Budaya Dayak: Permasalahan & Alternatifnya

cover buku budaya dayak 01

PENGANTAR

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

Kata Pengantar Gubernur Kalimantan Tengah

(Agustin Teras Narang, S.H.)

 Membangun Kebudayaan Berjati Diri

Komposisi kependudukan sebuah daerah, apalagi sebuah negeri, dimana pun selalu ditandai dengan kemajemukan (heterogen). Demikian halnya Republik Indonesia, sesungguhnya adalah betang bersama semua etnik, termasuk di dalamnya Provinsi Kalimantan Tengah.

Buku “Budaya Dayak: Permasalahan dan Alternatifnya” yang sekarang berada di tangan para pembaca, mencoba menyajikan olah pikir dan perenungan sejumlah cendekiawan yang telah menyediakan waktu dan pemikirannya untuk  berkumpul  mendiskusikan  masalah dan solusi persoalan kebudayaan lokal, khususnya kebudayaan Dayak di tengah-tengah kemajemukan suku bangsa. Apresiasi yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada para penulis, yang walaupun bukan asal etnik Dayak, seperti halnya Saudara Mgr. DR. M. Sutrisnaatmaka, MSF, Uskup Palangka Raya yang berasal dari Jawa Tengah, DR. Erwin Endaryanta dari Universitas Gadjah Mada yang berasal dari Jawa Timur yang pernah berkali-kali melakukan penelitian di Bumi Tambun Bungai, dan Sdr(i) Andriani S. Kusni, seorang arsitek dan desainer asal Makassar, atas prakarsa, jerih payah, sumbang pikir dan renungan para penulis dan cendekiawan dari berbagai daerah dan etnik sehingga dapat melahirkan buku ini.

Melalui buku ini secara nyata telah memperlihatkan kepada kita bahwa betapa kekayaan potensi bangsa beserta permasalahan suatu etnik adalah merupakan persoalan bangsa. Lebih dari itu, merupakan permasalahan mereka sendiri sebagai anak bangsa. Sikap ini merupakan sikap berkeindonesiaan yang patut dimiliki oleh semua anak negeri dan bangsa serta merupakan modal budaya bagi bangsa kita, lebih-lebih di tengah keadaan seperti ini.

Dalam buku ini, para penulis juga memandang bahwa budaya lokal merupakan modal penting yang tak bisa diabaikan dalam upaya membangun budaya nasional berjati diri dan tanggap zaman. Pemikiran kita semua, terutama menggelitik pemikiran, semangat dan intensitas kegiatan kecendekiawanan Uluh Kalteng dan cendekiawan-cendekiawa Dayak. Mengintensifkan penggalian, penelitian, pengkajian dan mempublikasian hasil-hasilnya, sehingga kearifan lokal diketahui dan menjadi sumbangan kepada upaya pembangunan budaya nasional yang tidak lepas akar.

Khazanah budaya lokal tidak akan dikenal dan disadari makna pentingnya apabila tidak diketahui dengan baik apabila tidak  digali, diteliti, dikaji dan dipublikasikan. Jika tidak, kekayaan itu akan tetap jadi sesuatu  yang terpendam.

Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Masyarakat Kalimantan Tengah, saya mengucapkan terimakasih sekaligus juga penghargaan dan dukungan kepada upaya nyata para penulis serta penerbit yang bekerja dengan roh yang sama. Buku ini merupakan sumbangan berharga bagi Kalimantan Tengah dan Masyarakat Dayak.

Ayo itah hapakat hatantiring maatur pambelom, manggatang Utus, Amun dia wayah tuh pea hindai, amun dia Itah eweh hindai. (Mari kita bersepakat, untuk bersama-sama mensejahterakan dan mengangkat harkat serta martabat masyarakat adat Dayak, kalau bukan sekarang, kapan lagi, dan kalau bukan kita, Siapa lagi?

Semoga Tuhan Yang Maha Esa Menolong dan Menyertai kita semua.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: