Penembakan di Aceh Tak Terkendali

06.01.2012 13:50

Penembakan di Aceh Tak Terkendali

Penulis : Junaidi Hanafiah/M Bachtiar Nur

(foto:dok/SH)

BANDA ACEH – Penembak misterius (petrus) kembali beraksi di Aceh. Setelah menembak tiga pekerja galian kabel optik Telkomsel asal Pulau Jawa di Kabupaten Bireun, kemudian terhadap warga Transmigran di Langkahan, Aceh Utara, kini penembakan terjadi lagi terhadap tiga buruh bangunan yang juga berasal dari Pulau Jawa pada Kamis (5/1).

Penembakan yang melukai tiga pekerja bangunan menjelang magrib kemarin terjadi di Simpang Aneuk Galong, Kecamatan Suka Makmur, Aceh Besar, yang hanya berjarak sekitar 18 kilometer dari Kota Banda Aceh.

Kabag Humas Polda Aceh Gustav Leo menyebutkan, tiga korban tersebut merupakan warga Semarang, Jawa Tengah, bernama Gunoko (30), Agus Setyo (35), dan Sotiku (25). “Gunoko tertembak di kepala dan hingga saat ini masih kritis, sementara Agus dan Sotiku tertembak di bahu dan dada,” sebut Gustav.

Hingga saat ini ketiga korban masih ditangani oleh dokter khusus Rumah Sakit Umum Zainail Abidin (RSUZA) Banda Aceh, sekaligus akan dipastikan apakah ada proyektil yang masih tertinggal di dalam tubuh mereka.

Gustav menyebutkan pelaku diperkirakan menggunakan senjata laras panjang dan bersepeda motor.  Pola penembakan di Aneuk Galong persis dengan yang terjadi di Desa Blang Cot Tunong, Bireuen, dan Dusun Blok B Desa Seureukey Langkahan, Aceh Utara.

Hal ini terlihat dari sasaran penembakan pekerja yang berasal dari luar Aceh. “Sedang kita lakukan pengembangan untuk mempelajari keterkaitan peristiwa-peristiwa itu. Namun jika dilihat dari pola dan sasaran korban, kemungkinan pelaku adalah orang atau kelompok yang sama, korban semua berasal dari luar Aceh,” ujarnya.

Ia menjelaskan saat beraksi korban memakai jaket hitam dan menutup kepalanya dengan helm.

Ketiga korban merupakan pekerja bangunan di Simpang Aneuk Galong, dan saat ini sedang membangun sebuah toko di kawasan tersebut. Saat penembakan terjadi, korban bersama rekan-rekannya sedang istirahat di barak yang terletak di dekat toko, beberapa laginya duduk di pintu.

Seorang teman korban, Mudassir, mengaku mendengar sejumlah suara tembakan sebelum mendapati rekannya tersungkur bersimbah darah. “Kami sedang istirahat dan memasak makan malam, tiba-tiba seorang laki-laki dengan mengenakan jaket dan helm turun dari sepeda motornya lalu menghampiri barak.

Dia langsung melepaskan tembakan ke arah korban, setelah beraksi pelaku langsung kabur dengan menggunakan motor,” kata Mudassir. Para pekerja itu sudah berada di Aneuk Galong sejak 21 hari lalu, semua berasal dari Jawa Tengah.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang menjenguk tiga korban tersebut pada Kamis malam belum bersedia berkomentar banyak terkait peristiwa itu. Ia hanya menyebutkan aparat kepolisian harus memberi pengamanan terhadap para pekerja dari luar Aceh, apalagi terkait meningkatnya penembakan terhadap pekerja asal dari luar Aceh.

Setelah penembakan tersebut, semua pekerja yang selamat langsung diamankan di Polsek Suka Makmur, Aceh Besar, untuk menghindari penyerangan susulan.

Masyarakat Khawatir

Berbagai kasus penembakan yang terjadi di Aceh telah begitu mengkhawatirkan masyarakat luas. Tingginya suhu politik menjelang Pilkada 2012 membuat beberapa kalangan merasa risau, seperti yang disampaikan Pusat Paguyuban Masyarakat Jawa-Aceh (PPMJ) yang meminta aparat kepolisian segera membongkar kasus tersebut.

Ketua PPMJ Aceh Pusat M Samin ZZ, Kamis, menyatakan ikut belasungkawa atas meninggalnya warga Jawa di Aceh. Dia juga mempertanyakan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab, apakah hal ini terjadi demi kepentingan pribadi atau kelompok sendiri.

Menurut Samin, keadaan Aceh saat ini tak terlepas dari politik, karena kejadiannya seperti direncanakan dan bersamaan. Menjelang pilkada saat ini pasti banyak pihak “bermain” pascaperdamaian Aceh. “Kami mengharapkan perdamaian abadi tetap berlangsung di bawah Undang-Undang Pemerintahan Aceh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” sambung Samin.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen Ridwan Muhammad juga mendesak kepolisian Bireuen segera mengusut tuntas kasus penembakan itu.

“Polisi harus segera mengungkap kasus tersebut, untuk menjawab siapa pelaku, motif, dan tujuan, serta untuk meluruskan opini masyarakat yang sudah simpang siur terhadap serentetan kasus penembakan di Aceh, dan khususnya di Bireuen,” kata Ridwan.

Kepada masyarakat Bireuen, termasuk saksi mata kejadian, Ridwan berharap agar mau membantu polisi dalam mengungkap kasus tersebut. Segala informasi sangat dibutuhkan aparat demi terwujudnya Aceh yang damai.

Mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini juga mengatakan penembakan tersebut tidak mungkin dilakukan mantan GAM atau senjata GAM, karena semua senjata eks GAM sudah diserahkan saat pemusnahan senjata setelah ditandatangani perjanjian damai di Helsinki Finlandia antara GAM dan Republik Indonesia.

“Bilapun masih ada senjata yang beredar, itu bukan senjata milik GAM atau KPA. Itu murni milik oknum kriminal. Kalau mau merujuk pada kasus-kasus kekerasan dengan menggunakan senjata api, hal tersebut tidak saja terjadi di Aceh, namun juga terjadi di luar Aceh,” tegasnya.

Kecemburuan Sosial

Menteri Koordinator Politik bidang Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menuturkan peristiwa penembakan itu tak mempengaruhi waktu pelaksanaan pilkada di Aceh yang akan digelar pertengahan Februari mendatang karena lebih berlatar belakang permasalahan sosial.

Ia mengungkapkan, berdasarkan rapat yang telah digelar kemarin, Kapolri dan Muspida meyakinkan penembakan tidak terkait pilkada.

“Hasil laporan sementara dari gubernur dan kapolda, tidak ada kaitan dengan pilkada. Penembakan lebih terkait dengan masalah bagaimana penduduk lokal diberdayakan dalam pekerjaan-pekerjaan dan program membangun daerah. Ada kecemburuan di situ dari hasil laporan gubernur dan Kapolda. Pasti akan dicari akar permasalahannya,” tegasnya.

Ia menambahkan, dari pertemuan dengan sejumlah elemen pemerintah hingga lembaga pemantau pemilu, Aceh dinyatakan masih dalam tahapan kondusif. “Sampai dengan kemarin yang hadir juga mereprentasikan eksekutif dan legislatif. Ada KIP, Panwasda, Panwaslu, bahkan KPU juga diundang, Bawaslu juga,” terang Menko usai peringatan HUT ke-5 Bakorkamla di Jakarta.

Djoko berharap sisa waktu 1,5 bulan mendatang digunakan semua elemen dengan sebaik-baiknya untuk menjaga situasi tetap kondusif.

“Sementara (Pilkada Aceh) masih tetap 16 Februari. Tahapan juga sudah disusun dan saya kira sudah ada calon-calonnya. Imbauan saya, bagaimana masyarakat Aceh mengelola, memanfaatkan wahana demokrasi untuk menyampaikan aspirasi pikirannya dan memilih pemimpin yang tepat di daerah masing-masing,” pesan Djoko.

Saat ini, lanjut Menko, Polri telah menangkap dua orang dan akan terus dikembangkan, karena pelakunya disinyalir cukup banyak.

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers

%d bloggers like this: