Archive for the ‘esai’ Category

Contoh Kelakuan Pemerasan FPI

Contoh Kelakuan Pemerasan FPI
  Hartoyo, Tuesday, February 14, 2012 4:37 PM, in: perempuan@yahoogroups.com ; jurnalperempuan@yahoogroups.com,

 

Minggu siang, 12 Februari 2012, Erwin Arnada (@erwinarnada), membuat serial tweet, mengungkap fakta baru di balik proses peradilan pidana yang dialaminya, saat menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Indonesia. Ia menceritakan pengalamannya berurusan dengan salah satu Ormas yang ikut melaporkan dirinya ke Polisi  dalam kasus pidana Majalah Playboy Indonesia.
Sekadar mengingatkan. Dalam kasus Playboy, di tingkat kasasi, Erwin  sempat dijatuhi hukuman 2 tahun penjara oleh MA. Sebelumnya, di Pengadilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan tahap banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Erwin Arnada dinyatakan bebas dari dakwaan jaksa penuntut. Lalu, jaksa kemudian mengajukan kasasi.
Erwin, bebas setelah Peninjauan Kembali yang diajukan Erwin, diterima oleh MA. Berikut serial tweet @erwinarnada mengenai ormas tersebut:
  1. @erwinarnada: Nih ya, buat yg ngeyel belain ormas pengacau itu.Gw ceritain gimana mrk sangat ‘ekonomis’ , artinya koar- koar Allahu Akbar demi uang.
  2. @erwinarnada: Bermula saat saya menang sidang di PN jakarta selatan. April 2007. Tau mrk kalah, lima panglima ormas coba baik-baikin sy. Nyusul ke bali.
  3. @erwinarnada: 3 anggota ormas bikin deal, gak akan naik banding ke pengadilan tinggi.2 syaratnya : minta diundang ke bali dan dibayarin naik haji.so funny
  4. @erwinarnada: Akhirnya sy coba ikutin. Tp cuma kasi 2 org ongkos naik haji. Trus 3 orang boleh diundang ke bali,krn kantor playboy pindah ke bali
  5. @erwinarnada:Asisten sy @13Rudi yg nemenin 3 anggota ormas saat di Bali.diajak ke bacio dan double six. Minum JD,tanpa malu malu. Mulai jelas munafiknya
  6. @erwinarnada: Minta duit akomodasi 3 hari di bali. Sy kasi. Di Huu Bar mrk minta disediain cw bule ke kami. Di sini saya teriak”kita bukan pimp ,tai!
  7. @erwinarnada: Sy bilang jg bule yg ke bali bkn pelacur.jgn asal !.asisten sy @13Rudi akhirnya sy minta ajak mrk hangout ke tmpat mrk pilih.dibayarin semua
  8. @erwinarnada: Sampe hari ini sy gak tau tuh mrk dibawa ke mana sama asisten sy.yg jelas mereka puas. Dan nyanjung2 sy sebagai panglima playboy pemberani.
  9. @erwinarnada: 3 bulan kemudian, sy dikasitau kalo pelapor sy, ajukan banding ke pengadilan tinggi. Fuck ! Sy diboongin. Udah foya foya mrk
  10. @erwinarnada: sy protes, mrk bilang “naik banding itu keputusan pusat,kami korwil jakarta selatan” WTF. Sy curiga duit buat naik haji dipake buat hal lain
  11. @erwinarnada: Akhirnya sy kalah di kasasi, dijeblosin ke LP Cipinang 8,5 bulan. Sampe akhirnya sy berjuang ajukan PK ke mahkamah agung. Dan dikabulkan
  12. @erwinarnada: Salah 1 panglima ormas ngunjungi sy di cipinang. Minta maaf,ngaku sudah gak aktif di ormas. Dia keluar krn inget anak istrinya.dia nyesel
  13. @erwinarnada: Jadi kalo sampe sekarang @13Rudi selalu ngecam ormas tsb, ya wajar. Dia saksi kemunafikan org yg ngaku plg bermoral dan nentang playboy
  14. @erwinarnada: Kebetulan juga @13Rudi punya keluarga dan pernah tinggal di kalteng. Jd dia tau Kalteng hrs bersih dari ormas munafik itu
  15. @erwinarnada: Penolakan masy Kalteng sy pikir sebuah sikap yg layak ditiru.penolakan berdasar sejarah dan fakta. Demi kedamaian !
  16. @erwinarnada: Cerita sy tadi utk gambarkan bahwa gerakan / teriakan Allahu Akbar mereka didasari hitungan ekonomi!Bukan soal moral/keyakinan agama islam
  17. @erwinarnada: Sekian !.Buat partai berlabel agama yg memodali/back up ormas,spt diakui anggota yg insyaf. Sy cuma mau bilang SCREW YOU with ur politic!
  18. @erwinarnada: Mohon maaf ya jika twit sy nyampahin TL anda dgn cerita soal ormas
  19. @erwinarnada: Yg paling lucu dan ironi adlh saat 200 angg ormas itu pertama kali nyerbu ktr playboy di sebelah citos. 10 org dari mrk saya undang diskusi
  20. @erwinarnada: Mrk hujat,ancam sy. Eh pas mau pulang mrk liat pintu kaca ktr dgn logo playboy (rabbit head) ukuran besar.Mrk berfoto,pose rame 2 . Absurd
Sumber foto: Kapanlagi.com
Hartoyo
Sekretaris Umum Ourvoice
Telp  : 085813437597 / 081376192516
BB     : 22f465be
http://ourvoice.or.id

Penindakan Ormas Tak Terkait RUU Ormas

Penindakan Ormas Tak Terkait RUU Ormas
http://www.gatra. com/hukum/ 31-hukum/ 8880-penindakan- ormas-tak- terkait-ruu- ormas
Sunday, 19 February 2012 08:26
Jakarta – Direktur Monitoring, Advokasi, dan Jaringan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), Ronald Rofiandri, menilai, tindakan tegas terhadap organisasi kemasyarakatan (ormas) yang melakukan kekerasan, tak berkaitan dengan UU Ormas yang berlaku ataupun RUU Ormas yang tengah dibahas DPR.

“Itu dua hal yang berbeda sama sekali,” ucapnya kepada Gatranews, melalui telepon, Sabtu (18/2), di Jakarta. Menurutnya, masyarakat harus paham dan waspada terhadap penggiringan wacana, seolah-olah solusi dari kekerasan yang dilakukan berbagai ormas adalah UU ormas.

“Padahal, sudah sejak lama kita punya KUHP yang sudah lebih dari cukup untuk melakukan penindakan,” jelasnya.

Menurutnya, KUHP lebih dari cukup untuk menjerat pelaku, peserta, pesuruh tindak kejahatan, ataupun yang menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap satu golongan secara terbuka di muka umum.

Ia mengatakan, yang menjadi permasalahan saat ini, adalah komitmen aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian menegakan hukum.

“Masalahnya, mau atau tidak polisinya? Kepolisian sendiri masih harus berhadapan dengan persoalan incapacity dan rasio jumlah polisi terhadap jumlah penduduk yang tidak seimbang,” ujarnya.

Ronald menambahkan, karena KUHP telah mengatur mekanisme pelanggaran, maka UU ormas seharusnya dicabut, bukan direvisi.

“Kerangka hukum yang benar dan jamak menjadi praktik, adalah yayasan atau perkumpulan. ormas itu tidak dikenal dan dia ‘makhluk politik’ ciptaan Orde Baru. Jadi, tolak UU ormas dan aturlah melalui UU Perkumpulan atau UU Yayasan,” ungkapnya. [IS]

 

12.

Fenomena Habib dan Mitos Keturunan Nabi
http://www.gatra. com/nasional- cp/1-nasional/ 8873-fenomena- habib-dan- mitos-keturunan- nabi
Saturday, 18 February 2012 21:37

Tak banyak yang tahu darimana asal muasal sebutan Habib. Orang awam hanya paham, Habib identik dengan ustadz keturunan Arab dengan stereotip berjanggut tebal dan bersorban. Publik hanya mengetahui bahwa Habib adalah pendakwah yang harus dihormati.

Jika ditelisik dalam perspektif antropologis, munculnya Habib merupakan fenomena ‘penghormatan’ terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW.

Sebutan Habib itu dinisbatkan secara khusus terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra (berputra Husain dan Hasan) dan Ali bin Abi Thalib, atau keturunan dari orang yang bertalian keluarga dengan Nabi Muhammad (sepupu Nabi Muhammad).

Dari trah itulah muncul gelar khusus, yaitu Habib (yang tercinta), Sayid (tuan), Syarif (yang mulia), dan sebagainya. Gelar Habib terutama ditujukan kepada mereka yang memiliki pengetahuan agama Islam yang mumpuni dari golongan keluarga tersebut. Gelar Habib juga berarti panggilan kesayangan dari cucu kepada kakeknya dari golongan keluarga tersebut. (Sumber: Wikipedia)

Berdasarkan catatan Ar-Rabithah, organisasi yang melakukan pencatatan silsilah para habib, ada sekitar 20 juta orang di seluruh dunia yang menyandang gelar ini. Mereka yang juga disebut muhibbin itu terdiri dari 114 marga. Menurut Ar-Rabithah, hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar Habib.

Di kalangan Arab-Indonesia, menurut catatan Ar-Rabithah, ada sekitar 1,2 juta orang yang ‘berhak’ menyandang sebutan Habib. Mereka memiliki moyang yang berasal dari Yaman, khususnya Hadramaut. Dari merekalah tersusun silsilah yang menjuntai hingga belasan abad, dari Hadramaut (Yaman) hingga ke Tanah Abang (Jakarta). Yaitu sebuah silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Fathimah ra, yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra.

“Sebutan yang paling populer untuk ‘menghormati’ para keturunan Nabi Muhammad dari jalur Fathimah ra ini adalah Habib atau Habaib (jamak),” demikian tertulis di situs Arrahmah.com.

Dalam perkembangannya, khususnya di kalangan masyarakat muslim Indonesia, gelar ini tidak hanya disandang oleh para da’i dari Yaman saja. Karena warga telah memuliakan para pendakwah sebagai pemimpin tanpa melihat asal-usul keturunan, dengan alasan seorang menjadi alim tidak diakibatkan oleh asal keturunannya.

Selain itu, terjadi pula pelanggaran terhadap aturan, dengan menarik garis keturunan secara matrilineal (keturunan dari perempuan juga diberi hak menyandang “Habib”). Walaupun akhirnya pernyataan tersebut dianggap sebuah fitnah dari kaum orientalis untuk menghilangkan rasa hormat masyarakat Indonesia terhadap kaum kerabat Nabi Muhammad.

Para Habib sangat dihormati oleh masyarakat muslim Indonesia, karena dianggap sebagai tali pengetahuan yang murni dari garis keturunan langsung Nabi Muhammad. Penghormatan ini pernah membuat gusar para kelompok anti-sunnah yang mengait-kaitkan hal ini dengan bid’ah. Faktanya, Habaib di Indonesia sangat banyak memberikan pencerahan dan pengetahuan akan agama Islam.

Sudah tak terhitung jumlah orang yang akhirnya memeluk agama Islam di tangan para Habib itu. Tentu tidak semua keturunan Arab bisa disebut Habib. Misalnya, Abu Bakar Ba’asyir mantan Amir Mujahidin MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang kini memimpin Jama’ah Ansharut Tauhid.

Meski keturunan Arab dari Yaman, Ba’asyir bukanlah tergolong Habib, dan tidak pernah mau disebut dan diperlakukan sebagai Habib. Sebab, menurut Ba’asyir, dirinya bukan keturunan Fathimah ra.

Komunitas keturunan Fathimah ra dikelompokkan ke dalam sejumlah famili (fam), yang kemudian tercermin dalam nama keluarga yang disandangnya, seperti Syihab, Shahab, Assegaf, dan sebagainya.

Salah satu fam yang menonjol adalah Assegaf. Bahkan tiga sosok Habib yang cukup menghebohkan ‘dunia intelejen’ di Indonesia itru menyandang nama Assegaf. Mereka adalah Mahmud bin Ahmad Assegaf, Abdurrahman Assegaf dan Nur Hidayat Assegaf (Simak sosok ketiganya di artikel berikutnya).

Di luar tiga sosok tersebut, ada pula Habib yang kerap mewarnai hingar bingar politik di Indonesia. Ia tak lain Habib Rizieq Shihab, Ketua FPI (Front Pembela Islam), yang kerap mengerahkan massa turun ke jalan untuk menegakkan syariat Islam.

Selain Rizieq, tentu masih banyak Habib yang berdakwah dengan cara moderat, damai dan menenteramkan. Semisal Habib ali Kwitang dan Munzir Al Musawa dan Habib. Selain itu, banyak pula Habib yang meretas karir di birokrasi seperti Ali Alatas dan Salim Segaf Al-Jufri. (HP, dari berbagai sumber)

Indonesia Sodorkan Konsep “Ekonomi Biru”

Indonesia Sodorkan Konsep “Ekonomi Biru”
http://www.gatra. com/terpopuler/ 46-ekonomi/ 8866-indonesia- sodorkan- konsep-ekonomi- biru
Saturday, 18 February 2012 14:14

Yuri O Thamrin [Dok KBRI Moskow]
Moskow – Hari pertama pertemuan Senior Officials Meeting (SOM) APEC, Kamis (16/2), di Moskow, Rusia, delegasi Republik Indonesia langsung “menggebrak” pertemuan tingkat pejabat tinggi itu dengan mengajukan konsep yang disebut “Blue Economy”.

Pertemuan yang berlangsung pada suhu udara minus 31 derajat Celcius itu pun spontan “menghangat”. Perhatian ratusan delegasi APEC segera tersedot pada usulan delegasi RI tersebur. Pembicaraan pun berlangsung hangat seolah menafikan turunnya hujan salju yang tak berhenti.

Dirjen Asia Pasifik & Afrika (Apasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang juga menjadi Ketua Delegasi Indonesia, Yuri O. Thamrin, mengemukakan bahwa konsep Blue Economy itu merupakan sebuah kebutuhan bersama, tidak hanya terkait dengan kepentingan Indonesia saja. “Namun pasti menjadi concern utama dari negara-negara yang memiliki laut yang merupakan mayoritas anggota APEC,” kata Yuri, sebagaimana dilaporkan M. Aji Surya dari KBRI Moskow.

Meski demikian, Yuri mengaku terminologi “Ekonomi Biru” memang bukanlah hal yang sama sekali baru. Istilah “Ekonomi Biru” sempat disebut-sebut dalam berbagai sidang internasional khususnya yang terkait dengan manajemen berkesinambungan dan melestarikan sumber-sumber kelautan. Tahun ini misalnya, “Blue Economy” menjadi tema pada international Expo di Yeosu, Korea Selatan.

Walau demikian, Yuri menyebutkan bahwa terminologi dimaksud telah dibesut sedemikian rupa oleh tim APEC Indonesia sehingga memiliki makna yang lebih komprehensif. Diungkapkan, adalah kewajiban setiap negara untuk melakukan tindakan kongkrit terhadap manajemen kelautan serta sumber-sumbernya, khususnya yang menyangkut dengan keamanan pangan (food security), perubahan iklim (climate change), pemberantasan pencurian ikan, kerjasama bidang riset dan pengembangan, serta peningkatan kesadaran atas isu-isu kelautan.

“Untuk itu Indonesia mengusulkan tiga inisiatif di APEC, yakni penurunkan tingkat pengambilan ikan yang tidak menjamin kesinambungan, penanganan perubahan iklim dan coral reef, serta meningkatkan koneksitas antar-kawasan,” ujar Dirjen Aspasaf.

Sejauh dalam pertemuan hari pertama tersebut, beberapa negara langsung memberikan acungan jempol dan menyampaikan komentarnya yang bernada dukungan. China, Amerika Serikat, Rusia dan Australia termasuk beberapa negara yang secara prinsip mengakui pentingnya konsep yang digulirkan Indonesia. Namun begitu, mereka pada umumnya tetap berharap agar Indonesia lebih mendetailkan konsep tersebut sampai pada tataran yang lebih praktis guna dipelajari lebih lanjut.

Direktur KIK Aspasar Kemlu, Arto Suryodipuro menambahkan bahwa konsep yang diperkenalkan di tengah bekunya kota Moskow itu sudah dipikirkan masak-masak. Bahkan akan diperjuangkan menjadi tema utama APEC pada saat dihelat di Indonesia di tahun depan. “Kita akan terus kembangkan sesuai dengan visi APEC dan kepentingan nasional Indonesia,” ujarnya.

Yang paling penting, menurut beberapa delegasi asing, konsep ini tidak boleh tumpang tindih dengan pembahasan yang ada di forum-forum internasional lainnya. Untuk ini, Dirjen Aspasaf akan memperhatikannya dan bahkan memberikan jaminan bahwa yang akan dipetik justru nilai tambah yang dibutuhkan semua anggota APEC. [NH]

Wajah Plural Indonesia

http://www.sinarhar apan.co.id/ content/read/ wajah-plural- indonesia/

18.02.2012 11:55

Wajah Plural Indonesia
Penulis : Junaidi Hanafiah/Deytri Aritonang/Saiful Rizal/Fransisca Ria Susanti/Sihar Ramse

(foto:SH/Junaidi Hanafiah)
Bayangan bahwa Aceh tidak bersahabat dengan masyarakat nonmuslim ternyata salah besar. Provinsi yang dikenal sebagai wilayah yang ketat memberlakukan syariat Islam ini ternyata menyimpan toleransi yang luar biasa.

Efendi, pria asal Jakarta, mengaminkan itu. Selesai bekerja di kantor, Efendi sering duduk di warung kopi untuk melepas lelah atau bercengkrama dengan teman-temannya.

Kebiasaan duduk di warung kopi telah dilakoni Efendi sejak delapan tahun lalu, setelah perusahaan tempat dirinya bekerja mengirimkan dirinya ke Banda. Ia sebelumnya dirinya bekerja di Medan, Sumatera Utara, dan sejak 2003 dikirim ke Aceh.

Teman-teman Efendi di warung kopi sebagian besar adalah orang Aceh, agamanya pun berbeda dengan dirinya. Sebagian besar teman-temannya beragama Islam, sementara dirinya beragama Kristen.

“Sedikit pun tidak ada kendala saat bergaul dengan orang Aceh. Di Aceh, khususnya di Banda Aceh, masyarakat yang berbeda agama saling menghormati, ” kata Efendi ketika ditemui SH di salah satu warung kopi di Banda Aceh, Kamis (16/2) sore.

Bagi Efendi, hidup di Aceh sangat berbeda dengan di daerah lain, karena di Aceh, meskipun diberlakukan syariat Islam, penganut agama lain tetap bisa menjalankan ibadah dengan nyaman. Selain itu, warga Aceh juga sangat menghargai penganut agama lain.

Menurutnya, meski penganut agama lain selain agama Islam jumlahnya sangat kecil di Aceh, masyarakat minoritas tersebut tidak pernah diperlakukan sewenang-wenang atau tidak adil oleh warga Aceh.

“Anak-anak saya yang sudah SMA dan SD tidak pernah mengeluh atau melapor kepada saya kalau mereka dilecehkan anak-anak lain. Bahkan teman-teman anak saya sering ke rumah untuk mengerjakan tugas sekolah. Orang tua mereka juga tidak pernah melarang, padahal keluarga saya beragama Kristen,” ia bercerita.

Efendi menyebutkan, tempat ibadah umat Katholik dan umat Islam di Banda Aceh letaknya juga tidak berjauhan. Jaraknya hanya sekitar 150 meter dan hanya dipisahkan sungai.

Namun hal tersebut tidak pernah dipertentangkan. “Gereja Hati Kudus dan Masjid Baiturrahman letaknya sangat berdekatan, tetapi tidak pernah ada masalah saat beribadah. Letaknya juga sama-sama di tengah kota,” ujarnya.

Desi Susanti, penganut Kristen lainnya, menuturkan, meskipun dirinya sekolah di SMA 1 Banda Aceh yang siswanya mayoritas Islam, dirinya tidak pernah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.

“Teman-teman saya sangat menghargai agama yang saya anut. Mereka juga tidak segan-segan menolong saya saat saya butuh pertolongan, ” kata siswa kelas dua SMA 1 Banda Aceh ini.

Menurutnya, semua guru di sekolah tempat dirinya menuntut ilmu juga tidak pernah berlaku tidak adil terhadap dirinya. “Sejak SD hingga SMA saya sekolah di sekolah umum yang mayoritas siswanya beragama Islam, namun saya tidak sekali pun diperlakukan tidak adil atau diganggu karena agama saya berbeda,” katanya.

Salah seorang pemimpin pesantren tradisional di Aceh Besar, Teungku Idris Umar, menyebutkan, karakter orang Aceh berbeda dengan masyarakat Indonesia lainnya. “Orang Aceh sangat toleran dengan masyarakat yang beragama lain selama mereka tidak mengganggu atau merusak tatanan hidup masyarakat Aceh, baik itu agama atau adat istiadatnya, ” katanya.

Menurutnya, masyarakat Aceh meyakini masyarakat agama lain yang hidup berdampingan dengan orang Aceh, selama mereka tidak mengganggu, harus dilindungi.

Isi Renungan Natal

Lain lagi cerita di Klaten, Jawa Tengah (Jateng). Udi Prasojo, seorang muslim warga Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah pada misa Natal 24 Desember tahun lalu pernah didaulat Romo Kirjito Pr mengisi sepenggal renungan mengenai kebersihan lingkungan di wilayah tersebut.

Pada saat itu Udi menjadi salah satu warga yang turut mengamankan jalannya ibadah misa Natal. Sontak saja dia terkejut saat Romo Kirjito memanggilnya. Udi kaget karena diminta berbicara di hadapan sekitar 2.000 umat di Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Kebonarum.

Pada kesempatan tersebut, Udi diminta menceritakan pengalamannya menyelamatkan kebersihan sungai dan saluran irigasi dari serbuan sampah rumah tangga setempat.

“Rumah saya berada tepat di samping saluran irigasi. Oleh karena itu, saya otomatis setiap hari melihat sampah-sampah memenuhi saluran tersebut. Akhirnya saya dan warga berinisiatif membersihkannya. Tentu saja saat membersihkan sampah tersebut saya menggerutu. Tetapi lama-lama saya berpikir untuk apa menggerutu? Saya lebih baik berzikir,” tuturnya.

Saat menuturkan pengalamannya tersebut, Udi pun mengucap bacaan zikir itu. “Subhanallah. .. subhanallah. .. Itu yang selalu saya ucapkan sebagai pengganti kata makian dan gerutuan yang sering kali keluar dari mulut saat menyingkirkan sampah-sampah tersebut,” katanya seperti dikutip Antara.

Ribuan umat di gereja tersebut langsung bertepuk tangan mendengar penuturan Udi. Tidak hanya Udi yang didaulat menuturkan pengalaman dan perjuangannya membersihkan sungai dan saluran irigasi di sekitar gereja, ada dua orang lagi yang menyampaikan hal serupa.

Toleransi juga muncul di Kabupaten Semenep, sekitar 100 km dari Sampang, Madura, Jawa Timur. Gambar nyata kerukunan di kabupaten berusia 741 tahun tersebut tampak di Desa Pabean, Kecamatan Kota.

Di Jalan Slamet Riadi, desa itu berdiri teguh dan menjadi lambang toleransi rumah ibadah tiga agama. Ketiganya terletak berdekatan, berdampingan. Berdiri di sisi paling Barat, Masjid Baitul Arham. Masjid itu berdiri tepat di pinggir kali dan butuh sarana jembatan untuk menempuhnya.

Di seberang kali dan jalan raya, sekitar 50 meter ke arah timur masjid itu, terdapat Gereja Katholik Maria Gunung Karmel. Meski gereja tampak tertutup, tidak tampak jejak intimidasi terhadap jemaat gereja pada bangunan gerejanya. Tepat di samping gereja, berdiri kompleks Sekolah Sang Timur yang merupakan milik sebuah Yayasan Katolik.

Lia (27), warga Desa Pabean yang juga jemaat gereja Maria Gunung Karmel mengakui, meski merupakan warga minoritas di daerah itu, tidak pernah ada intimidasi dari kaum mayoritas terhadap kaumnya.

Dia mengatakan, tidak pernah ada kekhawatiran dan ketakutan yang merasukinya dalam menjalankan ibadah. “Puji Tuhan, toleransi beragama di sini (Sumenep) cukup kuat,” katanya.

Di Bojonegoro, Bupati Suyoto mengaku kehidupan antarumat beragamanya di daerahnya sangat moderat dan lebih longgar. Ia, sebagai aktivis Muhammadiyah, bahkan kadang diundang untuk mengisi khotbah di gereja. Ia juga sering berkunjung ke kelenteng.

Soal kebebasan mendirikan tempat ibadah, menurut Suyoto, memang ada kasus sebuah gereja yang belum mendapat izin berdiri di daerahnya. Ini karena yayasan tersebut awalnya mendirikan perkantoran dan kemudian hendak mendirikan gereja di perkantoran tersebut.

Suyoto secara pribadi tidak ada masalah, tetapi karena gaya berkomunikasi sejumlah orang di yayasan tersebut kurang bisa diterima masyarakat sekitar, masih terjadi penolakan. “Ini soal trust building. Jadi harus dibangun silaturahmi terus menerus,” katanya, saat berkunjung ke kantor redaksi SH baru-baru ini.

Hal sama juga terjadi saat Suyoto harus membatalkan izin sebuah ormas Islam Majelis Tafsir Alquran yang hendak menggelar tablig akbar di alun-alun karena penolakan dari Nahdlatul Ulama. “Soal prosedur tidak ada masalah, tetapi sosialnya yang tak bisa,” ujarnya.

Lain lagi di Depok, Jawa Barat. Di sana terdapat rumah ibadah yang letaknya berdampingan di sekitar wilayah Jalan Kerinci Raya, Depok Timur. Hal ini telah menjadikan wilayah ini bagaikan miniatur Indonesia dengan falsafah Bhineka Tunggal Ika-annya.

Selain masjid yang ada di sekitar Jalan Kerinci, di situ terdapat Gereja Katholik Santo Markus Depok II Timur, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Depok II Timur, dan Pura Tri Bhuana Agung. Letaknya berdampingan, berhadapan, ataupun tak jauh dari setiap rumah ibadah pemeluk umat agama yang berbeda ini.

Rumah-rumah ibadah yang sudah berdiri sejak 1980-an itu telah lama berinteraksi dengan para warga. Di depan HKBP saja, ada yang membuka warung kopi, menjual bakso, hingga tempat juru parkir. Apalagi, di sampingnya, ada kantor pos yang sudah tiga puluh tahun berdiri. Mereka semua adalah bagian dari warga di Jalan Kerinci.

Tidak jarang, baik yang akan beribadah di pura mau pun yang menunggu kebaktian di HKBP atau gereja Katholik, mampir membeli rokok ataupun teh botol dan minuman ringan di warung tepat di samping pura. Kadang terlihat juga anak-anak ataupun orang tua jemaat dari gereja singgah dan mampir ke halaman di depan pura untuk menyaksikan pepohonan di taman yang terlihat asri itu.

Ibadah Berdampingan

Secuil keharmonisan yang terjaga lebih dari setengah abad, dalam bentuk dua tempat ibadah umat agama berbeda yang berdampingan, tampak di Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien berdiri berdampingan di sana.

Dua tempat ibadah tersebut sudah berdiri berdampingan, hanya dipisahkan tembok sebagai pembatas kedua bangunan tersebut. Meski berbeda keyakinan, kedua tempat ibadah itu seperti tampak serasi dengan warna dominan putih dan merah.

“Kalau berdiri sendiri-sendiri, tanpa ada bangunan di sebelahnya, gereja tidak ada masjid, atau sebaliknya, terlihat kurang bagus,” kata Dikson Bawuna, Wakil Ketua Jemaat Gereja Mahanaim, saat berbincang dengan SH di ruang pengurus Gereja Mahanaim, Jakarta Utara, Kamis (16/2).

Dikson menceritakan bahwa bukan hanya bangunannya yang berdampingan, namun jemaat dan jemaah masing-masing tempat ibadah itu pun akrab menjalin kebersamaan.

“Saat tragedi Tanjung Priok pada 1984, mereka (jemaah masjid) yang menjaga gereja ini. Mereka sempat bilang kepada puluhan orang yang mau bakar gereja ini, kalau mereka mau bakar gereja, bakar masjid dulu, langkahin mereka dulu. Jadi, mereka yang sebenarnya berjuang pada waktu peristiwa Tanjung Priok dulu. Di sini aman karena mereka yang jaga,” tuturnya.

Suasana saling menjaga masih terlihat hingga kini, khususnya setiap Natal dan Tahun Baru. Umat muslim dari masjid maupun warga sekitar pasti ikut membantu menjaga keamanan gereja.

Ketua Jemaat Gereja Mahanaim, Tatalede Barakati, menambahkan, sejak awal dibangunnya gereja tersebut pada 1957 dan masjid pada 1959, kegiatan ibadah di dua tempat tersebut tidak pernah saling mengganggu dan terganggu. Dicontohkan perempuan yang akrab disapa “oma” ini adalah dihadapkannya pengeras suara masjid ke arah barat. Gereja itu berada di sisi timur masjid.

Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien, Oma menambahkan, memang seperti saudara sekandung. Dengan letaknya yang berdempetan, menggunakan satu tembok penghubung, tidak pernah terjadi masalah apa pun dari dua pengurus tempat ibadah itu.

Layaknya saudara, nilai toleransi antara keduanya benar-benar ditanamkan, bukan hanya antarpemimpin kedua tempat ibadah, tetapi juga ditularkan kepada para jemaat gereja dan jemaah masjid. Satu bentuk toleransi yang tinggi, yang terjadi antara keduanya terlihat ketika pihak gereja membatalkan jadwal kebaktian pada Minggu pagi karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Begitu juga dengan pihak Masjid Al Muqarrabien, yang juga selalu menanamkan nilai-nilai toleransi dalam setiap kegiatan pengajian maupun ceramah-ceramah agama lainnya.

“Masjid ini dibangun dengan fondasi kebersamaan yang sangat kokoh, dan nilai-nilai itu harus tetap dijaga sampai kapan pun,” kata Haji Tawakal (38), Ketua Masjid Al Muqaarabien, saat berbincang dengan SH, Kamis (16/2).

Menurutnya, berbagai cara dilakukan demi menjaga kerukunan antara dua umat beragama, muslim dan Kristen. Karenanya, saat berada di lingkungan Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien terasa sejuk. Gereja dan masjid berdampingan, berbagi tembok penghubung. Nyanyian gereja dan azan bisa saling bersahutan tanpa seteru.

Menurutnya, pihak gereja tidak segan membantu ketika pihak masjid melakukan khitanan massal. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan masjid lainnya, pihak gereja dengan cepat dan kepedulian yang besar, membantu pihak masjid.

Dia mengatakan, itu seperti arti kata Al-Muqarrabien, yang mengandung arti saling menghormati, menjaga kesatuan dan persatuan. Dengan begitu, para jemaah di masjid itu, kata Tawakkal, dapat terus hidup berdampingan tanpa ada masalah apa pun.

Dibutuhkan Keberanian Politik Bubarkan Ormas Anarkistis

18.02.2012 11:45

Dibutuhkan Keberanian Politik Bubarkan Ormas Anarkistis

Penulis : Aju

(foto:dok/ist)

PONTIANAK – Dibutuhkan keberanian politik untuk membubarkan organisasi massa seperti Front Pembela Islam (FPI) yang selama ini kerap bertindak anarkistis dalam kegiatannya.

Polri mencatat hingga 2011, terdapat 34 kasus kekerasan yang melibatkan FPI. Terakhir, FPI merusak kantor Kementerian Dalam Negeri di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Pelaksana Harian Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat, Yakobus Kumis yang dihubungi SH dari Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (18/2) pagi, mengatakan, pemerintah tidak perlu lagi mengumbar pernyataan di media massa. “Masyarakat sudah semakin tidak sabar melihat ketidaktegasan pemerintah selama ini,” katanya.

Menurut Yakobus, keberanian politik dibutuhkan demi timbulnya rasa aman bagi segenap lapisan masyarakat. Selama ini masyarakat melakukan sistem pengamanan sendiri karena pemerintah terkesan tidak berdaya menghadapi aksi anarkis mengatasnamakan agama tertentu.

Salah satu keberanian politik yang mesti diambil, katanya, dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) jika diakui payung hukum tentang ormas yang berlaku sekarang tidak tidak relevan lagi.

Ditolak Warga Kwitang

Sementara itu, puluhan anggota FPI dan Laskar Pembela Islam (LPI), Jumat (17/2) siang, mendatangi Kantor Perwakilan Pemerintahan Provinsi Kalimantang Tengah (Kalteng), di Jalan Kembang 1 Nomor 1, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Mereka datang dengan berkonvoi.

Namun, mereka diadang sejumlah warga Kwitang yang menolak kedatangan tersebut. Hanya lima perwakilan saja yang diizinkan polisi mendatangi Kantor Perwakilan Pemerintahan Provinsi Kalteng, di antaranya pemimpin FPI Jakarta Habib Salim Al Atas alias Habib Selon, M Subhan, dan Supriyadi.

Dalam pertemuan di pelataran Kantor Perwakilan Pemprov Kalteng, mereka menandatangani sebuah surat perjanjian soal kekecawaan FPI terhadap ditolaknya mereka di Kalteng.

Sejumlah warga yang sebagian besar terdiri atas ibu-ibu dan anak-anak ini menggelar demonstrasi kecil di samping Toko Buku Gunung Agung, Kwitang. Mereka membawa karton bertuliskan, “Kami Cinta Damai” dan “Tolong…tolong…tolong…lami warga Kwitang rindu kedamaian, jangan diprovokasi”.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution di Jakarta, Jumat siang, mengungkapkan, hingga tahun lalu tercatat ada 34 kasus kekerasan yang melibatkan FPI.

Terakhir, FPI merusak kantor Kementerian Dalam Negeri. “Yang di data saya ini, satu yang disebut besar ini. Dari FPI, tahun 2010 sebanyak 29 kasus, 2011 sebanyak 5 kasus. Tahun 2011, ada di Jawa Barat, Banten, Jateng, Sumut dan Sumsel,” ungkapnya.

Ia menambahkan, menurut Undang-Undang Organisasi Massa (Ormas), ormas pengganggu keamanan dan ketertiban umum dapat dibekukan serta dibubarkan, dan kewenangan tersebut ada di Kementerian Dalam Negeri. (Ant)

 

Istiqlal, Simbol Toleransi Beragama

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/istiqlal-simbol-toleransi-beragama/

18.02.2012 11:52

Istiqlal, Simbol Toleransi Beragama

Penulis : Saiful Rizal

(foto:dok/SH)

Tidak afdol agaknya jika umat muslim datang ke Jakarta tetapi tidak menyempatkan diri salat di Masjid Istiqlal. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan sekolah banyak warga di luar Jakarta menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Namun di balik kemegahan measjid ini, terbesit simbol kerukunan antarumat beraga di negeri ini. Masjid Istiqlal letaknya berhadapan dengan Gereja Katedral; hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya tidak sampai 100 meter.

Bahkan, berdirinya Masjid Istiqlal memiliki sejarah tersendiri tentang bukti nyata kerukunan umat beragama. Frederich Silaban, arsitek yang membuat desain Masjid Istiqlal ternyata beragama Kristen kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912.

Ia adalah anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Frederich adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950. Selain membuat desain Masjid Istiqlal ia juga merancang kompleks Gelanggang Olahraga Senayan.

Ide untuk mendirikan Masjid Istiqlal bermula pada 1953 dari beberapa ulama. Mereka mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai H Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.

Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan MH Thamrin yang pada saat itu di sekitarnya banyak dikelilingi kampung. Selain itu, ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.

Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda karena di seberangnya telah berdiri Gereja Katedral untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Setahun sebelumnya, Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid.

Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada 1955, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur Masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 75.000 serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara tersebut.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya dewan juri memutuskan lima peserta sebagai pemenangnya. Mereka adalah Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.

Obama Mampir

Frederich Silaban, arsitek yang ditetapkan sebagai pemenang oleh dewan juri untuk membangun masjid di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare itu adalah seseorang yang beragama Kristen Protestan.

Guna menyempurnakan rancangan Masjid Istiqlal tersebut, Frederich Silaban mempelajari tata cara dan aturan orang muslim melaksanakan salat dan berdoa selama kurang lebih tiga bulan.

Selain itu, ia juga mempelajari banyak pustaka mengenai masjid-masjid di dunia. Akhirnya setelah 17 tahun masa pembangunan masjid tersebut, pada 22 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan masjid terbesar se-Asia Tenggara ini.

Sejak diresmikan, dua tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Tidak hanya sebuah simbol, nilai toleransi dua tempat ibadah beda agama itu mewujudkan nyata dalam praktik dan saling menopang kegiatan keagamaan masing-masing.

Salah satunya, bila ada kegiatan di salah satu tempat ibadah, mereka biasa berbagi tempat parkir. Selain itu, meskipun di waktu yang bersamaan sedang dilaksanakan kegiatan keagamaan, antartempat ibadah itu tidak saling mengganggu dan terganggu.

Selain selalu ramai dikunjungi umatnya masing-masing, Presiden negara-negara sahabat juga pernah menyempatkan waktu singgah untuk melihat langsung simbol kerukunan beragama di Indonesia.

Bahkan, dalam rangkaian kunjungan ke Indonesia, pada Oktober 2011, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Masjid Istiqlal. Dia tidak berpidato di sana, tapi melihat-lihat masjid terbesar di Asia Tenggara ini.

Dalam kunjungan singkat itu Obama diajak melihat beduk raksasa berukuran 1,5 x 2 meter dipandu oleh imam besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustofa Ya`qub. Presiden Obama dan Ibu Negara berada di Masjid Istiqlal kurang lebih 30 menit.

Bila presiden negara tetangga saja mengagumi tingginya toleransi beragama di Indonesia, mengapa kita harus merusaknya dan selalu berupaya mendominasi kelompok lain.

Dukungan terhadap Front Pembela Islam

 
Dukungan terhadap Front Pembela Islam

chodjim <chodjima@gmail.com>,in: wanita-muslimah@yahoogroups.com , Sunday, 19 February 2012, 8:42

 

 

Sebagai tambahan, Mas Mu’iz.

 

Berbagai kekisruhan, kekacauan, dan aneka konflik di republik ini menunjukkan bahwa “pembangunan karakter bangsa” telah gagal. Tentu, kegagalan ini bukanlah semata-mata kelemahan para bapak bangsa (founding fathers), tetapi juga disebabkan kuatnya intervensi asing terhadap NKRI yang baru berdiri waktu itu.

 

Sebenarnya dengan jenius Bung Karno menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika I, di Bandung (sebagai cikal bakal GNB) pada 1955. Hubungan Indonesia – Amerika hingga awal tahun 1960-an masih baik. Namun, gejala keretakan hubungan dengan AS mulai muncul, setelah diketahui bahwa pemberontakan PRRI/Permesta dan DI/TII mendapat dukungan AS.

 

Dukungan BK untuk kemerdekaan negara-negara di Afrika membuat gerah Amerika Serikat. Dan, oleh karena BK mampu membangun persatuan negara-negara yang baru merdeka (NEFOs) dan Indonesia keluar dari Olimpiade serta membuat tandingannya, Ganefo yang pertama kali diselenggarakan di Jakarta pada 1963, maka Amerika semakin gerah terhadap Indonesia.

 

Setelah AS mampu menemukan anak emas dari Indonesia, maka akhirnya dibuatlah sebuah skenario untuk menjatuhkan BK. Kemudian, anak emas itupun dijatuhkan pada 1998 ketika dia mulai membandel. Untuk memperbaiki citra AS di luar negeri, AS mendorong anak bawang untuk melepaskan Timor Timur. Sekarang, AS menggiring presiden RI pilihan rakyat untuk melepaskan Papua.

 

Nah, untuk mematangkan penggiringan dan penggorengan pihak imperialis, yang gampang dijadikan permainan adalah golongan AGAMA. Oleh karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, maka pemeluk Islamlah yang diadu-domba. Dan, karena pendidikan orang-orang Islam pada umumnya masih rendah, maka golongan-golongan dalam Islam mudah sekali tersulut dan terbakar.

 

Wassalam,

 

chodjim

 

Mu iz, Abdul,in: wanita-muslimah@yahoogroups.com, Sunday, February 19, 2012 2:46 AM

Hidup ini memang memilih, Indonesia bebas dari kemaksiatan, korupsi, pelacuran, mafia politik, mafia ekonomi, mafia hukum, dekadensi moral dan penjajahan (exploitasi) bangsa sendiri adalah dambaan setiap manusia, kelompok, dan bangsa.

Bagaimana meraih dambaan (baik, mulia dan sesuai keinginan dan kebutuhan) harkat dan martabat manusia ? Cara keras, lembut, sejuk, menipu, jujur ?

Berbagai Organisasi (ormas, orpol, bisnis), pemikiran dan gerakan bermunculan di muka bumi Indonesia seperti : parpol (aliran atau berbasis agama, nasional, sekuler dsb), ormas agama (NU, Muhammadiyah, MUI, Mawi, Walubi, FPI, MMI, dsb), bisnis (pemerintah dan swasta) pemikiran (Liberalism, Freemason, sekularism, Puritanism, sufistism kapitalism, sosialism dsb) semuanya berlomba-lomba untuk exist kadang saling sikut, saling klaim, merasa paling benar bak jual kecap, ada yang ingin memaksakan kehendak, ada yang taktis (berselingkuh dengan penguasa), dsb.

So what ?

Wassalam
Abdul Mu’iz

SBY yang Kesepian

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/02/18/36112/sby_yang_kesepian/#.T0Cn2dnFmSo

Opini – Sabtu, 18 Feb 2012 00:31 WIB
Oleh : Arfanda Siregar.

Popularitas Partai Demokrat kian tergerus dan berada di tititk terendah pascapemilu 2009. Sangkin rendahnya hingga membuat Presiden SBY yang merupakan Ketua Dewan Pembina Demokrat angkat bicara kehadapan publik atas berbagai kisruh yang mencoreng wajah partai belakangan ini.

Dari kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, SBY mengakui, kasus dugaan korupsi yang menjerat sejumlah kader Demokrat sebagai penyebab menurunnya dukungan pubik terhadap Partai Demokrat. Sesuai dengan kode etik partai, beliau akan memecat seluruh kader Demokrat yang terbukti melakukan korupsi.

Sayang SBY tidak menyadari kisruh Demokrat justru berpangkal dari penghambaan seluruh kader kepada dirinya. Bukan karena persoalan korupsi yang membuat Demokrat menjadi kisruh. Justru kultus individu kader Demokrat kepadanya membuat partai itu tak memiliki kader solid dan militan. Ketika badai melanda partai pemenang pemilu itu, semua kader tiarap, saling lempar tanggung jawab, tak mau berkorban demi kejayaan partai, dan ujungnya menyerahkan penyelesaian masalah kepada presiden.

Semua Partai Korupsi

Semoga SBY tidak menutup mata, bukan hanya kader Demokrat yang pernah menjadi tersangka kasus korupsi. Di negara yang menempatkan DPR sebagai lembaga terkorup hampir semua kader dari partai politik pernah menjadi pesakitan di depan KPK. Saat ini saja sederet nama kader partai, seperti Pazkah Suzeta dari Gokar, Panda Nababan dari PDIP, Wa Ode Ahmad dari PAN, Nunun Nurbaeti dari Golkar, dan sederet kader partai lain juga tersangkut perkara korupsi.

Bahkan, Partai Golkar pernah memiliki masalah yang tak kalah pedas. Buloggate II di masa Akbar Tanjung, yang saat itu, menjabat Ketua DPR dan Ketua Umum Partai Golkar. Akbar diduga menyelewengkan dana non-bujeter Bulog sebanyak Rp40 milyar. Bahkan, dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan berjamaah itu, diterima oleh sejumlah petinggi partai Golkar. Kasus lainnya, Century-gate, yang mencuatkan nama Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar yang diduga terlibat pidana pajak.

Namun, kader dari partai lain tahu diri dengan tidak memerkeruh suasana partai. Tak satu pun dari mereka “bernyanyi” seperti Nazaruddin yang berprinsip tiji-tibeh. Kader partai lain mengunci mulut dan menutup telinga demi menjaga eksitensi partai ke depan. Makanya, meski nama-nama petinggi partai Golkar, PDIP, PAN,PPP, dan partai lain menjadi tawanan KPK, mereka sama sekali tidak melebarkan masalah dengan mengkaitkan petinggi partainya ke lingkar masalah.

Padahal dengan logika sederhana pun dapat ditebak bahwa salah satu motivasi memainkan anggaran adalah pembiayaan partai. Bagaimanapun, partai-partai di Indonesia belum mempunyai sumber keuangan yang jelas untuk membiayai operasional partai, terutama pada masa Pemilu dan Pilpres sehingga memanfaatkan celah anggaran negara.

Rekrutmen Kader

Sebagai pendiri Partai Demokrat, SBY seharusnya menyadari betapa rapuh kualitas kader yang direkrut tanpa melalui proses kaderisasi. Orang seperti Nazaruddin yang tidak berkeringat membangun partai sedari awal dengan mudah menduduki jabatan teras partai. Apalagi sebelum menjadi pengurus Demokrat, dia merupakan caleg dari PPP. Bagaimana mungkin kader kutu loncat seperti Nazar rela menanggung risiko ketika partai dalam prahara. Wajar, kader seperti Nazaruddin tidak mempunyai militansi: tak mau legowo menanggung sendiri “kecelakaan” yang menimpanya, cenderung “lepas kontrol”, mengutamakan keselamatan pribadi, berusaha menyeret kader lain, dan tak peduli masa depan partai.

Padahal ukuran kebesaran sebuah partai adalah militansi dan loyalitas kader. Ketahanan Partai Komunis China (PKC) sehingga dapat bertahan hingga sekarang karena loyalitas kadernya. Beberapa kali kader PKC yang terlibat korupsi maju sendiri tanpa melibatkan petinggi partai lain ke ruangan hukum mati. Kader PKC terkenal militan dalam melindungi kepentingan partai.

Memang idealnya, berpolitik harus secara sehat dan berdedikasi bagi kesejahteraan rakyat. Namun jika di perjalanan terdapat peristiwa berbahaya yang mengancam eksitensi partai, maka kader partai harus lebih mengutamakan keselamatan partai ketimbang diri pribadi. Meskipun, harus berkorban dan dikorbankan, kader harus legowo menerima.

Sekarang SBY kena batunya. Bagaimana tidak, mantan Bendahara Demokrat yang menjadi tersangka korupsi Wisma Atlit tidak terima kalau hanya dia sendiri menjadi tumbal kasus tersebut. Nazaruddin menyeret-nyeret nama petinggi Partai Demokrat lain. Ia menyebut Anas sebagai bos besar, Angelina sebagai pemain utama, Edhie Baskoro alias Ibas ikut terlibat. Dia juga menyebut Choel (Zulkarnain) Mallarangeng sebagai orang yang mengatur tender proyek atas sepengetahuan kakaknya, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng. Bahkan, nama SBY pun juga diseret-seret juga.

Parahnya lagi di internal partai juga terjadi faksi-faksi yang memerkeruh soliditas partai. Di satu sisi ada kelompok yang mencoba menggoyang kepemimpian Anas, sementara faksi lain menjadi pembela setia kepemimpinan Demokrat. Itulah tipikal partai tanpa kaderisasi, bukannya menyelamatkan marwah partai, malah sibuk memperebutkan jabatan ketua umum yang masih resmi dipegang Anas.

Sekarang SBY baru merasakan betapa berat membangun partai yang hanya mengandalkan dirinya sebagai daya tarik (interest power) konstituen. Wajah beliau yang tegang ketika membacakan sikap atas kisruh di Demokrat menyiratkan betapa terganggunya konsentrasi beliau sebagai presiden. SBY seolah-olah melupakan bahwa statusnya sekarang adalah Presiden RI. Beliau digaji dan diberi fasilitas rakyat bukan sebagai petinggi partai, namun sebagai kepala negara.

Kasus Wisma Atlit ini seharusnya memberi pelajaran kepada SBY bahwa kebesaran Demokrat hanya semu. Dari sekian banyak kader Demokrat, ternyata tak satupun mampu menyelesaikan persoalan yang melanda partainya. Semua hanya mengambil manfaat dari popularitas sang presiden. Ketika partai dalam keadaan limbung, tak ada kader rela pasang badan demi memertahankan kejayaan partai. Dan demi kejayaan partai, lagi-lagi SBY yang harus berkorban dengan menjatuhkan diri dihadapan rakyat yang memilihnya sebagai presiden.

Dengan kondisi Demokrat seperti sekarang, SBY sesungguhnya kesepian. Dia tak punya kader yang mampu menjalankan operasional partai. SBY telah disiksa oleh wajah manis para kader Demokrat yang hanya menumpang popularitas dirinya demi keuntungan pribadi. Di tengah kebesaran Partai Demokrat sekarang, sesungguhnya SBY tak punya teman, apalagi kader yang loyal dan militan!***

Penulis adalah Pengamat Politik dari Politeknik Negeri Medan

FPI korban pengalihan isu korupsi yang saat ini mendera kader-kader Partai Demokrat

FPI korban pengalihan isu korupsi yang saat ini mendera kader-kader Partai

Demokrat

 

 

ttp://www.fajar.co.id/read-20120217111118-fpi-merasa-jadi-korban-pengalihan-isu-partai-demokrat
 
JAKARTA – Front Pembela Islam (FPI) menuding maraknya aksi menuntut pembubaran ormas pimpinan Habib Rizieq itu sebagai bagian dari upaya pengalihan isu korupsi yang saat ini mendera kader-kader Partai Demokrat. Juru Bicara FPI, Munarman, menyatakan bahwa pengailhan isu itu sengaja dilakukan karena selama ini FPI getol meminta KPK menyeret kader-kader PD yang terlibat kasus korupsi.
“Saya tahu kok, kan ada salah satu fungsionaris DPP Partai Demokrat yang kemarin ikut demo di Bundaran HI. Namanya Ulil Abshar Abdalla,” kata Munarman dalam talk show bertema “Manfaat dan Mudharat Ormas” di pressroom DPD RI, Jumat (17/2).
Munarman pun menyodorkan analisa tentang pengalihan isu dari kasus korupsi kader-kader PD, menjadi isu pemubaran FPI. Salah satunya, karena FPI pula yang berani menggelar aksi di depan rumah Ketua Umum PD, Anas Urbaningrum.
“Kami yang demo di depan rumah Ketua Umum Demokrat. Jadi ini pengalihan isu saja,” katanya.
Lebih lanjut Munarman juga menuding Demokrat sengaja menyaru dengan para pendukung maksiat saat aksi di Bundaran HI, selasa lalu. “Yang demo itu banci, homo, lesbi, plus pendukung koruptor. Jadi sekarang musuh FPI tambah lagi, koruptor,” ucapnya.(jpnn)

Manajemen Konflik di PD Buruk, Pertarungan Sulit Dikendalikan

Manajemen Konflik di PD Buruk, Pertarungan Sulit Dikendalikan
 
JAKARTA–Angelina Sondakh yang dipingpong dari satu ke komisi lainnya menunjukkan friksi di tubuh Partai Demokrat semakin liar. Friksi dan pertarungan antarfraksi di parpol ini semakin kuat dan tak bisa dikendalikan.
 
Hal ini juga membuktikan manajemen konflik internal di partai berkuasa itu tidak berjalan baik. Seperti diketahui, sejak ditetapkan sebagai tersangka, Fraksi Demokrat tiba-tiba memindah Angie dari komisi X yang membidangi pendidikan dan olahraga ke komisi III yang membidangi hukum. Karuan saja pemindahan tersebut mengundang protes publik.
 
Sebagai tersangka, tentu sangat aneh jika Angie harus bertugas mengawasi para penegak hukum, khususnya KPK yang menetapkan mantan Putri Indonesia tersebut sebagai tersangka. Tentu saja keputusan tersebut membuat ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono berang.
 
Dia lalu meminta fraksinya di DPR agar bisa bekerja lebih cerdas.Jangan melakukan kesalahan yang tak perlu sehingga merugikan partai. Apalagi sampai mengulang tindakan tersebut. ”Dewan pembina hanya berharap fraksi bertindak cerdas. Jangan sampai melakukan fool’s boy mistake, kesalahan yang tak perlu terjadi, karena hanya akan merugikan partai,” kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman di Kompleks DPR, (17/02).
 
Hayono mengatakan, rotasi kader di parlemen memang kewenangan fraksi. Namun, kata anggota Komisi I itu, fraksi harus memperhatikan situasi partai yang tengah mengalami penurunan dukungan publik. ”Sebagai pembina, saya berharap DPP dan fraksi mencermati arahan SBY. Sudah jelas beliau bilang di tengah situasi dukungan publik yang menurun, kader diminta bekerja lebih cermat, cerdas dalam mengambil keputusan. Karena itu, penempatan Angie langkah yang tidak cerdas dan perlu ditempatkan di komisi lain,” ucapnya.
 
Setelah memimpong, Fraksi Partai Demokrat akhirnya mengembalikan Angelina Sondakh ke habitatnya di Komisi X DPR setelah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY turun tangan. “Kami patuh terhadap arahan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan mendengar masukan dari publik, sehingga memutuskan mengembalikan Angelina ke Komisi X,” kata Ketua Fraksi Partai Demokrat, Mohammad Jafar Hafsah di Kompleks Parlemen, Jakarta, kemarin.
 
Ditegaskannya, keputusan Demokrat merotasi anggota di komisi dan alat kelengkapan dewan dengan pertimbangan untuk melakukan penyegaran dalam melaksanakan tugas, bukan dengan maksud tertentu untuk tidak mematuhi hukum. Pimpinan Fraksi Demokrat DPR, menurut dia, merotasi 17 anggotanya baik di komisi-komisi maupun di alat kelengkapan dewan, salah satunya adalah Angelina, dari Komisi X ke Komisi III. “Angelina Sondakh dipindahkan ke Komisi III agar lebih segar menjalankan tugas resminya bersama mitra komisi,” katanya.
 
Namun publik, kata dia, menafsirkan pemindahan itu kurang tepat, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah diberi arahan SBY, Fraksi Demokrat akhirnya memutuskan mengembalikan Angelina ke Komisi X. Jafar menjelaskan, semula Angie dipindahkan ke Komisi III untuk menggantikan Muhammad Nasir yang dirotasi ke Komisi XI. Karena Angie dikembalikan ke Komisi X, kata dia, maka posisi kursi di Komisi III diisi oleh Khotibul Umam Wiranu. Sementara itu, anggota Komisi III DPR, Nudirman Munir mendesak pimpinan KPK, agar memeriksa penyidiknya yang diduga ‘menghilangkan’ Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pembicaraan BBM Angelina Sondakh dengan Mindo Rosalia Manulang.
 
”Langkah itu penting dilakukan pimpinan KPK karena menyangkut nama baik KPK sendiri. Sebab hilangnya hasil penyidikan tentang percakapan keduanya yang terungkap di persidangan harus diusut, karena bisa saja hal itu disengaja,” kata Nudirman seusai diskusi di DPR, kemarin, (17/02). Politisi Golkar itu mengingatkan, boleh saja Angie melakukan pengingkaran di persidangan. Tetapi kalau melakukan kebohongan dan itu terbukti, maka hukumannya berat.
 
”Kalau terbukti dia berbohong, hukumannya berat loh, jadi jangan main-main dalam persidangan sebab hukuman bagi saksi yang berbohong itu berat,” kata Nudirman. Anggota Komisi Hukum DPR yang lain, Bambang Soesatyo juga mendesak pimpinan KPK berbenah diri. Kasus BAP hilang yang terungkap di persidangan Tipikor, harus menjadi pelajaran agar ke depan tidak terulang kembali.
 
”Tidak ada salahnya Pimpinan KPK segera lakukan evaluasi dan bersih-bersih dalam bentuk rotasi khususnya di bidang penyidikan. KPK memang harus lakukan audit kinerja penyidik KPK. Semua ini demi kebaikan KPK,” ujarnya. Menurut Bambang, kasus hilangnya BAP sangat memalukan KPK. Karena sekarang ini wibawanya berangsur-angsur pulih setelah gebrakan Abraham Samad yang berani mengungkap kasus-kasus besar yang bersinggungan dengan kekuasaan. ”Saya setuju bila Komite Etik KPK turun tangan untuk mengusut tuntas kasus hilangnya BAP yang berisi pembicaraan antara Engelina dan Rosa Manulang yang terungkap di persidangan kemarin,” kata Bambang.
 
Seperti diberitakan, dalam persidangan, kemarin, Angelina berkali-kali tidak mengaku memiliki BB pada 2009, padahal ada fotonya beredar di sebuah media online. Nazaruddin menunjukkan bukti foto itu -dari berita salah satu media online yang berjudul ‘Dipotret 2009, Angie Sudah Bawa BlackBerry-‘ kepada majelis hakim. Saat ditanya, apakah berbelit-belitnya Angelina Sondakh saat memberikan kesaksian di pengadilan Tipikor 2 hari lalu dalam rangka memproteksi sejumlah petinggi Demokrat agar mereka tidak terseret kasus Wisma Atlet, Ketua Fraksi Demokrat, M. Jafar Hafsah mengelak.
 
“Itu harus ditanyakan kepada yang bersangkutan karena klarifikasi yang dia sampaikan sudah terproses, jangan kepada saya. Kok pertanyaannya seperti jaksa, kalau saya jawab nanti jadi polemik. Saya tak mau berkomentar soal kesaksian Angelina, saya serahkan sepenuhnya pada proses hukum yang berjalan di KPK,” katanya. (dms)
 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers