Archive for the ‘Budaya’ Category

Budaya Indonesia Menghargai Keberagaman Seksualitas


Budaya Indonesia Menghargai Keberagaman Seksualitas

Hartoyo <jam_gadang2003@yahoo.com>,in:”perempuan@yahoogroups.com” <perempuan@yahoogroups.com>; Tuesday, 13 December 2011, 19:51

Moral seksualitas di Indonesia sekarang ini, seperti UU Pornografi, kriminalisasi prostitusi dalam Perda, stigma dan diskriminasi pada kelompok homoseksual merupakan warisan penjajahan Belanda saat Ratu Wilhelmina (1890-1948) berkuasa. Ini juga dipengaruhi Ratu Alexandria Victoria dari Inggris (1837-1900). 

Dua kekuasaan itu menanamkan moral seksualitas Eropa disemua negeri jajahan, termasuk kawasan Asia (India, Pakistan,Singapura,Malaysia,Hongkong), Australia dan Selandia baru. 

Padahal orang Asia khususnya Indonesia menilai bahwa seksualitas bagian spritualitas manusia. Keberagaman seksualitas  ditunjung tinggi dalam kebudayaan di Asia maupun Indonesia. Bukti itu dapat dilihat pada relief candi Suku, Candi Ceto, Museum Gajah Jakarta yang menggambarkan hubungan “sex bebas”. (Sumber: Onghokham,Prisma,Juli 1991) 

Salam

Hartoyo
Sekretaris Umum Ourvoice
Telp  : 085813437597 / 081376192516
BB     : 22f465be
http://ourvoice.or.id

Rizal Ramli: Harus Berbuat Sesuatu yang Lebih Besar

http://www.suarapembaruan.com/home/rizal-ramli-harus-berbuat-sesuatu-yang-lebih-besar/14811

Rizal Ramli: Harus Berbuat Sesuatu yang Lebih Besar
Rabu, 14 Desember 2011 | 8:12

Pidato kebudayaan Rizal Ramli [Erwin Cristianson Sihombing] Pidato kebudayaan Rizal Ramli [Erwin Cristianson Sihombing]

 

[JAKARTA] Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli mengungkapkan harapannya bahwa yang terpenting di sisa hidup adalah harus bisa berbuat sesuatu yang lebih besar.

“Tapi yang paling penting, sisa hidup harus bisa berbuat sesuatu yang lebih besar untuk mengangkat bangsa, menjadi bangsa yang hebat,” tutur Rizal usai diskusi di Rumah Perubahan, Jakarta, Selasa (13/12), sekaligus merayakan ulang tahunnya yang sebenarnya jatuh pada tanggal 10 Desember lalu.

Rizal mengutarakan, dirinya selalu mengatakan bahwa abad ke-19 adalah era Inggris, abad ke-20 adalah eranya Amerika, dan abad ke-21 adalah era Asia.

“Sebelum mengakhiri hidup ini, saya ingin raksasa Indonesia bangkit dari tidurnya. Agar ekonomi bisa tumbuh di atas 10 persen,” kata Rizal. [D-12]

Istilah-istilah baru dalam bahasa Indonesia

Istilah-istilah baru dalam bahasa Indonesia

Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@yahoo.com>, in:news2 <news-transtv@yahoogroups.com>,Wednesday, 14 December 2011, 13:03

-Jangan Nunun bawa payung = Jangan lupa bawa payung, Nunun = lupa.
-Janganlah kau meng-Angie hatiku= Janganlah kau menggunakan cinta palsu untukku
-Ah, kerjamu SBY sekali = Ah, kerjamu ‘lamban’ sekali. SBY = lamban.

-Ah, ini perusahaan jenis “Nazaruddin” = Perusahaan Jenis Nazaruddin =
Perusahaan yang hanya didirikan untuk melakukan tender-tender proyek
pemerintahan lalu mensubkon-nya kembali, perusahaan lobbying.
-Dikit-dikit megawati, dikit-dikit megawati = dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek, megawati = ngambek.
-Cobalah di Taufik Kiemas-kan = Di Taufik Kiemas-kan = di lobbi kembali.
-Untuk bermain bisnis gunakan cara Bakrie = Cara bakrie = berbisnis tanpa modal sendiri.
– Wah, engkau Sri Mulyani sekali = Sri Mulyani = melakukan tindakan seolah-olah ada krisis = paranoid.
-Gayamu ‘Dahlan Iskan’ sekali = Gayamu sederhana sekali = Dahlan Iskan = sederhana.
-Orangnya Mahfud MD Banget = Orangnya blak-blakan banget, Mahfud MD = blak-blakan.

- Kasih duit dia, jangan sampai dia jadi Agus Condro, = Kasih duit dia
jangan sampai dia jadi ‘tukang ngadu’. Agus Condro = Tukang Ngadu.
– Wah dia sih Joko Widodo banget = Wah dia sih “hebat banget”, Joko Widodo= hebat.

Refleksi Kebudayaan 66 Tahun Merdeka

Sabtu, 20 Agustus 2011

Refleksi Kebudayaan 66 Tahun Merdeka

Sihar Ramses Simatupang

http://www.sinarharapan.co.id/

Segala konflik yang terjadi di wilayah Indonesia belakangan, tak lepas dari hancurnya mitologi dan kesakralan di tiap wilayah. Ini karena kesalahan rencana pemerintah Republik Indonesia dalam membangun makna persatuan di masa lalu.

Kepala desa, kepala kampung, kepala hutan, para datuk dan pemuka adat, yang semula dihormati, lengkap dengan segala kesakralannya selama puluhan tahun telah digantikan pejabat pemerintahan sejak masa Demokrasi Terpimpin maupun Orde Baru. Keunikan masing-masing daerah ditinggalkan dan fokus pada kebudayaan nasional. Seolah, kebudayaan Indonesia adalah satu.

Demokrasi Terpimpin mengeluarkan indoktrinasi, sementara Orde Baru mengeluarkan kebijakan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Persatuan dan kesatuan dipaksakan untuk kesewenangan terhadap keberagaman budaya. Penyamaan sistem kepemimpinan masyarakat ini bukan hanya di level provinsi, tapi juga hingga pedesaan.

Seperti diungkapkan sejarawan Taufik Abdullah, kebijakan yang paling parah adalah kebijakan Orde Baru yang melahirkan undang-undang tentang pemerintahan desa yang diberlakukan dari wilayah Sabang sampai Merauke. Ini membuat sistem pemerintahan pun menjangkau hingga desa.

“Undang-undang yang mengatur hingga ke sistem desa itu adalah puncak dari kesewenangan kebudayaan Orde Baru. Sistem pemerintahan disamakan dari Sabang sampai Merauke, mitos daerah hilang, krisis kepemimpinan mengalami tingkat keparahan. Palembang dan Minang masih lumayan, tapi bagaimana dengan di Aceh, Maluku, misalnya. Pemerintah beranggapan mereka bisa kuat ketika kekuatan sosial di daerah-daerah dihancurkan,” ungkapnya.

Karena itulah, sewaktu Habibie tampil setelah lengsernya pemerintahan Soeharto, yang pertama dilakukan adalah otonomi daerah. “Nah, ketika itulah orang jadi mengingat kembali, muncullah masyarakat adat yang menuntut tempat mereka di wilayah Bhinneka Tunggal Ika. Itu kan ikatan lama, mereka pun mencoba menegakkan kembali,” papar Taufik.

Desalah yang kemudian porak poranda. Ketika Orde Baru jatuh, misalnya, pedesaan kehilangan jaring pengamannya, ikatan lama sudah hancur oleh kekuasaan. Maka, seperti yang kerap diberitakan di media massa, konflik kerap diselesaikan bukan oleh tokoh, pemimpin, kepala adat yang berwibawa.

Konflik terjadi, mulai dari wilayah di Maluku, Palu, Kalimantan, hingga Jawa dan Sumatera. Taufik menyebutnya sebagai “spiral kebodohan yang menukik ke bawah”, satu tindakan bodoh ditanggapi tindakan bodoh, tahu-tahu antartetangga desa pun berkelahi.

Kesalahan lain, bagi Taufik, pandangan pemerintah bahwa bangsa ini adalah warisan nenek moyang. “Kalimat ‘kita ini warisan nenek moyang’ adalah konyol. Bangsa adalah sesuatu yang direncanakan, sesuatu yang konstruktif, bertolak dari cita-cita dan aspirasi satu dengan yang lain. Indonesia didirikan dari sikap bahwa kita bersatu, wilayah yang sengaja dibuat dan bukan diwarisi,” tambah Taufik.

Dukungan Merdeka

“Kami, Presiden Republik Indonesia, menetapkan Ingkang Sinohoen Kanjeng Soesoehoenan Pakoeboewono Senopati Ing Ngalogo Abdoerrahman Sayidin Panotogomo Ingkang Kaping XII, ing Soerakarta-Hadiningrat pada kedoedoekannya dengan kepertjayaan bahwa Seri Padoeka Kanjeng Soesoehoenan akan mentjoerahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga oentoek keselamatan daerah Soerakarta sebagai bagian dari pada Repoeblik Indonesia…”

Cuplikan piagam kedudukan itu diberikan Presiden Soekarno pada 19 Agustus 1945 kepada Soesoehoenan Pakoeboewono XII dan KGPAA Mangkunagoro VIII pada kedudukan sebagai Kepala Daerah Istimewa.

Inilah secuplik dari rentetan pengakuan terhadap proklamasi kemerdekaan dari pascapenculikan yang dilakukan aktivis mahasiswa di Rengasdengklok, pernyataan dan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur hingga kumandang kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap wilayah akhirnya menyatakan kedaulatan Indonesia sebagai kedaulatan bersama.

“Ketika proklamasi sebutlah ada sekitar 100 orang yang tahu tentang kemerdekaan itu. Tetapi, beberapa hari kemudian, Jakarta mengadakan demonstrasi untuk mendukung ratusan ribu orang di Ikada. Mereka mendukung Soekarno-Hatta. Jadi bagi saya, 10 November dapat dijadikan seabgai konfirmasi keabsahan momen 17 Agustus itu,” ujar Taufik.

Indonesia telah merajut tonggak sejarah sejak Sumpah Pemuda yang dihadiri wakil gerakan pemuda di masa itu. Proses ini juga merupakan konfirmasi dari proses yang telah berjalan baik oleh pemuda Indonesia di Belanda, misalnya. Sumpah itu seakan merupakan sebuah komuni. “Bangsa ini kan bangsa yang dibikin oleh orang kota dan terpelajar,” papar Taufik.

Sebagaimana disebut oleh Taufik, Indonesia banyak menampung sejarah pergolakan dan negeri ini mampu semakin berdaulat.

“Hanya repotnya, belakangan ada kecenderungan Jawanisasi yang kelewat berlebihan. Konsep warisan nenek moyang itu lama dipertahankan oleh Soeharto dari pusat. Itu pola pikir pusat yang merupakan ciri khas tradisi Jawa. Pinggiran yang tersingkir itu terasa benar, ketika saya mempelajari perbatasan di wilayah Asia Tenggara. Kita tak menggubris dua pulau yang lepas – Sipadan dan Ligitan – sedangkan Malaysia telah memelihara wilayah itu,” katanya.

Kendati tak mudah, menurut Taufik, yang harus dilakukan adalah menegakkan tradisi yang kekuatan sosialnya pernah diambil. Menata kembali fenomena itu mahal harganya. Demokrasi, selama ini telah dibangun oleh personality yang otoriter.

“Namun jangan lupa juga, ikatan kesejarahan kita itu kuat. Bagaimana kita bisa menerangkan bahwa dari Sabang sampai Merauke orang memakai bahasa Indonesia. Juga ikatan kerajaan yang kait-mengkait. Kesamaan kedatangan Islam di wilayah Indonesia. Banyak lagi hal lainnya,” papar Taufik.

Pernyataan Kebudayaan

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Mukhlis Paeni, mengatakan bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan sehingga otomatis menjadi satu bangsa yang baru. Sehingga, papar Mukhlis, masalah etnisitas dan kesukuan pun sudah melebur menjadi satu negara yaitu Indonesia, yang tak bisa menafikan bahwa etnik suku bangsa itu masih tetap ada.

Sudah ada nasionalisme Indonesia yang telah mentransendensi dan melampaui pemahaman kedaerahan. “Pluralisme sudah selesai, kita paham antara lain bahwa kita berbeda. Itu satu komitmen politik yang telah selesai. Kita sepakat bahwa ‘kamu dan aku’ yang berbeda, namun kita sepaham satu negara yaitu Indonesia,” paparnya.

Yang belum selesai, bagi Mukhlis, adalah “aku dan kamu” itu punya peluang harkat dan martabat yang sama. Dengan demikian, pernyataan politik yang sudah selesai itu tak diikuti pernyataan kebudayaan, bahwa “kamu dan aku” punya peluang yang sama, kesempatan yang sama, dan kedudukan yang sama di dalam penyelenggaraan negara. “Komitmen kebudayaan-lah yang harus diselesaikan,” ujarnya.

Perhatian yang adil itu diungkapkan juga oleh budayawan Eka Budianta. Tak bisa lain, semua wilayah memang ingin mendapatkan perhatian. Hanya, Eka justru melihat masyarakatlah yang sebenarnya harus berbesar hati dan rela mengembangkan antara satu suku dengan suku yang lain.

“Ibarat kereta ditarik delapan ekor kuda maka kecepatan yang lemah memengaruhi yang kuat. Tetapi, semua harus bersatu mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan Indonesia jadi kaya asalkan dilandasi kebesaran hati dan kerelaan,” katanya.

Eka melihat bahwa fenomena negara yang berusaha memiliki sistem politik yang ideal kerap terbentur realitas di lapangan, termasuk kendala kemiskinan yang menjadi kelemahan kita.

“Bukan semata karena sistem politik, Orde Baru sejahat apa pun tak punya pikiran seperti itu. Seperti apa kita mendidik guru, ya karena memang kita tak ada kemauan, ketidakmampuan juga ketidakbisaan,” ujarnya.

Eka mengaku suka sekali kebudayaan Indonesia, namun 500 bahasa di wilayah Nusantara sulit sekali dipelajari semuanya. “Ibarat air, Indonesia itu air terjun besar, sedangkan kita hanya punya satu mangkuk. Mengambil kebudayaan Indonesia, itu bukan hanya satu gelas air,” katanya.

Dia mencontohkan, Kementerian Komunikasi dan Informatika yang mencari seberapa banyak data kebudayaan di tiap suku di Nusantara, namun ternyata perusahaan swasta di dunialah yang berhasil mendapatkan data sekaligus mengembangkan kebudayaan di Flores.

Selain itu, Eka mengingatkan kecenderungan adanya genius lokal yang menarik perhatian masyarakat mancanegara sehingga mereka pun datang ke sana karena kekuatan budaya – bukan karena pembesaran dari pemerintah.

“Saya sendiri merasakan, anak, teman dan keluarga saya ingin tahu masyarakat di sebuah daerah, namun sulit karena tak ada bahan dan petunjuk dari pemerintah. Info itu kan mestinya dimiliki Menkominfo, atau Menbudpar, misalnya,” ujar Eka.

20.08.2011 10:43

Diposkan oleh PuJa di 19:50

Prof. Taufik Abdullah, desa, dan spiral kebodohan

 

 

Komentar R. Y. Zakaria <r.y.zakaria@gmail.com>,adatlist@yahoogroups.com, Wednesday, 14 December 2011, 14:27

Teman-teman dan kerabats yb.,
Seperti yang bisa kita ikuti dari berbagai media massa, atas desakan berbagai pihak, Pemerintah didesak segera menyerahkan draf ‘RUU Desa’ ke DPR. Kita tahu, memang, UU No. 5/1979 tentang Pemerintahan Desa adalah salah satu Undang-undang yang dicabut atas nama reformasi. Pengaturannya melalui UU 22/1999 dan kemudian UU 32/2004 tetap saja mendatangkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan masyarakat. Bahkan dari aparat desa sendiri. Maka, dalam rangka menyongsong kebijakan baru tentang desa tersebut, agar bangsa ini tidak terperosok ke dalam lubang yang sama, mungkin perlu untuk mengingat kembali apa saja ‘dosa-dosa’ kebijakan lama tentang desa itu.
Dalam konteks ini, saya ingin memulainya dengan pandangan Prof. Taufik Abdullan yang saya kutipkan di bawah. Penyataan senada, seingat saya, pernah disampaikan Pak Taufik dalam Kata Sambutannya (kalau tak salah) pada sebuah seminar yang diselenggarakan LIPI, tak lama setelah reformasi bergulir. Sayang sekali saya kehilangan kliping beritanya (ketika itu diberitakan di Harian KOMPAS), sehingga sulit untuk melacak arsip dari kegiatan seminar dimaksud.
Adakah di antara teman dan kerabats yang mengetahui dan/atau memiliki arsip dari kegiatan seminar dimaksud?
Salam,
ryz
***

Prof. Taufik Abdullah, desa, dan spiral kebodohan[1]

Seperti ditulis Sihar Ramses Simatupang, menurut sejarawan Taufik Abdullah, kebijakan yang paling parah adalah kebijakan Orde Baru yang melahirkan undang-undang tentang pemerintahan desa yang diberlakukan dari wilayah Sabang sampai Merauke. Ini membuat sistem pemerintahan pun menjangkau hingga desa.

“Undang-undang yang mengatur hingga ke sistem desa itu adalah puncak dari kesewenangan kebudayaan Orde Baru. Sistem pemerintahan disamakan dari Sabang sampai Merauke, mitos daerah hilang, krisis kepemimpinan mengalami tingkat keparahan. Palembang dan Minang masih lumayan, tapi bagaimana dengan di Aceh, Maluku, misalnya. Pemerintah beranggapan mereka bisa kuat ketika kekuatan sosial di daerah-daerah dihancurkan,” ungkapnya.

Karena itulah, sewaktu Habibie tampil setelah lengsernya pemerintahan Soeharto, yang pertama dilakukan adalah otonomi daerah. “Nah, ketika itulah orang jadi mengingat kembali, muncullah masyarakat adat yang menuntut tempat mereka di wilayah Bhinneka Tunggal Ika. Itu kan ikatan lama, mereka pun mencoba menegakkan kembali,” papar Taufik.

Desalah yang kemudian porak poranda. Ketika Orde Baru jatuh, misalnya, pedesaan kehilangan jaring pengamannya, ikatan lama sudah hancur oleh kekuasaan. Maka, seperti yang kerap diberitakan di media massa, konflik kerap diselesaikan bukan oleh tokoh, pemimpin, kepala adat yang berwibawa.

Konflik terjadi, mulai dari wilayah di Maluku, Palu, Kalimantan, hingga Jawa dan Sumatera. Taufik menyebutnya sebagai “spiral kebodohan yang menukik ke bawah”, satu tindakan bodoh ditanggapi tindakan bodoh, tahu-tahu antartetangga desa pun berkelahi.



[1]  Dikutip dari “Refleksi Kebudayaan 66 Tahun Kemerdekaan”, oleh Sihar Ramses Simatupang, http://sastra-perlawanan.blogspot.com/2011/08/refleksi-kebudayaan-66-tahun-merdeka.html

LONELY SONG OF SBY

LONELY SONG OF SBY
in :[kmnu2000],Sunday, December 11, 2011 7:07 PM

SBY semakin bingung harus bersikap apa. Kejadian demi kejadian tidak ada yang terselesaikan. Malahan bertambah kejadian baru yg makin mengenaskan.

Sementara skandal Bank Century dimati-surikan, skandal petinggi2 Demokrat mencuat.

Tanggal 23 Mei 2011 ternyata Nazarudin sudah menghadap SBY dan melaporkan semuanya, termasuk keterlibatan Ibas dan Anas, dkk.

Rakornas Demokrat di Sentul pun berlangsung alot hingga hampir subuh. Keputusan diambil walau berat. Anas dilengserkan untuk membersihkan nama PD. Ditugaskan dua orang. Andi Malarangeng untuk menghadap SBY dan Ahmad Mubarok untuk menyampaikan kepada Anas sekaligus mencari format yg elegan n bijak bagi semua pihak. Tentu ini kemauan kubu Marzuki Ali dan Andi Malarangeng yang mau membalas dendam atas manipulasi uang yang memenangkan Anas sebelumnya.

Subuh, Andi Malarangeng sudah di Cikeas. Sarapan pagi bersama SBY dan kebetulan ada Ibu Sarwo. Baru satu kalimat Andi menyampikan keputusan Rakornas soal dilengserkannya Anas, tiba-tiba Bu Sarwo nyeletuk: “Nek iku dilaksanakan, putuku mlebu bui” (Kalau langkah itu diambil, cucuku masuk penjara). Gagal lah tugas Andi Malarangeng. Semua juga tahu, SBY itu jongos di keluarga besar Sarwo Edhi, makanya sama sekali tidak bergeming atas celetukan mertuanya itu.

Konon, akhir2 ini, SBY sering terdiam merenungi nasibnya yang demikian tragis. Ditinggalkannya istri (keturunan Filipina) dan kedua anak perempuannya demi meraih cita-cita masa depan gemilang, namun apa dikata jatuh ke pangkuan ibu Ani yang menempatkan SBY kayak jongos seumur-umur. Sempat selingkuh sebentar dengan Sri Mulyani Indrawati, namun terhempas skandal Century yang mengharuskan SMI diusir ke luar negeri atas perintah Ibu Ani yang cemburu habis kepada SMI yang cantik dan cerdas. SBY kembali salah langkah dan kembali ke ketiak Ibu Ani.

Apalagi kalau SBY merenungi pilihannya pada skenario manipulasi pemilu, yang waktu itu diambilnya tanpa banyak pemikiran mendalam, SBY makin stres.

Sebagaimana kebiasaan seorang jongos yang sudah mengabdi kepada isterinya puluhan tahun, sudah terbiasa tidak bisa menolak, demikian pula waktu memutuskan skenario pemenangan pemilu itu, hanya pesan Ani Sby yang terngiang2: “Kalau incumbent tidak menang mutlak, itulah sebodoh2nya orang. Kan semua kekuasaan ada di tangan”. Memang menang mutlak, menghalalkan segala cara. Sekarang, ibarat nasi sudah menjadi bubur.
Kalau stres, kompensasinya dia mengarang lagu.

“SBY sudah ditinggalkan kroni2nya. Lebaran tahun sebelumnya, antrian masih amat, panjang, tapi lebaran kemarin, di ruang VIP, hanya ada saya dan seorang menteri, itupun kami buru2 pulang, makanan utuh tidak tersentuh”, demikian seorang jenderal bintang empat, kerabat dekat cikeas menggambarkan.

Di lingkaran satu pun sudah tinggal beberapa sosok oportunis yg mengelilinginya, seperti Hartati Murdaya, yg bakalan hancur bersama hancurnya kekuasaan SBY. “Hartati Murdaya itu yang selalu menyampaikan yang bagus2 kepada Bu Ani dan Pak Sby shg informasi versi lain dari kami-kami yg lebih obyektif sudah tidak ada gunanya”, demikian salah seorang kepercayaan Cikeas.

Awalnya, Ani Sby tidak menyetujui Aliya sebagai menantu. Pacar Ibas di Australia, yg dibelikan Ferari oleh Anggoro, ketika sama-sama kuliah, dianggap lebih tepat untuk mendampingi putranya. Aliya dianggap terlalu mandiri dan kurang “njawani”.

Namun apa yang membuat Ani Sby berubah pikiran? Segra meminang Aliya Rajasa?
Pertama, adalah diagnosa tumor otak di kepala SBY, yg membuatnya pingsan dan lalu diinfus vitamin C, karena memang tidak ada obatnya. Kalau dikemoterapi di kepala akan amat berbahaya.

Maka, tidak heran kalau kemudian RS kecil di dekat Cikeas segra dibeli dan diperlengkapi dg peralatan tercanggih dg dokter jaga kepresidenan, untuk berjaga-jaga kalau setiap saat terjadi sesuatu.

Kedua, tidak ada yg lebih kuat dari ikatan keluarga, apabila terjadi sesuatu. Apalagi Hatta Rajasa sudah terbukti menyetorkan suara poros tengah secara bulat. Buy 1 Get 1. Beli Hatta Rajasa dapat juga Amien Rais. Demikianlah kalkulator di kepala Ani Sby segra bekerja. Tapi kalau tidak diikat bisa saja menjadi bumerang.

Hatta Rajasa bagai disambar petir. Untung rambutnya sudah putih semua, seandainya masih ada yg hitam, kontan langsung jadi putih total. Bagai menghadapi buah simalakama. Dimakan mati, tidak dimakan ibu mati. Aliya Rajasa, gadis cerdas itu, akhirnya harus menyetujui dijodohkan dengan Pangeran Teler, yang diajak ngomong saja tidak nyambung. Adalah Amien Rais yang menghibur, mungkin saking penginnya berkuasa: “Ambil saja hikmahnya. Siapa tahu ini Jalan Allah SWT untuk mendapatkan amanah memimpin NKRI selanjutnya”.

Padahal, seandainya tidak ada ikatan keluarga, jelas manuver Hatta Rajasa dan Poros Tengah akan bisa lebih leluasa di masa depan. Namun takdir sudah diterima sebagai besan.

Adalah Hartati Murdaya yang sibuk. Seperti biasa. Bagaimana mengamankan bisnisnya secara nyata dengan menaruh orang-orang kunci. Seperti Dahlan Iskan yang sudah membuktikan diri berbakti mengamankan kepentingan Murdaya di PLN, tugas selanjutnya adalah agar Dahlan mengamankan kepentingan Murdaya di Telkomsel yang sempat gonjang ganjing.

Apalagi, kembalinya kroni2 lama Aburizal Bakrie, seperti Djan Faridz dan Cicip Syarif Sutardjo dalam Kabinet membuat gerah Kelompok Murdaya.

Karena katakutan kepada ARB, maka langkah beberapa konglomerat menggandeng Arifin Panigoro untuk menjual Sri Mulyani dengan Partai SRI nya pun didanai besar2an. Yang digerakkan adalah para profesional dan akademisi kampus2. Lalu di Jatim mulai masuk ke Pesantren2 untuk memenangkan Gub Jatim sebagai exercise. Mau mengulangi keberhasilan Demokrat melalui ujicoba manipulasi sistem pilgub jatim (Cak Karwo vs chofifah). Termasuk mendorong kakak kandung SMI, yaitu Nining Susilo untuk maju sbg Ketua IA ITB. Namun kalah.

Hanya saja, usaha menjual SMI dgn PSRI memang agak berat, karena ada gerakan tandingan yg begitu santer untuk KPK segra menangkap TRIO perampok Bank Century dan Pajak Fiktif Puluhan Trilyunan (Boediono, SMI, Darmin Nasution) yg disponsori oleh Jenderal Sutanto (mantan Ka BIN) yang dijanjikan oleh SBY untuk menjadi capres PD setelah SBY tidak bisa maju lagi. Tugasnya menghambat agar SBY bisa aman sampai 2014 atau setidaknya TRIO itu saja yang diseret. Jangan sampai menyentuh Cikeas.

Kesulitan menjual SMI dan PSRI, sempat dicoba dilansir dagangan baru oleh kubu konglomerat yakni menjual Dahlan Iskan. Sempat panas sebentar, namun ternyata hanya euforia karena banyak kalangan yang tahu rekam jejak Dahlan Iskan ketika menghabisi Grup Koran ternama di Jatim dengan mendirikan Jawa Pos yang didukung beberapa pihak yg terganggu oleh pemberitaan Koran ternama tersebut yang tidak mau berkompromi. “Ini orang dari dulunya sudah jadi boneka, masak mau dijadikan presiden, yang bener saja lah. Apa tidak mengulang episode SBY di rewind”, demikian sumber BIN mengatakan.

Bingung mencari jago, akhirnya beberapa meminta Hutomo Mandala Putra Suharto untuk tampil di 2014. Hanya saja, HMP tidak ada komentar sampai kini. Usaha membuat Partai Nasrep yg dimotori Mayjen Edi Waluyo juga tidak menggelora, malah seperti setengah hati.

Selain Sutanto, Prabowo juga dijanjikan oleh SBY. Bahwa PD akan bersama Gerindra di 2014 untuk mencalonkan Prabowo sbg capres. Hanya saja, selain menjanjikan, juga secara bersamaan, semua bank dikunci agar tidak mengucurkan kredit kepada Prabowo, sehingga likuiditas Prabowo tersendat. Ini yg membuat Prabowo takluk dan mendukung Panja Pajak Pro Demokrat.

Joko Suyanto, sang Jenderal AU, seangkatan SBY, juga dijanjikan. Namun dia tidak tinggal diam. Apalagi dia, bersama Hatta Rajasa, sudah jelas sebagai distributor dana Skandal Century. Selain mau menyelamatkan diri, juga sedang memanuver agar kekuasaan SBY jatuh sebelum waktunya. Sehingga jatuhnya ke tangan Menko Polhukam. Untuk selanjutnya akan memudahkan urusan.

Tak pelak lagi, beberapa Jenderal AD yang dekat kekuasaan menjadi berang karena berbagai macam isu dilansir untuk menjauhkan SBY dari teman2nya yang AD. Dengan isu Dewan Jenderal AD, SBY berhasil diisolasi oleh Djoko Suyanto, sehingga teman2nya Jenderal AD tidak lagi dekat dengan SBY. Djoko Suyanto bersama para perwira tinggi AU yang siap menduduki Jakarta melalui jalur udara, sudah menyiapkan skenario semacam “supersemar” agar jatuhnya kekuasaan SBY ke tangan Djoko Suyanto. Krn kalau lewat Pemilu normal tidak ada jaminan, nasib dirinya akan aman. Mengingat semua bisa saling mengkhianati untuk menyelamatkan diri.

Hal “siaga 3″ ini pulalah yang dibahas dalam rapat terbatas para Jendral purnawirawan AD baik senior maupun yang masih aktif, karena merasa dikhianati oleh Djoko Suyanto, yang berhasil mengisolasi SBY. Tidak ada satupun Jenderal AD yang dulu hotline dg SBY, sekarang semua lewat Djoko Suyanto. Shg bisa discreening.

“Inilah kebodohan SBY, krn dia orang yg tidak tahu terima kasih. Semua hubungan selalu berdasar kepentingan semata, dia buta, tidak bisa membedakan mana kawan, mana lawan. Tidak sedikit orang setia yg dia korbankan. Spt Kolonel Azis kasus Kedutaaan Indonesia di Korea, Bachtiar Chamzah malah SBY memilih oportunis/pedagang Si Suryadarma Ali, Hafidz Anshari ketua KPU sudah disuruh manipulasi macam2 dan sekarang dikorbankan, dll. Padahal dalam saat kritis dan krisis, kuncinya adalah teman sejati, dan ini dia tidak punya. Dia kira semua orang punya kepentingan. Celakalah SBY”, demikian seorang Jenderal senior yang mengenal SBY sejak jaman dulu.

“Memangnya Djoko Suyanto tolol. Untuk menjadikan dirinya pahlawan, ya kemudian SBY yang akan diadili di depan rakyat, sekaligus untuk membersihkan diri”, demikian lanjutnya berapi-api.

Bagaimana kekuatan dukungan untuk SBY di POLRI Jenderal? Dijawab sbb: “POLRI yang penting untung saja. Lihat saja kasus Gayus. Ito Sumardi sudah ditugaskan oleh SBY, sampai Ito menjemput Gayus ke Singapore, namun dalam perjalanannya, dengan amat mudah kendali operasi diambil alih oleh Salempang (wakilnya), sehingga Tim nya Ito dan Deny Indrayana hancur berantakan, sedangkan Gayus kan bicaranya tergantung siapa yang menang pertempuran saat itu, ya diatur saja kalimatnya sesuai pesanan. Polisi itu yang penting dapat Job, ya jalan, tapi juga harus jelas mengawalnya agar tidak belok kalau dapat tawaran yg lebih tinggi/ lebih baik. Bohirnya Polisi itu banyak. Tidak hanya SBY”,demikian Sang Jenderal Senior.

Ruhut Situmpul dan Sutan Butogana yang biasa muncul sebagai corong SBY pun mulai kendor. Dimintai komentar soal para tokoh DEPAN yang meluncurkan buku berisi daftar abused pemerintahan SBY-BOED, reaksinya adem ayem saja: “ya silahkan saja, ini negara demokrasi, semua bebas berekspresi, tidak seperti biasanya yang banyak membela disana sini. Lebih jelas lagi adalah Marzuki Ali, sang Ketua DPR yang merasa sbg pendiri Demokrat dari sejak awal, namun selalu disingkirkan oleh SBY dalam penentuan posisi menteri, ditambah didzalimi ketika bersaing melawan Anas, sudah siap siaga berperan sebagai layaknya Harmoko di tahun 1998. Miring sedikit, akan segera menyeberang. Lebih baik jadi pahlawan daripada sebagai bersama masuk jurang. Lain lagi Taufik Kiemas. Dia memang oportunis. Siapa yg menang pasti ikut, apalagi kalau diberi peran. Segra saja siap beraksi. Yg penting dagangannya (Puan Maharani) jangan ditinggalkan.

“Jenderal Marciano itu tadinya komandan paspampres. Hampir tidak punya latar belakang pengalaman dunia intelejen. Di seluruh dunia, dipahami bahwa dunia intelejen adalah seperti negara dalam negara. Tidak peduli pemerintah ganti berkali-kali, dunia intelejen jalan terus. Dan harus dipimpin oleh yang berpengalaman di bidang intelejen, by training dan by expereince, tidak bisa ujug-ujug. Kalau ini sih sudah pertanda siaga 3, yang penting Pak Marciano siap melarikan presiden n keluarganya kalau terjadi apa2. Itu saja fokusnya. Kalau memimpin BIN, sulitlah. Kalau soal pengamanan presiden n keluarga, beliau sudah teruji. Ditaruh di BIN krn info A1 adanya di BIN, jd bisa cepat siap2″, salah seorang intel muda menjelaskan.

Kini, kembali SBY dibikin pusing. Mau berkata apa lagi. Semua langkahnya sudah salah lagi dan salah lagi. Tiba-tiba dunia dihentakkan seorang mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum UBK yang membakar diri di depan istananya. Nyawa TKW yang dipancung tidak ada harganya, nyawa korban jembatan Kutai, tsunami, longsor, tanggul jebol, gempa demi gempa, gunung meletus, tabrakan, terus korban nyawa, sampai dijuluki Susilo Bambang Nyudo Nyowo (mengurangi nyawa).

Adalah amat sangat mudah untuk Abraham Samad menepati janjinya, karena semua bukti2 sudah komplit. Century tinggal panggil Boed, SMI, Darmin, sebelum mengarah ke SBY. Bukti2 skandal Petinggi PD juga sudah komplit, tinggal panggil Anas n Ibas. Nunun juga sudah tertangkap. Cuma butuh keberanian saja. Semoga arwah Sondang Hutagalung si pemberani, merasuk ke dalam jiwa Abraham Samad.

Kini SBY menyesali nasibnya tanpa tahu harus berbuat apa, ini salah itu salah:

Sendiri……
Kini aku, sendiri lagi…….

Tiada kawan, tiada teman kutemui
Semua orang menghindari
Siap-siap menyelamatkan diri.
Tinggallah ku sendiri

Sendiri………
Kini aku, sendiri lagi ……….

Judul “The Lonely Song of SBY”


DEPAN NEWS
Disarikan dari obrolan informal para tokoh DEPAN dengan berbagai kalangan (Sipil, Militer, Polisi, Intelejen, Cikeas, dll).

Mengutip pernyataan Prabowo kepada SBY: “Jakarta ini sempit. Kita tahu sama tahu lah. Ngapain pakai jaim-jaim, sampai kolorpun kita saling tahu. Ndak usahlah begitu”.

Senandung Bisu Maumere 1965

Pengantar:

Terimakasih kepada rekan-rekan Ex Libris <exlibris1965@gmail.com>, yang berkenan mengirimkan saya tulisan ini.

Senandung Bisu Maumere 1965

Ex Libris <exlibris1965@gmail.com>, Tuesday, 13 December 2011, 2:24

Pembaca yang budiman,
Kami hadirkan secuplik kisah tragedi 1965 yang terjadi di Maumere, pulau Flores.
LEONARDO Lidi adalah seniman sejati dan mengenang peristiwa kelam itu melalui lagu. Banyak karya berupa lagu dan tarian. Ia sering diundang untuk acara-acara tradisional di Maumere. Mulai dari perkawinan hingga acara kematian. Baik oleh masyarakat maupun pemerintah Kabupaten Sikka. Namun, kehidupan ekonominya jauh dari sejahtera. Ia dan suaminya hanya mengurusi kebun kecil dan sebagian tanahnya menjadi jaminan pegadaian.

Selamat membaca.
Pengelola ExLibris 1965

1
Senandung Bisu Maumere 1965

1 Juni 2010 oleh inor

DI  TENGAH  kebun  jambu  mete,  Leonardo  Lidi,  57  tahun  bersenandung.  Nadanya
terdengar lirih. Musik yang mengiringinya hanya bebunyian suara alam. Dari suara jangkrik
hingga gonggongan anjing yang menyalak keras.

“Lagu ini diiringi dengan tabuh. Saya bisa mainkannya,” Katanya kepada saya. Udara terasa
dingin.  Nyamuk-nyamuk  mulai  menyedot  darah  di  betis  dan  tangan.  Leonardo  Lidi
memakai pakaian adat. Atasannya berwarna biru menyala dan memakai sarung tenun ikat.

Saya tidak mengerti dengan liriknya. Ia seperti merapal hendak menceritakan sesuatu. Saya
mendengar  lantunan  dari  suaranya  yang  tipis.  Matanya  menerawang  menembus  gelapnya
kebun  jambu  mete.  Lagu  ini  judulnya, Wohe  Hoer  atau  Ratapan.  Ia  buat  pada  tahun  1965.
Mengenang tragedi pembantaian orang-orang kampung yang dituduh sebagai anggota dan
simpatisan Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Leonardo  Lidi,  ketika  itu  berumur  17  tahun.  Ia  tinggal  di  Rohe.  Dan  melihat  dengan  mata
sendiri  pembantaian  dikampungnya.  Ada  33  orang  dikumpulkan  di  lapangan  sepakbola.
Dan algojo yang diperintah oleh tentara Indonesia melakukan ritualnya.
“Tangan mereka diikat dan kemudian dipotong kepalanya,” katanya. Masyarakat ketakutan.
Banyak  yang  melarikan  diri  ke  hutan-hutan.  Sembunyi  dari  kejaran  tentara.  Masyarakat
tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.

“Mereka tidak bersalah. Dan tidak ikut-ikutan politik. Mereka hanya petani biasa,” katanya.
Tak  jelas  mengapa  mereka  diburu  dan  dibunuh.  Tak  ada  pengadilan  yang  membuktikan
mereka  bersalah  dan  terlibat  dengan  PKI.  Selain  membantai  dengan  biadab,  tentara  juga
membakar sekolah-sekolah umum.

Kini,  Leonardo  Lidi  tinggal  bersama  suami  dan  kedua  keponakannya.  Rumahnya  sangat
sederhana.  Dindingnya  terbuat  dari  bilah  bambu.  Lantai  tanah.  Tak  ada  listrik  yang
menerangi  rumahnya.  Mereka  tinggal  di  Kampung  Wolon  Ratet,  sekitar  15  kilometer  dari
Maumere.  Dari  jalan  utama,  saya  turun  ke  sebuah  lembah.  Banyak  pohon  jambu  mete  dan
sudah  menutupi  tanah.  Rumah  tinggalnya  jauh  dari  tetangga.  Dari  puncak  terlihat  laut
Maumere. Dan awan gelap menggantung di langit.
Ia mengingat peristiwa pembantaian terjadi pada 14 November 1965. Tiga hari kemudian, ia
membuat lirik untuk mengenang peristiwa hitam di tanah Flores. Kejadian pembantaian ini
juga  menyebar  di  kampung-kampung  lainnya.  Ia  mendengar  langsung  dari  orang-orang
kampung lain yang selamat. Banyak korban yang dibuang ke laut. Termasuk dikumpulkan
dalam satu lubang.
“Saya angkat doa. Baunya sudah saya cium. Bau orang mati, memang,” katanya.
Menurutnya,  jauh  hari  sebelum  pembantaian,  ada  yang  mendata  nama.  Mereka  menulis
nama-nama  yang  menerima  bantuan  makanan  pokok,  seperti  beras,  jagung  dan  minyak
tanah.  Tak  jelas  siapa,  mengapa  dan  tujuan  apa  mereka  menerima  bantuan  itu.  Termasuk
nama yang memberikan bantuan makanan pokok. Daftar nama penerima ini yang kemudian
menjadi sasaran pembantaian.

“Algojonya tidak boleh meneteskan air mata. Jika tidak, mereka sendiri menjadi korban pembantaian
oleh  tentara.  Mereka  potong  kepala  harus  satu  kali.  Seperti  potong  kepala  ayam,”  kata  Daniel
2
David,  warga  dari Maumere.  Di  kampungnya  sendiri,  dari  pengakuannya  ada  sekitar  500
orang yang mati.

David,  membantu  dan  ikut  memberdayakan  ekonomi  masyarakat  di  Maumere.  Dari  mulai
tenun ikat alami, mendirikan galeri tenun hingga membangun koperasi simpan pinjam. Saya
mengenalnya sekitar dua tahun yang lalu. Ketika tinggal di Maumere dan membantu sebuah
lembaga swadaya masyarakat.

David  membantu  menerjemahkan  lirik  lagu  ini  secara  harfiah.  Bait  tiap  bait  dari  lirik  lagu
itu.
14  November  65.  Pater  Bolen  meninggalkan  Flores.  Suhu  politik  lagi  tinggi.  Ia  pergi  ke
Jerman.  Kemudian  terjadi  musibah.  Masyarakat  terpecah  belah.  Tidak  tahu  kemana.  Tidak
tahu pegangan hidup. Mereka pergi ke hutan-hutan. Untuk mencari keselamatan diri. Kami
sendiri. Tidak tahu berlindung ke mana. Tidak tahu arah. Hanya kepada pastor dan kepada
Tuhan.  Ini  jalan  satu-satunya.  Kami  tidak  tahu  berbuat  salah  apa.  Kemana  orang-orang
dibawa.

Kepada  masyarakat  yang  masih  punya  telinga  untuk  mendengar  dan  mata  yang  masih
melihat. Tidak tahu kenapa orang-orang dimusnahkan. Kepada siapa kami mengadu. Hanya
ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan. “Apa ada yang mencatat dan melakukan
penelitian soal peristiwa ini di Flores”,” tanya saya.
“Setahu saya tidak ada. Di Watublapi ada tugu untuk mengenang peristiwa itu. Tapi tidak
ada  catatan  sejarahnya.  Saya  mendengar  langsung  cerita  dari  kakek.  Termasuk  dari
algojonya yang tersisa. Dan masih ada yang hidup,” kata David.

Siapa  sebenarnya  algojo  itu”  Apakah  ia  memang  seorang eksekutor”  atau  orang  suruhan
yang  diperintah  oleh tentara  untuk  melakukan  sejumlah pembantaian”  Apakah  algojo  itu
seorang pelaku atau korban yang mengalami intimidasi dan teror juga dari tentara”

Saya dan David berjalan ke Watublapi sekitar 18 kilometer dari Maumere. Jalan aspal kecil.
Kiri kanan tumbuh pohon cengkeh dan asam. Sepi dan tidak banyak kendaraan yang lewat.
Kami  naik  motor  menaiki  daerah  perbukitan.  Gerimis turun  dan  udara  jauh  lebih  dingin
ketimbang  di  Maumere.  Di Watublapi  saya  hendak  bertemu  dengan  keluarga  korban  dan
salahsatu eksekutornya.

Sebuah  rumah  kecil  dan  beberapa  bunga  hias  tampak  berjejer  rapi  di  pekarangan.  Rumah
kecil dengan beberapa kursi kayu berada di beranda. Ini adalah kediaman Yan Jong. Seorang
tokoh masyarakat dari Kanilima.

Paska proklamasi Indonesia tahun 1945 muncul istilah Kanilima. Singkatan dari KangaE, Nita
dan  Lio-Maumere.  Mereka  adalah  warga  masyarakat  yang  mendiami  kerajaan  Sikka  dan
kerajaan Nita. Warga masyarakat ini dibawah masa pemerintahan Raja Don Thomas (1925-1945).
Menurut Longginus Diogo,  penulis  buku  Kisah  Kerajaan  Tradisional Kangae Arade, Nian
Ratu Tawa Tanah (27/02/2009) mengatakan bahwa Kanilima adalah sebuah gerakan politis
arus  bawah.  Mereka  berjuang  untuk  membebaskan  diri  dari  rezim  feodal-otoriter.
Membebaskan  diri  dari  tindakan  kekerasan,  penindasan  dan  pemerasan.  Kanilima  hendak
mengubah sistem pemerintahan dari dominasi Sikka agar lebih setara.

Gerakan  ini  muncul  pada  tahun  1947.  Membangun  basis  dari  satu  desa  ke  desa  lainnya.
Beberapa tokoh masyarakat dari Kanilima ini antara lain barisan KangaE dipimpin Moan P. Y.
3
Bapa  dan  Yan  Jong,  Barisan  Nita  dipimpin  Guru  Phiter  Pedor  dan  Fr.  Jati  sedangkan  barisan  Lio
Maumere dipimpin Guru Donatus Pale, G. Gego, P. Pango dan Frans Sari.

Orang-orang  dari Sikka  mayoritas  menduduki  posisi  pemerintahan  Raja  Don  Thomas.
Kanilima  menilai  bahwa  pemerintahan  ini  sisa  bentukan  dari  Hindia  Belanda.  Ketegangan
politik lokal ini kemudian pecah ketika terjadi peristiwa 1965. Tokoh Kanilima dari KangaE,
Yan  Jong  dituduh  sebagai  komunis  dan  akhirnya  meninggal  dunia.  Dan  masyarakat  di
pedesaan yang menjadi basis Kanilima menjadi korban tuduhan komunis oleh pihak tentara.
Saya  tidak  menulis  nama  mereka  yang  menjadi  korban  dan  eksekutornya.  Saya
mengantongi  nama  mereka.  Namun  mereka  meminta  agar saya  tak  menuliskannya.
Keluarga dari Yan Jong, menilai peristiwa 65 sudah selesai.

“Itu masa gelap. Hukum tidak jalan. Cari jalan terang saja,” katanya kepada saya. Tubuhnya
sudah  ringkih.  Tangannya  bergetar  dan  bicaranya  pelan.  Tak  mudah  membangkitkan
kembali ingatan pahit yang terjadi pada masa itu.

Keluarga  korban  memilih  diam  dan  membenamkan  ingatan  pahit  itu.  Apalagi  ketika  masa
Orde  Baru  dibawah  Soeharto.  Orang  tak  berani  membicarakan  tentang  PKI.  Apalagi
mengusut kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh tentara. Dan keterlibatan Soeharto dalam
peristiwa itu.

Soeharto menghanguskan setiap bentuk komunisme hingga akar-akarnya. Jutaan buku dan
karya  ia  bakar.  Tak  berani  ngomong.  Apalagi  menulis  dari  sudut  pandang  pribadi  hingga
era  reformasi  tiba.  Dari  1998  hingga  kini,  banyak  memoar  yang  kemudian  terbit  menjadi
buku.  Menceritakan  secara  detail  mengenai  pengalaman,  ingatan  dan  pergulatan  selama
tirani Soeharto.

SAYA  bertemu  dengan banyak  korban  65  di  Bandung,  Jakarta,  Jogjakarta  dan  Semarang.
Melakukan  wawancara  dan  menulis  tentang  mereka.  Ikut  dalam  diskusi  sejarah  dan
mendengar  banyak  cerita.  Mulai  dari Oey Hay Djoen, elit PKI  yang  menguasai  wacana
ekonomi, Samsir  Mohammad,  sekretaris  jenderal  Barisan  Tani  Indonesia  hingga  anak
keluarga dari Aidit.

Oey  dan  Samsir  meninggal  dunia  ketika  saya  ikut  dalam  ekspedisi  Zamrud  Khatulistiwa.
Saya  akan  mengenang  kehangatan,  minum  kopi  dan  diskusi  soal  kebangsaan  dan  sejarah
republik ini.

Banyak  diantara  mereka,  ada  yang  mau  berbicara  apa adanya.  Banyak  juga  yang  sudah
melupakan  peristiwa  pahit  itu.  Keluarga  korban  menuntut  hak  kepada  negara  untuk
memulihkan nama mereka. Dan menuntut keadilan terhadap para pelaku yang melakukan
kekerasan  dan  kejahatan  hak  azasi  manusia.  Namun  hingga  kini  tak  ada  pengadilan
mengenai kekerasan 65. Dan membuktikan pelaku utama yang bertanggung jawab terhadap
kekerasan dan intimidasi peristiwa tersebut.

“Yan  Jong  memperjuangkan  kecerdasan  bagi  orang-orang  timur.  Mendirikan  banyak
sekolah. Dia juga bukan orang PKI. Tapi ini politik, saya tidak tahu persisnya,” kata seorang
eksekutor yang saya temui tak jauh dari rumah keluarga Yan Jong. Usianya sekitar 70 tahun.
Telinganya sudah samar-samar. Ia berbicara keras dan lantang. Beberapa kali menunjukkan
posisi korban ketika pembantaian berlangsung.

4
Ia  mengingat  peristiwa  pembantaian  itu  terjadi  pada  Februari  1966.  Maumere  dilanda
musim  kering  panjang.  Banyak  tanaman  pangan  yang  gagal  panen.  Ia  bertugas  sebagai
eksekutor atau algojo nomor dua atas perintah tentara. Tentara mengumpulkan 10 anak muda
sebagai algojo.

Tentara  itu  memberikan  perintah  bagaimana  cara  melakukan  pembantaian  berupa  potong
kepala  dengan  parang,  cara  mengikat  dan  mengikuti  kode-kode  penyerbuan.  Mereka  akan
menjadi  korban  yang  sama  jika  para  calon  korban  berhasil  melepaskan  diri.  Tentara  akan
mengambil lima orang korban tambahan sebagai penggantinya.

“Satu  saya  dan  empat  sisanya  adalah  keluarga,”  begitu  ancam  tentara.  Mereka  juga
mendapatkan  latihan  bagaimana  mengikuti  prosedur  penyergapan.  Tentara  memberikan
aba-aba berupa teriakan “ANJING!” dan kemudian para eksekutor menjawab “GILA!”.

Tentara  ini  menyebutnya  sebagai  “KOMOP”  atau  singkatan  dari  Komando  Operasi
Pemberantasan.  Tentara  ini  mengikatkan  kain  berwarna  merah  di  lengan  dengan  tulisan
berwarna putih. Istilah “KOMOP” tak ada dalam pencarian mesin pencari Google. Termasuk
sejarah peristiwa pembantaian di Maumere ini. Mesin pencari gagal mendeteksi kata “PKI”,
“Komunis”, “Maumere”, “Komap”, “Flores”.

“Saya dapat jatah 10 orang. Saya tidak tahu jelas alasan mengapa mereka dibunuh. Mereka
(Tentara) hanya mengatakan bahwa orang-orang itu terlibat PKI,” katanya.
Eksekusi  dilakukan  pada  malam  hari.  Truk  mengangkut  20  orang  dengan  kondisi  diikat
dengan tubuh mereka babak belur. Korban dalam kondisi lemah dan mengenaskan. Tentara
menggunakan besi panas dan kemudian menyabet korban di bagian punggung.
Wajah  korban  lebam  akibat  pukulan.  Ia  tak  mengenal siapa  yang  menjadi  korban  itu.  Dan
lubang  dengan  panjang  dua  meter,  lebar  satu  meter  dan  kedalaman  dua  meter  sudah
dipersiapkan sebelumnya.
“Suasananya  gelap  sekali.  Suaranya  ngeri.  Kita  tidak  tahu  orangnya  (Korban).  Banyak  dari
Dobo, Moropiring, Baubatun,” katanya.
“Dari peristiwa itu tak ada kabar sampai sekarang. Tidak ada penjelasan. Saya pernah antar
dua  orang  mahasiswa  dari  Jakarta.  Mereka  orang  Flores  dan  menanyakan  pada  Kodim
alasan dan peristiwa pembantaian itu. Jawabannya, ini rahasia negara,” katanya.
Mahasiswa  itu  tak  menemukan  jawabannya.  Dia  juga  harus  memendam  peristiwa  paling
pahit  sepanjang  hidupnya.  Ia  tak  bisa  berbuat  apa-apa.  Termasuk  ketika  ia  terpaksa  harus
mengikat kakaknya sendiri. Dan kemudian menyerahkannya pada aparat tentara.

“Saya minta jangan terulang lagi kasus 65 itu di negara tercinta Indonesia. Mungkin sampai akhirat
pertanyaan ini selalu ada. Ini rahasia negara atau pelanggaran HAM”,” katanya.
Paska  pembantaian  di  Maumere  pada  Februari  1966,  terjadi  kekeringan  panjang  dan
kelaparan.  Tidak  ada  beras,  jagung  maupun  ubi  yang bisa  ditemukan.  Banyak  pencurian
hewan ternak.

LEONARDO Lidi adalah seniman sejati dan mengenang peristiwa kelam itu melalui lagu. Banyak
karya berupa lagu dan tarian. Ia sering diundang untuk acara-acara tradisional di Maumere.
Mulai  dari  perkawinan  hingga  acara  kematian.  Baik  oleh  masyarakat  maupun  pemerintah
Kabupaten  Sikka.  Namun,  kehidupan  ekonominya  jauh  dari  sejahtera.  Ia  dan  suaminya
hanya mengurusi kebun kecil dan sebagian tanahnya menjadi jaminan pegadaian.

Daniel David membantu untuk merekam semua hasil karyanya. Dan kemudian direkam di
dapur  rekaman.  Ia  bersama  seniman  musik  lokal  di  Maumere  menyanyikan  kembali  lagu-
5
lagu  milik  Leonardo  Lidi.  Dan  berharap  rekaman  lagu  itu  laku  keras  dan  bisa  membantu
ekonomi keluarga Leonardo Lidi.

Tahun  1965  adalah  tahun  yang  kelam.  Dan  pelanggaran  hak  azasi  manusia  yang  sistemik
sepanjang sejarah Indonesia. 12 ribu orang tanpa pengadilan dibuang ke kamp Pulau Buru. Dan
diperkirakan  dua  juta  orang  lebih  mati.  Berdasarkan  hasil  penelitian Robert Cribb dalam
bukunya The  Indonesian  Killings:  Pembantaian  PKI  di  Jawa  dan  Bali  1965-1966.  Kejadian
pembantaian terbesar terjadi di Jawa dan Bali. Peristiwa ini menjatuhkan Soekarno dan dua
tahun kemudian, Soeharto menjadi presiden kedua Republik Indonesia.

Soeharto  melalui  pemerintahan  Orde  Baru-nya  melarang  setiap  bentuk  yang  berkaitan
dengan  komunisme.  Mulai  dari  buku  hingga  lagu. Militer membakar buku-buku  karya
macam Pramoedya Ananta Toer.  Dan  hingga  kini,  paska  reformasi,  pemerintah  Indonesia
belum mencabut ketetapannya yang melarang komunisme (TAP MPRS NO 25 Tahun 1966).
Termasuk melakukan rehabilitasi, pemulihan dan bantuan terhadap keluarga korban.

Satu-satunya  presiden  Indonesia  yang  meminta  maaf  terhadap  peristiwa  kelam  itu  adalah
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia berasal dari Nahdhatul Ulama. Salahsatu organisasi
Islam di Indonesia.

Spanduk-spanduk anti komunisme juga masih menjalar di kota-kota besar macam Bandung.
Saya  sendiri  menyaksikan  sebuah  peristiwa sweeping  oleh  organisasi  masyarakat  dan
menutup  diskusi  buku  di Toko Buku Ultimus.  Mereka  menganggap  diskusi  ini  hendak
menumbuhkan  komunisme.  Beberapa  panitia  dan  peserta  diskusi  diperiksa  oleh  polisi.
Sebelumnya  di  Bandung,  saya  juga  melihat  langsung  pembubaran  diskusi  tentang  sejarah
Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia.

“Banyak  yang  menangis  ketika  saya  menyanyikan  lagu Wohe  Hoer,”  kata  Leonardo  Lidi.
Keluarga korban mengenang peristiwa pahit dan mencekam itu.
“Pemerintah atau tentara tidak melarang lagu itu,” tanya saya.
“Tidak. Mereka hanya mencatat lirik lagunya,” katanya.

Flores  jauh  dari  Jawa.  Namun  mengapa  pembantaian  juga  terjadi  di  Flores”  Sejauhmana
pengaruh  PKI  di  sini”  Bagaimana  persisnya  peristiwa  pahit  ini  terjadi  di  Flores”  Mengapa
tidak banyak penelitian mengenai pembantaian di Flores” Apakah peristiwa kelam di Rohe
itu  tidak  tercatat  dalam  sejarah  mengenai  peristiwa  1965”  Bagaimana  gereja  melihat
peristiwa  pembantaian  itu”  bagaimana  hubungannya  dengan  PKI”  Mengapa  gereja  tidak
bisa menahan pembantaian di Flores”

Benedict Anderson, seorang peneliti tentang nasionalisme dan dikenal sebagai Indonesianis
mengatakan  kepada Radio Netherland,  28  september  2005.  Ia  memberikan  komentar  atas
pernyataan  maaf  dari  Gus  Dur  kepada  orang-orang  yang  dikatakan  komunis.  Termasuk
memberikan analisis tentang pertanyaan saya itu.

Banyak  pembunuhan  berlangsung  di  pedesaan.  Seperti yang  terjadi  di Dobo, Moropiring,
Baubatun. Daerah ini jauh dari pusat kota, Maumere. Menurut Benedict, di kota jauh lebih
aman ketimbang berada di pedesaan.

“Tapi sampai sekarang, umpamanya, tidak pernah ada penelitian terhadap apa yang terjadi di daerah
yang  jelas  Katolik  seperti  Flores.  Apa  yang  terjadi  di  sana”  Saya  belum  pernah,  melihat  laporan
tentang ini,” ungkap Benedict Anderson.
6

Pemerintah Indonesia lebih dari seperempat abad melarang kedatangan Benedict Anderson
karena  pendapatnya  soal  G30S.  Ia  peneliti  senior  dari Cornell  University,  Amerika  Serikat.
Hingga  kini,  ia  mendesak  kepada  organisasi-organisasi  agar  lebih  terbuka  dan  jujur
mengungkapkan peranan mereka pada pembunuhan massa paska G30S.

Saya  mengingat  ketika  Hindia  Belanda  mengasingkan  Soekarno  ke  Ende  pada  tahun  1933.
Ende  adalah  sebuah  kota  kecil  di  Flores  menghadap  laut.  Kotanya  tenang.  Di  tanah  ini,
Soekarno  merumuskan  Pancasila.  Salahsatu  silanya  berbunyi,  Ketuhanan  yang  Maha  Esa
dan  Kemanusiaan  yang  adil  dan  beradab.  Pancasila  menjadi  dasar  negara  Republik
Indonesia.  Namun  mengapa,  pembantaian  itu  justru  melukai  dasar  kemanusiaan  yang
menjadi ruh bagi republik ini.
Saya dan Farid Gaban melakukan perjalanan. Melihat banyak realitas dari Sabang hingga ke
Merauke. Dan republik ini menumbuhkan nasionalismenya dengan jalan banyak kekerasan
dan  ketidakadilan.  Kemiskinan  dan  kebodohan  menjadi  akut.  Keadilan  sosial  bagi  seluruh
rakyat Indonesia hanya menjadi sila yang tak bermakna.

R.A.F Webb dan Steven Farram dalam bukunya “Di-PKI-kan: Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani
di  Indonesia  Timur”  mengatakan  bahwa  studinya  tentang  komunisme  di  Nusa  Tenggara
Timur  atau  NTT,  harus  memahami  masalah  kemiskinan  dan  nilai  sosial  budaya.  Pulau
Flores dan kebanyakan pulau lain di wilayah Indonesia Timur tergolong terisolasi. Dengan
kondisi geografis yang kering. Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga di Nusa Tenggara
Timur dalam kondisi miskin.

Namun  bagaimana  potret  kemiskinan  di  Nusa  Tenggara Timur”  Saya  tidak  ingin  terjebak
dalam  wacana  kemiskinan.  Kemiskinan  memiliki  ukuran  tersendiri.  Khususnya  dalam
melihat  standar  kehidupan  dasar  manusia.  Seperti  hak  pada  kesehatan,  pendidikan,  air,
tempat tinggal yang layak, misalnya.
Dua tahun yang lalu, saya tinggal di Flores. Melihat kondisi masyarakatnya yang tinggal di
kepulauan ini. Pendapatan warga mengandalkan pada hasil pertanian, macam jambu mete,
kelapa, pohon lontar, kakao, kopi, dan mencari ikan.

Hasil  pertanian  melimpah  namun  pengetahuan,  penanganan  dan  pemasaran  produk
pertaniannya  lemah.  Banyak  warga  yang  belum  mendapatkan  akses  listrik.  Termasuk
mengandalkan air hujan untuk minum.

Saya bertemu dengan Maria Goreti, perempuan dari Watublapi. Ia tinggal di sepetak tanah
yang baru ia beli tiga tahun yang lalu. Nilai tanah itu sekitar empat juta rupiah. Ia beli dari
hasil  penjualan  tenun  alami.  Di  belakang  rumahnya  yang  terbuat  dari  bilah  bambu,  ia
menenun. Membuat pewarnaan alami dan mengambil motif-motif tenun tradisional. Setiap
tahunnya,  ia  bisa  menghasilkan  sekitar  1o  lembar  kain  tenun.  Dengan nilai  jual  sekitar  300
ribu untuk selendang dan dua juta rupiah untuk sarung tenun.

Perekonomian  keluarganya  terdongkrak  dari  hasil  tenun.  Ia  menyimpan  pendapatannya
pada  koperasi  kelompok  tenun.  Dan  sanggar  membantu setiap  penenun  dalam  pemasaran
dan pengelolaan keuangan. Maria Goreti dan anggota kelompok penenun lainnya bergerak
untuk keluar dari lubang kemiskinan.

“Saya  bisa  beli  motor.  Kakak  saya  jadi  ojek,”  kata Maria  Goreti  kepada  saya.  Perempuan-perempuan  di  Watublapi  bergerak  untuk  memberdayakan  diri  agar  mandiri.  Terlepas  dari
jerat  hutang  dan  kemiskinan.  Watublapi  daerah  perbukitan  dan  di  daerah  sini  banyak
7
rumah  mengandalkan  pasokan  air  hujan  sebagai  air  minum.  Pada  tahun  1965, Watublapi
hingga Dobo, banyak warga yang menjadi korban pembantaian dan kekerasan.

“Kemelaratan  memberi  peluang  PKI  memasuki  alam  harapan  dan  aspirasi  rakyat  ,”  tulis
R.A.F  Webb  dan  Steven  Farram.  Program-program  PKI  menyentuh  dan  menjalankan  dari
kondisi-kondisi  lokal  masyarakat.  Mulai  dari  masalah  pertanian  hingga  tetek  bengek
masalah  kesenian.  Partai  ini  menjadi  partai  terbesar  ketiga  dunia  setelah Cina  dan  Uni
Soviet.

Di  NTT  sendiri gerakan komunis  tumbuh  sejak  zaman  Belanda.  Diperkirakan  komunisme
tumbuh  pada  tahun  1924.  Pelopornya, Christian  Pandy,  JW  Toepoe,  dan  Franz  Djami,
dengan  total  orang  “komunis”  sejak  1924-1926  adalah  2.280  orang.  Menurut  Webb  dan
Farram diperkirakan jumlah orang yang dibantai pada tahun 1965-1966 di Nusa Tenggara Timur
antara 50 ribu hingga 200 ribu orang.

Namun,  apakah  keluar  dari  kemiskinan  monopoli  ideologi  ”bukankah  tujuan  kehidupan
adalah  kesejahteraan,  keadilan  dan  membuatnya  agar lebih  betah  di  muka  bumi”.  Setiap
manusia  memiliki  hak  untuk  keluar  dari  kemelaratan hidup  dan  mendapatkan
kemerdekaannya.
SAYA  tak  menemukan  banyak  referensi  sejarah  yang  lengkap  soal  peristiwa  ini.
Kebanyakan  penelitian  mengenai  1965  banyak  dilakukan  di  Jawa,  Sumatra  Utara  maupun
Bali. Tidak mudah untuk melacak kejadian persisnya. Dan menemukan kebenaran mengenai
peristiwa pembantaian di Sikka.

Perlu  penelitian  lebih  lanjut.  Melakukan  wawancara dengan  banyak  keluarga  korban,
meminta  kesaksian  dari  para  “algojo”  yang  masih  hidup,  dan  menemukan  “daftar  nama”
yang  akhirnya  menjadi  korban  pembantaian  itu.  Memastikan  setiap  nama  korban,  pelaku
dan sebagainya. Hingga melihat hubungan agama, ideologi, sosial, budaya hingga ekonomi
saat itu.

Penggalian  lebih  lanjut,  juga  mengenai  kejadian  masa  sekitar  1950-1960.  Periode  penting
ketika  pergolakan  “politik  lokal”  muncul.  Bagaimana  kemunculan  istilah  “Kanilima”.  Apa
yang diperjuangkan, ketegangannya seperti apa, siapa saja, dan mengapa kemudian tokoh-tokoh Kanilima akhirnya dituduh sebagai PKI. Siapa saja pemimpin pemerintahan saat itu”

Verifikasi, pelacakan dokumen, kesaksian dan penggalian korban akan membuktikan fakta-fakta yang terjadi pada masa itu. Tak mudah melacak kebenaran yang terjadi pada 45 tahun
yang silam. Namun, kejadian pahit dan tragedi kemanusiaan di Maumere dan mungkin di
wilayah  Flores  lainnya,  meninggalkan  luka  mendalam.  Dan  ingatan  peristiwa  kelam  itu
membekas  pada  keluarga  korban.  Tak  hanya  di  Flores bahkan  di  Jawa,  Bali  dan  wilayah
lainnya di negeri ini.

Leonardo Lidi, mengenang peristiwa 1965 itu melalui senandung. Bahwa ia dan masyarakat
lainnya  tak  mengerti  mengapa  peristiwa  bengis  itu  terjadi  di  Flores.  Ia  mencatat  sejarah
hitam  melalui  sebuah  lagu.  Dan  mereka  akan  selalu  mengenang  dan  tidak  melupakan
kejadian  pahit  itu.  Hanya  doa,  obat  penenang  kegelisahannya.  Seperti  liriknya, kepada siapa
kami mengadu. Hanya ada satu jalan, kepada pastor dan kepada Tuhan.

Ini bagian yang tersulit sepanjang perjalanan saya dalam ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Sulit
membayangkan  bagaimana  kejadian  saat  itu.  Merasakan  luka,  menahan  amarah,  hingga
8
memendam ingatan pahit. Dan akhirnya harus menerima keadaan. Dengan cara melupakan
tragedi kemanusiaan sepanjang sejarah republik ini.

Rasanya  tak  mudah.  Dan  pasti,  siapapun  orangnya,  yang  masih  memiliki  hati  nurani  dan
kemanusiaan  akan  mengutuk  peristiwa  biadab  itu.  Dan  apa  artinya  kebenaran,  jika  ia  tak
berdaya  dan  lumpuh.  ”Apa  artinya  kemerdekaan,  jika  hidup  dalam  kemelaratan”
Kemanusiaan hanya menjadi debu dan puing dalam sejarah.

Ahmad Yunus adalah wartawan lepas dan saat ini bersama wartawan senior Farid Gaban,
tengah berkeliling dengan bendera “Zambrud Katulistiwa”.

Tulisan ini saya kutip dari FB Ahmad Yunus. http://www.facebook.com/”ref=home#!/n
;id=1459221052&ref=mf

Sumber URL :

http://nasrussyukroni.wordpress.com/2 … andung-bisu-maumere-1965/

Umat Islam-Hindu di Lombok Perang Topat

Umat Islam-Hindu di Lombok Perang Topat
| Jodhi Yudono | Sabtu, 10 Desember 2011 | 22:58 WIB

LOMBOK BARAT, NTB, KOMPAS.com–Sekitar 1.000 umat Islam dan Hindu, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, menggelar ritual budaya “Perang Topat” atau saling lempar dengan menggunakan ketupat.

Ritual budaya tahunan suku Sasak yang beragama Islam dan umat Hindu tersebut dipusatkan di Pura Lingsar, Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu.

Pura lingsar yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dibangun pada 1759 oleh Raja Anak Agung Ngurah dari Kerajaan Karang Asem, Bali, yang pada waktu itu memerintah bagian barat Pulau Lombok.

“Perang Topat” tersebut diawali dengan pelemparan ketupat perdana oleh Bupati Lombok Barat, H M Zaini Arony didampingi Wakil Bupati Lombok Barat H Lalu Mahrip dan sejumlah anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Lombok Barat.

Ritual saling melempar dengan ketupat dimulai setelah acara di pura atau kemalik selesai digelar atau tepatnya pada saat “rara’ kembang waru” (gugur bunga waru) sekitar pukul 17.00 Wita.

Sebelum menjadi alat perang, ribuan ketupat sebesar telur tersebut terlebih dahulu diarak menuju “kemalik” atau tempat suci yang dikeramatkan oleh umat Islam dan Hindu yang ada di Pulau Lombok, khususnya di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Prosesi saling lempar berjalan tertib dan berlangsung sekitar 15 menit. Setelah itu, warga terutama kaum tani yang berhasil memperoleh ketupat yang masih utuh membawa pulang untuk ditebar di sawah, karena dipercaya bisa memberikan kesuburan pada tanah garapan, sehingga hasil panen melimpah.

“Perang Topat” digelar setiap tahun pada bulan purnama Sasih keenam menurut kalender Bali dan kepitu’ (tujuh) menurut kalender Sasak.

“Perang Topat” merupakan rangkaian dari pelaksanaan upacara pujawali. Upacara ini dihajatkan sebagai ungkapan “suksma” (terima kasih) umat manusia kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keselamatan, sekaligus mohon berkah.

Ritual budaya yang sudah menjadi kalender tetap Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tersebut disaksikan sejumlah wisatawan mancanegara. Mereka tampak antusias mengabadikan moment warga Lombok yang saling lempar dengan ribuan ketupat sebesar telur yang sudah disediakan panitia.

Bupati Lombok Barat H Zaini Arony sebelum memulai “Perang Topat, mengatakan, ritual budaya “Perang Topat” merupakan filosofi suku Sasak yang beragama Islam dan Hindu di Pulau Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Barat.

“Ritual ini sebagai sebuah bentuk penghormatan umat Islam di Pulau Lombok terhadap para wali. Begitu juga dengan umat Hindu di Pulau Lombok menjadikan ritual ini sebagai sebuah penghormatan bagi Sang Pencipta alam,” ujarnya.

“Perang Topat” yang melibatkan dua pemeluk agama, yakni Islam dan Hindu, namun berasal dari etnis Sasak, kata Zaini, hanya ada di Lombok dan tidak ada di Bali.

“Perang Topat” adalah perang untuk perdamaian, kesejahteraan dan kekeluargaan yang diadakan secara turun temurun dan sudah menjadi salah satu tradisi  warisan leluhur suku Sasak (nama suku di pulau Lombok) dan suku Bali.

“Ritual ini bukan perang seperti di Irak atau Palestina yang menggunakan bom. ’Perang Topat’ adalah perang untuk perdamaian. Jadi tidak perlu khawatir, tidak perlu bawa bom molotov atau senjata tajam. Dari Lingsar untuk perdamaian Indonesia,” katanya.

Sumber :
ANT

 

UN Declaration on the Rights of Indigenous Peoples on Cultural Rights

[AIPP info poster series] UN Declaration on the Rights of Indigenous Peoples on Cultural Rights

Dear all,

AIPP, with its partner organizations, has published second info poster for 2011 on Indigenous Peoples’ Cultural Rights. The info poster is simplification of indigenous rights in regards to their culture that has been translated to 11 languages including English spoken in 7 countries of Asia. Please see below for more details

“Culture is essential toCultural_Rights_info_poster_web_image indigenous identity. Indigenous cultures are based on the concepts of respect for others, self-humility and mutual support for one another. The dignity of all peoples and maintenance of cultural integrity are the principles that bind communities together  and ensure harmonious relationships.”

 - Excerpts from “Asia Indigenous Peoples’ Perspective on Development”

The latest AIPP info poster titled “UN Declaration on the Rights of Indigenous Peoples on Cultural Rights” simplifies the rights of indigenous communities in regards to their distinct cultures, including spiritual and religious traditions and customs, languages, writing systems, histories, philosophies and literatures, cultural heritage, traditional knowledge and cultural expressions. The poster also clarifies state obligations for the protection and promotion of indigenous cultures.

Pang Palui (1)

SAHEWAN PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
 
Catatan Panarung Andriani S. Kusni
 
Pengantar
Sahewan, sebuah kosakata bahasa Dayak Ngaju padanan dari obor dalam bahasa Indonesia. Sedangkan panarung dalah kata jadian dari kata daasr tarung yang berarti laga, tarung atau terkenal. Terkenal, sebenarnya arti yang muncul sebagai akibat dari kerja laga, atau berlaga.Sehingga pengertian dasar dari tarung (sebagai kata dasar, yang juga merupakan kata benda), panarung (pelaga) sebagai kata benda enunjukkan orang, pelaku kerja batarung, tetap adalah laga. Kalau dahulu Utus Dayak disebut Utus Panarung (Turunan Pelaga) , etnik ini terkenal karena karakteristik berlaganya yang dominan. Laga manusia Dayak inilah yang menjadi musabab ia tersohor.  Tersohor adalah akibat atau hasil dari suatu sebab. Hasil dari suatu tindakan atau kerja.
 
Kalteng sebagaimana halnya dengan republik dan Indonesia tidak lain dari bagan, kerangka program yang ingin diwujudkan di suatu kawasan geografis tertentu. Dalam konteks hari ini, dengan komposisi penduduk (demografis) yang sangat majemuk,   program itu di bidang kebudayaan  adalah bagaimana mewujudkan Kebudayaan Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng.Kebudayaan yang bercirikan khas Kalteng, sebagai wujud dari rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan di wilayah geografis provinsi Kalteng, baik dalam bentuk maupun dalam isi. Republikan dan Berkeindonesiaan selain sebagai program, juga merupakan politik kebudayaan yang memberikan ruang luas bagi kemajemukan ciri-ciri khas. Sejarah dan keyataan dalam perkembangannya memperlihatkan bahwa ciri khas Kalteng ditentukan oleh budaya Dayak sebagai sebagai dasar . Dasar ini kemudian berkembang, makin kaya dan makin tanggap zaman oleh kemampuannya menyerap  kekayaan kemajemukan  budaya lokal, nasional dan global. Dengan demikian Kebudayaan Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng, baik secara nasional maupun mondial akan sangat rasuk, tidak mempunyai kontradiksi sebagaimana yang dikatakan oleh. Filosof Perancis Paul Ricoeur: “kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal”.Kebudayaan demikian memang tidak rasuk dengan budaya ghetto yang malangnya masih dominan di Kalteng serta tercermin dalam budaya politik sehingga sering nampak secara nyata menjadi dasar budaya bagi suatu konflik. Ruang Budaya Sahewan  Panarung yang disediakan oleh Harian Radar Sampit ini bermaksud turut andil melahirkan dan mengembangkan Budaya Kalteng Beridentitas Kalteng yang demikian. Ia juga bertujuan: Membangun dan mengembangkan kekuatan budaya  Kalteng sebagai basis pengembangan budaya serta memasuki pergaulan budaya  di skala pulau, nasional, dan internasional. Membangun sistem kerja budaya berjaringan saling menguntungkan dalam upaya pemanusiawian diri, kehidupan dan masyarakat. Menjadikan Kalteng warga budaya nasional dan internasional. Menjadi forum debat ide dalam soal-soal kebudayaan untuk megembangkan budaya kritis.Mendorong penggalian budaya lokal untuk pelestarian, perevitalisasian dan pengaktualisasiannya. Menumbuhkan dan mengembangkan potensi penulis-penulis lokal. Memperkenalkan perkembangan kebudayaan yang terdapat di luar  Kalteng.Membantu pengadaan materi muatan lokal di sekolah-sekolah. Mencoba menjadikan diri sebagai organisator kegiatan kebudayaan. Tujuan-tujuan ini hanya mungkin terwujud dengan partisipasi aktif semua pembaca sebgai bentuk tanggungjawab budaya. Pengiriman karya-karya  dalam berbagai bentuk ke Pengasuh Ruang Budaya ini yaitu ken_prita_sjk@yahoo.com, seperti esai, cerpen,cerita bersambung, cerita rakyat/dongeng/legenda, kritik/bahasan/kajian, puisi modern dan atau klasik lokal, foto/sketsa/lukisan, reportase literer, cerita bergambar, wawancara, mengangkat sejarah dan khazanah budaya lokal adalah beberapa bentuk kongkretnya.  Ruang Budaya ini akan hadir  mengunjungi pembaca seminggu sekali. Cara lain, apabila syarat-syaratnya sudah tersedia, membentuk kelompok-kelompok Sahewan Panarung Radar Sampit di tempat masing-masing. Saran-saran untuk mewujudkan cita-cita budaya ini sangat diharapkan karena kita hanya punya satu pilihan terbaik: Maju! ***
 
 
Catatan Kebudayaan Kusni Sulang
 
MENTRADISIKAN DEBAT IDE
Debat ide, debat akademis adalah suatu tukar pikiran dengan menggunakan data dan alasan. Debat ide bertujuan mencari kebenaran dari kenyataan, dilakukan secara terbuka, jujur. Artinya sanggup mengatakan yang hitam sebagai hitam, putih sebagai putih. Kesanggupan inilah kemudian yang memberikan tempat lapang bagi kebenaran orang lain. Dengan demikian, debat ide tidak akan bisa berlangsung apabila bertolak dari sikap subyektif yang merasa diri sebagai pemegang kebenaran mutlak. Sikap jujur dan tersedianya tempat lapang bagi kebenaran orang lain ini, disebabkan suatu obyek bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Berbagai sudut pandang inilah yang mampu menghadirkan hal ikhwal sebagaimana adanya hal-ikhwal tersebut. Sebab bisa terjadi, dilihat dari satu sudut pandang, gajah itu dikatakan tidak  berekor atau tidak mempunyai gading, karena ekor dan atau gading itu dari sudut di mana seseorang itu berada tidak nampak. Tapi benarkah gajah itu tidak berekor dan atau tidak bergading walau pun tidak kelihatan oleh seseorang? Subyektivisme menyebut gajah tidak berekor dan atau tidak bergading itu sebagai kebenaran. Tapi sikap ilmiah yang mencari kebenaran dari kenyataan akan mengatakan salah. Tidak! Karena itu ia sanggup menerima pendapat lain. Dan di sinilah arti penting kemajemukan, jujur dan kritik. Dari segi ini, kritik sama sekali tidak bisa diartikan sebagai hujatan, meludahi muka seseorang  apalagi melecehkan. Jika dilihat dari riwayat bagaimana pikiran yang tepat , bahkan ilmu-pengetahuan, kritik dan kejujuran ilmiah boleh dikatakan sebagai sesuatu yang niscaya. Niscaya tanpa embel-embel “membangun” sebab kritik sesungguhnya bertujuan mencari kebenaran dari kenyataan. Mendapatkan hakekat pada suatu tingkat tertentu. Sebab oleh keterbatasan manusia, kebenaran pada suatu ketika hanya bersifat relatif dan bisa berkembang pada waktu kemudian. Simplisisme seperti halnya mutlak-mutlakan,  jalan pintas, instanisme, melihat sesutu secara hitam-putih apalagi jika berangkat dari suatu kepentingan di luar kebenaran dan upaya pemanusiawian, maka debat ide tidak mungkin bisa berlangsung. Hal-hal ini tercermin melalui bahasa yang digunakan serta cara melakukan debat ide. Sikap-sikap tidak ilmiah ini menampakkan diri antara lain  pada kecenderungan menggunakan kekerasan, baik verbal atau pun fisik – cara-cara yang memang sangat sederhana. Minimnya toleransi alias sektarisme.Dalam ungkapan orang Korea “memandang langit dari lubang kecapi”. Sikap ilmiah ini dalam praktek keseharian saat menghadapi masalah-masalah kongkret yang juga tidak pernah sederhana dan selalu kompleks, meminjam istilah sosiolog Perancis Edgar Morin, akan menangani masalah sesuai sifat kontradiksinya. Ia tidak akan bertindak emosional dengan  mengacaukan unsur dominan dengan yang tidak dominan dari suatu kontradiksi pokok. Pengacauan unsur dominan dengan yang sekunder akan menimbulkan petaka besar, hal yang sering dilakukan oleh orang-orang emosional.  Sikap emosional bertautan dengan pandangan dunia yang merupakan sari kebudayaan. Sehingga bagaimana suatu masalah dihadapi dan dikelola sekaligus memperlihatkan taraf kebudayaan dan  tingkat indeks mutu kemanusiaan seseorang. Belajar dalam arti luas dan saling belajar merupakan cara untuk meningkatkan indeks mutu kemanusiaan itu. Debat ide termasuk salah satu cara belajar dan saling belajar untuk mendapatkan kebenaran dan kenyataan.  Jika demikian debat ide agaknya niscaya ditradisikan di Kalteng ini.Sudahkah atau kita masih lebih menyukai jalan pintas, menyederhanakan hal yang selalu kompleks?***
 
Cerita Rakyat Kalteng
 
PANG PALUI
Pengantar:
 
Pang berasal dari kata Apang dalam bahasa Dayak Ngaju yang berarti Ayah. Dalam masyarakat Dayak, sudah menjadi kebiasaan dan menjadi tatakrama memanggil suami-istri dengan nama anak pertama mereka.  Palui adalah nama anak pertama,  suami-istri. Dalam masyarakat Dyak, nama dipandang sebagai sesuatu yang sakral, karena itu  memanggil orang tua dengan nama dipandang sebagai tidak sopan. Untuk memanggil mereka lalu biasa digunakan nama mank pertama atau julukan. Galar dalam bahasa Dayak Ngaju. Kampug halaman benarnya Pang Palui adalah Tanah Dayak. Oleh perkembangan sejarah terutama sejarah pembentukan provinsi  Kalimantan Tengah, sebelum ibukota Palangka Raya siap dihuni sebagai ibukota Provinsi, maka kemudian Pang Palui “mondok” di Kalsel dan dipopulerkan oleh Harian Banjarmasin Post sampai sekarang.  Popularitas Pang Palui di Kalsel hanya memperlihatkan universalitas nilai yang dibawakan oleh tokoh sastra, seperti halnya tokoh Abunawas populer di Kalteng sekalipun berasal dari Iran kemudian menetap di Iraq atau tokoh Sun Wu-kung menjelma jadi Hanoman di Jawa. Tokoh sastra adalah manusia terbuka, rumahnya adalah dunia. Demikian juga tokoh Pang Palui. Pang Palui yang diterbitkan di sini, adalah Pang Palui  versi Dayak Katingan. Boleh jadi Daerah Aliran sungai lain mempunyai versi Pang Palui lain lagi.
Pengasuh
Andriani S. Kusni
ken_prita_sjk@yahoo.com
PANG PALUI
(1)
Dahulu kala, di tepi sebuah sungai, hiduplah sepasang suami istri. Pasangan ini mempunyai seorang anak lelaki bernama Palui, Oleh karena itu suami-istri itu disebut Pag Palui da Ndang Palui atau Indu Palui. Pada masa itu, orang Dayak hidup dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apa. Tak ada kesulitan  apa pun untuk memenuhi keperluan hidup mereka sehari-hari. Kalau mereka memerlukan ikan, mereka tinggal turun ke sungai, danau atau luhak untuk mendapatkan ikan yang diperlukan itu dengan maluhak, memancing, marengge, mambanjur, manyiap, mahaup, manyauk dan alat-alat penangkap ikan lainnya seperti pasuran, buwu, hépéng. Kalau mereka memerlukan sayur-mayur, mereka tinggal pergi ke hutan atau pinggir sungai atau ke daerah tanah-tanah gambut tergenang, untuk memetik kalakai, bajéi, taya,  cendawan (kulat) berbagai jenis, rebung, dan lain-lain sayuran. Sedangkan keperluan akan daging bisa didapat dengan berburu menggunakan anjing pemburu, senapan bikinan sendiri, disamping hewan yang mereka ternaki. Sedangkan padi tersedia di lusuk atau lumbung tinggal di putar (alat untuk menggiling padi, sekarang sudah hampir punah sama sekali). Kelaparan dan kekurangan pangan merupakan hal asing di Tanah Dayak waktu itu. Alam adalah  ibu yang ramah menyediakan segala sesuatu untuk hidup. Orang-orang tidak mengenal yang namanya pengemis. Kalau bepergian, rumah tak perlu dikunci.
Alkisah, pada suatu hari, Ndang Palui minta kepada suaminya, Pang Palui untuk mencari kijang sebagai lauk-pauk mereka untuk hari itu.
-“Bisa kau mencari daging kijang untuk lauk-pauk kita hari ini?”, ujar Ndang Palui.
“Tadi saya sudah ke hutan mencari kalakai dan cendawan hitam (kulat bitak) yang kebetulan banyak tumbuh di hutan. Hanya belum sempat mencari ikan”, lanjut Ndang Palui.
“Saya memasak semuanya ini dan kau mencari daging kijang, sekaligus sebagai lauk-pauk makan malam kita nanti”, tambah Ndang Palui dengan tangan tak berhenti membersihkan kalakai dan kulat bitak yang dipungutnya dari hutan.
“Kita makan siang setelah daging kijang itu kau bawa dan kumasak sehingga kalau Palui pulang dari main-main, sudah tersedia segala apa yang bisa ia makan. Tidak ribut mencari makanan”.
Pang Palui pun pergi memenuhi permintaan Ndang  Palui tanpa banyak bicara. Apalagi Pang Palui bukan jenis lelaki yang banyak bicara, berbeda dengan istrinya yang sedikit bawel. Ia mengambil ambang dan mengikatnya di pinggang , sebatang tombak, lalu turun tangga. Begitu sampai di pinggir sungai yang rindang dinaungi oleh dedaunan rimbun, ia melihat bayangan seekor kijang sedang makan. Hati  Pang Palui sangat girang, karena ia tak perlu pergi lebih jauh lagi. Kijang sudah menunggunya.
“Ini dia”, ujarnya berkata sendiri, sambil membayangkan betapa istrinya akan gembira menerima bawaannya kelak dan sebagai lelaki ia bisa memenuhi permintaan istrinya. Pang Palui berjingkat mendekati kijang itu. Saat yang menurut perhitungannya kijang itu sudah dalam jarak tak bisa lolos dari terkamannya,¨Pang Palui pun segera beraksi menerkam kijang sasaran. Tapi yang dikejar oleh Pang Palui bukanlah kijang yang  sedang makan rerumputan di darat, tetapi bayangan kijang yang di dalam sungai.
“Burrr…..”, terdengar suara  Pang Palui mencebur ke sungai untuk menangkap bayangan kjang. Air sungai menyembur ke atas.  Mendengar suara tersebut, kijang yang sedang makan  itu terkejut, menyadari adanya bahaya sedang mengancamnya. Menjerit spontan dan lari sekencang-kencangnya ke dalam hutan,  mencari keselamatan. Pang Palui bergelut dengan arus mencari tebing dan naik ke darat. Seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup.
“Apakah aku harus ke hutan mencari kijang itu?” tanya Pang Palui pada dirinya.
“Mana mungkin aku akan mendapatkannya segera. Kijang yang sadar  akan bahaya, tentu mencari tempat aman dan pergi sejauh mungkin, ke tempat yang aman. Mencarinya  sama dengan menghabiskan seluruh hari, sedangkan Ndang Palui menunggu di rumah”. Pang Palui merasa dalam keadaan serba sulit.
 Sesekali ia merenungi gelombang sungai dan tempat kijang tadi makan.Kijang dan bayangannya sudah tidak ada. Ia sadar bahwa ia tak akan bisa memenuhi permintaan istrinya. Tidak bisa menunaikan tugasya. Yang tersisa adalah diri yang basah kuyup dan kegagalan. Ia merasa harga dirinya  sebagai seorang lelaki, sebagai seorang suami, sebagai ayah,  terusik, bahkan sirna bersama lenyapnya kijang dan bayangan kijang itu di permukaan sungai. Betapa pun ia harus pulang dengan tangan kosong dan hanya membawa kegagalan menunaikan tugas serta mewujudkan harapan. Ia merasa sangat terpukul, tapi ia harus pulang menemui istri, mempertanggungjawabkan segalanya. Kegagalan adalah bagian dari kenyataan. Kenyataan harus dihadapi sebagaimana adanya kenyataan. Dengan langkah gontai, Pang Palui kembali menuju rumah di mana sang istri sedabg menanti kijang tangkapan.
(Bersambung…)
Dituturkan kembali oleh Andriani S. Kusni
Sansana Panarung
 
Terra in Cognita
 
: Magusig O Bungai
di sini mereka lahir , kawin dan beranak
membangun rumah-rumah model eropah
nama mereka seperti baliho berderet gelar terpajang
lika-liku kampung apalagi tentang nenek-moyang
tak perlu tanya pada mereka
kampung-halaman tak tertera di buku panutan
kampung-halaman
hanyalah terra in cognita
ragi-ragi usang
aku melihat sungai dan hutan
kehilangan putera-puterinya
paling tidak dua angkatan
Kasongan, 2011
 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers