Archive for the ‘Sahewan Panarung’ Category

SP RADAR SAMPIT EDISI PANCASILA

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
Kebudayaan Pancasila
Apa bagaimana kebudayaan Indonesia, sampai sekarang masih belum dirumuskan secara jelas. Sebelum dirubah atau diamandemen, UUD ’45 pernah menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan kebudayaan nasional yaitu “puncak-puncak kebudayaan daerah”. Apa standar puncak dan tidak puncak, siapa yang menentukan bahwa hal tersebut puncak atau bukan puncak, lebih-lebih samar lagi.  Sehingga oleh karena Jawa sebagai pusat Indonesia dan daerah-daerah di luar Jawa sebagai periferik atau daerah pinggiran (baik dari segi jumlah penduduk, tempat ibukota Republik dan dominasi pemegang kekuasaan) maka ukuran yang digunakan lebih bercorak Jawa dalam mengukur puncak-dan tidak puncak. Sehingga Tari Kinyah Dayak, Tari Dadas, dll dari Kalteng atau tari-tari dari Papua yang mempunyai latar lahir dan standar berbeda dari Jawa, menurut perumusan itu  tidak pernah dikategorikan sebagai kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional seperti halnya dengan sejarah nasional menjadi sangat Jawa Sentris. Seakan-akan Indonesia itu hanya Jawa dan sedikit Sumatera barangkali. Karena itu untuk waktu yang cukup panjang dalam sejarah RI, yang mewakili kebudayaan nasional Indonesia terutama sebatas Jawa, Bali dan sedikit Sumatra.Oleh batasan  “puncak” dan tidak puncak maka tidak semua karya yang terdapat di negeri ini menjadi dikeluarkan dari kebudayaan nasional. Bukan kebudayaan nasional.
Ketika UUD ’45 diamandemen, masalah apa bagaimana yang disebut dengan kebudayaan nasional tetap saja tidak jelas. Satu-satunya yang pasti adalah Bahasa Indonesia, dan karya-karya baru kekinian seperti seni lukis, seni sastra,  seni musik, seni filem dan drama modern. Kecuali Bahasa Indonesia, bidang-bidang seni tersebut pun tumbuh dan berkembang melalui pencarian dan upaya para seniman sendiri. Mereka berkembang sebagaimana laiknya kebudayaan, tanpa kartografi. Apabila pengelola kekuasaan merasa karya-karya tersebut menyentuh kenyamanan dan kepentingan mereka, menggunakan kekuasaan di tangan dan atas nama RI, dengan tanpa enak, mereka melakukan pemberangusan, pembakaran, penghancuran dan sweeping. Ketika situasi berubah, pemberangusan tetap tidak dicabut.
UUD ’45 (Amandemen) dalam soal kebudayaan, hanya menyebut “kebudayaan nasional” tapi tanpa rincian apa pun, walau sudah membuang patokan “puncak”. UUD  ’45 Pasal 32 antara lain menyebut bahwa “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional” dan “menjamin kebebasan masyarakat mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Karena bahasa daerah merupakan lumbung nilai lokal, dan nilai lokal tertuang ke dalam berbagai bentuk selain bahasa, maka  barangkali (sekali lagi, barangkali bisa ditafsirkan), UUD ’45 Amandemen memandang bahwa budaya daerah secaqra implisit termasuk khazanah kebudayaan nasional, berbeda dengan rumusan “puncak” dan tidak puncak sebelumnya. Oleh karena UUD ’45 Amandemen tidak merinci apa bagaimana kebudayaan nasional, artinya UUD ’45 tidak mem buat kartografi bagi pengembangan kebudayaan. Tidak memberikan kartografi artinya Negara “menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya” yang diakui sebagai “kekayaan budaya nasional”. Memelihara dan mengembangkan kebudayaan memang mutlak memerlukan kebebasan. Tanpa kebebasan kebudayaan tidak akan berkembang.  Kebebasan ini lebih-lebih menjadi niscaya oleh kemajemukan budaya negeri dan bangsa kita. Patokan kebebasan secara garis besar orientasi tertuang dalam Pancasila (walau pun sila pertama kiranya masih perlu ditinjau ulang karena mengeluarkan tidak sedikit orang dari kewarganegaraan RI), Preambule,  UUD ’45 Amandemen  serta motto Bhinneka Tunggal Ika. Bagaimana orientasi ide yang sebenarnya bersifat universal ini dituangkan ke bentuk-bentuk yang tak lepas akar, di sinilah kreativitas  bermula dan identitas mewujudkan diri. Barangkali kebudayaan beginilah yang disebut kebudayaan nasional atau Kebudayaan Pancasila. Apabila dilihat dari di mana ia tumbuh dan berkembang, maka Kebudayaan Pancasila ini bisa juga disebut Kebudayaan Kampung-Halaman yang juga sering disebut kebudayaan kepulauan.
Menerapkan orientasi ini maka menjadi orang lokal, menjadi Dayak,tidak bertentangan dengan menjadi  Indonesia dan tidak pula kontradiktif dengan menjadi anak manusia. Kebudayaan Pancasila adalah sebuah filosofi, cita-cita dan program. Efektivitas Kebubudayaan ini akan diperlihatkan oleh mampu tidaknya ia membaca dengan tepat keadan kemudian menjawabnya dengan ketanggapan yang akurat. Mentah-mentah kembali ke masa silam dengan sebutan apa pun, sama tidak efektifnya dengan jawaban jargon kosong pemikiran terobosan. Di sinilah debat ide menjadi sangat berarti,because competition is good for intellectual debate just as it is for economic activity. And serious intellectual debate is urgently needed, since the current form of globalized capitalism is eroding the middle-class social base on which liberal democracy rests ‘’ (karena kompetisi seperti halnya dalam kegiatan ekonomi, diperlukan dalam debat intelektual. Dan debat nintelektual yang seriusx merupakan keperluan mendesak, karena bentuk sekarang globalisasi kapitalisme sedang menggerogoti dasar sosial kelas menengah pada mana demokrasi liberal tersisa), ujar Francis Fukuyama.(2012). Sementara metode pendekatan kekuasaan lebih mempertontonkan kebingungan, sedangkan pendekatan kekerasan adalah bentuk gelepar terakhir yang dekat sekarat. Yang jamak digunakan di  Kalteng, agaknya pendekatan yang terakhir ini sedangkan keadaan melaju tanpa memperdulikan siapa pun.***
Esai GPB Suka Arjawa *
Melihat Pancasila Sebagai Media Komunikasi Sosial
TANGGAL 30 September 1965 dikenal mempunyai stigma negatif di masa Orde Baru, dipandang sebagai pecahnya peristiwa G30S yang didukung oleh Partai Komunis Indonesia. Sedangkan tanggal 1 Oktober dikenal sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Keberhasilan TNI dan rakyat Indonesia dalam menumpas pemberontakan itu, dilihat sebagai keberhasilan Pancasila. Sebagai sebuah konstruksi politik, sah saja sebuah pemerintahan mempredikatkan hari tersebut demi kepentingan politik (pemerintahan) nasional.
Terhadap ‘label’ yang dicapkan Orde Baru itu, kini banyak yang mengandung kontroversi, atau paling tidak mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi di malam hari pada tanggal 30 September 1965. Apa, siapa, bagaimana ia bergerak dan seterusnya. Akan tetapi, perihal Pancasila, tampaknya harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Karena ideologi itu lekat dengan politik, maka simbolisasi dari ideologi itu mudah pula diubaharahkan sesuai dengan kepentingan politik. Pancasila bukan saja ideologi, tetapi merupakan intisari dari berbagai identitas sosial-kultural yang ada di Indonesia. Simbolisasi itu kita lihat pada burung garuda yang mencengkram motto Bhineka Tunggal Ika.
Ada satu pandangan menarik untuk dipikirkan bahwa manakala sebuah ideologi nasional itu bisa disebut sebagai intisari dari ragam kultural kehidupan berbangsa, maka nilai-nilai yang dikandungnya bisa juga dipandang sebagai sebuah media komunikasi. Di sini, pengertian media komunikasi itu bisa disederhanakan menjadi sebuah instrumen intangible dan abstrak yang mempunyai fungsi sosial untuk memahami lingkungan intra sosial-kultural. Melalui media ini, masyarakat tidak saja mengetahui keragaman nilai-nilai budaya yang ada akan tetapi sekaligus menghargai keragaman itu sebagai sebuah modal nasional. Komunikasi di masyarakat yang mempunyai keragaman nilai, merupakan suatu keharusan karena melalui itulah pemahaman akan keragaman itu bisa dimengerti, baik sebagai sebuah eksistensi maupun sebagai modal nasional. Komunikasi bisa diartikan sebagai sebuah diskusi, komentar, kontak sosial atau kegiatan bersama. Hanya melalui cara itulah keragaman itu bisa dipahami.
Pada lingkungan politik, ideologi sering dikeramatkan demi menyelamatkan muka rezim atau menyelamatkan kesatuan bangsa. Orde Baru misalnya, sangat mengkeramatkan ideologi Pancasila yang dipandang sebagai falsafah dasar. Praktik seperti ini mempunyai dua sisi. Praktik demikian benar untuk situasi sosial yang tidak berubah atau konstan. Tetapi akan menjadi sangat keliru apabila dipraktikkan di negara yang mengikuti arus perubahan sosial. Praktik yang dilakukan negara, misalnya Korea Utara, hanya akan membuat sebuah negara ketinggalan zaman di segala bidang.
Melakukan Revisi
Di negara yang mengikuti arus perubahan sosial, ideologi justru bisa diperbincangkan demi melakukan revisi terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku. Setidaknya, negara Cina bisa dipakai contoh untuk hal ini. Negara ini tetap berideologi komunis tetapi memberikan pasar ‘campur tangan’ dalam urusana negara. Inilah yang membuat Coca Cola bisa masuk negara itu, dan wisatawan Cina kini telah mulai bertebaran di seluruh dunia.
Ideologi yang terbentuk sebagai akibat dari melting pot, endapan atau intisasi dari keragaman kultural yang hidup di sebuah negara, seharusnya memberikan ruang untuk tidak mengkeramatkan diri. Ia tetap ada akan tetapi terbuka terhadap kritik. Sebab, mungkin saja sebelumnya ada endapan ideologis dari komponen bangsa yang kuantitasnya mayoritas, atau sebaliknya komponen minoritas yang terlalu mendominasi. Praktik demokratisasi akan mampu membingkai ideologi itu tetap utuh, meski sering didiskusikan. Karena itu, tindakan mengkeramatkan bukanlah cara untuk menjaga ideologi ini tetap utuh. Sebaliknya (dan sebaiknya) sebuah ideologi membuka diri terhadap masukan dan diskusi di dalam bingkai demokratisasi.
Pancasila jelas merupakan intisari dari ragam kultural bangsa. Karena itu, sebagai sebuah media komunikasi ia akan berfungsi untuk memahami ragam kultural yang ada di Indonesia. Posisi ini misalnya, paling terlihat pada sila Persatuan Indonesia. Sila ini secara tersembunyi mengakui adanya keragaman di Indonesia, bukan saja keragaman suku, bahasa, ras dan agama akan tetapi harus juga dipahami sebagai pengakuan akan keragaman sosial. Ada orang kaya, miskin, terdidik, tidak terdidik dan seterusnya. Tanpa ada perbedaan tidak mungkin ada frase persatuan Indonesia.
Sebagai media komunikasi, sila ini akan membingkai persatuan apabila misalnya terjadi salah pengertian, atau diskusi yang menyangkut keragaman tersebut. Dalam bidang bahasa misalnya, orang boleh berdebat mengapa bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa nasional, padahal etnik ini di Indonesia bukan memegang posisi mayoritas. Jawaban paling mudah yang terjadi pada bingkai Persatuan Indonesia adalah kenyataan bahwa bahasa itu tidak memiliki elemen struktur sosial, sehingga siapa pun akan nyaman memakainya. Bahasa ini egaliter, memiliki fungsi terapan yang sejajar, tidak membeda-bedakan kelas.
Bahasa Melayu juga telah menjadi lingua franca. Akan tetapi tetap dimungkinkan masuknya unsur-unsur serapan ke dalam bahasa tersebut sehingga menjadi pemerkaya bahasa Indonesia. Ia kemudian semakin berkembang dan dipakai oleh siapa saja.
Terorisme merupakan ‘ideologi baru’ di Indonesia. Dalam bingkai Pancasila, terorisme bisa diperdebatkan dalam konteks Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Diskusi, penangkapan, hukuman dan penelitian terhadap terorisme tidak boleh berhenti di Indonesia. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab membingkai siapa pun di Indonesia untuk melakukan langkah diskusi itu karena terorisme merupakan tindakan yang tidak beradab, tidak sesuai dengan kemanusiaan dan sangat tidak adil bagi kehidupan manusia. Sebagai media komunikasi, sila ini akan memberikan perlindungan untuk mengatasi persoalan kepada terorisme. Siapakah yang tidak menderita ketika dirinya tidak bersalah tiba-tiba saja terkena tindakan teroris?
Sila Keadilan Sosial pun sangat jelas bisa dipakai untuk ‘menampar’ pemerintah pada tingkat mana pun apabila terjadi kesenjangan sosial yang begitu nyata, misalnya.
Dengan demikian, sesungguhnya Indonesia modern memiliki dua komponen pembimbing yang bisa dipakai untuk mendorong lajunya kehidupan sosial. Pancasila merupakan intisari nilai-nilai yang ada pada masyarakat Indonesia yang bisa dipakai sebagai arena komunikasi untuk mendiskusikan segala persoalan bangsa. Dalam bingkai Pancasila, seharunsya tidak dikekang adanya diskusi apa pun.
Kedua adalah demokrasi. Asas ini jelas merupakan pungutan dari pemikiran Barat. Namun Indonesia telah mengadaptasinya. Demokrasi juga memberikan hak kebebasan bersuara dalam bingkai penghargaan Indonesia. Kini hanya tinggal memahami dua ideologi tersebut untuk menjami kehidupan negara yang lebih maju.***
 
Penulis, staf pengajar sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana.
Sajak-Sajak Nurul Ambriyati Salam *
DI KUBANGAN LUMPUR
pada parit-parit dahi dan usia
jatuh  bangun suka-duka
meninggalkan  jejak perjalanan kita
bersama memburu dan mencari
jalan keluar dari terowongan lembab begini
di saban akhir tahun
nyatanya kita masih saja berputar-putar di sini
hanya bisa mengeja bangga nama sendiri
(itu pun tak lagi orisinal)
sambil memandang ke belakang yang juga tak bercahaya
tak bisa memahami arti dan membaca kanan-kiri
terbius  oleh nikmat khianat
di warna rambut dan kerut keriput kulit
terlukis lamanya kita berputar-putar serupa keledai
tanahair tetap saja jauh dari kemerdekaan didamba
keasyikan menjajakannya dan nikmat ketidaksadaran
sajak yang menuba nikmat dijawab amarah
dendam berkobar membakar hangus kjejujuran penyair:
kita sedang di kubangan lumpur, durang
di kubangan
esok yang buram menanti cucu
jadinya kemapanan ini dibangun di atas kerusakan
2012.
ADAT
menjilat dan mendusta menjadi mode hari ini
isyarat tenggelamnya jiwa membatu mendekati dasar samudra
keberingasan mewarnai kata-kata dan tindakan
oleh tumpulnya akal ketika terjebak kebuntuan
tuhan diperosotkan
suku menjadi benteng keganasan
aku berada di kampung putusasa
mengenakan pakaian leluhur
adat tinggal pakaian
2012.
DI SEBUAH DANAU
di danau kemarau panjang
ribuan ikan mati di lubuk menganga
tebing hijau
hijau sawit mengganti rimba
di riap rimbun kepapaan dusun
bersarang ajal dan bencana
ikan mati di lubuk menganga
siapakah mereka?
2012.
LUMBUNG TANAH DAYAK
mereka membuka ladang
mimpikan padi yang ditanam ilalang
musim tuai tiba
lumbung dukuh melimpah duka
2012
*). Seorang penyair asal Bugis-Makassar. Sajak-sajak ini diserahkannya kepada Pengasuh SP Radar Sampit sebelum kembali ke Makassar, adalah kesan-kesannya setelah berkunjung ke Kalteng.
 
Pelajaran Dasar Bahasa Dayak
Asuhan Kusni Sulang
KUTAK PANYAMBUNG
(Kata Sambung)
Kutak Panyambung adalah kata yang menghubungkan dua kelompok kalimat pada kalimat majemuk sehingga dua kalimat itu terangkai menjadi satu kalimat.
Dalam Bahasa Dayak Ngaju  kutak panyambung itu adalah:
tuntang = dan; dengan=bersama, serta, dengan; amun = kalau; sakututu, kateteke = sebenarnya;yete= yaitu; metuh= ketika; je=yang ; atawa= atau; aluh, manyau = walau pun;  limbah te= setelah itu, kemudian; narai bewei= apa pun juga; malengkan= tetapi; sambil= sambil, sembari; awi =karena; sabab= sebab; haranan te= oleh karena itu;maka= maka; baya= hanya; umpama= missal;  tinai =lagi; beken hindai, beken tinai= lain lagi; sampa-sampai= sampai-sampai; uka= agar; jaka = sekiranya, jika;
 
UNGKAPAN DAN PERIBAHASA DAYAK NGAJU
Kilau indu ampit.Seperti induk pipit. Perempuan yang tak memperhatikan penampilannya.
Kilau humbang salembang bukue.Seperti bambu tak berbuku. Orang yang cerdik.
Kilau auh humbang pusit. Seperti suara bambu pecah. Suara yang tak merdu, tak nyaman didengar.
Kilau intan buah garinda. Seperti intan telah digerinda. Bertambah baik karena telah diolah.
Kilau uluh mamani hung bentuk jalan. Seperti orang berak di tengah jalan. Melakukan perbuatan yang memalukan.
Kilau jagau mangalinda pehuk. Seperti si jantan menguntit betinanya. Tidak bisa berjauhan dari orang yang disukainya.
 
MATI TERSENYUM ALA BUNG KARNO
(Hasil Percakapan  Bung Karno Dan Kadirun Yahya)
Suatu hari, pada sekitar bulan Juli 1965, Bung Karno berdialog dengan Kadirun Yahya, anggota dewan kurator seksi ilmiah Universitas Sumatra Utara (USU).
Bung Karno (BK): Saya bertanya-tanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu, tapi semua jawaban tidak ada yang memuaskan saya, en jij bent ulama, tegelijk intellectueel van de exacta en metaphysica-man.
Kadirun Yahya (KY): Apa soalnya Bapak Presiden?
BK: Saya bertanya lebih dahulu tentang hal lain, sebelum saya memajukan pertanyaan yang sebenarnya. Manakah yang lebih tinggi, presidentschap atau generaalschap atau professorschap dibandingkan dengan surga-schap?
KY: Surga-schap. Untuk menjadi presiden, atau profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan mengabdi pada nusa dan bangsa, atau ilmu pengetahuan, sedangkan untuk mendapatkan surga harus berkorban untuk Allah segala-galanya berpuluh-puluh tahun, bahkan menurut Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup baru dapat masuk nirwana.
BK: Accord, Nu heb ik je te pakken Proffesor (sekarang baru dapat kutangkap Engkau,Profesor.) Sebelum saya ajukan pertanyaan pokok, saya cerita sedikit: Saya telah banyak melihat teman-teman saya matinya jelek karena banyak dosanya, saya pun banyak dosanya dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Quran dan hadist. Bagaimana caranya supaya dengan mudah menghapus dosa saya dan dapat ampunan dan mati senyum; dan saya ketemu satu hadist yang bagi saya sangat berharga.
Bunyinya kira-kira begini: Seorang wanita pelacur penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing yang kehausan. Wanita tadi mengambil segayung air dan memberi anjing yang kehausan itu minum. Rasulullah lewat dan berkata, “Hai para sahabatku, lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, terhapus dosa wanita itu di dunia dan akhirat dan ia ahli surga!!! Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh tahun itu pun barangkali.Sekarang seorang wanita yang banyak berdosa hanya dengan sedikit saja jasa, itu pun pada seekor anjing, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor? Waar zit‘t geheim?
Kadirun Yahya hening sejenak lalu berdiri meminta kertas.
KY: Presiden, U zei, dat U in 10 jaren’t antwoor neit hebt kunnen vinden, laten we zein (Presiden, tadi Bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, mari kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam dua menit, saya dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Bung karno adalah seorang insinyur dan Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika, jadi bahasa mereka sama: eksakta.
KY menulis dikertas:10/10 = 1.
BK menjawab: Ya.
KY: 10/100 = 1/10.
BK: Ya.
Y: 10/1000 = 1/100.
BK: Ya.
KY: 10/bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: 1000000/ bilangan tak berhingga = 0.
BK: Ya.
KY: Berapa saja ditambah apa saja dibagi sesuatu tak berhingga samadengan 0.
BK: Ya.
KY: Dosa dibagi sesuatu tak berhingga sama dengan 0.
BK: Ya.
KY: Nah…, 1 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1/2 x bilangan tak berhingga = bilangan tak berhingga. 1 zarah x bilangan tak berhingga =tak berhingga.Perlu diingat bahwa Allah adalah Mahatakberhingga. Sehingga, sang wanita walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekali pun, mengkaitkan, menggandengkan gerakkannya dengan Yang Maha Akbar, mengikutsertakan Yang Mahabesar dalam gerakkannya, maka hasil dari gerakkannya itu menghasikan ibadat paling besar, yang langsung dihadapkan pada dosanya yang banyak, maka pada saat itu pula dosanya hancur berkeping keping. Hal ini dijelaskan sebagai berikut: (1 zarah x tak berhingga)/dosa = tak berhingga.
BK diam sejenak lalu bertanya: Bagaimana ia dapat hubungan dengan Sang Tuhan?
KY: Dengan mendapatkan frekuensinya. Tanpa mendapatkan frekuensinya tidak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio kita dengan frekuensi yang tidak sama, radio kita tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga, walaupun Tuhan dikabarkan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tidak mungkin kontak jika frekuensinya tidak sama.
BK berdiri dan berucap: Professor, you are marvelous, you are wonderful, enourmous. Kemudian dia merangkul KY dan berkata: Profesor, doakan saya supaya saya dapat mati dengan senyum di belakang hari.
Beberapa tahun kemudian, Bung karno meninggal dunia. Resensi-resensi harian-harian dan majalah-majalah ibukota yang mengkover kepergian beliau, selalu memberitakan bahwa beliau dalam keadaan senyum ketika menutup mata untuk selama-lamanya. (Sumber: nasional-list nasional-list@yahoogroups.com.)
 
BERANGKAT KE TANAH BUANGAN
                                             Mémoire Tri Ramidjo*    
Akhirnya  ibu  sampai  di  Kantor  Polisi  Jomblang.  Keadaan kantor  itu masih sepi. Ada seorang  ibu dengan dua orang anaknya. Ibu itu Ibu Mastur namanya dan datang dari Ungaran. Abangku Darsono yang digendong  reserse Polisi Sanusi  terus tidur  nyenyak.  Rupanya  reserse  yang  gendut  itu  tubuhnya  cukup empuk seperti kasur, sehingga abangku bisa tidur pulas dan bahkan mengompoli reserse polisi gendut Sanusi itu. Hahaha… ibuku tertawa.
Karena  tidak  membawa  apa-apa  dan  tidak  membawa pengganti pakaian, maka  ibu minta  tolong kepada  Ibu Mastur yang telah  lebih  dulu  datang  untuk  meminjamkan  pakaian  anaknya pengganti pakaian abangku yang ngompol itu.  Setelah  agak  lama  menunggu,  berdatanganlah  ibu-ibu  dari Suburan  dan  tempat-tempat  lain  sekitar  Semarang.  Kemudian datang dua buah mobil polisi bercat hitam.
Ibu-ibu  dan  anak-anak  sekitar  50  orang  lebih,  diperintahkan naik ke mobil hitam  itu dan kemudian pintunya ditutup  rapat. Tak bisa melihat apa-apa ke luar.  Mobil  dijalankan,  ketika  mobil  berhenti  dan  pintu  dibuka, kami sudah sampai di Pelabuhan Semarang. Ibu-ibu yang naik mobil itu  semuanya  turun  dan  langsung  naik  ke  motorboat  yang  sudah menunggu di situ.
Keadaan sekitar masih gelap dan motorboat berlayar membelah laut  yang  tenang.  Hanya  kabut  putih  yang  terlihat.  Kemudian terlihatlah benda  seperti gunung kecil di  tengah  laut, dan motorboat yang dinaiki  itu menuju ke  arah gunung  itu.  Setelah dekat barulah terlihat jelas, bahwa itu adalah kapal perang Kruiser Java.
Menurut  ibuku, pemerintah Hindia Belanda waktu  itu hanya memiliki  dua  kapal  perang,  yaitu  Kruiser  Java  dan  Kruiser Sumatra. Lainnya adalah kapal-kapal perang kecil seperti Seven Provincien, Van Halen,  dan  beberapa  kapal  kecil  lainnya.  Juga  ada  beberapa  kapal putih. Yang dimaksud dengan kapal putih  ini  ialah kapal  setengah marinir  seperti  Folmahout,  Albatros,  Rhumphius,  dan  entah  apa  lagi.
Kapal-kapal  putih  inilah  yang  sebulan  sekali  bergantian  datang  ke Tanah Merah Digul mengangkut bahan pangan. Setelah  motorboat  merapat  ke  kapal  perang  itu,  tangga diturunkan dan penumpang motorboat yang  terdiri dari  ibu-ibu dan anak-anak dinaikkan ke geladak Kruiser Java.
Dapat  dibayangkan  betapa  sulitnya  ibu-ibu  yang  berkain panjang  itu  menaiki  tangga  kapal.  Tetapi marinir-marinir  Belanda totok  itu  dengan  tangkas  membantu  ibu-ibu  dan  menggendong anak-anak  menaiki  tangga  dan  naik  ke  geladak  kapal.  Marinir-marinir  itu  berlaku  sangat  baik  dan  ramah  walaupun  tidak  dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Kemudian mereka ditempatkan di  ruangan yang  cukup besar berlantai  marmer.  Dan  tak  lama  kemudian  dihidangkan  makanan dan minuman air susu coklat. Air es juga disediakan.  Makanan yang dihidangkan  cukup baik, yaitu makanan yang diperuntukkan  para  marinir  dan  tentu  saja  jauh  berbeda  dengan makanan  tapol  di  RTC-Salemba  atau  Pulau  Buru,  makanan  orba Soeharto.
Kapal  pun  mulai  berlayar  dan  itu  terjadi  pada  tanggal  12 Maret 1927.
Dalam  pelayaran  itu,  ibuku  dan  teman-temannya  tidak  ada yang mabuk  laut  karena  kapal yang dinaiki  cukup  besar dan  tidak terombang-ambing gelombang. Di  ruangan kapal  itu  sangat panas, mungkin karena  ruangan itu berada di dekat kamar mesin.
Bagaimana ibuku tidur? Tentu saja tidur bergeletakan di lantai kapal  yang  bersih.  Dan  tentu  saja  dengan  leluasa  pergi  ke  kamar kecil  (wc)  untuk membuang  hajat,  tidak  seperti  kapal  yang  dinaiki tapol waktu dikirim ke Pulau Buru.
Ya,  kata  ibuku pelayanan  di  kapal perang  itu  jauh  lebih  baik kalau dibandingkan dengan kapal penumpang dek di KPM. Ibuku di waktu  kecil  sering  berlayar mengikuti  ayahnya dan bahkan  pernah  ke  Pulau  Lombok  ke  kota  Praya.  Kakekku,  Kiai Hasan Wirogo, dalam melakukan  siar agama, pergi ke mana-mana, dan  yang  terakhir  ke  daerah  Lampung-Sumatra.  Di  sana  hilang lenyap  tidak  diketemukan  jasadnya  di  Sungai  Tulang  Bawang, Lampung.  Konon  ceritanya,  kakekku  yang  sangat mahir  berenang itu  menyeberangi  Sungai  Tulang  Bawang  dengan  berenang  dan terbawa arus sungai yang deras.
Dalam  pelayaran,  ibu-ibu  mendapat  sabun  cuci  dan  sabun mandi,  tetapi  bagaimana  mandi  dengan  air  di  keran-keran  kapal yang airnya air laut dan asin itu?  Setiap ibu hanya mendapat air tawar satu wastafel. Sebenarnya untuk marinir  yang  orang  Belanda  itu,  satu wastafel  sudah  cukup untuk  membersihkan  diri.  Tapi  bagi  ibu-ibu  yang  belum  pernah berlayar  yang  tidak  biasa  menghemat  pemakaian  air,  tentu  saja terasa  sangat  jauh dari mencukupi, apalagi untuk mencuci. Dengan air  laut  yang  asin  tentu  saja memakai  sabun  yang  sangat  baik pun tidak akan berbusa.
Ibu  mandi  dengan  memakai  air  tawar  seperlunya  dan kemudian  dibilas  dengar  air  keran  yang  dari  air  laut,  dengan demikian  bisa  mencuci  bersih  dan  sabunnya  bisa  bekerja  aktif. Pengetahuan  sederhana  ini  diajarkannya  kepada  teman-temannya, ibu-ibu lainnya.
Dalam  pelayaran  itu,  ibu  tidak  membawa  peralatan sembahyang,  tetapi  beliau  tetap  melakukan  sembahyang  menurut apa adanya, apalagi di ruangan  itu  tidak ada kaum pria, hanya  ibu-ibu dan anak-anak.
Ya,  ibuku  yang  sejak  kecil  hidup  di  pondok  pesantren  itu sangat taat menunaikan ibadahnya, sehingga waktu yang sedikit saja terluang  pasti  digunakannya  untuk  berzikir.  Ibu  memang  orang yang sangat sabar, tidak pernah marah dan selalu bersikap halus dan ramah kepada siapa saja.
Aku  merasakan  sejak  kecil  hingga  dewasa  belum  pernah dimarahi  atau dibentak  oleh  ibu  ataupun  ayahku. Ayah dan  ibuku benar-benar  orang  yang  memegang  teguh  ajaran  Alqur’an,  bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam perbuatannya sehari-hari.  Aku  sungguh  iri  dan  ingin  menirunya,  tetapi  aku  yang pemarah  ini masih  juga  belum  berhasil mengendalikan  diri  seperti ibu dan ayahku. Terkadang aku malu sendiri, mengapa sebagai anak Bapak dan Ibu Ramidjo tak bisa meniru mereka.
Pada tanggal 18 Maret 1927, yaitu enam hari setelah berlayar, Kruiser  Java  melego  jangkarnya  untuk  berlabuh  di  tengah  laut. Rupanya kapal perang itu sudah sampai di Laut Banda.  Ibu-ibu  diperintahkan  untuk  berpakaian  rapi  dan  kemudian naik ke geladak kapal. Ternyata di sana telah menunggu para suami mereka.  Sungguh  suatu  pertemuan  keluarga  yang  penuh  gembira dan mengharukan.
Abangku Darsono  dan  kakakku Darsini  segera menghambur memeluk  ayahku  dan minta  gendong.  Dan  aku  sendiri?  Tentu  saja aku  belum  bisa  apa-apa  dan  hanya  didekap  erat  ibuku  yang mulutnya  komat-kamit  memuji  Allah  yang  mahabesar  dengan ucapan  subhanallah…  alhamdulillah… walaillahaillallah…  allahuakbar… tak henti-hentinya.
Ya,  di  dalam  suka  dan  duka,  ibu  memang  tak  pernah  lupa kepada  Allah,  dan  ketika  ibu  menghembuskan  nafasnya  yang terakhir  pun  masih  memegang  erat  tasbih  yang  selalu  berada  di tangannya.  Ya,  kukira  jarang  sekali mendapatkan  seorang  muslim seperti  ibuku  yang  tak  pernah  mengeluh,  berbohong,  dan  marah, berserah dirinya kepada Allah benar-benar dari  lubuk hatinya yang paling dalam.
Yang  sangat  mengharukan  menurut  cerita  ibu  adalah pertemuan Oom Ali yang juga dari Semarang dengan istrinya. Sebab, Oom  Ali  dan  istrinya  ini  adalah  pemuda-pemudi  pengantin  baru yang belum genap seminggu menikah.  Kepada  mereka  yang  sudah  berada  di  geladak  kapal  itu dibagikan  kapas.  O,  rupanya  untuk  penyumbat  telinga,  sebab marinir-marinir itu akan mengadakan latihan tembak. Sasaran  tembak  yang  menyerupai  perahu  layar  diturunkan dari kapal perang dan kemudian ditarik dengan motorboat pada jarak yang  sangat  jauh. Motorboat  kembali  ke  kapal  perang  dan  sasaran tembak  yang  berada  sangat  jauh  itu  layarnya  ditembak  dengan meriam.
Latihan tembak  itu berlangsung dari  jam 4 sore sampai  jam 8 malam.  Dan  ketika  hari  mulai  gelap,  sasaran  tembak  itu  disorot dengan cahaya senter jarak jauh yang sangat terang.
“Astaghfirullah,” gumam  ibu berulang-ulang, “mengapa kafir-kafir  ini  melakukan  pekerjaan  yang  merugi.  Bukankah  daripada membeli peluru meriam  lebih baik uangnya dibagikan kepada  fakir miskin  atau untuk membangun pabrik-pabrik  supaya  semua  orang bisa  bekerja  dan memperoleh  nafkah  untuk  hidupnya? Dasar  kafir tidak tahu arti hidup dan kerjanya hanya merusak.”
Ibu menitikkan air mata.
“Bu  Ramidjo,  mengapa  menangis?  Bukankah  tontonan  ini sangat mengasyikkan?” tanya seorang ibu di sebelah ibuku.
“Maaf,  saya  sedih,  mengapa  kafir-kafir  itu  menghambur-hamburkan  uang?  Bukankah  rakyat  kita  banyak  yang  menderita?
Bukankah  daripada  membeli  peluru  meriam,  uangnya  lebih  baik untuk mengenyangkan perut  rakyat? Kita memang harus mengusir kafir-kafir itu dari bumi tanah air kita. Saya tidak suka meriam yang gunanya  hanya  untuk membunuh  dan merusak.  Buat  apa  bunuh-membunuh sesama umat manusia.
Astaghfirullah…,” jawab ibuku.
“Sabar Zus, kita  ini  jadi orang buangan, dan pengalaman apa lagi yang kita temui nanti,” kata ibu itu.
Setelah jam 8 malam, latihan tembak itu berhenti, ibu-ibu dan anak-anak  kembali  ke  ruangan  semula.  Para  bapak-bapak  juga kembali  ke  tempatnya  semula,  jadi  mereka  terpisah  lagi  dengan keluarganya.
Latihan  perang-perangan  itu  berlangsung  dua malam,  yaitu tanggal  18  dan  19  Maret  1927,  dan  kemudian  meneruskan pelayarannya.
Pada  tanggal  20 Maret  1927  jam  8 pagi, Kruiser  Java berhenti dan  berlabuh  menurunkan  jangkarnya  di  dekat  Pulau  Frederik Hendrik.
Dan  pada  jam  9  pagi,  Letnan  Dreyher  yang  datang  dengan kapal  putih  Fomalhout  naik  ke  Kruiser  Java  untuk menerima  orang-orang buangan, untuk kemudian  jam 2  siang dipindahkan ke kapal Fomalhout meneruskan pelayaran ke Tanah Merah Boven Digul.
Tiga  hari  tiga  malam  menaiki  kapal  Fomalhout  berlayar  di sungai  yang  lebar  dan  dalam,  Sungai  Digul,  dan  akhirnya  pada tanggal 23 Maret 1927  jam 10 pagi, kapal berlabuh di  tepian sebelah timur  Sungai  Digul,  di  kota  kecil  yang  belum  menjadi  kota,  tapi masih berupa hutan belantara Tanah Merah.
Setelah  sampai  di  Tanah  Merah,  rombongan  interniran1  itu mendarat ke tepian Sungai Digul sebelah timur. Di tempat itu sudah berdiri  12  atau  13  barak.  Barak-barak  itu  sudah  ada  yang  berisi rombongan  interniran  pertama,  yaitu  rombongan  Pak  Ali  Archam, Budi Soetjitro, dkk.
Keluarga  ibuku  dan  teman-temannya  ditempatkan  di  barak nomor  5.  Barak  itu  beratap  rumbia  dan  dindingnya  perlak militer berwarna  hijau  yang  hanya  digantungkan  saja  dan  berkibar-kibar kalau ditiup angin. Siang hari, nyamuk dan agas banyak sekali, dan nyamuk-nyamuk  ini  langsung  menyambut  mengucapkan  terima kasih dan selamat datang dengan gigitannya yang cukup gatal.
Kepada  setiap  orang  dibagikan  kelambu  militer.  Kelambu-kelambu  itu  terbuat dari  kain paris  tipis  tetapi  cukup  kuat,  namun kelambu  itu  kelambu  kecil  untuk  satu  orang.  Keluarga  ibuku mendapat  empat  kelambu,  dan  oleh  ibu  kelambu  tersebut  didedel2 dan  dijahit menjadi  satu  kelambu  besar  sehingga  kami  sekeluarga bisa tidur dalam satu kelambu.
Bagaimana  lantai  barak  itu? Tentu  saja  lantainya  tanah  yang masih  lembab  karena  tempat  itu  adalah  daerah  rawa.  Kayu-kayu gelondongan  yang  besarnya  lebih  besar  dari  pohon  kelapa,  itulah yang dijadikan pangkeng tempat tidur.
Jadi,  para  interniran  itu  tidur  di  atas  pangkeng  kayu-kayu gelondongan. Yang membawa tikar atau kasur bisa menggelarnya di atas  pangkeng  kayu-kayu  gelondongan  itu,  tetapi  keluarga  ibuku yang  tidak  sempat  membawa  apa-apa  terpaksa  meminjam  kain panjang  kepada  teman-teman untuk  alas  tidur. Dapat dibayangkan betapa sakitnya punggung yang tidur di atas kayu gelondongan itu.
Barak  itu  sangat  panjang,  kira-kira  50  meter,  dan  para keluarga  buangan  itu  membagi  kaveling  pangkeng  tempat  tidur kayu  gelondongan  itu  dengan menggantungkan  kain  panjang  atau kain  apa  saja  sebagai  batas  tempat  tidur  keluarga  masing-masing. Karena  tidak  ada  dinding  dan  hanya  berbataskan  kain  panjang, maka anak-anak bisa saja bludusan3 ke kaveling keluarga orang lain.
Di  bawah  pangkeng  kayu-kayu  gelondongan  itu  tentu  saja penuh  dengan  serangga  macam-macam.  Ada  jangkrik,  kelabang, kalajengking, dan mungkin  juga ular. Dan ular yang  sangat berbisa di Tanah Merah adalah ular kaki empat yang mirip kadal, warnanya hitam kecoklat-coklatan dan kepalanya berbentuk segitiga.
Pernah  tetangga  kaveling  ibuku  yang  anaknya  namanya Pandji,  di  pagi  hari  ketika  bangun,  rambutnya  tidak  karuan, kepalanya  menjadi  setengah  gundul  karena  di  malam  hari rambutnya dikerikiti4 jangkrik.  Para  interniran  sebulan  lamanya  membersihkan  sekeliling barak, membakari pohon-pohon dan ranting-ranting bekas tebangan. Dan  bagi  interniran  yang  tidak  terbiasa  bekerja  kasar  tentu  saja merupakan siksaan yang luar biasa.
Di  suatu  hari  di  pagi  hari  setelah  bangun,  kakakku  Darsini bermain dengan  teman-temannya di halaman barak. Ada onggokan abu  bekas  membakar  dahan  dan  ranting-ranting  pohon.  Kakakku yang baru berumur 4 tahun itu bermain berlari-larian dan menginjak gundukan  abu  yang  rupanya  di  bawah  abu  yang  putih  itu  bara apinya masih menyala.
Kedua kaki Darsini terbakar bara menyala. Untunglah ayahku sangat  telaten5. Setiap hari kaki kakakku yang dua-duanya  terbakar itu  dijilati  ayahku  dan  diobati  dengan  minyak  bulus 6  dan  untuk memisahkan  jari-jari kaki yang lonyoh itu dibelek7 dengan silet setiap hari.
Aku  tak  dapat  membayangkan  betapa  sakitnya  dan  betapa pedihnya perasaan hati ayah-ibuku mengalami derita itu. Untunglah ayah  dan  ibuku  orang  yang  sejak  kecil  belajar  di  pesantren  dan jiwanya sangat teguh dan tidak pernah lupa memuji kebesaran Allah.
Bagaimana dengan makanan orang buangan? Apakah mereka terus-menerus  tinggal  di  barak?  Bagaimana  menjadikan  Tanah Merah perkampungan yang  sangat  teratur?  Setiap orang mendapat onderstand8 f.12,60  sampai dengan  tahun  1929. Bagaimana pengaruh krisis ekonomi (malaise) di tahun-tahun itu? Masih banyak  lagi  cerita-cerita  ibuku yang perlu kuceritakan kembali  dan  kutulis.  Sudah  banyak  buku-buku  tentang Digul,  tapi juga  ada  yang  ceritanya  berlebihan,  menggambarkan  seakan-akan orang  buangan  ditempatkan  di  kelder-kelder  dan  kamp  tahanan berpagar kawat berduri dan lain-lain yang sangat menyeramkan.
Tidak. Digul tidak seperti itu. Tidak ada pagar kawat berduri. Tidak  ada  penjagaan  ketat  seperti  tahanan  orba  Pulau  Buru.  Tidak ada penjara. Belanda  tidak  sekejam Soeharto dan masih punya  rasa perikemanusiaan.  Aku  yang  sejak  bayi  sampai  umur  14  tahun tinggal  di  Tanah  Merah  Digul  masih  bisa  bercerita  apa  adanya menurut kacamata anak-anak.
Cerita ibu akan kulanjutkan kalau kesehatanku membaik. Aku akan tulis apa yang masih kuingat walaupun orang sudah tidak mau lagi mendengar  tentang Digul,  sebab Digul menurut  orba memang tidak  ada.  Menurut  orba,  kemerdekaan  negeri  ini  datang  bukan karena perjuangan. Menurut orba Soeharto, tidak diperjuangkan pun kemerdekaan itu akan datang. Apa benar begitu, ya?
Selamat  tidur  dan  terima  kasih  kepada  teman  yang  mau buang waktu membaca tulisan ini. Sekian dulu.
Tangerang, Senin Pahing, 26 Maret 2007
Keterangan :
1. orang  yang  dibuang  di  dalam  negeri  Hindia  Belanda,  sebelumnya  Belanda membuang mereka yang tak disukainya ke negara Belanda.
2. dibongkar
3. keluar-masuk dengan bebas
4. digigit-gigiti
5. tekun
6. kura-kura
7. dibuka (dengan alat tajam pipih)
8. tunjangan
*Eks Digulis

SP Radar Sampit Edisi Kebudayaan dan Kekuasaan

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

                 KEBUDAYAAN DAN KEKUASAAN

Semua karya dan tindakan manusia dalam bidang apa pun bermula dari pikiran dan perasaan. Karena itu pikiran dan perasaan merupakan sari kebudayaan. Keadaan sosial-politik-ekonomi dan lingkungan memainkan peran penting dalam pembentukan pikiran dan perasaan ini. Hal begini bukan determinisme apa pun, karena   antara yang pertama dan yang kedua hubungan timbal-balik, pengaruh-memengaruhi. Berbeda dengan hal-hal yang bersifat indrawi, sari kebudayaan yang merupakan jiwa manusia sesungguhnya tidak bisa dengan mudah dihancurkan oleh kekerasan sebrutal apa pun. Bahkan waktu sekali pun memerlukan waktu panjang untuk mengubah sari pikiran dan perasaan ini.

Keadaan sosial-politik-ekonomi dan lingkungan memilah-milah entitas masyarakat ke dalam berbagai kepentingan, terutama kepentingan ekonomi yang kemudian terpusat pada politik dan polity. Apabila pengambil keputusan politik yang mengendakikan kekuasaan negara tidak mengindahkan kepentingan-kepntingan lain maka yang diterapkan adalah sistem otoritarianisme seperti diktatur, militerisme, paternalisme uluhbakasime, feodalisme, fasisme, dan sistem-sistem lain sesaudara. Sistem penindasan sekeluarga ini mencoba melikwidasi kepentingan-kepentingan lain yang berbeda, tanpa niat mempertimbangkan mereka sedikit pun. Barangkali hal begini merupakan bentuk dari wacana tentang negara primer yang mengandalkan dan bersandar pada kekerasan, sesuai prinsip survival of the fittest. Bertolak belakang dengan kodrat manusia yang adalah mahluk sosial. Mahluk kemasyarakatan. Dengan bersandar dan mengandalkan kekerasan, pengelola kekuasaan menjadikan masyarakat manusia sebagai sebuah rimba raya dengan hukum-hukum rimbanya. Patokan utamanya adalah membela dan mengembangkan kepentingan-kepentingan egoistik a-sosial. Mereka mencoba melanggengkan kekuasaan dengan membangun dinasti-dinasti utama dan pelapis. Memelihara para punggawa di sekitarnya sebagai kekuatan penyekat. Dengan 1001 cara semua kekuatan dari kepentingan lain dihancurkan dengan tanpa ampun. Mereka merampas semua akses dan mencegah kekuatan-kekuatan lain untuk mengakses alat-alat produksi dan mengembangkan sistem monopoli. Pendekatan kekuasaan dan kekerasan jadi utama. Akibatnya kesenjangan sosial yang tajam berkembang. Masyarakat menjadi tumpukan sekam memendam  bara api.

Penyelenggara kekuasaan yang beradab dan berbudaya, sesuai dengan kodrat manusia sebagai mahluk sosial, akan mempertimbangkan kekuatan kepentingan-kepentingan lain. Negara dan kekuasaannya tidak diperlakukan sebagai alat penindas tapi menjadi regulator agar tercipta kehidupan sosial yang manusiawi.

Dua pandangan tentang negara dan kekuasaan seperti di atas melahirkan dua keadaan mayarakat yang bertolak belakang. Malangnya yang diberlakukan untuk Republik Indonesia (RI) sekarang bukanlah negara dan kekuasaan sebagaimana yang diterakan dalam Pancasila dan UUD ’45 tapi negara dan kekuasaan tipe monopoli yang bersekutu dengan kekuasaan kapital asing. Kebudayaan yang berkembang dan dikembangkan pun adalah kebudayaan non republikan dan berkeindonesiaan dan kebudayaan begini dinamai kebudayaan modern atau global.

Untuk menghadapi kekuasaan dan negara non republikan dan non-indonesia begini, betapa pun tersendat-sendat oleh rupa-rupa kesulitan, patut dikembangkan budaya pembebasan, budaya yang mengangkat harkat dan martabat manusia, antara lain dengan mengkodifikasi buhul-buhul tipu muslihat kekuasaan, meratakan pengetahuan sebagai awal untuk menegakkan negara dan kekuasaan yang berbudaya dan beradab, menanam hasrat dan kemampuan bertanya sebagai awal dari upaya menjawab masalah. Dengan kata lain menyemai budaya kritis. Inilah yang disebut sebagai pembudayaan masyarakat.

Dalam  keadaan sekarang pembudayaan masyarakat ini  niscayanya dimulai dari rantai terlemah yaitu masyarakat yang paling menderita oleh sistem sekarang (tanpa memandang asal etnik, agama atau kelompok politik ), berbarengan dengan menangani masalah-masalah kongkret mereka sehari-hari, terutama masalah perut (tanpa terjerembab pada ekonomisme !).  Tujuan pembudayaan yang niscayanya menjadi gerakan kebudayaan, tidak lain bagaimana agar mereka menjadi aktor pembudayaan diri mereka sendiri, untuk akhirnya menjadi subyek, bukan obyek seperti hari ini. Gerakan pembudayaan ini pun patut dilakukan di Kalteng berjejaring dengan pembudayaan di mana pun. Masyarakat sipil ditandai oleh pendekatan kebudayaan, bukan oleh pendekatan kekuasaan dan kekerasan – ciri dari kekurangadaban – tapi hari ini malah menggejala.***

Apresiasi & Kritik

Kekuasaan dan Sansana

oleh Ben Abel

ba16@cornell.edu]

[Membaca “Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan” kumpulan sanjak
Magusig O Bungai]

(Singkatan)

 

Bagi seorang pembaca, jika menikmati hal yang sedang ditangan. Entah buku,entah pamphlet, maupun kumpulan photografi, semua-muanya dinikmati dahululah. Bila ia berkesan. Mungkin setelahnya akan datang pemikiran sesudah terjadi semacam residu, dan bertemunya dengan pasokan informasi yang sudah dimiliki. Artinya inilah saat berproses semua yang barusan  dinikmat dengan penuh minat tadi.

Jika saja membaca sambil melihat sekaligus menganalisa berbagai jeret informasi maupun lontaran pendapat yang sedang diikuti, maka besar kemungkinan tak bisa menikmati apa yang sedang dibaca. Juga besar kemungkinan akan tidak bisa memahami maksud penulis. Malahan munculnya berbagai penolakan maupun pemujaan yang berlebihan, sebagai akibat dari anutan faham yang telah membuahkan pikiran sekedar menyilahkannya untuk nikmati segala yang sesuai dengan maunya selera sendiri, atau menolak mentah segalanya tanpa bisa menemukan apa-apa selain dari ketertutupan yang tak disadari sungguh.

Dengan menyadari posisi seperti itulah penulis sampaikan hasil membaca buku; “sansana anak naga dan tahun-tahun pembunuhan” kumpulan sanjak Magusig O Bungai (Stichting ISDM, Culemborg – Nederland, 1990) Yang paling awal menyentak perhatian dari buku ini, seperti dijelaskan oleh penyaji, D. Tanaera. Bahwa penulis yang bernama unik, Magusig O Bungai, ini lahir “di tepi Sungai Katingan, Kalimantan Tengah.” Dari sukubangsa asal yang,  … “Biasanya orang dari daerah lain menamakan sukubangsa asal Magusig adalah D a y a k. Tapi sesungguhnya mereka sendiri menamakan diri S a h a w u n g.”  (hal.8)  Sangat langka ada penulis dari Kalimantan Tengah, mengaku asal sukubangsa asal[nya] sebagai D a y a k pula. Sekalipun penjelasan dalam kalimat cukup membuat tanda tanya juga.

Mengapa Magusig tidak ditulis saja sebagai Orang Dayak? Seperti halnya pada Orang Jawa atau Orang Ambon, dsbnya. penduduk Nusantara, Indonesia umumnya. Mengapa pula Magusig mengaku sebutan diri sebagai Sahawung? Dan seolah megakui bahwa istilah Dayak atas sukubangsa[nya] bukan nama pilihan puak[nya] yang dikatakan sebagai “mereka sendiri menamakan diri S a h a w u n g.” Tentunya informasi ini berasal dari Magusig sendiri. Kenapa pula hal-hal begini jadi menarik minat?

Tentu saja, sebagai orang yang sama berasal dari Kalimantan Tengah. Sekalipun bukan dari daerah aliran sungai (DAS) Katingan, tetapi pasti mempunyai kesamaan [“kesamaan” bukan mutlak-sama]  dalam beberapa hal kebudayaan maupun kebiasaan (tradisi) dari DAS Kahayan tempat penulis berasal. Terutama dalam hal bahasa dan kepercayaan tua yang lebih dikenal sebagai agama helu (tua/lama) atau Kaharingan. Dalam hal istilah Orang Dayak, rasanya tidak mungkin Magusig ragu menyebut identitas diri sebagai Uluh Dayak Ngaju (Orang Dayak Ngaju). Kemungkinan yang membuat kalimat ini terkesan ragu-ragu adalah pandangan penyaji sendiri, mengenai apa yang dianggapnya dengan yang diistilahkan sebagai “Dayak.” Ini memang dilema dalam pola pikir keindonesiaan orang-orang dari berbagai sukubangsaan sesuatu yang Indonesia. Dimana semenjak adanya kebijaksanaan pemerintah dalam hal keimigrasian yang mengorbankan sukubangsa tertentu, khususnya terhadap sukubangsa Cina, atau Tionghoa, maupun Hoa Kiau (PP10/1959; Lihat juga Pramoedya Ananta Toer, “Hoa Kiau di Indonesia” 1960 dan 1998),terbentuklah stigma irasional perihal keaselian dan bukan, dari orang-orang yang menjadi warga negara satu Republik Indonesia. Hal beginijustru melanggengkan pembedaan dan pengadudombaan sebagai warisan kuasa kolonialisme dalam memerintah seluruh Nusantara. Ada yang pribumi dan bukan. Sekalipun sudah lahir dan besar, bahkan mempunyai bahasa daerah dimana mukimnya, yang memang seharusnya menjadikan yang bersangkutan sebagai pribumi juga. Tetap saja asing [atau pribumi asal asing]  karena nenek moyangnya berasal dari benua, pulau atau negeri lain. Dalam istilah Pramoedya Ananta Toer, “orang asing yang tidak asing.” (“Hoa Kiau…, 1960, hal.14) Ditambah pula romantisme akan persatuan dan kesatuan dalam politik militerisme keamanan nasional sepanjang orde baru (Soeharto) yang begitu obsesif menyeragamkan segalanya. Orang dipaksa untuk tidak mengakui sukubangsanya lagi. Tetapi ada 2 sukubangsa yang sangat menonjol, dan satu lebih dominan. Yakni sukubangsa Bali dengan pulau dewatanya yang unggul karena turisme, serta sukubangsa Jawa yang mempunyai keunggulan riwayat maupun kesah kemajuan adatnya, dan masih memiliki sultan-sultan dan susuhunan (raja-raja) dsbnya yang diakui oleh negara. Yang diluar itu praktis menjadi peripheri semata. Dengan program Indonesianisasi sedemikian, sukubangsa pinggiran merasa seperti sedang dihabisi saja. Apalagi sukubangsa di pulau-pulau terbesar, seperti Kalimantan dan Papua Barat menjadi semakin terpojok, karena memang mempunyai kesah tradisi primitive, seperti kayau (berburu/potong kepala) dan makan sesamanya (kanibalisme).

Disamping itu memang jauh dari pusat kekuasaan. Dengan stigma Dayak sama dengan potong kepala, dan Papua sama dengan mangan wong (makan orang). Untuk keluar dari ini, lahirlah [atau dilahirkan] istilah-istilah baru, seperti orang Kalimantan, orang Irian, non-pri (akhir-akhir ini masuk istilah Chinese dari bahasa Inggris) dsbnya. Jadi dengan alasan demikian, yakinlah penulis bahwa bukan kehendak Magusig menjadi ragu menulis identitas diri sebagai Orang Dayak. Sedang istilah Sahawung, sejauh yang pernah penulis ketahui, itu bukan sebutan bagi seluruh Orang Dayak secara umum, tetapi merupakan sebutan bagi orang yang telah menamatkan satu keahlian beladiri dan sedang menajalankan latihan sebagai penjaga kampung halaman (negeri). Semacam perwira. Memang dalam Bahasa Sangen [bahasa Sangiang = bahasa ritual Kaharingan], tiap lelaki Dayak disebut sebagai Sahawung. Mungkin sekali, inilah yang dimaksudkan oleh Magusig. Tetapi yang diterima penyaji ada sedikit tersingkat, barangkali.

Dalam pengantar yang ditulis oleh mendiang Profesor Dr. W.F. Wertheim, beliau menyitir satu sanjak yang berjudul “Hutan pun bukan lagi di mana rahasia bisa berlindung.”  (hal.41) Sanjak Magusig ini mengisahkan tentang penemuan kuburan masal 15.000 prajurit Polandia yang dieksekusi secara rahasia, lalu dikubur ditengah hutan Katyn. Tetapi 50 tahun kemudian diketemukan. Magusig jelas terkesan dengan cerita dan berita begini, karena ia mengingatkannya kepada banyak kasus yang telah terjadi dengan kawan-kawan anggota maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia dan Soekarnois. Profesor Wertheim, menyatakan …”perkara masaker di Indonesia 25 tahun [baca 40 tahun, karena buku ini terbit di 1990] yang lalu agak berlainan dari pembunuhan Katyn yang menimpa 15.000 orang perwira Polandia. Kelainannya ialah oleh karena masaker di Indonesia itu pada hakikatnya tidak ada rahasianya sama sekali. Pembunuhan massal di Indonesia atas tanggung jawab Jenderal Suharto bukanlah suatu rahasia. Si penanggung jawab ini justru terus menerus bangga akan perbuatannya.” (hal.13) Tentu saja jika orang teringat pengakuan Jenderal Soeharto dalam otobiografinya (baca: Ramadhan KH, “otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya,” 1989). Bagaimana dia membanggakan cara tidak manusiawinya dalam memberantas kejahatan dengan melaksanakan Petrus (Penembakan Misterius) yang dinamakannya sebagai shock theraphy. Tentang pembantaian sepanjang 1965-1968, Soeharto memang belum pernah mengakuinya.

Tetapi dengan banyaknya kesaksian dan analisa yang telah dibukukan, seperti “Pledoi Kol. A. Latief, Soeharto Terlibat G 30 S” (lih. Juga “Petrus dadi ratu” New Left Review 3, May-June 2000), dan banyak lagi. Seperti “Menembus tirai asap” (susunan HD Haryo Sasongko, 2003) Jika Magusig mengatakan 50 tahun kemudian rahasia hutan Katyn bisa terkuak, rahasia keterlibatan Soeharto umumnya sudah diketahui. Seperti yang diungkapkan oleh professor Wertheim, ya “hakikatnya tidak ada rahasianya sama sekali.” Hanya saja tidak semudah menggali kuburan masal di Katyn dalam membongkar seluruh kedok Soeharto yang terlanjur berhasil menguasai seluruh sumber negara selama tiga dekade. Lalu memperkayakan dirinya, beserta orang-orang kepercayaannya maupun mereka orang-orang yang bisa dibelinya. Selang masa 33 tahun merupakan waktu yang lebih dari cukup untuk membangun benteng-benteng kekokohan demi hari tuanya untuk menutup mata dengan semangkin tenang. Sebagaimana Soeharto sendiri saksiken dari pada rancang bangun lubang kuburannya sendiri di Mangadeg. Dia seolah menyatakan diri atau berfikir tidak akan meninggalkan dunia ini, tetapi akan gentayangan terus diseputar Mangadeg yang konon berpemandangan indah itu. Mungkin betul dia percaya arwahnya dikelak kemudian hari menjadi sesembahan orang. Dengan maksud agar mengasihi dia, karena diketahuinya bahwa baik di sorga maupun di neraka dia terlalu banyak mempunyai musuh.Makanya mendingan menjadi wewe di Mangadeg aja dah.

Buku kecil berisi kumpulan 22 sanjak ini bersampul merah, dengan ilustrasi sketsa seorang pahlawan [satria perang] berpakaian a la Maluku sedang mencabut pedang dari sarungnya yang terikat pada pinggang. Ia seakan memberi kesan kental dari warna larik-larik sanjak di dalamnya. Karena banyak nian tandak (bahasa Dayak Ngaju = slogan) yang berseruan “pantang mundur” maupun ajakan “melawan” selaik jiwa satria/pahlawan pemberani.Atau dalam bahasa Dayak Ngaju [Ngaju Dayak, jika menuruti istilah yang dipakai dalam buku ini, yang sesungguhnya merupakan bentuk ucapan dalam Bahasa Inggeris (hal.46), kontras dengan keterangan penyaji (hal.8)] dinamakan sebagai sifat mamut menteng alias gagah-[pem]berani. Dalam ungkapan penyaji; adalah “lazim disebut pekerja kobar” (hal.9).

Professor Wertheim pula, dalam pengantarnya menyatakan, “penting sekali bahwa Magusig [dengan sanjak-sanjaknya ini] mendorong anak-anak negerinya agar mencari kebenaran.” (hal.12) Dan “kumpulan sajak [ini] sangat menarik sebagai sumbangan kepada perjuangan untuk membangkitkan kepercayaan rakyat Indonesia akan kemampuannya sendiri.

Keterangan dari pengantar Professor Dr. W.F. Wertheim tersebut, kemungkinan sekali terambil kesannya dari larik-larik tandak sansana dari Magusig seperti:

 

adapun kami anak-anak negeri ini tak punya banyak pilihan
katakanlah apalagi yang bisa ditempuh untuk membangun harapan
padahal cinta tak berakhir di kata-kata
apalagi coba?!
maka yang tak mau jadi budak, ayo, bangkit memberontak!
(hal.28)

 

Yang menarik juga disimak adalah judul buku kumpulan sanjak ini. “Sansana Anak Naga Dan Tahun-Tahun Pembunuhan.” (diterbit ulang oleh Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2005, Red.) Dari penyaji dijelaskan bahwa :

“Biasanya orang dari daerah lain menamakan sukubangsa asal Magusig adalah D a y a k . Tapi, sesungguhnya mereka sendiri menamakan diri S a h a w o n g. Dan dalam puisi, termasuk dalam salah satu bentuk puisi Dayak Ngaju,yaitu s a n s a n a  k a y a u, mereka melambangkan diri sebagai anak enggang dan anak naga. Sedang pahlawan dan nenek-moyang mereka bernama B un g a i . Maka wajarlah seseorang dari sana beroleh panggilan Magusig O Bungai. Itulah pula sebabnya mengapa kumpulan kreasinya yang mutakhir ini diberi judul “Sansana Anak naga dan Tahun-tahun Pembunuhan.” (hal.8; Lihat pula hal.6)

Sansana merupakan bentuk sastra lisan yang ditutur di lingkungan masyarakat Dayak Ngaju. Ia bisa berupa tandak (timangan atau semacam pemujaan) yang bisa disejajarkan dengan puisi bebas. Termasuk disini bentuk karungut, karunya, maupun balian, dan deder; Juga ada penuturan cerita yang bisa memakan waktu semalam suntuk maupun sampai beberapa malam. Yang dikenal panjang begini biasanya dinamakan Sansana Bandar. Bisa disejajarkan dengan prosa lisan.(lih.Geografi Budaya Daearah Kalimantan Tengah, 1977/78, hal.63-64) Terkadang ketika menyampaikan kisah begini sang tukang sansana bisa mengalami kerasukan roh Sangiang. Maka itu setiap ada acara manyansana (menyansana = melaksanakan upacara sansana) selalu dilakukan dengan beberapa upacara/ritual awal. Karena jika salah-salah, berarti melanggar pemali, bisa lupa ceritanya, dan upacara gagal. Tetapi sangat jarang terjadi. Dan bila terjadi bisa berakibat fatal. Penulis sendiri tidak pernah menyaksikan yang gagal.

Kaharingan sebelum mendapat saingan dari berbagai kebudayaan-agama, dan agama dari luar, merupakan bentuk kebudayaan Dayak Ngaju pada umumnya.Sansana merupakan sarana mengenal sejarah tempat maupun asal usul bangsa Dayak Ngaju. Tiap tempat seperti desa maupun kampung mempunyai tandak. Juga orang-orang (tokoh) tertentu mempunyai tandak diri. Biasanya merupakan reputasi dari yang bersangkutan.Karena dalam sansana berupa tandak diri ini bisa merupakan riwayat yang bersangkutan, atau cita-cita dan hajat-niat bagi mereka yang masih terlampau muda. Rupanya nama pena penulis Magusig O Bungai merupakan bentuk tandak juga. Yang dalam hemat penulis bisa berarti pengisah keturunan Bungai. Atau seperti buku ini,“Sansana Anak Naga.”

Bungai adalah nama pahlawan yang banyak muncul dalam sansana. Sering pula disebut sebagai Tambun Bungai. Tambun adalah naga. Maka itu tak heranlah bila dikatakan orang Dayak merupakan anak-cucu naga. Sansana adalah penuturan kisah. Yang dalam hal sanjak seperti dalam buku ini merupakan tandak-tandak sansana yang padat berisi, mengandung banyak riwayat, pesan, nasihat maupun hajat-niat berupa mandat dari masa lalu maupun yang baru lewat, bagi masa depan. Atau isyarat perjuangan penegakan kebenaran sejatinya. Bukan saja sekedar cita-cita atau impian, tapi juga sudah menjadi itikad hakiki, tekad yang mesti, kepercayaan yang hidup dari semua unsur pemberadapan manusia. Sebagai manusia yang [mungkin] seutuhnya begitu.Yang dalam pendapat Profesor Wertheim dikatakannya sebagai,“penting sekali bahwa Magusig mendorong anak-anak negerinya agar mencari kebenaran.” (hal.12) Dalam hal ini bisa disimak dari larik tandak sansana sebagai berikut: “ … hidup manusiawi takkan tumbuh di persada terkekang.”(hal.58) Disini mungkin hal yang perlu dipelajari sebagai hidup slogan pendidikan sepanjang riwayat sejarahnya manusia di mana juapun.

Selamat atas peluncuran dan bedah buku Bung Magusig O Bungai di Taman Ismail Marzuki Jakarta dan kota-kota lain di Jawa hingga di Kalimantan Timur.***

 

(Seorang Dayak Ngaju, bekerja sebagai pustakawan di Cornell University. Tulisan ini dikirim oleh Ben Abel dari Amerika Serikat ke Pengasuh  SP Radar Sampit).

 

Esai Arswendo Atmowiloto

KEBUDAYAAN BUKAN KEBINATANGAN

Kebudayaan , dengan segala tata nilai dan tatakrama yang dinamis, merupakan cirri keberadaan kita sebagai manusia, yangt terbedakan dengan binatang. Meskipun sama-sama mengalami kelahiran, perkawinan dan kematian, manusia mampu menciptakan ritual atas peristiwa itu. Menjadikannya sebagai peristiwa budaya, dan dengan demikian mampu belajar dari pengalaman yang mendahului, dan karenanya menuju ke stilisasi yang disebut peradaban. Binatang tak memiliki kemampuan budaya untuk kreatif, sehingga tak mengenal pernikahan, dan bahkan cara kawinnya selalu dengan model yang sama, doggy style. Gaya yang bisa dilakukan manusia di samping gaya-gaya yang lain.

 

Jalan Budaya

Saya mencoba merumuskan karakteristik yang berlangsung dalam peristiwa budaya dengan tiga unsur utama. Pertama, kebudayaan mendahulukan dialog dibanding kekerasan. Dalam bentuk kesenian – wayang orang, ketoprak, atau segala jenis seni tradisi – selalu terjadi dialog, yang bahkan menjelang peperangan pun masih terjadi dialog dalam bentuk tembang, dalam tantang-menantang. Kekerasan adalah jalan akhir ketika semua bentuk dialog menemukan jalan buntu.

Kedua, peristiwa budaya mengedepankan karya selain wacana. Itulah sebabnya, lahir puisi,tari, irama, yang selalu berkembang, produksi film terus berkelanjutan, apa pun situasi  dan kondisinya.

Unsur ketiga, kebudayaan tidak  memonopoli satu-satunya kebenaran, dan karenanya perlu bersama dengan disiplin lain. Dalam dunia kepenyairan, tak ada penyair nomor satu dan nomor dua. Tiga ada juga aliran atau bentuk tertentu mengalahkan, atau mengenyahkan, jenis lain. Jenis musik klasik tidak dengan sendirinya yang paling benar dan meniadakan dangdut, pop, keroncong, atau campur sari. Dalam seni lukis, tak berarti nanti aliran kubisme melenyapkan n aturalisme, dan sejenisnya.

Jalan budaya, pendekatan melalui unsur-unsur dinamis dalam peristiwa kebudayaan, inilah yang agaknya ditinggalkan atau ditinggalkan sejak era Reformasi bergulir. Nyaris kita mendengar, atau bahkan mengalami, tiadanya pendekatan budaya dalam beberapa masalah besar, seperti kasus Mesuji, korupsi para petinggi dari seluruh jabatan dan institusi, tawuran makin menjadi-jadi, serta pelanggaran tata krama – berlalu-lintas, mendapatkan KTP – yaqng dianggap wajar, pragmatis, dan lebih benar.

 

Jalan Binatang

Ini yang pada bagian kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi merana. Bahkan bisa lebih. Manusia bukan hanya serigala bagi manusia laiunnya. Manusia adalah zombie bagi manusia lain. Yang besar akan memangsa yang kecil, yang kuat kuat dan yang mempunyai akses lebih meniadakan yang lemah. Korupsi , juga pemerasan, bedrangkat dari tata nilai dan tata krama yang berasal dari dunia binatang.Menerkam habis kelompok lain untuk kelangsungan hidup dan atau memperkuat diri. Keberhasilan , karena itu, dihitung dari berapa banyak korban yang dihancurkan, berapa tengkorak yang bisa dipajang sebagai tanda keberhasilan.

Memperlakukan mahluk lain sebagai binatang bisa dalam contoh yang sederhana. Adalah garis-garis yang membedakan jalur kendaraan. Karena ini tak juga dipahami masyarakat, tindakan berikutnya adalah membuat separator jalan. Karena ini juga tidak dipatuhi, dibuatkan gundukan separator, dan juga ditinggikan. Ini adalah cara perlakuan kepada binatang, yang karena tidak mampu mengenali tanda, dibuatlah pagar. Karena masih diterobos, pagar dialiri listrik.

Pendekatan melalui pendidikan, melalui kesadaran, dinilai terlalu lama dan tidak mempunyai efek, sehingga perlakuan sebagaimana diterapkan pada binatang dianggap lebih manjur dan mengatasi masalah. Contoh yang lebih sederhana adalah pengaturan lalu lintas untuk kemacetan dengan “3 in 1”, minimal tiga penumpang dalam kendaraan roda empqt untuk jalan dan waktu tertentu.  Yang muncul adalah para joki – yang tak mempunyai akses untuk mendapatkan pekerjaan. Karena dianggap mengganggu, menyalahi tata karma, para joki inilah yang menjadi sasaran razia, dengan segala akibat buruknya. Mereka yang kalah dibuat salah, mereka yang dimusuhi akan dihabisi, dengan segala pembenaran. Inilah nasib para TKW, para pengemis  dan atau anak-anak jalanan, yang terjadi setiap hari.

 

Jalan Pencegahan

Pendekatan budaya, tak bisa tidak, harus disertakan dalam berbagai kebijakan – yang nyatanya tidak bijak karena memihak, untuk mengerem kebinatangan dalam diri kita. Alan budaya memang bukan jalan singkat, karena yang disodorkan adalah menumbuhkan karakter, memperkuat pribadi. Jalan budaya lebih menekankan proses pencegahan dibanding tindakan seketika. Mencegah seseorang menjadi koruptor, menjadi pelanggar tata krama, menjadi pendurhaka kepada bangsa dan negara.

Pencegahan yang diwujudkan dalam bahasa seni melalui tembang-tembang, melalui mitos, melalui rasa malu, melalui empan-papan, yaitu mengenali situasi dan lokasi waktu mau pun lokasi tempat. Dalam bentuk yang sederhana adalah mengenal kehormatan dan rasa hormat. Baik kepada orang tua, sahabat, lingkungan, alam, maupun kepada bangsa dan negara, dalam keimanan. Semua nilai-nilai itu ada dalam kebudayaan, dan nenek moyang kita telah sangat jenius merumuskannya dalam aktualisasi. Di awal berdirinya republik ini, tampillah para pendiri negara yang terhormat, yang mengutamakan pilihan ini, dengan segala cita-cita yang gemanya masih memanggil kita untuk memenuhinya.

Jalan budaya, karena itu, menyiapkan sebuah pribadi, juga sebuah generasi yang dibekali perbedaan yang jelas dan antara benar dan salah m antara nakal dan jahat, sebuah kesatuan besar untuk belajar dari pengalaman buruk. Sebuah generasi manusia yang tak menempuh jalan hidup binatang.

Karena sesungguhnyalah manusia bisa mengajari binatang, dan bukan belajar dan meniru  dari cara hidup binatang. Kalau itu terjadi  bencana kebudayaan – yang lebih mengerikan dari bencana alam maupun bencana sosial – terus melangsungkan pemusnahan peradaban.*** (Koran Tempo,  Sabtu, 24 Desember 2011).

 

BAHASA DAYAK NGAJU

Asuhan Kusni Sulang

 

 

UNGKAPAN DAN PERIBAHASA DAYAK NGAJU

 

1.Hai edae bara batang. Besar dahan dari pokoknya. Besar pengeluaran dari pendapatan.

2.Tege tasik tege lauk. Ada laut ada ikan. Rezeki  terdapat di mana pun.

3.Ampie pulut, irapi batekang. Memang cirinya ketan , ditanah menjadi keras.

4.Matei lauk awi umpan. Mati ikan karena umpan. Manusia bisa binasa karena bujuk rayu.

5.Injapang nahapas, indepe kurang kalumbah. Dijangkau tak sampai, didepa kurang besar. Serba tanggung sehingga tak menghasilkan apa-apa.

6.Tamam nyahue, jatun ujae. Hebat gunturnya tapi tak menurunkan hujan. Hanya omong besar.

 

 

Kutak Ulang (KataUlang – Lanjutan)

5. Berarti : Walau pun, betapa pun.

Suntue : kurik= kecil. (1).Sakuri-kurik ah besei tuh, masih baguna uka dimpah : Sekecil-kecilnya kayuh ini, masih berguna untuk menyeberang. (2). Sahai-hai galumbang tasik te, ewen dia mikeh : Sebesar-besar gelombang laut itu, mereka tidak takut. (3).Sakula-kulas ah Yapet, masih labih bakaluas hindai Yena.  =Semalas-malasnya Yapet, masih lebih malas lagi Yena.

Cara membentuk  kutak ulang ini dilakukan dengan menambah awalan sa (se) pada kata sifat.

6. Berarti : dalam keadaan yang ditunjukkan oleh kata kerja  

Suntue : (1). Sele-selek = mengendap-endap ; gue-guet =bergerak-gerak ; (3). Tere-tereng= berdiri di tempat tanpa bergerak-gerak. (4).Kiti-kitik=keadaan rumput atau benda yang bergerak oleh terpaan arus sungai.

Cara membentuk kata ulang ini :

Kata dasar yang diulang terdapat pada kata kedua, misal: selek. Huruf K pada kata pertama dibuang.

Sajak-Sajak Yapet Omar

Daripada

 

daripada mencemar nama leluhur dayak

daripada khianat dan membual

lebih baik kau urus anak dan istri

 

mencintai apalagi  negeri

kepala taruhannya

 

tapi sanggupkah kau jadi budak

menjilat sepatu dengan ludah

melicinkan aspal jalan majikan

penjarah pulau?

 

2011.

 

Masih Menanti

 

kilat pijar mata peluru warna api

putih mengkilat ujung sangkur

digenggam maut tanpa hati

 

ia mencari manusia

mencari dadaku

mendesak khianat

dan bersekutu

 

di dahan rimba menjerit siamang

memberi ingat makna martabat

 

ketakutan hanya menumpulkan nalar

menikam nurani

saluh manusia jadi ular

pulang-kembali masih menanti

 

bapak ! perlukah masih

di negeri ini kami jadi manusia?

atau lebih baik jadi bandit dan penjilat?

 

2011

 

Ruang Budaya Harian Radar Sampit, Edisi 27 Mei 2012

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

 

PASAR TRADISIONAL KHAS DAYAK

Dalam sejarahnya, pasar, selain merupakan pusat perdagangan, urat nadi ekonomi, ia juga merupakan pusat informasi, tempat pertukaran dan perbauran budaya. Melalui pasar bisa diketahui perkembangan dan keadaan suatu masyarakat. Apabila di Pasar Pahandut, sekarang disebut juga Pasar Besar atau Blauran, apabila dari 4000an pedagang hanya terdapat 40an pedagang asal etnik Dayak (hasil penelitian Jagau di tahun 2000an), angka ini selain menunjukkan komposisi demografis di Palangka Raya,  juga memperlihatkan posisi dan keadaan masyarakat Dayak di Palangka Raya. Dari sini bisa ditelusuri lebih jauh ke dunia politik, kebudayaan dan hubungan antar etnik.

Ketika pariwisata berkembang menjadi sebuah industri, pasar sesungguhnya juga tidak lain dari sebuah obyek wisata, bahkan bisa berkembang menjadi tempat wisata,  seperti yang diperlihatkan oleh  Glodok di Jakarta atau Pasar Pacinan di Melbourne, di Seoul, Paris XIII, Wang Fu-ching di Beijing, dan lain-lain. Tempat-tempat ini selain merupakan pusat perbelanjaan rakyat, juga merupakan tempat wisata kuliner dan budaya yang selalu disesaki pengunjung.

Di Palangka Raya tadinya ada bagian khusus Pasar Kahayan yang menjadi tempat berjualan bagi orang-orang Dayak. Demikian juga  di Pasar Besar, ada  sebidang kecil di bagian luar. Sebelumnya di daerah Karel Sasuit Tubun terdapat Pasar Kameluh yang didominasi oleh orang-orang Dayak. Sayang, agaknya sekarang Pasar Kameluh tidak begitu berkembang.

Walaupun sama-sama Pasar, tapi biasanya masing-masing Pasar mempunyai keunikan sendiri-sendiri. Demikian juga halnya dengan Pasar yang didominasi oleh orang Dayak.Karakter Pasar Dayak berbeda dengan Pasar Jawa, Pasar Banjar atau Pasar Madura dan lain-lain. Karena di  Pasar-Pasar tersebut masing-masing membawa karakter budaya mereka sendiri-sendiri.  Sehingga Pasar merupakan tampilan mini daerah tersebut. Sedangkan di Makassar, Pasar yang mengundang banyak pengunjung adalah Pasar Pa’ Baeng-Baeng, pasar tradisional terbesar yang menjadi tempat orang-orang lokal memperdagangkan berbagai macam hasil bumi dan kué-kué tradisional.

Memperhatikan peranan Pasar yang demikian, tanpa mengembangkan ekslusivisme, mengingat daya tarik budaya Dayak dan kekhasan Manusia Dayak, apakah tidak ada baiknya jika di Palangka Raya dan kota-kota besar Kalteng lainnya yang syaratnya  memungkinkan, didirikan Pasar Tradisional Dayak? Selain mendorong orang Dayak berwiraswasta, Pasar Tradisional Khas Dayak juga akan sesuai dengan sejarah dan budaya Kalteng yang bercirikan Dayak. Sebab ciri paling representatif Kalteng tentu bukanlah ciri etnik lain non Dayak walaupun secara demografis memang sangat majemuk. Walaupun kuda lumping dan wayang ada di Kalteng dating bersama banjir transmigran, tapi akan membuat orang terpingkal-pingkal  jika kuda lumping, uro-uro, wayang, dipandang sebagai ciri khas Kalteng. Uro-uro, kuda lumping, wayang mempunyai kampung-halamannya sendiri. Wisatawan, kalau berbicara tentang parwisata, datang ke Kalteng bukan untuk mencari kuda lumping, wayang dan atau uro-uro tapi mengenal budaya Dayak.  Pengadaan Pasar Tradisional  Dayak di mana bisa didapatkan hal-hal yang khas Dayak, bukanlah mengembangkan ekslusivisme tapi bermula dari pertimbangan hal yang paling representif untuk Kalteng. Pasar begini juga akan secara nyata mendorong orang Dayak berwiraswasta secara profesional, paling tidak  sedikit demi sedikit  mengobah pengkultusan status Pegawai Negeri Sipil sebagai simbol telah menjadi manusia. Pasar Tradisional Dayak, yang bisa mengambil tempat di Jalan  Karel Ssuit Tubun misalya, sekaligus membuka peluang kerja bagi mereka. Karena umumnya orang-orang Dayak bermodal kecil, mengapa tidak sesuai program PM2L dan lain-lain program (yang  baik secara ide), diterapkan pada pengadaan Pasar Tradisional Dayak ini. Nama Pasar Tradisional Dayak (yang terorganisasi baik) saja sudah memikat perhatian dan kuriusitas. Sudah merupakan iklan dalam dirinya.

Tulisan ini bermaksud untuk menarik perhatian baik eksekutif maupun legislatif terhadap soal Pasar Tradisional Dayak. ***

 

Esai Agus M. Irkham *
MEMBACA ATAU MATI

Judul di atas disulih-alih dari  ungkapan yang terdengar  pada zaman perjuangan  kemerdekaan RI. Merdeka atau Mati! Lebih baik mati (eksistensial) daripada hidup terjajah (mati substansial). Begitu kira-kira makna pekik perjuangan itu. Dalam deskripsi yang berbeda, keterkungkungan  pikiran, daya, gerak, dan jiwa pada akhirnya akan membawa kematian wadak. Mati dalam arti paling mendasar.

Kini tentu saja  penjajahan dalam arti kolonialisme  purba sudah tidak ada lagi di Indonesia. Tapi penjajahan dalam arti  substansial naga-naganya masih berlangsung. Ironisnya penjajahan itu diproduksi oleh si terjajah itu sendiri. Sadar atau tidak. Bentuk penjajahan diri (self colonialization)  itu berupa keengganan membaca, terutama buku.

Padahal keengganan membaca akan menyebabkan kematian. Tentu  bukan kematian formal-fisik. Tapi kematian ideal-substansial. Berwujud kejumudan pikiran, sempitnya gerak-peran sosial, dan keterasingan  jiwa serta rendahnya kesadaran diri untuk selalu merasa terpanggil mengurusi masalah kehidupan.

Manusia jenis demikian, meminjam ungkapan almarhum Muhammad Zuhri (2007), meskipun masih dapat melangsungkan hidup hidup secara fisik, sebagai manusia sebenarnya mereka telah mati. Sebab, ruang yang dijelajahinya tinggal ruang bersifat fisik. Adapun ruang derak dan bertumbuhnya umat manusia adalah tanggungjawab.

Apa pasal keengganan membaca bisa menyebabkan kematian ideal-substansial ?

Manusia tercipta dilingkupi keterbatasan. Baik ilmu, informasi, ruang, maupun waktu. Untuk menutupi kekurangan itu, ia harus belajar. Dan salah satu sarana pembelajaran adalah buku.Di Indonesia, aktivitas membaca  buku identik dengan aktivitas sekolah dan saat kuliah. Padahal, kalau dihubungkan dengan pengertian dasar belajar yang dirumuskan UNESCO (1945), haruslah seutuh usia (lifelong learning).

Jadi kewajiban membaqca buku itu tidak hanya pada usia sekolah dan kuliah (7-27 tahun), tapi justru tahun-tahun sesudah itulah yang sangat menentukan.Saat tidak lagi berada di lembaga pendidikan formal.Saat tidak lagi ada kewajiban membaca buku. Sebab, jika setelah usia belajar formal selesai, berhenti pula aktivitas  membaca buku, lantas dari mana  bahan ajar bisa didapat? Jika situasi itu menjadi kecenderungan mayoritas, dapat disimpulkan pula kematian ideal-substansial sebagian besar penduduk Indonesia dimulai saat usia 28 tahun!

Saya kira inilah salah satu pekerjaan rumah berat  para pegiat komunitas literasi dan Taman Bacaan Masyarakat, yakni menyadarkan orang-orang yang sudah tidak lagi berada  di usia belajar formal agar terus membaca. Apalagi dalam kenyataannya, pada masa seharusnya membaca saja sementara kita jarang atau bahkan tidak membaca, apalagi jika sudah masuk fase ‘’dibebaskan’’ dari kewajiban membaca.

Selain membaca sebagai media pembelajaran seumur hidup, membaca merupakan fitrah asasi setiap anak  manusia. Kita semua lahir dibekali dengan yang namanya rasa ingin tahu atau curiosita, sebuah dorongan instingtif alamiah pemberian Tuhan yang harus dipenuhi. Sebagaimana makan untuk memenuhi rasa lapar, maka membaca adalah memberi makan otak dan jiwa kita agar tidak kelaparan.

Kelaparan jiwa akan melahirkan disharmoni, baik personal maupun komunal. Wujud konkretnya sikap tak peduli (pesimistis-apatis-naif), individualistis, tak acuh terhadap problem-problem keumatan, instan, kecenderungan menerabas  atau melanggar sistem, tidak mengalami kepahitan hati saat menyaksikan penderitaan, tidak merasa terpanggil untuk menjadi bagian dari solusi, cara berpikirnya sangat parsial-jangka pendek, rasa keterasingan (alienasi), serta tidak merasa ikut bertanggung jawab atas realitas yang tengah  berlangsung.

Salah satu ‘’gerai’’ tanggung jawab kehidupan itu adalah soal perkembangan kualitas berdemokrasi. ‘’Manusia sebagai  perseorangan mungkin bisa bertahan hidup tanpa membaca, tanpa berbudaya membaca. Namun sebuah demokrasi hanya akan berkembang, apabila para warganya  adalah pembaca, dan individu-individu yang warganya merasa perlu membaca, bukan sekadar penggemar dan gemar berbicara’’.

Dalam konteks ucapan Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1978-1983) di atas, frasa  ‘’membaca atau mati’’ saya kira semakin mendapati dasarnya. Jadi yang mati itu bukan fisik melainkan umur biologis-penumbuhan dan perkembangan hidup berdemokrasi. Yang berarti  pula perkembangan kesadaran individu-individu pelakunya. Perkembangan-perbaikan kualitas kehidupan warganegara . Itu sebabnya, mengapa membaca betul-betul menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi diandalkan, jika ingin meningkatkan kehidupan berdemokrasi.

Kegemaran membaca buku dalam dalam konteks kehidupan berdemokrasi akan melahirkan kemampuan literasi (keberaksaraan) politik, yaitu kesanggupan mendaras informasi, baik berupa teks maupun non-teks di luar hal-hal yang bersifat reknis fungsional (profesi). Keberaksaraan politik memungkinkan tumbuhnya kepedulian (empati) , sikap kritis, sportif, dan kesediaan untuk turut ambil bagian dalam proses penyelesaian masalah-masalah kolektif – budaya demokrasi.

Dengan kata lain, keengganan membaca akan melahirkan kebutaan politik, yakni ketidakmampuan menggali serta  serta memilih dan memilah informasi, rumor  desas-desus, dan klaim politik melakukan check-recheck ; menganalisis informasi politik yang didapat ; serta mengusahakan  itu semua  sebagai pertimbangan sebdlum menentukan pilihan dari sekian  banyak pilihan bentuk partisipasi politik.

Rendahnya tingkat keberaksaraan politik membuat partisipasi politik warga – preferensi atas kandidat pemilik kuasa birokrasi dan politik misalnya  — lebih dominan disandarkan pada ikon, citra, serta kecakapan wajah. Bukannya program dan kecakapan kerja. Preferensi politik menjadi sebuah pilihan tidak sadar karena mengabaikan unsur kehati-hatian, pengawasan , dan informasi lengkap rekam jejak kandidat kandidat. Mau bukti ? Tengok mayoritas jalannya pemilihan kepala daerah di Indonesia.***(Koran Tempo, Jakarta, 14 Januari 2012).

 

*Kepala Departemen Penelitian Dan Pengembangan Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat.    

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK KUSNI SULANG

Penduduk Pedalaman Mencari Alamat Tuhan

  

dari desa-desa sepanjang sungai

dari kampung-kampung lereng gunung

mereka ke bupati

ke pengadilan

dan polisi

sebagai warga patuh

mereka meniti jalan-jalan tikus

ratusan tabéngan

mereka menggotong

beban-beban kampung

sesuai janji merdeka

kantor-kantor lengang

pintu-pintu terpalang

lengang sediam malam

dijaga kunang-kunang

ratapan pungguk merindu bulan

agaknya undang-undang

hanyalah pengesahan dusta

membuka pintu belakang

bagi perampok

agaknya untuk hidup di sini

kita patut jadi preman

membawa kembali beban kampung

dan luka baru

orang-orang itu pulang ke sungai

ke lereng-lereng gunung

ditunggu masakre sangat modern

Tuhan, wahai Bapak

alangkah sunyinya kesendirian

alangkah pahitnya kehilangan negeri

 

dari tengah sunyi dan kehilangan

sebelum memanggil leluhur

kau dengarkah seru mereka

mencari menanyai alamatMu

kerna paham akibat menyerah

2011.

 

Pengrajin

sunyi pun tiba-tiba sangat terasa

ketika kelap-kelip sinyal tak lagi menyala

dari jendela kaca kerjamu

kehilangan pun tiba-tiba terasa

ketika tak lagi kudengar suara tapakmu

sangat kukenal melomba waktu

 

tinggal di jantung pedalaman menggelegak

giliranku ibarat seorang pengrajin  menganyam

merangkai mimpi di siang-malam tersisa

2011

 

Damek *

jutaan damek anak sumpitan diluncurkan langit

membidik jantung kampung dan hatiku

ipuhnya, ipuhnya, dandau

meracuni darah di nadi

 

musim sudah sangat berobah di sini

isyarat bintang tak lagi terbaca oleh petani

paceklik mewabah dilanda banjir petaka

sosok yang lalu-lalang hanyalah jiwa-jiwa mati

2011

 

Keterangan:

  • Damek, bahasa Dayak Katingan, anak sumpitan, terbuat dari bambu, ujungnya diberi racun getah kayu tertentu, disebut ipuh.

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

PALAJARAN 9 (PALAJARAN JALATIEN):

PANTEHAU SOSIAL

Yang dimaksudkan dengan pantehau sosial yaitu bagaimana yang satu dan yang lain saling sapa-menyapa warga masyarakat saling sapa-menyapa. Masalah tata-cara sapa-menyapa mengandung nilai tatakrama, bagian dari prinsip belum bahadat (hidup beradat). Dalam masyarakat Dayak, nama dipandang sebagai sangat berarti bahkan sakral. Karena itu tidak sedikit anak-cucu sampai pada usia tertentu tidak mengetahui nama orangtua, kakek-nenek, paman-bibi atau datuk mereka.  Mereka dipanggil dengan nama julukan (galar). Orang yang sudah  berkeluarga dipanggil dengan nama anak tertua.

 

Misal: Suami-istri Henri dan Agnes mempunyai anak tertua  bernama Davisa. Maka sebagai ayah atau lelaki, Henri dipanggil Pak (Pang, Bapak) Davisa. Agnes dipanggil Indu (Ndu) Davisa.

 

I.PANTEHAU SOSIAL

 

Umai ,ibu; bapak, ayah. Ading, adik; kakak (kak) berlaku untuk lelaki atau perempuan.

Bue, kakek; tambi: nenek; mama, paman; mina, bibi; datuk (ayah kakek); pahari, saudara; ulubakas: orangtua (tergantung konteks, bisa juga  berarti orang yang sudah dewasa atau sudah tua terutama secara usia). Ulubakas-isme, pandangan yang memandang bahwa uluhbakas sebagai kebenaran. Kas (bakas), panggilan akrab antar orang-orang sudah cdewasa. Le, ole, panggilan akrab antar orang sebaya tapi masih muda.

Ken, aken, ponakan.

 

II. TEKS 

 

HASUPA HUNG BENTENG JALAN

Koko: Salamat hanjewu, Ma.

Mama: Bara kueh,  Ken?

Koko: Bara huma handak maja tambi hung ngawa. Kilen kabar ah Mina.

Mama: Bahalap ih, Ken. Ie barigas ih. Kilen kabar kawan Andimuh tuntang Indu-Bapammuh?

Koko: Uras barigas kia, Ma.

Mama: Takan ih adu jalanmuh, Ken.Bua-buah.

Koko: Yuh, Ma. Parmisi, Ma.

 

  III. LUSUK KUTAK (KOSA KATA)

Baeigas, sehat; Parmisi , permisi; Kia, juga. Hanjewu, pagi. Bentuk Andau, tengah hari; halemei, sore: hamalem, malam. Takan, silahkan;  Bua-buah: hati-hati. Tuntang, dan.

 

IV. LATIHAN

  1. 1.       Terjemahkan teks di atas ke dalam Bahasa Indonesia.
  2. 2.       Buatlah teks pendek sederhana menggunakan pantehau sosial di atas.

 

 

UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

 

Sapire kaambu tapih, kalute ka kejau tampayah. Seberapa tinggi sarung, sebegitu jauhnya penglihatan. tetap menunggu. Perangai menunjukan kualitas seseorang.

Kilau ampit mangang tingang. Seperti pipit menggongong enggang. Anak kemarin sore mau menggungguli orang yang jam terbangnya sudah sangat lama. Atau murid mau mengajar gurunya.

Kanderang ah tingang, biti ah ampit. Suaranya gaung enggang, tubuhnya seekor pipit. Orang yang besar omong, tapi tidak sepadan dengan yang dilakukan.

Ujau dia kejau bara upue. Rebung tidak jauh dari rumpunnya. Kelakuan seorang anak tidak akan jauh berbeda dari tingkah laku orangtuanya.

Uru manggau sapi. Rumput mencari sapi. Perempuan mencari lelaki.

Kilau lauk kana tuwe. Seperti ikan kena tuba. Tidak berdaya; Sakit atau meninggal massal disebabkan oleh suatu musibah sehingga mayat bertebaran di mana-mana.

 

 

Cerita Rakyat Uluh Katingan

Darung Bawan & Kameluh Buang Penyang

(Ikhtisar)

 

Kutat, Burut Ules dan Tayung cucu Peren Tacim Bahu berangkat meninggalkan Lewu Dahian Undang yang saban hari dirusuhi oleh perkelahian, saling bunuh mabuk-mabuk, perampokan, perzinahan, perjudian dan rupa-rupa kejahatan. Mereka membuka sebuah hutan dan membangunnya menjadi Lewu baru bernama Talian Kereng.

Saat sudah agak mapan Tayung teringat akan cucu perempuannya yang yatim piatu dan masih tinggal di Dahian Undang. Ia mendapat firasat bahwa cucunya ini sedang mengalami kesulitan. Mendapatkan firasat tidak  baik demikian, tanpa mengulur-ngulurkan waktu lagi,  malam itu Tayung pun berangkat mencari dan mengambil cucunya itu serta kembali ke Talian Kereng paca malam itu juga. Sejak itu Tayung  hidup berdua bersama cucunya yang  bernama Kameluh Buang Penyang. Keduanya saling-menyayangi dan saling memperhatikan. Bagi Kameluh yang yatim piatu, kakeknya adalah ayahnya sekaligus.Kakek Tayunglah yang merawat dirinya sejak balita.

Diceritakan bahwa Kameluh Buang Penyang tumbuh  dewasa menjadi seorang gadis cantik jelita. Kecantikannya terkenal di seantero Katingan, hingga sampai ke puncak Bukit Raya di hulu di mana tinggal Darung Bawan.

Darung Bawan seorang lelaki tinggi besar, sakti perkasa hampir tiada tertanding. Mendengar kabar kecantikan Kameluh, Darung Bawanmu segera turun Bukit mencari Kameluh. Setelah mengatasi segala kesulitan, Darung Bawan akhirnya sampai ke  tanah tinggi Kereng Tehang, Talian Kereng  berdiam. Walau pun dikatakan oleh orang-orang kampung bahwa tidak mudah menjumpaqi Kameluh. Karena Tayung, kakeknya melindungi  Kameluh dengan salatutup (penutup). Orang yangb mempunyai niat jahat, tidak  bakal mungkin melihat si jelita Kameluh. Hanya orang-orang berniat baik saja yang  bisa melihat Kameluh.

Setiba di depan puduk (gubuk) Darung Bawan lalu menyapa : ‘’Ada orangkah ?’’. Dari dalam puduk itu terdengar suara perempuan menjawab. ‘’Pasti suara Kameluh Buang Penyang’’, ujar Darung Bawan dalam hati. ‘’Karena di sini tak ada pperempuan lain kecuali Kameluh’’.

‘’Masuklah’’, ujar perempuan muda jelita yang tak lain dari Kameluh Buang Penyang.  Tapi Darung Bawan sejenak ragu mengingat tubuhnya tinggi  besar dan penuh kekuatan. Kalau ia melangkah sajam bumi sudah bergetar dibuatnya.  Ia takut kalau ia naik, gubuk itu jadi roboh. Tapi akhirnya oleh dorongan hati ingin mempersuntingkan Kameluh jadi istrinya, Darung Bawan naik juga. Begigtu masuk ke gubuk, Darung Bawan menjadi terheran-heran karena gubuk yang nampak reot kecil itu ternyata sebuah huma hai yang kokoh, besar dan indah. Semuanya terbuat dari tabalien (kayu besi) Penuh isi.

Tak lama kemudian, kakek  Kameluh,Tayung, keluar menjumpai Darung Bawan. Sang Kakek mempersilahkan Darung Bawan duduk. Keduanya pun duduk  berhadapan-hadapan. Sedangkan Kameluh segera pula menyediakan hidangan kepada Sang Tamu.  Tanpa berpanjang-panjang Tayung menanyai maksud kedatangan Darung Bawan sampai turun dari puncak Bukit Raya. Tanpa belat-belit pula Darung Bawan mengemukakan niatnya untuk memperisterikan Kameluh Buang Penyang.

‘’Saya tidak  bisa menggantikan cucu saya untuk menjawabnya. Tanyailah oran gnya langsxung’’, jawab Sang Kakek. Darung Bawan lalu mengarahkan pertanyaan kepada Kameluh :

‘’Bagaimana jawaban, Adik ?’’. Kameluh memandang Darung Bawan dari atas ke bawah. Kameluh merasa secara fisik Darung Bawan tidak seimbang dengan dirinya yang kecil , tidak tinggi. Tapi setelah berpikir, kemudian Kameluh mennjawab mengiyakan. Menerima pinangan Darung Bawan tapi dengan syarat. Sang Kakek menggangguk lalu  berkata : ‘’Kau sudah mendengar sendiri jawaban cucuku’’.

‘’Apa syarat-syarat Adik ?’’

‘’Saya menghendaki Kakak membangun riam batu di tengah Sungai Katingan. Riam itu untuk saya gunakan sebagai tempat mandi yang aman. Bukan cuma itu. Kak. Riam batu itu harus dibangun begitu malam tiba dan pada kokok pertama ayam jantan subuh, riam sudah selesai’’.Ujar Kameluh dengan tenang.

‘’Nah, kau sudah mendengarnya’’, ujar Kakek Tayung.

Darung Bawan yang merasa syarat tersebut sangat ringan baginya, ia pun dengan tegas menjawab.

‘’Baik, saya akan penuhi malam ini juga. Sekarang saya mohon diri. Sampai berjumpa lagi’’. Darung Bawan segera berlalu dan kemb ali ke Bukit Raya.

Dengan dibantu oleh anak-buahnya, Darung Bawan mulai mengangkut batu-batu dari Bukit Raya danb menumpukkannya di pinggir di tebing Talian Kereng Sungai Katingan. Setelah batu-batu itu diperkirakannya cukup untuk membuat riam buatan yang dipersyaratkan oleh Kameluh, Darung Bawah mulai menyusun batu-batu tersebut, mulai dari tengah lalu mengembang ke kiri dan ke kanan.  Masih jauh dari selesai pekerjaannya, ketika tiba-tiba ia merasa lelah dan ingin sejenak beristirahat. Darung Bawan tertidur. Bangun-bangun hari sudah siang. Ia menyesali kelalaian dirinya. Dengan putus asa tapi juga dengan kejujuran pada diri sendiri, ia mendatangi Kameluh Buang Penyang dan Kakek Tayung.

‘’Saya gagal memenuhi syarat adingkuh Kameluh sehingga saya tidak bisa memperistrikannya. Tidak ada pilihan lain  bagi saya kecuali kembali ke Puncak Bukit Raya. Hanya saja sebelum pergi  saya ingin mengatakan  bahwa Adingkuh Kameluh tidak akan nikah dengan lelaki mana pun yang kemampuannya kurang dari diri saya. Kemudian untuk menjamin kesejahteraan Adingku Kameluh saya tinggal sebalanga emas. Untuk Keselamatannya saya tinggalkan tirok (sejenis tombak) ini. Apabila Ading dan Kakek Tayung memerlukan bantuan apa pun, panggil saja saya dengan menabur beras kuning dan menyebut nama saya. Saya pasti datang’’. Darung Bawan pun berlalu meninggalkan Kereng Tehang dilepaskan oleh Kameluh Buang Penyang dan Tayung, kakeknya.

Karena ternyata tak ada lelaki yang lebih hebat dari Darung Bawan, Kameluh selamanya menjadi seorang gadis dengan kecantikan abadi, lambang kecantikan perempuan Dayak.Keadaan membujang pun tidak disesali oleh Kameluh Buang Penyang, karena kemudian ternyata memang jatuh hati pada Darung Bawan. Dengan membujang, Kameluh diam-diam menjaga setia cintanya. Apakah Darung Bawan tahu. Tragedi pun lahir.

Terlelapnya Darung Bawan sehingga pekerjaannya tidak tunai, tidak lepas dari pekerjaan Kakek Tayung yang ingin mencoba kehebatan dan kesaktian Darung Bawan. Ternyata kehebatan sehebat apa pun mempunyai batas.***

 

(Ikhtisar  oleh Andriani S. Kusni dari kisah-kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau alm).

Sahewan Panarung Harian Radar Sampit

Sahewan PANARUNG
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
Kalteng Sebagai Wacana
Dalam sejarah negeri ini, tanggal 20 Mei dirayakan sebagai hari kebangkitan kesadaran nasional. Hampir bersamaan dengan perayaan hari kebangkitan kesadaran nasional itu, Uluh Kalteng merayakan Hari Jadi Kalteng sebagai provinsi ke-17.  Dilihat dari segi sejarah, kelahiran Kalteng sebagai provinsi tersendiri tidak lepas dari bangkitnya kesadaran nasional 1908 serta kejadian-kejadian menyusul bangkitnya kesadaran tersebut. Sarikat Dajak yang didirikan oleh Bapak Kebangkitan Dayak sesungguhnya lahir dengan latar belakang kebangkitan kesadaran nasional pada waktu itu, sehingga pengertian Dayak mempunyai makna nasional dan universal sekaligus.  Tokoh-tokoh Sarikat Dayak 1919 kemudian menjadi Pakat Dajak pada tahun 1926 turut aktif dalam pembentukan nasion Indonesia melalui misalnya dengan kehadiran mereka di Kongres Pemuda 1928 dan kegiatan-kegiatan pemerdekaan diri serta konfrensi-konfrensi internasional membicarakan soal kemerdekaan Indonesia.
Kemerdekaan artinya membebaskan diri segala rupa belenggu politik, ekonomi,sosiaql daqn budaya untuk menjadi anak manusia yang manusiawi alias anak manusia yang berharkat dan bermartabat. Syarat utama untuk melaksanakan prinsip “hatindih kambang nyahun tarung, mantang lawang langit”  sesuai misi hidup-mati menurut filosofi Dayak “rengan tingang nyanak jata”. Oleh karena itu kemerdekaan selain menumbuhkan nasionalisme , juga pada nasionalisme harapan anak manusia dibangkitkan. Termasuk di kalangan Manusia Dayak. Didorong oleh harapan ini maka Hausmann Baboe dan angkatannya merancangkan Dajak Besar sebagai janin dari  kelahiran Kalteng sebagai provinsi guna memenggal radikal keterbelakangan, ke bodohan dan kemiskinan perintang  utama bagi hidup sebagai anak manusia yang berharkat dan bermartabat sebagai manusia. Keterpurukan total yang menimpa Manusia Dayak begini disadari  bukanlah  suatu takdir melainkan diciptakan dan diproduksi secara sistematik oleh suatu struktur tersistem sebagaimana dikatakan oleh Hakim Agung Dr.Abdurahman: “Orang Dayak itu keberadaannya diakui tapi hak-haknya tidak diakui” (Seminar tentang Hukum Adat dan Masyakarat Adat di Universitas Palangka Raya, 2011). Harapan inilah menjadi motif utama Manusia Dayak untuk mendirikan Kalteng memutus tuntas belenggu struktur tersistem  yang menciptakan keterpurukan. Karena itu Prof. Dr. Mubyarto alm. Setelah melakukan penelitian di Kalteng mengatakan Kalteng sebagai “The Heartland of Dayak’’, provinsi Dayak.Artinya dari segi sejarah kelahirannya, Kalteng tidak lain dari suatu wacana pemanusiawian, pemberdayaan dan pembangunan dari lokal menjadi nasional kemudian universal. Wacana kebangkitan (renaissance) Manusia Dayak. Karena itu memperingati hari jadi Kalteng seniscayanya adalah kesempatan merenungi kembali, melakukan neraca perkembangan dan mencari sebab-sebab mengapa keterpurukan masih di samping kita. Keterpurukan yang mendekati keadaan tanah jajahan model baru.   Adanya keterpurukan ini mengatakan terus-terang ada yang tidak sesuai dengan Kalteng sebagai wacana. Pemeriksaan diri ini sesuai  dengan roh kebangkitan dan kemerdekaan 20 Mei dan 23 Mei. Adakah kebangkitan pemerdekaan itu sekarang ataukah yang berkembang adalah budakisme dan defaitisme musuh dari kemerdekaan pemanusiawian?***
Sansana Panarung
SAJAK-SAJAK EDMOND ASANG
KALIMANTANKU SUDAH TERLALU RUSAK
agama baru diciptakan untuk membangun dinasti
memadamkan pemberontakan orang pedalaman
agama baru diciptakan untuk bersekongkol
memperkokoh diri jadi embel-embel
penjilat aspal jalan dilalui para majikan
yang rela menghirup darah luka ibubapaknya menetes
kau lihatlah, anakku
betapa kalimantan telah rusak
kau juga tentu bisa membaca
apa yang mereka  sebut republik dan indonesia
apa yang mereka namakan kemerdekaan
apa yang mereka namakan pembangunan
mengajar kita untuk jadi manusia
2012
 
DI ATAS KUBURAN DAYAK
di atas motor kencang memburu angin  entah di penjuru mana
usai berkaraoke — nama baru bagi daerah lampu merah
tubuh bau sperma dan narkoba ;para pemuda kotaku
membayangkan diri di eropa dan amerika
lambang kemajuan zaman dan modernitas patut ditiru
di bekas roda motor mereka kudapatkan tetesan darah
darah kampungku terjepit;darah itu berhamburan
pada debu-debu  isyarat dekatnya kematian
tanda negeriku kehilangan satu angkatan
mengidap penyakit mendasawarsa
modernitas hari ini lebih mengancam dari hiv
membius kesadaran mendapatkan remah-remah kolusi
tanah tambun-bungai tak obah sebatang sungai
di permukaannya mengapung jiwa-jiwa membangkai
hijau-hijau daun kebun
hitam mengkilat gunung batubara
hijau dan hitam di kuburan dayak
merentang ke cakrawala
hijau dan hitam hutan duka
2012
MASKAPAI
aku menulis tentang panas matahari
tentang dingin malam di hulu
karena aku lahir, besar, dewasa
oleh panas dan dingin pedalaman
yang mengeraskan belulang memberiku nafas
para kesatria kota berderet gelar menyebutku dusta
kerna panas dan dingin kulukiskan
beda dari panas dingin kantor-kantor
beda dari buku-buku para profesor
titik komanya mereka sitat luar kepala
agaknya para kesatria itu ingin mengajar ikan berenang
ingin mengajar enggang terbang, ular melata
mendikte panas dan dingin dengan rumus di kepala
sementara duri rotan jalan setapak menusuk kaki tak diketahui
aku yang hidup di rimba
dibesarkan panas dingin siang-malamnya
sekali lirik kenal bulan dan matahari
maka aku masih ingat benar
kesatria berjengki berdasi melintang itu
dua hari lalu bersama bupati dan polisi
mengukur tanah adat kami tanpa permisi
bekas telapak mereka meninggalkan bisa
jadinya republik serupa maskapai
republik terbelah dua
antara kami dan mereka
antara aku dan kau
dua ekor ikan
satu ke hulu
satu ke kuala
durang *)
bagaimana sebaiknya?
yang pasti
kampung tidak dijual
apalagi jiwa
dan hambaruan
2012
Keterangan:
*). Durang, bahasa Dayak Ngaju, berarti sanak-saudara.
REPUBLIK BELATUNG
airmata yang mengisi sungai
menguap menjadi awan hitam
darah yang membasahi lahan
kepapaan yang mengairi nadi
serupa selokan dan jalan
serta taburan sampah
bukan untuk debat dan polemik
duka ini adalah seratus tombak
di tubuhku dalam tertancap
sejuta belatung hidup merayap di atasnya
raga dan jiwaku sarang belatung
sejak republik jadi sarang maling
keadaan begini darurat
menuntut gerak cepat
berani dan tepat
maka tinggalkan ibukota
biarkan mereka berkelimpahan
di meja-meja jabatan yang amis
keadaan begini darurat
membuka gerbang
menyemai asa
menangkal penaklukan
2012
Esai Giat Wahyudi*
PANCASILA VERSUS LIBERALISME
“Tidak dapat disangkal bahwa pemimpin-pemimpin partai politik kita dalam masa 10 tahun yang akhir ini gagal dalam melaksanakan tugasnya. Mereka lebih banyak mengabaikan dasar-dasar Pancasila dari menaatinya. Dan akibatnya ialah bahwa Indonesia makin jauh terpisah dari cita-citanya. Sejarah Indonesia sejak 10 tahun yang akhir ini seolah-olah mencerminkan apa yang dilukiskan oleh Schiller: Eine grosse ephoche hat das jahrhundert geboren. Aber der grosse moment findet ein klenes geschlecht. (Suatu masa besar dilahirkan abad. Tetapi masa besar itu menemui manusia kecil)”.
Nukilan pandangan Bung Hatta 51 tahun yang lampau sebagaimana dikutip di atas, masih relevan untuk mencermati situasi perikehidupan kebangsaan kita hari ini. Tak pelak, demokrasi kita hari ini benar-benar semarak, bahkan demikian liberalnya, jika meminjam istilah Bung Hatta, disebut ultrademokrasi.
Perhatikan saja, mulai dari pemilihan kepala desa, bupati, wali kota, gubernur, presiden, sampai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), semua dilakukan dengan cara demokrasi langsung, one man one vote.
Padahal, dasar negara Pancasila mengamanatkan dalam sila ke-4, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”, bahwa demokrasi kita adalah demokrasi perwakilan dengan ketentuan.
Seyogianya, sila ke-4 dijabarkan secara konsisten dalam paket undang-undang politik (Undang-Undang Partai Politik; Undang-Undang Susunan dan Kedudukan DPR, DPRD, DPD, dan MPR; Undang-Undang Pemilu, Undang-Undang Kepresidenan, dll).
Galibnya, dengan pemilihan langsung, sila ke-4 dari Pancasila tidak bermakna lagi. Apakah lantaran itu MPR berkepentingan melakukan sosialisasi Pancasila yang dalam praktiknya telah diabaikan?
Memang, sejak 1999-2002 MPR berhasil melakukan perubahan UUD 1945 dalam empat tahap. Melalui perubahan tersebut sistem ketatanegaraan kita yang semula menganut demokrasi perwakilan, kini telah berubah dan menganut demokrasi langsung.
Komposisi keanggotaan MPR pun yang semula mengakomodasi golongan politik (DPR), perwakilan daerah, dan golongan fungsional, telah berubah menjadi semacam joint session dari golongan politik (DPR) dan perwakilan daerah (DPD), sementara golongan fungsional dihapus.
Kedudukan MPR tidak lagi sebagai lembaga tertinggi negara, melainkan lembaga negara belaka yang setara dengan presiden, DPR, DPD, dan lembaga-lembaga negara sederajat lainnya.
Dengan perubahan UUD 1945 diharapkan kehidupan demokrasi dan hak asasi manusia berkembang pesat, sesuai dengan tuntutan global. Meski untuk itu kepentingan nasional dan corak ragam jati diri bangsa harus disisihkan dari lokus kedaulatan rakyat (MPR).
Tampak jelas, globalisasi dengan globalismenya yang menganut paham materialistik, sekuleristik, dan individualistik lebih mengemuka dalam pasal-pasal perubahan UUD 1945. Tak pelak, bila kita cermati secara saksama, pasal-pasal dan ayat-ayat pada perubahan pertama sampai keempat bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945.
Qua UUD 1945 pasca-perubahan proses rekrutmen politik, untuk mengisi formasi DPRD, DPR, DPD, serta bupati, wali kota, gubernur, dan presiden, memakan biaya yang demikian tinggi. Biaya tersebut sebagian ditanggung negara, sebagian lagi ditanggung personel-personel yang ingin tampil untuk mengisi formasi yang tersedia.
Tapi, sangat disayangkan biaya demokrasi prosedural dengan corak liberalisme ini tidak membawa perikehidupan rakyat sejahtera. Bahkan, memicu tindakan korup di berbagai level aparatur pemerintah dan pejabat publik.
Alhasil, konsolidasi demokrasi, yaitu upaya meningkatkan kesejahteran dan keadilan sosial via pemerintah yang bersih, menjadi ilusi belaka. Apalagi di sektor penegakan hukum, lemah sama sekali. Buktinya, penanganan tindak korupsi yang mewabah di seantero negeri demikian ampang dan timpang.
Tragisnya lagi, partai pemenang pemilu disibuki dengan “gurita” korupsi yang alang kepalang besarnya dan demikian rumit, bahkan ditengarai akan berakhir dengan parodi hukum belaka.
Sementara partai yang mengklaim “oposisi” agaknya “mati angin”, serba kagok dalam membela kepentingan rakyat dan kepentingan nasional. Sementara dalam tubuh internalnya sendiri acap kali keliru memilih mana loyang dan mana emas.
Sialnya, partai koalisi pendukung rezim berkuasa tak berdaya menghadapi ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahan yang didukungnya. Betapa tidak, kecaman dan kritik dari masyarakat secara terbuka tak dapat dielakkan dan dijawab secara jitu.
Belum pernah dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, presiden menjadi bulan-bulanan dan olok-olokan massa. Tak urung, pemerintah demikian lemah. Padahal sang presiden, qua prosedur didukung 60 persen konstituen. Memang, “cicin emas bertahta berlian tak ada manfaatnya sama sekali, tatkala dikenakan di jari manis seekor kera”.
Serangkaian paradoks tengah berjalan dalam perikehidupan kebangsaan kita. Maksud hati menegakkan demokrasi liberal (pasar) untuk membentuk pemerintahan yang bersih dan amanah, agar investasi asing menjadi nyaman, apa daya yang menyeruak adalah tindak korupsi dengan corak pemerintahan yang tidak efektif dan tidak efisien. Demikian kleptokrasi telah terjadi di negeri ini. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Ketika kita memasuki masa transisi demokrasi dengan memilih jalan liberalisme, tingkat kesejahteraan dan pendidikan masyarakat rendah. Dengan jalinan sosial seperti ini, sebagian kecil masyarakat kita yang memiliki akses ekonomi dan kekuasaan mengambil alih proses rekrutmen politik. Akibatnya, tak ada lagi wakil tani, buruh, nelayan, wartawan, ilmuwan, dan golongan fungsional lainnya dalam lokus kedaulatan rakyat (MPR).
Tak heran, muncullah para pengusaha (dan kroni), serta bekas birokrat (dan kroni) purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (dan kroni) menapaki jalur politik yang sarat dengan transaksional dan “pat-gulipat”.
Bagaimana pun juga, untuk menjadi anggota legislatif, ketua partai, bupati, wali kota, gubernur, dan presiden, harus menyediakan kos politik yang memadai (mahal). Akibatnya, sikap kenegarawanan sirna, dan menjamurlah sikap pragmatis, konsumtif, dan “ajimumpung” dari para politikus orde reformasi. Karena itu, penyalahgunaan wewenang kekuasaan menjadi demikian akrab.
“Tidak akan ada satu golongan pun yang memegang pemerintahan Republik Indonesia terlepas dari keyakinan politiknya yang akan sanggup memegang pemerintahan, jika tidak sesuai dengan dasar Pancasila.” Nasihat Bung Hatta ini layak kita renungi.
Tak urung, selamanya Pancasila bertentangan dengan alam liberalisme. Di alam liberalisme Pancasila seakan hilang. Namun, sejarah selalu membuktikan, sesuatu yang hilang akan diingat kembali, lantaran mempunyai nilai yang tinggi dan luhur.
*Penulis adalah Kepala Kepustakaan dan Penerbitan Yayasan Bung Karno (YBK), anggota Kompartemen Ideologi Pengurus Pusat Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.(
 
Pelajaran Dasar Bahasa Dayak
Asuhan Kusni Sulang
PALAJARAN 8: KUTAK PANYUHU
KALIMAT PERINTAH
 
I.Bagaimana membentuk kalimat perintah
 
1.Menggunakan kata dasar.
 
Kalau tertulis, maka kata dasar itu dibubuhi tanda seru (!)
 
Suntue (Contoh):
·         Balua! (Keluar!)
·         Tame! (Masuk!)
·         Ka hetuh! Hetuh! (Ke mari!)
·         Ka kanih (kanih)! , ke sana (sana!)
 
Kalau lisan, peran kata dasar diganti dengan tekanan suara (intonasi).
 
2. Untuk melembutkan perintah, menggunakan kata-kata pelembut seperti : laku duhup (minta tolong), taulah, ulihkah (bisakah).
 
Suntue:
Laku duhup atep baun tunggang te: Minta tolong tutup pintu itu.
Taulah manutup baun senguk te?  Bisakah menutup jendela itu?
II. Lusuk Kutak (Kosakata)
 
Atep, tutup, matep, menutup
Baun tunggang, pintu
Baun senguk, jendela
Tau, bisa (dalam pengertian kemampuan); ulih , bisa.
Duhup, tolong; balaku duhup, minta tolong.
Balua, keluar; tame, masuk;tame-balua, masuk-keluar.
 
UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU
 
Palanduk dia mingat jarat, jarat tatap mingat palanduk. Pelanduk tidak mengingati jerat, tapi jerat mengingat pelanduk. Orang sering lupa bahaya tapi bahaya tetap menunggu.
Handak tingkep jatun pai. Mau hinggap tapi kaki tak punya. Hendak melakukan sesuatu tapi syarat-syaratnya tak ada.
Helu nupi bara batiruh. Lebih dahulu mimpi dari tidur. Keadaan yang sudah diketahui sebelumnya.
Sapanja-panjang rumbak, magun panjang nyama Sepanjang-panjang lorong lubang tak sepanjang mulu. Orang bisa merentangkan kisah apa pun sekehendak hati.
Bara bakawal dengan uluh humung, keleh bakawal dengan uluh harati. Daripada berteman dengan orang bodoh, lebih baik bedrteman dengan orang berbudi. Bersahabat dengan orang bodoh tak ada gunanya.
 
Sejarah: Jalan Yos Sudarso Palangka Raya
Yang sungguh-sungguh menyimak benar dan mewawancarai mereka yang sejak awal turut berjuang mendirikan Provinsi Kalteng dan Kota Palangka Raya, orang tersebut  akan tahu bahwa Palangka Raya sebenarnya ibarat sebuah kamus budaya dan sejarah. Nama-nama Dayak atau pun non Dayak yang digunakan sebagai nama-nama jalan mengandung sejarah tersendiri.  Misalnya Kapten Mulyono, RTA Milono, G.Obos, Mahir Mahar, Beruk Angis, Nyai Bahandang Balau, Hausmann Baboe, dan lain-lain. Penggunaan nama-nama tersebut untuk nama jalan, dimaksudkan sebagai penghormatan dan  terimakasih serta melanggengkan nama dan jasa mereka. Sehingga apabila ada yang ingin menulis Kamus Jalan Palangka Raya, maka buku itu akan menjadi sebuah buku sejarah penting, teruta ;a sejarah Dayak Kalteng  dan juga panduan wisata berharga. Sebab pada mulanya nama-nama jalan di Palangka Raya pada mulanya adalah nama pahlawan dan tokoh-tokoh penting Dayak Kalteng. Bahwa terdapat nama-nama non Dayak seperti Cut Nya Din, Hasanuddin, Cik Di Tiro, Patimura, Diponegoro dan lain-lain, penggunaan nama-nama tersebut bukan pula suatu kebetulan. Nama-nama para pahlawan itu digunakan sebagai nama jalan  di Kalteng, dilakukan berdasarkan  wacana republikan dan berkeindonesiaan. Karena Palangka Raya dibangun dari hutan belantara di sekitar Desa Pahandut, memang berdasarkan wacana republikan dan berkeindonesiaan. Bahkan Palangka Raya oleh Bung Karno dirancangkan kemudian menjadi ibukota RI.
Yos Sudarso sebagai sebuah jalan  besar utama di ibukota Kalteng, pada awalnya  bernama Jalan Soekarno-Hatta.  Penamaan itu dipandang  sepadan dengan ukuran jalan dan arti penting Soekarno-Hatta dalam sejarah bangsa dan RI.
Kemudian terjadi Tragedi Nasional September 1965. Presiden Soekarno dipandang terlibat dan ‘’melakukan kudeta terhadap diri Soekarno sendiri’’. Sampai akhirnya Soekarno digulingkan. Oleh adanya Tragedi Nasional ini dan anggapan miring terhadap Soekarno, maka jalan yang tadinya diberi nama Jalan Soekarno-Hatta, lalu diganti menjadi Jalan Yos Sudarso dan berlangsung sampai sekarang. Hingga detik ini, tidak ada satu jalan pun yang yang bernama Jalan Soekarno-Hatta.
Pengubahan nama Jalan Soekarno-Hatta menjadi Jalan Yos Sudarso menyimpan makna dalam tersendiri, baik dari segi sejarah, budaya, psikhologis, sosiologis-antropologis, pola pikir dan mentalitas bangsa dan daerah ini. *** (Dikisah ulang oleh Andriani S. Kusni berdasarkan tuturan TT.Suan).***

Sahewan Panarung Harian Radar Sampit Edisi 13 Mei 2012

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

Konsep Kemanusiaan Dayak

Menyelesaikan masalah-masalah dengan kekerasan baik verbal mau pun fisik dengan istilah lokal Kalteng bisa disebut sebagai Jalan Mandau. Dahulu, apalagi sebelum Pertemuan Tumbang Anoi 1894, Jalan Mandau ini merupakan jalan utama dalam menyelesaikan perselisihan. Jalan ini dipandang sebagai jalan mamut-menteng (gagah-berani), tapi memenggalnnya dari keututhan  citra manusia Dayak  idola yaitu “mamut-menteng, pintar-harati, mameh-ureh, andal dia batimpal” (gagah-berani, pintar-berbudi, urakan-tekun (sehingga menjadi) hebat tiada bertanding).

Ada yang menolak konsep mameh karena dipandang sebagai tindakan kurang ajar. Padahal mameh yang berbeda dengan paleng , sesungguhnya tidak lain dari cara penuh kreativitas guna  mengatasi sesuatu menentang arus atau kebiasaan yang dipakemkan pada saat darurat. Sehingga mameh berkaitan erat dengan wacana pintar dan harati. Berbeda dengan konsep dan tindakan paleng,suatu tindakan yang melanggar keadaban.

Mamut-menteng, seperti halnya dengan konsep kecendikawanan Dayak “tunjung nyahu”, menegaskan bahwa ke “pintar-harati-an” menjadi tanpa makna jika  berhenti pada perkataan tidak dilaksanakan. Menurut konsep Dayak ini, kepintarharatian niscaya diterjemahkan ke dalam kenyataan. Sebab kepintarharatian itu dicapai dengan maksud mengobah keadaan menjadi lebih baik dalam arti memanusiawikan manusia, paralel dengan konsep hidup mati Dayak yang dituturkan dalam sastra lisan seperti sansana kayau, “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga) kemudian dirinci menjadi antara lain gagasan “hatamuei lingu nalata” dan” hatindih kambang nyahun tarung mantang lawang langit”.

Merunut alur pikiran wacana tersebut nampak  bahwa masyarakat manusiawi yang tingkatnya terus-menerus meninggi kualitasnya akan diwujudkan oleh manusia yang “andal dia  batimpal” alias manusia bermutu. Dia “andal dia batimpal” karena pintar-harati mameh-ureh dan mamut menteng mewujudkan kepintar-haratian itu. Artinya sentral kualitas manusia itu terdapat pada kepintar-haratian yang diwujudkan dengan mamut-menteng. Bukan disimpan dalam kocek atau bapuhan dapur. Mamut-menteng yang dipisahkan dari pintar-harati, dari kreativitas dan prakarsa kaya imajinasi kecendekiawanan, akan merosot ke tingkat keadaban yang defisit. Hanya mengandalkan otot. Bersandar pada okol tidak pada akal. Jalan Mandau adalah jalan okol tanpa akal.  Defisit keadaban ini memperlihatkan diri  antara lain  penggunaan pendekatan kekerasan (baik verbal atau pun fisik) dan kekuasaan dalam soal-soal pemikiran dan akademi. Tidak menyediakan ruang besar bagi kebenaran orang lain, melihat masalah secara hitam-putih, dunia ini seakan-akan tidak punya sejarah, mandeg seperti laut mati. Dibandingkan dengan konsep kemanusiaan Dayak di atas, tentu saja pendekatan kekuasaan dan kekerasan adalah dua hal yang bertolak belakang. Bukan tidak mungkin ketidaktahuan dan kurang penelitian menyisakan pada orang Dayak hanya warisan genealogis, tapi secara budaya dan kecendekiawanan tidak menyisakan apa-apa. Hal begini  bukan kekhawatiran tapi kenyataan Kalteng hari ini. Sekali pun di Kalteng terdapat 31 universitas/ Perguruan Tinggi, tapi diskusi akademi masih sangat jauh dari mentradisi, apalagi dibandingkan dengan tradisi kayau-mangayau.***

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK EDMOND ASANG

TINGGAL SEJARI DARI PUNCAK

 

gandang garantung dan kangkanong

ditingkah sansana lahap membubung

sayup terdengar  ratap tatum

di  angin menabur suling balawung

 

mendayungi sungai demi sungai

mengembarai sisa-sisa rimba

hijau dedaunan mengangguk menyambutku

dihijaukan sangsai airmata

 

kutahu lalu

gandang garantung dan kangkanong

lahap-sansana bukan lagi genderang ke puncak menara

sebab duka tinggal sejari dari puncak angkasa

menutup candra dan surya

harapan meniti tabéngan rambut

 

2011.

 

THE DEATH SOUL *

 

aku tiba dari lembah darah dan kembara benua airmata

kembali kepadamu sesuai janji pernah kuucap

sisa-sisa masa silam dari rezim yang runtuh

berseliweran menatapku tajam dari 16 penjuru kampung

gemetar membaca sejarah mereka tulis sendiri

 

kuburan massal di hutan-hutan

pada zamannya dipandang kepahlawanan

anak negeri menjadi rahasia besar terlarang diucapkan

nama-nama orang hilang tabu disebutkan

menghampar kuburan tanpa nisan

 

tapi matahari dan bulan seperti adat waktu

tak perduli mengganti siang dan malam

mengurai leluasa rahasia demi rahasia

apalagi ketika hutan demi hutan dibabat pembangunan

tragedi tersingkap mencari nurani

 

dari lembah darah dan kembara benua airmata

aku tiba menebar getar orang-orang dikejar

bayang ketakutan pada diri   mengepung cintaku

membelenggu kampung dan jiwa-jiwa mati

isyarat keterbelakangan bakal lama bertahan di sini

 

2011

 

*The Death Soul, judul dari sebuah karya N.Gogol

 

Kritik & Apresiasi

FajarSetiawan Roekminto*

Negasi Terhadap Realitas  Dalam Cerpen

“Old Man at the Bridge” karya Ernest Hemingway

(Sebuah Perspektif Dekonstruksi) 

 

I. Pengantar : Tentang Dekonstruksi

Dekonstruksi adalah sebuah teori mengenai bahasa dan sastra. Teori ini berkembang pada tahun 1970-an. Dekonstruksi merupakan reaksi utama atas strukturalisme dan semiotik dalam kritik sastra. Premis pertamanya dikemukakan oleh seorang filsof Perancis, Jacques Derrida, yang karya – karyanya mampu mengubah sejumlah pemikiran – pemikiran akademis di Amerika Serikat. Derrida mencoba untuk mencari apa yang dikatakan oleh teks serta menyingkapkan logika yang ada dan dibalik teks. Dalam bukunya Of Grammatology dia melakukan sebuah penelitian teks Rousseau mengenai kedudukan tulisan dalam diskusi bahasa yang terjadi di Barat (Culler, 1981 : 15)

Di Amerika terbentuk kelompok – kelompok dekonstuksi, seperti misalnya dekonstruksi feminis namun demikian secara mendasar teori ini sama satu sama lain. Pada saat dekonstruksi masuk ke Amerika banyak kritik terhadap dekonstruksi yang dikemukakan oleh Derrida, salah satu pengkritiknya adalah Paul De Man atas penelitian teks Rousseau oleh Derrida. Kritik itu dikemukan dalam buku Blindness and Insight yang didalamnya berisi pernyataan bahwa dalam kenyataannya Derrida telah menghilangkan eksistensi Rosseau karena sebenarnya teks Rosseau itu telah terdapat dan membawa dekonstruksi (Culler, 1981 : 15).

Yang menjadi karakter utama dekonstruksi adalah gagasannya mengenai tekstualitas (textuality), suatu pandangan mengenai bahasa yang tidak hanya terdapat dalam buku tetapi juga dalam ujaran (parole), sejarah dan kebudayaan. Bagi pengikut aliran ini, (kaum dekonstruksionis), bahasa membentuk segala sesuatu. Dunia itu sendiri dianggap sebagai sebuah “teks.” Bahasa membuat konfigurasi kemanusiaan dan menciptakan realitas kemanusiaan, (suatu realitas yang tidak dapat dinamai atau dideskripsikan secara ilusif).

Berkaitan dengan tekstualitas, gagasan mengenai interteks mengacu pada latar belakang kebudayaan yang lebih luas, sebuah konteks yang mempunyai konsep, konvensi dan kode yang tidak terhingga jumlahnya. Isi dan arti teks secara esensial bersifat indeterminate (tidak secara jelas ditentukan dan ditetapkan), misalnya dalam hubungan tersembunyi teks dengan interteks kultural dan sosialnya. Dengan demikian teks bersifat takterbacakan (unreadable) dan usaha serta latihan untuk membuat interprestasi bisa saja didefinisikan sebagai misreading (membaca secara tidak akurat).

Dekonstruksi Derrida menyerang apa yang disebutnya sebagai “logosentrisme”  yang melekat pada pemikir – pemikir Barat mulai dari Plato sampai pada Martin Heidegger, bagi Derrida logosentrisme merupakan suatu kebiasaan manusia yang meletakkan kebenaran kepada logos,1. dan bahasa lisan, suara yang mempunyai alasan dan firman Tuhan. Derrida menemukan bahwa logosentrisme menciptakan dan menggantungkan pada satu kerangka kerja dua spesifikasi oposisi (yang berkebalikan), yang menjadi dasar bagi pemikiran Barat seperti misalnya ada/tidak ada (being/nonbeing), benda/kata (thing/word), esensi/kinerja (essence/appearance), kehadiran/ketidakhadiran (presence/absence), realitas/citra (reality/image), kebenaran/ kebohongan (truth/lie), laki – laki/perempuan (male/female). Dalam sistem epistemologis logosentris spesifikasi yang pertama dari tiap pasangan mempunyai keistimewaan contohnya KEBENARAN/kebohongan, (TRUTH/lie), LAKI – LAKI/perempuan (MALE/female). Derrida memberikan kritik terhadap hirarki polaritas ini dan dia memisahkan tradisi dengan cara membalikkan urutan dan memindahkannya, mentransformasikan setiap spesifikasi ini serta kemudian meletakannya dalam posisi yang sedikit berbeda dalam satu kelompok kata atau mencari etimologinya secara meluas, atau bahkan dengan menggantikannya dengan kata – kata  dari bahasa lain yang kelihatan dan mempunyai suara yang sama. Sebagai akibat meluasnya karya Derrida, kaum kritikus feminis telah mendekonstruksi secara phallosentris pasangan kata laki – laki/perempuan (phallocentric pair male/female).Secara umum kaum feminis melihat phallosentrisme sebagai dasar dari  “teks sosial” yang lebih luas dalam masyarakat logosentris Barat, (akibat terbentuk dari bahasa yang ada) telah menempatkan wanita pada kedudukan kedua dalam hal jenis kelamin, ekonomi, dan peran sosial.

 

II.  Ernest Hemingway : Karya, Tema dan Pemikirannya

 

Ernest Miller Hemingway adalah seorang penulis cerpen dan novelis terkenal Amerika. Terlahir dari seorang dokter di Illinois pada tahun 1889. Dia sempat bekerja menjadi seorang reporter pada Kansas City,  pada tahun 1918 dia menjadi sukarelawan pada unit palang merah dalam perang di Italia dan terluka dalam peperangan itu sebelum akhirnya ia bekerja untuk Toronto Star  dan selanjutnya menetap di Paris. Hemingway mendapat Hadiah Nobel pada tahun 1954 dan setelah itu aktifitasnya dalam dunia penulisan menurun sampai kemudian ia bunuh diri dengan cara menembakkan kepalanya pada tahun 1961 (Drabble, 1985 : 415).

Cerpen Old Man at the Bridge (selanjutnya disebut OMATB) merupakan satu dari tujuh belas kumpulan cerpen karya Hemingway dalam Winner Take Nothing (1933) (yang selanjutnya disebut dengan WTN). Adapun kumpulan cerpennya yang lain adalah In Our Time (1925) dan  Men Without Women (1927)  (Barrow 1959 : 223 ). Banyak peneliti berpendapat bahwa karya – karya Hemingway sedikit banyak mempunyai kemiripan dengan pengalaman hidupnya dengan demikian seringkali karya – karyanya mempergunakan bahasa sehari – hari yang sederhana dan pilihan kata yang realis. Ia banyak menulis mengenai aspek – aspek kehidupan yang mirip dengan kehidupan pribadinya seperti tema – tema mengenai, perburuan, adu banteng dan kehidupan kaum ekspatriat yang ada di Paris. (Heiney, 1954 : 71).

Alasan – alasan itulah yang membuat seolah – olah Hemingway menempatkan dirinya sendiri menjadi tokoh utama dalam karya – karya yang ia tulis, seperti tokoh Nick Adams, Francis Macomber, Jake Barnes, Frederick Henry dan Kolonel Contwell (Weeks, 1962 : 8).  Selain itu tema – tema yang diangkat oleh Hemingway adalam tema yang berkaitan dengan kematian, keberanian, seks, cinta, kekerasan dan perburuan (Stanton, 1965 : 1). Tokoh – tokoh yang ada dalam karyanya adalah sosok yang bercirikan manusia modern. Sosok manusia yang terlempar dalam sebuah dunia (thrown-into-the-world)  tanpa asal usul yang jelas, tanpa makna dan bahkan tanpa tujuan (Lodge, 1991 : 477). Cerita itu mengalir begitu saja, tanpa diformat, dengan demikian lebih terkesan faktual dan tidak fiktif. Tokoh – tokoh yang ditampilkan adalah  “mahluk tanpa agama, moralitas, keyakinan politik dan tanpa sejarah yang jelas” (Weeks, 1962 : 2)

Hemingway mengambarkan tujuan hidup sebagai sesuatu yang pada akhirnya sia – sia seperti gambaran dalam novel The Old Man and The Sea (1952) (Foerster, 1962 : 1080-1081). Kemenangan atau prestasi dalam hidup adalah sesuatu yang tidak berarti apa – apa (nothing), yang cenderung membawa pembaca pada kesimpulan bahwa Hemingway adalah manusia pesimistis dengan gambaran hidup yang muram. Selain itu juga memunculkan anggapan bahwa ada tema kekosongan, kehampaan atau nihilisme, sebuah keadaan yang diartikan oleh Hornby sebagai non-existence, penolakan total dari isntitusi politik, agama dan keyakinan moral (Hornby, 1987). Hal ini menjadi semakin jelas terlihat dalam beberapa cerpennya.

Dalam “The Short Happy Life of Francis Macomber” Hemingway melukiskan sebuah “kemenangan” dan perasaan bahagia ketika kematian dan kehampaan itu datang. Kemudian tokoh Paco dalam “The Capital of the World” yang terilusi oleh keberadaan matador yang kemudian meninggal ketika mengejar impiannya sebagai seorang matador.

 

III. “Old Man at the Bridge” 

Cerpen OMATB dilihat dalam sudut pandang orang pertama (the-I-speaker), namun demikian dalam cerpen itu tidak menjadikan orang pertama tersebut menjadi tokoh utama melainkan justru Pak Tua (the old man) yang menjadi tokoh utama dalam cerpen OMATB. Penutur cerita dalam cerpen OMATB adalah seorang tentara penyelidik yang berada di garis depan peperangan yang bertemu dengan Pak Tua. Pak Tua tersebut adalah satu dari sekian banyak pengungsi pada masa perang di Spanyol.  Ada sesuatu yang terlihat aneh dalam perilaku Pak Tua itu yakni keengganan dia untuk turut dan larut dalam hiruk pikuk pengungsi. Dia tidak mencoba untuk berlari mencari tempat yang aman namun dia malah duduk sendiri di pinggir jalan.

Pak Tua tersebut telah tercampakkan karena peperangan dari tempat ia dilahirkan, San Carlos. Tak ada yang tersisa dari dirinya selain beberapa binatang piaraan yang selalu ada disisinya. Pak Tua tersebut kelihatan begitu menderita, lusuh dan tanpa ekspresi, “An old man with steel rimmed spectacles and very dusty clothes sat by the side of the road” (WTN, 1987 : 53). Dia begitu tidak peduli dengan lingkungan dan semua yang ada dihadapannya. Penutur cerita mencoba untuk mengajak Pak Tua untuk naik ke dalam truk yang akan mengangkut para pengungsi menuju Barcelona. Penutur cerita beranggapan bahwa dengan mengikuti rombongan para pengungsi maka Pak Tua tersebut akan mendapat tempat yang lebih baik di Barcelona. Namun demikian Pak Tua tersebut hanya mengiyakan dan mengucapkan terimakasih tetapi tidak beranjak dan bahkan kembali terdiam duduk di sisi jembatan dengan maksud untuk menanti binatang – binatang piaraannya. Dia terus duduk menunggu dan menunggu dalam sebuah penantian yang sia – sia.

 

 

III. Eksistensi Pak Tua : Negasi Terhadap Realitas

Di Suatu tempat bernama Ebro Delta Pak Tua bertemu dengan penutur cerita (the – I – speaker). Dalam sebuah teks dalam OMATB tertulis, “I was watching the bridge and the African looking country of Ebro Delta….” (WTN, 1987 :53),  ada semacam gambaran yang ada dibalik teks tersebut, gambaran itu adalah gambaran peperangan dan peperangan itu adalah  seperti yang diungkapkan oleh Manvel Duran, “We must bear in mind, of course, that in Spain ‘the war’ means the Spanish civil war from 1936-1939.”  (Konstelanetz, 1964:193). Ada semacam “kelanjutan” dari teks tersebut yakni akibat dari peperangan yang sangat merugikan seperti misalnya porak porandanya kehidupan yang selama ini mapan dan damai di Spanyol. Akibat dari peperangan itu adalah tercerabutnya semua kehidupan dari lingkungan yang selama ini mengayomi dan memberikan kedamaian.

Kekacauan akibat peperangan itu membawa “pribadi – pribadi” yang selama ini hidup tenang menjadi terusik, salah satunya adalah Pak Tua tersebut. Dia melihat bahwa peperangan adalah sebagai akibat dari kebijakan – kebijakan yang salah yang telah diambil oleh para penguasa. Dia menganggap bahwa para penguasa telah menjadikan keadaan menjadi kacau, hal ini ditekankan oleh Pak Tua dalam pernyataannya, “I am without politics .” (WTN, 1987 :54). Baginya tidak ada yang lebih menyakitkan selain perbuatan yang dilakukan oleh para penguasa dan politikus.

Akibat adanya anggapan semacam itu ia melakukan suatu penolakan terhadap apapun yang merupakan realitas yang ada dihadapannya. Dia beranggapan bahwa realitas adalah sebuah kehampaan yang harus ditolak karena didalamnya tidak pernah memberikan sesuatu yang lebih baik. Dengan kata lain realitas harus selalu ditolak apalagi realitas itu dikaitkan dengan politik. Penolakan itu lebih lanjut direalisasikan dengan penolakannya mengikuti anjuran the-I-speaker untuk bersama pengungsi yang lain menuju Barcelona.

Ada kekosongan yang menyelimuti pikiran Pak Tua ketika menghadapi realitas, karena realitas yang ada dihadapannya bukanlah seperti yang pernah ada yakni kampung halamannya, San Carlos. Teks berikut memberikan gambaran yang jelas, “That was his native town and so it gave him pleasure to mention it and he smiled” (WTN, 1987 :53). Keputusasaan telah mengakibatkan Pak Tua tersebut tidak mau melakukan apapun untuk menyelamatkan jiwanya. Hidup baginya tidak lagi bermakna dan mempunyai fungsi. Dia merasakan bahwa hiruk – pikuk para pengungsi dan bunyi senjata tidak berarti apa – apa. Dia mencoba membuat suatu kesimpulan sendiri terhadap makna hidup tidak seperti  yang biasa dilakukan oleh orang lain.

Tidak ada lagi yang dapat dipercaya dalam hidup sehingga dia mencoba untuk menciptakan sebuah bentuk baru, memberi makna baru terhadap a hidup dan itu adalah sebuah kehampaan. Dia sendiri kemudian yakin bahwa realitas pada akhirnya hanya memberikan kehampaan dan kehampaan itu sendiri sebenarnya tidak perlu dipertahankan.

 

V. Penutup

Tindakan Pak Tua untuk melakukan penolakan terhadap realita dan memberi makna baru terhadap hakekat hidup yang ia jalani memberikan akibat terhadap adanya penyimpangan cara berpikir dan tingkah laku.. Sikap tersebut telah membawa Pak Tua kepada sikap apatis dan mungkin saja aneh. Hemingway dalam hal ini mencoba untuk menyingkap bagaimana sebenarnya karakter manusia – manusia modern yang kadang sulit untuk dipahami. Teks – teks yang dia tulis dalam cerpen tersebut tidak sekedar menghubungkan makna dan fungsi dalam merangkai cerita akan tetapi lebih dari itu, menyingkapkan sebuah dunia yang mungkin belum pernah dirasakan oleh pembacanya.

Meskipun bahasa yang dipakai oleh Hemingway dalam cerpen tersebut singkat dan kelihatan sederhana, tetapi kesederhanaan itu tidak berhenti pada teks itu sendiri tetapi menyingkapkan persolan – persoalan kehidupan yang sangat kompleks dengan demikian dalam memahami cerpen tersebut dibutuhkan suatu pemahaman mengenai latar belakang penciptaan cerpen tersebut sehingga proses terjadinya detail cerita itu dapat juga ditangkap.***

 

*Dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Jejaring kerja SP Radar Sampit.

 

 Sejarah Lisan Rakyat Dayak

Abdurrahman Jrenjeng

Oleh Kusni Sulang

 

Berlatar belakangkan kebangkitan untuk kemerdekaan nasional di skala seluruh Hindia Belanda, Pada tahun 1919, Hausmann Baboe, Bapak Kebangkitan Dayak,mendirikan Sarikat Dajak di kampung Hampatung, Kuala Kapuas. Berdirinya Sarikat Dajak ini sekaligus merupakan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan Pertemuan Tumbang Anoi tahun 1894 yang secara sukarela menerima status Dayak sebagai anak jajahan. Penggunaan nama Sarikat pada Sarikat Dajak Dajak bukanlah suatu kebetulan karena Hausmann Baboe adalah sahabat dekat HOS Tjokroaminoto pimpinan utama Sarikat Islam. Sarikat Dajak dan ide-idenya tersebar di seluruh Kalimantan, termasuk sampai ke Kalimantan Barat. Abdrrahman Jrenjeng, seorang Dajak Kalbar merupakan salah seorang penggiatnya dan penganut ide-ide Sarikat Islam Tjokroaminoto.

Maraknya kebangkitan nasional meningkat menjadi perlawanan-perlawanan fisik, seperti Pemberontakan pelaut-pelaut kapal Zeven Provincien (Kapal Tujuh) dan memuncak pada Pemberontakan Nasional melawan penjajahan Belanda pada 12 November 1926. Pemberontakan nasional anti kolonialisme pertama ini berlangsung di berbagai pulau : Jawa, Sumatera, Sulawesi dan agaknya juga tersulut di Kalimantan. Seperti halnya dengan Pemberontakan Kapal Tujuh Pemberontakan Nasional 1926 ini pun mengalami kegagalan. Kapal Tujuh dibom oleh Belanda. Pwmberontakan November 1926 dipatahkan. Sejumlah pimpinannya di Sumatera dan Jawa dihukum gantung, sedangkan mereka yang tertangkap dan hidup dibuang ke Boven Digul dan Tanah Merah, Papua.

Abdurrahman Jrenjeng termasuk salah seorang Dayak Kalimantan Barat yang ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Boven Digul. Ketika Perang Dunia II meletus, Jepang menduduki Hindia Belanda (Indonesia) setelah menduduki Singapura,  para pejuang yang dibuang di Boven Digul dan Tanah Merah oleh Belanda diungsikan ke Australia Utara yang tandus. Setelah itu dan sampai sekarang, nasib Abdurrahman Jrenjeng tidak pernah diketahui sama sekali. Saya mengetahui nama

Abdurrahman Jrenjeng dari Mbah  Ramidjo, seorang Digulis , ketika mendorong dan membantunya menuliskan Memoirenya tentang Pemberontakan  November 1926.

‘’Di antara kami, Cucuku, ada Abdrurrahman Jrenjeng,seorang Dayak Kalimantan Barat’’ , ujar Mbah Ramidjo disela-sela tuturannya tentang peristiwa bersejarah yang almarhum alami.  Tuturan Mbah Ramidjo yang singkat ini seperti juga mengatakan bahwa perjuangan Dayak, tak terpisah dari perjuangan nasional untuk kemerdekaan. Tidak terisolasi.  Mudah-mudahan tulisan sangat sederhana ini terbaca oleh turunan Abdurrahman Jrenjeng dengan harapan bisa menelusuri sejarah Jrenjeng lebih lanjut.***

 

(Sumber : Mbah Ramidjo alm, dan Yohanes,penggiat kebudayaan di Kalbar).

 

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

PALAJARAN 7: KUTAK MISEK

KALIMAT TANYA

 

Seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, kalimat tanya dalam Bahasa Dayak pun dibentuk

dengan menggunakan:

 

(1). Kata Tanya (Kutak Misek):

 

  • Kueh (mana), bara kueh (dari mana), kakueh  (ke mana), ji kueh (yang mana), hung kueh (di mana), kilen (bagaimana).
  • Narai (apa), mbuhen (mengapa), bara narai (dari apa), eweh (siapa).

 

(2). Menggunakan lagu kalimat yang agak dinaikkan di akhir kalimat.

 

Suntue ah:

 

Kalute kah? H(Begitu kah?)

Iye kah? (Iyakah?)

Dia kalutekah? (Tidak begitukah?)

 

(3). Latihan:

 

Duhup awi kalimat pisek umba kutak pisek ji jadi inyewut hung hunjun mahapan kutak-kutak tuh (Tolong buatkan kalimat Tanya menggunakan kata Tanya yang sudah disebut di atas menggunakan kosakata ini:

Gawi (kerja); kuman (makan), mihup (minum); manyurat (menulis), mambasa (membaca), mananjung (berjalan),mandui (mandi), tiruh (tidur).

 

UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

 

Palanduk dia mingat jarat, jarat tatap mingat palanduk. Pelanduk tidak mengingati jerat, tapi jerat mengingat pelanduk. Orang sering lupa bahaya tapi bahaya tetap menunggu.

Handak tingkep jatun pai. Mau hinggap tapi kaki tak punya. Hendak melakukan sesuatu tapi syarat-syaratnya tak ada.

Helu nupi bara batiruh. Lebih dahulu mimpi dari tidur. Keadaan yang sudah diketahui sebelumnya.

Sapanja-panjang rumbak, magun panjang nyama Sepanjang-panjang lorong lubang tak sepanjang mulu. Orang bisa merentangkan kisah apa pun sekehendak hati.

Bara bakawal dengan uluh humung, keleh bakawal dengan uluh harati. Daripada berteman dengan orang bodoh, lebih baik bedrteman dengan orang berbudi. Bersahabat dengan orang bodoh tak ada gunanya.

 

 

 


1. Kata logos berasal dari akar kata  lego, dalam bahasa Yunani berarti “mengatakan.” Logos muncul secara meluas dalam sejumlah doktrin filsafat Yunani dan Kristen. Meskipun arti awalnya adalah “berhubungan dengan wacana” tetapi kata itu kemudian telah meluas menjadi bermacam – macam arti seperti misalnya : “argumen,” ” prinsip rasional,” “alasan,” “proporsi,” “ukuran,” danlain sebagainya. Karena alasan ini maka sangat sulit untuk menginterprestasikan doktrin logos dari para filsof dan sangatlah berbahaya untuk mengasumsikan sejarah tunggal doktrin – doktrin ini.

KEBERANIAN BERPIKIR & BERTINDAK

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Kusni Sulang

KEBERANIAN BERPIKIR & BERTINDAK

 

Gerakan femininisme atau gerakan penyataraan kedudukan, peran dan tanggungjawab antara perempuan dan lelaki di negeri ini sudah tumbuh, terutama di kota-kota besar di  Jawa seperti Jakarta, Bandung. Adanya gerakan untuk emansipasi menunjukan bahwa di daerah geografis tersebut terdapat ketidak setaraan, berkembang penindasanm pembelengguan terhadap perempuan. Padahal perempuan baik dari segi jumlah atau pun kapasitas merupakan  jumlah  besar.Jumlah dan kapasitas yang oleh orang Tionghoa disebut sebagai “penyangga separo bumi”. Kenyataan ini kemudian diteoritasikan bahwa bangsa yang belum mampu membebaskan kaum perempuan, belumlahmenjadi bangsa merdeka. Pembelenggu penyangga separo langit itu adalah kekuasaan lelaki, feodalisme dan imperialisme, tiga gunung yang menindih punggung perempuan.

 

Di negeri ini Jawa, khususnya Jawa Tengah merupakan tempat feodalisme paling berkembang. Perempuan dipandang hanya sebagai “konco wingking” (teman di belakang), “bunga rumahtangga” yang ke sorga ikut, ke neraka terbawa (menyang surgo nunut, menyang neraka katut). Sistem beginilah R.A.Kartini lahir, besar dan dikalahkan. Perlawanan-perlawanannya dilanggengkan dalam  tulisan, cq surat-surat kepada teman-teman Belandanya yang kemudian diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ide perlawanan inilah, di tengah kehidupan berbangsa kita yang sangat Jawa-Sentris,   yang kemudian menempatkan R.A. Kartini menjadi pahlawan nasional emansipasi di negeri ini yang saban 21 April, yaitu hari lahirnya, diperingati.

 

Daerah-daerah lain pada waktu itu masih asing dari pengenalan dan perhatian  para politisi atau pun akademisi yang juga didominasi oleh Jawa karena itu tidak masuk hitungan. Bahkan para feminis hari ini pun lebih mengenal Barat dengan teori-teori feminismenya daripada mengenal keadaan negeri sendiri dan daerah-daerah. Beberapa feminis Jakarta yang pernah ke Kalteng, buta sama sekali akan konsep feminisme Tanah Dayak. Perempuan dan permasalahannya di negeri ini dilihat secara pukul rata tidak dalam rincian. Tidak usah para feminis dari Jawa yang sangat terpengaruh oleh wacana Barat, Uluh Kalteng sendiri  sekali pun berderet gelar akademi sandangannya, bedlum tentu mengenal wacana feminis Dayak dan sejarah perkembangannya. Hal ini mengingatkan semua, betapa penting sejarah lokal patut ditulis agar sejarah negeri tidak besifat sentris. Sayangnya dari 31 uyniversitas dan perguruan tinggi di Kalteng tidak satu pun yang mem perhatikan jurusan sejarah, sebagaimana Fakultas Hukum tidak memperhatikan hukum adat Dayak.

 

Apabila sampai hari ini kita masih memperingati Hari Kartini sebagai hari emansipasi, barangkali yang tersisa untuk dipelajari dari Kartini adalah keberanian berpikirnya melawan feodalisme, yang itu pun  barangkali bukan feodalisme secara menyeluruh. Pemberontakan pemikiran (yang juga tentu tak lepas dari kontak dengan teman-teman Belandanya). Di luar pemberontakan pemikiran yang parsial apakah ada yang dilakukan Kartini seperti halnya dengan Cut Nya Dien atau perempuan-perempuan Dayak dahoeloe yang menikmati kesetaraan mereka dalam sistem ekonomi-sosial-politik tersendiri? Keberanian berpikir atau berpikir kritis , kemudian keberanian bertindak (yang ada pada Cut Nya Dien, Emmy Saelan, Lasykar Perempuan Dayak dan perempuan Dayak dahulu secara keseluruhan) sangat kita perlukan hari ini guna menjadi bangsa dan daerah yang  berharkat dan bermartabat. Kartini adalah sebuah nama sejarah, bentuk dari sentrime historic, tapi justru sejarah inilah yang belum menjadi perhatian kita di sini sehingga mengesankan kita secara sukarela menjadi Uluh Kalteng tanpa sejarah. Melupakan, entah sadar atau tidak, menyulap dan menjungkirbalikkan sejarah. Terkadang melakukan kompromi sejarah.***

 

Emansipasi dalam Masyarakat Dayak

Andriani S. Kusni *)

 

 

“Suara perempuan” dalam spanduk demonstrasi menentang pernyataan Prof. Thamrin Amal Tomagola dalam sidang kasus Nazriel Ilham (Ariel-Peter Pan). Lokasi Bundaran besar Palangka Raya, 08/01/2011 (Foto: Andriani S. Kusni)

 

 

R.A. Kartini di negeri ini dipandang sebagai pahlawan kesetaraan perempuan dan lelaki sehingga hari kelahirannya, 21 April, ditetapkan sebagai Hari Emansipasi dan dirayakan secara nasional. Dalam masyarakat Jawa yang feodal, kedudukan lelaki dan perempuan memang berbeda. Perbedaan yang antara lain dicerminkan dalam ungkapan “ke sorga ikut, ke neraka terbawa” (menyang swarga nunut, menyang neraka katut). Perempuan juga dilukiskan sebagai “konco wingking” , teman di belakang atau digambarkan sebagai “lembang rumah”. Dengan istilah lain, perempuan berstatus sebagai obyek belaka. Obyek dari lelaki. Sesuai dengan status demikian, bahasa Jawa menyebut perempuan dengan kosa kata wanita (dari bahasa Sansekerta, vanidh berarti yang di….”). Kata perempuan juga dari bahasa Sankserta berarti “yang mempunyai kemampuan”.

 

Sesuai dengan karakter rezimnya yang militeristik neo-feodal, yang memerosotkan Republik Indonesia menjadi sebuah imperium atau kerajaan model kerajaan Mataram, Orde Baru Soeharto menggunakan istilah wanita, seperti misalnya pada Dharma Wanita, untuk organisasi istri-istri PNS. Menurut konsep Dharma Wanita Orde Baru, perempuan berfungsi sebagai “pendamping suami dan ibu rumah tangga”. (Ninuk Mardjana Pambudy, “Pemenuhan Asa Kartini”, Harian Kompas, Jakarta, 16 April 2010).

 

Agar lepas dari kooptasi negara, maka kata perempuan kembali digunakan oleh Gerakan Perempuan. Dalam masyarakat feodal Jawa, di usia remaja, perempuan-perempuan masuk pingitan. R.A Kartini tidak lepas dari nasib tersebut. Dari ruang pingitan ini kemudian, R.A. Kartini melakukan surat-menyurat dengan para sahabat Belandanya di negeri Belanda, menyuarakan pikiran dan perasaannya yang terkungkung tapi ingin kebebasan. Surat-menyurat ini kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran dalam surat-surat tersebut dipandang sebagai terobosan baru bagi Indonesia lalu atas dasar itu R.A. Kartini diberi kedudukan sebagai pahlawan kesetaraan perempuan Indonesia.

 

Tanpa mengurangi nilai-nilai pikiran dan mimpi tersebut, agaknya pengertian Indonesia di sini lebih kena terutama Jawa karena keadaan masyarakat Jawa dan masyarakat di pulau-pulau lain tidak sama. Ada masyarakat yang tidak mengenal apa yang dialami oleh R.A. Kartini. Tapi keadaan masyarakat tersebut kurang atau bahkan tidak dikenal oleh elite negeri ini yang berpusat di Jawa. Untuk waktu lama sejarah Indonesia bersifat sangat Jawa Sentris. Apakah elite di Jawa sampai sekarang cukup mengenal daerah-daerah lain? Sebuah tanda tanya besar, apalagi tidak sedikit kalangan elite lebih mengenal Amerika dari Indonesia sendiri. Jawa Sentris inipun sampai sekarang masih berlangsung misalnya dalam hal pembangunan.

 

Untuk menyusun sejarah Indonesia yang benar-benar sejarah Indonesia, kegiatan para elite lokal terutama para cendekiawannya, dengan menulis sejarah lokal dan keadaan masyarakat lokal sangat perlu. Dalam hal Gerakan Kesetaraan, gerakan jender, karena kurangnya pengenalan mereka yang menyebut diri kaum feminis, maka teori yang ditawarkan untuk negeri kita adalah apa yang diambil dari Barat. Tanpa menolak penggunaan teori-teori feminisme dari Barat, apakah tidak selayaknya  juga melakukan penelitian untuk mengenal bagaimana konsep masyarakat-masyarakat lokal tentang status perempuan dalam masyarakat? Jadi tidak hanya mengunyah-ngunyah hasil bacaan dari luar. Yang diperoleh dari luar hanya dijadikan acuan dan bandingan. Ilmiah tidaknya karya tidak ditandai oleh deretan kutipan buku dari luar di catatan kaki (foot note), tapi terutama rasuk tidaknya yang diucapkan dengan kenyataan. Mengunyah-ngunyah ajaran dan bacaan tanpa daya kritik, gampang menggiring kita ke penaklukan atau penjajahan intelektualitas secara sukarela, bahkan dengan penuh kebanggaan, menduga tingkat intelektualitas diri sudah sangat tinggi dengan deretan catatan kaki itu. Padahal kita akan tidak lebih dari “cendekiawan catatan kaki” jika menggunakan istilah Arief Budiman. Menyadari hal ini, Saparinah Sadli juga mengingatkan “pentingnya mengembangkan teori feminisme yang khas Indonesia” (lihat , Saparinah Sadli, “Berbeda Tapi Setara”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2010). Keinginan Saparinah ini hanya mungkin jika riset kontinyu terhadap masyarakat kita di seluruh wilayah tanah air dilakukan. Jadi tidak berangkat dari asumsi subyektif. Lebih baik lagi jika dibarengi dengan aktivisme.

 

Adanya kesetaraan lelaki-perempuan dalam masyarakat Dayak Kalteng, terutama Uluh Ngaju, dahulu, ditopang oleh posisi ekonomi perempuan tidak tergantung pada lelaki atau suami. Perempuan mempunyai akses sama dengan lelaki terhadap alat-alat produksi. Dengan cara berproduksi yang demikian, maka kepemimpinan dalam keluarga dilakukan oleh suami-istri. Bahkan dalam hal-hal tertentu , posisi kendali terletak di tangan perempuan seperti mengemudi perahu di sungai, keadaan yang bisa dilihat sebagai satu lambang hubungan lelaki-perempuan dan pembagian kerja sosial. Posisi bergeser menjurus ke tempat sub-ordinat lelaki pada saat akses terhadap alat-alat produksi ini dipisahkan dari mereka. Terjadi sangat intens sejak pemerintahan Orde Baru.

 

Dalam soal warisan, bahkan anak perempuan mendapatkan jumlah lebih besar dari lelaki. Sebagai tanda terimakasih orangtua kepada anak perempuan mereka yang telah mengurus orangtua lebih tekun dan lama dari anak-anak lelaki. Rumah tangga, dipimpin bersama oleh ayah dan ibu. Segalanya diputuskan bersama. Secara ekonomi, ibu tidak tergantung pada ayah. Barangkali hal ini merupakan dasar ekonomi bagi perempuan untuk setara dengan lelaki (suami). Sementara Hukum Adat sangat menjunjung perempuan dengan menetapkan perlindungan kuat pada perempuan melalui ketentuan-ketentuan adat. Dengan status perempuan demikian, orang tua tanpa segan melepaskan anak perempuan mereka untuk pergi ke tempat lain, misalnya bersekolah. Kesetaraan ini juga nampak di medan perang, dengan adanya pangkalima-pangkalima perang perempuan yang menggentar lawan begitu mendengar namanya baik pada zaman betang (misalnya Nyai Bahandang Balau), maupun pada masa perang melawan Belanda atau waktu mendirikan provinsi Kalteng. Pada waktu zaman perang gerilya melawan Belanda, Kalteng memiliki Kompie Lasykar Perempuan. Kalau di negeri-negeri yang dikuasai oleh feodalisme, perempuan dihimpit oleh “tiga gunung besar” (kekuasaan lelaki, raja feodal, dan imperialisme), perempuan di masyarakat Dayak Ngaju tidak mengalami himpitan demikian.

 

Tapi status kesetaraan demikian nampaknya mengalami pergeseran. Terutama sejak masa rejim Orde Baru yang secara sistematik menghancurkan Masyarakat Adat dan lembaga-lembaganya dengan meng-golkarkan dan melakukan pendekatan politik SARA, ditambah lagi pengaruh agama-agama baru sehingga perubahan komposisi demografis Kalteng dan marjinalisasi masyarakat Dayak semakin nyata. Dari segi kesetaraan, boleh dikatakan masyarakat Dayak Ngaju tidak berjalan maju tapi memperlihatkan tanda-tanda kemunduran – walaupun secara budaya masih belum pupus. Sisa-sisa budaya kesetaraan ini patut dikembangkan karena perempuan tidak lain dari “penyangga separuh langit”. Tidak ada kemerdekaan sesungguhnya jika “penyangga separuh langit “ ini dibelenggu. Dan benarkah Kalteng sungguh-sungguh merdeka hari ini? Terbitnya buku Sejarah Perempuan Kalteng (Dayak) merupakan sumbangan berharga dalam melihat sejarah kesetaraan perempuan-lelaki di provinsi yang sejarahnya banyak tidak dikenal baik oleh banyak orang, termasuk kalangan elitenya, lebih-lebih lagi oleh angkatan mudanya.Walau poun secara fisik berada di Kalteng, tapi secara sejarah dan budaya asing dari Kalteng.

 

*) Perancang & pembuat perhiasan,  penulis lepas, pengasuh ruang kebudayaan di HU Palangka Post, SekJend Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK AZ ANDREAS

Taekwondo

 

bukan pada taekwondo jiwa terjaga, anakku

jiwa kita senantiasa sasaran utama  penaklukan

tapi benar kita patut berjiwa penakluk anak panarung

yang tak takut jatuh bahkan sementara kalah

maka paling utama mencari bagaimana bisa

memenangkan diri sebagai manusia

penanggungjawab timbul-teggelamnya bumi

 

ratap adalah isyarat kau gemetar

tak berani berlaga dan tak pandai menang

sedang duka  tak punya kasihsayang

seperti kasih ayah kepadamu

 

2012

Lidi

 

sungguh sangat baik, sungguh  berjiwa besar

ia berani mengetuk pintu datang mengulurkan tangan

walau kebiasaan menjungkirbalik  sudah mengadat

tak gampang hilang menandai ketakutan hilang muka

patut dipahami benar, kasih yang besar mampu

menyediakan ruang besar bagi perkembangan

sebaiknya, ia datang kita sediakan ulam manah

suguhan utama hingga dendam usang merontok

darah di nadi kembali merah murni

urusan besar apapun namanya

negara, bangsa, negeri atau pemanusiawian

pembedaan salah dan benar

senantiasa meminta keagungan  dan kesanggupan luka

–nama diri sebagai manusia

memang tak ringan disandang

daripada menjadi binatang

diri sendiri

hanyalah sebatang lidi

apalagi diriku

 

masuk

dan duduklah

kita bincangkan ulang

kita tuliskan lagi

sejarah yang benar

 

2012.

 

Huma Haï *

 

jika kau tulis kampungku

sebuah rumah haï kumuh

diancam roboh

berpagar bambu carutmarut

tentu saja kau tak kusangkal

tak kudebat

 

kenyataan bukan untuk disangkal

atau pura-pura di depannya

pura-pura segalanya baik dan lancar

aku malah berkata kepada anakku

untuk setia kenyataan isyarat cinta kehidupan

tanda keinginan kuat membangun esok

tegas-tegas menjahit lembaran-lembaran

jadi kain perca

hari ini sangat tercabik

jadi lap meja pun sudah tak layak

membangkitkan rasa jijik

 

cabikan-cabikan menjijikan itu adalah jiwa kita

yang kemudian menyobek tanahair

bagai benang kusam lusuh

hanya pantas jadi pel jongos penjajah

celakanya kita berlagak sebagai tuan

sedang  hakekatnya tak lain dari hambasahaya

jongos-jongos dan babu kekinian

 

jika kau tulis kampungku

sebuah rumah haï kumuh

diancam roboh

berpagar bambu carutmarut

tentu saja kau tak kusangkal

tak kudebat

 

rumah haï itu

rumah lahir

rumah pengasuh

dan bertumbuh

 

kutulis baris-barisku sederhana

agar harapan tak mengawang

bisa terjaga

mengundang manusia pulang dari pengasingan

kerna  sansana ** tak boleh absen

sibuk bertualang  entah ke mana

 

2012

 

Catatan :

*Rumah (huma ) haï, rumah besar dalam  masyrakat  Dayak Ngaju,  di mana hidup beberapa keluarga. Ukurannya lebih kecil dari betang.

** Sansana, salah satu bentuk puisi tradisional Dayak Katingan.

 

 

UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

 

 

  1. Matei  bitik awi taluh je manis. Semut mati oleh sesuatu yang manis. Manusia yang jatuh karena bujuk rayu.
  2. Ela basaramin into danum keruh. Jangan bercermin di air yang keruh. Janganlah berteladan pada perbuatan yang buruk.
  3. Dawen manjatu tariup kejau,  bua manjatu tukep  upue. Daun jatuh melayang jauh, buah jatuh dekatnya batang pohonnya. Ulah seseorang tidak jauh dari keadaan lingkungan yang membesarkannya.
  4. Uluh ji mimbul enyuh rancak dia kuman buae. Yang menanam  nyiur sering tak memakan buahnya. Yang sudah-payah  bekerja sering tidak menikmati hasil kerjanya.
  5. Kilau mahamis enyuh, santan induan, kuas inganan. Seperti memeras parutan kelapa, santannya diambil, ampasnya dibuang.  Segala hal ikhwal, ambillah sarinya.

 

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

PELAJARAN 4.

Kata Depan

  1. I.          Jenis-jenis kata depan

 

Hung= di; ka: ke; dari: bara.

Contoh (suntue):

Aku handak ka Sampit (Saya mau ke Sampit).

Ie melai hung Kasongan (Dia tinggal di Kasongan).

Kabalingkuh harue dumah bara Makassar (Istri/Suamiku baru datang dari Makassar)

 

Catatan:

Suami: bana; istri: sawa

Kabali: suami atau istri. Kata ini dipandang lebih halus daripada kata bana atau sawa.

 

  1. II.                Minta tolong kalian membuatkan percakapan kecil menggunakan kata-kata depan hung, ka, dan bara.(Laku duhup ketun mawi papander kurik mahapan kutak-baun hung, ka tuntang bara).

 

 

DARI KHAZANAH CERITA LISAN

Perang Kasitu *

 

Subuh, kakek sudah bangun dan punya kebiasaan sebelum berangkat ke ladang atau memulai kerja harian, berjalan mundar-mandir di sekitar tempat tidurku sambil  bercerita tentang macam-macam soal.

Adalah perang besar bernama Perang Kasitu. Orang-orang berambut jagung  berhidung panjang seperti  bakara 1) (kera merah) , bertubuh tinggi besar. Tanpa bersebab setelah Damang Laca, damang kampung di hulu Enyuh Lendai, menolak ajakannya menyerang kampung lain, damang kampung lalu mereka  bunuh. Damang-Damang kampung daerah-daerah tetangga pun bernasib serupa dengan Damang Laca.

”Kalau menyerang kampung lain tanpa bersebab, si penyerang akan dianggap sebagai pangayau. Kayau akan dibalas dengan kayau. Akibatnya pertumpahan darah tak menentu akan terjadi dan bekepanjangan. Ketakutan akan membuat orang tidak berani mencari ikan, memotong rotan atau pun ke ladang seorang diri. Orang-orang tidak suka hidup dengan ketakutan demikian”, ujar Kakek berbicara sendiri.

‘Lagi pula apa untungnya mangayau tetangga, orang satu sungai ?’’. Tapi  para Bakara itu memandang Orang Dayak itu pemakan manusia sehingga dengan membunuh mereka kira, Orang Dayak akan mendapat makanan. Orang Luar memang memandang rendah Orang Dayak dan diberi  berbagai kata sifat yang buruk. Sebaliknya Orang Dayak memandang Orang-orang Luar memandang  itu sebagai tidak beradat. Diberi sejari , minta sehasta. Sifat tamak beginilah yang oleh Orang Dayak disebut, “seperti Belanda minta tanah”.

Di hadapan pembunuhan demi pembunuhan tak bersebab demikian dan perampasan demi perampasan, orang-orang berbagai kampung bersama-sama mengambil tombak dan mandau, lalu menyerang sekawanan  Bakara di kapal mereka yang   berlabuh di tepian sungai. Diserang secara mendadak dalam malam buta hanya diterangi oleh cahaya bulan, bintang dan kunang-kunang, semua mereka yang berjumlah puluhan orang tewas tak bersisa. Tempurung-tempurung kepala mereka dilempar  ke air sungai. Kapal mereka ditengggelamkan dan kemudian tumbuh menjadi gugusan pulau-pulau sungai.

Penyerangan pemusnahan ini tersebar dan mengundang kedatangan kapal-kapal baru Bakara. Mereka membakar kampung-kampung. Perempuan-perempuan yang tak sempat lari, mereka perkosa kemudian dibunuh. Kebencian orang-orang kampung kepada para Bakara yang juga datang membawa orang-orang berkulit hitam atau sawo matang, menyala tak ob ah ungun api. Demi keselamatan, ofrang-orang kampong pindah ke hutan. Tinggal di gubuk-gubuk ladang. Begitu matahari terbenam, orang-orang kampung mengepung dan menyerang Bakara dan orang pasukan bawaan mereka. Saban serangan, tak ada dari mereka yang pernah selamat jika bermalam di tepian. Sehingga kalau mau memetik  buah kelapa, orang tak perlu lagi memanjat  batangnya, tapi cukup dengan mendaki tumpukan mayat mereka.

Bertahun-tahun perang pemusnahan ini dilakukan. Sampai akhirnya entah mengapa para Bakara itu tidak pernah datang lagi. Ada kabar dari kampung lain, mengatakan bahwa perang sudah selesai dengan berlangsungnya Pumpung Haï di Tumbang Anoi, Sungai Kahayan. ***

 

(Ditutur ulang secara diikhtisarkan oleh Andriani S. Kusni berdasarkan kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau).

 

Catatan:

  • Kasitu adalah sebutan Uluh Katingan terhadap perang besar dan panjang melawan kolonialisme Belanda di daerah aliran sungai Kalimantan Tengah sebelum Pertemuan Tumbang Anoi 1894.  Daerah lain menamakan perang ini sebagai Perang Kasintu.
  1. 1.        Bakara, julukan orang Belanda yang diberikan oleh Uluh Katingan.

Kekerasan & Kreativitas

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

Kekerasan & Kreativitas

 

Pada tahun lalu para seniman-budayawan cendekiawan Kalimantan Tengah telah menerbitkan lebih dari 20 judul karya dalam  berbagai genre, petunjuk bahwa kehidupan kecendekiawanan dan kreativitas di provinsi ini mulai menggeliat. Dibandingkan dengan tahun-tahun “sunyi” sebelumnya, jumlah demikian sangat berarti, apalagi upaya-upaya tersebut  dilakukan secara mandiri menggunakan sistem jejaring saling bantu, tanpa  bantuan finansial sedikit pun  dari pemerintah. Dikatakan  bahwa kehidupan kecendekiawanan mulai menggeliat karena kehidupan kecendekiawanan itu bukan diisyaratkan oleh jumlah orang bergelar akademi dan oleh gelar akademi tapi oleh karya-karya akademi. Karya akademi tidak lain dari penelitian dan pemikiran. Sumbangan sosial dan kemanusiaan seniman-budayawan serta para akademisi terutama terletak pada kegiatan penelitian dan pemikiran yang dituangkan dalam karya tulis. Sumbangan-sumbangan sosial dan kemanusiaan ini pertama-tama bertujuan membangun manusia dan masyarakat idaman yang menurut Pierre Bourdieu merupakan suatu engagement (keberpihakan) otomatis cendekiawan, seniman dan budayawan.

Syarat untuk berkembangnya kegiatan kecendekiawan pertama-tama tergantung pada kadar cendekiawan, seniman-budayawan itu sendiri, kemudian adanya syarat material untuk bekerja lalu yang tidak kurang utama penting adalah terjaminannya  apa yang dikatakan oleh Pasal 28 UUD ‘45 “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya”. Terjaminnya kebebasan akademi dan mencipta. Jaminan ini mutlak diperlukan karena penciptaan dan penelitian sering menemukan hal-hal yang berbeda dari common sense, dugaan, tradisi serta kemapanan. Pekerjaan di dunia cipta dan akademi  bisa dikatakan pekerjaan di wilayah tanpa tabu, pekerjaan yang berupaya mencari kebenaran dari kenyataan, menggunakan cara kerja yang mengutamakan data, analisa serta, menyediakan ruang luas  bagi kebenaran pihak lain dari mana pun datangnya.

Di hadapan geliat kehidupan kecendekiawanan dan kreativitas begini sdementara pihak di Kalteng, untuk tidak menyebutnya Uluh Kalteng, merasa terusik kemapanan dan kepentingan mereka, lalu bereaksi secara primitif yang sangat  brutal menggunakan mobilisasi masa, usia kabakasan yang berkepala kosong, membentuk mayoritas untuk main kroyokan, bergunjing, ancaman kekerasan baik verbal mau pun fisik serta menyalahgunakan kekuasaan yang ada di tangan, cara-cara illogis yang asing dari adat di dunia akademi serta kreativitas yang mengunakan metode pendekatan  debat ide atau debat akademi. Primitivitas menjadi lebih telanjang lagi, ketika pihak-pihak ini belum membaca dan mempelajari karya-karya itu, mereka sudah berani menjatuhkan vonis, sehingga unsur keadaban tidak diindahkan. Cara-cara kekerasan menggunakan kekuatan fisik dan kekuasaan begini tidak lain dari bentuk sensor primitif terhadap kegiatan kebudayaan dan kecendekiawanan, bentuk dari konservatisme  “yang tidak membaca dan berjiwa mati”, meminjam istilah Agus M.Irkham, hanya merantai Kalteng pada keterbelakangan, ketertinggalan dan neo-keprimitifan. Cendekiawan, seniman-budayawan niscayanya sebagai warga republik kecendekiawanan dan kreativitas tidak seharusnya melakukan oto-sensor. Untuk upaya pembudayaan dan pencerdaasan pikir dan rasa, warga republik kecendekiawan dan kreativitas patut meresapi kata-kata Danton saat masyarakat Perancis sedang bergolak: Berani, berani dan sekali lagi berani! Untuk mengangkat “gerobak tua dari lumpur” yaitu Kalteng, kaberanian kecendekiawan dan kreativitas patut digalakkan. Socrates, Galileo dan banyak  nama lagi yang berani mati demi kebenaran, adalah teladan baik  bagi cendekiawan dan para kreator. ***

DEWAN KESENIAN & TAMAN BUDAYA

Sahewan Panarung

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani  S. Kusni

DEWAN KESENIAN & TAMAN  BUDAYA

 

Juklak Instruksi Menteri Dalam Negeri Tentang Dewan Kesenian memang ada menyebutkan tentang Dewan Kesenian  Daerah (Provinsi). Tapi dalam kenyataan tidak ada Dewan Kesenian (DK) Provinsi yang berfungsi dan marak didirikan. Yang didirikan adalah DK Kota.Satu-satunyaDK di Indonesia yang hirarkis menurut struktur administrasi pemerintahan adalah Dewan Kesenian di Kalimantan Tengah . Yang di tingkat provinsi disebut Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Tengah (DKD-KT). Untuk tingkat kabupaten dibentuk Dewan Kesenian Kabupaten yang pimpinannya semacam serta-merta (dahulu) dipegang oleh Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata atau Dinas Pendidikan. Alasan utama otomatisme ini adalah karena dana untuk kegiatan lembaga semi pemerintah ini didapatkan dari APBN Dalam DK ini , peran para seniman-budayawan tidak lebih dari embel-embel birokrasi yang sangat dominan.

Di provinsi-provinsi lain, DK tidaklah bersifat hirarkis, tapi sebatas kota. Misalnya DK Jakarta, DK Balikpapan, DK Samarinda, DK  Makassar, DK Surabaya, dan seterusnya. Kedudukan DK-DK Kota ini pun setara.

Sejak berdirinya DK di Kalteng, DKD boleh dikatakan tidak berfungsi sebagai ‘pemikir dan konseptor kebijaksanaan dalam pembinaan dan pengembangan serta pemberi rekomendasi tentang seni-budaya kepada pemerintah’.  Alasan utama yang sering disebut-sebut adalah kekurangan dana. Sayangnya saban rapat pergantian pengurus atau penanggungjawab ini tidak pernah dievaluasi secara keras. Yang terdengar pada rapat-rapat lebih banyak menonjolkan keberhasilan menunaikan peran sehingga munculnya pengurus baru mengulangi kembali praktek-praktek  lama yang membuat DK pasif tapi di laporan akhir disebutkan ‘’berfungsi baik’’.

Untuk mengembangkan kehidupan seni-budaya diperlukan organisator berwacana dan prakarsa. Organisator berprakarsa ini sebenarnya diharapkan dari DK. DK demikian memerlukan ‘’orang yang tepat di tempat yang tepat’’ (the right man on the right place). ‘’Tepat’’ di sini berarti memiliki wacana dan prakarsa budaya serta kemampuan mengorganisasi. Wacana memberitahukan mesti apa bagaimana dan mau ke mana. Tahu dan memahami, lebih baik lagi jika menguasai  bidang seni-budaya. Prakarsa, artinya aktif, tidak menunggu dan mampu mengatasi kesulitan serta kekurangan, seperti dana. Mlempemnya DK di Kalteng agaknya terutama karena masalah kunci ini tidak diindahkan.

Alasan esensial ini pulalah yang menyebabkan Taman Budaya Kalteng hanya ada namanya sampai sekarang, bahkan sempat ditiadakan. Padahal DK dan Taman Budaya sesungguhnya dua organisasi seni-budaya yang saling isi.  Akibatnya sanggar-sanggar dan komunitas-komunitas berkembang sendiri-sendiri  atau menjadi sanggar-sanggar dan komunitas oto-pilot, terasing dari kegiatan skala nasional dan internasional. Agaknya menerapkan  prinsip ‘‘ orang yang tepat di tempat yang tepat’’ di daerah ini tidak berlaku atau dikalahkan oleh prinsip transaksional,nepotisme, serta pendekatan kekuasaan. Prinsip  ‘‘orang yang tepat di tempat yang tepat’’ mengutamakan wacana, kemampuan, prakarsa dan integritas. Prinsip ini menuntut pengenalan mendalam terhadap orang. Organisasi dipimpin oleh orang terhadap orang. Sedangkan pendekatan kekuasaan, nepotisme dan transaksional tidak menggunakan patokan-patokan demikian. Hasilnya? Ketertinggalan dan penyingkiran dan kejujuran. Untuk menbgembangkan potensi seni-budaya di daerah ini DK, Taman Budaya sebagai konseptor, organisator dan pelaksana konsep itu sekaligus, patut ditataulang dengan menerapkan terutama prinsip the right man on the right place’’. ***

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK ENOS ASONG

DI ATAS KUBURAN DAYAK

 

di atas motor kencang memburu angin  entah di penjuru mana

usai berkaraoke — nama baru bagi daerah lampu merah

tubuh bau sperma dan narkoba; para pemuda kotaku

membayangkan diri di eropa dan amerika

lambang kemajuan zaman dan modernitas patut ditiru

 

di bekas roda motor mereka kudapatkan tetesan darah

darah kampungku terjepit;darah itu berhamburan

pada debu-debu  isyarat dekatnya kematian

tanda negeriku kehilangan satu angkatan

mengidap penyakit mendasawarsa

 

modernitas hari ini lebih mengancam dari hiv

membius kesadaran mendapatkan remah-remah kolusi

tanah tambun-bungai tak obah sebatang sungai

di permukaannya mengapung jiwa-jiwa membangkai

hijau-hijau daun kebun

hitam mengkilat gunung batubara

hijau dan hitam di kuburan dayak

 

merentang ke cakrawala

hijau dan hitam hutan duka

 

2012

 

REPUBLIK BELATUNG

 

airmata yang mengisi sungai

menguap menjadi awan hitam

darah yang membasahi lahan

kepapaan yang mengairi nadi

serupa selokan dan jalan

serta taburan sampah

bukan untuk debat dan polemik

 

duka ini adalah seratus tombak

di tubuhku dalam tertancap

sejuta belatung hidup merayap di atasnya

raga dan jiwaku sarang belatung

sejak republik jadi sarang maling

 

keadaan begini darurat

menuntut gerak cepat

berani dan tepat

maka tinggalkan ibukota

biarkan mereka berkelimpahan

di meja-meja jabatan yang amis

 

keadaan begini darurat

membuka gerbang

menyemai asa

menangkal penaklukan

 

2012

 

 

RASMINAH

 

rasminah

nenek minah

itulah nama-nama lukaku

sedangkan sampah

nasib dan nama dari keadilan

di bak-bak  menumpuk

dikais pemulung

yaitu kita

para tuna kuasa

 

republik adalah bangkai

tergeletak di tengah bak

yaitu negeri ini

 

kernanya negeri bau anyir oleh nanah luka kita

bau apak oleh keadilan yang membusuk

udara menyengat

bau mayat hingga kelambu masuk

 

pagi petang

truk-truk kuning pengkhianat mengangkut

membuang dan membakarnya di tepi-tepi jauh

(ternyata para satria khianat di menara tinggi itu

hanyalah kuli-kuli sampah sesungguhnya)

bangkai itu pun dibakar sepenggal demi sepenggal

kerna memang tak gampang menghancurkan batang besar

 

rasminah adalah lukaku yang tak henti mengucurkan darah

ketika tanahair menjadi rumah tahanan kepapaan menyiksa

untuk menjadi manusia di negeri ini diperlukan cinta

daya tahan dan kepintaran bertarung tak tanggung-tanggung

penjamin esok sarang harapan

 

2012

 

Kritik &Apresiasi

MASALAH BUDAYA DAYAK YANG MENAGIH JAWAB

Resensi  Yanedi Jagau *

Judul :  Budaya Dayak Permasalahan dan Alternatifnya,

Penulis :  Kusni Sulang dkk

Pengantar :  Agustin Teras Narang

Isi :  xiv + 436 halaman

Penerbit :  Bayumedia  2011

 

Budaya Dayak Cangkokan (Hibrida)

Bukan rahasia umum bahwa orang Dayak sedang resah memikirkan identitas kesukubangsaannya yang sedang terpuruk. Buku yang mengulas kebudayaan Dayak  Kalimantan Tengah masih terbilang langka — sulit dibantah — kehadiran buku Kusni telah berhasil memuaskan dahaga orang Dayak untuk sementara waktu.

Buku ini diberi judul Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya pada tulisan ini kami menyingkatnya BDAP. Kusni Sulang dan beberapa penulis lainnya mengupas masalah sekaligus juga menawarkan jawaban yang menguncangkan, seakan mengajak pembaca “mengupas masalah lokal” sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.

Sudah banyak orang tahu Kusni memang nyentrik, malang melintang dalam ragam kegiatan warga masyarakat Dayak. Dalam BDAP Kusni cenderung memposisikan diri  “cendekiawan mesti bergabung dengan badai topan masyarakat” sebagaimana tercantum dalam halaman 208.

Tengoklah pikiran Kusni mengenai budaya Kalimantan Tengah, Kusni menawarkan agar orang Kalimantan Tengah memajukan gerakan kebudayaan hibrida untuk Dayak.Kusni cukup kuat mengalaskan pemikirannya dari sokongan infomasi dan data-data terbaru.Penulis setingkat Kusni sangat sadar bahwa dalam menulis kebudayaan mestilah penulis terlibat dalam kehidupan manusia dia tulis.Salah satu pemikiran yang mengemuka dalam pemikiran Kusni adalah tentang Budaya Hibrida di Kalimantan Tengah.Budaya Hibrida adalah salah satu pilihan diantara berbagai alternatif yang tumbuh di tengah masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk.Penulis memaparkan “Budaya hibrida tidak saling memakan, tidak bercirikan saling mencari menang, saling takluk menakluk, tapi saling memperkaya”.

Pertanyaan penting kita kepada Kusni: Budaya hibrida manakah yang menceritakan kesuksesan. Atau dalam bahasa lain “dimanakah success  story  budaya hibrida?” Mampukah buah pemikiran Kusni berlaga dalam pertarungan wacana dan kepentingan di Kalimantan Tengah.Membaca BDAP tentu saja saya bertanya dalam hati, dapatkah ide Kusni dipelajari dan dicoba dalam tata kelola dunia lokal, nasional bahkan internasional. Membuka lembar demi lembar BDAP, pembaca akan melihat keresahan Kusni tentang budaya, politik, lingkungan, pendidikan bahkan  ekonomi orang Dayak. Dia tidak hanya resah maupun mengeluh namun menawarkan jawaban. Kusni sendiri tak mau bukunya sebagai satu-satunya jawaban, berkali-kali dalam buku ini, ia mengundang cendekiawan Dayak untuk lebih menulis kebudayaan Dayak.

Sayangnya buku ini belum menawarkan sosok hubungan antar suku bangsa di Kalimantan Tengah. Buku ini tidak memuat tentang bagaimana bentuk interaksi antar orang Dayak dan bentuk interaksi orang Dayak dengan suku bangsa lain.

Budaya Betang Salah Kaprah

Secara khusus Kusni menyoroti makna budaya betang. Pada awalnya dia tidak setuju bahkan mengkritik habis-habisan tentang budaya betang yang dijadikan falsafah budaya Dayak. Kusni menulis, “kalau budaya betang itu tidak ada, lalu apa yang ada? Yang ada yaitu budaya Dayak yang dahulu disebut budaya Kaharingan, tadinya Kaharingan bukanlah agama tapi budaya”.

Walaupun Kusni mempertanyakan dasar apakah yang mendorong pemerintah mengajukan betang sebagai falsafah budaya, tetapi akhirnya Kusni cenderung menerima konsep budaya betang itu dengan alasan hal tersebut terlanjur populer. Budaya betang terlalu disusupi oleh kepentingan politis ulasannya pada buku BDAP dapat terbaca pada halaman 39, 128 dan 231.Dalam buku Budaya Dayak disebutkan orang Dayak mendapat anugerah kekayaan alam yang berkelimpahan.Namun bagaimanakah kebudayaannya, Kusni mengajak agar Dayak menjadikan diri sebagai “Dayak Bermutu”. Agar alam dan hutan dapat terjaga dan asri, tentu saja Kusni tak mau ketinggalan membahas sengketa tanah dan pengrusakan hutan yang makin cepat. Berkali kali penulis BDAP menawarkan konsep wacana strategis dan tindakan lanjut konkret. Penulis dalam buku ini antara lain T. T. Suan, Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka, Andriani S. Kusni, Abdi Rahmat, Erwin Endaryanta, dan Paulus Alfons Y. D.  Abdi Rahmat mengetengahkan ideologi  gerakan kebudayaan dan pengorganisasiannya. Andriani menyoroti isu gender dalam masyarakat Dayak.

Buku ini sangat tajam bahkan cenderung to the point, tanpa tedeng aling-aling, Kusni menuliskan bahwa orang Dayak kurang memiliki solidaritas, tak mengherankan Dayak tersisih. Sebutlah misalnya warga Dayak tak pandai mengorganisir diri.Hanya mau bergerak kalau sudah terdesak, dengan kata lain Budaya Dayak belum mampu mengantisipasi datangnya serangan yang memarjinalkan. Maksud Kusni bukanlah menghakimi orang Dayak melainkan mengajak agar semua orang Dayak merenungkan eksistensi ke-Dayak-an dalam konteks masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam buku ini mau tak mau memunculkan kenyataan kehidupan orang Dayak, walaupun fakta yang diketengahkan terasa pahit.

Sebelum anda membaca buku Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya alangkah baik bacalah lebih dalam pemikiran Kusni pada bukunya Negara Etnik.Mengapa demikian? BDAP adalah operasionalisasi dan wujud nyata “Negara Etnik” yang ingin dielaborasi Kusni di Kalimantan Tengah. Sebaiknya bacalah buku ini, anda akan mendapat pencerahan mengenai fakta kehidupan orang Dayak, melainkan anda akan disuguhi paparan menarik tentang sastra dan seni di Kalimantan Tengah. Kusni adalah budayawan dan juga sastrawan, tak mengherankan pada buku ini anda menemukan pepatah dan idiom Dayak yang terasa mengena dengan keadaan Kalimantan Tengah sekarang.

Jangan terpesona pada kulit buku BDAP, “don’t judge a book by its cover,”  kata orang Inggris. Kesan pertama kulit buku ini adalah penghancuran lingkungan, ini dilambangkan mesin gergaji (chainsaw) yang bersiap memotong pohon yang berhiaskan ornamen Dayak.Apapun penilaian anda tentang cover-nya, yang paling penting adalah isinya. Tak ada kata lain, buku ini sangat berisi.***

*Direktur  Eksekutif  Borneo Institute, Palangka Raya.

 

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

Pengantar

Untuk melahirkan dan mengembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng, demikian juga untuk mata pelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Dayak, terutama Bahasa Dayak Ngaju mempunyai peran penting. Untuk keperluan ini, mulai edisi ini, SP Radar Sampit membuka Ruangan Baru: ‘Pelajaran Dasar Bahasa Dayak  Ngaju’. Pelajaran Dasar ini bersifat praktis, agar bias segera diterapkan.

PELAJARAN 1.

ABJAD DAN UCAPAN

I.Abjad dan Cara Membaca

Abjad dalam Bahasa Dayak Ngaju sama dengan abjad bahasa nasional, Bahasa Indonesia yaitu: a.b.c,d,e,f, g, h, i, j, k, k, l, m, n, o, p, q, r, s, t. u, v, w, x, y, z.

Aksara e (E). Bahasa Dayak Ngaju mengenal tiga  macam e (E) yaitu e pepet, e sangat lembut, dan e keras.

E keras. Contoh:Melai: tinggal, berdiam. E pada kata melai adalah e keras. Kalau dibaca sebagai e pepet , pendengar tidak akan mengerti atau tertawa geli. Oleh karena itu Bahasa Dayak  Ngaju seniscayanya mempertahankan tanda baca ‘ pada e keras.

Contoh lain e pada kosakata mbuhen=mengapa. Kalau e pada kosakata ini dibaca sebagai e pepet atau e sangat lembut, pemakai Bahasa Dayak Ngaju tidak bakal mengerti karena ia akan menjadi kosakata asing, dalam arti tidak dikenal.

E pepet:

Contoh :Iete= yaitu. E pada ie diucapkan sebaga e pepet , sedangkan e pada te dibaca sebagai e keras.

E sangat lembut (diucapkan hampir tidak terdengar)

Contoh: kajariae =akhirnya. Arepe=dirinya. E di sini berfungsi sebagai akhiran (akan dibicarakan dalam pelajaran selanjutnya) dan dibacara atau diucapkan hampir tidak kedengaran. Mendekati huruf bisu (l’alphabet muet) dalam Bahasa Perancis.

 Cara Membaca: Huruf-huruf itu  dibaca sebagaimana ia ditulis. Bagaimana aksara atau kosakata itu ditulis, demikianlah pula aksara dan kosakata itu dibaca.

Misal: uluh= orang, dibaca uluh. Jika kosakata ini ditulis dengan oloh sebagaimana sering dilakukan oleh banyak penulis atau pengguna Bahasa Dayak Ngaju sampai hari ini, maka niscayanya sesuai dengan rumus di atas, kosakata itu dibaca Oloh. Sedangkan Bahasa Dayak Ngaju, baik secara hukum bahasa dan lebih-lebih dalam kehidupan sehari-hari tidak mengenal kosakata Oloh. Penulisan kosakata Uluh menjadi Oloh adalah pengaruh Bahasa Dayak Ngaju yang digunakan oleh Injil dan pandangan sarjana-sarjana bahasa  Zending, terutama dari  Swiss Jerman sebagai pihak-pihak pertama yang memperhatikaan Bahasa Dayak Ngaju.

Cara penulisan ini dan soal-soal lain kebahasaan perlu distandarisasi (Re-Dayakisasi Bahasa) melalui suatu pertemuan seperti seminar  bahasa misalnya. Tanpa standarisasi maka akan terjadi kesimpang-siuran yang membingungkan pembelajar Bahasa Dayak Ngaju.

II.Kosa Kata:

Uluh, orang.

Iete, yaitu. Ie =ia. Te= itu. Tuh= ini.

Kajariae= akhirnya.

Arepe= dirinya.

Mbuhen= mengapa.

 

 

UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

Kadian mambesei, jukung hanyut. Malas berdayung , perahu larut. Jika tak berusaha tak mendapatkan hasil apa pun.

Mambesei hayak  manimba. Mengayuh sambil menimba. Mengerjakan beberapa hal sekaligus.

Manapuk kanai misek  belai. Menepuk perut menanyakan selera. Bertanya harus kepada orang yang tepat.

Mandang-ujan puna ampin andau. Panas-hujan memang tabiat hari. Susah-senang sudah menjadi adat hari.

Amun mekei te metuh mandang. Kalau menjemur  mestinya pada saat hari bermatahari. Untuk menempat sesuatu hendaknya sejak dini.

 

Cerita Rakyat Dayak Ngaju

Maharaja Panduran

 

Konon, seorang Tamanggung Sungai Kahayan sedang berperahu ke arah kuala. Sebagaimana biasanya orang Dayak, dalam perjalanan jauh senantiasa melengkapi diri dengan senjata-senjata seperti mandau badek, tombak atau sumpitan.Tanpa kecuali dengan Tamanggung Kahayan yang sedang menghilir.

Malang tak bisa dielak untung tak bisa diraih, ketika sampai di muara, badai petir hujan deras turun dari langit. Ombak setinggi rumah menggulung melanda perahu.  Dalam sekejap, perahu kecil Tamanggung Kahayan tenggelam, tinggal badek  yang terselip dipinggangnya yang tidak tenggelam ke lubuk laut.

Agar tidak turut tenggelam ke dasar lubuk, Tamanggung menggunakan perahunya yang terbalik sebagai pelampung. Dengan badan perahunya itu ia diombang-ambingkan oleh gelombang laut yang berang selama berhari-hari.

Suatu fajar, tiba-tiba Tamanggung yang sudah sangat lelah, mendengar suara kokok ayam jantan. Mendengar adanya kokok ayam jantan itu, Tamanggung sadar bahwa ia berada tidak jauh dari daratan. Harapan untuk hidup selamat  pun terbentang di hadapannya. Oleh kegembiraannya, tanpa sadar Tamanggung pun menjawab kokok ayam jantan itu dengan berteriak sekuat tenaga meniru kokok ayam jantan yang didengarnya.  Kokok dibalas kokok. Demikian berkali-kali kokok demi kokok bersahut-sahutan. Sampai tiba-tiba di kejauhan ia melihat sebuah perahu besar melaju mendekatinya.

Para awak perahu besar itu mengangkat Tamanggung ke atas perahu.

‘’Terimakasih sudah menolong saya’’, ujar Tamanggung sesudah berada di perahu besar.

‘’Andakah yang berkokok tadi ?’’ tanya seseorang lelaki tinggi besar, berkulit hitam, berkumis dan nampaknya disegani oleh para awak perahu besar itu  lainnya.

‘’Ya’’, jawab Tamanggung Kahayan tegas.

‘’Mengapa ?’’, tanya Tamanggung.

‘’Nanti Anda akan tahu’’.

Lelaki tinggi besar itu kemudian memerintahkan kepada para awak perahu untuk mengambil dan memberikan pakaian kering untuk Tamanggung Kahayan.

Sepanjang pelayaran menuju pantai, Tamanggung Kahayan dan lelaki tinggi besar itu sertga para awak perahu  bercakap-cakap dengan akrab untuk saling mengenal. Sebelum perahu besar merapat, di daratan sudah nampak kerumunan orang menunggu, seakan-akan kedatangan perahu besar itu merupakan suatu peristiwa penting.

Begitu mendarat, Tamanggung Kahayan di bawa  ke suatu rumah besar dikawal oleh banyak orang bersenjata tombak dan kelewang di pinggang.

‘’Ini istana Raja Madura. Tamanggung sedang berada di Negeri Madura’’, jelas lelaki tinggi besar hitam itu.

‘’Jadi saya dibawa menghadp Raja  Madura ?’’, tanya Tamanggung yang dijawab oleh lelaki tinggi besar itu dengan anggukan.

 

Setiba di hadapan Raja, lelaki tinggi besar itu menyembah. Tamanggung Kahayan mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh  lelaki tinggi besar itu. Kedua lelaki itu kemudian duduk. Lelaki tinggi besar itu yang ternyata panglima pasukan Raja memperkenalkan Tamanggung dan segala apa yang menimpanya kepada Raja. Raja mendengar semua lapooran Panglimanya dengan penuh perhatian.

‘’Baik, Panglima’’.

‘’Tamanggung Kahayan. Anda  berada di Negeri Madura.Selamat datang cdi negeri kami. Perlu saya beritahukan kepada Tamanggung, bahwa menurut adat kami, siapa yang menjawab  kokok ayam jantan tadi berarti  menantang pahlawan-pahlawan kami yang terhebat. Pahlawan kami yang terhebat sekarang Panglima, orang yang menjemput Tamanggung tadi’’. Tamanggung melirik ke lelaki tinggi besar di sampingnya, demikian juga sang Panglima. Keduanya  bertatapan.Bertukar senyum.

Sang Raja melanjutkan : ‘’Karena itu sesuai adat kami, Tamanggung dan Panglima harus bertempur sampai salah satu mati dalam sebuah lobang yang kemudian sekaligus akan menjadi kuburan bagi yang kalah.  Khusus untuk pertempuran kali ini, pemenang akan saya nikahkan dengan puteri bungsu saya. Jadi Panglima dan Tamanggung besok akan  bertarung sampai salah satu meninggal. Bagaimana , adakah pertanyaan, Tamanggung ? ’’.

‘’Tidak ada Paduka. Sangat jelas. Hanya saja hamba merasa di luar kelayakan hamba harus bertarung dengan penolong jiwa hamba’’.

‘’Saya tidak bisa merobah ketentuan adat negeri kami begitu saja’.

‘’Kita tidak punya pilihan lain Tamanggung’, bisik Panglima kepada Tamanggung.

‘’Baik, Paduka’’, ujar Tamanggung sambil merendahkan kepala memberi hormat kepada Sang Raja.

***

Lobang pertempuran sudah digali. Penduduk berjejal di pinggir-pinggir lapangan besar. Sedangkan Raja dan puteri bungsunya duduk dikursi kebesaran di balkon menyaksikan laga sampai mati Panglima dan TamanggungKahayan yang berdiri di pinggir ujung lobang laga. Setelah Sang Raja mdembunyikan gong tanda laga dimulai, Panglima dan Tamanggung memb deri hormat ke pada Sang Raja dengan membongkokkan badan. Lalu keduanya  bertatapan.

‘’Saya tidak mau melaga Panglima’’, ujar Tamanggung.

‘’Saya juga tidak mau melaga Tamanggung. Kita tak mampu mengalahkan ketentuan ini  Tamanggung. Meloncatlah sekarang ke dalam lobang’’.

Panglima segera meloncat. Tapi Tamanggung masih di atas.

‘’Meloncatlah, Tamanggung’’.

‘’Saya tidak mau melaga orang yang menyelamatkan nyawa saya’’.

Panglima menarik kaki Tamanggung sehingga Tamanggung jatuh ke lobang laga.

‘’Salah satu dari kita harus mati,  Tamanggung’’.

‘’Biar saya yang mati’’, ujar Tamanggung. ‘’Saya tidak mau membunuh orang yang telah menyelamatkan jiwa saya’’. Sambil berkata begitu Tamanggung menarik badek di pinggangnya dengan maksud menusuk perutnya sendiri. Tapi Panglima dengan sigap menahannya. Keduanya rebutan mengenai arah mata badek. Panglima berhasil mengarahkan  mata badek ke hulu hatinya sambil menarik badan Tamanggung. Tamanggung jatuh ke tubuh Panglima, membuat seluruh batang badek tertancap ke hulu hati Panglima. Melihat keadaan demikian, Tamanggung menjerit sekuat tenaga. Tidak bisa menerima kematian Panglima. Tamanggung memeluk Panglima dengan bercucuran airmata dan basah darah.

‘’Tamanggung, tolong kau jaga Puteri baik-baik. Ia menolak cintaku dan Raja pun tak  mau aku jadi anak menantunya’’. Panglima meregang dan menutup kedua matanya dengan senyum di bibir.

Tamanggung mengangkat tubuh Panglima ke atas. Baru kemudian ia meloncat ke atas. Mengangkat  jenazah :Panglima dengan kedua tangannya.

‘’Panglima ini adalah saudaraku sejati, Dia Panglima sejati dan pemenang !’’. Hanya Tamanggung lah yang mengetahui rahasia :Panglima penyelamat hidupnya untuk kedua kali.

Dengan upacara besar selama beberapa hari dan malam, perkawinan Tamanggung dan Putri Bungsu Raja dilangsungkan. Dari perkawinan ini lahirlah turunan Dayak-Madura.  Tamanggung yang kemudian juga dikenal dengan nama Maharaja Panduran membawa anak-istrinya kembali pulang ke Kahayan, dan tinggal di kampung yang dikenal dengan nama Manen Panduran. ***

 

(Cerita Ikhtisar tuturan Andriani S. Kusni berdasarkan kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau).

 

MENATA KEMBALI ORGANISASI KEBUDAYAAN KALTENG

SAHEWAN PANARUNG HARIAN RADAR SAMPIT

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
 
MENATA KEMBALI ORGANISASI KEBUDAYAAN KALTENG
 
Organisasi dan pengorganisasian adalah suatu keniscayaan. Tak ada kegiatan berlangsung, apalagi berkelanjutan dan berkembang secara kuantitas dan kualitas tanpa organisasi. Menulis pun perlu pengorganisasian, pengorganisasian ide atau pikiran dan emosi.Organisasi adalah sarana melaksanakan konsep atau gagasan agar gagasan, konsep tidak berhenti di gagasan. Berbicara tentang pengembangan artinya kita berbicara tentang perubahan maju dan lebih maju. Hanya dengan organisasi dan pengorganisasian tingkat amatirisme meningkat ke profesionalisme.
Malangnya di negeri ini, termasuk di Kalteng, organisasi dan pengorganisasian, tidak terkecuali bidang kebudayaan, organisasi dan pengorganisaian dilakukan dengan pendekatan kekekuasaan dan transaksi hedonik sebagai pendekatan dan wacana utama, bukan upaya pemberadaban dan pembudayawanan manusia dan masyarakat. Dengan pendekatan demikian, kemampuan dalam arti luas, tidak mmenjadi pertimbangan utama. Barangkali karena pendekatan dan wacana demikian maka the right men on the right place tidak  berlaku di birokrasi kjebudayaan khususnya. Hasilnya? Kebudayaan jalan di tempat , untuk tidak mengatakan tidak berkembang. Organisasi kebudayaan hanya adanya dengan kegiatan bdersifat sporadis dan insidental – ciri utama dari amatirisme. Dari provinsi hingga kabupaten, di  mana terdapat Dewan Kesenian (DK) yang hidup? Taman Budaya di Palangka Raya, sejak ditegur oleh Gubernur  Kalteng Teras Narang, sampai hari ini cuma ada namanya. Bahkan pada suatu periode dimatisurikan.Oleh lemahnya organisasi dan pengorganisasian, jaringan pun lemah, kegiatan – kegiatan skala pulau, apalagi tingkat nasional, tanpa  usah berbicara level  internasional, umumnya tidak diikuti oleh daerah ini. Sebagai missal: Apakah Kalteng hadir dalam temu nasional Komunitas Seni-Sastra di Bogor bulan Maret ini? Apakah Kalteng ikut dalam Gempa Literasi yang dimulai bulan April 2012  nanti? Memajukan kebudayaan di daerah ini agaknya masih berada pada taraf verbal , belum sampai pada tingkat penghayatan – syarat untuk menjadi daerah berbudaya. Daerah yang berharkat dan bermartabat. Sedangkan kebudayaan tidak lain dari roh, jiwa anak manusia.Begitu manusianya, begitu pula daerah dan budayanya. Jika dibalik: begitu budayanya, begitu pula manusia dan daerahnya. Agaknya daerah ini masih berada pada taraf potensial seperti yang sering dipidatokan banyak pihak. Potensial artinya belum real (nyata). Mengubah yang potensial jadi real ini diperlukan wacana, organisasi dan pengorganisasian serta program.  Tiga hal ini (wacana, organisasi dan program), kiranya merupakan sangu kita menata ulang keadaan sekarang, mengisi dan mengaktifkan lembaga-lembaga yang hanya ada nama. Sangu lain yang tidak kurang penting adalah seni mendengar dan rajin berpikir. ***
Gagasan
Pengantar Dari Pengasuh
Setelah Sumpah Pemuda 1928, Polemik Kebudayaan 1930, Surat Kepercayaan Gelanggang, Debat Lekra-Manikebu , zaman yang  oleh Majalah Tempo, Jakarta  disebut sebagai “Zaman Penuh Gagasan’’,”Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama” yang dihasilkan pada 2010 oleh para seniman-budayawan yang tergabung dalam Lesbumi merupakan salah satu teks konseptual penting di periode ‘Indonesia miskin gagasan’. Perkembangan budaya pertama-tama adalah pergelutan gagasan. Tanpa gagasan maka yang terjadi adalah “do many things but for nothing” (berbuat banyak, tidak menghasilkan apa-apa). Konsep ‘Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama” ini di Kalteng tidak pernah dibicarakan secara publik. Pemuatan Teks yang Pengasuh dapatkan langsung dari Yogyakarta,   ini sekarang diharapkan bisa menjadi salah satu acuan dalam mengembangkan kebudayaan Uluh Kalteng. ***
Surat Kebudayaan Nahdlatul Ulama
Realitas kebudayaan kita akhir-akhir ini sedang berada pada posisi yang terus mengalami pengasingan—ditinjau dari keberadaannya yang kurang diperhitungkan oleh para pengambil kebijakan baik pada wilayah politik, ekonomi, sosial, maupun intelektual. Kebudayaan juga berada pada kondisi yang terus mengalami pemiskinan—ditinjau dari kemerosotan, pendangkalan, dan penyempitan baik definisi, bobot, maupun cakupannya dalam kehidupan secara umum. Krisis keindonesiaan yang sekarang ini mendera bangsa kita, basisnya adalah krisis kebudayaan ini.
Posisi dan kondisi kebudayaan tersebut tercipta sebagai akibat dari praktik dominasi yang dilakukan oleh tiga kekuatan utama:
1. Kekuatan kapitalisme pasar yang menilai kebudayaan dari sudut pandang pragmatisme pasar dan melakukan komodifikasi terhadap kebudayaan (baik kebudayaan sebagai khazanah pengetahuan, sistem-nilai, praktik dan tindakan, maupun benda-benda hasil ekspresi budaya), sehingga manusia ditempatkan sebagai objek ekonomi dan bukan subjek daripadanya.
2. Kekuatan negara yang menempatkan kebudayaan sebagai lebih sebagai alat pendukung kekuasaan (legitimasi politik), dan menempatkannya sebagai benda mati serta menjadikannya sebagai komoditas pariwisata untuk mengumpulkan devisa, yang artinya negara telah menempatkan dirinya sebagai sub-kapitalisme pasar dalam kaitannya dengan kebudayaan dan bukan menempatkan kebudayaan sesuai definisi dan perannya yaitu sebagai kumpulan pengetahuan, makna, nilai, norma, dan praktik serta berbagai materi yang dihasilkannya (atau singkatnya kebudayaan sebagi formula bagaimana suatu masyarakat melangsungkan kehidupannya) .
3. Kekuatan formalisme agama yang menempatkan kebudayaan bukan sebagai energi sosial yang menjadi penopang tumbuh-berkembangnya harkat manusia sebagai khalifah fil ardl, sehingga tidak diperhitungkan secara proporsional dalam pengambilan keputusan hukum oleh para pemegang otoritas keagamaan, dan dalam kadar tertentu mereka justru menempatkan kebudayaan sebagai praktik yang “menyimpang” dari ketentuan hukum yang mereka anut tersebut.
Atas dasar itu, untuk mengembalikan harkat kebudayaan sebagai artikulasi pemuliaan manusia dan prosesnya untuk mencapai integritas kemanusiaannya, sebagai arena penegasan dan pengembangan jati diri kebangsaan Indonesia, kami merasa perlu mengambil sikap kebudayaan sebagai berikut:
1. Menolak praktik eksploitasi terhadap kebudayaan oleh kekuatan ekonomi pasar yang memandang para pelaku budaya beserta produknya berada di bawah kepentingan mereka.
2. Mengembalikan kesenian ke dalam tanggungjawab dan fungsi sosialnya. Dalam hal ini seniman melakukan kerja artistiknya dengan cara melibatkan diri dengan masyarakat, untuk mengungkap, menyampaikan, dan mentransformasikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat melalui karya seni yang mereka ciptakan dengan melakukan eksplorasi estetika yang seluas dan sekomunikatif mungkin.
3. Menolak kecenderungan karya seni yang memisahkan diri dari masyarakat dengan berbagai alasan yang dikemukakan, entah berupa keyakinan adanya otonomi yang mutlak dalam dunia seni yang artinya seni terpisah dari masyarakat, maupun universalitas dalam suatu karya seni yang artinya karya seni terbebas dari ikatan relativisme historis suatu masyarakat.
4. Memperjuangkan kebudayaan (baik sebagai khazanah pengetahuan, nilai, makna, norma, kepercayaan, dan ideologi suatu masyarakat; maupun–terlebih– sebagai praktik dan tindakan mereka dalam mempertahankan dan mengembangkan harkat kemanusiaannya, lengkap dengan produk material yang mereka hasilkan) sebagai faktor yang diperhitungkan oleh para pengambil kebijakan negara, sehingga kebudayaan dapat menjadi kekuatan yang menentukan dalam setiap kebijakan yang mereka putuskan.
5. Membuka ruang kreativitas seluas mungkin bagi para seniman, baik tradisional, modern, maupun kontemporer, yang mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan kesenian yang disebabkan oleh kebijakan politik dan birokrasi negara, dominasi pasar, maupun kekuatan formalisme agama.
6. Merumuskan dan mengembangkan “fiqh kebudayaan” yang mampu menjaga, memelihara, menginspirasi dan memberi orientasi bagi pengembangan kreativitas masyarakat pada wilayah kebudayaan dalam rangka pemenuhan kodratnya sebagai khalifah fil ardl dan sekaligus warga masyarakat-bangsanya.
7. Keindonesiaan adalah tanah air kebudayaan kami. Oleh karena itu, di dalam dinamika kesejarahannya, ia menjadi titik pijak kreatifitas kami, Realitasnya yang membentang di hadapan kami, menjadi perhatian dan cermin bagi ekspresi dan karya-karya. Kami ingin tanah air kebudayaan kami menjadi subur oleh tetes-tetes hujan keringat estetik bangsa ini.***
Diputuskan pada Muktamar Kebudayaan NU I di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta.
Sansana Panarung
Sajak-Sajak Kusni Sulang
 
KATINGAN JALAN SUNYI
katingan, kau melukaiku
tapi aku tetap mencintamu
kerna cinta semacam kutuk yang gaib
dan memang ketetapan pilihan
katingan melukaiku
menguji pilihan
kerna cinta
bukan angan-angan
berindah kata
kutinggalkan padang salju ke katingan
kuhapal masih jalan kembali
di tepian duka menanti
di kepala tangga ajal berjaga
ke katingan aku tetap tiba
di katingan aku tak bisa bersandar pada adat
tak bisa bersandar pada darah
oleh penyakit zaman persahabatan goyah
apalagi jika dasi tak kukenakan
waktu mengobah sungai
tiba di katingan
kuterjuni gambut lumpur
ternyata kasih yang bukan dusta
senantiasa bertenaga
angka pun kadaluwarsa
tiba di katingan
dengan lumpurnya
kulukiskan peta perjalanan
sebab  katingan
pun daerah kembara
katingan
jalan sunyi
jalan lama kutempuh kembali
2012
 
KABAR DARI PEDALAMAN
percuma kau mencari tuhan dahulu di sini
ia telah dibunuh atau menyingkir sendiri
disingkirkan sejak tuhan baru diciptakan
kantor-kantor adalah rumah ibadah utamanya
tuhan baru ini disembah  karena keperkasaannya
oleh mujizat-mujizatnya melebihi keajaiban lampu aladin
tuhan baru ini pun panglima sekaligus serdadu perang
kepala pengacau keamanan di kampung-kampung
setelah tuhan baru ini diciptakan
sejak itu tak ada lagi benda-benda keramat
sandung dan pambak dibongkar untuk tanahnya
di atasnya berdiri mall, waterboom, tempat-tempat hiburan
tambang dan perkebunan
oleh pertarungannya menghadapi matahari dan polisi
barangkali mencengangkan para akademisi
orang kampung yang tak gubris
kian banyak jadi atheis
bersama kematian  tuhan
melenyapnya dewa-dewa
merah purih tinggal di buritan
tanda dahulu republik pernah diharap
tapi bendera itu pun kusam dan cabik-cabik
2012
 
BUAHTANGAN UNTUK HENDRIK
palangka raya dan hotel-hotelnya girang tentu saja
kedatangan kesatria-kesatria ibukota
oleh koran –koran disebut pahlawan lingkungan
celana jengki kemeja berdasi
di hotel-hotel berbintang itu mereka bicara kemiskinan
masyarakat adat, lahan gambut dan iklim bumi
aku sendiri merasa dalam terluka
dilukai oleh kemunafikan terselubung
merebut remah-remah dollar norwegia
melalui satu perselingkuhan, pulang-pulang
ribuan hektar tanah dayak melayang
di pulau ini, di kalimatanku
aku seperti berada di antara kawanan anjing kurap lapar
bercelana jengki dasi melintang
terkam-menerkam rebutan tulang
kalimantan hari ini bukan lagi tempat aman
bandit di mana-mana dan membuka arena tanding hidup-mati
agaknya mereka belum paham apa-siapa dayak di medan laga
soalnya: apakah dayak masih ada hari ini
kalau republik adalah suatu akal-akalan sangat licik?
hendrik, aku ingat dari stockholm menjelang terbang
malam itu kau pesan dariku buahtangan
sekarang kudapatkan yang terbaik
yaitu darah luka kami sebagai indonesia
cocok untuk orang yang menolak menyerah
serupa sun wu-kung, raja bunu, sisyphus atau ahasveros
2012
Memoire Tri Ramidjo
 
Pengantar Pengasuh
Boven Digul, Papua Barat adalah tempat pembuangan massal pertama para pejuang Indonesia anti penjajahan Belanda.Tidak  banyak orang Indonesia, apalagi angkatan sekarang yang mengenak kehidupan para pejuang kemerdekaan itu di sana.
Tri Ramidjo, sekarang berusia 83 tahun, tinggal di Tanggerang menuliskan kehidupan mereka di Boven Digul dalam sebuah Memoire berjudul Kisah-Kisah Dari Tanah Merah yang teksnya dikirimkan ke pengasuh Ruang Budaya ini. Buku ini telah diterbitkan oleh Penerbit Ultimus, Bandung.
Waktu ke Digul bersama ayah-ibu dan kakak-kakaknya, Tri Ralidjo masih berusia beberapa bulan. Memoar, berupa catatan-catatan kenangan dan renungan hidup penulisnya. Cuplikan Memeoire ini disiaqrkan sebagai bentuk kecil menghargai jasa para pahkawan. Masihkah para pahlawan ini bderarti bagi angkatan sekarang atau keteladanan mereka menjadi sesuatu yang jadul di hadapan diminasi hedonism?
DIGUL DI BULAN DESEMBER
 
— Kasih sayang guru yang tak terlupakan —
 
Oleh Tri Ramidjo
HUJAN  terus-menerus.  Sungai  Digul  meluap  dan  arusnya  deras. Pohon-pohon  yang  tumbang  di  hulu  Sungai  Digul  berhanyutan dibawa air yang mengalir deras.  Kami  yang  tinggal  di  Kampung  B  dan  Kampung  C  tidak kebanjiran  karena  tempat  perumahan  kami  cukup  tinggi.  Hanya ladang-ladang di tepi Sungai Digul digenangi air.  Dari  rumah  teman  kami,  Bedjo  kecil,  anaknya Oom  Prawiro, ladang-ladang  yang  tergenang  air  itu  bisa  terlihat  jelas. Ladangnya Oom Matsari, Oom Prawiro, Oom  Surodirodo, Oom Wongsokarno,
dll., digenangi air.
Air  itu melebihi  tingginya  lanjaran  kacang panjang.  Biasanya kalau sudah kebanjiran seperti ini hanya tanaman kacang tanah yang bisa  terus  tumbuh  dan  bisa  dipanen.  Yang  lainnya  tak  bisa diharapkan lagi.
 Hujan  belum  juga  reda.  Pagi-pagi  aku  yang  biasanya malas bangun  digugah  beberapa  kali  oleh  adikku  Rokhmah.  Rokhmah memang  rajin  dan  tak  pernah  terlambat  bangun.  Dan  aku  yang pemalas bangun, tetap ingin tidur.
Selimut  jarik 1  yang  sudah  lusuh  dan  penuh  tambalan  itu ditarik  adikku  Rokhmah.  “Bangun.  Cepat  sarapan.  Telurnya  yang setengah sudah kumakan. Sisanya setengah untuk Mas Ribut (Ribut nama  panggilanku  waktu  kecil).  Cepat  dikit.  Nanti  telat  sekolah
seperti kemarin. Untung Meneer Said Ali tidak marah. Malu kan?”
Aku  segera  bangun,  cuci  muka,  tidak  berani  mandi  karena dingin.  Ibuku  tidak  marah,  sebab  ibuku  tahu  aku  belum  sembuh betul dari sakit malaria, dan malariaku kronis. Waktu di-opname di rumah sakit, darah merahku hanya tinggal 40%. Aku tidak tahu cara menghitung  darah,  aku  hanya  menirukan  apa  yang  dikatakan Dokter Van Alderen ketika itu.
Setelah  aku  sarapan,  ibu  segera  keluar  rumah  gerimisan memotong dua pelepah daun pisang raja di samping rumah. Dengan berpayungkan daun pisang itu kami berdua berangkat ke sekolah.
Aku dan  adikku Rokhmah berjalan  hati-hati melewati  rumah Oom Nanang  (Zainal Abidin) bekas guru kami waktu kami sekolah di MES (Malay English School).
Dulu  ketika  ayahku  masih  natura 2,  kami  sekolah  di  sekolah partikelir  (swasta).  Tapi  sekarang  ayah  sudah  tunduk  kepada gubernemen  dan  mau  bekerja  di  seberang,  tempat  tinggal  para  bb ambtenaar 3. 
O ya, aku teruskan dulu perjalananku dan adikku ke sekolah.  Setelah melewati rumah Oom Nanang dan semak-semak kecil, kami  membelok  ke  kiri  menuruni  jurang  menyeberang  jembatan.
Kemudian  melewati  rumah  teman  kami  Rusdi,  anaknya  Oom Samingun,  rumah Oom  Sadi,  lewat  jembatan di bawah pohon Loo, kemudian  lewat  rumah  Oom  Sumo  Taruno  yang  anaknya  adalah Mas  Bedjo  besar,  Yu Watiyem,  Siti Natura  gendut  (namanya  sama dengan anaknya Oom Mohammad Amin atau Oom Madamin, adik Yu Khamsinah), dan  terus  berjalan melewati  rumah Oom  Sunaryo,
ayahnya Mbak  Sulastri yang  sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis.
 Lewat  rumah Oom Nurati  yang pintar melukis,  lewat  rumah Meneer Said Ali guru kami,  lewat rumah Oom Sugoro  (Sugoro ya ayahnya Mbak  Sulastri yang  sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis.
 Lewat  rumah Oom Nurati  yang pintar melukis,  lewat  rumah Meneer Said Ali guru kami,  lewat rumah Oom Sugoro  (Sugoro ayahnya Mbak  Sulastri yang  sering dipanggil Black Kosong karena kulitnya memang cukup hitam manis.
 Lewat  rumah Oom Nurati  yang pintar melukis,  lewat  rumah Meneer Said Ali guru kami,  lewat rumah Oom Sugoro  (Sugoro yang memberi nama “Irian” untuk New Guinea atau Papua),  lewat rumah Oom Sarpinudji, kemudian menyeberang jalan lewat badminton baan 4 dan sampailah di sekolah.
Pakaianku  dan  pakaian  adikku  basah.  Hanya  sebagian  kecil saja yang kering.
“Het  is  veel  beter  dan  jullie  niet  naar  school  gaan 5,”  kata Meneer Said Ali.  Rupanya guru kami  itu merasa  iba dan kasihan melihat kami basah kuyup.
“Siapa bilang Meneer Said Ali galak,” kata hatiku.
Meneer  Said  Ali  memang  sering  memberi  hukuman  kepada anak-anak yang nakal dan beling 6. Tapi  itu  semua karena  rasa kasih sayangnya kepada anak-anak didiknya.
Hari  itu  kami  belajar  tekun.  Suara  Meneer  Sujitno  Reno Hadiwirijo  kami  dengarkan  dengan  tekun,  diselingi  suara  bunyi hujan di atap sekolah yang terbuat dari seng.
Temanku  sekelas,  Mintargo,  (anak  Oom  Sarpinudji),  Tri Harsono  (anak  Oom  Hardjo  Prawito),  Fadalat  (anak  Oom  Agus Sulaiman),  Rukmini  (anak  Oom  Ibnu),  Sukaesih  (anak  Oom  Djojo Penatas), dll., semuanya belajar dengan rajin.
Di  kelasku  ini  tidak  ada  anak  yang  beling.  Hanya  kadang-kadang  Mintargo  teman  akrabku  itu  suka  nyelelek  dan  membuat teman-teman wanita marah.
Bel jam satu tanda pelajaran usai berbunyi. Dengan tertib kami mengemasi buku pelajaran dan berbaris keluar sekolah. Mujur  hujan  sudah  reda.  Di  langit  awan  putih  masih menggantung  menandakan  masih  akan  hujan  lagi.  Temanku  Mas Supadmoyo  (anaknya  Oom Hardjo  Prawito,  kakaknya  Triharsono) berlari-lari menghampiriku.
Dia berbisik di telingaku. “Nanti kita peraon 7 ya.”  “Baiklah, aku tunggu ya. Tapi jangan kesorean,” jawabku.
Tangerang, Senin Wage, 13 November 2006
Catatan:
1. kain panjang
2 . natura  adalah  orang-orang  buangan  Digul  yang  tidak  mau  tunduk  kepada
pemerintah kolonial Belanda dan hanya mendapat catu berupa beras, kacang hijau,
gula merah, dll., dalam bentuk natura
3. bb singkatan dari binnenlands bestuur—pegawai pemerintah kolonial Belanda
4.  lapangan bulu tangkis
5. ‘lebih baik kalian tak usah ke sekolah’
6.  bengal
7. jalan-jalan

Sahewan Panarung Harian Radar Sampit: BELAJAR SEBAGAI KENISCAYAAN

SAHEWAN PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

 

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

BELAJAR SEBAGAI KENISCAYAAN

Nama Akbar Tanjung sebagai politisi dan tokoh nasional, tentu bukanlah nama asing bagi  pembca SP Radar Sampit. Tulisan di bawah ini dia kirimkan kepada Kusni Sulang sebagai sahabat lama, pada 10 Desember 2007, ketika ia sebagai  mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM yang sedang menyusun skripsi yang temanya tentang “Nasionalisme Indonesia Perspektif Pramoedya Ananta Toer”. Penekanan dari pemikiran Pram adalah Nation and Character Building. Ia akhirnya lulus dengan sebutan Cumlaude.  Ringkasan tesis Akbar ini kami siarkan mengingat pertanyaan-pertanyaan Akbar Tanjungnya sangat relevan dengan keadaan Indonesia yang oleh sejumlah penulis disebut sebagai negeri “oto-pilot”, artinya negara tanpa pemimpin oleh ketiadaan wibawa. Nasionalisme sangat merosot.

Tulisan kedua yang kami siarkan untuk edisi ini adalah resensi Ibrahim Isa, seorang publisisi, mantan diplomat di Kairo,Mesir pada masa Pemerintahan Soekarno, yang ia kirimkan langsung ke SP Radar Sampit dari Negeri Belanda di mana ia bermukim. Dari resensi ini, barangkali bisa dilihat arti penting belajar sejarah, tahu politik (tanpa menjadi partisan), pengenlan detail keadaan, filosofi, sosiologi, dan lain-lain bagi seorang penulis, termsuk sastrawan seperti yang antara lain diteladankan oleh Pramoedya A. Toer yang wacana-wacananya  menjadi subyek garapan tesis doktor oleh Akbar Tanjung. Belajar, meneliti, mengamati  tanpa henti dan sungguh-sungguh adalah suatu kemutlakan bagi penulis, sastrawan dan seniman. lah satu cara meningkatkan mutu tulisan. Keniscayaan ini pun diperlihatkan oleh para penerima Nobel Sastra. Kenyataan demikian menolak otokproklamasi sudah menjadi sastrawan handal  serta puas diri karena sudah menulis satu dua cerpen atau puisi. Kepongahan puas diri – sikap tak berdasar sebesar apapun hasil  diraih — hanya mengantar orang ke jalan buntu, sedangkan pekerjaan penulis, seniman-sastrawan adalah pekerjaan membidas, bagaimana menjadi anak zaman dan nurani bngsa dan zaman. Tanpa belajar  seumur hidup peran niscaya demikian tidak mungkin terwujud. Sama tidak mungkinnya jika menggadaikan kemerdekaan dan jadi “his master’s voice” atau menjadi hedonis. ***

 

Esai AKBAR TANJUNG *

 Merajut Benang Sejarah, Menyelesaikan Revolusi Indonesia

(Menatap Kembali Nasionalisme Indonesia Dari Persfektif Pramoedya Ananta Toer)

 

 Pendahuluan

A.    Latar Belakang

Pada bulan Februari lalu, penulis diundang untuk menghadiri pelatihan kader AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) di Kaliurang. Salah satu materi dalam pelatihan kader tersebut mengangkat tema kebangsaan. Sebelum diskusi dimulai, pembicara membagikan kertas kepeserta pelatihan dan meminta peserta untuk menuliskan mereka berasal dari bangsa mana beserta alasannya. Setelah semua jawaban dikumpulkan, tidak satu pun peserta yang mengaku berasal dari bangsa Indonesia tetapi bangsa Papua. Mereka menganggap bahwa perasaan sebagai bangsa Papua lebih kental, lebih termanifes dalam diri mereka dari pada sebagai bangsa Indonesia. Mengapa mereka lebih memilih sebagai bangsa Papua dari pada bangsa Indonesia?

Pertanyaan tersebut semakin bergentanyangan di hati dan kepala penulis saat bendera Bintang Gejora berkibar pada Kongres Dewan Adat Papua bulan Juli lalu. Bendera Bintang Kejora sebagai symbol kebanggaan rakyat Papua – mungkin juga sebagai symbol perlawanan –  tak henti-hentinya membayangi NKRI. Ibarat burung Cendrawasi yang terbang melanglang buana mencari kebebasan. Meskipun bendera Bintang Kejora hanya sebagai symbol kultural – kata Gus Dur – tetapi pengibaran tersebut merupakan bentuk eksistensi dari sebuah komunitas yang mendambakan kebebasan dan kedamaian.

Munculnya eksistensi “komunitas lama”[1] merupakan ekspresi yang mempertanyakan kembali nasionalisme Indonesia, termasuk penulis. Apakah betul masih ada nasionalisme Indonesia? Pertayaan itu semakin membuat sedih  jika menonton atau mendengar berita;  pemerintah menjual kekayaan alam milik rakyat Indonesia, konflik antar kelompok masyarakat, lemahnya perlindungan pemerintah terhadap rakyat yang dikebiri haknya – kasus buruh yang belum terbayarkan upah dan THR, rakyat Sidoarjo yang tenggelam rumahnya akibat Lumpur Lapindo belum dapat ganti rugi, pejabat yang korupsi, dan sekian banyak kasus yang mengarah pada penghancuran nasionalisme Indonesia.

Lalu, seperti apa nasionalisme Indoensia? Apakah kita cukup melihat bahwa rakyat Indonesia masih cukup nasionalis dengan berbondong-bondong ke Stadion Bung Karno untuk menyaksikan pertandingan sepak bola Indonesia melawan Korea Selatan? Atau bereaksi keras terhadap pemerintah Malaysia ketika mencaplok Pulau Sipadan dan Ligitan – kasus terakhir adalah dipatenkannya lagu Rasa Sayang-Sayange oleh Peerintah Malaysia.

Jika ukuran nasionalisme Indonesia hanya dilihat dari perasaan bersatu jika ada musuh yang mengganggu eksistensi nusantara, maka sungguh sempit pandangan tersebut. Dan penulis memandang bahwa itulah nasionalisme yang dimaknai sebagian besar rakyat Indonesia. Jika seperti itu pemaknaan nasionalisme Indonesia, penulis langsung teringat sinetron-kartun “Tom dan Jerry”. “Tom dan Jerry” akan berkelahi dan saling mengganggu jika tidak ada pihak lain yang mengganggu eksistensi mereka. Namun, jika ada pihak lain yang mengganggu kepentingan dan eksistensi mereka – Tom dan Jerry – maka persatuan adalah keharusan bagi mereka.

Menggambarkan nasionalisme Indonesia ibarat “Tom dan Jerry” mungkin bukan merupakan tindakan “seorang nasionalis”, tapi itulah sebuah ekspresi dalam memandang nasionalisme Indonesia saat ini. Jika nasionalisme merupakan perasaan kecintaan terhadap tanah air, maka tanah air yang mana? Jika Soekarno mendefinisikan nasionalisme sebagai “keinginan hidup menjadi satu”[2], satu dengan siapa? Toh, nasionalisme yang lagi “ngetrend” saat ini adalah nasionalisme primordial – yang lebih populer dikenal dengan etno-nasionalisme. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 sebagai symbol persatuan yang melahirkan janji dan sumpah untuk bersatu – berbangsa, berbahasa, bertanah air satu, Indonesia, tidak lagi “sakral” dengan adanya keinginan dari “komunitas lama” untuk mendirikan negara sendiri. Daniel Dhakidae dalam pengantar buku Imagined Communities – di Indonesiakan menjadi Komunitas-Komuntas Terbayang – melihat bahwa the holy trinity, tritunggal suci – bangsa, bahasa, tanah air – kini berubah wajah dan semakin “garang” menjadi the unholy trinity yang saling mendepak satu sama lain[3].

Kehentak untuk hidup bersatu, “le desir d’être ensemble”,[4] sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kemudian dipertanyakan. Spanduk diperempatan jalan Sagan yang bertuliskan “NKRI adalah harga mati”, jangan-jangan sebuah reaksi dari bermunculannya tuntutan dari “komunitas-komunitas lama” untuk merdeka?!.

Munculnya tuntutan dari “komunitas-komunitas lama” untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan merupakan fenomena yang baru. Pada masa pemerintahan Soekarno, gejolak politik yang ditunjukkan “komunitas-komunitas lama” sudah menggeliat dengan ekspektasi bahwa Indonesia dapat berjalan dengan landasan ideology dan politik yang mereka yakini – misalnya, DI/TII mengharapkan landasan untuk menjalankan Indonesia ke depannya adalah Syariat Islam. Selain pertentangan dasar negara, Affan Gaffar juga melihat bahwa pergolakan yang muncul di “komunitas-komunitas lama”  merupakan ekspresi ketidak puasan terhadap pemerintah di Jakarta. Terjadinya pergolakan didaerah pada tahun 1957-1958 disebabkan oleh kuatnya dominasi pemerintah Jakarta terhadap “komunitas-komunitas lama”[5].

Dan paska kejatuhan rezim militeristik Soeharto, eksistensi dari “komunitas-komunitas lama” kembali mencuat kepermukaan. Ibarat jamur dimusim hujan, kemunculannya tidak dapat dibendung. Hampir setiap “komunitas lama” menuntut kemerdekaan; gerakan rakyat Aceh, kemerdekaan untuk Papua, Kalimantan Barat, Riau sampai munculnya negara IRAMASUKA – gabungan dari beberapa “komunitas lama” seperti Irian, Maluku, Sulawesi, Kalimantan. Kesetiaan terhadap “ibu pertiwi” selama puluhan tahun tiba-tiba luntur dengan tuntutan: kemerdekaan!.

Berbagai resep kebijakan dari pemerintah untuk “mengobati” penyakit disintegrasi ditawarkan. Sejak kejatuhan rezim Orde Baru, kembali muncul diskursus tentang bentuk negara – diskursus yang muncul untuk mencari resolusi gejolak perlawanan “komunitas-komunitas lama” terhadap NKRI. Ada dua arus utama perdebatan yang muncul unruk merumuskan kembali bentuk negara. Di satu pihak, mengusulkan bahwa alternatif yang terbaik untuk memecahkan gejolak tuntutan kemerdekaan “komunitas-komunitas lama” dan mempertahankan keutuhan negara Indonesia adalah federasi. Pemikiran seperti itu muncul sebagai akibat dari sentralisasi dan dominasi yang sangat kuat dari pemerintah pusat pada masa pemerinatahan Soeharto. Di pihak lain, bentuk negara kesatuan masih tetap dipertahankan. Dan kekuatan politik negeri ini kebayakan memilih bentuk negara kesatuan. Selain tidak adanya dukungan kekuatan politik, format pemerintahan negara yang federalistik tidak mudah diterapkan dalam negara yang masyarakatnya yang homogen.

Di tengah perdebatan bentuk negara – kesatuan dan federasi – muncul alternatif pilihan untuk “mengobati” penyakit disintegrasi. Pilihan tersebut merupakan pilihan yang kompromis, artinya bahwa berusaha memadukan pilihan bentuk kesatuan dan federatif. “Badannya kesatuan tapi rohnya federasi”. Dan pilihan itu adalah desentralisasi dan otonomi daerah[6].

Desentralisasi dan Otonomi daerah yang lahir dari rahim negara kesatuan dianggap sebagian besar politikus, ilmuwan dan akademisi dapat menjawab permasalah sosial, politik dan masalah menguatnya eksistensi “komunitas-komunitas lama”. Namun, dalam proses perjalanannya, konsep otonomi daerah menuai banyak kritik. Salah satunya, yaitu bahwa otonomi daerah akan memunculkan “Soeharto-Soeharto” di daerah. Otonomi daerah juga tidak dapat mengobati kekecewaan dari “komunitas-komunitas lama” terhadap pemerintah Jakarta. Dan otonomi khusus pun jawaban dari gejolak perlawanan “komunitas lama” seperti Aceh dan Papua.

Pertanyaan kemudian adalah apakah dengan berbagai resep yang ditawarkan oleh pemerintah dapat menyelesaikan masalah? Lalu, mengapa masih ada aksi-aksi pengibaran bendera – bendera tidak hanya dimaknai sebagai symbol kultural tetapi juga symbol politik – dari “komunitas lama”? Pertanyaan lebih mendasar lagi adalah akan dibawa kemanakah Indoenesia? Pertanyaan tersebut menjadi point penting untuk melihat kembali Indoensia – dulu, kini dan tentunya masa depan. Pemahaman tentang sejarah sangat penting untuk menjadikan landasan berpijak dalam melangkah. Sejarah sebagai pelajaran dimaksudkan agar kita semakin menyadari bahwa perjalanan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih demokratis dan Indonesia yang lebih sejahtera secara kolektif merupakan tugas bersama. Dengan menengok dan membuka lagi lembaran-lembaran sejarah masa lalu, kita dapat paham dan menyadari kegagalan maupun  keberhasilan masa lampau dan tentunya kita harus belajar darinya. Tidak memahami masa lalu jangan berharap dapat memahami masa kini apalagi masa depan. Pemahaman masa lalu akan mengantarkan pada kemajuan, seperti yang dikatakan Pramoedya bahwa kegagalan kita saat ini dalam membangun Indonesia karena minimya kesadaran akan masa lalu. Misalnya, Pram melakukan evaluasi dan kritik terhadap nama “Indonesia”. Pram menganggap bahwa pemberian nama Indonesia tidak mempunyai landasan material. Rasionalisasi Pram mengapa tidak setuju dangan nama Indonesia adalah sebagai berikut:

Dalam abad ke 16 Indonesia dikuasai oleh Portugis. Portugis menamakan Indonesia, India Portugis. Portugis dihalau Belanda, menamakan Indonesia, Hindia Belanda. Kenapa kata Hindia dipergunakan? Karena dalam abad ke 16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan rempah-rempah itu mereknya Hindia. Padahal asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatra) itu sebabnya terbawa-bawa terus nama India dan sampai sekarang pun kita belum pernah mengkoreksinya, nanti akan menyambung.

Pada waktu Belanda menguasai Indonesia menjadi kekuasaan maritim di dunia. VOC ini, Serikat Dagang Belanda yang membangun imperium maritim terbesar di dunia dengan ibukotanya Batavia. Dan Batavia ini menyebabkan lahirnya Java-centrisme, semua diukur untuk kepentingan Jawa. Jadi VOC itu mengirimkan pembunuh keluar Jawa untuk menundukkan luar Jawa. Dari Luar Jawa membawa harta di bawa ke Jawa. Ini Perbuatan VOC. Tetapi kemudian VOC bangkrut, kapal-kapalnya pada tenggelam karena korupsi para pejabat, dengan mengangkuti barang-barang berlebihan. Bangkrut VOC, kemudian muncul pemerintah Hindia Belanda, karena sudah tidak mempunyai kekuasaan laut lagi.

Pertahanan Hindia Belanda itu didasarkan pada pertahanan Darat. Dan pertahanan Darat dipertahankan sistemnya pada sekarang ini. Padahal sistem pertahanan Indonesia harus pertahananan laut. Salah satu bukti kelemahan pertahanan Darat untuk negara maritim. Pada tahun 1812, waktu Hindia Belanda dikurung oleh Inggris dari laut, dalam beberapa hari angkat tangan. Waktu diserang oleh Jepang pada 1942 dalam beberapa hari juga angkat tangan. Jadi kalau itu diteruskan sampai sekarang, itu bukan lagi kekeliruan, tetapi kesalahan. Persoalannya adalah keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Keberanian tidaknya itu terserah kepada angkatan muda yang belum terpakukan pada sebuah sistem.

Sekarang ini kekeliruan pada waktu Hindia Belanda melaksanakan politik etik, yakni politk balas budi kepada Hindia, timbul organisasi-organisasi pribumi, di Belanda pun muncul organisasi mahasiswa dan terpelajar yang dipelopori oleh Sutan Kasayangan jumlahnya sangat sedikit. Karena yang terbanyak ke Belanda dari Indonesia adalah babu dan jongos. Ada organisasi kecil, sangat kecil. Makin banyak pelajar yang kesana dan kemudian buangan Indische Party, lantas timbul perhimpunan Indonesia. Dengan munculnya Perhimpunan Indonesia itu, pemuda dan buangan ini menemukan tanah air dan nation-nya. Bukan tanah air dan nation yang konkrit tetapi masih fiktif dan ini dinamakan Indonesia. Pada waktu itu nama Indonesia sedang populer. Dipopulerkan oleh Adolf Bastian orang Jerman. Sebetulnya yang menemukan nama ini orang Inggris, tetapi sekarang ini Saya lupa namanya sorry ya!

Disini terdapat kekeliruan, bukan kesalahan. Karena nama Indonesia itu kepulauan Hindia. Bastian menggunakan kata Indonesia itu untuk etnographi. Karena itu pada persiapan kemerdekaan bagaimana wilayah dan penduduk Indonesia. Orang yang waktu ikut perhimpunan Indonesia adalah ras melayu, itu sesuai dengan ajaran Bastian. Jadi Maluku segala tidak masuk Indonesia, tetapi Malaya, Singapura masuk Indonesia. Tetapi ini dibantah oleh grup lain yang mengatakan Indonesia bukan persoalan etnographi, tetapi persoalan kesamaan dalam penjajahan, yaitu wilayah bekas Hindia Belanda, yang terakhir menang. Jadi nama Indonesia masih terbawa[7].

Arti pentingnya mempelajari sejarah bagi Pram adalah untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan dari masa lalu. Dan masa lalu dapat dijadikan pijakan untuk melangkah baik dalam konteks kekinian maupun keakanan. Lebih lanjut, Pram mengatakan bahwa kekacauan yang dialami bangsa Indonesia saat ini disebabkan kurang kesadaran sejarah, “busung lapar sejarah”, sehingga bangsa ini tidak tahu dari mana harus berangkat menata masa depannya. Mudah-mudahan dengan kembali menengok lembaran sejarah – mungkin sudah usang dan sebagian orang bosan – negara Indonesia lebih maju, lebih demokratis dan bisa menuntaskan “revolusi Indonesia”.

 

B.     Rumusan Masalah

Pertanyaan yang ingin penulis kemukakan adalah seperti apa Pramoedya Ananta Toer melihat kembali “Nasionalisme Indonesia”? Penekanan dari “nasionalisme”-nya Pram adalah pembangunan bangsa – nation and character building. Pembangun bangsa berkaitan erat dengan menyelesaikan revolusi Indonesia, seperti yang pernah dicapkan oleh Bung Karno. Karena penulis melihat bahwa karya-karya Pram – baik fiksi maupun non fiksi – semua berkisah tentang nusantara; Indonesia dan proses pembangunannya.

 

C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk menemukan kembali elan (semangat) membangun negara Indonesia. Karena penulis melihat bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang tidak menentu atau kalau boleh dikatakan berada dalam ambang kemerosotan; ancaman disintegrasi, kondisi sosial masyarakat semakin menderita, ekonomi yang tak kunjung membaik, suasana politik yang makin kacau, budaya masyarakat yang semakin konsumtif dan hedonis, penegakan hukum yang setengah-tengah, dan persoalan lain yang jika dipikir-pikir lagi akan membuat kepala pusing. Belum lagi jika melihat tingkah laku para elit pemerintahan dan elit-elit politik yang kelakuan dan omongannya semakin tidak karuan – mereka (elit-elit politik dan pemerintahan) selalu berbicara tentang pentingnya menanamkan kecintaan terhadap bangsa tapi merekalah yang menghacurkan negara ini; menjual kekayaan alam yang dimiliki rakyat ke pemodal asing, “berselingkuh” dengan pemodal internasional, melakukan korupsi, dan sebagainya.

Penulis tidak bermaksud untuk membuat kita semua semakin pesimis dan menerima keadaan – seakan-akan keadaan yang dialami sekarang merupakan kutukan atau tadir dari Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada. Tetapi menganggap kondisi dan keadaan yang dialami sekarang merupakan proses dialektika, proses dinamika yang digerakkan oleh manusia. Dan tentunya kitalah (manusia) yang bisa merubah keadaan kearah yang lebih baik.

Pelabuhan yang coba dituju dari penelitian ini adalah membangun kembali kesadaran untuk menjadi Indonesia dengan berpijak pada jejak langkah proses pembangunannya. Kerinduan terhadap sebuah komunitas yang kita bayangkan bersama – komunitas yang lebih egaliter dan demokratis – menjadi bagian dari pemikiran Pram. Akan tetapi, komunitas yang lebih egaliter dan demokratis bukan hanya banyangan dan khayalan yang lahir dari proses lamunan yang tidak berpijak pada landasan material. Seperti yang dikatakan Max Lane, bahwa Indonesia harus lahir dari sesuatu yang baru, suatu proses dialektika, suatu produk perubahan kualitatif dan kekuatan kriatif revolusi. Gagasan untuk melahirkan kembali Indonesia sebagai suatu proses kreasi baru merupakan hal fundamental dalam pemikiran Pramoedya. Lebih lanjut, Lane mengatakan bahwa pembangunan bangsa adalah suatu proses yang harus dituntaskan melalui perjuangan politik dan revolusi kesadaran. Dan itulah poin penting dari pemikiran Pramoedya[8].

Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik lagi untuk melihat pembangunan bangsa Indonesia – nation and character building -, dari kaca mata seorang sastrawan besar Indonesia – dan salah satu sastrawan besar dunia – yang pernah disingkirkan oleh negeri sendiri, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Karena menurut penulis, banyak konsep yang ditawarkan oleh Pramoedya tentang “nasionalisme Indonesia” yang tidak pernah diperhatikan baik oleh sejarawan, politisi, Indonesianis, maupun elit politik Indonesia.

 

 


[1] Komunitas lama merupakan daerah/ wilayah/ sebuah kelompok masyarakat tradisional sebelum bersatu dalam NKRI

[2] Ir. Soekarno, Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, dalam kumpulan tulisan Di bawah Bendera Revolusi, jilid pertama, edisi ketiga, Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, Djakarta, 1964. Hal 4

[3] Lebih lengkap baca Danial Dhakidae dalam pengantar Komunitas-Komunitas Terbayang, Bedenict Anderson, INSIST & Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001,hal. Xiii.

[4] Pidato Soekarno dalam sidang BPUPKI. Tentang Pidato Soekarno yang diberi judul “Lahirnya Pancasila” selanjutnya baca; Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), 28 Mei-1945-22 Agustus 1945.

[5] Syaukani, Affan Gaffar & Ryaas Rasyid, Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan, Pustaka Pelajar & PUSKAP, Yokyakarta, 2003, hal 27.

[6] Tentang perdebatan bentuk negara – kesatuan dan federasi – dan munculnya tawaran desentralisasi dan ototnomi daerah, lihat lebih lanjut, Syaukani, Affan Gaffar & Ryaas Rasyid, Ibid

[7] Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang Media Kerja Budaya, 14 Juli 1999 di Aula Perpustakaan Nasional. Jaringan Kerja Budaya

[8] Max Lane, Bangsa Yang Belum Selesai; Indonesia, Sebelum dan Sesudah Soeharto, Jakarta: Reform Institute, 2007, hal. XXV

 

Resensi Buku oleh Ibrahim Isa *

MEMBACA BUKU MAY SWAN *MONTMARTRE IN BONDOWOSO“

 “Montmartre In Bondowoso” bukan karya pertama May Swan, yang ditulis dengan latar belakang peristiwa-sejarah di Indonesia dan Tiongkok. Ini salah satu ciri May Swan. Sekaligus menunjukkan identitas penulisnya. Kepedulian dan keterlibatannya dengan Indonesia dan Tiongkok serta pengetahuannya mengenai sejarah Indonesia dan Tiongkok.

Semua itu menjadikannya insan-budaya, seorang sastrawan, yang jarang di dunia ini: Tidak menceburkan diri dalam kegiatan praktis politik. Tetapi menganggap bahwa politik dan kegiatan politik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat manusia. Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan dunia sastra secara umum. Penulis May Swan tidak a-politis, bahkan punya pandangannya sendiri yang ‘independen’ .

May Swan juga tidak “fobi-politik”.  Ini menjadikan karya sastranya a.l. *“Montmartre Di Bondowoso” sebuah novelette yang menarik dan segar. Karena bersumber pada kejadian-kejadian yang merupakan kenyataan dalam kehidupan bermasyarkat.

Hal ini juga tercermin dalam a.l novelnya “Fragrant Deception”, dan “Hidayat”. Dua-duanya dalam dalam bahasa Inggris

Di sinilah kita menyaksikan kekuatan dan keunggulan karya-karya sastra May Swan. Mencerminkan identitasnya sebagai sastrawan Singapura, etnis Tionghoa berasal Indonesia.

“Montmartre di Bondowoso” mengangkat angan-angan ilusioner seorang pemuda Indonesia, Soerono. Ia beristrikan Lee Lin, seorang gadis Indonesia turunan Tionghoa. Suatu ketika Soerono menjadi ‘bosan’ dengan “kehidupan Bohemian”, sebagai migran di Montmartre, Perancis. Soerono rindu masa lampaunya. Percobaannya juga gagal menemukan “kembali” identitasnya sebagai orang Jawa Indonesia yang ‘pulang kampung’. Karena kenang-kenangan kehidupan ‘masa lampau’ telah tiada. Perubahan besar
melanda kehidupan nyaman dan damai di Bondosowo. Termasuk suasana ‘trauma’ di mana masih gentayangan syaitan-iblis sekitar kekejaman dan kebiadaban periode

“Tragedi Nasional 1965”.

Problim sosial yang dihadapi Soerono bertambah rumit karena ulah ‘pribadi’ -nya. Soerono terlibat dan tenggelam dalam berpacaran dengan seorang gadis temannya dulu di Indonesia.

Tidak ada satupun ‘soal-soal’ yang dihadapinya yang bisa ia temukan solusinya. Kembali lagi ke Montmartre untuk bergabung dengan isrinya dan memboyongnya ‘pulang kampung’, juga gagal. Karena Lee Lin, akhirnya mengetahui bahwa, — ketika ke Indonesia, suaminya melakukan hubungan rahasia dengan gadis Indonesia.

Demikianlah masalah-masalah yang dihadapi Surono yang tak bisa dipecahkannya. Dan, Lee Lin sudah tidak mau lagi.

Barangkali inti masalahnya, adalah ini: —Soerono gagal mempertahankan identitasnya sebagai manusia Indonesia, yang mampu berintegrasi dengan masyrakat-bangsa setempat, Ia juga gagal dalam mengabadikan perkawinannya dengan Lee Lin. Karena tenggelam dalam pandangan dan teori-teorinya sendiri sekitar lembaga tertua di dunia ini: PERKAWINAN dan CINTA.

Singkat kata, karya May Swan: “Montmartre Di Bondowoso, menarik dan lancar, tidak ngambang atau melayang-layang, lagipula bukan fiksi semata.

Ini, menjadikan May Swan seorang sastrawan Singapura berlatar belakang Tionghoa dan Indonesia.YANG UNIK!. Mungkin May Swan adalah satu-satunya penulis Singapura yang beridentitas demikian itu.

Lain dari yang lain – tetapi juga suatu keunggulan yang barangkali tak ada duanya di Singapura.

Di karya manapun, dalam bahasa Inggris atau Indonesia, — cerita yang lahir dari buah tangan May Swan, selalu lancar, silih berganti secara harmonis antara suasana sekitar yang rinci dengan dialog yang tidak menjemukan.

Menarik karena kelancaannya itu, disebabkan oleh penguasaannya mengenai tema dan latar belakang kejadian.***

——
Keterangan:

*) Ibrahim Isa, publisis, mantan editor majalah “AFRO-ASIAN MAGAZINE”,yang terbit berbahasa Inggris, Perancis dan Arab, tahun 1960-an,di Cairo. Sejak pasca Suharto, telah mengadakan berkali-kali interview, bicara dalam ceramah dan seminar, serta  menulis sekitar 2000 essai dan komentar mengenai situasi Indonesia dan mancanegara.Menerbitkan dua buah buku di Jakarta: “SUARA SEORANG EKSIL (2001) dan ”BUI TANPA JERUJI BESI” (2011). Tulisan ini dikirim langsung penulisnya yang sekarng bermukim di Negeri Belanda  kepada Sahewan Panarung Radar Sampit. Buku yang diresensinya ini akan dibedah akhir Februari 2012 di Singupara. Kusni Sulang sebagai pembantu SP Radar Sampit diminta berprtisipasi degan mengirimkan bahasannya.***

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers