KEBERANIAN BERPIKIR & BERTINDAK

Sahewan PANARUNG

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng

 

Tajuk Panarung Kusni Sulang

KEBERANIAN BERPIKIR & BERTINDAK

 Gerakan femininisme atau gerakan penyataraan kedudukan, peran dan tanggungjawab antara perempuan dan lelaki di negeri ini sudah tumbuh, terutama di kota-kota besar di  Jawa seperti Jakarta, Bandung. Adanya gerakan untuk emansipasi menunjukan bahwa di daerah geografis tersebut terdapat ketidak setaraan, berkembang penindasanm pembelengguan terhadap perempuan. Padahal perempuan baik dari segi jumlah atau pun kapasitas merupakan  jumlah  besar.Jumlah dan kapasitas yang oleh orang Tionghoa disebut sebagai “penyangga separo bumi”. Kenyataan ini kemudian diteoritasikan bahwa bangsa yang belum mampu membebaskan kaum perempuan, belumlahmenjadi bangsa merdeka. Pembelenggu penyangga separo langit itu adalah kekuasaan lelaki, feodalisme dan imperialisme, tiga gunung yang menindih punggung perempuan.

Di negeri ini Jawa, khususnya Jawa Tengah merupakan tempat feodalisme paling berkembang. Perempuan dipandang hanya sebagai “konco wingking” (teman di belakang), “bunga rumahtangga” yang ke sorga ikut, ke neraka terbawa (menyang surgo nunut, menyang neraka katut). Sistem beginilah R.A.Kartini lahir, besar dan dikalahkan. Perlawanan-perlawanannya dilanggengkan dalam  tulisan, cq surat-surat kepada teman-teman Belandanya yang kemudian diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ide perlawanan inilah, di tengah kehidupan berbangsa kita yang sangat Jawa-Sentris,   yang kemudian menempatkan R.A. Kartini menjadi pahlawan nasional emansipasi di negeri ini yang saban 21 April, yaitu hari lahirnya, diperingati.

Daerah-daerah lain pada waktu itu masih asing dari pengenalan dan perhatian  para politisi atau pun akademisi yang juga didominasi oleh Jawa karena itu tidak masuk hitungan. Bahkan para feminis hari ini pun lebih mengenal Barat dengan teori-teori feminismenya daripada mengenal keadaan negeri sendiri dan daerah-daerah. Beberapa feminis Jakarta yang pernah ke Kalteng, buta sama sekali akan konsep feminisme Tanah Dayak. Perempuan dan permasalahannya di negeri ini dilihat secara pukul rata tidak dalam rincian. Tidak usah para feminis dari Jawa yang sangat terpengaruh oleh wacana Barat, Uluh Kalteng sendiri  sekali pun berderet gelar akademi sandangannya, bedlum tentu mengenal wacana feminis Dayak dan sejarah perkembangannya. Hal ini mengingatkan semua, betapa penting sejarah lokal patut ditulis agar sejarah negeri tidak besifat sentris. Sayangnya dari 31 uyniversitas dan perguruan tinggi di Kalteng tidak satu pun yang mem perhatikan jurusan sejarah, sebagaimana Fakultas Hukum tidak memperhatikan hukum adat Dayak.

Apabila sampai hari ini kita masih memperingati Hari Kartini sebagai hari emansipasi, barangkali yang tersisa untuk dipelajari dari Kartini adalah keberanian berpikirnya melawan feodalisme, yang itu pun  barangkali bukan feodalisme secara menyeluruh. Pemberontakan pemikiran (yang juga tentu tak lepas dari kontak dengan teman-teman Belandanya). Di luar pemberontakan pemikiran yang parsial apakah ada yang dilakukan Kartini seperti halnya dengan Cut Nya Dien atau perempuan-perempuan Dayak dahoeloe yang menikmati kesetaraan mereka dalam sistem ekonomi-sosial-politik tersendiri? Keberanian berpikir atau berpikir kritis , kemudian keberanian bertindak (yang ada pada Cut Nya Dien, Emmy Saelan, Lasykar Perempuan Dayak dan perempuan Dayak dahulu secara keseluruhan) sangat kita perlukan hari ini guna menjadi bangsa dan daerah yang  berharkat dan bermartabat. Kartini adalah sebuah nama sejarah, bentuk dari sentrime historic, tapi justru sejarah inilah yang belum menjadi perhatian kita di sini sehingga mengesankan kita secara sukarela menjadi Uluh Kalteng tanpa sejarah. Melupakan, entah sadar atau tidak, menyulap dan menjungkirbalikkan sejarah. Terkadang melakukan kompromi sejarah.***

 

Emansipasi dalam Masyarakat Dayak

Andriani S. Kusni *)

“Suara perempuan” dalam spanduk demonstrasi menentang pernyataan Prof. Thamrin Amal Tomagola dalam sidang kasus Nazriel Ilham (Ariel-Peter Pan). Lokasi Bundaran besar Palangka Raya, 08/01/2011 (Foto: Andriani S. Kusni)

R.A. Kartini di negeri ini dipandang sebagai pahlawan kesetaraan perempuan dan lelaki sehingga hari kelahirannya, 21 April, ditetapkan sebagai Hari Emansipasi dan dirayakan secara nasional. Dalam masyarakat Jawa yang feodal, kedudukan lelaki dan perempuan memang berbeda. Perbedaan yang antara lain dicerminkan dalam ungkapan “ke sorga ikut, ke neraka terbawa” (menyang swarga nunut, menyang neraka katut). Perempuan juga dilukiskan sebagai “konco wingking” , teman di belakang atau digambarkan sebagai “lembang rumah”. Dengan istilah lain, perempuan berstatus sebagai obyek belaka. Obyek dari lelaki. Sesuai dengan status demikian, bahasa Jawa menyebut perempuan dengan kosa kata wanita (dari bahasa Sansekerta, vanidh berarti yang di….”). Kata perempuan juga dari bahasa Sankserta berarti “yang mempunyai kemampuan”.

Sesuai dengan karakter rezimnya yang militeristik neo-feodal, yang memerosotkan Republik Indonesia menjadi sebuah imperium atau kerajaan model kerajaan Mataram, Orde Baru Soeharto menggunakan istilah wanita, seperti misalnya pada Dharma Wanita, untuk organisasi istri-istri PNS. Menurut konsep Dharma Wanita Orde Baru, perempuan berfungsi sebagai “pendamping suami dan ibu rumah tangga”. (Ninuk Mardjana Pambudy, “Pemenuhan Asa Kartini”, Harian Kompas, Jakarta, 16 April 2010).

Agar lepas dari kooptasi negara, maka kata perempuan kembali digunakan oleh Gerakan Perempuan. Dalam masyarakat feodal Jawa, di usia remaja, perempuan-perempuan masuk pingitan. R.A Kartini tidak lepas dari nasib tersebut. Dari ruang pingitan ini kemudian, R.A. Kartini melakukan surat-menyurat dengan para sahabat Belandanya di negeri Belanda, menyuarakan pikiran dan perasaannya yang terkungkung tapi ingin kebebasan. Surat-menyurat ini kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran dalam surat-surat tersebut dipandang sebagai terobosan baru bagi Indonesia lalu atas dasar itu R.A. Kartini diberi kedudukan sebagai pahlawan kesetaraan perempuan Indonesia.

Tanpa mengurangi nilai-nilai pikiran dan mimpi tersebut, agaknya pengertian Indonesia di sini lebih kena terutama Jawa karena keadaan masyarakat Jawa dan masyarakat di pulau-pulau lain tidak sama. Ada masyarakat yang tidak mengenal apa yang dialami oleh R.A. Kartini. Tapi keadaan masyarakat tersebut kurang atau bahkan tidak dikenal oleh elite negeri ini yang berpusat di Jawa. Untuk waktu lama sejarah Indonesia bersifat sangat Jawa Sentris. Apakah elite di Jawa sampai sekarang cukup mengenal daerah-daerah lain? Sebuah tanda tanya besar, apalagi tidak sedikit kalangan elite lebih mengenal Amerika dari Indonesia sendiri. Jawa Sentris inipun sampai sekarang masih berlangsung misalnya dalam hal pembangunan.

Untuk menyusun sejarah Indonesia yang benar-benar sejarah Indonesia, kegiatan para elite lokal terutama para cendekiawannya, dengan menulis sejarah lokal dan keadaan masyarakat lokal sangat perlu. Dalam hal Gerakan Kesetaraan, gerakan jender, karena kurangnya pengenalan mereka yang menyebut diri kaum feminis, maka teori yang ditawarkan untuk negeri kita adalah apa yang diambil dari Barat. Tanpa menolak penggunaan teori-teori feminisme dari Barat, apakah tidak selayaknya  juga melakukan penelitian untuk mengenal bagaimana konsep masyarakat-masyarakat lokal tentang status perempuan dalam masyarakat? Jadi tidak hanya mengunyah-ngunyah hasil bacaan dari luar. Yang diperoleh dari luar hanya dijadikan acuan dan bandingan. Ilmiah tidaknya karya tidak ditandai oleh deretan kutipan buku dari luar di catatan kaki (foot note), tapi terutama rasuk tidaknya yang diucapkan dengan kenyataan. Mengunyah-ngunyah ajaran dan bacaan tanpa daya kritik, gampang menggiring kita ke penaklukan atau penjajahan intelektualitas secara sukarela, bahkan dengan penuh kebanggaan, menduga tingkat intelektualitas diri sudah sangat tinggi dengan deretan catatan kaki itu. Padahal kita akan tidak lebih dari “cendekiawan catatan kaki” jika menggunakan istilah Arief Budiman. Menyadari hal ini, Saparinah Sadli juga mengingatkan “pentingnya mengembangkan teori feminisme yang khas Indonesia” (lihat , Saparinah Sadli, “Berbeda Tapi Setara”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2010). Keinginan Saparinah ini hanya mungkin jika riset kontinyu terhadap masyarakat kita di seluruh wilayah tanah air dilakukan. Jadi tidak berangkat dari asumsi subyektif. Lebih baik lagi jika dibarengi dengan aktivisme.

Adanya kesetaraan lelaki-perempuan dalam masyarakat Dayak Kalteng, terutama Uluh Ngaju, dahulu, ditopang oleh posisi ekonomi perempuan tidak tergantung pada lelaki atau suami. Perempuan mempunyai akses sama dengan lelaki terhadap alat-alat produksi. Dengan cara berproduksi yang demikian, maka kepemimpinan dalam keluarga dilakukan oleh suami-istri. Bahkan dalam hal-hal tertentu , posisi kendali terletak di tangan perempuan seperti mengemudi perahu di sungai, keadaan yang bisa dilihat sebagai satu lambang hubungan lelaki-perempuan dan pembagian kerja sosial. Posisi bergeser menjurus ke tempat sub-ordinat lelaki pada saat akses terhadap alat-alat produksi ini dipisahkan dari mereka. Terjadi sangat intens sejak pemerintahan Orde Baru.

Dalam soal warisan, bahkan anak perempuan mendapatkan jumlah lebih besar dari lelaki. Sebagai tanda terimakasih orangtua kepada anak perempuan mereka yang telah mengurus orangtua lebih tekun dan lama dari anak-anak lelaki. Rumah tangga, dipimpin bersama oleh ayah dan ibu. Segalanya diputuskan bersama. Secara ekonomi, ibu tidak tergantung pada ayah. Barangkali hal ini merupakan dasar ekonomi bagi perempuan untuk setara dengan lelaki (suami). Sementara Hukum Adat sangat menjunjung perempuan dengan menetapkan perlindungan kuat pada perempuan melalui ketentuan-ketentuan adat. Dengan status perempuan demikian, orang tua tanpa segan melepaskan anak perempuan mereka untuk pergi ke tempat lain, misalnya bersekolah. Kesetaraan ini juga nampak di medan perang, dengan adanya pangkalima-pangkalima perang perempuan yang menggentar lawan begitu mendengar namanya baik pada zaman betang (misalnya Nyai Bahandang Balau), maupun pada masa perang melawan Belanda atau waktu mendirikan provinsi Kalteng. Pada waktu zaman perang gerilya melawan Belanda, Kalteng memiliki Kompie Lasykar Perempuan. Kalau di negeri-negeri yang dikuasai oleh feodalisme, perempuan dihimpit oleh “tiga gunung besar” (kekuasaan lelaki, raja feodal, dan imperialisme), perempuan di masyarakat Dayak Ngaju tidak mengalami himpitan demikian.

Tapi status kesetaraan demikian nampaknya mengalami pergeseran. Terutama sejak masa rejim Orde Baru yang secara sistematik menghancurkan Masyarakat Adat dan lembaga-lembaganya dengan meng-golkarkan dan melakukan pendekatan politik SARA, ditambah lagi pengaruh agama-agama baru sehingga perubahan komposisi demografis Kalteng dan marjinalisasi masyarakat Dayak semakin nyata. Dari segi kesetaraan, boleh dikatakan masyarakat Dayak Ngaju tidak berjalan maju tapi memperlihatkan tanda-tanda kemunduran – walaupun secara budaya masih belum pupus. Sisa-sisa budaya kesetaraan ini patut dikembangkan karena perempuan tidak lain dari “penyangga separuh langit”. Tidak ada kemerdekaan sesungguhnya jika “penyangga separuh langit “ ini dibelenggu. Dan benarkah Kalteng sungguh-sungguh merdeka hari ini? Terbitnya buku Sejarah Perempuan Kalteng (Dayak) merupakan sumbangan berharga dalam melihat sejarah kesetaraan perempuan-lelaki di provinsi yang sejarahnya banyak tidak dikenal baik oleh banyak orang, termasuk kalangan elitenya, lebih-lebih lagi oleh angkatan mudanya.Walau poun secara fisik berada di Kalteng, tapi secara sejarah dan budaya asing dari Kalteng.

*) Perancang & pembuat perhiasan,  penulis lepas, pengasuh ruang kebudayaan di HU Palangka Post, SekJend Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah

Sansana Panarung

SAJAK-SAJAK AZ ANDREAS

Taekwondo

bukan pada taekwondo jiwa terjaga, anakku

jiwa kita senantiasa sasaran utama  penaklukan

tapi benar kita patut berjiwa penakluk anak panarung

yang tak takut jatuh bahkan sementara kalah

maka paling utama mencari bagaimana bisa

memenangkan diri sebagai manusia

penanggungjawab timbul-teggelamnya bumi

 

ratap adalah isyarat kau gemetar

tak berani berlaga dan tak pandai menang

sedang duka  tak punya kasih sayang

seperti kasih ayah kepadamu

2012

 

Lidi

sungguh sangat baik, sungguh  berjiwa besar

ia berani mengetuk pintu datang mengulurkan tangan

walau kebiasaan menjungkirbalik  sudah mengadat

tak gampang hilang menandai ketakutan hilang muka

patut dipahami benar, kasih yang besar mampu

menyediakan ruang besar bagi perkembangan

sebaiknya, ia datang kita sediakan ulam manah

suguhan utama hingga dendam usang merontok

darah di nadi kembali merah murni

urusan besar apapun namanya

negara, bangsa, negeri atau pemanusiawian

pembedaan salah dan benar

senantiasa meminta keagungan  dan kesanggupan luka

–nama diri sebagai manusia

memang tak ringan disandang

daripada menjadi binatang

diri sendiri

hanyalah sebatang lidi

apalagi diriku

 

masuk

dan duduklah

kita bincangkan ulang

kita tuliskan lagi

sejarah yang benar

2012

 

Huma Haï *

 jika kau tulis kampungku

sebuah rumah haï kumuh

diancam roboh

berpagar bambu carutmarut

tentu saja kau tak kusangkal

tak kudebat

 

kenyataan bukan untuk disangkal

atau pura-pura di depannya

pura-pura segalanya baik dan lancar

aku malah berkata kepada anakku

untuk setia kenyataan isyarat cinta kehidupan

tanda keinginan kuat membangun esok

tegas-tegas menjahit lembaran-lembaran

jadi kain perca

hari ini sangat tercabik

jadi lap meja pun sudah tak layak

membangkitkan rasa jijik

 

cabikan-cabikan menjijikan itu adalah jiwa kita

yang kemudian menyobek tanahair

bagai benang kusam lusuh

hanya pantas jadi pel jongos penjajah

celakanya kita berlagak sebagai tuan

sedang  hakekatnya tak lain dari hambasahaya

jongos-jongos dan babu kekinian

 

jika kau tulis kampungku

sebuah rumah haï kumuh

diancam roboh

berpagar bambu carutmarut

tentu saja kau tak kusangkal

tak kudebat

 

rumah haï itu

rumah lahir

rumah pengasuh

dan bertumbuh

 

kutulis baris-barisku sederhana

agar harapan tak mengawang

bisa terjaga

mengundang manusia pulang dari pengasingan

kerna  sansana ** tak boleh absen

sibuk bertualang  entah ke mana

2012

 

Catatan :

*Rumah (huma ) haï, rumah besar dalam  masyrakat  Dayak Ngaju,  di mana hidup beberapa keluarga. Ukurannya lebih kecil dari betang.

** Sansana, salah satu bentuk puisi tradisional Dayak Katingan.

 

 

 UNGKAPAN & PERIBAHASA DAYAK NGAJU

 1. Matei  bitik awi taluh je manis. Semut mati oleh sesuatu yang manis. Manusia yang jatuh karena bujuk rayu.

2. Ela basaramin into danum keruh. Jangan bercermin di air yang keruh. Janganlah berteladan pada perbuatan yang buruk.

3. Dawen manjatu tariup kejau,  bua manjatu tukep  upue. Daun jatuh melayang jauh, buah jatuh dekatnya batang pohonnya. Ulah seseorang tidak jauh dari keadaan lingkungan yang membesarkannya.

4. Uluh ji mimbul enyuh rancak dia kuman buae. Yang menanam  nyiur sering tak memakan buahnya. Yang sudah-payah  bekerja sering tidak menikmati hasil kerjanya.

5. Kilau mahamis enyuh, santan induan, kuas inganan. Seperti memeras parutan kelapa, santannya diambil, ampasnya dibuang.  Segala hal ikhwal, ambillah sarinya.

 

 

Pelajaran Dasar Bahasa Dayak

Asuhan Kusni Sulang

PELAJARAN 4.

Kata Depan

I. Jenis-jenis kata depan

 Hung= di; ka: ke; dari: bara.

Contoh (suntue):

Aku handak ka Sampit (Saya mau ke Sampit).

Ie melai hung Kasongan (Dia tinggal di Kasongan).

Kabalingkuh harue dumah bara Makassar (Istri/Suamiku baru datang dari Makassar)

Catatan:

Suami: bana; istri: sawa

Kabali: suami atau istri. Kata ini dipandang lebih halus daripada kata bana atau sawa.

II. Minta tolong kalian membuatkan percakapan kecil menggunakan kata-kata depan hung, ka, dan bara.(Laku duhup ketun mawi papander kurik mahapan kutak-baun hung, ka tuntang bara).

 

 

DARI KHAZANAH CERITA LISAN

Perang Kasitu*

Subuh, kakek sudah bangun dan punya kebiasaan sebelum berangkat ke ladang atau memulai kerja harian, berjalan mundar-mandir di sekitar tempat tidurku sambil  bercerita tentang macam-macam soal.

Adalah perang besar bernama Perang Kasitu. Orang-orang berambut jagung  berhidung panjang seperti  bakara 1) (kera merah) , bertubuh tinggi besar. Tanpa bersebab setelah Damang Laca, damang kampung di hulu Enyuh Lendai, menolak ajakannya menyerang kampung lain, damang kampung lalu mereka  bunuh. Damang-Damang kampung daerah-daerah tetangga pun bernasib serupa dengan Damang Laca.

”Kalau menyerang kampung lain tanpa bersebab, si penyerang akan dianggap sebagai pangayau. Kayau akan dibalas dengan kayau. Akibatnya pertumpahan darah tak menentu akan terjadi dan bekepanjangan. Ketakutan akan membuat orang tidak berani mencari ikan, memotong rotan atau pun ke ladang seorang diri. Orang-orang tidak suka hidup dengan ketakutan demikian”, ujar Kakek berbicara sendiri.

“Lagi pula apa untungnya mangayau tetangga, orang satu sungai ?” Tapi  para Bakara itu memandang Orang Dayak itu pemakan manusia sehingga dengan membunuh mereka kira, Orang Dayak akan mendapat makanan. Orang Luar memang memandang rendah Orang Dayak dan diberi  berbagai kata sifat yang buruk. Sebaliknya Orang Dayak memandang Orang-orang Luar memandang  itu sebagai tidak beradat. Diberi sejari , minta sehasta. Sifat tamak beginilah yang oleh Orang Dayak disebut, “seperti Belanda minta tanah”.

Di hadapan pembunuhan demi pembunuhan tak bersebab demikian dan perampasan demi perampasan, orang-orang berbagai kampung bersama-sama mengambil tombak dan mandau, lalu menyerang sekawanan  Bakara di kapal mereka yang   berlabuh di tepian sungai. Diserang secara mendadak dalam malam buta hanya diterangi oleh cahaya bulan, bintang dan kunang-kunang, semua mereka yang berjumlah puluhan orang tewas tak bersisa. Tempurung-tempurung kepala mereka dilempar  ke air sungai. Kapal mereka ditengggelamkan dan kemudian tumbuh menjadi gugusan pulau-pulau sungai.

Penyerangan pemusnahan ini tersebar dan mengundang kedatangan kapal-kapal baru Bakara. Mereka membakar kampung-kampung. Perempuan-perempuan yang tak sempat lari, mereka perkosa kemudian dibunuh. Kebencian orang-orang kampung kepada para Bakara yang juga datang membawa orang-orang berkulit hitam atau sawo matang, menyala tak obah unggun api. Demi keselamatan, ofrang-orang kampong pindah ke hutan. Tinggal di gubuk-gubuk ladang. Begitu matahari terbenam, orang-orang kampung mengepung dan menyerang Bakara dan orang pasukan bawaan mereka. Saban serangan, tak ada dari mereka yang pernah selamat jika bermalam di tepian. Sehingga kalau mau memetik  buah kelapa, orang tak perlu lagi memanjat  batangnya, tapi cukup dengan mendaki tumpukan mayat mereka.

Bertahun-tahun perang pemusnahan ini dilakukan. Sampai akhirnya entah mengapa para Bakara itu tidak pernah datang lagi. Ada kabar dari kampung lain, mengatakan bahwa perang sudah selesai dengan berlangsungnya Pumpung Haï di Tumbang Anoi, Sungai Kahayan. ***

(Ditutur ulang secara diikhtisarkan oleh Andriani S. Kusni berdasarkan kisah keluarga Damang Katingan Nusi Djelau).

Catatan:

  • Kasitu adalah sebutan Uluh Katingan terhadap perang besar dan panjang melawan kolonialisme Belanda di daerah aliran sungai Kalimantan Tengah sebelum Pertemuan Tumbang Anoi 1894.  Daerah lain menamakan perang ini sebagai Perang Kasintu.
  • Bakara, julukan orang Belanda yang diberikan oleh Uluh Katingan.
About these ads

3 comments so far

  1. Links coming on

    Thank you for sharing your info. I truly appreciate your
    efforts and I will be waiting for your further post thank you once again.

  2. Michelle on

    Thank you for sharing your info. I truly appreciate your efforts and
    I am waiting for your next post thank you once again.

  3. aircraft covering on

    I was wondering if you ever considered changing the page layout of your website?
    Its very well written; I love what youve got to say.
    But maybe you could a little more in the way of content so
    people could connect with it better. Youve got
    an awful lot of text for only having one or 2 images.
    Maybe you could space it out better?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: