Archive for the ‘Sahewan Panarung’ Category

Sahewan Panarung Harian Radar Sampit Edisi 13 Mei 2012

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

Konsep Kemanusiaan Dayak

Menyelesaikan masalah-masalah dengan kekerasan baik verbal mau pun fisik dengan istilah lokal Kalteng bisa disebut sebagai Jalan Mandau. Dahulu, apalagi sebelum Pertemuan Tumbang Anoi 1894, Jalan Mandau ini merupakan jalan utama dalam menyelesaikan perselisihan. Jalan ini dipandang sebagai jalan mamut-menteng (gagah-berani), tapi memenggalnnya dari keututhan  citra manusia Dayak  idola yaitu “mamut-menteng, pintar-harati, mameh-ureh, andal dia batimpal” (gagah-berani, pintar-berbudi, urakan-tekun (sehingga menjadi) hebat tiada bertanding).

Ada yang menolak konsep mameh karena dipandang sebagai tindakan kurang ajar. Padahal mameh yang berbeda dengan paleng , sesungguhnya tidak lain dari cara penuh kreativitas guna  mengatasi sesuatu menentang arus atau kebiasaan yang dipakemkan pada saat darurat. Sehingga mameh berkaitan erat dengan wacana pintar dan harati. Berbeda dengan konsep dan tindakan paleng,suatu tindakan yang melanggar keadaban.

Mamut-menteng, seperti halnya dengan konsep kecendikawanan Dayak “tunjung nyahu”, menegaskan bahwa ke “pintar-harati-an” menjadi tanpa makna jika  berhenti pada perkataan tidak dilaksanakan. Menurut konsep Dayak ini, kepintarharatian niscaya diterjemahkan ke dalam kenyataan. Sebab kepintarharatian itu dicapai dengan maksud mengobah keadaan menjadi lebih baik dalam arti memanusiawikan manusia, paralel dengan konsep hidup mati Dayak yang dituturkan dalam sastra lisan seperti sansana kayau, “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga) kemudian dirinci menjadi antara lain gagasan “hatamuei lingu nalata” dan” hatindih kambang nyahun tarung mantang lawang langit”.

Merunut alur pikiran wacana tersebut nampak  bahwa masyarakat manusiawi yang tingkatnya terus-menerus meninggi kualitasnya akan diwujudkan oleh manusia yang “andal dia  batimpal” alias manusia bermutu. Dia “andal dia batimpal” karena pintar-harati mameh-ureh dan mamut menteng mewujudkan kepintar-haratian itu. Artinya sentral kualitas manusia itu terdapat pada kepintar-haratian yang diwujudkan dengan mamut-menteng. Bukan disimpan dalam kocek atau bapuhan dapur. Mamut-menteng yang dipisahkan dari pintar-harati, dari kreativitas dan prakarsa kaya imajinasi kecendekiawanan, akan merosot ke tingkat keadaban yang defisit. Hanya mengandalkan otot. Bersandar pada okol tidak pada akal. Jalan Mandau adalah jalan okol tanpa akal.  Defisit keadaban ini memperlihatkan diri  antara lain  penggunaan pendekatan kekerasan (baik verbal atau pun fisik) dan kekuasaan dalam soal-soal pemikiran dan akademi. Tidak menyediakan ruang besar bagi kebenaran orang lain, melihat masalah secara hitam-putih, dunia ini seakan-akan tidak punya sejarah, mandeg seperti laut mati. Dibandingkan dengan konsep kemanusiaan Dayak di atas, tentu saja pendekatan kekuasaan dan kekerasan adalah dua hal yang bertolak belakang. Bukan tidak mungkin ketidaktahuan dan kurang penelitian menyisakan pada orang Dayak hanya warisan genealogis, tapi secara budaya dan kecendekiawanan tidak menyisakan apa-apa. Hal begini  bukan kekhawatiran tapi kenyataan Kalteng hari ini. Sekali pun di Kalteng terdapat 31 universitas/ Perguruan Tinggi, tapi diskusi akademi masih sangat jauh dari mentradisi, apalagi dibandingkan dengan tradisi kayau-mangayau.***

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK EDMOND ASANG

TINGGAL SEJARI DARI PUNCAK

 

gandang garantung dan kangkanong

ditingkah sansana lahap membubung

sayup terdengar  ratap tatum

di  angin menabur suling balawung

 

mendayungi sungai demi sungai

mengembarai sisa-sisa rimba

hijau dedaunan mengangguk menyambutku

dihijaukan sangsai airmata

 

kutahu lalu

gandang garantung dan kangkanong

lahap-sansana bukan lagi genderang ke puncak menara

sebab duka tinggal sejari dari puncak angkasa

menutup candra dan surya

harapan meniti tabéngan rambut

 

2011.

 

THE DEATH SOUL *

 

aku tiba dari lembah darah dan kembara benua airmata

kembali kepadamu sesuai janji pernah kuucap

sisa-sisa masa silam dari rezim yang runtuh

berseliweran menatapku tajam dari 16 penjuru kampung

gemetar membaca sejarah mereka tulis sendiri

 

kuburan massal di hutan-hutan

pada zamannya dipandang kepahlawanan

anak negeri menjadi rahasia besar terlarang diucapkan

nama-nama orang hilang tabu disebutkan

menghampar kuburan tanpa nisan

 

tapi matahari dan bulan seperti adat waktu

tak perduli mengganti siang dan malam

mengurai leluasa rahasia demi rahasia

apalagi ketika hutan demi hutan dibabat pembangunan

tragedi tersingkap mencari nurani

 

dari lembah darah dan kembara benua airmata

aku tiba menebar getar orang-orang dikejar

bayang ketakutan pada diri   mengepung cintaku

membelenggu kampung dan jiwa-jiwa mati

isyarat keterbelakangan bakal lama bertahan di sini

 

2011

 

*The Death Soul, judul dari sebuah karya N.Gogol

 

Kritik & Apresiasi

FajarSetiawan Roekminto*

Negasi Terhadap Realitas  Dalam Cerpen

“Old Man at the Bridge” karya Ernest Hemingway

(Sebuah Perspektif Dekonstruksi) 

 

I. Pengantar : Tentang Dekonstruksi

Dekonstruksi adalah sebuah teori mengenai bahasa dan sastra. Teori ini berkembang pada tahun 1970-an. Dekonstruksi merupakan reaksi utama atas strukturalisme dan semiotik dalam kritik sastra. Premis pertamanya dikemukakan oleh seorang filsof Perancis, Jacques Derrida, yang karya – karyanya mampu mengubah sejumlah pemikiran – pemikiran akademis di Amerika Serikat. Derrida mencoba untuk mencari apa yang dikatakan oleh teks serta menyingkapkan logika yang ada dan dibalik teks. Dalam bukunya Of Grammatology dia melakukan sebuah penelitian teks Rousseau mengenai kedudukan tulisan dalam diskusi bahasa yang terjadi di Barat (Culler, 1981 : 15)

Di Amerika terbentuk kelompok – kelompok dekonstuksi, seperti misalnya dekonstruksi feminis namun demikian secara mendasar teori ini sama satu sama lain. Pada saat dekonstruksi masuk ke Amerika banyak kritik terhadap dekonstruksi yang dikemukakan oleh Derrida, salah satu pengkritiknya adalah Paul De Man atas penelitian teks Rousseau oleh Derrida. Kritik itu dikemukan dalam buku Blindness and Insight yang didalamnya berisi pernyataan bahwa dalam kenyataannya Derrida telah menghilangkan eksistensi Rosseau karena sebenarnya teks Rosseau itu telah terdapat dan membawa dekonstruksi (Culler, 1981 : 15).

Yang menjadi karakter utama dekonstruksi adalah gagasannya mengenai tekstualitas (textuality), suatu pandangan mengenai bahasa yang tidak hanya terdapat dalam buku tetapi juga dalam ujaran (parole), sejarah dan kebudayaan. Bagi pengikut aliran ini, (kaum dekonstruksionis), bahasa membentuk segala sesuatu. Dunia itu sendiri dianggap sebagai sebuah “teks.” Bahasa membuat konfigurasi kemanusiaan dan menciptakan realitas kemanusiaan, (suatu realitas yang tidak dapat dinamai atau dideskripsikan secara ilusif).

Berkaitan dengan tekstualitas, gagasan mengenai interteks mengacu pada latar belakang kebudayaan yang lebih luas, sebuah konteks yang mempunyai konsep, konvensi dan kode yang tidak terhingga jumlahnya. Isi dan arti teks secara esensial bersifat indeterminate (tidak secara jelas ditentukan dan ditetapkan), misalnya dalam hubungan tersembunyi teks dengan interteks kultural dan sosialnya. Dengan demikian teks bersifat takterbacakan (unreadable) dan usaha serta latihan untuk membuat interprestasi bisa saja didefinisikan sebagai misreading (membaca secara tidak akurat).

Dekonstruksi Derrida menyerang apa yang disebutnya sebagai “logosentrisme”  yang melekat pada pemikir – pemikir Barat mulai dari Plato sampai pada Martin Heidegger, bagi Derrida logosentrisme merupakan suatu kebiasaan manusia yang meletakkan kebenaran kepada logos,1. dan bahasa lisan, suara yang mempunyai alasan dan firman Tuhan. Derrida menemukan bahwa logosentrisme menciptakan dan menggantungkan pada satu kerangka kerja dua spesifikasi oposisi (yang berkebalikan), yang menjadi dasar bagi pemikiran Barat seperti misalnya ada/tidak ada (being/nonbeing), benda/kata (thing/word), esensi/kinerja (essence/appearance), kehadiran/ketidakhadiran (presence/absence), realitas/citra (reality/image), kebenaran/ kebohongan (truth/lie), laki – laki/perempuan (male/female). Dalam sistem epistemologis logosentris spesifikasi yang pertama dari tiap pasangan mempunyai keistimewaan contohnya KEBENARAN/kebohongan, (TRUTH/lie), LAKI – LAKI/perempuan (MALE/female). Derrida memberikan kritik terhadap hirarki polaritas ini dan dia memisahkan tradisi dengan cara membalikkan urutan dan memindahkannya, mentransformasikan setiap spesifikasi ini serta kemudian meletakannya dalam posisi yang sedikit berbeda dalam satu kelompok kata atau mencari etimologinya secara meluas, atau bahkan dengan menggantikannya dengan kata – kata  dari bahasa lain yang kelihatan dan mempunyai suara yang sama. Sebagai akibat meluasnya karya Derrida, kaum kritikus feminis telah mendekonstruksi secara phallosentris pasangan kata laki – laki/perempuan (phallocentric pair male/female).Secara umum kaum feminis melihat phallosentrisme sebagai dasar dari  “teks sosial” yang lebih luas dalam masyarakat logosentris Barat, (akibat terbentuk dari bahasa yang ada) telah menempatkan wanita pada kedudukan kedua dalam hal jenis kelamin, ekonomi, dan peran sosial.

 

II.  Ernest Hemingway : Karya, Tema dan Pemikirannya

 

Ernest Miller Hemingway adalah seorang penulis cerpen dan novelis terkenal Amerika. Terlahir dari seorang dokter di Illinois pada tahun 1889. Dia sempat bekerja menjadi seorang reporter pada Kansas City,  pada tahun 1918 dia menjadi sukarelawan pada unit palang merah dalam perang di Italia dan terluka dalam peperangan itu sebelum akhirnya ia bekerja untuk Toronto Star  dan selanjutnya menetap di Paris. Hemingway mendapat Hadiah Nobel pada tahun 1954 dan setelah itu aktifitasnya dalam dunia penulisan menurun sampai kemudian ia bunuh diri dengan cara menembakkan kepalanya pada tahun 1961 (Drabble, 1985 : 415).

Cerpen Old Man at the Bridge (selanjutnya disebut OMATB) merupakan satu dari tujuh belas kumpulan cerpen karya Hemingway dalam Winner Take Nothing (1933) (yang selanjutnya disebut dengan WTN). Adapun kumpulan cerpennya yang lain adalah In Our Time (1925) dan  Men Without Women (1927)  (Barrow 1959 : 223 ). Banyak peneliti berpendapat bahwa karya – karya Hemingway sedikit banyak mempunyai kemiripan dengan pengalaman hidupnya dengan demikian seringkali karya – karyanya mempergunakan bahasa sehari – hari yang sederhana dan pilihan kata yang realis. Ia banyak menulis mengenai aspek – aspek kehidupan yang mirip dengan kehidupan pribadinya seperti tema – tema mengenai, perburuan, adu banteng dan kehidupan kaum ekspatriat yang ada di Paris. (Heiney, 1954 : 71).

Alasan – alasan itulah yang membuat seolah – olah Hemingway menempatkan dirinya sendiri menjadi tokoh utama dalam karya – karya yang ia tulis, seperti tokoh Nick Adams, Francis Macomber, Jake Barnes, Frederick Henry dan Kolonel Contwell (Weeks, 1962 : 8).  Selain itu tema – tema yang diangkat oleh Hemingway adalam tema yang berkaitan dengan kematian, keberanian, seks, cinta, kekerasan dan perburuan (Stanton, 1965 : 1). Tokoh – tokoh yang ada dalam karyanya adalah sosok yang bercirikan manusia modern. Sosok manusia yang terlempar dalam sebuah dunia (thrown-into-the-world)  tanpa asal usul yang jelas, tanpa makna dan bahkan tanpa tujuan (Lodge, 1991 : 477). Cerita itu mengalir begitu saja, tanpa diformat, dengan demikian lebih terkesan faktual dan tidak fiktif. Tokoh – tokoh yang ditampilkan adalah  “mahluk tanpa agama, moralitas, keyakinan politik dan tanpa sejarah yang jelas” (Weeks, 1962 : 2)

Hemingway mengambarkan tujuan hidup sebagai sesuatu yang pada akhirnya sia – sia seperti gambaran dalam novel The Old Man and The Sea (1952) (Foerster, 1962 : 1080-1081). Kemenangan atau prestasi dalam hidup adalah sesuatu yang tidak berarti apa – apa (nothing), yang cenderung membawa pembaca pada kesimpulan bahwa Hemingway adalah manusia pesimistis dengan gambaran hidup yang muram. Selain itu juga memunculkan anggapan bahwa ada tema kekosongan, kehampaan atau nihilisme, sebuah keadaan yang diartikan oleh Hornby sebagai non-existence, penolakan total dari isntitusi politik, agama dan keyakinan moral (Hornby, 1987). Hal ini menjadi semakin jelas terlihat dalam beberapa cerpennya.

Dalam “The Short Happy Life of Francis Macomber” Hemingway melukiskan sebuah “kemenangan” dan perasaan bahagia ketika kematian dan kehampaan itu datang. Kemudian tokoh Paco dalam “The Capital of the World” yang terilusi oleh keberadaan matador yang kemudian meninggal ketika mengejar impiannya sebagai seorang matador.

 

III. “Old Man at the Bridge” 

Cerpen OMATB dilihat dalam sudut pandang orang pertama (the-I-speaker), namun demikian dalam cerpen itu tidak menjadikan orang pertama tersebut menjadi tokoh utama melainkan justru Pak Tua (the old man) yang menjadi tokoh utama dalam cerpen OMATB. Penutur cerita dalam cerpen OMATB adalah seorang tentara penyelidik yang berada di garis depan peperangan yang bertemu dengan Pak Tua. Pak Tua tersebut adalah satu dari sekian banyak pengungsi pada masa perang di Spanyol.  Ada sesuatu yang terlihat aneh dalam perilaku Pak Tua itu yakni keengganan dia untuk turut dan larut dalam hiruk pikuk pengungsi. Dia tidak mencoba untuk berlari mencari tempat yang aman namun dia malah duduk sendiri di pinggir jalan.

Pak Tua tersebut telah tercampakkan karena peperangan dari tempat ia dilahirkan, San Carlos. Tak ada yang tersisa dari dirinya selain beberapa binatang piaraan yang selalu ada disisinya. Pak Tua tersebut kelihatan begitu menderita, lusuh dan tanpa ekspresi, “An old man with steel rimmed spectacles and very dusty clothes sat by the side of the road” (WTN, 1987 : 53). Dia begitu tidak peduli dengan lingkungan dan semua yang ada dihadapannya. Penutur cerita mencoba untuk mengajak Pak Tua untuk naik ke dalam truk yang akan mengangkut para pengungsi menuju Barcelona. Penutur cerita beranggapan bahwa dengan mengikuti rombongan para pengungsi maka Pak Tua tersebut akan mendapat tempat yang lebih baik di Barcelona. Namun demikian Pak Tua tersebut hanya mengiyakan dan mengucapkan terimakasih tetapi tidak beranjak dan bahkan kembali terdiam duduk di sisi jembatan dengan maksud untuk menanti binatang – binatang piaraannya. Dia terus duduk menunggu dan menunggu dalam sebuah penantian yang sia – sia.

 

 

III. Eksistensi Pak Tua : Negasi Terhadap Realitas

Di Suatu tempat bernama Ebro Delta Pak Tua bertemu dengan penutur cerita (the – I – speaker). Dalam sebuah teks dalam OMATB tertulis, “I was watching the bridge and the African looking country of Ebro Delta….” (WTN, 1987 :53),  ada semacam gambaran yang ada dibalik teks tersebut, gambaran itu adalah gambaran peperangan dan peperangan itu adalah  seperti yang diungkapkan oleh Manvel Duran, “We must bear in mind, of course, that in Spain ‘the war’ means the Spanish civil war from 1936-1939.”  (Konstelanetz, 1964:193). Ada semacam “kelanjutan” dari teks tersebut yakni akibat dari peperangan yang sangat merugikan seperti misalnya porak porandanya kehidupan yang selama ini mapan dan damai di Spanyol. Akibat dari peperangan itu adalah tercerabutnya semua kehidupan dari lingkungan yang selama ini mengayomi dan memberikan kedamaian.

Kekacauan akibat peperangan itu membawa “pribadi – pribadi” yang selama ini hidup tenang menjadi terusik, salah satunya adalah Pak Tua tersebut. Dia melihat bahwa peperangan adalah sebagai akibat dari kebijakan – kebijakan yang salah yang telah diambil oleh para penguasa. Dia menganggap bahwa para penguasa telah menjadikan keadaan menjadi kacau, hal ini ditekankan oleh Pak Tua dalam pernyataannya, “I am without politics .” (WTN, 1987 :54). Baginya tidak ada yang lebih menyakitkan selain perbuatan yang dilakukan oleh para penguasa dan politikus.

Akibat adanya anggapan semacam itu ia melakukan suatu penolakan terhadap apapun yang merupakan realitas yang ada dihadapannya. Dia beranggapan bahwa realitas adalah sebuah kehampaan yang harus ditolak karena didalamnya tidak pernah memberikan sesuatu yang lebih baik. Dengan kata lain realitas harus selalu ditolak apalagi realitas itu dikaitkan dengan politik. Penolakan itu lebih lanjut direalisasikan dengan penolakannya mengikuti anjuran the-I-speaker untuk bersama pengungsi yang lain menuju Barcelona.

Ada kekosongan yang menyelimuti pikiran Pak Tua ketika menghadapi realitas, karena realitas yang ada dihadapannya bukanlah seperti yang pernah ada yakni kampung halamannya, San Carlos. Teks berikut memberikan gambaran yang jelas, “That was his native town and so it gave him pleasure to mention it and he smiled” (WTN, 1987 :53). Keputusasaan telah mengakibatkan Pak Tua tersebut tidak mau melakukan apapun untuk menyelamatkan jiwanya. Hidup baginya tidak lagi bermakna dan mempunyai fungsi. Dia merasakan bahwa hiruk – pikuk para pengungsi dan bunyi senjata tidak berarti apa – apa. Dia mencoba membuat suatu kesimpulan sendiri terhadap makna hidup tidak seperti  yang biasa dilakukan oleh orang lain.

Tidak ada lagi yang dapat dipercaya dalam hidup sehingga dia mencoba untuk menciptakan sebuah bentuk baru, memberi makna baru terhadap a hidup dan itu adalah sebuah kehampaan. Dia sendiri kemudian yakin bahwa realitas pada akhirnya hanya memberikan kehampaan dan kehampaan itu sendiri sebenarnya tidak perlu dipertahankan.

 

V. Penutup

Tindakan Pak Tua untuk melakukan penolakan terhadap realita dan memberi makna baru terhadap hakekat hidup yang ia jalani memberikan akibat terhadap adanya penyimpangan cara berpikir dan tingkah laku.. Sikap tersebut telah membawa Pak Tua kepada sikap apatis dan mungkin saja aneh. Hemingway dalam hal ini mencoba untuk menyingkap bagaimana sebenarnya karakter manusia – manusia modern yang kadang sulit untuk dipahami. Teks – teks yang dia tulis dalam cerpen tersebut tidak sekedar menghubungkan makna dan fungsi dalam merangkai cerita akan tetapi lebih dari itu, menyingkapkan sebuah dunia yang mungkin belum pernah dirasakan oleh pembacanya.

Meskipun bahasa yang dipakai oleh Hemingway dalam cerpen tersebut singkat dan kelihatan sederhana, tetapi kesederhanaan itu tidak berhenti pada teks itu sendiri tetapi menyingkapkan persolan – persoalan kehidupan yang sangat kompleks dengan demikian dalam memahami cerpen tersebut dibutuhkan suatu pemahaman mengenai latar belakang penciptaan cerpen tersebut sehingga proses terjadinya detail cerita itu dapat juga ditangkap.***

 

*Dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Jejaring kerja SP Radar Sampit.

 

 Sejarah Lisan Rakyat Dayak

Abdurrahman Jrenjeng

Oleh Kusni Sulang

 

Berlatar belakangkan kebangkitan untuk kemerdekaan nasional di skala seluruh Hindia Belanda, Pada tahun 1919, Hausmann Baboe, Bapak Kebangkitan Dayak,mendirikan Sarikat Dajak di kampung Hampatung, Kuala Kapuas. Berdirinya Sarikat Dajak ini sekaligus merupakan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan Pertemuan Tumbang Anoi tahun 1894 yang secara sukarela menerima status Dayak sebagai anak jajahan. Penggunaan nama Sarikat pada Sarikat Dajak Dajak bukanlah suatu kebetulan karena Hausmann Baboe adalah sahabat dekat HOS Tjokroaminoto pimpinan utama Sarikat Islam. Sarikat Dajak dan ide-idenya tersebar di seluruh Kalimantan, termasuk sampai ke Kalimantan Barat. Abdrrahman Jrenjeng, seorang Dajak Kalbar merupakan salah seorang penggiatnya dan penganut ide-ide Sarikat Islam Tjokroaminoto.

Maraknya kebangkitan nasional meningkat menjadi perlawanan-perlawanan fisik, seperti Pemberontakan pelaut-pelaut kapal Zeven Provincien (Kapal Tujuh) dan memuncak pada Pemberontakan Nasional melawan penjajahan Belanda pada 12 November 1926. Pemberontakan nasional anti kolonialisme pertama ini berlangsung di berbagai pulau : Jawa, Sumatera, Sulawesi dan agaknya juga tersulut di Kalimantan. Seperti halnya dengan Pemberontakan Kapal Tujuh Pemberontakan Nasional 1926 ini pun mengalami kegagalan. Kapal Tujuh dibom oleh Belanda. Pwmberontakan November 1926 dipatahkan. Sejumlah pimpinannya di Sumatera dan Jawa dihukum gantung, sedangkan mereka yang tertangkap dan hidup dibuang ke Boven Digul dan Tanah Merah, Papua.

Abdurrahman Jrenjeng termasuk salah seorang Dayak Kalimantan Barat yang ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Boven Digul. Ketika Perang Dunia II meletus, Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia) setelah menduduki Singapura,  para pejuang yang dibuang di Boven Digul dan Tanah Merah oleh Belanda diungsikan ke Australia Utara yang tandus. Setelah itu dan sampai sekarang, nasib Abdurrahman Jrenjeng tidak pernah diketahui sama sekali. Saya mengetahui nama

Abdurrahman Jrenjeng dari Mbah  Ramidjo, seorang Digulis , ketika mendorong dan membantunya menuliskan Memoirenya tentang Pemberontakan  November 1926.

‘’Di antara kami, Cucuku, ada Abdrurrahman Jrenjeng,seorang Dayak Kalimantan Barat’’ , ujar Mbah Ramidjo disela-sela tuturannya tentang peristiwa bersejarah yang almarhum alami.  Tuturan Mbah Ramidjo yang singkat ini seperti juga mengatakan bahwa perjuangan Dayak, tak terpisah dari perjuangan nasional untuk kemerdekaan. Tidak terisolasi.  Mudah-mudahan tulisan sangat sederhana ini terbaca oleh turunan Abdurrahman Jrenjeng dengan harapan bisa menelusuri sejarah Jrenjeng lebih lanjut.***

 

(Sumber : Mbah Ramidjo alm, dan Yohanes,penggiat kebudayaan di Kalbar).

 

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

PALAJARAN 7: KUTAK MISEK

KALIMAT TANYA

 

Seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, kalimat tanya dalam Bahasa Dayak pun dibentuk

dengan menggunakan:

 

(1). Kata Tanya (Kutak Misek):

 

  • Kueh (mana), bara kueh (dari mana), kakueh  (ke mana), ji kueh (yang mana), hung kueh (di mana), kilen (bagaimana).
  • Narai (apa), mbuhen (mengapa), bara narai (dari apa), eweh (siapa).

 

(2). Menggunakan lagu kalimat yang agak dinaikkan di akhir kalimat.

 

Suntue ah:

 

Kalute kah? H(Begitu kah?)

Iye kah? (Iyakah?)

Dia kalutekah? (Tidak begitukah?)

 

(3). Latihan:

 

Duhup awi kalimat pisek umba kutak pisek ji jadi inyewut hung hunjun mahapan kutak-kutak tuh (Tolong buatkan kalimat Tanya menggunakan kata Tanya yang sudah disebut di atas menggunakan kosakata ini:

Gawi (kerja); kuman (makan), mihup (minum); manyurat (menulis), mambasa (membaca), mananjung (berjalan),mandui (mandi), tiruh (tidur).

 

UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

 

Palanduk dia mingat jarat, jarat tatap mingat palanduk. Pelanduk tidak mengingati jerat, tapi jerat mengingat pelanduk. Orang sering lupa bahaya tapi bahaya tetap menunggu.

Handak tingkep jatun pai. Mau hinggap tapi kaki tak punya. Hendak melakukan sesuatu tapi syarat-syaratnya tak ada.

Helu nupi bara batiruh. Lebih dahulu mimpi dari tidur. Keadaan yang sudah diketahui sebelumnya.

Sapanja-panjang rumbak, magun panjang nyama Sepanjang-panjang lorong lubang tak sepanjang mulu. Orang bisa merentangkan kisah apa pun sekehendak hati.

Bara bakawal dengan uluh humung, keleh bakawal dengan uluh harati. Daripada berteman dengan orang bodoh, lebih baik bedrteman dengan orang berbudi. Bersahabat dengan orang bodoh tak ada gunanya.

 

 

 


1. Kata logos berasal dari akar kata  lego, dalam bahasa Yunani berarti “mengatakan.” Logos muncul secara meluas dalam sejumlah doktrin filsafat Yunani dan Kristen. Meskipun arti awalnya adalah “berhubungan dengan wacana” tetapi kata itu kemudian telah meluas menjadi bermacam – macam arti seperti misalnya : “argumen,” ” prinsip rasional,” “alasan,” “proporsi,” “ukuran,” danlain sebagainya. Karena alasan ini maka sangat sulit untuk menginterprestasikan doktrin logos dari para filsof dan sangatlah berbahaya untuk mengasumsikan sejarah tunggal doktrin – doktrin ini.

KEBERANIAN BERPIKIR & BERTINDAK

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Kusni Sulang

KEBERANIAN BERPIKIR & BERTINDAK

 

Gerakan femininisme atau gerakan penyataraan kedudukan, peran dan tanggungjawab antara perempuan dan lelaki di negeri ini sudah tumbuh, terutama di kota-kota besar di  Jawa seperti Jakarta, Bandung. Adanya gerakan untuk emansipasi menunjukan bahwa di daerah geografis tersebut terdapat ketidak setaraan, berkembang penindasanm pembelengguan terhadap perempuan. Padahal perempuan baik dari segi jumlah atau pun kapasitas merupakan  jumlah  besar.Jumlah dan kapasitas yang oleh orang Tionghoa disebut sebagai “penyangga separo bumi”. Kenyataan ini kemudian diteoritasikan bahwa bangsa yang belum mampu membebaskan kaum perempuan, belumlahmenjadi bangsa merdeka. Pembelenggu penyangga separo langit itu adalah kekuasaan lelaki, feodalisme dan imperialisme, tiga gunung yang menindih punggung perempuan.

 

Di negeri ini Jawa, khususnya Jawa Tengah merupakan tempat feodalisme paling berkembang. Perempuan dipandang hanya sebagai “konco wingking” (teman di belakang), “bunga rumahtangga” yang ke sorga ikut, ke neraka terbawa (menyang surgo nunut, menyang neraka katut). Sistem beginilah R.A.Kartini lahir, besar dan dikalahkan. Perlawanan-perlawanannya dilanggengkan dalam  tulisan, cq surat-surat kepada teman-teman Belandanya yang kemudian diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ide perlawanan inilah, di tengah kehidupan berbangsa kita yang sangat Jawa-Sentris,   yang kemudian menempatkan R.A. Kartini menjadi pahlawan nasional emansipasi di negeri ini yang saban 21 April, yaitu hari lahirnya, diperingati.

 

Daerah-daerah lain pada waktu itu masih asing dari pengenalan dan perhatian  para politisi atau pun akademisi yang juga didominasi oleh Jawa karena itu tidak masuk hitungan. Bahkan para feminis hari ini pun lebih mengenal Barat dengan teori-teori feminismenya daripada mengenal keadaan negeri sendiri dan daerah-daerah. Beberapa feminis Jakarta yang pernah ke Kalteng, buta sama sekali akan konsep feminisme Tanah Dayak. Perempuan dan permasalahannya di negeri ini dilihat secara pukul rata tidak dalam rincian. Tidak usah para feminis dari Jawa yang sangat terpengaruh oleh wacana Barat, Uluh Kalteng sendiri  sekali pun berderet gelar akademi sandangannya, bedlum tentu mengenal wacana feminis Dayak dan sejarah perkembangannya. Hal ini mengingatkan semua, betapa penting sejarah lokal patut ditulis agar sejarah negeri tidak besifat sentris. Sayangnya dari 31 uyniversitas dan perguruan tinggi di Kalteng tidak satu pun yang mem perhatikan jurusan sejarah, sebagaimana Fakultas Hukum tidak memperhatikan hukum adat Dayak.

 

Apabila sampai hari ini kita masih memperingati Hari Kartini sebagai hari emansipasi, barangkali yang tersisa untuk dipelajari dari Kartini adalah keberanian berpikirnya melawan feodalisme, yang itu pun  barangkali bukan feodalisme secara menyeluruh. Pemberontakan pemikiran (yang juga tentu tak lepas dari kontak dengan teman-teman Belandanya). Di luar pemberontakan pemikiran yang parsial apakah ada yang dilakukan Kartini seperti halnya dengan Cut Nya Dien atau perempuan-perempuan Dayak dahoeloe yang menikmati kesetaraan mereka dalam sistem ekonomi-sosial-politik tersendiri? Keberanian berpikir atau berpikir kritis , kemudian keberanian bertindak (yang ada pada Cut Nya Dien, Emmy Saelan, Lasykar Perempuan Dayak dan perempuan Dayak dahulu secara keseluruhan) sangat kita perlukan hari ini guna menjadi bangsa dan daerah yang  berharkat dan bermartabat. Kartini adalah sebuah nama sejarah, bentuk dari sentrime historic, tapi justru sejarah inilah yang belum menjadi perhatian kita di sini sehingga mengesankan kita secara sukarela menjadi Uluh Kalteng tanpa sejarah. Melupakan, entah sadar atau tidak, menyulap dan menjungkirbalikkan sejarah. Terkadang melakukan kompromi sejarah.***

 

Emansipasi dalam Masyarakat Dayak

Andriani S. Kusni *)

 

 

“Suara perempuan” dalam spanduk demonstrasi menentang pernyataan Prof. Thamrin Amal Tomagola dalam sidang kasus Nazriel Ilham (Ariel-Peter Pan). Lokasi Bundaran besar Palangka Raya, 08/01/2011 (Foto: Andriani S. Kusni)

 

 

R.A. Kartini di negeri ini dipandang sebagai pahlawan kesetaraan perempuan dan lelaki sehingga hari kelahirannya, 21 April, ditetapkan sebagai Hari Emansipasi dan dirayakan secara nasional. Dalam masyarakat Jawa yang feodal, kedudukan lelaki dan perempuan memang berbeda. Perbedaan yang antara lain dicerminkan dalam ungkapan “ke sorga ikut, ke neraka terbawa” (menyang swarga nunut, menyang neraka katut). Perempuan juga dilukiskan sebagai “konco wingking” , teman di belakang atau digambarkan sebagai “lembang rumah”. Dengan istilah lain, perempuan berstatus sebagai obyek belaka. Obyek dari lelaki. Sesuai dengan status demikian, bahasa Jawa menyebut perempuan dengan kosa kata wanita (dari bahasa Sansekerta, vanidh berarti yang di….”). Kata perempuan juga dari bahasa Sankserta berarti “yang mempunyai kemampuan”.

 

Sesuai dengan karakter rezimnya yang militeristik neo-feodal, yang memerosotkan Republik Indonesia menjadi sebuah imperium atau kerajaan model kerajaan Mataram, Orde Baru Soeharto menggunakan istilah wanita, seperti misalnya pada Dharma Wanita, untuk organisasi istri-istri PNS. Menurut konsep Dharma Wanita Orde Baru, perempuan berfungsi sebagai “pendamping suami dan ibu rumah tangga”. (Ninuk Mardjana Pambudy, “Pemenuhan Asa Kartini”, Harian Kompas, Jakarta, 16 April 2010).

 

Agar lepas dari kooptasi negara, maka kata perempuan kembali digunakan oleh Gerakan Perempuan. Dalam masyarakat feodal Jawa, di usia remaja, perempuan-perempuan masuk pingitan. R.A Kartini tidak lepas dari nasib tersebut. Dari ruang pingitan ini kemudian, R.A. Kartini melakukan surat-menyurat dengan para sahabat Belandanya di negeri Belanda, menyuarakan pikiran dan perasaannya yang terkungkung tapi ingin kebebasan. Surat-menyurat ini kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran dalam surat-surat tersebut dipandang sebagai terobosan baru bagi Indonesia lalu atas dasar itu R.A. Kartini diberi kedudukan sebagai pahlawan kesetaraan perempuan Indonesia.

 

Tanpa mengurangi nilai-nilai pikiran dan mimpi tersebut, agaknya pengertian Indonesia di sini lebih kena terutama Jawa karena keadaan masyarakat Jawa dan masyarakat di pulau-pulau lain tidak sama. Ada masyarakat yang tidak mengenal apa yang dialami oleh R.A. Kartini. Tapi keadaan masyarakat tersebut kurang atau bahkan tidak dikenal oleh elite negeri ini yang berpusat di Jawa. Untuk waktu lama sejarah Indonesia bersifat sangat Jawa Sentris. Apakah elite di Jawa sampai sekarang cukup mengenal daerah-daerah lain? Sebuah tanda tanya besar, apalagi tidak sedikit kalangan elite lebih mengenal Amerika dari Indonesia sendiri. Jawa Sentris inipun sampai sekarang masih berlangsung misalnya dalam hal pembangunan.

 

Untuk menyusun sejarah Indonesia yang benar-benar sejarah Indonesia, kegiatan para elite lokal terutama para cendekiawannya, dengan menulis sejarah lokal dan keadaan masyarakat lokal sangat perlu. Dalam hal Gerakan Kesetaraan, gerakan jender, karena kurangnya pengenalan mereka yang menyebut diri kaum feminis, maka teori yang ditawarkan untuk negeri kita adalah apa yang diambil dari Barat. Tanpa menolak penggunaan teori-teori feminisme dari Barat, apakah tidak selayaknya  juga melakukan penelitian untuk mengenal bagaimana konsep masyarakat-masyarakat lokal tentang status perempuan dalam masyarakat? Jadi tidak hanya mengunyah-ngunyah hasil bacaan dari luar. Yang diperoleh dari luar hanya dijadikan acuan dan bandingan. Ilmiah tidaknya karya tidak ditandai oleh deretan kutipan buku dari luar di catatan kaki (foot note), tapi terutama rasuk tidaknya yang diucapkan dengan kenyataan. Mengunyah-ngunyah ajaran dan bacaan tanpa daya kritik, gampang menggiring kita ke penaklukan atau penjajahan intelektualitas secara sukarela, bahkan dengan penuh kebanggaan, menduga tingkat intelektualitas diri sudah sangat tinggi dengan deretan catatan kaki itu. Padahal kita akan tidak lebih dari “cendekiawan catatan kaki” jika menggunakan istilah Arief Budiman. Menyadari hal ini, Saparinah Sadli juga mengingatkan “pentingnya mengembangkan teori feminisme yang khas Indonesia” (lihat , Saparinah Sadli, “Berbeda Tapi Setara”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2010). Keinginan Saparinah ini hanya mungkin jika riset kontinyu terhadap masyarakat kita di seluruh wilayah tanah air dilakukan. Jadi tidak berangkat dari asumsi subyektif. Lebih baik lagi jika dibarengi dengan aktivisme.

 

Adanya kesetaraan lelaki-perempuan dalam masyarakat Dayak Kalteng, terutama Uluh Ngaju, dahulu, ditopang oleh posisi ekonomi perempuan tidak tergantung pada lelaki atau suami. Perempuan mempunyai akses sama dengan lelaki terhadap alat-alat produksi. Dengan cara berproduksi yang demikian, maka kepemimpinan dalam keluarga dilakukan oleh suami-istri. Bahkan dalam hal-hal tertentu , posisi kendali terletak di tangan perempuan seperti mengemudi perahu di sungai, keadaan yang bisa dilihat sebagai satu lambang hubungan lelaki-perempuan dan pembagian kerja sosial. Posisi bergeser menjurus ke tempat sub-ordinat lelaki pada saat akses terhadap alat-alat produksi ini dipisahkan dari mereka. Terjadi sangat intens sejak pemerintahan Orde Baru.

 

Dalam soal warisan, bahkan anak perempuan mendapatkan jumlah lebih besar dari lelaki. Sebagai tanda terimakasih orangtua kepada anak perempuan mereka yang telah mengurus orangtua lebih tekun dan lama dari anak-anak lelaki. Rumah tangga, dipimpin bersama oleh ayah dan ibu. Segalanya diputuskan bersama. Secara ekonomi, ibu tidak tergantung pada ayah. Barangkali hal ini merupakan dasar ekonomi bagi perempuan untuk setara dengan lelaki (suami). Sementara Hukum Adat sangat menjunjung perempuan dengan menetapkan perlindungan kuat pada perempuan melalui ketentuan-ketentuan adat. Dengan status perempuan demikian, orang tua tanpa segan melepaskan anak perempuan mereka untuk pergi ke tempat lain, misalnya bersekolah. Kesetaraan ini juga nampak di medan perang, dengan adanya pangkalima-pangkalima perang perempuan yang menggentar lawan begitu mendengar namanya baik pada zaman betang (misalnya Nyai Bahandang Balau), maupun pada masa perang melawan Belanda atau waktu mendirikan provinsi Kalteng. Pada waktu zaman perang gerilya melawan Belanda, Kalteng memiliki Kompie Lasykar Perempuan. Kalau di negeri-negeri yang dikuasai oleh feodalisme, perempuan dihimpit oleh “tiga gunung besar” (kekuasaan lelaki, raja feodal, dan imperialisme), perempuan di masyarakat Dayak Ngaju tidak mengalami himpitan demikian.

 

Tapi status kesetaraan demikian nampaknya mengalami pergeseran. Terutama sejak masa rejim Orde Baru yang secara sistematik menghancurkan Masyarakat Adat dan lembaga-lembaganya dengan meng-golkarkan dan melakukan pendekatan politik SARA, ditambah lagi pengaruh agama-agama baru sehingga perubahan komposisi demografis Kalteng dan marjinalisasi masyarakat Dayak semakin nyata. Dari segi kesetaraan, boleh dikatakan masyarakat Dayak Ngaju tidak berjalan maju tapi memperlihatkan tanda-tanda kemunduran – walaupun secara budaya masih belum pupus. Sisa-sisa budaya kesetaraan ini patut dikembangkan karena perempuan tidak lain dari “penyangga separuh langit”. Tidak ada kemerdekaan sesungguhnya jika “penyangga separuh langit “ ini dibelenggu. Dan benarkah Kalteng sungguh-sungguh merdeka hari ini? Terbitnya buku Sejarah Perempuan Kalteng (Dayak) merupakan sumbangan berharga dalam melihat sejarah kesetaraan perempuan-lelaki di provinsi yang sejarahnya banyak tidak dikenal baik oleh banyak orang, termasuk kalangan elitenya, lebih-lebih lagi oleh angkatan mudanya.Walau poun secara fisik berada di Kalteng, tapi secara sejarah dan budaya asing dari Kalteng.

 

*) Perancang & pembuat perhiasan,  penulis lepas, pengasuh ruang kebudayaan di HU Palangka Post, SekJend Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK AZ ANDREAS

Taekwondo

 

bukan pada taekwondo jiwa terjaga, anakku

jiwa kita senantiasa sasaran utama  penaklukan

tapi benar kita patut berjiwa penakluk anak panarung

yang tak takut jatuh bahkan sementara kalah

maka paling utama mencari bagaimana bisa

memenangkan diri sebagai manusia

penanggungjawab timbul-teggelamnya bumi

 

ratap adalah isyarat kau gemetar

tak berani berlaga dan tak pandai menang

sedang duka  tak punya kasihsayang

seperti kasih ayah kepadamu

 

2012

Lidi

 

sungguh sangat baik, sungguh  berjiwa besar

ia berani mengetuk pintu datang mengulurkan tangan

walau kebiasaan menjungkirbalik  sudah mengadat

tak gampang hilang menandai ketakutan hilang muka

patut dipahami benar, kasih yang besar mampu

menyediakan ruang besar bagi perkembangan

sebaiknya, ia datang kita sediakan ulam manah

suguhan utama hingga dendam usang merontok

darah di nadi kembali merah murni

urusan besar apapun namanya

negara, bangsa, negeri atau pemanusiawian

pembedaan salah dan benar

senantiasa meminta keagungan  dan kesanggupan luka

–nama diri sebagai manusia

memang tak ringan disandang

daripada menjadi binatang

diri sendiri

hanyalah sebatang lidi

apalagi diriku

 

masuk

dan duduklah

kita bincangkan ulang

kita tuliskan lagi

sejarah yang benar

 

2012.

 

Huma Haï *

 

jika kau tulis kampungku

sebuah rumah haï kumuh

diancam roboh

berpagar bambu carutmarut

tentu saja kau tak kusangkal

tak kudebat

 

kenyataan bukan untuk disangkal

atau pura-pura di depannya

pura-pura segalanya baik dan lancar

aku malah berkata kepada anakku

untuk setia kenyataan isyarat cinta kehidupan

tanda keinginan kuat membangun esok

tegas-tegas menjahit lembaran-lembaran

jadi kain perca

hari ini sangat tercabik

jadi lap meja pun sudah tak layak

membangkitkan rasa jijik

 

cabikan-cabikan menjijikan itu adalah jiwa kita

yang kemudian menyobek tanahair

bagai benang kusam lusuh

hanya pantas jadi pel jongos penjajah

celakanya kita berlagak sebagai tuan

sedang  hakekatnya tak lain dari hambasahaya

jongos-jongos dan babu kekinian

 

jika kau tulis kampungku

sebuah rumah haï kumuh

diancam roboh

berpagar bambu carutmarut

tentu saja kau tak kusangkal

tak kudebat

 

rumah haï itu

rumah lahir

rumah pengasuh

dan bertumbuh

 

kutulis baris-barisku sederhana

agar harapan tak mengawang

bisa terjaga

mengundang manusia pulang dari pengasingan

kerna  sansana ** tak boleh absen

sibuk bertualang  entah ke mana

 

2012

 

Catatan :

*Rumah (huma ) haï, rumah besar dalam  masyrakat  Dayak Ngaju,  di mana hidup beberapa keluarga. Ukurannya lebih kecil dari betang.

** Sansana, salah satu bentuk puisi tradisional Dayak Katingan.

 

 

UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

 

 

  1. Matei  bitik awi taluh je manis. Semut mati oleh sesuatu yang manis. Manusia yang jatuh karena bujuk rayu.
  2. Ela basaramin into danum keruh. Jangan bercermin di air yang keruh. Janganlah berteladan pada perbuatan yang buruk.
  3. Dawen manjatu tariup kejau,  bua manjatu tukep  upue. Daun jatuh melayang jauh, buah jatuh dekatnya batang pohonnya. Ulah seseorang tidak jauh dari keadaan lingkungan yang membesarkannya.
  4. Uluh ji mimbul enyuh rancak dia kuman buae. Yang menanam  nyiur sering tak memakan buahnya. Yang sudah-payah  bekerja sering tidak menikmati hasil kerjanya.
  5. Kilau mahamis enyuh, santan induan, kuas inganan. Seperti memeras parutan kelapa, santannya diambil, ampasnya dibuang.  Segala hal ikhwal, ambillah sarinya.

 

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

PELAJARAN 4.

Kata Depan

  1. I.          Jenis-jenis kata depan

 

Hung= di; ka: ke; dari: bara.

Contoh (suntue):

Aku handak ka Sampit (Saya mau ke Sampit).

Ie melai hung Kasongan (Dia tinggal di Kasongan).

Kabalingkuh harue dumah bara Makassar (Istri/Suamiku baru datang dari Makassar)

 

Catatan:

Suami: bana; istri: sawa

Kabali: suami atau istri. Kata ini dipandang lebih halus daripada kata bana atau sawa.

 

  1. II.                Minta tolong kalian membuatkan percakapan kecil menggunakan kata-kata depan hung, ka, dan bara.(Laku duhup ketun mawi papander kurik mahapan kutak-baun hung, ka tuntang bara).

 

 

DARI KHAZANAH CERITA LISAN

Perang Kasitu *

 

Subuh, kakek sudah bangun dan punya kebiasaan sebelum berangkat ke ladang atau memulai kerja harian, berjalan mundar-mandir di sekitar tempat tidurku sambil  bercerita tentang macam-macam soal.

Adalah perang besar bernama Perang Kasitu. Orang-orang berambut jagung  berhidung panjang seperti  bakara 1) (kera merah) , bertubuh tinggi besar. Tanpa bersebab setelah Damang Laca, damang kampung di hulu Enyuh Lendai, menolak ajakannya menyerang kampung lain, damang kampung lalu mereka  bunuh. Damang-Damang kampung daerah-daerah tetangga pun bernasib serupa dengan Damang Laca.

”Kalau menyerang kampung lain tanpa bersebab, si penyerang akan dianggap sebagai pangayau. Kayau akan dibalas dengan kayau. Akibatnya pertumpahan darah tak menentu akan terjadi dan bekepanjangan. Ketakutan akan membuat orang tidak berani mencari ikan, memotong rotan atau pun ke ladang seorang diri. Orang-orang tidak suka hidup dengan ketakutan demikian”, ujar Kakek berbicara sendiri.

‘Lagi pula apa untungnya mangayau tetangga, orang satu sungai ?’’. Tapi  para Bakara itu memandang Orang Dayak itu pemakan manusia sehingga dengan membunuh mereka kira, Orang Dayak akan mendapat makanan. Orang Luar memang memandang rendah Orang Dayak dan diberi  berbagai kata sifat yang buruk. Sebaliknya Orang Dayak memandang Orang-orang Luar memandang  itu sebagai tidak beradat. Diberi sejari , minta sehasta. Sifat tamak beginilah yang oleh Orang Dayak disebut, “seperti Belanda minta tanah”.

Di hadapan pembunuhan demi pembunuhan tak bersebab demikian dan perampasan demi perampasan, orang-orang berbagai kampung bersama-sama mengambil tombak dan mandau, lalu menyerang sekawanan  Bakara di kapal mereka yang   berlabuh di tepian sungai. Diserang secara mendadak dalam malam buta hanya diterangi oleh cahaya bulan, bintang dan kunang-kunang, semua mereka yang berjumlah puluhan orang tewas tak bersisa. Tempurung-tempurung kepala mereka dilempar  ke air sungai. Kapal mereka ditengggelamkan dan kemudian tumbuh menjadi gugusan pulau-pulau sungai.

Penyerangan pemusnahan ini tersebar dan mengundang kedatangan kapal-kapal baru Bakara. Mereka membakar kampung-kampung. Perempuan-perempuan yang tak sempat lari, mereka perkosa kemudian dibunuh. Kebencian orang-orang kampung kepada para Bakara yang juga datang membawa orang-orang berkulit hitam atau sawo matang, menyala tak ob ah ungun api. Demi keselamatan, ofrang-orang kampong pindah ke hutan. Tinggal di gubuk-gubuk ladang. Begitu matahari terbenam, orang-orang kampung mengepung dan menyerang Bakara dan orang pasukan bawaan mereka. Saban serangan, tak ada dari mereka yang pernah selamat jika bermalam di tepian. Sehingga kalau mau memetik  buah kelapa, orang tak perlu lagi memanjat  batangnya, tapi cukup dengan mendaki tumpukan mayat mereka.

Bertahun-tahun perang pemusnahan ini dilakukan. Sampai akhirnya entah mengapa para Bakara itu tidak pernah datang lagi. Ada kabar dari kampung lain, mengatakan bahwa perang sudah selesai dengan berlangsungnya Pumpung Haï di Tumbang Anoi, Sungai Kahayan. ***

 

(Ditutur ulang secara diikhtisarkan oleh Andriani S. Kusni berdasarkan kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau).

 

Catatan:

  • Kasitu adalah sebutan Uluh Katingan terhadap perang besar dan panjang melawan kolonialisme Belanda di daerah aliran sungai Kalimantan Tengah sebelum Pertemuan Tumbang Anoi 1894.  Daerah lain menamakan perang ini sebagai Perang Kasintu.
  1. 1.        Bakara, julukan orang Belanda yang diberikan oleh Uluh Katingan.

Kekerasan & Kreativitas

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

Kekerasan & Kreativitas

 

Pada tahun lalu para seniman-budayawan cendekiawan Kalimantan Tengah telah menerbitkan lebih dari 20 judul karya dalam  berbagai genre, petunjuk bahwa kehidupan kecendekiawanan dan kreativitas di provinsi ini mulai menggeliat. Dibandingkan dengan tahun-tahun “sunyi” sebelumnya, jumlah demikian sangat berarti, apalagi upaya-upaya tersebut  dilakukan secara mandiri menggunakan sistem jejaring saling bantu, tanpa  bantuan finansial sedikit pun  dari pemerintah. Dikatakan  bahwa kehidupan kecendekiawanan mulai menggeliat karena kehidupan kecendekiawanan itu bukan diisyaratkan oleh jumlah orang bergelar akademi dan oleh gelar akademi tapi oleh karya-karya akademi. Karya akademi tidak lain dari penelitian dan pemikiran. Sumbangan sosial dan kemanusiaan seniman-budayawan serta para akademisi terutama terletak pada kegiatan penelitian dan pemikiran yang dituangkan dalam karya tulis. Sumbangan-sumbangan sosial dan kemanusiaan ini pertama-tama bertujuan membangun manusia dan masyarakat idaman yang menurut Pierre Bourdieu merupakan suatu engagement (keberpihakan) otomatis cendekiawan, seniman dan budayawan.

Syarat untuk berkembangnya kegiatan kecendekiawan pertama-tama tergantung pada kadar cendekiawan, seniman-budayawan itu sendiri, kemudian adanya syarat material untuk bekerja lalu yang tidak kurang utama penting adalah terjaminannya  apa yang dikatakan oleh Pasal 28 UUD ‘45 “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya”. Terjaminnya kebebasan akademi dan mencipta. Jaminan ini mutlak diperlukan karena penciptaan dan penelitian sering menemukan hal-hal yang berbeda dari common sense, dugaan, tradisi serta kemapanan. Pekerjaan di dunia cipta dan akademi  bisa dikatakan pekerjaan di wilayah tanpa tabu, pekerjaan yang berupaya mencari kebenaran dari kenyataan, menggunakan cara kerja yang mengutamakan data, analisa serta, menyediakan ruang luas  bagi kebenaran pihak lain dari mana pun datangnya.

Di hadapan geliat kehidupan kecendekiawanan dan kreativitas begini sdementara pihak di Kalteng, untuk tidak menyebutnya Uluh Kalteng, merasa terusik kemapanan dan kepentingan mereka, lalu bereaksi secara primitif yang sangat  brutal menggunakan mobilisasi masa, usia kabakasan yang berkepala kosong, membentuk mayoritas untuk main kroyokan, bergunjing, ancaman kekerasan baik verbal mau pun fisik serta menyalahgunakan kekuasaan yang ada di tangan, cara-cara illogis yang asing dari adat di dunia akademi serta kreativitas yang mengunakan metode pendekatan  debat ide atau debat akademi. Primitivitas menjadi lebih telanjang lagi, ketika pihak-pihak ini belum membaca dan mempelajari karya-karya itu, mereka sudah berani menjatuhkan vonis, sehingga unsur keadaban tidak diindahkan. Cara-cara kekerasan menggunakan kekuatan fisik dan kekuasaan begini tidak lain dari bentuk sensor primitif terhadap kegiatan kebudayaan dan kecendekiawanan, bentuk dari konservatisme  “yang tidak membaca dan berjiwa mati”, meminjam istilah Agus M.Irkham, hanya merantai Kalteng pada keterbelakangan, ketertinggalan dan neo-keprimitifan. Cendekiawan, seniman-budayawan niscayanya sebagai warga republik kecendekiawanan dan kreativitas tidak seharusnya melakukan oto-sensor. Untuk upaya pembudayaan dan pencerdaasan pikir dan rasa, warga republik kecendekiawan dan kreativitas patut meresapi kata-kata Danton saat masyarakat Perancis sedang bergolak: Berani, berani dan sekali lagi berani! Untuk mengangkat “gerobak tua dari lumpur” yaitu Kalteng, kaberanian kecendekiawan dan kreativitas patut digalakkan. Socrates, Galileo dan banyak  nama lagi yang berani mati demi kebenaran, adalah teladan baik  bagi cendekiawan dan para kreator. ***

DEWAN KESENIAN & TAMAN BUDAYA

Sahewan Panarung

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani  S. Kusni

DEWAN KESENIAN & TAMAN  BUDAYA

 

Juklak Instruksi Menteri Dalam Negeri Tentang Dewan Kesenian memang ada menyebutkan tentang Dewan Kesenian  Daerah (Provinsi). Tapi dalam kenyataan tidak ada Dewan Kesenian (DK) Provinsi yang berfungsi dan marak didirikan. Yang didirikan adalah DK Kota.Satu-satunyaDK di Indonesia yang hirarkis menurut struktur administrasi pemerintahan adalah Dewan Kesenian di Kalimantan Tengah . Yang di tingkat provinsi disebut Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Tengah (DKD-KT). Untuk tingkat kabupaten dibentuk Dewan Kesenian Kabupaten yang pimpinannya semacam serta-merta (dahulu) dipegang oleh Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata atau Dinas Pendidikan. Alasan utama otomatisme ini adalah karena dana untuk kegiatan lembaga semi pemerintah ini didapatkan dari APBN Dalam DK ini , peran para seniman-budayawan tidak lebih dari embel-embel birokrasi yang sangat dominan.

Di provinsi-provinsi lain, DK tidaklah bersifat hirarkis, tapi sebatas kota. Misalnya DK Jakarta, DK Balikpapan, DK Samarinda, DK  Makassar, DK Surabaya, dan seterusnya. Kedudukan DK-DK Kota ini pun setara.

Sejak berdirinya DK di Kalteng, DKD boleh dikatakan tidak berfungsi sebagai ‘pemikir dan konseptor kebijaksanaan dalam pembinaan dan pengembangan serta pemberi rekomendasi tentang seni-budaya kepada pemerintah’.  Alasan utama yang sering disebut-sebut adalah kekurangan dana. Sayangnya saban rapat pergantian pengurus atau penanggungjawab ini tidak pernah dievaluasi secara keras. Yang terdengar pada rapat-rapat lebih banyak menonjolkan keberhasilan menunaikan peran sehingga munculnya pengurus baru mengulangi kembali praktek-praktek  lama yang membuat DK pasif tapi di laporan akhir disebutkan ‘’berfungsi baik’’.

Untuk mengembangkan kehidupan seni-budaya diperlukan organisator berwacana dan prakarsa. Organisator berprakarsa ini sebenarnya diharapkan dari DK. DK demikian memerlukan ‘’orang yang tepat di tempat yang tepat’’ (the right man on the right place). ‘’Tepat’’ di sini berarti memiliki wacana dan prakarsa budaya serta kemampuan mengorganisasi. Wacana memberitahukan mesti apa bagaimana dan mau ke mana. Tahu dan memahami, lebih baik lagi jika menguasai  bidang seni-budaya. Prakarsa, artinya aktif, tidak menunggu dan mampu mengatasi kesulitan serta kekurangan, seperti dana. Mlempemnya DK di Kalteng agaknya terutama karena masalah kunci ini tidak diindahkan.

Alasan esensial ini pulalah yang menyebabkan Taman Budaya Kalteng hanya ada namanya sampai sekarang, bahkan sempat ditiadakan. Padahal DK dan Taman Budaya sesungguhnya dua organisasi seni-budaya yang saling isi.  Akibatnya sanggar-sanggar dan komunitas-komunitas berkembang sendiri-sendiri  atau menjadi sanggar-sanggar dan komunitas oto-pilot, terasing dari kegiatan skala nasional dan internasional. Agaknya menerapkan  prinsip ‘‘ orang yang tepat di tempat yang tepat’’ di daerah ini tidak berlaku atau dikalahkan oleh prinsip transaksional,nepotisme, serta pendekatan kekuasaan. Prinsip  ‘‘orang yang tepat di tempat yang tepat’’ mengutamakan wacana, kemampuan, prakarsa dan integritas. Prinsip ini menuntut pengenalan mendalam terhadap orang. Organisasi dipimpin oleh orang terhadap orang. Sedangkan pendekatan kekuasaan, nepotisme dan transaksional tidak menggunakan patokan-patokan demikian. Hasilnya? Ketertinggalan dan penyingkiran dan kejujuran. Untuk menbgembangkan potensi seni-budaya di daerah ini DK, Taman Budaya sebagai konseptor, organisator dan pelaksana konsep itu sekaligus, patut ditataulang dengan menerapkan terutama prinsip the right man on the right place’’. ***

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK ENOS ASONG

DI ATAS KUBURAN DAYAK

 

di atas motor kencang memburu angin  entah di penjuru mana

usai berkaraoke — nama baru bagi daerah lampu merah

tubuh bau sperma dan narkoba; para pemuda kotaku

membayangkan diri di eropa dan amerika

lambang kemajuan zaman dan modernitas patut ditiru

 

di bekas roda motor mereka kudapatkan tetesan darah

darah kampungku terjepit;darah itu berhamburan

pada debu-debu  isyarat dekatnya kematian

tanda negeriku kehilangan satu angkatan

mengidap penyakit mendasawarsa

 

modernitas hari ini lebih mengancam dari hiv

membius kesadaran mendapatkan remah-remah kolusi

tanah tambun-bungai tak obah sebatang sungai

di permukaannya mengapung jiwa-jiwa membangkai

hijau-hijau daun kebun

hitam mengkilat gunung batubara

hijau dan hitam di kuburan dayak

 

merentang ke cakrawala

hijau dan hitam hutan duka

 

2012

 

REPUBLIK BELATUNG

 

airmata yang mengisi sungai

menguap menjadi awan hitam

darah yang membasahi lahan

kepapaan yang mengairi nadi

serupa selokan dan jalan

serta taburan sampah

bukan untuk debat dan polemik

 

duka ini adalah seratus tombak

di tubuhku dalam tertancap

sejuta belatung hidup merayap di atasnya

raga dan jiwaku sarang belatung

sejak republik jadi sarang maling

 

keadaan begini darurat

menuntut gerak cepat

berani dan tepat

maka tinggalkan ibukota

biarkan mereka berkelimpahan

di meja-meja jabatan yang amis

 

keadaan begini darurat

membuka gerbang

menyemai asa

menangkal penaklukan

 

2012

 

 

RASMINAH

 

rasminah

nenek minah

itulah nama-nama lukaku

sedangkan sampah

nasib dan nama dari keadilan

di bak-bak  menumpuk

dikais pemulung

yaitu kita

para tuna kuasa

 

republik adalah bangkai

tergeletak di tengah bak

yaitu negeri ini

 

kernanya negeri bau anyir oleh nanah luka kita

bau apak oleh keadilan yang membusuk

udara menyengat

bau mayat hingga kelambu masuk

 

pagi petang

truk-truk kuning pengkhianat mengangkut

membuang dan membakarnya di tepi-tepi jauh

(ternyata para satria khianat di menara tinggi itu

hanyalah kuli-kuli sampah sesungguhnya)

bangkai itu pun dibakar sepenggal demi sepenggal

kerna memang tak gampang menghancurkan batang besar

 

rasminah adalah lukaku yang tak henti mengucurkan darah

ketika tanahair menjadi rumah tahanan kepapaan menyiksa

untuk menjadi manusia di negeri ini diperlukan cinta

daya tahan dan kepintaran bertarung tak tanggung-tanggung

penjamin esok sarang harapan

 

2012

 

Kritik &Apresiasi

MASALAH BUDAYA DAYAK YANG MENAGIH JAWAB

Resensi  Yanedi Jagau *

Judul :  Budaya Dayak Permasalahan dan Alternatifnya,

Penulis :  Kusni Sulang dkk

Pengantar :  Agustin Teras Narang

Isi :  xiv + 436 halaman

Penerbit :  Bayumedia  2011

 

Budaya Dayak Cangkokan (Hibrida)

Bukan rahasia umum bahwa orang Dayak sedang resah memikirkan identitas kesukubangsaannya yang sedang terpuruk. Buku yang mengulas kebudayaan Dayak  Kalimantan Tengah masih terbilang langka — sulit dibantah — kehadiran buku Kusni telah berhasil memuaskan dahaga orang Dayak untuk sementara waktu.

Buku ini diberi judul Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya pada tulisan ini kami menyingkatnya BDAP. Kusni Sulang dan beberapa penulis lainnya mengupas masalah sekaligus juga menawarkan jawaban yang menguncangkan, seakan mengajak pembaca “mengupas masalah lokal” sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.

Sudah banyak orang tahu Kusni memang nyentrik, malang melintang dalam ragam kegiatan warga masyarakat Dayak. Dalam BDAP Kusni cenderung memposisikan diri  “cendekiawan mesti bergabung dengan badai topan masyarakat” sebagaimana tercantum dalam halaman 208.

Tengoklah pikiran Kusni mengenai budaya Kalimantan Tengah, Kusni menawarkan agar orang Kalimantan Tengah memajukan gerakan kebudayaan hibrida untuk Dayak.Kusni cukup kuat mengalaskan pemikirannya dari sokongan infomasi dan data-data terbaru.Penulis setingkat Kusni sangat sadar bahwa dalam menulis kebudayaan mestilah penulis terlibat dalam kehidupan manusia dia tulis.Salah satu pemikiran yang mengemuka dalam pemikiran Kusni adalah tentang Budaya Hibrida di Kalimantan Tengah.Budaya Hibrida adalah salah satu pilihan diantara berbagai alternatif yang tumbuh di tengah masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk.Penulis memaparkan “Budaya hibrida tidak saling memakan, tidak bercirikan saling mencari menang, saling takluk menakluk, tapi saling memperkaya”.

Pertanyaan penting kita kepada Kusni: Budaya hibrida manakah yang menceritakan kesuksesan. Atau dalam bahasa lain “dimanakah success  story  budaya hibrida?” Mampukah buah pemikiran Kusni berlaga dalam pertarungan wacana dan kepentingan di Kalimantan Tengah.Membaca BDAP tentu saja saya bertanya dalam hati, dapatkah ide Kusni dipelajari dan dicoba dalam tata kelola dunia lokal, nasional bahkan internasional. Membuka lembar demi lembar BDAP, pembaca akan melihat keresahan Kusni tentang budaya, politik, lingkungan, pendidikan bahkan  ekonomi orang Dayak. Dia tidak hanya resah maupun mengeluh namun menawarkan jawaban. Kusni sendiri tak mau bukunya sebagai satu-satunya jawaban, berkali-kali dalam buku ini, ia mengundang cendekiawan Dayak untuk lebih menulis kebudayaan Dayak.

Sayangnya buku ini belum menawarkan sosok hubungan antar suku bangsa di Kalimantan Tengah. Buku ini tidak memuat tentang bagaimana bentuk interaksi antar orang Dayak dan bentuk interaksi orang Dayak dengan suku bangsa lain.

Budaya Betang Salah Kaprah

Secara khusus Kusni menyoroti makna budaya betang. Pada awalnya dia tidak setuju bahkan mengkritik habis-habisan tentang budaya betang yang dijadikan falsafah budaya Dayak. Kusni menulis, “kalau budaya betang itu tidak ada, lalu apa yang ada? Yang ada yaitu budaya Dayak yang dahulu disebut budaya Kaharingan, tadinya Kaharingan bukanlah agama tapi budaya”.

Walaupun Kusni mempertanyakan dasar apakah yang mendorong pemerintah mengajukan betang sebagai falsafah budaya, tetapi akhirnya Kusni cenderung menerima konsep budaya betang itu dengan alasan hal tersebut terlanjur populer. Budaya betang terlalu disusupi oleh kepentingan politis ulasannya pada buku BDAP dapat terbaca pada halaman 39, 128 dan 231.Dalam buku Budaya Dayak disebutkan orang Dayak mendapat anugerah kekayaan alam yang berkelimpahan.Namun bagaimanakah kebudayaannya, Kusni mengajak agar Dayak menjadikan diri sebagai “Dayak Bermutu”. Agar alam dan hutan dapat terjaga dan asri, tentu saja Kusni tak mau ketinggalan membahas sengketa tanah dan pengrusakan hutan yang makin cepat. Berkali kali penulis BDAP menawarkan konsep wacana strategis dan tindakan lanjut konkret. Penulis dalam buku ini antara lain T. T. Suan, Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, Andriani S. Kusni, Abdi Rahmat, Erwin Endaryanta, dan Paulus Alfons Y. D.  Abdi Rahmat mengetengahkan ideologi  gerakan kebudayaan dan pengorganisasiannya. Andriani menyoroti isu gender dalam masyarakat Dayak.

Buku ini sangat tajam bahkan cenderung to the point, tanpa tedeng aling-aling, Kusni menuliskan bahwa orang Dayak kurang memiliki solidaritas, tak mengherankan Dayak tersisih. Sebutlah misalnya warga Dayak tak pandai mengorganisir diri.Hanya mau bergerak kalau sudah terdesak, dengan kata lain Budaya Dayak belum mampu mengantisipasi datangnya serangan yang memarjinalkan. Maksud Kusni bukanlah menghakimi orang Dayak melainkan mengajak agar semua orang Dayak merenungkan eksistensi ke-Dayak-an dalam konteks masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam buku ini mau tak mau memunculkan kenyataan kehidupan orang Dayak, walaupun fakta yang diketengahkan terasa pahit.

Sebelum anda membaca buku Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya alangkah baik bacalah lebih dalam pemikiran Kusni pada bukunya Negara Etnik.Mengapa demikian? BDAP adalah operasionalisasi dan wujud nyata “Negara Etnik” yang ingin dielaborasi Kusni di Kalimantan Tengah. Sebaiknya bacalah buku ini, anda akan mendapat pencerahan mengenai fakta kehidupan orang Dayak, melainkan anda akan disuguhi paparan menarik tentang sastra dan seni di Kalimantan Tengah. Kusni adalah budayawan dan juga sastrawan, tak mengherankan pada buku ini anda menemukan pepatah dan idiom Dayak yang terasa mengena dengan keadaan Kalimantan Tengah sekarang.

Jangan terpesona pada kulit buku BDAP, “don’t judge a book by its cover,”  kata orang Inggris. Kesan pertama kulit buku ini adalah penghancuran lingkungan, ini dilambangkan mesin gergaji (chainsaw) yang bersiap memotong pohon yang berhiaskan ornamen Dayak.Apapun penilaian anda tentang cover-nya, yang paling penting adalah isinya. Tak ada kata lain, buku ini sangat berisi.***

*Direktur  Eksekutif  Borneo Institute, Palangka Raya.

 

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

Pengantar

Untuk melahirkan dan mengembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng, demikian juga untuk mata pelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Dayak, terutama Bahasa Dayak Ngaju mempunyai peran penting. Untuk keperluan ini, mulai edisi ini, SP Radar Sampit membuka Ruangan Baru: ‘Pelajaran Dasar Bahasa Dayak  Ngaju’. Pelajaran Dasar ini bersifat praktis, agar bias segera diterapkan.

PELAJARAN 1.

ABJAD DAN UCAPAN

I.Abjad dan Cara Membaca

Abjad dalam Bahasa Dayak Ngaju sama dengan abjad bahasa nasional, Bahasa Indonesia yaitu: a.b.c,d,e,f, g, h, i, j, k, k, l, m, n, o, p, q, r, s, t. u, v, w, x, y, z.

Aksara e (E). Bahasa Dayak Ngaju mengenal tiga  macam e (E) yaitu e pepet, e sangat lembut, dan e keras.

E keras. Contoh:Melai: tinggal, berdiam. E pada kata melai adalah e keras. Kalau dibaca sebagai e pepet , pendengar tidak akan mengerti atau tertawa geli. Oleh karena itu Bahasa Dayak  Ngaju seniscayanya mempertahankan tanda baca ‘ pada e keras.

Contoh lain e pada kosakata mbuhen=mengapa. Kalau e pada kosakata ini dibaca sebagai e pepet atau e sangat lembut, pemakai Bahasa Dayak Ngaju tidak bakal mengerti karena ia akan menjadi kosakata asing, dalam arti tidak dikenal.

E pepet:

Contoh :Iete= yaitu. E pada ie diucapkan sebaga e pepet , sedangkan e pada te dibaca sebagai e keras.

E sangat lembut (diucapkan hampir tidak terdengar)

Contoh: kajariae =akhirnya. Arepe=dirinya. E di sini berfungsi sebagai akhiran (akan dibicarakan dalam pelajaran selanjutnya) dan dibacara atau diucapkan hampir tidak kedengaran. Mendekati huruf bisu (l’alphabet muet) dalam Bahasa Perancis.

 Cara Membaca: Huruf-huruf itu  dibaca sebagaimana ia ditulis. Bagaimana aksara atau kosakata itu ditulis, demikianlah pula aksara dan kosakata itu dibaca.

Misal: uluh= orang, dibaca uluh. Jika kosakata ini ditulis dengan oloh sebagaimana sering dilakukan oleh banyak penulis atau pengguna Bahasa Dayak Ngaju sampai hari ini, maka niscayanya sesuai dengan rumus di atas, kosakata itu dibaca Oloh. Sedangkan Bahasa Dayak Ngaju, baik secara hukum bahasa dan lebih-lebih dalam kehidupan sehari-hari tidak mengenal kosakata Oloh. Penulisan kosakata Uluh menjadi Oloh adalah pengaruh Bahasa Dayak Ngaju yang digunakan oleh Injil dan pandangan sarjana-sarjana bahasa  Zending, terutama dari  Swiss Jerman sebagai pihak-pihak pertama yang memperhatikaan Bahasa Dayak Ngaju.

Cara penulisan ini dan soal-soal lain kebahasaan perlu distandarisasi (Re-Dayakisasi Bahasa) melalui suatu pertemuan seperti seminar  bahasa misalnya. Tanpa standarisasi maka akan terjadi kesimpang-siuran yang membingungkan pembelajar Bahasa Dayak Ngaju.

II.Kosa Kata:

Uluh, orang.

Iete, yaitu. Ie =ia. Te= itu. Tuh= ini.

Kajariae= akhirnya.

Arepe= dirinya.

Mbuhen= mengapa.

 

 

UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

Kadian mambesei, jukung hanyut. Malas berdayung , perahu larut. Jika tak berusaha tak mendapatkan hasil apa pun.

Mambesei hayak  manimba. Mengayuh sambil menimba. Mengerjakan beberapa hal sekaligus.

Manapuk kanai misek  belai. Menepuk perut menanyakan selera. Bertanya harus kepada orang yang tepat.

Mandang-ujan puna ampin andau. Panas-hujan memang tabiat hari. Susah-senang sudah menjadi adat hari.

Amun mekei te metuh mandang. Kalau menjemur  mestinya pada saat hari bermatahari. Untuk menempat sesuatu hendaknya sejak dini.

 

Cerita Rakyat Dayak Ngaju

Maharaja Panduran

 

Konon, seorang Tamanggung Sungai Kahayan sedang berperahu ke arah kuala. Sebagaimana biasanya orang Dayak, dalam perjalanan jauh senantiasa melengkapi diri dengan senjata-senjata seperti mandau badek, tombak atau sumpitan.Tanpa kecuali dengan Tamanggung Kahayan yang sedang menghilir.

Malang tak bisa dielak untung tak bisa diraih, ketika sampai di muara, badai petir hujan deras turun dari langit. Ombak setinggi rumah menggulung melanda perahu.  Dalam sekejap, perahu kecil Tamanggung Kahayan tenggelam, tinggal badek  yang terselip dipinggangnya yang tidak tenggelam ke lubuk laut.

Agar tidak turut tenggelam ke dasar lubuk, Tamanggung menggunakan perahunya yang terbalik sebagai pelampung. Dengan badan perahunya itu ia diombang-ambingkan oleh gelombang laut yang berang selama berhari-hari.

Suatu fajar, tiba-tiba Tamanggung yang sudah sangat lelah, mendengar suara kokok ayam jantan. Mendengar adanya kokok ayam jantan itu, Tamanggung sadar bahwa ia berada tidak jauh dari daratan. Harapan untuk hidup selamat  pun terbentang di hadapannya. Oleh kegembiraannya, tanpa sadar Tamanggung pun menjawab kokok ayam jantan itu dengan berteriak sekuat tenaga meniru kokok ayam jantan yang didengarnya.  Kokok dibalas kokok. Demikian berkali-kali kokok demi kokok bersahut-sahutan. Sampai tiba-tiba di kejauhan ia melihat sebuah perahu besar melaju mendekatinya.

Para awak perahu besar itu mengangkat Tamanggung ke atas perahu.

‘’Terimakasih sudah menolong saya’’, ujar Tamanggung sesudah berada di perahu besar.

‘’Andakah yang berkokok tadi ?’’ tanya seseorang lelaki tinggi besar, berkulit hitam, berkumis dan nampaknya disegani oleh para awak perahu besar itu  lainnya.

‘’Ya’’, jawab Tamanggung Kahayan tegas.

‘’Mengapa ?’’, tanya Tamanggung.

‘’Nanti Anda akan tahu’’.

Lelaki tinggi besar itu kemudian memerintahkan kepada para awak perahu untuk mengambil dan memberikan pakaian kering untuk Tamanggung Kahayan.

Sepanjang pelayaran menuju pantai, Tamanggung Kahayan dan lelaki tinggi besar itu sertga para awak perahu  bercakap-cakap dengan akrab untuk saling mengenal. Sebelum perahu besar merapat, di daratan sudah nampak kerumunan orang menunggu, seakan-akan kedatangan perahu besar itu merupakan suatu peristiwa penting.

Begitu mendarat, Tamanggung Kahayan di bawa  ke suatu rumah besar dikawal oleh banyak orang bersenjata tombak dan kelewang di pinggang.

‘’Ini istana Raja Madura. Tamanggung sedang berada di Negeri Madura’’, jelas lelaki tinggi besar hitam itu.

‘’Jadi saya dibawa menghadp Raja  Madura ?’’, tanya Tamanggung yang dijawab oleh lelaki tinggi besar itu dengan anggukan.

 

Setiba di hadapan Raja, lelaki tinggi besar itu menyembah. Tamanggung Kahayan mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh  lelaki tinggi besar itu. Kedua lelaki itu kemudian duduk. Lelaki tinggi besar itu yang ternyata panglima pasukan Raja memperkenalkan Tamanggung dan segala apa yang menimpanya kepada Raja. Raja mendengar semua lapooran Panglimanya dengan penuh perhatian.

‘’Baik, Panglima’’.

‘’Tamanggung Kahayan. Anda  berada di Negeri Madura.Selamat datang cdi negeri kami. Perlu saya beritahukan kepada Tamanggung, bahwa menurut adat kami, siapa yang menjawab  kokok ayam jantan tadi berarti  menantang pahlawan-pahlawan kami yang terhebat. Pahlawan kami yang terhebat sekarang Panglima, orang yang menjemput Tamanggung tadi’’. Tamanggung melirik ke lelaki tinggi besar di sampingnya, demikian juga sang Panglima. Keduanya  bertatapan.Bertukar senyum.

Sang Raja melanjutkan : ‘’Karena itu sesuai adat kami, Tamanggung dan Panglima harus bertempur sampai salah satu mati dalam sebuah lobang yang kemudian sekaligus akan menjadi kuburan bagi yang kalah.  Khusus untuk pertempuran kali ini, pemenang akan saya nikahkan dengan puteri bungsu saya. Jadi Panglima dan Tamanggung besok akan  bertarung sampai salah satu meninggal. Bagaimana , adakah pertanyaan, Tamanggung ? ’’.

‘’Tidak ada Paduka. Sangat jelas. Hanya saja hamba merasa di luar kelayakan hamba harus bertarung dengan penolong jiwa hamba’’.

‘’Saya tidak bisa merobah ketentuan adat negeri kami begitu saja’.

‘’Kita tidak punya pilihan lain Tamanggung’, bisik Panglima kepada Tamanggung.

‘’Baik, Paduka’’, ujar Tamanggung sambil merendahkan kepala memberi hormat kepada Sang Raja.

***

Lobang pertempuran sudah digali. Penduduk berjejal di pinggir-pinggir lapangan besar. Sedangkan Raja dan puteri bungsunya duduk dikursi kebesaran di balkon menyaksikan laga sampai mati Panglima dan TamanggungKahayan yang berdiri di pinggir ujung lobang laga. Setelah Sang Raja mdembunyikan gong tanda laga dimulai, Panglima dan Tamanggung memb deri hormat ke pada Sang Raja dengan membongkokkan badan. Lalu keduanya  bertatapan.

‘’Saya tidak mau melaga Panglima’’, ujar Tamanggung.

‘’Saya juga tidak mau melaga Tamanggung. Kita tak mampu mengalahkan ketentuan ini  Tamanggung. Meloncatlah sekarang ke dalam lobang’’.

Panglima segera meloncat. Tapi Tamanggung masih di atas.

‘’Meloncatlah, Tamanggung’’.

‘’Saya tidak mau melaga orang yang menyelamatkan nyawa saya’’.

Panglima menarik kaki Tamanggung sehingga Tamanggung jatuh ke lobang laga.

‘’Salah satu dari kita harus mati,  Tamanggung’’.

‘’Biar saya yang mati’’, ujar Tamanggung. ‘’Saya tidak mau membunuh orang yang telah menyelamatkan jiwa saya’’. Sambil berkata begitu Tamanggung menarik badek di pinggangnya dengan maksud menusuk perutnya sendiri. Tapi Panglima dengan sigap menahannya. Keduanya rebutan mengenai arah mata badek. Panglima berhasil mengarahkan  mata badek ke hulu hatinya sambil menarik badan Tamanggung. Tamanggung jatuh ke tubuh Panglima, membuat seluruh batang badek tertancap ke hulu hati Panglima. Melihat keadaan demikian, Tamanggung menjerit sekuat tenaga. Tidak bisa menerima kematian Panglima. Tamanggung memeluk Panglima dengan bercucuran airmata dan basah darah.

‘’Tamanggung, tolong kau jaga Puteri baik-baik. Ia menolak cintaku dan Raja pun tak  mau aku jadi anak menantunya’’. Panglima meregang dan menutup kedua matanya dengan senyum di bibir.

Tamanggung mengangkat tubuh Panglima ke atas. Baru kemudian ia meloncat ke atas. Mengangkat  jenazah :Panglima dengan kedua tangannya.

‘’Panglima ini adalah saudaraku sejati, Dia Panglima sejati dan pemenang !’’. Hanya Tamanggung lah yang mengetahui rahasia :Panglima penyelamat hidupnya untuk kedua kali.

Dengan upacara besar selama beberapa hari dan malam, perkawinan Tamanggung dan Putri Bungsu Raja dilangsungkan. Dari perkawinan ini lahirlah turunan Dayak-Madura.  Tamanggung yang kemudian juga dikenal dengan nama Maharaja Panduran membawa anak-istrinya kembali pulang ke Kahayan, dan tinggal di kampung yang dikenal dengan nama Manen Panduran. ***

 

(Cerita Ikhtisar tuturan Andriani S. Kusni berdasarkan kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau).

 

MENATA KEMBALI ORGANISASI KEBUDAYAAN KALTENG

SAHEWAN PANARUNG HARIAN RADAR SAMPIT

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
 
MENATA KEMBALI ORGANISASI KEBUDAYAAN KALTENG
 
Organisasi dan pengorganisasian adalah suatu keniscayaan. Tak ada kegiatan berlangsung, apalagi berkelanjutan dan berkembang secara kuantitas dan kualitas tanpa organisasi. Menulis pun perlu pengorganisasian, pengorganisasian ide atau pikiran dan emosi.Organisasi adalah sarana melaksanakan konsep atau gagasan agar gagasan, konsep tidak berhenti di gagasan. Berbicara tentang pengembangan artinya kita berbicara tentang perubahan maju dan lebih maju. Hanya dengan organisasi dan pengorganisasian tingkat amatirisme meningkat ke profesionalisme.
Malangnya di negeri ini, termasuk di Kalteng, organisasi dan pengorganisasian, tidak terkecuali bidang kebudayaan, organisasi dan pengorganisaian dilakukan dengan pendekatan kekekuasaan dan transaksi hedonik sebagai pendekatan dan wacana utama, bukan upaya pemberadaban dan pembudayawanan manusia dan masyarakat. Dengan pendekatan demikian, kemampuan dalam arti luas, tidak mmenjadi pertimbangan utama. Barangkali karena pendekatan dan wacana demikian maka the right men on the right place tidak  berlaku di birokrasi kjebudayaan khususnya. Hasilnya? Kebudayaan jalan di tempat , untuk tidak mengatakan tidak berkembang. Organisasi kebudayaan hanya adanya dengan kegiatan bdersifat sporadis dan insidental – ciri utama dari amatirisme. Dari provinsi hingga kabupaten, di  mana terdapat Dewan Kesenian (DK) yang hidup? Taman Budaya di Palangka Raya, sejak ditegur oleh Gubernur  Kalteng Teras Narang, sampai hari ini cuma ada namanya. Bahkan pada suatu periode dimatisurikan.Oleh lemahnya organisasi dan pengorganisasian, jaringan pun lemah, kegiatan – kegiatan skala pulau, apalagi tingkat nasional, tanpa  usah berbicara level  internasional, umumnya tidak diikuti oleh daerah ini. Sebagai missal: Apakah Kalteng hadir dalam temu nasional Komunitas Seni-Sastra di Bogor bulan Maret ini? Apakah Kalteng ikut dalam Gempa Literasi yang dimulai bulan April 2012  nanti? Memajukan kebudayaan di daerah ini agaknya masih berada pada taraf verbal , belum sampai pada tingkat penghayatan – syarat untuk menjadi daerah berbudaya. Daerah yang berharkat dan bermartabat. Sedangkan kebudayaan tidak lain dari roh, jiwa anak manusia.Begitu manusianya, begitu pula daerah dan budayanya. Jika dibalik: begitu budayanya, begitu pula manusia dan daerahnya. Agaknya daerah ini masih berada pada taraf potensial seperti yang sering dipidatokan banyak pihak. Potensial artinya belum real (nyata). Mengubah yang potensial jadi real ini diperlukan wacana, organisasi dan pengorganisasian serta program.  Tiga hal ini (wacana, organisasi dan program), kiranya merupakan sangu kita menata ulang keadaan sekarang, mengisi dan mengaktifkan lembaga-lembaga yang hanya ada nama. Sangu lain yang tidak kurang penting adalah seni mendengar dan rajin berpikir. ***
Gagasan
Pengantar Dari Pengasuh
Setelah Sumpah Pemuda 1928, Polemik Kebudayaan 1930, Surat Kepercayaan Gelanggang, Debat Lekra-Manikebu , zaman yang  oleh Majalah Tempo, Jakarta  disebut sebagai “Zaman Penuh Gagasan’’,”Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama” yang dihasilkan pada 2010 oleh para seniman-budayawan yang tergabung dalam Lesbumi merupakan salah satu teks konseptual penting di periode ‘Indonesia miskin gagasan’. Perkembangan budaya pertama-tama adalah pergelutan gagasan. Tanpa gagasan maka yang terjadi adalah “do many things but for nothing” (berbuat banyak, tidak menghasilkan apa-apa). Konsep ‘Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama” ini di Kalteng tidak pernah dibicarakan secara publik. Pemuatan Teks yang Pengasuh dapatkan langsung dari Yogyakarta,   ini sekarang diharapkan bisa menjadi salah satu acuan dalam mengembangkan kebudayaan Uluh Kalteng. ***
Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama
Realitas kebudayaan kita akhir-akhir ini sedang berada pada posisi yang terus mengalami pengasingan—ditinjau dari keberadaannya yang kurang diperhitungkan oleh para pengambil kebijakan baik pada wilayah politik, ekonomi, sosial, maupun intelektual. Kebudayaan juga berada pada kondisi yang terus mengalami pemiskinan—ditinjau dari kemerosotan, pendangkalan, dan penyempitan baik definisi, bobot, maupun cakupannya dalam kehidupan secara umum. Krisis keindonesiaan yang sekarang ini mendera bangsa kita, basisnya adalah krisis kebudayaan ini.
Posisi dan kondisi kebudayaan tersebut tercipta sebagai akibat dari praktik dominasi yang dilakukan oleh tiga kekuatan utama:
1. Kekuatan kapitalisme pasar yang menilai kebudayaan dari sudut pandang pragmatisme pasar dan melakukan komodifikasi terhadap kebudayaan (baik kebudayaan sebagai khazanah pengetahuan, sistem-nilai, praktik dan tindakan, maupun benda-benda hasil ekspresi budaya), sehingga manusia ditempatkan sebagai objek ekonomi dan bukan subjek daripadanya.
2. Kekuatan negara yang menempatkan kebudayaan sebagai lebih sebagai alat pendukung kekuasaan (legitimasi politik), dan menempatkannya sebagai benda mati serta menjadikannya sebagai komoditas pariwisata untuk mengumpulkan devisa, yang artinya negara telah menempatkan dirinya sebagai sub-kapitalisme pasar dalam kaitannya dengan kebudayaan dan bukan menempatkan kebudayaan sesuai definisi dan perannya yaitu sebagai kumpulan pengetahuan, makna, nilai, norma, dan praktik serta berbagai materi yang dihasilkannya (atau singkatnya kebudayaan sebagi formula bagaimana suatu masyarakat melangsungkan kehidupannya) .
3. Kekuatan formalisme agama yang menempatkan kebudayaan bukan sebagai energi sosial yang menjadi penopang tumbuh-berkembangnya harkat manusia sebagai khalifah fil ardl, sehingga tidak diperhitungkan secara proporsional dalam pengambilan keputusan hukum oleh para pemegang otoritas keagamaan, dan dalam kadar tertentu mereka justru menempatkan kebudayaan sebagai praktik yang “menyimpang” dari ketentuan hukum yang mereka anut tersebut.
Atas dasar itu, untuk mengembalikan harkat kebudayaan sebagai artikulasi pemuliaan manusia dan prosesnya untuk mencapai integritas kemanusiaannya, sebagai arena penegasan dan pengembangan jati diri kebangsaan Indonesia, kami merasa perlu mengambil sikap kebudayaan sebagai berikut:
1. Menolak praktik eksploitasi terhadap kebudayaan oleh kekuatan ekonomi pasar yang memandang para pelaku budaya beserta produknya berada di bawah kepentingan mereka.
2. Mengembalikan kesenian ke dalam tanggungjawab dan fungsi sosialnya. Dalam hal ini seniman melakukan kerja artistiknya dengan cara melibatkan diri dengan masyarakat, untuk mengungkap, menyampaikan, dan mentransformasikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat melalui karya seni yang mereka ciptakan dengan melakukan eksplorasi estetika yang seluas dan sekomunikatif mungkin.
3. Menolak kecenderungan karya seni yang memisahkan diri dari masyarakat dengan berbagai alasan yang dikemukakan, entah berupa keyakinan adanya otonomi yang mutlak dalam dunia seni yang artinya seni terpisah dari masyarakat, maupun universalitas dalam suatu karya seni yang artinya karya seni terbebas dari ikatan relativisme historis suatu masyarakat.
4. Memperjuangkan kebudayaan (baik sebagai khazanah pengetahuan, nilai, makna, norma, kepercayaan, dan ideologi suatu masyarakat; maupun–terlebih– sebagai praktik dan tindakan mereka dalam mempertahankan dan mengembangkan harkat kemanusiaannya, lengkap dengan produk material yang mereka hasilkan) sebagai faktor yang diperhitungkan oleh para pengambil kebijakan negara, sehingga kebudayaan dapat menjadi kekuatan yang menentukan dalam setiap kebijakan yang mereka putuskan.
5. Membuka ruang kreativitas seluas mungkin bagi para seniman, baik tradisional, modern, maupun kontemporer, yang mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan kesenian yang disebabkan oleh kebijakan politik dan birokrasi negara, dominasi pasar, maupun kekuatan formalisme agama.
6. Merumuskan dan mengembangkan “fiqh kebudayaan” yang mampu menjaga, memelihara, menginspirasi dan memberi orientasi bagi pengembangan kreativitas masyarakat pada wilayah kebudayaan dalam rangka pemenuhan kodratnya sebagai khalifah fil ardl dan sekaligus warga masyarakat-bangsanya.
7. Keindonesiaan adalah tanah air kebudayaan kami. Oleh karena itu, di dalam dinamika kesejarahannya, ia menjadi titik pijak kreatifitas kami, Realitasnya yang membentang di hadapan kami, menjadi perhatian dan cermin bagi ekspresi dan karya-karya. Kami ingin tanah air kebudayaan kami menjadi subur oleh tetes-tetes hujan keringat estetik bangsa ini.***
Diputuskan pada Muktamar Kebudayaan NU I di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta.
Sansana Panarung
Sajak-Sajak Kusni Sulang
 
KATINGAN JALAN SUNYI
katingan, kau melukaiku
tapi aku tetap mencintamu
kerna cinta semacam kutuk yang gaib
dan memang ketetapan pilihan
katingan melukaiku
menguji pilihan
kerna cinta
bukan angan-angan
berindah kata
kutinggalkan padang salju ke katingan
kuhapal masih jalan kembali
di tepian duka menanti
di kepala tangga ajal berjaga
ke katingan aku tetap tiba
di katingan aku tak bisa bersandar pada adat
tak bisa bersandar pada darah
oleh penyakit zaman persahabatan goyah
apalagi jika dasi tak kukenakan
waktu mengobah sungai
tiba di katingan
kuterjuni gambut lumpur
ternyata kasih yang bukan dusta
senantiasa bertenaga
angka pun kadaluwarsa
tiba di katingan
dengan lumpurnya
kulukiskan peta perjalanan
sebab  katingan
pun daerah kembara
katingan
jalan sunyi
jalan lama kutempuh kembali
2012
 
KABAR DARI PEDALAMAN
percuma kau mencari tuhan dahulu di sini
ia telah dibunuh atau menyingkir sendiri
disingkirkan sejak tuhan baru diciptakan
kantor-kantor adalah rumah ibadah utamanya
tuhan baru ini disembah  karena keperkasaannya
oleh mujizat-mujizatnya melebihi keajaiban lampu aladin
tuhan baru ini pun panglima sekaligus serdadu perang
kepala pengacau keamanan di kampung-kampung
setelah tuhan baru ini diciptakan
sejak itu tak ada lagi benda-benda keramat
sandung dan pambak dibongkar untuk tanahnya
di atasnya berdiri mall, waterboom, tempat-tempat hiburan
tambang dan perkebunan
oleh pertarungannya menghadapi matahari dan polisi
barangkali mencengangkan para akademisi
orang kampung yang tak gubris
kian banyak jadi atheis
bersama kematian  tuhan
melenyapnya dewa-dewa
merah purih tinggal di buritan
tanda dahulu republik pernah diharap
tapi bendera itu pun kusam dan cabik-cabik
2012
 
BUAHTANGAN UNTUK HENDRIK
palangka raya dan hotel-hotelnya girang tentu saja
kedatangan kesatria-kesatria ibukota
oleh koran –koran disebut pahlawan lingkungan
celana jengki kemeja berdasi
di hotel-hotel berbintang itu mereka bicara kemiskinan
masyarakat adat, lahan gambut dan iklim bumi
aku sendiri merasa dalam terluka
dilukai oleh kemunafikan terselubung
merebut remah-remah dollar norwegia
melalui satu perselingkuhan, pulang-pulang
ribuan hektar tanah dayak melayang
di pulau ini, di kalimatanku
aku seperti berada di antara kawanan anjing kurap lapar
bercelana jengki dasi melintang
terkam-menerkam rebutan tulang
kalimantan hari ini bukan lagi tempat aman
bandit di mana-mana dan membuka arena tanding hidup-mati
agaknya mereka belum paham apa-siapa dayak di medan laga
soalnya: apakah dayak masih ada hari ini
kalau republik adalah suatu akal-akalan sangat licik?
hendrik, aku ingat dari stockholm menjelang terbang
malam itu kau pesan dariku buahtangan
sekarang kudapatkan yang terbaik
yaitu darah luka kami sebagai indonesia
cocok untuk orang yang menolak menyerah
serupa sun wu-kung, raja bunu, sisyphus atau ahasveros
2012
Memoire Tri Ramidjo
 
Pengantar Pengasuh
Boven Digul, Papua Barat adalah tempat pembuangan massal pertama para pejuang Indonesia anti penjajahan Belanda.Tidak  banyak orang Indonesia, apalagi angkatan sekarang yang mengenak kehidupan para pejuang kemerdekaan itu di sana.
Tri Ramidjo, sekarang berusia 83 tahun, tinggal di Tanggerang menuliskan kehidupan mereka di Boven Digul dalam sebuah Memoire berjudul Kisah-Kisah Dari Tanah Merah yang teksnya dikirimkan ke pengasuh Ruang Budaya ini. Buku ini telah diterbitkan oleh Penerbit Ultimus, Bandung.
Waktu ke Digul bersama ayah-ibu dan kakak-kakaknya, Tri Ralidjo masih berusia beberapa bulan. Memoar, berupa catatan-catatan kenangan dan renungan hidup penulisnya. Cuplikan Memeoire ini disiaqrkan sebagai bentuk kecil menghargai jasa para pahkawan. Masihkah para pahlawan ini bderarti bagi angkatan sekarang atau keteladanan mereka menjadi sesuatu yang jadul di hadapan diminasi hedonism?
DIGUL DI BULAN DESEMBER
 
— Kasih sayang guru yang tak terlupakan —
 
Oleh Tri Ramidjo
HUJAN  terus-menerus.  Sungai  Digul  meluap  dan  arusnya  deras. Pohon-pohon  yang  tumbang  di  hulu  Sungai  Digul  berhanyutan dibawa air yang mengalir deras.  Kami  yang  tinggal  di  Kampung  B  dan  Kampung  C  tidak kebanjiran  karena  tempat  perumahan  kami  cukup  tinggi.  Hanya ladang-ladang di tepi Sungai Digul digenangi air.  Dari  rumah  teman  kami,  Bedjo  kecil,  anaknya Oom  Prawiro, ladang-ladang  yang  tergenang  air  itu  bisa  terlihat  jelas. Ladangnya Oom Matsari, Oom Prawiro, Oom  Surodirodo, Oom Wongsokarno,
dll., digenangi air.
Air  itu melebihi  tingginya  lanjaran  kacang panjang.  Biasanya kalau sudah kebanjiran seperti ini hanya tanaman kacang tanah yang bisa  terus  tumbuh  dan  bisa  dipanen.  Yang  lainnya  tak  bisa diharapkan lagi.
 Hujan  belum  juga  reda.  Pagi-pagi  aku  yang  biasanya malas bangun  digugah  beberapa  kali  oleh  adikku  Rokhmah.  Rokhmah memang  rajin  dan  tak  pernah  terlambat  bangun.  Dan  aku  yang pemalas bangun, tetap ingin tidur.
Selimut  jarik 1  yang  sudah  lusuh  dan  penuh  tambalan  itu ditarik  adikku  Rokhmah.  “Bangun.  Cepat  sarapan.  Telurnya  yang setengah sudah kumakan. Sisanya setengah untuk Mas Ribut (Ribut nama  panggilanku  waktu  kecil).  Cepat  dikit.  Nanti  telat  sekolah
seperti kemarin. Untung Meneer Said Ali tidak marah. Malu kan?”
Aku  segera  bangun,  cuci  muka,  tidak  berani  mandi  karena dingin.  Ibuku  tidak  marah,  sebab  ibuku  tahu  aku  belum  sembuh betul dari sakit malaria, dan malariaku kronis. Waktu di-opname di rumah sakit, darah merahku hanya tinggal 40%. Aku tidak tahu cara menghitung  darah,  aku  hanya  menirukan  apa  yang  dikatakan Dokter Van Alderen ketika itu.
Setelah  aku  sarapan,  ibu  segera  keluar  rumah  gerimisan memotong dua pelepah daun pisang raja di samping rumah. Dengan berpayungkan daun pisang itu kami berdua berangkat ke sekolah.
Aku dan  adikku Rokhmah berjalan  hati-hati melewati  rumah Oom Nanang  (Zainal Abidin) bekas guru kami waktu kami sekolah di MES (Malay English School).
Dulu  ketika  ayahku  masih  natura 2,  kami  sekolah  di  sekolah partikelir  (swasta).  Tapi  sekarang  ayah  sudah  tunduk  kepada gubernemen  dan  mau  bekerja  di  seberang,  tempat  tinggal  para  bb ambtenaar 3. 
O ya, aku teruskan dulu perjalananku dan adikku ke sekolah.  Setelah melewati rumah Oom Nanang dan semak-semak kecil, kami  membelok  ke  kiri  menuruni  jurang  menyeberang  jembatan.
Kemudian  melewati  rumah  teman  kami  Rusdi,  anaknya  Oom Samingun,  rumah Oom  Sadi,  lewat  jembatan di bawah pohon Loo, kemudian  lewat  rumah  Oom  Sumo  Taruno  yang  anaknya  adalah Mas  Bedjo  besar,  Yu Watiyem,  Siti Natura  gendut  (namanya  sama dengan anaknya Oom Mohammad Amin atau Oom Madamin, adik Yu Khamsinah), dan  terus  berjalan melewati  rumah Oom  Sunaryo,
ayahnya Mbak  Sulastri yang  sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis.
 Lewat  rumah Oom Nurati  yang pintar melukis,  lewat  rumah Meneer Said Ali guru kami,  lewat rumah Oom Sugoro  (Sugoro ya ayahnya Mbak  Sulastri yang  sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis.
 Lewat  rumah Oom Nurati  yang pintar melukis,  lewat  rumah Meneer Said Ali guru kami,  lewat rumah Oom Sugoro  (Sugoro ayahnya Mbak  Sulastri yang  sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis.
 Lewat  rumah Oom Nurati  yang pintar melukis,  lewat  rumah Meneer Said Ali guru kami,  lewat rumah Oom Sugoro  (Sugoro yang memberi nama “Irian” untuk New Guinea atau Papua),  lewat rumah Oom Sarpinudji, kemudian menyeberang jalan lewat badminton baan 4 dan sampailah di sekolah.
Pakaianku  dan  pakaian  adikku  basah.  Hanya  sebagian  kecil saja yang kering.
“Het  is  veel  beter  dan  jullie  niet  naar  school  gaan 5,”  kata Meneer Said Ali.  Rupanya guru kami  itu merasa  iba dan kasihan melihat kami basah kuyup.
“Siapa bilang Meneer Said Ali galak,” kata hatiku.
Meneer  Said  Ali  memang  sering  memberi  hukuman  kepada anak-anak yang nakal dan beling 6. Tapi  itu  semua karena  rasa kasih sayangnya kepada anak-anak didiknya.
Hari  itu  kami  belajar  tekun.  Suara  Meneer  Sujitno  Reno Hadiwirijo  kami  dengarkan  dengan  tekun,  diselingi  suara  bunyi hujan di atap sekolah yang terbuat dari seng.
Temanku  sekelas,  Mintargo,  (anak  Oom  Sarpinudji),  Tri Harsono  (anak  Oom  Hardjo  Prawito),  Fadalat  (anak  Oom  Agus Sulaiman),  Rukmini  (anak  Oom  Ibnu),  Sukaesih  (anak  Oom  Djojo Penatas), dll., semuanya belajar dengan rajin.
Di  kelasku  ini  tidak  ada  anak  yang  beling.  Hanya  kadang-kadang  Mintargo  teman  akrabku  itu  suka  nyelelek  dan  membuat teman-teman wanita marah.
Bel jam satu tanda pelajaran usai berbunyi. Dengan tertib kami mengemasi buku pelajaran dan berbaris keluar sekolah. Mujur  hujan  sudah  reda.  Di  langit  awan  putih  masih menggantung  menandakan  masih  akan  hujan  lagi.  Temanku  Mas Supadmoyo  (anaknya  Oom Hardjo  Prawito,  kakaknya  Triharsono) berlari-lari menghampiriku.
Dia berbisik di telingaku. “Nanti kita peraon 7 ya.”  “Baiklah, aku tunggu ya. Tapi jangan kesorean,” jawabku.
Tangerang, Senin Wage, 13 November 2006
Catatan:
1. kain panjang
2 . natura  adalah  orang-orang  buangan  Digul  yang  tidak  mau  tunduk  kepada
pemerintah kolonial Belanda dan hanya mendapat catu berupa beras, kacang hijau,
gula merah, dll., dalam bentuk natura
3. bb singkatan dari binnenlands bestuur—pegawai pemerintah kolonial Belanda
4.  lapangan bulu tangkis
5. ‘lebih baik kalian tak usah ke sekolah’
6.  bengal
7. jalan-jalan

Sahewan Panarung Harian Radar Sampit: BELAJAR SEBAGAI KENISCAYAAN

SAHEWAN PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

BELAJAR SEBAGAI KENISCAYAAN

Nama Akbar Tanjung sebagai politisi dan tokoh nasional, tentu bukanlah nama asing bagi  pembca SP Radar Sampit. Tulisan di bawah ini dia kirimkan kepada Kusni Sulang sebagai sahabat lama, pada 10 Desember 2007, ketika ia sebagai  mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM yang sedang menyusun skripsi yang temanya tentang “Nasionalisme Indonesia Perspektif Pramoedya Ananta Toer”. Penekanan dari pemikiran Pram adalah Nation and Character Building. Ia akhirnya lulus dengan sebutan Cumlaude.  Ringkasan tesis Akbar ini kami siarkan mengingat pertanyaan-pertanyaan Akbar Tanjungnya sangat relevan dengan keadaan Indonesia yang oleh sejumlah penulis disebut sebagai negeri “oto-pilot”, artinya negara tanpa pemimpin oleh ketiadaan wibawa. Nasionalisme sangat merosot.

Tulisan kedua yang kami siarkan untuk edisi ini adalah resensi Ibrahim Isa, seorang publisisi, mantan diplomat di Kairo,Mesir pada masa Pemerintahan Soekarno, yang ia kirimkan langsung ke SP Radar Sampit dari Negeri Belanda di mana ia bermukim. Dari resensi ini, barangkali bisa dilihat arti penting belajar sejarah, tahu politik (tanpa menjadi partisan), pengenlan detail keadaan, filosofi, sosiologi, dan lain-lain bagi seorang penulis, termsuk sastrawan seperti yang antara lain diteladankan oleh Pramoedya A. Toer yang wacana-wacananya  menjadi subyek garapan tesis doktor oleh Akbar Tanjung. Belajar, meneliti, mengamati  tanpa henti dan sungguh-sungguh adalah suatu kemutlakan bagi penulis, sastrawan dan seniman. lah satu cara meningkatkan mutu tulisan. Keniscayaan ini pun diperlihatkan oleh para penerima Nobel Sastra. Kenyataan demikian menolak otokproklamasi sudah menjadi sastrawan handal  serta puas diri karena sudah menulis satu dua cerpen atau puisi. Kepongahan puas diri – sikap tak berdasar sebesar apapun hasil  diraih — hanya mengantar orang ke jalan buntu, sedangkan pekerjaan penulis, seniman-sastrawan adalah pekerjaan membidas, bagaimana menjadi anak zaman dan nurani bngsa dan zaman. Tanpa belajar  seumur hidup peran niscaya demikian tidak mungkin terwujud. Sama tidak mungkinnya jika menggadaikan kemerdekaan dan jadi “his master’s voice” atau menjadi hedonis. ***

 

Esai AKBAR TANJUNG *

 Merajut Benang Sejarah, Menyelesaikan Revolusi Indonesia

(Menatap Kembali Nasionalisme Indonesia Dari Persfektif Pramoedya Ananta Toer)

 

 Pendahuluan

A.    Latar Belakang

Pada bulan Februari lalu, penulis diundang untuk menghadiri pelatihan kader AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) di Kaliurang. Salah satu materi dalam pelatihan kader tersebut mengangkat tema kebangsaan. Sebelum diskusi dimulai, pembicara membagikan kertas kepeserta pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan mereka berasal dari bangsa mana beserta alasannya. Setelah semua jawaban dikumpulkan, tidak satu pun peserta yang mengaku berasal dari bangsa Indonesia tetapi bangsa Papua. Mereka menganggap bahwa perasaan sebagai bangsa Papua lebih kental, lebih termanifes dalam diri mereka dari pada sebagai bangsa Indonesia. Mengapa mereka lebih memilih sebagai bangsa Papua dari pada bangsa Indonesia?

Pertanyaan tersebut semakin bergentanyangan di hati dan kepala penulis saat bendera Bintang Gejora berkibar pada Kongres Dewan Adat Papua bulan Juli lalu. Bendera Bintang Kejora sebagai symbol kebanggaan rakyat Papua – mungkin juga sebagai symbol perlawanan –  tak henti-hentinya membayangi NKRI. Ibarat burung Cendrawasi yang terbang melanglang buana mencari kebebasan. Meskipun bendera Bintang Kejora hanya sebagai symbol kultural – kata Gus Dur – tetapi pengibaran tersebut merupakan bentuk eksistensi dari sebuah komunitas yang mendambakan kebebasan dan kedamaian.

Munculnya eksistensi “komunitas lama”[1] merupakan ekspresi yang mempertanyakan kembali nasionalisme Indonesia, termasuk penulis. Apakah betul masih ada nasionalisme Indonesia? Pertayaan itu semakin membuat sedih  jika menonton atau mendengar berita;  pemerintah menjual kekayaan alam milik rakyat Indonesia, konflik antar kelompok masyarakat, lemahnya perlindungan pemerintah terhadap rakyat yang dikebiri haknya – kasus buruh yang belum terbayarkan upah dan THR, rakyat Sidoarjo yang tenggelam rumahnya akibat Lumpur Lapindo belum dapat ganti rugi, pejabat yang korupsi, dan sekian banyak kasus yang mengarah pada penghancuran nasionalisme Indonesia.

Lalu, seperti apa nasionalisme Indoensia? Apakah kita cukup melihat bahwa rakyat Indonesia masih cukup nasionalis dengan berbondong-bondong ke Stadion Bung Karno untuk menyaksikan pertandingan sepak bola Indonesia melawan Korea Selatan? Atau bereaksi keras terhadap pemerintah Malaysia ketika mencaplok Pulau Sipadan dan Ligitan – kasus terakhir adalah dipatenkannya lagu Rasa Sayang-Sayange oleh Peerintah Malaysia.

Jika ukuran nasionalisme Indonesia hanya dilihat dari perasaan bersatu jika ada musuh yang mengganggu eksistensi nusantara, maka sungguh sempit pandangan tersebut. Dan penulis memandang bahwa itulah nasionalisme yang dimaknai sebagian besar rakyat Indonesia. Jika seperti itu pemaknaan nasionalisme Indonesia, penulis langsung teringat sinetron-kartun “Tom dan Jerry”. “Tom dan Jerry” akan berkelahi dan saling mengganggu jika tidak ada pihak lain yang mengganggu eksistensi mereka. Namun, jika ada pihak lain yang mengganggu kepentingan dan eksistensi mereka – Tom dan Jerry – maka persatuan adalah keharusan bagi mereka.

Menggambarkan nasionalisme Indonesia ibarat “Tom dan Jerry” mungkin bukan merupakan tindakan “seorang nasionalis”, tapi itulah sebuah ekspresi dalam memandang nasionalisme Indonesia saat ini. Jika nasionalisme merupakan perasaan kecintaan terhadap tanah air, maka tanah air yang mana? Jika Soekarno mendefinisikan nasionalisme sebagai “keinginan hidup menjadi satu”[2], satu dengan siapa? Toh, nasionalisme yang lagi “ngetrend” saat ini adalah nasionalisme primordial – yang lebih populer dikenal dengan etno-nasionalisme. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 sebagai symbol persatuan yang melahirkan janji dan sumpah untuk bersatu – berbangsa, berbahasa, bertanah air satu, Indonesia, tidak lagi “sakral” dengan adanya keinginan dari “komunitas lama” untuk mendirikan negara sendiri. Daniel Dhakidae dalam pengantar buku Imagined Communities – di Indonesiakan menjadi Komunitas-Komuntas Terbayang – melihat bahwa the holy trinity, tritunggal suci – bangsa, bahasa, tanah air – kini berubah wajah dan semakin “garang” menjadi the unholy trinity yang saling mendepak satu sama lain[3].

Kehentak untuk hidup bersatu, “le desir d’être ensemble”,[4] sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kemudian dipertanyakan. Spanduk diperempatan jalan Sagan yang bertuliskan “NKRI adalah harga mati”, jangan-jangan sebuah reaksi dari bermunculannya tuntutan dari “komunitas-komunitas lama” untuk merdeka?!.

Munculnya tuntutan dari “komunitas-komunitas lama” untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan merupakan fenomena yang baru. Pada masa pemerintahan Soekarno, gejolak politik yang ditunjukkan “komunitas-komunitas lama” sudah menggeliat dengan ekspektasi bahwa Indonesia dapat berjalan dengan landasan ideology dan politik yang mereka yakini – misalnya, DI/TII mengharapkan landasan untuk menjalankan Indonesia ke depannya adalah Syariat Islam. Selain pertentangan dasar negara, Affan Gaffar juga melihat bahwa pergolakan yang muncul di “komunitas-komunitas lama”  merupakan ekspresi ketidak puasan terhadap pemerintah di Jakarta. Terjadinya pergolakan didaerah pada tahun 1957-1958 disebabkan oleh kuatnya dominasi pemerintah Jakarta terhadap “komunitas-komunitas lama”[5].

Dan paska kejatuhan rezim militeristik Soeharto, eksistensi dari “komunitas-komunitas lama” kembali mencuat kepermukaan. Ibarat jamur dimusim hujan, kemunculannya tidak dapat dibendung. Hampir setiap “komunitas lama” menuntut kemerdekaan; gerakan rakyat Aceh, kemerdekaan untuk Papua, Kalimantan Barat, Riau sampai munculnya negara IRAMASUKA – gabungan dari beberapa “komunitas lama” seperti Irian, Maluku, Sulawesi, Kalimantan. Kesetiaan terhadap “ibu pertiwi” selama puluhan tahun tiba-tiba luntur dengan tuntutan: kemerdekaan!.

Berbagai resep kebijakan dari pemerintah untuk “mengobati” penyakit disintegrasi ditawarkan. Sejak kejatuhan rezim Orde Baru, kembali muncul diskursus tentang bentuk negara – diskursus yang muncul untuk mencari resolusi gejolak perlawanan “komunitas-komunitas lama” terhadap NKRI. Ada dua arus utama perdebatan yang muncul unruk merumuskan kembali bentuk negara. Di satu pihak, mengusulkan bahwa alternatif yang terbaik untuk memecahkan gejolak tuntutan kemerdekaan “komunitas-komunitas lama” dan mempertahankan keutuhan negara Indonesia adalah federasi. Pemikiran seperti itu muncul sebagai akibat dari sentralisasi dan dominasi yang sangat kuat dari pemerintah pusat pada masa pemerinatahan Soeharto. Di pihak lain, bentuk negara kesatuan masih tetap dipertahankan. Dan kekuatan politik negeri ini kebayakan memilih bentuk negara kesatuan. Selain tidak adanya dukungan kekuatan politik, format pemerintahan negara yang federalistik tidak mudah diterapkan dalam negara yang masyarakatnya yang homogen.

Di tengah perdebatan bentuk negara – kesatuan dan federasi – muncul alternatif pilihan untuk “mengobati” penyakit disintegrasi. Pilihan tersebut merupakan pilihan yang kompromis, artinya bahwa berusaha memadukan pilihan bentuk kesatuan dan federatif. “Badannya kesatuan tapi rohnya federasi”. Dan pilihan itu adalah desentralisasi dan otonomi daerah[6].

Desentralisasi dan Otonomi daerah yang lahir dari rahim negara kesatuan dianggap sebagian besar politikus, ilmuwan dan akademisi dapat menjawab permasalah sosial, politik dan masalah menguatnya eksistensi “komunitas-komunitas lama”. Namun, dalam proses perjalanannya, konsep otonomi daerah menuai banyak kritik. Salah satunya, yaitu bahwa otonomi daerah akan memunculkan “Soeharto-Soeharto” di daerah. Otonomi daerah juga tidak dapat mengobati kekecewaan dari “komunitas-komunitas lama” terhadap pemerintah Jakarta. Dan otonomi khusus pun jawaban dari gejolak perlawanan “komunitas lama” seperti Aceh dan Papua.

Pertanyaan kemudian adalah apakah dengan berbagai resep yang ditawarkan oleh pemerintah dapat menyelesaikan masalah? Lalu, mengapa masih ada aksi-aksi pengibaran bendera – bendera tidak hanya dimaknai sebagai symbol kultural tetapi juga symbol politik – dari “komunitas lama”? Pertanyaan lebih mendasar lagi adalah akan dibawa kemanakah Indoenesia? Pertanyaan tersebut menjadi point penting untuk melihat kembali Indoensia – dulu, kini dan tentunya masa depan. Pemahaman tentang sejarah sangat penting untuk menjadikan landasan berpijak dalam melangkah. Sejarah sebagai pelajaran dimaksudkan agar kita semakin menyadari bahwa perjalanan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih demokratis dan Indonesia yang lebih sejahtera secara kolektif merupakan tugas bersama. Dengan menengok dan membuka lagi lembaran-lembaran sejarah masa lalu, kita dapat paham dan menyadari kegagalan maupun  keberhasilan masa lampau dan tentunya kita harus belajar darinya. Tidak memahami masa lalu jangan berharap dapat memahami masa kini apalagi masa depan. Pemahaman masa lalu akan mengantarkan pada kemajuan, seperti yang dikatakan Pramoedya bahwa kegagalan kita saat ini dalam membangun Indonesia karena minimya kesadaran akan masa lalu. Misalnya, Pram melakukan evaluasi dan kritik terhadap nama “Indonesia”. Pram menganggap bahwa pemberian nama Indonesia tidak mempunyai landasan material. Rasionalisasi Pram mengapa tidak setuju dangan nama Indonesia adalah sebagai berikut:

Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya, nanti akan menyambung.

Pada waktu Belanda menguasai Indonesia menjadi kekuasaan maritim di dunia. VOC ini, Serikat Dagang Belanda yang membangun imperium maritim terbesar di dunia dengan ibukotanya Batavia. Dan Batavia ini menyebabkan lahirnya Java-centrisme, semua diukur untuk kepentingan Jawa. Jadi VOC itu mengirimkan pembunuh keluar Jawa untuk menundukkan luar Jawa. Dari Luar Jawa membawa harta di bawa ke Jawa. Ini Perbuatan VOC. Tetapi kemudian VOC bangkrut, kapal-kapalnya pada tenggelam karena korupsi para pejabat, dengan mengangkuti barang-barang berlebihan. Bangkrut VOC, kemudian muncul pemerintah Hindia Belanda, karena sudah tidak mempunyai kekuasaan laut lagi.

Pertahanan Hindia Belanda itu didasarkan pada pertahanan Darat. Dan pertahanan Darat dipertahankan sistemnya pada sekarang ini. Padahal sistem pertahanan Indonesia harus pertahananan laut. Salah satu bukti kelemahan pertahanan Darat untuk negara maritim. Pada tahun 1812, waktu Hindia Belanda dikurung oleh Inggris dari laut, dalam beberapa hari angkat tangan. Waktu diserang oleh Jepang pada 1942 dalam beberapa hari juga angkat tangan. Jadi kalau itu diteruskan sampai sekarang, itu bukan lagi kekeliruan, tetapi kesalahan. Persoalannya adalah keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Keberanian tidaknya itu terserah kepada angkatan muda yang belum terpakukan pada sebuah sistem.

Sekarang ini kekeliruan pada waktu Hindia Belanda melaksanakan politik etik, yakni politk balas budi kepada Hindia, timbul organisasi-organisasi pribumi, di Belanda pun muncul organisasi mahasiswa dan terpelajar yang dipelopori oleh Sutan Kasayangan jumlahnya sangat sedikit. Karena yang terbanyak ke Belanda dari Indonesia adalah babu dan jongos. Ada organisasi kecil, sangat kecil. Makin banyak pelajar yang kesana dan kemudian buangan Indische Party, lantas timbul perhimpunan Indonesia. Dengan munculnya Perhimpunan Indonesia itu, pemuda dan buangan ini menemukan tanah air dan nation-nya. Bukan tanah air dan nation yang konkrit tetapi masih fiktif dan ini dinamakan Indonesia. Pada waktu itu nama Indonesia sedang populer. Dipopulerkan oleh Adolf Bastian orang Jerman. Sebetulnya yang menemukan nama ini orang Inggris, tetapi sekarang ini Saya lupa namanya sorry ya!

Disini terdapat kekeliruan, bukan kesalahan. Karena nama Indonesia itu kepulauan Hindia. Bastian menggunakan kata Indonesia itu untuk etnographi. Karena itu pada persiapan kemerdekaan bagaimana wilayah dan penduduk Indonesia. Orang yang waktu ikut perhimpunan Indonesia adalah ras melayu, itu sesuai dengan ajaran Bastian. Jadi Maluku segala tidak masuk Indonesia, tetapi Malaya, Singapura masuk Indonesia. Tetapi ini dibantah oleh grup lain yang mengatakan Indonesia bukan persoalan etnographi, tetapi persoalan kesamaan dalam penjajahan, yaitu wilayah bekas Hindia Belanda, yang terakhir menang. Jadi nama Indonesia masih terbawa[7].

Arti pentingnya mempelajari sejarah bagi Pram adalah untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan dari masa lalu. Dan masa lalu dapat dijadikan pijakan untuk melangkah baik dalam konteks kekinian maupun keakanan. Lebih lanjut, Pram mengatakan bahwa kekacauan yang dialami bangsa Indonesia saat ini disebabkan kurang kesadaran sejarah, “busung lapar sejarah”, sehingga bangsa ini tidak tahu dari mana harus berangkat menata masa depannya. Mudah-mudahan dengan kembali menengok lembaran sejarah – mungkin sudah usang dan sebagian orang bosan – negara Indonesia lebih maju, lebih demokratis dan bisa menuntaskan “revolusi Indonesia”.

 

B.     Rumusan Masalah

Pertanyaan yang ingin penulis kemukakan adalah seperti apa Pramoedya Ananta Toer melihat kembali “Nasionalisme Indonesia”? Penekanan dari “nasionalisme”-nya Pram adalah pembangunan bangsa – nation and character building. Pembangun bangsa berkaitan erat dengan menyelesaikan revolusi Indonesia, seperti yang pernah dicapkan oleh Bung Karno. Karena penulis melihat bahwa karya-karya Pram – baik fiksi maupun non fiksi – semua berkisah tentang nusantara; Indonesia dan proses pembangunannya.

 

C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk menemukan kembali elan (semangat) membangun negara Indonesia. Karena penulis melihat bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang tidak menentu atau kalau boleh dikatakan berada dalam ambang kemerosotan; ancaman disintegrasi, kondisi sosial masyarakat semakin menderita, ekonomi yang tak kunjung membaik, suasana politik yang makin kacau, budaya masyarakat yang semakin konsumtif dan hedonis, penegakan hukum yang setengah-tengah, dan persoalan lain yang jika dipikir-pikir lagi akan membuat kepala pusing. Belum lagi jika melihat tingkah laku para elit pemerintahan dan elit-elit politik yang kelakuan dan omongannya semakin tidak karuan – mereka (elit-elit politik dan pemerintahan) selalu berbicara tentang pentingnya menanamkan kecintaan terhadap bangsa tapi merekalah yang menghacurkan negara ini; menjual kekayaan alam yang dimiliki rakyat ke pemodal asing, “berselingkuh” dengan pemodal internasional, melakukan korupsi, dan sebagainya.

Penulis tidak bermaksud untuk membuat kita semua semakin pesimis dan menerima keadaan – seakan-akan keadaan yang dialami sekarang merupakan kutukan atau tadir dari Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada. Tetapi menganggap kondisi dan keadaan yang dialami sekarang merupakan proses dialektika, proses dinamika yang digerakkan oleh manusia. Dan tentunya kitalah (manusia) yang bisa merubah keadaan kearah yang lebih baik.

Pelabuhan yang coba dituju dari penelitian ini adalah membangun kembali kesadaran untuk menjadi Indonesia dengan berpijak pada jejak langkah proses pembangunannya. Kerinduan terhadap sebuah komunitas yang kita bayangkan bersama – komunitas yang lebih egaliter dan demokratis – menjadi bagian dari pemikiran Pram. Akan tetapi, komunitas yang lebih egaliter dan demokratis bukan hanya banyangan dan khayalan yang lahir dari proses lamunan yang tidak berpijak pada landasan material. Seperti yang dikatakan Max Lane, bahwa Indonesia harus lahir dari sesuatu yang baru, suatu proses dialektika, suatu produk perubahan kualitatif dan kekuatan kriatif revolusi. Gagasan untuk melahirkan kembali Indonesia sebagai suatu proses kreasi baru merupakan hal fundamental dalam pemikiran Pramoedya. Lebih lanjut, Lane mengatakan bahwa pembangunan bangsa adalah suatu proses yang harus dituntaskan melalui perjuangan politik dan revolusi kesadaran. Dan itulah poin penting dari pemikiran Pramoedya[8].

Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik lagi untuk melihat pembangunan bangsa Indonesia – nation and character building -, dari kaca mata seorang sastrawan besar Indonesia – dan salah satu sastrawan besar dunia – yang pernah disingkirkan oleh negeri sendiri, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Karena menurut penulis, banyak konsep yang ditawarkan oleh Pramoedya tentang “nasionalisme Indonesia” yang tidak pernah diperhatikan baik oleh sejarawan, politisi, Indonesianis, maupun elit politik Indonesia.

 

 


[1] Komunitas lama merupakan daerah/ wilayah/ sebuah kelompok masyarakat tradisional sebelum bersatu dalam NKRI

[2] Ir. Soekarno, Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, dalam kumpulan tulisan Di bawah Bendera Revolusi, jilid pertama, edisi ketiga, Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, Djakarta, 1964. Hal 4

[3] Lebih lengkap baca Danial Dhakidae dalam pengantar Komunitas-Komunitas Terbayang, Bedenict Anderson, INSIST & Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001,hal. Xiii.

[4] Pidato Soekarno dalam sidang BPUPKI. Tentang Pidato Soekarno yang diberi judul “Lahirnya Pancasila” selanjutnya baca; Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), 28 Mei-1945-22 Agustus 1945.

[5] Syaukani, Affan Gaffar & Ryaas Rasyid, Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan, Pustaka Pelajar & PUSKAP, Yokyakarta, 2003, hal 27.

[6] Tentang perdebatan bentuk negara – kesatuan dan federasi – dan munculnya tawaran desentralisasi dan ototnomi daerah, lihat lebih lanjut, Syaukani, Affan Gaffar & Ryaas Rasyid, Ibid

[7] Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang Media Kerja Budaya, 14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional. Jaringan Kerja Budaya

[8] Max Lane, Bangsa Yang Belum Selesai; Indonesia, Sebelum dan Sesudah Soeharto, Jakarta: Reform Institute, 2007, hal. XXV

 

Resensi Buku oleh Ibrahim Isa *

MEMBACA BUKU MAY SWAN *MONTMARTRE IN BONDOWOSO“

 “Montmartre In Bondowoso” bukan karya pertama May Swan, yang ditulis dengan latar belakang peristiwa-sejarah di Indonesia dan Tiongkok. Ini salah satu ciri May Swan. Sekaligus menunjukkan identitas penulisnya. Kepedulian dan keterlibatannya dengan Indonesia dan Tiongkok serta pengetahuannya mengenai sejarah Indonesia dan Tiongkok.

Semua itu menjadikannya insan-budaya, seorang sastrawan, yang jarang di dunia ini: Tidak menceburkan diri dalam kegiatan praktis politik. Tetapi menganggap bahwa politik dan kegiatan politik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat manusia. Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan dunia sastra secara umum. Penulis May Swan tidak a-politis, bahkan punya pandangannya sendiri yang ‘independen’ .

May Swan juga tidak “fobi-politik”.  Ini menjadikan karya sastranya a.l. *“Montmartre Di Bondowoso” sebuah novelette yang menarik dan segar. Karena bersumber pada kejadian-kejadian yang merupakan kenyataan dalam kehidupan bermasyarkat.

Hal ini juga tercermin dalam a.l novelnya “Fragrant Deception”, dan “Hidayat”. Dua-duanya dalam dalam bahasa Inggris

Di sinilah kita menyaksikan kekuatan dan keunggulan karya-karya sastra May Swan. Mencerminkan identitasnya sebagai sastrawan Singapura, etnis Tionghoa berasal Indonesia.

“Montmartre di Bondowoso” mengangkat angan-angan ilusioner seorang pemuda Indonesia, Soerono. Ia beristrikan Lee Lin, seorang gadis Indonesia turunan Tionghoa. Suatu ketika Soerono menjadi ‘bosan’ dengan “kehidupan Bohemian”, sebagai migran di Montmartre, Perancis. Soerono rindu masa lampaunya. Percobaannya juga gagal menemukan “kembali” identitasnya sebagai orang Jawa Indonesia yang ‘pulang kampung’. Karena kenang-kenangan kehidupan ‘masa lampau’ telah tiada. Perubahan besar
melanda kehidupan nyaman dan damai di Bondosowo. Termasuk suasana ‘trauma’ di mana masih gentayangan syaitan-iblis sekitar kekejaman dan kebiadaban periode

“Tragedi Nasional 1965”.

Problim sosial yang dihadapi Soerono bertambah rumit karena ulah ‘pribadi’ -nya. Soerono terlibat dan tenggelam dalam berpacaran dengan seorang gadis temannya dulu di Indonesia.

Tidak ada satupun ‘soal-soal’ yang dihadapinya yang bisa ia temukan solusinya. Kembali lagi ke Montmartre untuk bergabung dengan isrinya dan memboyongnya ‘pulang kampung’, juga gagal. Karena Lee Lin, akhirnya mengetahui bahwa, — ketika ke Indonesia, suaminya melakukan hubungan rahasia dengan gadis Indonesia.

Demikianlah masalah-masalah yang dihadapi Surono yang tak bisa dipecahkannya. Dan, Lee Lin sudah tidak mau lagi.

Barangkali inti masalahnya, adalah ini: —Soerono gagal mempertahankan identitasnya sebagai manusia Indonesia, yang mampu berintegrasi dengan masyrakat-bangsa setempat, Ia juga gagal dalam mengabadikan perkawinannya dengan Lee Lin. Karena tenggelam dalam pandangan dan teori-teorinya sendiri sekitar lembaga tertua di dunia ini: PERKAWINAN dan CINTA.

Singkat kata, karya May Swan: “Montmartre Di Bondowoso, menarik dan lancar, tidak ngambang atau melayang-layang, lagipula bukan fiksi semata.

Ini, menjadikan May Swan seorang sastrawan Singapura berlatar belakang Tionghoa dan Indonesia.YANG UNIK!. Mungkin May Swan adalah satu-satunya penulis Singapura yang beridentitas demikian itu.

Lain dari yang lain – tetapi juga suatu keunggulan yang barangkali tak ada duanya di Singapura.

Di karya manapun, dalam bahasa Inggris atau Indonesia, — cerita yang lahir dari buah tangan May Swan, selalu lancar, silih berganti secara harmonis antara suasana sekitar yang rinci dengan dialog yang tidak menjemukan.

Menarik karena kelancaannya itu, disebabkan oleh penguasaannya mengenai tema dan latar belakang kejadian.***

——
Keterangan:

*) Ibrahim Isa, publisis, mantan editor majalah “AFRO-ASIAN MAGAZINE”,yang terbit berbahasa Inggris, Perancis dan Arab, tahun 1960-an,di Cairo. Sejak pasca Suharto, telah mengadakan berkali-kali interview, bicara dalam ceramah dan seminar, serta  menulis sekitar 2000 essai dan komentar mengenai situasi Indonesia dan mancanegara.Menerbitkan dua buah buku di Jakarta: “SUARA SEORANG EKSIL (2001) dan ”BUI TANPA JERUJI BESI” (2011). Tulisan ini dikirim langsung penulisnya yang sekarng bermukim di Negeri Belanda  kepada Sahewan Panarung Radar Sampit. Buku yang diresensinya ini akan dibedah akhir Februari 2012 di Singupara. Kusni Sulang sebagai pembantu SP Radar Sampit diminta berprtisipasi degan mengirimkan bahasannya.***

Sahewan Panarung Harian Radar Sampit

SAHEWAN PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
Tajuk Panarung Kusni Sulang
MENULIS SEJARAH KABUPATEN
‘’Identitas budaya itu terdiri atas aspek-aspek:moralitas (yang sebaiknya didasari oleh kejujurn), semangat hidup (yang sebaiknya didukung oleh kemampuan kerja), kesadaran budaya, kesadaran sejarah, dan citarasa (yang sebaiknya ‘’tinggi’’) dalam seni dan pergaulan …..Komponen yang penting bagi identitas suatu bangsa, tapi sering dilupakan adalah kesadaran sejarah’’, demikian tulis Edi Sedyawati,  mantan Governor untuk Indonesia pada Asia-Europe Foundation, ketika mengantar buku ‘’Ke-Indonesia-an Dalam Budaya ‘’  (Buku 2, Penerbit Wedatama Widya Sastra, Jakarta, 2008, 316, hlm). Klu Edi mengetengahkan arti penting sejarah dalam pembentukan identitas budaya, George McT.Kahin, melihat arti sejarah dalam mengenal permasalahan-permasalahan bangsa atau etnik, bagaimana pada masa lalu memecahkan permasalahan tersebut, kegagalan, kelemahan, keberhasilan  dan keunggulan para pendahulu dalam menangani soal-soal zaman mereka (Soedjatmoko et al, ed., ‘’Historiografi Indonesia. Sebuah Pengantar’’, PT.gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1995, hlm.xviii). Kahin sebagaimana halnya dengan Kelompok Sejarawan Annales, Paris, memandang sejarah sebagai kesatuan saling pengaruh-mempengaruhi antara masa silam, hari ini dan esok. Tidak jauh berbeda dengan pandangan tersebut, Dr.Anhar Gonggong ketika memberi Kata Pegantar pada buku Sejarah Kalteng yang disusun oleh Prof.Dr. Ahim S. Rusan et.al. menulis: ‘’Yang jeas sejarah dan masa lampau bukan dua hal yang sama. Dalam artiya yang paling luas, apa yang kita maksudkan dengan istilah sejarah bukanlah masa lampau, melainkan proses pemikiran(atau hasil daripada proses itu, seperti pemunculannya  di atas kertas, film da, sebagainya) sehingga masa lampau itu dapat kita pahami. Ditinjau secara demikian ini, maka sejarah merupakan tafsiran suatu upaya pemikiran manusia dega kekuatan dan kelemahannya.Masa lampau itu tidak bisa dihidupkan kembali, tetapi sejrah –sebagai proses pemikiran yang digunakan manusia untuk mengerti dirinya dalam kerangka waktu – sama sekali tidak bisa dimatikan’’  (Prof. Dr. Ahim Rusan et.al, 2006:x). Mengenal sendiri inilah yang menjadi kata kunci mengapa sejarah niscaya dipelajari, Tapi malangnya seperti kata Dr.Edi Satyawati, sejarah sebagai ‘’komponen yang penting  bagi identitas suatu bangsa’’ dan untuk mengenal diri sendiri ini ‘’sering dilupakan’’. Apabila komponen-komponen penting ini ‘’sering dilupakan’’, bagaimana mungkin identitas terbentuk. Bangsa atau etnik demikian akan menjadi bangsa atau etnik yang ‘’kleyang-kleyang tanpa cantelan’’ meminjam istilah Bung Karno. Melihat keadaan Kalteng sekarang, barangkali provinsi ini termasuk kategori yang ‘’kleyang-kleyang tanpa cntelan’’, walaupun masih mujur masih ada sejarah Kalteng yang telah ditulis  kendati masih bersifat kompromis. Untuk mengambil satu contoh saja: Berapa banyak Uluh Kalteng yang tahu tentang apa-siapa Tambun-Bungai yang diucapkan hampir oleh banyak bibir dari berbagai lapisan masyarakat? Orang tanpa cantelan  gampang menjadi  yang disebut Frantz Fanon, sosiolog dan psikiater Martinique, ‘’berkulit hitam bertameng putih’’ . Gejala mentalitas yang oleh pakar koloialisme Homi Bhabha ‘’mimikri’’, sikap suka meniru bekas penjajah seperti mengecat rambut menjadi pirang dan memutihkan kuit dengan white cleansing (in: Budi Darmo, Kompas, 30 Juni 2011).
Pentingnya sejarah lokal yang secara nasional masih diremehkan, terletak pada posisinya seperti dikatakan oleh Buchari, arkeolog pada Dinas Purbakala, Jakarta, ‘’merupakan sumber informasi sejarah’’, gudang informasi sejarah kaya raya yang dibengkalaikan dalam upaya meyusun sejarah yang Indonesia Sentris.  Penyusunan sejarah lokal  agar lebih representatif, seniscayanya dilakukan secara berjenjang. Sejarah kabupaten disusun berdasarka gudang informasi dari kecamatan-kecamatan. Sejarah provinsi disusun berdsrkan sejarah kabupaten-kabupaten. Sejarah Indonesia ditulis berdasarkan sejarah provinsi-provinsi sehingga tidak lagi bersifat sejarah Indonesia yang Jawa Sentris, tapi benar-benar Indonesia Sentris. Untuk ini bahan-bahan kolonial patut diperiksa ulang, sebab sejarah lokal atau nasional yang ditulis oleh pihak kolonial , suka atau tidak suka akan berbau koonial kalau sejarah merupakan tafsiran data, seperti dikatakan oleh Anhar Gonggong.
Apabila sepakat tentang arti penting sejarah seperti diuraikan di atas, pertanyaan berikut:Seberapa banyak kabupaten yang telah menulis sejarah kabupaten masing-masing? Yang paling akhir menulisnya adalah kabupaten Seruyan yaitu pada Maret-Juni 2011 lalu.  Sedangkan sejarah Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kapuas telah ditulis hampir sepuluhan tahun silam sehingga barangkali patut diaktualisasikan. Apabila sejarah kabupten/kota tidak ditulis, bagaimana warga kabupaten/kota bisa mengenal diri sendiri, apa yang diajarkan dalam mata pelajaran mulok? Apa sumbangan kabupaten untuk penyusunan sejrah nasional yang Indonesia Sentris? Apa yang dikatakan memberdayakan dan membangun, pertama-tama adalah membangun manusia. Karena pemberdayaan dan pembngunan niscayanya oleh, dari dan untuk manusia. Saya khawatir pembangunan manusia ini kurang diindahkan oleh sibuknya mendidik para tukang, koeli elite. Catatan ini hanya untuk menarik perhatian pemerintah-pemerintah daerah terhadap masalah yang sekarang masih diabaikan.***
Kusni Sulang, anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah Palangka Raya.
Sansana PANARUNG
GENTA
Oleh: Guillaume APPOLINAIRE
Jipsiku yang tampan buah hatiku sayang
Dengarkanlah gentang yang berdentang
Sedangkan kita berdua saling menyayang
Kepercayaan adalah urusan orang-seorang
Tapi pesembunyian kita tak padan, malangnya
Genta-genta yang meronda
Dari ketinggiannya memandang kita
Dan menuturkan kepada semua
Besok Cyprien dan Henri
Marie Ursula dan Catherine
Tukang roti dan suaminya
Lalu Gertrude saudara kandungku
Menyenyumiku kala kulalu
Menaruh muka aku tak tahu
Dan kaupun jauh yang membuatku tersedu
Boleh jadi mati lebih baik bagiku
(Dari kusanjak Alkohol)
Sumber: Jean-Marc Debenetti, “La Poesie Moderniste”
France Loisirs, Paris 1992.
Alihbasa: JJ. KUSNI
SAH
 
/ :Zalaman
kepapaan mensahkan kebangkitan
peluru polisi dan serdadu
mensahkan pemberontakan
tanda cinta bertaruhkan kepala
sadumuk batok senyari bumi
tanah dibela hingga mati
ala icé ala dué ala télu *)
di sini penjarah tak boleh lalu
Hampalit, 2012
 
Keterangan :
*). ala icé ala dué ala télu, kata-kata dalam bahasa Dayak Katingan memulai upacara menabur beras kuning, merah dan garam berabu mendahului suatu pekerjaan penting seperti peperangan, dan lain-lain.
CERPEN Herlely Septro *
Si Kecil Berharga
 
Namaku Iyem. Sudah lima tahun aku bekerja menjadi pengasuh di rumah Pak Diman. Pak Diman mempunyai anak tunggal yang bernama Rico. Sudah lama ia menjadi duda karena istri tercintanya sudah lama tiada sejak melahirkan anak pertama mereka Riko. Pak Diman seorang bos di sebuah kantor pemerintahan. Mereka hanya hidup berdua di rumah besar yang mewah. Fasilitas yang dimiliki pun berlimpah.
Sejak Rico lahir, akulah yang mengasuhnya. Anak kecil yang lucu dengan tubuh yang gendut. Sayangnya dari kecil, ia sudah ditinggal ibunya. Hanya sang ayah yang ia punya. Setiap ayahnya sibuk bekerja, aku yang mengasuh anak semata wayangnya ini. Aku menyayangi Rico, sama seperti anakku sendiri. Walau aku sudah lama meninggalkan anak-anakku pergi merantau untuk bekerja di luar kota.
“Kring… kring…!” suara telepon rumah berdering.
Hallo… Selamat siang. Ini siapa ya?” ucapku saat mengangkat telepon.
“Ini Pak Diman, apa Rico sudah makan, Sus?” ungkapnya.
“Oh, sudah baru saja, Pak, ini Den Rico juga lagi tidur siang, Pak!” jawabku.
“Oh, begitu ya, tolong jaga Rico dengan baik ya, Sus!” ucapnya.
“Baik, Pak!” sahutku. Pak Diman sangat menyayangi anaknya. Bahkan sering sekali menelepon untuk menanyakan kabar anaknya bila sedang bekerja di kantor. Ia sangat bertanggung jawab juga perhatian pada anaknya. Sejak ditinggal istrinya, ia tidak pernah berpikir untuk menikah lagi.
Tidak lama kemudian, suara tangis terdengar nyaring. Rico, si kecil menangis dengan begitu histeris. Aku pun mulai panik dan berusaha untuk menenangkan si kecil, tapi tetap saja tidak berhenti menangis. Badannya kurasa panas sekali. Memang belakangan hari ini Rico sering sakit-sakitan. Alangkah terkejutnya aku, Rico yang tadinya tidak mau berhenti menangis, terbaring lemas, tak bersuara dan juga tidak bernapas lagi. Aku pegang jantungnya sudah tak berdetak. Aku tersungkur dan hanya bisa menangisi tubuhnya yang sudah terbujur kaku dengan wajah pucat. Aku pun berlari, pergi dari kamar dan segera menghubungi Pak Diman.
Hallo… Pak!” ucapku sambil menangis.
“Ya, ada apa, Sus?” jawabnya.
“Den… Den… Den Rico… Pak,!” ujarku.
“Iya, ada apa dengan anakku, Sus?” ucap Pak Diman panik.
“Den Rico, sudah tak bernapas lagi, Pak!” ungkapku dengan isak tangis.
“Apa…!” sahut Pak Diman. Pembicaraan kami tiba-tiba terputus begitu saja. Aku bertambah panik. Aku pun berlari keluar rumah sambil berteriak minta tolong. Dengan singgap warga pun datang dan membantu tapi sayangnya nyawa si kecil tidak dapat tertolong. Aku dengar suara telepon rumah berdering. Betapa kagetnya aku mendengar kabar yang disampaikan. Pak Diman juga sudah tak benyawa lagi karena serangan jantung setelah mendengar kabar anaknya tadi. Rasa bersalah, sedih, bingung, panik yang kurasakan, tapi apalah daya semua telah terjadi.
Tiga hari kemudian, harta yang dimiliki Pak Diman semuanya untuk sementara dalam pengawasan pemerintah. Saat itu aku meminta izin pada seorang petugas untuk satu permohonan, agar dapat membawa pulang satu foto yang tergantung di dinding. Foto Rico, si kecil yang kuambil dan kubawa pulang. Ketika aku hendak membersihkan foto itu, kulihat ada selembar kertas yang tersisip di belakang fotonya. Lalu kubaca.
“Barangsiapa yang memiliki foto ini, semua harta yang kumiliki akan menjadi miliknya.”
Alangkah kagetnya aku. Ternyata selembar kertas itu adalah kertas warisan yang sudah lama disimpan Pak Diman. Aku pun menangis bahagia.
* Mahasiswa Universitas Palangka Raya (Unpar).
Kritik &Apresiasi
HEDONISTIK
Oleh Andriani S. Kusni
 
Mahsiswa-mahasiswi FKIP- PNSI Universitas Palangka Raya (Unpar), atas dorongan Dosen Pembimbing Utama Lukman Hakim Siregar, setiap tahun membanjiri media massa cetak Klteng dengan berbagai genre karya sastra.  Dua tahun silam, mereka membnjirka puisi, sedangkan tahun lalu membnjirkan cerpen atau yang dianggap cerpen krena sebenarnya lebih mendekti reportase sastrawi. Salah satu cerpen yang dibanjirkan itu adalah “Si Kecil Berharga”, karya Herlely Septro.
Dibandingkan dengan cerpen-cerpen PBSI lain,   yang umumnya bertema spele dan terkadang autosentrik, tentang cinta (seperti anak puber), cerpen Herlely Septro mempunyai alur cerita yang jelas, konflik, plot (klimak-anti klimaks) dan solusi (hal yang tidak mutlak).. Seperti dikatakan oleh Gustave Flaubert penulis roman Madame Bovary, karya seni selain cerminan masyrakat dan zaman, juga cermin dari diri penulis. Dari karyanya , pembca yang berdaulat bisa melihat pandangan hidup dan sikap penulis terhadap masalah yang diangkat. Demikian juga dari cerita Si Kecil Berharga karya Herlely.
Pandangan hidup Herlely dilukiskannya dalam kalimat penutup cerita: Alangkah kagetnya aku. Ternyata selembar kertas itu adalah kertas warisan yang sudah lama disimpan Pak Diman. Aku pun menangis bahagia’’.Secara tekhnis penulisan, kalimat terakhir ini menghentikan cerita pada klimak dan Herlely tidak menurunkannya ke anti klimak. Tekhnik lain yang sering digunakan oleh para penulis cerita,termasuk skenario film yaitu menyisakan pertanyaan untuk kemudian direnungkan oleh pembaca, pemirsa dan atau penonton.  Penulis tidak mendiktekan solusi permasalahan. Herlely dengan ceritanya, tidak membirkan pembacanya berpikir tapi mengungkapkan kegirangannya  karena mendapat wasiat secra kebetulan dari Pak Diman, ayah si kecil Rico yang meninggal tiba-tiba tanpa jelas sebbnya. Rasa girang Iyem melebihi rasa sedihnya oleh kematian  Rico. Menerapkan pendapat Gustave Flaubert di atas, maka bisa dikatakan bahwa sikap Iyem sebenarnya tidak lain dari pandangan dan sikap Herlely tentang manusia dan benda. Herlely memilih kebenedaan daripada hubungan dengan manusia.Tangis sedih Iyem berubah menjadi “tangis bahagia”. Pandangan hedonistik begini juga yang dianut oleh Testi Priscilla, juga mahsiswa FKIP-PBSI Unpar , dalam ceritanya “Suami Atau Sukses”. Tokoh Testi mersa sukses ketika ia menjadi pembimbing mahasiswa, status yng tidak lain dari PNS. PNS dijadikan ukuran sukses yang dalam masyarakat Kalteng disebut “menjadi orang”. Status PNS yang juga ujung-ujungnya adalah duit.Materi. Bahagia-tidaknya, sukses-ggalnya kehidupan diukur dengan duit. Karena ukuran hedonistic begini merupakan ukuran umum dalam masyarakat Kalteng hari ini, maka dari segi substansi, cerita-cerita dan puisi-puisi anak-anak PBSI bisa dikatakan  sebagaicerminan zaman yang hedonistik dan konsumtif.  Mereka adalah anak-anak dari angkatan yag tertawan  oleh hedonisme dan konsumerisme, yang dewasa ini memang dominan. Oleh tertawannnya angkatan ini maka dari mereka tidak bisa diharapkan upaya berdiri selangkah di depan masyarakat jika mengikuti pandangan Pramoedya A. Toer. Dari mereka tidak ada pemberontakan intelektualitas dan spiritualitas. Dari angkatan tertawan begini bisakah Kalteng berharap banyak untuk Kalteng Bermutu dan maju melesat? Karya-karya anak-anak PBSI ini sekali lagi memperlihatkan bahwa masalahterpokok Kalteng untuk bisa maju melesat dan bermutu adalah pola pikir dan mentalitas manusia. Membangun manusia bermutu adalah masalah utama pendidikan. **
 
Wawancara Dengan
Lukman Hakim Siregar
Bapak Teater Modern Kalteng
Berbicara tentang teater “modern” dan sastra berbahasa Indonesia di Kalteng, salah satu nama yang mesti disebut adalah nama Lukman Hakim Siregar. Dosen FKIP Jurusan Sastra dn Bahasa Indoesia Uiversitas Palangka Raya,  merupakan pembimbing utama para mahasiswa jurusan dalam berkesenian terutama menggeluti teater dan sastra. Saban tahun sarjana seni yang sangat mencintai bidang teater dan sastra, mantan pemandu Ruang Opini TVRI Kalteng ini, mewajibkan para anak asuhnya berteater dan  bersastra. Sehingga saban tahun juga media massa cetak Kalteng dibanjiri oleh karya-karya anak didik Lukman.  Saban tahun pula FKIP mementaskan beberapa naskah drama  sekaligus yang membuat kehidupan berteater terus berlanjut digerakkan dan ditopang oleh  anakasuh-anakasuh Lukman. Sayangya kegiatan-kegiatan mereka kurang bergaung karena kurng diliput. Tahun 2012, mereka mementaskan 6 karya drama antara lain karya Rendra, Adjim Nuryadi,  Setelah anakasuh-anakasuh ini meyelesaikan kuliah, bekerja sebagai guru atau tempt-tempat lain, mereka melanjutkan kegiatan dengan mendirikan grup-grup teter di tempt-tempat mereka bekerja, terutama di sekolah-sekolah. Komunitas Teater Tunas dan Bianglala adalah komunitas-komunitas yang didirikan oleh anakasuh-anakasuh Lukman Siregar. Kecuali itu anakasuh Lukman ini bergabung di Komunitas-Komunitas seperti Srikandi dan  Terapung. Tanpa mereka, barangkali Kalteng tidak mengenal kegiatan drama “modern”, sementara kegiatan teater lokal tidak berkembang. Karena itu tidak berkelebihan mengatakan jika Lukman Siregar adalah Bapak Teater Modern Kalteng. Lukman melalui Unpar sebagai institusi formal, yang kemudian diperkuat oleh Dafy, yang mecetak dan mengembangkan kder-kader teater Kalteng. Kegiatan dan upaya yang tumbuh dari bawah yang kemudian tampil mewakili Kalteng di mna-mana.
Pda kesempatan menyaksikan pentas 23-25 Januari 2012 di Gedung Pertunjukan Unpar, SP Radar Sampit, mencri peluang berbincang  dengan Lukman di tengah kesibukannya menilai pentas anakasuhnya.
Tnya (T) “Bagaimana Pak Lukman menilai kegiatan tahun ini?”
Jawab (J): Bagi yang sudah mempunyai pengalaman,  ada kemajuan. Sedangkan yang baru, tentu saja banyak kekurangan”.
T: Bagaimana perspektif kegiatan berteater ini?
J: Berljut. Setelah mereka selesai kuliah , di tempat-tempat mereka mengajar, karena umumnya mereka menjadi guru, membangun komunitas-komunitas di tempat-tempat kerja mereka. Yang tidak menjdi guru, bergbung denga komunitas-komunitas teater yang ada di Plngka Raya.(Pak Lukman menyebut beberapa nama dan memperkenalkan SP Radar Sampit dengan beberapa guru mantan anakasuhnya).
T: Bagaimana tentang peingkatan mutu karya mereka?
J:Setelah mereka meinggalkan bangku kuliah,  masalah ini menjadi tnggungjawab mereka masing-masing. Tapi saya selalu menerima mereka dengan senng hati untuk berkonsultasi. Mengenai cerpen-cerpen tahun ini, banyak di antaranya dikirim ke media massa tanpa berkonsultasi dengan saya. Saya juga meganjurkan mereka mengirimkan tulisan-tulisan mereka ke Ruang Budaya Radar Sampit sesuai harapan Pak Kusni.
T: Ya, kami sudah terima. Tapi tidak sempat kami terbitkan semua karena Ruang Budaya itu terbit seminggu sekali, ruangnya pun terbatas. Dari semua yang kami terima, sya melihat ada genre baru yaitu genre reportse sastrawi seperti yang dilakukan oleh Kristine Yunita. Pak Lukman tentu bisa berperan dalam mendorong pengembangan genre ini. Misalnya mulai tahun depan.
J: Usul bagus, Pak Kusni.
T:Jika di antara sekian banyak anakasuh Pak Lukman yang sekarang bersastra, terdapat  tiga orang saja yang terus mengembangkan diri jadi sastrawan atau penulis, saya kira jumlah demikian, sudah merupakan hasil besar, walau pun Kalteng memerlukan penulis lebih banyak lagi.
Setelah mengucapkan terimakasih atas kehangatan yang selalu menjawab pertanyan-pertanyaan, saya membiarkan Pak Lukman meneruskan pekerjaan menilai kegiatan anakasuhnya. Ruang  pertunjukan senyap ketika pementasan karya Rendra “Mawar Merah Semerah Darah” dimulai.***
 

KESADARAN BUDAYA & SEJARAH

SAHEWAN PANARUNG

Ruang Budaya Harian Radar Sampit

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
Tajuk Panarung Kusni Sulang
 
KESADARAN BUDAYA & SEJARAH
Kebudayaan adalah jawaban tanggap suatu generasi terhadap tantangan zamannya. Dalam  proses menjawab  zaman ini maka generasi itu menuliskan sejarahnya. Dari sudutu padang demikian maka tidak ada etnik dan bangsa yang tidak mempuyai budaya dan sejarah. Oleh karena itu pandangan terhadap sejarah pun mengalami perubahan. Pada periode tertentu para sejarawan memandang bahwa yang disebut sejarah apabila ada bukti tertulis. Tanpa ada peninggalan tertulis dipandang etnik tau bangsa itu tidak mempunyai sejarah. Berhadapan dengan kenyataan  bahwa tidak semua etnik dan bangsa mempunyai aksara, dan mencatat budaya serta sejarahnya dalam budaya dan sejarah lisan, maka  aliran baru sejarawan muncul. Aliran baru ini  mislnya Aliran Annale Paris yang mempunyai pengaruh dunia, memasukkan legenda, foklor, cerita rakyat, sastra lisan sebagai pengantar menyelami  sejarah suatu etnik dan  atau bangsa.
Tiap angkatan melahirkan dan mengembangkan budaya dan sejarahnya sendiri berangkat dari budaya dan sejarah angkatan sebelumnya sebagai sangu dasar. Sangu dasar ini ia peroleh dari keluarga, lingkungan, sekolah, buku-buku, arsip dan dokumen. Mengabaikan sangu dasar ini akan membuatnya lepas akar, menyulitkan seseorang memberikan jawaban tanggap terhadap zamannya. Bahasa, dalam hal ini, merupakan lumbung kekayaan budaya dan sejarah. Sikap yang memperhitungkan  secara sadar arti penting pelestarian  dan transfer sistematik sangu dasar budaya dan sejarah ini disebut kesadaran budaya dan sejarah. UU No.5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya ,UU No. 10 Tahun 1993 dan UU No. 064 Tahun 1995 menunjukkan arti penting kesadaran budaya dan sejarah demikian.
Apakah UU-UU ini yang merupakan konkretaritasi UUD 1945 di bidang kebudayaan sudah dilakukan semestinya di Kalteng? Jawabnnya dengan sederhana dan  gamblang diberikan oleh tidak terurusnya Rujab Gubernur Tjilik Riwut di Jalan Jendral Surdirman No.1 Palangka Raya,  keadaan Pasanggarahan Provinsi di Jalan Jendral A.Yani yang selain tidak terawat bahkan terdengar berita akan dijual ke pihak swasta, tidak terawatnya Monumen–monumen  Tjilik Riwut di beberapa tempat antara lain di Katingan seperti halnya dengan Cagar Budaya Pambak Rindoi, tidak diindahkannya Mesjid tertua dekat Pelabuhan Rambang di Palangka Raya, penjualan dan penghilangan nisan-nisan Kuburan Kaharingan tertua di Palangka Raya yang terletak Jalan Halmahera berhadapan dengan kuburan Muslim yag tidak terurus, situs Sandung Sukah juga masih tidak terurus seklipun dana dari APBN untuk itu sudah tersedia. Perlakuan sama juga dialami oleh tempat bersejarah Bahu Palawa yang tak jauh dari Palangka Raya. Masih banyak rincian lainnya yang jika disebut satu persatu akan merupakan deretan panjang, tapi semuanya mengatakan hal sama yaitu lemahnya kesadaran sejarah dan budaya di  Kalteng ini. Kesadaran yang lemah tidak jauh berbeda dari ketidaktahuan dan kekosongan kepala. Bisakah degan kekosongan dan ketidaktahuan kemauan baik membawa Kalteng melesat maju akan terwujud? Ataukah gerbang besar terbuka ketidaksadaran berlari ke belakang, arah berlawanan dari tuntutan zaman yang menginginkan Kalteng Bermutu?**
Sansana PANARUNG
DI ATAS KUBURAN DAYAK
/: Enos Asong
di atas motor kencang memburu angin  entah di penjuru mana
usai berkaraoke — nama baru bagi daerah lampu merah
tubuh bau sperma dan narkoba ;para pemuda kotaku
membayangkan diri di eropa dan amerika
lambang kemajuan zaman dan modernitas patut ditiru
di bekas roda motor mereka kudapatkan tetesan darah
darah kampungku terjepit;darah itu berhamburan
pada debu-debu  isyarat dekatnya kematian
tanda negeriku kehilangan satu angkatan
mengidap penyakit mendasawarsa
modernitas hari ini lebih mengancam dari hiv
membius kesadaran mendapatkan remah-remah kolusi
tanah tambun-bungai tak obah sebatang sungai
di permukaannya mengapung jiwa-jiwa membangkai
hijau-hijau daun kebun
hitam mengkilat gunung batubara
hijau dan hitam di kuburan dayak
merentang ke cakrawala
hijau dan hitam hutan duka
Tumbang Lahang, 2012
MENYANYIKAN BULAN DI GUNUNG EMEI

/: Li Bai

Di gunung Emei (1) bulan bundar terbelah dua
Wajahmu membayang di air sungai Pingqiang
Malam ini aku meninggalkan Qingxi (2)  pergi ke Tiga Jurang
Menuju Yuzhou (3) kernanya kukira kita tak lagi bisa bersua

Catatan:
(1). Gunung Emei terletak di Propinsi Sichuan, di baratlautnya mengalir sungai Pingqiang.
(2). Qingxi, nama lama sebuah tempat persinggahan di dekat Gunung Emei.
(3). Yuzhou , sekarang berganti nama ;enjadi Congqing.
Alihbahsa Kusni Sulang
 
 
Reportase Sastrawi Kristine Yulita
SMA Terfavorit
Oleh : Kristine Yulita *
Salah sebuah SMA di kota Palangkaraya yang tengah menanjak popularitasnya saat ini adalah SMA Negeri 4 Palangkaraya. Pada beberapa tahun yang lalu. SMA tersebut mendapat julukan SMA kalakai Smakai karena letaknya terdapat banyak ditumbuhi tanaman kalakai (tanaman paku-pakuan).
Kalakai adalah salah satu jenis tumbuhan paku-pakuan yang biasa dikonsumsi sebagai sayur oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Siswa-siswa yang bersekolah di sana sering mendapat ejekan sebagai murid SMA ulew (uluh léwu, orang kampung, kampungan), tempat siswa baru yang tidak diterima sekolah pilihannya, dan tempat siswa pindahan yang kebanyakan bermasalah di sekolah lamanya. Tadinya, SMA tersebut terkenal sebagai sekolah anak nakal, sehingga mendapat predikat buruk. Sekolah itu sering terdengar kasus tawuran antar sekolah, dan pernah terdengar juga kasus pemerkosaan yang melibatkan siswi sekolah tersebut sebagai korban. Sehingga pandangan masyarakat pada sekolah tersebut sangatlah buruk.
Hal itu lebih diperparah lagi oleh banyaknya siswa yang terlibat beberapa tindakan kriminal, bahkan sampai ke ranah hukum. Tingkah dan perilaku siswa-siswi sekolah tersebut juga kurang patut dicontoh. Kebanyakan dari mereka sering sekali terlihat membolos, mengutil, minum minuman keras bahkan berbuat asusila di tempat umum. Keadaan demikian  membuat reputasi dan nama baik SMA tersebut menjadi demikian tercoreng. Pihak sekolah juga seperti tidak acuh atas apa yang dilakukan anak muridnya. Sehingga kelakuan buruk para siswa menjadi kian merajalela. Karena  tindakan yang meresahkan masyarakat tersebut, maka banyak orang tua yang melarang anaknya bergaul dengan siswa sekolah tersebut.
Tapi sejak berada di bawah kepemimpinan Drs. Kampili S.Pd, sebagai kepala sekolah,  SMA Negeri 4 Palangkaraya ini telah mengalami besar yang mengubah citra sekolah tersebut. Misalnya, penerapan  peraturan sekolah yang sangat ketat, kegiatan ekstrakurikuler yang tidak kalah dengan SMA-SMA  lain di kota Palangkaraya. Lama-kelamaan pandangan buruk masyarakat terhadap SMA Negeri 4 Palangkaraya jadi pudar oleh prestasi demi prestasi yang didapatkan oleh para siswa-siswi. Mereka sering mendapat juara dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti di bidang drumband, modelling, basket, sepak bola, dance, dan cheersleader. Selain itu mereka juga telah meraih  perhargaan dalam bidang pendidikan dan seni.
Guru-guru perempuan  di SMA 4 Palangkaraya mempunyai keterampilan tinggi dalam bidang seni, yaitu tari daerah yang sering ditampilkan di depan para pejabat dan bahkan di hadapan Pak Gubernur Kalimantan Tengah  A.Teras Narang, SH.
Guru-guru tersebut  didampingi oleh sanggar seni Antang Batuah yang selama ini yang terkenal sebagai sanggar yang sering mempertunjukkan seni tarian khas Kalimantan Tengah.
Sanggar ini didirikan oleh Thoseng Asang yang telah memberikan sumbangan positif kepada  sekolah SMA Negeri 4 Palangkaraya. Sehingga kegiatan ekstrakurikuler tari daerah di sekolah tersebut kian meningkat. Capaian-capaian ini membuktikan bahwa para murid dan guru, ketika  bersama-sama mampu mencapai prestasi-prestasi yang mengharumkan nama sekolah yang tadinya di pandang dengan sebelah mata oleh masyarakat banyak sehingga dijuluki Smakai.Sehingga sekarang, citra dan reputasi SMA Negeri 4 Palangkaraya sangat jauh berbeda dari  SMA Negeri 4 Palangkaraya yang dahulu, berkat peran kepemimpian  Drs. Kampili S.Pd,  sebagai kepala sekolah.Di bawah  kepemimpinan Drs. Kampili, S.Pd.,  sekarang SMA Negeri 4 Palangkaraya merupan sebuah SMA terbaik.
Gedung sekolah juga mengalami rehabilitasi sehingga gedung-gedung sekolah terlihat lebih modern dibandingkan sebelum direhabilitasi. Capaian-capaian ini menumbuhkan simpati dan empati masyarakat. Oleh empati dan simpati ini SMA Negeri 4 mampu merehab gedung-gedung  sekolahnya Seiring dengan ini,  berbagai fasilitas sekolah pun berkembang. Dari tidak ada menjadi ada lapangan basket, lab komputer, dan lain-lain kemudahan sarana dan prasarana. Perkembangan demikian telah memotivsi para siswa-siswi untuk belajar dan berprestasi, membuat nyaman antara  guru dan murid dalam proses belajar-mengajar. Sudah sepatutnya hal tersebut menjadi teladan untuk  siswa-siswa dan guru-guru di sekolah lain. Diharapkan hal ini dapat terus mengakar di jiwa semua pihak sekolah.
Kemudian oleh prestasi-prestasi di bawah kepemimpinannya di SMA Negeri 4, Drs. Kampili S.Pd, dipindah-tugaskan ke Dinas Pendidikan Palangkaraya. Dengan penunjukan jabatan baru ini, maka tugas sebagai kepala sekolah SMA Negeri 4 Palangkaraya ia lepaskan.
Tapi kepergiannya dari SMA Negeri 4 Palangkaraya tidak membuat ketenaran sekolah memudar, justru sebaliknya semakin harum. Di setiap tahun ajaran baru ada banyak sekali anak-anak lulusan SMP yang  mendaftarkan diri di sekolah tersebut.
Menurut angket yang dilakukan oleh salah sebuah harian terkemuka Palangka Raya,  SMA 4 Palangkaraya menempati urutan teratas sebagai SMA Terfavorit di ibukota Kalimantan Tengah serta mendapatkan akreditasi A. Septutnya, hal begini dijadikan contoh oleh sekolah-sekolah lain, bagaimana sekolah-sekolah mengikuti jejak keberhsilan SMA Negeri 4 Palangkaraya yang pernah untuk suatu waktu tertentu dijuluki Smakai, lalu perlahan-lahan berubah menjadi  SMA Terfavorit. Tapi merubah yang negatif menjadi positif, dari yang buruk menjadi baik, bukanlah seperti durian jatuh, melainkan hasil kerja keras, ulet dan penuh kedisiplinan. Kerja keras tak kenal menyerah, ulet dan penuh disiplin membuat yang tak mungkin menjadi mungkin, mengantar kita ke ufuk kemajuan, sekali pun kemajuan itu adalah gerak tak punya jeda. Faktor yang tidak kalah menentukan  terjadinya perubahan maju ini adalah adanya unsur kepemimpinan dan tim pengajar serta pegelola bermutu yang penuh komitmen , mempunyai orientasi dan tanggung jawab besar. Sebab lebih-lebih di dunia pendidikan, fktor keteladanan menjadi sngat penting. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, ujar para tetua menyimpulkan pengalaman zaman mereka. Pengalaman hanya berarti jika dipahami maknanya.Kalau tidak, maka waktu tidak berarti apa-apa bagi kehidupan.  Hidup bukan “sekali berarti sudah itu mati”, tapi sekali hidup, kesempatan tersedia  jadi percuma. Negeri kita  hari ini negeri miskin teladan. ***
Palangka Raya, 2012.
 
*) Mahasiswi  PBSI-FKIP Universitas Palangka Raya.
Kritik &Apresiasi
MENGEMBANGKAN Reportase  Sastrawi
 
Oleh Andriani S. Kusni
 
Dari sekian banyak mahasiswa-mahasiswi FPIP Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Palangka Raya (Unpar), yang diwajibkan oleh dosen pembimbing utamanya Lukman Hakim Serigar, menulis cerpen,  Kristine Yunita, termasuk dari jumlah yang sangat sedikit, yang menulis genre reportase literer, sekarang disebut reportase  atau jurnlisme sastrawi. Dua tulisan yang dikirim oleh Kristine ke Rubrik Kebudayaan Harian Radar Sampit ini, kedua-duanya berjenis reportase sastrawi. Reportase bergaya sastra. Di Indonesia jenis jurnalisme ini pada masa pemerintahan Soekarno, dikembangkan oleh Penerbit Pembangunan  dan Harian Rakjat. Dalam percakapan dengan Kristine saat bertemu di pementasan 6 drama oleh PBSI 23-25 Januari 2012 lalu, di Gedung Pertunjukan Kampus Unpar, Kristine masih memandang dua karyanya: ‘Investasi Yang Terlambat’ dan ‘SMA Terfavorit’ sebagai cerpen, walau pun sesungguhnya  dua karya tersebut tidak memiliki  ciri-ciri cerpen yang mengandung alur cerita, tokoh, konflik, plot, klimak  dan solusi konflik.
Megetahui benar genre apa yang dipilih sebagai sarana pegungkapan diri,  barangkali perlu, untuk mengetahui batas jangkauan kemampuan tekhnik genre tersebut dan bagaimana kita mengungkapkan hal-ikhwal atau obyek. Untuk keperluan ini perlu kajian padan terhadap genre-genre sastra tersebut. Genre cerpen berbeda dari puisi, novel, roman. Berbeda pula dari genre juralisme sastrawi. Pemilihan genre apa yang digunakan petunjuk apakah seseorang penulis berkarya secara sadar ataukah masih  berada pada tingkat istingtif. Taraf instingtif tidak bisa membedakan genre-genre yang digunakan, tapi dari karya-karya istingtif itu, pembaca yang berdaulat justru bisa melihat di mana potensi penulis pemula itu terdapat. Dengan memilih reportase sastrawi yag didugaya sebagai cerpen, secara tidak sadar Kristine memperlihatkan bahwa potesinya terdapat di genre reportase sastrawi.
Apabila tahun depan, Pak Lukman Siregar mewajibkan anak didiknya menulis reportase sastrawi, barangkali dengan kewajiban ini, Pak Lukman denga PBSInya  menyemai benih bagi berkembangnya barisan jurnalis Kalteng  yang berketerampilan tinggi. Dengan cara ini, Pak Lukman juga mendorong para anak didiknya mengakrabi kehidupan Kalteng di berbagai sektor. Melalui reportase mereka itu kelak diharapkan terungkap hal-hal  yang tidak diungkapkan oleh media massa mainstream, sebagaimana  yang dilakukan oleh Kristine Yunita melalui reportasenya berjudul ‘Investasi Yang Terlambat’ yang mengungkapkan kejanggalan-kejanggalan di dunia kesenian Palangka Raya.  Mengakrabi kehidupan adalah kemutlakan, terutama  bagi orang-orang yang sekelolah (untuk tidak menggunakan istilah cendekiawan). Menjauhnya sekolah dari kehidupan adalah kecenderungan umum hari ini di negeri kita, termasuk di Kalteng. Padahal kehidupan adalah sekolah sangat niscaya. Pengembangan reportase sastrawi bentuk kongkret pengbdian sosial dari sekolah-sekolah, terutama pendidikan tinggi yang mempunyai Tri Darma Perguruan Tinggi dengan Kuliah Kerja Nyata-nya. ***
 
Berita Budaya

Tradisi menulis lebih rendah dari minat membaca

Bandung (ANTARA News)- Kepala Balai Bahasa Bandung, Abdul Khak menuturkan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan anak muda.
“Minat membaca saja sebenarnya masih rendah. Bayangkan, minat menulis justru berada di bawah minat membaca. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan,” kata Abdul Khak ketika dihubungi di Bandung, Rabu.
Abdul menerangkan, rendahnya tradisi menulis ini akibat rendahnya minat membaca.
“Kedua kegiatan ini saling mempengaruhi. Membaca itu referensi untuk menulis. Bagaimana bisa seseorang menulis jika tidak suka membaca,” terangnya.
Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi keduanya juga terletak dari proses kegiatannya. Abdul menuturkan, membaca termasuk kegiatan yang pasif dan bisa dilakukan di mana saja. Berbeda dengan menulis yang termasuk kegiatan aktif.
“Kalau menulis itu orang butuh energi yang lebih ketimbang membaca karena kegiatan aktif. Kalau membaca bisa dilakukan di mana saja, bisa di rumah sambil santai atau dalam angkutan umum ketika dalam perjalanan,” katanya.
Saat ini, kata Abdul, banyak dosen-dosen di sejumlah perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri yang mengeluhkan kualitas tulisan mahasiswa.
“Kualitas dan kemampuan menulis mahasiswa saat ini cenderung rendah. Ini juga membuktikan bahwa, minat membaca mahasiswa sekalipun rendah,” lanjutnya (http://www.antaranews.com /berita/286090/tradisi-menulis-lebih-rendah-dari-minat-membaca? Rabu, 23 November 2011 10:06 WIB).
 
.

SAHEWAN PANARUNG RADAR SAMPIT:PEMBAURAN DAN POLITIK DEMOGRAFI

SAHEWAN PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
Tajuk Panarung Kusni Sulang
 
PEMBAURAN DAN POLITIK DEMOGRAFI
Dalam acara merayakan Tahun Baru Tionghoa (Cun Cié), media massa menyiarkan laporan-laporan kegiatan etnik Tionghoa, salah satu etnik yang terdapat di negeri ini,  dalam  merayakannya. TV One mewawancarai salah seorang warga etnik Tionghoa di Surabaya yang sedang berkumpul: “Apakah Anda bisa berbahasa Mandarin (Phutong Hoa)? Dijawab “Tidak”. “Lalu dalam bahasa apa kalian berkomunikasi?”  lanjut wartawan “Bahasa Surabayanan”, jawab warga tersebut. Sedangkan di Jawa Tengah,  smpai di keluarga-keluarga, warga etnis Tionghoa ini menggunakan bahasa Jawa. Dalam bidang kesenian, di samping memelihara wayang Potehi, juga aktif memelihara dan mengembangkan seni wayang. Yang ingin saya garis bawahi dengan sekelumit kecil contoh ini adalah pentingnya masalah pembauran alami antar etnik. Dan pembauran alami begini berlangsung tanpa peraturan tetapi terjadi oleh keniscayaan hidup bersama. Melalui pembauran alami, rasa kebersamaan  tumbuh secara alami pula. Kebudayaan baru yang menjadi perekat kebersamaan itu, tanpa menggunakan dasar teori apa pun,   mungkin lahir dan berkembang. Praktek pembauran alami demikian akan melahirkan teorinya sendiri. Pihak pengelola kekuasaan, barangkali patut mengenal budaya kelompok-kelompok warganya untuk mendorong lebih lanjut pembauran alami tersebut. Sehingga keragaman benar-benar merupakan rahmat dan suatu kekayaan bagi upaya membentuk kehidupan manusia yang manusiawi. Dengan pengenalan akan keadaan dan budaya kemompok-kelompok etnik di suatu daerah, pengelola kekuasaan bisa merumuskan suatu politik kependudukan yang republikan dan berkeindonesiaan, tidak membiarkan, apalagi melakukan politik kependudukan yang memojokkan kelompok etnik lokal. Gejala pemojokan kelompok etnik lokal ini terdapat hari ini dalam bentuk politik keluarga berencana yang disamaratakan, politik transmigrasi, kemudian pilkada lngsung ketika terjadi  perobahan komposisi demografis. Sehingga keragaman bukan menjadi rahmat dan kekayaan bangsa dan daerah tapi menjadi ancaman. Apabila politik demografi seperti sekarang tidak menjadi perhatian, ia akan menebar bara ke tengah  tumpukan sekam. Bermula dari politik kependudukan beginilah maka ghettoisme budaya  dan budaya politik ghetoistik berkembang, dipelihara dan pada saat-saat tertentu, terutama pada saatpilkada, ghettoisme politik dan budaya ini menjadi sangat agresif. Ghettoisme budaya dan politik (sekarang ditambah dengan politik membangun dinasti)  inilah yang membuat “pendatang” tak pernah berbaur baik, sehingga 30 tahun lebih pun mereka di Kalteng, berbahasa Dayak pun mereka tak bisa. Saya melihat politik kependudukan sekarang menyimpan bom waktu. Dan agaknya pengelola kekuasaan asyik dengan kekuasaan di tangan tanpa sadar akan dampak-dampak negatifnya. Yang sering dikatakan adalah “budaya huma betang” yang kosong makna dan berbahaya, serta “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’’, konsep yang kadaluwarsa dan tak tanggap zaman. “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’’ sebagai konsep  kebudayaan dan politik demografis, tidak mendorong pembauran alami yang sangat lemah di Kalteng, tidak menanamkan perasaan memiliki Kalteng sebagai kampung halamannya, tapi  sebatas tempat berusaha, jika mungkin dikuasai, ditaklukkan. Semestinya yang ditanam dan ditumbuhkembangkan adalah wacana “di mana bumi dipijak di situ langit dibangun’’ karena Kalteng adalah kampunghalaman Uluh Kalteng. Politik kependudukan patut ditinjau ulang , dari transmigrasi murni menjadi transmigrasi sisipan. Politik transmigrasi patut memperhatikan penduduk lokal seperti halnya Perda Kependudukan di Papua. Sedangkan politik keluarga berencana sama rata diganti dengan politik keluarga berencana selektif. Jika tidak politik kependudukan ini tidak dirobah maka saya khawatir yag berlangsung adalah penjajahan model baru oleh bangsa sendiri. Masihkah Indonesia bisa bertahan jika demikian? Pembauran dan politik demografi yang tanggap keadaan, yang republikan dan berkeindonesiaan patut ditegakkan. Tingkat pembauran dan politik demografi yang berlangsung sampai sekarang agaknya indikator tentang rendahnya tingkat kesadaran berwarganegara, berepublik dan berkeindonesiaan di daerah yang diberi nama baru “Bumi Pancasila”. ***
Esai Andriani S.Kusni
Bagaimana Memajukan Kebudayaan Kalteng?
Reportse sastrawi (literer) Kristine Yulita berjudul “Investasi Yang Terlambat” megisahkan pengalamannya selama mengikuti kegiatan Nuqiu Merdeka dalam rangka pelaksaaan Program Kalteng Harati, tahun lalu, serta mendapat publikasi cukup besar untuk skala Kalteng. Apa yang diungkapkan oleh Kristine  hanyalah salah satu puncak dari gunung es praktek berkesenian selama puluhan tahun. Kristine barangkali orang pertama yang mengungkapkannya  di depan publik melalui media massa.  Kecuali apa yang dituturkan oleh Kristine, praktek kuitansi kosong, praktek KKN, geng-isme, copy paste anggaran tanda ketiadaan prakarsa, kosong wacana, juga berlangsung di kehidupan berkesenian di provinsi ini. Dalam keadaan demikian tidak mustahil yang berlangsung di Kalteng adalah “do many things but for nothing”, kebudayaan Kalteng berjalan di tempat. Kalteng dengan segala potensi seniman-budayawannya yang berlimpah merupakan satu-satunya provinsi yang tidak pernh mendapat anugerah kebudayaan nasional  tahunan dari Menteri Kebudayaan & Pariwisata karena permintaan tertulis Menteri tidak dijawab. Bersamaan dengan itu benda-benda budaya yang dicagarkan sangat tidak terawat. Dengan benda-benda budaya dan daerah-daerah wisata yang tak terurus, Kalteng masih berbicara tentang pengembangan wisata. Dari kenyataan di lapangan dan juga seperti yang dikisahkan oleh Kristine memperlihatkan bahwa upaya pengembangan budaya memang tidak diutamakan, dibanding dengan menjadikan  kegiatan keseian sebagai sumber dana.
Untuk mengembangkan kebudayaan di provinsi ini kiranya praktek-praktek tak berbudaya seperti di atas dihentikan. Memobilisasi kepada massa pekerja seni-budaya atau membangunnya dari bawah.Untuk itu diperlukan konsep pembangunan budaya kemudian orgnisatornya. Konseptor dan organisator budaya ini niscyanya mampu menghimpun semua kekuatan yang ada, menumbuh kembangkan barisan seniman-budayawan dari bawah, misalnya di 30 kelurahan untuk Palangka Raya dan semu sekolah yang ada. Koseptor dan organisator inilah yang paling diperlukan sekarang. Kalau yang memegang kedudukan kunci di Dinas Kebudayaan tidak paham kebudayaan, hendaknya mereka bekerja sama dengan pekerja-pekerja di lapangan sesuai dengan patokan konseptor dan organisator. Di pihak lain, para seniman-budayawan patut mengobah mentalitas menadah tangan, menunggu uluran belas kasihan pengelola kekuasaan seperti yang dilakukan oleh seniman-budayawan di Serang, Lima Gunung, Banyuwangi, dll tempat. Walau pun peran pemerintah sangat mempercepat laju perkembangan, tapi agaknya jika menunggu perkembangan baru dari pihak mereka, hanya akan membuat Kalteng terus berada di tempat. Cara lain perlu diambil dan dilakukan oleh para seniman-budayawan serta pihak-pihak yang merasa perlunya kebudayaan Kalteng tumbuh berkembang. Tenaga-tenaga baru yang dinamik  patut direkrut dan dikembangkan. Sekali lagi di sinilah perlunya tampil konseptor dan organisator budaya non birokrat.***
Sansana PANARUNG
 
Sebuah Suara
/ : Adonis *
Mihyar adalah wajah yang dikhianati
orang-orang yang dikasihinya
Mihyar adalah lonceng tanpa denting
Mihyar ditulis di wajah-wajah sebagai nyanyian
Yang mengunjungi kita diam-diam
Di jalan-jalan putih yang diasingkan
Mihyar adalah gentar orang-orang bingung
di atas bumi Galilea ini.
 
Wajah Yang Kebingungan
/ :Adonis
Dengan wajah bingung kudoakan debuku
Kunyanyikan terasignya jiwaku
Menuju sebuah mukjizat yang belum sempurna
Kulangkahi dunia
yang terbakar oleh nyanyian-nyanyianku
dan aku rentangkanbantalan bumi dan waktu.
Keterangan:
Adonis , penyair internasional terkemuka,lahir dengan nama asli Ali Ahmad Said pada 1930 di desa Kassabin ,dekat kota pelabuhan Latakia, Suriah. Seringkali namanya disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat penerima hadiah Nobel Sastra. Karya puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ahmad Mulyadi, mumusan sastra Arab IAIN Syarif Hidayatulah Jakarta dan Universitas Bamberg Jerman.
 
Pada 3 November 2008 atas undangan Komunitas Salihara, Jakarta, Adonis memberikan kuliah umum pada Festival Salihara Jakarta. Dua buah puisi yang disiarkan di sini, dikutip dari kusajak “Nyanyian Mihyar dari Damaskus”, dialihbahasakan oleh Ahmad Mulyadi, diterbitkan oleh Durakindo Publishing,  Jakarta, 2008.
KERTAS KOSONG
/: Enos Asong
bersama sinbad sebagai kelasi kecil aku mengembara
kemudian dibaptis menjadi anak negeri tanpa langit
anak pinisi bernegerikan samudra
kembali ke kampung lahir mengendap di lubuk ingatan
diberitakan hingga tengah perjalanan telah tertangkap
di daratannya nampak kesewenangan menebar putusasa berbisa
di antara gelak-bahak memandangku lelaki kurang hitungan
masih bermain dengan ancaman dikawal ajal siap menyergap
pada mereka kukatakan bahwa inilah kutukan turunan raja bunu itu
kampung lahir ditawan duka – tiran persekongkolan kuasa
tak pernah memberi jarak kendati sejenak, mencari celah
memberiku lembaran kertas kosong raksasa menagih karya agung
menagihmu!
Palangka Raya, 2012.
Kritik &Apresiasi
Goenawan Mohamad Tentang  Adonis
 
Adonis, seorang penyair besar sastra Arab, seorang yang deretan puisi pendeknya mempesona kita bukan hanya karena kekuatan imajinatifnya, tapi juga karena mereka adalah saksi pergulata besar zaman ini.
Kita tahu, di dunia Arab, puisi lahir dari bahasa yang tak bermula sebagai proyek kebangsaan ; puisi dan bahasa itu lebih tu ketimbang proyek itu. Kita tahu pula bahwa nasionalisme Arab mengndung ketegangan dalam dirinya – ketegangan antara gerak ke arh bentukan “negara bangsa” dan gerak ke arah satuan yang lebih luas ketimbang itu, satu yng sering disebut “Dunia Arab”. Saya bukan seorang pakar sastra Arab, tapi saya kira, dari keteganga itulah puisi Arab – dengan tauladan yang kuat dalam puisi Adonis  –mampu jadi bagian dari pengembaraan. Dan tak hanya pengembran bagaikan Odysseus, tpi juga kehidupan eksil orang-orag yang ditundung dari tanah kelahiranya sendiri.
Di dalam situasi itu, “asing” dan “taka sing” jadi sesuatu yang serius justru karena ia kacau:  pengertian “asing” mencoba memberi batas sementara batas itu tak pernah jelas. Maka ketika kata “asing” jadi sesuatu yang ditolak, Adonis justru menyebut penyair sebagai “kestria kata-kata asing”. Dalam pengertiannya tentang  “Mihyar”,ia mensugestikan sesuatu kehadiran yang ikhlas menjangkau tapi ditampik, sebuah kehadiran yang berada di luar tapi sekaligus di dalam.
Izinkan saya baca sajaknya yang diterjemahkan dengan barus sekali oleh Ahmad Mulyadi:
 
Sebuah Suara
/ : Adonis 
 
Mihyar adalah wajah yang dikhianati
orang-orang yang dikasihinya
Mihyar adalah lonceng tanpa denting
Mihyar ditulis di wajah-wajah sebagai nyanyian
Yang mengunjungi kita diam-diam
Di jalan-jalan putih yang diasingkan
 
Mihyar adalah gentar orang-orang bingung
di atas bumi Galilea ini.
Kata  ‘’bingung’’ merupakan metafor  Adonis yang penting agaknya. Yang orisinal dalam Adonis ialah bahwa ia menerima “bingung” sebagai sesuatu yang berharga. Justru ia mengeluhkan zaman ini. Seperti dinyatakannya dalam salah satu sajaknya, zaman ini adalah “zaman yang terlalu kecil buat orang-orang kebingungan”.
“Bingung” adalah bagian dari kehidupan  yang tak dibimbing oleh batas, oleh institusi, oleh bahasa, oleh hokum, oleh syariat agama, apa yang oleh Lacan disebut sebagai “Tata Simbolik”. Saya pernah mengutip kata-kata Adonis tentang dunia yang tak terjangkau oleh Tata Smbolik itu. Dalam imajinasi orang Arab, kata Adonis, ada sebuah wilayah yang tak bisa diketahui; ia ada bahkan dalam negeri yang diketahui dan dihuni. “Seakan-akan ada dua bagian, yang satu tampak dan yang lain tidak. Yang  pertama diperintah oleh institusi, yang lain tidak. Yang pertama  diperintah oleh institusi, yang kedua oleh imajinasi.Yang terakhir ini kita kenal melalui mimpi, intuisi, imajinasi dan pengharapan, sedemikian rupa hingga ia seolah-olah penuh sesak dengan manusia yang tersembunyi, dalm bentuk jin, malaikat, penenung, pencinta, orang gila, dan petualang seperti Sinbad yang semua mencri yng baharu dan tak lazim”.
Dari dunia Sinbad yang “mencari yang baharu dan tak lazim” itulah lahir puisi dan kesusastrn. Seperti nanti akan diuraikan Adonis sendiri dalam ceramahnya, Plato memusuhinya. Juga Islam – dan agaknya tak hanya Islam, tapi juga kota Kristen di bawah Calvin di Jenewa di abad ke-16, juga komunisme di bawah Stalin di abd ke-20. Siapa saja pemegang kekuasaan  yang takut akan “yang baharu dan tak lazim”, siapa saja yang tak mengakui ada dunia yang tersembunyi dalam jiwa manusia yang tak terjangkau oleh lembaga dan akidah —  mereka itu akan cenderung memusuhi puisi dan kesusastraan.
Kita berbahagia bahw ada Adonis di zaman ini: zaman yang mau mengingkari kebingungan – zaman di mana perhitungan ekonomi yang mengutamakan apa saja yang  produktif, efisien dan mudah dikontrol; juga zaman yang berilusi, bahwa manusia bisa ditertibkan tanpa korban, misalnya oleh doktrin ideologi dan agama.
Kita berbahagia Adonis menulis dan bicara.
Saya merasa mendapat kehormatan besar mengantarnya ke mimbr ini, di tanah air kita ini.
Catatn: Tulisan ini juga disampaikan untuk mengantarkan Kuliah Umum yang disampaikan Adonis pada Festival Salihara di Jakarta pada 3 November 2008.
 
Reportase Sastrawi Kristine Yulita
Investasi yang Terlambat
            Sudah sebulan lebih aku ikut latihan menari untuk acara 17 Agustusan, untuk merayakan kemerdekaan Indonesia dengan acara Nuqie Kalteng Harati. Aku sangat senang karena aku termasuk orang terpilih sebagai penari acara tersebut. Kami tergabung dalam sanggar-sanggar seni, penari-penari modern, dan teaterikal di kota cantik Palangkaraya. Aku dipilih sebagai penari sektor III dalam tari kontemporer yang tariannya menceritakan tentang yang ingin merebut kekuasaan atau menjajah hak milik tapi pada akhirnya tidak berhasil karena pemberontakan mengalahkan yang ingin merebut kekuasaan tersebut. Dalam kelompokku sektor tiga, aku tergabung bersama kelompok tari modern yang selalu menjadi kandang juara dalam perlombaan kompetisi dance di Palangkaraya dan salah satunya dari sanggar seni. Aku mulai tertantang, karena kelompokku orang-orangnya sangat lebih hebat daripadaku.
            Tuntutan latihan hampir setiap hari dari sore sampai tengah malam kujalani dengan membawa beban. Untungnya pada saat latihan dalam situasi libur panjang perkuliahan. Jadi, tidak menganggu perkuliahanku, hanya aku mendapatkan lelah yang sangat, dengan tuntutan dari ketua penyelenggara acara. Ya, nurut saja apa yang diperintah oleh bos kami, yang penting dapat honor. Lumayan buat jajan dan keperluanku, jadi nggak minta-minta lagi uang jajan sama kakakku. Kadang aku kasihan pada kakakku yang sering kumintai uang padanya. Yang tentu dia punya keperluan lain untuk kebutuhannya. Sebelumnya aku hidup bercukupan dan mempunyai fasilitas memadai tapi semenjak ayahku meninggal semuanya berubah.
            Waktu untuk tampil segera tiba. Aku dan teman-temanku serius untuk latihan, supaya penampilan kami tidak mengecewakan para penonton, terutama pejabat-pejabat dan pak Gubernur. Ini ketiga kalinya aku menari di depan beliau. Awalnya saat aku masih duduk kelas sepuluh SMA. Waktu acara tari masal saat ulang tahun Kalteng Emas ke-50. Rasa bangga yang pernah menari di depan bapak gubernur dan dapat pujian dari beliau membuatku merasa terhormat sebagai penari. Menurutku ini kesempatan langka buat anak muda sepertiku.
Seperti biasa kelompok sektorku menunggu penari daerah, penari sektor-sektor kontemporer yang lain, dan teaterikal untuk latihan. Kami dibagi berbagai kelompok yaitu penari lanjong, sektor I zaman purba. Sektor II TKI, sektor III penjajahan, sektor IV mahasiswa demo, pembaca puisi, dan drama sitkom (situasi komedi). Semuanya ditampilkan bertemakan kemerdekaan Indonesia yang pernah dijajah pada zaman dahulu. Menunggu giliran yang lain cukup memakan banyak waktu dan membosankan karena tiap malam aku menjalani waktu liburku seperti ini. Tapi tidak apa-apa, ini kan tanggung jawabku sebagai penari yang diberi kepercayaan untuk menampilkan yang terbaik. Rasa bosanku kualihkan dengan percakapanku dengan Nida temanku yang satu kelompok denganku.
            “Nid, capek juga terus menunggu sektor yang lain latihan. Kapan bisa cepatnya kelompok kita latihan?” ucapku dengan mengeluh.
“Sama Oca, aku juga capek. Mana aku habis siaran terus langsung ke sini untuk latihan sampai tengah malam. Ayo lebih capek mana antara kita dua?” jawabnya.
“Iya juga sih Nid, lebih capek kamu daripada aku yang cuma kegiatan latihan seperti ini,” ujarku.
“Semangat, Ca. Besok penampilan kita, jadi honor menanti kita sebentar lagi,” ucap Nida yang memberiku semangat.
“Iya Nid, perjuangan kita sebentar lagi dan honor menunggu di dompet kita!” jawabku dengan penuh semangat.
“Aku juga tidak sabar dengan honor yang menggiurkan ini,” sahutnya.
“Sektor III, sektor III! Sekarang giliran kalian latihan!” suara bos melalui sebuah pelantang memberikan perintah.
Di sini aku satu kelompok dengan Rensy, Melisa, Sharon, dan Nida. Rensy adalah temanku yang sudah lama kukenal dari aku SMA bahkan aku pernah menari tari modern bersamanya, tapi sekarang dia satu kelompok dengan Melisa dan Sharon yang membentuk kelompok tari bernama “T-Zee yang menjadi kandang juara dance di Palangkaraya. Kalau temanku Nida adalah temanku satu SMP dulunya. Sekarang dia adalah penyiar stasiun televisi swasta di kotaku. Aku tidak menyangka perubahan pesat kepada Nida yang tidak bertemu untuk selama beberapa tahun. Dia tambah cantik kulihat dari pada sebelumnya. Mungkin bertambah dewasanya untuk bisa merawat diri. Sama juga seperti aku yang dulunya tidak memperhatikan penampilan, tapi sekarang sudah bisa. Nida sekarang menjadi teman akrabku selama kegiatan latihan.
Hari pementasan pun tiba, aku sudah di GPU Tambun Bungai untuk persiapan penampilan acara Nuqie Kalteng Harati. Para penari didandanin sebagian rupa dengan kostum yang meriah. Aku menggunakan kain berkilau bewarna merah berkombinasikan batik benang bintik bewarna merah juga yang sama dengan kelompok sektorku. Persiapan pun akhinya beres, tinggal menunggu penampilan kami di pentas. Rasanya ingin selesainya acara ini, supaya aku bisa istirahat sepuasnya tanpa ada latihan yang pulangnya tengah malam seperti biasa. Tak ada lemah, letih, lesu, lunglai, dan letoi untuk hari esok.
Pementasan pun berakhir dengan sukses tanpa ada kendala. Cuma pak gubernur tidak dapat hadir karena keesibukannya sebagai gubernur. Tapi tidak apalah, yang penting aku sudah merasakan dua kali tampil di depannya. Nah, tinggal tunggu honor saja dibagi. Aku jadi tidak sabaran karena sangat membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari. Wah, jadi tidak sabaran untuk mendapatkan hasil keringat selama sebulan lebih.
Sekarang sudah memasuki bulan November, kabar honor pun tidak ada kepastiannya kapan keluarnya? Padahal aku sangat berharap untuk hasil keringatku sendiri. Rasa kecewa selalu muncul di hatiku dan teman-teman, atas investasi yang terlambat ini. Latihan selalu pulang tengah malam yang melelahkan dan banyak membuang waktu tapi honornya malah terlambat. Aku sudah bertanggung jawab atas tugas, tapi kenapa honor tidak dipertanggungjawabkan? Huh!
                                                                                                      Kampus PBSI 2011

Ruang Budaya Radar Sampit:Singer

SAHEWAN PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com
 
Catatan Panarung Andriani S. Kusni
 
SINGER
Setelah Pengadilan Adat dilakukan terhadap Tamrin Tomagola, Januari 2011 lalu,  karena dipandang telah melakukan melukai hati, melecehkan, dan merendahkan Masyarakat Adat Dayak, dan dijatuhi singer (denda, hukuman berdasarkan hukum adat), sejak itu istilah-istilah demikian menjadi umum terdengar. Tomagola dibawa ke sidang Pengadilan Adat di Palangka Raya karena pernyataannya sebagai saksi ahli dalam kasus Ariel Peterpan yang dituduh melanggar UU Pornografi. Dalam kesaksiannya Tomagola antara lain menyatakan bahwa hasil  penelitiannya mengatakan dalam masyarakat Dayak hubungan seks bebas itu merupakan hal yang biasa. Pernyataan inilah yang dipandang melukai hati, melecehkan, dan merendahkan Masyarakat Adat Dayak. Yang patut dipertanyakan adalah apa yang menjadi standar, patokan, ukuran untuk memasukkan perkataan dan atau perbuatan itu  ke dalam kategori melukai hati, melecehkan, dan merendahkan Masyarakat Adat Dayak.Patokan atau ukuran ini diperlukan, bahkan suatu keniscayaan, kemudian disosialisasikan agar menjadi milik publik. Sebab jika tidak jelas standarnya, sebuah ruang besar sangat besar terentang untuk tindak sewenang-wenang. Secara hakiki, apa beda tindak sewenang-wenang dan kekerasan?Apabila tidak jelas dan tidak diketahui publik ukurannya, bukan tidak mungkin subyektivisme berkuasa. Subyektivisme itu misalnya menerapkan bahwa “kata-kataku adalah hukum”, “kata-kataku adalah kebenaran”.Yang melawan dan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai subyektifku menjadi melukai hati, melecehkan, dan merendahkan Masyarakat Adat Dayak. Kebenaran yang menjadi dasar kemajuan, hidup bermartabat yang oleh sejarah ditunjukkan menjadi  tujuan hukum adat justru akan menjauh. Ketidakjelasan ukuran akan meniadakan pencarian kebenaran dari kenyataan dengan menjadi kehidupan sebagai sebuah wilayah steril dari debat ide, kritik-otokritik karena kebenaran itu dijadikan statis, mandek, tidak berkembang. Dengan kata lain, demokrasi, entah sadar atau tidak sadar ditikam tepat pada hulu hatinya. Apabila hal begini terjadi maka adat dan hukum adat menjadi tidak tanggap zaman lagi padahal hal-ikhwal di dunia ini bergerak dan berkembang, entah berkembang maju atau mundur. Membuat adat dan hukum adat statis menyebabkan ia tidak lagi mampu memerankan fungsi mengatur msyarakat apalagi untuk meningkatkan taraf pemanusiawian. Contoh perkembangan yang terdapat pada adat dan hukum adat yaitu bisa digantikannya nilai halamaung atau balanai, gong (garantung) dalam singer dengan rupiah. Status lembaga adat dan para pemangkunya pun berubah dari zaman ke zaman.Juga menjadi pertanyaan, apakah 96 pasal Hukum Adat yang disepekati di Pertemuan Tumbang Anoi tahun 1894 dahulu, untuk menghadapi kehidupan hari ini yang diserbu oleh globalisasi kapitalistik dan membawa perubahan besar dalam masyarakat, sudah cukup tanggap? Keadaan di lapangan menunjukkan banyaknya kejadian-kejadian yang tidak terdapat dalam pasal-pasal Hukum Adat Tumbang Anoi 1894. Untuk menjawabnya, para damang setempat melakukan perundingan membuat suatu suatu konsensus. Perubahan besar ini menuntut hukum adat, tanpa melepaskan sari nilai dan nalarnya yaitu memanusiawikan diri sendiri, manusia, kehidupan dan masyarakat, untuk menawarkan suatu tanggapan yang tanggap zaman pula. Kelanggengan adat dan hukum adat terletak pada sari nilainya, pada tujuan yang bisa disimak dari sejarah kelahirannya. Tidak pada bentuk. Karena itu bélum bahadat, dalam artian hidup sesuai adat, hidup berkebudayaan dan berkeadaban itu bersifat dinamik. Sari nilai bélum bahadat, hidup sesuai adat da hukum adat terletak pada jawaban apakah adat dan pasal-pasal hukum adat bertujuan memanusiawikan manusia, hidup dan masyarakat dengan tingkat mutu yang terus-menerus berkembang sesuai zaman. Di sinilah saya kira letak patokan ini dicari dan ditetapkan.  Dayak dan menjadi Dayak bermartabat pun intinya  pun tidak lain dari pertarungan  manusia-manusia untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat serta diri sendiri, istilah lain dari Dayak Bermutu atau Berharkat dan Bermartabat. Tujuan singer, dijatuhkannya singer serta standar singer  juga demikian. Bukan subyektivisme, sumber petaka dan kemerosotan.***
 
ESAI Frans  de Sales Sani  Lake *
REINTEGRASI KEBUDAYAAN DAYAK 
 
DASAR-DASAR FILSAFATI PENDEKAT PEMBEBASAN
Dasar filsafati pendekatan pembebasan bersandar pd pemikirn Antonio Gramsci, Michel Foucault, Paolo Freire, dan praxis penelitian  feminis.
Dari Gramsci kita timba konsep intelektual “tradisional” dan intelektual “organik”.
Intelektual tradisional tidk terpisah dari kaum  borjuis, karena berasal dari kelas yang sama dan secra tradisional merupakan profesi yang memang dibayar untuk pekerjaan otak mereka. Kegiatan mereka adalah mengembangkan ideologi dan praxis yang memperkokoh pengusaan negara dan modal terhadzp rakyat lewat persetujuan (consent), yang disebut “hegemoni” (hegomonia).
Sebaliknya , intelektual organik adalah mereka yang secara organik muncul dari setiap kelas, termsuk intelektual kaum proletar dan kelas-kelas yang tertindas lainnya (subaltern groups). Tugas intelektual organik dari kelas-kelas yang tertindas adalah mengembangkan “counter hegemony”, anti-tesis dari hegemoni di atas, dibntu oleh intelektual  tradisional yang telah “menyeberang” ke kelas bawah (Joll, 1977:91-3); Showstack Sasson, 1987:134-46).
Dari Gramsci dipetik pengertian ‘berfilsafat’, yang bukan semata-mata pekerjaan segelintir intelektual tradisional, yang terlepas  dari masyarakat bawah, menurunkan butir-butir kebijakan mereka kepada rakyat banyak. Berfilsafat menurut Gramsci , adalah kerja kolektif merubah “common sense” (pengetahuan populer, yang beredar di masyarakat luas dan penuh anggapan umum serta stereotip yang  tidak benar) menjadi “good sense” (pengetahuan yang benar, hasil perdebatan di antra intelektual organik kaum proletar dan kelas bawah lainnya, sehingga berbagai kontradiksi dapat diungkapkan dan berbagai stereotip dan sesat fikir dapat dibongkar). Proses ini dapat dipimpin  oleh ibtelektual organik yang berasal dari kalangan borjuasi, tetapi harus dilakukan secara demokratis, berangkat dari tingkat pemahaman rakyat banyak, dengan menggunakan kesenian rakyat, seperti lagu-lagu rakyat (Davidson 1968:  42, 47-52; Joll 1977:93-4).
Selanjutnya, konsep Foucault yang melandasi paradigma penelitian pembebasan adalah konsep “power/knowledge”, yang mengacu pada hubungan dialektis  antara  kekuasaan dan pengetahuan.  Kekuasaan terartikulasi ke dalam  pegetahuan, dan sebaliknya pengetahuan  terartikulasi ke dalam kekuasaan. Dengan kata lain, kekuasaan tak hanya punya “relasi” dengan pengetahuan, melainkan kekuasaan “terdiri atas” pengetahuan, sebagaimana halnya pengetahuan juga “terdiri atas” kekuasaan. Jadi, tidak ada pengetahuan yang bebas nilai, yang bebas dari kepentingan kekuasaan. Karena itu, tugas kaum intelektual  adalah membantu membangkitkn “pengetahuan-pengetahuan yang tertindas”      (Gordon 1977:81), dikutip dalam Aditjondro 2003b:148).
Berbeda dengan Gramsci yang membedakan intelektual tradisional dari intelektual organik, Foucault  membedakan intelektual “universal” dari intelektual “spesifik”.
Intelektual universal  adalah intelektual yang menganggap dirinya “hati nurani” dan “jurubicara” kaum proletar dan rakyat pada umumnya, sementra siapa yang diwakilinya, tidak jelas.
Sebaliknya, intelektual spesifik  melibatkan diri dalam pergumulan  rakyat yang kongkrit, dan ikut berkonfrontasi dengan musuh-musuh rakyat miskin, seperti maskapai transnasional, polisi, aparat hukum, clo properti (Gordon 1980:126, dikutip dalam Aditjondro 2005:36).
Selanjutnya,¨Paulo Freire, pedagog pembebasan asal Brazil, menyumbang paradigma  ini dengan proses dekodifikasi, yang berangkat dari pengertian filsafat Gramsci. Proses  ini berawal dari “kodifikasi”,  representasi dari realitas  sosial yang nyata, berupa citra (image), simbol, ide, konsep atau kata. Proses pendidikan radikal yang diciptakanya bersama para petani buta huruf di Brazil  , membongkar apa yang tersurat dan   tersirat di balik kodifikasi itu. Proses de-kodifiksi atau “de-coding” itu berupa diskusi atau perdebtan yang berangsur-angsur bergerak dari penggalia ‘’struktur permukaan ’’, mengamati apa yang dapat tampak secara kasat mata , terus menerobos ke ‘’struktur dalam”  kodifikasi itu (lhat:Matthews 1980: 90-91; Freire 1981:45).  Misalnya, dalam dekodifikasi  terhadap ¨Peristiwa  Bom Bali II, dengan menggunakan foto-foto atau film Bom Bali II sebagai kodifiksi, lingkaran-lingkaran belajar  a la Freire , bergerk berangsur-angsur  dari keterkejutn terhadap kehebatan bom, kesadisan si peledak bom, dan parahnya  keadaan para korban, ke refleksi yang lebih mendalam terhadap budaya kekerasan yang melanda  masyarakat kita, siapa yang  melestarikan  budaya kekerasan itu, dan apa manfaat yang mereka petik dari pelestarian budaya kekerasan itu.
 
Last but certainly not least, paradigma pembebasan  dipengaruhi oleh kritik para feminis, yang mengecam para peneliti partisipatoris –termsuk Freire – karena masih “buta  gender”. Maklumlah, para peneliti, responden mau pun mitra peneliti kebanyakan laki-laki , dan bahasa yang digunakan dalam komunikasi di antara mereka masih didominasi perspektif laki-laku , yang sering menganggap perspektif perempuan sudah dengan sendirinya tercakup dalam perspektif laki-laki (disarikan dari Maguire 1987).
Dengan paradigma pendekatan pembebasan-konvensional akan turut pula memberdayakan bersama-sama, bukan saja kaum elit penguasa pengetahuan tetapi juga rakyat sebagai sumber pengetahuan, agar  tetap tinggal dalam keterpinggiran, kemiskinan dan  keterasingan.  Paradigma ini dilandasi filsafat Gramsci , Freire, Foucault, serta praxis peneliti feminis.
Kepentingan para penulis dalam buku ini dengan metode pendekatan yang dimilikinya, membongkar sekat-sekat kultural yang terjebak dalam kepentingan politik transaksional. Sedangkan Content buku mempresentasikan kepentingan-kepentigan yang telah bermain memberangus kultur Dayak. Institusi pemesan jika, mala tentu punya kepentingannya sendiri ,. Kepentingan pembaca tentu saja begitu beragam. Diharapkan pendekatan pembebassn ke depan adab membantu meyempurnakan sebuah karya kemanusiaan.
4.
 
PENUTUP
Demikian sebuh paparan sederhana, apa adanya sesuai penangkapan terhadap buku yang dibaca. Mudah-midahan ke depan akan lebih banyak lagi karya yang lahir dari rahim pengetahuan rakyat-komunitas Dayak sendiri demi penjernihan identitas dan dalam perjuangan reintegrasi kebudayan Dayak. Sekian! ***.
(* Frans de Sales Sani Lake, dari Keuskupan Palangka Raya, lulusan Sekolah Filsafat di Roma,Italia. Makalah ini disampaikan dalam acara bedah buku: “Budaya Dayak:Permsalahan dan Alternatifnya”, oleh Kusni Sulang et.al, yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Dayak Kalteng dn Institute Borneo di Eka Tingang Nganderang, Palangka Raya 14 Oktober 2011.
Cerita Pendek
Sang Penari Roh
Oleh: Arbendi I. Tue
Aku duduk  menghadap meja sesaji itu. Malam sudah larut dan angin turun melewati sesemak. Rumah lain sudah memadamkan lampu, mungkin pemiliknya telah tidur lelap. Namun, lain halnya di rumahku malam ini. Kepulan asap kemenyan mengisi penuh ruangan rumah. Aku tak bisa tidur malam ini karena tugasku sebagai penari roh. Aku sebenarnya tak mau menjadi penari roh sebab mengganggu kuliahku. Aku sering tidak turun kuliah karena kelelahan semalaman menari roh. Akan tetapi, aku tak bisa mengelak. Dalam darahku mengalir darah sangiang yang membuatku menjadi perantara antara manusia dan roh.
Malam ini aku harus menari roh meskipun besok ada ujian semester. Aku terpaksa melakukannya karena siang tadi seorang ibu menangis histeris yang katanya kehilangan anaknya selama beberapa hari ini dan memintaku untuk membantu mencari anaknya dengan perantaraan roh. Sebagai seorang penari roh, aku pantang menolaknya. Aku menaburkan beras kuning dan mulutku berulang-ulang merafalkan mantera-mantera. Sesaat aku menatap ibu yang dipanggil dengan nama Ibu Suri.
“Kuingatkan sekali lagi Ibu Suri, jika nanti roh itu datang, katakanlah segala persoalanmu kepadanya. Selama ia ada dalam jasadku, ia bukanlah aku. Apa saja boleh kautanyakan. Tak usah segan atau malu-malu,” kataku dengan suara berat.
“Baiklah, Manda,” jawab Ibu Suri yakin.
Aku kembali merafalkan mantera-mantera. Suara gentang bawo begitu nyaring dari tarian rohku. Bunyi gentang bawo pada kedua lenganku menjadi musik yang mengiringi tarian roh yang kulakukan. Tubuhku bergemetaran dengan sangat kuat dan mantera yang keluar dari mulutku semakin tak terkendali. Kondisiku semakin melangit dan tiba-tiba terdengar suara ledakan. Bersama suara ledakan itu, jasadku telah dirasuki roh Darung Bawan yang telah kupanggil. Suara berat keluar dari mulutku.
“Akulah Darung Bawan dari tahunyuk Bukit Raya,” ucapku yang dirasuki roh Darung Bawan.
“Selamat datang, Buwe. Tolong cari anakku Suri,” sambut Ibu Suri dengan suara memelas.
“Suri,” jawabku seraya membentang kain kuning. “Inilah Suri, hanya setapak kilat bayangan semu. Surimu hanya sebatas garis waktu tak berbentuk. Surimu adalah alam khayalan saja.”
Mateimunu, Buwe. Kaukatakan Suriku hanya bayangan,”  teriak Ibu Suri histeris seraya hendak merebut kain kuning dari tanganku.
Bau kemenyan begitu menyengat hingga rongga paru-paru. Aku menari meliuk-lekuk mengelilingi meja sesaji. Suara gentang bawo semakin keras. Tubuhku bergetar dan jatuh terkulai. Roh Darung Bawan telah meninggalkan jasadku. Perlahan aku menopang tubuh dengan tangan agar mampu bangun. Keringat bercucuran membasahi tubuhku. Aku mendongakkan kepala. Kulihat Ibu Suri duduk menangis di samping meja sesaji.
“Ibu Suri, megapa kau menangis? Apakah kau sudah tahu di mana Surimu berada?” tanyaku pelan karena letih.
“Tidak, Manda. Roh yang kaupanggil hanya menambah kepedihan hatiku,” jawab Ibu Suri terisak-isak.
Perlahan aku berdiri dan mengambil beras kuning. Kutimang beras itu sambil merafalkan mantera. Ibu Suri menghapus air matanya, kemudian ia mendekatiku dan pelan-pelan membelai tubuhku. Aku pura-pura tak peduli pada tingkah genitnya.  Aku ingin ia sampai berlutut memohon kepadaku. Melihat aku yang tak peduli pada tingkahnya, tangannya semakin nakal membelai perutku. Angin malam begitu dingin. Belaian tangannya dan hawa dingin malam itu membuat bulu romaku berdiri. Pelan kulihat wajahnya. Masih muda dan cantik membuat berahiku menjadi naik ke puncak ubun-ubun. Namun, aku tak mau menampakkan rasa ketertarikan intimku kepadanya agar tak mengurangi keyakinannya kepadaku sebagai penari roh.
“Manda, tolong panggilkan lagi roh nenek moyang dengan tarian rohmu,” pinta Ibu Suri memelas.
“Ibu Suri, meminta petunjuk kepada roh atau arwah nenek moyang merupakan tipu muslihat setan. Sudahlah, jangan kau memintaku memanggilnya lagi,” jawabku sambil melirik bajunya yang sedikit terbuka sehingga terlihat sedikit buah dadanya.
Aku menelan ludah melihat itu. Segera kupalingkan wajahku memandang lurus ke pintu. Ibu Suri langsung berlutut di hadapanku.
“Manda, tolong panggilkan sekali lagi roh itu. Menari roh sekali lagi, Manda. Aku rela menyerahkan apa pun demi Suriku, bahkan tubuh ini rela kuserahkan kepadamu, Manda,” sungut Ibu Suri.
“Perempuan, ha…ha…ha, kalau ada maunya apa pun ia lakukan. Baiklah, aku akan memanggil roh itu sekali lagi,” sahutku seraya menuju meja sesaji dan membakar kemenyan.
“Manda, aku ada satu permintaan,” kata Ibu Suri langsung duduk di sisiku.
“Apa yang kauminta dariku lagi?” tanyaku garang.
“Aku ingin melihat roh itu secara langsung, bukan melalui perantara jasadmu,” pinta Ibu Suri dengan sedikit menyodorkan buah dadanya ke tubuhku.
“Baiklah jika itu maumu,” sahutku.
Asap kemenyan mengepul memenuhi ruangan. Mulutku berkali-kali mengucapkan mantera suci. Kali ini, pemanggilan roh lebih berat dari sebelumnya dan tarian roh yang kulakukan berbeda dengan tarian sebelumnya. Hal ini karena Ibu Suri yang ingin melihat dan berbicara langsung dengan roh nenek moyang. Aku menari di atas gong. Gentang bawo menjadi musik yang mistik mengiringi tarian roh yang kulakukan. Lagi-lagi badanku bergetaran dengan sangat kuat dan dari lobang hidungku mengalir darah segar. Kondisi semakin melangit. Tiba-tiba terdengar suara ledakan bersamaan dengan asap pekat hingga tak mampu mata menembus untuk melihat. Perlahan asap itu lenyap. Terlihat dua sosok roh yang mengerikan. Roh satu tinggi besar mengenakan ewah dan tubuhnya hitam legam, sedang roh kedua seluruh tubuhnya tertutup kain hitam. Ibu Suri terperanjat ketakutan melihat dua sosok roh yang mengerikan. Ia tidak melihat aku lagi. Aku telah lenyap dari pandangnya. Ibu Suri semakin ketakutan karena ia berhadapan seorang diri dengan dua roh nenek moyang.
“Selamat datang roh nenek moyang. Tolong carikan di mana Suriku berada?” sambut Ibu Suri gemetaran.
“Suri,” ucap roh satu seraya mengambil buah kelapa dari meja sesaji. “Inilah Suri. Suri kini begini. Ibu-ibu memasungnya. Suri terpasung dan dipasung. Suri tak dapat bicara. Surimu hanyalah orang-orangan dalam khayalan.”
“Tidak mungkin. Kau roh yang bodoh. Suri ada tapi entah di mana,” jawab Ibu Suri marah.
Roh kedua bergerak dan langsung duduk di tengah ruangan.
“Akulah Suri. Akulah Suri yang disusukan di rumah betang, dibuai dalam ayunan, ditidurkan dalam kelambu kain kuning. Akulah Suri, Surimu,” ucap roh kedua.
Ibu Suri penuh harap dan tangis memeluk roh itu. Pelan-pelan ia membuka kain hitam yang menutupi tubuh roh itu. Ia terperanjat terkejut ketika melihat sosok asli roh kedua itu.
“Manda!” teriaknya terkejut dan langsung jatuh terkulai.
Roh pertama lenyap dan Ibu Suri mati. Kini, hanya aku seorang diri tertawa terbahak-bahak melihat mayat Ibu Suri.
“Inilah akibatnya bila ingin menguji penari roh. Sejak kedatangan roh Darung Bawan, aku tahu dan kau sebenarnya lebih dahulu tahu, kalau kau belum memiliki anak, tapi kau ingin menguji roh nenek moyang. Akibatnya, orang yang telah melihat roh nenek moyang akan mati karena telah bersatu di alam roh. Namun, aku adalah seorang penari roh yang dapat hidup di alam manusia dan roh,” ucapku tegas.
Malam telah berada di puncak kelam. Aku sang penari roh telah membuktikan kemampuanku terhadap wanita congkak yang ingin mengujiku.
                                              Kampus PBSI FKIP Unpar,2011
 
 
SANSANA PANARUNG
 
EDELWEIS
 
: Az Andreas
jalan setapak
mendaki puncak
edelweis kupetik
kuberikan
di dataran
kepadamu
ribuan jalan setapak
mendaki dan beronak
perjalananku
menuju edelweis
April 2009
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers