MEMAHAMI BUDAYA BETANG DALAM PERSPEKTIF INTEGRASI SOSIAL

 

MEMAHAMI BUDAYA BETANG DALAM PERSPEKTIF

INTEGRASI SOSIAL

 

Refleksi atas Pemikiran Dr. Muhammad, Abubakar, H.M tentang Huma Betang dalam

Membangun Kerukunan Hidup Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah

 

Oleh : Sidik R. Usop 

Pembantu Dekan 1 Universitas Palangka Raya

Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Dayak

Yayasan Pandohop Tabela

 

Kebudayaan sebagai produk masyarakat dengan peran aktor sebagai pelaku yang mempengaruhi proses perubahan pada sistem kehidupan masyarakat, termasuk memberikan respon terhadap faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kehidupan mereka. Dalam pemikiran Berger dan Luckman (1990), hubungan aktor dengan kebudayaan disebutkannya sebagai mahluk yang dinamik dan kreatif, sehingga masyarakat adalah produk dari manusia  (society is a human product), sebaliknya lingkungan kehidupan masyarakat (struktur) akan mengontrol kehidupan manusia sebagai individu. Dengan kata lain manusia adalah produk dari suatu masyarakat (human is social  product). Konteks pemikiran ini menggambarkan terjadinya dinamika dalam kehidupan masyarakat, karena dalam realitas sosial selalu terjadi proses sosialisasi, internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai budaya, sehingga konflik dan integrasi dapat dipahami sebagai dinamika yang mendorong terjadi proses transformasi sosial. Sejalan dengan pemikiran Berger dan Lucman, Gidden (dalam Delanty, 1999) menyebutnya dengan reflexivity, bahwa manusia mempunyai ide mengenai dunia sosial dan tentang dirinya, terutama masa depannya. Ide tersebut tidak begitu saja lepas dalam dirinya tetapi masuk ke dalam dunia sosial sambil mendorong untuk mempengaruhi dan mengubahnya. Realitas sosial tersebut, dipahami sebagai dinamika struktur yang dibangun oleh aktor melalui kreativitas dan pengetahuannya untuk melakukan perubahan terhadap struktur. Gagasan pemikiran ini sangat terkait dengan upaya untuk membahas  intergasi sosial dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang pluralis dan dinamika permasalahan pembangunan yang semakin kompleks. Dalam hal ini, kebudayaan lokal, khususnya budaya Betang perlu di rekonstruksi agar dapat dipahami  oleh komunitas lain, sehingga menjadi bagian dari komunitas Betang.

 

Key words : Integrasi, betang, masyarakat dan refleksivitas

 

Pemikiran  Transformasi  Sosial

Pembangunan sebagai sebuah proses perubahan selalu dihadapkan pada perubahan nilai, dalam wujud integrasi nilai  moderen dengan nilai tradisional sebagai bentuk penyesuaian  terhadap perubahan tersebut. Dapat pula terjadi  pemaksaan  nilai-nilai baru dalam kehidupan masyarakat sehingga menimbulkan respon dan perlawanan dari masyarakat. Dinamika kehidupan masyarakat tersebut merupakan proses  dialektika hubungan antara individu sebagai aktor dan masyarakat yang mendorong terjadinya transformasi sosial dalam kehidupan masyarakat. Harus diakui pula bahwa dalam dinamika masyarakat tersebut selalu muncul konflik sebagai konsekuensi adanya perbedaan kepentingan. Namun dapat pula dipahami bahwa konflik merupakan fungsi perubahan yang mempercepat perkembangan sekaligus reintegrasi masyarakat.

Dalam masyarakat Kalimantan Tengah yang pluralis, maka interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat tidak harus menyamakan nilai budaya yang berbeda, seperti nilai belom bahadat yang menghargai adat orang lain di mana pun mereka berada, tetapi dibutuhkan konformitas dari kelompok etnis yang berbeda tersebut untuk memelihara  keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Konformitas tersebut merupakan bentuk kesadaran sebagai masyarakat multikultur yang harus pula menghargai masyarakat lokal sebagai host bagi kelompok migran yang memilki latarbelakang dan budaya yang berbeda-beda. Dalam konteks inilah, nilai budaya Betang akan dipahami sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat yang pluralis. Melalui  pendekatan refleksi dengan menyelami kehidupan historis masyarakat Dayak dan  konstruksi pemikiran dalam dinamika pembangunan dan interaksi sosial yang semakin kompleks,  akan  memperlihatkan  budaya Betang sebagai fungsi integrasi.

Dalam konteks masa kini, hubungan aktor dan komunitas budaya harus dipahami sebagai sebuah kepentingan yang dibangun berdasarkan kesadaran bersama sehingga menghasilkan kesepakatan  yang mengikat semua pihak yag terlibat. Harapannya adalah terjadi suatu wujud tindakan (fraxis)  yang secara terus menerus ditanamkan ke dalam sebuah komunitas sehingga merupakan bagian praktek kehidupan sehari-hari.(habitus). Dengan demikian sebuah komunitas budaya merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat yang yang secara terus menerus membangun ide/gagasan dan nilai-nilai budaya yang adaptif terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong percepatan perubahan suatu komunitas budaya. Sikaf adaptif tersebut akan muncul dalam bentuk sosial kapital yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pembangungan.

Konteks Historis

Bagi orang Dayak Kalimantan Tengah, Budaya Betang memiliki nilai hitoris yang sangat besar pengaruhnya dalam merespons berbagai persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Konteks pemikiran ini dipahami dari peristiwa Rapat Damai Tumbang Anoi Tahun 1894 di Betang Tumbang Anoi yang dipimpin oleh Damang Batu. Peristiwa ini merupakan tonggak peradaban masyarakat Dayak  dalam interaksi antar sesama orang Dayak maupun dengan kamunitas lainnya. Kondisi ini dijelaskan  oleh Usop, KMA (1994) sebagai kebangkitan Budaya Dayak, karena inspirasi Rapat Damai Tumbang Anoi telah melahirkan perjuangan masyarakat Dayak mengangangakat Utus Dayak (harkat dan martabat orang Dayak).  Sejarah kebangkitan budaya Dayak dipahami sebagai berikut ini.

 

 

Sejarah Kebangkitan Budaya Dayak

Tahun

 Gerakan Sosial Politik

Pakat Dayak

1894

1920

1950 –

1957

1994

1995

1996

2001

2002

Rapat Damai Tumbang Anoi

 

 

 

Pakat Dayak

 

 

 

Gerakan organisasi masyarakat untuk memperjuangkan berdirinya propinsi Kalimantan Tengah.

 

Peringatan 100 tahun Rapat Damai Tumbang Anoi

 

 

Kongres Rakyat Kalimantan Tengah II

 

 

 

LMMDD-KT

 

 

Kongres Rakyat Kalimantan  III  khusus membahas konflik Etnik   Dayak dan Madura di Sampit

 

 

Musyawaarh besar Damang

Kepala Adat se Kalteng

Menghentikan Habunu (saling bunuh), Hakayau (saling potong kepala), dan Hajipen (saling merperbudak) antar sesama orang Dayak serta berlakunya hukum adat.

 

Persatuan seluruh suku Dayak, memperjuangkan ketertinggalan,  kebodohan dan mempertahankan adat leluhur orang Dayak

 

Perjuangan mendirikan propinsi Kalimantan Tengah, terlepas dari Kalimantan Selatan.

 

 

 

Merekomendasikan berdirinya LMMDD- KT untuk memperjuangkan nasib orang Dayak

 

 

-          Memperjuangkan Gubernur Putra Dayak

-          Otonami daerah

-          Hak-hak adat masyarakat Dayak

-

 

Menggagalkan droping Gubernur dari pusat

 

 

-          Penerimaan  bersyarat pengungsi Madura asal Sampit

-          Pemberdayaan masyarakat Dayak

 

 

 

Mengaktifkan peran Damang dalam menyelesaikan  konflik, hak – hak Adat dan ikut mengawasi kelestarian lingkungan alam

                    Sumber : Sidik R. Usop (2004)

                   

Rapat damai Tumbang Anoi yang berlangsung sejak 22 Mei – 25 Juli 1894, di hadiri oleh kepala suku dan kepala adat dari seluruh Kalimantan Tengah, Mahakam Kalimantan Timur, Sintang, Membaloh dari Kalimantan Barat; serta dari hulu Serawak, telah menghasilkan keepakatan  untuk menghentikan  Hakayau, Habunu dan Hajipen (Usop, 1994). Sehungnan  dengan kesepakatan tersebut Abdurarahman (1994)  yang merujuk pada buku Sejarah Kabupaten Kapuas, menyebutkan 9 prinsip yang disepakati, yaitu : (1) menghentikan permusuhan dengan pihak Belanda (2) menghentikan perang antar suku (3)  menhentikan balas dendam antar keluarga (4) menhhentikan kebiasaan adat mengayau (5) menghentikan kebiasaan adat perbudakan (6) ketentuan batas berlakunya hukum adat disamping hukum pidana perdata pemerintah (7) penyeragaman hukum adat antar suku (8) menghentikan kebiasaan hidup berpindah-pindah  dan agar menetap disuatu pemukiman tertentu (9) penyelesaian sengketa antar pribumi maupun antar kelompok oleh Rapat Adat Besar yang khusus diselenggrakan  selama pertemuan adat ini berlaku

Rapat Damai Tumbang Anoi tersebut di dipahamai Usop, (1994) sebagai  Kebijakan terobosan yang berani, karena prakarsa pihak Belanda telah mendapat respons dari tokoh adat Damang Batu untuk menyelenggarakan peristiwa tersebut. Kemudian nilai hapakat yang lahir sebagai perwujudan semangat gotong royong dan kebersamaan yang tinggi demi perdamaian. Hasilnya adalah sebuah bukti sejarah yang menunjukan  bahwa rapat damai Tumbang Anoi sebagai tonggak peradaban masyarakar Dayak Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, dampak dari Rapat Damai Tumbang Anaoi tersebut telah menumbuhkan semangat perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Dayak dengan memperkuat adat dan  mengejar ketertinggalan dan kebodohan serta  keterasingan.

Reflleksi dari Rapat Damai Tumbang Anoi tersebut menurut Usop S.R (2010) adalah : pertama,  tumbuhnya organisasi kemasyarakatan yang berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat orang Dayak dari ketertinggalan , kebodohan dan keterasingan dari komunitas lainnya. Kedua, menguatnya pemahaman betang tempat penyelenggraan peristiwa tersebut sebagai simbol masyarakat multikultur yang sangat menghormati perbedaaan-perbedaan yang secara nyata ada dalam kehidupan mereka. Ketiga, nilai belom bahadat sebagai pedoman bagi kehidupan bersama, yaitu menghormati adat istiadat yang berlaku dalam wilayah adat yang bersangkutan. Keempat, lahirnya lembaga adat yang berfungsi sebagai lembaga perdamaian adat yang berfungsi menyelesaikan perkara yang terjadi antar masyarakat. Kelima,  Berbagai kelembagaan kedayakan yang muncul pada masa Orde baru antara lain Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah; Institute Dayakology di Kalimantan Barat; Persekutuan Dayak Kalimantan Timur  dan Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan serta  Borneo Research Council (BRC)  yang melakukan kajian budaya Kalimantan.

Pada era otonomi sekarang ini, telah muncul pula beberapa kelembagaan yang terfokus pada kebijakan pembangunan Forum Gubernur Se Kalimantan; Kaukus Kalimantan yang mengembangkan pemikiran pembangunan Kawasan Kalimantan Terpadu; Dewan Adat Dayak Nasional yang merupakan perwujudan dari organisasi Dewan Adat Dayak Se Kalimantan dan Konferensi Antar University Se Borneo Kalimanatan sebagai lembaga Kajian dan seminasi hasil kajian-kajian  Kalimantan.

Inspirasi yang dapat ditarik dari perspektif historis tersebut adalah : (1) konflik dapat diphami sebagai dinamika struktur yang digerakan olek aktor untk melakukan perubahan struktur yang telah membelenggu kehidupan masarakat (2) muncul sebuah kesadaran kolektif untuk memperkuat identitas sebagai perwujudan  dari upaya untuk memerangi marginalisasi dan  tekanan politik yang mereka alami selama masa Orde Baru (3) Kesadaran kolektif tersebut pada masa otonomi daerah perlu dikembangkan dan diwujudkan dalam suatu tindakan bersama dalam sebuah jaringan kerjasama bagi percepatan pembangunan Kawasan Regional Kalimantan.

       

Perspektif  Integratif dan Konflik

Secara umum, masyarakat Dayak Kalimantan Tengah adalah kelompok masyarakat yang dinamis dalam merespon masalah-masalah yang dihadapinya. Dinamika ini dapat di pahami dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Dayak yang memiliki dua sisi yang bertolak belakang, yaitu sisi konflik dan sisi integratif. Keduanya sangat dipengaruhi oleh  intensitas masalah yang dihadapi dan  peranan tokoh masyarakat  yang terlibat dalam  membantu penyelesaian masalah yang dihadapi maysarakat tersebut. Pertama, sisi konflik  yang terlihat dari masyarakat Dayak ini adalah sebelum peristiwa Rapat Damai Tumbang Anoi, yaitu pertikaian antar orang Dayak yang dikenal dengan hakayau (saling potong kepala), habunu (saling bunuh) dan hajipen (saling memperbudak).

Peristiwa di atas bisa dirujuk dari mitologi Dayak yang percaya bahwa dalam upacara tiwah diperlukan kepala manusia sebagai pengorbanan dan  korban tersebut  dapat  mengabdi  sebagai budak di lewo tatau (surga). Kepercayaan ini merupakan salah satu  sumber pertikaian antar masyarakat Dayak sehingga belakangan muncul istilah mambaleh bunu (membalas kematian) yang berarti ada pembenaran untuk melakukan tindakan pembalasan  jika salah satu warga atau keluarga ada yang mati terbunuh.  Beberapa istilah yang terkait dengan semangat konflik yang berkembang dalam masyarakat Dayak antara adalah Ela buli manggetu  hinting bunu panjang, isen mulang manetes tali kamara ambu (pantang mundur, berjuang terus, tidak akan kembali pulang sebelum mengalahkan musuh); beberapa istilah perang seperti manakir petak (perang), lahap (pekik perang), jalan bahandang (tindakan yang harus dilakukan dengan perang) dan lawung bahandang (ikat kepala merah) yang menggambarkan kesiapan untuk berperang.

Kedua, sisi integratif   terlihat dari nilai persatuan   dan     upaya   menghindari perpecahan dalam kehidupan masyarakat seperti pada ajaran berikut ini :

  • Hatangku manggeto bunu, kangkalu penang manguin betang (bersatu memenangkan perperangan, bersatu membangun kembali kehidupan).
  • Penyang ketun hinje simpei, paturung humba tamburak. Te ketun belom   panju- panjung, tau sanag-ureh ngalawan kilau bulan matan andau, tanggeren lewu mandereh danum (Bersatulah kamu dengan seluruh kekuatan, dengan satu pedoman; kamu akan hidup bahagia sejahtera seperti bulan matahari dan bitang di langit sebagai contoh teladan).
  • Amun keton penyang pangarak simpei, te ketun akan gandang tatah lewu mandereh  danum, amun paturung bakuhas tamburak, akan gandang rundung hapamantai tambun (kalau terjadi perpecahan, engkau akan diejek dan dihina oleh orang laian. Supaya dunia ini damai sejahtera hidup di dunia dan dunia lain/lewu tatau, manusia harus memilki jalan belom/pedoman hidup, yaitu haring hatungku tungket langit (ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan)

Dari legenda Dayak, dikenal Sansana Bandar yang menceritakan  seorang pimpinan spiritual Dayak  bernama Bandar yang digambarkan sebagai orang yang arif, bijaksana, cerdik, pandai serta memiliki paras yang tampan dan budi pekerti yang baik.  Beberapa ungkapan dalam bahasa sangiang (bahasa dewa-dewa) yang menganjurkan sikap integrasi yaitu  Penyang hinje simpei, paturung humba tamburak (bersatulah kamu dalam satu keyakinan, harapan dan kasih sayang);  Manjadi tanggeren lewu mandereh danum, pananggak rundung hapamantai tambun (menjadi contoh dan tauladan, kebanggaan dan pelindung bagi semua orang); Hatamuei lingu nalatai, hapangaja karendem malempang (sebelum memutuskan sesuatu keputusan hendaknya melalui komunikasi, musyawarah dan mufakat); Belum pajajewung kilau pisang tanggan tarung, raja manggigi tingkah lawang baun andau (hidup teratur bahagia, sejahtera, perkasa bagaikan awan berbaris diangkasa).

Dinamika masyarakat ini digerakkan oleh tiga kekuatan penyangga dalam kehidupan masyarakat yang dikenal dengan Garing Hatungku Tungket Langit, yaitu Pampang Saribu (kasum cerdik pandai), Pampang Erang (kaum adat) dan Gamalan Nyaho (kaum Agama). Ketiga kekuatan ini merupakan satu kesatuan yang disebut dengan Penyang huinje simpei dalam  menggerakan kekuatan masyakat untuk merespon permasalahan yang sedang dihadapai. Pada tahun 1920, muncul gerakan Pakat Dayak  yang lahir dari kesadaran bahwa  orang-orang Dayak tertinggal  dan ditinggalkan  oleh kelompok etnis  lainya karena terkait dengan pandangan yang rendah terhadap orang Dayak. Cita-cita yang ingin diperjuangkan oleh Pakat Dayak adalah kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dalam meningkatkan martabat  hidup  dan dipertahankannya adat istiadat sebagai identitas masyarakat Dayak. Perjuangan ini pun terus berlanjut untuk memisahkan diri dengan provinsi Kalimantan Selatan akibat ketertinggalan yang dirasakan komunitas Dayak, hingga  pada tahun 1957  secara resmi berdirinya provinsi Kalimantan Tengah.

 

Konsep dan Tantangan Pembangunan  Kalimantan Tengah

Realitas sosial di Kalimantan Tengah, terbentuk dari pengalaman sejarah dan pengalaman masyarakat dalam merespon masalah-masalah yang dihadapi, sehingga membentuk kesadaran bersama untuk melakukan sebuah tindakan yang mendorong suatu proses transformasi dalam kehidupan masyarakat.

Konsep pembangunan Kalimantan Tengah merupakan rumusan dari rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dalam memeberikan respons terhadap pengaruh luar yang membelenggu kehidupan mereka, sehingga terjadi interaksi dan integrasi yang memperkuat identitas Dayak  dalam menghadapai tantangan pembangunan pada masa kini. Konsep pembangunan yang  ingin mewujudkan cita-cita menjadikan warga Betang sebagai tuan di negeri sendiri, merupakan bagian dari upaya maneser panatau Tatu Hiang yang direfleksikan sebagai Manyalamat Petak Danum (menyelamat tanah air) yang meliputi :

(1) pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang arif terhadap lingkungan dan menjamin keangsungan hidup manusia. Konsep ini telah dicetuskan  dalam Musyawarah besar Damang Kepala Adat Se Kalimantan Tengah Tahun 2002 yang menghasilkan deklerasi bahwa Kalimantan Tegah sebagai Daerah Ekologi. Konteks pemikiran ini, bersumber dari simbol Batang Garing yang bermakna keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan keseimbangan hubungan antar sesama manusia. Selain itu, di Kalimantan Tengah, banyak terdapat Pahewan yang tersebar di daerah kabupaten sebagai kawasan konservasi yang dikeramatkan dan dilindungi secara adat oleh masyarakat, di samping hak-hak adat seperti Kaleka dan situs-situs budaya yang terkait dengan ritual kepercayaan kaharingan. Eksistensi adat merupakan bagian dari identitas etnik yang terus dipertahankan, termasuk upaya melawan arus globasisasi ekonomi yang akan menyngkirkan mereka dalam kehidupan ekonomi.

Kondisi ini terkait pula dengan hadirnya perkebunan kelapa sawit yang merupakan andalan dalam memberikan kontribusi pendapatan daerah , menggantikn sektor perkayuan yang sudah mulai menurun. Lebih khsus lagi kalau kebijakan pemerintah yang ingn menjadikan Pembangunan kelapa sawit sebagai Pilar ekonomi Nasional (seminar, Desember 2006 di Bali) dan  minyak sawit akan menggantikan sumber bahan bakar pengganti minyak (biofuel). Hadirnya kekuatan-kekuatan ekonomi Nsional dan Internasional di Kalimantan Tengah ini dikhawatirkan akan memarginalisasikan orang-orang Dayak dari kegiatan ekonomi dan disisi lain kelangsungan sumberdaya alam akan menggangu kehidupan mereka pada masa yang akan datang seperti  pesesan leleuhur berikut ini “Ingat peteh Tatu hiang, Petak danum akan kalunen harian andau”. Konsep ini sesuai dengan konsep lingkungan hidup yang dikenal dengan sustainable livelihood.

(2). Pemanfataan sumber daya alam bagi kesejahteraan masyarakat, dalam implimentasi kebijakan yang cenderung menepatkan masyarakat dalam posisi yang lemah, jauh dari akses informasi dan akses terhadap politik sehingga mereka tidak memiliki kemampuan  tawar yang berimbang dengan pemerintah dan pengusaha. Kondisi ini yang sering menimbulkan konflik antara masyarakat dengan pihak perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Kondisi ini tentu saja harus dicari dan digali cara-cara pengelolaan yang menempat masyarakat sebagai pelaku atau subjek pembangunan, sehingga terjadi kesimbangan yang proporsional dalam pemanfaat sumberdaya alam dan bukan orang dirugikan dalam prosees pembangunan  tersebut. Konteks ini memberi peluang bagi pemekaran kabupaten dan provinsi dalam rangka mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mempercepat proses pembangunan dan mengatasi kesenjangan pembangunan.

(3). Integrasi sosial yang menempat nilai budaya belom bahadat sebagai standar dalam hubungan antar sesame manusia dan hubungan dengan alam. Kondisi ini terkait dengan Pali (pantangan) yang tidak boleh dilanggar menurut adat orang Dayak. Nilai belom bahadat yang merupakan identitas masyarakat Dayak ini bersifat cair dan terus menerus  dikonstruksikan ke dalam kehidupan masyarakat sehingga memberikan makna penting  bukan hanya bagi orang Dayak tetapi juga dalam pergaulan yang sifatnya lebih luas. Konteks ini juga akan memberikan pemahaman bahwa, adat dan hukum adat yang ada di Kalimantan Tengah perlu direvitalisasi agar sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat pada masa kini dan menjangkau kehidupan yang akan datang. Kondisi lainnya yang perlu diantsipasi adalah adanya kebijakan landreform  yang akan menghancurkan tatanan adat dan hukum adat di Kalimantan Tengah.

(4). Penguatan institusi Kadamangan dan mengoptimalkan peran Damang Kepala Adat dalam membantu menyelesaikan konflik dan masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakkat.

Eksistensi Kadamangan ini ternyata sangat membantu menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dapat mengurangi tumpukan berkas-berkas yang terlambat ditangani oleh kejaksaan. Selain itu, dimungkinkan pula terjdinya integrasi antara hukum adat dengan hukum formal sehingga dapat menjembatani kesenjangan (gap) antara hukum adat dan hukum formal.

(5). Menembus keterasingan masyarakat Dayak yang berada di bagian hulu –hulu  daerah aliran sungai di Kalimantan Tengah, sehingga mengurangi kesenjangan sosial antar masyarakat yang bermukim di perkotaan dan bagian hilir daerah aliran sungai. Kesenjangan akan berdampak terhadap pendidikan, kesehatan dan pendapatan masyarakat, sehingga  terjadi proses pembodohan dalam kehidupan masyarakat.

Pengalaman historis dari masyarakat Dayak terhadap dinamika politik dan ekonomi ini merupakan gambaran masyarakat dalam merespons permasalahan yang dihadapi dengan memahami budaya Betang sebagai sebagai perjuangan membangun rumah sendiri dan mewujudkan cita-cita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri berdasarkan konsep Betang yang meliputi : (1) kesadaran dari semua tokoh masyarakat dan elite politik bahwa masyarakat Kalimantan Tengah adalah masyarakat yang pluralis, dengan menghargai perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kebersamaan dalam proses pembangunan. (2) belom bahadat, sebagai nilai budaya yang yang mengatur kehidupan bersama dengan pemahaman di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung, yaitu menghargai adat yang berlaku dalam wilayah komunitas adat yang bersangkutan. (3) handep, yaitu gotong royong yang bersifat timbal balik (reciprocal)  dalam kebersamaan dalam proses pembangunan yang berkelanjutan, tetapi tetap mempertahankan otonomi dalam penyelenggaraan rumah tangga. (4) menyelenggarakan musyawarah dalam setiap kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama (5) menghargai orang luar atau tamu dengan berusaha memberikan kepuasan kepada tamu tersebut, walaupun kondisi mereka dalam keadaan keterbatasan. (6) warga Betang memilki hubungan kekeluargaan yang luas, karena berasal dari karak Betang, karak lewu dan masih dipertahankan sebagai kekerabatan serta keterbukaannya terhadap pendatang dari luar komunitas mereka. Bahkan warga Betang dapat menjadi lebih luas lagi dengan perkawinan lintas etnis, agama dan budaya.

 

Modernisasi dan Revitalisasi Kebudayaan

Dalam realitas kehidupan masyarakat moderen, masalah-masalah yang berkaitan dengan politik dan perubahan sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, bahkan terhadap suku asli yang tidak tersentuh dalam belahan dunia ini. Kemajuan ekonomi dan teknologi di dunia Barat telah membuktikan keunggulan ekonomi kapitalis dan pasar bebas. Dalam perdagangan internasional, negara-negara Dunia Ketiga yang telah terseret ke dalam kapitalisme dunia dan pasar bebas ternyata telah menghasilkan polarisasi yang tajam antara kaum miskin yang semakin banyak jumlahnya dengan lapisan orang-orang kaya. Salah satu faktor penyebabnya adalah akibat eksploitasi sumber daya alam untuk memperbesar pertumbuhan ekonomi  daerah dan nasional, tetapi manfaatnya belum dirasakan oleh masyarakat, bahkan kondisi ini telah menghancurkan tatanan budaya lokal dan kerusakan lingkungan. Kondisi ini merupakan penghisapan surplus ekonomi yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat dan semakain meluasnya tingkat kerusakan lingkungan.

Terhadap kondisi di atas, kalangan akademisi yang berpikir kritis dan kelompok

aliran humanis menyebutkan sebagai suatu kesadaran dalam melihat realitas kehidupan moderen sebagai kekecewaan dunia (disenchantment of the world) terhadap modernisasi yang kurang peka terhadap penderitaan kaum miskin dan kerusakan ekosistem alam.

Kebudayaan lokal dalam hal ini etnik Dayak sebagai produk masyarakat, memiliki daya tahan (sustainable) dan daya penyesuaian (adaptable) terhadap intervensi dari luar. Dalam menghadapi tantangan global kebudayaan Dayak telah mengalami transformasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat maupun sebagai penangkal bagi intervensi luar yang ingin merusak tatanan sosial dan upaya-upaya  memperbesar kerusakan lingkungan alam.

Bagi masyarakat Dayak, modernisasi yang dipahami sebagai impor dari dunia Barat dengan ideologi kapitalisme yang memiliki kecenderungan materialisme, telah menghancurkan sistem mata pencaharian masyarakat lokal dan hancurnya tatanan adat dan penghisapan atas surplus ekonomi yang seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat lokal. Mereka mengibaratkan seperti speed boat yang sedang melaju di pinggir sungai yang tidak mempedulikan ombaknya yang besar yang dapat menenggelamkan perahu-perahu kecil, mengganggu nelayan yang sedang memancing dan membasahi orang- orang yang sedang berada di batang (dermaga masyarakat). Kondisi ini telah terjadi akibat eksploitasi sumberdaya hutan secara besar- besaran oleh pengusaha HPH dan perkebunan untuk memenuhi permintaan pasaran dunia dan politik utang yang menyeret bangsa Indoneisa ke dalam ekonomi kapitalis dan pasar bebas yang merugikan masyarakat lokal tanpa melakukan kebijakan proteksi untuk mengamankan industri dalam negeri yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Kebudayaan Dayak sebagai produk masyarakat, oleh pelaku budaya lokal telah mengalami revitalisasi sejalan dengan berkembangnya pengetahuan dan nilai- nilai yang hidup dalam masyarakat sehingga menjadi pengetahuan publik dalam mengatasi atau memberi respon terhadap realitas kehidupan yang dialami pada masa kini.

Beberapa contoh sumber pengetahuan dan nilai- nilai dari kebudayaan Dayak yang telah mengalami transformasi dalam menanggapi realitas kehidupan tersebut terlihat pada tabel berikut ini :

 

Revitalisasi Kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah

Kebudayaan

Dayak

Pengetahuan atau

Nilai- nilai

Makna Refleksi
Budaya Betang

 

 

 

 

 

Pakat Dayak

 

 

 

 

Utus

 

 

 

Pahewan

 

 

 

Manakir petak

 

 

 

Budaya Pantan

 

 

 

Isen Mulang

Masyarakat multikultur yang menghargai perbedaan.

Integrasi dalam kehidupan pluralis

 

Kerjasama toleransi dan partisipasi

 

 

 

Jati diri/ Harga diri

 

 

 

Kelestarian lingkungan alam

 

 

Berjuang untuk mencapai keberhasilan

 

 

Keterbukaan terhadap pendatang dari luar

 

 

Pantang mundur

Inspirasi perjuangan masyarakat Dayak

 

 

 

 

Identitas komunal

 

 

 

 

Batas- batas budaya (cultural boundaries) yang tidak bisa di ganggu

Perlindungan atau pencegahan kerusakan alam

 

Perang melawan ketidakadilan

 

 

Semangat egaliter dan tetap mempertahankan jati diri

 

Keuletan, ketangguhan dan orientasi pada prestasi

 

Perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat warga Betang agar menjadi tuan dinegeri sendiri

 

 

Kebangkitan warga Dayak menghadapi tantangan hidup yang selama ini menghimpit mereka

 

Kesejajaran Harkat dan martabat orang Dayak dengan  komunitas lainnya.

 

Eksploitasi sumber daya hutan yang merugikan masyarakat

 

 

Perubahan terhadap struktur yang telah lama membelenggu warga Dayak

 

Konsekuensi dalam pergaulan dalam masyarakat multikultur

 

 

Tantangan dalam menghadapi globalisasi

 

 

Berdasarkan pemahaman di atas, maka budaya Betang merupakan inspirasi dan motivasi dalam merespon secara dinamis dan kritis terhadap intervensi politik dan ekonomi dari luar. Konstruksi budaya Betang ini  merupakan dinamika masyarakat lokal yang dipahami sebagai proses transformasi dalam bingkai kesadaran yang menjunjung tinggi nilai- nilai intergrasi dalam kehidupan masyarakat yang pluralis.

REFERENSI

Berger, Peter L dan Luckmann,Thomas (1990).  Tafsir Sosial atas Kenyataan Sosial. Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan (terj.Hasan Basari). Jakarta: LP3 ES

Castells,Manuel (1997), The Power of Identity.  Massachusetts : Blackwell Publishers Inc.

Chaniago,Andrinof(2001). Gagalnya Pembangunan. Kajian Ekonomi Politik terhadap krisis Indonesia. Jakarta : LP3 ES

Cohen, Anthony (2000). Signifying Identities. Anthropological Perspektif on Boundaries and Contested Values. London and Newyork : Roudledge.

Delanty, Gerard (1999). Social Theory in a Change of Modernity. Cambridge : Polity Press.

Grillo, Ralph (1998), Pluralism and the Political of Difference. New York : Oxford University Press Inc.

Usop, KMA (1994). Pakat Dayak. Sejarah Integrasi dan JatidiriMasyarakat Dayak dan Daerah Kalimantan Tengah, Yayasan Pendidikan Kebudayaan Batang Garing.

Usop, SR (2002). Kajian Refleksif Terhadap Pandangan Orang Dayak. Jurnal     Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Univ. Jember, Vol.3 No.3

————–(2004) Kebudayaan Dayak Dalam Tatanan Lokal, Nasional dan Global. Sosialisasi Kongres Kebudayaan V Bukit Tinggi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah

————–(2008).  Pemahaman Kebudayaan Dayak dalam Masyarakat Multikultur. Diskusi Tentang Semangat Kebangsaan dan Semangat Multikulturalisme. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: