FALSAFAH HIDUP BUDAYA HUMA BETANG Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama Di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

BEDAH BUKU

FALSAFAH HIDUP BUDAYA HUMA BETANG

Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama

Di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

 

Oleh Drs. Silvanus Subandi, STL, Pr.

 

1.Pendahuluan

Puji syukur ke kahadiran Tuhan Yang Maha Esa karena berkat-Nya lah sehingga semakin banyak orang menaruh perhatian pada studi tentang  falsafah budaya yang memiliki nilai tinggi dalam kaitannya dengan kerukunan hidup antar umat beragama. Kita perlu memberikan kepada Dr.Muhammad dan Abubakar ,H.M. yang telah menyajikan hasil kajiannya yang berjudul Falsafah Hidup Budaya Betang Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Hasil karya ini dapat menjadi tambahan referensi dalam studi tentang nilai-nilai universal yang melandasi prinsip hidup bersama yang terkandung dalam falsafah budaya huma betang. Perlu disadari bahwa buku referensi dalam studi tentang budaya Dayak sangat terbatas dan sulit untuk ditemukan, dan karena itu pula maka sangat sedikit kaum muda yang tertarik untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan budaya Dayak.

Dengan penerbitan buku Falsafah Hidup Budaya Huma Betang karya Dr. Muhammad dan Abubakar, H.M. ini dapat menambah minat para tokoh masyarakat Dayak dan terutama kaum mudanya untuk mengadakan penelitian dan menulis buku tentang kekayaan nilai budaya Dayak. Hal ini sangagt penting mengingat  masyarakat sekarang sedang menghadapi era globalisasi ekonomi dan teknologi yang dapat mengikis nilai-nilai budaya lokal yang sangat luhur ke periperi. Paradigma perubahan budaya ini sungguh nyata, sebagai contoh kita dapagt medlihat trend ke barat-baratan di kalangan kaum muda. Tidak jarang kita menemukan anak muda yang lebih mengenal budaya asing daripada budayanya sendiri. Ada anak Dayak malu menyebut dirinya sebagai orang Dayak karena takut dianggap orang udik. Bertolak dari paradigm tedrsebut maka studi tentang budaya sangatlah penting. Berkaitan dengan isi buku Falsafah Hidup Huma Betang ini penulis ingin menyampaikan beberapa gagasan berikut.

 

2.Nilai-Nilai Hidup Dalam Masyarakat Multireligius Dan  Multikultural

Bab 2 dalam buku yang berjudul Falsafah Hidup Huma Betang, Dr. Muhammad secara lugas menjelaskan tentang prinsip dasar kehidupan dalam masyarakat multireligius dan multikultural. Pada bagian awal dari bab ini beliau  menjdlaskan tentang agama sebagai identitas sosial. Bangsa  Indonesia yang berasakan Pancasila  dan UUD 1945 menggambarkan masyarakat yang religious. Dalam konteks ini agama memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Agama memberikan panduan dalam membangun kehidupan yang sempurna, di mana para penganut agama tersebut dapat mengalami kedamaian dan kebahagiaan. Agama Kristen misalnya mengajarkan umatnya untuk membangun hidup yang sempurna sesuai dengan martabatnya sebagai anak-anak Tuhan, “haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu adalah sempurna” (Mat.5:48). Kesempurnaan hidup tersebut  diwujudkan dengan  membangun kehidupan sesuai dengan ajaran Tuhan  yang tertulis dalam Alkitab. Kiranya tuntutan  membangun hidup sempurna ini juga tgerdapat dalam semua agama.Ajaran Kaharingan misalnya mengajarkan agafr pemeluk agama tersebutg membangun kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam.

Dengan tercapainya kehidupan yang sempurna maka terciptalah citra pribadi manusia yang integral, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh pelbagai hal yang membahayakan baik hidupnya sendiri, keluarga dan masyarakat luas. Bangsa di mana masyarakatnya beriman kuat akan menjadi  bangsa yang kuat, bersatu dan peduli terhadap sesama.

Namun demikian, penghayatan agama yang sempit dapat menjadi sumber komflik, lebih-lebih dalam kehidupan masyarakat multireligius. Adanya pemahaman bahwa agamanyalah yang paling benar sedangkan agama yang lain tidak benar dapat menjadi sumber konflik dan berbahaya. Sejarah telah mencatat berbagai peristiwa konflik antar agama yang membawa kehancuran dan degradasi  nilai kehidupan yang merupakan pemberian Tuhan.Konflik antar agama dapat menjadi sangat berbahaya bilamana telah disusupi oleh motif politik yang menguntungkan bagi kelompok tertentu.

Konflik tidak hanya timbul dari perbedaan agama, tetapi bisa juga timbul dari masalah keragaman budaya. Perbedaan ungkapan dan bahasa dalam pelbagai  budaya dapat menjadi sumber  konflik horizontal  dalam masyarakat. Contoh, kata “lalawah” dalam kalimat “tege lalawah hete na” , harafiahnya berarti “ada penyengat di situ”, tetapi kalimat yang sama dalam bahasa lain bisa berarti “lama-lamalah kamu di situ”. Contoh lain, dalam kalimat “linon luen taka” yang harafiahnya berarti “apa sayur kita”. Hal semacam ini dapat menyebabkan miskomunikasi yang men garah pada konflik.

Dalam situasi keragaman budaya dan agama kiranya seluruh anggota masyarakat dan para tokoh agama kiranya perlu memiliki sikap inklusif dengan memandang yang lain juga berada pada jalan kebenaran. Karena sikap ekslusif tidak hanya dapat mengganggu relasi antar umat beragama, tetapi lebih dari itu yang paling merasakan dampaknya adalah kehidupan keluarga-keluarga yang menganut agama yang berbeda. Sebagai contoh dalam keluarga bedsar penulis ada yang pendeta, ada yang pastur, ada yang guru agama Kaharingan, dan ada yang Muslim. Pada peristiwa tertentu, kami semua  berkumpul   dalam satu rumah.

Bisa dibayangkan , bila orang memiliki sikap ekslusif maka keluarga ini tidak mungkin bisa bersatu, sebaliknya akan berseteru atas dasar agama masing-masing.Prinsip yang dipegang dalam keluarga ini adalah prinsip daqsar saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Prinsip hidup inklusif  dan pluralis membawa orang untuk bisa melihat kebenaran yang juga ada dalam agama dan  budaya yang lain. Sehubungan dengan relasi dengan agama-agama non Kristen , Konsiukli Vatikan II, khususnya dalam dokumen Nostra AQetate Art.2 mengajarkan bahwa:

“Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi toh tidak jarang memantulkan kebenaran yang menerangi semua orang”.

Selanjutnya Dalam Art.5 dari dokumen yang sama, para pemimpin Gereja mengajarkan  bahwa “tidak ada dasar bagi setiap teori atau praktek, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dengan manusia, antara bangsa dengan bangsa”. Sikap demikian lahir dari ajaran Tuhan untuk mencintai sesama seperti dia mencintai diri sendiri . Tuhan bersabda: ”sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Dengan demikian sikap inklusif dan pluralis membawa setiap orang untuk memandang sesama sebagai saudara meski berbeda agama dan budaya.

Falsafah Huma Betang Sebagai Pemersatu Bangsa

Huma betang merupakan tipikal rumah keluarga masyarakat Dayak pada zaman dulu yang berukuran besar, tinggi, dan panjang, dan dapat dihuni oleh banyak keluarga, yang di Kalimangtan Timur disebut lamin.  Motif pembangunan huma betang, sebagaimana telah diuraikan oleh Dr.Muhammad pada halaman 51 dalam buku ini adalah, pertama, untuk menjaga keamanan keluarga dari bahaya serangan binatang buas, seperti ular, beruang, semut api, dll. Rumah dibuat tinggi, juga dimaksudkan untuk melindungi diri dari banjir dan serangan musuh dari suku lain, seperti perampokan dan pangayauan.

Pada zaman sekarang, orang tidak lagi membuat rumah panjang model zaman dulu, karena berbagai alasan, namun demikian, semangatnya tetap dihayati dan dipelihara.  Meski pun tidak lagi sebagai penghuni rumah betang, namun semangat atau nilai falsafah huma betang tetap dipelihara secara turun-temurun.

Nilai-nilai tersebut adalah:

a.Kesetaraan

Masyarakat Dayak pada dasarnya tidak mengenal adanya budaya feodalisme. Bagi mereka berlaku prinsip kesetaraan derajat di hadapan Ranying Hatalla Langit. Laki dan perempuan memiliki tanggungjawab  yang sama dalam keluarga. Dalam rumah betang seluruh penghuni memiliki kedudukan yang sama, dan semangat ini mengikat mereka akan tanggungjawab bersama atas kedamaian dan ketenteraman.

b. Persaudaraan dan Kekeluargaan

Semangat persaudaraan menjadi pemersatu  seluruh anggota komunitas. Semangat inilah yang membuat  mereka bersatu dan berjuang bersama dalam menghadapi tantangan dari luar dan menyelesaikan persoalan dengan semangat musyawarah mufakat dan gotong-royong. Berbeda dengan Dr. Muhammad yang mengatakan bahwa perbedaan kompetensi dianggap sebagai kunci  perekat komunitas betang dalam membangun kehidupan bersama (lihat:hlm. 59).Sebaliknya kami memandang bahwa justru semangat persaudaraan inilah yang menjadi perekat bagi anggota komunitas dalam menghadapi persoalan akibat perbedaan kompetensi. Perbedaan kompetensi dilihat sebagai karakter manusiawi yang kemudian saling melengkapi sebagai satu komunitas. Ibaratnya perbedaan-perbedaan kompetensi di antara anggota komunitas  dilihat sebagai karakter khas dari bagian-bagian tubuh tubuh yang pada akhirnya saling melengkapi sebagai satu keluarga. Segala persoalan dalam komunitas diselesaikan dengan musyaawah mufakat dalam ikatan persaudaraan dalam keluarga besar.

c. Belom Bahadat

Yang dimaksudkan dengan belom bahadat adalah prinsip dasar hidup yang menjunjung tinggi nilai adat-istiadat yang menekankan nilai moral dan spiritual seperti hormat terhadap orangtua, sesama, alam semesta dan Sang Pencipta. Falsafah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sebenarnya mau menekankan sikap moral untuk menghormati budaya orang di mana kita berada. Membangun sikap hormat terhadap sesama dan nilai-nilai budaya setempat.

d. Hubungan Antar Agama

Bertolak dari falsafah huma betang yang telah dijelaskan di atas sebenarnya, perbedaan agama dan komunitas masyarakat Dayak tidak menjadi permasalahan yang krusial. Orang hidup saling menghormati dan menghargai dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Masalah muncul ketika banyak pendatang yang karena kurang memahami, lalu kurang menghargai nilai-nilai budaya setempat (belom dia bahadat).

Demikian tanggapan kami atas isi buku “Falsafah Hidup Budaya Huma Betang Dalam Membangun Hidup Umat Beragama Di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah” /karya Dr. Muhammad dan Abubakar, H.M.***

Disampaikan dalam Forum Diskusi Kalteng Pos, yang diselenggarakan oleh kerjasama Harian Kalteng Pos dan Lembaga  Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, 13 April 2012 di Gedung Biru Kalteng Pos, Palangka Raya.

About these ads

1 comment so far

  1. johnsanggau on

    saya tertarik dengan tulisan adanya jika berkenan saya ingin bertanya beberapa hal melalui email. ini alamat email saya:
    john_koruh@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: