Archive for the ‘pustaka anthropologi’ Category

Tradisi Memasang Bunga Segar Saat Imlek

Minggu, 22 Januari 2012 | 09:37 WIB

Tradisi Memasang Bunga Segar Saat Imlek

 

TEMPO.CO, Bandar Lampung – Bunga segar bagi warga Tionghoa Teluk Betung merupakan salah satu yang wajib hadir saat merayakan tahun baru Imlek. Bunga segar diyakini akan membawa keceriaan, semangat dan keberuntungan di tengah kemeriahan pergantian tahun. “Kami biasa memasang bunga tangkai segar di altar dan ruang tamu,” kata A Yen, warga Teluk Betung, Bandar Lampung, Minggu 22 Januari 2012.

Tradisi itu membuat warga Tionghoa di kawasan Pecinan Teluk Betung selalu menyerbu pusat penjualan bunga segar yang marak setiap menjelang Imlek. Jumlah pedagang akan bertambah banyak sehari sebelum perayaan Imlek. Mereka menjajakan aneka jenis bunga yang menebarkan keharuman, seperti bunga sedap malam, mawar, krisan, lili hingga carnation.

Warga Tionghoa biasanya merangkai bunga segar dalam pot bunga. Khusus untuk di altar, warga lebih suka memajang bunga sedap malam. Bunga itu, kata A Yen, sebagai penghormatan untuk Dewi Kwan Im.

Selain sebagai bagian dari ritual sembahyang, bunga segar bisa menetralisir aroma asap hio yang menyesakkan napas dan membuat mata pedih. Selain itu, bunga sedap malam bisa mempercantik altar dan menyeimbangkan unsur alam. “Pokonya ada banyak makna dari tradisi warisan leluhur kami ini,” ujar A Yen.

Bunga yang berwarna cerah, seperti mawar, lili, krisan dan carnation dipasang di ruang tamu. Bunga-bunga itu akan dirangkai untuk mempercantik tampilan ruang tamu. “Selain lampion dan lilin, bunga bisa membuat tamu betah untuk bercengkerama di ruang tamu,” kata perempuan pecinta bunga segar itu.

Salah seorang pedagang bunga, Sutini, mengatakan bunga segar didatangkan dari Bandung, Bogor dan Jakarta. Sepekan sebelum perayaan Imlek, mereka sudah berburu ke pusat-pusat grosir bunga tangkai segar hingga ke petani langsung. “Bunga diantar pada malam hari untuk menjaga kesegaran,” ucap Sutini yang sudah berjualan bunga segar selama lima belas tahun.

Para pedagang bunga menaikan harga dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. Harga satu tangkai bunga sedap malam dijual Rp 10 ribu atau tiga kali lipat dari harga pada hari biasa yang hanya Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu. Harga bunga angrek mencapai Rp 15 ribu per tangkai. “Rata-rata pedagang bisa menjual dua ratus tangkai bunga segar berbagai jenis,” tutur Sutini.

Ratusan warga Tionghoa sudah memadati pusat penjualan bunga sejak pukul 04.00 pagi. Mereka harus berebut dengan warga lain agar tidak kehabisan bunga yang dicari. “Kalau kesiangan bisa tidak kebagian. Biasanya jam tujuh pagi sudah tinggal sisa dan tidak segar lagi,” kata Li Ta, warga Gudang Kaleng, Teluk Betung.

NUROCHMAN ARRAZIE

Yee Sang, Makanan Keberuntungan di Malam Pergantian Tahun
| Jodhi Yudono | Sabtu, 21 Januari 2012 | 14:01 WIB
Yee Sang, makanan malam pergantian tahun

Oleh Indriani Eriza

Tahun baru Imlek tak hanya identik dengan barongsai, angpao, kue bulan, maupun barang-barang yang berwarna merah, tetapi juga Yee Sang.

Yee Sang merupakan hidangan utama yang selalu dinanti setiap pergantian tahun baru China. Biasanya disantap oleh anggota keluarga pada malam sebelum pergantian tahun.

“Prosesi menyantap Yee Sang ini selalu dinanti-nanti oleh keluarga baik tua maupun muda,” ujar seorang warga keturunan Tiongha yang tinggal di Kemayoran, Jakarta, Aletta (40).

Hidangan Yee Sang, kata dia, terdiri dari paduan sayuran dan ikan segar yang dicampur dengan saus plum, minyak wijen, kacang tanah, rempah dan merica bubuk, dan kulit kayu manis bubuk.

Menurut kepercayaan masyarakat Tiongha, Yee Sang adalah simbol kemakmuran. Maka tak heran, setiap unsur makanan mempunyai makna.

“Contohnya sayuran yang diiris panjang artinya biar rezeki yang diberikan tidak putus-putus. Lalu diberi minyak artinya biar semua urusan lancar,” terang perempuan berkacamata itu.

Begitu juga dengan rasa Yee Sang yang manis, asam dan asin dimaksudkan agar kehidupan pada tahun yang akan datang berlangsung aman tanpa bencana.

Namun hidangan tersebut bukan hanya sekedar hidangan biasa. Ada prosesi tersendiri yang harus dilalui sebelum menyantap hidangan itu. Setidaknya ada sembilan tahap yang dilakukan sebelum hidangan itu di makan.

Pertama, seluruh anggota keluarga mengangkat Yee Sang yang terdiri dari irisan wortel, lobak, buah persik, jeruk, melon, dan timun itu, dan kemudian taruh di tengah meja sambil mengatakan “fat chai yi sen” yang artinya yi sang kemakmuran.

Kemudian, peras jeruk nipis di atas ikan sambil mengatakan “ta ci ta li” yang artinya semoga kebersamaan, ketentraman selalu ada di keluarga anda.

Lalu taburkan rempah-rempah di atas ikan dan aduk rata sembari mengatakan “fung thiaw yi sun” yang artinya semoga anda selalu diberi kemudahan dan kelancaran dalam hidup.

Setelah itu, letakkan ikan di atas Yee Sang sambil mengatakan “nien nien yiu yi” yang artinya semoga tiap tahun rezeki anda selalu bertambah.

Tuang minyak di atas Yee Sang sambil mengatakan “yu man fu thien” yang artinya semoga kekayaan anda terus bertambah.

Lalu taruh minyak wijen di atas Yee Sang, sambil mengatakan “thien thien mie mie” yang artinya semoga kedamaian dan kebahagian selalu menyertai anda.

Tahap selanjutnya menaruh kerupuk di atas Yee Sang sambil mengatakan “wang cing man ti” yang artinya semoga kehidupan anda selalu berkilau bagaikan emas.

Kemudian taruh jahe di atas Yee Sang sambil mengatakan “hong win tang ho” yang artinya semoga keberuntungan selalu menyertai anda.

Terakhir, seluruh anggota keluarga berdiri dan mengaduk Yee Sang bersama sambil mengucap “lo hey lo hey lo kow fong sang sue hey”.

“Biasanya yang paling ditunggu adalah tahapan yang terakhir, karena semakin tinggi adukan Yee Sang maka semakin tinggi pula keberuntungan,” jelas Aletta.

Bahkan dulu ketika masih kanak-kanak, kenang Aletta, Yee Sang sering dilempar ke atas baru kemudian di makan bersama.

“Tapi sekarang tidak lagi. Mungkin mulai malu, karena sudah pada besar,” kata dia sembari tersenyum.

Tradisi Kuno
Tradisi menyantap Yee Sang itu berasal dari kawasan pantai selatan China, wilayah Chaozhou dan Santou. Tradisi dipercaya sudah ada sejak 1.500 tahun yang lampau.

Menurut Manajer Eksekutif Restoran Collage, Jakarta, Jackson Tobing, mengatakan tradisi menyantap makanan itu dibawa oleh seorang nelayan yang menyantap bubur di suatu kampung.

“Bubur yang disantap nelayan itu berisi sayuran dan persis seperti Yee Sang. Nelayan itu yang memperkenalkan ke seluruh daratan China,” kata Jackson.

Namun, ada juga sejarah yang mengatakan ide awal tradisi itu karena ingin memanfaatkan makanan berlebih usai merayakan tahun baru.

Karena tidak mau mubazir, maka penduduk setempat mencampur semua jenis makanan itu. Sehingga terciptalah hidangan unik membawa kemakmuran dan keberuntungan.

Namun sayangnya, tradisi ini mulai ditinggalkan terutama yang menetap di kota-kota besar.

“Bagi kalangan etnis Tiongha di Jakarta, tradisi ini memang kurang populer,” ujar seorang warga Tionghoa lainnya, Stallone (26).

Stallone mengatakan tradisi itu masih dilakukan oleh etnis Tiongha yang bermukim di daerah.

“Kalau keluarga sendiri pada malam tahun baru itu hanya makan bersama keluarga. Silahturahmi dan makan bersama,” kata Stallone yang berharap semakin beruntung di tahun mendatang.

Tradisi Yee Sang populer di Singapura dan Malaysia. Sejak beberapa tahun terakhir, tradisi itu kembali hidup di Indonesia melalui sejumlah restoran yang menawarkan hidangan keberuntungan itu.

 

http://www.suarapembaruan.com/home/koh-didu-dan-keluarga-cukup-nikmati-kemeriahan-imlek-di-vihara/16293#Scene_1

Koh Didu dan Keluarga Cukup Nikmati Kemeriahan Imlek di Vihara
Sabtu, 21 Januari 2012 | 11:38

Warga berdoa di vihara menjelang perayaan Imlek [antara] Warga berdoa di vihara menjelang perayaan Imlek [antara]

 

[TANGERANG] Panci lurik kecil yang dibawa di keranjang sepeda tua laki-laki separuh baya ini masih penuh dengan masakan siomay. Hari sudah menjelang sore.  Tapi bagi Tan Hua Siang yang biasa disapa Koh Didu, justru sore itulah saatnya dia mengais rizki. Berkeliling kampung kawasan Ciben di kampung Lebakwangi Sewan Kelurahan Mekarsari Kecamatan Neglasari untuk berjualan somay “istimewa”.  Istimewa disini karena bukanhanya somay ikan tetapi juga ada campuran kulit babi sebagai makanan khusus.

Saat dia keluar rumah, rupanya memang sudah ditunggu-tunggu pembelinya terutama anak-anak dan ibu-ibu. “Aku pake kulit,” ujar sejumlah anak berbarengan.

Dia dengan telaten meladeni pesanan anak-anak tersebut.

Menurut Koh Didu, setiap harinya dia bisa menjual somay ikan minimal 200 buah tidak termasuk kulit babi. Penghasilan kotornya mencapai Rp 50 ribu per hari. Uang inilah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, istri dan dua anak yang duduk di bangku SMA dan SD.

“Kami harus pinter-pinter menghemat uang, kalau tidak anak kami tidak bisa skeolah,” ujar Didu.

Didu kemudian mengajak mampir ke rumahnya di RT 02 /04 Lebakwangi. Rumah yangs udah dihuni 15 tahun ini snagat sederhana. Dindingnya dari bambu dan beratap rumbia. Hanya lantainya yang sudah dikeramik. “Supaya bersih” ujarnya singkat.

Tidak tampak barang-barang mewah hanya sepasang kursi kayu. Terasnyapun masih dari tanah.  Potret miskin dari warga Cina Benteng seperti Didu umumnya dialami juga oleh warga lainnya. Rumah mereka sangat sederhana. Mereka umumnya menyambung hidup dari bekerja sebagai pedagang kecil keliling. Ada juga yang menjadi buruh. Lingnkungan mereka juga padat dan kumuh denganjalan-jalan sempit dan cukup untuk sepeda motor. Bahkan ada jalan yang hanya cukup untuk badan melintas.

Menurut Didu dia berjualan setiap hari. Namun menjelang Imlek akan libur selama beberapa hari. Karena semua warga disana juga menghentikan kegiatan mereka menjelang imlek. Padahal, cerita Didu, mereka tidak melakukan kegiatan apapun hanya istirahat. Tidak pernah keluarga mereka dan keluarga Ciben lainnya merayakan Imlek secara berlebihan. “Paling-paling ke Vihara dan kerumah saudara,” ujar Didu.

Di rumahnya juga tidak ada persiapan khusus. “Kami tidak pernah buat kue, kalau ada rejeki nanti mau beli kue yang dijual di pasar saja,” ujar Ana, istri Didu. Imlek bagi keluarga ini berarti tidak berjualan dan mengunjungi Vihara.

Cukup sederhana.

Dia juga mengaku ada rasa ingin agar rumah mereka meriah dengan lampion dan pohon mew hua. Tapi menurutnya itu pasti akan menguras uang mereka yang diperoleh dengan susah payah. “Cukup menikmati lampion di Vihara,” katanya.

Namun dia tidak kuasa menolak keinginan kedua anaknya untuk punya baju baru. “Keduanya sudah saya belikan, meski murah yang penting mereka senang,” ujar Didu.

Tak hanya Didu, perayaan Imlek sederhana juga dialami keluarga Santi. “Selain memang tidak ada uang, saya juga masih sedih ditinggal anak saya yang meninggal Agustus tahun lalu,” ujar Santi.  Gadis berusia berumur 13 tahun itu meninggal karena terlambat dibawa ke rumah sakit setelah mengaku jatuh dan mengalami luak dalam kepalanya. “Saya terlambat ke rumah sakit karena tidak punya uang,” ujarnya.

Menyambut Imlek tahun ini, Santi kemarin membuat kue nastar. Ini hanya untuk memenuhi permintaan putri keduanya. “Dari kemarin dia mendesak terus minta dibuatkan kue, jadi saya buat sendiri meski bahannya dari mentega yang murah,” katanya.

Sama hal nya dengan Didu, perayaan Imlek berarti libur kerja dan berdiam di rumah. “Semua pada libur jualan, jadi kami hanya istirahat, minggu depan baru bergiat lagi cari uang,” ujar Santi. [132]

 

Pulau Saronde terancam tenggelam

Pulau Saronde terancam tenggelam

Senin, 9 Januari 2012 16:58 WIB | 454 Views

Gorontalo (ANTARA News) – Pulau wisata Saronde, di Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, terancam tenggelam akibat ancaman abrasi.

Abrasi yang disebabkan oleh maraknya aktivitas pengeboman ikan oleh nelayan, membuat terumbu karang di sekitar pulau wisata itu hancur.

Yamin Karim (45) , penjaga dan pengelola Pulau Saronde, pada Senin, mengungkapkan kini bibir pantai pu;au wisata tersebut telah menyusut sepanjang 50 meter, dan hanya menyisakan luas pulau itu kurang lebih dua hektare persegi.

“Padahal pada era 1990an, pulau ini masih memiliki luas lima hektare persegi. Pemboman ikan memang marak terjadi di sini,” katanya.

Kini air pasang laut merendam sejumlah tempat pesanggarahan yang dulu dibangun di pulau yang mulai dibuka untuk obyek pariwisata sejak 1989 itu.

Pulau yang lebih memprihatinkan, menurut dia, adalah Pulau Bogisa, yang berada di depan Pulau Saronde, karena saat ini tertutup seluruhnya oleh air laut setiap kali pasang.

“Pulau Bogisa dulu memiliki banyak pohon kelapa, sekarang sudah punah,” ujarnya.

Dia menambahkan, selain mengebom ikan, nelayan sekitarnya juga cukup lama menggunakan cara menangkap ikan maupun teripang dengan menghancurkan terumbu karang menggunakan linggis atau sero dalam bahasa setempat.
(T.KR-SHS)
Editor: Priyambodo RH

Tapal batas Temajuk mulai menggeliat

Tapal batas Temajuk mulai menggeliat

Senin, 9 Januari 2012 08:17 WIB | 1504 Views

Teguh Imam Wibowo

Pantai Camar Bulan (istimewa)

Semoga ini menjadi perekat untuk mempercepat pembangunan di kawasan perbatasan, dan tidak hanya menjadi komoditas politik belaka, karena yang sangat dibutuhkan adalah dukungan dan komitmen politik untuk membangun kawasan perbatasan.

Pontianak, Kalimantan Barat (Antara News) – Suasana di Desa Temajuk, desa kecil di sudut utara Provinsi Kalimantan Barat itu mendadak lebih ramai dibanding hari-hari biasanya pada Jumat (6/1) malam.

Desa yang dihuni sekitar 1.432 jiwa itu akan kedatangan tamu-tamu dari Jakarta, ibu kota Indonesia yang nun jauh lebih indah, megah, dan lengkap segala sesuatunya. Tamu-tamu tersebut adalah tiga menteri yakni Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat HR Agung Laksono, Menteri  Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufrie.

Tentu saja kedatangan mereka lengkap dengan “unsur-unsur” pendukung seperti pejabat terkait di instansi masing-masing. Gubernur Kalbar Cornelis dan Bupati Sambas Juliarti Djuhardi Alwi bertindak sebagai tuan rumah dengan menyambut kedatangan rombongan yang datang menggunakan helikopter dari Pontianak itu.

Belum lekang dari ingatan ketika isu pergeseran tapal batas negara Indonesia dengan Malaysia di Kabupaten Sambas mencuat tahun lalu. Desa Temajuk sempat menjadi pusat perhatian karena isu lokasi yang menjadi
polemik itu terletak di Dusun Camar Bulan, salah satu dusun di desa tersebut.

Isu itu mencuat ketika Gubernur Kalbar Cornelis dikejutkan dengan masuknya wilayah di Dusun Camar Bulan seluas 1.499 hektare ke dalam wilayah administratif Pemerintah Diraja Malaysia.

Secara tegas ia menyatakan, bahwa Camar Bulan adalah wilayah Indonesia yang sah berdasarkan Traktat London tahun 1824. “Sebagai seorang gubernur, tak sejengkal tanah pun akan saya serahkan kepada Pemerintah Malaysia. Tanah itu akan tetap saya pertahankan,” tegas Cornelis di Pontianak, Kamis (29/9) tahun lalu.

Cornelis mengacu kepada Traktat London, yakni kesepakatan bersama antara Kerajaan Inggris dan Belanda terkait pembagian wilayah administrasi tanah jajahan kedua negara.

Traktat London ditandatangani 17 Maret 1824 dengan tujuan utama mengatasi konflik yang bermunculan seiring perjanjian sebelumnya, Perjanjian Britania – Belanda pada tahun 1814.

Ia juga meminta hasil pertemuan antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia di Kinabalu, pada 1976, dan hasil pertemuan kedua negara di Semarang, Jawa Tengah, tahun 1978 yang menyebut Camar Bulan masuk wilayah Malaysia segera dibatalkan karena bertentangan dengan Traktat London, Peta Belanda dan Peta Inggris.

Ia mengaku telah mendapat informasi bahwa, Badan Survei dan Pemetaan Nasional sudah memasukkan Camar Bulan ke dalam wilayah Malaysia. Dengan tegas ia meminta supaya tidak ditandatangani karena sangat merugikan Indonesia, khususnya wilayah administrasi Kalbar.

Ratusan Miliar Rupiah

Terlepas dari polemik seputar mencuatnya isu pergeseran tapal batas tersebut, baik disebut-sebut mencari keuntungan secara politis atau upaya mencari popularitas, meski dibantah oleh Gubernur Cornelis, perhatian pemerintah ke Desa Temajuk harus diakui berubah drastis.

Menko Kesra Agung Laksono memastikan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat akan terkoneksi pada 2013 mendatang. Hal itu ditandai dengan pengucuran dana APBN sebesar Rp206
miliar, diantaranya meliputi peningkatan kualitas infrastruktur jalan perbatasan, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan jaringan komunikasi selular.

Menurutnya, untuk tahun anggaran 2011 lalu, pemerintah juga sudah mengucurkan dana sebesar Rp15 miliar untuk membuka akses jalan menuju Desa Temajuk di Kecamatan Paloh sepanjang 13 kilometer. Infrastruktur jalan dinilai sangat penting dan menjadi prioritas utama agar roda perekonomian masyarakat di beranda depan rumah Indonesia dapat bergerak.

Selain infrastruktur jalan, masyarakat di Desa Temajuk juga membutuhkan jaringan komunikasi, energi listrik, dan aksi-aksi sosial seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat dalam bentuk keterampilan kecakapan khusus.

Ia melanjutkan, juga upaya Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH), menciptakan Program Kelompok Usaha Bersama (Kube), hingga simpan pinjam.

Desa Temajuk pun menjadi lokasi Pencanangan Program Nasional Terpadu Gerakan Pembangunan Kampung (Pandu Gerbang Kampung) dan Program Penanggulangan Kemiskinan Wilayah Perbatasan Negara (Pronangkis).

Ada 13 kementerian dan lembaga yang bekerja sama menggelontorkan dana bantuan yang masuk dalam Rencana Kegiatan Pembangunan Program Nasional Terpadu dan Program Penanggulangan Kemiskinan Bidang Kesejahteraan Wilayah Perbatasan Negara pada Tahun Anggaran 2012 dengan total anggaran Rp206,505 miliar.

Yakni Kementerian Pekerjaan Umum sebesar Rp106,64 miliar; Polri Rp1,2 miliar; Kementerian Kesehatan Rp11,552 miliar; Kementerian Pertanian Rp980,7 juta; Kementerian Kehutanan Rp1,272 miliar; Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal Rp2,325 miliar; Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rp7,035 miliar.

Kemudian Kementerian Perdagangan Rp2,178 miliar; Kementerian Pendidikan Nasional Rp9,5 miliar; Kementerian Dalam Negeri Rp14,58miliar; Kementerian Sosial Rp2 milir; Sekretariat Badan Nasional Pengelola Perbatasan Rp12,27 miliar; dan TNI Rp37,143 miliar.

Komitmen Politik

Inisiator Garda Perbatasan Partai Demokrat, Bobby Chrisnawan di Pontianak, Minggu (8/1) mengatakan, upaya nyata berupa penyiapan infrastruktur jalan ke tapal batas, pembangunan sarana prasarana vital, hingga pemasangan simbol-simbol negara diakui menjadi bagian untuk membangun wilayah perbatasan.

“Namun upaya tersebut akan mengalami kendala jika tidak dibarengi

komitmen politik yang kuat,” kata Bobby Chrisnawan.

Menurut dia, sejak duet kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla, komitmen untuk membangun perbatasan itu sudah ada.

Ia melanjutkan, komitmen tersebut dapat dilihat dari rencana pembangunan jangka menengah nasional yang menjadikan perbatasan sebagai beranda negara.

Ia menambahkan, terkait kebijakan itu, kemauan politik memegang peranan penting dalam melaksanakan program tersebut karena kebijakan anggaran harus berdasarkan kesepakatan parlemen.

Bobby juga berjanji akan menghimpun kekuatan politik dari seluruh pengurus di tingkat DPC dan PAC Partai Demokrat yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur untuk mempersiapkan pembentukan Garda Perbatasan.

“Upaya itu akan kita lakukan sebagai jawaban atas komitmen politik Partai Demokrat di perbatasan,” kata Bobby menegaskan.

Selain itu, sebagai bentuk keseriusan untuk memperkuat komitmen politik membangun perbatasan, Garda Perbatasan Partai Demokrat akan dideklarasikan yang dipusatkan di Pontianak, Kalimantan Barat.

Sementara Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, Prof DR Eddy Suratman menjelaskan untuk membangun sebuah kawasan perbatasan butuh anggaran yang tidak sedikit.

Bahkan, kata dia, kebutuhannya bisa jauh lebih besar dibanding jumlah orang yang harus dilayani. Atas dasar itu pula, kemauan politik akhirnya kurang bersemangat.

Ia mencontohkan, saat “soft launching” Border Aruk di Kabupaten Sambas, sebagai salah satu pintu perlintasan batas darat dengan Sarawak, Malaysia Timur. “Kita meminta-minta agar segera dibuka, tetapi setelah dibuka ternyata kita malah tidak siap. Sementara di sisi Malaysia, mereka sudah siap segalanya,” ujarnya.

Di sisi lain, Eddy mengatakan adanya rencana pembentukan Garda Perbatasan oleh sejumlah kader Partai Demokrat merupakan langkah positif dan cerdas dalam menangkap peluang isu.

“Semoga ini menjadi perekat untuk mempercepat pembangunan di kawasan perbatasan, dan tidak hanya menjadi komoditas politik belaka, karena yang sangat dibutuhkan adalah dukungan dan komitmen politik untuk membangun kawasan perbatasan,” kata Eddy Suratman.

Dua Sisi

Harus diakui, isu perbatasan akan lebih menarik dan menyedot banyak perhatian kalau sudah menyangkut mengenai pergeseran tapal batas, penyerobotan lahan atau berpindahnya warga negara Indonesia.

Padahal, yang dibutuhkan adalah komitmen menjadikan wilayah perbatasan itu sebagai beranda negara. Contohnya pernyataan Kepala Desa Mungguk Gelombang, Yusak, menjelang peringatan ke-66 kemerdekaan RI, yang ingin mengibarkan bendera Malaysia di desa yang secara masuk administratif Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang.

Hal itu sebagai wujud dari ketidakpastian pembangunan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia tersebut. Anggota DPR RI, Karolin Margret Natasa mengatakan, isu pengibaran bendera Malaysia di
wilayah perbatasan Kalimantan Barat ungkapan putus asa masyarakat di wilayah tersebut.

“Itu jeritan atau ungkapan putus asa masyarakat di wilayah perbatasan karena memang akses mereka yang sangat sulit,” kata Karolin.

Sementara Anggota DPRD Kalimantan Barat Suprianto mengatakan, ancaman pengibaran bendera lain menjelang 17 Agustus karena masyarakat perbatasan menganggap tidak adanya perhatian dari pemerintah pusat dan daerah.

Sangat ironis kalau perhatian pemerintah akan mulai berlebihan ketika isu-isu tersebut mencuat atau sengaja dicuatkan. Seolah-olah seperti angin surga yang diberikan saat asa masyarakat perbatasan mulai hilang ditelan angin.

Masyarakat Temajuk misalnya, selama ini belum pernah melihat mobil atau kendaraan roda empat masuk ke desa tersebut. Mereka harus adu cepat dengan cuaca Laut Natuna, ketika air laut pasang atau ombak besar tidak bisa melewati jalur pantai sebagai satu-satunya “jalan” yang bisa digunakan menuju Temajuk dari Paloh, ibu kota kecamatan.

Bupati Sambas, Juliarti Djuhardi Alwi pernah menyebut bahwa masyarakat di wilayah itu kalau boleh ingin merayakan kemerdekaan sekali lagi seiring mulai terbukanya isolasi desa tersebut dari keterbatasan infrastruktur. “Karena tidak pernah selama mereka menempati wilayah itu, ada kendaraan roda empat atau truk yang bisa masuk Desa Temajuk,” ujar dia.

Kini, masyarakat Kalbar mengharapkan keseriusan pemerintah dalam menekan ketertinggalan infrastruktur. Berkaitan atau tidak dengan gencarnya isu tentang perbatasan, ada sejumlah kabar yang menggembirakan.

Gubernur Cornelis dalam kunjungan ke Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, pertengahan Oktober tahun lalu menyatakan bahwa, pembangunan Jalan Trans Kalimantan poros selatan yang melewati wilayah itu akan
dipercepat penyelesaiannya dari rencana awal diselesaikan tahun 2015 dipercepat menjadi tahun 2013.

Jembatan Tayan senilai hampir Rp1 triliun yang ada di ruas Jalan Trans Kalimantan poros selatan, juga sudah hampir dipastikan dibangun mengingat pemenang tender sudah ditetapkan.

Asa itu perlahan mulai terwujud meski tertatih-tatih selama berpuluh tahun. Masih banyak pekerjaan rumah dari pemerintah. Penyediaan infrastruktur dasar kesehatan, pendidikan dan air bersih, listrik serta jalan dan jembatan, sedikit dari kewajiban pemerintah yang harus dipenuhi. Dengan komitmen akhir, menjadikan perbatasan sebagai beranda negara. Beranda yang (harusnya) memberikan rasa indah, menarik, mudah terlihat dan terjangkau serta memberi gambaran kemakmuran, kebesaran dan kekayaan dari negara dan bangsa Indonesia.

(T011)
Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Mencontoh tradisi kerukunan beragama orang Lamaholot

Mencontoh tradisi kerukunan beragama orang Lamaholot

Senin, 9 Januari 2012 07:53 WIB | 1208 Views

Laurensius Molan

NTT bukan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong seperti yang dianekdotkan banyak orang, tetapi NTT adalah Nusa Tetap Tenteram, karena semua orang NTT sangat menghormati dan menghargai adanya perbedaan dan aliran kepercayaan seperti yang ditradisi

Berita Terkait

Kupang (ANTARA News) – Ratusan orang Lamaholot atau lebih kesohor dengan sebutan “Solor Watan Lema”, Selasa (3/1), memadati Gelanggang Olah Raga Flobamora Kupang untuk menghadiri perayaan Natal bersama Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan Wakilnya Esthon L Foenay.

Warga Solor Watan Lema yang merupakan turunan Sina-Jawa-Malaka itu datang dari Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Lembata, Solor dan Alor dengan latar belakang agama yang berbeda-beda, yakni Katolik, Kristen Protestan dan Islam. Mereka menyatu dalam acara Natal bersama itu.

Tiga orang pemimpin umat, yakni Romo Kanis Pen dari unsur Katolik, Pendeta E Yahya R Luakusa dari unsur Kristen Protestan dan KH Saleh Orang dari unsur Islam didaulat untuk memberikan renungan Natal serta toleransi kehidupan umat beragama dan antaragama di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tampilnya KH Saleh Orang dalam acara Natal bersama orang Lamaholot itu, bukan hal baru dan luar biasa karena orang Lamaholot menjunjung tinggi nilai-nilai budaya serta toleransi antarumat beragama dan antaragama di lingkungan Lamaholot.

Menurut antropolog sosial Dr Chris Boro Tokan SH.MH, asal usul turunan orang Lamaholot merupakan pengaruh Hindu-Budha dari India Belakang yang diikuti pengaruh Islam dari Gujarat dan Persia dengan arus aliran persinggahan dari India ke Malaka serta dari China ke Muangthai kemudian bertemu di pusarana nusantara dengan persinggahan di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Pengaruh budaya tersebut kemudian mewariskan puing-puing kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera, Candi Borobudur dan Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa, Kerajaan Kutai di Pulau Kalimantan.

Dari sana arus perubahan bergerak masuk ke Kepulauan Timor, termasuk Kepulauan Solor sebagai wilayah Lamaholot atau yang sering disebut “Solor Watan Lema”.

Boro Tokan yang juga Dosen Luar Biasa di Bidang Hukum dan Perubahan Sosial Fakultas Pascasarjana Bidang Ilmu Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu mengatakan setelah arus tradisional itu membawa babak perubahan sosial di Lamaholot, giliran arus religius mengisi babak baru Lamaholot melalui imperialisme bangsa Portugis yang menularkan agama nasrani (Katolik) di Lamaholot.

Sementara itu, masuknya muslim di Lamaholot disinyalir kuat sebagai perpindahan arus konflik dari Ternate dan Tidore (Maluku) antara Kesultanan Ternate dan Tidore (Muslim), meski sebelumnya Islam Malaka telah masuk lebih dahulu melalui arus Sina-Jawa-Malaka.

“Dari sinilah imperialisme Portugis dan Belanda membagi kekuasaan di Kepulauan NTT. Portugis berkuasa di Timor Timur dan sebagian wilayah Timor bagian barat NTT seperti Belu dan Timor Tengah Utara serta Pulau Flores dan Kepulauan Solor, sedang Belanda berkuasa di Timor Barat serta Sumba dan Rote,” katanya.

Ia menambahkan nilai religius (nasrani dan muslim) telah membentuk keyakinan generasi baru Lamaholot yang tidak dapat menghilangkan warisan keyakinan generasi primitif Lamaholot yang mengimplementasikan keyakinan itu dengan sebutan “hulen baat tonga belolo, rera wulan tanah ekan” (yakin akan pencipta langit dan bumi) dan keyakinan generasi tradisional Lamaholot tentang lewotanah (kampung halaman).

Boro Tokan menambahkan, manusia Lamaholot dengan pola pikir primitif dapat tertelusuri dalam sejarah oral asal usul pemuda Patigolo Arakian di Gunung Ile Mandiri dengan isterinya Watowele, seorang putri titisan dari Ile Mandiri.

Selain itu, dapat ditelusuri pula melalui sejarah oral pemuda Kelake Ado Pehan dengan isterinya Kwae Sode Boleng, seorang putri titisan Ile Boleng di Pulau Adonara serta pemuda Uwe Kole dengan seorang putri yang merupakan jelmaan alam dari ubi hutan.

Tahapan primitif manusia Lamaholot dalam masa transisi ke tahapan tradisional ditandai dengan adanya Kerajaan Lewo Nama yang dipimpin oleh turunan dari Patigolo Arakian.

Di bagian timur laut Pulau Adonara, berdirilah Kerajaan Molo Gong dan di selatan barat daya pulau itu berdirilah Kerajaan Wotan Ulu Mado.

Di bagian tengah Pulau Adonara berdirilah Kerajaan Libu Kliha dan di selatan berdirilah Kerajaan Lamahala, Terong dan Kerajaan Lian Lolon yang merupakan cikal bakal Kerajaan Adonara.

Selain itu, ada juga Kerajaan Awo Lolon di Pulau Pasir dekat Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata di Pulau Lembata serta Kerajaan Lamakera dan Lohayong di Pulau Solor.

Nilai magic kehidupan yang diyakini manusia primitif Lamaholot saat itu amat mencengangkan, yakni melalui keyakinan holistik yang menyatukan alam semesta dengan manusia.

“Sang pencipta, alam semesta dan manusia sebagai satu kesatuan total yang tidak dapat dipisah-lepaskan melalui ketaatan manusia dalam keyakinan Lamaholot yang disebut “hungen baat tonga belolo rera wulan tanah ekan”. Keunggulan manusia primitif Lamaholot, dapat menyatukan jagat dalam mengarungi sebuah misi perjalanan yang jauh dalam bahasa setempat disebut `bua buku tanah`,” kata Boro Tokan.

Ia menambahkan dari tahapan primitif ke tahapan tardisional itulah mengalir paham Sina Jawa yang disinyalir membawa masuk ajaran dan keyakinan Hindu-Budha dalam proses membentuk keyakinan tradisional orang Lamaholot sampai sekarang.

Tidaklah mengherankan jika dalam renungan Natalnya, KH Saleh Orang mengajak semua umat beragama di Indonesia untuk belajar tentang tradisi kerukunan umat beragama dan antaragama orang Lamaholot di NTT.

“NTT bukan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong seperti yang dianekdotkan banyak orang, tetapi NTT adalah Nusa Tetap Tenteram, karena semua orang NTT sangat menghormati dan menghargai adanya perbedaan dan aliran kepercayaan seperti yang ditradisikan orang Lamaholot ini,” katanya.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya pun menjuluki NTT sebagai “Nusa Tenang Tenteram” karena toleransi kehidupan umat beragama di daerah provinsi kepulauan ini sudah terpelihara dengan baik selama bertahun-tahun.

“Kerukunan hidup umat beragama di NTT telah memberi gambaran nyata bahwa NTT sesungguhnya `Nusa Tenang Tenteram`. Saya berada di sini untuk memimpin perayaan Natal bersama Pendeta E Yahya R Luakusa dan Romo Kanis Pen serta KH Saleh Orang.

Situasi ini tidak pernah terjadi di daerah lain, bahkan di dunia dan ini menggambarkan bahwa kita tetap rukun, damai dan tenteram,” katanya.

Di lingkungan Lamaholot, saat perayaan Natal atau Paskah, umat muslim selalu bertindak sebagai panitia Natal bersama.

Mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk saudara-saudaranya dari Kristen usai gereja.

Jika tibanya Hari Raya Idul Fitri, umat Kristiani lah yang bertindak sebagai panitia halalbihalal untuk saling bersalam-salaman dan memafaatkan satu sama lain.

Mereka duduk bersama, minum bersama, makan bersama dan setelah itu bubar bersama-sama.

Tradisi ini sudah lama berlangsung dan tetap dipertahankan oleh orang Lamaholot sampai detik ini.

Menurut pendapat Airlangga Pribadi, Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya, hak dan tanggung jawab sebagai warga negaralah yang membentuk kesadaran berdemokrasi, HAM, dan penghormatan terhadap pluralitas.

Kondisi ini, kata dia, berbeda dengan perjalanan banyak negara Eropa, sejak awal nasionalisme Indonesia dibangun atas rantai keterkaitan gugus entitas kultural yang plural dalam etnis, ras, agama, dan golongan.

Sejak awal, pluralisme telah disadari oleh para pendiri republik tidak saja sebagai hak dari tiap-tiap orang yang mengaku menjadi bangsa Indonesia.

Lebih dari itu, dalam sejarahnya tiap-tiap bagian bangsa ini telah berkorban, memberi, dan berperan dalam perjuangan membentuk Indonesia.

Dalam narasi sejarah demikian, kata Airlangga, nasionalisme sebagai ikatan kultural yang berbineka sejak awal telah menubuh dalam kesadaran patriotisme sebagai komitmen politik untuk membentuk negara-bangsa dengan segenap spirit kewargaannya.

Konstruksi kebangsaan inilah yang ditekankan Soekarno dalam Lahirnja Pantjasila: “Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia. Semua buat semua!”

Menurut Airlangga, seruan Bung Karno bahwa Indonesia milik semua sejalan dengan ajakan Abdurrahman Wahid, bahwa dalam ikatan keindonesiaan tidak boleh ada kelompok yang diistimewakan satu di atas yang lain.

Sebab tiap-tiap bagian dari bangsa Indonesia memiliki kontribusi penting dalam pembentukannya.

Orang Lamaholot di NTT yang meliputi Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Lembata, Solor dan Alor sangat menyadari akan pesan yang disampaikan oleh Bung Karno serta ajakan dari KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid tersebut sehingga tetap rukun dan damai meski berbeda agama dan aliran kepercayaan.
(L003)Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

How Turkey Solved The Burqa Problem

How Turkey Solved The Burqa Problem

Tambahan Informasi:
Salim Said <bungsalim@yahoo.com>,in: “GELORA45@yahoogroups.com” <GELORA45@yahoogroups.com> ,Tuesday, 10 January 2012, 19:34

Surat Terbuka : Dugaan Korupsi Alat Pemadam Kebakaran di Surabaya Rp. 14 Milyar
Mustafa Kemal atau Mustafa Ataturk adalah pengagum peradaban Perancis. Ottoman memang mencoba belajar ke Perancis setelah menyadari keterbelakangan mereka dalam berhadapan  dengan peradaban Barat. Sejumlah perwira tentara Ottoman dikirim ke Perancis, dan sejumlah perwira Perancis di datangkan ke  Istambul. Ketika Ottoman jatuh setelah Perang Dunia I, Kemal dan kolega-koleganya perwira Ottoman melihat Kesultanan sebagai sumber kebangkerutan dan kekalahan Ottoman. Sebagai patriot, Kemal tidak melihat gunanya menyelematkan Ottoman Empire yang sudah dipotong-potong bagaikan kue tart oleh imperialisme Barat (Perancis dan Inggris). Maka yang diperjuangkan Kemal adalah Turki. Maka lahirlah nasionalisme Turki yang kemudian melahirkan Turki Moderen sebagai yang kita kenal sekarang. Dalam proses Turkinisasi wilayah Turki Ottoman, semua yang berbau Islam dibersihkan oleh Kemal. Ideologi negara berdasar pada laikisme, sebuah bentuk sekularisme ekstrim ala Perancis. Laikisme jauh lebih ekstrim terhadap agama tinimbang sekularisme. Perancis penganut laikisme, sedang Amerika penganut sekularisme. Pancasila rasanya lebih dekat kepada sekularisme Amerika (pada mata uang dolar ada tulisan In God We Trust) dari pada kepada laikisme. Orang yang pernah berusaha mempraktekkan laikisme di Indonesia adalah Dr. Daud Jusuf  ketika beliau menjadi menteri Pendidikan. Daud Jusuf amat bangga mendapat pendidikan Perancis (beliau lulusan Sorbon) dan mengukur tingkat intelektualisme seseorang pada bisa tidaknya seseorang itu berbahasa Perancis. Majalah Far Eastern Economy dulu pernah mengutip Daud Jusuf sebagai mengatakan:”How could you call yourself intelectual? You do not even speak France.” Seorang teman yang sinis menyebut Daud Jusuf sebagai orang yang sebenarnya masih hidup pada awal ke 19, beberapa tahun setelah revolusi Perancis.
Bung Salim (BS)

Sunny <ambon@tele2.se>,in: GELORA45@yahoogroups.com ,: Wednesday, January 11, 2012 5:12 AM
Subject: Re: [GELORA45] Fwd: How Turkey Solved The Burqa Problem

Di Turki tidak ada wanita pakai burqa, tetapi sekarang sudah mulai pakai Jilbab. Isteri perdana menteri Erdogan pakai jilbab.
 
Waktu Mustafa Kemal Ataturk naik panggung kekuasaan, wanita dilarang pakai burqa, jilba, nikab  dalam ruangan universitas, kantor-kantor, tentara dsbnya. Beberapa tahun lalu ada seorang anggota parlemen wanita dalam sidang memakai jilbab, dia dikeluarkan dari parlemen dan diberhentikan, kejadian ini sebelum Erdogan menjadi perdana menteri.
 
Mustafa kemal bukan saja melarang wanita pakai jilbab, tetapi tulisan huruf Arab diganti dengan latin, dan kata-kata bahasa Arab diganti kata-kata bahasa Turki. Satu hal yang menarik ialah keras suara loudspeaker dibatasi, kalau tak salah hanya 80 decibel, jadi berbeda dengan di Indonesia yang dikumandangkan sekeras-kerasnya tanpa batas. Alkohol bebas dijual, antara lain anggur dijual di mini supermarket setiap waktu bisa dibeli.  Orang turki juga minum  raki atau juga disebut ursu. Bulan puasa restauran tidak ditutup, minum dan makan di luar rumah tidak perlu chawatir akan datang polisi agama seperti di Malaysia, atau di Indonesia dihajar FPI.**

Mengapa Ada Tradisi Angpao Pada Tahun Baru Imlek

Mengapa Ada Tradisi Angpao Pada Tahun Baru Imlek

Author // Rinto Jiang      Posted in // Adat Istiadat

Budaya-Tionghoa.Net| Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.

Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, angpao juga akan ditemukan.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui”, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak2 berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak2 memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak2 menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?

Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar2 resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak2.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu. http://web.budaya-tionghoa.net/budaya-tionghoa/adat-istiadat/1175-mengapa-ada-tradisi-angpao-pada-tahun-baru-imlek

 

Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?

Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir/meminimalkan bencana” dengan harapan anak2 yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.

Siapa yang wajib memberikan angpao dan berhak menerima angpao?

Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak2 dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak2, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.

Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.

Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi.

Direct Link : http://web.budaya-tionghoa.net/budaya-tionghoa/adat-istiadat/1175-mengapa-ada-tradisi-angpao-pada-tahun-baru-imlek

Rinto Jiang

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 15950

Jumlah Petani Terus Menyusut

03.01.2012 11:24

Jumlah Petani Terus Menyusut

(foto:dok/SH)

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan jumlah petani pada 2011 terus menyusut. Sepanjang tahun tersebut jumlah petani berkurang 2,16 juta atau turun 5,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kementan memerinci saat ini total petani seluruh Indonesia sebanyak 39,33 juta jiwa dibandingkan 2010 yang mencapai 41,49 juta jiwa. Cuaca yang buruk dan kesejahteraan yang urung meningkat membuat posisi petani kian tertekan.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono, dalam konferensi pers awal tahun, di kantornya, Senin (2/1), mengatakan, saat ini penyerapan tenaga kerja pertanian 33, 51 persen dari total angkatan kerja nasional. Menurutnya, Kementan akan terus menganalisis penyebab turunnya jumlah petani, beralih ke profesi apa dan di sektor mana saja.

“Saat ini tren bekerja sebagai petani amat tidak digandrungi. Bahkan di beberapa daerah sangat sulit mencari tenaga kerja pertanian, karena terjadinya kesenjangan,” katanya.

Mentan mengatakan, pihaknya akan terus melakukan upaya antisipasi untuk mengatasi berkurangnya tenaga kerja pertanian ke depan. Untuk itu, tenaga kerja sektor pertanian perlu menyiapkan teknologi tepat guna.

“Ini dilematis, di satu sisi jika petani berkurang berarti sudah ada peningkatan lapangan kerja lain. Namun, Kementan pun belum memiliki data ke mana perginya para petani tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, yang merangkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS ), menjelaskan, selain jumlah tenaga kerja yang semakin menurun, tenaga kerja pertanian saat ini didominasi tenaga kerja lanjut usia atau yang sudah berusia tidak berproduktif.

“Sektor pertanian butuh kekuatan fisik tidak cocok dengan orang-orang usia 55–60 tahun. Ini yang seharusnya diambil alih kaum muda,” tuturnya.

Dia juga mengakui, tenaga kerja muda pertanian banyak yang beralih profesi di sektor lain. Mereka yang beralih profesi itu akan kembali saat musim tanam tiba. Rusman memperkirakan, saat ini ada sekitar 1–1,6 juta petani yang beralih profesi ke sektor informal.

“Penurunan jumlah petani itu bersifat sementara, karena pada periode Oktober–Maret (musim tanam dan panen. Sedangkan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian lebih banyak dan menurun pada periode Agustus,” katanya.

Rusman mengatakan, Kementan akan terus menyosialisasikan bahwa sektor pertanian menjanjikan, tidak seperti yang dipersepsikan selama ini bahwa sektor pertanian sangat buruk dan tidak berprospek. “Ini yang membuat generasi muda tidak ada yang tertarik menjadi petani,” katanya. (CR-28)

Lombok, Pulau Janda

Beranda Radio Video Sajian Dosir Interaktif

Lombok, NTB

Avatar KBR 68H
Jakarta, Belanda
Jakarta, Belanda

Lombok, Pulau Janda

Diterbitkan : 3 Januari 2012 – 8:00am | Oleh KBR 68H (Foto: mikaku)

Diarsip dalam:

Pulau Lombok, NTB, mendapat gelar baru karena kerap disebut sebagai pulau dengan ribuan janda. Bahkan di antara perempuan janda itu, masih berusia belia, belasan tahun. Para suami dengan mudahnya menceraikan isteri, dan perempuan-perempuan muda itu tak berdaya.

Mengapa ini terjadi? Apakah ini bagian dari kultur setempat? Reporter KBR68H Rony Rahmatha menemui para janda muda di sejumlah daerah di Lombok Barat.

Tak disetujui ortu
Usianya baru mendekati dua puluh tahun, tapi Fatmini sudah harus sibuk dengan keseharian membesarkan anaknya yang berusia satu tahun. Ia tak perlu terlalu sibuk kalau masih ada suaminya. Di usia muda Fatmini sudah berstatus janda.

Masa pacaran dijalani selama dua tahun, sebelum akhirnya Fatmini menikah dengan suaminya. Pernikahan yang tak disetujui orang tua. Pernikahan berakhir setelah suaminya menjadi TKI di Malaysia. Tragis, perceraian hanya dilakukan melalui telpon genggam.

Kini Fatmini menyandarkan hidupnya bersama orang tua di Hambalan, Lombok Barat. Ia malu menjadi beban ibunya dan bertekad mencari pekerjaan. “Mau kita cari kerja, tapi bayi ini kan masih kecil. Nggak ada yang jagain juga. Malu juga kita, apalagi ibu kita sudah tua, bapak aku udah meninggal juga.”

Korban kekerasan
Menikah usia belia juga dijalani Kasmawati. Umurnya baru 15 tahun saat itu, baru tamat SMP. Warga Hambalan, Lombok Barat ini menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya sering memukuli Kasmawati pada saat sedang mabuk minuman keras. Akhirnyapun cerai.

Perceraian itu tidak melalui pengadilan karena sebelumnya ia menikah tanpa surat akte nikah. “Waktu itu belum banyak yang buat semacam akte nikah. Perceraian nggak melalui pengadilan agama, tapi kan kalau di penduduk sini kalau lakinya sudah bilang cerai, kita cerai. Misalnya dia sudah menjatuhkan talak satu kan kita cerai. Secara sah secara agama.”

Janda Malaysia
Fatmini dan Kasmawati hanyalah dua dari ribuan perempuan Lombok yang menikah di usia muda dan menjadi janda, juga di usia muda. Kebanyakan perceraian terjadi setelah suami menjadi TKI di luar negeri, seperti di Malaysia. Akhirnya para perempuan muda itu sering dijuluki Jamal atau Janda Malaysia.

Tidak mudah mendapatkan data akurat dari pengadilan agama terkait perceraian. Baik itu di ibukota provinsi, Mataram, maupun di kabupaten lainnya di Lombok. Sebabnya, banyak pernikahan di Lombok tidak didaftarkan ke pengadilan agama setempat.

Ketua Dewan Pengawas Perempuan dari Solidaritas Perempuan Mataram, Yuni Riawati mengatakan, perceraian hanya dilakukan melalui proses ritual agama yang mereka yakini dan dianggap sah.

Beban
“Faktanya di Lombok ini, kawin cerai itu banyak sekali. Kemudian menjadi beban saat terjadi cerai itu adalah ibu. Bapak itu, tidak mengurus, karena dia bisa kawin ke sana ke mari dan beban anak adalah ibunya. Kenapa hal itu terjadi, karena administrasi pernikahan tidak terurus. Akte nikah mereka tidak ada, apalagi akte cerai.”

Yuni Riawati melanjutkan, akibat tak ada administrasi pernikahan, anak dan ibu menjadi korban kesemena-menaan kaum lelaki. Menurutnya banyak sekali pelanggaran hak, terutama hak anak.

“Kalau perceraian, anak masih memperoleh nafkah dari bapaknya. Karena tidak ada putus hubungan dengan bapak, itu nggak ada seperti itu. Apalagi pelanggaran pada hak istri. Sebenarnya selama istri belum nikah, bisa mendapatkan nafkah dari mantan suaminya. Itu nggak ada. Karena dari proses menikahnyapun mereka tidak ada itu. Ini juga menjadi pelanggengan kekerasan terhadap perempuan.”

Aturan adat
Mengapa praktek nikah-cerai mudah terjadi di Lombok? Masyarakat adat Pulau Lombok memiliki aturan adat dalam perhelatan pernikahan. Aturan adat atau awiq-awiq mengajarkan tata krama pernikahan atau dalam bahasa Suku Sasak disebut Merariq.

Dalam pelaksanaan merariq atau pernikahan, diharuskan seorang calon pengantin pria membawa lari calon mempelai perempuan secara rahasia. Budayawan Nusa Tenggara Barat Jalaluddin Arzaki:

“Diambil secara rahasia itu dilakukan, pertama, untuk menunjukkan orang tuanya memberikan kesempatan demokratis kepada anaknya memilih calon pasangannya. Nggak boleh orang tua yang menentukan. Jadi unsur demokrasinya ada di situ. Kedua, orang tua itu ingin menunjukkan secara adil kepada calon suami atau pacar-pacar lainnya yang mau sama anaknya. Kalau ada satu atau tiga orang yang mau, maka kalau satu saja kelihatan terang-terangan dikasih, maka yang lain akan iri. Demi keadilan dan bukti kalau ini pilihan anaknya, maka dia diambil secara rahasia itu.”

Pemuka adat
Setelah proses melarikan calon mempelai perempuan, barulah kedua belah pihak keluarga akan bertemu untuk mencari kesepakatan pernikahan adat. Pertemuan akan dijembatani oleh pemuka adat dari wilayah mempelai masing-masing.

Namun saat ini telah terjadi pergeseran pemahaman adat itu. Istilah melarikan calon mempelai perempuan dalam aturan merariq disamakan dengan menculik. Bahkan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara wilayah Lombok Barat Raden Rais mengatakan, bukan hanya pemahaman yang bergeser, aturan merariq juga sudah dilanggar.

“Anak muda sekarang, banyak yang dipelesetkan, ketemu di sekolah, kawin, lari. Ketemu di pasar, bawa lari, dengan alasan merariq secara adat Sasak. Padahal itu sudah diatur di dalam awiq-awiq itu, itu sudah melanggar.”

Pembenaran
Seorang pelopor kesetaran gender di Nusa Tenggara Barat, Hasanain Juani mengatakan, pilihan bercerai seakan menjadi budaya pembenaran di Pulau Lombok. Hal ini dipicu oleh faktor ekonomi, rendahnya pendidikan dan pemahaman yang kurang akan arti dan tujuan pernikahan. Adat merariq tidak sampai mengatur hal ini.

“Tidak ada dalam tradisi kita ini mempersiapkan secara khusus pra nikah, itu yang tidak ada. Untung saja dalam sekolah agama itu ada pelajaran figih nikah. Tapi kan tidak semua mereka dapat mempelajari figih nikah ini. Sehingga persiapan mereka untuk menjadi perempuan yang baik, ibu yang siap itu memang lemah.”

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara wilayah Lombok Barat Raden Rais mengatakan, pemuka adat Sasak tengah memikirkan mencari solusi untuk meluruskan kembali tata krama adat Sasak, termasuk merariq.

“Banyak sekali penyimpangan di ranah hukum adatnya, sehingga kami berfikir bagaimana caranya agar adat istiadat, pakem yang ada di fair di nambalat itu dihidupkan kembali sesuai dengan khitahnya. Kalau yang dulu di pakem adat suku Sasak yang khusus di fair nambalat tata cara merariq atau kawin itu adalah, pertama harus cukup umur dan harus diketahui identitas keturunannya laki dan perempuan sama kedua keluarga. Itu yang tergeser sehingga kami membangun lembaga itu.”

Fair nambalat yang dimaksud Raden Rais adalah lembaga adat di tingkat kecamatan. Lembaga inilah yang akan memberikan pemahaman kembali kepada masyarakat tentang tata cara adat yang sudah mulai menyimpang.

Favorit/Cari dengan:
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Facebook
  • Google
  • Technorati

Diskusi

Aku Malu 3 Januari 2012 – 5:07pm / Belanda

Jujur saja, saya terenyuh membaca artikel diatas ttg kaum wanita,yang sering dikatakan kaum lemah ini(?), tetapi saya juga salut dengan para wanita yg dengan tulus mengurusi kaum nya itu, saya berdoa agar Tuhan memberikan kekuatan bathin, kesehatan dan materi bagi kaum pembela wanita itu

 

Orang Bugis Tak Mengenal Ucapan Terimakasih

Orang Bugis Tak Mengenal Ucapan Terimakasih
Tribun Timur – Rabu, 28 Desember 2011 13:38 WITA
Sosiolog-Unhas-Dr-Darwis.jpg
Dr Darwis, MA Dps
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM – Dialog budaya kini sedang berlangsung di kediaman seniman Asdar Muis di Kompleks Bukit Hartaco Indah, Daya Makassar. Dialog ini menampilkan pembicara Dr Darwis, Dr Syahriar Tato, Asdar Muis, dan Asia Ramli Prapanca. Sementara peserta dialog juga dihadiri hampir 10 orang seniman dari Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Hadir pula pemerhati seni lainnya Bahar Merdhu, Anis Kaba, Mega Atu Retnoningtyas dari Surabaya dan lainnya.

Dalam dialog Darwis mengatakan seniman sangat berperan besar dalam merekonsiliasi konflik di masyarakat. Lewat pertunjukkan teater misalnya, seniman dapat mempengaruhi dan menumbuhkan kesadaran warga untuk bersatu dan hidup dalam suasana damai.

Sosiolog Darwis juga mengatakan orang Bugis Makassar tidak pernah mengenal kata terima kasih. Tetapi itu bisa dilakukan dalam simbol simbol. Misalnya ada tetangga yang datang membawa kue ke rumah seseorang, biasanya piring pembawa kue tadi tidak pulang kosong tetapi diisi dengan pemberian pula. Itu termasuk simbol ucapan terima kasih yang menerima pemberian tadi. Sampai sekarang dialog masih berlangsung. (*/tribun-timur.com)

Penulis : Tasman Banto
Editor : Muh. Irham

Umat Islam-Hindu di Lombok Perang Topat

Umat Islam-Hindu di Lombok Perang Topat
| Jodhi Yudono | Sabtu, 10 Desember 2011 | 22:58 WIB

LOMBOK BARAT, NTB, KOMPAS.com–Sekitar 1.000 umat Islam dan Hindu, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, menggelar ritual budaya “Perang Topat” atau saling lempar dengan menggunakan ketupat.

Ritual budaya tahunan suku Sasak yang beragama Islam dan umat Hindu tersebut dipusatkan di Pura Lingsar, Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu.

Pura lingsar yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dibangun pada 1759 oleh Raja Anak Agung Ngurah dari Kerajaan Karang Asem, Bali, yang pada waktu itu memerintah bagian barat Pulau Lombok.

“Perang Topat” tersebut diawali dengan pelemparan ketupat perdana oleh Bupati Lombok Barat, H M Zaini Arony didampingi Wakil Bupati Lombok Barat H Lalu Mahrip dan sejumlah anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Lombok Barat.

Ritual saling melempar dengan ketupat dimulai setelah acara di pura atau kemalik selesai digelar atau tepatnya pada saat “rara’ kembang waru” (gugur bunga waru) sekitar pukul 17.00 Wita.

Sebelum menjadi alat perang, ribuan ketupat sebesar telur tersebut terlebih dahulu diarak menuju “kemalik” atau tempat suci yang dikeramatkan oleh umat Islam dan Hindu yang ada di Pulau Lombok, khususnya di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Prosesi saling lempar berjalan tertib dan berlangsung sekitar 15 menit. Setelah itu, warga terutama kaum tani yang berhasil memperoleh ketupat yang masih utuh membawa pulang untuk ditebar di sawah, karena dipercaya bisa memberikan kesuburan pada tanah garapan, sehingga hasil panen melimpah.

“Perang Topat” digelar setiap tahun pada bulan purnama Sasih keenam menurut kalender Bali dan kepitu’ (tujuh) menurut kalender Sasak.

“Perang Topat” merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara pujawali. Upacara ini dihajatkan sebagai ungkapan “suksma” (terima kasih) umat manusia kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keselamatan, sekaligus mohon berkah.

Ritual budaya yang sudah menjadi kalender tetap Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tersebut disaksikan sejumlah wisatawan mancanegara. Mereka tampak antusias mengabadikan moment warga Lombok yang saling lempar dengan ribuan ketupat sebesar telur yang sudah disediakan panitia.

Bupati Lombok Barat H Zaini Arony sebelum memulai “Perang Topat, mengatakan, ritual budaya “Perang Topat” merupakan filosofi suku Sasak yang beragama Islam dan Hindu di Pulau Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Barat.

“Ritual ini sebagai sebuah bentuk penghormatan umat Islam di Pulau Lombok terhadap para wali. Begitu juga dengan umat Hindu di Pulau Lombok menjadikan ritual ini sebagai sebuah penghormatan bagi Sang Pencipta alam,” ujarnya.

“Perang Topat” yang melibatkan dua pemeluk agama, yakni Islam dan Hindu, namun berasal dari etnis Sasak, kata Zaini, hanya ada di Lombok dan tidak ada di Bali.

“Perang Topat” adalah perang untuk perdamaian, kesejahteraan dan kekeluargaan yang diadakan secara turun temurun dan sudah menjadi salah satu tradisi  warisan leluhur suku Sasak (nama suku di pulau Lombok) dan suku Bali.

“Ritual ini bukan perang seperti di Irak atau Palestina yang menggunakan bom. ’Perang Topat’ adalah perang untuk perdamaian. Jadi tidak perlu khawatir, tidak perlu bawa bom molotov atau senjata tajam. Dari Lingsar untuk perdamaian Indonesia,” katanya.

Sumber :
ANT

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers