Archive for the ‘Apresiasi’ Category

Gaya Taufiq Ismail Membungkam

 

Gaya Taufiq Ismail Membungkam…

Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman

dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi

kegita.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fans

Club, yang menyelenggarakan acara diskusi senirupa, sebagai bagian dari kampanye informasi

publik menyongsong ulangtahun ke-50 dan pameran akbar Bumi Tarung, yang akan digelar di

Galeri Nasional, Jakarta, September mendatang.

Diskusi tersebut berlangsung di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki,

Sabtu, 12 Maret yang baru lalu, dengan mengetengahkan pembicara EZ Halim (kolektor), Hardi

(pelukis), Sihar Ramses Simatupang (wartawan-sastrawan), dan Amrus Natalsya (bos Bumi

Tarung). Menjelang diskusi, anggota Bumi Tarung, pelukis semiliar, Joko Pekik, juga berbicara

mengenai pengalamannya selama bergelut dalam kelompok pelukis yang bermarkas di

Yogyakarta awal 1960-an itu, termasuk penderitaannya selama meringkuk dalam tahanan rezim

yang simbolisasinya dia visualkan di atas kanvas dalam bentuk babi hutan: Celeng.

Taufiq Ismail –begitulah sejauh yang saya amati — berusaha, termasuk menggunakan

intimidasi, untuk membatalkan pertemuan yang dihadiri hampir 100 undangan itu. Sekitar jam

10 pagi di hari Sabtu itu, Ajip Rosidi menelepon saya yang sedang bersiapa-siap mengajar di

Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara. “Martin,” kata Ajip, yang saya duga berbicara dari

rumahnya, di Pabelan, Magelang, “saya dengar ada diskusi di PDS yang diadakan Lekra generasi

ketiga, ya?!” Saya katakan, setahu saya, itu adalah diskusi yang diadakan oleh sekelompok

pemuda yang menamakan diri ‘Bumi Tarung Fans Club’ sebagai bagian dari kegiatan

menongsong pameran besar Bumi Tarung yang akan berlangsung September.

Ajip tidak mengatakan dari siapa dia mendengar informasi itu. Dia lantas mengeluh dan

meminta bantuan saya untuk membatalkan diskusi tersebut. Bagaimana perasaan HB Jassin di

dalam kuburan. Dia yang dulu diserang oleh Lekra, sekarang tempatnya malahan jadi

gelanggang pertemuan orang-orang Lekra. Dan, apa kata keluarga Jassin kalau mendengar acara

itu, demikianlah keluhan Ajip. Saya katakana saya bukan anggota panitia diskusi itu. Lantas, dia

memahami mengapa saya tak bisa mencegah berlangsungnya diskusi. Dia kemudian

menimpakan kesalahan pada Endo Senggono, kapala PDS HB Jassin, yang tidak memberikan

laporan kepadanya. PDS HB Jassin berada di bawah sebuah yayasan yang didirikan oleh Ajip

Rosidi bersama HB Jassin (ketika kritikus ternama ini masih hidup).

Kapada Ajip saya berjanji untuk menghubungi Amrus Natalsya, dan meyampaikan

keberatannya terhadap diskusi yang akan berlangsung di PDS pukul 02.00 siang itu. Ketika saya

telepon, dan saya sampaikan keberatan Ajip terhadap rencana diskusi itu, Amrus tidak

berkomentar, dan kami sepakat untuk bertemu di PDS sebelum acara yang sudah dijadwalkan

dimulai. Setibanya di PDS Jassin, saya langsung menemui Endo Senggono dan menanyakan

apakah diskusi akan tetap berlangsung, karena Ajip ingin acara itu batal. Endo, yang murah

senyum itu, sambil kedua ketiaknya bergelayut pada tongkat penyangga tubuhnya,

berkata: “Jalan terus… Kalau dibatalkan malah bisa bikin masalah berkepanjangan. Kita lihat

saja nanti,” katanya. Saya terharu mendengar keputusannya itu. Dia berdiri di atas tongkat

ketiaknya, tetapi dia lebih tegak dari saya, kata saya dalam hati. Dia mengeluarkan undangan,

yang juga saya terima. Katanya, di mana ada kata Lekra di sini, di undangan ini? “Bumi Tarung

itu pimpinan Amrus, dan Amrus kan anggota Akademi Jakarta!” lanjutnya menguatkan pijakan

sikapnya.

Endo mengutarakan penyesalannya kepada saya bahwa Taufiq Ismail hanya

mengirimkan pesan singkat (SMS), yang meminta acara supaya dibatalkan, tetapi samasekali tak

bisa dihubungi untuk diajak bicara. Kemudian, saya menemui Rini, salah seorang staf PDS

Jassin, yang terpaksa datang (ditemani anak gadisnya) pada hari libur itu, karena dia, katanya,

mendapat perintah lisan dari Taufiq Ismail, melalui telepon genggam, “supaya membatalkan

diskusi tersebut.” Menurut Rini, Taufiq mengatakan jika diskusi tidak dibatalkan PDS Jassin bisa

dikenakan pasal pidana, karena Lekra adalah organisasi terlarang.

Menurut Rini, dia sempat bertanya dari mana Taufiq Ismail mendengar berita

bahwa “Lekra generasi ketiga” akan menyelanggarakan diskusi di PDS Jassin, yang dijawab

Taufiq dari “orang yang bisa dipercaya.”

Kata mati, “Jalan terus…” dari Endo saya sampaikan kepada Amrus Natalsya. Begitulah,

diskusi itu dimulai dan disudahi dengan damai. Saya deg-degan juga – mungkin juga Endo –

jangan-jangan Taufiq Ismail akan mengirimkan “orang yang bisa dipercaya”-nya dengan tutup

kepala khusus, membawa pedang terhunus, untuk membubarkan pertemuan. Syukurlah, tidak,

dan Joko Pekik bisa pulang ke habitatnya di Yogyakarta tanpa kehilangan jenggot barang

seujung rambut pun.

Sebagai seorang pegiat kebuadayaan yang berwibawa, saya kira Goenawan Mohamad

layak mendapatkan informasi mengenai niat buruk dari seorang sastrawan yang berkobar-kobar

puisi dan pidatonya untuk memberangus kehendak terpuji dari anak-anak muda penggemar

kesenian. Setelah membaca SMS saya mengenai niat Taufiq Ismail untuk membatalkan diskusi

di PDS HB Jassin itu, Goenawan mengatakan: “Kita lawan saja. Dia nggak punya hak apa pun.”

Kemudian saya jelaskan kepadanya, bahwa Taufiq ingin memanfaatkan Ajip Rosidi (salah

seorang pendiri PDS HB Jassin) untuk membatalkan diskusi itu, yang dia jawab dengan

lantang: “Pokoknya mereka nggak bisa menyetop kalian!” Saya menemukan kekuatan pada kata-

kata yang terpateri di layar HP saya, dan saya biarkan kata-kata itu terus berkedip di situ sampai

sekarang.

Hari Senin, 14 Maret 2011, KOMPAS menurunkan berita di halaman dua dengan

judul “Komunisme Masih Dianggap Ancaman.” Laporan dari sebuah diskusi yang berlangsung

di Jakarta. Di dalam diskusi itu, Taufiq Ismail dilaporkan sebagai mengatakan,

bahwa “…komunisme telah membantai 120 juta manusia di 75 negara sepanjang 1917-1991,

lebih besar dari korban seluruh perang dunia dan perang lokal pada abad ke-20, sebanyak 38 juta

orang.”

Membaca ucapannya itu, dengan berkelakar saya ingin bertanya kepada Taufiq, apakah

angka “120 juta manusia” itu sudah dikorting TIGA juta “komunis,” jumlah yang dikatakan

Sarwo Edhi kepada wartawan setelah kembali dari operasi penumpasan G30S akhir 1965. Paling

tidak dua kali saya diundang untuk berbicara di dalam diskusi mengenai G30S di Univesitas

Indonesia. Duduk bersama Taufiq Ismail. Undangan yang datang, terutama para mahasiswa,

tidak mendapat apa-apa. Karena Taufiq hanya menyampaikan angka-angka pembantaian yang

terjadi pada zaman Stalin di Uni Soviet, dan Kamboja. Yang hadir dibuat munafik, karena

Taufiq samasekali tidak menyinggung manusia-manusia Indonesia yang dibantai menyusul

gagalnya G30S. Agaknya, yang tiga juta, sebagaimana yang dikatakan Sarwo Edhi, atau sekitar

500.000 sebagaimana yang diyakini para peneliti asing dan 10.000 yang dibuang ke Pulau Buru

serta ratusan ribu yang ditahan tanpa proses hukum selama belasan tahun adalah BUKAN

MANUSIA!

Martin Aleida, penulis pegiat kesenian,in: apresiasi-sastra, Thursday, 17 March 2011

Sajak Melankolisme Taufiq Ismail

Sajak Melankolisme Taufiq Ismail

Oleh: Aguk Irawan Mn

Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka

***

Sebagai pencinta sastra, siapa pun barangkali tak pernah tidak memperhatikan proses kreativitas sastrawan Taufiq Ismail. Maka ketika belum lama ini Taufiq Ismail membacakan sajaknya yang terbaru “Ketika Indonesia Dihormati Dunia” di depan KPU— lantas media massa dengan reaksi yang cepat merekamnya— sampai sekarang kita masih ingat bahwa bait sajak di atas adalah bait pertama dari sajaknya Taufik Ismail yang baru itu.

Dalam bersastra, karya Taufiq memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan politik. Bahkan Taufiq sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial dengan hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, B. Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito dan penulis-penulis lain, maka Taufiq sebagai sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik. Hal ini bisa dibuktikan sejak pertama kali ia menyandang gelar penyair pada tahun 1966. Ketika itu, dengan semangat yang luar biasa— melalui sajak “Tirani dan Benteng”nya ia cukup andil menumbangkan Orde Lama (Soekarno), dan kita lihat di sana bagaimana ia menggambarkan zaman yang bergolak dan penuh idealisme itu. Lalu dilaksanakanlah Pemilu dengan hura-hura berdarah, segala tipu dan fitnah dalam teriakan histeris jurdil dan pesta demokrasi. Dan dengan gegap gempita masyarakat bergegas menyongsong lahirnya Orba. Kemudian saat Orba ditumbangkan (1998), Taufiq “malu-malu” meluncurkan buku berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”.

Sajak Taufiq memang mempunyai spirit juang yang tinggi. Daya ekspresi bahasa yang diluncurkan bisa membawa sentak tangan yang dikepalkan, telunjuk jari yang diacungkan, dan lengan baju yang disingsingkan. Dalam sajak-sajak “Tirani” terhadap Orde Lama dapat kita lihat pemandangan seperti itu, meskipun sajak ini hanya berlaku satu kali saja, yakni terhadap Orde Lama. Tapi pilihan kata Taufiq tampak begitu berbobot dan ‘matang’, bahkan hinggga sekarang masih mempunyai kekuatan yang sulit tertandingi oleh sastrawan lain. Saya yakin bahwa sajak-sajak Tirani Taufik Ismail tetap akan bernilai universal, meskipun Taufiq hanya memilih ‘diam’ dalam menghadapi kenyataan Orde Baru yang lebih tirani di permukaan Indonesia. Dengan demikian, bukankah ini lebih akan mempertegas bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus.

Kemudian tidak berlebihan jika lahir hipotesis bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus, yang kemudian citra ini lambat laun semakin pupus dan tergantikan dengan stigma negatif ketika Taufiq menciptakan sajak yang ganjil. Coba kita renungkan baat terakhir dari sajak itu.

Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku Bangsaku.

Taufiq seperti mengalami kekecewaan yang luar biasa, sangat terpukul dengan kondisi Orde Reformasi. Bahkan ia seakan telah menyesali kenyataan kehidupan berkebangsaan yang sekarang ini kita jalankan bersama. Mungkin Taufiq menganggap bahwa proses reformasi ini terlalu pahit bagi kehidupan politiknya. Sehingga benar apa yang dikatakan Ulil Abshar Abdalla, bahwa sajak Taufiq Ismail “Ketika Indonesia Dihormati Dunia” adalah sajak “melankolis”, meratap, melihat masa lalu seolah-olah sebagai “surga” yang tak akan kembali. Pada kenyataannya sajak Taufiq memang mencerminkan sebagian pandangan yang berkembang dalam masyarakat; pandangan yang ingin saya sebut “melankolisme-masokis”.

Menjenguk sejarah memang penting dan sangat dibutuhkan bagi kesinambungan membangun Indonesia; di masa kini dan akan datang, agar penyegaran perjuangan selalu ada. Tapi meratapi kepergian masa lalu yang menggembirakan dan terus memujanya, adalah sikap memilukan bagi seorang yang berjiwa patriot. Sebab yang terpenting bagi kita sekarang adalah menciptakan “surga” di Indonesia yang telah lama dirampok oleh Orba. Agaknya, sajak Taufiq memang ambivalen dan hiperbolis dalam melihat masa lalu. Sementara kita pun mengerti bahwa pemilu 1955 memang tak semuanya sempurna, dan sejarah telah mencatat ada kejanggalan- kejanggalan di dalamnya yang berbelit. Selain masa itu, Pemilu 1955 militer masih belum begitu simpati terhadap kekuasaan dan belum menjadi gurita yang membelit negara.

Menurut Z. Afif. Pemilu 1955 dilaksanakan oleh para Republiken, orang-orang yang sangat merasakan penindasan kolonialisme yang juga memperalat feodalisme. Orang-orang yang bercita-cita membangun sebuah Republik yang benar-benar berlandaskan trias-politika yang sesungguhnya. Dan masa itu lepra politik uang seperti di tubuh elite politik belum berjangkit, walaupun tidak terbantahkan memang ada tikus dalam kepegawaian yang makan sedikit-sedikit milik negara untuk menombok belanja rumah.

Mungkin Taufiq lupa, bahwa ada perbedaan yang perlu diingat antara Pemilu 1955, Pemilu Orba dan Pemilu sekarang. Pemilu 1995 bertujuan untuk mewujudkan Republik yang demokratis dan parlemen yang ditempati oleh wakil-wakil rakyat. Pemilu Orba untuk memperkukuh kekuasaan otokrasi militerisme dan dilaksanakan dengan sistem politik uang dan nepotisme melalui Golkar. Sementara Pemilu sekarang berusaha keras menuju masyarakat yang berkedaulatan penuh. Untuk itu, nostalgia masa lalu yang menurut Taufiq patut dibanggakan, biarlah sebagai arsip pribadi dan bahan cerita untuk anak dan cucu.

Sampai akhir sajak itu ditulis “Ketika Indonesia Dihormati Dunia” Taufiq menunjukkan ratapan yang dahsyat dan merindui masa lalu yang sudah tenggelam. Ia seakan telah memerankan tokoh dalam kehidupan tanpa opsi dan solusi. Sastra yang seharusnya sebagai ruang pertemuan antara batin dan kenyataan, kandas di jalan, atau dalam bahasa Rene Wellek, Taufiq gagal memakai medium bahasa untuk institusi sosial. Menurut Teeuw sastra jenis ini telah kehilangan peran dalam meredamkan ketegangan antara konvensi (tradisi) dan inovasi (pembaruan). Sebab peran sastra sepanjang masa hendak memperjuangkan peralihan-peralihan formasi baru yang dapat dianggap menjalani transformasi dan sintesis. Tanpa adanya kerinduan yang berlebihan terhadap kebangkitan kembali nilai-nilai masa lalu.

Maka bentuk seni dan kebudayaan yang mencerahkan dan memberi semangat yang tinggi bagi pembangunan Indonesia ke depan masih tetap diperlukan sebagai lawan dari sastra melankolis yang lebih mengedepankan sikap apatis dan pesimisnya—adalah sastra heroik memang sepatutnya lebih ditampilkan kepada khalayak pada masa-masa “hilang rasa eling” sebagai pengimbang bahasa propaganda dan retorika luar biasa gencar yang acap kali membuat telinga pekak dan mata gelap. Dengan demikian, lepas dari kekurangannya, sajak Taufiq, bagaimanapun adalah cermin rakyat yang bimbang menghadapi gelombang masa depan, untuk itu tetap patut dibaca di depan rakyat untuk mengkritisi sikap pemerintah terhadap pemilu.

Akhirnya saya sepakat dengan Ulil. Tak usah meratap, melihat masa lampau terus-menerus sebagai “firdaus” yang hilang. Gejala ini tidak sehat untuk membangun negeri ini di masa depan. Karena ada banyak perkembangan positif di negeri kita yang harus diberi apresiasi; dan perkembangan itu hanya mungkin karena ada reformasi. Nilai, harga, dan bobot sebagai hasil yang diperoleh selama reformasi tak kalah dengan Proklamasi Kemerdekaan, Pemilu 1955, Sidang Konstituante, atau pidato-pidato Bung Karno yang menyulut “adrenalin” masyarakat kecil. Hasil-hasil selama reformasi juga tak kalah bobotnya dengan pembangunan selama periode Soeharto.

Bagaimanapun kita memang harus mengakui, kecuali kalau kita masih ingin terus memberi napas pada status quo (Orde Baru). []

Kairo, 9 April 2004
Penulis adalah Staf Peneliti Kebudayaan LKiS Yogyakarta, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Al Azhar Kairo, Mesir.

Dimuat di: http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0807/bud2.html

BUKU BARU A.SOEPRIJADI TOMODIHARDJO

ASAHAN <a.alham@kpnplanet.nl>in:artculture-indonesia@yahoogroups.com,Monday, 14 March 2011 21:03:29


Komentar sastra (singkat)
Buku baru Soeprijadi Tomodihardjo:
CUCU TUKANG PERANG
130 Halaman
Kata pengantar: Zaen Hae
Penerbit: Akar Indonesia-Yogyakarta
Cetakan pertama: Januari 2011
Jenis: Kumpulan cerita pendek( 14 cerpen)
Soeprijadi Tomodihardjo (ST- 78 tahun)  bisa memulai ceritanya darimana saja, mudah dan dengan lancar membuka kisah-kisahnya hingga ahir dan selalu punya daya pikat untuk “menawan”pembacanya hingga ke ujung cerita. Modal awal ini biasanya hanya dimiliki oleh para pengarang atau penulis yang punya klas master atau groot meester seperti Soeprijadi. Dan memang ST termasuk sastrawan senior yang mempublikasi karya-karnya sejak tahun lima puluhan dan hingga saat ini: puisi maupun prosa. Saya sendiri lebih menyukai cerpen-cerpen Soeprijadi terutama gaya Soeprijadi yang realis tapi tidak agressif bahkan terkadang subtiel dan saya lebih cenderung mengkategorikan ST sebagai pengrang realis ironis. Zaen Hae dalam kata pengantar buku Soeprijadi yang sekarang ini sebagai pengarang KIRI yang tidak terlalu diberati “kendaraan ideologis” dibadingkan dengan para pengarang KIRI lainnya yang eksil. Soal pembagian “pengarang eksil”dan pengarang biasa bukan eksil, untuk saya tidak punya dasar dan juga tidak punya ciri-ciri yang meyakinkan yang membedakan . Gabriel Gacia Marquez (pemenang Nobel sastra 1982) dan juga Mario Vargas Llosa (pemenang nobel sastra 2010) , dua-dua mereka, juga pernah jadi eksil dan tidak seorangpun yang  menyebut mereka sebagai pengarang eksil. Untuk saya pengarang eksil itu tidak ada, sama tidak adanya dengan “sastra eksil”karenanya kalau Zen Hae mau mengembalikan “sastra eksil”(melalui karya-karya ST) ke sastra biasa adalah seperti ingin mengembalikan arah angin ke arah sumbernya semula darimana angin bertiup. Sastra adalab keberagaman, karena sastra adalah gejala kehidupan. “Sastra eksil”tidak punya hak untuk memisahkan diri dari  kehidupan normal, dia tidak berdiri sendiri karena dia tidak bisa memisahkan dirinya dari kehidupan manusia lainnya, demikian pula di bidang sastra. Jadi yang ada, adalah keberagaman dalam sastra itu sendiri dan biarkanlah keberagaman itu menyebut dirinya sebagai sastra dan bukan “sastra eksil” atau bukan eksil.
Kembali ke Soepriadi. Sebagai pengarang dan penulis ST mempunyai gaya khusus terutamanya bahasanya yang rapi tapi lancar. Sebagai pengarang realis  moderat, ST juga menulis cerpen romantis (contoh: BANUADJI TIADA LAGI). Namun tidak ada sex dalam romantisme Soeprijadi tapi tetap saja menarik untuk dibaca yang itu adalah juga berkat kekuataan daya bercerita ST dengan bahasanya yang selalu enak diikuti. Kejutan-kejutan ringan di ahir cerita ST bukan sekedar naluri ingin memberikan surprais kepada pembacanya karena kewajaran tersebut memang diperlukuan pada ahirnya karena kalau tidak, cerita-certia ST cuma akan sekedar obrolan biasa tanpa klimax.
Selain itu, membaca cerpen-cerpen Soeprijadi, untuk saya mengingatkan kembali akan jaman majalah KISAH di tahun lima puluhan yang diasuh HB Jassin. Dalam majallah KISAH akan banyak ditemui karya-karya pengarang terkemuka pada waktu itu yang antara lain Subagio Sastro Wardojo. SM Ardan, Ajip Rosidi, Sobron Aidit, Riyono Pratikto dan masih banyak pengarang-pengarang terkemuka lainnya, termasuk Soeprijadi sendiri. Gaya menulis ST masih terasa adalah gaya penulisan para pengarang majalah KISAH. Karenanya membaca karya-karya Soeprijadi benar-benar seperti membaca karya sastra moderen klassiek jaman majalah KISAH atau sejenisnya. Saya sendiri  mendapat kepuasan sastra dalam membaca cerpen-cerpen ST.
Tidak diragukan, bila seorang penggemar sastra yang serius, klassiek maupun moderen sudah pasti tidak akan kecewa membaca kumpulan cerpen ST yang sekarang ini tapi tentu itu tidak berarti semua tanpa cacat barang segorespun. Di manakah cacat-cacat itu bisa ditemukan. Itu sepenuhnya tergantung pada setiap pembaca. Bagaimanpun hebatnya sebuah karya sastra tapi tetap saja sastra itu adalah juga sebagai sebuah gading yang tak ada yang tak retak. Realisme magisme Gabriel Garcia Marquez yang dikagumi dunia tapi untuk Mario Vargas Llosa( juga peraih nobel sastra) cumalah mengada-ada, banyak yang tidak realis. Saya sendiri  mengagumi kedua duanya karena mereka adalah keberagaman yang justru menambah keindahan sastra.
ASAHAN.
Hoofddorp, 13 Maret 2011.

TELEVISI JE AYUN ITAH

SAHEWAN PANARUNG

Untuk Kebangkitan Kebudayaan Dayak & Yang Majemuk Di Kalimantan Tengah

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

MEWUJUDKAN MULOK, BUKAN DENGAN JALAN PINTAS

Apa tujuan mata pelajaran muatan lokal (mulok)? Secara sederhana:Untuk memperkenalkan bahasa/budaya dan sejarah lokal kepada peserta didik agar mereka tidak lepas akar dan menjadi angkatan tanpa sejarah serta agar tetap punya identitas diri. Untuk Kalteng, bagaimana membuat Kalteng Beridentitas Kalteng. Untuk mencapai tujuan ini yang terpenting adalah belajar bahasa-budaya dan sejarah lokal. Belajar bahasa berarti sekaligus belajar masalah budaya, karena bahasa tempat menyimpan budaya serta wacana-wacnanya, termasuk wacana adat. Sedangkan sejarah melukiskan perjalanan perjuangan suatu daerah atau dari masa ke masa. Kesenian, kuliner, anyal-menganyam, dan lain-lain, bisa dilakukan sebagai kegiatan ekstra –kurikuler bekerja sama dengan Taman Budaya, Komunitas dan atau sanggar-sanggar. Jika semuanya ini ingin dimasukkan ke jam mulok akan menambah jam pelajaran yang sudah cukup padat. Cara menyampaikan pelajaran niscaya menyenangkan, tidak membosankan. Tekhnisnya perlu didiskusikan rinci seperti penggunaan filem, slide, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, situs-situs budaya, museum, mengundang pelaku-pelaku kebudayaa dan sejarah, dan lain-lain.

Apa masalah yang dihadapi oleh sekolah-sekolah SD-SMA Kalteng dalam soal mulok sekarang? Pertemuan dengan para guru di Balai Bahasa pada Oktober 2010 lalu mengatakan bahwa persoalan utama dan mendesak adalah tenaga pengajar dan bahan ajar. Karena demikian masalahnya maka apabila menyerahkan pemecahan soal tenaga pengajar dan bahan ajar itu kepada sekolah-sekolah sama dengan mengambil jla pintas, jalan gampang yang tidak memecahkan masalah. Sama dengan membengkalaikan mulok.Dinas Pendidikan Provinsi niscaya menyediakan bahan ajar tentang bahasa-budaya dan sejarah. Menyusun kurikulum adalah sekunder dibandingkan dengan penyediaan bahan ajar dan pengadaan tenaga guru. UUD 1945 sudah memerintahkan pengdaan mulok. Apa kesulitan Dinas untuk melakukannya?Dana dari APBN dan APBD cukup besar,lebih dari dari 20% dari APBN.Bahan-bahan tinggal mengorganisasisasi yang sudah ada untuk langkah pertama menanggulangi masalah. Tenaga pengajar, bisa diatasi dengan melakukan penataran singkat. Lupakan dahulu gelar akademi untuk menjawab persoalan mendesak ini. Dinas Pendidikan menjanjikan bahwa mulok akan diberikan dari Sehingga SMA pada awal tahun –ini. Sekarang sudah Februari 2011. Mana bahan ajar dan tenaga pengajar yang diperlukan oleh sekolah-sekolah? Menyerahkan penyelesaian soal pada sekolah-sekolah sama dengan tidak memecahkan masalah, cara untuk lepas tangan. Padahal mulok sangat penting untuk mencapai tujuan di atas. Tulisan ini menagih janji dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kalteng tentang pelaksanaan mulok, tidak hanya tinggal di lamis bibir (lip service) atau menjadi politik pencitraan.***

 

Catatan Kebudayaan Kusni Sulang

TELEVISI JE AYUN ITAH

Ketika Kalteng berusia 38 tahun, tanggal 17 Februari 1995 TVRI Kalteng didirikan. Seperti pada umumya segala usaha yang baru dimulai, tidaklah disertai dengan segala kelengkapan. Kelengkapan demi kelengkapan dilakukan sambil bekerja dan dalam proses bekerja. Mulai dari kelengkapan tekhnis sampai pada sumber daya manusia pendukung usaha tersebut.Ciri ini lebih-lebih lagi menandai segala yang ada di Kalteng. Gedung-gedug pemerintah seperti gedung DPRD Provinsi dibangun sedikit demi sedikit. Universits Plangka Raya (Unpar) dibangun bermodalkan tenaga seadanya,bukan dengan ketersediaa barisan profesor doktor. Demikian juga RRI dan kemudian TVRI Kalteng. Bhkan provinsi Kalteng ini sendiri bisa dikatakan didirikan bermodalkan tekad semata.Parapembagunnya berkantor di bawah tenda-tenda di tengah hutan dan kesunyian . Tenda-tenda itu selain merupakan kantor juga menjadi tempat tidur dan dapur dlm arti harafiah. Kendaraan roda empat yang ada hanya berupa sebuah Jip Willys 1945 Amerika, peninggalan Perang Dunia II yang digunakan oleh Gubernur Tjilik Riwut untuk mengunjungi daerah-daerah yang sedang dibangun. Bajunya pun  selalu kuyup keringat sehingga sering ia yang memang anak alam berbuka dada menantang matahari.Pegawai-pegawai pembangun provinsi lainnya, ke mana-mana berjalan kaki di jalan-jalan pasir putih belum beraspal.Mereka menghitung dan menghemat rupiah demi rupiah untuk membangun gedung demi gedung di Palangka Raya. Korupsi merupakan hewan buas yang tak dikenal sama sekali. Yang berkuasa adalah tekad Manggatang Utus Dayak, kejujuran, semangat Isen Mulang.dan kerja keras mewujudkan mimpi: Kalteng Berharkat dan Bermartabat. Kesederhanaan, kejujuran, semangat-tekad Isen Mulang, setia pada komitmen merakyat, penuh prakarsa,seorang pelopor dan kerja keras merupakan ciri Kalteng pada waktu itu.Ciri -ciri ini membuat kepasifan, rutinisme, manipulasi dan korupsi terhalau dan tak mendapat tempat seincipun di lubuk hati. TVRI Kalteng dibangun dan bekerja dengan sisa-sisa ciri-ciri Kalteng yang demikian. Saya katakan ‘’sisa-sisa’’ karena sejak Orba Soehrto berkuasa, dan Tjilik Riwut didepak ke atas pada tahun 1967, wajah pola pikir dan mentalitas seperti halnya wajah lingkungan dan alam Kalteng sangat berobah. Perkembangan politik nasional dan politik pemegang kuasa utama daerah ini tercermin dan mencerminkan diri pada TVRI dan siarannya. TVRI Kalteng yang sekarang menyebut diri Televisi Je Ayun Itah (Televisi Yang  Punya Kita) adalah hasil dari suatu perjalanan pergulatan panjang berliku mandi darah untuk menjadi Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng. Pertarungan menjadi diri sendiri melawan pencplokan budaya. Televisi Je Ayun Itah adalah penegasan politik siaran yang dipilih oleh pimpinan TVRI Klteng yang sekarang Drs.Burdju Daeng HS, MM.Penandasan dengan garis bawah bahwa TVRI Kalteng adalah TVRI Uluh Kalteng, TVRI Ayun Utah, bukan TVRI Jateng, Jatim, Minangkabau, Papua , Tapianauli atau yang lainnya. Penegasan dan penandasan dengn garis bawah oleh Biirju Daeng berarti mengangkat dan mengibarkan kembali Pnji Besar Sarikat Dajak tahun 1919 dan Pakat Dajak tahun 1926. , hal yang juga dilkukan oleh A.Teras  Narang sejak terpilih menjadi Gubernur Kalteng di tahun 2005. Dengan Televisi Je Ayun Itah sebagai politik siaran, maka di bawah pimpinan Burdju Daeng yang Indonesia berdarah Batak menjadikan TVRI Kalteng didominasi oleh siaran-siaran tentang Kalteng dengan warna lokal (Dayak) yang sangat jelas. Empat jam siaran lokal diisinya dengan program Katambung (berita Kalteng), Kéba (Kesah Budaya) , Gelar Tari Dayak, Pop Daerah, Jalan-Jalan Ke Desa (Kalteng). Menyaksikan siaran TVRI Kalteng orang tidak akan keliru apalagi sampai menduga bahwa siarannya adalah siaran dari daerah lain. Program baru sangat penting yang dirintis oleh Televisi Je Ayun Itah adalah pembuatan filem dokumenter tentang tokoh-tokoh Kalteng. Kecuali itu, untuk jangka jauh yang strategis, Burdju Daeng sangat memperhatikan pengkaderan dan meningatkan mutu SDM. Televisi Je Ayun Itah ini akan lebih melesat berkembang maju jika Dinas-Dinas dan instansi lain bersinergi dengannya. Ulangtahun ke-16 ini, saya kira, tidak lain dari janji pimpinan Televisi Je Ayun Itah dan seluruh pekerjanya untuk memberikan daerah, negeri dan dunia produk-produk bermutu dalam varian dan jumlah yang kian meningkat.Selamat Ulang Tahun, Kawan-kawan, Selamat memetik matahari .***

Eka SANSANA

Menyemai Benih Merajut Esok

Ruang Berkarya Untuk Siswa SD –SMU

Surat DariPengasuh

 

Adik-adik yang baik,

Terimkasih atas kesabaran Adik-adik menunggu giliran penerbitan karya-karya yang dikirimkan ke Eka Sansana. Kali ini Kakak terbitkan tiga puisi yang dikirimkan oleh Adik-adik dari SMAN-1 Palangka Raya. Terhadap tiga sajak tersebut Paman Talusung Tanjung berkenan memberikan apresiasinya. Apresiasi begini dimaksudkan untuk menambah acuan dalam menulis lebih lanjut. Karena itu akan selalu Kakak hadirkan.Perlu Adik-adik ketahui bahwa Eka Sansana juga menerima karya-karya dalam bahasa Dayak dlam upaya medorong tumbuhnya sastra tulis berbahasa Dayak sebagaimana dilakukan di Tanah Jawa dan Sunda. Kakak tahu bahwa di kalangan Adik-adik juga tidak sedikit yang senang melukis. Mengapa Adik-adik tidak megirimkanya ke Eka Sansana dengan alamat yang Adik-adik telah kenal : andriani_sjk(a)yahoo.com?

Tabe selalu dari Kakak,

Andriani S. Kusni

 

SAJAK-SAJAK DARI SMA NEGERI 1 PALANGKA RAYA

KEMARAU

Semilir anginmu hadirkan tawa riang

Lambungkan layang-layang di angkasa benderang

Terik mentarimu panjang menyengat

Merangsang kelopak bunga tuk kembang

Mendaulat senyawa glukosa rasuki batang-batang tebu

Pacu generatif hijauan tuk bercumbu

Ciptakan benih-benih yang ditunggu

Saat malam menjelang

Langit pun terang penuh gemintang

Kaki-kaki mungil tak henti berkejaran

Nikmati malam bermandikan rembulan

Saat fajar menjelang

Sang bayu berhembus lembab

Dingin menusuk tulang

Lahirkan titik-titik embun menggairahkan

Namun…

Masamu yang panjang

Membuat bumiku gersang

Sumur-sumur kering kerontang

Sungai-sungai bagai cawan sariawan

Leher-leher memanjang menahan kehausan

Rerumputan menguning sekarat

Lumut-lumut tinggal kerak

Kami menyebutmu paceklik

Karna tak satupun hasil yang dapat dipetik

Panas sinarmu bak pemantik

Hasilkan percikan api membara

Membakar hutan-hutan di bumi persada

Kemarau…

Bawa suka dan duka tiada terperi

Duka yang bukan kau maui

Tapi akibat ulah kami sendiri

Palangka Raya, Desember 2010

Evi Merdekawati

Kelas: XI IIA 1, SMA Negeri 1 P. Raya

 

SUASANA DI PAGI HARI

Ketikaku terbangun…

Kubuka mata ini perlahan-lahan

Kudengar suara alunan gemericik air yang berirama indah

Dari pancuran air bambu di belakang rumah

Kubuka jendela kamarku

Kuhirup udara pagi yang begitu bersahabat

Bebas dari polusi udara

Kulihat mentari mulai berbinar di ufuk timur

Memancarkan teriknya yang hangat untuk menyinari seluruh penjuru bumi

Kulihat embun pagi membasahi padang rumput lembut hijau yang terhampar luas

Seakan memberikan kesegaran Hidup ini

Kudengar burung-burung berkicau merdu

Seolah menyambut kehadiran mentari di pagi hari

Kulihat pepohonan seakan ikut menari juga melengkapi keceriaan di pagi hari ini

Kurasakan hembusan semilir angin yang lembut menyentuh kulitku

Seolah ingin mengajakku menikmati keceriaan di pagi ini

Kuambil sebuah pena dan selembar kertas

Kubiarkan penaku meliuk-liuk di atas kertas

Dan di atas kertas tersebut kutuangkan ungkapan hati, jiwa dan perasaan

Kuukir semua jalinan kata ungkapan hatiku

Menjadi sebuah rangkaian kalimat yang sederhana namun bermakna

Seakan mencerminkan ungkapan perasaan yang sedang kurasakan di pagi hari ini

O, Tuhan…

Terimakasih atas segala karunia yang kau berikan

Takkan kusia-siakan semua ini

Aku berjanji

Palangka Raya, Desember 2010

Feromiya Oksa

Kelas: X-3, SMA Negeri 1 P. Raya

 

SAHABAT

Kau tak ubahnya kertas putih

Selalu ada dalam duka dan sedih

Tempat mencurahkan rasa perih

Menghilangkan semua pedih

Kau bagaikan mentari pagi

Menghangatkan suasana hati

Menyinari hari-hari

Memekarkan bunga dalam taman hati

Sahabat,

Persahabatanmu sehijau daun

Seindah musik yang terdengar anggun

Bagai pagi berlimpahan embun

Palangka Raya, Desember 2010

Ria Janah Saputri

Kelas: XI IIA 2, SMA Negeri 1 P. Raya

Catatan Apresiasi Talusung Tanjung

DARI GEJALA MENUJU HAKEKAT

Eka Sansana nomor ini kembali menyajikan puisi-puisi dari SMA Negeri—1 Palangka Raya. Kali ini karya-karya Evi Merdekawati, Feromiya Oksa dan Ria Janah Saputri. Memperhatikan karya-karya yang disiarkan oleh Ruang Eka Sansana, SMA N-1, Sekolah-sekolah Yayasan Siswarta,MAN Model,untuk menyebut beberapa sekolah saja, memang gudang penulis-penulis berpotensi. Saya sangat yakin apabila potensi-potensi ini dipupuk dan dikembangkan, mereka akan tumbuh menjadi penulis-penulis handal yang bukan hanya membanggakan Kalteng, tapi juga negeri ini. Kalau lingkup dunia penulis bukan hanya sebatas satu langit tanahair, tapi dunia, maka yang memilih menjadi penulis tanahairnya tidak lain dari dunia itu sendiri. Untuk menjadi penulis bertanahair dunia tentu saja kerja keras, latihan, belajar, menyatu dengan, mengamati dan menganalisa kehidupan adalah suatu keniscayaan tanpa ada tawar-menawar. Dengan cara demikian, penulis bisa menjadi nurani bangsa dan anak manusia, bisa berada selangkah di depan kejamakan awam, menjadi pengawas masyarakat dan menyarankan jalan ke kemajuan. Tujuan menulis adalah melalui karya meyumbang dan menopang upaya memanusiawikan diri sendiri, anak manusia , kehidupan dan masyarakat, bukan memburu ketenaran. Yang bekerja akan dikenal karena masyarakat dan dunia tidak buta. Untuk menjadi penulis berkualitas demikian tidak mungkin melarutkan diri di permukaan gejala. Ia niscaya berupaya keras menjadikan gejala itu untuk menyelami hakekat. Pada hakekat, pada kebenaran terdapat keindahan. Sedangkan kesenian bergelut dengan keindahan. Mengatakan kebenaran sama dengan mengutarakan keindahan yang sanggup menggumul deraan waktu. Tiga sajak dari SMAN-1 di atas nampak memperlihatkan upaya mendalami gejala untuk mencari hakekat. Evi Merdekawati ketika melihat Kemarau tiba, setelah menyanyikan keindahan matahari, ia lalu mengajak pembacanya bencana kebakaran hutan yang saban tahun menimpa Kalteng. Kebakaran adalah suatu gejala. Evi tidak berhenti pada gejala kebakaran  tapi mencari sebabnya yang lebih dalam. Dalam pencarian sebab ini Evi sampai pada kesimpulan bahwa “Duka yang bukan kau maui/… akibat ulah kami sendiri”. Ulah manusia. Kecuali itu, dengan ketajaman pandang analisanya, Evi mengetahui bahwa hal ikhwal itu bukanlah sederhana, bukan hitam-putih, tapi kompleks. Terdiri dari hal yang positif dan negatif, yang biasa disebut “satu pecah jadi dua’’, bahwa yang ‘’satu’’ itu terdiri dari berbagai unsur.-Alam,matahari, embun yang indah tapi juga alam , matahari, embun yang sama kemudian menurunkan duka-nestapa. Hal-hal beginilah yang saya maksudkan dengan pendalaman gejala, mencari hakekat dari gejala. Mendapatkan hakekat, penyair lepas dari kecengengan.Hal serupa juga dilakukan oleh Feromiya Oksa dan Ria Janah Saputri. Feromiya ketika menyaksikan Suasana Di Pagi Hari, ia melihat kebesaran Tuhan. Artinya Feromiya bertanya dari mana gerangan asal muasal keindahan demikian. Pertnyaan yang bersifat pendalaman. Metode serupa juga digunakan oleh Ria Janah dalam puisinya berjudul Sahabat. Ria mencoba menggali arti Sahabat dalam kehidupan, bagaimana bersahabat. Penemuannya membawa kita pada kesimpulan tetua kita untuk saling asih, saling asah dan saling asuh.‘’Hatamuei lingu nalata’’ (saling mengembarai pikiran dan perasaan sesama) jika menggunakan ungkapan budaya Dayak. Hasil pencarian dan pendalaman ini diungkapkan oleh ketiga penyair muda langsung dari hati, tidak dibuat-buat. Tidak ‘’ndakik-ndakik’’ sehingga terjerumus ke puisi gelap yang hanya dimengerti oleh penyairnya sendiri. Pengungkapan langsung dari hati begini adalah suatu metode menemukan diri sendiri dalam menulis. Tentu akan sayang sekali, jika tiga penyair muda ini di hari-hari kemudian tidak lagi menulis. Tidak ada tua dalam menulis. Tidak ada jeda dalam mencari. Kalteng, tanahair, dunia, memerlukan penulis-penulis pencari dan pencinta. Penulis panarung!***

 

 

Puisi dan Dekonstruksi Sutardji

Tanggapan Singkat untuk Ignas Kleden

LEO KLEDEN

Terima kasih untuk tulisanmu, yang telah diterbitkan dalam lembaran “Bentara”, Kompas, 4 Agustus 2007. Dengan sangat senang saya membaca analisismu yang tajam dan jernih tentang puisi-puisi Sutardji. Saya ingin menanggapinya dengan memberikan sedikit catatan kritis. Sayang, semua buku dan catatan saya mengenai sastra Indonesia ada di Ledalero, maka catatan ini saya tulis berdasarkan ingatan dan informasi terbatas yang bisa saya peroleh dari internet.

Hemat saya, dalam analisismu satu aspek penting luput dari perhatian, atau tidak cukup dikembangkan. Aspek ini ingin saya namakan teknik “pemecahan dan fusi atom kata” untuk menemukan energi puitis yang dahsyat. Atau, seperti dikatakan Sutardji sendiri dalam Kredo Puisi: “Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas….” (kursif oleh LK)

Teknik pemecahan kata itu terdapat misalnya dalam sajak berikut ini:

Tragedi Winka & Sihka

kawin

kawin

kawin

kawin

kawin

ka

win

ka

win

ka

win

ka

win

ka

winka

winka

winka

sihka

sihka

sihka

sih

ka

sih

ka

sih

ka

sih

ka

sih

ka

sih

sih

sih

sih

sih

sih

ka

Ku

Nama WINKA & SIHKA dalam judul adalah kebalikan dari kata KAWIN & KASIH. Dengan teknik penulisan grafis seperti ini penyair tampaknya menyarankan bahwa dalam aliran waktu KAWIN & KASIH bisa mengalami tragedi menjadi WINKA & SIHKA. Cara penulisan dengan memecah dan menyatukan antara lain diperkenalkan oleh penyair sekaligus pelukis dan pemahat Jerman Kurt Schwitters (1887-1948), yang salah satu puisinya yang terkenal diterjemahkan oleh Sutardji.

An Anna Blume

Oh Du, Geliebte meiner 27 Sinne, ich liebe Dir!

Du, Deiner, Dich Dir, ich Dir, Du mir, —- wir?

Das gehört beiläufig nicht hierher!

Wer bist Du, ungezähltes Frauenzimmer, Du bist, bist Du?

Die Leute sagen, Du wärest.

Laß sie sagen, sie wissen nicht, wie der Kirchturm steht.

Du trägst den Hut auf Deinen Füßen und wanderst auf die Hände,

Auf den Händen wanderst Du.

Halloh, Deine roten Kleider, in weiße Falten zersägt,

Rot liebe ich Anna Blume, rot liebe ich Dir.

Du, Deiner, Dich Dir, ich Dir, Du mir, —– wir?

Das gehört beiläufig in die kalte Glut!

Anna Blume, rote Anna Blume, wie sagen die Leute?

Preisfrage:

1. Anna Blume hat ein Vogel,

2. Anna Blume ist rot.

3. Welche Farbe hat der Vogel?

Blau ist die Farbe Deines gelben Haares,

Rot ist die Farbe Deines grünen Vogels.

Du schlichtes Mädchen im Alltagskleid,

Du liebes grünes Tier, ich liebe Dir!

Du Deiner Dich Dir, ich Dir, Du mir, —- wir!

Das gehört beiläufig in die —- Glutenkiste.

Anna Blume, Anna, A—-N—-N—-A!

Ich träufle Deinen Namen.

Dein Name tropft wie weiches Rindertalg.

Weißt Du es Anna, weißt Du es schon,

Man kann Dich auch von hinten lesen.

Und Du, Du Herrlichste von allen,

Du bist von hinten, wie von vorne:

A——N——N——A.

Rindertalg träufelt STREICHELN über meinen Rücken.

Anna Blume,

Du tropfes Tier,

Ich——-liebe——-Dir!


Sutardji Calzoum Bachri

Ana Bunga

Terjemahan bebas (Adaptasi) dari puisi Kurt Schwittters, An Anna Blume

Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera

Kucinta kau

Aku ke kau ke kau aku

Akulah kauku kaulah ku ke kau

Kita ?

Biarlah antara kita saja

Siapa kau, perempuan tak terbilang

Kau

Kau ? – orang bilang kau – biarkan orang bilang

Orang tak tahu menara gereja menjulang

Kaki, kau pakaikan topi, engkau jalan

dengan kedua

tanganmu

Amboi! Rok birumu putih gratis melipat-lipat

Ana merah bunga aku cinta kau, dalam merahmu aku

cinta kau

Merahcintaku Ana Bunga, merahcintaku pada kau

Kau yang pada kau yang milikkau aku yang padaku

kau yang padaku

Kita?

Dalam dingin api mari kita bicara

Ana Bunga, Ana Merah Bunga, mereka bilang apa?

Sayembara :

Ana Bunga buahku

Merah Ana Bunga

Warna apa aku?

Biru warna rambut kuningmu

Merah warna dalam buah hijaumu

Engkau gadis sederhana dalam pakaian sehari-hari

Kau hewan hijau manis, aku cinta kau

Kau padakau yang milikau yang kau aku

yang milikkau

kau yang ku

Kita ?

Biarkan antara kita saja

pada api perdiangan

Ana Bunga, Ana, A-n-a, aku teteskan namamu

Namamu menetes bagai lembut lilin

Apa kau tahu Ana Bunga, apa sudah kau tahu?

Orang dapat membaca kau dari belakang

Dan kau yang paling agung dari segala

Kau yang dari belakang, yang dari depan

A-N-A

Tetes lilin mengusapusap punggungku

Ana Bunga

Oh hewan meleleh

Aku cinta yang padakau!

1999 Catatan: Terjemahan Anna Blume dikerjakan untuk panitia peringatan Kurt Schwitters, Niedersachen, Jerman.

Terjemahan ini dibuat tahun 1999, jauh kemudian dari penerbitan sajak-sajak Sutardji yang dikumpulkan dalam O Amuk Kapak. Namun, akan menarik untuk diselidiki apakah Sutardji sudah mengenal Kurt Schwittters sebelumnya dan dipengaruhi olehnya. Apa pun teknik yang digunakan, seorang penyair selalu berusaha mencapai kata dengan daya pengucapan maksimal. Setahu saya, sajak satu kata yang paling singkat dan pejal dalam bahasa Indonesia ditulis oleh Sutardji dalam sajak ini:

Kalian

pun

Yang paling menarik bagi saya ialah teknik peleburan (fusi) kata yang menghasilkan energi puitis yang luar biasa. Ambillah contoh sajak ini:

Sepisaupi

sepisau luka sepisau duri

sepikul dosa sepukau sepi

sepisau duka serisau diri

sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi

sepisapanya sepikau sepi

sepisaupa sepisaupi

sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sampai pisauNya ke dalam nyanyi.

Judul sajak ini terdengar seperti mantra. Namun, pembaca yang awas langsung melihat kata “sepi” dan “pisau” dalam mantra ini, yang akan terus-menerus terulang dalam bait-bait sajak selanjutnya, yang sekaligus menyarankan ketegangan yang tak kunjung sudah antara makna dan tanpa-makna. Demikian juga kata “sepisau” bisa dibaca se + pisau, tetapi juga bisa dilihat sebagai peleburan kata “sepi & pisau”. “Sepi & pisau” itu mengiris-menikam sampai luka, menusuk seperti duri, menekan bagai sepikul beban dalam dosa namun tetap saja memukau, sepisau itu membawa duka membuat risau, bahkan merasuk sampai ke dalam nyanyi (bait I).

Kalau demikian apa daya? Penyair meninggalkan ruang makna dan meloncat ke dalam mantra dan berteriak “Sepisaupa sepisaupi” (bait II larik 1). Bahkan, dalam tenung mantra ini “sepi & pisau” itu tetap hadir di relung “sepisaupa sepisaupi” . Ketegangan antara makna dan tanpa-makna tidak kunjung terselesaikan dalam sebuah sintesa ala Hegel, melainkan dibiarkan hidup dalam ketegangan tanpa akhir menurut dekonstruksi ala Derrida. Ketegangan itu lubuk risau tapi juga sumber daya-cipta sang penyair. “Sepisapanya sepikau sepi” (bait II larik 2): Sepisapanya bisa dibaca sebagai sepi + sapa + nya, tetapi bisa juga merupakan fusi dari sepi + siapa + punya, sedangkan sepikau bisa dibaca sepi + kau atau se + pikau (yang berarti berteriak lantang tak keruan). Maka, larik itu menyiratkan: Sepi siapa punya atau pun sepimu itu tetaplah sepi yang menjerit lantang tak keruan antara makna dan tanpa-makna “Sepisaupa sepisaupi” (bait II larik 3), yang akhirnya menjadi beban eksistensial yang mesti ditanggung sendiri (sepikul diri) betapapun menusuk seperti sekeranjang duri (bait II larik 4).

Dalam bait III:

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sepisaupa sepisaupi

sampai pisauNya ke dalam nyanyi

Sang penyair yang mabuk dalam tenung tiga kali meneriakkan mantra sepisaupa sepisaupi dan toh antara sadar dan tak-sadar tetap merasa “sampai pisauNya ke dalam nyanyi”. Pada akhirnya pengalaman eksistensial akan pisau sepi itu serentak merupakan pengalaman religius akan pisauNya yang tidak membiarkan aku berpuas diri, menusuk sampai ke dalam nyanyi.

Kepedihan pisau sepi dalam ketegangan tak berujung antara makna dan tanpa-makna juga nyata dalam bait sajak yang engkau kutip menjelang akhir papermu (Sajak tak berjudul yang dimulai dengan frase: Ah rasa yang dalam!).

Rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala

nyata sebab dari segala abad sungsang dari segala sampai duri

dari segala rindu luka dari segala laku igau dari segala risau

kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh dari segala

guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari segala

Anu puteri pesonaku!

datang Kau padaku!

Ketegangan antara makna dan tanpa-makna itu meruncing dalam pelbagai ungkapan yang menyatakan bahwa tak ada sesuatu pun yang lengkap-utuh dalam pengalaman eksistensial: “Sepi dari segala nabi”, “tanya dari segala nyata”, “sungsang dari segala sampai”, “duri dari segala rindu”, “luka dari segala laku”, “sia dari segala saya”, “duka dari segala daku”. Pengalaman hidup yang paling intens sekalipun mengandung sesuatu yang sia-sia, tetapi kesia-siaan yang getir itu membuka sebuah dimensi lain, yang mengubah pergulatan panjang sang penyair menjadi sebuah doa di larik akhir:

Kasih! jangan menampik

masuk Kau padaku! (O, Amuk, Kapak)


Leo Kleden Rohaniwan, Pengajar Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, Maumere, Flores, Setelah Menyelesaikan Studi S-3 Filsafat di Universitas Leuven Belgia pada Awal 1990-an. Saat Ini Sedang Berada di Almamaternya di Leuven untuk Penulisan Sebuah Buku Filsafat.

(diambil dari KOMPAS, edisi Sabtu, 01 September 2007)

Film dan Komunisme di Mata Sutradara Bandel

Herman Hasyim
|  19 September 2010  |  14:39

347

35
3 dari 6 Kompasianer menilai Menarik.

“Anak saya sekarang tidak tahu apa PKI itu, bahwa PKI memang pernah ada. Bahkan orang-orang yang lebih dewasa dari dia percaya pada kebohongan komunis bahwa PKI itu hanya “setan” yang dibikin oleh ABRI.” (H Misbach Yusa Biran: 2008)

Ilustrasi: dokumen Media Indonesia

Mari membaca pikiran H Misbach Yusa Biran, seorang sutradara dan penulis skenario kawakan, salah satu pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta Ketua Sinematek, melalui memoarnya: Kenang-kenangan Orang Bandel.

Suatu kali di penghujung tahun 1960-an, sutradara berdarah Minang-Banten itu memutuskan untuk berhenti bekerja di dunia film. Dia menilai film-film yang diproduksi sineas Indonesia sudah jauh melenceng dari idealismenya. Nyaris seluruh film berbumbu pornografi, diembel-embeli “sex education” pula, supaya laku di bioskop. Hanya segelintir film yang dibikin sesuai dengan “ciri kepribadian nasional kita”.

Dalam situasi demikian, Misbach mendapat tawaran untuk membuatkan film buat Pusroh Islam Angkatan Darat. Meski menurutnya dana untuk film itu amat kecil, suami artis Nani Widjaja ini setuju menulis skenarionya. Film itu akan berisi dakwah untuk kalangan militer, khususnya Angkatan Darat. Karena berisi dakwah, Misbach berpikir bahwa film itu harus ada relevansinya dengan keadaan militer kala itu, yakni sedang menghadapi berbagai gerakan di bawah tanah dan gerilya sisa-sisa PKI (Partai Komunis Indonesia).

Maka, Misbach membikin skenario film berjudul Operasi X. Isinya menuturkan tugas rahasia seorang anggota RPKAD yang diselundupkan ke sarang gerakan bawah tanah PKI untuk bisa membongkar jaringan mereka. RPKAD, cikal bakal Kopassus, adalah adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat. Ketika di bawah kendali Sarwo Edhi Wibowo (mertua Presiden SBY), RPKAD berperan besar dalam penumpasan PKI.

H Misbach Yusa Biran punya sikap yang jelas dan tegas terhadap komunisme. Alasan utama penolakannya terhadap ideologi ini adalah dasar falsafahnya, yang menurut Misbach, anti-Tuhan. Padahal, agama bagi Misbach adalah pandangan dan jalan hidup yang tak boleh ditiadakan dalam segala sendi kehidupan, termasuk di dunia film.

Komunisme sendiri bukan barang asing bagi Misbach dan keluarganya. Ayah ibunya bertemu dan menikah di Digul, pedalaman Papua, sebagai orang buangan penjajah Belanda. Ibunya terpaksa tinggal di sana untuk mengikuti kakek Misbach, seorang yang taat beragama, yang dihukum karena dituduh terlibat dalam pemberontakan komunis di Banten tahun 1926.

Tentang hal ini, Misbach menulis:

Setelah pemberontakan rakyat dengan bendera komunis sekitar tahun 1926, maka semua orang yang melawan Belanda disebut komunis. Kemudian orang-orang yang merasa dirinya sebagai pihak yang menantang Belanda dan aparatnya atau merasa dirinya patriot menamakan diri sebagai “orang komunis”. Mana mungkin para kyai atau orang yang taat ibadah seperti kakek saya bisa menerima paham komunis yang dasar falsafahnya anti-Tuhan?

Diakuinya, ide kalangan komunis yang tidak mau kooperatif dengan Belanda dan berpendirian merebut kekuasaan dengan kekerasan sangat sesuai bagi orang Banten. Karena itu, tidak mengherankan pula bila nama Misbach yang disandangnya berasal dari nama Haji Misbach—tokoh Banten yang terkenal kegigihannya melawan Belanda dan disebut-sebut berhaluan komunis.

Misbach dengan bangga menyatakan dirinya berasal dari keluarga pemberontak. Selain kakeknya, ayahnya juga seorang pemberontak terhadap kekuasaan Belanda di daerah Sumatera Barat. Sifat itu menurun pada dirinya. Karena itu, Misbach menyebut dirinya sebagai orang bandel karena memiliki kepribadian yang cenderung suka memberontak, pemberai, pembangkang.

Kebandelan itu sudah terlihat terang sejak dia remaja saat dia belajar di SMA Taman Siswa, Jakarta. Sekolah ini adalah gudangnya aktivis politik, seniman dan budayawan. Dia kerap berulah nakal, suka ribut, atau menjadi trouble maker.

Sejak tahun 1951-1952, di SMA Taman Siswa sudah berkembang berbagai paham politik. Kebanyakan siswanya bergabung dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Misbach memilih ikut Pelajar Islam Indonesia (PII). Menurutnya, IPI lebih condong ke komunisme. Pokoknya saya tidak ikut kelompok siswa yang komunis, kata dia. Dengan keaktifannya di organisasi ini, dia tidak buta politik sama sekali.

Sebagai aktivis PII, Misbach tak gentar berhadapan dengan orang-orang Kiri di sekolahnya, bahkan terhadap gurunya. Suatu hari, karena sesuatu hal, dia ribut dengan guru yang di kamarnya terpampang bendera Pemuda Rakyat, organisasi pemuda bawahan PKI.

Di kemudian hari, pada tahun 1960-an ketika terjun di dunia film, sutradara yang berteman akrab dengan Dwi Tunggal perfilman Indonesia Usmar Ismail-Djamaluddin Malik ini semakin intens berhadapan dengan kalangan kiri. Yang dia maksud kalangan kiri adalah orang-orang yang pro-komunis. Mereka berasal dari anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional), Sarbufis (Sarikat Buruh Bioskop, Film dan Sandiwara), Lesbi (Lembaga Seni Budaya Indonesia), dan lain-lain. Umumnya, mereka menamakan diri sebagai kelompok Progresif-Revolusioner.

Menurut Misbach, kalangan kiri sangat gencar menyerang lawannya. Tentang hal ini, dia bercerita:

Apalagi semakin kuatnya posisi PKI di sisi Soekarno membuat Lekra semakin berani melakukan langkah garang. Tidak ada organisasi kesenian yang berani menentang kaum Kiri. Bisa dicukur habis oleh mereka. Koran-koran yang menjadi terompet kalangan Kiri akan menyerang dengan terjangan keras dan cercaan kasar terhadap siapa saja yang berani menghalangi jalan mereka atau yang dianggap musuh. Yang paling galak adalah koran Bintang Timur dengan ruang kebudayaannya, Lentera, yang diasuh oleh pengarang Pramoedya Ananta Toer. Cara koran itu menghajar lawannya sangat kasar dan kotor. Orang yang tidak berlindung dalam partai yang dekat dengan Soekarno akan tidak berdaya sama sekali kalau diganyang oleh koran pro-Kiri. Organisasi kesenian yang tidak punya “bapak” kuat, seperti halnya HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam), akan empuk dihabisi kalau berani menyatakan sikap politik atau berani menentang langkah orang Kiri.

Pada saat itu, satu-satunya tempat berlindung bagi seniman Islam adalah Partai NU (Nahdlatul Ulama). Kata Misbach, ketika aksi seniman Kiri hendak mengangkangi semua bidang kesenian, NU tergerak membikin organisasi kebudayaan yang bisa menandingi Lekra-nya PKI. Organisasi itu bernama Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia). Didirikan pada tahun 1962, Ketua Umumnya adalah Djamaluddin Malik, tapi secara de facto, nahkodanya adalah Usmar Ismail.

Awalnya Misbach tidak dilibatkan dalam Lesbumi. Saat kekuatan komunis dirasa kian menjadi-jadi, kemudian dibentuklah Lesbumi wilayah DKI Jakarta, karena organisasi ini tidak cukup efektif bila hanya bergerak di pusat. Misbach didaulat menjadi ketuanya. Dia mau mengemban tugas itu setelah didesak terus-menerus, tapi tetap menolak untuk masuk ke Partai NU, walau dijanjikan akan diberi satu kursi di parlemen. Sedari awal, mantan anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) ini memang enggan menjadi bagian dari partai politik, walau kenyataannya dia pernah juga bekerja sebagai redaktur Abadi—koran milik Masyumi.

Peta politik nasional berubah drastis setelah peristiwa G30S terjadi pada 30 September 1965. Kala itu terjadi serangan balik kalangan nonkomunis terhadap kalangan prokomunis di segala bidang, termasuk film. Presiden Soekarno, yang mulai terpojok, menghimbau agar semua kekuatan nasional tetap bersatu untuk memecahkan berbagai masalah. Imbauan yang dikenal dengan istilah Kerukunan Nasional itu tidak mempan. Di mana-mana orang meneriakkan supaya PKI dibubarkan dan yang bersalah mesti dihukum.

Dalam situasi seperti ini, sutradara Wim Umboh membikin film antikomunis berjudul Sembilan. Sebenarnya Misbach dilibatkan dalam pembuatan film itu, tapi dia menolaknya. Alasan dia, dalam pembuatan film itu ada perananan kalangan politik.

Film Sembilan hendak menggambarkan perlawanan terhadap serangan bajak laut dari luar. Perlawanan itu dilakukan bersama-sama oleh sembilan suku. Film ini hendak menunjukkan bagaimana komunisme bekerja sembari menyelaraskannya dengan anjuran Presiden Soekarno. Sayangnya, kata Misbach, setelah jadi film, penonton tidak bisa merasa bahwa gambaran dalam film itu adalah sama dengan anjuran Presiden Soekarno. Orang lebih banyak mengagumi tata warnanya serta aneka warna busana yang direncanakan oleh Teguh Karya. Tidak mengherankan lantaran Sembilan adalah film Indonesia pertama yang berwarna—tidak lagi hitam putih.

Setelah PKI dibubarkan dan pengaruh komunisme kian berkurang, Misbach terpilih menjadi anggota DKJ dan mengajar di IKJ. Walau berkali-kali meneguhkan niat untuk hengkang dari jagad perfilman, nyatanya niat itu tak pernah terlaksana. Di luar kesibukan di DKJ dan IKJ, dia merintis pula Sinematek—pusat pendokumentasian film Indonesia. Dia juga tetap menyutradarai dan menulis skenario film. Dari dunia film yang dibenci sekaligus dicintainya ini, sudah banyak penghargaan diterimanya, salah satunya dari Presiden Habibie pada tahun 1999 berupa Satya Lencana.

Belakangan, Misbach menjadi orang di balik layar yang mengembangkan film di Muhammadiyah, bersama sutradara senior, Chairul Umam. Mengenai hal ini, dia menulis:

Bagi saya sendiri, demi Islam saya bersedia berjuang di bawah payung mana saja, di mana saya dibutuhkan. Pada akhir 1950-an, saya berjuang di koran Masyumi, kemudian menjadi komisaris HSBI, lalu diminta memperkuat Lesbumi. Kini Chairul minta dibantu di Muhammadiyah.

Misbach mengaku tidak menerima honor apapun, baik dari HSBI, Lesbumi maupun Muhammadiyah. Dia melakukan itu semata-mata demi idelismenya pada film, juga demi agamanya.

Dengan dasar pemikiran yang sama, pada suatu masa, sutradara yang lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 September 1933 ini pernah berdiri di garis depan dalam melawan dominasi orang-orang komunis: orang-orang yang di matanya anti-Tuhan.

Menteng, 19 September 2010


Miss Roekiah, Bukan Sekadar Ngartis

Oleh : Fandy Hutari

Pada masanya, Roekiah adalah seorang artis. Tak hanya modal tampang seperti artis-artis zaman sekarang, ia juga punya segudang bakat yang mendukung untuk jadi seorang artis, bukan sekadar ngartis.

Darah seni Roekiah mengalir dari orang tuanya, yang berprofesi sebagai seniman teater. Sejak kecil, bahkan ketika baru dilahirkan, Roekiah telah bersentuhan dengan dunia panggung. Dia lahir di Cirebon pada 1916, ketika rombongan komedi bangsawan orang tuanya yang sedang berkeliling singgah di kota tersebut. Ibunya adalah seorang primadona panggung asal Cianjur. Sedangkan ayahnya merupakan seniman asal Belitung, yang pada 1913 mengembara bersama rombongan komedi bangsawan. Sejak kecil Roekiah ikut dalam pengembaraan rombongan komedi bangsawan bersama kedua orang tuanya. Kehidupan sebagai “anak wayang” membuat ia tidak mendapat pendidikan sekolah. Sebenarnya orang tuanya tidak menghendaki Roekiah menjadi seorang sri panggung seperti mereka, tetapi Roekiah bersikeras untuk tetap “hidup” di atas panggung. Kegemarannya waktu kecil adalah bernyanyi. Dan memang bakat nyanyi inilah yang akhirnya membuat namanya dikenal orang. Cita-citanya sedari kecil yaitu dapat bernyanyi di depan umum, tetapi ayahnya selalu melarang ia untuk melakukan hal itu.

Pada suatu ketika, ia meminta izin kepada ibunya untuk tampil bernyanyi di atas panggung. Ibunya memberi izin. Roekiah pun bernyanyi di atas panggung dan mengisi bagian selingan. Di tengah-tengah ia menyanyi, ayahnya tiba-tiba datang dan marah sekali. Namun lama-kelamaan sikap ayahnya melunak dan Roekiah menjadi bagian dalam rombongan komedi bangsawan orang tuanya. Penonton sangat menggemari suaranya yang merdu. Nilai plus lain dari Roekiah adalah wajahnya yang cantik. Kelebihan ini cepat menjadikan ia buah bibir publik. Sebagaimana pemain-pemain sandiwara pada masa itu, Roekiah pun berpindah-pindah dari satu perkumpulan ke perkumpulan yang lain. Pada 1932, Roekiah masuk ke dalam rombongan tonil Palestina. Di dalam perkumpulan inilah ia bertemu dengan Kartolo, seorang pemain musik yang kemudian menjadi suaminya. …
Baca selengkapnya di : http://indonesiasen i.com/film/ sosok-film/ miss-roekiah- bukan-sekadar- ngartis.html

Salam,
IndonesiaSeni. com
Sumber: Indonesia Seni <indonesia_seni@yahoo.com>
‘ Mengenal Sosok Roekiah, Bintang Film Lawas Indonesia’, in: “Milis Mediacare” <mediacare@yahoogroups.com>,: Friday, 26 February, 2010, 9:39 PM

NILAI LUHUR, INFORMASI & PERUBAHAN: Beberapa Pertanyaan & Tanggapan Untuk Agus Sumarno

Harian Tabengan, telah beberapa kali menyiarkan artikel-artikel Agus Sumarno (selanjutnya saya sebut Bung Agus), «pemerhati lingkungan (termasuk kehidupan sosial) kesehatan dan membidangi rekayasa biotknologi». Dalam artikel-artikel tersebut Bung Agus banyak menyinggung masalah nilai luhur budaya, pergeseran nilai, masalah informasi dan perannya, Tuhan sebagai jalan keluar, social needs, political building, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan lain-lain…

Kolom Harian Tabengan tidak memungkinkan saya menanggap poin demi poin yang diketengahkan oleh Bung Agus. Karena itu, saya niscaya memilih poin-poin yang berulang kali  diangkat oleh Bung Agus dalam artikel-artikelnya.  Dari sekian banyak poin yang sesungguhnya membuka pintu diskusi, pada artikel-artikel Bung Agus, saya menggunakan artikel beliau berjudul “Refleksi Sumpah Pemuda” (saya singkat: RSP) sebagai fokus (Tabengan, Palangka Raya, 27 Oktober 2009).

Sebelum memasuki masalah, saya ingin bertanya: (1). Apakah kata Republik itu bukannya berasal dari kosakata Yunani Kuno, Res Publica yang berarti kepentingan umum dan kemudian oleh Revolusi Perancis 14 Juli 1789 lalu dirinci menjadi liberté, l’egalité et fraternité (kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan)? Jika benar demikian, maka Republik adalah suatu rangkaian nilai. Suatu filosofi politik. Agaknya Republik dalam artian demikian lebih luas dari memahaminya hanya “dari rakyat kembali kepada rakyat. Bahkan jika menggunakan pemahaman Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ini menggunakan konsep “dari, oleh dan untuk rakyat”,  bukan hanya “dari rakyat kembali ke rakyat”. Rakyat bukan hanya sumber, tapi juga pelaku. Pelaksana wacana.   (2). Dan « political devide at impera », apakah bukannya politik (mungkin bukan political) devide et impera” (politik memecah belah dan menguasai) — yang kalau tak salah juga berasal dari bahasa Yunani Kuno? At dan et mempunyai arti yang lain. At dalam bahasa Inggris, mungkin berarti di, sedangkan et dalam bahasa Latin berarti dan.

Dua pertanyaan kecil ilustratif di atas, saya ajukan bukan dalam artian bahwa saya menolak penggunaan kosakata asing, tapi lebih berangkat dari maksud memelihara ketepatan dan kecermatan berbahasa. Dalam hubungan ini  memang akan lebih baik dilihat dari segi kepentingan Bahasa Indonesia jika terdapat padanannya dalam Bahasa Indonesia, kita menggunakan Bahasa Indonesia sesuai harapan Bung Agus yang berbicara tentang nasionalisme dan sedang melakukan « refleksi » tentang makna Sumpah Pemuda 1928.

Dalam RSP, Bung Agus antara lain juga menulis:

“Persoalannya, apakah makna Sumpah Pemuda hanya sebuah cerita yang berlalu tanpa kesan dan tanpa perlu penghayatan ke semua golongan sosial terutama golongan di luar institusi legalitas pemerintah atau yang sedang sinergi dengannya ». (Saya namakan Alinea Pertama)

« Memang ketika zaman Orde Baru, semua terasa makna yang mendalam dari nilai-nilai luhur rumusan tersebut. Akan tetapi setelah  rezim ini gugur di era reformasi, secara cepat menuju ambang kepunahan hingga kini.  Ditambah lagi negeri ini sedang sibuk memacu proses pendewasaan pembangunan politik  (political building), yang jelas banyak indikator yang sementara ini diabaikan karena dianggap tidak punya pengaruh signifikan. » (Saya sebut :Alinea Kedua).

« Salah satu indikatornya penghayatan rumusan tersebut sampai lubuk hati yang paling mendalam ke setiap pribadi bangsa di negeri ini yang disimbiosiskan dengan nilai-nilai  luhur religiusitasnya untuk  mengapresiasikan norma-norma budi pekerti kebangsaan, kedaulatan  dan nasionalisme yang saat ini sudah memudar. Padahal, norma-norma tersebut sebenarnya merupakan kekuatan yang bisa memfasilitasi bangsa ini  menemui jati dirinya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia ».(Saya namakan:Alinea Ketiga).

Terus-terang, dengan taraf penguasaan Bahasa Indonesia yang sekarang, saya memperoleh kesulitan mengikuti kalimat-kalimat Bung Agus. Saya harus membacanya bolak-balik dan bolak-balik untuk memahami apa yang Bung Agus maksudkan. Misalnya kalimat ini: “apakah makna Sumpah Pemuda hanya sebuah cerita yang berlalu tanpa kesan dan tanpa perlu penghayatan ke semua golongan sosial terutama golongan di luar institusi legalitas pemerintah pemerintah atau yang sedang sinergi dengannya ». Yang membingungkan saya adalah penggunaan kata depan ke di depan kata-kata “ ke semua golongan sosial”. Barangkali yang dimaksudkan Bung Agus adalah “tanpa perlu penghayatan OLEH semua golongan sosial terutama golongan di luar institusi legalitas ..  ». Demikian pula kata “institusi legalitas pemerintah”, menyulitkan saya memahami yang Bung Agus maksudkan. Kalau pemahaman saya benar “legalitas” itu padan dari kata benda keabsahan, yang dibentuk dari kata sifat. Dan lembaga pemerintah, umumnya adalah lembaga legal (legal adalah kata sifat). Karena itu sering juga disebut “lembaga resmi” tanpa embel-embel pemerintah. Barangkali di negeri ini memang banyak lembaga illegal.

Contoh lain: « Memang ketika zaman Orde Baru, semua terasa makna yang mendalam dari nilai-nilai luhur rumusan tersebut ». Bagaimana seandainya kalimat ini dirubah menjadi : «Memang, pada zaman Orde Baru, nilai-nilai luhur tersebut, yaitu kebangsaan, kedaulatan dan nasionalisme, sebagai rangkaian nilai, semuanya dirumuskan secara mendalam ». Sedangkan kalimat Bung Agus di atas meninggalkan pengertian bahwa segala yang dilakukan oleh Orde Baru , « semua terasa (ber)makna dalam, mengandung nilai-nilai luhur berisikan nilai kebangsaan, kedaulatan dan nasionalisme ». Sementara tatanan kalimat « makna yang mendalam dari nilai-nilai luhur », secara tatabahasa menunjukkan pengaruh gramatika bahasa Inggris.

Dengan ini, yang ingin saya katakan adalah adanya ketidakcermatan dalam menggunakan kata depan, awalan, akhiran, kata ganti empunya,  kata sifat dan kata benda, pemilihan kata,  sebagai wujud dari kekacauan berbahasa. Dalam artikel yang sama,  saya sangat banyak mendapatkan kesulitan seperti ini. Seperti, apakah gerangan beda semangat atau ide kebangsaan dengan nasionalisme, yang oleh Bung Agus nampak dibedakan? Barangkali kemampuan berbahasa Indonesia saya memang sangat minimal dan saya memang tertinggal oleh perkembangan Bahasa Indonesia. Sedangkan anjuran Badudu agar ber menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar demikian, agaknya sudah menjadi kadaluwarsa. Atau Badudu sendiripun sudah ketinggalan perkembangan. Ketidak telitian  berbahasa Indonesia apakah  wujud dari nasionalisme, ungkapan dari tanggungjawab berbahasa dan runutnya pikiran dan cara berpikir? Tanggapan dari segi bahasa artikel RSP  Bung Agus saya hentikan sampai di sini, untuk memperoleh ruang berbicara tentang isi atau substansi artikel.

Alinea Pertama:

Penghayatan tentang makna Sumpah Pemuda oleh semua golongan, termasuk oleh para penyelenggara kekuasaan, saya kira adalah suatu keniscayaan.  Tanggungjawab dihayati tidaknya makna Sumpah Pemuda, saya kira pertama-tama berada di pundak penyelenggaraan kekuasaan, pada para pekerja media massa, para pendidik dan lembaga-lembaga non pemerintah lainnya. Kalau makna Sumpah Pemuda belum  atau kurang dihayati atau bahkan dilupakan, saya kira masalahnya tidak terletak pada rakyat atau warganegara tapi terletak pada penyelenggara kekuasaan. Sebab kalau kita sepakat dengan pendapat Bung Karno, kebudayaan dominan pada suatu kurun waktu adalah kekuasaan pihak yang berkuasa. Di samping itu, sosialisasi nilai juga bisa dilakukan oleh elit tandingan (counter elite). Misalnya sosialisasi ide dan nilai kemerdekaan nasional waktu perjuangan melawan kolonialisme. Sekali ide atau nilai itu sudah menjadi milik rakyat, maka ide atau nilai itu akan menjelma menjadi kekuatan material. Ketidaktahuan rakyat tentang suatu nilai bisa disebut sebagai salah satu indikator taraf pekerjaann penyelenggara kekuasaan. Rakyat tidak bisa dituding sebagai penanggungjawab ketidaktahuan. Apalagi sering jika menggunakan istilah Prof. Dr. W.F. Weetheim ketidaktahuan sering dipertahankan guna melanggengkan kekuasaan. Masalah ini bisa juga dilihat dari sisi lain, yaitu dari sudut pandang peran dan arti negara, yang pembahasannya di sini tidak saya lanjutkan.

Alinea Kedua:

Pada Alinea Kedua ini, Bung Agus memberikan penilaian terhadap Orde Baru. Beliau katakan bahwa “ketika zaman Orde Baru, semua terasa makna yang mendalam ” dan bernilai “luhur”. Kalau nilai-nilai luhur itu adalah kebangsaan, kedaulatan dan nasionalisme, maka   keluhuran inilah yang dilakukan oleh Orde Baru. Kekaguman dan penghargaan Bung Agus pada Orde Baru ditunjukkannya juga dengan penggunaan kata “gugur”. Bahwa Bung Agus mempunyai mempunyai penilaian demikian tinggi terhadap Orde Baru yang sejak  naik ke panggung kekuasaan hingga jatuhnya Soeharto, berlumuran darah,  adalah hak Bung Agus sendiri, walaupun penilaian demikian mengundang polemik panjang, baik dari segi nilai-nilai  luhur, sejarah, politik, ekonomi, dan  budaya. Saya hanya ingin mempertanyakan standar yang digunakan oleh Bung Agus sehingga menilai Orde Baru sebagai “semua terasa makna yang mendalam dari nilai-nilai luhur”. Kalau reformasi dan proses demokratisasi sekarang sesungguhnya merupakan kritik atau koreksi terhadap Orde Baru yang otoriter dan militeristik, saya juga ingin menanyakan bagaimana penilaian Bung Agus terhadap sistem demokratis? Apakah upaya para sejarawan LIPI untuk “meluruskan sejarah” bukannya suatu tudingan bahwa Orde Baru telah memutar-balik sejarah negeri ini? Bagaimana pendapat Bung Agus terhadap “meluruskan sejarah” yang muncul dari sejarawan kalangan LIPI ini?

Alinea Ketiga: « Salah satu indikatornya penghayatan rumusan tersebut sampai lubuk hati yang paling mendalam ke setiap pribadi bangsa di negeri ini yang disimbiosiskan dengan nilai-nilai  luhur religiusitasnya untuk  mengapresiasikan norma-norma budi pekerti kebangsaan, kedaulatan  dan nasionalisme yang saat ini sudah memudar. Padahal, norma-norma tersebut sebenarnya merupakan kekuatan yang bisa memfasilitasi bangsa ini  menemui jati dirinya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia » .

Saya sungguh-sungguh mengalami kesulitan memahami alinea ini. Saya tidak paham apa yang dimaksudkan dengan “pribadi bangsa di negeri ini”, “yang disimbiosiskan dengan nilai-nilai luhur religiusitasnya”, “budi pekerja kebangsaan, kedaulatan dan nasionalisme”, “jati dirinya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Apa-bagaimana yang Bung Agus maksudkan dengan  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? NKRI yang sentralistiskah? Inikah yang Bung Agus sebut sebagai “fitrah NKRI”? Jika demikian apakah otonomi daerah suatu kesalahan? Kemudian, apakah nilai-nilai luhur itu sebatas nilai-nilai relijiusitas? Dengan mengatakan « pribadi bangsa », lalu bagaimana Bung Agus memandang etnik-etnik di Indonesia dan bangsa Indonesia ? Lagi-lagi Bung Agus dalam bahasa yang rumit mengundang polemik panjang dengan asumsi yang mengundang banyak pertanyaan dan patut diberi dasar nalar serta keterangan rinci.

Pernyataan Bung Agus : «Bangsa ini semakin tidak berdaya menghadapi keanekaragaman transformasi informasi yang menyebabkan tergesernya nilai-nilai budaya bangsa», lagi-lagi pernyataan yang membuka lebar pintu debat panjang, baik secara teoritis maupun praktis. Apa yang dimaksudkan dengan « transformasi informasi » ? Apakah Bung Agus memandang arus informasi merupakan ancaman bagi perkembangan maju suatu bangsa? Apakah arus informasi yang deras, mengancam nilai-nilai luhur? Jika demikian, lalu apa arti tukar-menukar budaya antar etnik dan bangsa? Apakah Bung Agus menganggap nilai-nilai luhur itu mesti statis sehingga mengatakan dengan nada ketakutan «menyebabkan tergesernya nilai-nilai budaya bangsa»?

Sayangnya, kolom Harian Tabengan terbatas untuk menanggap dalil-dalil atau tesis yang dikemukakan Bung Agus dalam artikel-artikelnya. Dalil-dalil yang tidak sedikit terlalu tinggi untuk dijangkau oleh daya tangkap saya. Demikianlah catatan dan pertanyaan-pertanyaan saya sebagai pembaca yang menggunakan kedaulatan pembacanya.***

Palangka Raya, Oktober 2009

Kusni Sulang

MEREKA TIBA DENGAN SAHEWAN HARAPAN & SPIRIT MEMBANGUN KALTENG

 

Seorang penyair Tiongkok pernah menulis bahwa selaiknya di tengah kegelapan pekat yang tidak menampakkan ujung jari  sekalipun, kita harus melihat titik cahaya sekecil apapun. Bahwa kehidupan bukanlah hanya terdiri dari kegelapan. Dengan kata lain, bahwa guntur dan petir yang sambar-menyambar dari langit tidak meruntuhkan matahari dan mengambrukkan langit. Demikianlah peran dan posisi harapan realis, yang juga disebut mimpi. Karena itu “Anda harus bermimpi sebelum mimpi itu berubah menjadi kenyataan”, ujar politisi kawakan India, Abdul Kalam.

Bayangkanlah Kalimantan Tengah kita masih berada di bawah langit kelam. Guntur dan petir persoalan masih menggelegar menyambar kehidupan. Berada di tengah-tengah Kalteng masih berada dalam keadaan demikian, ketika kembali pulang membayar hutang moral pada kampung-halaman, tanpa diduga, tanpa pernah membayangkannya,  saya berjumpa dengan Atal S. Depari dan Bina Karos, keponakannya yang seorang fotografer. Kedua paman-keponakan itu berdarah Batak Karo yang menurut Bang Atal, demikian saya memanggilnya, adalah seorang wartawan berpengalaman dan salah seorang pengurus PWI Pusat. Di Jakarta dan di Sumatera Selatan pernah merintis penerbitan harian yang kemudian berkembang maju sampai sekarang. Dan sekarang ia dan Bina datang ke Palangka Raya untuk mendirikan Harian Umum Tabengan. Sejak 12 Oktober lalu, Harian ini telah memulai penerbitannya dan menemui para pembaca saban hari membawa « spirit membangun Kalteng » sebagai motto. “Spirit membangun” bukan hanya spirit Tabengan tapi juga spirit Bang Atal dan Bina.

Ketika merenungkan apa arti dan ciri “spirit membangun” ini, saya sampai pada kesmpulan bahwa spirit itu ditandai oleh prakarsa, kreativitas, sifat pelopor, kerja keras, tekad dan keberanian. Spirit itu lahir dari kandungan wacana utuh tentang hari esok baik yang manusiawi, berkeadaban, kemudian diikuti oleh komitmen untuk melaksanakannya.

Tentang wacana dan perlunya wacana utuh manusiawi berkeadaban ini sangat jelas pada Bang Atal ketika ia berbicara tentang hubungan pers, kebudayaan, politik, ekonomi, pariwisata, kesehatan, pendidikan, asap, dan bidang-bidang lain. Juga tersirat ketika ia mengkritisi padangan bahwa wartawan tidak lain dari “kuli tinta” saja. Tidak! Menurut pandangan Bang Atal, pekerja pers, khususnya wartawan, bukanlah “kuli tinta”. Kuli itu adalah pekerja badan. Ketika disuruh oleh majikan atau mandornya mengangkat barang ini dan itu ke suatu tempat, maka mereka angkat sesuai perintah majikan dan atau mandor. Benar, wartawan memang ada yang memperlakukan diri dan bertindak seperti kuli. Tapi wartawan/pekerja pers demikian bukanlah wartawan sejati. Bukan wartawan sesungguhnya. Wartawan sesungguhnya adalah yang mempunyai wacana, juga seorang pemikir dan penganalisis. Untuk bisa menjadi wartawan demikian, wartawan sesungguhnya, selain harus kaya data, iapun harus tanpa henti belajar dan berpikir. Belajar dari kehidupan, dari buku, dari siapa saja dan apa saja. Kehidupan adalah ruang kuliah yang kaya muatan. Hanya wartawan-wartawan beginilah yang mampu melakukan langkah-langkah pembidasan dan mampu menawarkan ide-ide terobosan untuk bangsa dan negeri serta kemanusiaan. Karena wacana demikian merupakan sumber dari segala prakarsa.

Sebagai seorang pemikir, Bang Atal sering mengatakan bahwa ia memerlukan sparing-patner dalam debat pencarian hakiki hal-ikhwal agar tidak jatuh ke ruang sunyi intelektualitas. Ia merasa bahwa kesunyian intelektualitas akan membuat orang kerdil, bisa memerosotkan seseorang pekerja pers ke tingkat “tukang” atau “kuli” yang kemudian akan menumpulkan penanya. Karena itu, ia ingin di atas kantornya bisa dibangun sebuah tempat santai untuk tukar-pikiran, berbincang-bincang, berdebat tentang rupa-rupa masalah, yang memungkinkan ide-ide baru bisa ditelorkan. Ketakutan Bang Atal akan kesunyian intelektualitas menandakan ia adalah seorang pencari nilai yang gelisah. Kehidupannya tak obah sebuah kalimat yang hanya sampai koma, tak  punya titik. Sebenarnya semangat inilah yang ia coba alihkan kepada para wartawan Tabengan yang ia pimpin.Ia memimpinkan wartawan-wartawan Tabengan bisa tumbuh berkembang sebagai wartawan sejati. Tak ia inginkan adanya wartawan yang puas diri karena sudah menyandang profesi wartawan tapi hampa isi. Mengikutinya menuturkan mimpi tentang Tabengan dan  Kalteng, saya melihat di suatu hari melalui tangannya akan lahir barisan wartawan sejati di Bumi Tambun Bungai itu. Melihat Kalteng  setara dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan dengan mutu tak kalah dari daerah manapun. Dalam kenyataan, sebagai seorang pemred, Bang Atal pada galibnya tidak lain dari seorang guru. Sebagai pemred, ia sedang berada di depan kelas jurnalistik. Keinginan-keinginan inipun merupakan bukti lain bahwa Bang Atal adalah seorang pemimpi, pemikir dan pencari nilai yang membumi dan tak takut kerja susah-payah. Tanpa ia katakan tapi saya simak bahwa melalui tindakan-tindakannya pemred yang bersemangat dan gigih ini bersikap seperti yang dikatakan oleh Johan Wolfgang Goethe: “Aapalah arti hidup jika tidak banyak memberi manfaat kepada orang lain?”

Sangat menarik bagaimana Bang Atal mengetengahkan hasil renungannya tentang masa jabatan lima tahun gubernur-wakil gubernur. Sebagai mantan wartawan olahraga, ia melukiskan masa jabatan ini dengan posisi 2-1-2 itu, mengcu pada susunan 4-2-4 dalam sepak bola . Dua tahun untuk sosialisasi visi-misi, satu tahun digunakan untuk melaksanakannya dan dua tahun lagi untuk persiapan pilkada berikutnya. Apa yang bisa dibangun secara berarti dalam waktu satu tahun?, ujarnya. Belum lagi bujet yang harus dicari ke sana ke mari sementara bujet pilkada yang sangat mahal diambil APBD. Analisa demikian diketengahkan oleh Bang Atal, ayah dari seorang diplomat dan dokter,  saat merenungi masalah politik dan pembangunan di Indonesia. Dari cara analisa demikian, saya melihat tekhnik pengutaraan yang sederhana tapi jelas dari seorang jurnalis yang menguasai bidangnya. Penguasaan atas kemampuan tekhnis sejalan dengan kedalaman analisis sangat diperlukan dalam profesi apapun, termasuk jurnalisme. Taraf ini tercapai dengan kerja keras yang sadar. Kerja keras dan tak takut susah-payah adalah ciri utama dari dua paman-keponakan Bang Atal-Bina.

Tidak banyak seorang pemred yang mengurus semua soal penerbitan. Mulai dari soal keredaksian, mengoreksi tulisan-tulisan, iklan, fisibilitas, keuangan sampai pada soal-soal teknis percetakan. Sering saya menyaksikan ia dan Bina, pergi pagi pulang subuh. Lalu pagi-pagi sudah bangun, untuk kembali ke kantor Harian. Bina Karos, keponakannya yang pernah terjun sebagai fotografer ke kancah pertempuran di Aceh, bahkan tidak jarang seperti pamannya tidur di kantor,  di kursi dan tumpukan kertas. “Beginilah mengawali suatu penerbitan dan usaha. Memulai sesuatu tidak pernah sederhana”, ujar Bang Atal menjawab kekhawatiran saya bahwa ia bisa jatuh sakit kelelahan. Dan memang Kalteng adalah nama dari tantangan dan himbauan untuk semua, terutama untuk Uluh Kalteng guna merambah rimba keterpurukan dengan spirit membangun. Bang Atal dan Bina datang dengan membawa sahewan (obor dari mayang kelapa) spirit membangun. Keduanya dating dengan semangat pembidas penuh prakarsa guna membangun Kalteng sebagai betang etnik dan betang budaya.  Keduanya sedang menyulut sahewan harapan melangkah bersama-sama yang lain untuk Kalteng yang lain. Membakar keterpurukan. “Sayapun terbakar”, jika meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer, terbakar oleh sprit Bang Atal dan Bina Karos.  Tidakkah kau melihat dari kehadiran dua Putra Karo ini bahwa benar, kebhinnekaan adalah kekayaan dan rakhmat bagi negeri ini, dan juga Kalteng kita? Kehadiran Bang Atal dan Bina Karos di Kalteng mengatakan sekaligus bahwa tiap inci wilayah bangsa dan negeri adalah tiap inci pengabdian cinta dan pengejawantahan prakarsa putra-putrinya.

“Has eh, Hari!” (Ayo, Saudara-saudariku), ujar Uluh Katingan sambil mengikat lawung di kepala mengajak orang sekampung melangkah maju merebut menang. “Has eh!” Sebab “Anda bisa memiliki ide cemerlang. Namun jika tidak mampu menjabarkannya, ide tersebut tidak akan pernah membawa diri Anda ke mana pun”, ujar Lido Anthony “Lee” Iaccocca.***

Palangka Raya, Oktober 2009

Kusni Sulang

Catatan Panarung Andriani S. Kusni: TEMU TEATER SE-KALIMANTAN V

Yoseph Oendoen, Makmur Anwar, Lukman Siregar, JJ. Kusni, & seorang pekerja teater Palangka Raya (Foto & dok. Andriani S. Kusni)

Yoseph Oendoen, Makmur Anwar, Lukman Siregar, JJ. Kusni, & seorang pekerja teater Palangka Raya (Foto & dok. Andriani S. Kusni)

1

Untuk kedua kalinya, Palangka Raya mendapat kehormatan menjadi penyelenggara Temu Teater Se-Kalimantan. Penyelenggaraan  pertama terjadi pada tahun 2006 dilakukan sepenuhnya oleh komunitas-komunitas teater sedangkan penyelenggaraan yang kedua kali yang berlangsung dari tanggal 13 sd 16 Agustus 2009 dilakukan di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan & Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah dengan Komunitas-Komunitas Teater sebagai tenaga pelaksana teknis.

Temu Teater Se-Kalimantan V kali ini yang diselenggarakan dengan pemberitaan sangat minim, tanpa selembar spanduk apa pun merentang di jalan kota atau di depan gedung eks Taman Budaya di mana Temu Teater dilangsungkan, diikuti oleh Komunitas KONTAK (Komunitas Teater Pontianak), Komunitas Teater Bontang dan Balikpapan dari Kalimantan Timur, dan empat grup dari Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah diwakili oleh Komunitas Teater Palangka Raya (gabungan Komunitas Teater Terapung, Srikandi dan Tunas), Komunitas Teater dari Sampit, Seruyan dan Pangkalan Bun. Seluruh peserta diperkirakan berjumlah 250 orang dengan kegiatan-kegiatan selain pementasan juga disertai oleh workshops dan Pasar Seni.

Sadar Ardi, Kepala Dinas Kebudayaan & Propinsi membuka Temu Teater mewakili Gubernur Kalimantan Tengan, Teras  Narang dan membaca sambutan tertulis Gubernur yang berhalangan hadir.  Temu teater Se-Kalimantan yang berlangsung dua kali setahun ini diharapkan bisa memicu pertumbuhan dunia teater di Kalimantan, termasuk di Kalimantan Tengah,  sehingga setara dengan daerah-daerah lain yang sudah berkembang , yang selanjutnya juga berkata bahwa Temu Teater Se-Kalimantan tentunya akan mengembangkan apresiasi terhadap teater serta memperkokoh kerjasama jaringan antar komunitas di empat propinsi “ Temu Teater begini merupakan peluang untuk saling belajar dan saling  tukar pengalaman antar komunitas di empat propinsi”, demikian Gubernur Teras Narang yang juga berharap bahwa teater Kalimantan mempunyai ciri lokalnya tersendiri.

Setelah Sadar Ardi yang mewakili Gubernur,  memukul gendang membuka secara resmi Temu Teater Se-Kalimantan V, Mohammad Alimul Huda dari Komunitas Teater Terapung, Palangka Raya, yang juga anggota Panita Penyelenggara, tampil ke depan mengajak hadirin mengheningkan cipta mengenang dan berdoa untuk arwah W.S. Rendra yang telah berpulang pada 6 Agustus 2009. Huda kemudian membacakan sajak Rendra « Sajak Mata-Mata » disusul oleh Tuti yang membacakan « Sajak Matahari ». Acara pembukaan ditutup dengan pergelaran drama mini « Hitam-Putih » oleh Komunitas Teater Srikandi pimpinan Dafi.

2

Temu Teater Se-KalimantanV di Palangka Raya berlangsung sangat sederhana, baik dilihat dari segi publikasi mau pun dari kelengkapan pentas seperti gedung atau pun peralatan panggung. Dari segi perlengkapan teknis panggung, boleh dikatakan, apa yang digunakan lebih banyak bersifat artisanat, buatan sendiri (hand-made). Tidak ada follow light, dim light atau pun spot light. Gedung-gedung pertemuan yang ada boleh dikatakan tidak satu pun yang memenuhi syarat, terutama dari segi akustik. Dengan syarat-syarat demkianlah komunitas-komunitas teater Palangka Raya khususnya berkegiatan. Dan dengan syarat serupa pulalah Temu Teater Se-Kalimantan V yang diharapkan akan berkembang setara dengan daerah-daerah lain yang sudah maju, berlangsung. Teater dan masalah kebudayaan di Kalimantan Tengah, bukan hanya seperti “anak tiri” tapi “anak jalanan” yang mentas dengan upaya dan prakarsa sendiri. Timbul juga keheranan, menyaksikan tiadanya berita sebaris pun di harian-harian ibukota Kalimantan Tengah  menjelang Temu Teater Se-Kalimantan ini. Apakah Panita Penyelenggara tidak melakukan Press Release ataukah para wartawan menganggapnya sebagai tidak penting dan bukan berita? Temu Teater Se-Kalimantan seperti juga Temu Teater Kawasan Indonesia Timur, berawal dan berlangsung atas prakarsa para seniman dan budayawan tanpa banyak hingar-bingar. Ia tumbuh dari bawah bertolak dari kecintaan pada teater. Jaringan yang terbentuk pun digalang oleh komunitas-komunitas itu sendiri. Barangkali cara dan jalan inilah, cara dan jalan terbaik dalam menumbuh-kembangkan sastra-seni khususnya dan kebudayaan pada umumnya. Dengan cara dan jalan begini pulalah maka temu regional dan tingkat nasional antar komunitas telah berlangsung berkali-kali di berbagai tempat seperti di Serang, Kudus, Palembang, Lampung, Jambi. Para seniman dan budayawan itulah penanggungjawab timbul-tenggelamnya sastra-seni dan kebudayaan.

3

Masalah kebudayaan sering dipahami hanya pada bentuk luarnya sedangkan isi hakiki dari kebudayaan itu sendiri tidak diselami atau lepas dari perhatian dan bahkan tidak dipahami. Padahal bentuk seperti drama, filem, puisi, novel, roman, cerpen, garis-garis dan warna pada lukisan, gerak pada tari, suara dan dentang-denting instrumen musik, tidak lain dari sarana penyampaian isi. Jika sampai pada masalah isi maka pada kebudayaan, kita akan berhadapan dengan kehidupan seluruhnya. Bertemu dengan pandangan hidup, mimpi esok tentang masyarakat, kritik bahkan pemberontakan terhadap keadaan. Di dalam  isi kebudayaan, kita berjumpa dengan pergulatan konseptual, seperti yang ditunjukan oleh Polemik Kebudayaan Poedjangga Baru Baru tahun 1930, jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Debat konseptual tentang masyarakat dan esok bangsa ini pulalah yang berlangsung dan menjadi inti polemik antara Lekra dan pengikut Manifies Kebudayaan di tahun 60-an yang bersisa sampai sekarang. Kebudayaan bukan sebatas pergelaran tari, peragaan pakaian adat, paduan suara atau hal-hal yang bersifat peragaan visual dan seremonial. Oleh karena itu maka tidak jarang seniman dan budayawan secara konseptual berdiri hadap-hadapan dengan peyelenggara kekuasaan politik karena dengan kebebasan dan keberanian berpikirnya para seniman dan budayawan berani mengatakan “TDAK!” pada yang harus “DITIDAKKAN”. Dengan ciri demikian, mereka, selain sebagai “peramal” juga berfungsi sebagai pengawas sosial dengan konsep-konsep holistik yang diungkapkan secara artistik..

Politisi yang mengerti hakekat kebudayaan demikian bisa dikatakan sebagai politisi berbudaya yang bakal diikuti oleh budaya politik bercorak kebudayaan. Dari polisi berbudaya begini bisa diharapkan bahwa mereka akan memperhatikan kebudayaan dan langsung tidak langsung akan turut berkecimpung di dunia kebudayaan. Mendorong perkembangan kebudayaan dan tidak memandang kebudayaan sebagai wilayah sia-sia yang jika membantunya hanya akan membuang-buang uang saja. Di masyarakat Tiongkok dan Viêt Nama zaman dahoeloe, untuk menjadi seorang pemimpin dituntut tiga syarat yaitu: menguasai politik, menguasai masalah militer, dan kebudayaan. Karena itu tidak sedikit pemimpin-pemimpin Tiongkok dan, Viêt Nam juga adalah sastrawan.

Sejarah dunia, termasuk sejarah Indonesia, jika kita perhatikan, memperlihatkan bahwa sebelum terjadi pergelutan dan pergolakan politik, terlebih dahulu terjadi pergelutan dan pergolakan pemikiran di dunia sastra-seni serta kebudayaan. Ide kemerdekaan Indonesia, pada mulanya muncul di kalangan budayawan dan seniman seperti yang tercermin pada tulisan-tulisan Mar Marco. Baru kemudian ide ini menjalar ke dunia politik praktis yang diwujudkan dengan semangat “Merdeka atau mati!”.  Demikian juga halnya dengan kelahiran Propinsi Kalimantan Tengah. Ia bermula dari  ide di kalangan para penulis dan pemikir Pakat Dayak dengan organnya Soeara Pakat. Melalui sosialisasi, ide ini dihayati oleh rakyat, lalu menjelma menjadi gerakan politik. Demikianlah barangkali hakiki dan arti penting kebudayaan yang sekali lagi sekarang sering dipandang oleh birokrat sebagai « kegiatan membuang-buang uang ». Tapi pandangan demikian mengatakan sekaligus pemahaman mereka tentang kebudayaan.

Pendekatan permasalahan Kalimantan Tengah dari segi kebudayaan barangkali membantu propinsi ini akan maju melesat. Pendekatan kebudayaan melihat masalah secara hakiki yang secara militer disebut sebagai taktik dan strategi « bunga teratai ». mengambil jantung pertahanan lawan. Lawan kita adalah marjinalisasi menyeluruh. Krisis pemikiran, krisis filosofi. Krisis mind set yang holistik dan manusiawi. Dan inilah persoalan-persoalan kebudayaan.

Temu Teater Se-Kalimantan V yang berlangsung secara ala kadarnya, mengatakan bahwa di Kalimantan Tengah, kita belum selesai dengan masalah kebudayaan.***


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers