BEDAH BUKU

Panutung MATANANDAU

Ruang Kebudayaan Harian Palangka Post
Kerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Dayak Kalteng
Untuk Kalteng Bermutu & Beridentitas Kalteng
Alamat: lamianglilis@rocketmail.com atau meldiwa@yahoo.com.sg
 
 
Tajuk Panutung: Andriani S. Kusni
 
BEDAH BUKU
 
Bedah buku bukanlah kegiatan asing di Kalteng, walau pun bukan pula suatu kegiatan yang sangat sering, serta barangkali tidak dipandang sebagai suatu aktivitas sangat menarik di tengah-tengah dominasi budaya instan (serba jadi). Budaya instan tidak menuntutu kesukaan berpikir, tapi lebih menyukai keajaiban Lampu Aladin, seperti  KKN, jual beli ijazah dan nilai, sogok-menyogok serta kekerasan baik verbal maupun fisik, metode top-down, memandang rakyat sebagai obyek, bukan subyek, suka pada pencitraan , (salah satu ciri masyarakat pertunjukan). Bedah buku mensyaratkan perlunya kecintaan pada buku sebagai teman dialog dalam berpikir menjawab zaman, hari ini dan tantangan esok. Sementara di Kalteng kegiatan membaca berhenti pada saat seseorang meninggalkan ruang kuliah dan bangku sekolah. Buku, perpustakaan dan membaca tidak dipandang sebagai  suatu kekayaan sangat berharga bagi menunaikan misi hidup.  Sehingga Kalteng bisa digolongkan sebagai sebuah provinsi yang tidak membaca. Tidak membaca, hampir bisa dikatakan membiarkan rongga otak sebagai ruang kosong, dan bisakah dengan kekosongan demikian memberdayakan, membangun dan membawa Kalteng maju melesat.
Buku belum dilihat sebagai gerbang memasuki dunia luas, sarana meluaskan cakrawala pandangan, sehingga seseorang tidak menjadi jago kandang, tidak pongah, tidak berkututat di bawah tempurung langit kampung dan provinsi bahkan langit tanahair belaka sebagaimana yang disiratkan oleh kosakata globalisasi (sering diucapkan tapi agaknya, maknanya kurang dihayati). Buku, sesungguhnya, salah satu cara untuk keluar dari keterisolasian budaya dan kecupetan pikir. Kecupetan di bawah langit sempit dan kecil  melahirkan pola pikir dan mentalitas korban. Sementara usaya pemberdayaan, pembngunan dari, oleh dan untuk manusia, merupakan pekerjaan raksasa yang tidak mungkin dilaksanakan oleh jiwa-jiwa kerdil, lebih-lebih tidak mungkin oleh jiwa-jiwa mati. Karena tu seperti dkatakan oleh Frans de Sales Sani Lake, SVD, dari Keuskupan Palangka Raya,  kita “perlu merevolusikan diri sendiri untuk menjadi manusia merdeka”.
Pembedahan buku dilihat dari sudut pandang demikian, merupakan suatu ajang tukar-menukar pkiran, pemahaman, upaya pencarian nilai, kritik-otokritik yang diperlukan dalam perjalanan pencarian, upaya mencari jawab dan memperkaya diri sebagai anakmanusia yang bermutu (berterampilan tinggi dan berkomitmen manusiawi). Oleh karena itu bedah buku seperti dikatakan oleh  Dr. Gaby Faimau, dosen dan Kep. Bid.Penelitian pada Kgolagano College Campus, University of North West, Goborone, Botswana, merupakan suatu “peristiwa akademis (‘academic event’)” tetapi juga “sebuah peristiwa budaya (‘cultural event’)” dengan tujuan pemanusiawaan diri dan masyarakat , membudayakan diri dan kehidupan, meningkatkan kepekaan dan kecerdasan pikir dan emosi. Kalteng memerlukan Uluh Kalteng yang demikian sebagai tenaga pemberdaya, pembangun dan pelaku Kalteng maju melesat, Kalteng yang republikan dan berkeindonesiaan.*** 
Esai Budi Handrianto *
Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa
Tatkala Perang Dunia ke-2 usai, Jepang menderita kekalahan. Beberapa petinggi militer menghadap kaisar untuk melaporkan kekalahan tentaranya dan negara yang hancur porak poranda. Terjadilah pembicaraan di antara mereka. Kaisar bertanya, ”Masih adakah prajurit kita?” Dijawab, ”Sudah habis, Kaisar.” Kaisar bertanya lagi, ”Adakah para panglima yang tersisa?” Dijawab, ”Sudah tidak ada, Kaisar. Sebagian terbunuh dalam perang, sebagian yang hidup melakukan harakiri.” Beberapa pertanyaan kaisar dijawab dengan kepesimisan karena semua potensi bangsa dianggap sudah hancur. Terakhir kaisar bertanya, ”Apakah guru masih ada ?” Dijawab, ”Masih ada, Kaisar.” Kaisar pun berkata dengan penuh semangat, ”Kalau begitu, mari kita bangun kembali negeri ini dengan para guru itu.”
Kurang dari sepuluh tahun kemudian Jepang sudah berhasil membangun ekonominya menjadi kekuatan dunia baru. Bahkan kemudian kita ketahui bersama Amerika Serikat yang dahulu mengalahkan Jepang dalam perang fisik sekarang secara ekonomi –terutama dalam dunia otomotif bertekuk lutut kepada Jepang. Mobil-mobil Jepang saat ini menguasai Amerika dan mengalahkan produsen-produsen mobil di sana.
Kisah lain, dituturkan Prof. Ahmad Tafsir, seorang Indonesia diajak berjalan-jalan di Tokyo oleh rekan Jepangnya. Ketika berada pada sebuah perempatan jalan, rekan Jepangnya ini menunduk dalam-dalam kurang lebih hampir satu menit. Penasaran dengan kejadian singkat itu orang Indonesia itupun bertanya mengapa. Ternyata rekan Jepang yang di sana menjabat posisi penting di pemerintahan, tadi sedang menunduk untuk menghormati gurunya yang tengah lewat.
Kedua kisah di atas menunjukkan bahwa dalam budaya Jepang guru dianggap mahluk yang mulia, setengah keturunan dewa. Guru –salah satu komponen penting dalam dunia pendidikan, dihargai luar biasa, termasuk diberikan kompensasi yang tinggi. Budaya seperti ini yang membentuk Jepang menjadi bangsa kuat yang mudah bangkit sepanjang guru masih ada di sana.
Keadaan serupa pula terjadi pada peradaban Islam masa lalu di mana–sekedar menyebutkan contoh–pada jaman Khalifah Al Makmum guru mendapatkan penghargaan luar biasa. Dalam acara-acara istana maupun kenegaraan, para guru duduk bersanding di sebelah khalifah. Bahkan buku-buku karya guru dihargai sejumlah emas yang ditimbang sama beratnya. Setiap perayaan ulang tahun khalifah, sang guru duduk di dekat khalifah, dan diumumkan di depan khalayak naskah tulisan terbaru sang guru. Pemerintah Al Makmum waktu itu mengeluarkan anggaran pendidikan untuk Madrasah Nizhamiyah di kota Baghdad, senilai hampir ekuivalen 240 ton emas murni.
Kita dapat mengambil pelajaran bahwa bangsa yang maju pasti menunjukkan perhatian yang serius terhadap dunia pendidikan, wabil khusus pendidikan formal di sekolah. Bangsa yang mengabaikan atau kurang serius menangani masalah pendidikan biasanya menjadi bangsa yang tertinggal.
Pendidikan Sekolah
Posisi pendidikan sekolah menjadi sangat penting sekarang ini karena telah terjadi beberapa pergeseran budaya masyarakat. Teori pendidikan lama masih menyebutkan bahwa sistem pendidikan itu ada tiga yaitu pendidikan formal (sekolah), nonformal (kursus), dan informal (interaksi di luar sekolah atau biasa disederhanakan dengan pendidikan dalam masyarakat dan rumah tangga). Pendidikan sekolah bermaksud menjadikan murid pintar, pendidikan  non formal menjadikan murid trampil, pendidikan informal menjadikan murid berperangai baik (akhlakul karimah).
Namun sekarang ini telah terjadi pergeseran budaya akibat perkembangan teknologi dan globalisasi yang salah satu akibatnya adalah perubahan struktur kerja. Pendidikan informal di rumah telah kehilangan bentuknya, terutama di kota-kota besar. Kebanyakan orang tua, baik bapak maupun ibu di kota besar bekerja dalam waktu yang relatif lama. Orang tua pergi bekerja sebelum anak-anak bangun dan pulang ketika anak-anak sudah tidur. Pergi Senin pulang Sabtu, bahkan ada orang tua yang meninggalkan rumah (karena pekerjaan) awal bulan dan muncul lagi di rumah pada akhir bulan. Praktis pendidikan orang tua kepada anak sekarang ini sangat minim. Maka orang tua menyerahkan pendidikan anak 100% kepada lembaga pendidikan sekolah.
Oleh karena itu, pemerintah harus lebih serius dalam membangun sistem pendidikan sekolah. Sekolah harus mampu menampung pendidikan formal, non formal dan informal sekaligus. Tanggung jawab agar siswa menjadi pintar, juga trampil sekaligus berperangai bagus menjadi milik sekolah. Oleh karena itu perlu dikembangkan sistem pendidikan sekolah yang mampu melaksanakan tanggung jawab tersebut dan itu –tentunya, memakan biaya yang tidak sedikit.
Saat ini pemerintah baru (berniat) mengalokasikan sekitar 20% anggaran belanjanya untuk pendidikan. Sementara di Malaysia sudah sekitar 40%. Sarjana-sarjana di sana telah berhasil meyakinkan pemerintahnya bahwa investasi di bidang pendidikan sangat besar manfaatnya seperti meningkatkan kualitas SDM, menjaga keamanan bangsa, menjamin program pemerintah berjalan lancar dan sebagainya. Hal itulah yang menyebabkan Indonesia mempunyai daya saing yang rendah atau menempati urutan ke-40, jauh di bawah Malaysia yang menempati urutan ke-17.
Kenyataan di masyarakat sekarang ini kita dapati suatu adegium bahwa sekolah yang bagus adalah sekolah yang mahal. Atau sekolah yang mahal pasti bagus. Sebaliknya, sekolah murah pasti kurang bagus atau sekolah yang kurang bagus biasanya murah. Ketika berhadapan dengan pemikiran bahwa setiap warga negara harus mendapatkan pendidikan yang bagus, maka sebagai sintesis terhadap kedua hal di atas (setiap anak harus sekolah dan sekolah yang bagus pasti mahal) adalah dengan melakukan subsidi silang. Murid yang kaya mensubsidi murid yang miskin. Katakanlah, satu orang tua murid yang kaya membiayai tiga orang murid miskin sehingga semua bisa sekolah. Selain itu perlu dibuat badan-badan wakaf untuk membangun sekolah –tidak sekedar membangun masjid. Kondisi masyarakat selama ini akan sulit mendirikan sekolah ketimbang mendirikan masjid karena sebagian besar paradigma masyarakat beranggapan bahwa hanya membangun masjid yang mendapatkan pahala besar di akhirat. Padahal membangun sekolah, lab komputer, lab bahasa, perpustakaan dan sebagainya mendapatkan pahala yang besar juga jika diniatkan sebagaimana di atas.
Cara praktis yang lain adalah pemerintah turun tangan untuk menangani dan menghasilkan sebanyak mungkin sekolah bagus. Beban biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan sekolah bagus ditanggung oleh negara. Untuk itu alokasi APBN/APBD untuk pendidikan harus ditambah.
Pendidikan Karakter
Pendidikan yang menyebabkan suatu bangsa maju adalah pendidikan yang berbasis karakter bangsa. Tujuan pendidikan nasional haruslah mengacu pada karakter tersebut.  Dari undang-undang yang pernah dibuat selama ini yaitu UU tahun 1947, 1950, 1954, 1967 (Tap MPR), UU No. 2/1989 dan terakhir UU No. 20/2003 belum ada yang menyebut secara eksplisit pendidikan karakter atau nilai di dalamnya. Upaya dan beberapa kegiatan nasional berkaitan dengan pendidikan karakter sudah mulai banyak dilakukan, termasuk oleh Mendiknas baru-baru ini, namun hasilnya belum kelihatan. Perlu ada gerakan nasional yang masif dan didukung oleh instrumen perundang-undangan yang memadai.
Selama ini pendidikan karakter, nilai atau akhlak diserahkan hanya kepada guru agama. Tentu saja hal ini sangat kurang dan tidak efektif. Guru-guru lain kurang bisa memasukkan unsur nilai dalam pelajaran yang diajarkannya. Seperti ketika guru Biologi menjelaskan tentang tanaman dan tumbuhan, semestinya masuk di dalamnya pelajaran cinta dan bagaimana menjaga lingkungan hidup. Guru pun semestinya memberikan contoh langsung dari pelajarannya. Pendidikan karakter menghendaki adanya keteladanan dan pembiasaan. Kedua hal tersebut apabila diterapkan sudah membuat keberhasilan sekitar 60% dari proses pendidikan. Keteladanan, pembiasaan, dan motivasi harus sering diberikan oleh semua guru sehingga murid mendapatkan karakter atau akhlak seperti yang diinginkan.
Tentu masih banyak hal lain dalam dunia pendidikan yang perlu dibenahi dan dijadikan penekanan (stressing) dalam prosesnya. Namun jika pemerintah menseriusi salah satu saja untuk melangkah kepada perbaikan selanjutnya, itu sudah lebih dari cukup. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kegagalan dalam pengelolaan pendidikanlah yang membuat bangsa ini tertinggal dan tidak mampu bersaing dengan dunia internasional.***
Pengamat soal-soal pendidikan.
Betang Eka Nganderang
KOPLA * CINTA ANDALUSIA
bawalah hatiku ke sana ;
kalau mau bunuh saja, jika bisa;
tapi karena kau juga di dalamnya ,
membunuhnya kau ikut binasa.
ambillah belati kecil ini,
buka dadaku maka wajahmu
di situ kau dapati
sempurna tertata rapi.
ambillah jeruk ini, o perempuan
demi cinta kepadamu kuberikan
tapi jangan belah dengan belati
kerna jantungku di dalamnya ada.
kulempar ke langit sebuah limau
ingin tahu apakah ia berobah merah;
naik hijau dan jatuhpun hijau;
seperti harapanku warna hijau
* Kopla, adalah salah satu bentuk sanjak-sanjak pandak Spanyol.[Dari: “Coplas. Poemes de l’Amour Andalou”, Edition Allia, Paris,1998].Alihbahasa: Kusni Sulang Pemuatan karya-karya para penulis berjam terbang panjang di ruangan ini dimaksudkan sebagai  acuan bandingan bagi para penyair Kalteng dalam perjalanan maju mereka.
Resensi Buku
BUKU, SEJARAH DAN TAFSIR BUDAYA
Judul buku    : Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun:
                        Transformasi Sosial
                        Pembebasan Melalui Re-Humanisasi.
Penulis            : Goenawan Mohamad dkk.
Penerbit         : Bayu Media
Cetakan          : I
Tebal               : 210 hal
Pengantar      : Dr (cand.) Dra. A. Trecy Anden, M.Pd.
Simpul            : Prof. Dr. Bambang Garang, M.Pd.
Peresensi        : Dr. Gaby Faimau*
Apakah cara berpikir manusia yang membentuk sejarah atau sejarah yang membentuk cara berpikir manusia? Pertanyaan klasik ini muncul dalam pikiran ketika saya membaca buku Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun: Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi.Buku ini memang tidak menjawab apalagi menelaah secara filosofis pertanyaan klasik ini. Tetapi menelusuri berbagai refleksi dari sejumlah penulis yang tertuang dalam buku ini kita dihadapkan pada kebenaran tak tersangkal: manusia tidak bisa terlepas dari sejarah dan sejarah tidak bisa terlepas dari hidup manusia. Sepintas tampak ada dikotomi di sini.Tetapi kebenaran seperti ini tidak harus dipilah secara dikotomis karena keduanya saling mengandaikan dalam sebuah hubungan dinamis (‘dynamic interplay’).
Mengikuti alur cara papar buku Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun: Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi, hemat saya, pembaca akan dihadapkan pada dua hal penting: sejarah DARI sebuah buku dan sejarah DALAM sebuah buku. Pertama, pada ide sejarah dari sebuah buku, pembaca disadarkan bahwa setiap karya tulis mempunyai cerita dan setiap buku mempunyai sejarah khusus.Itu bisa cerita pribadi atau cerita kolektif.Itu bisa sejarah yang lahir dari takhta yang mangatur cara tutur, itu juga bisa sejarah yang muncul dari ruang sempit kaum terpinggirkan yang kadang meraung ibarat singa ganas, kadang tak berdaya karena ditindas kekuasaan atau kadang hanya menatap dengan tatapan yang oleh khalayak disebut tatapan cinta tulus.
Sejarah dari buku ini bermula dari sebuah acara penting yakni bedah buku Antologi Esei Budaya Dayak, Permasalahan  dan Alternatifnya karya Kusni Sulang dkk pada 14 Oktober 2011. Peristiwa bedah buku ini diramu sedemikian mungkin sehingga menjembatani cara pikir akademis dan apresiasi budaya. Itulah sebabnya, buku ini sebetulnya tidak hanya lahir dari sebuah peristiwa akademis (‘academic event’) atau latihan intelektual (‘intellectual exercise’) tetapi juga sebuah peristiwa budaya (‘cultural event’).Ini karena bedah buku adalah juga peristiwa budaya yang bisa ditelaah dan diteropong dari berbagai sudut pemikiran.Dalam catatan mereka, Andriani S. Kusni dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah dan Yanedi Jagau dari Bornoe Institute secara tepat mengungkap roh sejarah dari buku ini.
Kedua, ternyata sejarah juga ada dalam buku Dimana Bumi Dipijak Disana Langit Dibangun.Meskipun penting mengetahui sejarah dari sebuah buku, sebetulnya adanya sejarah dalam sebuah buku lebih penting.Yang dimaksudkan di sini adalah kenyataan bahwa buku ini merekam sejarah perjalanan budaya dan peradaban manusia, khususnya manusia dan budaya Dayak.Tetapi ada sesuatu yang lebih penting di sini.Ternyata para penulis ini tidak hanya berkutat pada pertanyaan seputar sejarah perjalanan budaya dan peradaban manusia. Mereka malah mengambil satu atau beberapa langkah lebih jauh dan memberi tantangan baru untuk berpikir lebih dalam dan lebih tajam bahwa ternyata dalam derap budaya dan peradaban, kita sebenarnya tidak saja ada dalam sebuah perjalanan (‘journey’) tetapi juga dalam sebuah pencarian (‘search’).Pencarian ini membutuhkan daya kreatif untuk merumuskan pertanyaan yang tepat sehingga bisa menghantar untuk menemukan jawaban yang tepat sasar pula.
Tantangan pencarian ini terangkum dalam ungkapan menarik  seperti “tenaga kreatif dalam gerak hidup kebudayaan” dalam tulisan sastrawan Goenawan Mohamad (hal 4) dan “membangun plot-plot kebudayaan” dalam refleksi sastrawan dan pemerhati budaya Iman Budhi Santosa (hal 69). Meskipun merupakan aspek sangat hakiki, pencarian saja sebenarnya tidak cukup. Setiap pencarian selalu harus diikuti dengan interpretasi dan reinterpretasi untuk menemukan makna (”meaning”) dan pesan (“message”) dibalik budaya yang memberi kita nafas. Hal ini ditawarkan dalam cara berbeda seperti tampak dalam tulisan Frans de Sales Sani Lake SVD,Kardinal Tarung, Yanedi Jagau, Andriani S. Kusni dan Kusni Sulang.
Lebih lanjut, para penulis ini mengingatkan bahwa di setiap sudut tafsir budaya, disana sebetulnya ada proses internalisasi makna dan pesan budaya. Frase “transformasi sosial melalui re-humanisasi” muncul dalam subjudul buku ini.Konsep ini mungkin saja mengundang berbagai pemahaman yang berbeda.Sayang sekali bahwa konsep yang tampak menjanjikan dan menarik ini tidak ditelaah secara mendalam oleh para penulis, kecuali secara sepintas dibedah Frans de Sales Sani Lake dalam tulisannya “Reintegrasi Kebudayaan Dayak”.Andriani S. Kusni juga hanya menjelaskan sepintas bahwa “transformasi sosial melalui re-humanisasi tidak lain dari pemanusiawiaan diri sendiri,  masyarakat, manusia dan kehidupan. Re-humanisasi diri sendiri adalah langkah awal yang menuntut kejujuran dan keberanian besar” (hal 125). Tetapi apa artinya “pemanusiawian”? Secara sangat singkat, hemat saya, pada setiap proses ‘re-humanisasi’ yang terjadi adalah proses internalisasi pesan-pesan budaya yang selalu menantang untuk tafsir ulang dan tafsir baru.
Di aras setiap tafsir budaya terdapat pertanyaan seputar identitas. Menarik bahwa sebagian besar tulisan yang termuat dalam buku ini bermuara dengan pertanyaan ini.Tentu saja ini tidak mengagetkan, terutama karena abad ke-21 telah membuat pertanyaan identitas menjadi pertanyaan maha-penting menyusul bangkitnya berbagai etnik dan kelompok minoritas untuk berbicara tentang identitas dan hak dasar mereka.Seperti dikatakan rohaniwan dan filsuf Jonathan Sacks, “salah satu transformasi besar dari abad ke-20 menutu abad ke-21 adalah bahwa abad ke-20 didominasi oleh politik ideologi sementara di abad ke-21 kita melangkah masuk menuju sebuah abad politik identitas”. Identitas memang menciptakan jurang karena ketika sebuah “dunia kita”  tercipta, pada saat yang sama tercipta pula sebuah dunia yang lain yakni “dunia mereka”. Meskipun demikian, semua pertanyaan seputar identitas terjadi dalam konteks hubungan.Semangat yang tertuang dalam buku ini mengingatkan bahwa langkah pertama untuk membangun hubungan dengan orang atau kelompok lain adalah pemahaman atas identitas sendiri. Ide ini dituangkan secara metaforis dalam judul buku ini: dimana bumi dipijak disana langit dibangun. Metafora ini menggambarkan keterkaitan tak terpisahkan atas identitas pribadi dan kolektif dalam hubungan dengan transformasi hidup sosial.
Buku yang lahir dari sebuah ‘cultural event’ ini perlu disambut oleh setiap pencinta budaya.  Para pemimpin politik, agama dan budaya akan menimba semangat untuk membangun kualitas hidup bersama dari pesan-pesan refleksif yang tertuang dalam buku ini. Kalangan akademisi, aktivis budaya dan hak-hak hidup dan masyarakat umum  yang  tertarik dengan siasat dan tafsir budaya akan menuai berlimpah ide segar. Ketika dunia seakan berjalan di gurun yang kian rentan terhadap konflik, refleksi para penulis buku ini bisa menghantar pada sebuah perhentian baru untuk sejenak bertanya sejauh mana tafsir atas identitas budaya memberi sumbangan pada transformasi sosial hidup bersama.***
* Dr. Gaby Faimau, dosen dan Kep. Bid.Penelitian pada Kgolagano College Campus,University of North West, Goborone, Botswana.
 
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: