Inovasi Para Pencinta Lingkungan Muda
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/inovasi-para-pencinta-lingkungan-muda/
2.02.2012 09:59
Inovasi Para Pencinta Lingkungan Muda
Penulis : Wheny Hari Muljati
Menghubungi anak-anak muda ini via telepon bukanlah perkara mudah, sebab sinyal di asrama tempat mereka tinggal sering bermasalah. “Maaf, Kak, ini suaranya putus-putus,” ujar Pasoari (19), senada dengan yang dikatakan teman-temannya. Untunglah, ada waktu saat mereka keluar dari asrama.
“Kami sekarang baru pulang dari pasar, habis belanja untuk lomba mading besok, Kak,” tutur Yusa, salah satu anak asrama yang menjadi anggota Tim Green Earth Community (GEC) terdengar bersemangat. Rupanya, tahun sebelumnya tim Yusa telah menjuarai lomba majalah dinding (mading) se-Malang Raya dan berharap dapat menang lagi di tahun ini.
Ia lantas menjelaskan bahwa mading tim mereka tahun lalu menggunakan bahan-bahan daur ulang. Kali ini mereka akan mencobanya lagi.
“Sebenarnya, kali ini lombanya bertema pariwisata, tapi kami ingin tetap menggunakan bahan daur ulang karena kami ingin memasyarakatkan budaya cinta lingkungan,” ujar siswa SMAN 10 Malang, yang berstatus Sekolah Adiwiyata Mandiri ini kepada SH, Selasa (21/2).
Ternyata, bukan hanya dari kompetisi mading mereka mendapat penghargaan. Di beberapa kejuaraan lain seperti lomba Toyota Eco Youth (TEY), kompetisi Young Changemaker (YCM), dan lomba teknologi ramah lingkungan, siswa sekolah yang sebagian tinggal di asrama ini beberapa kali mendapatkan penghargaan.
Inovasi
Bagaimana kiprah Pasoari, Yusa, dan kawan-kawannya dari SMA ini dimulai?
“Awalnya, sekolah kami ingin menjadi Sekolah Adiwiyata, yakni sekolah yang peduli lingkungan,” tutur Gasyudha. “Untuk itu, kami membuat organisasi khusus lingkungan bernama Green Earth Community atau GEC,” kata siswa kelas 11 yang saat ini menjadi koordinator GEC ini.
Menurutnya, kegiatan GEC ini dibagi menjadi kelompok-kelompok kerja, antara lain Kelompok Jamur, Kompos, Water Conservation (WC), Tanaman Obat Keluarga (Toga), Green Art, dan Kelompok Green House. Kelompok ini melakukan berbagai kegiatan terkait seluk-beluk bidang fokusnya.
Kelompok Jamur misalnya, bertugas mengajarkan kepada siswa lain mengenai cara menanam, menyiram, dan memanen jamur agar berhasil baik. Bahkan, kelompok ini mengajari cara berwirausaha dengan mengolah jamur agar bisa menjadi produk yang dapat dijual di pasar.
Selain belajar kewirausahaan terkait produk mereka, kelompok-kelompok ini juga belajar mengembangkan pengetahuan melalui penelitian-penelitian sehingga tercipta inovasi-inovasi di bidang lingkungan.
Contohnya, kini penelitian siswa nyaris menemukan titik terang bahwa ampas tahu bisa menjadi media tanam jamur tiram. Penelitian ini penting perannya untuk masyarakat setempat, mengingat ampas tahu cukup banyak tersedia di daerah ini.
Berdampak ke Sekitar
Kegiatan dan penelitian yang dilakukan GEC memang dimaksudkan untuk memberikan dampak positif pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Untuk tujuan ini, GEC mengawali upayanya dengan sosialisasi.
Secara garis besar, GEC mensosialisasikan kepedulian pada lingkungan dan kebiasaan hidup bersih. Setelah melakukan pendampingan rutin kepada ibu-ibu PKK dan murid sekolah dasar (SD), kini ada satu desa dan dua SD yang telah mempraktikkan kebiasaan cinta lingkungan.
“Kami mengajarkan banyak hal mengenai kelestarian lingkungan, air, pengolahan sampah, dan sebagainya,” tulis Pasoari kepada SH.
Menurut peraih penghargaan YCM 2011 ini, kegiatan ini berawal dari keadaan lingkungan sekolah yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah akhir (TPA), pasar tradisional, dan berada di tengah-tengah perumahan yang tergolong padat penduduk yang cenderung kurang memperhatikan kebersihan lingkungan.
Menurut Koordinator Kelompok Toga ini, tujuan kegiatan GEC adalah memberi imbas positif bagi lingkungan sekitar.
Untuk itu, selain rajin berinovasi dan mendampingi masyarakat melakukan gerakan cinta lingkungan, GEC juga mempublikasikan kegiatan melalui blog khusus dan di laman sekolah, www.sman10malang.com. Publikasi ini bertujuan supaya kegiatan mereka juga dapat menginspirasi pihak-pihak lain turut melestarikan lingkungan.
Mengidolakan Bung Karno
Kendati kegiatan mereka menurut Pasoari mendapat dukungan dari pemerintah setempat, pengabdian kepada masyarakat yang mereka lakukan terkadang menemui hambatan, terutama karena mereka tinggal di asrama.
Menurutnya, ada batasan tertentu sehingga agar cepat menjangkau tempat-tempat tujuan, misalnya, perlu sarana transportasi. “Terkadang, hal-hal kecil itulah yang menghambat kegiatan kami,” tulis siswa Kelas 11 yang mengagumi Bung Karno ini.
Berkat kegigihan kelompok ini, saat ini ada 32 tempat yang telah mendapatkan edukasi mengenai lingkungan, antara lain para siswa di sejumlah TK dan SD, sebuah desa binaan, Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC), kelompok lanjut usia, dan dinas kebersihan kota setempat.
Menurut Pasoari, kegigihannya berlatar dari petuah Bung Karno yang selalu diingatnya, yakni “Berikan aku sepuluh pemuda maka aku akan mengubah dunia.”
Oleh karena itu, selagi ia dan kawan-kawannya masih muda dan dapat mengabdikan diri untuk Indonesia, khususnya di bidang lingkungan, menurutnya tidak akan ada seorang pun yang akan mampu menghentikan langkah dan mematahkan impian mereka.
Apakah impian mereka? Mereka memimpikan setiap warga Indonesia memiliki kesadaran untuk mencintai lingkungannya. “Kami berharap kesadaran masyarakat mencintai lingkungan benar-benar telah membudaya di tiap individu manusia Indonesia,” tulis Pasoari dalam surelnya.