Archive for the ‘esai’ Category

Pilot yang Salah Pesawat

Pilot yang Salah Pesawat
 http://m.kompas.com/news/read/2012/02/02/02142161/pilot.yang.salah.pesawat
| Kamis, 2 Februari 2012 | 02:14 WIB
Sri Palupi
Para pembantu Presiden SBY menepis tudingan bahwa Indonesia dijalankan dengan otopilot. Bahkan, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memuji SBY sebagai pilot andal.
Alasannya, di tangan SBY, pertumbuhan produk domestik bruto 6,5 persen, peringkat utang meningkat, dan status layak investasi yang diberikan lembaga pemeringkat internasional.
Tak ada yang salah dengan pu- jian bahwa SBY pilot andal. Hanya saja, para pemuji SBY tutup mata terhadap kenyataan bahwa sebagai pilot, SBY salah masuk pesawat. Bukan pesawat RI yang ia terbangkan, melainkan pesawat asing yang memuat investor asing, komprador, koruptor, dan kalangan yang diuntungkan kebijakan promodal asing. Rakyat tertinggal di pesawat tanpa pilot, terombang-ambing di tengah badai korupsi dan investasi.
Pesawat asing
Pemerintahan SBY dikenal paling ramah melayani kepentingan asing. Tak heran, banyak pujian dari asing. Bahkan, demi mencapai target investasi, SBY rela mengorbankan kepentingan hajat hidup rakyat. Target investasi yang dibuat pemerintahan SBY Rp 3.100 triliun sampai 2014. Investasinya belum mencapai Rp 1.000 triliun, 75 persen sumber daya alam kita sudah dikuasai asing. Saham-saham penting milik negara sudah beralih kepemilikan ke korporasi asing.
Kepenguasaan asing di pertambangan emas, perak, dan tembaga mencapai 90 persen. Sektor energi 90 persen dikuasai asing. Perbankan nasional juga jatuh ke tangan asing. Sektor telekomunikasi yang strategis, 90 persen dikuasai asing.
Rantai pangan Indonesia tak terlepas dari penguasaan asing. Aliansi untuk Desa Sejahtera mencatat, korporasi asing telah mengontrol perdagangan pangan Indonesia. Syn- genta, Monsanto, Dupont, dan Bayer menguasai bibit dan agro- kimia. Cargill, Bunge, Louis Dreyfus, dan ADM merajai pangan serat, perdagangan, dan pengolahan bahan mentah. Nestle, Kraft Food, Unilever, dan Pepsi Co mencengkeram pengolahan pangan dan minuman. Carrefour, Wal Mart, Metro, dan Tesco jadi penguasa pasar eceran pangan.
Produk petani dan industri dalam negeri tergusur produk impor. Pasar tradisional terdesak mal dan pusat belanja modern. Pedagang kecil kehilangan sumber hidup. Bahan baku industri yang berlimpah lebih banyak dinikmati asing. Negeri ini hanya jadi pasar barang industri bangsa lain sekaligus pemasok bahan baku industri negara lain. Penguasaan aset negara oleh asing dibuat mulus dengan banyaknya UU pro-kepentingan asing.
Amat banyak UU dibuat dengan mengabaikan amanat konstitusi. Setidaknya 76 UU penting terkait hajat hidup rakyat dibuat dengan intervensi asing. Sebagai bangsa, praktis kita sudah kehilangan kedaulatan. Tak hanya atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Dalam berpikir dan menentukan masa depan sendiri pun, kita sudah defisit kedaulatan. Pertumbuhan ekonomi tinggi, peringkat utang meningkat, dan status layak investasi kebanggaan pemerintahan SBY tak sebanding dengan risiko dan harga yang harus dibayar bangsa ini.
Saat pemerintah membanggakan pertumbuhan ekonomi tinggi dan berbagai pujian pihak asing, saat itu pemerintah meningkatkan target pengiriman TKI ke luar negeri dan mengampanyekan program perluasan negara tujuan TKI. Lalu, untuk siapa pertumbuhan ekonomi tinggi dan derasnya arus investasi kalau rakyat terus didorong menjadi budak bangsa lain?
Pesawat otopilot
Sepanjang sejarah Republik, belum pernah rakyat ditelantarkan negara seperti sekarang. Warga mencuri sandal jepit, pisang, semangka, dan biji kakao hanya sedikit gambaran betapa buruk tingkat kesejahteraan. Jangankan sejahtera, jaminan rasa aman pun kian sulit didapat. Pembunuhan, perampokan, penculikan, pelecehan, dan perkosaan di tempat umum kian marak. Kekerasan atas nama agama dan keyakinan terus dibiarkan. Aparat negara sibuk menggendutkan rekening sendiri.
Yang disebut sebagai pembangunan kini tak lebih dari urusan memfasilitasi dan mendorong kalangan berduit gila berbelanja. Daerah sentra industri berubah wajah jadi daerah wisata belanja, dipadati dengan pusat belanja dan factory outlet yang memasarkan produk impor. Kawasan industri dan sentra industri kecil sepi. Pabrik-pabrik tutup.
Deindustrialisasi memaksa rakyat berjuang menciptakan lapangan kerja sendiri. Hampir 70 persen tenaga kerja di sektor informal. Buruh dipaksa menerima upah yang bahkan tak cukup untuk makan layak tiga kali sehari.
Arus deras investasi yang dibanggakan pemerintahan SBY kian merampas hak hidup rakyat. Yang terjadi di Mesuji dan Bima hanya puncak gunung es konflik agraria yang tak pernah diselesaikan. Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat: konflik agraria meningkat tajam dari 106 kasus (2010) menjadi 163 kasus (2011), melibatkan 69.975 keluarga dengan luas areal konflik 472.048,44 hektar. Petani tewas meningkat dari 3 orang (2010) jadi 22 orang (2011). Ironis bahwa tanah, hutan, dan kekayaan alam diserahkan kepada pihak asing, sementara rakyat yang hanya mempertahankan sejengkal lahan dipaksa meregang nyawa.

Program memperbanyak pengiriman TKI yang dijalankan pemerintahan SBY sesungguhnya upaya menutupi kegagalan pemerintah membangun sektor pendidikan, pertanian, dan industri. Warga didorong bekerja di luar negeri: mayoritas pendidikan mereka SMP ke bawah.
Sementara itu, kapasitas dan integritas pemerintah dalam melindungi TKI sangat rendah. Pada 2011, misalnya, dari 16.014 TKI berkasus, 72,3 persen pulang dengan masa kerja kurang dari enam bulan. Mereka dipulangkan karena kurang terampil dan tak lolos tes kesehatan. Bahkan, pemerintah membiarkan perempuan hamil dipaksa berangkat. Pada tahun sama, sedikitnya 49.000 TKI diberangkatkan tanpa asuransi. Padahal, TKI dibebani biaya sampai Rp 25 juta, termasuk untuk asuransi.
Kalau saja pilotnya andal, ko- rupsi bisa diberantas ke akar: anggaran dan kekayaan alam benar-benar dikelola demi kemakmuran rakyat dan kita tak perlu lagi mengemis pekerjaan dari bangsa lain. Oh, pilot andal untuk rakyat baru sebatas doa….

 
Sri Palupi Ketua Institute for Ecosoc Rights

Kredit Mikro di Balongsari: Kuncinya dari Bawah

Beranda Radio Video Sajian Dosir Interaktif

Avatar Joss Wibisono
Balongsari, Indonesia
Balongsari, Indonesia

Kredit Mikro di Balongsari: Kuncinya dari Bawah

Diterbitkan : 3 Februari 2012 – 3:39pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Aditya Pradana Putra/Republika)

Bagaimana proyek bantuan asing bisa berhasil? Salah satu resepnya mungkin bisa diperoleh di Balongsari. Maklum di sana proyek-proyek itu dibangun dari bawah, atas kehendak warga. Jadi bukan diturunkan dari atas.

Bantuan Belanda untuk Balongsari yang warganya terbantai pada tahun 1947, mencakup dua proyek utama. Itulah kredit mikro yang sudah berlangsung sejak 2010 dan pembangunan fasilitas yang masih harus dimulai. Anggarannya mencapai 1,2 juta euro, dipecah menjadi 850 ribu untuk fasilitas dan sisanya, 350 ribu euro untuk proyek mikro kredit ini.

LSM Belanda Hivos menangani kredit mikro ini, bekerjasama dengan dua koperasi, masing-masing Kominda (Koperasi Mitra Kedua) sebagai pengawas dan Komara (Koperasi Masyarakat Rawagede) sebagai pelaksana. Baik Panca Pramudya dari Hivos maupun Suparta, pemimpin Komara merasa puas dengan proyek kredit mikro yang mereka kelola.

Dilihat motivasinya
Ada tiga jenis koperasi yang sekarang berkembang di Balongsari. Pertama koperasi simpan pinjam menggunakan sistem germin, kedua perdagangan tabung LPG kepada warung-warung kecil dan ketiga koperasi pertanian.

Menurut Panca Pramudya, semua anggota koperasi simpan pinjam sistem gremin adalah para ibu. “Mereka dikumpulkan,” demikian Panca, “ada yang beranggotakan lima orang, ada pula enam orang”. Dari sini akan muncul center. “Satu centre terdiri 25 sampai 30 orang atau lima sampai enam kelompok”.

Menurut Panca pada awalnya mereka dikumpulkan setiap minggu untuk dilatih, untuk dilihat motivasinya. “Kalau memang menunjukkan itikad baik dan motivasi bagus, setelah lima kali latihan, mereka bisa menerima kucuran kredit”. Pada putaran pertama ini kucuran mencapai satu sampai dua juta rupiah.

Kredit itu diangsur dalam 52 minggu atau 30 minggu, melalui pertemuan kelompok yang diadakan tiap minggu. Begitu lunas, mereka bisa mengajukan pinjaman tahap kedua. Menurut Panca, kredit tahap kedua ini bisa dalam jumlah yang sama, bisa pula lebih kecil kalau konduitenya tidak baik, tapi bisa juga lebih besar.

Tanggung renteng
Ciri khas sistem gremin ini adalah tanggung jawab bersama. “Jadi tanggung renteng gitulah,” tutur Panca. Kalau dari lima orang ini satu tidak jalan, maka dia akan ditanggung oleh empat orang yang lain. “Jadi kelompok yang beranggotakan lima orang ini bisa saling mengingatkan dan saling menegur supaya temannya tidak main-main”.

Dalam hitungan Suparta, nasabah koperasi kreditnya sudah mencapai 1700 orang, dan buru-buru ditegaskannya ini bukan jumlah akhir. “Kita masih mengembangkan nasabah. Di lapangan kita merekrut nasabah-nasabah yang memang belum mendapatkan kredit dari pihak lain. Syaratnya mereka harus bersedia mengikuti cara-cara germin”.

Menjawab pertanyaan anggota parlemen Belanda, September lalu, Menteri Muda Kerjasama Pembangunan Belanda menyatakan anggota koperasi simpan pinjam ini mencapai 1000 orang. Targetnya 2000 orang. Panca Pramudya dari Hivos optimis jumlah itu akan bisa dicapai. Bahkan menurutnya Komara akan menjadi lembaga yang mandiri.

Lagi pula kegiatan Komara berkembang pada dua cabang lagi, itulah perdagangan tabung LPG dan koperasi pertanian. Menjelaskan cara kerja perdagangan tabung LPG, menurut Suparta, Komara bertindak sebagai pangkalan agen LPG. “Lalu kita mentransfer LPG itu ke warung-warung kecil, jadi warung, bukan ke perorangan”.

Suparta setuju kalau dalam ini koperasinya disebut bertindak sebagai grosir. “Tapi kita sistemnya dikirim langsung ke warung-warung kecil yang lebih dekat kepada masyarakat,” tambahnya. Sejak mulai Juli 2010, sekarang sudah 70 warung yang berlangganan gas pada Komara. “Mereka memperoleh keringanan paling sedikit Rp. 4000, kalau dibandingkan dengan harga eceran,” tutur Panca.

Pasti ada masalah
Proyek terbaru Komara yang dengan antusias diungkapkan baik oleh Suparta, ketuanya, maupun oleh Panca Pramudya dari Hivos adalah kredit usaha pertanian. Baru diluncurkan Desember lalu, nasabah kredit ini sudah mencapai 200 orang. “Tiap satu hektar sawah bisa menerima kredit Rp. 2 juta,” tutur Suparta yang menunjuk bahwa kredit itu digunakan untuk membeli pupuk atau membayar upah penggarap.

Penerima kredit ini adalah pemilik sawah atau petani penggarap. Biasanya mereka menggarap sawah pemiliknya dengan sistem bagi hasil. Karena baru dimulai musim tanam kemarin, masih belum jelas apakah benar-benar berhasil. Tetapi Suparta optimis, bahkan dia sudah tidak sabar lagi menanti panen yang akan berlangsung satu setengah bulan lagi.

Keberhasilan ini tidaklah berarti Komara bebas masalah. “Kalau namanya kredit,” tutur Suparta, “pasti ada masalah”. Dia merasa untung masalahnya masih di bawah tolenransi, di bawah lima persen. Di sinilah manfaat sistem gremin, tunjuk Suparta, karena kegagalan satu anggota akan ditanggung anggota lain.

Keberhasilan Komara baru akan terbukti kalau kelak Hivos bisa melepasnya. Panca Pramudya menunjuk, karena sudah sejak 2010, fokus kegiatan sekarang bukan lagi modal, tapi menguatkan manajemen. Panca melihat anggota sudah mempunyai kesadaran dan rasa memiliki koperasi. “Itu yang akan terus dikuatkan, supaya mereka jadi lembaga mandiri”, demikian Panca Pramudya.

Pemimpin Komara Suparta sementara itu sudah siap dengan proyek berikutnya, itulah kredit peternakan untuk membeli induk sapi. Di Balongsari sudah ada beberapa warga yang berhasil dengan peternakan sapi

 

Paprika, Antioksidannya Berlimpah

Paprika, Antioksidannya Berlimpah

Lusia Kus Anna | Jumat, 3 Februari 2012 | 17:37 WIB
shutterstock
TERKAIT:

Kompas.com - Paprika adalah keluarga cabai yang populer dalam dunia masakan. Ia bisa diolah menjadi salad, ditumis, atau dipanggang. Ada beragam warna paprika, namun semuanya memiliki kandungan antioksidan yang sama tingginya.

Selain kaya akan vitamin C, paprika juga sarat akan berbagai nutrien, seperti tiamin, vitamin B6, betakaroten, serta asam folat. Ia juga mengandung fitokimia yang memiliki aktivitas antioksidan seperti asam klorogenik, capcaisin, zeaxanthin, serta asam coumeric.

Kendati sama-sama mengandung nutrien, tetapi menurut penelitian yang dikutip dari situs everynutrient, paprika berwarna merah mengandung nutrien lebih tinggi dibandingkan saudaranya yang berwarna hijau. Paprika merah juga mengadung likopen, zat aktif yang terbukti mencegah kanker dan penyakit jantung.

Mungkin karena kandungan vitamin C dan beta karoten yang tinggi, paprika diketahui memiliki efek perlindungan terhadap katarak. Buah yang berasa renyah dan agak pedas ini juga terbukti mencegah pembekuan darah sehingga mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.

Hasil penelitian juga menunjukkan paprika bisa melindungi tubuh dari radang sendi atau artritis. Dalam riset yang dimuat dalam Annals of the Rheumatic Disease menyebutkan orang yang kurang mengasup makanan mengandung vitamin C beresiko tiga kali lipat terkena artritis dibanding mereka yang cukup mengasup makanan tinggi vitamin C.

Dari Mesuji untuk Reforma Agraria

 

Media Indonesia halaman 22, 31 Januari 2012

Dari Mesuji untuk Reforma Agraria

 

S. Rahma Mary H dan Noer Fauzi Rachman*

 

Pada 16 Januari 2012,  Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji telah memaparkan temuan-temuan mereka. Tim ini, yang dibentuk 17 Desember 2011, bertugas mencari fakta yang relevan dan akurat terhadap semua aspek yang terkait dengan peristiwa hukum di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, dan Kabupaten Mesuji, Lampung. TGPF menemukan beberapa hal penting di areal kasus Register 45 yang melibatkan warga dan PT Silva Inhutani, kasus di Desa Sri Tanjung yang melibatkan warga dan PT BSMI, serta kasus Sungai Sodong yang melibatkan warga dan PT Sumber Wangi Alam.

 

Pertama, TGPF menemukan ada konflik agraria di tiga daerah tersebut yang berujung pada terjadinya kekerasan. Kedua, TGPF meminta Komnas HAM menyelidiki dugaan pelanggaran HAM dalam kasus kematian seorang warga, yaitu Made Aste di Register 45, Mesuji, Lampung. Ketiga, TGPF meminta ada bantuan kepada korban luka yang masih memerlukan perawatan medis. Keempat, TGPF merekomendasikan agar pemda membantu anak korban, terutama di bidang pendidikan. Kelima, TGPF merekomendasikan LPSK memberi perlindungan kepada saksi dan korban. Keenam, TGPF merekomendasikan pemerintah menindak dan menertibkan badan usaha pengamanan, penanggung jawab, dan perusahaan pengguna pengamanan tersebut. Terakhir, melakukan langkah penegakan hukum kepada pembuat dan pengedar potongan video kekerasan di DPR yang tidak sesuai dengan temuan fakta TGPF di tiga tempat kejadian.

 

Terhadap kepolisian, TGPF juga merekomendasikan Polri untuk meningkatkan kapasitas penanganan konflik dan mendorong pelarangan  penerimaan dana dari pihak ketiga untuk menjaga netralitas dan profesionalitas kerja Polri. Disisi kebijakan agraria, TGPF merekomendasikan kepada PPresiden untuk mempertimbangkan penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) Reforma Agraria yang pelaksanaannya dipantau Unit Kerja Presiden.

 

Penanganan kegawatdaruratan

Temuan-temuan TGPF tersebut patut dihargai. Karena TGPF menangani kasus Mesuji itu sebagai suatu kasus, kita bisa mengerti rekomendasirekomendasinya. Untuk menangani kasus yang hadir di depan mata, yang harus didahulukan ialah penanganan kegawatdaruratan, ketika kebutuhan-kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang menjamin kelanjutan hidup rakyat korban dipastikan tersedia. Pemerintah (termasuk pemerintah da erah) mesti melakukan penanganan itu dengan cepat dan tepat sasaran. Selain itu, harus dipastikan pula para rakyat yang merupakan korban bebas dari rasa takut akan intimidasi yang mungkin saja bisa dialami lagi. Semua yang melakukan tindakan penyalahgunaan kewenangan dan penindasan mesti diproses secara hukum dan dipastikan ada tindakan hukum dalam rangka menciptakan efek jera, yakni selain si pelaku tidak akan mengulangi perbuatan tersebut, masyarakat luas menunjukkan bahwa negara hadir dalam melindungi segenap rakyat. Dalam situasi kegawatdaruratan itu, pengategorian antara mana rakyat yang asli (adat) dan mana yang pendatang (migran)—yang dilakukan pihak perusahaan dan pemerintah–sama sekali tidak akan menolong korban. Pengategorian itu akan menimbulkan eksklusivisme dan permasalahan baru.

 

Konflik-konflik agrarian semacam kasus Mesuji tentu tidak bisa diatasi dengan pemecahan tambal-sulam karena sifatnya yang kronis dan struktural. Apakah kita bias belajar dan apa yang bisa kita pelajari dari cara penanganan kasus Mesuji ini? Perlu dicatat bahwa TGPF juga menemukan akar masalah di tiga kasus Mesuji itu ialah adanya konflik agraria, tetapi rekomendasi-rekomendasi yang mereka hasilkan ternyata tak mencakup audit kebijakan pemberian hak guna usaha (HGU) yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional dan hak pengusahaan hutan tanam an industri (HPHTI) yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan. Hal itulah yang sesungguhnya perlu dipelajari dan diperiksa dengan saksama, bagaimana penggunaan (dan penyalahgunaan) kewenangan dalam proses pemberian konsesi kepada perusahaanperusahaan termaksud yang berakibat menutup kesempatan rakyat setempat untuk mendapatkan manfaat atas sebagian tanah dan kekayaan alam di sana. Dalam rangka penyelesaian kasus, Pemerintah seharusnya dapat menggunakan kewenangannya untuk mengoreksi pemberian HGU dan HPHTI tersebut dengan memastikan tersedianya tanah untuk permukiman dan usaha pertanian rakyat korban itu, bukan justru melanggengkan proses pengeksklusifan itu.

 

Menuju reforma agraria?

Untuk melengkapi apa yang kami angkat dalam tulisan kami sebelumnya, ‘Mesuji, Konfl ik Agraria yang Kronis’, pada Media Indonesia (26 Desember 2011), kami mengusulkan pemerintah segera melakukan audit menyeluruh kebijakan pemberian konse si dan konsekuensinya pada ketersediaan tanah pertanian dan permukiman untuk rakyat miskin perdesaan. Prinsipnya, badan-badan pemerintahan berkewajiban melindungi, menghormati, dan memenuhi hak-hak warga negaranya termasuk di dalamnya hak atas tanah, hak atas hidup yang layak, sebagai bagian dari hak ekonomi,sosial, dan budaya. Pemenuhan hak-hak tersebut secara progresif merupakan kewajiban negara, dan sebaliknya,membiarkan terjadinya perampasan-

perampasan tanah oleh perusahaan-perusahaan raksasa merupakan suatu bentuk pelanggaran hak asasi manusia by omission, yang terjadi karena negara abai pada upaya melindungi warganya dari pelanggaran HAM yang dilakukan perampas tanah.

 

Sementara itu, penggunaan kekerasan oleh aparat Negara kepada korban jelas merupakan pelanggaran HAM yang langsung, by commission. Menggunakan perspektif  keadilan transisional (transitional justice) untuk penyelesaian konflik agrarian semacam kasus Mesuji akan memungkinkan kita memahami konfl ik agraria ini sebagai suatu tanda dari krisis agraria yang meluas. Pemerintah mestinya secara sungguh- sungguh bisa memahami kecenderungan konsentrasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah serta kekayaan alam  itu pada perusahaan-perusahaan raksasa.

 

Di lain pihak, memperhatikan perhitungan mengenai kebutuhan akan tanah untuk permukiman dan usaha pertanian rakyat miskin perdesaan. Pemerintah seharusnya mempunyai gambaran mengenai ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah serta kekayaan alam di seluruh wilayah kabupaten dan provinsi. Hanya dengan gambaran itulah pemerintah bisa merancang program reforma agraria yang menyeluruh. Inpres tentang Reforma Agraria sebagaimana diusulkan TGPF seharusnya diefektifkan untuk menyiapkan gambaran dan desain itu.

 

*Penulis:

S. Rahma Mary H, Koordinator Program Pembaharuan Hukum dan Resolusi Konfl ik pada Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis

Noer Fauzi Rachman, Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria

 

Muhammad, a consistent protector of minority rights

Muhammad, a consistent protector of minority rights

 

Moh Yasir Alimi

Semarang | Sat, 02/04/2012 1:58 PM (Jakarta Post)

 

During this month of the Islamic calendar, Muslims are celebrating the birth of the Prophet Muhammad. Muhammad was born in the sixth century in the middle of a culture of ignorance, when people fought because of their tribal affiliations and religious beliefs and women were treated like camels.

 

Amid such a poor condition for humanity, Muhammad came to teach humanity, tolerance, humility, equality, justice and compassion. He always emphasized consciousness of God and the divinity of human life as the gate of enlightenment, so that human beings would not enslaved by their own ego and bodily impulses.

 

Karen Armstrong describes Muhammad as a respectful and compassionate man who lived a decent life. She argues that although Islam has often been described in the West as violent and inherently intolerant, Muhammad taught tolerance and compassion toward other religions to all of his followers.

 

Tolerance is the foundation and the measure of Islamic faith. The faith of a Muslim is as much as his tolerance toward other.

 

Unfortunately, while most Muslims conform to the spirit of his message, others distort his teachings. Now, we see religion is used as reason to incite violence and intolerance.

 

Accordingly, in this celebration, it is time to comprehend the tolerant teaching of the Prophet in order to better understand one another in this global community of humanity. Muhammad’s life is about tolerance, tolerance and tolerance.

 

He showed tolerance and mercy to children, the weak, non-Muslims and religious minorities. One legacy on tolerance is the Constitution of Madina.

 

The first article of the constitution stated that all the inhabitants of Medina, regardless of religion, race and ancestry were “one nation”. Muslims and non-Muslims should live in harmony, respect and protect each other.

 

An attack on one religion and tribe was regarded to be an attack on the integrity of Madina.

 

In Madina, the Prophet exemplified tolerance with himself and he strictly forbade any mistreatment of people of other faiths. He said: “Whoever kills a person who has a truce with the Muslims will never smell the fragrance of Paradise.”

 

He also said: “Beware! Whoever is cruel and hard on a non-Muslim minority, or curtails their rights, or burdens them with more than they can bear, or takes anything from them against their free will; I will complain against the person on the Day of Judgment.” He added: “Who hurts a non-Muslim minority is like hurting me”.

 

The Prophet modeled a new society based on tolerance and religious freedom. Every faith was free to practice their beliefs freely without any hindrances. Their religious rights and places of worship should be respected.

 

Abdulsalam, an Islamic scholar concerned about religious tolerance, presented four examples of the Prophets’ tolerance. First, “the Jews in Medina at the time of the Prophet had their own school of learning, named Bait-ul-Midras, where they would recite the Torah, worship and educate themselves.”

 

Second, in many letters he sent to his emissaries, the Prophet repeatedly emphasized that religious institutions should not be harmed. Here is an example of the letter dated 628 to the religious leaders of Saint Catherine on Mount Sinai who sought his protection:

 

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them. Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by God! I hold out against anything that displeases them.

 

No compulsion is to be on them. Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.

 

No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses. Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet. Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.

 

No one is to force them to travel or to oblige them to fight. The Muslims are to fight for them. If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.

 

Their churches are declared to be protected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants. No one of the nation [Muslims] is to disobey the covenant till the Last Day.”

 

Third, Abdulsalam also told an interesting story about when the Prophet received a delegation of 60 Christians from Yemen, at his mosque. “When the time for their prayer came, they faced the direction of east and prayed. The Prophet ordered that they be left in their state and not harmed.”

 

Fourth, the Prophet also exemplified cooperation with people of different faiths in political context. For example, he selected a non-Muslim, Amr bin Umaiyah, as an ambassador to be sent to Ethiopia.

 

These are only some examples of the Prophet’s tolerance towards other faiths popular in scholarly research about the prophet’s life, but increasingly less popular in Islamic world.

 

Every human being has the freedom to choose his religion and the state should protect that right and the right to worship in accordance to his religion.

 

Religion should not be forced upon individual, and the entire life of the Prophet is a vivid demonstration of the principle of the Koran, which promotes tolerance and sets the guideline for the Muslims’ interaction with people of different faiths. “There is no compulsion in religion”

 

Tolerance is an important measure of good conduct and righteousness. The Prophet said: “Those who suppress their anger, and forgive other people – assuredly, God loves those who do good.” The Prophet added: “The believers with the most perfect faith are those with the most perfect conduct and manners.”

 

The Prophet Muhammad dedicated his entire life to liberate human beings from oppression, ignorance and greed. Even when he almost passed away, his last advice was, “Treat your women well, and do not oppress your servants.”

 

Often fueled by misconceptions about the Prophet, the world thus needs a deeper and objective understanding of the Prophet – his tolerance, gentleness, his love of animals, his concern for the weak and oppressed, justice, compassion and mercy. This understanding is an important step for world peace and human freedom.

 

“The Prophet taught us that forbearance is greater than revenge; forgiveness more lofty than punishment; and compassion more effective than austerity. Above all, he taught us mercy. And in these difficult times, we are all in need of more mercy in the world,” Amjad Tarsin wrote in his call for celebration of the mercy and honest reflection in Islamic world.

 

Finally, within the spirits and love to the Prophet, let’s nurture our conscience with the principles of love and mercy he shows during his entire life. Religious minorities and their places of worship should be protected and the elites should not make statements that provoke persecution of minorities.

 

None should be hurt because of religious belief. As Jalaluddin Rumi said, “Listen with ears of tolerance! See through the eyes of compassion! Speak with the language of love!”

 

The writer is a lecturer at Semarang State University

Paradoks Islam Indonesia

Oleh : Ahmad Khotim Muzakka.
Dalam sebuah pengajian di DI Yogyakarta, Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang Kyai Ahmad Mustofa Bisri menerangkan bahwa yang paling bertanggungjawab terhadap kondisi Indonesia saat ini adalah orang Muslim. Itu karena orang Islam merupakan kelompok terbesar yang menghuni negara Maritim ini. Pada tahun 2010, umat Islam mencapai angka 85,1 persen dari total 240.271.522 penduduk Indonesia. Gus Mus, sebutan akrab beliau, melanjutkan umat Islam lah yang harus berdiri, berbaris di depan dan bertanggungjawab atas keterpurukan bangsa ini.
Pernyataan tersebut bukan hendak menegaskan kelompok agama yang lain yang bertanggungjawab terhadap nasib Indonesia. Melainkan karena lebih pada kuantitas penduduk Indonesia yang didominasi orang Islam. Gus Mus mengandaikan diadakannya survei tentang umat Islam yang mempunyai Al-Quran di rumah. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan lanjutan; berapa persen yang membaca, berapa persen yang memahami, dan yang lebih penting berapa persen yang mengamalkan.

Jika survei semacam ini dilaksanakan, Gus Mus optimis segala bentuk permasalahan di Indonesia bisa dipecahkan lahan-perlahan. Karena semua kitab suci-sebenarnya tidak hanya kitab suci umat Islam-mengajarkan hal-hal baik. Terutama perkara yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak.

Pesan Penting

Peringatan itu seperti relevan dengan hasil penelitian Sheherazade S. Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University. Kedua peneliti itu menempatkan Indonesia pada peringkat ke-140 dari 208 negara dalam sebuah penelitian bertajuk “How Islamic are Islamic Countries” (Global Economy Journal: 2010). Negara yang menempati posisi puncak adalah Selandia Baru, disusul Luxemburg di urutan kedua.

Ada empat indikator yang digunakan dua peneliti ini untuk mengukur sejauh mana sebuah negara dikategorikan sebagai yang Islami. Pertama, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Kedua, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Ketiga, hak asasi manusia dan hak politik. Keempat, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan Internasional dan masyarakat non-Muslim. Sedangkan indikator yang bersifat personal yakni; ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia, tidak disertakan.

Dari keempat indikator yang dijadikan acuan, terlihat bahwa Indonesia sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia belum benar-benar menerapkan prinsip-prinsip utama ber-Islam, terutama kaitannya dengan negara. Banyaknya kecurangan di bidang politik, timpangnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, serta merebaknya korupsi yang merajalela menjadikan Indonesia menempati peringkat yang “mengecewakan”. Hal ini tentu menjadi koreksi besar-besaran terhadap ke-Islam-an Indonesia yang bangga dengan kuantitas. Sedangkan masalah kualitas ber-Islam, yang disertai segala atributnya, belum menjadi perhatian utama.

Penelitian itu cukup mengejutkan. Dari 56 negara OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistan (147), Yaman (198), dan terburuk adalah Somalia (206). Sedangkan negara Barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).

Hasil penelitian itu, sudah selayaknya menjadikan negara Indonesia mau menginstrospeksi terhadap keislamannya selama ini. Sebagai bangsa yang masih terus belajar, mestinya kita terpacu untuk memperbaiki diri. Abdurrahman Wahid (Islamku, Islam Anda, Islam Kita) menegaskan bahwa baik moralitas sekuler dari sebuah ideologi duniawi seperti Komunisme, maupun moralitas agama yang digunakan dalam pengembangan sistem politik, haruslah dibaca sebagai keniscayaan sebuah pemerintahan yang benar-benar bertanggung jawab pada rakyat. Gus Dur tidak membedakan antara negeri yang menyatakan diri sebagai negara Islam atau negara sekuler. Yang terpenting adalah negara itu menerapkan prinsip yang mendukung hal itu terwujud.

Nah, melihat kesemrawutan Indonesia yang tak hanya di bidang politik, ekonomi, dan sosial, melainkan juga pada sikap berbudaya manusianya, bangsa Indonesia mesti memahami bahwa Islam bukan sebatas penamaan belaka. Islam merupakan perkara yang tak cukup dilisankan, juga dituliskan. Lebih dari itu Islam adalah pengamalan. Melihat hasil penelitian di atas, kita boleh mengajukan pertanyaan, benarkah negara-negara Barat lebih Islami daripada negara-negara yang mengaku diri sebagai negara Islam? Ini perkara pelik, namun kita mesti menginsafi diri agar bisa memandang lebih jernih dan lebih adil menilai pribadi.

Lebih parahnya, Islam sering dijadikan tameng untuk berlindung atas ketidakpatutan dalam hukum positif. Sekadar contoh, apa yang dikatakan Ozhak Sihotang, pengacara Sofyan Usman terkait dugaan korupsi kliennya sangat tidak pantas diutarakan. Katanya, “saat itu Pak Sofyan kan anggota Banggar DPR juga. Saat itu membantu memperjuangkan anggaran Otorita Batam, dan cair Rp 85 miliar. Pak Sofyan tidak meminta apa-apa, hanya meminta agar dibantu dalam pembangunan masjid. “Jadi itu proyek akhirat, tidak untuk kepentingan pribadi.” (Detiknews, 24/12)

Sebagaimana diberitakan Sofyan Usman, mantan anggota DPR periode lalu, disidangkan atas kasus dugaan korupsi Otorita Batam di Pengadilan Tipikor. Sofyan diduga menerima uang Rp 150 juta dan cek pelawat Rp 850 juta. Namun Sofyan berkelit, dia tidak menerima sepeser uang pun. Uang seluruhnya disumbangkan untuk pembangunan masjid.

Kasus seolah menegaskan hasil penelitian di atas. Bahwa Islam belum sepenuhnya diimani sebagai perilaku dan pengamalan. Islam baru dirayakan saat upacara keagamaan, seperti hari raya. Selebihnya, kita sangat berbangga dengan kesalahan sosial yang kita lakukan setiap hari seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Beginikah kita memperlakukan agama?***

Penulis adalah Peneliti pada Idea Studies IAIN Walisongo, Semarang.

 

Disertasi Aqil Siradj Telah Menyebut Syiah Sesat?

 

Refl Sunny <ambon@tele2.se>: Silahkan bersesat-sesat atau tidak sesat, tetapi  bukan wewenang disertasi menjadi hakim dan hukum, melainkan….?

Disertasi Aqil Siradj Telah Menyebut Syiah Sesat?

 

Jum’at, 03 Februari 2012

Dr Said Aqil Siradj Dulu dan Kini

PERJALANAN hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (istiqamah). Karena itu, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dan ini mungkin salah satu hikmah yang dapat anda petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menunjuki anda jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran

Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj di berbagai media. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.

Untuk menguatkan klaimnya ini, Said Aqil merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya: “Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat.”

Pernyataan Said Aqil ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 yang ia tulis semasa ia kuliah di Universitas Umm Al Quro, hal: tha’ (ط) Said Aqil menyatakan: “Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial dan idiologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal syi’ah, Qadiyaniyah (Ahmadiyyah), Bahaiyah dan selanjutnya tasawuf.”

Pernyataan Said Aqil pada awal dan akhir disertasi S3-nya ini menggambarkan bagaimana pemahaman yang dianut oleh Universitas Umm Al Quro. Bukan hanya Syi’ah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu pada akhir dari disertasinya, Said Aqil menyatakan: “Sejatinya ajaran tasawuf dalam hal “al hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syi’ah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syi’ah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan idiologi ini sampai ke pada para pengikut Sekte Syi’ah berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” (“Silatullah Bil Kaun Fit Tassawuf Al Falsafy” oleh Said Aqil Siradj 2/605-606).

Karena menyadari kesesatan dan mengetahui gencarnya penyebaran Syi’ah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi Umat Islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.

Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali ludah dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan “pembela” Syi’ah. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam Umat Islam di negeri tercinta ini?

Wassalam,

Dr. Muhammad Arifin  Badri
Lulusan Universitas Islam Madinah, dosen tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI)


Debat Tentang Soal “Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia”

“Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia”

ChanCT <SADAR@netvigator.com>, GELORA45@yahoogroups.com , Friday, 3 February 2012, 16:38

 

 

Mang JT, ini ada tanggapan Nesare di Gelora45. Barangkali perlu perlu ditanggapi lagi?

 

Salam,

ChanCT

 

 

—– 原始郵件—–

寄件者: nesare

收件者: GELORA45@yahoogroups.com

傳送日期: 2012年2月3日 3:35

主旨: RE: [GELORA45] Re: [t-net] Re: “Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia”

 

Lex Rieffel:
> AS memiliki masalah anggaran yang serius, perlu bagi AS untuk
> mengurangi pengeluaran. Namun, pengendalian anggaran dilakukan agar
> tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi. Salah satunya yang mengalami
> hal ini adalah Yunani, di mana pengurangan defisit berarti kenaikan
> pajak.

JT: Ini bukan masalah anggaran yang serius, tapi Obama berniat mengurangi KEBIADABAN yang ditinggalkan G.W.Bush, di mana anggaran militer yang tinggi dipersiapakan untuk business senjata di kawasan2 lain, dengan menciptakan perang terbuka. Apalagi kondisi ekonomi Amerika saat ini sudah sangat memprihatinkan. Sejak perang Vietnam dulu, sampai perang Irak belum lama ini, dan calon2 sasaran berikutnya seperti Korea Utara dan Iran, tujuannya sangat jelas untuk business senjata, karena business konvensional Amerika cost-nya sudah terlalu mahal. Ketika Amerika kalah perang di Vietnam tahun 1975 dulu, ekonomi Amerika langsung krisis, karena hancurnya market persenjataan yang amat sangat menguntungkan Amerika.

 

Nesare: masalah anggaran ini menjadi prioritas utama di US. Leon Panetta yang sudah 73 tahun disuruh ngurus budget. Panetta ini bekas bosnya cia lalu 2 tahun lebih sedikit jadi menhan. Dia itu orang budget bukan orang militer atau intel. Obama miliih dia jadi bos cia krn dia orang baik, demokrat, kredibilitasnya tinggi. Obama milih dia jadi menhan krn keahliannya di budget (dia adalah bos nya budget jaman bill clinton). Orang ini katholik, lawyer, ketawa terus ini harus kerja lagi ngurus budget disuruh obama.USA motong budget militer bukan seperti yg dikatakan JT “anggaran militer yang tinggi dipersiapakan untuk business senjata di kawasan2 lain, dengan menciptakan perang terbuka”.

 

Coba baca artikel ini yang bilang panetta menghadapi situasi yang sulit menghadapi allies nya di eropa/nato krn panetta motong budget pertahanan di eropa dgn menutup 2 infantri brigade yang jumlahnya = setengah dari total serdadu. Artinya apa? Dengan mengorbankan kepentingan di eropa itu ketegangan di eropa bisa meningkat apalagi dgn krisis keuangan dieropa sekarang ini. arti selanjutnya obama sangat serius ngurus budget sampai harus ngorbanin ketenangan di eropa.

http://www.reuters.com/article/2012/02/01/us-nato-usa-panetta-idUSTRE8100CU20120201

 

Ttg bisnis senjata : gdp usa 15 triliun. USA jual senjata 170 billion. Berapa persen? Gak ada artinya bisnis senjata dalam ekonomi USA.

http://www.globalissues.org/article/74/the-arms-trade-is-big-business
Lex Rieffel:
> Setengah dari populasi dunia berada di Asia. Wilayah ini juga
> negara dengan perkembangan tercepat di seluruh dunia. Selain itu
> menurut saya, ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia ada di
> Asia. Karena kawasan ini tidak memiliki koeksistensi damai. Eropa
> yang memiliki koeksistensi damai pun, bisa pecaH Perang Dunia
> hingga dua kali. Ada ketegangan yang intens di Asia. Sebut saja
> Korea utara, Taiwan, masalah Laut China Selatan dan masalah dalam
> negeri di India. Potensi kekerasan antara negara di Asia saya yakin
> lebih tinggi dari pada kawasan lain. Inilah yang menjadi kepentingan
> AS: menyumbang pada evolusi perdamaian di Asia.

JT: Silakan perhatikan kata2 ini: “Eropa yang memiliki koeksistensi damai pun, bisa pecaH Perang Dunia hingga dua kali”. Yang dulu menjajah negara2 Asia itu bangsa apa? Bangsa BIADAB atau bangsa Eropa yang mempunyai koeksitensi damai? Kalau bangsa2 di Asia lebih emosional dibanding bule, sehingga sering terjadi pertengkaran2 kecil, itu sisa2 akibat dari politik adu domba bangsa biadab yang menjajah Asia dulu. Meskipun demikian bukan berarti bangsa2 Asia tukang berperang. Kenapa Korea Utara yang demikian ditakuti oleh Amerika, tapi bisa begitu menghargai Megawati yang notabene tidak punya power, sekedar mantan presiden NKRI dan anak kandung Bung Karno? Pernahkah orang Amerika belajar budaya bangsa2 Asia yang sangat menjunjung tinggi budi baik?

Nesare: lex rieffel bilang masyarakat eropa ada koeksistensi damai artinya sejarah eropa yang walaupun putih tapi tidak homogeny bangsa2nya. Makanya sering perang sejak jaman dulu kala. Yang direfer oleh lex rieffel itu adalah pd 1 dan pd 2, artinya dia tahu dulunya eropa itu perang terus oleh krn itu sudah capek tetapi 2 kali perang dunia  terjadi juga walaupun masyarakat eropa sudah capek perang. Itu makna “koeksistensi” = tidak mau perang lagi.

 

Bung JT tanggapi salah: mengperbandingkan orang eropa dan orang asia mana yang lebih baik dan lebih biadab. Ya enggak nyambung wong baca tulisan orang saja salah.
Lex Rieffel:
> Beberapa tahun lalu banyak yang mengatakan bahwa abad 21 akan
> menjadi abadnya Asia. Saya kira ini benar. Tapi ada resiko besar di
> Asia, yang pertama adalah China. Negara ini berkembang dengan
> sangat pesat dan stabil dalam 30 tahun. Tapi kita harus bersiap
> akan adanya gangguan pada kemajuan ekonomi China. Karena menurut
> sejarah, tidak ada kemajuan yang tanpa gangguan. Masalah akan
> timbul di China, ekonomi akan menurun dan stabilitas politik akan
> terguncang.

JT:

Silakan baca pernyataan di atas berulang kali agar jelas. Komentar saya singkat saja, yaitu dengan mengutip peribahasa Indonesia yang sangat terkenal: Kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Sejalan dengan teori deminishing return dalam pertumbuhan ekonomi, saya percaya ekonomi China suatu saat akan hancur, tapi ENTAH KAPAN, mungkin 200 atau 2.000 tahun lagi.

Nesare: ini ‘kan juga tidak nyambung. Lex rieffel bilang ekonomi cina akan ada gangguan. Bung JT klaim Lex Rieffel bilang cina akan  hancur. Ini kan salah ngerti tulisan orang.

Sudah teori ilmu ekonomi tidak ada ekonomi yang tidak naik turun. Kalau kecepatan ekonominya tumbuh ya bakalan ada inflasi, kalau lambat ya ekonominya senin kemis. Bung JT bilang pake “emphasize: berulang kali”.

Gimana bung JT bisa tahu ekonomi cina akan hancur nantinya 200 tahun, 2000 tahun lagi. Prediksinya pake apa? Coba baca tulisan orang itu yg teliti. Sudah baca berulang kali katanya tapi masih gak ngerti pendapat penulis.
Tapi ekonomi Amerika yang sudah sangat rawan, sudah jelas akan bangkrut lebih dulu. Kenapa tidak pernah disinggung seolah-olah ekonomi Amerika masih sangat hebat dan tidak pernah ada masalah. Bagaimana utang2 Amerika yang demikian besarnya kepada China? Bagaimana dengan teori kapitalis Amerika yang diadopsi China, untuk menjatuhkan Amerika sendiri, kenapa tidak pernah disingung-singgung? Bukankah ivestasi China di Amerika sudah benar2 demikian dominannya? Tulisan2 selanjutnya nyaris sama, hanya menjelek-jelekkan negara2 Asia tanpa ada logikanya. Terakhir saya kutip dan tanggapi tentang komentarnya terhadap Indonesia.
JT: Saya kira tanggapan saya sudah cukup jelas, bahwa tulisan2 seperti ini adalah tulisan sampah yang merupakan bagian dari grand srategi perang informasi yang sedang dilancarkan Amerika untuk menyelamatkan perekonomiannya yang sudah benar2 rawan. Akibat dari krisis 2008 yll yang dipicu oleh SUBPRIME MORTGAGE, banyak masyarakat menengah Amerika yang tadinya tinggal di apartement2 mewah, karena perusahaan tempat kerjanya bangkrut terpaksa di PHK masal. Akibatnya dia tidak bisa membayar cicilan apartementnya sehingga diusir, dan terpaksa tinggal di hutan2 pinggiran kota menjadi gelandangan. Istilah kerennya Jungle City, tapi intinya sama saja dengan perkampungan gelandangan di Indonesia. Pertengahan tahun 2011 pengangguran di Amerika sudah mencapai 9%, entah sekarang sudah berapa? Kok para pakar dan para akhli tsb tidak pernah menyinggungnya?

 

Nesare: buset sumpah serapah begini keluar dari mulut seorang yang katanya ekonom? Data ekonomi usa sudah membaik. Yg belum promising itu adalah sector real estate saja krn banyak foreclosure yang masih masuk pasar s/d 2003. Setelah itu sector real estate akan stabil krn builder tidak bangun rumah baru. Yang ada rumah bekas dan ini akan diserap oleh pembeli. Ini bisa dilihat di indicator buat sector perumahan: housing starts, construction spending, existing home sales dll.

 

Tentang pengangguran di usa ini datanya dari bps nya usa: jan 2011 = 91% membaik ke sept = 9.0%, okt =8.9 %, nov =8.7 %, des =8.5 %. Paling rendah umemployment rate usa bulan sept, okt, nov, des 2000 = 3.9%. biasanya 6%-7% itu normalnya.

http://data.bls.gov/timeseries/LNS14000000

 

Tentang kehidupan orang amerika yang katanya kelas menengah tinggal di apartment mewah krn phk masal harus tinggal di hutan. Ini jelas enggak tahu orang hidup di usa itu seperti apa. Lalu dihubungkan dengan orang miskin di perkampungan gelandangan di Indonesia. Sedih sekali baca comparison antara orang miskin amerika dan Indonesia. buset……

Jelas JT ini enggak ngerti tentang social security, unemployment benefit, unemployment insurance, shelter, food stamp dll dinegara maju.

 

Orang kalau sudah kalap dan buta akan menulis salah. Apalagi pengetahuannya kurang plus malas nge goggle sebentar saja.

 

salam

 

 

 

From: GELORA45@yahoogroups.com [mailto:GELORA45@yahoogroups.com] On Behalf Of ChanCT
Sent: Thursday, February 02, 2012 2:57 AM
To: tionghoa-net@yahoogroups.com
Subject: [GELORA45] Re: [t-net] Re: “Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia”

 

 

 

Mang JT yb,

 

Sungguh, saya tidak bermaksud membela penulis “Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia” yang dikatakan mamang tulisan sampah, yang merupakan bagian grand strategi AS dengan usaha mengkadali negara-negara Asia khususnya Indonesia. Karena saya gak pernah kenal dan membaca tulisan-tulisan Denny Armandhanu dan Karaniya Dharmasaputra sebelumnya.

 

Sesuai dengan judul yang diberikan “Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia”, tentu tulisan kali ini bisa saja digunakan menjelekkan Indonesia dengan menutupi kebobrokan AS saja. Oleh karena itu mamang jadi gerang? Hehehee, … Tapi, terus terang apa yang diajukan, bagi saya justru tetap mempunyai nilai untuk diperhatikan Indonesia, khususnya Pemerintah yang berkuasa, agar Indonesia tidak menjadi masalah Baru Bagi Asia. Terutama harus melindungi SDA yang nyaris dikuras oleh AS itu! Jangan biarkan SDA terus dikuras AS sampai kering-kerontong dengan membiarkan rakyat banyak tetap papa-miskin! Itu akan menjadi masalah Baru Bagi Asia!

 

Tapi, saya juga sepenuhnya setuju dengan mamang yang menyatakan AS sedang menghadapi krisis, masalah anggaran yang mengganggu pertumbuhan ekonominya. Berulang kali dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, AS selalu dipihak yang kalah. Semula AS juga hendak menjadikan daratan Tiongkok sebagai pabrik dunia, meraih tenaga kerja murah dengan membuat polusi, pencemaran lingkungan dahsyat dinegeri orang, … yang akhirnya akan mencelakakan rakyat Tiongkok. Ternyata, belasan atahun terakhir ini, tidak disangka barang produksi Made In China membanjiri dunia, termasuk AS sendiri. Dan sulit untuk dicegah! Se,mula, berusaha mencegah Tiongkok masuk WTO, juga tidak berhasil. Setelah TIongkok jadi anggota WTO dan mencoba mengalahkan disana, ternyata juga tidak berhasil. Malah sebaliknya AS yang kewalahan dan harus mencegah masuknya ban-mobil dan banyak produksi Tiongkok lainnya yang nyaris mematikan industri dalam negeri AS sendiri. Pengusaha-pengusaha yang telah memindahkan investasinya di TIongkok tidak berhasil ditarik kembali, dan AS unatuk mengurangi penganggur, sekarang terpaksa harus memancing masuknya pengusaha Tiongkok, … entah sampai dimana hasilnya.

 

Saya pun melihat kenyataan AS mengalihkan pusat perhatian ke ASIA, dengan  usaha mengepung Tiongkok dan berussaha mengisolasi pengaruh TIongkok di ASIA degan membuat suasana tegang dimana-mana, membuat situasi tegang dengan Tiongkok, khususnya di Lautan Tiongkok Selatan. Dari hubungan Tiongkok dengan Jepang, Korea Selatan, … dan kemudian dengan Viet Nam, Filipina bahkan juga dengan Indonesia. Pangkalan militer AS kembali dibangun di Darwin, dan Filipina untuk mengepung Tiongkok yang dikatakan “ANCAMAN Keamanan”, … Tapi nampaknya, dengan politik luar negeri Tiongkok yang bijaksana dengan prinsip DAMAI dan Harmonis, masih berhasil meredakan ketegangan dengan setiap negara tetangga yang dihadapi. Mudah-mudahan saja untuk selanjutnya tetap bisa diselesaikan secara DAMAI dan bersahabat. Tidak meletup peperangan sebagaimana diharapkan AS yang sangat merugikan dan mencelakakan rakyat banyak.

 

Dalam kenyataan negara-negara kapitalis untuk memecahkan krisis-ekonomi yang dihadapi, jalan keluarnya adalah PERANG! Begitulah Perang Dunia-I dan ke-II meletus akibat dunia kapiatalis menghadapi krisis-ekonomi yang tidak bisa diselesaikan. Setelah PD-I dan II, kembali mereka berjaya, khususnya AS setelah PD-II dipihak yang menang perang. Lalu bagaimana dunia sekarang ini? Saya pun tidak berani menutup kemungkin akan perang terjadi, melihat potensi kekerasan masih saja terjadi dan nampak makin sengit saja. Dan, … untuk menghindari perang nampaknya tergantung dari kekuatan kesadaran rakyat sedunia, termasuk mayoritas rakyat AS sendiri, beramai-ramai tampil menentang PERANG!

 

Dalam hal ini peran yang bisa dimainkanTiongkok, kestabilan politik dalam negeri Tiongkok tentu sangat menentukan. Oleh karena itu, usaha AS merongrong terus dengan membangkitkan klik sparatisme, baik dari kelompok Tibet, Dalai Lama maupun klik Shin Kiang Merdeka dengan terus meningkatkan pergesekan suku dan Agama Islam disana. Lalu, membakar desakan dikembangkannya DEMOKRASI, menentang “Diktatur Partai Tunggal” yang selama ini dijalankan PKT, mengungkap begitu bobroknya pejabat-pejabat komunis dan pelanggaran HAM yang dituding semena-menamasih terjadi penahanan/menangkapi orang-orang beda pendapat yang makin marak.

 

Sedang Tiongkok sekarang ini disamping kemajuan ekonomi dan pembangunan yang begitu dahsyatnya, juga nampak banyak masalah gawat yang bermunculan. Dari masalah korupsi, penipuan, pemalsuan, judi, pelacuran, … sampai pada polusi, pencemaran lingkungan yang cukup serius. Dan ini kalau tidak diatasi dengan baik dan cepat, tentu akan membuat rakyat makin tidak puas dan kehilangan kepercayaan yang setiap saat bisa meletus. Mudah-mudahan saja pucuk pimpinan Pemerintah dan PKT masih berkemampuan dan bisa mengatasi gejala negatif yang bermunculan itu, untuk terus maju dengan mempertahankan kestabilan politik dalam negeri dan dengan demikian berkemampuan mempertahankan perdamaian dunia!

 

Jadi, dalam hal ini saya setuju dengan mamang, penulis yang mengangkat seorang pakar politik dan ekonomi Amerika Serikat, Lex Reiffer, mengatakan bahwa Asia adalah ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia. Dan oleh karenanya perhatian AS dipusatkan ke ASIA. Betul-betul keblinger! Jelas-jelas yang menjadi ancaman Perang didunia ini adalah AS, kok dibilang dari Asia! Atau gak berani bilang khususnya Tiongkok! Memangnya selama ini yang suka perang didunia ini siapa? Yang gila PERANG itu kan AS! Coba saja lihat bagaimana AS bermain dengan NATO di Arab, baik Irak, Afghanistan, Mesir, Syria, dan Libya yang sampai sekarang belum juga bisa berakhir. Dan sekarang mau bikin ketegangan dan mencari gara-gara dan alasan untuk gebuk Iran.

Apapun pendapat yang diajukan penulis dengan latar belakang dan maksud yang lain, saya tetap berpendapat, bagi Indonesia, khususnya Pemerintah yang berkuasa, sudah seharusnya bisa tetap mempertahankan politik luarnegeri yang Bebas dan aktif, jangan biarkan diri dicocok hidung oleh AS sebagaimana terjadi sejak Soeharto berkuasa, tahun 1966. Jangan biarkan terus SDA dikuras habis-habisan oleh negara asing, khususnya AS. Kekayaan Bumi-alam harus dilindungi dan diperuntukkan meningkatkan kesejahteraan Rakyat banyak, sebagaimana ditetapkan UUD 45! Hutan jangan dibiarkan gundul sekalipun dirubah menjadi perkebunan kelapa-sawit. Saya berpendapat, Pemerintah yang berkuasa harus membuat perencanaan sebaik-baiknya, saat mengeluarkan ijin perkebunan kelapa-sawit, dengan memperhitungkan jangan sampai merusak lingkungan dan mengutamakan meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak. Dengan tegas mencegah pembalakan liar yang mengakibatkan HUTAN GUNDUL.

 

Tapi mang JT, apa begitu luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia belasan tahun terakhir ini, maksudnya digunakan untuk minyak goreng, dan itu telah menjadi saingan-berat minyak jagung dan minyak kedelai nya AS? Padahal yang saya dengar, untuk kesehatan manusia yang baik dikembangkan adalah minyak kelapa (bukan kelapa-sawit) dan itu harus diproses dengan suhu rendah, … menjadi virgin oil. Sama-sama rusak dan tidak baik untuk kesehatan kalau minyak sudah untuk goreeng, suhu tinggi itu.

 

Alaaah, sulit-sulit amat sih ngerjainnya, ambil jalan pintasnya yang paling mudah dilaksanakan, jauhi saja masakan goreng-gorengan yang gunakan segala macam minyak goreng itu. Cukup makan sayur-sayuran mentah, dilalap saja seperti kesukaan orang Sunda, sedang sayuran yang tidak enak dimakan mentah, ya cukup direbus sebentar atau dikukus saja. Hehehee, …

 

Salam sehat,

ChanCT

 

—– 原始郵件—–

寄件者: JT

收件者: tionghoa-net@yahoogroups.com

傳送日期: 2012年2月2日 11:07

主旨: [t-net] Re: “Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia”

 

Bung Chan dan bung Suryana yang baik.

Maaf, menurut saya tulisan yang bung Chan fwd ke sini dengan judul di atas adalah tulisan sampah, yang fungsinya untuk mengkadali Indonesia dan negera2 Asia lain agar menghentikan berbagai tindakan yang bisa mendorong percepatan kehancuran ekonomi Amerika. Memang tulisan tsb tidak mungkin dapat merobah kebijakan Indonesia/Asia secara langsung, tapi tulisan ini bagian dari grand strategi Amerika cs, yang berusaha mengkadali negara2 Asia, khususnya Indonesia. Ini bagian dari perang informasi, information warfare yang dilancarkan Amerika terhadap negara2 Asia, terutama China, India yang secara ekonomi pantas untuk diperhitungkan, dan Indonesia yang SDA nya menggiurkan.

Sangat jelas sekali, tulisan ini tidak beda dengan bebeapa tulisan2 sebelumnya yang terus menerus menjelek-jelekkan ekonomi politik China dan kadang2 India dan Indonesia. Semuanya hanya sekedar omong kosong yang tidak berdasar, untuk mempengaruhi opini masyarakat Indonesia/ Asia dan sekaligus menutupi kebobrokkan Amerika dan sekutu2 nya. Tujuannya jelas, agar masyarakat terpengaruh dan ikut memprotes pemerintahnya, terutama para badut2 tukang korup yang tak bermoral yang ada di Senayan, atau minimal merongrong kebijakan pemerintah yang berkuasa, sehingga mereka punya celah yang lebih lebar untuk intervensi. Ini beda dengan fungsi partai oposisi, yang bertujuan mengoreksi kebijakan pemerintah untuk perbaikan negara.

Silakan anda simak beberapa kutipan di bawah ini dan komentar saya:

> AS memiliki masalah anggaran yang serius, perlu bagi AS untuk
> mengurangi pengeluaran. Namun, pengendalian anggaran dilakukan agar
> tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi. Salah satunya yang mengalami
> hal ini adalah Yunani, di mana pengurangan defisit berarti kenaikan
> pajak.

Ini bukan masalah anggaran yang serius, tapi Obama berniat mengurangi KEBIADABAN yang ditinggalkan G.W.Bush, di mana anggaran militer yang tinggi dipersiapakan untuk business senjata di kawasan2 lain, dengan menciptakan perang terbuka. Apalagi kondisi ekonomi Amerika saat ini sudah sangat memprihatinkan. Sejak perang Vietnam dulu, sampai perang Irak belum lama ini, dan calon2 sasaran berikutnya seperti Korea Utara dan Iran, tujuannya sangat jelas untuk business senjata, karena business konvensional Amerika cost-nya sudah terlalu mahal. Ketika Amerika kalah perang di Vietnam tahun 1975 dulu, ekonomi Amerika langsung krisis, karena hancurnya market persenjataan yang amat sangat menguntungkan Amerika.

> Setengah dari populasi dunia berada di Asia. Wilayah ini juga
> negara dengan perkembangan tercepat di seluruh dunia. Selain itu
> menurut saya, ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia ada di
> Asia. Karena kawasan ini tidak memiliki koeksistensi damai. Eropa
> yang memiliki koeksistensi damai pun, bisa pecaH Perang Dunia
> hingga dua kali. Ada ketegangan yang intens di Asia. Sebut saja
> Korea utara, Taiwan, masalah Laut China Selatan dan masalah dalam
> negeri di India. Potensi kekerasan antara negara di Asia saya yakin
> lebih tinggi dari pada kawasan lain. Inilah yang menjadi kepentingan
> AS: menyumbang pada evolusi perdamaian di Asia.

Silakan perhatikan kata2 ini: “Eropa yang memiliki koeksistensi damai pun, bisa pecaH Perang Dunia hingga dua kali”. Yang dulu menjajah negara2 Asia itu bangsa apa? Bangsa BIADAB atau bangsa Eropa yang mempunyai koeksitensi damai? Kalau bangsa2 di Asia lebih emosional dibanding bule, sehingga sering terjadi pertengkaran2 kecil, itu sisa2 akibat dari politik adu domba bangsa biadab yang menjajah Asia dulu. Meskipun demikian bukan berarti bangsa2 Asia tukang berperang. Kenapa Korea Utara yang demikian ditakuti oleh Amerika, tapi bisa begitu menghargai Megawati yang notabene tidak punya power, sekedar mantan presiden NKRI dan anak kandung Bung Karno? Pernahkah orang Amerika belajar budaya bangsa2 Asia yang sangat menjunjung tinggi budi baik?

Taiwan jadi bersitegang terus dengan China karena disetir Amerika. Sekarang setelah presiden Taiwan bukan antek Amerika, hubungan Taiwan dengan China jauh lebih baik. Untuk urusan ekonomi dan budaya, hubungan Taiwan dengan China nyaris tidak ada bedanya dengan hubungan antara Hongkong dan Macao dengan China. Bukan sesuatu yang aneh kalau kita bertemu turis Taiwan jalan2 di Beijing dan objek turis lainnya, padahal resminya kedua negara masih berperang. Tanpa campur tangan Amerika, saya yakin dalam waktu tidak terlalu lama lagi akan terjadi reunifikasi Taiwan dan China, juga Korea Utara dan Korea Selatan.

> Beberapa tahun lalu banyak yang mengatakan bahwa abad 21 akan
> menjadi abadnya Asia. Saya kira ini benar. Tapi ada resiko besar di
> Asia, yang pertama adalah China. Negara ini berkembang dengan
> sangat pesat dan stabil dalam 30 tahun. Tapi kita harus bersiap
> akan adanya gangguan pada kemajuan ekonomi China. Karena menurut
> sejarah, tidak ada kemajuan yang tanpa gangguan. Masalah akan
> timbul di China, ekonomi akan menurun dan stabilitas politik akan
> terguncang.

Silakan baca pernyataan di atas berulang kali agar jelas. Komentar saya singkat saja, yaitu dengan mengutip peribahasa Indonesia yang sangat terkenal: Kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Sejalan dengan teori deminishing return dalam pertumbuhan ekonomi, saya percaya ekonomi China suatu saat akan hancur, tapi ENTAH KAPAN, mungkin 200 atau 2.000 tahun lagi.

Tapi ekonomi Amerika yang sudah sangat rawan, sudah jelas akan bangkrut lebih dulu. Kenapa tidak pernah disinggung seolah-olah ekonomi Amerika masih sangat hebat dan tidak pernah ada masalah. Bagaimana utang2 Amerika yang demikian besarnya kepada China? Bagaimana dengan teori kapitalis Amerika yang diadopsi China, untuk menjatuhkan Amerika sendiri, kenapa tidak pernah disingung-singgung? Bukankah ivestasi China di Amerika sudah benar2 demikian dominannya? Tulisan2 selanjutnya nyaris sama, hanya menjelek-jelekkan negara2 Asia tanpa ada logikanya. Terakhir saya kutip dan tanggapi tentang komentarnya terhadap Indonesia.

> Apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia? Di atas segalanya
> adalah melindungi sumber daya alam. Sumber hutan dan perikanan
> Indonesia telah rusak, ini sangat tragis. Salah satu yang terparah
> adalah perkebunan kelapa sawit. Jika idenya adalah menggunduli
> hutan demi minyak sawit, maka ini adalah tragedi. Bukan hanya
> tragedi bagi Indonesia, tapi tragedi kemanusiaan.

Penggundulan hutan dan pembalakan liar di Indonesia memang harus dibasmi, ini tugas pemerintah yang berkuasa untuk menindaknya. Tapi KEBUN SAWIT yang diangkat statusnya menjadi KAMBING HITAM dalam kasus ini, jelas sekali arahnya akan dibawa kemana. Kalau kebun sawit kian berkembang dan industri minyak sawit bertambah luas menguasai pasaran minyak goreng di dunia, artinya MINYAK JAGUNG dan MINYAK KEDELAI akan kehilangan pasar. Apa arti semua ini? PUKULAN BERAT BAGI PEREKONOMIAN AMERIKA, karena jagung dan kedelai adalah komoditi andalan Amerika.

Dia juga menyinggung kerusakan lingkungan di Indonesia. Kenapa dia tidak menyinggung kerusakan alam Papua yang dirusak oleh Freeport, setelah hasil tambangnya dirampok habis-habisan setiap hari? Sedang rakyat Papua yang benar2 pemilik asli bumi Papua, jangankan mendapat bagian yang wajar, mendekat sja sudah ditembaki. Terus konspirasi penembak gelap oleh rakyat Papua dengan menggunakan senjata otomatis yang biasa dipakai snipper, bagaimana kelanjutannya? Mungkinkah rakyat Papua yang masih hidup dalam jaman batu bisa menjadi snipper handal yang bisa menembak sasaran dari jarak yang demikian jauhnya?

Saya kira tanggapan saya sudah cukup jelas, bahwa tulisan2 seperti ini adalah tulisan sampah yang merupakan bagian dari grand srategi perang informasi yang sedang dilancarkan Amerika untuk menyelamatkan perekonomiannya yang sudah benar2 rawan. Akibat dari krisis 2008 yll yang dipicu oleh SUBPRIME MORTGAGE, banyak masyarakat menengah Amerika yang tadinya tinggal di apartement2 mewah, karena perusahaan tempat kerjanya bangkrut terpaksa di PHK masal. Akibatnya dia tidak bisa membayar cicilan apartementnya sehingga diusir, dan terpaksa tinggal di hutan2 pinggiran kota menjadi gelandangan. Istilah kerennya Jungle City, tapi intinya sama saja dengan perkampungan gelandangan di Indonesia. Pertengahan tahun 2011 pengangguran di Amerika sudah mencapai 9%, entah sekarang sudah berapa? Kok para pakar dan para akhli tsb tidak pernah menyinggungnya?

Salam
JT

——————

— In tionghoa-net@yahoogroups.com, “suryana” <gsuryana@…> wrote:
>
> Kawasan Asia tidak akan menjadi kacau justru bila Amerika Serikat tidak ikut
> campur usrusan negara negara di Asia.
>
> Bila jumlah penduduk bertambah di satu negara ( Indonesia ) memang akan
> membuat masalah bagi negara Indonesia thok, dimana pengangguran akan terus
> bertambah, dan solusinya negara negara maju yg ikut mencari untung di SDA
> Indonesia peduli.
>
> Bila mengatakan India dan RRC juga akan mengalami masalah, memang benar
> terutama di RRC dengan kebijakan one child sejak beberapa dekade terakhir
> mengakibatkan kekurangan tenaga Perempuan, karena program tersebut memaksa
> rakyat menginginkan memiliki anak lelaki sebagai penerus marga, sedang India
> sejak lama didalam kehidupan bermasyarakatnya sudah timpang, sehingga
> masyarakat sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
>
> Korea Utara pun tidak akan sembarangan melakukan hal hal yg membuat kawasan
> Asia goyang, karena Korut bila akan mengambil kebijakan di kawasan
> dipastikan akan meminta ijin dari RRC.
>
> Penulis dibawah lebih melihat kawasan Asia menjadi kurang bagus hanya karena
> terlalu anti pati dengan India dan RRC.
>
> Memang utk ulasan Indonesia nya masuk akal, karena program keluarga
> berencana sejak Cang Ato lengser sudah tidak berjalan lagi, minimal butuh
> waktu 20 tahun agar masyarakat Indonesia melakukan keluarag berencana secara
> mandiri ( aku sebut 20 tahun karena generasi saat ini masih banyak yg
> memiliki pola pikir banyak anak banyak rejeki )
>
> Kawasan Asia Pasific dalam hal ini Jepang, Taiwan, RRC, Filiphina, Thailand
> tidak menjadikan kawasan yg panas, dan menjadi panas bila Amerika ikut
> campur, karena karakteristik masyarakat Asia bukan melakukan invasi utk
> berperang fisik.
>
> Bila yg terjadi perang non fisik maka Amerika Serikat yg paling di rugi kan,
> karena perang non fisik hanyalah perang ekonomi dan budaya plus agama yg di
> politisir.
>
> NKRI sendiri masa depannya memang akan menjadi negara kacau, selain sumber
> daya alam yg di obrak abrik juga tumbuhnya pengangguran baru, sedang pasar
> sudah dikuasai oleh segelintir orang.
> Sehingga lapangan kerja pada akhirnya akan menjadi negara dengan jumlah
> pegawai terbesar sedang kelompok pengusaha perkembangannya tidak banyak.
>
> sur.
> ps.
> Yg paling menyebalkan dari pemerintahan Indonesia hanyalah 1 DATA yg tidak
> pernah jelas.
> —– Original Message —–
> From: “ChanCT” <SADAR@…>
>
>
> http://us.analisis.vivanews.com/news/read/284025-indonesia-bisa-jadi-masalah-baru-bagi-asia
>
> “Indonesia Bisa Jadi Masalah Baru Bagi Asia”
>
> Indonesia tidak menangani sumber daya alamnya dengan efektif.
>
> Senin, 30 Januari 2012, 15:16 WIB
>
> Denny Armandhanu, Karaniya Dharmasaputra
>
> Lex Rieffel, Pakar ekonomi dan politik AS (VIVAnews/Denny Armandhanu)
>
>
>
> VIVAnews – Berbagai pemimpin dunia dan tokoh ekonomi berdatangan memuji
> keberhasilan Asia dalam berbagai bidang, terutama ekonomi. Berbagai negara
> juga berlomba-lomba memperkuat pengaruh mereka di Asia, tidak terkecuali
> Amerika Serikat.
>
> Tapi kemajuan di Asia bukannya tanpa cela. Beberapa negara seperti China dan
> India, dua negara termaju di Asia, terancam terganggu perkembangannya jika
> tidak dapat memenuhi harapan masyarakat.
>
> Selain itu, peluang konflik terbuka antar negara di Asia adalah yang
> terbesar di dunia. Itulah sebabnya seorang pakar politik dan ekonomi Amerika
> Serikat, Lex Reiffer, mengatakan bahwa Asia adalah ancaman terbesar terhadap
> perdamaian dunia.
>
> Indonesia sebagai salah satu negara berkembang–seperti yang
> digembar-gemborkan pemerintah–tidak mengesankan Lex. Data kemajuan hanyalah
> data semu, keadaan sebenarnya, Indonesia jadi miskin sumber daya.
>
> Dia mengatakan Indonesia akan menjadi masalah baru bagi Asia, jika negara
> ini tidak dapat mengatasi masalah perekonomiannya dan mulai memperhatikan
> upaya melestarikan sumber daya alam.
>
> Berikut wawancara lengkap VIVAnews dengan Lex Reiffer:
>
> Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan pengurangan anggaraN militer hingga
> US$487 miliar dalam 10 tahun ke depan. Apakah ini salah satu bukti krisis
> ekonomi yang ada di AS?
> AS memiliki masalah anggaran yang serius, perlu bagi AS untuk mengurangi
> pengeluaran. Namun, pengendalian anggaran dilakukan agar tidak mengganggu
> pertumbuhan ekonomi. Salah satunya yang mengalami hal ini adalah Yunani, di
> mana pengurangan defisit berarti kenaikan pajak.
>
> Anggaran pertahanan porsinya sangat besar, saya kira mustahil mencapai
> keseimbangan anggaran tanpa memotong dana di bidang ini. Tapi perlu diingat,
> militer AS akan tetap menjadi yang terkuat di seluruh dunia. Setelah
> pemotongan anggaran, kami akan tetap dapat mempertahankan kepentingan
> nasional di seluruh dunia.
>
> Apa yang kami lakukan adalah tidak lagi melakukan dua perang sekaligus. Apa
> gunanya berperang di dua tempat? Saya kira itu tidak cerdas dan rakyat
> Amerika tidak ingin lagi terlibat perang. Pengurangan anggaran militer kali
> ini mencerminkan upaya pemerintah dalam mencapai kemiliteran yang
> berkesinambungan.
>
> Apa yang berubah dari kebijakan militer Presiden Barack Obama kali ini?
> Dimana posisi Asia?
>
> Paling utama dari perubahan tersebut adalah mengubah fokus perhatian AS ke
> Asia. Tapi fokus di Asia bukan hanya soal militer, tapi di segala bidang.
> Jika kita melihatnya dalam konteks sejarah, beberapa dekade setelah Perang
> Dunia II, kebijakan luar negeri AS awalnya fokus pada Eeropa, lalu beralih
> pada Perang Dingin dengan Rusia, kemudian Timur Tengah Pasca 9/11, lalu
> Obama dan Hillary Clinton mengatakan sekarang fokus kita ke Asia, dan saya
> kira alasannya jelas.
>
> Setengah dari populasi dunia berada di Asia. Wilayah ini juga negara dengan
> perkembangan tercepat di seluruh dunia. Selain itu menurut saya, ancaman
> terbesar terhadap perdamaian dunia ada di Asia.
>
> Karena kawasan ini tidak memiliki koeksistensi damai. Eropa yang memiliki
> koeksistensi damai pun, bisa pecaH Perang Dunia hingga dua kali. Ada
> ketegangan yang intens di Asia. Sebut saja Korea utara, Taiwan, masalah Laut
> China Selatan dan masalah dalam negeri di India. Potensi kekerasan antara
> negara di Asia saya yakin lebih tinggi dari pada kawasan lain. Inilah yang
> menjadi kepentingan AS: menyumbang pada evolusi perdamaian di Asia.
>
> Banyak yang mengatakan bahwa fokus AS di Asia adalah untuk menandingi
> pengaruh China. Apakah Anda melihat akan ada perang dingin antara AS dan
> China?
> Tidak. Karena menurut saya kepentingan kedua negara saat ini adalah
> menghindari perlombaan senjata. Kita lihat sejarah, perlombaan senjata hanya
> merugikan secara sosial. Namun tidak bisa dipungkiri adanya sifat manusia
> yang kompetitif.
>
> Selain itu, nasionalisme juga menyumbang kesengsaraan dan kerusakan selama
> ratusan tahun. Nasionalisme memang memiliki keuntungan, tapi sejujurnya,
> nasionalisme merusak masyarakat. Akan lebih baik bagi dunia jika sentimen
> nasionalisme dikurangi. Karena sentimen ini adalah salah satu
> pemicu konflik kepentingan antar negara. Ujungnya, mereka akan saling
> serang.
>
> Banyak pemimpin negara yang berlomba-lomba memuji kemajuan di Asia. Anda
> setuju?
> Hal ini sudah diprediksi. Beberapa tahun lalu banyak yang mengatakan bahwa
> abad 21 akan menjadi abadnya Asia. Saya kira ini benar. Tapi ada resiko
> besar di Asia, yang pertama adalah China.
>
> Negara ini berkembang dengan sangat pesat dan stabil dalam 30 tahun. Tapi
> kita harus bersiap akan adanya gangguan pada kemajuan ekonomi China. Karena
> menurut sejarah, tidak ada kemajuan yang tanpa gangguan. Masalah akan timbul
> di China, ekonomi akan menurun dan stabilitas politik akan terguncang.
>
> Kekhawatiran juga timbul dari India yang tengah berkembang. Kedua negara ini
> (India dan China) memiliki populasi yang tinggi. Mereka memiliki tantangan
> dalam menghasilkan  pekerja yang produktif di tengah harapan masyarakat yang
> semakin tinggi.
>
> Harapan yang tinggi ini timbul akibat perkembangan ekonomi dan perubahan
> tingkat masyarakat dari miskin ke kelas menengah dengan pendidikan yang
> tinggi dan melek informasi. Jika harapan ini tidak terpenuhi, maka
> stabilitas ekonomi dan sosial akan terganggu. Masalah lainnya, dunia saat
> ini berbeda dengan dulu. Dunia saat ini penuh, hampir tidak ada ruang
> kosong. Populasi meningkat dari 7 miliar menjadi 8-9 miliar, ditambah
> masalah perubahan iklim dan yang lainnya.
>
> Saya kira abad ini adalah abad yang kacau dengan berbagai negara yang
> berusaha bertahan. Setiap negara pada akhirnya akan mementingkan
> kepentingannya sendiri dan kehidupan akan semakin sulit bagi semua orang.
>
> Populasi di Asia sendiri tidak berkembang dengan cepat. Angka kesuburan di
> China telah berkurang di bawah tingkat penggantian (replacement level).
> Tingkat kesuburan ini dihitung berdasarkan angka kelahiran dibandingkan
> dengan jumlah rata-rata wanita. Tingkat penggantian idealnya adalah 2,1.
> Jika setiap wanita memiliki 2,1 anak, maka populasinya stabil.
>
> Ada perdebatan di China yang mengatakan one child policy harus dihentikan
> karena hanya menciptakan populasi tua yang meningkat dan kekurangan
> masyarakat usia muda. Sebaliknya, India mengatakan memiliki populasi muda
> yang akan membuat negara itu maju, lebih baik dari China.
>
> Padahal dua negara ini salah. India tidak memiliki kemerataan jumlah
> penduduk, ini adalah bom waktu bagi negara tersebut. Sementara China tidak
> ada masalah peningkatan populasi tua. Mereka tidak perlu lagi tambahan
> penduduk yang saat ini mencapai 1,3 miliar. Ini jumlah ideal, China akan
> lebih kuat di segala bidang dengan jumlah ini. Bagaimana mempertahankan
> jumlah ini, yaitu dengan tetap memberlakukan one child policy.
>
> Indonesia pernah punya program keluarga berencana yang baik, tapi saya
> kecewa program ini tidak lagi dilanjutkan. Jika saja dilanjutkan, maka
> efeknya akan seperti 20 tahun lalu, populasi Indonesia saat ini akan lebih
> sedikit 25 juta orang. Jika demikian, maka pendapatan per kapita Indonesia
> akan 10 persen lebih tinggi. Akan lebih sedikit pengangguran, dan lebih
> sedikit yang hidup di bawah garis kemiskinan.
>
> Apakah Indonesia akan  menjadi resiko juga di Asia, seperti China dan India?
> Saya kira Indonesia lebih parah. Karena Indonesia adalah salah satu negara
> di dunia yang mengalami resource curse (Tidak adanya kemajuan di tengah
> melimpahnya sumber daya alam). Indonesia tidak menangani sumber daya alamnya
> dengan efektif, negara ini justru menghancurkan alam dengan
> over-eksploitasi, dan tidak menangani sumber daya alam untuk kepentingan
> rakyat keseluruhan.
>
> Indonesia saat ini, menurut saya, tidak dapat menyelaraskan diri ke dunia
> yang lebih rumit. Karena penyelerasan berarti perlu adanya perubahan demi
> kepentingan orang banyak. Jika tidak, maka bersiaplah menjadi the big loser
> di abad ini.
>
> Indonesia akan menjadi masalah baru bagi Asia. Lihatlah masalah pekerja di
> negara ini. Jumlah sarjana di Indonesia, menurut status Bank Dunia, lebih
> banyak dari pada jumlah pekerjaan yang diciptakan. Bagaimana Indonesia mau
> maju. Tapi saya kira ini adalah masalah yang menjadi tantangan bagi seluruh
> negara di dunia. Kita memiliki masalah global mengatasi pengangguran muda di
> perkotaan.
>
> Tapi data-data menunjukkan kemajuan PDB Indonesia mencapai 6 persen tahun
> lalu?
> Adakah pengaruhnya terhadap harga komoditas? Indonesia memiliki masalah yang
> serius, yang paling jelas adalah masalah infrastruktur. Dibandingkan dengan
> Vietnam, Indonesia mulai tertinggal. Vietnam mulai melaju ke pasar ekonomi
> pada akhir 1980 saat mereka ditinggalkan oleh Rusia. Saat itu, mereka
> ketinggalan 20 tahun dari Indonesia.
>
> Tapi melihat perkembangan ekonomi sekarang, saya kira ekonomi per kapita
> Vietnam lebih kuat dari pada Indonesia dalam 10 tahun. Vietman juga tidak
> terlepas dari resource curse. Tapi apa yang dilakukan Vietnam kemudian?
> mereka mengembangkan masyarakatnya.
>
> Tujuan Indonesia terlalu berorientasi pada peningkatan PDB. Padahal ada
> masalah statistik yang serius dalam PDB. Contohnya, ketika Indonesia menjual
> miliaran dolar gas alam, memang akan menyumbang banyak untuk PDB. Namun, di
> saat yang sama, kekayaan alam Indonesia akan hilang selamanya. Nyatanya, PDB
> memang bertambah, tapi negara semakin miskin.
>
> PDB tidak bisa meningkatkan kualitas hidup, ini masalah mendasar. Ada banyak
> bukti empiris dan studi yang menunjukkan bahwa kualitas hidup dan
> kebahagiaan rakyat tidak ada hubungannya dengan PDB dan kekayaan negara.
>
> Mengapa Anda sangat pesimistis dengan Indonesia, padahal berbagai lembaga
> pemeringkatan utang telah menaikkan tingkat Indonesia?
>
> Anda percaya hal itu, setelah kesalahan yang mereka (S&P, Moodyâ?Ts dan Finch
> Rating) lakukan terhadap Eropa? Tidak, lembaga pemeringkatan adalah bagian
> dari sistem yang besar.
>
> Apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia?
> Di atas segalanya adalah melindungi sumber daya alam. Sumber hutan dan
> perikanan Indonesia telah rusak, ini sangat tragis. Salah satu yang terparah
> adalah perkebunan kelapa sawit. Jika idenya adalah menggunduli hutan demi
> minyak sawit, maka ini adalah tragedi. Bukan hanya tragedi bagi Indonesia,
> tapi tragedi kemanusiaan.
>
> Indonesia tidak melindungi sumber kekayaan laut mereka. Habitat ikan dan
> karang dirusak oleh penangkapan ikan dalam jumlah banyak. Saya kira tidak
> masuk akal pemerintah Indonesia menghabiskan jutaan dolar untuk membeli
> senjata, lebih baik beli perahu boat untuk menghentikan penangkapan ikan
> ilegal dan pembalakan liar di Indonesia. (eh)
>
> Lex Rieffel adalah ahli masalah Asia Tenggara, restrukturisasi utang luar
> negeri dan institusi keuangan internasional. Dia adalah pengamat ekonomi
> badan keuangan AS dan anggota senior di Institute of International Finance.

VIVAnews

Teori Tentang Klas

Teori Tentang Klas

Lusi D. <lusi_d@rantar.de>,in: <GELORA45@yahoogroups.com>, Thursday, 2 February 2012, 22:49

Para Sahabat dan Handaitaulan yb.

Kabar yang menggembirakan tentang kegiatan mempelajari teori
revolusioner yang semakin intensif dan makin meluas. Kesadaran, bahwa
tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner, makin
diyakini oleh lapisan luas massa tertindas yang bertekad mengabdikan
dirinya untuk mengabdi rakyat dengan menempuh jalan revolusioner. Yang
paling baik dalam belajar teori yalah dengan bersasaran. Artinya
menguasai teori revolusioner untuk menyelesaikan masalah revolusi.
Tidak sama seperti belajar teori di ghetto-ghetto campus itu. Istilah
sederhananya; bukan untuk umuk-umukan. Kemudian timbul pertanyaan,
teori yang mana yang kita pelajari? Hemat saya yalah teori yang sudah
teruji dalam praktek. Teori revolusioner juga demikian halnya.

Dulu pernah ada anggapan, di masyarakat Indonesia sekarang ini tidak ada
klas. Ini salah besar. Anggapan ini bisa timbul karena kurangnya
pengertian ttg klas itu atau memang sengaja disebarkan oleh
elemen-elemen komprador borjuasi untuk menghalang-halangi tumbuhnya
kesadaran klas. Seperti waktu jaman penjajahan dulu, penguasa kolonial
Belanda berusaha keras, jangan sampai rakyat Indonesia memiliki
kesadaran akan ideologi kemerdekaan. Sebab rakyat yang memilik
kesadaran ideologi kemerdekaan tidak akan mau dijajah lagi dan berjuang
keras untuk mengusirnya. Ini masalah yang berhubungan dengan kesadaran
kita sebagai bangsa, sebagai nasion Indonesia. Kesadaran atas klas juga
demikian. Dalam masyarakat berklas, setiap orang menyandang selar klas.

Demi menghindarkan pemvulgeran pengertian selar klas dan untuk
menyadarkan diri dengan meningkatkan pengetahuan teori revolusioner
tentang klas ini, saya presentasikan karya Mao Tse-tung tentang Analisa
Klas-klas Masyarakat Tiongkok. Tentu saja masyarakat Indonesia tidak
seluruhnya sama sifatnya dengan masyarakat Tiongkok. Namun dengan
membaca sepenuhnyan karya ini, kita akan memiliki pengetahuan yang
diperlukan dalam mempelajari dan menguasai sifat-sifat klas yang ada di
Indonesia. Dan akan memiliki kemampuan untuk menyimpulkan teori: apa
yang harus dikerjakan dan apa yang perlu dihindarkan serta apa yang
harus ditolak.

Tulisan ini saya kutip dari PKM I, Pustaka Bahasa Asing, 1967 hlm.
13-25 dengan perubahan sesuai dengan EYD.
Dengan banyaknya catatan-kaki dan catatan-akhir dalam tulisan ini,
terpaksa saya kirimkan dengan format pdf. Bagi para pembaca milis Sastra
Pembebasan, teksnya harap diunduh dari milis list-nasional atau
Gelora45.

Akhirulkalam:
Selamat belajar di awal tahun 2012.
Lusi.-

 

Catatan:

Bersama dengan tulisan ini Lusi yang sekarang tinggal di Jerman melampirkan artikel Mao Tse-tung tentang Analisa Klas Di Masyarakat Tiongkok. Selengkapnya artikel tersevbut disiar ulang oleh blog ini.

Mahfud: Korupsi di Birokrasi Masih Kuat

Komentar awind <j.gedearka@upcmail.nl>:Korupsi dan kekerasan adalah warisan yang ditinggalkan oleh ORBA  bersama GOKAR kepada RI. Pak Harto sebelum menjadi orang nomor satu RI sudah korupsi begitu juga GOKAR (sewaktu perusahan asing diambil alih buruh yang setrusnya dipegang oleh para militer).  
Salam,
Awind
http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/7983-mahfud-korupsi-di-birokrasi-masih-kuat
Wednesday, 01 February 2012 12:21
E-mail Print PDF

Jakarta – Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai, korupsi di lingkungan birokrasi masih kuat. Padahal berbagai jurus dan teori untuk membenahi birokrasi sudah dikeluarkan, namun menurutnya, masih tak mengalami perubahan.

“Menyerahkan amplop di bawah meja dan suap masih terjadi di lingkungan birokrasi, sehingga pelayanan kepada masyarakat pun tak bisa optimal,” kata Mafud, pada seminar menyambut Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (1/2).

Seminar itu sendiri mengusung tema “Memperteguh Komitmen Kementerian Agama dalam Mewujudkan Kepemerintahan yang Baik dan Bersih”.

Menteri Agama Suryadharma Ali turut memberikan sambutan pada seminar tersebut. Hadir selain Ketua MK, juga Wakil Menteri Agama Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar MA, Ketua KPK Dr. Busyro Muqoddas SH.M.Hum, Prof. Dr. Ryaas Rasyid MA dan Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar.

Mahfud MD sambil berkelakar di atas podium mengatakan, seminar tak bakal menemukan hal baru dalam pemberantasan korupsi. Sebab, sudah banyak teori dikeluarkan namun hasilnya tak terlihat dalam pemberantasan korupsi. “Termasuk apa yang saya katakan ini, tak ada yang baru,” katanya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Para pakar sudah mengeluarkan jurus dan teori untuk memberantas korupsi di lingkungan birokrasi. Bahkan buku baru antikorupsi pun sudah banyak.

Namun, menurut Ketua MK itu, juga belum cukup mengatasi korupsi. Karena itu, ke depan, perlu pembaruan dalam jajaran birokrasi untuk mengatasi korupsi.

Ia mengatakan, ada lembaga seperti MK dikesankan masih bersih dari korupsi. Termasuk KPK dan beberapa institusi lainnya.

Hal itu terjadi bukan karena orangnya hebat, tetapi karena lembaga tersebut terhitung baru dan sistem birokrasinya pun baru. Sementara di kejaksaan dan kementerian berbeda, lembaga-lembaga itu sudah lama dan dikesankan memiliki sistem birokrasi yang lamban, berbelit, dan tak berpihak kepada masyarakat dalam memberikan pelayanan.

Kata kunci untuk mengubah itu semua, termasuk di lingkungan kementerian agama, adalah melakukan pembaruan.

Mahfud menceritakan bagaimana hebatnya Cina dan Afrika Selatan mengatasi korupsi.

Awalnya negara melakukan pemaafan secara nasional bagi pelaku korupsi masa lalu. Lantas, setelah hal itu dilakukan, negara bersangkutan menerapkan hukuman keras terhadap pelaku korupsi, yaitu hukuman mati. Dengan begitu korupsi yang sudah menjadi bagian dari sistem pun bisa diberantas. [TMA, Ant]

Twitter Facebook

Komentar  

0 #1 Bambang2012-02-01 22:14

Negeri ini mewariskan dari rezim ORDE BARU kORUPSI SEBAGAI BUDAYA.bedanya dulu Korupsi dilingkungan Cendana ,sekarang Korupsi mulai Kabupaten, Kota Madya, Pemerintah Pusat sampai Anggota DPR.Uang negara dikorupsi, setor ke Partai guna Pemilu 2014, rakyat dicekoki Bantuan sosial dan Money Politik, jadi malas bekerja dan tetap MISKIN.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers