Archive for the ‘Budaya’ Category

Peranakan Tionghoa Pelestari Wayang Jawa

Peranakan Tionghoa Pelestari Wayang Jawa
| A. Wisnubrata | Minggu, 22 Januari 2012 | 08:59 WIB
Kompas.com/Adhika Pertiwi Ilustrasi

Lakon wayang kulit Jawa dengan pengantar bahasa Jawa, Mandarin, dan dialek Hokkian mungkin hanya bisa ditemui di Indonesia. Itulah keahlian Ki Dalang Widayat (72), peranakan Tionghoa asal Nganjuk, Jawa Timur.

Di Desa Kecubung, Kecamatan Pace, Nganjuk, Jawa Timur, warga baru saja mengadakan ruwatan awal tahun dengan menanggap wayang kulit yang dipimpin dalang Ki Widayat. Berkulit gelap dan bermata lebar, sejatinya Widayat dilahirkan dengan nama Tjioe Bian Djiang dari ayah bernama Tjioe Kok Hin dan ibu bernama RA Djoeariah, bangsawan dari Paku Alam, Yogyakarta.

”Setiap tahun, saya pasti main buat warga desa. Kemarin, pentasnya di depan rumah ini sambil menutup jalan. Kalau pentas di kota besar sudah jarang,” ujar Widayat di rumah menantunya yang dijadikan toko jamu Walisongo.

Tumpukan wayang kulit disimpan rapi di samping toko yang dijadikan ruangan tempat tinggalnya. Wayang itu berasal dari pelbagai zaman, bahkan ada yang berusia lebih dari satu abad.

Penganut kejawen itu menceritakan, kisahnya mendalami pedalangan berawal dari kebiasaan menonton wayang bersama ibunya; kedekatan dengan komunitas pelestari budaya, termasuk di kalangan Tionghoa; hingga akhirnya bergabung dengan Himpunan Budaya Surakarta, tempatnya menuntut ilmu pedalangan. Di tempat itu, ia bertemu seniornya, Harmoko, yang pada masa Orde Baru menjadi Menteri Penerangan. Ilmu pedalangan semakin terasah berkat bimbingan ayah angkatnya, Ki Dalang Soemomardjan, orang Belanda asal Leiden yang beristri orang Jawa.

Pada tahun 1960-an, Widayat aktif mendalang. Pentas perdana semalam suntuk dilakukan di Jakarta tahun 1962 dengan lakon ”Tumuruning Wahyu Katentreman” (Turunnya Kedamaian), disesuaikan dengan permintaan penanggap yang menyikapi suasana politik semasa Games of the New Emerging Forces (Ganefo) dan sikap Bung Karno yang menyatakan Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kiprah Widayat mendalang menyurut pascagejolak politik tahun 1965. Para seniman pun tiarap. Bahkan, ia dimintai keterangan untuk menyatakan dirinya ”bersih”. Karena situasi politik saat itu, ia pun menjadi dalang antarkampung. Meski demikian, dia masih setia menjalani kehidupan yang njawani, seperti tirakat 40 hari.

Penampilan di luar tingkat desa, setelah 29 tahun penantian, baru kembali dinikmati pada tahun 2004 ketika tampil di Kia-Kia Kembang Jepun, Surabaya. Setelah itu, Widayat ditanggap dalam peringatan 600 Tahun Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho) di Semarang.

Dalang peranakan Tionghoa pelestari wayang Jawa dari generasi muda masih dapat ditemui meski hanya dalam hitungan jari. Salah satunya adalah Tee Bun Liong (45) alias Sabdo Sutedjo asal Kedungdoro, Surabaya. Pria yang menjadi dalang cilik tahun 1976-1978 itu laris ditanggap di lingkungan warga, pejabat, kelenteng, dan gereja.

”Di luar tanggapan pentas di masyarakat atau perusahaan, saya sering main di ulang tahun kelenteng atau paroki. Setiap bulan bisa main dua-tiga kali,” ujarnya. Kecintaan Sabdo pada seni wayang purwa berawal dari keterlibatannya pada seni wayang wong.

Menurut Sabdo, ada juga dalang senior peranakan Tionghoa, yaitu Radya, asal Muntilan, Jawa Tengah. Widayat yang bersahabat dengan Ki Anom Suroto juga punya murid peranakan Tionghoa. Dari lingkungan keluarga, Widayat berharap Yoga Rizky (15), cucunya yang setia menonton dan membantunya, mau menjadi penerus.

Keindahan pemahaman lintas budaya, ujar pendiri Yayasan National Building, Eddie Lembong, merupakan aset yang memperkuat persatuan Indonesia. (Iwan Santosa)

 

Mengenal Budaya Cina Lewat Wayang Potehi

Liputan 6Liputan 6 –  1 jam 47 menit lalu

Liputan6.com, Jakarta: Pertunjukan wayang potehi digelar di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Sabtu (21/1). Riuh rendah tetabuhan, gong, dan gesekan saron mengiringi aksi para wayang di panggung. Acara ini bertujuan mengenalkan budaya Cina.

Kata potehi berasal dari po yang berarti kain, te kantung, dan hie adalah wayang. Jadi potehi identik dengan wayang kantong. Kelincahan jemari adalah modal penting dalang memainkan potehi. Dalang juga harus fasih multi suara baik raja, patih, atau rakyat.

Konon asal usul wayang potehi dari kreativitas lima terpidana mati era dinasti Tsang Tian. Ketika menghitung hari, mereka memainkan boneka kantung dengan iringan beberapa alat musik. Hukuman mati pun batal karena raja menyukai wayang ini.

Pada dasarnya, wayang asal Tirai Bambu ini adalah wayang persembahan untuk para dewa. Dan lazimnya dimainkan di halaman klenteng atau vihara. Lakon ceritanya diambil dari legenda kuno. Satu judul cerita dapat menghabiskan waktu hingga tiga bulan.(JUM)

Barongsai Sambut Imlek di Kuta

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/barongsai-sambut-imlek-di-kuta/

19.01.2012 09:16

Barongsai Sambut Imlek di Kuta

DENPASAR – Prosesi barongsai dan naga yang dikemas dalam atraksi unik dan menarik akan mengawali perayaan tahun baru Imlek 2563 di kawasan wisata Kuta dan sekitarnya pada Minggu petang (22/1).

Prosesi menempuh jalur mengelilingi Vihara Dharmayana dan jalan-jalan protokol di kawasan Kuta dan sekitarnya melibatkan empat barongsai dan dua naga, kata Penanggungjawab Vihara Dharmayana Kuta, Indra Suarlin, di Kuta, Kamis (18/1) .

Ia mengatakan, pagelaran barongsai dan naga “ngelawang” berlangsung sekitar dua jam, 17.00-19.00 Wita dan diupayakan sedapat mungkin tidak mengganggu lalu lintas yang kondisinya selama ini sangat padat.

“Ngelawang” yang akan dimulai sore hari ini sudah dikoordinasikan dengan pihak kepolisian setempat dan “pecalang” petugas keamanan desa adat Kuta untuk membantu kelancarannya, mengingat arus lalu lintas di kawasan Kuta sangat padat.

“Banyak permintaan agar prosesi itu melewati pantai Kuta, tempat wisatawan mancanegara berjemur sambil menikmati deburan ombak, namun hal itu tidak dapat dipenuhi, khawatir kemacetan lalu lintas tidak dapat dihindari,” ujar Indra Suarlin.

Prosesi “Ngelawang” bermakna menseimbangkan dan menetralisir alam semesta dilakukan secara berkesinambungan mengawali perayaan tahun baru Imlek tahun ini.

Kegiatan tersebut sengaja dilaksanakan sehari lebih awal dari tahun baru Imlek, guna memberikan kesempatan kepada umat Budha untuk melaksanakan Perayaan Tahun Baru Imlek 2563 secara khidmat yang jatuh pada hari Senin (23/1).

Umat Budha, khususnya keturunan Tionghoa di Bali pada Hari Raya Suci Imlek melakukan persembahyangan di rumah mereka masing-masing, kemudian dilanjutkan ke Vihara dan Kelenteng.

“Persembahyangan dilakukan sesuai tradisi yang diwarisi secara turun temurun,” ujar Indra Suarlin yang juga Ketua Ketua Yayasan yang mengayomi Vihara Dharmayana Kuta.

Pemasangan hiasan bambu (penjor), penyalaan lilin, hiasan lampu (lampion), serta persembahan hidangan buah-buahan dan berbagai macam kue menjadi ciri khas perayaan Imlek pada setiap Vihara dan Kelenteng di Bali.

Persembahyangan berlangsung seperti hari-hari biasa, namun kali ini agak istimewa, karena disertai dengan pemberian makanan khas kepada mereka yang dinilai berjasa dalam mengembangkan usaha maupun kehidupan pribadi.

Perayaan Imlek tahun ini menekankan harapan baru yang lebih baik dalam menyongsong masa depan. Upaya itu disertai dengan menekankan pada perdamaian, rasa gotong royong, kepedulian sesama umat manusia dan kebersamaan, termasuk dengan umat lain.

Hari raya Imlek kental dengan nuansa kehangatan, yang berawal dari tradisi pergantian musim gugur ke musim semi di dataran Tionghoa.

Namun tradisi itu tetap diwarisi secara turun temurun yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Perayaan di sejumlah Vihara di Bali juga dimeriahkan dengan pegelaran barongsai, kesenian khas China, ujar Indra Suarlin. (Ant)

 

http://www.suarapembaruan.com/home/sambut-tahun-naga-air-di-harris-hotel-kelapa-gading/16179#Scene_1

Sambut Tahun Naga Air di Harris Hotel Kelapa Gading
Rabu, 18 Januari 2012 | 15:14

Suasana Imlek di Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading, Jakarta Suasana Imlek di Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading, Jakarta

 

[JAKARTA] Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading akan menggelar promosi santap malam prasmanan menjelang Tahun Baru Imlek di Harris Café. Hotel yang letaknya bersebelahan dengan Mal Kelapa Gading ini menampilkan beragam suguhan menu oriental seperti steamboat, yam chaw fried rice, singapore noodle, crock pot chicken, red curry beef, dan masih banyak lagi.

Semua menu diolah khusus oleh Executive Chef Roby Mardeta Setiawan beserta tim. Selain menu prasmanan, chef Roby juga akan menghadirkan sejumlah pondokan, diantaranya aneka dim sum dan roasted duck plum sauce.

“Bagi Anda para pencinta cokelat, silakan mencoba lelehan chocolate fountain, lengkap dengan aneka kue, biskuit, es krim dan buah-buahan. Semuanya dapat Anda temukan pada deretan menu penutup,” ujarnya di Jakarta, Rabu (18/1).

Jangan lewatkan atraksi Barongsai yang akan menghibur Anda sekeluarga pada saat bersantap malam. Atraksi Barongsai ini akan digelar di lobi hotel dan Harris Café. “Bagi warga Tionghoa, tradisi santap malam Imlek merupakan momen yang sangat istimewa. Kami keluarga besar Harris Kelapa Gading akan dengan senang hati merayakannya bersama para tamu kami, serta mendoakan kebahagiaan, kesehatan dan kesuksesan bagi mereka dan keluarganya,” ungkap  chef Robby.

Dia juga menambahkan, Sang Dino Tionghoa juga akan hadir untuk menyapa dan bermain bersama anak-anak. Santap malam ditahun baru Imlek tersedia pada 22 Januari 2012 mulai pukul 06.0022.00 WIB dan dijual seharga Rp 220.000net per orang. [H-15]

Buku Kecil untuk Kado Pernikahan Anak Saya

Bikin Buku Lagi: Buku Kecil untuk Kado Pernikahan Anak Saya

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com, Thursday, 19 January 2012, 3:28
Memasuki 2012, seperti biasa, resolusi saya adalah membereskan resolusi tahun-tahun sebelumnya yang belum beres atau belum saya tuntaskan. Ternyata, membereskan  resolusi tak semudah membuat resolusi. Menindaki memang lebih berat daripada hanya menuliskan atau mengatakan (menyampaikan). Meskipun begitu, saya juga tetap menambah resolusi baru agar tetap ada yang layak saya kejar (raih). Rasa-rasanya kok hambar hidup ini jika tak memiliki sesuatu yang baru yang ingin saya raih di tahun yang baru pula. Apa resolusi baru saya? Bikin buku lagi.
 
Bikin buku lagi? Ya, tetapi kali ini buku yang akan saya buat adalah buku yang sangat spesial. Meskipun bukunya kecil, buku ini sungguh saya pikirkan secara terus-menerus ketika mau memasuki tahun 2012. Saya ingin membuat buku untuk kado pernikahan anak saya. Pada tahun ini, anak pertama saya (laki-laki) akan melangsungkan penikahannya.
 
Tak ada yang dapat membahagiakan di hari pernikahan seorang anak kecuali saya dapat memberi kado kepadanya dalam bentuk buku. Kado ini akan, katakanlah, ”abadi”. Saya tidak tahu apakah buku kecil ini nanti juga dapat dijadikan souvenir (tanda mata) untuk dibagikan kepada para tamu undangan yang menghadiri perayaan pernikahan anak saya. Tentu, kebahagiaan saya akan bertambah apabila, akhirnya, memang, buku kecil tersebut dapat dijadikan sebagai tanda mata.
 
Tidak seperti biasanya ketika saya membuat buku untuk kado pernikahan anak saya ini saya terjebak untuk menemukan stuktur (bangunan) buku terlebih dahulu. Biasanya, ketika membuat semua buku saya yang sudah terbit, saya mengandalkan kegiatan menulis bebas untuk “membuang” materi yang dapat saya buang (tulis). Baru setelah materi ”terbuang” atau dapat saya keluarkan semua, saya baru menata materi (batu bata) tersebut agar membentuk sebuah bangunan (struktur).
 
Untuk buku kecil—saya sebut buku kecil agar mudah membuatnya—ini, saya benar-benar harus memikirkan strukturnya terlebih dahulu. Beruntung sekali saya memiliki banyak contoh buku semacam buku yang ingin saya buat ini. Salah satu contoh yang sangat menarik adalah beberpa buku “khutbah nikah” yang dibuat oleh Kang Jalal—panggilan akrab cendekiawan Muslim asal Bandung, Jalaluddin Rakhmat.
 
 
Kang Jalal beberapa kali membuat “khutbah nikah”. Saya sudah membaca “khutbah nikah” Kang Jalal, yang dibuat pertama kali, beberapa puluh tahun lalu. Waktu itu, “khutbah nikah” yang pertama kali dibuat oleh Kang Jalal dibukukan dan disatukan dengan “khutbah” yang lain. Khotbah-Khotbah dari Amerikademikian judul kumpulan “khutbah” Kang Jalal yang di dalamnya ada “khutbah nikah” yang saya maksud.
 
Selain milik Kang Jalal, saya beruntung juga membaca buku karya sahabat saya, Haidar Bagir, terkait dengan buku yang dikhususkan untuk menyambut pernikahan. Ada dua buku karya Haidar. Buku pertama Haidar berjudul Surga di Dunia, Surga di Akhirat: Kiat-Kiat Praktis Merawat Pernikahan. Buku ini dibuat Haidar untuk kado pernikahan anak pertamanya.
 
Secara garis besar, buku Surga di Dunia, Surga di Akhirat, berisi tentang nasihat perkawinan seorang ayah kepada anaknya. Ketika saya menghadiri pernikahan putra pertama Haidar, saya telah mendapatkan buku tersebut. Setelah itu, ternyata buku Surga di Dunia, Surga di Akhirat diterbitkan oleh Penerbit Mizania, Bandung.
 
Apabila Surga di Dunia, Surga di Akhirat cukup tebal (sekitar 150 halaman), buku kedua karya Haidar yang saya baca—yang juga dibuat untuk keperluan pernikahan keponakannya—cukup tipis dan formatnya kecil. Kayaknya saya mau meniru buku kedua karya Haidar ini. Judulnya, Percikan Cinta: Kado Perkawinan. Isinya sangat bagus. Haidar berbicara ihwal cinta dua manusia secara filosofis meski dibuat ringan.[]

April 2012, Acara Budaya Ramaikan Tobelo

April 2012, Acara Budaya Ramaikan Tobelo

TOBELO, KOMPAS.com - Bersamaan dengan pelaksanaan Kongres ke-IV Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara pada 19-25 April 2012, pemerintah setempat akan menggelar sejumlah acara budaya , salah satunya dimaksudkan untuk tercatat di Museum Rekor Indonesia (MuRI).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Utara Erasmus Joseph Papilaya, di Tobelo, Kamis (19/1/2012), mengatakan acara budaya yang akan digelar itu adalah kirab budaya pada tanggal 19 April, yang rencananya bakal diikuti oleh semua perwakilan komunitas adat yang ikut serta dalam kongres AMAN, ditambah lagi 23 paguyuban adat di Halmahera Utara.

Kemudian parade perahu adat Halmahera Utara atau dikenal dengan nama canga. Parade yang rencananya diikuti 1.000 perahu canga ini dimaksudkan pula agar tercatat dalam MuRI.

A cara budaya lainnya yang akan digelar pula adalah lomba makanan adat nusantara. Lomba ini pun akan diikuti semua perwakilan komunitas adat yang ikut dalam kongres AMAN.

Diperkirakan ada sekitar 3.000 orang dari seluruh nusantara yang akan datang ke Tobelo pada bulan April nanti. Selain itu, ada juga perwakilan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang rencananya akan hadir, kata Erasmus.

Dia melanjutkan, diselenggarakannya AMAN menjadi momentum untuk mempromosikan potensi pariwisata di Halmahera Utara.

Di kabupaten yang berada di bagian utara Pulau Halmahera ini terdapat 59 obyek daya tarik wisata (ODTW). Obyek-obyek wisata ini diantaranya pantai-pantai berpasir putih, obyek wisata bawah laut yang memamerkan keanekaragaman hayati bawah laut, dan peninggalan Perang Dunia kedua. 

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/01/19/15322073/April.2012..Acara.Budaya.Ramaikan.Tobelo

 

Ideologi Memudar, Pendidikan Pancasila Harus Masuk Kurikulum

Komisi X DPR RI: Pendidikan,pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan
jurnalparlemen.com

05 Jan 2012 16:05
Puti Guntur Soekarno (JPI/Andri )
Senayan – Fraksi PDI-P prihatin dengan memudarnya nilai-nilai ideologi di tengah masyarakat saat ini. Padahal, ideologi merupakan dasar sekaligus penuntun arah sebuah bangsa dalam meraih kebesaran. Di tengah krisis ideologi tersebut, Fraksi PDI-P meminta agar mata pelajaran Pancasila masuk ke dalam kurikukum.

“Harus ada komitmen dari pemerintah untuk memasukan mata pelajaran Pancasila masuk ke dalam kurikulum,” ujar anggota Komisi X dari Fraksi PDI-P Puti Guntur Soekarno, usai pemaparan Refleksi Akhir Tahun 2011 dan Proyeksi 2012 Fraksi PDI-P di MPR, di ruang Fraksi PDI-P, Komplek Parlemen, Kamis (5/12).

Menurut Puti, masuknya Pancasila ke dalam kurikulum melalui dua jalur, yakni membuat mata pelajaran baru dan mamasukkan nilai-nilai Pancasila ke dalam berbagai mata pelajaran lain, seperti sejarah, kebudayaan, kesenian dan agama.

“Harus masuk masuk kedua-duanya,” katanya.

Mata Pelajaran Pancasila juga tidak boleh dalam tafsiran lain. Tapi harus kembali ke Pancasila yang sebenarnya. “Mata pelajaran Pancasila akan jadi pintu masuk ke dalam pendidikan masyarakat,” jelasnya.

Fraksi PDI-P meyakini bahwa kebesaran bangsa-bangsa di dunia seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina bertumpu pada ideologi masing-masing. Untuk Indonesia, operasionalisasi ideologi diturunkan melalui tujuan pembentukan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara.

Karena itu, berakhirnya tahun 2011 merupakan momentum untuk merefleksikan kondisi kehidupan bangsa dan negara, serta mengambil langkah strategis untuk menjawab tantangan yang muncul 2012.end

Rumah Bung Karno Tetap Terbuka bagi Pengunjung

Cagar Budaya
Rumah Bung Karno Tetap Terbuka bagi Pengunjung
Doddy Wisnu Pribadi | Marcus Suprihadi | Senin, 16 Januari 2012 | 23:18 WIB
KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI Istana Gebang di Blitar

MALANG, KOMPAS.com — Rumah milik kakak kandung Bung Karno di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, tempat yang disebut sebagai tempat Bung Karno pulang jika ke Blitar semasa hidupnya, hingga kini tetap terbuka untuk umum. Pengunjung harian rumah ini tercatat masih puluhan hingga 250 orang. Bahkan bisa mencapai 5.000-an orang sehari dan bahkan jika musim libur, terutama wisatawan domestik dan peziarah.

Pemerintah Kota Blitar tak mengubah apa pun kondisi rumah beserta perabotnya setelah peresmian pengelolaan rumah oleh Pemkot Blitar dilakukan pada 7 Januari 2012 lalu.

Pengamatan hari Senin (16/1/2012), Pemkot Blitar hanya menambahkan poster di depan rumah berisi larangan untuk membawa makanan ke dalam bangunan rumah yang lokasinya berdiri di atas areal 1,4 hektar itu.

Selain itu, Pemkot Blitar juga hanya menambah personel keamanan dari Satuan Polisi Pamong Praja sehingga tampak kesan rumah lebih terjaga. Untuk bisa masuk ke dalam rumah, kini pengunjung harus melepas alas kaki sehingga lantai rumah yang terbuat dari tegel semen tetap bersih.

Agus, petugas jaga absen pengunjung, menjelaskan, mebel rumah boleh diraba dan dipotret, tetapi dengan alasan kelestarian, aneka perabot tidak diizinkan digunakan. Ada larangan duduk di kursi mana pun, juga tak boleh duduk, apalagi berbaring di tempat tidur besi di bekas kamar Bung Karno. Kamar ini adalah lokasi yang paling favorit bagi umumnya pengunjung.

Juru kunci rumah yang disebut Istana Gebang itu, Islan Gatot Imbata, masih dipertahankan. Rumah itu disebut Istana Gebang karena memang berada di Dusun Gebang, Kelurahan Bendo Gerit, Kecamatan Sanan Wetan, Blitar.

Islan yang ditemui di rumah tersebut menjelaskan, proses pembelian rumah oleh Pemkot Blitar dari para ahli waris Sukarmini, nama kecil Ny Wardoyo, kakak kandung Bung Karno, itu sudah rampung seluruhnya. “Para cucu dan putra putri almarhumah Bu Wardoyo yang menerima,” katanya.

“Pemkot Blitar memberikan ganti rugi Rp 35 miliar kepada para ahli waris untuk mempertahankan kelestarian Istana Gebang,” kata Islan.

Uangnya didapat dari APBD Kota Blitar Rp 10 miliar dan APBD Pemprov Jawa Timur Rp 25 miliar.

Islan menegaskan, Pemkot Blitar sejauh ini tidak berencana mengubah apa pun dan hendak membiarkan rumah tersebut sebagaimana adanya. Bahkan menarik tiket kunjungan saja tidak. “Jadi, rumah ini benar-benar milik rakyat dan milik sejarah Indonesia,” tegas mantan Ketua DPRD Kota Blitar.

Kue Kolombia Versus Kue Makassar

Kue Kolombia Versus Kue Makassar

Timur Angin <timurangin@yahoo.com>,in:“mediacare@yahoogroups.com” <mediacare@yahoogroups.com>, Monday, 16 January 2012, 11:06

kue Kolombia bernama Espanada
Makna Kue dalam Dinamika Kultural

INI kue khas Kolombia. Camilo, seorang sahabat asal Kolombia, sengaja membawanya ke kampus dan meminta saya untuk mencicipinya. Rasanya mirip dengan makanan khas Makassar yang bernama Panada. Mirip juga dengan kue bernama jalangkote. Cara makannya pun sama yakni ujungnya dimakan dahulu sehingga isinya nampak, kemudian ditetesi larutan cabe. Saat saya bertanya apa namanya, ia lalu menjawab enpanada.What? Mengapa nama dan rasanya nyaris sama?

Mungkin jika ditelusuri lebih jauh, nama kue dan mengapa berbentuk demikian selalu terkait dengan kebudayaan. Bisa pula kita mengatakan bahwa inspirasi nama kue datang begitu saja. Tapi saya tidak ingin berpikir demikian. Sebab pandangan ini tidak memadai untuk menjelaskan mengapa nama kue di Indonesia dan Kolombia bisa sama persis. Sungguh aneh jika itu hanyalah kebetulan belaka. Di balik kesamaan nama tersebut, tentunya terselip sejarah, serta dialog antara dua kebudayaan.
Tentu saja, kita bisa berdiskusi tentang kebudayaan dengan menjadikan makanan sebagai pintu masuk. Jika kita sepakat bahwa kebudayaan sebagai jejaring makna yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain, maka tentunya terdapat latar historis serta social kultural mengapa satu bangsa membuat kue dari bahan tertentu, menyajikannya dnegan tradisi tertentu, atau memilih nama tertentu untuk kuenya.
Saya pernah iseng, menanyakan makna kue yang diisi dalam talang orang Buton saat haroa atau upacara adat untuk memperingati hari besar Islam di rumah-rumah. Seorang lebe (pembaca doa dalam bahasa Arab) lalu menjelaskan dalam bahasa yang sangat filosofis. Katanya, kue-kue dalam talang itu melambangkan filosofi tubuh manusia. Ia lalu menujuk kue yang berbentuk jantung, hati, empedu, hingga organ seperti hidung, hingga otak. Ia menjelaskan tentang tubuh, filosofi, serta pesan-pesan spiritual yang terkandung dalam kue-kue tersebut.
Artinya, kue bisa menjadi pintu masuk untuk menjelaskan makna dalam kebudayaan. Sahabat saya, Bondan Winarno, yang kini jadi presenter acara kuliner di televisi, adalah salah satu orang yang getol mempromosikan perlunya belajar kebudayaan melalui nama-nama kue dan makanan. Dalam beberapa kali kesempatan, ia pernah menjelaskan pada saya tentang khasanah sejarah, serta rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik sebuah kuliner atau masakan.
kue-kue dalam talang Haroa di Buton
saat bersama Bondan Winarno di Bali

Sebagaimana Bondan, saya pun berkeyakinan bahwa nama kue serta bentuk dan jenisnya selalu memiliki makna. Entah, Anda bersepakat atau tidak, tapi saya meyakini bahwa nama kue Panada memiliki akar kata yang sama dengan kue Espanada di Kolombia sana. Dugaan saya, kata ini memiliki akar dalam bahasa Portugis, yang kemudian terbawa melalui perdagangan. Meskipun orang Kolombia berbahasa Spanyol, namun mereka berdekatan dengan Brazil yang bahasa nasionalnya adalah bahasa Portugis. Harus dicatat bahwa Portugis adalah salah satu negara Eropa yang pernah melebarkan sayap hingga Nusantara. Mereka mewariskan banyak kosa kata yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia sepeti kata botol, bangku, boneka, bendera, biola, gereja, gudang, kamar, lemari, lampion, mandir, bola, dadu, dansa hingga beberapa nama kue seperti bolu (untuk lebih jelasnya lihatDI SINI)

Kesamaan nama ini menjadi pertanda tentang dialog-dialog kebudayaan di masa silam, pertanda proses belajar dan saling silang pengetahuan antar bangsa, pertanda kalau pengetahuan bukanlah sesuatu yang beku dan statis, melainkan senantiasa disebarkan dalam dialog-dialog yang saling memperkaya.
Melalui kata-kata dan istilah ini, kita bisa merekonstruksi atau menyusun ulang bangunan pengetahuan kita tentang sejarah. Itu dilakukan sahabat peneliti berkebangsaan Jerman bernama Horst Liebner. Ia banyak meneliti tentang kesamaan-kesamaan istilah yang digunakan di dunia maritim. Saya sering tercengang saat membaca uraiannya. Sebab lautan menjadi tempat di mana kebudayaan tumbuh dan berkembang lewat mekanisme dialog sehingga terjadi pertukaran-pertukaran istilah. Lewat laut, dalam hal ini pelabuhan, bangsa-bangsa bisa saling belajar dan menyebarkan informasi sehingga terjadi proses interaksi yang kian memperkaya. Dalam satu edisi khusus Kompas, Liebner menulis tentang Perahu Phinisi dan Kearifan Tradisi, sebuah tulisan yang mengejutkan karena ia berasumsi bahwa a phinisi justru berasal dari bahasa Portugis.
Liebner menulis, phinisi masuk dalam kosa kata bahasa Perancis atau Jerman sebagai kata pinasse yang artinya sejenis kapal layar berukuran sedang. Menurut Liebner, layar dan perahu jenis phinisi meniru jenis scooner ketch asal eropa. Kapal ini mulai bermunculan di Nusantara pada sekitar tahun 1840-an. Menurutnya, pertama kali kapal ini dibuat Martin Perrot di Kuala Trengganu, yang mengacu pada sejumlah desain kapal eropa. Menurut tradisi para pelaut Melayu, perahu itulah yang dijadikan contoh pertama untuk membangun perahu-perahu sejenis yang berikutnya dinamakan pinas atau penis, mungkin sekali dengan meniru kata pinasse, yang dalam bahasa Perancis dan Jerman pada zaman itu menandai sejenis kapal layar berukuran sedang.
Perahu Phinisi khas Bugis-Makassar

Kebetulan bukan hanya satu perahu itu yang pada abad silam sempat dilihat oleh para pelaut Makassar, Mandar dan Bugis yang kini terkenal dengan perahu phinisi-nya, tetapi sejak awal abad ke-19 semakin banyak pedagang-pelaut Inggris yang beroperasi dari Singapura maupun para pedagang partikuler Belanda di Indonesia mulai menggunakan perahu jenis sekunar Barat yang baru dirancang di Amerika pada dekade-dekade akhir abad sebelumnya.

Nah, kembali ke kue Panada. Saya amat tertarik untuk menelaah kue ini lebih jauh. Mungkin ada kisah-kisah yang tersembunyi di balik kue sederhana ini. Mungkin ada hikayat yang selama ini tak beredar luas di public tentang kue ini. Tapi, biarlah saya menyimpan dahulu pertanyaan tentang makna kue ini. Sekarang, saatnya untuk mencicipi kue nikmat ini. Saya menikmati aroma dan kepedasannya. Hmm.. Nyam.. Nyam…..

Djamaludin Malik, Berjuang Lewat Kesenian

Djamaludin Malik, Berjuang Lewat Kesenian

“Tadinya anak buah saya bermaksud, jika sudah sampai di daerah Republik,
rombongan akan membubarkan diri. Lalu kami menerjunkan diri dalam
badan-badan perjuangan. Ada yang di Hizbullah (pimpinan KH. Zainul Arifin)
ada yang barisan pemberontakan rakyat (Pimpinan Bung Tomo) dan sebagainya.”*
***

** **

Itulah niat Djamaludin Malik yang dikemukakan kepada KH. Wachid Hasyim,
tokoh NU sekaligus mentri agama pertama RI yang didokumentasikan KH.
Saifuddin Zuhri dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren. Selain
Saifuddin, hadir KH Fattah Yasin, laskar Hizbullah yang bergabung ke
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). ****

** **

Percakapan itu terjadi di Yogyakarta, saat ibukota pindah dari Jakarta
sejak 4 Januari 1946 hingga 28 Desember 1949. Saat itu wilayah Indonesia
menyempit akibat perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. Karena itulah
kabinet Amir Syarifudin jatuh.****

** **

Berjuang bukanlah milik para laskar dan tentara. Tapi juga para seniman,
termasuk Djamal, pria kelahiran Padang, 3 Februari 1917 ini. Ia bersama
kelompok sandiwara Panca Warna, yang didirkannya pada tahun 1942 ini
berkeliling hampir ke seluruh kota besar Indonesia. Tujuannya untuk
membangkitkan semangat juang dan cinta Tanah Air. Daya jelajahnya tidak
hanya di pulau Jawa, melainkan Sulawesi dan Kalimantan.****

** **

Rupanya hal itu tidak memuaskannya. Djamal bersama anak buanya berniat
menetap di Yogyakarta, turut mengangkat senjata dan terjun ke kelaskaran
dan tentunya meninggalkan pentas sandiwara.****

** **

Tapi niatnya ditolak Wachid Hasyim. Ia punya pandangan lain tentang
perjuangan. Menurutnya, berjuang tidak harus dengan senjata atau
kelaskaran. Perlu ada yang berjuang di wilayah lain. Lagi pula anggota
kelaskaran sudah sangat banyak. Dan, orang-orang yang berjuang lewat seni,
khususnya sandiwara, masih sangat kurang. Padahal itu amat penting dalam
perjuangan besar.****

** **

Wachid menambahkan, dalam pementasan sandiwara, bisa dijadikan tempat
bertemunya orang-orang Republiken (Indonesia) dan mengumpulkan senjata. Ia
menyarankan supaya Djamal segera ke Jakarta, yang sudah dikuasai Belanda,
karena kelompok sandiwara tidak akan dicurigia.****

** **

Pandangan kiai jeniaus, putra rais akbar NU, Hadratusy Syaikh KH. Hasyim
Asyari ini diterima Djamal. Dia pun memantapkan diri dengan berjuang terus
lewat kelompok sandiwaranya.****

** **

Di kemudian hari, setelah Wachid wafat (19
April<http://id.wikipedia.org/wiki/19_April>
1953 <http://id.wikipedia.org/wiki/1953>), Djamaludin melanjutkan minatnya
dalam dunia kesenian dan budaya. Ia bersama bersama Usmar Ismail dan Asrul
Sani bergabung di Lesbumi. Lembaga di bawah naungan Nahdlatul ULama (NU)
ini diresmikan KH. Saifuddin Zuhri pada 28 Maret 1962. ****

** **

Dedikasi terhadap kesenian, khususnya perfilman, ketiganya menjadi tokoh
utama perfilman nasional. Djamaludin mendirikan Persari yang membuahkan 59
judul film. Usmar Ismail mendirikan Perfini dan ditetapkan jadi bapak film
Indonesia. Sementara Asrul Sani, di samping jadi sastrawan, ia juga
sutradara masyhur. Salah satunya film Nagabonar yang dibintangi Dedy Mizwar.
****

** **

Selain di Lesbumi, Djamal pernah aktif di Gerakan Pemuda Ansor Anak cabang
Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kemudian menggenapkan pengabdiannya di NU
dengan menjadi pengurus Besar Nahldltul Ulama (ketua III, 1956–1959) pada
masa Idham Khalid. ****

** **

Djamal meninggal di Munchen, Jerman pada pada 08 Juni 1970. Atas perjuangan
dan jasanya, presiden Republik Indonesia, pada tahun 1973, mengukuhkan
Djamaludin Malik sebagai Pahlawan Nasional dengan mendapat Bintang
Mahaputra Kelas II/Adipradhana. (Abdullah Alawi)****


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

Menyingkap Kejahatan Kapitalisme Dalam Krisis Hutang

Film Debtocracy: Menyingkap Kejahatan Kapitalisme Dalam

Krisis Hutang

Selasa, 29 November 2011 | 18:59 WIB

Sumber:Bismo DG <bdgkusumo@gmail.com>,ojn: nasionalist <nasional-list@yahoogroups.com>, Monday, 16 January 2012, 17:48

Resensi Film

Oleh : Kusno

1debtocracy

Pada tahun 1997, ketika Indonesia jatuh dalam krisis ekonomi yang hebat, IMF datang menawarkan bantuan. Anehnya, setiap bantuan itu disertai syarat-syarat yang mesti dijalankan oleh pemerintahan nasional. Lebih parah lagi, campur tangan IMF justru membuat utang Indonesia membengkak dua kali lipat.

Lalu pada tahun 1998, seusai Soeharto lengser dari kekuasaan, IMF menyarankan agar pemerintah mengubah utang swasta menjadi utang publik. Sejak itu, APBN Indonesia seperti tersandera oleh utang luar negeri. Bahkan sebagian besar anggaran APBN dipakai untuk membayar utang.

Situasi itu mirip sekali dengan cerita yang diangkat oleh Aris Chatzistefanou dan Katerina Kitidi dalam film dokumenter berjudul “Debtocracy”. Film berdurasi 1 jam 14 menit ini menyingkap secara telanjang penyebab terjadinya krisis utang di Yunani. Di jelaskan pula, dengan pendekatan historis dan analitik, bagaimana dua partai politik, tiga keluarga politisi, dan sejumlah pengusaha membawa negeri ini dalam kebangkrutan.

Aris Hatzistefanou, sang pembuat film ini, berusaha membawa penonton untuk memahami bahwa krisis utang di Yunani sebagai persoalan struktural dalam kapitalisme finansial dan sekaligus problem struktural dari penggabungan euro-zone.

Costas Lapavitsas, ekonom yang menjadi bintang utama film ini, menguraikan bagaimana krisis utang Yunani bermuasal dari krisis struktural kapitalisme sejak tahun 1970-an. Sementara David Harvey, ekonom yang pernah menulis “A Companion to Marx’s Capital”, mengatakan bahwa ini bukan hanya krisis “kapitalisme bebas”, tetapi krisis yang menyangkut kapitalisme sebagai sebuah sistem.

Film ini juga mengulas bagaimana ekonomi zona eropa menghasilkan pembagian yang tidak adil; negara pusat dan negara peripheri. Yunani sendiri termasuk dalam kategori negara peripheri, tempat dimana krisis berlangsung lebih intensif. Sementara negara pusat, khususnya Jerman, tampil sebagai pemenang.

Sistem ekonomi zona eropa ini, pada satu sisi, menciptakan surplus di negara-negara pusat, tetapi pada sisi lain, menciptakan krisis hutang besar-besaran di negara pinggiran (peripheri). “Ini seperti petinju Muhammad Ali dari klas berat melawan klas ringan,” kata Éric Toussaint, Presiden dari Komite untuk Penghapusan Utang Dunia Ketiga (CADTM).

Lebih keren lagi, film ini juga mengulas sejarah kemunculan “odious debt/utang najis”. Konsep odious debt ditemukan oleh Alexander Nahum Sack, bekas menteri dan ahli hukum di bawah pemerintahan Tsar di Rusia. Paska revolusi 1917, ia mengembara ke Eropa dan Amerika Serikat.

Utang disebut “odious debt” jika memeliki kriteria berikut: (1) pemerintahan dari negeri penerima pinjaman menerima bantuan tanpa diketahui dan persetujuan rakyatnya; (2) pinjaman yang diberikan tidak memberi keuntungan kepada rakyat; (3) peminjam mengetahui kondisi di atas tetapi mengabaikannya.

Meski terdengar progressif, bahkan revolusioner, tetapi konsep odious debt pada awalnya ditujukan untuk melayani kepentingan; negeri-negeri imperialis. Pada tahun 1898, ketika AS berhasil mengambil-alih Kuba dari tangan Spanyol, ia tidak mau membayar utang-utang yang ditimpakan oleh kolonialis Spanyol sebelumnya. AS pun mempergunakan konsep “odious debt” untuk menghindari kewajiban utang itu. Ini kembali dipergunakan AS pasca menginvasi Amerika Serikat: AS meminta odious debt atas hutang-hutang era Saddam Husein, supaya tidak memberatkan rejim boneka AS di Irak.

Tetapi film ini tidak sekedar pandai mengurai persoalan. Di bagian akhir film ini digambarkan bagaimana rakyat di dua negara Amerika Latin, yaitu Argentina dan Ekuador, berhasil keluar dari jebakan utang luar negeri. Rakyat di kedua negara itu berhasil mengepung istana pemerintahan dan memaksa presidennya kabur dengan “helikopter”.

Tetapi pengalaman paling menarik ditunjukkan oleh rakyat Ekuador. Selama puluhan tahun Ekuador menjadi pasien berat IMF dan Bank Dunia, bahkan 50% APBN-nya dipergunakan untuk membayar hutang. Rafael Correa, seorang Ph.D di bidang ekonomi Universitas Illinois, tampil kedepan memprotes keadaan itu: ia menolak penggunaan keuntungan minyak untuk membayar utang luar negeri. Bagi Correa, 80% keuntungan minyak mestinya dipergunakan untuk kepentingan rakyat: kesehatan, pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dan lain sebagainya. Rafael Correa memilih mundur sebagai menteri ekonomi pada tahun 2005, ketimbang menjadi “antek IMF dan Bank Dunia”.

Tetapi sejarah berkata lain: pada tahun 2006, Rafael Correa terpilih sebagai presiden Ekuador dengan dukungan rakyat di belakangnya. Ketika menjadi Presiden, ia pun mengumumkan penolakannya membayar utang-utang ekuador yang tidak legitimate.

Lebih maju lagi, Correa pun membentuk semacam “Komite Audit” untuk memeriksa utang luar negeri ekuador: mana yang sah dan mana yang tidak legitimate. Komite Audit ini melibatkan para ahli dan gerakan sosial. Temuan Komite Audit menemukan bahwa sebagian besar utang luar negeri Ekuador adalah tidak legitimate.

Sekarang cara itu dipergunakan pula oleh para aktivis gerakan sosial, intelektual, artist, dan aktivis di Yunani. Komite Audit ini akan memeriksa utang-utang Yunani. Meskipun belum terlihat hasilnya, tetapi setidaknya ini menjadi langkah politik untuk membongkar kedok utang yang dijeratkan oleh pemerintah korup dan elit bisnis eropa.

Film ini sendiri mendapat respon luas di masyarakat. Di Youtube, film ini sudah muncul dengan versi subtitle Inggris dan sudah ditonton ratusan ribu orang. Costas Lapavitsas, ekonom yang menjadi bintang dalam film ini, mengaku mendapat kiriman email dari para petani dan tukang daging dari pedalaman Yunani. Setidaknya, film ini telah membuka mata rakyat Yunani mengenai kebohongan para elit dan media massa mengenai hutang mereka.

Di Portugal, negara yang mengalami hampir bernasib serupa dengan Yunani, aktivis dari partai kiri Left Bloc memutar film ini di studio-studio mini selama kampanye pemilu. Di Barcelona, Spanyol, film ini juga diputar di tengah 4000-an  demonstran yang sedang memprotes kebijakan pemerintah.

Dan, bagi saya, film ini sangat relevan untuk ditonton oleh pemirsa Indonesia. Khususnya dalam kerangka melawan imperialisme!

3 komentar untuk artikel ini

  1. 29 November 2011 pukul 20.40

    Thumb upThumb down 0

    Mantab..apalagi klw ada translates indonesianya, weiisth..akan lbh mantab lg..

    [Reply]

  2. pipin

    29 November 2011 pukul 21.58

    Thumb upThumb down 0

    bangsa indonesia pasti bissa!!!!

    [Reply]

  3. 28 Desember 2011 pukul 07.37

    Thumb upThumb down 0

    rakyat indonesia bisa kluar dari kungkungan kaum imperialis jika bersatu dalam semangat gotong royong tompoe doloe.., salam perjuangan.

     

Menakar Peradaban Melalui Tayangan Hewan

Kabar TV

TV One, tiap Selasa Pk. 17.00 WITA

Milis Remotivi

Gabung ke milis Remotivi *
13.01.2012

Oleh

Tayangan televisi yang memuat kekerasan pada hewan berkontribusi terhadap perilaku individu. Seseorang yang kasar, masa kecilnya adalah penyiksa hewan. Hasil sebuah riset tersebut disampaikan Wiwiek Bagja di kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Jakarta, Jumat, 13 Januari 2012. Dialog mengenai tayangan hewan di televisi ini diadakan sebagai tanggapan atas Surat Terbuka Remotivi kepada KPI, yang didukung beberapa lembaga pemerhati hewan seperti ProFauna, Jakarta Animal Aid Network, Wildlife Crime Unit, Lembaga Advokasi Satwa, dan Equator Indonesia.
Wiwiek Bagja adalah Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Ia menjelaskan bahwa terdapat azaz kesejahteraan hewan (principles of welfare) yang penting untuk diketahui dalam penggunaan hewan untuk berbagai kepentingan, yaitu untuk bebas dari haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit akibat cidera dan penyakit, bebas dari ketakutan dan ketertekanan, dan bebas untuk mengekpresikan perilaku alamiahnya. Untuk itu, lanjut Wiwiek, penggunaan hewan harus didampingi oleh ahli hewan.
Divisi Advokasi Remotivi Jefri Gabriel menegaskan kembali pokok permasalahan yang ada dalam tayangan televisi yang melibatkan hewan, bahwa (1) beberapa tayangan memuat unsur kekerasan dan sadisme, (2) adanya pengabaian hak anak-anak atas pendidikan serta rasa aman dan nyaman, (3) memuat informasi yang keliru, (4) mengabaikan kesejahteraan hewan, serta (5) mendorong penyimpangan hobi.
Untuk itu, Remotivi menilai bahwa perlu adanya perbaikan dalam hal (1) perubahan konsep tayangan ke arah yang lebih edukatif, tidak eksploitatif, dan tidak menampilkan kekerasan terhadap hewan, (2) kesadaran sikap bahwa ada penonton anak-anak, (3) perhatian pada kesejahteraan hewan, (4) ketepatan informasi yang membutuhkan observasi mendalam, dan (5) sikap KPI yang kurang memberi ruang pada P3-SPS terkait isu hewan.
Diwakili oleh Irma Herawati, ProFauna menjelaskan bahwa terdapat banyak sekali masalah terkait hewan yang ditampilkan di televisi. Ia mencontohkan penggunaan satwa langka dalam iklan yang mendorong peningkatan penjualan satwa tersebut di pasar gelap. Begitu pula dengan tindak kekerasan yang menyebabkan hewan menjadi stres, sakit, dan takut. Atas banyaknya pengaduan mengenai tayangan televisi yang mengeksploitasi hewan, ProFauna ingin mendorong masyarakat untuk memperlakukan hewan dengan etis.
Beberapa judul tayangan yang disebut bermasalah antara lain: Petualangan Panji, Gadis Petualang, Steve Ewon Sang Pemburu (ketiganya disiarkan Global TV), Mancing Mania, dan Berburu (keduanya disiarkan Trans 7). Irma mengindikasikan adanya unsur rekayasa dalam tayangan seperti Petualangan Panji yang menampilkan ketidaksinkronan antara jenis ular dan habitatnya.
Ketua KPI Dadang Rahmat Hidayat berpendapat, “Kami berharap bukan dihilangkan, bahkan ditambah (tayangan mengenai hewan). Tapi harus dalam lingkup edukasi.” Ia menambahkan, tayangan-tayangan yang disajikan harus mempertimbangkan agar anak-anak mempunyai perspektif yang tepat mengenai hewan-hewan yang ditampilkan.
Roy Thaniago, Koordinator Remotivi, menegaskan, bahwa selain perlindungan terhadap hewan, adalah penting bagi tayangan-tayangan di televisi agar memperhatikan perlindungan terhadap publik. Baginya, sensitivitas publik terhadap segala bentuk kekerasan mesti dipertinggi, bukan diperendah dengan membiarkan kekerasan terhadap hewan dialami sebagai sebuah tontonan atau pengalaman yang wajar.
“Ini adalah tentang bagaimana manusia beradab. Manusia beradab dan bermoral tidak boleh mempermainkan makhluk ciptaan Tuhan,” ujar Wiwiek bersetuju atas pendapat Roy. Tayangan Berburu di Trans 7, misalnya, disebutnya sebagai salah satu contoh yang buruk.
Ezki Suyanto, salah satu Komisioner KPI, mengatakan bahwa etika harus dijunjung tinggi dalam memproduksi suatu acara, walau hal itu tidak disebut dalam regulasi.
Namun disayangkan sekali, acara yang ditujukan sebagai kesempatan berdialog ini, tidak digunakan dengan baik oleh perwakilan stasiun TV yang hadir. Tak ada tanggapan yang substantif yang mereka sampaikan pada dialog ini.
“Kita tunggu update dari lembaga penyiaran,” ujar Ezki menutup acara. (REMOTIVI/Indah Wulandari)
Indah Wulandari
Indah adalah seorang mahasiswi. Ia tergabung dalam beberapa kelompok musik seperti Twilite Youth Orchestra dan St. Theresia School Orchestra. Saat ini Ia dipercaya menjadi redaktur www.remotivi.or.id
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers