Archive for the ‘esai’ Category

Ada Kekuatan Politik Besar yang Akan Runtuh di Tahun Naga Air

http://www.suarapembaruan.com/home/ada-kekuatan-politik-besar-yang-akan-runtuh-di-tahun-naga-air/16291#Scene_1

Ada Kekuatan Politik Besar yang Akan Runtuh di Tahun Naga

Air
Sabtu, 21 Januari 2012 | 8:39

Suhu Hengky [SP/Sahat Oloan Saragih] Suhu Hengky [SP/Sahat Oloan Saragih]

 

[PONTIANAK]  Tahun 2012 -menurut penanggalan Tionghoa adalah tahun Naga air, yaitu naga melambangkan kekuasaan dan kekuatan. Akan tetapi naga juga merupakan salah satu hewan yang kuat dan indentik dengan amarah yang dapat menyemburkan api dari mulutnya. Kondisi ini mengharuskan kita untuk Inilah yang menjadikan kita untuk berhati-hati ditahun naga 2012 ini.

Hal itu dikatakan Suhu Hengky kepada SP baru-baru ini  tentang ramalan tahun 2012 yang merupakan tahun “naga Air”. Ia mengatakan,  “tahun naga air “ ini akan dimulai pada 4 Februari dan ramalan ini akan mulai berlaku sejak 4 Ferbruari.

Dimana pada tahun ini akan banyak kejadian. Dalam bidang politik katanya, akan terjadi pergolakan politik, salah satunya kekuatan yang selama ini menjadi kekuatan besar akan runtuh. Artinya   tidak ada satu kekuatan yang kuat  selama ini ada kekuatan yang dianggap kuat tetapi pamor nya sudah runtuh dan tidak kuat lagi.

Selanjutnya bencana akan banyak terjadi di wilayah Indonesia seperti gunung berapi karena aka nada semburan api dari naga.. Untuk itu, mari di tahun naga 2012 ini kita saling menjaga emosi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ramalan bencana alam tahun 2012 adalah akan banyaknya gunung merapi yang meletus sebagai simbol semburan api di mulut naga.   Kita semua diminta untuk mengendalikan emosi agar tidak terjadi konflik yang merugikan diri sendiri. Jangan melakukan spekulasi dengan utang, piutang dan urusan penting lainnya karena bisa menimbulkan suatu masalah sebab tahun ini banyak kejadian yang tak terduga yang datang secara tiba-tiba, paling baik jaga diri dengan berpikiran jernih.

Tahun naga ini dimulai pada tanggal 4 Februari, kita semua akan memasuki babak baru yaitu Tahun Naga Air ( Ren Chen ). Bagi sebagaian orang, tahun ini punya makna mendalam karena karakter naga selalu dilambangkan sebagai sosok kuat dan perkasa.

Bagimana ramalan tentang tahun naga air 2012. Banyak yang mengira tahun Naga Air dimulai pada 23 Januari 2012 bersamaan dengan Tahun Baru Imlek. Bersadarkan perhitungan ilmu feng sui, tahun Naga Air akan dimulai pada 4 Februari 2012 pukul 18.18 WIB.

Tahun naga kali ini disebut tahun Naga Air karena batang langit berunsur air positif  (Ren) dan cabang bumi berunsur tanah positif ( Chen ). Karena tanah membentung air sehingga tahun ini memberikan gambaran  adanya ketidakharmonisan  dalam kehidupan di bumi.

Musibah di tahun Naga Air cukup mengancam. Karena Chen (Naga) juga melambangkan gudang air. Musibah lebih bersifat alamiah seperti gempa, banjir, badai. Suhu Hengky menjelaskan bahwa terdapat 5 unsur yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, yaitu  air, kayu, emas, api, tanah. Semua unsur masih dibagi menjadi 6 jenis dan memiliki keunggulan masing-masing.

Seperti Unsur AIR, air mengalir, mata air, air jurang,  air laut,  air sungai air kayangan. Selanjutnya Unsur KAYU yaitu kayu pohon beringin kayu pohon liu, kayu hutan kayu pohon delima kayu pohon sensui, kayu tanah datar.   Unsur emas, yaittu emas lilin putih , emas diujung pedang, emas di laut, emas konde, emas putih, emas dalam pasir, unsur api, yaitu api atas gunung , api dalam tanggul, api langit, api kayangan, api bawah gunung. Unsur tanah  yaitu tanah diatas atap, tanah diatas benteng, tanah dipinggir jalan, tanah dalam pasir,  tanah lapang tanah dinding  [146]


Arti Tahun Naga: Ledakan Bayi Cina di Penjuru Asia

RepublikaRepublika –  Jum, 20 Jan 2012

  • Naga, satu-satunya makhluk mitos dalam 12 zodiak Cina

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG – Tahun Naga adalah tahun favorit bagi keluarga Cina untuk mendapat keturunan. Seperti pula, Alicia Loo, warga Singapura yang mengaku hamil 12 tahun, keluarga suaminya begitu gembira karena si bayi diperhitungkan bakal lahir di tahun naga.

Hampir setiap keluarga Cina di penjuru dunia meyakini itu adalah berkah besar. Naga, satu-satunya makhluk mitos dalam 12 hewan di zodiak Cina dipandang sebagai simbol kekuatan dan kecerdasan. Dalam budaya Cina kuno, dragon selalu diasosiasikan dengan kaisar.

Bocah yang lahir di tahun naga, khusunya laki-laki disebut ditakdirkan menjadi sukses dan sejahtera. Tahun naga berikut akan dimulai pada 23 Januari, hari pertama Kalender Cina.

Banyak bayi-bayi ‘naga’ dijadwalkan akan hadir ke dunia. Pada tahun naga sebelumnya, Cina, Hongkong, Taiwan dan negara-negara seperti Singapura dengan diaspora Cina kuat mengalami ledakan angka kelahiran bayi. Pada 2000, di Hongkong terjadi peningkatan angka kelahiran hingga 25 persen ketimbang tahun-tahun lain, demikian menurut data statistik pemerintah.

Bulan lalu, kantor berita Cina, Xinhua melaporkan Cina tengah mengantisipasi 5 % pertambahan kelahiran bayi pada tahun ini. Bukan hanya pemerintah, para produsen dan perusahaan pembuat produk-produk bayi mulai menawarkan layanan prakelahiran dan perawatan bayi yang dipandang sebagai prospek bisnis cerah.

Berdasar laporan Bloomberg yang mengutip Euromonitor International, diperkirakan penjualan popok di Cina akan meningkat hingga 17 persen menjadi 28,4 milyar yuan atau setara Rp40 triliun. Untuk sekedar popok bayi angka itu tentu sulit dibilang sedikit.

Ongkos popok bukanlah satu-satunya kecemasan yang musti dihadapi para orang tua bayi naga. “Itu bakal berpengaruh pula ketika mereka beranjak dewasa, saat sekolah, hingga di pasar tenaga kerja. Banyak orang berarti kompetisi kian sengit,” ujar guru besar dari Departemen Sosiologi, Tong Yuying di Universitas Hongkong.

Sekolah bisa jadi menambah kapasitas mereka. Namun tetap saja itu berarti lebih banyak anak harus bertempur di ujian nasional untuk memasuki sekolah-sekolah terbaik.

New Year: (New) Hope for fighting corruption

http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/12/new-year-new-hope-fighting-corruption.html

 

New Year: (New) Hope for fighting corruption

Aknolt Kristian Pakpahan and Albert Triwibowo, Dortmund, Germany | Thu, 01/12/2012 9:02 AM

A | A | A |

 

One of the most crucial issues to be solved by the government of Indonesia is the problem of corruption.

 

Corruption in Indonesia has reached an alarming stage due to its massive scope and intensity. Examples of law enforcement officers implicated in corruption include former prosecutor Urip Tri Gunawan of the Attorney General’s Office (AGO), former Tangerang District Court judge Muhtadi Asnun, Jakarta Administrative High Court judge Ibrahim and an ad hoc judge at the Bandung Industrial Relations Court, Imas Dianasari.

 

The Corruption Perception Index released by Transparency International Indonesia ranked Indonesia near the bottom, with a score of 3.0 in 2011.

 

Vinay Bhargava and Emil Bolongaita stated that corruption can create problems in a development context. It can worsen income inequality and poverty, reduce investment rates and lower economic growth. Corruption leads to the loss of state revenue to improve public facilities and infrastructure such as roads, bridges, healthcare facilities and schools. The lack of basic infrastructure continues to create an economic gap between urban and rural areas as well as poverty in the rural areas.

 

Further, corruption also makes the economic and business climate (investment) less than attractive. The amount of “unexpected expenses” due to bribes for government officials leads to inefficiencies within a company. It is also believed that corruption will kill the interest and desire of individuals to become entrepreneurs or to start businesses.

 

This is certainly a bad precedent for countries such as Indonesia, whose economy is largely dependent on workers in the informal sector and small and medium businesses. A loss of interest in becoming entrepreneurs will limit job opportunities for unskilled workers.

 

Combating corruption is not an easy thing to do. There are problems that continue to impede the eradication of corruption. First is the problem of human resources. Referring to the Law on the Corruption Court, judges who are assigned to the Corruption Court are from state courts or appointed ad hoc. In that sense, the Corruption Court does not have judges specializing in corruption.

 

Second is the overlapping authority among government agencies. Three agencies are authorized to handle cases of corruption, namely the AGO, the National Police and the Corruption Eradication Commission (KPK).

 

Third is the absence of deterrents. Under government regulation No. 28/2006 on the rights of prisoners, perpetrators of corruption are entitled to sentence remissions, assimilation and parole.

 

We have to keep our spirits up in combating corruption. Strong political will from the government might be a starting point to minimize corruption in the country and could create a conducive atmosphere for the fight against corruption. Leaders have to show their vision and set themselves as role models. They must sincerely commit themselves to eradication of corruption through exemplary conduct and modest lifestyles.

 

Setting an exemplary example could be started by signing an integrity pact and showing it to the public. A leader must give an example to the public of how to live modestly. It must be remembered that salaries of civil servants have been set by legislation. So if their leaders’ lifestyles are beyond the limit of reasonableness, this will certainly provoke suspicion from the public.

 

Serious commitment to combating corruption can be shown by creating a legal system and environment that are inimical to corruption, including human resources (in the legal system) that cannot be bribed. This can be done by imposing severe prison sentences — 20-year sentences for example — for corrupters without the possibility of remission, leave or parole.

 

Another solution is to establish a one-roof system so as to avoid overlap between the three institutions in charge of eradicating corruption in Indonesia. Such overlapping authority makes anticorruption measures less than optimal. A one-roof system will promote efficiency in terms of finances as well as human resources.

 

Furthermore, there is a need to promote anticorruption campaigns at educational institutions throughout Indonesia. Such campaigns for example, should start at the elementary school level. The main purpose is to give an understanding that corruption is an extraordinary crime.

 

Corruption has caused serious damage to the society, the nation and the country. It therefore requires extraordinary treatment to combat such acute social illness, involving all elements of the nation.

 

Aknolt K. Pakpahan is a Japan-Indonesia Presidential Scholarship recipient at TU Dortmund, Germany, and a lecturer at Parahyangan Catholic University. Albert Triwibowo is a graduate student at Duisburg University, Germany.

Kuat Ekonomi, Kuat Militer

 

 

http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/kuat-ekonomi-kuat-militer/16218#Scene_1
Kuat Ekonomi, Kuat Militer
Kamis, 19 Januari 2012 | 11:49

Kuat secara ekonomi saja tidak cukup bagi sebuah negara berdaulat. Makmur saja belum cukup bagi suatu bangsa  bila tidak disertai rasa aman. Tanpa diimbangi kekuatan militer,  negara takkan mampu menjaga tanah tumpah darah dan melindungi segenap bangsanya. Itu sebabnya, negara-negara maju membangun kekuatan militernya lewat pengembangan industri dalam negeri. Pembangunan ekonomi dan peningkatan kekuatan militer berjalan seiring.

Kesadaran inilah yang mendorong pemerintah mengalokasikan dana Rp 150 triliun selama lima tahun, 2009-2014, untuk memperkuat persenjataan Indonesia, di antaranya Rp 50 triliun untuk pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) di dalam negeri. Jauh sebelum Jokowi -Joko Widodo, Wali Kota Solo- mempromosikan mobil Esemka, Kementerian Pertahanan sudah menetapkan kebijakan untuk meningkatkan kekuatan militer Indonesia lewat pengadaan alutsista di dalam negeri.

Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk nomor empat di dunia-setelah RRT, India, dan AS-, sewajarnya Indonesia mampu memproduksi sendiri senjata. Mengandalkan senjata impor hanya memposisikan Indonesia sebagai ayam sayur. Negara eksportir senjata dengan mudah mematahkan kekuatan Indonesia lewat embargo. Menghentikan pengiriman suku cadang dan bantuan perawatan saja, Indonesia sudah pasti kewalahan. Memiliki industri alutsista dan keahlian di bidang industri persenjataan adalah cara terbaik mempertahankan diri dan menjaga kedaulatan bangsa.

Kita memberikan apresiasi kepada kebijakan Kementerian Pertahanan dalam memperkuat pertahanan nasional lewat pengadaan alutsista di dalam negeri dan kerjasama produksi alutsista dengan sejumlah negara. Indonesia kini, antara lain, sedang memproduksi pesawat tempur yang lebih canggih dari F-16 di Korsel. Dengan kepemilikan 20%, pada tahun 2020, RI akan memiliki 50 pesawat tempur canggih. Pada saatnya, pesawat  tempur itu akan diproduksi di Indonesia dan negeri ini akan menjadi eksportir pesawat tempur canggih.

Salah satu komitmen produksi alutsista di dalam negeri ditunjuk Kementerian Pertahanan lewat order Rp 10 triliun kepada PT Dirgantara Indonesia (DI), sebuah BUMN strategis yang sempat berjaya di masa Orde Baru, tapi kemudian nyaris bangkrut karena kekuatannya dipreteli pemerintah atas desakan International Monetary Fund (IMF).  Selain PT DI,  BUMN strategis lainnya-PT Pindad, PT PAL, PT Inka, PT Inti, PT Barata,  PT Dahana, Bhoma Bisma, dan PT  Krakatau Steel-dikerdilkan. Pemerintah menghentikan dukungan pendanaan dan terutama berbagai kebijakan yang mendukung.

Dukungan paling penting terhadap industri nasional selain pendanaan adalah komitmen pemerintah untuk membeli. Jika semua kementerian dan BUMN, pemerintah pusat hingga daerah, memproritaskan produksi dalam negeri setiap pengadaan barang, industri dalam negeri akan bertumbuh pesat.  Jika setiap pemda yang memiliki laut memesan  kapal dari PT PAL, maju pesatlah BUMN itu. Begitu pula dengan PT DI, PT Inka, BUMN strategis lainnya dan perusahaan swasta. Langkah itulah yang dilakukan Korsel dan negara-negara maju saat pertama kali mengembangkan industri mereka.

Langkah konkret telah diambil Jokowi. Wong Solo itu menggantikan Toyota Chamry, mobil dinasnya, dengan  mobil buatan siswa  SMK yang belum lulus uji kelayakan hanya dengan maksud untuk mendorong bangsa ini memiliki mobil nasional (mobnas). Ia  memasang nomor AD-1, plat resmi Wali Kota Solo pada mobil Esemka sebagai  wujud protes terhadap pemerintah dan elite bisnis yang terlalu berorientasi asing dan cenderung menyepelekan kemampuan bangsa. Dalam benaknya, jika siswa SMK saja bisa membuat mobil, bagaimana mahasiswa dan para ahli dari ITB, ITS, dan berbagai fakultas teknik di Tanah Air? Bagaimana BPPT dan sejumlah industri strategis nasional? Langkah Jokowi bagai bigbang yang meledakkan pengaruh positif ke seluruh penjuru Tanah Air.

Para pejabat, politisi, artis, dan sejumlah komponen masyarakat beramai-ramai memesan mobil Esemka. Jokowi Effect ikut memperkuat semangat pembuatan alutsista di dalam negeri. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyiagakan semua BUMN strategis untuk mendukung produksi  berbagai jenis otomotif dan alutsista. Langkah konkret sudah ditunjukkan Kementerian Pertahanan. Selama ini, diam-diam, sudah banyak alutsista diproduksi di dalam negeri.

PT Pindad, antara lain, sudah memproduksi  pistol, senjata laras panjang, dan panser. Ketiga produk ini pun sudah diekspor setelah terbukti unggul dalam berbagai perlombaan senjata di level Asia. PT PAL memproduksi kapal perang dan kapal selam. Bersama Rusia dan RRT, PT PAL memproduksi kapal perang  berukuran 60 meter untuk mengangkut roket-roket  dengan jangkauan 120 km.  Kementerian Pertahanan sudah mengorder alutsista senilai Rp 10 triliun kepada PT DI. Ditambah kredit dari PT BRI Tbk senilai Rp 1,5 triliun, BUMN yang awalnya bernama PT Nurtanio ini  memproduksi helikopter, pesawat, dan roket.  PT Inka yang pernah memproduksi mobil Gea akan didorong untuk memproduksi mobil di samping gerbong kereta api.

PT DI tidak saja pernah terbukti memproduksi pesawat CN-235 dan CN-250, melainkan juga meluncurkan dua jenis mobil penumpang, Komodo dan Maleo. Baru sedikit pembenahan, kekuatan militer Indonesia sudah membuat negara tetangga gentar. Singapura dan Malaysia adalah dua negara jiran yang sangat khawatir dengan kekuatan militer Indonesia. Mereka tahu persis, personel TNI Indonesia jauh lebih banyak. Jika para prajurit berani mati ini dibekali peralatan canggih, betapa dahsyat kekuatan militer RI.

Dengan membenahi  kekuatan pertahanan, Indonesia memberikan sinyal kepada dunia bahwa negeri ini punya gengsi, bangsa ini punya martabat.  Selain pengadaan alutsista dalam negeri, Indonesia menambah pesawat tempur F-16, kapal perang, tank canggih, dan berbagai jenis alutsista. Peningkatan kekuatan militer Indonesia bukan untuk menakut-nakuti tetangga, melainkan untuk menjaga kepentingan Indonesia dan wilayah Nusantara yang amat luas.

Selama ini, sekitar Rp 150 triliun per tahun kekayaan laut Indonesia dicuri kapal ikan asing yang canggih. Penyelundupan BBM dan berbagai produk lewat laut lepas dan pulau-pulau yang amat banyak  sulit dideteksi akibat minimnya kapal dan pesawat canggih. Kekuatan ekonomi dan militer saling mendukung. Ekonomi yang baik meningkatkan kemampuan Indonesia dalam memperkuat pertahanan, menjaga setiap jengkal wilayah dan melindungi setiap warga negara dari ancaman musuh. Belanja militer akan terus dinaikkan seiring dengan peningkatan kemampuan ekonomi.  Dengan pertahanan yang baik, militer Indonesia bisa menjaga semua kepentingan ekonomi negara. Dengan militer yang kuat, bangsa ini tidak perlu merunduk-runduk pada negara adikuasa dan mengalah dalam setiap perundingan yang merugikan dan membahayakan kepentingan bangsa dan negara.

Bekas Aktivis yang Jadi Politisi Senayan Tak Bisa Mengubah Struktur Orde Baru

Bekas Aktivis yang Jadi Politisi Senayan Tak Bisa Mengubah Struktur Orde Baru
Jum’at, 20 Januari 2012 , 07:40:00 WIB
Laporan: A. Supardi Adiwidjaya
 
RMOL. Sistem  yang dijalankan di Indonesia saat ini adalah sistem kapitalisme neoliberal.

Demikian disampaikan Paul Suryanta Ginting saat berbincang-bincang dengan Rakyat Merdeka Online, di waktu rehat acara pertemuan Tahun Baru 2012 masyarakat Indonesia, yang diselenggarakan Yayasan (Stichting) Persaudaraan di Gedung De Schakel, Diemen, di pinggir kota Amsterdam (Minggu, 15/10).

Paul Suryanta Ginting adalah pria kelahiran Medan pada 1980. Namun Suryana besar di Bandung dan sempat kuliah di Yogyakarta. Suryana sudah menjadi aktivis sejak kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Ia mengambil jurusan teknik geologi dan kemudian bergabung dengan Liga Mahasiswa Nasional  untuk Demokrasi (LMND).

“Setelah itu (tahun 2000) saya bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik. Kemudian sekitar Januari 2004 saya masuk menjadi pimpinan nasional, pimpinan pusat PRD. Dan tahun 2007 kami split (pecah) dalam pimpinan pusat Partai Rakyat Demokratik dalam soal elektoral  pemilu, di mana ketika itu kami membangun Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas),” kata Suryana.

“Pada tanggal 29 Maret 2007 Papernas diserang oleh Front Pembela Islam (FPI), dan itu membuat sebagaian pimpinan nasional PRD berfikir ulang, bahwa kita tidak bisa ikut Pemilu 2009 dan banyak yang memutuskan untuk bergabung dengan Partai Bintang Reformasi,” ujar Suryanta.

Berikut lebih lanjut perbincangan Suryanta Ginting dengan Rakyat Merdeka Online.

Apa sebabnya serangan  FPI terhadap PRD?
FPI menyerang PRD karena ada tuduhan, bahwa kami adalah komunis. Tuduhan itu sudah dilakukan sejak kami melakukan Kongres di Yogya pada Januari 2007. Kongres itu dibubarkan oleh FPI. Sejak itu konferensi-konferensi organisasi juga diserang oleh FPI dan Front anti komunis.

Kesimpulan apa yang bisa diambil dengan terjadinya penyerangan tersebut?
Kesimpulannya, bahwa memang demokrasi di Indonesia masih sangat terbatas. Dan militer berupaya sebesar-besarnya untuk mengeleminasi gerakan rakyat untuk bisa terlibat dalam partisipasi  politik dalam pemilu, di dalam semua kontestasi-kontestasi politik begitu.

Tadi Anda katakan ada split di dalam pimpinan nasional PRD. Apa yang bisa diambil dari adanya pengalaman tersebut?
Ini kan taktik vulgar sentrisme sebenarnya, di mana sebagian besar aktivis tidak hanya PRD, tetapi  sebagian aktivis pra dan pasca 1998 kalau dilihat hampir 500 aktivis ikut di gerbong partai-partai yang ada yang ikut pemilu tahun 2009. Dan pada kenyataannya mereka tidak bisa berbuat atau merubah apapun di dalam. Apakah mereka yang di dalam Golkar, di dalam PKB, Demokrat, Hanura, Gerindra ataupun di dalam PDI-P seperti Budiman Sudjatmiko sekalipun, yang sekarang sudah menjadi anggota DPR, mereka tidak bisa mengubah suatu struktur dan kebudayaan yang sebenarnya direproduksi  dari kebudayaan 32 tahun Orde Baru, yang sangat terbelakang dalam soal demokrasi dan soal-soal kesejahteraan.

Apakah memang tujuan waktu itu para pimpinan dan aktivis PRD masuk ke berbagai partai politik lain bisa mengubah masing-masing partai yang mereka masuki?
Sebagian besar berfikir, bahwa sulit bagi gerakan rakyat untuk muncul dengan kekuatannya sendiri, dengan alat politiknya sendiri. Dan sebagian besar dari mereka berfikir masuk ke dalam alat politik partai-partai yang ada yang sudah tumbuh dan berkembang lama begitu, dan kemampuan ekonomi juga bagus itu memudahkan mereka untuk mempengaruhi. Tapi sebagian juga masuk ke partai lain karena memang sikap oportunisme, karena memang sangat sulit untuk membangun gerakan dari bawah dan kemudian sudah tidak cukup tahan, apalagi membangun gerakan itu tidak ada gajinya, sehingga masuk ke dalam partai-partai elit yang ada.

Tentang kegiatan Anda sendiri sekarang ini?
Kami sejak pecah dari PRD Juli 2007, kemudian kami bikin Komite Politik Rakyat Miskin Partai Rakyat Demokratik (KPRM PRD). Dan KPRM PRD kemudian berubah nama. Kenapa berubah nama, karena kami pikir sudah tidak bisa lagi menyelamatkan PRD. Dan kami mengganti nama menjadi Partai Pembebasan Rakyat.

Siapa Ketuanya?
Kami belum punya ketua. Konsep kami adalah sebagai Jurubicara. Yakni Jurubicara Partai Pembebasan Rakyat.

Apakah ideologi dari Partai Pembebasan Rakyat ini?
PPR ini masih melanjutkan ideologinya PRD, yaitu sosial demokrasi kerakyatan.

Apa yang membedakan ideologi tersebut dengan sosial-demokrat?

Yang membedakannya dengan sosial demokrasi adalah dalam soal perdamaian-ismenya dengan kapitalisme. Atau istilah vulgarnya adalah bahwa sosial demokrasi  dia hanya mencekik leher kapitalisme, tetapi tidak membunuh kapitalisme. Dan kami mengambil perasan dari Marx, Engels dalam pengertian sosial demokrasi tersebut untuk kemudian, bahwa sosial demokrasi ini harus berpihak terhadap apa kebutuhan-kebutuhan demokrasi dan kebutuhan-kebutuhan rakyat.

Apa yang ingin dicapai dengan mendirikan Partai Pembebasan Rakyat atau dengan kata lain apa visi misi dari PPR ini?
Sekarang apa dulu yang merupakan masalah dari masyarakat Indonesia. Kalau kami lihat masalah dari masyarakat Indonesia ini kan adalah persoalan mendasarnya adalah kapitalisme. Imbas dia dijajah, imbas dia menjadi sasaran atau dirampok oleh imperialisme itu kan sebenarnya karena semua elit politik yang ada terus menerus menjalankan sistem politik kapitalisme. Sistem kapitalisme yang dijalankan sekarang ini adalah sistem kapitalisme neoliberal yang pada hakekatnya mencaplok sumber daya masyarakat, tidak hanya soal hak hidupnya itu sendiri. Kemudian juga soal sumber daya alamnya, baik emas, hutan dan sebagainya diambil alih oleh asing.

Tapi selain dalam soal-soal kesejahteraan juga adalah soal-soal demokratisasi. Ada persoalan, pertama, di mana militerisme masih kuat dan kedua, ada persoalan di mana  partisipasi rakyat di dalam proses politik itu masih sangat rendah. Untuk melawan militerisme, apalagi melawan fundamentalisme dan konservatisme, apakah yang terjadi di dalam Islam ataupun yang non-Islam, itu tidak akan bisa mungkin terjadi apabila tidak ada upaya untuk membuka sebesar-besarnya ruang demokrasi. Dan tidak akan bisa mungkin juga kita memperjuangkan kesejahteraan atau melawan kapitalisme atau melawan imperialisme, kalau tidak ada ruang demokrasi yang sebesar-besarnya, yang seluas-luasnya.

Ruang demokrasi apa yang ingin kita capai itu adalah ruang demokrasi dimana rakyat bisa membangun organisasinya, bebas berekspresi, bebas kemudian untuk mengembangkan pikiran politiknya, kemerdekaan politik terhadap pikirannya. Dan kemudian juga  terlibat di dalam kebijakan dan mengontrol kebijakan itu sendiri.

Yang terjadi sekarang ini tidak begitu. Karena yang sekarang  ini terjadi adalah demokrasi prosedural. Orang boleh bikin partai, tapi untuk bikin partai ini dan diakui serta bisa ikut pemilu, syaratnya macam-macam. Pengeluaran duitnya banyak, harus punya banyak cabang dan hanya partai-partai besar seperti partai yang dibekingi oleh konglomerat seperti  Surya Paloh,  misalnya Partai Nasdem, semacam partai seperti itulah yang bisa lolos pemilu. Hanya dalam waktu yang begitu pendek mereka bisa membangun struktur partai. Tetapi gerakan rakyat yang kemudian berjuang untuk mendirikan partai politik yang prosesnya berjalan sudah 20 tahun itu hambatan-hambatannya, baik politik maupun dari segi keuangan, adalah sangat besar. [ysa]

__._,_.___

Jangan Paksa Tiba-tiba Ma’rifat

Jangan Paksa Tiba-tiba Ma’rifat
Oleh: Dahlan Iskan

Selasa, 17 Januari 2012 , 06:27:00 WIB
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan layak memberi peng­hargaan kepada Walikota Solo Jo­kowi, setidaknya untuk satu hal: mem­­promosikan keberhasilan pro­gram kementeriannya. Khususnya da­­lam pengembangan mobil Esemka.
Mendikbud Mohamad Nuh-lah yang memprogramkan 23 sekolah me­nengah kejuruan (SMK) itu me­rakit mobil Esemka. Tiga di­an­taranya SMK swasta. Satu dari tiga itu adalah SMK Muhammadiyah Bo­robudur, Magelang, yang dua tahun la­lu ikut jadi korban meletusnya gu­nung Merapi.
Siswa SMK Muhammadiyah ini, se­bagaimana SMK Solo yang sudah di­pro­mosikan Jokowi, bahkan sudah melewati beberapa tahap kesulitan pera­kitan mobil. Mula-mula merakit satu mobil. Lalu dibongkar lagi untuk di­rakit lagi. Dibongkar lagi dan dirakit lagi. Tahap berikutnya SMK tersebut, bersama-sama dengan 23 SMK lainnya, diberi wewenang (dan uang) untuk membeli suku cadang yang bisa dirangkai menjadi mobil. Boleh impor, boleh dari dalam negeri. Uangnya disediakan.
Mereka memilih mengimpor dari Tiongkok. Karena tidak mungkin setiap SMK mengimpor sendiri-sendiri, 23 SMK tersebut bersepakat me­nunjuk sebuah perusahaan impor­ter. Dipilihlah sparepart mesin ber­basis teknologi merk Wuling dari Tiongkok.
Sparepart impor itu dibagikan secara merata ke 23 SMK. Inilah yang kemudian dipakai belajar merakit dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Hasilnya sangat baik, tapi diblok mesinnya belum ada tulisan Esemka.
Tahap berikutnya lagi, blok mesin tidak didatangkan dari Tiongkok, tapi di­buat oleh industri kecil baja Ceper, Klat­en. Cetakan blok mesin yang masih ka­sar ini dikirim ke Jakarta untuk di­bubut di pabrik mobil. Juga diberi merk Esemka. Dari Jakarta blok mesin ini diki­rim ke 23 SMK untuk dirakit oleh pa­ra siswa. Tahap inilah yang berhasil di­rakit menjadi mobil Jokowi. Karena itu baik yang di Solo, di SMK Mu­ham­madiyah Borobudur maupun di be­berapa SMK lainnya bentuk dan mo­delnya sama.
Fisiknya gagah dan finishingnya ha­lus. Gas, kopling, rem, power streering dan window powernya tidak terasa beda dengan mobil produksi pabrik. Saya mencoba mobil Esemka buatan SMK Muhammadiyah ini sampai kecepatan 80 dan membawanya ngepot di la­pangan rumput berlumpur. Tidak ada ma­salah. Rasanya mobil Esemka buatan SMK-SMK negeri lainnya juga sa­ma baiknya. Memang ada supervisi dari tim Men­dikbud yang diberikan da­lam standar yang sama untuk semua SMK.
Kini Mendikbud memberi order yang lebih besar lagi. Kepada SMK Muham­ma­diyah Borobudur diberikan order un­tuk mempraktekkan pekerjaan yang le­bih berat: membuat tiga buah bus “2 in 1”. Bus ini bisa untuk angkutan pe­num­pang/barang dan sekaligus bisa diubah se­bagai panggung kesenian. Tiga buah bus tersebut sekarang lagi dikerjakan di bengkel SMK itu. Bagian dindingnya bisa dibuka. Diberi engsel di bagian ba­wah­nya. Ketika dinding bus itu dibuka ja­dilah dinding tersebut panggung ke­senian. Tiga buah bus “2 in 1” itu akan diberikan kepada SMK khusus bidang ke­senian. Seniman SMK bisa menuju tem­pat pertunjukan dengan naik bus de­ngan membawa serta peralatan ke­se­nian. Tiba di lokasi dinding busnya dibuka dan dihampar sebagai panggung.
Kalau order Mendikbud ini selesai, SKM-SMK itu, seperti SMK Mu­ham­madiyah Borobudur ini akan memiliki catatan yang panjang: berhasil merakit sedan, SUV, ambulan, pick-up dan bus “2 in 1”.
Siapa pun akan bangga melihat per­kembangan itu. Berita mengenai pelajar ki­ta tidak lagi melulu soal perkelahian. Ki­ni mengenai prestasi mereka. Men­dik­nas sendiri, mungkin karena meng­anggap perannya itu sebagai kewajiban yang sudah seharusnya rupanya tidak me­lihat bahwa keberhasilannya itu se­buah success story. Jokowilah yang mem­promosikan keberhasilan Ke­mendikbud itu!
Hasil promosi ini sangat nyata. Harga diri sekolah SMK naik drastis. Sis­wanya begitu bangga. Kini terbukti tidak harus semua lulusan SMP masuk SMA. Saya yakin anak-anak SMK ter­sebut akan bernasib lebih baik. Begitu lu­lus kelak mereka lebih mudah mecari pekerjaan. Baik di industri per­beng­kelan maupun di industri otomotif. Bah­kan siapa tahu bisa mandiri sebagai pe­ngusaha pemula di bidangnya.
Setelah memahami apa yang sebe­narnya terjadi di SMK-SMK itu, sore­nya saya meninjau PT INKA di Ma­diun. BUMN ini sudah berhasil mem­produksi mobil 650 cc. Saya mencoba mengemudikannya sejauh satu jam per­jalanan dari Madiun ke Takeran lewat Ke­bonsari. Saya ingin tahu apakah PT INKA bisa didorong untuk menjadi industri mobil nasional. Agar keinginan yang luas di media mengenai mobnas ini bisa segera mendapatkan muara.
Malam harinya, rapat intensif dila­kukan. Temanya sama: apakah PT INKA sudah siap untuk menjadi in­dus­tri mobil nasional? Pasti bisa. Terutama ka­lau yang dimaksud adalah mem­pro­duksinya. Tapi BUMN ini pernah ber­tahun-tahun dalam kondisi la-yahya-wa­la-yamut. Saking beratnya pernah di­putuskan ditutup saja. Krisis ekonomi dan politik 1998 membuat PT INKA kehilangan kehidupannya. PT INKA ibarat orang yang sudah dikira mati dan sudah dimasukkan ke kamar mayat.
Ternyata dia belum mati benar. Mekanisme internal di tubuhnya (bukan karena ditolong dokter) memungkinkan tiba-tiba denyut nadinya berdetak pe­lan. Petugas kamar mayat tahunya be­lakangan. Lalu dikirim ke ICCU. Ok­sigin politik dan ekonomi yang mem­baik di luar (lagi-lagi bukan karena per­tolongan dokter) membuat jantungnya mulai berdetak.
Boleh dikata baru tiga tahun terakhir PT INKA keluar dari rumah sakit. Ja­lannya memang sudah tidak sem­po­yongan tapi belum bisa kalau disuruh lari. Makannya memang sudah tiga kali se­hari namun otot-ototnya belum terbentuk. Ia sudah mulai bisa ber­olah­raga, namun belum cukup kuat untuk ikut lomba maraton. Apalagi maraton in­dustri mobil yang begitu terjal ja­lannya dan begitu jauh jaraknya.
Manajemen PT INKA masih harus ber­konsentrasi di industri kereta api. Di si­tulah core business-nya. Di situlah ma­komnya. Dia harus fokus dengan se­benar-benarnya fokus. Istilah saya dia ha­rus bertauhid. Inti tauhid adalah meng-esa-kan. Dan inti meng-esa-kan ada­lah fokus. Tidak boleh gampang ter­goda. Di dalam bisnis dan di dalam ma­najemen, godaan itu luar biasa ba­nyaknya. Sebanyak godaan terhadap ke­imanan. Kalau sebuah manajemen ti­dak fokus maka dia bisa jatuh menjadi musyrik. Musyrik manajemen. PT INKA tidak boleh diganggu oleh godaan-godaan sesaat. Dia masih di tahap syari’at. Jangan dipaksa tiba-tiba ma’rifat! Bisa gila.
Tapi PT INKA akan tetap mem­pro­duksi mobil. Syaratnya: sepanjang ada pesanan. Itu pun kalau jelas pem­ba­yarannya. Yang penting, PT INKA ter­bukti bisa memproduksi mobil. Dia su­dah banyak latihan membuat mobil ke­tika tidak ada pekerjaan membuat ke­reta api dulu. Kini, PT INKA lagi sibuk di core business-nya. Lagi banyak order membuat kereta api. Juga lagi semangat mengembangkannya.
Walhasil PT INKA belum akan men­jadi industri mobil dalam pengertian sam­pai mengurus sistem distribusi, pema­saran dan lembaga pem­biayaan­nya. Ini pekerjaan yang me­merlukan investasi triliunan rupiah yang berhasil tidaknya tidak hanya diten­tukan oleh kemampuan pro­duk­sinya. PT INKA masih harus menanam ke­percayaan dengan cara mampu menyelesaikan pembuatan 40 kereta api tepat waktu. Juga harus menanam kepercayaan bah­wa kualitasnya tinggi. PT INKA juga sedang konsentrasi untuk membuat puluhan lokomotif setelah dipercaya oleh General Electric dari Amerika.
Untungnya mungkin tipis, tapi reputasi yang didapat bisa membawa keuntungan besar di belakang hari. Kepercayaan ini harus dijaga. Apalagi peru­sahaan sekelas GE yang mem­per­cayainya. PT INKA yang kini sudah mu­lai laba dan bisa menggaji karya­wannya, jangan digoda-goda dulu un­tuk proyek-proyek yang bisa menjeru­muskannya kembali ke jurang. Saya melihat PT INKA sudah menemukan jalan hidupnya. Juga masa depannya. Di samping dipercaya oleh GE Ame­rika, juga sudah mulai mengerjakan pesanan dari Singapura dan Malaysia.
Memang PT KAI yang menjadi konsumen terbesarnya kini masih banyak mengimpor kereta bekas dari Jepang, tapi itu hanya sementara. Untuk memperbaiki kinerja keuangan PT KAI sendiri. Dengan tarif kereta saat ini PT KAI memang baru bisa membeli kereta bekas yang amat murah. Tapi tiga-empat tahun lagi sudah akan berubah. Pembenahan di PT KAI terus dilakukan oleh manajemennya. Hasilnya sudah kelihatan nyata dua tahun terakhir ini. Kalau keuangannya sudah lebih baik, pasti PT KAI akan meninggalkan era beli bekas. Di saat itulah nanti PT INKA bisa panen raya. Apalagi kalau program ekspornya terus berkembang.
Memang masih banyak masalah di antara keduanya. Tapi memecahkannya tidak akan sesulit merukunkan Israel dan Palestina. Masalah PT INKA dan PT KAI bisa di selesaikan di atas kereta api. Dalam perjalanan kereta api dari Madiun ke Jombang, berbagai masalah mendasar dibicarakan bersama. “Rapat berjalan di atas rel” itu menemukan kese­pakatan-kesepatan yang memberi harapan.
Ketegangan yang diselingi gelak tawa membawa kesegaran suasana. Salah pengertian di antara PT KAI dan PT INKA bisa dihilangkan. Lalu salaman. Sinergi bisa disepakati. Salaman lagi. Direksi PT KAI dan Direksi PT INKA bersalaman berkali-kali. Pertanda banyak kesepahaman yang terjadi.
Banyaknya penumpang yang dari jauh melihat serangkaian salaman itu mungkin ikut terheran-heran. Saya sendiri bisa turun di stasiun Jombang dengan perasaan lega. Lalu bisa nyekar ke makam Gus Dur dengan hati yang lebih lapang. Kalau begitu, siapa yang akan menggarap mobil nasional? Jangan khawatir. Saat ini sudah ada putra bangsa, lulusan ITB tahun 1984, yang sedang secara serius menyiap­kannya. Mobil ciptaannya sudah diuji keliling kampus almamaternya. Ia memang pengusaha permesinan yang handal. Sudah banyak melakukan ekspor mesin. Ia putra Indonesia dari suku Sunda yang sangat nasionalistik. Dia seorang profesional yang tangguh. Dia akan membangun pabrik yang serius dengan production line yang serius pula. Dia akan memenuhi segala persyaratan sebuah industri mobil yang sempurna.
Tugas kita adalah membantunya. Yak­ni membeli produknya atau seti­dak­nya mendo’akannya. Tidak lama lagi. [***]
Penulis adalah Menteri Negara BUMN

Ends Badly for Indonesia Man

Ends Badly for Indonesia Man
Camelia Pasandaran | January 19, 2012

In Indonesian civil servant who posted “God does not exist” on his Facebook page has been taken into police custody for his own protection after he was badly beaten.

The man, identified as Alexander, 31, now faces the prospect of losing his job, or even being jailed, if he fails to repent and accept one of six official state religions.

Blasphemy carries a maximum sentence of five years in jail.

Local media reported that when Alexander arrived at work at the Dharmasraya Development Planning Board (Bappeda) on Wednesday, a group of men, also understood to comprise government officials, attacked and beat him before police arrived and took him into protective custody.

Dharmasraya Police Chief Sr. Comr. Chairul Aziz told the Jakarta Globe that Alexander moderated a Facebook account titled “Ateis Minang” (Minang Atheists) and had written an update that “God does not exist.”

Chairul said he could not confirm the reports that Alexander was attacked but say that he had taken into protective custody to “anticipate anarchy.”

“Besides, he is also afraid of being intimidated or hurt.”

Alexander was quoted by Padangekspres.co.id as saying that he did not believe in God because of the amount of crime and disasters.

“If God indeed exists, why do bad things happen,” he was quoted as saying. “There should only be good things if God is merciful.”

Alexander said he was born a Muslim but ceased religious activities in 2008.

“I have no idea what the problem is. When I arrived at the office, a mob came and beat me, and took me to the police.”

Aziz said police would wait for a recommendation from the West Sumatra Coordinating Agency to Supervise Religion and Beliefs (Bakorpakem) as well as the Ministry of Religious Affairs before deciding on further action against Alexander.

“If they consider what he did was blasphemy, we will charge him.”

Gusrizal Gazahar, head of the West Sumatera chapter of the Council of Ulema (MUI), told local media that if he refused to repent, Alexander should lose his job.

“I want him to be fired,” he said.

No Need to Believe: Indonesia’s Atheists

Tokoh nasional minta Presiden mampu selesaikan masalah

Refl  Sunny <ambon@tele2.se>: Mengapa harus diminta kepada presiden untuk menyelesaikan masalah? Bukankah yang berpangkat presiden itu dipilih oleh rakyat dan digaji oleh rakyat untuk menyeselasian berbagai masalah yang tidak menguntungkan kepentingan rakyat demi perbaikan kehidupan rakyat dari buruk menjadi baik, tetapi kalau untuk hal-hal tsb harus diminta kepada presiden, berarti [a] presiden tidak tahu tugas dan tanggung jawabnya, [b] hanya makan gaji buta. Pertanyaannya ialah mengapa rakyat mau dibodohkan untuk memilih oknom yang tidak becus?

Tokoh nasional minta Presiden mampu selesaikan masalah

Kamis, 19 Januari 2012 21:14 WIB |

Din Syamsuddin (FOTO ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) – Sejumlah tokoh nasional meminta Presiden mampu menyelesaikan berbagai masalah bangsa sehingga dapat menjadi teladan.

“Pemimpin hendaknya menjadi teladan,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang menyimpulkan hasil diskusi Silaturahmi Tokoh Bangsa ke-3 bertema “Problematika Bangsa dan Solusinya” di Jakarta, Kamis.

Turut hadir pada acara itu mantan Wapres Jusuf Kalla, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua Partai Hanura Wiranto, mantan Ketua MK Jimly Ashhiddiqie, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia Martinus Situmorang, tokoh agama Frans Magnis Suseno, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofyan Wanandi, Ketua Dewan Perwakilan Daerah, politisi Nasdem Harry Tanoe, aktivis senior Harry Tjan, serta mantan menteri Fahmi Idris.

Sementara itu, Jusuf Kalla mengatakan semua permasalahan bangsa tentunya dapat diatasi. “Tidak ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan,” kata Kalla.

“Rakyat bisa marah jika harapannya tidak tercapai. Intinya bagaimana keadilan itu tercapai. Tidak harus sama-sama senang, bisa saja sama-sama susah,” katanya.

Senada dengan Kalla, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung, juga mempertanyakan penyebab konflik yang terjadi di Indonesia belakangan ini.

“Masih ada sikap yang belum menghormati kemajemukan, padahal hal itu merupakan salah satu dari empat pilar bangsa,” kata Akbar.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto mengatakan keteladanan pemimpin bisa ditunjukkan dengan pemisahan kepentingan partai dan rakyat dalam roda pemerintahan.

“Jika hal itu dilakukan dan diikuti oleh pejabat negara lain di berbagai tingkatan, maka banyak kepentingan rakyat yang akan terselamatkan,” katanya.
(T.P012/U002) Editor: Ruslan Burhani

Mahfud Dinilai tak Etis Bertemu Ical

Refl  Sunny <ambon@tele2.se>: Mungkin Mahfud memikirkan hari depannya setelah Pemilu yang akan datang, jadi ada baiknya bertemu untuk bisa selamat setelah ada amanat baru di masa mendatang.
 
JUMAT, 20 Januari 2012 |
Politik
Mahfud Dinilai tak Etis Bertemu Ical
Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun mengatakan, seorang hakim apalagi seorang hakim Mahkamah Konstitusi (MK) tidak pantas bertemu para pimpinan partai politik (Parpol) karena pimpinan parpol adalah para pihak yang berpotensi berpekara di MK.

“Tidak pantas Hakim MK bertemu dengan pimpinan parpol karena ini berkenaan dengan prinsip pemisahan kekuasaan antara ekekutif, legislatif dan yudikatif. Kalau hakim itu, seperti pengakuan Mahfud biasa bergaul dengan tokoh politik, maka akan berpengaruh minimal pada cara pandang dia, dan mungkin juga pada putusan,” ujar Refly, di Jakarta, Kamis (19/1), menyikapi pernyataan Ketua MK, Mahfud MD yang mengaku sering bertemu dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical.

Selain berpotensi berpengaruh terhadap keputusan MK, juga bisa menghilangkan kepercayanan publik terhadap lembaga peradilan. Ini, lanjut Refly, menyangkut masalah etika untuk menjaga independensi institusi.

“Seorang hakim MK, menurut saya harus bisa menjadi orang yang netral, seperti layaknya dewa yang melihat bumi. Dia tidak boleh jadi bagian dari keriuhan bumi. Begitulah hakikat seorang hakim,” tegasnya.

Jangankan berdiskusi, lanjut Refly, menghadiri acara pernikahan orang-orang yang mungkin berpekara dalam ruang sidangnya, seorang hakim sebaiknya tidak datang, apalagi berdiskusi. Itulah hakim, imbuhnya.

“Tapi inikan Indonesia, hakim bisa saja berperilaku tidak pada tempatnya. Ini terjadi mungkin karena banyak hakim dengan latar-belakang politisi dan akademisi yang banyak bicara kepentingan. Sejatinya hakim, tidak boleh menyuarakan kepentingan dan kebenaran kecuali dalam keputusan,” kata Refly Harun.

Siapapun yang menjadi hakim MK, menurut Refly harus belajar menahan diri untuk tidak terlibat dalam politik sehari-hari apalagi untuk berdiskusi dan mengadakan pertemuan dengan tokoh politik. “Itu konsekuensi jadi seorang hakim.”

Terakhir Refly menyarankan DPR agar ke depan memilih hakim-hakim MK dari orang yang sudah tidak lagi mau bermain dalam tataran politis praktis atau berambisi untuk jadi presiden. Bahan baku seorang hakim konstitusi haruslah dari jenis manusia yang sudah beyond politik atau tidak lagi mau bermain pada tataran politik praktis.

“Seorang hakim konstitusi harus tidak punya ambisi politik lagi dan memang harus dari jenis manusia yang benar-benar hanya mau mengabdi untuk terakhir kalinya pada nusa dan bangsa. Dia tidak akan tergoda dengan ambisi yang lain,” harapnya.

SAYA ANTI DEMOKRASI

SAYA ANTI DEMOKRASI

Emha Ainun Nadjib

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek,
dan Danramil,
harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator
mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas
bukan
yang selain Islam – harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas
kalah,
itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya
Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya
Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak
teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah
adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah
bukan Kristen. Kalau amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan
sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah
pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama
dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra
demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam
mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh
subyektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban
dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan
kecurangan informasi jaringan media massaBarat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese
dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan
menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut
pandang mereka.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam
tanpa melalui
apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai
anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika
Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya
nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena
bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal
Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung
unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman
menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis
‘gitu…”

Lho kok Arab bukan etnis?

Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak  diakui
sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak,
sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan
kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil  nada
Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah
“Yarim Wadi-sakib.. .”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini:
apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal,
bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk
jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan
oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, telah terakumulasi
sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap
menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas
Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum
Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari
mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

“Al-Islamu mahjubun bil-muslimin”. Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh
orang Islam sendiri. Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam
itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor – maka akan meledak.
Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan strategi
penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang
pleno’ yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau
tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan
di masa depan.

Sumber :
Buku Emha http://www.goodread s.com/book/ show/1380373. Iblis_Nusantara_
Dajjal_Dunia

TESIS-TESIS TENTANG FEURBACH (2

 

 
160 TAHUN TULISAN MARX
TESIS-TESIS TENTANG FEURBACH (2)

Oleh Suar Suroso
“nasional-list@yahoogroups.com” <nasional-list@yahoogroups.com>, Friday, 20 January 2012, 5:54

 
 
Tentang Feurbach.
Ludwig Feurbach (1804-1872) berjasa mengembangkan tradisi revolusioner materialisme abad ke-XVII dan abad ke-XVIII. Yang dimaksudkan dengan filsafat antropologis oleh Feurbach adalah filsafat yang mengutamakan manusia. Prinsip antropologis dinyatakan oleh Feurbach dengan mengutamakan kesatuan alam kemanusiaan. Menurut Feurbach manusia adalah produk alam dan bahagian dari alam. Alam, materi adalah satu-satunya substansi, dan adalah substansi sejati, yang berada diluar manusia, dan yang menciptakan manusia. Feurbach berpendapat, bahwa filsafat baru harus merobah manusia serta alam sebagai basis manusia, menjadi sasaran satu-satunya yang universal dan paling tinggi dalam filsafat. Karena itu, antropologi, termasuk fisiologi, baginya menjadi ilmu yang universal. Feurbach memandang masalah ruang dan waktu secara materialis. Ruang dan waktu adalah syarat-syarat dasar, adalah bentuk-bentuk dan perwujudan substansi. Materi bukan hanya ada, tetapi juga bergerak dan berkembang. Tanpa ruang dan waktu, maka gerak dan perkembangan adalah tidak mungkin. Tanpa ruang dan waktu tak mungkin ada materi.
Disamping itu, dinyatakannya bahwa alam itu kongkrit, bersifat material, dapat diraba dan dirasa. Materi tak dapat dibasmi, selalu ada, akan tetap ada, yaitu adalah abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, adalah tak berhingga. Dengan mengikuti Spinoza, Feurbach menyatakan, bahwa alam adalah sebab-musabab itu sendiri. Materi adalah primer, ide adalah sekunder. Pandangan ini adalah bertolak belakang dengan pandangan Hegel yang menjadikan ide absolut sebagai yang utama, sebagai sumber segala-galanya. Dengan demikian, mengenai masalah terpokok dalam filsafat, yaitu masalah hubungan antara ide dan materi, dipecahkan oleh Feurbach secara materialis, ….. dengan mengutamakan materi.
Menurut Feurbach, alam adalah banyak segi. Manusia mengenalnya liwat syaraf perasa, hingga mengenal air, api, listrik, sinar, magnetisme, tumbuh-tumbuhan, dunia dan seterusnya. Itulah sebahagian dari substansi dengan berbagai kwalitas. Substansi tanpa kwalitas adalah omong kosong. Kwalitas tak terpisahkan dari substansi sesuatunya. Alam, materi adalah satu-satunya substansi dan adalah hakekat substansi yang terdapat di luar manusia, dan yang melahirkan manusia. Satu-satunya dasar manusia adalah jasmani. Ambillah dari manusia jasmaninya, akan terambil jiwanya, terambil semangatnya. Jasmani adalah bahagian dari dunia objektif dan adanya jiwa adalah tergantung pada jasmani. Ini adalah pandangan monisme antropologis, yang berlawanan dengan pandangan dualisme. Pandangan dualisme mensetarakan jasmani dan jiwa – jasmani adalah dari alam material, dan jiwa adalah dari alam spiritual. Pandangan monisme antropologis dari Feurbach ini adalah pandangan materialis.
Berakarnya pandangan Feurbach pada manusia ditunjukkan oleh tulisannya: “Pandang dan renungkanlah alam, pandang dan renungkanlah manusia ! Di sini, di depan matamu terdapat keajaiban filsafat !” Lebih lanjut dinyatakannya, bahwa dasar materialismenya adalah manusia. Kebenaran bukanlah materialisme atau idealisme, tetapi adalah antropologi”. Karena itu, materialisme Feurbach disebut materialisme antropologis, materialisme manusiawi.
Feurbach membawa maju ajaran materialis dalam teori pengenalan, dalam epistemologi. Feurbach menyatakan, bahwa  “perasaan saya adalah subjektif, tetapi dasarnya, sebab-musababnya adalah objektif”. Sejarah pengenalan menunjukkan pada kaum materialis Jerman, bahwa batas-batas pengenalan manusia selalu bertambah luas; bahwa dalam perkembangannya, akal manusia memungkinkan kita untuk menemukan rahasia-rahasia alam. Kaum agnostisis berpendapat, bahwa alam terbentuk sedemikian rupa hingga tak mungkin manusia mengenal sesungguhnya alam itu. Berlawanan dengan kaum agnostisis, Feurbach menyatakan, bahwa “apa yang belum kita ketahui sekarang, akan diketahui oleh anak-cucu kita di kemudian hari”. Dengan demikian, Feurbach secara tajam menentang agnostisisme Kant.
Feurbach menjadikan perasaan sebagai titik-tolak pengenalan. Menurut dia, “adalah sepenuhnya tepat, bahwa empirisisme memandang sumber-sumber ide-ide kita pada perasaan”. “Saya berfikir dengan bantuan perasaan, terutama dengan bantuan pandangan, — saya mendasarkan dalil, kesimpulan saya pada sesuatunya yang material, yang kita tangkap (serap) liwat alat perasa bahagian luar. Bukannya benda berasal dari fikiran, tetapi fikiran berasal dari benda. Dan benda pun adalah tak lain dan tak bukan apa yang terdapat di luar kepala saya”. Maka materi, alam bukan saja adalah dasar dari jiwa, tetapi bahkan dasar prinsip dari semua pengetahuan dari filsafat. Benda, materi adalah tak lain dan tak bukan sesuatu yang secara nyata ada di luar kita, sedangkan fikiran mengenai benda itu adalah pencerminan (bayangannya) dalam kepala manusia.
Feurbach membuktikan, bahwa jika tidak ada materi yang terdapat secara objektif di luar kita, maka syaraf perasa kita tidak akan tersentuh. Oleh karena itu, materi, alam, — bukan hanya adalah basis dari jiwa, tapi juga dasar permulaan dari semua pengenalan dan filsafat. Menurut Feurbach, perasaan bukanlah memisahkan manusia dari dunia luar, tetapi menghubungkannya, karena perasaan adalah hasil pengaruh benda-benda luar terhadap alat perasa manusia. Pengenalan ilmiah dimulai dengan pengamatan dan cita-rasa. Dia menyatakan, bahwa “tak ada perasaan tanpa kepala, tanpa akal dan pemikiran” Manusia harus bertolak dari “perasaan sebagai sesuatunya yang paling sederhana, yang jelas-jemelas dan tak disangsikan lagi”, kemudian memasuki masalah “objek-objek yang rumit dan jauh dari mata”. Menurut Feurbach, peranan akal adalah menghubungkan pengenalan cita-rasa dari pengalaman yang sepotong-sepotong dengan bahagian lain dari kenyataan di luar pengalaman. Sebagaimana halnya hubungan antara kata-kata menjadi fikiran, demikian pula data-data yang ditangkap perasaan hanya dapat difahami  jika ia dihubungkan, disusun dengan bantuan akal. “Dengan perasaan, kita membaca bukunya alam, tetapi memahaminya bukanlah dengan perasaan”. Dengan bantuan akal, kita menghubungkan sebab dan akibat, sebab-sebab dan tindak tanduk antara gejala-gejala, hanyalah karena mereka “menurut kenyataannya, secara materiil, secara kenyataan terdapat tepat dalam hubungan sedemikian antara sesamanya”. Feurbach juga menyatakan, bahwa “hanya fikiran yang riil, yang objektif yang memastikan dan membikin tepat renungan perasaan, hanyalah dalam keadaan yang demikian, pemikiran adalah pemikiran objektif dan kebenaran”.
Feurbach membuang dualisme antara renungan cita-rasa dan pertimbangan akal, yang merupakan ciri dari epistemologi Kant. Menurut Feurbach, pertimbangan akal, bukanlah sumber yang berdiri sendiri dari pengenalan. Semua prinsip dan kategori-kategorinya bukanlah ditimbanya dari dirinya sendiri tetapi dari perasaan berdasarkan pengalaman. Kant mencari ukuran kebenaran pada pemikiran yang murni. Sebaliknya, Feurbach menemukan kebenaran dalam kehidupan, dalam kenyataan, dalam praktek. “Sesuatunya yang disangsikan yang tak dapat selesai dan dikerjakan oleh teori, akan diselesaikan oleh praktek”.
Tetapi Feurbach tidak sampai memahami praktek menurut pemahaman materialis tentang praktek kemasyarakatan manusia. Hubungan antara sesama manusia hanya difahami Feurbach sebagai hubungan dalam “gens”, yaitu hubungan kemasyarakatan yang bersumber pada hubungan keluarga, hubungan fisiologis. Gens, puak, suku adalah organisasi kemasyarakatan dasar dalam susunan masyarakat komune-primitif, organisasi yang merupakan kesatuan dari pada keluarga-keluarga seketurunan. Asal mulanya diorganisasi secara keibuan, — secara matriarchaat, kemudian berobah menjadi patriarchaat dalam proses berkembangnya masyarakat komune-primitif. Gens memiliki seorang kepala, mendiami suatu daerah tertentu dan mempunyai nama tertentu.
Feurbach memahami praktek manusia sebagai “makan dan minum”, bukanlah praktek berproduksi, bukanlah tindakan-tindakan revolusioner. Dalam pemahaman Feurbach tentang praktek terkandung antropologisme dan naturalisme. Ukuran kebenaran dia lihat dalam “gens”. Dia menyatakan, bahwa “jika saya berfikir sesuai dengan patokan-patokan gens, berarti saya adalah berfikir sebagaimana manusia umumnya. …. Kebenaran adalah apa yang sesuai dengan hakekat gens, palsu adalah apa yang bertentangan dengan itu. Hukum lain dari kebenaran tidak ada” Demikianlah, Feurbach tidak bisa melangkah lebih jauh dari pemahamannya yang abstrak dan pasif tentang praktek kemasyarakatan manusia.
Dalam seluruh karyanya, pada pokoknya Feurbach menempatkan masalah agama dalam pusat perhatiannya. Dia menulis, bahwa dalam semua karyanya, dia tidak pernah “melepaskan masalah agama dan teologi dari pandangan”, bahkan menjadikan “agama dan teologi sebagai tema pokok fikiran serta kehidupannya.” Feurbach berusaha mengangkat obor akal, supaya manusia akhirnya dapat merobah permainan kekuatan-kekuatan yang fantastis, yang dipergunakan penguasa agama untuk menindas manusia. Fikirannya selalu terlibat dalam hal, supaya merobah manusia dari serba percaya menjadi manusia yang berfikir, dari serba hidup sembahyang menjadi kaum pekerja.
Menurut Feurbach, alam, kenyataan hanyalah memberikan materi, kebendaan bagi adanya  ide tentang Tuhan; tetapi bentuk yang diberikan oleh benda itu menjadi hakekat Tuhan, adalah dilahirkan oleh fantasi, oleh daya pembayangan. Oleh karena itu, fantasi, daya pembayangan adalah “sebab-sebab teoretis atau adalah sumber dari agama”. “Manusia adalah permulaan, adalah bahagian tengah dan adalah akhir dari agama”.
Feurbach mencatat bahwa peranan alam dalam hidup manusia adalah sangat besar. Alam adalah sebab-musabab, adalah dasar, sumber eksistensi manusia. Alam mengharuskan lahir dan hidupnya manusia. Manusia – bahagian dari alam, dan hanya bisa terdapat dalam alam, adalah berkat alam. Alam adalah ibu kandung manusia. Feurbach menyatakan, bahwa arti alam yang demikian bagi manusia adalah menjadi sebab, hingga alam menjadi objek pertama dari agama, menjadi Tuhan pertama dari manusia. Agama tertua dari manusia – adalah agama yang memuja alam, agama “alamiah”. Bagi manusia-manusia purba, hanyalah alam yang menjadi subjek pemujaan keagamaan. Agama zaman purbakala menunjukkan manusia dan satunya manusia dengan alam, menunjukkan ketergantungan manusia pada alam. Perasaan ketergantungan adalah dasar dari agama. Manusia semenjak kelahirannya dalam sejarah, selalu dalam syarat-syarat tertentu berada dalam ketergantungan bukan dari alam secara umum, tetapi dari alam tertentu, dari alam negerinya, dan tempat kelahirannya. Manusia-manusia purba, oleh karena itu menjadikan alam kongkrit yang mengitarinya sebagai objek agamanya. Manusia-manusia purba memuja dalam agama mereka syarat-syarat alam dan gejala-gejala alam dari mana kehidupan mereka tergantung. Maka oleh karena itu, Feurbach menyatakan, bahwa menurut kenyataan sejarah, manusia-manusia purba memuja sungai, gunung dan laut tanah-airnya. Orang Mesir purbakala berpendapat, bahwa asal-usul  semua kehidupan, termasuk manusia adalah sungai Nil. Rakyat Yunani purba percaya, bahwa semua sumber sungai, danau, laut terdapat di samudera raya. Rakyat Persia purba menganggap, bahwa semua gunung berasal dari gunung Alborda. Manusia Meksiko purba memuja Tuhan dari garam. Demikianlah, bagi manusia-manusia purba, Tuhan mereka berasal dari alam sekitar atau iklim yang mengitarinya. Feurbach menyatakan, bahwa manusia yang masih kurang pengalaman dan kurang pendidikan bahkan menganggap negerinya itulah dunia, atau pusat bumi.
Feurbach menyatakan, bahwa bagi kaum budak, tanpa tuan budak, dalam masyarakat tidak ada tata tertib, dan tanpa kaisar tidak ada ketenteraman dalam negeri. Oleh karena itu mereka tunduk dan menyembah tuan-budak serta kaisar. Feurbach menarik kesimpulan, bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusia yang hidup dalam masyarakat menciptakan Tuhannya sendiri.
Pandangan-pandangan Feurbach mempunyai arti besar dalam hal memasukkan pengertian antropologis manusia dalam ajaran tentang moral. Feurbach mencatat, bahwa semua usaha manusia adalah menuju kebahagiaan. Bahagia atau sengsara, sukacita atau duka nestapa diketahui liwat perasaan. Bagi Feurbach, perasaan adalah syarat pertama bagi moral. Di mana tidak ada perasaan, di sana tidak ada perbedaan bahagia dan sengsara, antara kebaikan dan kejelekan, antara suka dan duka, di sana tidak ada moral. Ajaran tentang moral merupakan puncak ajaran Feurbach tentang masyarakat. Dalam hal inilah terletak keterbatasan filsafat Feurbach. Prinsip dasar moral dari Feurbach adalah kecenderungan hati manusia terhadap sesamanya, yang dimiliki sebagai sifat alamiah dari manusia, yaitu sifat menginginkan kebahagiaan. Menurut Feurbach, supaya manusia jadi bahagia, mereka harus saling mencintai. Kata ‘cinta’ bagi Feurbach adalah azimat sakti, bahan ramuan mujarab mengobati semua penyakit. Feurbach mengajarkan cinta yang menyeluruh dalam masyarakat yang terbagi dalam berbagai klas yang antagonistik. Cinta sesama manusia adalah puncak ajaran moral Feurbach. Di samping itu, dalam berbagai kesempatan secara tepat Feurbach menulis, bahwa “orang di dalam istana berfikiran lain daripada yang di dalam gubuk”. Tetapi dia salah menilai orang yang melarat dengan menyatakan lebih lanjut, bahwa “jika karena kelaparan, karena kesengsaraan, orang tidak mempunyai isi di dalam tubuhnya, akan begitu juga dia tidak mempunyai isi untuk moral di dalam kepalanya, di dalam jiwanya maupun hatinya”. Moral Feurbach adalah moral burjuasi, yang mengajarkan perdamaian klas, yang menutup-nutupi kontradiksi kepentingan-kepentingan klas, yang memadamkan dan menegasi perjuangan klas. Karena itu, materialisme Feurbach adalah materialisme yang tidak berjuang, materialisme yang pasif. Inilah yang disebut materialisme kontemplatif .
Demikianlah materialisme Feurbach, materialisme antropologis dan kontemplatif, yang mengabaikan praktek kemasyarakatan manusia, yang menentang agama dan berpaling pada ‘cinta’ sesama manusia dan lari dari perjuangan klas, yang mengkritik idealisme Hegel, menentang agnostisisme Kant serta yang tidak memahami arti penting perjuangan politik. Walaupun pandangannya materialis, Feurbach tidak menggunakan metodologi dialektika, tidak menggunakan hukum pokok dialektika – kesatuan dan perjuangan dari segi-segi yang berlawanan. Materialisme Feurbach adalah materialisme metafisis. Keterbatasan materialisme Feurbach tidaklah mengurangi akan arti historisnya. Materialisme Feurbach memberikan pengaruh yang mendalam atas Marx dan Engels pada masa pembentukan pandangan-pandangan filsafatnya. Marx dan Engels mengambil dari materialisme Feurbach hanya “inti pokoknya”, mengembangkannya lebih lanjut menjadi filsafat ilmiah materialisme dialektis dan membuang lapisannya yang bersifat idealis dan metafisis.***
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers