Archive for the ‘Filsafat’ Category

PEMANFAATAN “TANAH”, UNTUK MENINGKATKAN MARTABAT MANUSIA

Pemanfaatan “Tanah”, untuk meningkatkan Martabat Manusia
(Dalam konteks Kalimantan Tengah)
Oleh: DR. A.M. Sutrisnaatmaka MSF.
Pengertian umum
Di Kalimantan Tengah ini ada sekian luas tanah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Lahan tidur, menjadi istilah yang lazim untuk menunjukkan bahwa areal di wilayah Bumi Tambun Bungai ini masih perlu dibangunkan, dihidupkan dalam arti diolah untuk menghasilkan manfaat yang berguna untuk kehidupan kita bersama. Usaha-usaha sudah cukup banyak dilakukan, namun kiranya masih perlu ditingkatkan agar kemakmuran dan kesejahteraan dapat dinikmati oleh orang yang mengolah tanah. Dalam tulisan singkat ini akan dipaparkan tentang pengertian umum tentang tanah, lalu diperdalam dengan pencerahan dari pengalaman hidup orang beriman yang terekam dalam Kitab Suci. Pemanfaatan tanah untuk memperoleh kesejahteraan yang meningkatkan martabat manusia menjadi bahan permenungan tulisan ini.
Menarik untuk menyimak arti tanah seperti dijelaskan dalam Ensiklopedi Umum. “Tanah” merupakan bagian permukaan bumi, tempat kebanyakan tumbuh-tumbuhan hidup. Bagian ini terbentuk dari batu-batu yang hancur di dalam bentuk pasir dan bahan organik (utamanya vegetasi) yang membusuk (bdk. Ensiklopedi Umum, Kanisius, Yogyakarta 1991, cet. ke-9, hlm. 1077). Dari arti yang umum dan bersifat dan material itu, selanjutnya muncul macam-macam ungkapan ganda terkait dengan tanah seperti halnya tanah air, tanah tumpah darah, yang berarti negara atau tempat berasalnya seseorang; tanah leluhur: tempat nenek moyang hidup, dll.
Sejak awalnya, tanah bisa menjadi modal usaha untuk pertanian, perkebunan, peternakan, dan dipadu dengan unsur air menjadi lahan perikanan. Pengolahan tanah menjadi sarana untuk menghasilkan banyak bahan yang diperlukan untuk hidup. Pemanfaatan tanah menjadi semakin berdaya guna, apabila di atasnya dibangun macam-macam sarana untuk usaha selanjutnya. Ada sekian banyak usaha yang ditumpukan pada tanah, yang apabila “ditumbuhi” dengan bangunan-bangunan, maka makin menjadi berhargalah tanah itu. Tak jarang investasi berupa tanah bisa membawa keuntungan berlipat-lipat. Apabila tanah berada di pinggir jalan raya yang ramai, maka harga tanah akan cepat membumbung tinggi dibanding dengan tanah yang masih berada di tengah hutan.
Begitulah sepintas kesan terhadap arti dan manfaat tanah yang diperlukan untuk menunjang kehidupan manusia. Kajian dan permenungan mengenai tanah ini akan menjadi semakin dalam dan lengkap apabila kita melongok pengalaman orang beriman dalam kaitan dengan arti tanah dan manfaatnya untuk kehidupan. Berikut dipaparkan pandangan tentang tanah dari iman seperti diungkapkan dalam Kitab Suci Kristiani.

Pandangan keagamaan (Kitab Suci Kristiani) tentang Tanah
Diyakini oleh penulis Kitab Kejadian bahwa tanah selayaknya menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi. Apa yang dikehendaki oleh Tuhan itu memang terjadi demikian, dan Tuhan melihat bahwa semuanya itu baik adanya. (bdk Kej 1:11-12) Begitulah fungsi, peranan dan manfaat tanah sudah dicantumkan sejak awal dunia. Dan apa yang sudah ada sejak awal penciptaan itu kiranya terus berlangsung sampai sekarang ini. Pemanfaatan lahan untuk pertanian dan perkebunan memang berkembang dari waktu ke waktu. Usaha yang tadinya hanya bersifat perorangan dan pengolahan tanah secara manual, berkembang menjadi perusahaan pertanian yang melihatkan sekian banyak pekerja dengan peralatan mesin yang semakin canggih. Hasilnya juga menjadi semakin banyak dengan usaha yang bersifat intensif dan ekstensif, sehingga kebutuhan akan pangan dan hasil-hasil olahan lain untuk kebutuhan industri semakin tercukupi.
Apakah semuanya menjadi baik dan bermanfaat untuk semua orang dan segala makhluk seperti yang dilihat Tuhan pada awal kejadian dunia? Rupanya perkembangan menunjukkan arah yang kurang menentu. Ada yang berhasil baik dan bermanfaat untuk banyak orang, namun ada pula karena keserakahan dan egoisme manusia, tanah dan tumbuhan di atasnya bisa menjadi malapetaka.
Apa yang pernah diungkapkan dalam Kitab Kejadian rupanya juga menjadi kenyataan di kemudian hari. Di antara pohon yang tumbuh di atas tanah itu ada satu pohon yang buahnya tidak boleh dimakan oleh manusia. Allah sendiri memberikan larangan itu untuk ditaati apabila manusia ingin kebahagiaan. Manusia, dengan kesombongan dan ketidaktaatannya kepada Allah melanggar larangan itu. “Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu“ (Kej 3:17-18). Manusia harus mengolah tanah, namun hasilnya belum tentu bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Yang lebih memprihatinkan lagi: karena kesewenang-wenangan, kerakusan dan egoisme seseorang, maka apa yang dihasilkan dari tanah yang digarapnya justru bukan untuk yang mengolah, melainkan untuk kesejahteraan orang yang mempekerjakannya. Tanah menjadi fasilitas untuk menyejahterakan segelintir orang, sekaligus menjadi wahana untuk penderitaan banyak orang. Orang yang bekerja keras mengolah tanah, diperas tenaganya dan diberi imbalan yang tak layak, sehingga seluruh keluarga juga ikut menderita.

Tanah sebagai lambang kemanusiaan
Kalau kita cermati cerita Kitab Kejadian yang ada hubungannya antara tanah dan manusia, maka kita menemukan cerita yang mengisahkan bahwa manusia itu berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. „Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup“ (Kej 2:7). Kisah yang sederhana ini memperlihatkan asal-usul manusia yang justru menekankan di satu pihak, wujudnya yang hina, rendah dan tak berarti; di lain pihak berasal dari bahan yang vital, yang tak mungkin bahan dasar itu terpisah dari keberadaan manusia.
Tanah dan debu merepresentasikan hal yang berada di bawah, diinjak orang, mengotori dan harus disingkirkan, sungguh tak ada artinya bahkan cenderung mengganggu kenyamanan. Namun tanah sekaligus menopang eksistensi manusia. Tanpa tanah, manusia dan juga sekian banyak mahkluk tak bisa hidup. Bahkan di dunia modern ini, ada penilaian: siapa menguasai tanah seluas-luasnya, dialah yang berkuasa atas apa yang ada di atasnya. Yang tak memiliki tanah, merasa tak berarti di dunia yang dipijaknhya ini.
Sesudah disebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan debu, dan ia tidak taat pada perintah Allah, maka manusia harus bekerja keras untuk menghasilkan sesuatu dari tanah yang digarapnya. Membanting tulang, berpeluh dan berkeringat di bawah terik matahari, ia mengolah tanah sepanjang hidupnya. Dan akhir yang tragis menunggu kesudahan hdiup manusia: “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kej. 3:19) Manusia memang sudah diusir dari tempatnya yang membahagiakan dan harus mengusahakan kelangsungan hidupnya dengan mengusahakan tanah dengan kerja keras. “Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil“. (Kej 3:23).
Hakekat dan martabat kemanusiaan ternyata berkaitan erat dengan makna, arti dan pemanfaatan tanah. Karena itu apabila tanah tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kesejahteraan hidup manusia, maka manusia mengkhianati martabatnya sendiri. Merusak lingkungan, termasuk di dalamnya: mengaduk-aduk, menelantarkan dan mencemari dengan pelbagai bahan kimia yang tak mudah dihilangkan atau dinetralisir, justru hal itu merupakan tindakan yang merendahkan martabat manusia itu sendiri.

Tanah, manusia dan ciptaan lainnya

Dengan mencermati makna dan manfaat tanah dalam hubungan dengan manusia tak bisa dilepaskan dari hubungannya dengan makhluk lain. Memang benar kebersamaan manusia yang hidup di atas tanah bersama-sama dengan makhluk ciptaan lainnya saling mempengaruhi dan memberikan dampak satu sama lain. Tak bisa dibayangkan bahwa makhluk yang hidup di atas tanah yang sama bisa hidup sendiri-sendiri tanpa secara aktif mempengaruhi. Tanah tidak hanya berarti pasif, tak ikut ambil bagian kebersamaan hidup itu, melainkan aktif menumbuhkan apa yang ada di atasnya sesuai dengan kodrat alam dari tanaman tersebut.
Tanaman yang tumbuh di atas tanah akan dapat berkembang subur apabila ada pupuk yang berupa humus yang berasal dari daun-daun yang jatuh dari pohon yang tumbuh di atasnya. Cacing-cacing tanah juga mempunyai peranannya tersendiri dalam menggemburkan tanah sehingga bisa menyerap zat-zat yang diperlukan untuk berkembangnya tanaman itu. Udara akan lebih banyak mengandung oksigen apabila pohon-pohon itu tumbuh dan berkembang subur di atasnya. Oksigen itu jugalah yang diperlukan oleh satwa dan tentunya manusia yang ada di sekitar pohon-pohon itu. Kotoran-kotoran satwa juga bisa menjadi pupuk yang bermanfaat untuk pohon-pohon yang mendapatkannya.
Kita bisa membayangkan alangkah harmonisnya alam ini apabila keselarasan semua ciptaan yang hidup di atas tanah yang sama bisa terjaga dengan baik. Siapa lalu menjadi key-creation/person dalam menjaga keselarasan itu? Tak pelak lagi, Tuhan pasti memberikan tanggungjawab yang luhur ini kepada manusia. Bukankah manusia diciptakan hampir setinggi Allah? Manusia adalah makhluk yang paling tinggi martabatnya di antara ciptaan-ciptaan lain. Kutipan Maz 8:5-6 memberikan pencerahan tentang martabat manusia di antara ciptaan-ciptaan lain: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat”.
Namun kenyataan yang kita hadapi sekarang ini tidak se-harmonis yang diharapkan. Justru ulah manusia semakin tak bisa dipertanggungjawabkan bila dikaitkan dengan lingkungan hidup. Pemanasan global yang semakin mengancam merupakan salah satu indikasi, bahkan menjadi bukti bagaimana ulah manusia sekian lama menjadikan bumi menderita kekacauan musim. Tentu hal ini mengakibatkan tumbuh-tumbuhan yang berada di atas tanah tak menghasilkan buah seperti yang terjadi sebelumnya. Apabila manusia mengingkari tanggungjawabnya atas kelestarian lingkungan atau kurang peduli dengan masalah ini, maka dapat dinantikan bahwa tanah, sebagai salah satu unsur penting dari lingkungan, akan semakin rusak dan menjadi kontra produktif untuk kesejahteraan manusia.
Lalu bagaimana caranya menjadi manusia yang bertanggung jawab atas tanah yang diserahkan oleh Tuhan untuk diolah dan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan martabatnya? Sulit untuk mendapatkan resep mengenai hal itu, namun ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengusahakan hidup secara harmonis antara manusia, satwa dan ciptaan lainnya di atas tanah dengan tidak merusakkannya, malahan sebaliknya membangun kembali yang telah rusak. Mental dan usaha untuk memelihara lingkungan dengan sebaik-baiknya merupakan wujud tanggungjawab atas kelestarian tanah yang akan bisa diwariskan kepada generasi mendatang.

Tanah terjanji, bagaimana memaknai dan merealisasikannya?
Kiranya sudah kerap kita dengar bahwa bangsa Israel ketika dalam pembuangan di tanah Mesir, mendambakan untuk kembali ke tanah terjanji. Apa yang menarik dengan tanah yang dijanjikan itu? Kutipan dari Kitab Keluaran memberi gambaran yang jelas dan kongkrit:
„Apabila TUHAN telah membawa engkau ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Hewi dan orang Yebus, negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, maka engkau harus melakukan ibadah ini dalam bulan ini juga“ (Kel 13:5). Tanah yang dijanjikan itu berupa suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya. Dari segi unsur makanan, ketika pengalaman iman ini diungkapkan, maka susu dan madu melambangkan kelezatan, kesehatan dan bahkan kemewahan.
Rupanya tanah terjanji itu merupakan tanah yang subur yang tidak hanya membawa hasil-hasil pertanian dari tanaman-tanaman yang diusahakan, melainkan lebih dari itu, hasil dari ternak yang memberi kontribusi untuk kesejahteraan secara mewah dan menyehatkan. Susu merupakan hasil dari peternakan sapi atau kambing yang dipelihara, sedangkan madu adalah hasil dari tawon atau lebah, satwa yang pada dasarnya liar, namun bisa diperoleh hasilnya secara berkelimpahan untuk menjadikan kualitas hidup meningkat. Adanya lebah yang masih berada di tanah terjanji itu mengindikasikan keadaan lingkungan yang masih baik, lebah dengan bebas mencari bunga dan menyerap sari-sarinya, dikumpulkan di sarangnya untuk menjadi madu.
Di satu pihak, tanah terjanji merupakan anugerah Allah yang memberi kelimpahan kepada umat-Nya. Anugerah ini diberikan karena semata-mata kemurahan dan kebaikan kasih-Nya. Tanpa ada jasa dan kebaikan dari manusia, apalagi dari manusia yang mengandalkan kekuatan dan kehebatannya. Allah ingin agar manusia dapat hidup sesuai dengan martabatnya, hidup dalam damai dan kesejahteraan, bahkan hidup dalam kelimpahan (bdk. Yoh 10:10). Di lain pihak, dengan anugerah tanah terjanji itu manusia mengusahakan dengan segala kemampuannya: tenaga, pikiran, daya kreatif dan kerja kerasnya mewujudkan tanah terjanji sebagai tanah yang menjadi modal dan sumber kehidupannya. Allah telah memberikan kepada manusia kemampuan untuk berpikir dan itulah kelebihan dari semua ciptaan yang lain. Tentu dimaksudkan agar manusia bisa mempertimbangkan apa yang baik dan perlu dibuat, bagaimana semua itu direncanakan dan diperhitungkan, dan akhirnya dilaksanakan dengan kekuatan yang dimiliki. Bahkan dengan pikiran dan dipadu dengan perasaannya, manusia bisa memakai kekuatan yang bukan hanya sekedar fisik, tetapi memanfaatkan tehnologi dan menjadikan tanah bisa dioleh dengan hasil yang maksimal.
Dengan lain kata, tanah terjanji sebenarnya diberikan kepada kita semua, di mana pun kita berada. Memang dibutuhkan untuk menangkap peluang, mengusahakannya dan memanfaatkan secara tepat guna. Di Kalimantan Tengah mungkin saja tantangan lebih besar dari tempat-tempat lainnya, karena tanahnya relatif harus diolah dengan lebih cerdas dan dengan usaha yang lebih keras. Namun kita yakin bahwa anugerah Allah kiranya akan mencukupi untuk menjawab tantangan itu.

“Lahan tidur” memerlukan sentuhan untuk menjadi tanah terjanji
Lahan tidur di Kalimantan Tengah rupanya masih cukup luas. Penduduk yang relatif sedikit menjadi salah satu kendalanya. Bila dibanding dengan P. Jawa, memang prosentase penduduk di Kalimatan memang sangat kecil. Kalteng yang luasnya hampir satu setengah P. Jawa, penduduknya mungkin hanya sekitar seperlimapuluhnya. Jadi masalah SDM merupakan masalah yang cukup signifikan. Ada sejumlah peralatan dan tehnologi yang bisa membantu mengolah tanah, namun apabila SDM terlalu minim, maka tidak bisa diharapkan hasilnya seperti yang diharapkan.
Terkait dengan SDM, selain jumlah yang memadai, dibutuhkan juga kualitas yang mencukupi untuk mengolah tanah secara tepat. Kualitas itu bisa meliputi segi pengetahuan yang bisa dipelajari di fakultas-fakultas Perguruan Tinggi yang bersentuhan dengan geologi, perkebunan, kehutanan, perikanan, dll. Bisa juga menyangkut mental dan moralitas yang kadang sulit diukur dan dideteksi. Ketekunan, keuletan, kesabaran dan kerja keras yang berkesinambungan rupanya dituntut untuk menggarap tanah yang ada. Budaya dan mentalitas kadang juga ada kaitan erat. Dari kebiasaan meramu, mengumpulkan dari hutan, sungai, dll., di jaman nenek moyang sampai budidaya berkebun, bercocok tanam, peternakan, perikanan dan usaha-usaha lain yang sejenis menjadi tantangan tersendiri untuk menjadi bahan pembelajaran. Namun kita yakin bahwa semua itu bisa dihadapi dengan sungguh-sungguh demi mengubah lahan tidur menjadi „tanah terjanji“.
Diperlukan usaha yang lebih untuk „membangunkan“ lahan tidur secara tepat. Penelitian terhadap jenis tanah, zat-zat dan kandungan yang ada, lalu mencocokkan dengan jenis tanaman yang sesuai, kiranya itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam menyentuh dan mengolah tanah yang ada. Tidak dapat dilupakan juga, bahwa untuk itu semua diperlukan dana yang tidak sedikit. Tanpa dukungan dana yang memadai, maka usaha-usaha kiranya belum bisa direalisasikan.
Dana bisa saja mengalir dan pelbagai macam investasi didatangkan atau bahkan datang sendiri untuk memanfaatkan lahan tidur itu. Barangkali perlu diseleksi secara lebih cermat usaha-usaha mana yang layak diterima dan ditindaklanjuti dan mana yang perlu ditolak dengan kriteria salah satunya: bagaimana dengan nasib tanah yang akan dimanfaatkan oleh investor itu. Dalam jangka panjang apakah bisa dijamin bahwa tanah dan lingkungan tidak hancur, rusak dan tak terselamatkan, sehingga lebih banyak merugikan dalam jangka panjang, dan hanya mendapatkan keuntungan sesaat.

Hasil akhir: untuk meningkatkan martabat manusia
Dengan mengusahakan pemanfaatan tanah semaksimal mungkin, maka perlulah dipertegas tujuan akhir dari segala usaha itu. Kesejahteraan menjadi tujuan antara, tujuan sementara yang menjadikan manusia dapat mengembangkan segi-segi kehidupannya secara maksimal. Untuk memajukan pelbagai bidang: kesehatan, pendidikan, kedamian, kententraman, keamanan, dll., kesejahteraan menjadi syarat mutlaknya. Keadaan manusia dan masyarakat yang tidak sejahtera akan menimbulkan pelbagai kerawanan dan bahkan tindak kriminalitas. Kemiskinan kerap disebut sebagai “ibu” dari segala kejahatan, sementara kesejahteraan menjadi “bunda” dari semua kebaikan.
Namun apabila kesejahteraan telah diperoleh, maka masih ada tujuan lebih jauh yang bisa dijangkau. Kesejahteraan bisa menjadi dasar untuk meningkatkan martabat manusia. Pengelolaan tanah yang memperhatikan lingkungan hidup, yang memikirkan jauh ke depan untuk generasi mendatang merupakan indikasi bahwa manusia bertanggung jawab atas apa yang diserahkan oleh Sang Pencipta, sekaligus menunjukkan nilai martabat manusia. Nilai martabat manusia itulah yang disangga oleh pemenuhan dasar kehidupan manusia dan dari kesejahteraan itu bisa diharapkan adanya pertumbuhan yang berbasis pada kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan.
Meningkatkan martabat manusia dengan mewujudnyatakan melalui pengelolaan tanah yang memperhatikan kelestarian lingkungan menunjukkan bahwa tujuan pengelolaan tanah itu sungguh dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks Kalimantan Tengah memanfaatkan lahan tidur, entah itu tanah adat atau pun tanah-tanah lain yang belum dikelola dapat menunjang pembangunan yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan martabat manusia.

DR. A.M. Sutrisnaatmaka MSF., Uskup Palangka Raya.

Tulisan ini akan diterbitkan dalam buku Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah :”Masalah Konflik Agraria di Kalimantan Tengah”.

STOP ABUSE OF RELIGIONS

Stop Abuse Of Religions

http://news.kuwaittimes.net/2012/11/06/stop-abuse-of-religions/

Universally, religion remains the nucleus of any society as it has significant impact on the daily lives of the people. It is a system that generates multiple systems, including political, economic, social and cultural and hence it cannot be excluded from any society, even the most secular political ones. Religion is a complete code of life and impacts the cultural and social realities of any society. In that perspective religion determines how life is managed and lived.
There are approximately 4,200 religions in the world and the followers of each religion inhabit different geographical areas and belong to different ethnic groups. Each group believes it holds the correct view and follows the right path. As a result, its followers tend to think they are more righteous than others who they sometimes describe as superstitious. This very view that favors a particular religious or ethnic group over others and considers them as outsiders gives rise to antagonism. This is a thinking that might instigate some to violence against other religious groups.
History testifies that such extremist ideas produce people with radical thinking who try to impose their dogma on others by force. They don’t even hesitate to sacrifice themselves believing they are dying for a right cause.
This is true today as there are reports almost everyday from all around the world about groups that are deemed religious but commit heinous crimes against people of other faiths under the pretext of religious justification. The world will become a chaotic place if intolerance increases and every so-called religious group attacks and kills the members of the other faith. The world has suffered due to religious intolerance and is still suffering because of some extremist groups that have played havoc with religion and disrupted the social harmony within a particular society and among nations.
Realizing the gravity of the situation at the world level, Custodian of the Two Holy Mosques King Abdullah, being the leader of the Muslim Ummah, called for interfaith and cultural dialogue. This initiative aims to take the world to a state of religious and cultural understanding and harmony that is so essential to end conflicts and ensure peace. Religion influences the cultural and social milieu of any ethnic group or country and it cannot be changed.
The Soviet Union is a glowing example of this. Its political regime tried to enforce with iron fist its communist dogma on the people while at the same time banned religious practices and their symbolic public appearance in any shape or form. When the Soviet Union collapsed and the Islamic countries within the USSR seceded, Muslims in those republics started practicing their religion publicly. Religion and culture can be causes of misunderstanding and consequently a source of confrontation among peoples and nations. Interfaith and cultural dialogue reduces religious misunderstanding and cultural differences by focusing on religious commonalities and universal values that bring followers of different faiths and the people of the world together.
The world would be a better place when people stop perceiving religious and cultural differences as threats to their views and lifestyles, but rather acknowledge them as a source of enrichment to their lives, which would result in appreciation of others as their fellow human beings. Insulting religions and their sacred symbols only spark animosity between followers of various faiths. The role of King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue is to “act as a hub among religions and cultures, empowering others already working in the field of dialogue and promoting harmony and cooperation.” As the center moves on to achieve its peaceful objectives, the center ought to extend its hands to similar civil and international organizations to bring to reality the call of King Abdullah for the world to condemn insults of religion and prophets by issuing a UN resolution to this effect. There are several United Nations organizations whose primary responsibility is to safeguard the laws and principles that respect religions and cultures. In addition to that the UN sponsors a World Interfaith Harmony Week that also aims to promote religious harmony.
Thus, the political platform to achieve this objective is already in place. Also, coordination with other interfaith organizations would help pressure the UN to adopt a resolution condemning blasphemy and abuse of religions and religious icons. Among the similar organizations are the Parliament of the World’s Religions that works toward affirming universal values and recognition of the diversity among different cultures; A Common Word (ACW), an organization that focuses on bringing Muslim and Christian leaders together; the C1 World Dialogue, an initiative whose mission is to support and promote, propagate and preserve, peace, harmony and friendship between the Western and Islamic world; and the Common Ground, a body that promotes understanding between Islam and Buddhism. The world has shrunk to a great extent in terms of interconnectivity.
Hence, what happens in a seemingly far away place has its effects on other nations of the world. So, the people of the world need social harmony to live in peace and prosperity that can be achieved through religious and cultural understanding.
By Abdulrahman Al-Zuhayyan

FENOMENA KOMUNIS ISLAM

Fenomena Komunis Muslim

Von: Chan CT <SADAR@netvigator.com>
An: GELORA45@yahoogroups.com
Gesendet: 6:23 Donnerstag, 10.Oktober 2013
Betreff: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Fenomena Komunis Muslim

“Fenomena Komunis Muslim” ini sungguh sangat mencerahkan, … Iyaa juga sih, kalau diperhatikan sejarah lahirnya PKI, justru dari pecahan Serikat Islam, tokoht-okoh ISLAM itulah yang mendirikan Partai Komunis Indonesia. Salah seorang Ketua Sarekat Islam, Semaun itulah salah seorang pendiri PKI bersama Sneevliet, orang Belanda utusan Komintern. Sedang yang dibilang Pemberontakan PKI tahun 1926 menentang koloni Belanda itu, juga diikuti banyak Haji-haji, termasuk Haji Misbach. Begitu sejarah yang saya ketahui, … tolong dikoreksi kalau salah ingat.

Sungguh jitu pertanyaan yang diajukan Dahlan Ranuwihardjo, mantan ketua HMI itu, “Salahkah mereka menjadi Komunis Muslim?” Dan menurut saya, sangat tepat apa yang dinyatakan: [Karena itu, orang-orang Islam yang “fanatik”, kata Bung Karno, dan memerangi pergerakan marxisme, adalah Islamis yang tak kenal akan larangan-larangan agamanya sendiri (DBR – Dibawah Bendera Revolusi hal: 13). Bagi orang-orang Islam yang tak mengenal larangan-larangan ajaran agamanya sendiri, itulah yang memerangi komunisme. Dan mereka inilah yang dengan seenaknya menilai orang Islam yang menjadi komunis sebagai kurang iman, bodoh, sesat, terkecoh oleh propaganda komunis dsb. Atau yang bersangkutan Islamnya palsu, ia muslim gadungan, Islam dipakai sebagai kedok, sholatnya hanya pura-pura, alias sebagai taktik saja. ]

Mudah-mudahan pertanyaan jitu Dahlan Ranuwihardjo ini bisa menjadi pemikiran setiap umat Islam, menemukan jalan deengan pemikiran yang lebih tepat dan baik untuk membangun masyarakat adil dan makmur menjadi kenyataan.

Salam,
ChanCT

Fenomena Komunis Muslim

https://www.facebook.com/notes/dhiaprekasha-yoedha/fenomena-komunis-muslim/4793792500993

24 September 2013 pukul 9:38
Dahlan Ranuwihardjo, mantan Ketua Umum PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam tulisannya Fenomena Komunis Muslim (Simponi, No 37 th ke-I, 13-20 Januari 2000) mempertanyakan: Salahkah mereka menjadi Komunis Muslim?

Ternyata pertanyaan Dahlan itu karena dilandasi kenyataan bahwa sekarang ini, di mana sebagian besar dari negara-negara berkembang masih merupakan ajang penghisapan dan eksploitasi oleh kapitalisme internasional, yang berperangai sebagai neo kolonialisme / imperialisme ekonomi.

Kalau (dalam keadaan demikian -pen) pemimpin-pemimpin Islam hanya menampilkan Islam sebagai ibadah saja, plus agama percaya Hari Besar Islam, hanya mempersoalkan prilaku yang a-susila, tapi diam dalam seribu bahasa mengenai prilaku a-sosial.

Kalau dakwah hanya terbatas kepada soal-soal ibadah dan akhlak karimah dan dalam bidang sosial hanya terbatas kepada mengatasi soal kemiskinan dan kemelaratan, tapi tanpa membahas soal kekayaan dan kemiskinan structural dipandang dari sudut ajaran Islam.

Kalau para pemimpin Islam hanya menerima saja setiap sumbangan dengan mengucapkan terima kasih dan ini adalah wajar, tapi tanpa mempertanyakan apakah sumbangan itu merupakan bagian dari kekayaan struktural, jatah atau bukan?

Pendek kata kalau pemimpin-pemimpin Islam di tengah-tengah merajalelanya kemunkaran-kemunkaran besar yang mengakibatkan penghisapan besar, melakukan tegoran dengan kebijaksanaan baik pun tidak, dan sekarang hanya melakukan nahi munkar dengan batin (semua keberatan disebut sebagai aliran kebatinan), maka akan merupakan konsekuensi logis. Jika, di kalangan ikhwan-ikhwan khususnya yang muda (akan) muncul figur-figur muda, yang walaupun rajin bersholat di masjid-masjid di Jakarta, Bandung, Yogya dan kota lain, namun dengan bangga menyebut diri sebagai new leftis.

Inilah fenomena komunisme muslim dengan nama dan bentuk yang lain. Salahkah mereka?
APA ARTI PERTANYAAN DAHLAN RANUWIHARDJO TERSEBUT
Pertanyaan Dahlan tersebut ternyata mengandung kritikan yang tajam kepada praktek keberagamaan orang – orang Islam terutama para pemimpinnya. Tampaknya di mata Dahlan Ranuwihardjo, terutama para pemimpin Islam lebih banyak menekuni soal-soal yang bersifat simbol, seperti ibadah sholat, merayakan hari-hari besar Islam dan bila perlu berunjuk rasa terhadap hal-hal yang bersifat a-susila, tapi diam dalam seribu bahasa mengenai hal-hal yang a-sosial. Mereka tidak perdulikan terjadinya ketidakadilan sosial, kesenjangan sosial dsb.

Dakwahnya hanya terbatas kepada soal-soal ibadah dan akhlak karimah dalam bidang sosial hanya kepada meringankan penderitaan orang-orang yang miskin berupa pemberian sedekah, zakat infak dsb. Tapi tak pernah membahas mengapa di dunia ada yang miskin dan yang kaya, padahal ketika lahir semua dalam keadaan telanjang bulat. Tak pernah mereka bahas ajaran Islam yang mengutuk orang-orang yang menumpuk harta (lihat surat Al Humazah ayat 1) tak terdengar mereka suarakan agar kaum tertindas dan miskin mustadhafin bisa menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, seperti yang dijanjikan Allah dalam surat Al Qashas ayat 5-5.

Begitu pula bila ada sumbangan, mereka tak pernah mempersoalkan apakah uang yang disumbangkan hasil kerja pribadi si penyumbang, atau hasil merampas keringat orang lain, atau hasil korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka hanya mengucapkan terima kasih dan mereka doakan semoga yang menyumbang itu lebih banyak lagi rezekinya, supaya bisa pula di waktu lain menyumbang kepadanya. Mereka tidak mempersoalkan apakah uang yang disumbangkan padanya itu haram atau halal.

Begitu pula terhadap makin mengganasnya penghisapan sesama, mereka hanya melakukan nahi munkar dengan batin saja. Itu jauh dari sikap orang yang kuat imannya.
Seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad: bila anda melihat kemunkaran ubahlah dengan tangan, dan bila tak mampu dengan tangan ubahlah dengan lidah dan bila tidak mampu juga dalam hati saja dan itulah selemah-lemahnya iman.

Jadi, kalau para pemimpin Islam di Indonesia kuat imannya, tentu kemunkaran itu akan diubahnya dengan tangan, bukan hanya dengan batin atau dalam hati saja. Orang-orang yang lemah iman inilah yang dengan gampang berkata bahwa orang yang menjadi komunis muslim itu adalah karena lemah imannya, sesat dan gampang dipropagandai oleh orang komunis. Kelemahan mereka, mereka tuduhkan sebagai kelemahan komunis muslim.

Ringkasnya, munculnya komunis muslim, terutama karena para pemimpin Islamnya dalam praktek keberagamaanya, tidak sungguh sungguh hendak menjadikan kebenaran dan keadilan, menjadikan Islam sebagai agama pembebasan bagi orang-orang yang tertindas.
MENJADI KOMUNIS
Seorang Islam menjadi komunis bisa karena berdasarkan pengalaman pribadinya, di mana yang melakukan pembelaan terhadap kepentingan social ekonominya, dari penghisapan kaum kapitalis, feodalis dan fasis justru kaum komunis dan bukan para pemimpin Islam. Malah sementara pemimpin Islam dilihatnya justru memihak kapitalisme, feodalisme dan fasisme.

Ada juga yang menjadi komunis, karena ia mengetahui terdapat banyak titik temu antara Islam dan komunisme, terutama mengenai hal-hal yang mendasar. Seorang di antaranya yang demikian ialah H. Misbach dari Solo. Seperti dikatakan Pringgodigdo SH dalam bukunya Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia bahwa (menurut ) H.Misbach untuk ( perkara ) memperkaya diri (hal: 28). Ayat-ayat Al Quran yang bercocokan antara komunisme dan Islam, seperti yang dikemukakan H. Misbach tsb, di antaranya ialah surat Al Humazah, ayat 1-4, yang mengutuk orang-orang yang menumpuk harta. Artinya mengutuk kapitalisme, memerangi kapitalisme, ini sama dengan komunisme.

Juga surat Al Qashas ayat 5 dan 6, yang menjanjikan kaum yang tertindas dan miskin (mustadhafin) akan menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi. Jika Al Qashas ayat 5 dan 6 ini membumi, artinya sosialisme telah tegak, kaum penindas (mustakbirin) tak berdaya lagi. Semua sudah diatur oleh kaum mustadhafin. Sosialisme ini juga menjadi tujuan yang dekat dari komunisme.

Begitu juga Islam menghendaki umat yang satu, yang tak mengenal kelas kelas lagi, seperti yang dikemukakan surat Al Mukminun ayat 52. Dan masyarakat yang demikian menurut Mansour Fakih adalah masyarakat Tauhidi. Masyarakat tanpa kelas ini, juga menjadi tujuan dari komunisme.
Karena itu pulalah H. Misbach seperti dikatakan Pringgodigdo bahwa golongan H. Misbach menganggap diri mereka bukan sebagai kaum komunis saja tetapi juga sebagai pembela-pembela yang tulen dari agama Islam.

MENDAHULUI ALLAH
Karena itu, orang-orang Islam yang fanatik, kata Bung Karno, dan memerangi pergerakan marxisme, adalah Islamis yang tak kenal akan larangan-larangan agamanya sendiri (DBR Dibawah Bendera Revolusi hal: 13). Bagi orang-orang Islam yang tak mengenal larangan-larangan ajaran agamanya sendiri, itulah yang memerangi komunisme. Dan mereka inilah yang dengan seenaknya menilai orang Islam yang menjadi komunis sebagai kurang iman, bodoh, sesat, terkecoh oleh propaganda komunis dsb. Atau yang bersangkutan Islamnya palsu, ia muslim gadungan, Islam dipakai sebagai kedok, sholatnya hanya pura-pura, alias sebagai taktik saja.

Biarlah mereka nanti merasakan azab, karena telah menempuh jalan sesat, serta ikut-ikutan dalam gerakan anti Tuhan dan anti agama. Mereka sudah menjatuhkan hukum, padahal surat Al Hujurat ayat 1 mengatakan: janganlah kamu menjatuhkan sesuatu hukum, sebelum Allah dan Rasul menghukumkan. Padahal Allah baru akan menghukum di akhirat nanti.

Mengenai hal itu dengan jelas dikatakan Al Quran dalam Surat As Saba ayat 24-25-26 bahwa: Sesungguhnya kami atau kamu yang berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Kamu tidak akan diminta pertanggunganjawab pelanggaran-pelanggaran kami, dan kami pun tidak akan diminta mempertanggungjawab kan perbuatan-perbuatan kamu. Katakanlah, Allah kelak akan menghimpun kita semua, kemudian memberi keputusan di antara kita dengan benar, sesungguhnya Dia Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui. Jadi, mereka yang menyatakan azab bagi komunis muslim, telah mendahului keputusan Allah, telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan.

TANGGUNGJAWAB PARA PEMIMPIN ISLAM
Menurut Dahlan, masalah Komunis Muslim bukanlah masalah individual dari seorang individu muslim saja. Masalah ini disebut fenomena, karena ini merupakan gejala dalam dan merupakan masalah masyarakat. Masalah Komunis Muslim adalah merupakan dampak dari proses kontak dan interaksi antara Islam dan Komunisme. Soal bagaimana ajaran-ajaran Islam diaktualisasikan dan ditampilkan, memegang peranan besar, bahkan menentukan . Dan ini adalah merupakan tugas kewajiban para ulama dan cendekiawan muslim.

Jadi, masalah Komunis Muslim tidaklah hanya merupakan tanggungjawab individu yang bersangkutan, melainkan juga bahkan terutama tanggung jawab para pemimpin Islam.
Komunisme tidaklah muncul begitu saja dalam alam vakum. Ia adalah produk, bukan produk sampingan, melainkan produk pokok dari kapitalisme dan setiap sistem penindasan lainnya (feodalisme, fasisme dan lainnya). Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Arnold Toynbee komunisme adalah hasil hati nurani Barat yang bersalah.

Begitu komunisme, demikian pula ke Komunis Muslim-an. Kalau komunisme adalah tanggungjawab Barat (kapitalisme), fenomena komunis muslim adalah juga menjadi tanggung jawab para pemimpin Islam.

MENGAPA DAHLAN SAMPAI PADA KESIMPULAN DEMIKIAN?
Dahlan benar sekali, sekiranya para pemimpin Islam tidak hanya tenggelam dalam simbol-simbol Islam saja, tetapi lebih mengutamakan substansi ajaran Islam, tentu persoalannya akan menjadi lain. Karena, kalau para pemimpin Islam senantiasa tampil sebagai penentang setiap bentuk penindasan atau penghisapan, tentu Komunis Muslim itu tidak akan muncul.

Seperti tidak akan munculnya, komunisme, bila kapitalisme tidak ada. Komunis muslim tak akan muncul, bila pemimpin Islam tampil memerangi kapitalisme, sesuai dengan kutukan terhadap orang-orang yang menumpuk-numpuk harta dalam surat Al Humazah (ayat 1-4). Bukankah yang menumpuk-numpuk harta itu kaum kapitalis!

Komunis muslim tak akan muncul sekiranya para pemimpin Islam memperjuangkan supaya kaum tertindas dan miskin (buruh, tani dan rakyat pekerja lain) menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, seperti yang dijanjikan Allah dalam Surat Al Qashas ayat 5-6. Bila kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) telah menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, maka tak ada peluang lagi bagi kaum penindas/penghisap (mustakbirin) untuk menindas/ menghisap kaum mustadhafin. Dan itulah Sosialisme Islam.

Komunis Muslim pasti akan lebih banyak lagi yang muncul, bila para pemimpin Islam justru berdiri di pihak kapitalisme, feodalisme dan fasisme, bukannya memerangi kapitalisme, feodalisme dan fasisme. Komunis muslim muncul karena para pemimpin Islam tidak mengamalkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan karena itulah, meskipun sudah 14 abad lebih, Sosialisme Islam juga belum tegak di bumi.

Munculnya Komunis Muslim, diantaranya juga untuk mengoreksi para pemimpin Islam tersebut, untuk kembali pada ajaran Islam yang sungguh-sungguh. Menegakkan keadilan dan kebenaran. Hadirnya Komunis muslim justru menguntungkan agama Islam itu sendiri, karena mereka dengan sepenuh hati dan tanggungjawab mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang oleh sementara pemimpin Islam diabaikan. Atau sementara pemimpin Islam itu hanya beriman kepada sebagian isi Al Quran dan ingkar atas sebagiannya.

Bila demikian, mereka itulah yang dimaksud surat Al Baqarah ayat 58, maka tiadalah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antaramu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia; dan pada hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam siksaan yang keras. Allah tiada lalai dari apa-apa yang kamu kerjakan. Komunis Muslim sudah di jalan Islam. ***

Catatan kaki:

Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat!.. Karl Marx menunjukkan dengan ayat-ayat Al Quran hal-hal yang bercocokan antara komunisme dan Islam (di antaranya, kedua-duanya memandang sebagai kewajiban menghormati hak-hak manusia dan kedua-duanya berjuang terhadap penindasan). Dan diterangkannya juga bahwa seorang yang tidak menyetujui dasar-dasar komunisme, mustahil ia seorang muslim sejati. Dosa itu lebih besar lagi kalau orang memakai agama Islam sebagai selimut.*
Keterangan Tambahan:
Dahlan Ranuwihardjo (1925-2001) adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun 1951-1953. Dahlan dikenal sebagai tokoh Islam yang sangat nasionalis, dan peletak dasar hubungan harmonis antara HMI dengan pemerintah. Ia punya hubungan baik dengan Presiden Sukarno justru sewaktu HMI tengah ditekan untuk dibubarkan atas desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI)). Pada tahun 2001 Presiden Megawati juga meminta Dahlan menjadi ketua panitia peringatan Seratus Tahun Bung Karno.
Dahlan Ranuwihardjo dan Prof Dr Agussalim Sitompul (1945-2013) mantan Ketua Cabang HMI Yogyakarta dan Prof. Bustanul Arifin Ketua HMI Cabang Yogyakarta tahun 1952-1954 baru mendapat Penghargaan pada peringatan milad 47 tahun Korps Alumni HMI (KAHMI) 17 September 2013 yang disampaikan langsung Koordinator Presidium Nasional KAHMI, Mahfud MD.
Penganugerahan pada malam puncak resepsi HUT KAHMI di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa malam itu, dihadiri oleh sejumlah tokoh alumni HMI seperti Sulastomo Ketua Umum PB HMI 1963-1966, Akbar Tanjung Ketua Umum PB HMI 1971-1974, Jusuf Kalla, AM Fatwa, Priyo Budi Santoso, Irman Gusman, Viva Yoga Mauladi, maupun tokoh non-HMI seperti Wiranto dan lainnya.
Mari kita teladani semangat juang para pendahulu dan senior-senior kita dengan darah ke-HMI-an, karena darah yang mengalir di tubuh itu akan membawa kita untuk terus berjuang dan berjuang bagi kebangkitan ibu pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia kata Mahfud MD saat menganugerahkan penghargaan tersebut. []

PIDATO LAHIRNYA PANCASILA

Pidato Lahirnya Pancasila
Oleh: Soekarno
(1 Juni 1945)

Paduka Tuan Ketua Yang Mulia!
Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.
Maaf beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan di dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah – dalam bahasa Belanda – Philosofische grondslag (dasar filosofi-Ed.) dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam- dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia. Tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada Tuan-Tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”.
“Merdeka” buat saya adalah political independence, politieke onafhankelijkheid (kemerdekaan politik, dalam bahasa Inggris dan Belanda-Ed.). Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?
Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang – saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini – zwaarwichtig (seolah-olah amat berat, dalam bahasa Belanda-Ed.) akan perkara- perkara kecil. Zwaarwichtig sampai – kata orang Jawa – jelimet (dengan teliti, rinci dan lengkap, dalam bahasa Jawa-Ed.). Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.
Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu.
Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara- negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!
Alangkah bedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai sampai jelimet, maka say bertanya kepada Tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80 persen dari rakyatnya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti akan hal ini atau itu.
Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkalah Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toh Saudi Arabia merdeka!
Lihatlah pula – jikalau Tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat – Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia adal rakyat Musyik (golongan yang percaya adanya Tuhan, tetapi tak menganut suatu agama-Ed.) yang lebih dari 80 persen tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, Tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini mau mendirikan Negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!
Maaf, Paduka Tuan Zimukyokutyoo (Kepala Kantor Tata Usaha untuk Lembaga Tinggi, dalam bahasa Jepang, yang berada di bawah pemerintah militer Jepang untuk mengurus persiapan sidang-sidang BPUPKI-Ed.)! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca Tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuany! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka… sampai di lubang kubur!
(Tepuk tangan riuh)
Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun 1933 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama Mencapai Indonesia Merdeka. Maka di dalam risalah tahun 1933 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhkelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.
Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam – in one night only – kata Armstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riyadh dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan Ibn Saud, maka di seberang jembatan – artinya kemudian dari pada itu – Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade (suku yang berpindah-pindah tempat, atau pengembara, dalam bahasa Belanda-Ed.), yaitu orang Badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok-tanam. Nomade dirubah lagi oleh Ibn Saud menjadi kaum tani – semuanya di seberang jembatan.
Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet-Rusia Merdeka telah mempunyai Dneprprostoff, dam yang maha besar di sungai Dnepr? Apa ia telah mempunyiai radio- station, yang menyundul ke angkasa? Apa ia tel mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet-Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, Tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan creche (tempat penitipan bayi dan anak-anak pada waktu orangtua bekerja-Ed.), baru mengadakan Dneprprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada Tuan-tuan sekalian, janganlah Tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya Tuan-tuan punya semangat – jikalau Tuan-tuan demikian – dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasra Indonesia Merdeka sekarang!
(Tepuk tangan-riuh)
Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, padahal semoboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan “INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang!
(Tepuk tangan-riuh)
Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia Merdeka, kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar-hati! Saudara-saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar!
Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon
(Kekaisaran Jepang Raya-Ed.) untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseik-kan
(Kepala Pemerintahan Militer Tentara Pendudukan Jepang-Ed.) diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo (Kepala Departemen Urusan Umum- Ed.) diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo- Butyoo (Kepala Departemen-Ed.) diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid – in one night, di dalam satu malam!
Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milsiyun, semuanya bersemboyan: Indonesia Merdeka, sekarang! Jikalau umpamanya Balatentara Dai Nippon, sekarang menyerahkan urusan negara kepada Saudara-saudara, apakah Saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke rumiyin – tunggu dulu – minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka?
(Seruan: Tidak! Tidak!)
Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini Balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menit pun kita tidak akan menolak, sekarang pun kita menerima urusan itu, sekarang pun kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka!
(Tepuk tangan menggemparkan)
Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Sovyet-Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dan lain-lain, tentang isinya. Tetapi ada satu yang sama, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggris sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis (tuntutan minimum, dalam bahasa Belanda-Ed.). Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk Merdeka.
(Tepuk tangan riuh)
Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, Saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji 500 gulden. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul (memantul, dalam bahasa Jawa-Ed.), sudah mempunyai meja-kursi yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder- uitzet (pakaian untuk anak-anak, dalam bahasa Belanda-Ed.), barulah saya berani kawin.
Ada orang lain yang berkata: Saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat – yaitu meja mkan, lantas satu zitje (tempat duduk untuk bersantai, dalam bahasa Belanda-Ed.) – lantas satu tempat tidur.
Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu Saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengans satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk (jurutulis, dalam bahasa Belanda-Ed.) dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur: Kawin.
Sang Ndoro (atau Bandoro, berarti majikan atau tuan, dalam bahasa Jawa-Ed.) yang mempunyai rumah gedung, electrische-kookplaat (alat masak listrik, dalam bahasa Belanda-Ed.), tempat tidur, uang bertimbun-timbun: Kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig (berbahagia, dalam bahasa Belanda-Ed.), belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, Saudara-saudara!
(Tepuk tangan dan tertawa)
Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver (peralatan makan dari perak, dalam bahasa Belanda-Ed.) satu kaset plus kinder-uitzet – buat 3 tahun lamanya!
(Tertawa)
Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: Kita ini berani merdeka atau tidak? Inilah, Saudara-saudara sekalian, Paduka Tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian Paduka Tuan Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: Kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence… saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia Merdeka!
(Tepuk tangan riuh)
Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu per satu. Di dalam Sovyet-Rusia Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Sovyet-Rusia satu per satu.
Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata, kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak disentri, banyak penyakit hongerudeem (penyakit busung lapar, dalam bahasa Belanda-Ed.), banyak ini banyak itu. “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka.”
Saya berkata, kalau ini pun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyatukan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan – jembatan emas – inilah baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.
Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenarnya international recht – hukum internasional – menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko (macam-macam, dalam bahasa Jawa-Ed.), yang jelimet. Tidak! Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk international recht. Cukup, Saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara lain yang merdeka, itulah
yang sudah bernama: Merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya – sudahlah ia merdeka.
Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka apa tidak?
(Jawab hadirin: Mau!)
Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka”, maka sekarang saya bicarakan tentang hal “dasar”.
Paduka Tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Paduka Tuan Ketua kehendaki! Paduka Tuan Ketua minta dasar, minta philosofische grondslag, atau – jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk – Paduka Tuan Ketua yang mulia meminta suatu Weltanschauung (pandangan hidup, dalam bahasa Jerman-Ed.), di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.
Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu Weltanschauung. Hitler mendirikan Jermania di atas national sozialistische Weltanschauung – filsafat nasional- sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Sovyet di atas satu Weltanschauung, yaitu Marxistische, Historisch-Materialistische Weltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas satu Weltanschauung, yaitu yang dinamakan Tenno Koodoo Seishin. Di atas Tenno Koodoo Seishin inilah negara Dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas suatu Weltanschauung – bahkan di atas satu dasar agama – yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh Paduka Ketua yang mulia: Apakah Weltanschauung kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?
Tuan-tuan sekalian, Weltanschauung ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam Weltanschauung, bekerja mati-matian untuk me-realiteit-kan Weltanschauung mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan. Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed, “Sovyet-Rusia didirikan dalam 10 hari oleh Lenin cs.” – Reed di dalam kitabnya Ten days that shook the world, Sepuluh hari yang menggoncangkan dunia… walaupun Lenin mendirikan Rusia dalam 10 hari, tetapi Weltanschauung-nya telah tersedia berpuluh-puluh tahun. Terlebih dulu telah tersedia Weltanschauung-nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu di atas Weltanschauung yang sudah ada. Dari 1895 Weltanschauung itu telah disusun. Bahkan dalam revolusi 1905, Weltanschauung itu “dicobakan”, di-generale- repetitie-kan.
Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri generale-repetitie dari revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum tahun 1917, Weltanschauung itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudan, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed… hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruh kekuasaan itu di atas Weltanschauung yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?
Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische Weltanschauung.
Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya Weltanschauung itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini – Weltanschauung ini – dapat menjelma dengan dia punya Munchener Putsch, tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya beliau dapat merebut kekuasaan dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar Weltanschauung yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.
Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka Tuan Ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschauung kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch- materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan oleh Doktor Sun Yat Sen?
Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi Weltanschauung-nya telah dalam tahun 1885 – kalau saya tidak salah – dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku The Three People’s Principles, San Min Chu I – Mintsu, Minchuan, Min Sheng: Nasionalisme, demokrasi, sosialisme – telah digambarkan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas Weltanschauung San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.
Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas Weltanschauung apa? Nasional-sosialisme-kah? Marxisme-kah? San Min Chu I-kah, atau Weltanschauung apakah?
Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan – macam-macam – tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadi-Koesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencarai persatuan philosofische grondslag, mencari satu Weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi “setuju”! Yang Saudara yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang Saudara Sanoesi setujui, yang Saudara Abikoesno setujui, yang Saudara Liem Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui. Apakah itu?
Pertama-tama, Saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?
Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik Saudara-saudara yang bernama kaum Kebangsaan yang di sini, maupun Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah yang kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918… ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasarKebangs aan.
Kita mendirikan satu Negara Kebangsaan Indonesia.
Saya minta, Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan Saudara-saudara Islam lain, maafkanlah saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada Saudara-saudara, janganlah Saudara-saudara salah paham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasarkebangs aan. Itu bukan berarti kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satunationale staat (negara nasional, dalam bahasa Belanda-Ed.), seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka Tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak Tuan pun adalah orang Indonesia, nenek moyang Tuan pun bangsa Indonesia. Di atas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia.
Satu Nationale Staat! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempo sedikit: Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa?
Menurut Renan (Ernest Renan, pemikir orientalis Perancis-Ed.), syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu”. Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Ernest Renan menyebut syarat bangsa: le desir d’etre ensemble, yaitu kehendak akan bersatu. Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.
Kalau kita lihat definisi orang lain – yaitu definisi Otto Bauer (pemikir dan teoritikus Partai Sosial Demokrat Austria-Ed.) – di dalam bukunya, Die Nationalitatenfrage, di situ ditanyakan: Was ist eine Nation? Dan dijawabnya ialah: Eine Nation ist eine aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft (bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib-Ed.). Inilah menurut Otto Bauer satu natie.
Tetapi kemarin pun, tatkala – kalau tidak salah – Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang terhormat Mr.Yamin berkata: Verouderd! Sudah tua! Memang Tuan-tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah verouderd, sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah tua. Sebab tatkala Ernest Renan mengadakan definisinya itu, tatkala Otto Bauer mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap baru, satu ilmu baru, yang dinamakan geo-politik.
Kemarin – kalau tidak salah – Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau Tuan Moenandar, mengatakan tentang “persatuan antara orang dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, Tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya! Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan Gemeinschaft-nya (persamaan atau persatuannya, dalam bahasa Jerman-Ed.) dan perasaan orangnya, l’ame et le desir (jiwa dan kehendaknya, dalam bahasa Perancis-Ed.) Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana “kesatuan-kesatuan” di situ. Seorang anak kecil pun – jikalau ia melihat peta dunia – ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara 2 lautan yang besar, Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, dan di antara 2 benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau- pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan. Demikan pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir timur Benua Asia sebagai golfbreker atau penghadang gelombang lautan Pasifik, adalah satu kesatuan.
Anak kecil pun dapat melihat, bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh Lautan Hindia yang luas dan Gunung Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris adalah satu kesatuan.
Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai satu kesatuan pula. Itu ditaruhkan oleh Allah SWT demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan Athena saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athena plus Macedonia plus daeraha Yunani yang lain-lain – segenap kepulauan Yunani – adalah satu kesatuan.
Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat – bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah SWT menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera – itulah tanah air kita!
Maka jikalau saya ingat perhubungan antara orang dan tempat – antara rakyat dan buminya – maka tidak cukuplah definisi yang dikatakan Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup le desir d’etre ensemble, tidak cukup definisi Otto Bauer aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft itu.
Maaf, Saudara-saudara, saya mengambil contoh Minangkabau. Di antara bangsa Indonesia, yang paling ada le desir d’etre ensemble adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2 milyun.Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu kesatuan, melainkan hanya satu bagian kecil dari satu kesatuan! Penduduk Yogya pun adalah merasa le desir d’etre ensemble, tetapi Yogya pun hanya satu bahagian kecil dari satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan le desir d’etre ensemble, tetapi Sunda pun haya satu bagian kecil dari satu kesatuan.
Pendek kata, bangsa Indonesia – Natie Indonesia – bukanlah sekadar contoh satu golongan orang yang hidup dengan le desir d’etre ensemble di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusia yang menurut geopolitik, yang telah ditentukan oleh Allah SWT, tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatera sampai ke Irian! Seluruhnya! Karena antara 70.000.000 ini sudah ada le desir d’etre ensemble, sudah terjadi Charaktergemeinschaft! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu !
(Tepuk tangan hebat)
Ke sinilah kita semua harus menuju: Mendirikan satu Nationale Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan di antara Tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan “golongan kebangsaan”. Ke sinilah kita harus menuju semuanya.
Saudara-saudara, jangan mengira, bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Bayern, bukan Saksen (kerajaan lama di Jerman, lebih dikenal sebagai Prusia, Bavaria dan Saxony-Ed.) adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermania-lah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italia-lah – yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang di utara dibatasi oleh pengunungan Alpen – adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segitiga India-lah nanti harus menjadi nationale staat.
Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit. Di luar itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram – meskipun merdeka – bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, saya berkata, bahwa kerajaannya di Banten – meskipun merdeka – bukan suatu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanuddin di Sulawesi yang telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat.
Nationale staat hanya Indonesias elur uhnya, yang telah berdiri di zaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau Tua- tuan terima baik, marilah kita mengambil dasar Negara yang pertama:Kebangsaan Indonesia.
Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat.
Maaf, Tuan Liem Koen Hian. Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan Fuku Kaityoo (Wakil Ketua, maksudnya Soeroso-Ed.), Tuan menjawab: “Saya tidak mau akan kebangsaan.”
(Liem Koen Hian menanggapi: “Bukan begitu. Ada sambungannya lagi.”)
Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena Tuan Liem Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk paham kosmopolitanisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitanisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya menschheid – perikemanusiaan!
Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa ada kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah HBS di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya. Katanya: “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikit pun.” Itu terjadi pada tahun ’17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ialah Dr. Sun Yat Sen! Di
dalam tulisannya, San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh Baars itu. Dalam hati saya sejak itu, tertanamlah rasa kebangsaan oleh pengaruh The Three People’s Principles itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat, sehormat-hormatnya, merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen – sampai masuk ke lobang kubur.
(Anggota-anggota Tionghoa bertepuk tangan)
Saudara-saudara! Tetapi… tetapi… memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya! Bahayanya ialah mungkin orang-orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme (nasionalisme yang berlebihan, ekstrem-Ed.), sehingga berpaham “Indonesia uber Alles (Indonesia di atas semua bangsa-Ed.).” Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bagian kecil saja dari dunia! Ingatlah akan hal ini! Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity.”
Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan Deutschland uber Alles. Tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru – bangsa Arya – yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas asas demikian, Tuan-Tuan. Jangan berkata, bahwa bangsa Indonesia-lah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.
Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.
Justru inilah prinsip yang kedua. Inilah philosofische princiep yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakaninternasionalisme. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitanisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya.
Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup di dalam taman sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, Saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2 – yang pertama-tama saya usulkan kepada Tuan-tuan sekalian – adalah bergandengan erat satu sama lain.
Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua, semua buat satu”. Saya yakin,bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.
Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam – maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna – tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini,
ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan.
Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat- hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin- pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras- kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.
Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60 persen, 70 persen, 80 persen, 90 persen utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan hanya Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90 persen daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf beribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada Saudara-saudara sekalian – baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam – setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.
Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul, betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candaradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat Saudara-saudara Islam dan Saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter (huruf, dalam bahasa Inggris-Ed.) di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya, sebagian besar dari utusan- utusan yang masukn badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil, fair play! (permainan yang jujur, dalam bahasa Inggris-Ed.). Tidak ada negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahu wa ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan sehari- hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah Saudara-saudara prinsip nomor 3, yaitu prinspi permusyawaratan!
Prinsip nomor 4, sekarang saya usulkan. Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsipkesejahteraan, prinsip tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi: Prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: Nationalism, Democracy, Sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang- pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, Saudara-saudara? Jangan Saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire demoratie. Tetapi tidakkah di Eropa justru kaum kapitalis merajalela?
Di Amerika ada suatu Badan Perwakilan Rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan yang diadakan di sana itu, sekedar menurut resepnya Fransche Revolutie (Revolusi Perancis, dalam bahasa Belanda-Ed.). Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan demokrasi di sana itu hanyalah politieke demoratie saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid – tidak ada keadilan sosial, tak ada economische democratie sama sekali.
Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures yang menggambarkan politieke demoratie. “Di dalam parlementaire demoratie,” kata Jean Jaures, “tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk dalam parlemen. Tetapi adakah sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?”
Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu, di dalam Parlemen dapat menjatuhkan minister (menteri, dalam bahasa Belanda dan Inggris-Ed.). Ia seperti raja. Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja – di dalam pabrik – sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar ke luar jalan raya, dibikin werloos (menganggur, dalam bahasa Belanda-Ed.), tidak dapat makan suatu apa.”
Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki?
Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek- economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan paham Ratu-Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan, kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, Saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya. Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang akan kita buat, hendaknya bukan bada permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid (keadilan politik dan keadilan sosial, dalam bahasa Belanda-Ed.).
Kita akan bicrakan hal ini bersama-sama, Saudara-Saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan Kepala Negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarki. Apa sebab? Oleh karena monarki vooronderstelt erfe-lijkheid (pewarisan yang sudah diketahui terlebih dahulu, dalam bahasa Belanda-Ed.). Turun-temurun. Saya orang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi Kepala Negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, janganlah anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya – dengan otomatis – menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu, saya tidak mufakat kepada prinsip monarki itu.
Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:
1.Kebangsaan Indonesia
2.Internasionalisme atau perikemanusiaan
3.Mufakat atau demokrasi
4.Kesejahteraan sosial.
Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
PrinsipKetuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa.Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni tiada “egoisme agama”.Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!
Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.
(Tepuk tangan sebagian hadirin)
Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (sifat dapat memahami pendapat yang lain, dalam bahasa Belanda-Ed.), tentang menghormati agama-agama lain, Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini – sesuai dengan itu – menyatakan: Bahwa prinsip kelima dari Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!
Di sinilah, dalam pangkuan asas yang kelima inilah, Saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!
Ingatlah prinsip ketiga – permufakatan, perwakilan – di situlah tempatnya kitai mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara yang tidak onverdraagzaam (tidak sabar, memaksa, dalam bahasa Belanda-Ed.), yaitu dengan cara yang berkebudayaan!
Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakandasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai pancaindera. Apa lagi yang lima bilangannya?
(Seorang yang hadir: “Pendawa Lima.”)
Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip – kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan – lima pula bilangannya.
Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa — namanya ialahPancas ila. Sila artinya “asas” atau “dasar”, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.
(Tepuk tangan riuh)
Atau, barangkali ada Saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar- dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme – kebangsaan dan perikemanusiaan – saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakanS os io-n as ion alis me.
Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economische demoratie – yaitu politieke demoratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan – saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan Sosio- demokrasi.
Tinggal lagi Ketuhanan, yang menghormati satu sama lain.
Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: Sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja! Baiklah saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?
Sebagai tadi telah saya katakan: Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indoesia buat Indoesia. Semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!
(Tepuk tangan riuh-rendah)
“Gotong-royong” adalah paham yangdinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong-royong!
(Tepuk tangan riuh-rendah)
Prinsip gotong-royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, Saudara-saudara, yang saya usulkan kepada Saudara- saudara.
Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: Trisila, Ekasila ataukah Pancasila? Isinya telah saya katakan kepada Saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada Saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu.
Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, Saudarna-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia. Di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambat-laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah SWT.
Berhubungan dengan itu – sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi – barangkali perlu diadakan noodmaat-regel (aturan darurat, dalam bahasa Belanda-Ed.), peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, Saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita.
Entah Saudara-saudara memufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membangun nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perikemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk Ketuhanan. Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun. Tetapi, Saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada Saudara- saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu
Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan – menjadi realiteit – jika tidak dengan perjuangan!
Jangan pun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen!
De Mensch – manusia – harus perjuangkan itu. Zonder (tanpa, dalam bahasa Belanda- Ed.) perjuangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjuangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa Tionghoa, Saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: Zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak
ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit. Jangan pun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit (hitam di atas putih, dalam bahasa Belanda-Ed.), tertulis di atas kertas, tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjuangan manusia yang dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis di dalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjuangan umat Kristen.
Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bansa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ketuhanan yang luas dan sempurna – janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagiper juangan!
Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila.
Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu Saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko – tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekadkan mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad: Merdeka! “Merdeka atau mati!”
(Tepuk tangan riuh)
Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap verschrikkelijk zwaarwichtig (seolah-olah sangat berat, dalam bahasa Belanda-Ed.) itu.
Terima kasih!
(Tepuk tangan riuh-rendah dari segenap hadirin)
Catatan:
Pidato Lahirnya Pancasila oleh Bung Karno yang bersejarah ini diutarakan 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang. Badan, itu bersidang dari 29 Mei sd 1 Juni 1945 dengan acara tunggal untuk menjawab pertanyaan Ketua BPUPKI Dr.KRT Radjiman Wedyodiningrat: “Indonesia Merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?” Dari sejumlah pembicara, pidato Bung Karno yang diberi judul Pancasila itu mendapat sambutan dan disetujui secara aklamasi oleh sidang tersebut.***
(Disiar Facebook Profil: A.Kohar Ibrahim 1 Juni 2011).

PETITE LECONS POUR EVITER TOUT AMALGAME

Petites leçons pour éviter tout amalgame
LE MONDE | 01.11.2013 à 11h42 | Pierre-André Taguieff (Philosophe, historien et politologue, directeur de recherche au CNRS)
L’emploi du mot « islamophobie » en France a empoisonné l’espace des controverses. Ce terme devrait être utilisé pour désigner les appels à la haine, la discrimination et la violence visant les musulmans et/ou leur religion. L’islamophobie ne se réduit pas à un phénomène d’opinion. Elle se manifeste aussi dans les discriminations ou agressions physiques. Elle peut être comprise comme une forme d’hétérophobie visant une communauté de croyants transnationale.
Or, depuis les années 1980, le mot « islamophobie » est employé pour désigner toutes les formes d’examen critique de l’islam, voire de l’islamisme. C’est là confondre la critique et l’appel à la haine. Les usages stratégiques du mot « islamophobie » par les islamistes rendent ce mot difficilement utilisable. Mais remplacer « islamophobie », jugé trop connoté, par « racisme antimusulmans » ou « musulmanophobie » ne changerait rien. Ces expressions seraient exploitées par les mêmes milieux islamistes avec les mêmes objectifs.
Vu l’acuité du débat, il serait de bonne méthode d’énoncer quelques thèses élémentaires sur l’islam dans ses rapports avec l’islamisme et l’anti-islamisme :
L’islam n’est pas l’islamisme.
Il y a des islams et des islamismes ; parler de « l’islam » ou de « l’islamisme » est une commodité de langage, qui donne prise à des interprétations essentialistes naïves ou intéressées ; les islamistes se réfèrent cependant aux mêmes textes fondateurs que les musulmans non islamistes, d’où l’effet de légitimité dont ils jouent.
Un islamisme est le produit d’une politisation d’un islam dont l’objectif est de refondre l’ordre social non musulman ou « insuffisamment » musulman. Tout islamisme a pour objectif d’instaurer un ordre politico-religieux impliquant l’établissement de la charia, comprenant le traitement des non-musulmans comme des êtres inférieurs, l’obligation du port du « voile » pour les femmes et la normalisation du djihad, « offensif » et « défensif » ; l’horizon lointain est l’établissement d’un califat à l’échelle mondiale.
Les groupes islamistes visent à établir un émirat, une république ou un califat islamique, ce dernier pouvant s’élargir en un empire islamique universel ; certains idéologues islamistes, s’inspirant du léninisme, ont théorisé une telle stratégie de conquête ; les ordres politiques présentent tous les caractères d’une dictature.
Les islamistes recourent à plusieurs méthodes, violentes ou « douces », pour mener à bien la conquête du monde non musulman ou « l’islamisation » des sociétés non musulmanes : prosélytisme, guerre culturelle, refus des lois et des traditions des pays d’accueil, pressions exercées sur les acteurs politiques, menaces contre des personnalités hostiles à l’islamisme, actions terroristes accompagnées de mises en spectacle conçues comme des actes de propagande.
Les politisations de l’islam, qui prennent souvent la forme de « fondamentalismes révolutionnaires », sont incompatibles avec les sociétés démocratiques. Le rejet de l’islamisme dérive à la fois du spectacle répulsif offert par le terrorisme qui ravage le monde et du refus de vivre dans des dictatures.
L’anti-islamisme n’a rien à voir avec ce qu’on appelle improprement l’« islamophobie », catégorie d’amalgame qui confond la critique intellectuelle des dogmes de l’islam, la critique politique et morale de l’islamisme et l’appel à la haine contre les musulmans.
Les islamistes ont intérêt à faire croire que les anti-islamistes sont « islamophobes », et, plus largement, que tout examen critique de l’islam ou du monde musulman exprime une « islamophobie » plus ou moins dissimulée. Le vrai problème ne tient pas au fait que la menace islamiste ne serait pas reconnue – le déni paraîtrait incongru -, il réside dans la sous-estimation du phénomène. Depuis le début des années 1990, de singuliers prophètes annoncent la fausse bonne nouvelle suivant divers refrains : ceux de l’« échec », du « déclin » ou de la « fin » de l’islamisme radical. Or, en règle générale, ceux qui sous-estiment la menace islamiste sont aussi ceux qui dénoncent « l’islamophobie » avec le plus de véhémence.
L’anti-islamisme est une réaction de défense légitime des sociétés démocratiques ou pluralistes. Les musulmans non islamistes sont diabolisés et menacés par les islamistes, tout comme les musulmans qui ont une attitude critique envers l’islam et appellent à une révision des dogmes ou à une libre interprétation des textes de référence. Les musulmans hostiles à l’islamisme sont les alliés naturels des anti-islamistes non musulmans.
Les anti-islamistes sont des combattants de la liberté, des défenseurs du principe de laïcité. C’est pourquoi ils sont la cible principale des islamistes et de leurs alliés. On peut voir dans ces débats convulsifs fondés sur des questions mal posées l’expression particulière d’une guerre culturelle planétaire.
Pierre-André Taguieff (Philosophe, historien et politologue, directeur de recherche au CNRS)

NILAI KEPAHLAWANAN

Nilai Kepahlawanan
semar samiaji kind_evil_06@yahoo.com, tionghoa-net@yahoogroups.com
Monday, 5 November 2012, 13:35

Merujuk pada link berikut http://www.tempo.co/read/news/2012/04/12/117396582/David-Cameron-Indonesia-Bisa-Memimpin-Dunia memberi refleksi bahwa medan perjuangan salah satu yang utamanya adalah melalui dunia pendidikan. Kalau Indonesia mendidik masyarakatnya melalui nilai-nilai yang ke luar dari JIWA Pembukaan UUD 1945, semakna dengan menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi gangguan kejiwaan bagi bangsa Indonesia akhirnya.
Kalau kita merujuk kepada penghargaan dari Ratu Inggris kepada Presiden yang diberitakan akhir-akhir ini, semestinya (menurut saya), tidak perlu bawa-bawa Indonesianya. Silahkan, kalau penghargaan demikian diterima atas nama PRIBADI Pak Presiden. Silahkan pelajari dan kaji, latar belakang gelar tersebut diberikan oleh para Raja / Ratu Inggris. Diberikan bukan dalam rangka hubungan antar-negara, namun diberikan bagi satria melalui proses pemandian (dipermandikan) oleh Raja / Ratu Inggris.
Kalau kemudian, ada suara-suara yang mengkaitkan pemberian gelar satria tersebut dengan urusan investasi Inggris di Indonesia, jangan kemudian dibantah begitu saja. Lalu, menyatakan bahwa pemberian tersebut katanya karena prestasi demokrasi Indonesia. Kalau kita rujuk link berikut http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2012/11/02/112274/BP-Siapkan-Investasi-US$12-Miliar-di-Indonesia , apakah kemudian bisa dipisahkan antara urusan gelar satria itu dengan urusan ekonomi dengan nilai investasi yang aduhai tersebut? Sesaat beralihnya rezim Bung Karno kepada Pak Harto, wilayah Irian Barat, khususnya Freeport menjadi bagian dari proses peralihannya. Apakah kemudian menjadi tidak mungkin, saat ini, Inggris dengan Proyek Tangguhnya? Apakah jumlah hingga 12 miliar US$ di wilayah yang disengketakan dan dimasalahkan oleh para LSM Inggris dan juga para penegak HAM, di mana Indonesia katanya melakukan tindakan melanggar HAM. Namun di saat itu pula dijawab melalui bentuk investasi pertambangan di wilayah tersebut. Bagaimana bisa meyakini adanya keselarasan antara ucap dengan laku perbuatan kalau sudah demikian?

Sebenarnya, kita tidak mempermasalahkan bentuk-bentuk investasi bagi Indonesia. Yang menjadi masalah, ternyata investasi kemudian merugikan pihak Indonesia dalam konteks kehidupan kita yang berupaya menghidupkan nilai-nilai kebangsaan dan pengelolaan negara yang selaras dan sejiwa dengan Pembukaan UUD 1945. Mari dikaji, silahkan sebutkan, mana bentuk investasi, khususnya dalam pertambangan, yang benar-benar berpihak kepada Indonesia? Tanah ini dijadikan selain dikuras tambangnya, juga dijadikan pasar agar bergantung kepada si penguras tambang. Apakah masih kurang cukup peristiwa-peristiwa yang ada selama ini? Apa yang terjadi pada urusan energi di Indonesia? Apa yang terjadi di wilayah-wilayah tambang yang menghancurkan lingkungan di Indonesia? Lalu, melalui kekuatan penguasaan pertambangan, bangsa kita pun berebut saling menguasai sumber uang yang terbesar ini. Lalu, masuk ke wilayah perebutan kekuasaan, baik dalam cakupan nasional mau pun internasional. Perjalanan rezim Bung Karno yang begitu “keras” melakukan upaya kesetaraan saja kemudian “kalah”, bukan? Esensinya bukan terletak pada kalahnya, namun kepada SURI TAULADAN kepemimpinan yang SETIA dan TAAT kepada nilai-nilai Pembukaan UUD 1945-nya.
Melalui refleksi demikian, medan perjuangan bangsa Indonesia kemudian esensinya TIDAK terletak pada seakan-akan kalau sudah menerima penghargaan kemudian pahlawan atau manusia yang sudah berkorban besar bagi negaranya, sebagai mana kejadian si Surabaya 67 tahun yang lalu, bukan? Kecuali, baru sebatas pengakuan-pengakuan saja, bukan?
Saat terjadinya pertempuran besar di Surabaya, 67 tahun yang lalu, tolok ukurnya jelas, yaitu mempertahankan kemerdekaan sebagai negara. Saat ini, ukurannya adalah JIWA Pembukaan UUD 1945. Ini perjuangan beratnya, upaya tetap menanamkan dan berbuat dengan nilai-nilai Pembukaan UUD 1945 tidak mudah, karena dunia umumnya tidak demikian nuansanya. Diperlukan suri tauladan yang nyata dan JUJUR. Bukan yang sibuk takut karena imagenya menjadi rusak atau buruk.

Pak Presiden berpidato katanya Indonesia akan menjadi jembatan kebudayaan dunia. Saya yakin dengan itu, tetapi TIDAK dengan cara-cara yang mengedepankan nilai-nilai kebudayaan merusak ekonomi negara melalui investasi yang merusak alam Indonesia. Tidak dengan cara-cara menunduk, patuh, dan taat kepada maunya kepentingan-kepentingan asing melampaui nilai-nilai kebudayaan (refleksi Pembukaan UUD 1945) bangsa Indonesia.
Esensi nilai-nilai kepahlawanan di era saat ini, TIDAK terletak kepada bentuk-bentuk penghargaan yang disematkan oleh manusia. Esensi kepahlawanan sejatinya berlaku bagi siapa pun manusia Indonesia yang benar-benar atau sungguh-sungguh dengan nilai-nilai kemanusiaan buah dari ketuhanannya. Tidak memerlukan bentuk-bentuk pengakuan bahwa sudah merasa berjasa, apalagi sambil seret-seret jabatan / kekuasaan. Semua bentuk-bentuk kepemimpinan yang tidak demikian PASTI akan ditelanjangi sampai ke akar-akarnya. Silahkan, si manusia itu berkelit dan melakukan upaya menghindar dari tanggung jawab dan kewenangan yang dititipkan kepadanya, mari kita buktikan apakah si manusia nantinya memang benar-benar mampu menghindar dari gerak alam semesta.

Semoga YMK beri setetes cahaya kepada setiap hati manusia Indonesia yang masih gelap mata hatinya.

Selamat berjuang. Sekali merdeka tetap merdeka!!
Bogor, 5 November 2012
salam,
ss

ISI PERTEMUAN JOKOWI DENGAN PIMPINAN MPR

Ini Isi Pertemuan Jokowi dengan Pimpinan MPR

Ayunda W Savitri – detikNews

http://news.detik.com/read/2014/10/13/172204/2717472/10/ini-isi-pertemuan-jokowi-dengan-pimpinan-mpr?991101mainnews

Senin, 13/10/2014 17:22 WIB

Menyongsong Pelantikan Jokowi
Jakarta – Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) bersama wakil presiden terpilih Jusuf Kalla (JK) mengadakan pertemuan dengan pimpinan MPR sore ini. Mereka membahas mekanisme pengambilan sumpah yang akan dilaksanakan pekan depan, Senin (20/10). Apa isi dari hasil pertemuan tersebut?

“Tadi kita berbicara masalah acara tanggal 20 Oktober yang akan datang,” ujar Jokowi kepada wartawan di rumah dinas Gubernur DKI, Jl Taman Suropati No 7, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/10/2014).

Adapun petinggi MPR yang hadir antara lain Ketua MPR Zulkifli Hasan dan 3 Wakil Ketua MPR yakni EE Mangindaan, Mahyudin dan Oesman Sapta Odang. Tak hanya mereka, ada pula Kepala Tim Transisi Rini Soemarno turut ikut pertemuan tersebut.

“Sesuai rencana tadi, Bapak Ketua MPR Zulkifli Hasan selaku pimpinan MPR ke rumah dinas ini dan kami terima dengan Pak JK, Bu Rini,” lanjutnya.

Mantan Wali Kota Surakarta ini tidak menjelaskan secara rinci terkait mekanisme pelantikannya nanti. Namun Ketua MPR Zulkifli Hasan menyebut Jokowi akan diberi kesempatan menyampaikan pidato pertamanya selaku presiden usai diambil sumpah RI 1.

“Setelah pelantikan resmi dia akan menyampaikan pidato Presiden RI,” terang mantan Menhut itu.
Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di “Reportase Malam” pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(aws/trq)

“KETUHANAN” DALAM PEMIKIRAN SOEKARNO

“Ketuhanan” Dalam Pemikiran Soekarno

http://filsafat.kompasiana.com/2012/07/30/%e2%80%9cketuhanan%e2%80%9d-dalam-pemikiran-soekarno/

OPINI | 30 July 2012 | 15:20
“Ketuhanan” Dalam Pemikiran Soekarno
Beberapa catatan tentang Ketuhanan dalam Pidato Lahir Pancasila 1 Juni 1945

Oleh:Paulus Londo
I
Dari Empiris, Metafisik ke Yuridis
Negara kembali menaruh perhatian terhadap Pancasila. Bahkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kini gencar menyosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan yang intinya adalah Pancasila. Tentu, mau tidak mau semua harus menoleh kepada Pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang kini dikenal sebagai Pidato Lahirnya Pancasila, ” termasuk jika mengupas prinsip “Ketuhanan” sebagai Sila –V dalam Pidato 1 Juni 1945, dan kemudian menjadi Sila Pertama dalam tata urutan Pancasila di berbagai dokumen berikutnya, tetap bertitik tolak dari isi pidato Soekarno tersebut. Namun, memahaminya dengan mendalam jelas perlu memahami alur pemikiran Soekarno tentang Ketuhanan, melalui berbagai referensi terutama tulisan dan pidato Soekarno, baik pada masa pra kemerdekaan maupun sesudahnya.
Kendati di masa Orde Baru, pernah ada upaya membangkitkan keraguan terhadap Soekarno sebagai penggali Pancasila, namun tak dapat disangkal bahwa Soekarno adakah sumber pertama dan utama yang memperkenalkan Pancasila bagi bangsa ini, bahkan bagi masyarakat dunia, dan Pidato Ir Soekarno 1 Juni 1945 di depan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (1) tanggal 1 Juni 1945 itulah yang jadi rujukan awal yang jadi dasar formulasi tata urutan sila-sila dari Pancasila yang dikenal saat ini.
Memang, urutan uraian tentang sila-sila (prinsip) dari Pancasila dalam pidato 1 Juni 1945, berbeda dengan tata urutan sila-sila sebagaimana tercantum dalam dokumen berikutnya, seperti pada Piagam Jakarta yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan, di dalam Pembukaan UUD 1945, mau pun dalam pidato-pidato Soekarno di berbagai kesempatan. Namun semua itu, tidak mengurangi peran Soekarno sebagai “key person” dalam perumusan Pancasila baik sebagai dasar negara
maupun sebagai pandangan hidup bangsa. Dengan demikian, untuk dapat memahami Pancasila perlu memahami logika pemikiran Soekarno yang sebagian besar dibangun secara empiris melalui pengalaman sejarah kehidupan bangsa ini.
Tata urutan sila-sila Pancasila yang diucapkan oleh Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 adalah:
1. Kebangsaaan Indonesia
2. Internasionalisme – atau Perikemanusiaan
3. Mufakat – atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan
Sedangkan urutan sila-sila hasil Panitia Sembilan yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta adalah:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selanjutnya, tata urutan sila-sila Pancasila di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah sebagai berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Patut dipahami, formulasi dua tata urutan sila-sila dalam Pancasila yang terakhir disusun dengan mengacu kepada Pidato Ir. Soekarno 1 Juni 1945, dan proses formulasi penyusunanan juga melibatkan –bahkan dipimpin—oleh Ir. Soekarno. Bahwa ada perbedaan dalam tata urutan antara susunan pertama dengan yang kedua dan ketiga, itu terjadi karena Pidato 1 Juni 1945 adalah pidato tanpa teks, merupakan curahan hati Soekarno yang disampaikan secara spontan, sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Dalam mengucapkan pidato 1 Juni 1945, Soekarno tidak mementingkan sistematika, melainkan ia lebih mengutamakan pengungkapan realita kehidupan masyarakat yang dirasakannya setiap hari yang sesungguhnya gambaran dari Pancasila itu sendiri.
Karena itu pula, tata urutan sila-sila Pancasila yang diucapkan pada 1 Juni 1945 dapat disebut sebagai formulasi empiris. Sedangkan versi Panitia Sembilan dapat disebut sebagai formulasi filosofis sedangkan di dalam Pembukaan UUD 1945 adalah formulasi yuridis. Pemahaman mendalam nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila baik filosofis maupun yuridis tentu hanya tercapai jika terlebih dahulu memahami fakta empiris yang diungkapkan oleh Soekarno, serta logika pemikiran Soekarno, terutama pada masa pra kemerdekaan.

II
Ketuhanan Dalam Pikiran Soekarno
Terkait Pidato 1 Juni 1945, maka satu hal yang kerap dipertanyakan oleh berbagai pihak adalah penempatan “Prinsip Ketuhanan” pada urutan terakhir, sementara prinsip Kebangsaan pada urutan pertama. Oleh karena itu beberapa kalangan menilai Soekarno seorang nasionalis sekularis, setidaknya jika menggunakan alur logika barat. Tetapi, penilaian seperti ini kerap terbantahkan jika melihat alur pemikiran Soekarno di berbagai tulisan dan pidatonya, yang sesungguhnya sarat dengan nilai-nilai keimanan (tauhid).
Pada tulisannya berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme,” dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I (2),terlihat dengan jelas upaya Soekarno mempertemukan aliran pemikiran yang oleh banyak kalangan mustahil dapat dipertemukan seraya menempatkannya dalam perspektif keimanan. Yakni dengan melihat esensi dan makna yang lebih tinggi atau hogere optrekking (3) dari masing-masing paham itu. Dalam tulisan yang diterbitkan oleh Suluh Indonesia Muda (1926) Sukarno mengatakan:
“…nasionalisme di dalam kelebaran dan keluasannya mengasih tempat cinta pada lain bangsa, sebagai lebar dan luasnya udara, yang mengasih tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup … nasionalisme yang membuat kita menjadi ‘perkakasnya Tuhan’ dan membuat kita menjadi ‘hidup dalam roh’ …”
Lalu, mengapa pada Pidato 1 Juni 1945, Prinsip Ketuhanan diuraikan paling terakhir ?
Jawabannya bisa beragam. Tapi jika dikaitkan dengan konteks pidato tersebut, maka penempatan Prinsip Kebangsaan pada urutan pertama, tidak semata-mata pertimbangan teknis untuk memberikan jawaban to the point terhadap pertanyaan Ketua BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat, tentang prinsip utama yang jadi fondasi bagi negara yang akan dibangun, tetapi sekaligus menjelaskan kerangka berpikir Soekarno yang berproses dari fisik empiris ke metafisik. Kerangka berpikir ini dengan sendirinya menjelaskan pernyataan Soekarno bahwa ia bukan pencipta Pancasila, melainkan hanya menggali nilai-nilai dasar tersebut dari bumi kehidupan bangsa Indonesia. Dan isi pidato itu mengalir spontan dari dalam hati serta pikiran Soekarno.
Lantas, apakah karena itu pula, Soekarno mengabaikan dimensi keimanan dalam menyampaikan prinsip-prinsip yang menjadi sila-sila dari pada Pancasila ?
Jika menyimak Pidato 1 Juni 1945, sesungguhnya saat Soekarno menjelaskan prinsip kebangsaan, ia telah meletakkan konsep negara sebagai sesuatu yang berciri khas Indonesia yang didalamnya terkandung nilai –nilai keimanan. Dalam pidato itu Soekarno berkata:
“.. Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan (4) dan Otto Bauer (5) hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan gemeinschaftnya dan perasaan orangnya, “I ame et le desir. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia. Apakah tempat itu ? tempat itu adalah tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah SWT membuat peta dunia, menyusun peta dunia……………………………
Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita ? Menurut geopolitik (6) maka Indonesia-lah tanah air kita. Indonesia yang bulat – bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja atau Selebes saja atau Ambon saja atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah SWT menjadi satu kesatuan antara dua benua dan dua samudera – itulah tanah air kita (7) (Pidato 1 Juni 1945)
Beberapa hal penting dari pidato diatas adalah:
a. Soekarno menghendaki negara yang dibangun adalah negara kebangsaan (nation state) yang menghimpun dan mengayomi keanekaragaman masyarakat Indonesia.
b. Soekarno menilai konsep “bangsa” dari sejumlah pemikir barat yang hanya melihat bangsa dari aspek “gemeinschaft” (karakter dan perangai manusia), tidak melihat adanya pertautan bangsa dengan alam yang menjadi ruang kehidupannya (lebensraum).
c. Bangsa dan negara sebagai sesuatu yang memiliki makna spiritual, yakni memiliki dimensi keimanan (tauhid), karena terbentuknya bangsa dan negara ini sebagai kehendak illahi.
Bagi Soekarno bangsa dan negara Indonesia tidak hanya suatu fenomena sosiologis, tapi juga memiliki makna geopolitik dan teologis. Tampaknya, Soekarno sengaja menjelaskan ketiga hal itu dibagian awal saat mengupas prinsip kebangsaan, karena sesungguhnya saat menyampaikan pidato itu, kemungkinan besar ia kuatir apa yang ia sampaikan bakal ditolak sebagian anggota BPUPKI –sebagaimana pembicara sebelumnya—terutama oleh mereka yang mengusulkan konsep negara berdasar agama.
Mengedepankan dimensi ketuhanan sebagai bagian yang esensial dari kebangsaan dan kenegaraan yang hendak dibangun bersama tentu dapat menentramkan hati anggota BPUPKI termasuk mereka yang mengusung aspirasi negara berdasar agama. Apalagi hal yang sama secara tersirat juga dipertegas pada saat menjelaskan prinsip kedua, yakni Internasionalisme dengan mengutip pendapat Mahatma Gandhi, yakni “My Nationality Is Humanity” dan prinsip ketiga yakni Permusyawaratan/Perwakilan yang memberikan peluang bagi pemeluk agama memperjuangkan aspirasinya
“Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun adalah orang Islam –maaf beribu-ribu maaf, keislaman jauh belum sempurna—tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tak lain, tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama yaitu dengan jalan pembicaraan atau pun permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan rakyat. (Pidato 1 Juni 1945)
Menghubungkan prinsip kebangsaan, internasionalisme (peri kemanusiaan) serta prinsip permusyawaratan/perwakilan, tidak hanya menunjukkan kemampuan Soekarno mengadopsi pemikiran barat modern, tapi sekaligus memperbaikinya dengan memberi landasan keimanan. Beberepa sumber menjelaskan dalam soal kebangsaan, Soekarno memang cenderung memandangnya sebagai fenomena sosial, sebagai fakta empiris. Tapi, persinggungannya dengan H Agus Salim, membuka cakrawala baru tentang kebangsaan sebagai fenomena teologis, yakni tauhid dalam ajaran Islam.
Tauhid mengandung pengertian adanya kesatuan yang Mutlak yakni Allah. Selain itu prinsip Tauhid mengandung pengertian akan kesamarataan semua makhluk di depan Allah SWT tanpa membedakan rasa dan asal usulnya.

III
Pancasila – Trisila – Ekasila
Sebagai formulasi empiris yang disampaikan secara spontan, tampaknya Soekarno tidak terlalu memperdulikan kemasan, sebab bagi dia yang penting kandungan isi yang terdapat di dalamnya. Karena itu itu, selain ia menawarkannya sebagai Pancasila, ia juga menawarkan formulasi yang lebih esensial yakni Trisila, yakni:
1. Sosio Nasionalisme
2. Sosio Demokrasi
3. Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam bentuk yang lebih esensial lagi, Soekarno menawarkan Ekasila yakni: Gotong Royong.
Nasionalisme sosial yang didalamnya mengandung prinsip kebangsaan dan perikemanusiaan, yang menegaskan pentingnya hubungan antara bangsa atas dasar kemerdekaan dan keadilan sesungguhnya memiliki makna tauhid. Begitu pula Demokrasi sosial yang menegaskan tegaknya keadilan sosial sebagai prasyarat terciptanya kesejahteraan sosial juga memiliki basis keimanan karena semua itu dapat ditemukan di dalam ajaran agama-agama.
Sedangkan gotong royong, perikehidupan hidup tolong menolong dalam tradisi masyarakat Indonesia, tidak hanya merupakan wujud keterikatan sosial antar satu dengan yang lain, tapi lebih dari itu memiliki makna religius spiritual yang dipandang sakral.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam perikehidupan bangsa Indonesia yang oleh Soekarno diformulasikan baik dalam Pancasila, Trisila dan Ekasila, sesungguhnya dapat ditemukan di dalam pesan-pesan agama yang hidup subur di Indonesia. Karena itu, saat mengenalkan Pancasila kepada dunia, Presiden Soekarno saat berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutip surat Al Hujarat ayat 13 yang berbunyi “Wahai manusia sesungguhnya aku menjadikan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, agar kamu hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dan kamu sekalian dapat mengenal satu sama lain, tapi ketahuilah yang mulia diantara kamu sekalian ialah yang bertaqwa kepadaKu.” (8)
Begitu pula, pada kesempatan yang berbeda, ia kerap mengutip ayat-ayat Injil tentang Hukum Kasih, atau menjelaskan makna “Tat Twam Asi” yang terdapat di dalam kitab agama Hindu “Uphanisad Chandogya, bahkan pada saat menerima gelar Doctor (HC) di bidang ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Soekarno mengutip beberapa kalimat dari serat Bhagavat Gita dari umat Hindu.
IV
Negara Bertuhan

Kuatnya dimensi ketuhanan di dalam pemikiran Soekarno sebagaimana tercermin di dalam Pidato 1 Juni 1945 antara lain terlihat pada konsep “negara bertuhan” sebagai pengembangan perikehidupan masyarakat Indonesia di dalam kehidupan berbansa dan bernegara. Dalam pidato itu Soekarno berkata:
“ …. Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-tuhan, Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.
Tapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama.” Dan hendaknya negara Indonesia suatu Negara yang ber-Tuhan. (9)
Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara berkeadaban . Apakah cara yang berkeadaban itu ? Ialah hormat menghormati satu sama lain. (tepuk tangan sebagian hadirin).
Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (10) ]tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita didalam Indonesia merdeka yang kita susun ini –sesuai dengan itu—menyatakan bahwa prinsip kelima dari negara kita ialah Ketuhanan yang berkebudayaan. Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa !
Disinilah, dalam pengakuan azas yang kelima inilah, saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang mendapat tempat sebaik-baiknya. Dan negara kita ber-Tuhan pula! Ingatlah, prinsip ketiga –permufakatan, perwakilan—disitulah tempatnya kita mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara yang tidak onverdraagzaam (11) yaitu dengan cara yang berkebudayaan (Pidato 1 Juni 1945)
Bagi Soekarno, negara berketuhanan adalah konsekuensi logis dari perikehidupan masyarakat Indonesia yang bertuhan. Atas dasar ketuhanan, diyakni bahwa segala sesuatu yang terjadi di atas bumi adalah kehendak Tuhan. Karena itu, dalam menjelaskan Prinsip Kelima yakni Ketuhanan, Soekarno memberi penekanan terhadap dua hal, yakni:
Pertama, ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang absolut berlaku di semua aspek dan dimensi kehidupan, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
Kedua, relasi hubungan antar pemeluk agama dalam masyarakat yang beraneka ragam.
Negara sebagai instititusi yang menaungi segenap bangsa Indonesia mesti memberikan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya bagi warga negara agar dapat menyembah Tuhan dan menjalankan agamanya dengan leluasa. Relasi antar pemeluk agama didasarkan pada toleransi, tanpa egoisme agama, keluhuran budi, yakni dengan cara yang berbudaya. Hal ini oleh Soekarno disebut sebagai “Ketuhanan Berkebudayaan,” artinya kehidupan spiritual yang berkembang maju seirama dengan perkembangan kebudayaan.
Setiap pemeluk agama dapat memperjuangkan aspirasi keagamaannya, tapi dengan cara berbudaya, yakni dengan cara permufakatan melalui badan perwakilan. Pengamalan prinsip negara betuhan, dan ketuhanan berkebudayaan, tentu hanya bisa terwujud jika sungguh-sungguh juga mengamalkan sila-sila lain dari Pancasila.
Manusia yang menanamkan nilai-nilai Ketuhanan berkebudayaan dalam dirinya, senantiasa akan mengedepankan nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan maka lahirlah hukum-hukum yang adil dan beradab, sebagai dasar terciptanya keadilan sosial. Dengan tatanan itu maka manusia dapat bersatu sebagai satu bangsa yang hidup di dalam negara sebagai sarana perjuangan menuju terbentuknya peradaban baru, Indonesia Baru, dimana manusia yang jumlahnya terdiri ratusan suku, beratus-ratus bahasa dilebur menjadi Manusia Indonesia.

V
Problema Masa Kini

Prinsip negara Bertuhan dan Ketuhanan Berkebudayaan sesungguhnya menjadi dasar moral bagi bangsa Indonesia, baik dalam hidup berkebangsaan mau pun dalam bernegara. Karena itu, ia harus tetap dijaga dan dikembangkan secara kreatif agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Soekarno, menegaskan bahwa Pancasila memang digali dari kenyataan hidup masyarakat Indonesia. Artinya, ia berada dialam nyata dan senantiasa dapat dipergunakan sebagai acuan sekaligus parameter dalam penyelenggaraan kehidupan kebangsaaan dan kenegaraan.
Tapi, sepanjang masa Orde Baru Pancasila mengalami pengkramatan yang luar biasa. Ia dipandang sebagai sesuatu yang sakti berbau magis, sehingga menjauh dari realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam hidup berketuhanan misalnya, yang kerap terjadi adalah reduksi pemaknaan, yakni sebatas diukur dengan semaraknya ritual keagamaan. Bahkan perikemanusiaan kian kehilangan makna teologis ketika pelanggaran atas hak-hak azasi manusia menjadi sesuatu yang lazim. Sementara kedaulatan rakyat dipersempit menjadi kedaulatan segelintir elite belaka. Belakangan, prinsip musyawarah untuk mufakat kian tersingkir seiring dengan dominasi melalui kompetisi politik kian diniscayakan.
Sebagian orang pun berkilah, bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Karena itu suara mayoritas bisa dimaknai pula sebagai suara tuhan. Lantas bagaimana memaknai “Mayoritas sebagai Tuhan,” jika dikaitkan dengan Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa ?
Bagi Soekarno, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah wujud tauhid fungsional. Pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa mesti dapat jadi sumber energi pendorong terwujudnya persatuan nasional. Sebab sesungguhnya warga bangsa yang bertuhan ini berada pada jalan yang sama dalam emanifestikan nilai-nilai dan atribut-atribut ketuhanan (divine values and attributes). Sesama pemeluk agama memiliki space yang sama untuk menyemai kebajikan-kebajikan ketuhanan dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.
Dalam menapak tilasi pemikiran Soekarno sebagai Bapak Bangsa, saat ini tentu muncul rasa penyesalan menyaksikan situasi keberagamaan kontemporer. Para pemeluk agama lebih sibuk mengurusi teologi dan bahkan saling mempertengkarkan ritus pemeluk agama lainnya, akibatnya jangankan bisa bersatu memerangi musuh kemanusiaan yang hakiki yakni tiran-tiran yang merintangi perwujudan filosofi penciptaan makhluk. Pemuka agama di suatu daerah lebih sering berfokus mengupayakan agar pemeluk agama berbeda memeluk agamanya, dari pada berjuang agar kekayaan alam yang diciptakan Tuhan di daerah itu betul-betul diperuntukkan bagi kesejahteraan manusianya.
Kealpaan bangsa ini menggali dan memperkaya nilai-nilai Pancasila, tampaknya telah membuat bangsa ini berjalan tanpa arah. Realita faktual menunjukkan, bahwa saat ini, semangat kesukuan/kedaerahan dan keagamaan kian menguat. Bersamaan dengan itu, kehidupan sosial, politik, ekonomi cenderung kehilangan akar teologisnya.
Karena itu, menyegarkan kembali semangat atas dasar nilai-nilai Pancasila menjadi kewajiban kita semua. Ia harus dikembalikan lagi pada arena kehidupan nyata agar berfungsi efektif sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

VI
Pengembaraan Pemikiran Soekarno

Menurut Soekarno, prinsip Ketuhanan (salah satu sila dari Pancasila) digali dari perikehidupan masyarakat Indonesia, dan dengan keyakinannya itu, ia lebih memilih Indonesia sebagai negara nasional bukan negara berlandaskan agama. Untuk memahami hal ini, tentu perlu mengetahui alur pemikiran Soekarno, khususnya mengenai soal Ketuhanan.
Seperti diakuinya kepercayaannya akan eksistensi Tuhan sudah tertanam di dalam dirinya sejak kecil. “Kami adalah bangsa yang hidup dari pertanian, dan siapakah yang menumbuhkan segala sesuatu ? Al Khalik, Yang Maha Pencipta. Kami terima ini sebagai kenyataan hidup. Jadi aku adalah orang yang takut kepada Tuhan dan cinta kepada Tuhan sejak lahir, dan keyakinan ini telah bersenyawa dengan diriku,” (Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat halaman 151).
Soekarno memang mendapat pelajaran agama secara khusus, sehingga pemahamannya tentang ketuhanan lebih bersifat empiris, yang diserapnya bersama dengan berbagai nilai kehidupan yang ditanamkan kepadanya. Seperti diketahui, Soekarno lahir dari seorang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, penganut Hindu puteri seorang Brahmana dari Kerajaan Singaraja (Buleleng) Bali. Dari ibunya itu, ia menyerap Hinduisme dan Budhaisme. Namun yang paling berkesan dari ibunya adalah, sikap anti penjajahan (Belanda) akibat pengalaman traumatik oleh penaklukan Belanda atas Kerajaan Buleleng yang membuat keluarga ibunya menderita. (12)
Dari kakek-neneknya, ia menyerap kebudayaan Jawa dan mistik, dan dari ayahnya. R Sukemi Sosrodihardjo belajar Islam (Jawa) dan teosofi. (13) Sedangkan Sarinah, pengasuhnya menanamkan cinta kepada sesama (humanisme).
Pemahamannya tentang Islam baru berkembang setelah bersekolah di HBS HBS (Hoogore Burger School) Surabaya, saat ini indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, Ketua Serikat Islam. Tetapi, ia peroleh bersama HOS Tjokroaminoto bukan pengetahuan agama yang bersifat dogmatis teologis, melainkan pemikiran-pemikiran Islam yang berhubungan dengan paham kebangsaan dan sosialisme. Jadi lebih berhubungan masalah sosiologi politik. Meski memimpin organisasi Serikat Islam, HOS Tjokroaminoto memang bukan seorang “guru agama” tapi pemimpin pergerakan kebangsaan yang dikemas dengan identitas Islam. Tapi, Soekarno juga menyerap ide-ide pembaruan dalam Islam yang diusung oleh Gerakan Muhamadiyah ia peroleh melalui ceramah-ceramah K H Ahmad Dahlan. “Sejak umur 15 tahun, saat berdiam di rumah Tjokroaminoto, saya telah terpukau dengan K H Ahmad Dahlan,” kata Soekarno. Tahun 1938, ia jadi anggota resmi Muhammadiyah. Bahkan di depan Muktamar Muhamadiyah tahun 1962, ia berdoa agar bisa dikubur dengan nama Muhamadiyah di kain kafannya.
Pada saat bersamaan Soekarno juga berkenalan dengan pemikiran-pemikiran sosialisme (Marxisme) dari Alimin, Muso, Semaun, Darsono serta tokoh-tokoh Sosialis Eropa misalnya Hendrik Sneevliet (orang Belanda yang dikenal dengan sebutan Maring dan ia merupakan wakil komintern di Cina), Adolp Baars, Reeser juga Hartogh.
Lalu, saat kuliah di THS Bandung, ia berkenalan dengan para tokoh Indische Partij, khususnya Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker yang jadi idolanya. Dua tokoh ini memberikan pemahaman tentang nasionalisme, pluralisme dalam wajah yang lebih radikal. Sedangkan interaksinya dengan tokoh-tokoh Persatuan Islam (Persis), khususnya Ahmad Hasan juga merangsang minatnya memahami Islam secara lebih mendalam.
Pertemanannya dengan A Hasan kian akrab saat Soekarno masuk penjara dan kemudian dibuang ke Ende Flores. Melalui hubungan surat menyurat ia mendiskusikan berbagai masalah keagamaan (Islam). Yang ia gandrungi adalah pemikiran yang berhubungan dengan modernisasi kehidupan keberagamaan. Karena itu salah satu sumber referensinya adalah kitab-kitab dari Ahmadiyah, meski ia menolak anggapan bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang nabi serta sikap Ahmadiyah yang terlalu mengkultuskan Inggris.
Dalam tulisan “Surat-Surat dari Endeh,” terlihat adanya keyakinan kuat dalam diri Soekarno terhadap eksistensi Tuhan. Ia percaya agama dapat berfungsi sebagai enerji menuju kemajuan. Tapi sebaliknya, ia mengeritik kehidupan keberagamaan yang jadi penghambat kemajuan di masyarakat. Menurut Soekarno, itu terjadi karena nilai-nilai ajaran agama, telah disimpangkan oleh para pemuka dan jemaahnya dengan mengatasnamakan agama. Kehidupan keberagamaan (Islam) yang menyimpang akibat lebih mengagungkan fiqh atau fikih, yan ia sebut Islam Sontoloyo. (14) [
Karena itu, ia senantiasa menganjurkan agar ada ijtihad untuk mengeksplorasi nilai-nilai Islam langsung dari sumbernya yakni Qur,an dan Hadist. Tapi ijitihad itu harus berorientasi kepada kemajuan. Bukan seperti Wahabi yang menghendaki pemurnian agama tapi terlalu mengagung-agungkan masa lalu. “Masa lalu memang indah tapi ia sudah mati,” kata Soekarno.
Soekarno juga menganjurkan agar dilakukan pengujian terhadap sumber-sumber yang jadi pegangan dalam beragama
“Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara… Saya perlu kepada Bukhari dan Muslim itu, karena di situlah dihimpunkan hadis-hadis yang dinamakan sahih. Padahal saya membaca keterangan dari salah seorang pengenal Islam bangsa Inggris, bahwa Bukharipun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Diapun, menerangkan bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena hadis-hadis lemah itu, yang lebih sering ”laku” daripada ayat-ayat Al-Quran . . .” (Surat-Surat Dari Ende di dalam DBR Jilid I)
Dengan melihat sejarah, khususnya pasang surut dan pasang naik kekuatan Islam, Soekarno memandang perlu pemisahan urusan negara dengan urusan agama. Dengan pemisahan urusan itu, negara dapat mendorong kehidupan keberagamaan yang dinamis. Disatu pihak kehidupan beragama bisa diatur dan disusun agar tidak merusak persatuan bangsa, kehidupan beragama mesti menjamin kesetaraan antar sesama manusia, ia tidak boleh menjadi alat penindas sesama, tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat luas dan mampu mewujudkan keadilan bagi semua.
Dalam tulisannya berjudul “ Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dengan Negara” yang terbit di tahun 1940 terkait dengan keputusan Kemal Attaturk di Turki), Sukarno berpandangan bahwa agama adalah aturan-aturan spiritual, sedangkan negara merupakan urusan duniawi. Ia pun mengutip Halide Edib Hanoum, bahwa:
“. . . Agama itu perlu dimerdekakan dari asuhannya supaya menjadi subur. Kalau Islam terancam bahaya pengaruhnya di atas rakyat Turki, maka itu bukanlah karena tidak diurus pemerintah tetapi justru diurus oleh pemerintah. Umat Islam terikat kaki-tangannya dengan rantai kepada politiknya pemerintahan. Hal ini adalah suatu halangan besar sekali buat kesuburan Islam di Turki dan bukan saja di Turki, tetapi di mana-mana saja, karena pemerintah campur tangan di dalam urusan agama, di situ menjadikan ia satu halangan besar yang tak dapat dienyahkan.” (lihat DBR Jilid I)
Pemisahan urusan agama dengan urusan negara ini kembali dipertegas oleh Presiden Soekarno saat berpidato di Amuntai dan juga pada beberapa forum lainnya.
Dengan mempelajari dan mendalam “alam pikir” dari setiap paham itu, Sukarno pun berkata : “Saya bukan seorang nasionalis. Saya bukan seorang religius. Saya bukan seorang sosialis. Saya adalah saripati dari ketiganya.”
—————————-
(1). Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah “ Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI)
(2) Lihat “ Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I”
(3) Sintesa tertinggi dari ajaran-ajaran itu.
(4) Ernest Renan adalah seorang pemikir orientalis Perancis. Ia yang pertama kali memperkenalkan konsep bangsa dan kebangsaan melalui pidato ilmiahnya yang terkenal di Sorbone tahun 1882, “qu’est ce qu’une nation” (Apakah suatu bangsa itu?).
(5) Otto Bauer adalah seorang pemikir dan teoritikus dan aktivis Partai Sosial Demokrat Austria.
(6). Ilmu Bumi Politik yang mengaitkan letak geografis suatu kawasan dengan kekuatan dan kekuasaan. Teori ini mulai muncul pada abad XVII. Beberapa pemikir terkenal geopolitik di antaranya Karl Haushofer (1869-1946) dengan teori Pan Region-nya, membagi dunia atas empat kawasan, yakni Pan Amerika, Pan Asia Timur,Pan Rusia-India, dan Pan Eropa-Afrika. Sir Halford Mackinder (1861-1947) membagi dunia dalam apa yang disebutnya sebagai Daerah Jantung (Hearthland), yaitu Kawasan Timur Tengah. Pemikir Geopolitik lainnya,Nicholas J.Spykman (1860-1943) yang terkenal dengan Teori Daerah atas (Rimland Theory).
(7) Mengenai konsep Bangsa, Soekarno tampak sejalan dengan pendapat Jean Jaures, pemikir Italia, yang menghubungkan bangsa dan kemanusiaan yang universal serta tanah air (Patria). Menurut Soekarno, seorang nasionalis dengan sendirinya adalah patriot (cinta tanah air). Soekarno memberikan nilai teologis dengan menegaskan bahwa “Hubbul wathon minal iman” yang artinya mencintai Negara bagian dari iman yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai hasil pemikiran Bung Karno dan umat Islam Indonesia. Kata-kata itu tak akan ditemukan di kitab-kitab kuning, kitab putih atau kitab apalah yang sebagainya itu.
(8) Lihat “ To Bulid World Anew (Membangun Dunia Baru): Pidato Presiden Soekarno di depan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1960.
(9) Penjelasan tentang “Negara Bertuhan” diuraikan oleh Presiden Soekarno dalam pidato berjudul “Temukan Kembali Api Islam,” yang diucapkan pada penerimaan gelar Doctor Honoris Causa dalam ilmu Ushuluddin jurusan Dakwah dan gelar Pendidik Agung di IAIN Jakarta, 2 Desember 1964. Pada pidato itu ia menjawab pertanyaan : Mengapa negara bertuhan? Apakah negara punya jiwa? Jawab Soekarno: “Pengertian saya tentang Ushuluddin, ialah segala yang kumelip di dunia ini, ya manusia, ya binatang, ya pepohonan, ya gunung, ya laut, ya negara harus menyembah kepeda Tuhan. Segala yang kumelip di dunia ini harus sebenarnya mengerti bahwa Tuhan yang membuat dia, dia harus menyembah kepada Tuhan itu. Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Seru sekalian Alam. …….. Karena itu dengan keyakinan saya berkata, Negara yang tidak menyembah kepada Tuhan, negara yang tidak bertuhan, akhirnya celaka, lenyap dari muka bumi ini.”
(10) Sifat dapat memahami pendapat yang lain (bahasa Belanda)
(11) Tidak sabar, maksudnya dengan pemaksaan (bahasa Belanda)
(12) Raja Singaraja adalah paman dari Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda Soekarno
(13) Theosofi berasal dari bahasa yunani, dari asal kata “Theo” yang artinya Tuhan, “Sofia” yang artinya Kearifan atau kebijaksanaan. Secara estimologis Theosofi dimaknai sebagai Kearifan Tuhan atau Kearifan Ilahiah (God’s Wisdom atau Odelyk Wysheid).Dalam perkembangannya Theosofi termasuk kedalam terminologi filsafat yang membahas tentang Tuhan dari segala aspeknya. Dengan demikian ia sebagai sebuah pengetahuan namun bukan merupakan sebuah disiplin ke-Ilmuawan secara khusus, tetapi masuk kedalam ruang lingkup Ilmu Filsafat, khususnya filsafat Ketuhanan dan segala aspeknya Karena Theosofi sebagai sebuah pengetahuan filsafat khususnya tentang filsafat ketuhanan, maka pengetahuan tentang mistisisme, spiritualitas, sufisme dan tasawuf dalam Islam termasuk kedalam ruang lingkup Theosofi, sebab konten dari mistisisme, spiritualitas, sufisme dan tasawuf sangat kaya akan khasanah-khasanah kearifan Tuhan, kebijaksanaan Tuhan dan cinta akan ketuhanan. Teosofi masuk ke Indonesia pada awal abad-20an, Beberapa tokoh pergerakan nasional diketahui pernah tergabung dalam gerakan Teosofi ini, utamanya para aktifis Budi Utomo dan para Priyayi Jawa. Contohnya adalah Raden Mas Aryo Woerjaningrat (Surakarta), R.M. Toemenggoeng pandji Djajeng Irawan (Jogjakarta), Pangeran Pakoe Alam VII (Jogjakarta), Radjiman Wediodiningrat (Surakarta), Sarwoko Mangoenkoesoemo, beberapa bupati di Jawa Barat,. Aktifis lainnya adalah Haji Agus Salim, beliau menjadi anggota aktif Kelompok Teosofi tahun 1916 dan mengundurkan diri tahun 1918. Selama bergabung, H. Agus Salim sempat menerjemahkan Kitab Suci kaum Teosofi karangan C.W. Leadbeater berjudul “Kitab Teosofi” ke dalam bahasa Melayu
(14) Menarik dalam tulisannya berjudul “ Islam Sontoloyo,” di dalam buku “ Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I” Soekarno dengan mengutip lengkap berita “Guru Mencabuli Murid-Muridnya” melalui satu ritual pengajian setiap malam jumat. Para murid diajak berdzikir dari maghrib hingga subuh. Sebelumnya, para murid itu harus meneriakkan kalimat “Saya muridnya Kiyai…. (nama kiyai itu)”. Dengan berseru demikian, katanya, Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka. Setiap murid perempuan, meski masih anak-anak, wajib menutup muka. Saat mengaji, mereka dipisah dari para murid laki-laki. Dimulailah pelajaran dari bab “perempuan itu boleh disedekahi”. Akan tetapi, karena perempuan tidak boleh dilihat laki-laki (kecuali suami), maka itulah mereka diwajibkan menutupi mukanya. Nah, bagaimana sang guru bisa “menyedekahi” murid-murid yang perempuan?
Di sinilah sang guru menjelaskan, perlunya para murid itu “dimahram dahulu”. Artinya, perempuan-perempuan itu mesti dinikah olehnya. Dia yang jadi kiyainya, ia juga, yang jadi pengantinnya, ia juga. Caranya? Kalau seorang murid lelaki yang punya istri. Maka pertama yang dilakukan oleh si suami adalah menjatuhkan talak tiga. Seketika juga peremuan itu dinikahkan dengan lelaki lain (kawan muridnya juga), yang kemudian menalaknya lagi hingga berturut-turut tiga kali dinikahkan dan diceraikan lagi. Keempat kalinya dinikah oleh kiyainya sendiri. Sedangkan yang gadis, tidak dinikahkan dulu, melainkan langsung dinikahi sang kiyai. Bung Karno menyebut kiyai model ini dengan sebutan “Dajal”. Dengan demikian, tiap-tiap istri yang jadi muridnya, di mata murid yang lain pun, adalah istri daripada si Dajal itu sendiri. Di surat kabar Pemandangan dikisahkan bahwa seorang gadis yang sudah dinikahi, dimasukkan ke bilik dan di situlah dirusak kehormatannya. Halal, dianggap sah, karena sudah diperistri! Menurut Soekarno jikalau berita di suratkabar Pemandangan itu benar, maka benar-benarlah ini adalah Islam Sontologo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh. Praktek Islam Sontoloyo ibarat main kucing-kucingan dengan Tuhan. Karena itu menurut Soekarno figh bukan satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utama terletak pada ketundukan jiwa kita kepada Allah.
(15) Di dalam sejarah, faktor kebudayaan ikut banyak berperan dalam penyebaran agama-agama dari luar ke Indonesia, sehingga tidak menimbulkan konflik di dalam masyarakat. Hal menarik, K H Abdurachman Wahid pernah melontarkan gagasan perlunya pribumisasi agama, ini perlu kajian lebih mendalam.

(1) Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah “ Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI)

NEEDED NOW: AN INTELLECTUAL REVOLUTION IN STATEGIC THINKING

ANALYSIS: Needed now: an intellectual revolution in strategic thinking — Harlan Ullman

http://www.dailytimes.com.pk/default.asp?page=20125\10\story_10-5-2012_pg3_6

Thursday, May 10, 2012
Concepts of shock and awe were inspired by the Chinese philosopher Sun Tzu eons ago when he wrote that the really brilliant general wins without having to fight a battle

Towards the end of the Cold War, Soviet military thinkers coined the phrase ‘Military-Technical Revolution (MTR)’. Based on a combination of extraordinary advances in precision strikes and in information and surveillance technologies, the MTR was successfully transformed by the Pentagon into the ‘Revolution in Military Affairs (RMA)’. Meant to defeat the Red Army, the RMA was a real military revolution, proven in the first Iraq War in 1991, when US arms pulverised Saddam Hussein’s army, in Afghanistan quickly routing the Taliban in 2001, and again smashing Iraq two years later.

Today, the US and certain allied militaries are exhausted by a decade of war. All face large and looming defence cuts, meaning far less money for defence. Under these circumstances, readiness and morale become early casualties.

With the exception of North Korea (or to some states in Europe, Russia), few hostile armies are currently around to fight in a conventional conflict, making the case for defence more diaphanous. The wars in Iraq and Afghanistan demonstrated that while military force may have been necessary, it could not make either country more governable — hardly the best argument for defence spending.

How can militaries deal with these facts of life? The answer is that a new revolution is desperately needed. Given the bleak funding outlook, this revolution can only be accomplished through intellect and rejuvenating strategic thinking.

General Sir Rupert Smith’s The Utility of Force skillfully interpreted war in the 21st century to be about and over people — to protect and defend them or to defeat or disrupt them, rather than as modern armies squaring off against one another. Some 15 years earlier, the concept of ‘shock and awe’ was created in which the goal was to affect, influence and ultimately control the will and perception of an adversary (hence Smith’s ‘people’) with the use or threat of military force. Concepts of shock and awe were inspired by the Chinese philosopher Sun Tzu eons ago when he wrote that the really brilliant general wins without having to fight a battle.

Shock and awe posited four criteria: control of the environment, rapidity, (near) perfect knowledge and brilliance in execution. The last two, combined with the realities and uncertainties of today’s international environment, form the foundations for this much needed intellectual revolution in strategic thinking. No one can be certain about the nature of future conflicts, as the requirements for defence, once equated in largely military terms, have expanded to cover security with a far broader aperture extending well beyond armies, navies and air forces. In future conflict, military force may or may not be necessary. But they have not been sufficient to achieve the strategic and political aims of bringing stability and security to Iraq, Afghanistan and so far, Libya for example.

Further, given defence cuts, preparations for major conventional operations will be severely curtailed as both weapons and systems for those engagements as well as training will likewise be reduced, possibly dramatically. The strategic question that forms the heart of an intellectual revolution rests on how militaries can prepare for a future so filled with uncertainty while preserving traditional war fighting skills with far less money.

First, militaries and strategic thinking must be oriented about obtaining (near) perfect knowledge, not merely about traditional operations and employing weapons systems with far greater creativity. There must be far more learning about other, non-military tools, and other regions and states round the world of import or interest to assuring national security.

Second, new means and methods must be created or strengthened that contribute to maintaining fighting skills that enable brilliance in operations. For example, as the Royal Navy and Air Force lose both carrier and anti-submarine capacities for an interim period, units should be assigned to the US or French navies that will employ these weapons systems. The British Army could deploy units to serve in Korea or Pakistan and India where conventional combat is central to those forces to maintain these skills. And new generations of war games and simulators must be invented and fielded so that many scenarios can be played out to keep skills at acceptable levels of readiness.

Third, to achieve these aims, a further revolution in military education from bottom to top is essential. Officers and troops must be prepared intellectually in order to obtain near perfect knowledge about a future that at best is opaque. And simultaneously, keeping combat skills sharp in an era of austerity when weapons and training will be in shorter supply is best done as Bobby Jones, perhaps the greatest golfer ever, observed about that game — it is played in the six inch space between the ears!

Militaries will be reluctant to accept new or any revolutions when they are fighting for subsistence. Politicians find governing hard enough and few are prepared to impose a revolution, let alone make tough decisions.

If an intellectual revolution is to be wrought, it must come from within. But who will listen? And who will lead?

(Note: This column summarises a lecture to be presented at the Royal United Services Institute’s June conference on the future of land warfare.

The writer is Chairman of the Killowen Group that advises leaders of government and business, Senior Advisor at Washington DC’s Atlantic Council, and a member of the group that invented “shock and awe”

ISLAM DAN PEMBEBASAN

ISLAM DAN PEMBEBASAN
Menghadirkan Gagasan Hadji Misbach di Zaman Neoliberal
Oleh Syarif Arifin, aktivis Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) Bogor
Latar belakang dan konteks

HADJI MOHAMMAD MISBACH, salah satu generasi yang menuntut Indonesia merdeka dari kekejian kapitalisme. Bergerak dan mencari jalan keluar dari keresahan sosial yang muncul di awal-awal abad ke-20, Misbach kerap dikenang sebagai sosok muslim-komunis atau komunis-Islam, tanpa dilihat gagasan dan dinamika konteks yang menyertainya. Lebih dari itu, Hadji Misbach (selanjutnya disebut Misbach) adalah sosok yang dikenal terbatas akibat pendekatan sejarah yang berpusat kepada tokoh-tokoh besar.

Ada dua rujukan yang dipergunakan secara luas untuk mengenal Misbach, yakni karya Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997), dan karya Nor Hiqmah berjudul H.M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya (2000). Nor Hiqmah menyoroti Misbach dari kacamata Islam dan Marxisme. Bukunya menerangkan beberapa gagasan Misbach, dan berkesimpulan, ‘Misbach adalah seorang pragmatis yang sebenarnya tidak mengetahui secara mendalam tentang konsep Islam dan komunisme’ (Hiqmah, 2000: 81).

Hemat saya, simpulan tersebut terburu-buru dan cenderung menegasikan panggung serta situasi-situasi pergerakan yang melahirkan Misbach. Sedangkan Takashi Shiraishi menempatkan Misbach sebagai sosok yang unik, yang semestinya mengoreksi pandangan-pandangan umum mengenai historiografi di Indonesia. Menurutnya, ‘Misbach-lah yang mengingatkan kita akan kesalahan klasifikasi nasionalisme, Islam, dan komunisme itu dan memperingatkan kita akan pandangan nasionalis yang serampangan itu’ (Shiraishi, 1997: 474). Bagi Shiraishi, Misbach adalah sosok yang mencoba membuktikan keislamannya kepada dirinya dan kepada umat Islam melalui kata dan perbuatan. Namun Shiraishi tidak mengelaborasi lebih jauh gagasan-gagasan Misbach dan bagaimana hubungan gagasan tersebut dalam diskursus di awal-awal abad ke-20.
Tulisan ini bermaksud menempatkan Misbach beserta gagasannya dalam sebuah kondisi yang sedang berubah, di mana setiap wacana sedang diperkenalkan dan diperdebatkan untuk menjawab tantangan zaman. Tulisan ini akan dibagi dalam tiga bagian. Pertama, akan diperkenalkan perjalanan hidup dan keterlibatan Misbach dalam dunia perlawanan.Kedua, akan diperlihatkan gagasan-gagasan Misbach beserta konteks-konteks yang menyertainya secara singkat. Ketiga, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah kesimpulan tentang relevansi gagasan Misbach dalam konteks kekinian.
Untuk menyelami dan memahami gagasan Misbach, saya berpendapat adalah dengan melihat inti gagasan tersebut dalam artikel-artikel yang dibuat Misbach, mengembalikan pada konteks-konteks yang menyertainya, serta mempertimbangkan diskursus yang berkembang di masa itu. Pendekatan ini bukannya tanpa masalah, jika tidak dikatakan sulit. Namun, pendekatan ini dapat dianggap cara terbaik ketimbang melihat Misbach dari kacamata yang telah baku. Dengan cara demikian, kita akan melihat bahwa setiap gagasan lahir dari situasi yang kompleks dan penuh warna. Perlu diketahui, Misbach bukan ‘intelektual’ yang menghabiskan waktu bersama alat tulis. Ia tidak merumuskan gagasannya dalam sebuah magnum opus.
Saya akan memilah tulisan-tulisan Misbach dengan menggabungkannya dalam tema-tema umum. Kemudian akan menganalisis tema-tema tersebut dalam konteks yang berkenaan dengan tafsir al-Quran secara singkat. Penggunaan ejaan lama dengan struktur bahasa Melayu, merupakan kesulitan tersendiri dalam memahami alur berpikir Misbach. Untuk penulisan kutipan akan dipergunakan ejaan yang lazim dipergunakan sekarang, kecuali untuk nama orang dan judul, akan dipertahankan sebagaimana tersebut dituliskan.

Santri yang Berlawan:
Biografi Singkat dan Karya-karya Hadji Misbach
Misbach lahir pada 1876 di Kauman Surakarta. Tumbuh dewasa di lingkungan Kesunanan dan pejabat keagamaan Keraton Surakarta, ia mengorbankan seluruh kekayaannya untuk pergerakan. Pada 1924, Misbach sekeluarga diusir dari tanah Jawa ke Manokwari oleh Belanda pada tahun-tahun terakhir kisah hidupnya. Misbach wafat dan dikubur di Manokwari berdampingan dengan istrinya pada 24 Mei 1926.
Pembuangan Misbach ke Manokwari adalah hukuman yang ketiga dengan tuduhan mendalangi kerusuhan, melakukan sabotase, meneror serta menggangu rust en orde (ketertiban umum). Meski diketahui tuduhan itu tidak pernah terbukti, ia tetap dibuang tanpa diperbolehkan diantar oleh siapapun. Di pengasingan, ia tidak boleh ditengok dan hanya diperbolehkan membaca al-Quran. Sebelumnya, pada 7 Mei 1919, ia dipenjara dengan tuduhan menghasut kaum tani untuk mogok. Pada 16 Mei 1920, kembali dipenjarakan di Pekalongan selama dua tahun tiga bulan dengan tuduhan melanggar delik pers, menghasut massa melawan raja dan Pemerintah Hindia Belanda.
Terbitan-terbitan di masa itu mengatakan bahwa Misbach merupakan sosok yang berdedikasi, berani, dan penuh pengorbanan (Cf. Rangsang, 1924). Marco Kartodikromo (1924), menyebut Misbach sebagai haji populis yang disegani pemuka Islam. Tjipto Mangoenkoesoemo (1919), melukiskan Misbach sebagai ‘seorang ksatria sejati,’ yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk pergerakan. Tan Malaka (2011) mengenang Misbach sebagai sosok yang dicintai rakyat. Misbach, Tjipto, Marco, dan Tan Malaka adalah beberapa tokoh generasi pertama di awal-awal abad ke-20, yang mewariskan bentuk-bentuk perlawanan modern kepada generasi Soekarno.
Berbeda dengan beberapa tokoh di atas, Misbach adalah kaum muda Islam yang melanjutkan pendidikan pesantren tradisional setelah mengenyam sekolah Belanda di Sekolah Bumiputra Angka Dua. Ia sempat berziarah ke Tanah Suci Mekkah, namun tidak mau dipanggil ‘haji’ dan tidak memperlihatkan atribut ‘kehajiannya’ dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, tidak seperti pemuka Islam segenerasinya, Misbach tidak menggunakan tutup kepala ala Turki, tapi menutup kepalanya layaknya kebanyakan orang Jawa. Misbach tidak mampu berbahasa Belanda, tidak memiliki teman Belanda dan Indo. Hanya bahasa Melayu dan Arab yang ia kuasai. Latar belakang dan gaya pergaulan tersebut, membuat Misbach lebih dekat dengan petani miskin, petani tak bertanah, buruh tani, kaum muda Islam dan pedagang muda ketimbang pejabat keraton maupun pejabat Eropa.
Kala Misbach menjadi pengusaha batik, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) Surakarta sebagai anggota biasa, pada 1912. Ketergabungan Misbach dan kawan-kawannya didorong oleh situasi di mana persaingan antarpedagang Cina dengan pengusaha lokal semakin tajam, mewabahnya perampokan, serta kemunculan puritanisme Islam yang dibawa murid-murid Ahmad Dahlan dan menyebarnya lembaga-lembaga modern yang didirikan orang-orang Kristen. Meski anggota biasa, Misbach dan kawan-kawannya rela untuk mengumpulkan dan menggalang dana untuk kegiatan-kegiatan yang dapat menggerakkan Islam, seperti penerbitan jurnal baru, pendirian sekolah, perpustakaan dan pertemuan tablig. Tidak hanya kepada SI, Misbach pun menjadi anggota dan donatur resmi surat kabar Doenia Bergerak, pada 1914.Doenia Bergerak merupakan terbitan resmi organisasi para jurnalis, Indlandsche Journalisten Bond (IJB) yang diasuh Marco Kartodikromo dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Namun, ketika dunia memasuki masa perang, yang menyebabkan kenaikan bahan baku batik, Misbach dan kawan-kawannya memilih menyelamatkan usaha ketimbang memikirkan organisasi. Lagi pula, tidak banyak yang dilakukan oleh SI untuk melindungi para pengusaha batik.
Ada dua momen penting yang mengarahkan Misbach menggerakkan Islam sebagai inspirasi untuk melawan Belanda dan mempertanyakan kemapanan agama. Pertama, keterlibatan Misbach dalam menolak kebijakan perbaikan rumah untuk membasmi mewabahnya penyakit pes yang dikeluarkan Belanda pada 1915. Bagi Misbach program tersebut semakin memiskinkan rakyat karena adanya tambahan pengeluaran rakyat di samping keharusan-keharusan kerja paksa untuk Belanda. Setelah itu, Misbach gencar menolak kerja paksa. Dalam hal ini, Misbach melihat bahwa program perbaikan rumah memiliki hubungan dengan kebijakan-kebijakan lain.
Setelah kejadian di atas, Misbach bersama santri lainnya mendirikan koran Medan Moeslimin pada 1915 dan Islam Bergerak pada 1917. Medan Moeslimin merupakan surat kabar bulanan bahasa Jawa dan Melayu. Terbit tiap tanggal 15. Media ini merupakan suatu bentuk kerjasama antarsurat kabar. Pada pertengahan 1916, Medan Moeslimin menerbitkan buku dengan bahasa dan aksara Jawa dengan nama Hidayatul Awam, sebagai sisipan untuk para pembaca setia. Surat kabar ini menjadi wadah bagi pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Islam Bergerak merupakan surat kabar dengan aksara dan bahasa Jawa serta sebagian aksara latin. Terbit tiga kali dalam sebulan. Menjelang 1923-an, Islam Bergerak dimerger denganDoenia Bergerak menjadi Ra’yat Bergerak, sebagai terbitan resmi Sarekat Ra’yat. Sementara itu, Medan Moeslimin tetap bertahan dan menjadi payungnya Sarekat Moealimin. Ketika Misbach dibuang, penerbitan Medan Moeslimin ditingkatkan dari dua kali menjadi tiga kali sebulan. Sebenarnya penerbitan Medan Moeslimin dan Islam Bergerak relatif terlambat dibanding kelahiran surat kabar yang telah dikeluarkan oleh Muhamadiyah maupun orang-orang Kristen.
Kedua, keterlibatan Misbach dalam upaya mempertahankan penodaan agama Islam yang dilakukan oleh surat kabar Kristen, pada 1918. Kala itu, Tjokroaminoto sebagai orang berpengaruh di SI, mengajak seluruh anggotanya untuk menggempur penodaan agama tersebut. Sementara Tjokro mendirikan Tentera Kandjeng Nabi Moehammad (TKNM), Misbach dan santri lainnya mendirikan organisasi Sidik Amanah Talegh Vatonah (SATV). Tentu saja kampanye ini berbeda dengan keadaan sekarang, di mana penodaan agama direaksi dengan kekerasan dan cenderung arogan. Di awal-awal abad dua puluh, debat melalui media surat kabar dan pamflet adalah hal yang biasa. Setelah debat akan berlanjut dengan rapat umum. Tidak ada unsur kekerasan.
Tiba-tiba perlawanan antipenodaan agama itu dihentikan tanpa penjelasan resmi dari Tjokroaminoto. Umat Islam Surakarta merasa ditipu. Apalagi Misbach dan kawan-kawannya telah mencurahkan tenaga, pikiran dan sumber keuangannya untuk mendukung kegiatan tersebut. Tjokroaminoto dianggap berkhianat dan diduga menilep uang kampanye. Kepercayaan masyarakat pun luntur dan melihat Misbach sebagai sosok yang istiqomah dalam menegakkan Islam. Akhirnya, Misbach dipercaya memimpin TKNM dan SATV. Setelah itu, Misbach tidak sekadar menjadi donatur dan follower SI, tapi aktif menulis dan menyebarkan gagasan-gagasannya melalui rapat-rapat dan surat kabar. Tulisan pertamanya adalah Sroean Kita dalam Medan Moeslimin. Di saat ini pula ia mulai masuk ke gelanggang politik.
Ketika Misbach memasuki gelanggang politik, Belanda sedang melakukan reorganisasi politik dan administrasi di tanah jajahan. Tidak sedikit pula pemuka Islam ketakutan, berdiam diri, atau memilih berkompromi dengan kebijakan Belanda. Birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga wewenang keagamaannya lebih banyak dari jabatan ketimbang dari pengetahuan agama. Karena itu, dalam soal keagamaan, pandangan rakyat lebih percaya pada orang-orang yang lulusan pesantren yang relatif bebas dari negara. Di saat inilah, Misbach mulai mendampingi dan mengorganisasikan perlawanan kaum tani melalui Insulinde bersama Tjiptomangoenkoesoemo, sampai ia dipenjara di Pekalongan. Waktu itu kaum tani mengajukan tiga tuntutan: kewajiban ronda malam dihapus, kerja-wajib umum untuk negara dibayar, dan pejabat desa harus terlibat dalam kerja wajib-umum.
Sekeluarnya dari penjara Pekalongan, Misbach dilarang dan diawasi agar tidak terlibat dalam kegiatan politik. Kesempatan ini dipergunakannya untuk menginvestigasi dan merenungkan situasi organisasi dan nasib kehidupan rakyat Surakarta. Saat itu pula Misbach merasa pilu melihat hancurnya Insulinde dan rontoknya SI, TKNM dan SATV. Insulinde tidak bangun lagi setelah dibubarkan pada 1920 oleh larangan hak berkumpul dan penangkapan para pemimpinnya. Sementara ‘disiplin partai’ mengakibatkan perpecahan anggota SI dan konflik internal yang semakin mendalam. Selain itu, maraknya pemecatan di industri dan perkebunan pun kian mengurangi jumlah anggota organisasi buruh yang berafiliasi ke SI. Misbach menyaksikan organisasi yang membesarkanya, SATV (Sidiq Amanah Tablegh Vatonah) mati suri dan dijauhkan dari rakyat oleh pimpinan Muhamadiyah. Di sisi lain, Misbach menyaksikan kebijakan ekonomi-politik Belanda semakin bengis. Setiap pergerakan dianggap mengganggu ketertiban umum, komunis, dan dihalang-halangi. Parahnya, beberapa pemuka Islam pun seolah mendukung kampanye Belanda dengan menganggap bahwa kaum komunis anti-Islam.
Pergumulan di atas, mengantarkan Misbach untuk bergabung dengan PKI-Sarekat Rakyat (Partai Komunis Indonesia-Sarekat Rakyat) pada Maret 1923. Alasannya sederhana, waktu itu tidak ada lagi organisasi yang berani dan konsisten berpihak kepada rakyat. Hanya limabelas bulan ia terlibat membangun dalam PKI-SR Surakarta. Juli 1924, ia diasingkan ke Manokwari. Sebagai catatan, sebelum dikenal disiplin partai tiap orang diperbolehkan rangkap keanggotaan dalam tiap organisasi. Karena itu, Misbach bisa menjadi anggota SI, Insulinde, maupun SATV.
Memang telah menjadi keyakinan Misbach, bahwa ajaran Islam harus membela yang tertindas dan terhisap. Ketika bergabung dengan PKI-SR, keyakinannya kian tebal. Ia tak segan mengritik gaya kepemimpinan SI yang telah memecah gerakan rakyat. Ia pun mempertanyakan eksistensi Muhammadiyah, karena menolak mendukung pemogokan kaum tani dan buruh. Misbach mengeritik kemapanan lembaga agama seperti Muhamadiyah, Sarekat Islam dan Mambaoel Oeloem, dan menelanjangi kolaborasi Keraton dengan Pemerintahan Belanda.
… [B]ahwa kalutnya keselamatan dunia ini, tidak lain hanya dari jahanam kapitalisme dan imperialisme yang berbudi buas itu saja, bukannya keselamatan dan kemerdekaan kita hidup dalam dunia ini saja, hingga kepercayaan kita hal agama pun dirusak olehnya. (Nasehat, 1926)
Kemunduran umat Islam di tanah Jawa, bagi Misbach, tidak berasal dari ritual-ritual masyarakat seperti selametan, tahlilan, dan bekunya ijtihad, tapi karena kapitalisme dan imperialisme yang telah memorak-porandakan kemerdekaan, kedamaian dan kepercayaan.

Untuk mengetahui pemikiran Misbach secara mendalam dapat dilihat dalam surat kabar Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, sebagai surat kabar yang dikelola oleh Misbach bersama santri-santri di Surakarta. Berikut karya-karya Misbach:
‘Sroean Kita,’ Medan Moeslimin, 4 (1918)
‘Orang Bodo Djoega Machkloek Toehan, Maka Fikiran Jang Tinggi Djoega Bisa di Dalam Otaknya,’ Islam Bergerak, 10 Maret 1919
‘Kesalahan Itoe Haroes Dibenarkan,’ Medan Moeslimin 2 (1921)
‘Perbarisan Islam Bergerak: Pembatja Kita,’ Islam Bergerak 10 November 1922
‘Medan Redactie,’ Islam Bergerak, 10 November 1922
‘Perbarisan Islam Bergerak: Sikap Kita,’ Islam Bergerak, 20 November 1922
‘Perbarisan Islam Bergerak: Makin Terasa,’ Islam Bergerak, 20 Desember 1922
‘Moekmin dan Moenafik,’ Islam Bergerak, 10 Desember 1922
‘Assalamoe’alaikoem Waroehmatoelahi wabarakatoeh,’ Medan Moeslimin,7 (1992)
‘Verslag,’ Medan Moeslimin, 8 (1922)
‘Informahe—Kantor ‘Bale Tanjo’ Kaoeman Solo,’ Medan Moeslimin, 4 Oktober 1923
‘Semprong Wasiat: Partijdisciplin SI Tjokroaminoto Menjadi Ratjoen Pergerakan Rak’jat Hindia,’ Medan Moeslimin, 9 (1923)
‘Islam dan Gerakan,’ Medan Moeslimin, 9 (1923)
‘Islam dan Atoerannja,’ Medan Moeslimin, 9 (1923)
‘Pamitan Saja,’ Medan Moeslimin, 10 (1924)
‘Djawa-Manokwari Baik di Ketahoei,’ Medan Moeslimin, 10 (1924)
‘Hal Jang Kedjadian di Manokwari,’ Medan Moeslimin, 9 (1924)
‘Islamisme dan Kommunisme II: Katerangan Islamisme jang terhadap kepada Kommunisme,’ Medan Moeslimin, 11 (1924)
‘Islamisme dan Kommunisme,’ Medan Moeslimin, 11 (1925)
‘Manokwari Bergontjang, Reactie Oentoek Communist Tentoe dan Soedah Bijasa,’ Medan Moeslimin 11 (1925)
‘Soerat Terboeka,’ Medan Moeslimin 11 (1925)
‘Foja-foja: Sikapnja Wakil Pemerintah Manokwari,’ Medan Moeslimin, 11 (1925)
‘Nasehat,’ Medan Moeslimin, 12 (1926)

Antara Tjokroaminoto dan Tan Malaka:
Diskursus yang Bergolak –Misbach Bukan Muslim-komunis

Salah satu tesis Misbach adalah ‘Islamisme dan Komunisme.’ Apa yang dimaksud dengan ‘Islam dan Komunisme’ dalam pikiran Misbach? Apakah semakna dengan gagasan Tjokroaminoto tentang nilai-nilai sosialis yang terkandung dalam Islam; atau seperti pemikiran Tan Malaka mengenai persatuan kaum komunis dan Pan-Islamisme di tanah Jawa; atau seperti diyakini sebagian orang bahwa Misbach adalah komunis-Islam atau muslim-komunis?
Ungkapan Islam dan Komunisme pertama kali diutarakan dalam Kongres Pertama PKI pada 1923. Gagasan tersebut kemudian dituliskan dalam surat kabar Medan Moeslimin, ketika Misbach di pengasingan. Di pengasingan Misbach menulis delapan artikel. Tema yang secara khusus mempertautkan Islam dan komunisme hanya lima artikel, yakni ‘Islamisme dan Kommunisme II: Katerangan Islamisme jang terhadap kepada Kommunisme,’ Medan Moeslimin, 11 (1924); ‘Islamisme dan Kommunisme,’ Medan Moeslimin, 11 (1925); ‘Soerat Terboeka,’ Medan Moeslimin 11 (1925); ‘Foja-foja: Sikapnja Wakil Pemerintah Manokwari,’Medan Moeslimin, 11 (1925); dan ‘Nasehat,’ Medan Moeslimin, 12 (1926).
Saya tidak mendapat informasi sejauh mana keterpengaruhan Misbach oleh Tjokroaminoto, yang menulis tentang Islam dan Sosialisme pada 1924. Menurut Tjokroaminoto, dalam Islam terkandung nilai-nilai sosialis. Seperti penghisapan kelas buruh dan perubahan tatanan masyarakat telah dinyatakan dan dipraktikkan dalam ajaran-ajaran Islam melalui Nabi Muhamad. Namun, seperti kita ketahui, Islam tidak lahir dalam tatanan masyarakat kapitalistik. Lagi pula, Islam bukan isme, tapi petunjuk bagi manusia.
Misbach dan Tjokroaminoto adalah dua sahabat yang cukup dekat dan terpisah akibat ide disiplin partai di dalam SI. Sebelum berpisah, Misbach sempat bolak balik ke rumah Tjokro untuk meminta penjelasan mengenai kebijakan disiplin partai. Namun kebijakan tersebut tak berubah. Saking kesalnya, Misbach membuat artikel khusus untuk Tjokro, ‘Semprong Wasiat: Partijdisciplin SI Tjokroaminoto Menjadi Ratjoen Pergerakan Ra’jat Hindia,’ Medan Moeslimin, 9 (1923). Artikel tersebut menceritakan bahwa persatuan rakyat di dalam SI dipecah belah oleh kebijakan disiplin partai. Artikel tersebut menegaskan pula tentang kewajiban berjuang umat Islam melawan kapitalisme.
Tidak ada informasi pula, sejauh mana keterkaitan ide Misbach dengan tesis Tan Malaka. Misbach dan Tan Malaka sempat dinobatkan sebagai salah satu kandidat di parlemen Belanda yang mewakili Partai Komunis Belanda. Tan Malaka mengajukan ide persatuan kaum komunis dengan Pan-Islamisme di tanah Jawa, pada 1922 (Cf. Tan Malaka, 1922). Menurut Tan Malaka, kaum komunis perlu mempertimbangkan Pan-Islamisme sebagai sebuah sekutu, ketimbang sebagai lawan. Alasannya, di tanah Jawa kaum Islam mampu menggerakan perlawanan terorganisasi terhadap kekuatan kolonial. Tesis Tan Malaka ditolak oleh Komunisme Internasional. Sebagai catatan, ketika orang-orang komunis Hindia terlibat dalam pertemuan internasional, informasi-informasi hasil pertemuan jarang diketahui oleh anggota PKI di Jawa.
Berikut adalah beberapa ungkapan yang sering mengaitkan Misbach sebagai Muslim-komunis.
(1)
… [K]awan kita yang mengakui dirinya sebagai seorang komunis, akan tetapi masih suka mengeluarkan pikiran yang bermaksud akan melenyapkan agama Islam, itulah saya berani mengatakan bahwa mereka bukanya Komunis yang sejati, atau mereka belum mengerti duduknya komunis; pun sebaliknya, orang yang suka dirinya Islam tetapi tidak setuju adanya Komunisme, saya berani mengatakan bahwa ia bukan Islam yang sejati, atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama Islam…’ (Islamisme dan Kommunisme, 1925)
(2)
Hai saudara-saudara ketahuilah!
Saya seorang yang mengaku setia pada agama dan juga masuk dalam lapang pergerakan komunis, dan saya mengaku bahwa tambah terbukanya pikiran saya di lapang kebenaran atas perintah agama Islam itu, tidak lain ialah dari sesudah saya mempelajari ilmu komunisme…

Sesudah saya mendapat pengetahuan yang demikian itu (ilmu komunisme, penulis), dalam hati saya selalu berpikir-pikir tentang berhubungannya dengan pasal agama, sebab saya ada rasa bahwa ilmu komunis suatu pendapat yang baru, saya ada pikir, hingga rasa dalam hati berani menentukan, bahwa perintah dalam agama mesti menerangkan juga sebagaimana aturan-aturan komunisme.
Hingga kita senantiasa memahami artikel-artikel dari perintah Tuhan yang telah tertulis dalam buku al-Quran, dapatlah kita beberapa ayat yang terhadap kepada ilmu komunis, hal yang demikian ini hingga lantas bisa menambahi penerangan dalam hati saya.
Hai sekalian kawan-kawan kita, bahwa kita akan masuk dalam lapang pergerakan itu, haruslah kita dengan berasas agama yang hak, agar supaya jangan sampai kita mendapat rugi dalam zaman perlawanan ini, untung dalam kemenangan atau untung dalam akhirat, korbankanlah harta benda, dan jiwamu, untuk mengejar kebenaran dan keadilan tentang pergaulan hidup kita dalam dunia ini. …. (Nasehat, 1926)
Di kutipan pertama, tampak jelas bahwa Misbach sedang mengritik dua pihak sekaligus, yakni pemuka komunis yang anti-Islam dan pemuka Islam yang antikomunis. Waktu itu, di kalangan Islam maupun Marxis muncul diskursus hubungan Islam dan Komunisme. Jika kaum komunis menganggap bahwa Islam sebagai imperialisme Turki, maka kaum Islam menganggap bahwa komunis akan menghancurkan Islam. Misbach tidak sedang meyakinkan diri sendiri di tengah dua gempuran bahwa komunisme anti-Tuhan cum anti-Islam; dan kekuatan agama termasuk Islam tidak berhari depan bagi perjuangan rakyat. Misbach menggelari bukan komunis sejati sekaligus bukan Islam sejati karena ketidakpahaman dua pihak tersebut terhadap kedudukan diskursus Islam dan Komunisme di zaman kapitalisme.
Sementara di kutipan kedua, Misbach seperti mendapatkan suntikan keyakinan sehingga keislamannya semakin teguh setelah ia mempelajari ilmu komunisme. Karenanya, Misbach mengusulkan agar orang-orang pergerakan masuk dalam organisasi yang ‘dengan berasas agama yang hak’ agar mendapatkan kebaikan duniawi maupun ukhrawi. Baginya, komunisme telah memberikan jalan penerang untuk terus melawan kapitalisme, karena ‘dapatlah kita beberapa ayat yang terhadap kepada ilmu komunis.’ Perkataan Misbach bahwa agama harus memuat juga sebagaimana aturan-aturan komunisme, menegaskan bahwa ia tidak mendapatkan petunjukan rinci bagaimana Islam dapat diejawantahkan dalam tatanan bermasyarakat. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa ilmu komunisme merupakan metodologi untuk memperjelas keumuman perintah al-Quran.
Hal-hal di atas dapat diterangkan dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang, kompleks, dan penuh dinamika di Surakarta. Pertama,konteks umum masyarakat Indonesia di bawah penindasan Pemerintah Hindia Belanda, di mana pemuka Islam hidup, berkembang, dan dilestarikan. Surakarta merupakan wilayah vorstenlanden, yakni daerah yang tidak dikenai kebijakan sistem sumberdaya (Cultuurstelsel) atau dikenal Tanam Paksa (1830). Dalam praktiknya, tanah-tanah di Surakarta disewakan kepada swasta dan diberdayakan oleh Belanda untuk ditanami tanaman ekspor. Masa ini adalah masa munculnya kerja-upahan, yang dikombinasikan dengan kerja bakti. Tanam Paksa dioperasikan oleh elit priyayi kesultanan di bawah pengawasan dan pengarahan pejabat Eropa (residen). Di sisi lain, masyarakat Surakarta yang mayoritas beragama Islam, menganggap hubungan dengan kerajaan sebagai abdi (hamba) bagi kerajaan (Cf. Suroyo, 2000: Bab I).
Surakarta dipimpin oleh Paku Buwana X (1893-1939). Gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama Khalifatulah untuk raja Surakarta, menandakan bahwa raja adalah pusat kekuasaan di dunia maupun di akhirat. Raja merupakan sumber ilmu, sekaligus perwakilan Tuhan di muka bumi. Ajaran Islam dilestarikan melalui pesantren Mambaoel Oeloem, yang didirikan oleh Raden Adipati Sosrodiningrat pada 1906. Umat Islam Surakarta mengenal ritual Islam seperti Sekaten, Grebeg Siyam, Gerebeg Maulud, yang kelak menjadi salah satu sasaran kritik murid-murid Muhamadiyah. Ketika lembaga-lembaga modern seperti pendidikan dan kesehatan bermunculan, Mambaoel Oeloem mengikuti perubahan tersebut dengan mempertahankan gaya pendidikan tradisionalnya.
Ahmad Dahlan mendirikan Muhamadiyah di Yogyakarta setelah mempelajari gerakan modernisme Islam di Mesir yang banyak dipengaruhi Muhamad Abduh dan Rasyid Ridha. Murid-murid Ahmad Dahlan tumbuh pesat dan mulai menyebar ke Surakarta. Ahmad Dahlan mereformasi Islam dengan mempertanyakan praktik ritual umat Islam yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah. Namun, ajaran Dahlan tidak mempersoalkan kekuasaan kapital. Muhamadiyah maupun Mamboel Oeloem tidak terlalu kritis melihat instrumen-instrumen kolonialisasi Belanda.
Meski rakyat Surakarta menganggap hubungannya dengan Keraton sebagai perhambaan, mereka merasakan penindasan akibat kerja-wajib dan upah yang tidak memadai. Jika terjadi persoalan, biasanya rakyat Surakarta protes dengan mendatangi kerajaan (nggogol). Ada pula jenis protes di mana kaum tani tiba-tiba berhenti bekerja atau memperlambat pekerjaan sampai datang perwakilan dari kerajaan untuk menyelesaikan tuntutan kaum tani. Dua cara tersebut biasanya efektif untuk menyelesaikan persoalan.
Kedua, diskursus perlawanan terhadap Pemerintahan Belanda hadir di tengah-tengah kebangkitan nasionalisme di India, China, kemenangan komunisme di Uni Soviet, dan keterpurukan kejayaan Islam akibat Perang Dunia I. Ketiga, gagasan Islam dan Komunisme dilontarkan dalam hubungan aksiologi Islam dan politik di awal-awal kehidupan modern di Indonesia.
Di seberang lain, kalangan Kiri internasional sedang memperdebatkan relevansi doktrin Marxisme di tanah jajahan. Sejumlah kalangan Marxis menganggap bahwa ekspansi kapital ke Asia maupun Timur Tengah, sebagai upaya memajukan negeri-negeri tidak beradab. Sebagian lagi berkeyakinan ekspansi kapital ke daerah-daerah lain merupakan bentuk lain dari akumulasi primitif (kolonialisasi). Di bagian yang terakhir ini, kebangkitan nasionalisme dan kemunculan Pan-Islamisme dipertimbangkan sebagai salah satu subyek perubahan di negeri yang tidak mengalami industrialisasi secara menyeluruh.
Seperti diketahui, setelah kekalahan Turki Usmani dalam Perang Dunia I, ekspansi kapital Barat ditanggapi beragam oleh kalangan Islam. Kata kunci respons tersebut adalah kebebasan berpikir bagi umat Islam (ijtihad) dan kembali kepada al-Quran dan Sunnah. Ada yang menamakan bahwa ekspansi kapital Barat ke negara yang berpenduduk muslim sebagai bagian dari kemajuan. Ada pula yang menamakannya sebagai bagian dari Kristenisasi dan Westernisasi. Dan yang lainnya berupaya mempertahankan keyakinannya tanpa memedulikan kolonialisme. Sikap asketik tampak dalam keyakinan yang terakhir ini.
Diskursus-diskursus di atas; nasionalisme, komunisme dan Islam menyebar melalui kaum terpelajar melalui pertemuan-pertemuan internasional maupun lembaga pendidikan. Jika Tjipto Mangoenkoesoemo, Haji Agus Salim, dan Tan Malaka mengikuti dan terlibat dalam perdebatan narasi alternatif untuk melawan penjajahan seperti dalam Komunisme Internasional, liga antipenjajahan, dan pertemuan Islam internasional, Misbach sekadar tokoh lokal, yang membuat Belanda dan Keraton berkali-kali kebakaran jenggot. Misbach dihadapkan dengan permasalahan praktis yang dihadapi rakyat Hindia, di mana penghisapan kian kejam dan keresahan rakyat bertemu dengan bentuk-bentuk protes modern seperti organisasi partai, disiplin partai, boikot, sabotase, rapat akbar (vergadering) dan rapat tertutup untuk menginterupsi kebijakan Belanda.
Ada dua karakter tulisan Misbach. Pertama, Misbach menulis untuk merespons situasi yang sedang terjadi di Hindia Belanda, seperti hubungan antara kapitalisme, Keraton, dan nasib rakyat. Gaya tulisannya diawali dengan sebuah kasus, seperti peristiwa penghinaan terhadap agama Islam dan disiplin partai dalam SI. Kedua, Misbach menulis untuk merefleksikan keyakinannya yang berhubungan dengan pergerakan, seperti tulisan-tulisan yang dibuat di pengasingan. Menariknya, pola penulisan yang disajikan tidak berubah. Ia memberikan komentar terhadap sebuah peristiwa kemudian masuk ke dalam ayat-ayat al-Quran. Menafsirkan ayat al-Quran tersebut dan kembali lagi ke peristiwa yang sedang terjadi. Dalam tradisi tafsir al-Quran, hal tersebut merupakan salah satu metodologi tematik (maudlu’i) dengan pendekatan hermeneutika kritis, di mana penafsir menggali makna al-Quran dengan berangkat dari situasi penafsir, kemudian menyelam ke dalam pandangan hidup al-Quran dan melakukan sintesis antara ayat al-Quran dengan situasi yang tengah dihadapi umat. Dengan cara demikian, al-Quran yang menggunakan bahasa langit dibumikan berdasarkan tema-tema tertentu, sesuai kebutuhan dan situasi umat (Cf. Mustaqim, 2003).
Islam Pembebasan:
Menggerakkan Islam Melawan Kekuasaan Kapital
Sesudah saya mendapat pengetahuan yang demikian itu (ilmu komunisme, pen.), dalam hati saya selalu berpikir-pikir tentang berhubungannya dengan pasal agama, sebab saya ada rasa bahwa ilmu komunis itu suatu pendapat yang baru, saya ada berpikir, hingga rasa dalam hati berani menentukan, bahwa perintah dalam agama mesti menerangkan juga sebagaimana aturan-aturan komunis. (Nasehat, 1926)
Sebagaimana terlihat dari kutipan di atas, Misbach tidak mengatakan bahwa Islam dan komunisme bersesuaian tapi menganjurkan perlunya perintah agama diterangkan sebagaimana komunisme memberikan alat analisis dan cita-cita tertentu. Dalam pikiran Misbach, al-Quran dan Sunnah sebagai rujukan utama umat Islam masih memerlukan alat analisis yang tajam. Baginya, ajaran Islam hanya menyediakan rambu-rambu tertentu agar manusia hidup selamat di dunia dan di akhirat. Selebihnya, manusia harus berjuang agar jangan tergelincir dalam jebakan-jebakan duniawi untuk meraih ridla ilahi. Dalam hal ini, Misbach meyakini ‘atoeran2 kommunisten’ sebagai perkara yang dapat menerangkan keumuman dari perintah-perintah al-Quran. Hal ini dapat dilihat dalam tulisan sebelumnya:
Kita wajib mengadakan detectuur (Peraturan) yang menurut keadaan hidup bersama dan menurut keselamatan umum. Kita wajib mengadakan aturan guna membongkar fitnah dengan tidak memandang bangsa dan agama.’ (Semprong Wasiat:…, 1923)
Bagi Misbach, inti agama adalah hidup bersama dan mencapai keselamatan bersama. Karenanya, penafsiran terhadap al-Quran harus diarahkan untuk kepentingan manusia di muka bumi, bukan segolongan umat agama dan bangsa tertentu.
1. Islam adalah Petunjuk untuk Membebaskan Manusia dari Kapitalisme
Pada 1918 memang muncul sentimen anti-Kristen ketika terjadi penghinaan terhadap Nabi Muhamad dan Islam. Dalam peristiwa tersebut, Misbach terlibat menentang. Namun, pandangan Misbach sebagaimana terbaca dalam ‘Sroean Kita’ (1918), menekankan pada relasi antara Kristenisasi, peran negara dan eksistensi kapitalisme. Orientasi dasar pemikirannya mengarahkan pada keyakinan bahwa umat Islam perlu berjuang untuk melawan kapitalisme. Menurut Misbach, tindakan penghinaan tersebut dapat terjadi karena pemerintah dan keresidenan mendapatkan perlindungan dari kaum kapitalis. Kaum kapitalis memfasilitasi pemuka Kristen untuk menyebarkan agamanya melalui pendirian sekolah, klinik dan sebagainya. Misbach bukan mempersoalkan agama Kristen tapi peran pemerintah yang membiarkan penghinaan terhadap sebuah keyakinan dan pemuka Islam yang berdiam diri terhadap kejadian tersebut. Dalam hal ini, Misbach tidak menggunakan cara pandang agama dalam menilai mewabahnya Kristenisasi di Surakarta.
Di mata Misbach, tiap agama memiliki kesamaan, karena diturunkan dari sumber yang sama dan memiliki tujuan yang sama. Namun, seiring dengan perkembangan zaman terjadi perpecahan di kalangan pemeluk agama akibat pimpinan-pimpinannya yang mementingkan diri sendiri dan ‘…[D]ari sebab adanya iblis atau manusia berpikiran setan, maka agama yang benar hanya satu itu lantas berpecah-pecah.’ (H.M. Misbach, 1925)
Agama itu bermaksud: petunjuk dari Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia isi dunia. Adapun Tuhan yang bersifat kuasa untuk semua manusia itu hanya satu saja, dari itu sesungguhnya agama yang sejati itu pun juga cuma satu. Tidak ada Tuhan itu dua tiga atau lebih, pun sebenarnya tidak ada dua agama yang benar.
Tersebut dalam al-Quran Karim surat Ali Imran Ayat 19, artinya:
Innaddina ‘indallohil Islam
Agama yang diakui oleh Allah itu hanya Islam saja.
Adanya ayat itu kebanyakan orang lantas merasa bahwa agama Islam itu hanya yang dibawa oleh junjungan Nabi kita Wamaulana Muhamad saw. saja. Oleh sebab itu, orang Islam ada yang besar hatinya merasa benar sendiri dan menimbulkan lain pemeluk sama terpaksa menjunjung agamanya masing-masing dan mementingkan pimpinannya sendiri-sendiri (concurantie agama). Pendapat yang semacam itu sesungguhnya gelap gulita. Adapun terangnya begini:
Agama berarti penunjuk dari Tuhan
Islam berarti selamat.
Menjadi agama Islam itu penunjuk jalan yang menuntut keselamatan.
(Islamisme dan Komunisme, 1925).
Kata kunci artikel di atas adalah Tuhan Maha Kuasa, agama sebagai petunjuk, dan Islam. Pemilihan kata kuasa, bukan Pengasih ataupun Penyayang (al-Rahman, al-Rahim) menandakan bahwa ia sedang mempreteli pikiran dan sikap bahwa rakyat sebagai abdi dalem atau hamba bagi raja. Agar umat manusia selamat maka selayaknya hanya memasrahkan diri kepada Allah dengan berpegang teguh pada agama. Dengan demikian, berpegang teguh merupakan jalan untuk mencari keselamatan. Hal ini menegaskan bahwa banyak yang beragama namun bersifat mementingkan diri sendiri sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi dan membuat kesengsaraan bagi manusia lain. Sikap manusia yang mementingkan diri dan merusak sesama, menurut Misbach, tidak cukup diselesaikan dengan bersikap manis dan nasehat, serta ‘…[J]angan sampai kaget, mesti akan menerima tendangan dari saya.’ (H. M. Misbach, 1922). Misbach meyakini bahwa orang-orang yang beragama diperintah untuk berbuat kebenaran bukan mendukung kezaliman. Dukungan terhadap kezaliman banyak bentuk, di antaranya adalah berdiam diri dan tidak rela mengeluarkan apapun untuk turut berjuang.
Kita menemukan bahwa Islam dalam pandangan Misbach tidak sekadar sistem keyakinan atau ajaran (isme), tapi ’penunjuk jalan yang menuntut keselamatan.’ Pandangan mengenai agama sejati tersebut dijelaskannya kembali dalam tulisan terakhirnya, ‘Nasehat.’ Misbach berkata:
…[A]gama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.’ (Nasehat, 1926)
Seperti tampak di kutipan di atas, sifat egalitarianisme agama yang berpusat dari Kemahakuasaan Allah merupakan inti dari pandangan agama. Gagasan tersebut mirip tesisnya Asghar Ali Engineer tentang masyarakat tauhid. Menurut Engineer, ajaran Islam mengusung sebuah postulat tentang keadilan bagi semua masyarakat. Dalam praktiknya, pemuka Islam telah ‘membelokkan’ visi Islam dengan menjadikan yang partikular dari praktiknya Nabi Muhammad sebagai hukum umum, yang tidak dapat ditafsir ulang. Padahal di era modern, telah muncul kesadaran baru dan terjadi perubahan-perubahan tata ekonomi dunia. Dalam soal zakat misalnya, Engineer mengutarakan pentingnya memahami kembali misi utama zakat dan konsep praktisnya. Apakah sekadar membagi kelebihan harta kepada penerima zakat, yang berarti bersikap dermawan dan tidak jarang keluar dari sikap arogan; atau melakukan sosialisasi alat produksi demi menegakkan keadilan dan kesetaraan (Cf. Engineer, 1993).
Menurut Misbach, perintah Tuhan untuk hidup dengan damai dan saling menghargai tidak mudah dilaksanakan karena munculnya berbagai rintangan dari sifat kebintangan manusia dan setan. Sehingga Kata Misbach, “Timbulnya semua itu sukar sekali ditolong kecuali kalau kapitalisme dilenyapkan dari dunia.” (H. M. Misbach, 1925).
Islam memerintahkan umat manusia untuk melawan kezaliman dan Tuhan pasti akan menolong orang-orang yang dizalimi, hal tersebut tidaklah cukup jika umat Islam berdiam diri. Ia mengingatkan bahwa ada sebagian pemuka Islam yang menolak pemogokan kaum tani dan melarang umatnya untuk berjuang dan berorganisasi. Bahkan, menurut Misbach, pemuka Islam tersebut tidak rela berkorban untuk perjuangan.
Misbach menerangkan:
… [A]kan tetap ayat-ayat al-Quran yang diterangkannya itu kebanyakan sengaja buat pameran saja…
….
Jikalau ada seorang yang mengaku atau menyebut dirinya seorang mukmin dan Islam terutama pemimpinnya, tapi masih ada yang bersifat munafik, jangan sampai kaget, mesti akan menerima tendangan dari saya.

‘… [B]etul mereka senantiasa menunjuk-tunjukkan keislamannya, tetapi sebetulnya cuma di atas bibir saja, mereka menjalani aturan agama Islam akan tetapi dipilih aturan yang disukai oleh hawa nafsunya saja, perintah yang tidak disukai mudah dibuangkan saja. Tegasnya, mereka melawan atau menentang perintah Tuhan Allah Sami’unalim dan takut dan cinta kepada kehendak setan yang dipengaruhkan dalam kapitalisme pada waktu sekarang ini (laknatullah, Red.) yang telah terang kejahatannya.’ (Moekmin dan Moenafik, 1922)
Dari kutipan di atas, Misbach menjelaskan siapa yang dimaksud muslim sejati. Baginya, pemuka Islam yang pandai beretorika, tampak salih dan beriman, namun sekadar mengikuti hawa nafsu dan perintah setan. Sikap tersebut jauh dari Islam sejati yang ditunjukkan dengan ucapan dan perbuatan. Dengan demikian, menurut Misbach, orang munafik bukan sekadar yang berpura-pura Islam, tapi pemuka Islam yang tidak rela berjuang. Mereka ini, mengikuti “kehendak setan yang dipengaruhkan dalam kapitalisme.”
2. Djangan Takoet! Djangan Koeatir: Dari Iman ke Praksis
Dalam literatur Islam, tauhid atau mengesakan Allah swt. merupakan jantungnya Islam. Konsepsi tersebut diturunkan dari kalimat, Lailaaha Illallah; Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Melalui konsepsi tersebut, muncul konsepsi kesetaraan sesama manusia tanpa memandang kelas maupun jabatan. Kebertauhidan inilah yang menegasikan semua unsur duniawi. Namun, melalui konsepsi tauhid pula ada perbedaan, yakni antara kaum bertuhan dan tidak bertuhan, dan antara muslim dan nonmuslim. Dalam literatur Islam klasik, diskusi tauhid telah menjadi pembahasan panjang dua teolog besar, yaitu antara yang memahami determinasi Tuhan dan kehendak bebas manusia.
Turunan lain dari tauhid adalah konsepsi takwa, firman Allah ta’ala yang artinya: ‘Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’ (Q.S. al Hujurat [49]:13 ). Orang-orang yang bertakwa inilah yang mendapatkan tempat mulia di muka Allah. Takwa adalah meninggalkan perbuatan yang dilarang dan melaksanakan ajaran-Nya. Pemaknaan terhadap takwa pun tidak tunggal. Sebagian ada yang memahami dengan bersikap asketik, namun banyak pula yang memahaminya untuk menegakkan Islam secara holistik-tekstual. Inti dari konsepsi takwa adalah berbuat salih, baik yang berhubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun dengan sesama manusia (hablum minannas). Kata al-Quran, berbuat adil adalah tindakan yang paling mendekati takwa.
Dalam diri Misbach, abstraksi konsepsi teologis itu mendapatkan tempatnya dalam slogan ‘djangan takoet dan djangan koeatir.’ Sebuah slogan yang kerap diulanginya dalam tulisan-tulisan maupun dalam rapat-rapat tertutup dan terbuka (vergadering) dengan kaum tani. Tampak sekali bahwa Misbach mencoba mengatasi alam pikir mistis di kalangan massa, berupa ketakutan dan kekhawatiran. Kendati kaum tani memiliki tradisi protes yang luar biasa, mereka tidak mampu keluar dari alam pikir feodalisme dengan menganggap tuan kebun, Pemerintah Belanda dan Keresidenan sebagai sosok yang memiliki segalanya yang harus dihormati dan dipatuhi. Karenanya, slogan ini sangat kuat dan menusuk jantung alam bawah sadar kaum tani; tidak sekadar ungkapan heroik kelas menengah perkotaan. Misbach berusaha meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dan dikhawatirkan kecuali Allah. Dengan kata lain, jika umat manusia masih takut oleh raja dan residen serta khawatir ditangkap oleh Belanda dan kapitalis perkebunan sama saja dengan menyekutukan Allah.
Slogan djangan takoet dan djangan koeatir dapat dilihat dalam karikatur Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Dalam karikatur tersebut Misbach menggambarkan hubungan simbiosis mutualisme antara raja, tuan kebun dan pemerintah, sementara petani penggarap dan buruh tani dihisap dan ditindas. Penghisapan terhadap kaum tani dilakukan dengan berlakunya kerja rodi, pajak yang berlipat serta larangan berbicara dan berkumpul, melalui Pasal 154 dan 156 hukum pidana. Di karikatur tersebut Misbach menekankan, djangan koeatir!
Makna djangan koeatir dapat ditelusuri lebih jelas dalam tulisannya ‘Orang bodo djoega machloek Toehan, maka fikiran jang tinggi djoega bisa di dalam otaknja,’ ia mengutip Q.S 4:75, yang diterjemahkan sebagai berikut:
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami perlindungan dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!. (Orang Bodo… , 1919)
Dari ayat tersebut Misbach menafsirkan, bahwa umat Islam diperintah untuk melawan dan memerangi kezaliman. Tujuannya membela orang lemah bukan berkompromi dengan pembuat kezaliman ataupun mengubah keyakinan agama lain. Menurut Misbach, di tengah kesulitan apapun, Allah Yang Pengasih pasti akan menolong orang-orang yang dizalimi. Karenanya, djangan koetir, karena Allah pasti akan menolong umat yang sedang berjuang mengusir si zalim. Misbach mengatakan bahwa pemenjaraan, penderitaan dan kebahagiaan yang dialami siapapun tidak perlu diratapi, karena semuanya milik Allah swt. semata (Misbach, 1922).
Kata Misbach:
Zaman kapitalisme uang menjadi pokok hidup manusia, dari itu maka orang-orang kebanyakan menjadi tercintanya kepada uang sehingga boleh disebut cinta buta, muka yang dibutakan oleh mata uang sampai melupakan kemanusiaannya, badan dan jiwanya diserahkan ke uang saja. (Nasehat, 1926)
Misbach sadar betul bahwa zaman kapitalisme akan menjadikan umat manusia memuja uang. Seperti diketahui, di zaman monetisasi, di mana uang diberlakukan tidak hanya sebagai alat tukar, tapi pengukur nilai sebuah barang dan jasa. Akibatnya, setiap orang memuja uang atau mengonsumsi barang yang mengandung nilai uang tinggi. Pada akhirnya, nilai uang kian bergerak tanpa mempertimbangkan peredaran dan nilai barang serta jasa dan hampir mengarahkan dan menundukkan seluruh aspek kehidupan manusia. Kapitalisme mengondisikan di mana tiap manusia sangat bergantung pada uang (fetisisme komoditas). Karenanya, umat Islam tidak lagi dapat meng-Esakan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya, karena uang telah menjadi tuhan baru. Misbach mengritik kecenderungan manusia yang tidak lagi memasrahkan jiwa dan raganya kepada Allah.
Dengan demikian, slogan djangan takut dan djangan khawatir merupakan ekstraksi makna Lailaha ilaha illallah; Tiada Tuhan kecuali Allah. Bagi kaum tani yang sedang resah, tidak perlu takut kepada siapapun, karena hanya Allah-lah yang perlu ditakuti. Tidak perlu khawatir, karena Allah pasti mengeluarkan orang beriman dari kezaliman. Tugas manusia adalah melawan kezaliman yang dilakukan oleh siapapun agar tercipta kedamaian dan keharmonisan antarmanusia maupun manusia dengan alam. Misbach melampaui perdebatan ontologis mengenai makna kebertuhanan dalam dua narasi besar, kehendak bebas atau determinasi Tuhan. Ia memeras makna La ilaha illallah menjadi praktis dan menjadi bahasa propaganda.
3. Setan adalah Kapitalisme, Raja, dan Tuan Kebun
.. [H]idup bersama artinya tidak ada perbedaan, hanya Tuhanlah yang lebih tinggi; karena jika hak manusia tentulah ada juga manusia lebih tinggi, begitu terus menerus sehingga kekalutan dunia terjadi dan semua itu saya ambil pokoknya saja karena dari loba tamaknya kapitalisme dan imperialisme sebab ia-lah yang menggunakan tipu muslihatnya dengan jalan memfitnah, menindas dan lain-lain perkatan pula. (Perbarisan Islam Bergerak: Sikap Kita, 1922)
Misbach menegaskan bahwa kesetaraan manusia yang telah diberikan oleh Allah swt., dirampas oleh kapitalisme. Kapitalisme tidak lagi menjunjung hak Allah, tapi hak individual manusia, yang menyebabkan manusia berkelas-kelas. Misbach pun mengeluarkan apa yang dinamakannya sebagai tipu muslihat untuk menghancurkan manusia dengan berbagai cara. Beroperasinya sistem kapitalisme menyebabkan kaum muslim Hindia tidak lagi memiliki kemerdekaan, karena ‘masih terikat dalam tangan kemodalan ataupun dengan kekuatan fitnahan’ (Misbach, 1922).
Ada dua pesan yang ia sampaikan. Pertama, kebebasan menjalankan keyakinan tidak mungkin terlaksana, jika masih di bawah dominasi kapitalis. Kedua, perjuangan yang mesti diambil oleh kaum muslim bukan spontanitas maupun terorisme, tapi perjuangan yang bersandar pada kekuatan bersama. Allah berfirman:
Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (semasa jahiliah) bermusuh, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan kurniaNya kamu menjadi bersaudara. (Q. S. Ali-Imran: 103)
Ungkapan ini menguatkan pendapat sebelumnya dalam ‘Sroean Kita,’ bahwa rezim kolonial tidak mungkin bersifat netral dalam menyikapi keberagamaan. Bagi Misbach, orang-orang beragama tidak mungkin dapat menjalankan perintah agama untuk hidup damai jika kapitalisme masih bercokol.
… Jikalau memang merasa dititahkan menjadi manusia dan tidak hilang perasaannya kemanusiaan lebih pula yang mengaku mukmin dan Islam mesti menjalankan kebenaran dan keberanian, bersikap yang demikian itu kami menguatkan sekali sebab kami memilih dari rasa ayat-ayat al-Quran
‘Manusia hidup dalam dunia yang fana ini untuk hidup bersama secara damai. Itulah perintah Tuhan. Dan untuk hidup secara damai, kita manusia harus menjalankan perintah-perintah Tuhan. Kalau seseorang memilih dari apa perintah-perintah Tuhan hal-hal yang ia ingin lakukan dengan tidak mempedulikan kepentingan orang-orang lain, ia adalah curang dan menurut kehendak setan. Setan adalah musuh kita. Ia dalam abad ini bekerja untuk kapitalisme. Kapitalisme adalah fitnah, nafsu untuk melenyapkan keimanan kita kepada Tuhan.’ (Perbarisan Islam Bergerak: Sikap Kita, 1922)
Idiom lain untuk menerjemahkan kapitalisme adalah setan. Seperti diketahui, al-Quran menyebut ciri-ciri setan sebagai pihak yang menimbulkan was-was dalam hati manusia (al-Nas: 5-6), yang menakuti-takuti dengan kesengsaraan (al-Baqarah: 268), mengondisikan manusia untuk berbuat kemungkaran (al-Nur: 21), menjebak Adam dan Hawa agar terusir dari Surga. Setan akan terus menggoda manusia agar mengikuti dan menjadi pengikut mereka. Al-Quran menggambarkan setan dalam sesuatu yang nyata (al-Zukhruf: 62; ) dan menjadi musuh abadi umat manusia (al-Fatir: 6; al-Thaahaa: 116-117). Misbach memilih kata setan, bukan jin atau iblis. Selain kata ini akrab diingatan masyarakat Islam, juga dikenal di agama-agama Nasrani dan Yahudi.
Bagi Misbach antara setan dan kapitalisme memiliki kesamaan ciri, yakni menipu, membohongi, menggoda dan mencelakakan manusia. Pemaknaan setan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam ketidakdamaian dalam kehidupan manusia merupakan tafsir historis dari kisah Adam dan Hawa. Kisah Adam dan Hawa menegaskan bagaimana kejahatan setan telah merusak kedamaian dan setan berjanji untuk mengganggu manusia agar berpaling dari jalan Allah swt.. Setan adalah sesuatu yang mendatangkan fitnah kepada umat manusia. Setan juga datang dengan menguji kesetiaan manusia agar berpaling kepada Allah. Misbach mengartikan setan dengan historis dan konkret, sebagai perusak agama dan penguji kesetiaan umat Islam. Setan itu adalah kapitalisme, yang telah mengeruk laba dari keringat kaum tani sambil merusak agama. Dengan demikian, perjuangan melawan kapitalisme merupakan perintah al-Quran. Karenanya, wajar jika melawan kapitalisme tidak akan mudah dan mengalami kepayahan yang luar biasa. dan hinaan dari kaum mustakbirin.
… Jadi, kalau begitu Hindia dini waktu sebagai hanya orang-orang dinegeri Mekah tempo zaman purbakala yang mana perikehidupannya nyelingkan tindasan yang ada padanya.

Nah! Sekarang nyatalah bahwa perintah Tuhan kita orang diwajibkan menolong kepada barang siapa yang dapat tindasan, hingga mana kita berwajib perang juga jika tindasan itu belum diberhentikannya. (Orang Bodo… , 1919)
Kutipan di atas kembali menggaris bawahi siapa musuh utama umat Islam. Pertama, musuh utama umat Islam adalah setan. Kedua, umat Islam harus melawan fitnah dan tipu daya kapitalisme. Fitnah dan tipu daya dilakukan oleh setan yakni sistem kapitalisme. Di Hindia Belanda, kapitalisme beroperasi melalui pemerintahan Hindia Belanda, Keraton Surakarta, dan tuan kebun. Dengan demikian, jika umat Islam melawan tiga serangkai tersebut sama dengan melawan setan dan fitnah, sebagaimana diperintahkan oleh Allah.
Perjuangan mengenyahkan sistem kapitalisme dilakukan secara fungsional, di mana setiap orang menanggung kewajiban menjalankan jihad sesuai kapasitasnya dengan berpegang pada kekuatan massa, terorganisasi dan terpimpin bukan spontanitas dan individual. Kata Misbach:
Jika kita beriman tentulah kita tidak syak lagi mengindahkan firman Tuhan itu, meski kita dibenci oleh orang yang berbuat salah itu, tetapi kita diwajibkan membenarkan pula, dengan tidak memandang bangsa, dan tidak memandang pangkat besar atau kecil, kendati raja-raja, atau pemerintah negeri, dan ulama-ulama of kiyai- kiyai, tidak peduli siapa juga.
Dengan mengutip Al Qur’an: ‘Hai, semua mukmin, masuklah agama Islam, jangan ikuti jalan setan karena jelas setan adalah musuhmu,’ Misbach mengajak kepada orang-orang untuk masuk dalam pergerakan politik menentang kapitalisme dan Imperialisme. Jika pemuka-pemuka Islam masih menghalangi rakyat untuk terlibat dalam pergerakan melawan kapitalisme maka ia termasuk muslim munafik.
Kesimpulan: Hadji Misbach sebagai Diskursus di Zaman Neoliberal
Dalam teks-teks sejarah resmi, orang-orang biasa seperti Hadji Misbach seringkali dilupakan atau dianggap sekadar pemain figuran. Orang-orang biasa yang turut membangun nasion Indonesia kerap disingkirkan oleh rezim metodologi kolonial. Misalnya, sepeninggalnya Misbach di Surakarta, para guru ngaji membentuk Sarekat Moealimin. Sarekat Moealimin merupakan sindikat pengorganisasian tanpa struktur yang jelas dan kaku. Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan di rumah-rumah maupun di madrasah. Isinya membahas al-Quran dan Sunnah untuk menelanjangi kekuasaan yang bengis. Di Sumatera, Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin bergerak menentang kapitalisme. Di Banten, KH Tubagus Achmad Chatib, turut melawan Pemerintah Hindia Belanda di Banten pada 1926-1927.
Iklim pengetahuan yang didominasi oleh rezim metodologi kolonial, mempelajari dan mendiskusikan Misbach sebagai sosok maupun simbol perlawanan akan selalu relevan untuk menggali akar-akar sejarah Indonesia. Di samping itu, diskusi di kalangan pergerakan mengenai kategorisasi ideologi di Indonesia tampak mencerminkan warisan kolonial ketimbang mencari dan menggali upaya-upaya perlawanan.
Berdasarkan diskusi di atas, saya tidak menemukan Misbach sebagai pendakwah komunis-Islam ataupun muslim-komunis, seperti diyakini sebagian orang. Karena anggapan tersebutlah, Misbach tidak pantas disandingkan dengan tokoh-tokoh Islam lain seperti HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim. Begitu pula dalam kajian gerakan Kiri di Indonesia, sosok Misbach berada di pinggiran. Misbach adalah sosok yang meyakini bahwa Islam harus turut bergerak dan hadir dalam pergerakan menentang kezaliman serta mengajak lembaga-lembaga Islam untuk bergerak. Bagi Misbach, Islam merupakan petunjuk bagi manusia agar turut menata kehidupan lebih damai dan adil. Untuk mencapai kehidupan tersebut, umat Islam harus membangun kekuatan untuk melawan setan dan fitnah atau kapitalisme.
Misbach, seperti halnya umat Islam di negeri-negeri lain di awal abad ke-20, berupaya merespons situasi yang sedang dihadapinya dengan berpijak pada al-Quran dan Sunnah. Dengan cara demikian, Islam dihadirkan sebagai agama universal (rahmatan lil ‘alamin) serta tidak ada yang menandingi keluhurannya (ya’lu wala yu’la alaih). Dalam konteks demikian, gagasan Misbach tak kalah mentereng dengan ide Islam revolusioner Ali Syari’ati; feminis progresif asal India Asghar Ali Engineer; al-Yasar al-Islam asal Mesir Hassan Hanafi. Mereka memulai sebuah diskusi tentang perlunya mengembalikan watak pembebasan Islam di tengah-tengah ketidakadilan global.
Misbach layak dikenang sebagai peletak dasar Islam pembebasan di Indonesia. Ia mencoba membumikan ajaran Islam sebagai agama pembebasan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran bersama kaum tertindas. Relevansi gagasan Misbach terletak dalam metode praksisnya, ketika ia memadukan tingkat kesadaran masyarakat dengan persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Misbach tidak sekadar menjelaskan persoalan masyarakat, berupaya mengajak mengubah tatanan masyarakat agar lebih baik, tapi menjelaskan konsepsi ketertindasan tersebut dengan bahasa masyarakat. Ia mampu menerjemahkan konsepsi-konsepsi abstrak dengan bahasa yang konkret dan praktis di tengah alam pikir feodalistik.
Dalam sejarah kemunculannya sekalipun, ajaran Islam hadir untuk menjawab tatanan sosio-ekonomi yang tidak adil. Ajaran Islam muncul dan bergerak dengan bahasa yang konkret dan praktis untuk menentang dan menggantikan perdagangan monopolistik di Jazirah Arab. Islam merupakan respons terhadap zamannya. Hal tersebut dapat dilihat dari struktur dan idiom-idiom yang dipergunakan ajaran Islam. Bahkan, beberapa cendikiawan muslim mengatakan bahwa penolakan masyarakat Arab terhadap ajaran Islam tidak semata beralas pada persoalan perpindahan kebertuhanan. Islam mengemban konsekuensi-konsekuensi sosio-ekonomi yang dapat mengurangi derajat kekuasaan dan kekayaan konglomerat Jazirah Arab.
Ketika tatanan ekonomi dunia semakin terpusat dan berputar di tangan segelintir orang, jutaan masyarakat di penjuru dunia menderita kelaparan dan kemiskinan. Bagi penganut Islam, tidak terlalu sulit untuk menemukan larangan mengakumulasi modal yang keji, larangan membentuk oligarki kekuasaan dan kekayaan, dan merampas kehidupan orang lain. Umat Islam pun tidak sulit menemukan perintah keadilan, kebenaran, dan perjuangan sebagai perintah Allah. Ajaran universal tersebut dapat tetap hidup dan menjadi alternatif dari kejayaan kapitalis monopoli dunia, jika dan hanya jika digerakkan oleh umatnya.***
Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Jurnal Kajian Perburuhan Sedane, Vol 2 No 12 Tahun 2011. Dimuat ulang di sini untuk tujuan Pendidikan.
Daftar Bacaan Utama
Ali Engineer, Asghar. Islam dan Pembebasan. Terj. Hairus Salim HS dan Imam Baehaqy. Yogyakarta; LKIS dan Pustaka Pelajar. 1993
________________. Asal Usul dan Perkembangan Islam; Analisis Pertumbuhan Sosio-Ekonomi. Terj. Imam Baehaqi. Yogyakarta. Insist dan Pustaka Pelajar. 1999
Hiqmah, Nor. H.M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya. Yogyakarta. Yayasan Litera Indonesia. 2000
McVey, Ruth. Kemunculan Komunisme di Indonesia. Terj. Tim Komunitas Bambu. Depok. Komunitas Bambu. 2010
Mustaqim, Abdul. Madzahibut Tafsir: Peta Metodologi Penafsiran al-Quran Periode Klasik hingga Kontemporer. Yogyakarta. Nun Pustaka. 2003
Misbach H. M “Sroean Kita”, Medan Moeslimin, 4 (1918)
_____________. “Orang Bodo Djoega Machkloek Toehan, Maka Fikiran Jang Tinggi Djoega Bisa di Dalam Otaknya”, Islam Bergerak, 10 Maret 1919
_____________. “Kesalahan Itoe Haroes Dibenarkan,” Medan Moeslimin 2 (1921)
_____________. “Perbarisan Islam Bergerak: Pembatja Kita”, Islam Bergerak, 10 November 1922
_____________. “Perbarisan Islam Bergerak: Sikap Kita”, Islam Bergerak, 20 November 1922
_____________. “Perbarisan Islam Bergerak: Makin Terasa”, Islam Bergerak, 20 Desember 1922
_____________. “Moekmin dan Moenafik”, Islam Bergerak, 10 Desember 1922
_____________. “Assalamoe’alaikoem Waroehmatoelahi wabarakatoeh”, Medan Moeslimin, 7 (1922)
_____________. “Semprong Wasiat: Partijdisciplin SI Tjokroaminoto Menjadi Ratjoen Pergerakan Rak’jat Hindia”, Medan Moeslimin, 9 (1923)
_____________. “Islam dan Gerakan”, Medan Moeslimin, 9 (1923)
_____________. “Islam dan Atoerannja”, Medan Moeslimin, 9 (1923)
_____________. “Pamitan Saja”, Medan Moeslimin, 10 (1924)
_____________. “Islamisme dan Kommunisme II: Katerangan Islamisme jang terhadap kepada Kommunisme,” Medan Moeslimin, 11 (1924)
_____________. “Islamisme dan Kommunisme”, Medan Moeslimin, 11 (1925)
_____________. “Nasehat”, Medan Moeslimin, 12 (1926)
Siraishi, Takashi. Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926.Jakarta. Grafitti Press. 1997

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers