Majelis Adat Budaya Tionghoa Batalkan Festival Cap Go Meh

Kelenteng Siapkan Pesta
MEMASUKI TAHUN NAGA AIR
| A. Wisnubrata | Minggu, 22 Januari 2012 | 09:45 WIB
Bangka Pos/Fennie Y Umat di Kelenteng Kwan Tie Miau Jalan Haji Muhidin Pangkalpinang memasang lampion, Senin (16/1/2012) menyusul akan segera tibanya Tahun Baru Imlek. Sekitar sepertiga dari 1,2 juta jiwa penduduk Pulau Bangka adalah warga keturunan Tionghoa yang kebanyakan merayakan Tahun baru Imlek.

MANADO, KOMPAS.com - Lebih dari 100 orang asal China datang ke Manado untuk menyaksikan perayaan Imlek di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara itu. Di Kudus, Jawa Tengah, umat Katolik melakukan ekaristi dalam rangka tahun baru China 2563 di SMP Keluarga.

Diperoleh keterangan, belasan kelenteng di Manado, Bitung, dan Minahasa juga menyiapkan pesta kembang api pada malam pergantian tahun China itu.

Hengky Wijaya, tokoh masyarakat peranakan Tionghoa Sulawesi Utara di Manado, Sabtu (21/1), mengatakan, sebagian dari wisatawan China itu telah tiba di Manado dalam beberapa penerbangan dari Jakarta. Sebagian dari mereka memiliki sanak keluarga di ”Kota Kawanua”.

Rombongan wisatawan asal China lainnya menggunakan pesawat sewa Batavia langsung dari Guangzhou, besok. ”Perayaan Imlek di Manado dijual sebagai paket wisata,” katanya.

Steven Lumongan, pengusaha pariwisata di Manado, mengatakan telah menjual paket wisata Imlek di Manado sejak akhir tahun lalu. Menurut dia, banyak wisatawan asal China tertarik datang ke Manado sekaligus mengunjungi keluarga.

Perayaan Imlek dan budaya Tiongkok di Manado lebih ekspresif dan atraktif dibandingkan dengan kota lain di Tanah Air. Perayaan Toa Pe Kong yang digelar setelah Imlek sangat diminati warga Manado sejak tahun 1900.

Menurut Hengky, perayaan Imlek tahun ini cukup meriah karena sejumlah kelenteng siap menggelar pesta kembang api, termasuk kelenteng tua Ban Hing Kiong di kawasan Calaca.

Ekaristi

Di Kudus, Romo Bernardus Windyatmoko, MSF, menyatakan, menghargai keberagaman dan hidup berdampingan dengan setiap orang dari berbagai latar belakang perlu menjadi sikap hidup bangsa Indonesia. Sikap itu perlu ditanamkan sejak dini, terutama di lingkungan keluarga dan sekolah.

Hal itu dikatakan kemarin seusai memimpin perayaan ekaristi dalam rangka merayakan Imlek 2563 di SMP Keluarga. Ibadat syukur umat Katolik itu diikuti para siswa, guru, dan karyawan SMP Keluarga yang sebagian besar mengenakan busana Tionghoa.

Menurut Romo Windyatmoko, dalam konteks Imlek, umat Katolik Tionghoa berharap Tuhan menganugerahkan kesejahteraan bagi keluarga dan semua orang, terutama masyarakat miskin. Umat Katolik Tionghoa juga mengharapkan kebahagiaan dan ketenteraman hidup di tengah pluralitas bangsa.

”Cinta kasih menjadi kunci bagi setiap orang dengan aneka latar belakang untuk mempunyai sikap toleran, hidup berdampingan dengan setiap orang,” ujarnya.

Kepala SMP Keluarga M Basuki Sugita mengemukakan, setiap tahun, SMP Keluarga menggelar tiga perayaan besar, yaitu Natal, Idul Fitri, dan Imlek. Selain sebagai ungkapan syukur, perayaan-perayaan itu merupakan media penanaman nilai-nilai hidup berdampingan dengan agama lain yang diajarkan dalam mata pelajaran pendidikan religi. (HEN/ZAL)

 

Jelang Imlek
Tujuh Naga Akan Ramaikan Pontianak
Agustinus Handoko | Agus Mulyadi | Sabtu, 21 Januari 2012 | 15:12 WIB
Dibaca: 703
|
Share:
shutterstock Lampion

PONTIANAK, KOMPAS.com – Panitia Cap Go Meh Kota Pontianak menyiapkan tujuh replika naga, yang akan ditampilkan mulai upacara buka mata sampai puncak perayaan Cap Go Meh.

Panitia juga mengajak komunitas lain untuk menampilkan tradisi mereka dalam Pawai Cap Go Meh.

Wakil Ketua Panitia Cap Go Meh Kota Pontianak, Buyung Bunadi, Sabtu (21/1/2012), mengatakan, Festival Cap Go Meh tidak akan dimonopoli oleh tradisi dan kebudayaan Thionghoa.

“Semua kelompok masyarakat di Pontianak yang memiliki keragaman tradisi sudah kami undang untuk terlibat. Kalau ada yang belum menerima undangan, kami sekaligus mengundangnya melalui media massa agar bisa terlibat. Ini bentuk nyata kami mendukung keragaman budaya di Pontianak dan Kalimantan Barat secara umum,” kata Buyung.

Rencananya, upacara buka mata naga akan dilakukan pada 4 Februari mendatang di Kelenteng Jalan Diponegoro. Puncak Festival Cap Go Meh Kota Pontianak akan dilakukan pada 6 Februari.

Arak-arakan replika naga yang bisa mencapai sekitar 30 meter per replika, merupakan acara yang ditunggu-tunggu wisatawan dan masyarakat Pontianak.

Jelang Imlek
Majelis Adat Budaya Tionghoa Batalkan Festival Cap Go Meh
Agustinus Handoko | Agus Mulyadi | Sabtu, 21 Januari 2012 | 17:37 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com – Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalimantan Barat membatalkan Festival Cap Go Meh, yang sedianya akan dilakukan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Pembatalan dilakukan oleh panitia dan pengurus majelis adat, karena tak mendapat izin dari Kepolisian Resor Kota Pontianak.

Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa Kalimantan Barat, Harso Utomo Suwito, Sabtu (21/1/2012) mengatakan, panitia sebetulnya sudah menyiapkan acara dan sudah sekitar Rp 200 juta yang dikeluarkan.

“Namun, daripada nanti dikasih izin dua atau tiga hari sebelum acara, saya lebih baik membatalkan. Kalau tetap kami gelar, lalu acara tidak berjalan baik, nama baik saya juga yang akan menjadi taruhan,” ujar Harso.

Di tempat yang sama, Jalan Mayor Ali Anyang, festival serupa diadakan tahun lalu. “Tahun lalu izin diberikan walaupun juga mepet. Namun kami tak tahu, tahun ini izin tidak diberikan dan kami diminta mencari tempat lain. Alternatif tempat lain yang kami sodorkan tidak disetujui. Ya sudah, akhirnya kami batalkan saja,” ujar Harso.

Kepala Kepolisian Resor Kota Pontianak, Komisaris Besar Muharrom Riyadi, mengatakan, tempat yang diajukan oleh panitia dan pengurus MABT merupakan jalan nasional, sehingga izin untuk acara lokal tidak bisa diberikan.

“Acara mereka itu sampai seminggu dan sebagian jalan pasti akan tertutup, sehingga izin tidak diberikan. Kami sudah meminta panitia dan pengurus untuk mencari alternatif lain. Namun, sampai hari ini kami belum menerima pengajuan izin,” ujar Muharrom.

Berbeda dengan festival yang diselenggarakan MABT Kalbar, Festival Cap Go Meh Kota Pontianak tetap dilaksanakan oleh panitia.

Festival akan dimulai dengan upacara buka mata naga pada 4 Februari hingga puncaknya pada 6 Februari, dengan menggelar pawai tujuh replika naga menuju kelenteng di Jalan Diponegoro.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: