Preman & Kapolri Baru

http://hukum.kompasiana.com/2012/02/24/preman-kapolri-baru-2/

Preman & Kapolri Baru (2)

OPINI | 24 February 2012 | 18:10


Beberapa bulan setelah Soeharto lengser di tahun 1998, salah seorang cucu cewek Soeharto terjebak macet di jalanan Jakarta. Tak lama kemudian datanglah 2 orang preman – biasa disebut kelompok kapak merah – yang langsung mencongkel kaca spion kiri kanan mobilnya. Mungkin saking kagetnya atau trauma, sang cucu pulang ke rumah melaporkan kejadian tersebut. Hanya dalam hitungan jam, petugas yang menjaga kediaman rumah mantan Presiden RI tersebut telah menangkap para pelaku dan menyerahkan para pelaku ke kantor polisi terdekat.
Beberapa tahun sebelumnya, di Indonesia mendadak banyak preman, penjahat atau bajingan di dor. Tidak peduli residivis atau preman mana, bandar judi mana, asal meresahkan masyarakat, akan ditemukan mati misterius ditembak dan tergeletak di pinggir jalan di kota-kota besar. Inti dari kisah tersebut di atas adalah bahwa sebenarnya jika mau melacak dan memberantas para penjahat atau preman, bukanlah hal yang sulit dan tidak mudah. Data-data dan tempat mangkalnya para penjahat diketahui persis, bahkan oleh para petugas pengamanan di kediaman Soeharto.
Tetapi kisah kisah heroik para pembasmi kejahatan di masa Orde Baru, mungkin sudah jarang ditemukan saat ini karena para pembasmi kejahatan, terutama Polri sudah mengubah paradigma dan cara memberantas kejahatan. Sejak meningkatnya penghargaan terhadap HAM, Polri lebih mengedepankan cara cara mendidik dan membina para penjahat dan preman, seperti tulisan pertama Preman dan Kapolri Baru (1), dibandingkan dengan memberantas atau membinasakan kejahatan, termasuk para pelakunya.
Meskipun cara-cara tersebut lebih manusiawi, tetapi tidakkah para polisi memikirkan cara-cara yang lebih efektif dan efisien, karena tidak semua preman bersedia dididik dan dibina, apalagi jika para preman sudah mempunyai jalinan khusus dan merasa besar kepala karena mendapatkan sentuhan yang berbeda, seperti HAM, tanpa mempedulikan apakah para korbannya juga mempunyai HAM yang setara bukan ?
Kapolri, yang terpilih sebagai dampak dari perseteruan antara DPR dengan Presiden dalam menentukan siapa calon Kapolri yang layak, sebenarnya mempunyai team dengan kapasitas dan kompetensi yang luar biasa, seperti ditunjukkan ketika memberantas teroris, pelaku pemerkosaan di angkot dan penangkapan John Kei dalam relatif singkat. Sayang jika kekuatan yang dimiliki, hanya digunakan untuk sekedar menangkap pelaku zinah, buku petunjuk Ipad apakah berbahasa Indonesia atau tidak, serta seperti tulisan sebelumnya SOP Polisi.
Kapolri dan jajarannya, mestinya sanggup berbuat lebih, lebih tegas dan lebih mumpuni dalam memberantas kejahatan. Terlepas dari ada backing di belakang para preman atau tidak seperti tulisan Sebelumnya . pelaku anarkisme, terutama di tempat ibadah dan rumah sakit, sudah melanggar Konvensi HAM universal karena di masa perang saja, pasukan musuh pun tidak boleh menyerang tempat tempat umum.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.