Antologi Puisi
PALANGKA RAYA
yang tersimpan pada kota ini
adalah tekad dan kemampuan dayak
membangun mengejar zaman
memetik matahari
di manakah di negeri dan bumi ini
hutan ditebas menjadi kota
idaman dayak sejak merdeka
dari sini ia dibina
yang tercermin pada kota ini
adalah juga harga diri dayak
kuasa mewujudkan mimpi dengan tangan sendiri
tanpa pernah membudak
palangka raya pun kemudian
kota selalu menagih impian
terangkatnya martabat
menyanding mengiring zaman
kepadamulah
kepada kitalah
tanya dituju
jawaban ditunggu
harapan ditumpu
Palangka Raya, 1994
MEMETIK EDELWEIS
Kepada Andriani S. Kusni
1.
kutabur jutaan dan jutaan benih di rahim tubuh cintamu
jutaan dan jutaan harapan tentang esok dan kehidupan
lalu menyemi bagai jutaan pinisi melayari samudra kasihsayang tak bertepi
2.
tak pernah kuduga esok
teka-teki tak pernah usai dijawab
masih saja kutuliskanbaris-baris sederhana tentang cinta kepadamu
mengalir bagai arus sungai abadi
3.
tonggak itu kita tancapkan 2 februari dahulu
pagar bagi suatu rencana agung
di padang lapang di tengahnya
berdua kita bangun rumah
lalu ada berlari kejar-kejaran dengan adiknya
suara mereka bagai burung dahan sahut-sahutan
suaramu, sayang, di telingaku mengiangkan himbauan-himbauan ajaib
tonggak kita tancapkan berdua dahulu
kunamakan prasasti pernikahan
awal perjalanan pilihan tak berujung
4.
tak ada dengkur dan tidur ke puncak edelweis
memetik edelweiss putih untukmu
merah darah nadiku oleh kasihmu
5.
orang bilang sangat pekat ini malam
ujung jari tak tampak mereka bilang
betapa pun jauh ujung jalan
namamu purnama langit pemburuan
6.
manis, manisnya air kelapa muda
manis segar air sungai telaga tubuhmu
berkata orang dayak :
itulah danum kaharingan
7.
jenjang lehermu
jenjang kuelus
tahukah kau
jemari dan tubuhku
kamus bahasa ajaib
milyaran kosa kata
pengucap suara jiwa
8.
di pinisi ini kita berdua saja
topan menunggu haluan
di ruang jentera kita berpegang tangan
14 Mei 2009
9.
dari yos sudarso hingga bundaran
hujan dan terik berganti tiba
di lembar-lembar waktu
tercatat kisah lama dan baru
10.
seperti di mana saja juga di sini di palangka raya
kepahlawanan dan khianat tercatat padu di jalan-jalan tanpa trotoar
ada yang larut bersama humus di selokan apak
ada yang wangi menyaing anggrek dan mawar
«kita ke mana ? », tanyamu
tentu saja ke puncak memetik edelweis
11.
di tikar rotan kau hamparkan, kemudian
kau uraikan benang-benang silam
menyulamnya ulang
kau semat di baju bodo
bertuliskan nama berdua
di hari pernikahan kau kenakan
15 Mei 2009.
12.
hujan di luar tak bisa kuhitung jumlah tetesnya
kecuali bunyinya di atap dan dedaunan melukiskan cuaca kota
aku pun tak tahu berapa jumlah nestapa yang mengepung
kecuali setiamu yang melangkah di sisi mengikut pilihan
13.
terik sekali palangka raya siang tadi seperti biasa
lalu petang menurunkan hujan tiba-tiba
ketiba-tibaan memang sering menyergap menanti kelengahan
yang patut senantiasa masuk hitungan
14.
cangkir demi cangkir kopi kerja kami reguk
lapar di bawah meja menggeletak bersama nyamuk di asap bygone
bukan karena berdarah bugis jika istriku menampik segala dera
duka mengusik semua etnik dari pulau ke pulau
duka adalah tapisan kadar universal tanpa bangsa
15.
di katingan kita memandang bulan berpayung
bintang bermain di gelombang kelotok
sambil membasuh kaki dan tangan di air sungai yang dikeruhkan air-raksa
sesekali terdengar ikan menyambar permukaan mencari udara
di perjalanan kita terkadang tak sempat bernafas tenang
« jangan berhenti, ko ji » , ujarmu dengan mata hitam berbinar
“menang-kalah kita berdua, yo”
« sebutir kita bagi berdua »
katingan dan hidup kita
bertanda asin airmata
cerlang bulan dan bintang
hatiku bertanda cerlang setiamu
peluh perjalanan jatuh-bangun
berdua
16 Mei 2009.
16.
biru di atas hijau daun
biru langit kota
seekor burung mungil
sayap biru
merah kesumba
memutar penjuru
terbayang kau di beranda
memandang padang lapang
kebun-kebun tebu menungguku
diam-diam kami sebut namamu, nak
dan di jambangan
edelweis putih kami simpan untukmu
17 Mei 2009
17.
di antara sampah jalan dan sungai
pengangguran dan kepapaan berhamburan
dari palangka raya sampai riam-riam
lapar dan segala kekurangan
rupa-rupa ancaman
di depan pintu
di kaki tangga
apakah mereka tiba dari langit kota tak stabil
terik dan hujan rebutan kuasa?
ann yang menolak kutukan langit menggenggam jariku erat
kembali meyakinkan bumi ini untuk kita dan
hidup mengingatkan keniscayaan berlaga
aku menunjukkannya dedaunan rambai lebat lunglai menghadap sungai
terbayang ribuan mata kuyu jiwa lunglai ngiang kata-kata perempuan kampung
ketika orang-orang berlomba menguar janji di lapangan kampanye
lalu sepi seperti sunyi katingan jauh malam ditunggu bintang dan bulan
di antara sampah jalan dan sungai
pengangguran dan kepapaan berhamburan
dari palangka raya sampai riam-riam
lapar dan segala kekurangan
rupa-rupa ancaman di kiri kananku
ann, coba bedakan sampah sungai dan jalan
mana sampah mana bukan
siapa sampah siapa bukan
dikejutkan sambaran ikan pada permukaan
di sini kejutan patut dilakukan
dusta patut dibungkamkan
sansana panarung
patut kembali disenandungkan
di katingan
18.
di desah arus dan riam katingan
kudengar mimpi penduduk
tatum menahun
di angin bersarang terbang hinggap di daun-daun
di bawah sayap burung-burung
kecipak riak katingan
kudengar tatum menahun
mimpi penduduk dari muara hingga hulu
desah dan tatum ini pun kudengar samar
di antara gempita pekik merdeka kampanye lalu
di depan kantor gubernur dan bupati
tumbuh rerumputan kering menunggu mati
ilalang menunggu api
harapan terbakar
berpasasan muda-mudi
kucari jawab di mata mereka
hampa dan sepi
19.
dari palangka ke kasongan
dari muara ke hulu
sepi gong dan kangkanong
suara katambung
antara palangka dan kasongan
di semak jalan
tak kudengar gaung tingang
dangdut mengganti sansana
di padang-padang gambut
di putaran roda ban taksi
dari palangka raya ke kasongan
seekor anjing hitam
melolong sendiri di belukar
antara palangka raya-kasongan
sesat tak tahu jalan pulang
19 Mei 2009
20.
jauh sudah makassar
seperti dahulu menunggu selat
mengirimkan angin
dan pinisi pulang sedang
aku mengawali kembara panjang
tradisi pelaut nenek-moyang
datanglah ke toddopuli
kau lihat cintaku bagai dahulu
datanglah ke seberang jauh
kau jumpai setiaku
kujamin dengan jiwa
bugis itu memang anak laut
aku turunannya entah ke berapa
maka kuharungi ombak samudera
bernama hidup
19 Mei 2009
21.
rahasia itu
ada di daun
di pohon
kudapatkan ketika kebakaran hutan
rahasia itu
ada di sungai
ada di teluk
kudapatkan ketika air menggenang
kulit tubuhku digigir air raksa
rahasia itu ada di kampung
dan wajahmu
kudapatkan ketika rindu
di jalan kembara
rahasia itu ada di cahaya lampu
kudapatkan di kegelapan
sembunyikan kuku
ujung jemari
aku pun menjadi hutan terbakar
oleh segala rahasia
percikan mimpi
menyekam di hati
tak kenal pudar
kendati ketiba-tibaan
tak juga pernah alpa
19 Mei 2009
22.
sayup kudengar kokok bertalu
bersama jam besar kota dan peronda kampung
mengukur jauhnya malam
di meja aku masih menuliskan baris-baris catatan
tentang cinta dan mimpi
yang tak reda diamuk dan dicoba
hujan-terik siang malam
sudah dekat subuh
ditandai kokok menyambut fajar
memandang ke belakang
tak terbilang yang jatuh menjelang cahaya
yang baru datang
hilang dan datang
terasa benar
aku cuma sebatang kayubakar unggun api
setetes air di arus mencari laut
andria, cintaku tak lain dari arus juga
yang mengalir menggelora di samudera
19 Mei 2009
23.
tak terdengar riuh jalan di kokok jantan
bulan lesu pucat lelah di atas pepohonan barat
menabur sunyi di yos sudarso memanjang di hadapan edelweis
aku dan andria seperti biasa mengatur nafas meneruskan laga
tak pernah sepi menguji dan menempa
19 Mei 2009
24.
hujan hari itu di jalan tingang seusai terik
aku dan andria menghitung nomor demi nomor mencari tujuan
—masih belum rapi tertata kota palangka ini di usia lima dua
segalanya tumpang tindih rebutan ruang dan tempat
masuk sebuah kantor disambut pegawai yang bangga dan tenang
di kursi lembaganya bergaya pns mimpi idola rumah demi rumah
daerah aman bebas lumpur dan tungku dapur tak menyala
andria di sampingku mengagguk-angguk membaca
di notesnya mencatat palangka dan manusianya
aku memandang cakrawala mencari letak esok
tantangan di luar angka
mencari edelweis di mana
19 Mei 2009
25.
merah dan apak selokan besar jalan pangeran samudra
barangkali menuju kahayan yang keruh
selokan dan kahayan sama saja sejenis tong sampah
mengotori mimpiku tentang kampung idaman
kata-kata beda sudah dengan mantera yang bernas sarat makna
hari ini banyak serupa sampah mengapung di selokan
di sungai dan jalan-jalan
pemimpi
kaulah fakir yang mengelana sendiri
di lorong-lorong kian sunyi
andria, apakah kau masih tetap mau menulis?
apakah kau masih bertahan pada grand design semula?
merah apak selokan dan sungai
merah apak kata-kata
pidato dan baliho kota
udara terik dan apak
membius penduduk
19 Mei 2009
26.
seorang pemuda mati terbanting di jalan dari sepeda motornya
polisi mengatakan pemuda itu melampaui batas kecepatan biasa
– semacam ulah bunuh diri
gerimis petang kubayangkan seperti tangis kekasih pemuda itu
seorang pemuda mati terbanting di jalan gerimis
mengejar memacu ajal sendiri
aku membayangkan di jalan itu dayak-lah yang tergeletak
mati bunuh diri tanpa martabat
19 Mei 2009
27.
ujung murung pagi tanjung
matahari teluk mengantar setia nelayan ke pelabuhan
wangi sisa hutan amis ikan menghampiriku
bagai masih mengenalku lama di kembara
perempuan-perempuan ramah menyapa bagai dahulu
ternganga mereka kerna rantau tak tenggelamkan basa katinganku
lima benua tak renggutkan diri dari kasongan
andria, terasing bukan karena rantau dan dingin salju
kembali pulang ke katingan kukenal jalan dari muara ke hulu
masih kulantun sansana beramu
warna perjalanan tingang
oi, nanai, nananai, nananai, nanai
kutimang katingan ujung murung dengan sansana
anak panarung pengarung benua
20 Mei 2009
28.
duka dan sunyi itu kulihat subuh ini memang warna-warni
putih seperti warna tembok, hijau serupa warna daun atau
sehitam langit, semerah fajar dan bagai pelangi
subuh ini kulihat mereka bermain selincah kelinci di balik tembok
di jalan-jalan hening di antara kokok jantan dan azan sahut-sahutan
bahkan naik-turun di dedahanan di rindang daun dalam selokan
dari kursi teras edelweis andria dan aku memandang mereka
menggunakan kasihsayang kami menghalau mereka dari hati
membiarkan harapan dan mimpi menyemi di ladang semula
22 Mei 2009
29.
azan subuh dan kokok jantan tak kudengar di salju eropa
di edelweis keduanya sahut-menyahut mengisi langit hingga penjuru jauh
terbayang ulang lorojongrang meluluhkan cinta putera saktinya
azan dan kokok subuh ini tentu bukan awal kekalahan kita, andria
sebagaimana putera sakti lorojonggrang mengawali ulang kembaranya
22 Mei 2009
30.
sungguh suatu kepongahan bocah baru belajar menghitung angka
seperti dahulu bocahku di katingan mengacung tinju mau merobohkan langit
menduga sauk 1) mampu menangguk bulan angkasa
mendengar azan merambat di arus sungai aku menyenyumi kebocahanku dahulu
betapa diriku tak sekuku dibanding langit kendati tak henti bertarung
wajar kita punya masa kanak menjelang dewasa
tapi mengapa membocah berlarut-larut ?
22 Mei 2009
31.
antara pata dan ujung murung
sebutir jambu matang jatuh kita pungut di jalan
kembara panjang yang lama mengasingkan kita dari kampung
menabur rindu di hati menagih janji lama tertunda
jambu kuning
kuning kulitmu
kita belah dua
separo untukmu
separo untukku
sebagaimana kita membelah duka dan suka
memandang ke belakang
dan matahari yang makin tinggi dari kelapa
dari pohon-pohon durian dan rambutan halaman
bisa dihitung dengan jari jumlah kesetiaan pada janji
apalagi berbelah duka dan suka
26 Mei 2009
Catatan :
1). Sauk , nama alat penangkap ikan Uluh Katingan, Kalimantan Tengah.
Sajak-sajak Jakarta
1. DI ASPAL JAKARTA
di ujung lidah terhenti kata-kata
tetangga papasan di jalan tak jadi kusupa
dua kendaraan dua jurusan
satu ke utara satu ke selatan
pingsan bahasa
di aspal jakarta
manusia makin terasing
aku mencarinya untuk hidup
Jakarta, Mei 2009
2. DI TENGAH SAMPAH
di jakarta terik dan matahari
menjepit membantingku di aspal
knalpot bus sepedamotor
menyiram paruku sedrum racun
merobek gendang telinga
orang-orang berbicara bagai berteriak
orang-orang makin pekak
hati menumpul dan berkarat
dipaksa bergegas
melomba memetik rezeki
bergantungan di detik-detik ketika
di jakarta
aku berjalan di tengah sampah
sungai-sungai apak
Jakarta 2009
3. JAKARTA
di jakarta aku mengelanai
hutan beton berdaun kaca
silau mataku
demikian juga dewa-dewa langit
di hutan beton berdaun kaca
angin berganti gemuruh kendaraan
aku papasan balita pengamen
pedagang kaki lima yang kurus-kurus
seperti tahanan kamp-kamp militer
di antara kemacetan
jakarta
kota sungai tersumbat
penduduk menjadi ikan kena tuba
ada yang mengapung mati
ada yang tinggal insang menjaga paru
hembuskan angin penghabisan
tak kusebut jakarta model modernisasi hari ini
jakarta adalah kesalahan usang keterlanjuran
dan berlanjut
bersarang ketidakacuhan
Jakarta 2009
4. BALON KOPIKO
jarak antara langit dan bumi
di jakarta makin ciut menyempit
para kontraktor giat membangun
mengisi penjuru-penjuru dengan tol
membuang trotoar dari jalan-jalan
semuanya mengarah angkasa
mengejar balon kopiko
kemudian meletup
harapan berserakan
di kalimat gamang :
mau apa ?
Jakarta, 2009
5. IBUKOTA NEGARA
aku dan istriku sambil tertawa menghitung isi dompet
bukan karena takut pada kesulitan yang mencegat tiba-tiba
kami bisa dan biasa makan sehari sekali cuma
aku dan istriku sambil tertawa menghitung isi dompet
mengenal jakarta tak akan perduli kami hidup atau mati
berdiri di trotoar menunggu bus pun kita bisa digilas ajal
tapi tetap kukatakan jakarta bagian dari indonesia
walau bukan sepenuhnya Indonesia
jakarta itu ibukota negara dan kemerosotan
Jakarta, 2009
6. PENDUDUK IBUKOTA
berapa penduduk ibukota
tentu tak lagi bisa dihitung dengan mengali-ngali jari
tentu tak bisa dibandingkan dengan palangka raya
apalagi kasongan kota kabupaten
berapa manusia di ibukota
tentu masih ada betapa pun galaunya menegangkan
tentu saja masih ada di balik kemacetan dan hilangnya basa-basi
serta kecurigaan pandang : apakah yang di hadapanku benar orang
di jakarta gamblang kulihat diriku
yang memang medan pertarungan saban waktu
Jakarta, 2009
7. DI BAWAH MATAHARI IBUKOTA
aku benar mengagumi dan hormat pada perempuan yang berjalan di sampingku
bersama mandi keringat, bersesak-sesak di trotoar lebih kecil dari tapak tangan
erat menggenggam jari-jariku tanpa seaksara keluhan seperti dahulu ia di belakang chevrolet
di bawah terik ibukota yang tak berbelas kasihan kepadanya kuucapkan terimakasih
“untuk apa?” tanyanya
“kau sudah memilihku”
di bawah matahari ibukota
berdua kami bergenggaman mengarah tujuan
Jakarta, 2009
8. SIAPA PEMERINTAH DI NEGERI INI?
gedung-gedung bertingkat berjendela kaca
jauh lebih megah dari istana bogor atau merdeka
sudah lama kudengar dan yang di bawah kolong juga tahu
antara gedung-gedung bertingkat berjendela kaca itu
hingga kantor-kantor partai yang berlaga di pemilu
merentang jalan daerah dan nasional bahkan tol
siapa gerangan pemerintah di negeri ini?
di mana gerangan pemerintah negeri ini?
Jakarta, 2009
9. NEGERI KABUT
bendera merah putih hari ini menutup peti jenazah
yang pahlawan dan yang bukan
yang pahlawan dan yang bukan
dibaringkan di taman pahlawan
keduanya mendapat salvo
bendera setengah tiang
waktu telah merobah makna bendera
negeriku menjadi negeri kabut abu-abu
mi, apakah kau masih mau ke republik
dan ke Indonesia?
Jakarta, 2009
10. MENUJU MALINO
sepiring nasi padang sederhana saban siang
segelas air putih kita makan dan minum berdua
kasur tanpa sprei di kamar 25 ribu di mana kita lepaskan lelah
dari liku-liku aspal ibukota yang memanggang kuning kulitmu
seterik dan segarang duka mentorpedo meranjau pilihan
o anak malino kota gunung kota tujuan
jakarta dan goda duka menegaskan ketetapan
menuju malino
Jakarta, 2009
Sajak-Sajak Dari Katingan
HIJAU DAN HITAM
hijau dan hitam halaman
gonggong malam hijau dan hitam
warna sunyi menyapaku di edelweiss
masih bagai di perjalanan dahulu
memandang dedaunan selokan
juga hijau dan hitam
bisa kuhitung dengan kesabaran
tak bisa lagi kuhitung jumlah duka lebur di kenangan
gonggong malam
hijau dan hitam
segigih rindu
yang menyerbu
sesetia khianat membayang
menyertai langkah di jantung pulau
di senja katingan sungai kelahiran
aku masih saja pengembara
dusta hijau dan hitam
bagai di perjalanan dahulu
warna kusam enggan merenggang
setia tak lebih dari angan-angan
Palangka Raya, Mei 2009
DARI JENDELA TODDOPULI [1]
DARI JENDELA TODDOPULI
dari depan jendela hujan toddopuli menghadap kabut selat
perempuan itu terhisak menatap ujung tahun
sederas air ditumpahkan langit membasahi desember
helikopter dan pesawat-pesawat tempur israel
pongah dari udara menabuar maut membasahi gaza
darah serupa hujan bau amis
pertempuran tak imbang lama sudah berkecamuk di jalur pasir ini
abagai tarung ntara david dan goliath
antara kemerdekaan dan keamanan diri
antara hak hidup dan penindasan demi minyak bumi
– bertahaun sudah rumah dan kebun-kebun zaitun
pohon kurma menjelma koloni-koloni yahudi
padang kuburan dan gurun sepi ditinggal mengungsi
wahai bumi
kampung halaman
eksil berkepanjangan
dari eden taman sorgawi
dari jendela toddopuli perempuan rambut pendek hitam itu
– ken prita namanya, perempuan berdarah pelaut asin ombak samudra
memandang hujan menyiram kota membayangkan darah membasahi gaza
kaki dan tangan bertaburan di tengah reruntuhan gurun terbongkar
bumi kita gemuruh dentum bom dari tahun ke tahun
ken prita perempuan itu menangis di depan jendelanya menghadap kabut
selat penuh kabut — wajah bumi dan negeri dari tahun ke tahun berkabut
bahasa masih saja bagai dahulu bau sendawa mata peluru
Toddopuli 2008
TUJUH KARUKUP
tujuh karukup
tujuh anjing gaib raksasa piaraan alamarhum ayah mertua
mengitar menjaga ken prita –perempuan bermata hitam
turunan pinisi, muda sesegar esok yang ia jelang
tujuh karukup
adalah keniscayaan bertahan
kemampuan berlawan turunan panarung
membela hak manuntung*] wajib
hidup ini
hak dan bastion
kukatakan juga pada ken prita semalam jumpa
iapun ladang harapan disemai sampai tuai
tujuh karukup
tujuh anjing gaib raksasa dan ken prita
berjalan menjelang esok
menyuluti bulan dan matahari tak pernah rindup
ya tangan kitalah itu
panutung matanandau
bulan pambelum **
menjaga bumi selalu bercahya
Toddopuli 2008
——————–
JJ. Kusni
Keterangan:
* Manuntung , bahasa Dayak Katingan, menuntuaskan.
** Panutung mantauandau bulan pambelu, bahasa Dayak Katingan, Kalimantan Tengah: penyulut matahari dan bulan kehidupan
DARI JENDELA TODDOPULI [2]
MELEPASKAN DESEMBER 2008
dari jendela toddopuli memandang tahun berlalu dan tiba dibawah langit selat sering kelabu
ken prita memandang desember melaju bagai pinisi menuju ufuk
cerita demi cerita tertumpuk di gudang-gudang pelabuhan kenangan
langit selat dan air biru seperti dahulu masih saja seperti dahulu
menggelombang tantang sejuta rahasia tak tuntas diselam paham
menjadikan diri seperti serdiakala tetap seorang pengembara
perempuan di belakang jendela terbuka itu seperti tahun silam
masih saja meperti sediakala menarung duka yang menggoreskan luka
di laganya , ken prita mencoba menghormati diri memberi arti pada waktu
laga ini seperti sosok yang patut perkasa melawan sia-sia yang tangguh
dan putusasa sebelum malam menenggelamkan matahari di ujung barat
tak akan ada yang didapat jika kita tak mencari apalagi takut pada jatuh
ken prita memandang desember lalu di bawah langit selat warna kelabu
bagai pinisi melayari laut menuju ufuk. “akulah pinisi itu”, gumamnya
“mengarung arus dan ombak”
arus adalah sejarah
tahun lalu dan tiba
gulat arti dan mati
Toddopuli 2008
VONIS PILATUS
mati yesus di salib golgotha
di vonis pilatus
aku disalib duka dan mimpi
tanah pengasingan
tragedi! rahimmu
lahirkan pahlawan
yesus dan pembunuh
mati berdampingan
yesus mati di salib golgotha
kudengar jeritnya
eli , eli sabachtani
apakah kau sanggup sepi sendiri?
Toddopuli 2008
GUMAM KEN PRITA
tak usah katakan diri pahlawan
sebelum matahari tenggelam
selagi bulan dan matahari
menabur ribuan damak coba
beripuh getah hutan
satu dua puisi
tak lahirkan nabi
kriminal dan bandit
di bumi amis berdebu ini
bisa jadi pahlawan
berjubah padri
pmeakan bangkai
“aku mau jadi manusia saja”
gumam ken prita
perempuan di balik jendela toddopuli itu
Toddopuli, 2008
PINISI LAYAR SEPULUH
sebuah pinisi layar sepuluh dari barat
menuju dermaga masuk selat
dari jendelanya ken prita memandang pelabuhan
apakah pinisi membawa suaminya kembali datang
menyambut bayi di kandungan hampir sembilan bulan
sebuah pinisi layar sepuluh dari barat
menuju dermaga masuk selat
cintaku cinta ken prita
pinisi layar sepuluh asuhan laut dan angin barat
Toddopuli 2008
———————-
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [3]
KEN PRITA DAN ANAKNYA DI PANTAI AKHIR PEKAN
di pantai selat akhir pekan ken prita menemani puteranya bermain
memburu kerang dan kepiting dibanting ombak di pasir-pasir kencana
di antara angin asin ada kawanan camar meliuk mengintai ikan
ibu- anak duduk berdua menghitung kerang dan kepiting pungutan hadiah laut
dengan mata seterang matahari naif polos berkata putera ken prita:
“laut ini untukku ya, ma”
“memang ia milikmu, milik kita, nak”
tak boleh dijual
tal boleh dijarah perompak”
menggandeng tangan puteranya seperti menggenggam harapan
ken prita merangkai cerita bercecera, dan dilupakan
cerita tentang laut dan pantai yang dibela dengan nyawa pendahulu
“anakku, kaulah penggenggam esok laut dan ini pulau”,
berkata ken prita dalam hati
– samudera menggelombang mimpi
Toddopuli, 2008
WASIAT DESEMBER
apakah yang dikisahkan oleh desember sebelum berlalu
serupa pinisi melepas tambat dermaga
mengerti bahasa ombak menepis pantai selat
dari balik jendela toddopuli ken prita membaca yang tersirat
seperti setia gelombang mengejar pantai diuji waktu
setia berlaga jadi keniscayaan kekal penakluk hidup tak berwelas
ketika merawat bunga-bunga di halaman ia menjawab senyum langit kota:
“kukatakan pada kalian para dewa dan dewi
suamiku tiba sebentar lagi
kupetik kurangkai bunga ini untuknya”
desember lalu
zaman berganti baju
wasiatnya masih
bagai yang dahulu
Toddopuli 2009
PERTANYAAN KEN PRITA KEPADA SUAMINYA
apa benar tahun berganti kau makin dewasa, arif dan penyabar
kian pandai berbahasa? ataukah rambutmu yang tambah uban, lalu
besok aku masih mengamuk karena liberalmu kurang hitungan?
desember lalu, yang pasti kau tambah usia
kalau tak dewasa-dewasa kau akan jadi pikun dan latah
—wabah di kampung
Toddopuli 2009
——————–
JJ.Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [4]
SENIN PAGI JANUARI SALJU TURUN DI SINI
senin pagi januari ini membuka jendela digugah dingin menggigit jari
putih atap, dahan-dahan, puncak perbukitan dan menara katedral
putih seluas cakrawala seputih rindu seluas mimpi
sudah lama kukenal tabiatnya kuhapal
mencoba dan menguji
[seberapa luas langitmu?
seberapalmuas samudramu?
kau ibu anakku berteduh di dadaku sebagai satu kosakata kehidupan
tentu dan pasti bukan tanda ketergantungan perempuan pada lelaki pada zaman feodal
-- yang bukan bermarkas besar di keluargaku. tidak di sini di toddopuli]
rindu itu satu cobaan
mimpi itu nagih ketahanan
seperti dingin
atau terik
apakah kau sanggup menyetiai pilihan?
sejauh mana?
kalangkabut
sumpah-menyumpah
seperti halnya khianat
jauh lebih sederhana
sesederhana melempar tanggungjawab
berucap:
“c’est pas moi”
“ce n’est pas moi”*
saat tangan dan kaki
bersimbah darah
jutaan dan jutaan korban
“ce n’est pas moi’ di mana-mana
fasih dilafal para pengecut
janin di rahim narsis
di hadapan hujan salju kotaku awal januari ini
aku hanya bisa memastikan ketetapan semula
percaya perempuan dan lelaki masih ada yang benar
lelaki dan perempuan lahir dari rahim manusia bukan sphinx
juga di tanahair ini – walau -kadang demikian galau hilang kendali
di bawah salju ini kubayangkan kau dalam pakaian tebal telanjang jari
berdua membuat patung salju di tengah derai gelak anak-anak kejar-kejaran kadang kelahi
tahukah kau bahwa di cina utara salju lebih tebal dari di natal paris
dan dik koko yang kini di russia sekarang bisa cerita lancar tentang apa itu dingin
senin pagi januari ini membuka jendela kota putih semata
putih salju lama kukenal sepanjang kembara yang tak singkat memutihkan rambut
aku melihat mimpi dan kemungkinan yang dihamparkan cinta
penuh misteri seluas angkasa seputih salju januari
aku membayangkan kau berjalan gagah menyongsong segala
Winter Seine, 2008
————————–
JJ. Kusni
Keterangan:
Ce n’est pas moi, bukan saya. Dalam bahasa sehari-hari sering disingkat “c’est pas moi”.
MENCARI SEINE
menuju mencari seine
saint michel kususuri
– jalan bergolak
tanpa jeda
mencari
dan mencari
kadang sia-sia yang disua
melewati sebuah restoran asia
pernah aku di sini makan siang di terasnya
ada serbet kertas putih jatuh di bawah meja
padanya kulihat nasib cintaku
kadang jadi sampah
sendiri aku tersenyum
mencari seine
dari saint michel
2008
KAULAH ALAMAT ITU
terlalu lama sudah aku menjelajahi benua-benua sepi dan duka
pulau-pulau di timur adalah suara yang tak henti menghimbau
bagai pantai dan gelombang saling menanti
adakah yang bisa menggantikanmu mengobah pilihan?
tentu saja waktu seperti kita kenal selalu nakal menakar kadar
menapis segala kata telah diucap yang memang terlepas gampang
serupa awan tanpa sarang
aku yang lama melanglang buana hanya mencari alamat pulang
tanahair
kekasih
kaulah alamat itu
2008
——-
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [5]
HARI ITU SENIN MINGGU PERTAMA BULAN JANUARI
“bunda
aku minta diri menapaki pilihan
merenda suatu esok di langit kurancangkan bersama lelaki kekasih
kusulam namamu dalam huruf-huruf besar terindah
kugambar rumah kita dengan tanda bendera warna merah
entah di hati atau pun lembaran-lembaran peta”
ken prita memeluk ibunya
kemudian menjinjing koper kecil
turun tangga
anak perempuan sulung toddopuli itu
sudah besar sekarang seperti anak enggang
tumbub kuat sayapnya terbang sendiri
menempuh jalur perjalanan sendiri
kemudian membangun sarang
dari pintu dan jendela toddopuli
rumah masa belia
perempuan yang kasihnya tak pernah menua
melepaskan anak sulungnya
inilah kasihsayang yang langgeng
tanpâ intrik
mendangir akar ilalalang muslihat
dan curiga
“aku pergi ma
sekarang”
dari depan pintu prempuan tua itu
menyerukan lagi nama anak perempuannya
“ken prita
pintu toddopuli tak pernah terkunci, nak”
di catatan hariannya
shinta adik bungsu ken prita mencatat
hari itu hari senin
bulan januri minggu pertama
Toddopuli 2009
——————–
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [6]
NYANYIAN RINDU SEORANG IBU KEPADA PUTERI SULUNGNYA
kapan kau kembali, nak
aku menunggu cucuku dan suamimu?
lengang rumah tak kudengar langkahmu
sepi kamarmu tanpa penghuni ditiduri rindu ibu
tergambar selalu kau anakku, ken prita
sejak kau di kandungan hingga sekarang kembalimu selalu kutunggu
memilih lelaki pengembara
panjang langkahmu
jauh juga terbang jelajahmu
toddopuli langitnya tinggal sebesar tempurung
memilih lelaki panarung
kau pun , nak, jadi perempuan pelaga
cucu-cucu ibupun menjadi anak dunia
selat pulau tak lagi menampung pelayaran pinisi
rinduku nak, rinduku
rindu ibumu, ken prita
subur bagai bunga-bunga di halaman
pagi petang dahulu kau jaga
wanginya
wangi kasihsayang
memandang buku-bukumu di rak dekat ranjang
kering tanpa debu kujaga selalu
tiris atap sebelum berangkat dahulu suamimu telah dandani
hari ini hanya mengucurkan air kenangan dan rindu
maka tinggalkan satu cucu untukku sebagai teman bercanda
mengisi rumahmu di malino
dan toddopuli
rumah ayunanmu dengan kebengalan bocah
besar sudah kau sekarang, ken prita
kau berumah dan berkeluarga
beranak sebengal dirimu kecil dahulu
kelak seperti ibu kau kan tahu
buah kasihmu hanya menanam menyemai rindu
di rumah dijaga berdua
kau dan suamimu
di rumah bernama kasihsayang
sunyi berdua
sunyi cinta
terlerai riuh
hingar cucumu
itu pun barangkali
cuma di ujung minggu
rindu
sari kasih
abadi membayang
aku
ibumu
geli mengenang
kau
ken prita
memilih
membela kakek
jadi ayah cucu-cucuku
cinta
tak berpagar memang
apalagi di hati pemberontak
seperti kalian berdua
Toddopuli 2009
———————
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [7]
CATATAN HARIAN SEORANG IBU
aku memang perempuan yang melahirkan kalian
menimang dan bertutur tentang alam dalam cerita-cerita malam
entah di kelon ranjangku atau pun ayunan
kemudian yang tersisa tak lekang di arus waktu
adalah kasihsayangku juga tak pernah kadaluwarsa
dari pintu hari ini melepaskan ken prita anakku
memandang cakrawala, kutahu cintaku bukan lagi sarangnya
ia membangun sarangnya sendiri seperti suatu keniscayaan
cintaku tak lagi kuasa mengukur jauh dekat kembaranya
perempuan tua itu seperti siapa saja kemudian mengerti
kesendirian memang rumah masing-masing yang hening
sehening malam. aku dan kau pun kelak demikian
Winter Seine 2008
RUMAH HANYALAH SEBUAH TENDA
hari itu sebuah pesawat merpati terbang ke arah barat
ken prita anak sulung toddopuli di dalamnya
perempuan lagi
dari jendela ibunya menatap awan yang diharungi merpati itu
rindunya terbang memburu pesawat tersebut sia-sia
lalu kembali hinggap di toddopuli sarang semula
memandang shinta puteri bungsunya yang masih kuliah
sang ibu menyapa diri sendiri: kelak seperti kakakmu kau pun akan pergi, ,nak
rumah hanyalah sebuah tenda atau ayunan masa kanak
“aku sudah merampungkan keibuanku”
ujar perempuan itu tersenyum
ken pritansulungnya jauh dari mata
kalian saja, anak-anakku yang
sekarang patut menjawab dunia
kalah atau menang
Winter Seine 2009
————————–
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [8]
GUMAM IBU DAN ANAK MENJELANG BERANGKAT
sambil membantu puteri sulungnya, mengemas koper keberangkatan
perempuan tua yang melahirkan ken prita di toddopuli jalan kampung sederhana
– istri seorang guru pemimpi, penyaksi jatuhbangunnya republik ini
tahu benar sekarang puterinya sudah lebih dari bujang segera memberikannya cucu
merasa sudah darahdaging timangannya dahulu mulai mengayun langkah
ia membayangkan sebuah planet besar
sebuah galaksi di luar batas duga merupakan
wilayah kembara anak gadisnya itu
terbayang samudra yang menggemuruh
terbayang bumi putih salju
bumi dingin hingga sungsum
terbayang anaknya melangkah dan melangkah
melangkah dan melangkah teluk rantau dan tanjung
dataran dan gunung
bagai bocah girang bermain membangun patung perempuan
yaitu diri ibunya yang renta
ia kenakan topi di kepala patung salju itu
ia lukiskan bibir patung perempuan itu tersenyum kepadanya
“mah, ko tersenyum padaku ya”
ken prita membalas senyum patung sajlu ibunya
dengan bayangan demikian
perempuan tua itu semacam bercakaap dengan bayangannya berkata:
“jangan lupa ko beli topi dan sarungtangan nanti di sana
jangan lupa kenakan syal toraja ini
pulau lahirmu harus selalu kau junjung. hormati!
jelek-jelek kampung tetap kampung sendiri”
ken prita melirik ibunya dengan haru sekelabu langit mendung berawan
syarat hujan — menguap dari permukaan samudra kasihsayang mengisi angkasa jiwanya
“senter, lilin, minyak tawon, termos kecil, jangan pula lupa masukkan koper”
gumam perempuan tua itu mengucapkan kasihsayang campur kesiapan hilang
“ya, ma, ken prita juga akan bawa jarum, benang dan kancing
karena kancing baju suamiku sering copot oleh geraknya yang kasar bagai kuli”
dua perempuan itu bergumam dengan perasaan masing-masing
berbicara pada diri menyongsong esok di mana harapan menceburi kancah rahasia
bagai pinisi melayari samudra tak bertepi di ombak kemungkinan tanpa peta
“ya, ma, aku juga akan bawa garam karena suamiku tak suka makanan hambar”
seperti tersengat perempuan tua itu berkomentar:
“ooo, ko inga anakku, lebih penting kalian berdua menjadi garam kehidupan”
“ko inga-inga lebih penting kalian berdua menjadi kandil di bukit tahan topan”
ujar perempuan tua itu melayangkan pandang ke langit menebak cuaca
“ko lihat,ngana lia langit di luar cerah benar sebening selat
kalau langit mendadak berang jangan kalian saling khianat”
“kalian dua inga-inga, kampung kita dan bumi ini perlu cahaya”
“aku sudah tua, tapi masih punya mimpi, bisa membaca kemarin dan esok”
“masih kusimpan wasiat pengalaman keluarga toddopuli di lemari hidup rumah ini”
kata-kata perempuan tua istri guru sederhana itu menggema
menggaung di hatiku di segala ruang dan tanjung kembara
kosa kata kujadikan lumbung kearifan kampung para tetua
pulau demi pulau khazanah kaya belum tuntas kutimba
Toddopuli, 2009
———————
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [9]
PERTEMUAN BUGIS DI SEBUAH RESTORAN IBUKOTA
di sebuah restoran jakarta siang itu
bugis-bugis berdarah laut
awak pinisi layar sembilan
warna abu
bertemu
kerinduan anak rantau
berbaur tentu dengan
tantangan negeri
anak pulau
bagai ombak dicumbu angin
laut mengasini pantai
[galesong
karaeng galesong
kucari jejakmu
sepanjang kembara
pada laut kulayari
pada gunung-gunung kudaki
di barat dan di timur
galesong
karaeng galesong
menarung mati
bela martabat
kutahu karaeng
kau tak mati]
daerah dan pulau memang
masih saja masalah besar
ketika kita tak setia pada sepakat
tentang republik dan indonesia
separatis disederhanakan sinonim suku
republik dan indonesia pun
disederhanakan jadi nkri
sejarah berdarah
larut di gelombang
di dasar kapal
lalu
kita pun luka
ditikam
digertak
diancam
kemerdekaan
tinggal angan
di langit kelam
[jangan katakan demikian
abang-abang
laut pun punya fajar
bukan cuma malam]
berapa yang terbunuh
dengan kubur tanpa tanda
karena setia republik dan negeri
diituduh khianat
padahal yang dibunuh itu
anak-anak negeri setia
hanya menolak jadi budak
menolak indonesia jadi negeri budak
bangsa sampiran globalisasi penindasan
negeri ini pun kemudian
menjelma tanahair tabu
dikelola dengan larangan
moncong senanpan
kebudayaan
diperosotkan
identik kebodohan
di sebuah restoran jakarta siang itu
bugis-bugis berdarah laut
awak pinisi layar sembilan warna abu
bertemu
[apakah kalian mencari jejak yang juga kucari
jejak pahlawan karaeng galesong
menarung mati
demi negeri?]
atau barangkali membicarakan nasib pulau
makna republik dan indonesia
dibilang patut direformulasi kembali
apa
di mana
sulawesi
dan bugis
di peta negeri
di bola bumi
ken prita puteri toddopuli
yang islam
sebagai jamak-otomatisnya anak puulau ini
di kursi makan siang
memandang sloki aperitifnya
di antara jari
jauh tatap pandang ken prita
menoreh hakekat esok
hidup bernegeri
berepublik
berkeindonesiaan
menanyai dirinya siapa
selain sebagai ibu
dan istri?
ya, ya, namaku
namaku masih nama dahulu
masih ken prita
bauran suku-suku
tanahairku
indonesia
bugis
dan indonesia
barangkali sedang dipetakan
oleh bugis-biugis di restoran siang itu
kalian punyakah peta lain
yang bisa dipajang di geladak pinisi
dan kapal di belakang jentera?
bertemu bugis-bugis
di sebuah restoran ibukota siang itu
aku menunggu kalian di mana pun di negeri ini
sebagai anak bangsa dan negeri
aku menunggu kalian dengan sabar
sesuai nasehat patunru
“menunggu bukan kekonyolan” ujar bugis arif satu ini
turunan pemberontak karaeng galesong barangkali
yang tak pernah mati menjaga mengawal pulau-pulau negeri
menyulut bulan dan matahari
demi cahaya selalu kemilau
Winter Seine 2009-
————————–
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [10]
SAAT ITU KUDENGAR KAU MENGAJAK TETANGGA MAKAN PAGI BERSAMA
1.
“tak nyaman tehku pagi ini
bagaimana kopimu”
membaca berita “fajar “
tentang masakre gaza
tehku amis
maaf”
“perutku menolak roti berslei strawberry
sekali pun berkeju kesukaan
jus jeruk kau sediakan
terbayang masih ibu dan bayi
di tivi semalam
di bawah reuntuhan rumah
kepala dan tangan terpisah”
“lalu
apa kau mau ikut al qaida
menjadi pembawa bom bunuh diri
dengan janin di rahim
siapa yang kau bom di sini?
apakah kau mau gadogadikan
kemarahan, mimpi dan cara
atas nama keadilan
membenarkan awur-awuran emosional?”
2.
di gaza
sejarah
dan dua nabi
berlaga
gaza itu hari ini
salib golgotha
di gaza
cinta
di palang salib
pedang dahulu
menjelma tank
deru bom
pesawat-pesawat tempur
roket-roket ke kampung israel
nyawa dibayar nyawa
mata dibayar mata
di gaza
dendam
menyalib cinta
dan kemanusiaan
putusasa
diutas harga diri
memaknai mati
3.
kapan perang usai
jika dendam
dipelihara
jadi nafas
melalukan siang
dan malam
seperti indonesia kita
buntu menuntaskan
buntut masakre
4.
gaza sebuah
sejarah
tak obah penjara
dendam berdarah
sangat berdarah
dendam?
kemanusiaankah
dendam itu?
aku melihat jalan buntu
di ujungnya
bergelimang jenazah
bangkai-bangkai tak bernama
tak berbentuk
di gaza
cinta
harapan
esok dan
kemerdekaan
remuk di dentum bom
di roda-roda tank
di mata peluru
5.
di gaza
tuhan
dan nabi
bertempur
di gaza
tubuh mereka
bau minyak
apakah republik kita
juga kancah laga
para nabi
dan tuhan
kancah dendam tujuh turunan
mengamiskan pulau
demi pulau
dari timur hingga barat
bidak-bidak bergelîmpangan
sorga masih tak juga pasti digapai
seribu bidadari tak mencumbu
di ranjang bulan diimpi-impi
kematian suci jadinya
semacam masturbasi
6.
di meja makan pagi
di hadapan cangkir teh dan kopi
membuka jendela toddopuli
kuajak kau melihat harapan diluar
yang terhampar
kau lihatkah
ada kemudian
yang merentang
gaza
dan negeri
tenang
dan damai
sonder salib brutalitas
abad tengah
sonder bom
gemuruh tank dan pesawat modernitas
roket-roket menerjang kampung israel
dihuni penduduk damai
ketika itu kudengar
kau mengajak tetangga
makan pagi bersama
menikmati teh hitam
roti dan keju kesukaan
entah saat di ramalah
atau jerusalem
atau tel aviv
atau toddopuli
kudengar juga
ketika itu
gelakbahak
meningkahi tukar canda
7.
kuingatkan prita
agar kau tak frustrasi
agar setia realita
kita bakal lama
di ini perbatasan mimpi
dan kenyataan
tidak sepasti sepakat cinta kita
Winter Seine 2009
————————–
JJ.Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [11]
ULANGTAHUN ANAK SULUNG
kemarin ulangtahun anak sulung
yang menagih boneka besar teman tidur sebagai hadiah
sesuai imajinasinya yang tak punya jeda
tempat istirah
menjelang gadis dia sudah
rajin sekolah dan bertanya
ulangtahunnya mengukur kemampuan
menggantang kadar kata
di anak
ada yang kita titipkan bukan
sesuatu yang besar
agung:
menjadi diri
yang manusia
aku lihat kau mencium pipinya
sambil menyerahkan boneka besar
hadiah ultanya
yang tak kau ucapkan
kau simpan sendiri
harapan dan mimpi
peta perjalanan
Winter Seine 2009
————————-
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [12]
RAHMAT
dari beranda petang
kita memandang
bunga-bunga halaman kau tanam
anak-anak bermain sendiri
dengan imajinasi mereka dan boneka-boneka
angin pucuk cemara perbukitan malino
leluasa menggerai rambutmu masih hitam
di antara goda duka
galau kemerlap kota
seleluasa kupu-kupu dan burung bermain di bunga-bunga
aku kira memang demikian, prita
kita seperti juga jendela terbuka
adalah ruang di mana kemungkinan bermain
kutuk, cerca dan puja-puji berjumpa
maka perhatikan selalu pakaian agar tak gampang masukangin
menjadi lelaki atau perempuan ringkih cengeng tak tahan terpaan
siang malam semesta tak pernah perduli kita
sakit atau sehat, menangis atau tertawa
kita sudah memilih hidup
mencintainya dan saling mencintai
sepanjang nafas angin
menarung tantang dan kecepatan waktu
tak ada yang sesederhana 2 X 2 di sini
kau pun tahu
dari beranda petang
kita memandang
bunga-bunga halaman kau tanam dan rawat
anak-anak bermain sendiri
dengan imajinasi mereka dan boneka-boneka
mampu setia
mampu mencintai
mampu mimpi
mampu berlaga
kukatakan ini
rahmat besar
kenal makna
kalah dan gagal
apakah kau kenal?
empat lembar rambut jatuh di dahimu petang itu
diusik angin lalu melintasi halaman
kutatata
kutaruh
ke tempatnya semula
masing-masing punya tempatnya sendiri
sedang harmoni
kuranglebih kemampuan menjawab
kecepatan gerak
mengubah ruang
Winter Seine 2009
DARI JENDELA TODDOPULI [13]
DARI TENGAH PADANG SALJU
dari tengah padang salju memutihkan kota
memutihkan seluruh bumi barat
memutih bekukan gunung dan sungai
seakan mengukur daya tahan kembaraku
yang merindukan kau
katulistiwa kampung lahir
dari tengah padang salju
aku menyimak gambar-gambar korban perang gaza
sekolah-sekolah yang dibombardir tsahal
yang merasa paling perkasa sebagai
tentara tuhan pembela
cangkir ekspresoku pun mendingin
masih kureguk sebagai suuatu niscaya
seniscaya gelisah mendesak jari-jari jongos restoran
menuliskan baris-baris cinta sederhana ini
begitu dingin
orang saling bunuh
melempar bom
menggorok leher
memperkosa anak istri orang
menjadikan manusia semacam sate
lalu dimasukkan ke gua gas atau lembah
kepala dijadikan bola
mestikah tuhan dan
dewa-dewa menjadikan kita hilang akal
lebih rendah dari beruang lapar
anjing-anjing kereta salju tanpa surya
wahai penganut segala agama
ternyata medan tarung terbesar
tetap saja diri kita
jika tak awas
agama menjadi penjara
rumah tahanan
aku gemetar
di tengah dingin
yang begini brutal
di tengah tarung
ganas
untuk jadi manusia
dingin
tanpa welas
apalagi kita memang rakus
melihat kemilau alam
menjanjikan dolar dan euro
pengisi pundi-pundi
aku benar-benar menggigil
hingga tulang
dingin duka
dingin orang miskin
menolak jadi budak uang
apalagi jelas
di hulu ajal menanti bersama malam
di mana aku kan tenggelam
bersama seluruh cerita dan kenang
walau kutuk masih menggaung bagai si pongang
sepeninggalanku diucapkan kekasih yang merasa dikhianati
aku sendiri tidak memerlukan neraca saat itu
aku tetaplah aku yang kalian kenal tak mau mendustai diri
tapi peperangan
dendam
teror
kulihat sebagai suatu kebebalan
kebuntuan nalar
mengancam anak bumi
politik dan ekonomi bisa saja disusun jadi dasar teori
tapi pembunuhan tetap pembunuhan
darah tetap darah
airmata tetap airmata
agama jadi pembunuh tuhanmu
cinta itu
pilar terpercaya
membebaskan
mengekalkan natal
jadi tahan abad
kernanya yesus sepi
ditinggalkan bapaknya
di salib sendiri
tak mati
malah naik ke langit
untuk mengagungkan cinta
keabadian kasihsayang
padang putih
salju menyelimut ufuk
kutatap dari jendela toddopuli
dengan gigil hingga belulang
membom
menyembelih
lebih sederhana
dari cinta
sosok sepi
menapaki padang putih
di padang salju
tiba-tiba aku melihat
ada yang tergeletak
di padang putih
penuh darah
tuhankah itu
atau nurani kita
atau keduanya?
ah
barangkali aku terlalu lelah
dan sangat merindukan kau, buah hati
maaf
baris-baris ini kutulis untukmu saja
o, perempuan kekasih
Winter Seine 2009
————————-
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [14]
AKHIR PEKAN KELUARGA TODDOPULI
akhir pekan berdua kita mendangir taman kebun sayur halaman
merawat kolam ikan sementara anak-anak berceloteh
berbicara dengan tanaman serta ternak piaraan bersama khayalan mereka
dibangun oleh buku-buku cerita kau belikan sesuai jatah bulanan keluarga
membaca akhirnya menjadi keniscayaan bagi mereka
seniscaya cerita malammu menjelang tidur maka kau jadi rebutan
keluarga adalah bastion pembangunan dan harapan tentang esok
karenanya sejak tunangan rambu-rambu kita tetapkan
akan menjadi bualan besar jika perempuan hanyalah pengurus dapur
bunga hiasan rumah ke sorga nunut ke neraka katut
istri lintang-pukang lelaki menyilang kaki membaca koran depan tivi
dan sesekali berteriak entah apa seasal bicara dengan gaya tirani
kita sepakat bahwa paternalisme suatu keterbelakangan
bencana terhadap keseimbangan langit yang separonya ditopang perempuan
sungguh suatu kegirangan kalau anak-anak yang mulai peka menegur kita
“mengapa sih mama papa serupa raja” , aku segera mengecup pipi mereka
lalu kau cemburu kalah dahulu
tapi adakah dahulu dan pertama dalam keluarga
jika kebersamaan dan kesatuan sangat tak bisa ditawar
sebagaimana kita membangun esok memerlukan memerlukan kebersamaan arti
kita perlu kesepakatan
kesetiaan
kesungguhan
cinta tak dijudi barang spekulan
apalagi main mata dengan maling
atau hantu yang kau bilang
mengintai sempat di pangkal tangga dan tepian
kita perlu bermain, perlu bercanda tentu, tapi tidak dengan hidup dan mati
anak-anak adalah esok
adalah cinta, tatanan harapan
jelas aku tak mau mereka jadi mata dadu
sedang alpa tak henti menggoda
Winter Seine, 2009
————————–
JJ.Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [15]
LAMPU NATAL HARI LALU
lampu natal jalan
warna-warni bergantungan
seperti harapan yang tergantung
iming-iming dibangkitkan
masih warna-warni jalan kotaku
warna-warni lampu natal hari lalu
lampu-lampu beku
harapan tergantung kuyu
hari ini tak seorang pun bisa pura-pura
tak mengakui sergapan duka
pada siang dan malam
pada bulan dan matahari
angkasa kian menekan
pinisi didesak badai
aku hanya punya pilihan
berlayar sesuai peta
dan kau?
akankah balik dermaga
kita pun kian jauh saling kenal
lampu natal kemarin dulu
masih bergantungan aneka warna
seperti harapan kendati redup
masih bercahya
bagai dahulu
aku masih saja melangkah
menarung cuaca
hidup yang kupilih
Winter 2009
—————-
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [16]
TANPA BERITA METEO SEKALI PUN
tanpa berita meteo kurasakan benar bahwa dingin
bawah nol yang merenggut ratusan nyawa clochard paris sudah lewat
walau februari masih menunggu di depan dengan ketiba-tibaan
ramalan tetap ramalan hitungan tak luput cacat
sehingga kepongahan menyempitkan ruang manuvre
sarang petaka sia-sia –berapa juta nyawa olehnya terkapar percuma
tanpa berita meteo kurasakan benar bahwa puncak dingin bawah nol
suatu silam pembawa bencana rematik jiwa ketika kita tak siaga
tiba di derajad cuaca sekarang kulihat yang paling langeng cuma perobahan
karenanya aku tak menangisi kekasih pergi oleh seribu alasan
lalu pelan-pelan membalut mengusap semua luka
bukankah kecewa memang sahabat akrab sedekat ajal
harapan wahai harapan apa pun warnamu
aku berpelampung padamu
menekati bahwa akulah sisyphus pemenang menolak kalah
Winter 2009
—————–
JJ. Kusni
DARI JENDELA TODDOPULI [17]
JIKA PAKAIAN
sudah tengah januari hari ini
di ujung masih saja tak bisa kuduga apa terjadi
apalagi di februari, maret hingga desember nanti
esoklusa
siang-malam
tak lain dari dadagan luar hitungan
kita sering gagap
terpojok tanpa pilihan
kecuali geleng-geleng kepala atau tertawa sendiri
lelaki atau perempuan
seperti semesta tanya
teka-teki tak pernah tunai terjawab
karena itu untuk apa aku meratapi
kehilangan, kejatuhan dan tikaman
atau kepergian tiba-tiba tanpa pamitan
tokh aku tak bergeming dari sikap dahulu
memilih dan mencintaimu: hidup! pilihan besar tentu
betapa berdarah dan compang-camping jika pakaian
Winter 2009
Il Y A QUELQ’UN? SPADA?
perjalanan membawaku tiba-tiba ke ruang raksasa
lebih besar dari rumah panjang
lengang selengang padang ilalang
tak tampak penghuni tak terdengar tukiu bajang*
angin leluasa dari jendela ke jendela
dari tangga halaman depan kuteriakkan:
il y a quelq’un?
spada?
yang kudengar
jawab sipongang
lembah negeri
pegunungan hatiku
Winter 2009
Keterangan:
* Tukiu bajang, bahasa Dayak Katingan, pekikan rusa saat menyeberangi padang ilalang.
MEREKA MULAI BERKENALAN
tujuh tahun sudah usia anak perempuan berkulit kuning itu
mata hitam klengkeng jernih bening mata ikan
ketika dahulu aku berangkat bagai eksil ia sembilan hari
tujuh tahun, lebih dari membaca aksara
ia mulai disentak duka yang kasar
keduanya mulai saling kenal saling baca
berteman saling gulat
anakku, sanggupkah
jadi pemenang menolak adat pasrah
Winter 2009
—————
JJ. Kusni
Melangkahkan kaki mengikuti angin merdeka
bermimpi……
sebelum akhirnya sampaii di jalan ini….
salam tabe bara Lamandau
Rudiansyah. G. Kating
mutiara makna itu ternyata ada disini…..
liar dandalam…..
yang aku tahu hutan tanah sudah rusak binasa, hutan alam berganti hutan buatan manusia, dapatkah hutan buatan manusia itu mensejahterakan penduduk kampung, tanah arai ini? ladang perburuan semakin menyusut, ladang tempat bermanja angin rimba nan anggun telah hilang, semua hilang, semua telah jadi tuba di bumi dan ini tak boleh lena, karena merusak alam sama dengan membinasakan dunia dan membinasakan anak cucu kita.
hai sang penyair, suarsakan ini, suarakan dan jangan lelah. aku baru menemukan situs mu disini. dan dari tanah adat ini aku berjanji, melawan dalam diam, bukan tanpa arti ia nati menyimpan sejuta makna, kelak demi anak cucu.
pandanglah keindahan alam dan rimba yan tersisa, karena sebentar lagi kita bakal tak pernah melihatnya lagi…
cepat atau lambat, manusia dan sekitarnya sudah menjadi penduduk terbuang di tanah arainyo sendiri.
mau berladang, karena bakar lahan sejumput lalu masuk penjaro.
membawa belian 2 putucuk tongkat rumah ditangkap pak pilisi, padahal mereka berjuang dari hutan sisa, bekas tegalan pengusaha sawit. pengusaha sawit yang besar-besaran menghancur hutan, tak pernah jadi sidik soal dan rakyat yang mehambin 5 keping papan dari lahan sisa di tangkap dan disebut illegal di penjarakan dan ini yang tengah terjadi di tanah arai kalimantan.
suka atau tidak suka, tapi itulah yang kita saksikan, itulah yang saya lihat peraktek kehidupan di masyarakat Kalteng.
saNG penyair, ini yang di tunggu dan award dunia menunggu celoteh anda.
sekian dan terima kasih.
salam dari anak titisan bara sungai arut…
keren