapan
> langsung dengan bangsanya : Indonesia. Dari sanalah ia mengusung
> pemikiran peradaban ASLIA (Asia-Australia) sebagai peradaban yang
> berdiri sendiri, baik sejarah pembebasannya maupun kegiatan
> ekonominya.
>
> Lalu Tan Malaka melihat arah sejarah perkembangan yang sama. Tan
> Malaka melihat kekuatan dunia Islam sebagai pengimbang Imperialisme
> Amerika, ternyata apa yang diramalkan Tan Malaka benar sekarang ini,
> Amerika sangat takut dengan kekuatan dunia Islam. Untuk itu Amerika
> terus mendekat pada Arab Saudi untuk tetap memelihara adat-adat kuno
> dan berusaha meninggalkan Islam yang moderat dan progresif, untuk
> itulah Arab Saudi dan Kuwait ditemani seraya mengebom Irak, mengancam
> Iran dan membuat lapar anak-anak di Jalur Gaza, Palestina. Apa yang
> dipikirkan Tan Malaka : Islam adalah darah dalam tubuh Indonesia
> benar adanya. Islam harus bersatu dengan ide-ide sosialisme nasional
> Indonesia Raya.
>
> Di tahun 1927 di Bandung, Sukarno juga menulis tapi bukan tulisan
> tentang Sosialisme yang Sukarno tulis adalah Persatuan. Banyak orang
> mengira Persatuan dalam bahasa Sukarno adalah sekedar bersatunya
> suku-suku, bersatunya budaya-budaya dan bersatunya kelompok-kelompok,
> padahal Sukarno menciptakan persatuan itu lebih jauh lagi yaitu
> kerangka “JALAN BERPIKIR”. Bagi Sukarno, Persatuan itu adalah sebuah
> jalan membentuk antitesis-antitesis dari tesis-tesis keadaan yang
> terjadi sehingga melahirkan sintesis. Dari Persatuan ini kemudian akan
> terdefinisi jenis keadaan apa untuk Indonesia Raya.
>
> Ide-ide
> Sosialisme Ekonomi yang paling gamblang adalah justru dari Hatta.
> Pokok pemikiran Hatta ini akan menjadi bintang dalam sejarah ekonomi
> masa depan manusia, Pemikiran Hatta jauh melampaui jamannya. Bahkan
> di jaman kita sekarang. Ide-ide Hatta tentang ekonomi adalah ekonomi
> yang tidak menjadi akumulator modal dan dikuasai individu atau
> korporasi raksasa, tapi ekonomi yang menjadi mesin pembentukan
> kesejahteraan bersama. Bagi Hatta tidak ada objek dalam ekonomi,
> semua yang manusia yang terlibat dalam ekonomi adalah subjek. Ekonomi
> Koperasi Hatta jangan dipahami sebagai Koperasi-Koperasi yang kita
> kenal sekarang, tapi lebih maju sebagai sebuah bentuk fragmen modal
> yang adil sebagai sebuah kegiatan bersama dengan tujuan-tujuan
> memakmurkan kehidupan anggota sesuai dengan peran masing-masing,
> kalau saja gagasan Hatta ini dibawa ke dalam lingkup makro maka kita
> akan mengenal ekonomi-ekonomi berjejaringan atau ekonomi cluster
> sehingga ekonomi dan hasil-hasilnya akan langsung mengenai kehidupan
> rakyat banyak.
> Ketakutan
> banyak orang bahwa Sosialisme itu adalah Stalinis, ekonomi sosialisme
> adalah Korea Utara adalah sebuah kebodohan karena kurangnya wawasan
> dalam memahami titik-titik penting jalannya sejarah kita. Pendiri
> bangsa kita tidak menyukai pembelengguan, mereka adalah anak-anak
> kandung dari sejarah pembebasan. Jadi ketika sistem Sosialisme itu
> ditawarkan maka Sosialisme itu sederhana saja definisinya, bacalah UUD
> 1945 asli (yang tanpa amandemennya) disana dengan amat jelas
> sosialisme kita, terutama pasal 33.
>
> Sosialisme kita adalah membangun
> Puskesmas-Puskesmas dengan fasilitas RS lengkap untuk rakyat dengan
> gratis, Sosialisme kita adalah Menggratiskan seluruh biaya-biaya
> pendidikan, menghapuskan pajak penerbitan dan penjualan buku yang
> tinggi, membangun jaringan internet dengan seluas-luasnya, membangun
> fungsi-fungsi sosial dan memaksa pejabat untuk hidup sederhana.
>
>
> Sosialisme kita tidak akan menahan ekonomi modal biarlah
> pengusaha-penguasa berkembang seperti bunga-bunga yang mekar di musim
> semi, tapi Sosialisme kita juga tidak akan mengijinkan modal raksasa
> mendikte perekonomian rakyat, rakyat banyak harus jadi subjek utama
> dalam kegiatan ekonomi, kepemilikan tanah harus dibatasi lebih dari 10
> hektar harus dimiliki sebuah serikat kerja atau negara, tak ada
> kepemilikan pribadi atau modal raksasa.
>
> Sosialisme ini
> adalah penggalian sejarah dari pemikiran masa lampau pendiri bangsa,
> sehingga kita akan tersadarkan : Untuk apa Indonesia Raya harus
> berdiri…………….
>
> Tan Malaka pernah berkata di tahun
> 1948 : Kita tidak akan menjadi antek Amerika Serikat, pun tidak akan
> menjadi budak Moskow. Kita adalah generasi pembebas dari sebuah bangsa
> merdeka, merdeka pikirannya dan merdeka jiwan

Pangeran Diponegoro, Singa Jawa dari Keraton Yogjakarta

http://kisahislami.com/pangeran-diponegoro-singa-jawa-dari-keraton-yogjakarta/

Pangeran Diponegoro, Singa Jawa dari Keraton Yogjakarta

Posted by aan on November 10, 2011 in Alim Ulama ·

Ia seorang Mujahid keturunan Raja Yogjakarta. Seluruh nafas kehidupannya diabadikan untuk kemerdekaan Tanah Jawa, dengan bersendikan ajaran agama Islam.

Tegalrejo 29 Juli 1825. Wilayah di bawah pimpinan Chevallier pasukan gabungan Belanda dan orang-orang patih Darurejo IV menyerbu laskar-laskar Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo, sebuah desa kecil yang terletak di barat laut Keraton Yogjakarta. Dentuman meriam dan bunyi letupan senapan membahana di seluruh penjuru desa.

Menghadapi serangan itu, kedua Pangeran bersama laskarnya segera menyingkir ke tempat yang lebih aman. Mereka menyadari, perang di medan yang amat sempit tidak menguntungkannya. Pangeran Diponegoro akhirnya memilih tempat yang lebih strategis untuk basis peperangannya di bukit Selangor, sebuah tempat yang dikelilingi lembah , benteng-benteng alam dan Gua, yang biasa dipergunakan bertapa. Tempat itu terletak 10 Km di sebelah barat daya kota Yogjakarta. Sedangkan keluarganya diungsikan ke desa Dekso.

Di lain pihak, Chevallier terus melancarkan serangan dahsyat dengan mengerahkan seluruh pasukan dan persenjataan yang dimiliki. Alhasil, Chavalier dalam waktu singkat mampu menguasai Tegalrejo. Sayangnya, Tegalrejo telah kosong melompong. Bakar…. Bakar saja rumah Diponegoro sampai habis! Seru Chavalier di tengah kemarahan dan kedongkolan hatinya karena buruannya telah kabur.

Tanpa membuang waktu lagi, tentara gabungan itu membakar rumah Diponegoro dan puluhan rumah lain di sisi kanan kirinya. Dari kejauhan, di balik bukit terjal, di atas Kuda Getayu, Pangeran Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi beserta seluruh anggota laskarnya menyaksikan dengan sedih pembumihangusan puluhan rumah tersebut.

Sebaliknya berita penyerangan Belanda ke Tegalrejo cepat menjalar ke seluruh pelosok Yogjakarta dan Surakarta. Sebagian besar rakyat tanpa dikomando berduyun-duyun datang ke Selangor lengkap dengan persenjataannya. Dari Surakarta, datang ulama Bayat, dan laskar-laskar yang di komandoi oleh Kyai Mojo dan Tumenggung Prawirodigdoyo. Dari kesultanan Yogjakarta, tidak kurang 74 bangsawan akhirnya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro di Selangor. Diantara kerumunan Bangsawan itu, terdapat Sentot Prawirodirjo, seorang Senopati muda yang belum berusia 18 tahun, putra Raden Ronggo Prawirodirjo III. Seperti halnya sang ayah, Sentot kemudian tampil sebagai pejuang besar yang sangat di takuti pihak Belanda.

Propaganda perang melawan bangsa kafir segara dilakukan di mana-mana, di Yogjakarta, Jayanegara segera membuat surat edaran untuk seluruh rakyat Mataram. Isinya mengajak berjuang bersama Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi mengusir kaum penjajah Kafir Belanda. Di wilayah luar Yogjakarta, seperti Kedu, Banyumas dan sekitarnya, ajakan jihad fi sabilillah di sampaikan oleh Kyai Kasan Besari yang disambut rakyat dengan gegap gempita.

Sesuai dengan saran Sinuhun Paku Buwono VI, laskar-laskar Diponegoro menggunakan taktik dan strategi perang “Dhedhemitan” alias “Gebag ancat nrabas geblas”. Menyerbu secara tiba-tiba dan kemudian dengan cepat menghilang dibalik hutan-hutan, Gua, Bukit, atau kegelapan malam.

Rupanya taktik dan perang anggota laskar Diponegoro sangat menakutkan pihak Belanda. Tidak mengherankan, bila pada tahun-tahun pertama pihak Belanda kewalahan dan banyak mengalami kekalahan.

Kemenangan pertama Pangeran Diponegoro dan laskarnya didapat di desa Pisangan, perbatasan Muntilan dan Yogjakarta. Laskar Diponegoro yang dipimpin oleh Mulyo Santiko dengan gagah berani mencegah iring-iringan pasukan Belanda yang berjumlah sekitar 120 orang yang berusaha masuk ke Yogjakarta. Mereka berhasil menghancurkan seluruh pasukan Belanda itu. Uang sebesar 50.000 gulden dapat dirampas berikut alat-alat perangnya. Kemenangan pertama ini segera di ikuti oleh kemenangan-kemenangan berikutnya. Pada 6 Agustus 1825, pasukan Diponegoro yang dipimpin para panglimanya yang gagah berani berhasil menghancurkan markas Belanda di Pacitan, menyusul kemudian Purwodadi.

Kemenangan demi kemenangan tentu saja dapat mengobarkan semangat rakyat untuk bersama-sama bangkit melawan Kafir Belanda. Perangpun makin meluas  sampai ke Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang dan Madiun.

Kekalahan beruntun yang dialami Belanda, memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda segera mengirim Letnan Jenderal Markus De Kock ke Jawa Tengah sebagai panglima angkatan perang Belanda. Jenderal De Kock mendapat kekuasaan untuk menjalankan segala tindakan dalam menangani peperangan.

Jenderal De Kock dengan licik segera menyebarkan politik pecah belah, dan mengadu domba. Ia segera menemui dan memaksa Sunan Pukubuwono VI, dan Mangkunegoro II, dan Paku Alam I agar bersedia membantu Belanda. Ia juga mengerahkan bantuan pasukan pribumi itu untuk menggempur markas pasukan Diponegoro di Selarong. Namun, beruntung gerakan pasukan gabungan ini sudah dapat di ketahui oleh mata-mata Pangeran Diponegoro. Semua laskar dan pimpinannya segera bersembunyi. Akibatnya, ketika pasukan Belanda menguasai Selarong pada malam hari, mereka hanya menemukan bukit dan Gua yang sudah kosong. Pasukan Belanda pun mundur dan kembali pulang dengan tangan hampa.

Tidak beberapa lama tentara Belanda pulang, malam itu juga Pangeran Diponegoro segera mengadakan pertemuan dengan para Senopatinya. Mereka membahas untuk segera memindahkan markasnya di Selarong. Semua sepakat. Desa Deksa yang jaraknya sekitar 23 Km dari Yogjakarta dijadikan markas baru.

Pertempuran kembali berkobar diseluruh Mataram. Hasilnya pada Januari 1826 Pangeran Diponegoro berhasil merebut dan menguasai daerah Imogiri dan Pleret, di susul daerah Lengkong, Kasuran dan Delangu.

Bagi pihak Belanda, kekalahan beruntun itu justru membuat Jenderal De Kock makin nekad. Ia mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat Belanda untuk menambah anggaran perang. Anggaran itu rencananya untuk membuat benteng Stelsel. Tujuannya untuk mempersempit ruang gerak Pasukan Diponegoro di daerah-daerah yang di kuasai Belanda. Pelaksanaan benteng Stelsel juga dimaksudkan untuk mengadakan tekanan kepada Pangeran Diponegoro agar bersedia menghentikan peperangan.

Di wilayah Mataram kemudian muncul benteng-benteng Belanda yang kukuh, seperti di Bantul, Paluwatu, Pasargede, Jatinom, dan Delangu. Tidak kurang dari 165 buah benteng telah di dirikan Belanda untuk mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro. Tekanan dari Belanda ini masih ditambah dengan adanya Bupati-bupati daerah yang memihak kepada Belanda, sehingga sangat menyulitkan komunikasi laskar Diponegoro antar daerah. Akibatnya, perlawanan itu menjadi mudah dipatahkan oleh pasukan Belanda. Pasukan Bulkiyo mulai menghadapi masa-masa sulit.

Di tengah kesulitan itu, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para sesepuh dan Senopati membahas perkembangan dan situasi di medan perang. Pertemuan itu dilakukan di pesanggrahan Bagelan. Hasilnya mereka tetap melanjutkan perjuangan sampai kemerdekaan bumi tanah Jawa tercapai. Akibatnya, tidak sedikit laskar Pengeran Diponegoro yang gugur. Pangeran Kusumowijoyo yang mengobarkan pertempuran di Keraton Surakarta, akhirnya gugur di Lembah Kali Serang. Ia kemudian dikenal dengan nama Pangeran Serang, dan istrinya Raden Ajeng Kusriyah juga gugur di Dekso, Kulon Progo. Tidak berapa lama kemudian, gugur pula Tumenggung Prawirodigdoyo dari Gagatan. Ia gugur di medan tempur Klengkong saat memimpin 100 prajuritnya melawan tentara Belanda yang jumlahnya berlipat-lipat dengan dukungan meriam dan senjata laras panjang.

Belum lagi hilang rasa duka, kabar yang mengejutkan menyusul, Gusti Pangeran Notodiningrat bersama istri dan ibundanya dan tidak kurang dari 200 pengikutnya menyerah kepada Belanda di Yogjakarta. Dengan keberhasilan Belanda mempengaruhi Pangeran Notodiningrat Jenderal De Kock semakin gila mendekati pemimpin-pemimpin laskar Pangeran Diponegoro. Ia menjanjikan kedudukan dan hadiah-hadiah berlimpah bila mau menyerah dan mendukung Belanda. Satu bulan kemudian, Belanda kembali berhasil membujuk salah seorang panglima laskar Diponegoro, yaitu Pangeran Arya Papak dan Tumenggung Ario Sosrodilogo.

Kiai Mojo yang menjadi tulang punggung kekuatan pasukan perang Pangeran Diponegoro, akhirnya juga menyerah kepada pasukan Belanda. Menyerahnya Kiai Mojo merupakan pukulan berat bagi Pangeran Diponegoro dan laskar-laskarnya. Tetapi Pangeran Diponegoro bertekad untuk tidak menyerah dan tetap mengobarkan perlawanan.

Pada 20 Desember 1828, Laskar Pangeran Diponegoro segera melancarkan serangan dahsyat terhadap markas Belanda di Nanggulan. Dalam pertempuran itu Kapten Van Inge tewas, sedang dari pihak pasukan Diponegoro kehilangan Senopatinya yang gagah berani, Pangeran Prangwedono.

Berita hancurnya benteng Nanggulan, membuat jenderal De Kock semakin ketakutan, sebab ia selalu melihat sosok Senopati Sentot sebagai momok yang sangat berbahaya. Karena jenderal De Kock terus berupaya membujuk Sentot dengan berbagai cara agar mau menyerah. Tapi, Senopati muda itu tetap menolaknya. Belum berhasil membujuk Sentot, ia berhasil memperalat dan menekan Pangeran Ario Prawirodiningrat, Bupati Madiun, untuk menyerah. Sebabnya, jika tidak mau menyerah taruhannya adalah nyawa sepupunya.

Setelah Pangeran Ario Prawirodiningrat menyerah, menyusul Sentot Prawirodirjo dan Pangeran Mangkubumi. Menyerahnya dua Pangeran yang gagah berani ini membuat Pangeran Diponegoro kembali terpukul telak dan membawa beban moral, tidak hanya dalam dirinya, tetapi juga kepada seluruh prajurit Bulkiyo. Belum lagi batin Pangeran Diponegoro sembuh di akhir tahun 1829, satu persatu Senopati daerah menyusul jejak Senopati Sentot dan Pangeran Mangkubumi, antara lain, Pangeran Ario Suriokusumo, Kerto Pengalasan, pahlawan medan tempur Pleret, dan Pangeran Joyosudirjo

Rupanyan Pangeran Diponegoro tak bergeming, meski hatinya tertekan, ia tetap melanjutkan perjuangannya dan tetap menaruh kepercayaan atas kesetiaan rakyat Bagelan, Banyumas, dan Kedu. Usaha Jenderal De Kock untuk mempercepat peperangan rupanya tidak berhasil. Meski jauh sebelumnya Jenderal ini sudah menjanjikan 20.000 ringgit kepada siapa saja yang sanggup menangkap hidup atau mati Pangeran Diponegoro. Segenap rakyat dan laskar-laskar Pangeran Diponegoro tidak mau mengkhianati pemimpin yang agung ini.

Tapi, Jenderal De Kock tidak putus asa, melalui Kolonel Cleerrens, akhirnya bisa membujuk putra Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran Dipokusumu, untuk menyerah. Penyerahan putra kesayangannya itu benar-benar membuat Pangeran Diponegoro terluka. Maka pada bulan Februari 1830, ketika Kolonel Cleerens menawarkan jalan perundingan, terpaksa Pangeran Diponegoro menerimanya dengan berat hati. Dua musuh bebuyutan inipun bertemu di Remo Kamal, Bagelan, Purworejo, pada tanggal 16 Februari 1830. Cleerens kemudian mengusulkan agar kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di kaki bukit Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal markus De Kock dari Batavia.

Dengan janji tidak dikhianati, Pangeran Diponegoro bersedia mengadakan perundingan. Pada bulan Maret 1830, ia dengan pasukannya tiba di tempat perundingan, dirumah Residen Magelang. Bersama Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro menuju ruang kerja Jenderal De Kock. Beberapa putra Diponegoro dan perwira Belanda ikut menyaksikan jalannya perundingan tingkat tinggi tersebut.

Sekitar dua jam sudah perundingan berlangsung, tapi belum membuahkan hasil. Berkali-kali Jenderal De Kock mencoba membujuk agara Pangeran Diponegoro mengurangi tuntutannya. Tapi Pangeran Diponegoro tetap teguh pada pendiriannya. Mendirikan sebuah Negara merdeka yang bersendikan agama Islam. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, apabila perundingan menemui jalan buntu, Pangeran Diponegoro boleh meninggalkan ruangan itu dengan bebas. Tapi kenyataannya, Jenderal De Kock curang, “Tangkap tangkap Diponegoro dan semua pengikutnya”, teriak De Kock kepada pasukannya sambil menodongkan pistol kearah Pangeran Diponegoro. Sejurus kemudian, Pangeran Diponegoro beserta para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan dalam sebuah penjara yang amat pengap. Hari- hari terakhir pangeran Diponegoro dihabiskan di dalam penjara.

Orde Baru Tutupi Skandal Purwodadi

Sisi Kelam Sejarah II
Orde Baru Tutupi Skandal Purwodadi
Selasa, 22 November 2011 – 19:31:14 WIB

Dua bulan menjadi kontroversi di media massa, kasus pembunuhan massal di Purwodadi lenyap begitu saja.

SEJAK diungkapnya kasus Purwodadi oleh Poncke Princen, muncul berbagai pendapat pro dan kontra. Menurut Poncke, jumlah korban pembantaian mencapai dua ribu orang yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Grobogan. Bahkan menurutnya dalam satu malam pernah terjadi pembunuhan terhadap 850 orang sekaligus. Banyak pihak yang meragukan keterangan Poncke, namun tak sedikit pula yang berada di pihaknya.

 

Sebagian aktvis di luar negeri, khususnya di Belanda, mengutuk keras aksi kejahatan itu. Prof. Jan Pluvier, guru besar sejarah Asia Tenggara, kolega Wertheim dalam wawancara pada Maret 2007 lampau di kediamannya di Heideweg No 5, Soest, Belanda mengatakan keterlibatannya dalam gerakan menentang Orde Baru berangkat dari solidaritasnya kepada rakyat Indonesia yang ditindas oleh Suharto. “Saya mendengar berita tentang pembunuhan massal itu dan saya menentang Suharto yang menginjak-injak kemanusiaan,” kata dia.

 

Berbeda dengan Jan Pluvier, Wertheim dan para Indonesianis lain yang umumnya mengecam rezim Orde Baru, Presiden World Veteran Federation (WVF) W. Ch. J.M. van Lanschot justru memperlihatkan sikap mendukung Orde Baru. Ia datang ke  Indonesia disertai dua orang redaktur majalah Elsevier, Martin W. Duyzings dan Drs. A. Hoogendijk. Dalam kunjungannya itu, mereka menemui Menteri Penerangan Budiardjo. Mereka sepakat bahwa tidak ada gunanya membesar-besarkan kasus Purwodadi.

 

Dunia Barat, pascapergolakan politik 1965 dan transisi kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, semakin gencar mendekati Indonesia. Ekonomi yang porak-poranda akibat situasi politik dalam negeri yang tidak stabil selama tahun-tahun terakhir kekuasaan Sukarno menjadi alasan utama bagi pemerintah Soeharto untuk mengundang investasi luar negeri ke Indonesia. Undang-undang Penanaman Modal Asing No. 1/1967 diberlakukan untuk melempangkan jalan masuk modal asing. Tim ekonomi yang dipimpin oleh Menko Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono IX gencar melakukan lobi ke luar negeri.

 

Sebuah iklan di koran The New York Times edisi 17 Januari 1969, sebulan sebelum terungkapnya peristiwa Purwodadi, berbunyi: “5 Years From Now You Could Be Sorry You Didn’t Read This Ad”. Iklan yang ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX tersebut mempromosikan Indonesia sebagai negeri yang terbuka terhadap investasi sekaligus menjamin investor Amerika Serikat untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Untuk membuat investasi di negeri kami semakin bergairah, kami telah meloloskan sebuah undang-undang penanaman modal asing yang menawarkan beberapa insentif seperti pembebasan pajak perusahaan dan pajak atas deviden selama lima tahun,” demikian kata iklan itu. Salah satu perusahaan Amerika Serikat yang memanfaatkan Undang-Undang tersebut adalah Freeport yang beroperasi sejak 1967 di Papua.

 

Peristiwa Purwodadi menjadi batu sandungan pertama di kala pemerintah Soeharto berbenah, merias wajah Indonesia yang baru dan bebas dari komunisme. Berbagai cara dilakukan untuk meredam eskalasi berita pembantaian massal di Purwodadi. Tak lama setelah terungkapnya pembunuhan massal di Purwodadi, penguasa militer di Jawa Tengah bersikap reaktif dengan mengawasi setiap pendatang ke ibukota Kabupaten Grobogan itu. Setiap orang luar yang hendak memasuki kota harus mendapat izin dari tentara. Mengenai hal ini, Harian Sinar Harapan, edisi 9 Maret 1969 melaporkan: Ketika memasuki daerah itu para wartawan diwajibkan terlebih dahulu melapor ke Penerangan Kodam VII/ Diponegoro. Sesudah itu harus pula minta ijin pada Asisten I dan diberikan surat. Kemudian baru melaporkan diri pada Komandan Kodim setempat. Ketika para wartawan tersebut memasuki kota Purwodadi, kelihatannya masyarakat Purwodadi nampak suasana ketakutan.

 

Meningkatnya pengawasan membuat situasi kota Purwodadi makin mencekam. Masyarakat tak leluasa menjalankan aktivitasnya, lebih-lebih pada malam hari. Mereka khawatir dituduh tentara sebagai anggota Gerilya Politik (Gerpol) PKI atau “PKI Malam”.

 

Panglima Kodam (Pangdam) VII/Diponegoro Mayor Jenderal Surono membantah terjadinya pembantaian massal dalam kasus Purwodadi. Dia mengatakan berita tersebut tidak benar. Dia curiga kabar tersebut menjadi bagian perang urat syaraf yang dilancarkan oleh “PKI Malam”. Dia malah balik menuding bahwa semua tuduhan itu semata-mata ditujukan untuk mengganggu stabilitas keamanan yang sedang dibangun oleh pemerintah Orde Baru.

 

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Munadi langsung mengundang seluruh wartawan baik luar maupun dalam negeri untuk hadir dalam konferensi pers yang digelar pada 4 Maret 1969 di Restoran Geliga, Jakarta. Pada pertemuan itu, dia membantah temuan Princen, bahkan menuduh Princen sebagai komunis (Kompas, 5 Maret 1969 dan Indonesia Raya, 6 Maret 1969). Dalam keterangan persnya Munadi mengatakan,“yang dipersoalkan sekarang adalah tahun 1968. karena tahun 1965 tidak terkontrol. Saya minta supaya dibatasi pada tahun 1968 saja. Kalau orang itu ditembak berjejer itu tidak mungkin.Tapi kalau dalam operasi ada orang yang ditangkap, tapi kemudian coba-coba lari dan diberi peringatan tapi tidak mengindahkan, mungkin saja ditembak.” (Kompas, 5 Maret 1969).

 

Bantahan Munadi didukung oleh Frank Palmos dari Melbourne Herald dan Judy Williams dari New York Times yang  mengatakan tidak ditemukan adanya tanda-tanda telah terjadi pembunuhan massal di daerah Kuwu-Purwodadi dan daerah sekitarnya. Munculnya berita yang memperkuat pernyataan Munadi, membuat Princen kian tersudut dan semakin santer diberitakan bahwa dia seorang komunis.

 

Merasa dirugikan oleh Munadi, Poncke menggugatnya ke Kejaksaan Agung dan mendaftarkan kasusnya sebagai pencemaran nama baik. Kepada wartawan Poncke mengatakan bahwa dia rela dituduh komunis, asalkan dapat membantu orang-orang tak berdosa. Akhirnya Poncke ditahan dan interogasi oleh Kopkamtib dengan tuduhan terlibat dalam gerakan komunis. Kepadanya ditanyakan tentang hubungannya dengan kaum komunis, baik di negeri Belanda maupun di Indonesia. Menjawab pertanyaan wartawan seusai interogasi, ia mengatakan, “Saya hanya mengkonstatir adanya suatu penyelewengan yang perlu ditindak. Hal ini segera saya telah sampaikan kepada Presiden Soeharto sekembalinya dari Jawa Tengah sebagai seorang patriot. Kami bukanlah seorang sentimentalis naif, tapi sebenarnya justru dengan terjadinya pembunuhan-pembunuhan bergelombang di Purwodadi telah lebih menguntungkan kaum komunis”. (Sinar Harapan, 7 Maret 1969)

 

Poncke juga mengatakan bahwa dia sangat jengkel pada orang-orang yang menuduhnya komunis. Mereka seolah lupa bahwa di “zaman Nasakom” mereka itulah yang justru paling getol bekerjasama dengan komunis. Tidak jelas siapa yang dimaksudkan Poncke dengan “orang-orang” yang menuduhnya sebagai komunis, mengingat hanya ada satu orang yang menyebut dirinya sebagai komunis, yakni Gubernur Jawa Tengah Munadi.

 

Sementara itu beberapa tokoh yang memiliki kedekatan secara pribadi dengan Poncke berusaha membelanya dengan menjelaskan siapa Poncke sebenarnya. Wartawan Belanda Henk Kolb meyakini bahwa pembunuhan massal di Purwodadi itu memang benar, dan dia yakin keterangan Poncke tidak memuat kepentingan apa pun selain demi kemanusiaan. Dia juga menjelaskan bahwa berita yang dimuat di korannya di Belanda bukanlah rekayasa. Selain Henk Kolb, Mayor Jenderal Kemal Idris, Panglima Komando Antar Daerah Indonesia Timur yang juga bekas atasan Princen, juga memberikan pembelaan dengan mengatakan bahwa Princen bukan komunis seperti yang dituduhkan Munadi (Indonesia Raya, 8 Maret 1969).

 

Panglima Angkatan Darat (Pangad) Jenderal M. Panggabean, seusai Rapat Komando Angkatan Darat pada 7 Maret 1969 mengatakan persoalan Purwodadi bisa diselesaikan “tanpa perlu rame-rame.” Dia juga menolak dengan tegas jika ada yang mengatakan kalau Angkatan Darat tukang bunuh orang. Jika memang ada jatuh korban, itu konsekuensi dari operasi militer yang sedang dilakukan oleh Kodam VII/Diponegoro (Sinar Harapan, 9 Maret 1969). Selanjutnya Panggabean menyatakan bahwa Kopkamtib sedang menyusun sebuah tim untuk menyelidiki kasus Purwodadi.

 

Sehubungan dengan rencana kunjungan Soeharto ke luar negeri pada medio 1969 dan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan selama kunjungannya maka dia meminta Menteri Penerangan Budiardjo meninjau langsung ke Purwodadi. Soeharto mulai terusik dengan adanya berita-berita pembunuhan massal itu. Seperti laporan sebelumnya, Budiardjo pun melaporkan tidak ada bukti pembunuhan massal di Purwodadi.

 

Di tengah kesimpang-siuran berita yang tak menentu, para wartawan mendesak agar diizinkan melihat langsung kondisi di Purwodadi. Desakan itu ditanggapi Pangdam VII/ Diponegoro, Mayjen. Surono dengan mengundang beberapa wartawan, baik dari luar maupun dalam negeri, “Silahkan menceknya sendiri” ujar Pangdam. Namun kenyataan di lapangan tidak demikian, beberapa wartawan dari Jakarta dipaksa untuk pulang setelah sempat melakukan liputan.

 

Tidak seperti yang sering tersiar bahwa operasi pembasmian komunis dilancarkan kepada mereka yang tak bertuhan, di Purwodadi beberapa guru Katolik kena getahnya. Kalangan umat Katolik Jawa Tengah yang dipimpin oleh Brigjen. dr. Soerojo berupaya keras untuk menyelamatkan tujuh guru agama Katolik yang ditahan dalam penggerebekan di Pastoran Purwodadi, mereka adalah Drs. Ngaini Imam Marsudi, Siswadi, B.A, Sutiono, B.A, Harnold, B.A, Djaswadi, Sumarta, Sri Mulyono, Pardan, Imam Sutikno, Rusdiono, Bambang Dasdiun, Bakri, dan Limaran (tewas). Soerojo mengirim sebuah dokumen penting kepada Presiden Soeharto yang dititipkan melalui wartawan New York Times, Judy Williams. Namun tidak diketahui apa isi dokumen itu.

 

Pemerintah tak bertikad menuntaskan kasus pembunuhan Purwodadi yang dibongkar oleh Poncke. Yang terjadi sejak akhir Februari sampai dengan akhir Maret 1969 hanya berhenti sebagai kontroversi tanpa pernah diketahui mana yang benar. Terhitung sejak tanggal 1 April 1969 atau bertepatan dengan dimulainya Repelita I, koran-koran tak lagi menurunkan berita tentang pembunuhan massal PKI di Purwodadi, menandai ditutupnya kasus tersebut. “Seperti biasa, kasusnya hilang begitu saja,” kata Goenawan Mohamad, yang pernah menulis kasus Purwodadi ketika bekerja di harian KAMI. [BONNIE TRIYANA]

Dari daerah pembuangan

Bulan November merupakan bulan bersejarah bagi Rakyat Indonesia. Antara lain pemberontakan yang dilakukan oleh Rakyat Indonesia pada tahun 1926 melawan  Pemerintah Kolonial Belanda. Untuk memperingati hari bersejarah itu, saya hadirkan beberapa tulisan yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Tulisan-tulisan ini dikutip dari buku « Gelora Api 26 ».
Salam: Chalik Hamid.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
 
 
T. Iskandar A.S.
 
 
                                   Dari daerah pembuangan
 
 
Waktu itu tahun 1947. Kapal yang akan membawa mereka ke Priok telah meninggalkan pelabuhan Merauke di belakang. Gindo berdiri di terali memandang air yang berbuih di sisi kapal. Sesekali ia memandang ke depan, sesekali ke daratan Irian yang ditinggalkannya. Kemerdekaan !  Kebebasan !  Gindo menggumamnya di bibir dan mencoba meneliti ke dua perkataan itu secermat-cermatnya, apa yang tersembunyi di depan dan di belakang. Di depan berarti kegembiraan, bahwa cita-cita sebagian sudah tercapai, karena kemerdekaan adalah jembatan, landasan untuk mencapai masarakat yang bebas dari penindasan dan penghisapan. Di belakangnya bisa macam-macam. Kepahitan perjuangan, siksaan, pengorbanan, kesetiaan sekaligus pengkhianatan. Semua jelas tergambar di depan matanya, adegan per adegan seperti dalam sebuah film.
Di mulai tahun 1927. Pemberontakan kaum Komunis di Sumatera Barat. Setelah pemberontakan gagal banyak kader-kader Partai dan rakyat biasa yang ditangkapi dan disiksa. Yang sempat meloloskan diri ke Malaya, tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan yang tinggal. Tapi isteri-isteri  yang suaminya sempat meloloskan diri  disiksa agar menunjukkan di mana suaminya berada. Beberapa orang perempuan dikumpulkan dan rambut mereka disimpul-ikatkan menjadi satu, kemudian dihela-hela ke berbagai jurusan. Gindo sendiri menyaksikan perbuatan biadab itu dan mendengar jerit raung mereka.
 
PKI sebagai partai yang selalu bersama Rakyat dalam suka dan duka secara tak langsung dituntut Rakyat untuk memberikan pertanggungjawabannya. Comite Partai segera bersidang dan memutuskan Gindo harus melaporkan diri kepada Belanda dan mengoper seluruh tanggungjawab pemberontakan di tangannya.
Dan Gindo bersama ratusan kawan lainnya dibuang ke Tanah Merah, kemudian dipindahkan ke Tanah Tinggi, tempat yang sesuai dengan namanya memang lebih tinggi “tingkat”nya.
 
Merauke semakin menyayup dari pandangan. Gindo menghempaskan napasnya seperti ombak yang menghempaskan dirinya ke dinding kapal. Kawan lain juga sama. Semua memandang ke satu titik yang kabur, dengan pikiran mengawang dalam berbagai peristiwa sedih dan gembira.
Gindo teringat pada kawan-kawannya yang ditinggalkan atau duluan pergi. Yang mati dimakan malaria atau tbc, yang dipenggal dan digantung, mati atau hilang ketika melarikan diri. Yang berkhianat, lalu bunuh diri atau melacurkan diri pada Ratu dan kerajaan Belanda untuk mengharapkan pengampunan. Semua teerbayang dimata Gindo dan hanya kepada yang setialah ia menyampaikan salam setiakawan dan cintanya yang membakar.
 
Kawan Aliarcham, kawan dan sahabatku yang ku cinta, bisik Gindo sambil memandang elang laut yang menepis pucuk ombak. Padamulah ku sampaikan salamku yang akrab, rasa setiakawanku dan rasa cintaku yang membakar atas kesetiaanmu kepada Partai dan Rakyat. Aku dan kawan-kawan berjanji akan terus merambah jalan yang telah kau rintis. Dipandangnya elang laut yang memantai, seakan hendak menitipkan salam itu melaluinya.
 
Ada dua hal yang paling mengesankan Gindo tentang Aliarcham. Pertama kesetiaannya kepada Partai dan ke dua cintanya kepada kawan. Barangkali bisa ditambah, yaitu tentang kecerdasan otaknya.
Suara “dumdum” mesin kapal berirama datar, tetapi sesekali seperti sesak napas. Laut yang tidak begitu tenang, menggoyang-goyangkan kapal lebih dari biasa. Gindo mengambil balsem, menggosokkannya di kening dan di lehernya; setelah digosok ke lubang hidung sedikit, kemudian dihirup-hirupnya.
 
Di matanya  sekarang berdiri Kidam, si pengkhianat itu. Sejak mula kawan-kawan  sudah mencurigainya, walau belum menemukan bukti. Suatu hari mereka mengadakan suatu pertemuan untuk memasak rencana melarikan diri secara bergelombang. Belum apa-apa sudah digerebek polisi Belanda dan ketahuanlah bahwa ini perbuatan Kidam. Sejak ia ‘’berjasa’’  itu  penghidupan Kidam mulai berubah. Di pindoknya sekarang sudah ada beras putih, susu dan mentega. Dan ia sudah mengajukan permohonan ampun kepada Ratu Wilhelmina, berjanji akan berkelakuan ‘’baik’’,  sekarang maupun setelah diampuni. Benar juga lima tahun kemudian ia dipulangkan ke kampung halamannya kembali.
Hampir sama dengan Kidam, seorang kawan lainnya, Katik, diangkat jadi polisi setelah hasil penjilatannya kepada Belanda.  Gindo ingat jika polisi Katik ini berjumpa dengannya atau kawan lain, selalu ia menunduk.
Gindo memandang suatu titik yang jauh sekali di laut yang tanpa batas itu. Horizon jauh dipandangnya itu sekali naik sekali turun, kadang-kadang miring ke kiri atau ke kanan. Titik itu makin lama makin besar, kemudian menyata :  sebuah kapal.
 
Jika Gindo ingat Basir, ia bisa tertawa terbahak-bahak. Dia seorang yang periang, banyak humornya dalam masa yang paling pahit pun.  Sudah berkali-kali ia melarikan diri, tapi selalu gagal, tertangkap atau pulang kembali setelah tersesat. Suatu kali ia lari lagi dan dapat ditangkap, kemudian disekap. Kepada Gindo dan kawan-kawan ia berkata :
            “Lepas dari ini aku akan lari lagi.”   Dan ternyata benar. Ia lari lagi bersama seorang kawan. Tapi beberapa hari kemudian, seorang kepala suku di rimba Irian membawa dua pasang telinga kepada pembesar Belanda setempat: kedua kawan itu sudah dibunuh mati. Kepala suku itu cuma dihadiahi empat bilah belati. Pembunuhan cara demikian memang diorganisasi Belanda.
Biadab,  desis Gindo tak dapat menahan kemarahan hatinya kepada cara-cara busuk Belanda itu. Keterbelakangan penduduk, terutama nafsu kepala suku digunakannya untuk mengadudomba sesama bangsa. Padahal penduduk itu sendiri baik-baik. Ia ingat pengalamannya di Tanah Tinggi.
Sudah lama terpikir Belanda, bagaimana caranya supaya orang-orag buangan di Tanah Tinggi dan tempat-tempat lainnya dapat ‘’diinsafkan’’.  Dengan janji-janji yang muluk, tidak banyak berhasil, apalagi dengan membujuk-bujuk. Tidak ada jalan lain kecuali dengan jalan paksaan halus atau kasar dan licik. Jalan satu-satunya yang dianggap Belanda  paling efisien, yalah dengan jalan teror dengan memakai tangan ke dua. Dalam hal ini Belanda memakai kepala suku setempat, membujuknya dengan berbagai janji manis supaya suka megadakan penyerangan-penyerangan terhadap perkampungan orang buangan. Dengan jalan demikian Belanda mengharap agar orang buangan karena tak tahan meminta ampun, yang sekaligus berarti berbuat “baik”  atau melarikan diri yang berarti juga mati.
 
Demikianlah ada seorang kepala suku Mapia, dapat dibujuk Belanda untuk menyerang Tanah Tinggi. Tentu saja dengan segala macam janji. Nama kepala suku itu Manop. Pada suatu hari Manop dan puluhan anak buahnya mengadakan pengepungan.  Tiga orang anak buahnya masuk ke kampung mengadakan penyelidikan. Gindo yang sudah lama memikirkan untuk dapat berbaik dengan mereka, memanggil ketiga-tiganya dan mengajak mereka bicara, memperlihatkan mata pancing dan tembakau. Kemudian Gindo menghadiahi mereka  ke dua jenis barang itu.
Betul juga seperti perkiraan Gindo, Manop  kepala suku itu datang besoknya menemui Gindo bersama puluhan anak buahnya. Gindo sudah menyediakan setumpuk mata pancing dan setumpuk besar tembakau yang keras. Manop dipersilakan masuk ke rumah yang melihat ke dua jenis barang itu dengan mata yang bersinar.
            “Manop dan Bapak bersaudara”,  – kata Manop dengan matanya yang berkaca-kaca karena linangan airmata. Dia kemudian memegangi jari-jari Gindo, dilipatkannya, dikepitkannya ke jarinya sendiri, kemudian disentakkannya:  bersalaman menurut suku Mapia, salam persaudaraan.
Lalu saling memberi ciuman delapan kali di pipi kiri dan delapan kali di sebelah kanan. Inilah persaudaraan yang paling akrab yang berarti persaudaraan kandung, tidak ada yang bisa memisahkannya.
            “Benar Manop, kita bersaudara, kita satu bangsa yang dijajah bangsa asing. Kita harus bersatu untuk mengusir mereka”  – Gindo menjabat tangan Manop erat dan sekali lagi mereka berpelukan.
 
Sejak itu mereka bersahabat, sering Manop mendatangi Gindo dengan tak lupa membawa oleh-oleh seperti pisang, ayam dan lain-lain. Dan sejak itu pula sering patroli-patroli Belanda mendapat serangan.
 
Warna merah berenang di pemukaan laut, ketika matahari yang telanjang mencelupkan kakinya ke laut sebelah barat. Segera sesudah ia menyelam ke dasar laut, hitam pekat yang tertinggal di permukaan. Giondo menaikkan kerah bajunya, ketika angin dingin meraba tengkuknya. Seorang kawan mengajak Gindo makan, tetapi ditolaknya.
 
Ketika Jepang memulai aksi agresinya, Irian tidak luput dari sasaran. Tetapi yang disasar Jepang bukan perkampungan orang buangan seperti yang diharap Belanda, sebaliknya kompleks perumahan Belanda dan pegawai-pegawainya. Hal ini menimbulkan anggapan bagi Belanda, bahwa maksud Jepang hendak mempergunakan orang buangan sebagai pembantu-pembantu mereka dalam melawan Belanda kelak. Oleh karena itu, cepat-cepat mereka menyingkirkan orang buangan ke Australia dengan berbagai cara. Dengan kapal laut, bahkan juga dengan kapal terbang.
Tetapi berbeda dengan yang lain, kaum buangan Tanah Tinggi diangkut dengan kapal kecil ukuran limapuluh ton. Maksud mereka jika kapal itu ditenggelamkan Jepang, – dan ini yang diharap Belanda-, Belanda tidak akan begitu besar dirugikan.
Penghuni kapal itu berjumlah delapanpuluhlima orang dengan perincian, empatpuluh orang buangan, tigapuluh pengawal dan limabelas orang awak kapal. Semuanya orang Indonesia, kecuali seorang Belanda-Indo. Jadi jelas betul maksud Belanda.
Semua penghuni pada ketakutan, terutama sekali pengawal dan awak kapal. Mendengar nama “Jepang” saja  sudah cukup membuat mereka mati. Karena memang jarang kapal yang bisa selamat dari pesawat udara Jepang.  Tapi kaum buangan, yang sebagian besar orang-orang Komunis itu bisa mengendalikan diri  dan percaya pada diri sendiri, percaya pada perhitungan akal yang sehat.
 
Baru saja berangkat sudah diserang badai dan kapal terombang-ambing; tenggelam, seakan-akan  betul-betul tenggelam, kemudian timbul lagi di puncak gelombang. Hari ke dua pesawat Jepang muncul dan mengadakan bombardemen, sedang penangkis udara tak berbuat apa-apa, karena penembaknya ciut ketakutan. Dalam keadaan yang kalut itu, tak ada jalan lain, selain Gindo mengambilalih pimpinan dengan persetujuan kawan-kawan dan ternayata seluruh  penghuni kapal menyetujuinya. 
Pertama-tama Gindo meminta kepada semua penghuni kapal yang sudah disatukan oleh persamaan nasib itu, agar demi keselamatan bersama harus percaya dan patuh pada pimpinan, dan bersama-melawan serangan Jepang  sedaya mungkin.
Untuk menghindari serangan-serangan selanjutnya, kapal hanya berlayar pada malam hari, itu pun tidak boleh terlalu kencang, agar air di haluan tidak tersibak supaya jangan nampak sibakan air yang putih itu dari udara. Siangnya sembunyi di pulau-pulau karang. Penembak penangkis udara pun dimutasi dan diganti dengan orang buangan yang berani setelah mempelajari sebentar cara mempergunakannya.
 
Bigitulah mereka berlayar dari pulau ke pulau, siang istirahat, malam kerja keras. Di suatu pulau mereka menemui mayat-mayat yang terapung-apung dan tersangkut di karang-karang.
Rupanya akibat pemboman Jepang atau sebaliknya, karena mayat-mayatnya itu jelas terdiri dari berbagai bangsa :  Indonesia, kulitputih, Jepang, India dan lain-lain.
 
Tetapi, enam hari berlayar, mereka mendapat serangan lagi dari pesawat-pesawat Jepang. Semua penghuni dikerahkan, diberi senjata sepucuk seorang, disuruh tidur telentang di geladak dan menghadapkan senjatanya masing-masing ke udara. Penangkis udara juga siap sedia. Tinggal tunggu komando saja. Ketika pesawat Jepang itu menyambar, segala macam senjata api dari berbagai jenis menyembur menuju pesawat. Ternyata bolong-bolong juga  badan pesawat itu, walau tidak diketahui di mana jatuhnya.
 
Setelah berlayar tujuh hari tujuh malam, biasanya cuma tiga hari tiga malam, tiba lah mereka di Queensland dengan selamat. Di luar dugaan, awak kapal yang disokong pula oleh pengawal mengadakan pesta yang meriah. Mereka berterimakasih kepada pimpinan orang-orang buangan dan mengatakan kalau tidak mereka tak yakin akan selamat. Letnan Indo itu, komandan pasukan pengawal dengan terharu memeluk Gindo, kemudian mengatakan bahwa walau pun ia tak setuju pada orang Komunis, tapi ia meghargai dan mengagumi pimpinan orang Komunis. Satu hal yang pasti, katanya, ia betul-betul sakit hati kepada pimpinannya yang mempunyai niat begitu busuk, tapi ternyata yang benar selalu menang.
 
            “Satu kali Indonesia yang jaya seperti yang saudara cita-citakan  akan tercapai,”  – ia menambahkan terbata-bata seakan ia segan mengemukakannya.
 
Segera sesudah itu, mereka ditimbang-terimakan kepada tentara Australia. Sikap tentara Australia sungguh menggeramkan. Mereka siap dengan senjata yang siap untuk ditembakkan dengan sangkur yang terhunus, seakan-akan Gindo dan kawan-kawan  dapat bersilat dengan peluru. Tiap gerik orang-orang buangan diperhatikan dengan curiga.
 
            “Kalian datang dari mana ?”  – tanya seorang perwira.
            “Tanah Tinggi, Irian.”
            “Orang buas ya. Suka membunuh dan memenggal.”
            “Ya, kami memang buas, suka membunuh. Tapi terhadap perampas-perampas tanahair kami.”
            “Maksud kamu ?”
            “Tuan pernah dengan pemberontakan 1926/27 di Indonesia ?”   Wajah  perwira itu berubah dan memandang Gindo seakan tidak percaya.
            ´´Pemberontakan Komunis, maksud tuan ?´´
 
Ketika Gindo membenarkan, setelah melihat keliling dia cepat-cepat menyalami dan meminta maaf karena mereka mendapat keterangan sebelumnya bahwa yang akan datang dari Irian adalah orang-orang buas, penjahat, pembunuh dan maling-maling besar. Segera pula sikap hampir seluruh serdadu berubah.
 
            “Akan kami laporkan kepada Comite, bahwa kawan-kawan dari Indonesia berada di sini.”
 
Besoknya utusan dari Comite datang yang menyampaikan pernyataan menyesal atas kejadian kemarin dan sekaligus menyampaikan kiriman-kiriman setiakawan dari kawan-kawan  Australia dan orang-orang progresif lainnya. Sejak waktu itu banyak datang kiriman-kiriman, juga dokter dikirim mereka………
 
Gindo masih berdiri di terali. Langit yang gelap hanya diterangi oleh bintang-bintang. Kapal terus bergerak dengan suara “dumdum”nya, yang menyatu dengan kecipak air di haluan. Gindo memandang jauh ke depan di mana terbentang laut tak berbatas seperti menantang padanya.
            “Tugas masih banyak,”   bisiknya kepada dirinya sendiri.
Kampung halaman pun berlabuh di hati……….
 
 
( Bahan dari Mangkudun Sati dan  Sosro ).
Chalik Hamid <chalik.hamid@yahoo.co.id>,in: Gelora 45 <GELORA45@yahoogroups.com>, Sunday, 13 November 2011, 13:43

Asal Mula Bakpao

Asal Mula Bakpao

 

K.Djie <k.djie2@kpnmail.nl>,in: GELORA45@yahoogroups.com
 Friday, 11 November 2011 3:49 PM

http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/bakpao.jpg

Bakpao (Hanzi: 肉包, hanyu pinyin: roubao) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia.

Bakpao sendiri berarti harfiah adalah baozi yang berisi daging. Baozi sendiri dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, serikaya manis, selai kacang kedelai, kacang azuki, kacang hijau,dan sebagainya, sesuai selera. Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan kehpao.

Kulit bakpao dibuat dari adonan tepung terigu yang setelah diberikan isian, lalu dikukus sampai mengembang dan matang. Pao itu berati “bungkusan”, Bakpao berarti “Bungkusan-bak” , bak itu artinya daging.

Untuk membedakan bakpao tanpa daging (vegetarian) dari bakpao berdaging biasanya di atas bakpao diberi titikan warna.

Sejarah/Legenda Bakpao

Sejarah Bakpao sendiri berasal dari salah satu bagian kecil dari roman terbaik sepanjang masa, Sānguó Yǎnyì. Zhuge Liang (181 – 234) adalah salah satu ahli strategis terbaik China, juga sebagai perdana menteri, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao.

http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/zhuge-liang.jpg

Cerita ini berawal pada zaman tiga negara (sam kok) ketika terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok, perdana menteri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, terkenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’ – Suku selatan itu disebut juga ‘Nanman’ atau ‘orang barbar dari selatan’. Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo.

Tak lama setelah Liang sampai di daerah selatan itu, Liang sudah mengalahkan Meng Huo 7 kali dan membebaskan 7 kali juga, dimana pada saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu, Wei).

Setiap kali membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jenderal-jenderalnya: “ Kenapa dia dibebaskan ? Bagaimana jika dia memberontak lagi? ”, Liang dengan tenang menjawab: “ Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tanganku dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya ”

Zhuge Liang tahu jika Meng Huo ditangkap dan dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya dan memberontak ke Shu, karena itu dia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya dan Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu.

Pada peperangan yang terakhir, yang ketujuh kalinya, Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Dilembah itu Liang menaruh kereta pengangkut makanan. Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu.

Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo.

Kemenangan ini tidak membuat Liang senang, ia hanya agak menyesali: “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Langit(Tian/Tuhan); semoga Langit berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.” Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang.

Ketika Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: “ Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali ”. Mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “ Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan! Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! ” Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu.

Ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sungai besar. Di sungai itu Liang tertahan karena selalu saja ada gelombang besar dan badai ketika pasukan Shu akan menyeberang. Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus melemparkan 50 kepala manusia untuk persembahan kepada roh sungai ”

Karena Liang tidak mau membuat pertumpahan darah lagi, ia membuat kue yang menyerupai kepala manusia: bulat namun rata didasarnya, dan kue ini disebut bakpao (baozi).

http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/bakpao1.jpg

Sekarang, meskipun banyak yang tidak mengetahui asal usulnya, bakpao telah populer di seluruh dunia sebagai salah satu makanan tradisional Cina. Posisi bakpao bahkan sanggup menggantikan nasi seperti yang terlihat pada film Shaolin.

 

Rahasia di Balik Perang Surabaya


Rahasia di Balik Perang Surabaya

in:news2 <news-transtv@yahoogroups.com>;Thursday, 10 November 2011 10:52 PM

Perang Surabaya November 1945, bisa dikatakan merupakan pertemuan antara : Keberanian rakyat Indonesia, kegagalan Intel Inggris, cerobohnya Belanda dan naifnya pemimpin Republik di Jakarta dalam memahami keadaan.

Perang ini amat massif sifatnya dan merupakan perang pertama di dunia setelah Hitler dikalahkan pada Mei 1945. Perang ini juga merupakan sebuah kejuta…n besar bagi Inggris dan menjadi inspirasi bagi negara Asia lainnya untuk mengobarkan perlawanan anti kolonial. Bisa dikatakan “Perang Surabaya adalah titik balik terpenting bagi negara-negara jajahan di Asia untuk memulai revolusinya”.

Di tahun 1942, ketika Jepang berhasil menginvasi Jawa dan mendaratkan banyak pasukan di Pulau paling kaya di Asia, pasukan Belanda mundur ke belakang. Beberapa pasukan Belanda di garis terdepan ditangkap dan diinternir, namun para penggede militer Belanda terutama bagian intelnya berhasil mengungsi ke tepi-tepi pantai atau di bandara kecil kota diterbangkan ke Australia dengan terburu-buru. Disana para penggede militer Belanda terus menjalin hubungan dengan Inggris, dan memeloti setiap berita yang masuk tentang Hindia Belanda. Dikabarkan pula Belanda telah menanam ribuan senjata ringan dan beberapa senjata berat yang siap digunakan sebagai perlawanan bawah tanah terhadap Jepang bila kemudian hari Jepang sudah melemah daya tempurnya maka pasukan bawah tanah bersenjata siap mengepung Jepang. Sampai detik ini belum bisa dibuktikan adanya penemuan senjata-senjata baru, tapi dari banyak kesaksian di masa perang Revolusi 1945 banyak dari pasukan laskar bersenjata memiliki alat persenjataan yang amat baik dan bukan peninggalan Jepang.

Sementara di Eropa, Churchill dan Franklin Delano Roosevelt terus melakukan koordinasi, mereka berdua memanfaatkan Stalin untuk menghadapi Hitler di front timur dan juga memutuskan sebuah persetujuan baru untuk bersiap bila sekutu kalah oleh Hitler di Eropa maka pertempuran akan dilanjutkan di Asia. Churchill dan Roosevelt pun menuliskan perjanjian Atlantic Charter 1940 yang isinya antara lain : “Hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri” isi perjanjian ini jika dilihat kemudian waktu adalah hanya sebagai bom waktu agar bangsa Asia bisa dimanfaatkan oleh Inggris dan Amerika Serikat dalam melawan Hitler. Bukti bahwa Inggris-Amerika akan menjadikan semua dunia adalah wilayah jajahan mereka terjadi tahun 1945, dalam perjanjian Yalta, Inggris-Amerika Serikat dan Sovjet Uni sepakat bahwa geopolitik akan dibelah menjadi blok barat dan blok timur. Setelah Stalin tertawa-tawa menandatangani perjanjian ini di depan Roosevelt dan Churchill, lalu Roosevelt dan Churchill bertemu di ruangan lain dan membicarakan tentang nasib jajahan Asia. Churchill bersikeras “Biarlah jajahan di Asia akan tetap seperti masa sebelum Jepang mengobrak-abrik Asia” ini artinya : Inggris, Perancis dan Belanda akan menerima keuntungan besar. Roosevelt diam saja karena mau-nya Churchill ini jelas merugikan Amerika Serikat. Roosevelt melihat keadaan dan kemudian pelan-pelan menarik diri dari agresifitas Inggris di Asia. Bagi Roosevelt belum waktunya Amerika masuk ke Asia, sebuah wilayah yang belum begitu dikenalnya kecuali Filipina.
Ketika kemenangan sekutu mulai terasa di Asia, setelah MacArthur secara lompat kodok berhasil satu persatu mencaplok pulau-pulau di Asia, berawal dari kemenangannya menguasai pulau-pulau kecil di Pasifik selatan, kemudian menguasai Biak dan membunuhi ribuan serdadu Jepang. Lalu menerbangkan pesawat-pesawatnya ke Filipina, disana MacArthur memenuhi janjinya kepada rakyat Filipina “I shall return”. Sampai pada titik ini, MacArthur dan Amerika Serikat masih bercitra menjadi pembebas negeri, apalagi di Asia, Jepang amat kalap demi kemenangan perang ia memperbudak penduduk negeri-negeri jajahan.

Namun dibalik kemenangan MacArthur ini, Belanda dengan licik memanfaatkan Amerika Serikat, seperti kebiasaan orang Belanda yang selalu ambil manfaat sebanyak-banyaknya dan berjuang sekecil-kecilnya, maka Belanda mulai mendompleng kemenangan MacArthur demi menguasai kepulauan paling kaya di dunia : Hindia Belanda. Pada tahun 1943, ketika Filipina sudah dikuasai MacArthur, Belanda langsung menerbangkan Van Mook dari Australia untuk ikut menandatangani perjanjian di Tacloban, Filipina tentang wilayah perang. Saat itu wilayah perang dibagi dua : Wilayah Tenggara (South East) dan South West (Pasifik Barat Daya) kebanyakan wilayah Indonesia masuk ke dalam South West. Baik wilayah perang Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya semuanya dibawah komando MacArthur sebagai Supreme Commander. Setelah Jepang menyerah kalah, dengan gentleman Amerika Serikat menyerahkan wilayah perang itu kepada Inggris. Inggris saat itu menunjuk Lord Louis Mountbatten, Raja Muda India untuk menjadi penguasa di Asia eks jajahan Jepang. Mountbatten sendiri berkedudukan di Saigon.

Van Mook, Van Der Plas dan Spoor adalah tiga serangkai dari Belanda yang paling banyak melobi pihak Inggris untuk mengembalikan Hindia Belanda ke tangan Belanda. Van Der Plas menganggap remeh situasi di Hindia Belanda. Inilah kesalahan terpenting intel-intel Belanda di Indonesia yang masih melihat pergerakan pemuda di Jawa atau Sumatera adalah pergerakan anak bawang. Karena sikap meremehkan Van Der Plas ini membuat Van Mook bersama Spoor hanya merekrut 5000 serdadu Belanda dari Suriname dan Curicao untuk disiapkan mengamankan kedatangan mereka di Jawa.

Saat sarapan pagi di markasnya Australia, Van Mook kaget mendengar berita Proklamasi dari Jakarta. Van Mook mulai memiliki insting akan ada situasi berat, tapi ketika Van Mook menyampaikan ini ke Van Der Plas, Van Der Plas hanya tersenyum kecil dan berkata singkat “Apa bisa sekelompok manusia penakut melawan Brigade tempur veteran perang dunia?”

Sekelompok orang pengecut ternyata sudah berubah. Van Mook mati-matian mempertahankan pendapat bahwa Belanda harus mengirimkan banyak pasukan. Van Der Plas menolak, karena dengan mengirimkan banyak pasukan akan membuat kecurigaan Inggris tentang begitu menggebunya Belanda mencaplok Hindia Belanda “Santai saja jangan membuat Inggris atau Amerika memperhatikan kita” . Gagal meyakinkan Van Der Plas, akhirnya Van Mook menghubungi jaringannya di London agar segera melobi Perdana Menteri Inggris. Utusan Van Mook mengejar PM Inggris ke Downing Street, tapi ternyata Churchill sedang beristirahat di Chequers, pinggiran kota London disana diadakan pertemuan dadakan. Churchill akhirnya menyarankan agar dibentuk sebuah tentara pengambil alihan sipil, pihak Belanda setuju lantas disana dibentuklah NICA (Nederlaands India Civil Affair), NICA ini akan jadi semacam pengawal pemerintahan peralihan untuk kemudian menegakkan kekuasaan Belanda di Inggris, dalam nota Chequers yang tertanggal 24 Agustus 1945 ini pula termuat komitmen Inggris untuk siap membantu apabila NICA mengalami kesulitan dalam menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia.

Nota Chequers ini amat rahasia, bahkan Van Mook sendiri sampai beberapa saat merahasiakannya di depan teman-temannya, karena apabila ini bocor maka pendaratan Inggris sebagai pasukan pembuka akan gagal. Inggris kemudian membentuk RAPWI, sebuah organ pembebasan tawanan perang sekutu oleh Jepang dan pasukan Inggris mendarat di Jawa atas nama AFNEI. Barulah beberapa hari kemudian setelah berpikir panjang Van Mook menunjukkan surat nota Chequers ke Van Der Plas, sambil marah-marah Van der Plas bilang ke Van Mook, kenapa tidak langsung diberikan kepada dirinya info itu, karena Van Der Plas bisa tau posisi Inggris saat ini. Van Der Plas langsung memutuskan untuk membawa Van Mook ke Kandy, Srilanka untuk menemui Lord Louis Mountbatten.

Disini kemudian Van Mook dan Van Der Plas ditemui di teras belakang dengan santai di rumah dinas Mountbatten. “Kita akan melanjutkan hasil pertemuan di Yalta 1945 dan melanjutkan keputusan tuan Perdana Menteri tentang ini” kata Van Mook sambil menyerahkan surat nota Chequers kepada Mountbatten. Raja Muda India itu membaca dengan seksama surat itu, lalu mengonfirmasi dengan ajudannya atas keabsahan surat itu lewat jalur rahasia, setengah jam kemudian ada pesan dari London bahwa surat itu absah. Tanpa pikir panjang Mountbatten berkata “Akan saya perintah ke seluruh divisi pasukan saya untuk membantu pasukan Belanda. Tapi ini jangan terlalu berlebihan biarlah Inggris membereskan seluruh persoalan sipil dengan baik”

“Kami tak ingin kedahuluan Komunis” kata Van Mook menakut-nakuti Inggris. Mountbatten tersenyum “Saya tau watak Stalin, ia sudah terikat dengan perjanjian Yalta 1945. Stalin tidak akan masuk ke wilayah yang dikuasai sekutu, asal kita jangan pancing dia”. Mountbatten langsung melanjutkan “Saya punya intelijen disana namanya Kolonel Van Der Post, biarlah dia jadi perwira penghubung nanti kita akan terima banyak laporan dari dia”.

Van Mook setuju, begitu juga dengan Van Der Plas mereka bersalaman dengan Mountbatten lalu balik ke Australia dan menyiapkan pasukan serta para perwira stafnya. Di Australia pemimpin pasukan diputuskan perwira KNIL orang Jawa bernama Abdulkadir Wijoyoatmodjo dan Mayor KNIL Santoso.Abdulkadir dan Santoso diperintahkan Van Mook untuk ke Djakarta untuk mengadakan pengembangan kontak-kontak jaringan dengan eks perwira KNIL yang masih memiliki pasukan. Abdulkadir dan Santoso langsung berangkat ke Jakarta dan menemui beberapa perwira KNIL di Jakarta untuk bersiap melakukan perang dengan pihak Indonesia apabila pasukan NICA nanti mendarat dan menerima perlawanan.

Setelah Abdulkadir bertemu dengan pasukannya, lalu Van Mook dan Van Der Plas datang ke Jakarta disana ia berjumpa dengan Kolonel Van Der Post, kontak terpenting Van Der Post dengan banyak pemimpin-pemimpin baru Republik. Van Mook agak nggak suka dengan Van Der Post yang secara eksplisit mendukung kemerdekaan Indonesia. Van Der Post sempat menertawai Belanda ketika pasukan Belanda akan datang kembali. “Kamu akan berhadapan dengan banyak orang nekat” kata Van Der Post di satu sore depan stadion Vios, Menteng.

Karena sudah memegang Nota Chequers itu Van Mook amat yakin bisa menguasai kembali Republik.

Sementara di Djakarta sendiri, kedatangan sekutu disambut baik. Sukarno amat takut apabila dirinya akan ditangkap karena tuduhan kolaborator, sementara Hatta dan Sjahrir sudah berhitung untuk menghindari perang terhadap sekutu. Kelemahan Sukarno yang kadang-kadang menyebalkan adalah “Ia tidak memperhitungkan kekuatannya sendiri” padahal seluruh bangsa ini mau merdeka secara sukarela karena mereka melihat figur Sukarno.

Hatta dan Sjahrir amat bergantung dengan figur Sukarno. Sementara kekuatan lain belum bermunculan, Tan Malaka masih bersembunyi di rumah Achmad Subardjo dan masih bingung harus kontak siapa lagi yang bisa dipercaya, karena Sukarni menghilang setelah Tan Malaka bertemu dengan Sukarni di rumahnya. Sukarni, Maruto Nitimihardjo, Chaerul Saleh, dan banyak tokoh pemuda berkali-kali meyakinkan Sukarno akan perang total dengan sekutu. Sukarno marah-marah karena perbuatan amat gila berperang dengan pasukan sekutu.

Para pemuda tidak tau akan nota Chequers 24 Agustus 1945, tapi para pemuda liwat insting politiknya yakin Belanda bermain di belakang sekutu, kejadian ini seperti 120 tahun yang lampau saat pasukan Inggris menyerahkan Jawa ke tangan Belanda setelah kekalahan Napoleon.

Sukarno, Hatta dan Sjahrir tidak mau berspekulasi dan memutuskan untuk menganut garis “menghindarkan perang dan menyelamatkan nyawa orang banyak dari peperangan”.

Lalu sekutu datang ke Tanjung Priok. Kedatangan sekutu disana mendapatkan banyak perhatian dari orang-orang Priok termasuk Hadji Tjitra (mertuanya Lagoa, jagoan Priok) dan Hadji Tjitra melaporkan kedatangan sekutu yang bersenjata lengkap juga beberapa orang berbicara bahasa Belanda kepada pemimpin pemuda Maruto Nitimihardjo. Kedatangan orang Belanda ini menjadi alasan bagi Pemuda untuk menembaki sekutu di Jalan-Jalan Djakarta, lalu Sukarno marah-marah dan membentak Maruto juga Pandu Kartawiguna “Hentikan Perang, Tolol!!”…………

Maruto marah begitu juga dengan Pandu. Tapi di tempat lain sudah mulai muncul tokoh baru Tan Malaka, yang ternyata mereka kenal sebagai Ilyas Hussein seorang utusan pemuda dari Bayah, Banten.

Di Tanjung Mas, Surabaya Pasukan sekutu mendarat dan membebaskan banyak interniran perang Belanda. Banyak eks orang kaya Belanda langsung lupa diri, mereka kemudian berpesta. Di Hotel Yamato, para orang kaya Belanda menyiapkan pesta untuk mengganti nama Hotel Yamato ke nama semula yaitu : Hotel Oranje. Proses penggantian nama ini kemudian diikuti oleh pengerekan Bendera Belanda di atas hotal Yamato. Perintah pengerekan ini dilakukan oleh Ploegman salah seorang advokat Surabaya di jaman sebelum Jepang. Pengibaran itu dilakukan jam 9 malam.

Paginya pengibaran bendera Belanda bikin perhatian banyak orang yang sedang berjalan kaki. Pemuda-pemuda yang dilapori rakyat bahwa Belanda mengibarkan bendera langsung ngasah bambu runcing, beberapa pemuda melapor ke Residen Surabaya : Sudirman. “Lha, kan sudah ada perintah dari Jakarta untuk mengibarkan bendera merah putih” Sudirman memegang surat perintah 1 September 1945 tentang bendera merah putih lalu membawanya ke Hotel Yamato. Disana Sudirman dikawal Sidik dan Haryono. Sampai di depan kerumunan massa, Sudirman ditemui beberapa orang pemuda yang kalap “Kita bakar saja hotel ini” Sudirman menahan ide pemuda itu, lalu ia segera masuk ke ruang lobi Hotel. Disana Sudirman disoraki orang-orang Belanda yang sedang menyiapkan acara dansa.

“Mana Pemimpin Belanda disini..!!” kata Sudirman sambil kedua tangannya memegang pinggang. “Saya kamu mau apa?” kata Ploegman dengan pandangan menghina. Lalu Sudirman menunjukkan surat perintah Djakarta tentang pengibaran bendera “Kamu bisa baca ini?”

Ploegman mengibaskan tangannya dan mengenai surat itu langsung terjatuh ke lantai. Sidik yang melihat kelakuan kurang ajar Ploegman langsung memegangi leher Ploegman, lalu Ploegman mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke Sudirman. Tak lama kemudian dari belakang pistol meletus dan mengenai punggung Sidik. Sidik langsung jatuh dan mati, lalu beberapa orang Belanda mau mengeroyok Sudirman dan Haryono. Para pemuda menerobos masuk dan terjadilah perkelahian seperti di bar-bar, beberapa orang Belanda digebuki sampai mati.

Di luar keadaan semakin memanas, beberapa orang pemuda naik ke atas dan merobek warna biru Belanda, lalu mengibarkan sisa bendera robekan itu : Merah Putih, sekejap rakyat Surabaya terdiam lalu menangis, beberapa diantara dengan semangat menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara gemetar. Hari itu rakyat Surabaya memiliki keIndonesiaannya.

Sejak Insiden Yamato itu kemudian pemuda menyerang pos-pos militer sekutu. Perang kecil-kecilan terjadi, barulah pada akhir Oktober 1945 terjadi perang besar. Inggris mengirimkan Hawthorn untuk melobi Sukarno di Djakarta. Sukarno langsung berangkat ke Surabaya, ditengah tembakan mendesing Sukarno menemui beberapa pemuda dan memerintahkan menghentikan tembakan “Musuh kita bukan sekutu, mereka hanya membebaskan tawanan perang..” kata Sukarno. Para pemuda menuruti apa kata Sukarno.

Lalu gencatan senjata terjadi.
Van Mook menganjurkan pada Mountbatten agar mengirimkan Jenderal administrasi saja, semacam Jenderal Salon yang tak pernah pegang pasukan. Bagi para Jenderal amat senang dan merupakan reputasi menarik apabila diperintahkan memegang pasukan. Begitu juga yang terjadi pada Mallaby, selama perang dunia kedua Mallaby hanya duduk di belakang meja merapihkan administrasi markas dan mengatur alat-alat peraga Atlas untuk presentasi para Jenderal yang mengatur pasukan di lapangan.

Mallaby yang saat itu berpangkat Mayor Jenderal dengan senang hati menerima perintah memimpin pasukan Brigade 49 yang terkenal nekat dan berhasil menghajar Jepang pada perang Burma 1944. Pangkat Mayor Jenderal pun diturunkan menjadi Brigadir Jenderal, karena pangkat seorang komandan Brigade Inggris adalah Brigjen.

Mallaby yang saat itu menjadi saksi atas gencatan senjata memerintahkan pasukannya untuk menarik diri dari semua pertempuran. Keputusan itu ditandatangani 29 Oktober 1945. Namun informasi gencatan senjata ternyata tidak sampai ke seluruh pasukan. Ada pasukan kecil India (Gurkha) yang membangun benteng pasir di bawah Jembatan Merah Surabaya. Mereka menembaki segerombolan pemuda. Para Pemuda membalas berondongan senjata dengan serbuan bambu runcing, naas bagi Mallaby yang dikiranya kota sudah aman dia berjalan-jalan malam untuk mencari restoran yang masih buka, ia lapar. Dengan naik mobil Buick ia bersama pengawalnya berkeliling Surabaya, di dekat jembatan merah ia malah masuk ke wilayah Republik, kemudian ada pistol menyalak ke dada Mallaby. Seketika Mallaby mati kemudian ada granat masuk ke dalam mobil Mallaby, mobil Mallaby meledak hebat. Mayatnya terpanggang di dalam.

Sampai sekarang siapa yang nembak Mallaby, siapa yang melempar granat tidak diketahui, apakah ini mainan intelijen Belanda, NEFIS atau memang sebuah aksi spontan pemuda. Namun yang jelas dari sinilah Perang Surabaya bermula.

Dalam perang lima tahun dengan NAZI, Inggris tidak pernah kehilangan satu Jenderal pun. Tapi di Surabaya baru lima hari mendarat seorang Jenderal terbunuh. Inilah yang membuat marah Inggris. Lalu dengan cepat Mountbatten menunjuk Mayor Jenderal Mansergh sebagai kepala pasukan Inggris di Surabaya untuk membereskan kota Surabaya. Mayjen Mansergh yang jago perang dunia itu langsung mengambil keputusan untuk melucuti semua orang Surabaya.

“Hak apa orang Inggris memerintahkan orang Surabaya sebuah bagian dari negara berdaulat” teriak Bung Tomo sambil menggebrak meja setelah mendapatkan laporan bahwa ada ultimatum bahwa orang Surabaya harus menyerahkan senjata sampai tanggal 10 November 1945.

“Wah perang ini” kata Bung Tomo di depan banyak temannya. Beberapa jam kemudian Bung Tomo memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil lalu pergi ke Tebu Ireng, Jombang. Disana ia berjumpa dengan Hadratus Sjaikh Hasjim As’ary (kakek Gus Dur) untuk meminta pertimbangan. “Perang ini akan jadi perang sahid, perang suci karena membela tanah air, tapi sebelum saya putuskan bantu kamu baiknya kamu dzikir dulu, saya menunggu seorang Kyai dari Cirebon”
Esoknya Hadratus Sjaikh berkata lagi pada Bung Tomo “Kamu perang saja, ulama membantu, santri-santri membantu”.

Mendapat jaminan dan restu dari tokoh ulama, Bung Tomo langsung ke Surabaya dan meneriakkan di corong “Radio Pemberontak” …Saudara-saudara Allahu Akbar!!… Semboyan kita tetap: MERDEKA ATAU MATI.

Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara,
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar…!! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!!!
MERDEKA!!!

Mendengar pidato Bung Tomo, orang Surabaya paham itu isyarat perang. Mayjen Mansergh juga ambil kesimpulan bakal ada perang beneran. Akhirnya tanggal 10 November tiba, sirene pagi berbunyi keras dan tak satupun rakyat Surabaya yang datang ke pos militer sekutu untuk menyerahkan senjata.

Para pemuda membangun benteng-benteng pasir, menjalin kawat berduri, bersembunyi di jendela-jendela toko sudah perseneleng siap tempur.

Pagi hari Gubernur Surjo mendatangi beberapa tokoh pemuda. Gubernur Soerjo bilang “ini sudah keterlaluan Inggris, sudah tidak menganggap Pemerintahan Djakarta itu ada, tidak ada Republik Indonesia” lalu Gubernur Soerjo dengan blangkonnya berpidato “kita tidak mau dijajah kembali, Merdeka….!!”

Jam 6 pagi dari arah pelabuhan di Surabaya Utara, kanon-kanon kapal perang Inggris sudah mengarah ke kota. Tembakan pertama meletus jam 6.10 dari sebuah kapal kemudian meletus lagi dari semua kapal berikutnya seluruh wilayah kota yang dekat dengan pelabuhan jadi korbannya.

Wilayah Surabaya Utara dihuni oleh banyak orang-orang Cina, Arab, India dan beberapa pedagang dari Bugis. Rata-rata dari mereka adalah pedagang. Rumah-rumah mereka hancur dengan tanah, tembakan kanon terus menerus menghancurkan Pasar Turi, Kramat Gantung dan Pasar Besar. Beberapa tempat sudah tak berbekas. Jam 7 pagi pasukan Inggris mulai masuk ke Surabaya.

Mereka masuk ke kampung-kampung dan menembaki rakyat dengan membabi buta, ada orang tembak, ada pemuda tembak mati. Sekutu menendangi rumah penduduk dan mencari senjata, bila ada yang melawan tembak mati.

Rakyat Surabaya belum melawan, mereka masih siaga di posisinya masing-masing, belum ada perintah tembak dari Djakarta. Para penggede militer TKR di Djakarta dilapori situasi Surabaya terutama penembakan kanon di Surabaya Utara. Amir Sjafruddin yang saat itu mengurusi pertahanan langsung memerintahkan “Lawan!!” lalu datanglah perintah dari Djakarta agar rakyat Surabaya melawan.

Jam 9.15 milisi Surabaya sudah dapat kabar bahwa Jakarta menyetujui perang, lalu tembakan pertama kali terjadi di Pasar Turi dari pihak Republik. Di batas-batas kota rakyat mulai berdatangan memasuki kota, ratusan ribu orang memasuki kota Surabaya mempertahankan kedaulatan bangsanya yang sedang dihina Inggris dan Belanda.

Pasukan resmi tentara juga mulai mengoordinasi, semuanya ikut dalam barisan milisi, pertahanan Republik langsung dibangun dari arah barat ke Timur, wilayah Asem Jajar dijadikan wilayah perang pertama antara sekutu dan Republik. Di wilayah ini pasukan sekutu berhasil dipukul mundur, beberapa dari mereka tewas ketika pasukan bambu runcing nekat maju dan masuk ke lobang pasir dimana mitraliyur ditaruh. Di selatan Pasar Turi pasukan Inggris menerobos masuk tapi ditembaki dari gedung-gedung oleh pasukan rakyat.

Jam 10.12 di langit Surabaya suara pesawat menderu-deru kencang. Rupanya Inggris mengerahkan pasukan Royal Air Force (RAF) langsung dari pangkalan militernya di Burma. Pasukan RAF yang dikerahkan ini adalah veteran perang dari Perang Dunia kedua yang mengebom Berlin.

Tapi sekarang bukan Berlin yang dibom tapi Kota Surabaya, mereka mengebom kantor-kantor pemerintahan, gedung-gedung sekolah. Bila tahun 1940 Inggris dibombardir Jerman, maka Inggris mengulangi kejahatan Jerman dengan memborbardir kota Surabaya, banyak orang tertembak mati kena runtuh gedung, dan orang yang tertembak mitraliyur pesawat, Inggris seperti pasukan gila yang mengamuk habis-habisan.

Tapi Inggris belum kenal watak orang Surabaya yang panas. Pasukan rakyat kemudian mengambil beberapa mitralyur anti pesawat buatan Jepang dan menembaki skuadron pasukan RAF. Dua pesawat kena tembak salah satunya adalah seorang jenderal yang bernama Brigjen Robert Guy Loder Symonds seorang komandan pasukan Artileri yang sedang melakukan survey udara. Jenderal ini kemudian dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di Kramat Pulo, Menteng.

Pertempuran makin meluas, sampai ke Kali Mas. Di pinggir Kali Mas pasukan sekutu langsung menggempur pasukan rakyat. Jam 12 siang hari pertama, pasukan infanteri mulai mendarat sekitar 20.000 orang, inilah pasukan terbesar Inggris setelah perang dunia selesai, dan merupakan perang paling brutal sepanjang sejarah pertempuran pasukan Inggris.

Dari Radio hampir seluruh rakyat Indonesia menunggu laporan-laporan dari perkembangan perang, mereka menunggu pidato Bung Tomo. Semua mendekatkan telinga mereka di radio. Pada hari itu juga banyak dari orang-orang Indonesia di tempat lainnya menyiapkan diri untuk perang ke Surabaya. Sekitar 20.000 orang Bali sudah siap masuk ke Surabaya, beberapa bisa menyusup dan langsung menggempur sekutu. Dari Aceh sudah disiapkan ribuan orang pengiriman, di Medan ribuan orang berkumpul untuk bersiap diberangkatkan ke Surabaya, di Lombok Mataram di depan para Ulama, rakyat Lombok siap mati dan akan berangkat ke Surabaya. Di Yogyakarta sudah mulai ada pengiriman pasukan, Malang sudah kirim pasukan sementara Djakarta masih menunggu perkembangan, penggede-penggede Djakarta masih berharap perang bisa diselesaikan dengan cepat.

Di wilayah lain di luar Surabaya, Jenderal Sudirman dan para staf-nya memutuskan untuk memotong rantai logistik sekutu. Jadi 20 ribu pasukan infanteri bakalan terlokalisir dan digebuki rakyat Surabaya. Taktik ini berhasil, laskar-laskar rakyat di Jawa Barat menghadang pasukan logistik sekutu yang mau masuk dari arah barat, di Malang gudang logistik pasukan sekutu dihancurkan, otomatis selama 5 hari pasukan sekutu terkunci dari semua pintu masuk kota, sementara ribuan orang Indonesia terus mengalir memasuki kota dengan senjata apa adanya berperang melawan sekutu.

Pasukan sekutu mulai stress, karena logistik tidak ada, bantuan tempur logistik yang diterjunkan dari pesawat kemakan orang-orang Republik, bahkan nyaris tidak ada logistik yang berhasil didapatkan pasukan Inggris. Mereka sudah terkunci dan terkepung oleh seluruh orang Indonesia yang mengitari mereka, keberadaan pasukan Inggris dari Brigade 49 tinggal menghitung waktu.

Tempat-tempat dimana pos pasukan Inggris berada di blokade total, tak ada listrik, tak ada makanan, mereka harus berjaga 24 jam agar jangan sampai ditembaki Republik yang terus menerus nggan berhenti. Di hari kelima pertempuran mulai jarang tembakan dari pasukan sekutu, pasukan Inggris mulai kehabisan amunisi, beberapa orang Surabaya nekat masuk ke pos-pos Inggris dan meledakkan granat, inilah yang mereka takutkan. Dalam kondisi rusak mental inilah, pasukan Brigade 49 mulai teriak-teriak ke markas mereka di Djakarta bahwa mereka sudah terdesak.

Rahasia kekalahan Inggris ini disimpan rapi-rapi, jangan sampai Penggede Republik Indonesia tau, mereka berlagak ja’im dan masih mencitrakan diri sebagai pemenang perang di Surabaya. Begitu juga dengan pemimpin di Jakarta yang tidak begitu mengetahui perkembangan perang di Surabaya, mereka sudah ‘underestimate’ bahwa perang akan dimenangkan oleh Inggris.

Di Singapura para panglima Inggris berkumpul. “Kita sudah kalah di Surabaya” kata seorang Panglima. “Pasukan kita sudah kelaparan, tidak ada lagi pasokan” memang saat itu pasukan sekutu sudah amat kelaparan. Mereka tidak dapat pasokan logistik, sementara para pejuang Republik dapat pasokan terus menerus nasi bungkus, pisang, dan banyak bahan makanan dari rakyat yang sukarela membuatkan masakan di dapur umum. Bahkan beberapa pasukan Inggris seperti anjing kelaparan saat melihat sisa nasi bungkus bahkan yang udah basi, mereka ambil dan makan.

“Keadaan ini harus dirahasiakan” Bagaimanapun pasukan Brigade 49 dari Divisi V adalah pasukan kebanggaan Inggris, mereka dijuluki “Fighting Cock” pada Perang Burma 1944, merekalah yang merebut satu persatu wilayah Burma dengan sistem gerilya hutan, kini Brigade itu perlahan-lahan mati kelaparan, digebukin dan ditembakin.

Lalu para Panglima itu mengutus Admiral Heifrich menemui Presiden Sukarno. Heifrich mengakui sendiri dalam buku biografinya, ‘Keputusan untuk menghentikan perang, satu-satunya hanya pada Presiden Sukarno” apa yang dilakukan Heifrich ini bila diperhatikan sangat aneh untuk watak Inggris yang amat ksatria. Karena saat ultimatum, Inggris sempat menganggap Pemerintahan Republik Indonesia tidak ada, lantas setelah pasukan Brigade 49 sudah kalah dan terjepit ia minta tolong pada Sukarno.

Disinilah kesalahan Sukarno paling fatal, ia masih termakan halusinasi bahwa sekutu adalah pihak yang menang perang dan merupakan alat yang baik untuk berdiplomasi dengan Belanda. Sukarno nggak paham kekuatan bangsa sendiri, ia tidak langsung melihat pertempuran, jalan diplomatiknya yang dipilih merupakan blunder besar dalam perang Kemerdekaan 1945-1949.

Perang Surabaya yang berlangsung selama tiga minggu, di minggu pertama dimenangkan oleh pihak Republikein, tapi karena keputusan Sukarno yang memerintahkan penghentian perang, sehingga Jenderal Sudirman membuka blokade lalu pasukan Divisi V yang awalnya sudah diputuskan tidak akan masuk Surabaya karena takut dihabisi, jadi masuk. Logistik yang tadinya terputus mengalir kembali.

Dan kemudian Inggris mampu menghajar pasukan Republik. Lalu nggak berapa lama Inggris menguasai kota Surabaya, karena sudah dapat suplai logistik dari Jakarta.

Apakah yang terjadi bila Sukarno tau kebohongan Inggris, mulai dari Nota Chequers 24 Agustus 1945 sampai pada rahasia pasukan Brigade 49 yang kocar-kacir. Sukarno saat itu berada pada persimpangan politik yang amat tragis. Di satu sisi hanya dia-lah yang dipercaya rakyatnya, di sisi lain dia tidak mau perang dengan sekutu, karena nama Sukarno sudah tercatat sebagai kolaborator. Bila Sukarno diambil pihak sekutu, Sukarno kuatir Indonesia akan kehilangan pemimpin.

Kesalahan besar Sukarno yang menghentikan perang ini juga sama fatalnya dengan perintah Sukarno agar melarang pasukan KKO pimpinan Mayjen Hartono masuk ke Djakarta di tahun 1966 untuk memberikan pelajaran bagi Suharto. Sukarno memang pribadi yang menarik tapi ketika ia harus masuk ke dalam situasi perang nampaknya ia lebih memilih menghindar.

Padahal perang Surabaya adalah sebuah drama besar yang bisa dijadikan landasan untuk merdeka sepenuhnya, Perang Surabaya juga dikabarkan lewat radio-radio dan didengarkan oleh para pejuang di banyak negara terjajah seperti Vietnam dan Burma, dari perang inilah kemudian membangkitkan semangat mereka melawan Kolonialisme.

Pelajaran dari sejarah ini adalah ketika kita sudah pada situasi perang, janganlah kita hentikan dengan diplomasi, janganlah kita memberikan tempat pada lawan. Reformasi 1998 terlalu memberikan tempat pada orang Orde Baru sehingga perjalanan demokrasi menjadi rusak, begitu juga dengan sikap lemah kita pada IMF atau Bank Dunia. Kita harus percaya atas kemampuan diri sendiri.

Di Surabaya 1945 menjadi pengetahuan bagi kita bahwa kita bangsa berani………………See More

(Dikutip dari posting Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto di Facebook)

Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Division Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 – 14 A, Jakarta 12790
Telp: 7917-7000 ext: 3542;   Fax: 021-79184558

HP: 0819 0819 9163

http://satrioarismunandar8.blogspot.com

http://facebook.com/satrio.arismunandar

“Courage is not the absence of fear, but rather the judgment that something else is more important than fear.”
(James Hollingsworth)

Di Bali, Mereka Mengenang Soekarno dan Sutedja

10.11.2011 13:31

Di Bali, Mereka Mengenang Soekarno dan Sutedja

Penulis : Aju

(foto:dok/antaranews.com)

Hari ini, 10 November 2011, masyarakat agama Hindu di Bali menggelar upacara adat Nilapati Yadnya untuk mengenang kematian Presiden Soekarno pada 21 Juni 1970. Upacara adat Nilapati Yadnya yang digelar bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan ini dilakukan di Istana Tampaksiring, Batu Empul, Bali.

Upacara Nilapati Yadnya, dalam kepercayaan Hindu, merupakan upacara penyucian atma yang diadakan hanya kepada leluhur yang mengalami kematian secara tragis atau tidak wajar. Nilapati Yadnya yang digelar di Bali diprakarsai Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dan keluarga besar Puri Mahendradatta Tegeh Kori.

Sebelum kematiannya, Soekarno ditahan dan dipenjara sejak 1967 di Wisma Yaso. Ia menjadi tahanan rumah berkaitan dengan insiden pembunuhan enam jenderal dan satu letnan TNI AD di Jakarta pada subuh 1 Oktober 1965.

Peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama Gerakan 30 September (G30S) ini, oleh rezim Soeharto dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang.

Sukmawati, salah satu putri Presiden Soekarno, dalam suatu kesempatan mengatakan, selama bertahun-tahun menjadi tahanan rumah, Soekarno yang berhasil memerdekakan bangsa Indonesia mendapatkan tekanan politik yang sangat keji.

Tak aneh, sejumlah kalangan – baik politikus maupun sejarawan – menilai Soekarno sesungguhnya telah dikudeta secara merangkak dan dibunuh dengan konspirasi internasional.

Insiden G30S 1965 ini juga telah membuat nasib gubernur pertama Bali, Anak Agung Bagus Sutedja, sampai sekarang masih misterius.

Operasi CIA

Banyak kalangan mensinyalir penggulingan Soekarno merupakan bagian dari skenario intelijen asing. Di dalam buku Konspirasi Soeharto–CIA: Penggulingan Soekarno 1965-1967, Prof Peter Dale Scott menyebutkan, jatuhnya Soekarno akibat G30S 1965, buah permainan kotor Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto, agan intelijen AS CIA dan agen intelijen Inggris M-16.

Soebandrio dalam bukunya berjudul Yang Saya Alami Peristiwa G30S (Sebelum, Saat Meletus dan Sesudahnya), 2006, menyebutkan Soekarno tidak terlibat PKI.

Tapi, Amerika Serikat tidak pernah menyukai Soekarno karena sebagai pemimpin negara yang relatif baru lahir, ia berani menetapkan kebijakan “Berdiri di Kaki Sendiri”.

Kerja keras dan nasionalisme tinggi, kata Soekarno, adalah kunci utama kemajuan suatu bangsa.

Soekarno sangat tidak suka langkah negara-negara Barat yang dimotori AS yang ingin menguasai sumber daya alam negara berkembang, termasuk di Indonesia, melalui berbagai cara yang kotor, seperti terlalu jauh mencampuri urusan politik di dalam negeri. Cara-cara AS dan sekutunya, diilustrasikan Soekarno sebagai bentuk kesombongan “imperialisme gaya baru”.

John Roosa (1998) menulis, tahun 1963-1965, Soekarno masuk daftar musuh nomor satu AS di dunia, dalam kategori kepala negara.

Peter Dale Scott dalam buku berjudul asli The United States and the Overhrow of Soekarno, 1965-1967, menyebut ada tiga tahapan penggulingan Presiden Soekarno dalam upaya melumpuhkan kekuatan PKI di Indonesia. Pertama, pengondisian G30S 1965 yang dimotori Mayjen TNI Soeharto dengan menuding PKI sebagai otaknya.

Kedua, pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI, termasuk pembantaian sadis di Bali periode 1965-1969. Ketiga, mengikis habis pendukung Soekarno secara masif, termasuk melarang ajaran Soekarno.

Tindakan mengkriminalkan Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja adalah bagian dari itu. Sutedja ditunjuk Soekarno menjadi gubernur pertama Bali pada tahun 1950, di usia 27 tahun. Ia menjabat untuk dua periode.

Sutedja dikenal sangat dekat dengan Soekarno. Demikian pula, anak-anak Sutedja memiliki hubungan pertemanan yang sangat baik dengan anak-anak Soekarno, terutama dengan Megawati Soekarnoputri.

Ida Ayu Nyoman Rai, ibu kandung Soekarno, asli Bali. Ayah kandung Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, mempersunting Ida Ayu Nyoman Rai sebagai istri, seorang keturunan bangsawan Bali, ketika mengajar di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Provinsi Bali.

Setelah insiden G30S 1965 di Jakarta, Sutedja berusaha bersikap netral, karena ingin merangkul semua pihak. Namun justru sikap ini membuat nasib Sutedja tidak jelas sampai sekarang.

Salah satu anak kandungnya berkisah, pada 3 Desember 1965, Sutedja dipanggil Soekarno ke Jakarta karena Puri Negara, tempat tinggal Sutedja dirusak sejumlah orang tidak dikenal. Selama di Jakarta, Sutedja menginap di Kompleks Senayan No 261/262.

Pada 29 Juli 1966, pukul 09.00 WIB, Sutedja dijemput empat anggota TNI AD dan dibawa ke Markas Staf Komando Garnizun di Merdeka Barat, Jakarta, dengan menggunakan mobil Nissan. Semenjak itulah nasib Sutedja tidak diketahui.

Upaya pencarian Sutedja oleh pihak keluarga akhirnya dihentikan setelah 40 tahun dengan acara adat Bali, upacara pelebon, pada 23 Juli 2006. Upacara pelebon, artinya seseorang yang terus-menerus dicari, tapi tetap saja tidak ditemukan, sehingga dianggap betul-betul sudah meninggal dunia.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers