Archive for the ‘Sahewan Panarung’ Category

ETIKA “PEMAIN PINGPONG” BLH KOTIM

Etika “Pemain Pingpong” BLH Kotim

Oleh Andriani S. Kusni

 

 

Undang-Undang Republik Indonesia No.14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (selanjutnya disingkat UU No.14/2008) menyebutkan bahwa “Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan Undang-Undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik”. Bagian Kesatu. Asal. Pasal 2 dari UU yang sama menetapkan bahwa “(1). Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik. (3). Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan dan cara sederhana” , UU No 14/2008 ini juga menegaskan bahwa “Undang-Undang ini bertujuan untuk: a. menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan, serta alasan pengambilan suatu keputusan”. “e. mengetahui alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak”.
“Untuk memberikan kepastian hukum dalam hubungan antara masyarakat dan penyelenggara negara dalam pelayanan publik” maka pada 18 Juli 2009 diterbitkan Undang-Undang Republik Indonesia No.25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.
Sesuai dengan ketentuan kedua UU ini, maka pada beberapa kesempatan Gubernur Kalimantan Tengah A.Teras Narang, SH, berulangkali menyatakan bahwa pemerintah Kalimantan Tengah adalah sebuah “open government” (pemerintah yang terbuka).
Untuk keperluan penelitian kami di Kalimantan Tengah, yang hasilnya akan disampaikan ke Komisi Hak Asasi Manusia PBB (UN Human Rights Commission, UNHCR) yang akan bersidang akhir tahun ini, kami memerlukan dokumen-dokumen AMDAL (Analisa Mengenaii Dampak Lingkungan) beberapa perusahaan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Guna mendapatkan dokumen-dokumen tersebut, Tim Peneliti kami datang ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) kabupaten Kotim. Pekerja staf yang menerima kami mengatakan bahwa “dokumen-dokumen itu memang ada tapi untuk mendapatkannya perlu izin dari Kepala Badan (Kaban), sedangkan Pak Kaban sekarang sedang rapat di DPRD”. Staf tersebut selanjutnya mengatakan “sebaiknya kami membuat surat permohonan”. Surat yang segera kami tulis dan kirimkan melalui e-mail dan diantar langsung ke kantor BLH.
Menjawab pernyataan staf bahwa “harus mendapat izin dari Kaban”, baru dokumen tersebut bisa diberikan, kami katakan bahwa dokumen yang kami perlukan itu bukanlah dokumen rahasia, dan untuk memperolehnya telah dijamin oleh UU No.14/2008. “Tapi kita mempunyai etika. Harus kulonuwun (bhs.Jawa, permisi) terlebih dahulu”, ujar Kepala Bagian Amdal ketika dihubungi lewat telepon. Argumen yang serupa, kami dapatkan dari kepala bagian lain yang tak mau namanya disebutkan. Argumen ini kami jawab: ”Baik. Bukankah etika itu ada patokannya. Dan patokan bersama dalam soal etika itu tidak lain dari ketetapan UU baik itu UU No.14/2008 maupun UU No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Kaban, Bupati, Gubernur, Menteri dan Presiden pun patut mematuhi dan melaksanakan patokan bersama ini. Ataukah BLH Kotim merupakan kekecualian dari UU ini dan merupakan bagian dari republik atau negara lain? Jika demikian, mengapa secara geografis ada di Kalimantan Tengah yang gubernurnya sendiri mengatakan berulangkali pemerintah Kalteng adalah sebuah pemerintahan yang terbuka”.
Staf menyarankan kami pergi ke Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Kabupaten Kotim dengan sebuah surat tentang dokumen-dokumen AMDAL apa saja yang sudah diserahkan ke BPAD Kotim. Setelah membaca surat pengantar tersebut, penanggungjawab BPAD mengatakan bahwa dokumen-dokumen yang kami perlukan dan tercantum dalamSurat Penyamapaian Bahan dari BLH , tidak pernah mereka terima. “Jika kami pernah menerimanya tentu ada tanda terima”, ujar penanggungjawab BPAD yang ada pada waktu itu. Kami dipersilahkan melihatnya sendiri di lemari. Yang kami dapatkan hanya dokumen dari PT Billy yang diterbitkan pada tahun 2012 diantara beberapa dokumen Amdal perusahaan besar swasta (PBS) yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah PBS yang beroperasi di kabupaten Kotim..
Keesokannya kami menerima telpon dari staf yang kami jumpai di kantor BLH, mengatakan bahwa untuk mendapatkan dokumen-dokumen AMDAL yang kami perlukan, ada arah dari Kaban agar kami ke Biro Hukum Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten, padahalstaf tersebut sudah menunjukkan dokoumen-dokumen yang kami perlukan,m dan ia sudah pisah serta mpisahkan di meja kerjanya, tapi harus menunggu perintah atasan untuk bisa mengaksesnya.
Kepada staf tersebut kami katakan: “Anda boleh percaya bahwa sulitnya mendapatkan Informasi Publik dari BLH ini akan kami sampaikan ke Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi, Ombudsman Provinsi, Sekda Kotim, petinggi-petinggi lain dan instansi-instansi terkait”, dan hal ini pasti kami lakukan. Tak berapa lama setelah pernyataan kami ini , atas perintah Kaban tentunya, staf menelpon kami lagi, mengatakan bahwa “Dokumen-dokumen tersebut boleh kami baca di BLH tapi tak boleh difotokopie dengan alasan arsip dokumen hanya satu”. . Sementara dokumen-dokumen PT Billy oleh BPAD Kotim kami difotokopiekan tanpa banyak bicara.
Dilihat dari segi pengawasan sosial dan pengejawantahan ide kedaulatan rakyat, kemudahan mengakses informasi publik yang dijamin oleh UU No.14/2008 dan disebutkan oleh UUD 1945 merupakan salah satu sarana mewujudkan prinsip dasar republikan. Menghalang kemudahan mengakseskannya sama dengan ketakutan diawasi dan tidak mau rakyat melaksanakan kedaulatannya.
Dari segi pelayanan publik, nampak sekali antara BPAD dan BLH Kotim terdapat perbedaaan sangat besar. BLH terkesan menyulitkan dan ogah mengeluarkan dokumen publik –gejala dari penyalahgunaan kekuasaan sehingga anggota masyarakat yang memerlukan dokumen-dokumen publik itu dipingpong ke sana ke mari. Berupaya menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak ingin menyembunyikan sesuatu mengapa demikian sulit mendapatkan informasi publik tersebut? Memandang kekuasaan identik dengan kebenaran, bentuk awal dari otoritarianisme atau neo-feodalisme dengan etikanya sendiri yaitu menjilat ke atas, menindas ke bawah, menyikut ke samping. Baru sedikit diancam untuk diadukan ke tingkat lebih atas dan lembaga-lembaga terkait seperti KIP, Ombudsman, dan lain-lain, lalu berubah sikap, bentuk dari mentalitas jongos jika meminjam istilah Prof.Dr. Mudji Sutrisno.
Sikap dan perbuatan begini bertentangan dengan ketetapan UU No.14/2008 dan UU No.25/2009 serta pernyataan Gubernur Kalteng tentang “Kalteng sebagai pemerintah yang terbuka”. Hal ini, etika “pemain pingpong” BLH Kotim ini, membuktikan kembali bahwa perusak Republik dan Indonesia itu tidak lain dari birokrasi dan aparat Republik Indonesia itu sendiri. Birokrasi Republik dan negeri ini tidak lain dari pelanggar utama UUD dan UU pelaksanaannya. Pembersihan penyelenggara Negara yang tidak menjalankan amanat UUD dan UU seperti Kaban BLH Kabupaten Kotim, Suparman, serta reformasi birokrasi sangat diperlukan jika Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai ingin diwujudkan. Dengan birokrasi yang kotor dan penuh “sampah”, maka cita-cita ber-republik dan berkeindonesiaan tidak bakal terwujud, tidak bakal menjadi “Indonesia yang memiliki peradaban maju dan unggul”, apabila meminjam istilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di depan Simposium PPI Sedunia, di Kedubes RI di New Delhi, India, Kamis, 20 Desember 2012 lalu. “Sampah” dan kekotoran, pola pikir dan mentalitas yang berdaki bukanlah “peradaban maju dan unggul”. Untuk menyapu sampah tersebut dari rumah Republik dan Indonesia, gerakan sosial rakyat berdaulat patut dikembangkan.

KONFLIK LAHAN, PENDEKATAN SEJARAH, ANTROPOLOGIS DAN SOSIOLOGIS

KONFLIK LAHAN, PENDEKATAN SEJARAH, ANTROPOLOGIS DAN SOSIOLOGIS

Oleh Andriani S. Kusni

 

Seperti pernah disiarkan melalui halaman Harian ini, data HuMa menunjukkan bahwa konflik lahan antara perusahaan besar swasta (PBS) baik perusahaan kelapa sawit ataupun tambang, Kalteng merupakan daerah konflik yang paling banyak. Sampai hari ini, konflik ini bukannya makin mereda tapi terus-menerus muncul. Salah satu tempat di Kalteng yang menjadi tempat konflik terbesar adalah kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim ). Tim Terpadu yang dibentuk untuk menyelesaikan pertikaian, sampai hari ini juga nampak tidak memperlihatkan efektivitasnya. Demikian juga DPRD, Camat bahkan damang kepala adat. Konflik lahan yang berlangsung sekarang memang sudah sangat rumit. Menjadi lebih runyam ketika konflik dijadikan suatu peluang mendapatkan uang mudah dari perusahaan oleh berbagai pihak. Sehingga yang bertikai bukan lagi sebatas pemilik lahan atau warga masyarakat adat, penduduk setempat dan PBS tapi juga dengan kepentingan-kepentingan pihak lain yang menyusup, yang terkadang datang dengan menggunakan pengerahan massa dan ada pula model kolusi.
Berlangsungnya konflik tanpa henti, tidak menguntungkan siapa pun. Tidak PBS, tidak penduduk setempat, tidak juga bagi pemerintah dan keamanan bersama, kecuali bagi pihak-pihak lain yang menumpanginya sehingga sangat berkepentingan apabila konflik agraria itu berlanjut dan terpelihara.
Apabila mendengar pihak-pihak terkait dalam konflik, tentu saja masing-masing menyatakan dirinya yang paling benar. Bagaimana kebenaran atau duduk soal sebenarnya jadi samar. Oleh karena kebenaran yang jadi abu-abu maka kiranya diperlukan kebenaran atau duduk soal sebenarnya didapat dan dibawa ke tempat terang, dengan segala bukti pendukung. Kebenaran atau duduk soal sebenarnya yang demikian akan sulit didapat jika dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan terkait dalam konflik – sekalipun benar semuanya patut didengar, direkam, dicatat, difoto, dipetakan, dst, untuk mencegah terjadi keterangan hari ini berbeda dengan keterangan esoknya. Untuk keperluan mendapatkan kebenaran itu, “Prinsip-Prinsip Panduan Untuk Bisnis Dan Hak Asasi Manusia: Menerapkan Kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa” (yang secara bersambung dimuat di Harian ini) antara lain disebutkan: “Semakin kompleks keadaan dan akibatnya bagi hak asasi manusia, semakin kuat bagi perusahaan untuk melibatkan pendapat pakar independen dalam memutuskan bagaimana untuk menanggapinya”. “Pakar independen” (bukan Tim Independen yang telah dibeli atau menjual diri!) inilah yang mungkin bisa lebih dipercayai kesimpulannya melalui suatu penelitian mendalam. Melalui penelitian mendalam ini sejarah persoalan, yaitu masalah sejarah dan perkembangan lahan yang dipertikaikan akan nampak jelas. Bersamaan dengan itu akan jelas pula ada tidaknya kolusi, ada tidaknya pihak lain yang memanfaatkan konflik yang mengisi koceknya. Penelitian independen akan menujukkan juga seberapa jauh PBS melakukan tanggungjawab HAM-nya, kesalahan apa yang dilakukannya. Hasil kerja penelitian Tim Independen inilah kemudian yang dijadikan dasar dan dokumen pegangan bagi Damang Kepala Adat dan Pengadilan Adat untuk menyelesaikan konflik dengan keputusan yang mengikat. Saya sebut pertama-tama Damang Kepala Adat dan Pengadilan Adat, bukan Pengadilan Negeri, karena melalui yang pertama pemecahan yang ingin dicapai adalah menang-menang (win-win solution), hal yang tak akan terjadi jika dibawa ke Pengadilan Negeri. Karena itu lembaga kadamangan dan perangkatnya patut diperkuat.
Di sementara PBS yang saya ketahui, terdapat departemen yang khusus melakukan pengkajian sosial. Apabila PBS tersebut sungguh-sungguh melaksanakan tanggungjawab sosialnya barangkali departemen riset mereka patut bekerja lebih keras untuk mengenal dan membaca baik keadaan masyarakat. Hasil pekerjaan mereka kemudian akan menjadi dasar pimpinan PBS untuk mengambil kebijakan yang tanggap sesuai kesepakatan yang tertuang dalam . “Prinsip-Prinsip Panduan Untuk Bisnis Dan Hak Asasi Manusia: Menerapkan Kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa”. Dengan cara ini maka PBS dan pihak lain yang bertikai tidak usah maju ke Pengadilan Adat atau pun Pengadilan Negeri karena mereka bisa menangani sendiri permasalahan.
Mendapatkan kebenaran dan mengetahui duduk soal sebenarnya secara persis, sejarah dan perkembangannya, melalui penelitian mendalam inilah yang saya maksudkan dengan pendekatan sejarah, bisa ditambah dengan pendekatan sosiologis dan antropologis, dalam menangani konflik agraria sekarang, tanpa melupakan keniscayaan disyahkannya UU Perlindungan dan Pengakuan Masyarakat Adat dan dilakukannya perubahan agraria untuk seluruh negeri ini. Dalam menangai konflik agrarian, saya kira, pendekatan sejarah, antropologis dan sosiologis jauh lebih baik dari pada pendekatan kekuasaan, hanya saja pendekatan ini belum dilakukan dan tidak mendapat penhatian. Karena pendekatan kekuasaan, militeristik atau pendekatan kekuasaan, memang jauh lebih sederhana walaupun kemudian pendekatan kekuasaan dan militeristik ini menimbulkan luka menggenerasi. Semenentara pendekatan legal, sejauh ini memperlihatkan dominasi ketidakadilan bagi orang kecil. []

BAHASA DAYAK NGAJU

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang

Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak

~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi (terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~ Utus Panarung. Turunan pelaga.(Lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding). Sekarang kita sampai pada konsep maméh-uréh. Apa yang dimaksudkan dengan maméh? Seperti saya katakan terdahulu, saya membedakan antara maméh dan paléng. Maméh adalah sikap atau tindakan tidak jamak, terkadang melawan arus, tapi diperlukan keadaan, terutama dalam keadaan mendesak atau darurat, untuk.memecahkan suatu masalah. Contoh: Ketika Sultan Hamengku buwono IX meninggal,Kapten Kopasus (pangkat terakhir Kolonel) Yuandrias (asal Dayak Katingan), ditugaskan untuk memimpin regu mengusung peti jenazah dari marmar yang beratnya kurang lebih 200 kg. Regu pengusung dari Kopasus ini tentu saja muda-muda, kekar dan terlatih. Regu membawa peti jenazah ke Sitihinggil (baca: keraton Sultan Yogya). Ketika pasukan khusus ini mau menyerahkan peti jenazah kepada prajurit-prajurit keraton yang tubuhnya tidak sekekar anggota Kopasus, peti jenazah tersebut mau jatuh.Jika jatuh tentu akan pecah berhamburan.Melihat keadaan demikian, Kapten Yuandrias segera memerintahkan anakbuahnya untuk membantu.Salah seorang anak buahnya menjawab: “Kita pakai sepatu, Kapten!”.Kapten Yuan kembali memerintah: “Bantu pegang peti jenazah itu dengan tetap bersepatu!” Perintah pun dilaksanakan. Peti jenazah terhindar dari kehancuran. Patut diketahui bahwa untuk masuk ke Sitihinggil ada ketentuan tidak boleh mengenakan sepatu.(Sumber: Percakapan dengan Kolonel Yuandrias, 2011)
Tindakan Kapten Yuan dan anak buahnya yang bertentangan dengan tradisi atau ketentuan tapi mampu memecahkan masalah secara berprakasa, cepat dan tepat, bisa dikatakan sebagai tindak maméh atau métas, dan bukan tindakan paléng. Dalam kehidupan sehari-hari, disebabkan tindakan maméh atau métas tersebut tidak biasa atau bahkan melawan arus tradisi, maka sering maméh atau métas dipadankan dengan tindakan paléng. Sebab lain karena dalam kehidupan sehari-hari umumnya pemakai bahasa tidak selalu cermat. Ketidak cermatan dalam berbahasa, sering membuat orang bisa berkata-kata tapi tidak bisa berbahasa. Tidak buta aksara tapi tidak bisa membaca. Justru keadaan bisa berkata-kata tapi tidak bisa berbahasa, tidak buta aksara tapi tidak bisa membaca, sering menjadi sangkan-paran tindakan paléng yang tidak disadari. Paléng tentu saja bukan tindakan beradat. Keadaan ini mencerminkan selesai tidaknya seseorang dengan wacananya, yang oleh tetua kita diungkapkan dalam kata-kata “bahasa mencerminkan bangsa.”

Kepada para pengambil kebijakan, cq, Dinas Pendidikan, dan tentunya juga Dinas Kebudayaan saya ingin bertanya: Manusia Dayak ideal yang bagaimana yang ingin dibangun melalui mata pelajaran muatan lokal (mulok)? Bisakah mulok diajarkan tanpa wacana filosofis dan berhenti pada permukaan yang bersifat tekhnis belaka?Berhenti pada soal tekhnis akan melahirkan tukang-tukang. Apakah mulok merupakan bagian dari “revolusi mental?” jika menggunakan wacana mutakhir ataukah terjebak dalam rutinisme zombie? Yang Kalteng perlukan untuk pemberdayaan dan pembangunan dirinya adalah manusia-manusia ideal seperti yang diajarkan oleh pengalaman sejarah Dayak yaitu manusia yang mamut-ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal. Tidak cukup hanya harati. Tidak cukup hanya pintar atau gagah-berani. Hanya manusia ideal beginilah yang mampu hidup beradat dan menjadi andalan dalam upaya memberdayakan dan membangun Kalteng. Sehingga pengertian hidup beradat (bélum bahadat) tidak lain dari menciptakan manusia-manusia ideal demikian.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK NGAJU

~Takuluk kapénda, paï ka ngambu. Kepala ke bawah, kaki ke atas. Ungkapan ini mengambarkan keadaan seseorang yang bekerja keras hingga jungkir-balik untuk menyambung hidup dan atau mencapai cita-citanya. Adanya ungkapan begini menunjukkan bagaimana etos kerja manusia Dayak dahoeloe sebagaimana tertuang dalam ungkapan filosofis mamut-ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal. Etos kerja manusia Dayak yang demikian bertolakbelakang dengan etos instanisme, yang mau serba jadi dan mudah sehingga melahirkan tindakan korupsi, kolusi, nepotisme, main sogok.Kalau di sekolah: menyontek, beli nilai dan ijazah atau palgiat. Membandingkan etos kerja Dayak dahoeloe dan sekarang, maka nampak yang dicapai oleh manusia Dayak hari ini tidak lain dari kemunduran atau kemerosotan.
~ Mikéh taluh, tapangkut hantu. Takut hantu terpeluk bangkai. Pepatah yang melukiskan perilaku seseorang yang sebenarnya kikir, tidak mau rugi sedikit tapim akibatnya menderita kerugian besar. Padahal manusia ideal menurut wacana Dayak dahoeloe adalah mamut-ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal.

ZOMBIE

Tajuk Panarung
ZOMBIE

Oleh Andriani S. Kusni

 

Kampanye pilpres baru-baru ini disemaraki oleh berbagai bentuk pergelaran kesenian. Pergelaran-pergelaran kesenian yang ditampilkan untuk memeriahi dan menyemaraki kampanye pilpres inilah yang saya maksudkan dengan pergelaran pilpres. Apa yang dikatakan oleh pergelaran pilpres itu? Bagaimana substansinya?
Pilpres adalah suatu peristiwa politik. Adanya pergelaran pilpres menunjukkan bahwa pada kenyataannya kesenian dan politik di mana pun, termasuk di negeri ini, kesenian dan poltik selalu bergandengan. Hal begini juga dilakukan oleh Orde Baru Soeharto yang mengutuk politisasi kesenian. Padahal pelarangan terhadap karya seni dan atau pelibatan kesenian dalam kegiatan politik sebenarnya tidak lain dari suatu tindakan mempolitisasikan kesenian. Sementara politik oleh Orde Baru Soeharto dinilai sebagai sesuatu yang busuk, kotor, tidak beretika. Karena itu yang berhak berpolitik hanyalah para politisi yang dalam kenyataannya tidak lain dari para politisien belaka (politisien adalah istilah untuk politisi busuk). Pelarangan terhadap karya-karya kritis dan bahkan pada pembunuhan, pemenjaraan dan penculikan terhadap seniman-seniman yang kritis oleh kenyataan ini ditunjukan bahwa tindakan-tindakan politik tidak manusiawi tersebut bahwa “sang raja boleh membakar rumah, penduduk dilarang menyalakan tungku”(untuk memasak)—wujud dari rezim otoriarianisme yang oleh sementara capres disebut “masih diperlukan”. Hal ini muncul misalnya dalam bentuk adanya seorang seniman musik yang tampil mengenakan pakaian fasis Jerman yang di Jerman sendiri dan Eropa Barat umumnya dikutuk publik serta memalukan.
Substansi dari pergelaran pilpres kapan pun, termasuk kali ini iman tidak lepas dari orientasi politik yang tertuang dalam visi-misi capres. Adanya orientasi politik “berkepribadian di bidang kebudayaan” yang diusung oleh salah satu pasangan capres menampilkan substansi pergelaran-pergelaran pilpres yang bersemangat patriotik. Pesan pergelaran pilpres tipe ini sangat jelas, yaitu menanamkan cinta tanahair, bagaimana membangun Indonesia yang republikan dan berkeindonesiaan, kuat, adil, majemuk dan sejahtera. Pergelaran– pergelaran pilpres tipe ini menyemaikan pesan untuk bangga menjadi Indonesia, sedangkan yang kesenian tanpa kepribadian membuat kita :Malu Menjadi Indonesia: jika meminjam istilah penyair Taufiq Ismail. Pesan ini juga digarap dengan mengangkat musik-musik daerah sebagai salah satu sumber kreasi dipadukan dengan warna-warna budaya luar, Upaya begini di zaman disebut memadukan tradisi positif dengan kekinian yang tanggap. Melalui pergelaran-pergelaran pilpres jenis ini, sekali pun masih berada di pinggir dunia kesenian kita hari ini, sebuah harapan kembali muncul ke hati kita. Harapan bahwa kebudayaan Indonesia yang berkebribadian Indonesia, kebudayaan yang republikan dan berkeindonesia mungkin muncul kembali dan memainkan peran bagi perwujudkan Indonesia yang republikan dan berkeindonesiaan. Kebudayaan tipe ini lama berada di daerah pinggiran kehidupan bernegara dan berbangsa kita. Di Kalteng upaya menciptakan kesenian beridentitas Kalteng tapi tanggap zaman sekaligus diupayakan sejak lama oleh musisi Bobby Tarung.
Dari pergelaran-pergelaran pilpres yang diselenggarakan baru-baru ini nampak benar peranan pilihan politik kebudayaan dalam pengembangan kebudayaan baik di tingkat nasional mau pun lokal yang selama.ini samar atau tidak jelas karena kebudayaan tidak dipandang penting. Kalau pun diperhatikan kebudayaan diperlakukan sebagai komoditas untuk wisatawan yang membimbing kita menjual roh kita kepada wisatawan asing. Sekali pun harapan selalu menyiksa tapi hidup tanpa harapan menjadikan kita zombie belaka. Ketiadaan politik kebudayaan yang republikan dan berkeindonesiaan menjadi awal dari munculnya zombie-zombie.[]

BAHASA DAYAK NGAJU

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang

Niscayanya Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan perguruan tinggi menaruh perhatian pada soal standarisasi ini agar tidak mentransferkan kekacauan bahasa. Ketidakpedulian pada standarisasi ini, merupakan ketidaksungguh-sungguhan melestarikan dan mengembangkan bahasa Dayak Ngaju –lumbung nilai kebudayaan Dayak Kalteng. Hal lain PerdaNo.16/2008 patut dirumus ulang.

Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak

~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang. Menurut Perda No.16/2008 “Budaya Huma Betang atau Belom Bahadat” dan merumuskan bahwa “Budaya Huma Betang atau Belom Bahadat adalah perilaku hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta taat pada hukum (hukum negara, hukum adat dan hukum alam). Apabila telah mampu melaksanakan perilaku hidup “Belom Bahadat” maka akan teraktualisasi dalam wujud kesejahteraan bersama” (hlm. 38.)
Apa konsekwensi lain dari tafsiran “Budaya Huma Betang atau Belom Bahadat” yang demikian?
Dengan memandang Kalteng hanyalah kebun halaman belakang rumah mereka di tempat lain, mereka (penduduk asal daerah lain) tidak merasa penting untuk berbaur. Mereka hidup dalam ghetto dengan budaya ghettonya dengan alasan Kalteng adalah betang. Tapi dengan mengurangi tanggungjawab terhadap pembangunan daerah dan kehidupan bersama. Lebih buruk lagi jika menerapkan adat-istiadat tempat asal mereka di tempat kediaman mereka yang baru (halaman belakang rumah mereka). Dengan alasan Kalteng betang bersama yang diredusir, mereka diam-diam mencoba melakukan penaklukan dan pencaplokan wilayah. Kebhinnekaan begini adalah kebhinnekaan yang ekslusif dan berbahaya bagi Kalteng, bagi kehidupan berbangsa, bernegeri dan bernegara. Mengancam eksistensi Republik dan Indonesia. Oleh adanya dan masih berkembangnya ghtettoisme budaya dan politik yang demikian, yang peluangnya diberikan oleh budaya bétang sebagaimana yang dirumuskan oleh Perda No.16/.2008, seka;li pun Kalteng nampak di permukaan aman-damai tetapi di dasarnya yang paling dalam tersimpan bencana konflik besar. Bau konflik besar itu sekarang mulai tercium lagi. Oleh keadaan demikian, maka seratus tahun pun seseorang dari daerah lain hidup di Kalteng, selama itu pula ia tidak berbaur, tidak akan merasa perlu belajar bahasa lokal. Yang dikembangkan adalah budaya daerah asalnya. Yang diinginkan adalah berusaha berada di kekuasaan.
Ketika saya mengemukakan pandangan ini dalam sebuah rapat Kesbangpol Provinsi, salah seorang anggota DPRD Provinsi menjawab bahwa yang perlu bukan politik kebudayaan tetapi action. Ia lupa bahwa action (tindakan) ditentukan oleh pola pikir dan mentalitas. Oleh kebudayaan! Seorang petinggi provinsi lain mengatakan bahwa yang penting adalah tujuan, jangan melihat kesalahan dan kelemahan. Tapi apakah dengan membiarkan kesalahan dan kelemahan berlangsung tanpa dikoreksi, tidak akan menimbulkan bencana publik? Cara salah tidak bisa membenarkan tujuan.

Catatan: Cara penulisan kutipan dari Perda No.16/2008 tidak dirubah, sekali pun menimbulkan polemik. Cara penulisan bahasa Dayak Ngaju hingga sekarang sangat simpang-siur, tidak punya standar. Ketiadaan standar ini akan mengacaukan orang yang mau belajar bahasa Dayak Ngaju. Standarisasi penulisan jadinya merupakan suatu keperluan mendesak. Niscayanya Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan perguruan tinggi menaruh perhatian pada soal standarisasi ini agar tidak mentransferkan kekacauan bahasa. Ketidakpedulian pada standarisasi ini, merupakan ketidaksungguh-sungguhan melestarikan dan mengembangkan bahasa Dayak Ngaju –lumbung nilai kebudayaan Dayak Kalteng. Hal lain PerdaNo.16/2008 patut dirumus ulang.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK NGAJU

~Kilau punéi mangalinda jarau. Seperti punai mengitari pohon hinggap. Perbandingan ini melukiskan ulah seseorang pemuda yang sedang menaksir seorang pemudi. Mencoba mendekatinya dengan berbagai cara untuk mendapatkan perempuan idamannya. Kalau perempuan merupakan lambang cita-cita, maka ia akan menggunakan berbagai cara untuk meraih cita-citanya.
~Kalisi pisau suhup léwah. Seperti parang kurang ditatah. Menggambarkan kualitas seseorang yang belum ‘matang’ , belum dewasa, kurang teruji.
~ Kilau pusa tuntang balawau. Seperti kucing dan tikus. Menggambarkan hubungan dua orang yang tidak bisa rukun selalu bertengkar bahkan saling memusnahkan.
~ Kilau pusa nihau anak ah . Seperti kucing kehilangan anak. Perbandingan ini menggambarkan situasi seseorang yang kehilangan akal, lari ke sana- ke mari kebingungan.

GHETTOISME & KEBHINNEKAAN

Tajuk Panarung
Ghettoisme & Kebhinnekaan

Oleh Andriani S. Kusni

 

Pada mulanya ghetto merupakan kampung atau kawasan (bagian dalam) kota yang dihuni oleh orang Yahudi. Ghetto Warsawa adalah kampung Yahudi di dalam kota Warsawa merupakan ghetto paling tersohor karena perlawanan mati-matian mereka terhadap kekejaman fasis Hitler pada Perang Dunia II. Ghetto ini kemudian tanpa ampun dihancurkan oleh Hitler. Kata ghetto kemudian berkembang dengan pengertian tempat tinggal kelompokan orang-orang seasal baik daerah atau pun etnik di suatu kawasan khusus, seperti Kampung Jawa, Kampung Bugis, Kampung Banjar, Kampung Madura, Pacinanan, dan lain-lain. Dari psikhologis seperti segi rasa aman, penggalangan solidaritas antar sesama mereka yang hidup di perantauan, adanya kampung khusus di suatu wilayah kota, bisa dipahami, termasuk pemeliharaan dan pengembangan budaya asal, sesungguhnya tidak menjadi masalah untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegeri dan bernegara. Apalagi misalnya di kalangan orang Jawa dikenal ungkapan “mangan ora mangan asal kumpul” (makan tidak makan asal kumpul). Masalah menjadi timbul kalau ghetto ini menjadi isme, terutama di daerah perantauan atau tempat tinggal baru. Ghettoisme sama berbahayanya dengan ethno-sentrisme. Keragaman yang mestinya menjadi kekayaan dan sumber pengembangan budaya baru menjadi terjegal oleh ghettoisme, karena ghettoisme menggunakan nilai-nilai ghettonya untuk orang lain. Keadaan menjadi merunyam jika pemaksaaan standar ini dilakukan terhadap penduduk lokal di daerah yang baru didatangi oleh para penghuni ghetto. Padahal seperti kata pepatah para tetua negeri ini ”lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya”. Terhadap penduduk baru yang datang, orang Poso mengatakan ”Jika mau mau masuk Poso, gantung badikmu di pohon perbatasan”. Sedangkan orang Melayu berpepatah “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Walau pun dalam konteks berrepublik dan berkeindonesiaan sekarang, pepatah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sudah tidak zamani (up to date) lagi sebab niscayanya yang relevan adalah “di mana langit dijunjung di situ bumi dibangun”. Pepatah terakhir ini meniscayajan bahwa warga Republik Indonesia asal daerah lain, memperlakukan daerah barunya sebagai kampung-halamannya sendiri di mana ia turut menjaga dan membangunnya, bukan sebagai kebun belakang halaman rumahnya di daerah lain. Dengan sikap “di mana langit dijunjung di situ bumi dibangun” penduduk Kalteng asal daerah lain akan berbaur dengan semua etnik di Kalteng. Tidak mengurung diri dalam tempurung langit kecil usang bernama ghettoisme yang memaksakan standar nilainya pada orang lokal. Melalui pembauran, bukan ekslusivisme ghettoisme, kebudayaan baru akan secara alami lahir dengan menyerap unsur-unsur terbaik dari kebhinnekaan. Dengan demikian keragamanan ghetto-ghetto merupakan kekayaan dan sumber bagi penciptaan budaya baru. Sedangkan ghettoisme dengan cirinya yang eksklusif akan menjadi sumber keresahan, ketika dipolitisir (budaya politik) makan menjadi politik pencaplokan dan penguasaan wilayah yang bertentangan dengan nilai-nilai republikan dan berkeindonesiaan serta kemanusiaan. Konflik yang diawali oleh ghettoisme akan menimbulkan dendam turunan yang terencana. Ia pun gampang menjadi kuda tungganan manipulasi karena ghettoisme sesungguhnya tidak lain dari kekosongan wacana politik dan budaya. Kekosongan lebih berbahaya dari konflik itu sendiri. Peristiwa pembunuhan dan penculikan terencana di Kotawaringin Barat, situasi di Kotawaringin Timur (sekalipun sekarang masih tenang di permukaan), dan di Kalimantan Timur misalnya, mengatakan secara sederhana adanya ghettoisme eksklusif yang berbahaya yang membuat Kalteng menjadi seperti daerah dengan api dalam sekam. Keadaan begini niscayanya tidak ditutup-tutup tapi dibuka. Dengan membuka masalah, maka seluruh masyarakat turut melakukan pengawasan. Tutup-pintuisme dan politik seakan-akan adalah kebijakan yang berbahaya. Dengan keterbukaan, maka pengawasan dan pencegahan serta pemecahan soal secara dini akan bisa dilakukam. Budaya ghettoisme yang berbaur dengan balas dendam terencana dicampur oleh budaya politik ghetto, serta konflik agraria yang berkelanjutan dan dipelihara menyiapkan medan konflik besar di Kalteng, mungkin juga di beberapa daerah Pulau Kalimantan Republik Indonesia. Persiapan medan konflik besar ini yang menunggu saat penyulutan yang tepat, kemudian ia akan membuka kembali pintu bagi otoritarianisme. Tentu saja keadaan dan kebijakan begini bukan jalan pemerdekaan siapa pun tapi penghancuran. Kalteng, seperti daerah mana pun di negeri ini, bukan tempat penghancuran tapi tempat hidup manusiawi dan membangun hidup berkebudayaan dan beradab. Tulang punggungnya di Kalteng adalah Dayak dan yang senasib dengan Dayak yang berwacana “réngan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga) dan hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit.
Tulisan ini untuk memperingatkan agar kita awas terhadap politik penghancuran dan kebijakan seakan-akan. Awas terhadap budaya ghettoisme dan balas dendam terencana dan dipolitisir. Politik pemadam kebakaran bukanlah politik tepat untuk menangani konflik. Maka katakan hitam sebagai hitam, putih sebagai putih.[]

MONUMEN SEJARAH

Sahewan PANARUNG
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

 

IMG_8498

Monumen Emmy Saelan di Jln. Letjen Hertasning, Makassar(Foto.Dok.Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2014)

 

 

Tajuk Panarung
MONUMEN SEJARAH
Oleh Andriani S. Kusni

Makassar adalah sebuah kota pantai yang tua dan kaya akan sejarah serta sangat potensial. Ketuaan kota pelabuhan yang ramai berpenduduk tiga juta jiwa ini nampak jelas dari bangunan-bangunan, baik itu bangunan peninggalan Belanda seperti Gedung Susitet yang sekarang dijadikan Gedung Kesenian Kota, benteng-benteng seperti Fort Rotterdam, Sombaa Opu atau tembok-tembok gedung yang kusam sehingga membuat kota tak terawat dan suram menyesakkan. Lebih menyesakkan lagi saat kita keluar. Jalan-jalan raya macet. Semangat anti penjajahan, selain nampak dari sisa-sisa benteng Belanda, juga bisa diketahui dari adanya tugu seperti Tugu Mandala, nama-nama jalan, patung-patung dan monumen-monumen seperti Monumen Korban Masakre Westerling, Monumen Emmy Saelan, kekasih Walter Mongonsidi yang mempunyai semangat “lebih baik mati dan hidup bertekuk lutut”. Dengan semangat ini, dengan granat di tangan, Emmy menghadapi serdadu Belanda mengepungnya. Ia pun gugur bersama serdadu-serdadu Belanda yang mengepungnya. Untuk mengenang jasa dan kepahlawanan anak merdeka yang berkobar di jiwa Emy, di Letjen Hertasning, tidak jauh dari lapangan besar yang juga menggunakan nama Emy, di muara Jalan Toddopuli Raya, dibangun sebuah monumen tanpa patung, diresmikan oleh Mendagri Surono. Sayangnya Momumen Emmy Saelan ini sekarang nampak tidak terurus. Semak-belukar mengelilinginya. Tulisan prasasti di Monumen yang sebagian sudah pecah dan retak-retak, tidak lagi bisa terbaca. Emmy sudah mengorbankan nyawa mudanya untuk kemerdekaan negeri, patung dirinya pun tidak ada. Monumennya tidak terawat. Beginikah cara angkatan hari ini, terutama para penyelenggara Negara menghargai para pahlawan bangsa? Sedangkan bangsa besar, jika mengutip Bung Karno, adalah bangsa yang bisa menghargai para pahlawannya. Apakah dengan laku begini, penyelenggara Negara di Sulawesi Selatan, bisa disebut putera-puteri dari bangsa besar?
Hal serupa nampak dari makam pahlawan nasional asal Kalteng, Tjilik Riwut di Taman Pahlawan Sanaman Lampang (Besi Timbul atau Mengapung), Palangka Raya. Makam Tjilik Riwut adalah makam biasa seperti makam lainnya, dengan sebuah batu nisan bisa dan topi baja di atasnya. Sementara untuk Letkol Hasan Basry, teman seperjuangan Tjilik Riwut, di Banjarmasin dibangun sebuah monumen megah.
Bukan hanya itu, terhadap para pejuang tua yang masih hidup, mereka hanya lebih banyak jadi asesoris perayaan 17 Agustus atau Hari Pahlawan 10 November. Tidak ada perhatian khusus sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa mereka yang kita kenyam hasilnya. Apakah kita merupakan angkatan yang lupa kacang akan kulitnya? Perilaku “kacang” begini tentu tidak bisa dikatakan sikap menghargai para pahlawan dan pejuang tua. Dari segi adat, tentu bukanlah perangai beradat.
Dengan sikap penyelenggara Negara seperti di atas, tidak mengherankan apabila kemudian angkata-angkatan berikut, bahkan juga hari ini, yang tidak tahu sejarah bangsa dan daerahnya, tidak kenal para pendahulunya.
Melihat Monumen Emmy Saelan, Korban Masakre Westerling yang tidak dirawat, benteng Sombaa Opu yang dikalahkan oleh Waterboom di sampingnya, dan monumen-monumen sejarah yang tidak dirawat bahkan ada yang dihancurkan, saya melihat bahwa para pahlawan dan sejarah telah dikalahkan oleh uang. Boleh jadi monumen-monumen itu dibangun atas nama proyek, bukan karena kesadaran sejarah dan penghargaan kepada para pahlawan yang utama. Jika uang dan proyek jadi faktor utama artinya masalahnya menyangkut soal pola pikir dan mentalitas yang sudah sakit dan rusak oleh virus uang sang raja. Kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan budaya yang berkepribadian tidak akan terwujud dengan pola pikir dan mentalitas rusak begini.

 

Pemimpin dan Permata Kebudayaan
Oleh Alwy Rachman *

Di hampir semua etnik di bangsa ini, kerangka nilai dalam mencari pemimpin bisa ditelusuri melalui narasi kebudayaan yang berisi kisah tentang komitmen seorang pemimpin terhadap rakyat atau sebaliknya kisah tentang kesetiaan rakyat terhadap pemimpin. Di sana juga tersedia cerita tentang kritik rakyat terhadap pemimpin atau tindakan-tindakan rakyat terhadap pemimpin yang dianggap serong dan ingkar.
Beberapa kisah tentang hubungan pemimpin dan rakyat di Sulawesi Selatan , misalnya, menggambarkan bahwa sang pemimpin, secara kultural dianggap sebagai pribadi yang istimewa. Itu sebabnya, pemimpin biasanya diangkat dan diperlakukan istimewa dalam momen yang istimewa. Lalu, pribadi istimewa itu diberi hak oleh orang-orang yang dipercayainya dalam menjalankan kekuasaan.
Tapi, ada yang “tidak istimewa” bagi sang pemimpin. Sang pemimpin tidak diberi hak mengangkat sumpah atas jabatan yang dimandatkan kepadanya. Yang bersumpah adalah rakyat. Rakyat bilang kepada sang pemimpin, “Engkau yang kupertuan, belilah apa yang engkau pantas beli. Ambillah yang pantas engkau ambil. Dan mintalah apa yang engkau pantas minta.” Pun rakyat menambahkan, ”Yang bertuan adalah tubuhku. Senjataku tak pernah bertuan.”
Saya narasi kulutral seperti ini, tak lagi dipakai sebagai latar untuk membangkitkan kesadaran politik arus bawah dalam mencari pemimpin. Kini, dalam demokrasi prosedural, masyarakat arus bawah cenderung menjadi penonton. Narasi kultural lalu menjadi kisah yang kehilangan konteks dan sang pemimpin yang muncul di sana-sini menjelma menjadi sosok yang jauh dari citarasa kultural.
Di negeri-negeri oriental, para pemimpin justru “menggali kembali” tiga permata budaya (three diamonds of culture), permata kedirian fisik (physical-self), permata kedirian emosional (emotional – delf), dan permata kedirian pengetahuan (academic-self). Pemimpin bekerja memperbaiki fisik dan kesehatan masyarakatnya, menghilangkan prasangka antar kelompok/etnik, dan meningkatkan kualitas pendidikan. Cara ini dibilangkan sebagai model pengembangan permata kebudayaan.
Model kedua, disebut sebagai sintesis kebudayaan. Model ini menelusuri kearifan dan pengerahuan lokal melalui pintu literasi (literary entry). Pengetahuan yang dikumpulkan melalui literasi ini disusun ulang dan didialogkan kembali kepada para pemilik kebudayaan. Dari dialog ini, akan tersusun ulang pengetahuan baru yang secara sosiologis tak tersadari. Praktek menelusuri kearifan dan pengetahuan seperti ini merupakan bagian dari pendidikan pembebasan yang diperkenalkan oleh Paulo Freire.
Kedua model di atas dapat dijadikan inspirasi untuk mencari akar-akar perdamaian. Bagaimana pun, bangsa ini harus diletakkan ke dalam dua masa: masa lalu dan masa depan. Masa lalu adalah pengalaman hidup bersama secara bhinneka, sementara masa depan adalah “masa perjumpaan budaya”, di mana hasrat hidup bersama memerlukan sikap saling menghormati.
Keperluan atas “hak” akan mengeras justru pada “masa perjumpaan budaya” ini. Adalah masuk akal, jika narasi kultural Indonesia ke depan adalah narasi tentang penegakkan dan pemenuhan hak-hak etnik. Dewasa ini, ilmuwan-ilmuwan sosial telah mengadvokasi secara besar-besaran masalah hak dan segera mencanangkan bahwa abad ke depan adalah abad tentang hak, The Age of rights.
Sayangnya, cita-cita seperti ini dirusak oleh laku politikus yang mau jadi pemimpin. Coba ingat ulang isu yang berkembang di masyarakat luas di sepanjang tahun ini. Pemilihan calon anggota legislatif sarat dengan politik uang, sementara pemilihan presiden penuh dengan informasi dan kampanye hitam. Dengan laku dan para pemilihan seperti ini, sosok-sosok pemimpin yang muncul sukar dimengerti di ruang pengalaman kulutral bangsaini.
Atau, barangkali kita memang tak mau peduli tentang ruang-ruang kebudayaan di Nusantara dan menganggapnya tak ada urusannya dengan politik dan kekuasaan.[]

* Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasannudin, Makassar.

 

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang

Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak

~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi (terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~ Utus Panarung. Turunan pelaga.(Lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding). Berdasarkan pengalaman hidup mereka, maka para tetua Dayak dahoeloe menyimpulkan bahwa visi-misi hidup-mati manusia Dayak hanya bisa diwujudkan oleh manusia-manusia ideal demikian. Ketika ciri-ciri manusia ideal tersebut sudah dimiliki, maka anak manusia (baca: Manusia Dayak) akan menjadi manusia yang handal tidak tertanding. Dalam istilah populer sekarang, Manusia Beradat, anak manusia yang mempunyai komitmen manusiawi dan memiliki keterampilan sangat tinggi. Manusia dan Berketerampilan. Handal adalah akibat dari suatu sebab.
Manusia handal, bukanlah manusia penadah tangan dan merengek minta dibelaskasihani. Bukan pula manusia curang, korup.

Kepada para pengambil kebijakan, cq, Dinas Pendidikan, dan tentunya juga Dinas Kebudayaan saya ingin bertanya: Manusia Dayak ideal yang bagaimana yang ingin dibangun melalui mata pelajaran muatan lokal (mulok)? Bisakah mulok diajarkan tanpa wacana filosofis dan berhenti pada permukaan yang bersifat tekhnis belaka?Berhenti pada soal tekhnis akan melahirkan tukang-tukang. Apakah mulok merupakan bagian dari “revolusi mental?” jika menggunakan wacana mutakhir ataukah terjebak dalam rutinisme zombie? Yang Kalteng perlukan untuk pemberdayaan dan pembangunan dirinya adalah manusia-manusia ideal seperti yang diajarkan oleh pengalaman sejarah Dayak yaitu manusia yang mamut-ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal. Tidak cukup hanya harati. Tidak cukup hanya pintar atau gagah-berani. Hanya manusia ideal beginilah yang mampu hidup beradat dan menjadi andalan dalam upaya memberdayakan dan membangun Kalteng. Sehingga pengertian hidup beradat (bélum bahadat) tidak lain dari menciptakan manusia-manusia ideal demikian.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK NGAJU
~ Kilau batang lunuk manaharep riwut. Seperti pohon lunuk menghadapi angin. Perbandingan ini menggambarkan kekerasan fisik terhadapnya tanpa berlemah-lembut. Paralel dengan perbandingan ini adalah “api dihadapi dengan api”, “mata dihadapi dengan mata”
~ Ka kuéh riwut, ka hété tariup. Ke mana angin bertiup, ke situlah ia bergoyang. Perbandingan ini menggambarkan perilaku seseorang yang tidak mempunyai pendirian tetap.
~ Kuéh puji saluang tutu-tutu ke ka laut, kajariae haluli ka saran kéa. Mana pernah ada saluang benar-benar ke laut, akhirnya kembali ke tepi. Pepatah ini melukiskan perlaku seseorang yang tidak berani menempuh marabahaya dan banyak tantangan seperti merantau jauh oleh nyalinya yang kecil.
~Mimbing sanaman balasut. Memegang besi panas. Melukiskan keadaan seseorang yang sedang melakukan suatu pekerjaan penuh resiko.
~ Ji kuman sahang mangkémé harie. Yang makan lombok merasakan pedasnya. Sama dengan pepatah “tangan mencencang, bahu memikul”. Akibat dari suatu tindakan, yang melakukannyalah yang akan menerimanya dan bertanggungjawab.

Sajak-Sajak Agung Catur Prabowo *
Rangkong

dari lubuk hatinya ia bersuara:
rangkong bukanlah anak dunia
paruhnya menjulang ke langit
melabuhkan hasrat para pertapa
menyunggi mahkota, tempat bersemayam para raja, sayap
hitamnya merangkum semesta, dalam dekapan
hangat ibunda

pada setiap lengkingan suara, hidup mati didendangkan
pada setiap gurat warna, cinta nestapa dilukiskan
pada setiap tariannya, kehidupan bergelora.

Palangka Rata, 2007.

Tirai

tirai malam menyingkap kelam
wajah bulan termangu di pusaran kelambu
berdesir angin berdesir
membelai hasrat membuat tabir

tirai malam menyingkap kelam
wajah bulan terlekap diam.

Palangka Raya, 2007.

• Sekretaris Dewan Kesenian Kalimantan Tengah.

Sahewan PANARUNG
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

IMG_7528

 

 

 

Sendra tari Tabun-Bungai dipentaskan oleh Komunitas-Komunitas tari, musik dan drama Palangka Raya di halaman Parkir Hotel Swiss Bell Danum Palangka Raya, April 2014. Disponsori oleh Bank Indonesia dan beberapa bank lainnya.(Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2014)

 

 

 

 

 

IMG_7514

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tajuk Panarung
Melo-Tragedi
Oleh Andriani S. Kusni

 
“Mempromosi budaya Dayak Kalteng” untuk mengembangkan pariwisata di Kalteng gencar dilakukan oleh penyelenggara Negara provinsi ini. Setelah penyelenggaraan Pekan Budaya Dayak, April 2013 lalu di Gelora Bung Karno, baru-baru ini di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, melakukan kegiatan promosi tersebut. Salah satu misi yang dibawa oleh Walikota Palangka Raya dan rombongan dalam melakukan kunjungan kerja ke Negeri Belanda, Perancis dan Italia baru-baru ini juga untuk mempromosi budaya Dayak Kalteng di samping, untuk memperluas wawasan. Biaya promosi tentu saja tidak kecil. Yang menjadi pertanyaan saya: Apa yang dipromosikan keluar adalah eksotismenya. Sebab Dayak itu sendiri sebenarnya sangat eksotik. Hanya saja apakah kesiapan internal untuk pengembangan pariwisata sudah dimiliki oleh Kalteng sedangkan kesiapan internal itu merupakan hal utama dan pertama dalam pengembangan pariswisata. Tanpa kesiapan internal yang riil, yang dipromosikan akan menjadi promosi kucing dalam karung. Seperti halnya pengalaman Makassar dengan brand “Great Expectation” (Harapan atau perkiraan besar), karena kesiapan internal yang lemah berubah menjadi “great dissapointment” (kekecewaan besar). Oleh karenanya wisatawan yang datang untuk pertama kali dengan great expectation itu, kedatangan pertama merekapun menjadi yang terakhir. Iklan negatif dari mulut ke mulut pun kemudian bekerja.
Gencarnya promosi yang dilakukan, apakah menjadi petunjuk bahwa penyelenggara Negara, cq Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng sungguh-sungguh menaruh perhatian pada bidang sastra-seni yang akan dijual kepada para wisatawan? Sebab konsep dominan di kalangan penyelenggara Negara tidak lain memperdagangkan sastra-seni sehingga sastra-seni yang berkembang dan dikembangkan adalah sastra-seni komoditas.
Pertanyaan di atas dijawab oleh pengalaman rombongan Teater Palangka Raya yang mengikuti Festival Teater Se-Kalimantan di Banjarmasin November 2013 lalu . Dikatakan bahwa yang menjadi sponsor rombongan teater ini adalah Taman Budaya Kalteng, Unit Pelaksanaan Tekhnis (UPT) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi. Seperti diketahui, selama ini Taman Budaya hanya ada namanya, papan nama dan penanggungjawabnya, tapi tidak ada kegiatannya. Barangkali pensponsoran terhadap Teater Palangka Raya yang mengikuti Festival Teater di Banjarmasin ini merupakan kegiatan pertama – apabila sponsor finansialnya dipandang sebagai kegiatan Taman Budaya, walaupun kenyataannya lebih bersifat menumpang (Bhs. Jawa: ndompleng). Kepada para pemain dan mereka yang terlibat dalam persiapan pentas diberikan uang saku. Tapi untuk dana untuk keperluan properties, make up dan pentas lainnya tidak disediakan. Sebelum berangkat ke Banjarmasin, Teater Palangka Raya mengadakan pentas uji-coba untuk dievaluasi belum pentas di Festival. Karena tidak ada dana, para pemain naik pentas tanpa make-up, lampu spot dari Komunitas Seni Terapung Palangka Raya. Yang hadir, termasuk Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Provinsi, Sayidina, duduk di lantai (Bhs. Jawa:léséhan).
Dengan maksud memberitahu keadaan yang sedang dihadapi, Huda selaku sutradara dan pimpinan rombongan Teater mencoba menemui Kadisbudpar Provinsi, Sayidina. Huda hanya diterima selama lima menit dengan alasan yang bersangkutan ada kegiatan lain sehingga maksud bertemu tidak tersampaikan.
Sebelum berangkat crew (awak) teater dibatasi jumlahnya hanya 10 orang, termasuk pengiring musik dan lain-lain. Sementara dari Taman Budaya – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tanpa jelas apa fungsi mereka ikut serta, berangkat tujuh orang. Di Banjarmasin, mereka tinggal di hotel khusus sedangkan awak Teater Palangka Raya menginap di tempat yang telah disediakan oleh Panitya Festival.Dalam perjalanan menuju Banjarmasin, para awak Teater Palangka Raya hanya disediakan nasi bungkus.
Apa yang dialami oleh rombongan Teater Palangka Raya hanyalah salah-satu contoh dari perhatian Dinas terkait dan Taman Budaya yang sebenarnya adalah organisator resmi sastra-seni terhadap sastra-seni di provinsi ini sejak bertahun-tahun. Organisator resmi yang menggunakan yang rakyat dan pekerja kesenian berada di dua tebing berjauhan tanpa ada jembatan penyambung antara mereka. Jika demikian, lalu apa arti sebenarnya dari gemuruh dan hiruk-pikuk promosi yang dilakukan? Apakah bukannya bentuk dari pencintraan untuk mengimbangi citra buruk di masyarakat tentang figur pertama Dinas dan Dinas serta Taman Budaya itu sendiri?
Pengalaman Teater Palangka Raya dan pelaku seni lainnya dalam berkesenian di provinsi ini menggambarkan suatu keadaan yang tragis dari suatu melo-tragedi. Hasil dari pertunjukan melo-tragedi ini diperlihatkan oleh kehidupan sastra-seni di Kalteng hingga sekarang. Apa yang dijual dan disajikan kepada wisatawan dengan keadaan melo-tragedi demikian?
Di hadapan keadaan di atas, Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR) selama setahun pernah secara teratur melakukan kegiatan bulanan tanpa bantuan dari penyelenggara Negara, termasuk Disbudpar Provinsi. Jalan kemandirian inilah barangkali patut digalakkan. Karena yang paling berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sastra-seni dan berkembang tidaknya kebudayaan di daerah ini pertama-tama adalah para seniman dan budayawan itu sendiri. Hanya yang menusuk hati dalam-dalam adalah penggunaan uang rakyat yang tidak bertanggungjawab. Tapi sakit hati, kesulitan, kejatuhan dan kebangkitan adalah bagian dari pergulatan maju tanpa atau dengan penyelenggara Negara. Kadis, Taman Budaya bisa ada bisa tiada, tapi kebudayaan akan ada selama adanya manusia walaupun adanya berdampingan dengan ketiadaan budaya atau kebiadaban. Oleh karenanya pergulatan merupakan suatu keniscayaan di tiap tapak dan helaan nafas[]

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Istilah Kekerabatan
Pahari, hari= saudarar; ijé tatu (disingkat menjadi jatatu) = sepupu sekali; hanjénan= sepupu dua kali; haharué= sepupu empat kali; hatantélu= sepupu tiga kali; sining= sepupu lima kali; ijé kalambutan= suadara sekandung; hapahari sapak siak= saudara bawaan dari pihak ayah/ibu setelah menikah; hapahari (pahari) ijé tusu maut= saudara kandung seibu seayah; nyahan= saudara kandung laki-laki; bétau= saudara kandung perempuan; hanjénan tatu= satuan kekerabagtgan yang sudah tergolong jauh namun masih mempunyai garis keturunan dan hubungan darah.

 

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK NGAJU
~Suluh bulat intu léwu. Pucuk bulat di negeri sendiri. Ungkapan yang menggambarkan kedudukan terhormat seseorang di kampung-halamannya sendiri. Dengan kata lain, orang tersebut adalah tokoh masyarakatnya.
~Péa pusa badange pundang. Mana (ada) kucing menolak ikan asin. Artinya sesuatu yang disukai seseorang kemudian ada di hadapannya tentu saja tidak akan orang itu tolak, malah diterima dengan senang hati. Kilau pusa tuntang pundang. Seperti kucing dan ikan asin. Dua hal yang tak boleh didekatkan karena yang satu akan segera memangsainya.
~Tégé ujan tégé pandang. Ada musim penghujan, ada pula musim kemarau. Artinya segala sesuatu tidak ada yang langgeng, tapi selalu berubah-ubah.
~Utang hung génép lambar balau. Utang terdapat di tiap helai rambut. Melukiskan keadaan seseorang yang hidup dililit hutang.

 

Sajak-Sajak Kalteng Bambang Widiatmoko

Padang Palangka Raya

Hanya jalan lapang lurus ke depan
Aku berjalan dengan diam
Apa ada cinta dan harapan terpendam
Atau hanya kesia-siaan
Seperti luasnya padang Palangka Raya

Baiklah kita saksikan kehidupan lengang
Saksi bisu peradaban tercengang
Melangkah di jalan tanpa harapan
Telinga disengat suara serangga menakutkan
Sendiri di kota ini: seperti bermimpi.[]

 

Nyaru Menteng

Berjalan perlahan lewat titian papan
Menembus kesenyapan hutan belantara
Hanya orangutan yang bisa bercanda
Menertawakan diriku yang tedrasa bodohnya
Mungkin hanya kesadaran yang sederhana
Kehidupan di tengah hutan
Hanya pepohonan sejauh mata memandang
Tapi di sini: masa depan semesta dipertaruhkan []
Gadis Penjaja Es Lilin
Siswanto Lahurianto
Batu-batu itu mengunung saling tertindih membentuk pagar bumi nan indah. Jalan yang panjang dan berkelok, menambah sensasi andrenalin tersendiri. Bukit dan tanjakan curam menambahkan daftar eksentriknya Lamandau. Sebuah kabupaten yang menjadi bagian propinsi Kalimantan Tengah.
“Woow… Amazing… zing..zing..!!” teriakku saat melihat kawanan kera bergelantungan di pohon-pohon di pinggiran sungai Arut.
Aku terus memacu kendaraan hitam yang sudah tampak tidak sanggup turun naik bukit, namun aku terus memaksanya, agar sampai tujuan sesuai dengan keinginan. Kuliatku yang tampak mulai memerah tersengat matahari yang ganas memaksaku untuk rehat sejenak. Sari Kajo menjadi pilihanku, berlahan-lahan Kajo membasahi tenggorokan tetes demi tetes.
“Subhanallah…. Nikmat benar minum ditengah terik”
“Mas pripun lanjut” tanyaku pada Tio
“Nanti lah mas, santai sejenak” jawabnya santai
Mataku terbelalak melihat gadis kecil yang berjalan dengan tangan mengepal, jalannya cepat, secepat cahaya , langsung menghilang begitu saja.
“Mas lihat itu” tanyaku sambil menunjuk kearah gadis itu
“Mana mas? Gak ada siapa-siapa disana,” pungkasnya dengan nada menyakinkan.
“Ah Tio ni” gerutuku dalam hati.
Aku masih penasaran dengan gadis kecil itu, aku telusuri jalan berlubang dan berbatu tajam itu, tapak demi tapak. Terlihat dari kejauhan rumah kecil, bahkan tak layak untuk disebut rumah. Atap terbuat dari daun rumbia itu sudah tampak usang. Aku tak bisa membanyangkan jika hujan turun lebat, mungkin sudah tidak ada tempat untuk berlindung dari ganasnya cuaca di Kalimantan Tengah pada umumnya.
“Bagaimana dengan Es lilinya?” tanya wanita tua dengan nada kasar
“Banyak yang menjadi air!!” pangkas anak itu dengan terbata-bata.
Plak, terdengar suara keras yang tak ku tahu kejadian apa di balik rumah yang reot itu. Aku masih berdiri dibalik pohon kelapa sawit yang tak jauh dari rumah itu. Rasa penasaran yang terus mengusikku belum juga terpecahkan, misteri anak penjaja Es lilin itu masih menghantui pikiranku.
Terpukul jantungku, melihat pemandangan yang menyesatkan mata, gadis kecil dengan termos Es itu menuju sekolah SD satu atap dengan SMP.
“Tio perhatikan itu gadis kecil itu masuk keruang kelas II” tanganku sambil meraih pundaknya seraya menunjuk ke anak kecil itu
“Ah, Anto gitu aja kok kaget sih!” lagi-lagi Tio dengan entengnya menjawab.
“Ah kamu!” dengan nada kesal
***
“Bu siapa anak itu?” tanyaku pada guru perempuan berambut ikal.
“Oh,.. itu Sulas” jawabnya singkat namun dalam.
“Dia sekolah disini?” aku balik bertanya.
“Iya” lagi-lagi pungkasnya pendek.
“Sakit apa tangan kok mengepal terus dan terlihat tidak bisa digerakan?” dengan penasaran.
“Oh itu jatuh dari sepeda motor dengan bapaknya, bapaknya meninggal seketika di tempat, terlindas truk bermuatan buah kelapa sawit”.
Nafasku seakan berhenti, detak jantung tak mampu memompa darah dengan sempurna mendengarkan perkataan dari ibu Monik
***
Kesokan harinya aku masih belum percaya, kuputuskan untuk kembali ke SD itu, dengan tidak mengajak Tio super pendek itu. Senang sekali aku mendapati Gadis itu belajar di ruangan yang kusam dan berlantaikan kayu ulin.
“Pak…. Bagaimana ini mengecatnya?” tanya Sulas pada guru kesenian.
“bapak bukakan dulu tintanya, lalu masukan itu ke canting” Guru laki-laki itu tampak sabar mengarahkan Sulas untuk belajar membatik.
Aku memperhatikan dengan terengah-engah, nafas tak karuan naik turun member, memperhatikan pemandangan yang indah itu, guru yang tidak membedakan murid yang satu dengan yang lainnya. Senyum Sulas pun mengembang cantik di lesung pipitnya. Teng…teng…teng… bel tanda istirahat.
“Es..Es..Es..lilin” jaja sulas pada teman-temannya.
“Saya beli satu , rasa melon” anak tambun itu.
“Berapa?” tanyanya kembali.
“Rp 1000”
Tampak ceria sulas kali ini senyumnya yang selalu mengembang di bibirnya. Nampak rembulan siang itu memberikan sinar paripurnanya.
Aku yang berjalan dengan wajah pushu tak tampak keceriaan diwajahku. Aku menghampirinya dan melihat isi tremos es yang masih ia tenteng..
“Es,..Es,..Ka” jajanya dengan penuh senyum.
“Berapa harganya Sulas” tanyaku dengan bibir tersenyum.
“Rp.1000, Ka” jawabnya masih dengan bibirnya yang tersenyum manis.
“Masih berapa sulas Esnya” tanyaku seraya mengintip tremosnya .
“Masih 10 biji ka” jawabnya renyah.
“Kaka ambil semuanya, berapa semunya?” tanyaku datar tersipu malu.
“Rp 10.000 ka!!” pungkasnya tegas.
Aku ambil dompet diatas ranselku dan aku berikan uang Rp 50.000.
“Ka, kembaliannya” dengan lantang.
“Buat Sulas” aku sambil mengelus rambut.
“Maaf, Ka saya berjualan bukan untuk dikasihani” dengan mata yang bersinar tajam memandangku…
Wajahku pucat, seakan darah tidak mengalir sampai wajahku, nadiku tidak berdenyut, mendengarkan ucapan anak-anak, sekecil itu memiliki prinsip yang begitu keukeuh, kuat ya kuat sekuat tangan kecilnya yang mententeng tremos es lilin.
Lamandau 02, 11, 2013

SP Radar Sampit Edisi Budaya Lisan

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
 
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
BUDAYA LISAN
Yang saya maksudkan dengan budaya lisan  adalah budaya yang tidak bersandar pada aksara melainkan pada ingatan dan tuturan mulai dari penciptaannya hingga ke pemindahannya dari satu angkatan ke angkatan berikut. Sampai hari ini, sekali pun di Kalimantan Tengah (Kalteng) sudah terdapat 31 universitas, perguruan tinggi dan akademi dengan mahasiswa puluhan ribu orang dan ratusan pengajar dengan gelar profesor doktor, tapi  budaya dominan di provinsi ini masih saja  budaya lisan. Karya-karya tulis mereka masih di bawah standar keniscayaan tuntutan untuk mahasiswa, pengajar dan universitas. Peristiwa-peristiwa politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain berlalu tanpa tanggapan dari mereka. Seakan-akan kejadian-kejadian itu bukan urusan para akademisi dan calon akademisi. Penelitian dan hasil penerbitan pun langka sama mewahnya dengan adanya penerbitan majalah akademi. Dominasi budaya lisan ini juga diperlihatkan oleh lemahnya pekerjaan pengarsipan dan dokumentasi, tercermin  dari miskinnya arsip dan dokumentasi pada  Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Kalteng). Penelitian dan penulisan diperlakukan bukan sebagai keniscayaan mengenal keadaan dan mencari kebenaran darfi kenyataan tapi lebih bersifat proyek hedonistik atau transaksional yang mempengaruhi mutu. Dominasi budaya lisan juga mencerminkan diri pada rendahnya minat  baca provinsi. Kegiatan membaca berakhir saat sekolah atau kuliah berakhir. Meneliti, membaca dan menulis adalah suatu rangkaian tritunggal kegiatan.
Bersandar pada budaya lisan, bukan budaya aksara, menimbulkan bahaya bahwa akurasi dan kelengkapan  kejadian, pengertian  dan data  menjadi tereduksi. Sebab sekuat-kuatnya ingatan seseorang, ingatan itu sering tergusur oleh usia atau waktu. Dalam keadaan demikian subyektivisme pengingat atau menjadi berkembang. Seseorang pada kenyataannya tidak berperan penting oleh subyektivisme demikian tiba-tiba muncul menjadi penting. Yang  bukan tokoh (dalam artian peran) tiba-tiba menjadi tokoh penting. Berbeda seandainya terdapat arsip berupa aksara. Keterangan-keterangan subyektif, benar tidaknya keterangan semua pihak bisa dirujuk pada dokumen dan bukti. Budaya lisan tidak memungkinkan pembaca, pelajar dan peneliti mempelajari dan menganalisa sesuatu dengan tepat.Cari lain, budaya lisan tidak mengutakan dokumentasi dan arsip. Miskinnya dokumentasi dan arsip inilah yang menjadi salah satu ciri Kalteng hingga hari ini.
Oleh data yang tidak akurat bisa membawa si pelajar (student) sampai pada kesimpulan salah. Sebab data bohong akan menghasilkan analisa dan kesimpulan bohong pula. Sedangkan seorang student suatu masalah, berangkat dari keraguan atau pertanyaan  bukan dengan kepercayaan. Budaya lisan dengan ciri penuh reduksi, bias dan dilebih-lebihkan yang subyektif, cenderung menempatkan orang tua usia (uluh bakas) sebagai kebenaran tunggal. Kecenderungan inilah yang saya namakan uluh-bakas-isme. Merasa diri sebagai pemilik kebenaran, uluh bakasisme meremehkan anak muda usia tapi mempelajari  masalah secara sistematik dari berbagai sumber.  Padahal kenyataan memperlihatkan uluh bakas tidak identik dengan kebenaran. Apabila keterangan uluh bakas ini dibandingkan dengan berbagaia sumber lain, dianalisa, tidak sedikit yang kemudian sangat tidak akurat. Karena itu bagi seorang student, mereka lebih bersifat salah satu (sekali lagi: salah satu saja dari  sumber acuan yang patut didengar dan diminta tapi disikapi dengan keraguan dan pertanyaan sebagaimana laiknya sikap seorang student (pembelajar). Menghormati uluh bakas dan akurasi dan kebenaran adalah dua hal berbeda.
Apabila dominasi budaya lisan begini diteruskan dan budaya aksara tetap berada di pinggiran, bisa dipaastikan slogan apa pun yang diteriakkan tidak akan membawa Kalteng mampu menjawab zaman yang berubah cepat dengan tuntutan-tuntutannya yang berbeda dari masa silam. Budaya aksara untuk zaman ini adalah salah satu tanda kemajuan dan kecerdasan. Bersandar pada budaya lisan semata, budaya dan sejarah lokal sedang bergerak dari bias, distorsi, reduksi, lalu akhirnya sampai pada kepunahan. Budaya aksara menuntut kepandaian berbahasa bukan hanya berkata-kata.Sedangkan budaya lisan dengan subyektivismenya tuntutan kemampuan berbahasa tidak terlalu menjadi syarat, sehingga sering terjadi seseorang bisa berkata-kata tapi tidak bisa berbahasa. Tidak buta aksara tapi tidak bisa membaca, “saya seorang dosen” tapi tak tahu apa itu debat akademi atau debat ide, adalah sisa dari dominasi budaya lisan. ***
Esai Yapet Omar
STORY TELLING
Ada yang mengindonesiakan ‘’story telling’’ dengan ‘’pembacaan cerita’’ (Harian Kompas, Jakarta, 14 Mei 2001). Artinya cerita yang dituturkan atau dikisahkan kembali didapatkan dari hasil bacaan. Karena itu si penerjemah mengaitkan storu telling atau pembacaan cerita dengan minat baca dan befungsi mendorong minat baca. ‘ ’Story telling juga dapat mengedukasi anak-anak tentang pentingnya budaya membaca. Dengan pilihan strategi yang tepat, pencerita dapat menarik perhatian sehingga pesan yang disampaikan akan sesuai dengan harapan’’, ujar Ketua Kelompok Buku Berjalan Binus International School Simprug, Almanda Gunawan, seusai membacakan cerita untuk anak-anak di Kelurahan Grogol Selatan, Jakarta, Sabtu, 14/5/2011. Saya sendiri lebih cenderung menerjemahkan story telling ini dengan berkisah atau bakésah jika menggunakan istilah bahasa Dayak Ngaju. Apalagi jika pemahaman saya benar, telling itu berarti menuturkan, menyampaikan sedangkan story adalah padanan cerita atau kisah. Telling kiranya berbeda dengan reading (membaca) atau bacaan. Berkisah atau bertutur memang mempunyai hubungan dengan bacaan, apabila dilihat dari segi asal-muasal, sumber darimana kisah itu didapat. Tapi bacaan bukan satu-satunya sumber penutur mendapatkan kisah. Sumber lain bisa diciptakan sendiri, bisa diperoleh dari orangtua, kakek, nenek atau ibu atau siapa lagi. Sumber jenis terakhir ini banyak terdapat di daerah-daerah yang  tidak atau belum mengenal tradisi tulisan atau keberaksaraan, bisa menggunakan istilah Prof. Dr. A.Teeuw, tapi kuat dengan tradisi kelisanannya seperti di Tanah Dayak Kalimantan Tengah. Di daerah-daerah demikian, budaya kelisanan merupakan salah satu pemindahan nilai dari satu generasi ke generasi lainnya. Sistem kelisanan memang mengandung  beberapa kemungkinan positif dan negatif Menjadi negatif apabila kisah itu hilang karena tidak dituturkan ulang dan tidak direkam dalam berbagai bentuk. Bisa juga isinya tereduksi. Ketika hal-hal yang dituturkan bersifat sejarah, bahaya reduksi, bias atau penyimpangan gampang terjadi sehingga  akursi dan validitas data akan terjadi. Karena bahaya begini ketika legenda, cerita rakyat diterima sebagai salah satu sumber sejarah, maka yang dimaksudkan  degan penerimaan lebih bersifat pintu masuk menyelam dalam mencari hakekat. Bias itu terjadi sebagai dampak dari kedaulatan pembaca, dalam hal ini kedaulatan pendengar tuturan dengan segala interpretasi, reinterpretasi dan kreatif dan rekreativitas penutur yang juga hak mereka. Hal ini terjadi dengan penulisan kisah besar rakyat Tiongkok Kuno ‘’Di Tepi Danau’’ atau ‘’Di Tepi Air’’.(Swei Hu Chuan) Apa yang terjadi  dengan kisah besar ‘’Di Tepi Air’’ yang agaknya menjadi sumber utama kisah-kisah siat di Indonesia, bisa dilihat sebagai hal positif. Sepinya dunia penulisan, tak terbiasa membuat dokumentasi dan pengarsipan di Kalteng, barangkali ada kaitannya dengan tradisi kelisanan yang kuat. Mengimbangi kuatnya tradisi kelisanan di Tanah Dayak ini masuknya Zending dengan sekolah-sekolahnya mulai membuka budaya keberaksaraan di Tanah Dayak. Kamus pertama Bahasa Dayak- Jerman pun disusun . Kamus pertama dalam sejarah budaya Dayak. Sekalipun demikian tradisi kelisanan sampai sekarang masih saja sangat kuat. Sayangnya berbeda dari zaman-zaman terhdah, sejak Orde Baru berkuasa tradisi kelisanan, kebiasaan berkisah (story telling) pun menyusut baik dari kualitas maupun kuantitas, baik di ruang kelas maupun di rumah-rumah keluarga. Sebagai penggantinya adalah cerita-cerita yang didapat dari televisi yang dengan adanya parabola telah menembus batas wilayah Negara. Tuturan diganti dengan acara teleivisi dan buku-buku cerita asing yang mendominasi tokobuku-tokobuku. Pergeseran nilai, pola pikir dan mentalitas sejak anak-anak mulai terjadi. Orang-orang mulai lepas akar budaya dan meremehkan budaya sendiri yang dipandang sudah tidak modern (sekalipun tidak paham apa yang disebut modern dan tradisional secra hakiki). Dengan lepas akar dari budaya sendiri, maka daya tapis terhadap budaya luar melemah. Budaya luar dilahap dengan penuh gairah tanpa dicerna. Tokoh-tokoh seperti Bat Man, Mickey Mouse,Donald Bebek, Harry Porter, Barbie, Sin Chan, Dora Emon, Nobita, terakhir  tokoh-tokoh Ipin dan Upin serta Arabisasi (eksternal),dan lain-lain. Warga negeri kita, sejak dini menjadi asing secara budaya dari kampung halaman sendiri bersamaan dengan Pang Palui, Sangumang, Bandar, Tangkiling, Tambun-Bungai, Burut Ules, Beruk Angis, Maharaja Panduran, Sumbu Kurung, Kaméloh,dan tokoh-tokoh serta kisah-kisah lokal asing dari pengetahuan dan minat.Keadan begini bukanlah modernisasi budaya tapi ketertundukan, ketercaplokan, keterjajahan budaya, hilangnya identitas diri. Keterjajahan budaya ini menyebabkan lebih banyak Uluh Itah sekarang, terutama generasi muda, hanya menjadi Dayak secara genealogist tapi tidak secara budaya. Tidak punya identitas yang jelas. Bandingkan dengan Korea, Jepang dan Tiongkok yang mampu menyerap, menapis dan berdialog dengan budaya luar manapun tanpa kehilangan diri..Story telling, tradisi berkisah hampir punah dari masyarakat dan keluarga kita diganti oleh televisi, oleh buku-buku kisah asing dan  nilai-nilai yang ditransfer melalui sekolah dan lain-lain sarana pendidikan. Mata pelajaran mulok yang fokus pada pelajaran bahasa-budaya dan sejarah lokal, mestinya bisa menjadi salah satu penangkal bahaya ini.
Kisah yang dikisahkan kepada anak-anak sejak bocah akan membekas dan mebentuk imajinasi dan watak sang anak. Nilai baik-buruk, sopan tidak sopan, beradat tidak beradat dan lain-lain nilai masuk ke jiwa anak melalui story telling atau kegiatan berkisah. Story telling membentuk suatu citra. Dan sesungguhya sekarang yang  berlangsung di bidang kebudayaan adalah perang citra (la guerre de l’image), demikian Marc Age, antropolog Perancis tentang identitas menyebutnya. Ketika tetua kita menuturkan kisah dahulu, yang mereka lakukan tidak lain dari pembentukan citra juga. Perang citra ini jugalah yang dilakukan oleh para politisi negeri ini untuk bisa berkuasa dan mempertahankan citranya. Citra kehebatan Tjilik Riwut selama Perang Gerilya menghalau Belanda dari Kalimantan Tengah sedikit banyak diciptakan juga oleh la guerre de l’image yang diperlukan untuk penegakan wibawa dan pengaruh. Karena tidak memasuki la guerre de l’image sebab dibunuh oleh militerisme Jepang,Hausmann Baboe, pemikir, inisiator dan organisator kebangkitan Dayak pertama dan utama pada zamannya, menjadi kurang dikenal. Media massa berperan besar dalam la guerre de l’image ini. Kekalahan Perancis dalam Perang Kemerdekaan Aljazair terutama disebabkan karena kekalahannya dalam la guerre de l’image ini walaupun secara militer mereka sepenuhnya sudah menguasai Aljazair . Citra buruk Manusia Dayak di dunia luar adalah hasil dari la guerre de l’image yang dilakukan oleh Belanda dengan politik kebudayaan ‘’ragi usang’’nya terhadap Dayak , produk dari Pertemuan Tumbang Anoi, dan Orang Dayak tidak mengimbanginya dengan serangan balik. Sampai-sampai tokoh nasional, sahabat dekat HOS Tjokroaminoto dan H.Agus Salim, pendiri Kantor Berita Pertama di negeri ini, Hausmann Baboe tidak dikenal publik luas. Sehingga Dayak menjadi sinonim dari segala keterbelakangan, kebodohan, kejahatan dan keburukan (Roedy Haryo Widjono AMZ, 1998, 38-39).
Apa yang dilakukan oleh Pak Besut melalui siaran periodik RRI Yogya pada zaman Soekarno merupakan paduan antara tradisi berkelisanan dan berkeaksaraan. Melalui kisah-kisah yang ia tulis dan tuturkan melalui corong radio Yogya, Pak Besut  melukiskan dan membentuk citra-citra harapan untuk jutaan pendengar setianya. Barangkali dalam upaya memberdayakan dan membangun manusia pembangun di Kalteng story telling ini baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa Dayak melalui RRI ataupun radio-radio FM, sebagai bentuk melanjutkan tradisi baik berkisah dalam masyarakat Kalteng. Memadukan tradisi dan kearifan tradisional dan kekinian yang maju, barangkali berguna dalam upaya pemberdayaan dan  pembangunan untuk kebangkitan kembali lebih lanjut Kalteng. Tujuan utama story telling bagi daerah ini, terutama terletak pada pembentukan manusia pembangun Kalteng. Dan hal ini perlu dilakukan sejak dini. Tapi agaknya orangtua-orangtua sudah menggantikan story telling dengan membiarkan anak-anaknya di depan televisi.
Alangkah banyaknya pekerjaan rumah (PR)harus ditunaikan untuk menjadikan provinsi ini Kalteng Bermutu. Dan PR ini pertama-tama adalah PR pengelola kekuasaan.***
 
Sejarah Kalteng: KAPTEN MULJONO
Catatan Kusni Sulang
 
Saya masih di Sekolah Rakjat (SD sekarang), ketika sebuah kartupos bergambar kemerah-merahan tiba. Foto itu melukiskan dua orang lelaki tampan, tertawa, penuh semangat. Di bawah foto itu tertera sebuah  teks singkat : Kapten Muljono dan Major Tjilik Riwut.  Kapten Muljono mengenakan seragam yang waktu kecil kami kenal sebagai seragam gerilyawan berwarna hitam-hitam.Peci hitam lancip. Pada krah baju terdapat bendera merah putih. Tjilik Riwur mengenakan jaket tanpa topi, berkecak pinggang. Sedangkan Kapten Muljono, dengan lengan baju digulung di atas siku, mengenakan ikat leher entah warna apa, pada pinggangnya bergantung sebuah pistol. Kami menyebut mereka sebagai ‘’tentara gerilya’, dan saban berpapasan mereka dengan suara keras, tangan mengepal diacungkan ke atas memekikkan kata sakral dan magis ‘’Merdeka !’’. Kami yang masih bocah-bocah, menjawab mereka dengan suara tak kalah keras. Apalagi jika papasan dengan Tjilik Riwut. ‘’Tentara Gerilya’’ menjadi tokoh idola kami bocah-bocah kampung.
Empat puluh lima tahu kemudian, foto ini masih saya dapatkan kembali di album almarhum Mayor Tiyel Djelau di Palangka Raya. Sementara yang saya terima di Kasongan, semasa masih SR,  tak pernah terurus ketika kampung kecil itu saya tinggalkan sejak usia 11 tahun.
Datang   kembali ke Palangka Raya, yang sudah tumbuh menjadi kota, di sekitar Gedung Batang Garing, saya dapatkan sebuah jalan kecil tak seberapa panjang,  menggunakan nama Kapten Muljono. Jalan kecil itu tersembunyi dan tidak merupakan jalan yang banyak dilalui seperti jalan-jalan protokol. Saya memang merasa bersyukur bahwa masih ada jalan menggunakan nama Kapten Muljono tanda penghormatan kepadanya masih diberikan walaupun sangat jarang dib icarakan, termasuk pada Hari Pahlawan atau Ultah Kalteng. Disamping rasa bersyukur, saya juga merasa adanya ketidak adilan perlakuan terhadap Kapten Muljono yang turut berjasa dalam mengibarkan Merah Putih di Kalimantan, lebih-lebih di daerah yang sekarang bernama Kalteng. Ditakar dari jasanya untuk Republik di Kalimantan ,cq Kalteng,, jalan protokol ada yang menggunakan nama beliau. Semestinya provinsi ini mengutamakan pejuang-pejuang setempat daripada pejuang-pejuang dari luar Kalteng yang tak punya jasa langsung untuk daerah ini. Mengutamakan pejuang-pejuang lokal tidak berarti mengabaikan keindondesiaan, tapi sesuai dengan roh kebhinnekaan, berrepublik dan patutnya memiliki identitas. Siapa yang menghargai para pejuang ini, kalau bukan pertama-tama orang daerah sendiri. Kapten Muljono, adalah salah seorang pejuang besar Kalteng yang boleh dikatakan kurang  diindahkan hari ini. Ia berangkat ke Kalimantan dari Pekalongan, selaku komandan Pasukan Eksepedisi 003/K3 dari Kesatuan Penjelidik Militer Chusus, pada 10 Agustus 1946. Di samping menyandang tugas intel (penyelidik), Kapten Muljono juga bertugas mendidik dan melatih kader-kader militer Republik untuk Kalimantan. Dalam upaya mewujudkan tugas-tugas ini Kapten Muljono dipercayai untuk melatih kader-kader militer Republik untuk Kalimantan di Sepanbiha, sekitar 12 km di belakang kampung Buntut Sapau, Seruyan.Para pemuda Dayak yang telah dipilih dari berbagai Daerah Aliran Sungai dikirim untuk mengikuti latihan militer di Sepanbiha, termasuk para pemuda dari Seruyan yang telah dipilih oleh Tiel Djelau.
Agaknya kegiatan militer di pusat latihan Sepanbiha ini diketahui oleh Belanda yang memang dengan macam-macam cara mencari tahu kegiatan para geliyawan Republik. Pada 17 September 1946, subuh pukul 4.30, ketika Kapten Muljono sedang memimpin latihan, tiba-tiba mereka diserang oleh pasukan NICA (Belanda). Pertempuran sengit pun berlangsung dan dimenangi oleh Kapten Muljono dan anak latihnya. Empat serdadu NICA  tewas, tujuh luka berat. Dari pertempuran ini, para gerilyawan berhasil merebut bren, stenm lion filedm  pistol granat dan sejumlah peluru.Walau pun di pihak gerilyawan gugur Sersan Hayun dan Sersan Hamdan serta dua orang penduduk Tumbang Manjul. Pertempuran Sepanbiha yang juga dikenal dengan Pertempuran Tumbang Manjul merupakan salah satu pertempuran terkenal di samping pertempuran Danau Mare, dan lain-lain. Alangkah baiknya, jika pertempuran terkenal dan Pusat Latihan ini dirayakan saban tahun, paling tidak oleh Kabupaten Seruyan, untuk menanam heroisme dan patriotisme yang sekarang nampak merosot.
Sejak itu Kapten Muljono, walau pun seorang asal Jawa, dipandang dan dirasakan oleh Uluh Itah (Dayak) sebagai bagian tak terpisahkan dari Kalteng dan merupakan Uluh Kalteng sesungguhnya. Ia datang ke Kalteng untuk membangun Republik melalui Bumi  Kalteng. Kehadiran dan kegiatan Kapten Muljono di Kalteng bukan untuk mengagresi dan menduduki serta mengeksploitasi kekayaan Kalteng tapi untuk membangunnya sebagai wilayah Republik. Kapten Muljono melalui praktek menunjukkan  bagaimana menjadi Indonesia, bagaimana menjadi Uluh Kalteng. Kalteng memerlukan manusia-manusia Uluh Kalteng seperti beliau. Untuk menghargai jasa dan menghormati beliau, sepantasnya sebuah jalan protokol penting menyandang nama beliau, bukan sebuah jalan kecil tersuruk di tengah-tengah kesunyian. Barangkali Kalteng  masih mampu menghargai  jasa dan menghormati para pahlawannya walau pun hedonisme memang memabukkan. Lebih gampang lagi dilupakan oleh lemahnya dokumentasi dan arsip serta dominasi budaya lisan. ***
Sajak-Sajak Az Andreas
Lilin
di sini listrik masih langka
kendati batu bara
riam menderu
bertabur dari muara
hingga hulu
temaram dan remang semata
dari rumah
hingga jalan
cahaya dan terang
dilupakan retorika
tak utama bagi citra
di lilin meja kerjaku
kejujuran meleleh
kebenaran menjelang padam
harapan menjadi mata pisau
mengiris jantung pemrihatin
patutkah kita diam
sedang pembunuhan
tanpa berkedip dilakukan?
bersama bayang
dalam remang
mengkilap mata belati
masih acara hari-hari
2011
Gantang Anak Dayak
kecamuk tarung di jalan pandak
membuatnya kian pandak saja
tak terasa kita tiba di batas senja
di mana  di luar kehendak
kita kemudian berpisah
yang mencintai tak pernah cukup waktu
untuk mencintai tapi tak juga berkeluh-kesah
karena sudah memilih dan mengisi pilihan itu
sebagai layaknya seorang manusia
sebagai layaknya anak negeri
layaknya sahabat,  isteri atau suami
di batas senja sebelum menerjuni malam selamanya
kita saling pandang tak ada lagi yang patut diucapkan
saling paham – sementara itu
yang tinggal di bawah matahari kembali melanjutkan langkah
sesuai peta bertanda titik-titik merah
aku sendiri semenjak megenal garangnya bumi
menerima kehadiran hanya bisa menghitung
kemampuan ketahanan laga
diberikan tangan terpercaya
sebagai dayak menakarnya selalu dengan pertanyaan:
“orang-kampung dan para anak-cucu
bergunakah ia bagimu kata-kata
kuucap dan kutuliskan selama dinaung matahari?”
2011.
Bahasa Dayak Ngaju
Asuhan Kusni Sulang
 
Kutak Ulang (KataUlang – Lanjutan)
 
1.       Pada (pada dalam bahasa Jawa). Suntue : dari-daria = pada berlarian ; dumah-dumaha = pada berdatangan ; duruh-duruha= pada berjatuhan.
Catatan : dari (hadari), lari, berlari adalah kata kerja (kutak gawi). Pengulangan kata kerja (kutak gawi) dengan menambah akhiran  a pada kata kedua yang diulang mengubah kata kerja itu menjadi kata keadaan (kutak kaadaan).
2.      Berarti : saling. Suntue : pedak-pedaka = berlemparan. Mirip dengan arti ini adalah penggunaan awalan ha pada kata kerja atau kata kata benda (kutak  banda). Suntue : duhup= menolong. Hadahup =saling tolong. Matei =mati . Hampatei =saling berbunuhan ; pedak =lempar : hapedak=saling lempar. Kuman=makan.Hakuman kulae=saling memakan sesama. Tanjuru=bohong. Hatanjuru=saling berbohong.
3.      Berarti : melakukan pekerjaan yang ditunjukkan oleh kutak gawi (kata kerja), kutak banda (kata benda) yang diulang. Tapi yang melakukan pekerjaan itu memandang apa yang dilakukannya sebagai hal biasa. Terdapat nuansa kerendahan hati pada pengucap. Suntue : kasak (mampakasak)= memasak. /mampakasa-kasak bari : menanak-nanak nasi. Gau= mencari. Manggau=mencari. Manggau-gau lauk= mencri-cari ikan. Tawe : tawa. Manantawe-tawe= menertawakan.
 
Cara pembentukan kutak ulang ini : menambahkan awalan ma pada kata dasar (tentang awalan akhiran dan sisipan akan dibicarakan kemudian).
 
4.      Pengulangan murni kutak banda, mengubah status kutak banda itu menjadi kutak kadaan. Berarti melakuan apa yang ditunjukkan oleh kata dasar yang diulang tersebut. Suntue. Tawe= tawa.  Tawe-tawe= tertawa-tawa. Kumi=senyum. Kumi-kumi=tersenyum-senyum ; ture=pandang. Ture-ture= termenung. Singi =marah (bhs. Inggris = anger). Singi-singi = marah-marah.
 
Ungkapan Dan Peribahasa Dayak Ngaju
 
1.Tamam kabar bara ampie. Indah rupa dari pada bentuk. Berita yang melebihi keadaan sesungguhnya.
2.Hai kakalinge bara upue. Besar bayangan daripada pohonnya. Yang digambarkan beda dari kenyataan sesungguhnya.
3.Jukung  bapetuk, besei bapelek. Perahu bocor, pengayuh patah. Melakukan pekerjaan dengan syarat yang sangat buruk. Bahkan tak ada syarat menguntungkan sama sekali.
4. Besei jadi iimbing, jukung jadi hung danum.Pengayuh sudah dipegang, perahu sudah di air. Segala-galanya sudah siap. Tinggal melakukan pekerjaan itu saja lagi.
5.Jatun kangkulut je dia tau ingarak. Tak ada kusut yang tak dapat diurai. Tak ada pertikaian yang tgak dapat diselesaikan.
6.Mandang ije nyelo, ujan jandau mambisa uras. Kemarau setahun oleh hujan sehari basah semua. Hasil pekerjaan yang dilakukan dengan penuh ketekunan dalam waktu panjang, menjadi hancur sama sekali oleh suatu kesalahan.
 

SP RADAR SAMPIT EDISI CAGAR BUDAYA

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
 
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
CAGAR  BUDAYA
Apakah yang disebut benda cagar budaya? Undang-Undang Republik Indonesia (UURI) Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya (selanjutnya disebut  UU No.5/1992) menetapkan  bahwa  yang dimaksud dengan benda cagar budaya adalah “1.a. benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima  puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah  ilmu pengetahuan  dan kebudayaan; b. benda alam yang dianggap mempunyai  nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan , dan kebudayaan.2. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya”. “Perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional” (Bab II).  “Semua benda cagar budaya dikuasai oleh Negara” (Bab III. Pasal 4).”Benda cagar budaya tertentu dapat dimiliki atau dikuasai oleh setiap orang dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya dan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini” (Pasal 6). “Setiap orang yang memiliki atau menguasai benda cagar budaya wajib  melindungi dan memeliharanya” dan “wajib dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya” (Bab IV Pasal 13). “Dilarang mengubah bentuk dan /atau warna serta memugar benda cagar budaya” (Bab IV Pasal 15 d).demikian beberapa ketentuan UU No.5 /1992 tentang cagar  budaya.
Berdasarkan ketentuan UU No.5/1992 ini, di seluruh Kalteng mulai dari kota Palangka Raya hingga 13 kabupaten lainnya terdapat tidak sedikit benda-benda cagar budaya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya bersama Badan Purbakala, sejak beberapa tahun lalu sudah mencoba mendaftar benda-benda cagar budaya yang terdapat di wilayahnya.Walau pun masih ada yang tercecer seperti Mesjid dan makam Kaharingan tertua di Jalan Flores  Palangka Raya, tapi upaya ini patut dihargai.  Dinas Kebudayaan Kota tidak berhenti pada pendaftaran tapi upaya melindungi dan merawat juga sudah diperlihatkan, misal terhadap Sandung Sukah di Jalan Darmosugondo. Barangkali apa yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Kota berada di depan untuk Provinsi Kalteng. Sebab  ketika maraknya pencurian, penggergajian sapundu dan sandung , penanggungjawab utama soal kebudayaan provinsi dalam keterangan persnya sempat berkata bahwa pennggergajian dan penjualan sapundu keluar masih perlu dilihat apakah sapundu-sapundu dan sandung-sandung  itu termasuk benda cagar budaya atau tidak. Dengan pernyataan demikian penanggungjawab kebudayaan tersebut memandang tidak perlu meributkan soal penggergajian dan penjualan sapundu yang tidak sedikit di antaranya berusia hampir 100 tahun,  bahkan lebih.Lebih parah lagi, di sementara kabupaten, walau pun jelas-jelas  di pagar sandung itu ditulis dengan huruf-huruf besar :”Cagar Budaya”, tapi ketika menjawab pertanyaan mengapa Cagar Budaya tersebut tidak dirawat, kepala daerah tertentu tersebut menjawab bahwa keniscayaan merawatnya tidak ada karena UU Tentang Cagar Budaya belum ada.Memang UU dan Peraturan di negeri ini belum menjadi pengetahuan umum para birokrat. Kalau pun diketahui, tidak dilaksanakan.
Tidak terawatnya, merubah keaslian , baik bentuk atau warna benda cagar budaya, bahkan penjualan dan penghancuran benda-benda cagar budaya di Kalteng, selain disebabkan alasan-alasan hedonistik, eogistik  (tanpa mengindahkan fungsi sosial, sejarah dan budaya benda-benda tersebut),  juga  disebabkan oleh minimnya kesadaran sejarah dan   budaya serta ketidaktahuan akan adanya UU No.5/1992 yang terdapat di kalangan  birokrat dan masyarakat. Dengan keadaan begini, jika tidak terdapat perbaikan, bukan tidak mungkin, dalam waktu yang tidak lama sebagian besar situs dan benda-benda cagar budaya akan musnah sama sekali. Lalu di tempat-tempat tersebut akan berdiri mall-mall megah, toko-toko, café-café kekinian, dan lain-lain. Generasi mendatang tidak lagi bisa melihat sendiri dengan kasat mata bagaimana benda-benda cagar budaya atau situs-situs yang merekam keadaan sejarah, masyarakat dan budaya pada waktu mereka didirikan.Sambil melakukan penghancuran benda-benda cagar budaya dan benda-benda sejarah, dengan alasan-alasan di atas , tapi bibir masih mengucapkan kata-kata muluk “manggatang utus”. Gejala  begini bukan hanya terjadi di Kalteng tapi menerpa seluruh negeri. Akibatnya untuk mempelajari Kalteng, secara lebih khusus Dayak (jika masih ada Uluh Kalteng yang masih tertarik mempelajarinya) , para pelajar (students) terpaksa pergi ke manca negara yang menampung apa yang dibuang oleh Kalteng. Apakah nama perilaku  begini jika bukan bunuh diri budaya dan munafik? Di satu segi dengan   penuh semangat berkata “manggatang utus” dan identitas, tapi bersamaan dengan itu menghancurkan budaya dan peninggalan sejarahnya. Kalau bukan munafik dan bodoh, perilaku begini adalah perilaku orang yang jiwanya pecah (broken soul) dan kehilangan diri, tapi tidak menyadarinya. Manusia begini berada dalam  “Runaway World”, dunia yang berlarian tunggang langgang tanpa arah, kacau balau, apabila meminjam istilah Anthony Giddens.
Manggatang utus kiranya tidak cukup dengan kata-kata dan semangat, apalagi semangat tanpa isi  kepala dan hati. Tidak terawatnya benda-benda cagar budaya dan sejarah di provinsi ini sedang menegur Uluh Kalteng dengan keras. Provinsi memang masih punya waktu untuk memperbaiki diri sebelum segalanya benar-benar binasa. Akankah waktu yang ogah menunggu siapa pun dimanfaatkan? Nalar zaman menuntut kita segera berubah. ***
Esai Anton William
Mengapa Ada Darah Dayak di Madagaskar?*
Etnis Malagasi yang kini menempati Madagaskar ternyata berasal dari rahim 30 perempuan yang terdampar di daerah itu pada 1.200 tahun lalu. Di antara 30 perempuan itu, 28 perempuan di antaranya berasal dari Indonesia.
Murray Cox, peneliti genetika dari Massey University, Selandia Baru, tertarik dengan penelitian yang menyatakan bahwa darah Dayak mengalir di tubuh penduduk Madagaskar. Disebutkan satu milenium lampau sekelompok etnis asli Kalimantan berlayar menggunakan perahu di Samudra Hindia. Kencangnya ombak di perairan luas ini mendorong perahu hingga terdampar di Madagaskar yang tak berpenghuni.
Kelompok yang terdampar tersebut kemudian membuka lahan di dataran tinggi untuk dijadikan permukiman dan sawah. “Kami berbicara mengenai satu budaya yang berpindah tempat melintasi Samudera Hindia,“ katanya kepada Live Science.
Bukti etnis Dayak sebagai pemukim pertama Madagaskar kini masih terawetkan pada tiga suku yang berdiam di dataran tinggi, yaitu Merina, Sihanaka, dan Betsileo. Ketiganya masih berkomunikasi menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Barito yang banyak dipakai di Kalimantan bagian selatan.
Pertanyaan yang masih tersisa di benak peneliti ini adalah seperti apa kontribusi genetik pemukim pertama ini terhadap penduduk Madagaskar saat ini. Untuk mengetahuinya, dia mempelajari gen yang didapat dari mitokondria 300 penduduk Madagaskar dan 3.000 penduduk Indonesia.
Pemilihan mitokondria disebabkan dapur energi pada sel ini menyimpan gen yang diturunkan oleh ibu. Sampel gen memperlihatkan kemiripan antara genom orang Indonesia dan Madagaskar.
Pekerjaan berikutnya adalah mengetahui kapan dan bagaimana etnis dari Indonesia sampai di pulau tersebut. Simulasi komputer digunakan untuk menelusuri silsilah genetik manusia Madagaskar yang hidup saat ini hingga ke masa lalu.
Hasilnya memperlihatkan bahwa penduduk Madagaskar saat ini terhubung dengan 30 perempuan. Perempuan-perempuan ini diperkirakan menjadi pemukim pertama sekitar 1.200 tahun lalu, yaitu 28 perempuan Indonesia dan dua lainnya dari Afrika.
Dari hasil penelitian ini, Murray yakin populasi etnis Dayak yang terdampar segera berkembang dengan pesat dan menguasai pulau tersebut. Diperkirakan kelompok besar sudah tercipta dalam beberapa generasi saja. (http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT /KT/2012/03/26/ArticleHtmls/Mengapa-Ada-Darah-Dayak-di-Madagaskar-26032012013013. shtml?Mode=0)
Catatan Pengasuh  SP Radar Sampit
Mengenai kehadiran penduduk Madagaskar asal Dayak, sejarah Kerajaan Nansurani barangkali bisa dijadikan salah satu acuan. Situs budaya mengenai kerajaan Ma’anyan ini, menurut budayawan Ma’anyan, Apria Dansen, masih terdapat di Kalimantan Selatan. Jika benar, mudah-mudahan situs budaya dan sejarah ini masih terpelihara, minim, tidak hancur. Situs-situs budaya membantu kita mengenal sejarah, budaya dan apa-siapa serta bagaimana diri kita agar tidak terperangkap dalam pengetahuan dan pengenalan kira-kira atau’’ ilmu kuping’’ atau ‘’katanya’’.
Dokumen-dokumen dan studi tertulis mengenai masalah ini bisa didapatkan di perpustakaan-perpustakaan Perancis. Tor, antropolog Madagaskar, untuk keperluan tesis doktornya di Universitas  Sorbonne, Paris, telah menelusur keberadaan etnis Dayak di Madagaskar ini hingga ke Philipina dan berakhir dengan suatu konfirmasi. (Lihat juga : Dunis Iper, ‘’Sejarah Maayan’’, Kalteng Pos, 17 Juni 2012). 
Bisakah kita berharap para akademisi Kalteng menaruh perhatian akan soal sejarah, kebudayaan dan kemasyarakatan begini, sesuai dengan visi-misi universitas yang diwasiatkan oleh para pendiri Kalteng sebagai ‘’tunjung nyahu’’, otak ‘’Kalimantan dan Kalteng’’?     
Senja, di Akhir Desember
Oleh : Raudatul Gina *
            Senja memancarkan semburatnya yang indah. Di akhir desember ini ketegaran hati Zyfha rapuh. Zyfha duduk di tepi kolam ikan samping rumah. Ia  biarkan kakinya yang telanjang merasakan dinginnya air kolam. Zyfha merasakan kesejukan mengalir kedalam jiwanya. Mengurangi kekelabuan yang tengah dilandanya.
             Dia  pandangi ikan-ikan yang berlari-lari kesana kemari. Zyfha tertegun sejenak,  ketika ia melihat ikan mas ke sayangan papanya  menyendiri. Mungkin dia lagi sedih, karena majikannya sudah tidak pernah lagi menyentuhnya. Biasanya papa betah sekali sampai berjam-jam kalau sudah asyik dengan kolam ini.
            “Zyfha sudah besar, Zyfha tahu bahwa perkawinan papa dan mama di ambang kehancuran. Tapi ini bukan salah papa. Ini Cuma salah paham. Mamamu terlalu yakin dengan apa yang dilihatnya  di Restoran Chiko seminggu yang lalu. Dia pikir papa sudah menyeleweng. Padahal itu cuman teman bisnis papa ”
            “Papa! Jahat” batinnya.
            Mengingat itu hati Zyfha semakin perih. Tak terasa air matanya meleleh membanjiri pipi mulusnya yang kemerah-merahan. Angin berhembus dingin menusuk tulang pun dia hiraukan. Tak sampai di situ, kecemasannya pun kian menggrogoti pikirannya. Gelisah!
             Ezza, adik semata wayangnya, sudah dua hari tak masuk sekolah karena sakit. Demamnya cukup tinggi, dan terkadang menggigil kedinginan. Tak tahu harus lari ke mana. Sejak mamanya meninggal tiga bulan yang lalu, dan papanya yang sudah menikah lagi dengan wanita simpanannya. Membuat semua tanggung jawab terbebankan padanya.
            Dia telah membuang harga diri, menelpon ke papanya, membiarkan harga dirinya terinjak-injak saat yang menerima telepon adalah Tante Ayra, mama tirinya. Hasilnya pun bisa diduga, pesan untuk papanya tidak kesampaian.
             Mama tirinya memang tak pernah memberinya senyum. Entah karena Zyfha yang memulai membenci isteri kedua papanya itu, atau karena memang wanita itu tak ingin Zyfha dan adiknya masuk ke dalam kehidupan papanya lagi.
            “Papa kamu lagi sibuk. Lagian apa kamu lupa bahwa kamu pernah berucap tak butuh apa-apa lagi…”. “Tapi itu dulu, Tante! Mama sekarang sudah nggak ada, Ezza sakit, sementara kuliahku lagi sibuk-sibuknya.”. “ Kalau begitu kamu dan papamu sama-sama sibuk. Jadi nggak bisa saling ganggu.”
            Klik! Hubungan terputus. Berlanjut dengan jalinan air mata yang tak berhenti mengucur.
            “Ezza, kamu nggak apa-apa, kan? Kak Zyfha baru saja nelepon dokter. Kamu sabar, ya?”
            Ezza hanya membuka mata sejenak. Lalu tertutup lagi! Air mata Zyfha semakin tak terbendung. Mendengar Ezza mengigau memanggil Mama dan Papa.
            “Mama kemana, kak? Papa juga. Kenapa semua orang tega meninggalkan kita. Ezza rindu, Kak! Ezza masih ingin dibelai . . .”
            “Ezza!” Zyfha membujuk, menyuruh adiknya bersabar meski dia sendiri tak bisa menahan air matanya”.” Mama bukannya tega, Sayang! Mama dipanggil Tuhan untuk istirahat. Kamu nggak boleh nakal, biar istirahatnya nggak terganggu. Papa sibuk kerja, cari uang untuk kita . . . .”
            “Kaka bohong! Dulu Mama sering nangis karena nggak punya uang. Harus hemat, biar kakak bisa kuliah. Mana uang dari Papa?”
            Ketegaran Zyfha ambruk. Meraih tubuh adiknya dan melabuhkan peluk di tubuh mungil yang panasnya semakin naik. Dalam pelukan itu, dia berharap adiknya mengerti bahwa tidak ada lagi yang bisa ditempati untuk berharap.
            Hanya kesabaran yang bisa membuat mereka tegar! Tapi dia tak tahu harus bercerita apa agar Ezza yang baru duduk di kelas lima SD, mengerti dengan kenyataan pahit itu.
            Bisu. Tiba-tiba isak Ezza terdiam. Zyfha melepaskan peluk lalu menatap mata cemas pada adiknya.
            “Kamu nggak apa-apa, kan?” panik Zyfha.
            Senyum yang tercipta dari bibir Ezza membuatnya lega sejenak. Ya, hanya sejenak! Karena akhir dari senyuman itu tercipta kembali pertanyaan yang tak bisa bisa dijawabnya. Pertanyaan tentang Farma!
            Memang wajar  jika Ezza menyebut nama Farma, setelah papanya tak bisa memberinya kasih sayang. Farma pernah hadir lebih dari sekedar kakak bagi Ezza. Seolah Ezza yang utama, bukan Zyfha sebagai pacar. Setiap datang apel, Ezza yang selalu dicarinya. Hingga cerita bersama Zyfha pun, hanya dari separuh waktu yang tersisa untuk Ezza.
            Zyfha bahagia  saat itu. Sangat! Tapi sosok Farma menghilang beberapa hari setelah kepergian mamanya. Farma tiba-tiba menjaga jarak saat mamanya meninggal. Padahal saat seperti itulah Zyfha butuh pegangan hidup. Tapi Farma tonggak itu, berkesan menghindar.
            Meski curiga, Zyfha masih berusaha berpikir positif. Mungkin saja Farma sibuk, lebih-lebih kuliahnya di kedokteran tak bisa dinomor duakan, apalagi disepelekan. Namun kenyataan berikut membuatnya terluka lagi, meski tak seperih luka saat kepergian mamanya.
            Dia Pandangi foto Farma yang terpasang di atas meja belajarnya.
            “Apa yang terjadi? Apa salahku?” batin Zyfha
            Zyfha melangkah menuju jendela. Dia pandangi rembulan yang redup. Bintang-bintang enggan bersinar, menambah suasana yang gelap. Segelap hatinya yang diliputi duka. Duka yang membuatnya sesak di dalam dada.
            Farma ternyata punya pacar. Bukan gosip! Zyfha sendiri yang melihat Farma menggandeng cewek lain. Farma gugup saat itu, bahkan pura-pura tak melihat sosok Zyfha yang tengah tercengang. Zyfha ingin menegur, tapi dia pikir percuma. Dan itu memang langkah yang tepat. Karena sehari setelah itu, Gina sahabatnya, datang memperjelas semuanya.
            “Kok bisa sih, kamu jadian dengan Farma dulu? Tahu nggak, Farma punya pacar. Jadiannya sejak mereka SMU. Padahal setahuku, kamu jadian dengan Farma baru empat bulan yang lalu. Gimana sih ceritanya?” Gina terus memburu.
            Tak satu pun dari pertanyaan itu yang bisa terjawab. Tapi pertanyaan itu membuat semuanya jelas. Farma pernah datang dalam kehidupannya mungkin sebagai pelarian, atau juga sebagai pengisi waktu saat pacarnya lagi tak bersamanya. Dan entah kemungkinan apa lagi, kemungkinan yang semuanya menyakitkan.
            Padahal dia sudah beranggapan, Tuhan mengirimkan “malaikat” bernama Farma untuk menggantikan kehilangan papanya. Rupanya, Zyfha terlalu cepat mengambil hikmah. Saat mamanya meninggal pun Farma tak muncul, padahal dia sangat membutuhkan seseorang, paling tidak untuk menenangkan Ezza yang selalu merengek dan tak ingin melepaskan kepergian mamanya.
            “Kakak ribut dengan kak Farma, ya? Ezza rindu padanya. Dulu dia janji membawa Ezza ke game zone.  Tapi kok tak pernah muncul lagi”  Ezza menyebut nama Farma lagi.
            “Kak Farma lagi sibuk, Ezza! Kamu harus sabar. Kalau kak Farma jadi dokter nanti, kan ada yang mengobati.”
            “Masa iya sih, nelepon saja nggak sempat? Tolong Ezza, kak! Ezza rindu pada kak Farma! Kakak mau nelepon dia untukku, kan? Katakan, sebentar saja! Enggak usah ke game zone, Ezza cuman ingin dia datang dan tertawa bersamaku.”
            Zyfha mengalah. Demi kebahagian Ezza!
            Tapi sayang debar tak karuan menggiringi gerakan tangannya menghubungi Farma, berakhir luka. Bukan suara Farma yang terdengar, tapi seorang cewek yang lumayan antagonis.
            “Farma lagi kuliah. Ponselnya dititip ke aku, Mey!”
            “Mey?” desis Zyfha seolah tanpa sadar.
            “Ya, Mey! Pacar Farma. Kamu siapa?”
            Zyfha ingin menutup teleponnya, tapi dia tetap berlaku wajar agar tak membuat Mey curiga.
            “Zyfha!”
            “Zyfha? Namamu sering ku dengar. Bukan dari Farma, tapi dari orang-orang terdekatku. Kebetulan sekali, aku telah lama mencarimu. Ingin sekali melihat tampang cewek penggoda seperti kamu. Tapi jangan panggil aku Mey jika kamu bisa memaksa  Farma berpaling dariku . . . .”
            Zyfha menutup telepon. Perih akan semakin melukai jika dia bertahan mendengar kalimat Mey. Ezza yang melihatnya menangis kembali bertanya.
            “Kak Farma akan datang, kan?”
            Zyfha mencoba mengangguk, meski tetap merayu Ezza untuk bersabar. Seperti dia bersabar dengan cobaan beruntun yang kini dihadapinya.
***
            Tengah malam! Suhu badan Ezza naik lagi. Mengingau lagi! Kali ini bukan tentang mama atau papanya, tapi tentang Farma. Tak ada jalan lain, dia harus mendengarkan cacian mama tirinya lagi jika dia yang mengangkat telepon. Zyfha tak ada pilihan lain. Panik!
            “Halo, aku Zyfha!”
            Klik! Telepon yang terputus tiba-tiba menandakan bahwa yang mengangkat telepon adalah mama tirinya. Zyfha tak putus asa! Tak peduli cacian apa lagi yang akan didengarnya. Dia tetap menderingkan telepon.
            “kumohon, Tante!” serbu Zyfha lagi setelah telepon terangkat lagi di seberang. “Ezza lagi sakit, aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku Cuma butuh Papa untuk menemaniku ke dokter. Ezza anak papa juga, Tante! Ini bukan untuk aku, tapi untuk Ezza yang belum tahu apa-apa,” lanjut Zyfha memelas.
            Tapi tak satu pun kalimat yang terucap dari seberang. Bisu! Bahkan ditutup kemudian.
            Sakit sekali hati Zyfha menerima perlakuan itu. Saking perihnya, dia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya air matanya yang menetes, dan mata redupnya menatap Ezza yang -tubuhnya sesekali mengejang menahan panas. Zyfha benar-benar tak percaya dengan perihnya kenyataan yang kini menimpanya.
            “Ezza!”
            Suara itu seperti membangunkan Zyfha dari mimpi buruk. Apalagi saat pemilik suara itu mendekat dan mengangkat tubuh Ezza.
            “Dia  harus dibawa ke dokter.”
            Tanpa minta persetujuan Zyfha, Farma membopong tubuh Ezza keluar dari kamar. Zyfha hanya mengekor. Bahkan sepanjang perjalanan, dia tak berucap satu kata pun. Bisu!
            Tapi jujur, dia tak sedikit pun mengharap Farma untuknya. Meski dia belum pernah melihat Mey sebelumnya, dia tak tega melukai gadis itu dengan mengambil Farma  yang begitu sempurna di matanya.
            “Maaf, merepotkanmu.” Zyfha baru bisa bersuara saat tiba di rumah sakit dan Ezza telah di tangani oleh dokter.
            “Aku juga minta maaf. Malam ini aku nggak bisa  menemanimu menunggui Ezza,”
            Farma pergi kemudian. Tanpa pamit! bahkan tak pernah menatap Zyfha.
            “Terima kasih, Far!”
            Langkah Farma terhenti, lalu berbalik kearah Zyfha yang menatapnya tajam. Hanya sejenak, ia lalu meraih dompet dan menyerahkan  sejumlah uang untuk Zyfha.
            “Mungkin bisa membantu.”
            Air mata Zyfha menetes. uang itu memang sangat di butuhkannya, tapi  perhatian Farma malam ini dirasakannya jauh lebih dari cukup.
            “Jangan menolak, Zyfha! Aku tahu kamu butuh…”
            Berat tangan Zyfha meraih pemberian  itu. Tapi baru sedetik pemberian itu berpindah ke tangannya Mey menengahi.
            “Jadi kamu yang bernama Zyfha?”
            Farma berubah pucat. Terlebih Zyfha, bergetar bibirnya hendak berucap kata, tapi tak satu pun yang bisa keluar.
            “A… Aku. . .” Gugup Farma.
            “Aku mengikutimu dari tadi. Jangan sok pahlawan! Bukan tak mungkin Cewek ini sudah terbiasa menggunakan air mata sebagai senjata untuk melumpuhkan cowok. Setelah yakin tak bisa mendapatkan cinta  darimu, sekarang uangmu yang dia kuras!”
            “A.. . aku. . .” Zyfha masih tak bisa bicara. “Ku harap kamu tidak salah paham. A . . . aku. . . ”
            Kalimat Zyfha terhenti oleh tamparan Mey yang tiba-tiba saja mendarat perih di pipinya. Zyfha tertunduk, menatap ujung kakinya. “Kenyataan apa lagi ini, Tuhan. . .”
desis batinnya.
            “Mey!” Farma menengahi. Bahkan melayangkan tamparan ke wajah Mey yang masih hendak menyerang Zyfha.
            “Be… berani kamu menamparku demi cewek murahan ini!” Mey setengah teriak.
            “Aku tak pernah mencintai Zyfha. Tidak pernah! Iba yang membuat hatiku melangkah mendekatinya. Mamaku yang telah membuatnya menderita.”
            Zyfha menatap Farma lekat. Kata-kata selanjutnya membuat Zyfha tercengang. Dia tak pernah menduga, Tante Ayra, mama tirinya yang begitu galak ternyata punya anak berhati mulia, dan itu adalah Farma!
            “Aku yang mengangkat teleponmu tadi, tapi tak bicara. Mamaku dan papamu sedang liburan keluar negeri. Aku pernah menyusup dalam kehidupanmu, tapi sungguh aku tak bisa mendua. Mey mungkin bisa menerima kamu hadir sebagai sahabat. Tapi mamaku tidak. Saat mamaku tahu aku sering menemuimu, dia bahkan akan mengusirku  dari rumah jika aku masih tetap menemuimu.
            Dia mamaku, kuakui dia serakah. Tapi kumohon, jangan menganggapku serakah karena telah melukaimu dengan cintaku. Semua kulakukan karena ingin melihatmu dan Ezza ikut memiliki senyum dan kebahagiaanku selama ini. Tapi sekali lagi, mamaku tak mengijinkan itu”
            Zyfha terhenyak dan terpukul dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia seakan-akan tak mempercayai dengan kenyataan pahit itu.
            “Ya Tuhan.. lelucon apakah ini? Kau berikan kebenaran yang menyakitkan pada hamba-Mu ini!”
            Farma masih ingin bicara. Tapi Zyfha melangkah  meninggalkannya. Dia masuk menemui Ezza. Saat Farma melangkah pergi. Mey memilih menemui Zyfha mengajaknya berbagi beban!***
Nama: Raudatul Gina
Sekolah: SMA-N 1 M.H.S kelas: XI IPA 2
Alamat: Samuda, Jln. Partoe Muksin
Nomor HP: 085651329159
Sajak Yapet Omar
Tinggal Semak
muda-mudi tanah dayak berlomba memacu
sepeda motor sambil tidur melomba angin
kau ternganga bertanya
“sejak kapan  para pembalap unggul
begini muncul ?’’
kalau langit adalah buku sejarah
di sisa halaman-halaman resminya
keterangan  tinggal sepenggal-sepenggal
untuk tahu kau patut menyusup hutan
mengusut riwayat gunung dan sungai
kerna penduduk lebih suka diam
ingatan seram masa langit hitam kelabu
kabut pagi  anyir melilit pucuk pepohonan
masih bersarang di dasar kalbu
orang-orang merasa berjalan di fatamorgana
sempoyongan oleh udara masih bertuba
tanah dayak
tanah terbongkar
harapan tinggal semak
2011.
Bahasa Dayak Ngaju
Asuhan Kusni Sulang
UNGKAPAN DAN PERIBAHASA DAYAK NGAJU
1.Manuk injarat inyambar antang, parei iimbul belum tingen. Ayam dijerat disambar elang, padi ditanam yang tumbuh ilalang. Yang dimiliki dirampas oleh orang lain. Nasib sial.
2.Dia baya ije kungan jagau je tau manandu. Bukan hanya satu ekor jago yang bisa berkokok. Bukan hanya diri sendiri yang bisa melakukan satu pekerjaan serupa.
3.Masak luar, manta huang. Matang di luar, mentah di dalam. Nampak sebagai orang baik secara penampilan tapi sesungguhnya jahat.
4.Musuh ela inggau, hasundau ela hadari. Musuh jangan dicari, berjumpa jangan lari.
5.Ije ka ngaju, ije ka ngawa. Satu ke hulu, ije ka ngawa. Tidak satu arah. Simpang-siur, tak ada kesatuan.
6.Pisang dia mamua due kali.Pisang tidak berbuah dua kali. Tidak tertipu dua kali.
7.Eweh kuman sahang, ie keme harie. Yang memakan lombok merasakan pedasnya. Yang berbuat menuai akibatnya.
Kutak Ulang (KataUlang – Lanjutan)
7. Berarti : Membuat hal atau keadaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh kata dasar.
Suntue : mikeh (kata sifat) =takut. Mampike-pikeh=menakut=nakutkan; tanjung=berjalan, tanjung. Mananju-nanjung= berjalan-jalan
Cara membentuk kata ulang ini dilakukan dengan menambah awalan ma (me) pada kata dasar (kata kerja atau kata sifat). Kata dasar yang diulang, bagian pertama dibuang huruf-huruf ujungnya seperti mananjung, menjadi mananju.
8. Berarti : Hingga terjadi keadaan yang ditunjukkan oleh kata dasar (kata benda atau kata kerja). Dengan demikian kata benda atau kata kerja itu berubah menjadi kata keadaan.
Suntue : kahit=kencing. Takahi-kahit=terkencing-kencing. Ie mikeh sampai takahit-tahit = Ia takut hingga terkencing-kencing.
Mamani= buang air besar; tapani-pani=terberak-berak. Ie mikeh sampai tapani-pani hung salaware  = Ia takut hingga terberak-berak di celananya.
Cara membentuk kata ulang ini dilakukan dengan menambah awalan ta (ter) pada kata dasar.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers