Archive for the ‘Sastra’ Category

Sel D

S. Anantaguna

S e l   D

Jam empat pagi Ratmono mengetok pintu rumah seorang kawan. Pagi itu terasa sangat sunyi. Suara kokok makin menambah luasnya kesepian. Perlahan-lahan pintu dibuka, dan ia pun segera menyelinap masuk. Nyala pelita tak kuat menyoinari dinding-dinding bamboo, sehingga cahaya remang-remang itu terasa menyempitkan pernapasan dan pandangan mata.

‘’Mengapa kau ke mari ?’’ - tanya kawan itu.

‘’Aku harus menyampaikan keputusan Partai yang dibawa oleh Pak Abdul Mutalib’’.

‘’Kau tadi tidak diikuti resersir ?’’ – tukas kawan itu.

‘’Ya. Tetapi ditikungan aku melompati pagar dan terus melompati pagar-pagar sampai masuk pekarangan rumahmu dari belakang’’, – kata Ratmono sambil duduk di kursi dan menggeliatkan badannya. ‘’Sudah pasti dia akan didenda Tuannya. Biar dia rasakan jadi begunbdal Belanda yang hanya bisa mencaci maki’’ – sambungnya sambil menghembuskan asap rokoknya seperti gulungan awan bertarung dengan asap pelita sebesar jerami yang meliuk-liuk ke atas.

‘’Bagaimana keputusan Partai ?’’

‘’ Yah. Meski pun semula kita belum menyetujui pemberontakan, tetapi keputusan Prambanan, kata Pak Abdul Mutalib bahwa Rakyat sudah marah, karena pemerintah Belanda makin menggila. Penderitaan, tekanan, kekangan sudah tidak tertahankan lagi, sehingga meletus juga pemberontakan. Dalam keadaan seperti ini, jika Partai Komunis benar-benar mengabdi kepada Rakyat harus tampil ke depan. Partai kita adalah partainya kaum buruh dan kaum tani. Jika massa menghendaki merah, tetapi kita mengingin kuning, akan berarti Partai kita mengkhianati massa. Partai kita berdiri karena dikehendaki oleh massa, oleh kaum proletar dan kaum tani. Partai kita hidup dan matinya pun tergantung mereka. Apa pun kesulitannya, resikonya, yang berontak harus dipimpin. Kita harus bersasma-sama mereka, mati atau hidup’’.

‘’Jadi kita memimpin pemberontakan ? – sela kawan itu dengan gelisah dan memandangi muka Ratmono penuh perhatian. Dahinya jadi berkerut, bergaris-garis seperti deretan sungai kecil-kecil.

‘’Ya. Kita harus memimpin mereka. Orang-orang Komunis adalah barisan paling depan. Dalam keadaan begini kita tidak bisa menghindarkan diri dari tanggung jawab dan sumpah kita kepada Rakyat.’’

“Tetapi apa yang harus kita lakukan ?  – tanya kawan itu makin gelisah.

“Permberontakan di Banten sudah meletus dan diikuti oleh daerah-daerah lain. Di Indramayu, Majalengka dan Kuningan pun keadaan sangat panas. Kita harus segera memimpin keadaan, kalau kita betul-betul orang Komunis. Dan orang Komunis tidak boleh jadi pengecut.”

“Lalu bagaimana ?”

“Pemberontakan di Banten harus kita bantu. Kita letuskan pemberontakan di sini dengan segera. Keputusan Partai tanggal 18. Masih tiga hari lagi untuk persiapan. Besok jam 12.00 siang kau datang saja di stasiun dan terus membeli karcis ke Tegal. Di stasiun Tegal cari orang kurus, tidak begitu tinggi, di pinggi jalan depan stasiun. Tandanya ia memakai selampai biru di saku bajunya. Tandamu selampai putih di sakumu dan juntaikan ke luar. Kau tidak usah bertanya apa-apa kepadanya. Jika kau dekati ia dan melihatmu, ikuti saja ke mana ia pergi. Kau akan mendapatkan instruksi-instruksi. Segera kembali. Sekarang aku segera pulang dan masuk kantor. Selamat.”  Ratmono cepat-cepat keluar melewati belakang lagi. Kawan itu memandanginya sambil duduk dan tenggelam dalam angan-angannya sendiri. Harus menunggu sampai nanti siang jam 12.00. Ia sangat gelisah dan ingin segera menjalankan tugas-tugas Partai.

***

Pagi itu Ratmono pergi ke kantornya seperti biasa. Matanya agak luyu karena cape, tetapi jalannya masih tetap tegap. Dia ketahui dua orang resersir mengikutinya. Di tikungan seorang dari mereka berbisik kepadanya: “Den lain kali jangan menghilang lagi. Semalam saya dicaci maki Tuan De Reuter. Bulan ini saya akan didenda lima rupiah, karena kehilangan jejak yang ke dua kalinya. Dua bulan yang lalu saya didenda seringgit. Jika Den hilang sekali lagi tentu saya dipecat. Jika akan rapat, rapat sajalah Den, saya akan menunggu di luar, asal jangan menghilang.”

“Saya tidak menghilang. Mungkin saudara yang kehilangan mata saudara karena ketiduran waktu berjalan mengikuti saya.” – jawab Ratmono sambil tersenyum dan mempercepat jalannya. Ketika mmasuki halaman kantornya dan melihat tulisan “Drukkerij De Boer” angan-angannya pergi ke pemberontakan tani, kemarahan di mana-mana karena larangan, kekangan, tindasan dan cekikan jari-jari kolonialisme. Sampai ia duduk di kursi kerjanya, angan-angannya terus memenuhi kepalanya. Ketika Direktur De Vries datang ia tidak melihatnya. Biasanya Ratmono mengucapkan selamat pagi kepadanya. Ia pun agak kaget, ketika De Vries yang lebih dahulu mengucapkan “selamat pagi”  kepadanya, sambil menepuk pundaknya: “Apa yang kau pikirkan ? Ada kesulitan di rumah ?  Bagaimana keluargamu ?”

“Baik. Baik. Semua sehat. Terimakasih Tuan.”

De Vries tertawa sambil pergi memijit leher Ratmono. Angan-angan Ratmono pun kembnali menyerbu ke kepalanya. Tapi kini terbaur dengan pemberontakan, kebaikan hati Tuan De Vries sebagai manusia, kesayangannya kepadanya, sampai gajinya dinaikkan menjadi tujuhpuluhlima rupiah sebulan. Kemudian dating berbondong-bondong kebutuhan Partai selama ini. Demikian banyak, sehingga ia dan kawan-kawannya masih harus berusaha lain untuk menutup kekurangan-kekurangan kas Partai. Sekarang Komisaris Partai makin membutuhkan uang, karena harus berkeliling menjelaskan sikap Partai terhadap keadaan.

“Ratmono”, tiba-tiba De Vries sudah berdiri di sampingnya, ‘’kau dicari Tuan De ruiter, resersir kepala. Tetapi jangan takut, jika ada apa-apa, katakan saja kepadaku’’. Ratmono menengokkan kepalanya sambil tersenyum dan melihat muka De Vries sangat gelisah.

“Tuan pun jangan takut” – kata Ratmono smbil bangkit berjalan ke kantor bagian depan.

“Selamat pagi. Kau ikut aku sebentar’’ – kata De Ruiter sambil tertawa.

“Baik Tuan” – sahut Ratmono sambil membalas tawanya. “Tetapi saya harus memberitahu Tuan De Vries dahulu’’, sambungnya.

‘’Tidak usah, karena dia sudah ku beritahu’’.

Ketika Ratmono menengok, ia lihat De Vries berdiri dan memandanginya. Ia pun tersenyum tenang. ‘’Kamana kita pergi Tuan Ruiter ?’’. ‘’Itu mobilnya’’ sambil menunjuk mobil sedan yang diparkir agak jauh dari ‘’Drukkerij De Boer’’. ‘’Kau agaknya kurang tidur, eh ?’’

‘’Ya’’, jawab Ratmno singkat.

“Kemana kau semalam ?’’ – tanya De Ruiter sambil tertawa.

‘’Ke rumah saudara. Melahirkan anak !’’ – jawab Ratmono sambil tertawa lebar.

“Resersir kehilangan jejakmu semalam’’ – sambung Ruiter sambil melirikkan matanya.

“Malah saya yang kehilangan resersir. Biasanya mengantar saya terus. Saya kira Tuan Ruiter melupakan saya, sehingga saya tidak diberi pengantar.”

“Kita nanti ke Hoofdbureau sebentar, kemudian ke Kabupaten,”  kata Ruiter merah mukanya.

Ratmono tidak menjawab. Ia kemudian diliputi pikiran tentang kemungkinan-kemungkinan pengkhianatan, sehingga rencana Partai terbongkar. Tetapi hatinya tetap tenang saja sampai ia  tahu-tahu dipersilahka masuk mobil.

***

Di kantor Bupati Ratmono kaget, karena ternyata Sastrasuwirya, Sekretaris Sektie Comite dan Gendon Sulaiman, anggota pimpinan Sektie Comite sudah ada di situ. Ratmono disuruh duduk. Ia lihat satu persatu muka-muka Bupati, Residen, Komisaris Polisi dan Ruiter.

“Mengapa kau melihat aku seperti itu, hei, kau gladakker !” bentak Bupati.

Ratmono diam saja, hanya agak menahan tertawa geli, karena melihat kemarahan Bupati  seperti melihat badut.

“Apakah betul, kau seorang Komunis ?” – tanya Residen.

“Saya kira Tuan sudah tahu” – jawab Ratmono dengan tenang, sambil berpikir apakah ke dua kawan itu sudah berkhianat atau mengaku dan membongkar seluruh persoalan Partai. “Saya kira Tuan sudah mendapat keterangan dari resersir-resersir apa pekerjaan saya” sambungnya.

“Mengapa kau menjadi Komunis ?  Apakah gajimu sebanyak tujuhpuluhlima rupiah masih kurang cukup, sehingga masih perlu menjadi Komunis ?” – tanya Residen dengan tersenyum.

“Dia memang bandit, digaji berapa saja, akan terus berkomplot dengan garong-garong” – tukas Bupati.

“Biarkan dia menjawab dahulu, Tuan” – kata Residen sambil melirikkan matanya kepada Bupati.  “Bagaimana pendapatmu ?”  sambil memandangi Ratmono.

‘’Apa yang harus saya jawab Tuasn ?’’ sambil memicingkan matanya ke samping untuk melihat Sastrasuwirya dan Gendon. Ia pun berpikir :  ‘’Apakah Sastrasuwirya dan Gendon sudah menyerah dan menjadi saksi ?  Seorang Kimunis harus setia kepada sumpahnya, janji kepada diri sendiri, palagi seorang pemimpoin Komunis. Apakah Sastrasuwirya dan Gendon hnya komunis-komunisan ?”

“Jawab !”  bentak Bupati, sambil meneriki opas: “Opas, bawa orang-orang ini ke sel yang sudah ditentukan !”

Sampai ke dua orang itu dibawa pergi, Ratmono masih diliputi pikiran kemungkinan-kemungkinan mereka berkhianat atau Bupati membikin siasat agar ia menyerah. “Seorang Komunis bisa kenal kalah, tetapi Komunis yang baik tak pernah menyerah”,  pikirnya.

“Bagaimana jawabanmu ?” – tanya Residen lagi.

Ratmono menjadi makin oleh keyakinannya sendiri: seorang Komunis tidak akan menyerah ! dan ia pun dengan menatap muka Residen berkata: “Saya menjadi Komunis bukan karena gaji, Tuan ! Harga seorang Komunis tidak begitu murah seperti begundal-begundal  sawomatang yang menjilat pantat yang menjilat pantat penjajah !”  – jawab Ratmono dengan memusatkan pandangannya pada mata Residen.

“Tetapi jika jadi Komunis bukan karena gaji kurang, mengapa kau dahulu memimpin pemogokan buruh percetakan”, – kata Residen.

“Saya pimpin pemogokan justru karena saya Komunis, membela keadilan yang direbut dari tangan kaum yang lapar.”

Komisaris polisi mengingsutkan badannya, menarik kakinya sampai terantuk meja, sehingga menarik padangan Ratmono ke sepatu laras hitam.

“Jawablah baik-baik, jika kau tidak ingin merasakan tendangan  drpstu ini !” – kata Komisaris Polisi sambil tersenyum.

“Saya sudah pernah disiksa begundal-begundal kolonial, Tuan. Sebelum mengalami saya takut, tetapi sekali mengalami, tuanlah yang berubah menjadi takut.”

“Tutup mulutmu !’’ – teriak Bupati.

“Saya disuruh menjawab pertanyaan, Tuan. Jika Tuan tidak bertanya, tutup mulut juga, untuk apa saya menjawab ?”

“Ssst !” desis Residen sambil melihat Bupati. Kemudian ia berpaling kepada Ratmono: “Waktu itu kau mogok dan menganjurkan ke mana-mana, bahwa orang-orang Belanda itu penghisap darah. Apakah aku mengisap darhmu ?”

“Orang-orang Belanda menghisap darah kami semua,” – jawab Ratmono pendek.

“Sudah berapa liter aku hutang darahmu ?’’  – kata Residen sambil tertawa.

‘’Jawab ! Lekas !’’ – bentak Bupati.

Terdengar lagi sepatu laras Komisaris Polisi bergeser di lantai.

´´Ssst,´´  desis Residen lagi. ´´Berapa liter darahmu sudah ku hisap?’’

‘’Saya tidak tahu betul berapa liter Tuan telah meminum darah saya. Tetapi secara gampang, jika setiap hari orang bumiputra dihisap darahnya lewat pajak, meerwaarde, maka berapa kira-kira darah kaum proletar dan tani yang telah menggemukkan perut tuan-tuan?”

“Godverdomme !” Komisaris Polisi bangkit dari kursinya.

“Duduklah dahulu.”  – kata Residen sambil tersenyum

“Orang demikian harus dihajar, Tuan Residen, bajingan jangan diberi hati.” Gerutu Bupati sambil mengingsutkan pantanya di kursi.

“Mengapa kau begitu benci kepada orang-orang Belanda ?”  – tanya Residen dengan tenang.

Sambil melirikkan matanya kepada De Ruiter yang diam saja, Ratmono berkata: “Karena Belanda menindas kami !”

“Apa buktinya Orang-orang Belanda menindas kau ?  Kau digaji De Vries tujuhpuluhlima rupian sebulan”, sambung Residen.

“Banyak bukti, Tuan. Berapa keringat buruh yang mendatangkan keuntungan Tuan De Vries sebagai kapitaluis ? Apa salah saya, Tuan-tuan, sehingga Tuan Ruiter menyeret saya ke mari ?” – kata Ratmono sambil menatapkan mukanya ke arah Ruiter. De Ruiter diam saja, hanya menggosok-gosokkan sepatunya di ubin.

“Kau bajingan, bandit, pengacau, penghasut, tahu ?”  bentak Bupati keras-keras sambil memukulkan tangannya ke meja.

“Tuan Bupati, saya harapkan Tuan sopan sedikit saja”  – tukas Ratmono.

“Godverdomme !  Gladakker !  Bagaimana orang Komunis mengajar kesopanan kepadaku ?  Hei, kau penghasut, kau kira kau bajingan sopan ?” teriak Bupati sambil bangkit.

“Tuan, apakah kedatangan saya ke mari ini hanya untuyk dimaki-maki ?  Pantas tuan-tuan, kalau hokum Belanda itu hanya berisi maki-makian saja.”

“Tutup mulutmu !” teriak Komisaris Polisi sambil berdiri.

“Tuan, hari ini menjadi lebih jelas bagi saya, bahwa kalau ada bandit-bandit di negeri ini, Tuan-tuanlah yang bandit, bukan orang Komunis. Komunisme itu keadilan …….”

Seperti kilat cepatnya, bersamaan dengan suara geletak kursi dan antukan sepatu di meja, seperti halilintar mendadak, Ratmono ditendangi Komisaris Polisi dan De Ruiter. Sambaran itu begitu tidak terduga, sehingga tendangan yang tepat mengenai kepala Ratmono, menyebabkan ia bersuara “uh”.  Entah tendangan yang ke berapa kali yang menyebabkan mulut Ratmono kemudian mengeluarkan darah semerah bendera Partainya.

“Stop, stop !”  teriak Residen kemudian.

“Ku bereskan dia Tuan Bupati”.

Ratmono banhgkit dari lantai sambil mengutuki dirinya sendiri , karena ia mengeluarkan suara “uh”. “Seorang Komunis  tidak boleh mengeluh dalam derita dan siksaan”  – katanya kepada diri sendiri. Sambil mengusap darah di mulutnya ia berkata:  “Tuan/tuan, inikah beradaban tuan-tuan, kesopanan tuan-tuan  dan keadilan tuan-tuan ?”

“Diam bangsat”  seru Bupati.

“Seorang Komunis tidak mundur  karena siksaan tuan/tuan”.

Ruiter sempat melompat meninju kepala Ratmono dari samping, sehingga terhoyong, tetapi ia pun terus bebicara: “Seorang Komunis tahu bagaimana membela keadilan menghadapi tuan-tuan yang seperti brandal dan perampok ini !”  Komisaris Polisi dan De Ruiter mengeroyok dan pukulan dan tinjuan seperti hujan bulan Desember. Ratmono tak sempat mempertahankan diri, sampai ia terjatuh lemas. Tetapi ia pun berusaha duduk kembali dengan tegak.

“Apakah tuan-tuan sudah puas memukuli orang tanpa kesalahan ?” / kata Ratmono mengejek.

“Kau mengadakan rapat di Pangempon  pada tanggal 5 yang lalu. Mengaku apa tidak ?´´ – bentak Bupati.

“Mengapa, jika Tuan tahu saya mengadakan rapat gelap tidak tuan bubarkan rapat itudan menangkap saya waktu itu ?”  – jawab Ratmono sambil mengusapi darah yang bertetesan dari mulutnya. “Saya tahu tuan/tuan menuduh saya, dengan kesopanan dan keadilan tinju tuan/tuan.”

“Godverdomme ! bangsat ! Kau Komunis-komunis berontak dan diputuskan dibuang ke Tanah Merah !” – “Opas bawa bajingan ini ke sel D dan tanyakan Tuan Komisaris Polisi dan Tuan De Ruiter apa yang harus dilakukan”,  seru Bupati sambil melihat Residen yang terus tenang saja.

Ketika Ratmono sadar kembali, ia hanya melihat pitam di sekitar. Dia baru ingat kemba, bahwa baru disiksa, hingga tidak tahu lagi akan keadaan dirinya ketika  ia dimasukkan ke dalam sel neraka itu. Dia rabai tikar yang dingin lembab, sambil mengatupkan gigi, menahan kejang-kejang            dan pedih di tubuhnya. Dalam kegelapan itu, dengan meraba-raba seperti orang buta, ia kenang kembali hari-hari pertama ia diterima menjadi anggota Partai. Ia tersdenyum geli, ketika ia diuji disuruh menunggu, dan tidak boleh pergi-pergi di dalam kamar bersama dengan seorang wanita cantik yang belum ia kenal. Ia iangat kembali kata-kata Kartasuwirya: “Lulus kau, tidak gampang diganggu perempuan  cantik. Lemah dalam menghadapi wanita, bisa lemah dalam soal uang. Kau bisa menjadi tidak jujur kepada Partai. Akhirnya kau bisa terjerumus gampang disuap dan menjual Partai. Oleh karena itu hati-hati sebelum kau kawin. Ini soal watak Komunis.’’

Selanjutnya datang ingatan ia diuji materialisme, disuruh duduk menunggu di kuburan yang terkenal angker semalam suntuk. Ia pun pernah dicoba berkelahi dengan resersir yang bersenjata pistol. Ia tersenyum sendiri ketika teringat diikuti seorang resersir sesudah memimpin pemogokan. Resersir itu membawa sepeda, dan ia pun sengaja membelok melalui slokan-slokan, pematang-pematang, sehingga resersir itu mengikutinya dengan memanggul sepedanya. Semua kenangan seperti gambar  hidup dalam pembayangan di gelap-pitam sel. Senyum Tuan De Vries yang menjajanginya. Dan ia berkata kepada dirinya sendiri : “Hatinya baik, kepadaku baik, tetapi ia kapitalis, menghsap darah proletar juga.’’

Tiba-tiba ia dengar lagu Mariana Proletar di sebelah. Ia pun bangkit meraba-raba tembok dingin, warna hitam, tetapi degup jantungnya bertambah cepat, hatinya bertambah hangat. Dan ia ikut menyanyi. Ia pun ingat kembali kata-kata Bupati: “Masukkan ia ke dalam sel D”.  Dan sekarang tahulah ia benar-benar apa yang pernah diceritakan oleh kawan-kawannya, bahwa sel D, berarti gelap gelita, dingin, sesak dan disiksa. Sekarang ia bisa bercerita lebih baik daripada kawan-kawannya, karena mengalami sendiri. Ia merasa sangat bangga sebagi orang Komunis. Tetapi sekonyong-konyong ia dengar pukulan-pukulan dan makian: Biar mampus. Bajingan. Hajar terus. Dan ia dengar gerenting pintu sel di sebelahnya. Ia pun mendengar lagu makin keras, makin keras, dinyanyikan oleh orang-orang sel:

Darah Rakyat masih berjalan

menderita sakit dan miskin…

Ia bangkit ikut menyanyi lagi, tapi ia rasakan mulutnya pedih seperti dikorek belati. Tetapi ia terus menyanyi, menyanyi. Kemudian lagu itu pun makin melemah dan melemah sampai senyap kembali. Ia menjadi seperti disiksa, karena kepingin tahu siapa-siapa saja yang ada dalam tahanan. Ia rabakan tikar dari ujung satu sampai ujung yang lain tanpa tujuan yang jelas. Ia lebih didorong tidak mau berhenti, tidak mau sepi. Ia merasa harus tahu siapa yang ada di sel lain. Dalam tergagap-gagap akhirnya ia ketahui bahwa di bawah tikarnya ada lobangnya. Terdengar suara air di dalamnya. ‘’Kakus !’’ – katanya katanya kepada diri sendiri. Ia nikmati suara air, sehingga tidak merasa sendiri. Kemudian timbul pikiran padanya : ‘’Slokan ini tentu ada hubungannya dengan sel lainnya.’’  Ia pun berseru : ‘’Kawan-kawan bagaimana kabar dan keadaan kalian ?’’  Tidak terduga ia dengar jawaban “Siapa kau ?”

“Ratmono ! Kau siapa ?’’

‘’Gendon.’’

‘’Ah, aku mengira kau sudah berkhianat. Kau juga di sel ?’’

‘’Huss, bagaimana aku berkhianat. Pengkhianat itu bukan Komunis tentu. Aku Komunis duapuluih empat karat !’’ Mereka tertawa.

“Bagaimana Suryadi dan Radimin ?” – tanya Ratmono.

“Suryadi bisa meloloskan diri. Bagus masih ada yang di luar.”

´´Radimin juga tertangkap kabarnya´´.

´´Aku diberi beslit Tanah Merah.´´

´´Aku juga.´´  Ke duanya tertawa lagi. ´´Bagimana Sastrasuwirya ?´´

´´Ia ada di sini. Ia baru saja digebugi, karena memulai menyanyi Mariana Proletar. Ku kira ia pingsan atau digantung, karena tidak terdengar suaranya lagi.´´

´´Semua yang tertangkap setia Partai.´´

´´Ya. Hanya satu menangis, ketika mendengar dijatuhi hukuman buang ke Digul, kata Kartasuwirya. Itu sebabnya ia berpesan kepada semua kawan jangan menangis. Jangan setetes airmata diserahkan kepada Belanda, katanya. Ia benar. Masakan seorang Komunis menangis ?

Memasuki Partai Komunis harus berani matiu, dan bersedia untuk hidup bahagia, katanya.´´

Ratmono merasakan pedih kembali di tubuhny, kejang/kejang seluruh tubuhnya. Dan ia menjadi marah, mnyanyikan keras/keras:

Kaum kapitalis sejagat

bikin rakyat melarat

Hai kau bangsat !  bangsat !

Ia makin memperkeras suaranya ketika ia dengar seluruh sel ikut bernyanyi. Dan ia pun mendengar suara pintu selnya dibuka, tiga orang masuk menyumpah-nyumpah:  ´´Kau Komunis bangsat. Dalam penjara masih menghasut, mengacau !´´

Ratmono dipukuli, ditendang, ditinju sampai pingsan lagi. Tetapi satu persatu sel-sel itu akan memelopori menyanyi. Menyanyikan perlawanan untuk hidup !

( digunah dari cerita/cerita pak Ratno ).

.

Memelihara Republik, Mengaktifkan Akal Sehat

Naskah Pidato Kebudayaan
Dewan Kesenian Jakarta
10 Nopember 2010

Memelihara Republik, Mengaktifkan Akal Sehat
Rocky Gerung

I
Indonesia hari-hari ini…

Ada konvoi pemuda beringas berkeliling kota menebar moral. Ada anak muda memetik dawai mengelilingi dunia mengukir prestasi.
Ada fatwa penyair tua sepanjang hari membenci tubuh. Ada pelajar menggondol medali biologi di pentas dunia berkali-kali.
Ada lumpur pebisnis dibersihkan negara dengan pajak rakyat. Ada perempuan desa menembus bukit menyalurkan air bersih dengan tangannya sendiri.
Ada koruptor diusung partai jadi pahlawan. Ada relawan bergegas ke medan bencana tanpa menyewa wartawan.

Kita seperti hidup dalam dua Republik: Republic of Fear dan Republic of Hope. Akal sehat kita tentu menghendaki perwujudan Republic of Hope itu, secara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Tetapi nampaknya,  penguasa politik lebih memilih memelihara Republic of Fear, karena di situlah statistik Pemilu dipertaruhkan. Kemajemukan hanya diucapkan di dalam pidato, selebihnya adalah tukar-tambah kepentingan yang diatur para broker. Hak Asasi Manusia dipromosikan ke mancanegara, tetapi kejahatan kemanusiaan di dalam negeri, diputihkan untuk modal Pemilu. Toleransi dihimbaukan ke seluruh rakyat, tetapi ketegasan tidak hendak dilaksanakan. Mengapung diatas bara sosial itu, sambil membayangkan siasat politik suksesi, adalah agenda harian elit politik hari-hari ini.

Politik tidak diselenggarakan di ruang publik, tetapi ditransaksikan secara personal. Tukar tambah kekuasaan berlangsung bukan atas dasar kalkulasi ideologis, tetapi semata-mata karena oportunisme individual. Di layar nasional, politik elit tampil dalam bentuknya yang paling dangkal: jual-beli di tempat! Tidak ada sedikitpun upaya “sofistikasi” untuk sekedar memperlihatkan sifat “elitis” dari percaloan politik itu. Dengan wajah standar, para koruptor menatap kamera, karena yakin bahwa putusan hakim dapat dibatalkan oleh kekuasaan, bila menolak ditukar saham. Dan sang hakim (juga jaksa dan polisi) memang mengkondisikan sebuah keputusan yang transaksional. Kepentingan bertemu kepentingan, keinginan bersua kebutuhan.

Di layar lokal, politik bahkan sudah diresmikan sebagai urusan “uang tunai”. Seorang calon  kepala daerah sudah mengijonkan proyek-proyek  APBD kepada para pemodal, bahkan sebelum ia mencalonkan diri dalam Pilkada.  Struktur APBD daerah umumnya condong membengkak pada sisi pegeluaran rutin pejabat dan birokrasi ketimbang pada sisi pengeluaran pembangunan untuk kesejahteraan rakyat. Maka sangat mudah memahami bahwa “human development index” kita tetap rendah karena biaya renovasi kamar mandi bupati lebih didahulukan  ketimbang membangun puskesmas.  Bahkan antisipasi terhadap kemungkinan sang kepala daerah ditetapkan sebagai tersangka korupsi, juga sudah dipikirkan. Maka berbondong-bondonglah para kepala daerah bermasalah itu hijrah dari partai asalnya, masuk ke partai penguasa. Tentu itu bukan transfer politik gratisan. Tadah-menadah politik sudah menjadi subkultur politik nasional. Sekali lagi: kepentingan bertemu kepentingan, kemauan bersua kebutuhan.

Dalam perjanjian konstitusional negara dengan warganegara, keadilan dan keamanan dijadikan agunan untuk menetapkan kewajiban timbal balik. Karena itu, bila saudara membayar pajak, maka saudara berhak memperoleh sistem politik yang memungkinkan keadilan itu diwujudkan. Bila saya patuh pada hukum, maka saya berhak menerima rasa aman dari negara. Tetapi urusan inilah yang kini amat jauh dari harapan publik. Para perusak hukum justeru dilindungi negara. Para pengemplang pajak, justeru dirangkul negara. Dan dalam urusan sistem politik, kita berhadapan dengan persekongkolan politik kartel yang memonopoli distribusi sumber daya politik dan ekonomi. Bahkan oligarki kekuasaan yang sesungguhnya,  hanya melibatkan dua-tiga tokoh kunci yang saling menyogok, saling tergantung, dan saling mengintai. Politik menjadi kegiatan personal dari segelintir elit yang terjebak dalam skenario yang saling mengunci, karena masing-masing terlibat dalam persekutuan pasar gelap kekuasaan pada waktu Pemilu.

Ketergantungan politik pada uang-lah yang menerangkan persekongkolan itu. Pertaruhan ini tidak ada hubungannya dengan politik ideologi, karena relasi personal telah menyelesaikan persaingan ideologi. Relasi itu tumbuh karena pelembagaan politik tidak berlangsung. Artinya, sistem kepartaian modern dan sistem parlemen kita tidak tumbuh di dalam kebutuhan untuk membudayakan demokrasi, tetapi lebih karena kepentingan elitis individual. Pemahaman tentang dalil-dalil bernegara tidak diajarkan di dalam partai politik. Etika publik bukan merupakan prinsip politik parlemen. Bahwa seolah-olah ada kesibukan mengurus rakyat, itu hanya tampil dalam upaya mempertahankan kursi politik individual, dan bukan karena kesadaran untuk memberi pendidikan politik pada rakyat. Parlemen adalah kebun bunga rakyat, tetapi rakyat lebih melihatnya sebagai sarang ular. Tanpa gagasan, minim pengetahuan, parlemen terus menjadi sasaran olok-olok publik. Tetapi tanpa peduli, minim etika, parlemen terus menjalankan dua pekerjaan utamanya: korupsi dan arogansi.

Defisit akal di parlemen adalah sebab dari defisit etika. Arogansi kepejabatan digunakan untuk menutupi defisit akal. Maka berlangsunglah fenomena ini: sang politisi yang sebelumnya menjadi pengemis suara rakyat pada waktu Pemilu, kini menyatakan diri sebagai pemilik kedaulatan. Seperti anjing yang menggonggongi tuannya, politisi memutus hubungan historisnya dengan rakyat, dan mulai berpikir menjadi pengemis baru. Kali ini, bukan pada rakyat, tetapi pada kekuasaan eksekutif. Faktor inilah yang menerangkan mengapa oposisi tidak dapat bekerja dalam sistem politik kita. Tukar tambah kepentingan antara eksekutif dan legislatif bahkan berlangsung sampai urusan “titik dan koma” suatu rancangan undang-undang. Transaksi itu sering tidak ada kaitannya dengan soal-soal ideologis, karena memang motif koruptiflah yang bekerja di bawah meja-meja sidang.

Asal-usul politik koruptif ini terkait dengan tidak adanya kurikulum “kewarganegaraan” dalam semua jenjang pendidikan nasional. Sistem pendidikan kita tidak mengorientasikan murid pada kehidupan publik. Konsep “masyarakat” di dalam kurikulum sekolah tidak diajarkan sebagai “tanggung jawab merawat hidup bersama”, tetapi lebih sebagai kumpulan ajaran moral komunal yang pertanggungjawabannya diberikan nanti di akhirat. Konsep “etika publik” tidak diajarkan sebagai keutamaan kehidupan “bermasyarakat”.

Memang, amandemen konstitusi tentang tujuan pendidikan nasional bahkan lebih mengutamakan pendidikan “akhlak” ketimbang “akal”. Konsekwensinya terhadap kehidupan Republik sangatlah berbahaya, karena warganegara tidak dibiasakan sejak dini untuk secara terbuka berargumen.  Sangatlah bertentangan misi pendidikan itu dengan imperatif konstitusi kita yang mewajibkan kita “melihat dunia” melalui “kecerdasan” dan “perdamaian”.  Sesungguhnya filsafat publik kita semakin merosot menjadi pandangan sempit dan picik, karena pertarungan kecerdasan di parlemen di dalam membela ide masyarakat bebas tidak dapat berlangsung. Pengetahuan dan pemahaman konseptual tentang ide Republik lebih banyak diucapkan dalam retorika “nasionalisme”, dan karena itu kedudukan primer konsep “warganegara” tidak cukup dipahami.

“Kewarganegaraan”  adalah ide tentang tanggung jawab warganegara lintas politik, lintas komunal. Realisasinya memerlukan pemahaman fundamental tentang etika parlementarian, yaitu bahwa “kedaulatan rakyat” tidak pernah diberikan pada “wakil rakyat”. Yang diberikan hanyalah kepentingan rakyat tentang satu isu yang secara spesifik didelegasikan pada “si wakil”, dan karena itu dapat ditarik kembali setiap lima tahun. Juga dalam tema ini kita pahami bahwa “kedaulatan rakyat” tidak sama dengan “mayoritarianisme”. Kedaulatan rakyat justeru difungsikan untuk mencegah demokrasi menjadi permainan politik golongan mayoritas. Itulah sebabnya kedaulatan rakyat tidak boleh dikuantifikasi dalam statistik atau dalam hasil Pemilu.

Defisit politik warganegara juga adalah akibat dari surplus politik feodal. Hari-hari ini hegemoni kultur politik feodal itu masuk dalam politik publik melalui langgam perpolitikan istana,  ketika “kesantunan” menyisihkan “kritisisme”. Dan kultur itu terpancar penuh dari bahasa tubuh Presiden. Prinsip yang berlaku adalah: kritik politik tidak boleh membuat kuping Presiden menjadi merah.

Feodalisme adalah sistem kekuasaan. Kita tentu tidak menemukannya lagi dalam masyarakat modern. Tetapi seorang penguasa dapat terus mengimajinasikan dirinya sebagai “raja”, “tuan”, “pembesar” dan sejenisnya, dan dengan kekuasaan itu ia menyelenggarakan pemerintahan. Kita justeru merasakan itu dalam kepemimpinan politik hari-hari ini, dalam diskursus bahasa tubuh, dalam idiom-idiom tatakrama, dalam simbol-simbol mistik, bahkan dalam politik angka keramat.

Di dalam kultur feodalistik, percakapan politik tidak mungkin berlangsung demokratis. Bukan saja karena ada hirarki kebenaran di dalam diskursus, tetapi bahkan diskursus itu sendiri harus menyesuaikan diri dengan “aturan politik feodal”, aturan yang tak terlihat namun berkekuasaan. Sangatlah aneh bila kita berupaya menyelenggarakan sebuah birokrasi yang rasional dan impersonal, tetapi mental politik yang mengalir dalam instalasi birokrasi kita masih mental feodal.

Konsolidasi demokrasi memang sudah tertinggal oleh akumulasi kekuasaan. Enersi yang pernah  kita himpun untuk menghentikan otoritarianisme, tidak lagi cukup untuk menggerakkan perubahan. Sebagian disebabkan oleh sifat politik reformasi yang amat “toleran”,  sehingga memungkinkan seorang jenderal pelanggar HAM duduk berdebat semeja dengan seorang aktivis HAM, mengevaluasi kondisi demokrasi.  Juga tidak aneh menyaksikan seorang tokoh terpidana korupsi menjadi narasumber sebuah talkshow yang membahas arah pembangunan nasional. Transisi yang amat toleran itu telah  meloloskan juga obsesi-obsesi politik komunalistik yang hendak mengatur ruang politik publik dengan hukum-hukum teokrasi. Di dalam keserbabolehan itulah kekuasaan politik hari-hari ini menarik keuntungan sebesar-besarnya. Tetapi berdiri di atas politik uang dan politik ayat, kekuasaan itu kini tampak mulai kehilangan keseimbangan. Antara tergelicir ke dalam lumpur, atau tersesat di gurun pasir, kekuasaan itu tampak kelelahan untuk bertahan.

II
Tetapi Republik harus tetap berdiri…

Republik adalah ide minimal untuk menyelenggarakan keadilan, kesetaraan dan kemajemukan. Normativitas ini menuntut pekerjaan politik, pada dua lapis. Pertama, suatu imajinasi intelektual untuk merawat konsep “publik” pada kondisi sekulernya. Kedua, suatu perlawanan politik terhadap teokratisasi institusi-institusi publik. Artinya, ide republik hanya dapat terselenggara di dalam suatu usaha intelektual yang berkelanjutan, yaitu usaha mempertahankan kondisi perdebatan politik pada dataran duniawi, sosiologis dan historis. Usaha ini bukan dimaksudkan untuk meyakinkan kaum absolutis, melainkan untuk membantu mereka yang ragu-ragu karena kekurangan alat kalkulasi logis. Mereka yang “ragu-ragu” inilah sesungguhnya yang dapat “membiarkan” demokrasi dikuasai dan dikendalikan oleh politik absolutis. Golongan “ragu-ragu” ini bukan saja mengalami kecemasan di dalam membayangkan suatu masyarakat sekuler, tetapi juga tergoda membayangkan suatu “keuntungan moral” di dalam suatu politik teokratis. Gangguan akal sehat semacam inilah yang secara cepat dimanfaatkan oleh politik fundamentalisme untuk menebar hegemoni moral mayoritas.

Menerangkan politik sebagai urusan warganegara, sekaligus berarti mempertahankan argumen masyarakat sekuler. Di dalam Republik, status primer seseorang adalah sebagai warganegara (citizen). Ia tentu memiliki sejumlah status privat: agama, etnis, dll. Tetapi status privat tidak mungkin diajukan untuk mendukung argumentasi publik. Republik hanya berurusan dengan argumentasi publik. Keyakinan agama warganegara misalnya, bukanlah urusan negara. Negara tidak dapat diperalat untuk menjamin isi keyakinan itu. Negara hanya menjamin hak berkeyakinan itu, sebagai hak warganegara. Dan sebagai hak, setiap orang bebas mendeskripsikan preferensi religiusnya, sekaligus bebas untuk tidak menggunakannya. Kandungan moral agama bukan urusan negara. Tetapi bila kandungan itu melahirkan kriminalitas, maka negara menghukum atas dasar hukum publik, dan bukan melarang isi keyakinan itu. Batas itu harus dipegang secara teguh sebagai prinsip pendidikan politik publik. Dan prinsip itu harus diterangkan sejak dini pada murid sekolah, dipastikan dipahami oleh anggota partai politik, dan dijadikan diktum pejabat publik. Dengan cara itu kita tidak perlu lagi mendengar pejabat publik mengucapkan kebodohan karena memaksakan pandangan moral pribadinya terhadap soal publik. Di sini sekaligus perlu kita ingatkan bahwa para menteri adalah pembantu Presiden, dan bukan asisten Tuhan.

Keragu-raguan untuk menerima dan menjalankan konsekwensi politik dari ide Republik, terutama disebabkan oleh kepentingan politisasi kekuasaan terhadap kondisi antropologis bangsa ini. Bagaimanapun, simbol-simbol primordial tidak mungkin punah hanya oleh gerak ekonomi global, modernisasi dan kosmopolitanisme. Politik identitas telah menjadi reaksi logis dari kosmopolitanisme, tetapi pemanfaatan politiknyalah yang menjadi isu utama di negeri ini. Artinya, kondisi atropologis kita yang masih kuat berbasis pada paham-paham komunal, juteru dieksploitasi oleh kekuasaan untuk diperjualbelikan di dalam pasar politik. Maka sangatlah ironis ketika kita mengucapkan demokrasi sebagai pilihan sistem politik, pada saat yang sama kita sudah berencana memenangkan pemilu dengan peralatan-peralatan primordial, terutama agama.

Di dalam Republik, kita menyelenggarakan pluralisme. Artinya, kita bukan sekedar mengakui perbedaan pandangan hidup, tapi kita sendiri juga dapat berobah  pandangan hidup. Dalam pluralisme, kita tidak menyebut kebenaran itu “relatif”, melainkan “tentatif”. Karena itu selalu terbuka kesempatan untuk berselisih pendapat, agar kita bisa bercakap-cakap.

Kewarganegaraan adalah percakapan diantara mereka yang tidak fanatik. Republik adalah lokasi politik yang menampung semua proposal sekuler. Di sini kita harus pahami ide Republik bukan semata-mata sebagai instalasi politik teknis, tetapi sebagai struktur percakapan etis. Di dalam Republik, “suasana” percakapan publiklah yang lebih utama ketimbang fasilitas-fasilitas politiknya (partai, pengadilan, birokrasi).  Di dalam Republik-lah manusia menyelenggarakan dirinya sebagai “zoon politicon”, merundingkan kepentingan bersama, memutuskan keadilan dan mendistribusikan kebutuhan dasar. Proses ini mengandaikan kebebasan dan kesetaraan. Itulah sifat publik dari politik. Dengan kata lain, intervensi nilai-nilai personal ke dalam ruang publik tidak boleh terjadi. Nilai personal, pandangan moral komunal, harus dikonversi ke dalam tata bahasa politik publik bila ingin diajukan sebagai proposal publik. Artinya, keterbukaan dan kesetaraan di dalam Republik hanya mengandalkan diskursus rasio publik. Dan sifat diskursus itu adalah falibilis, bukan absolutis.

Kemajemukan dan “suasana Republik”, sesungguhnya telah kita miliki jauh sebelum Proklamasi diucapkan. Sumpah Pemuda adalah sumber enersi kemajemukan yang sesungguhnya. Pikiran politik di tahun 1928 itu menyadari sepenuhnya kondisi ideologis bangsa ini, kondisi yang potensial bagi konflik horisontal, dan karena itu para pemuda hanya bersepakat untuk tiga hal: satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Sumpah Pemuda tidak bersepakat demi soal-soal akhirat, tetapi demi urusan antar manusia di bumi, manusia yang beragam. Mereka bersumpah untuk sesuatu “yang sosiologis” (tanah, bangsa dan bahasa), karena paham bahwa “yang teologis” tidak mungkin dijadikan tali pengikat politik. Politik 1928, tidak terobsesi pada “sumpah keempat”: beragama satu. Kecerdasan itulah yang sesungguhnya hilang dari percakapan politik kita hari-hari ini. Sumpah Pemuda kini hanya diingat dalam tema “kebangsaan” yang bahkan disempitkan menjadi “keberagaman dan keberagamaan” (dan karena itu perayaannya cuma diisi oleh petuah dan pesan-pesan agamis). Padahal moral dan filsafat politiknya telah mendahului menyelesaikan pertikaian politik agama dalam penyusunan Undang-Undang Dasar 1945.

Argumen ini harus kita ajukan untuk memastikan bahwa sumber kebudayaan modern dari ide republikanisme, sudah disediakan 17 tahun sebelum republik diproklamasikan. Artinya, ide republikanisme sudah dipelihara oleh “masyarakat sipil”, jauh sebelum diformalkan oleh “masyarakat politik” melalui konstitusi 1945. Bahkan obsesi untuk memberi warna “agamis” pada penyelenggaraan negara (melalui debat panjang di Konstituante), juga dibatalkan oleh kecerdasan kebangsaan modern, yaitu bahwa di dalam Republik, rakyatlah yang berdaulat, bukan Tuhan atau Raja. Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan itu: “Negara berdasarkan Kedaulatan Rakyat” .

Ide Kedaulatan Rakyat ini memberi kita batas yang tegas tentang wilayah politik. Yaitu bahwa politik adalah transaksi sekuler dengan ukuran-ukuran rasional, empiris, dan historis. Bahwa bahasa politik adalah bahasa yang dapat diperlihatkan konsekwensinya “di sini dan sekarang”, bukan “nanti dan di sana”. Bahwa ukuran-ukuran moral harus tumbuh dari pertarungan gagasan-gagasan historis, bukan dari doktrin-doktrin metafisis. Bahwa warga negara hanya terikat pada ayat-ayat konstitusi, dan bukan pada ayat-ayat suci. Bahwa fakta adanya golongan mayoritas (dalam agama misalnya), hanyalah petunjuk demografis, yaitu untuk keperluan administrasi kependudukan dan bukan untuk  keunggulan kedudukan suatu kelompok terhadap yang lain. Di dalam demokrasi, identitas individu (agama, kelamin, pekerjaan), hanya dicatat sebagai data statistik, dan bukan alasan pembedaan warganegara.

Sangatlah berbahaya bila seseorang didefinisikan sebagai minoritas dalam agama atau preferensi seksual misalnya,  karena sekaligus ia akan menjadi warganegara kelas dua. Diskriminasi inilah yang harus kita perangi, karena ia menyebabkan permusuhan sosial atas alasan-alasan irasional. Misalnya, apakah karena seseorang tidak beragama, maka ia akan dikucilkan dan dilecehkan, atau bahkan dianiaya? Di dalam demokrasi, agama adalah hak. Artinya, ia boleh dipakai, boleh tidak. Negara tidak berhak memaksakan kewajiban beragama, karena hal itu melanggar kebebasan hati nurani. Agama adalah wilayah hati nurani. Kesucian keyakinan dan kejujuran ketakwaan seseorang hanya menjadi rahasia antara dia dan Tuhannya. Kemuliaan itulah yang harus dipisahkan dari kehidupan politik sehari-hari, karena di dalam demokrasi kita tidak mungkin menghakimi seseorang berdasarkan ukuran moral orang lain.  Sejauh preferensi moral dan religi seseorang tidak diterjemahkan menjadi tindakan kriminal, maka negara harus bertindak imparsial didalam melayani hak-hak sipil dan politiknya. Atas dasar itulah negara berkewajiban mengedarkan etika publik, yaitu pendidikan kewarganegaraan yang membiasakan warganegara hidup dalam politik kemajemukan.

Kedaulatan Rakyat berarti bahwa keputusan politik dipertengkarkan atas kebutuhan keadilan dan kesetaraan sosial warganegara, dan bukan atas ukuran-ukuran hirarki kesolehan dan kesucian sebuah umat. Asumsi kedaulatan rakyat adalah bahwa semua orang setara dalam kecerdasan dan kebebasan, dan karena itu keputusan politik harus diambil dalam ruang antisipasi kesalahan, dan bukan dalam ruang kebenaran doktrinal.

Di dalam republik, “kebenaran” disirkulasikan dengan pikiran, dan bukan dengan keyakinan. Itulah sebabnya “kebenaran” dapat dibatalkan dengan argumen, dan bukan dipertahankan dengan kekerasan. Spekulasi epistemologis bahwa “kebenaran” itu harus satu, dan karena itu politik harus menjadi absolut, pernah membawa politik kita ke dalam sistem otoriterisme. Dan bila sekarang “kebenaran” itu hendak dipaksakan kembali atas dasar spekulasi teologis, maka kita sungguh-sungguh sedang mengumpankan diri pada otoriterisme teokratis. Inilah cara pandang monolitik yang kini semakin meluas dalam kehidupan politik kita akhir-akhir ini, suatu paradoks di dalam sistem demokrasi yang kita pilih.

Cara pandang politik semacam itu sesungguhnya berakar di dalam antropologi komunalisme yang kian tumbuh justeru dalam kondisi globalisasi. Komunalisme adalah alam pikiran konservatif yang memandang individu sebagai subyek tanpa eksistensi, yang identitasnya tergantung pada identitas komunitas. Komunalisme hendak menetapkan bahwa di luar komunitas, tidak ada identitas. Tetapi hal yang paling konservatif  dari alam pikiran ini adalah keyakinan bahwa keutuhan komunitas memerlukan pengaturan doktrinal. Konsekwensinya adalah: tidak boleh ada pikiran bebas individu. Pandangan kebudayaan inilah yang kini sedang diedarkan melalui bawah-sadar politik rakyat oleh partai-partai berbasis agama, yang mengeksklusifkan kehidupan publik mengikuti parameter-parameter komunal. Secara kongkrit, pandangan itu berwujud dalam perda-perda agama.

Secara gradual kita merasakan infiltrasi pikiran itu dalam berbagai aturan publik dengan memanfaatkan fasilitas demokrasi, yaitu kekuasaan parlemen membuat undang-undang. Politik adalah upaya menguasai ruang publik. Demokrasi memang toleran terhadap kontestasi pikiran.  Tetapi politik komunalisme hendak menutup ruang publik itu dengan suatu diktum ontologi absolutis: hanya boleh ada satu Ada, dan karena itu, ada yang lain tidak boleh ada!

Dalam versi sekulernya, pandangan komunalisme ini pernah memayungi praktek penyelenggaraan konstitusi kita, yaitu melalui doktrin “negara integralistik”, suatu pandangan feodalistik yang dijalankan dengan dukungan militer di masa Orde Baru, dalam konspirasinya dengan kekuatan kapital. Praktek politik ini hanya mungkin berlangsung karena akar-akar budaya feodal itu memang ada di dalam masyarakat kita.

Tetapi bentuk komunalisme hari-hari ini adalah suatu sikap eksklusivisme religius yang memanfaatkan keterbukaan demokrasi, sambil mengeksploitasi simbol-simbol agama yang memang kuat tertanam dalam antropologi politik bangsa ini. Anda mungkin terkejut mendengar seorang murid SD menunjukkan jalan kepada sopir taksi, sambil mengingatkan: “itu rumah orang kafir lho!”  Dalam kasus semacam ini, kita tahu ada problem serius tentang kewarganegaraan, kemajemukan, dan pikiran terbuka. Ada problem serius tentang kehidupan di sekolah-sekolah, di dalam kurikulum dan organisasi-organisasi masyarakat. Acuan konsep-konsep publik yang seharusnya menimbulkan toleransi horisontal, telah diajarkan justeru dengan doktrinasi diskriminatif pada generasi yang baru tumbuh.

Politik kita hari-hari ini sedang menjalankan “crypto-politics”. Elit  menunggangi kebodohan dan kepatuhan komunal, untuk mencapai tujuan-tujuan kekuasaan. Sekarang ini, memimpin atau sekedar menjadi bagian dari suatu komunitas religius merupakan kebutuhan politis elit untuk mencapai status-status publik. Kesolehan menjadi simbol kewarganegaraan. Tatakrama menjadi pembatas kritisisme. Diskursus demokrasi menjadi tempat nyaman untuk mengorganisir kekuasaan dengan memanfaatkan peralatan agama. Simbol-simbol privat kini merajai kehidupan publik. Mayoritarianisme mendikte paham kedaulatan rakyat. Bahkan Mahkamah Konstitusi bersikap sangat adaptif terhadap logika “mayoritarianisme” itu, dengan menerima argumen-argumen privat dalam memutuskan urusan publik.

Benar bahwa sistem demokrasi membuka ruang kebebasan bagi berbagai aspirasi. Tetapi apakah aspirasi kebencian, misoginis, intoleran dan bahkan kriminal harus dinilai sama dengan aspirasi keadilan, otonomi tubuh, dan kebebasan berpendapat?

Di dalam demokrasi, realitas selalu berarti “realitas sosial”. Yaitu kondisi kehidupan yang selalu memungkinkan kebenaran dikoreksi melalui bahasa manusia. Dan koreksi itu adalah pekerjaan duniawi yang harus terus diaktifkan, karena apa yang ada di akhirat tidak mungkin dikoreksi. Inilah realitas yang harus disimulasikan terus menerus, untuk menggantikan psikologi obsesif yang menghendaki pemenuhan kebenaran akhirat di Republik manusia.

Ide Republik memberi kita pelajaran moral yang sangat mendasar, yaitu etika publik harus menjadi satu-satunya ikatan kultural di antara warganegara. Etika publik adalah hasil negosiasi keadilan, didalam upaya memelihara kehidupan bersama berdasarkan apa yang bisa didistribusikan di dunia, dan bukan apa yang akan diperoleh di akhirat.

Misalnya, obsesi untuk menyempurnakan keadilan harus kita hasilkan melalui sistem pajak, karena melalui pajaklah relasi warga negara disetarakan.  Karena itu, sangatlah janggal bila pajak saudara untuk keadilan sosial di bumi, digunakan negara mensubsidi mereka yang ingin masuk surga.

III
Dan kita adalah warganegara Dunia…

Soal yang juga terus menimbulkan kemenduaan mental politik kita hari-hari ini adalah masalah globalisasi. Ketakutan untuk masuk dalam percakapan politik global telah menghasilkan reaksi atavistik yang memalukan. Kita menyembunyikan kegagapan kebudayaan kita dengan cara menyulut api nasionalisme, seolah-olah asap tebalnya dapat menghalangi tatapan dunia terhadap praktek politik koruptif dan mental feodal bangsa ini. Nasionalisme menjadi semacam “mantra penangkal bala” setiap kali kita membaca laporan-laporan dunia tentang index korupsi kita yang masih tinggi. Nasionalisme kita pasang sebagai tameng setiap kali diperlukan evaluasi hak asasi manusia dan kebebasan pers oleh masyarakat internasional. Kita tidak memberi isi nasionalisme itu sebagai ide yang dinamis, “in-the-making”, tetapi kita menyimpannya sebagai benda mati dan memperlakukannya sebagai jimat politik.

Nasionalisme adalah identitas publik yang seharusnya kita olah dengan akal untuk ditampilkan sebagai modal diplomasi politik dan ekonomi. Nasionalisme masa kini ada pada keunggulan “national brand”, dan bukan ditampilkan sebagai psikosis pasca-kolonial.

Dan khusus menyangkut isu neoliberalisme, reaksi kita bahkan nyaris mistik. Kita memakai tameng-tameng tradisi untuk memusuhi suatu alam pikiran yang tidak pernah berwujud di belahan bumi manapun.  Kita mengorganisir kemarahan publik untuk memusuhi  sesuatu yang adanya hanya di buku-buku filsafat. Tetapi seandainya pun perlawanan itu harus diberikan,  kita justeru menolak mengajukan marxisme sebagai lawan filosofi yang sepadan, dan malah menyiapkan ayat-ayat agama sebagai kontra moral baginya. Agaknya, hanya di negeri ini dua ideologi yang bermusuhan, kita musuhi sekaligus.  Kita menolak dua-duanya dengan akibat kita tidak pernah paham logika sesungguhnya dari susunan-susunan pikiran itu. Karena itu, retorika dan hiruk-pikuk seputar isu “neolib”  terasa lebih sebagai hasil refleks psikologi poskolonial yang dangkal ketimbang hasil refleksi intelektual yang dalam.  Akibatnya, slogan neoliberal menjadi stempel politik baru bagi siapa saja yang dianggap mengedarkan kebebasan individu atau mengucapkan dalil-dalil ekonomi pasar. Kita tidak merasa perlu untuk mendalami filsafat itu karena kita lebih mengandalkan emosi yang panas ketimbang analisa yang dingin. Politik stigmatisasi semacam ini tidak mendidik rakyat untuk mengucapkan argumen, karena memang hanya dimaksudkan untuk meneriakkan sentimen.

Di sinilah kita perlu kembali pada akal sehat, yaitu memeriksa konsekwensi politik dari suatu debat palsu tentang ideologi ekonomi. Pada tingkat kebijakan, urgensi untuk memenuhi kebutuhan rakyat tidak lagi diukur berdasarkan sistem-sistem abstrak ideologi, melainkan oleh tuntutan keadilan di dalam politik distribusi. Pemerintah yang korup, di dalam sistem ideologi apapun, pasti menyengsarakan rakyat. Demikian juga, pasar yang efisien tidak dirancang dengan variabel nepotisme di dalamnya. Jadi, mendahului berbagai perselisihan ideologi, kita harus memastikan bahwa korupsi dan arogansi politik tidak boleh dipelihara dalam sistem politik kita. Dari sana, baru kita dapat menyusun kombinasi paling rasional antara peran pasar dan negara dalam melayani warganegara.

Obsesi kita tentang “ke-Indonesia-an” hari-hari ini, tidak cukup lagi merujuk pada dokumen-dokumen historis di masa lalu (Sumpah Pemuda, Proklamasi, dll), tetapi kita perlu memperluasnya pada kebutuhan politik masakini untuk mewadahi “kemajemukan baru”, yaitu kemajemukan yang timbul oleh percakapan kebudayaan dan teknologi global.  Percakapan kebudayaan itu lebih sering berlangsung di dalam ruang maya, dan nampaknya demokratisasi pikiran dan ide lebih dihargai di dalam kondisi digitalnya, ketimbang dalam pergaulan sosial nyata.

Perkembangan “ruang politik digital” itu, menandai suatu transisi peradaban politik baru. Imajinasi misalnya, akan meloloskan diri dari sensor institusi-institusi formal negara, dan karena itu, ukuran-ukuran moral lama sesungguhnya sudah memasuki masa kadaluwarsa. Kini,  sangat mungkin juga orang mendirikan rumah-rumah ibadah digital, bukan sekedar untuk menghindar dari lemparan batu kaum fundamentalis, tapi untuk sungguh-sungguh memberi tahu mereka bahwa surga juga dapat dibayangkan secara teknologis, dan diselenggarakan secara ekonomis.

Tetapi politik adalah penyelenggaraan keadilan di dalam ruang sosial nyata. Ruang digital tidak boleh berubah menjadi tempat mencari suaka. Ruang digital hanya boleh menjadi ruang konsolidasi subversif,  untuk membebaskan ruang sosial nyata dari hegemoni politik konservatif-fundamentalis.

Sesungguhnya, sama seperti ruang demokrasi, ruang digital itu juga dimanfaatkan oleh politik fundamentalis untuk menimbun dan menyebar kebencian, intoleransi dan permusuhan. Jelas bahwa ruang digital hanyalah sarana operasi politik, sementara markasnya tetap berada di dalam ruang sosial nyata: di ruang rapat partai, di kelas-kelas sekolah, di rumah-rumah ibadah.

Dalam konteks solidaritas global itu, kondisi kemanusiaan tidak mungkin lagi dipahami dalam definisi-definisi primordial. Kita tidak menjadi “manusia” hanya karena terikat pada kesamaan etnis dan keyakinan. Kita menjadi manusia karena kita terikat pada problem sosial yang sama, yaitu kemiskinan dan krisis energi global. Kita tidak mencari rasa aman pada aturan-aturan komunal, bila kita paham bahwa hukum hak asasi manusia telah menyelamatkan peradaban dari politik genosida di berbagai penjuru dunia. Kemanusiaan kita hari ini lebih diikat oleh kewajiban global untuk mengatasi bencana alam dan memberi perlindungan pada para pencari suaka. Kemanusiaan adalah solidaritas etis terhadap masalah masa kini, dan bukan perkelahian ideologis di jalan buntu.

Mengucapkan kemanusiaan sebagai “solidaritas etis” harus memungkinkan setiap orang keluar dari koordinat mentalitas komunalnya. Pertemuan di dalam ruang politik adalah pertemuan untuk mempercakapkan kemungkinan-kemungkinan sosiologis, dan bukan kepastian-kepastian teologis. Menerima politik sebagai “ruang antagonisme”, berarti memahami peluang untuk suatu konfrontasi etis demi alasan-alasan keadilan. Karena itu politik mengandaikan resipkrokasi percakapan, dan itu berarti wacana publik hanya dapat diselenggarakan bila keadilan dikonsepsikan secara sekuler. Anda tentu tidak membayar pajak untuk memperoleh “pahala akhirat”, melainkan untuk menjamin keadilan di bumi. Artinya, solidaritas etis harus dapat diukurkan langsung pada kesosialan manusia hari ini, agar kita tidak menunda keadilan sampai tibanya hari kiamat.

Tentu saja kita masih masih perlu memandang diri sendiri melalui cermin-cermin identitas yang dipasang mengelilingi hidup komunal kita.  Cermin-cermin itu seperti memberi rasa aman primitif kepada identitas seseorang. Kita bahkan perlu menggosok cermin itu agar kilaunya menimbulkan rasa unggul primitif pada kelompok. Tetapi sekali kita melangkah ke luar rumah, narsisisme itu tidak lagi banyak gunanya. Di dunia nyata, yang kita temukan adalah berbagai masalah sosial yang tidak mungkin sekedar diatasi dengan doa, sesajen dan mantra. Politik kelas tidak dapat ditunggu penyelesaiannya di akhirat. Demikian juga kerusakan lingkungan tidak dapat  ditangkal oleh komat-kamit sejumlah dukun. Kesetaraan gender, bahkan menuntut cermin-cermin itu dipecahkan!

So, do you speak Pluralism? Do you speak Environmentalism? Feminism?, Queer? Kita sedang berbicara tentang “politics of recognition”. Dan itu berarti pemihakan pada mereka yang tersisih oleh kekuatan-kekuatan kekuasaan, kapital dan kebudayaan. Dasar etis dari “politik pengakuan” ini adalah bahwa suatu kelompok yang tersisih hanya karena kedudukannya yang “minoritas” dalam masyarakat politik, harus memperoleh perlindungan istimewa dari negara. Itulah alasan misalnya bagi pengakuan atas hak “affirmative action” bagi politik perempuan. Itu juga alasannya keperluan kita membela hak-hak “queer”, karena orientasi seksual adalah kondisi yang sangat individual. Negara tidak dapat diperalat untuk menjalankan moral mayoritas.

Didalam diktum yang paling keras, negara justeru diadakan untuk melindungi kelompok minoritas. Sebaliknya, kelompok mayoritas yang masih menuntut pengakuan, adalah kelompok yang sebetulnya bermental minoritas.

IV
Di Republic of Hope

Kita menyelenggarakan Republik bukan karena keunggulan teoretis dari konsep itu. Kita menyelenggarakan Republik juga bukan karena asal-usul kebudayaannya. Kita memilih Republik karena hanya sistem itu  yang mampu memelihara kemajemukan kita. Kita menyebutnya Republik Indonesia, tanpa predikat tambahan, karena hanya itu bentuk maksimal dari persaudaraan warganegara. Indonesia hanya bersatu dalam nusa, bangsa dan bahasa. Kita tidak ingin bersatu dalam urusan agama, tatakrama dan busana. Kita menyelenggarakan Republik agar kita bisa berselisih dalam soal-soal dunia, dan bukan bertengkar untuk soal-soal akhirat.

Sesungguhnya, negara ini tidak berlokasi di dalam situs-situs purbakala. Dengan mengucapkan proklamasi kemerdekaan, kita sekaligus memutuskan untuk bergaul dalam peradaban dunia modern yang dinamis. Dalam pergaulan global itulah kita melatih akal sehat kita, agar kita tidak cuma sanggup mencerca tanpa arah, atau marah ke segala arah. Reaksi-reaksi primitif itu hanya akan menguras enersi mental kita, untuk akhirnya menyerah pada kecepatan pikiran dunia.

Di situlah suatu bangsa memerlukan kepemimpinan politik visioner. Kepemimpinan yang cerdas, yang mampu membangkitkan imajinasi rakyat. Kecanduan pada kekuasaan adalah hal yang biasa bagi seorang pemimpin. Tetapi kecanduan yang tidak menimbulkan imajinasi pada rakyat, adalah kecanduan seorang pemimpin medioker. Kekuasaan memerlukan kecerdasan agar arah peradaban bangsa dapat dibayangkan dalam suatu psikologi harapan. Tetapi kesempatan untuk memperoleh psikologi itu kini tidak lagi tersedia, karena dari kepemimpinan serba-tanggung tidak mungkin terbit gagasan serba agung.  Bangsa ini sekarang kehilangan imajinasi tentang sebuah Republic of Hope, dan kekosongan itulah yang kini diisi oleh para ahli akhirat.

Pepatah Itali mengingatkan: “Bila akal sehat tertidur, maka para monsterlah yang menguasai malam”. Kepemimpinan yang gagal mengaktifkan akal sehat, bertanggung jawab terhadap  munculnya Republic of Fear. Ekonomi dapat bertumbuh tanpa kebijakan pemerintah, tetapi keamanan warganegara dan keadilan sosial menghendaki pemihakan negara. Tanpa pemihakan itu, Republic of Fear akan tumbuh melampaui Republic of Hope.

Kita memelihara Republik, karena hanya dalam ruang politik itulah pikiran individu memperoleh kesempatan untuk diperiksa secara publik. Pikiran yang tidak dapat diperiksa di depan publik, adalah pikiran yang membahayakan Republik. Kita memelihara Republik karena kita ingin hidup dalam kesetaraan, kemajemukan dan keadilan. Marilah merawat Republik dengan akal sehat, agar para monster tidak menguasai malam, agar kita dapat nyenyak sepanjang malam. Karena besok, ada tugas menanti di Republic of Hope.

Terima kasih.

S u k a e s i h

Pada tangga 12 November 1926 merupakan hari pemberontakan pertama rakyat
Indonesia melawan pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pemberontakan
pertama ini berlangsung di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pemberontakan ini menjadi teladan bagi rakyat Indonesia, bahwa betapa pun
kuatnya sebuah pemerintahan Kolonial, namun ia bisa dilawan dan ditumbangkan.
Walau pun pemberontakan ini banyak mengalami pukulan, namun ia merupakan api
yang membakar semangat rakyat Indonesia. Untuk mengingat dan mengenang arti
penting pemberontakan ini, secara berturut saya tampilkan tulisan-tulisan yang
termuat dalam buku “Gelora Api 26″ terbitan `Ultimus` Bandung pada tahun 2010.
Kita lanjutkan dengan cerpen “Sukaesih” karya Sugiarti Siswadi.
Salam: Chalik Hamid.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = =

Sugiarti Siswadi

S u k a e s i h

Darah siapakah yang menggenang merah
membasahi bumi Priangan ?
Ah, itulah darah Haji Hasan,
dipotong seanak bininya.
Konon, apakah Haji Asan seorang perampok ?
Ah, Haji Asan mempertahankan sejengkal tanah.
Beberapa pikul padi dan bakul beras
mempertahankan anak bininya.
Tetapi lehernya dipenggal.
sekeluarga menemui ajal,
dan darah menggenangmerah,
dan si perampok berkulit putih,
mengamangkan goloknya,
di tengah perjalanan sejarah
ia harus darah, haus darah…

Garut 1918.
Suatu bisikan menjadi keras , menggema mengerikan  melampui bukit dan
lembah-lembah indah Priangan Timur. Residen memerintahkan, supaya Haji Asan se
anak bininya, pembetontak di Cimereme di bunuh. Yah, darah merah mengalir di
Cimereme, darah Haji Hasan yang menolak menyerahkan  beras padinya kepada
perampok Belanda. Seluruh keluarganya menemui ajal, dan mayatnya yang berlumur
darah diangkut dalam sebuah wagon sebuah kereta api menuju Garut. Seluruh Rakyat
Garut harus tahu, apakah upah seorang pemberontak.Yalah kematian. Orang-orang
berkerumun di stasiun Garut, suara-suaranya menggumam, mendengung berkumandang,
dan ketika wagon yang tergenang darah itu tiba, gumam itu menjadi pekik yang
dahsyat.
Mereka tidak hanya melihat darah Haji Asan, mereka seperti melihat darah mereka
sendiri, yang merah. Darah Rakyat yang tertindas, dan darah yang masih mengalir
dalam tubuh-tubuh mereka menggelegak. Dalam kerumunn orang-orang di stasiun,
berdiri pula seorang wanita muda. Wajahnya jernih, kulitnya kuning, matanya yang
besar bercahaya itu mengapi, melihat darah menetes keluar dari sela-sela wagon.
Lama ia tegak terpaku, kemudian ia membalikkan badannya; juga darahnya sendiri
menggelegak.
“Mengapa aku bukannya menjadi takut ? Mengapa aku sebaliknya menjadi marah ?
Menjadi begini berani ?  Seakan-akan Belanda yang berdiri itu terlihat seperti
seekor lalat saja ?  Mengapa ?  Mengapa seperti tungku di dalam jantungku
menyala hebat dan membakar darahku ?  Aku mesti berlawan. Yah kita semua mesti
berlawan. Kalau aku mesti mati seperi Haji Asan, maka aku telah mati berdiri ´´.

Sukaesih pulang menuju rumahnya. Sendirian ia di situ, baru saja ia minta cerai
dari suaminya, seorang Pangreh Praja, yang dari pucuk jari kakinya sampai pucuk
rambutnya berdarah Pangreh Praja. Enggan ia hidup demikian. Lebih baik ia hidup
berdiri sendiri.

Setiap malam, apabila matanya hampir terpejam, terbayanglah darah Haji Asan
seanak bininya,  dan hatinya yang semula kecut menjadi menggelegak.
“Aku mesti melawan. Mesti melawan.”
Sukaesih menjadi anggota Sarekat Fatimah, dan ia rajin mengikuti rapat-rapatnya
, rajin mendengarkan pidato-pidato dan khotbah-khotbah, tetapi hari akhir-akhir
ini ia tidak puas lagi dengan segala pembicaraan di Sarekat Fatimah. Ia
menunggu, kapankah rapat, pidato-pidato, khotbah-khotbah itu menyinggung darah
merah Haji Asan sekeluarga yang mengalir membela sejengkal tanah dan sejumput
nyawa anak bininya. Sarekat Fatimah terlalu banyak membicarakan akherat dan
sorga, tetapi hidup di bumi yang keras dan pergulatan yang dahsyat di jantung
tanahairnya, tidak dibicarakan.. Sukaesih kecewa. Dan dia pun keluarlah, dengan
tekad yang terucap.
“Aku akan masuk dan menyerahkan segenap jiwa raga kepada pergerakan yang membela
Rakyat. Yang menuntut darah Rakyat yang mengalir karena kekejaman  penindasan.”
Tidak lama, cita-cita Sukaesih itu terwujud. Ia pindah ke Jakarta. Dengan
perantaraan kenalan-kenalannya, buruh kereta api, Sukaesih mejadi anggota
Sarekat Rakyat Merah. Ia mendapatkan tempatnya yang sesuangguhnya. Sarekat
Rakyat Merah menjawab segala kepelikan yang bertarung di dalam hatinya,
memuaskan dahaga hatinya akan kerja mengabdi kepada Rakyat dengan seluruh jiwa
raganya. Karena ketekunan yang luarbiasa, ia lalu diterima menjadi anggota
Partai Komunis Indonesia. Hati Sukaesih melebihi besarnya gunung Galunggung.
Sumpah Partai yang dia ucapkan menggetarkan jiwanya yang penuh kesetiaan, dan
sejak saat itu, terhunjam di dalam hidupnya, panji-panji proletariat,
panji-panji Palu Arit yang hanya bisa dicabut  apabila nyawanya dicabut.
Sukaesih mencurahkan kegiatannya dalam  Sarekat Rakyat Isteri. Dadanya penuh
kebahagiaan tiap kali ia merenungkan sikap si revolusioner :  pada yang masih
hidup, berdegup Internsionale di dada, dan terhunjam panji-panji Palu Arit ;
yang sudah mati membawa panjinya setia sampai nafas terakhir.
Tahun-tahun perlawanan makin menghebat. Matahari perjuangan semakin tinggi di
kaki langit Indonesia, dan panji proletariat makin kokoh tertanam. Taufan  sudah
menjenguk di balik gunung-gunung, taufan yang akan menyapu imperialisme dari
Indonesia. Pemerintah kolonial menjadi gelap mata. Dikeluarkan segala peraturan
yang aneh-aneh yang tidak masuk akal. Larangan berapat, pemberangusan
suratkabar-suratkabar, penguberan dan penangkapan tanpa periksa, perampokan di
rumah, di sawah dan di ladang, penggeledahan kantor-kantor partai  dan
organisasi gerakan Rakyat, penangkapan karena delik pers dan lain-lain. Juga
pemberotakan tani meletus di mana-mana, di seluruh penjuru tanahair. Di
Palembang,  Priangan, Jawa Tengah, Jawa Timur……. Rakyat tani yang telanjang dan
hampir mati  kelaparan mengangkat goloknya, dan menyerukan pekik perlawanan.
Tiap hari Sukaesih mendengar laporan dari daerah-daerah, tentang meletusnya
perlawanan, tentang banyaknya orang-orang Komunis yang ditangkapi.
Malam itu, malam menjelang tahun 1926 yang bersejarah. Beberapa pemimpin Komunis
berkumpul, dan mereka membicarakan permintaan Rakyat, agar PKI memerintahkan
pemberontakan di seluruh Indonesia. Orang-orang Komunis adalah orang-orang yang
berkepala dingin, berotak waras, penuh dengan kemanusiaan, kecintaan yang dalam.
Pemberontakan sekarang ?  Sekarang ?  Apabila sekali telah dimulai, tidak akan
berhenti di tengah sebelum tercapai. Dan baru dimulai, apabila pasti menang.
Hindarkan korban, usahakan korban se kecil-kecilnya. Sekarang belum matang
saatnya buat angkat senjata. Tetapi, apabila massa sudah mulai, Partai harus
berdiri di baris paling depan memimpin massa dalam perlawanan. Partai tidak akan
membiarkan Rakyat maju tanpa pimpinan, karena dukacita Rakyat adalah dukacita
Partai. Itulah pendapat pimpinan Partai, juga pendapat Sukaesih. Kalau harus
kita berlawan, maka kita berdiri di pos yang terdepan.

Ya, berontak tak bisa disuruh dan tak bisa ditahan. Kalau sudah dimulai, Partai
harus berada di barisan terdepan, memimpin perlawanan.

Malam menjelang 12 November, keadaan telah begitu panasnya. Sukaesih
meninggalkan rumahnya. Ia ditugaskan di resort di sebuah gedung kosong milik
seorang Arab. Tanggal 12 Noivember 1926 akan dimulai pemogokan umum buruh kereta
api dan pada saatnya yang tepat beratus-ratus rakyat, beribu-ribu bahkan akan
menyerbu penjara Glodok.

Tetapi tengah malam pemogokan itu rupanya tercium oleh dinas reserse Belanda.
Semenjak pagi-pagi  buta, di seluruh Jakarta diadakan penagkapan umum. Sukaesih
hanya memikirkan keselamatan  Partai. Ia behasil lolos dari  jaring penagkapan
dan ia bersembunyi di rumah seorang pegawai  pemerintah Belanda, yang juga
anggota Partai. Dari seorang penghubung Sukaesih ditugaskan untuk terus
memimpin  perlawanan, terutama ia mesti menyelenggarakan hubungan dengan
kawan-kawan yang masih di luar.
Berita-berita dari rumah diterimanya. Bahwa anak-anaknya ditangkap ketika polisi
menggeledah rumahnya.

Beberapa waktu telah lampau. Sukaesih yang menyamar sebagai Halimah, telah biasa
keluar-masuk tangsi  Batalyon X dan XX di Senen. Tetapi pada suatu hari,
datanglah seorang bekas anggota di dalam resortnya, Sakib, menemuinya di
penginapan. Ia menyerahkan kepada Suakesih sebuah sampul berisi uang, yang
katanya adalah sumbangan kawan-kawan untuk ongkos hidup Sukaesih. Tanpa curiga
Sukaesih menandatangani surat tandaterima, tetapi selang beberapa jam, dua orang
polisi diikuti 20 orang reserse memangkap Suakesih. Dengan tenag Sukaesih
menerima nasibnya.
“Baik, tuan-tuan. Sekarang tuan-tuan menangkapku. Karena aku mungkin
tidak dapat hidup, aku ingin mandi, ganti baju dan makan dahulu.”
“Nyonya jangan terlalu pesimistis. Tidak ada kami katakan, bahwa
nyonya ditangakp untuk mati.’’
‘’Ah, bagi kami itu sudh pasti. Apabila kami tertangkap, kami sudah
bersedia untuk mati.’’
Sukaesih mandi, berganti baju. Di kamar mandi ia menghancurkan dulu surat-surat
penting, lalu ia menyimpan pistolnya cepat-cepat di dalam jahitan kasur dan
membuang pelurunya di lubang besi tempat tidur. Sesudah ia rapi berdandan, ia
duduk dan makan dengan seenaknya.
“Tuan-tuan mesti tahu, beginilah sikap seorang Komunis menghadapi
tangkapan dan kemaatian.” – katnya dengan tenang. Terbayang lagi darah Haji
Asan. ‘’Aku sudah mati berdiri.’’ – kata hatinya.

Satu bulan Sukaesih ditahan di dalam Hopbiro. Selama itu ia dibiarkan tidur di
lantai tanpa tikar.  Tetapi baru beberapa hari, beberapa orang agen polisi yang
melihat tawanannya tidak pernah sekali juga menundukkan kepala, mengantarinya
koran-koran tua. Agak berkuranglah dingin lantai itu. Setiap pagi, dari jam
tujuh sampai kantor bubar, Sukaesih diwajibkan duduk di bawah meja komandan,
sampai komandan itu pergi. Tetamu yang datang  di hopbiro, melihat seorang
wanita duduk di bawah meja komandan, dan si komandan memperkenalkan:

“Tuan-tuan, inilah wanita Komunis yang baru-baru ini saya tangkap.
Saya sediakan uang hadiah F 500,-  dan si Sakib berhasil.”
Tetamu itu keheranan , dan memandangi Sukaesih. Itulah rupanya seorang Komunis,
lebih-lebih lagi Komunis perempuan. Mereka menggeleng-gelengkan kepala.
Nyonya-nyonya polisi biasa masuk dan menjenguk ke bawah meja: ´´Apakah nyonya
Komunismu itu masih ada ?´´ Dan mereka tertawa-tawa.

Sukaesih tidak membiarkan penghinaan itu. Ketika kepala komandan datang, ia
mengajukan protes.

´´Komandan, bawahan tuan memperlakukan saya tidak sopan.
Dibiarkannya saya duduk di bawah mejanya, dan dijadikannya aku tontonan. Kalian
kira aku malu dijuluki nyonya Komunis ?  Aku bangga !  Tuan-tuan tak malu
memperlakukan aku tawanan politik seperti ini ?”
Sukaesih dipindahkan ke tempat yang lebih baik.
Beberapa lamanya vonis pun jatuhlah. Sukaesih dipindahkan ke penjara Glodok.
Satu setengah tahun Suakesih makan hati berulam jantung di sana : ‘’Aku mesti
berlawan, mesti berlawan.’’  Hatinya menggelegak, tetapi badannya semakin habis.

Di dalam penjarara Sukaesih mendengar bahwa Sairan dan Usin, anak buahnya dari
resort Tanah Abang, dijatuhi hukuman mati, digantung. Sukaesih semakin
menggelegak. ’’Buang sajalah aku ke Digul, jangan aku disiksa di sini.’’
Satu setengah tahun di Glodok, Sukaesih dibuang ke digul. Dia membayar tunai
perkaranya sendiri, pejuang ini, Srikandi ini. Di Digul banyak wanita
dijumpainya mengikuti suaminya yang dibuang. Untuk itu Sukaesih menundukkan
kepala  menghormat atas kesetiaan mereka.

Sukaesih lebih matang, jiwanya lebih masak, tidak diletakkannya panggilan yang
terpikul di pundaknya. Ia melanjutkan persiapan-persiapan mematangkan
kemerdekaan Indonesia, menyiapkan pembebasan Indonesia, bersama-sama beribu-ribu
pejuang di Digul dan beratus-ratus ribu di wilayah Indoinesia lainnya.
Ia dan banyak lagi Sukaesih-Sukaesih tidak hanya  mempunyai hari kemarinnya yang
gilang- gemilang, ia mempunyai hari sekarangnya yang tidak bercacat, dan ia
menjanjikan hari-hari esoknya. Sukaesih-Sukaesih ini dapat bangga kepada seluruh
hidupnya, kemarin, sekarang dan esok, dan seluruh Rakyat Indonesia wajib bangga
kepada wanita-wanita begini.
Sejarah tidak akan melupakan perintis-perintis kemerdekaan ini dan kemerdekaan
berterimakasih kepada mereka.

Darah Haji Asan belum tertebus.
juga darah Saerun dan Usin,
yang menetes dari tiang gantungan.
Matahari memancar tinggi di kaki langit,
seluruh dunia telah bangkit.
Maju !  Maju !

Mendidik Massa: Seni Realis Sosialis

INDONESIAN ART NEWS

Rabu, 10 November 2010 – 05:55 Mendidik Massa: Seni Realis Sosialis

oleh Boris Groys

 

 

Karya Viktor Ivanov yang dibuat tahun 1945. Kalimat di bagian bawah kurang lebih berbunyi: “Kami telah meraih kemenangan untuk kejayaan bangsa”. (foto: http://vnexpress.net/) Bagian 1

SEJAK permulaan dasawarsa 1930-an sampai runtuhnya Uni Soviet, Realisme Sosialis adalah satu-satunya metode kreatif yang diakui bagi seluruh seniman Soviet. Persaingan aneka ragam program estetika yang menjadi kekhasan kesenian Soviet sepanjang dasawarsa 1920-an mendadak tamat setelah Komite Sentral mengeluarkan maklumat pada 23 April 1932. Semua kelompok kesenian yang ada diberangus dan seluruh pekerja kreatif Soviet harus terorganisasi menurut profesi dalam “serikat kreatif” tunggal bagi seniman, arsitek, dan lain-lain. Realisme Sosialis dinyatakan menjadi metode wajib pada Kongres Pertama Serikat Penulis pada 1934 dan selanjutnya diperluas sampai mencakup semua bentuk kesenian lain, termasuk seni rupa, tanpa diubah sedikitpun dari rumusan awal. Menurut definisi resmi yang baku, Realis Sosialis haruslah “realistik dalam bentuk dan Sosialis dalam isi.” Rumus yang nampak sederhana ini sungguh muskil. Bagaimana mungkin bentuk itu sendiri realistik? Selain itu, apakah sesungguhnya makna dari “isi Sosialis”? Menerjemahkan rumus yang kabur ini ke dalam praktik artistik konkret bukan pekerjaan gampang, padahal jawaban terhadap pertanyaan inilah yang akan menentukan nasib setiap individu seniman Soviet. Jawaban itulah yang menentukan hak seniman untuk bekerja – dan dalam beberapa kasus, hak mereka untuk hidup.

Selama kurun awal pembentukan Realisme Sosialis di era Stalinis, makin banyak seniman, dan makin meluas peralatan artistik dan stilistik mereka yang dicoret dari kanon Realis Sosialis. Sejak pertengahan dasawarsa 1930-an, makin terbatas cara untuk merumuskan metode-metode yang diterima resmi. Politik penafsiran yang picik dan ekslusi yang ketat ini berakhir dengan meninggalnya Stalin pada 1952. Selewat kurun yang disebut “pencairan” dan proses de-Stalinisasi parsial dalam sistem Soviet, yang bermula sejak di ujung dasawarsa ’50-an dan terus berlanjut hingga Uni Soviet bubar, Realisme Sosialis telah ditafsirkan dengan lebih inklusif. Namun politik eksklusi di masa awal itu tak pernah memungkinkan munculnya suatu estetika Realis Sosialis yang benar-benar homogen atau koheren sekalipun. Sementara politik inklusi yang menjadi penerusnya pun tak pernah mencapai keterbukaan dan pluralisme artistik yang sungguh-sungguh. Setelah Stalin meninggal, muncul art-scene tak resmi di Uni Soviet yang tidak diterima lembaga-lembaga resmi kesenian. Pihak penguasa menenggang mereka, tapi karya-karya ciptaan para seniman itu tak pernah dipamerkan atau dipublikasikan. Ini menunjukkkan bahwa Realisme Sosialis tak pernah inklusif secara memadai.

Realisme Sosialis Soviet diniatkan untuk mampu dengan ketat merumuskan langgam seni, tapi juga ia diniatkan sebagai metode pemersatu bagi seluruh seniman Soviet, bahkan bagi mereka yang bekerja dengan media yang berbeda-beda, termasuk sastra, seni visual, teater, serta sinema. Jelaslah, bahwa dua niat ini bertentangan. Bila suatu langgam artistik saja tak dapat dibandingkan dengan langgam artistik lain pada medium yang sama, maka baik kekhasan estetik maupun nilai artistiknya tentulah tidak jelas. Bagi para seniman Soviet, yang diacu pada pokoknya adalah Barat yang borjuis. Perhatian utama para penguasa ideologis Soviet hanya tertuju pada usaha agar kesenian Soviet Sosialis tidak mirip dengan kesenian Barat kapitalistik, yang mereka anggap sebagai kesenian formalis bejat, yang menolak nilai-nilai artisitik masa lalu. Sebaliknya, Soviet merumuskan program yang mengapropriasi warisan dari seluruh epos masa lalu: bukannya menolak seni masa lalu, para seniman diharuskan memanfaatkannya demi kesenian Sosialis yang baru. Diskusi mengenai peran warisan kesenian dalam konteks realitas Sosialis baru yang diselenggarakan di akhir dasawarsa 1920-an dan permulaan dasawarsa 1930-an sangat menentukan perkembangan kesenian Realis Sosialis selanjutnya. Ini menandai pergeseran penting dari kesenian dasawarsa ’20-an yang masih didominasi program-program formalis, modernis, menuju seni Realisme Sosialis, yang terutama mempersoalkan kandungan setiap karya.

Sikap para seniman dan teoretikus avant-garde terekspresi dengan kuat dalam selarik teks pendek terbitan tahun 1919 tulisan Kazimir Malevich, “Tentang Museum”. Saat itu, pemerintah baru Soviet khawatir kalau museum-museum Rusia bersama koleksi-koleksinya akan musnah dalam perang saudara, ketika lembaga-lembaga negara maupun perekonomian runtuh. Dalam teks ini Malevich menyerang kebijakan pro-museum itu sambil menyerukan agar negara tidak campur-tangan dengan mengatasnamankan koleksi-koleksi kesenian itu, sebab kehancuran itu justru membuka jalan menuju kesenian sejati, suatu kesenian yang hidup.  Secara khusus, ia menulis:

“Hidup, tahu apa yang dia lakukan, kalau ia mau menghancurkan, janganlah kita campur-tangan, karena dengan mencegah kita justru menghalangi jalan menuju konsepsi baru tentang hidup yang lahir bersama kita. Dengan membakar jazad, kita peroleh satu gram serbuk: dengan cara itu ribuan pemakaman cukup ditampung dalam satu selorok laci seorang juru kimia. Kita bisa membuat kesepakatan dengan kaum konservatif dengan menawarkan agar mereka membakar saja seluruh epos masa lalu, sebab masa lalu sudah mati, lalu mendirikan apotik.”

Belakangan, Malevich menyodorkan contoh konkret yang menjelaskan maksudnya:

“Tujuan (dari apotik ini) tentu sama, bahkan andaikata rakyat memeriksa serbuk yang berasal dari Rubens dan seluruh keseniannya – sehimpunan gagasan akan muncul di kalangan rakyat, dan itu akan lebih hidup dari representasi aktual (lagipula tak butuh banyak ruang).” (1)

Malevich percaya bahwa, masa revolusioner harus direpresentasikan dengan bentuk-bentuk seni revolusioner, yang baru. Opini ini tentu disepakati banyak seniman lain di “front kiri”  pada dasawarsa 1920-an. Namun para kritikus berkilah bahwa revolusi yang sejati terjadi bukan di tingkat bentuk artistik melainkan lebih di tingkat pemanfaatannya secara sosial. Dengan direbut dari kelas-kelas berkuasa yang lama, dengan diapropriasi oleh proletariat yang unggul, dan diminta melayani negara Sosialis yang baru, bentuk-bentuk artistik lama itu secara intrinsik terbarukan sebab diisi dengan muatan baru dan dipakai dengan konteks yang sama sekali berbeda. Dalam arti ini, bentuk-bentuk kesenian lama itu lebih terbarukan bila dibanding bentuk-bentuk yang diciptakan kaum avant-garde tapi dipakai dalam konteks yang sama oleh masyarakat borjuis. Kritik proto-postmodern terhadap “kecenderungan formalis di lingkungan seni” dicetuskan oleh seorang kritikus seni masa itu, Yakov Tugendkhol’d, sebagai berikut: “Distingsi antara seni proletarian dan seni non-proletarian ternyata ditemukan bukan dalam bentuk melainkan dalam gagasan tentang pemakaian bentuk-bentuk ini. Lokomotif dan mesin-mesin akan sama saja di sini atau di Barat; inilah bentuk yang kita miliki. Perbedaan antara industrialisme kita dan yang terjadi di Barat sesungguhnya adalah bahwa, betapapun, di sini proletariatlah tuan dari lokomotif dan mesin-mesin ini; inilah muatan kita.” (2) Sepanjang dasawarsa 1930-an itu kilah ini terus didengung-dengungkan. Para seniman dan teoretikus avant-garde Rusia didakwa menganut pendekatan nihilistik terhadap kesenian masa lalu dan menghalangi kaum proletar dan Partai Komunis yang mau memanfaatkan warisan artistik mereka untuk tujuan-tujuan politik mereka sendiri. Sejalan dengan itu, Realisme Sosialis mula-mula digambarkan sebagai operasi penyelamatan darurat untuk mencegah kehancuran tradisi budaya. Bertahun-tahun kemudian, Andrei Zhdanov, anggota Politbiro yang di masa itu bertanggung-jawab untuk politik resmi kebudayaan, berkata dalam sebuah pidato yang didedikasikan untuk masalah seni:

“Apakah Komite Sentral bertindak “konservatif,” apakah (tindakan) itu dipengaruhi “tradisionalisme” atau “epigonisme” dan seterusnya, ketika ia membela warisan klasik lukisan? Omong kosong belaka! … Kami, kaum Bolshevik tidak menolak warisan masa lalu. Sebaliknya, kami dengan kritis mengasimiliasi warisan budaya segala bangsa dan segala masa, dalam rangka memilih yang manakah dari semua itu yang mengilhami rakyat pekerja di masyarakat Soviet agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya dalam kerja, sains, dan budaya.” (3)

Diskusi tentang peran warisan artistik ini membingkai perkembangan estetika Realisme Sosialis, karena hal itu mengindikasikan sejumlah kriteria kebentukan yang harus dipenuhi seorang Realis Sosialis agar ia menjadi Sosialis dan Realis. Dikedepankannya Realisme Sosialis membuka perjuangan panjang yang menyakitkan dalam suatu kesenian yang mau kembali  kepada model penciptaan-seni yang klasik. Dengan cara ini, seni Realis Sosialis berangsur-angsur dibersihkan dari jejak-jejak “distorsi” modernis terhadap bentuk-bentuk klasik – agar di akhir proses itu ia mudah dibedakan dari kesenian Barat yang borjuis. Para seniman Soviet juga berusaha mengolah menjadi tema segala sesuatu yang nampak berciri Sosialis dan non-Barat – parade resmi dan demonstrasi, pertemuan Partai Komunis dan pimpinannya, para pekerja yang dengan gembira membangun basis material bagi masyarakat baru. Dalam pengertian ini, dimapankannya oleh Realisme Sosialis gerak mundur yang gamblang kepada citra mimetik klasik itu cukup menyesatkan. Realisme Sosialis tidak sepatutnya menggambarkan kehidupan sebagaimana adanya, sebab kehidupan sudah ditafsirkan teori Realis Sosialis sebagai sesuatu yang bergejolak dan sedang berkembang – khususnya selama “perkembangan revolusioner”, seperti tertulis dalam rumusan resmi.

Bagian 2

Realisme Sosialis diarahkan pada apa yang belum ada namun dipandang harus diciptakan dan diputuskan menjadi bagian dari masa depan Komunis. Realisme Sosialis dipahami sebagai metode dialektis. “Yang terpenting bagi metode dialektis, demikian Stalin menulis, “bukanlah apa yang saat ini stabil tapi beranjak sekarat, melainkan apa yang baru muncul dan berkembang, meskipun sekarang mungkin tampak tidak stabil, sebab bagi metode dialektis hanya yang sedang muncul berkembanglah yang tidak mungkin dilampaui (overcome).” (4) Memang, ketika itu Partai Komunis yang memegang hak untuk memutuskan mana yang mau mati dan mana yang boleh muncul.

Sekadar pelukisan fakta-fakta saja secara resmi dikutuk sebab dianggap “naturalisme.” Ini harus dibedakan dari “realisme,” yang dipahami sebagai kemampuan untuk mencerap seluruh perkembangan sejarah, untuk mengenali di dunia saat ini tanda-tanda kedatangan dunia Komunis. Kemampuan untuk menyeleksi pilihan Sosialis yang tepat dari fakta-fakta historis maupun mutakhir dipandang sebagai kualitas terpenting seorang seniman Sosialis. Boris Ioganson, salah seorang seniman terkemuka dalam kurun waktu Stalin, bekata dalam pidatonya di Konvensi Pertama Seniman Soviet pada 1930-an: “Sekeping fakta bukanlah seluruh kebenaran; tapi sekadar bahan mentah dari mana kebenaran seni yang sesungguhnya harus ditempa dan disarikan – jangan memanggang ayam bersama bulunya.” (5) Kemudian dikatakannya bahwa lokus kreativitas dalam kesenian Realisme Sosialis bukanlah teknik melukis melainkan “pementasan gambar” – maksudnya, pekerjaan pelukis pada dasarnya tidak berbeda dari pekerjaan fotografer. Lukisan Realis Sosialis adalah semacam fotografi virtual – yang dimaksudkan supaya nampak realistik, meski cakupannya lebih dari sekadar cerminan dari adegan yang sungguh-sungguh terjadi. Sasarannya adalah menyodorkan dunia masa depan kepada satu citra, dunia yang seluruh faktanya merupakan fakta-fakta kehidupan Sosialis. Ini semacam kualitas fotografis yang akan membuat citra ini secara visual dapat dipercaya. Bukankah dengan demikian Realisme Sosialis seharusnya realis hanya dalam bentuk, tidak dalam isi?

Gerak kembali kepada apa yang klasik itu pun tak kalah menyesatkan. Seni Realis Sosialis tidak diciptakan untuk museum, galeri, kolektor swasta, atau connoisseurs. Realisme Sosialis diperkenalkan berbareng dengan dihapusnya pasar bebas, termasuk di situ, pasar seni. Negara Sosialis menjadi satu-satunya konsumen seni. Negara Sosialis ini hanya peduli dengan satu jenis kesenian – seni yang bermanfaat secara sosial dan yang akan menarik minat massa, mendidik mereka, mengilhami mereka, memandu mereka. Karena itu, seni Realis Sosialis ujung-ujungnya dibuat untuk reproduksi, distribusi, dan konsumsi massa – bukan untuk kontemplasi perorangan yang terkonsentrasi. Ini menjelaskan mengapa lukisan-lukisan atau patung-patung yang terlihat kelewat bagus, atau kelewat sempurna menurut kriteria kualitas tradisional, juga dianggap kritikus seni Soviet sebagai “formalis.” Karya seni Realis Sosialis secara estetis harus menaati semacam warisan yang berterima, namun pada saat yang sama harus mengusahakannya agar warisan itu terbuka pada khalayak massa, tidak memperlebar jarak antara karya seni dan publiknya.

Tentu, banyak seniman tradisional yang merasa terdesak oleh avant-garde Rusia dasawarsa 1920-an tak pelak memanfaatkan perubahan ideologi politik ini untuk memperoleh pengakuan bagi karya-karya mereka. Banyak seniman Soviet saat itu masih melukis lansekap, potret, adegan-adegan genre menurut tradisi abad ke-19. Padahal lukisan-lukisan seniman Realis Sosialis terkemuka seperti Alexander Deineka, Alexander Gerassimov, atau bahkan Isaak Brodsky terutama mengacu pada estetika poster, foto warna, atau sinema. Sebenarnya, gambar-gambar yang populer yang dibuat seniman-seniman ini dapat dilihat di seantero negeri itu dalam bentuk reproduksi pada tak terbilang banyak poster dan buku-buku. Karya-karya itu menjadi “hits” – maka kelirulah mengkritik lagu pop dengan mengandaikan bahwa liriknya pasti bukan puisi agung. Adalah kemampuan pendistribusian seluas mungkin yang menjadi kualitas estetika penting pada era Stalin. Bahkan walaupun lukisan dan patung mendominasi seni visual, keduanya diproduksi dan direproduksi secara massal seperti halnya produksi fotografi dan senima di Barat. Ribuan demi ribuan seniman Soviet terus mengulang subyek, figur, dan komposisi Realis Sosialis yang diakui resmi, dengan hanya sedikit membuat variasi dari model yang resmi dan mapan. Variasi itu demikian tak kentara bagi pemirsa yang kurang berpengetahuan. Maka jenuhlah Uni Soviet dengan cecitraan terlukis dan terpahat yang seakan-akan dihasilkan oleh seniman sama.

Realisme Sosialis muncul ketika budaya massa komersial global telah mencapai terobosan sangat menentukan dan terus bertahan sebagai kekuatan penentu sejak saat itu. Budaya resmi di era Stalin merupakan bagian dari budaya massa global ini, mengambil manfaat dari ekspektasi yang bangkit di seluruh dunia saat itu. Selain itu pada dasawarsa 1930-an itu ada minat besar terhadap media baru yang dapat dengan mudah direproduksi dan didistribusikan. Dengan berbagai cara, Surrealisme Prancis, Realisme Magis Belgia, Neue Sachlichkeit Jerman, Novecento Italia, dan  segala bentuk realisme lain pada masa itu memanfaatkan cecitraan dan berbagai teknik turunan dari media massa yang tengah membesar pada masa itu. Tapi sekalipun mirip, budaya Stalin distrukturkan dengan cara berbeda dari mitra tandingnya di Barat. Bila pasar mendomintasi, atau bahkan menentukan, budaya massa Barat, budaya Stalinis tidak komersial, bahkan anti-komersial. Sasarannya bukan mau memyenang-nyenangkan publik seluas-luasnya melainkan mendidik, mengilhami, dan memandu. (Dengan kata lain, seni itu seharusnya realis dalam bentuk dan sosialis dalam isi). Dalam praktik, artinya seni haruslah dapat diakses massa di tingkat bentuk, meskipun isi dan tujuannya ditetapkan secara ideologis dan ditujukan untuk mendidik ulang massa.

Dalam esei tahun 1939-nya, “Avant-garde and Kitsch”, Clement Greenberg dikenal luas berusaha merumuskan perbedaan antara seni avant-garde dan budaya massa (yang ia sebut “kitsch”). Kitsch massa, tandasnya, memakai efek seni, sementara avant-garde menyidik peralatan seni. (6) Sejalan dengan rumusan ini, Greenberg menggolongkan Realisme Sosialis di era Stalin itu, maupun berbagai bentuk seni totaliter lain, sejajar dengan budaya massa di Barat. Keduanya, demikian ia menegaskan, ditujukan untuk memberi dampak sebesar-besarnya pada khalayaknya, dan bukan melibatkan secara kritis dengan praktik seni itu sendiri. Bagi Greenberg, dengan demikian etos avant-garde membuahkan sikap ambil jarak yang kritis terhadap budaya massa. Padahal, dalam kenyataan para seniman klasik Eropa dan avant-garde Rusia sangat tertarik dengan berbagai kemungkinan yang ditawarkan oleh produksi massa dan penyebarluasan citra itu. Kaum avant-garde hanya tidak menyukai satu hal saja dari budaya massa komersial itu: bahwa budaya ini jadi kaki-tangan selera massa. Namun para seniman modernis juga menolak selera “bagus” yang elitis di kalangan kelas menengah. Para avant-gardis itu ingin menciptakan publik baru, satu tipe manusia, yang mau menerima selera para seniman itu dan memandang dunia lewat mata mereka. Mereka berusaha mengubah kemanusiaan, bukan seni. Maka laku seni paling asali bukanlah produksi citra baru bagi publik lama yang memandang dengan mata lama, melainkan penciptaan prublik baru yang bermata baru pula.

Budaya Soviet di bawah Stalin mewarisi keyakinan avant-garde bahwa kemanusiaan pada dasarnya dapat berubah maka mereka dihela oleh kepercayaan bahwa manusia dapat ditempa. Budaya Soviet adalah budaya untuk massa yang masih harus diciptakan. Budaya ini tidak perlu membuktikan diri secara ekonomi – dengan kata lain, tidak harus mencari untung – sebab pasar telah dihapus di Uni Soviet. Akibatnya, selera aktual massa sama sekali tidak relevan bagi praktik seni Realisme Sosialis. Jauh kurang relevan dibanding hal yang sama, bagi avant-garde, karena warga avant-garde di Barat, walaupun tidak setuju dan bersikap kritis, masih harus beroperasi dalam kondisi ekonomi yang sama seperti budaya massa. Budaya Soviet dengan demikian secara umum dapat dipahami sebagai usaha untuk menghapus keterbelahan antara avant-garde dan budaya massa – yang oleh Greenberg didiagnosis sebagai dampak pokok dari kesenian yang beroperasi di bawah kondisi-kondisi kapitalisme Barat. (7) Dengan demikian, semua oposisi berkaitan dengan oposisi dasar ini – misalnya, antara produksi dan reproduksi, asli dan tiruan, kualitas dan kuantitas – tak relevan lagi dalam bingkai budaya Soviet. Pokok perhatian Realisme Sosialis tidak tertuju pada karya seni, melainkan penonton. Seni Soviet diproduksi dengan keyakinan bahwa rakyat akan menyukainya ketika mereka telah menjadi rakyat yang lebih baik, yang kurang dekaden dan kurang tercemari oleh nilai-nilai borjuis. Pemirsa diperlakukan sebagai bagian integral dari karya seni Realis Sosialis dan pada saat yang sama sebagai produk final. Realisme Sosialis adalah usaha untuk menciptakan pemimpi-pemimpi yang mau memimpikan impian Sosialis.

Untuk mempromosikan penciptaan kemanusiaan baru, khususnya publik untuk kesenian mereka, para seniman bergabung dengan mereka yang berkuasa. Jelaslah kalau para seniman ini melakonkan permainan berbahaya, tapi ganjarannya mula-mula tampak begitu besar. Para seniman itu berusaha mencapai kebebasan kreatif mutlak dengan membuang segala macam hambatan moral, ekonomi, kelembagaan, legal, dan estetika, yang semula membatasi kehendak artistik mereka. Tapi setelah Stalin meninggal semua aspirasi dan impian utopian tentang daya seni yang mutlak itu segera menjadi usang. Kesenian resmi Realisme Sosialis lalu sekadar menjadi bagian dari birokrasi Soviet – dengan segala privilese dan hambatan yang terkait dengan status itu. Kehidupan seni Soviet selewat era Stalin berubah menjadi panggung tempat memperagakan perjuangan melawan sensor. Drama ini punya banyak pahlawan. Mereka yang berhasil meluaskan bingkai untuk hal-hal yang diperbolehkan, untuk membuat “karya seni yang baik” atau “karya seni yang sungguh-sungguh artistik” atau bahkan “karya seni modernis” dalam batas-batas yang dimungkinkan secara resmi. Para seniman itu dan para kritikus pendukung mereka lalu menjadi sangat masyhur dan memperoleh sambutan hangat dari publik yang lebih luas. Tentu, perjuangan ini mengandung risiko pribadi sangat besar dan dalam banyak kasus berujung tidak sangat mengenakkan bagi seniman-seniman itu. Tapi masih dapat dikatakan bahwa dalam seni Realisme Sosialis era post-Stalinis telah terbentuk mapan dengan sendirinya suatu sistem nilai baru. Yang dihargai oleh komunitas seni di sana bukanlah karya seni yang menentukan pesan inti maupun estetika khas Realisme Sosialis, melainkan karya seni yang mampu menjauhkan batas-batas sensor, membangun dasar-dasar baru, memberi ruang gerak bagi seniman-seniman lain. Di akhir proses perluasan ini, Realisme Sosialis kehilangan nyaris seluruh batas-batasnya dan terpecah-belah, seiring keruntuhan negara Soviet.

Kini, di masa kita, timbunan produksi citra peninggalan Realisme Sosialis ini dievalusi kembali dan disusun ulang. Kriteria yang dulu pernah menghasilkan karya-karya ini kini sudah tidak relevan: baik memperjuangkan masyarakat baru ataupun berjuang melawan sensor bukan lagi merupakan kriteria. Orang hanya dapat menanti sambil menyimak bagaimanakah sistem permuseuman dan pasaran seni kontemporer akan memperlakukan warisan Realisme Sosialis itu – sejumlah sangat besar karya seni yang semula diciptakan di luar, atau bahkan ditujukan untuk menentang, lembaga-lembaga seni Barat, modern. ***

Diterjemahkan dari Boris Groys, “Educating the Masses: Socialist Realist Art”, oleh Ari Wijaya, alumnus Jurusan Arsitektur, UGM, Yogyakarta.

Boris Groys adalah guru besar estetika, sejarah seni, dan teori media pada Pusat Seni dan Media Karlsruhe dan guru besar global luar biasa di Universitas New York. Ia menulis beberapa buku, antara lain The Total Art of Stalinism, Ilya Kabakov: The Man Who Flew Into Space from His Apartment, dan yang terbaru, Art Power, sedang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Catatan Akhir:

(1) Kazimir Malevich, “On the Museum” (1919), Essays on Art, vol. 1 (New York: George Wittenberg, 1971), pp. 68–72.

(2) Yakov Tugendkhol’d, Iskusstvo oktiabr’skoi epokhi (Leningrad, 1930), p. 4.

(3) Andrei A. Zhdanov, Essays on Literature, Philosophy, and Music (New York, 1950), pp. 88–89, 96.

(4) Dikutip dalam N. Dmitrieva, “Das Problem des Typischen in der bildenden Kunst und Literatur,” Kunst und Literatur, no. 1 (1953): p. 100.

(5) Boris Ioganson, “O merakh uluchsheniia uchebno-metodicheskoi raboty v uchebnykh zavedeniiakh Akademii Khudozhestv SSSR,” Sessii Akademii Khudozhestv SSSR. Pervaia i vtoraia sessiia (1949): 101–103.

(6) Clement Greenberg, Collected Essays and Criticism, vol. 1 (Chicago: University of Chicago Press, 1986), pp. 17ff.

(7) Tentang hubungan antara avant-garde Rusia dan Realisme Sosialis, lihat Boris Groys, The Total Art of Stalinism: Avant-Garde, Aesthetic Dictatorship, and Beyond (Princeton: Princeton University Press, 1992).

 

Zuibir A.A: Sabotase

Pada tangga 12 November 1926 merupakan hari pemberontakan pertama rakyat Indonesia melawan pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pemberontakan pertama ini berlangsung di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan ini menjadi teladan bagi rakyat Indonesia, bahwa betapa pun kuatnya sebuah pemerintahan Kolonial, namun ia bisa dilawan dan ditumbangkan. Walau pun pemberontakan ini banyak mengalami pukulan, namun ia merupakan api yang membakar semangat rakyat Indonesia. Untuk mengingat dan mengenang arti penting pemberontakan ini, secara berturut saya tampilkan tulisan-tulisan yang termuat dalam buku “Gelora Api 26″ terbitan `Ultimus` Bandung pada tahun 2010. Kita lanjutkan dengan cerpen “Sabotase” karya Zubir A.A.

Salam: Chalik Hamid.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = =

Zubir A.A.

S a b o t a s e

Nasib yang celaka telah membawa aku ke bengkel kecil seorang tukang besi, di pingggir sebuah kota kecil, yang berbalingan dengan perkebunan para dan tembakau di Sumatera Timur. Aku masih berusia enambelas tahun kala  itu dan butahuruh. Aku sangat membutuhkan pekerjaan. Aku ajukan diriku untuk menjadi pembantu pandai besi itu. Ia berperawakan sedang dan tidak terlalu kukuh dan tegap seperti umumnya tukang-tukang besi yang pernah ku kenal, mukanya berselubung jambang meskipun ia masih muda.

Boleh jadi karena usiaku yang begitu muda dan terlalu mengharap, aku mengajukan permintaan itu dengan berhiba-hiba dan memohon belaskasihannya yang sangat. Caraku itu membikin tukang besi itu tidak begitu senang.

“Kenapa kau begitu cengeng ? – katanya dengan gusar dan ditantangnya aku dengan tajam, – orang-orang muda seperti kau tidak semestinya begitu,  harus tau harga diri dan tenagamu. Dengan merengek-rengek  begitu orang akan menawar tenagamu dengan murah dan tidak akan menghargaimu sama sekali” – katanya. Aku menjadi gugup dan menundukkan kepala.

“Kenapa kau tunduk ?  – katanya lagi –  coba angkat kepalamu dan katakan apa yang bisa kau kerjakan dengan badanmu yang kurus dan mentah ini” – Aku mendungakkan kepalaku pelan-pelan seperti maunya, lalu kataku: “Saya belum pernah bekerja.”

“Jadi apa yang akan kau kerjakan ?

“Bapaklah yang menentukan apa yang mungkin dapat ku kerjakan. Apa saja, soal upah saya serahkan bagaimana pantasnya menurut bapak” – jawabku.

“Kau salah lagi, – balasnya, suaranya telah berubaha ramah, – bukan begitu caranya, mesti dirundingkan, layak dan disetujui. Begitu mestinya.”

Kemudian disuruhnya aku duduk, tak jauh dari tungku pembakaran, beberapa potong besi tapal kuda kelihatan merah menyala. Ia menyuguhkan  secangkir teh dan sekerat ubi bakar. Dan dia sendiri duduk di atas sebguah bangku.

”Kenapa tak minta kerja di perkebunan saja ?”  – tanyanya lagi.

”Tak bisa, pak.”

“Kenapa ?”

”Karena…karena ayah saya…”  – jawabku bimbang dan tak berani meneruskan, aku khawatir kalau-kalau tukang besi itu tidak mau menerimaku bila ku ceritakan.

”Jangan takut, katakanlah mengapa ayahmu ?” – desaknya.

”Kalau saya katakan, bapak tidak akan menolak saya ?” – jawabku ragu.

´´Kalau berterus terang saya akan membantu sedapat bisa, tapi bila kau membohong mungkin pertimbangan saya akan lain,” – jawabnya. Aku tak segera menjawab. Ketika dilihatnya aku masih ragu-ragu, ia mengajuk dengan mengajukan perntanyaanya:

”Agaknya ayahmu pernah bekerja di sana membikin kesalahan besar, mencuri barangkali ?”

“Tidak, – jawabku cepat, aku merasa tersinggung – ayah saya tak pernah berbuat begitu. Tapi benar ayahku pernah berbuat salah , tapi bukan karena maunya. Ayah terpaksa, ia telah membunuh tuan besarnya, karena dipukuli dan dimaki-maki.”

“Itukah salah ayahmu,- tampak ia mulai tertarik.

“Ya, – kataku lebih berani. Hampir setiap hari ayahku disiksa begitu, tapi bukan hanya dia. Ayah menjadi gelap mata dan pada hari sial itu, ayah telah menyangkul kepala Belanda itu sampai belah. Sekarang ayah dihukum limabelas tahun penjara. Ibuku dipecat dan diusir dari perkampungan buruh.”

Ia diam dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku menunduk dan mataku tertumbuk pada jari-jarinya yang meremas-remas.

“Baiklah – katanya setelah berdiam diri agak alama – “aku percaya pada ceritamu. Sudah selayaknya ayahmu membalas demikian. Setidak-tidaknya  ia telah menebus kehormatannya sendiri yang diinjak-injak. Akan tiba waktunya semua orang akan berbuat hal yang sama dengan cara yang lebih baik.”

Aku tak mengerti pada ucapannya yang terakhir itu. Tapi aku telah cukup senang ketika ia berkata lagi:

“Tinggallah di sini, meskipun sebenarnya tak banyak pekerjaan hingga memerlukan seorang pembantu. Begitu pun tidaklah berarti bahwa kau tidak akan bekerja sama sekali.”

“Ya, pak” – jawabku gembira.

Ia berdiri dan membarut-barut jambangnya . Mengambil arloji dari sakunya. Berdiri ke pintu bengkel, melongokkan kepalanya ke hilir jalan, seperti ada orang yang ditunggunya. Kelihatan ia agak kesal, kembali duduk dan merokok.

‘’Pernah kau bersekolah ?’’ – tanyanya kemudian.

‘’Tidak – jawabku, – di kebun tak ada sekolah. Ayah tak mampu menyekolahkan jauh-jauh.’’

‘’Tampaknya kau sayang sakali pada ayahmu.’’

Aku mengangguk.

“Ya tentu. Setiap orang pastilah sayang pada keluarganya. Dan tentunya kau benci pada orang-orang Belanda yang kurang ajar itu.’’

‘’Ya pak’’ – jawabku.

Ia banghkit dan kembali melongokkan kepalanya dari pintu. “Mau kau belajar membaca dan menulis ?” – tanyanya dengan tidak memalingkan mukanya padaku, – ku pikir benci saja tidak cukup. Belanda itu cukup pintar dan kalau kita membenci dan melawannya kita mestilah belajar sebanyak mungkin. Kau setuju ?”. Ia tak menunggu jawabanku, ia membalikkan badanya dan meneruskan. “Berlajar termasuk salah satu kerjamu, – katanya menegaskan. Ia menetapkan bahwa aku akan belajar menulis dan membaca sejam dalam sehari.

Aku mulai ragu tentang tukang besi berjambang ini. Siapakah orang ini sebanarnya, pikirku.

Sebuah pedati melintas di depan bengkel dan seorang lelaki bertubuh pendek berdegap melompat turun. Pedati itu tidak berhenti dan si pendek berdegap itu mendodoh masuk. Aku kenal orang ini, mandor di afdeling B tempat ayahku dulu bekerja. “Aku agak terlambat” –katanya, melemparkan topi bambunya ke atas meja, rambutnya pendek dan halus seperti bulu kucing. Disambarnya ceret di atas meja, haus sekali tampaknya, hidung ceret itu langsung ke mulutnya.

“Ku pikir kau tak akan datang.”

“Mana boleh, – jawab mandor itu dan menoleh padaku, – heh… anak si Paimo, mengapa di sini ?

“Dia akan membantuku, – tukang besi itu menerangkan sebelum aku sempat menjawab.

“Bagus sekali, bagus sekali, – kata mandor itu, ditepuk-tepuknya pundakku. Kemudian ia memberikan nasehat. “Kalau kau baik-baik saja Simun akan menjadikan kau seorang manusia, – katanya memberikan harapan.

“Nah, sekarang katakanlah, bagaimana urusanmu, – ujar tukang besi itu, yang baru saja ku dengar namanya disebut mandor itu.

“Beres. Semua telah siap untuk musim “panen”. Semua menanti ketentuan terakhir dari kau.’’

‘’Sudah selesaikah semua ‘semai’ untuk ditanam ?

‘’Kalau ku katakan beres, apa lagi yang kau sangsikan ?  – jawab mandor itu, tangannya menggapai sepotong ubi yang masih bersisa. Tukang besi itu mengerutkan keningnya, berpikir dan kemudian mengangguk samar. Aku mendengar saja, tapi tak mengerti apa yang mereka percakapkan itu.

“Ah, hampir aku lupa, – kata tukang besi itu ketika ia menoleh padaku. Dirogohnya sakunya, lalu mengulurkan sebuah ringgit perak padaku, – kau pulang dulu. Berikan uang ini pada ibumu dan segeralah  kembali.”

Aku seperti terlompat dari tempat dudukku, begitu girang aku melihat uang itu. Tapi ia menarik tangannya kembali. “Tunggu dulu, – katanya- tak bisa begitu saja kau menerima uang ini. Kau harus memilih apakah akan ku berikan begitu saja, atau sebagai uang panjar  untuk upahmu yang akan datang.”

Aku tak dapat menjawab dengan cepat, aku jadi malu dan ragu. Ia mengajukan dengan pandangan tajam. “Aku tak mempermainkan kau. Tentukanlah, pilih salah satu, dan uang itu boleh kau bawa” – katanya.

“Berikanlah sebagai uang panjar” – jawabku setelah berpikir seketika.

“Tepat pilihanmu” – teriak mandor itu dan ketawa lebar. Mukaku terasa panas.

‘’Pergilah cepat, sebelum magrib kau harus sudah kembali, – ujar tukang besi itu.

Belum pernah aku memiliki uang sebanyak itu . Ketika aku kembali, ku sampaikan terimakasih ibuku pada Simun. Ia ketawa saja.

Aku tak menemui lagi mandor berdegap itu dan sebagai gantinya seorang pemuda yang tak ku kenal sebelumnya duduk melunjur di atas ranjang. Tampangnya agak menyeramkan , berkumis hitam dan panjang, rambutnya kusut dan menjurai. Ia memakai baju kaus belang-belang yang ketat memisit dadanya yang bidang. Sebelah luar ia menggunakan baju gunting cina hitam yang tak dikancingkannya. Selilit akar bahar bertatah sebuah batu akik yang besar, kelihatan seperti seekor ular keil membelit pergelangan kirinya.

“Cukup kau bawa kartu ceki itu, Jamat ? – tanya Simun dan menunjuk kupiah orang berakar bahar itu yang terlentang dekat pahanya.

“Ku pikir cukup, – jawabnya dan mengambil selembar kartu dari kupiah itu.

“Penjudi juga rupanya, – pikirku dalam hati. Tukang besi itu menggunakan pakaian serba hitam, juga destarnya. Ditambah dengan jambangnya yang lebat subur itu, kelihatan ia lebih seram. Ia menyisipkan sebilah rencong ke pinggangnya.

“Pastikah akan datang semua ? – tanya Simun lagi.

“Ku kira begitu. Mungkin Dipo yang tak bisa, isterinya melahirkan sejam tadi”.

“Bagaimana tentang tempat, bisa kau jamin ?”

“Bereslah itu. Kalau terjadi penggerebekan, jalan untuk menyingkir mudah. Semua sudah ku atur dengan Seman.”

Mereka bicara lagi tentang hal-hal yang tidak ku mengerti. Tapi kenapa pula mereka mesti takut tentang penggerebekan, pikirku. Pastilah menurut pendapatku, mereka akan berjudi di perkampungan buruh. Di perkebunan  tak ada larangan untuk berjudi dan tak pernah ada penangkapan untuk itu. Judi adalah permainan biasa dan tak siapa pun memperdulikannya.

“Kau tidur saja. Kalau kau lapar ada nasi dalam gerobokan itu,  – kata Simun padaku.

Aku mengangguk dan mereka berangkat. Di luar senja telah bersilih dengan malam dan lenyaplah mereka dalam kelam.

Aku tinggal sendiri dalam bengkel itu. Ku bentangkan tikar di lantai tanah dan membaringkan diri. Kembali timbul tanya dalam hatiku tentang orang-orang yang baru ku kenal ini. Ku ingat percakapan-percakapanku  dengan Simun siang tadi dan semua yang ku dengar dari pembicaraan  mereka. Aku menjadi ragu, seolah-olah mereka diliputi berbagai rahasia. Apa sebenarnya yang tersimpan di balik gelagat mereka yang aneh itu, belum dapat ku pahami. Dalam bengkel itu sendiri tak ada yang istimewa. Biasa saja seperti umumnya bengkel-bengkel kecil yang pernah ku lihat, besi-besi yang bergelimpangan, tungku pembakaran, pompa angin, palu, landasan, sepitan-sepitan besi, ladam-ladam kuda yang bergantungan dan benda-benda lainnya yang lazim terdapat di semua bengkel tukang besi.

Jauh malam Simun dan orang berakarbahar itu pulang. Tapi mereka tak terus tidur. Tak tau aku apa saja yang mereka bicarakan, pelan dan hampir merupakan bisikan. Kemudian Simun menulis. Orang berakarbahar itu mengocok-ngocok kartu cekinya, canggung tampaknya, tidak seligat juara judi yang pernah ku saksikan di perkampungan buruh pada hari-hari gajian.

‘’Masih ada waktu untuk tidur, kau tidur dulu Mat, – ujar Simun, besok kau terlalu lelah, jalanmu akan jauh. Biarkan ku siapkan memperbanyak surat-surat ini.

Orang berakaarbahar itu tak menjawab, berdiri dan menggeliat. Diambilnya tikar yang tersandar di dinding, membentangkannya tak jauh dari aku. Ia merebahkan badannya dan memperbantal lengannya. Sebentar ia telah mendengkur. Paginya ketika aku terbangun, orang berakarbahar itu telah pergi. Simun sedang menjerangkan seceret air.

“Bengkel kita tutup hari ini, – katanya setelah aku kembali dari sumur. Untuk hari ini tidak akan banyak kerjamu. Pergilah ke pasar dan beli batutulis. Kita tak boleh menangguhkan waktu untuk belajar. Menunggu sampai besok tidak baik, bukankah kau sudah siap ?

“Siap pak, – jawabku.

“Ya begitulah, makin cepat kau melek, akan lebih jelas bagimu siapa-siapa musuhmu,” – katanya.

Ia tertidur ketika aku pulang. Ku kerjakan saja apa yang bisa ku lakukan  menanti ia bangun. Ku bersihkan lantai dan membereskan perkakas-perkakas pertukangannya yang bertabur. Di atas meja masih melonggok kartu ceki orang berakarbahar semalam. Ku teliti kartu-kartu itu, masih baru dan bersih, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kartu itu telah digunakan dan dipegang oleh banyak tangan.

“Mereka tak berdjudi, tapi apa pula yang mereka kerjakan semalam suntuk begitu ? – pikirku. Simun tidur nyenyak sekali. Aku ke dapur menyediakan makanan siang.

Dekat tengah hari Simun bangun. Dan hari itu untuk pertama kali aku telah bisa membaca dan menuliskan namaku sendiri:  P o m o.

II

Beberapa bulan telah berlalu. Meski pun pada mulanya amat samar, akhirnya mengertilah aku siapa Simun dan semua kawan-kawannya yang sering datang menjumpainya ke bengkel. Kadang-kadang datang kawan-kawannya dari jauh, dari berbagai kota secara diam-diam dan rahasia.

“Sudah waktunya kau turut membantu kami, – katanya sekali padaku, bila kau diam dan tak mengatakan pada siapa pun apa yang kau lihat dan dengar di sini, berarti kau telah sangat membantu. Meski pun  kau baru dan muda , kami bisa mempercayai kau. Bila kau ingin menjadi manusia yang baik, kau harus bisa memegang kepercayaan orang, meski pun untuk itu mungkin kau akan mengalami kesusahan”.  Aku berjanji pada Simun. Belum pernah orang mempercayakan rahasianya padaku, tetapi kenapa pula aku tak akan bisa menerima kepercayaan itu ?

“Ingatlah soal ini bukan soal kecil. Padamu turut tergantung keselamatanku dan keselamatan kawan-kawan. Lebih penting dari itu, keselamatan perjuangan, – katanya lagi meyakinkanku. “Kau anak baik, cerdas dan  mempunyai harapan-harapan besar di kemudian hari. Kehidupan dan hari-hari yang baik akan menjelang kau. Tujuan kita besar dan jauh, kemerdekaan bagi Tanahair, kemerdekaan bagi semua orang. Kebebasan bagi orang-orang seperti ayahmu, bagi kita semua”.

Srejak hari itu kian sering ia mengajak aku bicara, menceritakan apa saja yang mungkin dapat diceritakannya. Menyuruh aku mengerjakan bermacam-macam pekerjaan, mengantar surat atau  menyampaikan pesan pada kawan-kawannya.

Sewaktu-waktu muncul si bergelang akarbahar. Aku menjadi suka padanya. Sesungguhnyalah ia tidak menyeramkan. Ia sebenarnya peramah dan baik hati. Dan kadang-kadang diajaknya aku ngobrol tentang apa saja.

Bila jumlah mereka tidak terlalu besar, mereka mengadakan pertemuan di bengkel. Dengan masing-masing memegang daun ceki di tangannya mereka mengadakan pembicaraan-pembicaraan dan perdebatan-perdebatan. Aku diberi tugas sebagai pengintai dan memberitahukan apa saja yang ku anggap mencurigakan. Aku pun telah mengenal beberapa orang cecunguk dan mata-mata yang ditunjukkan Simun. “Itulah anjing-anjing Belanda itu, hati-hatilah kalau-kalau ia mengajak kau omong-omong. Ya, mana tau lebih baik kau hindari kalau bertemu dengan mereka” – ujar Simun

Aku merasa bangga sekali mendapat kepercayaan demikian, seolah-olah aku telah menjadi lebih dewasa. Tentu saja tidak semua pembicaraan dan pekerjaan mereka ku ketahui. Meskipun kadang-kadang aku gemar sekali menanyakan sesuatu. “Tidak, itu belum waktunya kau tau, – jawab mereka, atau pada waktu yang lain mereka jawab saja: “nanti saja atau kelak kau akan tau sendiri”.

“Apa maksudnya “panen” dan “keranjang arang” ?  – tanyaku sekali.

“Dari siapa kau denganr itu ?’’  – jawab Simun.

“Bukankah kalian sering menyebutnya”.

“Pendengaranmu terlalu tajam. Tidak baik semua pembicaraan kami kau dengar”.

“Tapi aku tak pernah ngomong dengan siapa pun”.

“Kalau ngomong, telah lama ku cabut lidahmu”, – gertak si akarbahar menyeling. Aku menjadi lebih berhati-hati.

Meski pun bukan bengkel itu menjadi pekerjaan utamanya, Simun dan aku tetap bekerja dan membikin barang-barang sederhana, pisau, parang, linggis dan memasang tapal-tapal kuda.

Sekali aku pergi ke pasar mengantarkan selusin parang ke kedai langganan kami. Setelah menerima uang aku tak segera pulang. Sambil lalu ku dengar orang-orang  membicarakan pembakaran bangsal-bangsal tembakau dan pembabatan rambung-rambung muda secara besar-besaran. Tapi aku tak begitu tertarik. “Biar habis ludas, toh Belanda punya’’ – kataku dalam hati.

Aku melenggang dan bersiul-siul di kakilima kedai-kedai sambil melihat barang-barang yang dipajangkan dan orang-orang yang sedang berbelanja. Seorang nyonya besar dari kebun, keluar dari sebuah kedai Tionghoa. Hidungnya yang panjang menjungkat dengan pongahnya. Orang-orang menghindar memberinya jalan, menabiknya dengan membungkuk-bungkuk. Nyonya besar itu tak menghiraukan.

Aku teringat nasihat Simun, bahwa kita tak perlu takut dan terbungkuk-bungkuk serupa itu, apalagi jongkok pada orang-orang Belanda. Dengan membusungkan dada, – begitulah mestinya menurut Simun,- aku terus saja ke depan pura-pura tak melihat nyonya besar itu. Tiba-tiba sebuah tangan yang kasar merenggut tanganku dengan kuat, nyaris aku terbalik. Dengan jengkel ku lihat orang itu, seorang opas kantor konteler.

“Tak kau lihat siapa di depanmu itu ?’’ – katanya hampir berteriak.

“Hidung berjalan” – jawabku nekat.

“Kurang ajar”- balasnya lebih keras dan kemudian suaranya merendah ketika nyonya itu melintas, “maafkan nyonya besar, anak ini terlalu kurang ajar”- katanya. Tapi nyonya itu leewat saja, menoleh pun ia tidak. Opas itu merah mukanya.

“Kentut pun ia tidak”- ejek sebuah suara. Opas itu memalingkan mukanya dengan marah, tapi tak diketahuinya siapa yang punya mulut berandal itu. Ku tarikkan tanganku hingga lepas dan setelah berantara agak jauh  ku ejek dia: “tabek opas budak, besok tuan besar kasi persen cerutu, – kataku sambil berjalan mundur. Ia hendak memburu, tapi seorang penjaja kain tilam menarikkan tangannya,  “biarkan saja anak tolol itu” – katanya.

“Akan ku hajar ayahnya.”

”Aku kenal ayahnya yang membunuh tuan besar afdeling B.”

Opas itu tertegun, ngeri agaknya, lalu pergi setelah meludah. Penjaja kain tilam itu melambaiku. ”Orang begitu tak perlu terlalu kau ejek”  – katanya setelah aku mendekat.

“Habis, menjilatnya keterlaluan’’ – jawabku. Penjaja kain tilam itu tersenyum.

Ku tinggalkan penjaja itu dan bermaksud pulang ke bengkel. Baru saja aku hendak melangkah, dari sebelah hilir jalan besar ke luar kota, muncul serombongan serdadu dan polisi dengan senapan dan pedang telanjang menggiring seorang tangkapan. Di belakang mereka seorang administratur perkebunan dan bawahannya. Rombongan itu makin dekat. Aku terkejut, ku kenal orang yang digiring itu dan hampir aku menjerit menyebutkan namanya, Jamat. Aku memburu ke arah serdadu-serdadu itu. Benar, si akarbaharlah orang itu, tangan dan kakinya dirantai. Orang-orang berkeluaran dari kedai-kedai dan berjejal ke tepi jalan, seolah-olah yang lewat itu seorang pembesar.

“Tukang bakar bangsal ! – ujar seorang centeng yang turut dalam rombongan itu pada seorang kenalan yang menonton di tepi jalan. Jadi dialah yang membakarnya, kataku dalam hati. Seperti anak-anak lainnya aku berlari-lari mengikuti gerombolan serdadu-serdadu itu. Ku lihat si akarbahar melangkah dengan tenang, dengan kepala tegak. Rantai kakinya bertaut dengan borgol tangannya. Kumisnya yang hitam dan tebal itu mendungak dan tetap lengkung.

“Hei Kumis ! – teriak seorang penonton, ku kenal orangnya penagih cukai pasar yang selalu meminta bayaran lebih pada petani-petani yang membawa hasil buminya ke pasar, “kenapa kau bakar bangsal itu !”- sambungnya.

“Dia kehabisan rokok” – balas yang lain, orang-orang ketawa. Muka si akarbahar menjadi merah, ia menahan berangnya . Tapi orang itu mengulangi lagi ejekan itu. Si akarbahar tertegun dan menantang orang itu, ia membalas dengan suara yang nyaring: “supaya kamu merdeka dan tidak terus saja menjadi monyet” – katanya.

“Sunat aku tiga kali lagi kalau kamu bisa”  – balas seorang gendut berteluk belanga hijau tua.

“Betul tengku” – sambut pengiringnya, “patik potong leher patik kalau kontrak-kontrak itu menjadi raja”- katanya mengatasi suara tuannya.

“Kemerdekaan memang bukan untuk orang-orang yang mau tetap menjadi budak  seperti kalian” – jawab si akarbahar sambil berdiri menghadapkan ucapannya itu pada si bangsawan dan pengiringnya yang mengelompok terpisah di tepi jalan. Tapi sebelum ia sempat meneruskan perkataannya, ia telah didorong dengan tunjangan lutut seorang serdadu. Ia tersungkur, hidung dan mulutnya berdarah. Kumisnya yang hitam dan bagus itu bergelumang darah dan abu. Tapi ia tegak kembali dengan cepat. Gerombolan tengku berbaju hijau itu ketawa riuh. “Hei kumismu terbakar !” – teriak seorang dari mereka.

“Bukan kumisku, tapi jantung tuanmu dan jantung Belanda yang terbakar, feodal budak ! – balas si akarbahar.

“Diam bandit !  Kalau omong lagi ku hantam kepalamu dengan gagang senapan ini, – hardik sersan yang menggiringnya. Si akarbahar membalik, berdiri menghadangkan badannya, mengangkat kepalanya dengan mata membelalak: “Hantamlah di mana kau mau, supaya anjing itu mengerti” – katanya sambil menunjuk dengan ke dua  tangannya yang diborgol ke arah gerombolan orang-orang bangsawan itu, “bahwa orang-orang Komunis tidak perlu takut pada siapa pun, juga tidak pada pukulanmu”.

Sersan itu tersengak, mungkin tak diduganya si akarbahar seberani itu . “Sudah jangan banyak omong, jalan ! – hardiknya dan membentak pula orang-orang yang berdiri di tepi jalan. “Orang ini akan berpidato terus kalau kamu ganggu dan akan memaki-maki sri ratu”- katanya. Si akarbahar menyapu darah dari mulutnya dengan menggisarkan lengan bajunya. Aku berlari ke depannya . Ia telah melihatku dan menatap tenang. Tapi ketika diketahui aku masih saja mengikutinya, ia membelalak, tampaknya ia marah. Tak tau aku apa maunya. Ketika akan membelok di sebuah persimpangan, ia membelalaki aku kembali dan menyergah gerombolan anak-anak yang bertambah ramai mengikuti.

‘’Anak-anak monyet, pulanglah ! Perlu apa kalian tontoni aku ! – katanya. Aku jadi mengerti, akulah yang disuruhnya pulang. Tentulah maksudnya supaya aku segera memberi tau pada Simun. Aku tak mengikutinya lagi  dan lari ke bengkel.

Ketika aku sampai, bengkel telah ditutup. Ku dorong pintu dan menyerbu masuk. Ku dapati Simun dan tiga orang lainnya duduk melingkari meja. Selain Simun, yang tiga lagi hanya dua yang ku kenal, mandor pendek yang berdegap itu dan guru sekolah desa. Yang seorang lagi mungkin orang dari jauh.

‘’Jamat… – kataku, tapi sebelum aku meneruskan Simun telah memotong, “kami sudah tau’’- katanya tenang, ‘’pergilah ke luar, lakukan tugasmu yang biasa.’’

Aku kembali ke luar dan duduk di atas sebatang pohon sena yang rebah dan memperhatikan setiap orang yang lewat. Seperempat jam kemudian tamu-tamu Simun keluar dan pergi menuju arah yang berbeda-beda. Simun melambaiku. Aneh dia kelihatan tenang saja, seolah-olah  tak ada kejadian dan bahaya yang sedang mengancam. Ia menukar pakaiannya. Kemudian mengambil kaca dan pisau cukur. ‘’Tolong ambilkan sabun dan air’’ – katanya.

‘’Kita terpaksa berpisah sekarang” – ujarnya sambil menyapukan busa sabun pada jambangnya yang lebat itu, ‘’Kau mengerti bukan ?’’

‘’Ya pak’’ – jawabku pelan. Ia meneruskan mencukur, sebelah pipinya berangsur gundul.

‘’Bagaimana tadi kau lihat Jamat’’?

‘’Hebat pak, sedikit pun tak kelihatan ia gentar” –jawabku, ku ceritakan semua yang kulihat.

“Begitulah mestinya seorang pejuang. Jamat telah memberikan teladan yang baik”.

“Jadi memang dia yang membakar bangsal-bangsal itu.”

“Bukan hanya dia, tapi kita.”

“Kita ?”

“Ya, kita” – jawab Simun menekankan, “semua kawan-kawan kita, termasuk kau juga”.

“Aku juga”?

“Tentu, kau juga turut. Bukankah kau ikut membantu kami ?  Yang penting kau telah memegang teguh kepercayaan kami. Karena kau juga turut membantu, “keranjang-keranjang arang” itu berhasil kita musnahkan. Tapi itu belum apa-apa, masih banyak pekerjaan kita yang lebih besar dari itu”.

“Ah, bangsal-bangsal itu rupanya yang kalian maksudkan dengan “keranjang arang” dan “panen” dengan membabat rambung-rambung muda, – kataku tertawa. Ia ikut juga tertawa. “Nah, kau sudah menjadi mengerti sendiri jadinya’’  – jawabnya. Ia selesai mencukur jambangnya, licin dan bersih, kelihatan ia lebih muda dan tampan.

‘’Nah, – katanya kemudian dan berdiri, – aku tak bisa lama-lama lagi. Kau pun tentu tak setuju kalau anjing-anjing itu datang dan menangkapku. Mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi. Tapi siapa tau sekarang, begitu pun kita boleh mengharapkannya. Aku ingin sekali untuk tetap membantumu, sayang keadaan terburu menjadi genting”.

“Apakah semua kawan-kawan berangkat bersama bapak ? – tanyaku sambil membantu dia mengemasi pakaian ke dalam koper.

“Sebagian besar kawan-kawan telah dalam penjara. Bukan hanya di sini, juga di beberapa tempat lainnya. Rahasia kita telah bocor, kita telah kemasukan cecunguk dan mengkhianati kita’’.

‘’Jadi tak ada yang tinggal di sini’’ ?

‘’Sementara tidak. Tapi itu tak boleh kau katakan kepada siapa pun. Tapi itu hanya untuk sementara, mungkin untuk masa yang panjang, tapi bukan tak mungkin pula bisa lebih cepat. Tapi kau ingatlah itu, hanya untuk sementara’’ – diulanginya lebih keras, seolah-olah ia bicara tidak hanya padaku. ‘’Kelak tentu akan ada yang datang kembali. Bila bukan dari tempat lain, tentu akan lahir dari tempat ini sendiri. Ya, – katanya lagi- sekarang kita terpukul, itu bisa saja. Setiap kali musuh boleh memukul kita, tapi tidak untuk selamanya. Kita pun akan membalas memukul. Pukulan kita yang terakhir adalah pukulan paling keras, pukulan yang menetukan dan mematikan’’. Ia merenung seketika, meremas-remas tangannya, seperti biasa bila  ada sesuatu yang menyakitkan hatinya.

“Kau harus mencari kawan-kawan itu di mana dan pabila saja kau dengar. Bergabunglah dengan mereka, berikan bantuan seperti kau membantuku. Kau akan menjadi lebih dewasa dan mereka pun akan membantu dengan lebih baik”.

“Ya pak” – jawabku terharu.

“Sampaikan salamku untuk ibumu”. Aku mengangguk menjanjikan.

“Yakinkah kau bahwa kami akan membebaskan ayahmu ?”

“Kenapa tidak ? Ayahku hanya satu di antara yang berjuta-juta. Ia akan bebas bersama yang lain. Mungkin tidak akan dialaminya sendiri, tapi apa pula bedanya dia dengan orang lain ?”

‘’Bagus jawabmu. Itulah yang membikin aku senang padamu. Ingatanmu tajam dan mudah memahamkan pelajaran yang ku berikan. Ya, begitulah akhir perjuangan ini, dan tak akan termungkiri, kemenangan proletariat yang akan mengatasi segala kemenangan yang akan datang”.

Ia mengeluarkan arloji dari sakunya. “Sebentar motor kebun akan datang. Tau kau apa yang mesti kau perbuat bila anjing-anjing itu datang?”

“Membisu”- jawabku.

Ia mengangguk dan tersenyum. Sejurus aku teringat kembali uang penjualan parang yang masih berada di sakuku. Simun tentu memerlukan uang itu, pikirku. Tapi ditolaknya. “Ambillah buat kau”- katanya.

“Bagaimana bengkel ini ? – tanyaku.

“Mereka tentu akan merampasnya”.

Di luar terdengar deru mobil. Mesinnya tak dimatikan. Supir menjulurkan kepalanya dan memberi isarat supaya cepat. Setelah memelukku, dijinjingnya kopernya dan lari ke mobil itu. Ku antarkan dia sampai ia duduk di samping supir. Oto itu bergerak, meluncur kencang dan lenyap. Lama juga aku tercagak di tepi jalan itu. Anehnya air mataku menggenang setelah dia tak ada lagi, mungkin karena perpisahan yang tiba-tiba dan tak diduga itu. Ku sapu air mata itu dan teringatlah aku pada ucapannya ketika pertama kali aku meminta pekerjaan padanya : ‘’Kenapa kau begitu cengeng ‘’ ?  Ku ulang kembali kalimat itu dan tersenyum sendiri.

III

Setelah Simun pergi aku tak mencari pekerjaan lain. Aku membantu ibuku mengerjakan ladang yang kami sewa dari seorang tuan tanah. Sekali-sekali aku ke kota dan ke perkampungan buruh. Tak selenting kabar pun yang ku dengat tentang datangnya “seorang kawan” dan kegiatan-kegiatan baru. Ku usahakan juga mencari supir yang membawa Simun hari itu, ternyata supir itu pun turut menyingkir dengan Simun. Surat dari Simun pun tak pernah datang. Timbul dugaanku kalau-kalau dia tertangkap juga di tempat lain. Juga kawan-kawan lain tak terdengar beritanya. Tak tau aku entah di penjara mana si akarbahar di hukum, juga yang lain-lainnya, mandor berdegap dan guru sekolah itu seolah lenyap ditelan bumi. Benarkah kata Simun, tak seorang kawan pun lagi yang tinggal.

Tapi beberapa bulan kemudian ku dengar kabar tentang pemberontakan di pulau Jawa. Mungkin mereka di sana semua dan bertempur ? Aku menduga-duga sendiri.

Di kota dan dimana-mana, kabar tentang pemberontakan itu menjadi pembicaraan. Tapi tak ada yang berani terang-terangan menyatakan persetujuan dan menyokong perjuangan dan pemberontakan itu.

Kamar bola di kota adalah tempat yang paling sering ku datangi. Di tempat itu selalu berkumpul pegawai-pegawai pemerintah, meskipun mereka mengutuk dan mengejek pemberontakan, tapi dari mereka itu banyak pula yang ku ketahui tentang pemberontakan itu. Jaksa, si pecandu bola sodok adalah pembual yang paling besar mulut di antara semua. Ocehan-ocehannya sangat menghina dan sangat menyakitkan hati. Dia akan menelan bola-bola sodok itu bila pemberontak menang, kanya.

“Di sini tidak akan terjadi apa-apa’’ – katanya, “jangankan memberontak, melihat hidungku saja komunis-komunis mata kayu itu akan gemetar minta ampun”.

Ucapan jaksa itu mendenging di telingaku. Suaranya yang angkuh dan sombong itu menyisip ke dalam hatiku. Tapi itu bukan suaranya sendiri tentunya. Suara budak biasanya adalah juga suara tuannya, meskipun budak-budak kadang-kadang  suaranya lebih lengking dan kosong dari yang dipertuannya.

Dan ketika kabar terakhir sampai, pemberontak telah patah dan dipukul, budak-budak di kamar bola menepuk-nepuk dadanya , seolah-olah tangan mereka sendirilah yang berlumuran darah memukul pemberontakan itu. Alangkah jijik dan memualkan lagi ketika jaksa itu dengan pongahnya mentraktir kawan-kawannya sesama budak sampai mabuk dan menyerukan berulang-ulang: “Panjanglah umur sri ratu”.

Tapi ketika tersiar lagi berita bahwa pemberontakan telah dilanjutkan di Sumatra Barat, budak-budak itu menjadi murung, semurung tuannya. Dan akulah yang menjadi berteriak girang dalam hati: “Hiduplah pemberontakan ! Mampuslah sri ratu !’’

Ku tinggalkan kamarbola itu dengan langkah yang ringan. Hatiku girang sekali dan diliputi harapan-harapan baru. Tapi apakah yang dapat ku lakukan, pikirku. Bukan tak mungkin pemberontakan akan menjalar sampai ke Sumatra Timur. Mana tau persiapan sedang dilakukan dengan diam-diam. Apa yang bisa dilakukan ? Aku teringatan ucapan jaksa yang sombong itu beberapa hari yang lalu sebelum pemberontakan meletus di Sumatra Barat. “Di sini kita tak perlu khawatir, sejak lama mereka telah kita sapu bersih, tak seorang pun yang bersisa” – katanya.

Ada benarnya ocehan jaksa itu, tapi bisakah selamanya demikian ?  Dan kawan-kawan belum ada tanda-tandanya akan datang.

“Mesti, mestilah ada yang ku lakukan” – aku merangsang diriku sendiri, bila pemberontakan sampai ke mari, kawan-kawan itu akan tau  bahwa di sini pun telah ada “kawan Komunis”.

Tapi siapakah yang akan ku ajak bicara. Adakah yang bisa mempercayai omonganku ?

Ku hitung-hitung umurku, ah, tidaklah terlalu kanak-kanak lagi dan tidak sebodoh dulu. Lalu teringatlah aku kembali pada apa yang pernah dikatakan Simun: “Mereka akan datang dari tempat lain, atau lahir di tempat ini sendiri”.

“Lahir di tempat ini sendiri, lahir sendiri’’ – ulangku berkali-kali. Semalam suntuk ku pikirkan itu.

Akhirnya ku peroleh juga putusan dan penetapan sendiri. Musuh tidak boleh dibiarkan aman. Mereka tak boleh yakin bahwa tak seorang komunis pun lagi yang tinggal. Mereka mesti digoncang dan dihajar, dan harus mengerti bahwa Komunis tidak akan terbasmi oleh kekuatan mana pun. Komunis akan tetap ada dan akan terus ada. Pemberontakannya bisa saja kalah, tapi bukan untuk seterusnya.

“Akulah yang lahir Simun, seperti yang kau ramalkan. Akulah Komunis itu meski pun masih sebatang kara. Tapi, seperti kau, aku pun akan mengatakan hanya untuk sementara. Kelak bersama yang lain dari seluruh negeri kita, kita akan datang kembali bagai topan yang besar bergelombang”- kataku seolah-olah Simun, guruku itu, berada di depanku.

Esok malamnya ku buktikan kerjaku yang pertama, ku ulangi kembali apa yang pernah dikerjakan si akarbahar dan kawan-kawan lainnya, membakar bangsal tembakau.  Dan tak jauh dari bangsal itu pada sebatang pohon jati ku pakukan sekeping papan dengan tulisan: K o m u n i s.

Betapa gembira dan leganya aku, ketika besok siangnya, mereka menjadi gempar dan kacau. Beberapa truk polisi dan serdadu didatangkan dan entah berapa pula jumlahnya mata-mata yang disebarkan. Mereka lakukan penggeledahan besar-besaran ke pondok-pondok kaum buruh dan ke kampung-kampung.

“Tapi tangkaplah, siapa yang bisa kalian tangkap. Namun Komunis tidak akan musnah dan kalah” – kataku sendiri……..

Jakarta, 1961.

RAPAT YANG PENGHABISAN

Sumber:Chalik Hamid <chalik.hamid@yahoo.co.id>, in: Gelora 45 <GELORA45@yahoogroups.com>, Monday, 8 November 2010 14:34:41.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = =

Pada tangga 12 November 1926 merupakan hari pemberontakan pertama rakyat Indonesia melawan pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pemberontakan pertama ini berlangsung di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan ini menjadi teladan bagi rakyat Indonesia, bahwa betapa pun kuatnya sebuah pemerintahan Kolonial, namun ia bisa dilawan dan ditumbangkan. Walau pun pemberontakan ini banyak mengalami pukulan, namun ia merupakan api yang membakar semangat rakyat Indonesia. Untuk mengingat dan mengenang arti penting pemberontakan ini, secara berturut saya tampilkan tulisan-tulisan yang termuat dalam buku “Gelora Api 26″ terbitan `Ultimus` Bandung pada tahun 2010. Kita lanjutkan dengan cerpen “Rapat yang Penghabisan”  karya Agam Wispi

Salam: Chalik Hamid.

Agam Wispi:

Rapat yang penghabisan

Belum lagi matahari sempat terbenam, deretan toko di salah satu jalan yang ramai di Padang Panjang sudah ditutup dan lampu yang sudah terpasang waktu senja  demikian menyinarkan cahaya yang sedih dan muram.Ketika Udin sampai di depan sebuah pintu toko hari sudah malam. Ada beberapa saat dia meneliti sekitarnya  dengan matanya yang  tajam dan berpengalaman itu. Tak ada orang yang membuntutinya. Hanya di ujung jalan tampak seorang serdadu jaga sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. “Salmiah kau telah melakukan tugasmu dengan baik”, katanya dalam hati ketika dia dengan cepat menyeberangi jalan. Dari balik pintu terdengar jam dinding berdentang tujuh kali. Kemudian hati-hati dan pelan-pelan dia mengetuk pintu menurut isarat yang sudah ditentukan. Didengarnya seret langkah yang telah sangat dikenalnya dan Upik Bisu, seorang perempuan setengah muda, membuka pintu cepat-cepat, tersenyum dengan matanya yang ramah dan menelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa pertemuan akan berlangsung di kamar tengah. Dia menjulurkan tiga jari kanannya dan tahulah Udin bahwa tiga orang kawan telah menunggunya. Digenggamnya tangan Upik erat-erat sebagai orang yang telah lama tak berjumpa. Dan memang telah lama ke duanya tak berjumpa, sejak situasi menjadi sangat panas dan dia sibuk dengan pekerjaannya. Barangkali rapat ini rapat yang terakhir dan siapa tahu inilah saat yang penghabisan dia bisa melihat Upik Bisu, seorang kurir istimewa yang telah berkali-kali menelan surat-surat rahasia tapi dengan berhasil menuliskan kembali pesan-pesan dan perintah-perintah yang dibawanya dalam surat itu. Apakah yang tidak mereka perbuat terhadap wanita sederhana ini, ketika kata-kata sudah tidak lagi dibutuhkan ?  Demang, Asisten Residen , PID dan Komisaris Belanda yang mencoba memeriksanya  hanya berbuat sia-sia dan melepaskannya kembali. Seorang cantik yang bisu, dua hal yang menguntungkan dia untuk melakukan tugas-tugasnya. Kecantikan yang menggoda dan kebisuan yang gelap hanyalah riak di permukaan air bagi mereka yang tak mengenalnya, pikir Udin. Tapi hatinya yang lebih dalam daripada laut, kesetiaannya kepada perjuangan, takkan terselami oleh musuh-musuh Rakyat.

Bangga Udin berjalan di samping Upik Bisu di lorong antara deretan kamar. Tiba-tiba perempuan itu menangis dengan suaranya yang menyayat dan menelungkupkan mukanya ke dinding. Udin mengusap-usap kepalanya seperti dia mengusap kepala anknya yang kini berusia tiga belas tahun itu yang menangis karena dimarahi ibunya. Ah, sudah berapa lama dia tak melihat anaknya. Seperti tidak berhadapan dengan seorang yang bisu dia berkata:

“Pemberontakan kita gagal, Upik. Tapi jangan menangis, sebab kita takkan pernah dikalahkan”.  Dan seolah-olah kalimat itu mengandung arus listrik, tiba-tiba perempuan itu memalingkan mukanya yang basah. Matanya penuh dendam kemarahan dan dia mengepalkan tinjunya keras-keras. Upik mengerakkan jari telunjuknya dan membengkok-benhgkokkannya.

´´Tidak, Upik, kau jangan bawa senjata lagi . Siapa yang mau kau tembak sekarang. Lebih seribu serdadu Belanda kini berkumpul di Padang Panjang ini. Kawan-kawan hampir habis tertangkap. Musuh terlalu banyak dan peluru cuma sedikit. Siapa yang akan kau tembak?  Kau hanya akan bunuh diri saja´´.

Upik mencoba menahan diri dari rontaan-rontaan dalam hatinya.

´´Berilah browningmu padaku. Ini perintah Partai.´´

Dari balik bajukurungnya  Upik mengeluarkan sepucuk browning kecil-mungil dan meletakkannya dengan berat ke telapak tangan Udin

“Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan dirimu dulu sambil menunggu tugas-tugas baru“. Upik mendongakkan kepalanya dengan penuh harapan.

“Kau sudah jumpa Amir ?“ Upik menggeleng sedih.  “Tidak benar dia tertangkap, Upik. Dia licin seperti belut dan dapat lolos. Berbahagialah kau. Kini dia selamat bersembunyi di Medan“. Gelisah Upik memainkan ujung tocangnya.

´´Sementara ini kau tinggal di rumah ibuku dan tiga-empat hari lagi seorang kawan akan mengantarkanmu ke Medan. Kawan-kawan di sana akan mengurus perjalananmu ke luar negeri“.  Kerinduan dan kesedihan bergumul dalam diri Upik. Dia akan bertemu kembali dengan Amir yang dicintainya.  Dia tidak mati, dia tidak mati, katanya dalam hati. Tapi sebagai gadis yatimpiatu dalam perjuangan yang disertainya ada kesediahan yang berat untuk meninggalkan Udin, seorang yang lebih daripada ayah dan saudara baginya. Ada yang kosong dalam hatinya sekarang, seolah-olah inilah  saat terakhir bagi mereka. Gerak yang bisu hanya memungkinkan dia mengusap-usap lengan Udin dengan penuh kasih dan menunjuk-nunjuk dada Udin seperti berkata: “Jagalah dirimu, berjaga-jagalah”.

“Upik kau harus berangkat sekarang, jangan sampai terlalu larut di jalan”. Sekali kagi keduanya bersalaman erat-erat. Bergegas-gegas dia menuju ke pintu, keadaan tidak memungkinkan dia untuk menangis. Ketika dia sekali lagi berpaling untuk pandangan selamat tinggal, Udin melambaikan tangannya:

´´Selamat jadi penganten baru……..´´

*** Mereka duduk berempat mengelilingi sebuah meja kecil  diterangi lampu gantung. Bachtiar mengeluarkan notes, katanya:

´´Kami kira kau takkan bisa datang Din`´.

´´Dengan bantuan Haji Leman aku tiba dari luarkota dan bersembunyi di tokonya dekat sini´´.  Di bawah bayangan lampu itu muka Udin nampak tambah kurus dan cekung.

Bermalam-malam dia hampir tak tidur sama-sekali. Dia seperti tak kenal istirahat tapi juga tak kenal lelah. Dia mengurus pembelian senjata dari seorang insinyur Jerman, dia membagi-baginya dengan hati-hati dan teliti, kemudian ketika pemberontakan ini hampir padam, dia sibuk mencari uang dan mengatur segala sesuatu agar kawan-kawannya sempat melarikan diri. Adakah sudah setengah bulan ini dia tak bertemu dengan isterinya ? Tak dapat dia memastikannya. Barangkali ada lima kali dia sempat mencium kedua anaknya selama enam bulan ini.

´´Aku harus mengambil jalan keliling untuk sampai ke sini´´ – kata Salim mendengus dan menggulung rokok-nipahnya, ´´serdadu-serdadu jahanam itu baru saja meninggalkan penjagaannya di ujung toko sana dan mengejar-ngejar perempuan´´.  Bachtiar membalik-balik notesnya dan suasana tiba-tiba menjadi tegang ketika dia membacakan 97 nama mereka yang tertangkap selama minggu ini.

´´Tadi pagi saja atas petunjuk orang-orang Serikat Hijau telah tertangkap Karim, Abidin, Ahmad, Dulah, Rasidin, si Patai…….“

“Si Patai !´´  Udin hampir berteriak mengulangi kata itu karena tak percaya.

“Ya, si Patai. Ditangkap dan di tembak ketika itu juga´´.

“Kita kehilangan seorang jago pencak pemberani yang  setia,” – Udin berkata pelan, “lima pisau baginya belum apa-apa”.

“Ya, orang kampung selalu menyembunyikan si Patai. Tapi di luar keputusan kita, dia masuk kota lagi untuk membalas dendam. Lima serdadu dan dua orang Belanda  sudah ´merantau´ dibuatnya, siapa tahu di mana kuburnya. Tentu dia sekarang puas”.

“Kita kehilangan dia’’. Udin menghentam tangannya ke meja dengan geram dan kesal, “dan kita akan kehilangan lebih banyak lagi kalau gerakan-gerakan dijalankan sebelum dirundingkan”.

“Udin ! Bagaimana kau ini !” Kasim yang sejak tadi diam saja berkata tajam, “siapa bisa tahan melihat Komunis Buyung diikat lehernya dan diseret sampai mati sepanjang jalan oleh serdadu-serdadu Belanda itu ?  Dagingnya masih lengket di jalan-jalan, Udin. Siapa yang masih bisa membiarkan kebiadaban seperti ini ?”  Dia berdiri gelisah dan berjalan mondar- mandir di kamar itu.

“Kawan-kawan”,  Udin mengetok meja dengan buku jarinya, “marilah kita mulai rapat kita ini”. Kasim menghenyakkan dirinya di kursi, Bachtiar dan Salim membetulkan duduknya. Suasana tegang mereda dan ajakan memulai rapat itu terasa seperti sehembus angin sejuk yang masuk dari jendela ke kamar yang panas pengap. Udin meminta laporan tugas-tugas yang telah mereka jalankan, kemudian pendiskusian atas laporan keadaan yang terakhir.

Pemberontakan telah berjalan 21 hari dan pertempuran-pertempuran sengit terjadi berhari-hari. Serdadu-serdadu Belanda melakukan penyembelihan besar-besaran di Silungkang, pahlawan pemberani si Manggubung yang disayangi rakyat sudah mati digantung, ribuan Rakyat kini di tahan di dalam sekolah-sekolah  yang dijadikan kamp tawanan dan di balik dinding-dinding sekolah itu siksaan-siksaan yang paling buas sedang dijalankan hingga saat ini.

“Menurut pikiran saya kawan Udin harus segera melarikan diri ke luarnegeri, jalan untuk itu sekarang sedang terbuka luas” – kata Salim.

“Benar”, Bachtiar terbatuk-batuk, sudah dua hari ini dia diserang demam, “demgam begitu dalam masa surut kita bisa mengumpulkan kekuatan baru.”

“Tidak, apa kalian tidak ingat desas-desus yang disebar-sebarkan Serikat Hijau ?”  Kasim membantah “mereka dengan tidak tahu malu menyebarkan fitnah busuk. Huh, mengaku apa tidak kalian ?  Bodoh, ikut Komunis ! Srekarang rasakan cambuk dan gagang senapang di punggungmu, sedang si Udin , pemimpin Komunis itu sudah kawin tiga dengan perempuan dari Moskow”.

“Bedebah !  Adakah cara yang lebih kotor dari pembicaraan seperti ini ?!”

“Ya, tapi desas-desus itu sudah dengan sengaja disebarkan dan menjadi kenyataan. Dia meracuni semangat orang-orang yang disiksa’’.

‘’Memang, mengapa mereka segan menyebarkan desas-desus. Teror yang kejam dan begitu buas sudah mereka lakukan, tidak perduli anak-anak. Bukankah pajak yang menindas Rakyat kita itu sudah semacam teror ?  Pemberontakan tahun 1908 di Kamang dalam melawan pajak sudah menunjukkan Rakyat tidak akan tinggal diam. Rakyat di pihak kita, karena kita benar”.

Di mata Udin terbayang wajah Efendi, seorang pelajar Islam dari Tawalib yang menjadi Komunis. Di Balairungsari Demang sedang mengadakan rapat. Efendi lewat di tempat itu dengan memakai jas, dalam kebanggaannya dia  pakai dasi merah. Demang memerintahkan menangkapnya  dan lima orang Serikat Hijau menggeretnya ke suatu tempat, memukuli mukanya yang manis itu sampai hancur. Ketika itu juga Udin dalam sidang memutuskan agar pembalasan dijalankan. Hanya tiga hari. Kelima-lima orang teroris itu kemudian “merantau”.

“Rakyat bersama kita kawan-kawan”, – kata Udin dengan tenang, “kalau tidak sudah lama saya tertangkap. Merekalah yang melindungi saya  sehingga terhindar dari penangkapan-penangkapan. Itu satu-satunya yang dapat mereka perbuat sekarang ini, dalam keadaan pemberontakan kita sudah gagal”. Kemudian seperti guruh di sianghari dengan suara yang tetap Udin berkata:

“Kawan-kawan saya minta kebulatan kita semua dalam mengambil keputusan atas usul-usul saya ini. Saya akan membantu kalian yang mau melarikan diri. Tapi harus ada yang tinggal. Dan saya akan tinggal di sini untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan”.

“Tidak” – kata Bachtiar, “saya tinggal”.

“Saya tidak akan pergi” – kata Kasim.

Hanya Salim yang masih terdiam. Ketiga mereka seperti tergantung di bibirnya, menunggu sikapnya yang tegas, meskipun mereka sudah menduga-duga. Dengan suara berat Salim berkata:

“Saya ke luarnegeri”.

“Baik, saya akan buatkan surat yang harus kau bawa kepada nakhoda Ahmad  di Pakan Baru. Kau juga harus membawa surat-surat lain untuk kawan-kawan yang dapat membantumu,” – Udin berkata tegas, ´´kemudian kawan-kawan, putusan terpenting yang harus kita ambil dalam waktu singkat ini ialah bahwa kita harus membela yang sudah ditangkap. Sebarkan di kalangan mereka supaya mengakui segala yang mereka lakukan itu atas perintah saya”.

Bachtiar batu-batuk lagi, dengan sukar dia memotong: “Apa maksudmu?”

“Kawan-kawan, Belanda setengahmati mencari-cari saya. Saya tak bisa tahan lagi melihat mereka disiksa.  Bagaimanpun juga fitnah terhadap saya untuk merusak kecintaan Rakyat terhadap Partai kita, tidak boleh kita abaikan. Dari dua segi inilah saya hanya melihat jalan satu-satunya bahwa saya tidak akan menyembunyikan diri lagi untuk mengelakkan penangkapan. Semoga Partai kita kekal di hati Rakyat, semoga para kader Partai kita, kawan-kawan Komunis dan patriot-patriot yang kini ditahan itu bebas dari siksaan kejam. Bagaimana?  Saya minta persetujuan kawan-kawan, karena hanya inilah jalannya…” Tidak ada jawaban.

“Bagaimana ?  Berilah putusan “.

Tidak ada jawaban. Hening yang tak terkatakan merasuk ke seluruh kamar. Di bawah lampugantung itu, Bachtiar, Kasim dan Salim tampaknya seperti patung batu yang sedang menundukkan kepala.

“Kawan-kawan, katakanlah. Tidak ada jalan lain, tapi berilah putusan”.

Lama tidak ada jawaban. Tiba-tiba Bachtiar berdiri, matanya basah. Dia ingin mengucapkan sesuatu tapi kerongkongannya tersekat. Melihat Bachtiar berdiri seperti ditarik magnit semua berdiri. Dengan susahpayah  Bachtiar keluar dari kursinya, dirangkul dan dipeluknya Udin erat-erat, Salim mencium Udin tak lepas-lepas, sedang Kasim memeluknya pula dari belakang.

“Ah, rapat kita belum selesai, mengapa kita sudah mengambil perpisahan,”  Udin berkata serak dan duduk kembali.

“Kalau kau ditangkap, kau akan dibuang”, – kata Salim.

“Kawan-kawan di Jawa sudah lebih dulu dibuang daripada saya,” Udin berkata tenang-tenang, “Ingatlah Siberia. Di sana kaum Komunis banyak mati dimakan beruang, tapi Revolusi Oktober telah mengalahkan tsar untuk selama-lamanya”.

“Kau optimis akan bisa kembali, Udin ?” – tanya Kasim.

“Kembali atau tidak. Tapi kita takkan terkalahkan. Rakyat akan bangkit lagi suatu waktu. Adakah kita sudah berhenti sejak pemberontakan di Kamang itu dapat di padamkan ? Kekuatan kita seperti bara dalam sekam. Kawan-kawan, jangan beritahukan hal ini kepada Upik Bisu, sebab dia bisa tidak menahan diri untuk mengambil suatu tindakan. Dia harus selamat sampai di Medan. Mari kita sama-sama merasakan bahagia atas perkawinannya dengan Amir’’.

‘’Ya, usaha menyelamatkannya sudah menjadi keputusan kita memang’’ – kata Bachtiar.

‘’Dalam beberapa hari ini saya masih akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan lain dan saya akan menemui isteri da anak-anak saya di rumah mertua saya. Pada hari ke tujuh, jadi hari Rabu yang akan datang, saya akan pulang ke rumah saya menunggu apa yang terjadi. Sehari sebelumnya kawan-kawan  harus membuat sepucuk suratkaleng kepada Sutan Sahar di kampung Kuto Lawas, bahwa saya sedang ada di rumah. Nah, tidak ada soal-soal lain ? Berbahaya kalau kita lebih lama di sini. Kawan-kawan saya kira inilah rapat kita yang penghabisan yang bisa saya hadiri. Selamat berjuang. Rapat saya tutup’’.

Sekali lagi mereka berpelukan dan bersalaman, kemudian satu-satu meninggalkan ruangan. Ketika akan pergi Bachtiar mengeluarkan secarik kertas kecil dari sakunya.

‘’Dua hari yang lalu aku singgah menemui isterimu. Dia titipkan surat ini untukmu’’.

‘’Hati-hati Tiar, jangan sampai kau tertangkap”.

Sendiri Udin di kamar rapat itu untuk beberapa saat. Dibacanya surat isterinya. Tampaknya ditulis buru-buru :

Uda  tercinta,

Kedua anak kita sagat betah tinggal di rumah neneknya. Kami semua sehat-sehat dan sering teringat kepadamu. Gadis kecilmu Samsiah sering menanyakan bapaknya. Tapi kakeknya senantiasa menerangkan kepadanya, bahwa uda mengikuti jejak nenekmoyang melawan Belanda penjajah.

Uda, jangan risaukan kami, tapi jaga dirimu supaya tetap sehat dan lakukanlah apa yang uda anggap baik dengan tetap hati-hati.

Cium anak-anak kepadamu dan tertompang salam kepada uda dari bunda kita.

Adinda:

Aminah

Dengan langkah berat dan rindu kepada anak-isteri yang berkecamuk dalam dadanya, Udin meninggalkan ruangan itu. Adakah kami saling kehilangan ? Anak dan isteri kehilangan aku atau aku kehilangan mereka ? Kawan-kawan kehilangan aku atau aku kehilangan kawan-kawan ? Ah, pikirnya, siapakah sebenarnya yang kehilangan dalam samudra perjuangan ini ?  Serperti kilat membelah malam ingatannya menyambar kalimat-kalimat Marx yang tak dapat dilupakannya: ‘’Biarkanlah klas-klas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apa pun kecuali belenggu mereka. Mereka akan menguasai dunia.”

Kesegaran menjalari tubuhnya. Di luar malam penuh bintang-bintng gemerlapan. Segera dia bergegas-gegas menjauhkan diri  dari jalan raya itu …….

***

ENAM bulan kemudian, di sebuah rumah besar di kampung Kuto Lawas, Sutan Sahar mengadakan pesta meriah. Kepada para tamu dan ninikmamak yang dihormatinya  dia membual tentang jasa-jasanya  sebagai pemimpin Serikat Hijau dalam membasmi Komunis.

“Kepada tuan Asisten Residen sudah saya katakan, bahwa saya sanggup menangkap  pemimpin Komunis Udin hidup-hidup. Dia teman saya sepermainan waktu kecil di kampung ini. Karena itu waktu saya tahu dia pulang, sesudah banyak perangkap saya pasang supaya dia pulang, segera saya kirim utusan kepadanya supaya dia datang menyerah. Tapi kepada utusan saya dijawabnya bahwa dia tidak bersedia menerima utusan siapa pun. Saya telah memberitahukan tuan Asisten Residen supaya jangan dikirim serdadu-serdadu untuk menangkapnya, sebab kalau itu terjadi Rakyat akan mengamuk. Saya sanggup, mau apa lagi.“

‘’Jadi bagaimana angku Sutan menangkapnya ?´´  – tanya Mantri Belasting yang duduk di depannya sambil menghirup kopi.

‘’Ha, di situlah kekuatan saya’’ – kata Sutasn Sahar sambil membuka kancing jas. Bermula Mantri Belasting di depannya itu mengira Sutan Sahar akan mengeluarkan senjata api atau keris keramat. Tapi rupanya Sutan Sahar merasa perutnya kepanasan, katanya: ‘’Bukan main udara sekarang ini, panas benar. Jadi saya datang hanya dengan dua polisi lalu membawanya pergi ke balairungsari. Disitu ……amboi, di situ sudah menanti pula tuan Asisten Residen, Komisaris Polisi Belanda dan lebih lima ratus serdadu”.

‘’Amboi, bukan main banyaknya orang menyambut’’.

“Memang angku Mantri, saya sendiri tak menyangka seramai itu. Sampai sekarang saya sering terpikir-pikir apakah sambutan itu ditujukan kepada si Udin atau kepada saya. Tapi kalau dipikir mengapa saya sampai mengadakan pesta sekarang ini, tentulah saja yang disambut itu ……… ‘’

Para tamu yang sedang mengunyah dodol teranggguk-angguk tanda paham dan kagum akan kehebatan Sutan Sahar. Lagi pun makanan-makanan yang dihidangkan sangatlah mewahnya.

‘’Maafkan saya……..oh, saya harus melayani tamu-tamu terhormat amtenar BB* di sudut sana. Tak baik kalau dibiarkan mereka bersunyi-sunyi………’’

Sambil berbasa-basi dengan ambtenar BB itu Sutan Sahar tampak senyum-senyum, terangguk-angguk. Sebentar-sebentar dia batuk-batuk kecil dan berdehem-dehem, katanya:

‘’Kepada tuan Asisten Residen sudah saya katakan, saya sanggup menangkap Komunis Udin hidup-hidup……..’’

Pesta meriah yang diadakan Sutan Sahar itu memang untuk merayakan kehormatan yang didapatnya dari pemerintah Hindia Belanda. Seminggu yang lalu dia menerima bintang-tanjung dari Sribaginda Ratu Wilhelmina……….

Jakarta, 18 Oktober 1961

Ambtenar BB = ambtenar Binnenlands Bestuur.

Pemberontakan 12 November 1926 Dalam Sastra

Sumber:Gelora 45 <GELORA45@yahoogroups.com>, Saturday, 6 November 2010 17:23:34

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = =

Pada tangga 12 November 1926 merupakan hari pemberontakan pertama rakyat Indonesia melawan pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pemberontakan pertama ini berlangsung di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan ini menjadi teladan bagi rakyat Indonesia, bahwa betapa pun kuatnya sebuah pemerintahan Kolonial, namun ia bisa dilawan dan ditumbangkan. Walau pun pemberontakan ini banyak mengalami pukulan, namun ia merupakan api yang membakar semangat rakyat Indonesia. Untuk mengingat dan mengenang arti penting pemberontakan ini, secara berturut saya tampilkan tulisan-tulisan yang termuat dalam buku ´´Gelora Api 26´´ terbitan `Ultimus` Bandung pada tahun 2010. Kita lanjutkan dengan pengantar oleh Chalik Hamid.

Salam: Chalik Hamid.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = =

Pengantar Penyunting

Satu peristiwa sejarah besar yang bersifat nasional bagi rakyat Indonesia  telah terjadi. Pada tanggal 12 November 1926 rakyat pekerja Indonesia dibawah pimpinan klas buruh dan partai pelopornya, Partai Komunis Indonesia, mengangkat senjata melancarkan pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Pemberontakan ini dikatakan pemberontakan nasional karena bertujuan untuk pembebasan nasional, menghancurkan kekuasaan asing. Walaupun pemberontakan nasional pertama ini mengalami kekalahan karena kekurangan penguasaan teori revolusioner kader-kader PKI ketika itu, disamping pengkhianatan kaum likwidator trotskis, namun ia menggema jauh sampai ke luar perbatasan Indonesia. Kaum kolonialis Belanda yang menganggap rakyat Indonesia “paling patuh” terkejut bagaikan disambar petir. Rakyat Indonesia sendiri bagaikan terbangun dari tidurnya, menyadari akan kekuatan sendiri dan berdiri dengan keyakinan bahwa kolonialisme bukan tidak bisa dipatahkan dan diruntuhkan. Gerakan buruh sedunia menyambut hangat kebangkitan dan kejadian ini.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan  yang menyebabkan pemberontakan itu mengalami kekalahan, namun peristiwa itu menunjukkan heroisme, keperwiraan dan keberanian proletariat Indonesia. Mereka membuktikan tekad suci bahwa untuk kepentingan rakyat dan tanahair tidak gentar mengorbankan jiwaraga, di medan pertempuran, di tiang gantungan dan penjara atau pengasingan. Heroisme, keperwiraan dan kepahlawanan ini mengilhami generasi demi generasi dalam membela kebenaran dan keadilan , kemerdekaan dan kebebasan, menentang penindasan dan menghisapan dari siapa saja , kolonialisme, neokolonialisme dan fasisme. Heroisme pemberontakan 12 November 1926 selalu mengilhami para pejuang dalam perlawanan-perlawanan kemudian; dalam “pemberontakan Kapal Tujuh”, perlawanan terhadap fasis militer Jepang, dalam revolusi Agustus 1945 dan lain-lain.

Heroisme, kepahlawanan dan keberanian para pemberontak tahun 1926 itu juga mengilhami para sastrawan dan seniman Indonesia. Mereka menggubah lagu, menyusun bait-bait sajak, menulis berbagai kisah tentang heroisme tersebut. Walau pun kaum kolonialis, kaum fasis dan musuh-musuh rakyat lainnya untuk sementara bisa menguasai Indonesia, namun hati rakyat kapanpun tidak pernah mereka kuasai. Seperti semangat, jiwa dan hati rakyat yang terhisap dan tertindas dimana pun di permukaan bumi ini, maka juga termasuk di Indonesia, tidak akan dapat dijajah dan diperbudak lagi. Cepat atau lambat mereka pasti bangkit berontak melepaskan segala belenggu dan ikatan, meninggalkan dunia lama menuju dunia baru, tanpa memperdulikan pengorbanan dan jiwaraganya.

Dalam rangkan agar terus mengobarkan semangat pemberontakan rakyat tahun 1926, pada kesempatan ini kita kumpulkan beberapa hasil karya para penulis sehubungan peristiwa tsb. Beberapa cerpen, sajak dan kisah, kenangan dan kesan, agar di dalam hati terus lahir tekad membaja: “puluhan ribu pahlawan telah dengan gagah dan berani mengorbankan jiwa di depan kita demi untuk kepentingan rakyat, marilah kita mengibarkan tinggi-tinggi panji mereka, maju mengikuti jejak langkah mereka yang berdarah itu”.

Para pengarang yang telah memberikan karyanya dalam kumpulan ini sebagian telah tiada. Semoga karya-karya yang mereka tinggalkan ini tetap abadi dan memberika daya pengilham bagi generasi mendatang.

Chalik Hamid

Amsterdam, Januari 2010.

PLAYBOY INTERVIEW: PRAMOEDYA ANANTA TOER

Sumber: B.DORPI P.
Sent: Thursday, June 15, 2006 5:15 AM
Subject: Re.: PLAYBOY INTERVIEW – PRAMOEDYA ANANTA TOER

PLAYBOY INTERVIEW: PRAMOEDYA ANANTA TOER

KELAHIRAN 6 Februari 1925 ini amat mengimani kerja. Menganggap kerja sebagai eksistensi abadi bagi manusia. Dan dihati Pramoedya Ananta Toer kerja adalah menulis. Maka menulislah ia. Dalam Rumah Kaca Pram pernah mencatat: “…gairah kerja adalah pertanda daya hidup; selama orang tak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut…” Merokok tanpa putus sejak umur15 tahun, lahirlah tetralogi yang legendaris itu [Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah]. Juga judul-judul seperti Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, Nyanyi Sunyi

Seorang Bisu, dan banyak lagi. Semuanya memiliki kesamaan: menggetarkan dunia.

Nominasi Nobel bidang sastra beberapa kali mencatat namanya.

Pengalaman hidupnya seolah ditakdirkan dramatis [layaknya orang-orang besar].

Pernah jadi pihak yang menekan saat Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kesenian underbow PKI] berjaya. Lantas tersuruk jadi tahanan politik selama 14 tahun 2 bulan tanpa pengadilan disusul status tahanan rumah.  Juga menyaksikan dengan sesak karya dan harta literaturnya dibakar militer [sampai kini dia masih tak mengerti, karena merasa dasarnya menulis adalah satu: kemanusiaan]. Pun pelarangan terhadap tulisan-tulisannya.

Karya-karya Pram tak banyak mengutak-atik keindahan bahasa, longgar, dan kerap kelam meski tengah mengekspresikan keriaan hidup, seperti seks. Dalam penutup satu bab di Bumi Manusia, Pram menulis perasaan Minke tentang persetu-buhannya dengan Annelies: “Aku balas pelukannya.  Dan tiba-tiba jantungku berdeburan diterpa angin timur. Satu ulangan
telah memaksa kami jadi sekelamin binatang purba, sehingga akhirnya kami tergolek. Sekarang gumpalan hitam tidak memenuhi antariksa hatiku. Dan kami berpelukan kembali seperti boneka kayu.”

Sebagai penulis Pram menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutakatik bahasa.

Pengagum sastrawan Gunther Grass dan John Steinbeck ini mengaku begitu produktif berkarya karena merasa tidak akan berumur panjang.  Kenyataannya pada usia 81 tahun dia masih mengepulkan asap rokok saat ditemui Feature Editor PLAYBOY Alfred Ginting dan Soleh Solihun, di rumahnya yang asri, di kawasan Bojong Gede, Jawa Barat. PLAYBOY ditemani Happy Salma yang sore itu membawakan sebotol wine untuk penulis yang dikaguminya itu. Setiap malam Pram menenggak satu dua sloki wine demi kesehatan jantungnya.

Seperti yang sudah-sudah wawancara ini kembali banyak menjelajah sikap politik Pram, tidak seperti keinginan kami untuk membongkar sikap sastranya.  Pram sulit diajak untuk mengomentari karya-karyanya. Pram menganggap karya-karya itu
sebagai anak-anak jiwanya. Mereka bebas terbang lepas setelah didewasakan oleh pena dan mesin tiknya. Selain itu usia membuat Pram berjarak dengan masa lalu kepengarangannya. Di rumah – hasil dari royalti bukunya yang telah diterjemah-kan ke 42 bahasa – Pram tak lagi banyak bekerja. Sudah sepuluh tahun dia tidak menulis, semangatnya dipatahkan umur tubuhnya. Saban hari dia bangun jam lima pagi, mengumpulkan kliping berita koran bertema geografi untuk cita-citanya yang tidak akan terwujud – menyusun apa yang dia sebut Ensiklopedi Kawasan Indonesia, sesekali menerima tamu, melihat-lihat ternak ayam dan angsanya, dan membakar sampah.

Pada meja bundar di ruang tamu rumahnya, Pram menjawab pertanyaan PLAYBOY. Di meja itu bertumpuk sejumlah buku. Yang menarik perhatian adalah fotokopi novel Gulat di Djakarta yang akan diterbitkan kembali oleh penerbit Lentera Dipantara. Pram mengenakan polo shirt lusuh, celana training biru dan sandal jepit. Kaos kaki sepakbola berwarna hijau menutup ujung kaki celananya. “Dingin kaki saya,” kata dia. Pram masih menunjukkan kekukuhan dalam argumentasi dan pemakluman atas sikapnya. Seperti tentang pendiriannya terhadap Soekarno sebagaipemimpin yang berhasil mempersatukan

bangsa Nusantara tanpa meneteskan darah. Padahal di zaman rezim Soekarno dia ditahan karena menulis Hoakiau di Indonesia. “Yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno,” tegasnya.

PLAYBOY: Di film Jalan Raya Pos, Anda mengatakan tidak yakin akan berumur panjang. Ternyata, sekarang berumur 81 tahun, bagaimana perasaan Anda?

PRAMOEDYA: Tahun ’50, TBC membunuh ayah, ibu, adik, nenek, ipar, kemenakan saya. Waktu itu belum ada obatnya. Yang tahu, obatnya kapur saja. Untuk menutupi luka. Jadi, sudah sejak sangat muda, sudah berhadapan dengan maut. Dan saya sebagai anak tertua dengan tujuh adik menanggung semuanya. Ada seorang professor mengatakan, `Kau nanti juga kena [TBC].’ Tapi ternyata, sampai sekarang nggak ada apa-apa. Saya nggak ada penyakit parah, cuma kesulitannya kalau nggak bisa tidur, itu lantas jatuh, drop saja. Nggak pernah menyangka. Keluarga saya praktis mati karena
TBC. Saya nggak pernah ketularan. Sepanjang hidup saya heran, kok bisa sampai 81.

PLAYBOY: Masih punya mimpi?

PRAM: Saya nggak punya mimpi apa-apa. Masalah saya sekarang, hanya mati saja. Saya sudah sepuluh tahun nggak menulis. Juga nggak jawab surat. Ini sudah nggak bekerja [menunjuk kepala]. Sudah pikun.

PLAYBOY: Mimpi untuk menuliskan kembali proyek yang dulu sempat dimusnahkan, seperti Ensiklopedi Indonesia?

PRAM: Ya, kliping saya sudah 8 meter panjangnya. Tapi biayanya melanjutkannya nggak ada. Nggak ada pemasukan yang beres. Paling sedikit lima orang diperlukan.  Kalau satu orang dua juta, sepuluh juta satu bulan. Dari mana  sumbernya? [tertawa].

PLAYBOY: Anda angkatan ’45. Kalau nanti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan bagaimana?

PRAM: Ah saya nggak mengharapkan begitu-begituan. Mau dibakar kek, mau dibuang kek, nggak soal.

PLAYBOY: Anda siap menghadapi kematian?

PRAM: Sejak muda, saya siap mati di manapun dan kapan pun. Nggak ada soal. Jadi, nggak punya beban tentang mati.

PLAYBOY: Tidak ada yang Anda takuti dalam hidup?

PRAM: Saya anggap sebagai tantangan sport. Tidak punya dendam saya. Kalo punya dendam jadi beban lagi. Dianggap berani atau nggak, saya nggak tahu [tertawa].  Saya kehilangan apa saja, tidak merasa kehilangan.Rumah dirampas,
perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yang salah, saya tidak tahu.

PLAYBOY: Kadar gula Anda masih tinggi?

PRAM: Oh, gula saya memang tinggi. 460. Tapi saya obati dengan bawang putih. Setiap suap makan, gigit bawang putih, jadi semua luka kering sendiri. Jadi, dagingnya nggak membusuk. Dan saya anjurkan itu untuk yang sakit gula.  Saya kan juga latih-an pernafasan kalau mau tidur. Tarik nafas sampai penuh, tambah lagi. Itu sportnya. Tahan baru buang. Belajar dari pengalaman saja. Mulai umur belasan tahun, setelah pisah dari keluarga.

HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?

PRAM: Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yang punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.

PLAYBOY: Tapi sejarah Indonesia akhirakhir ini harus diwarnai ancaman disintegrasi, seperti keinginan masyarakat Aceh dan Papua untuk memisahkan diri?

PRAM: Itu memang dialektika sejarah. Kalau ada yang baik, ada yang buruk.  Ada persatuan, ada perpecahan. Hidup berkembang bersama-sama pasti ada yang namanya dialektika.

PLAYBOY: Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dengan PRD [Partai Rakyat Demokratik]. Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri tidak terlihat arah organisasinya?

PRAM: Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, harus hidup, tumbuh, berkembang bersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Soedjatmiko] lari, masuk ke PDI.  Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sekolah itu kan jalan untuk jadi pegawai. Untuk mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yang benar itu.

PLAYBOY: Tapi pendidikan dianggap penting bagi kepemimpinannya?

PRAM: Ah tidak. Kepemimpinan ya dari partainya itu, berpengalaman sejak awal sampai berkembang. Itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Menjadi pemimpin partai itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Sekolah saya, SMP kelas 2 nggak tamat, tapi kok jadi doktor? [tertawa].

PLAYBOY: Anda pernah menyebut Jimmy Carter berperan dalam pembebasan Anda. Itu bagaimana ceritanya?

PRAM: Itu Carter meminta supaya tahanan Pulau Buru dibebaskan. Kalau nggak, bantuan Amerika akan dihentikan untuk Indonesia.

PLAYBOY: Jadi, bisa dibilang Anda diselamatkan Amerika?

PRAM: Ya memang Amerika. Tapi juga Amerika juga yang waktu Presiden Eisenhower yang memerintahkan supaya Soekarno disingkirkan. Eisenhower ngomong begitu setelah babak belur di Vietnam. Ada masalahnya itu. Lantas dia perintahkan, singkirkan Soekarno! [tertawa].

PLAYBOY: Anda sudah beberapa kali disebut sebagai kandidat Nobel, tapi belum jadi kenyataan juga.

PRAM: Yang jadi kandidat itu kan empat orang yang terakhir. Satu orang dapat, saya nggak. Saya nggak tahu.

PLAYBOY: Apa itu ada hubungannya dengan sikap politik Anda dulu sebagai tokoh Lekra?

PRAM: Itu hak saya punya pandangan politik.

PLAYBOY: Tidak pernah berpikir, kalau mendapat Nobel itu bentuk pencapaian Anda sebagai penulis?

PRAM: Kalau dapat itu, berarti penghargaan dunia. Itu saja.

PLAYBOY: Tidak pernah bermimpi, ingin dapat Nobel sebelum meninggal?

PRAM: Nggak.

PLAYBOY: Jadi, penghargaan tertinggi dalam hidup buat seorang Pram?

PRAM: Penghargaan sudah saya dapat di mana-mana. Orang baca karya saya saja, sudah suatu penghargaan.

PLAYBOY: Dari semua karya Anda, yang merupakan pencapai-an terbesar yang mana?

PRAM: Nggak tahu saya. Itu publik yang menentukan.

PLAYBOY: Dalam karya Anda, banyak figur perempuan yang menentang garis. Itu memang gambaran Anda tentang figur perempuan modern?

PRAM: Itu inspirasi dari ibu saya sendiri. Ibu saya meninggal sangat muda, umur 34. Suatu kali, waktu saya masih di SD, panen jagung di luar kota, saya dipanggil ibu. Kalau serius, ibu saya ngomongnya dalam bahasa Belanda. Jauh lebih bagus dari saya. Dia pesan, `Engkau nanti harus belajar di Belanda sampai doktor.’ Itu beliau ngomong waktu saya masih SD dan miskin sekali. Itu pesannya. `Jangan sampai kau minta-minta sama orang. Pada siapapun! Jangan minta-minta. Selesaikan tugas dan kerjamu dengan tenagamu sendiri. Jangan minta-minta bantuan!’ Itu pesan ibu saya. Kenyataannya lain. Lulus SD, masuk SMP, Jepang datang, bahasa Inggris dilarang. Sampai [kelas] 2 SMP saya sekolah, itu pun nggak tamat, karena dibubarkan Jepang. Jadi, nggak pernah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Setelah Jepang pergi, saya nggak bisa ke perguruan tinggi. Bahasa Inggrisnya tidak bisa [tertawa].

PLAYBOY: Di masa itu apa artinya jadi doktor?

PRAM: Ilmu pengetahuan. Jadi mencukupi sebagai orang terpelajar. Kalau belum dapat gelar, ya belum [tertawa].

PLAYBOY: Tokoh Minke dibuat berdasarkan riset Anda terhadap tokoh pers Tirtoadisuryo. Apa tokoh perempuan di sekitarnya memang dinspirasi dari perempuan di dunia kenyataan?

PRAM: Itu simbolik saja. Supaya jadi anutan pembacanya. Saya mengharapkan wanita itu lebih maju daripada sekarang ini. Karena dia yang mendidik bangsa. Waktu saya masih kanak-kanak, ibu-ibu itu memproduksi. Ada yang membatik, ada yang nenun, bikin sabun segala macam. Kok, sekarang nggak ada? Tidak berproduksi wanita, tampaknya ya. Waktu saya kecil, ibu saya nenun, bikin batik, segala macam, buat kecap, sabun, dijual. Jarang terjadi sekarang ini di rumahtangga. Sehingga jadi bangsa yang konsumtif, tidak produktif.  Akibatnya melahirkan benua korupsi. Malah orang menjadi kuli. Untuk menjadi kuli itu, bayar mereka. Sampai Jerman mengatakan, Indonesia itu bangsa kuli di antara bangsa-bangsa dunia.

PLAYBOY: Apa arti perempuan buat Anda?

PRAM: Kalau saya melihat ibu saya, beliau yang membentuk saya jadi begini ini. `Jangan minta-minta. Selesaikan semua tugasmu dengan kekuatanmu sendiri!’ Luar biasa! Dalam keadaan miskin [tertawa]. Nggak pernah bertanggung jawab pada perbuatan sendiri

PLAYBOY: Begitu juga cara Anda mengarahkan anak Anda?

PRAM: Kalau untuk saya, silakan kerjakan apa yang dimaui. Tapi, tanggungjawab pada perbuatan sendiri. Cuma itu pesan saya. Bahkan jadi bandit pun silakan. Tapi tanggungjawab atas perbuatan sendiri. Jangan nyorong pada orang lain untuk tanggungjawab. Seperti Harto nanti [tertawa].

PLAYBOY: Dari tadi, cerita soal ibu terus. Lantas, bagaimana sosok ayah di mata Anda?

PRAM: Minus. Ayah saya itu Direktur Sekolah Boedi Oetomo. Saya sekolah disitu. Untuk tamat tujuh kelas, saya memerlukan sepuluh tahun. Tahu perasaan dia kan jadinya, terhadap anaknya? [tertawa]. Mengecewakan dia lah.

PLAYBOY: Karena Anda nakal?

PRAM: Sampai tua saya nggak bisa main gundu [tertawa]. Sampai tua, nggak bisa menaikkan layang-layang. Nggak sempat main. Kerja terus. Saya menulis untuk diterbitkan. Untuk dapat uang. Habis, dari mana uang? Melihara kambing
juga, nyariin makan segala macam. Lantas dihina oleh murid-murid sekolah pemerintah.  Saya pernah mengadu sama ibu saya. `Bu saya dihina sama orang-orang sekolah pemerintah.’ `Kenapa kau dihina? Kamu berani kerja, mereka nggak.’ Ibu
saya bilang.  `Udah biar saja.’

PLAYBOY: Ayah Anda direktur sekolah tapi masih kesulitan keuangan ya?

PRAM: Direktur itu gajinya 17 Gulden setiap bulan.

HAPPY: Katanya anda sering membuat perempuan bule patah hati, benar?

PRAM: Banyak [tertawa]. Biasanya mahasiswi. Setiap negara, saya punya pacar. Begitulah.

PLAYBOY: Pacar yang bagaimana? Yang sehari kenal?

PRAM: Iya [tertawa]. Ada yang mau ikut saya segala macam. Nyusul segala. Anakanak Jerman itu…

HAPPY: Kenapa? Karena Anda ganteng atau pintar merayu?

PRAM: Nggak tahu [tertawa].

PLAYBOY: Kalau mendengar kata seks, apa yang terlintas di benak Anda?

PRAM: Kalau sekarang sih, nggak ada apa-apa. Kalau dulu, kebakaran [tertawa].

HAPPY: Saya jadi tergila-gila Kartini karena Anda. Kalau Anda kenapa tergila-gila Kartini?

PRAM: Kartini? Mestinya saya punya empat jilid tulisan tangan Kartini.  Dibakar sama militer. Tulisan itu hasil studi lapangan. Menemui saudara-saudaranya.  Malah saya punya buku keluarga, masih tulisan Jawa. Itu dibakar semuanya. Kartini, itu orang luar biasa. Mendirikan sekolah dengan tenaga sendiri. Dia satu-satunya perempuan dengan pendidikan Barat, waktu itu.

PLAYBOY: Tapi akhirnya dia menyerah pada keadaan, kawin dengan Bupati.

PRAM: Dia harus mendengarkan kemauan keluarga. Dan keluarga disuruh oleh Residen. Biasa waktu itu.

HAPPY: Menurut Anda, perempuan itu yang penting cantik atau pintar?

PRAM: Bagaimana dia membentuk dirinya saja. Belajar hidup.

PLAYBOY: Dalam Mereka yang Dilumpuhkan, Anda menulis perempuan Sunda harganya paling tinggi. Maksud Anda?

PRAM: Itu karena perkebunan-perkebunan teh Jawa Barat banyak dikuasai

Belanda. Akhirnya anak-anaknya banyak yang jadi Indo [setengah bule].

HAPPY: Dari semua negara yang pernah Anda kunjungi, perempuan mana yang paling cantik?

PRAM: Dari Cina [tertawa].

PLAYBOY: Ada apa dengan perempuan Cina? Apa karena Cina di masa muda Anda adalah Cina yang sedang membentuk jati diri nasionalismenya?

PRAM: Di antaranya. Dinamika dalam masyarakatnya.

PLAYBOY: Dalam Hoakiau di Indonesia Anda membantah anggapan sebelumnya tentang kolonialisme mengistimewakan masyarakat etnis Cina. Sekarang, etnis Cina teristimewakan secara ekonomi tidak?

PRAM: Mereka itu punya produktivitas yang lebih dari pribumi. Ini yang membuat mereka jadi bersinar. Bukan hanya Cina di sini. Cina di negerinya sendiri. Produktivitasnya lebih hebat.

PLAYBOY: Pernah merasa malu jadi orang Indonesia?

PRAM: Saya bangga jadi orang Indonesia. Sebab seorang diri saya menulis. Dan itu yang mendapat berkahnya bangsa. Saya nggak merasa kecil hati sebagai anak bangsa. Saya merasa berjasa. Karya sudah diterjemahkan.

PLAYBOY: Tapi Anda diasingkan ke Pulau Buru tanpa ada pengadilan dulu?

PRAM: Bukan suatu kesalahan jadi anggota Lekra.

PLAYBOY: Kekuasaan belum berpihak pada kesejarahan yang benar, berarti bangsa ini akan tetap begini?

PRAM: Itu bagaimana yang membuatnya saja. Sejarah itu kan, pribadi-pribadi yang bikin. Terserah yang bikinnya saja. Ya kalau kekuasaan nggak memperhatikan sejarah, publik yang memperhatikan. Itu nggak bisa dilarang, hak publik. Setiap
terpelajar mulailah mendokumentasikan sejarah. Supaya setiap saat punya bahan yang bisa dipakai. Tanpa dokumentasi, gerayangan saja. Dan mendokumentasi itu belum merupakan tradisi Indonesia. Mesti dimulai.

PLAYBOY: Kenapa Anda sangat bersemangat dalam hal sejarah?

PRAM: Lihat. Bangsa Indonesia itu praktis belum memulai mendokumentasi sesuatu.  Bagaimana tahu sejarah? Wong sumbernya di situ. Mendokumentasikan berita koran, belum jadi tradisi. Saya mulai memang, tapi belum jadi tradisi. Kita nggak belajar dari Barat. Kurang belajar dari Barat.  Sehingga tentang Indonesia, orang Barat yang nulis. Yang perlu itu, kebutuhan untuk jadi bangsa yang modern. Bahkan kita nggak memerlukan tradisi warisan nenek moyang sendiri. Semua menjadi beban. Lebih baik dibuang saja. Saya sendiri sudah membuang Javanisme dalam diri saya.

PLAYBOY: Tapi kan manusia suka romantisme masa lalu?

PRAM: Itu hak setiap orang untuk suka ini, suka itu. Tapi, perlu atau nggak. Yang kita perlukan itu yang akan datang. Dan ini perlu kesiapan.

PLAYBOY: Apa hal dari Kejawaan yang anda rindukan? Wayang misalnya?

PRAM: Saya nggak suka wayang. Pertama, itu bukan Jawa, tapi India. Wayang sudah berhenti sejak umur 17-an, karena nggak ada. Saya pindah ke Jakarta kan nggak ada. Saya ingin mendengar gamelan. Itu ada kasetnya, tapi nggak ada yang memasangkan.

PLAYBOY: Kenapa gamelan?

PRAM: Rindu saja. Itu sejak kecil musik saya gamelan. Gamelan itu merupakan mahkota. Saya puluhan tahun nggak dengar gamelan.

PLAYBOY: Banyak yang menganggap dalam Arok Dedes, Ken Arok sebagai simbolisasi karakter Soeharto. Apa yang sama dan apa yang tidak?

PRAM: Lho nggak tahu saya. Siapa yang bikin? Bukan saya yang membandingkan.

PLAYBOY: Menurut Anda, sama?

PRAM: Soalnya bukan sama. Harto masih hidup, Arok sudah nggak ada [tertawa].

PLAYBOY: Mungkin orang melihat kesamaannya, dalam pengkhianatannya?

PRAM: Soeharto orang yang nggak mau bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri, sampai sekarang. Perebutan kekuasaan saja.

PLAYBOY: Tidak ingin bertemu Soeharto?

PRAM: Nggak mau saya. Tapi dia pernah kirim surat. Dia bilang, kesalahan itu manusiawi. Tapi kita harus punya keberanian untuk yang benar dan dibenarkan.

PLAYBOY: Bagaimana pandangan Anda terhadap penguasa sekarang?

PRAM: Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya.
SAYA NGGAK SUKA MILITER INDONESIA. ITU GRUP BERSENJATA MENGHADAPI RAKYAT YANG NGGAK BERSENJATA. KALAU ADA PERANG INTERNASIONAL, LARI TERBIRIT-BIRIT. KARENA BIASANYA YANG DILAWAN RAKYAT TANPA SENJATA. Saya menulis untuk mengagungkan kemanusiaan,mesti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenang.

PLAYBOY: Pada kekuasaan seperti apa Anda akan percaya?

PRAM: Yang benar. Apa yang diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yang ada ngelantur ke mana-mana. Nggak  ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yang begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Soeharto, kok nggak melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selama angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yang bakal jadi pemimpin.

PLAYBOY: Orde Baru juga membangun gerakan pemuda dengan caranya  sendiri. Kalau masih sebagai alat politis juga?

PRAM: Ini dunia. Bukan sorga. Ada yang baik dan yang jelek. Berkembang bersama-sama.

PLAYBOY: Menurut Anda sejarah kepemimpinan kita berhenti sampai  Soekarno?

PRAM: Soekarno itu suatu contoh. Dia menguasai persoalan budaya, politik, geografi. Sekarang ini geografi nggak dapat perhatian apa-apa. Persoalannya, ini tanah air lebih banyak lautnya daripada daratnya. Itu sudah masalah. Dan kekuasaan di laut nggak punya. Kekuasaan di darat terus. Belum pernah ada pernyataan Indonesia itu negara maritim. Belum pernah ada.

PLAYBOY: Soekarno satu-satunya pemimpin ideal di mata Anda. Tapi, karena Hoakiau di Indonesia dia memenjarakan Anda.

PRAM: Oh yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno.

PLAYBOY: Anda masih punya dendam terhadap militer?

PRAM: Saya nggak suka militer Indonesia. Itu grup bersenjata menghadapi rakyat yang nggak bersenjata. Kalau ada perang internasional, lari terbirit-birit. Karena biasanya yang dilawan rakyat tanpa senjata. Tapi saya nggak punya dendam kepada siapapun. Semua saya anggap tantangan sport. Saya menjawabnya, dengan menulis. Itu yang saya bisa. Dan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa karyakarya saya. Seluruh dunia, kecuali Afrika yang belum pernah diterjemahkan.

PLAYBOY: Mendendam kepada pembakaran dan perampasan karya Anda dulu?

PRAM: Wah, saya nggak bisa memaafkan. Yang dibakar aja delapan. Belum yang hilang di penerbit-penerbit. Nggak tahu kok, sejarah saya sejarah perampasan. Nggak ngerti saya. Ini pendengaran saya juga hilang. Ini kerjaan militer juga, yang bikin saya setengah tuli. Dihajar pakai popor senapan.

PLAYBOY: Anda sakit hati?

PRAM: Itu semua saya sekali lagi terima sebagai tantangan sport. Rumah dirampas sejak tahun ’65 sampai sekarang. Nggak ngerti saya, orang kok bisa begitu. Dan perpustakaan yang dikumpulkan puluhan tahun, dibakar begitu saja. Saya nggak ngerti orang bisa begitu. Belum naskah asli delapan yang belum sempurna, dibakar. Ini nggak bisa saya maafkan.

PLAYBOY: Setelah itu habis, Anda pernah berusaha menuliskannya lagi?

PRAM: Nggak bisa. Mood-nya sudah lain. Nulis lagi nggak bisa. Perpustakaan dibakar. Salahnya apa? Saya mengumpulkan satu demi satu belasan tahun itu, tapi sekarang sudah ada lagi perpustakaan di lantai tiga, kalau mau lihat.

PLAYBOY: Pandangan Anda terhadap anak-anak Soekarno?

PRAM: Nggak ada istimewanya. Tidak seperti bapaknya. Ke sini pun pada nggak.

PLAYBOY: Anda dekat dengan Soekarno?

PRAM: Kadang-kadang ngajak ketemu. Dia juga tidak kenal saya. Pernah nanya, Mas Pram Islamolog ya?’ [tertawa].

PLAYBOY: Ada anggapan negara ini terlalu besar untuk dipertahankan  sebagai negara kesatuan. Menurut Anda?

PRAM: Ini secara geografi, Indonesia itu memang satu. Dulu namanya Nusantara waktu Majapahit. Waktu Singasari, Dipantara. Dipa itu benteng. Benteng antara dua benua. Nusantara, kepulauan antara dua benua.

PLAYBOY: Kalau Indonesia menjadi negara federasi?

PRAM: Itu terserah kehendak publik. Cuma, kalau federal ya aturannya jadi banyak sekali. Setiap daerah punya aturan sendiri

PLAYBOY: Anda juga sering protes soal nama Indonesia.

PRAM: Persoalannya yang menamai [Indonesia] itu Inggris.

PLAYBOY: Harusnya?

PRAM: Nusantara saja cukup. Atau Dipantara.

PLAYBOY: Katanya, Bumi Manusia sudah dibeli right-nya. Konon, Oliver Stone mau mengambil hak untuk filmnya. Kenapa Anda menolak?

PRAM: Cuma US$ 60 ribu [tertawa].

PLAYBOY: Tapi, Anda menjualnya ke seorang pengusaha Indonesia?

PRAM: Itu satu setengah milyar. Dan harus tunai.

PLAYBOY: Jadi persoalannya cuma karena harga.Tapi kan magnitudenya berbeda kalau Hollywood yang membeli?

PRAM: Terserah pembuatnya saja. Saya nggak mencampuri itu. Haknya pembeli.

PLAYBOY: Selain Bumi Manusia, yang sudah dibeli film right-nya, apalagi?

PRAM: Ini yang sedang dalam pembicaraan itu, Mangir. Tapi saya nggak  ingat siapa orangnya. Nama-nama dan angka sulit saya ingat.

PLAYBOY: Punya harapan terhadap film itu kalau jadi nantinya?

PRAM: Terserah. Itu hak pembeli.

PLAYBOY: Kalau karya Anda difilmkan, punya keinginan untuk menontonnya dulu sebelum meninggal?

PRAM: Sulit melihat saya. Nggak tahu ini mata, kok mengganggu saya.

PLAYBOY: Bagaimana Anda melihat kondisi penulis sekarang?

PRAM: Pengalaman hidup lain dari penulis-penulis baru ini. Jadi, rasa-rasanya ya kurang sreg gitu [tertawa].

PLAYBOY: Terakhir Anda baca apa?

PRAM: Wah sudah sulit saya baca. Paling koran dan kliping. Buku ya selintas saja. Matanya sudah sulit untuk melihat. Inilah anehnya jadi tua [tertawa]. Pikun. Kacamata dicari-cari tahunya dipakai.

PLAYBOY: Puisi?

PRAM: Nggak pernah. Satu puisi yang pernah saya baca, karya Chairil.  Hidup saya prosais. Walaupun dulu pernah buat dua, tiga puisi. Nggak ada kesan. Kecuali karya Chairil yang “Aku”. Pada waktu itu pendudukan Jepang yang kejam sekali. Dan Chairil menantang kan. `Saya binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.’ Itu kan menolak Jepang. Dia nggak mau jadi budaknya Jepang. Sajak itu membuat ditangkap

Polisi Militer Jepang. Tapi dilepas lagi. Luar biasa itu. Menantang kekuasaan militer Jepang.

PLAYBOY: Ada yang menganggap Chairil tidak bisa menulis, menurut Anda?

PRAM: Dia kan terlampau muda matinya. Saya pernah ketemu sekali saja di atas keretaapi, di Karawang. Dia megangin tangan temannya. `Kau yang bertanggungjawab ya. Kau yang bertanggungjawab ya.’ Mungkin takut dia. Karawang kan pusat Laskar Rakyat.

PLAYBOY: Selain kliping, apa lagi yang biasanya Anda kerjakan di rumah ini?

PRAM: Bakar sampah. Pagi biasanya setengah lima saya bangun. Masih sepi semua dan belum tentu ada kopi. Saya nempel-nempel kliping. Sudah ada delapan meter mungkin kliping. Jadi nanti kalau orang cari apa-apa, klipingnya sudah disusun menurut abjad. Dan saya rasa nggak ada yang bikin kliping. Itu nanti siapa saja boleh kalau mau cari informasi di kliping. Tapi masalahnya geografi saja. Saban hari bertambah.

PLAYBOY: Apa kenikmatan membakar sampah?

PRAM: Ada kenikmatannya, aku bisa bilang: `lihat, aku bisa hancurkan kau!’ [tertawa].

PLAYBOY: Selain kliping dan bakar sampah, apa lagi yang Anda kerjakan?

PRAM: Jalan. Mondar-mandir. Membetulkan cabang-cabang yang nggak perlu, dibabat. Saya senang di sini, nggak terganggu keributan kota. Melihat ke sana lihat rumput, lihat kolam ikan, kolam renang. Nggak ada keinginan apa-apa lagi.

PLAYBOY: Siapa yang mengajak Anda pindah ke sini?

PRAM: Ada orang dekat menawarkan tanah. Saya mau karena jauh dari Jakarta. Nggak kuat saya di Jakarta. Di sini sejuk. Anginnya sehat. Jakarta itu air tanahnya sudah campur tai semua. Itu masalah pokok. Belum macetnya. Belum kejahatannya. Sepanjang jalan kejahatan melulu.

PLAYBOY: Kenapa tidak kembali ke Blora?

PRAM: Nggak. Kalau pulang ke Blora, ingat kesedihan waktu kecil. Jam setengah lima sudah harus belanja ke pasar. Pulang terus sekolah. Pulang sekolah, cari kayu bakar. Ngurus kambing, ngurus adik-adik. Apalagi waktu orangtua meninggal semua. Semua jatuh ke tangan saya, sebagai anak pertama. Nyekolahkan, kasih makan.

PLAYBOY: Masih ingat tulisan pertama Anda?

PRAM: Kan sudah dibakari militer. Ada waktu di SD saya nulis naskah. Saya kirim ke penerbit Kediri, Tan Kun Shui. Ditolak [tertawa]. Ceritanya macem-macem. Nggak bisa mengingat lagi. Ya itu pembakaran tahun ’65. Kehilangan banyak naskah.

PLAYBOY: Tidak pernah mencoba rokok selain Djarum?

PRAM: Nggak. Kebiasaan saja. Ini Djarum asbaknya. Pernah coba rokok putih. Nggak cocok.

PLAYBOY: Sewaktu di Pulau Buru kan tidak selalu bisa beli rokok?

PRAM: Menanam sendiri tembakaunya. Kerasnya persetan. Dan kulitnya, kalau nggak ada kertas, Injil segala dipakai [tertawa].

PLAYBOY: Di Pulau Buru, tahanan hanya boleh membaca buku agama. Bagaimana rasanya membaca buku tentang hal yang tidak Anda percaya?

PRAM: Ya makin tidak percaya [tertawa].

PLAYBOY: Hasil membaca buku tentang Hindu dan Budha melahirkan Arok Dedes.  Kenapa tidak ada buku hasil refleksi Anda tentang hubungan Islam dan Kristen?

PRAM: Waktu itu belum jadi persoalan. Belum ada Kristen-Islam.

PLAYBOY: Selama di Pulau Buru, tidak pernah memikirkan kebutuhan biologis?

PRAM: Nggak berbuat apa-apa. Diterima saja semuanya sebagaimana adanya. Semua kan dicurahkan pada tulisan.

PLAYBOY: Apa yang paling tidak bisa Anda lupakan dari Pulau Buru?

PRAM: Banyak. Antaranya saya menemukan mangga di pinggir kali. Lantas, saya kembangbiakkan. Jadi banyak. Nanti kalau ke Buru, ada pohon mangga, ingat saya [tertawa]. Tadinya nggak ada di pedalaman. Saya melihara ayam delapan.
Telornya itu untuk beli rokok, beli kertas, beli karbon di pelabuhan. Karena sayakan di pedalaman.  Dan saya senang sekali, sekarang Pulau Buru jadi gudang beras Maluku. Pekerjaan kami itu. Jalanan kami bikin sepanjang 175 km. Belum sawahnya. Belum irigasinya.  Belum ladangnya. Kalau sore itu udaranya dihiasi pelangi. Kalau hujan, air dengan keras turun ke bawah. Ikan melawan arus air hujan. Tinggal tangkap saja. Berkarungkarung itu [tertawa]

Pramoedya Ananta Toer sangat berminat dalam penulisan sejarah.

Dia bisa melakukannya lewat non fiksi dan fiksi. Lewat novel dia melukiskan sejarah agar tidak membosankan. Hidup Pram adalah sejarah itu sendiri.  Sejarah tentang kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Sejarah tentang manusia yang menolak belenggu sejarah dengan kuasa alam nalarnya, yakni lewat jalan menulis.

YANG HILANG DAN DIMUSNAHKAN DARI PRAM

Kuasa pengetahuan lebih dahsyat maha terjangnya daripada kuasa fisik yang represif. Terbukti karya Pram tetap dibaca orang meski dia dibelenggu di Buru, gulag yang dipagari laut. Berikut beberapa naskah Pram yang hilang dan dimusnahkan:

01. Sepoeloeh Kepala Nica [1946], hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.

02. Bagian dari Di Tepi Kali Bekasi, dirampas Marinir Belanda, 22 Juli 1947.

03. Mari Mengarang [1954], tak jelas nasibnya di tangan penerbit, 1955.

04. Kumpulan Karja Kartini, dibakar tahun 1965, bagian-bagiannya sempat dimunculkan beberapa kali.

05. Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

06. Panggil Aku Kartini Sadja, jilid III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

07. Sedjarah Bahasa Indonesia. Satu Pertjobaan [1964]; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

08. Lentera [1965], tak jelas nasibnya di tangan penerbit.

09. Kumpulan Cerpen Bung Karno.

10. & 11. Dua jilid terakhir trilogi Gadis Pantai.

SASTRA, SENSOR, DAN NEGARA:

Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?
Pramoedya Ananta Toer *)

Saya warganegara Indonesia dari ethnik Jawa. Kodrat ini menjelaskan,
bahwa saya dibesarkan oleh sastra Jawa, yang didominasi oleh sastra
wayang, lisan mau pun tulisan, yang berkisah tentang Mahabharata dan
Ramayana versi Jawa, serta kunyahan-kunyahan atasnya dengan masih
tetap bertumpu pada kewibaan Hindu.

Sastra yang dominan ini tanpa disadari mengagungkan klas atau kasta
satria, sedang klas-klas atau kasta-kasta dibawahnya tidak punya peran
sama sekali. Pekerjaan pokok kasta satria adalah membunuh lawannya.

Selain sastra wayang yang agak dominan adalah sastra babad, juga
mengagungkan kasta satria, yang ditangan para pujangganya menyulap
kejahatan atau kekalahan para raja menjadi mitos yang fantastik.

Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan Sultan
Agung, raja pedalaman Jawa, yang dalam operasi militer terhadap
Batavia-nya Belanda pada dekade kedua abad 17 telah mengalami
kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan kekuasaannya atas Laut
Jawa sebagai jalan laut internasional.
Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut
Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut,
di sini Laut Selatan (Samudera Hindia).

Mytos ini melahirkan anak-anak mytos yang lain: bahwa setiap raja
Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut. Anak mytos lain: ditabukan
berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. Ini untuk memutuskan asosiasi
orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. Dan tanpa disengaja oleh
pujangganya sendiri Sang Dewi telah mengukuhkan kekuasaan para raja
Mataram atas rakyatnya. Bahkan menjadi polisi batin rakyat Mataram.

Di sini kita berhadapan dengan sastra dalam hubungan dengan negara,
dan dipergunakan oleh negara, dengan fungsi pengagungan kastanya
sendiri. Diturunkan dari generasi ke generasi akibatnya adalah
menafikan kemajuan zaman, memberikan beban histori yang tidak perlu,
membuat orang beranggapan bahwa masa lalu lebih baik daripada yang
sekarang.

Pendapat ini yang membuat saya meninggalkan sama sekali sastra
demikian. Meninggalkan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan
dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, sejauh pengalaman saya,
langsung saya bertemu dengan sastra hiburan, memberikan umpan pada
impian-impian naluri purba pada pembacanya.

Sejalan dengan Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat tak
langsung keekuasaan agar masyarakat tak punya perhatian pada kekuasaan
negara. Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak
mengindahkan politik.

Sastra dari kelompok kedua ini membawa pembacanya berhenti di tempat.
Karena pengalaman pribadi sebagai anak keluarga pejuang kemerdekaan
maka saya memaafkan diri sendiri kalau tidak menyukai sastra golongan
kedua ini.

Seiring dengan pengalaman pribadi tersebut, walau pada awalnya tidak
saya sadari, langsung saya tertarik pada sastra yang bisa memberikan
keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang-dunia baru, harkat manusia,
dan peran individu dalam masyarakatnya.
Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya
dianggarkan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang
dicitakan.

Sastra dari golongan ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di
bidang kreasi. Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya
pada tahap dan sitiuasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan
bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari
sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan kekuasaan,
standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai individu
terpancarkan baik dengan sadar atau tidak.

Sampai di sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevalusi
kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena pengarang
bersangkutan tidak puas, bahkan merasa terpojokkan, bahkan tertindas
oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseru, malah melawan, bahkan
memberontak.

Bukan suatu kebetulan bila pernah dikatakan pengarang – dengan
sendirinya dari golongan ketiga ini – dinamai opposan, pemberontak,
bahkan biang revolusi seorang diri dalam kebisuan.
Di negara-negara dengan kehidupan demokratis beratus tahun
kalah-menang dalam pertarungan idea adalah suatu kewajaran. Itu bukan
berarti bahwa demokrasi tidak punya cacat.

Eropa yang demokratis, di Eropa justru tidak demokratis di
negeri-negeri yang dijajahnya. Sebagai akibat di negeri-negeri
jajahannya yang tak mengenyam demokrasi kalah-menang dalam pertarungan
idea bisa dilahirkan dendam berlarut sebagai akibat konsep tradisional
tentang gengsi pribadi dan panutan patrimonial.

Di Indonesia sensor atas karya sastra dikenal baru dalam dekade kedua
abad ini. Sebelumnya atas karya sastra sensor lebih banyak ditujukan
pada mass-media. Dan sejalan dengan tradisi hukum tindakan terhadap
delik pers diputuskan melalui pengadilan.

Larangan terhadap beredarnya beberapa karya sastra Mas Marco
Kartodikromo, di luar tradisi, diberlakukan tanpa prosedur hukum, dan
dilakukan oleh pejabat-pejabat Pribumi kolonial setempat. Larangan dan
penyitaan, juga oleh pejabat kolonial Pribumi pernah dilakukan
terhadap karya ayah saya, tetapi karya itu bukan karya sastra tetapi
teks pelajaran sekolah-sekolah dasar yang tidak mengikuti kurikulum
kolonial.

Larangan terhadap karya sastra memang suatu keluarbiasaan.
Berabad lamanya setelah kerajaan-kerajaan maritim terdesak kekuatan
Barat dan menjadi kerajaan-kerajaan pedalaman atau desa yang agraris
kekuasaan feodalisme yang semata-mata dihidupi petani mengakibatkan
lahirnya mentalitas baru yang juga merosot.
Para pujangga Jawa mengukuhkan budaya “teposliro” (tahu diri),
kesadaran tentang tempat sosialnya terhadap kekuasaan sesuai dengan
hierarkinya, dari sejak kehidupan dalam keluarga sampai pada puncak
kekuasaan.

Penggunaaan eufemisme (= Jawa : kromo) sampai 7 tingkat yang berlaku
sesuai hierarki kekuasaan menterjemahkan semakin kerdilnya budaya
tradisional. Maka dalam sastra Jawa evaluasi dan reevaluasi budaya
belum pernah terjadi.

Itu bisa terjadi hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang kalau
perlu, menafikan semua eufemisme, maka juga dalam sastra Indonesialah
sensor kekuasaan bisa terjadi.

Idea-idea dari semua penjuru dunia yang ditampung oleh masyarakat
modern Indonesia pada menjelang akhir abad 20 sudah tak mungkin
dibendung pantulannya oleh kekuasaan yang segan menjadi dewasa.

Untuk memungkinkan orang-orang dengan kekuasaan negara dapat tidur
dengan nyenyak tanpa perlu memajukan dirinya lembaga sensor memang
perlu diadakan.

Jawa dikodratkan memiliki faktor-faktor geografi yang menguntungkan.
Dari semua pulau di Indonesia di Jawalah penduduknya berkembang
sebagai faktor-faktor klimatologis yang mendukung pertanian. Bukan
suatu kebetulan bila kolonialis Belanda membuat Jawa jadi pusat
imperium dunianya di luar Eropa.
Dengan kepergiannya, masih tetap jadi pusat Indonesia, dengan
penduduknya mayoritas di seluruh Indonesia, masuknya sejumlah budaya
tradisional ke dalam kekuasaan negara memang tidak dapat dihindarkan.
Di antara budaya tradisional Jawa yang terasa menekan ini adalah
“tepo-sliro” , kehidupan kekuasaan sekarang dinamai dengan bahasa
Inggris “self-cencorship” . Nampaknya elit kekuasaan malu menggunakan
nama aslinya.

Dengan demikian menjadi salah satu faset dalam kehidupan modern
Indoensia bagaimana orang menyembunyikan atavitas/atavisme.
Saya cenderung memasukkan sastra golongan ketiga ini ke dalam sastra
avant garde. Saya nilai pengarangnya mempunyai keberanian mengevaluasi
dan mereevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan.
Dan sebagai individu seorang diri sebaliknya ia pun harus menanggung
seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang merasa terancam
kemapanannya.

Jadi sampai seberapa jauh karya sastra dapat berbahaya bagi negara?

Menurut pendapat saya pribadi karya sastra, di sini cerita, sebenarnya
tidak pernah menjadi bahaya bagi negara. Ia ditulis dengan nama jelas,
diketahui dari mana asalnya, dan juga jelas bersumber dari hanya
seorang individu yang tak memiliki barisan polisi, militer, mau pun
barisan pembunuh bayaran.

Ia hanya bercerita tentang kemungkinan kehidupan lebih baik dengan
pola-pola pembaruan atas kemapanan yang lapuk, tua, dan kehabisan
kekenyalannya.

Dalam pada itu setiap negara pada setiap saat bisa berubah dasar
sistemnya, dengan atau tanpa karya sastra avant garde. Perubahan
demikian telah dialami oleh negara Indonesia sendiri dari demokrasi
liberal menjadi demokrasi terpimpin dan kemudian demokrasi pancasila,
yaitu era kemerdekaan nasional setelah tumbangnya negara kolonial yang
bernama Hindia Belanda dan peralihan pendudukan militeristis Jepang.

Dalam masa demokrasi liberal di mana negara tetap berdasarkan
pancasila yang tak banyak diacuhkan, dalam masa demokrasi terpimpin,
sewaktu Presiden Soekarno dengan segala konsekuensinya hendak mandiri
dan mengebaskan pengaruh dan keterlibatan perang dingin para adikuasa,
pancasila lebih banyak dijadikan titik berat. Soekarno sebagai
penggali pancasila tidak bosan-bosannya menerangkan bahwa pancasila di
antaranya digali dari San Min Chui Sun Yat Sen, Declaration of
Independence Amerika Serikat, dan Manifes Komunis dalam hal keadilan
sosial.

Semasa demokrasi pancasila yang ditandai dengan gerakan
de-Soekarnoisasi, rujukan-rujukan Pancasila bukan saja tidak pernah
disebut lagi bahkan pernah ada upaya dari seorang sejarawan orde baru
yang membuat teori bahwa pancasila bukan berasal dari Soekarno.

Dalam sejumlah peralihan ini tidak pernah terbukti ada karya sastra
yang memberikan pengaruhnya. Dan memang sastra avant garde praktis
belum pernah lahir.

Karya-karya sastra Indonesia praktis baru bersifat deskriptif. Bila
toh ada avant garde yang lahir itu terjadi semasa penindasan
militerisme Jepang, suatu pemberontakan yang terjadi sama kerasnya
dengan penindasannya.

Individu tersebut, Chairil Anwar, dengan sajaknya “Aku”, menyatakan
Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan
sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah
Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus
bertanggung- jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan
menganiayanya.

Memang kemudian ia dibebaskan. Ironisnya masyarakat pembaca yang
banyak membaca dan menyukai sajak tersebut dan umumnya tak dikaitkan
dengan masa pendudukan militeris Jepang waktu ia menciptakannya.

Maaf kalau saya hanya bicara tentang sastra Indonesia. Namun saya
percaya bicara tentang sastra mana pun adalah juga bicara -walau tak
langsung- tentang sastra regional dan internasional sekaligus, karena
setiap karya sastra adalah otobiografi seorang individu, seorang dari
ummat manusia selebihnya, yang mempersembahkan pengalaman batinnya
pada kolektivitas pengalaman ummat manusia.

Berdasarkan historinya Indonesia memerlukan sebarisan besar pengarang
dari golongan avant garde. Berabad lamanya rakyat bawah membiayakan
feodalisme. Dengan kemenangan kolonialisme mereka kemudian juga harus
membiayai hidupnya kolonialisme. Walau feodalime sebagai suatu sistem
sudah dihapuskan oleh proklamasi kemerdekaan namun watak budayanya
masih tetap hidup, bahkan elit kekuasaan mencoba melestarikannya.

Sastra avant gardelah yang menawarkan evaluasi, reevalusi, pembaruan,
dan dengan sendirinya keberanian untuk menanggung resikonya sendirian.

Di sini menjadi jelas bahwa cerita, karya sastra, sama sekali tidak
berbahaya bagi negara yang setiap waktu dapat berganti dasar dan
sistem. Karya sastra para pengarang avant garde hanya mengganggu tidur
pribadi-pribadi dalam lingkaran elit kekuasaan, yang kuatir suatu kali
cengkeramannya atas rakyat bawahan bisa terlepas.

Saya sendiri, walau berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan
sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan nasional
ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya selama 35,5 tahun.
2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun dirampas kekuasaan
militer semasa orde lama, dan 30 tahun semasa orde baru, diantaranya
10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16 tahun sebagai ternak juga
hanya dengan kode ET, artinya tahanan di luar penjara.

Sebagai pengarang barang tentu saya berontak terhadap kenyataan ini.
Maka dalam karya-karya saya, saya mencoba berkisah tentang tahap-tahap
tertentu perjalanan bangsa ini dan mencoba menjawab: mengapa bangsa
ini jadi begini?

Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas
permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak
jadi soal. Larangan-larangan tersebut malah memberi nilai lebih pada
karya-karya tersebut tanpa disadari oleh kekuasaan.

Mungkin ada yang heran mengapa bagi saya sastra bertautan erat dengan
politik. Saya tidak akan menolak kenyataan itu. Menurut pandangan saya
setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi berbangsa, selalu
bertautan dengan politik. Bahwa seseorang menerima, menolak, bahkan
mengukuhi suatu kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa
seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan
politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada
kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak bisa
lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan ummat manusia.
Selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang mengatur atau pun
merusaknya, di situ setiap individu bertautan dengan politik.

Pernah lahir anggapan bahwa politik adalah kotor, maka sastra harus
terpisahkan dari politik.

Memang bisa saja politik kotor di tangan dan dari hati politisi yang
kolot. Kalau ada yang kotor barang tentu juga ada yang tidak kotor.
Dan bahwa sastra sebaiknya harus terpisahkan dari politik sebenarnya
keluar dari pikiran para pengarang yang politiknya adalah tidak
berpolitik.

Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian, ia
adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan selama
masyarakat ada, kekuasaan juga ada, tak peduli bagaimana
eksistensinya, kotor atau bersih. Dan dapat dikatakan sastra yang
“menolak” politik sesungguhnya dilahirkan oleh para pengarang yang
telah mapan dapam pangkuan kekuasaan yang berlaku.

* Pidato tertulis Pramoedya, yang disampaikan ketika menerima
penghargaan Magsaysay, di Manila,

__._,_.___

Fighting words

 

 


Oct-Dec 2006

Fighting words

In his last interview, Pramoedya kept up his attack on elitism and corruption.

Jeremy MulhollandPramoedya was well, and in high spirits, when I interviewed him at his home on 16 March 2006. Apart from bemoaning his burnt finger (a casualty of his favourite pastime, burning leaves and household rubbish), excessive thirst and frequent visits to the bathroom, he seemed in fine form. It’s hard to believe he had only a few weeks to live.

Our talk ranged over various aspects of Pramoedya’s interpretation and critique of the world around him, especially his views on the Indonesian elites. Throughout the interview, he was quick to deny any ideological allegiances and never explicitly framed his critique in terms of leftwing or Marxist ideology. Just as he had done many times in the past, he used the Javanese concept of priyayi (aristocratism) to interpret and condemn the behaviour of state powerholders. ‘I don’t believe the priyayi exist anymore,’ he said, ‘but as a state of mind, they are certainly still with us. Priyayi is always linked to power.’ For Pramoedya, the world of the priyayi is characterised by autocracy, social hierarchy, inequality, arbitrariness in the exercise of power, exploitation and conspicuous consumption. Pramoedya went on to explain that ‘in priyayi culture, tribute was a reward for services and recognition of the position of the priyayi as powerholders. Tribute was not considered in any way a form of corruption.’ Originally it was limited to a small circle of elites, but since the Japanese Occupation, people came to believe that it was necessary to be close to the centres of power to engage in business activities. This meant that people who had access to power were given privileged opportunities to amass extraordinary wealth. The result was the emergence of elite corruption, which Pramoedya critiqued in his 1954 novel, Korupsi.

In 1960 Pramoedya published his demystification of anti-Chinese stereotypes in the non-fiction history of the ethnic Chinese community in Indonesia, Hoakiau di Indonesia: ‘These military men supported anti-Chinese government regulations; it was obvious they were anti-Chinese. At the time, I was the only one who opposed their views and defended the Chinese.’ As a result, Pramoedya was kidnapped, interrogated, tortured and imprisoned for one long year. For the first two months, the interrogations and torture were carried out by the military lawyer Sudharmono who later became Suharto’s right hand man and, for a time, Vice President of Indonesia. Later, with the backing of the Indonesian Communist Party, Pramoedya enjoyed a brief period where he was relatively unassailable. From his base in Res Publika University, a small leftwing university run by Baperki, an association of pro-Sukarno Chinese Indonesians, he led vigorous attacks on those opposed to Sukarno’s cultural policies. Many at this time believed that these attacks were at least partly motivated by vengefulness.

Corruption and democracyReturning to the theme of corruption, Pramoedya claimed that ‘Suharto used corruption to bolster his power base’ following his seizure of power in 1966. Unlike the situation in the 1950s, New Order corruption was allowed to reach colossal proportions, and eventually transform into an institutionalised system. Suharto legitimised corruption by seeing it as an inevitable side-effect of the policy of development. For Pramoedya, ‘People saw how Suharto and his family and associates took part in corruption and were not penalised for it, so the lower levels also imitated these norms of behaviour.’ Discussing the period since Suharto stepped down in 1998, Pramoedya thought that significant progress had been made towards democratisation. Yet he believed that democratisation was of limited benefit, as long as badly-behaving members of the ruling elites continued to occupy positions of power. ‘How are we to clean up the KKN (Corruption, Collusion, Nepotism) mess with a dirty broom? Won’t we just make the floor dirtier?’ he quipped. Free elections could actually prevent significant dismantling of the KKN system, because winning an election is such an expensive business. In the context of money politics, newly elected or re-elected political leaders need connections with business leaders for financing election campaigns, patronage distribution and debt repayment.

Pramoedya finished our interview by pondering on the ongoing problem of paternalism. ‘We Indonesians live in a paternalistic society where “father is the boss” (bapakisme). Feudalism is based on paternalism. How can democracy be put into practice in a society that is paternalistic? My hope is that the younger generation will think for themselves, learn from the past and not imitate the wicked ways of the powerful during the New Order period.’ This hope is the challenge that Pramoedya has bequeathed to young Indonesians today.

Jeremy Mulholland (jeremypm@hotmail. com) is writing a PhD on Indonesian elites at the University of Melbourne.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers