Archive for the ‘jurnal’ Category

jurnal

Jurnal Toddopuli:
 
[Kisah untuk Andriani S. Kusni, Anak-anaku & Mirwan Bz Vauly] 
 
 
KITA SEMUA ADALAH AWAK PINISI
 
 
Kasongan, sekarang ibukota kabupaten Katingan yang baru berdiri dua tahun silam, adalah kampungku yang dalam sansana — puisi lisan hidup sampai sekarang — dilukiskan sebagai kota lipat siku. Kota kecil sejuk ini terletak di antara kota pelabuhan Sampit dan Palangka Raya — ibukota Kalimantana Tengah [Kalteng] — yang berdiri pada tahun 1957 setelah terjadinya pemberontakan bersenjata dipimpin oleh Gerakan Mandau Talawang Pancasila Indonesia. Soekarno pernah mau memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Palangka Raya antara lain karena daerah ini berada di tengah-tengah Indonesia. Dari segi militer pun akan mudah dipertahankan dari pada Jakarta.
 
 
Orang Bugis pertama yang kukenal adalah kapten kapal Putir Busu milik ayahku.  Aku masih kelas tiga Sekolah Rakyat pada waktu itu. Nama pelaut asal Bugis yang pernah lama di Tawao, ini pun , namanya lepas dari ingatan bocahku. Yang masih melekat di ruang ingatan adalah bagaimana lelaki bertubuh kekar tinggi berkulit hitam ini, sering bercerita kepadaku tentang laut dan pengalamannya, tak obah seorang paman.  Jika sekarang kembali kuingat-ingat, perasan hakiki yang kutangkap dari sikapnya adalah kasihsayangnya padaku. Barangkali ia menyimpan rasa rindu akan sanak-keluarga dan kampung-halaman — perasaan yang baru kupahami setelah aku akhirnya dikutuk jadi pengembara sehingga aku mengambil pinisi sebagai lambang diri selain enggang dan naga. Kapten Bugis ini tanpa kusadari kemudian tumbuh sebagai tokoh idolku. Kegagahan, kelembutan dan keperkasaan pelaut tak obah keperkasaan seorang matador Spanyol  yang melaga banteng: lambang ajal dan kehidupan yang garang. Pelaut dan matador, pinisi, enggang dan naga merasuki bocahku  dengan citra serupa: panarung romantis tak obah tokoh Penumpas Gunung dan Penimba Laut dalam legenda Dayak. Kapten Bugis kapal ayah itu kemudian menjelma sebagai tokoh legendaris amorp dalam diriku sampai sekarang sebagaimana aku mengagumi Karaeng Galesong. Aku ingin tokoh-tokoh dan lambang-lambang kelak dikhayati juga oleh anak-anakku tanpa menggunakan cekokan indoktrinasi baik oleh ibu mereka atau pun diriku. Aku ingin mereka jadi diri mereka sendiri di kancah kehidupan: samudera garang menguji nilai.  
 
 
Orang Bugis kedua yang kukenal  adalah seorang perempuan. Teman sekolahku di SMA Santo Thomas Yogyakarta. Sosoknya tidak tinggi. Berambut hitam panjang sepunggung. Berkulit kuning. Bermata hitam jernih, sejernih mata ikan. Namanya aku pun lupa, kecuali kata Daeng — panggilanku kepadanya. Berbeda dengan sang kaptenku, pada sang Daeng ini kudapatkan gambaran keindahan dan kelembutan ajaib sebagai keindahan dan kelembutan pada tokoh Putir Busu dalam legenda Dayak. Pada sosok perempuan muda Bugis yang kubayangkan jelmaan Putir Busu, kudapatkan paduan keindahan dan keperkasaan perempuan berprinsip. Sekarang, saban aku mengucapkan dan mendengar kata Daeng, yang kubayangkan adalah sosok teman SMA-ku ini – kenangan yang mungkin membuat ibu anak-anakku cemburu dan kau dan anak-anakku tertawa melihat kecemburuan seorang istri pada tokoh menjelma jadi tokoh imajiner amorp. Tapi barangkali, inilah keunikan psikhologi perempuan  yang oleh Agam Wispi alm.,  penyair asal Aceh, dibilang sebagai “laut penuh rahasia”.
 
 
Kapten dan Daeng putriku menghilang tak tentu rimba tanpa jejak apalagi setelah aku mengembara menyusur busur bumi, membuntutku sebagai figur legendaris dengan nilai-nilai mereka yang campur-baur dengan segala ramuan budaya kembaraku.  
 
 
Aku lebih banyak lagi mengenal orang Bugis pelaut , awak pinisi, ketika aku SMP di Sampit. Pamanku yang sobat kental dari Kahar Muzakar dalam Lasykar Anak Seberang di Yogyakakarta, waktu itu menjadi bupati Kotawaringin Timur. Sebagai kota pelabuhan yang lebih ramai dari pelabuhan Banjarmasin, Sampit banyak didatangi oleh kapal-kapal dalam dan luar negeri, termasuk pinisi. Sampit pada waktu itu mempunyai pabrik pengolahan kayu terbesar di Asia Tenggara. Sebagai anak bengal, aku sering bermain-main di sekitar pelabuhan. Tanpa dirasuki oleh konsep dan pengetahuan antropologis apa pun, bocahku hanya melihat betapa seringnya pelaut Bugis berkelahi dengan pelaut-pelaut Madura. Yang berbeda di antara pelaut dua etnik ini nampak pada keadaan bahwa jika badik Bugis sudah dicabut ia tidak bisa disarungkan jika tidak berdarah. Ketika berdarah, si pemilik badik, segera melapor ke kantor polisi mengatakan “aku sudah membunuh”. Saban terjadi ada perkelahian antar pelaut di pelabuhan , entah apa sebabnya, maka peluit pabrik kayu berdengung. Mendengar raungan peluit pabrik, pamanku yang bupati dan juga sebenarnya “tukang kelahi”, hanya berkata sambil menggerutu “Perkelahian dan perkelahian lagi”. Aku hanya melirik matanya diam-diam. Pelabuhan adalah sebuah dunia tersendiri. Keras sekeras kehidupan. Ujud dari suatu jenis kehidupan. Campur baur antara macam-macam kekerasan berdasi dan orang-orang biasa yang bau keringat dan asin laut. Penipuan dan kekerasaan silang-siur di pelabuhan. Sarang pelacuran dalam  berbagai pakaian. Badik, celurit, uang, darah dan tubuh perempuan yang diperdagangkan ada di sekitar pelabuhan. Celakanya kehidupan keras begini turut melingkungi masa remajaku mulai dari Sampit, melalui Tanjung Perak hingga TanjungPriuk. Bahkan aku sempat berpikir sesuai konflik etnik Dayak-Madura tahun 2000, aku sempat berpikir untuk bekerja di kalangan kuli pelabuhan sebagai tukang angkut barang. Aku mau tunjukkan pada mereka bahwa ada altnernatif berperspektif bagi kehidupan kuli-kuli ini. Apalagi aku merasa aku tahu tekhnik menganggukut barang sebagai kuli. Keadaan tanahair saja tidak memberiku kesempatan melaksanakan niat ini sementara kuli-kuli  yang banyak kukenal secara pribadi itu sangat mengharapkan hadirku. Termasuk pelaut Bugis dan Madura — isi utama pelabuhan Sampit.
 
 
Waktu di Paris, aku berkenalan dengan Ikrar, dosen dari Unhas yang melanjutkan pelajarannya di ibukota Perancis ini untuk programS2. Guna menambah jumlah yang ia peroleh dari beasiswa,  Ikrar sempat bekerja di Koperasi Restoran Indonesia. Orang-orang KBRI Paris menegurnya:
 
 
“Kau tahu bahwa Restoran Indonesia itu dipenuhi oleh orang-orang PKI dan kiri?”. Ikrar tandas menjawab:
 
 
“Apa kalian membantu saya mengatasi secara kongkret masalah finansial saya? Mereka ya. Membantu saya secara nyata. Dan Koperasi itu bukanlah tempat propaganda anti RI seperti kalian tuduh, tapi justru mempopulerkan Indonesia. Saya sepakat dengan mereka”.
 
 
Jawaban ini bagiku meninggalkan bahwa ia manusia berprinsip dan bukan tipe penakut atau ikut-ikutan, perangai yang kudapatkan pada  Kapten dan Daeng-ku atau pelaut-pelaut Bugis di Sampit. Kejantanan dan kejujuran menyatu.  Aku tidak sedang berbicara tentang validitas sampel. Tapi sedang menuturkan kisah kepada kalian.
 
 
Di Paris juga aku bertemu dengan seorang dosen dari Unhas, juga etnnik Bugis, yang sedang menyelesaikan program S2nya pada masa Orba sedang di puncak kejajayaannya.  Café Mabillon adalah café di mana kami mahasiswa-mahsiswi Indonesia berkupul setelah makan di Restoran Mahasiswa.Murah karena disusidi pemerintah. Sebagai mahasuswa tentu kami berbicara tentang situasi tanahair. Tiba-tiba anak Bugis, dosen Unhas  itu berkomentar pendek: “Sayangnya PKI sudah tidak ada. PKI adalah satu-satunya Partai politik yang berani melawan ketidakadilan”. Semua kami memandangnya.
 
“Ya!”, ujarnya menegaskan.
 
 
Ikrar dan dosen Unhas ini pun sudah tak tahu ke mana . Aku kehilangan jejak mereka. Yang tak hilang adalah sikap berprinsip mereka. Aku suka sikap begini, sebagaimana aku menyukai sejak lama Karaeng Galesong. Prinsip dan keteguhan membela prinsip inilah yang membesarkan Karaeng Galesong. Ia tidak membudak dan bertindak menurut arah angin bernama cari selamat untuk selembar nyawa yang secara mentereng disebut opurtunis atau narsis.
 
 
Suatu kali, dalam perjalanan dari bandara Soekarno -Hatta Jakarta, aku mengambil taksi  menuju hotel di pusat kota. Ternyata perusahaan taksi yang sedang kutumpangi itu milik keluarga Baso dan sopirnya seorang Bugis yang sudah berkepala lima. Bukan usia ini yang penting, tapi apa yang ia katakan kepadaku dalam percakapan di tengah kemacetan ibukota RI yang tak pernah membuatku berlama-lama di Jakarta.
 
“Kau dari mana? , tanyanya.
 
“Dayak Kalteng”.
 
“Kalian baru perang ya?
 
” Maksud Bapak dengan kalian itu siapa?”
 
“Dayak dong”
 
“Kalian itu sebenarnya adalah semua etnik yang ada di Kalteng. Bukan hanya Dayak, termasuk orang Bugis berpihak pada Dayak. Dan perlu dicatat”, tambahku bahwa perang antar etnik ini sebenarnya adalah buah permainan politik Jakarta. Kami, termasuk Madura adalah korban permainan itu” .   
 
“Yang  aku heran, mengapa Bugis yang dikenal juga sebagai berdarah panas, tidak pernah bentrok dengan Dayak”, tanyaku.
 
“Kau gak tahu, ya, sebabnya?” .
 
“Mengapa? Aku memang tidak tahu”.
 
“Kau tertarik pada soal hubungan Dayak-Bugis?. Ko dosen ya?”
 
“Tidak, aku, orang Daya penumpang taksi Bapak”. Sopir Bugis itu tertawa tergelak-gelak mendengar jawabanku.
 
“Menurut leluhurku, antara Dayak dan Bugis itu ada hubungan saudara. Inilah yang membuat mereka tidak pernah dan tidak bakal bentrok sampai berdarah-darah. Nih  aku kasih alamat seorang tua di kampung. Ia sudah sangat tua. Ko harus jumpai dia sebelum dia tak ada”. Sopir itu memberiku secarik kertas bertuliskan nama dan alamat orang yang dimaksudkan. Malang dan celakanya, aku terpaksa harus cepat-cepat meninggalkan Indonesia.
 
 
Meneruskan kembaraku sebagai pinisi lepas dermaga. Pertanyaan ini  sekarang menjadi salah satu pertanyaan yang kuberikan sekarang pada kalian, juga pertanyaan untuk kalian anak-anakku sayang. Apalagi di darah kalian mengalir paling tidak darah Bugis selain Dayak. Coba kalian dekati soal ini dengan pendekatan ilmiah. Dayak dan Bugis sama bisa beringasnya tapi mengapa mereka tidak pernah berlaga sampai berdarah-darah, apa benar keterangan sang sopir perusahaan Baso itu? Jawaban pertanyaan ini barangkali ada gunanya dalam usaha mengenal kebhinekaan anak bangsa ini tanpa memojokkan siapa pun.    Saling mengenal dan memahami adalah salah satu kunci untuk berbangsa dan bernegeri.
 
 
Sehubungan dengan keterangan sopir taksi di atas, di Kasongan, ada seorang dokter medikal Bugis yang sudah tinggal bertahun-tahun di Katingan . Dokter iniselalu mengatakan bahwa di Katingan , ia adalah Dayak Katingan sedangkan jika di Tanah Bugis ia menjadi Bugis dan juga Dayak Katingan.
 
 
Aku memahami ucapan dokter Bugis ini terutama  sebagai pengejawantahan ucapan orang Minang bahwa “di mana bumi dipijak, di satu langit dijunjung”, suatu sikap toleran dan sikap berbudaya serta keterbukaan. Bahwa kemanusiaan itu tunggal jika menggunakan istilah folosof Perancis, Paul Ricoeur. “Utus Kalunen”, jika menggunakan istilah Dayak Katingan. Dari segi budaya dan antopologi serta sejarah, barangkali perlu juga diusut.
 
Kita semua adalah pelaut. Anak pinisi, anak enggang , putera-puteri naga apa pun nama etnik dan bangsanya.
 
Perjalanan Pulang, Musim Gugur 2008
—————————————————-
JJ. Kusni
 
Lampiran:
 
From: bizantium vauly bizantiumvauly@yahoo.com
Date: Monday, 27 October, 2008, 11:32 AM
 
Mudah-mudahan Om, saya ada beberapa keluarga dari ayah bermukim di daerah sana puluhan tahun, mungkin mereka itu seperti cerita Om JJ mengenai sisa-sisa pasukan Kahar Muzakkar yang memilih menetap disana, atau mungkin juga pedagang-pedagang bugis makassar yang sudah enggan pulang.
 
MIRWAN BZ.VAULY
 



JURNAL

Tanggapan dari Nurhady

Om JJ Kusni,
kalau menurut saya, istilah sastra periferik juga bisa digunakan bila melihat kondisi politik (ekonomi) sastra di Indonesia saat ini. Tanpa menafikan istilah normatif Sastra Kepulauan yang menurut saya hanya melihat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Bila mencermati betapa berkuasanya Jakarta atas pentasbihan seseorang menjadi sastrawan, baik yang pop maupun serius, sesumir apa pun perbedaan itu, sumber pentasbihnya selalu ada di jakarta: Media dan Penerbitan Besar! Ya, karena dikuasai media dan penerbitan besar yang kapitalistik, terpaksa mereka harus menyeleksi dengan ketat siapa yang terbit siapa yang tidak. Maka, di sini, seluruh pra-kondisi yang sentralistik di Indonesia, membentuk mekanisme tertentu sehingga orang yang bisa masuk dalam lingkaran itu harus tinggal di atau datang ke Jakarta. setidaknya karya mereka harus terbit/dibahas di media nasional, sebelum orang mengenalnya!

Jadi, setidaknya menurut saya, sekali lagi tanpa menafikan istilah geografis Sastra Kepulauan, istilah Sastra Periferik juga menemukan landasan empiriknya di tanah Indonesia ini.

salam,
nurhady
2008/12/5 

 

JURNAL TODDOPULI:
 
 
SASTRA PERIFERIK DAN ATAU SASTRA KEPULAUAN?
 
[Cerita untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]
 
 
Istilah priferik atau pinggiran adalah kosakata yang dihadapkan dengan sentral. Istilah yang umum digunakan dalam teori-teori ilmu ekonomi pembangunan dengan tokoh-tokoh seperti Andre Gunder Frank, Cardoso, Samir Amin, Ignacy Sachs, dan lain-lain… .  dan kemudian banyak yang berhimpun di sekitar Universitas Leuven, Belgia.
 
Adanya istilah sastra periferik ini baru saya dengar dari Luna Vidya, yang hari ini, 04 Desember 2008 petang ,  telah tiba dengan selamat di Paris setelah berhenti sebentar di Dubai, dengan membawa dua koper buku karya-karya penulis Makassar dan Aceh.
 
Ketika mendengar istilah sastra periferik ini, saya tidak langsung mereaksi  Luna Vidya tapi merenungi istilah tersebut. Istilah? Mengapa ia harus dipermasalahkan?  Jawabannya, sederhana karena istilah pada galibnya, seperti halnya setiap kosa-kata tidak lain dari lumbung bagi suatu konsep dalam bentuk bahasa. Jika benar demikian, maka agaknya kepada semua pemakai bahasa diharapkan adanya kesadaran berbahasan, termasuk kesadaran menggunakan kosakata atau istilah. Makna istilah dan pemilihan kosakata dan atau istilah ini akan makin terasa ketika kita menulis karya-karya ilmiah, skripsi  dan apalagi  saat menulis tesis.
 
Melihat buku-buku karya-karya para penulis Makassar dan Aceh yang akan dipamerkan dalam acara Lembaga Persahatan Perancis-Indonesia “Pasar Malam” di Paris pada 07 Desember 2008, “Sepuluh h Jam Untuk Sastra Indonesia”, yang mengisi koper-koper Luna Vidya sehinggga membuatnya harus membayar ongkos timbangan lebih penerbangan [over weight],  saya bertanya-tanya: “Karya-karya inikah yang disebut karya-karya sastra  periferik”? Sementara saya masih mempertanyakan apakah karya-karya yang disebut “periferik” ini mutunya jauh lebih rendah dari karya-karya yang terbit dan ditulis oleh para penulis Jakarta atau Jawa yang mungkin dipandang sebagai sentral?
 
Periferik dalam ilmu ekonomi pembangunan memang bermaksud menekankan keniscayaan negeri-negeri Selatan untuk memperjuangkan keadilan secara ekonomi, melawan dominasi negeri-negeri Utara dan untuk menjadi tuan atas negeri sendiri serta setara dengan bangsa-bangsa lalin di dunia , termasuk negeri-negeri Utara. Konsep periferik juga bisa dipandang sebagai dasar teori front persatuan negeri-negeri Selatan guna menegakkan keadilan manusiawi dalam tingkat global. Konsep menentang dominasi negara-negara Utara yang umumnya kapitalistik.
 
Lalu apa yang disebut sastra kepulauan?
 
Dalam pengertian saya, sastra kepulauan tidak lain dari pada niat dan usaha mengembang-tumbuhhk antanpa kompleks  potensi-potensi sastra di berbagai daerah dan pulau tanahair yang tentu saja berbeda dengan konsep “Black is beautiful” dari Leopold Senghor , Aimé Césaire dan kawan-kawan karena latar sejarahn dan politiknya memang berbeda..  Dasar teori konsep sastra-seni kepulauan, saya kira terdapat pada kosakata republik dan Indonesia yang secara ringkas dirumuskan dalam motto filosofis  “bhinneka tunggal ika”. Hal yang tidak terdapat pada konsep saastra periferik. Konsep sastra periferik terasa padaku masih berpegang pada pandangan UUD ’45 yang mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia itu adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, mengakui adanya sentra-sentra budaya, sastra-seni, penuh kompleks rendah diri pada yang disebut sentral, tidak menyadari arti kesetaraan dalam nilai republiken dan berkindonesiaan serta tidak mengkahayati makna kebhinnekaan. Hal yang berbeda dengan konsep sastra kepulauan. Satra periferik lebih menjurus ke konsep sastra proyek LSM. Tentu saja sastra proyek LSM tidak saya tentang, tapi yang saya inginkan adalah kejelasan konsep.Bahwa Republik dan Indonesia serta bhinneka tunggal ika adalah kosakata-kosakata  yang melukiskan sebuah cita-cita untuk negeri dan bangsa. Adalah suatu program dan politik kebudayaan. Sastra-sastra kepulauan, sastra-seni yang ada di berbagai pulau dan daerah sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Sentral dan periferik jika itu ada, dominasi dan hjegemoni hanyalah salah satu akibat dari pemahaman bahwa Republik dan Indonesia sinonim dari sentralisasi, jika dilihat dari segi politik. Sehingga daerah-darrah dan pulau tidak lain suatu daerah jajahan tipe baru dan sentral.  Karena itu saya memandang bahwa konsep sasra kepumauan [dalam pengertian termasuk daerah-daerah] lebih rasuk [compatible] dibandingkan dengan  kosakata periferik.
 
Dalam konteks inilah maka saya memandang kehadiran Sitor Situmorang, Richard Oh, Laksmi Pamuntjak, Lily Yulianti,  Maesa Ayu Djenar, Luna Vidya di acara “Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia”,   merupakan ujud dari pengakuan Paris pada sastra kepualauan sebagai kenyataan Indonesia. 
 
Sementaran demikianlah pendapat saya yang selalu bermimpi agar konsep republik dan Indonesia yang sesungguhnya dan demikian  itu bisa  terujud.  Jika Martin Luther King Jr mengatakan “I have a dream”, maka demikianlah mimpi saya. This is my dream.****
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
———— ——— ——— ——— ——— ——
JJ. Kusni

jurnal

JURNAL TODDOPULI:
 
 
SASTRA PERIFERIK DAN ATAU SASTRA KEPULAUAN?
 
 
 
Istilah priferik atau pinggiran adalah kosakata yang dihadapkan dengan sentral. Istilah yang umum digunakan dalam teori-teori ilmu ekonomi pembangunan dengan tokoh-tokoh seperti Andre Gunder Frank, Cardoso, Samir Amin, Ignacy Sachs, dan lain-lain… .  dan kemudian banyak yang berhimpun di sekitar Universitas Leuven, Belgia.
 
Adanya istilah sastra periferik ini baru saya dengar dari Luna Vidya, yang hari ini, 04 Desember 2008 petang ,  telah tiba dengan selamat di Paris setelah berhenti sebentar di Dubai, dengan membawa dua koper buku karya-karya penulis Makassar dan Aceh.
 
Ketika mendengar istilah sastra periferik ini, saya tidak langsung mereaksi  Luna Vidya tapi merenungi istilah tersebut. Istilah? Mengapa ia harus dipermasalahkan?  Jawabannya, sederhana karena istilah pada galibnya, seperti halnya setiap kosa-kata tidak lain dari lumbung bagi suatu konsep dalam bentuk bahasa. Jika benar demikian, maka agaknya kepada semua pemakai bahasa diharapkan adanya kesadaran berbahasan, termasuk kesadaran menggunakan kosakata atau istilah. Makna istilah dan pemilihan kosakata dan atau istilah ini akan makin terasa ketika kita menulis karya-karya ilmiah, skripsi  dan apalagi  saat menulis tesis.
 
Melihat buku-buku karya-karya para penulis Makassar dan Aceh yang akan dipamerkan dalam acara Lembaga Persahatan Perancis-Indonesia “Pasar Malam” di Paris pada 07 Desember 2008, “Sepuluh h Jam Untuk Sastra Indonesia”, yang mengisi koper-koper Luna Vidya sehinggga membuatnya harus membayar ongkos timbangan lebih penerbangan [over weight],  saya bertanya-tanya: “Karya-karya inikah yang disebut karya-karya sastra  periferik”? Sementara saya masih mempertanyakan apakah karya-karya yang disebut “periferik” ini mutunya jauh lebih rendah dari karya-karya yang terbit dan ditulis oleh para penulis Jakarta atau Jawa yang mungkin dipandang sebagai sentral?
 
Periferik dalam ilmu ekonomi pembangunan memang bermaksud menekankan keniscayaan negeri-negeri Selatan untuk memperjuangkan keadilan secara ekonomi, melawan dominasi negeri-negeri Utara dan untuk menjadi tuan atas negeri sendiri serta setara dengan bangsa-bangsa lalin di dunia , termasuk negeri-negeri Utara. Konsep periferik juga bisa dipandang sebagai dasar teori front persatuan negeri-negeri Selatan guna menegakkan keadilan manusiawi dalam tingkat global. Konsep menentang dominasi negara-negara Utara yang umumnya kapitalistik.
 
Lalu apa yang disebut sastra kepulauan?
 
Dalam pengertian saya, sastra kepulauan tidak lain dari pada niat dan usaha mengembang-tumbuhhk antanpa kompleks  potensi-potensi sastra di berbagai daerah dan pulau tanahair yang tentu saja berbeda dengan konsep “Black is beautiful” dari Leopold Senghor , Aimé Césaire dan kawan-kawan karena latar sejarahn dan politiknya memang berbeda..  Dasar teori konsep sastra-seni kepulauan, saya kira terdapat pada kosakata republik dan Indonesia yang secara ringkas dirumuskan dalam motto filosofis  “bhinneka tunggal ika”. Hal yang tidak terdapat pada konsep saastra periferik. Konsep sastra periferik terasa padaku masih berpegang pada pandangan UUD ’45 yang mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia itu adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, mengakui adanya sentra-sentra budaya, sastra-seni, penuh kompleks rendah diri pada yang disebut sentral, tidak menyadari arti kesetaraan dalam nilai republiken dan berkindonesiaan serta tidak mengkahayati makna kebhinnekaan. Hal yang berbeda dengan konsep sastra kepulauan. Satra periferik lebih menjurus ke konsep sastra proyek LSM. Tentu saja sastra proyek LSM tidak saya tentang, tapi yang saya inginkan adalah kejelasan konsep.Bahwa Republik dan Indonesia serta bhinneka tunggal ika adalah kosakata-kosakata  yang melukiskan sebuah cita-cita untuk negeri dan bangsa. Adalah suatu program dan politik kebudayaan. Sastra-sastra kepulauan, sastra-seni yang ada di berbagai pulau dan daerah sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Sentral dan periferik jika itu ada, dominasi dan hjegemoni hanyalah salah satu akibat dari pemahaman bahwa Republik dan Indonesia sinonim dari sentralisasi, jika dilihat dari segi politik. Sehingga daerah-darrah dan pulau tidak lain suatu daerah jajahan tipe baru dan sentral.  Karena itu saya memandang bahwa konsep sasra kepumauan [dalam pengertian termasuk daerah-daerah] lebih rasuk [compatible] dibandingkan dengan  kosakata periferik.
 
Dalam konteks inilah maka saya memandang kehadiran Sitor Situmorang, Richard Oh, Laksmi Pamuntjak, Lily Yulianti,  Maesa Ayu Djenar, Luna Vidya di acara “Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia”,   merupakan ujud dari pengakuan Paris pada sastra kepualauan sebagai kenyataan Indonesia. 
 
Sementaran demikianlah pendapat saya yang selalu bermimpi agar konsep republik dan Indonesia yang sesungguhnya dan demikian  itu bisa  terujud.  Jika Martin Luther King Jr mengatakan “I have a dream”, maka demikianlah mimpi saya. This is my dream.****
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
———— ——— ——— ——— ——— ——
JJ. Kusni

jurnal

Jurnal Toddopuli:
 
 
GERAKAN NATURALIS:
Esok, Akankah Kiya Bakal Telanjang Semua?
 
[Cerita Untuk Andriani S.Kusni & Anak-anakku]
 
 
Judul di atas merupakan tema yang dibahas dalam acara sastra-seni  terusan tivi FR2 Perancis satu setengah minggu lalu dalam rangka membicarakan “Telanjang Dalam Sastra-Seni Dunia” dihubungkan sekaligus dengan soal seksualitas.
 
Dalam membahas masalah telanjang dalam sastra-seni dilakukan perbandingan pengaalaman dari negeri satu dan negeri lain.  Hadir dalam debat ini selain sastrawan-sastrawan, sosilog, pastur, filosof,  juga Wakil Ketua Gerakan Naturalis Perancis. Gerakan Naturalis disebut juga kelompok Nudis yang di Perancis mempunyai perkampungan sendiri lengkap dengan prasarananya seperti Kantor Pos, pasar, lapangan olahraga, perumahan, dan lain-lain.
 
Menurut Gerakan Naturalis Perancis, terletak di tengah-tengah antara yang terdapat di negeri-negeri Eropa Utara dan Amerika Serikat. Agaknya, Gerakan ini berangkat dari pandangan “kembali ke alam” sebagai dasar filosofinya.
 
Melihat reportase yang ditayangkan oleh tivi Perancis beberapa tahun lalu, aku dapatkan bahwa di kalangan komunitas Nudis ini terdapat suatu keakbraban dan kerukunan manusiawi yang sulit diperoleh di Paris dan kota-kota besar yang galau penuh dengan kekerasan. “Kembali ke alam” dalam bentuk Gerakan Naturalis ini, barangkali salah satu bentuk pemberontakan, paling tidak protes terhadap keadaan di kota. Tafsiran begini pun pernah diutarakan oleh PM. Chou En-lai alm. , PM Republik Rakyat Tiongkok, saat menerima pemain-pemain tenis meja Amerika Serikat di Beijing seusai pertandingan dunia tenis meja di Jepang. “Rambut panjang anak-anak muda ini adalah suatu pemberontakan terhadap keadaan di masyarakat Amerika”, kuranglebih demikian penafsiran PM Chou.
 
“Apakah di kalangan komunitas Nudis, keadaan bertelanjang bulat tidak merangsang birahi anggota-anggota komunitas?”, tanya seorang peserta debat.
 
“Sama sekali tidak”,  jawab Wakil Ketua Gerakan Naturalis Perancis itu yang tentu saja tampil dengan pakaian lengkap sebagaimana peserta yang lain. “Di komunitas Nudis, telanjang merupakan hal yang alami. Wajar. Karena semua orang telanjang. Yang aneh justru jika ada yang mengenakan pakaian”. Karena itu orang-orang yang masuk ke perkampungan Nudis diharuskan untuk juga telanjang. Termasuk para wartawan yang ingin meliput perkampungan yang terletak Perancis Selatan. “Saya berada di forum ini berpakaian seperti Anda-anda semua, karena jika saya telanjang seperti di kampung Nudis kami, saya akan dipandang aneh oleh Anda-anda dan pemirsa”, tambah Wakil Ketua Gerakan Naturalis itu.
 
“Apakah di komunitas Nudis kalian pernah terjadi perkosaan?”, peserta lain bertanya.
 
“Sama sekali tidak pernah terjadi. Bahwa hubungan seks terjadi, tapi hubungan ini berlangsung sehat, alami dan manusiawi. Tidak ada pemerkosaan seperti yang banyak terjadi di masyarakat berpakaian atas nama peradaban dan kebudayaan. Nudisme  mempunyai dasar filosofi yang jelas”. Karena itu mungkin ia menyebut diri suatu gerakan. Gerakan Naturlis, gerakan kembali ke alam yang menyerupai ide “kembali ke akar” dalam kebudayaan dan ekonomi pembangunan.
 
Dalam hubungan dengan masalah pemerkosaan dan hubungan seks dan penjajaan tubuh,  moderator menanyakan pandangan seorang filosof yang diundang:
 
Sang filosof mengawali komentarnya dengan mengutip pendapat Pascal, salah seorang filosof terkemuka Perancis yang mengatakan bahwa “Tubuh itu netral, sedangkan pikiran itu subyektif”. “Artinya pikiran manusialah yang menentukan bagaimana perlakuan terhadap tubuh dan memperlakukan tubuh itu”, tambah sangat filosof menafsirkan kata-kata Pascal. Artinya perkosaan, incest, pedhopil, penjajaan tubuh, jika merunut tafsiran filosof ini , merupakan hasil dari perlakuan pikiran pada tubuh. Gerakan Naturalis pun jadinya tidak lain merupakan buah subyekt dari pikiran.
 
Pertanyaan lebih lanjut terhadap pandangan Pascal ini antara lain adalah: “Mengapa dan bagaimana terbentuknya subyektivisme pikiran?” . Pertanyaan yang bisa dirinci: “Apa dasar sosial, ekonomi, politik, sejarah dan kebudayaannya subyektivitas pikiran ini?”.
 
Pembicara lain menyangkutkan perbedaan Gerakan Naturalis di Perancis, Amerika Serikat dan negeri-negeri Eropa Utara dengan masalah agama. Eropa Utara jauh lebih bebas. Sampai-sampai pernah terjadi di Hamburg, ada sepasang dari Komunitas Naturalis yang berjalan telanjang di jalan raya kota. Disebutkan ini sebagai pengaruh Portestanisme/Evangelis, sedangkan Perancis yang dipandang moderat atau setengah-setengah dikaitkan dengan adanya Katolisisme dan Protestanisme. Sementara  Amerika Serikat  yang lebih tertutup oleh kuatnya Puritanisme.
 
Dari pembahasan tentang nudisme ini, debat kemudian beralih ke masalah telanjang dalam sastra-seni, model-model telanjang di Akademi Fine Art, Beaux Art. Di negeri-negeri di mana Islam dominan, nampaknya telanjang hampir tidak terdapat di dalam sastra-seni.  Sedangkan dalam perbandingan Tiongkok nampak kurang terbuka dibandingkan dengan Jepang. Keterbukaan  di Jepang, nampak misalnya dari adanya upacara tradisional pengarakan penis, di samping adanya filem-filem yang selain mempertontonkan tubuh bugil lelaki dan perempuan, dan filem-filem khusus tentang hubungan intim secara seremonial. Hanya saja, aku tidak tahu, apakah di Jepang terdapat kampung Nudis dan organisasi seperti Gerakan Naturalis yang juga mempunya penerbitan mereka, seperti di Perancis. India juga dinilai oleh debat sebagai negeri terbuka dalam masalah telanjang sampai melahirkan Kamasutra dan candi dengan relief-relief serta patung-patung telanjang . Barangkali hal ini ada kaitannya dengan konsep Hindu dan Budha.
 
 
Adanya telanjang dalam sejarah sastra-seni dinilai oleh debat sebagai kenyataan yang tak terlepaskan dari pandangan filosofi dalam masyarakat pada suatu kurun zaman, pandangan tentang hidup-mati dalam, bagaimana mengartikan hubungan seksual, tubuh manusia . Kehadiran telanjang dalam sastra-seni dipandang sebagai tampilan artistik wacana-wacana ini. Barangkali karena itu maka memahami karya sastra-seni seniscayanya memahami pandangan, sejarah dan latar filosofi dominan pada suatu kurun waktu. 
 
Diskusi dalam debat tivi FR2 ini menggelitik benakku untuk melihat keadaan sastra- seni di Indonesia. Terus-terang saya tidak menguasai keadaan semua pulau, terutama pulau-pulau besar utama. Pulau-pulau yang latar budayanya berbeda satu dengan yang lain. Jawa berbeda dengan Kalimantan, berbeda dengan Sulawesi, Papua, Sumatera, Bali dan lain-lain…. Pulau-pulau ini juga tidak merupakan satu pulau kebudayaan monolit.
 
Hanya bisa dipastikan masalah telanjang dan seksualitas bukanlah tampilan asing dari sastra-seni negeri kita, dari dahulu  sampai hari ini. Di Borobudur atau Candi Prambanan, tampilan-tampilan begini dengan gampang bisa kita dapatkan. Bahkan menurut sumber yang kudapatkan, tidak jauh dari Tawangmangu, Solo, terdapat sebuah candi kecil yang dipenuhi oleh tampilan-tampilan begini. Juga di Bali. Apakah hal ini ada kaitannya dengan Hindu dan Budha? Serat Centini merupakan salah satu monumen telanjang dan seksualitas dalam sastra Jawa.
 
Di Tanah Dayak Kalimantan Tengah yang berbudaya Kaharingan , agaknya soal telanjang dan seksualitas, tidak juga ditabukanh untuk diungkap dalam sastra-seni. Misalnya dalam sastra lisan: “Sangumang Dan Maharaja”, yang terdiri dari rangkaian rupa-rupa cerita, terdapat tidak sedikit petilan-petilan yang menceritakan hubungan intim dengan rinci. Tujuannya mengejek “Maharaja” atau “Raja” yang di Tanah Dayak dipandang sebagai lambang keburukan dan kemalasan. Sastra lisan pada umumnya bersifat berpihak [engagé]. [Bandingkan dengan cerita-cerita Sade dari Perancis]. Ketika masih di Sekolah Rakjat , sekarang Sekolah Dasar, untuk suatu upacara, ayah pernah kulihat membuat patung pasangan sedang bersetubuh dengan posisi misionaris. Patung ini digunakan dalam upacara kelahiran bayi baru.
 
Dengan mengambil contoh dari Tanah Dayak Kalimantan Tengah ini yang ingin kutunjukkan bahwa tampilan telanjang dan seksualitas tidak asing dari sastra-seni etnik Dayak. Penampilan telanjang dan hubungan seks tidak ditabukan karena merupakan bagian alami tak terpisahkan dari kehidupan.
 
Kalau melihat pada masa Republik Indonesia,  aku teringat akan lukisan telanjang Basuki Resobwo alm. Lukisan seorang perempuan kurus telanjang. Menjawab pertanyaan, salah seorang pemimpin Lekra dengan wacana “seni untuk rakyat”nya ini, menjawab kurang lebih: Apa ini tidak memihak rakyat? Aku melukiskan betapa kurusnya perempuan ini karena kemiskinan dan ketiadaan. Orang mestinya bertanya mengapa ia demikian kurus-kering? Dengan telanjang aku bisa menunjukkan dengan jelas garis-garis kekurusan tubuh dan rautnya. Sedangkan Soejojno, melukiskan hubungan intim dalam kelambu ditambah dengan kata-kata “Sayang saya bukan anjing”. Artinya , baik Pak Bas mau pun Soejojno yang sama-sama orang Lekra tidak mentabukan soal telanjang dan seksuaalitas tapi mereka melukiskannya sesuai filosofi mereka. Filosofi yang jelas. Nikolai Osyrovsky, salah seorang romansier masa Uni Soviet dalam karyanya “Bagaimana Baja Ditempa” juga berbicara soal ini.
 
Agaknya masalah telanjang dan seksualitas, hendaknya tidak disederhanakan dan disimpulkan dengan cepat menjadi sesuatu yang otomatis cabul atau porno. Aku khawatir penyederhanaan dan kesimpulan cepat hitam putih tanpa mencoba terbuka dan apresiatif akan memiskinkan kreatifitas seniman. Memupuk hipokrisi. Membaca, menikmati dan mengapreasi suatu karya sastra-seni, boleh jadi menuntut kegiatan belajar juga sekali pun benar bahwa penikmat, pembaca karya mempunyai kedaulatan penikmat dan pembaca.
 
Beberapa titik inilah yang kupungut dari diskusi dan debat tivi FR2 Perancis tentang “telanjang dalam sejarah sastra-seni yang berlangsung satu setengah minggu lalu.
 
Kucatat diskusi debat ini dengan harapan bisa menjadi acuan pemikiran kalian, anak-anakku yang terus membesar sejalan dengan perkembangan waktu. Waktu yang menurunkan ke hadapan kalian rupa-rupa masalah yang perlu kalian jawab untuk menciptakan budaya kalian sendiri yang tanggap zaman. ****
 
 
Winter 2009
——————
JJ.Kusni

jurnal

Jurnal Toddopuli:
 
 
CATATAN HARIAN
 
[Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]
 
Jurnal saya kali ini lebih bertujuan untuk mencatat perjalanan ibu kalian ke Jakarta untuk mengikuti kursus singkat dua pekan tentang jurnalistik sastrawi. Saya khawatir,  Mama kalian lupa mengisi Catatan Hariannya karena terlalu sibuk dan bersemangat. Sebab ketika sangat bersemangat, Mama kalian biasanya dikerubungi oleh rupa-rupa ide. Ide-idenya berdatangan dari berbagai penjuru sehingga ia kebingungan mana dahulu yang harus dicengkam untuk dilaksanakan. Padahal untuk menangani sesuatu sebagai hal-ikhwal, niscayanya kita mengetahui segi pokok dari kontradiksi pokok hal-ikhwal. Tahu akan kemampuan diri dan merasa enerzi berlebihan serta terbakar rupa-rupa ide, Mama sering kehilangan arah, tidak fokus dan lup kontradiksi pokok.
 
Saya khawatir ketika mengikuti pelatihan  yang diselenggarakan oleh Pantau , lembaga jurnalistik profesional yang dipimpin oleh Andreas Harsono, di Jakata, Mama lupa mengisi Catatan Hariannya.  Apalagi  di telpon, ketika menjawab Papah, Mama bilang: “Wah, Pi, Mami senang dengan kursus ini. Mami banyak sekali belajar serta ide pun bermunculan”. Papah hanya tertawa mendengar kesan ini , berkata dalam hati: “Sudah kuduga”.  Tapi yang Papah ucapkan:
 
“Syukurlah kalau demikian. Gak sia-sia jauh-jauh ke Jakarta. Tapi yang penting bagi Papi adalah sebelum pulang, semua target Jakarta sudah terlaksana. Target ini merupakan salahsatu ukuran berhasil tidaknya perjalanan”.  Kelak pun, saya harap , dalam melakukan sesuatu niscayanya ada target capaian baik minimal atau pun maksimal. Sehingga semua langkah tertakar. Dengan cara ini , kalian memastikan diri maju setapak demi  setapak,  dan merasa bahwa kemandegan termasuk ancaman didesak mundur. Adakah limit yang hendak digapai?
Ada, tentu saja. Yaitu: yang maksimal sebatas waktu dan ruang yang kalian punya. Sebagai anak-anakku, Papah menyarankan kalian untuk selalu menggunakan standar maksimal dalam bidang apa saja. Sebab ukuran minimal akan memerosotkan diri kalian sendiri. Di darah kalian mengalir darah Dayak yang menyebut diri sebagai “Utus Panarung” [warrior]. Tetapi juga, nadi-nadi kalian pun dialiri oleh darah awak pinisi Bugis yang “lebih baik karam di samudra dan balik dermaga dengan hampa”, semangat yang oleh orang Dayak Katingan disebut “isen mulang”. Karena di nadi kalian ada darahku yang Dayak,  saya minta benar tanpa tawar menawar,  kalian mengenal Dayak dan Bugis sebelum mengenal etnik dan bangsa-bangsa lain. Kalian adalah turunan warrior dan pelaut. Bukan penjilat dan juga bukan penindas. Tapi manusia berdaulat. Saya ingin kalian mengerti makna hidup-mati kalian secara sadar sehingga kemampuan tekhnis kalian difungsikan maksimal sesuai pilihan makna itu. Kalau pun kalian mau jadi bandit, jangan kepalang. Jadilah bandit paling besar, lebih dari yang pernah dikenal sejarah. Baru kalian bisa menyebut diri syah jadi anakku.
 
Baik , kita kembali ke soal Catatan Harian.
 
Catatan Harian mempunyai arti majemuk. Pertama-tama, tentu saja untuk merekam peristiwa yang nantinya membantu ingatan kita dan sangat berguna ketika menulis tentang sesuatu apa saja. Bisa juga mencatat pikiran, perasaaan dan tanggapan kita pada suatu ketika. Pikiran dan perasaan kita, seperti arus selalu mengalir dan berkembang. Membaca Catatan Harian, jadinya tak obah kita berkata: mengaca perkembangan pikiran dan batin kita, usaha pencarian makna yang kita lakukan untuk menjadi dewasa.
 
Nampaknya menulis Catatan Harian sangatlah sederhana. Tapi coba saja, jujur. Berapa banyak yang mampu setia saban hari atau diakhir terbit matahari, saat lelah dan galau, masih menyempatkan diri membuka Catatan Harian dan menulis sekalimat dua di lembaran-lembarannya. Menulis Catatan Harian dalam bahasa rapi , memerlukan disiplin diri yang kuat karena itu menyetiai Catatan Harian, dari segi  ini termasuk usaha mendisiplinkan diri. Penulis perlu disiplin. Perlu tekun. Katakanlah kalian berbakat. Bakat ini akan melesat perkembangannya jika disertai dengan kegiatan belajar, membaca, membanding , berlatih dan menulis saban hari. Catatan Harian, bisa dikatakan sebagai salah satu sarana dan cara latihan menulis serta meningkatkan taraf tekhnik menulis. Karya,  adalah usaha kerja susahpayah. Penguasaan tekhnik sangat diperlukan dan niscaya ditingkatkan terus-menerus guna memberi wadah pada pikiran dan perasaan yang mau direkam dan atau dikomunikasikan.
 
Peningkatan terus-menerus taraf tekhnik penulisan  adalah suatu keniscayaan. Jika satu jenis tekhnik pengungkapan telah dikuasai, coba cari cara pengungkapan lain. Sehingga karya-karya tidak bergaya monoton tapi penuh variasi sebanyak varian perasaan dan warna kehidupan. Dunia ini suatu kompleksitas. Mendekatinya pun kalian, anak-anakku perlu menggunakan metode kompleksitas seperti yang dianjurkan oleh Edgar Morin, filosof-sosiolog Perancis , salah seorang pengajar di sekolah ayah dulu,   dan bukan metode simplistik  hitam-putih. Dengan metode pendekatan ini, kalian bisa mengangkat gejala sederhana untuk mendapatkan yang hakiki. “Melempar batu bata untuk mendapatkan batu giok”, ujar tetuaTiongkok zaman bahela.  Bentuk pengungkapan bukan sesuatu yang simplis. Ayah membedakan antara simpistisisme dengan sederhana. Simplitisisme adalah suatu kedangkalan, sedangkan sederhana mengandung sikap keberpihakan manusiawi agar mudah memahami kompleksitas.Menjadi komunikatif. Karena itu tidak gampang nntuk menjadi sederhana, dan tidak terjebak oleh simplistisisme. Menulis bukanlah untuk menggagahi orang lain tapi berbagi dan menawarkan sesuatu dalam usaha menjadikan kampung-halaman sebagai tempat anak manusia bisa hidup secara manusiawi. Bagaimana bisa membangun bersama-sama mewujudkan mimpi agung ini. Kebersamaan adalah kekuatan. Karena massa adalah pahlawan kemajuan. Pemimpin sejati dilahirkan oleh massa yang selalu mencairkan kebekuan dan kemandegan. Sebagai anak-anakku yang berdarah pinisi  dan “utus panarung”, besar harapanku agar kalian tak terpisah dari ibu kandung kemajuan dan perobahan ini. Juga jika kalian memilih profesi sebagai penulis suatu profesi yang tidak sederhana karena menuntut taraf kemampuan tekhnis dan tingkat pengetahuan seluas kehidupan. Menagih kepekaan dan keberanian tidak tanggung di hadapan segala resiko. Jika kalian memilih profesi  sebagai penulis, layaknya kalian mencoba untuk menjadi jiwa bangsa dan zaman seperti yang diteladankan oleh Pramoedya A. Toer, Cak Durasim, Mas Marco atau Aime Cesaire di Martinique, Lu Sin dan lain-lain nama lagi…. Kadar pengetahuan didapatkan dengan kegiatan belajar tanpa jeda. Belajar dari buku, dari orang lain dan kehidupan. Semangat belajar ini perlu kalian teladani dari ibu kalian.  Yang belajar akan merasa dirinya selalu sebagai “murid kecil” dan pelajar awal dalam bidang apa pun.
 
Mutu adalah keserasian isi dan bentuk serta kemampuannya mencengkam dan mengkahayati hakekat masalah yang diangkat, jika   dilihat dari segi karya. Tapi mutu juga bisa dilihat dari kehidupan seseorang sebagaimana dahulu pernah dijabarkan oleh Lekra dalam kata-kata”penulis harus lebih baik dari karyanya”. Mutu karya dan mutu pribadi sebagai manusia, memang ada saling hubungannya tapi juga bisa dilihat secara terpisah. Takarannya pun perlu persis. Karena itu sebagai ayah, aku mengharap  kalian cermat dalam metode pendekatan dan analisa serta data. Catatan Harian yang jujur akan sangat membantu kalian. Catatan Harian sebaiknya catatan tanpa dusta pada diri sendiri dan kehidupan. Catatan tanpa lagak, tapi dialog dengan diri sendiri. Kebohongan ,  cepat atau lambat akan terbongkar sebagaimana kita tidak menyembunyikan bau bangkai busuk. Jangan takut pada diri sendiri. Di Catatan Harian kita berhadapan dengan diri sendiri. Berlagak dan menggertak adalah suatu ulah semu. Bukan kekuatan sama halnya dengan makian dan sumpah-serapah. ***
 
Toddopuli 2009
——————-
JJ. Kusni

puisi

Dari Jendela Toddopuli [13]:
 
 
DARI TENGAH PADANG SALJU
 
 
dari tengah padang salju memutihkan kota
memutihkan seluruh bumi barat
memutih bekukan gunung dan sungai
seakan mengukur daya tahan kembaraku
yang merindukan kau
katulistiwa kampung lahir
 
dari tengah padang salju
aku menyimak gambar-gambar korban perang gaza
sekolah-sekolah yang dibombardir tsahal
yang merasa paling perkasa sebagai
tentara tuhan pembela
 
cangkir ekspresoku pun mendingin
masih kureguk sebagai suatu niscaya
seniscaya gelisah mendesak jari-jari jongos restoran
menuliskan baris-baris cinta sederhana ini
 
begitu dingin
orang saling bunuh
melempar bom
menggorok leher
memperkosa anak istri orang
menjadikan manusia semacam sate
lalu dimasukkan ke gua gas atau lembah  
kepala dijadikan bola
 
mestikah tuhan dan
dewa-dewa menjadikan kita hilang akal
lebih rendah dari beruang lapar
anjing-anjing kereta salju tanpa surya 
wahai penganut segala agama
 
ternyata medan tarung terbesar
tetap saja diri kita
jika tak awas
agama menjadi penjara
rumah tahanan
 
aku gemetar
di tengah dingin
yang begini brutal
di tengah tarung
ganas
untuk jadi manusia
 
dingin
tanpa welas
apalagi kita memang rakus
melihat kemilau alam
menjanjikan dolar dan euro
pengisi pundi-pundi
 
aku benar-benar menggigil
hingga tulang
dingin duka
dingin orang miskin
menolak jadi budak uang
apalagi jelas
di hulu ajal menanti bersama malam
di mana aku kan tenggelam
bersama seluruh cerita dan kenang
walau kutuk masih menggaung bagai si pongang
sepeninggalanku diucapkan kekasih yang merasa dikhianati
 
aku sendiri tidak memerlukan neraca saat itu
aku tetaplah aku yang kalian kenal tak mau mendustai diri
tapi peperangan
dendam
teror
kulihat sebagai suatu kebebalan
kebuntuan nalar
mengancam anak bumi
politik dan ekonomi bisa saja disusun jadi dasar teori
tapi pembunuhan tetap pembunuhan 
darah tetap darah
airmata tetap airmata
agama jadi pembunuh tuhanmu
 
cinta itu
pilar terpercaya
membebaskan
mengekalkan natal 
jadi tahan abad
 
kernanya yesus sepi
ditinggalkan bapaknya
di salib sendiri
tak mati
malah naik ke langit
untuk mengagungkan cinta
keabadian kasihsayang
 
padang putih
salju menyelimut ufuk
kutatap dari jendela toddopuli
dengan gigil hingga belulang
 
membom
menyembelih
lebih sederhana
dari cinta
sosok sepi
menapaki padang putih
 
di padang salju
tiba-tiba aku melihat
ada yang tergeletak
di padang putih
penuh darah
 
tuhankah itu
atau  nurani kita
atau keduanya?
 
ah
barangkali aku terlalu lelah
dan sangat merindukan kau, buah hati
 
maaf
baris-baris ini kutulis untukmu saja 
o,  perempuan kekasih
 
 
Winter Seine 2009
————————-
JJ. Kusni

jurnal

Jurnal Toddopuli:
 
 
AKANKAH KAU  MENGIRIMI KAMI UCAPAN NATAL?
 
[Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]
 
 
“Yah, malam ini, cerita baru apa lagi yang ingin Ayah tuturkan kepada anak-anaknya?”,  Iwa, sulungku yang perempuan bertanya sambil ndempruk di pangkuanku. Sedangkan adiknya sudah lama rebah di pangkuan ibunya. Sejak usia tiga tahun, Iwa dan aku memang sering ke mana-mana berdua. Naik delman keliling desa hingga sampai kota. Ketika ia sudah besar dan bisa bersepeda sendiri, ia kukawal pagi-pagi liburan ke sawah dan atau ke pasar ditemani oleh anjing kesayangannya Nelly Kusuma. Ke mana-mana kami sering berdua. Sambil berpergian, aku selalu bercerita tentang apa saja kepadanya. Cerita tentang padi, pisang, kelapa, pepaya, kera, tembakau, tebu, mentimun, sungai, kambing, ayam, kerbau, kura-kura, dan apa saja… 
Menjelang tidur, sambil mengeloninya,  kusempatkan, membaca buku bergambar dari berbagai negeri sesuai usianya.
 
Melalui cerita-cerita ini, aku ingin ia mengerti arti alam, budaya lokal,   sehingga  ia tidak asing dari tanahair kampunghalamannya. Sebagai sangu pikiran, perasaan dan ingatan dalam berdialog dengan budaya dunia. Lebih dari itu, aku ingin imajinasinya berkembang. Imajinasi yang berkembang leluasa, aku anggap sebagai sayap dalam menjelajah dunia. Membuatnya tidak berputar-putar di sekitar langit kampunghalaman dan sungai lahir. Kecupetan sering membuat orang menjadi tipe manusia “über alles” yang ternyata tidak “über” tapi tidak lebih dari kisah  katak yang mau menyaingi lembu .  
 
Usaha mengembangkan imajinasinya ini, kuimbuhi melalui lagu-lagu kanak-kanak kekinian dan atau yang jadul berfifat refleksif-edukatif dan mainannya.
 
Sambil mencium kepalanya, pertanyaannya kujawab:
 
“Kalau ayah, cerita tentang Koperasi Restoran Indonesia lagi, anak bosan gak?”
 
Iwa mengecup pipiku berkata:
 
“Tergantung isi cerita dan pandainya ayah bercerita. Kalau tidak aku akan segera mendengkur”.
 
“Anak mendengkur, ayah kerja dong. Ayah menulis. Gampang saja”. Dari jauh, ibu anak-anak tersenyum sendiri, mendengar dialog ayah-anak.
 
“Cerita Yah, cerita dong. Aku suka dengar cerita Ayah”. Sebelum mendengar cerita, Iwa mengambil tikar, selimut dan bantal. Kami berdua berbaring berdampingan. Dua kaki kecilnya berada di tubuhku.  Sepasang mata warna klengkengnya berkelap-kelip seperti bintang patendu [bintang yang menunjukkan saat membuka ladang telah tiba], orang Dayak bilang .
 
“Ayo, ayah khoq malah mau tidur. Cerita dong Yah”, desaknya. Dari pangkuan sang ibu, anak kedua memandang kakaknya dengan mata kelap-kelip tenang.
 
Judul cerita ayah malam ini adalah “Akankah Kau Mengirimi Kami Ucapan Natal?”. 
 
Cerita ini berkisar antara seorang anak perempuan dengan ibunya.  Anak perempuannya bernama Shinta. Begitu selesai SMA di sebuah sekolah  Kristen terkenal di Jakarta, dengan menggunakan beasiswa Indonesia, Shinta dikirim belajar ke Perancis untuk musik di sebuah konservatori.  Shinta memang berasal dari keluarga Kristen dan keluarga sangat elite. Bisa dikatakan lapisan atas dari elit negeri kita.  Sekali pun demikian, ia tidak pernah bangga dan berkuar-kuar tentang asal dan lingkungan keluarganya. Ketika ditanya, jawabannya: “Aku ingin menjadi diriku sendiri, tanpa terbawa oleh nama keluarga. Aku adalah aku “, ujarnya datar. Sebelum ayah tahu, asal keluarganya,  ayah pernah sangat sewot, melihat gerakgeriknya ketika mencuci piring sendiri sendiri.
 
“Nyuci piring khoq kayak nyonya dan ndoro-ndoro feodal. Terlalu biasa segala-galanya dikerjakan oleh pembantu”. 
 
Ya, ia memang berasal dari keluarga kaya-raya dan top elite di Indonesia. Sekali pun demikian, seperti umumnya mahasiswa di Perancis setelah mencapai usia dewasa, keluar dari rumah orangtua dan mencari penghasilan sendiri. Shinta pun demikian. Ia melamar kerja di Koperasi Restoran kami di mana ia sebulan sekali menari untuk menambah penghasilan dan mempopulerkan budaya Indonesia.  Ia senang dan merasa di rumah sendiri di Koperasi. Biasa dengan cara bicara orang di Koperasi yang langsung tanpa belat-belit.
 
Mendengar kata-kata ayah tadi, teman-teman lain di dapur berkomentar:
 
“Mas, tidak bisa begitu dong. Orang kan punya gaya masing-masing dan bisa semua orang menggunakan gaya kerja Mas. Salah. Katanya toleran. Mana toleransi Mas, jika demikian?”
 
Ayah melihat sejenak komentator itu dan menjawab:
 
“Gaya kerja memperlihatkan kita dari mana kita dan siapa kita. Feodalisme sudah gak layak kita pertahankan.Gak zamani lagi.Mau mengembangkan Indonesia dengan feodalisme nih ye. Dengan gaya feodal gitu kapan dan gimana kita bisa mengejar kecepatan.  Kalian tahu gak,  kecepatan, la rapidité, orang Perancis bilang merupakan unsur yang sering sekarang mengalahkan manusia”.
 
“Wah, menyerah deh, kalau sudah masuk soal teori”, ujar komentator pembela Shinta. Teman-teman lain tersenyam-senyum menahan diri untuk tidak ngakak.
 
“Aku serius. Mengapa tersenyam-senyum?”, tanyaku. Gelak pun meledak. Ayah mencuci muka dengan air dingin menahan jengkel ditertawai. Ketika itu Iwa mencubit belikatku.
 
“Ayah nakal”, ujarnya. “Terus, Yah”.
 
Setelah itu, ayah minta maaf kepada Shinta kalau ia merasa tersinggung.
 
“Nggak apa-apa Kek. Itu kan Kakek”, ujar Shinta sambil tersenyum sambil mencium pipinya minta maaf.
 
“Idihhhhhhhhh, kakek genit”, ujar teman-teman dapur. Gelak-bahak pun menjadi sebuah paduan suara.
 
Shinta makin merasa berada di rumah keluarga sendiri di Koperasi. Soal apa saja ia ceritakan. Termasuk hubungan pribadinya dengan cowo-cowo. Bagaimana ia pisah dengan pacar satu ke pacar baru. Kesimpulannya dengan orang Indonesia dan orang bulé.  Yang terakhir ini, ia rasakan sebagai “segalanya serba terpogram dan kaku”. Barangkali keadaan inilah yang disebut oleh seorang filosof Perancis kekinian bahwa “sekarang manusia dan masyarakat dikendalikan oleh kecepatan”.  Kecepatan mempengaruhi pola pikir dan mentalitas manusia dan masyarakat. Sedangkan kita apakah sudah tanggap pada “kecepatan” ini atau masih berada pada tingkat “alun-alun asal  kelakon”, konsep “mbesuk” dan “mie instant” — nama lain dari kemalasan  berpikir dan etos kerja yang rendah? Ya, tentu saja untuk berKKN diperlukan kemampuan menipu dan menipu membutuhkan daya pikir.  Hanya ayah melihatnya KKN lebih merupakan sisa feodalisme dan bentuk nyata neo feodalisme. Abuse of power , penyalahgunaan kekuasaan yang jamak terjadi pada rezim feodal, militerisme dan otoritarianisme di mana penguasa adalah Tuhan. Penentu hidup-mati orang, dan gantang kebenaran. Violence, main bom, kekerasaan, sedikit-sedikit lari ke badig, amok, adalah ujud dari primitivisme atas nama budaya tapi yang tak berkembang, dikira sebagai sikap satria dan kepahlawanan.  Seberapa jauh negeri kita meninggalkan primitivisme budaya di tengah tingkat laju tekhnologi seperti sekarang, barangkali perlu dikaji guna mengenal tingkat diri kita sendiri, jika mengikuti anjuran Sun Tzu, strateg Tiongkok Kuno beken itu.
 
Bercerita Shinta bahwa ia pada mulanya pacaran dengan Aco seorang pemuda Padang yang sangat Islam. Keluarga Aco ketika tahu Shinta dari keluarga Kristen, secara halus memperingatkan putera mereka dengan kata-kata “semoga Tuhan merestui kalian”. Sedangkan ibu Shinta hanya berkata: “Kalau jadi pasti kau akan berjilbab. Tidak apa-apa, kalau itu memang pilihanmu.Kau tokh sudah bukan kanak lagi. Bisa memutuskan apa yang baik dan tidak untuk dirimu. Mama pun tidak keberatan kalian berciuman sebelum nikah sekali pun katanya Aco Islam. Hanya yang  Mama bayangkan dengan perasaan ngenes ketika kau jadi istri Aco yang Islam, apakah pada hari Natal, kau masih mengirimkan kartu mengucapkan selamat Natal kepada ayah-ibu dan adik-adikmu. Kau masih dan selamanya anak Mama?” 
 
Perasaan ngenes sang ibu, ayah rasakan sebagai lukisan keadaan kehidupan beragama sekaligus membangkitkan pertanyaan: Mengapa Tuhan dijadikan pemisah hubungan ayah-ibu, dengan anak kandungnya, serta hubungan sesaudara. Campur tangan Tuhan yang melahirkan tragedi begini sangat banyak contohnya, bukan hanya di negeri kita , juga di luar negeri. Seorang anak perempuan Turki dibunuh oleh keluarganya karena pacaran dengan seorang Jerman yang tidak Islam.  Masalah ini yang barangkali yang oleh Forum Internasional Tentang Hubungan Antar Agama di Yogyakarta tahun 1999an disinyalir sebagai “hilangnya roh agama” . Dan dalam mengomentari logika Perang Gaza sekarang ini, Jesuit Mesir Samir Khalil Samir dalam wawancaranya dengan Harian Katolik Perancis:La Croix, Paris [2 Januari 2009] menamakakannya sebagai logika yang kontradiktif, jauh dari filsafat kasih. Tanpa menyelesaikan logika kontradiktif ini maka perang dan kekerasan tak akan punya akhir, ujar  Samir Khalil Samir. “La logique de cette guerre… c’est  qu’elle  ne finira jamais”.
 
“Akankah kau mengirimi kami ucapan natal?”, yang diucapkan oleh ibunya Shinta adalah salah satu pertanyaan dan kengenesan terhadap “logika perang ini” dan keadaan ini,  yang bisa-bisa tak tertangani. Tuhan telah membuat kita saling benci dan saling bunuh seperti halnya pritimivisme budaya. Sektarisme adalah sejenis dengan logika begini dan bentuk dari primitivisme budaya juga, sekali pun mengunakan label rakyat dan revolusioner. Padahal menjadi mahluk Tuhan, ayah kira tidak lain menjadi manusia yang manusiawi. Tidakkah ini sari beradab dan berbudaya?
 
Sekarang kalian tidurlah bersama ibu, tapi kelak jika lebih besar lagi, mata hati, jiwa dan pikiran jangan kalian biarkan tidur. Jadilah kalian anak Papah dan Mamah yang manusia dan manusiawi. Beradab dan berbudaya tanggap zaman. ***
 
 
Winter 2009
—————-
JJ. Kusni

DARI KONSET DANIEL BÖHREN, L’HOMME DE REVOLT

JURNAL TODDOPULI:

DARI KONSET DANIEL BÖHREN, L’HOMME DE REVOLT

[Cerita Untuk Andriani S Kusni & Anak-anakku]

Dalam rangka acara menyambut Tahun Baru 2009, FR2, salah satu terus tivi Perancis, menyiarkan konser Philharmoni Wina, Austria yang kali ini khusus menggelarkan karya-karya Johan Strauss. Ruang konser yang megah dihiasi bunga-bunga diselenggarakan dengan penuh ritual sebagai “sahabat mususi klasik” . Ritual, sebagai suatu penghargaan Austria kepada para seniman-seniman yang mengangat nama bangsa dan negeri segi kebudayaan.

Continue reading

DARI RUE DURANTIN HINGGA RUE DE LEPIC MONMARTRE PARIS

DARI RUE DURANTIN HINGGA RUE DE LEPIC MONMARTRE PARIS

Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku

Montmartre di mana aku tinggal sejak puluhan tahun merupakan ketinggian dari mana kita bisa melihat seluruh Paris. Ia merupakan sebuah tempat berssejarah.Merupakan Markas Besar Pemberontkan Komne Paris yang disebut oleh Karl Marx sebagai pemberontakan proletariat pertama.

Continue reading

Kronik Bulan Pambelum* : JERITAN SUMARAH

img_5853Kronik Bulan Pambelum* : JERITAN SUMARAH

Sampai detik ini monolog “Balada Sumarah” karya Tenterem Lestari, tentang nasib seorang TKW, anak seorang lelaki sederhana yang dituduh PKI, yang dibawakan oleh Luna Vidya dalam acara ulta ke-26 Koperasi Restoran Indonesia SCOP Fraternité Paris, masih terbayang-bayang dimata ingatanku.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers