Bagaimana JEN. SUHARTO MEMFITNAH PEREMPUAN INDONESIA ANGG. GERWANI — Pada Awal “KUP MERANGKAKNYA” Terhadap Pres. SUKARNO

Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 07 Maret 2012
——————-

Bagaimana JEN. SUHARTO MEMFITNAH PEREMPUAN INDONESIA ANGG. GERWANI –
Pada Awal “KUP MERANGKAKNYA” Terhadap Pres. SUKARNO

* * *

in:<nasional-list@yahoogroups.com> , Thursday, 8 March 2012, 0:02

Memperingati HARI WANITA INTERNASIONAL besok tanggal 08 Maret, 2012,
dengan sedikit di-edit disiarkan kembali sebuah
esay yang ditulis dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Wanita
Internsional tahun lalu:

Menyongsong Hari Wanita Internasional “8 Maret”– Dan “GERWANI”
<Jum’at, 18 Februari 2011>
Seperti John Legge mengakui *”barangkali karena yang dibunuh adalah
orang-orang Komunis maka sedikit banyak hati-nurani dunia luar
seakan-akan tidak terusik oleh apa yang harus digolongkan, apa pun
penilaiannya, sebagai salah satu pembantaian paling keji dalam sejarah
modern”, Prof Dr Saskia Wieringa>>

Menjelang Hari Wanita Internasional “8 Maret” yad, baik kiranya
menjenguk ke sejarah gerakan wanita Indonesia sejak berdirinya Republik
Indonesia. Sejarah gerakan wanita Indonesia adalah suatu proses panjang
yang perlu diketahui oleh bangsa kita, generasi muda, khususnya para
aktivis yang terlibat dalam gerakan emansipasi kaum wanita Indonesia
dewasa ini.

Tulisan ini bermaksud memfokuskan perhatian pembaca pada cara licik Jen.
Suharto yang memulai kampanye anti-PKI, anti Presiden Sukarno dan anti
golongan Kiri lainnya,

dalam rangka memulai “kup merangkak”nya terhadap Presiden Sukarno, —
dengan merekayasa suatu fitnah yang teramat keji terhadap
perempuan-perempun anggota Gerwani.

Perempuan-perempuan anggota Gerwani dituduh melakukan kekejaman
menganiaya jendral-jendral TNI sebelum dibunuh di Lubang Buaya.
Suatu kebohonngan keji, yang karena demikian luasnya kampanye yang
dilakukan militer, telah menciptakan suasana politik yang mereka perlukan
untuk memulai kampanye pembantaian massal terhadap PKI, yang dituduh PKI
dan golongan Kiri lainnya. Korban mencapai sekitar 3 juta warga yang
tak bersalah (keterangan Jend. Sarwo Edhi). Kebohongan, fitnah dan
rekayasa Jen. Suharto terhadap Gerwani ini
belum pernah diungkap apalagi diakui oleh penguasa.

* * *

Rezim Orde Baru Presiden Suharto, naik panggung kekuasaan, dengan
menggunakan cara “kup merangkak” terhadap Presiden Sukarno. Suharto
menggulingkan Presiden Sukarno, setelah menuduh keterlibatan Presiden
Sukarno dengan ‘G30S’ (bahkan diinsinuasikan Presiden Sukarno adalah
‘dalang’ sesungguhnya di belakang ‘G30S’, bersama PKI.) Menonjol ialah
manuver politik Jendral Suharto itu dimulai melalui a.l suatu kampanye
bohong dan fitnahan keji, lewat media yang sangat efektif, dengan
sasaran PKI dan Gerwani.

Menurut taktik dan strategi Jendral Suharto, untuk merebut kekuasaan
politik, pemerintahan dan negara RI, dari Presiden Sukarno, harus
menghancurkan terlebih dulu kekuatan parpol dan ormas yang mendukungnya.
Kekuatan yang harus dihancurkan itu adalah PKI dan Gerwani. PKI sebagai
parpol dan Gerwani sebagai ormas wanita Indonesia yang terbesar periode itu.

Dimulailah rekayasa, fitnah keji dan kebohongan besar sekitar dibunuhnya
6 jendral dan seorang perwira menengah di Lubang Buaya. Semua koran
ditutup selain koran-koran militer dan koran-koran pendukungnya.

Dilancarkanlah berita tentang wanita-wanita anggota Gerwani yang
melakukan penganiayaan terhadap para jendral sebelum mereka dibunuh.
Diikuti oleh ‘orgi’, tari-tarian mesum para wanita Gerwani tsb dihadapan
para jendral yang akan dibunuh.

Dalam satu nafas wanita-wanita anggota Gerwani digambarkan sebagai
wanita-wanita yang lebih hina dari pelacur, yang bejat, kejam dan
biadab; juga sebagai wanita-wanita Komunis yang atheis dan tak bermoral.

Kampanye fitnah Jendral Suharto ternyata efektif. Diciptakan kebencian
luar biasa di kalangan penduduk terhadap Gerwani dan PKI. Dari situ
dimulai kampanye pembantaian masal terhadap anggota-anggota PKI, Gerwani
dan para ormas pendukung politik PKI, para pendukung Presiden Sukarno
dan kaum Kiri dan demokrat lainnya.

* * *

Profesor Dr Saskia Eleonora Wieringa, seorang PhD tamatan Belanda, yang
fasih berbahasa Indonesia, melakukan riset lapangan yang panjang, luas
dan mendalam mengenai GERWANI, dan kampanye penghancuran gerakan wanita
Indonesia, khususnya yang diorganisasi oleh Gerwani.

Hasilnya adalah sebuah buku berjudul “THE POLITIZATION OF GENDER
RELATIONS IN INDONESIA — WOMEN’S MOVEMENT & GERWANI UNTIL THE NEW ORDER
STATE’
(Suatu Academisch Proefschrift, untuk meraih titel doctor pada
Universitas Amswterdam). Ini berlangsung pada tanggal 6 Oktober 1995
diAmsterdam.

Setahun setelah jatuhnya Suharto terbit Edisi Indonesia, berjudul
PENGHANCURAN GERAKAN PEREMPUAN DI INDONESIA ( Tebal: 593 halaman,
Penerbit Garba Budaya, 1999).

* * *

Baik kita simak sedikit cerita Saskia Wieringa sendiri mengenai bukunya
itu, akan kita baca a.l sbb:

“Jelas sejarah kita dibangun oleh para “sejarawan”yang mengabdi
kekuasaan militer . . . Kita yang sudah disiksa dan kalah jangan
sekali-kali menjadi putus asa. Kita harus berjuang untuk hidup. Generasi
muda harus belajar dan tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi pada masa
lalu. Sejarah harus ditulis di atas kejujujuran, sehingga
generasi-generasi mendatang tidak akan salah mengerti.
(Dok IX 1992.22).

Sejarah yang dimaksud dalam kutipan tsb meliputi jangka waktu setengah
abad, yaitu sejak Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia sampai sekarang, dan khususnya sekitar tahun-tahun 1965,
ketika Orde Lama Sukarno digantikan dengan Orde Baru Suharto. Mereka
yang “telah disiksa dan dikalahkan” itu adalah orang-orang dari Partai
Komunis Indonesia dahulu, atau dari organisasi ini dan itu yang termasuk
dalam ‘Keluarga Komunis”, seperti misalnya organisasi perempuan Gerwani
(Gerakan Wanita Indonesia).

Footnote 1: Saya pakai istilah “Keluarga Komunis”dengan maksud meliputi
PKI dan ormas-ormas kaitannya, yaitu Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia),
Pemuda Rakyat, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, BTI
(Barisan Tani Indonesia), Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dan HSI
(Himpunan Sarjana Indonesia). Pada 1964 dikatakan keluarga ini terdiri
dari sekitar 27 juta anggota (HR 20 Agustus 1965). Angka ini harus
dibaca dengan hati-hati, oleh karena kenyataannya banyak terjadi
keanggotaan rangkap.

Footnote 2: Antara 1950-54 organisasi ini bernama Gerwis. Saya pakai
Gerwani untuk menyebut organisasi ini secara umum, dan hanya memakai
sebutan Gerwis jika dimaksud khusus tentang priode tersebut sampai
Kongres Ke-1 tahun 1954.

* * *

Suharto tampil ke atas singasana kekuasaannya dengan menciptakan
kampanye kekerasan yang tak ada tolok bandingannya di masa lalu, dan
dikuatkan pula dengan tuduhah pesta-pesta seksual yang konon dilakukan
para anggota Gerwani.

Orde Baru tidak hanya dibangun di atas timbunan mayat-mayat, yang
diperkirakan sebanyak satu juta, dari orang-orang tak berdosa yang
dibantai selama bulan-bulan terakhir tahun 1965 dan bulan-bulan pertama
tahun 1966. Tapi Orde Baru juga dibangun di atas pembasmian kekuaatan
kaum perempuan, yang telah berhasil diperolehnya selama
dasawarsa-dasawarsa sebelumnya, kekuatan yang oleh musuh-musuh mereka
dilukiskan melalui sejumlah metafora seksual.

Selanjutnya Wieringa: Tidak banyak perhatian diberikan pada masa genting
dalam sejarah modern Indonesia ini, baik oleh peneliti dari luar maupun
dari dalam negeri sendiri. Seperti John Legge mengakui “//*barangkali
karena yang dibunuh adalah orang-orang Komunis maka sedikit banyak
hati-nurani dunia luar seakan-akan tidak terusik oleh apa yang harus
digolongkan, apa pun penilaiannya, sebagai salah satu pembantian paling
keji dalam sejarah modern”*//(Legge 1972:399)(huruf tebal dari saya:
I.I.) Jelas jika Amerika Serika menjadi merasa lega, bila selain berada
di tengah kemelut Perang Vietnam, Sukarno, yang mereka pandang sebagai
pengacau dunia yang hendak menyerahkan Indonesia ke tangan kaum Komunis
yang berbahaya itu, telah berhasil disingkirkan oleh seorang jendral
kanan yang dengan segala daya membawa Indonesia ke jalan kapitalis./

. . . .

Dalam kajian ini saya akan membuktikan, bahwa alasan lain mengapa Dunia
Barat tutup-mulut itu ialah, karena ketakmampuannya memahami tali-menali
dan intrik-intrik yang ada di balik kampanye ketidak-amanan dan
pembunuhan-embunuhan masal, yang dilakukan sesudah kup “pertama” pada 1
Oktober 1965. Kampanye beserta akibat-akibatnya itu saya pandang
sebagai kup yang “kedua”, yang dengan diam-diam telah mengangkat Suharto
ke tahta kekuasaannya. . . . .

–Suharto tampil di atas tahta kekuasaan di tengah kemelut
kejadian-kejadian susudah kup yang gagal, dan yang sampai sekarang
samasekali belum jelas . . . Suharto dan kelompok kecil pendukungnya
mengambil kesempatan itu, seolah-olah tampik tanpa rencana sebelumnya
yang terlalu jauh <Vatikiotis 1993: 2 & 22).

.

* * *

Dalam kejadian-kejadian tersebut, kup tanggal 1 Oktober 1965 merupakan
kejadian terpenting yang perlu dijelaskan. Karena entah bagaimanapun
juga, memang kejadian inilah yang akhirnya telah membukakan jalan bagi
Suharto naik ke jenjang kekuasaan. Sebagai akibatnya, diabaikanlah
kecerdikan Suharto dalam memanipulasi pendapat umum segala dalih dan
kebohongan telah digubahnya untuk menciptakan kondisi kekacauan
masyarakat, serupa seperti adegan -gara-gara- dalam pergelaran wayang.
. . . . .

Sementara Dunia Barat demi alasan-alasannya sendiri berdiri di kejauhan,
di Indonesia oposisi dipukul atau dengan cerdiknya dibikin tutup mulut
oleh pemerintah melalui represi yang kejam. Tidak hanya dengan
pembunuhan terhadap ratusan ribu orang-orang yang tak berdosa, tapi juga
dengan menahan puluhan ribu lainnya, bahkan ada di antara mereka yang
sampai lebih dari dua puluh tahun. Hanya sedikit saja dari para tahanan
itu yang dibawa ke depan mahkamah pengadilan, notabene pengadilan
kanguru sekalipun. Mereka yang selamatpun masih terus menderita.. . . .
. . . . . . .

Kekuasaan Orde Baru dibangun di atas model disiplin dan represi
kekejaman militer, di mana setiap referensimengenai ketimpangan sosial
dituding sebagai dijiwai atau berkaitan
dengan “subversi Komunis”. Mitos tentang lahirnya Orde Baru diciptakan
oleh Presiden Suharto dengan sadar, dan terus-menerus diulang-ulangnya
di dalam setiap kampanye indoktrinasi. Dalam hal ini termasuk, antara
lain, pemutaran sebuah versi film tentang apa yang disebutnya sebagai
“pengkhianatan PKI”.

Kampanye ini dibangun di atas metafora-metafora seksual, khususnya
ketakutan laki-laki terhadap kastrasi yang, dengan sejumlah dalih sangat
menjijikkan, menggambarkan organisasi perempuan Gerwani (yang
dikaitkannya dengan PKI), yang diduga berperanan di dalam kup tersebut.
Sampai sekarang analisis-analisis kekuasaan Orde Baeru selalu
mengabaikan unsur-unsur kiasan seksual yang melandasi konfigurasi
politik Indonesia dewasa ini.
Demikian a.l.; Kutipan dari buku Prof Dr Saskia Wieringa, berjudul
PENGHANCURAN
GERAKAN PEREMPUAN INDONESIA, Bab Pendahuluan, halman xxxix s/d vlvi-
selesai).

About these ads

4 comments so far

  1. ronald samudrabiru on

    biarkan waktu yang menjawab…nice blog

  2. Akhmad Soekarno Uai Ety on

    Suharto kan edan apalagi golkar yg pilih partai ini kena azab

  3. Mboh sakkarepmu on

    Suharto presiden bejat,negara ini sistemnya jadi ikut bejat.

  4. Boy Müller on

    Soeharto Kaki Tangan Negara Barat Dan Sekutunya, Yg ♍ªªůů Menjadi Boneka America.
    Beginilah.. Dan Lihatlah Bangsa Ini.. (Luarnya saja, Dalamnya Mengalami Kerusakkan Parah).
    Andai Saja Ada Presiden Seperti BUNG KARNO ℓάƍí untuk Indonesia.. Maka Terbirit2lah America.

    Namun Entah.. Nasib Ibu Pertiwi..
    MERDEKAAAAAAAAA…!!!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers

%d bloggers like this: