Duh, Sebuah Keluarga Tinggal di Gubuk Kertas

Komentar awind <j.gedearka@upcmail.nl>:Membaca liputan dibawah ini pemerintah tentu akan menyalahkan daerah karena urusannya pemerintah daerah. Bebeda dengan Toilet DPR, yang merupakan tugas pemerintah pusat. Bagaimana kalau pemerintah pusat/daerah membangun toilet untuk umum disetiap sudut pojok sehingga kebersihan bisa agak dijamin dan  warga seperti yang tinggal dirumah gubuk kertas bisa juga buang air besar/kecil dengan baik. Jangan hanya toilet DPR saja yang dibangun.
Salam,
Awind

http://berita.liputan6.com/read/370918/duh-sebuah-keluarga-tinggal-di-gubuk-kertas

Duh, Sebuah Keluarga Tinggal di Gubuk Kertas

Edy Junaedi

Duh, Sebuah Keluarga Tinggal di Gubuk Kertas

06/01/2012 11:47

Liputan6.com, Polewali: Memprihatinkan sekali kondisi negeri ini. Di saat anggota DPR menganggarkan pembangunan toilet dengan dana yang katanya tidak kecil yakni “Hanya” Rp 2 miliar, sebuah keluarga di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, hanya bisa membangun rumah dari uang sebesar Rp 2 juta. Rumah tersebut adalah gubuk berdinding kertas.

Mereka adalah keluarga nelayan, Martina. Menurut Martina, sudah lebih dua tahun, ia tinggal bersama suami dan seorang anaknya di gubuk berukuran 2 x 3 meter di bibir Pantai Mangaramba, Polewali Mandar.

Berdasarkan pantauan SCTV di kediaman Martina, rumah berdinding kertas dan sebagian anyaman bambu ini jauh dari kesan mewah. Lantai pasir yang diberi alas tikar ini hanya terdapat dua kursi plastik. Kamar dan dinding pembatas ruangan hanya menggunakan kertas bekas dari pembungkus semen yang dipungut dari tetangganya.

Tidak ada sarana air bersih dan MCK yang memadai. Alhasil, Martina dan sang suami terpaksa buang air di lapangan terbuka atau bibir pantai lantaran di wilayah mereka tidak ada sarana kamar mandi. Miris sekali bukan jika dibandingkan anggota Dewan yang hendak membangun toilet mewah dengan anggaran Rp 2 miliar.

Kabar rencana pembangunan toilet mewah itu benar-benar menyayat perasaan keluarga Martina dan warga setempat. Menurut dia, anggota Dewan kini kian tidak peka dengan rakyatnya. Padahal, jutaan warga miskin di Tanah Air lebih membutuhkan bantuan demi bertahan hidup, namun justru wakil rakyat mempertontonkan kemewahan yang tak semestinya.

Seyogianya, ketimbang membangun toilet Rp 2 miliar, lebih baik membangun fasilitas umum di permukiman miskin dan membangun rumah sederhana.

Tak hanya Martina, warga miskin lainnya di Dusun Mangaramba, Rahman, juga menilai pembangunan toilet mewah berlebihan. Padahal, dana tersebut bisa lebih bermanfaat untuk pengadaan sarana air bersih, kamar mandi, dan listrik di wilayahnya yang serba kekurangan.(BJK/ANS)

About these ads

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: