Menelusuri Situs Gunung Nagara

 

Menelusuri Situs Gunung Nagara

Aldo Desatura ™

<hanjakal@gmail.com>,

in: wanita-muslimah@yahoogroups.com, Monday, 12 March 2012, 9:35

DALAM peradaban tatar Sunda, Kabupaten Garut pada
umumnya, khususnya wilayah Garut selatan kurang begitu
diperhatikan. Terlebih jika dikaitkan dengan kerajaan
atau dengan isu penyebaran ajaran Islam. Sebab,
dipungkiri ataupun tidak, di wilayah Kabupaten Garut
tidak pernah berdiri kerajaan besar sekaliber Galuh
Pakuan, Sumedang Larang, Pajajaran, Kasepuhan dan
Banten. Akan tetapi, realitas tersebut tidak menutup
kemungkinan kalau di wilayah Garut pernah berdiri
kerajaan kecil yang dijadikan basis penyebaran agama
Islam di wilayah Garut Selatan yang terjadi sekira
awal abad ke 13.

Situs Gunung Nagara

BATU Nisan, salah satu peninggalan yang masih
tersisa.*DOK. PRIBADI

Berbicara tentang gunung, pikiran kita tertuju pada
sebuah gunung cukup tinggi. Sebenarnya, Gunung Nagara
bukanlah gunung dalam artian para pecinta alam. Ia
lebih merupakan bukit yang memiliki keragaman flora
cukup unik. Di tempat tersebut masih banyak terdapat
pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru,
binong serta masih banyak jenis tumbuhan lainnya yang
mungkin secara ilmiah belum dikenal, dan belum
diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Kekayaan fauna juga dimiliki hutan Gunung Nagara.
Kalau kebetulan, kita akan menemukan burung rangkong
(Buceros rhinoceros) yang sedang asyik berduaan
bersama pasangannya di atas pohon yang cukup tinggi.
Tubuhnya yang cukup besar diperindah dengan mahkota
oranye di atas kepalanya. Bagi yang pertama kali
menemukan burung ini, mungkin akan merasa aneh, sebab
ketika burung tersebut akan terbang, biasanya memberi
aba-aba dengan suara “gak” yang keras mirip suara
monyet. Lantas, ketika sudah tinggal landas, kepakan
sayapnya mengeluarkan suara yang dramatis. Selain
burung Rangkong, masih terdapat hewan langka lainnya
semisal kambing hutan, landak, kucing hutan, macan
kumbang, walik, surili, dan beragam jenis kupu-kupu.

Secara geografis, ia terletak di wilayah Desa
Depok-Cisompet-Garut. Menuju daerah tersebut relatif
gampang, dari terminal Garut kita hanya tinggal naik
elf jurusan Pamengpeuk-Garut dengan membayar ongkos RP
10.000,00, atau jika berangkat dari Bandung, kita
tinggal naik bus tiga perempat jurusan
Bandung-Pameungpeuk dengan membayar ongkos Rp
15.000,00. Kita minta diturunkan di Kampung Pagelaran.
Dari kampung tersebut, bukit gunung Nagara sudah
tampak begitu jelas, namun sekilas tidak ada jalan
menuju bukit tersebut, yang terlihat hanyalah tebing
cadas yang menurut pemikiran normal tidak mungkin
untuk didaki tanpa peralatan panjat.

Dari Kampung Pagelaran, kita tinggal berjalan kaki
menuju Kampung Depok dengan jarak sekira satu
kilometer. Menurut hikayat, nama Depok dikaitkan
dengan padepokan. Artinya, perkampungan tersebut pada
awalnya merupakan padepokan tempat peristirahatan para
gegeden. Sebenarnya, menurut Ki Ecep (sesepuh
kampung), pada era enam puluhan, kampung Depok masih
merupakan perkampungan dengan tradisi yang sama dengan
Baduy. Akan tetapi, setelah kampung tersebut
dibumihanguskan gerombolan DI/TII, terjadi perubahan
cukup signifikan. Sekarang tidak akan lagi terlihat
rumah-rumah panggung berjajar menghadap kiblat.

Perjalanan Pagelaran-Depok akan melintasi sungai
Cikaso. Bagi mereka yang suka akan keindahan alam,
alangkah baiknya terlebih dahulu mengunjungi Batu Opak
yang berada kurang lebih setengah kilometer ke arah
hulu. Di tempat tersebut kita akan menyaksikan
fenomena geologis, yakni batu yang berjajar secara
sinergis dari arah bukit menuju sungai dengan bentuk
mirip seperti opak. Penduduk sekitar menghubungkan
fenomena geologis tersebut dengan legenda Sangkuriang.
Yaitu, ketika Sangkuriang akan menikah, Embah
Rajadilewa (penguasa daerah selatan) mau membantu
nyambungan. Akan tetapi, baru saja mereka sampai di
Leuwi Tamiang, dari arah timur terlihat fajar,
sehingga mereka menyimpan barang bawaannya di tempat
tersebut, hingga ia berubah menjadi batu.

Bagi mereka yang baru mengunjungi tempat ini, di
kampung Depok inilah bisa menemui Ki Sanang (kuncen)
untuk minta diantar. Dari Depok, kita melanjutkan
perjalanan menuju Cidadap dengan jarak kurang lebih
setengah kilometer, perjalanan ini melewati pesawahan
yang tidak terlalu luas. Di Cidadap inilah terdapat
mata air yang dikeramatkan. Secara nalar, air dapat
menyegarkan badan. Perjalanan baru akan mendapat
tantangan manakala kita mulai merayap mendaki jalanan
setapak yang cukup terjal (Cidadap-Gunung Nagara).
Terkadang kita harus melewati jalanan yang
kemiringannya mencapai 75 derajat. Dari Cidadap, kita
tidak akan menjumpai jalanan yang datar, kanan kiri
jalan masih terdapat banyak pohon besar, sehingga
walaupun kelelahan kita bisa beristirahat cukup
santai. Perjalanan ini jika ditempuh dengan santai
paling-paling memakan waktu sekira setengah jam.

Sesampainya di puncak Gunung Nagara, secara langsung
kita telah sampai di kompleks pemakaman. Tempat itu
dikenal dengan pusaran ka hiji (kompleks pertama) yang
di tempat ini terdapat dua puluh enam kuburan.
Kuburan-kuburan tersebut relatif besar-besar. Setiap
kuburan dihiasi batu “sakoja” dan batu nisan. Dinamai
sakoja, karena batu tersebut berasal dari sungai
Cikaso diambil dengan menggunakan koja (kantong).
Kalau kita perhatikan secara seksama, komplek
pekuburan tersebut tersusun secara rapi membentuk
sebuah struktur organigram. Lima belas meter ke arah
utara, terdapat kuburan yang dikenal dengan pusaran
kadua. Di tempat ini hanya terdapat dua kuburan.
Sekira dua kilometer ke arah utara, terdapat kuburan
yang dikenal dengan pusaran katilu yang hanya terdiri
dari dua kuburan. Konon kabarnya, kuburan ini
merupakan kuburan Embah Ageung Nagara dan patihnya.

Menurut Kepala Desa Depok, Abdul Rasyid, tiga pusaran
tersebut melambangkan Alquran yang terdiri dari 30
juz. Pusaran pertama yang terdiri dari 26 kuburan
melambangkan bagian Mufassal (surat-surat) pendek,
pusaran kedua melambangkan al-mi’un dan pusaran ketiga
melambangkan sab’ul matsani. Oleh sebab itu, tidak
diperbolehkan menambah kuburan. Lebih lanjut, ia
mengatakan kalau pada pusaran pertama itu terdiri dari
para pengikut/pengawal yang salah satu di antaranya
perempuan, pusaran kedua merupakan kuburan panglima
dan pusaran ketiga merupakan kuburan raja dan patih.
Sebenarnya, jika kita mau melanjutkan perjalanan ke
arah utara, kita akan menemukan sebuah kuburan yang
terpisah, konon kabarnya kuburan tersebut merupakan
kuburan seorang berbangsa Arab.

Lebih jauh, menurut Abdul Rasyid, sebenarnya situs
Gunung Nagara terdiri atas beberapa peninggalan dalam
bentuk barang. Namun sayang, naskah aslinya terbakar
manakala gorombolan (DI/TII) menyerang Kampung Depok,
sedangkan beberapa naskah lainnya yang tersisa dan
barang-barang peninggalan sudah menjadi milik orang
Tasik. Barang-barang yang masih ada, terpencar di
perseorangan.

Bagi para peziarah yang terbiasa melakukan semedi,
disyaratkan baginya untuk melakukan ritual mandi di
Sumur Tujuh. Sumur tersebut berada sekira setengah
kilometer ke arah lembah. Sumur itu berada tepat di
dekat sungai kecil. Sebenarnya, sumur itu merupakan
kubangan-kubangan kecil akibat dari resapan air.

Legenda Kian Santang

Menurut sebagian besar masyarakat Depok, Situs Gunung
Nagara erat kaitannya dengan penyebaran Islam di
wilayah Garut Selatan yang disebarkan atas jasa Prabu
Kian Santang. Malahan diklaim kalau sesungguhnya
daerah Leuweung Sancang merupakan tempat
peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi (raja
pajajaran yang terkenal), sehingga begitu melegenda
kalau di leuweung tersebut terdapat harimau
jadi-jadian, bekas pasukan Prabu Siliwangi. Sementara
itu, walaupun terdapat daerah yang diklaim sebagai
tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi,
penduduk Garut selatan meyakini bahwa kuburan asli
Prabu Kian Santang itu berada di kompleks pemakaman
Gunung Nagara.

Menurut mereka, keberadaan kuburan lainnya hanya
merupakan tempat persinggahan Prabu Kian Santang.
Misalnya saja pemakaman Godog di daerah
Suci-Karangpawitan-Garut. Mereka menyatakan kalau
sesungguhnya di tempat tersebut Prabu Kian Santang
hanya tinggal berkontemplasi merenungi kekeliruannya
dalam melakukan sunat terhadap orang yang masuk Islam.
Oleh sebab itu, tempat tersebut dinamakan “Godog” yang
mengandung arti tempat penyucian jiwa atau dalam
istilah pewayangan “Kawah Candradimuka”, dan karenanya
pula tempat ketika ia turun dari daerah tersebut
dinamakan “Suci”, yang berarti setelah melakukan
kontemplasi ia kembali pada kesucian yang kemudian
melanjutkan perjalanan menuju Garut Selatan.

Dari data-data sepintas tersebut, rasanya tidak
terlalu berlebihan kalau sesungguhnya Gunung Nagara
menyimpan rahasia yang harus segera dieksploitasi,
baik bagi kepentingan pendidikan ataupun bagi
kepentingan pariwisata. (Penulis adalah anggota KPA
Jirim)

OLEH RONI NUGRAHA

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: