Archive for April, 2012|Monthly archive page

NU nilai TKI di negara nonmuslim lebih terhormat

http://www.antaranews.com/berita/307684/nu-nilai-tki-di-negara-nonmuslim-lebih-terhormat

NU nilai TKI di negara nonmuslim lebih terhormat

Selasa, 24 April 2012 23:08 WIB |

Jakarta (ANTARA News) – Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di
Indonesia, menilai ironis bahwa Tenaga Kerja Indonesia yang mayoritas
beragama Islam justru mendapat perlakuan lebih terhormat di negara
non-Muslim, sementara di negara Muslim sering kali mendapat perlakuan yang
tidak manusiawi.

“Dengan prihatin saya katakan, di negara non-Muslim, misalnya Taiwan dan
Hong Kong, TKI justru diperlakukan lebih terhormat daripada di negara
Muslim, seperti Arab Saudi dan Malaysia,” kata Ketua Umum Pengurus Besar
NU Kiai Haji Said Aqil Siroj di Jakarta, Selasa.

Said Aqil mengemukakan hal itu menanggapi penembakan tiga TKI oleh polisi
Malaysia bulan lalu, yang kini bahkan beredar rumor terjadi penjualan
organ tubuh ketiga korban tersebut.

“Penembakan TKI oleh polisi Malaysia sudah berulang kali terjadi. Itu
tindakan biadab yang tentu kita sayangkan,” kata Said Aqil.

Dikatakan Said Aqil, jika ada pelanggaran hukum yang dilakukan TKI, tentu
penanganannya tidak harus serta-merta dengan penembakan, terlebih
penembakan yang mematikan.

“Kalau polisinya main tembak, negara apa itu? Kita minta pemerintah
Malaysia menindak tegas polisinya yang bertindak main tembak demi martabat
bangsa itu sendiri,” kata Said Aqil.

Kendati demikian, PBNU juga berharap ada upaya yang sungguh-sungguh dari
pemerintah Indonesia untuk melindungi warga negaranya yang bekerja di luar
negeri.

Sebab, lanjut Said Aqil, persoalan TKI tidak sekadar persoalan devisa,
tetapi juga terkait dengan martabat bangsa.

Seperti diberitakan, Polisi Diraja Malaysia memberondong tembakan terhadap
tiga TKI asal Pancor Kopong, Pringgasela Selatan, Lombok Timur, Nusa
Tenggara Barat, yang diduga hendak melakukan penyerangan saat akan
ditangkap pada tanggal 25 Maret 2012 di kawasan Port Dickson, Malaysia.

Akibatnya, tiga TKI tersebut, Herman (34), Abdul Kadir Jaelani (25), dan
Mad Nur (28), meninggal dunia secara mengenaskan di tempat kejadian.

Terkait dengan peristiwa itu, Kepala Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat
menyampaikan protes keras.
(T.S024/D007)

FALSAFAH HIDUP BUDAYA HUMA BETANG Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama Di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

BEDAH BUKU

FALSAFAH HIDUP BUDAYA HUMA BETANG

Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama

Di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

 

Oleh Drs. Silvanus Subandi, STL, Pr.

 

1.Pendahuluan

Puji syukur ke kahadiran Tuhan Yang Maha Esa karena berkat-Nya lah sehingga semakin banyak orang menaruh perhatian pada studi tentang  falsafah budaya yang memiliki nilai tinggi dalam kaitannya dengan kerukunan hidup antar umat beragama. Kita perlu memberikan kepada Dr.Muhammad dan Abubakar ,H.M. yang telah menyajikan hasil kajiannya yang berjudul Falsafah Hidup Budaya Betang Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Hasil karya ini dapat menjadi tambahan referensi dalam studi tentang nilai-nilai universal yang melandasi prinsip hidup bersama yang terkandung dalam falsafah budaya huma betang. Perlu disadari bahwa buku referensi dalam studi tentang budaya Dayak sangat terbatas dan sulit untuk ditemukan, dan karena itu pula maka sangat sedikit kaum muda yang tertarik untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan budaya Dayak.

Dengan penerbitan buku Falsafah Hidup Budaya Huma Betang karya Dr. Muhammad dan Abubakar, H.M. ini dapat menambah minat para tokoh masyarakat Dayak dan terutama kaum mudanya untuk mengadakan penelitian dan menulis buku tentang kekayaan nilai budaya Dayak. Hal ini sangagt penting mengingat  masyarakat sekarang sedang menghadapi era globalisasi ekonomi dan teknologi yang dapat mengikis nilai-nilai budaya lokal yang sangat luhur ke periperi. Paradigma perubahan budaya ini sungguh nyata, sebagai contoh kita dapagt medlihat trend ke barat-baratan di kalangan kaum muda. Tidak jarang kita menemukan anak muda yang lebih mengenal budaya asing daripada budayanya sendiri. Ada anak Dayak malu menyebut dirinya sebagai orang Dayak karena takut dianggap orang udik. Bertolak dari paradigm tedrsebut maka studi tentang budaya sangatlah penting. Berkaitan dengan isi buku Falsafah Hidup Huma Betang ini penulis ingin menyampaikan beberapa gagasan berikut.

 

2.Nilai-Nilai Hidup Dalam Masyarakat Multireligius Dan  Multikultural

Bab 2 dalam buku yang berjudul Falsafah Hidup Huma Betang, Dr. Muhammad secara lugas menjelaskan tentang prinsip dasar kehidupan dalam masyarakat multireligius dan multikultural. Pada bagian awal dari bab ini beliau  menjdlaskan tentang agama sebagai identitas sosial. Bangsa  Indonesia yang berasakan Pancasila  dan UUD 1945 menggambarkan masyarakat yang religious. Dalam konteks ini agama memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Agama memberikan panduan dalam membangun kehidupan yang sempurna, di mana para penganut agama tersebut dapat mengalami kedamaian dan kebahagiaan. Agama Kristen misalnya mengajarkan umatnya untuk membangun hidup yang sempurna sesuai dengan martabatnya sebagai anak-anak Tuhan, “haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu adalah sempurna” (Mat.5:48). Kesempurnaan hidup tersebut  diwujudkan dengan  membangun kehidupan sesuai dengan ajaran Tuhan  yang tertulis dalam Alkitab. Kiranya tuntutan  membangun hidup sempurna ini juga tgerdapat dalam semua agama.Ajaran Kaharingan misalnya mengajarkan agafr pemeluk agama tersebutg membangun kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam.

Dengan tercapainya kehidupan yang sempurna maka terciptalah citra pribadi manusia yang integral, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh pelbagai hal yang membahayakan baik hidupnya sendiri, keluarga dan masyarakat luas. Bangsa di mana masyarakatnya beriman kuat akan menjadi  bangsa yang kuat, bersatu dan peduli terhadap sesama.

Namun demikian, penghayatan agama yang sempit dapat menjadi sumber komflik, lebih-lebih dalam kehidupan masyarakat multireligius. Adanya pemahaman bahwa agamanyalah yang paling benar sedangkan agama yang lain tidak benar dapat menjadi sumber konflik dan berbahaya. Sejarah telah mencatat berbagai peristiwa konflik antar agama yang membawa kehancuran dan degradasi  nilai kehidupan yang merupakan pemberian Tuhan.Konflik antar agama dapat menjadi sangat berbahaya bilamana telah disusupi oleh motif politik yang menguntungkan bagi kelompok tertentu.

Konflik tidak hanya timbul dari perbedaan agama, tetapi bisa juga timbul dari masalah keragaman budaya. Perbedaan ungkapan dan bahasa dalam pelbagai  budaya dapat menjadi sumber  konflik horizontal  dalam masyarakat. Contoh, kata “lalawah” dalam kalimat “tege lalawah hete na” , harafiahnya berarti “ada penyengat di situ”, tetapi kalimat yang sama dalam bahasa lain bisa berarti “lama-lamalah kamu di situ”. Contoh lain, dalam kalimat “linon luen taka” yang harafiahnya berarti “apa sayur kita”. Hal semacam ini dapat menyebabkan miskomunikasi yang men garah pada konflik.

Dalam situasi keragaman budaya dan agama kiranya seluruh anggota masyarakat dan para tokoh agama kiranya perlu memiliki sikap inklusif dengan memandang yang lain juga berada pada jalan kebenaran. Karena sikap ekslusif tidak hanya dapat mengganggu relasi antar umat beragama, tetapi lebih dari itu yang paling merasakan dampaknya adalah kehidupan keluarga-keluarga yang menganut agama yang berbeda. Sebagai contoh dalam keluarga bedsar penulis ada yang pendeta, ada yang pastur, ada yang guru agama Kaharingan, dan ada yang Muslim. Pada peristiwa tertentu, kami semua  berkumpul   dalam satu rumah.

Bisa dibayangkan , bila orang memiliki sikap ekslusif maka keluarga ini tidak mungkin bisa bersatu, sebaliknya akan berseteru atas dasar agama masing-masing.Prinsip yang dipegang dalam keluarga ini adalah prinsip daqsar saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Prinsip hidup inklusif  dan pluralis membawa orang untuk bisa melihat kebenaran yang juga ada dalam agama dan  budaya yang lain. Sehubungan dengan relasi dengan agama-agama non Kristen , Konsiukli Vatikan II, khususnya dalam dokumen Nostra AQetate Art.2 mengajarkan bahwa:

“Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi toh tidak jarang memantulkan kebenaran yang menerangi semua orang”.

Selanjutnya Dalam Art.5 dari dokumen yang sama, para pemimpin Gereja mengajarkan  bahwa “tidak ada dasar bagi setiap teori atau praktek, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dengan manusia, antara bangsa dengan bangsa”. Sikap demikian lahir dari ajaran Tuhan untuk mencintai sesama seperti dia mencintai diri sendiri . Tuhan bersabda: ”sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Dengan demikian sikap inklusif dan pluralis membawa setiap orang untuk memandang sesama sebagai saudara meski berbeda agama dan budaya.

Falsafah Huma Betang Sebagai Pemersatu Bangsa

Huma betang merupakan tipikal rumah keluarga masyarakat Dayak pada zaman dulu yang berukuran besar, tinggi, dan panjang, dan dapat dihuni oleh banyak keluarga, yang di Kalimangtan Timur disebut lamin.  Motif pembangunan huma betang, sebagaimana telah diuraikan oleh Dr.Muhammad pada halaman 51 dalam buku ini adalah, pertama, untuk menjaga keamanan keluarga dari bahaya serangan binatang buas, seperti ular, beruang, semut api, dll. Rumah dibuat tinggi, juga dimaksudkan untuk melindungi diri dari banjir dan serangan musuh dari suku lain, seperti perampokan dan pangayauan.

Pada zaman sekarang, orang tidak lagi membuat rumah panjang model zaman dulu, karena berbagai alasan, namun demikian, semangatnya tetap dihayati dan dipelihara.  Meski pun tidak lagi sebagai penghuni rumah betang, namun semangat atau nilai falsafah huma betang tetap dipelihara secara turun-temurun.

Nilai-nilai tersebut adalah:

a.Kesetaraan

Masyarakat Dayak pada dasarnya tidak mengenal adanya budaya feodalisme. Bagi mereka berlaku prinsip kesetaraan derajat di hadapan Ranying Hatalla Langit. Laki dan perempuan memiliki tanggungjawab  yang sama dalam keluarga. Dalam rumah betang seluruh penghuni memiliki kedudukan yang sama, dan semangat ini mengikat mereka akan tanggungjawab bersama atas kedamaian dan ketenteraman.

b. Persaudaraan dan Kekeluargaan

Semangat persaudaraan menjadi pemersatu  seluruh anggota komunitas. Semangat inilah yang membuat  mereka bersatu dan berjuang bersama dalam menghadapi tantangan dari luar dan menyelesaikan persoalan dengan semangat musyawarah mufakat dan gotong-royong. Berbeda dengan Dr. Muhammad yang mengatakan bahwa perbedaan kompetensi dianggap sebagai kunci  perekat komunitas betang dalam membangun kehidupan bersama (lihat:hlm. 59).Sebaliknya kami memandang bahwa justru semangat persaudaraan inilah yang menjadi perekat bagi anggota komunitas dalam menghadapi persoalan akibat perbedaan kompetensi. Perbedaan kompetensi dilihat sebagai karakter manusiawi yang kemudian saling melengkapi sebagai satu komunitas. Ibaratnya perbedaan-perbedaan kompetensi di antara anggota komunitas  dilihat sebagai karakter khas dari bagian-bagian tubuh tubuh yang pada akhirnya saling melengkapi sebagai satu keluarga. Segala persoalan dalam komunitas diselesaikan dengan musyaawah mufakat dalam ikatan persaudaraan dalam keluarga besar.

c. Belom Bahadat

Yang dimaksudkan dengan belom bahadat adalah prinsip dasar hidup yang menjunjung tinggi nilai adat-istiadat yang menekankan nilai moral dan spiritual seperti hormat terhadap orangtua, sesama, alam semesta dan Sang Pencipta. Falsafah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sebenarnya mau menekankan sikap moral untuk menghormati budaya orang di mana kita berada. Membangun sikap hormat terhadap sesama dan nilai-nilai budaya setempat.

d. Hubungan Antar Agama

Bertolak dari falsafah huma betang yang telah dijelaskan di atas sebenarnya, perbedaan agama dan komunitas masyarakat Dayak tidak menjadi permasalahan yang krusial. Orang hidup saling menghormati dan menghargai dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Masalah muncul ketika banyak pendatang yang karena kurang memahami, lalu kurang menghargai nilai-nilai budaya setempat (belom dia bahadat).

Demikian tanggapan kami atas isi buku “Falsafah Hidup Budaya Huma Betang Dalam Membangun Hidup Umat Beragama Di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah” /karya Dr. Muhammad dan Abubakar, H.M.***

Disampaikan dalam Forum Diskusi Kalteng Pos, yang diselenggarakan oleh kerjasama Harian Kalteng Pos dan Lembaga  Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, 13 April 2012 di Gedung Biru Kalteng Pos, Palangka Raya.

Sedulur Sikep Menjaga Tanah dengan Air Kelapa

 

Rabu,5 April 2012

PERTANIAN ORGANIK

Sedulur Sikep Menjaga Tanah dengan Air Kelapa

Tanah niku nggih kados bumi niki, persasat ibune kula piyambak. Artinipun nggih dipun inciki, dianggep saged ngasilaken lan diajeni, amargi maringi sandhang kalawan pangan.

Tanah itu adalah bumi ini yang diibaratkan sebagai ibu kandung. Maksudnya menjadi tempat berpijak, harus dihormati dan dirawat, karena bisa menghasilkan dan memberikan sandang dan pangan.

Begitu pandangan hidup  masyarakat Sedulur Sikep, pengikut ajaran Samin Surosentiko, tentang tanah. Bagi mereka,  tanah terbagi menjadi dua bagian, tanah garapan dan pekarangan.

Tanah garapan berupa sawah dan kebun untuk memenuhi sandang dan pangan. Tanah pekarangan berupa lahan untuk mendirikan rumah dan melindungi manusia dari panas dan hujan.

”Tanah harus lestari dan tetap sehat. Jika sakit, tanah tidak memberi kesuburan. Jika dijual, tanah tidak lagi menjadi milik sendiri dan tidak bisa diwariskan ke generasi mendatang,” kata Gunretno, tokoh muda Sedulur Sikep Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (12/4).

Untuk menjaga tanah, terutama sawah, masyarakat Sedulur Sikep baik di Pati maupun di Blora menerapkan pertanian organik. Mereka tak pernah membeli, apalagi menggunakan pupuk dan obat kimiawi dalam mengolah tanah sekaligus merawat tanaman.

Sedulur Sikep di Pati mengembangkan pupuk cair dan tabur organik buatan sendiri. Pupuk cair berupa hasil fermentasi air kelapa, air leri, atau air bekas mencuci beras, daun kelor, dan batang pisang.

Cara membuatnya cukup mudah. Batang pisang dan daun kelor ditumbuk terlebih dahulu. Setelah dicampur dengan air kelapa dan leri, kemudian difermentasi dengan tetes tebu.

”Kalau sudah sebulan difermentasi, pupuk organik cair itu bisa dipergunakan dengan cara disemprotkan ke padi. Selain menyuburkan, bisa mengantisipasi wereng dan sundep,” kata Gunretno.

Adapun pupuk organik tabur, terbuat dari campuran kotoran sapi dan sekam. Pupuk itu dipakai saat mengolah tanah sebelum ataupun setelah tanam.

Menurut Gunretno, hasil panen hampir sama dengan menggunakan pupuk dan obat kimiawi. Penerapan pola pertanian organik bisa menghasilkan gabah kering panen 6 ton per hektar, sedangkan non-organik 7-8 ton per hektar. ”Harga beras organik cukup tinggi, yaitu Rp 12.000-Rp 13.000 per kilogram,” kata dia.

Di Blora, Sedulur Sikep di Dukuh Balong, Kelurahan Sumber, Kecamatan Kradenan, mengembangkan pupuk berbahan baku urine sapi sebagai pengganti pupuk urea. Mereka juga membuat obat pembasmi hama sebagai pengganti pestisida dengan bahan baku tembakau, sabun colek, dan kapur.

Tokoh pengembang pertanian Sedulur Sikep Balong, Widji Slamet (24), mengatakan, pupuk pengganti urea itu campuran urine sapi, daun lamtoro, kembang pisang, jahe, laos, dan kunir. Pemakaiannya cukup hemat, yakni dua gelas pupuk cair urine sapi untuk campuran satu tangki penyemprot padi.

Adapun obat pembasmi hama pengganti pestisida terbuat dari tembakau, sabun colek, dan kapur. Ketiga bahan baku itu direbus selama setengah jam atau tidak sampai mendidih. Setelah disaring, airnya digunakan untuk membasmi sundep atau ulat daun dengan cara disemprotkan.

”Kalau tanaman padi terserang hama, air tembakau yang dicampurkan sebanyak satu liter. Kalau tidak terserang, cukup dua gelas saja,” kata Widji.

Pola pertanian organik diterapkan untuk menjaga kelestarian tanah sawah demi anak cucu. ”Kekayaan alam hendaknya dipelihara dan dijaga kelestariannya dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan hidup anak cucu,” kata Widji. (HENDRIYO WIDI)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/04/25/03212942/sedulur.sikep.menjaga.tanah.dengan.air.kelapa

 

Pengabdian, Bukan Mata Pencaharian

Rabu,25 April 2012

Pengabdian, Bukan Mata Pencaharian

Sukidi

And so, my fellow Americans:
ask not what your country can do for you,
ask what you can do for your country

John F Kennedy

Kutipan pidato pelantikan John F Kennedy sebagai presiden ke-35 Amerika Serikat pada 20 Januari 1961 yang masih dapat disaksikan di John F Kennedy Presidential Library and Museum di Boston tetap inspiratif dan relevan untuk refleksi kita dalam kehidupan bernegara.

Namun, sasaran utama pidato itu lebih tepat ditujukan kepada pejabat publik kita, terutama mereka yang bekerja di pemerintahan. Sebab, tidak sedikit di antara mereka yang berpikir pragmatis tentang apa yang dapat diperoleh dari negara ketimbang apa yang dapat dilakukan dan diabdikan untuk kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat.

Sumber pencaharian hidup

Pola pikir itu berlaku umum di kalangan pejabat publik, yang menjadikan negara tidak lebih sebagai tempat untuk bekerja, mencari nafkah, dan sumber pencaharian hidup secara permanen. Bekerja di institusi negara dimaknai oleh pejabat publik sebagai usaha strategis untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarganya.

Tidak heran jika kesejahteraan hidup di kalangan pejabat publik umumnya meningkat drastis ketimbang rakyat. Sementara pejabat publik memiliki akses ke aset-aset negara, rakyat tidak. Malah, rakyat sering kali lebih diingatkan tentang kewajiban-kewajibannya daripada dipenuhi haknya.

Kewajiban yang sering kali diingatkan kepada rakyat adalah soal pajak. Filosofi dasarnya adalah bahwa negara dapat bertahan dan terselenggara jika rakyat taat dalam membayar pajak secara reguler. Ironisnya, uang pajak hanya sedikit sekali digunakan untuk memenuhi hak-hak rakyat dalam memperoleh pekerjaan serta penghidupan yang lebih layak dan sejahtera. Yang justru kita saksikan akhir-akhir ini adalah maraknya fenomena penyalahgunaan uang pajak untuk peningkatan kesejahteraan pejabat dan keluarganya, bukan untuk kesejahteraan rakyat.

Penyalahgunaan itu sesungguhnya hanyalah salah satu di antara sekian banyak fenomena korupsi yang terjadi di hampir semua institusi negara, mulai dari pusat sampai daerah. Sekarang ini, korupsi bukan hanya tersentralisasi di kalangan pejabat publik di Jakarta seperti yang pernah terjadi pada rezim Orde Baru, melainkan juga terdesentralisasi di kalangan pejabat publik di pemerintahan daerah.

Dalam periode 2004-2012, kata Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moenek, terdapat 173 pejabat publik di pemerintahan daerah yang diperiksa ”sebagai saksi, tersangka, dan terdakwa. Dan, 70 persen dari jumlah itu sudah mendapat vonis berkekuatan hukum tetap dan menjadi terpidana” (Kompas, 17/4/2012).

Pengabdian hidup

Indonesia yang maju dan sejahtera mustahil terwujud jika dinakhodai oleh pejabat publik yang korup dan rakus. Pejabat semacam ini hanya bekerja, mencari nafkah, dan mengambil aset-aset dari negara untuk kesejahteraan diri, keluarga, dan sering kali partainya. Kepada pejabat publik seperti itu, tidak ada pilihan lain kecuali diproses secara hukum.

Indonesia membutuhkan pejabat publik yang mampu menjadikan institusi negara bukan sebagai sumber mata pencaharian, melainkan lebih sebagai tempat pengabdian hidup untuk rakyat. Terinspirasi oleh pidato Kennedy yang dikutip di awal opini ini, kita sangat berharap agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan spirit yang kuat kepada pejabat publik tentang apa yang dapat mereka lakukan, berikan, dan abdikan untuk kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat.

Dalam mengemban misi pengabdian hidup itu, pejabat publik dapat memulainya dengan keteladanan moral yang jujur dalam penyelenggaraan negara. Keteladanan moral yang jujur tidak cukup dengan berkata ”tidak pada korupsi”. Akan tetapi, harus dipraktikkan dan dibiasakan dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara sehingga menjadi kebiasaan (habit), yang akhirnya tecermin dalam pemerintahan yang bersih dan baik.

Namun, di balik kabar menggembirakan tentang kemajuan pemberantasan korupsi di negara kita, sesungguhnya tersingkap fenomena lain yang lebih membahayakan. Bahwa, praktik korupsi—bukan keteladanan moral yang jujur—kini justru sudah menjadi kebiasaan hidup di kalangan pejabat publik, mulai dari pusat sampai daerah.

Karena itu, dengan sedikit mengubah kata-kata Presiden Amerika Thomas Jefferson pada 1800, ”I have sworn upon the altar of God, eternal hostility against every form of tyranny over the mind of man,” yang terpahat di patungnya di Washington DC, kita, rakyat Indonesia, meminta kepada pejabat publik untuk berjanji atas nama Tuhan dan mewujudkan janjinya itu dalam bentuk permusuhan abadi terhadap segala bentuk korupsi (eternal hostility against every form of corruption).

SUKIDI, Kandidat PhD di Harvard University, AS 

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/04/25/02170999/pengabdian.bukan.mata.pencaharian

BELUM BAHADAT

Jurnal Toddoppul

Cerita Buat Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

 

BELUM BAHADAT

Oleh Kusni Sulang

 

Belum Bahadat *) (hidup beradat) termasuk salah satu istilah yang paling sering diucapkan, terutama oleh para petinggi daerah dan orang-orang dari Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) serta Dewan Adat Dayak (DAD).

 

Apakah yang dimaksudkan dengan belum bahadat (bahadat berasal dari kata dasar hadat, dalam bahasa Dayak Ngaju) itu? Tentang hal ini pun dalam perumusan , yang merupakan cerminan dari pemahaham, nampaknya juga masih belum satu.

 

Menurut Perda No. 16 Tahun 2008 “Yang dimaksud dengan falsafah hidup “Budaya Huma Betang atau Belom Bahadat”  adalah perilaku hidup yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta  taat pada hukum (hukum negara, hukum adat dan hukum alam). Apabila telah mampu mnelaksanakan perilaku hidup “Belom Bahadat”, maka akan teraktualisasi akan wujud “Belom Penyang Hinje Simpei” yaitu hidup berdampingan, rukun dan damai untuk kesejahteraan bersama”. (hlm. 49).

 

Sedangkan Drs. Silvanus Subandi, STL, PR, dari Keuskupan Palangka Raya, merumuskan belum bahadat “prinsip dasar hidup yang menjunjung tinggi nilai adat-istiadat yang menekankan nilai moral dan spiritual seperti hormat terhadap orang tua, sesama, alam semesta dan Sang Pencipta” (Bedah buku Falsafah Hidup Budaya Huma Betang dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, disampaikan pada 13 April 2012).  Drs. Silvanus Subandi , STL,PR, menamakan prinsip dasar hidup ini juga sebagai “prinsip hidup inklusif dan pluralis” (ibid).

 

Perbedaan dua perumusan di atas terletak pada bahwa yang satu menganggap belum bahadat sebagai perilaku sedangkan yang lain yaitu Drs.Silvanus Subandi, STL,Pr, memandangnya sebagai prinsip dasar hidup.  Dari prinsip dasar hidup inilah perilaku itu bermula. Kemudian Drs. Silvanus Subandi,STL,Pr. juga mencakup dua bidang yaitu bidang etika, moral dan spiritual.Yang etika dimisalkan oleh Pastur Subandi seperti hormat terhadap orang tua, terhadap sesama. Kejujuran, toleransi  Sedangkan nilai moral mengungkapkan diri dalam bentuk menghormati kebersamaan hidup bermasyarakat, memandang sesama secara setara, Sedangkan penghormatan pada alam semesta tidak lepas dari sikap menghormati kepentingan hidup bermasyarakat. Sebab dampak kerusakan alam oleh sikap tidak menghormatinya, akan mendera banyak orang. Sementara penghormatan kepada Sang Pencipta berarti mematuhi jalan yang ditunjukkanNya dan diturunkan melalui berbagai Nabi. Jalan ini jalan menuntun anak manusia yang diciptakannya. Apabila anak manusia tidak menghormati Sang Penciptanya ia akan menyeleweng dari Jalan Sang Pencipta itu sehingga terjadi hal-hal yang dia bahadat (tidak beradat, tidak menjunjung nilai-nilai hadat. Jalan Sang Pencipta adalah jalan yang holistik. Mencakup seluruh bidang kehidupan.

 

Dari perumusan Pastur Subandi nampak bahwa belum bahadat adalah menjunjung nilai-nilai hadat, dan mencakup hubungan antar sesama, hubungan dengan alam dan hubungan Sang Pencipta, tiga hubungan yang dirangkum oleh filosofi. Filosofi ini lahir dan berkembang dengan berpatokan pada jalan yang ditunjukkan oldeh Sang Pencipta, sebagai bentuk penghormatan kepadaNya. Kemudian menggunakan filosofi ini guna menjawab permasalahan kehidupan, lahirlah hadat. Mula-mula berbentuk kebiasaan, kemudian dalam proses perkembangnya diterima sebagai konvensi bersama, lalu konvensi ini berkembang menjadi hukum, yaitu hukum hadat .  Dalam ruang dan waktu, masyarakat tidak henti berkembang, demikian pun hukum hadat berkembang menyertainya. Yang tidak mampu berkembang mengikuti perubahan waktu dan ruang, bisa dipastikan  akan lenyap. Misal, upacara perdamaian saki palas menggunakan darah hewan, barangkali pada suatu waktu tertentu, yaitu pada saat agama Orang Dayak  relatif homogen, berlaku pada semua Orang Dayak. Tetapi pada saat Orang Dayak sudah menganut bermacam-macam agama, maka upacara sakit palas ini tidak digunakan untuk mereka yang menganut agama Islam yang memandang upacara menggunakan darah hewan sebagai hal yang tidak bisa diterima. Untuk itu, sebagai gantinya diberlakukan upacara tampung tawar, upacara damai tanpa menggunakan darah. Bentuk upacara yang bisa diterima oleh semua pihak.  Upacara tampung tawar, selain mengandung sifat relijiusitas, secara etika ia pun menunjukkan keluwesan dan toleransi dalam hadat Dayak. Fleksibelitas ini pun diperlihatkan pada upacara manetek pantan , saat menerima tamu-tamu yang dihormati. Baram (tuak local) digantikan dedngan air putih. Tanduk kerbau digantikan dengan gelas.

 

Kedekatan hubungan antara ciri relijiusitas atau spiritualitas dan adat, sangat nampak pada tingkat masyarakat agraris. Apabilaa dlihat dari segi sejarah perkembangan masyarakat, ciri-ciri ini dominan di tingkat masyarakat komune primitif, perbudakan dan feodal , pada tingkat-tingkat mana alat produksi dan cara berproduksi .masih bersandar pada alam dan tangan manusia. Misalnya melindungi lingkungan dilakukan dengan pahewan, pali-pali, gana, dan meyakini bahwa setiap pohon, sungai, gunung dan lain-lain mempunyai penunggu yang harus diminta izin terlebih dahulu sebelum diolah. Barangkali hakekat dibalik yang disebut  polytheisme adalah sikap menghormati alam semesta.
Dilihat dari proses kelahirannya, hadat dan hukum adat yang demikian, nampak bahwa tujuannya tidak lain dari bagai kehidupan itu bisa diselenggarakan secara beradab sesuai dengan filosofi yang merupakan pengejawantahan Jalan Sang Pencipta sebagai sumber. Karena itu, hadat, di samping mempunyai karakteristik etik dan moral, ia pun mempunyai sifat spiritual atau relijiusitas.

 

Apabila membaca sejarah kebudayaan Dayak, akan tujuan memanusiawikan diri sendiri, kehidupan dan masyarakat, sejak Maharaja Bunu sebagai manusia pertama di bumi  (“Saran Danum Kalunen”), setelah meninggalkan Saran Danum Sangiang, ia dan turunannya membawa misi yang demikian.

 

Jadi hadat sebenarnya tidak lain dari salah satu wujud produk kebudayaan suatu masyarakat untuk membuat masyarakatnya beradab, bahadat atau manusiawi.Selain sebagai wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, hadat juga   adalah salah satu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan sebagainya. (Kluckhohn, in: Prof.Dr. Koentjaraningrat, 2004:2). Idea atau gagasan sentral hadat jadinya terletak pada upaya memanusiawikan diri sendiri sebagai manusia, kehidupan dan masyarakat.  Bagaimana memperadabkan tutur kata, perilaku warga masyarakat,  guna menciptakan masyarakat yang beradab.Sehingga kalau dilihat dari tujuan ini hadat pertama-tama adalah gagasan, ide, prinsip dasar, yang dijelmakan dalam ketentuan-ketentuan yang diterima sebagai suatu konsensus sosial dengan mana kemudian antara hidup masyarakat diatur, termasuk bagaimana berperilaku di hadapan sesama, lingkungan, alam semesta dan Sang Pencipta. Perilaku hanyalah bentuk pengejawantahan apakah prinsip dasar hidup ini dilaksanakan atau tidak. Yang tidak melaksanakan akan disebut dia bahadat dan akan didera oleh sanksi sosial.

 

Dengan adanya sanksi sosial sebagai hukum bagi yang tidak melaksanakan konsensus sosial ini, secara implisit hadat melukiskan suatu tipe manusia yang dikehendaki oleh suatu masyarakat pada suatu zaman dan ruang tertentu.

 

Tiap-tiap etnik dan bangsa sesuai dengan sejarah perkembangan etnik dan atau bangsa itu mempunyai tipe manusia yang dikehendaki sesuai konsensus sosial mereka.Hal ini dilukiskan dan disimpulkan secara baik oleh tetua dalam kata-kata “lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya’. Karena itu para tetua juga menyimpulkan agar “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Kesimpulan ini pun bertolak dari ide sentral , membangun masyarakat yang beradab atau bahadat. Dijunjung tidaknya ide sentral ini bisa diketahui dari bahasa, sebagai lumbung nilai seseorang, etnik dan atau bangsa, sehingga para tetua juga menyimpulkan pengalaman mereka dalam ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa”.. Melalui bahasa yang digunakan interlukutor bisa membaca hadat  pengguna bahasa itu. Sehingga bahasa merupakan bagian dari hadat.

 

Kalimantan Tengah sebagai  bagian dari wilayah Republik Indonesia RI), komposisi demografisnya telah mengalami perubahan drastis. Kalau dahulu dominasi Dayak sangat jelas sehingga Prof. Dr.Mubyarto setelah melakukan penelitian di Kalteng, menyebut Kalteng sebagai “The Heartland of Dayak”, oleh adanya transmigrasi masif dan eksploitasi alam yang terkadang buas (l’exploitation sauvage), yang menarik minat warga RI dari etnik-etnik lain untuk datang, maka Tanah Dayak secara demografis tidak lagi didominasi oleh Orang Dayak. Mereka beranak beristri, tinggal dan bekerja di Kalteng hingga berpuluh-puluh tahun. Tapi ironinya, tidak sedikit di antara mereka yang berbahasa Dayak pun tak bisa, apalagi mengenal adat-istiadat Dayak. Secara kebudayaan mereka masih hidup di ghetto-ghetto budaya mereka tanpa berbaur.  Kalteng hanya jadi kemah sementara mereka sebelum balik kampong. Kalteng dijadikaqn kebun halaman rumah mereka di tempat lain. Sikap beradat menurut budaya Dayak dan nilai-nilai republikan serta berkeindonesiaan, mereka niscayanbya memandang Kalteng sebagai kampong-halaman mereka sendiri.Kampung halaman mereka sesungguhnya, bukan kampunghalaman-kampunghalaman, apalagi memandangnya hanya sebagai tempat berkemah atau kebun halaman rumah mereka di tempat lain.Memandang /Kalteng secara begini, mempertahankan ghetto budaya, hanya akan memelihara benih konflik secara tidak sadar, dan menjurus ke penguasaan Kalteng sebagai tanah jajahan di zaman RI. Yang paling sesuai adalah bersikap seperti yang dirumuskan oleh Salengkat Pardosi, Kepala Kesbanglinmas Provinsi: “Saya Uluh Kalteng yang lahir di Sumatera Utara”. Artinya Pardosi merasa dirinya Uluh Kalteng (Orang Kalteng), bukan pendatang. Sebagai Uluh Kalteng, Pardosi , dalam batas kemampuannya, turut membangun Kalteng sebagai kampunghalamannya. Sikap Pardosi ini adalah sikap republkikan dan berkeindonesia, sikap bahadat. Sebagai Uluh Kalteng menguasai bahasa Dayak dan terus belajar budaya Dayak. Dengan pandangan, sikap dan praktek begini, Pardosi telah meninggalkan konsep “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”sebagai konsep usang dan kadaluwarsa. Pardosi melaksanakan wacana baru di mana langit dijunjung di situ bumi dibangun. Saya kira, Jalan Pardosi atau Jalan Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng adalah jalan yang semestinya dilakukan oleh semua Uluh Kalteng tanpa kecuali. Jalan Pardosi adalah jalan belum bahadat sesungguhnya. Sebab belum bahadat sesungguhnya tidak lain dari prinsip dasar hidup yang republikan dan berkeindonesiaan.

 

Apakah dengan memilih jalan demikian, Pardosi melepaskan budaya ibunya yaitu budaya Tapanuli? Saya kira tidak. Budaya Batak tidak bisa dibuang dari nadi Pardosi. Tapi di Kalteng, Pardosi sudah menjadi Dayak-Batak atau /uluh Kalteng sebagai pengejawantahan nilai-nilai hadat republikan dan berkeindonesiaan di Kalimantan Tengah. Republik dan Indonesia, saya kira tidak lain dari semacam hadat bagi bangsa dan negeri ini. Pengejawantahan hadat RI ini di masing-masing ruang akan disesuaikan dengan keadaan ruang tersebut sehingga membumi.Karena itu ada hadat lokal, ada  pula hadat nasional.Keduanya rasuk (compatible). Tidak bertentangan tapi saling melengkapi. Untuk pemanusiawian hidup dan masyarakat di wilayah RI, niscayanya pemerintah mengakui hadat lokal ini, sehingga .tidak terjadi apa yang dikatakan oleh Hakim Agung  Dr.Abdurahman, bahwa “Orang Dayak itu eksistensinya diakui tapi hak-haknya tidak diakui”.

 

Hadat lokal, dalam sejarahnya ada dan berlaku di masyarkakat lokal jauh sebelum RI sebagai Negara berdiri. Juga sudah ada sebelum kolonialisme tiba. Hadat lokal ini oleh Belanda diakui eksistensinya dan perannya sebagai lembaga independen. Pada masa Orde Baru , sesuai dengan pendekatannya yqng notorious yaitu  “pendekatan keamanan dan stabilitas nasional”, lembaga-lembaga adat digolkarkan.  Seperti diketahui Golkar pada masa Orde Baru Soeharto adalah partai pemerintah. Artinya lembaga adat dianeksi oleh kekuasaan demi kepentingan politiknya. Sejak itu , lembaga adat Dayak Kalteng mengalami kerusakan dan pelemahan luar biasa,. Orde Baru jauh lebih berhasil daripada kolonialisme Belanda, dalam melemahkan lembaga adat Dayak Kalteng.

 

Pada masa pemerintah gubernur Warsito Rasman, atas prakarsa antara lain LSM pertama Kalteng Talusung Damar bekerjasama dengan Universitas Palangka Raya dan Pemerintah Provinsi, sebuah seminar diselenggarakan dan mengeluarkan suatu rekomendasi kepada Pemerintah Provinsi untuk mengembalikan lembaga adat sebagai lembaga independen. Independensi ini kemudian ditarik kembali oleh Perda No. 16 Tahun 2008, yang membuat lembaga adat kembali dianeksi oleh kekuasaan. Sebagai lembaga yang dianeksi , lembaga adat kehilangan independensi dan tidak lagi bisa leluasa antara lain melakukan pengawasan social sebagai salah satu perannya. Yang menjadi pertanyaan, apakah lembaga adat perlu dianeksi oleh kekuasaan atau tidakkah lebih zamani dan perlu jika cukup dengan rekognisi (pengakuan) baik oleh pemerintah pusat mau pun oleh pemerintah daerah? Dampak dari aneksi tentu akan berbeda daripada rekognisi. Oleh aneksi, mau tidak mau, suka tidak suka, lembaga adat akan mengikuti alur politik penganeksi, sehingga hakekatnya tidak lain dari kendaraan politik saja dari penganeksi. Lembaga adat menjadi kehilangan peran sejatinya.Dan bukan tidak mungkin adat pun jadi komoditas. Dalam keadaan demikian sulit membayangkan lembaga adat bisa sangat berperan dalam mewujudkan belum bahadat, sebagai prinsip dasar hidup. Ia tidak bisa bersuara dan bertindak di hadapan perilaku dia bahadat pemegang kekuasaan. Lembaga adat akhirnya menjadi alat jinak (docile tool) kekuasaan politik, bahkan dijadikan barisan pengawal kekuasaan. Pergulatan politik di tingkat elite kekuasaan, memungkinkan  lembaga-lembaga adat yang berada di bawah kendali masing-masing elit, bisa berlaga satu dengan yang lain. Atau menyabot berkembangnya lembaga-lembaga adat. Sementara slogan “manggatang utus” (mengangkat etnik Dayak), walau pun secara substansi sangat baik dan zamani, tapi dalam keadaan tertentu, ia pun bisa menjadi slogan pencitraan kekuasaan  dan dimanafaatkan kekuasaan.Sebagai docile tool atau barisan pengawal kekuasaan, lembaga adat akan kehilangan prakarsa. Padahal prakarsa dan berkembangnya prakarsa merupakan salah satu ciri dari belum bahadat. Karena seperti dikatakan di atas, tujuan dari konsensus sosial, adalah untuk menjadikan bumi (Saran Danum Kalunen) sebagai tempat hidup anak manusia secara manusiawi dengan mutu yang terus-menerus meningkat.Tujuan ini hanya bisa dilaksanakan jika prakarsa berkembang leluasa. Keleluasaan prakarsa dan mutu prakarsa berkembang akan berjalan seiring dengan mutu sumber daya manuusia (SDM).  Oleh sebab itu peningkatan belum bahadat banyak ditentukan oleh kesadaran dan pengetahuan sehingga warga masyarakat adat menjadi aktor kemajuan diri sendiri dan masyarakat yang pintar-harati (berketerampilan dan bahadat atau berbudi) dan berkomitmen manusiawi sesuai filosofi hidup-mati manusia Dayak, “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga). Untuk terwujudnya yang terakhir ini, pendidikan melalui berbagai cara memainkan peran penting menentukan. . Bukan disandarkan pada sanksi.   Singer, sebagai bentuk sanksi hadat sesungguhnya juga dimaksudkan untuk mendidik agar anak manusia, yaitu anggota masyarakat adat itu.menghormati diri sendiri, sesama, alam semesta dan Sang Pencipta. Manusia yang beretika, bermoral, berwacana dan berkomitmen manusiawi. Dari segi ini, maka belum bahadat, bisa dikatakan sebagai wacana pendidikan di kalangan masyarakat Dayak, bukan hanya suatu perilaku. Di samping itu, ia pun merupakan wacana kebudayaan, sehingga warga masyarakat adat Dayak, selain menjadi Dayak juga menjadi anak manusia yang beradab (bahadat).  Tapi anak manusia yang tidak lepas akar. Budaya lokalnya, budaya Dayak menjadi bahasanya dalam pergaulan di tingkat-tingkat lebih luas dari langit kampung-halamannya. Dalam pergaulan dengan budaya-budaya lain inilah hadat membuat dirinya kian kaya dan zamani  Yang terjadi sekarang di Kalteng justru keadaan sebaliknya. Kreativitas diganti oleh epigonisme, ciri produktif diganti oleh kemabukan konsumtif, sifat mandiri diganti oleh ketergantungan. Untuk melayani keperluan konsumtif ini, apa saja dijual, termasuk kampung-halaman dijual, tanpa berpikir panjang dan dampak-dampaknya, baik dampak publik mau pun  individual. Konsumerisme ini mengubah manusia Dayak, lebih-lebih para elitenya menjadi pedagang primer. Apa saja yang bisa dijual, dijual, termasuk kebudayaan yaitu hambaruan manusia.Ciri-ciri yang jauh dari cita-cita dan prinsip dasar hidup belum bahadat. Ciri-ciri yang jauh dari tujuan wacana belum bahadat ini dipandang sebagai modernitas, tanggap dengan yang disebut era globalisasi, tanpa mengetahui bahwa globalisasi yang dimaksudkan adalah globalisasi sebaga perkembangan mutakhir dari kapitalisme yang memperdagangkan bumi dan bahkan manusia.Mereka sama sekali tidak tahu tentang altermondial yaqng dicetuskan di Porto Alegre, sebuah kota kecil di Brasilia. Konsumerisme yang demikian berkembang di Kalteng, bertolakbelakang dengan wacana belum bahadat,  telah mengembangkan pola pikir dan mentalitas instanisme dan egoisme dikalangan manusia Dayak yang cenderung individualis dari dulu.

 

Kreativitas adalah keakraban pada keadaan. Dilihat dari temuan-temuannya maka kreativitas itu hakekatnya adalah pemberontakan terhadap ketidak adilan dan segala yang tidak manusiawi. Termasuk ketidakmanusiawian dan ketidakadilan yang terdapat pada hukum  formal. Terhadap hokum begini, sesuai dengan filosofi Dayak yang Utus Panarung maka penafisran belum bahadat antara lain sebagai “taat pada hukum (hukum Negara, hukum adat dan hukum alam)” saya khawatirkan merupakan perumusan berbahaya. Sebab bisa berkembang menjadi ketaatan membuta, dan menjadi alat jinak kekuasaan tanpa mengindahkan apakah hukum itu adil , manusiawi atau tidak. Hukum tidak selamanya adil dan manusiawi. Hukum bukan Sang Pencipta tapi diciptakan oleh manusia sehingga terbuka pada kesalahan bahkan ketidakmanusiawian. Pembatalan ratusan Perda oleh Mendagri dan revisi beberapa pasal UU oleh Mahkamah Konsitutsi tidak lain dari bukti dari terbukanya Perda dan UU pada kesalahan dan ketidakaqdilan..Karena itu belum bahadat menurut filosofi Dayak adalah termasuk keberanian melawan ketidakadilan dan ketidam manusiawia yang terdapat pada hukum dan peraturan-peraturan. “Diam , tidak melawan kita akan dibunuh” (silence on tue), tulis filosof Perancis Andre Glucksman.

 

Kalau pengamatan saya benar, saya melihat bahwa lembaga adat sesungguhnya merupakan gantungan harapan masyarakat lapisan bawah untuk membela hak-hak mereka dan memberdayakan diri, terutama masyarakat Dayak. Apabila lembaga adat ini lemah seperti sekarang, bahkan terkontaminasi oleh virus yang ditebarkan oleh “uang sang sang raja” (l’argent roi), saya tidak bisa optimis melihat ke depan. Yang saya lihat jelas, jika tidak segera ada pemberdayaan lembaga adat, tindakan-tindakan dia bahadat akan makin menjadi-jadi. Berharap sekali bahwa saya salah.Belum bahadat akhirnya tinggal jargon atau slogan politik kosong. Hidup berharkat dan bermartabat tak obah cakrawala nampak di mata tapi tak teraih tangan.Cakrawala nampak itu pun berada di genggaman “uang sang raja”.

 

Dengan lemahnya lembaga-lembaga adat, masyarakat, terutama masyarakat  Dayak, tidak lagi mempunyai sarana untuk melakukan pengawasan sosial dan alat untuk membela dan memperjuangkan hak-hak dan kepentingan mereka, lebih-lebih dalam keadaan. Negara meninggalkan warganegaranya sehingga masyarakat menjadi masyarakat otopilot. Untuk memperkuat kembali lembaga adat, barangkali pertama-tama pemahaman tentang apa hakekat yang disebut belum bahadat sebagai wacana  perlu jelas-jemelas. Kejelasan dalam pemahaman merupan condition sine qua non penguatan lembaga adat dan terwujudnya prinsip dasar hidup belum bahadat. Pemahaman mendalam ini bisa diperoleh apabila kita seperti dikatakan oleh mantan Presiden RI Abdurrahrahman Wahid, jika “bila mau mengembangkan alat-alat “kultural” yang senada, seperti pepatah Minangkabau “bule’ aia di pambuluah, bule’ kato di mufakat” (bulat air di pancuran, bulat kata karena mufakat), yang menunjukkan kepada kita, segala sesuatu harus dimusyawarahkan. Dan, pendapat yang berjumlah kecil harus mematuhi pendirian yang berjumlah besar, sedangkan yang besar harus menghargai pendapat mereka yang berjumlah kecil”.( in:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/28/opini/1110135.htm,28 Juni 2004). Saling mendengar dan saling memberikan tempat cukup lapang bagi kebenaran pihak lain, apalagi dalam pencarian yang bersifat pemikiran atau ide. Pendekatan kekuasaan dan kekuatan tidak memberikan tempat lapang begini dan membuat kemampuan mendengar jadi berkurang. Padahal segalanya bermula dari pikiran atau pemahaman. Sehingga sebagaimana ditulis oleh tajuk rencana Harian Kompas, Jakarta (20 April 2012): “Tanpa rekayasa dan intervensi sistematis untuk membalikkan kondisi ini, sama saja kita kita sedang membangun bangsa konsumen raksasa dan gali kubur sendiri”. Peringatan Tajuk Rencana Harian Kompas ini pun juga dialamatkan kepada Kalimantan Tengah, yang jika mau jujur mempunyai ciri-ciri masyarakat daerah jajahan. Dengan kata lain, perubahan masyarakat (transformasi sosial) melalui rehumanisasi sosial merupakan agenda yang pengabaiannya akan membuat liang kubur menganga lebar. Dilaksanakan tidaknya prinsip dasar hidup holistik belum bahadat jadinya, terutama dan pertama-tama oleh pengelola kekuasaan dan elite masyarakat terlebih dahulu dahulu merupakan keniscayaan mendesak.***

 

*). Saya tidak menuliskan belum bahadat dengan ortografi belom bahadat, sebagaimana yang yang digunakan oleh Perda No.16 Tahun 2008 dan banyak penulis. Sebab dalam bahasa Dayak Ngaju, sebuah kosakata dibaca sebagaimana ia ditulis, dan ia ditulis sebagaimana kosakata itu diucapkan. Bahasa Dayak Ngaju  tidak mengenal perbedaan antara yang diucap dengan yang ditulis. Apabila kosakata belum ditulis sebagai belom maka ia dibaca belom bukan belum. Belom adalah kosakata yang tidak dikenal oleh bahasa Dayak Ngaju. Artinya antara fonetik dan ortogrqafik tidak ada perbedaan. Sampai sekarang dalam bahasa Dayak Ngaju terdapat kesimpang-siuran ortografi. Karena itu seniscayanya kesimpangsiuran ini diselesaikan melalui suatu kongres atau konfrensi daerah tentang bahasa Dayak Ngaju.

MEMBACA SKEMA PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAYAK SIDIK USOP

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

 

MEMBACA SKEMA PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAYAK

SIDIK USOP

 

Oleh Kusni Sulang

 

Di bawah ini adalah skema perkembangan kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah yang telah direvitalisasi yang dilukiskan oleh Sidik R. Usop dalam makalah bedahannya terhadap buku Dr.Muhammad dan Abubakar , H.M, dua peneliti dari Sekolah Tinggi Islam Negeri (STAIN) Palangka Raya, ”Falsafah Hidup Budaya Huma Betang Dalam Membangun Kdrukunan Hidup Umat Beragama Di Kota Palangka Raya , Kalimantan Tengah” (Aditya Media Publishing, Malang 20100. Pembedahan buku ini berlangsung pada 13 April 2012 di Gedung Biru Harian Kalteng Pos, Palangka Raya.

Selanjutnya skema yang merupakan bagian dari makalah bedahan berjudul ”Memahami Budaya Betang Dalam Perspektif Integrasi Sosial.Refleksi natas Pemikiran Dr. Muhammad, Abubakabar H.M, tentang Huma Betang Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah” ini, saya namakan Skema Sidik.

 

Revitalisasi Kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah

Kebudayaan

Dayak

Pengetahuan atau

Nilai- nilai

Makna Refleksi
Budaya Betang

 

 

 

 

 

Pakat Dayak

 

 

 

 

Utus

 

 

 

Pahewan

 

 

 

Manakir petak

 

 

 

Budaya Pantan

 

 

 

Isen Mulang

Masyarakat multikultur yang menghargai perbedaan.

Integrasi dalam kehidupan pluralis

 

Kerjasama toleransi dan partisipasi

 

 

 

Jati diri/ Harga diri

 

 

 

Kelestarian lingkungan alam

 

 

Berjuang untuk mencapai keberhasilan

 

 

Keterbukaan terhadap pendatang dari luar

 

 

Pantang mundur

Inspirasi perjuangan masyarakat Dayak

 

 

 

 

Identitas komunal

 

 

 

 

Batas- batas budaya (cultural boundaries) yang tidak bisa di ganggu

Perlindungan atau pencegahan kerusakan alam

 

Perang melawan ketidakadilan

 

 

Semangat egaliter dan tetap mempertahankan jati diri

 

Keuletan, ketangguhan dan orientasi pada prestasi

 

Perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat warga Betang agar menjadi tuan dinegeri sendiri

 

 

Kebangkitan warga Dayak menghadapi tantangan hidup yang selama ini menghimpit mereka

 

Kesejajaran Harkat dan martabat orang Dayak dengan  komunitas lainnya.

 

Eksploitasi sumber daya hutan yang merugikan masyarakat

 

 

Perubahan terhadap struktur yang telah lama membelenggu warga Dayak

 

Konsekuensi dalam pergaulan dalam masyarakat multikultur

 

 

Tantangan dalam menghadapi globalisasi

 

 

Skema Sidik di atas ini memasukkan dalam kolom Kebudayaan Dayak yang direvitalisasi adalah   Budaya Betang, Pakat Dayak, Utus, Pahewan, Manakir Petak,  Budaya Pantan dan Isen Mulang. Kolom-kolom lain adalah “pengetahuan atau nilai-nilai”, “makna” dan “refleksi”.  Dari kolom-kolom ini, Nampak Dr. Sidik R. Usop, Pembantu Dekan I Fakultas Fisipol Universitas Palangka Raya (Unpar) , berupaya mensistematikkan perkembangan kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah, nilai kandungan budaya yang direvitalisasi itu, makna kekiniannya dan faedahnya untuk kehidupannya kekinian. Upaya ini patut dihargai, apalagi upaya kecendekiawanan  begini termasuk langka dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi di Kalimantan Tengah. Dari segi lain, upaya ini menunjukkan sikap peduli dan keberpihakan Sidik, bahwa ilmu niscayanya diabdikan kepada pemajuan dan pemanusiawian hidup dan masyarakat. Tentu saja bukan sikap atau pendirian baru, tetapi sekali pun demikian, tidak berarti menjadi praktek semua orang yang berpendidikan tinggi. Upaya Sidik ini juga memperlihatkan bahwa selain mempunyai pendidikan tinggi, ia adalah seorang cendekiawan. Karena tidak semua yang berpendidikan tinggi atau bergelar akademi adalah cendekiawan.

 

Untuk membaca Skema Sidik di atas, saya meminjam pandangan penulis-penulis berikut.

 

Kosakata kebudayaan berasal dari kata  Sanskerta buddayah , ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Sehingga ke-budaya-an dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal dalam upaya memanusiawikan diri serta menjawab tantangan zaman. Dalam kata-kata P.J.Zoetmulder, kebudayaan adalah “daya dari budi, kekuatan dari akal” (P.J.Zoetmulder, 1951).

 

Bidang-bidang dan hasil-hasil kegiatan “daya dari budi, kekuatan dari akal ini” di mana pun di dunia ini, menurut Koentjaraningrat, mencakup  tujuh unsur, yaitu: (1). Sistem religi dan upacara keagamaan; (2). Sistem dan organisasi kemasyarakatan; (3). Sistem pengetahuan; (4). Bahasa; (5). Kesenian; (6). Sistem matapencaharian; (7). Sistem tekhnologi dan peralatan. (Koentjaraningrat, 2004:2).

 

Tujuh unsur universal kebudayaan itu, masih menurut Koentjaraningrat, “paling sedikit  mempunyai tiga wujud”,  yaitu (1). Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan  nilai-nilai, norma-norma, peraturan–peraturan , dan sebagainya. (2). Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam  masyarakat. (3). Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia (ibid). Tiga wujud yang juga berlaku di mana pun juga di dunia ini.  Wujud kedua dan ketiga, sebenarnya bermula dari wujud pertama yaitu “suatu kompleks dari ide-ide, gagasan  nilai-nilai”. Karena itu “suatu kompleks dari ide-ide, gagasan  nilai-nilai” adalah sari atau hakekat dari kebudayaan itu. Sedangkan wujud  kedua dan ketiga , wadah tempat menuangkan hakekat yang bersafrang di pola pikir dan mentalitas manusia. Pada jiwa dan otak manusia.  Sehingga pertarungan kebudayaan adalah suatu pergulatan merebut hati dan otak manusia.

 

Mengenai masalah hakekat ini, Prof. Dr.Koentjaraningrat  meminjam konsep antropolog suami-istri Clyde Kluckhohn dan Florence Kluckhohn, yang dipandangnya bersifat universal, antara lain menulis bahwa  “kerangka Kluckhohn tengtang sistem nilai budaya berlaku untuk  semua kebudayaan di dunia in”. Kerangka Kluckhohn, yang universal itu tentang soal hakekat ini mencakup  lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu: (1). Hakekat hidup manusia; 2). Hakekat dari karya manusia; (3). Hakekat dari kedudukan  manusia dalam ruang dan waktu; (4). Hakekat hubungan manusia dengan alam sekitar; (5). Hakekat hubungan manusia dengan sesama (in:Koentjaraningrat, 2004: 27-28).

 

Skema Sidik di atas menyebut dalam kolom Kebudayaan Dayak tujuh item, yaitu  Budaya Betang, Pakat Dayak, Utus, Pahewan, Manakir Petak  Budaya Pantan dan Isen Mulang. Ketujuh item ini, jika dilihat secara hakiki,semuanya tergolong dalam “ Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam  masyarakat”.

 

Prof. Dr.Koentjaraningrat (yang juga adalah guru saya ketika di Universitas Gajah Mada). Koentjaraningrat juga meminjam konsep antropolog suami-istri Clyde Kluckhohn dan Florence Kluckhohn, yang menurut Koentjaraningrat konsep suami-istri Kluckhohn ini bersifat universal. Menurut kerangka Kluckhohn, semua sistem nilai budaya   di semua kebudayaan di dunia ini, mengenai lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu: (1). Hakekat hidup manusia; 2). Hakekat dari karya manusia; (3). Hakekat dari kedudukan  manusia dalam ruang dan waktu; (4). Hakekat hubungan manusia dengan alam sekitar; (5). Hakekat hubungan manusia dengan sesama (in:Koentjaraningrat, 2004: 27-28). Dari kelima hakekat ini, barangkali yang paling mendasar adalah hakekat hidup manusia karena hakekat hidup inilah yang kemudian memberi roh pada empat hakekat lainnya. Menjadi roh kehidupan manusia.

 

Dilihat dari sudut pandang suami-istri Kluckhohn  tentang hakekat, maka tujuh item kebudayaan Dayak dalam Skema Sidik hanya mencakup masalah “hakekat hubungan manusia dengan sesama”. Artinya, Skema Sidik tidak berbicara tentang soal hakekat, tapi sebatas salah satu wujud kebudayaan  belaka, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam  masyarakat. Apabila kita perhatikan apa yang disebut Skema Sidik sebagai sudah direvitalisasi, yang disebut revitalisasi itu lebih banyak berupa modikfikasi bentuk

dari ”suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia” agar mednjadi ldebih kekinian dalam penampilan.. Contoh  pada upacara “manetek pantan”. Para penyambut tamu mengenakan pakaian adat yang juga baru diciptakan. Lawung dibuat seperti kopiah. Baram bisa diganti dengan air putih, disesuaikan dengan situasi dan kondisi tamu. Tanduk kerbau untuk minum diganti dengan gelas. Mengemukakan hal ini, sama sekali bukan dalam pengertian setuju atau tidak setuju, tapi sebatas untuk membaca Skema Sidik.

Kalau dahoeloe, sekitar tahun 1950, upacara manetek pantan, dilakukan sdekaligus untuk menguji kehandalan tamu yang datang.. Penyambutan dengan manetek pantan hanya dilakukan untuk tamu terpandang. Untuk menguji seberapa terpandangnya dia, maka di upacara ini, ia sering diuji diam-diam.ketika manetek pantan. Artinya tidak semua tamu yang datang disambut dengan manetek pantan.. Sering setelah diketahui bahwa sang tamu ternyata memang andal dan setanding, maka ia ditandu ke tempat upacara penerimaan selanjutnya. Pengujian ini bisa dimulai ketika tamu menarik Mandau dari sarungnya, hingga ketika ia membuka kain menutup kayu pantan. Artinya penghormatan diberikan sesuai dengan kebolehan.  Tamu yang punya kebolehan akan bersikap sebagai tamu yang beradat.

Saya masih ingat benar, ketika tamu membuka kain penutup pantan, ia ditanyai oleh tuan rumah: “Apa kehebatanmu maka berani membuka kain penutup pantan ini?”. Apakah ini sisa-sisa kebiasaan dari zaman kayau-mangayau dahoeloe? Kalau yang dari betang, apakah ini sisa dari psikhologis arsitektur betang sebagai “benteng-tempat tinggal”?  Sekarang pengujian tamu demikian sudah tidak terjadi. Manetek pantan sekarang lebih bersifat seremonial tanpa isi seperti dahoeloe, untuk menyambut tamu, terutama petinggi atau pejabat dengan bentuk lokal untuk memperlihatkan identitas diri.Lalu terkadang, gelar (galar) lokal pun dengan gampang dianugerahkan sehingga galar itu kehilangan arti. Dari keadaan demikian, nampak , bahwa modernitas  memperlihatkan pengaruhnya dengan melakukan pergeseran-pergeseran nilai. Bahwa tradisi pun berkembang. Di sinilah revitalisasi berarti memungut sarinya agar tetap zamani. Seperti dikatakan oleh Skema Sidik nilai  dasar dari  upacara manetek pantan yaitu  masyarakat Dayak adalah masyarakat terbuka, dan maknanya  adalah “semangat egaliter (baca: Sama Pangkalimanya!) dan tetap mempertahankan jati diri”. Keterbukaan masyarakat Dayak juga ditunjukkan oleh adanya  balai di dekat betang, di mana orang lewat atau tamu bisa bermalam.

Pertanyaannya: Apakah tamu-tamu atau pendatang sekarang adalah tamu-tamu yang beradat (bahadat)? Apakah Orang Dayak sekarang tidak mengidap penyakit rendah diri (sebagai salah satu akibat politik desiviliasi ragi using yang intensif dilakukan oleh ?Belanda sejak Pertemuan Tumbang Anoi 1894 sehingga malu mengaku mengaku Dayak dan berbahasa /Dayak), dan benarkah  mempunyai jati diri? Apabila dua pertanyaan ini jawabannya tidak positif, maka revitalisasi upacara manetek pantan tidak lebih dari seremonial formal berbentuk lokal. Revitalisasi dan aktualisasi nilai dan makna tidak ada.

Oleh adanya perilaku tidak beradat (dia bahadat), baik oleh tamu yang kemudian menjadi Uluh Kalteng, maupun oleh Uluh Itah (Dayak) , toleransi, keterbukaan, bisa dan sering disalah gunakan untiuk melakukan perampokan,  penindasan dan pendudukan. Di sinilah letak bahaya wacana toleransi dari filsafat budaya betang versi Perda No.16 Tahun 2008. Toleransi bisa dimaknai sebagai tuntutan untuk membiarkan. Apalagi mentalitas Orang Dayak “musuh yang dikenal  hanyalah musuh yang menyerang  secara fisik”, “menghormati tamu secara berlebihan”, “kejujuran dan kepolosan Orang Dayak dapat dengan mudah dimanfaatkan orang lain untuk menipu mereka”, “perencanaan untuk hidup masa depan masih sederhana, “kurang adanya rasa tolong-menolong dalam usaha mengangkat  derajat hidup sesama sukunya” (Tim Penyusun “Potret Sepuluh Tahun Keuskupan Palangka Raya”, Panitya Perayaan Dasawqarsa Keuskupan Palangka Raya, 2003: 15).

Selain itu, yang ingin juga saya berikan catatan adalah penilaian Skema Sidik yang menyatakan bahwa Budaya Betang mempunyai nilai “masyarakat multi kultur yang menghargai perbedaan, integrasi dalam kehidupan pluralis”.

Sejarah masyarakat Dayak memperlihatkan bahwa menghargai kemajemukan dan hidup dalam kemajemukan, bukanlah hal baru. Sejarah ini pula yang menunjukkan bahwa justru para pendatang yang kurang mempunyai kebiasaan ini, apalagi yang datang dengan maksud menduduki atau sekedar sebagai tempat berusaha. Mereka ini justru tidak gampang, untuk tidak mengatakan sama sekali tidak, berintegrasi dengan masyarakat lokal. Kalteng hanya dijadikan “kebun dari rumah mereka di tempat lain”, hanya sebagai tempat berusaha. Bila mungkin diduduki.  Berpuluh tahun hidup di Kalteng tapi tidak bisa berbahasa local, apakah ini tanda adanya integrasi? Jadi masalah dalam masyarakat multi kultur, tidak terletak pada Orang Dayak, tapi pada pihak-pihak lain. Demikian juga mengenal soal integrasi. Apabila Kalimantan /tengah merupakan kampong halaman Orang /Dayak, mereka harus berintegrasi dengan siapa? Apakah Orang Dayak yang berintegrasi dengan pendatang? Apa tidak sebaliknya sehingga lahir Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng, dan tak ada lagi istilah pendatang dan bukan pendatang. Meminta Orang Dayak beritegrasi dengan pendatang,rasanya tidak masuk akal.  Integrasi biasanya dilakukan oleh pendatang terhadap yang didatangi, bukan sebaliknya.

Skema Sidik juga memandang bahwa Budaya Betang bermakna “inspirasi perjuangan masyarakat Dayak”. Bagaimana Budaya Betang sebagai budaya telah menginspirasi perjuangan masyarakat Dayak hari ini? Budaya Betang sebagai slogan politik memang dijadikan alat  mobilisasi pada saat tertentu untuk tujuan politik tertentu, ya, tapi tidak tidak secara budaya, apalagi semacam ideologi seperti dikatakan oleh Sabran Achmad (in: Dr.Muhammad dan Abubakar,H,M, 2010: 64). Saya justru melihat bahwa  masyarakat Dayak sekarang kehilangan orientasi (disoriented society). Dan yang disebut budaya bedtang tidak dapat memberikan orientasi menggantikan yang hilang itu. Pemasangan hinting pali oleh Orang Dayak di berbagai kabupaten ketika tanah mereka dijarah oleh Perusahaan Besar Sawit, merupakan bentuk perlawanan spontan beladiri para petani /Dayak setelah mereka tidak tahu harus mengadu ke mana lagi, sedangkan alamat Tuhan mereka tidak tahu. Perlawanan spontan bedladiri ini bukan dipimpin oleh yang disebut budaya betang. Apabila bentuk perlawanan ini gagal, bukan tidak mungkin kekerasan anarkhis akan berkembang. Apakah ini bentuk dari budaya betang menjadi inspirasi perjuangan masyarakat Dayak atau bentuk frustrasi dan disorientasi ketika Negara meninggalkan mereka? Sementara mayoritas kepala daerah adalah Orang Dayak sendiri. Hinting pali dipasang bukan karena inspirasi budaya betang tapi karena terdesak secara fisik dan ekonomi Atau barangkali penjarahan tanah.harus ditoleransi atas nama tunduk hukum, saling menghorrmati atau belum bahadat? Budaya Betang seperti yang diartikan oleh Perda N0.16 Tahun 2008, tidak berperan apa-apa dalam perlawanan bela diri spontan petani Dayak.Apalagi yang disebut budaya betang itu secara perumusan filosofis sudah salah, paling tidak, tidak jelas.

Tentang menjadi tuan di negeri sendiri. Sekarang, di tahun 2012 ini dari 14 kabupaten/kota, paling tidak 10, kalau bukan 11, kepala daerahnya adalah Orang Dayak. Secara kuantitas merupakan mayoritas penguasa adalah Orang Dayak. Dari segi politik, bisa disebut Orang Dayak sudah menjadi tuan di negeri sendiri. Tapi apakah warga Dayak di kabupaten-kabupaten/Kota sudah sudah tuan riil, dalam arti  sejahtera, berpendidik tinggi, berketerampilan bersaing, mempunyai kesehatan baik, cukup penghasilan untuk hidup layak dan menyekolahkan anak-anak mereka? Menjadi tuan di  negeri sendiri berarti terjaminnya syarat-syarat bagi masyarakat untuk memanusiawikan diri dengan mutu yang terus meningkat.secara nyata, bukan berdasarkan angka-angka statistik resmi yang sering tidak mencerminkan kenyataan, dan lebih bersifat politis. /Menjadi  tuan di negeri sendiri adalah terwujudnya Dayak dan Kalteng Bermutu di segala bidang. Tapi benar bahwa menjadi tuan di negeri sendiri , dalam artian, Dayak dan Kalteng Bermutu, dengan istilah lain rakyat yang berdaulat dalam arti luas,memang menjadi tujuan.Hanya saja seperti juga halnya dengan Indonesia secara keseluruhan, rakyat bukan hanya tidak berdaulat, tapi malah belum merdeka dari kelaparan, dari kebodohan, dari penindasan dan dari keterbelakangan.

Untuk mencapai dan mewujudkan kedaulatan rakyat secara nyata persatuan (pakat, hapakat) memang sangat diperlukan. Tapi bukan pakat asal pakat tanpa prinsip sehingga menyangkal adanya kontradiksi sebagai hal yang umum.Pakat asal pakat sama dengan tidak hapakat., karena diam-diam akan terbentuk faksi. Adanya faksi membuat pakat itu hancur. .Untuk adanya pakat yang sesungguhnya perlu wacana perekat.Atas dasar wacana ini, organisasi dan program disusun, pimpinan yang visioner dan kompeten serta teruji dipilih. Beginilah Sarikat Dayak yang didirikan pada tahun 1919 oleh Hausmann Baboe dan angkatannya, kemudian pada 1926 berubah nama menjadi Pakat Dayak dengan tujuan  mewujudkan Dayak yang berdaulat, berharkat dan bermartabat.Karena keterpurukan mendera  segala bidang, . maka pemberdayaan diri pun dilakukan segala bidang.bersandar pada massa Dayak, bukan pada segelintir elite. Elite yang menjadi pemikir, insiator dan organisator, dalam hal ini Hausmann Baboe  dan aqngkatannya adalah orang-orang yang berjuang sepenuh jiwa raga, tanpa mengutamakan kepentingan diri sendiri . Sampai Hausmann Baboe dan tiga puteranya  dibunuh oleh Jepang. Tokoh pemikir, inisiator, organisator dan pendidik  seperti Hausmann sekaligus adalah seorang pemersatu. Tokoh seperti inilah yang diperlukan Uluh Itah  dan Uluh /Kalteng hari ini untuk membuat Kalteng Bermutu dan Dayak Bermutu. Tanpa tokoh-tokoh dan organisasi demikian, tidak usah berharap tentang lahirnya Dayak Bermutu dan Kalteng Bermutu. Kerjasama, toleransi dan partisipasi tanpa prinsip menjadikan rakyat sebagai  poros, tidak akan berarti apa-apa..Dengan latarbelakang benteng-tempat tinggal, hakayau kulae, mau menang sendiri seperti yang dicerminkan oleh besei kambe atau semua pangkalima, kisah Tamanggung dan Maharaja Naik Perahu, paling harat kabuat, dan mentalitas seperti yang disimpulkan oleh Keuskupan Palangka Raya di atas, masalah  hapakat sampai sekarang masih merupakan masalah besar. Hapakat bukanlah identitas komunal Dayak. Yang menjadi ciri Dayak, justru kecenderungan individualistis, solidaritas mereka sangat lemah, kecuali menghadapi agresi fisik.

Saya khawatir, mentalitas dan kecenderungan  begini membuat Orang Dayak sangat rentan terhadap bahaya menjual prinsip, lebih-lebih pada zaman di mana “uang adalah raja” (l’argent roi)… Kebangkitan Dayak dan Kalteng, pertama-tama ditentukan apakah Uluh Itah dan Uluh Kalteng mampu merobah wajah pola pikir dan mentalitasnya. Dengan kata lain mengubah kebudayaannya yang negatif. Hari ini, Orang Dayak sedang mencari dirinya. Pemunculan Budaya Betang dan Skema Sidik adalah beberapa bentuk dari pencarian diri ini.Pencarian diri ini akan terbantu apabila ada kebebasan berpendapat tanpa ancaman baik verbal, mau pun fisik (tanda lain dari ketidak.berdayaan pikir atau ketidakrajinan berpikir  –sisa dari tradisi kayau-mangayau).. Masih tersisanya tradisi kayau-mangayau ini bukan pertanda kemajuan melainkan isyarat bahwa Dayak masih tertinggal secara kebudayaan (kebudayaan sebagaimana dirumuskan di atas). Sehingga bukan tidak mungkin slogan “Manggatang Utus” (Mengangkat Dayak) menjadi selubung.pelindung dari kekerasaan, bukan sebagai seruan kebangkitan. .

Dengan kondisi sumber daya manusia, keadaan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan seperti sekarang, masalah “Manggatang Utus” yang mendasar masih jauh dari bakal terwujud segera. Bahkan, bukan tidak mungkin, apabila tidak ada kebijakan holistik yang berani dan tanggap keadaan untuk melakukan perubahan, dalam 15-20 tahun  mendatang, Dayak akan makin terpojok. Percepatan keterpurukan ini  akan menjadi empat lima kali meningkat apabila benar, ibukota Republik Indonesia berpindah ke Palangka Raya.Satu dua keluarga Dayak yang “kuat”  tidak akan menyelamatkan keadaan. Penyelamatan terjadi dengan menyelamatkan Dayak sebagai satu komunitas, bukan oleh munculnya satu dua orang atau dinasti. Utus adalah suatu komunitas, etnik atau bangsa, bukan nama bagi satu dua orang atau keluarga. Dalam keadaan begini  maka jika Dayak lengah mereka akan punah (laya akan lepah). Jalan penyelamatan Utus agaknya terletak pada pemberdayaan dan pendidikan, terutama pemberdayaan ekonomi dan peningkatan mutu sumber daya manusia. Pemberdayaan ekonomi dilakukan dengan membuka akses kepada Orang Dayak ke sumber daya alam dan  penguasaan alat-alat produksi, terutama tanah, yang sekarang dirampas dari tangan mereka. Pendidikan penyadaran dilakukan berbarengan dengan pemberdayaan ekonomi ini. Berhenti pada pemberdayaan ekonmomi saja akan menjadi sejenis ekonomisme kekinian. Salah satu sarana pemberdayaan adalah lembaga-lembaga adat. Karena itu lembaga-lembaga adat patut diperkuat dan diberdayakan agar ia menjadi organisasi masyarakat otonom , bukan menjadi lembaga yang dianeksi oleh kekuasaan. Kekuasaan cukup melakukan pengakuan (rekognisi). Barangkali inilah jalan praktis tapi strategis untuk mewujudkan slogan “Manggatang Utus” dan Kalteng Bermutu.

Utus, saya kira bukanlah  suatu “jati diri atau harga diri”. Bukan pula batas budaya (cultural boundaries) yang tidak  bisa diganggu. Saya kira, secara kosakata “utus” itu berarti turunan. Utus Dayak jadinya berarti turunan Dayak. Utus Dayak ini sering juga disebut Utus Panarung , Turunan Panarung, yang berarti Utus Pelaga atau Turunan Panarung. Oleh laganya maka Orang Dayak jadi terkenal dan bisa ditelusuri  di lika-liku sejarah Dayak. Manggatang Utus artinya Mengangkat harkat dan martabat turunan Dayak. Pengertian Utus sebagai turunan ini juga bisa dilihat dari sejarah kepemilikan di kalangan Orang Dayak. Ije Kautus, artinya satu  turunan. Uluh Itah (Orang Kita, maksudnya Dayak) adalah Uluh ije Kautus (Orang satu  turunan). Tentu saja orang satu turunan mempunyai kedekatan identitas, tapi tidak berarti Utus identik dengan “jati diri” atau harga diri”. Jati diri berbeda pula dengan harga diri.  Jati diri secara terpusat menampakkan diri dalam pandangan filosofis. Harga diri merupakan salah satu perwujudan dari tingkat penghayatan atas pandangan filosofis tersebut. Yang tidak menghayatinya tidak akan membela dan melaksanakan pandangan filosofis tersebut.Yang terakhir ini akan dengan gampang menjual dirinya atau manjual hamabruae untuk Rp.200-Rp.300 ribu (seharga seekor anjing, bahkan lebih murah lagi) seperti diperlihatkan banyak kasus dalam pilkada. Manjual hambaruan seperti ini adalah salah satu bentuk ketidaksetiaan pada pandangan filosofis Dayak sebagai Utus Panarung sama halnya dengan praktek KKN dan mdenjual kampung halaman. Jadi nampaknya ada perbedaan antara jati diri dan harga diri. Di tengah mengepideminya KKN dan di zaman “uang adalah raja”, tidak sedikit yang manjual hambaruae.—salah satu faktor yang membuat Dayak jadi terpuruk.

Oleh pengertian Utus seperti di atas, maka sering ketika berhadapan dengan etnik lain, Orang Dayak menyebut diri sebagai Utus Dayak. Sedangkan ketika berhadapan dengan sesame Dayak, mereka menyebut diri Uluh Itah atau Utus Itah, terkadang Babuhan .Itah atau Sasama Arep..Apabila orang dari satu pulau, katakan Kalimantan berhadapan dengan orang lain misalnhya di pulau Jawa, maka orang sepulau Kalimantan ini langsung merasa diri mereka sebagai satu Utus, sama-sama Uluh Itah. Apabila orang sebangsa bertemu di luar negeri, perasaan sesama Uluh Itah atau Utus Itah, orang sebangsa ini pun muncul secara otomatis. Barangkali kelak jika manusia di bumi ketemu penghuni planet lain, orang bumi akan menyebut diri sebagai Utus Itah. Apa yang ditunjukan oleh psikhologi begini? Ia menunjukan bahwa mereka berasal dari satu daerah geografis yang sama.  Di samping itu, ia punya mengatakan bahwa konsep Utus adalah suatu wacana yang terbuka. Bukan batas-batas  budaya (cultural boundaries) yang mati. Apalagi sampai “tidak bisa diganggu. Saya kira pemaknaan Utus seperti ini sesuai dengan filosofi hidup-mati manusia Dayak, “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga), sebagaimana diungkapkan dalam sastra lisan seperti sansana kayau Uluh Katingan  Dengan demikian, budaya Utus bukanlah budaya tertutup. Kekhasannya hanyalah ibarat bahasa yang berbeda dalam pergaulan antara etnik dan bangsa. Oleh sifat keterbukaan ini, sesungguhnya secara dasar, masyarakat Dayak mempunyai syarat untuk  berkembang maju, sebab.ketertutupan atau isolasionisme, lebih mengantar kita ke belakang dan ketertinggalan. “Kesejajaran harkat dan martabat Orang Dayak dengan komunitas lainnya”, pertama-tama  bukanlah terletak pada menuntut orang atau pihak  lain, tetapi pertama-tama dan paling utama adalah bagaimana Orang Dayak bekerja keras untuk berharkat dan bermartabat.Bagaimana seseorang bisa bermartabat dan berharkat, apabila dalam praktek ia dedngan gampang manjual hamabaruae? Bahkan tidak jarang, paling tidak pada periode tertentu, tidak sedikit Orang Dayak yang malu mengaku diri Dayak. Dalam pergaulan sesama Dayak pun, bahasa yang digunakan Bahasa Banjar terutama, bukan bahasa Dayak. Jika demikian bagaimana orang lain menghargai diri Dayak, kalau Dayak itu sendiri tidak menghargai dirinya? Konsep Utus, saya kira tidak mengandung masalah kedyakinan atau kepercayaan seseorang, sehingga “tidak bisa digganggu”. Konsep Utus dengan sifat keterbukaannya menjadi Orang Dayak selain menjadi Dayak, ia pun menjadi anak bangsa dan dunia sekaligus. Inilah yang disebut Dayak Kekinian atau Dayak Modern. Bukan Dayak yang bernaung di bahwa tempurung langit kampung yang kecil.Dayak Kekinian ini akan mengglobalkan budaya ibunya dan mendayakkan budaya dunia. Sehingga dengan demikian, khazanah budaya Dayak menjadi milik bangsa dan dunia. Syaratnya, pertama-tama mengenal budaya kampung halaman sendiri agar Dayak tidak menjadi lepas akar dan manusia epigon. Mengenal khazanah budaya sendiri dengan maksud untuk memperoleh sangu guna menjadi manusia berbudaya kekinian yang beridentitas.

Adanya pahewan (hutan lindung, barangkali istilah sekarang) hanyalah salah satu contoh dari khazanah budaya Dayak yang masih zamani. Demikian pula latar dari ladang berpindah, sesungguhnya tidak lain dari melestarikan lingkungan. Sekali pun khazanah budaya pahewan ini tetap zamani, tapi imbangan kekuatan politik, sosial dan ekonomi dengan kepentingan-kepentingan mereka, tidak memperlancarkan  pelaksanaan wacana orisinal ini. Jiwa orang lokal pun terkontaminasi oleh virus yang disebarkan oleh “uang sang raja”. “Uang sang raja” ini pulalah yang dengan semena-mena menuba kebudayaan, menuba pikiran dan jiwa Dayak sehingga tidak sedikit  Orang Dayak yang .hanya nama dan secara genealogis saja yang Dayak, tapi secara kebudayaan sudah bukan Dayak. Bahkan tidak mengenal apa-siapa dan bagaimana Dayak dan budayanya. Apakah mereka mengenal Tambun-Bungai yang sering disebut hampir oleh seemua orang. Apakah mereka mengenal Hausmann Baboe, pemikir, pemrakarsa dan organisator kebangkitan Dayak pertama? Lahir, besar dan dewasa serta tinggal di Kalimantan Tengah, tidak serta-merta orang tersebut mengenal dan paham Kalteng. Sehingga kalau budaya Dayak berada di pinggiran di Tanah Dayak sendiri, penyebab utamanya adalah sikap Orang Dayak sendiri. Secara tidak sadar mereka melakukan bunuh diri budaya secara kolektif. Jika ingin keadaan terpuruk ini tidak terus berlanjut, barangkali yang mendesak dilakukan adalah Orang Dayak niscaya memerangi diri sendiri untuk menegak kembangkan pola pikir dan mentalitas tanggap zaman berdasarkan khazanah budaya yang ada diperkaya dengan serapan dari unsur-unsur positif dari budaya mana pun. Pola pikir dan mentalitas diri sendiri inilah yang patut dikayau dengan semangat isen mulang, tidak pulang jika tak menang. Semangat yang sesuai dengan filosofi hidup-mati Manusia Dayak. Tapi semangat isen mulang ini pun lebih banyak jadi barang hapalan dan ucapan gagah-gagahan tanpa dihayati isi dan sejarahnya, apalagi dilaksanakan. Saya masih belum melihat kegigihan isen mulang dalam maqsyarakat Dayak Kalimantan Tengah hari ini. Yang nyata adalah semangat instanisme, mau siap pakai  tanpa berusaha keras, sampai-sampai nilai, ijazah, gelqar akademi pun dibeli. Senadainya semangat isen mulang ini benar mengalir di jiwa Orang Dayak sekarang, orang akan medlihat etos kerja yang ureh (tekun), instanisme tidak akan dilakukan. Yang dilaksanakan adalah ber-isenmulang.dengan narkoba, pornografi, kekerasan, ber KKN, menjual kampung-halaman, sehingga hasilnya cenderung membenarkan apa yang disebut Belanda tentang Dajakers, nama bagi segala keburukan, bandiitme, premanisme dan kejahatan.

Bertautan dengan semangat isen mulang ini adalah kebiasaan manakir petak (menumiti tanah) atau manakir laseh (menumiti lantai). Skema Sidik menafsirkan nilai yang terkandung dalam tindak manakir petak atau manakir laseh ini adalah pernyataan siap “berjuang untuk mencapai keberhasilan. Bermakna “perang melawan ketidakadilan”.

Saya kira, tindakan manakir laseh, manakir petak, mengenakan lawung b ahandang dan malahap, bermula dari kisah Raja Bunu meninggalkan Saran Danum Sangiang menuju Sarfan Danum Kalunen) bumi manusia). Ketika meninggalkan Saran Danum Sangiang , Raja Bunu , manusia pertama di bumi diberitahu bahwa kehidupan di Saran Danum Kalunen tidaklah gampang. Tapi penuh kesulitan. Misi ke bumi, tidak lain dari bagaimana menjadikan bumi sebagai tempat tinggal anak manusia untuk bisa hidup secara manusiawi dengan kualitas yang terus-menerus meningkat. Misi inilah yang oleh sastra lisan Dayak seperti Sansana Kayau Uluh Katingan /disebut sebagai konsep hidup-mati sebagai rengan tingan nyanak jata. Menjawab misi yang sulit demikian , Raja Bunu dan kemudian para turunannya menjawab dengan manakir petak, manakir laseh, mengenakan lawung bahandang, malahap, ungkapan dari tekad isen mulang.Dari segi ini , barangkali secara filosofis, Dayak dahoeloe memandang diri mereka adalah Messias, aktor   pemanusiawian hidup dan manusia itu sendiri. Apabila gagal menunaikan misi ini, menurut pandangan filosofi ini, Manusia Dayak gagal dalam hidup. Boleh jadi dengan latarbelakang ini pulalah maka Utus Dayak menyebut diri juga sebagai Utus Panarung. Dengan kata lain, menurut filosofi Dayak, berjuang untuk memanusiawikan manusia, hidup dan masyarakat adalah sesuatu yang hakiki. Adakah filosofi begini dikandung oleh yang disebut budaya betang baik versi Prof. H.KMA Usop, M/A, mau pun versi Perda No.16 Tahun 2008? Saya melihat  yang disebut budaya betang , versi mana pun sangat bersifat parsial dan politis praktis. .Pandangan filosofi begini hidup di bawah sadar di kalangan masyarakat Dayak, terutama yang tinggal di kampung-kampung. Filosofi inilah yang mengalir dalam jiwa mereka, bukan yang disebut budaya betang.

Keadaan masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang seperti di ataslah yang saya namakan keadaan mapan di atas kerusakan.

Jika apa yang saya tuturkan di atas, maka Skema Sidik tentang perkembangan kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, bukanlah lukisan kenyataan, tetapi lebih bersifat harapan. Sebab tujuh “wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam  masyarakat” yang diketengahkan oleh Skema Sidik dan yang dikatakan sebagai “sumber nilai-nilai dari kebudayaan Dayak yang telah mengalami transformasi dalam menanggapi realitas kehidupan”  lebih banyak berhenti di gagasan dan keinginan, kecuali upacara menyambut tamu “manetek pantan” – upacara .yang tidak membawa arti apa-apa yang praktis untuk keluar dari keterpurukan Dayak. Tujuh item “wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam  masyarakat” yang dikemukakan oleh .Skema Sidik juga tidak menyentuh masalah hakiki atau filosofi yang membimbing “kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam  masyarakat” Dayak, .yaitu  (1). Hakekat hidup manusia; 2). Hakekat dari karya manusia; (3). Hakekat dari kedudukan  manusia dalam ruang dan waktu; (4). Hakekat hubungan manusia dengan alam sekitar; (5). Hakekat hubungan manusia dengan sesama. Skema Sidik berhenti di permukaan, sehingga tidak menggambarkan parahnya keterpurukan, tidak tergambarkan bagaimana sesungguhnya Manusia Dayak hari ini mengabaikan Filosofi Dayak itu sendiri seperti filosofi hidupmati “rengan tingang  nyanak jata”, “hatamuei lingu nalata”, “hatindih kambang nyahun tarung mantang lawang langit”, konsep kecendikawanan Dayak Tunjung Nyahu, konsep manusia ideal Dayak “mamut-menteng, pintar-harati, mameh-ureh, andal dia batimpal”, konsep “sanaman leteng” dan “sanaman lampang”, filosofi “batang garing” , konsep “sorga”, dan lain-lain hal yang bersifat konseptual mendasar.Konsep-konsep ini secara kenyataan masih hidup di bawah sadar Manusia Dayak dibandingkan konsep Budaya Betang yang sangat bernuansa politis dan tidak ada kekhasan Dayaknya (kecuali pada katga betang), wacana baru yang dicetuskan pada 1995 dan tidak nampak mengakar di masyarakat. Berbeda dengan kesimpulan Skema Sidik yang mengatakan bahwa “budaya Betang merupakan inspirasi dan motivasi dalam merespon secara dinamis dan kritis terhadap internvensi politik dan ekonomi dari luar”.

 

Sekali pun demikian, upaya Sidik R. Usop mensistematikan renbungannnya tentang kebudayaan Dayak , patut dihargai , apalagi upaya kecendekiawanan begini masih sangat langka dilakukan di Kalimantan Tengah. Apa yang dikemukakan oleh Sidik R.Usop, merupakan salah satu bahan acuan berharga dalam memahami budaya Dayak lebih jauh.***

MEMAHAMI BUDAYA BETANG DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI SOSIAL

 

MEMAHAMI BUDAYA BETANG DALAM PERSPEKTIF

INTEGRASI SOSIAL

 

Refleksi atas Pemikiran Dr. Muhammad, Abubakar, H.M tentang Huma Betang dalam

Membangun Kerukunan Hidup Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah

 

Oleh : Sidik R. Usop 

Pembantu Dekan 1 Universitas Palangka Raya

Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Dayak

Yayasan Pandohop Tabela

 

Kebudayaan sebagai produk masyarakat dengan peran aktor sebagai pelaku yang mempengaruhi proses perubahan pada sistem kehidupan masyarakat, termasuk memberikan respon terhadap faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kehidupan mereka. Dalam pemikiran Berger dan Luckman (1990), hubungan aktor dengan kebudayaan disebutkannya sebagai mahluk yang dinamik dan kreatif, sehingga masyarakat adalah produk dari manusia  (society is a human product), sebaliknya lingkungan kehidupan masyarakat (struktur) akan mengontrol kehidupan manusia sebagai individu. Dengan kata lain manusia adalah produk dari suatu masyarakat (human is social  product). Konteks pemikiran ini menggambarkan terjadinya dinamika dalam kehidupan masyarakat, karena dalam realitas sosial selalu terjadi proses sosialisasi, internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai budaya, sehingga konflik dan integrasi dapat dipahami sebagai dinamika yang mendorong terjadi proses transformasi sosial. Sejalan dengan pemikiran Berger dan Lucman, Gidden (dalam Delanty, 1999) menyebutnya dengan reflexivity, bahwa manusia mempunyai ide mengenai dunia sosial dan tentang dirinya, terutama masa depannya. Ide tersebut tidak begitu saja lepas dalam dirinya tetapi masuk ke dalam dunia sosial sambil mendorong untuk mempengaruhi dan mengubahnya. Realitas sosial tersebut, dipahami sebagai dinamika struktur yang dibangun oleh aktor melalui kreativitas dan pengetahuannya untuk melakukan perubahan terhadap struktur. Gagasan pemikiran ini sangat terkait dengan upaya untuk membahas  intergasi sosial dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang pluralis dan dinamika permasalahan pembangunan yang semakin kompleks. Dalam hal ini, kebudayaan lokal, khususnya budaya Betang perlu di rekonstruksi agar dapat dipahami  oleh komunitas lain, sehingga menjadi bagian dari komunitas Betang.

 

Key words : Integrasi, betang, masyarakat dan refleksivitas

 

Pemikiran  Transformasi  Sosial

Pembangunan sebagai sebuah proses perubahan selalu dihadapkan pada perubahan nilai, dalam wujud integrasi nilai  moderen dengan nilai tradisional sebagai bentuk penyesuaian  terhadap perubahan tersebut. Dapat pula terjadi  pemaksaan  nilai-nilai baru dalam kehidupan masyarakat sehingga menimbulkan respon dan perlawanan dari masyarakat. Dinamika kehidupan masyarakat tersebut merupakan proses  dialektika hubungan antara individu sebagai aktor dan masyarakat yang mendorong terjadinya transformasi sosial dalam kehidupan masyarakat. Harus diakui pula bahwa dalam dinamika masyarakat tersebut selalu muncul konflik sebagai konsekuensi adanya perbedaan kepentingan. Namun dapat pula dipahami bahwa konflik merupakan fungsi perubahan yang mempercepat perkembangan sekaligus reintegrasi masyarakat.

Dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang pluralis, maka interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat tidak harus menyamakan nilai budaya yang berbeda, seperti nilai belom bahadat yang menghargai adat orang lain di mana pun mereka berada, tetapi dibutuhkan konformitas dari kelompok etnis yang berbeda tersebut untuk memelihara  keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Konformitas tersebut merupakan bentuk kesadaran sebagai masyarakat multikultur yang harus pula menghargai masyarakat lokal sebagai host bagi kelompok migran yang memilki latarbelakang dan budaya yang berbeda-beda. Dalam konteks inilah, nilai budaya Betang akan dipahami sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat yang pluralis. Melalui  pendekatan refleksi dengan menyelami kehidupan historis masyarakat Dayak dan  konstruksi pemikiran dalam dinamika pembangunan dan interaksi sosial yang semakin kompleks,  akan  memperlihatkan  budaya Betang sebagai fungsi integrasi.

Dalam konteks masa kini, hubungan aktor dan komunitas budaya harus dipahami sebagai sebuah kepentingan yang dibangun berdasarkan kesadaran bersama sehingga menghasilkan kesepakatan  yang mengikat semua pihak yag terlibat. Harapannya adalah terjadi suatu wujud tindakan (fraxis)  yang secara terus menerus ditanamkan ke dalam sebuah komunitas sehingga merupakan bagian praktek kehidupan sehari-hari.(habitus). Dengan demikian sebuah komunitas budaya merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat yang yang secara terus menerus membangun ide/gagasan dan nilai-nilai budaya yang adaptif terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong percepatan perubahan suatu komunitas budaya. Sikaf adaptif tersebut akan muncul dalam bentuk sosial kapital yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pembangungan.

Konteks Historis

Bagi orang Dayak Kalimantan Tengah, Budaya Betang memiliki nilai hitoris yang sangat besar pengaruhnya dalam merespons berbagai persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Konteks pemikiran ini dipahami dari peristiwa Rapat Damai Tumbang Anoi Tahun 1894 di Betang Tumbang Anoi yang dipimpin oleh Damang Batu. Peristiwa ini merupakan tonggak peradaban masyarakat Dayak  dalam interaksi antar sesama orang Dayak maupun dengan kamunitas lainnya. Kondisi ini dijelaskan  oleh Usop, KMA (1994) sebagai kebangkitan Budaya Dayak, karena inspirasi Rapat Damai Tumbang Anoi telah melahirkan perjuangan masyarakat Dayak mengangangakat Utus Dayak (harkat dan martabat orang Dayak).  Sejarah kebangkitan budaya Dayak dipahami sebagai berikut ini.

 

 

Sejarah Kebangkitan Budaya Dayak

Tahun

 Gerakan Sosial Politik

Pakat Dayak

1894

1920

1950 –

1957

1994

1995

1996

2001

2002

Rapat Damai Tumbang Anoi

 

 

 

Pakat Dayak

 

 

 

Gerakan organisasi masyarakat untuk memperjuangkan berdirinya propinsi Kalimantan Tengah.

 

Peringatan 100 tahun Rapat Damai Tumbang Anoi

 

 

Kongres Rakyat Kalimantan Tengah II

 

 

 

LMMDD-KT

 

 

Kongres Rakyat Kalimantan  III  khusus membahas konflik Etnik   Dayak dan Madura di Sampit

 

 

Musyawaarh besar Damang

Kepala Adat se Kalteng

Menghentikan Habunu (saling bunuh), Hakayau (saling potong kepala), dan Hajipen (saling merperbudak) antar sesama orang Dayak serta berlakunya hukum adat.

 

Persatuan seluruh suku Dayak, memperjuangkan ketertinggalan,  kebodohan dan mempertahankan adat leluhur orang Dayak

 

Perjuangan mendirikan propinsi Kalimantan Tengah, terlepas dari Kalimantan Selatan.

 

 

 

Merekomendasikan berdirinya LMMDD- KT untuk memperjuangkan nasib orang Dayak

 

 

-          Memperjuangkan Gubernur Putra Dayak

-          Otonami daerah

-          Hak-hak adat masyarakat Dayak

-

 

Menggagalkan droping Gubernur dari pusat

 

 

-          Penerimaan  bersyarat pengungsi Madura asal Sampit

-          Pemberdayaan masyarakat Dayak

 

 

 

Mengaktifkan peran Damang dalam menyelesaikan  konflik, hak – hak Adat dan ikut mengawasi kelestarian lingkungan alam

                    Sumber : Sidik R. Usop (2004)

                   

Rapat damai Tumbang Anoi yang berlangsung sejak 22 Mei – 25 Juli 1894, di hadiri oleh kepala suku dan kepala adat dari seluruh Kalimantan Tengah, Mahakam Kalimantan Timur, Sintang, Membaloh dari Kalimantan Barat; serta dari hulu Serawak, telah menghasilkan keepakatan  untuk menghentikan  Hakayau, Habunu dan Hajipen (Usop, 1994). Sehungnan  dengan kesepakatan tersebut Abdurarahman (1994)  yang merujuk pada buku Sejarah Kabupaten Kapuas, menyebutkan 9 prinsip yang disepakati, yaitu : (1) menghentikan permusuhan dengan pihak Belanda (2) menghentikan perang antar suku (3)  menhentikan balas dendam antar keluarga (4) menhhentikan kebiasaan adat mengayau (5) menghentikan kebiasaan adat perbudakan (6) ketentuan batas berlakunya hukum adat disamping hukum pidana perdata pemerintah (7) penyeragaman hukum adat antar suku (8) menghentikan kebiasaan hidup berpindah-pindah  dan agar menetap disuatu pemukiman tertentu (9) penyelesaian sengketa antar pribumi maupun antar kelompok oleh Rapat Adat Besar yang khusus diselenggrakan  selama pertemuan adat ini berlaku

Rapat Damai Tumbang Anoi tersebut di dipahamai Usop, (1994) sebagai  Kebijakan terobosan yang berani, karena prakarsa pihak Belanda telah mendapat respons dari tokoh adat Damang Batu untuk menyelenggarakan peristiwa tersebut. Kemudian nilai hapakat yang lahir sebagai perwujudan semangat gotong royong dan kebersamaan yang tinggi demi perdamaian. Hasilnya adalah sebuah bukti sejarah yang menunjukan  bahwa rapat damai Tumbang Anoi sebagai tonggak peradaban masyarakar Dayak Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, dampak dari Rapat Damai Tumbang Anaoi tersebut telah menumbuhkan semangat perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Dayak dengan memperkuat adat dan  mengejar ketertinggalan dan kebodohan serta  keterasingan.

Reflleksi dari Rapat Damai Tumbang Anoi tersebut menurut Usop S.R (2010) adalah : pertama,  tumbuhnya organisasi kemasyarakatan yang berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat orang Dayak dari ketertinggalan , kebodohan dan keterasingan dari komunitas lainnya. Kedua, menguatnya pemahaman betang tempat penyelenggraan peristiwa tersebut sebagai simbol masyarakat multikultur yang sangat menghormati perbedaaan-perbedaan yang secara nyata ada dalam kehidupan mereka. Ketiga, nilai belom bahadat sebagai pedoman bagi kehidupan bersama, yaitu menghormati adat istiadat yang berlaku dalam wilayah adat yang bersangkutan. Keempat, lahirnya lembaga adat yang berfungsi sebagai lembaga perdamaian adat yang berfungsi menyelesaikan perkara yang terjadi antar masyarakat. Kelima,  Berbagai kelembagaan kedayakan yang muncul pada masa Orde baru antara lain Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah; Institute Dayakology di Kalimantan Barat; Persekutuan Dayak Kalimantan Timur  dan Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan serta  Borneo Research Council (BRC)  yang melakukan kajian budaya Kalimantan.

Pada era otonomi sekarang ini, telah muncul pula beberapa kelembagaan yang terfokus pada kebijakan pembangunan Forum Gubernur Se Kalimantan; Kaukus Kalimantan yang mengembangkan pemikiran pembangunan Kawasan Kalimantan Terpadu; Dewan Adat Dayak Nasional yang merupakan perwujudan dari organisasi Dewan Adat Dayak Se Kalimantan dan Konferensi Antar University Se Borneo Kalimanatan sebagai lembaga Kajian dan seminasi hasil kajian-kajian  Kalimantan.

Inspirasi yang dapat ditarik dari perspektif historis tersebut adalah : (1) konflik dapat diphami sebagai dinamika struktur yang digerakan olek aktor untk melakukan perubahan struktur yang telah membelenggu kehidupan masarakat (2) muncul sebuah kesadaran kolektif untuk memperkuat identitas sebagai perwujudan  dari upaya untuk memerangi marginalisasi dan  tekanan politik yang mereka alami selama masa Orde Baru (3) Kesadaran kolektif tersebut pada masa otonomi daerah perlu dikembangkan dan diwujudkan dalam suatu tindakan bersama dalam sebuah jaringan kerjasama bagi percepatan pembangunan Kawasan Regional Kalimantan.

       

Perspektif  Integratif dan Konflik

Secara umum, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah adalah kelompok masyarakat yang dinamis dalam merespon masalah-masalah yang dihadapinya. Dinamika ini dapat di pahami dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Dayak yang memiliki dua sisi yang bertolak belakang, yaitu sisi konflik dan sisi integratif. Keduanya sangat dipengaruhi oleh  intensitas masalah yang dihadapi dan  peranan tokoh masyarakat  yang terlibat dalam  membantu penyelesaian masalah yang dihadapi maysarakat tersebut. Pertama, sisi konflik  yang terlihat dari masyarakat Dayak ini adalah sebelum peristiwa Rapat Damai Tumbang Anoi, yaitu pertikaian antar orang Dayak yang dikenal dengan hakayau (saling potong kepala), habunu (saling bunuh) dan hajipen (saling memperbudak).

Peristiwa di atas bisa dirujuk dari mitologi Dayak yang percaya bahwa dalam upacara tiwah diperlukan kepala manusia sebagai pengorbanan dan  korban tersebut  dapat  mengabdi  sebagai budak di lewo tatau (surga). Kepercayaan ini merupakan salah satu  sumber pertikaian antar masyarakat Dayak sehingga belakangan muncul istilah mambaleh bunu (membalas kematian) yang berarti ada pembenaran untuk melakukan tindakan pembalasan  jika salah satu warga atau keluarga ada yang mati terbunuh.  Beberapa istilah yang terkait dengan semangat konflik yang berkembang dalam masyarakat Dayak antara adalah Ela buli manggetu  hinting bunu panjang, isen mulang manetes tali kamara ambu (pantang mundur, berjuang terus, tidak akan kembali pulang sebelum mengalahkan musuh); beberapa istilah perang seperti manakir petak (perang), lahap (pekik perang), jalan bahandang (tindakan yang harus dilakukan dengan perang) dan lawung bahandang (ikat kepala merah) yang menggambarkan kesiapan untuk berperang.

Kedua, sisi integratif   terlihat dari nilai persatuan   dan     upaya   menghindari perpecahan dalam kehidupan masyarakat seperti pada ajaran berikut ini :

  • Hatangku manggeto bunu, kangkalu penang manguin betang (bersatu memenangkan perperangan, bersatu membangun kembali kehidupan).
  • Penyang ketun hinje simpei, paturung humba tamburak. Te ketun belom   panju- panjung, tau sanag-ureh ngalawan kilau bulan matan andau, tanggeren lewu mandereh danum (Bersatulah kamu dengan seluruh kekuatan, dengan satu pedoman; kamu akan hidup bahagia sejahtera seperti bulan matahari dan bitang di langit sebagai contoh teladan).
  • Amun keton penyang pangarak simpei, te ketun akan gandang tatah lewu mandereh  danum, amun paturung bakuhas tamburak, akan gandang rundung hapamantai tambun (kalau terjadi perpecahan, engkau akan diejek dan dihina oleh orang laian. Supaya dunia ini damai sejahtera hidup di dunia dan dunia lain/lewu tatau, manusia harus memilki jalan belom/pedoman hidup, yaitu haring hatungku tungket langit (ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan)

Dari legenda Dayak, dikenal Sansana Bandar yang menceritakan  seorang pimpinan spiritual Dayak  bernama Bandar yang digambarkan sebagai orang yang arif, bijaksana, cerdik, pandai serta memiliki paras yang tampan dan budi pekerti yang baik.  Beberapa ungkapan dalam bahasa sangiang (bahasa dewa-dewa) yang menganjurkan sikap integrasi yaitu  Penyang hinje simpei, paturung humba tamburak (bersatulah kamu dalam satu keyakinan, harapan dan kasih sayang);  Manjadi tanggeren lewu mandereh danum, pananggak rundung hapamantai tambun (menjadi contoh dan tauladan, kebanggaan dan pelindung bagi semua orang); Hatamuei lingu nalatai, hapangaja karendem malempang (sebelum memutuskan sesuatu keputusan hendaknya melalui komunikasi, musyawarah dan mufakat); Belum pajajewung kilau pisang tanggan tarung, raja manggigi tingkah lawang baun andau (hidup teratur bahagia, sejahtera, perkasa bagaikan awan berbaris diangkasa).

Dinamika masyarakat ini digerakkan oleh tiga kekuatan penyangga dalam kehidupan masyarakat yang dikenal dengan Garing Hatungku Tungket Langit, yaitu Pampang Saribu (kasum cerdik pandai), Pampang Erang (kaum adat) dan Gamalan Nyaho (kaum Agama). Ketiga kekuatan ini merupakan satu kesatuan yang disebut dengan Penyang huinje simpei dalam  menggerakan kekuatan masyakat untuk merespon permasalahan yang sedang dihadapai. Pada tahun 1920, muncul gerakan Pakat Dayak  yang lahir dari kesadaran bahwa  orang-orang Dayak tertinggal  dan ditinggalkan  oleh kelompok etnis  lainya karena terkait dengan pandangan yang rendah terhadap orang Dayak. Cita-cita yang ingin diperjuangkan oleh Pakat Dayak adalah kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dalam meningkatkan martabat  hidup  dan dipertahankannya adat istiadat sebagai identitas masyarakat Dayak. Perjuangan ini pun terus berlanjut untuk memisahkan diri dengan provinsi Kalimantan Selatan akibat ketertinggalan yang dirasakan komunitas Dayak, hingga  pada tahun 1957  secara resmi berdirinya provinsi Kalimantan Tengah.

 

Konsep dan Tantangan Pembangunan  Kalimantan Tengah

Realitas sosial di Kalimantan Tengah, terbentuk dari pengalaman sejarah dan pengalaman masyarakat dalam merespon masalah-masalah yang dihadapi, sehingga membentuk kesadaran bersama untuk melakukan sebuah tindakan yang mendorong suatu proses transformasi dalam kehidupan masyarakat.

Konsep pembangunan Kalimantan Tengah merupakan rumusan dari rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dalam memeberikan respons terhadap pengaruh luar yang membelenggu kehidupan mereka, sehingga terjadi interaksi dan integrasi yang memperkuat identitas Dayak  dalam menghadapai tantangan pembangunan pada masa kini. Konsep pembangunan yang  ingin mewujudkan cita-cita menjadikan warga Betang sebagai tuan di negeri sendiri, merupakan bagian dari upaya maneser panatau Tatu Hiang yang direfleksikan sebagai Manyalamat Petak Danum (menyelamat tanah air) yang meliputi :

(1) pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang arif terhadap lingkungan dan menjamin keangsungan hidup manusia. Konsep ini telah dicetuskan  dalam Musyawarah besar Damang Kepala Adat Se Kalimantan Tengah Tahun 2002 yang menghasilkan deklerasi bahwa Kalimantan Tegah sebagai Daerah Ekologi. Konteks pemikiran ini, bersumber dari simbol Batang Garing yang bermakna keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan keseimbangan hubungan antar sesama manusia. Selain itu, di Kalimantan Tengah, banyak terdapat Pahewan yang tersebar di daerah kabupaten sebagai kawasan konservasi yang dikeramatkan dan dilindungi secara adat oleh masyarakat, di samping hak-hak adat seperti Kaleka dan situs-situs budaya yang terkait dengan ritual kepercayaan kaharingan. Eksistensi adat merupakan bagian dari identitas etnik yang terus dipertahankan, termasuk upaya melawan arus globasisasi ekonomi yang akan menyngkirkan mereka dalam kehidupan ekonomi.

Kondisi ini terkait pula dengan hadirnya perkebunan kelapa sawit yang merupakan andalan dalam memberikan kontribusi pendapatan daerah , menggantikn sektor perkayuan yang sudah mulai menurun. Lebih khsus lagi kalau kebijakan pemerintah yang ingn menjadikan Pembangunan kelapa sawit sebagai Pilar ekonomi Nasional (seminar, Desember 2006 di Bali) dan  minyak sawit akan menggantikan sumber bahan bakar pengganti minyak (biofuel). Hadirnya kekuatan-kekuatan ekonomi Nsional dan Internasional di Kalimantan Tengah ini dikhawatirkan akan memarginalisasikan orang-orang Dayak dari kegiatan ekonomi dan disisi lain kelangsungan sumberdaya alam akan menggangu kehidupan mereka pada masa yang akan datang seperti  pesesan leleuhur berikut ini “Ingat peteh Tatu hiang, Petak danum akan kalunen harian andau”. Konsep ini sesuai dengan konsep lingkungan hidup yang dikenal dengan sustainable livelihood.

(2). Pemanfataan sumber daya alam bagi kesejahteraan masyarakat, dalam implimentasi kebijakan yang cenderung menepatkan masyarakat dalam posisi yang lemah, jauh dari akses informasi dan akses terhadap politik sehingga mereka tidak memiliki kemampuan  tawar yang berimbang dengan pemerintah dan pengusaha. Kondisi ini yang sering menimbulkan konflik antara masyarakat dengan pihak perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Kondisi ini tentu saja harus dicari dan digali cara-cara pengelolaan yang menempat masyarakat sebagai pelaku atau subjek pembangunan, sehingga terjadi kesimbangan yang proporsional dalam pemanfaat sumberdaya alam dan bukan orang dirugikan dalam prosees pembangunan  tersebut. Konteks ini memberi peluang bagi pemekaran kabupaten dan provinsi dalam rangka mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mempercepat proses pembangunan dan mengatasi kesenjangan pembangunan.

(3). Integrasi sosial yang menempat nilai budaya belom bahadat sebagai standar dalam hubungan antar sesame manusia dan hubungan dengan alam. Kondisi ini terkait dengan Pali (pantangan) yang tidak boleh dilanggar menurut adat orang Dayak. Nilai belom bahadat yang merupakan identitas masyarakat Dayak ini bersifat cair dan terus menerus  dikonstruksikan ke dalam kehidupan masyarakat sehingga memberikan makna penting  bukan hanya bagi orang Dayak tetapi juga dalam pergaulan yang sifatnya lebih luas. Konteks ini juga akan memberikan pemahaman bahwa, adat dan hukum adat yang ada di Kalimantan Tengah perlu direvitalisasi agar sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat pada masa kini dan menjangkau kehidupan yang akan datang. Kondisi lainnya yang perlu diantsipasi adalah adanya kebijakan landreform  yang akan menghancurkan tatanan adat dan hukum adat di Kalimantan Tengah.

(4). Penguatan institusi Kadamangan dan mengoptimalkan peran Damang Kepala Adat dalam membantu menyelesaikan konflik dan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakkat.

Eksistensi Kadamangan ini ternyata sangat membantu menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dapat mengurangi tumpukan berkas-berkas yang terlambat ditangani oleh kejaksaan. Selain itu, dimungkinkan pula terjdinya integrasi antara hukum adat dengan hukum formal sehingga dapat menjembatani kesenjangan (gap) antara hukum adat dan hukum formal.

(5). Menembus keterasingan masyarakat Dayak yang berada di bagian hulu –hulu  daerah aliran sungai di Kalimantan Tengah, sehingga mengurangi kesenjangan sosial antar masyarakat yang bermukim di perkotaan dan bagian hilir daerah aliran sungai. Kesenjangan akan berdampak terhadap pendidikan, kesehatan dan pendapatan masyarakat, sehingga  terjadi proses pembodohan dalam kehidupan masyarakat.

Pengalaman historis dari masyarakat Dayak terhadap dinamika politik dan ekonomi ini merupakan gambaran masyarakat dalam merespons permasalahan yang dihadapi dengan memahami budaya Betang sebagai sebagai perjuangan membangun rumah sendiri dan mewujudkan cita-cita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri berdasarkan konsep Betang yang meliputi : (1) kesadaran dari semua tokoh masyarakat dan elite politik bahwa masyarakat Kalimantan Tengah adalah masyarakat yang pluralis, dengan menghargai perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kebersamaan dalam proses pembangunan. (2) belom bahadat, sebagai nilai budaya yang yang mengatur kehidupan bersama dengan pemahaman di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung, yaitu menghargai adat yang berlaku dalam wilayah komunitas adat yang bersangkutan. (3) handep, yaitu gotong royong yang bersifat timbal balik (reciprocal)  dalam kebersamaan dalam proses pembangunan yang berkelanjutan, tetapi tetap mempertahankan otonomi dalam penyelenggaraan rumah tangga. (4) menyelenggarakan musyawarah dalam setiap kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama (5) menghargai orang luar atau tamu dengan berusaha memberikan kepuasan kepada tamu tersebut, walaupun kondisi mereka dalam keadaan keterbatasan. (6) warga Betang memilki hubungan kekeluargaan yang luas, karena berasal dari karak Betang, karak lewu dan masih dipertahankan sebagai kekerabatan serta keterbukaannya terhadap pendatang dari luar komunitas mereka. Bahkan warga Betang dapat menjadi lebih luas lagi dengan perkawinan lintas etnis, agama dan budaya.

 

Modernisasi dan Revitalisasi Kebudayaan

Dalam realitas kehidupan masyarakat moderen, masalah-masalah yang berkaitan dengan politik dan perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, bahkan terhadap suku asli yang tidak tersentuh dalam belahan dunia ini. Kemajuan ekonomi dan teknologi di dunia Barat telah membuktikan keunggulan ekonomi kapitalis dan pasar bebas. Dalam perdagangan internasional, negara-negara Dunia Ketiga yang telah terseret ke dalam kapitalisme dunia dan pasar bebas ternyata telah menghasilkan polarisasi yang tajam antara kaum miskin yang semakin banyak jumlahnya dengan lapisan orang-orang kaya. Salah satu faktor penyebabnya adalah akibat eksploitasi sumber daya alam untuk memperbesar pertumbuhan ekonomi  daerah dan nasional, tetapi manfaatnya belum dirasakan oleh masyarakat, bahkan kondisi ini telah menghancurkan tatanan budaya lokal dan kerusakan lingkungan. Kondisi ini merupakan penghisapan surplus ekonomi yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat dan semakain meluasnya tingkat kerusakan lingkungan.

Terhadap kondisi di atas, kalangan akademisi yang berpikir kritis dan kelompok

aliran humanis menyebutkan sebagai suatu kesadaran dalam melihat realitas kehidupan moderen sebagai kekecewaan dunia (disenchantment of the world) terhadap modernisasi yang kurang peka terhadap penderitaan kaum miskin dan kerusakan ekosistem alam.

Kebudayaan lokal dalam hal ini etnik Dayak sebagai produk masyarakat, memiliki daya tahan (sustainable) dan daya penyesuaian (adaptable) terhadap intervensi dari luar. Dalam menghadapi tantangan global kebudayaan Dayak telah mengalami transformasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat maupun sebagai penangkal bagi intervensi luar yang ingin merusak tatanan sosial dan upaya-upaya  memperbesar kerusakan lingkungan alam.

Bagi masyarakat Dayak, modernisasi yang dipahami sebagai impor dari dunia Barat dengan ideologi kapitalisme yang memiliki kecenderungan materialisme, telah menghancurkan sistem mata pencaharian masyarakat lokal dan hancurnya tatanan adat dan penghisapan atas surplus ekonomi yang seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat lokal. Mereka mengibaratkan seperti speed boat yang sedang melaju di pinggir sungai yang tidak mempedulikan ombaknya yang besar yang dapat menenggelamkan perahu-perahu kecil, mengganggu nelayan yang sedang memancing dan membasahi orang- orang yang sedang berada di batang (dermaga masyarakat). Kondisi ini telah terjadi akibat eksploitasi sumberdaya hutan secara besar- besaran oleh pengusaha HPH dan perkebunan untuk memenuhi permintaan pasaran dunia dan politik utang yang menyeret bangsa Indoneisa ke dalam ekonomi kapitalis dan pasar bebas yang merugikan masyarakat lokal tanpa melakukan kebijakan proteksi untuk mengamankan industri dalam negeri yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Kebudayaan Dayak sebagai produk masyarakat, oleh pelaku budaya lokal telah mengalami revitalisasi sejalan dengan berkembangnya pengetahuan dan nilai- nilai yang hidup dalam masyarakat sehingga menjadi pengetahuan publik dalam mengatasi atau memberi respon terhadap realitas kehidupan yang dialami pada masa kini.

Beberapa contoh sumber pengetahuan dan nilai- nilai dari kebudayaan Dayak yang telah mengalami transformasi dalam menanggapi realitas kehidupan tersebut terlihat pada tabel berikut ini :

 

Revitalisasi Kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah

Kebudayaan

Dayak

Pengetahuan atau

Nilai- nilai

Makna Refleksi
Budaya Betang

 

 

 

 

 

Pakat Dayak

 

 

 

 

Utus

 

 

 

Pahewan

 

 

 

Manakir petak

 

 

 

Budaya Pantan

 

 

 

Isen Mulang

Masyarakat multikultur yang menghargai perbedaan.

Integrasi dalam kehidupan pluralis

 

Kerjasama toleransi dan partisipasi

 

 

 

Jati diri/ Harga diri

 

 

 

Kelestarian lingkungan alam

 

 

Berjuang untuk mencapai keberhasilan

 

 

Keterbukaan terhadap pendatang dari luar

 

 

Pantang mundur

Inspirasi perjuangan masyarakat Dayak

 

 

 

 

Identitas komunal

 

 

 

 

Batas- batas budaya (cultural boundaries) yang tidak bisa di ganggu

Perlindungan atau pencegahan kerusakan alam

 

Perang melawan ketidakadilan

 

 

Semangat egaliter dan tetap mempertahankan jati diri

 

Keuletan, ketangguhan dan orientasi pada prestasi

 

Perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat warga Betang agar menjadi tuan dinegeri sendiri

 

 

Kebangkitan warga Dayak menghadapi tantangan hidup yang selama ini menghimpit mereka

 

Kesejajaran Harkat dan martabat orang Dayak dengan  komunitas lainnya.

 

Eksploitasi sumber daya hutan yang merugikan masyarakat

 

 

Perubahan terhadap struktur yang telah lama membelenggu warga Dayak

 

Konsekuensi dalam pergaulan dalam masyarakat multikultur

 

 

Tantangan dalam menghadapi globalisasi

 

 

Berdasarkan pemahaman di atas, maka budaya Betang merupakan inspirasi dan motivasi dalam merespon secara dinamis dan kritis terhadap intervensi politik dan ekonomi dari luar. Konstruksi budaya Betang ini  merupakan dinamika masyarakat lokal yang dipahami sebagai proses transformasi dalam bingkai kesadaran yang menjunjung tinggi nilai- nilai intergrasi dalam kehidupan masyarakat yang pluralis.

REFERENSI

Berger, Peter L dan Luckmann,Thomas (1990).  Tafsir Sosial atas Kenyataan Sosial. Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (terj.Hasan Basari). Jakarta: LP3 ES

Castells,Manuel (1997), The Power of Identity.  Massachusetts : Blackwell Publishers Inc.

Chaniago,Andrinof(2001). Gagalnya Pembangunan. Kajian Ekonomi Politik terhadap krisis Indonesia. Jakarta : LP3 ES

Cohen, Anthony (2000). Signifying Identities. Anthropological Perspektif on Boundaries and Contested Values. London and Newyork : Roudledge.

Delanty, Gerard (1999). Social Theory in a Change of Modernity. Cambridge : Polity Press.

Grillo, Ralph (1998), Pluralism and the Political of Difference. New York : Oxford University Press Inc.

Usop, KMA (1994). Pakat Dayak. Sejarah Integrasi dan JatidiriMasyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah, Yayasan Pendidikan Kebudayaan Batang Garing.

Usop, SR (2002). Kajian Refleksif Terhadap Pandangan Orang Dayak. Jurnal     Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Univ. Jember, Vol.3 No.3

————–(2004) Kebudayaan Dayak Dalam Tatanan Lokal, Nasional dan Global. Sosialisasi Kongres Kebudayaan V Bukit Tinggi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah

————–(2008).  Pemahaman Kebudayaan Dayak dalam Masyarakat Multikultur. Diskusi Tentang Semangat Kebangsaan dan Semangat Multikulturalisme. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah.

MANGGATANG UTUS

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S.Kusni & Anak-Anakku

MANGGATANG UTUS

Oleh Kusni Sulang

“Manggatang Utus”  sekarang merupakan slogan yang diucapkan oleh banyak orang Dayak dari berbagai kalangan dan generasi. ‘Manggatang’ dalam bahasa Dayak Ngaju berarti mengangkat. Sedangkan ‘Utus’, berarti turunan. Dalam hal ini turunan Dayak atau etnik Dayak yang juga sering disebut sebagai Utus Panarung yang berarti Turunan Pelaga, Pejuang. Panarung sering diartikan juga sebagai terkenal. Terkenal karena apa? Karena laganya, karena tarung yang dilakukannya. Tidak mungkin orang yang tidak berbuat apa-apa akan menjadi sebutan bibir banyak orang di berbagai penjuru.

Dalam kontek Utus Panarung, jika dilihat dari wacana hidup-mati dan filosofi Manusia Dayak, sebagaimana dikatakan dalam sastra lisan (budaya dominan di kalangan etnik Dayak), tarung yang dilakukan tidak lain laga untuk memanusiawikan diri sendiri, kehidupan dan maqsyarakat. Bertarung agar bumi bisa menjadi tempat hidup anak manusia secara manusiawi dengan kualitas yang terus-menerus meningkat dari saat ke saat. Gagal berbuat demikian, berarti seorang Manusia Dayak gagal menunaikan misi hidupnya. Dengan akibat ia tidak mempunyai tempat di Saran Danum Sangiang di mana  Yang Maha Kuasa tinggal. Dalam Sansana Kayau, salah sagtu bentuk puisi rakyat, Uluh Katingan misi hidup mati begini dirumuskan dalam kata-kata “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga).

Mengikuti alur pikir filosofi “rengan tingang nyanak jata ” dan sebutan Manusia Dayak sebagai Utus Panarung, seandainya Manusia Dayak melaksanakan filosofi ini, tentu mereka akan mempunyai kehidupan yang berharkat dan bermartabat sebagai anak manusia. Apabila filosofi “rengan tingang nyanak jata”  ini dihadapkan dengan slogan paling poupuler di kalangan Manusia Dayak sekarang,  maka gambaran yang diperoleh tidak lain dari kegagalan Manusia Dayak mewujudkan filosofi mereka sendiri. Sebab  dari kata “menggatang” digambarkan Manusia Dayak sekarang dalam keadaan terendam, bahkan tenggelam, terpuruk di kedalaman yang papa, terpinggir di pojok-pojok suram. Dengan ungkapan sama populernya keadaan demikian dikatakan “tempun petak batana sare, tempun uyah batawah belai, tempun kajang bisa puat” (punya tanah  berladang di tepi, punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan). Karena terendam, bahkan tenggelam, terpuruk di kedalaman yang papa, terpinggir di pojok-pojok suram. Maka Manusia Dayak patut diangkat, patut inggatang.  Di segi lain, daqri segi kesadaran, maka Manusia Dayak agaknya paham bahwa mereka berada dalam keadaan terpuruk, terendam dan paling tidak menjelang tenggelam (buseng).  Dan keadaan menjelang tenggelam ini mencakup seluruh bidang, lebih-lebih di bidang ekonomi. Paling parah terdapat pada bidang pola pikir dan mentalitas. Keterpurukan di bidang ekonomi, bisa dilihat dari kepemilikan tanah di Kalteng. Menurut angka Walhi Kalteng dan juga angka Dr.Poerwanto dan Cornelis Ley, dari Universitas Gadjah Mada yang telah dua kali melakukan penelitian di Kalteng atas undangan /guberfnur Kalteng A.Teras Narang, SH., 80 persen tanah Kalteng yang seluas 1,5 kali luas Pulau Jawa telah dikuasai oleh Perusahaan Besar Swasta (tambang dan perkebunan sawit). Jumlah 20 persen yang tersisa ini kian menyempit oleh penjarahan brutal terhadap tanah oleh PBS. Rakyat kecil di pedesaan ditinggalkan oleh Negara dan tak ada tempat mengadu. Sementara alamat Tuhan tidak mereka ketahui. Sehingga sesungguhnya Kalteng merupakan daerah yang beresiko sangat tinggi. Hal ini menunjukkan Orang Dayak telah terpisah dari alamnya, akses mereka ke alat produksi dan sumber daya alam tertutup, paling tidak pintu masuknya kian sempit. Oleh keadaan ini proses pemiskinan terhadap Orang Dayak pun berlangsung. Bermula dari pemiskinan sistematik secara ekonomi, permiskinan di bidang-bidang lain pun mengikuti dalam barisan panjang. Menggunakan istilah Hakim Agung Dr. Abdurahman “Orang Dayak itu eksisrensinya diakui, tapi hak-haknya tidak diakui” (Seminar tentang  Masyarakat Adat dan Hukum Adat di Universitas Palangka Raya, 2011).

Dalam hal sumber daya manusia (SDM), Orang Dayak oleh tingkat dan mutu pendidikan nyang dimiliki, menjadi kurang mampu bersaing dengan SDM dari luar Kalteng. Keadaan ini diperparah oleh masih berlangsungnya praktek jual-beli ijazah dan gelar. Pengangguran ‘sarjana’ masih  berlangsung dan menurut angka statistik pengangguran sarjana terbanyak terdapat di Palangka Raya. Pengangguran diberitakan turun oleh masuknya investor, tapi penggangguran yang disebut turun ini karena orang-orang terutama dari luar Kalteng sanggup bekerja dengan gaji Rp 40 ribu sehari, sedangkan orang Dayak lebih suka menakik getah atau memotong rotan atau ngebor (mencari emas) dengan cara yang dilarang hukum. Orang Perancis menyebut gaji di bawah minim ini sebgai “le salaire  de la misere” (upah kemelaratan). Disebutkan juga orang yang hidup di bawah garis kemiskinan menurun karena batas miskin tidak miskin sangat rendah, kurang dari $US.1,- per kapita. Sehingga angka pertumbuhan yang 6,7 tidak lain dari pertumbuhan yang tidak berkeadilan.

Proses pemiskinan Orang Dayak ini berlangsung ketika paling tidak 11 dari 13 kabupaten/kota kepala daerahnya adalah Orang Dayak. Artinya kesamaan etnik tidak menjamin etnik itu akan diberdayakan dan dibangun.

Melihat keadaan Kalteng sekarang akan nampak cirri-ciri daerah jajahan.Ciri-ciri daerah jajahan itu pertama-tama adalah ketergantungannya pada pihak lain .di luar dirinya. Terutama ketergantungan politik dan ekonomi. Apakah Kalteng tergantung di bidang politik dan ekonomi? Sangat tergantung, sekalipun dikatakan sekarang Indonesia menerapkan sistem otonomi daerah, tapi pada kenyataannya Jakarta masih menentukan hal-hal kunci. Oleh karena itu otonomi yang diterapkan sekarang, tidak lain dari otonomi ular. Ular yang dipegang ekornya tapi dilepaskan kepalanya. Dengan ular itu membunuh dengan kepalanya bukan dengan ekornya. Yang disebut Gubernur, sebenarnya adalah jabatan dengan kekuasaan terbatas dan dikendalikan oleh Jakarta. Jabatan yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah pusat alias Jakarta. Tetapi tidak mempunyai kuasa besar. Karena itu bupati dan walikota berani membangkanginya. Izin untuk Perusahaan Besar Swasta (PBS) masih ditentukan oleh Jakarta . Karena memburu rupiah maka terjadilah penyalahgunaan kekuasaaan berbentuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dengan akibat. Memelaratkan rakyat.

Di bidang ekonomi, Kalimantan Tengah tidak lain dari penyedia bahan mentah saja, bukan produsen barang setengah jadi. Bahan mentah itu diangkut keluar. Batu bara misalnya diangkut ke Jawa-Bali untuk sebagai sumber enerji pembangkit tenaga listrik di sana , sementara listrik di Kalteng terus- byar-pet. Bagaimana industri dan perusahaan, pembangunan  bisa lancar jika listrik tidak memadai? Pembangunan tanpa listrik adalah bualan belaka. Sumber daya alam Kalteng tidak menyehterakan penduduk yang hanya berjumlah 2,2 juta jiwa. Sebaliknya malah memelaratkan mereka secara jangka panjang dan sistematik. Tanah-tanah dijarah atau diperjual-belikan dengan harga sangat murah. Masyarakat Adat dikriminilisasikan.

Ciri lain bahwa Kalteng daerah tergantung nampak dari kenyataan bahwa provinsi ini dijadikan pasar bagi produk dari luar. Daging, sayur, bawang, cabe, apalagi barang-barang elektronik semua tergantung dari luar. Oleh ketergantungan begini maka ombak Laut Jawa pun turut mempermainkan kehidupan penduduk.Ketika ombak Laut Jawa membesar, harga bahan-bahan pokok pun melangit. Padi yang ditanam di Kalteng dibawa keluar oleh pengijon dan dimasukkan kembali ke Kalteng dengan harga lebih mahal.

Kemudian, Kalteng hanyalah menjadi sumber atau penyedia tenaga buruh murah dengan upah rata-rata Rp 40 ribu sehari. Upah begini jika satu keluarga mempunyai dua anak saja, maka pendapat demikian bisa dihitung apakah cukup atau tidak untuk menghidup satu keluarga terdiri 4 orang? Menurut angka Walhi Kalteng, dari 2,2 juta penduduk Kalteng, kurang lebih 1 juta hidup di PBS. Memang mereka mendapatkan pekerjaan, tidak menganggur, tetapi bekerja dengan gaji yang menempatkan mereka pada garis kemiskinan.

Pendapatan demikian selanjutnya diikuti oleh macam-macam penyakit sosial, termasuk anak-anak yang tidak mampu bersekolah. Apalagi sekolah gratis 9 tahun pada kenyataannya hanyalah slogan yang berbeda dengan kenyataan. Oleh pendapatan demikian pula selanjutnya berkembanglah budaya kemiskinan di kalangan kaum miskin. Budaya kemiskinan yang makin memarjinalkan kaum miskin, kaum paria provinsi (sebenarnya bisa dibaca juga sebagai Indonesia ).

Marjinalisasi kaum paria ini kian menjadi-jadi oleh sangat lemahnya mereka di hadapan Negara. Mereka tidak terorganisasi. Masyarakat Adat yang sesungguhnya bisa berperan jadi pelindung dan organisasi bertarung, sudah dilemahkan dan sangat terkontaminasi, bahkan turut melakukan kolusi dengan PBS dalam menjarah tanah petani.

Yang paling terpuruk di wilayah koloni begini adalah penduduk lokal, dalam hal ini Orang Dayak. Dari segi demografis, oleh adanya transmigrasi besar-besaran dan Keluarga Berencana yang juga berlaku terhadap Orang Dayak, sekarang penduduk Dayak sudah berada di bawah warga dari Jawa. Barangkali masih imbang dengan warga Banjar. Menurut angka WWF, di kabupaten Pulang Pisau, warga Jawa sudah berjumlah 95% sedangkan warga Dayak hanya 5%. Di kabupaten Katingan, warga Dayak berjumlah 45%, Jawa 30%, Banjar 15%, sisanya dari etnik-etnik lain seperti Batak, etnik-etnik dari Nusa Tenggara Barat.Dalam kondisi beginilah maka slogan “Manggatang Utus” muncul dan popular di kalangan Orang Dayak Kalteng. Terkadang bersamaan dengan slogan ini nampak  muncul pula gejala radikalisasi masyarakat Dayak.Tapi yang menjadi pertanyaan besar adalah:(1) Apakah Orang Dayak bisa membaca baik keadaan mengapa mereka sampai menjelang tenggelam. Apakah mereka tahu mengapa mereka terpuruk, sementara dari gubernur hingga bupati dan walikota banyak  mereka adalah Orang Dayak?

(2) Apakah mereka tahu apa dan bagaimana mesti keluar dari keadaan marjinal dan bagaimana “Manggatang Utus”?

Saya khawatir jawaban dua pertanyaan sentral ini adalah negatif sehingga “Manggatang Utus” menjadi sebuah jargon tanpa makna, kecuali lontaran dari geliat menjelang kekalahan total dari mentalitas korban yang tak berdaya. Kekhawatiran ini muncul melihat gejala kekerasan, caci-maki,  bentuk dari keputusasaan dan tidak kuatnya upaya berpikir dalam dan strategis, seakan-akan semuanya bisa diselesaikan dengan okol dan mandau  bukan akal. Bukan secara “mamut menteng, pintar harati, mameh ureh, andal dia batimpal” yang berporoskan pada pintar-harati , lebih-lebih untuk hari ini. Apalagi inti masalah “Manggatang Utus” sesungguhnya tidak lain dari bagaimana menjadikan Utus yang pintar harati,alias  Utus yang Bermutu. Bertarung melawan bahaya tenggelam tidak bisa bersandarkan pada mandau dan caci-maki tapi terutama dengan meningkatkan mutu diri dan mutu Utus. Bagaimana Utus Panarung selain berani bertarung tetapi juga pandai bertarung, berani dan pandai menang. Mayoritas pimpinan daerah adalah Orang Dayak tapi Dayak kian terpuruk mengatakan bahwa Orang Dayak hari ini pada kenyataannya tidak atau belum pandai bertarung dan belum pandai menang. Barangkali inilah sisa warisan pola pikir dan mentalitas betang sebagai benteng — tempat tinggal yang tidak disadari. Sedangkan caci maki, kekerasan, gejala radikalisasi, keroyokan selain memperlihatkan kurang rajinnya kita berpikir strategis juga merupakan bentuk budaya kayau yang tak tahu kepala siapa yang patut dipenggal. Pengarang Tiongkok tahun 1930-an, Lu Sin, berkata bahwa “caci maki bukanlah tanda kekuatan tapi kelemahan”. Sementara sebagai kayau kebingungan kian terpojok.Akhirnya lunglai oleh kelelahan sendiri lalu tenggelam  serupa kutukan terhadap pemilik senjata sanaman leteng. Dayak  Bermutu, barangkali jawaban yang paling kontekstual untuk zaman ini. Sari dari “Menggatang Utus”.  Utus itu sendiri sebenarnya adalah konsep filosofis yang  terbuka dan zamani, tidak sesempit yang dimaknai banyak orang yang menyebut diri Dayak, sekarang.

Keterpurukan Dayak  hari ini hanya mengatakan secara sederhana bahwa Orang Dayak lupa, tidak paham, bahkan tidak tahu dan tidak menghayati  wacana-wacana filosofis dasar mereka sendiri. Apa itu Kalteng, apa itu Dayak, Dayak Kekinian, Utus Panarung, Isen Mulang, apa itu Palangka Raya, Tunjung Nyahu, apa itu “mamut menteng, pintar harati, mameh ureh, andal dia batimpal”, dan lain-lain konsep filosofis  dasar Dayak? Barangkali mereka memang adalah Orang Dayak secara genealogis tapi tidak secara budaya, tidak secara filosofis. Lahir, besar dan dewasa, serta tinggal di Kalteng, tidak otomatis paham dan kenal Kalteng. Paham dan menghayati memerlukan kegiatan belajar dan penelitian tak kenal henti. Apakah  Orang Dayak rajin belajar dan meneliti? Yang sering saya hadapi adalah orang yang tidak buta aksara tapi tidak bisa membaca, bisa berkata-kata tapi tak bisa berbahasa tapi merasa diri sudah paling harat kabuat (hebat sendiri), apalagi kalau sudah menyandang gelar-gelar akademi, setara dengan tokoh Ah Q dalam novelette Lu Sin dengan judul serupa. ***

Kusni Sulang, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah (LKD-KT).

Nazar Tuding Anas dan Istri, Demokrat Cuek

Senin, 23 April 2012 | 11:27 WIB

Nazar Tuding Anas dan Istri, Demokrat Cuek  

 

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan mengatakan partainya tidak mempermasalahkan tudingan apa pun yang dilontarkan bekas bendahara partai, Muhammad Nazaruddin, terhadap sejumlah kader Demokrat, termasuk pada Ketua Umum Anas Urbaningrum dan istrinya, Athiyyah Laila.

“Mengenai masalah ini, dari Demokrat kami menyerahkan pada hukum. Biar hukum yang bicara dan bertindak,” ujar Ramadhan saat dihubungi, Senin, 23 April 2012.

Menurut Ramadhan, secara resmi melalui Ketua Dewan Pembina, Soesilo Bambang Yudhoyono, telah meminta semua kader kooperatif menegakkan hukum. Komitmen partai terhadap upaya pemberantasan korupsi, kata dia, tidak pernah berkurang.

Berbagai tudingan yang dilontarkan Nazar pada Demokrat, kata Ramadhan, hanyalah bagian kecil yang tidak mempengaruhi kinerja partai. Demokrat yakin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) punya cara dan penilaian sendiri terhadap setiap tudingan yang dialamatkan Nazar pada beberapa kader. “Kami serahkan semua pada proses hukum. Kami yakin KPK bekerja obyektif, independen, dan profesional dalam melihat suatu masalah.”

Dalam berbagai kesempatan, Nazar membeberkan keterlibatan sejumlah petinggi Demokrat dalam kasus yang dihadapinya. Tidak hanya untuk kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games, Jakabaring, Palembang, Nazar juga diduga kuat terlibat korupsi pembangunan Stadion Olahraga Hambalang di Sentul, Bogor. Untuk kasus ini, KPK telah memeriksa hingga 51 saksi.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjajanto menyatakan Komisi Pemberantasan Korupsi sedang membidik Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dalam proyek Hambalang. “Kami sekarang sedang memeriksa kasus Anas. Salah satunya kasus Hambalang,” kata Bambang, Jumat pekan lalu.

Ia menyatakan, dalam menangani kasus dugaan korupsi proyek Hambalang, KPK sudah menggali bukti dan keterangan dari perusahaan yang menggarap proyek. Ia memberi contoh PT Adhi Karya. Selain itu, kata dia, KPK akan meminta keterangan mereka yang menjadi subkontraktor dalam proyek ini.

Dalam dugaan korupsi Hambalang, KPK juga memeriksa Athiyyah Laila. Namun, dalam pemeriksaan yang dijadwalkan Jumat lalu, Athiyyah tidak hadir. Padahal, kata Bambang, keterangan Athiyyah diperlukan untuk mendapatkan bukti tambahan.

Bambang menyatakan KPK serius menelisik kasus ini. “Mudah-mudahan ada satu titik yang bisa menjelaskan adakah keterlibatan Anas atau tidak,” katanya.

Mengenai dugaan keterlibatan Anas dan istrinya ini, Ramadhan mengatakan partai Demokrat tidak akan mau jauh terlibat. Tudingan Nazar terhadap individu menjadi tanggung jawab masing-masing orang. “Mungkin bisa ditanya pada Anas, apakah benar terlibat atau tidak.”

IRA GUSLINA SUFA

 

http://www.shnews.co/detile-833-nunun-nurbaeti–dituntut-4-tahun-.html

Nunun Nurbaeti Dituntut 4 Tahun

Diamanty Meiliana | Senin, 23 April 2012 – 11:33:02 WIB
(Foto:dok/ist)Selain itu, Nunun dituntut membayar denda Rp 200 juta dan sita Rp 1 miliar.

JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan terdakwa kasus cek pelawat Nunun Nurbaeti terbukti menyuap anggota DPR untuk memenangkan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur BI.

Tuntutan JPU dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (23/4) dalam kasus cek pelawat terkait pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) pada 2004.

Dalam surat tuntutan, disebutkan pada tanggal 7 Juni 2004, Nunun meminta agar Arie yang menyerahkan cek-cek tersebut. Namun, Arie sempat menolak dengan mengatakan, “Kok saya?” Nunun pun menjawab, “Masa office boy, ini kan untuk anggota dewan.”

Nunun meyakinkan Arie bahwa dia tidak perlu bersikap aktif. “Pak Arie pasif saja, semua sudah diatur oleh bapak ini,” kata Nunun sambil menunjuk ke arah Hamka Yandhu yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Arie pun tidak kuasa menolak.

Keesokan harinya, 8 Juni 2004, bertepatan dengan hari pemilihan DGS BI, Arie dihubungi melalui telepon oleh seseorang yang mengaku dari PDI Perjuangan. Arie lalu menelepon Nunun untuk meminta petunjuk.

Nunun pun mengatakan agar Arie mengikuti arahan orang tersebut sekaligus menyerahkan tas kantong yang sudah ditandai dengan kertas warna merah. Tas tersebut berisikan cek-cek pelawat yang sudah diamplopi berdasarkan jumlahnya.

Pertemuan pun dilaksanakan di Restoran Bebek Bali, Senayan. Di sana, Arie bertemu dengan anggota Komisi IX DPR dari PDI Perjuangan Dudhie Makmun Murod. Tas tersebut diberikannya sambil mengatakan, “Ini dari ibu (Nunun).”

Usai bertemu dengan Dudhie, Arie pun ditelepon Endin J Soefihara untuk juga mengambil cek bagian Fraksi PPP. Pengambilan tas berisikan amplop cek selanjutnya dilakukan Hamka Yandhu.

Hamka, yang mewakili Fraksi Golkar, mengambil bagiannya di kantor Arie. Terakhir, Udju Djuhaeri dari Fraksi TNI/Polri datang menjelang magrib untuk mengambil bagiannya.

Keterlibatan Nunun yang disebut Arie ini diperkuat keterangan Ngatiran, pesuruh di PT Wahana Esa Sejati. Menurut JPU, kesaksian Ngatiran patut dipercaya mengingat Ngatiran adalah karyawan resmi perusahaan tersebut.

Kesaksian Ngatiran, kata JPU M Rum, juga layak dipertimbangkan karena Ngatiran ternyata adalah karyawan yang dipercaya di perusahaan tersebut. “Beberapa kali saksi Ngatiran pernah diminta mengambil uang di rekening pribadi terdakwa (Nunun),” katanya.

Sebelum sidang tim kuasa hukum Nunun berharap kliennya dapat bebas. Menurut Diarson Lubis, salah satu kuasa hukum Nunun, karena Nunun hanya diberatkan oleh satu kesaksian, yaitu dari Arie Malangjudo. “Harapan kami JPU KPK menuntut bebas klien kami,” katanya.

Kuasa hukum Nunun lainnya, Ina Rahman menambahkan, hanya Arie Malangjudo yang menyebut ada keterkaitan Nunun. Arie adalah Direktur di PT Wahana Esa Sejati, perusahaan milik Nunun.

Dalam keterangannya, Arie mengatakan bahwa ada pertemuan antara dirinya dengan Nunun dan anggota DPR Hamka Yandhu. Dalam pertemuan itu ia diminta oleh Nunun untuk membagi-bagikan amplop yang berisikan cek kepada anggota DPR.

Pertemuan itu berlangsung pada 7 Juni 2004, sehari sebelum proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) DGS BI. Pada 8 Juni 2004, Arie menjalankan tugasnya untuk mengantarkan cek dalam amplop-amplop berwarna tersebut.

“Keterangan itu dibantah Hamka Yandhu dan ibu Nunun bahwa tidak pernah ada pertemuan 7 Juni 2004. Dibantah juga oleh Dudhie dan Endin bahwa mereka tidak menerima cek pelawat dalam amplop yang berkode warna. Di sini jelas sekali bahwa keterangan Arie Malangjudo sangat mengada-ada,” kata Ina.

Kasus ini berkaitan dengan pemilihan Miranda Goeltom sebagai DGS BI. Miranda mengaku bahwa ia berinisiatif bertemu dengan beberapa anggota DPR periode 1999-2004.

Hal itu dipertegas pernyataan Nunun yang menyebutkan bahwa Miranda pernah memintanya untuk memperkenalkan beberapa anggota DPR. Nunun pun mengabulkannya sehingga terjadi pertemuan di rumah Nunun.

Pertemuan tersebut, selain dihadiri Miranda, dihadiri pula anggota DPR Paskah Suzetta, Hamka Yandhu dan Endin J Soefihara. Menurut Nunun, dalam percakapan tersebut sempat terlontar pernyataan “ini bukan proyek thank you lho.”

Selain pertemuan tersebut, Miranda juga mengadakan pertemuan dengan 18 anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI Perjuangan. Pertemuan tersebut diadakan di Hotel Dharmawangsa. Miranda mengaku bahwa dalam pertemuan tersebut ia meminta kepada mereka agar pertanyaan mengenai keluarga tidak dilontarkan dalam fit and proper test DGS BI.

Namun, menurut Agus Condro, anggota PDI Perjuangan yang hadir saat itu yang sudah menjadi mantan terpidana kasus yang sama, Miranda ingin mendapatkan keyakinan bahwa semua anggota PDIP Komisi IX memilihnya sebagai DGS BI.

Pertemuan juga Miranda lakukan dengan Fraksi TNI/Polri. Pertemuan itu diadakan di kantor pribadi Miranda di Graha Niaga. Miranda juga meminta pertemuan dengan fraksi lainnya, namun menurutnya hanya dua fraksi ini yang bersedia.

PDIP mendapat bagian sebesar Rp 9,8 miliar atau 196 cek pelawat. Fraksi Golkar mendapat 156 cek pelawat senilai total Rp 7,8 miliar. Fraksi PPP mendapat 25 cek pelawat senilai total Rp 1,25 miliar dan Fraksi TNI/Polri mendapat 40 cek pelawat senilai total Rp 2 miliar.

Nunun, dalam surat dakwaan disebutkan, juga ikut menikmati uang hasil pencairan cek pelawat tersebut. Melalui sekretaris pribadinya, Sumarni, 20 lembar cek pelawat senilai Rp 1 miliar dicairkan dan disetorkan ke rekening pribadi Nunun.

(Sinar)

Kerugian Negara Akibat Pembelian Minyak Impor

Kerugian Negara Akibat Pembelian Minyak Impor
by @TrioMacan2000
in: gelora45@yahoogroups.com

Salah satu informasi yg saya peroleh melalui teman di singapore adalah ttg harga beli minyak impor yg sangat mahal oleh Petral

Harga beli minyak mentah Petral sepanjang tahun 2011 rata2 USD 113.95/barrel. broker minyak teman saya di Singapore bilang itu ga masuk akal. Harga rata2 minyak dunia jenis brent saja (yg paling tinggi kualitasnya) pd 2011 adalah USD 80-100/barrel. Dgn harga tertinggi USD 124/barel. Selisih minyak Brent dgn minyak afrika/timur tengah pd 2011 sekitar USD 11-20/ barel. Minyak impor kita adalah jenis Afrika/timur tengah. Jk diasumsikan harga minyak mentah afrika/timur tengah melonjak tajam sepanjang tahun dan tak ada fluktuasi, harga tertingginya hny USD 108

Sebab itu teman saya yg broker minyak di Singapore geleng2 kepala kok bisa Petral beli dgn rata2 harga 2011 sebesar 113.95. Aneh bin ajaib ! Artinya ada mark up harga oleh Petral minimal sebesar USD 5 /barrel. Jika diaudit lebih rinci mark up itu bisa sampai USD 30/barrel. Gila !

Kilang minyak indonesia itu diset up hanya utk olah minyak jenis africa dan middle east yg harga minyak jauh lebih murah drpd minyak Brent. thn 2011 Petral beli minyak mentah total 66 juta barel, maka kerugian negara akibat mark up ini : USD 330 juta sampai USD 1,98 milyar (17 T)

Harga pembelian minyak produk oleh petral utk premiun thn 2011 adalah : USD 118.5 (bensin) dan USD 123,7 utk solar. Ini juga sangat mahal. Kenapa sangat mahal? Karena standar biaya pengolahan dari minyak mentah menjadi solar/bensin itu hanya sekitar Rp. 500 rupiah/liter

Teman saya yg broker minyak singapore mengatakan bhw biaya pengolahan minyak mentah menjadi bensin/solar hny sekitar USD 1.62 – 2.52/barel

Teman saya broker minyak singapore itu juga mengatakan : harga beli Petral sengaja dipertahankan selalu tinggi meskipun hrg minyak sdg turun. Sedangkan petral tetap beli minyak produk (bensi/solar) dgn harga yg tinggi dgn selisih usd 5-10/barrel. Itu ga masuk akal.. Total pembelian bensin/solar oleh Petral thn 2011 adalah 200,6 juta barel. Dengan mark up usd 5-10/barel, kerugian negara : USD 1 – 2 milyar. Singkatnya, kerugian negara akibat pembelian minyak impor (mentah dan produk pada 2011 sedikitnya USD 3.9 M atau Rp. 35 triliun

Wamen ESDM alm. Widjajono sempat kaget ketika melihat harga beli minyak produk Indonesia..kok yg dibeli petral kualitas tinggi ya?, Padahal, diinvoice memang tercatat yg dibeli kualitas tinggi, tapi yg masuk ke Indonesia sdh kualitas campuran. Oplosan.

Geger minyak impor oplosan ini sempat terkuat gara2 banyak mobil di Indonesia rusak filter oilnya gara2 oktan bensin sangat rendah. Artinya, mafia minyak sdh sangat keterlaluan. Campuran oplosannya sdh dominan minyak produk kualitas rendah. Perbandingan 1 : 3 atau 1:4

Minyak produk ( bensin dan solar) yg dibeli Petral lebih 75% dari total pembelian minyak setiap tahunnya. Kilang kita kapasitasnya kecil. Jadi sebagian besar bensin dan solar yg kita konsumsi adalah barang jadi. Logikanya : semua yg dijual SPBU adalah kelas Pertamax plus

Hebatnya lagi, karena Petral berkantor pusat di hongkong dan bertransaksi /operasional di singapore, Petral bayar pajak besar negara tsb, Selain itu, mafia minyak mengatur beli minyak mentah dari arab/afrika, lalu diolah di kilang singapore. singapore ekspor ke RI. Gilaaaa

Kenapa Petral tdk berkantor pusat dan operasional di RI? Karena takut praktek perampokan uang negara puluhan Triliun /tahun akan terbongkar, Dulu Dirut Pertamina Ary Soemarsono mau pindahkan Petral ke Batam. Gagal ! Dia yg dipecat dari jabatan Dirut Pertamina hehehe

Siapapun di Indonesia ini yg berani kutak katik mafia minyak, selama SBY dan sudi silalahi berkuasa, tak akan bisa. Terpental ke jurang hehe

Kantor Holding Petral di Hongkong hanya dummy alias ecek2. Saya rencana kemarin ke hongkong mau lihat kantor Petral Hongkong, tapi batal, Kata teman saya yg broker minyak spore : untuk apa you ke Petral Hongkong, kantornya hanya ada 4 orang aja. Hny formalitas. Ga usah deh

Jika ada pergantian pejabat tinggi yg terkait dengan bisnis Petral ini, pasti didekati oleh mafia minyak ini. Mau disumpal emas mulutnya. Seorang sesmen yg baru dilantik tahun 2005 dulu dilobi habis2an oleh istana agar mau ketemu sama mafia minyak & petral. Untung beliau tolak. Jadi utk apa SBY teriak2 utk hemat konsumsi minyak, jk harga minyak impor kita ternyata harga mark up mafia minyak? Rakyat disuruh menderita. Lebih ekstrim lagi info teman saya itu : jk impor minyak RI dilakukan sesuai mekanisme pasar, RI akan hemat lbh 20% atau Rp. 54 triliun/thn

kilang minyak kita terbatas, minyak kita dijual ke spore dan diolah oleh kilang minyak disana. Kita beli lagi dgn Standar harga MOPS + Alpha

Dahlan iskan yg teriak mau bubarkan Petral yg dikendalikan Mafia minyak langsung ciut ketika tahu ada SBY, Sudi cs dibelakang mafia itu hehe

MOPS itu adalah Mean of Platt Singapore atau harga minyak standar singapore. Alpha itu adalah faktor biaya lain2. Itulah Harga impor petral

Ketika Dahlan Iskan teriak mau tutup Petral dan minta Pertamina impor langsung, Dirut Pertamina Karen langsung balas teriak : TIDAK SETUJU. Dahlan Iskan. Langsung ciut nyalinya ketika dengar ucapan Karen. Tidak puas sampai disitu, Karen minta direksi pertamina yg mbalelo diganti. Dahlan Iskan yg kaget lihat reaksi Dirut Pertamina Karen, langsung cari tahu sana sini..siapa sih Karen? Akhirnya Dahan Iskan ciut..ngalah

Petral itu anak perusahaan Pertamina yg jadi boneka mafia minyak Riza Chalid. Dibelakanganya ada Bambang Trihadmodjo, rosana barack cs. Dahlan Iskan akhirnya “ga berani” kotak katik Petral dan Pertamina. Bahkan utk direksi Pertamina yg baru, diserahkan wewenangnya kpd Karen

Akhirnya dahlan iskan kalah 3:0 lawan mafia minyak : gagal tutup petral, gagal impor minyak langsung, tunduk pd Karen soal direksi Pertamina

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers