Archive for the ‘Budaya’ Category

Patung ‘Bahenol’ di Pekanbaru Terus Menjadi Polemik

Patung ‘Bahenol’ di Pekanbaru Terus Menjadi Polemik

Foto: Chaidir Anwar/d*tikcom

Pekanbaru - Persoalan patung yang menari di jantung kota Pekanbaru masih saja menjadi perhatian publik. Selain soal nama patung yang menjadi polemik, bahenolnya pantat patung juga menjadi sorotan.

Ingin melihat pantat patung yang bahenol dan terkesan erotis? Berkunjunglah ke Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Patung ini letaknya di pertigaan Jl Sudirman dengan Jl Gajah Mada yang lokasinya perisis di depan Kantor Gubernur Riau.

Patung tersebut baru saja usai dibangun sebulan ini dengan menampilkan dua sosok pria dan wanita yang tengah menari. Sang pria mengenakan peci dengan posisi di atas. Sedangkan patung wanita posisi di bawah dengan tubuh yang melentik. Melintiknya badan batung ini, membuat posisi pantatnya menjadi bahenol. Pantat patung yang terlihat montok itu, mengarah ke Kantor Gubernur Riau.

Urusan pantat bahenol ini dianggap patung yang erotis. Belahan pantat patung yang terlihat dengan jelas bagi masyarakat yang melintas di sana, menimbulkan protes dari berbagai pihak. Itulah gambaran masyarakat Pekanbaru yang saat ini meributkan urusan pantat montok sang patung penari itu.

“Patung itu tidak mencerminkan budaya Melayu, malah terkesan patung wanita itu sangat erotis. Coba lihat sendiri bagaimana patung wanita dibentuk sedemikian rupa hingga pantatnya bahenol yang membelakangi warga yang melintas di jalan tersebut,” kata tokoh Budayawan Riau, Eddy Ahkmad RM kepada detikcom, Kamis (26/1/2012).

Menurut Eddy RM, sebaiknya keberadan patung dengan patat yang melentik itu ditinjau ulang. Paling tidak, harus ada renovasi kembali soal pantat patung yang dianggap aduhai itu.

“Kalau kita minta sebaiknya dirobohkan saja, patung itu sama dengan berhala. Tapi kalau tidak dirobohkan, paling tidak direnovasi kembali agar patung wanitanya tidak terlihat erotis,” tegas Eddy RM.

Walau begitu tidak semua masyarakat sepakat jika patung ini di robohkan. Sebagian masyarakat menilai patung tersebut malah menambah cantik suasana kota Pekanbaru.

“Biar pantatnya bahenol, tetap saja patung itu menambah keindahan kota. Masak urusan pantat bahenol saja diributin. Kayak nggak ada kerjaan yang lain saja,” ujar Rosmaini, seorang warga di Pekanbaru.

Urusan pantat patung ini memang menarik. Selain soal bahenolnya, warga lain mengkritik arah pantat itu ke Kantor Gubernur Riau. “Sudahlah pantat patung bahenol, masak mengarah ke Kantor Gubernur. Apa tidak tidak ada cara lain agar letak patung bisa sedikit sopan,” kata Kurniadi warga lainnya dengan senyam-senyum.

Informasi yang dihimpun detikcom, patung penari ini merupakan karya seni dari I Nyoman Nuarta, ahli seni patung di Indonesia. Dan kabarnya, pembuatan patung yang tengah asyik menari ini menghabiskan dana Rp 4 miliar.

Keajaiban Menulis di Era Internet: The World’s Greatest Idea (3)


Keajaiban Menulis di Era Internet: The World’s Greatest Idea (3)

Oleh Hernowo

in: dikbud@yahoogroups.com , Saturday, 28 January 2012, 6:36

“Betapa menakjubkan proses mental yang mengubah pikiran di kepala kita menjadi huruf-huruf di halaman kertas atau layar,” tulis John Farndon masih di halaman yang mengulas tentang gagasan terbaik kedua yang berhasil mengubah dunia:menulis. Ya, saya sendiri saat ini terus merenungkan ketakjubkan saya terkait dengan jari-jari di tangan yang sedang mengetikkan huruf-huruf di papan ketik komputer untuk menampung dan mengubah pikiran saya. Huruf-huruf itu terangkai menjadi kata, kata tersusun menjadi kalimat, dan—ketika saya membaca satu demi satu kalimat-kalimat itu—ajaib, saya menemukan makna.
 
Terus terang, ketakjubkan saya tidak berhenti di situ. Saya terus merasa takjub karena pikiran saya kadang dapat dialirkan secara lancar dan kadang tidak alias mengalami kemacetan. Mengapa saya dapat mengalami kemacetan dalam menulis? Apakah pikiran saya yang berhenti berpikir (tidak ada koneksi sel-sel saraf di kepala saya) dan gagal menciptakan sebuah makna atau itu dikarenakan jari-jari tangan saya tidak dapat memahami apa yang sedang saya pikirkan dan pada gilirannya tak dapat mengalirkan pikiran saya? Sekali lagi, sebagaimana kata Farndon, ”betapa menakjubkan proses mental” ini?
 
Lantas, tiba-tiba saja sebuah tulisan terbentuk atau alur atau iramanya kemudian dapat saya rasakan (dengarkan). Setelah huruf-huruf itu membentuk kata dan kata membantuk kalimat, akhirnya kalimat membentuk paragraf—kelompok-kelompok kecil gagasan. Ya, saya berhasil menciptakan gagasan—tentu bukan gagasan besar; ini hanya gagasan yang merupakan pengelompokan pikiran yang tiba-tiba harus saya alirkan. Jadi, gagasan itu baru akan jelas terlihat (terbaca) apabila dirumuskan secara tertulis? Menurut saya ya! Bagaimana dengan gagasan yang tiba-tiba muncul dan tidak terumuskan secara tertulis? Gagasan itu belum jelas sosoknya!
 
 
Memang, seseorang bisa saja menggagas atau melahirkan ide tertentu tanpa bantuan menulis. Orang tersebut dapat menyampaikan secara lisan atau langsung menciptakan sebuah karya—patung, lukisan, tarian, atau yang lain. Namun, bukankah gagasan yang disampaikan secara lisan akan kehilangan bentuk atau sosoknya yang jelas? Bukankah kita, pada saat ini, sedang tidak berada di era prasejarah? Kita sudah memasuki era sejarah dan bahkan sejarah itu memasukkan internet di dalamnya. Apakah kita tetap akan mengandalkan kelisanan? Betapa akan banyaknya gagasan kita yang hilang (terdistorsi) apabila tidak kita tuliskan—kecuali, sebagaimana saya katakan di atas—gagasan itu langsung diwujudkan dalam bentuk sebuah karya.
 
Sekali lagi, ”betapa menakjubkannya proses mental” ini? Saya menjadi mudah menemukan ide atau gagasan—meskipun bukan ide yang dahsyat—berkat menulis dan memahami ”proses mental” yang menyertai kegiatan menulis. ”Tanpa adanya tulisan,” tulis Farndon di halaman 365, ”gudang besar pemikiran yang diwariskan kepada kita melalui sejarah bisa kehilangan banyak bagian.” Dalam konteks kata-kata Farndon ini, saya ingin mengatakan bahwa gudang besar pemikiran itu adalah pelbagai gagasan. Memang, gagasan berasal dari sebuah pemikiran yang berkualitas. Namun, kualitas pemikiran yang akhirnya menjadi gagasan itu hanya kan terbangun dengan jelas apabila dapat dirumuskan secara tertulis.
 
Saya ingin berhenti sejenak di sini. Saya telah membaca banyak tulisan dari para tokoh yang hidup berabad-abad lalu. Tokoh-tokoh tersebut sebagian sudah wafat. Ada Dr. Sir Muhammad Iqbal misalnya. Ada Rene Descartes dan bahkan ada para tokoh lain yang hidup jauh sebelum Iqbal maupun Descartes. Saya merasakan, para tokoh itu—lewat tulisannya—sedang mewariskan gagasan kepada diri saya. Pikiran saya yang bersentuhan dengan pikiran mereka, pada ujungnya, akan memercikkan gagasan baru yang lain daripada yang lain. Ini tentu luar biasa. Dan pertemuan pikiran saya dan pikiran para tokoh itu berlangsung sangat efektif karena lewat membaca tulisan.
 
Kenapa sangat efektif? Sekali lagi karena tulisan! ”Yang jelas, tulisan (gagasan—HH) tidak muncul tiba-tiba,” tulis Farndon di halaman 367. ”Tulisan (gagasan—HH) berkembang secara bertahap dalam jangka waktu yang sangat lama.” Saya beruntung dapat mencicipi era internet. Lewat era yang juga menakjubkan ini, setiap hari—kapan pun dan di mana pun—saya dapat terus bersentuhan dengan pikiran (gagasan) orang lain lewat tulisan-tulisan digital yang saya baca. Dunia memang cepat sekali berubah gara-gara internet. Namun, dunia teks menjadi semarak gara-gara perubahan sangat cepat yang dibawa oleh internet. Alhamdulillah.[]

Mendalang dengan Gerakan Kungfu

Widayat Djiang
Mendalang dengan Gerakan Kungfu
| Jodhi Yudono | Kamis, 26 Januari 2012 | 23:53 WIB
KOMPAS/IWAN SANTOSA
Widayat Djiang

Iwan Santosa

Kesenian wayang purwa atau wayang kulit menjadi napas hidup yang turut dilestarikan warga peranakan Tionghoa. Wayang purwa yang memboyong cerita Mahabarata dan Ramayana menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan diterima menjadi tontonan pemersatu warga saat dipentaskan di kelenteng-kelenteng Tridharma di kota-kota kecil di Pulau Jawa.

Widayat Djiang alias Tjioe Bian Djiang adalah salah satu dalang wayang kulit peranakan Tionghoa yang bertahan hingga kini. Dia menjadi jembatan budaya antara komunitas Jawa, peranakan Tionghoa, dan Tionghoa. Dia mampu mendalang dalam bahasa Jawa krama, dialek Hokkian, dan diselingi kata-kata dalam bahasa Mandarin.

Widayat Djiang lahir dari pasangan Tionghoa totok (Sin Keh) Tjioe Kok Hin dan perempuan ningrat RA Djuariah dari Paku Alam, Yogyakarta. Oleh karena itulah, sejak kecil Djiang akrab dengan budaya Tionghoa dan Jawa.

Keluarga mengajarkannya untuk dekat pada dua budaya tersebut. Sang ibu pun diberi nama Tionghoa, Ong Kim Hwa (Kim Hwa berarti bunga kencana). Ayahnya yang juga penggemar pewayangan mendorong Djiang dekat dengan pelaku seni sastra Jawa. Djiang termasuk rutin menonton pertunjukan wayang kulit, terutama bersama sang bunda.

Beranjak dewasa, sejumlah penulis dalam terbitan berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat (1950 hingga 1960-an) menjadi kawan-kawan Djiang. Dia juga rajin tirakat dan menghayati ajaran kebatinan Kejawen. Kebiasaan menonton wayang sejak kecil membuat hidup Djiang tak lepas dari pewayangan.

”Sesuai tradisi di desa-desa ketika itu, setiap ada yang melahirkan pun selalu menggelar tontonan wayang. Suatu hari keluarga ’menyerahkan’ saya kepada dalang Soemomardjan, pria Belanda asal Leiden yang beristrikan perempuan Jawa,” cerita Djiang, yang tinggal di Desa Kecubung, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk.

Sejak itulah, tahun 1950-an, Djiang berguru kepada dalang Soemomardjan. Tak heran apabila dalang Soemomardjan kemudian mewariskan sejumlah koleksi wayang purwa miliknya kepada Djiang. Koleksi wayang itu berasal dari abad ke-19 dengan ciri khusus ”pelemahan” atau alas tempat kaki tokoh-tokoh wayangnya menginjak bumi dengan penggunaan tiga warna, yakni merah, putih, dan biru. Ketiga warna itu melambangkan bendera Kerajaan Belanda.

”Lihat ini ada rood (merah), wit (putih), en blauw (dan biru). Jenis wayang seperti ini tidak lagi dibuat sesudah Indonesia merdeka,” ujar Djiang seraya mempertontonkan koleksi langka yang pernah ditawar sebuah museum di Leiden ini. ”Tak akan saya lepas, ini sesuatu yang sangat berharga,” tegasnya.

Berbeda dengan dalang asal Jawa pada umumnya, berbekal ilmu Kun Thauw atau bela diri Tiongkok dari ayahnya, dalam mendalang Djiang mengombinasikan kemampuan mengolah gerak wayang dengan putaran tangan ala ”master kungfunya”. ”Cara menggerakkan anak wayang seperti ini bisa dikatakan sebagai keunikan dari dalang peranakan Tionghoa-Jawa,” ujarnya.

Himpunan Budaya Surakarta

Widayat Djiang menikah dengan Ida Ratnawati ketika dia masih bersekolah di SMP Nganjuk (kini SMPN I Nganjuk). Lulus dari SMP Nganjuk, keluarga dan rekan-rekannya penghayat budaya Jawa mendorong Djiang untuk bergabung dengan Himpunan Budaya Surakarta (HBS).

HBS adalah almamater yang melahirkan banyak seniman, seperti pelukis Jeihan dan Dullah serta dalang Ki Anom Suroto. ”Dia (Ki Anom Suroto) itu sahabat saya,” ujar Djiang, yang juga akrab dengan dalang Ki Manteb Sudarsono.

Setelah menempuh pendidikan di HBS, Djiang mulai mendapat tawaran mendalang. Ia bercerita, pertama kali pesanan mendalang ke Jakarta datang semasa Presiden Soekarno memutuskan Republik Indonesia keluar dari PBB dan semangat Ganefo (Games of the New Emerging Forces), selepas Asian Games (1962), di Jakarta menguat.

Lazimnya seorang dalang yang juga penganut Kejawen, Djiang menyiapkan sendiri sesaji dan kerap berpuasa 40 hari agar pementasan dapat berlangsung lancar. Namun, kehidupannya sebagai dalang dengan latar belakang separuh Tionghoa dan Jawa membuat Djiang harus menempuh jalan berliku.

Ketika peristiwa G30S meletus, Djiang pun ikut ”tiarap”. Dia kesulitan mendapat izin mendalang dan ada berbagai ketentuan lain yang dipersyaratkan. Pada 1965-2004, atau selama sekitar 39 tahun, Djiang tak pernah mengadakan pementasan layaknya seorang dalang.

”Saya hanya bisa mendalang pada acara-acara sederhana di kampung- kampung di sekitar Desa Kecubung,” katanya. Baru selepas gerakan Reformasi, tepatnya tahun 2010, dia mendapatkan semacam surat resmi bagi dalang.

Jasa pengiriman

Demi menyambung hidup, Djiang pun mengurus usaha jasa pengiriman paket di kota Nganjuk. Meski tak naik panggung, dia tetap merawat koleksi wayang kulitnya. Angin perubahan tahun 1998 membuka kembali kesempatan bagi Djiang untuk tampil mendalang.

Keberadaannya sebagai dalang peranakan Tionghoa-Jawa membuat Dahlan Iskan (kini Menteri Badan Usaha Milik Negara) kemudian menanggapnya dalam pentas di Jalan Kembang Jepun, kawasan pecinan di Surabaya.

Setelah itu, Djiang antara lain diminta tampil mendalang dalam acara peringatan 600 Tahun Ekspedisi Zheng He di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang.

”Saya mendalang di Kali Semarang, di atas replika kapal Zheng He. Saya ingin melestarikan pedalangan Tionghoa-Jawa yang unik dengan narasi multibahasa,” ujarnya. Ketika itu, dia tampil dengan iringan sinden yang salah satunya berasal dari Jepang.

Sayang, dari sembilan anaknya, tidak satu pun yang mau meneruskan tradisi mendalang. Oleh karena itu, Djiang berharap setidaknya salah satu dari 10 cucunya mau menjadi dalang.

Ia menyebut nama salah seorang cucunya, Yoga Rizky (15), yang tampaknya berminat menjadi dalang. ”Dia yang paling sering mendampingi saya pentas. Dia juga antusias menonton pertunjukan wayang sampai semalam suntuk,” cerita Djiang, yang pada usia senjanya tetap berharap bisa mendalang sampai Jakarta, terutama di Bentara Budaya Jakarta….

Dalang Thio Tiong Gie (1) Berkah Perjuangan Gus Dur

25 Januari 2012 | 18:40 wib
Dalang Thio Tiong Gie (1)
Berkah Perjuangan Gus Dur
 0

2

image

TOKOH seorang panglima perang sedang dimainkan oleh Sayhu Teguh Chandra Irawan. (suaramerdeka.com / Isti)

 

Oleh Bambang Isti

 

SULIT membayangkan boneka-boneka Potehi dengan beragam karakter dan wajah itu harus digudangkan selama 32 tahun. Lalu puluhan boneka wayang China itu dibiarkan rusak dan berdebu.

Saat itu rezim orde baru “mengebiri” semua kebudayaan yang berasal dari China. Itu artinya, kesenian seperti barongsai, liong-samsi dan wayang potehi (pooteehie), maaf saja, tidak ada tempat di bumi Indonesia.

Kalaupun ditampilkan, kala itu hanya sebatas di acara-acara keagamaan di klenteng-klenteng, itu pun dilakukan oleh para sayhu (dalang) dengan diam-diam, bahkan disertai rasa takut.

Sampai akhirnya, datanglah sang pembebas itu. Dia bernama Gus Dur. Dia Presiden Abdurachman Wahid, pemimpin ke empat negeri ini. Saat itu Gus Dur melakukan langkah kontroversial namun justru membawa angin segar di pertiwi ini.

Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China, lalu meletakkan  dasar-dasar melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 6 Tahun 2000 yang membuat warga Tionghoa di pertiwi ini dapat kembali beribadah di tempat umum, merayakan Imlek, dan mementaskan barongsai serta wayang Potehi.

Salah satu warga keturunan China yang merasakan berkah adanya Keppres no 6 dan kebahagiaan tak terkira itu adalah Thio Tiong Gie.

Dia adalah Pooteehie Sayhu (dalang wayang Potehi) pertama di Indonesia dan satu-satunya di Jawa Tengah. Selama 32 tahun kreativitasnya sebagai seniman wayang China terbelenggu. Padahal itu adaklah satu-satunya mata pencahariannya.

Maka ini artinya, Teguh Chandra Irawan, demikian nama asimilasi dalang ini, kembali bisa beraksi dengan wayang potehinya.

Sedikit penonton

Pada usianya yang ke 79, Teguh masih sanggup mendalang berdurasi 2 jam (dengan istirahat 30 menit) memainkan lakon-lakon klasik, seperti Shi Jien Kwie Tyeng See (Panglima dari Barat) pakem cerita zaman dinasti Tang, atau lakon Ngohoo Ping See yang diambil dinasti Song.

Terakhir GTeguh tampil pada malam penutupan Festival Imlek di Gang Warung Semarang, Minggu (22/1). Dengan sedikit penonton, dengan kondisi panggung “bedeng” sederhana dan hujan deras, kisah panglima Tiongkok kuno digambarkan Teguh dengan piawai.

Lihat saja kala sayhu Teguh mengantarkan ceritanya: “…akhirnya kota itu kita kuasasi menerusken perjuangan…” atau ..panglima
perang adalah salah satu jendral yang berhasil membujuk kami punya garis depan…”

Meski struktur katanya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik, penonton toh tetap terhanyut juga. Terbukti penonton masih bertahan sampai pertunjukan usai, dan sang dalang tua itu tertatih-tatih menuruni tangga panggung dan kembali ke rumahnya di kampung Kelurahan Petudungan, Kp Pesantren 326 Semarang.

Soal struktur bahasa tadi, Teguh Chandra berkilah, “Aslinya wayang Potehi ini dimainkan dalam bahasa Hokian, tapi saya sampaikan dengan bahasa Indonesia, biar kita orang bisa mengerti,” kata Teguh Chandra kelahiran Demak 1 Januari 1933.

Dalang Teguh dikenal masih menampilkan wayang Potehi dengan gaya klasik. Dengan puluhan boneka wayang yang diperkirakan berusia di atas 150 tahun, Teguh tak melakukan inovasi apapun atas tampilan Potehinya.

Sebuah rumah mirip bedeng berukuran 4 x 3 meter adalah “panggung” Potehi, yang menurut Teguh tidak akan berubah sampai kapan pun. Cara kuno tetap dijaga terlihat dari cara dia menempatkan boneka-boneka wayangnya secara terbaik di bentangan rak kayu yang usang. “Cara meletakkan (wayang) memang harus tetrbalik begitu,” kata Teguh.

Di dalam bangunan bedeng berwarna merah itu bisa menampung para “niyaga” yang mamainkan alat musik pengiring seperti dongkoo (kendang), twaloo (gembreng), twa pwa (simbal), sio twa (simbal kecil),dan arlhu (rebab). Jika semuanya dimainkan bersama, akan menjadi sebuah harmoni indah.

Di panggungnya itu terdapat 4 orang pemain yang membantu Teguh Chandra. Satu-satunya pemain yang berdarah Jawa adalah Supardi. Di Surabaya, Supardi ini juga seorang sayhu. (Bersambung)

 

 

(Bambang Isti/CN 25)

‘Potehi’ puppet show goes beyond ethnicity

‘Potehi’ puppet show goes beyond ethnicity

The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 01/26/2012 10:44 AM

A | A | A |

Beschrijving: Fighting puppets: A potehi puppet show staged by Surabaya-based Fuk Ho An artists is an attraction at Ciputra Mall, West Jakarta, to celebrate the Chinese New Year. The show runs until Feb. 5.  JP/P.J. LeoFighting puppets: A potehi puppet show staged by Surabaya-based Fuk Ho An artists is an attraction at Ciputra Mall, West Jakarta, to celebrate the Chinese New Year. The show runs until Feb. 5. JP/P.J. LeoRandu Pratama could not take his eyes off two hand-sized puppets controlled by Sugiyo Waluyo during a show in Jakarta over the weekend.

The six-year-old boy, who lives in Kebon Jeruk, West Jakarta, said the Chinese-origin potehi (dolls made of cloth) puppetry was “cool”. “I have never seen anything like this before,” he said.

Randu said that the show was a lot like the popular televised puppet show Si Unyil.

“Yet, the potehi show is louder, merrier and more colorful,” he said.

Randu’s mother Evita Sumarni said that her son has always loved puppet shows.

“I took him to the potehi puppet show to introduce another variety of puppetry to him,” she said.

According to Evita, the potehi puppet show entertains many people, not just those from China or Indonesians of Chinese descent.

“The story is told in Indonesian, so it is entertainment for all of us.”

After spending about 30 minutes enjoying the puppet show, Randu said that he now liked potehi puppets more than Si Unyil.

Randu was fascinated by their weapons, such as swords and spears, as well as the loud music accompanying the show. “It is a little bit noisy, but it is a good show,” he said.

Puppeteer Sugiyo, also known as Subur, said that the shows attract many children.

“The story may be beyond the children’s understanding, because it is a classic Chinese story,” he said. “But all children love to see the cheerful and colorful show of potehi puppets.”

Potehi puppet shows originated in China 3,000 years ago and have become a popular event during the Chinese New Year celebrations.

The puppetry came to Indonesia between the 16th and 19th centuries, with the arrival of Admiral Cheng Ho on the north coast of Java, who was also followed by a contingent of Chinese traders, military officers and other male migrants eager to trade in Indonesia.

Classic Chinese stories about dynasties, as well as contemporary stories such as the Journey to the West or Legenda Kera Sakti (Legend of the Sacred Monkey), are commonly performed.

Known as a Chinese art, the potehi puppet show, whose name stems from the words poo (cloth), tay (pocket) and hie (puppet), is also performed by native Indonesians.

“You don’t have to born Chinese to be a potehi puppeteer,” said Sugiyo. “Most of today’s potehi puppeteers are not Chinese. That’s why the shows are not always delivered in Chinese,” he said.

Unlike some other Chinese arts in Indonesia, like Cantonese opera, potehi puppet shows are often delivered in Indonesian, or even in Javanese and Malay.

“The puppet show, even though it originated on mainland China, has been a form of entertainment for other ethnic groups and a part of Indonesian culture,” he said. (lfr)

ROBINHOOD IS STILL ALIVE

 

ROBINHOOD IS STILL ALIVE

Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>,in: dikbud@yahoogroups.com , Thursday, 26 January 2012, 9:12

Ketika keluarga saya masih miskin dahulu ibu kami (almarhumah) yang harus pontang-panting mencari cara agar anak-anaknya bisa makan di rumah. Untunglah kami sering ditolong oleh orang-orang tertentu baik sanak keluarga atau teman-teman dari orang tua kami.

Ayah kami memang sering tidak ada di rumah karena beliau terpaksa harus ke luar kota untuk mencari tambahan nafkah bagi keluarganya. Beliau memang PNS di Dinas P&K (namanya dulu) Jawa Timur tapi lebih sering ke luar kota untuk mencari nafkah tambahan bagi 11 orang anaknya. Beliau adalah PNS yang tidak punya jabatan dan hanya hidup dari gaji yang kecil. Karena tidak cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya yang besar akhirnya beliau berinisiatif untuk berwirausaha ke mana-mana. Tentu saja dengan desersi meninggalkan tugasnya sebagai pegawai P&K. Hal ini jelas menjengkelkan atasan beliau. Mau dipecat punya anak sebelas, kalau tidak dipecat kok ya kebangetan kelakuannya sebagai bawahan. Urusan rumah tangga akhirnya ditangani sepenuhnya oleh ibu kami. Untunglah kami adalah anak-anak yang soleh belaka di rumah.

Suatu ketika rumah kami kehabisan beras untuk dimasak. (Bayangkan kalau setiap hari ibu saya harus menyediakan makan bagi belasan orang setiap hari! Kalau punya anak sebelas dan harus makan tiga kali sehari kan berarti 33 piring sehari. Bayangkan kalau setahun…, lima tahun…, sepuluh tahun….! Bisa modar disuruh mikir makan kami sehari-hari saja. Untungnya kami tidak makan tiga kali sehari dan porsinya juga tidak sepiring seorang. Seadanya saja dimakan beramai-ramai.) Suatu ketika (yang sering terjadi) di rumah beras habis, uang tidak punya, dan tidak ada lagi barang-barang yang bisa dilego pada tukang loak yang lewat depan rumah (Ia menganggap kami sebagai pemasok utama bagi bisnis loakannya). Biasanya ada saja keluarga atau teman orang tua kami yang bisa diutangi. Tapi hari itu semua sudah buntu dan ibu kami berangkat ke kantor ayah kami di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur untuk ngutang ke koperasi kantor. Sebetulnya ibu saya agak ragu-ragu untuk ke kantor ayah kami. Beliau malu datang ke kantor ayah saya karena beliau selalu disindir oleh teman-teman kantor ayah saya karena ayah saya yang sering ‘desersi’ tersebut. Lagipula beliau sadar bahwa beras jatah bulan ini sudah diambil bulan lalu. Tak ada lagi jatah beras yang bisa diambil. Tapi karena di rumah benar-benar sudah tidak ada lagi yang bisa dimasak dan juga sudah tidak ada lagi yang bisa dijual untuk membeli beras maka ibu saya ‘mengertakkan giginya’ dan membulatkan tekadnya untuk menghadapi apa saja demi memberi makan ke sebelas anaknya tersebut. Bayangan sebelas orang anaknya yang kelaparan lebih mengerikan bagi beliau. Kalau harus malu ya biarlah malu. Bukankah malu itu sudah jadi sarapan paginya orang miskin? Jadi apalagi yang dikuatirkan? Que sera sera, whatever will be will be …

Ketika sampai di kantor koperasi dan menyampaikan maksud beliau untuk mengambil jatah beras, ternyata benar … permintaan ibu saya ditolak oleh pimpinan koperasi saat itu.

“Apa…? Jatah beras…?!.” kata pak pimpinan tersebut,”Tidak ada.”

“ Jatah beras Pak Hasyim bulan ini kan sudah diambil bulan lalu…?! Tidak ada lagi jatah beras Pak Hasyim di sini.”

Setelah itu ditambahinya lagi,

”Pak Hasyim itu gimana sih? Kerja tidak pernah masuk tapi ngutang terus. Pokoknya gak bisa.”

Glodak…! Krompyang…krompyang… Pyar …! (hati ibu saya jatuh berkeping-keping)

Meski sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan psikologis seperti ini ternyata pertahanan ibu saya jebol juga. Ambrol pertahanannya. Penolakan dan kecaman pak pimpinan koperasi ini menghunjam telak dan Ibu saya setengah mati harus menahan tanggul air matanya yang hendak ambrol mengalami kejadian ini. (Berhati-hatilah! Orang kepepet itu sangat sensitif perasaannya)

Untungnya saat itu datang seorang malaikat penolong yang bertindak bak Robin Hood. Malaikat penolong itu bernama Om Azis (almarhum, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya dan memberinya tempat terbaik di sorgaNya)> Beliau termasuk sanak famili kami yang kebetulan juga bekerja di sana. Beliau sedang berada di kantor koperasi dan melihat kejadian tersebut. Dengan sigap beliau berkata,

”Jangan kuatir! Ambil saja jatah beras saya, Bu Hasyim. Jatah beras saya masih ada.”

Bengawan Solo tidak jadi banjir dan siang itu ibu saya pulang naik becak dari Gentengkali membawa sekarung beras dengan hati lega. Kami bisa makan lagi beberapa hari dengan sekarung beras tersebut. Tentu saja ibu saya sangat berterimakasih atas pinjaman beras jatah tersebut.

Ketika kehidupan ekonomi kami membaik dan kami mengenang kembali masa-masa sulit, ibu kami seringkali menceritakan kejadian itu. Dan saya tidak pernah bosan mendengar cerita tersebut. Ada satu hal yang sangat berkesan bagi saya dari kejadian tersebut yaitu bahwa seseorang bisa menjadi malaikat atau dewa penolong bagi orang lain dan itu akan dikenang selama hidup oleh yang ditolong. Keluarga saya jelas telah ditolong oleh Om Robin ‘Azis’ Hood dan kami tentu saja sangat berterima kasih telah ditolong pada saat yang kritis seperti itu. Om Azis bukan hanya meminjami beras sekarung tapi juga menyelamatkan muka ibu saya. Beliau telah menjadi malaikat penolong keluarga kami pada saat-saat kritis tersebut dan kami akan mengenangnya sebagai kebaikan yang harus kami balas dengan satu dan lain cara.

Jadi dalam satu kejadian kritis bagi seseorang (yang kita tidak pernah tahu seperti apa dan bagaimana) kita bisa menjadi salah satu tokoh di antara konflik tersebut, the Hero or the Villain, menjadi Pahlawan atau menjadi Penjahatnya. Dalam hal ini dengan terpaksa kami menjadikan pak pimpinan koperasi saat itu sebagai ‘penjahat’nya. Ibu saya sangat sakit hati pada pak pimpinan koperasi saat itu (tapi lama kelamaan kemudian mampu melupakannya). Bagaimana pun yang salah memang ayah kami.  Ia hanya melaksanakan tugas. Tapi sungguh tidak asyik cerita ini jika yang ada hanya pahlawan tanpa ada penjahatnya kan…?!.

‘Melaksanakan tugas’ ternyata bisa membuat kita menjadi penjahatnya. ‘Melaksanakan tugas’ bisa berarti kita harus meletakkan nurani kita dan tidak perduli pada situasi yang dialami orang lain. Alangkah sedihnya jika suatu kali kita harus mengatakan bahwa kita ‘hanya melaksanakan tugas’ yang berarti tidak perduli pada apa pun akibatnya pada orang lain. (Tapi ini memang sebaiknya dibahas tersendiri).

Karena kebanyakan mendengar dan mengalami kisah nyata seperti ini saya kemudian menjadi terobsesi untuk menjadi Om Robin ‘Azis’ Hood, Sang Pahlawan yang selalu sigap untuk membantu rakyat kecil yang tertindas (Kami memang masih kecil waktu itu dan perut kami selalu tertindas oleh rasa lapar. Jadi jangan salahkan skenarionya). Saya kemudian selalu berusaha untuk mencari kesempatan menjadi sosok pahlawan seperti Om Robin ‘Azis’ Hood, si pembela rakyat kecil yang kelaparan. Saya ingin membalas kebaikan beliau (yang tidak mungkin bisa saya balas langsung karena beliau sudah almarhum) dengan cara mencari ‘rakyat kecil tertindas’ lain yang bisa saya tolong. Mungkin tidak bisa sedramatis kisah ibu saya tapi saya berharap minimal ada beberapa keluarga yang bisa saya tolong dengan cara membagikan beras jatah PNS saya. Saya memang pernah menjadi PNS selama 12 tahun dan ada saat ketika saya mendapat jatah beras setiap bulannya. Saya tidak pernah membawa beras jatah saya pulang ke rumah. Beras jatah tersebut saya kirim pergi ke rumah keluarga lain yang lebih membutuhkannya. Robin Hood tidak boleh mati karena masih banyak rakyat kecil yang tertindas dan butuh pertolongannya. Meski demikian, sampai saat ini saya merasa belum bisa membalas kebaikan Om Azis ini.

Jadi sampai saat ini, bertahun-tahun ketika saya tidak lagi mendapat jatah beras dari kantor, kami masih berupaya untuk membalas jasa dan kebaikan Om Robin ‘Azis’ Hood tersebut dengan membagikan beras dan ubo rampenya ke minimal 10 orang tetangga kami yang membutuhkan setiap bulan. Saya masih berharap suatu saat saya mungkin beruntung bisa menolong satu keluarga yang sangat membutuhkan pertolongan seperti Om Azis menolong ibu saya saat itu. Robin Hood is stil roaming around. Ia mungkin tidak lagi membawa-bawa panah untuk merampok orang-orang kaya yang memeras rakyat kecil. Tapi ia masih membagi-bagikan beras bagi yang membutuhkannya.

Balikpapan, 26 Januari 2012

Salam
Satria Dharma

http://satriadharma.com/

Kesenian Masa Pemerintahan Soeharto


Minggu, 27 Januari  2008

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  5807

Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH
 

Kesenian Masa Pemerintahan Soeharto
Tekanan yang Membangkitkan Kreativitas

Jakarta – Usai penyerahan FTI Award kepada Putu Wijaya, Rabu (9/1) malam lalu, Butet Kartaredjasa yang sejak dulu mahir mengikuti gaya perilaku Soeharto tampil membacakan monolog “Kematian Paman Gober” (diambil dari karya cerita pendek Seno Gumira Ajidarma,1994).
Dalam monolognya itu, jelas dihadirkan sisi gelap dan kecurangan Soeharto dalam kepemimpinannya yang terlama di Indonesia. Butet “berapresiasi” tentang kejahatan Soeharto melalui pengalaman batin Paman Gober, entah itu tentang perburuan harta karun dari pulau ke pulau, termasuk hobinya memancing di laut dan kegemarannya bermain golf di daratan. Berikut kebiasaannya memelihara musuh-musuh yang tak bisa mengalahkannya, karena justru untuk menunjukkan kekuatannya.
Gaya berkuasa pimpinan tertinggi Orde Baru itu disimbolkannya dengan kisah Ketua Tertinggi Perkumpulan Unggas Kaya yang terlalu berkuasa dan kaya yang seakan-akan demokratis dalam basa-basinya, dan pada masa “menjelang ajal”-nya ditunggu-tunggu berita utamanya di setiap halaman surat kabar.
Di saat yang sama, budayawan Rendra yang paling menghadapi tekanan politis di masa kepemimpinan Soeharto, lantaran karya pementasan teaternya saat itu. Masih menyimpan kejengkelan terhadap Soeharto, dan menilai Soeharto mengerangkeng kreativitas kesenian. Salah bila Soeharto diangkat sebagai Bapak Pembangunan, ujar peraih FTI Award 2006 itu, karena mengakibatkan negara Indonesia banyak terlibat utang. Sebagai pemimpin Orba, sambung Rendra, ia gagal membentuk kesatuan bangsa yang organis dengan sistem pemerintahan yang sentralisasi seperti yang dulu dilakukan Uni Soviet, Yugoslavia dan Cekoslowakia. Belum lagi dengan perusakan alam yang terjadi, perpecahan etnis, mengandalkan utang luar negeri dan investasi asing yang hanya mendapatkan laba 15 persen bagi Indonesia.
“Pemerintahan sekarang harus menaruh perhatian serius terhadap kasus Soeharto sebagai pimpinan negara yang berdaulat hukum,” tegas Rendra.
Bagaimana dengan pertimbangan moral terhadap jasa-jasa Soeharto pada bangsa Indonesia? “Soal jasa, banyak orang Indonesia yang berjasa bagi negaranya. Ada Kwik Kian Gie, Adnan Buyung Nasution, Gus Dur, Amien Rais, dan banyak lagi,” jawabnya.

Tidak Salahkan Soeharto
Menyinggung apakah sepeninggal Soeharto dan Orba dari kepemimpinan negeri ini, justru membuat karya-karya teater kini melempem dan kehilangan kreativitasnya, seniman teater Remy Sylado membantah anggapan tersebut.
“Persoalan utamanya adalah siapa yang mau menjadi sponsor. Seniman teater harus mengajak para pengusaha dan pengelola bisnis di dalam seni pertunjukan, agar pementasan drama bisa berdaya jual. Persoalannya bukan karena dulu teater sarat kritik terhadap pemerintahan Orba,” jelas Remy.
Kondisi sekarang ini persoalan naskah drama bermuatan kritik sosial, kata Remy, sudah tak bisa dijadikan resep keberhasilan.
“Sekarang bisnis harus jadi bagian dari pengelola grup-grup teater. Fenomena dan permasalahannya telah berbeda,” katanya menegaskan.
Remy tidak menyalahkan Soeharto saat dulu di Bandung mengalami pelarangan dan pemanggilan menghadap berkali-kali dengan pihak penguasa militer.
“Hambatan berkreasi pada saya saat itu bukan kebijakan sensor ketat dari Soeharto, akan tetapi dari penguasa militer di Bandung. Itu sebabnya saya tidak pernah merasa sakit hati kepada Pak Harto,” ungkap Remy.
Tokoh teater lainnya, Jose Rizal Manua justru menyebut tekanan-tekanan politis di masa kepemimpinan Soeharto terhadap karya teater malah bisa membangkitkan sikap kreatif dari sejumlah besar seniman teater seperti Rendra, Arifin C Noer dan Nano Riantiarno. Akan lebih bagus lagi, tambah Jose, kalau ketika itu Soeharto mau memberikan estafet kepemimpinan pada generasi penerusnya dari kalangan militer. Di luar segala kepemimpinan negatifnya, tambahnya, Soeharto luar biasa dalam jasa membangun negeri dan sifat otoriternya ternyata selaras untuk perilaku masyarakat Indonesia. “Buktinya saat kepemimpinannya, dia bisa meredam segala bentuk kerusuhan di mana-mana,” kenangnya. (john js)

     

Copyright © Sinar Harapan 2003

 

 

 

LEBIH JAUH DENGAN Koes Bersaudara

Sumber: Harian Kompas, Jakarta,30 Mei 2004.
LEBIH JAUH DENGAN
Koes Bersaudara
                        “MERDEKA!” Itulah yang diserukan lelaki yang sudah tergolong sepuh, Koesdjono (72) alias John Koeswoyo, didampingi sang adik, Nomo Koeswoyo (65), ketika keduanya mewakili Koes Bersaudara menerima penghargaan khusus Life Time Achievement pada acara Penghargaan Musik SCTV di Jakarta, tanggal 21 Mei lalu. Khalayak pun tertawa, melihat salam yang dalam konteks dunia hiburan sekarang terkesan “kuno” itu. Apalagi, sebelumnya John sempat keliru, mengira trofi berbentuk mikrofon yang diterimanya benar-benar mikrofon, sehingga ketika dia diminta bicara, piala itu yang hendak dijadikannya mike. John, Nomo, sebagaimana saudara-saudara yang mereka wakili, yakni Tony Koeswoyo (1936-1987), Yon Koeswoyo (64), dan Yok Koeswoyo (61), memang kini nyaris bisa disebut sebagai “sejarah masa lalu”. Dalam lintasan “sejarah masa lalu” dan nama besar mereka waktu itu pula, sebenarnya tercermin sejarah sosial Indonesia.
                        B>small 2small 0< hal tentang Koes Bersaudara sudah diketahui khalayak pencinta musik di Indonesia, termasuk ketika mereka dipenjarakan pemerintahan Presiden Soekarno karena musik “ngak-ngik-ngok”-nya. Hanya saja, di balik cap “ke-Barat-Barat-an” yang mereka terima ketika pemerintahan “Orde Lama”, kalau ditelusuri justru pada Koes Bersaudara kita menemukan semacam “otentisitas” ke-Indonesia-an, termasuk dalam sikap-sikap pribadi dan sosial mereka. Dalam beberapa hal pula, pada kisah kehidupan keluarga ini di masa lalu, tergores cerita-cerita mengenai kesederhanaan hidup, kerja keras banting tulang-semacam ilusi dari sebuah masyarakat yang ingin mencapai kemuliaan hidup lewat kerja. Bukankah justru ini semacam semangat “sosialisme”?
                        Sementara wujud musik mereka, yang pada zamannya dulu diwarnai pengaruh Everly Brothers, Kalin Twins, The Beatles, sampai The Bee Gees, bukankah itu hanya koinsidensi sejarah, yang bisa terjadi pada anak muda di segala zaman? Dalam hal pandangan hidup, Koes Bersaudara sebaliknya menggemakan pujian mengenai elok dan permainya tanah air kita, seperti lewat Pagi yang Indah, Angin Laut, atau riangnya kehidupan sosial kita lewat Dara Manisku, Bis Sekolah, dan lain-lain.
                        Menyimak penuturan mereka mengenai riwayat keluarga mereka, dari kakek-nenek mereka, ayah-ibu mereka, masa kanak-kanak sampai mereka semua menjadi orang dewasa dan orang tua, terlihat sebuah lingkungan keluarga dengan nilai-nilai sederhana, memiliki dignity, serta punya kepedulian pada lingkungan sosial. Senin (24/5) lalu, Kompas berbincang-bincang dengan John, Nomo, dan Yok di “kompleks Koes Bersaudara” di bilangan Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Dalam perbincangan selama hampir lima jam itu, John banyak menceritakan asal-usul keluarga mereka. Nomo, yang kelihatannya paling “gendeng” di antara saudara-saudaranya, menimpali dengan kisah-kisah perjuangan hidup mereka. Sedangkan Yok, banyak mengingat perjalanan musikal dari zaman Koes Bersaudara sampai Koes Plus.
                        Dari Tuban
                        Baiklah, sebaiknya dijelaskan lagi, bahwa riwayat mereka bisa dikatakan dimulai dari Tuban, sebuah kota pesisir di Jawa Timur. Di kota itu, pasangan Koeswoyo dan Atmini mempunyai sembilan anak, satu di antaranya meninggal dunia ketika masih kecil. Yang tersisa kemudian adalah delapan anak, lima lelaki dan tiga perempuan. Sesuai urutannya, mereka adalah Koesdjono (John), Koesdini, Koestono (Tony), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), Koesroyo (Yok), Koestami, dan Koesmiani. Kini, dari dinasti Koeswoyo itu sudah ada 33 cucu dan 28 cicit (dari kalangan cucu, barangkali orang masih ingat nama Chicha Koeswoyo dan Sari Yok Koeswoyo dulu).
                        Menceritakan asal-usul keluarga Koeswoyo, John memaparkan silsilah sampai ke buyut-buyut mereka. Dari situ, dia singgung dari pihak kakeknya sebetulnya ada darah Portugis, sementara dari pihak nenek ada darah Belanda. Dari silsilah yang cukup panjang, kemudian lahirlah Koeswoyo, ayah mereka, yang pada tahun 1940-an adalah seorang pegawai negeri di Tuban.
                        “Bapak saya, Koeswoyo, dulunya pegawai di Kabupaten Tuban. Terus karena ngganteng-nya, dia diliatin Bupati. Terus bapak saya dijodohkan dengan keponakannya, yaitu Atmini, yang kemudian menjadi ibu kami,” kata John. “Sesudah zaman Jepang, Bapak menjadi Asisten Wedana di Desa Kerek, terus ke Widang. Waktu Clash II, bapak saya digerebek Belanda. Dia diultimatum, mau kooperatif dengan NICA atau langsung masuk penjara Kalisosok. Karena anaknya masih kecil-kecil, Bapak memilih bekerja sama dengan Belanda. Bapak diserahi tugas di bagian distribusi, tetapi dia malah membantu pejuang dan menyalurkan bantuan pangan. Namun lama-lama ketahuan Belanda dan diancam akan ditembak,” lanjutnya.
                        Kata John, setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia, ayahnya dikucilkan oleh teman-temannya, karena dianggap pernah bersikap kooperatif dengan Belanda. “Dia dipencilkan, sampai badannya kurus karena korban perasaan. Lama-lama Bapak berpikir, lebih baik pindah ke pusat, ke Jakarta.”
                        Ke Jakarta
                        Keluarga Koeswoyo pun pindah ke Jakarta. Di Jakarta, di Kementerian Dalam Negeri, tempat induk departemen di mana Koeswoyo bekerja, lagi-lagi ia merasa dikucilkan. “Departemen itu dikuasai orang Yogya,” ucap John. “Maka Bapak minta pensiun, sebelum pensiunnya mateng. Bapak terus bergabung dengan Bank Timur. Dia dipercaya mengelola onderneming (perkebunan-Red) di Solo. Saya di rumah dengan empat adik. Hanya dia (menunjuk Nomo) berpetualang sendiri ke Surabaya, kerja di pabrik genteng. Yang tiga ini, Ton, Yon, Yok, saya khawatirkan jadi crossboys…,” cerita John.
                        Karena ingin adik-adiknya memiliki “kegiatan positif”, John berinisiatif membelikan alat-alat musik bagi adik-adiknya. Waktu itu John sudah bekerja di Biro Yayasan Tehnik, sebelum kemudian pindah ke pembangunan Hotel Indonesia (HI). “Saya belikan alat musik itu untuk pemersatu adik-adik. Saya belikan bas betot, gitar pengiring dua, dan drum. Belinya sama Tony di Jalan Tembaga, Nonongan, Solo. Mengapa di Solo, karena waktu itu untuk urusan alat musik yang paling komplet di Solo. Alat-alat itu dibawa pakai kereta api ke Jakarta. Terus dari stasiun diangkut dengan truk ke HI, saya kan masih kerja di HI….”
                        John bercerita, bagaimana ayahnya yang bertugas di Solo sempat kaget melihat John dan Tony ke Solo. “Saya dimarahi, arep opo rene? (mau apa kemari?). Saya dibilang mau merusak adik-adik saya. Nanti jadi apa mereka?” kenang John.
                        Keberatan Koeswoyo anak-anaknya bermain musik adalah khas kecemasan yang dirasakan umumnya orangtua pada masa itu. Sang ayah suka menunjukkan suatu contoh, di mana di Tuban ada tukang biola yang sangat pintar bermain, namanya Pak Senen. Cerita John, “Dia itu matinya ngenes, terlunta-lunta. Dia matinya di Kampung Kawatan, di tempat pelacuran dan tidak ada yang menengok. Melas sekali. Waktu mau dikubur, yang mengantar cuma tukang cangkul penggali kubur.”
                        Ton Si Jenius
                        Oleh keluarganya, Tony Koeswoyo dipanggil Ton, atau Mas Ton, begitu adik-adiknya memanggil. Boleh dikata, Ton inilah “lokomotif” dan inspirator Koes Bersaudara. Bakat bermusiknya sudah kelihatan sejak dia kecil. Hampir semua saudaranya bisa bercerita, bagaimana Ton kecil ketika di Tuban suka memukuli ember, baskom, dan bejana-bejana lain yang diisi air dengan lidi yang ujungnya dipasangi biji jambu. Di tangan Ton, katanya dari ember, baskom dan lain-lain itu keluar suara yang unik.
                        “Dasar musik itu kan rhythm. Rasa rhythm dia itu kuat sekali,” tutur John. “Saya pernah ikut-ikutan memukul ember, tetapi rasanya kok tidak sebagus Ton. Kalau saya ikut-ikutan mukuli ember pakai lidi yang ujungnya ada jeruk pecelnya, dia nangis. Dia tidak mau diganggu dan saya dianggap pengacau.”
                        Kecintaan Ton pada musik itu terus berlanjut. Ketika tahun 1952 seluruh keluarga diboyong ke Jakarta (mereka tinggal di bilangan Mendawai, Kebayoran Baru), Ton makin menjadi-jadi dengan kegiatan bermusik. John, sang kakak, ingat ketika Ton duduk di bangku SMA, dia membelikan adiknya itu sebuah gitar di Pasar Baru. “Gitar itu masih ada, nanti mau saya lelang, ha-ha-ha…,” katanya.
                        Dikenangnya, bagaimana Ton terus memainkan gitar itu siang- malam. Ton lupa belajar, sampai- sampai katanya Ton menjadi tidak naik kelas dan lulus ujian, yang kalau dihitung sampai tiga kali.
                        Pada waktu sekolah pun, Ton sudah bermain band. Dia menjadi bintang, karena pintar memainkan melodi. Cewek-cewek mulai menggandrunginya. Dalam perjalanan bermusik di masa remaja itu, mereka juga mulai bermain di berbagai tempat di Jakarta, ditanggap orang untuk memeriahkan pesta ataupun di pesta-pesta perkawinan. Mereka menamakan kelompoknya Kus Brothers (semula memang ditulis dengan “u”, bukan “oe”). Anggotanya banyak, termasuk Jan Mintaraga, yang di zaman meledaknya komik Indonesia di tahun 1970-an bolehlah disebut sebagai “ikon komik Indonesia”. Katanya, Jan yang menulis pada vandel dari kelompok Kus Brothers, semboyan kelompok ini, yakni “Missa Solemnis” (sebuah karya Beethoven, yang artinya kurang lebih, “sesuatu yang bersumber dari hati akan mendapat tempat di hati juga”).
                        Ketika John membelikan seperangkat alat musik bagi adik-adiknya, dibuat semacam perjanjian dengan Tony, bahwa dia hanya bermain dengan saudara-saudaranya, dengan adik-adiknya. Dari situ, solidlah Koes Bersaudara.
                        Dihasut oleh pelat
                        Musik Koes Bersaudara sejak awal memang sangat dipengaruhi oleh penyanyi maupun kelompok-kelompok luar negeri seperti Everly Brothers, The Ventures, Kalin Twins, dan lain-lain. Soalnya, mereka memang mencari referensi bermusik pada piringan-piringan hitam atau pelat. Dengan kata lain, mereka “dihasut” oleh pelat-pelat dari para pemusik Barat.
                        Mereka masuk studi rekaman pertama kali di Studio Irama, milik Yos Suyoso atau biasa dipanggil Mas Yos (kini sudah almarhum). Tadinya, mereka sebetulnya hanya ke situ untuk memberikan contoh rekaman lagu-lagu mereka. Ternyata, hari itu juga mereka disuruh rekaman. Jadilah album pertama mereka (tahun 1962), yang pada masa itu di setiap piringan hanya terdapat dua lagu. Lagu mereka adalah Bis Sekolah dan Dara Manisku.
                        Koes Bersaudara berkembang menjadi “nama besar”. “Namun secara komersial kami tak mendapat hasil. Saya pernah kok di rumah sampai enggak punya duit. Saya sampai harus nyopir bemo untuk mendapat duit. Rutenya dari Mayestik-Kebayoran Lama-Santa,” cerita Nomo Koeswoyo.
                        Nomo inilah yang dijuluki keluarganya sebagai “paling pintar berbisnis” selain “tukang berkelahi”. Menceritakan tinggal sendiri di Jakarta bersama kakak dan adik- adiknya, Nomo berujar, “Kami masih mendapat kiriman uang dari Bapak, tetapi belum seminggu uang sudah habis. Suatu hari saya beli singkong sepikul. Kalau lapar mereka nggodok singkong. Eh, belum tiga hari singkong sudah busuk semua, hua-ha-ha….”
                        Di Penjara Glodok
                        Episode ini, sudah banyak diungkap media massa. Tanggal 29 Juni 1965 personel Koes Bersaudara ditangkap dan ditahan di Penjara Glodok, yang kini dikenal sebagai kompleks pertokoan itu. Alasannya, mereka dijebloskan ke penjara karena menggelar musik yang “ke-Barat-Barat-an”, yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan politik pada masa itu. Nomo sempat menuturkan, bagaimana kisah hidup mereka di balik terali besi selama tiga bulan. Ada tahanan yang iba terhadap mereka, namanya Oom Ging. Si oom ini iba melihat jatah makanan anak-anak ini. “Oom Ging lalu memberi sayuran yang ditanam sendiri. Belakangan saya tahu, tanaman itu diberi pupuk dari kotoran Oom Ging sendiri. Waduh…,” cerita Nomo sambil tertawa.
                        Yang tidak banyak diketahui orang, seperti dituturkan Yok Koeswoyo, sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagai bagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence) di Malaysia. Saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.
                        “Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Kami direkrut oleh beliau-beliau, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan Laut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam keluar dan eksodus ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intelligence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 November, meletus G30S,” cerita Yok.
                        Jadi masuk penjara itu hanya sebuah jalan menuju fase berikutnya?
                        “Ya, jadi dibentuk opini seolah-olah kami tidak suka pada Soekarno,” jawab Yok.
                        Waktu masuk penjara ada perasaan menyesal atau tidak?
                        “Tidak, kita menyadari itu kok.”
                        Ini tak pernah terungkap ya?
                        “Ya, selama ini kita selalu rapet. Kami ikut menjaga rahasia negara. Di KOTI itu kami masuk D3, kami bisa dibangunkan, tapi bisa juga ditidurkan.”
                        Hal sama, katanya dilakukan kelompok ini di paruh pertama tahun 1970-an (sebelum Timor Timur bergabung menjadi wilayah Indonesia, atau ada pula yang menyebut sebagai proses aneksasi), untuk Timor Timur. Dalam rangka “proyek politik” ini, katanya lahir lagu semacam Diana (lagu itu bercerita mengenai putri petani, bernama Diana. Perhatikan, Diana adalah nama yang tidak umum untuk petani di Jawa.) Ingat juga lagu Da Silva.
                        Anda masuk ke Timor Timur?
                        “Kami berangkat ke sana. Kami bikin pertunjukan di gedung. Waktu menuju Hotel Turismo, ada orang Timur yang mendekat dan menggedor-gedor mobil kami sambil berteriak-teriak, ‘Viva Presidente Soeharto!’ Waktu kami pulang dari Timor Timur kami disambut sama Adam Malik di Tanah Abang,” ucap Yok.
                        Seru ya….
                        “Setelah mengalami itu semua, nasionalisme kami tambah tebal. Itu makanya ada lagu Nusantara I, II, dan seterusnya.”
                        Tetap sederhana
                        Waktu terus berlalu. Nama besar Koes Bersaudara ternyata tak terlalu berkolerasi dengan sukses ekonomi mereka. Penghasilan mulai masuk katanya sejak kelompok ini berubah nama menjadi Koes Plus, di akhir tahun 1960-an. Awal tahun 1970-an, nama Koes Plus berkibar-kibar. Penabuh drumnya adalah Murry, menggantikan Nomo. Nomo diganti, katanya karena sikap keras Ton, mau bermusik atau melakukan kegiatan lain. Saat itu, Nomo menyatakan tak bisa sepenuhnya bermain musik, karena dia sudah berkeluarga, punya anak, dan musik saat itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan gantungan hidup.
                        Kini, Koes Plus tetap ada, dengan hanya Yon dari keluarga ini yang masih aktif di panggung. Para putra lelaki Koeswoyo yang lain, seperti John, Nomo, dan Yok, tinggal di satu kompleks, dengan gaya hidup sederhana mereka, dengan dignity mereka, sebagai sosok-sosok berkarakter kuat, yang pernah memberi warna pada sejarah sosial kita.
                        Pewawancara:
                        Frans Sartono
Efix Mulyadi
Bre Redana
      Copyright © 2002 Harian KOMPAS

“Menyemai Kebhinekaan Indonesia”

 

Orasi Budaya: “Menyemai Kebhinekaan Indonesia”


Dengan hormat,
Nurcholish Madjid Society dan Yayasan Kertagama mengundang bapak/ibu/sdr hadir dalam Orasi Budaya
“Menyemai Kebhinekaan Indonesia”
Bersama:
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Mohammad Sobary
Yudi Latif
Omah Btari Sri.
Jl. Ampera Raya No. 11, Kemang, Jakarta Selatan (seberang Gedung Medco)
Sabtu, 21 Januari 2012
Pukul 12.00-17.00 WIB
CP: Rozi (081316314386)-Pei (081251599210)
in:Milis LKiS <lkisgroup@yahoogroups.com>, Thursday, 19 January 2012, 13:42
Salah satu fakta yang tidak bisa dihindari dari bangsa ini adalah bahwa kita beragam. Ada banyak bahasa, suku, warna kulit, agama dan kepercayaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Meski kita beragam, kita juga sangat sadar bahwa kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Sebagai sebuah banga kita memiliki cita-cita bersama yang ingin kita raih bersama. Karena itu, hal yang perlu dan wajib kita tumbuh-kembangkan dalam pikiran dan sikap kita adalah semangat toleran, saling menghargai dan saling pengertian di antara berbagai warna yang ada dalam masyarakat. Tanpa hal ini, maka yang selalu terjadi adalah sikap pemaksaan keyakinan, penyeragaman dan bahkan tindak kekerasan atas nama keyakinan tertentu.
Sebagai sebuah bangsa kita telah melewati banyak masa yang cukup sulit dan kelam dalam soal respon terhadap keragaman. Di dalam masyarakat kita pernah terjadi konflik karena perbedaan suku, etnis, agama dan kelas sosial. Bila kita mau belajar dari sejarah, tentu kita tidak ingin semua masa kelam itu terjadi kembali, atas nama apapun. Kepada anak cucu dan generasi masa depan, kita ingin mewarisi perasaan dan sikap saling toleran, saling menghargai, saling pengertian dan saling membantu. Sejarah sudah membuktikan bahwa tindakan penyeragaman, pemaksaan dan kekerasan terhadap yang lain hanya akan mewariskan luka dan catatan hitam.
Pada saat ini, kita sebenarnya masih dihadapkan pada situasi dan realitas yang tidak mengenakan. Di banyak tempat masih terjadi ketegangan antar-keyakinan, antar-etnis dan antar-agama. Di beberapa daerah, tempat ibadah kelompok agama tertentu disegel, dirusak dan bahkan ada yang dibakar. Sangat disayangkan bahwa dalam masyarakat yang sudah melewati banyak pengalaman dan pelajaran ini masih melakukan tindakan yang tidak toleran dan menghargai keragaman. Hal yang juga lebih disayangkan lagi adalah sikap ragu yang muncul dari lembagai negara. Kita tahu bahwa alasan dasar adanya negara adalah untuk melindungi hak dan kebebasan warga negaranya. Namun dari beberapa kejadian kekerasan dalam merespon keragaman, kita tidak melihat negara menjadi pelindung hak-hak dasar warga negaranya.
Namun di tengah banyak situasi yang tidak diharapkan kita juga perlu membangun sikap optimistis dan melakukan berbagai upaya yang mungkin bisa kita lakukan bagi bangsa ini. Di tengah merebaknya tindak kekerasan dan sikap anti-terhadap keragaman, kita juga tahu bahwa masih banyak kelompok yang bersikap toleran dan anti terhadap segala bentuk kekerasan. Karena itu, salah hal penting yang perlu kita semai dan kita rawat adalah sikap dan keyakinan untuk saling menghargai, saling pengertian dan anti kekerasan ini. Dengan pendekatan multi dimensi, kita juga perlu melihat persoalan yang kita hadapi tidak hanya dari satu sisi. Ada banyak latar yang perlu kita pahami dalam melihat respon masyarakat terhadap keragaman, mulai dari sistem keyakinannya, kesenjangan sosial dan orientasi politiknya.
Melalui Pengajian Komunitas Titik Temu yang dilakukan oleh Nurcholish Madjid Society (NCMS) dan Yayasan Kertagama, kami ingin selalu menumbuhkan dan merawat sikap-sikap toleran, saling pengertian dan terbuka terhadap berbagai kebhinekaan yang ada dalam masyarakat. Kami berupaya untuk selalu menghadirkan orang-orang yang memberi inspirasi dan harapan tumbuhnya keyakinan dan sikap yang terbuka terhadap perbedaan. Dengan upaya ini, kami berharap dapat berkontribusi bagi masa depan bangsa dan kehidupan yang lebih baik.


Peranakan Tionghoa Pelestari Wayang Jawa

Peranakan Tionghoa Pelestari Wayang Jawa
| A. Wisnubrata | Minggu, 22 Januari 2012 | 08:59 WIB
Kompas.com/Adhika Pertiwi Ilustrasi

Lakon wayang kulit Jawa dengan pengantar bahasa Jawa, Mandarin, dan dialek Hokkian mungkin hanya bisa ditemui di Indonesia. Itulah keahlian Ki Dalang Widayat (72), peranakan Tionghoa asal Nganjuk, Jawa Timur.

Di Desa Kecubung, Kecamatan Pace, Nganjuk, Jawa Timur, warga baru saja mengadakan ruwatan awal tahun dengan menanggap wayang kulit yang dipimpin dalang Ki Widayat. Berkulit gelap dan bermata lebar, sejatinya Widayat dilahirkan dengan nama Tjioe Bian Djiang dari ayah bernama Tjioe Kok Hin dan ibu bernama RA Djoeariah, bangsawan dari Paku Alam, Yogyakarta.

”Setiap tahun, saya pasti main buat warga desa. Kemarin, pentasnya di depan rumah ini sambil menutup jalan. Kalau pentas di kota besar sudah jarang,” ujar Widayat di rumah menantunya yang dijadikan toko jamu Walisongo.

Tumpukan wayang kulit disimpan rapi di samping toko yang dijadikan ruangan tempat tinggalnya. Wayang itu berasal dari pelbagai zaman, bahkan ada yang berusia lebih dari satu abad.

Penganut kejawen itu menceritakan, kisahnya mendalami pedalangan berawal dari kebiasaan menonton wayang bersama ibunya; kedekatan dengan komunitas pelestari budaya, termasuk di kalangan Tionghoa; hingga akhirnya bergabung dengan Himpunan Budaya Surakarta, tempatnya menuntut ilmu pedalangan. Di tempat itu, ia bertemu seniornya, Harmoko, yang pada masa Orde Baru menjadi Menteri Penerangan. Ilmu pedalangan semakin terasah berkat bimbingan ayah angkatnya, Ki Dalang Soemomardjan, orang Belanda asal Leiden yang beristri orang Jawa.

Pada tahun 1960-an, Widayat aktif mendalang. Pentas perdana semalam suntuk dilakukan di Jakarta tahun 1962 dengan lakon ”Tumuruning Wahyu Katentreman” (Turunnya Kedamaian), disesuaikan dengan permintaan penanggap yang menyikapi suasana politik semasa Games of the New Emerging Forces (Ganefo) dan sikap Bung Karno yang menyatakan Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kiprah Widayat mendalang menyurut pascagejolak politik tahun 1965. Para seniman pun tiarap. Bahkan, ia dimintai keterangan untuk menyatakan dirinya ”bersih”. Karena situasi politik saat itu, ia pun menjadi dalang antarkampung. Meski demikian, dia masih setia menjalani kehidupan yang njawani, seperti tirakat 40 hari.

Penampilan di luar tingkat desa, setelah 29 tahun penantian, baru kembali dinikmati pada tahun 2004 ketika tampil di Kia-Kia Kembang Jepun, Surabaya. Setelah itu, Widayat ditanggap dalam peringatan 600 Tahun Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho) di Semarang.

Dalang peranakan Tionghoa pelestari wayang Jawa dari generasi muda masih dapat ditemui meski hanya dalam hitungan jari. Salah satunya adalah Tee Bun Liong (45) alias Sabdo Sutedjo asal Kedungdoro, Surabaya. Pria yang menjadi dalang cilik tahun 1976-1978 itu laris ditanggap di lingkungan warga, pejabat, kelenteng, dan gereja.

”Di luar tanggapan pentas di masyarakat atau perusahaan, saya sering main di ulang tahun kelenteng atau paroki. Setiap bulan bisa main dua-tiga kali,” ujarnya. Kecintaan Sabdo pada seni wayang purwa berawal dari keterlibatannya pada seni wayang wong.

Menurut Sabdo, ada juga dalang senior peranakan Tionghoa, yaitu Radya, asal Muntilan, Jawa Tengah. Widayat yang bersahabat dengan Ki Anom Suroto juga punya murid peranakan Tionghoa. Dari lingkungan keluarga, Widayat berharap Yoga Rizky (15), cucunya yang setia menonton dan membantunya, mau menjadi penerus.

Keindahan pemahaman lintas budaya, ujar pendiri Yayasan National Building, Eddie Lembong, merupakan aset yang memperkuat persatuan Indonesia. (Iwan Santosa)

 

Mengenal Budaya Cina Lewat Wayang Potehi

Liputan 6Liputan 6 –  1 jam 47 menit lalu

Liputan6.com, Jakarta: Pertunjukan wayang potehi digelar di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (21/1). Riuh rendah tetabuhan, gong, dan gesekan saron mengiringi aksi para wayang di panggung. Acara ini bertujuan mengenalkan budaya Cina.

Kata potehi berasal dari po yang berarti kain, te kantung, dan hie adalah wayang. Jadi potehi identik dengan wayang kantong. Kelincahan jemari adalah modal penting dalang memainkan potehi. Dalang juga harus fasih multi suara baik raja, patih, atau rakyat.

Konon asal usul wayang potehi dari kreativitas lima terpidana mati era dinasti Tsang Tian. Ketika menghitung hari, mereka memainkan boneka kantung dengan iringan beberapa alat musik. Hukuman mati pun batal karena raja menyukai wayang ini.

Pada dasarnya, wayang asal Tirai Bambu ini adalah wayang persembahan untuk para dewa. Dan lazimnya dimainkan di halaman klenteng atau vihara. Lakon ceritanya diambil dari legenda kuno. Satu judul cerita dapat menghabiskan waktu hingga tiga bulan.(JUM)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers