Author Archive

INDEKS KINERJA ANGGOTA DPR

Indeks Kinerja Anggota DPR
Oleh: Adnan Pandu Praja

DIPERLUKAN parameter untuk bisa menilai kinerja anggota Dewan agar tak melupakan janji politiknya sehingga tidak kian mencederai konstituennya.

Vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Hampir tidak ada anggota DPR yang tidak memahami adagium tersebut. Sebagai warga terhormat, mereka sangat paham di mana posisi Tuhan, kapan menggunakan nama Tuhan, dan kapan mengabaikannya. Nama Tuhan akan semakin tergeser seiring dengan semakin kuatnya kepentingan politik yang tidak menyejahterakan rakyat. Semakin besar kepentingan politik, akan semakin besar peluang untuk ditunggangi kepentingan pribadi. Lantas di mana suara rakyat? Suara rakyat hanya dibutuhkan pada saat pemilu sekali dalam lima tahun. Mereka sangat berpotensi menyalahgunakan wewenangnya.

Agar tidak sembrono menyandang jabatan anggota Dewan, UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) yang lama ataupun yang baru mewajibkan anggota Dewan bertanggung jawab secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. Namun, kenyataannya cenderung diabaikan. Bahkan, klausul yang mewajibkan fraksi mengevaluasi kinerja anggotanya dan melaporkan hasilnya kepada publik yang semula ada dihapus. UU MD3 yang baru tak mengakomodasi rekomendasi KPK agar pertanggungjawaban diperluas meliputi pula semua anggota DPRD. Sangat sulit dipahami anggota DPRD dibebaskan dari tanggung jawab ke konstituennya.

Parpol akan semakin mendapat manfaat jika anggota Dewan kian abai mempertanggungjawabkan mandat kepada konstituennya. Berbagai reaksi negatif terhadap UU MD3 dan UU Pilkada mengonfirmasi hasil survei, 65,5 persen masyarakat tak merasakan peran DPR dalam menghasilkan produk UU atau pembelaan yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat (INES, 2013). Sepertinya berbagai fenomena akhir-akhir ini cenderung semakin memburuk.

Tak ada pilihan lain, civil society harus membangun sistem sendiri yang dapat ”mengancam” anggota DPR agar setiap saat bisa diganti antarwaktu oleh partainya dan tak akan terpilih kembali pada pemilu mendatang, yaitu jika performa mereka dapat diukur dengan indeks kinerja.

Menyusun indeks kinerja

Setidaknya ada tiga hal penting yang jadi prasyarat dalam mewujudkan indeks itu. Pertama, Forum Konstituen, yaitu wahana dialog antara komunitas pemilih dan anggota DPR yang mewakilinya agar terbangun hubungan dialogis. Sedapat mungkin ditumbuhkan persaingan antar-anggota Dewan dari daerah pemilihan yang sama agar terbangun hubungan representasi yang lebih konstruktif. Semakin intens hubungan dialogis antara konstituen dan para anggota Dewan diyakini akan kian mempersempit peluang parpol dalam mengooptasi anggota Dewan.

Philip Thomas dkk merekomendasikan pola dialog yang konstruktif; 1) Dealing with complexity. Substansi dialog pada persoalan mendasar yang sedang menjadi perdebatan hangat di DPR. Tentu tak mudah mengelola isu-isu rumit dengan bahasa sederhana. Bisa jadi hanya akan melibatkan sedikit peserta aktif, tetapi akan menjadi pembelajaran bagi peserta pasif. Diperlukan moderator andal yang selalu dapat menyegarkan suasana agar tidak monoton.

2) Dialog bersifat koordinatif dan tidak instruktif untuk menghasilkan inovasi gagasan. Harus dibuka ruang kreasi seluas-luasnya agar tidak jumud. 3) Dialog agar mencapai hasil berkesinambungan dan menjawab persoalan. Bukan gagasan aneh yang tidak membumi dan terputus-putus (unsustainable result).

Perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat dapat menyingkap tabir jarak dan waktu antara anggota DPR dan konstituennya, termasuk memperkecil peranan joki bagi anggota DPR yang tidak punya kompetensi. Rakyat akan dapat memantau lebih detail aktivitas anggota DPR sehari-hari, bahkan sampai peningkatan harta kekayaannya. Sebaliknya bagi anggota DPR yang kompeten, akan menjadi sarana publikasi efektif tanpa biaya dengan menggunakan moda komunikasi seperti telekonferensi, Twitter, Facebook, dan Google Hangout.

Kedua, keterbukaan Sekretariat Jenderal DPR menjadi syarat mutlak menilai kinerja anggota Dewan. Rakyat harus mendapat akses luas memantau aktivitas anggota Dewan sejak mengisi daftar hadir sampai akhir dalam rangka menjawab hasil survei. Sebanyak 93 persen masyarakat tidak merasa terwakili oleh anggota DPR (Formappi, 2011). Keterbukaan akses kegiatan dan kinerja tak termasuk kategori yang dikecualikan berdasarkan UU Keterbukaan Informasi Publik Nomor 14 Tahun 2008.

Ketiga, peranan penilai yang akan mengeluarkan indeks sangat vital sehingga harus memiliki kompetensi dan kredibilitas memadai. Lembaga survei kiranya dapat menjalankan fungsi penilai. Peranan lembaga survei sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pada akhir proses pilpres lalu. Publik sudah bisa membedakan mana yang profesional dan abal-abal. Komunitas lembaga survei bahkan sudah punya kode perilaku. Indeks merupakan outcome dari hubungan dialogis antara anggota DPR dan konstituennya.

Ketiga hal di atas harus tersaji di laman yang menampilkan dinamika hubungan dialogis antara anggota DPR dan konstituennya. Pengelola laman haruslah punya integritas, nonpartisan, dan tidak diskriminatif merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain. Pada saatnya nanti pengelola laman juga harus diakreditasi. Indeks diyakini dapat memaksa anggota DPR taat pada aturan main di lingkungan partainya ataupun Tata Tertib DPR. Jika semua anggota DPR dapat diukur kinerjanya, diharapkan tidak ada calon anggota DPR yang nekat bersaing lima tahun mendatang tanpa kompetensi memadai.

Dari sudut pandang partai politik, indeks akan sangat membantu partai mengevaluasi kinerja anggotanya, bahkan dapat menjadikan indeks sebagai alasan untuk mengganti antarwaktu anggotanya yang memperoleh indeks di bawah standar partai. Dengan begitu, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap parpol akan tumbuh dan memudahkan masyarakat memilih partai yang lebih berkomitmen terhadap kepentingan rakyat yang saat ini masih sangat langka. Bahkan, apabila semua parpol berkomplot menolak indeks kinerja anggotanya di DPR, masyarakat akan memiliki parameter yang jelas pada saat memilih wakilnya lima tahun mendatang. []

KOMPAS, 14 Oktober 2014
Adnan Pandu Praja ; Komisioner KPK

FEDERAL COURT RULES EXXONMOBIL INDONESIAN HUMAN RIGHTS ABUS LAWSUIT CAN PROCEED

Federal Court Rules ExxonMobil Indonesian Human Rights Abuse Lawsuit Can Proceed

http://www.cohenmilstein.com/news.php?NewsID=713

9/24/2014
In a significant victory for families of Indonesian citizens who were killed or abused by security personnel hired by ExxonMobil Corporation , a federal court today ruled that two closely related lawsuits against ExxonMobil for human rights violations can proceed.
The Plaintiffs in the cases, which were filed in the U.S. District Court District of Columbia, allege that Indonesian soldiers hired by ExxonMobil to provide security at the corporation’s natural gas facility physically abused and killed family members who lived or worked in villages within the sprawling operations in rural Aceh, Indonesia.
“This is a huge victory for the plaintiffs,” said Plaintiffs’ co-lead counsel Agnieszka Fryszman, a partner at Cohen Milstein Sellers & Toll. “We are especially pleased that the Court agreed with us that the Plaintiffs had sufficiently tied Exxon’s conduct to the injuries and abuses that were inflicted on these villagers. We look forward to seeing justice done and to putting our case before a jury.”
In 2008, another judge on the District Court had denied ExxonMobil’s attempt to avoid trial by rejecting the company’s motion for summary judgment, citing “evidence that these security forces committed the alleged atrocities.” The Court of Appeals then held that the claims must be considered under Indonesian law, not the law of the District of Columbia.
Among highlights of today’s decision, the District Court in a meticulous 43 page opinion:
• Held that Plaintiffs claims can go forward under Indonesian law, finding that “expert testimony indicates to the Court that Indonesian tort law, while using different terminology from American law, compensates tort victims in similar fashion to the common law.”
• Permits Plaintiffs to add information regarding Exxon’s conduct in the United States in order to meet the standard set out by a recent Supreme Court decision, Kiobel v. Royal Dutch Shell.
• Rejected Exxon’s arguments regarding the application of a variety of international law doctrines.
• Permits Plaintiffs to gather additional evidence in support of their claims.
Co-counsel Paul Hoffman of Schonbrun DeSimone Seplow Harris & Hoffman LLP, said, “The well-reasoned and thoughtful opinion is an important one for the enforcement of human rights law.”
Co-counsel Terry Collingsworth of Conrad & Scherer added “Since I first met our clients in 2001, they have endured not only the agony of human rights crimes, but over thirteen years of justice delayed. We are looking forward to getting this case to trial so that our long-suffering clients can obtain justice.”
For more information about the case and the District Court decision, visit http://www.cohenmilstein.com/cases/110/exxonmobil-aceh-indonesia.
Exxon Opinion – September 24, 2014
Exxon Order – September 24, 2014
+++++

http://www.cohenmilstein.com/cases/110/exxonmobil-aceh-indonesia

ExxonMobil – Aceh, Indonesia
Practice Area: Human Rights

On July 8, 2011, the Court of Appeals for the District of Columbia Circuit ruled that the lawsuit against ExxonMobil for human rights abuses can go forward. The Court of Appeals’ opinion is a big victory for the Plaintiffs and for international human rights enforcement.
Opinion – July 8, 2011 [PDF]
Press Release – July 8, 2011 [PDF]
Case Background
Cohen Milstein represents eleven Indonesian citizens suing Exxon Mobil Corporation for abuses allegedly committed by ExxonMobil’s security personnel. The suit alleges that ExxonMobil hired and paid Indonesian soldiers to provide security at ExxonMobil’s natural gas facility in Indonesia. Plaintiffs allege that these security personnel, under ExxonMobil’s control and within the scope of employment, physically abused and killed their family members who lived or worked in villages within Exxon’s sprawling operations in rural Aceh, Indonesia.

On August 27, 2008 the United States District Court for the District of Columbia denied Exxon Mobil’s motion for summary judgment, permitting plaintiffs’ common law claims to proceed against both Exxon Mobil Corporation and its subsidiary. The opinion cited “evidence that these security forces committed the alleged atrocities” and evidence that the guards were under ExxonMobil’s employ. The court concluded that plaintiffs’ claims could proceed to trial before a jury to determine ExxonMobil’s liability. Counsel for the plaintiffs noted that “The court’s ruling is based on a simple legal principle that has been true for centuries—a company, ExxonMobil, can be liable for the wrongful acts of its employees. We look forward to bringing this case to trial to hold the company accountable.”

FENOMENA KOMUNIS ISLAM

Fenomena Komunis Muslim

Von: Chan CT <SADAR@netvigator.com>
An: GELORA45@yahoogroups.com
Gesendet: 6:23 Donnerstag, 10.Oktober 2013
Betreff: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Fenomena Komunis Muslim

“Fenomena Komunis Muslim” ini sungguh sangat mencerahkan, … Iyaa juga sih, kalau diperhatikan sejarah lahirnya PKI, justru dari pecahan Serikat Islam, tokoht-okoh ISLAM itulah yang mendirikan Partai Komunis Indonesia. Salah seorang Ketua Sarekat Islam, Semaun itulah salah seorang pendiri PKI bersama Sneevliet, orang Belanda utusan Komintern. Sedang yang dibilang Pemberontakan PKI tahun 1926 menentang koloni Belanda itu, juga diikuti banyak Haji-haji, termasuk Haji Misbach. Begitu sejarah yang saya ketahui, … tolong dikoreksi kalau salah ingat.

Sungguh jitu pertanyaan yang diajukan Dahlan Ranuwihardjo, mantan ketua HMI itu, “Salahkah mereka menjadi Komunis Muslim?” Dan menurut saya, sangat tepat apa yang dinyatakan: [Karena itu, orang-orang Islam yang “fanatik”, kata Bung Karno, dan memerangi pergerakan marxisme, adalah Islamis yang tak kenal akan larangan-larangan agamanya sendiri (DBR – Dibawah Bendera Revolusi hal: 13). Bagi orang-orang Islam yang tak mengenal larangan-larangan ajaran agamanya sendiri, itulah yang memerangi komunisme. Dan mereka inilah yang dengan seenaknya menilai orang Islam yang menjadi komunis sebagai kurang iman, bodoh, sesat, terkecoh oleh propaganda komunis dsb. Atau yang bersangkutan Islamnya palsu, ia muslim gadungan, Islam dipakai sebagai kedok, sholatnya hanya pura-pura, alias sebagai taktik saja. ]

Mudah-mudahan pertanyaan jitu Dahlan Ranuwihardjo ini bisa menjadi pemikiran setiap umat Islam, menemukan jalan deengan pemikiran yang lebih tepat dan baik untuk membangun masyarakat adil dan makmur menjadi kenyataan.

Salam,
ChanCT

Fenomena Komunis Muslim

https://www.facebook.com/notes/dhiaprekasha-yoedha/fenomena-komunis-muslim/4793792500993

24 September 2013 pukul 9:38
Dahlan Ranuwihardjo, mantan Ketua Umum PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam tulisannya Fenomena Komunis Muslim (Simponi, No 37 th ke-I, 13-20 Januari 2000) mempertanyakan: Salahkah mereka menjadi Komunis Muslim?

Ternyata pertanyaan Dahlan itu karena dilandasi kenyataan bahwa sekarang ini, di mana sebagian besar dari negara-negara berkembang masih merupakan ajang penghisapan dan eksploitasi oleh kapitalisme internasional, yang berperangai sebagai neo kolonialisme / imperialisme ekonomi.

Kalau (dalam keadaan demikian -pen) pemimpin-pemimpin Islam hanya menampilkan Islam sebagai ibadah saja, plus agama percaya Hari Besar Islam, hanya mempersoalkan prilaku yang a-susila, tapi diam dalam seribu bahasa mengenai prilaku a-sosial.

Kalau dakwah hanya terbatas kepada soal-soal ibadah dan akhlak karimah dan dalam bidang sosial hanya terbatas kepada mengatasi soal kemiskinan dan kemelaratan, tapi tanpa membahas soal kekayaan dan kemiskinan structural dipandang dari sudut ajaran Islam.

Kalau para pemimpin Islam hanya menerima saja setiap sumbangan dengan mengucapkan terima kasih dan ini adalah wajar, tapi tanpa mempertanyakan apakah sumbangan itu merupakan bagian dari kekayaan struktural, jatah atau bukan?

Pendek kata kalau pemimpin-pemimpin Islam di tengah-tengah merajalelanya kemunkaran-kemunkaran besar yang mengakibatkan penghisapan besar, melakukan tegoran dengan kebijaksanaan baik pun tidak, dan sekarang hanya melakukan nahi munkar dengan batin (semua keberatan disebut sebagai aliran kebatinan), maka akan merupakan konsekuensi logis. Jika, di kalangan ikhwan-ikhwan khususnya yang muda (akan) muncul figur-figur muda, yang walaupun rajin bersholat di masjid-masjid di Jakarta, Bandung, Yogya dan kota lain, namun dengan bangga menyebut diri sebagai new leftis.

Inilah fenomena komunisme muslim dengan nama dan bentuk yang lain. Salahkah mereka?
APA ARTI PERTANYAAN DAHLAN RANUWIHARDJO TERSEBUT
Pertanyaan Dahlan tersebut ternyata mengandung kritikan yang tajam kepada praktek keberagamaan orang – orang Islam terutama para pemimpinnya. Tampaknya di mata Dahlan Ranuwihardjo, terutama para pemimpin Islam lebih banyak menekuni soal-soal yang bersifat simbol, seperti ibadah sholat, merayakan hari-hari besar Islam dan bila perlu berunjuk rasa terhadap hal-hal yang bersifat a-susila, tapi diam dalam seribu bahasa mengenai hal-hal yang a-sosial. Mereka tidak perdulikan terjadinya ketidakadilan sosial, kesenjangan sosial dsb.

Dakwahnya hanya terbatas kepada soal-soal ibadah dan akhlak karimah dalam bidang sosial hanya kepada meringankan penderitaan orang-orang yang miskin berupa pemberian sedekah, zakat infak dsb. Tapi tak pernah membahas mengapa di dunia ada yang miskin dan yang kaya, padahal ketika lahir semua dalam keadaan telanjang bulat. Tak pernah mereka bahas ajaran Islam yang mengutuk orang-orang yang menumpuk harta (lihat surat Al Humazah ayat 1) tak terdengar mereka suarakan agar kaum tertindas dan miskin mustadhafin bisa menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, seperti yang dijanjikan Allah dalam surat Al Qashas ayat 5-5.

Begitu pula bila ada sumbangan, mereka tak pernah mempersoalkan apakah uang yang disumbangkan hasil kerja pribadi si penyumbang, atau hasil merampas keringat orang lain, atau hasil korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka hanya mengucapkan terima kasih dan mereka doakan semoga yang menyumbang itu lebih banyak lagi rezekinya, supaya bisa pula di waktu lain menyumbang kepadanya. Mereka tidak mempersoalkan apakah uang yang disumbangkan padanya itu haram atau halal.

Begitu pula terhadap makin mengganasnya penghisapan sesama, mereka hanya melakukan nahi munkar dengan batin saja. Itu jauh dari sikap orang yang kuat imannya.
Seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad: bila anda melihat kemunkaran ubahlah dengan tangan, dan bila tak mampu dengan tangan ubahlah dengan lidah dan bila tidak mampu juga dalam hati saja dan itulah selemah-lemahnya iman.

Jadi, kalau para pemimpin Islam di Indonesia kuat imannya, tentu kemunkaran itu akan diubahnya dengan tangan, bukan hanya dengan batin atau dalam hati saja. Orang-orang yang lemah iman inilah yang dengan gampang berkata bahwa orang yang menjadi komunis muslim itu adalah karena lemah imannya, sesat dan gampang dipropagandai oleh orang komunis. Kelemahan mereka, mereka tuduhkan sebagai kelemahan komunis muslim.

Ringkasnya, munculnya komunis muslim, terutama karena para pemimpin Islamnya dalam praktek keberagamaanya, tidak sungguh sungguh hendak menjadikan kebenaran dan keadilan, menjadikan Islam sebagai agama pembebasan bagi orang-orang yang tertindas.
MENJADI KOMUNIS
Seorang Islam menjadi komunis bisa karena berdasarkan pengalaman pribadinya, di mana yang melakukan pembelaan terhadap kepentingan social ekonominya, dari penghisapan kaum kapitalis, feodalis dan fasis justru kaum komunis dan bukan para pemimpin Islam. Malah sementara pemimpin Islam dilihatnya justru memihak kapitalisme, feodalisme dan fasisme.

Ada juga yang menjadi komunis, karena ia mengetahui terdapat banyak titik temu antara Islam dan komunisme, terutama mengenai hal-hal yang mendasar. Seorang di antaranya yang demikian ialah H. Misbach dari Solo. Seperti dikatakan Pringgodigdo SH dalam bukunya Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia bahwa (menurut ) H.Misbach untuk ( perkara ) memperkaya diri (hal: 28). Ayat-ayat Al Quran yang bercocokan antara komunisme dan Islam, seperti yang dikemukakan H. Misbach tsb, di antaranya ialah surat Al Humazah, ayat 1-4, yang mengutuk orang-orang yang menumpuk harta. Artinya mengutuk kapitalisme, memerangi kapitalisme, ini sama dengan komunisme.

Juga surat Al Qashas ayat 5 dan 6, yang menjanjikan kaum yang tertindas dan miskin (mustadhafin) akan menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi. Jika Al Qashas ayat 5 dan 6 ini membumi, artinya sosialisme telah tegak, kaum penindas (mustakbirin) tak berdaya lagi. Semua sudah diatur oleh kaum mustadhafin. Sosialisme ini juga menjadi tujuan yang dekat dari komunisme.

Begitu juga Islam menghendaki umat yang satu, yang tak mengenal kelas kelas lagi, seperti yang dikemukakan surat Al Mukminun ayat 52. Dan masyarakat yang demikian menurut Mansour Fakih adalah masyarakat Tauhidi. Masyarakat tanpa kelas ini, juga menjadi tujuan dari komunisme.
Karena itu pulalah H. Misbach seperti dikatakan Pringgodigdo bahwa golongan H. Misbach menganggap diri mereka bukan sebagai kaum komunis saja tetapi juga sebagai pembela-pembela yang tulen dari agama Islam.

MENDAHULUI ALLAH
Karena itu, orang-orang Islam yang fanatik, kata Bung Karno, dan memerangi pergerakan marxisme, adalah Islamis yang tak kenal akan larangan-larangan agamanya sendiri (DBR Dibawah Bendera Revolusi hal: 13). Bagi orang-orang Islam yang tak mengenal larangan-larangan ajaran agamanya sendiri, itulah yang memerangi komunisme. Dan mereka inilah yang dengan seenaknya menilai orang Islam yang menjadi komunis sebagai kurang iman, bodoh, sesat, terkecoh oleh propaganda komunis dsb. Atau yang bersangkutan Islamnya palsu, ia muslim gadungan, Islam dipakai sebagai kedok, sholatnya hanya pura-pura, alias sebagai taktik saja.

Biarlah mereka nanti merasakan azab, karena telah menempuh jalan sesat, serta ikut-ikutan dalam gerakan anti Tuhan dan anti agama. Mereka sudah menjatuhkan hukum, padahal surat Al Hujurat ayat 1 mengatakan: janganlah kamu menjatuhkan sesuatu hukum, sebelum Allah dan Rasul menghukumkan. Padahal Allah baru akan menghukum di akhirat nanti.

Mengenai hal itu dengan jelas dikatakan Al Quran dalam Surat As Saba ayat 24-25-26 bahwa: Sesungguhnya kami atau kamu yang berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Kamu tidak akan diminta pertanggunganjawab pelanggaran-pelanggaran kami, dan kami pun tidak akan diminta mempertanggungjawab kan perbuatan-perbuatan kamu. Katakanlah, Allah kelak akan menghimpun kita semua, kemudian memberi keputusan di antara kita dengan benar, sesungguhnya Dia Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui. Jadi, mereka yang menyatakan azab bagi komunis muslim, telah mendahului keputusan Allah, telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan.

TANGGUNGJAWAB PARA PEMIMPIN ISLAM
Menurut Dahlan, masalah Komunis Muslim bukanlah masalah individual dari seorang individu muslim saja. Masalah ini disebut fenomena, karena ini merupakan gejala dalam dan merupakan masalah masyarakat. Masalah Komunis Muslim adalah merupakan dampak dari proses kontak dan interaksi antara Islam dan Komunisme. Soal bagaimana ajaran-ajaran Islam diaktualisasikan dan ditampilkan, memegang peranan besar, bahkan menentukan . Dan ini adalah merupakan tugas kewajiban para ulama dan cendekiawan muslim.

Jadi, masalah Komunis Muslim tidaklah hanya merupakan tanggungjawab individu yang bersangkutan, melainkan juga bahkan terutama tanggung jawab para pemimpin Islam.
Komunisme tidaklah muncul begitu saja dalam alam vakum. Ia adalah produk, bukan produk sampingan, melainkan produk pokok dari kapitalisme dan setiap sistem penindasan lainnya (feodalisme, fasisme dan lainnya). Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Arnold Toynbee komunisme adalah hasil hati nurani Barat yang bersalah.

Begitu komunisme, demikian pula ke Komunis Muslim-an. Kalau komunisme adalah tanggungjawab Barat (kapitalisme), fenomena komunis muslim adalah juga menjadi tanggung jawab para pemimpin Islam.

MENGAPA DAHLAN SAMPAI PADA KESIMPULAN DEMIKIAN?
Dahlan benar sekali, sekiranya para pemimpin Islam tidak hanya tenggelam dalam simbol-simbol Islam saja, tetapi lebih mengutamakan substansi ajaran Islam, tentu persoalannya akan menjadi lain. Karena, kalau para pemimpin Islam senantiasa tampil sebagai penentang setiap bentuk penindasan atau penghisapan, tentu Komunis Muslim itu tidak akan muncul.

Seperti tidak akan munculnya, komunisme, bila kapitalisme tidak ada. Komunis muslim tak akan muncul, bila pemimpin Islam tampil memerangi kapitalisme, sesuai dengan kutukan terhadap orang-orang yang menumpuk-numpuk harta dalam surat Al Humazah (ayat 1-4). Bukankah yang menumpuk-numpuk harta itu kaum kapitalis!

Komunis muslim tak akan muncul sekiranya para pemimpin Islam memperjuangkan supaya kaum tertindas dan miskin (buruh, tani dan rakyat pekerja lain) menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, seperti yang dijanjikan Allah dalam Surat Al Qashas ayat 5-6. Bila kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) telah menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, maka tak ada peluang lagi bagi kaum penindas/penghisap (mustakbirin) untuk menindas/ menghisap kaum mustadhafin. Dan itulah Sosialisme Islam.

Komunis Muslim pasti akan lebih banyak lagi yang muncul, bila para pemimpin Islam justru berdiri di pihak kapitalisme, feodalisme dan fasisme, bukannya memerangi kapitalisme, feodalisme dan fasisme. Komunis muslim muncul karena para pemimpin Islam tidak mengamalkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan karena itulah, meskipun sudah 14 abad lebih, Sosialisme Islam juga belum tegak di bumi.

Munculnya Komunis Muslim, diantaranya juga untuk mengoreksi para pemimpin Islam tersebut, untuk kembali pada ajaran Islam yang sungguh-sungguh. Menegakkan keadilan dan kebenaran. Hadirnya Komunis muslim justru menguntungkan agama Islam itu sendiri, karena mereka dengan sepenuh hati dan tanggungjawab mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang oleh sementara pemimpin Islam diabaikan. Atau sementara pemimpin Islam itu hanya beriman kepada sebagian isi Al Quran dan ingkar atas sebagiannya.

Bila demikian, mereka itulah yang dimaksud surat Al Baqarah ayat 58, maka tiadalah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antaramu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia; dan pada hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam siksaan yang keras. Allah tiada lalai dari apa-apa yang kamu kerjakan. Komunis Muslim sudah di jalan Islam. ***

Catatan kaki:

Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat!.. Karl Marx menunjukkan dengan ayat-ayat Al Quran hal-hal yang bercocokan antara komunisme dan Islam (di antaranya, kedua-duanya memandang sebagai kewajiban menghormati hak-hak manusia dan kedua-duanya berjuang terhadap penindasan). Dan diterangkannya juga bahwa seorang yang tidak menyetujui dasar-dasar komunisme, mustahil ia seorang muslim sejati. Dosa itu lebih besar lagi kalau orang memakai agama Islam sebagai selimut.*
Keterangan Tambahan:
Dahlan Ranuwihardjo (1925-2001) adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun 1951-1953. Dahlan dikenal sebagai tokoh Islam yang sangat nasionalis, dan peletak dasar hubungan harmonis antara HMI dengan pemerintah. Ia punya hubungan baik dengan Presiden Sukarno justru sewaktu HMI tengah ditekan untuk dibubarkan atas desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI)). Pada tahun 2001 Presiden Megawati juga meminta Dahlan menjadi ketua panitia peringatan Seratus Tahun Bung Karno.
Dahlan Ranuwihardjo dan Prof Dr Agussalim Sitompul (1945-2013) mantan Ketua Cabang HMI Yogyakarta dan Prof. Bustanul Arifin Ketua HMI Cabang Yogyakarta tahun 1952-1954 baru mendapat Penghargaan pada peringatan milad 47 tahun Korps Alumni HMI (KAHMI) 17 September 2013 yang disampaikan langsung Koordinator Presidium Nasional KAHMI, Mahfud MD.
Penganugerahan pada malam puncak resepsi HUT KAHMI di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa malam itu, dihadiri oleh sejumlah tokoh alumni HMI seperti Sulastomo Ketua Umum PB HMI 1963-1966, Akbar Tanjung Ketua Umum PB HMI 1971-1974, Jusuf Kalla, AM Fatwa, Priyo Budi Santoso, Irman Gusman, Viva Yoga Mauladi, maupun tokoh non-HMI seperti Wiranto dan lainnya.
Mari kita teladani semangat juang para pendahulu dan senior-senior kita dengan darah ke-HMI-an, karena darah yang mengalir di tubuh itu akan membawa kita untuk terus berjuang dan berjuang bagi kebangkitan ibu pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia kata Mahfud MD saat menganugerahkan penghargaan tersebut. []

SEJARAWAN KOMUNIS ERIC HOBSBAUM, HISTORIKUS TERBESAR PADA ZAMANNYA.

SEJARAWAN KOMUNIS ERIC HOBSBAUM,*HISTORIKUS TERBESAR PADA ZAMANNYA.

isa i.bramijn@chello.nl,in: NASIONAL-LIST YAHOOGROUPS nasional-list@yahoogroups.com, Saturday, 20 October 2012, 1:06
Kolom IBRAHIM ISA
Jum’at, 19 Oktober 2012

Ini memang interesan! Menarik! Dan yakinlah intresan bukan saja untuk
“orang-biasa”, bahkan lebih-lebih lagi interesan bagi para sejarawan
Indonesia. Bisa jadi seorang *sejarawan Indonesia, seperti Taufik
Abullah*, terbelalak membacanya. Akan bertanya-tanya penasaran dalam
hatinya: “Apa betul berita “Time” itu?”.

Ya, “Time” yang dari telapak kaki sampai ke ujung rambut di kepalanya,
adalah ‘anti-komunis’. “Time” paling berat dan paling ogah menulis apa
saja yang baik dan bagus mengenai Komunisme atau orang Komunis. Kok
sekarang bikin komentar demikian (bagusnya) mengenai seorang sejarawan
Komunis? Seperti tak masuk di akal?

Yang jelas cerita yang sedang kutulis ini munculnya memang di mingguan
Amerika, “Time”. Majalah Amerika “Time”, 15 Oktober 2012, di halaman 10,
seperti biasanya, memuat nama-nama orang terkenal, ‘celibrities” dari
pelbagai lapisan dan lingkungan masyarakat dunia, siapa-siapa yang baru
meninggal dunia.

Kali ini dimuat berita meninggalnya (09 Juni 1917 — 01 Oktober 2012)
*sejarawan Inggris terkenal ERIC JOHN ERNEST HOBSBAWM, pada umur 95 tahun.

Hobsbaum adalah seorang akhli teori ilmu sosial, penulis dan sarjana
Sejarah Dunia dan Sejarah Barat. Ia menjabat sebagai Rektor Birkbeck
University of London, selama 10 tahun terakhir sampai ia meninggal
dunia. Dikatakan (oleh wartawan “Time Ishaan Tharoor) bahwa Eric
Hobsbawm, di-mulyakan. Dipuji, bahkan oleh orang-orang yang memusuhi
ideologinya, SEBAGAI *SEORANG HISTORIKUS TERBESAR* pada zamannya.

Ini lagi komentar yang menarik di majalah “Time” tsb: “Meskipun orang
Britania yang lulusan Universitas Cambridge adalah orang Komunis yang
t i d a k pernah b e r t o b a t, yang tidak mau keluar dari partai
setelah kengerian (horrors) yang dilakukan Stalin menjadi jelas, —
namun, karyanya boleh dikata tak ada bekas-bekas suatu dogma.

Sebagai historikus, demikian “Time”, Eric Hobsbawm lebih memberikan
perhatiannya kepada kehidupan orang-orang biasa, ketimbang cerita
tentang tindak-tanduk orang-orang besar. Perjuangan rakyat, — itulah
yang menjadi inti karyanya yang paling termasyhur. Yaitu karya yang
paling ‘best-seller’, terdiri dari empat jilid, berjudul “AGES”. Suatu
seri kronik mengenai periode sejak Revolusi Perancis sampai 1991.

Sebagai seorang historiografer Marxis, Hobsbawm memberikan perhatian
khusus pada analisis mengenai *”revolusi ganda”*. Dimaksudkan di sini
adalah *Revolusi Perancis* dan *Revolusi Industri Inggris*. Hobsbawm
menunjukkan dampak dari dua revolusi tsb sebagai tenaga pendorong di
belakang tren — predominan dari kapitalisme liberal dewasa ini. (Suatu
teori yang menarik juga!!)

Kaya-karya sejarah Hobsbawm, yang selalu ditulis dalam prosa yang jelas
dan rapi, adalah sepenuhnya Marxis dalam bentuk yang paling ideal.
Kosmopolitan, humanis dan berakar serta atas dasar studi masyarakat
dimulai dari dasarnya. Berubah selalu, bagaimana kita seharusnya
berusaha dan mencoba menulis cerita (sejarah).

Cerita ini sengaja dimuat di kolom ini, — ingin menyampaikan kepada
pembaca bahwa sebuah majalah mingguanAmerika,”Time”, yang anti Komunis,
namun, kali ini, berhadapan dengan kenyataan hidup yang riil, — tokh
bersedia menulis dan mengakui bahwa, Komunis-Komunis yang dimusuhinya
turun-temurun itu, nyatanya ada juga yang ORANG BESAR DI BIDANGNYA.

Dalam hal ini “Time” tidak sungkan-sungkan untuk (sambil lalu) mengakui
bahwa ada Komunis yang tidak bertobat, tetapi, ADALAH SEJARAWAN
TERBESAR DI JAMANNYA. Dan TIDAK DOGMATIS!!

MUSA: LANGUAGE AND LITERATURE ARE NO LESS IMPORTANT

Source :Insight Sabah, 30 October 2013
Sabah Writer’s Month
Musa: Language and literature are no less important

Deputy Chief Minister Datuk Seri Panglima Yahya Hussin (second from left front row) mingling with writers Faridah Abdul Hamid and Dr Mastura Ismail while browsing through one of the 17 books launched on the first day of Writer’s Month 2013. He is accompanied by DBP Board Member and Membakut State Legislative Assemblyman Datuk Mohd Arifin Mohd Arif (far left) and Yang Di Pertua of BAHASA Jasni Matlani (middle back row)
By Shalina R
Pictures by Victor Lo and Oliver Majaham

Musa Aman
Chief Minister Datuk Seri Panglima Musa Aman said a nation’s culture, language and literary heritage are of great values to balance the physical advancements that characterise a developed society.
The Chief Minister said this in his speech, read by Deputy Chief Minister Datuk Seri Panglima Yahya Hussin at the launch of the state’s 2013 Writers Month held at Dewan Bahasa dan Pustaka Sabah in Kota Kinabalu on April 5th.
Held for the first time in 2012, the Writers Month Celebration Program was conceived by the President of BAHASA (Badan Bahasa dan Sastera Sabah) Jasni Matlani in recognition of the writers of Sabah.
Besides highlighting the language and literature activities, the annual program also aims to heighten BAHASA’s role to make it more effective in strengthening and preserving our language and literature, especially at the grassroots level,” said the Chief Minister.
“In my opinion, the efforts of government bodies like DBP and ITBM, along with NGOs like Badan Bahasa dan Sastera Sabah (BAHASA), GAPENA and PENA should continue and increase further in the years to come. If we work together and stand united, this program can be implemented successfully throughout the state.”

Yahya Hussin
“As a state leader, I support the idea of having Sabah Writer’s Month To promote our language and literature.”
Sabah’s International Short Story Symposium as well as 17 ITBM (Malaysian Institute of Translation and Books) published books authored by Sabahans were also launched at the function.
In addition, Yahya also handed out the letter of appointment of the members of the Sabah Language and Literature Council. – Insight Sabah

Posted on April 6, 2013

ALIH NILAI

SAHEWAN PANARUNG, RUANG KEBUDAYAAN HARIAN RADAR SAMPIT
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

Betang Hapakat, Jln. RTA Milono 163, Palangka Raya, tempat pengambilan keputusan-keputusan mengenai masyarakat adat Dayak diambil. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Okt.  2014)

Betang Hapakat, Jln. RTA Milono 163, Palangka Raya, tempat pengambilan keputusan-keputusan mengenai masyarakat adat Dayak diambil. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, Okt. 2014)

Tajuk Panarung
ALIH NILAI
Oleh Andriani S. Kusni

Dengan mengutip Karl Marx, Bung Karno pernah mengatakan bahwa “Kebudayaan dominan pada suatu adalah kebudayaan pihak-pihak yang berkuasa”. Contoh dari tesis ini diperlihatkan oleh kenyataan bahwa segala apa yang diupayakan oleh Bung Karno seperti Trisakti (Berdaulat dibidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan), begitu Orde Baru mengendalikan pemerintahan di Indonesia, Trisakti pun dikepinggirkan. Hasilnya adalah satu generasi yang menerima alih nilai dari Orde Baru yang tanda-tandanya sangat jelas nampak dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini.
Salah satu cara melakukan alih nilai dari generasi satu ke generasi lain adalah melalui pendidikan. Khususnya muatan lokal yang di Kalimantan Tengah sudah ditetapkan penyelenggaraannya melalui Peraturan Gubernur, walau pun pelaksanaannya tidak efektif karena ketiadaan materi tulis ajar-mengajar. Sehingga muatan lokal lebih bersifat wacana daripada praktik. Sementara Sekda Provinsi, DR. Siun Jarias, SH, MH, dalam Pumpung Haï di Palangka Raya mengatakan bahwa “kami bukan hanya berteori-teori tapi langsung praktik”, “tidak lagi top-down tapi sudah bottom up”.
Salah satu keputusan acara Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894 di desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas (3-4 Oktober 2014) lalu, adalah memasukkan sejarah Pertemuan Tumbang Anoi salah satu isi mulok di Kalteng. Memasukkan sejarah ke dalam matapelajaran mulok memang baik dan sudah seharusnya. Dengan tahu sejarah lokal, sejarah dirinya, maka Uluh Itah (Dayak) dan Uluh Kalteng (Orang Kalteng) menjadi tidak lepas akar dari daerah di mana mereka hidup. Sejarah dalam kenyataannya tetap aktual, bukan masa lalu yang tak punya arti untuk hari ini. Masalahnya terletak pada akurasi relatif sejarah yang mau dialih nilaikan itu. Di sinilah pentingnya penelitian serius sehingga apa yang hendak dialihnilaikan kepada generasi berikut tidak justru berakibat mengacaukan. Sebab apabila yang dialihnilaikan itu secara faktual berikut penafsirannya salah, maka kita hanya memperluas skala kesalahan. Sejarah Tumbang Anoi versi kekuasaan yang dominan sampai hari ini, justru versi yang meragukan ketepatannya. Akurasi relatif (karena akurasi 100 persen tidak mungkin didapat), baik data mau pun penafsiran, niscayanya dipungut dari kenyataan. Jangan sampai kebenaran yang dipungut dari kenyataan digantikan oleh kemauan dan tafsiran subyektif pihak dominan sebagai hasil dari pendekatan yang keliru. Jika data dan tafsiran yang dialihnilaikan maka generasi pengalih nilai, terutama pihak dominan akan melakukan generative moral crime (kejahatan moral bersifat generatif). Hanya saja seperti umumnya terjadi di mana pun, pihak dominani jarang yang mempunyai kemampuan mendengar. Sementara counter culture dari counter elite di Kalteng masih lemah sekali. Masih jauh dari daerah pinggiran sekali pun. Universitas belum menjadi tempat tumbuh counter culture dan counter elite.
Dalam keadaan demikian, untuk mencoba menahan dilakukannya alih nilai yang salah, barangkali harapan tersisa bisa digantungkan pada media massa cetak atau pun elektronik yang masih setia pada misi pendidikan dan pengawasannya. Alih nilai anarkhis dan subyektif seperti juga terjadi pada bahasa Dayak patut dicegah. Alih nilai yang salah, anarkhis dan subyektif merupakan salah satu wujud bunuh diri kolektif secara budaya. Pencegahan tragedi ini bisa sngat terbantu apabila pos pendidikan dan kebudayaan duduk orang-orang tepat di tempat yang tepat. Kalau pun tidak, paling tidak mereka adalah kategori orang yang mampu mendengar, melihat dan membaca. Kekuasaan sungguh tidak identik dengan kebenaran. []

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding).
~ Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~ Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. (Lihat edisi terdahulu).
~ Télu pain tungku. Tiga kaki tungku. (Lihat edisi terdahulu)
~ Panutung bulan matanandau pambélum. Menyulut (cahaya) pada bulan dan matahari kehidupan. Ungkapan filosofis ini parallel dengan ungkapan “kandil kehidupan” atau “garam kehidupan” dalam Christianisme, dan bertalian dengan konsep “réngan tingang nyanak jata” sebagai konsep hidup-mati manusia Dayak. Dari segi konsep intelektualitas, ungkapan ini menunjukkan peran kaum cerdik-pandai tidak lain memberikan cahaya bagi kehidupan.
Oleh paralelisme dengan konsep Kristiani menjadi pertanyaan: Apakah konsep ini merupakan pengaruh Christianisme dalam budaya Dayak? Kalau ia memang terdapat pada budaya Dayak seperti pada upacara manawur béhas, maka ia berarti bahwa budaya Dayak, khususnya pandangan filosofisnya tedapat universalisme. Hanya bentuk universalisme ini mengambil wujud lokal.
Berdasarkan konsep “panutung bulan matanandau pambélum” ini, maka hidup itu niscayanya mempunyai kegunaan bagi orang lain dan sekitar. Hidup itu niscayanya memberikan terang bagi sekitar. Dalam budaya Tionghoa Kuno terdapat ungkapan “lebih baik menyalakan kandil daripada mengutuk kegelapan”.
UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Bapander haga jéla. Berbicara peliharalah lidah. Ungkapan ini menyarankan agar dalam berbicara niscaya hati-hati, jangan tanpa dipikirkan, baik isi maupun kata-kata yang digunakan. Sebab sekali kata diucapkan sekali pun si pengucap sudah meminta maaf misalnya, akibatnya tetap tidak terhapuskan. Karena itu Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa “pena lebih tajam dari bayonet”. Orang Banjar mengatakan bahwa “luka tangan kawa dibabat, luka di hati hancur sekali”. Dalam budaya Dayak peringatan akan keniscayaan “menjaga lidah” ini juga tertuang dalam ungkapan “bahadat-babasa”. (beradat dan berbahasa).
~ Manempé into lisung, barapi intu rinjing. Menumbuk di dalam lesung, bertanak di dalam kuali. Pepatah ini menasehatkan agar dalam melakukan sesuatu niscayanya sesuai peruntukan dan aturan. Jangan bertindak semau sendiri. Hendaknya tidak hantam kromo, jika meminjam istilah Orang Jawa.
~ Amun masi paréi, maka uru imbawau Kalau sayang padi maka rumput (hendaknya) dibuang atau dibersihkan. Nasehat tentang keniscayaan merawat sesuatu yang dikasihi. Misal kalau sayang anak-isteri janganlah bermain-main dengan orang lain. Jangan mempunyai lelaki atau perempuan idaman lain.

PERISTIWA TELAGA BERACUN
Cukilan dari cerita Mahabarata.
Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.
Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Ada seekor bangau (baka) yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan darinya. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang bangau untuk bertanya. Sang bangau lalu berubah wujud menjadi Yaksa. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Inilah sebagian pertanyaan yang diajukan Yaksa pada Yudistira:
Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?
Yudhishthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.
Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?
Yudhishthira: Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.
Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?
Yudhishthira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.
Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?
Yudhishthira: Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.
Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?
Yudhishthira: Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun yang masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu (dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.
Akhirnya, Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putra yang lahir dari Madri, yaitu Nakula. Yaksa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.[]

Tafsiran Roeslan Tentang Peristiwa Telaga Beracun
Rezim Neoliberal SBY hasil pemilu 2004 dan 2009 sudah siap akan meninggalkan warisan telaga beracun di bumi Indonesia untuk selama-lamanya.
Tambang di Grasberg Papua Indonesia adalah merupakan tambang emas yang terbesar di dunia, kini telah di keduk oleh Freeport-McMoRan atas izin rezim klik militer fasis Indonesia pimpinan Jendral TNI AD Soeharto, yang kini dilanjutkan oleh rezim neoliberal pimpinan jendral TNI AD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hasil pemilu langsung 2004 dan 2009. Penggalian emas di Grasberg telah menghasilkan suatu warisan Telaga Beracun untuk selama-lamanya di Papua . Di Grasberg bakal menjadi Berkeley Pit II, telaga beracun selama-lamanya. Klik link http://en.wikipedia.org/wiki/Berkeley_Pit) dan http://en.wikipedia.org/wiki/Butte,_Montana.
Rupanya rezim Neoliberal SBY-Boedi masih kurang puas dengan keberadaan telaga beracun yang kini telah terjadi di Papua, oleh karena itulah rezim neoliberal SBY-Boedi mengizinkan Freeport untuk menggali Bumi Kalimantan. Jadi sekarang akan tambah lagi terjadinya telaga beracun di Bumi Indonesia. Inilah warisan rezim SBY-Boedi yang akan ditinggalkan pada kita semua dan generasi bangsa yang akan datang. []

SAJAK-SAJAK ESUN SAHUN
SEBUAH PULAU

sebuah pulau
sebuah negeri
membatu
tenggelam dalam banjir bandang
diciptakan para penguasa pedagang
yang menjajakan segala

sebuah pulau
sebuah negeri
bersungai airmata
perahu bocor
adalah esok
yang berlayar di atasnya
walau sajak menjadi sipongang gunung
ia masih kutuliskan
menyimpan kejadian demi kejadian
menolak putus harapan
tanda aku masih mau jadi manusia []
2013.

DARI SIANTAN

dari siantan seberang sungai bohang
aku melihat ketika kembali datang
langkang pulang betunas
punggur balik bedaun *)
kejatuhan membangkitkan manusia
menjadi dirinya kembali

• Ungkapan Dayak Jelai: ‘’yang mati tumbuh kembali, pohon yang jatuh di lubuk berdaun lagi’’.

TERRA IN COGNITA
orang-orang lalulalang di kampungku sambil memungut segala yang bisa dipungut kemudian
pulang meninggalkan tepian rusak di sungai
gubuk roboh di hutan dan gunung berantakan
orang-orang berlomba masuk-keluar kampung
dan hutanku seakan-akan pulau ini kosong
kami tidak ada dilirikpun tidak apalagi bertutursapa
lalu siapakah lagi yang bicara
tentang dayak jika bukan dayak
jakarta seperti bukan ibukota kami
hanya namanya ibukota republik dan negeri
maka kami tak boleh tergantung padanya
pulau ini kembali dianggap terra in cognita []

PERTEMUAN TUMBANG ANOI 1894, TITIK HITAM DALAM SEJARAH DAYAK

Halaman MASYARAKAT ADAT HARIAN RADAR SAMPIT
Memperkuat Masyarakat Adat Dayak, Dasar Kalteng Bahadat
Alamat: Radar Sampit atau meldiwa@yahoo.com.sg

Pertemuan Tumbang Anoi 1894 Titik Hitam dalam Sejarah Dayak
Oleh: Kusni Sulang

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Gezicht_vanaf_de_Kahajan_rivier_op_de_Dajak_kampong_Toembanganoi_Midden-Borneo._TMnr_60010390Collectie Tropen Museum. GEziicht vanaf de Kahajan Rivier op de Daja Borneo via id.wikipedia.org

Penilaian memuji setinggi langit tanpa kritik terhadap Pertemuan Tumbang Anoi 1894 kembali diteriakkan dalam Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 2-5 Oktober 2014 lalu. Pertemuan Tumbang Anoi 1894 dinilai antara lain sebagai “fajar peradaban” (istilah ini pertama kali digunakan oleh seorang wartawan Belanda yang sangat tidak suka pada Dayak) bagi orang Dayak dan “Berakhirnya ‘Hukum Rimba’ di Kalimantan”.

Alasan utama dari penilaian ini adalah karena Pertemuan Tumbang Anoi 1894 yang dihadiri oleh pemuka-pemuka adat dan masyarakat Dayak seluruh Pulau Borneo, telah berhasil “menghentikan kebiasaan perang antar suku dan antar desa”, “menghentikan kebiasaan balas dendam antar keluarga”, “menghentikan kebiasaan adat mengayau”. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dipandang sebagai tindakan tidak beradab dan “hukum rimba”. Dengan kata lain kebiasaan-kebiasaan primitif. Penilaian tersebut, mengabaikan atau tidak menyorot poin pertama “Hasil Rapat Damai Tumbang Anoi 1894” yaitu “1. Menghentikan permusuhan dengan pihak Pemerintah Hindia Belanda”, padahal poin pertama ini merupakan Titik Kunci yang ingin dicapai oleh Belanda melalui Pertemuan Tumbang Anoi 1894 yang ia sokong kuat melalui tangan Damang Batu itu, dalam upaya mengembangkan dan memperkokoh cengkeramannya tehadap Pulau Borneo. Sedangkan poin-poin lain seperti “menghentikan kebiasaan adat mengayau”, juga menjadi tujuan Belanda karena seperti yang ditulis oleh Arham Said “Tradisi ini pula yang membuat Belanda tak bisas sepenuhnya menguasai Kalimantan” (Radar Sampit, 12 Oktober 2014). Dr. Anton W. Nieuwenhuis yang ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk melakukan misi penelitian tentang Dayak (lihat: Nieuwenhuis, “Di Pedalaman Borneo. Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1894) seperti halnya misi yang diserahkan kepada Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) oleh Jenderal JB van Heutz (1851-1924) di Aceh yang waktu itu melakukan perang perlawanan (1873-1904), terpaksa mengalami beberapa kali kegagalan menunaikan tugas kolonialnya. Paut dicatat bahwa sebelum Pertemuan Tumbang Anoi 1894, di berbagai tempat di Kalimantan berlangsung perang perlawanan yang sengit terhadap Belanda sepertk Perang Banjar (1859-1863), Perang Téwah (1885); Perang Hulu Katingan di bawah pimpinan Tamangung Singam (1893-1895); Perang Barito (1865-1905). (Lihat: Prof.Dr. Ahim S. Rusan, et.al, “Sejarah Kalimantan Tengah”, 2006: 43-50).

Dilihat dari latar belakang dan hasil Pertemuan Tumbang Anoi 1894, pertemuan dan hasil Pertemuan tersebut, terutama dan pertama-tama adalah untuk kepentingan perluasan ekspansi dan pengokohan cengkeraman kolonial. Dengan menerima poin pertama (tentu bukan kebetulan poin ini dijadikan poin pertama) “Menghentikan permusuhan dengan pihak Pemerintah Hindia Belanda”, maka pemuka-pemuka Dayak seluruh Borneo waktu itu menerima kekuasaan kolonial Belanda dan kekuasaan Belanda sebagai “Negara”nya sendiri. Pemuka-pemuka Dayak mempunyai ilusi pada kekuasaan kolonial. Ahim S. Rusan, et. Al. dalam buku “Sejarah Kalimantan Tengah” dengan mengutip pendapat Tjilik Riwut, antara lain menulis: “Dengan usainya Rapat Damai Tumbang Anoi (Mei-Juli 1894) ternyata nasib Suku Dayak bukannya menjadi bertambah maju, malahan membuat mereka menjadi semakin terbelakang. Belanda telah dapat menancapkan cengkeraman penjajahannya di seluruh Kalimantan kaasan Hindia Belanda, sementara keadaan orang-orang Dayak tidak diperhatikan, semua keluh-kesah mereka sama sekali tidak diperhatikan. Hampir dalam semua hal mereka tidak mendapat /tidak diberikan hak-hak yang telah diakui oleh hukum Negara” (Ahim S. Rusan, et.al., 2006: 73).

Rapat Tumbang Anoi 1894 merupakan bentuk politik devide et impera (memecah-belah dan menguasai) yang diterapkan di Kalimantan dilakukan menjelang diresmikannya politik etis Belanda dan sesuai pula dengan nasihat Snouck Hurgronje: “Ketika seseorang ingin menguasai suatu Negara, untuk agar dihargai di Negara itu, maka orang harus membangun diri di negara itu”. Menurut pendekatan ini, penghargaan ini dapat diperoleh dengan memisahkan pejuang Aceh dari basis mereka di daerah pedesaan dan dengan memperkuat kekuasaan para bangsawan Aceh” (Adrian Vickers, Edisi Indonesia, 2005: 19).

Dengan pendekatan demikian, maka Pertemuan Tumbang Anoi 1894 diselenggarakan dengan hasil sangat memuaskan untuk Belanda, sedangkan ilusi para pemuka Dayak menjadikan Pertemuan ini sebagai titik hitam dalam sejarah Dayak. Akibat dari penerimaan hasil Pertemuan Tumbang Anoi, Belanda leluasa melakukan politik kebudayaan desivilisasi yaitu politik “ragi usang” dampaknya berlangsung sampai sekarang.

Mungkinkah Pertemuan Tumbang Anoi 1894 berlangsung tanpa sokongan kuat dari Belanda? Pemuka-pemuka Dayak waktu itu mau aktif menjadi penyelenggara karena seperti diungkapkan oleh Tjilik Riwut di atas, mereka menaruh ilusi pada kolonial Belanda, tidak mengenal watak sesungguhnya kolonialisme, memandang pemerintahan (Negara) Belanda sebagai pemerintahan sendiri.

Jagau Yanedi dari Borneo Institut dalam pembicaraannya dengan saya mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan pandangan orientalis (meminjam istilah Edward Said) yang memandang bahwa Pertemuan Tumbang Anoi sebagai “fajar peradaban”, tetapi juga tidak sepakat pada pandangan yang disebutnya ekstrim, menilai Pertemuan Tumbang Anoi sebagai “penaklukan”. “Sebab di pantai Dayak sudah kalah”, tapi Jagau tidak melihat di pedalaman luas berlangsung perang perlawanan yang sengit. Kalah di satu pertempuran tidak berarti kalah dalam peperangan. Tapi dengan Pertemuan Tumbang Anoi 1894, Dayak bukan hanya kalah dalam pertempuran, tapi kalah dalam perang. Pertemuan Tumbang Anoi 1894, menurut Jagau merupakan pertemuan damai agar bisa melakukan perdagangan. Barangkali lebih tepat jika melihat hasil yang dikemukakan oleh Tjilik Riwut dan Ahim S. Rusan, et.al, setelah Pertemuan adalah perampokan oleh kekuasaan pendudukan.

Membanggakan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 sebagai “fajar peradaban” dan “Berakhirnya ‘Hukum Rimba’ di Kalimantan” tidak lain dari pandangan anakronis dalam sejarah. Masih membanggakan diri sebagai anak jajahan. Karena itu Pertemuan Tumbang Anoi 1894 tidak sepantasnya diperingati saban tahun. Yang merupakan awal kebangkitan Dayak dan sekaligus mengkoreksi kesalahan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 adalah berdirinya Sarikat Dajak tahun 1919, berubah nama jadi Pakat Dajak pada 1926. Sarikat Dajak mempunyai visi-misi dan program pembangkitan serta pemberdayaan yang jelas. Sarikat Dajak dan Pakat Dajak ingin mengindonesiakan dan menginternasionalkan Dayak serta mendayakkan yang nasional dan internasional. Sedangkan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 membanggakan diri sebagai anak jajahan. Atas dasar alasan-alasan demikian, maka lebih-lebih tidak dan bukan bahwa Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 3-4 Oktober 2014 sebagai hari “Kebangkitan Dayak”. Lebih tidak rasuk lagi apabila “Kebangkitan Dayak” sekarang ditandingkan dengan kenyataan yang oleh Panitia Pakat Dayak Kalteng dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi “masih belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat lokal, khususnya kepada masyarakat Dayak. Masyarakat Dayak terutama di daerah pedesaan, cenderung hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan sumber daya alam di Kalimantan Tengah.”

Menjadi pertanyaan besar, mengapa terlalu sulit mengakui jasa Sarikat Dajak (1919) dan Pakat Dajak (1926) yang visi-misi dan program serta prakteknya jelas nasionalistik, anti penjajahan dan membebaskan manusia, cq manusia Dayak? Barangkali kesulitan ini merupakan bentuk dari sulitnya menjadi manusia merdeka dan bermartabat. Sebab lain, barangkali diterapkannya pendekatan etnosentrisme dan pandangan yang sesungguhnya bersifat rendah diri, tapi tidak disadari, karena berada di kawasan bawah sadar. Rendah diri adalah sisi lain dari satu mata uang kepongahan semu yang gemar pada pencitraan.

Pumpung Haï dan Napak Tilas Rapat Damai Tumbang Anoi 1894, 2-4 Oktober 2014 lalu meninggalkan banyak pertanyaan dan membuka polemik secara konsepsional, sejarah, budaya dan teoritis. Debat ide atau debat akademi serta penelitian serius merupakan cara penanganan terbaik. Jika sungguh-sungguh ingin maju, kita perlu menggugat diri sendiri. Mengapa tidak?! []

Perjanjian Antar Generasi

Salah satu hasil dari Napak Tilas Rapat Tumbang Anoi 1894 yang berlangsung di Desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, adalah terbitnya Perjanjian Antar Generasi. Dalam Pumpung Haï yang diselenggarakan di Bétang Hapakat, milik Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Jln. RTA. Milono 163, Palangka Raya.

DR. Siun Jarias, SH, MH. antara lain mengatakan bahwa Perjanjian Antar Generasi ini dibuat untuk memberitahukan kepada generasi-generasi Dayak berikut bahwa Dayak angkatan hari ini telah melakukan sesuatu untuk kepentingan Dayak bermartabat. Dengan kata lain agar dikenang.

Perjanjian Antar Generasi ini ditandatangani oleh wakil tiga generasi. Generasi Masa Lalu diwakili oleh Sabran Ahmad, Talinting Tupak, Lewis KDR. (Orang yang masih hidup, pantaskah disebut “generasi masa lalu? Ya, jika mereka menjadi zombie). Sementara Generasi Masa Kini diwakili oleh Siun Jarias, Zulhaidir, dan Perdie. Sedangkan Generasi Masa Depan diwakili oleh Nomi Adilia, Eteria, dan Teresia (Dua penandatangan dokumen yang terakhir tanpa disertai nama keluarga. Ada yang disembunyikan? –Red.) Para penandatangan Perjanjian Antar Generasi ini bertindak atas nama masyarakat adat Dayak Kalimantan.

Perjanjian Antar Generasi yang dibacakan Sabtu, 4 Oktober 2014 malam adalah sbb:

Pertama, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk menghargai satu sama lain dalam hal keyakinan dan atau agama yang dianut masing-masing, selanjutnya perbedaan agama tidak boleh memecah-belah dan tidak boleh karena memeluk suatu agama berakibat bukan lagi sebagai Suku Dayak, sebab Suku Dayak bukanlah agama.
Kedua, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk menjaga nilai-nilai keadilan, keberadaban, kemanusiaan, harkat dan martabat suku Dayak di tengah-tengah pergaulan antar anak bangsa Indonesia, bahkan di tengah-tengah pergaulan internasional.
Ketiga, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk memperoleh posisi bukan sebagai penonton tetapi berperan aktif dalam struktur pemerintah demi membangun NKRI di tingkat nasional dan menjadi pemain utama dalam struktur pemerintahan daerah di tanah Dayak Kalimantan.
Keempat, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan berjanji untuk memperoleh posisi dalam kancah politik nasional dan memperoleh posisi utama dan aktif dalam kancah politik daerah di tanah Dayak Kalimantan.
Kelima, kami masyarakat adat Dayak Kalimantan sebagai bagian Bhinneka Tunggal Ika, ahli waris sumber daya alam, warisan leluhur di Kalimantan berjanji unuk memperoleh keadilan dalam hal menguasai wilayah, melestarikan hutan, dan menikmati hasil sumber daya alam myang berlimpah demi mewujudkan kesejahteraan , harkat dan martabat dalam tingkat NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Perjanjian ini dibuat ditandatangani di Tumbang Anoi 4 Oktober 2014 oleh wakil tiga generasi. Perjanjian diketahui oleh Presiden MADN Agustin Teras Narang. ask-5-10-14

 

Periode Pra Tumbang Anoi
Oleh: Kusni Sulang

Periode Pra Tumbang Anoi bisa disebut juga Periode Kayau-Asang karena periode ini kayau-asang berlangsung marak. Sengit dan berbahayanya (dari segi keamanan) pada masa kayau-asang ini, antara lain dilukiskan oleh contoh-contoh berikut: 1) Mayor Georg Muller, seorang perwira zeni dari tentara Napoleon I, sesudah Waterloo masuk dalam pamongpraja Hindia Belanda. Mewakili pemerintah colonial, ia membuka hubungan resmi dengan sultan-sultan di pesisir timur Borneo. Pada tahun 1825, kendatipun Sultan Kutai enggan membiarkan tentara Belanda memasuki wilayahnya, Muller memudiki Sungai Mahakam dengan belasan serdadu Jawa. Hanya satu serdadu Jawa yang dapat mencapai pesisir barat. Muller sendiri, diperkirakan dibunuh sekitar pertengahan November 1825 di Sungai Bungan, mungkin di jeram Bakang, tempat ia harus membuat sampan guna menghilir Sungai Kapuas. Diduga Muller dibunuh dibunuh oleh suku Aoheng (Bernard Sellato, in: Dr.Anton W. Nieuwenhuis, “Di Pedalaman Borneo. Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1984’, Gramedia Jakarta, 1994” :xiv-xv).Nasib serupa juga telah menimpa Schwaner di Barito. 2) Ekspedisi pertama Pontianak-Samarinda Dr.A.W.Nieuwenhuis pada 1893-94 harus kembali ke Putussibau pada 22 Juli 1894 karena ‘suku-suku di Mahakam sedang mengadakan berbagai persiapan yang bersifat bermusuhan untuk menyambut mereka” . Padahal ekspedisi pertama ini dikawal oleh 19 serdadu Hindia Belanda (Buku yang sama hlm xvi). 3) Tahun 1885 suku Iban melakukan serangan besar-besaran terhadap Mahakam Hulu dan menghancurkan semua desa Aoheng dan kampung besar Koeng Irang (ibid). 4) Ekspedisi Pontianak-Samarinda Nieuwenhuis baru tuntas pada tahun 1900.Dalam ekspedisi ketiga (1898-1900) Nieuwenhuis,  ‘dengan tujuan meneliti cara sarana untuk memperluas pemerintahan Belanda sampai ke wilayah Mahakam Hulu dan Kayan Hulu agar membentuk kedamaian dan keamanan’. Artinya suatu ekspedisi dengan tujuan politik. Ekspedisi Nieuwenhuis hanya bisa berhasil setelah ia dibantu oleh orang-orang Dayak sendiri seperti Suku Kayan dari Mendalam dan kepala mereka, Akam Igau. Diseberang perbatasan dibantu oleh Kwing (atau Koeng) Iran, kepala suku Kayan-Mahakam. ‘Nieuwenhuis tidak akan pernah berhasil dengan ekspedisinya jika tidak dibantu oleh orang Dayak yang tidak menyadari tujuan ekonomi dan politik ekspedisi Nieuwenhuis.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pemerintah kolonial Belanda untuk kepentingan politik kolonialnya dan penguasaan teritorial sangat berkepentingan dengan berhentinya asang-kayau-bunu antar suku yang kronis. Penelitian multidisipliner Nieuwenhuis paralel dengan yang dilakukan oleh Dr. C. Snouck Hurgronje di Aceh pada masa Perang Aceh 1873-1904. Nieuwenhuis bahkan menyampaikan terima kasih khusus kepada Hurgronje yang telah ‘memeriksa naskah’ laporannya. (Nieuwenhuis, Mei 1898).
Bersamaan dengan agresi fisik berupa serangan militer, melalui para antropolog dan ilmuwan sosialnya, pemerintah Hindia Belanda juga melaksanakan politik desivilisasi. Smythies misalnya suku-suku di Borneo Tengah dicatatnya sebagai suku-suku kafir dan tidak manusiawi karena membunuh budak-budak (hlm.xx). Politik desivilisasi ini disebut politik “ragi usang”, yang memandang bahwa semua budaya Dayak dan yang berbau Dayak harus dimusnahkan sebagaimana halnya perlakuan terhadap ragi usang, ragi yang sudah rusak.

Menurut Bernard Sellato, antropolog Perancis yang melakukan studi tentang Dayak Kalimantan Timur, ‘pendekatan teoritis Nieuwenhuis jelas berbau periode awal antropologi, ketika lingkungan ilmiah masih didominasi oleh evolusionisme. ‘Animisme’ dipandang sebagai tahap primitive pada suatu skala peradaban yang mempunyaiu universal. Baik pendekatan yang didukung oleh aliran sosiologis Durkheim maupun aliran fungsionalis berikutnya tidak begitu dipertimbangkan dalam karya Nieuwenhuis’ (hlm. xxi).

Tentu saja pendekatan teoritis Nieuwenhuis menggunakan pendekatan kolonial yang memandang Tanah Dayak sebagai terra in cognita, dan tugas orang penjajah dibungkus dengan teori misi suci (la mission sacree) , tugas membudayakan orang yang disebut primitif, karena seperti ditunjukkan oleh tugas utama ekpesdisi ketiganya (1898-1900) adalah misi politik. Agaknya para penginjil awal yang datang ke Borneo pun menganut pandangan yang dianut oleh para antropolog awal. Oleh karena itu Orang Dayak memandang mereka ‘sebagai kaki tangan penjajah’ (Prof. Dr. Ahim S. Rusan, et.al, 2006:65). Empat pendeta Eropa yaitu Hofmeisiter dan isteri, Rott, Kind dan Wigand meninggal karena menjadi sasaran mata Mandau dan anak sumpitan. Sedangkan Klamer luput dari pembunuhan karena ditolong oleh Suta Uno Sitinegara (Prof. Dr. Ahim S. Rusan, et.al. 2006: 65).

Kebencian pada penjajah Belanda berkembang menjadi perang. Mei 1859 di Pulau Petak, Kapuas meletus pertempuran dengan Belanda. Kapal perang Belanda Tjipanas tidak bisa digunakan lagi, anak buah kapal terbunuh semuanya. Tahun Perang Tewah meletus 1855 disusul oleh perang di kawasan hulu Katingan, Mentaya , Kahayan dan Barito yang menimbulkan kerugian besar pada serdadu Belanda baik kapal perang mau pun nyawa. Saat itu Belanda baru saja mengakhir Perang Paderi (1821-1839), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1904) masih berlangsung.

Dalam keadaan demikian, Belanda mencari akal bagaimana memadamkan api perlawanan dan asang kayau-bunu selekas mungkin dan memperluas penguasaan teritorial sekaligus. Di pihak lain berada di tengah api perang yang berkobar demikian, hasrat bersatu di kalangan Orang Dayak seluruh Borneo makin dirasakan keniscayaannya.

Dari tuturan di atas, nampak bahwa Periode Pra Tumbang Anoi ini ditandai oleh 1) Asang-kayau bunuh antar suku; 2) Perang melawan Belanda; 3) Tapi bersamaan dengan itu, oleh keperluan perang besar yang disertai dengan agresi kdebudayaan berbentuk politik desivilisasi Belanda itu, di kalangan Orang Dayak mulai tumbuh kesadaran untuk bersatu.

Dengan latar belakang demikian, Pertemuan Tumbang Anoi tahun 1894 diselenggarakan, dengan Damang Ribu yang lebih dikenal dengan sebutan Damang Batu sebagai organisator pelaksana. Periode Tumbang Anoi dimulai. Latar belakang musabab penyelenggaraan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 dalam buku ‘Sejarah Kalimantan Tengah’ yang ditulis oleh Prof. Ahim S. Rusan, et.al. disebutkan sebagai berikut:
“Untuk mengurusi pemerintahan ( kekuasaannya) di Kalimantan, Belanda mengalami kesulitan karena adanya perlawanan Rakyat Dayak atas kekuasaannya yang dikenal dengan Perang Barito (membela para pengungsi Pegustian Banjar dan berada di tengah masyarakat Dayak pedalaman), Perang Pangkoh Perang Bukit Rawi, Perang Tewah, Perang Mandoun, Perang Kasintu dan Perang Bukit Panya. Di samping adanya perang perlawanan terhadap kekuasaan Belanda, di antara Suku Dayak sendiri pada abad XIX sering timbul perang antar suku, Asang-Kayau-Bunu.”(2006:71).

*Cuplikan dari buku “Refleksi Kritis Untuk Hari Esok: Perlindungan Masyarakat Adat”. Buku ini diterbitkan oleh AMAN Kalteng & Yayaasan TIFA, 2013.

17 OKT. 1952 – MERIAM NODONG ISTANA Bagaimana REAKSI PRESIDEN SUKARNO?

17 OKT. 1952 – MERIAM NODONG ISTANA Bagaimana REAKSI PRESIDEN SUKARNO?

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, (Bung Karno).
17 Oktober 1952 — Apakah yang terjadi di Jakarta, pada 55 tahun yang lalu ( pada hari ini berarti 62 tahun yang lalu-pen)? Tanggal tsb adalah fakta penting dalam sejarah perkembangan negara Republik Indonesia. Kalau masih diingat, maka peristiwa itu samar-samar diingat sebagai ‘Peristiwa 17 Oktober 1952′. Mungkin saja banyak yang sudah ‘lupa’ atau dengan tak disadari menjadi ‘lupa’ tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Sementara kalangan, terutama militer, dengan sengaja melupakannya. Semacam ‘lupa masa lampau’. Sulit mencari keterangan lain, bahwa hal itu (melupakan fakta tertentu dalam sejarah) dilakukan demi kepentingan politik tertentu.

Mungkin tak disadari masyarakat, apalagi dari kalangan generasi baru, yang hidup dan dibesarkan dalam periode rezim Orba, apa yang sesungguhnya terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952. Bagi orang-orang generasi-ku tak mungkin akan melupakan hari tanggal 17 Oktober 1952.
Ketika itu, pada pagi tanggal 17 Oktober 1952, sejumlah tank dan meriam Angkatan Darat, moncongnya diarahkan ke Istana Negara dan sejumlah besar tentara dan massa berkumpul di muka Istana Presiden Sukarno. Mereka membawa slogan-slogan politik sambil menyerukan yel-yel, menuntut dibubarkannyua DPR-RI, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

PENJELASAN BUNG KARNO Tentang 17 OKTOBER 1952.

Pada tanggal 17 Oktober 1952, moncong-moncong meriam dan tank-tank AD jelas diarahkan ke Istana Negara, dan siapapun tahu bahwa yang berdomisili di Istana Negara adalah, Sukarno, Presiden Republik Indonesia. Mari kita ikuti penjelasan Presiden Sukarno sendiri tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Oktober 1952 tsb.
Dari demikian banyaknya tulisan-tulisan Bung Karno –, yang kuanggap termasuk paling otentik, adalah ‘memoar’ Bung Karno berjudul: ‘SUKARNO An Autobiography As Told To Cindy Adams’ , Copyright 1965 by Cindy Adams’s.

Bagian yang diambil dan diterjemahkan di bawah ini adalah dari Edisi bahasa Belanda – terjemahan N.G. Hazelhoff, terbitan NV Uitgeverij W. Van Hoeve’s-Gravenhage, 1967, berjudul : ‘ SUKARNO, Autobiografie Opgetekend door CINDY-ADAM’S.’

Inilah a.l. yang dijelaskan Presiden Sukarno mengenai Peristiwa 17 Oktober 1952. Baiklah ikuti dengan seksama, sbb:

‘Pada pada pagi-pagi sekali, tanggal tujuhbelas Oktober 1952, dua buah tank, empat panser dan ribuan tentara menerjang pintu-pintu Istana Merdeka. Mereka membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan teks ‘bubarkan Parlemen’. Batalyon artileri dengan empat meriam dengansuaranya yang riuh rendah memasuki lapangan di depan Istana. Beberapa meriam buatan Inggris (peluru ukuran 12 pon) diarahkan pada saya.

Unjuk kekuatan ini mencerminkan histeria hari-hari saat itu. Selain itu amatlah tidak bijaksana apa yang mereka lakukan itu, karena para komandan yang merancangkan itu, semuanya ada (di dalam) Istana bersama
saya. Kolonel Abdul Haris Nasution, yang memberikan pimpinan pada usaha yang menuju pada ‘setengah kudeta’, seperti yang dikatakannya sendiri, angkat bicara. ‘Ini bukan ditujukan terhadap Bapak pribadi, Pak, tetapi ditujukan terhadap sistim pemerintahan. Bapak harus dengan segera membubarkan Parlemen.’
Itulah yang terjadi pada pagi hari 17 Oktober 1952. SUATU USAHA YANG MENGARAH KE SETENGAH KUDETA. Itu kata-kata A. H Nasution sendiri, yang ketika itu adalah pimpinan tertinggi AD. Lalu, bagaimana reaksi
Bung Karno? Mari ikuti apa kata-kata Bung Karno sendiri ketika beliau menuturkan peristiwa pagi itu.

Bung Karno:
‘Mata saya membelalak memancarkan api kemarahan. ‘Apa yang kau katakan itu benar, tetapi cara yang kau ajukan tidak benar. Sukarno kapanpun tak akan tunduk terhadap tekanan. Tidak terhadap tentara Belanda dan tidak terhadap sebuah batalyon tentara Indonesia!’. ‘Bilamana ada kesulitan di negeri ini, semua mengharapkan agar tentara turun tangan mencari penyelesaian’, tukas Nasution balik. ‘Kaum politisi yang menciptakan perang yang membawa korban di kalangan tentara. Maka adalah adil bahwa kami juga punya suara dalam masalah
besar ini.’
‘Kau bisa katakan apa yang kau ingin katakan kepada Bung Karno – JA. ‘Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesia — TIDAK! SELAMANYA TIDAK!’
‘Dengan tenang saya menuju ke luar ke arah massa yang telah dibikin marah oleh pelbagai pidato. Kebalikannya dari menjadi kecut menghadapi ancaman meriam, saya tatap langsung moncong meriam tsb tanpa gentar sedikitpun, dengan sekuat tenaga mencurahkan kemarahan saya pada mereka yang hendak membunuh demokrasi dengan bantuan suatu regu-tembak.

‘O-o’, . . . seru seorang prajurit terengah-engah, ‘apa yang kita lakukan adalah salah. Ya, Bapak menghendaki yang lain’, seru dua orang lainnya yang ada di dekat situ.

Yang lainnya lagi beteriak, ‘Jika Bapak tidak menghendakinya, maka .. . . .’ ; ‘. . . Kita juga tidak mau’, demikian yang lain menyelesaikan kalimat itu.
‘Perebutan kekuasaan negara’ tsb menjadi suatu kegagalan yang menyedihkan. Massa bubar menyebar sambil berseru , ‘Hidup Bung Karno. . . . Hidup Bung Karno’.

Nasution kemudian dipecat dari jabatannya. Tetapi saya tidak menginginkan perpecahan antara saya dengan kekuatan bersenjata kita. Oleh karena itu kemudian saya rehabilitasi dia (Nasution) kembali di jabatannya (semula) dengan kata-kata berikut ini, ‘Sukarno bukan anak kemarin dulu dan Nasution bukan anak kemarin dulu. Kita tetap bersatu karena bila musuh kita berhasil menyebarkan perpecahan, hal itu berarti berakhirlah kita sudah.’

Demikian antara lain Bung Karno dalam memoarnya.
Jelas sekali duduk perkaranya sekitar ‘Peristiwa 17 Oktober 1952′ itu. Bung Karno tegas menyatakan bahwa hal itu adalah suatu perobaan ‘PEREBUTAN KEKUASAAN NEGARA’ (oleh tentara) yang gagal amat menyedihkan. Kolonel Nasution yang karena itu dipecat dan kemudian direhabilitasi oleh Bung Karno demi persatuam, juga menyatakan dengan setengah hati, bahwa yang dilakukannya itu ‘mengarah ke separuh kudeta’. Tetapi gagal karena ketegasan dan keberanian Bung Karno mempertahankan demokrasi.

Baik juga mengikuti analisis Bung Karno, mengapa perkembangan sampai ke titik peristiwa 17 Oktober 1952.

Pada bagian berikutnya dari tulisan ini, akan bisa diikuti bersama, penjelasan dan analisis Bung Karno, mengenai situasi politik ketika itu.
Dalam penjelasannya yang akan dikutip lebih lengkap dalam tulisan berikut nanti, Bung Karno memulai penjelasannya, dengan mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar kita didasarkna pada suatu kabinet presidensil yang dikenal di Amerika Serikat. Tetapi Sekutu yang mendarat di Indonesia sesudah Jepang menyerah dalam Perang Pasifik, adalah orang-orang Inggris dan Belanda. Mereka-mereka itu terbiasa dengan dengan seorang kepala negara yang tituler seperti Ratu Belanda, Raja Inggris atu Presiden Republik Perancis, yang samasekali tidak
punya tanggungjawa atas pekerjaan pemerintahan sehari-harinya.. Pendapat mereka mengenai suatu sistim kenegaraan dimana Presiden bertanggungjawab mengenai pekerjaan sehari-hari pemerintahan dengan samar-samar mengingatkan (mereka) pada Nazi-Jerman dan Kerajaan Jepang yang militeristik. ‘Jika Presiden Sukarno sekaligus kepala negara. juga. panglima angkatan bersenjata dan pemimpin kabinet, maka itu adalah fasisstis, teriak Sir hilip Christinson dan jendral-jendral Inggris lainnya.’, tulis Bung Karno dalam memoarnya.
Nanti akan tampak pula, bahwa pada saat ketika Presiden Sukarno menyatakan DEKRIT PRESIDEN untuk kembali ke UUD-1945, membubarkan Parlemen dan Konstituante, Bung Karno sempat menyatakan bahwa pada ketika itu, TENTARA memperoleh apa yang mereka inginkan: DIBUBARKANNYA PARLEMEN!

Untuk jelasnya, bagaiamana situasi kehiduan politik di Republik Indonesia dengan sistim multi-partai ketika itu, baik kita ikuti nanti, tuturan Bung Karno dalam tulisan berikutnya.
Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 17 Oktober 2007
PS: Tulisan ini saya copy dari Wikipedia 17/10/14. (YTT)

PATUNG LELAKI DAYAK & BATAMAD

Patung lelaki Dayak dan beberapa anggota para militer MADN, Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad) di depan Betang Hapakat Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andrlani S. Kusni, Okt.2014)

Patung lelaki Dayak dan beberapa anggota para militer MADN, Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad) di depan Betang Hapakat Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andrlani S. Kusni, Okt.2014)

PESERTA PUMPUNG HAI

P eserta  acara Pumpung Hai di Betang Hapakat milik MADN, Palangka Raya, 02 Okt.2014 (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2014)

P eserta acara Pumpung Hai di Betang Hapakat milik MADN, Palangka Raya, 02 Okt.2014 (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2014)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers