Peta Ideologi Pasca-Reformasi

Peta Ideologi Pasca-Reformasi

Judul buku                    : Ideologi Gerakan Pasca-Reformasi:
Gerakan-gerakan Sosial-Politik dalam Tinjuan Ideologis
Penulis                        : As’ad Said Ali
Halaman                      : xii+156
Terbit                            : Februari 2012
Penerbit                        : LP3ES, Jakarta
Peresensi                      : Syaiful Arif

Reformasi 1998 memang membuahkan hasil yang paling dibutuhkan masyarakat
Indonesia. Yakni kebebasan politik. Dalam kebebasan ini, masyarakat bebas
mengartikulasikan hak-hak sosial-politiknya. Baik melalui jalur politik
formal (partai politik), maupun gerakan sosial. Persoalannya, kebebasan
yang tanpa panduan telah melahirkan “ancaman” bagi sendi-sendi dasar
berbangsa. Sebab ia mendedahkan berbagai gerakan sosial-politik yang
jelas-jelas memiliki ideologi kontra-Pancasila.

Inilah yang menjadi keprihatinan mendasar Dr As’ad Said Ali. Wakil Ketua
Umum PBNU yang baru mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari fakultas
hukum Universitas Diponegoro pada 11 Februari kemarin ini, memang
menggelisahkan ancaman ideologis atas ideologi negara kita, yakni
Pancasila. Oleh karenanya, tesis yang membuahkan doktor kehormatan itu
adalah gagasan As’ad, perlunya payung hukum penjaga Pancasila, dari
serangan ideologi-ideologi politik yang pasca Reformasi, menyeruak tanpa
kendali. Argumennya sederhana. Jika TAP-MPRS III/1966 melarang ajaran
Marxisme-Leninisme-Komunisme, kenapa tidak ada UU yang melarang ideologi
Islamisme misalnya, yang secara terang-terangan memperjuangkan pendirian
Negara Islam?


Lima varian

Dalam buku terbaru yang merupakan riset empirik selama ia menjabat Wakil
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) ini, dipaparkan lima macam ideologi
politik yang ada di Indonesia, yang menyeruak dalam kebebasan politik pasca
Reformasi 1998. Ideologi-ideologi ini merentang di antara dua tradisi
besar: ideologi sekular dan Islamisme. Oleh kareannya ia membuat lima
tipologi, yakni kiri-radaikal, kiri-moderat, kanan-konservatif,
kanan-liberal, dan Islamisme.

Pertama, kiri-radikal. Ideologi ini mendapat asupan teoritis dari Marxisme,
yang kemudian melahirkan varian Leninisme dan Maoisme. As’ad berangkat dari
peta global ideologi ini, yang mencakup sosialisme komunitarian, Marxisme,
Anarkisme, Komunisme, Trotkyisme, Maoisme, Shactmanisme I,
Neo-Konservatisme Laboris, Euro-Communism, Kiri-baru (1960), hingga
varian-varian baru seperti Demokrasi Radikal, Marxisme Demokratis,
Sosialisme Libertarian dan Sosialisme Pasar. Dasar teoritis ideologi ini
tentulah Marxisme, yang menempatkan kapitalisme sebagai musuh utama, dan
kelas buruh sebagai lokomotif perjuangan kelas. Sementara varian baru
mengacu pada perluasan demokrasi, dari demokrasi elitis parlementer, kepada
demokrasi partisipatoris. Perjuangan varian baru Demokrasi Radikal
misalnya, tidak melulu perjuangan kelas. Melainkan perluasan demokrasi dari
wilayah politik, kepada demokrtaisasi sosial-ekonomi (hlm. 3-15).

Di Indonesia, varian kiri-radikal ini terdapat pada Anarkis-Marxis. Yakni
varian gerakan sosial-politik berhaluan Marxis yang anti-negara. Karena
anarkisme merupakan ideologi anti-negara, maka persatuan antara anarkisme
dan Marxisme terletak pada kekritisan atas kekuasaan negara yang selalu
dilihat sebagai Leviathan yang menjajah. Serta perjuangan Marxian pada
level buruh, petani, dan rakyat miskin kota. Menurut As’ad, Partai Rakyat
Demokratik (PRD) adalah pusat-politik dari segenap gerakan anarkis-Marxian
ini. Artinya, sebagai partai, PRD mampu menyatukan segenap gerakan buruh,
petani, mahasiswa radikal dan rakyat miskin kota di dalam payung besar
politik radikalnya. Hanya saja dalam perkembangannya, berbagai gerakan
sosial radikal ini kemudian mengundurkan diri dari PRD, karena perbedaan
pandangan.

Yang menarik As’ad mampu memberikan data gerakan radikal anarkis di negeri
kita. Gerakan itu adalah Kolektif Kontra Kultura (Bandung), Anti Fascist
and Racist Action (Jakarta) yang berafiliasi dengan organisasi anti-rasis
internasional: Anti Racist Action (ARA). Di Yogyakarta juga terdapat Taring
Padi yang berisi para seniman anarkis yang membentuk jaringan anarkis
nasional, yakni Jaringan Anti Fasis Nusantara (JAFNus). Jaringan ini
kemudian dibubarkan oleh pemerintah. Hanya saja pada tahun 2007, gerakan
ini bangkit lagi dan membentuk Jaringan Anti-Otoritarian. Sebuah jaringan
nasional yang berisi Kolektif Affinitas (Yogyakarta), Jakarta Anarchist
Resistance yang kemudian menjadi Jaringan Otomatis (Jotos), Jaringan
Autonomous Kota (Salatiga) dan Kolektif Bunga (Surabaya). Jaringan besar
ini disatukan untuk menyambut May Day 2007 dan bergabung dengan Aliansi
Buruh Menggugah (hlm. 16-23).

Kedua, kiri moderat. Ini adalah varian sosial demokrasi yang ingin
memperluas demokrasi dari ranah politik kepada ranah sosial-ekonomi. Varian
ini berangkat dari tradisi sosialis namun percaya pada mekanisme demokrasi.
Tujuan utama varian ini adalah negara kesejahteraan (welfare state), yang
merupakan ejawantah cita-cita sosialis dalam negara demokrasi. Di
Indonesia, varian sos-dem ini digerakkan oleh Gerakan Pembaharu Indonesia
(1967), Partai Rakyat Marhein, Partai Rakyat Prima, Partai Penerus Perintis
Kemerdekaan Indonesia (PGPPK) dan Partai Buruh Sosial Demokrat. Sementara
itu bentuk gerakan sosialnya digerakkan oleh Forum Sosialis Demokratik,
Pemuda Sosialis Jakarta, Perhimpunan Indonesia dan Uni Sosial Demokrat.
Selain dalam gerakan sosial dan intelektual, sos-dem juga digerakkan
melalui pergerakan buruh dengan tokoh Dita Indah Sari, dan rakyat miskin
kota (Urban Poor Consortium) dengan tokoh Wardah Hafidz. Belakangan,
gerakan ini getol menembakkan kritik kepada neo-liberalisme. Satu varian
yang dibuku ini disebut sebagai kanan-liberal (hlm. 25-29).

Ketiga, kanan-konservatif. Varian ini menekankan konservatisisme. Yakni
sebuah keinginan menjaga ketertiban sosial. Dalam kerangka ini, varian
tersebut ingin kembali pada tatanan lama dan mengritik proses Reformasi
yang dianggap kebablasan. Untuk menjaga tertib sosial, model demokrasi
elitis yang dipakai, sebab bagi varian ini, elitlah aktor sosial yang bisa
menentukan corak kehidupan sosial-politik. Menurut As’ad, varian ini
digerakkan oleh aktor-aktor lama politik Orde Baru yang bersembunyi di
balik klaim nasionalisme. Maka, salah satu isu yang ditumpangi gerakan ini
adalah kritik atas amandemen UUD 45, sehingga mereka mencetuskan perlunya
kembali kepada dasar negara (dan juga NKRI) yang telah mapan itu. Selain
aktor lama Orde Baru, varian ini juga digerakkan oleh petinggi militer
radikal dan kaum nasionalis puritan. Organ-organ yang menggerakkan adalah
Dewan Revolusi, Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya, Perhimpunan Nasionalis
Indonesia, dan bahkan Gerakan Indonesia Bangkit (hlm. 44-47).

Keempat, kanan-liberal. Varian ini mendasarkan diri pada filsafat
liberalisme yang saat ini telah berkembang menjadi neo-liberalisme. Varian
ini tentu bertujuan pada penguatan pasar bebas dan pengecilan intervensi
negara. Targetnya adalah privatisasi dan dominasi multinational corporation
di kancah ekonomi Indonesia. Secara struktural, varian ini digerakkan oleh
ELIPS (Economic Law and Improved Procurement System), Partnership for
Governance Reform in Indonesia, dan PEG (Partnership for Economic Growth).
Ketiga lembaga ini telah mampu mengintervensi pemerintah sehingga
melahirkan beberapa kebijakan yang menguntungkan perusahan-perusahaan
multi-nasional, terhitung sejak 1997-2003. Kebijakan pro-pasar bebas
tersebut adalah UU Kepailitan, UU Migas, UU SDA, UU Merek, UU Hak Cipta, UU
Antimonopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, UU Tindak Pidana Pencucian
Uang, dan bahkan UU Otonomi Daerah (hlm. 47-55).

Kelima, Islamisme. Dalam varian ini As’ad menyebutkan beberapa gerakan
Islam radikal yang ia tempatkan sebagai non-maintream, berseberangan dengan
gerakan Islam mainstream yakni NU-Muhammadiyah. Gerakan Islamis itu adalah
Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi-Wahabi, Salafi Jihadi, Jama’ah
Tabligh, Syi’ah, Laskar Jihad Ahl Sunnah Wal Jama’ah, Majelis Mujahidin
Indonesia, serta Jama’ah Ansharut Tauhid. Menariknya, As’ad juga mengurai
jejaring al-Qaeda di AsiaTenggara dan hubungan strukturalnya dengan
beberapa gerakan Islam radikal tersebut.

Dalam kesimpulan, As’ad memprediksi terjadinya benturan antara gerakan
Islam radikal dan Islam mainstream. Hal ini perlu diwaspadai sebab gerakan
Islam radikal ini telah menggerogoti basis massa gerakan Islam mainstream.
Basis Muhammadiyah di perkotaan misalnya, telah digerogoti oleh jama’ah
Ihkwan dan Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh mengerogoti konstituen NU di
perkotaan, gerakan salafi berusaha mengambil jama’ah NU puritan dengan
pendekatan pesantren. Pada ranah internal gerakan-gerakan radikal itupun
terjadi ketegangan. Jama’ah Ikhwan misalnya, tidak pernah sepakat dengan
Hizbut Tahrir, demikian sebaliknya. Alasannya, Hizbut Tahrir yang menolak
demokrasi, tidak sepakat dengan Ikhwan yang menggunakan jalur demokrasi.
Sementara Salafi-Wahabi yang non-politis, mengecam Ikhwan dan Hizbut Tahrir
yang bergerak pada ranah politik (hlm. 73-143).

Buku yang merupakan riset pribadi selama di BIN ini terbilang cukup berat,
karena memuat data intelijen yang kaya. Oleh karena itu, buku ini
memberikan data berharga yang jarang ditemukan dalam media dan buku-buku
gerakan konvensional. Keseriusan penulis dalam memetakan ideologi
gerakan-gerakan sosial-politik di Indonesia patut kita apresiasi sebagai
upaya seorang “pengabdi negara” dalam menjaga dasar-dasar konstitusional
kenegaraan kita. Apalagi posisi penulis sebagai Waketum PBNU, menyiratkan
keterlibatan ideologis sang penulis dalam kontestasi gerakan sosial-politik
di negeri ini. Dengan demikian kita bisa memahami kenapa PR besar yang
direkomendasikan buku ini adalah perumusan “payung konstitusi” penjaga
ideologi negara. Jawabnya jelas. Karena tanpa “payung konstitusi” itu,
Pancasila bisa saja dijegal tengah jalan, oleh beberapa varian ideologi di
atas, yang memang memiliki tujuan normatif-ideologis, berbeda dengan
Pancasila.

Koordinator Kelas Pemikiran Gus Dur


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

Sumber:Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>, in:ppiindia@yahoogroups.com, Monday, 12 March 2012, 8:09

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: