Ragam Pangan Masyarakat Adat, Jaminan Ketahanan Pangan Nusantara

Ragam Pangan Masyarakat Adat, Jaminan Ketahanan Pangan

Nusantara

EEN IRAWAN PUTRA <irawanputra@gmail.com>,inadatlist@yahoogroups.com , Monday, 23 April 2012, 18:48

Tobelo|ASTEKI-Kotahujan.com-Ragam makanan se-nusantara tampak tersaji dimeja-meja yang dideretkan. Rupa dan bentuk hingga cara penyajiannya sangat variatif dan menarik. Sungguh pemandangan yang membanggakan dan mengharukan. Membanggakan karena ternyata di nusantara memiliki ragam pangan yang banyak tak melulu dari beras, mengharukan karena posisi keberadaan pangan itu terancam jika masyarakat adat dipinggirkan. Ragam pangan tersebut tersaji dalam aganda Kuliner Nusantara, salah satu acara dalam rangkaian KMAN IV di Tobelo, Minggu (22/09/2012).

Dari 45 jenis masakan yang diusajikan oleh 20 utusan wilayah peserta kongres, menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kedaulatan pangan. Ditemukan variasi makanan pokok dari berbagai jenis beras, seperti beras hitam, beras merah ,baik dari ladang tadah hujan maupun sawah. Sampai dengan sagu, jagung, ubi, singkong dan lainnya. Jenis masakan tradisional yang disajikan ini, diolah dari bahan-bahan yang dihasilkan dan dibawa langsung dari kampung masing-masing.

“Konsep kuliner nusantara ini untuk menunjukkan inilah masyarakat adat memiliki kedaulatan pangan. Jadi ketika terjadi krisis pangan, krisis global atas pangan masyaraat adat tidak merasakan itu karena mereka memiliki pangan khas untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari itu,” jelas Simon Pabaras, panitia pelaksana Kuliner Nusantara.

Melalui Kuliner Nusantara, masyarakat adat ingin meneguhkan pesan bahwa diversifikasi pangan menjadi bagian penting untuk menjamin kedaulatan pangan masyarakat adat. Misalnya di Papua mereka memiliki sagu yang bisa menopang pangan ketika terjadi krisis atau di Tobelo sendiri, mereka punya ubi, pisang dan segala macam untuk bisa menopang pangan ketika terjadi krisis

Selama ini kita tergantung ke beras padahal dengan ubi dan aneka makanan jenis lainnya bisa diolah dengan kandungan gizi yang baik. Sagu bisa diangkat menjadi makanan pokok, jagung bisa diangkat menjadi makanan pokok, sehingga ancaman kekurangan pangan tidak bakalan terjadi di nusantara ini.

“Jadi kalau sudah diangkat kembali makanan ini, biarlah beras menjadi komoditas perekonomian, komoditas perdagangan. Biar makanan ini yang menjadikan kita sehat dan tidak kekurangan makanan, “ ungkap Isjaya Kaladen, Dewan AMAN Sulawesi yang juga masyarakat adat Tana Luwu.

Jenis makanan mulai dari pepeda, colo-colo, singkong bakar boboko, mantuwu, mopakaha. Hingga Ayam betutu, pisang burosksua esa, bubur pedas, tempoyak dan lainnya. Menjadi sombol keragaman kekayaan masyarakat adat. Untuk itu perlu dukungan semua pihak agar masyarakat adat tetap dapat menjaga kedaulatan atas , wilayah dan sumber daya alamnya sehingga kedaulatan atas pangan dapat terus terjaga diseluruh nusantara.

Untuk melihat video klik disini: http://kotahujan.com/2012/04/ragam-pangan-masyarakat-adat-jaminan-ketahanan-pangan-nusantara/
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: