Kampung Pluralisme Sudiroprajan

Kampung Pluralisme Sudiroprajan

Diterbitkan : 29 Maret 2012 – 2:49pm | Oleh yunita rovroy (Foto: KBR68H)

Perbedaan etnis maupun agama tidak berdampak pada sikap warga kampung Sudiroprajan di Surakarta, Jawa Tengah. Selama puluhan tahun kampung ini dihuni warga Tionghoa dan Jawa. Kontributor KBR68H di Surakarta Yudha Satriawan merekam pembauran warga kampung itu.

Mereka hidup berdampingan, saling kawin mawin, berkeluarga multi etnis dan multi agama. Seperti apa bentuk kerukunan dan toleransi di kampung tersebut?

“Dung…dung… jreng… jreng… ya inilah penampilan Liong dan Barongsai…diikuti barisan belakangnya tampak Gunungan Kue Keranjang dan Bakpao…”

Musik Tionghoa itu terdengar dari sudut jalan samping Pasar Gedhe Surakarta. Ratusan orang berpakaian adat Tionghoa tapi berwajah Jawa, muncul di tengah kerumunan. Mereka berjalan dari depan Kelurahan Sudiroprajan hingga Klenteng Tien Kok Sie.

Gerebeg Sudiro
Tari Barongsai dan Liong atau Naga mengiringi arak-arakan tumpeng setinggi dua meter berisi kue keranjang dan bakpao. Semua masuk ke dalam klenteng untuk didoakan. Ribuan warga menanti di luar klenteng. Usai didoakan, tumpengan kue-kue itu akan dibagikan ke warga.

Tokoh Masyarakat Jawa Sudiroprajan, Yunanto Nugroho mengatakan, prosesi Gunungan tersebut dikenal dengan sebutan Gerebeg Sudiro untuk merayakan tahun baru Imlek.

“Penduduk terdiri dari dua etnis, Tionghoa dan Jawa. Gerebeg Sudiro selalu bersamaan dengan perayaan tahun baru Imlek. Ikon Gerebeg ini adalah kue khas Tionghoa, Kue Keranjang, yang ada hanya di waktu Imlek. Gunungan Kue Keranjang ini berbentuk pagoda, khas Tionghoa. Selain itu, kami juga ada gunungan khas kuliner Tionghoa lainnya yaitu, Bakpao.””

Ikut merayakan
Perayaan Imlek tak hanya milik warga Tionghoa saja. Bahkan warga Surakarta yang bukan etnis Tionghoa ikut membagikan angpao kepada warga lainnya, seperti yang dilakukan Haristanto.

“Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Saya warga kota Solo beretnis Jawa punya hak dan kewajiban ikut berbahagia merayakan juga, berempati pada sesama. Kita buat aksi bagi-bagi ang pao, ada duitnya di dalam amplop merah. Kita sediakan 230 amplop angpao. Ini untuk kita semua, bersenang-senang. Selamat tahun baru Imlek saudaraku. Gong Xi fa Cai.”

Pemerhati Budaya Tionghoa di Surakarta Aryanto Wong mengatakan, Gerebeg Sudiro memiliki tujuan pembauran Tionghoa dan tradisi Jawa.

“Kalau Gerebeg Sudiro itu bentuk akulturasi. Masyarakat Jawa ada tradisi Gerebeg, sedangkan kami warga Tionghoa punya kuliner khas Imlek yaitu Kue Keranjang. Ini dikawinkan. Kita membuat satu Gerebeg yang bersifat Jawa-Tionghoa yaitu Gerebeg Sudiro.”

Kawin ampyang
Bagi warga Sudiroprajan, toleransi beragama dan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa bukan cuma sekedar ritual agama seperti saat Imlek saja. Dalam keseharian, toleransi keberagaman itu ditunjukkan dalam bentuk kawin ampyang alias kawin campur.

Setelah menyusuri perkampungan Sudiroprajan berupa gang-gang sempit, akhirnya KBR68H menemukan alamat rumah Oei Bing Kie, tokoh masyarakat Tionghoa di kampung itu. Koh Bing Kie sedang menganyam janur daun kelapa menjadi dekorasi pernikahan adat Jawa, pesanan tetangganya.

Sambil menganyam janur, Koh Bing Kie mengaku termasuk pelaku kawin ampyang atau perkawinan campur warga Tionghoa dan jawa.

“Kalau kawin ampyang di kampung ini sudah biasa. Kalau di sini itu sudah sejak dulu, sejak kakek nenek kita sudah gitu semua. Saya generasi ke-empat. Sebenarnya semua manusia itu sama saja, yang penting, kalau kita masih ada rasa perbedaan ya janganlah. Kalau kita sudah tidak ada perbedaan ya tidak akan ada masalah lagi. Sampai sekarang kami yang kawin ampyang saja tidak pernah ada masalah.”

Multi agama
Sudah 30-an tahun Oei Bing Kie menikah dengan Surip Slamet Rahayu, perempuan Jawa. Selain multi etnis, keluarga Oei Bing Kie juga keluarga yang multi agama.

“Keluarga saya itu multi agama. Saya di KTP ditulis beragama Islam, tapi kepercayaan saya sendiri Budhist. Istri saya ke gereja. Anak saya ada lima. Anak pertama dan kedua beragama Islam, anak ketiga, empat, dan lima beragama Kristen.”

Istri Oe Bing Kie, Surip Slamet Rahayu membuka toko sembako di rumah. Slamet Rahayu mengatakan meski keluarganya berbeda etnis dan agama, tak pernah ada konflik soal perbedaan itu.

“Di keluarga saya tidak pernah berselisih soal agama. Itu sudah keyakinan masing-masing. Semua anggota keluarga harus menyadari kalau keyakinan dia ibadah di Kelenteng silakan. Kalau seiman sama saya, anak ada yang mau ke gereja ya monggo. Anak saya juga ada yang mau ibadah di masjid ya silakan, nggak apa-apa, tidak usah membedakan agama. Kita tidak pernah memaksa mereka mengikuti agama orangtuanya. Jadi sudah ada pilihan masing-masing.”

Saling toleransi
Bagi Bing Kie meski dirinya hanya lulusan SD, pendidikan pluralisme dan toleransi untuk keluarganya menjadi hal yang sangat penting. Seringkali Bing Kie mengajarkan secara langsung kepada keluarganya bagaimana hidup saling toleransi.

“Saling menghormati, bekerjasama, saling pengertian. Jangan terlalu fanatik. Itu kuncinya hidup rukun beragama. Kalau ada keperluan beribadah, ya jangan diganggu. Misalkan, kalau di rumah ini kan menantu saya beragama Islam, ya harus mau mengantar istri saya ke gereja. Begitu juga anak-anak saya yang lain beda agama, ya harus mau mengantar ke masjid. Cara mendidiknya seperti itu.”

Pria yang berumur lebih dari setengah abad ini pun mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi Pancasila yang mengakui keberagaman Bangsa Indonesia.

“Sejak dini harus ditanamkan tentang Pancasila. Kalau orang indonesia tidak bisa hidup berideologi Pancasila ya jangan hidup di Indonesia. Seluruh dunia saja mengakui dan memuji Pancasila sebagai ideologi yang bagus, penuh keberagaman. Kalau orang-orang Indonesia tidak mau lagi memakai ideologi Pancasila, wah kita semua bisa repot.”

Bisnis
Pembauran dan toleransi beragama antara warga Tionghoa dan Jawa di kampung Sudiroprajan terus berlangsung harmonis. Tokoh Tionghoa kota Surakarta, Sumartono Hadinoto pun berharap warga Tionghoa aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, berbaur, dan tidak berkutat pada bisnis saja.

“Orde Baru memang membuat warga Tionghoa terdiskriminasi dan hanya boleh bekerja di bisnis saja. Tapi pasca reformasi, Tionghoa mempunyai hak yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya untuk berjuang bersama melayani dan aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan. Tionghoa jangan hanya berkutat pada bisnisnya saja. Mereka harus bisa menunjukkan punya dedikasi dan loyalitas yang tinggi untuk bersama memajukan bangsa dan menjaga Pancasila yang mengakui keberagaman dan saling toleransi.”

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: