KESADARAN BUDAYA & SEJARAH

SAHEWAN PANARUNG

Ruang Budaya Harian Radar Sampit

Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentias Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com
 
Tajuk Panarung Kusni Sulang
 
KESADARAN BUDAYA & SEJARAH
Kebudayaan adalah jawaban tanggap suatu generasi terhadap tantangan zamannya. Dalam  proses menjawab  zaman ini maka generasi itu menuliskan sejarahnya. Dari sudutu padang demikian maka tidak ada etnik dan bangsa yang tidak mempuyai budaya dan sejarah. Oleh karena itu pandangan terhadap sejarah pun mengalami perubahan. Pada periode tertentu para sejarawan memandang bahwa yang disebut sejarah apabila ada bukti tertulis. Tanpa ada peninggalan tertulis dipandang etnik tau bangsa itu tidak mempunyai sejarah. Berhadapan dengan kenyataan  bahwa tidak semua etnik dan bangsa mempunyai aksara, dan mencatat budaya serta sejarahnya dalam budaya dan sejarah lisan, maka  aliran baru sejarawan muncul. Aliran baru ini  mislnya Aliran Annale Paris yang mempunyai pengaruh dunia, memasukkan legenda, foklor, cerita rakyat, sastra lisan sebagai pengantar menyelami  sejarah suatu etnik dan  atau bangsa.
Tiap angkatan melahirkan dan mengembangkan budaya dan sejarahnya sendiri berangkat dari budaya dan sejarah angkatan sebelumnya sebagai sangu dasar. Sangu dasar ini ia peroleh dari keluarga, lingkungan, sekolah, buku-buku, arsip dan dokumen. Mengabaikan sangu dasar ini akan membuatnya lepas akar, menyulitkan seseorang memberikan jawaban tanggap terhadap zamannya. Bahasa, dalam hal ini, merupakan lumbung kekayaan budaya dan sejarah. Sikap yang memperhitungkan  secara sadar arti penting pelestarian  dan transfer sistematik sangu dasar budaya dan sejarah ini disebut kesadaran budaya dan sejarah. UU No.5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya ,UU No. 10 Tahun 1993 dan UU No. 064 Tahun 1995 menunjukkan arti penting kesadaran budaya dan sejarah demikian.
Apakah UU-UU ini yang merupakan konkretaritasi UUD 1945 di bidang kebudayaan sudah dilakukan semestinya di Kalteng? Jawabnnya dengan sederhana dan  gamblang diberikan oleh tidak terurusnya Rujab Gubernur Tjilik Riwut di Jalan Jendral Surdirman No.1 Palangka Raya,  keadaan Pasanggarahan Provinsi di Jalan Jendral A.Yani yang selain tidak terawat bahkan terdengar berita akan dijual ke pihak swasta, tidak terawatnya Monumen–monumen  Tjilik Riwut di beberapa tempat antara lain di Katingan seperti halnya dengan Cagar Budaya Pambak Rindoi, tidak diindahkannya Mesjid tertua dekat Pelabuhan Rambang di Palangka Raya, penjualan dan penghilangan nisan-nisan Kuburan Kaharingan tertua di Palangka Raya yang terletak Jalan Halmahera berhadapan dengan kuburan Muslim yag tidak terurus, situs Sandung Sukah juga masih tidak terurus seklipun dana dari APBN untuk itu sudah tersedia. Perlakuan sama juga dialami oleh tempat bersejarah Bahu Palawa yang tak jauh dari Palangka Raya. Masih banyak rincian lainnya yang jika disebut satu persatu akan merupakan deretan panjang, tapi semuanya mengatakan hal sama yaitu lemahnya kesadaran sejarah dan budaya di  Kalteng ini. Kesadaran yang lemah tidak jauh berbeda dari ketidaktahuan dan kekosongan kepala. Bisakah degan kekosongan dan ketidaktahuan kemauan baik membawa Kalteng melesat maju akan terwujud? Ataukah gerbang besar terbuka ketidaksadaran berlari ke belakang, arah berlawanan dari tuntutan zaman yang menginginkan Kalteng Bermutu?**
Sansana PANARUNG
DI ATAS KUBURAN DAYAK
/: Enos Asong
di atas motor kencang memburu angin  entah di penjuru mana
usai berkaraoke — nama baru bagi daerah lampu merah
tubuh bau sperma dan narkoba ;para pemuda kotaku
membayangkan diri di eropa dan amerika
lambang kemajuan zaman dan modernitas patut ditiru
di bekas roda motor mereka kudapatkan tetesan darah
darah kampungku terjepit;darah itu berhamburan
pada debu-debu  isyarat dekatnya kematian
tanda negeriku kehilangan satu angkatan
mengidap penyakit mendasawarsa
modernitas hari ini lebih mengancam dari hiv
membius kesadaran mendapatkan remah-remah kolusi
tanah tambun-bungai tak obah sebatang sungai
di permukaannya mengapung jiwa-jiwa membangkai
hijau-hijau daun kebun
hitam mengkilat gunung batubara
hijau dan hitam di kuburan dayak
merentang ke cakrawala
hijau dan hitam hutan duka
Tumbang Lahang, 2012
MENYANYIKAN BULAN DI GUNUNG EMEI

/: Li Bai

Di gunung Emei (1) bulan bundar terbelah dua
Wajahmu membayang di air sungai Pingqiang
Malam ini aku meninggalkan Qingxi (2)  pergi ke Tiga Jurang
Menuju Yuzhou (3) kernanya kukira kita tak lagi bisa bersua

Catatan:
(1). Gunung Emei terletak di Propinsi Sichuan, di baratlautnya mengalir sungai Pingqiang.
(2). Qingxi, nama lama sebuah tempat persinggahan di dekat Gunung Emei.
(3). Yuzhou , sekarang berganti nama ;enjadi Congqing.
Alihbahsa Kusni Sulang
 
 
Reportase Sastrawi Kristine Yulita
SMA Terfavorit
Oleh : Kristine Yulita *
Salah sebuah SMA di kota Palangkaraya yang tengah menanjak popularitasnya saat ini adalah SMA Negeri 4 Palangkaraya. Pada beberapa tahun yang lalu. SMA tersebut mendapat julukan SMA kalakai Smakai karena letaknya terdapat banyak ditumbuhi tanaman kalakai (tanaman paku-pakuan).
Kalakai adalah salah satu jenis tumbuhan paku-pakuan yang biasa dikonsumsi sebagai sayur oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Siswa-siswa yang bersekolah di sana sering mendapat ejekan sebagai murid SMA ulew (uluh léwu, orang kampung, kampungan), tempat siswa baru yang tidak diterima sekolah pilihannya, dan tempat siswa pindahan yang kebanyakan bermasalah di sekolah lamanya. Tadinya, SMA tersebut terkenal sebagai sekolah anak nakal, sehingga mendapat predikat buruk. Sekolah itu sering terdengar kasus tawuran antar sekolah, dan pernah terdengar juga kasus pemerkosaan yang melibatkan siswi sekolah tersebut sebagai korban. Sehingga pandangan masyarakat pada sekolah tersebut sangatlah buruk.
Hal itu lebih diperparah lagi oleh banyaknya siswa yang terlibat beberapa tindakan kriminal, bahkan sampai ke ranah hukum. Tingkah dan perilaku siswa-siswi sekolah tersebut juga kurang patut dicontoh. Kebanyakan dari mereka sering sekali terlihat membolos, mengutil, minum minuman keras bahkan berbuat asusila di tempat umum. Keadaan demikian  membuat reputasi dan nama baik SMA tersebut menjadi demikian tercoreng. Pihak sekolah juga seperti tidak acuh atas apa yang dilakukan anak muridnya. Sehingga kelakuan buruk para siswa menjadi kian merajalela. Karena  tindakan yang meresahkan masyarakat tersebut, maka banyak orang tua yang melarang anaknya bergaul dengan siswa sekolah tersebut.
Tapi sejak berada di bawah kepemimpinan Drs. Kampili S.Pd, sebagai kepala sekolah,  SMA Negeri 4 Palangkaraya ini telah mengalami besar yang mengubah citra sekolah tersebut. Misalnya, penerapan  peraturan sekolah yang sangat ketat, kegiatan ekstrakurikuler yang tidak kalah dengan SMA-SMA  lain di kota Palangkaraya. Lama-kelamaan pandangan buruk masyarakat terhadap SMA Negeri 4 Palangkaraya jadi pudar oleh prestasi demi prestasi yang didapatkan oleh para siswa-siswi. Mereka sering mendapat juara dalam kegiatan ekstrakurikuler, seperti di bidang drumband, modelling, basket, sepak bola, dance, dan cheersleader. Selain itu mereka juga telah meraih  perhargaan dalam bidang pendidikan dan seni.
Guru-guru perempuan  di SMA 4 Palangkaraya mempunyai keterampilan tinggi dalam bidang seni, yaitu tari daerah yang sering ditampilkan di depan para pejabat dan bahkan di hadapan Pak Gubernur Kalimantan Tengah  A.Teras Narang, SH.
Guru-guru tersebut  didampingi oleh sanggar seni Antang Batuah yang selama ini yang terkenal sebagai sanggar yang sering mempertunjukkan seni tarian khas Kalimantan Tengah.
Sanggar ini didirikan oleh Thoseng Asang yang telah memberikan sumbangan positif kepada  sekolah SMA Negeri 4 Palangkaraya. Sehingga kegiatan ekstrakurikuler tari daerah di sekolah tersebut kian meningkat. Capaian-capaian ini membuktikan bahwa para murid dan guru, ketika  bersama-sama mampu mencapai prestasi-prestasi yang mengharumkan nama sekolah yang tadinya di pandang dengan sebelah mata oleh masyarakat banyak sehingga dijuluki Smakai.Sehingga sekarang, citra dan reputasi SMA Negeri 4 Palangkaraya sangat jauh berbeda dari  SMA Negeri 4 Palangkaraya yang dahulu, berkat peran kepemimpian  Drs. Kampili S.Pd,  sebagai kepala sekolah.Di bawah  kepemimpinan Drs. Kampili, S.Pd.,  sekarang SMA Negeri 4 Palangkaraya merupan sebuah SMA terbaik.
Gedung sekolah juga mengalami rehabilitasi sehingga gedung-gedung sekolah terlihat lebih modern dibandingkan sebelum direhabilitasi. Capaian-capaian ini menumbuhkan simpati dan empati masyarakat. Oleh empati dan simpati ini SMA Negeri 4 mampu merehab gedung-gedung  sekolahnya Seiring dengan ini,  berbagai fasilitas sekolah pun berkembang. Dari tidak ada menjadi ada lapangan basket, lab komputer, dan lain-lain kemudahan sarana dan prasarana. Perkembangan demikian telah memotivsi para siswa-siswi untuk belajar dan berprestasi, membuat nyaman antara  guru dan murid dalam proses belajar-mengajar. Sudah sepatutnya hal tersebut menjadi teladan untuk  siswa-siswa dan guru-guru di sekolah lain. Diharapkan hal ini dapat terus mengakar di jiwa semua pihak sekolah.
Kemudian oleh prestasi-prestasi di bawah kepemimpinannya di SMA Negeri 4, Drs. Kampili S.Pd, dipindah-tugaskan ke Dinas Pendidikan Palangkaraya. Dengan penunjukan jabatan baru ini, maka tugas sebagai kepala sekolah SMA Negeri 4 Palangkaraya ia lepaskan.
Tapi kepergiannya dari SMA Negeri 4 Palangkaraya tidak membuat ketenaran sekolah memudar, justru sebaliknya semakin harum. Di setiap tahun ajaran baru ada banyak sekali anak-anak lulusan SMP yang  mendaftarkan diri di sekolah tersebut.
Menurut angket yang dilakukan oleh salah sebuah harian terkemuka Palangka Raya,  SMA 4 Palangkaraya menempati urutan teratas sebagai SMA Terfavorit di ibukota Kalimantan Tengah serta mendapatkan akreditasi A. Septutnya, hal begini dijadikan contoh oleh sekolah-sekolah lain, bagaimana sekolah-sekolah mengikuti jejak keberhsilan SMA Negeri 4 Palangkaraya yang pernah untuk suatu waktu tertentu dijuluki Smakai, lalu perlahan-lahan berubah menjadi  SMA Terfavorit. Tapi merubah yang negatif menjadi positif, dari yang buruk menjadi baik, bukanlah seperti durian jatuh, melainkan hasil kerja keras, ulet dan penuh kedisiplinan. Kerja keras tak kenal menyerah, ulet dan penuh disiplin membuat yang tak mungkin menjadi mungkin, mengantar kita ke ufuk kemajuan, sekali pun kemajuan itu adalah gerak tak punya jeda. Faktor yang tidak kalah menentukan  terjadinya perubahan maju ini adalah adanya unsur kepemimpinan dan tim pengajar serta pegelola bermutu yang penuh komitmen , mempunyai orientasi dan tanggung jawab besar. Sebab lebih-lebih di dunia pendidikan, fktor keteladanan menjadi sngat penting. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, ujar para tetua menyimpulkan pengalaman zaman mereka. Pengalaman hanya berarti jika dipahami maknanya.Kalau tidak, maka waktu tidak berarti apa-apa bagi kehidupan.  Hidup bukan “sekali berarti sudah itu mati”, tapi sekali hidup, kesempatan tersedia  jadi percuma. Negeri kita  hari ini negeri miskin teladan. ***
Palangka Raya, 2012.
 
*) Mahasiswi  PBSI-FKIP Universitas Palangka Raya.
Kritik &Apresiasi
MENGEMBANGKAN Reportase  Sastrawi
 
Oleh Andriani S. Kusni
 
Dari sekian banyak mahasiswa-mahasiswi FPIP Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Palangka Raya (Unpar), yang diwajibkan oleh dosen pembimbing utamanya Lukman Hakim Serigar, menulis cerpen,  Kristine Yunita, termasuk dari jumlah yang sangat sedikit, yang menulis genre reportase literer, sekarang disebut reportase  atau jurnlisme sastrawi. Dua tulisan yang dikirim oleh Kristine ke Rubrik Kebudayaan Harian Radar Sampit ini, kedua-duanya berjenis reportase sastrawi. Reportase bergaya sastra. Di Indonesia jenis jurnalisme ini pada masa pemerintahan Soekarno, dikembangkan oleh Penerbit Pembangunan  dan Harian Rakjat. Dalam percakapan dengan Kristine saat bertemu di pementasan 6 drama oleh PBSI 23-25 Januari 2012 lalu, di Gedung Pertunjukan Kampus Unpar, Kristine masih memandang dua karyanya: ‘Investasi Yang Terlambat’ dan ‘SMA Terfavorit’ sebagai cerpen, walau pun sesungguhnya  dua karya tersebut tidak memiliki  ciri-ciri cerpen yang mengandung alur cerita, tokoh, konflik, plot, klimak  dan solusi konflik.
Megetahui benar genre apa yang dipilih sebagai sarana pegungkapan diri,  barangkali perlu, untuk mengetahui batas jangkauan kemampuan tekhnik genre tersebut dan bagaimana kita mengungkapkan hal-ikhwal atau obyek. Untuk keperluan ini perlu kajian padan terhadap genre-genre sastra tersebut. Genre cerpen berbeda dari puisi, novel, roman. Berbeda pula dari genre juralisme sastrawi. Pemilihan genre apa yang digunakan petunjuk apakah seseorang penulis berkarya secara sadar ataukah masih  berada pada tingkat istingtif. Taraf instingtif tidak bisa membedakan genre-genre yang digunakan, tapi dari karya-karya istingtif itu, pembaca yang berdaulat justru bisa melihat di mana potensi penulis pemula itu terdapat. Dengan memilih reportase sastrawi yag didugaya sebagai cerpen, secara tidak sadar Kristine memperlihatkan bahwa potesinya terdapat di genre reportase sastrawi.
Apabila tahun depan, Pak Lukman Siregar mewajibkan anak didiknya menulis reportase sastrawi, barangkali dengan kewajiban ini, Pak Lukman denga PBSInya  menyemai benih bagi berkembangnya barisan jurnalis Kalteng  yang berketerampilan tinggi. Dengan cara ini, Pak Lukman juga mendorong para anak didiknya mengakrabi kehidupan Kalteng di berbagai sektor. Melalui reportase mereka itu kelak diharapkan terungkap hal-hal  yang tidak diungkapkan oleh media massa mainstream, sebagaimana  yang dilakukan oleh Kristine Yunita melalui reportasenya berjudul ‘Investasi Yang Terlambat’ yang mengungkapkan kejanggalan-kejanggalan di dunia kesenian Palangka Raya.  Mengakrabi kehidupan adalah kemutlakan, terutama  bagi orang-orang yang sekelolah (untuk tidak menggunakan istilah cendekiawan). Menjauhnya sekolah dari kehidupan adalah kecenderungan umum hari ini di negeri kita, termasuk di Kalteng. Padahal kehidupan adalah sekolah sangat niscaya. Pengembangan reportase sastrawi bentuk kongkret pengbdian sosial dari sekolah-sekolah, terutama pendidikan tinggi yang mempunyai Tri Darma Perguruan Tinggi dengan Kuliah Kerja Nyata-nya. ***
 
Berita Budaya

Tradisi menulis lebih rendah dari minat membaca

Bandung (ANTARA News)- Kepala Balai Bahasa Bandung, Abdul Khak menuturkan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan anak muda.
“Minat membaca saja sebenarnya masih rendah. Bayangkan, minat menulis justru berada di bawah minat membaca. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan,” kata Abdul Khak ketika dihubungi di Bandung, Rabu.
Abdul menerangkan, rendahnya tradisi menulis ini akibat rendahnya minat membaca.
“Kedua kegiatan ini saling mempengaruhi. Membaca itu referensi untuk menulis. Bagaimana bisa seseorang menulis jika tidak suka membaca,” terangnya.
Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi keduanya juga terletak dari proses kegiatannya. Abdul menuturkan, membaca termasuk kegiatan yang pasif dan bisa dilakukan di mana saja. Berbeda dengan menulis yang termasuk kegiatan aktif.
“Kalau menulis itu orang butuh energi yang lebih ketimbang membaca karena kegiatan aktif. Kalau membaca bisa dilakukan di mana saja, bisa di rumah sambil santai atau dalam angkutan umum ketika dalam perjalanan,” katanya.
Saat ini, kata Abdul, banyak dosen-dosen di sejumlah perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri yang mengeluhkan kualitas tulisan mahasiswa.
“Kualitas dan kemampuan menulis mahasiswa saat ini cenderung rendah. Ini juga membuktikan bahwa, minat membaca mahasiswa sekalipun rendah,” lanjutnya (http://www.antaranews.com /berita/286090/tradisi-menulis-lebih-rendah-dari-minat-membaca? Rabu, 23 November 2011 10:06 WIB).
 
.
About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: