Archive for the ‘Budaya’ Category

Noorman Widjaja: A world-class conductor focuses on home

Noorman Widjaja: A world-class conductor focuses on home

Xinyan Yu, The Jakarta Post, Jakarta | Tue, 12/27/2011 8:39 PM

A | A | A |

Courtesy of Dubrovnik FestivalCourtesy of Dubrovnik Festival“If Beethoven was born in Indonesia, he’d be selling coconuts his whole life,” the 63-year-old maestro conductor, who works magic at some of the best opera houses and orchestras across the world, said with a sigh.

Indonesians have great musical talent, but too many of them are stifled in the underdeveloped music culture,” Noorman Widjaja said.

With musical talent in their blood, the Widjajas are the lucky ones. Born to Udin Widjaja — a talented musician from Medan who ran Sukarno’s favorite national choir, Maju Tak Gentar — Noorman grew up with exposure to all kinds of instruments.

He started playing piano at the age of five, and when he reached 11 he was able to conduct a concert on behalf of his sick father that amazed many, including Sukarno.

Greatly influenced by his father, Noorman believed in the natural feeling and fluidity of music. “Skills and technique are not enough for art. Many people know how to conduct an orchestra, but very few of them do it with enough expression and power on stage.”

He attributed his passionate and absorbing performances to his Indonesian heritage.

“Part of it is because of where I grew up — the hot weather and the spicy food that made us warm and cordial people,” he said, “part of it is because of my own character. As a kid, I’ve always loved the attention. I was the class monitor in high school. I liked standing up and talking in the midst of crowds.”

Watching Noorman conduct a musical or an opera can be intense. His conducting baton leads the music, his body moves with the rhythm, his eyes glisten with emotion and even his silver grey hair stands with solemnity.

He said he wanted to prove classical music didn’t always have to be elegant and peaceful, “It can be very wild and even barbaric sometimes.”

Talented as he is, Noorman’s humble start as a college student in Germany was not always smooth. In 1969, as the only Indonesian student in his class at the College of Music in Berlin, Noorman felt very out of place even among the Asian students who mostly hailed from Japan.

“Most Japanese students didn’t like talking to me. They probably thought that I came from some forest,” he joked, “but my crudeness soon helped me stand out.”

When Noorman was in college, students had the precious opportunity to practice conducting orchestras every year, but he was the only one who dared to stop the orchestra and correct some of the senior violinist’s or cellist’s mistakes.

As an inexperienced yet ambitious fresh graduate, Noorman applied to positions at the Nuremberg and Wiesbaden Opera Houses in Germany. After his very first tryouts, he thought there was no hope because he didn’t hear back from either of the opera houses after a couple months, but at last he was invited back.

“At first, I thought it was my Asian identity that they were hesitating about, but then after I was invited back to conduct for My Fair Lady, I knew they were testing how well I understood German,” said Noorman.

“There were no rehearsals or practices. I was asked to go on live immediately. They wanted to see if I could understand the script in German, and I did a great job.”

“I was so fearless. It’s like I had eaten tiger guts,” he said in retrospect.

Noorman’s career took off after he started working at the Nuremberg Opera House. His zealous performances took audiences’ breath away in countries all over the world, like Italy, Macedonia, Croatia, China and Japan. But, Noorman is planning to shift his career focus and devote himself to helping create a basis for Indonesia’s classical music culture.

“I’ve lived in Europe for too long, and now I just want to come back to where I grew up. I conducted more than 400 operas and countless musicals in the West. I want to devote all of my remaining time to my own country,” he said.

Last year, he brought the Dubrovnik Symphony Orchestra from Germany to Indonesia and held a grand classical concert called “Music from 7000 Miles” for his fellow Indonesians.

Five hundred tickets were given out for free so that everybody could afford the musical feast.

“Classical music is still new to Indonesian audiences,” said Noorman, “many of our audiences didn’t really understand the content of our music. Some wore sandals to our concerts, some applauded so passionately even before the music had come to a full stop, but it didn’t matter, what mattered was how much they loved the concert.”

Noorman said he’s always been impressed by the musical talent that Indonesia has.

“Some of the best voices I’ve ever heard were actually from poor vendors in Indonesia,” he said.

“It could be a vendor who just finished collecting used steel for the day and started singing with a broken guitar. Their untrained voices touch me so much. Sometimes being poor can unleash the most emotion in a person.”

As one of the biggest countries in Asia, Indonesia doesn’t have a national orchestra. “[The government] borrows people from here and there when a big occasion turns up, but a good orchestra needs at least six hours of practice together every day to improve.” Noorman said.

“The position classical music holds in a country’s public agenda shows its level [of culture]. Indonesia should have more classical concerts and more TV shows for classical music,” the maestro added.

MENGENANG MENDIANG NOVELIS LAN FANG

MENGENANG MENDIANG NOVELIS LAN FANG

- ”Satu-satunya” Tionghoa yang Membaur

PDF Print
Tuesday, 27 December 2011
h_tanzil <htanzil@gmail.com>,in: apresiasi-Sastra@yahoogroups.com , Thursday, 29 December 2011, 12:49

” Hidup bukan perjuangan menghadapi badai.Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan”.

Tak hanya isak tangis keluarga yang mengiringi kepergian penulis perempuan Tionghoa Lan Fang.Bahkan bumi pun ikut menumpahkan tangis yang deras semenjak sore hari. Jasad penulis perempuan,Lan Fang,yang meninggal dunia di Singapura, tiba di Surabaya, tadi malam.

Seperti kalimat penutup pada salah satu cerpen Lan Fang berjudul ”Ciuman di Atas Hujan”,peti mati cokelat itu bukan menghadapi badai. Tapi peti mati berisi jenazah Lan Fang itu menari di tengah hujan.Guyuran air hujan membasahi bumi kala jenazah Lan Fang tiba di Ruang Persemayaman Jenazah Adi Jasa di Jalan Demak,Kota Surabaya. Semua teman,sahabat dan beberapa anggota organisasi yang aktif digeluti Lan Fang sudah menanti kedatangan jenazah sejak pukul tujuh malam.Namun jenazah yang dibawa menggunakan Silk Air baru tiba di bandara Juanda pukul 17.45 WIB.Jenazah Lan Fang tiba di persemayaman sekitar pukul 21.00 WIB.

Semua orang serempak berdiri ketika mobil jenazah tiba di tempat.Diiringi hujan, dan doa dari Romo Sakyaputra, peti diangkat menuju tempat persemayaman.Semua anggota keluarga,adik kandung, putra putri dan lainnya mengikuti di belakang dengan isak tangis.Maklum saja kepergian Lan Fang yang begitu mendadak ini membuat hati keluarga besar hancur. Lan Fang meninggalkan tiga orang putra kembar yang masih berusia 13 tahun.Dua putra bernama Vajra Viria Husala dan Vajra Vidya Husala serta seorang putri bernama VajraYeshi Husala.

Ketiganya mencium peti jenazah mamanya,seolah tak mau melepaskannya pergi. Adik Lan Fang,Janet Gautama,yang turut mengiringi Lan Fang berobat ke Singapura tak bisa berkata banyak.Janet mengungkapkan bahwa penyakit yang diderita Lan Fang tak hanya kanker hati saja melainkan sudah komplikasi.“Dan kami masih belum melakukan rapat keluarga untuk memutuskan akan dikremasi atau dikebumikan,”kata Janet. Dari pihak Majelis Budhayana Indonesia Surabaya sendiri menyerahkan prosesi jenazah kepada keluarga.

“Kami hanya bertugas untuk berdoa mengiringi sampai nantinya jenazah dikremasi atau dikebumikan,”jelas Romo Sakya satu dari tujuh Romo yang mendoakan. Di dalam kepengurusan Majelis Budhayana Indonesia Surabaya,Lan Fang dikenal pengurus yang sangat aktif.Ia menjabat sebagai Bagian Lembaga Hukum.Selain itu, penulis asli Surabaya ini juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia Tionghoa Jawa Timur atau yang dikenal Inti Jatim.“Lan Fang adalah kader kami yang hebat karena diterima di mana saja.Bahkan bisa dibilang dia satu-satunya warga Tionghoa yang benarbenar menjadi warga Indonesian”kata Ketua Kehormatan Inti Surabaya Aliptojo Wongsodihardjo.

Bahkan setelah kepergiannya, Lan Fang tak hanya menjadi milik keluarga melainkan milik masyarakat. Alip mengenang Lan Fang sebagai sosok yang penuh semangat dan satu-satunya orang Tionghoa yang berhasil melaksanakan misi Inti Jatim. “Karena sebenarnya Inti sangat menginginkan warga Tionghoa untuk menyatu dengan warga Indonesia lainnya.Dan Lan Fang menjadi satu-satunya contoh bagi kita semua,”ucapnya. Memang sepak terjang Lan Fang sudah terdengar di manamana.

Kebiasaannya yang suka bergaul di berbagai lapisan seolah sudah menjadi ciri khasnya.Bahkan ia dikenal akrab dengan Gus Sholah adik Gus Dur lantaran pernah mengajar sastra di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Ini juga yang menyebabkannya aktif dalam kegiatan sosial masyarakat lintas agama, budaya dan hukum. Sedangkan di mata para sahabat dekat,Lan Fang juga tak jauh berbeda.Sosok yang penuh semangat tanpa pernah menunjukkan rasa sakit karena penyakit yang dideritanya.

“Beberapa waktu lalu kami masih melakukan kegiatan bersama dan dia tampak sehat.Kami bahkan baru mengetahui penyakitnya pada akhir Oktober 2011,” kata penulis perempuan Wina Bojonegoro.Hal ini pula yang disayangkan Alip bahwa penyakit mematikan ini disembunyikan oleh Lan Fang. “Padahal andai kami tahu lebih awal ia bisa diantar berobat lebih dini pula,”ucap Alip.Sayangnya semua sudah terlambat.Sosok Lan Fang sudah pergi meninggalkan dunia.Banyak kenangan yang teryinggal di benak banyak orang.Termasuk Suxin dari Perhimpunan Penulis Sastra Tionghoa yang rindu dengan pertemuan diskusi yang sering dilakukan.

Meskipun Lan Fang tak bisa bahasa Tionghoa,namun ia aktif menggandeng sastrawan bahasa Tionghoa bersamanya.Bahkan rencananya,Lan Fang akan menerbitkan satu buku syair yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa.Namun begitu,dari semua keinginan seorang Lan Fang,hanyalah menjadikan kebudayaan Tionghoa sebagai satu dari keanekaragaman budaya Indonesia.

Sempat Sumbang Obat Panti Jompo

Dari Sidoarjo,suasana duka memayungi rumah tipe 54 warna putih di Perum Pondok Maspion,Desa Pepelegi, Kecamatan Waru,Kabupaten Sidoarjo.Hanya dua wanita yang menunggu rumah novelis Jawa Timur Lan Fang yang meninggal dunia,Minggu (25/12),karena kanker hati. Dari raut wajahnya,dua pembantu Lan Fang,Bu Min dan Jeminah tergurat kesedihan.“Ibu itu orangnya baik.

Saya tidak menyangka akan secepat itu dipanggil Yang Maha Kuasa,”ujar Bu Min sembari menata tumpukan buku dan novel milik majikannya tersebut.Bu Min mengisahkan,penyakit Lan Fang mulai kambuh sekitar 40 hari lalu hingga akhirnya meninggal dunia. Selama ini majikannya tidak pernah mengeluh sakit dan beraktivitas seperti biasanya. Keseharian Lan Fang,jika tidak mengikuti kegiatan amal biasanya sibuk menulis.Ibu tiga anak itu bisa seharian berada di dalam kamar menulis novel.

“Kalau sudah masuk kamar, biasanya minta jangan diganggu,”ujar Bu Min,asal Singosari,Malang yang sudh ikut Lan Fang delapan tahun.Bu Min bercerita,ketika Lan Fang mengeluhkan sakit didada dia berobat jalan ke RS Mitra Keluarga.Ketika penyakitnya mulai parah,Lan Fang dirawat inap di RKZ Surabaya, kemudian RS Adi Husada,dan akhirnya berobat ke RS Mount Elizabeth Singapura. Meski kondisi penyakitnya sudah parah,wanita yang bernama lengkap Go Lan Fang berpesan kepada Bu Min dan Jeminah agar menyumbangkan obat untuk dua panti jompo di Surabaya.

” Itu terus ditanyakan ibu. Cepat kamu berikan sumbangan itu,kasihan mereka membutuhkan,”ujar Jeminah menirukan pesan majikannya. Beberapa hari lalu,sumbangan itu sudah diberikan kepada dua panti jompo di Surabaya. Sebanyak 156 paket yang sudah dibungkus dan diberikan langsung kepada masing-masing manula di panti jompo yang dimaksud. “Kondisi ibu sudah parah,tapi beliau masih ingat dengan sesama yang membutuhkan,” tambah Bu Min.

Beberapa hari sebelum ajal menjemput,Lan Fang berpesan kepada Bu Min agar dibawakan salah satu novel kesukaannya “Ciuman di Bawah Hujan”.Karena selama ini novel itu selalu dibawa kemanamana. Namun,saat sakit belum sempat dibawakan ke rumah sakit.“Saya masih mencarinya,tapi belum ketemu.Padahal,novel itu pesan terakhir ibu agar dibawakan sekalian,”aku Bu Min.

OKTALIA ARY-ABDUL ROUF
Surabaya-Sidoarjo

sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/455180/

KSI BNJARMASIN MENGENANG LAN FANG

KSI BANJARMASIN MENGENANG LAN FANG

 

Banjarmasin, MK. Rabu, 28 Desember 2011.

Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Banjarmasin segera mempersiapkan acara untuk mengenang Lan Fang, penulis asal Banjarmasin yang meninggal pada Minggu (25 Desember) di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura.

Menurut Ketua KSI Banjarmasin Hajriansyah, mereka akan mengadakan rapat untuk persiapan acara mengenang Lan Fang ini. Acara tersebut nantinya juga direncana dengan kegiatan-kegiatan sastra seperti pembacaan karya-karya Lan Fang dan pembacaan puisi dri beberapa sastrawan Kalsel.

‘’Kami berharap beberapa kawan sastrawan bisa hadir dalam acara mengenang Lan Fang ini, meskipun kami berencana untuk membuat acara yang sederhana saja’’, kata Hajriansyah pada Media Kalimantan, kemari (27/12).

Hjri menuturkan, acara mengenang Lan Fang akan dibuat secara sederhana, namun tetap dalam suasna bersastra  yang kental. Ini mengingat Lan Fang adalah salah satu penulis kelahiran Banjarmasin yang mampu mengharumkan nama Banua di Nusantara.

Lan Fang, sastrawan dan aktivis Tionghoa kelahiran Banjarmasin 5 Mret 1970 itu berpulang setelah terserang knker payudara.

Lan Fang menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum  Universitas Surabaya. Namun ia lebih menekuni dunia prosa dibandingkan melakoni karir di bidang hukum.

Lan Fang sempat menghadiri acara Kongres  Cerpen Indonesia (KCI) di Banjarmasin pada tahun 2007.

Ia juga aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif. Secara rutin, ia menularkan kemampuan menulis fiksi  kepada pelajar di berbagai sekolah di Surabaya.

Sebagai penulis, Lan Fang menjadi nominee Khatulistiwa Award 2008 untuk novelnya Lelakon. Cerpen-cerpennya masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan2009.

Lan Fang menerbitkan beberapa novel, di antaranya “Ciuman Di Bawah Hujan”, “Perempuan Kembang Jepun”, dan”Tanda Tanya”. Khusus karya yang terakhir, kata Wina, Lan Fang sempat kecewa dengan Hanung Bramantyo. Sebab Hanung menyadur novelnya itu ke dalam film garapannya yang diberi judul “?”. Lan Fang menumpahkan kekecewaannya itu di facebook-nya”, ujar Wina.

Ia juga melahirkan berbagi karya, antara lain Reinkarnasi (2003), Pay Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-Laki Yang Salah (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007). (ms arif/tmp).

Sumber: Ruang Seni & Budaya Harian Media Kalimantan, Banjarmasin, Rabu, 28 Desember 2011.

Gereja tua Bali itu penuh gema alunan kidung

Gereja tua Bali itu penuh gema alunan kidung

Minggu, 25 Desember 2011 12:19 WIB | 580 Views

Ade P Marboen

Umat Kristiani Bali menggelar prosesi misa Natal di Gereja Katolik Tritunggal Mahakudus Paroki Desa Tuka, Badung, Bali, Sabtu (24/12). Umat Kristiani di kawasan itu telah mewarisi tradisi misa Natal dengan mengenakan pakaian adat Bali dan beberapa sarana layaknya umat Hindu Bali. (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana)

… merupakan gereja tua pertama di Bali yang dibangun 1937, atau 75 tahun yang silam…

Berita Terkait
Video

Denpasar (ANTARA News) – Bale Kulkul, tempat digantungnya dua buah kentongan itu serasi dengan pintu gerbang gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Banjar Tuka, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali.

Bangunan suci umat Kristiani itu mencerminkan keterpaduan antara arsitektur tradisional Bali dengan tekstur bangunan gereja di Eropa, terutama Romawi kuno.

“Gereja yang dibangun di tempat strategis berjarak sekitar 15 km barat laut Denpasar, merupakan gereja tua pertama di Bali yang dibangun 1937, atau 75 tahun yang silam,” tutur Ketua Dewan Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, Ketut Jack Mudastra.

Gereja yang sudah pernah beberapa kali mengalami pemugaran itu bangunannya tetap berarsitektur aslinya yang mencerminkan dua kutub budaya budaya yang berbeda.

Rumah ibadah yang berkapasitas ratusan orang dengan halaman yang cukup luas sehingga mampu menampung luapan umat untuk mengikuti kebaktian, terutama pada perayaan Natal,

Alunan irama dan tembang berbahasa daerah Bali (kekidung) mengagungkan nama Tuhan Yesus Kristus bergema pada Kebaktian Perayaan Natal yang dipimpin Romo Paulus Payong SVD, dibantu Roma Martin SVD, itu diikuti ribuan umat nasrani dari desa-desa di sekitar Kecamatan Kuta Utara, berlangsung dalam kebaktian secara khusuk dan khidmat.

Selain tembang berbahasa Bali, kidung sebagai sarana doa dan puja-puji Tuhan sejak pagi hingga siang itu juga menggunakan bahasa Indonesia. Alunan tembang yang merdu dan syahdu dalam dua bahasa itu terdengar silih berganti dikumandangkan dari dalam ruang gereja tertua di Pulau Dewata.

Perayaan Natal kali ini merupakan rangkaian Yubelium 75 tahun Gereja Katilik Kuta, yang kegiatannya berlangsung selama setahun penuh, 14 Februari 2011- 14 Februari 2012.

Perayaan tersebut mengusung tema “Membangun gereja berdaya pikat yang berakar dan berkembang dalam wajah budaya setempat” mengedepankan adat-istiadat yang berlaku di daerah tersebut.

Pemasangan penjor, yakni hiasan bambu dengan janur di pintu masuk rumah tangga masing-masing menjadi tradisi dalam setiap perayaan Hari Raya Natal. Demikian pula busana yang dikenakan bernuasa adat Bali, baik pria, wanita mulai dari anak-anak, dewasa maupun orang tua.

Hiasan penjor tersebut merupakan salah satu upaya melestarikan warisan seni budaya Bali, disamping memelihara dan memantapkan kerukunan hidup beragama yang selama ini berlangsung dengan sangat mantap dan kokoh, ujar Jack Mudastra.

Penyebaran agama Kristen di Bali dimulai sejak 1937, ditandai pelaksanaan baptis pertama oleh penginjil Tshang Toha (China) kepada sejumlah penduduk di Tukad Yeh Poh, Desa Dalung, Kabupaten Badung.

Dua aliran kristiani masing-masing Katholik berkembang di Desa Tuka, dan Kristen Protestan di Dusun Untal-Untal, Kabupaten Badung. Pada tahun 1937 ajaran tersebut kemudian disebarkan ke beberapa daerah lain di Bali oleh misionaris asal Jawa Timur.

Para pemeluk Kristen kemudian menyebar ke daerah pedalaman di Desa Palasari, Desa Gumbrih dan beberapa desa sekitarnya di wilayah Kabupaten Jembrana, Bali barat.

Oleh sebab itu perayaan Natal di desa-desa di Bali berlangsung berbeda dengan perayaan Natal di gereja-gereja yang ada di jantung Kota Denpasar maupun hotel-hotel berbintang di kawasan Nusa Dua, Kuta, Kabupaten Badung maupun Sanur, Kota Denpasar. (ANT)
Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2011

 

Mewakili Indonesia dengan Musik Eksperimental

Mewakili Indonesia dengan Musik Eksperimental

 

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/mewakili-indonesia-dengan-musik-eksperimental

 

Jimbot dan Bambu Wukir

Avatar Redaksi Indonesia
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Mewakili Indonesia dengan Musik Eksperimental

Diterbitkan : 26 Desember 2011 – 8:00am | Oleh Redaksi Indonesia (Foto: Octa Ramayana)

Beberapa waktu lalu, dua orang musisi tradisional asal Indonesia tampil di Belanda dalam sebuah rangkaian pagelaran musik eksperimental berskala internasional. Mereka adalah Iman Rohman atau Jimbot, seniman dari Jawa Barat dan Wukir Suryadi atau Bambu Wukir, musisi & pembuat instrumen asal Jawa Timur. Laporan Octa Ramayana.

Bersama Marc Chia atau One Man’s Nation, musisi/DJ asal Singapura, mereka tampil dalam sebuah proyek kolaborasi musik bernama “The Future Sound of Folk”.

March Chia orang di balik proyek ini. Ia pernah tinggal tiga tahun di Indonesia untuk berkolaborasi dengan musisi lokal. Pada saat Marc tinggal dan bermain bersama Jimbot dan Wukir, ia mencoba mencari peluang untuk main di Belanda. Marc sendiri pernah tinggal di Belanda saat studi Media Arts di Rotterdam.

Untuk merealisasikan rencananya tersebut, ia bekerja sama dengan STEIM dan STEIM-lah yang mengorganisir semua acara selama mereka berada di Belanda.

Dari seluruh dunia
STEIM adalah sebuah organisasi non profit dari Belanda yang terus mendukung musik eksperimental dari seluruh dunia. Mereka menyediakan ruang bagi para musisi eksperimental untuk mengeksplorasi karyanya serta memberi media untuk berkolaborasi dengan musisi lainnya.

Proyek musik “The Future Sound of Folk” ini berada di Belanda sejak tanggal 1 sampai 18 Desember. Mereka mengadakan beberapa rangkaian konser tunggal dan juga terlibat di beberapa festival. Lalu tampil bersama musisi lokal Belanda seperti Machienfabriek, Pierre Bastien, Andy Moor, Yannis Kyriakides, Michael Moore, dan DJ Sniff.

Proyek ini diorganisir seluruhnya oleh STEIM, dengan bantuan dana dari Fonds Podium Kunsten (FPK) atau dana bantuan pagelaran seni.

Awal mula
Perkenalan Jimbot dengan Marc pada saat Marc mengisi acara di Bandung yang melibatkan musisi tradisional di Bandung. Jimbot berada di sana saat Marc tampil. Ia sendiri sangat menyukai musik eksperimental. Lalu ia mengajak Marc untuk berkolaborasi, dan akhirnya terus diajak ikut tampil di berbagai daerah di Jawa, termasuk Yogyakarta.

Pada saat pagelaran di Yogya, Jimbot pertama kalinya kenal dengan Wukir melalui kolaborasinya dengan Marc. Sejak saat itu mereka bekerja sama membuat musik experimental.

Mengenai perkenalannya dengan dua orang tersebut, Jimbot menambahkan “Saya ketemu Wukir dan Marc seperti menemukan sesuatu yang sama. Sama dalam hal imajinasi, intuisi hobi dan emosi”. Ia merasa pada saat mereka bermain bersama, batasan batasan seperti agama, budaya, pendidikan dan jenis instrumen sudah tidak ada lagi.

Marc sendiri sampai sekarang masih terkagum-kagum dengan kemampuan Jimbot dan Wukir dalam pengeksplorasian musik mereka.

“Jimbot adalah seorang multi-instrumentalis yang handal, dan bisa menghasilkan suara yang kaya pada tiap instrumen yang ia mainkan. Sedangkan Wukir adalah orang yang tidak puas dengan alat musik yang ada. Dia ingin menghasilkan suatu alat sendiri yang bisa menghasilkan bunyi bunyi yang bisa memenuhi keinginannya,” ujar Marc.

Eksplorasi alat musik
Saat ditanya mengenai alat musiknya yang unik dan ia buat sendiri, Wukir menjelaskan bahwa: “Dia itu modifikasi instrumen tradisional yang terinspirasi dari alat musik tradisional juga. Jadi aku kolaborasiin antara tinggi satu badan itu: ada celempung, sasando, valiha, sitar, dan rebab. Jadi, modifikasi (dari) alat musik tradisional yang materinya (terbuat dari) bambu.”

Berbeda dengan Wukir, alat musik yang dipakai oleh Jimbot saat tampil adalah alat musik yang lebih konvensional dan tradisional. Misalnya suling, flute, drum, kendang, bonang, dan gamelan. Alat alat tersebut biasa digunakan dalam acara musik tradisional di Jawa Barat.

Sedangkan alat musik seperti kecapi, kecapi suling, sitar atau cianjuran, dan juga kendang, biasanya digunakan untuk mengiringi tarian, jaipongan atau pencak silat. “Saya mencoba bereksperimen untuk mencari warna baru, walaupun dari teknik yang sudah ada. Tapi saya mencoba warna baru; misalnya bermain tanpa nada dasar atau tune.”

Komunikasi abstrak
Bagi mereka, dalam musik eksperimental tidak ada komposer atau pemimpin. Semua bermain berdasarkan komunikasi dari instrumen mereka sendiri.

“Tidak ada yang bilang ‘kamu duluan’ atau ‘kamu main yang ini aja’, tidak ada informasi siapa yang duluan. Sudah semacam ‘fly’ , langsung main, tapi semacam ada komunikasi. Itu yang saya sukai! Komunikasi yang sifatnya abstrak!” tambah Jimbot.

Agar bisa kompak, Jimbot mengatakan “Butuh waktu yang lama. Karena kita harus tahu karakter, pribadi masing masing. Kedua, harus tahu ‘passion’-nya, ‘background’-nya masing masing. Ketika kita saling mengetahui karakter masing masing, kita bisa membawa misi dan visi yang sama.”

“Inspirasinya, meskipun berbeda bahasa, beda agama, dan beda darah, tetapi punya perasaan yang sama. Bagi saya, musik ada sesuatu yang universal. Walaupun orang tidak tahu alat musik, tetapi mereka tahu ada sesuatu yang mau disampaikan melalui alat musik itu.”

Tak Bisa Lagi “Manyamabraya”, Terkesan Warga Bali Materialistis

http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=60319

 

 

26 Desember 2011 | BP
Tak Bisa Lagi “Manyamabraya”,
Terkesan Warga Bali Materialistis
MASYARAKAT Bali seakan kehilangan horizon spiritual dalam menjalani kehidupannya. Kondisi ini bisa terjadi karena masyarakat modern melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pinggiran eksistensi, tidak pada ‘’pusat spiritualitas dirinya’’. Mengakibatkan ‘’lupa’’ siapa dirinya. Arus keluar-masuk orang dari/ke Bali menyebabkan sifat-sifat Bali berubah. Tak lagi seperti bentuk aslinya. Walaupun perubahan bisa jadi bermakna kemajuan dalam bidang kebudayaan. Sejalan dengan arus komunikasi tersebut, unsur-unsur kebudayaan Bali pun bukan hanya mengalami penyesuaian, tetapi dengan mudah dapat ditemukan di berbagai tempat di luar batas-batas geografis Bali. Dalam proses integrasi ke suatu tatanan global tersebut, kebudayaan kemudian tidak lagi terikat pada batas-batas fisik yang kaku yang disebabkan ikatan ruang yang bersifat deterministik. Oleh karenanya ekspresi simbolik kebudayaan Bali tidak selalu merupakan pernyataan dari suatu kosmologi atau nilai yang sama, karena pusat orientasi mulai terbentuk secara polisentrik, tidak lagi terkonsentrasi pada satu titik. Gejala ini menunjukkan, telah terjadi suatu dekonstruksi hubungan kekuasaan tradisional dalam suatu masyarakat. Demikian ungkapan dari pengunjung Warung Global, yang disiarkan Radio Global 96,5 FM, Sabtu (24/12) dengan topik “Konflik Kepentingan Beraroma Ekonomi”.

—————————————————-

Becik di Tuban menyampaikan terjadinya konflik apapun itu karena ada dua kepentingan yang berlawanan-tentang modern dan tradisional, tentu tidak bisa di balik lagi kondisinya. Dua-duanya harus diakomodasi antara modern dan tradidional dengan cara menyeting mana Bali modern dan tradisional. Sementara Gusti Sumardayasa menyatakan jangan sampai budaya untuk kepentingan ekonomi. Tapi ekonomi yang mengedepankan budaya dan adat, tapi detailnya tentang UU yang mengatur masalah ini layak untuk dirumuskan. Demi sebuah Tatanan masyarakat yang berlandaskan budaya dan adat dalam kehidupan bermasyarakat, Astungkara. ‘’Wah… Sukeh hidup di gumine yen sube cunguh malak tuun, mekejang pada mekite makan… sing mengenal kawan dan lawan, sukseme,’’ demikian menurut Bli Ketut.

Sementara Sindha di Denpasar menilai, yang sering menimbulkan konflik di Bali adalah perbatasan. Apalagi perbatasan yang ada vila atau sumber duitnya. Akar permasalahannya tetap di keuangan, nampaknya semua berebut tentang uang. Syukur tidak ditunggangi masalah politik. Ia berharap agar warga Bali punya malu. Jangan berebut perbatasan, pura dan sebagainya, kalau di luar sana berebut lahan pekerjaan. Makanya kalau tidak ingin berkonflik adat harus ajeg. Ini dikarenakan orang semakin pintar, seakan mereka merasa pintar, dan ujung-ujungnya menimbulkan konflik. Kalau dicari, mungkin lebih baik hidup di zaman seperti dulu, manusia saling menghargai, dan sangat demokrasi dibanding sekarang. ‘’Katanya saja demokrasi, tapi kenyataannya, mana?,’’ demikian Arca Putu.

Lain halnya dengan Suardana di Tabanan. Ia melihat memang di sini sarat perebutan lahan yang ujung-ujungnya berebut uang. Jika PHDI bisa menjembatani, bahwasanya agama Hindu adalah sederhana dan tidak memaksa. Jadi buatlah konsep yang jelas tentang agama. Jujur di Sanglah melihat sudah pasti sarat dengan ekonomi. Tingkat ekonomi sudah mulai terkotak-kotak. Secara menyeluruh bukan dari ekonomi saja, bisa sampai ke masyarakat Bali yang asing di negeri sendiri bisa-bisa jika tidak bisa bersaing secara sehat, orang Bali akan mati di lumbung sendiri. Ini patut dipikirkan oleh semua pihak. Bila hal ini terus terjadi perlu dipikirkan untuk melakukan upacara agama secara massal misalnya matatah massal, nikah massal dan sebagainya.

Suarka di Mengwi menilai memang kita turun ke dunia ada motifnya yakni ekonomi. Problem materil di dunia tidak bisa dipecahkan dengan materil. Sementara Arjun di Tabanan menilai di mana-mana sudah terjadi konflik, sejengkal tanah pun sudah memiliki nilai ekonomi, masyarakat sekarang sudah berorientasi pada materi. Diharapkan penataan harus dilakukan sedini mungkin. Made Karya di Mengwi menilai apapun perubahan, pasti memberikan arti bagi kita semua. Semoga ke depan ada pemimpin baru yang muncul bukan neko-neko berpikir. Bali ini mau baik atau buruk tergantung di tangan pemimpin. Darmayoga di Panjer membenarkan memang peran uang sangat vital di dunia ini, namun kita harus kembali ke pemegang kebijakan. Paling tidak di tingkat pemegang kebijakan rakyat tidak terbebani oleh uang. (…)

 

MENYONGSONG HARI NATAL TERKENANG PABLO NERUDA

Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 24 Desember 2011.
———————–

MENYONGSONG HARI NATAL TERKENANG PABLO NERUDA

in:”tionghoa-net@yahoogroups.com” <tionghoa-net@yahoogroups.com> , Monday, 26 December 2011, 5:18

Soalnya begini: Pagi ini kubuka Facebook. Di situ ada yang menulis bahwa
Pablo Neruda pernah tinggal di Indonesia. Sesuatu yang perlu dicek lagi.
Tapi, disebutnya tokoh PABLO NERUDA, mengingatkan aku pada film pemenang
Hadiah Oscar, ?EL POSTINO?. Di film itu diangkat tokoh PABLO NERUDA.

Pada hari menjelang NATAL ini kukira pembaca tertarik membaca cerita
tentang orang-orang Komunis di sebuah pulau tempat pengasingan Pablo
Neruda ketika itu. Ceritanya a.l. berkisar sekitar upacara perkawinan
seorang tukang-pos yang berlangsung di sebuah gereja Katolik.

Yang unik adalah, — bahwa calon penganten laki-laki adalah seorang
Komunis. Yang jadi saksi, atas permintaan calon penganten adalah Pablo
Neruda. Juga Komunis. Sang pendeta Katolik mula-mula keras sekali
menolak. Dengan alasan seorang Komunis seperti Pablo, – tak boleh jadi
saksi perkawinan. Komunis tak ber-Tuhan, menurut sang Pendeta.

Tapi atas desakan calon penganten, akhirnya Pendeta bersedia mengawinkan
seorang Komuni,- dengan saksi seorang Komunis di sebuah gereja Katolik.

Kufikir, — ini adalah cerita paling baik untuk dibaca menjelang HARI
NATAL Yanng dimuliakan Ummat Kristen, bukankah CINTA DAN DAMAI DI ATAS
BUMI!

* * *

Maka kusimpulkan untuk menyiarkan (ulang) tulisanku sekitar PABLO NERUDA
yang kutulis 3 tahun yang lalu. Selamat membaca dan —–

SELAMAT HARI NATAL DAN SELAMAT TAHUN BARU 2012

* * *

INGAT SIAPA PABLO NERUDA?
<Jum’at, 22 Agustus 2009>

Di kalangan penyair, sastrawan dan budayawan, — nasional maupun
internasional, nama PABLO NERUDA, sudah lama tidak disebut-sebut atau
ditulis lagi. Ini sampai sekitar pertengahan kedua tahun
sembilan-puluhan abad lalu. Kemudian (2008) Belanda menayangkannya di
programa TV film ‘IL POSTINO’. Cerita pokok film sesungguhnya adalah
mengenai penyair raksasa, budayawan dan diplomat Pablo Neruda.

Siapa Pablo Neruda?

Dilihat dari nama kecilnya : *Pablo*, sepertinya dia orang Spanyol. Bukan!
Pablo Neruda bukan orang Spanyol. Pablo Neruda adalah seorang penyair
kenamaan berbangsa Chili. Pemenang Hadiah NOBEL Untuk Sastra, 1971. Ia
terkenal karena karya seninya, dihormati karena pendiriannya dan
perlawanannya terhadap apa saja yang tidak adil terhadap
kesewenang-wenangan dan pelanggaran hak manusia. Ia kemudian jadi orang
eksil, sesudah Presiden Allende dikup oleh Jendral Pinnochet. Banyak
tulisan menyatakan bahwa Pablo Neruda seorang Marxis. Bahkan, seorang
pendeta Katolik Itali tegas mengatakan bahwa Pablo Neruda adalah Komunis
yang ‘tidak mengakui Tuhan’.

Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan sebuah esay sastra, yang
mendetail menceritakan siapa Pablo Neruda dan kegiatan sastranya.
Tulisan ini sekadar mengingatkan, bahwa, seorang penyair besar, Pablo
Neruda, yang Marxis, yang Komunis, dan peraih Hadiah Nobel. Oleh seorang
sutradara yang non-Komunis difilmkan dan jadi sukses. Dapat Oscar!
Sebuah stasiun TV umum Belanda yang cenderung Katolik, menyiarkan film
tentang Pablo Neruda.

Bukankah hal itu menunjukkan bahwa di dunia ini masih cukup banyak orang
yang pandangannya tidak ‘mind-set’, untuk meminjam istilah mendiang
Joesoef Isak. Orang-orang yang turut mempopulerkan Pablo Neruda, adalah
orang-orang yang tidak berpendirian apriori. Mereka tidak berprasangka:
Samasekali tidak berpendapat, bahwa orang Komunis, pasti tak baiknya!
Mereka hanya melihat kenyataan dan fakta hidup sehari-hari.

Kolom Ibrahim Isa kali ini, dengan sedikit pengeditan-kembali,
mengisahkan apa yang telah ditulis di Kolom Ibrahim Isa, lebih setahun
yang lalu, tentang film Itali: ‘IL POSTINO’. Yang hakikatnya adalah film
tentang penyair Marxis/Komunis Pablo Neruda.

* * *

Film Italia – ‘Il Postino’ Yang Inspiratif

< Bagaimana Penyair Dunia PABLO NERUDA dikisahkan>

Tadi malam pilihan kami jatuh pada acara film Itali, ‘Il Postino’.
Sebuah acara di kanal Nederland 2, yang biasa menyiarkan acara-acara
yang bersifat religius. Arti judul tsb, dalam bahasa Indonesia adalah
‘Pengantar Pos’. Pada periode ‘tempo doeloe’, orang-orang menamakannya
‘postbode’, tukang antar benda-benda pos PTT. Biasanya berpakaian
seragam, pakai topi dan bersepedah.

Film Itali ‘Il Postino’ dengan sutradara Inggris Michael Redford
(produksi 1994), adalah sebuah ‘late-night film’ yang biasa ditayangkan
pada waktu-waktu ‘week-end’. Kupilih nonton ‘Il Postino’, bukan karena
ceritanya — seperti yang dimaksudkan sutradaranya. Yaitu cerita
mengenai Sang pengantar pos Mario, yang sebagai postbode kerjanya
mengantarkan surat-surat kepada PABLO NERUDA. Karena pandangan dan sikap
politiknya, Pablo Neruda diasingkan pemerintah Chili, ke sebuah pulau
kecil Itali. Memang ceritanya seperti tertera pada judulnya adalah
mengenai Mario si postbode yang karena lugu dan kesetiaannya
mengantarkan surat kepada Pablo, jadi sahabat kental Pablo Neruda.
Selanjutnya Mario jatuh cinta pada seorang gadis tercantik pulau itu.

* * *

Adegan-adegan dialog antara Mario dengan Pablo benar-benar menarik.
Mario minta pada Pablo untuk mengajarkannya membuat syair. Kita saksikan
bagaimana Pablo menjelaskan dengan sederhana, mengenai syair-syairnya
yang terkenal itu. Bisa diikuti Pablo dengan tekun membimbing Mario
membuat syair. Metamorfoso, kata Pablo. Perhatikan dan nikmati serta
kagumi keindahan alam sekitarmu, . . . alunan gelombang laut yang
menampar gua dan batu-batu, pantai, dan gunung-gumunungnya. Saksikan dan
khayati keindahan alammu itu. Lalu gunakan cara metafora, untuk
menuliskan syair atau sajakmu. Lucunya ketika Pablo menanyakan kepada
Mario apa yang paling indah dipulau itu, jawab Mario dengan lugu: Yang
paling indah bagiku adalah wanita Beatrice Russo yang amat dicintainya.

Cobalah, buat sendiri sajak itu, kata Pablo.

Sungguh, di sini terasa betapa dekatnya hati dan perasaan Pablo sebagai
penyair Komunis Chili dengan Komunis Mario, wong cilik Itali. Bagi
Pablo, Mario adalah ‘orang sendiri’, tak ada perbedaan samasekali dengan
dirinya. Barangkali ini yang dimaksudkan bahwa mereka itu, seperti
jargon yang digunakan ketika itu, memiliki perasaan s e k l a s . Klas
yang tertindas!

Karena film ini menyangkut orang-orang Komunis, aku semula tidak
menyangka bahwa film ini ditayangkan oleh sebuah siaran TV yan biasa
acaranya mengenai masalah keagamaan. Tadinya tersirat dalam fikiranku,
paling-paling film ini akan menjelek-jelekkan orang-orang Komunis saja.
Tetapi ternyata tidak. Pantitia pemberi hadiah Oscar dari Amerikapun,
masih bisa melihat kenyataan. Film ‘Il Postino’ dinominasi hadiah Oscar,
kemudian benar juga dapat hadiah Oscar itu. Di sini mungkin orang-orang
yang sudah punya pandangan absolutisme yang tak tertolong, sulit
mengerti bagaimana film yang membagus-baguskan tokoh-tokoh Komunis, kok
diberi hadiah Oscar. Kok ditayangkan oleh sebuah stasiun TV Belanda,
yang biasa menyiarkan masalah keagamaan? Mereka tidak bisa menerima
realita, bahwa setiap manusia, apakah dia Komunis, Kapitalis, Demokrat
atau Katolik, diantaranya pasti ada yang jelek, tetapi juga pasti ada
yang baik. Bahkan baik dan hebat sekali, seperti Pablo Neruda. Penilaian
seperti ini, apakah ada di negeri kita?

Ikuti sedikit lagi adegan lanjutan: — Suatu ketika Mario minta kepada
Pablo untuk jadi saksi dalam perkawinannya dengan kekasihnya Beatrice
Russo. Pak Pendeta Katolik di gereja itu keras sekali menolak. Dan
dengan tegas pula penolakannya itu. Tidak bisa, kata Pak Pendeta. Pablo
itu Komunis. Komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Jadi tidak bisa orang
yang tidak mengakui Tuhan, menjadi saksi perkawinan orang Katolik.

Tetapi Mario tetap mendesak. Karena, selain seorang Katolik, Mario juga
adalah Komunis. Dan ia ingin perkawinannya itu dengan Pablo Neruda
sebagai saksi. Akhirnya Pak Pendeta menerima juga Komunis Pablo jadi saksi
perkawinan Mario, di gereja Katolik. Soalnya, suatu ketika, Pak Pendeta
melihat bahwa Pablo Neruda juga pergi ke gereja untuk beribadah. Sulit
dimengerti? Ah, tidak. Kalau mau jujur bersedia mengakui kenyataan
seperti apa adanya, maka tidaklah sulit untuk menerima semua itu.
Demikianlah, perkawinan Mario yang Komunis dengan Beatrice Russo
berlangsung menurut tradisi Katolik dan dihadiri oleh banyak Komunis
lainnya dipulau itu. Gembira dan harmonis!

Kira-kira pada periode itu juga, banyak pendeta dikirimkan oleh Vatikan
ke daerah perburuhan dan kaum miskin kota. Tujuannya untuk melawan
menyebarnya pengaruh Komunis di kalangan kaum buruh tsb. Berlalu
beberapa waktu kemudian, bukan kaum buruh yang dibebaskan dari pengaruh
Komunis, tetapi para pendeta yang turun ke akar rumput itu yang kemudian
jadi Komunis. Mereka adalah pendeta-pendeta Katolik termasuk pertama
yang jadi Komunis. Cerita ini kudapat dari orang Itali sendiri.

* * *

Pasti menjadi perhatian, bahwa cerita ‘Il Postino’ berkisar antara
orang-orang Koumnis Itali dan Komunis Chili. Komunis-komunis Itali
adalah wong-wong cilik. Yang seorang kepala kantor pos setempat, yang
satunya adalah postbode Mario. Tapi orang Komunis yang satu lagi, adalah
adalah salah seorang RAKSASA di kalangan penyair dunia.

Di sinilah a.l menariknya film ‘Il Postino’ bagiku, teristimewa ketika
mengikuti dialog antara komunis-komunis Itali dan Komunis Chili Pablo
Neruda, yang dalam tahun 1971 mendapat Hadiah Nobel. Tidakkah menarik
bagi pembaca, khususnya pembaca Indonesia yang, — disebabkan pengaruh
mesin propaganda ala Goebels yang dilancarkan oleh fihak Barat dan Orba
selama puluhan tahun belakangan, sampai sekarang, kebanyakan menjadi
Komunisto-phobi? Tidak bisa lagi melakukan analisis obyektif atas
kehidupan yang nyata. Sudah lupa bahwa dalam pemilu tahun 1955 dan 1957,
kaum Komunis Indonesia pernah punya pengaruh di kalangan seperempat
pemilih Indonesia yang sah.

* * *

Barangkali ada baiknya kukutip sedikit apa yang kutulis mengenai Pablo
Neruda setahun yang lalu, yaitu pada hari Natal tahun 2007, sbb:

Sebelum mengakhiri INTERMEZO ini, ada satu hal menarik dan penting yang
ingin kusampaikan mengenai seorang penyair Chili, kaliber dunia, PABLO
NERUDA ( 12 Juni 1904 – 23 Sept 1973 ). Buku PABLO NERUDA (tebal 455
halaman), edisi bahasa Belanda, berjudul — ‘IK BEKEN IK HEB GELEEFD,
Herinneringan’, dalam bahasa Indonesianya kira-kira, ‘SAYA AKUI SAYA
HIDUP, Kenang-kenangan’ (Cetakan pertama 1975). Kubeli di Toko Buku
‘Vrije Universiteit Amsterdam’, pada tanggal 13 Desember 2 2004.

Pada halaman 8. Di situ Pablo Neruda menulis bahwa, ‘Memori kenang-kenangan
ini bukanlah suatu cerita yang sambung-menyambung menjadi suatu
keseluruhan yang utuh, dan di sana sini tampak adanya kekosongan. Persis
sama dengan kehidupan itu sendiri’. . . . . .

Seorang penyair besar! RenDe Costa dalam THE POETRY OF PABLO NERUDA,
menulis bahwa ‘Sekali tempo Pablo Neruda disebut Picassonya puisi,
berkat pandangannya yang banyak-seginya dan talennya untuk selalu berada
di barisan depan’.

Setelah Pablo Neruda dianugerahi HADIAH NOBEL UNTUK SASTRA (1971),
perhatian khalayak sedunia semakin meningkat terhadap diri dan
syair-syair serta tulisan-tulisannya. Bukunya ‘ MEMORI . . . ‘ yang
penerbitannya ditangani oleh istrinya sendiri, amat dinanti-nantikan dan
disambut hangat. Bukan kebetulan bahwa terbitnya buku Memori Pablo
Neruda tsb berlangsung pada tahun 1975. Yaitu tahun ketika pemerintah
progresif Kiri Partai Sosialis Presiden Salvador Allende digulingkan
oleh suatu kup militer anti-Komunis di bawah pimpinan Jendral Pinnochet.
Syukur alhamdulillah, akhirnya almarhum Presiden Jendral Pinnochet yang
telah melakukan pelanggaran HAM besar-besaran terhadap rakyat Chili,
akan diadili.

Pablo Neruda sempat menjadi Dubes Chili di Perancis. Ia menerima jabatan
itu karena merasa bangga di negerinya, Chili, ketika itu berdiri suatu
pemerintah Sosialis yang progresif, di bawah Presiden Allende. Dan ia
bersedia mewakili pemerintah Kiri seperti itu.
Meskipun umum tau bahwa PABLO NERUDA adalah seorang Komunis. Namun tidak
membikin mata mereka cadok, tapi masih mampu bersikap obyektif, untuk
melihat dan mengakui bahwa Pablo Neruda yang Komunis itu, adalah seorang
raksasa di dunia sastra , dunia persairan internasional.

Ternyata di dunia ini, tidak semua orang matanya cadok, yang membikin
mereka tidak bisa atau tidak rela melihat dan mengakui, bahwa orang
Komunis itu tidak sedikit yang hebat-hebat. Yang telah memberikan suri
teladan, telah mengabdi pada rakyat dan negerinya, yang patriotik dan
internasional, dan telah memberikan sumbangan penting dalam khazanah
puisi dunia. Orang-orang yang fikiran dan mata hatinya sudah cadok
begitu mendengar nama KOMUNIS, hati nuraninya sudah bisu, fikirannya
membatu, macet, persis seperti pahlawan anti-Komuinis MAC CARTHY di
Amerika pada tahun limapuluhan. * * *

Minggu, 06 Juli 2008.

FPI: Hentikan Pembuatan Patung-patung Haram!

Hentikan FPI sepertinya lebih baik daripada menghentikan patung-patung yang bernilai budaya…

Pada 19 Oktober 2011 12:14, Sunny <ambon@tele2.se> menulis:

 

Ref  : Apakah Candi Borobudur dan Prambanan juga haram? Bagaimana dengan Bali yang penuh dengan patung-patung, apakah juga haram? Kalau coccok, nobatkanlah Bali menjadi pulau haram dari pada dinamakan pulau Dewata.

 

|

FPI: Hentikan Pembuatan Patung-patung Haram!

Senin, 17 Oktober 2011

Hidayatullah.com–Sehubungan dengan maraknya pembuatan patung-patung yang diletakkan di tempat umum dan terbuka di berbagai daerah di Indonesia dan sering mengundang protes dan reaksi keras umat Islam Dewan Pimpinan Pusat – Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta mengeluarkan sikap.

Menurut FPI, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan jiwa Piagam Jakarta yang berintikan Syariat Islam, wajib menghargai keyakinan umat Islam yang menolak patung, karena diharamkan dalam ajaran Islam.

Pernyataan sikap yang dirilis dalalam laman resminya fpi.or.id juga mengatakan, prinsipnya, umat Islam tidak menolak patung selama tidak bertentangan dengan Syariat Islam, misalnya bukan patung manusia/hewan/setan/dan yang sejenisnya atau yang menyerupainya,

“Bahwa Umat Islam juga tidak pernah menolak seni dan budaya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam,” tulisnya dalam laman resmi FPI Senin, (17/10/2011)

Selain itu, FPI juga mengatakan, Umat Islam tidak pernah mengganggu patung yang dibuat dan diletakkan pada tempatnya, seperti patung Yesus atau Bunda Maria di dalam Gereja, patung Budha di dalam Vihara, aneka patung di dalam candi, dsb.

FPI menilai, jika patung-patung yang dibuat dan diletakkan bukan pada tempatnya, apalagi di tempat terbuka yang bisa menyinggung suatu agama/suku/kelompok/golongan, tentu merupakan provokasi jahat yang harus dilarang oleh negara.

“Bahwa Patung Naga besar dan mencolok yang identik dengan adat China dipajang oleh Walikota berdarah China di tengah Kota Singkawang yang merupakan daerah basis pribumi Melayu, adalah PROVOKASI JAHAT.”

Selain itu masih ada beberapa patung yang dinilai provokatif misalnya Patung Bima yang berasal dari pewayangan zaman Pra Islam dipajang secara mencolok di tengah kota Purwakarta yang dikenal sebagai Kota Kiai dan santri dengan kehidupan yang sangat agamis. Juga patung Tiga Mojang dipajang di tengah keramaian Kota Bekasi yang identik dengan Kota Islam dan terkenal dengan gerakan Islamnya sejak lama.

Karenanya, FPI menyerukan pemerintah Indonesia dari Pusat sampai ke Daerah untuk merobohkan semua patung yang dinilai haram yang diletakkan di tempat terbuka, dan melarang pembangunan patung-patung haram yang baru.

“Menyerukan semua anggota masyarakat untuk segera menghentikan pembuatan patung-patung haram untuk menjaga kodusifitas hubungan antar umat beragama,” tulisnya.*

Keterangan: Patung Bima di Purwakarta yang pernah membuat amarah kaum Muslim

Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar

Tentang Lan Fang (5 Maret 1970 – 25 Desember 2011)

Tentang Lan Fang (5 Maret 1970 – 25 Desember 2011)

Sumber: Tentang Penulis Novel Kembang Gunung Purei, penerbit Gramedia Pustaka Utama, April 2005, halaman 225.

  Bamby Cahyadi <bamby.cahyadi@gmail.com>,in: apresiasi-sastra <Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com> , Sunday, 25 December 2011, 19:36

Lan Fang lahir di Banjarmasin pada tanggal 5 Maret 1970 dari pasangan Johnny Gautama dan Yang Mei Ing, sebagai anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Janet Gautama. Pada tahun 1988, ia menyelesaikan SMA-nya di Banjarmasin lalu meneruskan dan menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA).

 

Walaupun terlahir dalam keluarga keturunan Cina yang cukup konservatif dan lebih berkonsentrasi kepada dunia bisnis, Lan Fang sudah suka menulis dan membaca sejak usia sekolah dasar. Buku-buku Enid Blynton, Laura Ingals Wilder, atau sekadar majalah anak-anak, seperti Bobo dan Donal Bebek, telah mengantar imajinasinya ke dunia lain. Di sekolah pun, pelajaran kesukaannya adalah pelajaran Bahasa Indonesia, terutama mengarang. Sebetulnya keinginan Lan Fang untuk menulis cerpen sudah mulai ada sejak SMP ketika bacaannya mulai beralih kepada majalah-majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis. Tetapi karena dianggap “ganjil” dan “tidak tertangkap mata” oleh keluarganya, tidak ada motivasi kuat untuk mempertajam talentanya. Keinginan menulis itu pun terlupakan begitu saja.

 

Ketika ia berusia 13 tahun, ibunya meninggal dunia karena kanker otak yang ganas. Sejak itu ia selalu merasa dirinya tidak lengkap, namun cinta pertamanya pada seorang pemuda di usia 15 tahun, memberinya inspirasi yang tak pernah kering. Walaupun bukan penulis, tetapi pemuda itu telah memberikan ruang gerak yang luas dan waktu yang tidak terbatas pada Lan Fang sehingga memacunya untuk berkarya. Ketika semua isi kepala dan hatinya itu dituangkan ke dalam tulisan dengan sangat lancer, Lan Fang merasa takjub ketika menyadari tulisan itu sudah berbentuk cerita. Sekadar iseng, ia kemudian mengirim cerita pendek pertamanya yang berjudul Catatan Yang Tertinggal itu ke majalah Anita Cemerlang pada tahun 1986. Ternyata cerpen tersebut langsung dimuat sebagai cerita utama di halaman depan.

 

Setelah itu Lan Fang jadi ketagihan menulis. Ketika menulis, ia menemukan dimensi baru tanpa ruang dan waktu, tempat ia bias merasa bebas melompat-lompat dari dunia satu ke dunia lain. Ia merasa bebas mengungkapkan apa yang ia pikirkan, rasakan, bayangkan, pertanyakan, tanpa adanya benturan dengan batasan-batasan.

 

Pada periode 1986-1988, ia cukup banyak menulis cerpen remaja yang bertebaran di majalah-majalah remaja seperti Gadis, terutama Anita Cemerlang. Kebanyakan cerpen yang ia tulis bernapaskan cinta dengan banyak pengaruh tulisan Kahlil Gibran.

 

Sejak tahun 1997, ibu dari kembar tiga ini berulang kali memenangkan berbagai lomba penulisan. Di tahun tersebut, cerbernya Reinkarnasi menjadi Juara Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina dan cerpennya Bicara Tentang Cinta, Sri… menjadi Juara II Lomba Cerpen Tabloid Nyata. Di tahun 1998, karyanya yang berjudul Pai Yin menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina. Di tahun yang sama cerpennya Bayang-Bayang pun menjadi Pemenang II Lomba Mengarang Cerpen Femina. Selain itu, cerpen Ambilkan Bulan, Bu… menjadi karya layak muat untuk Femina.

 

Ia sempat vakum selama lima tahun dari dunia tulis-menulis, karena sibuk berkonsentrasi dalam merintis karier di sebuah bank nasional swasta di Surabaya sampai tahun 2000. Saat ini, ia bergabung di sebuah perusahaan asuransi jiwa asing di kantor cabangnya di Surabaya.

 

Akhirnya pada tahun 2003 ini, Lan Fang berhasil menyelesaikan tulisannya yang mengendap selama jangka waktu itu. Karyanya yang berjudul Kembang Gunung Purei tersebut pun menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Novel Femina 2003.

 

Dalam kesehariannya, ibu dari Vajra Yeshie Kusala, Vajra Virya Kusala, dan Vajra Vidya Kusala ini sangat mensyukuri keberadaan 3 Vajra = 3 Kekuatan yang di-milikinya sebagai sumber semangat dan motivator kuat untuk selalu bias bertahan di saat-saat sulit.

 

Pada pembukaan novel Kembang Gunung Purei, Lan Fang menulis puisi sebagai berikut :

 

(Surabaya, 5 Agustus 2003)

 

Saat-saat kutulis bagian tengah buku ini di

Ujung kakinya…

Saat-saat tidak bias menyelesaikan bagian akhir

Buku ini…

Karena…

Ia memberiku…

Tidur panjang yang cantik…

Mati indah,

Tapi meninggalkan ngilu dalam dan panjang…

Sehingga…

Buku ini…

Tidak pernah selesai…..

 

Lan Fang meninggal dunia pada tanggal 25 Desember 2011 di Rumah Sakit Mont Elisabeth Singapura, Minggu siang ketika sebagian dari kita merayakan hari Natal. Lan Fang mengalami tidur panjang yang cantik dan mati yang indah.

 

Jakarta, 25 Desember 2011

 

The Power of IQRA

The Power of IQRA’:
Bagaimana Saya Mengajar Matakuliah Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi? (16)

Oleh Hernowo


in:dikbud@yahoogroups.com , Sunday, 25 December 2011, 8:43

Ustad Quraish Shihab
“Wa rabbuka Al-Akram” mengandung pengertian bahwa Dia (Tuhan) dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi segala hambanya yang membaca.
 
Tentunya, kita sebagai makhluk tidak dapat menjangkau betapa besar “karam” Tuhan. Bagaimanakah makhluk yang terbatas ini dapat menjangkau sifat Tuhan Yang Mahamutlak dan tidak terbatas itu? Namun demikian, sebagian darinya dapat diungkapkan sebagai berikut:
 
“Bacalah, Tuhanmu akan menganugerahkan dengan karam­Nya (kemurahan-Nya) pengetahuan tentang apa yang engkau tidak ketahui.”
 
“Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walaupun objek bacaan sama, niscaya Tuhanmu dengan karam-Nya akan memberikan pandangan/pengertian baru yang tadinya engkau belum peroleh pada bacaan pertama dalam objek tersebut.”
 
“Bacalah dan ulangi bacaan, Tuhanmu akan memberikan kepadamu manfaat yang banyak tidak terhingga karena Dia Akram (memiliki segala macam kesempurnaan).”
 
Di sini kita dapat melihat perbedaan antara perintah membaca pada ayat pertama dan perintah membaca pada ayat ketiga. Yakni, yang pertama menjelaskan syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika membaca, sedangkan perintah kedua menjanjikan manfaat yang diperoleh dari bacaan tersebut.
 
Tuhan dalam ayat ketiga ini menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca “demi karena Allah”, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman-pemahaman, wawasan-wawasan baru walaupun yang dibacanya itu-itu juga.
—M. QURAISH SHIHAB dalam “Falsafah Dasar Iqra’” (dalam buku “Membumikan” Al-Quran, Mizan, 2007)
 
Sungguh, sepulang mengajar dari STAI Sadra pada Sabtu lalu, 24 Desember 2011, saya mengalami kebahagiaan yang tiada tara—mungkin, merujuk ke “Bapak Psikologi Positif” Martin Seligman, pengalaman saya itu yang disebut sebagai “authentic happiness”. Saya merasa berhasil menyampaikan pesan-penting diturunkannya ayat-ayat pertama Al-Quran (ayat-ayat “iqra’”) kepada Nabi Muhammad Saw. sebagaimana ditafsirkan dengan sangat menarik oleh Ustad Quraish.
 
Tidak semua makna ayat-ayat dalam Surah Al-`Alaq—khususnya ayat pertama hingga kelima—berhasil saya ungkap dan sampaikan kepada para mahasiswa saya. Saya hanya berusaha fokus pada ayat ketiga sebagaimana itu terlihat dalam kutipan saya atas ulasan Ustad Quraish yang saya gunakan untuk mengawali tulisan saya kali ini. Meskipun begitu, itu sudah lebih dari cukup. Saya tidak mampu membahasakan makna “al-akram”—dan juga hal-hal lain yang terkait dengan “iqra’”—melebihi apa yang sudah disampaikan oleh Ustad Quraish:
 
 
“Bacalah dan ulangi bacaan, Tuhanmu akan memberikan kepadamu manfaat yang banyak tidak terhingga karena DiaAkram (memiliki segala macam kesempurnaan).”
 
Dan “puncak dari segala yang terpuji” (al-akram)—apakah ini? Tuhan berjanji kepada para hamba-Nya yang mau membaca dengan janji menganugerahi “al-akram”? Saya mengulang-ulang terus hal ini kepada para mahasiswa saya. Apakah anugerah itu sekadar dalam bentuk ilmu, wawasan baru, derajat yang mulia, kebahagiaan? Tidak. Tidak. Tidak, kata saya berulang-ulang. “Al-akram” lebih tinggi dari semua itu. Anda akan merasakan hal-hal yang luar biasa apabila Anda memang mau membaca dan memiliki pengalaman membaca—sebagaimana telah ditegaskan oleh-Nya dalam ayat-ayat Al-Quran yang turun pertama kali kepada Nabi-Nya—sesuai kadar atau kesanggupan Anda.
 
“Lantas apakah saya tetap bisa mendapat anugerah ‘al-akram’ itu Pak?” Ya, bisa! “Meskipun saya gagap dan kadang tidak mampu memahami apa yang saya baca?” Ya. Teruslah menjalankan perintah-pertama Allah tersebut. Jangan menyerah dan mengeluh. Jalankan saja perintah-pertama-Nya itu sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan. Biasakan setiap hari membaca apa yang Anda suka. Teruslah berharap untuk menerima anugerah-Nya bernama “al-akram”. Saya yakin, pada saatnya nanti, Dia akan memenuhi harapan Anda.[] 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers