Archive for the ‘Sastra’ Category

RAPAT YANG PENGHABISAN

Sumber:Chalik Hamid <chalik.hamid@yahoo.co.id>, in: Gelora 45 <GELORA45@yahoogroups.com>, Monday, 8 November 2010 14:34:41.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = =

Pada tangga 12 November 1926 merupakan hari pemberontakan pertama rakyat Indonesia melawan pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pemberontakan pertama ini berlangsung di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan ini menjadi teladan bagi rakyat Indonesia, bahwa betapa pun kuatnya sebuah pemerintahan Kolonial, namun ia bisa dilawan dan ditumbangkan. Walau pun pemberontakan ini banyak mengalami pukulan, namun ia merupakan api yang membakar semangat rakyat Indonesia. Untuk mengingat dan mengenang arti penting pemberontakan ini, secara berturut saya tampilkan tulisan-tulisan yang termuat dalam buku “Gelora Api 26″ terbitan `Ultimus` Bandung pada tahun 2010. Kita lanjutkan dengan cerpen “Rapat yang Penghabisan”  karya Agam Wispi

Salam: Chalik Hamid.

Agam Wispi:

Rapat yang penghabisan

Belum lagi matahari sempat terbenam, deretan toko di salah satu jalan yang ramai di Padang Panjang sudah ditutup dan lampu yang sudah terpasang waktu senja  demikian menyinarkan cahaya yang sedih dan muram.Ketika Udin sampai di depan sebuah pintu toko hari sudah malam. Ada beberapa saat dia meneliti sekitarnya  dengan matanya yang  tajam dan berpengalaman itu. Tak ada orang yang membuntutinya. Hanya di ujung jalan tampak seorang serdadu jaga sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. “Salmiah kau telah melakukan tugasmu dengan baik”, katanya dalam hati ketika dia dengan cepat menyeberangi jalan. Dari balik pintu terdengar jam dinding berdentang tujuh kali. Kemudian hati-hati dan pelan-pelan dia mengetuk pintu menurut isarat yang sudah ditentukan. Didengarnya seret langkah yang telah sangat dikenalnya dan Upik Bisu, seorang perempuan setengah muda, membuka pintu cepat-cepat, tersenyum dengan matanya yang ramah dan menelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa pertemuan akan berlangsung di kamar tengah. Dia menjulurkan tiga jari kanannya dan tahulah Udin bahwa tiga orang kawan telah menunggunya. Digenggamnya tangan Upik erat-erat sebagai orang yang telah lama tak berjumpa. Dan memang telah lama ke duanya tak berjumpa, sejak situasi menjadi sangat panas dan dia sibuk dengan pekerjaannya. Barangkali rapat ini rapat yang terakhir dan siapa tahu inilah saat yang penghabisan dia bisa melihat Upik Bisu, seorang kurir istimewa yang telah berkali-kali menelan surat-surat rahasia tapi dengan berhasil menuliskan kembali pesan-pesan dan perintah-perintah yang dibawanya dalam surat itu. Apakah yang tidak mereka perbuat terhadap wanita sederhana ini, ketika kata-kata sudah tidak lagi dibutuhkan ?  Demang, Asisten Residen , PID dan Komisaris Belanda yang mencoba memeriksanya  hanya berbuat sia-sia dan melepaskannya kembali. Seorang cantik yang bisu, dua hal yang menguntungkan dia untuk melakukan tugas-tugasnya. Kecantikan yang menggoda dan kebisuan yang gelap hanyalah riak di permukaan air bagi mereka yang tak mengenalnya, pikir Udin. Tapi hatinya yang lebih dalam daripada laut, kesetiaannya kepada perjuangan, takkan terselami oleh musuh-musuh Rakyat.

Bangga Udin berjalan di samping Upik Bisu di lorong antara deretan kamar. Tiba-tiba perempuan itu menangis dengan suaranya yang menyayat dan menelungkupkan mukanya ke dinding. Udin mengusap-usap kepalanya seperti dia mengusap kepala anknya yang kini berusia tiga belas tahun itu yang menangis karena dimarahi ibunya. Ah, sudah berapa lama dia tak melihat anaknya. Seperti tidak berhadapan dengan seorang yang bisu dia berkata:

“Pemberontakan kita gagal, Upik. Tapi jangan menangis, sebab kita takkan pernah dikalahkan”.  Dan seolah-olah kalimat itu mengandung arus listrik, tiba-tiba perempuan itu memalingkan mukanya yang basah. Matanya penuh dendam kemarahan dan dia mengepalkan tinjunya keras-keras. Upik mengerakkan jari telunjuknya dan membengkok-benhgkokkannya.

´´Tidak, Upik, kau jangan bawa senjata lagi . Siapa yang mau kau tembak sekarang. Lebih seribu serdadu Belanda kini berkumpul di Padang Panjang ini. Kawan-kawan hampir habis tertangkap. Musuh terlalu banyak dan peluru cuma sedikit. Siapa yang akan kau tembak?  Kau hanya akan bunuh diri saja´´.

Upik mencoba menahan diri dari rontaan-rontaan dalam hatinya.

´´Berilah browningmu padaku. Ini perintah Partai.´´

Dari balik bajukurungnya  Upik mengeluarkan sepucuk browning kecil-mungil dan meletakkannya dengan berat ke telapak tangan Udin

“Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan dirimu dulu sambil menunggu tugas-tugas baru“. Upik mendongakkan kepalanya dengan penuh harapan.

“Kau sudah jumpa Amir ?“ Upik menggeleng sedih.  “Tidak benar dia tertangkap, Upik. Dia licin seperti belut dan dapat lolos. Berbahagialah kau. Kini dia selamat bersembunyi di Medan“. Gelisah Upik memainkan ujung tocangnya.

´´Sementara ini kau tinggal di rumah ibuku dan tiga-empat hari lagi seorang kawan akan mengantarkanmu ke Medan. Kawan-kawan di sana akan mengurus perjalananmu ke luar negeri“.  Kerinduan dan kesedihan bergumul dalam diri Upik. Dia akan bertemu kembali dengan Amir yang dicintainya.  Dia tidak mati, dia tidak mati, katanya dalam hati. Tapi sebagai gadis yatimpiatu dalam perjuangan yang disertainya ada kesediahan yang berat untuk meninggalkan Udin, seorang yang lebih daripada ayah dan saudara baginya. Ada yang kosong dalam hatinya sekarang, seolah-olah inilah  saat terakhir bagi mereka. Gerak yang bisu hanya memungkinkan dia mengusap-usap lengan Udin dengan penuh kasih dan menunjuk-nunjuk dada Udin seperti berkata: “Jagalah dirimu, berjaga-jagalah”.

“Upik kau harus berangkat sekarang, jangan sampai terlalu larut di jalan”. Sekali kagi keduanya bersalaman erat-erat. Bergegas-gegas dia menuju ke pintu, keadaan tidak memungkinkan dia untuk menangis. Ketika dia sekali lagi berpaling untuk pandangan selamat tinggal, Udin melambaikan tangannya:

´´Selamat jadi penganten baru……..´´

*** Mereka duduk berempat mengelilingi sebuah meja kecil  diterangi lampu gantung. Bachtiar mengeluarkan notes, katanya:

´´Kami kira kau takkan bisa datang Din`´.

´´Dengan bantuan Haji Leman aku tiba dari luarkota dan bersembunyi di tokonya dekat sini´´.  Di bawah bayangan lampu itu muka Udin nampak tambah kurus dan cekung.

Bermalam-malam dia hampir tak tidur sama-sekali. Dia seperti tak kenal istirahat tapi juga tak kenal lelah. Dia mengurus pembelian senjata dari seorang insinyur Jerman, dia membagi-baginya dengan hati-hati dan teliti, kemudian ketika pemberontakan ini hampir padam, dia sibuk mencari uang dan mengatur segala sesuatu agar kawan-kawannya sempat melarikan diri. Adakah sudah setengah bulan ini dia tak bertemu dengan isterinya ? Tak dapat dia memastikannya. Barangkali ada lima kali dia sempat mencium kedua anaknya selama enam bulan ini.

´´Aku harus mengambil jalan keliling untuk sampai ke sini´´ – kata Salim mendengus dan menggulung rokok-nipahnya, ´´serdadu-serdadu jahanam itu baru saja meninggalkan penjagaannya di ujung toko sana dan mengejar-ngejar perempuan´´.  Bachtiar membalik-balik notesnya dan suasana tiba-tiba menjadi tegang ketika dia membacakan 97 nama mereka yang tertangkap selama minggu ini.

´´Tadi pagi saja atas petunjuk orang-orang Serikat Hijau telah tertangkap Karim, Abidin, Ahmad, Dulah, Rasidin, si Patai…….“

“Si Patai !´´  Udin hampir berteriak mengulangi kata itu karena tak percaya.

“Ya, si Patai. Ditangkap dan di tembak ketika itu juga´´.

“Kita kehilangan seorang jago pencak pemberani yang  setia,” – Udin berkata pelan, “lima pisau baginya belum apa-apa”.

“Ya, orang kampung selalu menyembunyikan si Patai. Tapi di luar keputusan kita, dia masuk kota lagi untuk membalas dendam. Lima serdadu dan dua orang Belanda  sudah ´merantau´ dibuatnya, siapa tahu di mana kuburnya. Tentu dia sekarang puas”.

“Kita kehilangan dia’’. Udin menghentam tangannya ke meja dengan geram dan kesal, “dan kita akan kehilangan lebih banyak lagi kalau gerakan-gerakan dijalankan sebelum dirundingkan”.

“Udin ! Bagaimana kau ini !” Kasim yang sejak tadi diam saja berkata tajam, “siapa bisa tahan melihat Komunis Buyung diikat lehernya dan diseret sampai mati sepanjang jalan oleh serdadu-serdadu Belanda itu ?  Dagingnya masih lengket di jalan-jalan, Udin. Siapa yang masih bisa membiarkan kebiadaban seperti ini ?”  Dia berdiri gelisah dan berjalan mondar- mandir di kamar itu.

“Kawan-kawan”,  Udin mengetok meja dengan buku jarinya, “marilah kita mulai rapat kita ini”. Kasim menghenyakkan dirinya di kursi, Bachtiar dan Salim membetulkan duduknya. Suasana tegang mereda dan ajakan memulai rapat itu terasa seperti sehembus angin sejuk yang masuk dari jendela ke kamar yang panas pengap. Udin meminta laporan tugas-tugas yang telah mereka jalankan, kemudian pendiskusian atas laporan keadaan yang terakhir.

Pemberontakan telah berjalan 21 hari dan pertempuran-pertempuran sengit terjadi berhari-hari. Serdadu-serdadu Belanda melakukan penyembelihan besar-besaran di Silungkang, pahlawan pemberani si Manggubung yang disayangi rakyat sudah mati digantung, ribuan Rakyat kini di tahan di dalam sekolah-sekolah  yang dijadikan kamp tawanan dan di balik dinding-dinding sekolah itu siksaan-siksaan yang paling buas sedang dijalankan hingga saat ini.

“Menurut pikiran saya kawan Udin harus segera melarikan diri ke luarnegeri, jalan untuk itu sekarang sedang terbuka luas” – kata Salim.

“Benar”, Bachtiar terbatuk-batuk, sudah dua hari ini dia diserang demam, “demgam begitu dalam masa surut kita bisa mengumpulkan kekuatan baru.”

“Tidak, apa kalian tidak ingat desas-desus yang disebar-sebarkan Serikat Hijau ?”  Kasim membantah “mereka dengan tidak tahu malu menyebarkan fitnah busuk. Huh, mengaku apa tidak kalian ?  Bodoh, ikut Komunis ! Srekarang rasakan cambuk dan gagang senapang di punggungmu, sedang si Udin , pemimpin Komunis itu sudah kawin tiga dengan perempuan dari Moskow”.

“Bedebah !  Adakah cara yang lebih kotor dari pembicaraan seperti ini ?!”

“Ya, tapi desas-desus itu sudah dengan sengaja disebarkan dan menjadi kenyataan. Dia meracuni semangat orang-orang yang disiksa’’.

‘’Memang, mengapa mereka segan menyebarkan desas-desus. Teror yang kejam dan begitu buas sudah mereka lakukan, tidak perduli anak-anak. Bukankah pajak yang menindas Rakyat kita itu sudah semacam teror ?  Pemberontakan tahun 1908 di Kamang dalam melawan pajak sudah menunjukkan Rakyat tidak akan tinggal diam. Rakyat di pihak kita, karena kita benar”.

Di mata Udin terbayang wajah Efendi, seorang pelajar Islam dari Tawalib yang menjadi Komunis. Di Balairungsari Demang sedang mengadakan rapat. Efendi lewat di tempat itu dengan memakai jas, dalam kebanggaannya dia  pakai dasi merah. Demang memerintahkan menangkapnya  dan lima orang Serikat Hijau menggeretnya ke suatu tempat, memukuli mukanya yang manis itu sampai hancur. Ketika itu juga Udin dalam sidang memutuskan agar pembalasan dijalankan. Hanya tiga hari. Kelima-lima orang teroris itu kemudian “merantau”.

“Rakyat bersama kita kawan-kawan”, – kata Udin dengan tenang, “kalau tidak sudah lama saya tertangkap. Merekalah yang melindungi saya  sehingga terhindar dari penangkapan-penangkapan. Itu satu-satunya yang dapat mereka perbuat sekarang ini, dalam keadaan pemberontakan kita sudah gagal”. Kemudian seperti guruh di sianghari dengan suara yang tetap Udin berkata:

“Kawan-kawan saya minta kebulatan kita semua dalam mengambil keputusan atas usul-usul saya ini. Saya akan membantu kalian yang mau melarikan diri. Tapi harus ada yang tinggal. Dan saya akan tinggal di sini untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan”.

“Tidak” – kata Bachtiar, “saya tinggal”.

“Saya tidak akan pergi” – kata Kasim.

Hanya Salim yang masih terdiam. Ketiga mereka seperti tergantung di bibirnya, menunggu sikapnya yang tegas, meskipun mereka sudah menduga-duga. Dengan suara berat Salim berkata:

“Saya ke luarnegeri”.

“Baik, saya akan buatkan surat yang harus kau bawa kepada nakhoda Ahmad  di Pakan Baru. Kau juga harus membawa surat-surat lain untuk kawan-kawan yang dapat membantumu,” – Udin berkata tegas, ´´kemudian kawan-kawan, putusan terpenting yang harus kita ambil dalam waktu singkat ini ialah bahwa kita harus membela yang sudah ditangkap. Sebarkan di kalangan mereka supaya mengakui segala yang mereka lakukan itu atas perintah saya”.

Bachtiar batu-batuk lagi, dengan sukar dia memotong: “Apa maksudmu?”

“Kawan-kawan, Belanda setengahmati mencari-cari saya. Saya tak bisa tahan lagi melihat mereka disiksa.  Bagaimanpun juga fitnah terhadap saya untuk merusak kecintaan Rakyat terhadap Partai kita, tidak boleh kita abaikan. Dari dua segi inilah saya hanya melihat jalan satu-satunya bahwa saya tidak akan menyembunyikan diri lagi untuk mengelakkan penangkapan. Semoga Partai kita kekal di hati Rakyat, semoga para kader Partai kita, kawan-kawan Komunis dan patriot-patriot yang kini ditahan itu bebas dari siksaan kejam. Bagaimana?  Saya minta persetujuan kawan-kawan, karena hanya inilah jalannya…” Tidak ada jawaban.

“Bagaimana ?  Berilah putusan “.

Tidak ada jawaban. Hening yang tak terkatakan merasuk ke seluruh kamar. Di bawah lampugantung itu, Bachtiar, Kasim dan Salim tampaknya seperti patung batu yang sedang menundukkan kepala.

“Kawan-kawan, katakanlah. Tidak ada jalan lain, tapi berilah putusan”.

Lama tidak ada jawaban. Tiba-tiba Bachtiar berdiri, matanya basah. Dia ingin mengucapkan sesuatu tapi kerongkongannya tersekat. Melihat Bachtiar berdiri seperti ditarik magnit semua berdiri. Dengan susahpayah  Bachtiar keluar dari kursinya, dirangkul dan dipeluknya Udin erat-erat, Salim mencium Udin tak lepas-lepas, sedang Kasim memeluknya pula dari belakang.

“Ah, rapat kita belum selesai, mengapa kita sudah mengambil perpisahan,”  Udin berkata serak dan duduk kembali.

“Kalau kau ditangkap, kau akan dibuang”, – kata Salim.

“Kawan-kawan di Jawa sudah lebih dulu dibuang daripada saya,” Udin berkata tenang-tenang, “Ingatlah Siberia. Di sana kaum Komunis banyak mati dimakan beruang, tapi Revolusi Oktober telah mengalahkan tsar untuk selama-lamanya”.

“Kau optimis akan bisa kembali, Udin ?” – tanya Kasim.

“Kembali atau tidak. Tapi kita takkan terkalahkan. Rakyat akan bangkit lagi suatu waktu. Adakah kita sudah berhenti sejak pemberontakan di Kamang itu dapat di padamkan ? Kekuatan kita seperti bara dalam sekam. Kawan-kawan, jangan beritahukan hal ini kepada Upik Bisu, sebab dia bisa tidak menahan diri untuk mengambil suatu tindakan. Dia harus selamat sampai di Medan. Mari kita sama-sama merasakan bahagia atas perkawinannya dengan Amir’’.

‘’Ya, usaha menyelamatkannya sudah menjadi keputusan kita memang’’ – kata Bachtiar.

‘’Dalam beberapa hari ini saya masih akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan lain dan saya akan menemui isteri da anak-anak saya di rumah mertua saya. Pada hari ke tujuh, jadi hari Rabu yang akan datang, saya akan pulang ke rumah saya menunggu apa yang terjadi. Sehari sebelumnya kawan-kawan  harus membuat sepucuk suratkaleng kepada Sutan Sahar di kampung Kuto Lawas, bahwa saya sedang ada di rumah. Nah, tidak ada soal-soal lain ? Berbahaya kalau kita lebih lama di sini. Kawan-kawan saya kira inilah rapat kita yang penghabisan yang bisa saya hadiri. Selamat berjuang. Rapat saya tutup’’.

Sekali lagi mereka berpelukan dan bersalaman, kemudian satu-satu meninggalkan ruangan. Ketika akan pergi Bachtiar mengeluarkan secarik kertas kecil dari sakunya.

‘’Dua hari yang lalu aku singgah menemui isterimu. Dia titipkan surat ini untukmu’’.

‘’Hati-hati Tiar, jangan sampai kau tertangkap”.

Sendiri Udin di kamar rapat itu untuk beberapa saat. Dibacanya surat isterinya. Tampaknya ditulis buru-buru :

Uda  tercinta,

Kedua anak kita sagat betah tinggal di rumah neneknya. Kami semua sehat-sehat dan sering teringat kepadamu. Gadis kecilmu Samsiah sering menanyakan bapaknya. Tapi kakeknya senantiasa menerangkan kepadanya, bahwa uda mengikuti jejak nenekmoyang melawan Belanda penjajah.

Uda, jangan risaukan kami, tapi jaga dirimu supaya tetap sehat dan lakukanlah apa yang uda anggap baik dengan tetap hati-hati.

Cium anak-anak kepadamu dan tertompang salam kepada uda dari bunda kita.

Adinda:

Aminah

Dengan langkah berat dan rindu kepada anak-isteri yang berkecamuk dalam dadanya, Udin meninggalkan ruangan itu. Adakah kami saling kehilangan ? Anak dan isteri kehilangan aku atau aku kehilangan mereka ? Kawan-kawan kehilangan aku atau aku kehilangan kawan-kawan ? Ah, pikirnya, siapakah sebenarnya yang kehilangan dalam samudra perjuangan ini ?  Serperti kilat membelah malam ingatannya menyambar kalimat-kalimat Marx yang tak dapat dilupakannya: ‘’Biarkanlah klas-klas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apa pun kecuali belenggu mereka. Mereka akan menguasai dunia.”

Kesegaran menjalari tubuhnya. Di luar malam penuh bintang-bintng gemerlapan. Segera dia bergegas-gegas menjauhkan diri  dari jalan raya itu …….

***

ENAM bulan kemudian, di sebuah rumah besar di kampung Kuto Lawas, Sutan Sahar mengadakan pesta meriah. Kepada para tamu dan ninikmamak yang dihormatinya  dia membual tentang jasa-jasanya  sebagai pemimpin Serikat Hijau dalam membasmi Komunis.

“Kepada tuan Asisten Residen sudah saya katakan, bahwa saya sanggup menangkap  pemimpin Komunis Udin hidup-hidup. Dia teman saya sepermainan waktu kecil di kampung ini. Karena itu waktu saya tahu dia pulang, sesudah banyak perangkap saya pasang supaya dia pulang, segera saya kirim utusan kepadanya supaya dia datang menyerah. Tapi kepada utusan saya dijawabnya bahwa dia tidak bersedia menerima utusan siapa pun. Saya telah memberitahukan tuan Asisten Residen supaya jangan dikirim serdadu-serdadu untuk menangkapnya, sebab kalau itu terjadi Rakyat akan mengamuk. Saya sanggup, mau apa lagi.“

‘’Jadi bagaimana angku Sutan menangkapnya ?´´  – tanya Mantri Belasting yang duduk di depannya sambil menghirup kopi.

‘’Ha, di situlah kekuatan saya’’ – kata Sutasn Sahar sambil membuka kancing jas. Bermula Mantri Belasting di depannya itu mengira Sutan Sahar akan mengeluarkan senjata api atau keris keramat. Tapi rupanya Sutan Sahar merasa perutnya kepanasan, katanya: ‘’Bukan main udara sekarang ini, panas benar. Jadi saya datang hanya dengan dua polisi lalu membawanya pergi ke balairungsari. Disitu ……amboi, di situ sudah menanti pula tuan Asisten Residen, Komisaris Polisi Belanda dan lebih lima ratus serdadu”.

‘’Amboi, bukan main banyaknya orang menyambut’’.

“Memang angku Mantri, saya sendiri tak menyangka seramai itu. Sampai sekarang saya sering terpikir-pikir apakah sambutan itu ditujukan kepada si Udin atau kepada saya. Tapi kalau dipikir mengapa saya sampai mengadakan pesta sekarang ini, tentulah saja yang disambut itu ……… ‘’

Para tamu yang sedang mengunyah dodol teranggguk-angguk tanda paham dan kagum akan kehebatan Sutan Sahar. Lagi pun makanan-makanan yang dihidangkan sangatlah mewahnya.

‘’Maafkan saya……..oh, saya harus melayani tamu-tamu terhormat amtenar BB* di sudut sana. Tak baik kalau dibiarkan mereka bersunyi-sunyi………’’

Sambil berbasa-basi dengan ambtenar BB itu Sutan Sahar tampak senyum-senyum, terangguk-angguk. Sebentar-sebentar dia batuk-batuk kecil dan berdehem-dehem, katanya:

‘’Kepada tuan Asisten Residen sudah saya katakan, saya sanggup menangkap Komunis Udin hidup-hidup……..’’

Pesta meriah yang diadakan Sutan Sahar itu memang untuk merayakan kehormatan yang didapatnya dari pemerintah Hindia Belanda. Seminggu yang lalu dia menerima bintang-tanjung dari Sribaginda Ratu Wilhelmina……….

Jakarta, 18 Oktober 1961

Ambtenar BB = ambtenar Binnenlands Bestuur.

Pemberontakan 12 November 1926 Dalam Sastra

Sumber:Gelora 45 <GELORA45@yahoogroups.com>, Saturday, 6 November 2010 17:23:34

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = =

Pada tangga 12 November 1926 merupakan hari pemberontakan pertama rakyat Indonesia melawan pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Pemberontakan pertama ini berlangsung di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan ini menjadi teladan bagi rakyat Indonesia, bahwa betapa pun kuatnya sebuah pemerintahan Kolonial, namun ia bisa dilawan dan ditumbangkan. Walau pun pemberontakan ini banyak mengalami pukulan, namun ia merupakan api yang membakar semangat rakyat Indonesia. Untuk mengingat dan mengenang arti penting pemberontakan ini, secara berturut saya tampilkan tulisan-tulisan yang termuat dalam buku ´´Gelora Api 26´´ terbitan `Ultimus` Bandung pada tahun 2010. Kita lanjutkan dengan pengantar oleh Chalik Hamid.

Salam: Chalik Hamid.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = =

Pengantar Penyunting

Satu peristiwa sejarah besar yang bersifat nasional bagi rakyat Indonesia  telah terjadi. Pada tanggal 12 November 1926 rakyat pekerja Indonesia dibawah pimpinan klas buruh dan partai pelopornya, Partai Komunis Indonesia, mengangkat senjata melancarkan pemberontakan untuk menggulingkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Pemberontakan ini dikatakan pemberontakan nasional karena bertujuan untuk pembebasan nasional, menghancurkan kekuasaan asing. Walaupun pemberontakan nasional pertama ini mengalami kekalahan karena kekurangan penguasaan teori revolusioner kader-kader PKI ketika itu, disamping pengkhianatan kaum likwidator trotskis, namun ia menggema jauh sampai ke luar perbatasan Indonesia. Kaum kolonialis Belanda yang menganggap rakyat Indonesia “paling patuh” terkejut bagaikan disambar petir. Rakyat Indonesia sendiri bagaikan terbangun dari tidurnya, menyadari akan kekuatan sendiri dan berdiri dengan keyakinan bahwa kolonialisme bukan tidak bisa dipatahkan dan diruntuhkan. Gerakan buruh sedunia menyambut hangat kebangkitan dan kejadian ini.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan  yang menyebabkan pemberontakan itu mengalami kekalahan, namun peristiwa itu menunjukkan heroisme, keperwiraan dan keberanian proletariat Indonesia. Mereka membuktikan tekad suci bahwa untuk kepentingan rakyat dan tanahair tidak gentar mengorbankan jiwaraga, di medan pertempuran, di tiang gantungan dan penjara atau pengasingan. Heroisme, keperwiraan dan kepahlawanan ini mengilhami generasi demi generasi dalam membela kebenaran dan keadilan , kemerdekaan dan kebebasan, menentang penindasan dan menghisapan dari siapa saja , kolonialisme, neokolonialisme dan fasisme. Heroisme pemberontakan 12 November 1926 selalu mengilhami para pejuang dalam perlawanan-perlawanan kemudian; dalam “pemberontakan Kapal Tujuh”, perlawanan terhadap fasis militer Jepang, dalam revolusi Agustus 1945 dan lain-lain.

Heroisme, kepahlawanan dan keberanian para pemberontak tahun 1926 itu juga mengilhami para sastrawan dan seniman Indonesia. Mereka menggubah lagu, menyusun bait-bait sajak, menulis berbagai kisah tentang heroisme tersebut. Walau pun kaum kolonialis, kaum fasis dan musuh-musuh rakyat lainnya untuk sementara bisa menguasai Indonesia, namun hati rakyat kapanpun tidak pernah mereka kuasai. Seperti semangat, jiwa dan hati rakyat yang terhisap dan tertindas dimana pun di permukaan bumi ini, maka juga termasuk di Indonesia, tidak akan dapat dijajah dan diperbudak lagi. Cepat atau lambat mereka pasti bangkit berontak melepaskan segala belenggu dan ikatan, meninggalkan dunia lama menuju dunia baru, tanpa memperdulikan pengorbanan dan jiwaraganya.

Dalam rangkan agar terus mengobarkan semangat pemberontakan rakyat tahun 1926, pada kesempatan ini kita kumpulkan beberapa hasil karya para penulis sehubungan peristiwa tsb. Beberapa cerpen, sajak dan kisah, kenangan dan kesan, agar di dalam hati terus lahir tekad membaja: “puluhan ribu pahlawan telah dengan gagah dan berani mengorbankan jiwa di depan kita demi untuk kepentingan rakyat, marilah kita mengibarkan tinggi-tinggi panji mereka, maju mengikuti jejak langkah mereka yang berdarah itu”.

Para pengarang yang telah memberikan karyanya dalam kumpulan ini sebagian telah tiada. Semoga karya-karya yang mereka tinggalkan ini tetap abadi dan memberika daya pengilham bagi generasi mendatang.

Chalik Hamid

Amsterdam, Januari 2010.

PLAYBOY INTERVIEW: PRAMOEDYA ANANTA TOER

Sumber: B.DORPI P.
Sent: Thursday, June 15, 2006 5:15 AM
Subject: Re.: PLAYBOY INTERVIEW – PRAMOEDYA ANANTA TOER

PLAYBOY INTERVIEW: PRAMOEDYA ANANTA TOER

KELAHIRAN 6 Februari 1925 ini amat mengimani kerja. Menganggap kerja sebagai eksistensi abadi bagi manusia. Dan dihati Pramoedya Ananta Toer kerja adalah menulis. Maka menulislah ia. Dalam Rumah Kaca Pram pernah mencatat: “…gairah kerja adalah pertanda daya hidup; selama orang tak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut…” Merokok tanpa putus sejak umur15 tahun, lahirlah tetralogi yang legendaris itu [Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah]. Juga judul-judul seperti Mangir, Arok Dedes, Arus Balik, Nyanyi Sunyi

Seorang Bisu, dan banyak lagi. Semuanya memiliki kesamaan: menggetarkan dunia.

Nominasi Nobel bidang sastra beberapa kali mencatat namanya.

Pengalaman hidupnya seolah ditakdirkan dramatis [layaknya orang-orang besar].

Pernah jadi pihak yang menekan saat Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kesenian underbow PKI] berjaya. Lantas tersuruk jadi tahanan politik selama 14 tahun 2 bulan tanpa pengadilan disusul status tahanan rumah.  Juga menyaksikan dengan sesak karya dan harta literaturnya dibakar militer [sampai kini dia masih tak mengerti, karena merasa dasarnya menulis adalah satu: kemanusiaan]. Pun pelarangan terhadap tulisan-tulisannya.

Karya-karya Pram tak banyak mengutak-atik keindahan bahasa, longgar, dan kerap kelam meski tengah mengekspresikan keriaan hidup, seperti seks. Dalam penutup satu bab di Bumi Manusia, Pram menulis perasaan Minke tentang persetu-buhannya dengan Annelies: “Aku balas pelukannya.  Dan tiba-tiba jantungku berdeburan diterpa angin timur. Satu ulangan
telah memaksa kami jadi sekelamin binatang purba, sehingga akhirnya kami tergolek. Sekarang gumpalan hitam tidak memenuhi antariksa hatiku. Dan kami berpelukan kembali seperti boneka kayu.”

Sebagai penulis Pram menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutakatik bahasa.

Pengagum sastrawan Gunther Grass dan John Steinbeck ini mengaku begitu produktif berkarya karena merasa tidak akan berumur panjang.  Kenyataannya pada usia 81 tahun dia masih mengepulkan asap rokok saat ditemui Feature Editor PLAYBOY Alfred Ginting dan Soleh Solihun, di rumahnya yang asri, di kawasan Bojong Gede, Jawa Barat. PLAYBOY ditemani Happy Salma yang sore itu membawakan sebotol wine untuk penulis yang dikaguminya itu. Setiap malam Pram menenggak satu dua sloki wine demi kesehatan jantungnya.

Seperti yang sudah-sudah wawancara ini kembali banyak menjelajah sikap politik Pram, tidak seperti keinginan kami untuk membongkar sikap sastranya.  Pram sulit diajak untuk mengomentari karya-karyanya. Pram menganggap karya-karya itu
sebagai anak-anak jiwanya. Mereka bebas terbang lepas setelah didewasakan oleh pena dan mesin tiknya. Selain itu usia membuat Pram berjarak dengan masa lalu kepengarangannya. Di rumah – hasil dari royalti bukunya yang telah diterjemah-kan ke 42 bahasa – Pram tak lagi banyak bekerja. Sudah sepuluh tahun dia tidak menulis, semangatnya dipatahkan umur tubuhnya. Saban hari dia bangun jam lima pagi, mengumpulkan kliping berita koran bertema geografi untuk cita-citanya yang tidak akan terwujud – menyusun apa yang dia sebut Ensiklopedi Kawasan Indonesia, sesekali menerima tamu, melihat-lihat ternak ayam dan angsanya, dan membakar sampah.

Pada meja bundar di ruang tamu rumahnya, Pram menjawab pertanyaan PLAYBOY. Di meja itu bertumpuk sejumlah buku. Yang menarik perhatian adalah fotokopi novel Gulat di Djakarta yang akan diterbitkan kembali oleh penerbit Lentera Dipantara. Pram mengenakan polo shirt lusuh, celana training biru dan sandal jepit. Kaos kaki sepakbola berwarna hijau menutup ujung kaki celananya. “Dingin kaki saya,” kata dia. Pram masih menunjukkan kekukuhan dalam argumentasi dan pemakluman atas sikapnya. Seperti tentang pendiriannya terhadap Soekarno sebagaipemimpin yang berhasil mempersatukan

bangsa Nusantara tanpa meneteskan darah. Padahal di zaman rezim Soekarno dia ditahan karena menulis Hoakiau di Indonesia. “Yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno,” tegasnya.

PLAYBOY: Di film Jalan Raya Pos, Anda mengatakan tidak yakin akan berumur panjang. Ternyata, sekarang berumur 81 tahun, bagaimana perasaan Anda?

PRAMOEDYA: Tahun ’50, TBC membunuh ayah, ibu, adik, nenek, ipar, kemenakan saya. Waktu itu belum ada obatnya. Yang tahu, obatnya kapur saja. Untuk menutupi luka. Jadi, sudah sejak sangat muda, sudah berhadapan dengan maut. Dan saya sebagai anak tertua dengan tujuh adik menanggung semuanya. Ada seorang professor mengatakan, `Kau nanti juga kena [TBC].’ Tapi ternyata, sampai sekarang nggak ada apa-apa. Saya nggak ada penyakit parah, cuma kesulitannya kalau nggak bisa tidur, itu lantas jatuh, drop saja. Nggak pernah menyangka. Keluarga saya praktis mati karena
TBC. Saya nggak pernah ketularan. Sepanjang hidup saya heran, kok bisa sampai 81.

PLAYBOY: Masih punya mimpi?

PRAM: Saya nggak punya mimpi apa-apa. Masalah saya sekarang, hanya mati saja. Saya sudah sepuluh tahun nggak menulis. Juga nggak jawab surat. Ini sudah nggak bekerja [menunjuk kepala]. Sudah pikun.

PLAYBOY: Mimpi untuk menuliskan kembali proyek yang dulu sempat dimusnahkan, seperti Ensiklopedi Indonesia?

PRAM: Ya, kliping saya sudah 8 meter panjangnya. Tapi biayanya melanjutkannya nggak ada. Nggak ada pemasukan yang beres. Paling sedikit lima orang diperlukan.  Kalau satu orang dua juta, sepuluh juta satu bulan. Dari mana  sumbernya? [tertawa].

PLAYBOY: Anda angkatan ’45. Kalau nanti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan bagaimana?

PRAM: Ah saya nggak mengharapkan begitu-begituan. Mau dibakar kek, mau dibuang kek, nggak soal.

PLAYBOY: Anda siap menghadapi kematian?

PRAM: Sejak muda, saya siap mati di manapun dan kapan pun. Nggak ada soal. Jadi, nggak punya beban tentang mati.

PLAYBOY: Tidak ada yang Anda takuti dalam hidup?

PRAM: Saya anggap sebagai tantangan sport. Tidak punya dendam saya. Kalo punya dendam jadi beban lagi. Dianggap berani atau nggak, saya nggak tahu [tertawa].  Saya kehilangan apa saja, tidak merasa kehilangan.Rumah dirampas,
perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yang salah, saya tidak tahu.

PLAYBOY: Kadar gula Anda masih tinggi?

PRAM: Oh, gula saya memang tinggi. 460. Tapi saya obati dengan bawang putih. Setiap suap makan, gigit bawang putih, jadi semua luka kering sendiri. Jadi, dagingnya nggak membusuk. Dan saya anjurkan itu untuk yang sakit gula.  Saya kan juga latih-an pernafasan kalau mau tidur. Tarik nafas sampai penuh, tambah lagi. Itu sportnya. Tahan baru buang. Belajar dari pengalaman saja. Mulai umur belasan tahun, setelah pisah dari keluarga.

HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?

PRAM: Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yang punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.

PLAYBOY: Tapi sejarah Indonesia akhirakhir ini harus diwarnai ancaman disintegrasi, seperti keinginan masyarakat Aceh dan Papua untuk memisahkan diri?

PRAM: Itu memang dialektika sejarah. Kalau ada yang baik, ada yang buruk.  Ada persatuan, ada perpecahan. Hidup berkembang bersama-sama pasti ada yang namanya dialektika.

PLAYBOY: Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dengan PRD [Partai Rakyat Demokratik]. Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri tidak terlihat arah organisasinya?

PRAM: Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, harus hidup, tumbuh, berkembang bersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Soedjatmiko] lari, masuk ke PDI.  Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sekolah itu kan jalan untuk jadi pegawai. Untuk mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yang benar itu.

PLAYBOY: Tapi pendidikan dianggap penting bagi kepemimpinannya?

PRAM: Ah tidak. Kepemimpinan ya dari partainya itu, berpengalaman sejak awal sampai berkembang. Itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Menjadi pemimpin partai itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Sekolah saya, SMP kelas 2 nggak tamat, tapi kok jadi doktor? [tertawa].

PLAYBOY: Anda pernah menyebut Jimmy Carter berperan dalam pembebasan Anda. Itu bagaimana ceritanya?

PRAM: Itu Carter meminta supaya tahanan Pulau Buru dibebaskan. Kalau nggak, bantuan Amerika akan dihentikan untuk Indonesia.

PLAYBOY: Jadi, bisa dibilang Anda diselamatkan Amerika?

PRAM: Ya memang Amerika. Tapi juga Amerika juga yang waktu Presiden Eisenhower yang memerintahkan supaya Soekarno disingkirkan. Eisenhower ngomong begitu setelah babak belur di Vietnam. Ada masalahnya itu. Lantas dia perintahkan, singkirkan Soekarno! [tertawa].

PLAYBOY: Anda sudah beberapa kali disebut sebagai kandidat Nobel, tapi belum jadi kenyataan juga.

PRAM: Yang jadi kandidat itu kan empat orang yang terakhir. Satu orang dapat, saya nggak. Saya nggak tahu.

PLAYBOY: Apa itu ada hubungannya dengan sikap politik Anda dulu sebagai tokoh Lekra?

PRAM: Itu hak saya punya pandangan politik.

PLAYBOY: Tidak pernah berpikir, kalau mendapat Nobel itu bentuk pencapaian Anda sebagai penulis?

PRAM: Kalau dapat itu, berarti penghargaan dunia. Itu saja.

PLAYBOY: Tidak pernah bermimpi, ingin dapat Nobel sebelum meninggal?

PRAM: Nggak.

PLAYBOY: Jadi, penghargaan tertinggi dalam hidup buat seorang Pram?

PRAM: Penghargaan sudah saya dapat di mana-mana. Orang baca karya saya saja, sudah suatu penghargaan.

PLAYBOY: Dari semua karya Anda, yang merupakan pencapai-an terbesar yang mana?

PRAM: Nggak tahu saya. Itu publik yang menentukan.

PLAYBOY: Dalam karya Anda, banyak figur perempuan yang menentang garis. Itu memang gambaran Anda tentang figur perempuan modern?

PRAM: Itu inspirasi dari ibu saya sendiri. Ibu saya meninggal sangat muda, umur 34. Suatu kali, waktu saya masih di SD, panen jagung di luar kota, saya dipanggil ibu. Kalau serius, ibu saya ngomongnya dalam bahasa Belanda. Jauh lebih bagus dari saya. Dia pesan, `Engkau nanti harus belajar di Belanda sampai doktor.’ Itu beliau ngomong waktu saya masih SD dan miskin sekali. Itu pesannya. `Jangan sampai kau minta-minta sama orang. Pada siapapun! Jangan minta-minta. Selesaikan tugas dan kerjamu dengan tenagamu sendiri. Jangan minta-minta bantuan!’ Itu pesan ibu saya. Kenyataannya lain. Lulus SD, masuk SMP, Jepang datang, bahasa Inggris dilarang. Sampai [kelas] 2 SMP saya sekolah, itu pun nggak tamat, karena dibubarkan Jepang. Jadi, nggak pernah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Setelah Jepang pergi, saya nggak bisa ke perguruan tinggi. Bahasa Inggrisnya tidak bisa [tertawa].

PLAYBOY: Di masa itu apa artinya jadi doktor?

PRAM: Ilmu pengetahuan. Jadi mencukupi sebagai orang terpelajar. Kalau belum dapat gelar, ya belum [tertawa].

PLAYBOY: Tokoh Minke dibuat berdasarkan riset Anda terhadap tokoh pers Tirtoadisuryo. Apa tokoh perempuan di sekitarnya memang dinspirasi dari perempuan di dunia kenyataan?

PRAM: Itu simbolik saja. Supaya jadi anutan pembacanya. Saya mengharapkan wanita itu lebih maju daripada sekarang ini. Karena dia yang mendidik bangsa. Waktu saya masih kanak-kanak, ibu-ibu itu memproduksi. Ada yang membatik, ada yang nenun, bikin sabun segala macam. Kok, sekarang nggak ada? Tidak berproduksi wanita, tampaknya ya. Waktu saya kecil, ibu saya nenun, bikin batik, segala macam, buat kecap, sabun, dijual. Jarang terjadi sekarang ini di rumahtangga. Sehingga jadi bangsa yang konsumtif, tidak produktif.  Akibatnya melahirkan benua korupsi. Malah orang menjadi kuli. Untuk menjadi kuli itu, bayar mereka. Sampai Jerman mengatakan, Indonesia itu bangsa kuli di antara bangsa-bangsa dunia.

PLAYBOY: Apa arti perempuan buat Anda?

PRAM: Kalau saya melihat ibu saya, beliau yang membentuk saya jadi begini ini. `Jangan minta-minta. Selesaikan semua tugasmu dengan kekuatanmu sendiri!’ Luar biasa! Dalam keadaan miskin [tertawa]. Nggak pernah bertanggung jawab pada perbuatan sendiri

PLAYBOY: Begitu juga cara Anda mengarahkan anak Anda?

PRAM: Kalau untuk saya, silakan kerjakan apa yang dimaui. Tapi, tanggungjawab pada perbuatan sendiri. Cuma itu pesan saya. Bahkan jadi bandit pun silakan. Tapi tanggungjawab atas perbuatan sendiri. Jangan nyorong pada orang lain untuk tanggungjawab. Seperti Harto nanti [tertawa].

PLAYBOY: Dari tadi, cerita soal ibu terus. Lantas, bagaimana sosok ayah di mata Anda?

PRAM: Minus. Ayah saya itu Direktur Sekolah Boedi Oetomo. Saya sekolah disitu. Untuk tamat tujuh kelas, saya memerlukan sepuluh tahun. Tahu perasaan dia kan jadinya, terhadap anaknya? [tertawa]. Mengecewakan dia lah.

PLAYBOY: Karena Anda nakal?

PRAM: Sampai tua saya nggak bisa main gundu [tertawa]. Sampai tua, nggak bisa menaikkan layang-layang. Nggak sempat main. Kerja terus. Saya menulis untuk diterbitkan. Untuk dapat uang. Habis, dari mana uang? Melihara kambing
juga, nyariin makan segala macam. Lantas dihina oleh murid-murid sekolah pemerintah.  Saya pernah mengadu sama ibu saya. `Bu saya dihina sama orang-orang sekolah pemerintah.’ `Kenapa kau dihina? Kamu berani kerja, mereka nggak.’ Ibu
saya bilang.  `Udah biar saja.’

PLAYBOY: Ayah Anda direktur sekolah tapi masih kesulitan keuangan ya?

PRAM: Direktur itu gajinya 17 Gulden setiap bulan.

HAPPY: Katanya anda sering membuat perempuan bule patah hati, benar?

PRAM: Banyak [tertawa]. Biasanya mahasiswi. Setiap negara, saya punya pacar. Begitulah.

PLAYBOY: Pacar yang bagaimana? Yang sehari kenal?

PRAM: Iya [tertawa]. Ada yang mau ikut saya segala macam. Nyusul segala. Anakanak Jerman itu…

HAPPY: Kenapa? Karena Anda ganteng atau pintar merayu?

PRAM: Nggak tahu [tertawa].

PLAYBOY: Kalau mendengar kata seks, apa yang terlintas di benak Anda?

PRAM: Kalau sekarang sih, nggak ada apa-apa. Kalau dulu, kebakaran [tertawa].

HAPPY: Saya jadi tergila-gila Kartini karena Anda. Kalau Anda kenapa tergila-gila Kartini?

PRAM: Kartini? Mestinya saya punya empat jilid tulisan tangan Kartini.  Dibakar sama militer. Tulisan itu hasil studi lapangan. Menemui saudara-saudaranya.  Malah saya punya buku keluarga, masih tulisan Jawa. Itu dibakar semuanya. Kartini, itu orang luar biasa. Mendirikan sekolah dengan tenaga sendiri. Dia satu-satunya perempuan dengan pendidikan Barat, waktu itu.

PLAYBOY: Tapi akhirnya dia menyerah pada keadaan, kawin dengan Bupati.

PRAM: Dia harus mendengarkan kemauan keluarga. Dan keluarga disuruh oleh Residen. Biasa waktu itu.

HAPPY: Menurut Anda, perempuan itu yang penting cantik atau pintar?

PRAM: Bagaimana dia membentuk dirinya saja. Belajar hidup.

PLAYBOY: Dalam Mereka yang Dilumpuhkan, Anda menulis perempuan Sunda harganya paling tinggi. Maksud Anda?

PRAM: Itu karena perkebunan-perkebunan teh Jawa Barat banyak dikuasai

Belanda. Akhirnya anak-anaknya banyak yang jadi Indo [setengah bule].

HAPPY: Dari semua negara yang pernah Anda kunjungi, perempuan mana yang paling cantik?

PRAM: Dari Cina [tertawa].

PLAYBOY: Ada apa dengan perempuan Cina? Apa karena Cina di masa muda Anda adalah Cina yang sedang membentuk jati diri nasionalismenya?

PRAM: Di antaranya. Dinamika dalam masyarakatnya.

PLAYBOY: Dalam Hoakiau di Indonesia Anda membantah anggapan sebelumnya tentang kolonialisme mengistimewakan masyarakat etnis Cina. Sekarang, etnis Cina teristimewakan secara ekonomi tidak?

PRAM: Mereka itu punya produktivitas yang lebih dari pribumi. Ini yang membuat mereka jadi bersinar. Bukan hanya Cina di sini. Cina di negerinya sendiri. Produktivitasnya lebih hebat.

PLAYBOY: Pernah merasa malu jadi orang Indonesia?

PRAM: Saya bangga jadi orang Indonesia. Sebab seorang diri saya menulis. Dan itu yang mendapat berkahnya bangsa. Saya nggak merasa kecil hati sebagai anak bangsa. Saya merasa berjasa. Karya sudah diterjemahkan.

PLAYBOY: Tapi Anda diasingkan ke Pulau Buru tanpa ada pengadilan dulu?

PRAM: Bukan suatu kesalahan jadi anggota Lekra.

PLAYBOY: Kekuasaan belum berpihak pada kesejarahan yang benar, berarti bangsa ini akan tetap begini?

PRAM: Itu bagaimana yang membuatnya saja. Sejarah itu kan, pribadi-pribadi yang bikin. Terserah yang bikinnya saja. Ya kalau kekuasaan nggak memperhatikan sejarah, publik yang memperhatikan. Itu nggak bisa dilarang, hak publik. Setiap
terpelajar mulailah mendokumentasikan sejarah. Supaya setiap saat punya bahan yang bisa dipakai. Tanpa dokumentasi, gerayangan saja. Dan mendokumentasi itu belum merupakan tradisi Indonesia. Mesti dimulai.

PLAYBOY: Kenapa Anda sangat bersemangat dalam hal sejarah?

PRAM: Lihat. Bangsa Indonesia itu praktis belum memulai mendokumentasi sesuatu.  Bagaimana tahu sejarah? Wong sumbernya di situ. Mendokumentasikan berita koran, belum jadi tradisi. Saya mulai memang, tapi belum jadi tradisi. Kita nggak belajar dari Barat. Kurang belajar dari Barat.  Sehingga tentang Indonesia, orang Barat yang nulis. Yang perlu itu, kebutuhan untuk jadi bangsa yang modern. Bahkan kita nggak memerlukan tradisi warisan nenek moyang sendiri. Semua menjadi beban. Lebih baik dibuang saja. Saya sendiri sudah membuang Javanisme dalam diri saya.

PLAYBOY: Tapi kan manusia suka romantisme masa lalu?

PRAM: Itu hak setiap orang untuk suka ini, suka itu. Tapi, perlu atau nggak. Yang kita perlukan itu yang akan datang. Dan ini perlu kesiapan.

PLAYBOY: Apa hal dari Kejawaan yang anda rindukan? Wayang misalnya?

PRAM: Saya nggak suka wayang. Pertama, itu bukan Jawa, tapi India. Wayang sudah berhenti sejak umur 17-an, karena nggak ada. Saya pindah ke Jakarta kan nggak ada. Saya ingin mendengar gamelan. Itu ada kasetnya, tapi nggak ada yang memasangkan.

PLAYBOY: Kenapa gamelan?

PRAM: Rindu saja. Itu sejak kecil musik saya gamelan. Gamelan itu merupakan mahkota. Saya puluhan tahun nggak dengar gamelan.

PLAYBOY: Banyak yang menganggap dalam Arok Dedes, Ken Arok sebagai simbolisasi karakter Soeharto. Apa yang sama dan apa yang tidak?

PRAM: Lho nggak tahu saya. Siapa yang bikin? Bukan saya yang membandingkan.

PLAYBOY: Menurut Anda, sama?

PRAM: Soalnya bukan sama. Harto masih hidup, Arok sudah nggak ada [tertawa].

PLAYBOY: Mungkin orang melihat kesamaannya, dalam pengkhianatannya?

PRAM: Soeharto orang yang nggak mau bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri, sampai sekarang. Perebutan kekuasaan saja.

PLAYBOY: Tidak ingin bertemu Soeharto?

PRAM: Nggak mau saya. Tapi dia pernah kirim surat. Dia bilang, kesalahan itu manusiawi. Tapi kita harus punya keberanian untuk yang benar dan dibenarkan.

PLAYBOY: Bagaimana pandangan Anda terhadap penguasa sekarang?

PRAM: Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya.
SAYA NGGAK SUKA MILITER INDONESIA. ITU GRUP BERSENJATA MENGHADAPI RAKYAT YANG NGGAK BERSENJATA. KALAU ADA PERANG INTERNASIONAL, LARI TERBIRIT-BIRIT. KARENA BIASANYA YANG DILAWAN RAKYAT TANPA SENJATA. Saya menulis untuk mengagungkan kemanusiaan,mesti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenang.

PLAYBOY: Pada kekuasaan seperti apa Anda akan percaya?

PRAM: Yang benar. Apa yang diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yang ada ngelantur ke mana-mana. Nggak  ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yang begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Soeharto, kok nggak melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selama angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yang bakal jadi pemimpin.

PLAYBOY: Orde Baru juga membangun gerakan pemuda dengan caranya  sendiri. Kalau masih sebagai alat politis juga?

PRAM: Ini dunia. Bukan sorga. Ada yang baik dan yang jelek. Berkembang bersama-sama.

PLAYBOY: Menurut Anda sejarah kepemimpinan kita berhenti sampai  Soekarno?

PRAM: Soekarno itu suatu contoh. Dia menguasai persoalan budaya, politik, geografi. Sekarang ini geografi nggak dapat perhatian apa-apa. Persoalannya, ini tanah air lebih banyak lautnya daripada daratnya. Itu sudah masalah. Dan kekuasaan di laut nggak punya. Kekuasaan di darat terus. Belum pernah ada pernyataan Indonesia itu negara maritim. Belum pernah ada.

PLAYBOY: Soekarno satu-satunya pemimpin ideal di mata Anda. Tapi, karena Hoakiau di Indonesia dia memenjarakan Anda.

PRAM: Oh yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno.

PLAYBOY: Anda masih punya dendam terhadap militer?

PRAM: Saya nggak suka militer Indonesia. Itu grup bersenjata menghadapi rakyat yang nggak bersenjata. Kalau ada perang internasional, lari terbirit-birit. Karena biasanya yang dilawan rakyat tanpa senjata. Tapi saya nggak punya dendam kepada siapapun. Semua saya anggap tantangan sport. Saya menjawabnya, dengan menulis. Itu yang saya bisa. Dan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa karyakarya saya. Seluruh dunia, kecuali Afrika yang belum pernah diterjemahkan.

PLAYBOY: Mendendam kepada pembakaran dan perampasan karya Anda dulu?

PRAM: Wah, saya nggak bisa memaafkan. Yang dibakar aja delapan. Belum yang hilang di penerbit-penerbit. Nggak tahu kok, sejarah saya sejarah perampasan. Nggak ngerti saya. Ini pendengaran saya juga hilang. Ini kerjaan militer juga, yang bikin saya setengah tuli. Dihajar pakai popor senapan.

PLAYBOY: Anda sakit hati?

PRAM: Itu semua saya sekali lagi terima sebagai tantangan sport. Rumah dirampas sejak tahun ’65 sampai sekarang. Nggak ngerti saya, orang kok bisa begitu. Dan perpustakaan yang dikumpulkan puluhan tahun, dibakar begitu saja. Saya nggak ngerti orang bisa begitu. Belum naskah asli delapan yang belum sempurna, dibakar. Ini nggak bisa saya maafkan.

PLAYBOY: Setelah itu habis, Anda pernah berusaha menuliskannya lagi?

PRAM: Nggak bisa. Mood-nya sudah lain. Nulis lagi nggak bisa. Perpustakaan dibakar. Salahnya apa? Saya mengumpulkan satu demi satu belasan tahun itu, tapi sekarang sudah ada lagi perpustakaan di lantai tiga, kalau mau lihat.

PLAYBOY: Pandangan Anda terhadap anak-anak Soekarno?

PRAM: Nggak ada istimewanya. Tidak seperti bapaknya. Ke sini pun pada nggak.

PLAYBOY: Anda dekat dengan Soekarno?

PRAM: Kadang-kadang ngajak ketemu. Dia juga tidak kenal saya. Pernah nanya, Mas Pram Islamolog ya?’ [tertawa].

PLAYBOY: Ada anggapan negara ini terlalu besar untuk dipertahankan  sebagai negara kesatuan. Menurut Anda?

PRAM: Ini secara geografi, Indonesia itu memang satu. Dulu namanya Nusantara waktu Majapahit. Waktu Singasari, Dipantara. Dipa itu benteng. Benteng antara dua benua. Nusantara, kepulauan antara dua benua.

PLAYBOY: Kalau Indonesia menjadi negara federasi?

PRAM: Itu terserah kehendak publik. Cuma, kalau federal ya aturannya jadi banyak sekali. Setiap daerah punya aturan sendiri

PLAYBOY: Anda juga sering protes soal nama Indonesia.

PRAM: Persoalannya yang menamai [Indonesia] itu Inggris.

PLAYBOY: Harusnya?

PRAM: Nusantara saja cukup. Atau Dipantara.

PLAYBOY: Katanya, Bumi Manusia sudah dibeli right-nya. Konon, Oliver Stone mau mengambil hak untuk filmnya. Kenapa Anda menolak?

PRAM: Cuma US$ 60 ribu [tertawa].

PLAYBOY: Tapi, Anda menjualnya ke seorang pengusaha Indonesia?

PRAM: Itu satu setengah milyar. Dan harus tunai.

PLAYBOY: Jadi persoalannya cuma karena harga.Tapi kan magnitudenya berbeda kalau Hollywood yang membeli?

PRAM: Terserah pembuatnya saja. Saya nggak mencampuri itu. Haknya pembeli.

PLAYBOY: Selain Bumi Manusia, yang sudah dibeli film right-nya, apalagi?

PRAM: Ini yang sedang dalam pembicaraan itu, Mangir. Tapi saya nggak  ingat siapa orangnya. Nama-nama dan angka sulit saya ingat.

PLAYBOY: Punya harapan terhadap film itu kalau jadi nantinya?

PRAM: Terserah. Itu hak pembeli.

PLAYBOY: Kalau karya Anda difilmkan, punya keinginan untuk menontonnya dulu sebelum meninggal?

PRAM: Sulit melihat saya. Nggak tahu ini mata, kok mengganggu saya.

PLAYBOY: Bagaimana Anda melihat kondisi penulis sekarang?

PRAM: Pengalaman hidup lain dari penulis-penulis baru ini. Jadi, rasa-rasanya ya kurang sreg gitu [tertawa].

PLAYBOY: Terakhir Anda baca apa?

PRAM: Wah sudah sulit saya baca. Paling koran dan kliping. Buku ya selintas saja. Matanya sudah sulit untuk melihat. Inilah anehnya jadi tua [tertawa]. Pikun. Kacamata dicari-cari tahunya dipakai.

PLAYBOY: Puisi?

PRAM: Nggak pernah. Satu puisi yang pernah saya baca, karya Chairil.  Hidup saya prosais. Walaupun dulu pernah buat dua, tiga puisi. Nggak ada kesan. Kecuali karya Chairil yang “Aku”. Pada waktu itu pendudukan Jepang yang kejam sekali. Dan Chairil menantang kan. `Saya binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.’ Itu kan menolak Jepang. Dia nggak mau jadi budaknya Jepang. Sajak itu membuat ditangkap

Polisi Militer Jepang. Tapi dilepas lagi. Luar biasa itu. Menantang kekuasaan militer Jepang.

PLAYBOY: Ada yang menganggap Chairil tidak bisa menulis, menurut Anda?

PRAM: Dia kan terlampau muda matinya. Saya pernah ketemu sekali saja di atas keretaapi, di Karawang. Dia megangin tangan temannya. `Kau yang bertanggungjawab ya. Kau yang bertanggungjawab ya.’ Mungkin takut dia. Karawang kan pusat Laskar Rakyat.

PLAYBOY: Selain kliping, apa lagi yang biasanya Anda kerjakan di rumah ini?

PRAM: Bakar sampah. Pagi biasanya setengah lima saya bangun. Masih sepi semua dan belum tentu ada kopi. Saya nempel-nempel kliping. Sudah ada delapan meter mungkin kliping. Jadi nanti kalau orang cari apa-apa, klipingnya sudah disusun menurut abjad. Dan saya rasa nggak ada yang bikin kliping. Itu nanti siapa saja boleh kalau mau cari informasi di kliping. Tapi masalahnya geografi saja. Saban hari bertambah.

PLAYBOY: Apa kenikmatan membakar sampah?

PRAM: Ada kenikmatannya, aku bisa bilang: `lihat, aku bisa hancurkan kau!’ [tertawa].

PLAYBOY: Selain kliping dan bakar sampah, apa lagi yang Anda kerjakan?

PRAM: Jalan. Mondar-mandir. Membetulkan cabang-cabang yang nggak perlu, dibabat. Saya senang di sini, nggak terganggu keributan kota. Melihat ke sana lihat rumput, lihat kolam ikan, kolam renang. Nggak ada keinginan apa-apa lagi.

PLAYBOY: Siapa yang mengajak Anda pindah ke sini?

PRAM: Ada orang dekat menawarkan tanah. Saya mau karena jauh dari Jakarta. Nggak kuat saya di Jakarta. Di sini sejuk. Anginnya sehat. Jakarta itu air tanahnya sudah campur tai semua. Itu masalah pokok. Belum macetnya. Belum kejahatannya. Sepanjang jalan kejahatan melulu.

PLAYBOY: Kenapa tidak kembali ke Blora?

PRAM: Nggak. Kalau pulang ke Blora, ingat kesedihan waktu kecil. Jam setengah lima sudah harus belanja ke pasar. Pulang terus sekolah. Pulang sekolah, cari kayu bakar. Ngurus kambing, ngurus adik-adik. Apalagi waktu orangtua meninggal semua. Semua jatuh ke tangan saya, sebagai anak pertama. Nyekolahkan, kasih makan.

PLAYBOY: Masih ingat tulisan pertama Anda?

PRAM: Kan sudah dibakari militer. Ada waktu di SD saya nulis naskah. Saya kirim ke penerbit Kediri, Tan Kun Shui. Ditolak [tertawa]. Ceritanya macem-macem. Nggak bisa mengingat lagi. Ya itu pembakaran tahun ’65. Kehilangan banyak naskah.

PLAYBOY: Tidak pernah mencoba rokok selain Djarum?

PRAM: Nggak. Kebiasaan saja. Ini Djarum asbaknya. Pernah coba rokok putih. Nggak cocok.

PLAYBOY: Sewaktu di Pulau Buru kan tidak selalu bisa beli rokok?

PRAM: Menanam sendiri tembakaunya. Kerasnya persetan. Dan kulitnya, kalau nggak ada kertas, Injil segala dipakai [tertawa].

PLAYBOY: Di Pulau Buru, tahanan hanya boleh membaca buku agama. Bagaimana rasanya membaca buku tentang hal yang tidak Anda percaya?

PRAM: Ya makin tidak percaya [tertawa].

PLAYBOY: Hasil membaca buku tentang Hindu dan Budha melahirkan Arok Dedes.  Kenapa tidak ada buku hasil refleksi Anda tentang hubungan Islam dan Kristen?

PRAM: Waktu itu belum jadi persoalan. Belum ada Kristen-Islam.

PLAYBOY: Selama di Pulau Buru, tidak pernah memikirkan kebutuhan biologis?

PRAM: Nggak berbuat apa-apa. Diterima saja semuanya sebagaimana adanya. Semua kan dicurahkan pada tulisan.

PLAYBOY: Apa yang paling tidak bisa Anda lupakan dari Pulau Buru?

PRAM: Banyak. Antaranya saya menemukan mangga di pinggir kali. Lantas, saya kembangbiakkan. Jadi banyak. Nanti kalau ke Buru, ada pohon mangga, ingat saya [tertawa]. Tadinya nggak ada di pedalaman. Saya melihara ayam delapan.
Telornya itu untuk beli rokok, beli kertas, beli karbon di pelabuhan. Karena sayakan di pedalaman.  Dan saya senang sekali, sekarang Pulau Buru jadi gudang beras Maluku. Pekerjaan kami itu. Jalanan kami bikin sepanjang 175 km. Belum sawahnya. Belum irigasinya.  Belum ladangnya. Kalau sore itu udaranya dihiasi pelangi. Kalau hujan, air dengan keras turun ke bawah. Ikan melawan arus air hujan. Tinggal tangkap saja. Berkarungkarung itu [tertawa]

Pramoedya Ananta Toer sangat berminat dalam penulisan sejarah.

Dia bisa melakukannya lewat non fiksi dan fiksi. Lewat novel dia melukiskan sejarah agar tidak membosankan. Hidup Pram adalah sejarah itu sendiri.  Sejarah tentang kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas. Sejarah tentang manusia yang menolak belenggu sejarah dengan kuasa alam nalarnya, yakni lewat jalan menulis.

YANG HILANG DAN DIMUSNAHKAN DARI PRAM

Kuasa pengetahuan lebih dahsyat maha terjangnya daripada kuasa fisik yang represif. Terbukti karya Pram tetap dibaca orang meski dia dibelenggu di Buru, gulag yang dipagari laut. Berikut beberapa naskah Pram yang hilang dan dimusnahkan:

01. Sepoeloeh Kepala Nica [1946], hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947.

02. Bagian dari Di Tepi Kali Bekasi, dirampas Marinir Belanda, 22 Juli 1947.

03. Mari Mengarang [1954], tak jelas nasibnya di tangan penerbit, 1955.

04. Kumpulan Karja Kartini, dibakar tahun 1965, bagian-bagiannya sempat dimunculkan beberapa kali.

05. Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

06. Panggil Aku Kartini Sadja, jilid III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

07. Sedjarah Bahasa Indonesia. Satu Pertjobaan [1964]; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.

08. Lentera [1965], tak jelas nasibnya di tangan penerbit.

09. Kumpulan Cerpen Bung Karno.

10. & 11. Dua jilid terakhir trilogi Gadis Pantai.

SASTRA, SENSOR, DAN NEGARA:

Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?
Pramoedya Ananta Toer *)

Saya warganegara Indonesia dari ethnik Jawa. Kodrat ini menjelaskan,
bahwa saya dibesarkan oleh sastra Jawa, yang didominasi oleh sastra
wayang, lisan mau pun tulisan, yang berkisah tentang Mahabharata dan
Ramayana versi Jawa, serta kunyahan-kunyahan atasnya dengan masih
tetap bertumpu pada kewibaan Hindu.

Sastra yang dominan ini tanpa disadari mengagungkan klas atau kasta
satria, sedang klas-klas atau kasta-kasta dibawahnya tidak punya peran
sama sekali. Pekerjaan pokok kasta satria adalah membunuh lawannya.

Selain sastra wayang yang agak dominan adalah sastra babad, juga
mengagungkan kasta satria, yang ditangan para pujangganya menyulap
kejahatan atau kekalahan para raja menjadi mitos yang fantastik.

Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan Sultan
Agung, raja pedalaman Jawa, yang dalam operasi militer terhadap
Batavia-nya Belanda pada dekade kedua abad 17 telah mengalami
kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan kekuasaannya atas Laut
Jawa sebagai jalan laut internasional.
Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut
Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut,
di sini Laut Selatan (Samudera Hindia).

Mytos ini melahirkan anak-anak mytos yang lain: bahwa setiap raja
Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut. Anak mytos lain: ditabukan
berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. Ini untuk memutuskan asosiasi
orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. Dan tanpa disengaja oleh
pujangganya sendiri Sang Dewi telah mengukuhkan kekuasaan para raja
Mataram atas rakyatnya. Bahkan menjadi polisi batin rakyat Mataram.

Di sini kita berhadapan dengan sastra dalam hubungan dengan negara,
dan dipergunakan oleh negara, dengan fungsi pengagungan kastanya
sendiri. Diturunkan dari generasi ke generasi akibatnya adalah
menafikan kemajuan zaman, memberikan beban histori yang tidak perlu,
membuat orang beranggapan bahwa masa lalu lebih baik daripada yang
sekarang.

Pendapat ini yang membuat saya meninggalkan sama sekali sastra
demikian. Meninggalkan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan
dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, sejauh pengalaman saya,
langsung saya bertemu dengan sastra hiburan, memberikan umpan pada
impian-impian naluri purba pada pembacanya.

Sejalan dengan Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat tak
langsung keekuasaan agar masyarakat tak punya perhatian pada kekuasaan
negara. Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak
mengindahkan politik.

Sastra dari kelompok kedua ini membawa pembacanya berhenti di tempat.
Karena pengalaman pribadi sebagai anak keluarga pejuang kemerdekaan
maka saya memaafkan diri sendiri kalau tidak menyukai sastra golongan
kedua ini.

Seiring dengan pengalaman pribadi tersebut, walau pada awalnya tidak
saya sadari, langsung saya tertarik pada sastra yang bisa memberikan
keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang-dunia baru, harkat manusia,
dan peran individu dalam masyarakatnya.
Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya
dianggarkan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang
dicitakan.

Sastra dari golongan ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di
bidang kreasi. Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya
pada tahap dan sitiuasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan
bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari
sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan kekuasaan,
standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai individu
terpancarkan baik dengan sadar atau tidak.

Sampai di sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevalusi
kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena pengarang
bersangkutan tidak puas, bahkan merasa terpojokkan, bahkan tertindas
oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseru, malah melawan, bahkan
memberontak.

Bukan suatu kebetulan bila pernah dikatakan pengarang – dengan
sendirinya dari golongan ketiga ini – dinamai opposan, pemberontak,
bahkan biang revolusi seorang diri dalam kebisuan.
Di negara-negara dengan kehidupan demokratis beratus tahun
kalah-menang dalam pertarungan idea adalah suatu kewajaran. Itu bukan
berarti bahwa demokrasi tidak punya cacat.

Eropa yang demokratis, di Eropa justru tidak demokratis di
negeri-negeri yang dijajahnya. Sebagai akibat di negeri-negeri
jajahannya yang tak mengenyam demokrasi kalah-menang dalam pertarungan
idea bisa dilahirkan dendam berlarut sebagai akibat konsep tradisional
tentang gengsi pribadi dan panutan patrimonial.

Di Indonesia sensor atas karya sastra dikenal baru dalam dekade kedua
abad ini. Sebelumnya atas karya sastra sensor lebih banyak ditujukan
pada mass-media. Dan sejalan dengan tradisi hukum tindakan terhadap
delik pers diputuskan melalui pengadilan.

Larangan terhadap beredarnya beberapa karya sastra Mas Marco
Kartodikromo, di luar tradisi, diberlakukan tanpa prosedur hukum, dan
dilakukan oleh pejabat-pejabat Pribumi kolonial setempat. Larangan dan
penyitaan, juga oleh pejabat kolonial Pribumi pernah dilakukan
terhadap karya ayah saya, tetapi karya itu bukan karya sastra tetapi
teks pelajaran sekolah-sekolah dasar yang tidak mengikuti kurikulum
kolonial.

Larangan terhadap karya sastra memang suatu keluarbiasaan.
Berabad lamanya setelah kerajaan-kerajaan maritim terdesak kekuatan
Barat dan menjadi kerajaan-kerajaan pedalaman atau desa yang agraris
kekuasaan feodalisme yang semata-mata dihidupi petani mengakibatkan
lahirnya mentalitas baru yang juga merosot.
Para pujangga Jawa mengukuhkan budaya “teposliro” (tahu diri),
kesadaran tentang tempat sosialnya terhadap kekuasaan sesuai dengan
hierarkinya, dari sejak kehidupan dalam keluarga sampai pada puncak
kekuasaan.

Penggunaaan eufemisme (= Jawa : kromo) sampai 7 tingkat yang berlaku
sesuai hierarki kekuasaan menterjemahkan semakin kerdilnya budaya
tradisional. Maka dalam sastra Jawa evaluasi dan reevaluasi budaya
belum pernah terjadi.

Itu bisa terjadi hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang kalau
perlu, menafikan semua eufemisme, maka juga dalam sastra Indonesialah
sensor kekuasaan bisa terjadi.

Idea-idea dari semua penjuru dunia yang ditampung oleh masyarakat
modern Indonesia pada menjelang akhir abad 20 sudah tak mungkin
dibendung pantulannya oleh kekuasaan yang segan menjadi dewasa.

Untuk memungkinkan orang-orang dengan kekuasaan negara dapat tidur
dengan nyenyak tanpa perlu memajukan dirinya lembaga sensor memang
perlu diadakan.

Jawa dikodratkan memiliki faktor-faktor geografi yang menguntungkan.
Dari semua pulau di Indonesia di Jawalah penduduknya berkembang
sebagai faktor-faktor klimatologis yang mendukung pertanian. Bukan
suatu kebetulan bila kolonialis Belanda membuat Jawa jadi pusat
imperium dunianya di luar Eropa.
Dengan kepergiannya, masih tetap jadi pusat Indonesia, dengan
penduduknya mayoritas di seluruh Indonesia, masuknya sejumlah budaya
tradisional ke dalam kekuasaan negara memang tidak dapat dihindarkan.
Di antara budaya tradisional Jawa yang terasa menekan ini adalah
“tepo-sliro” , kehidupan kekuasaan sekarang dinamai dengan bahasa
Inggris “self-cencorship” . Nampaknya elit kekuasaan malu menggunakan
nama aslinya.

Dengan demikian menjadi salah satu faset dalam kehidupan modern
Indoensia bagaimana orang menyembunyikan atavitas/atavisme.
Saya cenderung memasukkan sastra golongan ketiga ini ke dalam sastra
avant garde. Saya nilai pengarangnya mempunyai keberanian mengevaluasi
dan mereevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan.
Dan sebagai individu seorang diri sebaliknya ia pun harus menanggung
seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang merasa terancam
kemapanannya.

Jadi sampai seberapa jauh karya sastra dapat berbahaya bagi negara?

Menurut pendapat saya pribadi karya sastra, di sini cerita, sebenarnya
tidak pernah menjadi bahaya bagi negara. Ia ditulis dengan nama jelas,
diketahui dari mana asalnya, dan juga jelas bersumber dari hanya
seorang individu yang tak memiliki barisan polisi, militer, mau pun
barisan pembunuh bayaran.

Ia hanya bercerita tentang kemungkinan kehidupan lebih baik dengan
pola-pola pembaruan atas kemapanan yang lapuk, tua, dan kehabisan
kekenyalannya.

Dalam pada itu setiap negara pada setiap saat bisa berubah dasar
sistemnya, dengan atau tanpa karya sastra avant garde. Perubahan
demikian telah dialami oleh negara Indonesia sendiri dari demokrasi
liberal menjadi demokrasi terpimpin dan kemudian demokrasi pancasila,
yaitu era kemerdekaan nasional setelah tumbangnya negara kolonial yang
bernama Hindia Belanda dan peralihan pendudukan militeristis Jepang.

Dalam masa demokrasi liberal di mana negara tetap berdasarkan
pancasila yang tak banyak diacuhkan, dalam masa demokrasi terpimpin,
sewaktu Presiden Soekarno dengan segala konsekuensinya hendak mandiri
dan mengebaskan pengaruh dan keterlibatan perang dingin para adikuasa,
pancasila lebih banyak dijadikan titik berat. Soekarno sebagai
penggali pancasila tidak bosan-bosannya menerangkan bahwa pancasila di
antaranya digali dari San Min Chui Sun Yat Sen, Declaration of
Independence Amerika Serikat, dan Manifes Komunis dalam hal keadilan
sosial.

Semasa demokrasi pancasila yang ditandai dengan gerakan
de-Soekarnoisasi, rujukan-rujukan Pancasila bukan saja tidak pernah
disebut lagi bahkan pernah ada upaya dari seorang sejarawan orde baru
yang membuat teori bahwa pancasila bukan berasal dari Soekarno.

Dalam sejumlah peralihan ini tidak pernah terbukti ada karya sastra
yang memberikan pengaruhnya. Dan memang sastra avant garde praktis
belum pernah lahir.

Karya-karya sastra Indonesia praktis baru bersifat deskriptif. Bila
toh ada avant garde yang lahir itu terjadi semasa penindasan
militerisme Jepang, suatu pemberontakan yang terjadi sama kerasnya
dengan penindasannya.

Individu tersebut, Chairil Anwar, dengan sajaknya “Aku”, menyatakan
Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan
sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah
Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus
bertanggung- jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan
menganiayanya.

Memang kemudian ia dibebaskan. Ironisnya masyarakat pembaca yang
banyak membaca dan menyukai sajak tersebut dan umumnya tak dikaitkan
dengan masa pendudukan militeris Jepang waktu ia menciptakannya.

Maaf kalau saya hanya bicara tentang sastra Indonesia. Namun saya
percaya bicara tentang sastra mana pun adalah juga bicara -walau tak
langsung- tentang sastra regional dan internasional sekaligus, karena
setiap karya sastra adalah otobiografi seorang individu, seorang dari
ummat manusia selebihnya, yang mempersembahkan pengalaman batinnya
pada kolektivitas pengalaman ummat manusia.

Berdasarkan historinya Indonesia memerlukan sebarisan besar pengarang
dari golongan avant garde. Berabad lamanya rakyat bawah membiayakan
feodalisme. Dengan kemenangan kolonialisme mereka kemudian juga harus
membiayai hidupnya kolonialisme. Walau feodalime sebagai suatu sistem
sudah dihapuskan oleh proklamasi kemerdekaan namun watak budayanya
masih tetap hidup, bahkan elit kekuasaan mencoba melestarikannya.

Sastra avant gardelah yang menawarkan evaluasi, reevalusi, pembaruan,
dan dengan sendirinya keberanian untuk menanggung resikonya sendirian.

Di sini menjadi jelas bahwa cerita, karya sastra, sama sekali tidak
berbahaya bagi negara yang setiap waktu dapat berganti dasar dan
sistem. Karya sastra para pengarang avant garde hanya mengganggu tidur
pribadi-pribadi dalam lingkaran elit kekuasaan, yang kuatir suatu kali
cengkeramannya atas rakyat bawahan bisa terlepas.

Saya sendiri, walau berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan
sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan nasional
ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya selama 35,5 tahun.
2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun dirampas kekuasaan
militer semasa orde lama, dan 30 tahun semasa orde baru, diantaranya
10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16 tahun sebagai ternak juga
hanya dengan kode ET, artinya tahanan di luar penjara.

Sebagai pengarang barang tentu saya berontak terhadap kenyataan ini.
Maka dalam karya-karya saya, saya mencoba berkisah tentang tahap-tahap
tertentu perjalanan bangsa ini dan mencoba menjawab: mengapa bangsa
ini jadi begini?

Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas
permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak
jadi soal. Larangan-larangan tersebut malah memberi nilai lebih pada
karya-karya tersebut tanpa disadari oleh kekuasaan.

Mungkin ada yang heran mengapa bagi saya sastra bertautan erat dengan
politik. Saya tidak akan menolak kenyataan itu. Menurut pandangan saya
setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi berbangsa, selalu
bertautan dengan politik. Bahwa seseorang menerima, menolak, bahkan
mengukuhi suatu kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa
seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan
politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada
kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak bisa
lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan ummat manusia.
Selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang mengatur atau pun
merusaknya, di situ setiap individu bertautan dengan politik.

Pernah lahir anggapan bahwa politik adalah kotor, maka sastra harus
terpisahkan dari politik.

Memang bisa saja politik kotor di tangan dan dari hati politisi yang
kolot. Kalau ada yang kotor barang tentu juga ada yang tidak kotor.
Dan bahwa sastra sebaiknya harus terpisahkan dari politik sebenarnya
keluar dari pikiran para pengarang yang politiknya adalah tidak
berpolitik.

Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian, ia
adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan selama
masyarakat ada, kekuasaan juga ada, tak peduli bagaimana
eksistensinya, kotor atau bersih. Dan dapat dikatakan sastra yang
“menolak” politik sesungguhnya dilahirkan oleh para pengarang yang
telah mapan dapam pangkuan kekuasaan yang berlaku.

* Pidato tertulis Pramoedya, yang disampaikan ketika menerima
penghargaan Magsaysay, di Manila,

__._,_.___

Fighting words

 

 


Oct-Dec 2006

Fighting words

In his last interview, Pramoedya kept up his attack on elitism and corruption.

Jeremy MulhollandPramoedya was well, and in high spirits, when I interviewed him at his home on 16 March 2006. Apart from bemoaning his burnt finger (a casualty of his favourite pastime, burning leaves and household rubbish), excessive thirst and frequent visits to the bathroom, he seemed in fine form. It’s hard to believe he had only a few weeks to live.

Our talk ranged over various aspects of Pramoedya’s interpretation and critique of the world around him, especially his views on the Indonesian elites. Throughout the interview, he was quick to deny any ideological allegiances and never explicitly framed his critique in terms of leftwing or Marxist ideology. Just as he had done many times in the past, he used the Javanese concept of priyayi (aristocratism) to interpret and condemn the behaviour of state powerholders. ‘I don’t believe the priyayi exist anymore,’ he said, ‘but as a state of mind, they are certainly still with us. Priyayi is always linked to power.’ For Pramoedya, the world of the priyayi is characterised by autocracy, social hierarchy, inequality, arbitrariness in the exercise of power, exploitation and conspicuous consumption. Pramoedya went on to explain that ‘in priyayi culture, tribute was a reward for services and recognition of the position of the priyayi as powerholders. Tribute was not considered in any way a form of corruption.’ Originally it was limited to a small circle of elites, but since the Japanese Occupation, people came to believe that it was necessary to be close to the centres of power to engage in business activities. This meant that people who had access to power were given privileged opportunities to amass extraordinary wealth. The result was the emergence of elite corruption, which Pramoedya critiqued in his 1954 novel, Korupsi.

In 1960 Pramoedya published his demystification of anti-Chinese stereotypes in the non-fiction history of the ethnic Chinese community in Indonesia, Hoakiau di Indonesia: ‘These military men supported anti-Chinese government regulations; it was obvious they were anti-Chinese. At the time, I was the only one who opposed their views and defended the Chinese.’ As a result, Pramoedya was kidnapped, interrogated, tortured and imprisoned for one long year. For the first two months, the interrogations and torture were carried out by the military lawyer Sudharmono who later became Suharto’s right hand man and, for a time, Vice President of Indonesia. Later, with the backing of the Indonesian Communist Party, Pramoedya enjoyed a brief period where he was relatively unassailable. From his base in Res Publika University, a small leftwing university run by Baperki, an association of pro-Sukarno Chinese Indonesians, he led vigorous attacks on those opposed to Sukarno’s cultural policies. Many at this time believed that these attacks were at least partly motivated by vengefulness.

Corruption and democracyReturning to the theme of corruption, Pramoedya claimed that ‘Suharto used corruption to bolster his power base’ following his seizure of power in 1966. Unlike the situation in the 1950s, New Order corruption was allowed to reach colossal proportions, and eventually transform into an institutionalised system. Suharto legitimised corruption by seeing it as an inevitable side-effect of the policy of development. For Pramoedya, ‘People saw how Suharto and his family and associates took part in corruption and were not penalised for it, so the lower levels also imitated these norms of behaviour.’ Discussing the period since Suharto stepped down in 1998, Pramoedya thought that significant progress had been made towards democratisation. Yet he believed that democratisation was of limited benefit, as long as badly-behaving members of the ruling elites continued to occupy positions of power. ‘How are we to clean up the KKN (Corruption, Collusion, Nepotism) mess with a dirty broom? Won’t we just make the floor dirtier?’ he quipped. Free elections could actually prevent significant dismantling of the KKN system, because winning an election is such an expensive business. In the context of money politics, newly elected or re-elected political leaders need connections with business leaders for financing election campaigns, patronage distribution and debt repayment.

Pramoedya finished our interview by pondering on the ongoing problem of paternalism. ‘We Indonesians live in a paternalistic society where “father is the boss” (bapakisme). Feudalism is based on paternalism. How can democracy be put into practice in a society that is paternalistic? My hope is that the younger generation will think for themselves, learn from the past and not imitate the wicked ways of the powerful during the New Order period.’ This hope is the challenge that Pramoedya has bequeathed to young Indonesians today.

Jeremy Mulholland (jeremypm@hotmail. com) is writing a PhD on Indonesian elites at the University of Melbourne.

SASTRA-SENI DAN METRO PARIS


Kereta-api bawah tanah, biasa disebut metro, merupakan angkutan publik yang murah dengan ketepatan tinggi dan bisa mencapai pojok kota di mana pun. Saban hari, jutaan penduduk menggunakan metro sehingga kalau terjadi pemogokan, maka nampak benar jutaan orang akan digelisahi bagaimana pulang dan pergi kerja serta mencapai tempat-tempat tujuan. Di samping itu, metro pun biasa digunakan oleh para seniman pengamen, terutama musikus-musikus sebagai panggung pertunjukan. Hanya saja untuk menggunakannya sebagai pangung, para seniman pengamen memerlukan izin dari Jawatan Kereta Api [RATP].
RATP Perancis, kudapatkan agak unik dalam hubungannya dengan sastra-seni. Di ruang-ruang luas yang menghubungi kade-kade dan stasiun-stasiun, di samping terdapat berbagai macam toko, sering juga menyelenggarakan konser-konser bermutu dilakukan oleh para musisi profesional. Aku jadi teringat akan konsep Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra] pada tahun 60-an  tentang “meluas dan meninggi”.  Dari kegiatan RATP Perancis, aku melihat konsep Lekra ini dilaksanakan, dan melihat musik-musik klasik pun sudah menjadi santapan rohani yang lumrah diterima publik luas. Pada ulangtahun ke-100 Brahm,  jutaan kaset dan CD komponis ini terjual di pasar. Musik-musik klasik pun selain diperdengarkan melalui pengeras suara stasiun, juga sering dimainkan oleh para mahasiswa/i konservartori di kade-kade atau lorong-lorong metro.  Paris adalah suatu panggung pertunjukan. Jalan-jalan pun menjelma sebagai panggung pertunjukan, lebih-lebih di akhir pekan. Panggung pertunjukan  baik yang tertutup atau terbuka, terdapat di mana-mana.  Edith Piaf alm., penyanyi terkenal Perancis, justru memulai karirnya dari jalan-jalan kota sebelum diangkat oleh seorang pimpinan tivi.
Paris, dari segi ini, tidak berkelebihan jika dikatakan sebagai kota sastra-seni. Sastra-seni dirasakan sebagai suatu keperluan dalam hidup penduduk kota. Bayangkan saja untuk menyaksikan pameran lukisan, misalnya van Gogh, Modigliani, Picasso,  dan lain-lain nama besar, sering harus dilakukan pesan tempat lebih dahulu. Dan pameran terbuka foto  yang dilakukan secara teratur oleh Senat,  dengan tema-tema berlainan, senantiasa mengundang penonton.
Merenungkan kembali hal ini, aku menduga-duga bahwa apresiasi sastra-seni, “meluas dan meninggi” ada kaitannya dengan tingkat kebudayaan serta pendidikan dan sistem pendidikan di suatu negeri.
Dalam bidang penerbitan, RATP saban minggu menerbitkan sebuah majalah berwarna tentang kehidupan di Paris, bernama “Paris A Nous”. Majalah ini memberikan informasi mingguan tentang berbagai segi kehidupan ibukota Perancis dan disebarkan secara gratis.
Dalam bidang sastra, RATP, sudah sejak puluhan tahun,   memajangkan cuplikan puisi-puisi di tembok-tembok stasiun di antara dereta iklan besar-besar. Puisi-puisi yang berasal dari berbagai negeri di dunia ini pun, dipasang juga di dinding-dinding gerbong metro. Di antara puisi yang pernah dipasang di dinding-dinding gerbong adalah pantun dari Indonesia edisi Perancis:
“kalau bukan karena bulan
tidakkan bintang ada di sini
kalau bukan karena puan
tidakkan abang datang ke mari”
Barangkali pemajangan cuplikan-cuplikan puisi dunia ini di gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok kade stasiun,  RATP bermaksud memperkenalkan kearifan serta aspirasi rakyat sedunia seperti yang dikatakan oleh filosof Perancis Paul Ricoeur bahwa “kebudayaan itu majemuk tapi kemanusiaan itu tunggal”. Bahwa dengan kemajemukannya, kebudayaan itu tetap punya nilai universalisme yang tunggal yaitu pemanusiaan diri, kehidupan dan masyarakat. Bahwa “keindahan itu bertujuan memperkaya eksistensi dan membuat kita lebih baik memahami diri kita sendiri”, jika meminjam ungkapan Todorov. Di segi lain, pemajangan ini di samping mempunyai nilai pendidikan, juga menunjukkan adanya taraf apresiasi sastra masyarakat negeri ini serta keperluan mereka akan puisi sebagai salah satu genre sastra. Sejauh perjalanan kembaraku dari benua ke benua, baru di Perancis kudapatkan dinding-dinding gerbong transpor publik dipajangi dengan karya sastra. Sedangkan di Korea Selatan aku hanya melihat adanya lukisan digantungkan di dinding terowongan perang. Pemandangan kontras dengan lingkungannya yang berwarna hijau pakaian militer dengan senjata di tangan siap memuntahkan peluru, seakan melukiskan kerinduan besar rakyat Korea Selatan akan perdamaian dan penyatuan negeri. Tapi di tembok perang yang sering dikunjungi umum, tak ada puisi kecuali puitisitas yang diberikan oleh lukisan itu.  Puitisitas dari karya seni di hadapan moncong bedil dan meriam peperangan.
Saban membaca dan terkadang mencatat cuplikan-cuplikan puisi yang terpajang di tembok-tembok kade dan atau gerbong-gerbong keretan senantiasa, aku menanyai diri: Untuk apa orang menulis puisi? Apa mengapa puisi dari negeri yang jauh dipajangkan di sini, sekali pun puisi itu ditulis berabad-abad silam? Agaknya ada universalitas nilai yang tak lekang dan tak dilapukkan panas dingin zaman, tertinggal sebagai warisan para angkatan terdahulu dari semua bangsa yang masih tanggap dan aspiratif . Dalam universalitas nilai ini, orang tidak memperdebatkan ketenaran nama, tidak mempertengkarkan sastra-seni untuk siapa sehingga bertarung sampai berdarah-darah dan mulut sampai berbusa. Terlintas di benakku, barangkali teori utilitarianisme atau kegunaan dengan segala nuansanya, mempunyai kaitan  dengan kelahiran dan perkembangan karya sastra-seni. Sedangkan sastrawan-seniman adalah jenis manusia berpikir serta bertanggungjawab tentang hari ini dan esok yang jauh sambil membaca masa silam. Buah pikiran dan tanggungjawab serta kecintaan menyungsum inilah yang mereka tuangkan di dalam karya. Barangkali RATP menganut pandangan ini. Jika tidak mengapa puisi-puisi dunia dipajangkan oleh RATP di kawasan kekuasaan kerjanya? Mengapa ia mengorganisasi konser-konser, mengapa ia menggunakan ruang stasiun dan kade-kade sebagai panggung pertunjukan?
Pemajangan puisi-puisi dunia di tembok-tembok stasiun dan dinding-dinding gerbong kereta, kupahami juga sebagai suatu garis bawah dari  RATP bahwa toleransi dalam kehidupan sangat diperlukan hingga segala keragaman bisa berada di satu gerbong perjalanan hidup. Ia pun bisa bermakna peringatan akan bahaya sektarisme serta pandangan mau benar sendiri atau sovinisme, sementara kearifan itu ada dalam kehidupan yang sangat majemuk dan selalu majemuk. Masalah kemajemukan ini merupakan masalah aktual di Perancis dan karena itu Jacques Chirac sebagai presiden, memakamkan kembali Alexandre Dumas di Pantheon, tempat beristirahat para putera-puteri terbaik dan berjasa Perancis. Seperti diketahui,  Alexandre Dumas adalah sastrawan Perancis berdarah Afrika. Dalam pidato resminya pada pemakaman kembali sastrawan berdarah Afrika ini, Jacques Chirac menegaskan bahwa “Kemajemukan adalah Perancis.” dan “kebudayaan  senantiasa adalah campuran [métissage]“.
Kalau puisi adalah lambang kemanusiaan yang tunggal, disejuki oleh kasih sayang antar sesama, di tengah kehidupan yang garang, puisi menjadi himbauan harapan manusiawi sekaligus keniscayaan untuk tak menyerah melanjutkan perjalanan di kereta kehidupan bersama.   Puisi adalah lambang harapan dan kepercayaan pada manusia.  Saban duduk di gerbong metro kota Paris, di antara gemuruh roda kereta,  kudengar suara ini,  sambil membaca puisi-puisi yang terpajang di dinding gerbong. Indonesia tentu tidak kelebihan puisi walau pun mungkin puisi itu hari ini nampak terpinggir tapi ia terus ditulis.***
Paris, Januari 2007
————————–
JJ. Kusni
Catatan:
Foto-foto terlampir melukiskan bagaimana para seniman Perancis menggunakan metro dan jalan-jalan serta ruang terbuka sebagai panggung mereka [Dari: Dokumen Jelitheng & JJK].

Menafsir Puisi-puisi DN Aidit

oleh Asep Sambodja

http://asepsambodja .blogspot. com/

“Tukang pidato adalah seniman,” kata Njoto alias Iramani, menerjemahkan pernyataan Multatuli, “Ook de redenner is een kunstenaar.” Paling tidak, DN Aidit yang dikenal dunia internasional sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) itu juga menulis puisi.
Ada sembilan puisi DN Aidit yang terdapat dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965 yang dihimpun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan, yang terbit pada bulan September 2008. Sebenarnya jumlah puisi Aidit lebih banyak dari itu, hanya saja ada puisi-puisi Aidit yang tidak lolos dari redaksi Harian Rakyat Minggu, Amarzan Ismail Hamid, yang kini menjadi redaktur senior Tempo dengan nama Amarzan Loebis.

Dari kesembilan puisi itu, ada satu puisi yang sepertinya tidak utuh karena kertas Koran Harian Rakyat itu sudah dimakan rayap, yakni puisi yang berjudul “Jauhilah Imperialis AS”, yang ditulis pada 20 Juli 1965. Meskipun demikian, pesan yang ingin disampaikan Aidit melalui puisi itu jelas tertangkap, yakni meminta Amerika Serikat menghentikan agresinya di Vietnam.

Kedelapan puisi Aidit yang lainnya adalah “Hanya Inilah Jalannya”, “Sekarang Ia Sudah Dewasa”, “Yang Mati Hidup Kembali”, “Kidung Dobrak Salahurus”, “Sepeda Butut”, “Untukmu Pahlawan Tani”, “Tugas Partai”, dan “Ziarah ke Makam Usani”.

Dari judulnya saja sudah cukup terbaca dengan terang-benderang pesan apa yang hendak disampaikan oleh penyair DN Aidit ini. Memang, kebijakan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan redaksi Harian Rakyat tidak mengharamkan puisi pamflet. Justru yang dihindari itu adalah puisi-puisi yang dinilai dekaden, klangenan, dan kosong melompong. Konsep seni Lekra adalah 1-5-1, dalam arti “Politik adalah panglima”, “5 kombinasi”, dan “Turun ke bawah”.

Yang dimaksud 5 kombinasi di sini adalah: (1) meluas dan meninggi, (2) tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, (3) tradisi baik dan kekinian revolusioner, (4) kreativitas individual dan kearifan massa, (5) realisme sosialis dan romantik revolusioner.
Dengan kata lain, kelima kombinasi itu menjadi dasar dalam kerja kreatif seniman Lekra dengan payung “politik adalah panglima”. Dan, itu hanya bisa diwujudkan kalau senimannya itu langsung turun ke bawah, langsung merasakan denyut nadi rakyatnya, baik nelayan, petani, buruh, prajurit, pegawai, atau katakanlah kaum wong cilik.

Nah, konsep seperti itulah yang terbaca dalam puisi-puisi DN Aidit ini. Ia, misalnya, langsung bersimpati pada orang-orang kecil yang mati memperjuangkan haknya. Dalam puisi “Untukmu Pahlawan Tani” Aidit menuliskan /kutundukkan kepala/ untukmu pahlawan/ pahlawan tani boyolali. Jelas, bahwa yang dikatakan Aidit dalam puisinya itu memiliki konteks, yakni peristiwa penembakan petani yang terjadi pada 1964.

Demikian pula dalam puisi “Ziarah ke Makam Usani”, Aidit menulis /semua kawan tunduk berdiri/ duka cita menyayat hati/ airmata mengalir, butir demi butir/ dan semua berjanji/ akan nyalakan api juang usani …usani pergi, api juangnya nyala abadi/ PKI mekar harum mewangi. Sekali lagi, konteksnya jelas, yakni Usani, seorang perempuan yang mungkin dianggap biasa-biasa saja, tapi di mata seorang ketua partai politik terbesar keempat di Indonesia diberi penghargaan yang demikian terhormat. Aidit menyebutnya, “Wanita pejuang komunis, pembela setia buruh dan tani, yang mati dalam pengabdiannya sebagai proletariat sejati.”

Dalam puisi “Ziarah ke Makam Usani” ini, Aidit juga memasukkan ideologinya atau ideologi partainya, yakni “Mengganyang si lima jahat”. Kelima “lawan” yang dianggap “jahat” itu adalah (1) “Malaysia”, (2) kabir, (3) 7 setan desa, (4), imperialis AS, (5) Revisionis.

Presiden Soekarno pada 3 Mei 1964 mengeluarkan kebijakan mengenai Dwikora, yang terdiri dari: pertama, “Ganyang Malaysia”, yang dianggap sebagai negara bentukan neokolonialis Inggris, dan kedua, membantu perjuangan rakyat Kalimantan Utara. Kebijakan ini ditafsir Aidit sebagai lawan yang harus dihadapi, terutama untuk pembentukan negara federasi Malaysia.

Kabir atau Kapbir adalah akronim dari Kapitalis Birokrat, yakni para purnawirawan militer yang ditempatkan di perusahaan-perusaha an negara, sehingga mengakibatkan mismanagement yang akrab dikenal dengan “salah urus”. Bisa dibayangkan jika Aidit jadi presiden seandainya menang dalam pemilihan umum, maka para purnawirawan militer itu akan dibersihkan dari perusahaan-perusaha an. Makanya, dengan menjadikan kabir sebagai musuh, Aidit dan PKI pun berhadapan dengan militer, terutama Angkatan Darat.
Tujuh setan desa juga dimaksudkan Aidit dan PKI untuk memudahkan warga desa mewaspadai musuh-musuhnya. Ketujuh setan desa yang dimaksud adalah (1) tuan tanah, (2) lintah darat, (3) tengkulak jahat, (4) tukang ijon, (5) bandit desa, (6) pemungut zakat, (7) kapitalis birokrat desa. Untuk poin nomor 6, tentu saja menyebabkan massa PKI di desa berhadapan dengan massa Islam, karena membayar zakat itu merupakan kewajiban sebagai seorang muslim, sama halnya dengan melakukan ibadah sholat atau puasa, serta naik haji bagi yang kaya. Dibandingkan seruan menyerang 3 setan kota, seruan mengganyang 7 setan desa ini lebih bergemuruh di bawah. Dampaknya adalah terjadi konflik horisontal di level akar rumput, mirip dengan konflik di Ambon dan Sambas.
Dengan menempatkan imperialis AS sebagai musuh, meskipun hingga kini kita masih melihat “kreativitas” Amerika di Afghanistan dan Irak, sudah pasti PKI berhadapan dengan Amerika, lengkap dengan mata-matanya. Kalau dalam penelitian Asvi Warman Adam mengenai peristiwa G 30 S 1965 disebutkan adanya keterlibatan CIA, hal itu merupakan sesuatu yang niscaya. Demikian pula dengan menempatkan kaum Revisionis, kalangan yang tidak sejalan dengan paham Revolusi belum selesai, sebagai musuh, maka Aidit dan
PKI serta merta membuat jurang pemisah yang semakin dalam.

Dari puisi “Ziarah ke Makam Usani” itu pula Aidit memperlihatkan bahwa api juang Usani, semangat Usani dan kaum proletar lainnya, bahkan semangat partai komunis demikian tumbuh bergelora. Semangat seperti inilah yang membuat hidup lebih hidup, membuat hidup penuh taste, sama sekali tidak menciptakan generasi yang enjoy aja.

Hanya saja, kita tahu, bahwa kita tidak hidup di lingkungan yang homogen. Meminjam kata-kata Utuj Tatang Sontani, “sayang ada orang lain”. Dan lagi, pengaruh globalisasi juga bisa terasa sampai di dapur dan tempat tidur kita. Perang Dingin antara Amerika dengan Uni Soviet terasa juga sampai di Jakarta, sampai ke Lubang Buaya, sampai pula pada pembunuhan massal orang PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Kenapa di Jawa Barat, yang notabene berjarak paling dekat dengan Lubang Buaya, tidak ada pembantaian massal terhadap orang-orang PKI? Dari penelitian Ben Anderson terbaca bahwa Pangdam Siliwangi saat itu, yakni Ibrahim Adjie, tidak mengizinkan RPKAD beroperasi di wilayahnya. Siapa yang menggerakkan RPKAD saat itu? Siapa yang berani bertanggung jawab?

Aidit pun mati. Ia menjadi salah satu target yang diburu. Ia diburu seperti Amerika memburu Osama bin Ladin. Osama, bukan Obama. Meskipun Aidit mati, karyanya akan tetap abadi. Karyanya akan terus dibaca. Karena, di balik karyanya, sesungguhnya Aidit ingin bicara banyak. Tukang pidato yang ingin jadi penyair itu boleh saja dihilangkan, tapi pesan yang ingin disampaikan masih terpelihara hingga kini.

Berikut saya kutipkan sebuah sajak lengkap Aidit, “Kidung Dobrak Salahurus”, yang tetap memperlihatkan garis ideologi dan keyakinan politiknya yang demikian kental.

Kidung Dobrak Salahurus

Kau datang dari jauh adik
Dari daerah banjir dan lapar
Membawa hati lebih keras dari bencana
Selamat datang dalam barisan kita

Di kala kidung itu kau tembangkan
Bertambah indah tanah priangan
Sesubur seindah priangan manis
Itulah kini partai komunis

Tarik, tarik lebih tinggi suaramu
Biar tukang-tukang salahurus mengerti
Benci rakyat dibawa mati
Cinta rakyat pada pki

Teruskan, teruskan tembangmu
Bikin rakyat bersatupadu
Bikin priangan maju dan jaya
Alam indah rakyat bahagia

Cipanas, 13 Januari 1963

Apa yang ditulis penyair Aidit di atas tidak jauh beda dengan apa yang diucapkan para calon presiden Indonesia sekarang ini. Baik yang kita baca di media massa atau yang kita tonton di iklan televisi. Jadi, sama saja. Siapa pun ketua partai politiknya, siapa pun yang ingin menjadi penguasa, suaranya akan sama seperti itu. Inilah puisi pamflet. Dan itu sah saja, meskipun bukan satu-satunya.

***

Diposkan oleh Rumah Asep Sambodja di 03:01

Catatan: Asep Sambodja, pengajar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

Khatulistiwa Literary Award Mendukung Perkembangan Sastra di Indonesia Longlist KLA 2010

Kepada yang terhormat para praktisi, akademisi, dan segenap masyarakat pecinta sastra Indonesia, di mana pun Anda berada, berikut kami siarkan daftar longlist judul buku dan nama-nama penulis yang terpilih dalam penjurian Anugerah KLA ke-10, 2010, yang tersusun secara acak.

Kategori Fiksi

1. Kekasih Marionette (kumcer), karya Dewi Ria Utari
GPU, Juli 200

2. Negeri 5 Menara (novel), karya A.Fuadi
GPU, Agustus 2009

3. Klop (kumcer), karya Putu Wijaya
Bentang, Mei 2010

4. Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (kumcer), karya Agus Noor. Bentang, Februari 2010

5. Rahasia Selma (kumcer), karya Linda Christanty
GPU, April 2010

6. Arumdalu (novel) karya Junaedi Setiyono
Serambi, Mei 2010

7. Perahu Kertas (novel), karya Dee
Bentang, Agustus 2009

8. Balada Cing-Cing (kumcer), karya Maggie Tiojakin
GPU, Juni 2010

9. 9 dari Nadira (kumcer), karya Leila S. Chudori
KPG, Oktober 2009

10. Teman Empat Musim (novel) karya Ida Ahdiah
Bentang, Maret 2010

11. Jampi-Jampi Varaiya (novel) karya Clara Ng
GPU, Desember 2009

Kategori Puisi

1. Babakan, karya Beni Setia
Kiblat Buku Utama, Maret 2010

2. Pekarangan Tubuhku, karya Wayan Sunarta
Bejana, Juni 2010

3. Puisi-Puisi dari Penjara, karya S.Anantaguna
Ultimus, Januari 2010

4. Buwun, karya Mardi Luhung
Pustaka Pujangga, Februari 2010

5. Mendaki Kantung Matamu, karya Bonde Riswandi
Ultimus, Januari 2010

6. Tersebab Aku Melayu, karya Taufik Ikram Jamil
Yayasan Pusaka Riau, Juni 2010

7.. Anjing Dini Hari, karya Isbedy Stiawan ZS
Rumah Aspirasi Rakyat, Februari 2010

8. Penyeret Babi, karya Inggrit Putria Marga
Anahata, Januari 2010

9. Sejumlah Perkutut buat Bapak, karya Gunawan Maryanto
Omahsore, Mei 2010
10. Hantu Kata, karya Ook Nugroho
Kiblat Buku Utama, Juni 2010

11. Mengukir Sisa Hujan, karya Soni Farid Maulana
Ultimus, Mei 2010

12. Konde Penyair Han, karya Hanna Fransisca
KataKita, Mei 2010

Catatan:
1. Berbeda dengan tahun sebelumnya, daftar longlist kategori fiksi dan puisi tahun ini lebih dari sepuluh buku, karena ada sejumlah buku yang memiliki poin penilaian sama. Maka, tim juri memutuskan buku-buku tersebut semuanya berpeluang untuk maju ke tahap shortlist.
2. Menyangkut kategori penulis muda berbakat, panitia memutuskan bahwa untuk tahun ini kategori tersebut ditiadakan, karena dari beberapa buku yang telah dinilai, hasilnya tidak mencukupi jumlah longlist yang telah ditentukan.

Jakarta, 17 Oktober 2010
Panitia KLA 2010

Ayu Utami on literature, sex and politics

http://www.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20051113.C01&irec=1

Ayu Utami on literature, sex and politics

A. Junaidi, The Jakarta Post, Jakarta

Sexuality -- from a woman's perspective-- is one powerful theme
besides politics in Ayu Utami's novel Saman and its sequel Larung.

Born in Bogor, West Java, on Nov. 21, 1968, Ayu became a well-known
figure throughout the country after her first work Saman won a novel
writing contest organized by the Jakarta Art Institute eight years ago.

Some literary critics praised the rich language in the novel while
others criticized her for openly exploring sex.

Saman was translated into Dutch three years ago and into English
recently. The novel was awarded the Prince Claus Prize in 2000.

Ayu is among the first female writers in the country who has dared to
openly discuss sex and sexuality, which is still considered taboo for
women, but not for men. In her novels, she often uses such words as
penis, vagina, orgasm and condoms, which are considered by certain
critics as a little "too much".

Saman's comments on politics is still considered relevant. The
repression of human right activists under president Soeharto as
depicted in the novel still happens today. Reading Ayu's work is thus
like viewing a real portrait of Indonesia. Ayu has apparently gained a
good understanding of her country thanks to her journalistic
experience. She was a journalist for the now-defunct Forum Keadilan
magazine and a founding member of the Alliance of Independent
Journalists (AJI).

The graduate of the Literature Studies of the University of Indonesia
(UI) was also an editor at Kalam cultural journals and a columnist
with several publications. Her essays have been published in a book
titled Parasit Lajang (Single Parasite).

While working on her third novel, Ayu is now joining the International
Writing Program at Iowa University in the United States. Several noted
Indonesian writers have joined the program in the past.

The Jakarta Post interviewed Ayu through e-mail on her views on
literature, sex and politics. The following is an excerpt:

question: In schools, we were taught about literature based on age
groups, periodical times (of authors). How do you see our literary
world nowadays? Answer: Here (in Iowa, United States--Ed,), I just met
a Colombian author who hated literature and language instruction in
school. It was because the way it was taught did not make children
interested and involved. I felt that way too at school. Teaching
literature based on age groups only provides children with materials
to be memorized without giving them the chance to appreciate
literature and language.

The Indonesian literary world is now glowing. It's good. Like our film
world, there is a hope. There is an awakening. But we should keep the
flame alight so that it will not become a fleeting enthusiasm.
Moreover, we should not be quickly satisfied with the rise in the
literary and film market. It should be viewed as a chance to improve
the quality of our work.

Generally, our standard of writing is still low. Our standard in all
fields is still low. While, we now have many writers and the market is
growing, let them compete against one another. This will improve the
quality in general.

Nowadays, in several elite schools, students are made to read and
review literary works. Of course, not all schools have done it. It's
OK, it's good that the elite schools have started it.

In the mass media, you and some other women writers are categorized as
Sastra Wangi writers. What is your comment?(Sastra Wangi or fragrant
literature is a term coined by the press to refer to the literary
works by young urban women writers).

No problem. The mass media has never been a good literary critic. It
is more interested in gossip than quality, more in people than (their)
works. Probably, the media reflects the level of (maturity) society in
general... Our leaders also reflect the level of our society.

So, I just view it positively... If we were labeled as Sastra Wangi,
what can we do with the label? What we can do is make more people look
at our works. Hence, serious people will see that the women writers
labeled as Sastra Wangi are different from one another. Totally different.

The only thing we have in common is that we are young middle-class
urban women. We are not like (poet) Chairil Anwar whose life was
messy, who fell sick and died young. We did not come from villages or
small towns and suffer an urban shock upon seeing Jakarta. The city is
nothing for us. We are city children. Before that, our literary world
was dominated by male writers who had agrarian backgrounds. That's why
people are astonished at seeing the current middle-class urban women
writers. Probably, sastra wangi is a social symptom rather than
"literary criticism".

Some traditional literary critics view your works as "excessive" in
discussing sex. What's your response to this?

Probably, it's true that I have discussed sex excessively. But, what
is excessive? For me, excessiveness is necessary when we need to break
through constraints that prevent discourse. In the mass media, men
have been discussing sex excessively for decades since the
establishment of the media. Sexual discourses from women (perspective)
are needed. Of course, every fight or breakthrough will be viewed as
"excessive" by those who seek to maintain the status-quo. Soeharto
also did it. It happens everywhere...

I once criticized Gaya Nusantara magazine for always talking about
sex, that it's like a porn magazine for gay people. Isn't there
anything else for gay people except sex? I then thought back and
realized that sex is still a struggle for gay people. So it is for me.
Sex is still a problem for women, more than for men. So, we need to
write about it, to struggle for it.

In a patriarchal society, discussing sex is still a taboo. According
to you, what is sex and sexuality?

Is sex taboo in Indonesia? Are you kidding? Look at those tabloids
sold on the sidewalk. Watch television programs late at night, see
news on rape, all of them are full of sex and lust. In a patriarchal
society, probably, the taboo is discussing sex for the interest of
women. For a patriarchal society, the taboo is making women the
subjects in sexual matters. So far, people exploit sex, but, by
objectifying women. What I write is no more crude than those pictures
or rape stories that they write. But I want to make women become the
subjects. That's considered taboo.

The safe sex campaign (with the use of condoms) -- although it was
related to HIV/AIDS prevention -- was rejected. People seem allergic
to the word "condom". What is your comment?

We should not always talk about moral concerns at all levels. People
may be concerned about sexual promiscuity. But don't be always narrow
minded. Sex will always happen even without condoms. Have affairs and
sexual promiscuity happened only after the discovery of condoms?

Second, we are facing the bigger problem of sexual diseases that
infect people: mothers, wives whose husbands are infected from sex
with other women. Should the moral concern be upheld higher than the
concern we have for the victims? Let those who want to become
womanizers be as they are. But, our duty is to protect the weak.
Condoms, if we view it from a broader perspective, protect the weak.

In the public morality bill, kissing on the lips in public is
prohibited. What's your concept of pornography?

First, pornography is an exploitation of the weak. Secondly,
pornography must be something which is done in the wrong place. So,
does kissing exploit the weak? No way. But, does it happen in the
wrong place? It could. But, probably it's a matter of appropriateness.
It's like blowing our nose during a dinner. It's not polite. Moreover,
kissing is not in print, so it's not pornography.

So that's why they (the fundamentalist groups who formulated the
public morality bill which has been tabled by the government -- ed)
proposed (the terms) pornography and pornoaksi (erotic actions) to
snare people kissing and the hip gyrating dance of Inul (popular
dangdut singer Inul Daratista -- ed). I agree that pornography needs
to be regulated. But, it should not be banned in a stupid way.

A ban has a goal. The goal is, first, to protect the weak, and second,
to maintain common decency. Rather than protecting women who are often
exploited, the bill even punishes them. Second, erotic books and
pictures are not a problem as long as they are read by adults. The
bill also says that (pornography) is acceptable for "medical" and
"health" reasons... It is (thus) confirmed that those porn films have
a positive function too, for example, to arouse sexual desire between
a bored husband and wife in order to improve their sexual relations.
It should not be viewed as a sickness.

You once said that you would never marry. Can you explain?

Ha ha ha. Yes, off course, I said I would never marry. Then, people
accused me of hating men or having had a traumatic experience with
men. It's very funny. I will not marry is a statement that takes a
stance against the hypocrisy of Indonesian society. This society
glorifies marriage too much. And, many victims have fallen because of
that. First, women who -- because one or another reason -- are not
married. They are mocked as old spinsters who "are not saleable". So
they become wounded aggressive people who are stereotyped as "ugly old
spinsters". It is a vicious cycle for women. The obligation to marry
is a vicious circle for women.

Second, society always condemns pre-marital sex. What does it mean?
(It means that) if you are married, you are allowed to have sex with
anybody, not only your husband or wife. That happens. Hotels and
motels everywhere are full of people committing fornication. That's
it. We are sinners. But do not be hypocrites. You sin and also condemn
it. Use your own standard to measure yourself.

I want to free myself and my people from the obligation to marry. So
that, marriage is a free choice. It's not an obligation or coercion.
So that, marriage will find a noble meaning. I support monogamous
marriage and, if it possible, do not divorce. So, Jangan beli kucing
dalam karung (Do not buy a cat in a sack, i.e. an unknown quantity).
How do I behave toward men, ask the man who is my lover or those who
are my ex-lovers.

You dislike militarism, but you like (sexually) a man with a military
look. Can you explain?

That's it. Taste is not related with thought and political stance.
But, I'm happy with the man who is now with me. Because he has
discipline and style like a military man, but a heart and (love of)
freedom like an artist.

Besides sex, your writing also tells about the political situation
under Soeharto. Do you think it is still relevant now?

It is still relevant. Because Soeharto left many things. He has many
legacies. So many dishes should be washed. Soeharto has developed the
country. The nine-year compulsory education and family planning are
his big contributions. But his "nuclear waste" pile up may take
generations to clean. We need to look back at how it has happened.

In our agriculture we have been left behind by Thailand -- for
example, our local durian is less popular than Thailand's monthong
durian --, we should question our agricultural policy which does it
not support the farmers. Why are we now importing rice, beans, oil,
etc.? Indonesia was once self-sufficient in rice. We were once an oil
exporter.

If now, we have become corrupt, lazy, love instant things,
bureaucratic, have no sportsmanship, have no outstanding achievement
in sports, should we blame President Susilo Bambang Yudhoyono and Vice
President Jusuf Kalla?

What is your comment on the current regime which was democratically
elected?

Yeah, the current administration has been left with the "nuclear
waste" as I have said. Whoever has been elected through any means,
even democratic, has a very heavy duty. Because they were left with a
damaged ship. According to me, SBY is always slow in responding to
anything. He is probably good when facing a calm sea. More agile
people are needed for the ship in a storm.

In Saman, there are good values, for example, how the Catholic Saman
develops his relationship with Islamic villagers and a
Chinese-Indonesian trader. Can you explain the message?

Actually I, as you said, did not develop the theme. I only touched on
the issue slightly. How human beings develop relationships is not a
single-layer (matter). In daily life, if there are no big gaps, people
overlook racial and religious differences. When the same people talk
about it, we know that there is a difference. For example, an
anti-Chinese sentiment could occur among people who have close Chinese
friends. But for them, their Chinese friends are not "the Chinese in
general", instead they are "Chinese in particular". It also applies in
terms of religion. In a time of crisis, suddenly a concept of identity
is of greater importance. And then hatred emerges. Attacks against
certain groups. It's very complex, of course.

By the way, what are you doing in the United States? How is your new
novel progressing?

I got a grant to join the International Writing Program in Iowa City.
Actually, it's for three months. But I could only join for a month
because I have so many things to do in Jakarta. I met several writers.
I'm finishing my third novel titled, -- so far, after several changes
-- Jalan Hanna (Hanna's Way). It tells about four people who are
romantically entwined against the backdrop of the Soeharto era to the
reform era. I'm hoping, it can be published early next year. ***

TEORI-TEORI SASTRA BAGI GURU BAHASA DAN SASTRA INDONESIA *

TEORI-TEORI SASTRA
BAGI GURU BAHASA DAN SASTRA INDONESIA *
OLEH ERWAN JUHARA *

Ihwal

Karya sastra bersifat multiinterpretable. Oleh karena itu,  penafsiran makna sebuah karya sastra oleh para  pembacanya  melibatkan berbagai strategi  dan pendekatan  yang multiinterpretable  pula sesuai  latar belakang pembaca atas suatu pesan dalam suatu  karya sastra yang memiliki konvensi kebahasaan dan kesastraan tersendiri bagi sebuah ilmu.

Masalah  penafsiran dalam menggeluti karya sastra  adalah  masalah dasar dalam khasanah teori dan kritik sastra. Kehadiran  berbagai pendekatan untuk pemahaman karya sastra seperti Semiotik; Strukturalisme;  Sosiologi Sastra; Estetika  Resepsi;  Fenomenologi; Hermeunetik, dan sebagainya dapat membantu juru tafsir untuk menelaah dan  menafsirkan  arti/makna karya  sastra.
Penafsiran  merupakan bekal  utama untuk apresiasi, kririk, dan  pengajaran karya-karya sastra  sehingga  pembaca mampu  menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.Jadi, di satu sisi dituntut pemahaman tentang cara penafsiran yang cukup komprehensif,  di  sisi lainnya  dituntut  pembacaan  karya sastra  sebanyak dan semendalam mungkin. Tumbuh dan  berkembangnya wawasan  sastra  hanya bisa  dicapai  dengan   menumbuhkembangkan strategi penafsiran dan pembacaan karya sastra secara terus menerus.Berbagai teori dan pendekatan dalam upaya penafsiran sebuah  karya sastra agar menjadi lebih jelas maknanya bagi pembaca dalam  menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah  karya sastra  pernah  dikembangkan oleh antara lain:  T.S. Kuhn;  Roman Jakobson;  Gerald Prince; Edmund Huserl dan Roman Ingarden; Wolfgang  Iser, Hans Robert Jauss,  Stanley Fish, Riffaterre,   Jonathan Culler, dll.Soal pembaca bagi sebuah Teori Ahli filsafat, T.S. Kuhn memperkuat keraguan kepada teori Relativitas Einstein  yang  mengungkapkan  bahwa  pengetahuan objektif secara  sederhana  adalah sebuah penumpukan fakta yang  keras  dan progresif.  Kuhn berpendapat bahwa apa yang muncul  sebagai  fakta dalam ilmu  pengetahuan  tergantung pada  rangka  referensi  yang dibawa pengamat ilmu pengetahuan terhadap objek pemahaman. Memakai  analog  Psikologi Gestalt dan model  komunikasi  Teka-teki Bebek-Kelinci  dan Komunikasi Linguistik Roman Jakobson, ia  yakin bahwa pengamat adalah berperan aktif dalam rangka pemahaman  suatu karya sastra. Artinya, hanya pengamatlah yang mampu memutuskan dan mengambil  simpulan paling tepat atas suatu teks maupun  berbagai kode yang ada dalam suatu karya sastra. Ahli sastra lain, Gerald Prince, bahkan lebih rumit lagi  membedakan posisi pembaca dengan naratee. Ia menginginkan sang naratee(si diceritai) berdiri secara khusus berdasarkan jenis kelamin, kelas, situasi,  ras  bahkan umur. Akibatnya, efek  teori  Prince  adalah menyoroti dimensi penceritaan yang telah dimengerti secara  intuitif  oleh para pembaca, tetapi masih tetap kabur dan tidak  pasti. Ia  menekankan  pada cara yang  ditempuh  pencerita(sang naratif) untuk menghasilkan pembaca atau pendengarnya sendiri, yang mungkin atau tidak mungkin bersamaan dengan pembaca nyata.

A Teeuw  dalam buku Sastra dan  Ilmu  Sastra (1984:43) menelaaah berbagai pendekatan dalam apresiasi sastra uintuk  memahami  karya sastra,”  Sastra sebagai model semiotik tidak dapat  diteliti  dan dipahami  secara ilmiah tanpa mengikutsertakan aspek  kemasyarakatannya,  yakni  sebagai tindak komunikasi.” Ia  menyebut  berbagai model  pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra sehingga  turut memperkuat fakta bahwa karya sastra merupakan sesuatu yang  kaya akan makna, sehingga tidak mudah didekati hanya dengan satu pendekatan saja.

Beberapa pendekatan yang dibutuhkan dalam apresiasi sastra seperti yang
dijelaskan Teeuw untuk para pembaca di antaranya yang  sudah dikembangkan Umar Junus dalam pendekatan Pragmatik adalah pendekatan Resepsi sastra dari teori Iser (pembaca  implisit)  dan  Hans Robert Jauss (horison harapan).Jauss  menitikberatkan perhatiannya kepada bagaimana karya  sastra diterima pada suatu masa tertentu berdasarkan horison  penerimaan tertentu  atau berdasarkan horison yang diharapkan. Karya  sastra dapat  hidup  jika pembaca berpartisipasi dan  dengan  partisipasi pembaca itu, konteks sejarah terciptanya karya sastra bukan  merupakan  sesuatu  yang  faktual, tetapi hanya  merupakan  rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri yang ujudnya terpisah dari embaca. Karya  yang  telah dipahami pembaca menjadi  modal bagi  resepsi. Proses  resepsi menjadi perluasan semiotik yang timbul dalam
pengembangan  dan perbaikan suatu sistem. Horison penerimaan  mungkin
berubah (bahkan berkali-kali).

Selanjutnya Jauss menyatakan bahwa pendekatannya bersifat parsial, tidak menyeluruh karena hanya melakukan hubungan hari ini  dengan “virtue” sejarah. Resepsi hanya berklaitan dengan saat karya  itu dibaca sehingga terdapat konvergensi antara teks dan resepsi  yang berupa  dialog antara subjek hari ini dengan subjek masa  lampau. Tradisi  berperan  penting dalam hal ini.  Tradisi  yang  dimaksud adalah  wawasan  yang mendasari resepsi yang dilakukan  pada  saat tertentu.Jika resepsi Jauss mementingkan sejarah pada suatu saat  tertentu, maka Resepsi Iser bertitik tolak pada kesan(sebenarnya pada  tahap akhir teori Jauss juga disebut-sebut tentang kesan). Iser  mempermasalahkan konkretisasi karya sastra, yakni reaksi pembaca  terhadap  teks  yang diresepsi. Dalam resepsi Iser,  terdapat  dinamika pembaca.  Ia  akan memilih satu di  antara berbagai  kemungkinan realisasi,  sehingga  tugas kritikus dalam  pandangan Iser  bukan menerangkan  teks sebagai objek, tetapi menerapkan efeknya kepada pembaca.  Kodrat teks itulah yang mengizinkan beraneka  ragam kemungkinan pembacaan, sehingga lahir pembaca implisit(pembaca  yang diciptakan  sendiri oleh teks dirinya dan menjadi  jaringan  kerja struktur yang  mengundang jawaban, yang mempengaruhi  kita  untuk membaca dalam cara tertentu) dan pembaca nyata (yang menerima citra mental  tertentu dalam proses pembacaan yang diwarnai oleh  persediaan pengalaman yang ada). Dalam resepsi Iser, ada hubungan teks dan pembaca.  Hubungan  itu melalui  tiga langkah, yakni 1. sketsa tentang  suatu  teks  yang membedakan dengan teks-teks sebelumnya; 2. pengenalan dan analisis terhadap  kesan  dasar teks; dan 3. mencari kemungkinan  yang  ada tentang makna karya satra. Karya sastra selanjutnya memberi  kesan kepada pembaca, sehingga teori Resepsi sastra Jauss dan Iser  tampaknya mendapat  pengaruh Hermeunetika  dari Schleiermacher  dan Gadamer.

Jika  Jauss  dan Iser berperan dalam resepsi sastra  yang  memberi kesan kepada pembaca, Edmund Husserl, seorang ahli filsafat modern terkenal dengan teori Fenomenologi-nya dalam kaitan antara  karya sastra dengan pembacanya. Teori fenomenologi menuntut untuk menunjukkan kepada kita alam yang mengarisbawahi, baik kesadaran  manusia maupun kesadaran fenomena.Teori ini adalah usaha untuk menghidupkan ide(setelah zaman Romantik) bahwa pikiran manusia   individual adalah pusat dan asal semua arti. Teori ini tidak mendorong keterlibatan subjektif secara murni untuk struktur mental kritikus karena menggunakan berbagai lapis norma karya, tetapi tipe  kritik sastra yang mencoba masuk ke dalam dunia karya seorang penulis dan sampai pada suatu pengertian tentang alam dasar atau  intisari tulisan sebagaimanatampak dalam kesadaran kritikus.

Ahli satra lain, kritikus Amerika yang bernama Stanley Fish menyodorkan
teori Stilistika Efektif  yang memusatkan penyesuaian  harapan  yang  dibuat pembaca ketika membaca teks,  tetapi  ia  lebih menekankan  pada  rangkaian kalimatnya.  Fish  berpendapat  bahwa pembaca  adalah seseorang yang memiliki kompetensi linguistik yang telah memasukan pengetahuan sintaktik dan semantik yang diperlukan untuk membaca  selain  penguasaan  kompetensi sastra   secara khusus(konvensi bahasa dan konvensi sastra). Namun,Jonathan  Culler, salah seorang murid Fish  justru  selain mendukung  juga memberikan kritik atas pendapat  Fish  karena  ia dianggap  gagal meneorikan konvensi-jkonvensi pembacaan, yaitu  ia gagal  mengajukan pertanyaan,”konvensi-konvensi apa yang  diikuti pembaca?”  Selain  itu, ia dianggap gagal  pada tuntutannya  atas pembaca  kalimat perkataan demi perkataan dalam  suatu  pengurutan waktu  itu  menyesatkan( tidak ada alasan mempercayai  bahwa  para pembaca  secara  nyata  membaca kalimat  dan memecahkannya  serta melakukannya sedikit demi sedikit secara bertahap).

Selanjutnya  Culler membuat teori pembacaan yang harus  mengungkap operasi penafsiran yang dipergunakan pembaca karena pembaca  yang berbeda akan menghasilkan tafsiran yang berbeda pula. Jadi, menurutnya  bermacam-macam penafsiran inilah yang  harus  diterangkan sebuah teori meskipun hasil pembacaan akan berbeda artinya, walaupun mengikuti perangkat konvensi penafsiran yang sama. Dampaknya, Culler memberikan pendekatan yang mengizinkan suatu prospek sejati kemajuan teoritis. Sedangkan Fish memberikan metode yang  berguna, tetapi  menutup persoalan  teori yang mendasar  atau  pendekatan Rifartere yang menghasilkan sebuah baju pengikat yang teoritis. Rifartere  memberikan baju pengikat yang teoritis  terutama pada bukunya Semiotics of Poetry(1978),  yang di dalamnya ia  mengatakan bahwa pembaca yang berkompeten melampaui arti permukaan. Ia penganut Formalis Rusia dalam memandang puisi sebagai sebuah penggunaan bahasa  yang khusus. Menurutnya, diperlukan kompetensi  linguistik biasa untuk memahami arti sebuah puisi, tetapi pembaca juga memerlukan kompetensi sastra untuk menghadapi ketidakgramatikalan  yang sering  dijumpai  di  dalam pembacaan sebuah  sajak.  Sehingga  ia mengajukan matrik strutural/hipogram sebagai salah  satu  upaya pengujian  sebuah  sajak sebagai satu kesatuan.

Sayangnya   teori Rifarterre  ini  memiliki banyak kesukaran bagi  para
pembacanya, misalnya teori ini tidak mengizinkan beberapa jenis pembacaan yang kita pikirkan sepenuhnya secara “lurus saja.
Sedangkan ahli lain dari dunia psikologi, yakni Norman Holland dan David Bleich, yang telah menderevasi pendekatan  teori  pembacaan dari sisi psikologi,  memandang bahwa  pembacaan  sebagai  suatu proses yang memuaskan atau paling sedikit tergantung kepeda keperluan psikologis pembaca. Buku Kritik Sastra Subjektif(1978)  karya David  Bleich adalah satu bukti pendukung bahwa  dalam pembacaan telah  terjadi  pergeseran dari paradigma objektif  ke  paradigma subjektif. Hal  yang juga menjadi legitimasi  atas teori  khusus Norman Holland bahwa setiap anak menerima  kesan”identitas pertama”  dan  orang dewasa menerima “identitas tema”.Artinya, ketika kita  membaca  suatu  teks kita memprosesnya  sesuai  dengan  tema identitas  secara  stabil. Jadi, kita mempergunakan  karya  sastra untuk melambangkan dan akhirnya meniru kita sendiri. Kita menyusun kembali karya itu untuk menemukan ciri strategi kita untuk  menguasai ketakutan yang dalam dan keingintahuan yang membentuk kehidupan psikis kita.Ending
Teori  yang  berorientasi kepada pembaca,  tidak  mempunyai  titik tolak filosofis yang tunggal atau utama. Para penulis  teori  di atas berasal dari tradisi pemikiran yang bermacam-macam. Jauss dan Iser serta Edmund Huserl tertarik pada Resepsi, Fenomenologi  dan Hermeunetik  dalam usahanya untuk menerangkan proses pembacaan dan hubungannya  dengan  kesadaran  pembaca.

Rifartere   mensyaratkan pembaca  yang memiliki kompetensi sastra yangkhusus. Stanley  Fish percaya bahwa para pembaca memberi respon pada pergurutan perkataan dalam kalimat, apakah kalimat itu bersifat sastra atau tidak. Jonathan Culler mencoba menetapkan penafsiran menurut teori Strukturalis yang berusaha menyingkap kebiasaan-kebiasaan dalam strategi pembaca dan diakui strategi yang sama dapat pula menghasilkan tafsiran yang berbeda. Norman Holland dan David Bleich memandang pembacaan sebagai suatu proses yang memuaskan atau paling sedikit tergantung kepada kepercayaan psikologis pembaca. Umumnya teori-teori sastra yang berorientasi kepada pembaca menentang keunggulan teori Kritik Sastra Baru dan Formalisme Rusia yang berorientasi kepada teks karena tidak bisa berbicara tentang arti sebuah teks tanpa memandang sumbangan pembaca kepadanya.Usaha  pemahaman dan penafsiran karya sastra adalah usaha  konkretisasi karya sastra oleh pembaca.  Wawasan sastra  yang  dimiliki akan memungkinkanpemilihan metode yang tepat untuk karya tertentu yang bersifat khas. Ada karya yang dapat ditelaah dengan  pendekatan tertentu dan ada juga yang melalui pendekatan lainnya.  Teori, metode, dan pendekatan itu dapat dipergunakan secara  komprehensif karena proses dari konkretisasi apresiasi karya sastra berlangsung secara kemoprehensif pula, sehingga pembaca diusahakan agar selalu meningkatkan  wawasan  sastra, baik dalam konsep-konsep  teoritis maupun dalam penghayatan langsung dengan karya sastra.* Disajikan dalam Acara Pendidikan dan Pelatihan Membaca, Menulis, dan
Mengapresiasi Sastra, Tingkat Nasional bagi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
Wilayah Jabar, tanggal 21 s.d. 25 September 2004 di Wisma Taruna, Jl.
Lengkong Besar Bandung. Kerjasama acara Depdiknas RI, Majalah Sastra
Horison, dan SMA 8 Bandung.
** Penulis kini adalah Guru di SMAN 10 Bandung, selepas 10 tahun mengabdi di SMAN 1 Maja Kab Majalengka. Pernah bekerja sebagai jurnalis dan editor di Bandung, Jakarta, Jogjakarta. Mantan Pemimpin Umum Tabloid Jurnal Seni Budaya Kancah, Pemred Jurnal Seni Budaya Jendela Newsletter Bandung, Pendidikannya dari Diksatrasia FPBS IKIP Bandung dan Program Pascasarjana Jurusan Ilmu Sastra BKU-Filologi Unpad Bandung. Tulisanya berupa esai, artikel, esai, puisi, cerpen, kritik, resensi, terjemahan dll di muat di berbagai media massa lokal/nasional. Beberapa kali menjuarai lomba penulisan karya ilmiah/populer/sastra. Aktivis Yayasan Jendela Seni Bandung(YJSB). Tinggal di Jalan Sukapura 77 Rt 01 Rw 02 Kiaracondong Bandung 40285 Telp. (022) 7315622 Erwan_Juhara @Yahoo.Com. HP. 08122305043, 08156112110

Sumber:

redaksiaksara@yahoogroups.com] Im
Auftrag von manaek.sinaga@sumitomocorp.co.jp
Gesendet: Mittwoch, 15. Februar 2006 11:12

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers