Mengeluarkan (Menuliskan) Gagasan: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta?(4)

Mengeluarkan (Menuliskan) Gagasan: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta?(4)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Sunday, 19 February 2012, 4:37

Saya mengawali pelatihan menulis untuk mengeluarkan pikiran orisinal (atau menulis sebagai kegiatan mencipta) pada tahap ketiga, tahap terakhir atau tahap yang paling tinggi, dengan menunjukkan terlebih dahulu perjalanan sebuah ide atau gagasan. Ada tiga adegan yang saya beri titel “Perjalanan Sebuah Gagasan”. Yang pertama, saya menayangkan Toyota Kijang saat ditemukan pertama kali yang berbentuk kotak dan kemudian berubah menjadi Toyota Innova yang bentuknya sudah sangat canggih dibandingkan dengan Toyota Kijang pertama.
 
Setelah itu, saya juga menayangkan gambar Steve Jobs yang masih muda yang, bersama Daniel Kottke, sedang menunjukkan komputer Apple yang masih berbentuk bagaikan kotak sabun. Dari gambar komputer yang besar yang seperti kotak sabun, saya beralih ke gambar berikut yang menayangkan Steve Jobs yang sedang memegang MacBook Air—komputer yang sangat ringan dan tipis serta dapat dimasukkan ke amplop coklat besar. Dan gambar terakhir menayangkan perjalanan gagasan saya terkait dengan empat buku Mengikat Makna yang saya ciptakan.
 
 
Begitu gambar-gambar yang menunjukkan perjalanan gagasan itu berakhir, dua jenis pernyataan Rhenald Kasali yang saya ambil dari artikelnya di Kompas edisi Selasa, 20 April 2010—yang berjudul ”Orang Pintar Plagiat”—pun saya munculkan. Saya meminta para peserta membaca dua pernyataan Rhenald Kasali seraya memikirkan tentang Toyota Kijang, komputer Apple, dan buku Mengikat Makna yang diciptakan pertama kali yang, tentu saja, tampak ”buruk” apabila dibandingkan dengan wujud terakhir yang berhasil diciptakan oleh para penciptanya. Apa yang dikatakan oleh Rhenald Kasali?
 
“Banyak orang berpikir, para sarjana otomatis bisa menulis. Faktanya, banyak dosen yang mengambil program doktor kesulitan merajut pemikirannya menjadi tulisan yang baik. Hanya dengan mengajar, tak ada jaminan seorang pendidik bisa menulis. Menulis membutuhkan latihan dan, seperti seorang pemula, ia pasti memulai dengan karya yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung buruk. Namun, sepanjang itu original, patut dihargai.
 
 
”Karya-karya original yang didalami terus-menerus lambat laun akan menemukan ’pintu’-nya, yaitu jalinan pemikiran yang berkembang. Sayangnya, tradisi menulis di kampus sangat rendah. Bahkan, dosen-dosen yang menulis di surat kabar sering dicibir koleganya sebagai ilmuwan koran. Ada pandangan, lebih baik tidak menulis daripada dipermalukan teman sendiri. Padahal, dari situ seorang ilmuwan mendapatkan latihan menulis.”
 
Sehabis menonton tayangan perjalanan sebuah ide dan merenungkan kata-kata Rhenald Kasali, saya langsung meminta para peserta untuk menulis bebas lagi. Kali ini, kegiatan free writing-nya saya beri topik. “Tulislah kata KURSI untuk Anda jadikan judul tulisan Anda. Dan keluarkanlah pengalaman dan pikiran Anda yang terkait dengan kursi selama 5 menit.” Setelah mereka berpikir (tepatnya merenung) dan menuliskan pengalaman dan pikiran mereka tentang kursi selama 5 menit, saya meminta setiap peserta membaca (dengan suara keras) tulisan milik mereka masing-masing.
 
 
Mengapa harus membaca tulisannya sendiri secara keras (dijaharkan)? Sebab apabila mereka membaca secara batin (di dalam hati), mereka tidak akan mampu merasakan irama tulisan mereka dan cenderung untuk mengedit atau menyuntingnya. Dengan membaca secara keras, telinga lahir akan membantu memahami sekaligus merasakan apa yang telah mereka ciptakan. Bisa jadi, tulisan itu sangat buruk terkait dengan penataan kalimatnya tetapi di dalamnya—apabila nanti diperbaiki dan dikembangkan—terdapat sesuatu yang penting dan berharga dalam bentuk ide atau gagasan.
 
“Coba rasakan dan renungkan, apakah di dalam tulisan Anda tersebut ada sepenggal ide atau gagasan? Apabila memang Anda temukan sepenggal gagasan, apakah gagasan tersebut merupakan gagasan yang baik dan baru? Kemudian, coba renungkan sekali lagi apakah gagasan itu berhasil membangkitkan gairah dan semangat Anda untuk mengeksplorasinya? Apakah gagasan tersebut juga memberikan isyarat kepada Anda bahwa Anda dapat menciptakan sesuatu (atau menuliskannya) sepanjang 5, 10, atau 20 halaman dalam bentuk cerita atau karya tulis ilmiah?”[]
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers

%d bloggers like this: