Menyediakan “Ruang (Bermain) Membaca”, Mungkinkah?: Menuju “Hari Keluarga Nasional”

Menyediakan “Ruang (Bermain) Membaca”, Mungkinkah?: Menuju “Hari Keluarga Nasional” (3)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Sunday, 24 June 2012, 9:22

”Yang dimaksud Reading Centre ini sebenarnya hanyalah salah satu ujung ruang bermain seluas 1 X 1 meter persegi. Ada rak buku kecil dan beberapa buku. Di atas rak yang lain ada beberapa kardus berisi buku. Empat kursi sofa untuk ukuran anak-anak ditata seperti ruang tamu. Tidak luas, namun nyaman. Poster pertama seperti foto di atas ini menyebutkan fungsi Reading Centre sebagai tempat anak-anak untuk bersantai, menikmati dan mengeksplorasi buku-buku dalam suasana yang tenang dan menyenangkan. Anak-anak bisa merasakan pengalaman memegang dan membaca buku, terlibat dalam komunikasi non-verbal, memaknai gambar dan teks, dan bercakap-cakap tentang apa yang mereka temukan dalam buku-buku tersebut. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membawa mereka ke ‘pengalaman membaca yang sebenarnya.’”
Tulisan di atas berasal dari postingan Pak Satria Darma di milis IGI (Ikatan Guru Indonesia) beberapa waktu lalu. Pak Satria sendiri hanya meng-copy paste sebuah postingan lain di sebuah milis yang berjudul (kalau tak salah), BIARKAN ANAK-ANAK BERMAIN, AGAR MEREKA BISA MEMBACA DAN MENULIS. Di bawah judul tulisan tersebut ada sumber dari mana tulisan berasal: http://tiwi-lioness.blogspot.com. Nah, saya perlu menyampaikan hal ini pada saat ini karena saya juga terinspirasi dengan pertanyaan Mbak Tiwik—demikian nama orang yang menuliskan pengalamannya tentang “Ruang (Bermain) Membaca” yang dijumpainya di sekolah anaknya di Kanada—berikut ini: “Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah bagaimana menumbuhkan cinta baca dan menulis sejak dini.”
Untuk apa kita perlu berpayah-payah menumbuhkan cinta baca dan menulis anak-anak kita sejak dini? Apa manfaat yang akan diperoleh seorang anak apabila dia memiliki kemampuan membaca dan menulis yang tinggi? Tiba-tiba saja saya teringat riset-riset tentang manfaat membaca yang dihimpun oleh Jim Trelease dalam bukunya, Read-Aloud Handbook. Intinya, membaca—khususnya pemerolehan bahasa—dapat memperkaya dan mengembangkan otak (pikiran). Anak-anak yang terlambat membaca atau tidak sempat memasukkan keragaman bahasa dalam bentuk yang sangat kaya—dalam riset tersebut ditunjukkan—akan mengalami kesulitan belajar di sekolah. Apa hubungannya membaca teks (tulisan) dengan belajar matematika, misalnya? Mengapa anak-anak yang jarang membaca teks (tulisan) akan kesulitan belajar matematika? Mengapa pula anak-anak yang “miskin” bahasa akan gagap dalam mengungkapkan pikirannya?
Silakan membaca buku Jim Trelease, Read-Aloud Handbook, yang telah tersedia dalam bahasa Indonesia berkat budi baik Komunitas Reading Bugs Indonesia. Pada kesempatan yang baik ini, saya hanya ingin membahas cuplikan tulisan Mbak Tiwik. Apa yang saya cuplik tersebut secara khusus mengenalkan apa yang disebut “Ruang (Bermain) Membaca” di sebuah sekolah di Barat. Saya tambahkan kata “bermain” di dalamnya karena, pada dasarnya, ruang tersebut memang bukan ditujukan untuk membuat anak-anak terbebani dengan kegiatan membaca melainkan bagaimana anak-anak menjadi senang (memiliki pengalaman yang menyenangkan terkait dengan) membaca.
Juga, ingin saya tambahkan di sini bahwa kata “membaca” sendiri, pada era cyberspace seperti saat ini, perlu kita perkenalkan sebagai salah satu cara untuk “mengolahragakan pikiran (otak)” sebagaimana tubuh kita perlu kita gerakkan agar otot-otot yang ada di sekujur tubuh tidak gampang “menegang” (kram). Dengan membiasakan menggerakkan tubuh, otot-otot di sekujur tubuh akan menjadi lentur dan memudahkan diri kita menjalankan kegiatan sehari-hari. Kalau di tubuh kita ada banyak otot, di kepala kita ada banyak otot juga tetapi otot yang sangat halus. Cara mengolahragakan otot-otot halus itu bukan dengan menggeleng-gelengkan kepala melainkan dengan membaca—sekali lagi membaca yang menerbitkan rasa senang.
Pertanyaan saya kemudian adalah “Mungkinkah di sekolah-sekolah di Indonesia dibangun ‘Ruang (Bermain) Membaca’?” Jawabannya jelas mungkin sebagaimana dahulu di banyak tempat di Indonesia banyak didirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kalau hanya mendirikan atau membangun tentu bisa dan, mungkin, mudah. Yang tidak mudah adalah memfungsikannya secara benar dan tepat. Kita perlu orang-orang yang benar-benar mencintai kegiatan membaca untuk mengelola “Ruang (Bermain) Membaca” tersebut. Sebab, tujuan “Ruang (Bermain) Membaca”—mengutip pertanyaan Mbak Tiwik—adalah untuk membuat anak-anak sejak dini dapat mencintai kegiatan membaca.[]
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: