Antologi Puisi

Sajak-Sajak Az Andreas

Lilin

di sini listrik masih langka

kendati batu bara

riam menderu

bertabur dari muara

hingga hulu

temaram dan remang semata

dari rumah

hingga jalan

 

cahaya dan terang

dilupakan retorika

tak utama bagi citra

 

di lilin meja kerjaku

kejujuran meleleh

kebenaran menjelang padam

harapan menjadi mata pisau

mengiris jantung pemrihatin

patutkah kita diam

sedang pembunuhan

tanpa berkedip dilakukan?

 

bersama bayang

dalam remang

mengkilap mata belati

masih acara hari-hari

 

2011

 

 

Gantang Anak Dayak

kecamuk tarung di jalan pandak

membuatnya kian pandak saja

tak terasa kita tiba di batas senja

di mana  di luar kehendak

kita kemudian berpisah

 

yang mencintai tak pernah cukup waktu

untuk mencintai tapi tak juga berkeluh-kesah

karena sudah memilih dan mengisi pilihan itu

sebagai layaknya seorang manusia

sebagai layaknya anak negeri

layaknya sahabat,  isteri atau suami

di batas senja sebelum menerjuni malam selamanya

kita saling pandang tak ada lagi yang patut diucapkan

saling paham – sementara itu

yang tinggal di bawah matahari kembali melanjutkan langkah

sesuai peta bertanda titik-titik merah

aku sendiri semenjak megenal garangnya bumi

menerima kehadiran hanya bisa menghitung

kemampuan ketahanan laga

diberikan tangan terpercaya

sebagai dayak menakarnya selalu dengan pertanyaan:

“orang-kampung dan para anak-cucu

bergunakah ia bagimu kata-kata

kuucap dan kutuliskan selama dinaung matahari?”

 

2011

 

PALANGKA RAYA

yang tersimpan pada kota ini

adalah tekad dan kemampuan dayak

membangun mengejar zaman

memetik matahari

di manakah di negeri dan bumi ini

hutan ditebas menjadi kota

idaman dayak sejak merdeka

dari sini ia dibina

yang tercermin pada kota ini

adalah juga harga diri dayak

kuasa mewujudkan mimpi dengan tangan sendiri

tanpa pernah membudak

palangka raya pun kemudian

kota selalu menagih impian

terangkatnya martabat

menyanding mengiring zaman

kepadamulah

kepada kitalah

tanya dituju

jawaban ditunggu

harapan ditumpu

Palangka Raya, 1994

MEMETIK EDELWEIS

Kepada Andriani S. Kusni

1.

kutabur jutaan dan jutaan benih di rahim tubuh cintamu
jutaan dan jutaan harapan tentang esok dan kehidupan
lalu menyemi bagai jutaan pinisi melayari samudra kasihsayang tak bertepi

2.

tak pernah kuduga esok
teka-teki tak pernah usai dijawab
masih saja kutuliskanbaris-baris sederhana tentang cinta kepadamu
mengalir bagai arus sungai abadi

3.

tonggak itu kita tancapkan 2 februari dahulu
pagar bagi suatu rencana agung
di padang lapang di tengahnya
berdua kita bangun rumah

lalu ada berlari kejar-kejaran dengan adiknya
suara mereka bagai burung dahan sahut-sahutan
suaramu, sayang, di telingaku mengiangkan himbauan-himbauan ajaib

tonggak kita tancapkan berdua dahulu
kunamakan prasasti pernikahan
awal perjalanan pilihan tak berujung

4.

tak ada dengkur dan tidur ke puncak edelweis
memetik edelweiss putih untukmu
merah darah nadiku oleh kasihmu

5.

orang bilang sangat pekat ini malam
ujung jari tak tampak mereka bilang
betapa pun jauh ujung jalan
namamu purnama langit pemburuan

6.

manis, manisnya air kelapa muda
manis segar air sungai telaga tubuhmu
berkata orang dayak :
itulah danum kaharingan

7.

jenjang lehermu
jenjang kuelus
tahukah kau
jemari dan tubuhku
kamus bahasa ajaib
milyaran kosa kata
pengucap suara jiwa

8.

di pinisi ini kita berdua saja
topan menunggu haluan
di ruang jentera kita berpegang tangan

14 Mei 2009

9.

dari yos sudarso hingga bundaran
hujan dan terik berganti tiba
di lembar-lembar waktu
tercatat kisah lama dan baru

10.

seperti di mana saja juga di sini di palangka raya
kepahlawanan dan khianat tercatat padu di jalan-jalan tanpa trotoar
ada yang larut bersama humus di selokan apak
ada yang wangi menyaing anggrek dan mawar
«kita ke mana ? », tanyamu
tentu saja ke puncak memetik edelweis

11.

di tikar rotan kau hamparkan, kemudian
kau uraikan benang-benang silam
menyulamnya ulang
kau semat di baju bodo
bertuliskan nama berdua
di hari pernikahan kau kenakan

15 Mei 2009.

12.

hujan di luar tak bisa kuhitung jumlah tetesnya
kecuali bunyinya di atap dan dedaunan melukiskan cuaca kota
aku pun tak tahu berapa jumlah nestapa yang mengepung
kecuali setiamu yang melangkah di sisi mengikut pilihan

13.

terik sekali palangka raya siang tadi seperti biasa
lalu petang menurunkan hujan tiba-tiba
ketiba-tibaan memang sering menyergap menanti kelengahan
yang patut senantiasa masuk hitungan

14.

cangkir demi cangkir kopi kerja kami reguk
lapar di bawah meja menggeletak bersama nyamuk di asap bygone
bukan karena berdarah bugis jika istriku menampik segala dera
duka mengusik semua etnik dari pulau ke pulau
duka adalah tapisan kadar universal tanpa bangsa

15.

di katingan kita memandang bulan berpayung
bintang bermain di gelombang kelotok
sambil membasuh kaki dan tangan di air sungai yang dikeruhkan air-raksa
sesekali terdengar ikan menyambar permukaan mencari udara

di perjalanan kita terkadang tak sempat bernafas tenang
« jangan berhenti, ko ji » , ujarmu dengan mata hitam berbinar
“menang-kalah kita berdua, yo”
« sebutir kita bagi berdua »

katingan dan hidup kita
bertanda asin airmata
cerlang bulan dan bintang
hatiku bertanda cerlang setiamu
peluh perjalanan jatuh-bangun
berdua

16 Mei 2009.

16.

biru di atas hijau daun
biru langit kota
seekor burung mungil
sayap biru
merah kesumba
memutar penjuru

terbayang kau di beranda
memandang padang lapang
kebun-kebun tebu menungguku
diam-diam kami sebut namamu, nak
dan di jambangan
edelweis putih kami simpan untukmu

17 Mei 2009

17.

di antara sampah jalan dan sungai
pengangguran dan kepapaan berhamburan
dari palangka raya sampai riam-riam
lapar dan segala kekurangan
rupa-rupa ancaman
di depan pintu
di kaki tangga
apakah mereka tiba dari langit kota tak stabil
terik dan hujan rebutan kuasa?

ann yang menolak kutukan langit menggenggam jariku erat
kembali meyakinkan bumi ini untuk kita dan
hidup mengingatkan keniscayaan berlaga

aku menunjukkannya dedaunan rambai lebat lunglai menghadap sungai
terbayang ribuan mata kuyu jiwa lunglai ngiang kata-kata perempuan kampung
ketika orang-orang berlomba menguar janji di lapangan kampanye
lalu sepi seperti sunyi katingan jauh malam ditunggu bintang dan bulan
di antara sampah jalan dan sungai
pengangguran dan kepapaan berhamburan
dari palangka raya sampai riam-riam
lapar dan segala kekurangan
rupa-rupa ancaman di kiri kananku
ann, coba bedakan sampah sungai dan jalan
mana sampah mana bukan
siapa sampah siapa bukan

dikejutkan sambaran ikan pada permukaan
di sini kejutan patut dilakukan
dusta patut dibungkamkan
sansana panarung
patut kembali disenandungkan
di katingan

18.

di desah arus dan riam katingan
kudengar mimpi penduduk
tatum menahun

di angin bersarang terbang hinggap di daun-daun
di bawah sayap burung-burung
kecipak riak katingan
kudengar tatum menahun
mimpi penduduk dari muara hingga hulu

desah dan tatum ini pun kudengar samar
di antara gempita pekik merdeka kampanye lalu
di depan kantor gubernur dan bupati
tumbuh rerumputan kering menunggu mati

ilalang menunggu api
harapan terbakar

berpasasan muda-mudi
kucari jawab di mata mereka

hampa dan sepi

19.

dari palangka ke kasongan
dari muara ke hulu
sepi gong dan kangkanong
suara katambung

antara palangka dan kasongan
di semak jalan
tak kudengar gaung tingang
dangdut mengganti sansana
di padang-padang gambut
di putaran roda ban taksi
dari palangka raya ke kasongan

seekor anjing hitam
melolong sendiri di belukar
antara palangka raya-kasongan
sesat tak tahu jalan pulang

19 Mei 2009

20.

jauh sudah makassar
seperti dahulu menunggu selat
mengirimkan angin
dan pinisi pulang sedang
aku mengawali kembara panjang
tradisi pelaut nenek-moyang

datanglah ke toddopuli
kau lihat cintaku bagai dahulu
datanglah ke seberang jauh
kau jumpai setiaku
kujamin dengan jiwa

bugis itu memang anak laut
aku turunannya entah ke berapa
maka kuharungi ombak samudera
bernama hidup

19 Mei 2009

21.

rahasia itu
ada di daun
di pohon
kudapatkan ketika kebakaran hutan

rahasia itu
ada di sungai
ada di teluk
kudapatkan ketika air menggenang
kulit tubuhku digigir air raksa

rahasia itu ada di kampung
dan wajahmu
kudapatkan ketika rindu
di jalan kembara

rahasia itu ada di cahaya lampu
kudapatkan di kegelapan
sembunyikan kuku
ujung jemari

aku pun menjadi hutan terbakar
oleh segala rahasia
percikan mimpi
menyekam di hati
tak kenal pudar
kendati ketiba-tibaan
tak juga pernah alpa

19 Mei 2009

22.

sayup kudengar kokok bertalu
bersama jam besar kota dan peronda kampung
mengukur jauhnya malam
di meja aku masih menuliskan baris-baris catatan
tentang cinta dan mimpi
yang tak reda diamuk dan dicoba
hujan-terik siang malam

sudah dekat subuh
ditandai kokok menyambut fajar
memandang ke belakang
tak terbilang yang jatuh menjelang cahaya
yang baru datang
hilang dan datang
terasa benar
aku cuma sebatang kayubakar unggun api
setetes air di arus mencari laut

andria, cintaku tak lain dari arus juga
yang mengalir menggelora di samudera

19 Mei 2009
23.

tak terdengar riuh jalan di kokok jantan
bulan lesu pucat lelah di atas pepohonan barat
menabur sunyi di yos sudarso memanjang di hadapan edelweis
aku dan andria seperti biasa mengatur nafas meneruskan laga
tak pernah sepi menguji dan menempa

19 Mei 2009

24.

hujan hari itu di jalan tingang seusai terik
aku dan andria menghitung nomor demi nomor mencari tujuan
—masih belum rapi tertata kota palangka ini di usia lima dua
segalanya tumpang tindih rebutan ruang dan tempat

masuk sebuah kantor disambut pegawai yang bangga dan tenang
di kursi lembaganya bergaya pns mimpi idola rumah demi rumah
daerah aman bebas lumpur dan tungku dapur tak menyala
andria di sampingku mengagguk-angguk membaca
di notesnya mencatat palangka dan manusianya

aku memandang cakrawala mencari letak esok
tantangan di luar angka
mencari edelweis di mana

19 Mei 2009

25.

merah dan apak selokan besar jalan pangeran samudra
barangkali menuju kahayan yang keruh
selokan dan kahayan sama saja sejenis tong sampah
mengotori mimpiku tentang kampung idaman

kata-kata beda sudah dengan mantera yang bernas sarat makna
hari ini banyak serupa sampah mengapung di selokan
di sungai dan jalan-jalan

pemimpi
kaulah fakir yang mengelana sendiri
di lorong-lorong kian sunyi

andria, apakah kau masih tetap mau menulis?
apakah kau masih bertahan pada grand design semula?

merah apak selokan dan sungai
merah apak kata-kata
pidato dan baliho kota
udara terik dan apak
membius penduduk

19 Mei 2009

26.

seorang pemuda mati terbanting di jalan dari sepeda motornya
polisi mengatakan pemuda itu melampaui batas kecepatan biasa
— semacam ulah bunuh diri
gerimis petang kubayangkan seperti tangis kekasih pemuda itu

seorang pemuda mati terbanting di jalan gerimis
mengejar memacu ajal sendiri
aku membayangkan di jalan itu dayak-lah yang tergeletak
mati bunuh diri tanpa martabat

19 Mei 2009

27.

ujung murung pagi tanjung
matahari teluk mengantar setia nelayan ke pelabuhan
wangi sisa hutan amis ikan menghampiriku
bagai masih mengenalku lama di kembara
perempuan-perempuan ramah menyapa bagai dahulu
ternganga mereka kerna rantau tak tenggelamkan basa katinganku
lima benua tak renggutkan diri dari kasongan

andria, terasing bukan karena rantau dan dingin salju
kembali pulang ke katingan kukenal jalan dari muara ke hulu
masih kulantun sansana beramu
warna perjalanan tingang
oi, nanai, nananai, nananai, nanai
kutimang katingan ujung murung dengan sansana
anak panarung pengarung benua

20 Mei 2009

28.

duka dan sunyi itu kulihat subuh ini memang warna-warni
putih seperti warna tembok, hijau serupa warna daun atau
sehitam langit, semerah fajar dan bagai pelangi

subuh ini kulihat mereka bermain selincah kelinci di balik tembok
di jalan-jalan hening di antara kokok jantan dan azan sahut-sahutan
bahkan naik-turun di dedahanan di rindang daun dalam selokan

dari kursi teras edelweis andria dan aku memandang mereka
menggunakan kasihsayang kami menghalau mereka dari hati
membiarkan harapan dan mimpi menyemi di ladang semula

22 Mei 2009

29.

azan subuh dan kokok jantan tak kudengar di salju eropa
di edelweis keduanya sahut-menyahut mengisi langit hingga penjuru jauh
terbayang ulang lorojongrang meluluhkan cinta putera saktinya
azan dan kokok subuh ini tentu bukan awal kekalahan kita, andria
sebagaimana putera sakti lorojonggrang mengawali ulang kembaranya

22 Mei 2009

30.

sungguh suatu kepongahan bocah baru belajar menghitung angka
seperti dahulu bocahku di katingan mengacung tinju mau merobohkan langit
menduga sauk 1) mampu menangguk bulan angkasa
mendengar azan merambat di arus sungai aku menyenyumi kebocahanku dahulu
betapa diriku tak sekuku dibanding langit kendati tak henti bertarung

wajar kita punya masa kanak menjelang dewasa
tapi mengapa membocah berlarut-larut ?

22 Mei 2009

31.

antara pata dan ujung murung
sebutir jambu matang jatuh kita pungut di jalan
kembara panjang yang lama mengasingkan kita dari kampung
menabur rindu di hati menagih janji lama tertunda

jambu kuning
kuning kulitmu
kita belah dua
separo untukmu
separo untukku
sebagaimana kita membelah duka dan suka
memandang ke belakang
dan matahari yang makin tinggi dari kelapa
dari pohon-pohon durian dan rambutan halaman
bisa dihitung dengan jari jumlah kesetiaan pada janji
apalagi berbelah duka dan suka

26 Mei 2009

Catatan :
1). Sauk , nama alat penangkap ikan Uluh Katingan, Kalimantan Tengah.

Sajak-sajak Jakarta

1. DI ASPAL JAKARTA

di ujung lidah terhenti kata-kata

tetangga papasan di jalan tak jadi kusupa

dua kendaraan dua jurusan

satu ke utara satu ke selatan

pingsan bahasa

di aspal jakarta

manusia makin terasing

aku mencarinya untuk hidup

Jakarta, Mei 2009

2. DI TENGAH SAMPAH

di jakarta terik dan matahari

menjepit membantingku di aspal

knalpot bus sepedamotor

menyiram paruku sedrum racun

merobek gendang telinga

orang-orang berbicara bagai berteriak

orang-orang makin pekak

hati menumpul dan berkarat

dipaksa bergegas

melomba memetik rezeki

bergantungan di detik-detik ketika

di jakarta

aku berjalan di tengah sampah

sungai-sungai apak

Jakarta 2009

3. JAKARTA

di jakarta aku mengelanai

hutan beton berdaun kaca

silau mataku

demikian juga dewa-dewa langit

di hutan beton berdaun kaca

angin berganti gemuruh kendaraan

aku papasan balita pengamen

pedagang kaki lima yang kurus-kurus

seperti tahanan kamp-kamp militer

di antara kemacetan

jakarta

kota sungai tersumbat

penduduk menjadi ikan kena tuba

ada yang mengapung mati

ada yang tinggal insang menjaga paru

hembuskan angin penghabisan

tak kusebut jakarta model modernisasi hari ini

jakarta adalah kesalahan usang keterlanjuran

dan berlanjut

bersarang ketidakacuhan

Jakarta 2009

4. BALON KOPIKO

jarak antara langit dan bumi

di jakarta makin ciut menyempit

para kontraktor giat membangun

mengisi penjuru-penjuru dengan tol

membuang trotoar dari jalan-jalan

semuanya mengarah angkasa

mengejar balon kopiko

kemudian meletup

harapan berserakan

di kalimat gamang :

mau apa ?

Jakarta, 2009

5. IBUKOTA NEGARA

aku dan istriku sambil tertawa menghitung isi dompet

bukan karena takut pada kesulitan yang mencegat tiba-tiba

kami bisa dan biasa makan sehari sekali cuma

aku dan istriku sambil tertawa menghitung isi dompet

mengenal jakarta tak akan perduli kami hidup atau mati

berdiri di trotoar menunggu bus pun kita bisa digilas ajal

tapi tetap kukatakan jakarta bagian dari indonesia

walau bukan sepenuhnya Indonesia

jakarta itu ibukota negara dan kemerosotan

Jakarta, 2009

6. PENDUDUK IBUKOTA

berapa penduduk ibukota

tentu tak lagi bisa dihitung dengan mengali-ngali jari

tentu tak bisa dibandingkan dengan palangka raya

apalagi kasongan kota kabupaten

berapa manusia di ibukota

tentu masih ada betapa pun galaunya menegangkan

tentu saja masih ada di balik kemacetan dan hilangnya basa-basi

serta kecurigaan pandang : apakah yang di hadapanku benar orang

di jakarta gamblang kulihat diriku

yang memang medan pertarungan saban waktu

Jakarta, 2009

7. DI BAWAH MATAHARI IBUKOTA

aku benar mengagumi dan hormat pada perempuan yang berjalan di sampingku

bersama mandi keringat, bersesak-sesak di trotoar lebih kecil dari tapak tangan

erat menggenggam jari-jariku tanpa seaksara keluhan seperti dahulu ia di belakang chevrolet

di bawah terik ibukota yang tak berbelas kasihan kepadanya kuucapkan terimakasih

“untuk apa?” tanyanya

“kau sudah memilihku”

di bawah matahari ibukota

berdua kami bergenggaman mengarah tujuan

Jakarta, 2009

8. SIAPA PEMERINTAH DI NEGERI INI?

gedung-gedung bertingkat berjendela kaca

jauh lebih megah dari istana bogor atau merdeka

sudah lama kudengar dan yang di bawah kolong juga tahu

antara gedung-gedung bertingkat berjendela kaca itu

hingga kantor-kantor partai yang berlaga di pemilu

merentang jalan daerah dan nasional bahkan tol

siapa gerangan pemerintah di negeri ini?

di mana gerangan pemerintah negeri ini?

Jakarta, 2009

9. NEGERI KABUT

bendera merah putih hari ini menutup peti jenazah

yang pahlawan dan yang bukan

yang pahlawan dan yang bukan

dibaringkan di taman pahlawan

keduanya mendapat salvo

bendera setengah tiang

waktu telah merobah makna bendera

negeriku menjadi negeri kabut abu-abu

mi, apakah kau masih mau ke republik

dan ke Indonesia?

Jakarta, 2009

10. MENUJU MALINO

sepiring nasi padang sederhana saban siang

segelas air putih kita makan dan minum berdua

kasur tanpa sprei di kamar 25 ribu di mana kita lepaskan lelah

dari liku-liku aspal ibukota yang memanggang kuning kulitmu

seterik dan segarang duka mentorpedo meranjau pilihan

o anak malino kota gunung kota tujuan

jakarta dan goda duka menegaskan ketetapan

menuju malino

Jakarta, 2009


Sajak-Sajak Dari Katingan

HIJAU DAN HITAM

hijau dan hitam halaman

gonggong malam hijau dan hitam

warna sunyi menyapaku di edelweiss

masih bagai di perjalanan dahulu

memandang dedaunan selokan

juga hijau dan hitam

bisa kuhitung dengan kesabaran

tak bisa lagi kuhitung jumlah duka lebur di kenangan

gonggong malam

hijau dan hitam

segigih rindu

yang menyerbu

sesetia khianat membayang

menyertai langkah di jantung pulau

di senja katingan sungai kelahiran

aku masih saja pengembara

dusta hijau dan hitam

bagai di perjalanan dahulu

warna kusam enggan merenggang

setia tak lebih dari angan-angan

Palangka Raya, Mei 2009


DARI JENDELA TODDOPULI [1]

DARI JENDELA TODDOPULI

dari depan jendela hujan toddopuli menghadap kabut selat
perempuan itu terhisak menatap ujung tahun
sederas air ditumpahkan langit membasahi desember
helikopter dan pesawat-pesawat tempur israel
pongah dari udara menabuar maut membasahi gaza
darah serupa hujan bau amis

pertempuran tak imbang lama sudah berkecamuk di jalur pasir ini
abagai tarung ntara david dan goliath
antara kemerdekaan dan keamanan diri
antara hak hidup dan penindasan demi minyak bumi
— bertahaun sudah rumah dan kebun-kebun zaitun
pohon kurma menjelma koloni-koloni yahudi
padang kuburan dan gurun sepi ditinggal mengungsi

wahai bumi
kampung halaman
eksil berkepanjangan
dari eden taman sorgawi

dari jendela toddopuli perempuan rambut pendek hitam itu
— ken prita namanya, perempuan berdarah pelaut asin ombak samudra
memandang hujan menyiram kota membayangkan darah membasahi gaza
kaki dan tangan bertaburan di tengah reruntuhan gurun terbongkar
bumi kita gemuruh dentum bom dari tahun ke tahun
ken prita perempuan itu menangis di depan jendelanya menghadap kabut
selat penuh kabut — wajah bumi dan negeri dari tahun ke tahun berkabut
bahasa masih saja bagai dahulu bau sendawa mata peluru

Toddopuli 2008


TUJUH KARUKUP

tujuh karukup
tujuh anjing gaib raksasa piaraan alamarhum ayah mertua
mengitar menjaga ken prita –perempuan bermata hitam
turunan pinisi, muda sesegar esok yang ia jelang

tujuh karukup
adalah keniscayaan bertahan
kemampuan berlawan turunan panarung
membela hak manuntung*] wajib

hidup ini
hak dan bastion
kukatakan juga pada ken prita semalam jumpa
iapun ladang harapan disemai sampai tuai

tujuh karukup
tujuh anjing gaib raksasa dan ken prita
berjalan menjelang esok
menyuluti bulan dan matahari tak pernah rindup

ya tangan kitalah itu
panutung matanandau
bulan pambelum **
menjaga bumi selalu bercahya

Toddopuli 2008
——————–
JJ. Kusni

Keterangan:
* Manuntung , bahasa Dayak Katingan, menuntuaskan.
** Panutung mantauandau bulan pambelu, bahasa Dayak Katingan, Kalimantan Tengah: penyulut matahari dan bulan kehidupan


DARI JENDELA TODDOPULI [2]

MELEPASKAN DESEMBER 2008

dari jendela toddopuli memandang tahun berlalu dan tiba dibawah langit selat sering kelabu

ken prita memandang desember melaju bagai pinisi menuju ufuk

cerita demi cerita tertumpuk di gudang-gudang pelabuhan kenangan

langit selat dan air biru seperti dahulu masih saja seperti dahulu

menggelombang tantang sejuta rahasia tak tuntas diselam paham

menjadikan diri seperti serdiakala tetap seorang pengembara

perempuan di belakang jendela terbuka itu seperti tahun silam

masih saja meperti sediakala menarung duka yang menggoreskan luka

di laganya , ken prita mencoba menghormati diri memberi arti pada waktu

laga ini seperti sosok yang patut perkasa melawan sia-sia yang tangguh

dan putusasa sebelum malam menenggelamkan matahari di ujung barat

tak akan ada yang didapat jika kita tak mencari apalagi takut pada jatuh

ken prita memandang desember lalu di bawah langit selat warna kelabu

bagai pinisi melayari laut menuju ufuk. “akulah pinisi itu”, gumamnya

“mengarung arus dan ombak”

arus adalah sejarah

tahun lalu dan tiba

gulat arti dan mati

Toddopuli 2008


VONIS PILATUS

mati yesus di salib golgotha

di vonis pilatus

aku disalib duka dan mimpi

tanah pengasingan

tragedi! rahimmu

lahirkan pahlawan

yesus dan pembunuh

mati berdampingan

yesus mati di salib golgotha

kudengar jeritnya

eli , eli sabachtani

apakah kau sanggup sepi sendiri?

Toddopuli 2008


GUMAM KEN PRITA

tak usah katakan diri pahlawan

sebelum matahari tenggelam

selagi bulan dan matahari

menabur ribuan damak coba

beripuh getah hutan

satu dua puisi

tak lahirkan nabi

kriminal dan bandit

di bumi amis berdebu ini

bisa jadi pahlawan

berjubah padri

pmeakan bangkai

“aku mau jadi manusia saja”

gumam ken prita

perempuan di balik jendela toddopuli itu

Toddopuli, 2008


PINISI LAYAR SEPULUH

sebuah pinisi layar sepuluh dari barat

menuju dermaga masuk selat

dari jendelanya ken prita memandang pelabuhan

apakah pinisi membawa suaminya kembali datang

menyambut bayi di kandungan hampir sembilan bulan

sebuah pinisi layar sepuluh dari barat

menuju dermaga masuk selat

cintaku cinta ken prita

pinisi layar sepuluh asuhan laut dan angin barat

Toddopuli 2008

———————-

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [3]

KEN PRITA DAN ANAKNYA DI PANTAI AKHIR PEKAN

di pantai selat akhir pekan ken prita menemani puteranya bermain

memburu kerang dan kepiting dibanting ombak di pasir-pasir kencana

di antara angin asin ada kawanan camar meliuk mengintai ikan

ibu- anak duduk berdua menghitung kerang dan kepiting pungutan hadiah laut

dengan mata seterang matahari naif polos berkata putera ken prita:

“laut ini untukku ya, ma”

“memang ia milikmu, milik kita, nak”

tak boleh dijual

tal boleh dijarah perompak”

menggandeng tangan puteranya seperti menggenggam harapan

ken prita merangkai cerita bercecera, dan dilupakan

cerita tentang laut dan pantai yang dibela dengan nyawa pendahulu

“anakku, kaulah penggenggam esok laut dan ini pulau”,

berkata ken prita dalam hati

– samudera menggelombang mimpi

Toddopuli, 2008


WASIAT DESEMBER

apakah yang dikisahkan oleh desember sebelum berlalu

serupa pinisi melepas tambat dermaga

mengerti bahasa ombak menepis pantai selat

dari balik jendela toddopuli ken prita membaca yang tersirat

seperti setia gelombang mengejar pantai diuji waktu

setia berlaga jadi keniscayaan kekal penakluk hidup tak berwelas

ketika merawat bunga-bunga di halaman ia menjawab senyum langit kota:

“kukatakan pada kalian para dewa dan dewi

suamiku tiba sebentar lagi

kupetik kurangkai bunga ini untuknya”

desember lalu

zaman berganti baju

wasiatnya masih

bagai yang dahulu

Toddopuli 2009


PERTANYAAN KEN PRITA KEPADA SUAMINYA

apa benar tahun berganti kau makin dewasa, arif dan penyabar

kian pandai berbahasa? ataukah rambutmu yang tambah uban, lalu

besok aku masih mengamuk karena liberalmu kurang hitungan?

desember lalu, yang pasti kau tambah usia

kalau tak dewasa-dewasa kau akan jadi pikun dan latah

—wabah di kampung


Toddopuli 2009

——————–

JJ.Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [4]

SENIN PAGI JANUARI SALJU TURUN DI SINI

senin pagi januari ini membuka jendela digugah dingin menggigit jari
putih atap, dahan-dahan, puncak perbukitan dan menara katedral
putih seluas cakrawala seputih rindu seluas mimpi
sudah lama kukenal tabiatnya kuhapal
mencoba dan menguji

[seberapa luas langitmu?
seberapalmuas samudramu?
kau ibu anakku berteduh di dadaku sebagai satu kosakata kehidupan
tentu dan pasti bukan tanda ketergantungan perempuan pada lelaki pada zaman feodal
— yang bukan bermarkas besar di keluargaku. tidak di sini di toddopuli]

rindu itu satu cobaan
mimpi itu nagih ketahanan
seperti dingin
atau terik
apakah kau sanggup menyetiai pilihan?
sejauh mana?

kalangkabut
sumpah-menyumpah
seperti halnya khianat
jauh lebih sederhana
sesederhana melempar tanggungjawab

berucap:
“c’est pas moi”
“ce n’est pas moi”*
saat tangan dan kaki
bersimbah darah
jutaan dan jutaan korban
“ce n’est pas moi’ di mana-mana
fasih dilafal para pengecut
janin di rahim narsis

di hadapan hujan salju kotaku awal januari ini
aku hanya bisa memastikan ketetapan semula
percaya perempuan dan lelaki masih ada yang benar
lelaki dan perempuan lahir dari rahim manusia bukan sphinx
juga di tanahair ini – walau -kadang demikian galau hilang kendali

di bawah salju ini kubayangkan kau dalam pakaian tebal telanjang jari
berdua membuat patung salju di tengah derai gelak anak-anak kejar-kejaran kadang kelahi
tahukah kau bahwa di cina utara salju lebih tebal dari di natal paris
dan dik koko yang kini di russia sekarang bisa cerita lancar tentang apa itu dingin

senin pagi januari ini membuka jendela kota putih semata
putih salju lama kukenal sepanjang kembara yang tak singkat memutihkan rambut
aku melihat mimpi dan kemungkinan yang dihamparkan cinta
penuh misteri seluas angkasa seputih salju januari
aku membayangkan kau berjalan gagah menyongsong segala

Winter Seine, 2008
————————–
JJ. Kusni

Keterangan:
Ce n’est pas moi, bukan saya. Dalam bahasa sehari-hari sering disingkat “c’est pas moi”.


MENCARI SEINE

menuju mencari seine
saint michel kususuri
— jalan bergolak
tanpa jeda
mencari
dan mencari
kadang sia-sia yang disua

melewati sebuah restoran asia
pernah aku di sini makan siang di terasnya
ada serbet kertas putih jatuh di bawah meja
padanya kulihat nasib cintaku
kadang jadi sampah

sendiri aku tersenyum
mencari seine
dari saint michel

2008


KAULAH ALAMAT ITU

terlalu lama sudah aku menjelajahi benua-benua sepi dan duka
pulau-pulau di timur adalah suara yang tak henti menghimbau
bagai pantai dan gelombang saling menanti
adakah yang bisa menggantikanmu mengobah pilihan?

tentu saja waktu seperti kita kenal selalu nakal menakar kadar
menapis segala kata telah diucap yang memang terlepas gampang
serupa awan tanpa sarang
aku yang lama melanglang buana hanya mencari alamat pulang

tanahair
kekasih
kaulah alamat itu

2008
——-
JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [5]

HARI ITU SENIN MINGGU PERTAMA BULAN JANUARI

“bunda

aku minta diri menapaki pilihan

merenda suatu esok di langit kurancangkan bersama lelaki kekasih

kusulam namamu dalam huruf-huruf besar terindah

kugambar rumah kita dengan tanda bendera warna merah

entah di hati atau pun lembaran-lembaran peta”

ken prita memeluk ibunya

kemudian menjinjing koper kecil

turun tangga

anak perempuan sulung toddopuli itu

sudah besar sekarang seperti anak enggang

tumbub kuat sayapnya terbang sendiri

menempuh jalur perjalanan sendiri

kemudian membangun sarang

dari pintu dan jendela toddopuli

rumah masa belia

perempuan yang kasihnya tak pernah menua

melepaskan anak sulungnya

inilah kasihsayang yang langgeng

tanpâ intrik

mendangir akar ilalalang muslihat

dan curiga

“aku pergi ma

sekarang”

dari depan pintu prempuan tua itu

menyerukan lagi nama anak perempuannya

“ken prita

pintu toddopuli tak pernah terkunci, nak”

di catatan hariannya

shinta adik bungsu ken prita mencatat

hari itu hari senin

bulan januri minggu pertama


Toddopuli 2009

——————–

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [6]

NYANYIAN RINDU SEORANG IBU KEPADA PUTERI SULUNGNYA

kapan kau kembali, nak

aku menunggu cucuku dan suamimu?

lengang rumah tak kudengar langkahmu

sepi kamarmu tanpa penghuni ditiduri rindu ibu

tergambar selalu kau anakku, ken prita

sejak kau di kandungan hingga sekarang kembalimu selalu kutunggu

memilih lelaki pengembara

panjang langkahmu

jauh juga terbang jelajahmu

toddopuli langitnya tinggal sebesar tempurung

memilih lelaki panarung

kau pun , nak, jadi perempuan pelaga

cucu-cucu ibupun menjadi anak dunia

selat pulau tak lagi menampung pelayaran pinisi

rinduku nak, rinduku

rindu ibumu, ken prita

subur bagai bunga-bunga di halaman

pagi petang dahulu kau jaga

wanginya

wangi kasihsayang

memandang buku-bukumu di rak dekat ranjang

kering tanpa debu kujaga selalu

tiris atap sebelum berangkat dahulu suamimu telah dandani

hari ini hanya mengucurkan air kenangan dan rindu

maka tinggalkan satu cucu untukku sebagai teman bercanda

mengisi rumahmu di malino

dan toddopuli

rumah ayunanmu dengan kebengalan bocah

besar sudah kau sekarang, ken prita

kau berumah dan berkeluarga

beranak sebengal dirimu kecil dahulu

kelak seperti ibu kau kan tahu

buah kasihmu hanya menanam menyemai rindu

di rumah dijaga berdua

kau dan suamimu

di rumah bernama kasihsayang

sunyi berdua

sunyi cinta

terlerai riuh

hingar cucumu

itu pun barangkali

cuma di ujung minggu

rindu

sari kasih

abadi membayang

aku

ibumu

geli mengenang

kau

ken prita

memilih

membela kakek

jadi ayah cucu-cucuku

cinta

tak berpagar memang

apalagi di hati pemberontak

seperti kalian berdua


Toddopuli 2009

———————

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [7]

CATATAN HARIAN SEORANG IBU

aku memang perempuan yang melahirkan kalian

menimang dan bertutur tentang alam dalam cerita-cerita malam

entah di kelon ranjangku atau pun ayunan

kemudian yang tersisa tak lekang di arus waktu

adalah kasihsayangku juga tak pernah kadaluwarsa

dari pintu hari ini melepaskan ken prita anakku

memandang cakrawala, kutahu cintaku bukan lagi sarangnya

ia membangun sarangnya sendiri seperti suatu keniscayaan

cintaku tak lagi kuasa mengukur jauh dekat kembaranya

perempuan tua itu seperti siapa saja kemudian mengerti

kesendirian memang rumah masing-masing yang hening

sehening malam. aku dan kau pun kelak demikian

Winter Seine 2008


RUMAH HANYALAH SEBUAH TENDA

hari itu sebuah pesawat merpati terbang ke arah barat

ken prita anak sulung toddopuli di dalamnya

perempuan lagi

dari jendela ibunya menatap awan yang diharungi merpati itu

rindunya terbang memburu pesawat tersebut sia-sia

lalu kembali hinggap di toddopuli sarang semula

memandang shinta puteri bungsunya yang masih kuliah

sang ibu menyapa diri sendiri: kelak seperti kakakmu kau pun akan pergi, ,nak

rumah hanyalah sebuah tenda atau ayunan masa kanak

“aku sudah merampungkan keibuanku”

ujar perempuan itu tersenyum

ken pritansulungnya jauh dari mata

kalian saja, anak-anakku yang

sekarang patut menjawab dunia

kalah atau menang


Winter Seine 2009

————————–

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [8]

GUMAM IBU DAN ANAK MENJELANG BERANGKAT

sambil membantu puteri sulungnya, mengemas koper keberangkatan

perempuan tua yang melahirkan ken prita di toddopuli jalan kampung sederhana

– istri seorang guru pemimpi, penyaksi jatuhbangunnya republik ini

tahu benar sekarang puterinya sudah lebih dari bujang segera memberikannya cucu

merasa sudah darahdaging timangannya dahulu mulai mengayun langkah

ia membayangkan sebuah planet besar

sebuah galaksi di luar batas duga merupakan

wilayah kembara anak gadisnya itu

terbayang samudra yang menggemuruh

terbayang bumi putih salju

bumi dingin hingga sungsum

terbayang anaknya melangkah dan melangkah

melangkah dan melangkah teluk rantau dan tanjung

dataran dan gunung

bagai bocah girang bermain membangun patung perempuan

yaitu diri ibunya yang renta

ia kenakan topi di kepala patung salju itu

ia lukiskan bibir patung perempuan itu tersenyum kepadanya

“mah, ko tersenyum padaku ya”

ken prita membalas senyum patung sajlu ibunya

dengan bayangan demikian

perempuan tua itu semacam bercakaap dengan bayangannya berkata:

“jangan lupa ko beli topi dan sarungtangan nanti di sana

jangan lupa kenakan syal toraja ini

pulau lahirmu harus selalu kau junjung. hormati!

jelek-jelek kampung tetap kampung sendiri”

ken prita melirik ibunya dengan haru sekelabu langit mendung berawan

syarat hujan — menguap dari permukaan samudra kasihsayang mengisi angkasa jiwanya

“senter, lilin, minyak tawon, termos kecil, jangan pula lupa masukkan koper”

gumam perempuan tua itu mengucapkan kasihsayang campur kesiapan hilang

“ya, ma, ken prita juga akan bawa jarum, benang dan kancing

karena kancing baju suamiku sering copot oleh geraknya yang kasar bagai kuli”

dua perempuan itu bergumam dengan perasaan masing-masing

berbicara pada diri menyongsong esok di mana harapan menceburi kancah rahasia

bagai pinisi melayari samudra tak bertepi di ombak kemungkinan tanpa peta

“ya, ma, aku juga akan bawa garam karena suamiku tak suka makanan hambar”

seperti tersengat perempuan tua itu berkomentar:

“ooo, ko inga anakku, lebih penting kalian berdua menjadi garam kehidupan”

“ko inga-inga lebih penting kalian berdua menjadi kandil di bukit tahan topan”

ujar perempuan tua itu melayangkan pandang ke langit menebak cuaca

“ko lihat,ngana lia langit di luar cerah benar sebening selat

kalau langit mendadak berang jangan kalian saling khianat”

“kalian dua inga-inga, kampung kita dan bumi ini perlu cahaya”

“aku sudah tua, tapi masih punya mimpi, bisa membaca kemarin dan esok”

“masih kusimpan wasiat pengalaman keluarga toddopuli di lemari hidup rumah ini”

kata-kata perempuan tua istri guru sederhana itu menggema

menggaung di hatiku di segala ruang dan tanjung kembara

kosa kata kujadikan lumbung kearifan kampung para tetua

pulau demi pulau khazanah kaya belum tuntas kutimba


Toddopuli, 2009

———————

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [9]

PERTEMUAN BUGIS DI SEBUAH RESTORAN IBUKOTA

di sebuah restoran jakarta siang itu

bugis-bugis berdarah laut

awak pinisi layar sembilan

warna abu

bertemu

kerinduan anak rantau

berbaur tentu dengan

tantangan negeri

anak pulau

bagai ombak dicumbu angin

laut mengasini pantai

[galesong

karaeng galesong

kucari jejakmu

sepanjang kembara

pada laut kulayari

pada gunung-gunung kudaki

di barat dan di timur

galesong

karaeng galesong

menarung mati

bela martabat

kutahu karaeng

kau tak mati]

daerah dan pulau memang

masih saja masalah besar

ketika kita tak setia pada sepakat

tentang republik dan indonesia

separatis disederhanakan sinonim suku

republik dan indonesia pun

disederhanakan jadi nkri

sejarah berdarah

larut di gelombang

di dasar kapal

lalu

kita pun luka

ditikam

digertak

diancam

kemerdekaan

tinggal angan

di langit kelam

[jangan katakan demikian

abang-abang

laut pun punya fajar

bukan cuma malam]

berapa yang terbunuh

dengan kubur tanpa tanda

karena setia republik dan negeri

diituduh khianat

padahal yang dibunuh itu

anak-anak negeri setia

hanya menolak jadi budak

menolak indonesia jadi negeri budak

bangsa sampiran globalisasi penindasan

negeri ini pun kemudian

menjelma tanahair tabu

dikelola dengan larangan

moncong senanpan

kebudayaan

diperosotkan

identik kebodohan

di sebuah restoran jakarta siang itu

bugis-bugis berdarah laut

awak pinisi layar sembilan warna abu

bertemu

[apakah kalian mencari jejak yang juga kucari

jejak pahlawan karaeng galesong

menarung mati

demi negeri?]

atau barangkali membicarakan nasib pulau

makna republik dan indonesia

dibilang patut direformulasi kembali

apa

di mana

sulawesi

dan bugis

di peta negeri

di bola bumi

ken prita puteri toddopuli

yang islam

sebagai jamak-otomatisnya anak puulau ini

di kursi makan siang

memandang sloki aperitifnya

di antara jari

jauh tatap pandang ken prita

menoreh hakekat esok

hidup bernegeri

berepublik

berkeindonesiaan

menanyai dirinya siapa

selain sebagai ibu

dan istri?

ya, ya, namaku

namaku masih nama dahulu

masih ken prita

bauran suku-suku

tanahairku

indonesia

bugis

dan indonesia

barangkali sedang dipetakan

oleh bugis-biugis di restoran siang itu

kalian punyakah peta lain

yang bisa dipajang di geladak pinisi

dan kapal di belakang jentera?

bertemu bugis-bugis

di sebuah restoran ibukota siang itu

aku menunggu kalian di mana pun di negeri ini

sebagai anak bangsa dan negeri

aku menunggu kalian dengan sabar

sesuai nasehat patunru

“menunggu bukan kekonyolan” ujar bugis arif satu ini

turunan pemberontak karaeng galesong barangkali

yang tak pernah mati menjaga mengawal pulau-pulau negeri

menyulut bulan dan matahari

demi cahaya selalu kemilau


Winter Seine 2009-

————————–

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [10]

SAAT ITU KUDENGAR KAU MENGAJAK TETANGGA MAKAN PAGI BERSAMA

1.

“tak nyaman tehku pagi ini

bagaimana kopimu”

membaca berita “fajar “

tentang masakre gaza

tehku amis

maaf”

“perutku menolak roti berslei strawberry

sekali pun berkeju kesukaan

jus jeruk kau sediakan

terbayang masih ibu dan bayi

di tivi semalam

di bawah reuntuhan rumah

kepala dan tangan terpisah”

“lalu

apa kau mau ikut al qaida

menjadi pembawa bom bunuh diri

dengan janin di rahim

siapa yang kau bom di sini?

apakah kau mau gadogadikan

kemarahan, mimpi dan cara

atas nama keadilan

membenarkan awur-awuran emosional?”


2.

di gaza

sejarah

dan dua nabi

berlaga

gaza itu hari ini

salib golgotha

di gaza

cinta

di palang salib

pedang dahulu

menjelma tank

deru bom

pesawat-pesawat tempur

roket-roket ke kampung israel

nyawa dibayar nyawa

mata dibayar mata

di gaza

dendam

menyalib cinta

dan kemanusiaan

putusasa

diutas harga diri

memaknai mati


3.

kapan perang usai

jika dendam

dipelihara

jadi nafas

melalukan siang

dan malam

seperti indonesia kita

buntu menuntaskan

buntut masakre


4.

gaza sebuah

sejarah

tak obah penjara

dendam berdarah

sangat berdarah

dendam?

kemanusiaankah

dendam itu?

aku melihat jalan buntu

di ujungnya

bergelimang jenazah

bangkai-bangkai tak bernama

tak berbentuk

di gaza

cinta

harapan

esok dan

kemerdekaan

remuk di dentum bom

di roda-roda tank

di mata peluru


5.

di gaza

tuhan

dan nabi

bertempur

di gaza

tubuh mereka

bau minyak

apakah republik kita

juga kancah laga

para nabi

dan tuhan

kancah dendam tujuh turunan

mengamiskan pulau

demi pulau

dari timur hingga barat

bidak-bidak bergelîmpangan

sorga masih tak juga pasti digapai

seribu bidadari tak mencumbu

di ranjang bulan diimpi-impi

kematian suci jadinya

semacam masturbasi


6.

di meja makan pagi

di hadapan cangkir teh dan kopi

membuka jendela toddopuli

kuajak kau melihat harapan diluar

yang terhampar

kau lihatkah

ada kemudian

yang merentang

gaza

dan negeri

tenang

dan damai

sonder salib brutalitas

abad tengah

sonder bom

gemuruh tank dan pesawat modernitas

roket-roket menerjang kampung israel

dihuni penduduk damai

ketika itu kudengar

kau mengajak tetangga

makan pagi bersama

menikmati teh hitam

roti dan keju kesukaan

entah saat di ramalah

atau jerusalem

atau tel aviv

atau toddopuli

kudengar juga

ketika itu

gelakbahak

meningkahi tukar canda


7.

kuingatkan prita

agar kau tak frustrasi

agar setia realita

kita bakal lama

di ini perbatasan mimpi

dan kenyataan

tidak sepasti sepakat cinta kita

Winter Seine 2009

————————–

JJ.Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [11]

ULANGTAHUN ANAK SULUNG

kemarin ulangtahun anak sulung

yang menagih boneka besar teman tidur sebagai hadiah

sesuai imajinasinya yang tak punya jeda

tempat istirah

menjelang gadis dia sudah

rajin sekolah dan bertanya

ulangtahunnya mengukur kemampuan

menggantang kadar kata

di anak

ada yang kita titipkan bukan

sesuatu yang besar

agung:

menjadi diri

yang manusia

aku lihat kau mencium pipinya

sambil menyerahkan boneka besar

hadiah ultanya

yang tak kau ucapkan

kau simpan sendiri

harapan dan mimpi

peta perjalanan

Winter Seine 2009

————————-

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [12]

RAHMAT

dari beranda petang

kita memandang

bunga-bunga halaman kau tanam

anak-anak bermain sendiri

dengan imajinasi mereka dan boneka-boneka

angin pucuk cemara perbukitan malino

leluasa menggerai rambutmu masih hitam

di antara goda duka

galau kemerlap kota

seleluasa kupu-kupu dan burung bermain di bunga-bunga

aku kira memang demikian, prita

kita seperti juga jendela terbuka

adalah ruang di mana kemungkinan bermain

kutuk, cerca dan puja-puji berjumpa

maka perhatikan selalu pakaian agar tak gampang masukangin

menjadi lelaki atau perempuan ringkih cengeng tak tahan terpaan

siang malam semesta tak pernah perduli kita

sakit atau sehat, menangis atau tertawa

kita sudah memilih hidup

mencintainya dan saling mencintai

sepanjang nafas angin

menarung tantang dan kecepatan waktu

tak ada yang sesederhana 2 X 2 di sini

kau pun tahu

dari beranda petang

kita memandang

bunga-bunga halaman kau tanam dan rawat

anak-anak bermain sendiri

dengan imajinasi mereka dan boneka-boneka

mampu setia

mampu mencintai

mampu mimpi

mampu berlaga

kukatakan ini

rahmat besar

kenal makna

kalah dan gagal

apakah kau kenal?

empat lembar rambut jatuh di dahimu petang itu

diusik angin lalu melintasi halaman

kutatata

kutaruh

ke tempatnya semula

masing-masing punya tempatnya sendiri

sedang harmoni

kuranglebih kemampuan menjawab

kecepatan gerak

mengubah ruang

Winter Seine 2009


DARI JENDELA TODDOPULI [13]

DARI TENGAH PADANG SALJU

dari tengah padang salju memutihkan kota

memutihkan seluruh bumi barat

memutih bekukan gunung dan sungai

seakan mengukur daya tahan kembaraku

yang merindukan kau

katulistiwa kampung lahir

dari tengah padang salju

aku menyimak gambar-gambar korban perang gaza

sekolah-sekolah yang dibombardir tsahal

yang merasa paling perkasa sebagai

tentara tuhan pembela

cangkir ekspresoku pun mendingin

masih kureguk sebagai suuatu niscaya

seniscaya gelisah mendesak jari-jari jongos restoran

menuliskan baris-baris cinta sederhana ini

begitu dingin

orang saling bunuh

melempar bom

menggorok leher

memperkosa anak istri orang

menjadikan manusia semacam sate

lalu dimasukkan ke gua gas atau lembah

kepala dijadikan bola

mestikah tuhan dan

dewa-dewa menjadikan kita hilang akal

lebih rendah dari beruang lapar

anjing-anjing kereta salju tanpa surya

wahai penganut segala agama

ternyata medan tarung terbesar

tetap saja diri kita

jika tak awas

agama menjadi penjara

rumah tahanan

aku gemetar

di tengah dingin

yang begini brutal

di tengah tarung

ganas

untuk jadi manusia

dingin

tanpa welas

apalagi kita memang rakus

melihat kemilau alam

menjanjikan dolar dan euro

pengisi pundi-pundi

aku benar-benar menggigil

hingga tulang

dingin duka

dingin orang miskin

menolak jadi budak uang

apalagi jelas

di hulu ajal menanti bersama malam

di mana aku kan tenggelam

bersama seluruh cerita dan kenang

walau kutuk masih menggaung bagai si pongang

sepeninggalanku diucapkan kekasih yang merasa dikhianati

aku sendiri tidak memerlukan neraca saat itu

aku tetaplah aku yang kalian kenal tak mau mendustai diri

tapi peperangan

dendam

teror

kulihat sebagai suatu kebebalan

kebuntuan nalar

mengancam anak bumi

politik dan ekonomi bisa saja disusun jadi dasar teori

tapi pembunuhan tetap pembunuhan

darah tetap darah

airmata tetap airmata

agama jadi pembunuh tuhanmu

cinta itu

pilar terpercaya

membebaskan

mengekalkan natal

jadi tahan abad

kernanya yesus sepi

ditinggalkan bapaknya

di salib sendiri

tak mati

malah naik ke langit

untuk mengagungkan cinta

keabadian kasihsayang

padang putih

salju menyelimut ufuk

kutatap dari jendela toddopuli

dengan gigil hingga belulang

membom

menyembelih

lebih sederhana

dari cinta

sosok sepi

menapaki padang putih

di padang salju

tiba-tiba aku melihat

ada yang tergeletak

di padang putih

penuh darah

tuhankah itu

atau nurani kita

atau keduanya?

ah

barangkali aku terlalu lelah

dan sangat merindukan kau, buah hati

maaf

baris-baris ini kutulis untukmu saja

o, perempuan kekasih

Winter Seine 2009

————————-

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [14]

AKHIR PEKAN KELUARGA TODDOPULI

akhir pekan berdua kita mendangir taman kebun sayur halaman

merawat kolam ikan sementara anak-anak berceloteh

berbicara dengan tanaman serta ternak piaraan bersama khayalan mereka

dibangun oleh buku-buku cerita kau belikan sesuai jatah bulanan keluarga

membaca akhirnya menjadi keniscayaan bagi mereka

seniscaya cerita malammu menjelang tidur maka kau jadi rebutan

keluarga adalah bastion pembangunan dan harapan tentang esok

karenanya sejak tunangan rambu-rambu kita tetapkan

akan menjadi bualan besar jika perempuan hanyalah pengurus dapur

bunga hiasan rumah ke sorga nunut ke neraka katut

istri lintang-pukang lelaki menyilang kaki membaca koran depan tivi

dan sesekali berteriak entah apa seasal bicara dengan gaya tirani

kita sepakat bahwa paternalisme suatu keterbelakangan

bencana terhadap keseimbangan langit yang separonya ditopang perempuan

sungguh suatu kegirangan kalau anak-anak yang mulai peka menegur kita

“mengapa sih mama papa serupa raja” , aku segera mengecup pipi mereka

lalu kau cemburu kalah dahulu

tapi adakah dahulu dan pertama dalam keluarga

jika kebersamaan dan kesatuan sangat tak bisa ditawar

sebagaimana kita membangun esok memerlukan memerlukan kebersamaan arti

kita perlu kesepakatan

kesetiaan

kesungguhan

cinta tak dijudi barang spekulan

apalagi main mata dengan maling

atau hantu yang kau bilang

mengintai sempat di pangkal tangga dan tepian

kita perlu bermain, perlu bercanda tentu, tapi tidak dengan hidup dan mati

anak-anak adalah esok

adalah cinta, tatanan harapan

jelas aku tak mau mereka jadi mata dadu

sedang alpa tak henti menggoda

Winter Seine, 2009

————————–

JJ.Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [15]

LAMPU NATAL HARI LALU

lampu natal jalan

warna-warni bergantungan

seperti harapan yang tergantung

iming-iming dibangkitkan

masih warna-warni jalan kotaku

warna-warni lampu natal hari lalu

lampu-lampu beku

harapan tergantung kuyu

hari ini tak seorang pun bisa pura-pura

tak mengakui sergapan duka

pada siang dan malam

pada bulan dan matahari

angkasa kian menekan

pinisi didesak badai

aku hanya punya pilihan

berlayar sesuai peta

dan kau?

akankah balik dermaga

kita pun kian jauh saling kenal

lampu natal kemarin dulu

masih bergantungan aneka warna

seperti harapan kendati redup

masih bercahya

bagai dahulu

aku masih saja melangkah

menarung cuaca

hidup yang kupilih

Winter 2009

—————-

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [16]

TANPA BERITA METEO SEKALI PUN

tanpa berita meteo kurasakan benar bahwa dingin

bawah nol yang merenggut ratusan nyawa clochard paris sudah lewat

walau februari masih menunggu di depan dengan ketiba-tibaan

ramalan tetap ramalan hitungan tak luput cacat

sehingga kepongahan menyempitkan ruang manuvre

sarang petaka sia-sia –berapa juta nyawa olehnya terkapar percuma

tanpa berita meteo kurasakan benar bahwa puncak dingin bawah nol

suatu silam pembawa bencana rematik jiwa ketika kita tak siaga

tiba di derajad cuaca sekarang kulihat yang paling langeng cuma perobahan

karenanya aku tak menangisi kekasih pergi oleh seribu alasan

lalu pelan-pelan membalut mengusap semua luka

bukankah kecewa memang sahabat akrab sedekat ajal

harapan wahai harapan apa pun warnamu

aku berpelampung padamu

menekati bahwa akulah sisyphus pemenang menolak kalah

Winter 2009

—————–

JJ. Kusni


DARI JENDELA TODDOPULI [17]

JIKA PAKAIAN

sudah tengah januari hari ini

di ujung masih saja tak bisa kuduga apa terjadi

apalagi di februari, maret hingga desember nanti

esoklusa

siang-malam

tak lain dari dadagan luar hitungan

kita sering gagap

terpojok tanpa pilihan

kecuali geleng-geleng kepala atau tertawa sendiri

lelaki atau perempuan

seperti semesta tanya

teka-teki tak pernah tunai terjawab

karena itu untuk apa aku meratapi

kehilangan, kejatuhan dan tikaman

atau kepergian tiba-tiba tanpa pamitan

tokh aku tak bergeming dari sikap dahulu

memilih dan mencintaimu: hidup! pilihan besar tentu

betapa berdarah dan compang-camping jika pakaian

Winter 2009


Il Y A QUELQ’UN? SPADA?

perjalanan membawaku tiba-tiba ke ruang raksasa

lebih besar dari rumah panjang

lengang selengang padang ilalang

tak tampak penghuni tak terdengar tukiu bajang*

angin leluasa dari jendela ke jendela

dari tangga halaman depan kuteriakkan:

il y a quelq’un?

spada?

yang kudengar

jawab sipongang

lembah negeri

pegunungan hatiku

Winter 2009

Keterangan:

* Tukiu bajang, bahasa Dayak Katingan, pekikan rusa saat menyeberangi padang ilalang.


MEREKA MULAI BERKENALAN

tujuh tahun sudah usia anak perempuan berkulit kuning itu

mata hitam klengkeng jernih bening mata ikan

ketika dahulu aku berangkat bagai eksil ia sembilan hari

tujuh tahun, lebih dari membaca aksara

ia mulai disentak duka yang kasar

keduanya mulai saling kenal saling baca

berteman saling gulat

anakku, sanggupkah

jadi pemenang menolak adat pasrah

Winter 2009

—————

JJ. Kusni

6 comments so far

  1. roedysmansa on

    Melangkahkan kaki mengikuti angin merdeka
    bermimpi……
    sebelum akhirnya sampaii di jalan ini….
    salam tabe bara Lamandau
    Rudiansyah. G. Kating

  2. imam on

    mutiara makna itu ternyata ada disini…..
    liar dandalam…..

  3. Achmad Riyadi on

    yang aku tahu hutan tanah sudah rusak binasa, hutan alam berganti hutan buatan manusia, dapatkah hutan buatan manusia itu mensejahterakan penduduk kampung, tanah arai ini? ladang perburuan semakin menyusut, ladang tempat bermanja angin rimba nan anggun telah hilang, semua hilang, semua telah jadi tuba di bumi dan ini tak boleh lena, karena merusak alam sama dengan membinasakan dunia dan membinasakan anak cucu kita.

    hai sang penyair, suarsakan ini, suarakan dan jangan lelah. aku baru menemukan situs mu disini. dan dari tanah adat ini aku berjanji, melawan dalam diam, bukan tanpa arti ia nati menyimpan sejuta makna, kelak demi anak cucu.

    pandanglah keindahan alam dan rimba yan tersisa, karena sebentar lagi kita bakal tak pernah melihatnya lagi…

    cepat atau lambat, manusia dan sekitarnya sudah menjadi penduduk terbuang di tanah arainyo sendiri.

    mau berladang, karena bakar lahan sejumput lalu masuk penjaro.

    membawa belian 2 putucuk tongkat rumah ditangkap pak pilisi, padahal mereka berjuang dari hutan sisa, bekas tegalan pengusaha sawit. pengusaha sawit yang besar-besaran menghancur hutan, tak pernah jadi sidik soal dan rakyat yang mehambin 5 keping papan dari lahan sisa di tangkap dan disebut illegal di penjarakan dan ini yang tengah terjadi di tanah arai kalimantan.

    suka atau tidak suka, tapi itulah yang kita saksikan, itulah yang saya lihat peraktek kehidupan di masyarakat Kalteng.

    saNG penyair, ini yang di tunggu dan award dunia menunggu celoteh anda.

    sekian dan terima kasih.

    salam dari anak titisan bara sungai arut…

  4. idrusbinharunun on

    keren

  5. Trik Bisnis on

    Info yang menarik mas, terima kasih atas sharing ilmunya. Sangat bermanfaat, keep posting dan salam kenal, ditunggu kunjungan baliknya mas…

  6. lily haykal on

    entah…tak ada yang dapat kutulis disini,

    terlalu banyak ruas kata yang harus kueja,

    hingga aku harus tergagap meraba makna,

    mungkin aku harus berkaca beberapa kali,

    Sebelum tanya terlanjur melipat lipat dahi

    dan nalar masih menyisakan kerut saat alisku menukik tajam

    sebab penaku semakin berpeluh resah tak mampu meruncing kata

    Palangka Raya, 050413


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: