Negeri Surga Limbah Beracun Dunia

Thursday, 02 February 2012 06:47

Pihak Bea Cukai menahan 113 kontainer asal Inggris dan Belanda yang memuat limbah beracun. Masuknya limbah-limbah B3 itu makin memperkuat dugaan bahwa Indonesia menjadi negara tujuan akhir pembuangan limbah B3 dari negara-negara Eropa, Asia, dan Amerika Serikat yang dikoordinasi mafia internasional. Dampaknya terhadap kerusakan lingkungan sudah nyata.

Dengan suara lantang, Menteri Keuangan Agus Martowardojo memerintahkan seorang petugas Bea Cukai membuka sebuah kontainer yang mencurigakan. “Coba ceritakan ada apa dengan kontainer ini,” katanya. Sang petugas pun membuka segel kontainer dimaksud. Perlahan pintu kontainer terbuka dan tampaklah potongan-potongan besi beraneka bentuk.

Masalahnya, potongan-potongan besi itu tampak kotor dan terlumuri sisa-sisa tanah, zat kimia berupa serbuk warna putih, dan cairan pekat kehitaman seperti aspal. Tercium bau menyengat. Agus segera mengenakan masker. Kecurigaan pun semakin menebal. Isi kontainer berkapasitas 20 feet yang jumlahnya mencapai 113 unit itu adalah limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Sesuai dengan isi dokumen impor, pemilik kontainer yang berisi limbah B3 itu adalah PT Hwang Hook Steel (HHS). Perusahaan yang beralamat di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten, ini memang bergerak di bidang impor logam-logam bekas. Perusahaan ini mengantongi izin impor limbah dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Lingkungan Hidup. “Hanya saja, izin itu untuk mengimpor limbah non-B3,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya, kepada GATRA.

PT HHS mendatangkan limbah-limbah metal untuk diolah menjadi berbagai jenis barang kebutuhan. Limbah besi itu dipasok dari perusahaan bernama W.R Fibers Inc, yang beralamat di 1330 Valley Vista DR, Diamond Bar, California, Amerika Serikat. Namun barang itu tak dikirim langsung dari Amerika, melainkan lewat Pelabuhan Rotterdam, Belanda, dan Felixstowe di Inggris. Rinciannya, 24 kontainer masuk dari Rotterdam dan 89 kontainer dari Inggris.

Barang-barang itu masuk Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 10 Januari lalu. Namun dokumen impornya sejak awal menimbulkan kecurigaan. Diduga, W.R Fibers Inc adalah perusahaan fiktif dan kerap dipakai untuk mengirim limbah B3 ke negara-negara berkembang. Karenanya, pihak Bea Cukai segera mengarahkan kontainer itu ke jalur merah untuk diperiksa.

Dari pemeriksaan itu diketahui, scrap logam yang diimpor ternyata mengandung limbah B3. Masnellyarti Hilman, Deputi IV Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Bidang Pengelolaan B3, Limbah, dan Sampah, mengatakan bahwa di antara potongan-potongan logam yang diimpor itu terdapat beberapa bahan yang diduga berbahaya. Selain sampah kayu, plastik, ban bekas, juga terdapat cairan hitam seperti aspal dan serbuk warna putih.

Bahan-bahan itu, terutama aspal dan serbuk putih, menurut Masnellyarti, dikhawatirkan berbahaya bagi kesehatan. “Diduga mengandung zat yang bersifat karsinogenik yang bisa menyebabkan kanker,” katanya kepada GATRA. Zat-zat itu kini masih diteliti pihak KLH, bekerja sama dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir.

Balthazar Kambuaya memastikan, jika ditemukan pelanggaran, pihak-pihak yang terbukti bersalah akan dikenai tindakan tegas. “Penegakan hukum terkait limbah B3 harus tegas,” katanya. Pihak-pihak yang terkait impor limbah B3 itu diduga melanggar beberapa peraturan, antara lain Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, dan Pasal 53 ayat 4 jo Pasal 102 huruf h jo Pasal 103 huruf a UU Kepabeanan.

Menurut Balthazar Kambuaya, jika terbukti, importir bisa terkena hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 15 milyar. Selain itu, izinnya juga terancam tak diperpanjang. Ia mengaku masih mendalami keterlibatan PT HHS dalam masalah ini. “Kemarin, ketika ditanya, mereka mengaku kaget, tetapi akan diperiksa apakah betul tidak tahu atau pura-pura tidak tahu,” ujanya.

Sejauh ini, PT HHS selaku importir masih belum mau berkomentar atas masalah tersebut. Ketika GATRA bertandang ke sana, Selasa lalu, pihak keamanan perusahaan itu mengatakan bahwa pimpinan mereka tak ada di tempat. “Maaf, Mas, pimpinan lagi tugas ke luar kota,” kata kepala keamanan bernama Sukisna kepada Ade Faizal Alami dari GATRA.

***

Dampak impor limbah B3 ini terhadap kerusakan lingkungan di Indonesia sudah nyata. Berdasarkan catatan KLH, kejadian terbaru yang sedang diselidiki KLH adalah dugaan pencemaran timah hitam dari logam-logam bekas yang masuk ke Tegal, Jawa Tengah. Tegal memang sudah lama terkenal sebagai pusat kerajinan dari besi.

Hanya saja, diduga ada logam-logam bekas yang diimpor dari luar negeri yang mengandung timah hitam dalam kadar yang tinggi. “Sekarang ini ada satu kecamatan yang airnya semua tercemar timah hitam,” kata Masnellyarti. KLH juga menemukan dua keluarga yang anak-anaknya cacat. “Di dalam darahnya memang ditemukan kadar timah hitam yang cukup tinggi dan logam lainnya,” ia menambahkan.

Wajar jika pemerintah geram atas ulah Inggris dan Belanda yang dinilai tidak menaati Konvensi Basel. “Kami sangat menyesalkan sikap Inggris dan Belanda yang tidak menaati Basel Convention yang diratifikasi sendiri oleh dua negara itu guna menjadi acuan dalam ekspor-impor,” ujar Agus Martowardojo.

Karena itu, pemerintah akan membawa masalah ini dengan menyampaikan surat terkait dengan importasi limbah B3 tersebut ke Kedutaan Besar Belanda dan Inggris. “Kami akan meminta penjelasan mengenai outward manifest dari pengirim barang tersebut,” Agus menegaskan.

M. Agung Riyadi dan Rach Alida Bahaweres

(Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/13, terbit Kamis 2 Pebruari 2012)

Thursday, 02 February 2012 06:46

Ketegasan hukum dalam kasus impor limbah B3 memang penting. Sebab ditengarai Indonesia menjadi tempat transit atau bahkan tujuan akhir pembuangan limbah B3 dari negara-negara maju. Dengan pelabuhan samudra yang mencapai 2.000 dan dilewati beberapa pelayaran internasional, Indonesia rentan kemasukan limbah B3.

Meski Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel, upaya pembuangan limbah B3 oleh negara maju sepertinya tak berkurang. Maklum, bisnis ini melibatkan uang dalam jumlah sangat besar. Nilai perdagangan limbah B3 di kawasan Asia ditengarai mencapai jutaan dolar Amerika setiap bulan. Sebagai gambaran, tarif pengolahan limbah, khususnya limbah B3, di negara-negara maju mencapai US$ 5.000-US$ 10.000 per ton.

Tak mengherankan jika banyak negara maju keberatan melakukan pengelolaan sampah berbahaya itu di negeri mereka. Ongkosnya akan lebih murah jika mereka membuang sampah-sampah itu ke negara-negara berkembang atau miskin. Ongkos membuang limbah B3 ini diperkirakan hanya US$ 50-US$ 100 per ton.

Berdasarkan laporan Greenpeace tahun 2010, jaringan mafia pembuang limbah B3 di salah satu cabangnya seperti Italia saja beranggota 26 perusahaan. Mereka mengontrol peredaran sekitar 3.000 ton limbah B3 per hari, dengan total nilai US$ 4,8 juta. Banyak cara dilakukan sindikat ini untuk mengakali ketentuan Konvensi Basel, misalnya dengan memalsukan data pengapalan limbah atau dibuang secara diam-diam di tempat tertentu.

Jepang, misalnya, pernah dikritik habis-habisan karena mencoba mengakali konvensi itu dengan melakukan perdagangan limbah lewat payung kerja sama ekonomi. Jepang melakukan kerja sama dengan sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Filipina dan Indonesia. Pemerintah Indonesia menandatangani program Indonesia-Japan Economic Partnership (IJEPA), Agustus 2007.

Perjanjian itu adalah kesepakatan menyangkut perdagangan bebas, investasi, dan kebijakan ekonomi khusus untuk Jepang. Masalahnya, dalam daftar barang-barang yang boleh diperdagangkan dimasukkan pula limbah B3, misalnya limbah bekas reaktor nuklir yang mengandung uranium, limbah kimia, dan limbah rumah sakit.

Deputy Menteri Lingkungan Hidup Masnellyarti mengatakan, aktivitas mafia limbah dengan target Indonesia biasanya meningkat setiap menjelang pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah. “Mungkin mereka sudah mempelajari situasi politik dan budaya kita,” katanya. Belanda merupakan salah satu pusat pengiriman limbah B3 terbesar dengan tujuan Indonesia melalui Singapura. “Pernah kami cek pada waktu kami tahu memang ada yang dikembalikan ke Belanda, tetapi kemudian dia pindah ke Brussels,” tuturnya.

Setelah ada kerja sama dengan Belgia, limbah B3 yang masuk dari Brussels bisa distop. Namun masalah lain muncul karena jaringan itu pindah ke beberapa negara Asia, seperti Jepang, Korea, dan Singapura. “Kami pernah mendapat limbah B3 kiriman dari Singapura,” kata Masnellyarti. Selain Eropa, ada pula limbah B3 yang datang dari Amerika Serikat. “Amerika juga ada yang langsung ke kita, ada juga yang melewati Belanda,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah lewat Kepmenperindag Nomor 520/MPP/Kep/8/2003 memang telah melarang total impor limbah B3. Peraturan ini, menurut Balthasar Kambuaya, sejauh ini efektif untuk menangkal kenakalan negara maju seperti Jepang yang mencoba mengakali Konvensi Basel dengan dalih kerja sama bilateral. “Mereka bisa menerima bahwa memasukkan limbah B3 ke Indonesia oleh hukum positif kita dilarang,” katanya. (MAR, RAB)

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers

%d bloggers like this: