Archive for the ‘Sastra’ Category

Peru’s Vargas Llosa Wins Nobel Literature Prize

 

Kevin Billinghurst | Stockholm 07 October 2010

VOA.News
Mario Vargas Llosa (File Photo)

Photo: AP

Mario Vargas Llosa (File Photo)

The 2010 Nobel Prize in Literature has been awarded to the Peruvian novelist, journalist and politician Mario Vargas Llosa, a dark horse candidate who is equally well-known for his forays into politics.Mario Vargas Llosa received little attention in the speculation that preceded Thursday’s announcement, when predictions focused on writers from South Korea, Kenya and the United States. And the award will do little to diminish the prize-awarding Swedish Academy’s reputation for selecting overtly political writers.

The Academy’s citation honors the 74-year-old author for what it called “his cartography of structures of power and his trenchant images of the individual’s resistance, revolt and defeat.”

Vargas Llosa first became a literary sensation in the 1960s. The Time of the Hero, his semi-autobiographical first novel published in 1963, is set among cadets in a Lima military academy. He was just past his thirtieth birthday when he wrote his tour de force Conversation in the Cathedral, in which the protagonist investigates his father’s involvement in the killing of an infamous Peruvian gangster, learning in the process how the country’s dictatorship maintains its hold on power.

A prolific writer who defies easy categorization, Vargas Llosa’s novels include historical works, political thrillers and even comedies and murder mysteries.

Immediately after announcing the award, Peter Englund, secretary of the Swedish academy praised Vargas Llosa’s power and range as a novelist.

“He’s a storyteller, basically a narrator. But what a storyteller. His books have a very complex structure, with shifting points of perspective and shifting time levels,” he said. “There’s much dialogue, but where the dialogue sort of fades in and fades out, criss-crossing several different time planes. He is a very versatile author, producing not just these great big books about Latin America and its dilemmas, but he has written in practically every genre there is.”

Like his former friend and now fellow Nobel Prize laureate, Gabriel Garcia Marquez, who he reportedly punched in 1976 for reasons neither man has ever revealed, Vargas Llosa is actively political. He was initially a supporter of the Cuban revolution led by Fidel Castro, but became disenchanted with communism and in 1990 ran for the Peruvian presidency as head of the center-right Frente Democrático coalition.

Formal Nobel award ceremonies will be held in Stockholm and Oslo, Norway on December 10, the anniversary of the 1896 death of Alfred Nobel, the founder of the prizes. The winner of the Nobel Peace Prize will be announced Friday in Oslo.

Kevin Billinghurst | Stockholm 07 October 2010

VOA.News
Mario Vargas Llosa (File Photo)

Photo: AP

Mario Vargas Llosa (File Photo)

The 2010 Nobel Prize in Literature has been awarded to the Peruvian novelist, journalist and politician Mario Vargas Llosa, a dark horse candidate who is equally well-known for his forays into politics.Mario Vargas Llosa received little attention in the speculation that preceded Thursday’s announcement, when predictions focused on writers from South Korea, Kenya and the United States. And the award will do little to diminish the prize-awarding Swedish Academy’s reputation for selecting overtly political writers.

The Academy’s citation honors the 74-year-old author for what it called “his cartography of structures of power and his trenchant images of the individual’s resistance, revolt and defeat.”

Vargas Llosa first became a literary sensation in the 1960s. The Time of the Hero, his semi-autobiographical first novel published in 1963, is set among cadets in a Lima military academy. He was just past his thirtieth birthday when he wrote his tour de force Conversation in the Cathedral, in which the protagonist investigates his father’s involvement in the killing of an infamous Peruvian gangster, learning in the process how the country’s dictatorship maintains its hold on power.

A prolific writer who defies easy categorization, Vargas Llosa’s novels include historical works, political thrillers and even comedies and murder mysteries.

Immediately after announcing the award, Peter Englund, secretary of the Swedish academy praised Vargas Llosa’s power and range as a novelist.

“He’s a storyteller, basically a narrator. But what a storyteller. His books have a very complex structure, with shifting points of perspective and shifting time levels,” he said. “There’s much dialogue, but where the dialogue sort of fades in and fades out, criss-crossing several different time planes. He is a very versatile author, producing not just these great big books about Latin America and its dilemmas, but he has written in practically every genre there is.”

Like his former friend and now fellow Nobel Prize laureate, Gabriel Garcia Marquez, who he reportedly punched in 1976 for reasons neither man has ever revealed, Vargas Llosa is actively political. He was initially a supporter of the Cuban revolution led by Fidel Castro, but became disenchanted with communism and in 1990 ran for the Peruvian presidency as head of the center-right Frente Democrático coalition.

Formal Nobel award ceremonies will be held in Stockholm and Oslo, Norway on December 10, the anniversary of the 1896 death of Alfred Nobel, the founder of the prizes. The winner of the Nobel Peace Prize will be announced Friday in Oslo.

Menunggu Tan Malaka

Menunggu Tan Malaka
Internationale mengalun.

“Tolong, agak lirih, jangan terlalu keras.”

Goenawan Mohamad terjun menyutradarai sendiri karyanya. Lagu itu, lagu kebangsaan kaum komunis Rusia zaman Lenin, diperdengarkan sebagai ilustrasi. Sayup sayup.

Di depan Goenawan berdiri sebuah set yang sangat ekspresionis. Set yang mengingatkan kita pada era teater Rusia tahun 1920 an, setelah Revolusi Bolshevik. Saat itu kalangan teater Rusia giat membebaskan diri dari skenografi panggung konvensional. Mereka membentuk konstruksi konstruksi panggung sendiri di luar model auditorium, sebuah aliran yang kemudian terkenal dengan sebutan konstrukvisme.

Kita lihat, sebentuk dermaga memanjang, kemudian konstruksi kayu yang penuh undak undakan me-lingkar. Tangga itu bisa meng-asosiasikan bagian kapal atau pabrik. Tingkat tertingginya hampir mencapai 4 meter. Pintu masuknya banyak, bisa dari kolong, samping kanan kiri, atau belakang. Konstruksi ini nantinya akan dilengkapi dengan sebentuk sel yang bisa turun naik dari atas.

Sabtu dan Minggu pekan lalu, para aktor yang terlibat opera Tan Malaka terlihat menjajal panggung yang boleh dikatakan baru pertama kali disajikan dalam jagat seni pertunjukan kita itu. Opera ini sendiri dijadwalkan akan pentas tiga hari berturut turut, sekali-gus menutup rangkaian Festival Salihara Ketiga, 23 September hingga 20 Oktober 2010.

Opera kerja sama Goenawan dan Tony Prabowo ini melibatkan banyak seni-man. Dari musik akan tampil pa-duan suara Paragita Universitas Indonesia, dengan orkes pengiring yang beberapa pemainnya anggota Pitoelas Big Band, pianis Adelaide Simbolon, serta dua soprano, Binu D. Sukaman dan Nyak Ina Raseuki (Ubiet). Cecil Mariani akan menghadirkan montase multimedia: film, teks dalam dua layar besar. Dari keaktoran, yang menjadi dua narator adalah Adi Kurdi (Bengkel Teater) dan Whani Dharmawan (aktor teater Gandrik), serta sejumlah pemain Teater Ghanta dan Teater Ciliwung. Penari Fitri Setya-ningsih pun akan terlibat mengkoreografi beberapa adegan.

Malam itu, anak anak -Teater Ghanta dan Teater Ciliwung hilir mudik di konstruksi kayu itu, membawakan alegori adegan pengungsian, pertempuran, bendera merah dikibar kibarkan. Adi Kurdi dan Whani Dharmawan berjalan naik turun trap. Dua soprano Binu D. Sukaman dan Ubiet mencoba posisi posisi tangga tempat mereka harus menyanyi. “Saya takut terpeleset,” kata Binu Sukarman tertawa, yang menapak di ketinggian empat meter.

Goenawan mencermati agar aliran adegan di tangga bisa terlihat dinamis dan tak terjadi perulangan. Adi Kurdi, yang sudah tampak mulai hafal naskah, mulanya tampak hati hati saat naik tangga, tapi kemudian terlihat bisa luwes. Suara dan ekspresi mukanya terlihat kontemplatif saat menampilkan adegan yang memaparkan perbedaan karakter Tan dan Soekarno.

“Aku berbeda dari Soekarno karena kapalku dibela ombak dan angin, sedang kapalnya ditarik sekunar Jepang. Soekarno hidup di panggung tentara pendudukan, sedang aku hidup dekat lumpur dan puing sampah dan lorong rendah.”

“Saya kira, dengan itu ia ingin mengatakan. Soekarno adalah burung merak, dan Tan Malaka seekor berang berang. Ia bersembunyi di lubang yang dibikinnya sendiri.”

Goenawan juga terlihat sangat mengawasi intonasi dan artikulasi aktor, saat anak anak Teater Ghanta dan Ciliwung sampai adegan yang mengharuskan mereka berucap:

“Hai! Hai! Tan Malaka ditemukan. Ia ditembak mati.

Goenawan berulang kali membenarkan intonasi mereka:

“Tolong, jangan terlalu berteriak, pengucapannya jangan seperti di televisi.”

l l l
Pada 5 November sepuluh tahun silam, gagasan opera esai Tan Malaka lahir. Tony Prabowo masih mengingat, hari itu ia menawarkan konsep opera esai kepada Goenawan. Tony menilai opera ini bisa lebih ekspresif ketimbang opera klasik yang semuanya serba di-nyanyikan. “Opera esai memang keluar dari pakem, lebih bebas,” kata Tony.

Goenawan, yang menilai emosi tak harus dituangkan dengan menyanyi, setuju. Ia memilih tokoh komunis Tan Malaka sebagai ide sentral naskah. Meski tak mengagumi sosoknya, Goenawan menilai Tan penting dalam sejarah Indonesia. Sayang, opera esai tak segera terwujud lantaran Tony dan Goenawan memiliki kesibukan masing masing.

Pada Oktober 2009 skenario tiga babak Tan Malaka diterbitkan. Dalam skenario itu Goenawan ternyata justru tak menghadirkan sosok Tan sama sekali. Menurut Goenawan, musababnya sederhana, ia tak mengenal Tan secara pribadi. Selain itu, kisah hidup Tan seperti dongeng, serba tak jelas bahkan sampai kematiannya.

Yang disajikan Goenawan adalah esai yang berbicara tentang sejarah, revolusi, dan Tan. Tak ada dialog. Hanya ada satu narator dan satu tokoh, serta dua penyanyi aria. “Opera ini bisa disebut minimalis, tapi opera ini menjadi penegasan satu segi penting riwayat Tan Malaka: ketidakhadirannya,” kata Goenawan.

Adi Kurdi, yang menjadi narator, menilai kata kata dalam naskah sangat khas Goenawan, seperti yang sering muncul dalam kolom Catatan Pinggir di majalah ini. Dan, tak mudah mengikutinya.

Opera ini, kata Adi, memiliki kesulitan khusus: menyampaikan gagasan Goenawan. Terutama gagasan kehadiran Tan yang justru tak ditampilkan dalam bentuk tokoh. Opera ini berbeda dengan akting drama yang sering dijalani Adi, yang pe-nokohannya selalu jelas dan melibatkan emosi. “Prinsip akting adalah meyakinkan orang lain melalui perasaan, ta-pi sekarang saya meyakinkan orang lain melalui pikiran seorang Goenawan,” katanya.

Akan halnya komposisi dirampungkan Tony dengan penuh per-juangan. Kesibuk-annya di Teater Salihara selama ini mengakibatkan selama bertahun tahun, untuk keperluan opera Tan Malaka ini, ia baru bisa menyelesaikan hanya 30 lembaran partitur. Barulah tahun ini Tony bisa berkonsentrasi penuh. Ia cuti tiga bulan dan menghabiskan 10 hingga 12 jam tiap hari, berkutat dengan partitur. Hasilnya, 303 halaman komposisi untuk pementasan berdurasi sekitar satu jam.

Tony mengaku ada perbedaan komposisi Tan Malaka dibanding karya yang dihasilkannya untuk opera Kali dan The King’s Witch. Kali ini Tony terinspirasi oleh komposer Belanda, Louis Andriessen, dan gaya musik Jerman tahun 1950 an. Tony yang juga dipengaruhi progressive rock-yang dide-ngarnya setiap hari-memasukkan motif jazz, repetisi, konsep minimalis, dalam irama yang tak terlalu kompleks. Tak melulu nyanyian, Tony juga memberikan ruang bagi dua soprano menye-lingi dengan ucapan kata kata asing.

Berbeda dari biasanya, kali ini Tony memilih sejumlah musisi dalam negeri untuk mengekspresikan komposisinya. Beberapa musisi seperti Eric Awuy dan Adelaide Simbolon juga bakal mengisi bangku orkes. Juga unsur brass akan kuat. “Ini pertama kalinya nanti unsur brass akan kuat dalam karya saya,” kata Tony. Dan untuk menampilkan semua itu, Tony memilih konduktor Josefino Toledo asal Filipina. Konduktor ini yang akan memimpin paduan suara dan orkes.

Ubiet, yang menjadi soprano 2, juga menilai komposisi Tony agak berbeda dari sebelumnya. “Komposisinya lebih harmonis,” kata dosen etnomusikologi di Institut Kesenian Jakarta ini. Tapi komposisi baru ini tak menghilangkan gaya khas Tony: musik yang atonal atau tak memiliki nada dasar.

Dengan segala gagasannya yang cerdas, Tan Malaka jelas bukan pertunjukan biasa. Wajar jika tiket dijual sampai Rp 500 ribu untuk pertunjukan perdana. Tapi, bagi Tony dan Goenawan, Tan Malaka bukan proyek komersial. “Semua yang di Salihara proyek idealis,” kata Goenawan.

l l l
Nama itu menjebakmu,
seperti sel sempit
dari mana kau ingin lari.

Mungkin ia bukan nama itu
dan Tan Malaka
hanya bunyi
yang menandai
yang tak ada.

Pramono, Seno Joko Suyono

LONTAR’S MEWS LETTER

Jakarta, September 2010
Dear Mr. Kusni Sulang,
Late September was marked by the official launch of Menagerie 7 (and it complementary Indonesian-language edition, Di Balik Kaca) which was held on Sunday, September 26, at the Goethe Instituut in Jakarta. As was noted in my letter of June of this year, Menagerie 7 is the world’s first collection of Indonesian gay literature in English. The book’s stories show that, as a group, lesbians, gay men, bisexuals and transgendered persons do not simply accept their marginalized position in Indonesian society. Many among them fight to make sure that their inalienable rights are not trampled upon.
Early October will be marked by the release of another Lontar book dealing with the aspirations of marginalized citizens: Invisible People: Poverty and Empowerment in Indonesia (and its Indonesian language companion edition, Mereka Yang Tak Terlihat: Kemiskinan dan Pemberdayaan di Indonesia).
This large format book (198 pages; 29 x 23 cm), authored by Irfan Kortschak and with more than 100 black and white photos by Poriaman Sitanggang, is being released by Lontar under its Godown imprint. The book contains personal stories of 51 poor Indonesians from marginalized and excluded groups. To be launched by the Indonesian Minister of People’s Welfare on October 6 at Jakarta’s National Museum, the book tells the stories of those who are excluded from participating fully in community life because of their gender, physical impairments, ethnic backgrounds, geographic location, economic situation, political ideas, or lifestyles and life choices. These people include paraplegics, sex workers, rural workers in isolated communities, transsexuals, single women household heads, pirate fishing people from the semi-nomadic, sea-dwelling Bajau ethnic group, and people dealing with HIV and the effects of leprosy, amongst other impairments and challenges. In their own words, these people describe the challenges that poverty and exclusion creates and how they strive to overcome them, often by working together with others facing similar challenges.
Some stories describe successful grass roots initiatives; others describe the isolation of those who have failed to find a community of their own. For example, Santi from Ambon suffered severe scarring and disfiguration when her husband poured kerosene over her and set her on fire. In the book, Santi tells of the apathetic response to her medical needs and the lack of condemnation for her husband in a community where domestic violence is accepted.
The story of Andi Amin Reffi living with leprosy related disabilities in Makassar, South Sulawesi, tells of how he worked with those in the community also living with leprosy related disabilities to establish a self-care group. They come together to treat their wounds and support each other. The health of these members has improved and the number of amputations of limbs declined. Eventually, this group decided to establish a savings and loan facility to support the establishment of small businesses. As Andi Amin Reffi says, “Back in the village, people who have had leprosy wouldn’t be brave enough to show their faces in public. You can lead more of a normal life here. It’s a community.”
Invisible People teaches us how much there is to learn by looking closely at the values that live within Indonesian communities. For every tragic story of rejection there is another story of acceptance, for every case of shocking cruelty there is an act of kindness. The challenge for the country is not to preserve the village life like some ancient fossil, but to think through how the values of tolerance, openness, and inclusion that we see in the stories of Invisible People can better enter the national conversation about the just country that Indonesia can become.
Publication of Invisible People was made possible with funding from the PNPM Support Facility, which was established by the Indonesian Government as a means of facilitating the contributions of international donors that support the country’s National Program for Community Empowerment Mandiri (PNPM Mandiri).
Both Invisible People and Mereka Yang Tak Terlihat will be distributed freely to decision makers and development leaders around the country. Additional copies will be made available for sale at Lontar and select bookstores.
On a closing note, I would like to remind you to please renew your pledge to give to Lontar. To contribute to Lontar, just click here:
In closing, I am yours sincerely,
John McGlynn
This message was sent to meldiwa@yahoo.com.sg. If you do not wish to receive any further mailings from Lontar, please click here to unsubscribe.
The Lontar Foundation
Jl. Danau Laut Tawar No. 53, Pejompongan, Jakarta 10210 Indonesia
Tel:+62 21 574-6880 Email: john_mcglynn@lontar.org

From: John H. McGlynn <john_mcglynn@lontar.org>
To: Kusni Sulang
Sent: Wednesday, 29 September 2010 13:13:59
Subject: September 2010 Newsletter

“PASAR MALAM” DI TENGAH KOTA PARIS Menjelang PASAR MALAM ( PM )

ASAHAN:

Saya tiba di lapangan terbang Internasional Charles de Gaulle pada jam 10 pagi yang seharusnnya pada jam 9 karena pesawat berangkat terlambat. Alasannya ada pemogokan besar-besaran di Paris pada tanggal keberangkatan saya itu (23 September). Di terminal tidak tampak Iba yang seharusnya menjemput dan saya sempat panik tapi sebelumnya saya sudah bilang sama Iba: Ib, kalau kamu tidak datang menjemput, saya akan langsung pulang ke Belanda pada hari yang sama”. Dan sekarang Iba belum juga tampak. Saya coba menghubunginya dengan tilpon genggam tapi tidak berhasil dan rasa panik semakin meningkat. Untunglah setengah jam kemudian Iba tampak dan kamipun meninggalkan Bandara raksasa yang bisa membikin orang bingung karna hanya diperlengkapi dengan alat-alat elektronik moderen dan tak seorangpun yang bisa menjawab pertanyaan yang kita perlukan.
Di sini berlaku pepatah: “Bertanya kepada orang akan sesat di jalan, bertanyalah pada alat-alat elektronik”. Semua manusia telah menjadi robot dan tehnik telah menggantikan fungsi manusia. Jadi hanya untuk manusia cerdas tangkas dan tidak lagi sesuai dengan manusia setengah linglung seperti saya meskipun baru berusia 72 tahun.

Kebetulan hotel di mana saya diinapkan, terletak di sebuah jalan strategis, panjang dan lebar terbentang di tengah-tengah kota Paris. Sehabis makan siang di Restoran Indonesia di jalan Vaugirard yang dijamu oleh ketua Pasar Malan Johanna Lederer, saya duduk-duduk di bangku di pinggir jalan di dekat hotel menyaksikan demonstrasi besar rakyat Paris menentang kibijakan Pemerintah Perancis yang akan menaikkan usia pensiun dari 62 ke 65 (di Belanda, dari 65 ke 67). Dua jam saya duduk di bangku dan haripun semakin petang, namun barisan demonstrasi tak juga habis-habisnya dan lautan manusia di tengah jalan kota Paris berbaris ria sambil kadang-kadang meneriakkan slogan-slogan dan macam-macam aksi-aksi demonstrasi lainnya. Saya pulang ke hotel dan masih beberapa jam kemudian saya masih mendengar suara riuh para demonstran. Saya duga, paling tidak, tentu ada ratusa ribu peserta aktif demonstrasi. Kesan singkat saya, semangat revolusioner kaum buruh dan rakyat Perancis masih tetap menyala dan memberikan inspirasi.

PASAR MALAM 24 september 2010.

Dari bisik-bisik di luar (dalam gedung) ada yang mengatakan bahwa PM ini arogan karena menyewa lokasi yang dianggap mewah ( Maison de l’Asie, 22 Avenu du President Wilson- Paris). Sedangkan harga karcis masuk adalah:
Untuk anggota PM: 17 euro
Bukan anggota: 22 euro
Mahasiswa / peneliti: 15 euro

Tapi pada PASAR MALAM yang diadakan pada tahun 2006 yang juga saya hadiri (sebagai undangan) , lokasinya di Gedung Senat Perancis yang jauh lebih mewah. Tapi ketika itu saya hanya sebagai undangan penonton yang tidak turut membacakan makalah. Tahun ini saya dan juga Chalik Hamid diundang PM untuk membacakan makalah yang semuanya ditanggung PM dari mulai penginapan di hotel hingga makan minum serta antar jemput dengan kendaraan. Sayangnya bung Chalik Hamid, menjelang keberangkatan ke Paris secara mendadak mendapat kecerlakaan lalu lintas di Amsterdam hingga dia tidak bisa berangkat ke Paris karena kakinya cedra dan yang dari Amsterdam hanya saya yang berangkat.

Yang saya rasakan istimewa pada acara PM sekali ini, adalah bahwa yang diundang sebagai pembaca makalah adalah orang-orang dari berbagai kalangan yang langsung dari anggota(bekas) Lekra seperti Putu Oko Sukanta, Chalik Hamid dan yang bukan anggota Lekra seperti : Rhoma Dwi Aria Yuliantri, May Swan dan saya sendiri. Sedangkan Ibaruri Putri Alam, meskipun juga salah seorang pembaca makalah tapi dia orang dalam PM dan juga bukan anggota Lekra.

YANG HADIR

Menurut tafsiran berdasarkan penglihatan mata saya sendiri, yang hadir dalam ruangan tidak kurang dari 100 orang. Terdiri dari berbagai tingkat usia dari yang tua-tua, setengah baya, dan kaum muda dari berbagai etnis: Perancis (totok?), peranakan Indonesia asing dan yang lain-lainnya lagi. Yang paling menonjol dari semua yang hadir sebagai penonton maupun undangan adalah perhatian atau minat mereka yang begitu besar, begitu terkonsentrasi sejak awal hingga ahir acara, tertib tapi juga antusias mendengarkan semua pembacaan makalah, banyak bertanya dan hampir-hampir semuanya mengikuti acara hingga selesai dan bahkan masih banyak yang tampak ngobrol-ngobrol meskipun acara sudah selesai. Acara makan minum didatangkan dan disuplai dari “Restoran Indonesia”Paris dengan cita rasa yang sungguh nikmat dan beragam. Kesan saya, barangkali inilah sebuah sukses Pasar Malam kali ini: antusiasme dan minat yang besar dari pihak yang hadir, kelancaran acara, dan juga acara kesenian seperti tarian (Ken Dedes), pembacaan sajak-sajak dll semuanya berlangsung sukses. Juga penjualan buku-buku mendapat banyak perhatian dari yang hadir serta cukup banyak buku-buku yang terjual, terutama buku-buku karya Putu Oka Sukanta. Buku-buku saya sendiri tidak laku, namun saya tetap gembira dan antusias turut merasakan sukses teman-teman lain.

KESAN-KESAN PRIBADI SAYA.

Perhatian PASAR MALAM (PERANCIS) terhadap sastra Indonesia yang bukan sastra Pemerintah atau sastra KIRI, mulai besar dan cukup menggembirakan dan juga tanggapan dari publik Perancis cukup menggembirakan. Dalam pembicaraan bersahabat antara saya dengan Ketua Pasar Malam Johanna Lederer(orangnya ramah dan sangat intelektuil), saya mendapat kesan bahwa Ketua Pasar Malam dengan rasa tulus dan antusiasme memberikan perhatian pada perkembangan Kesusasteraan Indonesia KIRI khususnya dan Kebudayaan Indonesia pada umumnya. Kebetulan Johanna Lederer masih menguasi bahasa Belanda dan kami memilih bahasa Belanda untuk berkomunikasi karena saya lemah dalam bahasa Inggris dan Perancis dan kebetulan sangat nyambung.

Saya meninggalkan Paris kembali ke Belanda pada 26 september dengan rasa puas yang saya tempuh dengan pesawat terbang selama 50 menit. Rasa lelah baru terasa ketika sudah tiba di rumah. Saya kembali kedunia saya: setiap hari ke pasar untuk belanja dapur. Tiba di rumah masak, bersih-bersih dan melanjutkan hidup: sederhana dan apa adanya sambil menulis apa yang masih bisa dituliskan.
ASAHAN.

Sumber: ASAHAN
To: AKSARA SASTRA
Sent: Tuesday, September 28, 2010 2:02 PM
Subject: PASAR MALAM DI TENGAH KOTA PARIS

TENTANG PROSA

Tentang Prosa

Berikut admin sodorkan tulisan seorang ‘cerpenis besar’ Putu Wijaya berkenaan proses kreatifnya. I Gusti Ngurah Putu Wijaya (lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944; umur 66 tahun) adalah seorang sastrawan yang dikenal serba bisa. Ia adalah bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Putu Wijaya sudah menulis sekitar seribu cerpen. Dia punya dedikasi yang kuat terhadap genre sastra ini. Bahkan ia juga telah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga telah menulis skenario film dan sinetron.

Putu Wijaya,
04 Januari 2009

Ini tentang bagaimana saya menulis. Bukan tentang bagaimana seseorang sebaiknya, apalagi seharusnya menulis. Tidak mudah menulis bimbingan menulis yang umum, karena itu segera akan menjadi kiat yang kedaluwarsa.

Perkembangan dalam banyak hal sudah begitu cepat dan dahsyat. Manusia berubah dan sastra pun selalu menjadi baru. Bidang penulisan terus menemukan kiat-kiat terkini, meskipun yang lama tidak dengan sendirinya musnah.

Memang ada yang umum dan mungkin akan masih berlaku. Misalnya teknik menulis. Buku “Teknik Mengarang” yang ditulis oleh Muchtar Lubis sampai sekarang tetap saya anggap sebagai pedoman menulis yang terbaik.

Pertama sarannya untuk membuang dua atau tiga alenia pertama (bahkan mungkin lembar pertama) dari yang sudah kita tulis. Karena itu biasanya bagian-bagian emosional yang tak terkendali.

Kemudian anjurannya untuk pembukaan tulisan yang langsung menggedor dengan masalah. Di dalam buku itu diberi contoh bagaimana Anton Chekov, sudah menabur pertanyaan dalam kalimat pertama. Pembaca jadi penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi. Dan Chekov memang seorang master dalam “plot” yang selalu memberikan kejutan yang mempesona di akhir cerita.

Yang ketiga, Mochtar Lubis menyarankan untuk tidak berhenti menulis kalau sedang buntu. Kalau itu dilakukan, besar kemungkinan penulis tidak akan pernah kembali melanjutkan. Setiap hendak melanjutkan sudah langsung mumet melihat jalan buntu yang menunggunya.

Berhenti sebaiknya dilakukan justru saat sedang lancar dan berapi-api. Di samping membantu mengendapkan emosi, itu sercara psikologis akan menjaga semangat untuk meneruskan bekerja.

Unsur cerita secara umum juga masih berlaku, walau kehadirannya sudah teracak-acak. Bahkan ada yang sama sekali menjungkir-balik dan memperlakukan berbeda. Dulu cerita memerlukan tokoh, riwayat, alur dan penuturan. Sekarang cerita masih terpakai, tetapi diacak hancur dan tidak harus memakai unsur-unsur tadi.
Pernah keindahan bahasa menjadi tujuan utama. Mengarang jadi kehebohan memberi gincu , memoles dan memasang berbagai asesoris, sehingga yang mau disampaikan jadi berdandan keren. Bahasa Indonesia dalam masa Pujangga Baru, misalnya, seperti menari-nari melakukan gerak indah.

Tetapi kemudian digeser oleh Angkatan 45 yang ceplas-ceplos, kasar kadang cenderung kurang-ajar (Surabaya oleh Idrus), tapi terasa lebih menggigit dan konkrit. Kekenesan dan kegenitan pun ditinggal. Bahasa penulisan menjadi lebih dinamis, padat dan berdarah. Bahasa Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontany dan Mochtar Lubis membuat sastra Indonesia memasuki babak baru.

Mohtar Lubis adalah wartawan terkenal yang menulis dengan mempergunakan kiat dan pengalamannya sebagai wartawan. Bahasa pers yang dulu dianggap bahasa berita yang kering, menjadi lain ketika penulis “Jalan Tak Ada Ujung” ini memberinya muatan.

Tak pernah dipersoalkan sebagai cela lagi, kalau ada pengarang yang menulis fiksi dengan ketrampilan wartawan. Majalah TEMPO yang didirikan pada tahun 70-an bahkan kemudian menggabungkan bahasa sastra ke dalam pemberitaan, sehingga bukan hanya bahasa sastra berkembang, bahasa pers juga berubah, keduanya saling menghampiri.

Pernah tema besar menjadi primadona. Tulisan yang mengangkat tentang nasib manusia, perang, revolusi dan sebagainya menjadi tiket untuk dianggap sebagai karya bergengsi. Kita masih terus mengagumi War And Peace karya Tolstoy dan Dokter Zhivago Boris Pasternak dan Hamlet Shakespearre.

Tetapi cerita kemalangan seorang nelayan kecil dalam The Old Man and The Sea dari Hemingway pun dianggap luar biasa. Juga penantian Didi dan Gogo dalam Waiting for Godot karya Beckett dianggap sebagai sebuah fenomena, setelah pernah lama hanya ditoleh dengan sebelah mata karena seperti dagelan
Pada suatu siang (tahun 70-an) di kantor majalah TEMPO di bilangan Senen Raya, saya pernah bertanya pada Goenawan Mohamad. Apakah tema besar besar itu menentukan nilai sebuah karya. Artinya sebuah karya tulisan tidak akan pernah besar kalau temanya tidak besar. Pemimpin Redaksi Tempo yang juga salah seorang penyair dan eseis Indonesia kelas satu itu dengan tak ragu-ragu menjawab: “Tidak.”

Saat itu saya sedang menulis novel “Telegram” dan naskah drama “Aduh”. Keduanya tidak punya tema besar. Hanya tentang perasaan individu kecil yang gagap dan kebingungan menghadapi komplekasi kehidupan yang semakin jumpalitan.

Rasa kerdil bahkan nyaris “bersalah” (karena tidak seperti Pramudya Ananta Toer yang banyak bicara tentang revolusi) segera mendapat angin segar. Perlahan saya yakini, karya sastra jadinya bukan hanya “tentang apa”, tapi “bagaimana memaparkan apa itu”.

Menceritakan apa yang ada di sekitar, yang mudah diceritakan, karena kita menguasainya, tidak lagi terasa tercela. Lebih dari itu menceritakan dengan sepenuh keberadaan diri kita, dengan segala kelebihan dan terutama kekurangannya, juga bukan sesuatu yang tercela.

Dalam Telegram saya numpang bertanya lewat tokoh utamanya. “Apakah yang berhak bercerita itu hanya para pahlawan dengan tindakan-tindakan besarnya. Apa orang yang bodoh dan tidak tahu, tidak boleh ikut bicara membagikan pikiran-pikirannya?”

Dalam sebuah Telegram, tokoh utama mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya dalam bahasa Arab. Saya tertegun waktu itu. Apakah saya harus menunda tulisan itu sampai saya dapat menuliskan dalam bahasa Arab apa yang diucapkan oleh yang nelpon? Atau tak perlu menyembunyikan kekurangpengetahuan saya, karena seorang penulis tak harus orang yang serba tahu.

Saya mengambil resiko, tidak perlu menunggu. Saya tulis ucapan bahasa Arab itu dengan deretan huruf-huruf yang tidak bisa dibaca, karena bagi telinga pelaku cerita, dia tidak menangkap makna tapi hanya bunyi.
Dari proses itu saya belajar, menulis adalah “mengambil resiko” . Tanpa keberanian mengambil resiko hasilnya hanya akan menjadi rata-rata saja. Memenuhi persyaratan, tetapi tidak orisinal apalagi unik. Dua hal itulah kemudian yang selalu saya kejar dalam menulis.

Keberanian mengambil resiko tidak datang begitu saja. Pendidikan orang tua untuk menghormati desiplin membuat saya berwatak patuh. Tak berani melawan aturan. Itu membuat saya jadi penakut dan pengecut. Tetapi pengalaman keras di lapangan perlahan-lahan menyeret saya untuk belajar bersikap.

Pada tahun 60-an, saya menulis drama “Dalam Cahaya Bulan” di Yogya. Dalam drama itu ada yang tidak logis. Pelaku utamanya memberikan pengakuan yang menyalahi cerita. Pemain yang memainkan tokoh itu protes, mengatakan ucapan tokoh itu salah. Saya hampir saja tergoda.untuk mengoreksinya.

Tapi kemudian saya bertahan, karena ucapan tokoh tidak harus semuanya benar. Tokoh utama pun bisa saja tidak jujur. Dia hidup dan merdeka mengutarakan pikirannya, tak hanya menjadi corong dari penulis.
Mempertimbangkan pembaca dalam menulis selalu mendua. Bisa menjadi kelemahan, karena itu akan membatasi kebebasan. Tapi dalam keadaan tidak terlalu bebas, kreativitas akan tertantang, lalu kita terpacu meloncat seperti dalam lari gawang sehingga hasilnya bisa mengejutkan. Pada awalnya pembaca menjadi beban, tetapi kemudian ketika beban itu sudah terbiasa, menjadi hikmah.

Saya percaya setiap penulis adalah sebuah dunia mandiri yang menempuh jalannya sendiri. Ia memiliki banyak persamaan dengan orang lain, tetapi itu tidak penting. Yang menentukan adalah perbedaan-perbedaannya.
Keunikannyalah yang akan menjadikan produknya menonjol di tengah karya orang lain. Penulis bukan sebuah pabrik, meskipun produktif. Berbeda dengan kerajinan yang berulang-ulang dibuat, produk tulisan selalu berbeda karena ia menyangkut ekspressi..

Setiap penulis akan menyusun teorinya sendiri. Proses kreatif itu tidak untuk ditiru apalagi diberhalakan, meskipun boleh saja dicoba oleh orang lain. Pengalaman bekerja penulis lain, dapat jadi perimbangan yang mempercepat proses pembelajaran menulis. Tetapi bisa juga jadi bumerang kalau kemudian diterima sebagai sebuah idiologi.

Sastra punya potensi untuk menghibur, namun bukan hiburan. Novel, cerpen, puisi, esei dan sebagainya adalah kesaksian, perenungan, pemikiran dan pencarian-pencarian pribadi tetapi menjadi obyektif ketika berhasil menyangkut kebenaran banyak orang. Akibatnya sastra tidak bedanya dengan bidang yang lain, sastra adalah ilmu pengetahuan. Tak selamanya upaya pencarian sastra berhasil. tetapi setiap kegagalan adalah sebuah janji.

Karenanya “menulis” bukan sesuatu yang mudah. Tidak seperti yang dikatakan oleh Arswendo: Mengarang Itu Gampang, juga tidak sama dengan apa yang dikatakan dosen penulisan di UI, Ismail Marahimin, bahwa “mengarang itu fun”.

Mengarang – bagi saya – adalah sebuah peristiwa yang khusuk, sunyi, pedih, melelahkan, menyakitkan, membosankan. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, menulis menjadi sebuah peristiwa yang “menegangkan” tetapi indah dan sakral.

Menulis selalu menjadi sebuah pengembaraan baru yang membuat saya tertantang sehingga tak ada saat untuk tidak menyala. Meskipun saya tak pernah melihat nyala itu, tetapi dari apa yang dilakukan para penulis sebelumnya, jelas betapa jilatan pikiran mereka tetap mengibas ke masa-zaman yang akan datang hingga membuat kehadiran berarti.

Buat saya, menulis adalah menciptakan “teror mental”. Tetapi konsep itu akan saya tinggalkan setiap saat kalau ada kebenaran lain yang membuktikannya salah.

Di unduh dari :

http://putuwijaya.wordpress.com/

Catatan Seorang Anggota Lekra Tentang Beberapa Soal-Sastra-Seni Di Indonesia

MENOLEH KE BELAKANG MELIRIK  ESOK

PENDAHULUAN:     Menoleh ke belakang dari mana dan sebagai apa-siapa? Kemudian untuk apa? Inilah beberapa pertanyaan yang ingin saya bicarakan memenuhi permintaan Saudara Andi Makmur Makka dari Habibie Center, Jakarta, sambil mengucapkan terimakasih atas ajakan di majalah ini.     Pertanyaan ‘menoleh ke belakang dari mana’  tentu saja jawabannya akan sangat mudah yaitu dari hari ini, sebagai ruang dan waktu di mana saya hidup dan masih hidup, demi kehidupan di ruang dan waktu hari ini serta barangkali mempunyai manfaat untuk esok. Penolehan ke belakang melirik esok dari hari ini, saya lakukan atas dasar perhitungan bahwa tiga periode waktu dan ruang itu tidak bisa dipisahkan tapi saling kait mengait, sangkut-menyangkut, mempunyai saling hubungan yang dialektis. Masa silam mempengaruhi hari ini dan yang terjadi hari ini berdampak pada esok serta hari-hari dijelang. Barangkali oleh adanya hubungan dialektis demikian maka ilmu sejarah dan berbagai cabang ilmu-ilmu sosial lainnya sering memperlihatkan diri sebagai ajang perlagaan sengit berbagai kepentingan politik yang merupakan pencerminan terpusat berbagai kepentingan terutama kepentingan ekonomi. Netralitas ilmu-ilmu sosial akhirnya sangat nisbi dan sering mengecohkan orang sering dijajakan sebagai ujud netralitas ilmu atau yang dianggap sebagai ilmu. Demikian juga halnya dengan penelitian dan yang disebut penelitian. Sebagai contoh bagaimana sebuah universitas di Perancis telah meloloskan seorang mahasiswa dengan gelar doktor dengan tesisnya yang meragukan adanya kamar-kamar gas di mana orang-orang Yahudi telah dimasakre oleh Nazi Hitler. Tesis ini ditulis oleh seorang mahasiswa program doktor, anggota Front Nasional Perancis, yang berkecenderungan neo-nazi. Lepas dari adanya permasalahan dengan ide ‘pelurusan sejarah’, saya kira adanya ide ‘pelurusan sejarah’ ini pun juga menunjukkan betapa sejarah di negeri kita juga sudah menjadi ajang pergelutan kepentingan politik.     Menoleh ke belakang dalam usaha memanfaatkan pengalaman-pengalaman entah yang baik atau pun yang buruk akan menjadi bermanfaat jika dilakukan tanpa emosi dan tidak lagi dilakukan sebagai  partisan, setidak-tidaknya dilakukan secara maksimal untuk membebaskan diri dari ikatan seorang partisan. Sehingga dengan demikian sanggup mengatakan bahwa yang putih adalah  putih, hitam adalah hitam, tuntutan dasar bagi seorang sastrawan  sebagai pemikir bebas [free thinker], dan juga bagi mereka yang merasa diri sebagai ilmuwan sosial. Syarat melihat masa silam begini lebih terbantu oleh sudah adanya jarak dengan kejadi atau perisrtiwa atau katakanlah sebagai data. Hanya sayangnya, sampai sekarang, termasuk di dunia sastra, masih terdapat sikap prasangka sejarah, apriorisme yang anti ilmu, serta masih sukarela membelenggukan diri pada partisinisme yang merabunkan pandang sehingga untuk duduk semeja membicarakan masa lalu sebagai kenyataan untuk kepentingan hari ini saja masih tidak bisa padahal waktu sudah berlalu lebih dari tigawarsa. Yang remaja ti tahun 60-an, sekarang sudah berambut warna dua, mulai ompong, bongkok dan ringkih secara fisik. Wajah pun sudah penuh kerat-kerut yang  membuat saya teringat akan ayah almarhum yang mengatakan bahwa “tidak gampang menjadi dewasa”.  Atau barangkali setelah kita menjadi uzur, kita kembali menjadi kanak? Kanak yang bukan lagi didominasi nalar tapi emosi seperti dendam dan sejenisnya.     Keadaan inilah yang disebut oleh alm.Satyagrahara Hoerip sebagai “senda-gurau’’ dan almarhum menyerukan agar para sastrawan “berhentilah bergurau” yang kupahami agar para sastrawan bersikap serius dalam hal-hal yang serius dan tak layak dicandai.     Sebagai apa-siapa saya melihat masa silam? Periode mana yang saya maksudkan dengan masa silam itu sekarang?     Melihat masa silam dari hari ini, tentu saja saya lakukan sebagai anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra] yang dibubarkan oleh Orde Baru pada tahun 1965, pertama-tama adalah Lekra Yogyakarta. Di tahun-tahun itu saya menjadi orang pertama Lekra Kota Yogyakarta dan menjadi orang pertama Lembaga Sastra Indonesia Lekra Jawa Tengah. Setelah konfrensi nasional [konfernas]Lekra di Medan, saya dipilih oleh  konfernas sebagai sekretaris Lembaga Sastra Indonesia Pusat membantu Prof. Bakri Siregar yang dipilih sebagai Ketua. 1]. Pengurus Lembaga Sastra Pusat pilihan Konfernas Medan tidak sempat berfungsi karena terpotong oleh meletusnya Tragedi Nasional September ’65.   Saya memahami pemilihan saya sebagai sekretaris nasional Lembaga Sastra Indonesia Pusat oleh Konfernas Medan, terutama lebih disebabkan oleh politik etnik yang memang dianut oleh Lekra. Dalam usaha mengembangtumbuhkan gerakan kebudayaan rakyat di berbagai pulau dan etnik di tanahair, Lekra berusaha secara sadar mendorong pertumbuhan orang-orang daerah. Orang luar daerah dipilih sebagai orang pertama `jika memang orang daerah terkait belum dimiliki. Dan tugas kader luar daerah tidak lain menyiapkan pertumbuhan kader-kader setempat.   Dalam fungsi inilah saya melihat masa silam dari hari ini, dari Paris lagi, kota di mana sekarang saya bermukim setelah mengelanai negeri demi negeri di berbagai benua.  Pengembaraan yang tentu saja langsung atau tidak langsung berdampak pada diri saya dan pemikiran saya sebagaimana pengaruh Yogyakarta tempat saya kuliah turut mempengaruhi perkembangan saya sebagai seorang anak Dayak yang dibekali oleh konsep hidup mati dijabarkan dalam ungkapan “rengan tingang nyanak naga’ [anak enggang putera-puteri naga]. 2]. Karena adanya konsep hidup-mati ini maka jika Anda datang ke Tanah Dayak di pulau Kalimantan-Borneo, Anda akan berhadapan dengan patung-patung naga dan burung enggang. Perjalanan panjang dan entah kapan ia akan berujung, mungkin seperti kata-kata pelukis Salim 3], “perjalanan yang tak punya sampai”, bagi diri saya akhirnya menjadi kaca raksasa di mana saya leluasa  bercermin –ruang dan waktu di dalamnya pun  terekam. Kunamakan kaca raksasa itu sebagai kaca sejarah. Kaca perjalanan rengan tingang nyanak  jata.   Di sini, saya tidak melihat masa silam sebagai seorang sastrawan, karena dengan standar yang saya tetapkan sendiri belum mencapai taraf sastrawan. Yang saya capai baru tingkat pelajar awal dan pencinta sastra.  Saya tidak mempunyai keberanian dan kenekadan latah melakukan otoproklamasi sebagai sastrawan karena tidak sesuai dengan taraf yang saya capai di dunia tulis-menulis.     SEDIKIT LATARBELAKANG:   Dalam menoleh di kaca sejarah, kaca perjalanan rengan tingang nyanak naga ini, kiranya perlu saya selipkan latarbelakang keberangkatan saya sejak meninggalkan rumah orangtua pada usia 11an tahun untuk mencari sekolah di tempat lain. Saat meninggalkan rumah orangtua, mereka berpesan agar saya “jangan kembali jika tak bisa membawa perobahan maju untuk kampung halaman’’ yang mereka sebut sebagai “Utus”. Mereka pesankan juga agar saya bisa “manggati khewah umba dasi” [menggantikan cawat dengan dasi].  Tentu saja tantangan ini tidak bisa saya pada usia demikian, tapi membekali saya di mana pun berada   dengan pertanyaan: Jalan apa yang terbaik untuk “Utus’ saban berhadapan dengan pengalaman-pengalama negeri-negeri lain.n Pertanyaan ini pulalah yang saya bawa ketika saya sampai di Yogyakarta melalui Jakarta. Oleh pertanyaan ini dan latarbelakangan lingkungan keluarga yang seluruhnya adalah peserta gerakan gerilya anti Belanda di Kalteng, khususnya Katingan, rasa keberpihakan dan keniscayaan berpihak, pada Utus tertanam dalam pada diri.  Keberpihakan menolak keraguan dan oportunisme yang berpijak di dua perahu. Memihak Belanda tidak bisa sekaligus memihak Republik Indonesia. Memihak Utus  tidak bisa membiarkan pelecehan, penindasan dan penghisapan atas Utus. Sikap ini bukanlah jalan yang bisa “manggati khewah umba dasi”.   Di Jawa pemahaman saya tentang ‘Utus’ berkembang menjadi Indonesia dan ketika mengelani busur-busur bumi saya dapatkan bahwa menjadi Dayak dan Indonesia tidak bertentangan dengan menjadi anak manusia dan putera-puteri bumi. Dayak kemudian saya lihat sebagai lambang keterpurukan belaka dan karenanya saya melihat Dayak itu ada di mana-mana. Sejak itu ketika menjadi guru di sebuah universitas Palangka Raya, saya tawarkan saran: “Berdiri di kampunghalaman memandang tanahair merangkul bumi untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat dari pinggir dengan menjadikan manusia sebagai aktor pemberdayaan diri secara bersolidaritas yang bergulir sendiri”[Lihat: JJ. Kusni, “Negara Etnik, BeberapaGagasan Pemberdayaan Masyuarakat Dayak Ngaju, Kalimantan, Tengah”, Fuspad, Yogyakarta, 2000;lihat juga: “Dayak Membangun.Masalah Etnik dan Pembangunan’, Kata Pengantar Djohan Effendi, PT Paragon, Jakarta 1994].   Sadar usaha raksasa “menggati khewah umba dasi” tidak bisa dilakukan seorang diri dan karena penolakan saya pada konsep “supermen” atau “super women” maka akhirnya saya memilih jurnalisme atau ilmu komunikasi sebagai bidang studi di Gadjah Mada sementara dunia sastra tetap saya kecimpungi dengan minat serius seorang pelajar mula dan pencinta sastra-seni yang ingin tahu selak-seluk dunia ini.   Dengan kuriusitas [rasa ingin tahu] seorang penanya sederhana, saya bergabung dengan lingkaran teman-teman yang sekarang disebut Kelompok Manifes Kebudayaan yang selanjutnya saya sebut Kelompok Manifes. Kelompok Manifes merupakan lingkungan sastra saya yang pertama-tama di Yogya dan persahabatan kami masih berlanjut sampai sekarang tanpa terganggu oleh perbedaaan pandang dan sikap.   Kemudian saya tertarik pada ketegasan Lekra dalam berpihak dan konsep kebudayaannya dan usahanya membangun gerakan kebudayaan rakyat di tanahair.  Saya melihat dalam konsep ini kemungkinan tumbuhnya orang banyak yang saadar untuk menjadi tuan atas nama diri mereka sendiri dan tidak bisa dicapai dengan oprtunisme individualis serta keraguan berpihak. Utus tidak memerlukan sikap-sikap demikian. Saya akhirnya mengambil keputusan bergabung dengan Lekra tetapi tetap dengan sikap seorang free thinker [Lihat: Taufiq Ismail & DS. Mulyanto, “Praha Budaya”, Jakarta, --tahun ?; Lihat juga: JJ.Kusni, “Ditengah Pergolakan.Pengalaman Turba Lekra’, Ombak Yogyakarta, 2005, dan “Cerita-Cerita Kecil Untuk Aguk Irawan Ms”, dalam persiapan untuk terbit].     KEBINGUNGAN DI KALANGAN PARA SASTRAWAN-SENIMAN YOGYAKARTA   Kalau mau jujur, di hari-hari pertama munculnya Manifes Kebudayaan  sempat menimbulkan kebingungan di kalangan para sastrawan-seniman Yogyakarta baik yang Lekra mau pun yang bukan Lekra.  Bingung tidak tahu bagaimana harus bersikap menanggapi Manifes tersebut. Tapi kebingungan  itu mungkin paling besar melanda para seniman non Lekra yang tidak tahu politik dan menolak mengetahui politik dalam soal berkesenian. Beberapa kami berkumpul di rumah pelukis Arby Sama yang waktu itu tinggal di belakang Museum Perjuangan untuk membicarakan masalah Manifes dan bagaimana bersikap. Kesimpulannya: Terserah pada maasing-masing menentukan sikap.  Karena itu tidak perlu heran  jika ternyata ada anggota Lekra Yogya yang turut menyokong Manifes. Ketidaktahuan ini kembali dinyatakan oleh alm. Sanento Yuliman dalam pembicaraannya dengan saya di Paris, ketika ia sedang menyelesaikan program doktornya dengan menulis tentang pelukis Soedjojono.    “Andaikan waktu itu aku tahu ada militer di belakangnya, mana pula aku mau membubuhi tandatangan menyokong Manifes”, ujar Sanento yang kemudian bersama-sama mendirikan Majalah Kancah, sebuah majalah ilmiah populer di Paris dan berlangsung sampai puluhan tahun lebih.   Begitu berada di Paris untuk melakukan program doktornya, dan mengetahuiku dari Buyung Tanisan, pegawai KBRI Paris, bahwa aku berada di kota yang sama, Sanento segera menelponku dan minta ketemu . Telpon Sanento ini bagiku menunjukkan padaku bahwa Sanento yang tadinya anggota Sanggar Bambu pimpinan Mas Soenarto Pr. Masih mempertahankan tradisi republik sastra-seni Yogyakarta, yaitu kesanggupan bersatu dalam perbedaan. Kecuali itu ia pun mencerminkan tradisi kejujuran seorang seniman sebagai free thinker. Sikap ini pun juga diperlihatkan oleh Danarto dan Arifin C Noer yang kedua-duanya memulai karir keseniman dari Yogya. Arifin alm. bersama Jajang istrinya, bahkan secara khusus mendatangiku di Koperasi Restoran Indonesia,12 rue de Vaugirard, 75006 Paris,  di mana saya sedanfg bekerja dan berbuka puasa di Restoran.   Kehangatan sikap serupa kudapatkan dari teman-teman sastrawan di Jakarta ketika di TIM Jakarta, pada bulan Mei, diselenggarakan peringatan Manifes yang diakhiri dengan Pernyataan Mei beberapa saat sebelum Pramoedya A.Toer dianugrahi  Hadiah Magsaysay.  Saat itu saya baru turun dari pesawat dari perjalanan ke Papua lalu langsung ke TIM. Mengetahui kehadiranku , teman-teman sastrawan  segera mengerubungi saya, menanyakan ini dan itu sebagai sahabat. Dari sini saya melihat bahwa di kalangan para seniman yang bukan partisan partai politik, adanya perbedaan pandangan dan sikap tidak menghalangi persahabatan.  Tradisi ini adalah tradisi baik seniman negeri ini, terutama tradisi Yogya yang kusebut dengan istilah tradisi Republik sastra-seni Bringharjo. Saya namakan demikian, karena di depan pasar Bringharjo inilah saban habis pertunjukan, para seniman dari berbagai pandangan dan kelompok, berkumpul bersama-sama sambil minum kopi dan makan gudeg sampai subuh membicarakan pertunjukan yang baru berlangsung. Debat sengit dan canda bercampur-baur. [Dan, o, canda dan sendagurau , sering merupakan ujud pengakuan kesalahan untuk menyelamatkan muka. Muka sangat penting bagi orang Indonesia dan ras Melayu. Karena  mengaku salah  terus-terang agaknya masih asing dari kemampuan orang Indonesia mungkin juga dari  ras Melayu umumnya sesuai dengan nilai dominan di dalam masyarakat. Yang disebut “satria” , kukira, tidak lain dari bentuk terselubung kekerasan atas nama menyelamatkan muka tapi tidak dari segi usaha mencari  kebenaran, seperti halnya dengan tradisi “duel pistol” di Eropa lama. Ide “satria” barangkali ujud dari takut pada kebenaran, bentuk kekalapan dan kecupetan berpikir karena merasa “ditelanjangi”. Dengan demikian ‘kesatriaan’ sangat jauh dari konsep kemanusiaan dan memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Pada dasarnya , ia adalah ide egoistik. Coba bandingkan konsep ‘satria’ ini dengan kebiasaan ‘jotakan’ orang Yogya,bandingkan tokoh Semar dan Sun Wu Kung. Terkesan pada saya bahwa revolusioner Jawa sulit melepaskan diri dari dasar budaya mereka yang feodal dan egoistik entah dalam bentuk ‘kesatrian’,’jotakan’, ‘jender Jawa’,   dsb… Orang Jawa pada dasarnya secara pola pikir dan mentalitaas,terkesan pada saya  adalah kelompok etnik yang  violence, berwatak telunjuk lurus kelingking berkait”, ‘inggih tapi tidak inggih”.`seperti kata orang Perancis dengan ada nuansa beda ‘ou, mais.., ya, tapi..” . Ini kesan sementara saya sebagai seorang Dayak Kekinian yang dewasa di Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta. Karena itu tidak heran  dari Jawa bisa muncul seorang “the smiling general” yang mampu dengan tersenyum berkata “babat!” dan membunuh jutaan rakyat Indonesia daalm waktu sekejap”. Saya tulis hal ini dalam rangka memahami keadaan hari ini dan juga dalam konteks membangun republik danIdonesia jika kita masih menginginkannya. Pola pikir dan mentalitas Jawa feodal demikian tidak bisa dipertahankan untuk kepentingan republik dan Indonesia. Soal ini saya kemukakan karena mayoritas wargangara Republik Indonesia adalah orang Jawa. Dengan ini saya ingin mengatakan bahwa untuk menegakkan Republik dan Indonesia kita perlu melakukan pergeseran nilai dengan mendudukkan nilai-nilai  republiken dan keindonesiaan pada tempat dominan. Bukan nilai-nilai mayoritas atau kuantitas  yang kadaluwarsa sebagai patokan. Meneruskan kuantitas sebagai patokan dan bukan pada nilai, cepat atau lambat akan melenyapkan Indonesia dari peta bumi. Sendagurau dan sendagurau, anekdot dan anekdot sesungguhnya dari segi antroplogi pola pikir dan mentalitas mempunyai arti yang jauh lebih dalam. Mereka hanyalah suatu fenomena yang menyimpan hakekat.   Karena itu memahami cara senda gurau seseorang atau suatu bangsa menjadi sangat penting guna memahami seseorang atau bangsa terkait secara mendasar]. Kembali kepada soal Manifes Kebudayaan dan hubungannya dengan militer.   Rendra, menurut keterangannya pada saya di Paris mengatakan bahwa ia melihat adanya peranan militer terutama Seksi I Angkatan Darat di belakang Manifes Kebudayaan setelah ia berada di Jakarta untuk mengikuti Konfrensi Karyawan Pengarang Seluruh Indonesia [KKPSI].  Karena itu Rendra menolak  hadir .   Adanya peranan tentara, khususnya Seksi I ini kemudian diakui terus-terang oleh Wiratmo Soekito, salah seorang terpenting dari Manifes Kebudayaan, dalam sebuah simposion sastra yang diselenggarakan oleh Majalah Horison. Peranan militer ini pun ditunjukkan oleh penyanyi Koes Plus pada masa Orba tentang latarbelakang pelarangan terhadap lagu-lagu mereka, tapi semuanya kemudian pelarangan ini ditimpakan pada Lekra – padahal Lekra tidak berada pada posisi berkuasa., mungkin benar berpengaruh. Tapi tidak punya kemampuan melarang dan secara konsepsional dasar, Lekra  tidak menganut prinsip larang-melarang [lihat: Mukaddimah!]. Ini adalah suatu fitnah kecupetan berpikir seperti halnya fitnah bahwa Lekra lelakukan pembakaran buku-buku sementara buku-buku anggota Lekra terus dilarang sampai sekarang, dan tidak diutik-utik oleh yang menyebut  diri sebagai  pendukung demokrasi dan HAM.   Dari keterangan-keterangan dan kenyataan-kenyataan  di atas dan yang tentu saja bisa ditambah, nampak bahwa Manifes Kebudayaan merupakan bagian strategi integral  pihak Angkatan Darat dalam percaturan  politik pada waktu itu, terutama dalam menghadapi serta menjawab strategi kebudayaan Lekra dan ofensif politik PKI serta garis kebudayaan Presiden Soekarno “kebudayaan yang berkripadian nasional” yang anti imperialis.     STRATEGI KEBUDAYAAN LEKRA   Apa-bagaimana strategi kebudayaan Lekra, sesungguhnya bukanlah suatu rahasia karena ia sudah disiarkan secara luas dan terbuka. Strategi  dan pandangan-pandangan kebudayaannya termaktub dalam “Mukaddimah” Lembaga kebudayaan tersebut.    Agar sama-sama bisa mengetahui serta menilainya kembali maka ‘Mukaddimah” itu di sini saya kutip kembali [dengan ejaan yang diperbaharui].     LEMBAGA KEBUDAYAAN RAKYAT. MUKADDIMAH 4]     Menyedari, bahwa rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan, dan bahwa pembangunan kebudayaan Indonesia baru hanya dapat dilakukan oleh rakyat, maka pada hari 17 Agustus 1950  didirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat disingkat Lekra. Pendirian ini terjadi di tengah-tengah proses proses perkembangan kebudayaan yang sebagai hasil keseluruhan daya-upaya manusia secara sadar untuk memenuhi, setinggi-tingginya kebutuhan hidup lahir dan batin, senantiasa maju dengan tiada putus-putusnya.   Revolusi Agustus 1945 membuktikan, bahwa pahlawan dalam peristiwa bersejarah ini, seperti halnya di dala; seluruh sejarah bangsa kita, tiada lain adalah rakyat. Rakyat Indonesia dewasa ini adalah semua golongan di dalam masyarakat  yang menentang penjajahan Revolusi Agustus adalah usaha pembebasan diri rakyat Indonesia darti penjajahan dan peperangan, penjajahan dan serta penindasan feodal. Hanya jika panggilan sejarah Revolusi Agustus terlaksana, jika tercipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi, kebudayaan  rakyat bisa berkembang bebas. Keyakinan ini tentang kebenaran ini menyebabkan Lekra bekerja membantu pergulatan untuk kemerdekaan tanahair dan untuk perdamaian di antara bangsa-bangsa, di mana terdapat kebebasan bagi perkembangan kepribadian berjuta-juta rakayat.   Lekra bekerja khusus di lapangan kebudayaan khusus di lapangan kebudayaan, dan untuk masa ini terutama di lapangan kesenian dan ilmu. 5]Lekra menghimpun tenaga dan kegiatan seniman-seniman, sarjana-sarjana pekerja kebudayaan lainnya. Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat. Lekra mengajak pekerja-pekerja kebudayaan untuk  dengan sadar mengabdikan daya-cipta, bakat serta keahlian guna kemajuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia, pembaruan Indonesia.   Zaman kita dilahirkan oleh sejarah yang besar, dan sejarah bangsa kita telah melahirkan putera-puteri yang baik di lapangan kesusastraan, seni bentuk, musik, mau pun di lapangan-lapangan kesenian lain dan ilmu. Kita wajib bangga bahwa kita terdiri dari suku-suku yang masing-masingnya mempunyai kebudayaan yang bernilai. Keragaman bangsa kita ini menyediakan kemungkinan yang tiada terbatas untuk penciptaan yang sekaya-kayanya serta seindah-indahnya.   Lekra tidak hanya menyambut setiap sesatu yang baru; Lekra memberikan bantuan yang aktif untuk memenangkan yang baru maju. Lekra membantu aktif perombakan sisa-sisa “kebudayaan” penjajahan yang mewariskan kebodohan, rasa rendah serta watak lemajh pada bangsa kita. Lekra amenerima dengan kritis peninggalan nenek moyang kita, mempelajari dengan saksama segala-gala segi peninggalan itu, seperti halnya mempelajari dengan saksama pula hasil-hasil ciptaan kelasik mau pun baru dari bangsa lain yang mana pun, daan dengana ini berusaha meneruskan sdcara kreatif  tradisi yang agung dari sejarah  dan bangsa kita  , menuju ke penciptaan kebudayaan yang nasional dan ilmiah. Lekra menganjurkan kepada anggota-anggotanya, tetapi juga kepada seniman-seniman sqarjana-sarjana dan pekerja-pekerja  kebudayaan lainnya di luar Lekra, untuk  secara mendalam mempelajari kenyataan, mempelajari kebenaran yang hakiki dari kehidupan, dan untuk bersikap setia kepada kenyataan dan kebenaran.   Lekrqa menganjurkan untuk mempelajari dan memahami pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat mau pun di dalam hati manusia, mempelajari dan mehami gerak perkembangannya  serta haridepannya. Lekra menganjurkan pemahaman yang tepat atas kenyataan-kenyataan di dalam perkembangannya yang maju, dan menganjurkan hal itu, baik untuk cara-kerja di lapangan ilmu, mau pun untuk penciptaan di lapangan kesenian. Di lapangan kesenian Lekra mendorong inisiatif, mendorong keberanian kreatif , dan Lekra menyetujui  setiap bentuk, gaya, dsb, selama ia setia kepada kebenaran dan selama ia mengusahakan keindahan artistic ang setinggi-tingginya.    Singkatnya, dengan menolak sifat anti kemanusiaan dan anti sosial dari kebudayaan bukan rakyat, dengan menolak perkosaan terhadap kebenaran dan terhadap nilai-nilai keindahan.Lekra bekerja untuk pembentukan manusia baru yang memiliki segala kemampuan untuk memajukan dirinya dalam perkembangan kepribadian yang bersegi banyak dan harmonis.   Di dalam kegiatan Lekra menggunakan cara saling-bantu, saling kritik dan diskusi-diskusi persaudaraan di dalam masalah-masalah penciptaan. Lekra berpendapat, bahwa secara tegas berpihak pada rakyat dan mengabdi kepada rakyat, adalah satu-satunya jalan bagi seniman-seniman, sarjana-sarjana  maupun  pekerja-pekerja kebudayaan lainnya untuk mencapai hasil yang tahanuji dan tahanwaktu.  Lekra mengulurkan tangan kepada organisasi-organisasi kebudayaan yang lain dari aliran atau keyakinan apapun, untuk bekerjasama dalam pengabdian ini.***     Agar gampang diingat dan dipahami oleh orang banyak maka  pandangan strategis Lekra  ini disingkat dalam rumusan  1:5:1 [satu lima satu] yaitu ‘1 asas “politik sebagai panglima”; 5 pedoman penciptaan yaitu meluas dan meninggi , tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, memadukan tradisi dengan kekinian revolusioner, memadukan kreativitas individual dengan kearifan massa, memadukan realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner, dan 1 cara kerja yaitu turun ke bawah [turba]”.   Perlu dicatat benar di sini bahwa Lekra tidak menggunakan istilah “realisme sosialis” seperti yang sering dikatakan oleh banyak penulis atau komentator tentang Lekra tapi ‘pemaduan realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner”.  Pemaduan ini adalah pandangan resmi Lekra sebagai sebuah Lembaga Kebudayaan. Alasan Lekra untuk tidak menggunakan ‘pedoman penciptaan realisme sosialis’ karena masyarakat Indonesia dinilai oleh Lekra baru berada tahap revolusi nasional demokratis yang maasih jauh dari  tingkat masyarakat sosialis, penilaian yang punya dampak langsung baik dalam penciptaan maupun dalam kegiatan organisasi.  Bahwa ada sementara anggota Lekra dalam tulisannya seperti Pramoedya A.`Toer misalnya menulis tentang ‘realisme sosialis’, apa yang dikemukakan oleh Pram adalah tanggungjawab Pram dan bukan pandangan resmi Lekra sebagai  organisasi.   Mengapa ‘politik’ dijadikan ‘panglima’? Apa arti ‘panglima’?   Dalam sekolah-sekolah Lekra diajarkan antara lain mata pelajaran filsafat kebudayaan dan filsafat politik. Hubungan antara kebudayaan dengan politik.  Politik dipandang sebagai “ernyataan yang paling terpusat daripada kepentingan ekonomi. Politik adalah pernyataan yang paling terpusat dari kepentingan-kepentingan kelas” atau lapisan-lapisan yang ada dalam suatu masyarakat. Dengan ini ditunjukkan di mana letak politik dalam hubungannya dengan bidang-bidang lain. seperti kebudayaan, kesehatan, pendidikan, dan  sektor-sektor lainnya. Jika dikatakan bahwa politik itu kotor, kiranya pandangan begini dimaksudkan agar orang-orang tidak melihat tempat dan peranan politik di depan bidang-bidang lain sehingga dengan demikian  masalah terpenting dan mendasar tidak disentuh. Berdasarkan pandangan inilah diharapkan anggota-anggota Lekra melihat dan menganalisa permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Artinya melihat masalah dari sudut pandangan politik dalam posisinya sebagai pernyataan terpusat dan paling terpusat daripada kepentingan ekonomi. Masalah kebudayaan pun dilihat oleh Lekra tidak lepas dari kepentingan-kepentingan. Jika demikian maka yang dimaksudkan dengan “politik sebagai panglima” sebenarnya tidak lain dari suatu metode pendekatan dan analisa yang dinilai oleh Lekra sebagai metode pendekatan dan analisa sangat mendasar. Tentu saja penungkapan pendekatan analisa ini dalam bersastra akan berbeda dengan ungkapan pidato politik atau tulisan ilmiah.  Karena itu dalam soal pengungkapan sastra-seni,  kepada para anggota Lekra diterapkan tuntutan “tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik” karena sastra-seni tetap sastra dan seni.  Ideologi di sini, saya kira tidak lain dari tingkat hasil analisa sastrawan dan seniman terhadap tema yang mereka olah.   Berdasarkan pandangan ini, saya masih tidak menganggap bahwa tahu politik bagi sastrawan-seniman sebagai sesuatu yang kadaluwarsa.  Tahu dan sadar politik, tidak harus menjadi partisan suatu partai politik. Karena sering terjadi bahwa ketika sastrawan atau seniman mengambil partisan , ia tidak lagi menjadi free thinker tapi ikut membuta. Padahal cirri free thinker bagi saya merupakan ciri utama seniman sebagai warga republik berdaulat sastra-seni dari mana saastrawan-seniman bisa memberikan sumbangannya bagi kemanusiaan dan melakukan fungsi social control terhadap republik politik. Karenanya tidak heran sastrawan-seniman sering hadap-hadapan dengan republik politik. Dan kukira ini adalah resiko seorang sastrawan-seniman sebagai free thinker yang menggunakan alat artistik dan imajinasi. Dalam posisi sebagai free thinker inilah sastrawan-seniman mungkin berdiri selangkah di depan perkembangan dan pikiran yang dominan dalam masyarakat. Peranan yang sering disebut sebagai peran pembidas [avant-garde]. Dengan tahu dan sadar politik, sastrawan-seniman  sebagai free thinker bisa mempertajam analisa-analisa terhadap rupa-rupa masalah yang dihadapi serta yang digarap sebagai tema. Dengan tahu dan sadar politik, lingkup analisa pun barangkali bisa lebih  luas.  Dalam hal ini , Lekra menekankan arti penting belajar filsafat dan mengenal masyarakat yang tercermin dari anjuran “tahu Marxisme dan kenal keadaan”. Anjuran ini kemudian diperluas agar lingkup studi diperluas di bawah slogan bimbingan “tahu segala tentang sesuatu dan tahu sesuatu tentang segala” agar seniman-seniman Lekra bisa menjadi manusia yang berpandangan luas. Ahli dalam bidangnya tapi juga tahu akan bidang-bidang lain , tidak mengurung diri dalam satu spesialisasi diri sendiri karena daerah garapan sastra-seni adalah seluas kehidupan. Kehidupan tidak mungkin dipahami secara utuh jika kita melihatnya hanya dari segi saja. Dalam dunia akademi pendekatan begini dinamakan pendekatan multi disipliner. Belajar Marxisme, terutama filsafat materialisme dialektika historis, di samping aliran-aliran filsafat lain merupakan salah satu matapelajaran dalam sekolah-sekolah Lekra.  Agar para anggota bisa memilih dan meyakini pilihannya, maka metode perbandingan diterapkan dalam proses pembelajaran. Ketika menterapkan metode perbandingan, maka belajar sejarah dunia dan Indonesia mendapat tempat penting dalam kurikulum dan diskusi-diskusi.  Sejarah menunjukan proses perkembangan sesuatu.   Pembelajaran filsafat Marxis dengan metode perbandingan di kalangan Lekra, bagi pengamat yang tidak jeli, barangkali gampang memelesetkan orang untuk secara gampang menyimpulkan bahwa Lekra sama dengan PKI dan tidak melihat pembelajaran demikian sebagai suatu paralel serta diperlukan guna meningkatkan kadar diri sebagai sastrawan-seniman dari segi wawasan dan analisa. Belajar teori kebudayaan,filsafat  dan sejarah dipandang penting oleh Lekra disamping mengenal keadaan nyata kehidupan sesuai dengan prinsip anutannya “seni untuk rakyat” yang sesungguhnya adalah sastra-seni berpihak [engagee].   Guna mengenal kenyataan atau keadaan maka diterapkan metode kerja turba,turun ke bawah [ Lihat: JJ.Kusni, “Di Tengah Pergolakan. Pengalaman  Turba Lekra”, Penerbit Ombak Yogyakarta, Agustustus 2005]. Cara kerja artinya ia bukanlah pekerjaan  musiman. Turba juga dilakukan berangkat dari pandangan bahwa “massa adalah sumber inspirasi dan sumber kreasi yang sesungguhnya”.    Melalui turba, sastrawan-seniman selain bisa mengenal keadaan, tetapi juga sekaligus meningkatkan serta mengobah  diri terutama dalam hal pandangan, pendirian, sikap dan metode kerja. Lekra mengharap dari seniman-seniman anggotanya agar mutu pribadi mereka jauh lebih baik dari mutu kreasi mereka. Apakah turba merupakan penemuan Lekra?   Saya tidak mengatakannya demikian. Turba hanyalah penyimpulan yang dilakukan oleh Lekra terhadap pengalaman sekian kurun zaman dari kegiatan-kegiatan seniman dari berbagai kalangan. Turba mensistematikkan pengalaman-pengalaman tersebut. Dan memang fungsi Lekra yang terutama, melalui konrensi-konfrensi berbagai tingkat  terutama menyimpulkan pengalaman-pengalaman berkesenian bukan hanya yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kejuruannya, tapi juga yang dilakukan oleh senimanb-seniman lain. Dengan adanya kesimpulan demikian , Lekra lanjut lagi pertumbuhan gerakan kebudayaan rakyat di Indonesia guna mewujudkan secara nyata nilai-nilai republik dan keindonesiaan yang antara lain dijabarkan dalam kata-kata “bhinneka tunggal ika”. Dalam kerangka menumbuhkembangkan gerakan kebudayaan rakyat di Jawa Tengah, maka paada tahun 1964 selama hampir setahun, Lekra Jawa Tengah melakukan ‘riset kesenian’ untuk mengetahui bentuk-bentuk kesenian yang paling hidup di kalangan masyarakat Jawa Tengah. [lihat: JJ. Kusni, “Cerita-cerita Kecil Untuk Aguk Irawa Ms”’, dan JJ. Kusni, “Di Tengah Pergolakan”]. Bahwa semacam turba ini juga dilakukan oleh para seniman non Lekra sesungguhnya bukanlah suatu rahasia pula. Ambil contoh apa yang dilakukan oleh para seniman Yogyakarta pada tahun-tahun ’60-an dan bahkan jauh sebelummnya.  Pada masa-masa ini di kalangan seniman-seniman Yogya dikenal apa yang disebut “mengenal kehidupan”.  Hanya saja dalam praktek, yang disebut “mengenal kehidupan” ini diwujudkan dengan pergi ke tempat-tempat kumuh kota, di warung-warung, dan   terutama ke Pasar Kembang, daerah lampu merah Yogyakarta. Di tempat-tempat ini, para seniman berbincang dengan para pekerja seks,  ada yang pacaran dengan salah seorang mereka bahkan berlanjut dengan pernikahan.  Kukira ‘kehidupan gelandangan’ Chairil Anwar tidak lain dari usahanya “mengenal kehidupan” juga adanya.   Praktek-praktek inilah yang kemudian dirumuskan dan disistematikkan oleh Lekra. Satu hal lain Melalui penelitian kesenian dan turba, Lekra juga berhasil menyelamatkan beberapa bentuk kesenian yang hampir punah seperti  randai Tanah Minang, kemudian mendorong perkembangan sastra berbahasa lokal karena menganggap sastra berbahasa lokal merupakan bagian utuh dari sastra Indonesia, bagian dari usaha Lekra menumbuhkembangkan gerakan kebudayaan rakyat yang  republiken dan berkeindonesiaan.    “Garis 1-5-1” adalah cara yang digunakan oleh Lekra dalam menumbuhkembangkan gerakan kebudayaan rakyat yang republiken dan berkeindonesiaan. Tentu saja gerakan kebudayaan rakyat dengan nilai-nilai begini bertentangan dengan kepentingan politik kapital monopoli asing. Katakanlah dengan istilah waktu itu bertentangan dengan kepentingan imperialisme, neo-kolonialisme, neo-feodalisme dan sisa-sisa feodalisme. Cara terbaik menghadapi gerakan kebudayaan ini adalah memberinya label sebagai ‘komunis’ yang atheis. Gerakan kebudayaan memberikan perekat dasar di dalam hati anak bangsa dan negeri ini. Hal ini saya saksikan, kalau tafsiran saya benar, waktu saya ke Medan untuk menghadiri Konfernas Lembaga Sastra Indonesia 1963.  Dari Jakarta kami berangkat ke Medan dengan kapal laut milik KPM. Dalam kapal itu terdapat antara lain Pramoedya A.Toer, Rivai Apin, A.S.Dharta, Utuy Tatang Sontani, Ibrahim Isa, dan teman-teman dari berbagai pulau dan daerah tanahair. Yang berkesan sampai sekarang pada saya bagaimana kami saling memanggil satu dan yang lain dengan menggunakan nama suku asal.  Dengan menggunakan cara memanggil demikian, ada rasa bangga pada kami bahwa kami adalah anak negeri dan bangsa besar dan majemuk. Sama sekali tidak ada terselip niat menghina atau membenci.  Semangat inilah yang diungkapkan oleh penyair buruh alm. S.W. Kuntjahjo asal etnik Madura dalam kata-kata:   “kita berdatangan dari semua penjuru [untuk] satu tujuan, tujuan bersama” Keadaan ini juga kembali kusaksikan di gedung Serikat Buruh KeretaApi [SBKA]Manggarai, diselenggarakan festival paduan suara se Indonesia yang  diikutsertai oleh utusan-utusan dari ujung barat hingga ujung timur tanahair.  Melalui festival ini, saya menyaksikan kebesaran negeri dan bangsa yang bernama Indonesia yang majemuk dan kami bangga dengan kemajuemukan ini, bangga menjadi putera-puteri negeri dan bangsa bernama Indonesia tanpa ada yang memaksa. Kebanggaan yang lahir atas dasar kesadaran serta boleh dikatakan hasil dari adanya gerakan kebudayaan republiken dan berkeindonesiaan yang digalakkan oleh Lekra. Kemajemukan tidak menjadi dasar pertikaian tapi justru sebaliknya . Mengenang kembali apa yang kusaksikan di beberapa kesempatan, saya mengira betapa sebenarnya kebudayaan dan gerakan kebudayaan begini bisa menumbuhkembangkan dasar berbangsa dan bernegeri yang solid, hal yang kadang tidak bisa dilakukan oleh politik.  Dari sini saya melihat perlunya sastrawan-seniman menjaga statusnya sebagai free thinker dari republik berdaulat sastra-seni dengan segala konsekwensinya. Sastrawan-seniman di atas segalanya punya misi manusiawi yang agung bukan hanya berindah-indah hampa misi dan makna dengan rupa-rupa ulah seperti otoproklamasi misalnya.  Misi manusiawi  sastrawan-seniman yang begini sebenarnya menuntut pada sastrawan-seniman untuk pertama-tama meningkatkan mutu diri baik sebagai anak manusia mau pun sebagai sastrawan-seniman yang ditantang menjadi avant-gardists.   Dalam masalah rekonsiliasi nasional yang banyak dibicarakan sekarang, saya kira , sastrawan-seniman bisa diharapkan sumbangannya dari segi wawasan kebudayaan yang mendasar. Artinya dari segi nilai-nilai yang paling hakiki. Nilai-nilai hakiki ini berangkat dari kepentingan manusia dan “kemanusiaan yang tunggal” jika menggunakan istilah filosof Perancis Paul Ricoeur alm. yang meninggal Mei 2005 lalu. Jika masih mau menyelamatkan dan menegakkan Republik dan Indonesia maka adalah satu keniscayaan kita kembali pada nilai-nilai  republiken dan keindonesiaan. Politik, terutama politik praktis sering menjadikan “kemanusiaan yang tunggal”, “republik dan Indonesia’ jadi puntung rokok di tumit sepatu kepentingan sesaat, merabunkan pandang sehingga kita suka memelihara dendam, mengorbankan esok dan kehidupan anak-cucu serta diri sendiri. Nalar sudah menjadi sesuatu yang mewah. Di sinilah saya melihat betapa Indonesia hari ini lebih-lebih memerlukan kehadiran budayawan, sastrawan dan seniman yang benar-benar budayawan, saatrawan dan seniman. Bukan sekedar budayawan-budayawanan,  bukan nsastrawan-seniman yang sekedar kesastrawan-saastrawan dan keseniman-senimanan.  Adanya komunitas-komunitas sastra-seni yang tersebar di berbagai daerah dan pulau sekarang – kreasi penting angkatan hari ini – bisa dijadikan dasar membangun gerakan kebudayaan rakyat berskala nasional yang berguna bagi menyelamatkan republik dan Indonesia, tapi bukan komunitas cupet yang sektaris. Sektarisme dari pihak mana pun hanyalah jalan buntu. Republik dan Indonesia bukanlah sektarianisme. Sektarianisme bukan ciri free thinker warga republik berdaulat sastra-seni. Saya khawatir dewasa ini, banyak yang menyebut diri budayawan, sastrawan-seniman tapi pada kenyataannya masih jauh dari taraf demikian. Tidak sedikit yang sibuk dengan sastra seks , ratap-tangis putus cinta, sibuk mengharap pengakuan sebagai sastrawan-seniman, ingin jadi celebrities, tapi tidak menyediakan waktu cukup untuk memikirkan apa-siapa dan apa misi budayawan, sastrawan dan seniman. Ini pun saya lihat sebagai ujud dari pola pikir dan mentalitas ‘mie instant’ yang berdominan di negeri kita. Celebrities? Apa gerangan yang diharapkan dari celebrities – yang umumnya tidak lain dari jenis “kekosongan” jika menggunakan istilah sosiolog Perancis Alain Touraine. Kekosongan total!? Bisa dipastikan bahwa bangsa, tanahair dan kemanusiaan tidak bisa mengharapkan apa-apa dari selebritis tipe ini.      ***     Barangkali kericuhan antar seniman pada tahun 1960an  disebabkan sadar atau tidak sadar terjadi karena para seniman dari semua kalangan sudah mengambil sikap partisan dan melepaskan status mereka sebagai free thinker warga dari republik berdaulat sastra-seni.  Republik berdaulat sastra-seni sudah dicaplok oleh republik politik. Sebagai partisan, orang akan  sangat gampang gontok-gontokan karena di sini kebebasan berpikir seniman sudah luntur oleh alur pikiran tunggal [la pensee unique] yang disediakan oleh partai-partai politik. Sastrawan-seniman sudah tidak lagi memainkan fungsi pembidas pemburu nilai untuk esok yang manusiawi. Di alur pikiran tunggal yang sudah dicetak kebenaran pun jadi mutlak, tanpa ruang bagi nisbi,  cara pandang disederhanakan jadi hitam-putih.    Saya mengkhawatirkan ketidakbebasan berpikir sebagai warga republik berdaulat sastra-seni ini masih tersisa hingga sekarang, entah dalam ujud dendam, hujat-menghujat baik terbuka atau pun terselubung, entah dalam keengganan bertemu dan berbincang sekali pun jika dilihat dari tahun 1960an waktu 45 tahun sudah cukup mematangkan dan mendewasakan seseorang untuk sanggup melihat ke belakang dengan tenang demi kehidupan hari ini dan esok.     DEBAT SEMU YANG MERUGIKAN   Debat ide pada tahun-tahun 1960an sangat hidup baik terjadi di media cetak atau pun debat hadap-hadapan.  Tentu saja hal ini sangat positif untuk orang yang mau mencari kebenaran, apalagi jika debat ide itu dilakukan secara sehat dan berargumentasi ditambah dengan topangan data serta tidak melihat masalah secara hitam-putih menggunakan “kebenaran cetakan”. Polemik bermutu yang sehat pada waktu itu bisa disebut adalah polemik antara ‘Harian Rakjat’ dan ‘Harian Merdeka’ [cq. Njoto dan B.M.Diah].   Masalah pokok yang diperdebatkan pada waktu itu adalah masalah “seni untuk rakyat” atau “seni untuk seni’. Debat Lekra versus Kaum Manifes pun hakekatnya berkisar pada masalah pokok ini juga.   Kalau sekarang kita melihat perdebatan ini  dengan pandangan berjarak, apakah ada hal esensil yang patut memisahkan kedua pendukung aliran ini sampai menjadi suatu debat berdarah-darah dan meninggalkan dendam seakan tak punya sudah?   Kalau kuperhatikan karya-karya lukisan abstrak atau hanya berupa bidang penuh permainan warna yang terpajang di bandara, di ruang pameran atau kantor-kantor serta sanggar-sanggar,  saya dapatkan keindahan pada mereka sama halnya saat saya menikmati lukisan-lukisan realis dan impresionis. Mereka mungkin tidak memberikan pesan jelas pada saya tapi mereka sudah mengasah perasaan saya menjadi peka pada getar-getaran halus keindahan yang penuh misteri. Pengasahan kepekaan ini saya kira turut membantu saya untuk mencoba peka pada lingkungan dan kehidupan yang garang. Menjadi peka saya kira bagian dari usaha pemanusiawian manusia. Lebih-lebih di masyarakat kita sekarang masalah peka ini sudah makin meluntur dan tersisih dari  yang meneyebut diri anak manusia.  Singkat kata bentuk-bentuk seni ini kudapatkan juga berusaha dengan cara masing-masing untuk memanusiawikan manusia. Dan terhadap bentuk-bentuk seni begini sebenarnya oleh Lekra diterima sebagaimana tercantum di Mukaddimahnya:   “Di lapangan kesenian Lekra menyetujui inisiatif, mendorong keberanian kreatif, dan Lekra menyetujui setiap bentuk, gaya, dsb., selama ia setia kepada kebenaran dan selama ia mengusahakan keindahan artistik yang setinggi-tingginya”.   Barangkali dalam hal ini di kalangan sementara anggota Lekra oleh perkembangan politik dan ketiadaan sikap sebagai free thinker terjadi proses radikalisasi hingga menolak bentuk-bentuk abstrak yang antara lain dipelopori oleh Pablo Picasso yang nota bene adalah anggota CC Partai Komunis Perancis.sampai akhir hayatnya. Bagaimana mungkin orang bisa mengatakan bahwa Picasso tidak punya keberpihakan sosial dalam karya-karyanya? Tapi agaknya radikalisasi di kalangan sebagian anggota Lekra ini menyebabkan mereka mengingkari Mukaddimahnya sendiri.   “Seni untuk rakyat”, tentu saja bermaksud memanusiawikan manusia terutama yang disebutnya “rakyat” yang isinya sesuai dengan penilaian pokok tentang kontradiksi pokok masyarakat pada suatu periode sejarah. Jadi baik “seni untuk seni” mau pun “seni untuk rakyat” sesungguhnya  sama-sama bertujuan untuk memanusiawikan manusia. Yang berbeda adalah cara dan titikberat atau penggarisbawahan. Untuk usaha ini, Lekra menggarisbawahi lapisan mayoritas penduduk negeri, terutama buruh dan tani, sedangkan  “seni untuk seni” berkreasi tanpa melakukan garis bawah yang sering disebut sebagai “sastra-seni murni” tapi tidak bisa dikatakan sebagai anti kemanusiaan secara apriori.   Dari segi  ini maka saya katakan debat sastra-seni pada tahun-tahun 60-an sesungguhnya adalah suatu debat semu belaka.   Mengapa debat semu ini  ia bisa terjadi demikian sengit sampai berdarah-darah dan meninggalkan dendam seakan tanpa sudah?   Dari segi sastrawan-seniman itu sendiri , saya melihat hal demikian terjadi karena para saastrawan-seniman sudah meninggalkan posisinya sebagai warga republik berdaulat sastra-seni yang bercirikan free thinker, dan pelepasan status ini terjadi karena kekurangan pengetahuan secara teori hingga daya analisa mereka tumpul, ditambah lagi oleh masuknya mereka sebagai partisan partai politik. Mereka jadi partisan tanpa kesadaran tapi semata berbekalkan “kebenaran cetakan”. Mereka sesungguhnya buta politik. Ini adalah sebab faktor dalam dari kalangan sastrawan-seniman.   Sebagai faktor luar , dua aliran kesenian di atas dipolitisir oleh kekuatan-kekuatan politik yang saling berebut kekuasaan dan sedang adu kekuatan pada waktu itu.  Mereka mencetak kebenaran tunggal sesuai kepentingan masing-masing dan menjajakannya ke kalangan para sastrawan-seniman dengan 1001 cara di mana uang pun turut bermain.  Mereka mencoba mempengaruhi dan merebut sastrawan-seniman ke pihaknya dan dipelorotkan menjadi propagandis.   Sebenarnya, sekalipun ada faktor luar begini jika sastrawan-seniman sadar dan tahu politik, disanguni sekedar teori yang memadai, mereka tidak akan memerosotkan diri dan tidak membiarkan diri sebagai partisan partai politik dengan “kebenaran cetakan” yang praktis. Bahaya ini – kalau kita sepakat bahwa ini suatu petaka – bisa terulang jika pengalaman tidak disimpulkan dengan tanpa emosi serta menggunakan jarak.   Arti praktis memandang ke belakang bahwa debat masa silam itu adalah suatu debat semu yang merugikan, saya kira memungkinkan para sastrawan-seniman negeri ini secara bersama-sama sesuai kemampuan masing-masing guna pengembangan sastra-seni yang manusiawi, dan siapa tahu mereka bisa memberikan sumbangan pikiran dalam menanggulangi permasalahan negeri dari segi kebudayaan misalnya tentang apa itu Indonesia, Republik dan keindonesiaan.  Barangkali ini tantangan kekinian yang menagih jawab. Embrionya sudah nampak antara lain dari komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai pulau dan daerah antara lain Komunitas Matabambu yang bekerja dengan konsep dan program yang jelas.   Perpecahan di kalangan barisan sastrawan-seniman Indonesia ini sebenarnya jika dilihart ke belakang sudah mulai semenjak kelahiran Republik yang waktu itu masih beribukota di Yogyakarta. Dalam usahanya kembali menjajah Indonesia, pihak Belanda mendrop teori humanisme universal atau seni untuk seni. Ide ini secara organisasi ditopang oleh Sticusa dan Pernyataan Gelanggang secara ide dan Majalah Siasat secara kelembagaan.  Sekali lagi sebenarnya jika sastrawan-seniman kita cukup dewasa dan kuat secara pengetahuan dan teori sastra seni dan juga politik, barangkali barisan seniman kita tidak perlu terbelah karena seperti saya katakana di atas humanisme universal, seni untuk seni dan seni berpihak pada rakyat atau republik tidak ada pertentangannya. Perpecahan pada masa ini dan apa yang disebut oleh Lekra sebagai “kecenderungan kapitulasionis” tidak lepas dari penunggangan kepentingan politik [dalam hal ini politik kolonialis Belanda] terhadap ide kesenian tersebut. Pada waktu itu barangkali acuan kita kurang padan hingga terperangkap oleh penafsiran yang ditunggangi kepentingan politik kolonialis tersebut.  Penunganggan politik terhadap sastra-seni begini pulalah yang berlanjut sampai puncaknya pada tahun 1960an. Pada masa Orba berkuasa dengan pendekatan “keamanan dan stabilitas nasional”nya, sastra-seni pun diamankan yang kemudian melahirkan corak umum sastra-seni “aman” bebas politik. Mandul jiwa.  Republik sastra-seni Indonesia makin kehilangan kedaulatannya dan jadi embel-embel kekuasaan dengan adanya filem-filem seperti  misalnya G30S/PKI. Republik sastra-seni Bringharjo hilang dari kenangan, gaung-gemanya pun tak terdengar.     LEKRA DAN PKI   Pertanyaan yang sering diajukan oleh banyak orang  bagaimana hubungan Lekra dengan PKI? Banyak anggapan bahwa bahwa Lekra itu adalah organisasi bawahan PKI.   Bagaimana sebenarnya? Benarkah Lekra yang anggotanya tersebar di seluruh pulau tanahair dari kota hingga desa dan diperkirakan anggotanya mendekati setengah juta orang lebih [angka yang sulit dikonfirmasi karena tidak pernah dilakukan registrasi]  adalah organisasi PKI?   Untuk menjawab pertanyaan ini saya tidak menggunakan tulisan-tulisan para pakar sastra baik asing seperti Keith Foulcher, Steven Miller, ataupun dalam negeri seperti alm. Sanento Yuliman, tapi lebih bersandar kepada apa yang saya ketahui sendiri serta keterangan-keterangan para pimpinan pusat Lekra yang sempat saya temui ketika mereka masih hidup dan yang masih  hidup hari ini.   Oei Hay Djoen, salah seorang anggota sekretariat Pimpinan Pusat dalam diskusi tentang turba yang diselenggarakan oleh Media Kerja Budaya Jakarta dihadiri oleh Steven Miller dari Australia mengatakan bahwa benar dalam Lekra terdapat seniman-seniman yang anggota PKI tetapi mayoritas  anggota Lekra bukanlah anggota-anggota PKI. Anggota Lekra adalah orang-orang yang ingin menyalurkan bakat kesenian dan ingin mendapat wadah berkesenian. Siapa-siapa yang hadir dalam kegiatan lembaga-lembaga kejuruan Lekra otomatis sudah dipandang sebagai anggota Lekra dan tidak pernah dilakukan pendaftaran keanggotaan.  Mayoritas mereka tidak mengerti dan tidak ada sangkut paut dengan PKI, karena itu, kiranya patut direnung-ulang anggapan bahwa Lekra adalah organ kebudayaan PKI. [lihat juga: Joebaar Ajoeb, “Mocopat Kebudayaan”, fotokopie, belum diterbitkan. Saya usulkan kepada para penerbit mana pun untuk menerbitkan karya berharga Joebaar Ajoeb ini. Beruntung saya masih memiliki naskah ini ]. Secara kompisisi anggota-anggota Lekra bisa dibagi dalam tiga kategori yaitu: [1].Seniman-seniman yang anggota PKI; [2]. Seniman-seniman professional dan [3]. Orang-orang yang  menyalurkan bakat dan ingin mendapatkan wadah untuk berkesenian.   Kelompok pertama adalah sangat minoritas. Sesuai dengan ketentuan PKI maka saban ada tiga orang anggota, maka mereka ini akan membentuk grup, sedangkan jika lebih dari tiga orang mereka akan membentuk yang disebut Fraksi PKI. Di dalam Lekra, terdapat grup dan fraksi PKI sesuai dengan jumlah mereka.  Tidak semua dan tidak otomatis anggota PKI menjadi pengurus Lekra dan lembaga-lembaga kejuruannya. Rapat grup dan fraksi terpisah dari rapat Lekra. Dalam rapat-rapat Lekra, tentu saja anggota-anggota grup atau fraksi mengajukan pendapat mereka dan posisinya sama dengan anggota-anggota lain yang bukan anggota PKI. Keputusan diambil sesuai dengan keputusan mayoritas sehingga tidak otomatis pendapat anggota-anggota PKI di Lekra jadi panutan dan keputusan sebelum diputuskan. Tidak jarang pendapat mereka tidak diterima oleh rapat. Konfernas Palembang Lekra [1964?] mengenai Manifes Kebudayaan dan hubungannya dengan PKI, saya kira sangat phenomenal.  Konfernas Palembang menolak tuntutan pembubaran Manifes Kebudayaan 6], dengan alasan masalah kebudayaan dan pikiran tidak bisa dipecahkan secara  administratif birokratis, sehingga Konfernas Palembang memutuskan agar perdebatan perihal Manifes Kebudayaan dilanjutkan secara terbuka. Hal lain yang penting dari  Keputusan Konfernas Palembang yaitu menolak tuntutan agar Lekra dinyatakan sebagai organisasi kebudayaan yang berafiliasi dengan PKI. Dengan keputusan konfernas Palembang nampak bahwa pikiran anggota-anggota dari fraksi PKI di Lekra tidak berhasil dimenangkan. Penolakan ini menunjukkan kemenangan dua kelmopok anggota lainnya yang menginginkan Lekra tetap sebagai organisasi kebudayaan profesional dan otonom guna mengembangkan suatu gerakan kebudayaan di seluruh negeri.   Adanya tiga kelompok anggota di dalam Lekra ini ditambah lagi oleh adanya perbedaan pendapat di dalam tubuh PKI sendiri, membuat perdebatan teoritis cukup sengit di dalam Lekra seperti yang tercermin dalam konfernas Bali Lekra dan dalam antologi puisi Laut Pasang. Adalah suatu kekeliruan memandang  Lekra sebagai organisasi kebudayaan yang bebas debat ide. Justru sebaliknya sangat hidup dan berkembang seperti misalnya terbaca pada Prahara Budaya yang disusun oleh Taufiq Ismail dan DS. Moelyanto. Hanya saja umumnya debat ini jarang muncul ke luar Lekra. Barangkali diselenggarakannya Konfrensi Nasional Sastra dan Seni Revolusioner [KSSR] di Jakarta padatahun Agustus 1964, bisa dipahami sebagai salah satu bentuk pergulatan ide di kalangan PKI dan dalam usaha mengendalikan Lekra, demikian juga adanya ‘Harian Kebudayaan Nasional’ Jakarta.   Hubungan yang terdapat antara Lekra dan PKI adalah paralelisme dalam ide kebudayaan yaitu bahwa sastra dan  seni diabdikan untuk kepentingan rakyat.  Paralelisme ini disalahtafsirkan sebagai petunjuk bahwa Lekra adalah organisasi yang dikendalikan oleh PKI. Menganut paham seni untuk rakyat di negeri mana pun tidak otomatis ia adalah berpaham komunis atau bagian dari Partai Komunis. Secara umum barangkali ide ‘seni untuk rakyat’ di Indonesia bisa juga disebut sebagai sastra-seni berpihak [l’art et litterature engagee].  Dalam hal ini barangkali terdapatkan kreabunan penglihatan dan metode berpikir serta ketumpulan analisa oleh situasi politik pada masa itu dan bersisa hingga sekarang. Boleh dikatakan keberpihakan pada rakyat inilah yang menjadi perekat utama anggota-anggota Lekra dan tidaklah terdapat pada ide atau paham Marxisme. Karena itu Lekra tumbuh dengan pesat tanpa instruksi dari mana pun  menjadi suatu gerakan kebudayaan yang tumbuh dari bawah.  [Lihat:JJ.Kusni, “Cerita-cerita Kecil Untuk Aguk Irawan  Ms. dan JJ. Kusni, “Di Tengah Pergolakan. Pengalaman Turba Lekra”, Penerbit Ombak, Yogyakarta, Agustus 2005].   Adanya paralelisme ide kebudayaan tentu saja terwujud dalam bentuk kerjasama di lapangan berbentuk pementasan-pementasan oleh Lekra atas permintaan organisasi-organisaasi yang berafiliasi dengan PKI.  Kerjasama atas dasar paralelisme ide kebudayaan ini, dengan organisasi-organisasi ini memungkinkan Lekra melakukan pertunjukan di perkebunan-perkebunan, di desa-desa dan pabrik-pabrik, sesuai dengan pandangan kebudayaan Lekra: “meluas dan meninggi”.    Di pihak lain praduga dan  anggapan bahwa Lekra adalah organisasi yang berafiliasi dengan PKI dan pertanyaan sejenis, sesungguhnya pertanyaan dan anggapan yang tidak demokratis.   Secara tersirat anggapan dan pertanyaan demikian mengandung sifat anti Komunis yang kental – hal yang memang diciptakan dengan sistematik oleh Orba. Anti Komunis atau pro Komunis adalah hak masing-masing orang yang patut dihormati.  Tapi jika anti Komunis dibuntuti dengan pelarangan, pembasmian  hak hidup suatu organisasi atau ide, saya kira di sinilah mulai sifat fasistis dan tidak demokratik yang bertentangan dengan ide republik, Indonesia dan keindonesiaan. Kalau pun disebut juga pandangan dan sikap begini sebagai demokratis, maka ia adalah “demokratis pilihkasih atau diskriminatif”.  Adalah tidak bisa dibayangkan terciptanya kerukunan nasional jika kita secara sukarela memenjarakan pikir membelenggu sikap kita pada demokrasi pilihkasih atau diskrimatif begini. Dengan ini saya melihat bahwa untuk Republik dan Indonesia pertama-tama kita membebaskan diri dari belenggu-belenggu demikian, terutama dari pihak pemegang kekuasaan, dan kembali kepada ide Republik Indonesia [republik dan Indonesia] yang merupakan serangkaian nilai bukan sekedar nama sebuah negara tanpa makna. Memenangkan ide Republik dan Indonesia, saya kira, di sini terletak juga peranan sastrawan dan seniman. Republik dan Indonesia ini barangkali jika meminjam ungkapan  Goenawan Mohamad adalah :”…. sebuah negeri yang ingin kita lepaskan tapi tak kunjung hilang” 7]. Republik dan Indonesia adalah konsep besar agung yang yang sedang menjadi.  Di sinilah sebenarnya budayawan, sastrawan-seniman dihimbau untuk tidak alpa serta perlunya kita menoleh ke belakang melirik esok .***     Paris, Desember 2005. ————————– JJ.Kusni.     Catatan:   1]. Seperti diketahui, Lekra terdiri dari berbagai lembaga kejuruan. Di samping Lembaga Sastra, terdapat lembaga-lembaga: drama, senirupa, seni musik, seni tari, filem. Lembaga  ludruk, ketoprak, dalang, karawitan, sudah membentuk lembaga-lembaga sendiri,walau pun  belum disahkan oleh Kongres tapi sudah giat melancarkan akitvitas-aktivitasnya secara independen. Kongres Lekra pertama diselenggarakan di Solo dan direncanakan Kongres  ke II akan dilangsungkan pada tahun 1966 guna menyimpulkan pengalaman sejak Kongres Solo [1959?].   Ujungtombak kehidupan kegiatan Lekra berada di lembaga-lembaga ini. Lekra berfungsi sebagai kordinator dan penyimpul pengalaman berbagai praktek lembaga-lembaga tersebut.    2]. Konsep hidup-mati manusia Dayak  yang melihat bahwa bumi adalah tempat anak manusia untuk hidup secara manusiawi dan tugas manusia Dayak adalah untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Jika gagal menunaikan misi dan fungsi ini maka manusia gagal dalam kehidupannya dan menjadi kambe [hantu] yang tanpa tempat tinggal setelah mati. Sayangnya konsep dan budaya lokal sekarang oleh banyak orang tidak diindahkan, barangkali dipandang sebagai kadaluwarsa dan tidak tanggap zaman dan tidak aspiratif . Tidak modern tanpa jelas apa yang dimaksudkan dengan modern, globalisasi serta tradisional.   3]. Salim adalah seorang pelukis terkemuka Indonesia yang sejak usia 17 tahun memutuskan hidup di Paris sebagai pelukis.   4].  Dikutip dari  ‘Lampiran Khusus Majalah KANCAH, Paris, No. 10 –X-1984.   5]. Dalam perkembangan selanjutnya, Lekra tidak lagi menangani masalah ilmu, masalah yang kemudian ditangani oleh Himpunan Sarjana Indonesia [HIS]. Demikian juga masalah olahraga diurus oleh lembaga khusus dan tidak jadi urusan Lekra lagi yang mengkhususkan diri dalam masalah-masalah sastra-seni.   6]. Dalam percakapannya dengan saya di rumahnya di Jalan Pemuda, alm. Joebaar Ajoeb, sekjen Lekra menyatakan bahwa dengan pembubaran Manifes Kebudayaan oleh Presiden Soekarno, “Lekra kecolongan”.Menurut Joebaar, pembubaran itu dilakukan atas usul Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Prijono, yang anggota Murba dalam usaha menyelamatkan Partai Murba dari pembubaran.   7].Goenawan Mohamad, “Sajak-sajak Lengkap 1961-2001”, Metafor Publishing, Jakarta, Agustus, 2001.

TENTANG PUISI

Tentang Puisi

INILAH surat pertama dari sepuluh surat yang merupakan bagian dari risalah yang berada di peringkat puncak, yang paling direkomendasikan dalam deretan buku tentang Proses Kreatif. Masterful and highly inspirational. Penyair Jerman Rainer Maria Rilke hingga kini masih dianggap sebagai penyair dengan gaya khas di era puisi modern. Wajib dibaca bagi siapa saja yang bergelut di dunia kreatif, khususnya di bidang sastra, terutama puisi.

Paris
Pebruari 17, 1903

Salam hormat,

Suratmu saya terima beberapa hari lalu. Aku ingin berterima kasih atas besarnya kepercayaan yang kau tempatkan padaku, Itulah semua yang bisa aku perbuat. Aku tak bisa mendiskusikan syair-syairmu, untuk beberapa alasan aku merasa asing dengan critism. Tak ada yang menyentuh sebuah karya sendi, lebih sedikit daripada kata critism. Tak semuanya bisa dinyatakan dan dilisankan, seperti yang biasanya diharuskan kepada kita untuk dipercaya. Sebagian besar pengalaman justru tak terlisankan, mereka terjadi di dunia kecil yang tak pernah dimasuki oleh kata-kata; dan yang lebih tak terkatakan daripada segalanya adalah karya seni, keberadaannya misterius dan ia terus ada disamping dunia kecil kita, hidup yang sementara, sekadar transit.

Dengan catatan ini sebagai pendahuluan, izinkan aku kasih tahu bahwa syair-syairmu tidak punya gaya khas, meskipun syair-syair itu sungguh punya kesunyian dan permulaan yang tersembunyi dari sesuatu yang personal. Aku rasakan itu sangat jelas pada puisi terakhir, “My Soul”. Ada sesuatu yang mencoba untuk menjadi kata dan irama.

Engkau bertanya apakah syairmu bagus? Engkau bertanya padaku. Engkau juga bertanya kepada orang lain sebelumnya. Engkau kirimkan syair-syair itu ke majalah. Engkau membandingkan dengan syair lain, dan engkau kecewa ketika sejumlah editor menolak karyamu. Sekarang (sejak engkau bilang perlu saran saya), aku minta sudah hentikan saja itu. Engkau melihat keluar, dan itu lah yang harus engkau hindari sekarang. Tak ada yang bisa memberi advis dan bantuan–tak ada seorangpun.

Itulah yang harus kamu lakukan. Satu hal. Lihat dirimu sendiri. Temukan alasan uang menitahkanmu untuk menulis. Tengok apakah lasan itu sudah menyebarkan akarnya ke dalam hari terdalammu; buat pengakuan, apakah kamu akan mati kalau kamu dilarang menulis; dan lebih dari itu semua: tanyalah dirimu sendiri di saat malammu yang paling sepi: apa memang harus saya menulis? Gali dalam dirimu, temukan jawaban yang dalam. Dan apabila jawaban sesuai dan bergema keras, apabali engkau menjawab pertanyaan ini dengan jawaban tegas, “Ya, saya harus!” Maka kembangkan hidupmu sesuai dengan tekad itu. Hidupmu, sesederhana apapun harus menjadi tanda (sign) dan saksi (witness). dari gerak hati (impulse) ini. Lalu, cermati alam. Lalu, jangan lakukan seperti yang dilakukan orang lain sebelumnya, cobalah ugkapan apa yang kau lihat dan kau rasakan, cinta dan kehilangan. Tapi jangan tulis puisi cinta. Hindari bentuk sajak ini, karena teralalu gampangan dan teralalu biasa. Padahal puisi cinta sesungguhnya itu sangat sulit dibuat. Puisi cinta menuntut kekuatan yang penuh, perlu kematangan penulis, hingga perlu bernar-benar tercipta puisi yang individual, kaya rasa, padalah puisi jenis ini sudah sangat banyak sekali jumlahnya.

Maka selamatkanlah dirimu dari tema umum ini dan tulislah tentang apa yang ditawarkan oleh hidupmu sehari-hari. Gambarkan penderitaanmu dan keinginan terdalammu, yang melintas lewat pikiran dan percayamu — uraikan semua ini dengan getar hati, dalam sunyi, ketulusan hati, dan ketika kau ekspresikan dirimu sendiri, gunakan segala sesuatu yang ada di sekitarmu, wujud dari mimpi-mimpimu dan obejek-objek yang kau ingat. Kalau hidup sehari-harimu sepertinya tak ada yang istimewa, jangan salahkan. Salahkan dirimu sendiri. Akui saja bahwa dirimu tak cukup syarat menjadi penyair yang dapat terus menerus memperkaya hidup; karena bagi seorang kreator tak ada istilah hidup kaya atau miskin. Dan walaupun engkau dikurung dalam penjara yang dindingnya meredam seluruh suara dunia — bukankah engkau masih punya masa kanak-kanak? Juga perhiasan tak ternilai harta karun kenangan. Alihkan perhatianmu ke situ.

Cobalah membangkitkan perasaan yang karam tenggelam, dari masa lalu yang kaya itu; pribadimu akan menjadi lebih kuat, kecemasanmu akan melebar dan menjadi tempat di mana engkau dapat hidup dalam senja, dimana bising suara oarang lain jadi lampau sudah, jauh berjarak. Dan apabila smua itu berbali datang, bangkit dari benam dengan kata-katamu sendiri, itu salah saatnya syair datang, dan kau tak perlu berpikir untuk bertanya apakah syair itu bagus atau buruk. Juga tak perlu untuk mencoba-coba apakah syair itu sebagai milikmu yang alami, bagian dari kepingan hidupmu, suara hidupmu. Sebuah karya seni bernilai ketika ia bisa terbit-bangkit karena diperlukan. Itulah satu-satunya cara seseorang bisa menilai sebuah karya.

Karena itu, aku tak bisa memberimu advis, kecuali satu hal, kembalilah ke dalam dirimu sendiri dan tengok lagi seberapa dalam arus dimana hidumu mengalir langsung dari sumbernya, engkau akan menemukan jawaban dari pertanyaan apapun yang harus kau pertanyakan. Terimalah jawaban itu, terimalah apa yang diberikan padamu, tanpa harus mencoba untuk menginterpretasikannya. Mungkin dengan cara itu engkau akan menemukan bahwa dirimu memang diseru untuik menjadi penyair. Lalu, terimalah takdir itu, dan embanlah itu, itu adalah beban juga kehormatan, tanpa pernah bertanya apa yang didapat dari luar. Untuk seorang kreator sebuah dunia harus tercipta baginya, dan harus menemukan semuanya dalam dirinya dan di dalam alam, kepada siapa seluruh hidup ini dipasrahkan.

diunduh dari :
http://sejuta-puisi.blogspot.com/2006_09_01_archive.html

Ke Mana Perkembangan Sastra Kita?

Esai

Bagi kamu yang berminat mengenal sastra lebih dari sekadar membaca karya-karya, berikut Admin tampilkan sebuah esai Sapardi Djoko Damono yang membahas perkembangan sastra Indonesia dewasa ini.
Ke Mana Perkembangan Sastra Kita?

Sapardi Djoko Damono,
Sastrawan dan Guru Besar FSUI

Sementara kita suka membicarakan masa depan sastra yang tampaknya semakin suram, sebenarnya diam-diam banyak di antara kita yang mengakui bahwa sastra tetap saja dihasilkan manusia kapan pun, dalam suasana dan keadaan apa pun. Tentu ada beberapa alasan mengapa kita memprihatinkan nasib sastra di masa depan: minat baca yang rendah, tekanan dari berbagai lembaga masyarakat, perhatian dunia terhadap teknologi, sistem pendidikan yang tidak mengacuhkan ilmu kemanusiaan, dan sebagainya. Keadaan semacam itu dianggap tidak bisa membantu tumbuhnya kesusastraan, dan oleh karenanya kita, kadang-kadang dengan semangat berlebihan, sering mengajukan usul untuk meningkatkan minat baca masyarakat, melonggarkan tekanan dan memberikan kebebasan menulis bagi sastrawan, memberikan ruang gerak tidak hanya bagi perkembangan teknologi tetapi juga kesenian, memberikan porsi yang lebih besar kepada pendidikan kesenian di sekolah, dan sebagainya.
Sementara itu setiap harinya kita menyaksikan penerbitan karya sastra baru di media massa cetak maupun dalam bentuk buku dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung banyaknya. Kita pun mengetahui bahwa setiap sayembara mengarang selalu mendapat perhatian yang sangat menggembirakan dari masyarakat. Di samping itu, para sastrawan seperti tidak jemu-jemunya menyelenggarakan berbagai acara sastra seperti temu sastrawan, sarasehan sastra, pembacaan puisi, peluncuran buku sastra yang dibiayai sendiri, penerbitan majalah terbatas, dan membuat polemik mengenai penggolongan sastrawan menjadi orang pusat dan daerah.
Kita pun tahu bahwa karya sastra penting bisa lahir di mana pun dalam kondisi sosial politik macam apa pun. Dr. Zhivago ditulis oleh Boris Pasternak di masa rezim Komunis yang konon sangat represif masih berkuasa di Rusia; The Old Man and the Sea ditulis oleh Ernest Hemingway dalam masyarakat yang konon berpandangan liberal; Gitanjali ditulis oleh Rabindranath Tagore di negeri yang masih dalam cengkeraman penjajah; drama-drama Wole Soyinka ditulis di dunia ketiga yang penuh gejolak politik dan sosial, Nigeria.
Di samping itu, karya sastra mungkin sama sekali tidak bisa mengangkat kehidupan duniawi penulisnya seperti yang antara lain dialami oleh Chairil Anwar, tetapi mungkin juga bisa menyebabkan penulisnya sangat kaya raya seperti halnya John Grisham. Waktu dimuat pertama kali di majalah, sajak-sajak Chairil Anwar mungkin hanya dibaca puluhan orang saja, sedangkan cetakan pertama novel John Grisham mencapai 2,8 juta eksemplar; perlu diketahui bahwa keenam novel karya penulis Amerika itu sudah terjual sebanyak 55 juta eksemplar.
Apa yang saya ungkapkan itu menunjukkan bahwa sastra ternyata tetap ditulis dan dibaca meskipun tampaknya dunia kita ini semakin terbawa arus barang mewah dan teknologi modern, meskipun berbagai ilmu, seperti sejarah dan sosiologi, yang pernah dikhawatirkan akan menggusur cerita rekaan, berkembang dengan pesat. Perhatian kita yang semakin besar terhadap perkembangan teknologi modern ternyata tidak mengendurkan semangat membaca. Malah ada di antara kita yang berpendapat bahwa teknologi modern justru membantu tumbuhnya minat baca, seperti yang antara lain tampak pada pengaruh timbal balik antara novel dan film yang ceritanya didasarkan pada karya sastra.
Tentu karena kita membutuhkannya, maka sastra telah dihasilkan entah sejak kapan. Jika kita mengambil cara pandang ini begitu saja, seolah-olah tidak ada gunanya memperbincangkan arah dan nasib sastra kita di masa datang; apa pun yang terjadi, sastra Indonesia pasti akan dihasilkan. Yang perlu kita bicarakan sekarang adalah mengapa sastra harus ada dan untuk apa pula dia itu ada. Meskipun mungkin saja menjadi terharu atau bahkan menangis ketika membaca karya sastra, kita sepenuhnya menyadari bahwa yang kita hadapi hanyalah citraan rekaan yang tidak akan mampu menyelesaikan kemelut yang terjadi dalam hidup kita. Ia tidak nyata, sedangkan kesulitan hidup sehari-hari kita ini benar-benar nyata.
Tetapi, justru karena sifat rekaannya itulah, sastra kita butuhkan Kita tidak mungkin tinggal terus-menerus di dunia nyata; agar hidup ini berlangsung sebaik-baiknya, kita perlu mengadakan perjalanan pulang balik dari dunia nyata ke dunia rekaan. Setiap harinya kita melakukan itu: nonton telenovela atau film seri di televisi; membuat dan mendengarkan cerita rakyat, yakni cerita burung mengenai tetangga, kenalan, atau saudara; atau membaca cerita bersambung atau cerita pendek yang dimuat di berbagai media massa. Dunia rekaan ternyata merupakan pasangan dunia nyata. Jika di dunia nyata ini gerak-gerik kita ada batas-batasnya, maka di dunia rekaan kita mendapatkan keleluasaan yang memungkinkan kita melewati batas-batas itu. Di dalam dunia rekaan itu, apa yang terjadi di dunia nyata bisa diulang lagi. Dengan demikian ia merupakan cermin dari diri kita ini; menghasilkan sastra berarti menyaksikan diri kita sendiri di dalamnya. Karena cermin itu meniru apa yang dicerminkannya, maka sastra pada dasarnya dianggap sebagai mimesis. Dan mimesis adalah tiruan yang memperbaiki kekurangan yang ada pada yang ditiru. Sastra adalah cermin yang istimewa, ia tidak hanya menampilkan diri kita seperti yang ada di dunia nyata, tetapi sekaligus memperbaikinya. Ini berarti sastra juga menampilkan hal yang tidak tampak dalam dunia nyata, hal yang tidak bisa diketahui dalam dunia nyata.
Dengan cara lain bisa dikatakan bahwa sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai cermin, sastra memantulkan kehidupan setelah menilai dan memperbaikinya. Kita menciptakan sastra sebab membutuhkan citraan rekaan yang bisa mencerminkan hal yang tidak kita ketahui di dunia nyata. Itulah sebabnya, setidaknya menurut Wolfgang Iser, sastra tidak tergusur oleh perkembangan filsafat sejarah dan teori sosiologi, yang juga merupakan cermin diri kita, sebab sastra pada dasarnya justru mencerminkan yang tidak ada. Sastra menghadirkan yang tidak hadir, mementaskan yang tidak terpentaskan dalam kenyataan sehari-hari. Pertanyaan yang penting adalah mengapa gerangan kita menciptakan cara pementasan semacam itu, yang telah bersama kita sepanjang sejarah yang kita catat selama ini.
Jika kita mengikuti jalan pikiran Iser, jawaban terhadap pertanyaan itu tentulah bukan sekedar keinginan untuk mengulang-ulang apa yang ada, tetapi kehendak kuat untuk mendapatkan jalan masuk ke sesuatu yang tidak dapat kita ketahui. Kehendak itulah yang menyebabkan sastra tetap akan kita hasilkan dan tidak bisa digantikan oleh bidang lain apa pun.
Tetapi, kita tetap saja sering mengungkapkan bahwa sastra kita berada dalam bahaya; pandangan yang berlebihan bahkan menyatakan bahwa sastra kita akan disudutkan oleh berbagai hambatan untuk akhirnya hidup merana. Tuduhan terhadap lemahnya minat baca masyarakat sering kita gugurkan sendiri dengan kekhawatiran kita akan dominasi sastra terjemahan yang mengalami kemajuan yang pesat akhir-akhir ini. Sebenarnya kekhawatiran itu tidak perlu ada sebab sejarah telah mencatat juga dominasi sastra terjemahan dalam kehidupan nenek-moyang kita; dengan sangat cekatan kita bahkan telah menyadur sastra asing dan menjadikannya bagian penting yang mengembangkan ikut kebudayaan kita.
Sastra asing yang telah diterjemahkan tidak lagi menjadi milik bahasa dan kebudayaan sumbernya, tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari bahasa dan kebudayaan sasarannya. Dengan demikian maka Arjuna, Abunawas, dan Pinokio adalah para tetangga kita yang sudah kita lupakan asal-usulnya. Mungkin pada awalnya dulu kita tertarik kepada tokoh-tokoh itu justru karena mereka menghadirkan hal penting yang tidak hadir dalam kehidupan kita. Keasingan itulah yang menjadikan mereka itu “hidup” dalam kehidupan sehari-hari kita. Ditinjau dari sudut pandang ini, kegiatan penerjemahan sastra sekarang ini sebaiknya tidak ditanggapi sebagai ancaman kehidupan sastra kita, tetapi justru harus kita syukuri sebagai hal yang memberikan sumbangan bagi pemenuhan kehendak kuat kita untuk mendapatkan akses ke berbagai hal yang tidak bisa kita dapatkan.
Sastra, dalam zaman kita ini, telah menjadi barang dagangan. Penerbit adalah perusahaan yang dalam kegiatannya harus selalu memperhitungkan untung-rugi. Tampaknya, dalam perhitungan itu, menerbitkan karya terjemahan lebih menguntungkan daripada menerbitkan karya asli. Karya sastra asing yang siap diterjemahkan tidak terhitung jumlahnya, dan kita semua tahu bahwa proses menerjemahkan tentu lebih sederhana daripada proses menciptakan karya asli. Di samping itu jaminan lakunya karya sastra tampaknya lebih pasti sebab tidak jarang ditunjang oleh iklan mengenai keberhasilannya di luar negeri dan pemunculannya dalam bentuk kesenian lain, terutama film.
Kita juga sering mengeluh mengapa kita tidak mampu menghasilkan karya sastra yang, tidak usah adikarya, cermat, kokoh, dan padu seperti yang sering kita jumpai dalam sastra terjemahan. Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua sistem yang berkaitan dengan kelahiran karya sastra, yakni kepengarangan dan penerbitan. Sastrawan kita umumnya bekerja sendirian; ia harus bekerja secepat-cepatnya tanpa bantuan orang lain untuk memeriksa karangannya. Umumnya sastrawan kita memiliki kerja rangkap, artinya ia tidak bisa memperguanakan seluruh waktunya hanya untuk mengarang. Kesan kuat yang kita dapatkan dari kebanyakan karya sastra kita adalah penulisannya yang sangat tergesa-gesa.
Perkembangan sastra kita banyak ditaja oleh penyelenggaraan berbagai sayembara penulisan. Saya curiga bahwa kebanyakan naskah yang masuk dalam sayembara itu ditulis dengan sangat tergesa-gesa; sebuah novelette mungkin ditulis satu atau dua minggu sebelum dikirimkan; hampir tidak ada tanda-tanda bahwa kebanyakan naskah itu penah diperiksa ulang oleh penulisnya. Di lain pihak, penerbit juga tidak memiliki banyak waktu — di samping juga tidak memiliki kemampuan cukup — untuk menyuntingnya. Penerbit koran, majalah, atau buku di negeri ini tampaknya benar-benar menyadari pentingnya gerak cepat dalam mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya. Di dalam sistemnya, hampir tidak disediakan ruang untuk kemampuan yang benar-benar handal dalam penyuntingan. Sastra bukan kitab suci yang tidak bisa disunting agar menjadi lebih baik; sastrawan bukan nabi yang menyampaikan Sabda. Sastrawan hanyalah manusia biasa yang berusaha menciptakan benda budaya yang, tentu saja, bisa mengandung cacat yang bisa diperbaiki pihak lain.
Dalam hal ini proses penulisan novel John Grisham bisa dijadikan sekedar contoh. Ia adalah novelis yang memberi kesan bahwa novel-novelnya ditulis berdasarkan “penelitian” yang cermat atas masalah yang ditulisnya, mungkin justru karena itu ia tidak menulis tergesa-gesa dan sekali jadi. Mungkin saja novel-novelnya sebenarnya tidak merupakan hasil kerja sendirian; ada editor yang membantu melahirkan novelnya. Konon, novelnya The Rainmaker yang hak ciptanya untuk film bisa mencapai 16 miliar rupiah, mula-mula terdiri atas sekitar 750 halaman yang kemudian dirampingkan menjadi 434 halaman saja. Perampingan itu bisa saja dilakukan olehnya sendiri, bisa juga oleh pasukan penyunting yang benar-benar mampu melakukan tugasnya.
Harus kita akui bahwa sepandai-pandainya pengarang, bisa saja ia melakukan kekeliruan atau kecerobohan dalam cara penyampaian maupun apa yang disampaikan. Ia mempunyai kewajiban untuk memeriksa ulang dan memperbaikinya, dan penerbit yang baik juga berkewajiban untuk membantunya. Naskah yang masuk ke penerbit dan penyelenggara sayembara penulisan menunjukkan bahwa kecerobohan pengarang sangat tinggi kadarnya. Menurut pengalaman saya, praktis tidak pernah ada naskah peserta sayembara penulisan yang seratus persen siap untuk diterbitkan. Karena tidak adanya usaha untuk menyelenggarakan penyuntingan yang sungguh-sungguh, sebenarnya sebagian besar sastra kita adalah sastra yang ceroboh. Kita pernah membaca kritik F. Rahardi, penyair dan redaktur majalah pertanian Trubus, terhadap kecerobohan A. Tohari mengenai berbagai masalah pertanian dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel Umar Kayam yang banyak mengandung kosa kata Jawa, Para Priyayi, agak menderita sebab tampaknya si penyunting tidak begitu menguasai penulisan ejaan bahasa Jawa. Dan amat sangat banyak karya sastra kita yang mencerminkan lemahnya penguasaan bahasa; cerita rekaan menjadi bertele-tele dan menjengkelkan, puisi menjadi gelap.
Sastra tidak bisa dilahirkan dengan tergesa-gesa, pengarang tidak bisa sepenuhnya bekerja sendirian — ia langsung atau tak langsung memerlukan bantuan bidang dan keahlian lain. Sistem kesusastraan kita tampaknya belum sepenuhnya siap menunjang kelahiran sastra di zaman yang serba cepat ini. Bisnis penerbitan mensyaratkan dipercepatnya proses penerbitan dan dilipatgadakannya judul buku baru. Tujuan penerbitan yang mementingkan faktor laba ini segera tampak bertentangan dengan hakikat sastra yang memang tidak bisa dipaksa tergesa-gesa dan ceroboh. Yang sekarang diperlukan adalah suatu sistem penerbitan sastra yang bisa mempertemukan keduanya. Jadi, kita harus menciptakan sistem kepengarangan dan penerbitan yang bisa bekerja sama dengan baik, tanpa harus merugikan perkembangan kesusastraan.
Tinggal hal terakhir yang ingin saya sampaikan, yakni yang berkaitan dengan sastra sebagai cara menghadirkan yang tidak hadir. Dalam banyak teori mengenai kebudayaan populer dikatakan bahwa sastra (populer) dimaksudkan untuk membujuk pembaca agar merasa tenteram berada di dunia yang selama ini dikenalnya. Sastra menawarkan dunia yang sudah akrab dengan pembaca dan sama sekali tidak mengajaknya untuk melakukan petualangan melewati batas nilai-nilai dan norma-norma yang diajarkan kepadanya dan diyakininya. Berdasarkan pandangan ini, tentunya sastra cenderung menghadirkan yang sebelumnya memang sudah ada. Ia tidak memenuhi kebutuhan kita untuk mendapatkan jalan masuk ke apa yang tidak bisa kita dapatkan dan saksikan di dunia sehari-hari kita ini.
Untuk menciptakan jalan masuk semacam itu, sastrawan dituntut untuk memiliki kemampuan menciptakan dunia rekaan yang baru; itulah sebenarnya hakikat kreativitas. Kehidupan dan bisnis yang yang menuntut gerak serba cepat tampaknya memberi peluang ke arah diciptakannya sastra yang tergesa-gesa, yang tidak memberikan banyak kesempatan bagi sastrawan untuk “menciptakan” kehidupan, tetapi sekedar menirunya tanpa peluang untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada yang ditirunya. Sastra yang demikian itu sebenarnya merupakan rongrongan terhadap hakikatnya sendiri. Jika sastra hanya meniru dan mengulang apa yang sudah ada dalam kehidupan kita, menghadirkan yang sudah hadir, keabsahaannya sebagai cara untuk mencerminkan apa yang tidak tampak tentu saja menjadi luntur. Untuk apa pula membaca sastra jika disuguhkannya sama saja dengan yang kita kenal sehari-hari.

Dalam tarik-menarik antara keinginan yang sah untuk menjadikannya barang dagangan dan hakikatnya sebagai jalan masuk ke “dunia lain” itulah terletak masa depan sastra kita. ***

HARI SASTRA INDONESIA DI PARIS

menu
pasar malam
Pasar Malam

Bienvenue sur le site de Pasar Malam,
Association culturelle pour l’amitié
entre les peuples français et indonésien

Actualités

Sortie du 2ème ouvrage de la Collection du Banian

Receuillement de Iwan Simatupang

L’auteur (1928-1970) fait figure de novateur dans l’histoire de la littérature indonésienne car il a rompu avec la tradition du réalisme formel dans lesquelles les œuvres indonésiennes étaient habituellement écrites. Ce choix n’est pas fortuit, Iwan Simatupang voulait écrire un ” nouveau roman “. Son but est atteint avec Recueillement car cette œuvre ne ressemblent pas aux ouvrages que la littérature indonésienne proposait avant.

Dans un style très personnel, Recueillement affiche un humour et des personnages aux comportements absurdes et exagérés. L’histoire raconte le profond désespoir d’un homme suite au décès de sa femme, évènement tragique qui devient le fondement d’une réflexion sur la vie et la mort. C’est la vie du héros et, indirectement, celle de son entourage qui vont être bouleversées.
Le héros de Recueillement n’a pas de nom. C’est un peintre reconnu qui va arrêter son activité après le décès de sa femme et accepte alors tout travail à condition que celui-ci ne dure pas plus de cinq heures d’affilées, qu’il s’arrête au coucher du soleil et surtout qu’il n’ait aucun rapport avec la mort. Chaque soir, le héros s’enivre, appelle ” Dieu comme un sourd “, crie ” à tue-tête le nom de sa femme “, pleure ” bruyamment ” et rit ” enfin aux éclats “. Son entourage s’est habitué à ce comportement et le considère normal lorsque le directeur du cimetière, désireux d’observer les réactions du peintre, lui propose de badigeonner les murs du cimetière. A la surprise de tous, le peintre accepte et change de comportement…

Traduit de l’indonésien par Monique Zaini-Lajoubert
Titre original : Ziarah (Djakarta, Djambatan, 1969, 177 p.).
Préface d’Étienne Naveau et introduction de Monique Zaini-Lajoubert
ISBN : 978-2-95257-274-3 – Prix : 15 euros
Collection du Banian/ Association Pasar Malam
Format : 13 x 19 cm
Reliure : 204 pages
Conception graphique, couverture et dessins : Thomas Frisch
Imprimé par CPI Firmin-Didot

Vendredi 24 septembre
Les 10 heures pour la littérature indonésienne

avec le soutien du conseil Régional et du dessinateur Willem

Littérature en exil : les années 60 en Indonésie

Programme de la journée :

10h00 – Accueil des participants

10h30 – Ouverture avec Dominique Maison (membre du bureau Pasar Malam) et François Salvaing (écrivain).

< Dominique Maison < François Salvaing

11h00 – Conférence sur l’histoire du LEKRA (Institut de Culture Populaire créé le 17 août 1950 en Indonésie) par Rhoma Dwi Aria Yuliantri, chercheuse, historienne. (Interpréte : Hélène Blanchard).

< Rhoma Dwi Aria yuliantri

< Hélène Blanchard

11h30 – Discussion avec le public

12h30 – Déjeuner autour d’un buffet indonésien

14h30 – Table ronde sur la Littérature en exil, avec les auteurs suivants :

- Asahan Aidit, écrivain et poète
Chalik Chamid, écrivain et poète
Putu Oka Sukanta, écrivain et poète
May Swan, écrivain

< Asahan Aidit

< Chalik Chamid

< putu Okada Sukanta

< May Swan

et avec la participation d’Etienne Naveau (modérateur) et Dominique Maison (Interprète).

15h50 – Discussion avec le public

16h30 -Pause puis spectacle de danse par Ni Kadek Yulia Puspasari, accompagnée musicalement par Christophe Moure.

< Ni Kadek Puspasari

17h – Lecture de poésie et d’« histoires courtes dans une longue journée », par Jim Adhilimas, acteur.

< Jim Adhilimas

17h20 – Film “Seni Ditating Jaman” (L’art qui ne mourra pas- 40 min, 2008). Ce documentaire de Putu Oka Sukanta et Lilik Munafidah montre comment les membres du LEKRA mènent leurs activités artistiques en prison ou dans la clandestinité, du fait de l’interdiction dont ils font l’objet par le régime politique de Suharto. Leurs points de vue sont ponctués par les interviews d’historiens, d’artistes et d’experts juridiques. (indonésien, sous-titré anglais).

18h50 -Pause, lecture de quelques « histoires courtes dans une longue journée » (chaque histoire compte moins de 20 mots) par Yita Dharma et Wilma Margono.

< Yita Dharma

< Wilma Margono

19h05 – Foire aux livres

ADRESSE
Maison de l’Asie
22 Avenue du Président Wilson, 75016 Paris, m° Trocadéro.

Participation aux frais (buffet compris) :
17€ membres (30€/couple),
15€ étudiants et chercheurs d’emploi,
22 euros non membres, 40€/couple,

Réserver au 01 56 24 94 53
ou à afi.pasar-malam@wanadoo.fr

Chèque à l’ordre de Pasar Malam.

Volupthé du 23 juin à 19 heures

Avec Sandrine Soimaud, auteur du livre Ma vie Balinaise

Ce guide s’adresse aux 7 à 97 ans et raconte avec simplicité et raffinement la vie de tous les jours à Bali (illustrations d’Edith Baudrand).

Entrée libre, réservation appréciée. Librairie Sudestasie, notre partenaire pour tous les livres (ou presque) sur l’Indonésie (17, rue du Cardinal Lemoine Paris, 75005 Paris).

Cette rencontre s’achèvera avec l’auteur dans un restaurant du quartier.

Ma vie Balinaise existe en deux formats : album (grand format) et poche (petit format). Bilingue français-indonésien.

Grand format 49€, Poche 20€.

Disponible à librairie Sudestasie, 17 rue du Cardinal Lemoine, 75005

Samedi 5 Juin

15e Volupthé

Avec à 19h00, une mini conférence, mais maxi mine d’info

On m’appelle Nyai Ontosoroh

raconte le destin de Nyai Ontosoroh, sa fille Annelies (une métisse) et son gendre «indigène» Minke.

Destins tragiques, parce que dans les Indes néerlandaises le statut social dépendait étroitement de la quantité de sang européen qui coulait dans les veines. On m’appelle Nyai Ontosoroh montre comment l’injustice du système colonial a donné naissance à la lutte pour l’indépendance indonésienne…

Par Faiza Mardzoeki

Féministe et metteur en scène Faiza Mardzoeki*, à la ville Mme Max Lane, a adapté pour la scène le livre de Pramoedya Ananta Toer, Le Monde des hommes (Editions Payot et Rivages). Elle présentera en anglais cette pièce de théâtre qui a été jouée dans plusieurs villes en Indonésie et récemment aux Pays-Bas au Festival Tong Tong.

Samedi 5 juin 2010 à 19 heures

Amuse-gueule, thé, verre d’amitié

Entrée libre

Réservation appréciée

Librairie Sudestasie, notre partenaire pour tous les livres (ou presque) sur l’Indonésie

17, rue du Cardinal Lemoine Paris, 75005 Paris

Dîner dans un restaurant du quartier ensuite

*senjajingga@gmail.com
http://www.faizafaiza.blogspot.com
http://www.myspace.com/faizamardzoeki

le 27 mai 2010 de 19h00 à 22h30, Soirée
en partenariat avec le Restaurant Indonesia

Au cours de cette soirée, Yita Dharma, Ilse Peralta et Rizki Ramdhani interviendront gracieusement pour vous plaire. Danses, chants et musique, 100% survitaminées, populaires et indonésiens.

Cette soirée revêt une double fonction : levée de fonds pour financer la prochaine biennale des 10 heures pour la littérature indonésienne (prévue en septembre 2010) et joyeux partage des humeurs et des sourires !

Cette année, le thème de la Biennale est “La littérature en exil. Les années soixante en Indonésie“. Comme chaque fois, nous invitons à Paris des écrivains indonésiens à une grande journée littéraire avec table ronde, film, discussions, lecture publique, etc. L’invité d’honneur est Putu Oka Sukanta, écrivain, nouvelliste, poète et … prisonnier politique de 1966 à 1976. Le sujet et la crise font que les subventions se font rares.

Une soirée de partage des connaissances aussi grâce à la généreuse participation de Stéphane Dovert qui présentera une courte introduction à l’Ordre nouveau suhartien. (Stéphane Dovert est Responsable du Pôle de l’écrit et des industries culturelles à la Direction de la politique culturelle et du français – Direction générale de la mondialisation et des partenariats au Ministère des Affaires étrangères et européennes). Il a passé dix-sept ans en Asie du Sud-Est au cours desquels il a écrit de nombreux ouvrages, sous son nom ou sous le pseudonyme de Gabriel Defert, parmi lesquels L’Indonésie et la Nouvelle-Guinée Occidentale et Indonésie, un demi-siècle de construction nationale (coédité avec Françoise Cayrac-Blanchard et Frédéric Durand), deux ouvrages parus à l’Harmattan.

Stéphane Dovert est aussi romancier. Citons L’Ombre de l’ornithorynque (L’Harmattan), et Le cannibale et les termites (éditions Métailié) qui ont trait à l’Indonésie. Ce dernier livre sera disponible à la soirée.

Avec aussi, Tombola et foire d’Artisanat et de livres, et pour la 1ère fois quelques livres d’Etienne Naveau :
- La Beauté n’a de valeur que pour les hommes. Kant.
– La mort n’est pas rien pour nous,
– La foule c’est le mensonge. Kierkegaard,
– L’enfer c’est les autres.

12 rue de Vaugirard, 75006 PARIS,
Métro Odéon ou RER Luxembourg

Participation à la soirée (dîner de gala et vin compris) :
Membre : 35€ par individu et 60€ par couple,
Étudiant et chercheur d’emploi : 30€
Non membre : 40€

55 places de disponibles pour le dîner de gala,
réservation recommandée au 01 56 24 94 53 ou par mel
afi.pasar-malam@wanadoo.fr

Chèque à l’ordre de Pasar Malam, à envoyer à l’adresse
14, rue du Cardinal Lemoine Paris, 75005 Paris

le 12 mai 2010 à 19h00, 14ème Volupthé
en partenariat avec la librairie Ishtar

La librairie Ishtar nous accueille pour la 3e fois dans son espace, si adapté aux démonstrations de danse. Ilse Peralta y présentera “La mise en scène des danses indonésiennes”.

Quelles significations prennent le mouvement et la danse dans une culture donnée ? À quels mythes renvoient ou répondent les danses revisitées, re-créées dans un souci de transmission ?

Membre de Pasar Malam, Ilse est danseuse, chorégraphe et professeur. Formée par des maîtres de danse indonésienne à Bali et par les conservatoires de danse au Mexique (dont elle est originaire) et à Paris, Ilse est co-fondatrice de la compagnie “Danse le Monde” avec Olga Lumelsky. Cette Compagnie a pour objectif de promouvoir la danse contemporaine et les danses traditionnelles à travers la création chorégraphique et l’action culturelle.

Pour ce ” volupthé ” de printemps : amuse-gueule, thé, verre d’amitié et quelques danses par Ilse !

Entrée libre, Réservation appréciée
afi.pasar-malam@wanadoo.fr ou 01 56 24 94 53
10, rue du Cardinal Lemoine Paris, 75005 Paris

2010 – Collection du Banian

Jeudi 25 mars, 19 heures
Pour la sortie du premier ouvrage de la Collection du Banian, l’association  franco-indonésienne, en partenariat avec la librairie Ishtar propose une soirée poésie, avec lecture et mise en musique de quelques pantouns, pour célébrer Le chant à quatre mains. Pantouns et autres poèmes d’amour

En présence de l’auteur, Georges Voisset & Nicolas Peigney, pianiste et compositeur
Avec la participation exceptionnelle de Yuyu Hagenbucher !
Membre Pasar Malam, elle chantera quelques pantouns pour notre plus grand bonheur.
Librairie Ishtar, 10 rue du Cardinal Lemoine, 75005 PARIS
PAF : 3 euros
Merci de réserver : afi.pasar-malam@wanadoo.fr ou téléphone 01 56 24 94 53

separateur

L’association  Pasar Malam, Collection du Banian, vient de publier
Le Chant à quatre mains. Pantouns et autres poèmes d’amour, bilingue français/indonésien, Paris, présentation, commentaire, traduction par Georges Voisset. Postface par Claude Hagège. 250 exemplaires sont numérotés de 1 à 250.

Collection du Banian

Ouvrir cette collection par un recueil de pantouns indonésiens et malais présentés par Georges Voisset a plusieurs motivations. D’abord, l’ambition de celle-ci est de contribuer à une meilleure visibilité, en français, de ces grandes littératures variées qu’abrite l’Archipel indonésien, et il n’a pas paru déraisonnable de commencer avec un genre qui est, indiscutablement, le fleuron de cet univers de poésie : le pantun (pantoun). D’autant que ce genre se prête particulièrement bien à l’inauguration d’un ouvrage bilingue. C’est chose si rare ! Toutefois, ce recueil est loin d’être une simple compilation de pantouns. A travers une sélection de quelque cent cinquante poèmes, l’auteur propose une véritable promenade commentée dans plusieurs mondes qui s’entrecroisent : le monde de l’Archipel d’antan, bien sûr, sa poésie exotique, et notamment érotique, en premier lieu. Car l’Amour est le grand thème qui traverse ces pages. Mais tout autour, de nombreuses ‘sonorités’ se font écho, qui donnent à cette « collection » de petits quatrains une profondeur toute nouvelle : on découvre  ainsi des textes dans leurs versions chinoise, polonaise, kiswahili, bretonne. Leur élan poétique a permis cela. Et encore, d’autres formes poétiques plus ou moins similaires, en résonance  – arménienne, vietnamienne, tamoule. Enfin, nombre de grands noms de la poésie des quatre coins de la planète – et d’autres moins fameux – reflètent ces parcours : de Jaufré Rudel à Omar Khayam, de Tiruvalluvar à Nerval, de Rabearivelo à W.S. Auden, de Bilhana à Hugo…

Le chant à quatre mains. Pantouns et autres poèmes d’amour, Georges Voisset,
18 euros
Dépôt légal 1er trimestre 2010 / Achevé d’imprimer par CPI en février 2010
218 pages, présentation, commentaire, traduction par Georges Voisset.
Postface par Claude Hagège.
250 exemplaires sont numérotés de 1 à 250
Conception graphique Thomas Frisch www.eyrac.com

On peut commander par courriel  : afi.pasar-malam@wanadoo.fr
Règlement par chèque à l’ordre de Pasar Malam à envoyer à l’adresse ci-dessous.
Association franco-indonésienne Pasar Malam
14 rue du Cardinal Lemoine, 75005 Paris

A l’Attention des Libraires :
PASSEZ VOS COMMANDES PAR DILICOM. NOTRE GENCOD : 3015594094813

separateur

L’Association franco-indonésienne Pasar Malam lance les volupthé(s) !

-
Lucie 4, photo © Elène Usdin, 2007

En collaboration avec la librairie Sudestasie, notre partenaire, et pour mieux faire connaître ce lieu et la littérature indonésienne, nous organisons les volupthé(s).
Deux vendredis par mois, en fin d’après-midi, nous proposons un thé accompagné d’une lecture publique de poésie ou d’extrait de romans ou encore d’une mini conférence sur tous sujets imaginables (liés à l’Indonésie).
La lecture, comme la mini conférence, ne dépassera pas quinze minutes.

Entrée libre mais inscription indispensable afi.pasar-malam@wanadoo.fr
ou 01 56 24 94 53

Librairie Sudestasie, 17 rue du Cardinal Lemoine, 75005 PARIS, Mo Cardinal Lemoine, Jussieu

separateur

Une vingtaine d’artistes indonésiens seront à Paris du 18 mars au 22 mars !

Au Grand palais (voir http://www.artparis.fr)
Nef du Grand Palais, Avenue Winston Churchill, 75008 Paris.

haut

Njoto, Merahnya ‘HR’, Merahnya Lekra

Njoto memanfaatkan Harian Rakjat sebagai senjata agitasi dan propaganda partai. Namun ia menyelamatkan film Hemingway dari daftar haram, dan menolak memerahkan seluruh Lekra.
SUNGGUHPUN Harian Rakjat (HR) lekat dengan nama Njoto, ia bukan pendiri corong resmi Partai Komunis Indonesia tersebut. Pendirinya Siauw Giok Tjhan (1914-1981), wartawan majalah Liberty dan Pemuda. Ia anggota Konstituante, pendiri Baperki, organisasi massa warga keturunan Tionghoa yang kemudian dilarang pasca-G30S.
Pertama kali terbit pada 31 Januari 1951 dengan nama Suara Rakjat, Harian Rakjat memiliki jargon nyaring: ”Untuk rakjat hanja ada satu harian, Harian Rakjat.” Giok Tjhan memimpin Harian Rakjat dua tahun pertama, kemudian digantikan Njoto hingga akhir hayat.
Di tangan Njoto, yang kemudian diangkat sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda, HR dengan oplah yang diklaim sebesar 60 ribu eksemplar adalah pendukung kebijakan partai. Harian Rakjat tak ubahnya pamflet; tak ada edisi yang muncul tanpa kata ”rakjat” dan dukungan pada Manifesto Politik Soekarno. Bahasa yang digunakan, seperti dibahas penulis Lekra, Busjari Latif, dalam artikelnya di Harian Rakjat, adalah bahasa yang ”hemat, lintjah, dan terus terang sesuai kerangka Marxisme/Leninisme.”
Dalam buku kecil Pers dan Massa, kumpulan pidato Njoto saat ulang tahun Harian Rakjat 1956-1958, Njoto membandingkan surat kabar itu dengan Pravda, koran partai komunis Uni Soviet. Harian Rakjat disebutnya memiliki keunggulan utama, yakni para ”korespondennja jang lahir dari tengah-tengah massa”. Artinya, setiap buruh, setiap pelajar, dan setiap orang bisa jadi koresponden.
Dalam periode 1950-an itu Harian Rakjat memberikan ruang luas bagi karya seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang didirikan Njoto dan dua petinggi PKI D.N. Aidit dan A.S. Dharta serta seorang tokoh Murba, M.S. Ashar. Lekra lahir pada tahun yang sama dengan Harian Rakjat, ketika dirasakan gemuruh semangat revolusi mulai mengendur. ”Bahwa Rakjat adalah satu-satunja pentjipta kebudajaan dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia-baru hanja dapat dilakukan oleh Rakjat,” begitu tertulis dalam Mukadimah Lekra.
Njoto, yang biasa menulis esai dan puisi, berdansa waltz dan foxtrot, serta meniup saksofon, sangat piawai memainkan peran utama di dua entitas kiri itu. Di Harian Rakjat, salah satu tugasnya sebagai pemimpin redaksi adalah menulis editorial koran. Menurut Martin Aleida, wartawan Harian Rakjat yang selamat dari pembantaian dan pemenjaraan, kadang ia menulis di kantor, meski sering menitipkannya lewat kurir. Njoto juga sering membantu merumuskan sudut pandang (angle) bagi artikel Harian Rakjat.
Sedangkan di Lekra, menurut Sabar Anantaguna, teman sekolah Njoto di Jember yang kemudian menjadi pengurus Lekra pusat, Njoto tahu bagaimana melayani seniman yang tak mau diatur dan dikomando. Dia sering hadir dalam rapat Lekra, meski tak banyak bicara. Kalau setuju, kata Anantaguna, Njoto diam. Kalau kurang setuju, Njoto baru angkat bicara dan selalu bilang, ”Apa itu sudah yakin? Coba dipikir lagi,” Anantaguna menirukan Njoto.
Njoto pun hati-hati menjaga keseimbangan ideologis di kalangan seniman. Meski ia pendukung Manifestasi Politik sejati Njoto melahirkan prinsip ”politik sebagai panglima” dan giat memobilisasi perlawanan terhadap para seniman non komunis pendukung humanisme universal Njoto tak setuju dengan upaya memerahkan Lekra sepenuhnya, seperti yang diinginkan rekan-rekannya di Politbiro. Anggota Lekra tidak semuanya komunis, dan ia ingin mempertahankannya begitu.
”Manikebu (akronim ejekan untuk Manifesto Kebudayaan) adalah sebuah konsep pemikiran. Konsep tidak bisa ditiadakan oleh tanda tangan di atas kertas,” kata Joesoef Isak, menirukan Njoto, sahabatnya. Ketika kemudian Soekarno melarang Manifesto Kebudayaan, Njoto tidak bersorak seperti kebanyakan pendukung komunis yang mengucap syukur.
Dalam ingatan Martin, Njoto pula yang menghapus nama Ernest Hemingway yang ia kenal personal dan film The Old Man and The Sea dari daftar film Amerika yang haram ditonton. Demikian kuat karisma Njoto hingga ada lelucon sendiri. Di kalangan penghuni Jalan Cidurian 19, rumah Oey Hay Djoen, kantor pusat Lekra, bila Njoto datang, para penghuni berdiri. ”Kalau Aidit yang datang, mereka tak mau melakukannya,” kata Martin.
Iwan Simatupang, sastrawan antikomunis asal Sibolga, pernah mencemaskan pengaruh Njoto yang dianggapnya lebih berbahaya daripada Lukman atau Aidit—karena kuatnya inteligensi orang yang disebutnya ”sok intelek dan sok filosofis” itu. Menurut dia, seniman besar seperti Rivai Apin, Basuki Resobowo, dan Henk Ngantung menjadi simpatisan komunis karena pengaruh Njoto.
l l l
Masa-masa keemasan Njoto sebagai pemimpin agitasi dan propaganda melemah ketika konflik ideologis antara Njoto dan Aidit memuncak. Saat itu PKI sudah mengklaim punya anggota lebih dari tiga juta. Setelah MPRS menabalkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup, Njoto didaulat sebagai menteri. Kedekatannya dengan Soekarno Njoto adalah penulis pidatonya—mengancam posisinya di partai (baca ”Njoto dan Soekarnoisme” Red). Puncaknya pada 1964, seperti keterangan Joesoef Isak, ketika Njoto diskors dari seluruh jabatannya di partai, termasuk posisi Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda. Penggantinya, Oloan Hutapea, loyalis Aidit.
Konflik Njoto dan Aidit merembet sampai ke Harian Rakjat. Martin ingat, bulan-bulan terakhir menjelang G30S, Njoto sudah tak aktif lagi memimpin. Tapi konflik internal Harian Rakjat memanas. Mereka yang dari Sumatera dimusuhi awak redaksi yang berlatar belakang Pemuda Rakyat karena dianggap anak emas Njoto. ”Padahal karena kami lebih biasa berbahasa Melayu. Selain itu, Pemuda Rakyat tak begitu senang kepada seniman Lekra yang tak bisa diatur. Pemuda Rakyat lebih militan,” katanya.
Tapi demikian lekatnya Harian Rakjat dengan sosok Njoto, Aidit tak berupaya mencopotnya. Partai membuat harian umum baru, Kebudajaan Baru. Menurut Martin, koran baru ini muncul hanya 1-2 bulan menjelang G30S, sehingga tak banyak petinggi partai yang mengetahui. Pemimpin redaksinya Muslimin Jasin, anggota Comite Central asal Nusa Tenggara.
Seorang pemimpin PKI di daerah yang diwawancarai Saskia Eleonora Wieringa dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia—mengaku jadi bagian dewan redaksi Kebudajaan Baru, yang dibuat untuk menandingi Harian Rakjat. ”Malam sebelum kup kami mengadakan rapat redaksi. Aidit datang dan mengatakan, ”Sekarang saya akan memulai sesuatu yang banyak kawan kita mungkin tidak suka. Tapi ini merupakan jalan pintas cita-cita kita,” katanya.
Sejarah mencatat, ”jalan pintas” Aiditlah yang mengubur dalam-dalam bukan cuma partai, tapi juga Lekra dan Harian Rakjat sekaligus. HR menerbitkan edisi penghabisan pada Sabtu, 2 Oktober 1965, dan Harian Rakjat Minggu (HRM) melakukannya sehari kemudian. Nomor buncit lembar seni-budaya itu memuat nama Banda Harahap sebagai pimpinan dewan redaksi, dengan penanggung jawab M. Naibaho dan beranggotakan sastrawan Zubir A.A, Amarzan Ismail Hamid, dan Bambang Sokawati Dewantara—putra bungsu Ki Hajar Dewantara. Seperti dikutip Taufiq Ismail dalam buku Prahara Budaya, ada sejumlah petunjuk di edisi itu akan situasi genting pasca-G30S, namun yang paling menarik adalah puisi ”Wong Tjilik” (yang menurut salah satu redaktur HRM, adalah karya Njoto) di pojok Tjabe Rawit, halaman tiga:
Makan tak enak, tidur tak nyenyak
Nasi dimakan serasa sekam, air diminum serasa duri
Siang jadi angan-angan, malam jadi buah mimpi, teringat celaka badan diri
Bukan salah bunda mengandung, salah anak buruk pinta
Sudahlah nasib akan digantung, jadi si laknat setan kota….

Njoto memanfaatkan Harian Rakjat sebagai senjata agitasi dan propaganda partai. Namun ia menyelamatkan film Hemingway dari daftar haram, dan menolak memerahkan seluruh Lekra.

Sungguhpun Harian Rakjat (HR) lekat dengan nama Njoto, ia bukan pendiri corong resmi Partai Komunis Indonesia tersebut. Pendirinya Siauw Giok Tjhan (1914-1981), wartawan majalah Liberty dan Pemuda. Ia anggota Konstituante, pendiri Baperki, organisasi massa warga keturunan Tionghoa yang kemudian dilarang pasca-G30S.

Pertama kali terbit pada 31 Januari 1951 dengan nama Suara Rakjat, Harian Rakjat memiliki jargon nyaring: ”Untuk rakjat hanja ada satu harian, Harian Rakjat.” Giok Tjhan memimpin Harian Rakjat dua tahun pertama, kemudian digantikan Njoto hingga akhir hayat.

Di tangan Njoto, yang kemudian diangkat sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda, HR dengan oplah yang diklaim sebesar 60 ribu eksemplar adalah pendukung kebijakan partai. Harian Rakjat tak ubahnya pamflet; tak ada edisi yang muncul tanpa kata ”rakjat” dan dukungan pada Manifesto Politik Soekarno. Bahasa yang digunakan, seperti dibahas penulis Lekra, Busjari Latif, dalam artikelnya di Harian Rakjat, adalah bahasa yang ”hemat, lintjah, dan terus terang sesuai kerangka Marxisme/Leninisme.”

Dalam buku kecil Pers dan Massa, kumpulan pidato Njoto saat ulang tahun Harian Rakjat 1956-1958, Njoto membandingkan surat kabar itu dengan Pravda, koran partai komunis Uni Soviet. Harian Rakjat disebutnya memiliki keunggulan utama, yakni para ”korespondennja jang lahir dari tengah-tengah massa”. Artinya, setiap buruh, setiap pelajar, dan setiap orang bisa jadi koresponden.

Dalam periode 1950-an itu Harian Rakjat memberikan ruang luas bagi karya seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang didirikan Njoto dan dua petinggi PKI D.N. Aidit dan A.S. Dharta serta seorang tokoh Murba, M.S. Ashar. Lekra lahir pada tahun yang sama dengan Harian Rakjat, ketika dirasakan gemuruh semangat revolusi mulai mengendur. ”Bahwa Rakjat adalah satu-satunja pentjipta kebudajaan dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia-baru hanja dapat dilakukan oleh Rakjat,” begitu tertulis dalam Mukadimah Lekra.

Njoto, yang biasa menulis esai dan puisi, berdansa waltz dan foxtrot, serta meniup saksofon, sangat piawai memainkan peran utama di dua entitas kiri itu. Di Harian Rakjat, salah satu tugasnya sebagai pemimpin redaksi adalah menulis editorial koran. Menurut Martin Aleida, wartawan Harian Rakjat yang selamat dari pembantaian dan pemenjaraan, kadang ia menulis di kantor, meski sering menitipkannya lewat kurir. Njoto juga sering membantu merumuskan sudut pandang (angle) bagi artikel Harian Rakjat.

Sedangkan di Lekra, menurut Sabar Anantaguna, teman sekolah Njoto di Jember yang kemudian menjadi pengurus Lekra pusat, Njoto tahu bagaimana melayani seniman yang tak mau diatur dan dikomando. Dia sering hadir dalam rapat Lekra, meski tak banyak bicara. Kalau setuju, kata Anantaguna, Njoto diam. Kalau kurang setuju, Njoto baru angkat bicara dan selalu bilang, ”Apa itu sudah yakin? Coba dipikir lagi,” Anantaguna menirukan Njoto.

Njoto pun hati-hati menjaga keseimbangan ideologis di kalangan seniman. Meski ia pendukung Manifestasi Politik sejati Njoto melahirkan prinsip ”politik sebagai panglima” dan giat memobilisasi perlawanan terhadap para seniman non komunis pendukung humanisme universal Njoto tak setuju dengan upaya memerahkan Lekra sepenuhnya, seperti yang diinginkan rekan-rekannya di Politbiro. Anggota Lekra tidak semuanya komunis, dan ia ingin mempertahankannya begitu.

”Manikebu (akronim ejekan untuk Manifesto Kebudayaan) adalah sebuah konsep pemikiran. Konsep tidak bisa ditiadakan oleh tanda tangan di atas kertas,” kata Joesoef Isak, menirukan Njoto, sahabatnya. Ketika kemudian Soekarno melarang Manifesto Kebudayaan, Njoto tidak bersorak seperti kebanyakan pendukung komunis yang mengucap syukur.

Dalam ingatan Martin, Njoto pula yang menghapus nama Ernest Hemingway yang ia kenal personal dan film The Old Man and The Sea dari daftar film Amerika yang haram ditonton. Demikian kuat karisma Njoto hingga ada lelucon sendiri. Di kalangan penghuni Jalan Cidurian 19, rumah Oey Hay Djoen, kantor pusat Lekra, bila Njoto datang, para penghuni berdiri. ”Kalau Aidit yang datang, mereka tak mau melakukannya,” kata Martin.

Iwan Simatupang, sastrawan antikomunis asal Sibolga, pernah mencemaskan pengaruh Njoto yang dianggapnya lebih berbahaya daripada Lukman atau Aidit—karena kuatnya inteligensi orang yang disebutnya ”sok intelek dan sok filosofis” itu. Menurut dia, seniman besar seperti Rivai Apin, Basuki Resobowo, dan Henk Ngantung menjadi simpatisan komunis karena pengaruh Njoto.

* * *

Masa-masa keemasan Njoto sebagai pemimpin agitasi dan propaganda melemah ketika konflik ideologis antara Njoto dan Aidit memuncak. Saat itu PKI sudah mengklaim punya anggota lebih dari tiga juta. Setelah MPRS menabalkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup, Njoto didaulat sebagai menteri. Kedekatannya dengan Soekarno Njoto adalah penulis pidatonya—mengancam posisinya di partai (baca ”Njoto dan Soekarnoisme” Red). Puncaknya pada 1964, seperti keterangan Joesoef Isak, ketika Njoto diskors dari seluruh jabatannya di partai, termasuk posisi Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda. Penggantinya, Oloan Hutapea, loyalis Aidit.

Konflik Njoto dan Aidit merembet sampai ke Harian Rakjat. Martin ingat, bulan-bulan terakhir menjelang G30S, Njoto sudah tak aktif lagi memimpin. Tapi konflik internal Harian Rakjat memanas. Mereka yang dari Sumatera dimusuhi awak redaksi yang berlatar belakang Pemuda Rakyat karena dianggap anak emas Njoto. ”Padahal karena kami lebih biasa berbahasa Melayu. Selain itu, Pemuda Rakyat tak begitu senang kepada seniman Lekra yang tak bisa diatur. Pemuda Rakyat lebih militan,” katanya.

Tapi demikian lekatnya Harian Rakjat dengan sosok Njoto, Aidit tak berupaya mencopotnya. Partai membuat harian umum baru, Kebudajaan Baru. Menurut Martin, koran baru ini muncul hanya 1-2 bulan menjelang G30S, sehingga tak banyak petinggi partai yang mengetahui. Pemimpin redaksinya Muslimin Jasin, anggota Comite Central asal Nusa Tenggara.

Seorang pemimpin PKI di daerah yang diwawancarai Saskia Eleonora Wieringa dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia—mengaku jadi bagian dewan redaksi Kebudajaan Baru, yang dibuat untuk menandingi Harian Rakjat. ”Malam sebelum kup kami mengadakan rapat redaksi. Aidit datang dan mengatakan, ”Sekarang saya akan memulai sesuatu yang banyak kawan kita mungkin tidak suka. Tapi ini merupakan jalan pintas cita-cita kita,” katanya.

Sejarah mencatat, ”jalan pintas” Aiditlah yang mengubur dalam-dalam bukan cuma partai, tapi juga Lekra dan Harian Rakjat sekaligus. HR menerbitkan edisi penghabisan pada Sabtu, 2 Oktober 1965, dan Harian Rakjat Minggu (HRM) melakukannya sehari kemudian. Nomor buncit lembar seni-budaya itu memuat nama Banda Harahap sebagai pimpinan dewan redaksi, dengan penanggung jawab M. Naibaho dan beranggotakan sastrawan Zubir A.A, Amarzan Ismail Hamid, dan Bambang Sokawati Dewantara—putra bungsu Ki Hajar Dewantara. Seperti dikutip Taufiq Ismail dalam buku Prahara Budaya, ada sejumlah petunjuk di edisi itu akan situasi genting pasca-G30S, namun yang paling menarik adalah puisi ”Wong Tjilik” (yang menurut salah satu redaktur HRM, adalah karya Njoto) di pojok Tjabe Rawit, halaman tiga:

Makan tak enak, tidur tak nyenyak

Nasi dimakan serasa sekam, air diminum serasa duri

Siang jadi angan-angan, malam jadi buah mimpi, teringat celaka badan diri

Bukan salah bunda mengandung, salah anak buruk pinta

Sudahlah nasib akan digantung, jadi si laknat setan kota….

Sumber: TEMPO, 5 Oktober 2009


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers