Archive for the ‘esai’ Category

MENELAAH MITOS-REKAYASA DALAM SEJARAH BANGSA: SIAPA PAHLAWAN, SIAPA BUKAN PAHLAWAN

Kolom IBRAHIM ISA

Selasa, 28 Februari 2012
*————————-*

MENELAAH MITOS-REKAYASA DALAM SEJARAH BANGSA:

SIAPA PAHLAWAN, SIAPA BUKAN PAHLAWAN

in: <nasional-list@yahoogroups.com> , Wednesday, 29 February 2012, 2:41

Di negeri kita, — ini soal besar!

Sejak Presiden Suharto digulingkan oleh kekuatan gerakan massa luas yang
menggelora menuntut turunnya Suharto dan diberlakukannya Reformasi dan
Demokrasi, masalah ini, — masalah siapa jadi pahlawan nasional, —
Sebentar jadi hangat. Sebenar meredup.

Begitu nama Suharto dilemparkan ke tengah-tengah publik, sebagai calon
pahlawan nasional untuk dinobatkan oleh Presiden SBY, — ramailah yang
pro dan kontra saling mengajukan alasan, dan argumentasi mengapa membela
dan mengapa menolak. Sunguh menarik menyaksikan betapa bernafsunya para
pembela dan pendukung Suharto berusaha mati-matian, agar Suharto
dinobatkan jadi pahlawan nasional.

Orang jadi bertanya-tannya apa sesungguhya latar belakar dari tuntutan
agar Suharto dinobatkan jadi pahlawan nasional. Padahal ketika masih
hidup menjelang beliau meninggal dunia, urusannya adalah mondar-mandir
antara ruang pengadilan karena tuntutan masalah korupsi, — — — dan
rumah sakit. Bolak-balik kalau sidang pengadilan mau dimulai lagi,
Suharto jatuh sakit lagi.

* * *

Terutama menjelang diperingatinya Hari Nasional Kemerdekaan Indonesia
pada tanggal 17 Agustus . . . . Sementara fihak, terutama Golkar, dan
yang berdiri dibelakangnya serta yang mendukungnya, tak jemu-jemunya dan
tak bosan-bosannya MENGAJUKAN AGAR SUHARTO DIBENUM JADI PAHLAWAN NASIONAL.

* * *

Di negeri kita telah dibangun khusus sebuah TAMAN MAKAM PAHLAWAN di
Kalibata. Mereka-mereka yang dianggap punya syarat untuk dimakamkan di
Taman Pahlawan itu, akan dimakamkan di situ atas keputusan pemerintah
yang sedang berkusa. Meskipun tidak mesti yang dimakamkan di Tamah
Pahlawan itu benar-benar sudah dianugerahi titel Pahlawan Nasional.
Tetapi paling tidak nama PAHLAWAN itu melekat juga pada insan yang
dimakamkan di situ.

Tetapi Jendral Suharto, tidak dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata.
Kiranya ia berfikir: Taman Pahlawan Kalibata itu, terlalu sederhana dan
terlalu simpel baginya. Suharto jauh-jauh hari telah mempersiapkan
kuburannya jauh di atas sebuah bukit yang megah dan tersendiri. Tidak
bersama rakyat dan juga tidak bersama tokoh-tokoh nasional lainnya yang
dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata . Atau memang Suharto enggan
dikubur di Taman Pahlawan, yang di situ ada Komunisnya seperti yang
namanya *ALIMIN. *

Alimin, adalah salah seorang pendiri dan pemimpin PKI sejak lahirnya
PKI, atas keputusan Presiden Sukarno dimakamkan di Taman Pahlawan.
Terang dia seorang gembong Komunis. Jenderal Suharto dan rezim Orba yang
dari ujung rambut sampai ke telapak kaki, ADALAH MUSUHYA KOMUNIS, adalah
ANTI KOMUNIS, tidak punya nyali, untuk, misalnya, membongkar makam
Alimin, dan memindahkannya dari situ.

Ada tokoh KIRI lainnya, beliau adalah Ir Setiadi Reksoporodjo, Beliau
juga dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata. Itu terjadi sesudah Suharto
turun panggung. Ir Setiadi adalah mantan pimpinan PESINDO, suatu
kekuatan revolusi Agustus yang tangguh. Ir Setiadi juga duduk dalam
Kabinet Presidensil Sukarno setelah berdirinya Republik Indonesia. Ir
Setiadi lagi-lagi oleh Presiden Sukarno diikutsertkan dalam Kabinet
Seratus Menteri (1966) menjadi Menteri Listrik Negara. Ia tak luput dari
‘pembersihan golongan Kiri’ yang dilancarkan oleh tentara di bawah
Jendral Suharto. Setiadi dijebloskan dalam penjara Orba, karena dia
dianggap pendukung Presiden Sukarno.

Lalu, Suharto dilorot massa. Ketika Ir Setiadi meninggal dunia
pemerintah memutuskan beliau dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata.
Bersama putra beliau Witaryono, — Murti dan aku tahun lalu mengunjungi
makam Mas Setiadi di Taman Pahlawan Kalibata.

* * *

Mungkin situasi ini yang dirasakan RISIH oleh para pendukung, pembela
dan pengagum Suharto, yaitu: Di satu fihak ketika beliau meninggal
dunia, Suharto,sebenarnya baru mulai diurus perkaranya oleh pengadilan
yang menuntutnya sekitar kasus KORUPSI. Di fihak lain, ketika meninggal
dunia, Suharto juga tidak dimakamkan di Taman Pahlawan.

Apapun argumentasi dan pembelaan yang dilakukan oleh mereka-mereka yang
ingin agar Suharto dinobatkan menjadi pahlawan nasional, —- Sejarah
akhirnya mencatat Peristiwa Tragedi Nasional 1965, dimana telah
berlangsung pelanggaran HAM besar-besaran yang dilakukan aparat di bawah
Suharto, yang telah menimbulkan korban antara setengah juta sampai tiga
juta warga tak bersalah dibunuh tanpa proses peradilan apapun. . . . . .
— **

*FAKTA SEJARAH INI, tak akan bisa dihapuskan oleh siapapun. DAN
FAKTA-FAKTAS SEJARAH ITU AKAN MENUDING dan MENGGUGAT MEREKA-MEREKA YANG
TAK TAHU MALU HENDAK MENOBATKAN SUHART0 MENJADI PAHLAWAN NASIONAL*

* * *

Bicara soal SIAPA PAHLAWAN DAN SIAPA BUKAN PAHLWAN, sungguh intresan
mengikuti apa yang terjadi di Belanda kemarin.

Kita ikuti laporan wartawan “de VOLKSKRANT, Michel Maas, hari Senin
tertangal 27 Februari 2012. Tulis Maas a.l.:

“Hari ini, dengan dihadiri oleh Putera Mahkota Pangeran Willem Alexander
di Den Haag diadakan peringatan Pertempuran Laut Jawa, “Slag in de
Javazee, yang berlangsung 70 tahun yang lalu. Hari Minggu yl para
pelgrim Belanda di Surabaya mengikuti jejak dari Schout-bij-nacht KAREL
DOORMAN. Laksmana Madya Karel Doorman.

Sebelum melanjutkan apa yang ditulis Michel Maas perhatikan judul
laporan yang ditulisnya. Ini dia:

*’KAREL DOORMAN PAHLWAN? TIDAK’ — ‘Karel Doorman een held? Nee’*. Maas
menegaskan bahwa apa yang dilakukan Karel Doorman adalah “Ia mematuhi
perintah dan berusaha melakukannya sebaik-baiknya.”

Karel Doorman, memimpin serangan (armada gabungan) Sekutu yang terdiri
dari eskader Belanda, Inggris, Amerika dan Australia melawan armada
Jepang. Pada tanggal 27 Februari 1942 meletuslah Pertempuran Laut Jawa
<Slag in de Javazee>. Pertempuran tsb adalah salah satu perang laut yang
paling lama dalam Perang Dunia II. Semua kapal perang Sekutu
ditenggelamkan (Jepang). Dan Karel Doorman bersama 941 personil marine
lainnya tewas. Ia menjadi sejarah oleh seruannya: “Saya menyerang, ikuti
saya”. Karel Doorman menjadi pahlawan nasional yang terakhir. Demikian
tulis Michel Maas.

Nah, disinilah kita tiba di bagian yang interesan dari laporan wartawan
Belanda ini. Tulis Maas selanjutnya:*”Haaah, seorang pahlawan. Saya
tidak akan menamakannya demikian”,* kata Jan Maarten. Karel Doorman bisa
saya katakan lebih banyak merupakan korban dari perang itu”. Jan Maarten
adalah cucunya Karel Doorman. Ia termasuk rombongan pilgrim yang
mengikuti jejak Karel Doorman persis 70 tahun yang dilalui Karel Doorman.

Jan Maarten tidak mau meromantisir, tulis Maas. “Karel Doorman memang
orang istimewa. Dan apa yang dilakukannya adalah perbuatan seorang
pemberani. Ia mematuhi perintah. Ia telah berusaha keras untuk mengubah
perintah itu.Tapi tak berhasil. Lalu ia berusaha keras melakukannya
dengan sebaiknya.

*Selebihnya (mengenai Karel Doorman) adalah mitos-rekayasa*. “Saya
menyerang, ikuti saya”, ia tidak pernah berseru demikian. Sebenarnya itu
adalah terjemahan dari seruan yang biasa: “All ships follow me”. Kata
Jan Maarten Doorman: “Karangan itu sudah sejak tahun limapuluhan
dibuatnya. Ketika itu Nederland sedang dalam pembangunan-kembali negeri.
Dan memerlukan seseorang. Nah, orang itu jadinya adalah Karel Dorrman.
Pertempuran Laut Jawa harus menunjukkan bahwa ada juga sesuatu yang baik
yang terjadi di dalam perang keseluruhannya.”

Sesungguhnya, pertempuran itu tidak begitu baik, kata historikus Anselm
van der Peet, sorang historikus dari Insituut voor Militaire Historie.
Komunikasinya, misalnya, celemotan. Komunikasi kapal-kapal dari berbagai
negeri menggunakan frekwensi radio yang berbeda. Dan tidak semua opsir
Belanda menguasai bahasa Inggris dengan baik. Dan beerapa kapal telah
mengalami kerusakan dalam petempuran sebelumnya. Juga Dick van der Laan
tidak mau menyatakan bahwa Karel Doorman itu seorang pahlawan. “Bila
seorang laksamana mengatakan, serang dan lakukan pertempuran sampai
selesai, lalu kau laksanakan itu. Apakah dengan itu lalu kau jadi pahlawan?”

* * *

Yang perlu diperhatikan di sini, ialah suasana serius tapi santai Michel
Maas menulis tentang masalah sejarah. Dan pendapat Jan Maarten, cucu
Karel Doorman, serta historikus van der Peet, yang begitu lugu
mempersoalkan mitos-rekayasa sekitar Laksamana Madya Karel Doorman
(notabene adalah kakeknya sendiri) yang tewas dalam Pertempuran Laut
Jawa, 70 tahun yang lalu.

*Beginilah cara menelaah dan meninjau kembali sejarah bangsa sendiri. Di
satu segi diperlukan kejujuran pada fakta-fakta sejarah. Dan di lain
fihak berani mengungkap latar belakar kepentingan politik yang bagaimana
yang menyelubungi mitos-rekayasa, bahwa Laksamana Madya Karel Doorman
adaalah seorang Pahlawan Nasional.*

*Dari sini sedikitnya cendekiawan dan para historikus kita bisa menarik
manfaatnya tentang cara orang-orang Belanda yang dibicarakan diatas
mempersoalkan sejarah bangsanya.*

Dahlan Iskan Menteri paling berpengaruh versi Charta Politika

Dahlan Iskan Menteri paling berpengaruh versi Charta Politika

Selasa, 28 Februari 2012 23:37 WIB | 2581 Views

Menteri BUMN Dahlan Iskan (FOTO ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meraih penghargaan Charta Politika Award 2011 untuk kategori pimpinan kementerian paling berpengaruh.

“Charta Politika merupakan lembaga riset politik pertama Indonesia yang memberikan penghargaan semacam ini, dengan tujuan untuk memberi apresiasi terhadap sejumlah tokoh yang berpengaruh di media,” kata Direktur Riset Charta Politika, Yunarto Wijaya, dalam acara malam penganugerahan Charta Politika Award III di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Selasa malam.

Dahlan sendiri berhalangan hadir dalam acara tersebut karena sedang berada di luar kota dalam rangka mendampingi Kepala Negara.

Mantan Dirut PLN itu unggul atas sejumlah menteri lain yang menjadi nominasi untuk kategori yang sama, di antaranya Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Polkam Djoko Suyanto, Menteri Keuangan Agus Martowardoyo, dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

“Sosok Dahlan Iskan dianggap sebagai pemimpin yang sukses dalam memimpin perusahaan dan dianggap sukses melakukan perubahan ketika menjabat Dirut PLN,” demikian menurut Charta Politika.

Lembaga riset politik itu menilai, setelah menjadi Menteri BUMN, Dahlan dianggap dapat melakukan perubahan dengan cepat. Dahlan yang berlatar belakang pengusaha dan pedagang tampak tidak suka dengan birokrasi yang bertele-tele, sehingga terbiasa dengan sektor swasta yang bekerja dengan prinsip meritokrasi dan profesionalitas, juga kecepatan dalam merespon sebuah masalah.

Charta Politika Award ke-3 merupakan ajang apresiasi terhadap pemuka opini di media massa. Terdapat enam kategori penghargaan yang diberikan kepada sejumlah tokoh politik/masyarakat yang dianggap berpengaruh atas persepsi publik berdasarkan sebuah penelitian menyeluruh.

Penelitian itu dilakukkan di enam surat kabar nasional yaitu Kompas, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Republika, Rakyat Merdeka, dan IndoPos dengan melakukan pemetaan tren isu, pemetaan jejaring sosial, dan pola dukungan media terhadap sebuah isu selama periode 20 Februari 2011 hingga 20 Februari 2012.

(T.P012)

GAM Risks Becoming What It Fought

 

 

GAM Risks Becoming What It Fought
Agus Wandi | February 25, 2012

George Orwell’s classic novel “Animal Farm” is the definitive depiction of how any rebellion or social revolt risks not just failure but a reversal where one type of domination is merely exchanged for another. After the leaders of the animal rebellion take over, they impose a single commandment: “All animals are equal, but some animals are more equal than others.”

It is not exactly the same, but recent developments in Acehnese politics are reminiscent of the animal farm. The Aceh Party, which was spawned by the separatist Free Aceh Movement (GAM), is heading in a worrying direction. Internal conflict among former combatants, as well as their desire to dominate the seats of power in the province, is driving Aceh into another phase of uncertainty.

If the Aceh Party members continue to behave undemocratically, they will go down in history as nothing more than a ragtag bunch of ignoble former rebels who behaved eerily like their former “enemies.”

GAM was an ethnic nationalist movement that mobilized resistance through nationalistic fervor. The roots of the movement were in past injustices, but the conflict later evolved into an antagonistic identity dispute between Aceh and Jakarta.

Especially during the New Order, the conflict reached a level where the idea of an independent Aceh became entrenched as a result of endless oppression and unjust treatment.

As a movement, GAM took advantage of this. It pledged a promised land where democracy would rule and injustice would be a thing of the past. All of Aceh was dragged by the rebels into this independence narrative and into the lengthy struggle.

The rebels in Aceh laid down their arms with the Helsinki peace agreement in 2005. The agreement brought an end to 30 years of war and provided a significant opportunity for the local people to manage their own affairs and participate in a democratic process as Aceh became a special autonomous region.

All the trouble in Aceh was supposed to end there. Today, the reality is that it continues, and it is stubborn.

The seeds for the current tension were planted with the first gubernatorial election soon after the peace agreement. The leadership of the rebels in exile supported a candidate who was not supported by the majority of former combatants. Ignoring the opinions of the former field commanders, the exiled leaders went ahead with their candidate — who ended up losing by a landslide.

The field commanders had used their networks of former combatants to provide strong backing for their candidate. Irwandi Yusuf was elected as the first governor of post-peace agreement Aceh, but his defiant victory upset the exiled leaders.

These divided camps seemed to have reconciled in the legislative elections, when the exiled leadership and the field commanders agreed to jointly form a political party called Partai Aceh (Aceh Party) to stand a better chance of winning. The reconciliation bore fruit, with the Aceh Party winning the majority of the seats.

Again, the field commanders and their networks provided the crucial machinery to ensure the victory.

Winning a majority of the seats in the provincial legislature was supposed to put GAM in full control of the province and close the chapter on the rebellion, but it did not. Another problem was to about to surface.

The Aceh Party, which was and is closely controlled by the exiled former leadership, had not forgotten the embarrassment of that first gubernatorial election and began working toward revenge.

It started a low-level campaign against their unwanted elected governor, meaning that Aceh’s legislature, since the 2010 elections, has been a legislature that measures its success by how badly it can undermine Irwandi. Most of the policies introduced by the executive arm of the government are constantly being undermined by its legislative arm.

This time, the exiled leaders are in full control of the field commanders and legislature members who, by now, mostly pledge loyalty to the Aceh Party. For many field commanders, the Aceh Party is their vehicle to control the province both politically and economically. To achieve that goal, many of them have decided to stick together.

This is the struggle that we see playing out today in the run-up to the second gubernatorial election. The Aceh Party supports the former exiled leader Zaini Abdullah and former GAM commander Muzakir Manaf, and refuses to support Irwandi despite the governor’s popularity.

To ensure the governor cannot even compete in the election they went so far as to propose a revision of the Election Law to bar independent candidates from running in elections.

The dispute over independent candidates was politically motivated, intended to stop Irwandi and many other ex-rebels running in the election. Fortunately, it failed, though only after the Constitutional Court’s decision safeguarded the national law. Had it been successful, this attempt to block independent candidates would have been a reversal of democratic progress for the entire country.

It is a nasty game in Aceh, where the players are willing to go so far as to undermine democratic progress and the peace process for their own purposes of retaliation, punishment and control — where all parties are equal, but some are more equal than others.

Agus Wandi is a former fellow of Harvard University’s Weatherhead Center for International Affair

Petrol subsidies put Indonesia under the pump

Petrol subsidies put Indonesia under the pump

Michael Bachelard

February 29, 2012

A gasoline vendor waits for customers in Jakarta on September 30, 2008.Costly practice: A petrol vendor waits for customers in Jakarta. Photo: AFP

IT HAS become something of a ritual in Indonesia: the panicky stockpiling of cheap petrol ahead of a mooted price rise.

Fuel prices here are not dictated by the vagaries of the world price – they are dictated by the government, which subsidises them heavily to keep them affordable.

But the cost to the national budget of subsidies on both oil and coal is huge. About 15 per cent of the government’s entire budget – or $US20 billion ($A18.5 billion) – is spent just to maintain low prices.

Advertisement: Story continues below

It’s more than the combined health and education budgets, says Australian National University economist Hal Hill, and when the world oil price increases, the cost to the national budget also jumps.

So, last week, Energy and Mineral Resources Minister Jero Wacik announced a plan to increase prices in April by up to 33 per cent. Yesterday, as a crowd protested outside, he met legislators of the House of Representatives, whom he must convince to vote for it.

In Jakarta, one of the most polluted and traffic-snarled cities in the world, drivers pay just A46¢ per litre for petrol.

This policy would increase it to about A62¢.

It’s the third proposed price rise in six months. In December, at budget time, and again in January the government planned an increase but decided to exempt motorbikes, to protect poorer commuters.

However, strong public pressure forced it to pull back even from that policy. Politicians are wary of public anger on this issue. A big fuel price rise in 1998 was one of the triggers that saw the dictator Suharto overthrown. The latest iteration of the policy has seen the stockmarket plunge amid fears it will drive Indonesia’s inflation rate above 5.5 per cent this year.

In a poor country, inflation means economic pressure for tens of millions as price rises inevitably flow through to the cost of rice.

The Minister for State-owned Enterprises, Dahlan Iskan, conceded that point, saying: ”We haven’t found [a solution] yet, but we will.”

But it’s a diabolical problem. The subsidy primarily benefits rich car drivers and owners of airconditioners and keeping it high means Indonesia has less for the health, education and infrastructure that south-east Asia’s largest economy is so short of. ”If Indonesia wants to improve its social indicators, it needs to get rid of fuel subsidies,” said Professor Hill.

The Indonesian Consumers Protection Foundation agrees.

Its head, Sudaryatmo, said subsidies would ”create a burden on the … budget, then very slow economic growth, before poverty eventually arrives”.

He said the government should have ”a long-term policy to bring fuel subsidies to zero”, adding: ”It’s always been an ad hoc policy. If it was long-term policy, the people could anticipate it.”

Residents, meanwhile, stock up on cheap fuel while they can.

Is it late to save East Jerusalem?

Is it late to save East Jerusalem?

By OSAMA AL SHARIF

In the frustrating pursuit of Palestinian-Israeli peace settlement based on the concept of a two-state solution, one particular issue emerges as the most cumbersome and, in the view of most Israelis, non-negotiable.

It is the fate of Arab East Jerusalem, occupied along with the rest of the West Bank, Gaza Strip and Golan Heights in the 1967 Arab-Israeli war.

Earlier this week Palestinian President Mahmoud Abbas told participants in an international conference on Jerusalem in Doha that Israeli measures to Judaize East Jerusalem represent the last battle to seal the fate of the Holy City and its environs. He described Israeli “measures of annexation” as “null and void. East Jerusalem is the eternal capital of Palestine.” Israel, he said, was “using the ugliest and most dangerous means to implement plans to erase and remove the Arab Islamic and the Christian character of East Jerusalem.”

The Emir of Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani called on the UN to “investigate the measures Israel has taken to Judaize Jerusalem since its occupation in 1967.” President Abbas supported the suggestion and Palestinian officials said they will take their case to the UN General Assembly if their bid to censure Israeli actions were foiled by an American veto at the Security Council.

Israel has condemned the conference as Israel-bashing carnival and criticized the presence of UN Middle East envoy Robert Serry. Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu called the Palestinian leader’s remarks “a harshly inflammatory speech from someone who claims that he is bent on peace.”

But in spite of the heated rhetoric Israel appears committed to systematic scheme to destroy East Jerusalem buildings and neighborhoods, build and expand Jewish settlements in and around the city, enforce economic siege on Arab residents to force them out and threaten the integrity of Al Haram Al Sharif complex that includes Al Aqsa Mosque whose Western Wall is holy to Jews and is believed to be the only remaining structure of the destroyed Third Temple.

Israel annexed East Jerusalem after the 1967 war. It declared the city its eternal and united capital. And although such move was never recognized by the international community, little has been done to stop illegal Israeli measures to change the character of occupied East Jerusalem.

And since Palestinian-Israeli negotiations took off in Oslo, Norway, in the early 1990s, culminating with the signing of the Oslo Peace Accords in 1993, negotiators on both sides were unable to decide the final status of the city although the principle of withdrawal from East Jerusalem or parts of it was agreed by Yitzhak Rabin and Yasser Arafat.

East Jerusalem and other issues such as Palestinian refugees and borders were left unsettled as part of a final status round of negotiations that should have been concluded by the end of last century. After the failure of the Camp David peace talks in 2000, particularly over the future of East Jerusalem, the entire process collapsed.

But even after Oslo successive Israeli governments continued to build and expand Jewish settlements in East Jerusalem and the West Bank. In recent years Israeli plans to Judaize the Arab part of the city surged, and in recent weeks tension between Arab residents and Jewish radicals over access to Al Aqsa Mosque reached unprecedented levels.

Sustained Israeli measures target the Arab residents of Jerusalem in many ways but with one aim in particular; to alter the demographic realities in favor of non-Arabs. Between 1980 and 2007 the Jewish population of Jerusalem grew from 100,000 to 489,000, according to Jerusalem Municipality figures. On the other hand and according to Azmi Abu Souad, a former employee of the Jerusalem Municipality who is now the general director of the civil rights department at PLO, while 170,000 Palestinians carry Jerusalem identity documents, the number of Palestinians actually residing in the city is, in fact, less than 100,000. This contradicts other figures, which put the total Arab population of the old city and its neighborhoods at over 200,000.

Souad estimates that of the 200,000 Palestinians, 60,000 live outside the region — in Jordan, the US, and elsewhere. As many as 70,000 Palestinians with blue identity cards live in the West Bank, outside the boundaries of the city. With Israel’s restrictive policy of granting building permits many of the city’s residents are moving to the West Bank. Arabs have become a minority in their own city. It is the remaining 70,000 to 100,000 Palestinians still living in East Jerusalem who are now being targeted by Israel. Ending Arab presence in the Old City could become a reality by the year 2020.

Of the half million Jewish residents of both sectors of Jerusalem, more than 40 percent are living in East Jerusalem. But recent government plans to build new housing units and expand existing settlements will make Jews the overwhelming majority in East Jerusalem in few years.

Jerusalem’s predicament is representative of the plight of Palestinians living in the West Bank, where Israel too is engaged in settlement building in order to annex major chunks of the Palestinian territories.

The Doha conference has underlined the real threats to the character and identity of East Jerusalem. But that is not enough. Jerusalem is an Arab and Islamic city and the task of saving it must lie with the Arab and Muslim worlds. Israel is so close to achieving its sinister goals and unless an international campaign is launched now its fate will be sealed within few years.

Osama Al Sharif is a journalist and political commentator based in Amman.

Paus Benediktus Resmi Minta Pembuktian Ilmiah Keaslian Injil Turki

http://www.fimadani.com/paus-benediktus-resmi-minta-pembuktian-ilmiah-keaslian-injil-turki/

Paus Benediktus Resmi Minta Pembuktian Ilmiah Keaslian Injil Turki
*
28 February 2012 5:24 pm | Bumi Islam, Dunia – Dibaca 841 kali

*Paus Benediktus XVI* telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia
Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan
Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).

Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma
Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki,
Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.

Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa
yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut
diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.

Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir.
Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada
tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.

Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius,
Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi
kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran
versi asli Injil.

Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari
Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga
menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari
keturuan Ismael (Arab).

Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi Alkitab ini, Dia
mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah
satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari
abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk
membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan
scan secara ilmiah.

republika | fimadani

Runtuhnya Popularitas Parpol

27.02.2012 13:04

Runtuhnya Popularitas Parpol (1),

Kepada Siapa Rakyat Harus Percaya?

Penulis : Sulung Prasetyo/Fransisca Ria Susanti  [ 1 Komentar ]

(foto:dok/ist)

Popularitas Partai Demokrat turun yang ditunjukkan oleh hasil survei. Namun ini sama sekali bukan berita besar dan sudah bisa diduga.

Sejumlah kader Demokrat yang bergantian “mengunjungi” ruang sidang tindak pidana korupsi (tipikor) akhir-akhir ini sudah pasti menyeret jatuh popularitas Demokrat yang selama ini mengklaim diri sebagai partai pelopor pemberantasan korupsi.

Lebih ironis lagi, ikon yang dipasang dalam kampanye antikorupsi merekalah yang justru diseret jadi terdakwa kasus korupsi. Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dilansir baru-baru ini menunjukkan, popularitas Demokrat turun 8,25 persen dari tahun 2009.

Meskipun masih meraih popularitas tertinggi dibanding parpol lain, tapi penurunan ini cukup signifikan. Hal yang menarik adalah penurunan popularitas ini terjadi pada seluruh partai.

Mulai dari Golkar yang turun 3,95 persen; PDIP turun 6,23 persen; PKS turun 4,78 persen; PPP turun 2,53 persen; PAN turun 3,71 persen; hingga partai baru seperti Gerindra dan Hanura yang masing-masing turun 1,46 persen dan 3,07 persen. PKB yang pada 2009 menduduki tingkat popularitas nomor empat setelah Demokrat, Golkar, dan PDIP pun turun 0,54 persen.

Meski menurun tipis, tetap saja ada tren penurunan di PKB yang juga dialami oleh hampir semua parpol.Peneliti dari CSIS Sunny Tanuwidjaya mengatakan, fenomena penurunan popularitas parpol ini menarik.

Mestinya, jika sebuah partai “pemerintah” (ruling party) mengalami penurunan popularitas, maka yang akan meraup “untung” atau mendapat limpahan suara dari publik yang kecewa ini adalah parpol yang menyebut diri “oposisi” pemerintah, atau setidaknya parpol yang dianggap oposisi.

Namun ternyata hal itu tidak terjadi. Sunny menemukan bahwa tren penurunan popularitas parpol ini justru dibarengi dengan melonjaknya angka “golput” dari publik. “Orang yang dulunya—katakanlah—memilih Demokrat dan kemudian kecewa, tahun 2014 tidak akan memilih Demokrat lagi, tapi juga tidak memilih partai lain,” ungkapnya.

Survei CSIS menunjukkan tren orang yang tidak memilih parpol mencapai 48 persen. Angka ini sudah dipastikan bakal bertambah jika para pemilih parpol yang kecewa dengan pilihan awalnya akan lari dan akhirnya memutuskan tidak memilih siapa pun. Jurang antara publik dengan parpol semakin jauh.

Parpol menjadi institusi yang semakin asing. Sementara wakil rakyat yang mestinya dikenal dan menjadi figur yang lebih dekat dengan publik karena mekanisme pemilihan langsung pascareformasi, juga seperti kaum yang hidup di menara gading. Publik tak mengenalnya.

Survei menunjukkan 92,2 persen tak mengenal wakil mereka di parlemen dan hanya 1,3 persen orang yang merasa perlu menyumbang untuk parpol. Hal yang sama terjadi pada sosok presiden. Tingkat kekecewaan publik terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meningkat. Namun ketika ditanyakan siapa yang akan mereka pilih dalam 2014 nanti, banyak yang tak punya pilihan.

KecewaPara “golputers” ini memiliki pandangan yang pesimistis terhadap tata kelola pemerintahan. Sikap mereka terhadap masalah ekonomi dan pemberantasan korupsi menunjukkan bahwa mereka memiliki kekecewaan besar terhadap kinerja pemerintahan dan sistem yang ada.

Survei menunjukkan 52,10 persen “golputers” menilai bahwa kondisi ekonomi sekarang lebih buruk, sedangkan pemberantasan KKN mengalami kemunduran dinyatakan oleh 49, 60 persen “golputers”.

Namun benarkah sistem yang amburadul membuat publik berpaling dari parpol? Atau kader-kader parpol yang “busuk” yang membuat sikap antipati ini muncul? Atau jangan-jangan degradasi integritas di kalangan rakyat sendiri yang membusukkan parpol? Atau ada faktor lainnya?Cheppy Triprakoso Wartono, anggota DPR dari PDIP, menilai bahwa hasil survei CSIS sangat dipengaruhi oleh media massa.

Agenda setting yang dibuat medialah yang membuat bandul survei menggoyang sikap orang orang terhadap partai politik, juga calon presiden. Pengalaman politik memberinya pelajaran bahwa rakyat tak bisa lagi diyakinkan dengan program.

Riil politik, menurutnya, adalah soal negosiasi yang berhenti pada angka rupiah. Seluruh kerja-kerja penggarapan dan konsolidasi massa, jelang pemilihan wakil rakyat, dimentahkan hanya dengan iming-iming rupiah. “Rakyat selesai dengan Rp 50.000. Ini fakta politik,” ujarnya.

Sunny tak menolak fenomena ini.  Rakyat hari ini sudah—dalam istilah Sunny—”rusak” karena kini tidak gampang mendapat dukungan gratis. “Di tingkat grassroot, orang sudah tidak percaya pada siapa pun,” ungkapnya.

Namun fenomena ini bisa jadi menunjukkan sebaliknya, bahwa rakyat sudah cukup “cerdas” dan menolak untuk terus-menerus dibohongi.  Apa yang terjadi pada Cheppy, menurut Sunny, karena wakil rakyat atau parpol yang memajukan calon wakilnya tak siap untuk kalah dan mereka melakukan apa pun untuk bisa memenangkan pertarungan itu.

Jika yang lain melakukannya dengan membeli suara, maka hal sama dilakukan kandidat lainnya. Sementara itu, para pengusaha yang mestinya juga terlibat dalam proses demokrasi, rata-rata juga hanya mau mendukung calon yang sudah pasti bakal menang.

Ini karena mereka punya kepentingan juga dengan bisnisnya. Jadi jika ada calon, baik untuk legislatif maupun eksekutif—juga yudikatif—yang cukup bersih dan punya perspektif maju, tapi tak punya duit, sudah bisa dipastikan akan jarang mendapat dukungan.

Siapa salah? Kandidat yang maju, parpol, sistem politiknya atau rakyatnya? Indonesia, menurut pengamat ekonomi Christianto Wibisono dan pengamat ekonomi Faisal Basri yang nekad menjajal peluang kursi No 1 DKI Jakarta, membutuhkan sebuah alternatif. Apa alternatif itu? (Bersambung)

 

Untuk Jadi Negara Industri Maju, Pertumbuhan Harus Delapan Persen

http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2012/02/28/7712.html

Selasa, 28 Februari 2012, 16:29:00 WIB

Untuk Jadi Negara Industri Maju, Pertumbuhan Harus Delapan Persen

*Cilegon, Banten*: Pertumbuhan ekonomi yang menyentuh angka 6,5 persen
dirasa Presiden belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai negara
industri di tahun 2025. “Kita harus menuju pertumbuhan 7-8 persen. Oleh
karena itu semua komponen untuk pertumbuhan harus dibangun, dikembangkan,
dan ditingkatkan,” kata *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* saat
mendengarkan paparan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Fazwar
Bujang mengenai kesiapanmya dalam menunjang sektor infrastruktur Program
MP3EI, di Hotel Permata Krakatau, Cilegon, Provinsi Banten, Rabu (28/2)
siang.

Melalui MP3EI, ujar Presiden, kita ingin membangun investasi besar-besaran
di seluruh daerah. Untuk itu diperlukan infrastruktur besar-besaran dan
ekspansi manufaktur dan industri yang lebih besar 15 tahun mendatang. Semua
itu memerlukan industri baja sebagai pilar utama. “Kita sudah menjemput
masa 15-20 tahun mendatang. Oleh karena itu apa yang dilakukan oleh
Krakatau Steel ini, termasuk kerjasamanya dengan Posco, merupakan jalan
menuju Indonesia sebagai negara industri yang tangguh,” Presiden SBY
menambahkan.

Presiden berharap dengan pengembangan PT KS, akan meningkatkan daya saing
industri baja Indonesia menuju industri baja tingkat dunia. “Kita harus
punya keyakinan bahwa kita bisa membangun industri baja bertaraf dunia,”
ujar SBY.

Dengan semangat, energi, keyakinan, dan kerja keras, Presiden SBY yakin
cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju industrinya
dapat terwujud. “Dengan terus mengembangkan kapasitas ini, pastikan pula
terus mengajak serta pemangku kepentingan yang ada di industri ini,” SBY
mengingatkan. “Ajak serta para karyawan, pekerja, untuk menjadi bagian dari
pengembangan industri ini. Kelola dan bina hubungan dengan baik, kalau
tercipta pastilah saling membawa manfaat,” Kepala Negara berpesan.

Menurut Presiden, kemitraan antara Indonesia dan Korea Selatan dalam
pengembangan PT KS ini sungguh baik dan kuat. Presiden juga berharap kita
bisa mengikuti jejak ‘Negeri Ginseng’ tersebut menjadi negara maju. “Kita
sama-sama anggota G20, kemitraan kita baik, dan marilah kita jaga menjadi
model kemitraan antara Kerakatau Steel dengan Posco,” kata Presiden. (dit)

Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri?

 

Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri?: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta? (11)

Oleh Hernowo

 in: dikbud@yahoogroups.com , Tuesday, 28 February 2012, 5:40

Sekitar tahun 2002 Penerbit Kaifa—penerbit dalam Kelompok Mizan—mengadakan kompetisi menulis catatan harian untuk remaja. Saya ditunjuk untuk menjadi salah satu juri. Setelah kompetisi selesai dan para pememang diumumkan, saya meminta izin Kaifa untuk menerbitkan beberapa catatan harian yang—menurut pertimbangan saya waktu itu—memiliki hal-hal yang penting dan berharga. Saya pun kemudian menghubungi para penulis catatan harian untuk meminta kesediaan mereka.
 
Sejak awal saya sadar bahwa menulis catatan harian adalah kegiatan menulis yang bersifat sangat personal. Ada kemungkinan besar, catatan harian menyimpan materi-materi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain—selain penulisnya sendiri. Menulis catatan harian memang menulis untuk keperluan pribadi. Hanya, dikarenakan materi yang akan saya bukukan itu berasal dari sebuah lomba (kompetisi menulis), saya menganggap para peserta sadar bahwa tulisan catatan hariannya akan dibaca oleh orang lain.
 
Ketika membaca catatan-catatan harian mereka, saya merasakan keterlibatan diri mereka secara total. Pertama, catatan-catatan harian mereka itu unik. ”Mereka menulis bukan sekadar menulis. Mereka menulis untuk mengukur dirinya. Mereka menulis untuk mengenali diri mereka masing-masing. Mereka menulis untuk (sebuah keberanian) menjelajah ’dunia’ yang sangat luas yang bernama diri,” demikian kata-kata ini saya tulis di pengantar buku kumpulan catatan harian mereka.
 
Kedua, tanpa mereka sadari, catatan-catatan harian mereka telah berhasil mengubah keadaan diri mereka yang mungkin awalnya nobody menjadi somebody. Mereka tidak lantas terkenal setelah berhasil menulis catatan harian. Mereka masih tetap menjadi diri mereka sebagaimana sebelum menulis catatan harian. Mereka juga tidak lantas mendapat puja-puji setelah berhasil menulis catatan harian dan memenangkan kompetisi. Hanya, yang sangat istimewa dari kegiatan mereka adalah tumbuhnya rasa percaya diri bahwa mereka ammpu menunjukkan siapa diri mereka.
 
 
Ketiga, catatan harian mereka menunjukkan bahwa menulis catatan harian bukan kegiatan yang mudah dan asal tulis. ”Menulis tentang diri berarti menulis tentang sesuatu yang penuh misteri,” lanjut tulisan saya di pengantar buku tersebut. ”Diperlukan energi luar biasa dan kesungguhan yang total untuk dapat masuk ke dalam diri. Apalagi sarana yang dipilih mereka adalah kegiatan menulis.” Bagi remaja—apalagi pada saat ini—memilih kegiatan menulis sebagai cara mengekspresikan diri bukanlah sesuatu yang biasa dan mudah dijalankan. Menulis—meskipun hanya menulis catatan harian—perlu kesungguhan, kedisiplinan, kegigihan, dan kedalaman berpikir agar hasil tulisan tidak hampa atau tidak ada apa-apanya.
 
Di sampul belakang buku yang saya juduli Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri (MLC, 2003), saya membuka sinopsis buku dengan pertanyaan: “Siapakah kamu? Dari mana kamu berasal? Hendak ke mana kamu? Mengapa kamu ada di dunia ini? Apa tujuan hidupmu? Apa arti hidupmu? Kapankah seseorang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Apakah setiap orang akan berjumpa dengan pertanyaan-pertanyaan ini? Dapatkah seseorang menghindar dan tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?”
 
Sebagai pelengkap, di Bab “Apendiks”, saya melampirkan 15 contoh catatan harian yang pernah dibuat oleh para tokoh dari pelbagai ragam profesi. Ke-15 tokoh itu adalah Anne Frank (yang terkenal dengan catatan hariannya yang dipanggil dengan sapaan akrab, “Kitty”), Dr. Sir Muhammad Iqbal (seorang sufi, ahli hukum sekaligus ahli filsafat, dan pemikir hebat Islam), Yusuf Ali (penerjemah Al-Quran ke bahasa Inggris), R.A. Kartini, Michaela Ozelsel (ahli psikologi Jerman), Karl May, Zlata Filipovic (seorang remaja Bosnia), Sarah Ban Breathnach (penulis Simple Abundace), Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, John Quincy Adams, Bridget Jones, Totto-chan (yang terkenal dengan sebutan ”Gadis Cilik di Jendela”), Emha Ainun Nadjib, dan Kahlil Gibran.
 
Satu hal menarik yang saya peroleh dari buku Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri adalah ketika beredar isu di sebuah sekolah bahwa ternyata para penulis catatan harian itu bukan hanya para cewek. Saya mendapatkan isu tersebut dari sebuah diskusi tentang buku Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri di sekolah SMA khusus para lelaki. Para penulis catatan harian ternyata adalah juga para cowok. Bahkan disebutkan pula bahwa para pemenang Nobel sastra rata-rata memiliki buku catatan harian. Untuk apa para peraih Nobel sastra itu punya catatan hatian? Untuk merekam hal-hal menarik dan berharga yang bersifat original dari kehidupan mereka.[]
 


Konflik Agraria Akibat Ekspansi Sawit di Kamboja

 

 

Konflik Agraria Akibat Ekspansi Sawit di Kamboja

*StudiinitelahdipublikasikansebagaisatubabdalamOilPalmExpansioninSouthEastAsia:TrendsandImplicationsforLocalCommunitiesandIndigenousPeoples.(FPP&SawitWatch2011).

Kambojamemilikijumlahlahanterbatasyangcocokuntukpertumbuhankelapasawityangmembutuhkaniklimhutantropisdengancurahhujanlebihdari3.000mmpertahun.IklimKambojamembuatnegarainilebihcocokuntukperkebunanjarakpagarsebagaibahanbakuuntukbio-dieselfuel(BDF).i


Padatahun1995,20.000hektarlahankonsesiuntukmenanamperkebunankelapasawitdikabupatenO’Yadao,provinsiRatanakiri,diberikankepadasebuahusahapatunganGLOBALTECHSdn.Bhd(Malaysia)danperusahaanKambojaMittapheap-MenSarundanRamaKhmerInternational.Namun,ujicobakebunpadatahun1996ternyatagagaltotaldanlahanyangtelahdibukaolehperusahaandibiarkanterlantar.Perusahaankemudianmemulaiperkebunankopi,danmembangunbendunganuntukmenyediakanairuntukmengairiperkebunan.iiPerusahaanKambojaHaining,yangdiberikonsesilahanseluas23.000hektardiprovinsiKampongSpeu,jugatidakmembuatkemajuanyangsignifikansetelahujicobaperkebunankelapasawitmerekadidaerahtersebutgagaltahun1998.


Saatini,kelapasawitditanamterutamadiwilayahselatanKamboja,terutamaditigaprovinsipegunungansepanjangzonapantai;KampongSpeu,KohKong,danPreahSihanouk(lihatpetadibawah).Perkebunankelapasawityangmenempatiribuanhektardizonapesisirbarumenikmatikeberhasilanyangterbatas.Rencanaawalmenyiapkankilanguntukmemproduksiminyakgorengtidaktercapai;sebaliknyabenih-benihdikumpulkandandieksporkeMalaysiadanKambojamengimporminyakgorengbebaspajak.Jumlahpekerjatidakbanyakkarenaupahrendahdankurangnyainfrastrukturpemukiman.Contohinimenggarisbawahipentingnyakomitmenyangberkesinambungandariperusahaaninvestasidanperlunyahargaglobalyangtinggiuntukmemastikankeberhasilanusahakomersialsepertiperkebunankelapasawit.


Gambar2.LokasiperkebunanELC di Cambodia


Dampak-dampaksosialdanlingkungan


SeringdilaporkanbahwaELCmemilikidampaknegatifterhadaphakasasimanusiadanmatapencaharianmasyarakatpedesaanyangbergantungpadahutandansumberdayaalamuntukkelangsunganhidupmereka.Umumnyakeprihatinanyangdikutiptermasukperambahanpadalahanpertaniandanpenggembalaan,hilangnyamatapencaharianadat,hilangnyaakseskehasilhutanbukankayudankerusakanlingkungan.

 

UUPerlindunganLingkungandanPengelolaanSumberdayaAlammensyaratkanadanyaanalisadampaklingkunganpadasemuaproyekdankegiatanswastadanpublikpemerintah.MenurutketentuanSuratKeputusantentangProsesAnalisaDampakLingkungan,pihakyangbertanggungjawabharusmelaksanakanRencanaPengelolaanLingkunganuntukjangkawaktuenambulankalender,terhitungdaritanggalkonfirmasiMoEtentanglaporanAMDALmereka.SetidaknyadalamduatahunsetelahpengumumanSuratKeputusanini,pihakyangbertanggungjawabharusmengumpulkanlaporanAMDALmerekadanmengirimkannyakeDinasLingkunganKota/Provinsi(PEO)untukdiperiksadandisetujui.iiiNamun,SuratKeputusaninitidakmenjelaskanbagaimanatepatnyaAMDALharusdilakukan,berapalamaperiodewaktunya,danmenurutindikatordanstandarevaluasiapa.


LaporantheUnitedNationsOfficeoftheHighCommisionerforHumanRights(UNOHCHR)bulanJuni2007mengangkatisupenebangankayuberhargadalamlahankonsesikelapasawitGreenRichdiKohKong.Padaawaltahun2005,KementerianLingkunganHidupmengajukangugatanterhadapperusahaanataspelanggaranketentuankontrakdenganmelakukanpenebangandiluardaerahkonsesidanmenghancurkanratusanhektarhutanditamannasionalBotumSarkordiprovinsiKohKongiv.TindakanhukumterhadapGreenRichjugadiambilkarenaperusahaangagaluntukmenyerahkanlaporanAMDAL-nyakepadaKementerianLingkunganHidup.vTindakanperusahaandipandangsebagaicontohutamadarisebuahkonsesiyang memanfaatkan statusperkebunanuntukmelakukanpenebangandidalamkawasanhutanmiliktamannasional.


Konflik-konfliktanah:pelanggaranhakasasimanusia,masyarakatadatdanperampasantanah


PemerintahKerajaanKambojatelahmemberikanratusanribuhektarlahansebagaiELCuntukhutantanamanindustrikhususnya.Hasilnyamemilikidampakyangparahpadahutan,masyarakatlokaldanpekerjayangdipekerjakanoleh perusahaan-perusahaanperkebunan.


Cumasedikitkasusyangsemata-mataberhubungandenganperkebunankelapasawit,karenakonsesilahanskalabesaruntukperkebunanlainnyasepertikaret,jati,kopidanjambumetejugamenimbulkanmasalahserupaterhadapmasyarakatlokaldiKamboja.Perusahaanmenyewalahandaripemerintahdipedesaandanmempekerjakanpekerjadaridesadanyangseringadalahpekerjamigran.Masyarakatlokalhampirtidakpernahdiajakkonsultasidandalambanyakkasuswargadiusirdengankasardaritanahmerekauntukpembukaanperkebunan-perkebunanini.


SalahsatukekhawatiranterbesardariNGOinternasionaladalahmeningkatnyapermintaanakankonsesiyangakanmengarahpadalegalisasiperampasantanahdaripendudukkawasantermiskinpedesaan.DatayangtersediamengenaiperampasantanahdiKambojaterbatasdankasus-kasusyangterjadiamatluas,karenabanyakdaerahyangmengalamiredistribusitanahyangmelumpuhkanhakmasyarakat-masyarakatyangterpinggirkan.viKarenadataempirisnon-spekulatifterbatas,kerjalapanguntukmengungkapkandatasebenarnyamerupakansebuahkebutuhan.Sebuahanalisarincitentangsituasimasyarakatmiskindesayangtanahnyadirampasamatpentinguntukmemahamiapakahmerekabenar-benarmendapatmanfaatdaribentuk-bentukredistribusitanahini.vii


Perampasantanahmenyebabkandanmemperburukkonflikdanperebutanaksesdanhakatassumberdayaalamantaraperusahaandanmasyarakatlokal.viiiELCtelahmembawadampakyangmenghancurkanterhadapmasyarakatadatdanmasyarakat setempat,namunmasyarakatadatadalahyangpalingrentan,meskipunhak-hakmerekaataskepemilikantanahkolektifdilindungidalamUUKamboja.ix


SepertidikutipdalampublikasiWatershedolehChrisLang,padatahun2007,YashGhai,PerwakilanKhususSekretarisJenderalPBBuntukHakAsasiManusiadiKamboja,menulis,


“JelasbahwaELCtidakmemilikimanfaatnyatadidaerahpedesaantetapitelahmerampassumbermatapencaharianpentingmasyarakat,sehinggamemperberatdanmemperburuksituasimerekayangsudahsulit.Jelasbahwapemberiankonsesilahanekonomitelahmeningkatkanakumulasipropertidankekayaanditanganmerekayangmemilikipengaruhpolitikatauekonomi.x


Diataskertas,kontrakuntukELCdiKambojatidakmelanggarhaktanahdanpenggunaanlahanpetanikarenakontrakELChanyadiberikandiatastanahnegara.Namun,kategorisasidaerahsebagaitanahnegaratidakmencerminkanrealitas.KonsesiLahanEkonomismencakupsawah,ladang,lahanpenggembalaan,airdansumberdayahutanmasyarakat.xiDefinisiyangdibuatnegaraakantanahsebagaimarjinal,mengangguratauterdegradasi/rusaktelahmenimbulkan“representasiyangsangatkasarakanhakaktualyangadaatastanah,kadang-kadangmenyesatkan”.xii


Dengandemikian,merupakanasumsiyangsalahmengandaikanbahwatanahsepertiitutersediadancocokuntukeksploitasi.Padakenyataannya,tanahiniseringkalitelahdihuni,ditutupihutanlebatataudimanfaatkansebagaisumberdaya manfaat komunal.Akibatnya,kategorisasitanahyangdigunakanpemerintahyangmengabaikanpraktek-praktekpenggunaanlahanyangsesungguhnyamenghasilkanperampasanmilikkaummiskinpedesaan.Denganmendefinisikantanahsebagaimarjinal,menganggurataurusak,negarabisamendapatkankeuntungandenganmenyewakanataumengontrakkanlahankepadakepentingan-kepentinganpemodaluntukpengembanganpertaniandaneksploitasisumberdaya.PerampasantanahmilikwargaKambojainiadalahhasildarikebijakanpertanahannegarasecarayangtidakadilmenyatakanlahansebagaimarjinaldankurangproduktif. xiii


Selainitu,meskipunpropertimiliknegaradan swasta dibedakandalamUUPertanahantahun2001,sampaisaatini,identifikasi,pemetaan,danpendaftarantanahnegarabelumdilakukan.Pemerintahjarangmembedakanantaratanahpublikdantanahmiliknegaraketikamenyatakanbahwawargadesatinggalsecarailegaldiatastanahnegara.Olehkarenaitu,wargadesadapatsecaralegaldigusuruntukkepentinganELCataukepentinganinvestasiswasta.Karenatidakadainformasipubliktentangapayangdimaksudlahanpublikitu,sulitbagiparapenghuniuntukmempertanyakanklaimnegarabahwamerekatinggaldiataspropertinegara.xiv


SuratKeputusantahun2005tentangPengelolaanTanahNegaramenyatakanbahwatanahnegaraharusdipetakandaninformasiiniharusdimasukkankedalamdatabasepusatyangdapatdiaksesolehpublik.HalinitidakdilaksanakansecarasistematisatautransparandiKambojakarenalahanyangluasdipilihdandiklasifikasikanpemerintahsebagaitanahnegaraswastasehinggamerekadapatdialihkanataudisewakankepadapihakswasta.xvSelainitu,kepastianpenguasaanlahanbagimasyarakatpedesaantidakcukupmemadaikarenaparaperampastanahdapatmelegitimasipenggusurandenganmenyatakanbahwamerekamenempatitanahnegarasecarailegal.Informasitidakdapatdiverifikasikarenapendaftarantanahnegarabelumdilaksanakan.Penetapaninidibuatsecaraadhocdansaatadaminatinvestasidisuatudaerah.xvi


Sifatambigudaristatustanahdankemudahanpengalihantanahpublik(sepertihutan,lahanberaatautanahnon-pribadi)menjaditanahnegaratelahmemudahkanperampasantanahdidaerahpedesaanKamboja.Negaralahyangmenentukansiapayangdapatmemilikiaksesterhadappendaftarantanah,sertifikatapayangdiakui,danbagaimanasumberdayahutandapatdimanfaatkan.Kaummiskinpedesaantidaktermasukdisinikarenaadanya kesenjangan kekuasaandalamsistemtatakelolatanah.xviiContoh-contohberikutmenggambarkansifatpengembangankelapasawitsepertiyangdialamiolehpenduduklokaldanpetanikecil.


Padatahun1997,MRICOPmenanamilahanseluas3.800hektardengankelapasawit.DenganbantuandariKotamadyaPhnomPenh,sembilanpuluhkeluargayangdinyatakantinggaldiPhnomPenhsecarailegaldipindahkanuntukdipekerjakandidaerahperkebunanyangterletakdisepanjangsalahsatujalannegara(NationalRoute4).Perusahaanberjanjiuntukmemberimerekaduahektarbidanglahanuntukperkebunanpribadimereka.Menurutpendudukdesadidaerahtersebut,tanahyangdigunakanuntukperkebunankelapasawittermasukhutandanlahanpertanian.Sekitar300keluargayangtinggaldidesaTanei,yangbersebelahandenganperkebunan,dilaporkankehilanganlahanpadawaktuitukarenadiambiluntukperkebunantersebut.xviiiAkibatnya,pendudukdesatersebutpindahkedaerahyangbersebelahandenganjalannegara(nationalroute)danbanyakdarimerekakinimencarinafkahdenganmenjualminumandanbuah-buahandaritoko-tokokecildisepanjangjalan.


MenuruthasilinvestigasilapanganChrisLangsejaktahun2001,beberapawargadesamerasatertipuolehperusahaanuntukmenyerahkantanahmerekakarenamerekatidakpernahmenerimakompensasiapapundariperusahaan.Namun,dalamlaporanyangsama,jugadisebutkanbahwabeberapawargadesamenerimauanguntuktanahmereka,tetapitidakuntukpohon-pohonmereka.Masalahiniberlangsungselamaduatahuntanpapenyelesaian,terutamayangberkaitandenganduahektartanahyangdijanjikankepadapekerjaperkebunan.Perusahaanmasihmengklaimbahwatanahyangdiberikanadalahtanahkosong,tetapimasyarakatsetempattelahmengajukanprotes,yangberujungpadaberbagaitindakkekerasan.BulanFebruari2001,sekitar6.500pohonkelapasawityangditanamperusahaandibakar,menyebabkanbiayakerusakansekitar70.000USdolar.xixSementaraitu,sebagianbesarkeluargayangdipindahkantidakmemilikipekerjaan.MerekamencarinafkahdenganmengumpulkankayubakardihutanterdekatuntukdijualdiPhnomPenhdansebagiantelahpindahkembalikePhnomPenhuntukmencaripekerjaanyanglebihbaik.


KasusserupajugaterjadidiprovinsiKampotawalbulanJuni2009,ketikasekitar300pendudukdesabersenjatakankapakdanpisauberkumpuluntukmemprotesCamlandCompany,mengklaimperusahaanitumembukalahanmerekatanpapersetujuanmereka.Perusahaaninimemilikiizinlisensitujuhpuluhtahundaripemerintahuntukmengembangkanperkebunankelapasawitnamunmasyarakatmengklaimdaerahkonsesitersebutsebagaitanahleluhurmerekayangtelahmerekatempatituruntemurun.Masyarakatsetempatmengancamuntukmembakar buldoser-buldoserperusahaanjikapihakperusahaantidakmenghentikankegiatannya.Sampaisaatini,lebihdari3.000hektarlahantelahdibukadanperusahaanmelakukanpembalasandenganmemintaparapemrotesuntukmemperlihatkandokumenbuktiklaimmereka.xx


Dalambeberapakasusyangekstrim,tuntutanpidanatelahdiajukanterhadapmasyarakatlokalyangmemprotesdampak kerusakan akibat konsesiperkebunankelapasawit.Namun,sistemperadilanbelumdigunakanuntukmenegakkanhakmasyarakatlokalsehinggaperusahaanyangterang-teranganmelanggarhukumtidakdapatdimintaitanggungjawabnyaataskegiatanmereka.BulanDesember2005,tigaaktivismasyarakatdidakwadengantuduhanpenghasutandanperusakanpropertimilikRatanakVisalConcessionCompany.Perusahaanmengajukanpengaduansetelahaktivismasyarakatmenandatanganisebuahpetisikepadapemerintahdaerahatasnamakomunitasyangterkenadampakketikaperusahaanmenutupsebuahsungaikecilyangamatpentingbagiirigasisawahmereka.


Konsesi-konsesilaindiberikandiatastanahadatuntukpengembanganperkebunankelapasawitdistrikdiO’Yadao,Ratanakiri.Tahun1996,sebuahperusahaanpatungan,GLOBALTECHSdn.Bhd,Mittapheap-MenSarundanRamaKhmerInternational,diberikonsesilahanseluas20.000hektaruntukperkebunankelapasawityangtepatterletakditengah-tengahtanahyangdihuniolehmasyarakatdatarantinggi.Masyarakatlokaltidakdiajak bicara,4.500orangdilaporkandigusurdaritanahmerekadanlapanganpekerjaandisediakanolehperusahaanhanyauntuk400pekerja,xxiyangsebagiandirekrutuntukmembukalahandanhutan.Karenakelapasawitternyatatidakcocokdengankondisiiklimdaerahitu,perusahaanmulaimenanamkopisebagaigantinya.Sebuahbendunganuntukmenyediakanairuntukmengairikebunkopidibangunakibatkekeringanyangmelandadaerahtersebut.Lahanmasyarakatsetempatyangterendamdibeliolehperusahaandenganhargayangamatrendah(US$52perhektar)karenamerekadiberitahubahwa,bagaimanapunjuga,perusahaanakanmengambiltanahitubahkanmeskipunmerekamenolakuntukmenjualnya.xxii


Upaya-upayauntukmendapatkankompensasiatasketidakadilanyangdiperparaholehperampasantanahdiKambojagagalkarenaparapetaninyaristidakmemilikipilihanuntukberhasilmelawansistem.xxiiiKarenapenentanganterang-terangandihadapidenganaksibrutalolehmiliterdanpolisiyangdikontrakdiKamboja,bersuaralantangmenentangparapejabatpemerintahatauorangyangmemilikikoneksiyangkuatuntuknegaradapatmenempatkanmasyarakat,keluargamereka,danseluruhdesadalambahayakerugianjasmani,penggusuran,danpenangkapan.xxivNamun,meskipunadarisiko-risikoini,terjadipeningkatanjumlahkasusdimanamasyarakatsetempatterang-teranganmenantangperampasantanahdansistemyangmempromosikanpengambilaihantanahsebagaipengembanganekonomipedesaan.Disisilain,kebanyakanpetanimenolakpengambilalihantanahmerekayangdilakukanlewatpenipuandantindakan-tindakanyangmelanggarhukum.xxvSaatinidiKamboja,resistensiatasperampasantanahpengembanganperkebunankelapasawitseringterjadisetiaphari,seringdalambentukoposisiterbuka,tidakterorganisirdantidakterstrukturolehkaummiskinpedesaan.Keteganganyangsemakinmeningkat,terutamadalamperebutantanahantaramodaldankaummiskinpedesaan,jugadapatmengakibatkanmunculnyapolitikadvokasidalamwaktudekat.xxvi


Isu-isulainterkaitperkebunan


PenggunaansebagianELCuntukproduksipertaniantampaknyatetapberadapadatingkatspekulatif.BeberapaperusahaankekuranganmodaluntukmengkonversiELCmerekamenjadiusahapertanian.Lainnyaberkonflikdengan para pemangku kepentingan lainmengenaihakatastanah,terutamadenganmasyarakatlokal,dantidakmampumelaksanakanrencana-rencanamereka.


Klaimataslahanyangtumpangtindihdilakukanbaikolehmasyarakatlokalmaupunorang-orangberpengaruhyangmembelitanahdarimasyarakatlokaliniatauyangdiberikantanaholehpemerintah.MenurutlaporansengketalahandaridatabaseNGOForumonCambodiatahun2009,108kasusyangdiidentifikasiterkaitdenganpenyalahgunaankekuasaanolehperusahaanperkebunan,pencariandukunganpemimpinsetempatmelaluiiming-imingimbalanfinansialdanintimidasiterhadapaktivismenentangpembangunanperkebunan.xxviiPenyelesaiankonflik-konfliktersebutsangatlahsulit,sepertitercermindalamkenyataanbahwabanyakkonfliktanahtelahberlangsungselamalebihdarisatudekade.


Kerangka kerja hukumdanregulasiuntukmemberikanELCjelasjauhdariketat.AnalisadampaklingkungandananalisadampaksosialtidakdilaksanakandanditegakkandenganbenarsesuaidenganSuratKeputusantentangKonsesiLahanEkonomis.HanyalembagakonsultanyangdiakuiolehKementerianLingkunganHidupyangdiizinkanuntukmelakukanAMDAL.Namun,analisa-analisainitidakdapatdiandalkankarenamerekacenderunghanyamenjadiaksicontreng-mencontrengkotakisian.xxviii


SebuahtinjauanterhadapwebsiteMAFFmenemukanbahwabanyakperusahaankonsesikelapasawitmelakukanimplementasikontrakataurencanausahamerekasecaralambatatautidakserius.Sangatsedikittampaknyaproyekyangseriusdanpenuhkomitmendalam menerapkan proposalpengembangan industri pertanianmereka,sepertiditegaskandalampertemuanTechnicalWorkingGrouponLandpadabulanMaret2007.xxixHaliniantaralaintelahmengakibatkanperampasantanahsecarailegal,yangmenyebabkankonflikyangakansulitdanmemakanwaktuuntukdiselesaikan.


Penduduksetempattampaknyamengalamimasalah keuangan yanglebihburukdarisebelumnya,meskipunsebagianmenerimamanfaatsementaradariproyek-proyekELC. Suku minoritasyangdirugikanyangtinggaldidatarantinggiterpencilkhususnyatelahkehilanganpraktek-praktektradisionalmatapencaharianmereka,dantidakadaalternatifyangtersediauntukmerekasaatini.Sebuahcontoh gambaran darisituasiiniadalahkasusGlobaltechSdn.Bhd.,Mittapheap-MenSarundanRamaKhmerInternationalyangtelahdijelaskansebelumnya,yangmendapatkonsesilahanseluas20.000hektaruntukperkebunankelapasawitdiRatanakiri.


Informasiresmiyangberkaitandengankondisikerjadiperkebunankelapasawitsangatkurang.Sejauhini,satu-satunyainformasiyangtersediaadalahyangdikumpulkanolehNGOhakasasimanusiadanstudi-studiindependenlainnya.Memang,sepertiyangdilaporkanolehChrisLang,kondisikerjapekerjauntukGreenRichbenar-benarmengerikan.xxxPerusahaanmenyewapenebangdariwilayahtimurlautlain.LaporanChrismengklaimbahwapihaksub-kontraktormenggelembungkanhargamakananbagiparapekerjadanpekerjabanyakmenemukandirimerekaharusbergantungpadapinjamanuang hutang danmakananuntukbertahanhidup. Ada cukup banyak pekerjamelarikandiri,berenangmelintasisungaidimalamharidanberjalanpuluhankilometermelaluihutanbakauuntukmenghindarikondisiyangeksploitatifini.


Dalambeberapakasus,pekerjadatangdaridaerahlainuntukhidupdanbekerjadenganperusahaankonsesi.SalahsatucontohdarikasusiniadalahcontohdariMRICOPdiprovinsiPrahSihanouk.Awaltahun1999,KotamadyaPhnomPenh,bekerjasamadenganperusahaantersebut, memindahkan sembilanpuluhsembilan (99) keluargayangsecarailegaltinggaldibelakangkedutaanRusiakeMonorom1,sebuahdesabaruyangbersebelahandenganlahanMRICOP.Orang-oranginidijanjikanpekerjaandiperkebunankelapasawitbersama-samadenganrumahbaru.Kotamadyamembangunsekolahdanpasar.Namun,sepertidilaporkanChrisLang,hanyasekitarlimapuluhorangyangbenar-benarmendapatpekerjaandiperusahaan.BulanJuni2001,dilaporkanbahwaparapekerjamigrandapatbebasmelakukanapapunyangmerekainginkanuntukmencarinafkah,sementaraperusahaanitusendiribahkantidakmengetahuiberapabanyakpendudukdesayangbekerjauntukmereka.xxxi


Menjelangtahun2001,usahapatungankelapasawititumasihbelummendapatkankeuntunganapapun.Meskipunbuah-buahyangpertamasudahdipanen,tidakadapabrikuntukmengolahnya.Dalamlaporannya,ChrisLangmenekankanfaktabahwaperusahaantelahgagaltotaldalammemberikanmanfaatbagimasyarakatlokalatauorang-orangdipindahkandariPhnomPenh.Masyarakatdisekitardaerahperkebunantelahkehilanganaksesmerekakelahandanhutan,dansemuainitanpaadakompensasi.DarisemuapekerjamigranyangpindahdariPhnomPenhdandijanjikanpekerjaandiperusahaan,hanyasegelintirtelahmenerimapekerjaandantidakadayangmenerimatanahyangdijanjikanperusahaan.


Standardannorma-normanasional


MeskipunPemerintahKerajaanKambojamemilikikebijakanuntukmempromosikanbio-energiuntukmengurangiketergantunganKambojapadaminyakimpor,masihbelumadaagendakhususuntukpengembangankelapasawit.Sepertidilaporkanolehsumbermedialokal,MAFFtidaksecarakhususmendorongproyek-proyekkelapasawitkarenaproyek-proyektersebutdipandangtidakbanyakmemilikimanfaatpositif.BahkanMRICOPjugatelahmemperluasproyekperkebunanmerekadenganfokuspadasingkong.


SejakbulanJuli2010,belumadainformasiyangtersediamengenaikeanggotaandariperusahaanmanapundiKambojadiRoundtableonSustainablePalmOil(RSPO).Namun,prinsip-prinsipRSPOdankriteriayangberkaitandenganmasyarakatadat,masyarakatlokal,buruhdanpetani,standardannormamasyarakatsecarateorisejalandengankerangkahukumyangadadiKamboja,termasukUUdanhukum-hukuminternasional.Selainitu,kertasposisidanpernyataanNGOyangdibuatsaatpertemuanCambodiaDevelopmentCooperationForum(CDCF)memberikansumberlainyangdapatdigunakanCSOuntukmengangkatkeprihatinanmerekatentangdampakdarikebijakanpemerintahterhadapmasyarakatditingkatlokal.


KonstitusiKambojamenyatakanbahwasemuawargamemilikihakyangsama,tanpamemandangras,warnakulit,bahasaataukeyakinan.MasyarakatadatdianggapsebagaiwarganegaraKamboja.Kambojatelahmenandatanganisejumlahinstrumeninternasionalyangmelindungihakasasimanusiayangdiratifikasisejak1992,termasukKovenanInternasionaltentangHakEkonomi,SosialdanBudaya.Pasal31dariKonstitusiKambojajugamenyatakanbahwaKambojamengakuidanmenghormatikonvensiPBByangberkaitandenganhakasasimanusia.


Menanggapihalini,NGOinternasionaldanlokaltelahmenghasilkansejumlahlaporanyangterkaitdengandampakperkebunankelapasawitterhadapmatapencaharian,hak,sumberdayadanpilihanmasyarakatlokal.MengacupadaELCdenganlebihluas,KomitebidangHakEkonomi,SosialdanBudayamenulisdalamObservasiPenutup-nyatahun2009bahwaKomiteini


“merasaprihatindenganlaporanbahwapeningkatankonsesilahanekonomidalambeberapatahunterakhir,bahkandalamkawasanlindung,adalahfaktorutamadaridegradasisumberdayaalam,yangsecaranegatiftelahmempengaruhiekologidankeanekaragamanhayati,mengakibatkanpenggusuranmasyarakatadatdaritanahmerekatanpakompensasiyangadildanpemukimankembali,danhilangnyamatapencaharianbagimasyarakatpedesaanyangtergantungpadasumberdayalahandanhutanuntukkelangsunganhidupmereka.xxxii


MenanggapikegiatanELC,masyarakatmenyerukanaksiuntukmelindungimatapencaharianmereka.Merekamemobilisasidiriuntukmemberitahukankepadaparapemegangkonsesidanpihakberwenangtentangdampakdarikegiatan-kegiataninimelaluipetisidanprotespublik.Dalambeberapakasus,dijanjikanakanadatindakan-tindakanuntukmenyelesaikankonflik,namuntidakpernahdirealisasikan.


JendelakesempatanlainuntukkomunitasNGOKambojaagarterlibatdenganPemerintahKerajaanKambojadalamrangkamengatasiisu-isuiniadalahmelaluikertasposisiNGOxxxiiiyangdipresentasikansaatacaratahunanForumKerjasamaPembangunanKamboja.xxxivKertasposisiinimemberikanpengamatandanrekomendasikebijakanberdasarkankinerjapemerintahterhadapIndikatorPemantauanBersama(JMIs)danRencanaPembangunanStrategisNasional(NSDP)yangdisusunpemerintah.Meskipunpernyataan-pernyataanNGOjarangsekalimenyebutisu-isukelapasawitsecaralangsung,pernyataantahun2010inimenegaskanbahwa“ELCadalahakarpenyebabbencanakehutanandankonfliktanahdinegeriini,umumnyadengandampaknegatifpadamasyarakatyangterkenadampak.xxxvPernyataanitujugamemintapemerintahuntukmemastikanpengungkapanpublikdanupdate berkala teratur daribukulogELC,terutamayangberkaitandenganperkembangankegiatanperusahaanperkebunan.


Dalampernyataanyangsama,NGOyangbergerakdiisu-isukonservasi,perlindunganlingkungan,danperubahaniklimmenyatakankeprihatinanmerekabahwatidakadacukupperhatianyangdiberikanterhadapkualitasAMDALyangdilaksanakanuntukproyek-proyekpembangunan.Merekamerekomendasikanagarpemerintahmeninjaukembaliproyek-proyekELCyangsaatinisedangberlangungatauyangberoperasitanpaAMDALdanmenangguhkanproyek-proyekinisampailaporanAMDALmerekadiserahkan.


Rekomendasi


  • Untukmengungkapkandanmenyediakan bagi publiksemuainformasiyangberhubungandenganELC,dankhususnyauntukproduksiminyaksawit.Informasiiniharusmencakuplokasiperkebunankelapasawitdengankoordinatgeografisnya,luaslahanyangdigunakan,statusperkembanganproduksiminyaksawit,kapasitasproduksidanpasareksporyangditargetkan.


  • Untukmemastikanbahwasemuakonsesisepenuhnyamematuhiketentuan-ketentuanHukumPertanahandanSuratKeputusan(Sub-decree)tentangKonsesiLahanEkonomis.


  • Untukmenjaminpartisipasiefektifmasyarakatlokalmelaluikonsultasisebelumnyadankonsultasipublik.


  • Untukmemastikanbahwaanalisadampaklingkungandansosialdibuatsebelumpemberiankonsesilahan.


  • Untukmemastikanbahwakonsesilahan kebun sawittidakdiberikandiatastanahhutandanbahwahakpenggunaanlahanadatmasyarakatlokaldilindungi.

iJapanDevelopmentInstitute(JDI)2007

iiWRM2002

iiiSuratKeputusantentangProsesAnalisaDampakLingkungan,KerajaanKamboja.

ivLang2008

vWRM2005

viSchneider2011:11

viiibid.

viiiLang2003

ixOHCHR2007

xLang2008

xiSchneider2011:11-12

xiiScott1998:47

xiiiibid.

xiv CHRAC 2009

xv Grimsditch & Henderson 2009:6

xviIbid.

xviiSchneider2011:14

xviiiLang2001b

xixibid.

xxiWRM2002

xxiiibid.

xxiii O’Keefe 2009:6

xxivCHRAC2009

xxvSchneider2011:15

xxviibid.:8

xxviiNGOForumonCambodia2010

xxviiiNgoS&ChanS2010

xxixH.E.ChhanSaphan,MenteriNegaradiKementerianPengelolaanLahan,PerencanaandanPembangunanPerkotaan,dalampertemuanTechnicalWorkingGrouponLandbulanMaret2007bahwaMongReththyInvestmentCambodiaPalmOil(MRICOP)adalahsatu-satunyakonsesilahanekonomiyangtelahberhasil.

xxxWRM2005

xxxiLang2001

xxxiiIndigenousPeopleNGONetworks,2010

xxxiiiPublikasiinimerupakankompilasiinformasidariNGOlokaldaninternasionalyangbergerakdiberbagaisektordiKamboja.Informasilebihlanjutsilakankunjungi<ngoforum.org.kh>

xxxivCDCFadalahforumtingkattinggiantaraPemerintahKerajaanKambojadanMitraPembangunannyauntukmembicarakanperkembanganpembangunandiKambojadanmobilisasibantuan.

xxxvNGOForumonCambodia2010

– Norman Jiwan Head of Department Social and Environmental Risk Mitigation Initiatives Sawit Watch, Indonesia Address: Perumahan Bogor Baru, Blok C1 No 10. Kel Tegalega Bogor Tengah, West Java – 16129 Phone/Fax: +62-251-8352171/8352047 Mobile: +6281315613536 Email: info@sawitwatch.or.id Website: www.sawitwatch.or.id

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers