Archive for the ‘Sahewan Panarung’ Category
Kekerasan & Kreativitas
Sahewan PANARUNG
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
Kekerasan & Kreativitas
Pada tahun lalu para seniman-budayawan cendekiawan Kalimantan Tengah telah menerbitkan lebih dari 20 judul karya dalam berbagai genre, petunjuk bahwa kehidupan kecendekiawanan dan kreativitas di provinsi ini mulai menggeliat. Dibandingkan dengan tahun-tahun “sunyi” sebelumnya, jumlah demikian sangat berarti, apalagi upaya-upaya tersebut dilakukan secara mandiri menggunakan sistem jejaring saling bantu, tanpa bantuan finansial sedikit pun dari pemerintah. Dikatakan bahwa kehidupan kecendekiawanan mulai menggeliat karena kehidupan kecendekiawanan itu bukan diisyaratkan oleh jumlah orang bergelar akademi dan oleh gelar akademi tapi oleh karya-karya akademi. Karya akademi tidak lain dari penelitian dan pemikiran. Sumbangan sosial dan kemanusiaan seniman-budayawan serta para akademisi terutama terletak pada kegiatan penelitian dan pemikiran yang dituangkan dalam karya tulis. Sumbangan-sumbangan sosial dan kemanusiaan ini pertama-tama bertujuan membangun manusia dan masyarakat idaman yang menurut Pierre Bourdieu merupakan suatu engagement (keberpihakan) otomatis cendekiawan, seniman dan budayawan.
Syarat untuk berkembangnya kegiatan kecendekiawan pertama-tama tergantung pada kadar cendekiawan, seniman-budayawan itu sendiri, kemudian adanya syarat material untuk bekerja lalu yang tidak kurang utama penting adalah terjaminannya apa yang dikatakan oleh Pasal 28 UUD ‘45 “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya”. Terjaminnya kebebasan akademi dan mencipta. Jaminan ini mutlak diperlukan karena penciptaan dan penelitian sering menemukan hal-hal yang berbeda dari common sense, dugaan, tradisi serta kemapanan. Pekerjaan di dunia cipta dan akademi bisa dikatakan pekerjaan di wilayah tanpa tabu, pekerjaan yang berupaya mencari kebenaran dari kenyataan, menggunakan cara kerja yang mengutamakan data, analisa serta, menyediakan ruang luas bagi kebenaran pihak lain dari mana pun datangnya.
Di hadapan geliat kehidupan kecendekiawanan dan kreativitas begini sdementara pihak di Kalteng, untuk tidak menyebutnya Uluh Kalteng, merasa terusik kemapanan dan kepentingan mereka, lalu bereaksi secara primitif yang sangat brutal menggunakan mobilisasi masa, usia kabakasan yang berkepala kosong, membentuk mayoritas untuk main kroyokan, bergunjing, ancaman kekerasan baik verbal mau pun fisik serta menyalahgunakan kekuasaan yang ada di tangan, cara-cara illogis yang asing dari adat di dunia akademi serta kreativitas yang mengunakan metode pendekatan debat ide atau debat akademi. Primitivitas menjadi lebih telanjang lagi, ketika pihak-pihak ini belum membaca dan mempelajari karya-karya itu, mereka sudah berani menjatuhkan vonis, sehingga unsur keadaban tidak diindahkan. Cara-cara kekerasan menggunakan kekuatan fisik dan kekuasaan begini tidak lain dari bentuk sensor primitif terhadap kegiatan kebudayaan dan kecendekiawanan, bentuk dari konservatisme “yang tidak membaca dan berjiwa mati”, meminjam istilah Agus M.Irkham, hanya merantai Kalteng pada keterbelakangan, ketertinggalan dan neo-keprimitifan. Cendekiawan, seniman-budayawan niscayanya sebagai warga republik kecendekiawanan dan kreativitas tidak seharusnya melakukan oto-sensor. Untuk upaya pembudayaan dan pencerdaasan pikir dan rasa, warga republik kecendekiawan dan kreativitas patut meresapi kata-kata Danton saat masyarakat Perancis sedang bergolak: Berani, berani dan sekali lagi berani! Untuk mengangkat “gerobak tua dari lumpur” yaitu Kalteng, kaberanian kecendekiawan dan kreativitas patut digalakkan. Socrates, Galileo dan banyak nama lagi yang berani mati demi kebenaran, adalah teladan baik bagi cendekiawan dan para kreator. ***
DEWAN KESENIAN & TAMAN BUDAYA
Sahewan Panarung
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
DEWAN KESENIAN & TAMAN BUDAYA
Juklak Instruksi Menteri Dalam Negeri Tentang Dewan Kesenian memang ada menyebutkan tentang Dewan Kesenian Daerah (Provinsi). Tapi dalam kenyataan tidak ada Dewan Kesenian (DK) Provinsi yang berfungsi dan marak didirikan. Yang didirikan adalah DK Kota.Satu-satunyaDK di Indonesia yang hirarkis menurut struktur administrasi pemerintahan adalah Dewan Kesenian di Kalimantan Tengah . Yang di tingkat provinsi disebut Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Tengah (DKD-KT). Untuk tingkat kabupaten dibentuk Dewan Kesenian Kabupaten yang pimpinannya semacam serta-merta (dahulu) dipegang oleh Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata atau Dinas Pendidikan. Alasan utama otomatisme ini adalah karena dana untuk kegiatan lembaga semi pemerintah ini didapatkan dari APBN Dalam DK ini , peran para seniman-budayawan tidak lebih dari embel-embel birokrasi yang sangat dominan.
Di provinsi-provinsi lain, DK tidaklah bersifat hirarkis, tapi sebatas kota. Misalnya DK Jakarta, DK Balikpapan, DK Samarinda, DK Makassar, DK Surabaya, dan seterusnya. Kedudukan DK-DK Kota ini pun setara.
Sejak berdirinya DK di Kalteng, DKD boleh dikatakan tidak berfungsi sebagai ‘pemikir dan konseptor kebijaksanaan dalam pembinaan dan pengembangan serta pemberi rekomendasi tentang seni-budaya kepada pemerintah’. Alasan utama yang sering disebut-sebut adalah kekurangan dana. Sayangnya saban rapat pergantian pengurus atau penanggungjawab ini tidak pernah dievaluasi secara keras. Yang terdengar pada rapat-rapat lebih banyak menonjolkan keberhasilan menunaikan peran sehingga munculnya pengurus baru mengulangi kembali praktek-praktek lama yang membuat DK pasif tapi di laporan akhir disebutkan ‘’berfungsi baik’’.
Untuk mengembangkan kehidupan seni-budaya diperlukan organisator berwacana dan prakarsa. Organisator berprakarsa ini sebenarnya diharapkan dari DK. DK demikian memerlukan ‘’orang yang tepat di tempat yang tepat’’ (the right man on the right place). ‘’Tepat’’ di sini berarti memiliki wacana dan prakarsa budaya serta kemampuan mengorganisasi. Wacana memberitahukan mesti apa bagaimana dan mau ke mana. Tahu dan memahami, lebih baik lagi jika menguasai bidang seni-budaya. Prakarsa, artinya aktif, tidak menunggu dan mampu mengatasi kesulitan serta kekurangan, seperti dana. Mlempemnya DK di Kalteng agaknya terutama karena masalah kunci ini tidak diindahkan.
Alasan esensial ini pulalah yang menyebabkan Taman Budaya Kalteng hanya ada namanya sampai sekarang, bahkan sempat ditiadakan. Padahal DK dan Taman Budaya sesungguhnya dua organisasi seni-budaya yang saling isi. Akibatnya sanggar-sanggar dan komunitas-komunitas berkembang sendiri-sendiri atau menjadi sanggar-sanggar dan komunitas oto-pilot, terasing dari kegiatan skala nasional dan internasional. Agaknya menerapkan prinsip ‘‘ orang yang tepat di tempat yang tepat’’ di daerah ini tidak berlaku atau dikalahkan oleh prinsip transaksional,nepotisme, serta pendekatan kekuasaan. Prinsip ‘‘orang yang tepat di tempat yang tepat’’ mengutamakan wacana, kemampuan, prakarsa dan integritas. Prinsip ini menuntut pengenalan mendalam terhadap orang. Organisasi dipimpin oleh orang terhadap orang. Sedangkan pendekatan kekuasaan, nepotisme dan transaksional tidak menggunakan patokan-patokan demikian. Hasilnya? Ketertinggalan dan penyingkiran dan kejujuran. Untuk menbgembangkan potensi seni-budaya di daerah ini DK, Taman Budaya sebagai konseptor, organisator dan pelaksana konsep itu sekaligus, patut ditataulang dengan menerapkan terutama prinsip the right man on the right place’’. ***
Sansana Panarung
SAJAK-SAJAK ENOS ASONG
DI ATAS KUBURAN DAYAK
di atas motor kencang memburu angin entah di penjuru mana
usai berkaraoke — nama baru bagi daerah lampu merah
tubuh bau sperma dan narkoba; para pemuda kotaku
membayangkan diri di eropa dan amerika
lambang kemajuan zaman dan modernitas patut ditiru
di bekas roda motor mereka kudapatkan tetesan darah
darah kampungku terjepit;darah itu berhamburan
pada debu-debu isyarat dekatnya kematian
tanda negeriku kehilangan satu angkatan
mengidap penyakit mendasawarsa
modernitas hari ini lebih mengancam dari hiv
membius kesadaran mendapatkan remah-remah kolusi
tanah tambun-bungai tak obah sebatang sungai
di permukaannya mengapung jiwa-jiwa membangkai
hijau-hijau daun kebun
hitam mengkilat gunung batubara
hijau dan hitam di kuburan dayak
merentang ke cakrawala
hijau dan hitam hutan duka
2012
REPUBLIK BELATUNG
airmata yang mengisi sungai
menguap menjadi awan hitam
darah yang membasahi lahan
kepapaan yang mengairi nadi
serupa selokan dan jalan
serta taburan sampah
bukan untuk debat dan polemik
duka ini adalah seratus tombak
di tubuhku dalam tertancap
sejuta belatung hidup merayap di atasnya
raga dan jiwaku sarang belatung
sejak republik jadi sarang maling
keadaan begini darurat
menuntut gerak cepat
berani dan tepat
maka tinggalkan ibukota
biarkan mereka berkelimpahan
di meja-meja jabatan yang amis
keadaan begini darurat
membuka gerbang
menyemai asa
menangkal penaklukan
2012
RASMINAH
rasminah
nenek minah
itulah nama-nama lukaku
sedangkan sampah
nasib dan nama dari keadilan
di bak-bak menumpuk
dikais pemulung
yaitu kita
para tuna kuasa
republik adalah bangkai
tergeletak di tengah bak
yaitu negeri ini
kernanya negeri bau anyir oleh nanah luka kita
bau apak oleh keadilan yang membusuk
udara menyengat
bau mayat hingga kelambu masuk
pagi petang
truk-truk kuning pengkhianat mengangkut
membuang dan membakarnya di tepi-tepi jauh
(ternyata para satria khianat di menara tinggi itu
hanyalah kuli-kuli sampah sesungguhnya)
bangkai itu pun dibakar sepenggal demi sepenggal
kerna memang tak gampang menghancurkan batang besar
rasminah adalah lukaku yang tak henti mengucurkan darah
ketika tanahair menjadi rumah tahanan kepapaan menyiksa
untuk menjadi manusia di negeri ini diperlukan cinta
daya tahan dan kepintaran bertarung tak tanggung-tanggung
penjamin esok sarang harapan
2012
Kritik &Apresiasi
MASALAH BUDAYA DAYAK YANG MENAGIH JAWAB
Resensi Yanedi Jagau *
Judul : Budaya Dayak Permasalahan dan Alternatifnya,
Penulis : Kusni Sulang dkk
Pengantar : Agustin Teras Narang
Isi : xiv + 436 halaman
Penerbit : Bayumedia 2011
Budaya Dayak Cangkokan (Hibrida)
Bukan rahasia umum bahwa orang Dayak sedang resah memikirkan identitas kesukubangsaannya yang sedang terpuruk. Buku yang mengulas kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah masih terbilang langka — sulit dibantah — kehadiran buku Kusni telah berhasil memuaskan dahaga orang Dayak untuk sementara waktu.
Buku ini diberi judul Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya pada tulisan ini kami menyingkatnya BDAP. Kusni Sulang dan beberapa penulis lainnya mengupas masalah sekaligus juga menawarkan jawaban yang menguncangkan, seakan mengajak pembaca “mengupas masalah lokal” sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.
Sudah banyak orang tahu Kusni memang nyentrik, malang melintang dalam ragam kegiatan warga masyarakat Dayak. Dalam BDAP Kusni cenderung memposisikan diri “cendekiawan mesti bergabung dengan badai topan masyarakat” sebagaimana tercantum dalam halaman 208.
Tengoklah pikiran Kusni mengenai budaya Kalimantan Tengah, Kusni menawarkan agar orang Kalimantan Tengah memajukan gerakan kebudayaan hibrida untuk Dayak.Kusni cukup kuat mengalaskan pemikirannya dari sokongan infomasi dan data-data terbaru.Penulis setingkat Kusni sangat sadar bahwa dalam menulis kebudayaan mestilah penulis terlibat dalam kehidupan manusia dia tulis.Salah satu pemikiran yang mengemuka dalam pemikiran Kusni adalah tentang Budaya Hibrida di Kalimantan Tengah.Budaya Hibrida adalah salah satu pilihan diantara berbagai alternatif yang tumbuh di tengah masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk.Penulis memaparkan “Budaya hibrida tidak saling memakan, tidak bercirikan saling mencari menang, saling takluk menakluk, tapi saling memperkaya”.
Pertanyaan penting kita kepada Kusni: Budaya hibrida manakah yang menceritakan kesuksesan. Atau dalam bahasa lain “dimanakah success story budaya hibrida?” Mampukah buah pemikiran Kusni berlaga dalam pertarungan wacana dan kepentingan di Kalimantan Tengah.Membaca BDAP tentu saja saya bertanya dalam hati, dapatkah ide Kusni dipelajari dan dicoba dalam tata kelola dunia lokal, nasional bahkan internasional. Membuka lembar demi lembar BDAP, pembaca akan melihat keresahan Kusni tentang budaya, politik, lingkungan, pendidikan bahkan ekonomi orang Dayak. Dia tidak hanya resah maupun mengeluh namun menawarkan jawaban. Kusni sendiri tak mau bukunya sebagai satu-satunya jawaban, berkali-kali dalam buku ini, ia mengundang cendekiawan Dayak untuk lebih menulis kebudayaan Dayak.
Sayangnya buku ini belum menawarkan sosok hubungan antar suku bangsa di Kalimantan Tengah. Buku ini tidak memuat tentang bagaimana bentuk interaksi antar orang Dayak dan bentuk interaksi orang Dayak dengan suku bangsa lain.
Budaya Betang Salah Kaprah
Secara khusus Kusni menyoroti makna budaya betang. Pada awalnya dia tidak setuju bahkan mengkritik habis-habisan tentang budaya betang yang dijadikan falsafah budaya Dayak. Kusni menulis, “kalau budaya betang itu tidak ada, lalu apa yang ada? Yang ada yaitu budaya Dayak yang dahulu disebut budaya Kaharingan, tadinya Kaharingan bukanlah agama tapi budaya”.
Walaupun Kusni mempertanyakan dasar apakah yang mendorong pemerintah mengajukan betang sebagai falsafah budaya, tetapi akhirnya Kusni cenderung menerima konsep budaya betang itu dengan alasan hal tersebut terlanjur populer. Budaya betang terlalu disusupi oleh kepentingan politis ulasannya pada buku BDAP dapat terbaca pada halaman 39, 128 dan 231.Dalam buku Budaya Dayak disebutkan orang Dayak mendapat anugerah kekayaan alam yang berkelimpahan.Namun bagaimanakah kebudayaannya, Kusni mengajak agar Dayak menjadikan diri sebagai “Dayak Bermutu”. Agar alam dan hutan dapat terjaga dan asri, tentu saja Kusni tak mau ketinggalan membahas sengketa tanah dan pengrusakan hutan yang makin cepat. Berkali kali penulis BDAP menawarkan konsep wacana strategis dan tindakan lanjut konkret. Penulis dalam buku ini antara lain T. T. Suan, Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, Andriani S. Kusni, Abdi Rahmat, Erwin Endaryanta, dan Paulus Alfons Y. D. Abdi Rahmat mengetengahkan ideologi gerakan kebudayaan dan pengorganisasiannya. Andriani menyoroti isu gender dalam masyarakat Dayak.
Buku ini sangat tajam bahkan cenderung to the point, tanpa tedeng aling-aling, Kusni menuliskan bahwa orang Dayak kurang memiliki solidaritas, tak mengherankan Dayak tersisih. Sebutlah misalnya warga Dayak tak pandai mengorganisir diri.Hanya mau bergerak kalau sudah terdesak, dengan kata lain Budaya Dayak belum mampu mengantisipasi datangnya serangan yang memarjinalkan. Maksud Kusni bukanlah menghakimi orang Dayak melainkan mengajak agar semua orang Dayak merenungkan eksistensi ke-Dayak-an dalam konteks masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam buku ini mau tak mau memunculkan kenyataan kehidupan orang Dayak, walaupun fakta yang diketengahkan terasa pahit.
Sebelum anda membaca buku Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya alangkah baik bacalah lebih dalam pemikiran Kusni pada bukunya Negara Etnik.Mengapa demikian? BDAP adalah operasionalisasi dan wujud nyata “Negara Etnik” yang ingin dielaborasi Kusni di Kalimantan Tengah. Sebaiknya bacalah buku ini, anda akan mendapat pencerahan mengenai fakta kehidupan orang Dayak, melainkan anda akan disuguhi paparan menarik tentang sastra dan seni di Kalimantan Tengah. Kusni adalah budayawan dan juga sastrawan, tak mengherankan pada buku ini anda menemukan pepatah dan idiom Dayak yang terasa mengena dengan keadaan Kalimantan Tengah sekarang.
Jangan terpesona pada kulit buku BDAP, “don’t judge a book by its cover,” kata orang Inggris. Kesan pertama kulit buku ini adalah penghancuran lingkungan, ini dilambangkan mesin gergaji (chainsaw) yang bersiap memotong pohon yang berhiaskan ornamen Dayak.Apapun penilaian anda tentang cover-nya, yang paling penting adalah isinya. Tak ada kata lain, buku ini sangat berisi.***
*Direktur Eksekutif Borneo Institute, Palangka Raya.
Pelajaran Dasar Bahasa Dayak
Asuhan Kusni Sulang
Pengantar
Untuk melahirkan dan mengembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng, demikian juga untuk mata pelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Dayak, terutama Bahasa Dayak Ngaju mempunyai peran penting. Untuk keperluan ini, mulai edisi ini, SP Radar Sampit membuka Ruangan Baru: ‘Pelajaran Dasar Bahasa Dayak Ngaju’. Pelajaran Dasar ini bersifat praktis, agar bias segera diterapkan.
PELAJARAN 1.
ABJAD DAN UCAPAN
I.Abjad dan Cara Membaca
Abjad dalam Bahasa Dayak Ngaju sama dengan abjad bahasa nasional, Bahasa Indonesia yaitu: a.b.c,d,e,f, g, h, i, j, k, k, l, m, n, o, p, q, r, s, t. u, v, w, x, y, z.
Aksara e (E). Bahasa Dayak Ngaju mengenal tiga macam e (E) yaitu e pepet, e sangat lembut, dan e keras.
E keras. Contoh:Melai: tinggal, berdiam. E pada kata melai adalah e keras. Kalau dibaca sebagai e pepet , pendengar tidak akan mengerti atau tertawa geli. Oleh karena itu Bahasa Dayak Ngaju seniscayanya mempertahankan tanda baca ‘ pada e keras.
Contoh lain e pada kosakata mbuhen=mengapa. Kalau e pada kosakata ini dibaca sebagai e pepet atau e sangat lembut, pemakai Bahasa Dayak Ngaju tidak bakal mengerti karena ia akan menjadi kosakata asing, dalam arti tidak dikenal.
E pepet:
Contoh :Iete= yaitu. E pada ie diucapkan sebaga e pepet , sedangkan e pada te dibaca sebagai e keras.
E sangat lembut (diucapkan hampir tidak terdengar)
Contoh: kajariae =akhirnya. Arepe=dirinya. E di sini berfungsi sebagai akhiran (akan dibicarakan dalam pelajaran selanjutnya) dan dibacara atau diucapkan hampir tidak kedengaran. Mendekati huruf bisu (l’alphabet muet) dalam Bahasa Perancis.
Cara Membaca: Huruf-huruf itu dibaca sebagaimana ia ditulis. Bagaimana aksara atau kosakata itu ditulis, demikianlah pula aksara dan kosakata itu dibaca.
Misal: uluh= orang, dibaca uluh. Jika kosakata ini ditulis dengan oloh sebagaimana sering dilakukan oleh banyak penulis atau pengguna Bahasa Dayak Ngaju sampai hari ini, maka niscayanya sesuai dengan rumus di atas, kosakata itu dibaca Oloh. Sedangkan Bahasa Dayak Ngaju, baik secara hukum bahasa dan lebih-lebih dalam kehidupan sehari-hari tidak mengenal kosakata Oloh. Penulisan kosakata Uluh menjadi Oloh adalah pengaruh Bahasa Dayak Ngaju yang digunakan oleh Injil dan pandangan sarjana-sarjana bahasa Zending, terutama dari Swiss Jerman sebagai pihak-pihak pertama yang memperhatikaan Bahasa Dayak Ngaju.
Cara penulisan ini dan soal-soal lain kebahasaan perlu distandarisasi (Re-Dayakisasi Bahasa) melalui suatu pertemuan seperti seminar bahasa misalnya. Tanpa standarisasi maka akan terjadi kesimpang-siuran yang membingungkan pembelajar Bahasa Dayak Ngaju.
II.Kosa Kata:
Uluh, orang.
Iete, yaitu. Ie =ia. Te= itu. Tuh= ini.
Kajariae= akhirnya.
Arepe= dirinya.
Mbuhen= mengapa.
UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU
Kadian mambesei, jukung hanyut. Malas berdayung , perahu larut. Jika tak berusaha tak mendapatkan hasil apa pun.
Mambesei hayak manimba. Mengayuh sambil menimba. Mengerjakan beberapa hal sekaligus.
Manapuk kanai misek belai. Menepuk perut menanyakan selera. Bertanya harus kepada orang yang tepat.
Mandang-ujan puna ampin andau. Panas-hujan memang tabiat hari. Susah-senang sudah menjadi adat hari.
Amun mekei te metuh mandang. Kalau menjemur mestinya pada saat hari bermatahari. Untuk menempat sesuatu hendaknya sejak dini.
Cerita Rakyat Dayak Ngaju
Maharaja Panduran
Konon, seorang Tamanggung Sungai Kahayan sedang berperahu ke arah kuala. Sebagaimana biasanya orang Dayak, dalam perjalanan jauh senantiasa melengkapi diri dengan senjata-senjata seperti mandau badek, tombak atau sumpitan.Tanpa kecuali dengan Tamanggung Kahayan yang sedang menghilir.
Malang tak bisa dielak untung tak bisa diraih, ketika sampai di muara, badai petir hujan deras turun dari langit. Ombak setinggi rumah menggulung melanda perahu. Dalam sekejap, perahu kecil Tamanggung Kahayan tenggelam, tinggal badek yang terselip dipinggangnya yang tidak tenggelam ke lubuk laut.
Agar tidak turut tenggelam ke dasar lubuk, Tamanggung menggunakan perahunya yang terbalik sebagai pelampung. Dengan badan perahunya itu ia diombang-ambingkan oleh gelombang laut yang berang selama berhari-hari.
Suatu fajar, tiba-tiba Tamanggung yang sudah sangat lelah, mendengar suara kokok ayam jantan. Mendengar adanya kokok ayam jantan itu, Tamanggung sadar bahwa ia berada tidak jauh dari daratan. Harapan untuk hidup selamat pun terbentang di hadapannya. Oleh kegembiraannya, tanpa sadar Tamanggung pun menjawab kokok ayam jantan itu dengan berteriak sekuat tenaga meniru kokok ayam jantan yang didengarnya. Kokok dibalas kokok. Demikian berkali-kali kokok demi kokok bersahut-sahutan. Sampai tiba-tiba di kejauhan ia melihat sebuah perahu besar melaju mendekatinya.
Para awak perahu besar itu mengangkat Tamanggung ke atas perahu.
‘’Terimakasih sudah menolong saya’’, ujar Tamanggung sesudah berada di perahu besar.
‘’Andakah yang berkokok tadi ?’’ tanya seseorang lelaki tinggi besar, berkulit hitam, berkumis dan nampaknya disegani oleh para awak perahu besar itu lainnya.
‘’Ya’’, jawab Tamanggung Kahayan tegas.
‘’Mengapa ?’’, tanya Tamanggung.
‘’Nanti Anda akan tahu’’.
Lelaki tinggi besar itu kemudian memerintahkan kepada para awak perahu untuk mengambil dan memberikan pakaian kering untuk Tamanggung Kahayan.
Sepanjang pelayaran menuju pantai, Tamanggung Kahayan dan lelaki tinggi besar itu sertga para awak perahu bercakap-cakap dengan akrab untuk saling mengenal. Sebelum perahu besar merapat, di daratan sudah nampak kerumunan orang menunggu, seakan-akan kedatangan perahu besar itu merupakan suatu peristiwa penting.
Begitu mendarat, Tamanggung Kahayan di bawa ke suatu rumah besar dikawal oleh banyak orang bersenjata tombak dan kelewang di pinggang.
‘’Ini istana Raja Madura. Tamanggung sedang berada di Negeri Madura’’, jelas lelaki tinggi besar hitam itu.
‘’Jadi saya dibawa menghadp Raja Madura ?’’, tanya Tamanggung yang dijawab oleh lelaki tinggi besar itu dengan anggukan.
Setiba di hadapan Raja, lelaki tinggi besar itu menyembah. Tamanggung Kahayan mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh lelaki tinggi besar itu. Kedua lelaki itu kemudian duduk. Lelaki tinggi besar itu yang ternyata panglima pasukan Raja memperkenalkan Tamanggung dan segala apa yang menimpanya kepada Raja. Raja mendengar semua lapooran Panglimanya dengan penuh perhatian.
‘’Baik, Panglima’’.
‘’Tamanggung Kahayan. Anda berada di Negeri Madura.Selamat datang cdi negeri kami. Perlu saya beritahukan kepada Tamanggung, bahwa menurut adat kami, siapa yang menjawab kokok ayam jantan tadi berarti menantang pahlawan-pahlawan kami yang terhebat. Pahlawan kami yang terhebat sekarang Panglima, orang yang menjemput Tamanggung tadi’’. Tamanggung melirik ke lelaki tinggi besar di sampingnya, demikian juga sang Panglima. Keduanya bertatapan.Bertukar senyum.
Sang Raja melanjutkan : ‘’Karena itu sesuai adat kami, Tamanggung dan Panglima harus bertempur sampai salah satu mati dalam sebuah lobang yang kemudian sekaligus akan menjadi kuburan bagi yang kalah. Khusus untuk pertempuran kali ini, pemenang akan saya nikahkan dengan puteri bungsu saya. Jadi Panglima dan Tamanggung besok akan bertarung sampai salah satu meninggal. Bagaimana , adakah pertanyaan, Tamanggung ? ’’.
‘’Tidak ada Paduka. Sangat jelas. Hanya saja hamba merasa di luar kelayakan hamba harus bertarung dengan penolong jiwa hamba’’.
‘’Saya tidak bisa merobah ketentuan adat negeri kami begitu saja’.
‘’Kita tidak punya pilihan lain Tamanggung’, bisik Panglima kepada Tamanggung.
‘’Baik, Paduka’’, ujar Tamanggung sambil merendahkan kepala memberi hormat kepada Sang Raja.
***
Lobang pertempuran sudah digali. Penduduk berjejal di pinggir-pinggir lapangan besar. Sedangkan Raja dan puteri bungsunya duduk dikursi kebesaran di balkon menyaksikan laga sampai mati Panglima dan TamanggungKahayan yang berdiri di pinggir ujung lobang laga. Setelah Sang Raja mdembunyikan gong tanda laga dimulai, Panglima dan Tamanggung memb deri hormat ke pada Sang Raja dengan membongkokkan badan. Lalu keduanya bertatapan.
‘’Saya tidak mau melaga Panglima’’, ujar Tamanggung.
‘’Saya juga tidak mau melaga Tamanggung. Kita tak mampu mengalahkan ketentuan ini Tamanggung. Meloncatlah sekarang ke dalam lobang’’.
Panglima segera meloncat. Tapi Tamanggung masih di atas.
‘’Meloncatlah, Tamanggung’’.
‘’Saya tidak mau melaga orang yang menyelamatkan nyawa saya’’.
Panglima menarik kaki Tamanggung sehingga Tamanggung jatuh ke lobang laga.
‘’Salah satu dari kita harus mati, Tamanggung’’.
‘’Biar saya yang mati’’, ujar Tamanggung. ‘’Saya tidak mau membunuh orang yang telah menyelamatkan jiwa saya’’. Sambil berkata begitu Tamanggung menarik badek di pinggangnya dengan maksud menusuk perutnya sendiri. Tapi Panglima dengan sigap menahannya. Keduanya rebutan mengenai arah mata badek. Panglima berhasil mengarahkan mata badek ke hulu hatinya sambil menarik badan Tamanggung. Tamanggung jatuh ke tubuh Panglima, membuat seluruh batang badek tertancap ke hulu hati Panglima. Melihat keadaan demikian, Tamanggung menjerit sekuat tenaga. Tidak bisa menerima kematian Panglima. Tamanggung memeluk Panglima dengan bercucuran airmata dan basah darah.
‘’Tamanggung, tolong kau jaga Puteri baik-baik. Ia menolak cintaku dan Raja pun tak mau aku jadi anak menantunya’’. Panglima meregang dan menutup kedua matanya dengan senyum di bibir.
Tamanggung mengangkat tubuh Panglima ke atas. Baru kemudian ia meloncat ke atas. Mengangkat jenazah :Panglima dengan kedua tangannya.
‘’Panglima ini adalah saudaraku sejati, Dia Panglima sejati dan pemenang !’’. Hanya Tamanggung lah yang mengetahui rahasia :Panglima penyelamat hidupnya untuk kedua kali.
Dengan upacara besar selama beberapa hari dan malam, perkawinan Tamanggung dan Putri Bungsu Raja dilangsungkan. Dari perkawinan ini lahirlah turunan Dayak-Madura. Tamanggung yang kemudian juga dikenal dengan nama Maharaja Panduran membawa anak-istrinya kembali pulang ke Kahayan, dan tinggal di kampung yang dikenal dengan nama Manen Panduran. ***
(Cerita Ikhtisar tuturan Andriani S. Kusni berdasarkan kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau).
MENATA KEMBALI ORGANISASI KEBUDAYAAN KALTENG
SAHEWAN PANARUNG HARIAN RADAR SAMPIT
Sahewan Panarung Harian Radar Sampit: BELAJAR SEBAGAI KENISCAYAAN
SAHEWAN PANARUNG
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
BELAJAR SEBAGAI KENISCAYAAN
Nama Akbar Tanjung sebagai politisi dan tokoh nasional, tentu bukanlah nama asing bagi pembca SP Radar Sampit. Tulisan di bawah ini dia kirimkan kepada Kusni Sulang sebagai sahabat lama, pada 10 Desember 2007, ketika ia sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM yang sedang menyusun skripsi yang temanya tentang “Nasionalisme Indonesia Perspektif Pramoedya Ananta Toer”. Penekanan dari pemikiran Pram adalah Nation and Character Building. Ia akhirnya lulus dengan sebutan Cumlaude. Ringkasan tesis Akbar ini kami siarkan mengingat pertanyaan-pertanyaan Akbar Tanjungnya sangat relevan dengan keadaan Indonesia yang oleh sejumlah penulis disebut sebagai negeri “oto-pilot”, artinya negara tanpa pemimpin oleh ketiadaan wibawa. Nasionalisme sangat merosot.
Tulisan kedua yang kami siarkan untuk edisi ini adalah resensi Ibrahim Isa, seorang publisisi, mantan diplomat di Kairo,Mesir pada masa Pemerintahan Soekarno, yang ia kirimkan langsung ke SP Radar Sampit dari Negeri Belanda di mana ia bermukim. Dari resensi ini, barangkali bisa dilihat arti penting belajar sejarah, tahu politik (tanpa menjadi partisan), pengenlan detail keadaan, filosofi, sosiologi, dan lain-lain bagi seorang penulis, termsuk sastrawan seperti yang antara lain diteladankan oleh Pramoedya A. Toer yang wacana-wacananya menjadi subyek garapan tesis doktor oleh Akbar Tanjung. Belajar, meneliti, mengamati tanpa henti dan sungguh-sungguh adalah suatu kemutlakan bagi penulis, sastrawan dan seniman. lah satu cara meningkatkan mutu tulisan. Keniscayaan ini pun diperlihatkan oleh para penerima Nobel Sastra. Kenyataan demikian menolak otokproklamasi sudah menjadi sastrawan handal serta puas diri karena sudah menulis satu dua cerpen atau puisi. Kepongahan puas diri – sikap tak berdasar sebesar apapun hasil diraih — hanya mengantar orang ke jalan buntu, sedangkan pekerjaan penulis, seniman-sastrawan adalah pekerjaan membidas, bagaimana menjadi anak zaman dan nurani bngsa dan zaman. Tanpa belajar seumur hidup peran niscaya demikian tidak mungkin terwujud. Sama tidak mungkinnya jika menggadaikan kemerdekaan dan jadi “his master’s voice” atau menjadi hedonis. ***
Esai AKBAR TANJUNG *
Merajut Benang Sejarah, Menyelesaikan Revolusi Indonesia
(Menatap Kembali Nasionalisme Indonesia Dari Persfektif Pramoedya Ananta Toer)
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pada bulan Februari lalu, penulis diundang untuk menghadiri pelatihan kader AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) di Kaliurang. Salah satu materi dalam pelatihan kader tersebut mengangkat tema kebangsaan. Sebelum diskusi dimulai, pembicara membagikan kertas kepeserta pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan mereka berasal dari bangsa mana beserta alasannya. Setelah semua jawaban dikumpulkan, tidak satu pun peserta yang mengaku berasal dari bangsa Indonesia tetapi bangsa Papua. Mereka menganggap bahwa perasaan sebagai bangsa Papua lebih kental, lebih termanifes dalam diri mereka dari pada sebagai bangsa Indonesia. Mengapa mereka lebih memilih sebagai bangsa Papua dari pada bangsa Indonesia?
Pertanyaan tersebut semakin bergentanyangan di hati dan kepala penulis saat bendera Bintang Gejora berkibar pada Kongres Dewan Adat Papua bulan Juli lalu. Bendera Bintang Kejora sebagai symbol kebanggaan rakyat Papua – mungkin juga sebagai symbol perlawanan - tak henti-hentinya membayangi NKRI. Ibarat burung Cendrawasi yang terbang melanglang buana mencari kebebasan. Meskipun bendera Bintang Kejora hanya sebagai symbol kultural – kata Gus Dur – tetapi pengibaran tersebut merupakan bentuk eksistensi dari sebuah komunitas yang mendambakan kebebasan dan kedamaian.
Munculnya eksistensi “komunitas lama”[1] merupakan ekspresi yang mempertanyakan kembali nasionalisme Indonesia, termasuk penulis. Apakah betul masih ada nasionalisme Indonesia? Pertayaan itu semakin membuat sedih jika menonton atau mendengar berita; pemerintah menjual kekayaan alam milik rakyat Indonesia, konflik antar kelompok masyarakat, lemahnya perlindungan pemerintah terhadap rakyat yang dikebiri haknya – kasus buruh yang belum terbayarkan upah dan THR, rakyat Sidoarjo yang tenggelam rumahnya akibat Lumpur Lapindo belum dapat ganti rugi, pejabat yang korupsi, dan sekian banyak kasus yang mengarah pada penghancuran nasionalisme Indonesia.
Lalu, seperti apa nasionalisme Indoensia? Apakah kita cukup melihat bahwa rakyat Indonesia masih cukup nasionalis dengan berbondong-bondong ke Stadion Bung Karno untuk menyaksikan pertandingan sepak bola Indonesia melawan Korea Selatan? Atau bereaksi keras terhadap pemerintah Malaysia ketika mencaplok Pulau Sipadan dan Ligitan – kasus terakhir adalah dipatenkannya lagu Rasa Sayang-Sayange oleh Peerintah Malaysia.
Jika ukuran nasionalisme Indonesia hanya dilihat dari perasaan bersatu jika ada musuh yang mengganggu eksistensi nusantara, maka sungguh sempit pandangan tersebut. Dan penulis memandang bahwa itulah nasionalisme yang dimaknai sebagian besar rakyat Indonesia. Jika seperti itu pemaknaan nasionalisme Indonesia, penulis langsung teringat sinetron-kartun “Tom dan Jerry”. “Tom dan Jerry” akan berkelahi dan saling mengganggu jika tidak ada pihak lain yang mengganggu eksistensi mereka. Namun, jika ada pihak lain yang mengganggu kepentingan dan eksistensi mereka – Tom dan Jerry – maka persatuan adalah keharusan bagi mereka.
Menggambarkan nasionalisme Indonesia ibarat “Tom dan Jerry” mungkin bukan merupakan tindakan “seorang nasionalis”, tapi itulah sebuah ekspresi dalam memandang nasionalisme Indonesia saat ini. Jika nasionalisme merupakan perasaan kecintaan terhadap tanah air, maka tanah air yang mana? Jika Soekarno mendefinisikan nasionalisme sebagai “keinginan hidup menjadi satu”[2], satu dengan siapa? Toh, nasionalisme yang lagi “ngetrend” saat ini adalah nasionalisme primordial – yang lebih populer dikenal dengan etno-nasionalisme. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 sebagai symbol persatuan yang melahirkan janji dan sumpah untuk bersatu – berbangsa, berbahasa, bertanah air satu, Indonesia, tidak lagi “sakral” dengan adanya keinginan dari “komunitas lama” untuk mendirikan negara sendiri. Daniel Dhakidae dalam pengantar buku Imagined Communities – di Indonesiakan menjadi Komunitas-Komuntas Terbayang – melihat bahwa the holy trinity, tritunggal suci – bangsa, bahasa, tanah air – kini berubah wajah dan semakin “garang” menjadi the unholy trinity yang saling mendepak satu sama lain[3].
Kehentak untuk hidup bersatu, “le desir d’être ensemble”,[4] sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kemudian dipertanyakan. Spanduk diperempatan jalan Sagan yang bertuliskan “NKRI adalah harga mati”, jangan-jangan sebuah reaksi dari bermunculannya tuntutan dari “komunitas-komunitas lama” untuk merdeka?!.
Munculnya tuntutan dari “komunitas-komunitas lama” untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan merupakan fenomena yang baru. Pada masa pemerintahan Soekarno, gejolak politik yang ditunjukkan “komunitas-komunitas lama” sudah menggeliat dengan ekspektasi bahwa Indonesia dapat berjalan dengan landasan ideology dan politik yang mereka yakini – misalnya, DI/TII mengharapkan landasan untuk menjalankan Indonesia ke depannya adalah Syariat Islam. Selain pertentangan dasar negara, Affan Gaffar juga melihat bahwa pergolakan yang muncul di “komunitas-komunitas lama” merupakan ekspresi ketidak puasan terhadap pemerintah di Jakarta. Terjadinya pergolakan didaerah pada tahun 1957-1958 disebabkan oleh kuatnya dominasi pemerintah Jakarta terhadap “komunitas-komunitas lama”[5].
Dan paska kejatuhan rezim militeristik Soeharto, eksistensi dari “komunitas-komunitas lama” kembali mencuat kepermukaan. Ibarat jamur dimusim hujan, kemunculannya tidak dapat dibendung. Hampir setiap “komunitas lama” menuntut kemerdekaan; gerakan rakyat Aceh, kemerdekaan untuk Papua, Kalimantan Barat, Riau sampai munculnya negara IRAMASUKA – gabungan dari beberapa “komunitas lama” seperti Irian, Maluku, Sulawesi, Kalimantan. Kesetiaan terhadap “ibu pertiwi” selama puluhan tahun tiba-tiba luntur dengan tuntutan: kemerdekaan!.
Berbagai resep kebijakan dari pemerintah untuk “mengobati” penyakit disintegrasi ditawarkan. Sejak kejatuhan rezim Orde Baru, kembali muncul diskursus tentang bentuk negara – diskursus yang muncul untuk mencari resolusi gejolak perlawanan “komunitas-komunitas lama” terhadap NKRI. Ada dua arus utama perdebatan yang muncul unruk merumuskan kembali bentuk negara. Di satu pihak, mengusulkan bahwa alternatif yang terbaik untuk memecahkan gejolak tuntutan kemerdekaan “komunitas-komunitas lama” dan mempertahankan keutuhan negara Indonesia adalah federasi. Pemikiran seperti itu muncul sebagai akibat dari sentralisasi dan dominasi yang sangat kuat dari pemerintah pusat pada masa pemerinatahan Soeharto. Di pihak lain, bentuk negara kesatuan masih tetap dipertahankan. Dan kekuatan politik negeri ini kebayakan memilih bentuk negara kesatuan. Selain tidak adanya dukungan kekuatan politik, format pemerintahan negara yang federalistik tidak mudah diterapkan dalam negara yang masyarakatnya yang homogen.
Di tengah perdebatan bentuk negara – kesatuan dan federasi – muncul alternatif pilihan untuk “mengobati” penyakit disintegrasi. Pilihan tersebut merupakan pilihan yang kompromis, artinya bahwa berusaha memadukan pilihan bentuk kesatuan dan federatif. “Badannya kesatuan tapi rohnya federasi”. Dan pilihan itu adalah desentralisasi dan otonomi daerah[6].
Desentralisasi dan Otonomi daerah yang lahir dari rahim negara kesatuan dianggap sebagian besar politikus, ilmuwan dan akademisi dapat menjawab permasalah sosial, politik dan masalah menguatnya eksistensi “komunitas-komunitas lama”. Namun, dalam proses perjalanannya, konsep otonomi daerah menuai banyak kritik. Salah satunya, yaitu bahwa otonomi daerah akan memunculkan “Soeharto-Soeharto” di daerah. Otonomi daerah juga tidak dapat mengobati kekecewaan dari “komunitas-komunitas lama” terhadap pemerintah Jakarta. Dan otonomi khusus pun jawaban dari gejolak perlawanan “komunitas lama” seperti Aceh dan Papua.
Pertanyaan kemudian adalah apakah dengan berbagai resep yang ditawarkan oleh pemerintah dapat menyelesaikan masalah? Lalu, mengapa masih ada aksi-aksi pengibaran bendera – bendera tidak hanya dimaknai sebagai symbol kultural tetapi juga symbol politik – dari “komunitas lama”? Pertanyaan lebih mendasar lagi adalah akan dibawa kemanakah Indoenesia? Pertanyaan tersebut menjadi point penting untuk melihat kembali Indoensia – dulu, kini dan tentunya masa depan. Pemahaman tentang sejarah sangat penting untuk menjadikan landasan berpijak dalam melangkah. Sejarah sebagai pelajaran dimaksudkan agar kita semakin menyadari bahwa perjalanan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih demokratis dan Indonesia yang lebih sejahtera secara kolektif merupakan tugas bersama. Dengan menengok dan membuka lagi lembaran-lembaran sejarah masa lalu, kita dapat paham dan menyadari kegagalan maupun keberhasilan masa lampau dan tentunya kita harus belajar darinya. Tidak memahami masa lalu jangan berharap dapat memahami masa kini apalagi masa depan. Pemahaman masa lalu akan mengantarkan pada kemajuan, seperti yang dikatakan Pramoedya bahwa kegagalan kita saat ini dalam membangun Indonesia karena minimya kesadaran akan masa lalu. Misalnya, Pram melakukan evaluasi dan kritik terhadap nama “Indonesia”. Pram menganggap bahwa pemberian nama Indonesia tidak mempunyai landasan material. Rasionalisasi Pram mengapa tidak setuju dangan nama Indonesia adalah sebagai berikut:
Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya, nanti akan menyambung.
Pada waktu Belanda menguasai Indonesia menjadi kekuasaan maritim di dunia. VOC ini, Serikat Dagang Belanda yang membangun imperium maritim terbesar di dunia dengan ibukotanya Batavia. Dan Batavia ini menyebabkan lahirnya Java-centrisme, semua diukur untuk kepentingan Jawa. Jadi VOC itu mengirimkan pembunuh keluar Jawa untuk menundukkan luar Jawa. Dari Luar Jawa membawa harta di bawa ke Jawa. Ini Perbuatan VOC. Tetapi kemudian VOC bangkrut, kapal-kapalnya pada tenggelam karena korupsi para pejabat, dengan mengangkuti barang-barang berlebihan. Bangkrut VOC, kemudian muncul pemerintah Hindia Belanda, karena sudah tidak mempunyai kekuasaan laut lagi.
Pertahanan Hindia Belanda itu didasarkan pada pertahanan Darat. Dan pertahanan Darat dipertahankan sistemnya pada sekarang ini. Padahal sistem pertahanan Indonesia harus pertahananan laut. Salah satu bukti kelemahan pertahanan Darat untuk negara maritim. Pada tahun 1812, waktu Hindia Belanda dikurung oleh Inggris dari laut, dalam beberapa hari angkat tangan. Waktu diserang oleh Jepang pada 1942 dalam beberapa hari juga angkat tangan. Jadi kalau itu diteruskan sampai sekarang, itu bukan lagi kekeliruan, tetapi kesalahan. Persoalannya adalah keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Keberanian tidaknya itu terserah kepada angkatan muda yang belum terpakukan pada sebuah sistem.
Sekarang ini kekeliruan pada waktu Hindia Belanda melaksanakan politik etik, yakni politk balas budi kepada Hindia, timbul organisasi-organisasi pribumi, di Belanda pun muncul organisasi mahasiswa dan terpelajar yang dipelopori oleh Sutan Kasayangan jumlahnya sangat sedikit. Karena yang terbanyak ke Belanda dari Indonesia adalah babu dan jongos. Ada organisasi kecil, sangat kecil. Makin banyak pelajar yang kesana dan kemudian buangan Indische Party, lantas timbul perhimpunan Indonesia. Dengan munculnya Perhimpunan Indonesia itu, pemuda dan buangan ini menemukan tanah air dan nation-nya. Bukan tanah air dan nation yang konkrit tetapi masih fiktif dan ini dinamakan Indonesia. Pada waktu itu nama Indonesia sedang populer. Dipopulerkan oleh Adolf Bastian orang Jerman. Sebetulnya yang menemukan nama ini orang Inggris, tetapi sekarang ini Saya lupa namanya sorry ya!
Disini terdapat kekeliruan, bukan kesalahan. Karena nama Indonesia itu kepulauan Hindia. Bastian menggunakan kata Indonesia itu untuk etnographi. Karena itu pada persiapan kemerdekaan bagaimana wilayah dan penduduk Indonesia. Orang yang waktu ikut perhimpunan Indonesia adalah ras melayu, itu sesuai dengan ajaran Bastian. Jadi Maluku segala tidak masuk Indonesia, tetapi Malaya, Singapura masuk Indonesia. Tetapi ini dibantah oleh grup lain yang mengatakan Indonesia bukan persoalan etnographi, tetapi persoalan kesamaan dalam penjajahan, yaitu wilayah bekas Hindia Belanda, yang terakhir menang. Jadi nama Indonesia masih terbawa[7].
Arti pentingnya mempelajari sejarah bagi Pram adalah untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan dari masa lalu. Dan masa lalu dapat dijadikan pijakan untuk melangkah baik dalam konteks kekinian maupun keakanan. Lebih lanjut, Pram mengatakan bahwa kekacauan yang dialami bangsa Indonesia saat ini disebabkan kurang kesadaran sejarah, “busung lapar sejarah”, sehingga bangsa ini tidak tahu dari mana harus berangkat menata masa depannya. Mudah-mudahan dengan kembali menengok lembaran sejarah – mungkin sudah usang dan sebagian orang bosan – negara Indonesia lebih maju, lebih demokratis dan bisa menuntaskan “revolusi Indonesia”.
B. Rumusan Masalah
Pertanyaan yang ingin penulis kemukakan adalah seperti apa Pramoedya Ananta Toer melihat kembali “Nasionalisme Indonesia”? Penekanan dari “nasionalisme”-nya Pram adalah pembangunan bangsa – nation and character building. Pembangun bangsa berkaitan erat dengan menyelesaikan revolusi Indonesia, seperti yang pernah dicapkan oleh Bung Karno. Karena penulis melihat bahwa karya-karya Pram – baik fiksi maupun non fiksi – semua berkisah tentang nusantara; Indonesia dan proses pembangunannya.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk menemukan kembali elan (semangat) membangun negara Indonesia. Karena penulis melihat bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang tidak menentu atau kalau boleh dikatakan berada dalam ambang kemerosotan; ancaman disintegrasi, kondisi sosial masyarakat semakin menderita, ekonomi yang tak kunjung membaik, suasana politik yang makin kacau, budaya masyarakat yang semakin konsumtif dan hedonis, penegakan hukum yang setengah-tengah, dan persoalan lain yang jika dipikir-pikir lagi akan membuat kepala pusing. Belum lagi jika melihat tingkah laku para elit pemerintahan dan elit-elit politik yang kelakuan dan omongannya semakin tidak karuan – mereka (elit-elit politik dan pemerintahan) selalu berbicara tentang pentingnya menanamkan kecintaan terhadap bangsa tapi merekalah yang menghacurkan negara ini; menjual kekayaan alam yang dimiliki rakyat ke pemodal asing, “berselingkuh” dengan pemodal internasional, melakukan korupsi, dan sebagainya.
Penulis tidak bermaksud untuk membuat kita semua semakin pesimis dan menerima keadaan – seakan-akan keadaan yang dialami sekarang merupakan kutukan atau tadir dari Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada. Tetapi menganggap kondisi dan keadaan yang dialami sekarang merupakan proses dialektika, proses dinamika yang digerakkan oleh manusia. Dan tentunya kitalah (manusia) yang bisa merubah keadaan kearah yang lebih baik.
Pelabuhan yang coba dituju dari penelitian ini adalah membangun kembali kesadaran untuk menjadi Indonesia dengan berpijak pada jejak langkah proses pembangunannya. Kerinduan terhadap sebuah komunitas yang kita bayangkan bersama – komunitas yang lebih egaliter dan demokratis – menjadi bagian dari pemikiran Pram. Akan tetapi, komunitas yang lebih egaliter dan demokratis bukan hanya banyangan dan khayalan yang lahir dari proses lamunan yang tidak berpijak pada landasan material. Seperti yang dikatakan Max Lane, bahwa Indonesia harus lahir dari sesuatu yang baru, suatu proses dialektika, suatu produk perubahan kualitatif dan kekuatan kriatif revolusi. Gagasan untuk melahirkan kembali Indonesia sebagai suatu proses kreasi baru merupakan hal fundamental dalam pemikiran Pramoedya. Lebih lanjut, Lane mengatakan bahwa pembangunan bangsa adalah suatu proses yang harus dituntaskan melalui perjuangan politik dan revolusi kesadaran. Dan itulah poin penting dari pemikiran Pramoedya[8].
Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik lagi untuk melihat pembangunan bangsa Indonesia – nation and character building -, dari kaca mata seorang sastrawan besar Indonesia – dan salah satu sastrawan besar dunia – yang pernah disingkirkan oleh negeri sendiri, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Karena menurut penulis, banyak konsep yang ditawarkan oleh Pramoedya tentang “nasionalisme Indonesia” yang tidak pernah diperhatikan baik oleh sejarawan, politisi, Indonesianis, maupun elit politik Indonesia.
[1] Komunitas lama merupakan daerah/ wilayah/ sebuah kelompok masyarakat tradisional sebelum bersatu dalam NKRI
[2] Ir. Soekarno, Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, dalam kumpulan tulisan Di bawah Bendera Revolusi, jilid pertama, edisi ketiga, Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, Djakarta, 1964. Hal 4
[3] Lebih lengkap baca Danial Dhakidae dalam pengantar Komunitas-Komunitas Terbayang, Bedenict Anderson, INSIST & Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001,hal. Xiii.
[4] Pidato Soekarno dalam sidang BPUPKI. Tentang Pidato Soekarno yang diberi judul “Lahirnya Pancasila” selanjutnya baca; Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), 28 Mei-1945-22 Agustus 1945.
[5] Syaukani, Affan Gaffar & Ryaas Rasyid, Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan, Pustaka Pelajar & PUSKAP, Yokyakarta, 2003, hal 27.
[6] Tentang perdebatan bentuk negara – kesatuan dan federasi – dan munculnya tawaran desentralisasi dan ototnomi daerah, lihat lebih lanjut, Syaukani, Affan Gaffar & Ryaas Rasyid, Ibid
[7] Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang Media Kerja Budaya, 14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional. Jaringan Kerja Budaya
[8] Max Lane, Bangsa Yang Belum Selesai; Indonesia, Sebelum dan Sesudah Soeharto, Jakarta: Reform Institute, 2007, hal. XXV
Resensi Buku oleh Ibrahim Isa *
MEMBACA BUKU MAY SWAN *MONTMARTRE IN BONDOWOSO“
“Montmartre In Bondowoso” bukan karya pertama May Swan, yang ditulis dengan latar belakang peristiwa-sejarah di Indonesia dan Tiongkok. Ini salah satu ciri May Swan. Sekaligus menunjukkan identitas penulisnya. Kepedulian dan keterlibatannya dengan Indonesia dan Tiongkok serta pengetahuannya mengenai sejarah Indonesia dan Tiongkok.
Semua itu menjadikannya insan-budaya, seorang sastrawan, yang jarang di dunia ini: Tidak menceburkan diri dalam kegiatan praktis politik. Tetapi menganggap bahwa politik dan kegiatan politik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat manusia. Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan dunia sastra secara umum. Penulis May Swan tidak a-politis, bahkan punya pandangannya sendiri yang ‘independen’ .
May Swan juga tidak “fobi-politik”. Ini menjadikan karya sastranya a.l. *“Montmartre Di Bondowoso” sebuah novelette yang menarik dan segar. Karena bersumber pada kejadian-kejadian yang merupakan kenyataan dalam kehidupan bermasyarkat.
Hal ini juga tercermin dalam a.l novelnya “Fragrant Deception”, dan “Hidayat”. Dua-duanya dalam dalam bahasa Inggris
Di sinilah kita menyaksikan kekuatan dan keunggulan karya-karya sastra May Swan. Mencerminkan identitasnya sebagai sastrawan Singapura, etnis Tionghoa berasal Indonesia.
“Montmartre di Bondowoso” mengangkat angan-angan ilusioner seorang pemuda Indonesia, Soerono. Ia beristrikan Lee Lin, seorang gadis Indonesia turunan Tionghoa. Suatu ketika Soerono menjadi ‘bosan’ dengan “kehidupan Bohemian”, sebagai migran di Montmartre, Perancis. Soerono rindu masa lampaunya. Percobaannya juga gagal menemukan “kembali” identitasnya sebagai orang Jawa Indonesia yang ‘pulang kampung’. Karena kenang-kenangan kehidupan ‘masa lampau’ telah tiada. Perubahan besar
melanda kehidupan nyaman dan damai di Bondosowo. Termasuk suasana ‘trauma’ di mana masih gentayangan syaitan-iblis sekitar kekejaman dan kebiadaban periode
“Tragedi Nasional 1965”.
Problim sosial yang dihadapi Soerono bertambah rumit karena ulah ‘pribadi’ -nya. Soerono terlibat dan tenggelam dalam berpacaran dengan seorang gadis temannya dulu di Indonesia.
Tidak ada satupun ‘soal-soal’ yang dihadapinya yang bisa ia temukan solusinya. Kembali lagi ke Montmartre untuk bergabung dengan isrinya dan memboyongnya ‘pulang kampung’, juga gagal. Karena Lee Lin, akhirnya mengetahui bahwa, — ketika ke Indonesia, suaminya melakukan hubungan rahasia dengan gadis Indonesia.
Demikianlah masalah-masalah yang dihadapi Surono yang tak bisa dipecahkannya. Dan, Lee Lin sudah tidak mau lagi.
Barangkali inti masalahnya, adalah ini: —Soerono gagal mempertahankan identitasnya sebagai manusia Indonesia, yang mampu berintegrasi dengan masyrakat-bangsa setempat, Ia juga gagal dalam mengabadikan perkawinannya dengan Lee Lin. Karena tenggelam dalam pandangan dan teori-teorinya sendiri sekitar lembaga tertua di dunia ini: PERKAWINAN dan CINTA.
Singkat kata, karya May Swan: “Montmartre Di Bondowoso, menarik dan lancar, tidak ngambang atau melayang-layang, lagipula bukan fiksi semata.
Ini, menjadikan May Swan seorang sastrawan Singapura berlatar belakang Tionghoa dan Indonesia.YANG UNIK!. Mungkin May Swan adalah satu-satunya penulis Singapura yang beridentitas demikian itu.
Lain dari yang lain – tetapi juga suatu keunggulan yang barangkali tak ada duanya di Singapura.
Di karya manapun, dalam bahasa Inggris atau Indonesia, — cerita yang lahir dari buah tangan May Swan, selalu lancar, silih berganti secara harmonis antara suasana sekitar yang rinci dengan dialog yang tidak menjemukan.
Menarik karena kelancaannya itu, disebabkan oleh penguasaannya mengenai tema dan latar belakang kejadian.***
——
Keterangan:
*) Ibrahim Isa, publisis, mantan editor majalah “AFRO-ASIAN MAGAZINE”,yang terbit berbahasa Inggris, Perancis dan Arab, tahun 1960-an,di Cairo. Sejak pasca Suharto, telah mengadakan berkali-kali interview, bicara dalam ceramah dan seminar, serta menulis sekitar 2000 essai dan komentar mengenai situasi Indonesia dan mancanegara.Menerbitkan dua buah buku di Jakarta: “SUARA SEORANG EKSIL (2001) dan ”BUI TANPA JERUJI BESI” (2011). Tulisan ini dikirim langsung penulisnya yang sekarng bermukim di Negeri Belanda kepada Sahewan Panarung Radar Sampit. Buku yang diresensinya ini akan dibedah akhir Februari 2012 di Singupara. Kusni Sulang sebagai pembantu SP Radar Sampit diminta berprtisipasi degan mengirimkan bahasannya.***
Sahewan Panarung Harian Radar Sampit
SAHEWAN PANARUNG
Dengarkanlah gentang yang berdentang
Sedangkan kita berdua saling menyayang
Kepercayaan adalah urusan orang-seorang
Tapi pesembunyian kita tak padan, malangnya
Genta-genta yang meronda
Dari ketinggiannya memandang kita
Dan menuturkan kepada semua
Besok Cyprien dan Henri
Marie Ursula dan Catherine
Tukang roti dan suaminya
Lalu Gertrude saudara kandungku
Menyenyumiku kala kulalu
Menaruh muka aku tak tahu
Dan kaupun jauh yang membuatku tersedu
Boleh jadi mati lebih baik bagiku
Sumber: Jean-Marc Debenetti, “La Poesie Moderniste”
France Loisirs, Paris 1992.
Alihbasa: JJ. KUSNI
KESADARAN BUDAYA & SEJARAH
SAHEWAN PANARUNG
Ruang Budaya Harian Radar Sampit
Wajahmu membayang di air sungai Pingqiang
Malam ini aku meninggalkan Qingxi (2) pergi ke Tiga Jurang
Menuju Yuzhou (3) kernanya kukira kita tak lagi bisa bersua
(1). Gunung Emei terletak di Propinsi Sichuan, di baratlautnya mengalir sungai Pingqiang.
(2). Qingxi, nama lama sebuah tempat persinggahan di dekat Gunung Emei.
(3). Yuzhou , sekarang berganti nama ;enjadi Congqing.
Tradisi menulis lebih rendah dari minat membaca
SAHEWAN PANARUNG RADAR SAMPIT:PEMBAURAN DAN POLITIK DEMOGRAFI
SAHEWAN PANARUNG
Ruang Budaya Radar Sampit:Singer
SAHEWAN PANARUNG
Ruang Budaya Radar Sampit: PERDAGANGAN ROH
SAHEWAN PANARUNG
|
Perguruan Tinggi
|
Negara
|
Modal
|
|
Regulator-Regulator Dominan:
|
|
Perguruan Tinggi, Negara & Modal
|
|
V
|
|
V
|
|
Priduksi Pengetahuan
|
|
V
|
|
V
|
|
Gerakan-Gerakan Kemasyarakatan (Social Movements)
|
|
Regulator Pengimbang
|
|
Peneliti ß–‘Menyedot’ — Pengetahuan ßdari rakyat
|
|
V
|
|
V
|
|
Sehingga Menghasilkan
|
|
V
|
|
V
|
|
= Promosi Akademis
|
|
= Status Sosial Meningkat
|
|
=Penghasilanan Moneter Meningkat
|
|
=Peningkatan Kontrol Negra Dan Modal Terhadap Rakyat.priok, sip
|
|
Rakyat + Peneliti= à Pengetahuan
|
|
V
|
|
V
|
|
Kesadaran Tetang Tantangan Yang Dihadapi , Serta Potensi Yag Dimiliki Untuk Memperbaiki Nasib Komunitas,Sehingga Mau Melakukan Aksi Untuk Mewujudkan
|
|
V
|
|
V
|
|
ßTransoformasi Sosial Melalui Rehumanisasi
|
|
|
Ruang Budaya Radar Sampit: REINTEGRASI KEBUDAYAAN DAYAK
SAHEWAN PANARUNG
Leave a Comment