Archive for the ‘Budaya’ Category

“ SELEPAS BAPAKKU HILANG” Oleh WANI

Kolom IBRAHIM ISA

Sabtu, 28 Januari 2012

DALAM RANGKA MENYAMBUT BUKU

“ SELEPAS BAPAKKU HILANG” Oleh WANI 

in:NASIONAL-LIST YAHOOGROUPS <nasional-list@yahoogroups.com>, Sunday, 29 January 2012, 1:39

/Menyongsong pembicaraan buku buah tangan *Fitri Nganthi WANI*, putri
penyair yang “hilang” *WIDJI THUKUL* — pada periode menjelang
berakhirnya rezim kepresidenan Jendral Suharto, — di bawah ini
disiarkan (kembali) sebuah tulisan mengenai *MALAM WIDJI THUKUL *yang
diselenggarakan bersama *INDONESIA HOUSE *dan *STICHTING WERTHEIM*, pada
tanggal 25 Oktober, 2003, 8 tahun yang lalu, di gedung INDONESIA HOUSE,
Amsterdam./

/Masih akan dipublikasikan tulisan-tulisan sekitar Widji Thukul dalam
rangka menyambut buku indah mungil berjudul *SELEPAS BAPAKKIU HILANG –
Kumpulan puisi (1999-2007) Fitri Nganthi WANI.* Penerbit Pusat Sejarah
Etika Politik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Maret 2009./

/Silakan baca tulisan di bawah ini:*
*
*AMSTERDAM SUKA PADA WIJI THUKUL, . . . .*
<*Kolom IBRAHIM ISA, Amsterdam, 30 Okt 2003>*/

/
Pada akhir *MALAM WIJI THUKUL* yang sukses di INDONESIA HOUSE,
Amsterdam, malam Minggu, 25 Oktober 2003 y.l., hatiku gembira, puas dan
lega. Di Belanda sini, suatu malam peringatan, atau malam kebudayaan
yang diselenggarakan oleh sesuatu LSM, ornop, perkumpulan kebudayaan
ataupun ilmu-pengetahuan, lebih dari limapuluh orang saja yang hadir itu
sudah sukses. Temanku, seorang penyair, cerita bahwa pernah ia
membacakan sajak pada suatu malam kebudayaan yang hadir hanya tujuh orang.

Tapi pada Malam Wiji Thukul weekend y.l., yang hadir paling tidak 65
orang. Ada yang bilang70 lebih. Gedung “INDONESIA HOUSE”, PENUH SESAK.
Malam budaya ini dipandu oleh penyair Mung Murbandono (Radio Hilversum)
dan Lea Pamungkas (Indonesia House). Pertemuan diawali dengan kata
sambutan *Ketua Stichting Wertheim, dr C.J.G. Holtzappel, mengantar
peluncuran edisi kedua sajak-sajak Widji Thukul berjudul “HET LIED VAN
DE GRASPOLLEN” (NYANIAN AKAR RUMPUT). *Edisi kedua ini sebagaimana
halnya dengan edisi pertama, juga penerbitan *Stichting Wertheim*,
berisi sajak-sajak Widji yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda,
disamping masing-masing aslinya dalam bahasa Indonesia.

Suasana khidmat kemudian menjadi santai dan gembira. Khidmat, karena
pada mula pertemuan semua tidak lupa bahwa tahun ini, *sudah hampir lima
tahun Widji Thukul HILANG.
*
Kemudian menjadi santai dan gembira, karena menyaksikan pemutaran
film(video) Widji Thukul, produksi Tinuk Yampolsky, Dawn Buie dan Gita
Wiya Laksmini. Sebuah film tentang penyair muda yang menuangkan
kepedulian dan keterlibatannya dengan nasib dan perjuangan orang miskin,
dengan perlawanan terhadap kemiskinan dan ketidakadilan. Sebuah film
yang mencengkam, mengesankan yang menyangkut terus dalam kenangan
masing-masing.

Malam itu diliputi suasana gembira, karena sempat menyaksikan (melalui
film Tinuk Yampolsky tsb), betapa gaya Wiji berdeklamasi, matanya
besinar berapi-api melantunkan suara lantangnya menentang ketidak-adilan
dan menuding penguasa. Untuk mensosialisasikan syair-syairnya yang
tajam, kritis dan tidak kenal ampun terhadap ketidak adilan, Widji tak
segan-segan melakukannya lewat “ngamen”. Sikapnya yang bertolak-belakang
dengan penguasa inilah yang menyebabkan akhirnya Widji mengalami nasib
sedih menjadi ORANG HILANG, *kira-kira pada saat yang bersamaan dengan
“hilangnya” beberapa aktivis PRD yang diculik oleh TimMawar dari Kopasus.
*
Tentu orang ingin tahu, siapa saja yang datang pada malam itu? Ada yang
tua-tua, setengah baya dan ada yang muda-muda. Pokoknya mayoritasnya
orang-orang INDONESIA yang cinta kebudayaan Indonesia, yang merindukan
kebenaran serta cinta pada sajak-sajak Wiji Thukul. Ada anak Maluku,
anak Minang, anak Jawa, anak Sunda, anak Manado, anak Batak, ada anak
Bengkulu, salah seorang pimpinan Serikat Nelayan Bengkulu, ada yang dari
Stichting Indonesia Media, ada yang dari organisasi PERSAUDARAAN,
Amsterdam, Utrecht, Zeist,  ada yang dari Stichting SAPULIDI, Stichting
Azie Studies, Onderzoek dan Informatie, Rotterdam, dan banyak lagi.
Dengan sendirinya sejumlah kawan-kawan dari*INDONESIA HOUSE dan dari
STICHTING WERTHEIM, para organisator MALAM WIDJI THUKUL* tsb. Maafkan
kalau ada yang terlupa disebut disini.

Tentu juga hadir sejumlah yang lumayan orang-orang Belanda Bulé. Ada
yang dari Pengurus *Stichting Wertheim*, ada putri-putri Prof Dr
Wertheim, hadir juga Auke van den Berg dari Rozenberg Publishers,
Amsterdam, penerbit Bundel Widji Thukul Edisi Ke-2, 2003. Tampak pula
mantan wakil KITLV di Jakarta, Jaap Erkelens, seorang pengenal dan
pencinta Indonesia yang hampir tigapuluh tahun lamanya bekerja di
Indonesia. Juga datang memenuhi undangan Joop Morriën penulis buku
INDONESIA LOS VAN NEDERLAND (Indonesia Lepas dari Belanda), mencerminkan
politik CPN yang membela Indonesia Merdeka.

Selain menyantap menu Indonesia yang sedap masakan penyair Heri Latief,
yang dinikmati beramai-ramai sampai “ludes”, hadirin juga menikmati
deklamasi sajak-sajak yang dibawakan oleh hadirin. Tak ketinggalan juga
dibacakan sajak Wiji dalam terjemahan bahasa Belanda oleh Agnes. Rupanya
sajak Wiji begitu mencengkamnya sehingga orang-orang Belandapun sampai
berkomentar, begitu indah dan kuatnya sajak Wiji, meskipun itu
dideklamasikan terjemahannya dalam bahasa Belanda.

Herankah kita jika ada yang nyeletuk, kebetulan terdengar di telingaku:

SIAPA BILANG ORANG-ORANG BELANDA HANYA BISA MENGKRITIK INDONESIA SAJA?

Mengapa ada yang berkomentar begitu?, fikirku. Tentu saja, bukankah
belum lama berselang Menkumdang Yusril Ihza Mahendra, Ketua Partai Bulan
Bintang,  bikin “heboh” berkenaan dengan ucapannya: “I hate them!”,
“saya membenci mereka”,“mereka” maksudnya orang-orang Belanda. Pasalnya,
orang-orang Belanda, menurut Yusril kerjanya selalu mengeritik Indonesia
saja, mencari-cari kesalahan tentang HAM di Indonesia, dsb. Soalnya,
wartawan NOS Journal (TV publik Belanda), mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang rada “nyelekit” dan mungkin juga “provokatif”
berkaitan dengan rencana u.u. pengganti KUHP, yang diajukan oleh
kementeriannya Yusril. Nah, dalam rencana u.u. itu a.l. “kumpul kebo”
pria dan wanita (maksudnya tentu yang tidak nikah) akan ditindak secara
hukum, begitu juga hubungan-hubungan antara sesama h o m o , dsb itu
semua diancam dengan hukuman. Nah, sang wartawan Belanda mempertanyakan
apakah rencana u.u. itu tidak mencampuri soal-soal “pribadi” dan dengan
demikian melanggar HAM, tambahan lagi bernada hendak memberlakukan
syariah Islam ke dalam perundang-undangan Indonesia? Sesungguhnya
kritik-kritik semacam itu terhadap rencana u.u. pengganti KUHP produksi
kementeriannya Yusril itu, bukan saja dari Belanda, malah lebih banyak
kritik dari masyarakat Indonesia sendiri, termasuk para Muslimin.

Walhasil, Yusril, teriritasi dengan adanya kritik-kritik tsb, terus naik
pitam, lalu main pukul rata, mengimplikasi bahwa semua orang Belanda itu
“anti-Indonesia”. Maka keluarlah pernyataan menteri “kita” ini,yang
menurut tata-krama diplomatik adalah “non-etis”, alias “kampungan”.

Nah, tahu sendiri orang-orang VVD (Partai Liberal Belanda, yang paling
getol membela individualismenya kapitalisme, dan dikenal sebagai
partainya orang-orang kaya) kontan berreaksi. Nyaring suaranya di s.k.,
TV dan media lainnya. Mereka menuntut agar Kementerian Luarnegeri
Belanda memanggil Dubes Indonesia di Den Haag, untuk “dimintai
keterangannya”. Walhasil, terjadilah yang menurutungkapan rakyat Belanda
“een storm in een glas water”, “taufan di dalam segelas air”. Jadi
ribut-ribut seperti “Thaliban kebakaran jenggot”, tetapi . . . .
Akhirnya “ramé-ramé” itu reda juga, sesudah Menko Polkam SBY
mengeluarkan pernyataan, bahwa soal itu“kan disebabkan oleh
kesalahfahaman saja”.

Tapi dari “taufan di dalam segelas air” dalam hubungan
Indonesia-Belanda, bisa ditarik pelajaran bahwa sang menteri kita,
kecuali cepat naik pitam, juga tidak mengerti sejarah hubungan
Indonesia-Belanda, khususnya hubungan antara rakyat Belanda dan rakyat
Indonesia. Hubungan ini dijalin oleh pelbagai peristiwa solidaritas
antara kedua rakyat.

Siapa tidak kenal MULTATULI dengan a.l. novelnya MAX HAVELAAR, bekas
residen Lebak, Banten pada zaman kolonial Belanda, yang hatinya kemudian
jatuh pada rakyat Indonesia.

Siapa tidak kenal nama Piet van Staveren yang tidak takut dipenjara oleh
pemerintahnya, karena ia menolak memerangi rakyat Indonesia selama
perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Siapa pula tidak kenal nama Haji Poncke Princen, yang jadi warganegara
Indonesia, “mengkhianati” pemerintahnya sendiri yang memerangi rakyat
Indonesia, “nyeberang” ke pasukan TNI. Dan kemudian menceburkan dirinya
dalam kegiatan perjuangan demi HAM di Indonesia sampai akhir hidupnya.

Demikianlah MALAM WIJI THUKUL mengingatkan kita lagi, bahwa antara
rakyat Belanda dan rakyat Indonesia, sudah lama terjalin hubungan
persahabatan dan solidaritas, tidak peduli pemerintah apa yang berkuasa
di kedua negeri.

Aku akhiri tulisan ini disini, karena hendak siap-siapbesok berangkat ke
Essen, Jerman, untuk ikut berpatisipasi dalam TEMU EROPA-II,
(31 Okt-2 Nov, 2003). /

Kesendirian dan Kesepian yang Merisaukan: Kisah Manusiawi si Wanita Besi

Kesendirian dan Kesepian yang Merisaukan: Kisah Manusiawi si Wanita Besi

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com ,  Sunday, 29 January 2012, 10:58

 
“They put guns before butter, while we put just about everything before guns…,” demikian kata-kata Margareth Tatcher (MT) yang terkenal yang membuat Rusia menjulukinya “Iron Lady”. Menurut Kompas edisi Minggu, 29 Januari 2012, ucapan pedas MT itu memang ditujukan kepada para pemimpin Rusia. Dan ketika saya menonton film The Iron Lady—yang, seakan-akan, hanya Meryl Streep (MS) yang tampil di film itu—saya benar-benar merasakan kedahsyatan kiprah si Wanita Besi yang pernah memimpin Inggris selama 11 tahun (1979-1990).
 
Bukan ketika MS memerankan MT saat memasuki parlemen atau sedang berdebat atau sedang memimpin para pria dalam sosoknya yang dingin dan keras, tetapi saya terpesona dengan akting MS ketika memerankan MT yang sudah berusia 86 tahun. Diberitakan bahwa saat memasuki usia senja, MT mengalami kesepian akut sampai-sampai MT berhalusinasi tentang kehadiran suaminya, Denis Thatcher, yang sudah wafat. MT juga digambarkan sebagai nenek-nenek yang terserang penyakit dimensia (kepikunan yang parah).
 
Di film, pikiran MT yang sudah tua itu kadang melayang-layang dan mengenang masa mudanya ketika MT meyakinkan calon suaminya—ketika ingin berkarier di bidang politik—bahwa dia bersedia menikah dengan Denis asal Denis mengizinkannya untuk tak sekadar menjadi ibu rumah tangga. MT ingin berkarier juga di luar rumah. Denis, calon suaminya waktu itu, memberikan dukungan. Dan film ini dengan bagus melukiskan tentang dilema seorang ibu rumah tangga yang ingin bekerja di luar rumah. Sebuah film yang mengajak para penontonnya berpikir.
 
Saya memang mengagumi MS (Merryl Streep) sejak lama. Peran-perannya di hampir semua film yang berhasil saya tonton begitu sempurna. Saya bertambah kagum ketika menonton film The Iron Lady ini. Menurut majalah Tempo edisi minggu lalu, MS sesungguhnya membenci sosok MT. Dalam pidato tanpa teksnya ketika menerima penghargaan dari Golden Globe sebagai pemeran artis terbaik wanita, dia menyinggung juga soal itu. Ternyata sikap profesionalismenya membuat dia mampu menyingkirkan ketidaksukaan itu dan menggantinya dengan berusaha tampil total menghayati kehidupan MT.
 
Sulit saya melukiskan bagaimana kedahsyatan MS menjadi MT di usia tua yang terserang kepikunan akut. Matanya yang sesekali menerawang kosong. Lantas tingkah lakunya yang—dalam bahasa Jawa disebut—“nunak-nunuk”. Dan, itu tadi, kesepian dan kesendirian yang menerkam dam merisaukan siapa saja yang akan menjalani hari tuanya. Dapatkah Anda membayangkan, seraya merasakan, bagaimana nanti Anda menjadi tua dan hidup dalam kesepian dan kesendirian? Mungkin, pada saat ini, diri kita pun sudah merasakan hal itu. Kita memang hidup bersama orang lain—istri atau suami tercinta kita dan juga bersama anak-anak, tetangga, rekan kerja, dan orang lain baik yang kita kenal maupun tidak. Namun, tak selamanya diri kita dapat bersama mereka bukan? Apa yang kita lakukan ketika kita sendirian dan kesepian?
 
Film The Iron Lady mengingatkan saya betapa kita akan menua dan mengalamai kehidupan yang sepi—sebelum akhirnya kita mati. Sekali lagi, apa yang harus kita siapkan untuk menghadapi hidup sebelum mati, hidup yang seluruh tubuh kita sudah tak sebugar ketika kita masih muda? Apa yang akan kita lakukan pada saat kita tua dan hidup sendirian? Apakah yang akan kita lakukan untuk membunuh sepi? Pantas sekali PM Inggris saat ini, David Cameron, tak setuju dengan penggambaran film ini terkait dengan MT yang sudah sangat tua. Kebesaran seorang MT seakan-akan musnah dengan penggambaran MT yang tua dan pikun.
 
Tetapi, bukankah kita nanti akan kehilangan segala-galanya ketika kita memasuki hari tua dan sudah mau mati? Kita hanya punya amalan baik dan segala harta yang kita miliki—seberlimpah apa pun—tak akan menemani kita dan, bahkan, tak akan bisa menolong kita. Hanya amalan baik—sekali lagi, amal saleh—yang akan membantu kita di usia tua dan juga setelah kita meninggalkan dunia ini: ”…Makaberlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan…” (QS Al-Baqarah [2]: 148).[]

 

Wartawan Amplop

Beranda Radio Video Sajian Dosir Interaktif

Simpang Amsterdam – Wartawan Amplop: Ada Dana

Khususnya

On air: 28 Januari 2012 14:15 – 31 Januari 2012 14:15 (Foto: rnw)

Jaman sekarang, budaya amplop di kalangan wartawan sudah bukan rahasia lagi. Bentuknya pun sudah bermacam-macam, tidak lagi hanya sekedar “amplop” berisi uang terima kasih.Tapi sebagian besar dari para wartawan ini ngotot bahwa mereka tetap independen dalam menurunkan berita.

Herlambang Perdana Wiratrama yang sedang studi S3 di Fakultas Hukum Leiden tentang Kebebasan Pers di Indonesia menyebut antara lain: undangan makan-makan atau pesta, dibiayai plesiran, disekolahkan oleh misalnya anggota parlemen atau dianggarkan khusus via seksi humas pemda.

Menurut Herlambang, kesulitannya memang di kalangan para wartawan yang merasa kesejahteraannya masih kurang.

Seperti diakui Priambodo – direktur LPDS (Lembaga Pendidikan Pers Dr Soetomo) – kecenderungannya memang wartawan anti amplop semakin banyak, terutama mereka yang bekerja pada media besar dengan kesejahteraan lebih terjamin. Priambodo menambahkan, tantangannya justru bagaimana menolak amplop yang memang sudah disediakan khusus oleh nara sumber. Karena resikonya dua, tidak diundang lagi oleh sang nara sumber, atau dikucilkan oleh kalangan wartawan yang tidak keberatan menerima ampop.

Selain itu, di Indonesia semakin banyak kalangan industri lain yang mendirikan stasiun televisi, radio atau media cetak. Mereka ini sering “membajak” wartawan organisasi media. Priambodo menyebutnya wartawan partisan. Karena sering kali jika yang punya perusahaan adalah pengusaha atau politisi, maka jikapun meliput, medianya paling memberitakan fakta, dan tidak mengungkap.

Jadi bagaimana memberantas budaya amplop di kalangan wartawan ini? Simak diskusi Simpang Amsterdam yang kali ini dipandu Fediya Andina.

 

Sang Hyang Pematut

29 Januari 2012 | BP
Sang Hyang Pematut
KEMANUSIAAN manusia benar-benar telah hampir copot dari cantolannya di hati dan otaknya. Padahal malam Tahun Baru 2012 nyaris semua orang merayakannya dengan sukacita disertai pesta dan minum berjenis-jenis alkohol hingga pagi suntuk. Berbagai ucapan dan harapan yang manis-manis dan muluk-muluk saling dilontarkan. Kembang api menerangi langit dan gelegar mercon tak henti-henti, seakan dunia saat itu adalah milik spesies manusia. Mereka tidak peduli atmosfer bumi diselaputi asap tebal dan aroma mesiu, juga tidak ambil pusing penghuni dunia lain nonmanusia mengalami stres berat akibat melihat dan mendengar benderang tak lazim dan dentum mengagetkan.
Dari sekian banyak ucapan yang kuterima lewat SMS di HP-ku sebelum dan sesudah tahun baru, satu kalimat yang membuatku tertegun. Selamat Tahun Baru 2012, semoga di Tahun Naga Air ini dunia khususnya Indonesia menjadi tempat yang layak dihuni sepanjang hayat. Aku melihatnya kembali saat menyaksikan di TV anak-anak sekolah dan nenek-nenek meniti sisa jembatan yang rusak parah akibat banjir bandang menggerus tepian Sungai Ceberang di kawasan Lebak, Banten. Berikutnya, SMS itu nyaris kuhapus saat di layar kaca kulihat mayat-mayat bergelimpangan di Tugu Tani, Jakarta akibat ulah wanita mabuk ekstasi menabrak mereka dengan mobil pinjaman. Aku benar-benar menghapus SMS itu setelah menonton TV dan membaca koran ikhwal kerusuhan di Lampung Selatan, Senin lalu, tutur Rubag.
Hatiku juga sangat miris melihat murid-murid sekolah, di antaranya seusia anakku yang duduk di kelas satu SD bergelayut di kawat, sementara punggungnya dibebani tas, sedangkan kaki menginjak kayu tipis sepanjang ratusan meter. Juga ada nenek-nenek yang bicara saja bibirnya bebuyutan atau gemetar, juga bergelantungan dengan cara yang sama meski lututnya sudah goyah. Lucunya, para pemimpin kita dengan mulut berbusa dan dada membusung bicara soal pertumbuhan ekonomi menggembirakan dan grade investasi naik. Padahal lokasi kondisi memprihatinkan yang digambarkan seperti suasana dalam film Indiana Jones, tidak begitu jauh dari ibukota negara. Di Banten yang letaknya dekat dengan Jakarta, masih ada desa terisolir yang rakyatnya seperti berangkat ke medan perang penuh bahaya maut untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sedangkan di pusat pemerintahan para pemimpin fasih bicara soal uang milyaran dan trilyunan, baik untuk anggaran maupun dikorupsi, komentar Smarajana.
Memalukan! Tapi malu sebagai rasa yang mengawali peradaban manusia, sudah tidak ada lagi nyantol di sanubari kebanyakan orang, khususnya para pemimpin dewasa ini. Hilangnya rasa malu, selanjutnya empati, simpati, tolerasi dan solidaritas justru berawal dari para elit, yang selalu menggembar-gemborkan hidup dan berpikir positif. Karena terlalu positif membuat perasaan mereka jadi tumpul secara spiritual, jadi hedonis secara intelektual, jadi narsis secara emosional dan jadi takut mati namun tidak peduli atas kematian orang lain. Mereka tidak malu kendati berita tentang jembatan hancur itu mendunia dan diberi julukan ” Jembatan Indiana Jones” Sama tidak malunya ketika lusinan media asing mewartakan negeri ini punya simbol keadilan berupa sandal jepit. Bagaimana tebal mukanya orang-orang yang mengaku wakil rakyat yang menggagas dan merealisasikan ruang rapat berbiaya Rp 20 milyar, bila melihat murid-murid seperti anak-anak monyet bergelayut di ranting dan dahan saat menuju sekolah, tambah Subaya.
Ing ngarso sung tulodo, begitu kearifan Jawa yang dipopulerkan saat Penataran P4 berlangsung di Era Orde Baru. Perilaku pemimpin ditiru dan dijadikan model oleh rakyat. Segala rasa yang dulu kokoh bersemayam di hati menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk berbudaya, kini kian pupus. Kusaksikan tampang dan mimik wanita gembrot yang menabrak belasan orang dengan mobil itu di TV. Cengar-cengir sambil sibuk SMS-an berdiri di samping mobil pinjamannya yang ringsek bagian depannya tanpa peduli belasan tubuh bergelimpangan bersimbah darah akibat perbuatannya. Yang luka menjerit-jerit kesakitan dan yang luput meraung histeris, namun penabrak itu seperti tidak hirau dengan pemandangan yang mengiris hati tersebut, bahkan sambil mempermainkan HP mondar-mandir di samping mobilnya. Tanpa rasa bersalah, bahkan wajahnya yang tembem tampak memuakkan ! Sebagian dari mereka yang langsung tewas konon adalah anak-anak yang baru keluar dari latihan futsal dan mereka berjalan di trotoar, ujar Manik.
Apa bedanya dengan pejabat kita ? Mereka juga tidak hirau dengan kemiskinan rakyat yang tampak telanjang ditayangkan TV dengan memamerkan gaya hidup yang hedonis dan narsis. Menjadi kaya dan hidup mewah memang tidak dilarang Undang-Undang di negeri ini, tapi itu akan kelihatan normal dan wajar bila masalah korupsi, suap dan penyelewengan kekuasaan tidak meraja-lela. Kita bisa melihat dalam pembagian zakat yang cuma berisi Rp 20 ribu ribuan orang berdesakan sampai puluhan wanita meninggal karena terinjak dan terhimpit, sementara uang negara miliaran digerogoti para tikus berdasi. Aku masih ingat pendapat almarhum Prof. Dr. Satjipto Rahardjo yang mengatakan bahwa Indonesia adalah laboratorium yang paling baik di dunia untuk penilitian hukum dan masalah sosial. Alasannya, di sini berbagai macam kasus dari anomali serta penyelewengan hukum hingga pelanggaran HAM berlangsung selama puluhan tahun. Akibatnya, muncul istilah Petrus, Markus atau makelar kasus dan Mafia Peradilan. Sayang beliau keburu wafat, sebelum kasus koin untu Prita dan keadilan sandal jepit muncul, papar Santika.
Sekali lagi jangan menertawakan orang yang jatuh, bersyukurlah kamu tidak atau belum jatuh ! Terlepas dari dugaan bahwa wanita penabrak itu menggunakan narkoba dan minum alkohol sebelum nabrak, aku anggap kecelakaan tersebut sebagai musibah. Apalagi di zaman sekarang, peredaran narkotika dan derivatnya beredar luas dan orang-orang yang suka dugem kalau tidak kuat mental akan terjerat penggunaan narkoba. Jadi, aku menganggapnya sebagai musibah yang bisa menimpa setiap orang kalau tidak hati-hati. Mirip seperti kasus pembakaran 48 unit rumah, pengerusakan 21 unit rumah dan motor serta penggilingan padi di kecamatan Sidomulyo, kabupaten Lampung Selatan, yang oleh para tokoh yang menjadi korban dianggap musibah. Aku setuju dengan sikap dan pernyataan tokoh asal Bali di sana, yang mengimbau para warganya agar tidak berpikir untuk balas dendam atas tragedi yang terjadi Senin lalu itu. Itu mencerminkan karakter orang Bali asli, yang tidak bereaksi langsung atas apa pun menimpanya, namun menyerahkan pada Ida Sang Hyang Pematut alias Tuhan, kata Kasna.
Setuju ! Kendati orang yang berpikir seperti kamu jumlahnya sangat sedikit sekarang, namun aku sependapat denganmu. Balas dendam membuat urusan yang sebenarnya bisa diselesaikan secara cepat dan bermartabat, akan berlarut-larut bahkan turun temurun. Serahkan saja pada Sang Hyang Pematut, yang kurasa akan melaksanakan hukum yang adil dan benar. Seperti dulu kita dibom dua kali oleh para teroris, orang Bali menyikapinya dengan upacara, kendati hati sempat panas saat peristiwa terjadi. Untuk bom pertama tahun 2002 kita lakukan upacara Karipubhaya di Legian Kuta dan bom kedua tahun 2005 kita lakukan Mapekelem di laut Jimbaran. Hasilnya semua jaringan terorisme dunia terungkapnya dari Bali. Tidak saja Amrozy dan Imam Samudra, juga Dr. Azahari serta Noordin M Top berhasil dibinasakan. Jangan-jangan jaringan Osama bin Laden bisa dilumpuhkan berkat doa kita dari Bali. Kekuatan doa memang kedengaran remeh, tapi kalau kita yakin kekuasaan sang Hyang Widi, maka hasilnya mengagumkan. Memang tidak seperti makan cabe, yang pedasnya muncul seketika, namun hukum Sang Hyang Pematut terjadi slowly but sure, sambung Sudirman seperti bercanda. (aridus)

Seks sebagai Isu Kebudayaan

Seks sebagai Isu Kebudayaan

Oleh Yusran Darmawan
timurangin@yahoo.com

SEBUT saja namanya Max (28). Ia adalah warga asli Biak, Papua. Saya mengenalnya saat sama-sama menjadi mahasiswa di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Tubuhnya tegap, tidak terlalu tinggi, dan berkulit hitam legam. Suatu hari, ia mengajak saya untuk menemaninya jalan-jalan ke beberapa lokalisasi di seputaran Jalan Nusantara Makassar. Sejak zaman Belanda, barisan kafe dan karaoke bertebaran di tempat ini. Rata-rata berisikan cewek seksi dengan dandanan menggoda.


Max tak pernah lama memilih. Ia selalu cepat menentukan pilihan. Seperti apa wanita yang disukainya? “Saya sih sembarang saja. Asal paha putih, pasti saya terangsang,” katanya dengan cengengesan. Max selalu terus terang pada saya sebagai teman akrabnya. Menurutnya, saat bercinta dengan cewek putih, ia selalu merasa puas. Ia seolah menggapai kenikmatan yang lama diimpikannya. “Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, sejak dulu saya selalu nafsu kalau lihat cewek putih,” katanya. Lho, apa kaitannya antara warna kulit dan kepuasan seksual? Max tak pernah bisa menjawabnya dengan tuntas. Dan saya juga tak pernah ngotot meminta jawaban.


Malam ini saya kembali menemaninya. Mulanya saya pikir ia pasti mulai asing dengan sejumlah kafe dan karaoke di Makassar, yang hampir setiap bulan selalu berdiri. Ternyata, saat kami singgah di beberapa kafe, ia masih saja populer seperti dulu. Malah, beberapa cewek-cewek seksi sempat histeris melihatnya.


”Kaka…… kenapa baru datang?” teriak seorang gadis dengan pakaian warna merah yang hanya menutupi bagian tertentu di tubuhnya. Kulit gadis itu putih bersih. Saya menahan napas. ”Minta maaf ade. Kaka sibuk,” kata Max. Saat gadis itu mendekat, Max langsung memeluknya seolah lama tak bertemu. Mereka berciuman di depan saya. Rasanya ingin berpaling, tapi pemandangan ini terlalu menggiurkan. Pemandangannya kontras. Hitam-Putih. Dan Max sangat menikmatinya. Ia menaikkan alis saat mengerling ke arah saya.


Saat itu, saya juga teringat dengan seorang teman bernama La Bula, yang berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Seperti halnya Max, ia mudah tergila-gila dengan cewek berkulit putih. Wajah urusan belakangan. Ia tidak peduli dengan soal cantik atau jelek. ”Asal yang namanya paha putih, saya pasti mau,” katanya. Posisinya sebagai manager penjualan di satu perusahaan rokok, memberinya kesempatan untuk berkeliling ke banyak daerah di Indonesia timur.


Yang bikin saya heran, di berbagai tempat yang didatanginya, ia tak hanya mencari cewek putih sebagai pasangan bercinta. Ia juga punya syarat lain yakni cewek itu haruslah warga setempat. Lho, apa kaitannya dengan rasa? Apakah ada perbedaan kenikmatan antara cewek setempat dan cewek dari luar? ”Saya juga tidak tahu apa bedanya. Tapi, saya merasa kalau bercinta sama cewek lokal pasti lain rasanya,” katanya.


Bagi saya, seks bukan sekedar perkara hubungan biologis. Seks adalah kebudayaan yang dikonstruksi secara kolektif oleh sebuah masyarakat, ditransmisikan secara turun-temurun dan menjadi pedoman yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam satu masyarakat. Seks adalah kebudayaan yang di dalamnya juga terdapat medan kontestasi kepentingan dan negosiasi makna yang tak habis-habisnya. Dalam hal seks, konsep nikmat-tidak nikmat, konsep cantik-tidak cantik, dan lain-lain adalah konsep yang dibentuk oleh seseorang dan terus dimapankan dalam kebudayaan.


Belajar pada Max dan La Bula, seks dan erotisme bisa berbentuk apa saja yang mengarah pada upaya menimbulkan sensasi seksual. Karena kebudayaan setiap orang berbeda-beda, maka nilai-nilai yang membentuk selera seksual setiap orang juga berbeda. Seks menjadi relatif. Paha putih bagi Max dan La Bula bisa sangat merangsang. Paha putih bisa sangat erotis dan menimbulkan sensasi seksual. Namun tidak bagi sebagian yang lain. Itulah dinamika pemaknaan terhadap paha putih.


Sahabat saya Herry Yogaswara, seorang peneliti LIPI, pernah menuturkan, hampir setiap tahun terjadi migrasi para pekerja seks komersial (PSK) berkulit putih menuju kawasan Indonesia timur. Masih kata Yogaswara, pada saat gadis-gadis itu masih muda, mereka akan menyerbu Jakarta. Saat berusia mulai lanjut, mereka lalu menyerbu Indonesia timur sebab selera kebanyakan warga di kawasan ini adalah gadis-gadis yang berkulit putih. Tidak peduli seperti apa cantiknya, dan tidak peduli setua apa usianya. Maka jangan heran pula ketika muncul fakta-fakta tentang tingginya penderita AIDS di kawasan ini. Mungkin saja karena banyak pria yang tidak peduli bersih atau tidak bersih, sehat atau tidak sehat, sebab yang penting adalah paha putih.


Tiba-tiba saja saya khawatir kalau-kalau Max akan tertular penyakit ganas itu. Saya ingin mengingatkannya. Tapi, apa daya, ia sudah menghilang dalam satu kamar di lantai dua tempat hiburan yang saya datangi. Tinggallah saya sendiri, duduk di satu meja yang di atasnya masih tersisa sebotol bir dan sebungkus rokok kretek.(*)


Makassar, 18 Januari 2010
(tulisan ini disiapkan untuk kompasiana.com)

Diposting Yusran Darmawan pada Monday, January 18, 2010

 

Patung ‘Bahenol’ di Pekanbaru Terus Menjadi Polemik

Patung ‘Bahenol’ di Pekanbaru Terus Menjadi Polemik

Foto: Chaidir Anwar/d*tikcom

Pekanbaru - Persoalan patung yang menari di jantung kota Pekanbaru masih saja menjadi perhatian publik. Selain soal nama patung yang menjadi polemik, bahenolnya pantat patung juga menjadi sorotan.

Ingin melihat pantat patung yang bahenol dan terkesan erotis? Berkunjunglah ke Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Patung ini letaknya di pertigaan Jl Sudirman dengan Jl Gajah Mada yang lokasinya perisis di depan Kantor Gubernur Riau.

Patung tersebut baru saja usai dibangun sebulan ini dengan menampilkan dua sosok pria dan wanita yang tengah menari. Sang pria mengenakan peci dengan posisi di atas. Sedangkan patung wanita posisi di bawah dengan tubuh yang melentik. Melintiknya badan batung ini, membuat posisi pantatnya menjadi bahenol. Pantat patung yang terlihat montok itu, mengarah ke Kantor Gubernur Riau.

Urusan pantat bahenol ini dianggap patung yang erotis. Belahan pantat patung yang terlihat dengan jelas bagi masyarakat yang melintas di sana, menimbulkan protes dari berbagai pihak. Itulah gambaran masyarakat Pekanbaru yang saat ini meributkan urusan pantat montok sang patung penari itu.

“Patung itu tidak mencerminkan budaya Melayu, malah terkesan patung wanita itu sangat erotis. Coba lihat sendiri bagaimana patung wanita dibentuk sedemikian rupa hingga pantatnya bahenol yang membelakangi warga yang melintas di jalan tersebut,” kata tokoh Budayawan Riau, Eddy Ahkmad RM kepada detikcom, Kamis (26/1/2012).

Menurut Eddy RM, sebaiknya keberadan patung dengan patat yang melentik itu ditinjau ulang. Paling tidak, harus ada renovasi kembali soal pantat patung yang dianggap aduhai itu.

“Kalau kita minta sebaiknya dirobohkan saja, patung itu sama dengan berhala. Tapi kalau tidak dirobohkan, paling tidak direnovasi kembali agar patung wanitanya tidak terlihat erotis,” tegas Eddy RM.

Walau begitu tidak semua masyarakat sepakat jika patung ini di robohkan. Sebagian masyarakat menilai patung tersebut malah menambah cantik suasana kota Pekanbaru.

“Biar pantatnya bahenol, tetap saja patung itu menambah keindahan kota. Masak urusan pantat bahenol saja diributin. Kayak nggak ada kerjaan yang lain saja,” ujar Rosmaini, seorang warga di Pekanbaru.

Urusan pantat patung ini memang menarik. Selain soal bahenolnya, warga lain mengkritik arah pantat itu ke Kantor Gubernur Riau. “Sudahlah pantat patung bahenol, masak mengarah ke Kantor Gubernur. Apa tidak tidak ada cara lain agar letak patung bisa sedikit sopan,” kata Kurniadi warga lainnya dengan senyam-senyum.

Informasi yang dihimpun detikcom, patung penari ini merupakan karya seni dari I Nyoman Nuarta, ahli seni patung di Indonesia. Dan kabarnya, pembuatan patung yang tengah asyik menari ini menghabiskan dana Rp 4 miliar.

Keajaiban Menulis di Era Internet: The World’s Greatest Idea (3)


Keajaiban Menulis di Era Internet: The World’s Greatest Idea (3)

Oleh Hernowo

in: dikbud@yahoogroups.com , Saturday, 28 January 2012, 6:36

“Betapa menakjubkan proses mental yang mengubah pikiran di kepala kita menjadi huruf-huruf di halaman kertas atau layar,” tulis John Farndon masih di halaman yang mengulas tentang gagasan terbaik kedua yang berhasil mengubah dunia:menulis. Ya, saya sendiri saat ini terus merenungkan ketakjubkan saya terkait dengan jari-jari di tangan yang sedang mengetikkan huruf-huruf di papan ketik komputer untuk menampung dan mengubah pikiran saya. Huruf-huruf itu terangkai menjadi kata, kata tersusun menjadi kalimat, dan—ketika saya membaca satu demi satu kalimat-kalimat itu—ajaib, saya menemukan makna.
 
Terus terang, ketakjubkan saya tidak berhenti di situ. Saya terus merasa takjub karena pikiran saya kadang dapat dialirkan secara lancar dan kadang tidak alias mengalami kemacetan. Mengapa saya dapat mengalami kemacetan dalam menulis? Apakah pikiran saya yang berhenti berpikir (tidak ada koneksi sel-sel saraf di kepala saya) dan gagal menciptakan sebuah makna atau itu dikarenakan jari-jari tangan saya tidak dapat memahami apa yang sedang saya pikirkan dan pada gilirannya tak dapat mengalirkan pikiran saya? Sekali lagi, sebagaimana kata Farndon, ”betapa menakjubkan proses mental” ini?
 
Lantas, tiba-tiba saja sebuah tulisan terbentuk atau alur atau iramanya kemudian dapat saya rasakan (dengarkan). Setelah huruf-huruf itu membentuk kata dan kata membantuk kalimat, akhirnya kalimat membentuk paragraf—kelompok-kelompok kecil gagasan. Ya, saya berhasil menciptakan gagasan—tentu bukan gagasan besar; ini hanya gagasan yang merupakan pengelompokan pikiran yang tiba-tiba harus saya alirkan. Jadi, gagasan itu baru akan jelas terlihat (terbaca) apabila dirumuskan secara tertulis? Menurut saya ya! Bagaimana dengan gagasan yang tiba-tiba muncul dan tidak terumuskan secara tertulis? Gagasan itu belum jelas sosoknya!
 
 
Memang, seseorang bisa saja menggagas atau melahirkan ide tertentu tanpa bantuan menulis. Orang tersebut dapat menyampaikan secara lisan atau langsung menciptakan sebuah karya—patung, lukisan, tarian, atau yang lain. Namun, bukankah gagasan yang disampaikan secara lisan akan kehilangan bentuk atau sosoknya yang jelas? Bukankah kita, pada saat ini, sedang tidak berada di era prasejarah? Kita sudah memasuki era sejarah dan bahkan sejarah itu memasukkan internet di dalamnya. Apakah kita tetap akan mengandalkan kelisanan? Betapa akan banyaknya gagasan kita yang hilang (terdistorsi) apabila tidak kita tuliskan—kecuali, sebagaimana saya katakan di atas—gagasan itu langsung diwujudkan dalam bentuk sebuah karya.
 
Sekali lagi, ”betapa menakjubkannya proses mental” ini? Saya menjadi mudah menemukan ide atau gagasan—meskipun bukan ide yang dahsyat—berkat menulis dan memahami ”proses mental” yang menyertai kegiatan menulis. ”Tanpa adanya tulisan,” tulis Farndon di halaman 365, ”gudang besar pemikiran yang diwariskan kepada kita melalui sejarah bisa kehilangan banyak bagian.” Dalam konteks kata-kata Farndon ini, saya ingin mengatakan bahwa gudang besar pemikiran itu adalah pelbagai gagasan. Memang, gagasan berasal dari sebuah pemikiran yang berkualitas. Namun, kualitas pemikiran yang akhirnya menjadi gagasan itu hanya kan terbangun dengan jelas apabila dapat dirumuskan secara tertulis.
 
Saya ingin berhenti sejenak di sini. Saya telah membaca banyak tulisan dari para tokoh yang hidup berabad-abad lalu. Tokoh-tokoh tersebut sebagian sudah wafat. Ada Dr. Sir Muhammad Iqbal misalnya. Ada Rene Descartes dan bahkan ada para tokoh lain yang hidup jauh sebelum Iqbal maupun Descartes. Saya merasakan, para tokoh itu—lewat tulisannya—sedang mewariskan gagasan kepada diri saya. Pikiran saya yang bersentuhan dengan pikiran mereka, pada ujungnya, akan memercikkan gagasan baru yang lain daripada yang lain. Ini tentu luar biasa. Dan pertemuan pikiran saya dan pikiran para tokoh itu berlangsung sangat efektif karena lewat membaca tulisan.
 
Kenapa sangat efektif? Sekali lagi karena tulisan! ”Yang jelas, tulisan (gagasan—HH) tidak muncul tiba-tiba,” tulis Farndon di halaman 367. ”Tulisan (gagasan—HH) berkembang secara bertahap dalam jangka waktu yang sangat lama.” Saya beruntung dapat mencicipi era internet. Lewat era yang juga menakjubkan ini, setiap hari—kapan pun dan di mana pun—saya dapat terus bersentuhan dengan pikiran (gagasan) orang lain lewat tulisan-tulisan digital yang saya baca. Dunia memang cepat sekali berubah gara-gara internet. Namun, dunia teks menjadi semarak gara-gara perubahan sangat cepat yang dibawa oleh internet. Alhamdulillah.[]

Mendalang dengan Gerakan Kungfu

Widayat Djiang
Mendalang dengan Gerakan Kungfu
| Jodhi Yudono | Kamis, 26 Januari 2012 | 23:53 WIB
KOMPAS/IWAN SANTOSA
Widayat Djiang

Iwan Santosa

Kesenian wayang purwa atau wayang kulit menjadi napas hidup yang turut dilestarikan warga peranakan Tionghoa. Wayang purwa yang memboyong cerita Mahabarata dan Ramayana menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan diterima menjadi tontonan pemersatu warga saat dipentaskan di kelenteng-kelenteng Tridharma di kota-kota kecil di Pulau Jawa.

Widayat Djiang alias Tjioe Bian Djiang adalah salah satu dalang wayang kulit peranakan Tionghoa yang bertahan hingga kini. Dia menjadi jembatan budaya antara komunitas Jawa, peranakan Tionghoa, dan Tionghoa. Dia mampu mendalang dalam bahasa Jawa krama, dialek Hokkian, dan diselingi kata-kata dalam bahasa Mandarin.

Widayat Djiang lahir dari pasangan Tionghoa totok (Sin Keh) Tjioe Kok Hin dan perempuan ningrat RA Djuariah dari Paku Alam, Yogyakarta. Oleh karena itulah, sejak kecil Djiang akrab dengan budaya Tionghoa dan Jawa.

Keluarga mengajarkannya untuk dekat pada dua budaya tersebut. Sang ibu pun diberi nama Tionghoa, Ong Kim Hwa (Kim Hwa berarti bunga kencana). Ayahnya yang juga penggemar pewayangan mendorong Djiang dekat dengan pelaku seni sastra Jawa. Djiang termasuk rutin menonton pertunjukan wayang kulit, terutama bersama sang bunda.

Beranjak dewasa, sejumlah penulis dalam terbitan berbahasa Jawa seperti Panjebar Semangat (1950 hingga 1960-an) menjadi kawan-kawan Djiang. Dia juga rajin tirakat dan menghayati ajaran kebatinan Kejawen. Kebiasaan menonton wayang sejak kecil membuat hidup Djiang tak lepas dari pewayangan.

”Sesuai tradisi di desa-desa ketika itu, setiap ada yang melahirkan pun selalu menggelar tontonan wayang. Suatu hari keluarga ’menyerahkan’ saya kepada dalang Soemomardjan, pria Belanda asal Leiden yang beristrikan perempuan Jawa,” cerita Djiang, yang tinggal di Desa Kecubung, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk.

Sejak itulah, tahun 1950-an, Djiang berguru kepada dalang Soemomardjan. Tak heran apabila dalang Soemomardjan kemudian mewariskan sejumlah koleksi wayang purwa miliknya kepada Djiang. Koleksi wayang itu berasal dari abad ke-19 dengan ciri khusus ”pelemahan” atau alas tempat kaki tokoh-tokoh wayangnya menginjak bumi dengan penggunaan tiga warna, yakni merah, putih, dan biru. Ketiga warna itu melambangkan bendera Kerajaan Belanda.

”Lihat ini ada rood (merah), wit (putih), en blauw (dan biru). Jenis wayang seperti ini tidak lagi dibuat sesudah Indonesia merdeka,” ujar Djiang seraya mempertontonkan koleksi langka yang pernah ditawar sebuah museum di Leiden ini. ”Tak akan saya lepas, ini sesuatu yang sangat berharga,” tegasnya.

Berbeda dengan dalang asal Jawa pada umumnya, berbekal ilmu Kun Thauw atau bela diri Tiongkok dari ayahnya, dalam mendalang Djiang mengombinasikan kemampuan mengolah gerak wayang dengan putaran tangan ala ”master kungfunya”. ”Cara menggerakkan anak wayang seperti ini bisa dikatakan sebagai keunikan dari dalang peranakan Tionghoa-Jawa,” ujarnya.

Himpunan Budaya Surakarta

Widayat Djiang menikah dengan Ida Ratnawati ketika dia masih bersekolah di SMP Nganjuk (kini SMPN I Nganjuk). Lulus dari SMP Nganjuk, keluarga dan rekan-rekannya penghayat budaya Jawa mendorong Djiang untuk bergabung dengan Himpunan Budaya Surakarta (HBS).

HBS adalah almamater yang melahirkan banyak seniman, seperti pelukis Jeihan dan Dullah serta dalang Ki Anom Suroto. ”Dia (Ki Anom Suroto) itu sahabat saya,” ujar Djiang, yang juga akrab dengan dalang Ki Manteb Sudarsono.

Setelah menempuh pendidikan di HBS, Djiang mulai mendapat tawaran mendalang. Ia bercerita, pertama kali pesanan mendalang ke Jakarta datang semasa Presiden Soekarno memutuskan Republik Indonesia keluar dari PBB dan semangat Ganefo (Games of the New Emerging Forces), selepas Asian Games (1962), di Jakarta menguat.

Lazimnya seorang dalang yang juga penganut Kejawen, Djiang menyiapkan sendiri sesaji dan kerap berpuasa 40 hari agar pementasan dapat berlangsung lancar. Namun, kehidupannya sebagai dalang dengan latar belakang separuh Tionghoa dan Jawa membuat Djiang harus menempuh jalan berliku.

Ketika peristiwa G30S meletus, Djiang pun ikut ”tiarap”. Dia kesulitan mendapat izin mendalang dan ada berbagai ketentuan lain yang dipersyaratkan. Pada 1965-2004, atau selama sekitar 39 tahun, Djiang tak pernah mengadakan pementasan layaknya seorang dalang.

”Saya hanya bisa mendalang pada acara-acara sederhana di kampung- kampung di sekitar Desa Kecubung,” katanya. Baru selepas gerakan Reformasi, tepatnya tahun 2010, dia mendapatkan semacam surat resmi bagi dalang.

Jasa pengiriman

Demi menyambung hidup, Djiang pun mengurus usaha jasa pengiriman paket di kota Nganjuk. Meski tak naik panggung, dia tetap merawat koleksi wayang kulitnya. Angin perubahan tahun 1998 membuka kembali kesempatan bagi Djiang untuk tampil mendalang.

Keberadaannya sebagai dalang peranakan Tionghoa-Jawa membuat Dahlan Iskan (kini Menteri Badan Usaha Milik Negara) kemudian menanggapnya dalam pentas di Jalan Kembang Jepun, kawasan pecinan di Surabaya.

Setelah itu, Djiang antara lain diminta tampil mendalang dalam acara peringatan 600 Tahun Ekspedisi Zheng He di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang.

”Saya mendalang di Kali Semarang, di atas replika kapal Zheng He. Saya ingin melestarikan pedalangan Tionghoa-Jawa yang unik dengan narasi multibahasa,” ujarnya. Ketika itu, dia tampil dengan iringan sinden yang salah satunya berasal dari Jepang.

Sayang, dari sembilan anaknya, tidak satu pun yang mau meneruskan tradisi mendalang. Oleh karena itu, Djiang berharap setidaknya salah satu dari 10 cucunya mau menjadi dalang.

Ia menyebut nama salah seorang cucunya, Yoga Rizky (15), yang tampaknya berminat menjadi dalang. ”Dia yang paling sering mendampingi saya pentas. Dia juga antusias menonton pertunjukan wayang sampai semalam suntuk,” cerita Djiang, yang pada usia senjanya tetap berharap bisa mendalang sampai Jakarta, terutama di Bentara Budaya Jakarta….

Dalang Thio Tiong Gie (1) Berkah Perjuangan Gus Dur

25 Januari 2012 | 18:40 wib
Dalang Thio Tiong Gie (1)
Berkah Perjuangan Gus Dur
 0

2

image

TOKOH seorang panglima perang sedang dimainkan oleh Sayhu Teguh Chandra Irawan. (suaramerdeka.com / Isti)

 

Oleh Bambang Isti

 

SULIT membayangkan boneka-boneka Potehi dengan beragam karakter dan wajah itu harus digudangkan selama 32 tahun. Lalu puluhan boneka wayang China itu dibiarkan rusak dan berdebu.

Saat itu rezim orde baru “mengebiri” semua kebudayaan yang berasal dari China. Itu artinya, kesenian seperti barongsai, liong-samsi dan wayang potehi (pooteehie), maaf saja, tidak ada tempat di bumi Indonesia.

Kalaupun ditampilkan, kala itu hanya sebatas di acara-acara keagamaan di klenteng-klenteng, itu pun dilakukan oleh para sayhu (dalang) dengan diam-diam, bahkan disertai rasa takut.

Sampai akhirnya, datanglah sang pembebas itu. Dia bernama Gus Dur. Dia Presiden Abdurachman Wahid, pemimpin ke empat negeri ini. Saat itu Gus Dur melakukan langkah kontroversial namun justru membawa angin segar di pertiwi ini.

Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China, lalu meletakkan  dasar-dasar melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 6 Tahun 2000 yang membuat warga Tionghoa di pertiwi ini dapat kembali beribadah di tempat umum, merayakan Imlek, dan mementaskan barongsai serta wayang Potehi.

Salah satu warga keturunan China yang merasakan berkah adanya Keppres no 6 dan kebahagiaan tak terkira itu adalah Thio Tiong Gie.

Dia adalah Pooteehie Sayhu (dalang wayang Potehi) pertama di Indonesia dan satu-satunya di Jawa Tengah. Selama 32 tahun kreativitasnya sebagai seniman wayang China terbelenggu. Padahal itu adaklah satu-satunya mata pencahariannya.

Maka ini artinya, Teguh Chandra Irawan, demikian nama asimilasi dalang ini, kembali bisa beraksi dengan wayang potehinya.

Sedikit penonton

Pada usianya yang ke 79, Teguh masih sanggup mendalang berdurasi 2 jam (dengan istirahat 30 menit) memainkan lakon-lakon klasik, seperti Shi Jien Kwie Tyeng See (Panglima dari Barat) pakem cerita zaman dinasti Tang, atau lakon Ngohoo Ping See yang diambil dinasti Song.

Terakhir GTeguh tampil pada malam penutupan Festival Imlek di Gang Warung Semarang, Minggu (22/1). Dengan sedikit penonton, dengan kondisi panggung “bedeng” sederhana dan hujan deras, kisah panglima Tiongkok kuno digambarkan Teguh dengan piawai.

Lihat saja kala sayhu Teguh mengantarkan ceritanya: “…akhirnya kota itu kita kuasasi menerusken perjuangan…” atau ..panglima
perang adalah salah satu jendral yang berhasil membujuk kami punya garis depan…”

Meski struktur katanya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik, penonton toh tetap terhanyut juga. Terbukti penonton masih bertahan sampai pertunjukan usai, dan sang dalang tua itu tertatih-tatih menuruni tangga panggung dan kembali ke rumahnya di kampung Kelurahan Petudungan, Kp Pesantren 326 Semarang.

Soal struktur bahasa tadi, Teguh Chandra berkilah, “Aslinya wayang Potehi ini dimainkan dalam bahasa Hokian, tapi saya sampaikan dengan bahasa Indonesia, biar kita orang bisa mengerti,” kata Teguh Chandra kelahiran Demak 1 Januari 1933.

Dalang Teguh dikenal masih menampilkan wayang Potehi dengan gaya klasik. Dengan puluhan boneka wayang yang diperkirakan berusia di atas 150 tahun, Teguh tak melakukan inovasi apapun atas tampilan Potehinya.

Sebuah rumah mirip bedeng berukuran 4 x 3 meter adalah “panggung” Potehi, yang menurut Teguh tidak akan berubah sampai kapan pun. Cara kuno tetap dijaga terlihat dari cara dia menempatkan boneka-boneka wayangnya secara terbaik di bentangan rak kayu yang usang. “Cara meletakkan (wayang) memang harus tetrbalik begitu,” kata Teguh.

Di dalam bangunan bedeng berwarna merah itu bisa menampung para “niyaga” yang mamainkan alat musik pengiring seperti dongkoo (kendang), twaloo (gembreng), twa pwa (simbal), sio twa (simbal kecil),dan arlhu (rebab). Jika semuanya dimainkan bersama, akan menjadi sebuah harmoni indah.

Di panggungnya itu terdapat 4 orang pemain yang membantu Teguh Chandra. Satu-satunya pemain yang berdarah Jawa adalah Supardi. Di Surabaya, Supardi ini juga seorang sayhu. (Bersambung)

 

 

(Bambang Isti/CN 25)

‘Potehi’ puppet show goes beyond ethnicity

‘Potehi’ puppet show goes beyond ethnicity

The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 01/26/2012 10:44 AM

A | A | A |

Beschrijving: Fighting puppets: A potehi puppet show staged by Surabaya-based Fuk Ho An artists is an attraction at Ciputra Mall, West Jakarta, to celebrate the Chinese New Year. The show runs until Feb. 5.  JP/P.J. LeoFighting puppets: A potehi puppet show staged by Surabaya-based Fuk Ho An artists is an attraction at Ciputra Mall, West Jakarta, to celebrate the Chinese New Year. The show runs until Feb. 5. JP/P.J. LeoRandu Pratama could not take his eyes off two hand-sized puppets controlled by Sugiyo Waluyo during a show in Jakarta over the weekend.

The six-year-old boy, who lives in Kebon Jeruk, West Jakarta, said the Chinese-origin potehi (dolls made of cloth) puppetry was “cool”. “I have never seen anything like this before,” he said.

Randu said that the show was a lot like the popular televised puppet show Si Unyil.

“Yet, the potehi show is louder, merrier and more colorful,” he said.

Randu’s mother Evita Sumarni said that her son has always loved puppet shows.

“I took him to the potehi puppet show to introduce another variety of puppetry to him,” she said.

According to Evita, the potehi puppet show entertains many people, not just those from China or Indonesians of Chinese descent.

“The story is told in Indonesian, so it is entertainment for all of us.”

After spending about 30 minutes enjoying the puppet show, Randu said that he now liked potehi puppets more than Si Unyil.

Randu was fascinated by their weapons, such as swords and spears, as well as the loud music accompanying the show. “It is a little bit noisy, but it is a good show,” he said.

Puppeteer Sugiyo, also known as Subur, said that the shows attract many children.

“The story may be beyond the children’s understanding, because it is a classic Chinese story,” he said. “But all children love to see the cheerful and colorful show of potehi puppets.”

Potehi puppet shows originated in China 3,000 years ago and have become a popular event during the Chinese New Year celebrations.

The puppetry came to Indonesia between the 16th and 19th centuries, with the arrival of Admiral Cheng Ho on the north coast of Java, who was also followed by a contingent of Chinese traders, military officers and other male migrants eager to trade in Indonesia.

Classic Chinese stories about dynasties, as well as contemporary stories such as the Journey to the West or Legenda Kera Sakti (Legend of the Sacred Monkey), are commonly performed.

Known as a Chinese art, the potehi puppet show, whose name stems from the words poo (cloth), tay (pocket) and hie (puppet), is also performed by native Indonesians.

“You don’t have to born Chinese to be a potehi puppeteer,” said Sugiyo. “Most of today’s potehi puppeteers are not Chinese. That’s why the shows are not always delivered in Chinese,” he said.

Unlike some other Chinese arts in Indonesia, like Cantonese opera, potehi puppet shows are often delivered in Indonesian, or even in Javanese and Malay.

“The puppet show, even though it originated on mainland China, has been a form of entertainment for other ethnic groups and a part of Indonesian culture,” he said. (lfr)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers