Archive for the ‘Sejarah’ Category

Jika saja Rumah Pengasingan BK itu lebih terawat

Komentar awind <j.gedearka@upcmail.nl>:Mungkinkah pemerintah dewasa ini diharapkan untuk merawat rumah pengasingan BK tersebut? Kalau merawat bisa-bisa dituduh ikut makar. Selain itu pemerintah sejak ORBA tidak pernah menghargai benda-benda bersejarah malahan banyak benda-benda bersejarah dijual belikan.Yang lebih penting lagi ialah apakah pemerintah berani mengakui kesalahan yang telah dilakukan oleh ORBA atas BK dan pengikutnya.TNI yang merupakan instansi penting bagi pak Harto maupun pak SBY seperti tidak boleh dikritik kesalahan-kesalahannya. Mereka begitu sayangnya terhadap instansi tersebut sehingga tingkah laku mereka Bagaikan kasih bunga setangkai, bunga seceper dibuang.
Salam,
Awind
http://www.antaranews.com/berita/288292/jika-saja-rumah-pengasingan-bk-itu-lebih-terawat

Jika saja Rumah Pengasingan BK itu lebih terawat

Jumat, 9 Desember 2011 19:45 WIB | 620 Views

Ade P Marboen

Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu menjadi satu andalan warisan sejarah bagi kota utama di pesisir barat Sumatera itu. Walau diakui peran pentingnya, namun upaya lebih serius untuk membuatnya lebih terawat belum terlihat dan dirasakan. (ANTARA News/Ade P Marboen)

… Lukisan diri Bung Karno seukuran tubuh aslinya hanya bisa diam membisu dalam pandangan mantap berwibawa, menjadi latar berfoto bagi remaja-remaja itu…

Berita Terkait

Bengkulu (ANTARA News) – Sore hari di Kota Bengkulu dari dalam kendaraan berkeliling kota, sampailah di satu bangunan lama berarsitektur masa kolonial Belanda peralihan art deco. Tiang bendera berdiri tegak dengan Sang Merah Putih berkibar di latar langit kelabu.

Ada satu penanda yang membuat rumah batu dengan verdeeping kain belang putih dan merah itu berbeda. Plakat pemugaran bangunan cagar budaya itu memberi peringatan kepada semua saja yang hadir: itulah Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu pada kurun masa 1938-1942.

Sebagai aktivis inti pergerakan politik Hindia Belanda pada masanya, Soekarno (kelahiran 1 Juni 1901) masih merupakan anak muda penuh gairah dan kegeraman atas penjajahan Belanda di Tanah Airnya. Dia sangat getol menyuarakan kemerdekaan Asia Timur terutama Hindia Belanda (kini Indonesia sejak 17 Agustus 1945), sampai akhirnya dia dianggap warga yang sangat membahayakan kewibawaan dan kelanggengan kolonialiasi di Hindia Belanda.

Dia ditangkap dan dibuang ke Bengkulu, yang masa itu menjadi “neraka” bagi para tahanan politik. Jangan bayangkan Bengkulu seperti sekarang, karena ribuan tentara VOC, India East Company-nya Inggris sampai tentara Jepang pada Perang Dunia Kedua mati sia-sia akibat serangan malaria. Bengkulu saat itu adalah negerinya malaria yang mematikan itu dan di situlah Bung Karno ditempatkan.

Untuk membungkam aspirasi dan semangat Bung Karno, dipilihlah satu rumah cukup terisoliasi pada masa itu. Rumah itu semula milik seorang China, bernama Tan Eng Cian, seorang pengusaha penyuplai bahan pokok bagi keperluan Belanda. Rumah berkelir putih bersih dengan halaman luas itu berukuran bangunan ratusan meter persegi terdiri dari empat kamar, satu ruang tamu, beranda depan luas, dan beranda belakang yang lebih luas lagi.

Beranda belakang dilengkapi dengan satu sumur sedalam sekitar tujuh atau delapan meter. Masih ada satu paviliun tersusun dari empat ruang kecil-kecil, mungkin untuk para pembantu dan tukang kebun rumah milik taipan penting di Bengkulu masa itu. Kini di samping sumur itu dipasang plakat kayu tentang “khasiat” air sumur itu jika pengunjung membasuh mukanya dengan air yang dipastikan sejuk itu.

Di dalam rumah yang tinggi dindingnya sekitar empat meter dengan pintu-pintu dan teralis besi padat membentuk ukiran indah itu tersimpan berbagai memorabilia terkait kehadiran Bung Karno. Undang-undang Cagar Budaya menjamin semua yang ada dalam dan sekitar rumah itu agar tetap pada kondisi awalnya. Benarkah begitu?

Sejarah membuktikan, ternyata Bung Karno ternyata tidak mati secara jiwa dan semangat atas kecintaannya pada Tanah Air. Beberapa literatur dan kesaksian orang-orang tua yang pernah bersua dan berinteraksi langsung dengan si “Bung” itu, Bung Karno bahkan sangat populer di sana. Dia memberi pencerahan intelektual, spiritual, dan lain-lain kepada semua warga di sana.

Saat itu, siapa yang tidak kenal pemudi Bengkulu bernama Fatmawati? Sosok jelita dengan paras wajah sangat khas dan rambut hitam legam serta pribadi memikat itu menyandera Bung Karno hingga kemudian dia menjadi Ibu Negara pada masa kemerdekaan Indonesia. Dari pasangan Soekarno-Fatmawati itu juga lahir Megawati Soekarnoputri, perempuan presiden pertama Indonesia, juga Guruh Soekarnoputra, seniman kondang nasional.

Kembali kepada memorabilia dan benda-benda bersejarah si “Bung” di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu, itu. Satu ruangan di sayap kanan bangunan itu berisi tiga rak buku yang dinyatakan menjadi bahan bacaan dia selama masa pengasingan itu. Banyak sekali buku-buku tebal dan berbahasa Inggris, Belanda, dan Perancis serta beberapa bahasa lain, termasuk buku-buku sastra yang mengisinya.

Gembok kaca di masing-masing rak buku itu seolah menyampaikan pesan agar isinya jangan diganggu. Memang, tangan manusia tidak mudah mengganggu buku-buku yang turut menyumbang perjalanan bangsa ini. Bagaimana halnya dengan gangguan cuaca, bakteri penghancur kertas, serangga, debu, kelembaban tinggi udara, dan lain-lain? Merekalah yang menghancurkan warisan sejarah bangsa ini.

Buku-buku itu hanya satu contoh saja, belum lagi sepeda tua buatan Inggris yang ada di ruang tamu bagian samping bangunan beratap genteng tanah itu. Ban-bannya kempis, kulit sadelnya terkelupas secara menyedihkan, banyak bagian dari sepeda itu yang terserang karat, dan lain sebagainya.

Pintu-pintu ruangan terbuka. Banyak pengunjung hilir-mudik di dalamnya sementara sekelompok remaja putri asik berfoto ria dengan gaya khas masing-masing di tiang bendera, juga anak bayi yang menangis meminta air minum dari ibunya di beranda depan. Sentuhan tangan penjaga dan petugas khusus pelestari warisan sangat berharga bangsa itu… tiada hadir.

Lukisan diri Bung Karno seukuran tubuh aslinya hanya bisa diam membisu dalam pandangan mantap berwibawa, menjadi latar berfoto bagi remaja-remaja itu. (ANT)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2011

Rawagede: Dari Mana Datangnya Maaf?

Pengacara Liesbeth Zegveld

Avatar Joss Wibisono
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Rawagede: Dari Mana Datangnya Maaf?

Diterbitkan : 9 Desember 2011 – 1:08pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Michel Maas)

Diarsip dalam:

Enam perempuan tua duduk termangu di baris depan. Tinggal itulah jumlah mereka, janda korban Rawagede yang masih hidup. Dengan susah payah mereka mendengar pidato seorang pejabat asing.

“Atas nama pemerintah Belanda, saya minta maaf atas tragedi yang terjadi di Rawagede pada 9 Desember 1947,” demikian Tjeerd de Zwaan, Duta Besar Belanda untuk Indonesia pada upacara tahunan korban Rawagede hari ini (9/12).

64 tahun setelah tragedi Rawagede, pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf juga atas banjir darah itu. Ucapan maaf ini mungkin ditujukan kepada semua yang menjadi korban, termasuk anak cucunya. Tapi hanya enam orang janda yang akan menerima santunan ganti rugi, masing-masing 20 ribu euro. Semula penggugat mencapai sembilan orang, dua orang meninggal sewaktu kasus masih berjalan, sedangkan gugatan seorang anak korban tidak dikabulkan oleh pengadilan.

Sulit dibayangkan
Inilah pertama kalinya pemerintah Belanda meminta maaf atas salah satu pelanggaran hak-hak asasi manusia saat Indonesia mempertahankan proklamasi kemerdekaannya. Tapi untuk itu dibutuhkan keputusan pengadilan yang September lalu menyatakan negara telah melanggar hukum karena tentara Belanda mengeksekusi warga desa yang tak bersalah.

Pengadilan Den Haag juga mewajibkan Belanda berunding dengan para korban untuk menetapkan besarnya santunan ganti rugi. Menariknya, Belanda tidak naik banding dan juga cepat bersepakat dengan pengacara para korban.

Para ahli waris menghargai langkah Belanda ini, demikian Liesbeth Zegveld, pengacara para korban.

Dalam reaksi tertulis Menteri Luar Negeri Belanda Uri Rosenthal menyatakan, “Permintaan maaf itu sesuai dengan peristiwa Rawagede. Saya berharap para ahli waris bisa terbantu untuk menutup episode yang sangat sulit ini dan mengarahkan pandangan ke masa depan.”

Sulit dibayangkan apa yang dimaksud sang Menlu dengan “masa depan” itu. Maklum, sebagian besar ahli waris korban sebenarnya sudah berusia sangat lanjut. Saih bin Sakam, satu-satunya korban pria yang juga menggugat pemerintah Belanda, tutup usia tahun lalu; dia tidak mengalami sendiri keputusan pengadilan yang memenangkannya.

Yang jelas sekarang korban lain sibuk membuka rekening bank, untuk pertama kali dalam hidup mereka. Dana sebesar 20 ribu euro akan ditransfer. Dana bantuan pembangunan yang pernah diulurkan Belanda tidak sampai para mereka.

Lagi pula ketika memberikan dana sebesar 850 ribu euro itu Belanda tidak pernah secara resmi menyatakan itu sebagai santunan ganti rugi.

Dimarahi atasan
Permintaan maaf ini istimewa, hanya karena Belanda memang tidak pernah melakukannya. Dalam soal perbudakan di Suriname dan sedikitnya perlindungan pasukan Belanda kepada warga muslim Srebrenica misalnya, tidak pernah ada permintaan maaf dari Den Haag.

Tapi permintaan maaf bagi korban Rawagede sendiri sebenarnya juga kontroversial.

Pada tahun 1949 Belanda sudah menyesalkannya, walaupun tidak sepenuh hati. Pada tahun 2005, Menlu Belanda Ben Bot menapakkan langkah pertama. Hadir para peringatan banjir darah itu di Balongsari, Bot mengatakan, “Ternyata, pengerahan begitu banyak pasukan pada tahun 1947 menempatkan Belanda pada sisi sejarah yang salah.”

Tanggal 9 Desember 1947 itu pasukan Belanda menggempur Rawagede mencari Lukas Koestario, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Ratusan orang pria ditembaki, termasuk tahanan dan pengungsi. Menurut Belanda korban mencapai 150 orang, menurut Indonesia 431 orang.

Dunia internasional mengecamnya sebagai kejahatan perang. PBB menyebutnya sebuah aksi yang “sengaja dan keji”. Pelakunya tidak pernah diadili. Kata maaf tidak pernah terlontar pada tahun 1949, maklum Den Haag takut ditagih santunan ganti rugi yang lazimnya menindaklanjuti pernyataan maaf.

Tiga tahun silam, pada upacara peringatan tahunan Dubes Belanda Nikolaos van Dam sudah menyatakan “permintaan maaf mendalam” dari pemerintah Belanda. Tapi waktu itu Van Dam menyatakannya dalam bahasa Indonesia yang tertera sebagai “penyesalan” ketika diterjemahan ke dalam bahasa Belanda.

Ketika ia mendesak wartawan supaya menerjemahkan maaf apa adanya, Van Dam dimarahi oleh atasannya, Menteri Luar Negeri Belanda waktu itu, Maxime Verhagen.

Meniru Belanda?
Kasus Rawagede ini bisa menjadi kotak pandora yang membuka pelbagai pelanggaran hak-hak asasi manusia lain semasa perjuangan kemerdekaan. Misalnya kasus Westerling di Makassar. Liesbeth Zegveld, pengacara para korban Rawagede, bertutur akan ke Makassar untuk meninjau kasus ini.

Untuk bisa menggugat pemerintah Belanda memang diperlukan satu peristiwa yang jelas dan kongkrit. Demikian pula harus ada korban dan saksi mata. Tidak mungkin menggugat Belanda karena telah menjajah Indonesia sekian ratus tahun. Pengadilan pasti tidak akan menerimanya.

Akankah hubungan kedua negara yang sempat merenggang karena batalnya kunjungan kenegaraan bisa kembali merapat karena permintaan maaf ini?

Sulit mengkaitkan masalah Rawagede dengan hubungan diplomatik Indonesia Belanda. Rawagede bukan masalah antara dua negara, ini lebih merupakan masalah antara warga desa dengan negara. Yang jelas Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa menyambut baik kedatangan Dubes De Zwaan pada peringatan tragedi banjir darah Rawagede.

Dalam soal penjajahan Belanda kita memang sering menuding soal lamanya (konon 350 tahun) dan kerugian yang ditanggung. Pasti kita belajar dari Belanda dalam menghadapi Timor Leste. Masakan kita akan bersikap seperti Belanda, menanti sampai 60 tahun lebih, sebelum akhirnya minta maaf dan membayar santunan?

 

Belanda Tutup Babak Hitam di Rawagede

janda Rawagede

Avatar Michel Maas
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Belanda Tutup Babak Hitam di Rawagede

Diterbitkan : 9 Desember 2011 – 1:27pm | Oleh Michel Maas (Foto: Michel Maas)

Diarsip dalam:

Enam perempuan tua duduk di baris depan. Merekalah janda-janda korban pembantaian yang dilakukan tentara Belanda di Rawagede 9 Desember 1947. Mereka berupaya menangkap kata-kata Duta Besar Belanda, Tjeerd de Zwaan. Dengan pidatonya, sang dubes berupaya menutup babak hitam sejarah Belanda.

Tahun 1990 masih ada 51 orang korban, 10 tahun kemudian jumlah ini tinggal separuh. Ketika negara Belanda digugat, masih tersisa 10 orang janda yang membubuhkan tanda tangan di bawah gugatan. Dan hari ini mereka tinggal berenam saja.

Para janda mendengarkan sebuah pidato yang pendek dan jelas. Setelah 64 tahun mereka dengar permintaan maaf. “Dalam hal ini saya minta maaf atas nama pemerintah Belanda bagi tragedi yang berlangsung di Rawagede 9 Desember 1947,” kata Duta Besar Tjeerd de Zwaan.

Minta maaf atau menyesal
Kata-katanya sangat jelas. Tidak perlu lagi didiskusikan apakah ini permintaan maaf atau ungkapan “penyesalan”. Kini itu sudah masa lalu. Selain permintaan maaf, Belanda juga memberi santunan ganti rugi: keenam janda yang masih hidup, masing-masing menerima 20.000 euro.

Bisa dipertanyakan mengapa Belanda perlu 64 tahun untuk minta maaf, bisa dipertanyakan apakah 20.000 euro itu cukup. Tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tak terdengar di Rawagede Jumat ini.

Sebuah babak ditutup di Rawagede. Terutama bagi para janda. Mereka hanya sibuk dengan kasus di pengadilan selama lima tahun terakhir. Mereka diterbangkan ke Belanda, dibawa ke Jakarta, berbicara dengan anggota parlemen dan bersaksi di depan pengadilan.

Wanti, salah satu janda, “Saya bersyukur ini sudah selesai.”

Tak terlambat
“Tidak pernah terlambat kalau mau minta maaf,” kata pengacara Liesbeth Zegveld. Tapi bagi beberapa janda momentum ini terlambat sudah. Saih, misalnya. Ialah satu-satu korban selamat pembantaian 1947, ketika tentara Belanda mengeksekusi semua warga pria Rawagede, baik anak-anak maupun dewasa.

Saih selamat karena pura-pura mati, sementara tubuhnya berlumuran darah orang lain. Dia tampak tegar bahkan masih bisa terbang ke Belanda untuk mengikuti proses gugatan tahun lalu.

Tiba-tiba dia meninggal karena serangan jantung enam bulan lalu. Ia dikuburkan di belakang rumahnya. Saih tidak pernah mendengar permintaan maaf dan tidak menerima santunan. Karena siapa yang mati, dicoret dari daftar penerima santunan.

Putusan hakim, beberapa bulan lalu, mewajibkan pemerintah Belanda hanya membayar kompensasi kepada para janda dan korban yang selamat. Bukan kepada keluarga atau anak-anak.

Jelas
“Saya rasa pemerintah Belanda senang dengan putusan hakim. Enam sanak saudara korban adalah kelompok yang tidak banyak,” kata Zegveld, “tapi saya tidak mau menggunakan istilah ‘murah’. Kurang cocok untuk konteks ini. Sudah bagus pemerintah menuntaskan kasus Rawagede secepat ini, dan tidak naik banding atau mulai macam-macam prosedur lain, tapi langsung membayar santunan itu. Tidak ada yang menyangka ini akan terjadi. Sehari sebelum vonis pengadilan saya bilang kami punya kans satu persen.”

Walau demikian ada pihak yang tidak puas. Batara Hutagalung, salah satu warga Indonesia yang menggelindingkan kasus Rawagede, mengatakan Belanda masih belum resmi menerima 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia.

Hutagalung juga mengatakan bahwa Rawagede merupakan satu dari puluhan kejahatan perang dan semua kasus itu juga harus dituntaskan. Jika orang-orang seperti Hutagalung dapat menentukannya, maka Belanda bakal menerima banyak tuntutan ganti rugi.

Favorit/Cari dengan:
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Facebook
  • Google
  • Technorati

Diskusi

Anonymous 9 Desember 2011 – 11:56pm / indonesia

Mengharap pemerintahan SBY bersikap sama terhadap korban kekerasan negara pada para akrtifis mei 1998 seperti berharap seekor belut akan tumbuh bulu ..

Anonymous 10 Desember 2011 – 12:05am / indonesia

Jangan terlalu berharap pada hal yang mustahil dilakukan oleh pemimpin yang di sandera oleh para MAFIA Bung,..dia sudah tak punya nyali lagi,..

Ibrahim Isa 9 Desember 2011 – 5:53pm / Nederland

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 05 Desember 2011
———————–

LANGKAH BESAR DAN SIGNIFIKAN DLM PERBAIKAN HUBUNGAN INDONESIA-BELANDA

Hari ini kita baca di situs BBC, 05 Desember 2011, bahwa pemerintah
Belanda akan secara resmi menyampaikan permintaan maaf atas pembantaian
ratusan warga Indonesia di Rawagede pada masa agresi ke-2 Belanda atas
Republik Indonesia, 1947. Hal ini dinyatakan kepada pers oleh jubir
Kemlu Belanda, Aad Meijer, ( AFP, 5-12-2011). Dikatakan oleh Aad Meijer,
bahwa,

“Duta Besar Belanda untuk Indonesia pada Jumat 9 Desember akan meminta
maaf atasnama pemerintah Belanda atas apa yang telah terjadi” .

Menurut fihak kita, Indonesia, jumlah yang dibantai oleh tentara
Belanda, berjumlah 431 orang. Belanda menyebut angka kurang dari
separuhnya. Pebedaan angka ini dengan sendirinya setelah fihak Indnesia
bisa menunjukkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat, akan bisa
terselesaikan.

Yang teramat penting dari sikap pemerintah Belanda tsb yang akan minta
maaf dan memberikan ganti rugi atas korban yang ditimbulkannya dari
agresi militernya terhadap Republik Indonesia, ialah:

Di satu fihak sikap Belanda ini merupakan langkah besar dan signifikan
dalam normalisasi dan perbaikan hubungan Indonesia-Belanda, sejak
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Selanjutnya yang kita nantikan adalah PENGAKUAN RESMI PEMERINTAH
BELANDA, bahwa Republik Indonesia, dengan siapa pemerintah Belanda
mengadakan hubungan diplomatik, adalah sebuah NEGARA MERDEKA YANG
BERDIRI SEJAK Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Dengan
sendirinya, fihak Belanda juga harus mengakui bahwa dua kali agresi
Belanda terhadap Republik Indonesia, yang mereka namakan ´aksi
kepolisian´ itu, setelah tercapainya Persetujuan Linggarjati antara
Republik Indonesia dengan Kerajaan belanda, tahun1946, dan tahun 1947,
setelah tercapainya Persetujuan Renville, 1947, antara Republik
Indonesia dan Kerajaan Belanda.— *adalah suatu perang agresi yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam Piagam PBB.

Dengan demikian, ´hutang Hindia Belanda´ kepada Den Haag yang harus
dibayar oleh Indonesia setelah Persetujuan Konferensi Meja Bundar, harus
dikembalikan kepada Republik Indonesia. Bersamaan dengan itu pemerintah
Belanda, harus siap-siap membayar PAMPASAN PERANG kepada Republik
Indonesia, sebagai akibat perang agresi yang dilancarkannya terhadap
Republik Indonesia. Bila ini terlaksana, baru bisa dikatakan sengketa
Indonesia-Belanda sekitar kemerdekaan Indonesia bisa diakhiri.

Demikianlah bila keadilan dan kebenaran hendak benar- benar ditegakkan
dan dikembangkan dalam hubungan Indonesia — Belanda.

* * *

Disampaikan pula bahwa Duta Besar Belanda untuk Indonesia akan berpidato
pada acara peringatan pembantaian pada 9 Desember di Rawagede yang kini
dikenal sebagai Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat. Pemerintah
Belanda sebelumnya pernah menyampaikan penyesalan atas pembunuhan warga
di Rawagede tetapi belum pernah menyampaikan permintaan maaf secara resmi.

Liesbeth Zegveld, pengacara keluarga korban pembantaian mengatakan
pihaknya menyambut permintaan maaf pemerintah Belanda. Ditambahkannya,
bahwa, pemerintah Belanda juga akan memberikan ganti rugi sebesar 20.000
euro atau sekitar Rp243 juta per keluarga korban yang mengajukan
gugatan. Liesbeth Zegveld menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa,

“Peristiwa yang terjadi 64 tahun lalu dan terdapat putusan tegas dari
pengadilan. Keluarga korban sangat senang karena pemerintah Belanda
tidak akan mengajukan banding dan akan meminta maaf,” kata Zegveld.

* * *

Apa yang dikemukakan diatas tentang kewajiban pemerintah Belanda yang
dengan resmi harus mengakui HARI KEMERDEKAAN INDONESIA, dan dengan itu;
mengakui dua kali agresi Belanda terhadap Republik Indonesia; serta
mengembalikan uang pembayaran Indonesia kepada Belanda (Sejumlah
1.130.000.000, dolar AS, yang sudah dilunasi Indonesia pada Belanda)
menyusul Persetujuan KMB; serta PEMBAYARAN PAMPASAN PERANG BELANDA
kepada Indonesia, — *adalah serentetan masalah antara Indonesia dan
Belanda yang masih menggantung. YANG BELUM SELESAI.

Namun, kita tidak menutup mata atas kemauan baik pemerintah Belanda
dengan sikapnya belakangan ini yang , DENGAN RESMI HENDAK MINTA MAAF
SEKITAR KASUS RAWAGEDEk dan kesediaannya untuk membayar ganti rugi atas
tindakannya di Rawagede. Sikap pemerintah Belanda itu betapapun HARUS
DISAMBUT.

Bahkan, fihak pemerintah Indonesia patut menarik pelajaran dari sikap
Belanda tsb. Bahwa pemerintah Rutte/Verhage yang sekarang ini, meskipun
tak ada keterlibatan langsung dengan PERISTIWA PEMBANTAIAN RAWAGEDE —
namun, telah mengambil oper tanggungjawab pemerintah yang lalu, yang
telah melakukan pelanggaran kemanusiaan terhadap rakyat Indonesia.

/Pemerintah Presiden SBY, juga seyogianya berteladan dari sikap
pemerintah Belanda sehubungan dengan tindakan pelanggaran HAM yang
dilakukan pemerintah Belanda lebih 60 tahun yang lalu. Yaitu mengakui
pelanggaran tsb, minta maaf, dan membayar ganti rugi.

Pemerintah SBY juga bisa dan harus berani mengambil oper tanggungjawab
atas pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah Orba, yaitu melakukan
kesalahan pelanggaran HAM terbesar, dengan pembantaian masal,
pemenjaraan, penghilangan dan pembuangan ke P, Buru. Pemerintah SBY
harus berani turun tangan menangani kasus pembantaian dan pelanggaran
HAM lainnya sejak berdirinya rezim Orba, serta merehabilitasi jutaan ara
korban dan memberikan pembayaran ganti rugi yang layak.

ITULAH PELAYARAN YANG HARUS DAN BISA DITARIK OLEH PEMERINTAH SBY DARI
SIKAP BELANDA MENGENAI KASUS RAWAGEDE!

* * *

Setelah Kematian, Kembali ke Pearl Harbor

PERANG DUNIA II
Setelah Kematian, Kembali ke Pearl Harbor
| Egidius Patnistik | Kamis, 8 Desember 2011 | 07:34 WIB
navsource.org Suasana serangan Jepang ke Pearl Harbor, 7 Desember 1941

LEE SOUCY memutuskan lima tahun lalu bahwa kala dia meninggal dia ingin bergabung kembali dengan rekan-rekan kapalnya yang tewas dalam serangan ke Pearl Harbor.

Soucy hidup sampai usia 90 tahun, meninggal dunia tahun lalu. Hari Selasa, tujuh dekade setelah puluhan rekan pelautnya tewas ketika USS Utah tenggelam pada 7 Desember 1941, seorang penyelam angkatan laut membawa sebuah kendi kecil berisi abunya dan meletakkannya di sebuah tingkap di sisi kapal itu.

Upacara tersebut adalah satu dari lima upacara peringatan yang diselenggarakan pekan ini bagi anggota angkatan bersenjata yang selamat melewati serangan itu dan ingin abu mereka ditempatkan di Pearl Harbor karena rasa bangga dan kedekatan dengan mereka yang tewas di sana.

”Mereka ingin kembali dan bersama dengan rekan-rekan kapal mereka yang tewas dalam serangan itu,” kata Jim Taylor, seorang pensiunan pelaut yang mengoordinasikan upacara-upacara itu.

Upacara peringatan tersebut terjadi pada pekan yang sama saat AS memperingati 70 tahun serangan bom udara Jepang yang menewaskan 2.390 orang Amerika dan membawa AS ke Perang Dunia II. Sebuah upacara yang lebih besar untuk memperingati semua yang tewas akan dilaksanakan hari Rabu sebelum pukul 08.00 waktu Hawaii— waktu yang sama serangan itu dimulai.

Sebagian besar dari 12 kapal yang tenggelam atau terdampar ke pantai hari itu telah dipindahkan dari pelabuhan. Hanya USS Utah dan USS Arizona yang masih tergeletak di air biru gelap. Hanya mereka yang selamat dari kapal-kapal itu yang bisa kembali ke kapal mereka setelah meninggal.

Abu dari Vernon Olsen, yang bertugas di kapal Arizona, akan diletakkan di kapalnya dalam sebuah upacara senja hari Rabu. Abu dari tiga pelaut yang selamat lainnya ditebar di pelabuhan.

Soucy masuk AL begitu lulus dari SMA. Tahun 1941, dia adalah kelasi yang terlatih mengurus orang yang sakit dan cedera.

Ketika dia melihat pesawat-pesawat menjatuhkan bom di hanggar, dia berlari ke pos tempurnya, namun mendengar perintah untuk meninggalkan kapal yang mulai tenggelam. Dia berenang ke pantai, di mana dia membuat tempat pengobatan darurat.

Utah kehilangan hampir 60 orang pada 7 Desember dan sekitar 50 lainnya masih terkubur di dalam kapal perang itu.

Di bawah langit mendung, seorang penyelam AL membawa kendi itu, yang dilindungi dengan sebuah tas jala, dan memegangnya di atas permukaan air saat berenang menuju Utah. Penyelam itu, yang didampingi tiga penyelam lain, menyelam ke tingkap sisi kapal begitu mencapai Utah.

Sebuah kendi berisi abu Vernon Olsen, salah satu dari 334 orang di kapal Arizona yang selamat, akan diletakkan di kapal perang itu hari Rabu. Sebagian besar dari 1.177 kelasi dan marinir yang tewas pada serangan udara di Jepang tanggal 7 Desember 1941 itu masih terkubur di kapal tersebut. (AP/DI)

 

G30S-SUHARTO 1965,PANGKAL/SUMBER KEKACAUAN HINGGA DEWASA INI

G30S-SUHARTO 1965,PANGKAL/SUMBER KEKACAUAN HINGGA DEWASA INI
S. Utomo

in:Ex Libris <exlibris1965@gmail.com>; sastra pembebasan <sastra-pembebasan@yahoogroups.com> , Sunday, 27 November 2011, 0:04

27 September 2011

Peristiwa sejarah yang dasyat yang pernah terjadi di negeri kita -Indonesia
pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965 jam 04.00 pagi, yaitu diculik dan
dibunuhnya 6 perwira tinggi AD dan 1 perwira pertama (Jendral A. Yani, Panglima
AD dan teman-temannya dari Markas Besar AD di Jakarta) adalah tindak awal kup
merangkak jendral Suharto yang direkayasa AS-CIA dan Inggris-MI6 terhadap
Presiden RI pertama Ir. Soekarno, salah seorang tokoh – pimpinan perjuangan
kemerdekaan, proklamator Indonesia merdeka penuh yang anti kolonial-imperialis
untuk membangun sosialisme di Indonesia.

Almarhum Jendral Suharto, pendukung dan pembelanya sampai hari ini
masih menyatakan bahwa peristiwa itu adalah usaha kup G30S/PKI. Sudah puluhan
buku, tulisan yang ditulis oleh tokoh pelaku sejarah, ahli, pemerhati sejarah baik
dalam bahasa Indonesia di Indonesia maupun dalam bahasa asing, Belanda, Inggris,
Perancis, dan lainnya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia
membuktikan bahwa peristiwa itu adalah rekayasa AS, Inggris yang didukung
negara imperialis lain.

Fitnah, pembohongan, pemutarbalikan itu dilakukan sejak 2 Oktober 1965,
yaitu sejak dilarangnya terbit semua surat kabar, kecuali Berita Yuda dan Angkatan
Bersenjata milik AD yang memuat berita dan tulisan pembohongan menghasut
rakyat melawan PKI sebagai kambing hitam peristiwa September ‘65 untuk
dijadikan sasaran utama dihancurkan.

Sejak tanggal 5 Oktober 1965, hari Angkatan Bersenjata, kantor PKI, organisasi
massa buruh, tani, perempuan, pemuda, pelajar, mahasiswa, sarjana, dan lain-lain
baik di Jakarta maupun di daerah-daerah diobrak abrik, dibakar oleh massa yang
dihasut oleh AD Suharto. Demikian juga kegiatan menangkapi, menahan, menyiksa,
membunuh tokoh-tokoh, kader, baik anggota PKI, ormas atau orang-orang yang
mereka curigai, baik laki-laki, perempuan, anak-anak, ibu mengandung temasuk
orang lanjut usia, tanpa diketahui dari mana mereka dan tanpa surat penangkapan
serta alasannya.

Pembunuhan secara besar-besaran terjadi, dilakukan di Jawa Tengah, Jawa
Timur, Bali, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Tengah, Selatan, Lampung,
Kalimantan Barat, Sulawesi, dan lainnya. Menurut almarhum Jendral Sarwo Edi
Wibowo, bekas komandan RPKAD (kemudian menjadi Kopasus) menyatakan pada
Permadi, S.H sewaktu beliau mengunjungi Sarwo Edi sakit, yang dibunuh 3 juta
orang, yang ditahan (baca: dipenjara) tanpa proses hukum menurut Jendral Tri
Sutrisno, mantan Komkamtip, ada 1.900.000 orang. Ini yang tercatat, bila dimasukan
yang tidak tercatat semuanya tidak kurang dari 2 juta orang selama 14 tahun, bahkan
ada yang sampai tahun 1998. Tidak kurang dari 20 juta orang yang dicabut hak-hak
kewarganegaraannya termasuk mereka yang sedang tugas belajar dari pemerintah di
luar negeri dicabut passpornya.

Jendral Suharto mengangkat diri sendiri menjadi panglima AD/Kasad pada
tanggal 2 Oktober 1965, dan kemudian dengan menggunakan sidang MPRS memecat
Presiden Sukarno dan mengangkat dirinya menjadi Presiden. Setelah menjadi
presiden, Suharto mengunakan kedudukan untuk mengabdi kapitalis global seperti
kepada AS memberi konsesi mendirikan Freepot di Papua Barat untuk mengeruk
tembaga, emas, perak, uranium; New Mont mengeduk emas di dasar laut pantai
Sulawesi, Lombok; Esson untuk mengebor minyak tanah di laut dan menguasai
ladang minyak di Cepu, perusahaan mengeduk timah di Bangka; memberi
keleluasan Jepang manguasai transportasi -otomotif, elektronik dan barang kosumtif
lainnya. Demikian bank-bank asing yang juga diberi keleluasaan beroperasi di
Indonesia menguasai peredaran uang melalui investasinya.

Suharto mendapatkan upah dan jasa menumpas gerakan rakyat anti
kolonialisnme, imperalis yang berarti mengamankan investasi modal asing di
Indonesia. Pinjaman dari Bank-bank internasional, seperti dari IMF, Bank Dunia,
ADB dan persekutuan kaum kapitalis dunia untuk membangun infrastruktur -jalan-
jalan guna memudahkan angkutan barang dagangan negeri kapitalis ke konsumen;
membangun pertanian “revolusi hijau” agar desa bisa menjadi pasar barang impor
dari negeri kapitalis untuk membuktikan timbulnya kemakmuran ini karena
digantikannya kekuasaan presiden Soekarno dan dibunuhnya, dihancurkannya PKI
dan kekuatan anti kolonialis, anti imperialisme serta tegaknya kembali kolonialisme,
imperialisme di Indonesia dan perlu mutlaknya menegakkan kekuasaan militeris
Suharto.

Undang-undang, keputusan presiden, peraturan, instruksi presiden yang
tujuannya untuk menegakkan dominasi kekuasaan, kekuatan neo-kolonialis dibuat.
Suharto berkoar-koar ke semua negara imperialis agar menginvestasikan kapitalnya
di Indonesia karena Indonesia kaya sumber daya alamnya, cukup melimpah tenaga
murah, dan terjaminnya keamanan dan kepastian hukum bagi negeri-negeri
imperialis.

Dengan jaminan yang ditawarkan, diberikan Suharto ini mengalirkan
“bantuan” (baca: pinjaman) ke Indonesia, dan dengan demikian timbulah
kemungkinan kekayaan, modal untuk di korup kroni Suharto. Selama Jendral
Suharto berkuasa – 32 tahun, telah menghimpun kekayaan yang menggunung pada
diri dan keluarganya dengan mengorup 35 milyar dollar dari pinjaman hutang yang
150 milyar dollar. Hal ini diakui dan dinyatakan oleh Prof. DR Sumitro, mantan
besannya, dan Bank dunia, bukan rahasia lagi.

Kejahatan Jendral Suharto mulai mengkup, menahan sampai meninggal
presiden Soekarno, menganiaya, membunuh 3 juta orang, menahan selama 14 tahun
2 juta orang, mencabut hak kewarganegaraan 20 juta orang, sampai dia meninggal
belum pernah dijamah oleh hukum, karena perundang-undangan, pengadilan,
kepolisian, kejaksaan semuanya diatur untuk melindungi dia, keluarga dan kroni-
kroninya.

Budaya politik, ekonomi, sosial yang sudah disusun dan didoktrinkan dalam
masyarakat terutama pada pengikut dan pembelanya, walaupun Jendral Suharto
sudah digulingkan dan diganti dengan sistem reformasi, masih tetap menancap
dalam benak mereka. Reformasi pada hakekatnya dan isinya bukannya
menjungkirbalikan tatanan yang lama tetapi hanya mengganti bentuk dan cara
dengan yang baru, dengan isi yang lama, yaitu tetap melanjutkan, mempertahankan
posisi negeri ini sebagai negeri neo-kolonial dari negara neo-imperalisme -kapitalis
global dengan sistem neo-liberalisme.

Ketergantungan dalam politik dari neo-imperalis, global kapitalis masih tetap
kokoh, demikian juga dalam ekonomi, hukum, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan,
termasuk dalam pertahanan. Dasar inilah yang ditegakkan Suharto pada anak didik
angkatan berikutnya sampai dewasa ini, walaupun bentuk dan caranya berubah
sesuai dengan kata reformasi.

Korupsi, menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, kelompok,
partai adalah sudah menjadikebudayaan berjamaah, bukan hanya di tingkat bawah,
tetapi yang utama di tingkat atas, puncaknya. Perbuatan seperti ini sudah diajarkan,
diberi contoh oleh Jendral Suharto dan kini penggantinya tinggal menggunakannya
dengan disesuaikan pada kondisi, situasi yang baru. Kini semua prinsip, dasar yang
telah dibangun Suharto, dengan landasan reformasi, penggantian bentuk dan cara
telah dijalankan oleh presiden Sby sehingga hasilnya menimbulkan kesemrawutan,
kekacauan yang tidak dapat dihindari.

Dewasa ini, hari-hari inii negeri induk kapitalis global, AS, Eropa sedang dalam taraf
memasuki krisis keuangan, pembayaran yang pasti akan berkembang menjadi krisis
ekonomi, dan memuncaknya krisis politik. Sudah pasti Indonesia yang sedang
semrawut akibat melanjutkan pemerintahan Suharto akan terseret dalam krisis ini
yang lebih dalam daripada krisis tahun 1988. Krisis bukan hanya menyangkut
perusahaan swasta, tetapi juga negara. Jalan memperbaikinya, mengubahnya
menjadi yang baru sesuai dengan tuntutan jamannya bukan lagi reformasi -tetapi
tidak lain adalah revolusi. Revolusi adalah perubahan suatu kualitas lama menjadi
kualitas baru secara mendadak dalam seluruh tatanan kehidupan, termasuk pikiran,
kesadaran masyarakat. Inilah keharusan, kenistaan dialektika sejarah alam termasuk
manusia dan masyarakatnya pasti akan terjadi, bukan karena kemauan segelintir
atau sekelompok orang tetapi kemauan mayoritas rakyat dalam masyarakat negeri3
neo-kolonial dan neo-liberal Indonesia dewasa ini. Ini berarti keniscayaan alami
yang tidak dapat dihindari. Tinggal waktu, momen, situasi yang akan menetapkan
kapan hal itu akan terjadi.

TAN MALAKA TROTSKIS

TAN MALAKA TROTSKIS

Dian Su:

in:gelora45@yahoogroups.com ,Monday, 28 November 2011, 9:52

 

  Saya menyambut disiarkannya tulisan Bung MH Lukman tentang Tan Malaka oleh Bung Lusi. Di kala kapitalisme dunia dilanda krisis moneter yang dahsyat, tak ayal lagi mata dan fikiran orang berpaling pada sosialisme. Maka muncul tulisan Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto mengenai membangun sosialisme Indonesia. Secara menyolok, dia menampilkan peranan penting Tan Malaka.

 

Akhir-akhir ini cukup menonjol kegiatan mempopulerkan Tan Malaka, mulai dari penerbitan karya-karyanya, sampai-sampai mengusahakan pencarian makamnya. Bagi generasi muda sangat penting mengenal secara tepat peranan dan kedudukan Tan Malaka di masa lampau untuk bisa memahami sejarah Indonesia.

 

    Tulisan Bung MH Lukman secara tajam memperkenalkan Tan Malaka. Secara tegas diungkapkan alasan-alasan yang menyebabkan Tan Malaka dinilai sebagai seorang Trotskis. Saya mendukung dan memperkuat tulisan Bung MH Lukman ini. Di samping itu, dapat saya tambahkan keterangan berikut ini berkenaan dengan Tan Malaka yang Trotskis itu:

Tahun 1926, untuk mendapatkan pertimbangan dari Komintern, mengenai rencana pemberontakan, oleh Hoofdbestuur PKI diutus Alimin menemui wakil Komite Eksekutif Komintern di Timur Jauh, kemudian disusul lagi oleh Moesso. Karena agak lama belum ada berita dari utusan itu, dikirim lagi Sardjono dan Boedisoetjitro ke Singapura untuk menemui Tan Malaka yang pada waktu itu menjadi salah seorang anggota sekretariat Komite Eksekutif Komintern untuk Timur Jauh. Tan Malaka yang sedang berada di Filipina menyatakan menentang putusan Konferensi Prambanan. Tan Malaka meninggalkan PKI. Dan selanjutnya, bersama Soebakat dan Djamaloeddin Tamin di ibukota Thailand, 22 Juni 1927 memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI), menjauhkan diri dari Komintern. Tahun 1948 mendirikan Partai Murba di Jogjakarta. Bersama Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin Soetan Sjahrir jadi kekuatan pendukung Pemerintah Hatta membasmi PKI dalam Peristiwa Madiun.

Tindak-tanduk Tan Malaka menentang putusan Konferensi Prambanan mengenai rencana pemberontakan nasional, sikapnya mencampakkan PKI dan mendirikan partai sendiri Partai Republik Indonesia (PARI) tahun 1927; tahun 1928 menghadiri Kongres ke-VI Komintern, Tan Malaka mengkritik pimpinan Komintern, hingga Bukharin menyatakan Tan Malaka adalah Trotskis. Tan Malaka menjauhi Komintern dan berkolaborasi dengan fasisme Jepang, yang berarti menentang putusan Komintern untuk melawan fasisme; berhubungan erat dengan Partai Revolutionnaire Communistische Partij Nederlandsch, Seksi  dari Internationale Ke-IV (Internasionale Trotskis).  Tan Malaka berhubungan erat dengan Internasionale ke-IV, Internasionale Trotskis. Anggota Internasionale ke-IV di Belanda, De Revolutionnaire Communistische Partij Nederlandsche Sectie van de Vierde Internationale, menerbitkan tulisan Tan Malaka dalam publikasinya DE TRIBUNE.

Dalam kenyataannya, Tan Malaka memang berhubungan dengan Internasionale ke-IV, Internasionale Trotskis. Anggota Internasionale ke-IV di Belanda De Revolutionnaire Communistische Partij Nederlandse Sectie van de Vierde Internationale, menerbitkan tulisan Tan Malaka dalam publikasinya DE TRIBUNE, 5 Maret 1949. Dan tahun 1948 Tan Malaka mendirikan Partai Murba, yang selanjutnya menempuh jalan anti-PKI, menentang politik NASAKOM Bung Karno. Akhirnya tahun 1965, Partai Murba dinyatakan bubar oleh Bung Karno.

Tulisan Bung MH Lukman itu membuka mata generasi muda untuk memahami peranan negatif dan berbahaya dari para pengikut Trotskis di Indonesia. Dalam perkembangannya, para pengikut Tan Malaka jadi penyangga rezim orba Suharto menggulingkan Bung Karno dan membasmi PKI serta seluruh kekuatan kiri di Indonesia.

Perlu diperhatikan, bahwa dalam tulisannya Bung MH Lukman berkali-kali menekankan pentingnya mempelajari dan memahami Marxisme-Leninisme, sebagai satu senjata untuk dengan tepat bisa mengenal Trotskisme. Tan Malaka banyak menulis mengenai teori revolusioner. Sebagaimana halnya Trotski yang menentang Leninisme, Tan Malaka juga tidak mempropagandakan Leninisme, tidak mempropagandakan ajaran tentang diktatur proletariat, walaupun sering menyebut-nyebut Marxisme. Leninisme mengajarkan, bahwa hanyalah mereka yang mengakui diktatur proletariat adalah seorang Marxis.

Itulah akar kesamaan kaum sosial-demokrat dan Trotskis di bidang teori. Yaitu sama-sama tidak menerima ajaran tentang diktatur proletariat. Baik di Indonesia, maupun secara internasional, kaum Trotskis bisa bekerjasama dengan kaum sosial demokrat dalam hal menentang diktatur proletariat. Maka dalam gelombang Perang Dingin yang digalakkan Amerika Serikat, kaum Trotskis bekerjasama dengan kaum sosial demokrat menentang Uni Sovyet, berusaha menggulingkan Uni Sovyet.

Bagi generasi muda Indonesia perlu dicamkan  dalam-dalam, bahwa kaum Trotskis dan kaum sosial-demokrat (kaum soska) telah jadi penyangga rezim orba Suharto yang menggulingkan Bung Karno dan membasmi kaum Komunis dan kaum kiri.

*****

28-11-2011.

— On Sun, 11/27/11, Lusi D. <lusi_d@rantar.de> wrote:
From: Lusi D. <lusi_d@rantar.de>
Subject: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Indonesia, sosialisme ekonomi dan Islam
To: sastra-pembebasan@yahoogroups.com, nasional-list@yahoogroups.com, GELORA45@yahoogroups.com
Cc: satrioarismunandar@yahoo.com, “ISMES” <ismes@yahoogroups.com>, “syiar islam” <syiar-islam@yahoogroups.com>, “Pers” <persindonesia@yahoogroups.com>, “technomedia” <technomedia@yahoogroups.com>, “AJI Ajindo” <ajisaja@yahoogroups.com>
Date: Sunday, November 27, 2011, 4:45 AM

Para Sahabat yb.

Banyak tokoh-tokoh yang dideretkan dalam artikel Anton Dwisunu Hanung
Nugrahanto ini. Tulisan ini mendorong saya untuk mempertanyakan
teka-teki yang terselip di dalamnya; sejak kapan Uni Soviet menjadi
imperialisme dan kemudian kok ada tafsiran, bahwa “Tan Malaka yang
pertama kali dalam sejarah komunis Sovjet Uni melepaskan diri dari
Imperialisme Sovjet”? Sepanjang pengetahuan catatan sejarah nyata yang
ada, sebelum Perang Dunia Kedua, Uni Soviet sedang sibuk mempertahankan
wilayah negerinya yang dikepung oleh negeri-negeri imperialis Eropa,
sambil membangun dan memperkokoh hasil Revolusi Oktober 1917 secara
berdikari. Uni Soviet baru mulai punya urusan ke luarnegeri setelah
menjadi salah satu negara Pemenang Perang Dunia Kedua dan termasuk
negara yang pertamakali mengakui Proklamasi RI.

Ketika membanding-bandingkan tulisan-tulisan lama saya jumpai artikel
MH Lukman ttg Tan Malaka di majalah Bintang Merah tahun ke-VI No.7, 15
November 1950 hlm. 206-208. Tulisan tsb saya kutip spt dibawah ini
dengan perubahan sesuai EYD., yang menganalisa salah satu nama
yang termasuk ditonjol-tonjolkan dalam ulasannya ADHN ini. Penyajian
artikel ini untuk melengkapi pengetahuan kita ttg aktiviteit politik Tan
Malaka.

Selamat belajar di hari Minggu.
Salam.
Lusi.-

M. H. L U K M A N : TAN MALAKA PENGKHIANAT MARXISME–LENINISME

TAN MALAKA adalah Trotskis. Tetapi selama ini belum pernah
diberikan alasan yang terang secara teori untuk menghukum Tan
Malaka sebagai Trotskis. Kita hanya sering mendengar keterangan
yang kurang lengkap mengenai pengkhianatan Tan Malaka di
sekitar pemberontakan 12 November 1926. Alasan yang samar-samar
ini menjadi lebih bureng lagi karena umumnya di kalangan kita
belum mengerti betul siapa sebenarnya Trotzki itu, atau apa
Trotskisme itu. Dengan alasan yang masih samar-samar tentang
pengkhianatan Tan Malaka itu, akibatnya masih selalu terjadi
tuduh-menuduh dengan alasan yang tidak terang dan tidak
prinsipiil, antara orang-orang dari dalam barisan PKI dengan
pengikut-pengikut dan pembela-pembela Tan Malaka yang hanya
karena tidak mengertinya saja. Apalagi Tan Malaka sendiri tidak
terang-terang mengaku sebagai Trotskis dan ia suka memakai nama
Marx, Engels, Lenin, di dalam ucapan dan tulisan-tulisannya.
Kecuali itu yang menambah ruwetnya lagi, yalah di dalam badan
Partai sendiri masih harus dilakukan pendidikan dan pembersihan
terhadap elemen-elemen anarkis dan sosial demokrat.

Jadi, selama keadaan masih demikian, kita tidak akan dapat
menghancurkan samasekali ideologi Tan Malaka dan menelanjangi
pembela-pembelanya yang yakin, sehingga kita tidak akan bisa
menarik ke dalam barisan kita orang-orang yang menjadi
pengikutnya hanya karena tidak mengertinya saja. Oleh karena
itu, masing-masing kita sendiri mesti terang berdiri atas dasar
Marxisme-Leninisme sehingga bisa memberikan alasan yang terang
dan prinsipiil tentang pengkhianatan Tan Malaka itu. Sebab Tan
Malaka, seperti juga kaum Trotskis umumnya, adalah musuh klas
buruh yang paling berbahaya dan paling licin. Kaum Trotskis
pada umumnya pernah menjadi anggota Partai Komunis, sehingga
mereka mengetahui juga cara bekerjanya kaum Komunis. Disini
letak bahaya dan kelicinannya, sehingga bagi orang yang belum
terang pengertiannya tentang Marxisme-Leninisme, belum cukup
mempunyai kewaspadaan politik, tidak bisa dengan gampang
melihat garis penyelewengan dan pengkhianatan-pengkhianatannya.

Dari cerita-cerita orang tentang pemberontakan tahun ’26, kita
belum mendapat keterangan yang cukup banyak untuk menghukum Tan
Malaka sebagai Trotskis Jadi dari manakah kita mendapat bukti
yang nyata dan sah tentang pengkhianatan Tan Malaka itu? Bagi
kita generasi baru tidak bisa lain daripada melihat bukti hitam
diatas putih yang dibuat oleh Tan Malaka sendiri, yaitu melihat
tulisan-tulisan Tan Malaka sendiri. Oleh karena itu
pengkhianatan mengenai Tan Malaka mengenai putusan
pemberontakan tahun ’26, tidak kita jadikan pokok pembicaraan
disini. Pengkhianatan Tan Malaka itu hendak kita tunjukkan dari
tindakan dan pandangan-dunianya sesudah selesainya
pemberontakan tahun ’26 itu.

Lebih dulu kita periksa alasan Tan Malaka mendirikan PARI
(Partai Republik Indonesia). Dalam bukunya, “Thesis“, Tan
Malaka memberikan 4 macam alasan. Kita ambil saja
kalimat-kalimatnya yang pokok sbb:

1.Hampir semua pemimpin PKI yang bertanggungjawab sudah
dimasukkan ke bui atau dibuang ke Digul.
2.Habisnya anggota PKI yang kami (Tan Malaka cs? – MHL) kenal
dari luarnegeri dan putusnya perhubungan, memberi kemungkinan
kelak ada mereka yang akan meneruskan pekerjaan PKI lama dengan
tersembunyi dan dengan hati curang.
3.Komunisme dan PKI karena populernya sudah sampai ke tingkat
menimbulkan fanatisme di antara Rakyat, terutama yang
butahuruf.
4.Kekuasaan yang diberikan KOMINTERN pada saya (tahun 1922) di
daerah yang meliputi beberapa negara, yang praktisnya boleh
dinamakan ASLIA memberi suggestion, petunjuk kepada diri saya,
bahwa semua negara ini memangnya mesti digabung menjadi satu.

Dengan alasan yang pertama, Tan Malaka hendak membenarkan
pendiriannya tidak meneruskan PKI, sebab katanya, “memakai
terus nama PKI yang tiada mengemukakan kesalahan di masa
lampau, tidak akan menambah perbaikan jalannya pergerakan
revolusi Indonesia“. Sedangkan kata Tan Malaka, “untuk membikin
perhitungan tepat atau tidaknya tindakan yang sudah diambil
pada tahun 1926 itu tidak bisa dijalankan“ (karena
orang-orangnya sudah dimasukkan ke bui atau dibuang ke Digul).
Tetapi kita tahu Kawan-kawan Musso, Alimin dan Semaun masih ada
di luarnegeri juga. Dan lagi pada waktu itu KOMINTERN belum
dibubarkan, jadi soal-soal PKI dengan sendirinya masih bisa dan
semestinya dibicarakan di KOMINTERN.

Dari alasan yang kedua kita bisa pastikan, bahwa memang Tan
Malaka sudah tidak bersedia lagi untuk mempertahankan terus
hidupnya PKI secara di bawahtanah (karena di Indonesia pada
waktu itu tidak ada kemerdekaan politik). Tan Malaka sudah
tidak bersedia lagi untuk memimpin PKI menurut jalan yang
benar, jika seandainya dia tahu jalan yang benar itu, untuk
menentang dan menggagalkan usaha mereka yang kata Tan Malaka
akan meneruskan PKI dengan hati yang curang. Keterangan
selanjutnya mengenai alasan yang kedua ini, seakan-akan
menunjukkan Tan Malaka itu cinta pada PKI, cinta dan
bertanggungjawab pada proletariat Indonesia, pada proletariat
internasional dan pada dasar-dasar Komunisme, tetapi
kenyataannya Tan Malaka terang-terangan menghentikan pekerjaan
PKI sebagai salah satu partai proletar yang menjadi cabang
daripada organisasi proletar sedunia, yalah KOMINTERN. Tan
Malaka mengatakan sudah kehabisan anggota PKI yang dia kenal
dan putus hubungan, maksudnya tentu putus hubungan dengan
orang-orang di Indonesia. Tetapi anggota PKI dan hubungan ini
bisa dicari yang baru; dan buktinya Tan Malaka juga bisa
mencari anggota dan hubungan baru, tetapi untuk PARI-nya.

Dengan alasan yang ketiga, Tan Malaka mengakui bahwa Komunisme
dan PKI sudah betul-betul mendapat kepercayaan dari Rakyat.
Juga di dalam keterangan mengenai alasannya yang ketiga ini,
Tan Malaka mengakui bahwa kepercayaan Rakyat pada Rusia sudah
bisa menggantikan kepercayaan mereka pada Turki. Tan Malaka
dalam keterangannya hendak menyamakan bahayanya Rakyat yang
fanatik terhadap Islam dan Turki dengan fanatik terhadap
Komunisme dan Rusia. Padahal bagi kita tentu mengetahui, bahwa
dasar dan alasan fanatiknya Rakyat terhadap Komunisme dan Rusia
karena keterangan yang meyakinkan dengan fanatiknya terhadap
Islam dan Turki. Rakyat menjadi fanatik terhadap Komunisme dan
Rusia karena keterangan yang meyakinkan Rakyat, bahwa dalam
Komunisme hapuslah kemiskinan dan penghinaan, hapuslah
penindasan atas manusia oleh manusia dan diganti oleh
kesejahteraan, persaudaraan dan kebebasan; dan justru Rusialah
satu-satunya negeri yang pertama-tama memberikan bukti
pelaksanaan daripada cita-cita dan harapan Rakyat ini. Rakyat
fanatik terhadap PKI, karena memang PKI-lah satu-satunya Partai
yang menunjukkan keberanian, kejujuran dan kesetiaannya dalam
memimpin perjuangan Rakyat. Jadi, fanatisme Rakyat pada
Komunisme,pada Rusia (Soviet Uni) dan pada PKI itu bukanlah
barang yang merusak dan merugikan Rakyat, tetapi semestinya
malahan menjadi dorongan yang lebih keras dan lebih nyata bahwa
kita mesti meneruskan PKI dan bekerja keras supaya fanatisme
itu menjadi kesedaran, dan supaya betul-betul PKI berjalan
atas dasar Marxisme-Leninisme. Dibalik semua keterangan Tan
Malaka mengenai alasan yang ketiga ini, kita bisa mengerti apa
sebabnya Tan Malaka tidak berani terang-terangan bersikap
anti-Komunisme, anti-PKI dan anti-Soviet Uni; karena kalau ia,
sebagai Trotskis, berbuat demikian berarti ia harus langsung
menentang perasaan dan kepercayaan Rakyat. Sekalipun demikian,
bersangkutan dengan ini, sepanjang pengetahuan kita, diantara
bekas pemimpin PKI, Tan Malaka adalah orang pertama (yag kedua:
Darsono) yang mengatakan bahwa Stalin adalah orang yang bodoh
dan curang. Didalam suatu percakapan dengan 4 orang pemuda, di
suatu rumah di Langenastran, Jogya, ketika membicarakan soal
ekonomi hingga menyangkut pada Rencana Ekonomi Lima Tahun yang
pertama dari Soviet Uni, Ran Malaka berkata: „Sebenarnya
Rencana Lima Tahun itu yang membikin yalah Trotski, tetapi
dicuri dari lacinya oleh Stalin. Sesudah itu baru Trotski
disikut dan ditendang keluar. Memang Stalin adalah orang yang
bodoh dan curang“. Jadi dengan PARI-nya Tan Malaka memang
sengaja berusaha merusak dan menghilangkan kepercayaan Rakyat
kepada PKI dan kepada Soviet Uni.

Alasan yang keempat adalah alasan yang terpenting yang menjadi
dasar pengkhianatan Tan Malaka terhadap Marxisme-Leninisme. Tan
Malaka sebagai anggota pimpinan PKI sesudah boleh dikatakan
hancur samasekali dipukul reaksi. Tetapi Tan Malaka telah
mendirikan partai baru yalah PARI atas dasar „teori“ baru,
yang kemudian dinamakannya „teori“ ASLIA. Meskipun Tan Malaka
menghubungkan „teori“ ASLIA ini dengan kekuasaan yang katanya
diberikan kepadanya oleh KOMINTERN, tetapi teranglah bahwa
„teori“ ASLIA itu bertentangan dengan teori Marxisme-Leninisme,
terutama mengenai ekonomi politik dan masalah nasional.

Kesimpulan daripada semua alasan diatas ini tidak lain hanya
menunjukkan, bahwa dengan tidak diakui secara terang-terangan
Tan Malaka telah membubarkan, melikwidasi PKI. Tan Malaka
adalah seorang likwidator yang licik. Dan disinilah, sikap
likwidator Tan Malaka menyerupai sikap Trotski dengan Blok
Agustusnya. Sesudah menjadi likwidator perbuatan Tan Malaka
tidak lain daripada: dengan mempergunakan semboyan-semboyan
kiri ia memukul kaum kiri sendiri. Jadi Tan Malaka telah
mengkhianati Marxisme-Leninisme tidak saja di lapangan
organisasi dengan melikwidasi PKI, tetapi pokoknya yalah
pengkhianatan terhadap Marxisme-Leninisme di lapangan teori.
Mengenai pengkhianatan di lapangan teori ini, yang berupa
„teori“ ASLIA, akan kita bicarakan lagi nanti.

*******

Am Thu, 24 Nov 2011 02:25:00 -0800 (PST)
schrieb Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@yahoo.com>:

>
>
>
> Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto
>
> Tujuan
> didirikannya Negara Indonesia itu adalah membentuk Negara Sosialis.
> Sosialisme ini bukan dalam pengertian dibawah satelit Sovjet Uni
> seperti yang dituduhkan oleh Intel Inggris, AS dan Agen-agen rahasia
> Van Mook di Australia dalam laporannya kepadanya komandan sekutu Sir
> Mountbatten di Kolombo awal Agustus 1945, tetapi sebuah kenyataan
> sejarah bahwa Sosialisme Indonesia itu sosialisme yang lahir otentik
> dari pemikir-pemikir sejarah Indonesia seperti : Sukarno, Tan Malaka,
> Hatta ataupun Sjahrir. Mereka itu adalah intelektual yang terlepas
> dalam sejarah komprador, baik komprador Amerika Serikat maupun
> Komprador Sovjet Uni.
>
> Adalah Tan Malaka yang pertama kali
> dalam sejarah komunis Sovjet Uni melepaskan diri dari Imperialisme
> Sovjet Uni dan membentuk Partai Rahasia bersama Soebakat dan Tamim
> dengan nama PARI (Partai Rakjat Indonesia) dengan doktrin massa MURBA
> (berasal dari kata sanskrit yang artinya : Rakyat). Tan Malaka
> mengenalkan ide bersatunya dunia Islam dan Sosialisme yang di Moskow
> pada awal tahun 1920-an yang ditolak oleh banyak faksi di Sovjet Uni
> termasuk penolakan dari Stalin. Dan ketika penolakan itu terjadi,
> malamnya Tan Malaka mendapatkan pencerahan bahwa Stalinis hanya akan
> menghasilkan bentuk Imperialisme baru, sementara ia berhadapan
> langsung dengan bangsanya : Indonesia. Dari sanalah ia mengusung
> pemikiran peradaban ASLIA (Asia-Australia) sebagai peradaban yang
> berdiri sendiri, baik sejarah pembebasannya maupun kegiatan
> ekonominya.
>
> Lalu Tan Malaka melihat arah sejarah perkembangan yang sama. Tan
> Malaka melihat kekuatan dunia Islam sebagai pengimbang Imperialisme
> Amerika, ternyata apa yang diramalkan Tan Malaka benar sekarang ini,
> Amerika sangat takut dengan kekuatan dunia Islam. Untuk itu Amerika
> terus mendekat pada Arab Saudi untuk tetap memelihara adat-adat kuno
> dan berusaha meninggalkan Islam yang moderat dan progresif, untuk
> itulah Arab Saudi dan Kuwait ditemani seraya mengebom Irak, mengancam
> Iran dan membuat lapar anak-anak di Jalur Gaza, Palestina. Apa yang
> dipikirkan Tan Malaka : Islam adalah darah dalam tubuh Indonesia
> benar adanya. Islam harus bersatu dengan ide-ide sosialisme nasional
> Indonesia Raya.
>
> Di tahun 1927 di Bandung, Sukarno juga menulis tapi bukan tulisan
> tentang Sosialisme yang Sukarno tulis adalah Persatuan. Banyak orang
> mengira Persatuan dalam bahasa Sukarno adalah sekedar bersatunya
> suku-suku, bersatunya budaya-budaya dan bersatunya kelompok-kelompok,
> padahal Sukarno menciptakan persatuan itu lebih jauh lagi yaitu
> kerangka “JALAN BERPIKIR”. Bagi Sukarno, Persatuan itu adalah sebuah
> jalan membentuk antitesis-antitesis dari tesis-tesis keadaan yang
> terjadi sehingga melahirkan sintesis. Dari Persatuan ini kemudian akan
> terdefinisi jenis keadaan apa untuk Indonesia Raya.
>
> Ide-ide
> Sosialisme Ekonomi yang paling gamblang adalah justru dari Hatta.
> Pokok pemikiran Hatta ini akan menjadi bintang dalam sejarah ekonomi
> masa depan manusia, Pemikiran Hatta jauh melampaui jamannya. Bahkan
> di jaman kita sekarang. Ide-ide Hatta tentang ekonomi adalah ekonomi
> yang tidak menjadi akumulator modal dan dikuasai individu atau
> korporasi raksasa, tapi ekonomi yang menjadi mesin pembentukan
> kesejahteraan bersama. Bagi Hatta tidak ada objek dalam ekonomi,
> semua yang manusia yang terlibat dalam ekonomi adalah subjek. Ekonomi
> Koperasi Hatta jangan dipahami sebagai Koperasi-Koperasi yang kita
> kenal sekarang, tapi lebih maju sebagai sebuah bentuk fragmen modal
> yang adil sebagai sebuah kegiatan bersama dengan tujuan-tujuan
> memakmurkan kehidupan anggota sesuai dengan peran masing-masing,
> kalau saja gagasan Hatta ini dibawa ke dalam lingkup makro maka kita
> akan mengenal ekonomi-ekonomi berjejaringan atau ekonomi cluster
> sehingga ekonomi dan hasil-hasilnya akan langsung mengenai kehidupan
> rakyat banyak.
> Ketakutan
> banyak orang bahwa Sosialisme itu adalah Stalinis, ekonomi sosialisme
> adalah Korea Utara adalah sebuah kebodohan karena kurangnya wawasan
> dalam memahami titik-titik penting jalannya sejarah kita. Pendiri
> bangsa kita tidak menyukai pembelengguan, mereka adalah anak-anak
> kandung dari sejarah pembebasan. Jadi ketika sistem Sosialisme itu
> ditawarkan maka Sosialisme itu sederhana saja definisinya, bacalah UUD
> 1945 asli (yang tanpa amandemennya) disana dengan amat jelas
> sosialisme kita, terutama pasal 33.
>
> Sosialisme kita adalah membangun
> Puskesmas-Puskesmas dengan fasilitas RS lengkap untuk rakyat dengan
> gratis, Sosialisme kita adalah Menggratiskan seluruh biaya-biaya
> pendidikan, menghapuskan pajak penerbitan dan penjualan buku yang
> tinggi, membangun jaringan internet dengan seluas-luasnya, membangun
> fungsi-fungsi sosial dan memaksa pejabat untuk hidup sederhana.
>
>
> Sosialisme kita tidak akan menahan ekonomi modal biarlah
> pengusaha-penguasa berkembang seperti bunga-bunga yang mekar di musim
> semi, tapi Sosialisme kita juga tidak akan mengijinkan modal raksasa
> mendikte perekonomian rakyat, rakyat banyak harus jadi subjek utama
> dalam kegiatan ekonomi, kepemilikan tanah harus dibatasi lebih dari 10
> hektar harus dimiliki sebuah serikat kerja atau negara, tak ada
> kepemilikan pribadi atau modal raksasa.
>
> Sosialisme ini
> adalah penggalian sejarah dari pemikiran masa lampau pendiri bangsa,
> sehingga kita akan tersadarkan : Untuk apa Indonesia Raya harus
> berdiri…………….
>
> Tan Malaka pernah berkata di tahun
> 1948 : Kita tidak akan menjadi antek Amerika Serikat, pun tidak akan
> menjadi budak Moskow. Kita adalah generasi pembebas dari sebuah bangsa
> merdeka, merdeka pikirannya dan merdeka jiwan

Pangeran Diponegoro, Singa Jawa dari Keraton Yogjakarta

http://kisahislami.com/pangeran-diponegoro-singa-jawa-dari-keraton-yogjakarta/

Pangeran Diponegoro, Singa Jawa dari Keraton Yogjakarta

Posted by aan on November 10, 2011 in Alim Ulama ·

Ia seorang Mujahid keturunan Raja Yogjakarta. Seluruh nafas kehidupannya diabadikan untuk kemerdekaan Tanah Jawa, dengan bersendikan ajaran agama Islam.

Tegalrejo 29 Juli 1825. Wilayah di bawah pimpinan Chevallier pasukan gabungan Belanda dan orang-orang patih Darurejo IV menyerbu laskar-laskar Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo, sebuah desa kecil yang terletak di barat laut Keraton Yogjakarta. Dentuman meriam dan bunyi letupan senapan membahana di seluruh penjuru desa.

Menghadapi serangan itu, kedua Pangeran bersama laskarnya segera menyingkir ke tempat yang lebih aman. Mereka menyadari, perang di medan yang amat sempit tidak menguntungkannya. Pangeran Diponegoro akhirnya memilih tempat yang lebih strategis untuk basis peperangannya di bukit Selangor, sebuah tempat yang dikelilingi lembah , benteng-benteng alam dan Gua, yang biasa dipergunakan bertapa. Tempat itu terletak 10 Km di sebelah barat daya kota Yogjakarta. Sedangkan keluarganya diungsikan ke desa Dekso.

Di lain pihak, Chevallier terus melancarkan serangan dahsyat dengan mengerahkan seluruh pasukan dan persenjataan yang dimiliki. Alhasil, Chavalier dalam waktu singkat mampu menguasai Tegalrejo. Sayangnya, Tegalrejo telah kosong melompong. Bakar…. Bakar saja rumah Diponegoro sampai habis! Seru Chavalier di tengah kemarahan dan kedongkolan hatinya karena buruannya telah kabur.

Tanpa membuang waktu lagi, tentara gabungan itu membakar rumah Diponegoro dan puluhan rumah lain di sisi kanan kirinya. Dari kejauhan, di balik bukit terjal, di atas Kuda Getayu, Pangeran Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi beserta seluruh anggota laskarnya menyaksikan dengan sedih pembumihangusan puluhan rumah tersebut.

Sebaliknya berita penyerangan Belanda ke Tegalrejo cepat menjalar ke seluruh pelosok Yogjakarta dan Surakarta. Sebagian besar rakyat tanpa dikomando berduyun-duyun datang ke Selangor lengkap dengan persenjataannya. Dari Surakarta, datang ulama Bayat, dan laskar-laskar yang di komandoi oleh Kyai Mojo dan Tumenggung Prawirodigdoyo. Dari kesultanan Yogjakarta, tidak kurang 74 bangsawan akhirnya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro di Selangor. Diantara kerumunan Bangsawan itu, terdapat Sentot Prawirodirjo, seorang Senopati muda yang belum berusia 18 tahun, putra Raden Ronggo Prawirodirjo III. Seperti halnya sang ayah, Sentot kemudian tampil sebagai pejuang besar yang sangat di takuti pihak Belanda.

Propaganda perang melawan bangsa kafir segara dilakukan di mana-mana, di Yogjakarta, Jayanegara segera membuat surat edaran untuk seluruh rakyat Mataram. Isinya mengajak berjuang bersama Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi mengusir kaum penjajah Kafir Belanda. Di wilayah luar Yogjakarta, seperti Kedu, Banyumas dan sekitarnya, ajakan jihad fi sabilillah di sampaikan oleh Kyai Kasan Besari yang disambut rakyat dengan gegap gempita.

Sesuai dengan saran Sinuhun Paku Buwono VI, laskar-laskar Diponegoro menggunakan taktik dan strategi perang “Dhedhemitan” alias “Gebag ancat nrabas geblas”. Menyerbu secara tiba-tiba dan kemudian dengan cepat menghilang dibalik hutan-hutan, Gua, Bukit, atau kegelapan malam.

Rupanya taktik dan perang anggota laskar Diponegoro sangat menakutkan pihak Belanda. Tidak mengherankan, bila pada tahun-tahun pertama pihak Belanda kewalahan dan banyak mengalami kekalahan.

Kemenangan pertama Pangeran Diponegoro dan laskarnya didapat di desa Pisangan, perbatasan Muntilan dan Yogjakarta. Laskar Diponegoro yang dipimpin oleh Mulyo Santiko dengan gagah berani mencegah iring-iringan pasukan Belanda yang berjumlah sekitar 120 orang yang berusaha masuk ke Yogjakarta. Mereka berhasil menghancurkan seluruh pasukan Belanda itu. Uang sebesar 50.000 gulden dapat dirampas berikut alat-alat perangnya. Kemenangan pertama ini segera di ikuti oleh kemenangan-kemenangan berikutnya. Pada 6 Agustus 1825, pasukan Diponegoro yang dipimpin para panglimanya yang gagah berani berhasil menghancurkan markas Belanda di Pacitan, menyusul kemudian Purwodadi.

Kemenangan demi kemenangan tentu saja dapat mengobarkan semangat rakyat untuk bersama-sama bangkit melawan Kafir Belanda. Perangpun makin meluas  sampai ke Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang dan Madiun.

Kekalahan beruntun yang dialami Belanda, memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda segera mengirim Letnan Jenderal Markus De Kock ke Jawa Tengah sebagai panglima angkatan perang Belanda. Jenderal De Kock mendapat kekuasaan untuk menjalankan segala tindakan dalam menangani peperangan.

Jenderal De Kock dengan licik segera menyebarkan politik pecah belah, dan mengadu domba. Ia segera menemui dan memaksa Sunan Pukubuwono VI, dan Mangkunegoro II, dan Paku Alam I agar bersedia membantu Belanda. Ia juga mengerahkan bantuan pasukan pribumi itu untuk menggempur markas pasukan Diponegoro di Selarong. Namun, beruntung gerakan pasukan gabungan ini sudah dapat di ketahui oleh mata-mata Pangeran Diponegoro. Semua laskar dan pimpinannya segera bersembunyi. Akibatnya, ketika pasukan Belanda menguasai Selarong pada malam hari, mereka hanya menemukan bukit dan Gua yang sudah kosong. Pasukan Belanda pun mundur dan kembali pulang dengan tangan hampa.

Tidak beberapa lama tentara Belanda pulang, malam itu juga Pangeran Diponegoro segera mengadakan pertemuan dengan para Senopatinya. Mereka membahas untuk segera memindahkan markasnya di Selarong. Semua sepakat. Desa Deksa yang jaraknya sekitar 23 Km dari Yogjakarta dijadikan markas baru.

Pertempuran kembali berkobar diseluruh Mataram. Hasilnya pada Januari 1826 Pangeran Diponegoro berhasil merebut dan menguasai daerah Imogiri dan Pleret, di susul daerah Lengkong, Kasuran dan Delangu.

Bagi pihak Belanda, kekalahan beruntun itu justru membuat Jenderal De Kock makin nekad. Ia mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat Belanda untuk menambah anggaran perang. Anggaran itu rencananya untuk membuat benteng Stelsel. Tujuannya untuk mempersempit ruang gerak Pasukan Diponegoro di daerah-daerah yang di kuasai Belanda. Pelaksanaan benteng Stelsel juga dimaksudkan untuk mengadakan tekanan kepada Pangeran Diponegoro agar bersedia menghentikan peperangan.

Di wilayah Mataram kemudian muncul benteng-benteng Belanda yang kukuh, seperti di Bantul, Paluwatu, Pasargede, Jatinom, dan Delangu. Tidak kurang dari 165 buah benteng telah di dirikan Belanda untuk mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro. Tekanan dari Belanda ini masih ditambah dengan adanya Bupati-bupati daerah yang memihak kepada Belanda, sehingga sangat menyulitkan komunikasi laskar Diponegoro antar daerah. Akibatnya, perlawanan itu menjadi mudah dipatahkan oleh pasukan Belanda. Pasukan Bulkiyo mulai menghadapi masa-masa sulit.

Di tengah kesulitan itu, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para sesepuh dan Senopati membahas perkembangan dan situasi di medan perang. Pertemuan itu dilakukan di pesanggrahan Bagelan. Hasilnya mereka tetap melanjutkan perjuangan sampai kemerdekaan bumi tanah Jawa tercapai. Akibatnya, tidak sedikit laskar Pengeran Diponegoro yang gugur. Pangeran Kusumowijoyo yang mengobarkan pertempuran di Keraton Surakarta, akhirnya gugur di Lembah Kali Serang. Ia kemudian dikenal dengan nama Pangeran Serang, dan istrinya Raden Ajeng Kusriyah juga gugur di Dekso, Kulon Progo. Tidak berapa lama kemudian, gugur pula Tumenggung Prawirodigdoyo dari Gagatan. Ia gugur di medan tempur Klengkong saat memimpin 100 prajuritnya melawan tentara Belanda yang jumlahnya berlipat-lipat dengan dukungan meriam dan senjata laras panjang.

Belum lagi hilang rasa duka, kabar yang mengejutkan menyusul, Gusti Pangeran Notodiningrat bersama istri dan ibundanya dan tidak kurang dari 200 pengikutnya menyerah kepada Belanda di Yogjakarta. Dengan keberhasilan Belanda mempengaruhi Pangeran Notodiningrat Jenderal De Kock semakin gila mendekati pemimpin-pemimpin laskar Pangeran Diponegoro. Ia menjanjikan kedudukan dan hadiah-hadiah berlimpah bila mau menyerah dan mendukung Belanda. Satu bulan kemudian, Belanda kembali berhasil membujuk salah seorang panglima laskar Diponegoro, yaitu Pangeran Arya Papak dan Tumenggung Ario Sosrodilogo.

Kiai Mojo yang menjadi tulang punggung kekuatan pasukan perang Pangeran Diponegoro, akhirnya juga menyerah kepada pasukan Belanda. Menyerahnya Kiai Mojo merupakan pukulan berat bagi Pangeran Diponegoro dan laskar-laskarnya. Tetapi Pangeran Diponegoro bertekad untuk tidak menyerah dan tetap mengobarkan perlawanan.

Pada 20 Desember 1828, Laskar Pangeran Diponegoro segera melancarkan serangan dahsyat terhadap markas Belanda di Nanggulan. Dalam pertempuran itu Kapten Van Inge tewas, sedang dari pihak pasukan Diponegoro kehilangan Senopatinya yang gagah berani, Pangeran Prangwedono.

Berita hancurnya benteng Nanggulan, membuat jenderal De Kock semakin ketakutan, sebab ia selalu melihat sosok Senopati Sentot sebagai momok yang sangat berbahaya. Karena jenderal De Kock terus berupaya membujuk Sentot dengan berbagai cara agar mau menyerah. Tapi, Senopati muda itu tetap menolaknya. Belum berhasil membujuk Sentot, ia berhasil memperalat dan menekan Pangeran Ario Prawirodiningrat, Bupati Madiun, untuk menyerah. Sebabnya, jika tidak mau menyerah taruhannya adalah nyawa sepupunya.

Setelah Pangeran Ario Prawirodiningrat menyerah, menyusul Sentot Prawirodirjo dan Pangeran Mangkubumi. Menyerahnya dua Pangeran yang gagah berani ini membuat Pangeran Diponegoro kembali terpukul telak dan membawa beban moral, tidak hanya dalam dirinya, tetapi juga kepada seluruh prajurit Bulkiyo. Belum lagi batin Pangeran Diponegoro sembuh di akhir tahun 1829, satu persatu Senopati daerah menyusul jejak Senopati Sentot dan Pangeran Mangkubumi, antara lain, Pangeran Ario Suriokusumo, Kerto Pengalasan, pahlawan medan tempur Pleret, dan Pangeran Joyosudirjo

Rupanyan Pangeran Diponegoro tak bergeming, meski hatinya tertekan, ia tetap melanjutkan perjuangannya dan tetap menaruh kepercayaan atas kesetiaan rakyat Bagelan, Banyumas, dan Kedu. Usaha Jenderal De Kock untuk mempercepat peperangan rupanya tidak berhasil. Meski jauh sebelumnya Jenderal ini sudah menjanjikan 20.000 ringgit kepada siapa saja yang sanggup menangkap hidup atau mati Pangeran Diponegoro. Segenap rakyat dan laskar-laskar Pangeran Diponegoro tidak mau mengkhianati pemimpin yang agung ini.

Tapi, Jenderal De Kock tidak putus asa, melalui Kolonel Cleerrens, akhirnya bisa membujuk putra Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran Dipokusumu, untuk menyerah. Penyerahan putra kesayangannya itu benar-benar membuat Pangeran Diponegoro terluka. Maka pada bulan Februari 1830, ketika Kolonel Cleerens menawarkan jalan perundingan, terpaksa Pangeran Diponegoro menerimanya dengan berat hati. Dua musuh bebuyutan inipun bertemu di Remo Kamal, Bagelan, Purworejo, pada tanggal 16 Februari 1830. Cleerens kemudian mengusulkan agar kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di kaki bukit Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal markus De Kock dari Batavia.

Dengan janji tidak dikhianati, Pangeran Diponegoro bersedia mengadakan perundingan. Pada bulan Maret 1830, ia dengan pasukannya tiba di tempat perundingan, dirumah Residen Magelang. Bersama Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro menuju ruang kerja Jenderal De Kock. Beberapa putra Diponegoro dan perwira Belanda ikut menyaksikan jalannya perundingan tingkat tinggi tersebut.

Sekitar dua jam sudah perundingan berlangsung, tapi belum membuahkan hasil. Berkali-kali Jenderal De Kock mencoba membujuk agara Pangeran Diponegoro mengurangi tuntutannya. Tapi Pangeran Diponegoro tetap teguh pada pendiriannya. Mendirikan sebuah Negara merdeka yang bersendikan agama Islam. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, apabila perundingan menemui jalan buntu, Pangeran Diponegoro boleh meninggalkan ruangan itu dengan bebas. Tapi kenyataannya, Jenderal De Kock curang, “Tangkap tangkap Diponegoro dan semua pengikutnya”, teriak De Kock kepada pasukannya sambil menodongkan pistol kearah Pangeran Diponegoro. Sejurus kemudian, Pangeran Diponegoro beserta para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan dalam sebuah penjara yang amat pengap. Hari- hari terakhir pangeran Diponegoro dihabiskan di dalam penjara.

Orde Baru Tutupi Skandal Purwodadi

Sisi Kelam Sejarah II
Orde Baru Tutupi Skandal Purwodadi
Selasa, 22 November 2011 – 19:31:14 WIB

Dua bulan menjadi kontroversi di media massa, kasus pembunuhan massal di Purwodadi lenyap begitu saja.

SEJAK diungkapnya kasus Purwodadi oleh Poncke Princen, muncul berbagai pendapat pro dan kontra. Menurut Poncke, jumlah korban pembantaian mencapai dua ribu orang yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Grobogan. Bahkan menurutnya dalam satu malam pernah terjadi pembunuhan terhadap 850 orang sekaligus. Banyak pihak yang meragukan keterangan Poncke, namun tak sedikit pula yang berada di pihaknya.

 

Sebagian aktvis di luar negeri, khususnya di Belanda, mengutuk keras aksi kejahatan itu. Prof. Jan Pluvier, guru besar sejarah Asia Tenggara, kolega Wertheim dalam wawancara pada Maret 2007 lampau di kediamannya di Heideweg No 5, Soest, Belanda mengatakan keterlibatannya dalam gerakan menentang Orde Baru berangkat dari solidaritasnya kepada rakyat Indonesia yang ditindas oleh Suharto. “Saya mendengar berita tentang pembunuhan massal itu dan saya menentang Suharto yang menginjak-injak kemanusiaan,” kata dia.

 

Berbeda dengan Jan Pluvier, Wertheim dan para Indonesianis lain yang umumnya mengecam rezim Orde Baru, Presiden World Veteran Federation (WVF) W. Ch. J.M. van Lanschot justru memperlihatkan sikap mendukung Orde Baru. Ia datang ke  Indonesia disertai dua orang redaktur majalah Elsevier, Martin W. Duyzings dan Drs. A. Hoogendijk. Dalam kunjungannya itu, mereka menemui Menteri Penerangan Budiardjo. Mereka sepakat bahwa tidak ada gunanya membesar-besarkan kasus Purwodadi.

 

Dunia Barat, pascapergolakan politik 1965 dan transisi kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, semakin gencar mendekati Indonesia. Ekonomi yang porak-poranda akibat situasi politik dalam negeri yang tidak stabil selama tahun-tahun terakhir kekuasaan Sukarno menjadi alasan utama bagi pemerintah Soeharto untuk mengundang investasi luar negeri ke Indonesia. Undang-undang Penanaman Modal Asing No. 1/1967 diberlakukan untuk melempangkan jalan masuk modal asing. Tim ekonomi yang dipimpin oleh Menko Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono IX gencar melakukan lobi ke luar negeri.

 

Sebuah iklan di koran The New York Times edisi 17 Januari 1969, sebulan sebelum terungkapnya peristiwa Purwodadi, berbunyi: “5 Years From Now You Could Be Sorry You Didn’t Read This Ad”. Iklan yang ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX tersebut mempromosikan Indonesia sebagai negeri yang terbuka terhadap investasi sekaligus menjamin investor Amerika Serikat untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Untuk membuat investasi di negeri kami semakin bergairah, kami telah meloloskan sebuah undang-undang penanaman modal asing yang menawarkan beberapa insentif seperti pembebasan pajak perusahaan dan pajak atas deviden selama lima tahun,” demikian kata iklan itu. Salah satu perusahaan Amerika Serikat yang memanfaatkan Undang-Undang tersebut adalah Freeport yang beroperasi sejak 1967 di Papua.

 

Peristiwa Purwodadi menjadi batu sandungan pertama di kala pemerintah Soeharto berbenah, merias wajah Indonesia yang baru dan bebas dari komunisme. Berbagai cara dilakukan untuk meredam eskalasi berita pembantaian massal di Purwodadi. Tak lama setelah terungkapnya pembunuhan massal di Purwodadi, penguasa militer di Jawa Tengah bersikap reaktif dengan mengawasi setiap pendatang ke ibukota Kabupaten Grobogan itu. Setiap orang luar yang hendak memasuki kota harus mendapat izin dari tentara. Mengenai hal ini, Harian Sinar Harapan, edisi 9 Maret 1969 melaporkan: Ketika memasuki daerah itu para wartawan diwajibkan terlebih dahulu melapor ke Penerangan Kodam VII/ Diponegoro. Sesudah itu harus pula minta ijin pada Asisten I dan diberikan surat. Kemudian baru melaporkan diri pada Komandan Kodim setempat. Ketika para wartawan tersebut memasuki kota Purwodadi, kelihatannya masyarakat Purwodadi nampak suasana ketakutan.

 

Meningkatnya pengawasan membuat situasi kota Purwodadi makin mencekam. Masyarakat tak leluasa menjalankan aktivitasnya, lebih-lebih pada malam hari. Mereka khawatir dituduh tentara sebagai anggota Gerilya Politik (Gerpol) PKI atau “PKI Malam”.

 

Panglima Kodam (Pangdam) VII/Diponegoro Mayor Jenderal Surono membantah terjadinya pembantaian massal dalam kasus Purwodadi. Dia mengatakan berita tersebut tidak benar. Dia curiga kabar tersebut menjadi bagian perang urat syaraf yang dilancarkan oleh “PKI Malam”. Dia malah balik menuding bahwa semua tuduhan itu semata-mata ditujukan untuk mengganggu stabilitas keamanan yang sedang dibangun oleh pemerintah Orde Baru.

 

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Munadi langsung mengundang seluruh wartawan baik luar maupun dalam negeri untuk hadir dalam konferensi pers yang digelar pada 4 Maret 1969 di Restoran Geliga, Jakarta. Pada pertemuan itu, dia membantah temuan Princen, bahkan menuduh Princen sebagai komunis (Kompas, 5 Maret 1969 dan Indonesia Raya, 6 Maret 1969). Dalam keterangan persnya Munadi mengatakan,“yang dipersoalkan sekarang adalah tahun 1968. karena tahun 1965 tidak terkontrol. Saya minta supaya dibatasi pada tahun 1968 saja. Kalau orang itu ditembak berjejer itu tidak mungkin.Tapi kalau dalam operasi ada orang yang ditangkap, tapi kemudian coba-coba lari dan diberi peringatan tapi tidak mengindahkan, mungkin saja ditembak.” (Kompas, 5 Maret 1969).

 

Bantahan Munadi didukung oleh Frank Palmos dari Melbourne Herald dan Judy Williams dari New York Times yang  mengatakan tidak ditemukan adanya tanda-tanda telah terjadi pembunuhan massal di daerah Kuwu-Purwodadi dan daerah sekitarnya. Munculnya berita yang memperkuat pernyataan Munadi, membuat Princen kian tersudut dan semakin santer diberitakan bahwa dia seorang komunis.

 

Merasa dirugikan oleh Munadi, Poncke menggugatnya ke Kejaksaan Agung dan mendaftarkan kasusnya sebagai pencemaran nama baik. Kepada wartawan Poncke mengatakan bahwa dia rela dituduh komunis, asalkan dapat membantu orang-orang tak berdosa. Akhirnya Poncke ditahan dan interogasi oleh Kopkamtib dengan tuduhan terlibat dalam gerakan komunis. Kepadanya ditanyakan tentang hubungannya dengan kaum komunis, baik di negeri Belanda maupun di Indonesia. Menjawab pertanyaan wartawan seusai interogasi, ia mengatakan, “Saya hanya mengkonstatir adanya suatu penyelewengan yang perlu ditindak. Hal ini segera saya telah sampaikan kepada Presiden Soeharto sekembalinya dari Jawa Tengah sebagai seorang patriot. Kami bukanlah seorang sentimentalis naif, tapi sebenarnya justru dengan terjadinya pembunuhan-pembunuhan bergelombang di Purwodadi telah lebih menguntungkan kaum komunis”. (Sinar Harapan, 7 Maret 1969)

 

Poncke juga mengatakan bahwa dia sangat jengkel pada orang-orang yang menuduhnya komunis. Mereka seolah lupa bahwa di “zaman Nasakom” mereka itulah yang justru paling getol bekerjasama dengan komunis. Tidak jelas siapa yang dimaksudkan Poncke dengan “orang-orang” yang menuduhnya sebagai komunis, mengingat hanya ada satu orang yang menyebut dirinya sebagai komunis, yakni Gubernur Jawa Tengah Munadi.

 

Sementara itu beberapa tokoh yang memiliki kedekatan secara pribadi dengan Poncke berusaha membelanya dengan menjelaskan siapa Poncke sebenarnya. Wartawan Belanda Henk Kolb meyakini bahwa pembunuhan massal di Purwodadi itu memang benar, dan dia yakin keterangan Poncke tidak memuat kepentingan apa pun selain demi kemanusiaan. Dia juga menjelaskan bahwa berita yang dimuat di korannya di Belanda bukanlah rekayasa. Selain Henk Kolb, Mayor Jenderal Kemal Idris, Panglima Komando Antar Daerah Indonesia Timur yang juga bekas atasan Princen, juga memberikan pembelaan dengan mengatakan bahwa Princen bukan komunis seperti yang dituduhkan Munadi (Indonesia Raya, 8 Maret 1969).

 

Panglima Angkatan Darat (Pangad) Jenderal M. Panggabean, seusai Rapat Komando Angkatan Darat pada 7 Maret 1969 mengatakan persoalan Purwodadi bisa diselesaikan “tanpa perlu rame-rame.” Dia juga menolak dengan tegas jika ada yang mengatakan kalau Angkatan Darat tukang bunuh orang. Jika memang ada jatuh korban, itu konsekuensi dari operasi militer yang sedang dilakukan oleh Kodam VII/Diponegoro (Sinar Harapan, 9 Maret 1969). Selanjutnya Panggabean menyatakan bahwa Kopkamtib sedang menyusun sebuah tim untuk menyelidiki kasus Purwodadi.

 

Sehubungan dengan rencana kunjungan Soeharto ke luar negeri pada medio 1969 dan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan selama kunjungannya maka dia meminta Menteri Penerangan Budiardjo meninjau langsung ke Purwodadi. Soeharto mulai terusik dengan adanya berita-berita pembunuhan massal itu. Seperti laporan sebelumnya, Budiardjo pun melaporkan tidak ada bukti pembunuhan massal di Purwodadi.

 

Di tengah kesimpang-siuran berita yang tak menentu, para wartawan mendesak agar diizinkan melihat langsung kondisi di Purwodadi. Desakan itu ditanggapi Pangdam VII/ Diponegoro, Mayjen. Surono dengan mengundang beberapa wartawan, baik dari luar maupun dalam negeri, “Silahkan menceknya sendiri” ujar Pangdam. Namun kenyataan di lapangan tidak demikian, beberapa wartawan dari Jakarta dipaksa untuk pulang setelah sempat melakukan liputan.

 

Tidak seperti yang sering tersiar bahwa operasi pembasmian komunis dilancarkan kepada mereka yang tak bertuhan, di Purwodadi beberapa guru Katolik kena getahnya. Kalangan umat Katolik Jawa Tengah yang dipimpin oleh Brigjen. dr. Soerojo berupaya keras untuk menyelamatkan tujuh guru agama Katolik yang ditahan dalam penggerebekan di Pastoran Purwodadi, mereka adalah Drs. Ngaini Imam Marsudi, Siswadi, B.A, Sutiono, B.A, Harnold, B.A, Djaswadi, Sumarta, Sri Mulyono, Pardan, Imam Sutikno, Rusdiono, Bambang Dasdiun, Bakri, dan Limaran (tewas). Soerojo mengirim sebuah dokumen penting kepada Presiden Soeharto yang dititipkan melalui wartawan New York Times, Judy Williams. Namun tidak diketahui apa isi dokumen itu.

 

Pemerintah tak bertikad menuntaskan kasus pembunuhan Purwodadi yang dibongkar oleh Poncke. Yang terjadi sejak akhir Februari sampai dengan akhir Maret 1969 hanya berhenti sebagai kontroversi tanpa pernah diketahui mana yang benar. Terhitung sejak tanggal 1 April 1969 atau bertepatan dengan dimulainya Repelita I, koran-koran tak lagi menurunkan berita tentang pembunuhan massal PKI di Purwodadi, menandai ditutupnya kasus tersebut. “Seperti biasa, kasusnya hilang begitu saja,” kata Goenawan Mohamad, yang pernah menulis kasus Purwodadi ketika bekerja di harian KAMI. [BONNIE TRIYANA]

Dari daerah pembuangan

Bulan November merupakan bulan bersejarah bagi Rakyat Indonesia. Antara lain pemberontakan yang dilakukan oleh Rakyat Indonesia pada tahun 1926 melawan  Pemerintah Kolonial Belanda. Untuk memperingati hari bersejarah itu, saya hadirkan beberapa tulisan yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Tulisan-tulisan ini dikutip dari buku « Gelora Api 26 ».
Salam: Chalik Hamid.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
 
 
T. Iskandar A.S.
 
 
                                   Dari daerah pembuangan
 
 
Waktu itu tahun 1947. Kapal yang akan membawa mereka ke Priok telah meninggalkan pelabuhan Merauke di belakang. Gindo berdiri di terali memandang air yang berbuih di sisi kapal. Sesekali ia memandang ke depan, sesekali ke daratan Irian yang ditinggalkannya. Kemerdekaan !  Kebebasan !  Gindo menggumamnya di bibir dan mencoba meneliti ke dua perkataan itu secermat-cermatnya, apa yang tersembunyi di depan dan di belakang. Di depan berarti kegembiraan, bahwa cita-cita sebagian sudah tercapai, karena kemerdekaan adalah jembatan, landasan untuk mencapai masarakat yang bebas dari penindasan dan penghisapan. Di belakangnya bisa macam-macam. Kepahitan perjuangan, siksaan, pengorbanan, kesetiaan sekaligus pengkhianatan. Semua jelas tergambar di depan matanya, adegan per adegan seperti dalam sebuah film.
Di mulai tahun 1927. Pemberontakan kaum Komunis di Sumatera Barat. Setelah pemberontakan gagal banyak kader-kader Partai dan rakyat biasa yang ditangkapi dan disiksa. Yang sempat meloloskan diri ke Malaya, tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan yang tinggal. Tapi isteri-isteri  yang suaminya sempat meloloskan diri  disiksa agar menunjukkan di mana suaminya berada. Beberapa orang perempuan dikumpulkan dan rambut mereka disimpul-ikatkan menjadi satu, kemudian dihela-hela ke berbagai jurusan. Gindo sendiri menyaksikan perbuatan biadab itu dan mendengar jerit raung mereka.
 
PKI sebagai partai yang selalu bersama Rakyat dalam suka dan duka secara tak langsung dituntut Rakyat untuk memberikan pertanggungjawabannya. Comite Partai segera bersidang dan memutuskan Gindo harus melaporkan diri kepada Belanda dan mengoper seluruh tanggungjawab pemberontakan di tangannya.
Dan Gindo bersama ratusan kawan lainnya dibuang ke Tanah Merah, kemudian dipindahkan ke Tanah Tinggi, tempat yang sesuai dengan namanya memang lebih tinggi “tingkat”nya.
 
Merauke semakin menyayup dari pandangan. Gindo menghempaskan napasnya seperti ombak yang menghempaskan dirinya ke dinding kapal. Kawan lain juga sama. Semua memandang ke satu titik yang kabur, dengan pikiran mengawang dalam berbagai peristiwa sedih dan gembira.
Gindo teringat pada kawan-kawannya yang ditinggalkan atau duluan pergi. Yang mati dimakan malaria atau tbc, yang dipenggal dan digantung, mati atau hilang ketika melarikan diri. Yang berkhianat, lalu bunuh diri atau melacurkan diri pada Ratu dan kerajaan Belanda untuk mengharapkan pengampunan. Semua teerbayang dimata Gindo dan hanya kepada yang setialah ia menyampaikan salam setiakawan dan cintanya yang membakar.
 
Kawan Aliarcham, kawan dan sahabatku yang ku cinta, bisik Gindo sambil memandang elang laut yang menepis pucuk ombak. Padamulah ku sampaikan salamku yang akrab, rasa setiakawanku dan rasa cintaku yang membakar atas kesetiaanmu kepada Partai dan Rakyat. Aku dan kawan-kawan berjanji akan terus merambah jalan yang telah kau rintis. Dipandangnya elang laut yang memantai, seakan hendak menitipkan salam itu melaluinya.
 
Ada dua hal yang paling mengesankan Gindo tentang Aliarcham. Pertama kesetiaannya kepada Partai dan ke dua cintanya kepada kawan. Barangkali bisa ditambah, yaitu tentang kecerdasan otaknya.
Suara “dumdum” mesin kapal berirama datar, tetapi sesekali seperti sesak napas. Laut yang tidak begitu tenang, menggoyang-goyangkan kapal lebih dari biasa. Gindo mengambil balsem, menggosokkannya di kening dan di lehernya; setelah digosok ke lubang hidung sedikit, kemudian dihirup-hirupnya.
 
Di matanya  sekarang berdiri Kidam, si pengkhianat itu. Sejak mula kawan-kawan  sudah mencurigainya, walau belum menemukan bukti. Suatu hari mereka mengadakan suatu pertemuan untuk memasak rencana melarikan diri secara bergelombang. Belum apa-apa sudah digerebek polisi Belanda dan ketahuanlah bahwa ini perbuatan Kidam. Sejak ia ‘’berjasa’’  itu  penghidupan Kidam mulai berubah. Di pindoknya sekarang sudah ada beras putih, susu dan mentega. Dan ia sudah mengajukan permohonan ampun kepada Ratu Wilhelmina, berjanji akan berkelakuan ‘’baik’’,  sekarang maupun setelah diampuni. Benar juga lima tahun kemudian ia dipulangkan ke kampung halamannya kembali.
Hampir sama dengan Kidam, seorang kawan lainnya, Katik, diangkat jadi polisi setelah hasil penjilatannya kepada Belanda.  Gindo ingat jika polisi Katik ini berjumpa dengannya atau kawan lain, selalu ia menunduk.
Gindo memandang suatu titik yang jauh sekali di laut yang tanpa batas itu. Horizon jauh dipandangnya itu sekali naik sekali turun, kadang-kadang miring ke kiri atau ke kanan. Titik itu makin lama makin besar, kemudian menyata :  sebuah kapal.
 
Jika Gindo ingat Basir, ia bisa tertawa terbahak-bahak. Dia seorang yang periang, banyak humornya dalam masa yang paling pahit pun.  Sudah berkali-kali ia melarikan diri, tapi selalu gagal, tertangkap atau pulang kembali setelah tersesat. Suatu kali ia lari lagi dan dapat ditangkap, kemudian disekap. Kepada Gindo dan kawan-kawan ia berkata :
            “Lepas dari ini aku akan lari lagi.”   Dan ternyata benar. Ia lari lagi bersama seorang kawan. Tapi beberapa hari kemudian, seorang kepala suku di rimba Irian membawa dua pasang telinga kepada pembesar Belanda setempat: kedua kawan itu sudah dibunuh mati. Kepala suku itu cuma dihadiahi empat bilah belati. Pembunuhan cara demikian memang diorganisasi Belanda.
Biadab,  desis Gindo tak dapat menahan kemarahan hatinya kepada cara-cara busuk Belanda itu. Keterbelakangan penduduk, terutama nafsu kepala suku digunakannya untuk mengadudomba sesama bangsa. Padahal penduduk itu sendiri baik-baik. Ia ingat pengalamannya di Tanah Tinggi.
Sudah lama terpikir Belanda, bagaimana caranya supaya orang-orag buangan di Tanah Tinggi dan tempat-tempat lainnya dapat ‘’diinsafkan’’.  Dengan janji-janji yang muluk, tidak banyak berhasil, apalagi dengan membujuk-bujuk. Tidak ada jalan lain kecuali dengan jalan paksaan halus atau kasar dan licik. Jalan satu-satunya yang dianggap Belanda  paling efisien, yalah dengan jalan teror dengan memakai tangan ke dua. Dalam hal ini Belanda memakai kepala suku setempat, membujuknya dengan berbagai janji manis supaya suka megadakan penyerangan-penyerangan terhadap perkampungan orang buangan. Dengan jalan demikian Belanda mengharap agar orang buangan karena tak tahan meminta ampun, yang sekaligus berarti berbuat “baik”  atau melarikan diri yang berarti juga mati.
 
Demikianlah ada seorang kepala suku Mapia, dapat dibujuk Belanda untuk menyerang Tanah Tinggi. Tentu saja dengan segala macam janji. Nama kepala suku itu Manop. Pada suatu hari Manop dan puluhan anak buahnya mengadakan pengepungan.  Tiga orang anak buahnya masuk ke kampung mengadakan penyelidikan. Gindo yang sudah lama memikirkan untuk dapat berbaik dengan mereka, memanggil ketiga-tiganya dan mengajak mereka bicara, memperlihatkan mata pancing dan tembakau. Kemudian Gindo menghadiahi mereka  ke dua jenis barang itu.
Betul juga seperti perkiraan Gindo, Manop  kepala suku itu datang besoknya menemui Gindo bersama puluhan anak buahnya. Gindo sudah menyediakan setumpuk mata pancing dan setumpuk besar tembakau yang keras. Manop dipersilakan masuk ke rumah yang melihat ke dua jenis barang itu dengan mata yang bersinar.
            “Manop dan Bapak bersaudara”,  – kata Manop dengan matanya yang berkaca-kaca karena linangan airmata. Dia kemudian memegangi jari-jari Gindo, dilipatkannya, dikepitkannya ke jarinya sendiri, kemudian disentakkannya:  bersalaman menurut suku Mapia, salam persaudaraan.
Lalu saling memberi ciuman delapan kali di pipi kiri dan delapan kali di sebelah kanan. Inilah persaudaraan yang paling akrab yang berarti persaudaraan kandung, tidak ada yang bisa memisahkannya.
            “Benar Manop, kita bersaudara, kita satu bangsa yang dijajah bangsa asing. Kita harus bersatu untuk mengusir mereka”  – Gindo menjabat tangan Manop erat dan sekali lagi mereka berpelukan.
 
Sejak itu mereka bersahabat, sering Manop mendatangi Gindo dengan tak lupa membawa oleh-oleh seperti pisang, ayam dan lain-lain. Dan sejak itu pula sering patroli-patroli Belanda mendapat serangan.
 
Warna merah berenang di pemukaan laut, ketika matahari yang telanjang mencelupkan kakinya ke laut sebelah barat. Segera sesudah ia menyelam ke dasar laut, hitam pekat yang tertinggal di permukaan. Giondo menaikkan kerah bajunya, ketika angin dingin meraba tengkuknya. Seorang kawan mengajak Gindo makan, tetapi ditolaknya.
 
Ketika Jepang memulai aksi agresinya, Irian tidak luput dari sasaran. Tetapi yang disasar Jepang bukan perkampungan orang buangan seperti yang diharap Belanda, sebaliknya kompleks perumahan Belanda dan pegawai-pegawainya. Hal ini menimbulkan anggapan bagi Belanda, bahwa maksud Jepang hendak mempergunakan orang buangan sebagai pembantu-pembantu mereka dalam melawan Belanda kelak. Oleh karena itu, cepat-cepat mereka menyingkirkan orang buangan ke Australia dengan berbagai cara. Dengan kapal laut, bahkan juga dengan kapal terbang.
Tetapi berbeda dengan yang lain, kaum buangan Tanah Tinggi diangkut dengan kapal kecil ukuran limapuluh ton. Maksud mereka jika kapal itu ditenggelamkan Jepang, – dan ini yang diharap Belanda-, Belanda tidak akan begitu besar dirugikan.
Penghuni kapal itu berjumlah delapanpuluhlima orang dengan perincian, empatpuluh orang buangan, tigapuluh pengawal dan limabelas orang awak kapal. Semuanya orang Indonesia, kecuali seorang Belanda-Indo. Jadi jelas betul maksud Belanda.
Semua penghuni pada ketakutan, terutama sekali pengawal dan awak kapal. Mendengar nama “Jepang” saja  sudah cukup membuat mereka mati. Karena memang jarang kapal yang bisa selamat dari pesawat udara Jepang.  Tapi kaum buangan, yang sebagian besar orang-orang Komunis itu bisa mengendalikan diri  dan percaya pada diri sendiri, percaya pada perhitungan akal yang sehat.
 
Baru saja berangkat sudah diserang badai dan kapal terombang-ambing; tenggelam, seakan-akan  betul-betul tenggelam, kemudian timbul lagi di puncak gelombang. Hari ke dua pesawat Jepang muncul dan mengadakan bombardemen, sedang penangkis udara tak berbuat apa-apa, karena penembaknya ciut ketakutan. Dalam keadaan yang kalut itu, tak ada jalan lain, selain Gindo mengambilalih pimpinan dengan persetujuan kawan-kawan dan ternayata seluruh  penghuni kapal menyetujuinya. 
Pertama-tama Gindo meminta kepada semua penghuni kapal yang sudah disatukan oleh persamaan nasib itu, agar demi keselamatan bersama harus percaya dan patuh pada pimpinan, dan bersama-melawan serangan Jepang  sedaya mungkin.
Untuk menghindari serangan-serangan selanjutnya, kapal hanya berlayar pada malam hari, itu pun tidak boleh terlalu kencang, agar air di haluan tidak tersibak supaya jangan nampak sibakan air yang putih itu dari udara. Siangnya sembunyi di pulau-pulau karang. Penembak penangkis udara pun dimutasi dan diganti dengan orang buangan yang berani setelah mempelajari sebentar cara mempergunakannya.
 
Bigitulah mereka berlayar dari pulau ke pulau, siang istirahat, malam kerja keras. Di suatu pulau mereka menemui mayat-mayat yang terapung-apung dan tersangkut di karang-karang.
Rupanya akibat pemboman Jepang atau sebaliknya, karena mayat-mayatnya itu jelas terdiri dari berbagai bangsa :  Indonesia, kulitputih, Jepang, India dan lain-lain.
 
Tetapi, enam hari berlayar, mereka mendapat serangan lagi dari pesawat-pesawat Jepang. Semua penghuni dikerahkan, diberi senjata sepucuk seorang, disuruh tidur telentang di geladak dan menghadapkan senjatanya masing-masing ke udara. Penangkis udara juga siap sedia. Tinggal tunggu komando saja. Ketika pesawat Jepang itu menyambar, segala macam senjata api dari berbagai jenis menyembur menuju pesawat. Ternyata bolong-bolong juga  badan pesawat itu, walau tidak diketahui di mana jatuhnya.
 
Setelah berlayar tujuh hari tujuh malam, biasanya cuma tiga hari tiga malam, tiba lah mereka di Queensland dengan selamat. Di luar dugaan, awak kapal yang disokong pula oleh pengawal mengadakan pesta yang meriah. Mereka berterimakasih kepada pimpinan orang-orang buangan dan mengatakan kalau tidak mereka tak yakin akan selamat. Letnan Indo itu, komandan pasukan pengawal dengan terharu memeluk Gindo, kemudian mengatakan bahwa walau pun ia tak setuju pada orang Komunis, tapi ia meghargai dan mengagumi pimpinan orang Komunis. Satu hal yang pasti, katanya, ia betul-betul sakit hati kepada pimpinannya yang mempunyai niat begitu busuk, tapi ternyata yang benar selalu menang.
 
            “Satu kali Indonesia yang jaya seperti yang saudara cita-citakan  akan tercapai,”  – ia menambahkan terbata-bata seakan ia segan mengemukakannya.
 
Segera sesudah itu, mereka ditimbang-terimakan kepada tentara Australia. Sikap tentara Australia sungguh menggeramkan. Mereka siap dengan senjata yang siap untuk ditembakkan dengan sangkur yang terhunus, seakan-akan Gindo dan kawan-kawan  dapat bersilat dengan peluru. Tiap gerik orang-orang buangan diperhatikan dengan curiga.
 
            “Kalian datang dari mana ?”  – tanya seorang perwira.
            “Tanah Tinggi, Irian.”
            “Orang buas ya. Suka membunuh dan memenggal.”
            “Ya, kami memang buas, suka membunuh. Tapi terhadap perampas-perampas tanahair kami.”
            “Maksud kamu ?”
            “Tuan pernah dengan pemberontakan 1926/27 di Indonesia ?”   Wajah  perwira itu berubah dan memandang Gindo seakan tidak percaya.
            ´´Pemberontakan Komunis, maksud tuan ?´´
 
Ketika Gindo membenarkan, setelah melihat keliling dia cepat-cepat menyalami dan meminta maaf karena mereka mendapat keterangan sebelumnya bahwa yang akan datang dari Irian adalah orang-orang buas, penjahat, pembunuh dan maling-maling besar. Segera pula sikap hampir seluruh serdadu berubah.
 
            “Akan kami laporkan kepada Comite, bahwa kawan-kawan dari Indonesia berada di sini.”
 
Besoknya utusan dari Comite datang yang menyampaikan pernyataan menyesal atas kejadian kemarin dan sekaligus menyampaikan kiriman-kiriman setiakawan dari kawan-kawan  Australia dan orang-orang progresif lainnya. Sejak waktu itu banyak datang kiriman-kiriman, juga dokter dikirim mereka………
 
Gindo masih berdiri di terali. Langit yang gelap hanya diterangi oleh bintang-bintang. Kapal terus bergerak dengan suara “dumdum”nya, yang menyatu dengan kecipak air di haluan. Gindo memandang jauh ke depan di mana terbentang laut tak berbatas seperti menantang padanya.
            “Tugas masih banyak,”   bisiknya kepada dirinya sendiri.
Kampung halaman pun berlabuh di hati……….
 
 
( Bahan dari Mangkudun Sati dan  Sosro ).
Chalik Hamid <chalik.hamid@yahoo.co.id>,in: Gelora 45 <GELORA45@yahoogroups.com>, Sunday, 13 November 2011, 13:43

Asal Mula Bakpao

Asal Mula Bakpao

 

K.Djie <k.djie2@kpnmail.nl>,in: GELORA45@yahoogroups.com
 Friday, 11 November 2011 3:49 PM

http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/bakpao.jpg

Bakpao (Hanzi: 肉包, hanyu pinyin: roubao) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia.

Bakpao sendiri berarti harfiah adalah baozi yang berisi daging. Baozi sendiri dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, serikaya manis, selai kacang kedelai, kacang azuki, kacang hijau,dan sebagainya, sesuai selera. Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan kehpao.

Kulit bakpao dibuat dari adonan tepung terigu yang setelah diberikan isian, lalu dikukus sampai mengembang dan matang. Pao itu berati “bungkusan”, Bakpao berarti “Bungkusan-bak” , bak itu artinya daging.

Untuk membedakan bakpao tanpa daging (vegetarian) dari bakpao berdaging biasanya di atas bakpao diberi titikan warna.

Sejarah/Legenda Bakpao

Sejarah Bakpao sendiri berasal dari salah satu bagian kecil dari roman terbaik sepanjang masa, Sānguó Yǎnyì. Zhuge Liang (181 – 234) adalah salah satu ahli strategis terbaik China, juga sebagai perdana menteri, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao.

http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/zhuge-liang.jpg

Cerita ini berawal pada zaman tiga negara (sam kok) ketika terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok, perdana menteri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, terkenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’ – Suku selatan itu disebut juga ‘Nanman’ atau ‘orang barbar dari selatan’. Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo.

Tak lama setelah Liang sampai di daerah selatan itu, Liang sudah mengalahkan Meng Huo 7 kali dan membebaskan 7 kali juga, dimana pada saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu, Wei).

Setiap kali membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jenderal-jenderalnya: “ Kenapa dia dibebaskan ? Bagaimana jika dia memberontak lagi? ”, Liang dengan tenang menjawab: “ Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tanganku dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya ”

Zhuge Liang tahu jika Meng Huo ditangkap dan dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya dan memberontak ke Shu, karena itu dia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya dan Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu.

Pada peperangan yang terakhir, yang ketujuh kalinya, Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Dilembah itu Liang menaruh kereta pengangkut makanan. Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu.

Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo.

Kemenangan ini tidak membuat Liang senang, ia hanya agak menyesali: “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Langit(Tian/Tuhan); semoga Langit berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.” Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang.

Ketika Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: “ Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali ”. Mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “ Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan! Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! ” Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu.

Ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sungai besar. Di sungai itu Liang tertahan karena selalu saja ada gelombang besar dan badai ketika pasukan Shu akan menyeberang. Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus melemparkan 50 kepala manusia untuk persembahan kepada roh sungai ”

Karena Liang tidak mau membuat pertumpahan darah lagi, ia membuat kue yang menyerupai kepala manusia: bulat namun rata didasarnya, dan kue ini disebut bakpao (baozi).

http://cdn.beritaunik.net/wp-content/uploads/2011/11/bakpao1.jpg

Sekarang, meskipun banyak yang tidak mengetahui asal usulnya, bakpao telah populer di seluruh dunia sebagai salah satu makanan tradisional Cina. Posisi bakpao bahkan sanggup menggantikan nasi seperti yang terlihat pada film Shaolin.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers